PENGARUH METODE PRAKTIKUM BERBASIS INKUIRI TERBIMBING TERHADAP SIKAP ILMIAH DAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI HIDROLISIS GARAM KELAS XI IPA SMAN 2 SUNGAI RAYA SKRIPSI

Gratis

0
0
247
2 months ago
Preview
Full text

PENGARUH METODE PRAKTIKUM BERBASIS

  

INKUIRI TERBIMBING TERHADAP SIKAP ILMIAH DAN

HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI HIDROLISIS

GARAM KELAS XI IPA SMAN 2 SUNGAI RAYA

SKRIPSI

Oleh :

SUPIAWATI

  

NPM : 131620234

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PONTIANAK

PONTIANAK

  

2017

  

MOTTO

“Allah tidak membebani seseorang itu melainkan sesuai dengan

kesanggupannya.” (Qs. Al-Baqarah: 286)

  

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu dan

boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk

bagimu, Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.” (Qs. Al-

Baqarah: 216)

  

“....dan janganlah kamu berputus asa dar rahmat Allah.

Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah melainkan kaum

yang kafir.” (Qs. Yusuf: 12)

  

“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah pula kamu bersedih

hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi derajatnya, jika

kamu orang- orang yang beriman.” (Qs. Al-Imran: 139)

HALAMAN PERSEMBAHAN

  

Skripsi ini kupersembahkan untuk :

Keluarga Tersayang :

Ayahku (H. Fadli Abdurrahman) dan Ibuku (Hj. Sumiati)

Semoga selalu dalam ridha dan lindungan Allah SWT sebagaimana ayah dan

ibu selalu melindungiku dalam murninya cinta dan tulusnya kasih sayang yang

ayah dan ibu berikan padaku.

  

Saudara dan Keponakanku :

Kakakku (Norwahyuni), abangku (Aminollah dan Jayusman Yusuf), adikku

(Intan Kurnia Putri) dan keponakanku (Ahmad Al Farizha & Ahmad Al

Farizhi), serta saudara angkatku (Ucu Liani) yang tak hentinya mendoakan

dan menyemangatiku.

  

Keluarga Besarku

Penyemangat Hatiku

Dosen Pembimbingku, Bapak Rizmahardian AK, M.Sc dan Ibu Tuti Kurniati,

S.Pd, M.Si, yang telah meluangkan waktunya memberikan bimbingan,

pengarahan demi keselarasan dan kerapian skripsi ini. Serta untuk semua Dosen

Prodi Kimia terimakasih atas ilmu yang telah diberikan selama ini

  

Guruku, Ibu Titin Nurhayatin, S.Pd dan Bapak Indra Nirwan Utama, SP yang

tak hentinya memberikan semangat dan motivasi.

  

Sahabatku Selviana Safitri, Ningsih Fatmawati, Riska Pratiwi, Yunis Alfiatul

Zahroh, Rima Oktavianita, Wan Muhammad GI, Zulfadhli Abdillah, serta

semua teman-teman seperjuangan angkatan 2013 yang tak henti-hentinya

memberikan dukungan dan semangat.

  

Almamaterku :

Program Studi Pendidikan Kimia

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Universitas Muhammadiyah Pontianak

  

ABSTRAK

  SUPIAWATI. 1316201234. Pengaruh Metode Praktikum Berbasis Inkuiri Terbimbing Terhadap Sikap Ilmiah dan Hasil Belajar Siswa Pada Materi Hidrolisis Garam Kelas XI IPA SMAN 2 Sungai Raya. Di bimbing oleh RIZMAHARDIAN ASHARI KURNIAWAN, S.Si., M.Si., M.Sc dan TUTI KURNIATI, S.Pd, M.Si.

  Hasil belajar siswa kelas XI IPA SMAN 2 Sungai Raya pada mata pelajaran kimia memiliki persentase ketuntasan tidak mencapai 70%, khususnya pada materi hidrolisis garam persentase ketuntasan hanya 48,83%. Rendahnya sikap ilmiah siswa menjadi salah satu faktor minimnya hasil belajar yang diperoleh, sehingga dengan menggunakan model pembelajaran yang sesuai dapat meningkatkan sikap ilmiah dan hasil belajar siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan dan besarnya pengaruh metode praktikum berbasis inkuiri terbimbing terhadap sikap ilmiah dan hasil belajar siswa. Metode penelitian yang digunakan adalah quasi-eksperimental dengan rancangan

  

nonequivalent control group design untuk mengetahui hasil belajar siswa dan one-

shot case study untuk observasi sikap ilmiah siswa. Teknik sampling yang

  digunakan adalah cluster random sampling, diperoleh kelas XI IPA 1 sebagai kelas eksperimen dan kelas XI IPA 3 sebagai kelas kontrol. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian adalah observasi, teknik pengukuran, dan teknik komunikasi langsung. Alat pengumpul data yang digunakan adalah lembar observasi, catatan lapangan, tes hasil belajar, dan pedoman wawancara. Berdasarkan analisis data menggunakan uji non-parametrik U-Mann Whitney menunjukan terdapat perbedaan sikap ilmiah yaitu 0,00 < 0,05 dan hasil belajar yaitu 0,00 < 0,05. Hal ini menunjukan sikap ilmiah dan hasil belajar siswa pada kelas eksperimen berbeda dengan kelas kontrol. Effect size yang diperoleh untuk sikap ilmiah dan hasil belajar siswa adalah 2,47 dan 1,99 yang termasuk dalam kriteria tinggi. Pembelajaran menggunakan metode praktikum berbasis inkuiri terbimbing berpengaruh terhadap sikap ilmiah siswa sebesar 99,32% dan hasil belajar siswa sebesar 97,67%.

  

Kata Kunci : Hasil Belajar, Hidrolisis Garam, Inkuiri Terbimbing, Metode

Praktikum, Sikap Ilmiah

KATA PENGANTAR

  Puji dan syukur atas kehadirat Allah SWT karena berkat rahmat dan hidayah-Nya yang telah memberi kemudahan sehingga penulis dapat menyelesaikan proposal skripsi yang berjudul “PENGARUH METODE PRAKTIKUM BERBASIS INKUIRI TERBIMBING TERHADAP SIKAP

  ILMIAH DAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI HIDROLISIS GARAM KELAS XI IPA SMAN 2 SUNGAI RAYA”. Proposal skripsi ini disusun untuk memenuhi persyaratan dalam penyusunan skripsi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Pontianak Program Studi Kimia.

  Peneliti banyak mendapatkan bimbingan dan bantuan dari berbagai pihak secara langsung maupun tidak langsung. Untuk itu, peneliti ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada :

  1. Arif Didik Kurniawan, M.Pd selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Pontianak yang telah memberikan kesempatan dan motivasi dalam menyelesaikan skripsi ini.

  2. Dedeh Kurniasih, S.Pd, M.Si selaku Ketua Program Studi Pendidikan Kimia Universitas Muhammadiyah Pontianak yang telah memberikan bimbingan dan pengarahan dalam menyelesaikan skripsi ini.

  3. Rizmahardian Ashari Kurniawan, M.Sc selaku Dosen Pembimbing I yang telah meluangkan waktunya memberi bimbingan dan pengarahan demi keselarasan dan kerapian skripsi ini.

  4. Tuti Kurniati, S.Pd, M.Si selaku Dosen Pembimbing II yang telah meluangkan waktunya memberikan bimbingan dan pengarahan demi keselarasan dan kerapian skripsi ini.

  5. Dini Hadiarti, M.Sc selaku Dosen Penguji I yang telah memberikan semangat, petunjuk, serta membimbing penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

  6. Dedeh Kurniasih, S.Pd, M.Si selaku Dosen Penguji II yang telah memberikan semangat, petunjuk, serta membimbing penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

  7. Hamdil Mukhlisin, M.Pd selaku validator yang telah memvalidasi instrumen dan perangkat penelitian, serta memberikan ilmu dan masukan demi kelancaran penelitian.

  8. Indra Nirwan Utama, SP selaku validator yang telah memvalidasi instrumen dan perangkat penelitian, serta memberikan ilmu dan masukan demi kelancaran penelitian.

  9. Titin Nurhayatin, S.Pd selaku validator yang telah memvalidasi instrumen dan perangkat penelitian, serta memberikan ilmu dan masukan demi kelancaran penelitian.

  10. Dra. Darsita, M. Pd selaku kepala Sekolah Menengah Atas Negeri 2 Sungai Raya yang telah memberikan izin kepada peneliti untuk melakukan penelitian di sekolah.

  11. Indra Nirwan Utama, SP selaku guru kimia SMA Negeri 2 Sungai Raya yang telah memberikan semangat, pengarahan dan motivasi.

  12. Siswa kelas XI IPA 1 dan XI IPA 3 SMAN 2 Sungai Raya atas bantuan dan kesediaannya membantu peneliti menjadi sampel penelitian.

13. Keluargaku tercinta yang selalu memberi motivasi baik moral maupun material serta do’a restu dalam penyelesaian skripsi ini.

  14. Teman-temanku pendidikan kimia angkatan 2013 yang telah memberikan semangat dalam menyelasaikan skripsi ini.

  15. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu.

  Semoga penelitian ini bermanfaat bagi pembaca pada khususnya dan perkembangan pendidikan Indonesia pada umumnya Pontianak, Oktober 2017

  Peneliti

  DAFTAR ISI LEMBAR PERNYATAAN KEASLIAN ............................................................... i

MOTTO .................................................................................................................... ii

HALAMAN PERSEMBAHAN .............................................................................. iii

ABSTRAK ................................................................................................................ iv

KATA PENGANTAR .............................................................................................. v

DAFTAR ISI ............................................................................................................. vii

DAFTAR TABEL .................................................................................................... viii

DAFTAR GAMBAR ................................................................................................ ix

DAFTAR LAMPIRAN ............................................................................................ x

  

BAB I PENDAHULUAN ......................................................................................... 1

A. Latar Belakang ........................................................................................ 1 B. Rumusan Masalah ................................................................................... 6 C. Tujuan Penelitian..................................................................................... 6 D. Manfaat Penelitian................................................................................... 7 E. ...................................................................................... 7 Definisi Operasional

BAB II TINJAUAN PUSTAKA .............................................................................. 11

A. Model Pembelajaran Inkuiri Terbimbing ................................................ 11 B. Metode Praktikum Berbasis Konvensional ............................................. 11 C. Metode Praktikum Berbasis Inkuiri Terbimbing .................................... 12 D. Hasil Belajar ............................................................................................ 13 E. Sikap Ilmiah ............................................................................................ 15 F. Hidrolisis Garam ..................................................................................... 17 G. Hipotesis .................................................................................................. 22

BAB III METODE PENELITIAN ......................................................................... 23

A. Metode dan Bentuk Penelitian ................................................................ 23 B. Variabel Penelitian .................................................................................. 25 C. Waktu dan Tempat Penelitian ................................................................. 25 D. Populasi dan Sampel ............................................................................... 26 E. Prosedur Penelitian ................................................................................. 26 F. Teknik dan Alat Pengumpul Data ........................................................... 30 G. Validitas dan Reliabilitas ........................................................................ 32 H. Analisis Data ........................................................................................... 35

  

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ................................................................. 39

A. Perbedaan Proses Pembelajaran Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol

  a. Pembelajaran Kelas Eksperimen ........................................................ 39

  b. Pembelajaran Kelas Kontrol ............................................................... 42

  B. Perbedaan Sikap Ilmiah Siswa Kelas Kontrol dan Kelas Eksperimen

  a. Deskripsi Sikap Ilmiah Siswa ............................................................ 43

  b. Perbedaan Sikap Ilmiah Siswa Kelas Kontrol dan Kelas Eksperimen Secara Statistik ............................................................... 52

  C. Perbedaan Hasil Belajar Siswa Kelas Kontrol dan Kelas eksperimen

  a. Deskripsi Hasil Belajar Siswa ............................................................ 53

  b. Perbedaan Hasil Belajar Siswa Kelas Kontrol dan Kelas Eksperimen Secara Statistik ............................................................... 55

  D. Pengaruh Metode Praktikum Berbasis Inkuiri Terbimbing Terhadap Sikap Ilmiah dan Hasil Belajar siswa ....................................................... 57

  

BAB V PENUTUP .................................................................................................... 60

A. Kesimpulan.............................................................................................. 60 B. Saran ........................................................................................................ 60

DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................... 61

  DAFTAR TABEL

TABEL 1.1 Persentase Ulangan Harian Semester Genap Siswa Kelas XI IPA

  SMAN 2 Sungai Raya Tahun Ajaran 2013/2014 dan 2014/2015 ...... 2

TABEL 2.1 Dimensi dan Indikator Sikap Ilmiah .................................................. 16TABEL 2.2 Tetapan Pengionan Asam ................................................................... 20TABEL 2.3 Tetapan Pengionan Bas ...................................................................... 21TABEL 3.1 Rancangan Nonequivalent Control Design untuk Mengetahui Hasil

  Belajar Siswa ...................................................................................... 23

TABEL 3.2 Rancangan One-Shot Case Study untuk Observasi Sikap Ilmiah

  Siswa................................................................................................... 24

TABEL 3.3 Daftar Pelaksanaan Penelitian ............................................................ 26TABEL 3.4 Kriteria nilai Effect Size...................................................................... 38TABEL 4.1 Tabel Hasil Uji Statistik Sikap Ilmiah Siswa ..................................... 52TABEL 4.2 Tabel Hasil Uji Statistik Hasil Belajar ............................................... 55

  DAFTAR GAMBAR

GAMBAR 3.1 Prosedur penelitian ......................................................................... 29GAMBAR 4.1 Grafik Sikap Ilmiah Siswa Kelas Kontrol dan Kelas Eksperiman . 44GAMBAR 4.2 Grafik Nilai Rata-rata Hasil belajar Siswa Kelas Kontrol dan

  Kelas eksperimen ........................................................................... 54

  DAFTAR LAMPIRAN LAMPIRAN A (Data Pra Penelitian)

  LAMPIRAN A-1 Hasil Observasi Kegiatan Pembelajaran Pra Penelitian ......... 64 LAMPIRAN A-2 Hasil Wawancara Guru Pra Penelitian ................................... 66 LAMPIRAN A-3 Hasil Wawancara Siswa Pra Penelitian .................................. 68 LAMPIRAN A-4 Kisi-kisi Lembar Observasi Sikap Ilmiah Siswa .................... 74 LAMPIRAN A-5 Nilai Ulangan Umum Semester Ganjil Siswa Kelas XI IPA

  SMAN 2 Sungai Raya Tahun Ajaran 2016/2017 ................... 75 LAMPIRAN A-6 Nilai Ulangan Umum Siswa Kelas XI IPA1, XI IPA2, XI

  IPA3 SMAN Sungai Raya ...................................................... 76 LAMPIRAN A-7 Perhitungan Uji Barlett ........................................................... 79

  LAMPIRAN B ( Perangkat Pembelajaran dan Instrumen Penelitian )

  LAMPIRAN B-1 Penggalan Silabus ................................................................... 81 LAMPIRAN B-2 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Kelas Kontrol ............... 83 LAMPIRAN B-3 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Kelas Eksperimen ......... 91

  LAMPIRAN B-4 Rubrik dan Lembar Observasi Sikap Ilmiah Siswa Praktikum Hidrolisis Garam Kelas Kontrol dan Eksperimen 100

  LAMPIRAN B-5 Rubrik dan Lembar Penilaian Keterampilan Psikomotorik Siswa Praktikum Hidrolisis Garam ........................................ 106

  LAMPIRAN B-6 Lembar Kerja Siswa (LKS) Kelas Kontrol ............................. 108 LAMPIRAN B-7 Lembar Kerja Siswa (LKS) Kelas Eksperimen ...................... 116 LAMPIRAN B-8 Kisi-kisi Soal Uji Coba Pretest dan Postest Materi

  Hidrolisis Garam ..................................................................... 129 LAMPIRAN B-9 Soal Pretest ............................................................................. 130 LAMPIRAN B-10 Soal Postest ............................................................................. 134

  LAMPIRAN C (Validasi Instrumen dan Perangkat Pembelajaran)

  LAMPIRAN C-1 Validasi Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Kelas Kontrol . 138 LAMPIRAN C-2 Validasi Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Kelas eksperimen .............................................................................. 144

  LAMPIRAN C-3 Validasi Lembar Observasi Sikap Ilmiah Siswa Kelas Kontrol dan Kelas eksperimen................................................ 150

  LAMPIRAN C-4 Validasi LKS Kelas Kontrol ................................................... 153 LAMPIRAN C-5 Validasi LKS Kelas Eksperimen ............................................ 159 LAMPIRAN C-6 Validasi Soal Pretest ............................................................... 165 LAMPIRAN C-7 Validasi Soal Postest............................................................... 180

  LAMPIRAN D (Uji Coba Instrumen Penelitian)

  LAMPIRAN D-1 Hasil Uji Coba Instrumen Penelitian ..................................... 194 LAMPIRAN D-2 Tabel Bantu Reliabilitas Uji Coba Instrumen Penelitian ........ 195 LAMPIRAN D-3 Perhitungan Reliabilitas Hasil Uji Coba Soal Posttest ........... 196

  LAMPIRAN E (Analisis Data)

  LAMPIRAN E-1 Lembar Kerja Siswa ............................................................... 198 LAMPIRAN E-2 Lembar Observasi ................................................................... 203 LAMPIRAN E-3 Pretest Siswa ........................................................................... 205 LAMPIRAN E-4 Postest Siswa .......................................................................... 207 LAMPIRAN E-5 Nilai Pretest dan Postest Siswa Kelas Kontrol ...................... 212 LAMPIRAN E-6 Nilai Pretest dan Postest Siswa Kelas Eksperimen ................ 213 LAMPIRAN E-7 Perhitungan Effect Size Sikap Ilmiah Siswa ........................... 214 LAMPIRAN E-8 Perhitungan Effect Size Hasil Belajar Siswa ........................... 215 LAMPIRAN E-9 Rekapitulasi Hasil Observasi Sikap Ilmiah Siswa Dalam

  Praktikum Hidrolisis Garam Berbasis Konvensional Pada Kelas Kontrol .......................................................................... 216

  LAMPIRAN E-10 Rekapitulasi Hasil Observasi Sikap Ilmiah Siswa Dalam Praktikum Hidrolisis Garam Berbasis Inkuiri Terbimbing Pada Kelas Eksperimen .......................................................... 218

  LAMPIRAN E-11 Perhitungan SPSS Sikap Ilmiah Siswa ................................... 220 LAMPIRAN E-12 Perhitungan SPSS Hasil Belajar Siswa .................................. 223 LAMPIRAN E-13 Dokumentasi ........................................................................... 229

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perkembangan ilmu kimia dalam pendidikan diarahkan pada produk

  akhir, metode ilmiah dan sikap ilmiah yang dimiliki siswa dan akhirnya akan bermuara pada perubahan hasil belajar. Sikap ilmiah merupakan dorongan perasaan dan keyakinan yang muncul dari dalam diri seseorang untuk bertingkah laku atau berbuat sesuatu pada suatu objek dengan berpedoman pada prosedur pemecahan masalah dengan menggunakan langkah-langkah metode ilmiah yang meliputi, mengidentifikasi dan menyatakan masalah, merumuskan hipotesis, mendesain dan melaksanakan suatu eksperimen, mengobservasi, mengumpulkan dan menganalisis data, mengulang kembali eksperimen untuk membuktikan kebenaran data, serta menarik kesimpulan . Pengembangan sikap ilmiah mampu memberikan karakter bagi siswa sesuai dengan nilai-nilai ilmiah. Siswa yang memiliki rasa keinginan tahu yang tinggi, kritis terhadap suatu permasalahan, jujur, selalu mendahulukan bukti, kreatif, dan terbuka merupakan ciri siswa yang selalu berpikir dan bertindak secara ilmiah, terstruktur, dan mandiri. Sikap-sikap tersebut sangat berpengaruh terhadap meningkatnya pencapaian siswa dalam bidang sains . Kimia merupakan salah satu mata pelajaran IPA yang pada hakekatnya merupakan pengetahuan berdasarkan fakta, hasil pemikiran serta produk yang dihasilkan . Oleh karena itu, sikap ilmiah dalam proses pembelajaran kimia sangat diperlukan untuk mendorong siswa agar lebih aktif dalam memecahkan suatu masalah berdasarkan langkah-langkah metode ilmiah. Jika siswa memiliki sikap ilmiah yang tinggi maka rasa keingintahuannya akan sesuatu hal juga tinggi, hal ini memungkinkan siswa tersebut berupaya menggali sendiri informasi yang dibutuhkan untuk menganalisis pembelajaran yang dilaksanakan sehingga siswa yang memiliki sikap ilmiah tinggi akan memiliki hasil belajar yang tinggi .

  Realita yang terjadi di SMAN 2 Sungai Raya, sikap ilmiah siswa dalam pembelajaran kimia masih sangat rendah. Hal ini disimpulkan dari hasil observasi yang dilakukan pada tanggal 11 dan 12 Oktober 2016. Proses pembelajaran kimia yang diajarkan guru mata pelajaran menggunakan metode ceramah dan diskusi kelompok. Sikap ilmiah siswa belum tercerminkan ketika siswa belajar dan berdiskusi kelompok. Selama proses pembelajaran, rasa ingin tahu siswa terhadap materi yang disampaikan guru masih sangat rendah. Sebanyak 30 siswa tidak satupun ada yang bertanya saat guru memberikan kesempatan untuk bertanya. Begitu juga ketika siswa melakukan diskusi, siswa lebih banyak bersantai daripada mencari dan mengumpulkan informasi/data yang harus dicari (Lampiran A-1). Siswa lebih berdiam diri dan tidak saling bekerjasama dengan siswa yang lain dalam mengolah informasi yang ada. Bahkan terdapat tiga kelompok diskusi, hanya 6 orang siswa yang mengerjakan tugas kelompoknya. Saat proses pembelajaran selesai, siswa menjadi sibuk sendiri dan tidak langsung merapikan meja dan kursi yang digunakan ketika berdiskusi. Sikap saling menghargai pendapat orang lain juga tidak tercerminkan ketika siswa berdiskusi (Lampiran A-1). Sikap-sikap yang dilakukan siswa sangat mencerminkan bahwa sikap ilmiah siswa masih sangat rendah. Sikap ilmiah siswa yang rendah berdampak pada hasil belajar yang diperoleh siswa. Hasil ulangan harian siswa pada semester genap tahun ajaran 2013/2014 dan 2014/2015 menunjukkan bahwa persentase ketuntasan siswa pada sebagian materi pelajaran tidak mencapai 70% (Tabel 1.1).

TABEL 1.1 Persentase Ulangan Harian Semester Genap Siswa Kelas XI IPA

  SMAN 2 Sungai Raya tahun ajaran 2013/2014 dan 2014/2015

  Materi Pelajaran Persentase Ketuntasan (%) Tahun Tahun 2013/2014 2014/2015

  Asam dan Basa 72,63 71,17 Stoikiometri Reaksi dan Titrasi Asam Basa 70,17 61,83 Larutan Penyangga 67,37 59,17 Hidrolisis Garam 53,17 48,83 Kelarutan dan Hasil Kali Kelarutan 59,83 55,73 Koloid

  95,54 95,73 Materi yang memiliki persentase ketuntasan terendah adalah materi hidrolisis garam. Materi hidrolisis garam merupakan salah satu materi pelajaran kimia yang didalamnya terdapat konsep-konsep dan perhitungan yang harus dipahami oleh siswa, antara lain konsep asam, basa, garam, reaksi penggaraman, pH larutan, dan konsep hidrolisis . Penjelasan yang disampaikan oleh guru mata pelajaran, pada tanggal 2 November 2016 menunjukkan bahwa minimnya ketuntasan siswa pada materi hidrolisis garam dikarenakan siswa tidak memahami materi tersebut.

  Hal yang paling mendasari siswa tidak memahami materi hidrolisis garam yaitu, siswa masih kesulitan untuk membedakan sifat asam dan basa, serta siswa merasa kesulitan dalam perhitungan materi hidrolisis garam karena banyak rumus yang mirip dengan rumus materi sebelumnya (asam- basa, titrasi asam-basa, dan larutan penyangga). Materi hidrolisis garam merupakan materi yang saling berkaitan dengan materi sebelumnya seperti asam-basa, titrasi asam-basa dan larutan penyangga, apabila siswa tidak sering mengulang materi-materi tersebut maka akan membuat siswa mudah lupa dan sulit untuk memahami materi hidrolisis garam (Lampiran A-2). Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan tanggal 1-3 November 2016 dengan sembilan orang siswa, proses pembelajaran kimia yang dilakukan guru dengan menggunakan metode ceramah menyebabkan suasana kelas menjadi sangat monoton dan membosankan. Pelaksanaan praktikum juga tidak pernah dilakukan, guru hanya menjelaskan materi dan memberikan tugas kepada siswa sehingga sikap ilmiah siswa sulit untuk dikembangkan

  (Lampiran A-3). Pelaksanaan praktikum hampir tidak pernah dilakukan oleh guru SMAN 2 Sungai Raya dikarenakan beberapa alasan, diantaranya tidak ada waktu khusus untuk pelaksanaan praktikum, alat dan bahan yang kurang memadai, serta tidak adanya laboran dalam proses pelaksanaan praktikum (Lampiran A-2). Padahal pelaksanaan praktikum memegang peran penting didalam pembelajaran kimia. Pelaksanaan proses pembelajaran yang monoton menggunakan metode ceramah menyebabkan siswa tidak dapat terlibat aktif dalam proses pembelajaran. Pelaksanaan proses pembelajaran yang tidak seimbang antara proses dan produk, menyebabkan siswa tidak mampu menumbuhkan dan mengembangkan sikap ilmiah yang ada didalam dirinya. Wardani, 2012). Metode praktikum merupakan metode yang cocok digunakan dalam proses pembelajaran kimia dengan tujuan agar siswa tidak hanya mengetahui, tetapi juga mengalami apa yang dipelajarinya sehingga proses belajar menjadi lebih bermakna. Pembelajaran kimia dengan metode praktikum dapat memudahkan siswa dalam memahami konsep-konsep kimia, meningkatkan keterampilan proses siswa dan mengembangkan proses berpikir siswa (Wardani, 2012). Metode praktikum dapat meningkatkan kemampuan berpikir siswa dalam menemukan dan memahami suatu konsep yang sedang dipelajari, sehingga metode praktikum dapat dijadikan solusi untuk meningkatkan sikap ilmiah dan hasil belajar siswa di SMAN 2 Sungai Raya. Dikarenakan siswa SMAN 2 Sungai Raya tidak pernah melakukan kegiatan praktikum, untuk menghindari terjadinya kecelakaan ketika proses praktikum berlangsung peran guru sangat diperlukan untuk membimbing siswa dalam melakukan kerja ilmiah. Berdasarkan hal tersebut, siswa tidak akan melakukan praktikum secara mandiri tetapi melalui bimbingan guru, sehingga metode yang tepat untuk diterapkan di SMAN 2 Sungai Raya adalah metode praktikum berbasis inkuiri terbimbing. Metode praktikum berbasis inkuiri terbimbing merupakan metode pembelajaran yang berpusat pada siswa (student centered) sehingga membuat siswa menemukan sendiri suatu konsep melalui data hasil eksperimen dan meningkatkan kemampuan berpikir jangka panjang. Siswa melakukan suatu percobaan yang dirancang sendiri dengan bimbingan guru untuk menguji suatu hipotesis yang merupakan prediksi siswa dalam menyelesaikan masalah yang diberikan oleh guru . Belajar secara inkuiri memanfaatkan keingintahuan siswa untuk mendapatkan suatu jawaban dari pertanyaan atau masalah yang dimilkinya. Pertanyaan atau masalah dapat memotivasi siswa untuk mencari tahu jawabannya melalui perencanaan dan pelaksanaan penyelidikan. Proses pembelajaran seperti ini akan melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan siswa untuk mencari dan menyelidiki secara sistematis, kritis, logis, analitis, sehingga siswa dapat merumuskan sendiri penemuannya. Dengan demikian proses penyelidikan yang dilakukan siswa dalam pembelajaran akan memberikan pemahaman yang lebih baik dan menjadi bermakna . Beberapa penelitian telah dilakukan mengenai proses pembelajaran praktikum berbasis inkuiri terbimbing, seperti yang dilakuka (2016) menunjukkan bahwa proses pembelajaran praktikum berbasis inkuiri terbimbing menekankan pada aktifitas siswa, siswa berperan aktif sebagai subyek belajar untuk membuat, mengamati, menemukan, hingga memberi kesimpulan teoritis yang jelas dengan mengemukakan bukti yang menunjang dari apa yang dipertanyakannya, sehingga pengalaman belajar siswa merupakan belajar bermakna dan akan terus terekam dimemori siswa. Penelitian yang dilakukan berdampak pada hasil belajar dan tingkat berpikir kritis siswa yang memiliki rata-rata lebih tinggi dibanding dengan siswa yang diajarkan menggunakan pembelajaran konvensional. Penelitian lain mengenai metode praktikum menyimpulkan bahwa sikap ilmiah siswa akan mempengaruhi hasil belajar siswa. Siswa yang diajarkan dengan metode eksperimen akan memiliki hasil belajar yang lebih baik daripada siswa yang diajar menggunakan metode ceramah dan tanya jawab .

  Penelitian yang dilakukan Wulandari, dkk (2013) proses pembelajaran praktikum berbasis inkuri terbimbing yang dilakukan dapat meningkatkan minat, motivasi serta hasil belajar siswa. Karena melalui praktikum berbasis inkuiri terbimbing siswa dapat memahami konsep materi yang dipelajari siswa melalui masalah yang berkaitan dengan pengalaman yang siswa lakukan sehingga proses pembelajaran menjadi lebih bermakna. Ermadianti dkk (2012), yang mendapatkan kesimpulan bahwa penerapan strategi pembelajaran inkuiri terbimbing dapat meningkatkan hasil belajar siswa sebesar 83,21%, karena strategi pembelajaran ini memberikan motivasi yang besar kepada siswa melalui permasalahan yang dimunculkan sehingga membuat siswa terlibat aktif dalam belajar dan tertarik untuk mendalami konsep. Pembelajaran eksperimen terbimbing seluruh jalannya percobaan sudah dirancang oleh guru sebelum percobaan dilakukan oleh siswa. Langkah-langkah yang harus dibuat siswa, peralatan yang harus digunakan, apa yang harus diamati dan diukur semuanya telah ditentukan dari awal. Sehingga membuat siswa semakin mudah dalam belajar. Berdasarkan permasalahan dan fakta-fakta yang telah dipaparkan, pelaksanaan pembelajaran menggunakan metode praktikum berbasis ikuiri terbimbing belum pernah diterapkan dan diteliti di SMAN 2 Sungai Raya. Oleh karena itu, dalam penelitian ini akan dikaji pengaruh metode praktikum berbasis inkuiri terbimbing terhadap sikap ilmiah dan hasil belajar siswa pada materi hidrolisis garam kelas XI IPA SMAN 2 Sungai Raya.

B. Rumusan Masalah

  Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah :

  1. Apakah terdapat perbedaan sikap ilmiah dan hasil belajar siswa yang diajar menggunakan metode praktikum berbasis konvensional dengan metode praktikum berbasis inkuiri terbimbing pada materi hidrolisis garam kelas XI IPA SMAN 2 Sungai Raya?

  2. Seberapa besar pengaruh metode praktikum berbasis inkuiri terbimbing terhadap sikap ilmiah dan hasil belajar siswa pada materi hidrolisis garam kelas XI IPA SMAN 2 Sungai Raya?

  C. Tujuan Penelitian

  Adapun tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui:

  1. Perbedaan sikap ilmiah dan hasil belajar siswa yang diajar menggunakan metode praktikum berbasis konvensional dengan metode praktikum berbasis inkuiri terbimbing pada materi hidrolisis garam kelas XI IPA SMAN 2 Sungai Raya.

  2. Pengaruh metode praktikum berbasis inkuiri terbimbing terhadap sikap ilmiah dan hasil belajar siswa pada materi hidrolisis garam kelas XI IPA SMAN 2 Sungai Raya.

  D. Manfaat Penelitian

  Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi ilmiah yang dapat dijadikan bahan pertimbangan dalam memilih metode pembelajaran alternatif yang tepat digunakan dalam kegiatan belajar mengajar, sehingga mencapai tujuan kegiatan belajar mengajar dan standar kelulusan yang diharapkan. Penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan sikap ilmiah dah hasil belajar siswa sesuai dengan tujuan dan standar yang ditentukan serta dapat meningkatkan kualitas pembelajaran disekolah.

  E. Definisi Operasional

  Untuk memperjelas ruang lingkup dan istilah-istilah dalam penelitian ini, maka perlu diberikan penjelasan secara operasional variabel-variabel berikut :

  1. Metode Praktikum Berbasis Inkuiri Terbimbing

  Metode praktikum berbasis inkuiri terbimbing merupakan metode pembelajaran yang berpusat pada siswa (student centered) sehingga membuat siswa menemukan sendiri suatu konsep melalui data hasil eksperimen. Siswa melakukan suatu percobaan yang dirancang sendiri dengan bimbingan guru serta menguji suatu hipotesis yang merupakan prediksi siswa dalam menyelesaikan masalah yang diberikan oleh guru . Langkah-langkah metode praktikum yang akan

  dilakukan dalam penelitian ini dikembangkan dari , yaitu:

  a) Langkah-langkah pembelajaran kelas eksperimen menggunakan

  metode praktikum berbasis inkuiri terbimbing

  1) Tahap Persiapan (Orientasi)

  a) Guru memberikan salam saat masuk kelas

  b) Guru memimpin siswa untuk berdoa

  c) Guru mengecek kehadiran siswa

  d) Guru menyiapkan siswa secara fisik dan mental melalui

  pemberian pertanyaan apersepsi mengenai materi sebelumnya

  e) Guru mengkomunikasikan pembelajaran yang akan dilaksanakan f) Guru mengkomunikasikan tujuan pembelajaran yang harus dicapai siswa g) Guru memberikan penjelasan mengenai pentingnya mempelajari materi hidrolisis garam h) Guru membimbing siswa membentuk kelompok

  2) Tahap Pelaksanaan

  a. Merumuskan masalah

  a) Guru membagikan LKS kepada setiap kelompok

  b) Guru menjelaskan mengenai langkah-langkah inkuiri

  c) Guru membimbing siswa merumuskan masalah berdasarkan informasi yang terdapat pada LKS b. Merumuskan hipotesis

  Guru membimbing siswa merumuskan hipotesis berdasarkan rumusan masalah yang dibuat c. Mengumpulkan data

  a) Guru membimbing siswa untuk melakukan kegiatan praktikum b) Guru membimbing siswa menyiapkan alat dan bahan praktikum c) Guru membimbing siswa melaksanakan praktikum

  d. Menguji hipotesis

  a) Guru membimbing siswa berdiskusi untuk menguji hipotesis yang telah dibuat b) Guru meminta salah satu perwakilan kelompok untuk melaporkan hasil diskusi c) Guru memberi kesempatan kepada siswa untuk saling menanggapi hipotesis dan hasil diskusi yang disampaikan

  d) Guru memberi penguatan dan menjawab pertanyaan dari siswa yang kesulitan dan menanggapi perumusan hipotesis yang diajukan oleh siswa

  3) Tahap Penutup

  a) Guru membimbing siswa untuk menyimpulkan pembelajaran b) Guru memberikan tugas rumah

  c) Guru memberi salam penutup

  b) Langkah-langkah metode praktikum kelas kontrol 1) Tahap Persiapan

  a) Guru memberikan salam saat masuk kelas

  b) Guru memimpin siswa untuk berdoa

  c) Guru mengecek kehadiran siswa

  d) Guru memberikan apersepsi mengenai materi hidrolisis garam e) Guru mengkomunikasikan tujuan yang harus dicapai oleh siswa setelah melakukan pembelajaran f) Guru mengomunkasikan langkah-langkah praktikum yang akan dilakukan

  2) Tahap Pelaksanaan

  a) Guru mengatur posisi kelompok yang telah ditentukan

  b) Guru mengarahkan siswa untuk membuat tabel pengamatan pada setiap kelompok c) Guru mengarahkan siswa melakukan kegiatan praktikum d) Guru memberikan kesempatan kepada setiap kelompok untuk mendiskusikan hasil pengamatan yang dilakuakan selama praktikum

  e) Guru memberikan kesempatan kepada salah satu kelompok untuk mempresentasikan hasil diskusi f) Guru memberikan penguatan materi

  3) Tahap Penutup

  a) Guru memberikan tugas rumah

  b) Guru meminta siswa untuk menyimpulkan pembelajaran

  c) Guru memberi salam penutup

  2. Sikap Ilmiah Sikap ilmiah merupakan kecenderungan siswa untuk bertindak terhadap suatu objek berdasarkan langkah-langkah metode ilmiah. Sikap ilmiah yang dimaksud dalam penelitian ini adalah, siswa mampu menunjukkan rasa ingin tahu, respek terhadap data dan fakta, berpikir kritis, berpikir terbuka dan kerjasama, ketekunan, serta peka terhadap lingkungan sekitar (Anwar, 2009) selama proses pembelajaran berlangsung.

  3. Hasil Belajar Hasil belajar yang dimaksud dalam penelitian ini adalah nilai pretest dan posttest siswa dalam menyelesaikan soal-soal materi hidrolisis garam. Bentuk soal yang digunakan dalam penelitian ini berupa soal essai sebanyak lima soal.

  4. Hidrolisis Garam Hidrolisis garam merupakan salah satu materi pelajaran kimia di kelas

  XI IPA semester genap berdasarkan kurikulum KTSP. Alokasi waktu yang diperlukan untuk penelitian ini adalah 2 x 45 menit dengan 1 kali pertemuan. Materi praktikum pada hidrolisis garam yang akan dijadikan penelitian adalah “Uji Larutan Garam Dalam Air”. Materi yang dicakup dalam penelitian ini adalah materi hidrolisis garam, garam yang dapat terhidrolisis, sifat asam-basa suatu garam, menentukan pH larutan garam

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Model Pembelajaran Inkuiri Terbimbing (Guide Inquiry) Model pembelajaran inkuiri terbimbing adalah model pembelajaran

  inkuiri yang penyajian masalah, pertanyaan dan materi atau bahan penunjang ditentukan oleh guru. Masalah dan pertanyaan yang disajikan mendorong siswa melakukan penyelidikan untuk menentukan jawaban. Kegiatan siswa dalam pembelajaran ini adalah mengumpulkan data dari masalah yang ditentukan guru, membuat hipotesis, melakukan penyelidikan, menganalisis hasil, membuat kesimpulan dan mengkomunikasikan hasil penyelidikan (Nurhasanah, 2016).

B. Metode Praktikum Berbasis Konvensional

  Beberapa ahli pendidikan memberikan pengertian mengenai metode praktikum. Syaiful Bahri Djaramah (1995) menjelaskan bahwa metode praktikum adalah cara penyajian pelajaran, yakni murid melakukan percobaan dengan mengalami dan membuktikan sendiri sesuatu yang dipelajari. Sementara itu, Roestiyah (2001) menjelaskan bahwa metode praktikum termasuk salah satu cara mengajar dengan siswa melakukan percobaan tentang sesuatu, mengamati proses, menuliskan hasil percobaan, kemudian menyampaikan hasil pengamatan di dalam kelas untuk dievaluasi oleh guru . Pada umumnya praktikum yang dilakukan di sekolah menggunakan metode praktikum berbasis konvensional belum memberikan pengalaman kepada siswa untuk membuat hipotesis, menguji hipotesis, dan menganalisis data. Hal tersebut dikarenakan prosedur praktikum yang digunakan umumnya hanya berisi instruksi langsung. Siswa mengerjakan langkah-langkah sesuai perintah, sehingga kurang melatih sikap ilmiah siswa. Selain itu, kegiatan praktikum yang dilakukan belum memberikan kesempatan kepada siswa untuk berpartisipasi secara aktif dalam melakukan eksperimen untuk menemukan konsep sendiri (B. Siska, Kurnia, dan Yayan, 2013).

C. Metode Praktikum Berbasis Inkuiri Terbimbing

  Metode praktikum berbasis inkuiri terbimbing merupakan metode pembelajaran yang berpusat pada siswa (student centered) sehingga membuat siswa menemukan sendiri suatu konsep melalui data hasil eksperimen dan meningkatkan kemampuan berpikir jangka panjang. Siswa melakukan suatu percobaan yang dirancang sendiri dengan bimbingan guru untuk menguji suatu hipotesis yang merupakan prediksi siswa dalam menyelesaikan masalah yang diberikan oleh guru . Metode praktikum berbasis inkuiri terbimbing lebih menekankan siswa untuk menemukan konsep melalui percobaan menggunakan langkah-langkah ilmiah dari model pembelajaran inkuiri terbimbing dan dibantu dengan petunjuk praktikum (B.

  Siska, Kurnia, dan Yayan, 2013). Secara umum proses pembelajaran praktikum berbasis inkuiri terbimbing dilakukan melalui tahapan sebagai berikut :

  a. Orientasi Langkah orientasi adalah langkah untuk membina suasana pembelajaran yang responsif. Pada langkah ini guru mengkondisikan agar siswa siap melaksanakan proses pembelajaran. Pada langkah ini guru merangsang dan mengajak siswa untuk berpikir memecahkan masalah.

  b. Merumuskan Masalah Merumuskan masalah merupakan langkah membawa siswa pada suatu persoalan yang mengandung teka-teki. Persoalan yang disajikan adalah persoalan yang menantang siswa untuk berpikir.

  c. Merumuskan Hipotesis Hipotesis adalah jawaban sementara dari suatu permasalahan yang sedang dikaji. Sebagai jawaban sementara, hipotesis perlu diuji kebenarannya. Salah satu cara yang dapat dilakukan guru untuk mengembangkan kemampuan berhipotesis pada setiap anak adalah dengan mengajukan berbagai pertanyaan yang dapat mendorong siswa untuk dapat merumuskan jawaban sementara dari suatu permasalahan yang dikaji. d. Mengumpulkan Data Mengumpulkan data adalah aktivitas menjaring informasi yang dibutuhkan untuk menguji hipotesis yang diajukan. Dalam pembelajaran inkuiri, mengumpulkan data merupakan proses mental yang sangat penting dalam pengembangan intelektual. Proses pengumpulan data bukan hanya memerlukan motivasi yang kuat dalam belajar, akan tetapi juga membutuhkan ketekunan dan kemampuan menggunakan potensi berpikirnya.

  e. Menguji Hipotesis Menguji hipitesis adalah proses menentukan jawaban yang dianggap diterima sesuai dengan data atau informasi yang diperoleh berdasarkan pengumpulan data. Yang terpenting dalam menguji hipotesis adalah mencari tingkat keyakinan siswa atas jawaban yang diberikan. Menguji hipotesis juga mengembangkan kemampuan berpikir rasional. Artinya, kebenaran jawaban yang diberikan bukan hanya berdasarkan argumentasi, akan tetapi harus didukung oleh data yang ditemukan dan dapat dipertanggungjawabkan.

  f. Merumuskan Kesimpulan Merumuskan kesimpulan adalah proses mendeskripsikan yang diperoleh berdasarkan hasil pengujian hipotesis. Untuk mencapai kesimpulan yang akurat sebaiknya guru mampu menunjukkan pada siswa data mana yang relevan.

D. Hasil Belajar 1. Pengertian Belajar

  Belajar adalah suatu aktivitas atau suatu proses untuk memperoleh pengetahuan, meningkatkan keterampilan, memperbaiki perilaku, sikap, dan mengokohkan kepribadian. Dalam konteks menjadi tahu atau prose memperoleh pengetahuan, menurut pemahaman sains konvensional, kontak manusia dengan alam diistilahkan dengan pengalaman (experience). Pengalaman yang terjadi berulang kali melahirkan pengetahuan (knowledge) .

  2. Hasil Belajar Hasil belajar adalah kemampuan yang dimiliki oleh siswa setelah

  menerima pengalaman belajarnya. Belajar itu sendiri merupakan suatu proses dari seseorang yang berusaha memperoleh sutu bentuk perubahan perilaku yang relatif menetap. Hasil belajar yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya. Proses penilaian terhadap hasil belajar dapat memberikan informasi kepada guru tentang kemajuan siswa salam upaya mencapai tujuan-tujuan belajarnya melalui kegiatan belajar. Selanjutnya dari informasi tersebut guru dapat menyusun dan membina kegiatan-kegiatan siswa lebih lanjut, baik untuk keseluruhan kelas maupun individu .

  3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar

  Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar adalah sebagai berikut :

  a. Faktor Intern 1) Faktor jasmani, misalnya : kesehatan 2) Faktor psikologis, misalnya : Intelegensi, perhatian, minat, bakat, motif, kematangan, dan kesiapan.

  b. Faktor Eksternal Faktor eksternal merupakan faktor yang berasal dari luar pribadi manusia atau berasal dari orang lain atau lingkungannya.

  Adapun faktor-faktor tersebut antara lain: 1) Pengaruh Orang Tua Mendidik anak merupakan tanggung jawab utama orang tua.

  Peran orang tua menjadi penting dalam mendidik anak-anaknya, baik dalam sudut pandang agama, sosial kemasyarakatan maupun individu. Keluarga hendaknya tercipta hubungan timbal balik dalam pendidikan, sebab dalam keluarga inilah orang tua menjadi suri tauladan utama, terutama dalam aktivitas beragama. 2) Pengaruh Guru

  Guru merupakan orang tua kedua setelah orang tua yang dapat mempengaruhi akhlak anak (peserta didik), yakni melalui kepribadian dan keteladanannya, sehingga guru hendaknya kepribadian yang mencerminkan agama, sebagaimana yang telah dan akan diajarkan kepada peserta didiknya. 3) Pengaruh Lingkungan Masyarakat

  Keberagaman seseorang (peserta didik) juga dipengaruhi oleh lingkungan masyarakatnya, hal ini dikarenakan dalam kehidupan masyarakat dibatasi oleh berbagai norma dan nilai yang didukung oleh warganya. Setiap warga termasuk peserta didik harus bersikap dan berakhlak yang sesuai dengan norma dan nilai yang ada tersebut. Lingkungan agama yang agamis dapat menciptakan dan memperkuat jiwa keberagaman seseorang, yang mana fungsi dan peran tersebut sangat bergantung pada seberapa jauh masyarakat tersebut menjunjung tinggi norma dan nilai yang ada. 4) Pengaruh Lembaga Pendidikan (Sekolah)

  Pendidikan agama di sekolah, bagaimanapun juga akan memberikan pengaruh terhadap pembentukan keberagaman peserta didik. Namun demikian, besar kecilnya pengaruh tersebut sangat tergantung pada beberapa faktor yang dapat memotivasi peserta didik dalam memahami nilai-nilai agama, sebab pada hakikatnya pendidikan agama merupakan pendidikan nilai. Oleh karena itu, pendidikan agama lebih dititik beratkan pada bagaimana kebiasaan yang selaras dengan tuntunan agama.

E. Sikap Ilmiah 1. Pengertian Sikap Ilmiah

  Sikap ilmiah merupakan dorongan perasaan dan keyakinan yang muncul dari dalam diri seseorang untuk bertingkah laku atau berbuat sesuatu pada suatu objek dengan berpedoman pada prosedur pemecahan masalah dengan menggunakan langkah-langkah metode ilmiah yang meliputi, mengidentifikasi dan menyatakan masalah, merumuskan hipotesis, mendesain dan melaksanakan suatu eksperimen, mengobservasi, mengumpulkan dan menganalisis data, mengulang kembali eksperimen untuk membuktikan kebenaran data, serta menarik kesimpulan . Secara umum, sikap ilmiah dapat diartikan sebagai suatu kesiapan yang kompleks dari seseorang individu untuk memperlakukan suatu objek dengan cara, metode, teknik dan pola tertentu. Sikap ilmiah diartikan sebagai suatu kecenderungan, kesiapan, kesediaan seseorang untuk memberikan respon/tanggapan/tingkah laku secara ilmu pengetahuan dan memenuhi syarat ilmu pengetahuan yang telah diakui kebenarannya. Sikap ilmiah merupakan pendekatan tertentu untuk memecahkan masalah, menilai ide dan informasi untuk membuat keputusan. Pengambilan keputusan berdasarkan bukti yang telah dikumpulkan dan dievaluasi secara objektif. Diperlukan juga sikap kritis berdasarkan bukti yang relevan. Orang yang melakukan prosedur ini dikatakan memiliki sikap ilmiah . Pengukuran sikap ilmiah siswa dapat didasarkan pada pengelompokkan sikap sebagai dimensi sikap, selanjutnya dikembangkan indikator-indikator sikap untuk setiap dimensi sehingga memudahkan menyusun butir instrumen sikap ilmiah. Dimensi sikap ilmiah dikelompokkan dalam tabel berikut :

  TABEL 2.1: Dimensi dan Indikator Sikap Ilmiah

  Dimensi Indikator Sikap Ingin Tahu Antusias mencari jawaban Perhatian terhadap objek yang diamati

  Antusias pada proses sains Menanyakan setiap langkah kegiatan Sikap Respek Terhadap Onyektif/jujur Data/Fakta Tidak memanipulasi data

  Tidak purbasangka

Mengambil keputusan sesuai fakta

Tidak mencampur fakta dengan pendapat Sikap Berpiki Kritis Meragukan temuan teman Menanyakan setiap perubahan/hal baru Mengulaingi kegiatan yang dilakukan Tidak mengabaikan data meskipun kecil Sikap Penemuan dan Menggunakan fakta-fakta untuk dasar konklusi

  Kreativitas Menunjukkan laporan berbeda dengan teman kelas Merubah pendapat dalam merespon terhadap fakta

  Menggunakan alat tidak seperti biasanya

Menyarankan percoban baru

Menguraikan konklusi baru hasil pengamatan Sikap Berpikiran

  Terbuka dan Kerjasama Menghargai pendapat atau temuan orang lain Mau merubah pendapat jika data kurang

Menerima saran dari teman

Tidak merasaselalu benar Menganggap setiap kesimpulan adalah tentatif Berpartisipasi aktif dalam kelompok

  Sikap Ketekunan Melanjutkan meneliti sesudah “kebaruannya” hilang Mengulangi percobaan meskipun berakibat kegagalan Melengkapi satu kegiatan meskipun teman kelas selesai lebih awal Sikap Peka Terhadap

  Lingkungan Sekitar Perhatian terhadap peristiwa sekitar Partisipasi pada kegiatan sosial Menjaga kebersihan lingkungan sekolah

  Aplikasi pembentukan sikap ilmiah dapat dilaksanakan dalam proses pembelajaran, baik dalam menyampaikan materi, melaksanakan percobaan, dalam menilai hasil percobaan dan pretasi belajar siswa. Dalam penelitian ini digunakan indikator dan dimensi sikan dari Harson Anwar sebagai acuan dalam penelitian sikap ilmiah siswa.

F. Hidrolisis Garam 1. Hidrolisis

  Apabila garam-garam dilarutkan dalam air, larutan tersebut tidak selalu bereaksi netral. Hal ini disebabkan karena sebagian dari garam berinteraksi dengan air, akibatnya ion hidrogen atau ion hidroksil tertinggal dengan berlebihan dalam larutan, dan larutan itu sendiri masing-masing menjadi asam atau bersifat basa. Dalam hal ini terdapat empat kategori garam, yakni :

  a. Garam-garam yang berasal dari asam kuat dan basa kuat, misalnya kalsium klorida b. Garam-garam yang berasal dari asam lemah dan basa kuat, misalnya natrium asetat c. Garam-garam yang berasal dari asam kuat dan basa lemah, misalnya amonium klorida d. Garam-garam yang berasal dari asam lemah dan basa lemah, misalnya amonium asetat

  2. Garam dari Asam Kuat dan Basa Kuat

  Apabila dilarutkan dalam air, menunjukkan reaksi yang netral, karena baik anion ataupun kation-nya, masing-masing tidak ada yang bergabung denga ion hidrogenmembentuk asam lemah yang sangat sedikit berdisosiasi. Karena itu kesetimbangan disosiasi air tidak terganggu .

  − +

  • → ⃖

  2 Konsentrasi ion-hidrogen dalam larutan sama dengan konsentrasi ion- hidroksil; maka larutan beraksi netral.

  3. Garam dari Asam Lemah dan Basa Kuat Apabila dilarutkan dalam air, menghasilkan larutan yang bereaksi basa.

  Hal tersebut terjadi akibat anion bergabung dengan ion hidrogen membentuk asam lemah yang sangat sedikit berdisosiasi, sehingga ion hidroksil tertinggal dalam larutan. Misalnya dalam larutan natrium asetat, terdapat kedua kesetimbangan sebagai berikut:

  − +

  • → ⃖

  2 − +

  • → ⃖

  3

  3 Jadi, ion-ion hidrogen yang terbentuk dari disosiasi air, sebagian akan

  bergabung dengan ion asetat. Karenanya kedua persamaan dapat dijumlahkan, yang akan menghasilkan kesetimbangan hidrolisis menyeluruh.

  − −

  • → ⃖ +

  3

  

2

  3 Dalam larutan, banyaknya ion hidroksil akan sangat melebihi ion

  hidrogen, dan larutan akan bereaksi basa. Umumnya jika garam dari suatu

  −

  asam lemah berbasa satu HA dilarutkan dalam air, anion akan bergabung

  −

  • dengan ion hidrogen membentuk asamnya yang tidak terdisos>→ ⃖ , ion-ion hidrogen itu dihasilkan oleh disosiasi air : → ⃖

  2 −

  . Ketika melarutkan garam, makin lama makin banyak molekul-molekul air menjadi ter-ionisasi, karena menghilangnya ion hidrogen dari kesetimbangan. Menurut hukum aksi massa, menggeser kesetimbangan ke kanan. Kedua kesetimbangan dapat digabung dengan menjumlahkan, menjadi :

  − −

  → ⃖ + +

  

2

Tetapan kesetimbangan dari proses ini disebut tetapan hidrolisis, dan

  dapat ditulis:

  − −

  [ ] [ ] ℎ =

  −

  Konsentrasi air, seperti dalam hal kesetimbangan disosiasinya dapat dianggap konstan dan karena itu, dapat dimasukkan kedalam nilai tetapan hidrolisis Kh. Makin besar nilai Kh, makin besar derajat hidrolisis itu, dan makin basa larutan.

  4. Garam dari Asam Kuat dan Basa Lemah

  Apabila dilarutkan dalam air, akan menghasilkan larutan yang bereaksi

  • asam. Kation dari garam bereaksi dengan ion-ion hidroksil, yang dihasilkan oleh disosiasi air, membentuk basa lemah MOH dan meninggalkan ion-ion hidrogen dalam larutan :

  − +

  • → ⃖

  2

  • + −

  → ⃖ + Kesetimbangan hidroksil keseluruhan dapat ditulis sebagai berikut :

  → + ⃖ +

  

2

Karena ion hidrogen terbentuk dalam reaksi ini, larutan akan menjadi asam.

  Tetapan hidrolisisnya dapat ditulis :

  • [ ][ ]

  yang menunjukkan bahwa tetapan hidrolisis adalah ℎ = =

  • [ ] sama dengan rasio antara tetapan ionisasi air dan basa lemah itu.

  5. Garam dari Asam Lemah dan Basa Lemah

  Apabila dilarutkan dalam air, akan mengalami hidrolisis yang agak kompleks. Hidrolisis kationnya mengakibatkan pembentukan basa lemah yang tidak terdisosiasi.

  → ⃖ + +

  

2

Sedangkan hidrolisis anionnya menghasilkan asam lemah

  • 2

  tetapan disosiasi dari asam dan basa tersebut kebetulan sama. Tergantung dari nilai relatif tetapan-tetapan disosiasi ini, tiga hal dapat terjadi :

  3. Jika Ka = Kb ( asamnya dan basanya sama lemah ) kedua konsentrasi akan menjasi sama dan larutan akan netral.

  2. Jika Ka < Kb ( basanya lebih kuat dari asamnya ) kebalikannya yang akan terjadi, dan larutan menjadi basa.

  1. Jika Ka > Kb (asamnya lebih kuat dari basanya) konsentrasi ion hidrogen akan melampaui konsentrasi ion-hidroksil, dan larutan akan menjadi asam.

  −

  → ⃖ +

  −

  Ion-ion hidrogen dan hidroksil yang terbentuk dalam proses ini sebagian bergabung kembali membentuk air :

  −

  → ⃖

  2 Persamaan-persamaan diatas tidak dapat dijumlahkan, kecuali bila

6. Tetapan Pengionanan Asam Lemah

  −8

  −3

  Besar Besar

  1,2 × 10

  −2

  1,3 × 10

  −2

  6,3 × 10

  1,1 × 10

  −2

  7,5 × 10

  6,2 × 10

  −8

  4,4 × 10

  −13

  • +

    +
  • +

    +
  • − −7

  2 −

  → ⃖

  2

  → ⃖

  2 −

  2

  3

  −5

  2

  2

  −4

  3

  6,6 × 10

  1,8 × 10

  −4

  1,8 × 10

  −4

  5,1 × 10

  2 −

  

  → ⃖

  2

  2

  4 2−

  → ⃖

  4 − 4 −

  → ⃖

  4

  −

  → ⃖

  → ⃖

  Asam klorida Asam sulfat Asam sulfit Asam klorit Asam fosfat Asam fluorida Asam nitrit Asam format Asam asetat

  Nama Reaksi pengionan yang

disederhanakan

Ka

  ℃

  TABEL 2.2: Tetapan pengionan asam Tetapan pengionan asam-asam dalam larutan air pada

  Kuat suatu asam dihubungkan dengan derajat pengionannya, yang besarnya dicerminkan oleh harga tetaan pengionan. Makin kecil harga Ka, makin lemah asam itu :

  3

  3 − 3 −

  2

  4 −

  → ⃖

  4 3−

  → ⃖

  4 2− 4 2−

  → ⃖

  2

  2

  → ⃖

  → ⃖

  4

  3

  3 −

  → ⃖

  3

  3 2−

  4 −

  → ⃖ 4,2 × 10

  • Asam karbonat

  2

  3

  3

  • − 2− &minu
  • → ⃖ 5,6 × 10

  3

  3

  • − −7

  Asam sulfid → ⃖ 1,1 × 10 +

  2 − + 2− −14

  → ⃖ 1,0 × 10 + 7.

   Tetapan Pengionan Basa Lemah

  Tetapan pengionan untuk beberapa basa lemah dicantumkan pada tabel berikut : TABEL 2.3: Tetapan pengionan basa

  Tetapan pengionan basa dalam larutan air pada ℃

  Nama Reaksi pengionan Kb

  • − −4

  Dimetilamina ⃖ (

  • ( + ) → ) 5,9 × 10

  3

  2

  2

  3

  2

  2

  • − −4

  Metilamina → ⃖ 4,2 × 10 + +

  3

  2

  2

  3

  3

  • − −4

  Trimetilamina ( ) → ⃖ ( + + ) 3,6 × 10

  3

  3

  2

  3

  3 − + −5

  Amonia → + ⃖ 1,8 × 10 +

  3

  2

  

4

  −9

  • Hidroksilamina

  → ⃖ + 9,1 × 10

  2

  2

  2

  Hidrazina

  −7

  → ⃖ + + 9,8 × 10

  2

  4

  2

  

2

  5

− + +

  • → ⃖

  1,3

  2

  5

  2

  

2

  6 −15

  × 10 8.

   Konsentrasi Ion Hidrogen

  Untuk menyatakan konsentrasi ion hidrogen maupun ion hidroksida dalam suatu bilangan kali sepuluh berpangkat suatu bilangan negatif, dengan menyatakan konsentrasi ion hidrogen dari larutan asam, basa, dan netral yang encer, dalam pH. pH suatu larutan dinyatakan sebagai berikut :

  1

  • pH = log atau pH = - log [

  ]

  • [ ]

  Sejauh mana keasaman atau kebasaan suatu larutan, dinyatakan secara lengkap dan ringkas oleh harga pH-nya : Jika pH 7,0, larutan bersifat netral Jika pH dibawah 7,0, larutan bersifat asam Jika pH diatas 7,0, larutan bersifat basa

G. Hipotesis

  Berdasarkan rumusan masalah dan tujuan penelitian, maka dirumuskan hipotesis sebagai langkah pemecahan masalah. Me hipotesis adalah jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian, dimana rumusan masalah penelitian telah dinyatakan dalam bentuk kalimat pertanyaan. Sejalan dengan pendapat tersebut, maka hipotesis dalam penelitian ini adalah:

  1. Terdapat perbedaan sikap ilmiah dan hasil belajar siswa yang diajar menggunakan metode praktikum berbasis inkuiri terbimbing dengan metode praktikum berbasis konvensional pada materi hidrolisis garam kelas XI IPA SMAN 2 Sungai Raya.

  2. Terdapat Pengaruh metode praktikum berbasis inkuiri terbimbing terhadap sikap ilmiah dan hasil belajar siswa pada materi pokok hidrolisis garam kelas XI IPA SMAN 2 Sungai Raya.

BAB III METODE PENELITIAN A. Metode dan Bentuk Penelitian Metode penelitian merupakan rangkaian cara atau kegiatan pelaksanaan

  penelitian yang didasari oleh asumsi-asumsi dasar, pandangan-pandangan filosofis dan ideologis, pertanyaan dan isu-isu yang dihadapi. Suatu metode penelitian memiliki rancangan penelitian (reserch design) tertentu. Rancangan ini menggambarkan prosedur atau langkah-langkah yang harus ditempuh, waktu penelitian, sumber data dan kondisi arti apa data dikumpulkan, dan dengan cara bagaimana data tersebut dihimpun dan diolah. Tujuan rancangan penelitian adalah melalui penggunaan metode penelitian yang tepat, dirancang kegiatan yang dapat memberikan jawaban yang diteliti terhadap pertanyaan-pertanyaan penelitian . Berdasarkan masalah dan tujuan yang telah di rumuskan, metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian eksperimen. Metode penelitian eksperimen yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksperimen kuasi (Quasi-Eksperimental). Eksperimen kuasi juga disebut eksperimen semu. Metode eksperimen semu pada dasarnya sama dengan eksperimen murni, bedanya adalah dalam pengontrolan variabel. Pengontrolannya hanya pada satu variabel saja, yaitu variabel yang dipandang paling dominan. Pengontrolannya juga tidak sepenuhnya disamakan tetapi dipasangkan (matching) . Eksperimen dalam penelitian ini dibuat dengan dua rancangan penelitian. Rancangan Tabel 3.1 merupakan rancangan penelitian hasil belajar siswa, sedangkan Tabel 3.2 merupaka rancangan penelitian sikap ilmiah siswa. Rancangan penelitian tersebut berbentuk Tabel 3.1 dan 3.2 . TABEL 3.1: Rancangan Pretest Posttest untuk Mengetahui Hasil Belajar

  Siswa

  Kelas Pretest Perlakuan Posttest E

  X

  1

  2 K

  3

  4 Keterangan : E : Kelas eksperimen K : Kelas kontrol X : Perlakuan pada kelas eksperimen

  : Pretest pada kelas eksperimen

  1

  : Pretest pada kelas kontrol

  3

  : Postest pada kelas eksperimen

  2

  : Postest pada kelas kontrol

  4 TABEL 3.2: Rancangan One-Shot Case Study untuk Observasi Sikap Ilmiah

  Siswa

  

Kelas Perlakuan Observasi

E

  

X

  1 K

  2 Keterangan :

  E : Kelas eksperimen K : Kelas kontrol X : Perlakuan pada kelas eksperimen

  : Observasi pada kelas eksperimen

  1

  : Observasi pada kelas eksperimen

2 Rancangan penelitian pertama dibuat untuk rancangan penelitian hasil

  belajar siswa. Pengukuran hasil belajar dalam penelitian ini akan dilakukan dengan dua cara yaitu pretest dan posttest. Pemberian pretest dan posttest akan dilakukan di kelas eksperimen dan juga di kelas kontrol, yang membedakan keduanya adalah perlakuan yang di berikan. Pada kelas kontrol perlakuan yang diberikan berupa proses pembelajaran menggunakan metode ceramah, sedangkan pada kelas eksprerimen di berikan perlakuan berupa proses pembelajaran menggunakan metode praktikum. Rancangan penelitian kedua merupakan rancangan penelitian sikap ilmiah siswa. Pengukuran sikap ilmiah siswa, akan dilakukan ketika proses kegiatan belajar mengajar berlangsung baik di kelas eksperimen maupun di kelas kontrol. Sikap ilmiah siswa akan diukur melalui observasi langsung (pengamatan) menggunakan lembar observasi, dan proses pengamatan dalam penelitian ini akan dibantu oleh beberapa observer yang akan ditempatkan dalam setiap kelompok belajar oleh peneliti.

  B. Variabel Penelitian

  Variabel penelitian adalah segala sesuatu yang berbentuk apa saja yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh informasi tentang hal tersebut, kemudian ditarik kesimpulannya .Variabel- variabel dalam penelitian ini adalah :

  1. Variabel Bebas Variabel bebas merupakan variabel yang mempengaruhi atau menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel terikat .

  Variabel bebas dalam penelitian ini adalah:

  a. Pembelajaran dengan metode praktikum berbasis inkuiri terbimbing b. Pembelajaran dengan metode praktikum berbasis konvensional

  2. Variabel Terikat Variabel terikat merupakan variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat, karena adanya variabel bebas . Variabel terikat dalam penelitian ini adalah sikap ilmiah dan hasil belajar siswa pada materi pokok hidrolisis garam kelas XI IPA SMAN 2 Sungai Raya.

  3. Variabel Kontrol Variabel kontrol adalah variabel yang dikendalikan atau dibuat konstan sehingga hubungan variabel bebas terhadap variabel terikat tidak dipengaruhi oleh faktor luar yang tidak diteliti . Variabel kontrol dalam penelitian ini adalah guru, materi yang diajarkan, serta waktu pelajaran.

  C. Waktu dan Tempat Penelitian

  Penelitian ini dilakukan di SMA Negeri 2 Sungai Raya Jalan Raya Desa Kapur Pari Pak Reweng Kecamatan Sungai Raya Kabupaten Kubu Raya. Adapun waktu penelitian dapat dilihat pada Tabel 3.3.

  TABEL 3.3: Daftar Pelaksanaan Penelitian

  Kegiatan Kelas Kelas Eksperimen Kontrol Hari/Tanggal Waktu Hari/Tanggal Waktu

Pretest Rabu, 03 Mei 2017 10.15-11.00 Rabu, 03 Mei 2017 08.00-08.45

Perlakuan Selasa,

  09 Mei 08.30-10.00 Selasa,

  09 Mei 12.15-13.30

  

Postest 2017 07.00-07.45 2017 08.00-08.45

  Rabu, 10 Mei 2017 Rabu, 10 Mei 2017 D.

   Populasi dan Sampel 1. Populasi Penelitian

  Mepopulasi adalah kelompok besar dan wilayah yang menjadi lingkup penelitian. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI IPA SMAN 2 Sungai Raya tahun ajaran 2016/2017 yang terdiri dari tiga kelas yaitu XI IPA1 yang berjumlah 30 siswa, XI

  IPA2 yang berjumlah 30 siswa, dan XI IPA3 yang berjumlah 31 siswa.

2. Sampel Penelitian

  Sampel menurut adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Berdasarkan hasil uji homogenitas menggunakan uji barlet diperoleh varians sampel yang homogen. Teknik sampling yang digunakan adalah cluster random

  sampling. Kelas yang digunakan adalah kelas XI IPA 1 dijadikan sebagai

  kelas eksperimen yang diberi perlakuan berupa penerapan metode praktikum berbasis inkuiri terbimbing dan kelas XI IPA 3 dijadikan kelas kontrol yang diberi perlakuan berupa penerapan metode praktikum berbasis konvensional.

E. Prosedur Penelitian

  Prosedur penelitian disusun dengan tujuan agar langkah-langkah penelitian lebih terarah pada permasalahan yang dikemukakan. Adapun prosedur penelitian ini sebagai berikut :

  1. Tahap Pra Penelitian

  a. Observasi

  b. Wawancara guru dan siswa

  2. Tahap Persiapan

  a. Membuat perangkat pembelajaran berupa RPP

  b. Memvalidasi perangkat pembelajaran RPP

  c. Perangkat pembelajaran dinyatakan tidak valid oleh validator, maka akan dilakukan proses perbaikan sampai perangkat pembelajaran RPP dinyatakan valid

  d. Menyiapkan instrumen penelitian berupa lembar observasi sikap ilmiah siswa dan soal tes hasil belajar e. Memvalidasi instrumen penelitian ( lembar observasi sikap ilmiah siswa dan soal tes hasil belajar) f. Instrumen yang dinyatakan tidak valid, maka dilakukan proses perbaikan instrumen sampai instrumen tersebut dinyatakan valid g. Khusus instrumen soal tes hasil belajar yang sudah diperbaikai dan dinyatakan valid, akan diuji coba h. Menentukan reliabilitas instrumen penelitian (lembar observasi sikap ilmiah siswa dan soal tes hasil belajar yang sudah diuji coba) i. Instrumen yang dinyatakan tidak reliabel, maka akan dilakukan proses perbaikan sampai instrumen tersebut dinyatakan reliabel

  3. Tahap Pelaksanaan

  a. Memberikan pretest kepada siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol b. Memberikan perlakuan berupa :

  1) Pembelajaran kimia menggunakan metode praktikum untuk kelas eksperimen 2) Pembelajaran kimia menggunakan metode ceramah dan demonstrasi untuk kelas kontrol c. Melakukan observasi sikap ilmiah siswa selama proses pembelajaran berlangsung d. Memberikan postest kepada siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol e. Melakukan wawancara

  4. Tahap Akhir

  a. Menganalisis data hasil penelitian

  b. Membuat kesimpulan

  c. Penyusunan laporan penelitian

  

Tahap Pra Penelitian

Observasi Wawancara

Tahap Persiapan

Membuat Perangkat pembelajaran Membuat Instrumen Tidak Valid Valid Uji coba Reliabilitas Reliabel Tidak Reliabel Revisi Tahap Pelaksanaan Pelaksanaan Pembelajaran Menggunakan Metode Praktikum Berbasis Inkuiri Terbimbing Observasi sikap ilmiah Pemberian Pretest Pemberian Postest Tahap Akhir Analisis Data

  

Kesimpulan

Penyusunan Laporan

Validasi Validasi

Tidak

  Valid Valid Revisi Revisi Bagan 1. Prosedur Penelitian

F. Teknik dan Alat Pengumpul Data 1. Teknik Pengumpulan Data

  Teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling utama dalam penelitian, karena tujuan utama dari penelitian adalah mendapatkan data . Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini sebagai berikut: a. Teknik Observasi

  Observasi atau pengamatan merupakan suatu teknik atau cara mengumpulkan data dengan jalan mengadakan pengamatan terhadap kegiatan yang sedang berlangsung . Penelitian ini menggunakan teknik observasi langsung. Dalam teknik observasi langsung, pengamatan dilakukan terhadap gejala atau proses yang terjadi dalam situasi yang sebenarnya dan langsung diamati oleh pengamat . Adapun observasi langsung dalam penelitian ini adalah pengamatan sikap ilmiah siswa yang akan dilakukan oleh observer dari awal hingga akhir proses pembelajaran di kelas. Serta pengamatan yang dilakukan pada saat guru melaksanakan proses pembelajaran di kelas.

  b. Teknik Pengukuran Teknik pengukuran merupakan teknik yang bersifat mengukur karena menggunakan instrumen standar atau telah distandarisasikan, dan menghasilkan data hasil pengukuran yang berbentuk angka-angka. Teknik pengukuran berbeda dengan teknik pengumpulan data. Teknik pengukuran bersifat mengukur sedangkan teknik pengumpulan data bersifat menghimpun . Dalam penelitian ini teknik pengukuran yang digunakan adalah penilaian tes hasil belajar.

  c. Teknik Komunikasi Langsung Teknik komunikasi langsung yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara. Wawancara merupakan salah satu bentuk teknik pengumpulan data melalui komunikasi langsung yang banyak digunakan dalam penelitian untuk mengumpulkan data. Wawancara dilaksanakan secara lisan dalam pertemuan tatap muka secara individual. Sebelum melakukan wawancara peneliti menyiapkan instrumen wawancara yang disebut pedoman wawancara yang berisi sejumlah pertanyaan yang meminta untuk dijawab atau direspon oleh responden .

2. Alat Pengumpul Data

  Alat pengumpul data yang digunakan dalam penelitian ini adalah :

  a. Lembar Observasi Sikap Ilmiah Siswa Lembar obervasi yang digunakan dalam penelitian bertujuan untuk mengamati sikap ilmiah siswa selama proses pembelajaran berlangsung. Lembar observasi memiliki fungsi sebagai pedoman agar observer cermat mengenai aspek sikap ilmiah yang perlu diobservasi dan sebagai alat perekam data mengenai kerja dari aspek sikap ilmiah yang dinilai. Lembar observasi sikap ilmiah dalam penelitian ini disusun dalam bentuk format khusus dengan aspek- aspek penelitian yang dikembangkan dari indikator sikap ilmiah.

  Penilaiannya menggunakan rating scale dengan 3 skala (3-2-1). Penelitian ini melibatkan observer. Setiap kelompok diobservasi oleh satu orang observer, yang bertugas mengawasi dan melaksanakan tugasnya sebagai observer. Kisi-kisi instrumen lembar observasi sikap ilmiah siswa dapat dilihat pada tabel (Lampiran 4).

  b. Catatan Lapangan Catatan lapangan merupakan catatan tertulis mengenai apa yang didengar, dilihat, dialami, dan difikirkan dalam rangka mengumpulkan dan refleksi terhadap data dalam penelitian kualitatif . Catatan lapangan dalam penelitian ini ditulis untuk mengetahui seluruh kegiatan pembelajaran serta sikap siswa dari awal hingga akhir proses pembelajaran. c. Tes Hasil Belajar Tes hasil belajar disebut juga tes prestasi belajar, yang bertujuan untuk mengukur hasil-hasil belajar yang dicapai siswa selama kurun waktu tertentu . Dalam penelitian ini akan dilakukan pretest dan posttest untuk mengukur kemampuan siswa.

  Pretest akan dilakukan sebelum proses pembelajaran berlangsung, hal ini bertujuan untuk mengukur kemampuan awal siswa. Sedangkan posttest dilakukan bertujuan untuk mengukur sejauh mana siswa tersebut memahami materi yang telah disampaikan oleh guru.

  d. Pedoman Wawancara Sebelum melaksanakan wawancara para peneliti menyiapkan instrumen/alat wawancara yang disebut pedoman wawancara.

  Pedoman ini berisi sejumlah pertanyaan atau pernyataan yang meminta untuk dijawab atau direspon oleh responden. Isi pertanyaan atau pernyataan dapat mencakup fakta, data, pengetahuan, konsep, pendapat, persepsi atau evaluasi responden berkenaan dengan fokus masalah atau variabel-variabel yang dikaji dalam penelitian . Dalam penelitian ini dibuat pedoman wawancara yang diajukan untuk wawancara bersama siswa SMAN 2 Sungai Raya guna memperoleh data yang diperlukan dalam penelitian (Lampiran 4).

G. Validitas dan Reliabilitas

  Di dalam penelitian, data mempunyai kedudukan yang paling tinggi karena data merupakan penggambaran variabel yang diteliti, dan berfungsi sebagai alat pembuktian hipotesis. Oleh karena itu benar tidaknya data, sangat menentukan bermutu tidaknya hasil penelitian. Sedangkan benar tidaknya data, tergantung dari baik tidaknya instrumen pengumpulan data. Instrumen yang baik harus memenuhi dua persyaratan penting, yaitu valid dan reliabel .

  1. Validitas Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat-tingkat kavalidan atau kesahihan suatu instrumen. Suatu instrumen yang valid mempunyai validitas yang tinggi, dan sebaliknya instrumen yang kurang valid berarti memiliki validitas rendah. Sebuah instrumen dikatakan valid apabila mampu mengukur apa yang diinginkan. Sebuah instrumen dikatakan valid apabila dapat mengungkap data dari variabel yang diteliti secara tepat. Tinggi rendahnya validitas instrumen menunjukkan sejauh mana data yang terkumpul tidak menyimpang dari gambaran tentang validitas yang dimaksud . Dalam penelitian ini dilakukan pengujian validitas instrumen menggunakan pengujian validitas isi, dengan kriteria layak digunakan. Dalam penelitian ini instrumen yang divalidasi adalah lembar observasi sikap ilmiah siswa, soal tes hasil belajar, lembar kerja siswa dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). Validasi dilakukan oleh tiga validator yaitu, satu orang dosen dan dua orang guru. Hasil validasi digunakan sebagai acuan untuk memperbaiki instrumen dan perangkat pembelajaran, dengan berkonsultasi kepada dosen pembimbing untuk dilakukan perbaikan pada instrumen dan perangkat pembelajaran berdasarkan komentar dan saran validator.

  Validasi dilakukan pada tanggal 18-21 April 2017. Penilaian yang diberikan validator berupa komentar atau saran. Atas dasar pertimbangan dan saran yang diberikan validator, selanjutnya dilakukan perbaikan. Dalam melakukan validasi terjadi revisi sebanyak satu kali. Revisi yang dilakukan yaitu penambahan soal pretest dan postest tentang perhitungan pH larutan garam, sehingga yang semulanya jumlah soal hanya ada 4 menjadi 5 soal. Hasil validasi yang dilakukan, menyatakan indikator pada soal tes, perangkat pembelajaran (RPP) dan lembar observasi sudah sesuai dan layak untuk digunakan. Selanjutnya soal tes diuji cobakan dan dihitung reliabilitasnya.

  2. Reliabilitas Reliabilitas menunjuk pada satu pengertian bahwa suatu instrumen cukup dapat dipercaya untuk digunakan sebagai alat pengumpul data karena instrumen tersebut sudah baik . Suatu instrumen dapat dikatakan mempunyai taraf kepercayaan yang tinggi jika instrumen tersebut dapat memberikan hasil yang tetap. Maka reliabilitas tes berhubungan dengan masalah ketepatan hasil. Seandainya hasil berubah- ubah, perubahan yang terjadi dapat dikatakan tidak berarti. Uji reliabilitas tes menggunakan rumus alpha. Rumus alpha digunakan untuk mencari reliabilitas instrumen yang skornya bukan 1 (satu) dan 0 (nol) . Adapun rumus alpha yang digunakan adalah sebagai berikut :

  2 Ʃ σ

  = ) ( ) (1 −

  11

  2 −1

  Keterangan : = Reliabilitas instrumen

  11

  k = Banyak butir pertanyaan atau banyaknya soal

  2

  = Jumlah varians Ʃ σ

  2

  = Varians total Rumus varians yang digunakan untuk menghitung reliabilitas dalam penelitian ini menggunakan rumus Flanagan sebagai berikut

  :

  (Ʃ )2 V = Ʃ x 2 – N

  Keterangan : V = Varians total

  2

  = Jumlah kuadrat skor yang diperoleh siswa Ʃ x

  2

  = Jumlah varians (Ʃx) N = Jumlah subyek (siswa)

  Kriteria reliabilitas yang digunakan adalah: 0,800-1,00 = sangat tinggi 0,600-0,799 = tinggi

  0,400-0,599 = cukup 0,200-0,399 = rendah

  = sangat rendah ≤0,200

  Reliabilitas soal tes dilakukan di MAN Ketapang kelas XI IPA1 pada tanggal 21 April 2017. Dari hasi perhitungan reliabilitas tes (Lampiran D-1) dengan mengunakan rumus alpha diatas, diperoleh reliabilitas tes untuk soal postest sebesar 0,712. Karena

  = 0,712 terletak pada

  11

  rentang 0,600 – 0,800, maka reliabilitas soal postest tergolong tinggi.

H. Analisis Data

  Dalam penelitian kuantitatif, analisis data merupakan kegiatan setelah data dari seluruh responden atau sumber data lain terkumpul. Kegiatan dalam analisis data adalah : mengelompokkan data berdasarkan variabel dan jenis responden, menyajikan data tiap variabel yang diteliti, melakukan perhitungan untuk menjawab rumusan masalah, dan melakukan perhitungan untuk menguji hipotesis yang telah diajukan . Analisis data dilakukan untuk menjawab tujuan dari penelitian. Pengolahan data yang dilakukan adalah data yang diperoleh dari lembar observasi dan tes hasil belajar, dengan pengolahan sebagai berikut:

  1. Untuk menjawab sub pertanyaan pertama yaitu apakah terdapat perbedaan sikap ilmiah siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol, dilakukan langkah-langkah sebagai berikut:

  a) Peneliti melakukan penskoran terhadap hasil observasi sikap ilmiah siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol.

  b) Menghitung nilai sikap ilmiah siswa dengan rumus:

  ∑ ℎ ℎ = ∑ × 100

  c) Melakukan uji normalitas (Kolmogorov-Smirnov) terhadap nilai sikap ilmiah siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol. Pengujian dilakukan dengan menentukan hipotesis dan kriteria pengujian, sebagai berikut :

  : Data terdistribusi normal dengan kriteria pengujian diterima jika signifikansi > 0,05 : Data tidak terdistribusi normal dengan kriteria pengujian ditolak jika signifikansi < 0,05

  Hasil uji yang diperoleh yaitu nilai sikap ilmiah siswa kelas kontrol data terdistribusi normal dan kelas eksperimen data tidak terdistribusi normal.

  d) Melakukan uji statistik non parametrik menggunakan uji U Mann-

  Whitney , karena salah satu data tidak terdistribusi normal. Pengujian

  dilakukan dengan menentukan hipotesis dan kriteria pengujian sebagai berikut : : Sikap ilmiah siswa kelas eksperimen sama dengan sikap ilmiah siswa kelas kontrol dengan kriteria pengujian diterima jika signifikansi > 0,05

  : Sikap ilmiah siswa kelas eksperimen berbeda dengan sikap ilmiah siswa kelas kontrol dengan kriteria pengujian ditolak jika signifikansi < 0,05

  2. Menjawab sub pertanyaan kedua yaitu apakah terdapat perbedaan hasil belajar antara kelas eksperimen dan kelas kontrol, dilakukan langkah- langkah sebagai berikut:

  a) Peneliti melakukan penskoran terhadap hasil belajar siswa pada dan postest siswa kelas kontrol dan kelas eksperimen dengan

  pretest pedoman penskoran tes hasil belajar.

  b) Menghitung nilai pretest dan postest siswa kelas kontrol dan kelas eksperimen c) Melakukan uji normalitas (Kolmogorov-Smirnov) nilai pretest kelas eksperimen dan kelas kontrol. Pengujian dilakukan dengan menentukan hipotesis dan kriteria pengujian, sebagai berikut :

  : Data terdistribusi normal dengan kriteria pengujian diterima jika signifikansi > 0,05

  : Data tidak terdistribusi normal dengan kriteria pengujian ditolak jika signifikansi < 0,05 Hasil yang diperoleh yaitu pretest pada kelas eksperimen tidak terdistribusi normal dan kelas kontrol terdistribusi normal.

  d) Melakukan uji statistik non parametrik menggunakan uji U Mann-

  Whitney karena salah satu data hasil uji normalitas terhadap nilai

  pretest tidak terdistribusi normal. Pengujian dilakukan dengan menentukan hipotesis dan kriteria pengujian sebagai berikut : : Hasil belajar kelas eksperimen sama dengan hasil belajar kelas kontrol dengan kriteria pengujian diterima jika signifikansi > 0,05

  : Hasil belajar kelas eksperimen berbeda dengan hasil belajar kelas kontrol dengan kriteria pegujian ditolak jika signifikansi < 0,05

  Hasil uji U Mann-Whitney, kedua kelas memiliki kemampuan awal, baik pada kelas kontrol maupun kelas eksperimen.

  e) Melakukan uji normalitas (Kolmogorov-Smirnov) terhadap selisih nilai postest-pretest kelas eksperimen dan kelas kontrol, karena kelas kontrol dan kelas eksperimen memiliki nilai signifikansi yang berbeda. Langkah-langkan analisis yang dilakukan sama dengan analisis yang dilakukan terhadap nilai pretest. Hasil yang diperoleh pada kelas eksperimen data tidak terdistribusi normal dan kelas kontrol data terdistribusi normal.

  f) Melakukan uji statistik non parametrik menggunakan uji U Mann- Whitney.

  3. Untuk mengetahui berapa besar pengaruh metode praktikum berbasis inkuiri terbimbing pada materi hidrolisis garam terhadap sikap ilmiah dan hasil belajar siswa kelas XI IPA SMAN 2 Sungai Raya, maka digunakan rumus effect size. Rumus dan kriteria besarnya rumus effect size sebagai berikut:

  = ̅ − ̅

  ̅ Keterangan: ES = effect size ̅

  = rata-rata hitung kelas eksperimen ̅

  = rata-rata hitung kelas kontrol ̅

  = standar deviasi kelas kontrol Adapun klasifikasi kriteria nilai effect size ditunjukkan pada Tabel 3.4. TABEL 3.4: Kriteria nilai Effect size

  Rentang Kriteria

  ES ≤ 0,2 0,2 < ES < 0,8

  ES ≥ 0,8 Rendah Sedang

  Tinggi Setelah diketahui berapa besar Effect Size yang diperoleh, selanjutnya dicocokkan dengan tabel Z untuk mengetahui jumlah persen pengaruh metode praktikum terhadap hasil belajar siswa pada materi hidrolisis garam kelas XI IPA SMAN 2 Sungai Raya.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Perbedaan Proses Pembelajaran Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol 1. Pembelajaran Kelas Eksperimen Pembelajaran di kelas eksperimen menggunakan metode praktikum

  berbasis inkuiri terbimbing. Metode ini dilakukan sebelum siswa mempelajari materi yang akan disampaikan dalam praktikum agar kegiatan praktikum bersifat penyelidikan. Penjelasan materi disampaikan pada akhir pelajaran setelah kegiatan praktikum selesai dilaksanakan. Kegiatan tersebut membantu siswa menemukan dan memahami konsep kimia secara mandiri berdasarkan praktikum yang dilakukan. Pembelajaran di kelas eksperimen berpusat pada siswa, melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan siswa untuk mencari dan menemukan konsep melalui masalah yang disajikan pada LKS menggunakan tahapan inkuiri terbimbing. Metode praktikum berbasis inkuiri terbimbing yang diterapkan mencakup 6 tahap pembelajaran, meliputi : a. Orientasi

  Orientasi dapat dikatakan sebagai tahap pendahuluan, pada tahap ini siswa diajak untuk mengingat kembali materi yang telah dipelajari sebelumnya melalui pertanyaan, sehingga dapat mengarahkan siswa pada materi yang akan dipelajari. Pertanyaan yang diajukan seperti “Apa kalian masih ingat tentang materi asam dan basa?”. “Coba kalian sebutkan beberapa contoh senyawa asam dan basa, serta tentukan sifat senyawa tersebut”. Guru kemudian memberikan pertanyaan mengenai materi hidrolisis garam untuk memotivasi siswa agar semangat belajar serta menjelaskan tujuan dari pembelajaran yang akan dilakukan, sehingga siswa mendapat gambaran terhadap apa yang akan dipelajari dan apa yang akan dilakukan. Pertanyaan yang diajukan berupa “Siapa di kelas ini yang tidak tahu garam?”. “Siapa yang dapat menuliskan rumus senyawa garam?”. “Nah, kira-kira garam terbentuk dari apa ya?”. Ketika guru memberikan suatu pertanyaan siswa sangat antusias untuk menjawab pertanyaan yang diajukan, meskipun jawaban yang diajukan masih kurang tepat.

  b. Merumuskan Masalah Tahap ini diawali oleh guru dengan mengemukakan suatu wacana yang terdapat pada LKS mengenai hidrolisis garam. Berdasarkan wacana tersebut, siswa diminta untuk merumuskan masalah atau pertanyaan. Pada awalnya siswa merasa kesulitan dalam merumuskan pertanyaan karena siswa tidak terbiasa melakukan hal tersebut. Namun, setelah diberikan bimbingan sebagian siswa mampu membuat pertanyaan yang diharapkan.

  Siswa terlihat antusias ingin menuliskan pertanyaan pada kolom yang terdapat dalam LKS. Pertanyaan ya ng diajukan seperti “Apa itu hidrolisis garam?”. “Bagaimana proses hidrolisis garam?”. “Bagaimana garam- garam dapat terhidrolisis?”. “Apa saja jenis-jenis garam yang terhidrolisis?”. “Senyawa apa saja yang ada pada garam?”. Tahap ini siswa terlibat secara langsung dalam merumuskan masalah yang akan dikaji sehingga membuat siswa memiliki motivasi belajar yang tinggi.

  c. Merumuskan Hipotesis Tahap merumuskan hipotesis, siswa dituntut untuk membuat jawaban sementara atau hipotesis atas pertanyaan yang telah ditentukan. Pada tahapan ini siswa menjadi kritis dalam berpikir untuk merumuskan hipotesisnya. Saat siswa berhipotesis, diharapkan siswa memahami bahwa hipotesis yang dibuat harus dibuktikan. Tahap merumuskan hipotesis ini, siswa dibimbing dan diarahkan untuk memprediksi jawaban atas pertanyaan yang dibuat. Beberapa hipotesis yang diajukan siswa, “hidrolisis dapat diartikan sebagai reaksi suatu zat kimia dengan air, yang menyebabkan penguraian zat”. “Senyawa yang terdapat pada garam adalah senyawa asam d an basa”.

  d. Mengumpulkan Data Tahap selanjutnya dalam proses inkuiri adalah mengumpulkan data.

  Proses pengumpulan data ini dilakukan melalui percobaan/praktikum. Praktikum yang dilakukan adalah “Uji Larutan Garam dalam Air”.

  Sebelum melakukan praktikum, siswa harus merencanakan percobaan sesuai dengan arahan pertanyaan dalam LKS serta dibimbing oleh guru. Tahapan ini dilakukan untuk membuktikan hipotesis yang dibuat oleh siswa serta untuk menemukan konsep yang benar melalui percobaan yang dilakukan. Kegiatan yang dilakukan siswa pada tahap ini adalah, merancang kegiatan praktikum sesuai dengan perintah yang terdapat pada LKS. Kegiatan selanjutnya setiap kelompok menyiapkan alat dan bahan praktikum berdasarkan LKS. Siswa mengukur pH dari beberapa larutan garam yang disediakan yaitu, larutan garam yang tidak terhidrolisis ( NaCl dan ), larutan garam yang terhidrolisis sebagian ( ,

  4

  4 , , , ) dan larutan garam yang ( )

  4

  2

  4

  2

  3

  3

  3 terhidrolisis sempurna ( ).

  Pengukuran pH larutan menggunakan

  ( )

  4

  2

  3

  pH meter dan kertas lakmus. Selama pelaksanaan praktikum siswa mencatat hasil pengamatan berdasarkan pengamatan yang dilakukan serta siswa dibimbing oleh guru agar lebih memudahkan siswa dalam menemukan konsep yang dicari.

  e. Menguji Hipotesis Tahap ini diawali dengan siswa berdiskusi melakukan analisis data dari hasil pengamatan yang diperoleh dengan cara menjawab pertanyaan yang ada didalam LKS pada bagian analisis data. Siswa terlihat aktif dalam mencari informasi untuk menjawab pertanyaan demi pertanyaan.

  Siswa diharapkan mampu menghubungkan data yang diperoleh dari hasil pengamatan, sehingga siswa menemukan suatu pola tertentu, yaitu hubungan perubahan warna kertas lakmus dengan sifat larutan garam, pH larutan garam serta menghitung pH larutan garam. Setelah siswa melakukan analisis data, dilanjutkan dengan tahap menguji hipotesis. Pengujian hipotesis dilakukan dengan cara siswa melaporkan hasil diskusi ke depan kelas setelah menentukan jawaban yang dianggap diterima sesuai dengan data atau informasi yang diperoleh berdasarkan pengumpulan dan hasil analisis data. Siswa yang lain diberi kesempatan untuk menanggapi hasil diskusi yang disampaikan temannya di depan kelas, sehingga membuat suasana kelas menjadi lebih aktif dan mengajarkan siswa untuk saling menghargai pendapat orang lain. Terlihat masih ada siswa yang ragu-ragu dengan keputusannya mengenai hipotesis yang diambil, sehingga diakhir proses melaporkan hasil diskusi, guru memberikan penguatan terhadap keputusan yang diambil siswa.

  f. Menarik Kesimpulan Tahap terakhir dalam pembelajaran inkuiri adalah tahap membuat kesimpulan. Guru membimbing siswa dengan memberikan arahan sehingga siswa mengerti dan akhirnya dapat membuat kesimpulan. Tahapan ini siswa tidak sekedar menyimpulkan tetapi siswa dituntut untuk menghubungakan data hasil pengamatan dengan teori yang ada di buku atau internet. Setelah siswa selesai menuliskan kesimpulan, guru meminta salah satu siswa untuk mengkomunikasikan kesimpulan yang dibuat serta guru memberikan penguatan kembali untuk menguatkan konsep yang didapat siswa ketika praktikum.

2. Pembelajaran Kelas Kontrol

  Pembelajaran di kelas kontrol menggunakan metode praktikum berbasis konvensional ( yang biasa dilakukan di SMA). Sebelum melakukan kegiatan praktikum, siswa terlebih dahulu disampaikan mengenai materi yang akan diajarkan, kemudian siswa diajak untuk melakukan kegiatan praktikum pada saat jam pelajaran berlangsung. Adapun tahap pembelajaran yang dilakukan di kelas kontrol sebagai berikut : a. Orientasi (Tahap persiapan)

  Tahap persiapan pada kelas kontrol diawali dengan guru memimpin do’a, melakukan absensi, serta memberikan apersepsi mengenai materi hidrolisis garam. Tidak hanya sekedar memberikan apersepsi, guru juga mengulang materi sebelumnya melalui pertanyaan. Setelah itu guru menyampaikan tujuan pembelajaran.

  b. Tahap Pelaksanaan Tahap pelaksaan merupakan tahap inti proses pembelajaran. Pada tahap ini guru menjelaskan materi hidrolisis garam kepada siswa, sehingga ketika pelaksanaan praktikum siswa telah mengetahui konsep materi yang dipelajari dan memudahkan siswa melakukan praktikum. Tahapan praktikum yang dilakukan di kelas kontrol sama seperti yang dilakukan di kelas eksperimen, yang membedakan yakni pada tahap merumuskan masalah, dan mengajukan hipotesis. Tahap merumuskan masalah dan membuat hipotesis hanya dilakukan di kelas eksperimen, tidak di kelas kontrol serta LKS yang digunakan di kelas kontrol berbeda dengan LKS kelas eksperimen yang dilengkapi dengan tahap inkuiri terbimbing. Selanjutnya guru mengkomunikasikan kepada siswa untuk melakukan praktikum, membagi kelompok dan mengarahkan siswa untuk melakukan praktikum. Setiap kelompok belajar disediakan LKS yang berisi tentang materi dan tabel pengamatan. Setelah praktikum selesai dilakukan, siswa diarahkan guru untuk melakukan diskusi kelompok mengenai hasil pengamatan yang diperoleh, kemudian meminta setiap perwakilan kelompok untuk mempresentasikan hasil diskusi yang diperoleh. Diakhir kegiatan guru memberikan penguatan materi terhadap hasil diskusi kelompok yang disampaikan.

  c. Tahap Penutup Tahap penutup merupakan tahap akhir pembelajaran. Pada tahap ini guru memberikan tugas kepada siswa, agar siswa lebih memahami materi yang telah disampaikan. Selain itu, pada tahap ini siswa diminta untuk menyimpulkan pembelajaran yang telah dilakukan.

B. Perbedaan Sikap Ilmiah Siswa Kelas Kontrol dan Kelas Eksperimen 1. Deskripsi Sikap Ilmiah Siswa

  Sikap ilmiah yang diamati dalam penelitian ini meliputi 6 aspek yaitu, rasa ingin tahu, menghargai data/fakta, berpikir kritis, berpikir terbuka dan bekerjasama, ketekunan, dan peka terhadap lingkungan sekitar. Sikap ilmiah dapat diketahui setelah melakukan observasi terhadap 31 siswa dikelas kontrol dan 30 siswa di kelas eksperimen yang diamati oleh 4 orang observer. Penilaian sikap ilmiah siswa dilakukan menggunakan lembar observasi sikap ilmiah. Ketika proses pembelajaran dikelas, sikap ilmiah siswa diamati oleh peneliti dan observer melalui lembar observasi. Berikut hasil observasi sikap ilmiah dapat dilihat pada Gambar 4.1.

  95,56 95,56 94,45 90 86,02

  82,26 80,12 75,27 73,33 73,12

  67,22 60,76

28,5

25,27

Gambar 4.1 : Grafik Sikap Ilmiah Siswa Kelas Kontrol dan Kelas

  Eksperimen Hasil observasi pada Gambar 4.1 menunjukkan bahwa terdapat perbedaan sikap ilmiah kelas kontrol dan kelas eksperimen. Sikap ilmiah siswa kelas kontrol memiliki rata-rata sebesar 60,75 dengan rentang nilai dari 25,27 hingga 82,26. Sikap ilmiah siswa kelas eksperimen memiliki rata-rata sebesar 86,01 lebih tinggi dibandingkan kelas kontrol dengan rentang nilai 67,22 hingga 95,55. Enam aspek sikap ilmiah dalam penelitian ini meliputi :

  a. Rasa Ingin Tahu Aspek penilaian rasa ingin tahu berdasarkan data yang diperoleh, siswa kelas eksperimen memiliki nilai rata-rata sebesar 73,33 lebih tinggi dibandingkan kelas kontrol sebesar 25,26. Penilaian sikap rasa ingin tahu siswa terdiri dari dua indikator penilaian yakni mengajukan pertanyaan yang berhubungan dengan praktikum dan antusias mencari jawaban dari sumber lain. Hasil observasi pada kelas eksperimen yang terdiri dari 30 orang siswa, pada indikator pertama terdapat 6 siswa yang bertanya lebih dari dua kali, 11 siswa yang bertanya sebanyak dua kali, 11 siswa bertanya sebanyak satu kali, serta 2 siswa yang tidak pernah bertanya. Kelas kontrol yang terdiri dari 31 orang siswa, terdapat 11 siswa yang mengajukan pertanyaan sebanyak satu kali, 1 orang siswa bertanya sebanyak satu kali, dan 19 siswa yang tidak mengajukan pertanyaan. Hasil observasi pada indikator kedua di kelas eksperimen, terdapat 24 siswa aktif mencari jawaban menggunakan lebih dari 2 buku, 3 siswa menggunakan 2 buah buku, dan terdapat 3 siswa yang menggunakan 1 buah buku sebagai sumber informasi. Rasa ingin tahu siswa kelas eksperimen lebih tinggi dari pada kelas kontrol. Siswa kelas eksperimen aktif dalam mengajukan pertanyaan mengenai praktikum, seperti pada saat siswa menguji kertas lakmus pada larutan garam, setelah kertas tersebut mengalami perubahan warna, siswa langsung bertanya tentang hal tersebut. Pada kondisi yang seperti ini, guru sangat berperan dalam membimbing siswa untuk menemukan suatu konsep. Setelah siswa menemukan jawaban atas pertanyaan yang diajukan, siswa langsung menghubungkannya dengan melakukan uji pH menggunakan pH meter dan mencocokan hasil uji dengan konsep yang telah ditemukan. Selain itu, siswa banyak bertanya tentang hal yang telah dijelaskan oleh guru mengenai kegiatan praktikum. Sedangkan pembelajaran dikelas kontrol berlangsung seperti halnya pembelajaran yang biasa dilakukan. Siswa tampak lebih pasif dan tidak banyak yang mengajukan pertanyaan selama pelaksanaan praktikum. Siswa cenderung menerima hasil yang diperoleh tanpa ingin mengetahui lebih lanjut mengenai konsep materinya. Hal ini dapat terjadi karena siswa terbiasa menerima materi dari guru melalui metode ceramah sehingga membuat siswa cenderung lebih pasif. Indikator kedua mengenai antusias mencari jawaban dari sumber lain, dalam mencari jawaban siswa kelas eksperimen menunjukkan sikap yang baik. Sebelum memulai pembelajaran, perwakilan setiap kelompok meminjam buku ke perpustakaan tanpa perintah dari guru, serta buku

yang dipinjam juga bervariasi sekitar 3 buah buku, ada pada setiap kelompok. Hal ini sangat memudahkan proses pembelajaran karena siswa sudah siap dengan sumber informasi yang dimilikinya. Sedangkan dikelas kontrol guru memberikan arahan terlebih dahulu kepada siswa untuk meminjam buku ke perpustakaan.

  b. Menghargai Data/Fakta Rata-rata nilai sikap menghargai data/fakta pada kelas eksperimen sebesar 90, sedangkan kelas kontrol sebesar 80,10. Aspek penilaian menghargai data/fakta terdiri dari dua indikator penilaian meliputi sikap jujur dan objektif. Sebanyak 2 siswa di kelas eksperimen dan 15 siswa di kelas kontrol, diketahui kurang bersikap jujur dalam menuliskan data pengamatan. Hasil observasi mengenai indikator sikap objektif pada kelas eksperimen, terdapat 16 siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol yang mempertimbangkan data dan hasil analisis untuk merumuskan kesimpulan tanpa terpengaruh pemikiran pribadi. Sebanyak 11 siswa kelas eksperimen dan 13 siswa kelas kontrol, mempertimbangkan data dan hasil analisis dalam merumuskan kesimpulan namun masih terpengaruh pemikiran pribadi. Serta sebanyak 3 siswa kelas eksperimen dan 2 siswa kelas kontrol, hanya mempertimbangkan data pengamatan dalam merumuskan kesimpulan. Kedua kelas menunjukkan hasil yang baik, namun masih terdapat beberapa siswa yang kurang menunjukan sikap jujur dalam menghargai data dan hasil pengamatan yang dilakukan.

  Ketika melakukan praktikum pada setiap kelompok, siswa terlihat saling berbagi dan bergantian dalam melakukan tugas. Hal tersebut sangat memudahkan observer dalam melakukan penilaian. Melalui bimbingan guru membuat siswa kelas eksperimen merasa bertanggung jawab dan memacu siswa untuk berperilaku jujur dalam mengambil tindakan. Siswa bergantian dalam menuliskan data pengamatan sesuai dengan hasil pengamatan yang diperoleh tanpa ada perubahan. Namun juga terdapat siswa yang kurang bersikap jujur, siswa tersebut mengubah beberapa data pengamatan dan disesuaikan dengan hipotesis serta teori yang terdapat didalam buku. Siswa kelas kontrol juga bergantian melakukan tugas praktikum sehingga semua siswa merasakan setiap tugas yang terdapat pada proses praktikum. Tidak semua siswa kelas kontrol menunjukkan sikap jujur, terdapat juga siswa yang menuliskan data pengamatan tidak sesuai dengan hasil pengamatan, seperti hal nya pada siswa kelas eksperimen. Penilaian sikap objektif siswa dilihat ketika siswa melakukan diskusi kelompok dalam menarik kesimpulan. Ketika siswa berdiskusi, siswa saling mengemukakan pendapat. Hasil kesimpulan yang dituliskan setiap kelompok pada LKS yang tersedia, mencerminkan bahwa siswa mempertimbangkan data pengamatan dan hasil analisis untuk merumuskan kesimpulan. Siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol menunjukkan sikap objektif yang baik dalam merumuskan kesimpulan bersama anggota kelompoknya. Siswa saling mengemukakan pendapat dan mempertimbangkan semua pendapat yang dikemukakan. Selama berdiskusi dalam merumuskan kesimpulan, siswa berusaha untuk adil dalam mengambil keputusan agar keputusan tersebut murni dari mempertimbangkan data pengamatan dan hasil analisis bukan semata- mata dari pemikiran pribadi siswa. Sehingga diperoleh hasil kesimpulan yang sesuai dengan konsep yang terdapat di buku paket.

  c. Berpikir Kritis Data hasil observasi menunjukkan bahwa, siswa kelas ekperimen memiliki rata-rata nilai sikap berpikir kritis sebesar 67,22 lebih tinggi dibandingkan kelas kontrol sebesar 28,49. Hasil observasi di kelas eksperimen, terdapat 4 dari 30 siswa di kelas eksperimen dapat mengajukan hipotesis dengan tepat tanpa bantuan dari teman anggota kelompoknya. Sebanyak 22 siswa dapat mengajukan hipotesis tanpa bantuan teman walaupun kurang tepat, 3 orang siswa dapat mengajukan hipotesis dengan tepat namun dengan bantuan teman anggota kelompoknya, serta terdapat 1 orang siswa yang tidak dapat mengajukan hipotesis. Hasil observasi pada indikator kedua terdapat 21 siswa kelas eksperimen dan 17 siswa kelas kontrol yang sangat selektif dalam menerima kesimpulan yang disampaikan temannya. Sebanyak 9 siswa kelas eksperimen dan 14 siswa kelas kontrol, langsung menerima kesimpulan yang diajukan tanpa menanyakan sumber informasi yang digunakan. Metode praktikum berbasis inkuiri terbimbing yang diterapkan di kelas eksperimen terdapat tahapan merumuskan hipotesis. Sebelum memasuki tahapan ini, siswa terlebih dahulu disajikan wacana mengenai hidrolisis garam yang terdapat pada LKS, siswa dituntut untuk membuat jawaban sementara atau hipotesis atas pertanyaan yang telah ditentukan. Tahap merumuskan hipotesis ini, siswa dibimbing oleh guru secara perlahan dan diarahkan untuk memprediksi jawaban atas pertanyaan yang dibuat. Dari 4 kelompok yang ada pada kelas eksperimen terdapat 1 kelompok yang masih sangat kesulitan pada tahap ini. Siswa kelompok tersebut merasa bingung dalam membuat jawaban. Diperlukan arahan guru agar kelompok tersebut dalam merumuskan hipotesis. Penilaian dilakukan dengan cara guru mendatangi setiap kelompok dan meminta siswa untuk mengajukan hipotesis. Tahapan ini membuat siswa merasa kebingungan karena setiap siswa harus mengajukan hipotesis berdasarkan pemikiran pribadi. Namun terdapat siswa yang langsung menyatakan bahwa dirinya tidak tahu tanpa mencobanya terlebih dahulu. Penilaian indikator mengajukan hipotesis hanya dilakukan di kelas eksperimen, karena dalam proses pembelajaran yang dilakukan di kelas kontrol menggunakan metode praktikum berbasis konvensional dan tidak terdapat tahapan merumuskan hipotesis.

  Indikator kedua adalah meragukan temuan teman tanpa bukti yang kuat. Siswa kelas eksperimen tampak lebih selektif untuk menerima kesimpulan yang diajukan oleh teman anggota kelompokknya. Siswa merasa rugi jika keliru dalam mengambil suatu kesimpulan sedangkan siswa tersebut sudah bersungguh-sungguh melakukan kegiatan pembelajaran. Tahapan ini dilakukan ketika siswa berdiskusi kelompok untuk menarik kesimpulan. Dalam kelompok, siswa saling memberikan pendapatnya tentang kesimpulan dan saling menanyakan sumber yang dijadikan sebagai rujukan. Siswa kelas kontrol juga melakukan diskusi kelompok, namun tidak seaktif siswa kelas eksperimen. Sebagian besar siswa kurang berpikir kritis. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya siswa yang acuh terhadap sumber informasi dalam menarik suatu kesimpulan.

  d. Berpikir Terbuka dan Bekerja Sama Aspek penilaian berpikir terbuka dan bekerja sama, kelas eksperimen memiliki nilai rata-rata sebesar 94 lebih tinggi dibandingkan kelas kontrol sebesar 82,26. Hasil observasi kelas eksperimen pada indikator pertama, terdapat 4 orang siswa yang tidak bersungguh-sungguh mendengarkan dan menerima pendapat dari teman kelompoknya. Pada kelas kontrol 15 siswa diketahui tidak bersungguh-sungguh ketika mendengarkan pendapat temannya, bahkan terdapat 4 siswa yang hanya mau mendengarkan pendapat temannya tetapi tidak mau menerima pendapat tersebut. Data observasi kelas eksperimen pada indikator kedua, terdapat 25 siswa saling mengakrabkan diri dan saling berpartisipasi aktif dalam melakukan praktikum didalam kelompoknya tanpa disuruh oleh guru sedangkan di kelas kontrol terdapat 20 siswa. Terdapat 4 siswa di kelas eksperimen dan 10 siswa di kelas kontrol yang mau berpartisipasi aktif dengan teman yang tidak akrab karena disuruh oleh guru, serta terdapat 1 orang siswa baik kelas eksperimen maupun kelas kontrol meskipun sudah diminta oleh guru untuk saling berpartisipasi aktif dengan teman yang lain, siswa tersebut hanya mau bersama teman akrabnya saja. Penilaian pada indikator indikator menghargai pendapat teman/orang lain, dilakukan selama siswa melakukan diskusi kelompok hingga selesai. Diskusi kelompok sama-sama dilakukan dikelas eksperimen dan kontrol. Kegiatan diskusi baik di kelas eksperimen maupun kelas kontrol siswa terlihat sangat antusias saat mengemukakan pendapat masing- masing. Perbedaan antara kedua kelas, terlihat pada cara siswa menerima pendapat tersebut. Secara keseluruhan dari hasil observasi, kelas eksperimen menunjukkan bahwa sebagian besar siswa mau mendengar dan menerima pendapat temannya dengan bersungguh- sungguh meskipun berbeda dengan pendapat pribadi. Sementara di kelas kontrol, banyak siswa yang tidak bersungguh-sungguh mendengarkan pendapat anggota kelompoknya. Kegiatan diskusi kelompok akan membiasakan sikap saling bekerja sama pada diri siswa. Karena diskusi kelompok yang dilakukan pada proses pembelajaran untuk bersama-sama memecahkan masalah dan menemukan konsep. Hal ini juga menunjukkan bahwa siswa mampu bertoleransi terhadap teman kelompoknya dengan baik. Siswa memiliki cara pandang yang berbeda melihat suatu permasalahan. Cara pandang yang berbeda membuat siswa memiliki pendapat yang berbeda pula. Dalam banyaknya perbedaan siswa mampu menunjukkan sikap menghargai pendapat maupun jawaban yang berbeda. Pembagian kelompok praktikum dilakukan secara acak baik di kelas eksperimen maupun di kelas kontrol, agar siswa saling berpartisipasi aktif dengan siswa yang lain, karena biasanya siswa selalu berkelompok dengan teman akrabnya saja. Siswa kelas eksperimen menunjukkan sikap yang baik. Hampir seluruh siswa berpartisipasi aktif dalam kelompok meskipun bukan dengan teman yang akrab. Sedangkan siswa kelas kontrol banyak mendapat teguran dari guru agar siswa akrab dengan siswa yang lain.

  e. Ketekunan Indikator aspek penilaian ketekunan meliputi, melengkapi kegiatan meskipun kelompok lain selesai lebih awal, kelas eksperimen memiliki nila rata-rata sebesar 95,56 jauh lebih tinggi dibandingkan kelas kontrol sebesar 73,11. Merujuk pada data hasil observasi, di kelas eksperimen terdapat 1 kelompok diskusi yang anggotanya tampak terburu-buru untuk menyelesaikan kegiatan praktikum, sedangkan di kelas kontrol terdapat 3 kelompok diskusi. Penerapan metode praktikum berbasis inkuiri terbimbing pada kelas eksperimen, melatih siswa untuk memecahan masalah. Siswa bekerja dalam kelompok yang aktif dan dibimbing oleh guru untuk menyelidiki konsep pelajaran. Sehingga dalam kegiatan tersebut siswa dituntut untuk bertanggung jawab dalam menyelesaikan masalah dan bertanggung jawab atas apa yang dilakukan siswa sesuai dengan perencanaan yang telah dibuat sebelum pelaksanaan praktikum sampai praktikum tersebut selesai dilakukan. Siswa kelas eksperimen melakukan kegiatan praktikum sesuai dengan perencanaan yang dibuat sehingga, terdapat 2 kelompok yang selesai melakukan kegiatan praktikum lebih awal. Satu kelompok yang belum selesai, tetap melakukan kegiatannya meskipun kelompok tersebut mengetahui kelompok lain sudah selesai melakukan praktikum. Siswa menunjukkan sikap tenang dalam menyelesaikan kegiatan, dan tidak terpengaruh pada kelompok yang sudah selesai tersebut. Bimbingan yang dilakukan guru sangat membangun ketekunan siswa dalam melaksanakan praktikum. Satu kelompok lagi yang belum selesai melakukan praktikum, terlihat ada 3 siswa yang tergesa-gesa dalam melakukan kegiatan bahkan siswa tersebut mengajak temannya untuk mempercepat kegiatan yang dilakukan. Dikelas kontrol dari 4 kelompok terdapat 1 kelompok yang selesai praktikum lebih awal. Pada 3 kelompok lainnya terdapat siswa yang tergesa-gesa melakukan kegiatan praktikum. Siswa mengajak anggota kelompoknya untuk mempercepat kegiatan karena siswa tersebut mengetahui bahwa ada kelompok yang sudah selesai lebih awal. Sehingga sebagian besar siswa di kelas kontrol mudah terpengaruh dengan teman kelompok lain yang sudah selesai lebih awal. Hal ini terjadi karena beberapa faktor salah satunya adalah minat siswa. Minat tidak hanya diekspresikan melalui pernyataan yang menunjukkan bahwa siswa lebih menyukai sesuatu dari pada yang lainnya, tetapi dapat juga

diimplementasikan melalui partisipasi aktif dalam suatu kegiatan yang dilakukan tanpa menghiraukan sesuatu yang lain (Mawarsari, 2013).

  f. Peduli Terhadap Lingkungan Sekitar Aspek sikap peduli terhadap lingkungan sekitar kelas eksperimen sebesar 95,55 lebih tinggi dibandingkan kelas kontrol sebesar 75,26.

  Berdasarkan data hasil observasi, diketahui 4 siswa kelas eksperimen tidak menunjukkan sikap peduli terhadap lingkungan dan di kelas kontrol sebanyak 20 siswa. Siswa yang diajarkan dengan metode praktikum berbasis inkuiri terbimbing pada kelas eksperimen melalui tahap pembelajaran yang sistematis dan teratur, sehingga memudahkan guru dalam membimbing siswa. Hal ini membuat siswa saling mengetahui dampak dan saling mengingatkan temannya untuk membersihkan lingkungan belajarnya. Sedangkan dikelas kontrol tahap pembelajaran yang kurang sistematis, membuat siswa cenderung terburu-buru dalam menyelesaikan pembelajaran. Siswa menjadi kurang peduli terhadap lingkungan sekitar, sehingga guru cenderung menegur siswa untuk membersihkan ruangan.

2. Perbedaan Sikap Ilmiah Siswa Kelas Kontrol dan Kelas Eksperimen Secara Statistik

  TABEL 4.1: Tabel Hasil Uji Statistik Sikap Ilmiah

  No Uji Signifikan Kesimpulan

  1. Uji Kolmogorov-

  

Smirnov 0,20 Data terdistribusi normal

  a. Kelas Kontrol 0,00 Data tidak terdistribusi 2.

  b. Kelas Eksperimen normal Uji U Mann Whitney 0,00 Terdapat perbedaan sikap

  a. Sikap Ilmiah Kelas ilmiah Kontrol dan Kelas Eksperimen

  Sikap ilmiah siswa dianalisis menggunakan uji statistik, dapat dilihat pada Tabel 4.1. Berdasarkan Tabel 4.1 hasil uji statistik sikap ilmiah, menunjukkan bahwa sikap ilmiah siswa kelas kontrol terdistribusi normal, hal ini dapat disimpulkan dari nilai signifikansi Uji Kolmogorov Smirnov yaitu 0,20. Hasil tersebut menunjukkan bahwa signifikansi yang diperoleh lebih dari 0,05. Sikap ilmiah siswa kelas eksperimen memiliki nilai signifikansi uji

  

Kolgomorov Smirnov sebesar 0,00. Signifikasi yang diperoleh kurang dari

  0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa data yang diperoleh tidak terdistribusi normal. Salah satu data hasil uji tidak terdistribusi normal dilakukan Uji U Mann Whitney terhadap sikap ilmiah siswa kelas kontrol dan eksperimen. Hasil Uji U Mann Whitney menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,00 yang kurang dari 0,05 sehingga dapat disimpulkan terdapat perbedaan sikap ilmiah siswa kelas kontrol dan kelas eksperimen. Penelitian yang dilakukan Ningsyih, dkk (2016), juga menunjukkan perbedaan sikap ilmiah antara kelas kontrol dengan kelas eksperimen, rata- rata n-gain yang diperoleh kelas eksperimen sebesar 0,73, nilai tersebut dikategorikan tingkat tinggi. Sedangkan kelas kontrol sebesar 0,44, dan dikategorikan tingkat sedang berdasarkan tabel kriteria gain ternormalisasi. Perbedaan sikap ilmiah pada kelas kontrol dalam penelitian ini disebabkan karena guru hanya menjelaskan materi secara lisan dan melakukan praktikum sederhana. Praktikum sederhana tersebut, kurang menantang siswa untuk aktif berfikir sehingga siswa merasa kurang menarik dalam melaksanakan praktikum dan pengalaman belajar yang dimiliki siswa pada kelas kontrol lebih sedikit. Sedangkan pada kelas eksperimen, praktikum yang dilakukan menggunakan langkah-langkah pembelajaran inkuiri terbimbing. Proses pembelajaran yang dilakukan melatih siswa aktif berpikir dalam menyelesaikan suatu permasalahan yang disajikan serta melatih siswa untuk menemukan konsep materi secara mandiri. Penggunaan model pembelajaran yang berbeda antara kelas eksperimen dan kelas kontrol menyebabkan adanya perbedaan sikap ilmiah siswa. Model pembelajaran inkuiri terbimbing merupakan suatu pembelajaran dengan proses penyelidikan/penemuan yang memiliki langkah-langkah kerja ilmiah untuk membentuk karakteristik sikap ilmiah siswa. Dalam proses pembelajarannya, siswa terlibat secara mental dan secara fisik untuk memecahkan masalah yang diberikan guru. Sehingga siswa terbiasa berperilaku sebagai saintis dan secara tidak langsung akan terbentuk sikap ilmiah seperti objektif, kreatif, ingin tahu, menghargai pendapat orang lain, bertanggung jawab, kerja sama dan peduli terhadap lingkungan (Mawarsari, 2013).

C. Perbedaan Hasil Belajar Siswa Kelas Kontrol dan Kelas Eksperimen 1. Deskripsi Hasil Belajar Siswa

  Hasil belajar siswa kelas kontrol dan kelas eksperimen diukur dengan memberikan pretest dan postest yang dilakukan diluar jam pembelajaran.

  Pretest kelas kontrol dan eksperimen dilakukan pada tanggal 3 Mei 2017,

  seminggu sebelum pelaksanaan penelitian. Postest kedua kelas dilaksanakan pada tanggal 10 Mei 2017. Nilai pretest dan posttest kelas kontrol dan kelas eksperimen dapat dilihat pada Gambar 4.2

  Kontrol Eksperimen Pretest Postest Selisih

GAMBAR 4.2 : Grafik Nilai Rata-Rata Hasil Belajar Siswa Kelas

  Kontrol dan Kelas Eksperimen Berdasarkan data pada Gambar 4.2 nilai rata-rata pretest siswa kelas kontrol sebesar 38,09 sedangkan di kelas eksperimen sebesar 11,73.

  Keterangan lebih lengkap mengenai hasil pretest kelas kontrol dan eksperimen disajikan pada lampiran D-3 dan lampiran D-4. Pretest dilakukan di kelas kontrol dan kelas eksperimen bertujuan untuk mengetahui kemampuan awal yang dimiliki siswa. Berdasarkan keterangan guru mata pelajaran, ternyata siswa di kelas kontrol telah dijelaskan tentang pengenalan materi hidrolisis garam, sehingga ketika dilakukan pretest siswa dapat menjawab pertanyaan nomor 1 tentang pengertian hidrolisis garam. Selain itu, di kelas kontrol terdapat 2 orang siswa yang mengikuti bimbingan belajar di luar jam sekolahnya. Berbeda dengan siswa kelas kontrol, siswa kelas eksperimen belum pernah mendapatkan penjelasan materi tersebut. Siswa kelas eksperimen adalah siswa yang lebih lama mendapatkan penjelasan materi dibandingkan kelas kontrol dan kelas yang lain. Secara keseluruhan hasil posttest menunjukkan nilai rata-rata siswa kelas kontrol sebesar 58,25 dan kelas eksperimen sebesar 89,6 (Gambar 4.2). Merujuk pada Gambar 4.2, diketahui bahwa hasil postest kelas kontrol dan kelas eksperimen mengalami peningkatan dari hasil pretest yang telah dilakukan. Hampir seluruh siswa dapat menjawab butir soal nomor 1 dengan benar baik dikelas kontrol maupun kelas eksperimen. Soal tersebut berkaitan dengan teori pengertian hidrolisis garam. Siswa dapat menjawab soal berdasarkan informasi yang terdapat pada LKS dan buku paket yang digunakan ketika siswa belajar, serta kegiatan praktikum yang dilakukan membuat siswa lebih mudah mengingat konsep. Siswa masih kesulitan dalam menjawab soal nomor 2 mengenai penentuan larutan garam yang dapat terhidrolisis dan soal nomor 3 yang berkaitan dengan penentuan sifat larutan garam. Hal ini dikarenakan siswa tidak hafal dan kesulitan dalam membedakan senyawa asam-basa beserta sifatnya. Padahal, ketika pelaksanaan praktikum guru banyak menjelaskan kepada siswa mengenai senyawa asam-basa dan sifat senyawa tersebut. Butir soal nomor 4 dan 5 mengenai perhitungan, hampir seluruh siswa kelas eksperimen dapat menjawab soal dengan benar, karena ketika proses pelaksanaan diskusi praktikum membuat siswa mampu menemukan permasalahan, salah satunya adalah rumus yang digunakan berbeda dengan rumus pada materi sebelumnya, sehingga siswa meminta guru untuk membimbing dan

mengarahkan dalam penyelesaian soal perhitungan. Melalui bimbingan dan pengarahan oleh guru membuat siswa lebih mudah dalam mengerjakan soal perhitungan. Hasil posttest kelas kontrol dan kelas eksperimen terdapat pada Lampiran E-4 dan E-5.

2. Perbedaan Hasil Belajar Kelas Kontrol Dan Kelas Eksperimen Secara Statistik

  Perbedaan hasil belajar siswa melalui beberapa uji dapat dilihat seperti pada Tabel 4.2. TABEL 4.2: Tabel Hasil Uji Statistik Hasil Belajar

  No Uji Signifikansi Kesimpulan

  1. Uji Kolmogorov Smirnov

  a. Kontrol

  1. Pretest 0,15 Data terdistribusi

  b. Eksperimen normal

  2. Pretest 0,00 Data tidak terdistribusi

  c. Selisih Postest Pretest normal kelas kontrol 0,11 d. Selisih Postest Pretest Data terdistribusi kelas eksperimen 0,00 normal

  2. Uji U Mann Whitney

  a. Pretest kelas kontrol Data tidak terdistribusi dan eksperimen 0,00 normal b. Selisih postest pretest kelas kontrol 0,00 Terdapat perbedaan kemampuan awal Terdapat perbedaan hasil belajar

  Hasil belajar siswa dianalisis menggunakan uji statistik yang disajikan pada Tabel 4.2. Berdasarkan hasil Uji Kolgomorov Smirnov pada nilai pretest kelas kontrol diperoleh nilai signifikansi sebesar 0,15. Hasil uji dinyatakan bahwa data terdistribusi normal karena nilai signifikasi yang diperoleh lebih besar dari 0,05. Analisis Kolgomorov Smirnov juga dilakukan terhadap nilai

  

pretest kelas eksperimen, dan diperoleh signifikansi sebesar 0,00. Nilai

  signifikansi yang diperoleh menunjukkan bahwa data tidak terdistribusi normal, karena kurang dari 0,05. Salah satu data tidak terdistribusi normal, maka dilakukan Uji U Mann Whitney terhadap nilai pretest kelas kontrol dan kelas eksperimen. Signifikansi yang diperoleh sebesar 0,00, hasil tersebut menunjukkan bahwa terdapat perbedaan kemampuan awal hasil belajar siswa kelas kontrol dan eksperimen. Analisis dilanjutkan terhadap selisih nilai pretest dan postest pada kelas kontrol dan eksperimen karena terdapat perbedaan kemampuan awal siswa. Selisih nilai pretest dan postest dapat dilihat pada Gambar 4.2. Selisih hasil belajar siswa dianalisis menggunakan Uji Kolgomorov Smirnov yang disajikan pada Tabel 4.2. Uji Kolgomorov Smirnov terhadap selisih hasil belajar kelas kontrol sebesar 0,11. Signifikansi yang diperoleh lebih dari signifikansi 0,05 sehingga dapat dinyatakan bahwa data terdistribusi normal. Sedangkan signifikansi selisih hasil belajar kelas eksperimen sebesar 0,00. Signifikansi tersebut dinyatakan kurang dari 0,05 sehingga data dinyatakan tidak terdistribusi normal. Salah satu data hasil uji tidak terdistribusi normal, sehingga dilakukan Uji U Mann Whitney terhadap selisih nilai postest pretest kelas kontrol. Hasil uji menunjukkan signifikansi sebesar 0,00, signifikansi yang diperoleh kurang dari 0,05 sehingga, data hasil uji dinyatakan terdapat perbedaan hasil belajar siswa kelas kontrol dan kelas eksperimen. Perbedaan hasil belajar yang signifikan antara kelas kontrol dengan kelas eksperimen juga terjadi pada penelitian yang pernah dilakukan, ketuntasan yang dicapai siswa kelas eksperimen setelah diterapkan metode praktikum berbasis inkuiri terbimbing sebesar 79,31%, sedangkan ketuntasan pada kelas kontrol sebasar 25%. Peningkatan hasil belajar pada kelas eksperimen dapat terlihat ketika proses belajar mengajar berlangsung, siswa pada kelas eksperimen yang diterapkan metode pratikum berbasis inkuiri terbimbing menekankan pada aktifitas siswa secara maksimal. Siswa secara mandiri berperan aktif untuk membuat, mengamati, menemukan, hingga memberikan kesimpulan teoritis yang jelas dengan mengemukakan bukti yang menunjang dari apa yang dipertanyakan, sehingga pembelajaran yang dilakukan memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi siswa (Ningsyih, dkk, 2016).

D. Pengaruh Metode Pratikum Berbasis Inkuiri Terbimbing Terhadap Sikap Ilmiah dan Hasil Belajar Siswa

  Pengaruh metode praktikum berbasis inkuiri terbimbing terhadap sikap ilmiah dan hasil belajar siswa pada materi hidrolisis garam diketahui menggunakan perhitungan Effect Size. Perhitungan Effect Size terhadap sikap ilmiah siswa diperoleh sebesar 2,47. Perhitungan Effect Size terhadap hasil belajar siswa diperoleh sebesar 1,99. Nilai effect size yang diperoleh kemudian disesuaikan dengan tabel Z dan didapat pengaruh metode praktikum berbasis inkuiri terbimbing terhadap sikap ilmiah siswa sebesar 99,32% dan hasil belajar sebesar 97,67%. Kedua hasil dinyatakan dengan kategori tinggi. Secara keseluruhan setiap tahapan metode praktikum berbasis inkuiri terbimbing dari proses orientasi hingga menarik kesimpulan, semuanya sangat berpengaruh terhadap pengembangan sikap ilmiah dan hasil belajar siswa. Karena setiap tahap yang dilakukan siswa semuanya saling berkaitan dan saling memberikan kelebihan tersendiri dalam melatih fisik dan mental siswa. Pembelajaran di kelas eksperimen melatih siswa untuk aktif dan kreatif dalam berpikir, seperti pada tahap merumuskan masalah dan mengajukan hipotesis, siswa harus tanggap dalam memahami wacana yang disajikan pada LKS agar siswa dapat merumuskan masalah dan mengajukan hipotesis sesuai dengan wacana tersebut. Selain itu pada tahap pelaksanaan praktikum, memberikan keleluasaan kepada siswa untuk melakukan praktikum sendiri dalam menyelesaikan masalah dengan bimbingan guru, menemukan konsep sendiri dari hasil praktikum yang dilakukan, sehingga memotivasi dan mendorong siswa secara aktif menggali pengetahuannya sendiri menjadi pribadi yang aktif, mandiri, dan terampil dalam memecahkan masalah serta memiliki pemahaman konsep yang lebih. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Mawarsari (2013), yang menyatakan bahwa metode praktikum berbasis inkuiri terbimbing meningkatkan sikap ilmiah sebesar 91,35% dan pemahaman konsep siswa sebesar 88,65%. Siswa mendapatkan pembelajaran yang lebih optimal dengan penerapan metode praktikum berbasis inkuiri terbimbing. Partisipasi siswa saat pembelajaran dalam hal mengajukan pertanyaan, menyusun hipotesis, mengumpulkan data dan menganalisis data merupakan kegiatan yang berkaitan erat dengan kegiatan inkuiri sehingga dari segala aktivitas yang berhubungan dengan kegiatan inkuiri akan membantu siswa membangun pengetahuan dan sikap ilmahnya. Penerapan metode praktikum berbasis inkuiri terbimbing yang diterapkan di SMAN 2 Sungai Raya, tidak langsung diterima baik oleh siswa karena siswa tidak terbiasa melaksanakan proses pembelajaran menggunakan model pembelajaran inkuiri terbimbing. Biasanya siswa hanya menerima informasi secara langsung disampaikan oleh guru menggunakan metode ceramah. Sehingga pada pembelajaran menggunakan model inkuiri terbimbing, guru perlu mengarahkan siswa dan mengkondisikan kelas. Keterbatasan alat praktikum menjadi salah satu kendala pada guru. Hal ini diatasi guru dengan membagi siswa menjadi menjadi empat kelompok serta saling bergantian dalam menggunakan alat praktikum. Kurangnya jam belajar juga menjadi salah satu hambatan melakukan praktikum. Hal ini diatasi guru melalui proses kesiapan bahan yang digunakan. Sebelum pelaksanaan praktikum, guru sudah mempersiapkan bahan praktikum seperti membuat larutan garam yang akan digunakan. Sehingga proses pembuatan larutan tidak mengganggu jam belajar ketika pelaksanaan penelitian.

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Berdasarkan data yang diperoleh dari lembar observasi sikap ilmiah dan

  tes hasil belajar siswa, dapat ditarik kesimpulan bahwa terdapat perbedaan sikap ilmiah dan hasil belajar siswa yang diajarkan menggunakan metode praktikum berbasis konvensional dengan metode praktikum berbasis inkuiri terbimbing pada materi hidrolisis garam. Pembelajaran menggunakan metode praktikum berbasis inkuiri terbimbing memberikan pengaruh yang tinggi terhadap sikap ilmiah dan hasil belajar siswa dengan nilai effect size, sebesar 2,47 dengan persentase 99,32%, dan 1,99 dengan persentase 97,67%.

B. Saran

  Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, maka beberapa saran yang dapat disampaikan adalah :

  1. Dalam pelaksanaan pembelajaran menggunakan metode praktikum berbasis inkuiri hendaknya guru mengontrol pengaturan waktu pelaksanaan pembelajaran agar seluruh kegiatan dapat terlaksana sehingga semua materi dapat tersampaikan dan dipahami dengan baik oleh siswa.

  2. Perlu dikembangkan penelitian lebih lanjut mengenai penerapan metode praktikum berbasis inkuiri terbimbing pada materi pokok dan pelajaran yang berbeda agar pendekatan ini dapat berkembang dan bermanfaat untuk kegiatan pembelajaran yang dapat meningkatkan sikap ilmiah dan hasil belajar siswa.

  

Daftar Pustaka

  Anisa, D. N., M. Masykuri dan S. Yamtinah (2013). Pengaruh Model Pembelajaran POE (Predict, Observe, and Explanation) dan Sikap Ilmiah Terhadap Prestasi Belajar Siswa Pada Materi Asam, Basa dan Garam Kelas VII Semester 1 SMP N 1 Jaten Tahun Pelajaran 2012/2013. Jurnal Pendidikan Kimia 2 (2): 16-23.

  Anwar, H. (2009). Penilaian Sikap llmiah Dalam Pembelajaran Sains. Jurnal

  Pelangi Ilmu 2 (5):1-9 Arikunto, S. 2010. Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta.

  Astawa, I. M. W., I. W. Sadia dan I. W. Suastra (2015). Pengaruh Model Pembelajaran Berbasis Proyek Terhadap Sikap Ilmiah dan Konsep Diri Siswa SMP. Jurnal Pendidikan IPA 5 (1): 1-10.

  Dewi, I. G. A. W. K., A. A. G. Agung dan N. W. Rati (2014). Hubungan Sikap Ilmiah Dan Motivasi Berprestasi Dengan Hasil Belajar Ipa Pada Siswa Kelas V Sd Di Gugus Ii Laksamana Kabupaten Jembrana Tahun Pelajaran 2013/2014. MIMBAR PGSD 2 (1): 1-10.

  Djamarah, S. B. dan A. Zain. (2002). Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta. Ermadianti, Natalia, M. dan Y. Yusuf (2014). Penerapan Strategi Pembelajaran

  Inkuiri Terbimbing Untuk Meningkatkan Sikap Ilmiah dan Hasil Belajar Siswa Kelas VII SMP N 14 Pekanbaru Tahun Ajaran 2012/2013. Biogenesis (Jurnal Pendidikan Sains dan Biologi). 9 (2): 28-38. Farikha, L. I., T. Redjeki dan S. B. Utomo (2015). Penerapan Model Pembelajaran

  Predict Observe Explain (POE) Disertai Eksperimen pada Materi Pokok Hidrolisis Garam untuk Meningkatkan Aktivitas dan Prestasi Belajar Siswa Kelas XI MIA 3 SMA Negeri 4 Surakarta Tahun Pelajaran 2014/2015. Jurnal Pendidikan Kimia 4 (4): 95-102.

  Hermawati, N. W. M. (2012). Pengaruh Model Pembelajaran Inkuiri Terhadap Penguasaan Konsep Biologi Dan Sikap Ilmiah Siswa SMA Ditinjau Dari Minat Belajar Siswa. Jurnal Pendidikan IPA 2 (2):1-30.

  Keenan, C. W., C. Donald dan J. H. Kenfelter (1984). Ilmu Kimia untuk Universitas Jilid 1. Edisi ke-6. Jakarta: Penerbit Erlangga. Lestari, W., E. Susilowati dan L. Mahardiani (2012). Pembelajaran Kimia Melalui

  Pendekatan Contextual Teaching And Learning (CTL) Dengan Metode Praktikum Yang Dilengkapi Dengan Lembar Kerja Siswa (LKS) Dan Diagram Vee Ditinjau Dari Sikap Ilmiah Siswa Pada Materi Pokok Perubahan Materi Kelas Vii Semester Genap Di Mtsn 1 Surakarta Tahun Ajaran 2011/2012. Jurnal Pendidikan Kimia (JPK) 1 (1): 107-116.

  Mawarsari, A. A. (2013). Penerapan Metode Eksperimen Berpendekatan Inkuiri Pada Materi Larutan Penyangga Untuk Meningkatkan Pemahaman Konsep Dan Sikap Ilmiah Siswa.Skripsi. Universitas Negeri Semarang.

  Moleong, L. J. (2005). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya. Ningsyih, S., E. Junaidi dan S. W. Al Idrus (2016). Pengaruh Pembelajaran

  Praktikum Berbasis Inkuiri Terbimbing Terhadap Kemampuan Berpikir Kritis Dan Hasil Belajar Kimia Siswa. Jurnal Pijar Mipa. 11 (1): 55-59. Nurhasanah (2016). Perbedaan Sikap Ilmiah Siswa Antara yang Menggunakan

  Model Pembelajaran Inkuiri Terbimbing dengan Group Investigation (GI) Pada Konsep Fungi.Skripsi. Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

  Sanjaya, W. (2008). Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pembelajaran. Jakarta: Kencana. Sanjaya, W. (2014). Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media. Setyanto, N. A. (2017). Interaksi dan Komunikasi Efektif Belajar-Mengajar.

  Yogyakarta: DIVA Press (Anggota IKAPI). Slameto. (2010). Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta.

  Sudjana, N. (2010). Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT.

  Rosdakarya Sugiyono. (2012). Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D). Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Sukmadinata, N. S. (2005). Metodologi Penelitian Pendidikan. Bandung: PT.

  Remaja Rosda Karya. Suyono dan Hariyanto. (2011). Belajar dan Pembelajaran. Bandung: PT Remaja

  Rosdakarya Svehla, G. (1979). Vogel Buku Teks Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan Semimikro Jilid 1 Edisi Kelima. Jakarta: PT. Kalman Media Pustaka.

  Wardani, D. K. (2012). Analisis Penerapan Metode Praktikum Pada Pembelajaran Kimia Materi Pokok Hidrolisis Garam Kelas XI Di MAN 1 Semarang 2012-2013. Skipsi. Institut Agama Islam Negeri Walisongo Semarang.

  Wulandari, A. D, Kurnia, dan Yayan Sunarya. (2013). Pembelajaran Praktikum Berbasis Inkuiri Terbimbing Untuk Meningkatkan Keterampilan Berpikir Kritis Siswa SMA Pada Materi Laju Reaksi. Jurnal Riset dan Praktik Pendidikan Kimia. 1 (1): 18-26.

LAMPIRAN A-1

  

HASIL OBSERVASI KEGIATAN PEMBELAJARAN PRA PENELITIAN

Observasi Proses Pembelajaran Kimia Kelas XI IPA 1 Materi Termokimia (12 Oktober 2016 pukul 10.15-11.45) 1.

  Guru mengucapkan salam dan memimpin do’a sebelum belajar.

  2. Guru mengulang materi pada pertemuan sebelumnya.

  3. Siswa meminta guru membahas PR yang diberikan namun, guru tidak membahasnya, dan dijanjikan akan dibahas pada pertemuan selanjutnya.

  4. Guru menjelaskan materi lanjutan termokimia menggunakan metode ceramah.

  5. Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya, namun tidak ada siswa yang bertanya.

  6. Siswa terlihat pasif saat proses belajar berlangsung. Suasana kelas menjadi monoton karena metode yang digunakan guru.

  7. Tampak beberapa siswa sedang mengerjakan PR secara diam-diam sewaktu guru menjelaskan materi. Sebagian besar siswa yang duduk dibelakang asik mengobrol dan tidak memperhatikan guru.

  8. Guru memberikan pertanyaan kepada siswa, dan ada siswa yang menjawab namun, karena jawaban siswa tersebut sedikit melantur sehingga membuat siswa yang lain mengejek bahkan mentertawakan temannya yang menjawab.

  9. Guru menegur dan menasehati siswa yang membuat kegaduhan.

  10. Guru memberikan tugas kepada siswa.

  11. Guru meminta siswa untuk mengerjakan tugasnya dirumah karena waktu belajar telah habis.

  12. Guru mengakhiri proses pembelajaran dan mengucapkan salam.

  

HASIL OBSERVASI KEGIATAN PEMBELAJARAN PRA PENELITIAN

Observasi Proses Pembelajaran Kimia Kelas XI IPA 3 Materi Termokimia (11 Oktober 2016 pukul 12.15-13.30)

  1. Guru mengucapkan salam dan memimpin do’a sebelum belajar

  2. Guru menyampaikan apersepsi

  3. Guru menjelaskan materi menggunakan metode ceramah, ± 25 menit penjelasan berlangsung siswa mulai ribut dan tampak terlihat bosan, guru menjadi sering menegur siswa yang membuat keributan.

  4. Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya, namun tidak ada siswa yang bertanya.

  5. Guru memberi tugas dan meminta siswa membentuk kelompok untuk melakukan diskusi, ketika diskusi kelompok berlangsung guru tidak mendampingi siswa di kelas.

  6. Sebagian besar siswa disetiap kelompok terlihat asik bercerita dengan temannya dan tidak melakukan diskusi dengan semestinya. Hanya beberapa siswa saja yang bersungguh-sungguh mengerjakan tugas yang diberikan guru.

  7. Siswa tidak terlihat saling bertukar pikiran yang ada siswa tidak membantu temannya untuk mencari jawaban, ketika temannya bertanya juga tidak digubris, sehingga pada beberapa kelompok tampak hanya beberapa siswa yang mengerjakan tugas.

  8. Kelas menjadi semakin ribut , bahkan terlihat ada beberapa kelompok yang meniru jawaban dari kelompok yang lain. 9. ± 8 menit sebelum pembelajaran habis guru masuk kelas kembali, dan menanyakan tugas yang diberikan.

  10. Guru mengakhiri pembelajaran dengan mengucapkan salam dan menjelaskan bahwa tugas yang diberikan akan dibahas pada pertemuan selanjutnya.

LAMPIRAN A-2 HASIL WAWANCARA GURU PRA PENELITIAN

  Narasumber : Indra Nirwan Utama, SP Peneliti : Supiawati Tanggal : 2 November 2016

  No Pertanyaan Jawaban

  

1 Dalam proses pembelajaran Model pembelajaran konvensianal dengan metode

bapak sering menggunakan ceramah, kadang-kadang diskusi kelompok.

  model pembelajaran apa?

  

2 Mengapa bapak lebih Karena lebih mudah dalam proses menyampaikan

  memilih menggunakan materi kalau menggunakan metode ceramah metode tersebut? tersebut. Apalagi siswa lebih banyak bermain, jika menggunakan metode lain bisa-bisa materi yang ditargetkan tidak dapat diselesaikan. Yang seharusnya dalam satu kali pertemuan dapat diselesaikan malah menjadi dua kali pertemuan.

  

3 Materi apakah yang Materi yang sulit untuk siswa itu lebih cenderung

  memiliki taraf kesukaran pada materi berhitung, seperti larutan penyangga, tinggi bagi siswa di kelas XI asam-basa, dan hidrolisis garam. Tapi, yang paling tersebut? banyak tidak tuntas itu pada materi hidrolisis garam. Materi inikan saling barkaitan satu sama lain, jadi kalau siswa tidak paham dari materi awal maka untuk materi selanjutnya akan sulit dipahami. Ditambah lagi mereka tidak sering mengulang pelajaran sebelumnya dirumah, makin cepat lupa jadinya. Materi hidrolisis garam ini dapat dikatakan sulit materinya kalau siswa tidak belajar dengan sungguh-sungguh.

  4 Bagaimana dengan hasil

  8 Apakah bapak pernah

  siswa berpengaruh atau tidak terhadap hasil belajar siswa.

  10 Menurut bapak sikap ilmiah

  Karena sarana di laboratorium itu kurang memadai selain itu bapak sibuk, jadi materi banyak yang ketinggalan dan membuat bapak lebih fokus untuk menyelesaikan materi yang tertinggal.

  melakukan kegiatan praktikum, padahal pelajaran kimia inikan hampir tak bisa dipisah dari kegiatan praktikum?

  9 Kenapa bapak tidak pernah

  Sikap ilmiah itukan lebih cenderung ada didalam praktikum ya kan, karena praktikum juga hampir tidak pernah dilakukan jdi untuk itu Bapak hanya menilai sikap afektif siswa secara umum saja.

  melakukan penilaian sikap ilmiah selama proses pembelajaran berlangsung?

  Untuk sikap siswa dikelas, ada siswa yang sering bertanya ada juga yang tidak. Tapi ya itulah, untuk yang bertanya selalu orang-orang itu aja. Sebagian besar siswa kurang aktif di kelas saat belajar.

  belajar siswa pak? Ya untuk hasil belajar siswa, masih banyak yang tidak tuntas, masih di bawah KKM.

  dikelas dalam proses belajar berdasarkan model yang bapak gunakan?

  7 Bagaimana sikap siswa

  Siswa pada materi tersebut sering kebingungan dalam menentukan sifat larutan garam karena siswa sudah tidak menguasai materi sebelumnya yaitu materi asam-basa, kunci dari materi hidrolisis garam itukan ada pada materi asam-basa tentang sifat-sifat larutan asam dan larutan basa.

  siswa banyak mengalami ketidaktuntasan pada materi tersebut?

  6 Apa yang menyebabkan

  pak? KKM di sini 76 untuk mata pelajaran kimia.

  5 KKM di sekolah ini berapa

  Saya rasa berpengaruh, ini dugaan bapak saja ya, karena bapak jugakan tidak pernah mengukur hal tersebut. Tapi bapak rasa sih berpengaruh, karena jika kita lihat sikap belajar siswa yang aktif dikelas saja berpengaruh pada hasil belajarnya.

  LAMPIRAN A-3 HASIL WAWANCARA SISWA KELAS XI IPA 1 PRA PENELITIAN

  Jumlah Siswa : 3 orang Kelas/Semester : XI IPA/Ganjil Tanggal : 03 November 2016 Peneliti : Supiawati Nama Siswa : 1. Elsa Wahyuni

  2. Peter Oktavianda Andreas

  3. Anugerah Putri Pratiwi

  No Nama Jawaban 1 Apa kalian suka pelajaran ES : Kadang suka, kadang tidak bu.

  kimia? PO : Sedang-sedang bu, habisnya banyak yang sulit AP : Suka bu, meskipun banyak materi yang bikin pusing

  Kenapa demikian? ES : Bapak ngajarnya gitu-gitu terus bu, jdi

  2

  cepat bosan PO : Kalau kami ngerti, kami suka. Kalau tidak, ya tidak juga bu. Tapi banyak tidak sukanya bu sama pelajaran kimia, apalagi guru yang mengajar.

  AP : Benar si bu kata teman-teman, cara bapak mengajar dikelas terlalu monoton, kami jadi takut sama bapak. Padahal bapak baik kok bu, dengan cara bapak mengajar seperti itu kami jadi segan.

3 Cara guru mengajar di kelas ES : Paling sering dijelasin bu, habis jelasin

  memangnya seperti apa? dikasi tugas.

  PO : Iya bu, betul. Kami sering dikasi tugas tapi jarang dibahas lagi bu, padahal kami tidak paham. AP : Bapak sering menjelaskan bu, habis itu tugas atau di kasi PR. Pas bapak ngajar kami gak berani ribut bu, diam semua pada takut sama bapak, teganglah pokoknya. Apa kalian pernah melakukan ES : Diskusi kelompok kadang-kadang ada

  4 diskusi dan praktikum? bu.

  PO : Tapi kalau praktikum sama bapak hampir tidak pernah bu. AP : Kemarin ada praktikum tapi bukan sama bapak bu, tapi karena ada penelitian dari mahasiswa PPL tahun lalu.

  5 Bagaimana dengan nilai ES : Malu bu, biar Peter aja yang jawab.

  pelajaran kimia kalian? PO : Wah, masalah nilai sih bu, sudah biasa tidak tuntas satu kelas bu. Bagaimana mau tuntas, ngerti aja ngak bu. AP : Iya bu, begitulah kalau masalah nilai.

  Tapi terkadang kami tidak tahu nilai kami, soalnya kalau ulangan kadang hasilny tidak di bagikan bapak.

  6 Kalian ingin pembelajaran ES : Santai tapi pasti bu, biar gak bosan.

  kimia seperti apa? PO : Tidak membuat ngantuk AP : Menyenangkan dan tidak membosankan

  

HASIL WAWANCARA SISWA KELAS XI IPA 2 PRA PENELITIAN

  Jumlah Siswa : 3 orang Kelas/Semester : XI IPA/Ganjil Tanggal : 03 November 2016 Peneliti : Supiawati Nama Siswa : 1. Mayang Sari

  2. Rico Rendy E.F

  3. Halimah

  No Nama Jawaban

  1 Apa kalian suka pelajaran

  kimia? MS : Suka sedikit RR : Suka pas lagi paham bu Ha : Sedang-sedang bu

  2 Kenapa demikian? MS : Banyak tidak paham sama materi nya bu

  RR : Belajar kimia itu sedikit membosankan Ha :Takut bu sama bapak.

  3 Cara guru mengajar di kelas

  memangnya seperti apa? MS : Dijelasin, dikasi tugas dan PR. Tapi PR nya tidak dibahas lagi bu, padahal kami belum ngerti bu.

  RR : Betul bu Ha : Iya, setuju

  4 Apa kalian pernah melakukan

  diskusi dan praktikum? MS : Diskusi kelompok kadang-kadang ada bu.

  RR : Tapi kalau praktikum sama bapak hampir tidak pernah bu. Ha : Bapak sering kejar materi bu, soalny banyak ketinggalan makanya tidak pernah praktikum

  5 Bagaimana dengan nilai MS : Banyak tidak tuntas bu. Yang kami pelajaran kimia kalian? anggap pintar aja juga tidak tuntas bu.

  RR : Soal ulangan Bapak tu mantap bu, sampai tak bise jawab Ha : Susah bu, soalnya makanya banyak ndak tuntas

6 Kalian ingin pembelajaran MS : Santai bu, biar kami tidak takut

  kimia seperti apa? RR : Setuju, biar kami tidak tegang dan tidak ngantuk Ha : Sama bu.

  HASIL WAWANCARA SISWA KELAS XI IPA 2 PRA PENELITIAN

  Jumlah Siswa : 3 orang Kelas/Semester : XI IPA/Ganjil Tanggal : 03 November 2016 Peneliti : Supiawati Nama Siswa : 1. Sri Lestari

  2. M. Apid. A

  3. Yogi Anggara

  No Nama Jawaban

  1 Apa kalian suka pelajaran

  kimia? SL : Disuka-sukain gitu la bu. Sulit bu pelajaran kimia tu.

  MA : Kadang suka, kadang tidak bu. YA : Sebenarnya sih bu suka, tapi cara bapak mengajar itu bu, bikin takut dan bosan.

  

2 Kenapa demikian? SL : Bapak mengajarnya terlalu monoton bu,

  MA :Banyak menjelaskan ujung-ujungnya tidak ada yang dengarin bu, ngantuk. YA : Iya bu. Apalagi bapak kan orangnya pendiam jadi bikin takut bu, kalau bapak ngajar.

  3 Cara guru mengajar di kelas

  memangnya seperti apa? SL : Banyak jelaskan materi MA : Jelasin materi, habis itu di kasi tugas atau PR bu.

  YA : Iya bu. Mending kalu kami ngerti.....ini...aduh bu, pusing. Apalagi hitungan, bapak ngajar bikin ngantuk bu.

  

4 Apa kalian pernah melakukan SL : Pernah satu kali bu, dalam semester ini ni diskusi dan praktikum? MA :Diskusi kelompok kadang-kadang ada bu. Tapi kalau praktikum sama bapak hampir tidak pernah bu. Kemarin ada praktikum tapi karena ada penelitian dari mahasiswa PPL tahun lalu. YA : Iya bu.

  5 Bagaimana dengan nilai

  pelajaran kimia kalian? SL : Malu bu, sering tidak tuntas MA : Mantap bu, banyak tidak tuntas.

  YA : Kami tidak paham bu yang di ajarkan bapak. Tiap kami minta bahas PR yang tidak kami mengerti, tidak dibahas bapak bu, alasannya ngejar materi bu.

  6 Kalian ingin pembelajaran

  kimia seperti apa? SL : Yang bikin nyaman yak la bu MA : Santai tapi pasti bu, biar tidak tegang YA : Maunya sih bu santai, tidak monoton biar tidak ngantuk bu.

LAMPIRAN A-4

  

KISI-KISI LEMBAR OBSERVASI SIKAP ILMIAH SISWA (Anwar, 2009)

No Aspek Sikap Ilmiah Indikator Sikap Jumlah Aspek

Penilaian

  1 Rasa Ingin Tahu Perhatian pada objek yang diamati

  2 Antusian mencari jawaban Menghargai data/fakta Jujur

  2

  2 Objektif

  Kriteria

  3 Berpikir kritis Mengajukan hipotesis mengenai hidrolisis

  2 penilaian garam dengan 3

  Meragukan temuan tanpa adanya bukti skala (3-2-1- yang kuat

  0)

  4 Berpikir terbuka dan Menghargai pendapat teman/orang lain

  2 bekerjasama Berpartisipasi aktif dalam kelompok walaupun tidak dengan teman akrab

  5 Ketekunan Melengkapi satu kegiatan meskipun teman

  1 sekelas selesai lebih awal

  6 Peka terhadap lingkungan Menjaga kebersihan lingkungan sekitar

  1 sekitar

  Jumlah

  10

LAMPIRAN A-5

  75 XI IPA 3.20

  45

  65 XI IPA 3.23

  34 XI IPA 2.23

  23 XI IPA 1.23

  80

  55 XI IPA 3.22

  65 XI IPA 2.22

  22 XI IPA 1.22

  78

  60 XI IPA 3.21

  74 XI IPA 2.21

  21 XI IPA 1.21

  75

  55 XI IPA 2.20

  65 XI IPA 2.24

  20 XI IPA 1.20

  65

  70 XI IPA 3.19

  54 XI IPA 2.19

  19 XI IPA 1.19

  78

  75 XI IPA 3.18

  75 XI IPA 2.18

  18 XI IPA 1.18

  76

  65 XI IPA 3.17

  34 XI IPA 2.17

  17 XI IPA 1.17

  24 XI IPA 1.24

  70 XI IPA 3.24

  30 XI IPA 3.16

  75

  67,6 70,06

  63,37

  Rata-rata

  80 Jumlah 1901 2028 2172

  31 XI IPA 3.31

  64

  77 XI IPA 3.30

  90 XI IPA 2.30

  30 XI IPA 1.30

  73

  65 XI IPA 3.29

  65 XI IPA 2.29

  29 XI IPA 1.29

  78 XI IPA 3.28

  65

  60 XI IPA 2.28

  28 XI IPA 1.28

  65

  50 XI IPA 3.27

  87 XI IPA 2.27

  27 XI IPA 1.27

  45

  60 XI IPA 3.26

  55 XI IPA 2.26

  26 XI IPA 1.26

  65

  78 XI IPA 3.25

  44 XI IPA 2.25

  25 XI IPA 1.25

  77

  

NILAI ULANGAN UMUM SEMESTER GANJIL SISWA KELAS XI IPA

SMA NEGERI 2 SUNGAI RAYA TAHUN AJARAN 2016/2017 Jumlah siswa Kelas Kode Siswa

  XI IPA 1 Nilai Kode Siswa

  55 XI IPA 2.4

  75 XI IPA 3.7

  60 XI IPA 2.7

  7 XI IPA 1.7

  85

  89 XI IPA 3.6

  72 XI IPA 2.6

  6 XI IPA 1.6

  65

  76 XI IPA 3.5

  50 XI IPA 2.5

  5 XI IPA 1.5

  75

  85 XI IPA 3.4

  4 XI IPA 1.4

  8 XI IPA 1.8

  76

  78 XI IPA 3.3

  90 XI IPA 2.3

  3 XI IPA 1.3

  80

  78 XI IPA 3.2

  65 XI IPA 2.2

  2 XI IPA 1.2

  65

  65 XI IPA 3.1

  55 XI IPA 2.1

  1 XI IPA 1.1

  XI IPA 3 Nilai

  

XI IPA 2

Nilai Kode Siswa

  76

  54 XI IPA 2.8

  16 XI IPA 1.16

  79 XI IPA 3.12

  60

  45 XI IPA 3.15

  57 XI IPA 2.15

  15 XI IPA 1.15

  65

  79 XI IPA 3.14

  56 XI IPA 2.14

  14 XI IPA 1.14

  45

  76 XI IPA 3.13

  45 XI IPA 2.13

  13 XI IPA 1.13

  55

  80 XI IPA 2.12

  50 XI IPA 3.8

  12 XI IPA 1.12

  78

  45 XI IPA 3.11

  79 XI IPA 2.11

  11 XI IPA 1.11

  79

  70 XI IPA 3.10

  65 XI IPA 2.10

  10 XI IPA 1.10

  82

  65 XI IPA 3.9

  82 XI IPA 2.9

  9 XI IPA 1.9

  80

  79 XI IPA 2.16

LAMPIRAN A-6

  − ̅ ( − ̅)

  

DATA NILAI ULANGAN UMUM SISWA KELAS XI IPA 1

No Kode Siswa

  • 8,37 70,0569

  1 XI IPA 1.1

  • 8,37 70,0569

  

65

1,63 2,6569

  

75

11,63 135,2569

  19 XI IPA 1.19

  54 -9,37 87,7969

  20 XI IPA 1.20

  55 -8,37 70,0569

  21 XI IPA 1.21

  

74

10,63 112,9969

  22 XI IPA 1.22

  65 1,63 2,6569

  23 XI IPA 1.23

  34 -29,37 862,5969

  24 XI IPA 1.24

  25 XI IPA 1.25

  34 -29,37 862,5969

  44 -19,37 375,1969

  26 XI IPA 1.26

  55 -8,37 70,0569

  27 XI IPA 1.27

  87 23,63 558,3769

  28 XI IPA 1.28

  60 -3,37 11,3569

  29 XI IPA 1.29

  65 1,63 2,6569

  30 XI IPA 1.30

  90 26,63 709,1569

  Jumlah 1901

  6614,967

  18 XI IPA 1.18

  79 15,63 244,2969

  17 XI IPA 1.17

  54 -9,37 87,7969

  2 XI IPA 1.2

  65 1,63 2,6569

  3 XI IPA 1.3

  90 26,63 709,1569

  4 XI IPA 1.4

  

55

  5 XI IPA 1.5

  50 -13,37 178,7569

  6 XI IPA 1.6

  72 8,63 74,4769

  7 XI IPA 1.7

  60 -3,37 11,3569

  8 XI IPA 1.8

  9 XI IPA 1.9

  

55

  82 18,63 347,0769

  10 XI IPA 1.10

  65 1,63 2,6569

  11 XI IPA 1.11

  

79

15,63 244,2969

  12 XI IPA 1.12

  80 16,63 276,5569

  13 XI IPA 1.13

  45 -18,37 337,4569

  14 XI IPA 1.14

  56 -7,37 54,3169

  15 XI IPA 1.15

  16 XI IPA 1.16

  57 -6,37 40,5769 Jumlah 2028 5227,2

  77 9,4 88,36

  23 XI IPA 2.23

  30 -37,6 1413,76

  17 XI IPA 2.17

  

65

  18 XI IPA 2.18

  75 7,4 54,76

  19 XI IPA 2.19

  70 2,4 5,76

  20 XI IPA 2.20

  75 7,4 54,76

  21 XI IPA 2.21

  60 -7,6 57,76

  22 XI IPA 2.22

  55 -12,6 158,76

  65 -2,6 6,76

  45 -22,6 510,76

  24 XI IPA 2.24

  

70

2,4 5,76

  25 XI IPA 2.25

  78 10,4 108,16

  26 XI IPA 2.26

  60 -7,6 57,76

  27 XI IPA 2.27

  

50

  28 XI IPA 2.28

  78 10,4 108,16

  29 XI IPA 2.29

  65 -2,6 6,76

  30 XI IPA 2.30

  16 XI IPA 2.16

  15 XI IPA 2.15

  

DATA NILAI ULANGAN UMUM SISWA KELAS XI IPA 2

No Kode Siswa

  89 21,4 457,96

  − ̅ (

  − ̅)

  1 XI IPA 2.1

  65 -2,6 6,76

  2 XI IPA 2.2

  78 10,4 108,16

  3 XI IPA 2.3

  78 10,4 108,16

  4 XI IPA 2.4

  

85

17,4 302,76

  5 XI IPA 2.5

  76 8,4 70,56

  6 XI IPA 2.6

  7 XI IPA 2.7

  

79

11,4 129,96

  

75

7,4 54,76

  8 XI IPA 2.8

  50 -17,6 309,76

  9 XI IPA 2.9

  65 -2,6 6,76

  10 XI IPA 2.10

  70 2,4 5,76

  11 XI IPA 2.11

  45 -22,6 510,76

  12 XI IPA 2.12

  79 11,4 129,96

  13 XI IPA 2.13

  76 8,4 70,56

  14 XI IPA 2.14

  • 2,6 6,76
  • 17,6 309,76
  • 5,06 25,6036

  3693,8716

  65 -5,06 25,6036

  

76

5,94 35,2836

  18 XI IPA 3.18

  78 7,94 63,0436

  19 XI IPA 3.19

  65 -5,06 25,6036

  20 XI IPA 3.20

  

75

4,94 24,4036

  21 XI IPA 3.21

  78 7,94 63,0436

  22 XI IPA 3.22

  80 9,94 98,8036

  23 XI IPA 3.23

  45 -25,06 628,0036

  24 XI IPA 3.24

  25 XI IPA 3.25

  77 6,94 48,1636

  65 -5,06 25,6036

  26 XI IPA 3.26

  45 -25,06 628,0036

  27 XI IPA 3.27

  65 -5,06 25,6036

  28 XI IPA 3.28

  75 4,94 24,4036

  29 XI IPA 3.29

  73 2,94 8,6436

  30 XI IPA 3.30

  

64

  31 XI IPA 3.31

  80 9,94 98,8036

  Jumlah 2172

  17 XI IPA 3.17

  16 XI IPA 3.16

  

DATA NILAI ULANGAN UMUM SISWA KELAS XI IPA 3

No Kode Siswa

  7 XI IPA 3.7

  − ̅ (

  − ̅)

  1 XI IPA 3.1

  65 -5,06 25,6036

  2 XI IPA 3.2

  80 9,94 98,8036

  3 XI IPA 3.3

  76 5,94 35,2836

  4 XI IPA 3.4

  75 4,94 24,4036

  5 XI IPA 3.5

  65 -5,06 25,6036

  6 XI IPA 3.6

  85 14,94 223,2036

  

76

5,94 35,2836

  60 -10,06 101,2036

  12 XI IPA 3.12

  15 XI IPA 3.15

  

65

  14 XI IPA 3.14

  45 -25,06 628,0036

  13 XI IPA 3.13

  55 -15,06 226,8036

  78 7,94 63,0436

  8 XI IPA 3.8

  11 XI IPA 3.11

  79 8,94 79,9236

  10 XI IPA 3.10

  82 11,94 142,5636

  9 XI IPA 3.9

  80 9,94 98,8036

  • 6,06 36,7236

LAMPIRAN A-7 PERHITUNGAN UJI BARLETT

  1. Menentukan varian tiap sampel

  a. Kelas XI IPA 1

  ∑ 1901

  = = 63,37 ̅ =

  30

  2 6614,967 (∑ − ̅)

  2

  = = 228,10 = ∑

  1 −1 30−1

  b. Kelas XI IPA 2

  ∑ 2028

  = = 67,6 ̅ =

  30

  2 (∑ − ̅) 5227,2

  2

  = = 180,24 = ∑

  1 −1 30−1

  c. Kelas XI IPA 3

  ∑ 2172

  = = 70,06 ̅ =

  31

  2 (∑ − ̅) 3693,8716

  2

  = = 123,13 = ∑

  1 −1 31−1

  2. Gabungan dari semua sampel

  2

  2

  2 Sampel dk

1 Log (dk) Log

  1

  1

  1 IPA 1

  29 0,034482 228,10 2,35 68,15

  IPA 2 29 0,034482 180,24 2,25 65,25

  IPA 3 30 0,033333 123,13 2,09 62,7 Jumlah 88 0,102297 531,47 6,69 196,1

  2 (∑( −1) ) 29(228,10)+29(180,24)+30(123,13) 6.614,9+5.226,96+3.6939,9

  1

  2

  3. = = =

  ∑( −1)

  88

  88 15536,04

  = = 176,5459

  88

  2

  log = log 176,5459 = 2,246858

  4. Harga satuan B

2 B =

  (log )∑( − 1) B = (2,246858)(88) = 197,7235

  • – 196,1) = 1,206631 6.

  2

  2

  3

  =

  2

  2

  =

  2

  1

  = 1,20 < 7,815, sehingga hipotesis

  = 7,815. Ternyata

  5. Uji barlett dengan statistik chi-kuadrat

  ( )

  0,95

  2

  = 1,20 Jika α = 0,05 dari daftar distribusi chi-kuadrat dengan dk = 3 didapat

  2

  } = (2,3026) (197,7235

  

2

  

1

  = (ln 10){ − ∑( − 1) log

  2

  diterima dengan taraf nyata 0,05. Artinya populasi memiliki varians yang homogen sehingga sampel dalam populasi memiliki peluang yang sama.

LAMPIRAN B-1 PENGGALAN SILABUS

  Nama sekolah : SMA Negeri 2 Sungai Raya Mata Pelajaran : Kimia Kelas/Semester : XI/2 Standar Kompetensi : 4. Memahami sifat-sifat larutan asam-basa, metode pengukuran, dan terapannya.

  Alokasi Waktu : 2 jam pelajaran (1 x pertemuan)

  

Kompetensi Indikator Materi Kegiatan Penilaian Nilai Sikap Alokasi Sumber/bahan/

Dasar Pembelajaran Pembelajaran Ilmiah Waktu alat

  o 4.4 menentukan

  Jenis - Rasa ingin tahu 2 jam Sumber :

  Menjelaskan  Hidrolisis  Mengulang jenis garam

  tagihan: - Respek - Buku kimia

  garam materi yang telah pengertian yang

  • Tugas terhadap data dipelajari (asam-

   Sifat garam mengalami hidrolisis garam Individu - Berpikir kritis Bahan dan yang basa) hidrolisis

  • Tugas - Berpikir

  Alat :

  terhidrolisis  Mengkaji materi

  o

  Menentukan dalam air dan Kelompok terbuka dan - Lembar kerja tentang hidrolisis

   pH larutan pH larutan garam yang dapat bekerjasama siswa garam dengan garam yang garam

  Bentuk - Ketekunan - Lembar

  terhidrolisis mengidentifikasi terhidrolisis tersebut

  Instrumen: - Peka terhadap observasi

  masalah dan berdasarkan

  • Tes tertulis lingkungan sikap ilmiah merumuskan percobaan
  • Performans sekitar siswa hipotesis

  o Menentukan sifat

  asam basa suatu

  ( kinerja - Alat dan sementara

  garam

  dan sikap) bahan untuk  Melakukan praktikum percobaan untuk o Menentukan pH menentukan ciri-

  ciri garam yang

  larutan garam

  terhidrolisis, sifat garam dan pH garam yang terhidrolisis

   Mengkaji data hasil praktikum melalui diskusi kelompok  Melaporkan hasil diskusi kelompok mengenai hasil praktikum  Menyimpulkan hasil praktikum yang dilakukan  Melaksanakan postest

LAMPIRAN B-2

  

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)

KELAS KONTROL

A.

   IDENTITAS

  Mata Pelajaran : Kimia Satuan Pendidikan : SMA Kelas/Semester : XI/2 Nama Sekolah : SMA N 2 Sungai Raya Materi Pokok : Hidrolisis Garam Alokasi Waktu : Menit 2 x 45 B.

STANDAR KOMPETENSI

  4. Memahami sifat-sifat larutan asam-basa, metode pengukuran, dan penerapannya

C. KOMPETENSI DASAR

  4.4 Menentukan jenis garam yang mengalami hidrolisis dalam air dan pH larutan garam tersebut

  D.

   INDIKATOR 1. Kognitif

  1.1 Menjelaskan pengertian hidrolisis garam

  1.2 Menentukan garam yang dapat terhidrolisis

  1.3 Menentukan sifat asam basa suatu garam

  1.4 Menentukan pH larutan garam 2.

   Afektif

  2.1 Menunjukkkan sikap rasa ingin tahu

  2.2 Menunjukkan sikap respek terhadap data

  2.3 Menunjukkan sikap berpikir kritis

  2.4 Menunjukkan sikap berpikir tebuka dan bekerjasama

  2.5 Menunjukkan ketekunan

  2.6 Menunjukkan sikap peka terhadap lingkungan sekitar 3.

   Psikomotorik

  3.1 Mengecek kesesuaian dan kelengkapan alat dan bahan

  3.2 Menggunakan alat ukur (pH meter dan kertas lakmus)

  3.3 Membaca hasil pengukuran E.

   TUJUAN PEMBELAJARAN 1. Kognitif

  1.1 Siswa dapat menjelaskan pengertian hidrolisis garam

  1.2 Siswa dapat menentukan garam yang terhidrolisis

  1.3 Siswa dapat menentukan sifat asam basa suatu garam

  1.4 Siswa dapat menentukan pH larutan garam 2.

   Afektif

  2.1 Siswa dapat menunjukkan sikap rasa ingin tahu dalam proses pembelajaran

  2.2 Siswa dapat menunjukkan sikap respek terhadap data dalam proses pembelajaran

  2.3 Siswa dapat menunjukkan sikap sikap berpikir kritis dalam proses pembelajaran

  2.4 Siswa dapat menunjukkan sikap berpikir terbuka dan bekerjasama dalam proses pembelajaran

  2.5 Siswa dapat menunjukkan sikap tekun dalam proses pembelajaran

  2.6 Siswa dapat menunjukkan sikap peka terhadap lingkungan sekitar dalam proses pembelajaran

3. Psikomotorik

  3.1 Siswa dapat mengecek kesesuaian dan kelengkapan alat dan bahan sesuai dengan Lembar Penilaian Psikomotorik

  3.2 Siswa dapat menggunakan alat ukur (pH meter dan kertas lakmus)

  3.3 Siswa dapat membaca hasil pengukuran dengan tepat F.

MODEL DAN METODE PEMBELAJARAN

  1. Model Pembelajaran : Ekspositori

  2. Metode Pembelajaran : Praktikum, Diskusi Kelompok, Pemberian Tugas

G. LANGKAH-LANGKAH PEMBELAJARAN Tahap

  Alokasi Kegiatan Pembelajaran Pembelajaran Waktu

  a. Guru memberikan salam saat masuk kelas

  b. Guru memimpin siswa untuk berdoa

  c. Guru mengecek kehadiran siswa Kegiatan

  d. Guru memberikan apersepsi mengenai materi

  10 Awal hidrolisis garam menit

  e. Guru mengkomunikasikan tujuan yang harus dicapai oleh siswa setelah melakukan pembelajaran

  Eksplorasi

  e. Guru menjelaskan materi hidrolisis garam

  f. Guru mengomunkasikan langkah-langkah praktikum yang akan dilakukan

  20

  g. Guru mengatur posisi kelompok yang telah menit ditentukan h. Guru mengarahkan siswa membuat tabel pengamatan pada setiap kelompok

  Elaborasi

  Kegiatan Inti

  e) Guru mengarahkan siswa melakukan kegiatan praktikum f) Guru memberikan kesempatan kepada setiap

  50 kelompok untuk mendiskusikan hasil pengamatan menit selama praktikum

  g) Guru memberikan kesempatan kepada salah satu kelompok untuk mempresentasikan hasil diskusi

  Konfirmasi

  5 menit

  h) Guru memberikan penguatan materi Kegiatan Akhir a.

  Guru memberikan tugas rumah b.

  Guru meminta siswa untuk menyimpulkan pembelajaran c.

  Guru memberi salam penutup 5 menit

H. ALAT DAN SUMBER BELAJAR

  1. Alat : White board, spidol, penghapus, buku tulis, pulpen

  2. Sumber : Krityaningsih, Barista. 2014. E-Book Kimia, Hidrolisis Garam, Model

  PBL Untuk Kelas XI IPA. Surakarta: Universitas Sebelas Maret.

  Purba, Michael, 2006, Kimia Untuk SMA Kelas XI. Jakarta: Penerbit Erlangga. Sudarmo, Unggul. 2014. Kimia Untuk SMA/MA Kelas XI, Kelompok

  Peminatan Matematika dan Ilmu Alam . Jakarta: Penerbit Erlangga.

I. PENILAIAN HASIL BELAJAR a. Kognitif

  1. Teknik : tes tertulis

  2. Bentuk : essai

  3. Instrumen : terlampir b.

   Afektif

  1. Teknik : observasi langsung (pengamatan)

  2. Instrumen : terlampir

  LAMPIRAN 1. Instrumen Penilaian

a) Soal evaluasi siswa

  Jawablah pertanyaan dibawah ini dengan benar! 1.

  Jelaskan apa yang dimaksud dengan hidrolisis garam? 2. Tentukan apakah garam berikut mengalami hidrolisis (hidrolisis total, hidrolisis parsial anion/kation)! a.

  4 b.

  4

3. Tentukan sifat asam-basa dari garam berikut: a.

  3 b.

  4 −5 4.

  Tentukan pH larutan 0,1 M; Ka ( ) = 1,8 × 10

  3

  2

  3

  !

  −5 5.

  Tentukan pH larutan = ; Kw = 1 0,1 M; Kb 1,8 × 10 ×

  4

  3 −14

  !

  10

b) Kunci Jawaban dan Pedoman Penskoran

  

No Jawaban Soal Skor Total

  1 - Hidrolisis garam merupakan proses terurainya garam didalam air (0-5)

  10 yang menghasilkan asam atau basa (ion positif dan ion negatif).

  • Hidrolisis garam hanya terjadi jika salah satu atau kedua (0-5) komponen penyusun garam tersebut berasal dari asam lemah atau basa lemah.

  2

  a. - Didalam air larutan akan terhidrolisis parsial (sebagian), (0-10)

  20

  4

  • yaitu hidrolisis kation yang menghasilkan ion .

  2−

  • Hal ini terjadi karena, terdiri dari anion dan kation

  4

  4 2+

  .

  2−

  • Anion berasal dari asam kuat , sehingga tidak

  4

  2

  4 2+

  bereaksi dalam air. Sedangkan kation berasal dari basa lemah , sehingga bereaksi dengan air dan ( )

  2 menyebabkan larutan terhidrolisis parsial (sebagian).

  4

  4

  b. - Didalam air larutan akan terhidrolisis sempurna (total).

  • (0-10)
    • Hal ini terjadi karena, kation berasal dari basa lemah

  

4

  berasal dari asam lemah HCN. . Anion

  4

  • Kedua senyawa ini berasal dari asam dan basa lemah sehingga keduanya akan bereaksi didalam air dan menyebabkan larutan terhidrolisis sempurna (total).

  4

  3 a.

  3

  20 merupakan garam yang terbentuk dari asam lemah

  dan basa kuat. Garam (0-10) mengandung anion asam yang

  3 mengalami hidrolisis.

  (aq ) + (aq ) (aq ) →

  3

  3 −

  Ion bereaksi dengan air membentuk kesetimbangan

  3

  berikut:

  

− −

  (aq) + ⃖ → (aq) + ( )

  3 2 ( )

  3 −

  Adanya ion yang dihasilkan menyebabkan konsentrasi ion

  − +

  di dalam air lebih sedikit daripada konsentrasi , sehingga larutan garam bersifat basa.

  b. merupakan garam yang berasal dari basa lemah dan asam

  4

  (0-10) lemah. Ketika didalam air anion dan kation keduanya akan mengalami hidrolisis.

  − +

  • 4 ( )

  →

  4 ( ) ( )

  Ion dan ion akan bereaksi dengan air membentuk

  4

  kesetimbangan berikut :

  ⃖ →

  4 2 ( ) 4 ( ) ( ) ( )

  − −

  • ( )

  → ⃖ HCN +

  2 ( ) ( )

  Pada hasil reaksi terdapat ion dan ion . Jadi, garam ini mungkin bersifat bersifat asam, basa, maupun netral. Hal ini bergantung dari perbandingan kekuatan kation terhadap anion dalam reaksi dengan air. Sifat larutan bergantung pada kekuatan relatif asam dan basa penyusunnya (Ka dan Kb).

  4 Dik :

  20

  1 M = 0,1 M ( )

  3

  2 −5

  1 Ka = 1,8 × 10

  3 −14

  1 Kw = 1 × 10

  1 Dit : pH = ...? ( )

  3

2 Penyelesaian :

  Reaksinya :

  2+ −

  1 ( ) → ( ) + 2 ( )

  3 2 ( )

  

3

  1 0,1 M 0,1 M 0,2 M

  −

  2 [ ] = √

  ×

  1

  −14 1 × 10

  = √ × 0,2

  −5 1,8 × 10

  1

  −10

  = √1,11 × 10

  1

  −5

  = 1,05 × 10

  −

  pOH = - log [ ]

  2

  −5

  = - log 1,05 × 10

  1 = 5

  • – log 1,05

  1 pH = 14

  • – pOH

  2 = 14 - 5 - log 1,05

  1 = 9 + log 1,05

  1 = 9,02

  1

  5 Dik :

  20 M = 0,1 M

  1

  4 −5

  1 Kb = 1,8 × 10

  3 −14

  1 Kw = 1 × 10

  1 Dit : pH = ...?

4 Penyelesaian :

  Reaksinya :

  1

  ( ) + ( ) → 4 4 ( )

  1

  0,1 M 0,1 M 0,1 M

  

(aq)

  2

  ⃖ ( ) + → ( ) +

  4

  2

  3

  3

  2

  • [ ] = √

  ×

  1

  −14 1 × 10

  = √ × 0,1

  −5 1,8 × 10

  1

  −12

  = √55 × 10

  −6

  1 = 7,45

  × 10

  2

  • pH = - log

  [ ]

  2

  −6

  = - log [7,45 ] × 10

  1 = 6

  • – log 7,45

  1 = 6

  • – 0,87

  1 = 5,12

  Jumlah

  90 ℎ = × 100%

  90 Mengetahui Pontianak, Mei 2017

  Guru Mata Pelajaran Peneliti Indra Nirwan Utama, SP Supiawati NIP. 197504082005041000 131620234

LAMPIRAN B-3

   IDENTITAS

  2.6 Menunjukkan sikap peka terhadap lingkungan sekitar

  2.5 Menunjukkan ketekunan

  2.4 Menunjukkan sikap berpikir tebuka dan bekerjasama

  2.3 Menunjukkan sikap berpikir kritis

  2.2 Menunjukkan sikap respek terhadap data

  2.1 Menunjukkkan sikap rasa ingin tahu

  2. Afektif

  

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)

KELAS EKSPERIMEN

A.

  1.3 Menentukan sifat asam basa suatu garam

  1.2 Menentukan garam yang dapat terhidrolisis

  1.1 Menjelaskan pengertian hidrolisis garam

  1. Kognitif

   INDIKATOR

  D.

  1.4 Menentukan jenis garam yang mengalami hidrolisis dalam air dan pH larutan garam tersebut

  4. Memahami sifat-sifat larutan asam-basa, metode pengukuran, dan penerapannya

  Mata Pelajaran : Kimia Satuan Pendidikan : SMA Kelas/Semester : XI/2 Nama Sekolah : SMA N 2 Sungai Raya Materi Pokok : Hidrolisis Garam Alokasi Waktu : Menit 2 x 45 B.

STANDAR KOMPETENSI

C. KOMPETENSI DASAR

  1.4 Menentukan pH larutan garam

3. Psikomotorik

  3.1 Mengecek kesesuaian dan kelengkapan alat dan bahan

  3.2 Menggunakan alat ukur (pH meter dan kertas lakmus)

  3.3 Membaca hasil pengukuran E.

TUJUAN PEMBELAJARAN

1. Kognitif

  1.1 Siswa dapat menjelaskan pengertian hidrolisis garam

  1.2 Siswa dapat menentukan garam yang terhidrolisis

  1.3 Siswa dapat menentukan sifat asam basa suatu garam

  1.4 Siswa dapat menentukan pH larutan garam 2.

   Afektif

  2.1 Siswa dapat menunjukkan sikap rasa ingin tahu dalam proses pembelajaran

  2.2 Siswa dapat menunjukkan sikap respek terhadap data dalam proses pembelajaran

  2.3 Siswa dapat menunjukkan sikap sikap berpikir kritis dalam proses pembelajaran

  2.4 Siswa dapat menunjukkan sikap berpikir terbuka dan bekerjasama dalam proses pembelajaran

  2.5 Siswa dapat menunjukkan sikap tekun dalam proses pembelajaran

  2.6 Siswa dapat menunjukkan sikap peka terhadap lingkungan sekitar dalam proses pembelajaran

3. Psikomotorik

  3.1 Siswa dapat mengecek kesesuaian dan kelengkapan alat dan bahan sesuai dengan Lembar Penilaian Psikomotorik

  3.2 Siswa dapat menggunakan alat ukur (pH meter dan kertas lakmus)

  3.3 Siswa dapat membaca hasil pengukuran dengan tepat F.

MODEL DAN METODE PEMBELAJARAN

  1. Model Pembelajaran : Inkuiri Terbimbing

  2. Metode Pembelajaran : Praktikum, Diskusi Kelompok, Pemberian Tugas

G. LANGKAH-LANGKAH PEMBELAJARAN Tahap Pembelajaran Kegiatan Pembelajaran Alokasi Waktu Kegiatan Awal 1. Orientasi

  a. Guru memberikan salam saat masuk kelas

  b. Guru memimpin siswa untuk berdoa

  60 menit

  d) Guru membimbing siswa untuk melakukan

  Guru membimbing siswa merumuskan hipotesis berdasarkan rumusan masalah yang dibuat

  10 menit Elaborasi 3. Merumuskan Hipotesis a.

  b. Guru menjelaskan mengenai langkah-langkah inkuiri i. Guru membimbing siswa merumuskan masalah berdasarkan informasi yang terdapat pada LKS

  a. Guru membagikan LKS kepada setiap kelompok

  10 menit Kegiatan Inti Eksplorasi 2. Merumuskan Masalah

  h. Guru membimbing siswa membentuk kelompok

  pentingnya mempelajari materi hidrolisis garam

  g. Guru memberikan penjelasan mengenai

  yang harus dicapai siswa

  f. Guru mengkomunikasikan tujuan pembelajaran

  akan dilaksanakan

  d. Guru menyiapkan siswa secara fisik dan mental melalui pemberian pertanyaan apersepsi mengenai materi sebelumnya

  c. Guru mengecek kehadiran siswa

e. Guru mengkomunikasikan pembelajaran yang

4. Mengumpulkan data

  kegiatan praktikum

  e) Guru membimbing siswa menyiapkan alat dan bahan praktikum f) Guru membimbing siswa melaksanakan praktikum 5.

   Menguji hipotesis a.

  Guru membimbing siswa berdiskusi untuk menguji hipotesis yang telah dibuat b.

  Guru meminta salah satu perwakilan kelompok untuk melaporkan hasil diskusi c.

  Guru memberi kesempatan kepada siswa untuk saling menanggapi hipotesis dan hasil diskusi yang disampaikan

  Konfirmasi

a. Guru memberi penguatan dan menjawab

  5 menit pertanyaan dari siswa yang kesulitan dan menanggapi perumusan hipotesis yang diajukan oleh siswa 6.

   Merumuskan kesimpulan a.

  Guru membimbing siswa untuk menyimpulkan pembelajaran

  Kegiatan 5 menit Akhir Penutup: a. Guru memberikan tugas rumah

  b. Guru memberi salam penutup

H. ALAT DAN SUMBER BELAJAR

  1. Alat : White board, spidol, penghapus, buku tulis, pulpen

  2. Sumber : Krityaningsih, Barista. 2014. E-Book Kimia, Hidrolisis Garam, Model PBL Untuk Kelas XI IPA. Surakarta: Universitas Sebelas Maret.

  Purba, Michael, 2006, Kimia Untuk SMA Kelas XI. Jakarta: Penerbit Erlangga. Sudarmo, Unggul. 2014. Kimia Untuk SMA/MA Kelas XI, Kelompok Peminatan Matematika dan Ilmu Alam . Jakarta: Penerbit Erlangga.

I. PENILAIAN HASIL BELAJAR

  a. Kognitif

  1. Teknik : tes tertulis

  2. Bentuk : essai

  3. Instrumen : terlampir

  b. Afektif

  1. Teknik : pengamatan

  2. Instrumen : terlampir

  LAMPIRAN 1. Instrumen Penilaian a. Soal evaluasi siswa Jawablah pertanyaan dibawah ini dengan benar!

  1. Jelaskan apa yang dimaksud dengan hidrolisis garam?

  2. Tentukan apakah garam berikut mengalami hidrolisis (hidrolisis total, hidrolisis parsial anion/kation)! a.

  4 b.

  4

  3. Tentukan sifat asam-basa dari garam berikut: a.

  3 b.

  4

  4. Tentukan pH larutan 0,1 M; Ka ( ) =

  3

  2

  3 −5

  ! 1,8 × 10

  −5

  5. Tentukan pH larutan = ; Kw = 0,1 M; Kb 1,8 × 10

  4

  3 −14

  1 ! × 10 b.

  Kunci Jawaban dan Pedoman Penskoran

No Jawaban Soal Skor Total

  1 Hidrolisis garam merupakan proses terurainya garam didalam air (0-5)

  10 yang menghasilkan asam atau basa (ion + dan ion -). Hidrolisis garam hanya terjadi jika salah satu atau kedua komponen penyusun garam (0-5) tersebut berasal dari asam lemah atau basa lemah.

  2

  a. Didalam air larutan akan terhidrolisis parsial (sebagian), (0-10)

  20

  4

  • yaitu hidrolisis kation yang menghasilkan ion . Hal ini terjadi

  2− 2+

  karena, terdiri dari anion dan kation . Anion

  4

  

4

2−

  berasal dari asam kuat , sehingga tidak bereaksi

  4

  2

  4 2+

  dalam air, sedangkan kation berasal dari basa lemah , sehingga bereaksi dengan air dan menyebabkan larutan

  ( )

  2 terhidrolisis parsial (sebagian).

  4

  4

b. Didalam air larutan akan terhidrolisis sempurna (total).

  • +

    (0-10)

  Hal ini terjadi karena, kation berasal dari basa lemah

  

4

  berasal dari asam lemah HCN. Kedua , dan anion

  4

  senyawa ini berasal dari asam dan basa lemah sehingga keduanya akan bereaksi didalam air dan menyebabkan larutan

  4 terhidrolisis sempurna (total).

  3 a.

  (0-10)

  3

  20 merupakan garam yang terbentuk dari asam lemah

  3 mengalami hidrolisis.

  dan basa kuat. Garam mengandung anion asam yang

  (aq ) + (aq ) (aq ) →

  3

  3 −

  Ion bereaksi dengan air membentuk kesetimbangan

  3

  berikut:

  

− −

  (aq) + ⃖ → (aq) + ( )

  3 2 ( )

  3 −

  Adanya ion yang dihasilkan menyebabkan konsentrasi ion

  − +

  di dalam air lebih sedikit daripada konsentrasi , sehingga larutan garam bersifat basa.

  b. merupakan garam yang berasal dari basa lemah dan asam

  4

  (0-10) lemah. Ketika didalam air anion dan kation keduanya akan mengalami hidrolisis.

  −

  →

  4 ( ) 4 ( ) ( )

  Ion dan ion akan bereaksi dengan air membentuk

  4

  kesetimbangan berikut :

  •   4 ( ) 2 ( ) 4 ( ) ( ) − −

    • ⃖ →
    • 2 ( ) ( ) ( ) − +

      → ⃖ HCN +

      Pada hasil reaksi terdapat ion dan ion . Jadi, garam ini mungkin bersifat bersifat asam, basa, maupun netral. Hal ini bergantung dari perbandingan kekuatan kation terhadap anion dalam reaksi dengan air. Sifat larutan bergantung pada kekuatan relatif asam dan basa penyusunnya (Ka dan Kb).

      4 Dik :

      20 M = 0,1 M

      1 ( )

      3

      2 −5

      1 Ka = 1,8 × 10

      3 −14

      1 Kw = 1 × 10

      1 Dit : pH = ...? ( )

      3

    2 Penyelesaian :

      Reaksinya :

      2+ −

      1 ( ) → ( ) + 2 ( )

      3 2 ( )

      

    3

      1 0,1 M 0,1 M 0,2 M

      −

      2 [ ] = √

      ×

      1

      −14 1 × 10

      = √ × 0,2

      −5 1,8 × 10

      1

      −10

      = √1,11 × 10

      1

      −5

      = 1,05 × 10

      −

      pOH = - log [ ]

      2

      −5

      = - log 1,05 × 10

      1 = 5

    • – log 1,05

      1 pH = 14

    • – pOH

      2 = 14 - 5 - log 1,05

      1 = 9 + log 1,05

      1 = 9,02

      1

      5 Dik :

      20 M = 0,1 M

      1

      4 −5

      1 Kb = 1,8 × 10

      3 −14

      1 Kw = 1 × 10

      1

      = ...?

      Dit : pH

    4 Penyelesaian :

      Reaksinya :

      1

      − +

      1

      → ( ) + ( ) 4 ( )

      4

      2

      0,1 M 0,1 M 0,1 M

      4

      2

      3

      3

      

    (aq)

    ( ) + → ⃖ ( ) +

      2

    • [ ] = √

      1 ×

      −14 1 × 10

      = √

      × 0,1

      −5

      1

      1,8 × 10

      1

      −12

      = √55 × 10

      −6

      2 = 7,45

      × 10

      2

    • pH = - log

      [ ]

      1

      −6

      = - log [7,45 ] × 10

      1 = 6

    • – log 7,45

      1 = 6

    • – 0,87 = 5,12

      Jumlah

      90 ℎ = × 100%

      90 Mengetahui Pontianak, Mei 2017

      Guru Mata Pelajaran Peneliti Indra Nirwan Utama, SP Supiawati NIP. 197504082005041000 131620234

    LAMPIRAN B-4

      1

      3 Mengajukan pertanyaan yang berhubungan

      1 Rasa ingin Mengajukan pertanyaan

      8

      7

      6

      5

      4

      3

      2

      Rubrik dan Lembar Observasi Sikap Ilmiah Siswa Praktikum Hidrolisis Garam Kelas Kontrol dan Eksperimen Nama Anggota : 1.

      6.

      3. Isilah lembar obsevasi sesuai pengamatan anda dengan sebenar-benarnya

      2. Tulislah nama/nomor siswa pada kolom yang sesuai dengan kriteria skor yang ada

      1. Isilah nama kelompok sesuai dengan yang anda amati

      5. Kelompok : Petunjuk :

      4.

      8.

      3.

      7.

      2.

      No Aspek Sikap Ilmiah Indikator Skor Kriteria Penskoran Praktikan tahu yang berhubungan dengan dengan praktikum hidrolisis garam lebih dari 2 praktikum hidrolisis garam kali

      2 Mengajukan pertanyaan yang berhubungan dengan praktikum hidrolisis garam sebanyak 2 kali

      1 Mengajukan pertanyaan yang berhubungan dengan praktikum hidrolisis garam sebanyak 1 kali Tidak mengajukan pertanyaan

      Antusisas mencari jawaban

      3 Aktif mencari informasi dari sumber lain dari sumber lain (internet, buku paket lebih dari 2 buah), untuk memperlengkap informasi atau data yang diperlukan untuk analisis data hasil pengamatan

      2 Aktif mencari informasi dari sumber lain (internet, buku paket sebanyak 2 buah), untuk memperlengkap informasi atau data yang diperlukan untuk analisis data hasil pengamatan

      1 Aktif mencari informasi dari sumber lain (internet, buku paket sebanyak 1 buah), untuk memperlengkap informasi atau data yang diperlukan untuk analisis data hasil pengamatan Tidak mencari informasi dari sumber lain

      2 Menghargai Jujur

      3 Menuliskan data pengamatan praktikum sesuai data/fakta dengan hasil pengamatan, meskipun tidak sesuai dengan hipotesis/teori

      2 Menuliskan data pengamatan praktikum sesuai dengan hasil pengamatan, namun 2 data pengamatan disesuaikan dengan hipotesis/teori

      1 Menuliskan data pengamatan praktikum sesuai dengan hasil pengamatan, namun 4 data pengamatan disesuaikan dengan hipotesis/teori Menuliskan semua data pengamatan disesuaikan dengan hipotesis/teori

      Objektif

      3 Mempertimbangkan semua data percobaan hidrolisis garam dan hasil analisis data yang ada untuk merumuskan kesimpulan, tanpa pengaruh pemikiran pribadi

      2 Mempertimbangkan data percobaan hidrolisis garam dan hasil analisis data yang ada untuk merumuskan kesimpulan, namun masih terpengaruh pemikiran pribadi

      1 Mempertimbangkan data percobaan hidrolisis garam yang ada untuk merumuskan kesimpulan, dan masih terpengaruh pemikiran pribadi Tidak mempertimbangkan data meskipun dalam merumuskan kesimpulan

      3 Berpikir kritis Mengajukan hipotesis

      3 Dapat mengajukan hipotesis mengenai mengenai hidrolisis garam hidrolisis garam dengan tepat tanpa bantuan orang lain

      2 Dapat mengajukan hipotesis mengenai hidrolisis garam walaupun kurang tepat tanpa bantuan orang lain

      1 Dapat mengajukan hipotesis mengenai hidrolisis garam walaupun tepat dengan bantuan orang lain Tidak dapat mengajukan hipotesis mengenai hidrolisis garam

      Meragukan temuan tanpa

      3 Menerima kesimpulan mengenai konsep adanya bukti yang kuat hidrolisis garam dengan lebih dari 1 bukti yang kuat

      2 Menerima kesimpulan mengenai konsep hidrolisis garam dengan 1 bukti yang kuat

      1 Menerima semua kesimpulan mengenai konsep hidrolisis garam dengan bukti yang kurang kuat Menerima semua kesimpulan mengenai konsep hidrolisis garam tanpa diselidiki terlebih dahulu

      4 Berpikir Menghargai pendapat

      3 Mau mendengar dan menerima pendapat orang terbuka dan teman/orang lain lain mengenai percobaan hidrolisis garam bekerjasama dengan bersungguh-sungguh meskipun berbeda dengan pendapat sendiri

      2 Mau mendengar dan menerima pendapat orang lain mengenai percobaan hidrolisis garam meskipun berbeda dengan pendapat sendiri, tetapi tidak bersungguh-sungguh

      1 Hanya mau mendengarkan pendapat orang lain meskipun berbeda dengan pendapatnya, tetapi tidak menerimanya Hanya mau mendengarkan pendapat orang lain yang sesuai dengan pendapatnya Berpartisipasi aktif dalam

      3 Selalu ikut berpartisipasi aktif dalam kegiatan kelompok walaupun tidak kelompok mengenai praktikum hidrolisis dengan teman akrab garam walaupun dengan teman yang tidak akrab tanpa disuruh guru

      2 Selalu ikut berpartisipasi aktif dalam kegiatan kelompok mengenai praktikum hidrolisis garam walaupun dengan teman yang tidak akrab tetapi hanya jika guru

      1 Hanya mau berpartisipasi aktif dalam kegiatan kelompok mengenai praktikum hidrolisis garam dengan teman yang akrab saja, meskipun sudah disuruh guru Tidak mau ikut berpartisipasi aktif dalam kegiatan kelompok mengenai praktikum hidrolisis garam walaupun dengan teman akrab dan sudah disuruh guru

      5 Ketekunan Melengkapi kegiatan

      3 Tetap melakukan pengamatan serta merapikan meskipun kelompok lain alat dan bahan yang digunakan sesuai dengan selesai lebih awal tempatnya walaupun kelompok lain selesai lebih awal

      2 Tetap melakukan pengamatan serta merapikan alat dan bahan yang digunakan sesuai dengan tempatnya tetapi tergesa-gesa

      1 Tetap melakukan pengamatan serta merapikan alat dan bahan yang digunakan tetapi tidak sesuai dengan tempatnya dan tergesa-gesa Menyudahi pengamatan serta tidak merapikan alat dan bahan yang digunakan pada tempatnya karena kelompok lain selesai lebih awal

      6 Peka terhadap Menjaga kebersihan

      3 Membuang semua sampah (tissue bekas) dan lingkungan lingkungan sekitar limbah (campur larutan garam) selama kegiatan sekitar praktikum pada tempatnya walaupun tanpa disuruh guru

      2 Membuang semua sampah (tissue bekas) dan limbah (campur larutan garam) selama kegiatan praktikum pada tempatnya karena disuruh guru

      1 Hanya membuang sebagian sampah (tissue bekas) dan limbah (campur larutan garam) selama kegiatan praktikum walaupun sudah disuruh guru Tidak membuang sampah dan limbah pada tempatnya

      Pontianak, Mei 2017 Observer

    LAMPIRAN B-5

      2 Siswa mengecek seluruh kelengkapan alat dan bahan

      1 Siswa kurang mampu menggunakan alat (pH meter dan kertas lakmus) dengan baik dan tidak sesuai dengan arahan yang diberikan.

      2 Siswa mampu menggunakan alat (pH meter dan kertas lakmus) dengan baik dan sesuai dengan arahan yang diberikan.

      Menggunakan alat ukur (pH meter dan kertas lakmus)

      (Proses) Praktikum

      2 B. Kegiatan Pelaksanaan

      1 Siswa mengecek kelengkapan alat dan bahan, tetapi ada beberapa jenis alat atau bahan tidak dicek Siswa tidak mengecek kelengkapan alat dan bahan

      

    Rubrik dan Lembar Penilaian Keterampilan Psikomotorik Siswa

    Praktikum Hidrolisis Garam

    No. Pernyataan Skor Kriteria Praktikan

      1

      8

      7

      6

      5

      4

      3

      2

      1 A. Kegiatan Persiapan Mengecek kesesuaian dan kelengkapan alat dan bahan berdasarkan dengan yang tertulis dalam lembar kerja siswa (LKS)

      Siswa tidak dapat menggunakan alat ukur Siswa membaca hasil pengukuran (pH meter dan 2 kertas lakmus) dengan tepat dan mencatat hasilnya pada lembar kerja siswa (LKS)

      Membaca alat ukur (pH meter

      3 Siswa membaca hasil pengukuran (pH meter dan dan kertas lakmus) 1 kertas lakmus) dengan tidak tepat dan mencatat hasilnya pada lembar kerja siswa (LKS)

      Siswa tidak dapat membaca hasil pengukuran

      Pontianak, Mei 2017 Observer

      LAMPIRAN B-6 Lembar Kerja Siswa Untuk sekolah Menengah Atas Kelas XI IPA/2 Praktikum Hidrolisis Garam “Uji Larutan Garam Dalam Air” Nama Kelompok : 1.

      

    6.

      2.

      

    7.

      3.

      

    8.

      4.

      5.

      HIDROLISIS GARAM 1. Konsep Hidrolisis Garam Hidrolisis garam adalah terurainya garam dalam air atau reaksi ion- ion garam dengan air. Hidrolisis garam hanya terjadi jika salah satu atau kedua komponen penyusun garam tersebut berupa asam lemah dan atau basa lemah. Sebagai elektrolit, garam akan terionisasi dalam larutannya menghasilkan kation dan anion. Kation dan anion yang dapat mengalami reaksi hidrolisis adalah kation dan anion garam yang termasuk elektrolit lemah. Kedua ion inilah yang nantinya akan menentukan sifat dari suatu garam jika dilarutkan dalam air.

    2. Jenis-jenis Hidrolisis Garam

    a. Hidrolisis Parsial

      Hidrolisis parsial menjelaskan jika suatu garam dari asam lemah dan basa kuat dilarutkan dalam air, maka kation dari basa kuat tidak terhidrolisis sedangkan anion dari asam lemah akan mengalami hidrolisis sehingga menyebabkan larutan bersifat basa.

    Contohnya adalah yang terionisasi sebagai berikut :

      3 −

    • ( ) → ( ) + ( )

      3

      3

    • Ion tidak bereaksi dengan air karena NaOH yang terbentuk
    • akan segera terionisasi menghasilkan ion kembali. Sedangkan

      − ion bereaksi dengan air membantuk reaksi kesetimbangan

      3 berikut :

      − − ( ) → ⃖ ( ) + ( )

      3

      2

      3 −

    • Ion yang dihasilkan mengakibatkan konsentrasi ion

      − didalam air lebih sedikit daripada konsentrasi ion , sehingga larutan bersifat basa.

      Begitu juga sebaliknya untuk garam dari asam kuat dan basa lemah jika dilarutkandalam air, maka kation dari basa lemah dapat terhidrolisis, sedangkan anion dari asam kuat tidak mengalami hidrolisis sehingga menyebabkan larutan bersifat asam. Contohnya adalah yang terionisasi sebagai berikut : ( )

      4

      2

      4 2− + ( ) ( ) → 2 ( ) + ( )

      2− Ion tidak bereaksi dengan air karena yang terbentuk

      4

      2

      4 2− akan segera terionisasi menghasilkan ion kembali.

      4

    • Sedangakan ion bereaksi dengan air membentuk reaksi

      4 berikut :

      ( ) + ( ) → ⃖ ( ) + ( )

      4

      2

      3

      3

      Ion yang dihasilkan mengakibatkan konsentrasi ion

      3 3 − didalam air lebih banyak daripada konsentrasi ion , sehingga larutan bersifat asam.

      b. Hidrolisis Total Hidrolisis total menjelaskan jika suatu garam berasal dari asam lemah dan basa lemah dilarutkan dalam air, maka kation dari basa lemah maupun anion dari asam lemah dapat mengalami hidrolisis. Sifat larutannya ditentukan oleh harga tetapan kesetimbangan asam (Ka) dan tetapan kesetimbangan basa (Kb) dari kedua reaksi tersebut. Harga Ka dan Kb menyatakan kekuatan relatif dari asam dan basa yang bersangkutan. Contohnya adalah

      yang terionisasi sebagai berikut :

      3

      4 − +

      (aq ) + (aq) (aq) →

      3

      4

      3

      Ion dan bereaksi dengan air membentuk reaksi

      3 kesetimbangan berikut :

      − − (aq) + (aq) ( ) ↔ (aq) +

      3

      2

      3

      4

      2

      3

      3 − + Ion dan yang dihasilkan kedua reaksi tersebut

      (aq) + (aq) + (aq) ( ) ↔

      3 menyebabkan larutan dapat bersifat asam, basa, dan netral.

      c. Tidak Terhidrolisis Garam yang berasal dari asam kuat dan basa kuat tidak mengalami hidrolisis, sehingga menghasilkan garam yang bersifat netral.

      Contoh :

    • Didalam air, NaCl terionisasi sempurna membentuk ion dan

      − menurut reaksi berikut :

      − +

       +

      ( ) ( ) ( ) Pelarutan garam ini sama sekali tidak akan mengubah jumlah ion

      − + dan dalam air.

      3. pH Larutan Garam Dalam menentukan nilai pH dari garam-garam yang mengalami

    hidrolisis, tidak hanya dapat dibuktikan melalui percobaan melainkan

    dapat diaplikasikan dalam suatu perhitungan pH larutan garam.

      Untuk lebih memahaminya, kalian dapat menggunakan

    sumber dari buku, ataupun internet untuk mendapatkan informasi

    dan penjelasan yang lebih lengkap!!!

    GARAM YANG TERSUSUN DARI BASA KUAT DAN ASAM LEMAH

    Garam yang berasal dari basa kuat dan asam lemah mengalami

    hidrolisis parsial, yaitu hidrolisis anion. Sehingga menghasilkan garam

    yang bersifat basa, pH > 7.

      Contoh : −10

      

    Tentukan pH larutan NaCN 0,1 M ; Ka HCN= ; Kw = 1

    4,9 × 10 × −14

      !

    10 Jawab :

      − ( ) + → ⃖ ( ) + Dik :

      2 − (aq) M HCN = 0,1 M

      − −10 [ ] = √ Ka HCN =

      4,9 × 10 × −14

      Kw = 1 × 10 −14

      1 × 10 = √ × 0,1

      −10 4,9 × 10

      Dit : pH NaCN = ...? −6

      = √2,04 × 10 Penyelesaian :

      −3 = 1,42 × 10

      Reaksinya : − pOH = - log [ ]

    • ( ) → ( ) +

      − ( )

      −3 = - log [ ] 1,42 × 10

      0,1 M 0,1 M 0,1 M = 3 – log 1,42 pH = 14 - pOH = 11 + log 1,42 = 14 – [3 – log1,42] = 11,15

    GARAM YANG TERSUSUN DARI BASA LEMAH DAN ASAM KUAT

      

    Garam yang berasal dari basa lemah dan asam kuat mengalami

    hidrolisis parsial, yaitu hidrolisis kation yang berasal dari basa lemah.

    Sehingga menghasilkan garam yang bersifat asam, pH < 7. Contoh :

      −5 −14

    Tentukan pH larutan = ; Kw = 1 !

    0,1 M; Kb 1,8 × 10 × 10

      4

      3 Jawab : −12

      Dik : = √55 × 10

      −6 M = 7,45 = 0,1 M

      4 × 10

    • −5

      Kb = pH = - log 1,8 × 10 [ ]

      3 −14 −6

      Kw = = - log [7,45 ] 1 × 10 × 10 Dit : pH = 6 – log 7,45

      = ...?

    4 Penyelesaian :

      = 6 – 0,87 Reaksinya : = 5,12

    • → ( ) +

      4 ( )

      4 − ( ) 0,1 M 0,1 M 0,1 M

    • ( ) + → ⃖ ( ) +

      4

      2

      3

    • (aq)

      3

    • [ ] = √ ×

      −14 1 × 10

      = √ × 0,1 −5

      1,8 × 10

      

    GARAM YANG TERSUSUN DARI BASA LEMAH DAN ASAM

    LEMAH

    Garam yang berasal dari basa lemah dan asam lemah mengalami

    hidrolisis total. Harga pH tergantung pada Ka dan Kb.

      

    Jika Ka > Kb, maka garam bersifat asam

    Jika Ka > Kb, maka garam bersifat basa

    Jika Ka = Kb, maka garam bersifat netral

    • Rumus yang digunakan :

      − Rumus yang digunakan :

      PRAKTIKUM HIDROLISIS GARAM ”UJI LARUTAN GARAM DALAM AIR” 1. Tujuan :

      3 0,1 M 10 ml

      3 0,1 M 10 ml

      11 Larutan

      3 0,1 M 10 ml

      12 Larutan (

      4 )

      2

      13 Larutan

      10 Larutan

      3 0,1 M 10 ml

      14 Larutan Buffer 0,1 M 10 ml 3.

       Prosedur 1. Masukkan setiap larutan ke dalam tabung reaksi masing-masing 10 mL.

      2. Celupkan kertas lakmus merah ke dalam setiap larutan. Amati dan catat perubahan warna pada kertas lakmus merah.

      3. Celupkan kertas lakmus biru ke dalam setiap larutan. Amati dan catat perubahan warna pada kertas lakmus biru.

      4. Celeupkan pH meter kedalam setiap larutan. Amati dan catat pH yang diperoleh.

      2

      4 0,1 M 10 ml

      a) Mengetahui tentang hidrolisis garam

      4 Kertas lakmus merah 10 lembar

      b) Menentukan garam yang terhidrolisis

      c) Menentukan sifat asam-basa suatu garam

      d) Menentukan pH larutan garam 2.

       Alat dan Bahan No. Alat dan Bahan Konsentrasi Jumlah

      1 Tabung reaksi 10 buah

      2 Pipet tetes 3 buah 3 pH meter 5 buah

      5 Kertas lakmus biru 10 lembar

      2

      6 Larutan 0,1 M 10 ml

      7 Larutan

      4 0,1 M 10 ml

      8 Larutan

      4 0,1 M 10 ml

      9 Larutan (

      4 )

      5. Nyatakan larutan tersebut mengalami hidrolisis total, sebagian, atau tidak terhidrolisi

    4. Data Pengamatan 5. Analisis Data Pertanyaaan

      

    1. Berdasarkan tabel diatas bagaimana perubahan warna pada kertas

    lakmus jika diujikan pada larutan yang bersifat asam, basa, dan netral!

      2. Berdasarkan data hasil pengamatan, kelompokkan larutan garam yang bersifat asam, basa, dan netral!

      

    3. Berdasarkan data hasil pengamatan dan larutan-larutan garam yang

    digunakan dalam percobaan, kelompokkan larutan garam yang mengalami hidrolisis parsial, hidrolisis total dan tidak terhidrolisis!

      4. Hitunglah pH larutan garam yang kalian dapat dalam percobaan, menggunakan perhitungan! No Larutan Perubahan Warna Sifat Larutan (√) Hidrolisis (√) pH Percobaan pH Hitung Lakmus Merah Lakmus Biru Asam Basa Netral Tidak Parsial Total

      Lembar Kerja Siswa Untuk sekolah Menengah Atas Kelas XI IPA/2 Praktikum Hidrolisis Garam “Uji Larutan Garam Dalam Air” Nama Kelompok : 1. ..............

      2. ..............

      3. ..............

      4. ..............

      5. ..............

      6. ..............

      7. .............. Kelas : Eksperimen

    HIDROLISIS GARAM

      Kelas/ Semester : XI/2 Standar Kompetensi

      :

      4. Menentukan jenis garam Sabun merupakan salah satu contoh yang mengalami hidrolisis

      garam yang bersifa basa. Sabun memiliki

      dalam air dan pH larutan

      − ( ) − . Sifat basa yang

      2

      garam tersebut

      dimiliki sabun diakibatkan adanya reaksi antara komponen penyusun garam, yaitu

      Kompetensi Dasar :

      ion-ion garam (kation atau anion) dengan air. reaksi ini dikenal sebagai “Hidrolisis

    4.4 Menentukan jenis garam

      Garam”. Adanya hidrolisis garam

      yang mengalami hidrolisis

      menyebabkan larutan garam dapat bersifat

      dalam air dan pH larutan asam, basa, atau netral. garam tersebut

      Indikator :

      a. Menjelaskan pengertian hidrolisis garam Apa yang dimaksud hidrolisis garam??

      b. Menentukan garam yang dapat Bagaimana proses reaksi hidrolisis terhidrolisis garam???

      c. Menentukan sifat asam basa suatu garam Pertanyaan tersebut dapat kalian jawab

      d. Menentukan pH larutan garam setelah kalian mempelajari sub bab ini

      A.

      Sifat Larutan Garam emua orang tentu telah mengetahui bahwa garam berasal dari pengkristalan air laut, tetapi tentu banyak yang belum

      S

      mengetahui reaksi terbentuknya garam. Garam merupakan senyawa yang dihasilkan dari reaksi antara larutan asam dengan larutan basa. Secara umum reaksi pembentukan garam sebagai berikut : Asam + Basa Garam + Air

      Gambar 1.2 garam berasal dari pengkristalan air laut

      alam kehidupan sehari-hari, terdapat berbagai macam senyawa garam yang sering dimanfaatkan. Salah satunya adalah Amonium Sulfat ( ) ).

      4

      Amonium sulfat merupakan senyawa garam yang sering dimanfaatkan sebagai pupuk pertanian. Amonium Sulfat sering disebut sebagai pupuk ZA. Pupuk ZA dibuat dengan mereaksikan antara asam kuat

      4 D

      ( )

      2

      4 Gambar 1.3 P

      4

      dengan basa lemah ( ).

    • 2 →( ) + 2

      2

      4 4 ( )

      4 2 4( ) 2 ( ) ( )

      Pupuk ZA yang terbentuk akan mengalami ionisasi didalam air, sehingga :

      2− +

      ( ) → 2 ( ) + ( )

      4 2 4( )

      4

      4 Menurut Bronsted-Lowry, ion dari basa lemah akan bereaksi dengan air dan menghasilkan sifat asam atau basa pembentuknya.

    • +

      ( ) → ⃖ ( ) + ( ) + ( )→

      4

      2

      3

      3 =

      2−

      ( ) + ( ) →

      4

      2

    B. Jenis-jenis Hidrolisis Garam Hidrolisis Parsial

      Hidrolisis parsial menjelaskan jika suatu garam dari asam lemah dan basa

    kuat dilarutkan dalam air, maka kation dari basa kuat tidak terhidrolisis

    sedangkan anion dari asam lemah akan mengalami hidrolisis sehingga

    menyebabkan larutan bersifat basa. Contohnya adalah yang terionisasi

      3 sebagai berikut :

      −

    • ( ) → ( ) + ( )

      3

      3

    • Ion tidak bereaksi dengan air karena NaOH yang terbentuk akan segera

      −

    • terionisasi menghasilkan ion kembali. Sedangkan ion bereaksi dengan

      3 air membantuk reaksi kesetimbangan berikut :

      − −

    ( ) → ( ) +

    ⃖ ( )

      3

      2

      3 −

    • Ion yang dihasilkan mengakibatkan konsentrasi ion didalam air lebih

      − sedikit daripada konsentrasi ion , sehingga larutan bersifat basa.

      Begitu juga sebaliknya untuk garam dari asam kuat dan basa lemah jika

    dilarutkandalam air, maka kation dari basa lemah dapat terhidrolisis, sedangkan

    anion dari asam kuat tidak mengalami hidrolisis sehingga menyebabkan larutan

    bersifat asam. Contohnya adalah yang terionisasi sebagai berikut :

      ( )

      4

      2

      4 2− +

    ( ) ( ) → 2 ( ) + ( )

      4

      2

      4

      4

      4 2− Ion tidak bereaksi dengan air karena yang terbentuk akan segera

      4

      2

      4

    • 2−

      

    terionisasi menghasilkan ion kembali. Sedangakan ion bereaksi

      4

      4 dengan air membentuk reaksi berikut :

      ( ) + ( ) → ⃖ ( ) + ( )

      4

      2

      3

      3

      

    Ion yang dihasilkan mengakibatkan konsentrasi ion didalam air lebih

      3

      3

      C. pH Larutan Garam Dalam menentukan nilai pH dari garam-garam yang mengalami

    hidrolisis, tidak hanya dapat dibuktikan melalui percobaan melainkan dapat

    diaplikasikan dalam suatu perhitungan pH larutan garam.

      Untuk lebih memahaminya, kalian dapat menggunakan sumber dari

    buku, ataupun internet untuk mendapatkan informasi dan penjelasan yang

    lebih lengkap!!! GARAM YANG TERSUSUN DARI BASA KUAT DAN ASAM LEMAH

    Garam yang berasal dari basa kuat dan asam lemah mengalami hidrolisis

    parsial, yaitu hidrolisis anion. Sehingga menghasilkan garam yang bersifat

    basa, pH > 7.

      Contoh : −10

      Tentukan pH larutan NaCN 0,1 M ; Ka HCN= ; Kw = 1 4,9 × 10 × −14

      !

      10 Jawab : Dik : −

      [ ] = √ × M HCN = 0,1 M

      −14 −10 1 × 10

      Ka HCN = 4,9 × 10 = √

      × 0,1 −10

      4,9 × 10 −14 Kw = 1 × 10

      −6 = √2,04 × 10

      Dit : pH NaCN = ...? −3

      = 1,42 × 10 Penyelesaian :

      − pOH = - log [ ]

      Reaksinya : −3

      = - log [ ] 1,42 × 10

      ( ) → ( ) + ( ) = 3

    • – log 1,42 0,1 M 0,1 M 0,1 M pH = 14 - pOH

      − − (aq) ( ) + → ⃖ ( ) +

      2 = 14 – [3 – log1,42]

      = 11 + log 1,42 = 11,15

    GARAM YANG TERSUSUN DARI BASA LEMAH DAN ASAM KUAT

      

    Garam yang berasal dari basa lemah dan asam kuat mengalami hidrolisis

    parsial, yaitu hidrolisis kation yang berasal dari basa lemah. Sehingga

    menghasilkan garam yang bersifat asam, pH < 7. Contoh :

      −5 Tentukan pH larutan = ; Kw = 1 0,1 M; Kb 1,8 × 10 ×

      4

      3 −14 !

      10 Jawab : Dik : M = 0,1 M

      4 −5 Kb = 1,8 × 10

      3 −14 Kw = 1 × 10 Dit : pH = ...?

    4 Penyelesaian :

      Reaksinya :

      ( ) + ( ) → 4 ( )

      4 0,1 M 0,1 M 0,1 M

      4

      2

      3

      3

      (aq) ( ) + → ⃖ ( ) +

    • [ ] = √ ×

      −14 1 × 10

      = √ × 0,1

      −5 1,8 × 10 −12

      = √55 × 10 −6

      = 7,45 × 10

    • pH = - log [ ]

      −6 = - log [7,45 ] × 10 = 6 – log 7,45 = 6

    • – 0,87 = 5,12

    GARAM YANG TERSUSUN DARI BASA LEMAH DAN ASAM LEMAH

      

    Garam yang berasal dari basa lemah dan asam lemah mengalami hidrolisis

    total. Harga pH tergantung pada Ka dan Kb.

      Jika Ka > Kb, maka garam bersifat asam Jika Ka > Kb, maka garam bersifat basa

    Jika Ka = Kb, maka garam bersifat netral

    • Rumus yang digunakan :

      − Rumus yang digunakan :

      

    Berdasarkan wacana yang disajikan, buatlah rumusan

    masalah dalam bentuk pertanyaan!

       Apa yang dimaksud dengan hidrolisis garam?  Garam seperti apa yang dapat mengalami hidrolisis?

       Bagaimana sifat larutan garam yang mengalami hidrolisis?  Apakah larutan garam juga memilki nilai pH?

      Tuliskan hipotesis kalian berdasarkan pertanyaan yang telah dibuat!

       Hidrolisis garam adalah terurainya garam dalam air atau

      reaksi ion-ion garam dengan air. Hidrolisis garam hanya terjadi jika salah satu atau kedua komponen penyusun garam tersebut berupa asam lemah dan atau basa lemah.

       Garam yang dapat mengalami rhidrolisis adalah garam yang mengandung ion elektrolit lemah.  Sifat larutan garam yang mengalami hidrolisis tergantung pada reaksi hidrolisis kation atau anion garam.  Ya, larutan garam memilki nilai pH, tergantung pada besarnya harga k asam lemah dan k basa lemah.

      Untuk membuktikan hipotesis yang telah dibuat, lakukanlah percobaan sederhana dibawah ini!!!!

      PRAKTIKUM HIDROLISIS GARAM ”UJI LARUTAN GARAM DALAM AIR” 1. Tujuan : a. Mengetahui tentang hidrolisis garam b. Menentukan garam yang terhidrolisis c. Menentukan sifat asam-basa suatu garam d. Menentukan pH larutan garam 2. Alat dan Bahan No. Alat dan Bahan Konsentrasi Jumlah

      3 0,1 M 10 ml

      4. Celeupkan pH meter kedalam setiap larutan. Amati dan catat pH yang diperoleh.

      3. Celupkan kertas lakmus biru ke dalam setiap larutan. Amati dan catat perubahan warna pada kertas lakmus biru.

      2. Celupkan kertas lakmus merah ke dalam setiap larutan. Amati dan catat perubahan warna pada kertas lakmus merah.

       Prosedur 1. Masukkan setiap larutan ke dalam tabung reaksi masing-masing 10 mL.

      14 Larutan Buffer 0,1 M 10 ml 3.

      3 0,1 M 10 ml

      13 Larutan

      3 0,1 M 10 ml

      2

      4 )

      12 Larutan (

      3 0,1 M 10 ml

      11 Larutan

      2

      1 Tabung reaksi 10 buah

      10 Larutan

      4 0,1 M 10 ml

      2

      4 )

      9 Larutan (

      4 0,1 M 10 ml

      8 Larutan

      4 0,1 M 10 ml

      7 Larutan

      6 Larutan 0,1 M 10 ml

      5 Kertas lakmus biru 10 lembar

      4 Kertas lakmus merah 10 lembar

      2 Pipet tetes 3 buah 3 pH meter 5 buah

      5. Nyatakan larutan tersebut mengalami hidrolisis total, sebagian, atau tidak terhidrolisis.

    4. Data Pengamatan Setelah melakukan percobaan, tuliskan data hasil pengamatan kalian dalam tabel hasil pengamatan dibawah ini : 5. Analisis Data Pertanyaaan

      a. Berdasarkan tabel diatas bagaimana perubahan warna pada kertas lakmus jika diujikan pada larutan yang bersifat asam, basa, dan netral!

      b. Berdasarkan data hasil pengamatan, kelompokkan larutan garam yang bersifat asam, basa, dan netral! No Larutan Perubahan Warna Sifat Larutan (√) Hidrolisis (√) pH Percobaan pH Hitung Lakmus Merah Lakmus Biru Asam Basa Netral Tidak Parsial Total

      

    c. Berdasarkan penjelasan dan larutan-larutan garam yang

    digunakan dalam percobaan, kelompokkan larutan garam yang mengalami hidrolisis parsial, hidrolisis total dan tidak terhidrolisis!

    d. Sekarang coba perhatikan kembali data hasil percobaan yang

    telah kalian lakukan, cobalah hitung pH larutan garam yang kalian dapat dalam percobaan dengan menggunakan perhitungan diatas!

      Berdasarkan hipotesis yang kalian buat,

    apakah sesuai dengan data hasil percobaan

    yang dilakukan!!

      Ya, sesuai. Berdasarkan hasil percobaan yang dilakukan, hidrolisis garam merupakan reaksi terurainya garam menjadi asam dan basa. Hal ini diperkuat dengan perubahan warna kertas lakmus yang diujikan pada beberapa larutan garam. Larutan garam memiliki sifat berdasarkan ion elektrolit lemah dan memilki nilai pH.

      Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan, apa yang dapat kalian simpulkan???

       Hidrolisis garam adalah reaksi terurainya garam menjadi asam dan basa.  Garam yang dapat mengalami hidrolisis adalah garam yang mengandung ion elektrolit lemah.

       pH larutan garam tergantung besarnya harga k a b asam lemah dan k basa lemah.

       Sifat asam, netral, atau basa larutan garam ditentukan oleh reaksi .

      hidrolisis baik kation atau anion garam tersebut

      LAMPIRAN B-8 KISI-KISI SOAL UJI COBA PRETEST DAN POSTEST MATERI HIDROLISIS GARAM Kompetensi Dasar : Menentukan jenis garam yang mengalami hidrolisis dalam air dan pH larutan garam Standar Kompetensi Kompetensi Indikator Aspek Nomor soal Nomor soal Dasar (Pretest) (Postest)

      o 4. memahami sifat-sifat larutan 4.4 menentukan Menjelaskan pengertian C1

      1

      1 asam-basa, metode pengukuran, jenis garam yang hidrolisis garam

      o

      dan penerapannya mengalami Menentukan garam yang dapat C3

      2

      2 hidrolisis dalam terhidrolisis

      air dan pH C3

      o Menentukan sifat asam basa suatu

      3

      3

      garam

      larutan garam o

      Menentukan pH larutan garam

      tersebut C3 4 dan 5 4 dan 5

    LAMPIRAN B-9

      1. Jelaskan apa yang dimaksud dengan hidrolisis garam?

      !

      −14

      10

      ; Kw = 1 ×

      −5

      = 1,8 × 10

      3

      4

      5. Tentukan pH larutan

      !

      −14

      10

      Soal Pretest Nama : Mata Pelajaran : Kimia Kelas/Semester : XI /2 Pokok Bahasan : Hidrolisis Garam Waktu : 35 menit Jawablah pertanyaan di bawah ini dengan benar!

      −10

      4. Tentukan pH larutan NaCN 0,1 M ; Ka HCN= 4,9 × 10

      4

      2

      )

      4

      (

      3 b.

      2

      3. Tentukan sifat asam-basa dari garam berikut: a.

      b. KCN

      4

      2. Tentukan apakah garam berikut mengalami hidrolisis (hidrolisis total, hidrolisis parsial anion/kation)! a.

      ; Kw = 1 ×

    1 M; Kb

    KUNCI JAWABAN DAN PEDOMAN PENSKORAN

      (0-10) (0-10)

      20 3 a.

      

    No Jawaban Soal Skor Total

      1 Hidrolisis garam merupakan proses terurainya garam didalam air yang menghasilkan asam atau basa (ion positif dan ion negatif).

      Hidrolisis garam hanya terjadi jika salah satu atau kedua komponen penyusun garam tersebut berasal dari asam lemah atau basa lemah.

      (0-5) (0-5)

      10

      2

      a. Didalam air larutan

      4

      akan terhidrolisis parsial (sebagian), yaitu hidrolisis kation yang menghasilkan ion

    • .
      • Hal ini terjadi karena,
      • Anion

      terdiri dari anion

    • .
    • dan anion
      • Hal ini terjadi karena, KCN terdiri dari kation

    • berasal dari basa kuat KOH , yang tidak dapat bereaksi dalam air. Sedangkan anion
      • Kation

      bereaksi dengan air membentuk kesetimbangan berikut:

      2

      3

      mengandung anion asam yang mengalami hidrolisis.

      2

      3 (aq ) → 2

      3 2− (aq )

      Ion

      3 2−

      3 2−

      3

      (aq) +

      2 ( )

      → ⃖

      2

      3

      (aq) +

      −

      ( ) (0-10)

      20

      merupakan garam yang terbentuk dari basa kuat dan asam lemah. Garam

      −

      2

      2

      dan kation

      2+ .

      4 2−

      berasal dari asam kuat

      2

      4

      , yang tidak dapat bereaksi dalam air, sedangkan kation

      2+

      berasal dari basa lemah ( )

      , yang dapat bereaksi dalam air dan menyebabkan larutan

      4 2−

      4

      terhidrolisis parsial (sebagian) menghasilkan ion

      b.

      Didalam air larutan akan terhidrolisis parsial (sebagian), yaitu hidrolisis anion yang menghasilkan ion

      − .

      −

      .berasal dari asam lemah HCN, yang dapat bereaksi dalam air dan menyebabkan larutan KCN terhidrolisis parsial (sebagian) menghasilkan ion

      − .

      4

    • (aq ) +

    • di dalam air lebih sedikit daripada konsentrasi

    • akan bereaksi dengan air membentuk kesetimbangan berikut :
    • Adanya ion
    • ( )

    • yang dihasilkan menyebabkan konsentrasi ion
    • , sehingga larutan garam bersifat asam.

      ] = √ ×

      −

      [

      − (aq)

      2 → ⃖ ( ) +

      − ( ) +

      Reaksinya : ( ) →

      − ( ) 0,1 M 0,1 M 0,1 M

      Penyelesaian :

      Dit : pH NaCN = ...?

      −14

      Kw = 1 × 10

      −10

      4,9 × 10

      = √

      1 × 10 −14

      4,9 × 10 −10

      × 0,1 =

      √2,04 × 10

      −6

      1

      1

      1

      1

      1

      1

      2

      1

      1

      1

      2

      4 Dik : M HCN = 0,1 M Ka HCN =

      di dalam air lebih sedikit daripada konsentrasi

      (0-10)

      −

      Adanya ion

      −

      yang dihasilkan menyebabkan konsentrasi ion

      −

      , sehingga larutan garam bersifat basa.

      c.

      (

      4

      )

      2

      4

      merupakan garam yang berasal dari basa lemah dan asam kuat. Garam (

      4

      )

      2

      4

      Ion

      4 ( )

      → ⃖

      2 ( )

      4 ( )

      4

      ( ) 2−

      mengandung anion basa yang mengalami hidrolisis. (

      4 ( )

      ( ) →

      4

      2

      )

      4

      20

    • ( ) +
    • – log 1,42 pH = 14 - pOH = 14
    • – [3 – log1,42] = 11 + log 1,42 = 11,15

      [

      = 7,45 × 10

      1

      ] = 5

      −5

      = - log [7,45 × 10

      pH = - log [

      −5

      −10

      1

      √5,5 × 10

      × 1 =

      1,8 × 10 −5

      1 × 10 −14

      √

      × =

      1

      1

    • ( ) +

      1

      1

      20 =

    • (aq)
    • ( ) +

      1

      1

      1

      2

      2

      1

      1

      2

      ℎ

      90

      100% Jumlah

      2

      3 ( ) +

      3

      4 = 1 M

      = 1,42 × 10

      −3

      pOH = - log [ ]

      −

      = - log [ 1,42 × 10

      −3

      ] = 3

      1

      1

      2

      1

      1

      1

      5 Dik : M

      Kb

      2 → ⃖

      3

      4

      1 M

      1 M

      1 M

      − ( )

      4

      4 ( ) →

      Reaksinya :

      4 = ...? Penyelesaian :

      Dit : pH

      −14

      Kw = 1 × 10

      −5

      = 1,8 × 10

    • ] = √
    • ]
      • – log 7,45 = 5
      • – 0,87 = 4,12

      90

    LAMPIRAN B-10

      = 6,3 × 10

      !

      −14

      ; Kw = 1 × 10

      −5

      = 1,8 × 10

      3

      0,1 M; Kb

      4

      5. Tentukan pH larutan

      !

      −14

      × 10

      ; Kw = 1

      −5

      Soal Postest Nama : Mata Pelajaran : Kimia Kelas/Semester : XI /2 Pokok Bahasan : Hidrolisis Garam Waktu : 35 menit Jawablah pertanyaan di bawah ini dengan benar!

      1. Jelaskan apa yang dimaksud dengan hidrolisis garam?

      6

      0,1 M; Ka

      5

      6

      4. Tentukan pH larutan Na

      2

      )

      3

      (

      b.

      3. Tentukan sifat asam-basa dari garam berikut: a.

      4

      3 b.

      2. Tentukan apakah garam berikut mengalami hidrolisis (hidrolisis total, hidrolisis parsial anion/kation)! a.

      5

      

    KUNCI JAWABAN DAN PEDOMAN PENSKORAN

    No Jawaban Soal Skor Total

      1 Hidrolisis garam merupakan proses terurainya garam didalam air (0-5)

      10 yang menghasilkan asam atau basa (ion + dan ion -). Hidrolisis garam hanya terjadi jika salah satu atau kedua komponen (0-5) penyusun garam tersebut berasal dari asam lemah atau basa lemah.

      2

      a. Didalam air larutan akan terhidrolisis parsial (sebagian), (0-10)

      20

      3 −

      yaitu hidrolisis anion yang menghasilkan ion .

      3+

    • Hal ini terjadi karena, terdiri dari kation dan anion

      3 −

      .

      3+

    • Kation berasal dari basa lemah , yang dapat

      ( )

      3 −

      bereaksi dalam air, sedangkan anion berasal dari asam kuat HCl, sehingga tidak dapat bereaksi dengan air. Reaksi kation

      3+

      menyebabkan larutan mengalami hidrolisis parsial

      3 −

      yang menghasilkan ion .

      (0-10)

      4

    b. Didalam air larutan akan terhidrolisis sempurna (total).

    • +

      - Hal ini terjadi karena, kation berasal dari basa lemah

      

    4

      berasal dari asam lemah HCN. , dan anion

      4

    • Kedua senyawa ini berasal dari asam dan basa lemah sehingga keduanya akan bereaksi didalam air dan menyebabkan larutan terhidrolisis sempurna (total).

      4

      3 a.

      (0-10)

      20 merupakan garam yang terbentuk dari asam lemah dan basa kuat. Garam mengandung anion asam yang mengalami hidrolisis.

      − + (aq ) + (aq )

      NaCN

      (aq ) → −

      Ion bereaksi dengan air membentuk kesetimbangan berikut:

      − −

      (aq) + ⃖ (aq) + → ( )

      2 ( )

    • di dalam air lebih sedikit daripada konsentrasi
    • Adanya ion
    • 2 ( )
    • ( )
    • yang dihasilkan menyebabkan konsentrasi ion
    • , sehingga larutan garam bersifat asam.

      2 → ⃖

      1 × 10 −14

      = √

      ] = √ ×

      −

      [

      5 H ( ) + − (aq)

      6

      5 − ( ) +

      × 0,1 =

      6

      5 − ( ) 0,1 M 0,1 M 0,1 M

      6

      ( ) →

      5

      6

      Reaksinya : Na

      6,3× 10 −5

      √15,8 × 10

      6

      1

      1

      2

      1

      1

      1

      2

      1

      1

      −12

      1

      1

      1

      ]

      −

      pOH = - log [

      −6

      = 3,97 × 10

      5 = ...? Penyelesaian :

      Dit : pH Na

      20

      )

      3

      mengandung kation basa yang mengalami hidrolisis. (

      2

      )

      3

      merupakan garam yang berasal dari basa lemah dan asam kua. Garam (

      2

      3

      2

      (

      b.

      , sehingga larutan garam bersifat basa.

      −

      yang dihasilkan menyebabkan konsentrasi ion

      −

      Adanya ion

      )

      ( ) →

      −14

      (0-10)

      Kw = 1 × 10

      5 H= 6,3 × 0 −5

      6

      Ka

      5 = 0,1 M

      6

      4 Dik : M Na

      di dalam air lebih sedikit daripada konsentrasi

      2+ ( ) + 2

      −

      2( )

      → ⃖ ( )

      2+ ( )

      bereaksi dengan air membentuk kesetimbangan berikut :

      2+

      Ion

      

    3( )

    • ( ) +

      −6

      = - log [3,97 ]

      1 × 10

      = 6

      2

    • – log 3,97 pH = 14 - log

      1 [ ]

      1 = 14

    • – [6– log 3,97]

      1 = 8 + log 3.97 = 8,6

      5 Dik :

      20

      = 0,1 M

      M

      1

      4 −5

      1 Kb = 1,8 × 10

      3 −14

      1 Kw = 1 × 10

      1 Dit : pH = ...?

    4 Penyelesaian :

      Reaksinya :

      1

      ( ) + ( ) → 4 4 ( )

      1

      0,1 M 0,1 M 0,1 M

      (aq)

      2

      ⃖ ( ) + → ( ) +

      4

      2

      3

      3

      2

    • [ ] = √

      ×

      1

      −14 1 × 10

      = √ × 0,1

      −5 1,8 × 10

      1

      −12

      = √55 × 10

      1

      −6

      = 7,45 × 10

    • 2 pH = - log

      [ ]

      2

      −6

      = - log [7,45 ] × 10

      1 = 6

    • – log 7,45

      1 = 6

    • – 0,87

      1 = 5,12

      Jumlah

      90 ℎ = 100%

      90

    LAMPIRAN C-1

    LAMPIRAN C-2

    LAMPIRAN C-3

    LAMPIRAN C-4

    LAMPIRAN C-5

    LAMPIRAN C-6

    LAMPIRAN C-7

    LAMPIRAN D-1

      20

      20

      20

      13

      12 70 4900

      27

      10

      18

      20

      12

      10 70 4900

      28

      5

      20

      26

      14

      12 71 5041

      29

      5

      20

      20

      14

      13 72 5184

      30

      20

      20

      15

      5

      13 72 5184

      31

      5

      5

      20

      20

      13

      11 69 4761

      22

      5

      20

      20

      13

      15 73 5329

      23

      18

      16

      20

      12

      16 71 5041

      24

      5

      16

      20

      18

      15 74 5476

      25

      5

      18

      20

      15 70 4900

      5

      12 71 5041

      14

      14

      12 71 5041

      37

      5

      20

      16

      16

      14 71 5041

      38

      5

      20

      20

      15 74 5476

      20

      39

      5

      20

      20

      13

      12 70 4900

      40

      5

      18

      20

      15

      14 72 5184 Ʃ 200 782 796 592 550 2920 213670

      20

      5

      20

      20

      20

      13

      12 70 4900

      32

      5

      20

      20

      14

      12 71 5041

      33

      5

      20

      14

      36

      12 71 5041

      34

      10

      20

      20

      15

      16 81 6561

      35

      5

      18

      20

      18

      16 77 5929

      21

      DATA HASIL UJI COBA INSTRUMEN PENELITIAN MADRASAH ALIYAH NEGERI KETAPANG Resp Butir Soal Xt

      1

      20

      20

      15

      12 72 5184

      6

      5

      20

      20

      20

      15 80 6400

      7

      5

      20

      20

      5

      20 85 7225

      8

      5

      18

      20

      18

      15 76 5776

      9

      5

      20

      20

      14

      20

      5

      10

      20

      2

      3

      4

      5

      1

      5

      20

      20

      13

      12 70 4900

      2

      5

      20

      13 72 5184

      14

      12 71 5041

      3

      5

      20

      20

      13

      14 72 5184

      4

      5

      20

      20

      14

      11 70 4900

      5

      20

      18

      16 80 6400

      16

      5

      20

      20

      12

      12 69 4761

      17

      20

      20

      16

      15 71 5041

      5

      20

      20

      20

      17

      15 77 5929

      19

      5

      18

      20

      16

      15 74 5476

      20

      5

      20

      14

      20

      20

      20

      20

      16

      13 74 5476

      11

      5

      20

      20

      16

      16 77 5929

      12

      5

      20

      13

      10

      16 74 5476

      13

      20

      20

      18

      16 74 5476

      14

      5

      20

      20

      13

      13 71 5041

      15

      14

    LAMPIRAN D-2

      26

      30 20 400 20 400 15 225 15 225

      25 20 400 20 400 14 196 13 169

      5

      29

      25 20 400 20 400 14 196 12 144

      5

      28

      27 10 100 18 324 20 400 12 144 10 100

      25 20 400 20 400 13 169 12 144

      5

      25 18 324 20 400 16 256 13 169

      5

      5

      25

      25 16 256 20 400 18 324 15 225

      5

      24

      25 18 324 20 400 12 144 16 256

      5

      23

      25 20 400 20 400 13 169 15 225

      5

      22

      31

      25 20 400 20 400 13 169 12 144

      5

      37

      25 18 324 20 400 15 225 14 196

      5

      40

      25 20 400 20 400 13 169 12 144

      5

      39

      25 20 400 20 400 14 196 15 225

      5

      38

      25 20 400 16 256 16 256 14 196

      5

      25 20 400 20 400 14 196 12 144

      32

      5

      36

      25 18 324 20 400 18 324 16 256

      5

      35

      34 10 100 20 400 20 400 15 225 16 256

      25 20 400 20 400 14 196 12 144

      5

      33

      25 20 400 20 400 14 196 12 144

      5

      25 20 400 20 400 13 169 11 121

      

    TABEL BANTU RELIABILITAS UJI COBA INSTRUMEN PENELITIAN

    Resp

      1

      5

      9

      25 18 324 20 400 18 324 15 225

      5

      8

      25 20 400 20 400 20 400 20 400

      5

      7

      25 20 400 20 400 20 400 15 225

      5

      6

      25 20 400 20 400 15 225 12 144

      5

      25 20 400 20 400 14 196 11 121

      25 20 400 20 400 14 196 13 169

      5

      4

      25 20 400 20 400 13 169 14 196

      5

      3

      25 20 400 20 400 14 196 12 144

      5

      2

      25 20 400 20 400 13 169 12 144

      5

      5

      10

      25 20 400 20 400 14 196 12 144

      16

      5

      20

      25 18 324 20 400 16 256 15 225

      5

      19

      25 20 400 20 400 17 289 15 225

      5

      18

      17 20 400 20 400 16 256 15 225

      25 20 400 20 400 12 144 12 144

      5

      15 10 100 20 400 20 400 14 196 16 256

      5

      25 20 400 20 400 13 169 13 169

      5

      14

      13 20 400 20 400 18 324 16 256

      25 20 400 20 400 13 169 16 256

      5

      12

      25 20 400 20 400 16 256 16 256

      5

      11

      25 20 400 20 400 16 256 13 169

      21

      Ʃ 200 1150 782 15324 796 15856 592 8930 550 7720

    LAMPIRAN D-3

    PERHITUNGAN RELIABILITAS HASIL UJI COBA SOAL POSTTEST

    2 Keterangan :

      1

      1

      =

      150

      40

      = 3,75 2. Varians soal nomor 2

      1

      2

      = Ʃ

      2

      − (Ʃ

      2

      )

      40

      =

      15324− (782)2

      40

      40

      =

      35,9

      40

      = 0,89 Varians soal nomor 3-5 dihitung menggunakan rumus yang sama pada soal nomor 1 dan 2. Nilai varians yang diperoleh untuk soal nomor 3, 4, dan 5 berturut, yaitu 0,39, 1,73 dan 0,53.

      b. Menentukan jumlah varians tiap butir soal

      40

      1150− (200)2

      2

      1

      = Ʃ

      2

      − (Ʃ

      1

      )

      1

      2

      = varians skor total Ʃ

      2

      = jumlah kuadrat skor (Ʃ

      )

      a. Menentukan nilai varians tiap item soal menggunakan rumus :

      2

      = kuadrat jumlah skor yang diperoleh N = jumlah siswa

      1. Varians soal nomor 1

      1

      2

      = Ʃ

      2

      − (Ʃ

      1

      )

      2

      =

      2

      2

      2

      2

      2

      2

    • = + + + Ʃ

      1

      2

      3

      4

      5

      = 3,75 + 0,89 + 0,39 + 1,73 + 0,53 = 7,31

      c. Menentukan jumlah varians total digunakan rumus :

      2

      )

      2 Ʃ − (Ʃ

      2

      =

      (2920)2 213670− 510

      40

      = = = 12,75

      40

      40

      d. Menghitung koefisien reliabilitas soal digunakan rumus Alpha :

      2 Ʃ σ

      = ) ( ) (1 −

      11

      2 −1 5 7,31

      = ( ) ( 1 - )

      5−1 12,75

      = (1,25) (0,57) = 0,712

      e. Menentukan kriteria nilai koefisien reliabilitas soal yang diperoleh. Nilai koefisien reliabilitas yang diperoleh adalah = 0,712 yang terletak pada

      11

      rentang 0,600

    • – 0,800 sehingga dapat disimpulkan bahwa item soal instrumen penelitian ini memiliki reliabilitas dengan kategori tinggi.

Dokumen baru

Download (247 Halaman)
Gratis

Tags

Dokumen yang terkait

EFEKTIVITAS MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI TERBIMBING DALAM MENINGKATKAN KETERAMPILAN MENGKONSTRUKSI ARGUMEN DAN MEMBERIKAN ALASAN PADA MATERI HIDROLISIS GARAM
0
5
51
PENGARUH SKILL ARGUMENTASI ILMIAH SISWA TERHADAP HASIL BELAJAR FISIKA PADA PEMBELAJARAN BERBASIS INKUIRI TERBIMBING
1
8
67
PENGARUH METODE PEMBELAJARAN INKUIRI TERBIMBING TERHADAP AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI POKOK CIRI-CIRI MAKHLUK HIDUP
2
39
56
PENGARUH PENERAPAN TEKNIK PEMBELAJARAN KANCING GEMERINCING TERHADAP HASIL BELAJAR FISIKA SISWA KELAS XI IPA SMAN 1 SUNGAI LIMAU
0
0
11
PENGARUH MODEL INKUIRI TERBIMBING TERHADAP HASIL BELAJAR DALAM MATERI LARUTAN PENYANGGA SISWA SMA
0
0
10
PENGARUH METODE PRAKTIKUM DISERTAI FEEDBACK TERHADAP HASIL BELAJAR DAN RESPON SISWA KELAS X PADA MATERI LARUTAN
0
1
12
PENGARUH MODEL GDL DISERTAI FEEDBACK TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA SMA PADA MATERI HIDROLISIS GARAM ARTIKEL PENELITIAN
0
0
10
PENGARUH MODEL GUIDED DISCOVERY LEARNING TERHADAP AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA SMAN 2 SUNGAI RAYA MATERI LAJU REAKSI
0
0
16
PENGARUH MODEL PROBLEM SOLVING TERHADAP HASIL BELAJAR SMAN 4 SUNGAI RAYA PADA MATERI LAJU REAKSI
0
0
10
EFEKTIVITAS STRATEGI PEMBELAJARAN INDEX CARD MATCH TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA PADA SUB MATERI TEORI HIBRIDISASI KELAS XI IPA SMA NEGERI 1 SUNGAI RAYA
0
0
6
PENGARUH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI TERBIMBING BERBASIS ASESMEN PORTOFOLIO TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI KOLOID
0
0
8
TERHADAP MOTIVASI BELAJAR DAN HASIL BELAJAR FISIKA SISWA KELAS XI IPA SMAN 3 PINRANG
0
0
261
PENGGUNAAN METODE INKUIRI TERBIMBING DENGAN MEDIA POWERPOINT BERBASIS TEKNIK PICTORIAL RIDDLE TERHADAP HASIL BELAJAR FISIKA SISWA KELAS XI IPA SMAN 1 BONTONOMPO
0
0
233
EFEKTIVITAS MEDIA PEMBELAJARAN EDMODO TERHADAP MINAT BELAJAR DAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI FISIKA KELAS XI IPA SMAN 1 TANETE RILAU
0
0
193
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN DISCOVERY-INQUIRY TERBIMBING DAN BEBAS TERMODIFIKASI DITINJAU DARI SIKAP ILMIAH TERHADAP PRESTASI BELAJAR SISWA PADA MATERI HIDROLISIS GARAM KELAS XI SEMESTER GENAP SMA N 1 BOYOLALI TAHUN PELAJARAN 20162017
0
0
19
Show more