Upaya meningkatkan pendampingan iman kaum muda di Paroki Santa Maria Mater Dolorosa, Soe, Keuskupan Agung Kupang melalui katekese umat model shared christian praxis - USD Repository

Gratis

0
0
138
7 months ago
Preview
Full text

  

UPAYA MENINGKATKAN PENDAMPINGAN IMAN KAUM MUDA DI

PAROKI SANTA MARIA MATER DOLOROSA, SOE,

KEUSKUPAN AGUNG KUPANG,

MELALUI KATEKESE UMAT MODEL SHARED CHRISTIAN PRAXIS

  

S K R I P S I

  Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

  Program Studi Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik Oleh:

  Andida Maria Tael NIM: 031124003

  PROGRAM STUDI ILMU PENDIDIKAN KEKHUSUSAN PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK JURUSAN ILMU PENDIDIKAN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2007

  

PERSEMBAHAN

  Dengan penuh syukur skripsi ini kupersembahkan kepada: Allah Sumber Cinta dan Kebahagiaan, ayah, ibu, kakak, adik, serta seluruh keluarga dan teman-teman seperjuangan angkatan 2003.

  

MOTTO

  “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberikan kekuatan kepadaku”.

  (Flp 4:13).

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

  Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka sebagaimana layaknya karya ilmiah.

  Yogyakarta, 29 September 2007

  

ABSTRAK

  Skripsi ini berjudul UPAYA MENINGKATKAN PENDAMPINGAN

  

IMAN KAUM MUDA DI PAROKI SANTA MARIA MATER DOLOROSA,

SOE, KEUSKUPAN AGUNG KUPANG MELALUI KATEKESE UMAT

MODEL SHARED CHRISTIAN PRAXIS. Skripsi ini dipilih berdasarkan fakta

  bahwa penyelenggaraan katekese bagi kaum muda di Paroki Santa Maria Mater Dolorosa, Soe belum mendapat perhatian khusus dari Pastor Paroki, Pendamping Kaum Muda, dan Kaum Muda sendiri. Kenyataan menunjukkan bahwa dalam setiap kegiatan katekese, jumlah kaum muda yang hadir sangat sedikit. Dalam proses katekese, kaum muda cenderung pasif dan hanya mendengarkan yang disampaikan oleh pemimpin katekese. Selama proses berlangsung, pemimpin katekese menjadi pemeran utama.

  Bertitik tolak pada kenyataan ini, maka skripsi ini bertujuan untuk membantu para pendamping katekese kaum muda di Paroki Santa Maria Mater Dolorosa, Soe agar mendapatkan cara baru dalam berkatekese melalui katekese umat dengan menggunakan model Shared Christian Praxis.

  Persoalan pokok dalam skripsi ini menguraikan upaya para pendamping katekese untuk melibatkan peserta dalam proses berkatekese, jenis katekese yang dapat membantu para pendamping, dengan cara berkatekese secara dialogis partisipatif. Pembahasan masalah dikaji dengan pengumpulan data-data melalui pemberian pedoman wawancara kepada para pendamping kaum muda dan kaum muda di Paroki Santa Maria Mater Dolorosa, Soe, dan melalui studi pustaka untuk memperoleh masukan-masukan sebagai bahan refleksi. Gagasan-gagasan tersebut dipergunakan sebagai sumbangan katekese bagi para pendamping untuk menyelenggarakan katekese umat bagi kaum muda di Paroki Santa Maria Mater Dolorosa, Soe.

  Dalam masa pertumbuhan, kaum muda membutuhkan tempat untuk berbagi pengalaman, baik yang dialami dalam keluarga, sekolah, Gereja maupun dalam masyarakat. Dan katekese umat merupakan tempat yang cocok bagi kaum muda untuk mengungkapkan pengalaman iman mereka. Katekese umat berangkat dari pengalaman konkrit peserta yang saling dikomunikasikan sehingga kaum muda semakin meningkatkan penghayatan iman mereka.

  Katekese umat dengan model Shared Christian Praxis bertujuan membantu para pendamping katekese kaum muda agar menguasai suatu pendekatan berkatekese yang handal dan efektif sehingga kaum muda dapat berpartisipasi secara aktif dalam proses berkatekese. Penulis menawarkan suatu program katekese umat dengan model Shared Christian Praxis yang dapat membantu kaum muda dalam meningkatkan penghayatan iman mereka.

  

ABSTRACT

  The title of Thesis is THE EFFORT TO IMPROVE FAITH

  

GUIDANCE OF THE YOUTH IN THE PARISH OF SANTA MARIA

MATER DOLOROSA, SOE THROUGH CATECHESES OF SHARED

CHRISTIAN PRAXIS MODEL. This thesis was chosen based on the fact that

  implementation of catecheses for the youth in the Parish of Santa Maria Mater Dolorosa, Soe had not got a special attention yet from the Parish Pastor, Counsel of Youth, and the Youth. The fact indicated that in every activity of catecheses, just a few of the youth attended. In the process of catecheses, the youth tended to be passive and only listened to what was presented by the facilitator leader of catecheses. During the process, the catechist catecheses became a major character.

  Based on the fact, the goal of this thesis is proposed to help catechists who are in charge of the youth in Paroki Santa Maria Mater Dolorosa, Soe find a new way using Shared Christian Praxis model of catechism.

  The basic problem in this thesis explaining the effort of catechists to make participants active in the process of catecheses, and what kinds of catecheses that can help catechist to create a participative dialogues catecheses. This problem was analyzed by data and interview guidance given to the youth assistants and the youth themselves in Paroki Santa Maria Mater Dolorosa, Soe and literary study was to obtain ideas to have reflection material. The ideas utilized as contribution of catechism for the youth assistant to organize catecheses in Paroki Santa Maria Mater Dolorosa, Soe.

  The Youth in a growth stage require place to share their experience they have in the family, the schools, the Church, and society. They need faith assistance. The good place for them is catechism, because catecheses based on real life of the participants that is communicated can make young people progressively improve their faith.

  The goal of Catechism using Shared Christian Praxis model is to assist all the Youth assistants to master an effective and reliable approach of catechism. The program of Shared Christian Praxis model is proposed to help to improve their faith.

KATA PENGANTAR

  Puji dan syukur penulis haturkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas segala berkat dan cinta-Nya yang begitu besar sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul UPAYA MENINGKATKAN

  PENDAMPINGAN IMAN KAUM MUDA DI PAROKI SANTA MARIA MATER DOLOROSA, SOE, KEUSKUPAN AGUNG KUPANG MELALUI KATEKESE UMAT MODEL SHARED CHRISTIAN PRAXIS. Skripsi ini

  ditulis bertitik tolak dari keprihatinan akan penyelenggaraan katekese di Paroki Santa Maria Mater Dolorosa, Soe, yang belum mendapat perhatian dari seluruh kaum muda yang ada. Skripsi ini juga ditulis dalam rangka memenuhi salah satu syarat kelulusan Sarjana Strata 1 pada program studi Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik, Jurusan Ilmu Pendidikan, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

  Penulis menyadari bahwa dalam menyelesaikan skripsi ini penulis mengalami banyak hambatan, dan kesulitan, namun berkat bimbingan, dorongan dan bantuan dari berbagai pihak dengan caranya sendiri, penulis tetap bersemangat dan ceria dalam menyelesaikannya. Oleh karena itu secara khusus penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada: 1.

  Drs. M. Sumarno, Ds., S.J., M.A. selaku Dosen Pembimbing Utama yang telah meluangkan waktu, memberikan perhatian, membimbing penulis dengan penuh kesabaran, cinta, tekun dan teliti, dan memberikan masukan-masukan sejak awal sampai penulisan skripsi ini selesai.

  2. Drs. Y.a.C. H. Mardiraharja selaku Dosen Wali sekaligus Dosen Penguji II yang dengan penuh perhatian telah membantu dan mendorong penulis selama belajar dan penulisan skripsi ini selesai.

  3. Dra. Yulia Supriyati, M.Pd. selaku Dosen Penguji III yang telah bersedia meluangkan waktu mengarahkan penulis selama penulisan skripsi ini.

  4. Seluruh Staf Dosen dan Karyawan Prodi IPPAK-FKIP Universitas Sanata Dharma, yang telah mendidik dan membimbing penulis selama belajar di kampus IPPAK, USD.

  5. Ayah, ibu, kakak, adik dan seluruh keluarga yang memberikan semangat dan dukungan moral, material dan spiritual selama penulis menempuh studi di kampus IPPAK, USD.

  6. Pastor Paroki, Para Dewan Paroki, Pendamping Kaum Muda dan seluruh Kaum Muda Paroki Santa Maria Mater Dolorosa, Soe, yang telah membantu penulis mengumpulkan data-data yang untuk penyusunan skripsi ini.

  7. Kakak Helenita, Odete Soares Maia, Fr. Donatus Naikofi, CMM, Devita, Sr.

  Hildegardis, JMJ, Sr. Olga Mendonsa, PRR, Sr. Tilde, CB, yang setia mendengarkan keluhan, memotivasi penulis melalui doa dan perhatian mereka sehingga penulis tetap semangat dalam menyelesaikan skripsi ini.

  8. Teman-teman seangkatan 2003 yang memberi semangat dan membantu penulis selama proses belajar di kampus IPPAK, USD.

  9. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu, yang dengan caranya sendiri telah membantu penulis sehingga skripsi ini dapat selesai.

  Akhirnya penulis menyadari masih banyak keterbatasan pengetahuan dan pengalaman dalam menulis skripsi ini sehingga penyusunan skripsi ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu dari hati yang terdalam penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari para pembaca semua demi perbaikan skripsi ini. Dan akhirnya, semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi siapa saja yang berkepentingan.

  Yogyakarta, 14 September 2007

  

DAFTAR ISI

  1. Latar Belakang Berdirinya Paroki Santa Maria Mater Dolorosa ........................................................................

  1. Tempat atau Kedudukan Kaum Muda di Paroki Santa Maria Mater Dolorosa ........................................................................

  13

  12 B. Situasi Kaum Muda di Paroki Santa Maria Mater Dolorosa .........

  12 4. Kegiatan-kegiatan di Paroki Santa Maria Mater Dolorosa .......

  3. Jumlah dan Perkembangan Umat Paroki Santa Maria Mater Dolorosa ...................................................................................

  11

  10 2. Letak Geografis Pusat Paroki Santa Maria Mater Dolorosa ......

  10

  HALAMAN JUDUL .................................................................................... i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING .......................................... ii HALAMAN PENGESAHAN ..................................................................... iii PERSEMBAHAN ......................................................................................... iv MOTTO ........................................................................................................ v PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ....................................................... vi ABSTRAK ..................................................................................................... vii ABSTRACT .................................................................................................. viii KATA PENGANTAR .................................................................................. ix DAFTAR ISI ............................................................................................... xii DAFTAR SINGKATAN .............................................................................. xvii BAB I. PENDAHULUAN ...........................................................................

  9 A. Gambaran paroki Santa Maria Mater Dolorosa Soe ......................

  7 BAB II. GAMBARAN UMUM KAUM MUDA DALAM KATEKESE UMAT DI PAROKI SANTA MARIA MATER DOLOROSA SOE, KEUSKUPAN AGUNG KUPANG ..............................................

  7 F. Sistematika Penulisan .....................................................................

  6 E. Metode Penulisan ............................................................................

  Manfaat Penulisan ...........................................................................

  5 C. Tujuan Penulisan ............................................................................ 6 D.

  1 B. Rumusan Permasalahan ................................................................

  1 A. Latar Belakang ..............................................................................

  13

  2. Kegiatan-kegiatan Kaum Muda di Pusat Paroki Santa Maria Mater Dolorosa .......................................................................

  14 a.

  14 Koor .....................................................................................

  b.

  14 Doa rosario ..............................................................................

  c.

  15 Seminar ...................................................................................

  d.

  15 Sharing alam terbuka ..............................................................

  e.

  16 Pekan mudika sedekenat .........................................................

  f.

  16 Rekoleksi .................................................................................

  g.

  16 Doa mingguan .........................................................................

  h.

  17 Katekese ..................................................................................

  3. Pemahaman Kaum Muda akan Katekese ....................................

  17 4. Proses Pelaksanaan Katekese ......................................................

  18

  5. Harapan Kaum Muda terhadap Pelaksanaan Katekese yang Baik .....................................................................

  19 C.

  20 Rangkuman Permasalahan ...........................................................

  1. Permasalahan-permasalahan dalam Katekese ..........................

  20 2. Pelaksanaan Katekese .................................................................

  21 3. Peserta Katekese .........................................................................

  21 4. Pendamping Katekese .................................................................

  22 5. Model Katekese ..........................................................................

  22 6. Sarana Katekese ..........................................................................

  22 BAB III. KAUM MUDA DALAM KATEKESE UMAT ...........................

  24 A.

  25 Situasi Kaum Muda dalam Gereja ................................................

  1. Pengertian Kaum Muda ............................................................

  25 2. Gambaran Situasi Kaum Muda Kristiani Dewasa ini .................

  27 3. Permasalahan-permasalahan Kaum Muda ..................................

  29 a.

  29 Masalah dalam diri Kaum Muda ...........................................

  b. Masalah dalam keluarga ..........................................................

  32 c.

  32 Masalah dalam Gereja .............................................................

  d. Masalah dalam masyarakat ......................................................

  33 4. Situasi Kaum Muda dalam Hidup Menggereja .........................

  34 5. Bentuk-bentuk Pendampingan Iman Kaum Muda ......................

  37

  a.

  38 Bentuk Pendampingan kaum muda pada umumnya ............. 1)

  Olahraga ............................................................................ 38 2)

  38 Penalaran ............................................................................ 3)

  39 Ketrampilan ....................................................................... 4)

  39 Kemasyarakatan ................................................................. 5)

  Kesenian ............................................................................. 39 6)

  40 Kaderisasi ...........................................................................

  b.

  40 Bentuk pendampingan iman kaum muda .............................. 1)

  40 Retret ................................................................................ 2)

  41 Rekoleksi ........................................................................... 3)

  42 Ziarah ................................................................................. 4)

  42 EKM .................................................................................. 5)

  42 Katekese .............................................................................

  B.

  43 Gambaran Umum Katekese Umat ...............................................

  1. Latar Belakang Katekese Umat ................................................

  44 a.

  44 Latar belakang umum katekese umat .................................. 1)

  45 Katekese model katekumenat ......................................... 2)

  45 Katekese anthropologis ..................................................... 3)

  46 Katekese historico-profetis (atau pembebasan) .................

  b.

  47 Latar Belakang katekese umat di Indonesia ......................

  2. Pengertian Katekese Umat ......................................................

  48 3. Isi Katekese Umat .......................................................................

  50 4. Peserta Katekese Umat ...............................................................

  51 5. Pemimpin Katekese Umat ..........................................................

  52 6. Tujuan Katekese Umat ................................................................

  53 7. Model Katekese Umat ..............................................................

  54 a.

  55 Model pengalaman hidup .....................................................

  b.

  56 Model biblis ...........................................................................

  c.

  57 Model campuran ....................................................................

  8. Kekhasan Katekese Umat untuk Kaum Muda ..........................

  58 C. Shared Christian Praxis sebagai Suatu Model Katekese Umat untuk Kaum Muda .......................................................................

  60

  1. Peristilahan dalam Shared Christian Praxis ............................

  61 a.

  61 Shared .................................................................................

  b.

  62 Christian ................................................................................

  c.

  64 Praxis ...................................................................................

  2. Langkah-langkah Shared Christian Praxis ...............................

  65 a.

  65 Langkah I: Pengungkapan Pengalaman Hidup Faktual .......

  b.

  Langkah II: Refleksi Kritis Atas Sharing Pengalaman Hidup Faktual ................................................

  67 c. Langkah III: Mengusahakan Supaya Tradisi dan Visi Lebih Terjangkau .........................................

  69 d. Langkah IV: Menerapkan Iman Kristiani dalam Situasi Konkrit Peserta ................................

  71 e.

  73 Langkah V: Mengusahakan Suatu Aksi Konkrit .................

  3. Catatan Penggunaan SCP dalam Katekese Umat ......................

  75 BAB IV. USULAN PROGRAM KATEKESE UMAT BAGI KAUM MUDA PAROKI SANTAMARIA MATER DOLOROSA, SOE, KEUSKUPAN AGUNG KUPANG ...................................

  77 A.

  77 Latar Belakang Penyusunan Program ..........................................

  B.

  79 Alasan Pemilihan Tema dan Tujuan ...............................................

  C.

  82 Penjabaran Program ........................................................................

  D.

  86 Petunjuk Pelaksanaan Program .......................................................

  E.

  87 Contoh Persiapan Katekese ............................................................

  1. Identitas Katekese .......................................................................

  87 2. Pemikiran Dasar ..........................................................................

  88 3. Pengembangan Langkah-langkah ...............................................

  89 a.

  89 Pembukaan ........................................................................

  b.

  91 Langkah I: Pengungkapan Pengalaman Hidup Faktual .......

  c.

  Langkah II: Refleksi Kritis Atas Sharing Pengalaman Hidup Faktual ..................................................

  93 d. Langkah III: Mengusahakan Supaya Tradisi dan Visi Lebih Terjangkau ..........................................

  94 e. Langkah IV: Menerapkan Iman Kristiani dalam Situasi Konkrit Peserta .............................................

  96 f.

  98 Langkah V: Mengusahakan Suatu Aksi Konkrit ..................

  g.

  100 Penutup .................................................................................

  BAB V. PENUTUP .................................................................................... 101 A.

  101 Kesimpulan .................................................................................

  B.

  103 Saran ............................................................................................... DAFTAR PUSTAKA ................................................................................. 105 LAMPIRAN ............................................................................................. 107

  Lampiran 1: Pedoman Wawancara Tertulis untuk Para Dewan Paroki ........................................................ (1)

  Lampiran 2: Pedoman Wawancara Tertulis untuk Pendamping Kaum Muda .............................................. (2)

  Lampiran 3: Pedoman Wawancara Tertulis untuk Kaum Muda .................................................................. (3)

  Lampiran 4: Hasil Wawancara Tertulis Ketua Dewan Paroki ............ (4) Lampiran 5: Hasil Wawancara Tertulis Pendamping Kaum Muda ...... (6) Lampiran 6: Hasil Wawancara Tertulis Kaum Muda ........................ (9) Lampiran 7: Gambar Mother Teresa .................................................. (14)

DAFTAR SINGKATAN A.

   Singkatan Kitab Suci

  Seluruh singkatan Kitab Suci dalam skripsi ini mengikuti Kitab Suci

  Perjanjian Baru dan Catatan Singkat . (Dipersembahkkan kepada Umat Katolik

  Indonesia oleh Ditjen Bimas Katolik Departemen Agama Republik Indonesia dalam rangka PELITA IV). Ende: Arnoldus, 1984/1985, hal. 8.

B. Singkatan Dokumen Resmi Gereja

  AA: Apostolicam Actuasitatem, Dekrit Konsili Vatikan II tentang Kerasulan Awam, 7 Desember 1965. CL: Christifidelis Laici, Imbauan Apostolik Pasca Sinode Christifidelis Laici dari Bapa Suci Yohanes Paulus II tentang Panggilan dan tugas Kaum

  Awam beriman dalam Gereja dan di dalam dunia, 12 Maret 1989. CT: Catechesi Tradendae, Anjuran Apostolik Paus Yohanes Paulus II kepada para uskup, klerus, dan segenap umat beriman tentang katekese masa kini,

  16 Oktober 1979.

  C.

   Singkatan Lain:

  APP : Aksi Puasa Pembangunan Art : Artikel Ay : Ayat EKM : Ekaristi Kaum Muda KAJ : Keuskupan Agung Jakarta KUB : Kelompok Umat Basis KWI : Konferensi Waligereja Indonesia MB : Madah Bakti PAK : Pendidikan Agama Katolik PKKI : Pertemuan Kateketik antar Keuskupan se-Indonesia

  SCP : Shared Christian Praxis

  SD : Sekolah Dasar SMK : Sekolah Menengah Kejuruan

  SMP :Sekolah Menengah Pertama SMTA : Sekolah Menengah Tingkat Atas SMU : Sekolah Menengah Umum SR : Sekolah Rakyat STIPAS : Sekolah Tinggi Pastoral SVD : Societatis Verbi Divini (Serikat Sabda Allah) WITA : Waktu Indonesia Tengah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Paroki Santa Maria Mater Dolorosa Soe, merupakan salah satu Paroki dari Keuskupan Agung Kupang yang memiliki jumlah kaum muda cukup banyak. Kegiatan-kegiatan hidup menggereja yang sering dijalankan oleh kaum muda di Paroki Santa Maria Mater Dolorosa antara lain Doa rosario, Koor, Seminar, Sharing Alam Terbuka, Pekan Mudika Sedekenat, Rekoleksi, Doa Mingguan, dan Katekese. Kaum muda Paroki Santa Maria Mater Mater Dolorosa, lebih mengenal

  istilah pendalaman Kitab Suci dari pada katekese karena Kitab Suci adalah satu- satunya sumber bahan yang digunakan oleh pemimpin. Penyelenggaraan katekese di Paroki Santa Maria Mater Dolorosa belum mendapat perhatian penuh dari seluruh kaum muda. Katekese diadakan setahun dua kali yaitu pada bulan Kitab Suci Nasional dan APP, dan bahannya disediakan oleh Keuskupan Agung Kupang, sehingga pemandu atau pendamping katekese hanya membacakan saja dari buku panduan. Kitab Suci merupakan satu-satunya sumber bahan yang sering digunakan oleh pendamping dalam memimpin katekese.

  Berdasarkan pengamatan penulis selama berkecimpung di Paroki Santa Maria Mater Dolorosa Soe, yang biasa berinisiatif melaksanakan katekese adalah para Suster yang berkarya di Paroki ini. Dalam pelaksanaan, pemimpin katekese lebih banyak bicara, sedangkan peserta hanya sebagai pendengar saja, sehingga katekese kesannya monoton seperti pelajaran agama.

  Dalam pertemuan Sinode Para Uskup sedunia tahun 1976, yang menjadi pokok pembicaraan adalah mengenai katekese dalam Gereja yang sedang berkembang. Gagasan dasar yang menjadi pokok pembicaraan dalam katekese adalah keyakinan bahwa iman umat kristiani pada hakikatnya adalah jawaban manusia kepada tawaran serta tindakan penyelamatan Allah. Dalam seluruh hidup serta dalam setiap keadaan hidup selalu terdapat tawaran penyelamatan Allah yang mengharapkan jawaban manusia yang utuh. Maka, tugas Gereja adalah memupuk dan membina iman jemaat secara terus menerus agar benar-benar merupakan jawaban terhadap tawaran dan tindakan penyelamatan Allah yang selalu bermakna (Setyakarjana, 1997: 1-2).

  Salah satu bentuk pendampingan iman adalah katekese, karena katekese merupakan suatu kegiatan yang muncul dari tugas perutusan Gereja sebagai jemaat beriman keseluruhan. Katekese ingin menolong, menyadari, bahwa manusia menjalani hidup ini karena ditopang oleh cinta yang adalah Allah sendiri.

  Keterbukaan manusia terhadap sapaan cinta Allah dicoba dimungkinkan oleh katekese. Karena melalui katekese setiap orang dapat melihat dan memahami akan setiap pengalaman hidupnya (Setyakarjana, 1997: 3).

  Katekese memberitahukan iman jemaat bahwa iman Kristiani bukanlah sikap perorangan melulu. Katekese adalah salah satu unsur atau faktor pembangun iman yang mampu mewarnai hidup Kristiani. Dengan sering berkatekese umat menghayati iman bersama-sama dan dengan demikian mewujudkan Gereja dalam kehidupan dan dalam karya (Setyakarjana, 1997: 70).

  Katekese umat sering disebut katekese dari umat, oleh umat dan untuk umat. Dalam katekese umat, semua peserta aktif berpikir, aktif berbicara dan aktif mengambil keputusan. Umat menjadi subyek dalam berkatekese. Katekese umat membuat peserta kreatif, kritis dan otonom. Katekese umat menumbuhkan rasa percaya diri, kepribadian dan martabat seseorang. Katekese umat selalu berbicara tentang hidup nyata dalam terang Injil. Hal ini menyadarkan umat pada intervensi Allah dalam hidup mereka. Itu berarti bahwa dengan katekese umat peserta senantiasa disadarkan secara konkret dan aktual bahwa Allah hadir dan berkarya dalam hidup nyata mereka. Katekese umat senantiasa mengandalkan bahwa dalam berkatekese, umat aktif berkomunikasi. Berkomunikasi tentang hidup nyata dalam terang iman (Telaumbanua, 1999: 11).

  Katekese umat merupakan komunikasi iman dari peserta sebagai sesama dalam iman yang sederajat, yang saling bersaksi tentang iman mereka. Melalui katekese setiap orang (umat) dapat mengungkapkan pengalaman imannya akan Yesus Kristus sebagai pola hidup kita. Dalam katekese umat ini tekanan terutama diletakkan pada penghayatan iman. Melalui kesaksian, umat dapat saling membantu sedemikian rupa sehingga iman masing-masing umat diteguhkan dan dihayati secara sempurna. Meskipun pengalaman iman umat lebih diutamakan, tetapi dapat dikaitkan dengan Kitab Suci (Setyakarjana, 1997: 67).

  Dalam katekese yang menjemaat ini, pemimpin katekese bertindak terutama sebagai pengarah dan pemudah (fasilitator). Tugas pemimpin katekese adalah menciptakan suasana komunikatif, ia membangkitkan gairah supaya para peserta berani berbicara secara terbuka. Katekese umat menerima banyak jalur komunikasi dalam berkatekese. Pemimpin katekese umat menghayati/meneladani Kristus. Seorang pemimpin katekese juga harus memiliki ketrampilan, pengetahuan dan kepribadian (Setyakarjana, 1997: 71).

  Proses pelaksanaan katekese umat memiliki tiga langkah besar yaitu: proses mengamati dan menyadari suatu fenomena tertentu dalam masyarakat yang kita anggap sebagai tema katekese umat, situasi konkrit dalam masyarakat, menyadari dan merefleksikan situasi yang telah dianalisa dalam terang Sabda Allah dan yang terakhir memikirkan dan merencanakan aksi untuk bertindak (Setyakarjana, 1997: 67).

  Peserta katekese adalah semua umat beriman yang secara pribadi memilih Kristus dan secara bebas berkumpul untuk lebih memahami Kristus. Kristus menjadi pola hidup pribadi dan pola hidup kelompok, jadi seluruh umat baik yang berkumpul dalam kelompok basis, maupun di sekolah atau perguruan tinggi. Penekanan pada seluruh umat ini justru merupakan salah satu unsur yang memberi arah pada katekese. Penekanan peranan umat pada katekese ini sesuai dengan peranan umat pada pengertian Gereja (Telaumbanua, 1999: 11).

  Tujuan komunikasi iman adalah supaya terang injil kita semakin meresapi arti pengalaman-pengalaman kita sehari-hari dan kita bertobat (metanoia) kepada Allah dan semakin menyadari kehadirannya dalam kenyataan hidup sehari-hari. Dengan demikian kita semakin sempurna beriman, berharap, mengamalkan cinta kasih dan makin dikukuhkan hidup kristiani kita, kita makin bersatu dalam Kristus, makin menjemaat, makin tegas mewujudkan tugas setempat dan mengokohkan Gereja semesta, sehingga kita sanggup memberi kesaksian tentang Kristus dalam hidup kita di tengah masyarakat (Setyakarjana, 1997: 67).

  Oleh karena begitu berartinya katekese bagi upaya pengembangan iman, maka penyelenggaraannya perlu sungguh-sungguh diperhatikan oleh seluruh Gereja.

  Siapapun yang berkecimpung dalam karya pelayanan katekese, yakni umat beriman Kristiani sebagai keseluruhan Gereja Universal maupun Gereja setempat, baik para pemuka Gereja atau bukan, perlu memperhatikan dan mengusahakan terwujudnya katekese (Huber 1981: 145). Lebih jauh lagi Banyu Dewa Hs (1999: 22), mengungkapkan ada 2 hal yang perlu diperhatikan dan tidak boleh dilupakan dalam penyelenggaraan katekese yaitu diri katekis sebagai pewarta sabda dan peserta sebagai subyek yang menggumuli sabda. Oleh karena itu bagi seorang pewarta sabda haruslah yakin bahwa segala ungkapannya mengalir dari kekayaan rohaninya dan sekaligus pewartaannya harus dapat diresapi oleh alam pikiran peserta.

  Setelah membaca dan mendengar cara melaksanakan suatu katekese yang baik serta melihat penyelenggaraan katekese di Paroki Santa Maria Mater Dolorosa, ada perbedaan yang sangat mencolok, antara teori dan kenyataan yang ada di Paroki ini. Katekese belum mendapat tempat dan perhatian penuh dari Pastor Paroki, Para Dewan dan Pendamping kaum muda. Maka dengan melihat situasi ini, penulis ingin membagikan pengalaman melalui skripsi ini, sehingga penulis memilih judul

  

UPAYA MENINGKATKAN PENDAMPINGAN IMAN KAUM MUDA DI

PAROKI SANTA MARIA MATER DOLOROSA, SOE, KEUSKUPAN

AGUNG KUPANG, MELALUI KATEKESE UMAT MODEL SHARED

CHRISTIAN PRAXIS, sebagai satu cara untuk memperkenalkan Katekese Umat

  bagi seluruh umat khususnya bagi pendamping kaum muda dan kaum muda sendiri yang ada dalam paroki ini. Penulis berharap semoga melalui tulisan ini, mereka semakin mengenal model katekese lain yang digunakan dalam meningkatkan iman mereka.

B. Rumusan Permasalahan

  Setelah melihat fakta yang ada dalam Paroki Santa Maria Mater Dolorosa Soe, dengan Katekese Umat yang sebenarnya dijalankan ada perbedaan yang cukup

  1. Bagaimana proses pelaksanaan katekese bagi Kaum Muda di Paroki Santa Maria Mater Dolorosa Soe? 2. Sejauh mana peranan katekese umat membantu kaum muda dalam mengembangkan iman mereka?

  3. Katekese macam apa yang sesuai dalam mengembangkan iman kaum muda di Paroki Santa Maria Mater Dolorosa, Soe?

C. Tujuan Penulisan

  Karya tulis ini berkisar antara kenyataan yang ada di Paroki Santa Maria Mater Dolorosa, Soe yang kurang mengetahui dan memahami akan katekese. Maka karya tulis ini bertujuan untuk:

  1. Untuk mengetahui proses pelaksanaan katekese di Paroki Santa Maria Mater Dolorosa, Soe.

  2. Untuk mengetahui sejauh mana Katekese Umat berperan dalam upaya pengembangan iman kaum muda di Paroki Santa Maria Mater Dolorosa, Soe.

  3. Untuk mengetahui model katekese yang sesuai dengan perkembangan iman kaum muda di Paroki Santa Maria Mater Dolorosa, Soe.

  4. Karya tulis ini ditulis dalam rangka memenuhi salah satu syarat kelulusan Sarjana Strata 1 (S1) Program Studi Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik, Jurusan Ilmu Pendidikan, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

D. Manfaat Penulisan

  Penulisan ini diharapkan dapat memberikan manfaat:

  1. Meningkatkan pengetahuan kaum muda mengenai cara pelaksanaan katekese yang benar di Paroki Santa Maria Mater Dolorosa Soe.

  2. Memperkenalkan Katekese Umat dengan model Shared Christian Praxis sebagai salah satu metode/cara dalam meningkatkan pendampingan iman kaum muda di Paroki Santa Maria Mater Dolorosa Soe.

  3. Memberi sumbangan bagi para Pembina katekese dan siapa saja yang terlibat dalam karya pelayanan umat akan cara pelaksanaan katekese yang baik.

E. Metode Penulisan

  Skripsi ini ditulis dengan menggunakan studi pustaka dan metode deskriptif analistis yang memaparkan, menguraikan serta menganalisa keadaan paroki Santa Maria Mater Dolorosa Soe, dalam keterkaitan dengan kehidupan iman mereka yang sebenarnya terjadi. Adapun data-data dikumpulkan melalui pedoman wawancara dan pengumpulan hasil wawancara.

  F . Sistematika Penulisan

  Skripsi ini akan ditulis dalam lima bab. Penulisan akan mulai dengan Pendahuluan, yang akan dipaparkan secara jelas pada setiap babnya. Kemudian diakhiri dengan penutup kesimpulan dan saran.

  Bab I berupa Pendahuluan yang meliputi latar belakang, rumusan masalah, tujuan penulisan, manfaat penulisan, metode penulisan dan sistematika penulisan. Bab II membahas tentang Gambaran Umum Kaum Muda Dalam Katekese umat di Paroki Santa Maria Mater Dolorosa, Soe yang meliputi bagian pertama gambaran Paroki Santa Maria Mater Dolorosa, Soe, latar belakang berdirinya, letak geografis, jumlah dan perkembangan umat, kegiatan-kegiatan dalam Paroki Santa Maria Mater Dolorosa, Soe. Bagian yang kedua meliputi Situasi Kaum Muda di Paroki Santa Maria Mater Dolorosa, Soe, tempat atau kedudukan kaum muda, kegiatan-kegiatan kaum muda, pemahaman kaum muda akan katekese, proses pelaksanaan katekese, harapan-harapan. Dan ketiga kesimpulan meliputi: permasalahan-permasalahan dalam katekese, pelaksanaan, peserta, pendamping, model dan sarana katekese.

  Bab III membicarakan tentang kaum muda dalam katekese umat yang akan dibagi dalam tiga kelompok besar yaitu: bagian pertama Situasi umum kaum muda dalam Gereja meliputi: pengertian kaum muda, gambaran situasi kaum muda kristiani dewasa ini, permasalahan-permasalahan kaum muda, bentuk-bentuk pendampingan iman kaum muda. Bagian kedua meliputi gambaran umum katekese umat, pengertian, isi, peserta, pemimpin, tujuan, model katekese umat dan kekhasan katekese umat untuk kaum muda. Dan bagian ketiga meliputi Shared Christian

  

Praxis sebagai suatu model katekese umat untuk kaum muda, peristilahan dalam

SCP, langkah-langkah SCP, catatan penggunaan SCP dalam katekese umat.

  Bab IV mengenai usulan program katekese bagi kaum muda Paroki Santa Maria Mater Dolorosa Soe yang meliputi, latar belakang penyusunan tema, alasan pemilihan tema dan tujuan, penjabaran program, petunjuk pelaksanaan program, dan contoh persiapan katekese.

  Bab V berupa penutup yang meliputi kesimpulan dan saran.

  

BAB II

GAMBARAN UMUM KAUM MUDA DALAM KATEKESE UMAT,

PAROKI SANTA MARIA MATER DOLOROSA SOE,

KEUSKUPAN AGUNG KUPANG

Paroki Santa Maria Mater Dolorosa merupakan bagian dari Keuskupan Agung Kupang yang memiliki kaum muda cukup banyak. Dari segi status kaum

  muda sangat bervariasi yakni: ada yang SMP, SMU/SMK, Perguruan Tinggi dan pekerja. Penulis memberikan pedoman wawancara kepada para Dewan Paroki, Pendamping kaum muda dan kaum muda sendiri. Kaum muda dalam paroki ini biasanya melanjutkan perguruan tinggi di luar kota Soe, sehingga tidak semua pedoman wawancara dapat dijawab oleh seluruh kaum muda.

  Pedoman wawancara dikirim melalui seorang Bapak untuk disebarkan kepada para Dewan Paroki, Pendamping kaum muda dan kaum muda sendiri.

  Pokok-pokok dalam pedoman wawancara tertulis adalah situasi umum Paroki Santa Maria Mater Dolorosa, kegiatan-kegiatan, jumlah dan perkembangan umat.

  Sedangkan gambaran umum kaum muda meliputi: situasi kaum muda, jumlah, kegiatan-kegiatan, harapan-harapan kaum muda. Perolehan data-data dua tahun terakhir ini. Wawancara tertulis dilaksanakan pada 4 Maret sampai 27 April 2007. Kaum muda yang dimaksud dalam bab ini adalah kaum muda yang tinggal di pusat Paroki Santa Maria Mater Dolorosa Soe, yang tersebar di 12 Wilayah yang terdiri dari 37 Kelompok Umat Basis. Sedangkan kaum muda yang ada di 8 stasi tidak diberikan pedoman wawancara karena medan yang jauh dari pusat Paroki dan waktu yang tidak mencukupi.

  A. Gambaran Paroki Santa Maria Mater Dolorosa Soe

  Pada bagian ini penulis akan membahas mengenai latar belakang berdirinya Paroki Santa Maria Mater Dolorosa, Soe, letak geografis, jumlah dan perkembangan umat dan kegiatan-kegiatan yang ada di Paroki Santa Maria Mater Dolorosa.

  Pembahasan mengenai gambaran Paroki Santa Maria Mater Dolorosa, Soe diambil berdasarkan hasil pedoman wawancara yang dikumpulkan.

1. Latar Belakang Berdirinya Paroki Santa Maria Mater Dolorosa

  Pada tanggal 8 September 1935 Pater Jacobus Pessers, SVD mulai melaksanakan karya pastoralnya di Soe. Kegiatan Rohani berupa doa-doa diselenggarakan di rumah-rumah secara berkala dan dilaksanakan 3 bulan sekali karena Pater Jacobus Pessers menetap di Atambua, sedangkan perayaan Ekaristi dilaksanakan setiap hari Minggu di salah satu rumah umat [Lampiran 4: (4)].

  Pada tahun 1953 Pater Vincent Lechovic, SVD ditugaskan di kota Soe untuk memimpin umat, Pater mendirikan sebuah kapela di Kota Soe untuk mengadakan perayaan Ekaristi. Dengan melihat jumlah umat yang semakin bertambah mengikuti perayaan Ekaristi maka pater Vincent Lechovic berinisiatif untuk mendirikan sebuah gereja yang sekarang diberi nama gereja Santa Maria Mater Dolorosa.

  Paroki Santa Maria Mater Dolorosa Soe merupakan bagian dari Keuskupan Agung Kupang, yang memiliki jumlah umat ± 10.000 jiwa. Jumlah umat yang semakin bertambah dan mengingat medan yang cukup jauh dari pusat paroki maka pada tahun 2000, Paroki Santa Maria Mater Dolorosa Soe dibagi menjadi 3 paroki yaitu Paroki Santa Maria Mater Dolorosa, Paroki Santa Theresia Panite dan Paroki Santo Vinsensius Benlutu [Lampiran 4: (4)]. Berdasarkan buku kenangan peringatan berdirinya Gereja Santa Maria Mater Dolorosa, (Rua, 2006: 3) paroki ini mempunyai : 8 stasi yang ada di pedalaman dan

  12 Wilayah dengan 37 Kelompok Umat Basis. Umat paroki Santa Maria Mater Dolorosa lebih mengenal istilah Kelompok umat basis daripada Lingkungan.

2. Letak Geografis Pusat Paroki Santa Maria Mater Dolorosa

  Paroki Santa Maria Mater Dolorosa, berada di pusat kota Soe, sehingga mudah ditempuh dengan alat transportasi. Bagian Utara Paroki Santa Maria Mater Dolorosa berbatasan dengan paroki Aloysius Niki-niki, yang jaraknya ± 16 kilo meter dari kota Soe, bagian Selatan berbatasan dengan Paroki Kapan, yang jaraknya ± 15 kilo meter dari kota Soe, bagian Barat berbatasan dengan Paroki Santa Theresia Panite ± 20 kilo meter dari kota Soe dan bagian Timur berbatasan dengan paroki Santo Vinsensius Benlutu yang jaraknya ± 10 kilo meter dari kota Soe. Paroki Santa Maria Mater Dolorosa berada di antara bukit-bukit kecil dan pada dataran yang tinggi [Lampiran 4: (4)].

  Kehidupan ekonomi umat Paroki Santa Maria Mater Dolorosa termasuk golongan menengah ke bawah. Sebagian besar umat mata pencahariannya adalah petani dan pegawai golongan kecil [Lampiran 4: (4)]. Latar belakang pendidikan umat Paroki Santa Maria Mater Dolorosa tidak terlalu tinggi, perbandingannya antara lain: Pegawai negeri 10 %, tamatan SMA 20 %, tamatan SMP 30 % dan SR atau SD 40 %. Hal ini disebabkan karena keterbatasan dana dari orang tua dan juga kurangnya kesadaran orang tua akan masa depan anaknya [Lampiran 4: (4)].

  3. Jumlah dan Perkembangan Umat Paroki Santa Maria Mater Dolorosa Berdasarkan hasil pendataan tahun 2006 jumlah umat yang ada di Paroki

  Santa Maria Mater Dolorosa adalah ± 5.866 jiwa, yang terdiri dari anak-anak, kaum muda dan orang tua. Setiap tahun jumlah umat terus bertambah sekitar 200-300 orang, baik orang pribumi maupun pendatang (pengungsi Timor-Timur). Umat Paroki Santa Maria Mater Dolorosa kebanyakan adalah pendatang bukan orang pribumi [Lampiran 4: (4)].

  4. Kegiatan-kegiatan di Paroki Santa Maria Mater Dolorosa Bentuk-bentuk kegiatan yang diselenggarakan di paroki Santa Maria Mater

  Dolorosa meliputi 5 bidang yaitu Liturgi dan Kitab Suci, Sosial Ekonomi, HAM dan Perempuan, Kepemudaan dan Anak-anak, Pembangunan. Dari ke lima bidang ini masing-masing ketua Lingkungan bertanggung jawab terhadap penyelenggaraan kegiatan tersebut. Kegiatan liturgis dilaksanakan sesuai dengan kalender liturgi seperti: bulan Kitab Suci, bulan Maria, masa Adven dan masa Prapaskah [Lampiran 4: (5)].

  Pada bulan Maria para Dewan mengundang seluruh umat untuk ziarah ke Gua Maria. Dan juga pada bulan Maria diadakan perarakan Patung Bunda Maria ke setiap Lingkungan. Hal ini sangat membantu umat untuk terus berdevosi kepada Bunda Maria dan meningkatkan iman umat. Pada masa Adven, Prapaskah dan bulan Kitab Suci setiap Lingkungan mengadakan pendalaman iman di masing-masing Lingkungan, dan pada hari terakhir dalam bulan Kitab Suci diadakan lomba Kitab Suci antar Wilayah yang diadakan di aula Paroki. Kegiatan-kegiatan ini sangat membantu umat dalam mengembangkan iman mereka dan umat cukup antusias dalam mengikuti kegiatan ini. Hal ini dapat dilihat dari semangat umat dan partisipasi mereka. Walaupun masih ada umat yang acuh dengan kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan [Lampiran 4: (5)].

B. Situasi Kaum Muda di Paroki Santa Maria Mater Dolorosa

  Dari segi status kaum muda yang ada di Paroki Santa Maria Mater Dolorosa sangat bervariasi, antara lain berusia SMP, SMA, Perguruan Tinggi sampai pekerja.

  Dalam hasil wawancara tertulis, kaum muda yang mengisi pedoman wawancara adalah kebanyakan yang sudah bekerja. Jumlah kaum muda yang ada di Paroki Santa Maria Mater Dolorosa dalam perkotaan sebanyak 418 orang yang tersebar di 37 Kelompok Umat Basis (KUB) [Lampiran 5: (6)].

1. Tempat atau Kedudukan Kaum Muda di Paroki Santa Maria Mater Dolorosa

  Kaum muda yang ada di Paroki Santa Maria Mater Dolorosa mendapat perhatian khusus dari Gereja, sama seperti kaum muda yang ada di Paroki lain.

  Bentuk perhatian dari Gereja yang nampak adalah adanya para pendamping yang mau memperhatikan kaum muda dan mau melibatkan kaum muda dalam berbagai kegiatan yang ada dalam Paroki Santa Maria Mater Dolorosa.

  Pastor paroki dan juga para dewan mendukung kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan, seperti menjadi panitia bulan Kitab Suci, pesta pelindung Gereja dan juga pada hari-hari besar Gereja. Kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan kaum muda di Paroki Santa Maria Mater Dolorosa, dapat dikatakan bahwa kaum muda diberi kepercayaan dan kebebasan untuk mengekspresikan diri atau mengaktifkan diri demi pengembangan iman mereka dan perkembangan Gereja.

  Kaum muda Paroki Santa Maria Mater Dolorosa mempunyai program tahunan. Program ini dibuat untuk pelaksanaan kegiatan kaum muda sendiri dan untuk mengarahkan kaum muda akan pelaksanaan suatu kegiatan sehingga kegiatan yang dilaksanakan terarah. Kaum muda yang ada di Paroki Santa Maria Mater Dolorosa adalah kebanyakan mahasiswa dan beberapa yang sudah kerja.

2. Kegiatan-kegiatan Kaum Muda di Pusat Paroki Santa Maria Mater Dolorosa

  Kaum muda yang memiliki tanggung jawab sebagai penerus Gereja, perlu mendapat perhatian melalui kegiatan-kegiatan rohani. Kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan oleh kaum muda selama dua tahun terakhir di Paroki Santa Maria Mater Dolorosa antara lain: a.

  Koor Kegiatan ini dilaksanakan di tiap-tiap kelompok umat basis untuk memenuhi tugas koor di gereja (hari Minggu biasa). Sedangkan pada hari raya besar (Natal,

  Paskah, hari ulang tahun Paroki) semua mudika berkumpul di Paroki untuk melaksanakan latihan koor bersama-sama. Kegiatan ini diikuti oleh semua kaum muda yang ada di setiap Lingkungan, peserta yang hadir selama dua tahun terakhir kurang lebih 70 orang. Tujuan dari kegiatan ini adalah melatih kaum muda untuk menyadari tanggung jawab mereka sebagai penerus dan tanggung jawab Gereja [Lampiran 6: (9)].

  b. Doa rosario Kegiatan doa rosario diadakan pada bulan Maria yaitu Mei dan Oktober. Dan

  Maria Bitauni yang tempatnya ± 45 kilo meter dari kota Soe. Peserta yang mengikuti kegiatan ini kurang lebih 100 orang. Tujuan dari kegiatan ini adalah memperkenalkan Bunda Maria sebagai Ibu Tuhan. Adapun kegiatan yang dilaksanakan antara lain Jalan Salib, doa rosario dan misa [Lampiran 6: (10)].

  c.

  Seminar Kegiatan ini diadakan setahun sekali. Tujuan diselenggarakan kegiatan ini untuk mengakrabkan semua kaum muda yang ada di kota Soe dan juga sebagai pembinaan mental kaum muda. Peserta yang hadir kurang lebih 80 orang, lebih banyak dari pada peserta yang mengikuti kegiatan katekese, karena kaum muda lebih senang mengikuti seminar. Materi yang diberikan biasanya sesuai dengan keadaan kaum muda. Kaum muda yang sedang dalam masa pertumbuhan perlu mendapat pembinaan mental demi masa depan mereka. Salah satu tema yang diberikan adalah kepemimpinan, tujuan dari tema ini adalah melatih kaum muda untuk bisa mengambil keputusan dan juga mampu berorganisasi. Pemandunya adalah para Biarawan/biarawati [Lampiran 6: (10)].

  d. Sharing alam terbuka Kegiatan ini mulai diselenggarakan tahun 2006 bulan Juni, dengan tujuan agar kaum muda peka pada alam dan melatih kaum muda untuk membagikan pengalamannya kepada siapa saja. Kegiatan ini diselenggarakan pada hari Minggu pagi atau Minggu sore. Kegiatan ini tidak diikuti oleh semua kaum muda karena mengingat tempat yang diselenggarakan cukup jauh dari Paroki sehingga yang hadir kurang lebih 20 orang dan dilaksanakan sebulan sekali. Materi yang diberikan dalam kegiatan ini berupa teks dari Kitab Suci yang disesuaikan dengan bacaan hari Minggu [Lampiran 6: (10)].

  e.

  Pekan mudika sedekenat Kegiatan ini biasanya diselenggarakan di Paroki Santa Maria Mater

  Dolorosa yang merupakan pusat Dekenat. Kegiatan ini diikuti oleh seluruh kaum muda dari 8 paroki yang jumlahnya kurang lebih 150 orang. Kegiatan ini dilaksanakan setahun sekali dan berlangsung seminggu. Para peserta membawa bekal sendiri dari masing-masing Paroki, sedangkan tempat penginapan disiapkan dari Paroki Santa Maria Mater Dolorosa. Bentuk kegiatan yang diadakan antara lain pertandingan bola voli, paduan suara dan berbagai kegiatan lain yang mempunyai tujuan mengakrabkan kaum muda [Lampiran 6: (10)].

  f.

  Rekoleksi Kegiatan ini dilaksanakan setiap tahun menjelang Natal dan Paskah. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk mempersipakan kaum muda dalam menyambut kelahiran dan kebangkitan Kristus. Kegiatan ini biasanya diikuti oleh seluruh pelajar sekota Soe, dan peserta yang hadir kurang lebih 80 orang. Bahan yang digunakan sesuai tema masa Adven atau masa Prapaskah yang sudah disiapkan oleh keuskupan, dan pendampingnya adalah para guru agama dari masing-masing sekolah dan pembicaranya adalah Frater atau Suster [Lampiran 6: (9)].

  g.

  Doa mingguan Kegiatan ini dilaksanakan pada satu kelompok umat basis dan mudika dan kerja sama dengan ketua kelompok umat basis (KUB). Peserta yang hadir kurang lebih 15 orang. Bentuk kegiatan doa mingguan berupa doa rosario yang dipimpin oleh ketua mudika dan juga kesediaan peserta. Tujuan kegiatan ini adalah agar kaum muda peka akan kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan di kelompok umat basis [Lampiran 6: (10)].

  h. Katekese Kegiatan ini dilaksanakan setahun dua kali yaitu pada bulan Kitab Suci dan pada masa APP. Kegiatan ini juga diselenggarakan di masing-masing kelompok umat basis. Pada minggu terakhir dalam masa itu semua kaum muda berkumpul di gereja untuk mengikuti katekese. Peserta yang hadir selama dua tahun kurang lebih 100 orang. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan dan iman mereka akan Yesus sebagai Sang Penyelamat. Bahan yang digunakan dari paroki dan keuskupan yang sudah disusun sesuai tema masa Adven atau APP. Proses penyelenggaraan katekese sesuai dengan buku panduan yaitu pengantar, doa dan lagu pembuka, sharing pengalaman, pembacaan Kitab Suci, tafsir Kitab Suci dari pemandu, kesimpulan, doa dan lagu penutup. Pemandu katekese dari para pendamping kaum muda paroki Santa Maria Mater Dolorosa Soe dan para Frater atau Suster yang ada di paroki Santa Maria Mater Dolorosa [Lampiran 6: (10)-(11)].

3. Pemahaman Kaum Muda akan Katekese

  Kaum muda Paroki Santa Maria Mater Dolorosa sudah memiliki pengetahuan yang cukup tentang katekese. Dalam perumusan pengertian katekese kebanyakan kaum muda yang mengatakan katekese adalah pola pembinaan iman yang terprogram demi terwujudnya perubahan sikap dan perilaku yang diharapkan sesuai dengan nilai-nilai Injil, ada juga yang mengatakan katekese adalah suatu tempat di mana orang/umat berkumpul untuk mendengarkan, berbicara dan menghayati pengalaman iman masing-masing dan berusaha membuat seimbang dengan ajaran yang benar. Ada juga yang mengatakan proses pendalaman iman, komunikasi iman, kegiatan interaktif/dialog umat dalam membagi pengalaman iman [Lampiran 6: (13)].

  Tujuan katekese menurut kaum muda adalah mengubah dan membina iman umat pribadi dan dapat mengaplikasikan dalam kehidupan nyata, untuk bersama- sama menghayati dan mensharingkan pengalaman iman. Ada juga yang mengatakan terwujudnya perubahan sikap dari yang tidak baik menjadi baik berdasarkan nilai- nilai injil, menumbuhkan dan mengembangkan iman seseorang [Lampiran 6: (13)- (14)].

  Sedangkan motivasi kaum muda mengikuti kegiatan katekese adalah untuk membagi pengalaman iman dan mendengarkan pesan Kitab Suci. Ada juga yang mengatakan meningkatkan pengetahuan, dapat pengalaman baru untuk perkembangan iman dan kemajuan diri untuk masa depan [Lampiran 6: (12)].

4. Proses Pelaksanaan Katekese

  Penyelenggaraan katekese di Paroki Santa Maria Mater Dolorosa sesuai dengan buku panduan yang telah disiapkan dari keuskupan. Langkah-langkahnya antara lain: doa dan lagu pembuka, menyimak gambar, sharing pengalaman dalam kelompok, pleno, pembacaan Kitab Suci, membangun niat, doa dan lagu penutup.

  Metode yang digunakan pendamping adalah ceramah, diskusi, dan sharing, dan menurut kaum muda metode ini sangat membantu mereka dalam meningkatkan penyelenggaraan katekese adalah buku panduan dari keuskupan, Madah Bakti dan Kitab Suci [Lampiran 6: (10)-(11)].

  Dalam hasil wawancara kebanyakan kaum muda mengatakan hal yang menghambat mereka dalam mengikuti kegiatan katekese adalah kurangnya kesadaran dari dalam diri sendiri, keaktifan kaum muda sangat kurang, dalam diri kaum muda muncul kemalasan, dan terbentur dengan kegiatan lain. Sedangkan hal yang mendukung antara lain: suasana yang terjalin akrab diantara kaum muda pada saat kegiatan berlangsung, adanya kesadaran untuk terlibat dan aktif selama proses katekese berlangsung, adanya panduan dari Paroki, menambah pengetahuan, perubahan tingkah laku dan mental dalam diri kaum muda [Lampiran 6: (12)-(13)].

5. Harapan Kaum Muda Terhadap Pelaksanaan Katekese yang Baik

  Dalam hasil wawancara banyak kaum muda yang mengharapkan agar pelaksanaan katekese dilaksanakan sesuai dengan kehidupan peserta, baik dari segi materi, sarana maupun pendamping katekese. Mereka mengharapkan agar pemandu katekese adalah biarawan/biarawati, katekis atau guru agama yang mengetahui bagaimana cara memimpin katekese. Sarana yang digunakan juga diharapkan membantu kaum muda dalam mengembangkan iman mereka [Lampiran 6: (14)- (15)].

  Dalam hasil wawancara penulis tidak menemukan sarana yang dipakai oleh pemandu dalam memimpin katekese selain Kitab Suci dan teks panduan yang diberikan dari Paroki. Selain itu pula banyak kaum muda yang belum bisa mendefenisikan pengertian katekese itu sendiri. Mereka mengatakan bahwa katekese adalah kegiatan yang dilaksanakan oleh umat di Lingkungan. Ada pula yang mengatakan bahwa katekese adalah pola pembinaan iman yang terprogram demi terwujudnya perubahan sikap dan perilaku yang diharapkan sesuai dengan nilai-nilai Injil [Lampiran 6: (13)].

  Dengan membaca hasil wawancara tertulis kaum muda penulis menyimpulkan bahwa keinginan kaum muda untuk mengikuti proses katekese sangat besar sehingga mereka mengharapkan agar pelaksanaan katekese jangan dilaksanakan hanya setahun sekali atau dua tahun sekali tetapi sering dilaksanakan.

  Kaum muda sangat antusias dalam mengikuti setiap kegiatan yang dilaksanakan. Hal ini sangat membantu mereka dalam meningkatkan iman mereka dan menyadarkan mereka akan tanggung jawab mereka sebagai penerus dan tulang punggung Gereja.

C. Rangkuman Permasalahan

  Setelah membaca hasil wawancara tertulis dengan ketua Dewan Paroki, pendamping kaum muda dan kaum muda di Paroki Santa Maria Mater Dolorosa, Soe, penulis dapat merangkum sehubungan dengan permasalahan-permasalahan dalam katekese, pelaksanaan katekese, peserta, pendamping, model dan sarana katekese.

1. Permasalahan-permasalahan dalam Katekese

  Penyelenggaraan kegiatan-kegiatan rohani di Paroki Santa Maria Mater Dolorosa belum semua umat menyadari untuk mengikuti kegiatan-kegiatan rohani yang diselenggarakan. Sedangkan masalah-masalah yang dihadapi oleh kaum muda sendiri dalam penyelenggaraan katekese sesuai hasil wawancara tertulis yang penulis peroleh belum ada, hanya masalah yang muncul dari dalam diri kaum muda sendiri yaitu kecenderungan kaum muda yang belum sadar akan pentingnya kegiatan-kegiatan rohani [Lampiran 5: (6)-(7)].

  2. Pelaksanaan Katekese Penyelenggaraan katekese dilaksanakan sesuai dengan buku panduan yang sudah disiapkan dari keuskupan. Dan juga penyelenggaraan katekese hanya dilaksanakan pada masa Adven dan masa Prapaskah, padahal katekese bisa diselenggarakan kapan saja. Hal ini disebabkan karena kaum muda kurang mau terlibat dalam kegiatan-kegiatan rohani dan belum menyadari akan pentingnya katekese.

  Langkah-langkah pelaksanaan katekese sesuai dengan buku panduan yang telah disiapkan dari keuskupan antara lain: Doa dan lagu pembuka, sharing pengalaman sesuai tema, pembacaan Kitab Suci, tafsir Kitab Suci, membangun niat, doa dan lagu penutup [Lampiran 6: (10)-(11)].

  3. Peserta Katekese Proses penyelenggaraan katekese di setiap KUB (Kelompok Umat Basis) tidak banyak peserta yang hadir kurang lebih 10-15 orang, karena kaum muda yang tersebar di beberapa kelompok umat basis tidak begitu banyak dan juga kebanyakan kaum muda yang melanjutkan studi di luar kota Soe, sehingga mereka mengikuti kegiatan-kegiatan rohani saat liburan saja, namun ketika katekese di selenggarakan di Paroki banyak kaum muda yang hadir karena gabungan kaum muda dari semua kelompok umat basis dan peserta yang hadir kurang lebih 50 orang [Lampiran 6: (10)-(11)].

  4. Pendamping Katekese Dalam hasil wawancara, penulis tidak menemukan seorang pendamping katekese yang diharapkan dalam teori katekese umat. Seorang pendamping katekese yang kreatif dalam memimpin katekese. Pendamping katekese yang ada di Paroki Santa Maria Mater Dolorosa tidak memiliki pendidikan khusus mengenai katekese, sehingga proses penyelenggaraan katekese monoton (terpaku pada teks) dan pendamping katekese menganggap dirinya adalah pemimpin [Lampiran 6: (10)- (11)].

  5. Model Katekese Dalam hasil wawancara, penulis tidak menemukan model katekese yang digunakan oleh pendamping katekese selain model katekese campuran. Penulis mengatakan model katekese campuran karena penulis melihat langkah-langkah dari proses pelaksanaan katekese yang diselenggarakan di Paroki Santa Maria Mater Dolorosa. Melihat model katekese yang digunakan dalam proses penyelenggaraan katekese di Paroki Santa Maria Mater Dolorosa kurang bervariasi.

  6. Sarana Katekese Dalam proses penyelenggaraan katekese di Paroki Santa Maria Mater

  Dolorosa pendamping hanya menggunakan sarana katekese: buku panduan, Kitab

  

Suci dan Madah Bakti . Pendamping belum menggunakan sarana katekese yang lain seperti cerita bergambar, TV, VCD, CD player, tape, dan kaset. Kaum muda yang sedang dalam proses pertumbuhan perlu menggunakan sarana-sarana yang dapat membantu dan mendukung mereka untuk terlibat aktif dalam proses penyelenggaraan katekese.

BAB III KAUM MUDA DALAM KATEKESE UMAT Kaum muda sepantasnya memainkan peranan yang nyata dalam berbagai

  bidang kehidupan manusia. Dengan daya kreatifitas, kaum muda diharapkan dapat melihat dan memprioritaskan sendiri sesuatu yang pantas diteruskan. Dengan demikian mereka tidak sekedar menjadi generasi pewaris atau penerus, melainkan menjadi generasi pembaharu, yang mengadakan pembaharuan terhadap hal-hal yang sudah tidak relevan dan tidak menjawab kebutuhan manusia. Maka kaum muda diharapkan mendapat perhatian khusus dan diberi kesempatan bagi mereka untuk terlibat aktif dalam kegiatan-kegiatan, baik di Gereja maupun di masyarakat (Shelton, 1987: 19).

  Salah satu bentuk kegiatan yang diadakan oleh Gereja adalah katekese. Di Indonesia arah katekese yang sangat membantu perkembangan iman kaum muda adalah katekese umat. Namun penyelenggaraan katekese umat bagi kaum muda belum mendapat perhatian khusus dari Gereja. Dalam kenyataannya, katekese umat dapat membantu kaum muda dalam merefleksikan setiap pengalaman, sehingga mereka semakin meningkatkan penghayatan iman mereka.

  Model katekese SCP (Shared Christian Praxis), sebagai salah satu model katekese umat, yang membantu kaum muda untuk mengkomunikasikan pengalaman iman antar kaum muda. Komunikasi akan berjalan lancar dan baik apabila pendamping membantu peserta sehingga mereka dengan bebas mensharingkan pengalaman iman mereka. Dengan demikian kaum muda semakin terlibat dalam setiap kegiatan yang diadakan oleh Gereja.

A. Situasi Umum Kaum Muda dalam Gereja

  Kaum Muda menduduki peranan yang penting sebagai generasi penerus dalam lingkup keluarga, Gereja dan masyarakat. Mereka adalah generasi penerus karena mereka bertanggung jawab atas kelangsungan hidup keluarga, Gereja dan institusi- institusi lain, dalam masyarakat misalnya, dunia pendidikan, ekonomi, dan politik. Mereka menjadi tunas harapan sekaligus bagi anggota lingkup-lingkup tersebut (Shelton, 1987: 19)

  Kaum muda yang sedang tumbuh dan berkembang berada dalam situasi hidup yang berbeda-beda, karena proses pertumbuhan dan perkembangan mereka tidak sama: ada sebagian orang muda sudah mencapai kedewasaan, dan sebagian lain sedang menuju ke kedewasaan. Keberadaan kaum muda semacam itu sekaligus memberi kesempatan bagi mereka untuk memperkembangkan diri dalam berbagai aspek kehidupan dengan kemampuan yang mereka miliki (Mangunhardjana, 1986: 12).

  Kaum muda merupakan masa perkembangan sikap kritis yang dipacu oleh tuntutan masyarakat yang semakin banyak maupun oleh pengalaman hidup yang dalam, sehingga kaum muda mengembangkan gagasan-gagasan, sikap dan nilai-nilai sendiri, dan bersiap-siap memasuki dunia kaum dewasa dalam masyarakat. Sikap kritis menyangkut masalah adanya Tuhan dan tempat Yesus dalam hidup mereka (Shelton, 1987: 106).

1. Pengertian Kaum Muda

  Pengertian ”kaum muda” dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia (Purwadarminta, 1982: 397.594) terdiri dari dua kata yaitu ”kaum” dan ”muda”. Kaum yang berarti golongan orang yang sekerja, sepaham, sepangkat dan sebagainya, sedangkan ”muda” berarti belum sampai setengah umur. Maka kaum muda adalah orang yang sekerja, sepaham, namun belum sampai setengah umur.

  Shelton (1987: 64) berpendapat bahwa ”kaum muda” adalah mereka yang berusia antara 15-24 tahun dan sedang mengalami tahap pertumbuhan fisik dan perkembangan mental, emosional, sosial, moral serta religius. Mangunhardjana (1986: 11-12) berpendapat bahwa ”kaum muda diperuntukkan untuk menunjuk kaum, golongan atau kelompok orang masih muda usianya, yang berumur 15 sampai 21 tahun”. Dalam ilmu psikologi ”kaum muda” disebut remaja yang mencakup muda-mudi usia SMU dan studi di perguruan tinggi. Elizabeth B. Hurlock (1996: 206) dalam buku Psikologi Perkembangan mengemukakan bahwa masyarakat pada umumnya menyebut seseorang sebagai ”pemuda-pemudi” atau ”kawula muda”, kalau sudah menginjak usia remaja akhir yaitu kurang lebih 16-18 tahun, sedangkan seseorang yang menginjak usia remaja awal (usia 13-16 dan 17 tahun) masih disebut anak usia belasan yang pada dasarnya dianggap belum memiliki perilaku matang.

  Philip Tangdilintin (1984: 5) dalam buku Pembinaan Generasi Muda: Visi

  

dan Latihan, mengutip tulisan Dr. J. Riberu dengan memakai istilah ”muda-mudi”,

  sebagai berikut: Dengan ”muda-mudi” dimaksudkan kelompok umur sexenium ketiga dan keempat dalam hidup manusia (± 12-24 tahun). Bagi yang bersekolah, usia ini sesuai dengan usia Sekolah Lanjutan dan Perguruan Tinggi. Ditinjau dari segi sosiologis, seringkali patokan usia diatas perlu dikoreksi dengan unsur status sosial seseorang dalam masyarakat tertentu (= kedewasaan psikososiologis). Status sosial yang dimaksudkan ialah hak dan tugas orang dewasa yang diberikan kepada seseorang yang sesuai dengan tata kebiasaan masyarakat tertentu. Status sosial ini seiring sejalan dengan status berdikari di bidang nafkah/ dan atau status berkeluarga. Unsur status sosial ini menyebabkan seseorang yang menurut usianya masih dalam sebaliknya orang yang sudah melampaui usia tersebut toh masih dianggap muda-mudi). Untuk membuat batasan tentang kaum muda memang sulit karena perlu memperhatikan berbagai segi: psikologis, sosiologis, biologis dan seterusnya.

  Karena perkembangan pribadi kaum muda berbeda-beda, ada yang sudah mencapai umur kedewasaan tapi sikap masih kekanak-kanakan. Kepribadian kaum muda dapat dilihat sebagai pribadi yang sedang berada pada taraf perkembangan.

  Dari beberapa pandangan mengenai pengertian kaum muda di atas, dan sesuai dengan situasi kaum muda di tempat penelitian penulis, kaum muda adalah manusia yang berumur kira-kira 15 sampai 27 tahun, umumnya sedang menempuh pendidikan setingkat SMTA atau Perguruan Tinggi, mereka ini sedang menghadapi masa pancaroba, menghadapi penentuan atau pencarian hidupnya dan mulai menemukan serta mengambil tanggung jawab pribadi untuk mengarahkan hidup mereka sendiri.

  2. Gambaran Situasi Kaum Muda Kristiani Dewasa ini Masa Muda adalah proses peralihan dari masa anak-anak menuju masa dewasa, masa ini juga merupakan masa yang paling menentukan perkembangan manusia di bidang emosional, moral, spiritual dan fisik. Masa muda juga merupakan masa perkembangan dan perubahan, masa goncangan dan penuh pemberontakan.

  Maka pada masa-masa ini banyak kaum muda kehilangan pegangan dalam usaha menemukan jati diri, sehingga menyebabkan mereka mudah terjerumus pada tindakan-tindakan yang kurang bijaksana dan merugikan diri sendiri.

  Shelton (1987: 66) berpendapat bahwa masa muda merupakan saat hidup yang amat penting di mana masalah identitas harus dihadapi. Identitas berhubungan dengan tahap perkembangan hidup seseorang dalam mendapatkan perasaan, harga diri, sifat khas mereka sendiri. Dalam usaha menemukan identitas diri, kaum muda mulai menentukan dan mengambil tanggung jawab pribadi untuk mengarahkan diri.

  Peran kaum muda dalam hidup bersama, digambarkan oleh Konsili Vatikan

  II dalam AA art. 12. Artikel tersebut menegaskan bahwa kaum muda merupakan kekuatan penting dalam masyarakat sekarang. Pernyataan ini menekankan bahwa peran kaum muda sangat dibutuhkan dalam masyarakat karena mereka merupakan tulang punggung bangsa dan Gereja. Mereka menentukan perkembangan bangsa dan Gereja dikemudian hari. Dengan semakin bertambahnya peran mereka dalam masyarakat, mereka juga dituntut untuk mampu menjadi rasul-rasul pertama dan juga bagi kaum muda di kalangan mereka sendiri. Maka dengan keterlibatan mereka, baik dalam lingkup Gereja maupun masyarakat luas, mereka mampu untuk menampakkan iman akan Kristus dalam sikap dan tindakan. Dengan demikian kehadiran mereka sungguh berarti bagi orang lain khususnya dalam memperbaharui hidup sesama.

  Gereja memandang bahwa muda-mudi merupakan potensi yang luar biasa bagi perkembangan Gereja. Dalam rangka perkembangan itulah Gereja memandang sebagian dirinya ada dalam kaum muda. Kaum muda tidak boleh begitu saja dipandang sebagai obyek perhatian pastoral bagi Gereja. Sebenarnya kaum muda memang dan seharusnya didorong supaya aktif, atas nama Gereja, sebagai tokoh- tokoh terkemuka di dalam evangelisasi dan peserta di dalam pembaharuan masyarakat. Dengan demikian masa muda merupakan masa penemuan diri dan pilihan hidup yang intensif dan istimewa, dan masa pertumbuhan yang seharusnya berkembang maju dalam kebijaksanaan, usia serta rahmat di hadirat Allah dan manusia (CL, art. 46).

3. Permasalahan-permasalahan Kaum Muda

  Kaum Muda dikenal sebagai orang-orang muda yang berenergik, bersemangat dan penuh kreatifitas yang tinggi. Sebagai orang muda yang mempunyai semangat yang tinggi dalam mengekspresikan diri, kaum muda dalam hidupnya tidak jarang mengalami hal yang menyenangkan saja, melainkan merekapun terbentur dengan permasalahan-permasalahan hidup (Komisi Kepemudaan KAJ, 1992: 70), seperti masalah dalam diri kaum muda, keluarga, Gereja dan masyarakat.

  a.

  Masalah dalam diri kaum muda Mangunhardjana (1986: 11-19) berpendapat bahwa kaum muda berada dalam masa pertumbuhan dan perkembangan fisik, mental, emosional, sosial, moral, dan religius dengan segala permasalahannya.

  Permasalahan fisik merupakan gejala yang paling nampak pada kaum muda. Berkaitan dengan perkembangan fisik itu, kebanyakan kaum muda mempersoalkan cepat lambatnya pertumbuhan fisik mereka. Kaum muda mempersoalkan baik buruknya hasil pertumbuhan fisik dan gelisah akan pertumbuhan yang tidak mendatangkan hasil yang diharapkan. Bersamaan dengan pertumbuhan fisik kaum muda juga mulai menghadapi masalah-masalah yang berhubungan dengan seks dan pergaulan dengan lawan jenis. Pada masa muda ini, kaum muda secara fisik sudah cukup besar, tetapi belum siap benar untuk memasuki pergaulan dengan jenis lain, problem yang bersangkutan. Secara fisik/biologis mereka sudah cukup masak untuk pengalaman seksual, tetapi mereka belum cukup mampu bertanggung jawab atas hidup perkawinan (Mangunhardjana, 1986: 12).

  Permasalahan mental nampak pada gejala-gejala perubahan dalam perkembangan intelektual, dalam cara berpikir. Dengan meninggalkan masa kanak- kanak kaum muda juga meninggalkan cara berpikir sebagai kanak-kanak dan mulai berpikir sebagai orang dewasa dengan menggunakan konsep-konsep yang lebih abstrak dan kritis. Dengan kecakapan berpikir abstrak dan kritis, kaum muda menggali pengertian tentang dirinya, membentuk gambaran diri mereka, memahami peranan yang diharapkan dari mereka, dan mengerti panggilan hidup dan masa depan mereka. Hal tersebut merupakan masalah yang cukup berat bagi kaum muda sehingga kerapkali masih nampak resah, suka menyendiri, dan melamun (Mangunhardjana,1986: 13).

  Permasalahan emosional kaum muda berhubungan dengan perkembangan fisik, karena dengan perkembangan fisik terjadilah perubahan pada keseimbangan hormon-hormon dalam tubuh mereka. Perkembangan emosional nampak pada semangat mereka yang meletup-meletup, perpindahan gejolak hati yang cepat, muncul sikap-sikap masa bodoh, keras kepala dan tingkah laku yang tidak jarang hingar bingar. Masalah yang dihadapi kaum muda di sekitar perkembangan emosional adalah bagaimana menilai baik buruknya emosi dan bagaimana menguasai serta mengarahkannya (Mangunhardjana, 1986: 13-14).

  Permasalahan sosial kaum muda membawa ke dalam tingkat hidup yang lain dari sebelumnya. Dengan bertambahnya usia kaum muda mengalami perubahan sikap sosial. Pada masa kanak-kanak hidup ini begitu sederhana karena tidak memikirkan banyak hal dan mereka telah dibentuk untuk mengerti hal yang benar dan salah. Namun pada usia dewasa mereka berusaha untuk mencari tahu dasar dari tindakan baik dan buruk. Semua hal tersebut mengharapkan kaum muda pada masalah pencarian patokan moral sehingga dapat mereka gunakan sebagai alat untuk menentukan pegangan pedoman hidup dalam masyarakat (Mangunhardjana, 1986: 14).

  Permasalahan moral membawa kaum muda ke dalam tingkat hidup yang lain daripada masa sebelumnya. Pada masa kanak-kanak, hidup mereka terasa sederhana. Dengan bertambah umur dan masuk dalam kelompok kaum muda, para muda-mudi mengalami perubahan fisik. Masalah-masalah moral tidak hanya terbatas pada diri mereka, tetapi meluas sampai pada masalah moral dalam hidup masyarakat, misalnya kebebasan agama, hak-hak asasi manusia (peranan yang diharapkan dari mereka). Oleh karena menghadapi berbagai kenyataan hidup dan harus mengambil keputusan-keputusan moral, kaum muda mengalami berbagai ketegangan batin (Mangunhardjana, 1986: 14-15).

  Permasalahan religius menyangkut hubungan dengan Yang Mutlak. Pada masa ini dengan berbagai cara kaum muda ingin mengetahui segi-segi yang paling dalam tentang Yang Mutlak, hubungan-Nya dengan manusia dan dunia, serta peranan-Nya dalam hidup sekarang dan yang akan datang. Maka, pada masa perkembangan religius, kaum muda menghadapi masalah-masalah yang cukup berat, mengenai apa arti Yang Mutlak, arti hidup, arti agama, arti agama dan hidup, arti agama dan ibadah, agama dan kejahatan, dan arti hidup setelah kematian (Mangunhardjana, 1986: 15-16). b.

  Masalah dalam Keluarga Dalam keluarga banyak dijumpai kaum muda yang merasa tidak didengarkan serta tidak dipercaya. Hal tersebut terjadi karena kurang adanya komunikasi antara anak dan orang tua karena banyak orang tua sibuk dengan kegiatannya sepanjang hari, sehingga kadang sulit untuk menyempatkan diri berkomunikasi dengan anaknya. Sebaliknya para kaum muda sibuk dengan kegiatan-kegiatan baik di sekolah maupun kampus, sehingga tidak mempunyai kesempatan untuk berbagi pengalaman dengan keluarga.

  Kesalahpahaman antara kaum muda dan orang tua lebih banyak disebabkan karena kurang komunikasi. Dalam hal ini orang tua seyogyanya menjadi pemimpin yang baik yaitu yang selalu berada di muka, di tengah-tengah dan selalu mengawasi dari belakang serta memberikan teladan yang baik bagi anak-anaknya (Tangdilintin, 1984: 26-28).

  c.

  Masalah dalam Gereja Sebagai mahkluk sosial yang tidak dapat hidup tanpa kehadiran orang lain kaum muda juga hidup di antara anggota Gereja lainnya dan berjuang secara bersama mewujudkan kerajaan Allah. Namun dalam kenyataan yang ada banyak kaum muda yang kurang aktif dan pasif dalam hidup menggereja, karena banyak kaum muda yang merasa bahwa kebutuhannya kurang terpenuhi sehingga mereka lebih memilih ”diam”. Di samping itu banyak orang tua yang kurang memberikan tempat bagi kaum muda untuk mencoba suatu hal yang baru. Dengan kata lain, kaum muda kurang diberi kepercayaan dan kesempatan untuk mengekspresikan dirinya sebagai orang muda (Da Gomez, 2005: 13- 14).

  Sejak kecil kaum muda meneladani atau diperintah orang tua dan tokoh- tokoh yang mempunyai pengaruh atas diri mereka. Sehingga setelah menjadi dewasa, kaum muda merasa mengikuti ajaran-ajaran Gereja sifatnya terpaksa karena bukan kemauan atau dorongannya sendiri melainkan takut dimarahi oleh orang tua atau tokoh-tokoh agama (Da Gomez, 2005: 13- 14).

  Gereja, yang telah menyediakan wadah bagi kaum muda, mengharapkan agar kaum muda mau terlibat dalam kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan oleh Gereja.

  Namun kebanyakan kaum muda tidak mau terlibat karena mereka belum menyadari akan pentingnya kegiatan-kegiatan rohani.

  Kaum muda tidak mau terlibat atau jarang ikut dalam kegiatan-kegiatan rohani karena mereka menghadapi berbagai masalah dalam keluarga, masalah sosial dan masalah dalam diri kaum muda sendiri. Melihat berbagai masalah yang dihadapi oleh kaum muda, Gereja berusaha memberikan pendampingan kepada mereka, baik secara pribadi, kelompok maupun bersama.

  d.

  Masalah dalam Masyarakat Kaum muda adalah mahkluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri tanpa bantuan dan dukungan dari orang lain. Sebagai mahkluk sosial, kaum muda tidak terlepas dari masyarakat sekitarnya. Keterlibatan dan peran mereka dalam masyarakat sungguh diharapkan. Namun kadang keterlibatannya dalam masyarakat mendatangkan peluang sekaligus hambatan bagi perkembangan pribadinya. Salah satu hambatan yang telah mengakar dalam kehidupan masyarakat adalah budaya instant. Budaya ini mematikan daya semangat dan usaha untuk berjuang dalam hidup, karena kebanyakan orang lebih memilih yang cepat tanpa harus berusaha dalam waktu yang panjang. Budaya instant ini menjadi gangguan dalam pribadi kaum muda, karena akan mematikan semangat dan daya kreatifitas mereka sebagai orang muda (Tangdilintin, 1984: 29-31).

  Di samping budaya instant masih banyak gangguan yang ada di masyarakat, misalnya: masalah-masalah di sekitar pergaulan mereka dengan teman-teman, cara masuk dalam kelompok, bergaul dalam kelompok, sikap serta cara menghadapi pengaruh-pengaruh kelompok dan peranan mereka dalam kelompok, penerimaan diri oleh kelompok, penghargaan kelompok dan macam-macam keterlibatan yang diberikan kepada mereka oleh kelompok. Selain itu, kemajuan teknologi yang semakin canggih mempengaruhi kaum muda untuk lebih menggunakan alat-alat teknologi daripada mengikuti atau menghadiri kegiatan-kegiatan yang ada.

  Masalah-masalah yang ada di masyarakat dapat mempengaruhi perkembangan pribadi kaum muda sebagai penerus bangsa dan Gereja seperti individualistis, persaingan yang tidak sehat, dan lain sebagainya (Tangdilintin, 1984: 29-31).

4. Situasi Kaum Muda dalam Hidup Menggereja

  Banyak kaum muda Katolik tidak begitu tertarik atau tersentuh dengan kegiatan-kegiatan keagamaan atau kerohanian. Beberapa kaum muda berpendapat bahwa pergi gereja hari minggu hanya untuk memperlihatkan baju, atau tempat bertemu untuk ngobrol dengan teman, atau bisa mendapat teman yang banyak. Ada pula yang mengatakan bahwa ke gereja hanya demi memenuhi peraturan-peraturan yang ada dalam kesepuluh perintah Allah atau kelima perintah Gereja. Ada pula yang mengatakan bahwa pergi ke gereja hanya sebagai formalitas atau rutinitas setiap hari Minggu karena sudah terbiasa sejak kecil. Dan masih banyak alasan lain yang dikemukakan sehubungan dengan alasan mereka ke gereja (Khoo, 2001: 16- 18).

  Terhadap kenyataan yang ada, dapat disimpulkan bahwa kaum muda ke gereja bukan karena kesadaran yang muncul dari dalam diri mereka sendiri, tetapi sebagai rutinitas atau formalitas yang harus dijalankan. Dengan demikian kaum muda dalam mengikuti Perayaan Ekaristi belum sampai pada perjumpaan dengan Allah yang Maha Kasih, sehingga kadang mereka mengalami kekosongan atau kekeringan batin. Banyak kaum muda yang kurang diberi kepercayaan dan kesempatan dalam mengembangkan kreatifitasnya. Padahal dalam diri kaum muda terdapat potensi-potensi: bakat dan kemampuan untuk dikembangkan. Namun mereka terbentur dengan berbagai hambatan baik yang datang dari luar maupun dari dalam diri sendiri.

  Hasil penelitian dalam Persepsi Kaum Muda Katolik terhadap Kehidupan

  

Menggereja dan Kehidupan Bermasyarakat yang diadakan oleh mahasiswa katolik

  dan Komisi Kepemudaan KAJ (1992: 72), mengatakan bahwa kecenderungan kaum muda kurang terlibat dalam kegiatan keagamaan atau kerohanian karena kurang minat dalam membaca dan mendalami Sabda Tuhan atau Kitab Suci, jenuh terhadap acara keagamaan, dan ke gereja dipandang sebagai rutinitas atau kewajiban. Maka terhadap kaum muda yang kurang terlibat dalam kegiatan gereja, pihak Gereja perlu berusaha untuk mengatasi masalah tersebut. Jika kaum muda tidak mendapat perhatian khusus dari pihak Gereja, maka ajaran Gereja akan kurang berperan sebagai pedoman yang mengatur hidup mereka. Dengan demikian, nilai-nilai Kristiani kurang dihayati dan dihidupi dalam hidup sehari-hari melalui sikap dan tindakan mereka dalam berelasi dengan sesama, baik yang beragama Katolik maupun non Katolik sehingga mereka kurang menjadi saksi-saksi iman Kristiani bagi lingkungan dan masyarakat sekitar.

  Tom Jacobs (1979: 4) dalam buku Dinamika Gereja mengemukakan bahwa hidup menggereja adalah hidup yang menampakkan iman akan Kristus baik di lingkup Gereja maupun masyarakat luas. Maka seharusnya kaum muda sebagai anggota Gereja, yang telah diterima secara resmi melalui penerimaan Sakramen Babtis dan telah dikuatkan melalui Sakramen Krisma, harus dapat mengungkapkan iman akan Kristus melalui sikap dan perbuatannya dalam hidup sehari-hari. Melalui keterlibatannya, baik di lingkup gerejani dalam berbagai kegiatan Gereja maupun masyarakat sekitarnya, mereka mewujudkan hidup berdasarkan nilai-nilai Kristiani seperti yang diteladankan oleh Kristus.

  Kaum muda adalah penerus atau tulang punggung Gereja yang menentukan kehidupan Gereja di masa mendatang. Sebagai generasi penerus atau tulang punggung Gereja, mereka berhadapan dengan berbagai tantangan yang mempengaruhi kehidupan keagamaan mereka dan terikat dengan hal-hal duniawi yang menawarkan berbagai kesenangan yang bersifat sementara, sehingga mereka masih sulit untuk menarik diri dari hal-hal duniawi, dan lebih memilih kesenangan dari pada mengikuti kegiatan-kegiatan menggereja.

  Perkembangan zaman memperlihatkan karakter anak-anak muda sekarang yang berbeda dari dulu. Internet dan televisi satelit telah memproduksi fenomena yang tampaknya berlawanan dengan kaum muda bahwa tidak memiliki waktu untuk menghadiri pertemuan-pertemuan kelompok kaum muda. Kaum muda dapat menghabiskan berjam-jam per hari di depan monitor games jaringan terbaru (Khoo, 2004: 19).

5. Bentuk-bentuk Pendampingan Iman Kaum Muda

  Usaha untuk membantu kaum muda dalam penyiapan diri mereka menuju ke masa depan, disebut dengan berbagai istilah: pendidikan, pembinaan, pembentukan, pengembangan dan pendampingan. Dari semua istilah ini, penulis lebih mengutamakan kata pendampingan karena kata pendampingan menunjuk pada suatu usaha membantu kaum muda menyongsong masa depan. Selain membantu kaum muda menyongsong masa depan mereka, pendampingan dilaksanakan sebagai suatu pelayanan bagi kaum muda dalam persiapan mereka untuk dapat hidup dan berperan secara memadai di tengah masyarakat (Mangunhardjana, 1986: 21-26)

  Mangunhardjana (1986: 47-52) dalam buku Pendampingan Kaum Muda mengemukakan bahwa bentuk pendampingan merupakan wujud atau sosok, dari usaha pendampingan. Berkat bentuk pendampingan jalan menuju ke titik tujuan pendampingan diciptakan dan usaha pendampingan menjadi kongkret. Ada dua jenis bentuk pendampingan yaitu pendampingan pribadi dan kelompok. Pendampingan iman melalui katekese merupakan bentuk pendampingan kelompok. Pendampingan kelompok kecil terdiri dari 10 sampai 20 orang, kelompok cukupan terdiri dari 20 sampai 40 orang, sedangkan kelompok besar meliputi 40 sampai 100 orang, dan pendampingan kelompok massa jumlahnya tidak terbatas (Mangunhardjana, 1986: 49).

  Pendampingan kaum muda dibagi menjadi dua bagian yaitu pendampingan yang bersifat jasmaniah dan rohaniah. Bentuk kegiatan pendampingan yang bersifat jasmaniah: Olahraga, penalaran, ketrampilan, kemasyarakatan, kesenian dan kaderisasi. Sedangkan bentuk pendampingan yang bersifat rohaniah: Retret, rekoleksi, Ziarah, EKM, dan katekese.

  a.

  Bentuk pendampingan kaum muda pada umumnya Bentuk pendampingan untuk mendampingi kaum muda dalam kelompok, dapat digolongkan dalam bidang olahraga, penalaran, keterampilan, kemasyarakatan, kesenian, dan kaderisasi.

  1) Olahraga

  Iman yang matang perlu dikembangkan dalam segi kehendak dan perilaku seseorang. Maka, bentuk kegiatan pendampingan dalam bidang olahraga ini bertujuan untuk mengembangkan segi kehendak dan perilaku kaum muda. Selain itu, kegiatan ini dapat melatih sikap sportif, menumbuhkan semangat bersaing yang sehat, mengembangkan bakat dan ketrampilan, serta dapat menjalin persaudaraan di antara kaum muda. Bentuk-bentuk kegiatan bidang ini antara lain: olahraga rutin kelompok kaum muda dan pertandingan persahabatan di paroki (Setyakarjana, 1997: 18).

  2) Penalaran Kematangan iman perlu dikembangkan melalui segi kognitif seseorang.

  Kegiatan pendampingan dalam bidang penalaran ini bertujuan agar kaum muda mendalami kepercayaannya kepada Tuhan lewat segi kognitif dan memiliki berbagai wawasan yang berguna bagi hidup mereka. Bentuk-bentuk pendampingan iman dalam bidang ini antara lain: ceramah, diskusi, seminar dan nonton video bersama (Heryatno Wono Wulung, 1999: 29).

  3) Ketrampilan

  Pendampingan dalam bidang ketrampilan bertujuan untuk mengembangkan kecakapan, ketrampilan dan mempersiapkan masa depan kaum muda. Bentuk- bentuk kegiatan dalam bidang ini antara lain pelatihan keterampilan kerja, kursus wirausaha, pelatihan keterampilan bergaul dalam kelompok, live-in, kegiatan pasar murah dan usaha melibatkan kaum muda dalam pos kesehatan Paroki (Tangdilintin, 1984: 55).

  4) Kemasyarakatan

  Kegiatan dalam bidang kemasyarakatan bertujuan supaya kaum muda memiliki kesadaran politis, mengetahui hak-hak dan kewajibannya sebagai warga masyarakat, dan dapat terlibat aktif membangun masyarakat di sekitar lingkungan tempat tinggalnya. Dengan kegiatan ini, kaum muda diharapkan dapat menjalin relasi dengan kaum muda yang berbeda golongan, agama, suku, dan dengan masyarakat di sekitar tempat tinggalnya. Bentuk-bentuk kegiatan dalam bidang ini antara lain: dialog antar agama, kerja bakti, kunjungan ke panti asuhan, kunjungan ke penjara dan karya sosial kesehatan (Tangdilintin, 1984: 52).

  5) Kesenian

  Pendampingan iman dalam bidang kesenian bertujuan membantu kaum muda untuk menyalurkan bakat, membuktikan kemampuan, dan memberikan kesempatan untuk memperlihatkan kemampuan diri dalam bidang kesenian sehingga mereka mendapatkan pengakuan. Pengakuan diri sungguh dibutuhkan kaum muda dalam masa-masa perkembangannya. Kegiatan pendampingan iman dalam bidang kesenian ini antara lain: paduan suara, koor, lomba baca puisi dan pentas perayaan ulang tahun paroki (Tangdilintin, 1984: 71).

  6) Kaderisasi

  Untuk melestarikan kelompok kaum muda dalam Gereja perlu diperhatikan juga pendampingan iman dalam bidang kaderisasi. Bentuk pendampingan dalam kaderisasi tersebut antara lain: latihan dasar kepemimpinan, pembenahan organisasi kaum muda, dan pertemuan rutin kaum muda (Sabato, 1996: 86).

  b.

  Bentuk pendampingan iman kaum muda Bentuk pendampingan iman adalah berbagai kegiatan yang dapat digunakan dalam upaya pendampingan dalam kelompok. Bentuk-bentuk kegiatan tersebut antara lain: retret, rekoleksi, ziarah, EKM dan katekese.

  Bidang kerohanian bertujuan agar kaum muda dapat melaksanakan kegiatan yang menyangkut liturgi dan devosi. Bentuk kegiatan pendampingan iman dalam bidang kerohanian ini dapat dimaksud untuk kegiatan pendampingan iman mereka yaitu: jalan Salib, ziarah dan doa rosario bersama pada bulan Maria, retret, rekoleksi, latihan koor, dan katekese (Tangdilintin, 1984: 88-94). 1)

  Retret Kata retret berasal dari bahasa Perancis la retraite yang berarti pengunduran diri, menyendiri dari kehidupan sehari-hari, atau meninggalkan dunia ramai pemeriksaan batin, renungan, samadi dan kontemplasi (Mangunhardjana, 1986: 33- 34). Materi retret umumnya meninjau karya-karya Allah dan tanggapan peserta terhadap karya-karya Allah tersebut atas dasar pesan-pesan dari kitab suci. Peserta pada umumnya bersifat homogen dan harus mendaftarkan diri ke panitia retret. Waktu retret kurang lebih tiga hari, bahkan ada yang sampai satu atau dua bulan. Dalam kegiatan retret biasanya peserta mengadakan pemeriksaan batin, refleksi terhadap karya-karya Allah dalam dirinya lalu mengadakan pendalaman dan penghayatan serta pada akhirnya mengungkapkan dalam bentuk niat untuk mengubah dan memperbaiki diri. Suasana yang dibutuhkan dalam retret biasanya suasana tenang. Pendamping retret biasanya seorang katekis, pastor, suster, bruder atau awam yang mampu mendampingi peserta retret (Mangunhardjana, 1986: 11- 13).

  2) Rekoleksi

  Bentuk pendampingan iman yang hampir sama modelnya dengan retret yaitu rekoleksi. Bedanya, bentuk pendampingan iman melalui rekoleksi ini dapat digunakan untuk mendampingi kelompok massa, karena waktu pelaksanaannya lebih singkat dibanding retret. Dalam rekoleksi peserta diajak untuk mengoreksi batin mereka, kemudian diarahkan ke arah yang lebih baik sesuai dengan kehendak Allah (Mangunhardjana, 1986: 18). Materi rekoleksi biasanya terdiri dari pengolahan pengalaman hidup pribadi, bersama, dan sikap terhadap tugas atau pekerjaan. Waktu berkisar antara dua jam sampai satu hari. Peserta umumnya homogen dan sudah mendaftarkan diri sebelumnya. Tempat bebas sesuai dengan keinginan peserta atau ditentukan oleh pendamping. Pendamping rekoleksi dapat dilaksanakan oleh Pastor, Suster, Bruder atau seorang awam yang mampu membimbing (Mangunhardjana, 1986: 29-31).

  3) Ziarah

  Ziarah adalah kegiatan kunjungan ke tempat tertentu yang dianggap suci atau keramat oleh umat katolik yakni Gua Maria. Dalam kegiatan ziarah biasanya diiringi dengan jalan salib atau rosario apabila dilaksanakan dalam bulan Maria. Supaya pelaksanaan kegiatan ziarah berjalan lancar, biasanya kaum muda dapat dilibatkan misalnya: memimpin Jalan Salib atau rosario, memimpin renungan, menjadi pembaca Kitab Suci, menjadi dirigen atau jenis kegiatan lainnya (Tangdilintin, 1984: 88-89).

  4) EKM

  Ekaristi Kaum Muda tidak berbeda jauh dengan perayaan Ekaristi pada umumnya. Ciri khusus Ekaristi Kaum Muda adalah dilibatkannya kaum muda dalam perayaan tersebut. Keterlibatan kaum muda dalam perayaan Ekaristi tidak hanya sebagai umat yang merayakan Ekaristi, namun juga terlibat sebagai petugas dalam persiapan tata liturgi Ekaristi (Komisi Liturgi MAWI, 1984: 66). Ekaristi kaum muda dapat membantu kaum muda dalam menghayati Ekaristi dengan gaya kemudaannya (Tangdilintin, 1984: 89). 5)

  Katekese Katekese dimengerti sebagai pengajaran, pendalaman, dan pendidikan iman seorang Kristen semakin dewasa dalam iman (Telaumbanua, 1999: 4). Katekese bertujuan mengartikan pengalaman hidup sehari-hari dalam terang sabda Allah. Menurut Alberich, yang dikutip oleh Telaumbanua (1999: 27) mengungkapkan bahwa tiga aspek dasar peranan katekese adalah memberitakan sabda Allah dan mewartakan Kristus, mendidik orang untuk beriman dan mengembangkan Gereja. Peserta katekese biasanya homogen atau heterogen dan tidak perlu mendaftarkan diri seperti pada retret atau rekoleksi. Katekese dapat diikuti oleh seluruh jemaat, dari anak-anak kecil, kaum remaja, kaum muda, kaum dewasa, penyandang cacat dan katekumen (CT, art. 35-45). Tempat untuk berkatekese bisa di rumah jemaat, di Gereja, di Sekolah, atau di tempat lain yang memungkinkan untuk melaksanakan kegiatan katekese. Pendamping katekese berperan sebagai informator yang berperan untuk membawa peserta berhubungan langsung dengan bahan pengetahuan bersama, dan sebagai animator yang berperan untuk memperhatikan keterlibatan peserta dalam kegiatan kelompok (Sumarno Ds, 2005: 44).

  B. Gambaran Umum Katekese Umat

  Katekese di Indonesia merupakan salah satu tempat bagi semua orang beriman yang berkumpul untuk membagikan pengalaman mereka yang telah dialami. Katekese yang terus berkembang membantu setiap pribadi peserta katekese dalam mengembangkan imannya. Katekese kerugmatik yang ditandai dengan suatu refleksi atas isi pewartaan, yang terus berkembang dalam Gereja dalam tiga aliran antara lain: Katekese model katekumenat, katekese anthropologis dan katekese historico-profetis (atau pembebasan). Ketiga model katekese ini mempunyi kekhasan masing-masing, dalam mempengaruhi arah katekese umat yang terjadi di Indonesia.

1. Latar Belakang Katekese Umat

  Pada awalnya katekese hanya digunakan untuk membangkitkan iman demi persiapan permandian, karena iman yang dimulai dengan permandian tidak sekali diperoleh untuk mencapai kematangan, iman senantiasa diterangi, dirangsang, dan diperbaharui melalui katekese. Katekese dapat membantu setiap pribadi yang ingin membagikan pengalaman imannya yang telah dialami, sehingga dapat mengantar setiap pribadi pada pengalaman hidup yang baru. Penjabaran mengenai sejarah katekese umat di Indonesia akan dibahas selanjutnya.

  a.

  Latar belakang umum katekese umat Menurut Sumarno Ds, (2005: 6) dalam Program Pengalaman Lapangan

  

PAK Paroki mengungkapkan bahwa pada akhir abad 20 Gereja terdapat suatu

  gerakan kateketik yang meluas dan mengarah pada perubahan dari penekanan atas katekismus ke katekese. Ada dua arah besar dalam gerakan katekese, khususnya di Eropa pada saat itu yakni gerakan katekese yang bersifat pedagogis/psikologis dan gerakan katekese yang lebih teologis/pastoral. Gerakan yang lebih pedagogis menekankan metode pengajaran agama, sedangkan gerakan yang lebih teologis/pastoral ditandai dengan suatu refleksi atas isi pewartaan yang hendak disampaikan. Gerakan ini sering disebut dengan katekese kerugmatik.

  Gerakan katekese kerugmatik dirintis sejak konggres kateketik international di Roma (1950), pekan kateketik di Anwerpen (1956), Belgia; di Nymegen (1959), Belanda; di Eichstatt (1960), Jerman; di Bangkok (1962), Thailand; di Katigondo (1964), Uganda; di Manila (1967), Pilipina dan di Medellin (1968), Colombia. Dan Konsili Vatikan II mengakhiri masa ”Katekismus” dan memulai suatu orientasi yang lebih global yang diberikan pada masa ”katekese” (Sumarno Ds, 2005: 6).

  Gerakan katekese kerugmatik dalam Gereja berkembang dalam tahun 1960 dalam tiga aliran yang berbeda-beda: Katekese model katekumenat, katekese anthropologis, katekese historico-profetis (atau pembebasan). 1)

  Katekese model katekumenat Katekese ini merupakan suatu langkah pendampingan dalam proses beriman bagi orang kristiani. Pendampingan peserta dari proses pertobatan, pematangan iman sampai pada integrasi iman dalam hidup komunitas Gereja. Katekese ini diperuntukkan bagi orang dewasa. Proses pematangan iman untuk orang dewasa yang baru saja dipermandikan dengan cara yang juga dewasa lebih berpikir dan berdialog dan tidak hanya diindoktrinasi dari atas (Sumarno Ds, 2005: 8).

  Katekese ini juga bercorak pribadi. Inisiasi kristiani dipikirkan dengan cara lebih bersifat pribadi: situasi, umur, kebutuhan dll. Metodologi katekesenya menekankan kontak atau komunikasi pribadi antara peserta dengan Tuhan dan dengan dirinya sendiri. Katekese mengarah pada katekese terus menerus (pendalaman iman) dalam komunitas. Selain corak pribadi, katekese ini juga mengarah pada kepentingan komunitas: berperhatian pada komunitas, memperdalam iman dan merayakannya serta memberi kesaksian imannya dalam masyarakat (Sumarno Ds, 2005: 8).

  2) Katekese anthropologis

  Model katekese ini induktif bertolak dari hidup konkrit peserta. Pengalaman- sendiri. Setelah mengungkapkan pengalaman, dikonfrontasikan dengan warta gembira (Kitab Suci). Katekese merefleksikan dalam terang warta gembira atas pengalaman peserta atau dengan kata lain pengalaman peserta diterangi oleh warta gembira dalam arah untuk hidup sehari-hari (Sumarno Ds, 2005: 8).

  Setelah konfrontasi, katekese mulai tahap pengajaran lebih sistematik tentang iman, Tradisi, dan praktek hidup kristiani dan dihubungkan dengan pengalaman konkrit. Sehingga pada akhirnya peserta sampai pada tindakan konkrit dalam masyarakat atas nama Gereja (Sumarno Ds, 2005: 8).

  Kekhasan dari model katekese ini adalah bertolak dari pengalaman konkrit peserta sehingga peserta mudah dalam membagikan pengalamannya kepada sesama peserta katekese. Setelah membagikan pengalaman peserta diajak untuk mampu merefleksikan pengalamannya dengan warta gembira yaitu Kitab Suci.

  3) Katekese historico-profetis (atau pembebasan)

  Katekese ini menekankan tindakan cinta terutama diberikan prioritas pada tindakan yang keluar dari cinta persaudaraan dan perjuangan demi manusia dan keterlibatan orang kristiani dalam masyarakat untuk menuju suatu perubahan sosial. Kekhsan katekese ini adalah: situasi historis dewasa ini merupakan bagian integral dari isi katekese historico-profetis. Katekese ini tidak hanya berurusan dengan pengalaman pribadi manusia saja yang konkrit, namun keterlibatan manusia dalam dunia (Sumarno Ds, 2005: 8).

  Selain itu juga kekhasan katekese historico-profetis bercorakkan komunitas basis. Seluruh umat dalam kelompok basis terlibat atas nama iman mereka akan Yesus Kristus dalam pembangunan masyarakat. Katekese ini terbuka akan cara-cara modern dalam media komunikasi dan teknologi modern. Katekese ini harus tanggap dan berawal dari situasi yang diciptakan oleh kemajuan teknologi modern agar dapat menyampaikan suatu penyajian yang tepat guna dari warta gembira Yesus Kristus (Sumarno Ds, 2005: 9).

  b.

  Latar belakang katekese umat di Indonesia Katekese di Indonesia pada awalnya berupa persiapan untuk permandian.

  Katekese untuk orang dewasa, kaum muda dan anak-anak di percayakan pada yayasan-yayasan persekolahan katolik, padahal katekese di sekolah kurang mendapat perhatian. Katekese bukan hanya untuk mempersiapkan iman demi persiapan permandian tetapi iman seseorang perlu diterangi terus menerus dan diperbarui melalui katekese, maka katekese perlu dilaksanakan terus menerus (Setyakarjana, 1997: 3).

  Melihat berbagai keprihatinan yang ada di Indonesia maka dalam pertemuan PKKI pertama (1977) yang diselenggarakan di Wisma Samadi Syalom Sindanglaya mencari dan membahas mengenai arah katekese di Indonesia yang kemudian disepakati bahwa yang dikembangkan di Indonesia adalah katekese umat (Telaumbanua, 1999: 11).

  Katekese umat di Indonesia cukup subur, menggembirakan, dan sangat mengharapkan tenaga para pembina. Bahan-bahan katekese umat sudah banyak beredar seperti yang disusun oleh Keuskupan-keuskupan: Semarang, Samarinda, dan Ruteng (Flores). Tahap-tahap katekese umat biasanya terdiri dari penyajian suatu pengalaman, pengungkapan kesan/reaksi peserta atas pengalaman tersebut, pembacaan suatu perikop Kitab Suci, pemetikan pesan dari bacaan Kitab Suci, pembandingan antara pengalaman dengan teks Kitab Suci, dan penerapan konkret dalam hidup masing-masing dan bersama (Telaumbanua, 1999: 11).

  Penyelenggaraan katekese ini dilaksanakan dalam suasana ibadat dengan doa dan lagu-lagu rohani, aksi bina iman sejenis disebut juga pendalaman iman.

  Hasilnya sangat mengharukan, membuat orang bertobat kembali dan tumbuh niat untuk hidup lebih suci. Peranan pembina sangat penting agar komunikasi tetap terarah dan bergema (Telaumbanua, 1999: 11).

  Dari ketiga model katekese yang dipaparkan model katekese yang sampai sekarang terus berkembang di Indonesia adalah model katekese anthropologis.

  Dalam katekese umat model ini cocok karena berangkat dari situasi konkrit hidup peserta yang telah dialami sehingga mampu merefleksikan dengan sabda Tuhan melalui Kitab Suci (Telaumbanua, 1999: 11).

2. Pengertian Katekese Umat

  Th. Huber (1981: 10) dalam buku Katekese Umat mengemukakan bahwa katekese umat adalah: Komunikasi iman atau tukar pengalaman iman (= penghayatan iman) antara anggota jemaat/kelompok, yang sebagai kesaksian saling membantu sedemikian rupa, sehingga iman masing-masing diteguhkan dan dihayati secara semakin sempurna. Dalam katekese umat tekanan terutama diletakkan pada penghayatan iman, meskipun pengetahuan tidak dilupakan. Katekese umat mengandaikan ada perencanaan. Komunikasi yang ditekankan dalam rumusan pengertian katekese umat bukan saja antara pembimbing dengan peserta tetapi lebih-lebih komunikasi antar peserta sendiri. Arah katekese sekarang menuntut agar para peserta mampu mengungkapkan diri demi pembangunan jemaat. Dan yang ditukarkan ialah penghayatan iman bukan pengetahuan tentang rumusan iman. Para peserta katekese diharapkan mengenal penghayatan sendiri di dalam rumusan-rumusan resmi Gereja.

  Dengan mengatakan ”katekese umat ada perencanaan” rumusan ini membatasi pengertian katekese umat. Katekese umat adalah salah satu bidang di dalam usaha pastoral Gereja dan usaha pembinaan iman umat secara teratur dan terencana (Huber, 1981: 18).

  Dalam sidang PKKI II di Wisma Samadi Klender merumuskan pengertian Katekese Umat sebagai komunikasi iman atau tukar pengalaman iman (penghayatan iman) antara anggota jemaat atau kelompok. Dalam katekese umat, tekanan terutama diletakkan pada penghayatan iman meskipun pengetahuan tidak dilupakan. Maksudnya melalui katekese umat ini setiap peserta berhak atau mempunyai kebebasan untuk mengungkapkan pengalamannya dan para peserta saling membantu sedemikian rupa sehingga iman masing-masing diteguhkan dan dihayati secara sempurna. Dalam katekese umat peserta bersaksi tentang iman mereka akan Yesus Kristus, Pengantara Allah yang bersabda kepada kita dan Pengantara kita menanggapi sabda Allah.

  Katekese umat merupakan komunikasi iman dari peserta sebagai sesama dalam iman yang sederajat, yang saling bersaksi tentang iman mereka. Peserta berdialog dalam suasana terbuka, ditandai sikap saling menghargai dan saling mendengarkan.

  Katekese umat sering disebut katekese dari umat, oleh umat dan untuk umat. Dalam katekese umat, semua peserta aktif berpikir, aktif berbicara dan aktif mengambil keputusan karena katekese diselenggarakan dari umat, dan umat menjadi subjek dalam berkatekese. Katekese umat membuat peserta kreatif, kritis dan otonom. Katekese umat menumbuhkan rasa percaya diri, kepribadian dan martabat seseorang. Katekese umat selalu berbicara tentang hidup nyata dalam terang injil.

  Hal ini menyadarkan umat pada intervensi Allah dalam hidup mereka. Itu berarti bahwa dengan katekese umat peserta senantiasa disadarkan secara konkret dan aktual bahwa Allah hadir dan berkarya dalam hidup nyata mereka. Katekese umat senantiasa mengandalkan bahwa dalam berkatekese, umat aktif berkomunikasi.

  Berkomunikasi tentang hidup nyata dalam terang iman (Telaumbanua, 1999: 11).

  Katekese umat adalah usaha kelompok secara terencana untuk saling menolong mengartikan hidup nyata dalam terang Yesus Kristus sebagaimana telah dihayati dalam tradisi Gereja, agar kelompok makin mampu mengungkapkan dan mewujudkan imannya dalam hidup nyata (Siauwarjaya, 1987: 38-39).

3. Isi Katekese Umat

  Th. Huber (1981: 10) dalam Katekese Umat mengemukakan isi katekese umat: Dalam katekese umat kita bersaksi tentang iman kita akan Yesus Kristus, pengantara Allah yang bersabda kepada kita dan pengantara kita menanggapi Sabda Allah. Yesus Kristus tampil sebagai pila hidup kita dalam Kitab Suci, khususnya dalam perjanjian baru, yang mendasari penghayatan iman gereja di sepanjang tradisiNya. Rumusan di atas mau menunjukkan bahwa Yesus Kristus menjadi pola dan penentu katekese umat. Dalam Kristus peserta berjumpa dengan Allah dan melalui

  Dialah pula Allah mendatangi peserta. Katekese umat berpedoman dan dinilai oleh Kitab Suci tetapi tidak berarti bahwa Kitab Suci menjadi bahan satu-satunya untuk katekese umat (Huber, 1981: 19).

  Dalam katekese umat, yang menjadi pusat utama katekese adalah ”Kristus” yang biasa disebut katekese yang bersifat Kristosentris. Maksudnya dalam katekese bukan untuk menyampaikan ajarannya sendiri atau ajaran seorang guru melainkan ajaran Yesus Kristus. Seluruh peristiwa hidup Yesus Kristus, dan seluruh harta kekayaan iman Gereja (CT, art. 6)

  Di samping isi katekese umat adalah Kristus tetapi juga tidak mengesampingkan pengalaman iman peserta. Iman para peserta diteguhkan melalui tukar penghayatan iman tentang tema atau bahan. Bahan atau tema katekese berangkat dari hidup konkrit para peserta. Pengalaman iman peserta menjadi bagian dari isi katekese umat agar dengan terang sabda Allah, peserta merasa dikuatkan dan terlebih semakin mengenal Yesus (Setyakarjana, 1997:69).

4. Peserta katekese Umat

  Th. Huber (1981: 10) dalam Katekese Umat mengemukakan sebagai berikut: Yang berkatekese ialah umat, artinya semua orang beriman yang secara pribadi memilih Kristus dan secara bebas berkumpul untuk lebih memahami Kristus, Kristus menjadi pola hidup pribadi, pun pula pola hidup kehidupan kelompok: jadi seluruh umat baik yang berkumpul dalam kelompok basis, maupun di sekolah atau perguruan tinggi. Penekanan pada seluruh umat ini justru merupakan salah satu unsur yang memberi arah pada katekese sekarang. Penekanan peranan umat pada katekese ini sesuai dengan peranan umat pada pengertian Gereja itu sendiri.

  Penekanan peranan umat pada katekese ini sesuai dengan peranan umat pada pengertian Gereja. Rumusan di atas mau menunjukkan bahwa seluruh Gereja sadar bahwa katekese tidak ditujukan kepada sebagian umat saja melainkan semua orang beriman yang terpanggil untuk mendalami iman terus menerus, baik mereka yang sudah memilih Kristus secara mutlak maupun mereka yang ingin mengenal Kristus seperti para katekumen.

  Dalam katekese umat tidak menuntut para peserta untuk membagikan pengalaman iman mereka melainkan para peserta secara bebas mengungkapkan pengalamannya tanpa ada paksaan. Komunikasi iman yang mendalam hanya dilakukan secara suka rela. Katekese umat tidak menuntut pengelompokan umat yang khusus, setiap kesempatan umat berkumpul di dalam lingkup apapun juga dapat dipakai untuk katekese umat (Huber, 1981: 20-21).

5. Pemimpin Katekese Umat

  Th. Huber (1981: 10) dalam buku Katekese Umat mengemukakan bahwa: Dalam katekese yang menjemaat ini pemimpin katekese bertindak terutama sebagai pengarah dan pemudah (fasilitator). Ia adalah pelayan yang menciptakan suasana yang komunikatif. Ia membangkitkan gairah supaya para peserta berani berbicara secara terbuka. Katekese umat menerima banyak jalur komunikasi dalam berkatekese.

  Rumusan ini mau menunjukkan bahwa dalam katekese umat peranan seorang pemimpin dalam katekese umat sebagai pengarah dan pemudah (fasilitator). Ia adalah pelayan yang menciptakan suasana yang komunikatif. Ia membangkitkan gairah supaya para peserta berani berbicara secara terbuka. Katekese umat menerima banyak jalur komunikasi dalam berkatekese. Pemimpin katekese umat tidak membawa diri sebagai pembesar, yang seakan-akan lebih pandai menyampaikan pengetahuan dan menganggap para peserta tidak mengetahui apa-apa (Huber, 1981: 21).

  Pemimpin katekese umat harus menghayati contoh pelayanan Kristus yang dengan mengusahakan agar semua peserta dihargai, saling mendengarkan, saling menghargai, mengarahkan pembicaraan peserta dan melayani peserta yang mengalami kesulitan dengan memberi semangat. Dengan demikian pemimpin katekese umat membantu peserta mengalami katekese sebagai pengalaman tulen Gereja (Lalu, 2005: 72).

6. Tujuan Katekese Umat

  Th. Huber (1981: 23) dalam Katekese Umat mengemukakan bahwa tujuan katekese umat adalah: membantu umat agar makin mengenal dan terbuka dalam menanggapi Sabda Allah serta memperdalam dan memperkembangkan iman umat akan Allah dengan cara memahami, merefleksikan, memperbaharui, dan memaknai pengalaman iman dalam terang injil. Katekese umat mendorong proses pemanusiaan kristiani. Katekese umat menempatkan pengalaman religius kembali ke dalam hidup konkret/nyata.

  Katekese umat merupakan komunikasi iman. Dalam PKKI II, Th. Huber (1981: 16) menegaskan tujuan komunikasi iman itu ialah: a.

  Supaya dalam terang injil kita semakin meresapi arti pengalaman- pengalaman kita sehari-hari, b. dan kita bertobat (metanoia) kepada Allah dan semakin menyadari kehadiran-Nya dalam kenyataan hidup sehari-hari, c. dengan demikian kita semakin sempurna beriman, berharap, mengamalkan cinta kasih, dan makin dikukuhkan hidup kristiani kita, d. pula kita makin bersatu dalam Kristus, makin menjemaat, makin tegas mewujudkan tugas Gereja setempat dan mengokohkan Gereja semesta, e. sehingga kita sanggup memberi kesaksian tentang Kristus dalam hidup kita di tengah masyarakat.

  Kelima rumusan ini menyoroti tujuan katekese umat dari sudut yang berbeda-beda. Ketiga sorotan pertama lebih-lebih memperhatikan peserta sendiri, yang lainnya menegaskan tujuan sebagai Gereja dan semuanya berpuncak pada ”hidup kita di tengah masyarakat”.

  Katekese umat bertujuan membina iman umat, agar umat semakin bersatu dengan Kristus, semakin menghayati dan melaksanakan imannya dalam situasi konkrit (Siauwarjaya, 1987:36). Katekese umat membangun Gereja. Kita tidak diselamatkan sendiri-sendiri, kita dipanggil selaku anggota umat. Unsur kebersamaan ini diteguhkan oleh katekese umat bukan saja karena para peserta mengalami kebersamaan ini secara langsung, melainkan juga karena pengalaman iman bersama mengutus para peserta untuk mewartakan Kristus dengan kata-kata dan tindakan.

  Dari rumusan pendapat para peserta PKKI II dapat disimpulkan bahwa tujuan katekese umat adalah membantu mendewasakan iman umat secara kelompok dan mampu berkomunikasi dengan sesama kaum beriman. Sehingga setiap pengalaman yang dialami mampu direfleksikan agar hidup selalu diperbaharui.

7. Model Katekese Umat

  Model pendalaman iman yang ditawarkan dalam buku panduan APP dan Adven yang diterbitkan dalam tingkat keuskupan atau paroki di Indonesia, terdapat bermacam-macam contoh pendalaman iman yang ditawarkan masih bersifat liturgis namun dasa warsa terakhir ini pendalaman iman tidak lagi menekankan sifat liturgisnya, tetapi lebih-lebih bersifat kateketis. Langkah-langkah yang terjadi dalam pendalaman iman pada umumnya mengandung tiga unsur dasar yakni: pengalaman hidup konkrit, teks Kitab Suci atau Tradisi dan penerapan konkrit pada hidup peserta katekese (Sumarno Ds, 2005: 11).

  Dalam langkah-langkah pendalaman iman atau katekese pada umumnya terdapat tiga dimensi model, yakni: Model pengalaman hidup, model biblis dan model campuran.

  a.

  Model pengalaman hidup Model ini lebih bertolak pada pengalaman hidup konkrit sehari-hari. Model ini menurut Sumarno Ds, (2005: 11- 12), langkah-langkahnya sebagai berikut:

  1) Introduksi atau pengantar dari pemandu

  Pada langkah ini pendamping menjelaskan mengenai tema yang akan dibahas dalam katekese. Selain pengantar dari pemandu dapat juga mempersiapkan lagu pembuka dan doa pembuka. 2)

  Sharing pengalaman hidup Pada langkah ini pemandu mengajak peserta untuk mengungkapkan pengalamannya atau pemandu menyiapkan berita konkrit dari surat kabar, majalah dan cerita yang relevan bagi peserta.

  3) Pendalaman teks Kitab Suci

  Pemandu membantu peserta untuk mencari dan mengungkapkan pesan-pesan inti menurut peserta yang tertulis dalam Kitab Suci. Peranan katekis menciptakan suasana terbuka sehingga peserta tidak takut mengungkapkan tafsiran mereka sehubungan dengan tema yang dapat dipetik.

  4) Penerapan dalam Hidup Konkrit

  Pemandu mengajak peserta mengambil beberapa kesimpulan praktis untuk

  5) Penutup

  Pemandu mengajak peserta untuk mengungkapkan doa spontan hasil buah katekese dan diakhiri dengan doa penutup dan lagu penutup.

  b.

  Model Biblis Model ini lebih bertolak pada pengalaman Kitab Suci atau Tradisi. Menurut

  Sumarno Ds, (2005: 13) langkah-langkahnya sebagai berikut: 1)

  Introduksi atau pengantar dari pemandu Menjelaskan mengenai tema yang akan dibahas dalam katekese. Selain pengantar dari pemandu dapat juga mempersiapkan lagu pembuka dan doa pembuka.

  2) Pembacaan Kitab Suci

  Pendalaman teks Kitab Suci atau tradisi Gereja; dapat diawali dengan kelompok kecil untuk mengungkapkan apa yang direnungkan secara pribadi dari jawaban- jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang menyangkut teks Kitab Suci. 3)

  Pendalaman pengalaman hidup Pada langkah ini pemandu mengajak peserta untuk mengungkapkan pesan inti teks Kitab Suci dengan pengalaman hidup yang sesuai tema.

  4) Penerapan dalam hidup peserta

  Pemandu mengajak dan merangsang peserta untuk merefleksikan dan mengambil kesimpulan apa yang sebaiknya dapat dilaksanakan dalam kehidupan

  5) Doa penutup

  Pemandu mengajak peserta untuk doa spontan dan pemandu menutup dengan doa dan lagu penutup.

  c.

  Model Campuran Model ini lebih bertolak dari pengalman hidup peserta dan Kitab Suci. Menurut

  Sumarno Ds, (2005: 14) langkah-langkahnya sebagai berikut: 1)

  Doa pembukaan Mengungkapkan pokok-pokok tema dari katekese dan lagu pembukaan juga disesuaikan dengan tema dan tujuan yang diharapkan dalam katekese.

  2) Pembacaan teks Kitab Suci atau Tradisi Gereja

  Pemandu meminta kesediaan peserta untuk membacakan teks Kitab Suci atau Tradisi Gereja yang telah disediakan pemandu.

  3) Penyajian pengalaman hidup

  Pada langkah ini pemandu mengajak peserta untuk mengungkapkan pengalamannya atau pemandu menyiapkan berita konkrit dari surat kabar, majalah dan cerita yang relevan bagi peserta.

  4) Pendalaman Pengalaman hidup dan teks Kitab Suci atau Tradisi Gereja

  Pada langkah ini pemandu mengajak peserta untuk merefleksikan dan menganalisa pesan dari pengalaman hidup dan dikonfrontasikan dengan pesan dari teks Kitab Suci atau tradisi yang dibacakan.

  5) Penerapan meditatif

  Pemandu mengajak peserta untuk mendalami pesan-pesan pengalaman hidup dan pesan teks Kitab Suci untuk menarik pelajaran-pelajaran nyata dalam hidup memasyarakat dan menggereja. 6)

  Evaluasi singkat Mengenai jalannya katekese, isi, tema dan langkah-langkah katekese serta proses komunikasi iman yang berlangsung, bila memungkinkan.

  7) Penutup

  Diawali dengan saat hening dan dilanjutkan dengan doa-doa umat spontan dari peserta. Kemudian katekis merangkum seluruh proses katekese melalui doa dan lagu penutup.

8. Kekhasan Katekese Umat untuk Kaum Muda

  Kaum muda yang dalam proses pertumbuhan membutuhkan tempat untuk berbagi pengalaman yang dialaminya baik secara pribadi maupun bersama, di dalam keluarga, sekolah, Gereja dan masyarakat. Di sisi lain pula kaum muda yang kadang merasa minder atau tidak senang dan merasa kurang puas bila menceritakan pengalamannya pada orangtua. Kaum muda yang lebih senang membagikan pengalamannya dengan teman sekelompoknya atau teman sejenis.

  Kaum muda yang senang berkomunikasi mengenai berbagai hal baik tentang pelajaran sekolah maupun tentang pengalaman yang dialami. Maka tempat yang cocok bagi perkembangan kaum muda dalam membagikan setiap persoalan, dan pengalamannya adalah melalui katekese umat. Katekese umat yang diartikan sebagai komunikasi iman dapat membantu kaum muda dalam meningkatkan imannya akan Yesus Kristus sebagai sang penyelamat.

  Peran pendamping dalam katekese umat bagi kaum muda juga harus berjiwa muda. Maksudnya siap mendengarkan keluhan peserta dan tidak bersikap memaksa atau menginterogasi kaum muda untuk membagikan pengalamannya.

  Peserta katekese adalah kaum muda sendiri, sehingga kaum muda merasa bebas dalam mengungkapkan pengalamannya dan mengekspresikan dirinya dengan bebas. Karena jika digabung dengan orang tua atau orang dewasa kaum muda merasa tidak dihargai atau tidak didengarkan. Kaum muda yang ingin didengarkan dan mau berkomunikasi maka katekese umat sangat cocok bagi perkembangan iman kaum muda.

  Metode katekese yang cocok bagi kaum muda adalah pertama metode menggali pengalaman yang sering disebut dengan istilah eksperiensial, metode ini membantu kaum muda untuk melihat dan menggali pengalaman hidupnya yang telah dialami. Kedua metode dialog Partisipatif; metode ini mengutamakan proses komunikasi iman antara pemandu dan peserta (kaum muda). Ketiga metode diskusi atau dinamika kelompok.

  Yang menjadi sarana katekese bagi kaum muda adalah Televisi, VCD, CD Player, cerita bergambar, Kitab Suci, dan Madah Bakti. Sarana-sarana inilah yang cocok bagi kaum muda karena kaum muda lebih senang mengamati langsung dari pada mendengarkan. Maka seorang pendamping katekese bagi kaum muda adalah seorang figur yang berjiwa muda yang mampu merangkul dan memahami setiap persoalan hidup peserta.

  C.

  

Shared Christian Praxis sebagai Suatu Model Katekese Umat untuk Kaum

Muda

  Kaum muda yang sedang ada dalam tahap perkembangan dan peziarahan untuk mewujudkan sejumlah ciri-ciri khas dari kematangan Kristiani mereka perlu mendapatkan pendampingan. Tujuan pendampingan bagi kaum muda adalah untuk mendukung kaum kaum berkembang menuju kematangan iman Katolik dan yang hendak diwujudnyatakan dalam hidup sehari-hari. Dalam proses membantu remaja untuk lebih memahami hidup secara lebih mendalam Kitab Suci, Tradisi, dan pengalaman hidup masa kini dari kaum muda dihormati dan didialogkan. Dengan demikian akan memampukan kaum muda untuk memahami arti pengalaman hidup mereka dalam hubungannya dengan iman Kristiani (Sumarno Ds, 21-22).

  Selain ketiga model katekese umat di atas, ada satu model katekese yang sekarang sering dipakai oleh para pemandu pendalaman iman yaitu Shared Christian

  

Praxis. Model katekese ini menekankan proses berkatekese yang bersifat dialogal

  dan partisipatif yang bermaksud mendorong peserta berdasarkan konfrontasi antara “tradisi” dan “visi” hidup mereka dengan “Tradisi” dan “Visi” kristiani, agar baik secara pribadi maupun bersama mampu mengadakan penegasan dan mengambil keputusan demi terwujudnya nilai-nilai Kerajaan Allah di dalam kehidupan manusia. Model katekese ini bermula dari pengalaman hidup peserta, yang direfleksi secara kritis dan dikonfrontasikan dengan pengalaman iman dan visi kristiani supaya muncul sikap dan kesadaran baru yang memberi motivasi pada keterlibatan baru (Sumarno Ds, 2005: 15).

  Katekese dengan model Shared Christian Praxis sangat menggarisbawahi peran-keberadaan peserta sebagai subyek yang bebas dan bertanggungjawab. Berdasar pada refleksi kritis terhadap pengalaman hidupnya dalam kaitannya dengan situasi konkret masyarakat dan komunikasinya dengan dengan iman dan visi Gereja, kesadaran diri peserta sebagai subyek yang secara aktif dan kreatif menghayati imannya dapat makin terwujud. Dialog antar subyek yang ditekankan bukan hanya antara peserta dan pendamping melainkan antar peserta sendiri (Groome, 1997: 2).

1. Peristilahan dalam Shared Christian Praxis

  Istilah-istilah yang ada dalam model ini antara lain shared, christian, dan praxis .

  a.

   Shared

  Kata shared berarti berbagi rasa, pengalaman,pengetahuan serta saling mendengarkan pengalaman orang lain. Dialog dimulai dari diri sendiri dan diungkapkan selaras dengan pengalamannya sendiri dalam suasana penuh persaudaraan dan cinta kasih. Istilah ini menunjuk pengertian komunikasi yang timbal balik, sikap partisipatif aktif dan kritis dari semua peserta terbuka untuk kedalaman diri sendiri, kehadiran sesama, dan rahmat Tuhan (Groome, 1997: 4).

  Dalam dialog ada dua unsur penting yaitu membicarakan dan mendengarkan. Membicarakan tidak sama dengan berbicara saja atau omong-omong terus menerus tanpa memberi kesempatan pada orang lain untuk berbicara. Membicarakan berarti menyampaikan apa yang menjadi kebenaran dan pengalaman sendiri. Sedangkan mendengarkan tidak sama dengan mendengar. Mendengarkan berarti mendengar dengan hati dan rasa tentang apa yang dikomunikasikan oleh orang lain. Mendengarkan melibatkan seluruh diri sehingga dalam mendengarkan timbullah gerak hati, empati terhadap apa yang dikomunikasikan oleh orang lain (Sumarno Ds, 2005: 17).

  Kaum muda yang sedang dalam masa pertumbuhan membutuhkan teman untuk menceritakan setiap pengalamannya dan ingin didengarkan. Istilah dalam katekese model SCP ini sangat cocok bagi perkembangan iman kaum muda melalui katekese umat. Katekese umat yang diartikan dengan komunikasi dapat membantu kaum muda.

  b.

   Christian

  Dalam SCP kata Tradisi dengan menggunakan huruf besar T berarti bukan hanya sejarah naratif atau adat istiadat ritual masa lampau, tetapi seluruh pengalaman iman umat dalam bentuk apapun yang sudah terungkap dan yang sudah dibakukan oleh Gereja dalam rangka menanggapi perwahyuan Allah di dunia.

  Tradisi Gereja meliputi seluruh corak kehidupan kristiani, Kitab Suci tertulis, ajaran Gereja resmi, interpretasi/tafsir, penelitian para teolog, praktek suci, ibadat, sakramen, simbol, ritus, pesta/peringatan, hiasan atau lukisan yang menjadi ekspresi iman umat akan pengalamannya berhadapan dengan Allah, berdasarkan peristiwa historis, khususnya kehadiran Allah dalam hidup, mati dan kebangkitan Kristus (Sumarno Ds, 2005: 17).

  Dalam hidup berimannya manusia menciptakan tradisinya sendiri, yang dapat dilihat dalam kerangka pengalaman hidupnya di dunia dalam sejarah sebagai orang beriman yang ada dalam peristiwa dan sejarah dunia dan manusia. Tradisi dengan huruf kecil t menunjuk pada pengalaman hidup manusia (peserta) konkrit sehari-hari (Sumarno Ds, 2005: 17).

  Istilah ini mempunyai peranan penting dalam perkembangan iman kaum muda melalui katakese umat agar kaum muda dapat mengetahui Tradisi-tradisi yang ada dalam Gereja. Kaum muda yang hidup di tengah perubahan zaman dengan berbagai macam teknologi canggih sulit untuk membaca Kitab Suci. Mereka lebih senang berjam-jam di depan televisi atau komputer.

  Dalam Gereja pengertian Visi yang menggunakan huruf besar V tidak bisa terlepas dari Tradisi, karena Visi bukan sekedar suatu pengetahuan saja, tetapi suatu kenyataan hadirnya atau manifestasi konkrit dari isi Tradisi dan yang menjadi jawaban hidup orang beriman terhadap apa yang ditawarkan dalam pengalaman iman kristiani dan terhadap janji Allah yang terungkap dalam Tradisi atau pengalaman iman kristiani. Visi merupakan manifestasi konkrit dari jawaban manusia terhadap janji Allah yang terwujudkan dalam sejarah atau Tradisi (Sumarno Ds, 2005: 18).

  Setiap manusia dalam menjalani hidupnya di dunia berusaha unutk menanggapi janji Allah dalam hidupnya dan merumuskannya dalam visi kristiani.

  Begitu pula dengan kehidupan kaum muda yang sedang mencari jati diri dan berusaha untuk terbuka akan masa depan. Istilah ini sangat membantu kaum muda dalam memperkembangkan iman mereka melalui katekese umat.

  Sifat dialektik berarti mengkonfrontasikan ‘visi’ dan ‘tradisi’ peserta dengan ‘Visi’ dan ‘Tradisi’ kristiani. Dialektika merupakan proses kegiatan manusia dalam memandang tradisi dan visi peserta sendiri dalam terang atau berhadapan dengan Tradisi dan Visi Kristiani (Sumarno Ds, 2005: 18).

  Kebanyakan kaum muda belum bisa membedakan tradisi dengan huruf t kecil dan kata Tradisi dengan huruf T besar. Kaum muda lebih cenderung mengenal tradisi yang berkaitan dengan budaya mereka, sedangkan Tradisi yang dimaksud oleh Gereja belum mereka pahami. Istilah ini membantu kaum muda dalam mengenal Tradisi yang ada dalam Gereja.

  c.

   Praxis

  Dalam pengertian model katekese praxis bukanlah hanya suatu “praktek” (lawan dari teori) saja, tetapi suatu tindakan yang sudah direfleksikan. Praxis mengacu pada tindakan manusia yang mempunyai tujuan untuk perubahan hidup yang meliputi kesatuan antara praktek dan teori (yang membentuk suatu kreatifitas), antara refleksi kritis dan kesadaran historis (mengarah pada keterlibatan baru).

  Praxis mempunyai tiga unsur pembentuk yang saling berkaitan yaitu aktivitas, refleksi dan kreativitas. Ketiga unsur pembentuk itu berfungsi membangkitkan perkembangan imaginasi, meneguhkan kehendak dan mendorong praxis baru yang dapat dipertanggungjawabkan secara etis dan moral (Sumarno Ds, 2005: 15).

  Refleksi kritis merupakan suatu kegiatan manusia yang meliputi tiga unusr: akal budi kritis dalam mengevaluasi masa sekarang, ingatan kritis dalam menyingkap masa lalu dalam masa sekarang, dan imaginasi kreatif untuk menghadapi masa depan dalam masa sekarang (Sumarno Ds, 2005: 16).

  Refleksi melibatkan kemampuan rasional (akal budi) dan afektif (rasa) dari seluruh pribadi manusia. Dalam taraf afektif refleksi melibatkan pengalamanku dalam hidup pribadi dan bersama. Refleksi meliputi hati dan kepala, sehingga dengan demikian refleksi melibatkan unsur ingatan dan imaginasi dari masa kini.

  Istilah “kritis” berasal dari bahasa Yunani “kritein”, yang berarti “memisah- misahkan”, mengandaikan suatu kemampuan untuk membedakan mana yang baik, yang benar dan yang betul dalam masa kini (Sumarno Ds, 2005: 16).

  Istilah ini mempengaruhi perkembangan iman kaum muda melalui katekese umat dalam membantu kaum muda untuk mampu merefleksikan setiap pengalaman yang dialami baik dalam hidup pribadi maupun bersama.

  Kaum muda yang sedang dalam proses pertumbuhan senang menerima hal- hal yang baru mereka temukan. Maka istilah ini sangat berperan penting bagi perkembangan iman kaum muda melalui katekese umat dalam membantu kaum muda untuk menemukan hal-hal baru dalam proses katekese sehingga mampu mewujudkannya dan mengarahkannya pada keterlibatan yang baru.

2. Langkah-langkah Shared Christian Praxis

  Menurut Sumarno Ds, (2005: 18-22) dalam Program Pengalaman Lapangan

  

PAK Paroki , mengutip tulisan Thomas Groome yang mengemukakan ada lima

  langkah pokok antara lain: a.

  Langkah I : Pengungkapan Pengalaman Hidup Faktual (Sumarno Ds, 2005: 19) Pada langkah pertama ini membantu dan mendorong peserta supaya menyadari pengalaman mereka sendiri untuk mengkomunikasikan pengalaman hidupnya pada peserta lain. Pengungkapan dapat dilakukan secara verbal dan non verbal yaitu dengan lukisan, musik, tari, drama, lambang, cergam atau kombinasi berbagai bentuk dan sarana. Dengan demikian kekhasan dalam langkah ini adalah mengajak peserta untuk mengungkapkan pengalaman hidupnya yang didasari secara nyata dialami (fakta) dan sesuai dengan tema atau visi yang telah ditentukan bersama pada langkah sebelumnya (Sumarno Ds, 2005: 19).

  Tujuan utama dari langkah pertama adalah membantu peserta supaya menyadari pengalamannya sendiri, menginterpretasikan, membahasakan dan selanjutnya mengkomunikasikan kepada yang lain. Membantu di sini berarti mengusahakan agar peserta dapat mengungkapkan pengalamannya dengan suasana yang mendukung dan diberi rangsang dengan pertanyaan oleh pendamping (Sumarno Ds, 2005: 19).

  Pembimbing berperan sebagai fasilitator yang menciptakan suasana pertemuan menjadi hangat dan mendukung peserta untuk membagikan pengalaman hidupnya berkaitan dengan tema dasar. Pembimbing hendaknya tidak memaksakan peserta untuk membagikan pengalamannya, melainkan harus sabar, ramah, hormat, bersahabat, peka terhadap latar belakang dan permasalahan peserta (Sumarno Ds, 2005: 19).

  Pendamping perlu memilih pertanyaan yang tepat, menyentuh dan membantu peserta untuk mengkodifikasikan pengalaman keterlibatannya. Pertanyaan harus jelas untuk pendamping sendiri. Selain itu pendamping harus memperhatikan pedoman bagaimana membuat pertanyaan (Groome, 1997: 13).

  Kaum muda yang memiliki peranan penting dalam keluarga, Gereja, dan masyarakat kadang menghadapi berbagai macam persoalan dan tantangan. Dengan berbagai persoalan yang dihadapi, kaum muda mencari tempat atau teman untuk membagikan pengalaman yang dialaminya. Kaum muda yang menjadi tulang punggung keluarga, Gereja, dan masyarakat kadang belum menyadari akan tanggungjawab mereka. Maka, contoh sebuah tema dasar dari langkah I: Ceritakanlah peranan anda dalam kegiatan menggereja! b.

  Langkah II : Refleksi Kritis atas Sharing Pengalaman Hidup Faktual (Sumarno Ds, 2005: 20)

  Pada langkah ini mendorong peserta untuk lebih aktif, kritis, dan kreatif dalam memahami serta mengolah keterlibatan mereka sendiri maupun masyarakat.

  Kekhasan pada langkah ini adalah kesadaran yang mendalam membantu peserta untuk menemukan maknanya dan mendorong mereka menemukan peluang pada keterlibatan baru. Katekese sungguh-sungguh membantu peserta supaya berdasar pengalaman hidupnya sampai pada tingkat kesadaran yang terdalam supaya mengolah dan menemukan maknanya, dan mendorong mereka untuk melangkah pada praxis baru (Groome, 1997: 14).

  Pada langkah ini peserta perlu mempergunakan tiga unsur yaitu pemahaman kritis, kenangan yang analitis dan imajinasi kreatif. Pemahaman kritis adalah kemampuan memberi nilai dan arti pada keterlibatan dalam hidup konkrit. Maksudnya adalah kritis terhadap diri sendiri untuk menemukan keterlibatannya dalam hidup sosial dan semua unsurnya yang menyertai. Kenangan analitis adalah membantu peserta untuk menyadari semua pengaruh yang membentuk sikap, pandangan dan interpretasi terhadap kenyataan. Maksudnya kenangan kritis ini untuk membantu peserta untuk melihat kembali bagaimana sejarah hidupku, keberadaanku sebagai subyek dan perbuatan yang membentuk hidupku. Sedangkan imaginatif kreatif mempunyai kepentingan personal maupun sosial. Kepentingan personal mengarahkan peserta untuk meningkatkan kesadaran akan identitas pribadi dan memperkokoh keterlibatannya dalam hidup sosial pada taraf tanggung jawab visi dan pelaksanaannya (Sumarno Ds, 2005: 20).

  Tujuan dari langkah kedua ini adalah memperdalam refleksi dan mengantar peserta pada kesadaran kritis akan keterlibatan mereka, asumsi dan alasan, motivasi, sumber historis (pengenangan), kepentingan dan konsekuensi yang disadari dan hendak diwujudkan. Dengan refleksi kritis pada pengalaman konkret peserta diharapkan sampai pada nilai dan visinya yang pada langkah keempat akan dikonfrontasikan dengan pengalaman iman Gereja sepanjang sejarah (tradisi) dan Visi Kristiani (Sumarno Ds, 2005: 20).

  Maka pada langkah ini pembimbing mampu menciptakan suasana pertemuan yang menghormati dan mendukung setiap gagasan serta sumbang saran para peserta, mengundang refleksi kritis setiap peserta, mendorong peserta supaya mengadakan dialog dan penegasan bersama yang bertujuan memperdalam, menguji pemahaman, kenangan, imajinasi peserta, menyadari kondisi peserta, lebih-lebih mereka yang tidak biasa melakukan refleksi kritis terhadap pengalaman hidupnya.

  Pada langkah ini pendamping menggunakan pertanyaan yang sifatnya terbuka dan menunjukkan sikap yang siap mendengarkan semua yang disampaikan oleh peserta.

  (Sumarno Ds, 2005: 20). Selain itu pendamping perlu berusaha untuk menghindari suatu kesan bahwa peserta diwajibkan mempertanggungjawabkan komunikasi praksis faktual yang telah dilakukan pada langkah pertama (Groome, 1997: 19).

  Pendamping perlu menyadari bahwa refleksi kritis merupakan tahap sulit yang membutuhkan kesabaran dan ketrampilan untuk memperkembangkannya.

  Untuk itu pendamping perlu menekankan pentingnya lingkungan psikososial: keakraban, rasa senasib-sepenanggungan dan kepercayaan antar peserta (Groome, 1997: 19).

  Kaum muda yang belum menyadari akan tanggungjawab mereka sebagai generasi penerus keluarga, Gereja, dan masyarakat perlu merefleksikan dan mengingat kembali apa yang telah dilakukan bagi keluarga, Gereja dan masyarakat, sehingga mereka terdorong untuk menjalankan tugas mereka sebagai generasi penerus. Contoh pertanyaan pada langkah ini adalah: Mengapa anda mengikuti kegiatan menggereja? c.

  Langkah III: Mengusahakan Supaya Tradisi dan Visi Kristiani Lebih Terjangkau (Sumarno Ds, 2005: 21)

  Kekhasan pada langkah ini adalah “dialog tradisi”, yaitu tradisi kristen (pengalaman praxis sepanjang hidup dan visinya). Yang dimaksud dengan tradisi adalah pengungkapan iman kristiani yang sungguh dihidupi Gereja sepanjang sejarahnya. Maka tradisi Gereja tidak terbatas pada pengajaran Gereja (dogma) tetapi juga merangkum Kitab Suci, spiritualitas, devosi, kebiasaan hidup beriman, liturgi, seni dalam Gereja, kepemimpinan dan kehidupan jemaat beriman (Sumarno Ds, 2005: 21).

  Tradisi kristiani mengungkapkan kreativitas dan interpretasi manusiawi terhadap pewahyuan ilahi. Bagi umat kristiani, Tradisi Kristiani adalah sumber utama untuk kehidupan dan penghayatan iman. Sebagai umat beriman kita yakin bahwa iman kristiani lahir dari tindakan ilahi yang hadir di tengah-tengah kehidupan manusia. Tradisi kristiani adalah pewahyuan Allah yang ditanggapi oleh manusia, pewahyuan kehendak Allah juga bersifat universal, tidak hanya terbatas di dalam Gereja Katolik (Groome, 1997: 20).

  Tujuan dari langkah ini adalah mengusahakan supaya Tradisi dan Visi Kristiani menjadi lebih terjangkau, lebih dekat dan relevan bagi peserta pada jaman sekarang. Hal ini berarti langkah ini memberi tahap untuk memberi masukan bagi peserta (Sumarno Ds, 2005: 21).

  Peran pembimbing pada langkah ini cukup besar sebab menjadi penghubung antara Tradisi dan Visi Kristiani dan visi hidup peserta. Pendamping berperan membuka jalan, menghilangkan hambatan, mendorong partisipasi aktif dan kreatif. Menciptakan suasana untuk mempribadikan nilai-nilai tradisi dan visi kristen yang relevan dan aktual untuk hidup mereka. Dengan demikian interpretasi itu menyentuh bagian terdalam dari hidup peserta sehingga menimbulkan motivasi untuk terlibat dalam kehidupan secara kreatif sebagai umat beriman. Terhadap Tradisi dan Visi kristiani pendamping ditantang untuk memperlihatkan keterlibatan pribadi terhadap nilai-nilai tradisi dan visi kristiani dalam terang iman, harapan dan cinta. Hal ini tidak hanya mengandaikan kemampuan akademik tetapi juga penghayatan dan keterlibatan dalam perjuangan konkrit. Terhadap peserta, kesadaran bahwa peserta harus dibela dan diteguhkan dalam perjuangan hidup menempatkan mereka sebagai subyek yang mandiri. Dengan demikian peran pendamping bukan sebagai guru tetapi sekaligus sebagai murid yang juga sedang belajar. Dalam langkah ini pembimbing menggunakan pertanyaan berdasarkan teks Kitab Suci yang digunakan (Sumarno Ds, 2005: 21).

  Pendamping perlu mempersiapkan diri, dukungan sumber, dan studi pribadi supaya peran pendamping pada langkah ketiga ini memenuhi kriterium model

  “shared christian praxis”. Di samping itu juga pendamping harus yakin akan imannya pada Allah yang senantiasa hadir dan berkarya di tengah kehidupan manusia. Pendamping juga perlu menyadari segi-segi yang dapat menimbulkan pertanyaan, dan meragukan. Namun pendamping harus yakin akan keharmonian dan kekonsistenan interpretasi manusia dengan iman Gereja (Groome, 1997: 27).

  Kaum muda yang sedang dalam proses pertumbuhan dan percarian jati diri belum mengenal istilah Tradisi dengan huruf T besar dalam Gereja. Kaum muda lebih mengenal kata tradisi dengan huruf t kecil. Langkah ini dapat membantu kaum muda untuk mengenal kata Tradisi yang dimaksudkan oleh Gereja yakni Kitab Suci.

  Contoh tema pada langkah ini adalah berdasarkan Kitab Suci Sir 3:1-16. Contoh pertanyaan: Ayat manakah yang meminta tanggung jawab anda dalam kegiatan menggereja? d.

  Langkah IV: Interpretasi/Tafsir Dialektis Antara Tradisi dan Visi Kristiani Dengan Tradisi dan Visi Peserta (Sumarno Ds, 2005: 21)

  Pada langkah ini pembimbing mengajak peserta mendialogkan hasil pengolahan pada langkah pertama dan kedua dengan isi pokok langkah ketiga. Agar nilai-nilai Tradisi dan Visi Kristiani dapat meneguhkan, mengkritik atau mempertanyakan dan mengundang mereka untuk melangkah pada kehidupan yang lebih baik dengan penuh semangat, nilai, dan iman yang baru demi terwujudnya Kerajaan Allah (Sumarno Ds, 2005: 21).

  Tujuan dari langkah ini adalah agar peserta mampu secara kritis mengintegrasikan dan mempersonalisasikan nilai-nilai hidup mereka ke dalam Tradisi dan Visi Kristiani dalam hidup sehari-hari. Hal ini memperteguh identitas sebagai orang kristen, sebab peserta selalu ditantang untuk mengadakan penilaian dan penegasan (Sumarno Ds, 2005: 21). Peserta secara aktif dan kreatif mempribadikan nilai-nilai kristiani dengan cara yang memperteguh identitas kekristenan peserta. Secara dialektis peserta mendialogkan praksis hidup yang faktual dengan nilai-nilai kristiani (Groome, 1997: 19).

  Pembimbing harus menghormati kebebasan dan hasil penegasan peserta, termasuk peserta yang menolak tafsiran pembimbing, meyakinkan peserta bahwa mereka mampu mempertemukan nilai pengalaman hidup dan visi mereka dengan nilai Tradisi dan Visi kristiani, mendorong peserta untuk merubah sikap dari pendengar pasif menjadi pihak yang aktif, menyadari bahwa tafsiran pembimbing bukan kata mati dan mendengar dengan hati tanggapan, pendapat dan pemikiran peserta.

  Pendamping harus menunjukkan keinginannya yang mendalam untuk mendengar tanggapan hermeneutis-dialektis peserta. Pendamping harus peka pada pemahaman, kesadaran, dan sikap baru yang dialami oleh peserta, tetapi ia juga harus terbuka pada ketidaksetujuan dan tambahan gagasan peserta. Hal pokok yang perlu ditekankan oleh pendamping adalah tindakan personalisasi yang dijalankan dengan dialog dan hermeneutik yang dialektis antara persepsi peserta tentang praksis faktual dengan nilai tradisi dan visi kristiani. Seperti Yesus yang menjadi model utama, para pendamping diharapkan memberi peserta kebebasan untuk mempertimbangkan, menilai, dan mengambil keputusan mengenai nilai Tradisi dan Visi Kristiani berdasar situasi konkrit dan kepentingan bersama (Groome, 1997: 33).

  Kebanyakan kaum muda yang belum mengenal ajaran-ajaran atau Tradisi Kristiani maka diharapkan pada langkah ini dapat membantu kaum muda dalam menghubungkan pengalamannnya dengan nilai-nilai kristiani sehingga kaum muda dapat mengenal dan mengetahui nilai-nilai kristiani yang diajarkan dalam Kitab Suci. Contoh pertanyaan yang dapat membantu kaum muda adalah: Perbuatan apa yang ditawarkan Yesus bagi kita agar kita dapat mengetahui peranan kita dalam kegiatan menggereja? e.

  Langkah V: Keterlibatan Baru Demi Makin Terwujudnya Kerajaan Allah di dunia ini (Sumarno Ds, 2005: 22) Kekhasan langkah ini adalah memberi kesempatan kepada peserta untuk mengambil keputusan tentang bagaimana berdasarkan rahmat Allah menghidupi iman kristiani. Memberi kesempatan kepada peserta berarti mendorong peserta dengan pertanyaan-pertanyaan sehingga peserta dapat menentukan keputusan berdasarkan atas apa yang telah dipahami selama pertemuan (Sumarno Ds, 2005: 22).

  Keputusan hendaknya praktis tidak perlu muluk-muluk, tetapi mudah dilaksanakan. Keputusan itu harus mendorong dan menyemangati peserta untuk setia melaksanakannya. Keputusan itu perlu dipahami sebagai tanggapan jemaat Kristiani terhadap pewahyuan ilahi yang terus berlangsung di dalam sejarah kehidupan manusia dalam kontinuitasnya dengan Tradisi Gereja sepanjang sejarah dan Visi Kristiani. keprihatinannya adalah praktis yaitu mendorong keterlibatan baru dan dengan cara itu menggarisbawahi peran peserta sebagai subyek yang dipanggil untuk ikut mewujudkan nilai-nilai Kerajaan Allah dengan jalan mengusahakan metanoia (pertobatan pribadi dan sosial yang terus menerus (Groome, 1997: 49).

  Bentuknya ada yang lebih menekankan aspek kognitif (pemahaman), ada yang menonjolkan aspek afeksi (perasaan), dan ada juga yang mengutamakan aspek yang berhubungan dengan tingkah laku (praktis-politis). Sifatnya dapat lebih menyangkut tingkat personal, intrpresonal, atau sosial-politis. Subyeknya dapat bersifat aktivitas pribadi atau tindakan bersama. Arahnya dapat lebih interen untuk kepentingan kelompok sendiri atau eksteren demi kepentingan di luar kelompok yaitu keterlibatan/pelayanan kepada sesama yang membutuhkan (Groome, 1997: 49- 50).

  Tujuan langkah ini adalah mendorong peserta untuk sampai pada niat-niat dan tindakan baru, baik yang menyangkut pribadi maupun bersama. Pada langkah ini pembimbing mengajak peserta agar sampai pada keputusan praktis yang dipahami tanggapan jemaat terhadap pewahyuan Allah yang terus berlangsung di dalam sejarah kehidupan manusia dalam kontinuitasnya dengan Tradisi Gereja sepanjang sejarah dan Visi kristiani. Selain itu pembimbing bertanggungjawab menyadari hakikat praktis, inovatif, dan transformatif, menekankan sikap optimis yang realistis pada peserta, pembimbing dapat merangkum hasil langkah pertama sampai keempat, supaya dapat lebih membantu peserta, mengusahakan supaya peserta sampai pada keputusan pribadi dan bersama, dan merumuskan pertanyaan operasional yang membantu peserta ke arah itu (Sumarno Ds, 2005: 22).

  Kaum muda yang sedang dalam masa pertumbuhan, lebih senang mendengar daripada melaksanakan. Langkah ini dapat membantu kaum muda untuk berani mengambil sikap dan melaksanakan seperti yang ditawarkan dalam Tradisi Gereja menuju perkembangan yang lebih baik. Contoh pertanyaan: Niat apa yang hendak anda lakukan untuk semakin menyadari peranan anda dalam kegiatan menggereja?

3. Catatan Penggunaan SCP dalam Katekese Umat

  Pada umumnya SCP membutuhkan sejumlah ketrampilan dasar dan seorang katekis harus tahu dengan jelas apa yang menjadi tugas pokok setiap langkah.

  Penggunaan SCP membutuhkan waktu yang cukup lama namun bila pemandu mempersiapkan diri dengan baik maka semua langah-langkah akan mengalir dalam suatu kesatuan yang menyeluruh dan bukan langkah-langkah yang terlepas. Katekese model SCP bisa digunakan juga dalam rekoleksi, dan retret (Sumarno Ds, 2005: 23).

  Urutan lima langkah yang dipakai secara ringkas adalah: mengungkapkan pengalaman hidup konkrit peserta, merefleksikannya, menghadirkan tradisi iman kristiani sehubungan dengan tema, kemudian disusul adanya kesempatan bagi peserta untuk mengkonfrontasikan pengalaman hidup mereka dengan pengalaman iman kristiani, dan akhirnya peserta diajak untuk mengambil keputusan terhadap jawaban kristiani pribadi untuk hidup sehari-hari peserta sebagai perwujudan keterlibatan baru pada dunia. Namun kadang katekis tidak mengikuti langkah- langkah yang ada, tetapi katekis dapat mengatur langkah-langkah itu dalam kombinasi yang berbeda-beda dengan memberikan tekanan yang berbeda pada langkah yang berbeda dari satu unit ke unit yang lain. Yang paling pokok adalah semua langkah itu mengalir dalam suatu kesatuan yang menyeluruh dan bukan langkah-langkah yang terlepas (Sumarno Ds, 2005: 23).

  Katekese model SCP, yang merupakan suatu perkembangan ilmu kateketik, dapat menjadi jembatan bagi kaum muda dalam mengembangkan dan meningkatkan penghayatan iman mereka akan Kristus. Selain memiliki dasar teologis yang mendalam, SCP mampu memanfaatkan perkembangan ilmu pendidikan yang progresif dan memiliki keprihatinan pastoral yang jelas dan bertolak dari refleksi kritis atas pengalaman faktual (Sumarno Ds, 2005: 23) Proses katekese yang menekankan makna pengalaman faktual demi praksis baru (masa mendatang) secara kritis dan kreatif seperti yang ditekankan dalam SCP, sangat relevan bagi perkembangan iman kaum muda. Kaum muda yang ada di paroki santa Maria Mater Dolorosa tentu memiliki banyak pengalaman baik yang terjadi di rumah, di lingkungan masyarakat pada umumnya maupun terjadi dalam hidup bersama sebagai kaum muda kristiani.

  Dengan adanya refleksi kritis, kaum muda dibantu untuk menemukan makna pengalaman hidupnya (menyenangkan maupun tidak) sebagai pengalaman iman yang amat berharga demi perkembangan iman kaum muda. Dengan demikian kaum muda mampu mengambil keputusan demi makin terwujudnya nilai-nilai kerajaan Allah di dalam kehidupan mereka, berdasarkan hasil dialektika atas pertimbangan antara dirinya dengan tuntutan jaman.

BAB IV USULAN PROGRAM KATEKESE UMAT MODEL SCP BAGI KAUM MUDA KATOLIK PAROKI SANTA MARIA MATER DOLOROSA SOE, KEUSKUPAN AGUNG KUPANG Program merupakan serangkaian kegiatan yang disusun secara sistematis

  untuk membantu orang mengetahui rincian kegiatan secara menyeluruh yang dijabarkan sesuai tema. Program jangka pendek ini dimaksud untuk membantu dan memudahkan pendamping maupun peserta katekese dalam proses meningkatkan iman mereka akan Yesus Kristus.

  Pada bab IV ini, penulis akan menguraikan usulan program katekese bagi kaum muda paroki Santa Maria Mater Dolorosa. Judul yang diangkat dalam usulan program ini adalah Pendampingan Iman Kaum Muda Melalui Katekese Umat. Uraian dalam bab ini terbagi dalam 5 bagian yaitu latar belakang penyusunan program, alasan pemilihan tema dan tujuan, penjabaran program, petunjuk pelaksanaan program, dan contoh persiapan katekese.

A. Latar Belakang Penyusunan Program

  Kaum muda yang sedang dalam proses perkembangan fisik, emosional dan juga perkembangan rohani perlu mendapat perhatian dalam mengembangkan iman mereka. Salah satu bentuk perhatian yang cocok dan diberikan kepada mereka adalah katekese. Katekese merupakan pembinaan iman setiap pribadi yang mampu mengantarkan kaum muda dalam menghayati iman mereka yang diwujudkan melalui sikap dan perbuatan mereka baik dalam keluarga, Gereja dan masyarakat.

  Berdasarkan hasil wawancara tertulis diperoleh gambaran dengan jelas mengenai pelaksanaan kegiatan katekese. Pada kenyataannya penyelenggaraan katekese selama ini belum berjalan dengan baik, dalam arti belum dapat membantu kaum muda untuk sungguh menghayati iman mereka dalam hidup sehari-hari.

  Pengolahan materi belum mendalam dan kurang disesuaikan dengan kebutuhan peserta. Penerapan metode katekese kurang dapat mendukung dan menciptakan suasana komunikasi iman yang dialogis partisipatif. Peserta masih cenderung pasif di dalam proses berkatekese. Selain itu penggunaan sarana belum bervariasi. Peserta yang nota bene adalah kaum muda lebih menyenangi bentuk-bentuk media atau berbagai sarana yang mendukung. Pelaksanaan katekese yang mereka ikuti selama ini kiranya belum memanfaatkan berbagai sarana yang ada di sekitar mereka, seperti tape recorder, kaset, artikel-artikel dari majalah atau koran, video, cerita bergambar, beberapa alat musik, dan lain-lain. Sebagai sarana yang lebih sering digunakan adalah teks Kitab Suci.

  Keberhasilan penyelenggaraan katekese dipengaruhi pula oleh adanya kerja sama dari pihak peserta dan pendamping. Pihak pendamping perlu sungguh-sungguh mengusahakan untuk memiliki berbagai ketrampilan berkatekese, sehingga dapat menyelenggarakan katekese yang menarik dan relevan bagi peserta. Dari pihak peserta perlu membina motivasi mengikuti katekese sehingga tidak ada unsur keterpaksaan dalam mengikutinya. Selain itu juga perlu diciptakan suasana keterbukaan, saling mendukung, meneguhkan dan memperkembangkan iman baik antar peserta maupun peserta dengan pendamping.

  Dari berbagai hasil wawancara dengan bantuan alat angket sehubungan dengan penyelenggaraan katekese tersebut, penulis terdorong untuk bersama mereka mengusahakan pembenahan dalam pelaksanaan katekese. Mengingat bahwa katekese merupakan salah satu bentuk pembinaan iman yang dapat membantu kaum muda untuk meningkatkan penghayatan iman mereka, supaya pembinaan iman tersebut mempunyai tujuan yang terarah, mudah dievaluasi, untuk perbaikan dan pengembangannya, penulis mengusulkan suatu program katekese.

  Program katekese yang hendak diusulkan adalah katekese umat dengan model SCP (Shared Christian Praxis). Katekese umat merupakan komunikasi iman, yang bukan saja antar pembimbing dan peserta tetapi lebih-lebih komunikasi antar peserta sendiri. Katekese umat yang berangkat dari kehidupan peserta dan berlandaskan komunikasi akan dapat membantu peserta untuk terlibat dalam proses katekese sehingga mereka mampu menghayati iman mereka melalui perwujudan setiap hari. Sedangkan model SCP yang bersifat dialogis partisipatif akan membantu dan mendorong peserta agar baik secara pribadi dan bersama mampu mengadakan penegasan dan mengambil keputusan demi terwujudnya nilai-nilai Kerajaan Allah di dalam kehidupan manusia yang terlibat dalam dunia.

B. Alasan Pemilihan Tema dan Tujuan

  Sesuai dengan judul Skripsi penulis Sumbangan Katekese Umat Bagi Pendampingan Iman Kaum Muda, maka tema yang cocok dalam usulan program ini adalah “Pendampingan Iman Kaum Muda melalui Katekese Umat”. Tema umum ini diangkat, berdasarkan kebutuhan kaum muda Paroki Santa Maria Mater Dolorosa, Soe dan kebutuhan kaum muda pada umumnya yang dibahas dalam bab III.

  Sedangkan tujuan pendampingan iman kaum muda adalah meningkatkan penghayatan iman kaum muda. Oleh karena itu, tema umum ini dipilih dengan tujuan supaya kaum muda meningkatkan penghayatan imannya dan diwujudkan dalam hidup sehari-hari baik secara pribadi maupun bersama orang lain.

  Tema umum ini dijabarkan dalam empat subtema yaitu: Kaum muda menghayati imannya peduli dengan diri sendiri, Kaum muda menghayati imannya peduli dengan keluarga, Kaum muda menghayati imannya peduli dengan Gerejanya, dan Kaum muda menghayati imannya peduli dengan masyarakatnya. Subtema yang pertama ini diangkat, agar kaum muda menyadari dahulu keadaan dirinya sendiri yang penuh dengan gejolak pertumbuhan dan problematik dalam hidupnya. Gejolak pertumbuhan dan problematik kehidupan kaum muda dalam dirinya tersebut, kemudian diolah berdasarkan iman akan Yesus Kristus, sehingga kaum muda dapat memahami diri sendiri sesuai dengan jalan dan tradisi Kristiani yang sudah dianutnya. Subtema yang kedua diangkat agar kaum muda setelah dapat peduli dengan diri sendiri diharapkan dapat juga memahami keluarganya. Keluarga adalah tempat pendampingan iman pertama, oleh karena itu subtema ini diangkat supaya kaum muda dapat peduli dengan keluarga. Subtema ketiga, diangkat supaya kaum muda menghayati imannya secara benar sesuai tradisi dan ajaran Gereja. Dengan menghayati iman secara benar, diharapkan kaum muda dapat menemukan nilai-nilai kehidupan berdasarkan ajaran Gereja, yang dapat digunakan dalam hidupnya kelak dan semakin mencintai serta mau terlibat dalam kegiatan menggereja. Subtema yang terakhir adalah, kepedulian kaum muda dalam masyarakat. Kaum muda juga termasuk sebagai anggota masyarakat, oleh karena itu kaum muda perlu disiapkan sesuai terang iman supaya dapat hidup baik dan dapat menemukan jalan panggilannya dalam kehidupan di masyarakat.

  Tema umum beserta penjabaran subtema akan dilaksanakan dalam jangka waktu 1 (satu) tahun dan 6 (enam) kali pertemuan. Uraian tema, tujuan, subtema serta tujuan subtema diuraikan sebagai berikut: Tema : Pendampingan Iman Kaum Muda melalui Katekese Umat Tujuan : Membantu kaum muda meningkatkan penghayatan imannya dan diwujudkan dalam hidup sehari-hari baik secara pribadi maupun bersama orang lain. Subtema 1 : Kaum muda menghayati imannya peduli dengan diri sendiri. Tujuan : Membantu kaum muda untuk semakin menghayati imannya dan peduli dengan diri sendiri.

  Subtema 2 : Kaum muda menghayati imannya peduli dengan keluarga. Tujuan : Membantu kaum muda untuk semakin menghayati imannya dan peduli dengan keluarga, sehingga kaum muda menempatkan diri dalam kehidupan keluarganya. Subtema 3 : Kaum muda menghayati imannya peduli dengan Gereja. Tujuan : Membantu kaum muda untuk semakin menghayati imannya dan peduli dengan Gereja.

  Subtema 4 : Kaum muda menghayati imannya peduli dengan masyarakat. Tujuan : Membantu kaum muda untuk semakin menghayati imannya dan peduli dengan masyarakat.

C. Petunjuk Pelaksanaan Program

  Program pendampingan ini dilaksanakan bagi kaum muda di Paroki Santa Maria Mater Dolorosa, Soe, Keuskupan Agung Kupang. Program dilaksanakan selama tahun 2008. Setiap pertemuan/tema dilaksanakan dalam waktu kurang lebih dua jam bertempat di aula Gereja Santa Maria Mater Dolorosa, Soe. Tema-tema program pendampingan ini, diangkat berdasarkan kebutuhan kaum muda Paroki Santa Maria Mater Dolorosa, Soe. Program pendampingan ini dilaksanakan oleh kaum muda Paroki Santa Maria Mater Dolorosa, Soe bekerja sama dengan ketua Dewan Pastoral Paroki, para pendamping kaum muda, dan Pastor Paroki Santa Maria Mater Dolorosa, Soe. Subtema pertama dalam program ini dipimpin oleh penulis sedangkan subtema lainnya adalah pendamping kaum muda dan proses pelaksanaan sesuai dengan urutan subtema dalam program ini.

  Ciri pokok program persiapan ini adalah melibatkan seluruh kaum muda (peserta katekese) agar mereka semua dapat mengetahui model katekese SCP, sehingga kaum muda tidak merasa bosan dengan model katekese yang selama ini digunakan oleh pendamping katekese. Katekese dengan model SCP diharapkan dapat membantu kaum muda dalam menghayati iman mereka sehingga dapat diwujudkan dalam kehidupan setiap hari baik dalam keluarga, Gereja dan masyarakat. Dengan adanya usulan program tersebut, penulis berharap agar para pendamping kaum muda di paroki Santa Maria Mater Dolorosa, Soe terbuka pikirannya dan dapat menggunakan katekese model SCP sebagai bentuk pendampingan iman kaum muda di Paroki Santa Maria Mater Dolorosa, Soe.

D. Contoh Persiapan Katekese

  Sesuai dengan usulan program katekese di atas, penulis mengajukan satu contoh persiapan katekese. Penulis mengajukan contoh persiapan pertemuan satu (Sikap Melayani orang lain Sebagai Pengikut Kristus), berdasarkan urutan tema pertama dari usulan program yang telah penulis buat dalam bagian penjabaran program. Tema contoh persiapan satu tersebut diangkat berdasarkan kebutuhan kaum muda yang ada dalam bab II. Diharapkan contoh yang penulis susun tersebut dapat dipakai dalam pelaksanaan katekese.

  Penulis menyajikan satu contoh satuan pertemuan persiapan katekese dengan model SCP, yang meliputi lima langkah. Langkah pertama adalah pengungkapan pengalaman hidup faktual. Langkah kedua dalah refleksi kritis atas sharing pengalaman hidup faktual. Langkah ketiga adalah mengusahakan supaya Tradisi Kristiani dan Visi Kristiani lebih terjangkau. Langkah keempat adalah interpretasi atau tafsir dialektis antara Tradisi dan Visi Kristiani dengan tradisi dan visi peserta.

  Langkah kelima adalah keterlibatan baru demi terwujudnya Kerajaan Allah di dunia (Sumarno Ds, 2004: 17-20).

1. Identitas Katekese

  a. : Sikap Melayani orang lain sebagai Pengikut Kristus Tema

  b. : Membantu Kaum Muda untuk semakin mampu menyadari Tujuan arti pentingnya kesediaan melayani orang lain sebagai murid Yesus, sehingga semakin bersikap rendah hati dalam kehidupan setiap hari.

  c. : Kaum muda Paroki Santa Maria Mater Dolorosa, Soe.

  Peserta d. : Aula Paroki Santa Maria Mater Dolorosa, Soe.

  Tempat e. 18.30-19.30 WITA. Waktu :

  f. : Sharing kelompok, refleksi pibadi, informasi, tanya jawab Metode g. : SCP (Shared Christian Praxis).

   Model

  h. Buku MB , Teks Kitab Suci Markus 10:35-45, Foto Copy Sarana : Gambar Mother Teresa. i. : - Leks, Stefan. (2000). Tafsir Perjanjian Baru. Yogyakarta:

  Sumber Bahan Kanisius, h. 102.

  • Mrk 10: 35-45.

2. Pemikiran Dasar

  Dalam kenyataan tidak sedikit orang yang berambisi untuk menduduki jabatan terhormat atau jabatan istimewa, baik yang ada di pusat pemerintahan, kantor, sekolah, lingkungan, dan Gereja. Orang yang selalu berambisi untuk mendapatkan kedudukan yang istimewa itu, karena ingin dilayani oleh semua orang daripada melayani. Dengan memiliki jabatan atau kedudukan dalam suatu organisasi atau perkantoran ia akan mendapat banyak pelayanan.

  Sikap melayani menjadi beban bagi setiap orang yang ingin mewujudkannya. Kebanyakan orang yang ingin melayani orang lain namun takut dan malu bila dicemoohkan atau dianggap mencari pujian atau sanjungan dari oarang lain. Sifat egoisme yang melekat dalam diri membuat manusia menutup diri dalam melayani sesamanya.

  Injil Markus 10:35-45 menguraikan pentingnya mengutamakan pelayanan dari pada kedudukan atau jabatan. Dalam mengikuti Yesus untuk menjadi yang terbesar ia harus menjadi pelayan bagi orang lain. Kita sebagai orang-orang yang terpanggil menjadi pengikut Kristus melaksanakan hakekat panggilan yaitu melayani. Menjadi hamba berarti bersedia menderita. Dengan menderita kita akan ikut ambil bagian dalam penderitaan Yesus. Soal status dan kedudukan dalam kemuliaan di kiri dan kanan Yesus merupakan urusan Bapa, yang berhak memberikan hanyalah Bapa pemilik segalanya. Melayani tidak mesti dengan melakukan hal-hal yang besar, hebat, tetapi cukup dimulai dengan hal-hal yang sederhana saja.

  Dari pertemuan ini kita berharap agar semakin mampu menyadari arti pentingnya kesediaan melayani orang lain dan sudah sejauh mana keterbukaan kita sebagai seorang Kristiani untuk melayani orang lain. Melayani orang lain dengan ketulusan hati merupakan suatu perwujudan iman kita kepada Allah sebagai seorang Kristiani yang melakukan kehendak Allah, yakni melayani bukan untuk dilayani, sehingga mereka yang kita layani dapat mengalami Allah yang lembut hati rela melayani orang yang membutuhkan. Hal-hal sederhana yang kita buat dapat membantu meringankan beban orang lain. Untuk melayani dan menjadi hamba memang tidak mudah tetapi apabila kita percaya dan mendekatkan diri pada Tuhan kita akan mampu menjadi hamba di antara orang-orang yang kita layani.

3. Pengembangan langkah-langkah a.

  Pembukaan 1)

  Kata pengantar Teman-teman yang terkasih dalam Yesus Kristus, malam ini kita berkumpul di tempat ini untuk membagi, merefleksikan sejauh mana kita sungguh menyadari arti pentingnya melayani orang lain sebagai pengikut Kristus, dalam keluarga dan lingkungan kita khususnya antar sesama kaum muda. Serta mengalami kehadiran Yesus Kristus yang dengan rela datang melayani, dan memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi kita umat-Nya. Dengan melihat sikap Yesus yang dengan rendah hati melayani kita, marilah kita saling terbuka dan mau melayani orang lain yang sangat membutuhkan pelayanan kita, misalnya membantu orang tua, membantu teman, terlibat dalam kegiatan yang ada di lingkungan dan di Gereja. Oleh karena itu marilah kita awali pertemuan ini dengan lagu pembukaan. 2)

  Lagu Pembukaan: “Dalam Yesus kita bersaudara” Dalam Yesus kita bersaudara, Dalam Yesus kita bersaudara, Dalam Yesus kita bersaudara, Sekarang dan selamanya, Dalam Yesus kita bersaudara.

  Dalam Yesus saling melayani Dalam Yesus saling melayani Dalam Yesus saling melayani Sekarang dan selamanya Dalam Yesus saling melayani

  3) Doa Pembukaan

  Allah Bapa yang Mahabaik, kami bersyukur atas rahmat yang telah Engkau berikan kepada kami sampai saat ini, secara khusus kami mengucapkan banyak terimakasih karena pada kesempatan ini, kami Kau kumpulkan dalam satu ikatan persaudaraan dalam Kristus yang telah sudi melayani banyak orang demi keselamatan manusia. Saat ini, kami akan bersama-sama membagi, merefleksikan, sejauh mana kami sungguh menyadari arti pentingnya melayani orang lain sebagai pengikut Kristus, yang siap melayani dalam keluarga, dan lingkungan kami, khususnya antar sesama kaum muda. Bimbing dan hantarlah kami agar semakin mampu menyadari arti pentingnya melayani sehingga kami terus memperbaiki dan memperkembangkan diri dengan melayani orang lain yang membutuhkan bantuan kami. Bantulah kami agar Yesus sang hamba yang sejati sungguh menjadi teladan, kekuatan dan sumber hidup dalam melayani saudara-saudara kami, sehingga mereka mengalami kebahagiaan yang sejati. Demi Kristus Tuhan dan pengantara kami. Amin.

  b.

  Langkah I: Pengungkapan Pengalaman Hidup Faktual 1)

  Pengamatan gambar Pendamping membagikan gambar Mother Theresa yang sedang menyuapi orang yang sedang sakit [Lampiran 7: (14)].

  2) Penceritaan isi cergam Pendamping meminta kepada para peserta untuk menceritakan gambar tersebut.

  3) Inti dari cerita:

  Dalam gambar menceritakan bagaimana seorang Suster yang dengan rela melayani orang yang menderita sakit. Pelayanan Suster itu diwujudkan dengan menyuapi orang yang sakit dan kelaparan. Dengan penuh kesabaran dan cinta, Suster itu menemani orang yamg sakit dengan penuh perhatian. Dengan penuh kesetiaan Suster Teresa siap melayani orang yang sakit kapan pun ia membutuhkan.

  4) Pengungkapan pengalaman

  Peserta diajak untuk mengamati dan mendalami pelayanan Suster Teresa, dengan tuntunan beberapa pertanyaan: ¾

  Ceritakanlah apa yang dilakukan atau diperbuat oleh suster-suster itu dalam melayani orang yang menderita sakit! ¾

  Ceritakanlah pengalaman teman-teman dalam melayani sesama yang menderita sakit! 5)

  Arah rangkuman Dalam pelayanan yang dilakukan oleh Suster Teresa melambangkan pelayanan sebagai hamba yang dengan sungguh memberi arti pada orang yang dilayaninya. Suster itu melihat penderitaan sesama yang ada disekitarnya dengan hati yang penuh cinta bersedia melayani dengan tanpa perhitungan. Melayani berarti bersedia menderita bersama Yesus yang mengorbankan diri demi pelayanan kepada kita umat-Nya.

  Dalam kehidupan, kita banyak menjumpai orang-orang yang dengan tulus, rela dan sedia melayani orang yang membutuhkan pelayanan, melayani orang tua, dan teman yang sedang sakit. Di sisi lain pula kita menjumpai orang yang tidak mau melayani orang lain, karena merasa gengsi dan takut dicemoohkan. Dengan kenyataan yang ada di sekitar kita baik itu dalam keluarga, komunitas atau Lingkungan di mana kita berada untuk melayani.

  Dalam keluarga kita membantu ayah dan ibu, membantu adik belajar, dalam Gereja menjadi lektor, dirigen dan lain sebagainya. Dengan melayani orang lain kita mengalami kebahagiaan dan orang lain merasa dihargai. Melayani dengan tulus berarti siap menderita, dan semua orang tidak mudah untuk melaksanakan pelayanan.

  c.

  Langkah II: Refleksi Kritis atas Sharing Pengalaman Hidup Faktual 1)

  Sharing pengalaman berdasarkan gambar Peserta diajak untuk merefleksikan pengalaman berdasarkan gambar suster Theresa yang sedang mendampingi anak-anak yang menderita sakit, dibantu beberapa pertanyaan sebagai berikut: ¾

  Mengapa Suster itu setia melayani orang yang sakit dan menderita itu? ¾

  Mengapa teman-teman melayani orang lain yang membutuhkan pertolongan? 2)

  Arah rangkuman Sebagai suster yang sudah secara khusus dipanggil untuk melayani, ia merasa ada sebuah daya yang menggerakkannya untuk membantu melayani orang yang sakit itu, dengan penuh kesabaran dan cinta. Daya yang menggerakkan Suster tersebut untuk melayani tidak lain adalah Roh Allah sendiri, di mana dengan penuh rasa solider Yesus menjelma menjadi manusia dan menjadi hamba yang siap sedia melayani orang lain yang menderita.

  Sesuai dengan hakekat panggilan hidup kita sebagai mahkluk sosial dan sebagai pengikut Kristus, kita melayani semua orang yang membutuhkan bukan saja dalam keluarga, tetapi di dalam masyarakat. Sebagai pengikut Kristus dibutuhkan sikap sebagai seorang hamba yang dapat melayani dengan tulus hati pada orang-orang yang membutuhkan pertolongan. Untuk melayani orang lain kita mesti bebas dari rasa cinta diri. Melayani dengan penuh kebebasan dan lain sungguh dapat merasakan bahagia dan terbebaskan dari kesulitan, teristimewa orang tersebut merasakan kehadiran Tuhan yang Maha baik lewat pelayanan kita.

  d.

  Langkah III: Mengusahakan Supaya Tradisi dan Visi Kristiani Lebih Terjangkau

1) Membacakan teks Kitab Suci Mrk 10: 35-45.

  Pendamping meminta peserta untuk membacakan teks Kitab Suci dari Mrk 10: 35-45.

  2) Saat hening

  Peserta diberi waktu sebentar untuk membaca ulang teks Kitab Suci dan untuk mendalami dibantu dengan beberapa pertanyaan: ¾

  Ayat-ayat mana yang menunjukkan sikap dan ajaran Yesus untuk melayani orang lain? Mengapa? ¾

  Sikap-sikap pelayan mana yang ingin ditanamkan oleh Yesus sebagai hamba yang setia melayani umat-Nya? 3)

  Interpretasi atau tafsir Pendamping memberikan interpetasi atau tafsir bacaan Kitab Suci dari Mrk 10:35-45 dan menghubungkannya dengan tanggapan peserta dalam hubungannya dengan tema dan tujuan.

  Ayat-ayat yang menunjukkan sikap-sikap melayani orang lain yakni ayat 43, 44, dan 45. Dalam ayat-ayat tersebut di mana Yesus menanggapi ambisi para murid tersebut yakni Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus, untuk Menanggapi ambisi para murid tersebut Yesus menasihati mereka semua supaya lebih mengutamakan pelayanan dari pada kedudukan. Berbeda dengan orang- orang lain yang cenderung mengejar kedudukan atau kekuasaan, menjadi murid- murid Yesus harus berlomba-lomba untuk saling melayani satu sama lain, sebab kebesaran orang Kristen tidak ditentukan oleh kedudukan atau kekuasaan, melainkan oleh pelayanan atau pengabdian terhadap sesama. Oleh karena itu, barang siapa ingin menjadi besar dan terkemuka, ia harus bersedia menjadi pelayan atau hamba bagi sesama (ay. 43-44). Dalam hal ini orang Kristen harus meneladani Yesus, yang datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang. Pelayan dan hamba ialah manusia yang aktivitasnya tidak terpusat pada dirinya sendiri melainkan pada orang lain yang dilayaninya. Tata tertib kehidupan yang harus menjadi pegangan para pengikut Kristus ialah kasih yang terungkap dalam bentuk pelayanan. Yang harus dipikirkan bukan status atau kedudukan, melainkan tugas melayani, mengabdi, dan bagaimana sikap hati dalam memberikan pelayanan kepada sesama yang membutuhkan.

  Sikap-sikap yang ditanamkan oleh Yesus kepada murid-murid-Nya agar mereka mampu menjadi pelayan bagi orang lain, yakni para murid harus mempunyai sikap rendah hati, dan tidak menganggap remeh orang lain. Yesus menetapkan hukum fundamental bagi semua pengikut-Nya yakni menjadi pelayan dan hamba untuk semuanya. Yesus tahu bahwa manusia ingin sebagai yang benar dan pertama di antara orang lain. Yesus mengakui kerinduan manusia akan kebesaran, tetapi ia mengarahkannya kepada tujuan yang baru, yakni kepada pelayanan/perhambaan yang dipilih dengan bebas dan dengan penuh kesadaran. Dalam hidup sehari-hari jabatan sangat diperlukan namun jabatan itu sebagai sarana dan bukan sebagai tujuan, karena sebagai murid Kristus pengorbanan untuk melayani orang lain yang membutuhkan lebih mulia daripada berlomba-lomba mencari kehormatan. Seorang hamba atau pelayan tergantung secara menyeluruh dari majikannya. Pelayanan menurut Yesus tidak pernah mengeksploitasi sesamanya, tetapi berbuat apa saja supaya segala potensi sesamanya dapat mekar dengan indah.

  e.

  Langkah IV: Interpretasi/Tafsir Dialektis antara Tradisi Visi Kristiani dengan Tradisi dan Visi Peserta

  1) Pengantar

  Dalam pembicaraan-pembicaraan tadi kita sudah menemukan sikap-sikap mana yang dinasehatkan Yesus kepada murid-muridnya dan juga kepada para pengikutnya seperti kita sekarang ini. Sebagai pengikut Kristus kita diajak untuk mampu menyadari arti pentingnya melayani sesama yang membutuhkan pertolongan, sehingga mereka yang kita layani dapat mengalami kebahagiaan dan merasakan kehadiran Tuhan melalui kita. Kita selalu berusaha untuk bagai mana mengusahakan pelayanan yang terbaik bagi orang lain. Akan tetapi karena kita mempunyai kelemahan kemanusiaan, kita sering mengalami jatuh dalam mempertahankan dan melakukan apa yang dikehendaki Allah dalam memperoleh keselamatan dari Yesus.

  Teman-teman yang terkasih, mungkin saja di lingkungan atau di masyarakat banyak orang yang membutuhkan bantuan kita dan mengharapkan agar kita dapat melayani mereka. Sebagai orang yang terpanggil menjadi pengikut Kristus kita mempunyai banyak kesempatan untuk melayani orang-orang yang membutuhkan, dan juga mungkin sesama kaum muda sangat mengharapkan keikutsertaan kita untuk melayani mereka, sehingga mereka dengan semangat dan senang pergi ke gereja.

  2) Refleksi untuk menemukan sikap-sikap yang bisa diperjuangkan

  Sebagai bahan refleksi kita untuk semakin menghayati dan percaya akan satu- satunya pemberi rahmat dan kekuatan dalam diri kita untuk mampu melepaskan rasa angkuh, egois kita, dalam melayani sesama, maka kita akan mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut: ¾

  Apakah arti Yesus sebagai pelayan setia bagi kehidupanku sebagai tulang punggung dan masa depan Gereja? ¾

  Sikap-sikap mana yang bisa teman-teman perjuangkan agar semakin menyadari arti pentingnya melayani orang lain? 3)

  Arah rangkuman Yesus telah memberi teladan dan renungan bahwa untuk menempati tempat terhormat dalam Kerajaan Surga dan untuk mengalami keselamatan kita harus menjadi pelayan. Dengan menjadi pelayan kita perlu menanggalkan keegoisan diri, dengan tidak menganggap remeh orang lain, mengejar keuntungan diri sendiri, tidak memerintah orang lain dengan sewenang-wenang, suka marah bila dirinya tidak mendapat penghargaan atau pujian, keegoisan dapat menghambat untuk memperoleh keselamatan dan kebahagiaan di surga. Yesus berpesan kepada kita sebagai umat- Nya agar kita dapat bersikap rendah hati dan suka melayani orang lain dengan penuh kegembiraan dan tanpa beban apapun seperti Yesus yang rela datang dan melayani kita semua.

  Dalam kehidupan setiap hari kita cenderung melayani sesama dengan mengharapkan akan mendapat balasan. Kadang pula di lingkungan atau di Paroki ada kegiatan yang mengharapkan bantuan kita namun kita memberi banyak alasan yang membuat kita untuk tidak ikut ambil bagian dalam kegiatan tersebut.

  Kehadiran kita dalam suatu kegiatan menggambarkan suatu bentuk pelayanan kita kepada sesama, karena kita menghargai undangan mereka.

  f.

  Langkah V: Keterlibatan Baru Demi Makin Terwujudnya Kerajaan Allah di dunia ini 1)

  Pengantar Teman-teman yang terkasih dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus sang teladan kerendahan hati dalam melayani, setelah kita bersama-sama menggali pengalaman kita melayani orang lain dalam kehidupan kita setiap hari baik dalam tugas di lingkungan, komunitas dan Gereja. Demikianpun pelayanan yang dilakukan oleh suster-suster cinta kasih merupakan sebuah kesetiaan untuk berkorban demi pelayanan kepada orang-orang yang menderita sakit. Dari Injil Markus kita memahami dan belajar dari Yesus yang menasehati para murid-Nya untuk melayani orang lain tanpa memikirkan imbalan. Yesus adalah pelayan sejati yang memiliki sikap rendah hati untuk merelakan diri-Nya demi keselamatan kita umat-Nya. Kita telah mendapat wawasan baru, semangat baru, harapan baru, dan kemauan untuk semakin menyadari arti pentingnya melayani sesuai teladan Yesus, sang pelayan sejati.

  Yesus mengajarkan kepada para pengikut-Nya bahwa untuk mau menjadi yang terbesar ia harus menjadi pelayan terlebih dahulu. Dalam pelayanan-Nya Yesus tidak pernah mau membeda-bedakan siapa yang akan dilayani. Yesus melayani baik orang kaya, miskin, sakit, sehat bahkan yang menderita karena beban mental dari masyarakat, karena Ia datang untuk melayani dan bukan untuk dilayani. Dengan melihat situasi yang ada disekitar kita, banyak orang yang membutuhkan pelayanan kita, dengan situasi seperti itu menimbulkan rasa belas kasih dan cinta untuk sesegera mungkin membantu orang tersebut. Membantu melayani orang misalnya dalam bentuk menjadi teman atau tetangga yang baik, mendengarkan, rendah hati bila pelayanan kita dihinakan orang. Keterbukaan hati sangat dibutuhkan dalam pelayanan agar kita selalu disadarkan, diteguhkan dan disapa Allah. 2)

  Pengungkapan niat Pendamping mengajak peserta untuk memikirkan niat-niat dan bentuk keterlibatan yang baru dalam melayani untuk meningkatkan makna hidup kita sebagai pengikut Kristus dengan rela melayani orang lain. Pertanyaan penuntun untuk membantu peserta membuat niat-niat: ¾

  Niat-niat apa yang hendak kita buat untuk semakin menyadari arti pentingnya melayani orang lain? ¾

  Hal-hal apa saja yang perlu kita perhatikan dalam mewujudkan niat-niat tersebut? 3)

  Merumuskan niat Pendamping memberi kesempatan kepada peserta dalam suasana hening untuk membuat niat-niat pribadi dan bersama yang akan dilakukan. Setelah memikirkan, niat pribadi direnungkan dan didoakan sedangkan niat bersama didiskusikan.

  g.

  Penutup 1)

  Doa umat Setelah merumuskan niat-niat pribadi dan bersama, kemudian peserta diberi kesempatan untuk memanjatkan doa umat secara spontan yang diawali terlebih dahulu oleh pendamping.

  2) Doa Penutup

  Tuhan Yesus teladan hidup kami, kami mengucapkan syukur atas anugerah dan rahmat penyertaan-Mu yang dapat kami terima dari pada-Mu. Malam ini kami telah Engkau ingatkan akan hakekat panggilan kami sebagai pengikut Kristus yaitu sikap melayani. Dalam setiap pelayanan yang kami lakukan kami merasa bahwa itu adalah anugerah-Mu semata-mata. Apa yang kami lakukan dalam pelayanan kami atas dasar dorongan Roh-Mu yang selalu membisikkan kata yang indah untuk melayani orang lain. Ya Tuhan semoga apa yang telah kami dengar dan kami pikirkan dapat kami laksanakan dalam kehidupan kami setiap hari sebagaimana yang Engkau ajarkan melalui Injil yang telah kami dengar. Engkau mengajarkan untuk menjadi seorang pelayanan kami harus bersikap rendah hati dan bergantung pada penyelenggaraan-Mu. Oleh karena itu ya Bapa kami mohon bantuan dan terang Roh Kudus-Mu sehingga kami mampu mewujudkannya. Semua doa dan harapan kami, kami panjatkan kepadaMu melalui perantaraan Kristus Tuhan kami. Amin.

3) Lagu Penutup: “Kucoba Maju” (MB, No. 459).

BAB V PENUTUP Dalam bagian penutup ini, akan penulis ungkapkan kesimpulan dan saran

  berkaitan dengan kegiatan penyelenggaraan katekese di Paroki Santa Maria Mater Dolorosa, Soe, Keuskupan Agung Kupang. Kesimpulan dirumuskan berdasarkan hasil wawancara yang dibahas dalam bab II yang dikaitkan dengan landasan teori yang dibahas dalam bab III. Saran dikemukakan berdasarkan kesimpulan.

A. Kesimpulan

  Kesimpulan skripsi ini diambil berdasarkan permasalahan tentang penyelenggaraan katekese di Paroki Santa Maria Mater Dolorosa Soe. Permasalahan yang terjadi di Paroki Santa Maria Mater Dolorosa Soe adalah penyelenggaraan katekese yang belum terlaksana dengan baik dan belum mendapat perhatian khusus dari Pastor Paroki, para Dewan Paroki, para pendamping kaum muda dan kaum muda sendiri, serta belum ditemukannya model katekese yang cocok bagi kaum muda. Menanggapi permasalahan tersebut penulis menemukan jawaban sementara berdasarkan pengalaman penulis selama berkecimpung di Paroki Santa Maria Mater Dolorosa Soe.

  Jawaban sementara tersebut perlu diteliti supaya ditemukan jawaban yang benar sesuai fakta-fakta yang ada. Untuk itu penulis mengadakan penelitian dengan pedoman wawancara yang ditujukan kepada Para Dewan Paroki, Para Pendamping kaum muda dan kaum muda sendiri guna mendapatkan data-data. Melalui pedoman wawancara yang penulis sebarkan didapatkan data yang menyatakan bahwa:

  ƒ Pendampingan iman kaum muda melalui katekese tidak terlaksana dengan baik.

  Hal ini terbukti dengan penyelenggaraan katekese yang kurang bervariasi dalam menggunakan model katekese yang ada sehingga kaum muda kurang berminat dalam mengikuti kegiatan katekese. ƒ

  Kebanyakan kaum muda yang belum tahu mengenai pengertian dan tujuan katekese sehingga dalam proses katekese tidak terlibat dalam membagikan pengalamannya. ƒ

  Pendamping katekese belum memiliki pengetahuan khusus mengenai katekese sehingga monoton dalam memimpin katekese.

  ƒ Pemimpin menjadi panutan utama dalam proses katekese. ƒ

  Pelaksanaan katekese berlangsung setahun dua kali yaitu pada bulan APP dan bulan Kitab Suci Nasional.

  Katekese umat merupakan komunikasi iman atau tukar pengalaman iman antara anggota jemaat saling membantu sedemikian rupa sehingga iman masing- masing diteguhkan dan dihayati secara semakin sempurna. Berdasarkan pengertian katekese umat hendaknya pendamping katekese membantu kaum muda dalam membagikan pengalaman iman mereka akan Yesus Kristus, sehingga iman kaum muda semakin diteguhkan dan dikuatkan dalam menghadapi berbagai tantangan hidup. Katekese umat dengan model Shared Christian Praxis merupakan model katekese yang bersifat dialogis partisipatif yang dapat membantu para pendamping katekese bagi kaum muda agar memiliki suatu pendekatan berkatekese yang handal dan efektif sehingga mereka mampu berkatekese dengan cara yang lebih menarik dan melibatkan kaum muda secara aktif dalam proses katekese.

  Berdasarkan kesimpulan tersebut, penulis membuat suatu usulan program katekese dengan model SCP sebagai salah satu model katekese umat yang dapat membantu para pendamping katekese bagi kaum muda dalam meningkatkan penghayatan iman mereka. Dengan suatu harapan bahwa program yang telah dibuat hendaknya dapat digunakan dan membantu pendamping kaum muda dalam meningkatkan iman kaum muda dan juga membantu kaum muda untuk terus terlibat aktif dalam kegiatan hidup menggereja khususnya kegiatan katekese.

B. Saran

  Masa depan Gereja ada di tangan kaum muda. Mereka adalah generasi penerus Gereja maka mereka perlu dibina dan dipersiapkan dari sekarang sesuai dengan perkembangan dan kebutuhan zaman sehingga iman kaum muda semakin dikuatkan dalam menghadapi berbagai tantangan hidup.

  Berdasarkan kesimpulan di atas penulis mengungkapkan beberapa saran untuk lebih mengefektifkan kegiatan katekese sebagai salah satu bentuk pendampingan dalam meningkatan penghayatan iman kaum muda. beberapa saran tersebut adalah: ƒ

  Paroki perlu mengadakan pembekalan kepada para pendamping kaum muda supaya paham tugas dan tanggungjawabnya.

  ƒ Para pendamping kaum muda hendaknya mempunyai pengetahuan khusus mengenai katekese.

  ƒ Para pendamping kaum muda hendaknya bekerjasama dengan Pastor Paroki dan Dewan Paroki agar kegiatan katekese dapat dilaksanakan sebulan sekali.

  ƒ Kaum muda hendaknya dilibatkan dalam semua kegiatan menggereja sehingga mereka menyadari akan tanggung jawab mereka sebagai penerus.

  Demikian kesimpulan dan saran yang telah penulis susun semoga kesimpulan dan saran tersebut dapat menjadi bahan pertimbangan dalam mengupayakan kegiatan katekese di Paroki Santa Maria Mater Dolorosa, Soe.

DAFTAR PUSTAKA

  Banyu Dewa Hs. (1999). Mempersiapkan dan Mengemas Pertemuan Katekese yang Menarik. Umat Baru, 190, h. 98. Bergant, Dianne & Karris, Robert. (Ed.). (2002). Tafsir Alkitab Perjanjian Baru.

  Yogyakarta: Kanisius. Budyapranoto, A.C. (1992). Memahami Pesan Injil Yesus Kristus menurut St.

  Matius. Yogyakarta: Kanisius.

  Cavanaugh, Brian. (1999). Rangkaian Kisah Bermakna 2. Jakarta: Obor. Da Gomez, Dominikus. (2005). Mendampingi Kaum Muda Zaman Sekarang.

  Rohani, 52, hh. 13-14.

  Groome, Thomas H. (1997). Shared Christian Praxis: Suatu Model Berkatekese (F.X. Heryatno Wono Wulung, Penyadur). Yogyakarta: Lembaga Pengembangan Kateketik Puskat (Buku asli diterbitkan 1991).

  Heryatno Wono Wulung, F.X. (1999). Pendidikan Agama Katolik Sekolah. Diktat Mata Kuliah Pengantar Pendidikan Agama Katolik Sekolah untuk Mahasiswa Semester I Program Studi Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

  Huber, Th. SJ. (Ed.). (1981). Katekese Umat. Yogyakarta: Kanisius. Hurlock, Elizabeth B. (1996). Psikologi Perkembangan. Jakarta: Erlangga. Jacobs, Tom. (1979). Dinamika Gereja. Yogyakarta: Kanisius. Khoo, Adrian. (2004). Model Pendampingan Kaum Muda. Rohani, 51, hh. 19-23. KMI. (1994). Kumpulan Cerita. Jakarta: Erlangga. Komisi Kateketik KWI. (2000). Petunjuk Umum Katekese. Departemen Dokumentasi dan Penerangan KWI.

  Komisi Kepemudaan KAJ. (1992). Persepsi Kaum Muda Katolik terhadap Kehidupan Menggereja dan Kehidupan Bermasyarakat. Jakarta: Erlangga. Komisi Liturgi MAWI. (1984). Pendidikan Pastoral untuk Liturgi. Yogyakarta: Kanisius. Konferensi Waligereja Indonesia. (1996). Iman Katolik: Buku Informasi dan Referensi. Yogyakarta: Kanisius. Konsili Vatikan II. (1983). Dokumen Konsili Vatikan II (R. Hardawiryana, Penerjemah). Jakarta: Obor. (Dokumen asli diterbitkan 1996). Lalu, Yosef. (2005). Katekese Umat. Jakarta: Komisi Kateketik KWI. Leks, Stefan. (2000), Tafsir Perjanjian Baru. Yogyakarta: Kanisius. Lembaga Bina Iman. (1981). Tafsir Perjanjian Baru 3. Yogyakarta: Kanisius. Mangunhardjana, AM. (1986). Pendampingan Kaum Muda. Yogyakarta: Kanisius. Purwadarminta. (1982). Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Erlangga. Rua, Mikhael. (2006: 3). Buku Kenangan Gereja Santa Maria Mater Dolorosa, Soe.

  Kupang: Alam Subur. Sabato, Salvatare P. (1996). Kedudukan dan Peranan Kaum Muda dalam

  Evangelisasi Paroki. Buku Pegangan Tahunan Pendampingan Kaum Muda dan Agenda, Paroki Santo Lukas Sunter, Jakarta.

  Setyakarjana, SJ. (1997) Arah Katekese di Indonesia. Yogyakarta: Pusat Kateketik. Shelton, Charles. (1987). Spiritualitas Kaum Muda. Yogyakarta: Kanisius. Siauwarjaya, Afra. (1987). Membangun Gereja Indonesia II: Katekese Umat dalam

  Studio Audio Visual Puskat. (2000). Cerita Yang Patut Diperhatikan. Yogyakarta: Puskat

  Sumarno, Ds. (2005). Program Pengalaman Lapangan Pendidikan Agama Katolik

  Paroki. Diktat Mata Kuliah Program Pengalaman Lapangan untuk

  Mahasiswa Semester V, Program Studi Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik, Fakultas Ilmu Pendidikan Agama, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

  _________. (2006). Pedoman Umum Pendampingan Iman Remaja. Umat Baru, 226, hh. 21-37. Tangdilintin, Philip. (1984). Pembinaan Generasi Muda: Visi dan Latihan. Jakarta: Obor. Telaumbanua, Marinus. (1999). Ilmu Kateketik. Jakarta: Obor. Yayasan Komunikasi Bina Kasih. (1999). Tafsiran Alkitab Masa Kini 3. Jakarta. Yohanes Paulus II. (1992). Catechesi Tradendae. (R. Hardawirjana, Penerjemah).

  Jakarta: Dokpen KWI (Dokumen asli diterbitkan tahun 1979).

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Gambaran Pola Makan dalam Terjadinya Gastritis pada Biarawati di Yayasan Santa Maria
19
139
89
Upaya meningkatkan pemahaman konsep trigonometri siswa kelas X MA At-Tasyri Tangerang melalui model pembelajaran kooperatif metode course review horay
13
89
322
Upaya meningkatkan aktivitas belajar matematika siswa melalui pendekatan konstruktivisme
1
11
152
Post-tradisionalisme Islam : corak intelektualisme kaum muda NU
1
7
97
Upaya meningkatkan hasil belajar IPS melalui pendekatan pembelajaran kooperatif model think, pair and share siswa kelas IV MI Jam’iyatul Muta’allimin Teluknaga- Tangerang
1
8
113
Upaya meningkatkan mutu pendidikan melalui program kelas akselerasi di SMA Negeri ! Pamulang Tangerang
4
62
177
Upaya peningkatan kreativitas belajar biologi siswa melalui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw
0
7
116
Upaya meningkatkan kemampuan membaca al-qur’an melalui program BTA di SMP Yanusa Jakarta
16
158
93
Upaya meningkatkan hasil belajar IPA pada konsep sumber daya alam melalui penerapan model pembelajaran cooperative tipe STAD
0
3
134
Devosi Marial Kebaktian Santa Perawan Maria dalam Gereja Roma Katolik
0
21
81
Upaya meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematika melalui teknik pembelajaran terbalik (reciprocal teaching)
0
36
0
Upaya meningkatkan hasil belajar siswa melalui model pembelajaran kooperatif tipe Stad (Student Teams Achievement Division) pada pembelajaran IPS kelas IV MI Miftahul Khair Tangerang
0
13
0
Sistem distribusi obat di Rumah Sakit Umum Santa Maria Pemalang
4
19
28
Upaya meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran pkn materi kebebasan berorganisasi melalui model pembelajaran active tipe talking stick di kelas v MIS Nurul Amaliyah kota madya Pematangsiantar t.a 2017/2018 - Repository UIN Sumatera Utara
1
0
161
Kalau Tidak Turun, Nanti Dimarahi Pak Kadus geliat kepemimpinan kaum muda di kawasan konservasi
0
0
389
Show more