HUBUNGAN ANTARA SELF-ESTEEM DAN ADVERSITY QUOTIENT DENGAN KEMANDIRIAN BELAJAR PADA SISWA SEKOLAH MENENGAH PERTAMA - UMG REPOSITORY

22 

Full text

(1)

HUBUNGAN ANTARA

SELF-ESTEEM

DAN

ADVERSITY

QUOTIENT

DENGAN KEMANDIRIAN BELAJAR

PADA SISWA SEKOLAH MENENGAH PERTAMA

Dodik Djauhari

Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Gresik

Abstrak

Fokus penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan Self Esteem dengan Kemandirian Belajar, dan hubungan Adversity Quotient dengan Kemandirian Belajar, secara terpisah maupun secara bersamaan. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini terdiri atas variabel bebas (independen variabel), yaitu Self Esteem (X1), Adversity Quotient (X2). Sedangkan variabel terikatnya (dependen variabel),

adalah Kemandirian Belajar (Y). Subyek penelitian ini adalah siswa SMP N 4 Gresik kelas VIII, dengan asumsi siswa tersebut dalam usia perkembangan berada dalam rentang 13 – 14 tahun yaitu suatu tahapan usia, diharapkan telah memiliki kemandirian dalam belajar. Sejumlah 175 siswa ( dari 9 kelas masing-masing diambil 20 siswa). Data Self Esteem diperoleh dari skala Self Esteem. Data Adversity Quotient diperoleh dari skala Adversity Quotient ARP Quik Take dari Stoltz. Data Kemandirian Belajar diperoleh dari skala Kemandirian Belajar. Sedangkan teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis regresi ganda (Anareg). Hasil analisis parsial variabel Self esteem menunjukkan harga t sebesar 4,898 pada p = 0,000 (p < 0,05), Dengan demikian Self Esteem berkorelasi positif dengan Kemandirian Belajar. Temuan ini sesuai dengan hipotesis yang diajukan, sehingga hipotesis pertama yang berbunyi “Ada hubungan yang positif antara Self Esteem dengan Kemandirian Belajar Siswa”, diterima. Hasil analisis parsial variabel Adversity Quotient menunjukkan harga t sebesar -0,369 pada p = 0,713 ( p > 0,05), Dengan demikian Adversity Quotient tidak berkorelasi positif dengan Kemandirian Belajar. Temuan ini bertolak belakang dengan hipotesis yang diajukan sehingga hipotesis kedua yang berbunyi “Ada hubungan yang positif antara Adversity Quotient dengan Kemandirian Belajar Siswa”, ditolak. Hasil analisis R2 = 0,132 menunjukkan 13,2% proporsi Kemandirian Belajar Siswa dapat dijelaskan melalui Self Esteem dan Adversity Quotient. Analisa regresi menghasilkan F hitung sebesar 13,023 pada p = 0,000 dengan tingkat signifikansi 0,000 < 0,05. Artinya signifikan, berarti variabel Self Esteem dan Adversity Quotient secara bersama-sama secara signifikan berpengaruh terhadap Kemandirian Belajar. Temuan ini sesuai dengan hipotesis yang diajukan, sehingga hipotesis ketiga yang berbunyi “Ada hubungan yang positif antara Self Esteem dan Adversity Quotient dengan Kemandirian Belajar Siswa”, diterima.

(2)

ISBN : 978-602-60885-0-5        Prosiding Seminar Nasional Psikologi UMG 

Pendahuluan

Fenomena yang terjadi di negara Indonesia cenderung dituduhkan pada dunia pendidikan yang disorot sebagai sektor yang belum berhasil mengemban misi mencerdaskan kehidupan bangsa. Perilaku masyarakat yang menyimpang menjadi bukti bahwa pendidikan belum mampu menjadi solusi pengembanan misi itu. Hal ini tentu berkaitan erat dengan bagaimana proses belajar yang dialami oleh setiap individu dalam setiap jenjang pendidikan yang dilaluinya. Dalam hal ini kemandirian belajar menjadi salah satu perilaku penting yang menentukan kesuksesan proses belajar seorang individu.

Kemandirian sebagai suatu kualitas aspek personal merupakan hal yang cukup mendapat perhatian di dunia pendidikan. Hal ini terbukti dengan dicantumkannya kemandirian sebagai salah satu sasaran yang hendak dicapai dari sistem pendidikan nasional. Menghadapi kondisi global yang penuh persaingan, memang kemandirian merupakan salah satu modal yang ada pada diri individu, baik itu kemandirian bekerja maupun kemandirian belajar. Dan sangat disadari bahwa tercapainya kemandirian membutuhkan proses, tetapi perlu ditumbuhkan sejak dini, karena para remaja nantinya akan terjun di masyarakat dan sekarang sehingga kemandirian belajar mutlak perlu ditumbuhkan.

Kemandirian remaja dalam belajar sangat diperlukan dalam menghadapi kecenderungan perubahan sosial dalam masyarakat. Masyarakat masa depan menuntut manusia lebih bersikap terbuka tanpa kehilangan makna hidup yang hakiki yang bersumber dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Sikap mandiri inilah yang harus menjadi arah utama bagi peningkatan kualitas manusia menjelang era tinggal landas. Wragg (dalam Slameto, 2004) menyebutkan kemandirian belajar adalah proses dimana siswa mengembangkan keterampilan-keterampilan penting yang memungkinkannya menjadi pelajar yang mandiri, siswa dimotivasi oleh tujuannya sendiri. Kemandirian sebagai suatu kualitas aspek personal merupakan hal yang cukup mendapat perhatian di dunia pendidikan. Hal ini terbukti dengan dicantumkannya kemandirian sebagai salah satu sasaran yang hendak dicapai dari sistem pendidikan nasional.

(3)

bahwa terdapat tingkat Kemandirian Belajar yang berbeda antar siswa. Hal ini dapat dibuktikan dengan tidak menyelesaikan sendiri tugas-tugas sekolah dengan mandiri.

Menurut Rogers (dalam Syah, 1995) belajar akan sangat signifikan dan meresap ketika belajar itu atas inisiatifnya sendiri, dan ketika belajar melibatkan perasaan dan pikiran orang itu sendiri. Belajar atas inisiatif sendiri juga mengajarkan siswa untuk mandiri dan percaya diri. Ketika belajar dengan inisiatifnya, siswa mempunyai kesempatan untuk membuat pertimbangan, pemilihan, dan penilaian orang lain. Oleh karena itu kemandirian belajar merupakan masalah yang patut diperhatikan, sebab adanya kemandirian belajar bukan hanya sekedar menunjukkan indikasi turunnya semangat dan kegairahan belajar tetapi dapat mempengaruhi pencapaian tujuan belajar. Menurut Klein (dalam Slameto, 2004) belajar mandiri ditegaskan sebagai proses atau tujuan kegiatan sekolah, dan tidak mensyaratkan pengetahuan sebelumnya, dalam kaitan ini kemandirian belajar terutama dimotivasi oleh sasaran siswa itu sendiri, diberi imbalan atas jerih payahnya secara intrinsik, dilakukan di bawah pengawasan sekolah dan diselenggarakan secara mandiri oleh siswa yang bersangkutan dan atau dalam kelas biasa atas prakarsa guru yang bersangkutan.

Knowles (dalam Busnawir dan Suhaena 2005) mendiskripsikan kemandirian belajar sebagai proses dimana individu-individu mengambil inisiatif sendiri, dengan atau tanpa bantuan orang lain, untuk mendiagnosis kebutuhan belajar, memformulasikan tujuan-tujuan belajar, mengidentifikasi sumber-sumber belajar, memilih dan menemukan pendekatan strategi belajar dan melakukan evaluasi hasil belajar yang dicapai.

(4)

ISBN : 978-602-60885-0-5        Prosiding Seminar Nasional Psikologi UMG 

kemandirian serta dapat mengetahui bagaimana cara meningkatkan kemandirian belajarnya dengan keyakinan serta kepercayaan pada dirinya sendiri.

Secara garis besar faktor-faktor yang mempengaruhi Kemandirian Belajar siswa, yaitu faktor yang berasal dari dalam diri siswa dan faktor yang berasal dari luar diri siswa. Faktor-faktor yang berasal dari dalam diri siswa meliputi faktor psikis seperti, Self-Esteem, Self-Efficacy, motivasi belajar, sikap, minat, locus of control, kebiasaan belajar dan sebagainya, sedangkan faktor yang berasal dari luar diri siswa, yaitu faktor lingkungan alam, faktor sosio-ekonomi, guru, metode mengajar, kurikulum, mata pelajaran, sarana dan prasarana.

Pribadi mandiri adalah hasil belajar dan latihan, yakni dimulai dengan membangun visi dan misi dalam hidup. Visi yang kuat adalah wawasan (cara pandang) yang nienjadi sumber arah dan gerak atau pandangan jauh ke depan kemana diri kita akan di bawa dan dikembangkan. Visi merupakan gambaran masa depan yang diinginkan seseorang atas dirinya secara utuh. Misi yang mantap adalah sikap dan tindakan untuk mewujduhan visi ke dalam bentuk kegiatan dan tingkah laku.

Kemandirian adalah kecenderungan untuk melakukan sesuatu tanpa adanya ketergantungan pada orang lain dalam membuat keputusan dan menyelesaikan tugas serta pekerjaan sendiri, yang ditandai dengan rasa percaya diri yang tinggi, bertanggung jawab terhadap diri sendiri, serta memiliki inisiatif dan mampu memulai sesuatu dengan sendiri dan mendapat kepuasan dari hasil kerjanya.

Berdasarkan beberapa faktor yang mempengaruhi Kemandirian Belajar siswa , yaitu faktor yang berasal dari dalam diri siswa dan faktor yang berasal dari luar diri siswa. Faktor-faktor yang berasal dari dalam diri siswa meliputi faktor psikis seperti,

Self-Esteem, Self-Efficacy, motivasi belajar, sikap, minat, locus of control, kebiasaan belajar, sedangkan faktor yang berasal dari luar diri siswa, yaitu faktor lingkungan alam, faktor sosio-ekonomi, guru, metode mengajar, kurikulum, mata pelajaran, sarana dan prasarana,

Faktor Self-Esteem yaitu mengacu pada perasaan seseorang terhadap dirinya sendiri, sejauh mana seseorang menghargai dan menilai dirinya sendiri, semakin tinggi Self-Esteem maka sesorang akan mampu menilai dirinya secara objektif dan akan semakin mempengaruhi tingkat kemandirian belajarnya.

(5)

menilai dirinya sendiri secara objektif maka akan semakin mempengaruhi tingkat kemandirian belajarnya.

Harga diri (Self Esteem) adalah suatu evaluasi terhadap diri sendiri, yang mana akan menentukan seberapa jauh seseorang akan menyukai dirinya. Harga diri adalah bagaimana perasaan seseorang terhadap dirinya sendiri, sejauh mana seseorang menghargai dan menilai dirinya sendiri. Menurut Coopersmith (dalam Nurmalasari dkk, 2007), harga diri merupakan penilaian diri yang dilakukan oleh seorang individu dan biasanya berkaitan dengan dirinya sendiri, penilaian tersebut mencerminkan sikap penerimaan atau penolakan dan menunjukkan seberapa jauh individu percaya bahwa dirinya mampu, penting, berhasil dan berharga.

Harga diri merupakan persepsi diri seseorang tentang keberhargaannya yang diperoleh dari hasil interaksi dengan lingkungan yang berwujud penghargaan, penerimaan dan perlakuan orang lain terhadap dirinya. Terdapat dua dimensi dalam

Self Esteem yaitu : Perasaan kompetensi pribadi atau kepercayaan diri (self confidence)

yaitu meliputi : rasa percaya diri dalam kemampuan seseorang untuk berpikir dan bertindak mengatasi masalah yang didasarkan pada tantangan dalam kehidupannya. Dan adanya Perasaan nilai pribadi atau penghormatan diri (self respect) yang meliputi : rasa percaya diri dengan seyakin-yakinnya akan menjadi sukses dan bahagia, menjadi orang yang patut dihargai dan memiliki hak untuk mewujudkan segala kebutuhan-kebutuhan dan ingin meraih segala yang dicita-citakan dan menikmati hasil atas usahanya tersebut.

Dapat disimpulkan disini bahwa Self Esteem berpengaruh terhadap, keuletan dalam menghadapi kesulitan dari suatu tugas, dan prestasi belajar. Individu yang memiliki Self Esteem yang rendah merasa tidak memiliki keyakinan bahwa mereka dapat menyelesaikan tugas, maka dia berusaha untuk menghindari tugas tersebut. Self Esteem yang rendah tidak hanya dialami oleh individu yang tidak memiliki kemampuan untuk belajar, tetapi memungkinkan dialami juga oleh individu berbakat (Bandura dalam Sunawan, 2005). Maka dari itu, keyakinan dalam menyelesaikan tugas-tugas sekolah memerlukan adanya Self Esteem yang tinggi, artinya siswa yang memiliki Self Esteem yang tinggi lebih memiliki keyakinan bahwa mereka mampu untuk belajar mandiri, maka dia akan selalu berusaha untuk menyelesaikan tugas –tugasnya dengan baik.

(6)

ISBN : 978-602-60885-0-5        Prosiding Seminar Nasional Psikologi UMG 

mempertahankan perilaku dari waktu ke waktu. Individu yang ulet karena berbagai alasan yang berbeda, dengan intensitas yang berbeda. Adversity Quotient merupakan salah satu faktor internal yang mempengaruhi Kemandirian Belajar. Adversity Quotient

mendorong seseorang untuk meningkatkan dan mempertahankan prestasi belajarnya. Semakin tinggi skor AQ yang dimiliki siswa maka semakin tinggi pula kegigihan siswa dalam menghadapi kemalangan-kemalangan atau kesulitan-kesulitan dalam belajar, terutama kegigihan dalam melakukan pengaturan belajar secara mandiri, artinya siswa yang memiliki Adversity Quotient yang tinggi akan lebih mandiri dalam belajar. Dengan demikian Self-Esteem dan Adversity Quotient menjadi faktor internal yang diduga paling kuat mempengaruhi Kemandirian Belajar

Kemandirian Belajar

Menurut Barnadib (1999), kemandirian meliputi perilaku mampu berinisiatif, mampu mengatasi hambatan atau masalah, mempunyai rasa percaya diri dan dapat melakukan sesuatu sendiri tanpa bantuan orang lain. Menurut Good dalam Slameto (2004), kemandirian Belajar adalah belajar yang dilakukan dengan sedikit atau sama sekali tanpa bantuan dari pihak luar. Dalam pendapat ini Kemandirian Belajar, siswa bertanggung jawab atas pembuatan keputusan yang berkaitan dengan proses belajarnya dan memiliki kemampuan untuk melaksanakan keputusan yang diambilnya. Di dalam perkembanganya kemandirian muncul sebagai hasil proses belajar yang dipengaruhi oleh berbagai faktor, di antaranya lingkungan keluarga, dan lingkungan sekolah dengan kata lain keadaan mandiri akan muncul bila seseorang belajar, dan sebaliknya kemandirian tidak akan muncul dengan sendirinya bila seseorang tidak mau belajar. Terlebih lagi kemandirian dalam belajar tidak akan muncul apabila siswa tidak dibekali dengan ilmu yang cukup.

Belajar mandiri dapat dipandang sebagai metode belajar dan juga karakteristik pebelajar itu sendiri. Belajar mandiri sebagai tujuan mengandung makna bahwa setelah mengikuti suatu pembelajaran tertentu pebelajar diharapkan menjadi seorang pebelajar mandiri. Sedangkan belajar mandiri sebagai proses mengandung makna bahwa pebelajar mempunyai tanggung jawab yang besar dalam mencapai tujuan pembelajaran tertentu tanpa terlalu tergantung pada guru (mandiri).

(7)

yang dilakukan oleh para ahli seperti Garrison (1997), Schillereff (2001), dan Scheidet (2003) ternyata belajar mandiri juga cocok untuk semua tingkatan usia. Dengan kata lain, belajar mandiri sesuai untuk semua jenjang sekolah baik untuk sekolah menengah maupun sekolah dasar dalam rangka meningkatkan prestasi dan kemampuan siswa

(http://www.nwrel.org/planing/reports/self-direct/index.php, diakses10 Pebruari 2012)

Self-Esteem

Self-Esteem merupakan evaluasi individu terhadap dirinya sendiri secara rendah atau tinggi. Penilaian tersebut terlihat dari penghargaan mereka terhadap keberadaan dan keberartian dirinya. Individu yang memiliki harga diri yang tinggi akan menerima dan menghargai dirinya sendiri apa adanya. Dalam Self-Esteem tercakup evaluasi dan penghargaan terhadap diri sendiri dan menghasilkan penilaian tinggi atau rendah terhadap dirinya sendiri. Penilaian tinggi terhadap diri sendiri adalah penilaian terhadap kondisi diri, menghargai kelebihan dan potensi diri, serta menerima kekurangan yang ada, sedangkan yang dimaksud dengan penilaian rendah terhadap diri sendiri adalah penilaian tidak suka atau tidak puas dengan kondisi diri sendiri, tidak menghargai kelebihan diri dengan melihat diri sebagai sesuatu yang selalu kurang (Santrock, 1998).

Definisi lain dari harga diri adalah penilaian tinggi atau rendah terhadap diri sendiri yang menunjukkan sejauh mana individu itu meyakini dirinya sebagai individu yang mampu, penting dan berharga yang berpengaruh dalam perilaku seseorang (Frey&Carlock, 1987). Coopersmith (dalam Nurmalasari dkk, 2007)  menyatakan bahwa Self-Esteem merupakan evaluasi yang dibuat oleh individu mengenai hal-hal yang berkaitan dengan dirinya yang diekspresikan melalui suatu bentuk penilaian setuju dan menunjukkan tingkat dimana individu meyakini drinya sebagai individu yang mampu, penting dan berharga. Self-Esteem seseorang dapat menentukan bagaimana cara seseorang berperilaku di dalam lingkungannya. Peran Self-Esteem dalam menentukan perilaku ini dapat dilihat melalui proses berpikirnya, emosi, nilai, cita-cita, serta tujuan yang hendak dicapai seseorang. Bila seseorang mempunyai Self-Esteem

yang tinggi, maka perilakunya juga akan tinggi, sedangkan bila harga dirinya rendah, akan tercermin pada perilakunya yang negatif pula.

Dari beberapa definisi harga diri di atas, dapat disimpulkan bahwa Self-Esteem

(8)

ISBN : 978-602-60885-0-5        Prosiding Seminar Nasional Psikologi UMG 

dengan dirinya yang menunjukkan sejauh mana individu menyukai dirinya sebagai individu yang mampu, penting dan berharga.

Adversity Quotient

Adversity Quotient (AQ) dikembangkan pertama kali oleh Paul G. Stoltz, seorang konsultan yang sangat terkenal dalam topik-topik kepemimpinan di dunia kerja dan dunia pendidikan berbasis skill. Ia menganggap bahwa IQ dan EQ yang sedang marak dibicarakan itu tidaklah cukup dalam meramalkan kesuksesan seseorang. Pada akhirnya Stoltz menawarkan konsep Adversity Quotient (AQ) yaitu suatu kemampuan seseorang dalam mengalami kesulitan.

Dalam menghadapi suatu masalah, seseorang sangat perlu melakukan langkah-langkah yang memungkinkan untuk mengambil jalan yang paling sesuai dengan tidak menyakiti atau merugikan diri sendiri dan orang lain. Jalan tersebut berguna untuk melakukan terobosan penting agar kesuksesan dalam memecahkan suatu masalah dapat terwujud.

Dalam Kamus Bahasa Inggris (2000), kata “adversity” diartikan sebagai kesengsaraan dan kemalangan, sedangkan “quotient” diartikan sebagai kemampuan atau kecerdasan. Sehingga dapat dikatakan Adversity Quotient adalah kecerdasan dalam menghadapi kesengsaraan dan kemalangan. Secara ringkas Stoltz mendefinisikan Adversity Quotient sebagai kemampuan seseorang dalam mengamati kesulitan dan mengolah kesulitan tersebut dengan kecerdasan yang dimiliki sehingga menjadi sebuah tantangan untuk menyelesaikannya. Terutama dalam penggapaian sebuah tujuan, cita-cita, harapan, dan yang paling penting adalah kepuasan pribadi dari hasil kerja atau aktifitas itu sendiri.

(9)

cenderung mengabaikan potensi yang mereka miliki. Campers (mereka yang berkemah). Yaitu mereka yang tidak memanfaatkan potensi mereka sepenuhnya. Kelompok ini menjalani kehidupan yang tidak lengkap. Perbedaan dengan quitters terletak pada tingkatnya. Ia merasa cukup senang dengan ilusinya sendiri tentang apa yang sudah ada dan mengorbankan kemungkinan untuk melihat atau mengalami apa yang masih mungkin terjadi. Mereka puas dengan mencukupi diri dan tidak mau mengembangkan diri, sehingga mereka kurang berhasil dalam belajar, tumbuh dan berprestasi. Climbers (Para Pendaki). Yaitu orang-orang yang selalu berupaya mencapai puncak pendakian yaitu kebutuhan aktualisasi diri pada skala kebutuhan Maslow, menghadapi berbagai rintangan. Climbers adalah pemikir yang selalu memikirkan kemungkinan-kemungkinan, dan tidak pernah membiarkan umur, jenis kelamin, ras, cacat fisik atau mental, atau hambatan lainnya menghalangi pendakiannya. Kelompok ini memang menantang perubahan-perubahan. Kesulitan ataupun krisis akan dihadapi walaupun perlu banyak energi, dedikasi, dan pengorbanan. Dari ketiga jenis individu tersebut, Climbers memberikan kontribusi yang paling banyak. Climbers mewujudkan hampir seluruh potensi diri mereka, yang terus berkembang sepanjang hidup. Selain itu Climbers juga memperbesar kemampuannya dalam memberikan kontribusi dengan belajar dan memperbaiki diri seumur hidup. Sedangkan Campers hanya terhenti di tengah jalan perjuangan, tidak mencapai puncak, tetapi sudah puas dengan apa yang telah dicapainya. Terakhir adalah Quitters, mereka ini sudah berhenti sebelum melangkah. Pendakian yang tidak selesai itu sudah mereka anggap sebagai suatu akhir yang sukses.

Self-Esteem, Adversity Quotient dengan Kemandirian Belajar

Self-Esteem yang tinggi dan Adversity Quotient yang tinggi akan mempengaruhi Kemandirian Belajar siswa, Jika seorang siswa memiliki Self-Esteem

yang tinggi maka akan berpengaruh pada Kemandirian Belajar yang tinggi, demikian juga dengan Adversity Quotient, seorang siswa yang memiliki Motivasi Belajar tinggi memiliki ketekunan dan dorongan keyakinan yang kuat dalam menyelesaikan tugas- tugasnya.

Hipotesis

(10)

ISBN : 978-602-60885-0-5        Prosiding Seminar Nasional Psikologi UMG 

2. Ada hubungan yang positif antara Adversity Quotient dengan Kemandirian Belajar siswa

3. Ada hubungan antara Self-Esteem dan Adversity Quotient dengan Kemandirian Belajar siswa

Subyek Penelitian

Subyek penelitian ini adalah siswa SMP Negeri 4 Gresik, diambil dari siswakelas VIII (delapan). Jumlah Subyek penelitian adalah 175 siswa. Subyek penelitian ini ditentukan dengan teknik random sampling.

Definisi Operasional Variabel

Penelitian ini melibatkan tiga macam variable, yaitu satu variable tergantung dan dua variable bebas. Variabel tergantungnya (Y) adalah Kemandirian Belajar, sedangkan variabel bebas pertama adalah Self Esteem (X1) dan variable bebas ke dua adalah Adversity Quotient (X2).

Kemandirian belajar dalam penelitian ini adalah kemampuan siswa dalam mencukupi kebutuhan belajar sendiri, karena adanya inisiatif mempelajari sesuatu sehingga mampu mengerjakan tugas-tugas rutin dalam belajar sendiri, mampu mengatasi masalah tanpa bantuan orang lain, dan dapat mengambil keputusan sendiri dalam belajar.

Self-Esteem dalam penelitian ini adalah Keyakinan yang kuat, meliputi perasaan aman dan nyaman; Penggambaran diri yang akurat dan realistik; Sikap dianggap penting, memiliki perasaan diakui, dihargai ; Mempunyai tujuan dan motivasi untuk hidup, mempunyai tanggung jawab atas konsekuensi dari keputusan.

Adversity Quotient dalam penelitaadalah kemampuan seseorang dalam mengamati kesulitan dan mengolah kesulitan tersebut dengan kecerdasan yang dimiliki sehingga menjadi sebuah tantangan untuk menyelesaikannya. Maka tinggi rendahnya Adversity Qoutient yang dimiliki seseorang diukur dengan menggunakan skala Adversity Qoutient. Semakin tinggi skor AQ yang diperoleh subyek maka semakin tinggi pula kegigihan subyek dalam menghadapi kemalangan-kemalangan. Sebaliknya apabila skor yang diperoleh rendah, maka kegigihan subyek dalam menghadapi rintangan juga rendah. Aspek-aspek Adversity Qoutient terdiri dari

(11)

Teknik Pengumpulan Data

Alat ukur yang digunakan pada penelitian ini berupa skala, yang terdiri dari tiga macam, yaituskala Self Esteem; skala Adversity Quotient (ARP dari Stoltz); dan skala Kemandirian Belajar. Alat ukur penelitian dilakukan uji coba kepada 175 siswa SMP dengan memilih 5 alternatif jawaban, penilaian antara 1 – 5 (untuk item

unfavorable) dan 5 - 1 (untuk item favorable). Data yang diperoleh kemudian dianalisis melalaui uji validitas dan reliabilitas untuk menguji daya diskriminasi item dan relianbilitas alat ukur.

HASIL

Deskripsi Data Penelitian

Deskripsi data penelitian mengenai Kemandirian Belajar Siswa, Self Esteem dan

Adversity Quotient dipaparkan pada tabel 1dan tabel 2 sebagai berikut :

Tabel 1. Deskripsi Data Penelitian

Variabel N Rerata SD

Kemandirian Belajar Siswa

175 115.3543 13.63229

Self esteem 175 83.0057 16.53749

Adversity Quotient 175 128.5886 16.09569

Tabel 2. Sebaran Frekwensi Subyek Pada Variabel Penelitian.

Variabel Sangat Rendah Rendah Sedang Tinggi Sangat Tinggi Total

N % N % N % N % N % N %

Kemandirian Belajar

Siswa 9 5,14 44 25,14 35 20,00 76 43,43 11 6,29 175 100

Self Esteem 14 8,00 32 18,29 35 20,00 86 49,19 8 4,57 175 100

Adversity Quotient 0 0 4 2,29 114 65,14 54 30,86 3 1,71 175 100

(12)

ISBN : 978-602-60885-0-5        Prosiding Seminar Nasional Psikologi UMG 

Berdasarkan tabel tersebut, kebanyakan responden memiliki Self Esteem dengan kategori Tinggi (T) sejumlah sejumlah 86 siswa atau sebesar 49,19 %, sedangkan responden yang memiliki Self Esteem dengan kategori Rendah (R) sejumlah 32 siswa atau sebesar 18,29 %. Artinya sebagian besar siswa memiliki Self Esteem yang Tinggi.

Pada tabel tersebut juga menunjukkan bahwa Adversity Quotient yang dimiliki responden sebagian besar tergolong pada kategori Sedang (S) yaitu sejumlah 114 siswa atau sebesar 65,14 %, sedangkan responden yang memiliki Adversity Quotient

dengan kategori Tinggi (T) hanya sejumlah 54 siswa atau sebesar 30,86 %. Artinya sebagian besar siswa memiliki Adversity Quotient yang tergolong Sedang.

Tabel 3. Rangkuman Hasil Analisis Regresi

Sumber Variasi JK Db RK F p

Regresi 4252,728 2 2126,364 13,032 0,000 Residu 28083,306 172 163,275

Total 32336,034 174

Hasil analisis parsial variabel Self esteem menunjukkan harga t sebesar 4,898 pada p = 0,000 (p < 0,05), Dengan demikian Self esteem berkorelasi positif dengan Kemandirian Belajar. Temuan ini sesuai dengan hipotesis yang diajukan, sehingga hipotesis pertama yang berbunyi “Ada hubungan yang positif antara Self Esteem

dengan Kemandirian Belajar Siswa”, diterima.

Hasil analisis parsial variabel Adversity Quotient menunjukkan harga t sebesar -0,369 pada p = 0,713 ( p > 0,05), Dengan demikian Adversity Quotient tidak berkorelasi positif dengan Kemandirian Belajar. Temuan ini bertolak belakang dengan hipotesis yang diajukan sehingga hipotesis kedua yang berbunyi “Ada hubungan yang positif antara Adversity Quotient dengan Kemandirian Belajar Siswa”, ditolak.

(13)

yang positif antara Self Esteem dan Adversity Quotient dengan Kemandirian Belajar Siswa”, diterima.

Hasil R square (koefisien determinasi) sebesar 0,132 yang berarti 13,2 % variabel dependen Kemandirian belajar dipengaruhi atau dijelaskan oleh variabel independen Self esteem dan Adversity Quotient, dan sisanya sebesar 86,8 % dipengaruhi oleh variabel lainnya (diluar variabel yang diteliti).

Pembahasan

Hasil analisis data menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara

Self Esteem dan Adversity Quotient dengan Kemandirian Belajar Temuan penelitian menunjukkan bahwa Self Esteem dan Adversity Quotient secara simultan berhubungan dengan Kemandirian Belajar. Hal ini mendukung teori atau pendapat Stoltz (2007). Adversity Quotient merupakan faktor pencetus terhadap kemandirian belajar yang berasal dari dalam diri peserta didik. Adanya kemampuan dalam mengamati kesulitan dan mengolah kesulitan ini memungkinkan peserta didik untuk merasa bertanggung jawab dalam mengelola dirinya sendiri. Ia telah menyadari bahwa belajar telah menjadi kebutuhan hidupnya yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Juga pendapat Frey&Carlock, (1987) yang menyatakan bahwa Harga diri adalah penilaian tinggi atau rendah terhadap diri sendiri yang menunjukkan sejauh mana individu itu meyakini dirinya sebagai individu yang mampu, penting dan berharga yang berpengaruh dalam perilaku seseorang.

Semua orang dalam masyarakat memiliki akan adanya Self Esteem (Harga Diri). Self Esteem merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia. Setiap orang yang merasakan penghargaan positif tentang dirinya, yang dapat memberikan perasaan bahwa ia berhasil, mampu dan berguna. Dari penelitian ini menunjukkan Self Esteem

menentukan sikap, perilaku, dan sifat lain dalam diri siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Self Esteem (Harga Diri) siswa berhubungan dengan Kemandirian Belajar.

(14)

ISBN : 978-602-60885-0-5        Prosiding Seminar Nasional Psikologi UMG 

bagian dari kepribadian, Adanya Self Esteem (Harga Diri) memiliki peran penting dalam kehidupan.

Hasil uji analisis juga membuktikan ada hubungan yang signifikan antara variabel bebas Self Esteem dengan Variabel tergantung Kemandirian Belajar Siswa dengan mengontrol variabel bebas Adversity Quotient. Dengan demikian hipotesis pertama yang diajukan diterima. Bila seseorang mempunyai Self-Esteem yang tinggi, maka perilakunya juga akan tinggi, sedangkan bila harga dirinya rendah, akan tercermin pada perilakunya yang negatif pula. Artinya hasil penelitian pendapat Santrock (1998) yang menyatakan bahwa dalam Self-Esteem tercakup evaluasi dan penghargaan terhadap diri sendiri dan menghasilkan penilaian tinggi atau rendah terhadap dirinya sendiri. Penilaian tinggi terhadap diri sendiri adalah penilaian terhadap kondisi diri, menghargai kelebihan dan potensi diri, serta menerima kekurangan yang ada, sedangkan yang dimaksud dengan penilaian rendah terhadap diri sendiri adalah penilaian tidak suka atau tidak puas dengan kondisi diri sendiri, tidak menghargai kelebihan diri dengan melihat diri sebagai sesuatu yang selalu kurang.

Hasil penelitian juga mendukung pendapat (Frey&Carlock, 1987) yang menyatakan bahwa Harga diri adalah penilaian tinggi atau rendah terhadap diri sendiri yang menunjukkan sejauh mana individu itu meyakini dirinya sebagai individu yang mampu, penting dan berharga yang berpengaruh dalam perilaku seseorang. Hasil penelitian juga sesuai pendapat Coopersmith (dalam Nurmalasari dkk, 2007) yang menyatakan bahwa Self-Esteem merupakan evaluasi yang dibuat oleh individu mengenai hal-hal yang berkaitan dengan dirinya yang diekspresikan melalui suatu bentuk penilaian setuju dan menunjukkan tingkat dimana individu meyakini drinya sebagai individu yang mampu, penting dan berharga. Self-Esteem seseorang dapat menentukan bagaimana cara seseorang berperilaku di dalam lingkungannya.

Hasil uji analisis juga membuktikan ternyata tidak ada hubungan yang signifikan antara variabel bebas Adversity Quotient dengan Variabel tergantung Kemandirian Belajar Siswa dengan mengontrol variabel bebas Self Esteem. Dengan demikian hipotesis kedua yang diajukan ditolak.

(15)

Quotient hanya merupakan salah satu bagian kecil yang berperan atau bukan salah satu faktor yang dominan yang dapat mempengaruhi Kemandirian belajar siswa.

Ditolaknya hipotesis kedua penelitian yang berbunyi ada hubungan yang positif antara Adversity Quotient dengan Kemandirian belajar siswa, menunjukkan bahwa hasil penelitian tidak sesuai dengan teori dari Stoltz (2007). Adversity Quotient

merupakan faktor pencetus terhadap kemandirian belajar yang berasal dari dalam diri peserta didik. Adanya kemampuan dalam mengamati kesulitan dan mengolah kesulitan ini memungkinkan peserta didik untuk merasa bertanggung jawab dalam mengelola dirinya sendiri. Ia telah menyadari bahwa belajar telah menjadi kebutuhan hidupnya yang tidak bisa ditawar-tawar lagi.

Stoltz (2007) dengan konsep AQ membagi manusia dalam tiga kelompok, antara lain sebagai berikut: Quitters (mereka yang terhenti), yaitu kelompok yang melarikan diri dari tantangan, akibatnya mungkin menjalani kehidupan dengan penuh kecemasan. Campers (mereka yang berkemah), yaitu mereka yang tidak memanfaatkan potensi mereka sepenuhnya. Kelompok ini menjalani kehidupan yang tidak lengkap. Ia merasa cukup senang dengan ilusinya sendiri tentang apa yang sudah ada dan mengorbankan kemungkinan untuk melihat atau mengalami apa yang masih mungkin terjadi. Mereka puas dengan mencukupi diri dan tidak mau mengembangkan diri, sehingga mereka kurang berhasil dalam belajar, tumbuh dan berprestasi. Climbers (Para Pendaki), yaitu orang-orang yang selalu berupaya mencapai puncak pendakian yaitu kebutuhan aktualisasi diri pada skala kebutuhan Maslow, menghadapi berbagai rintangan.

Sedangkan Campers hanya terhenti di tengah jalan perjuangan, tidak mencapai puncak, tetapi sudah puas dengan apa yang telah dicapainya. Sesuai dengan hasil penelitian ini Adversity Quotient yang dimiliki responden sebagian besar tergolong pada kategori Sedang (S) yaitu sejumlah 114 siswa atau sebesar 65,14 %, sedangkan responden yang memiliki Adversity Quotient dengan kategori Tinggi (T) hanya sejumlah 54 siswa atau sebesar 30,86 %. Artinya sebagian besar siswa memiliki Adversity Quotient yang tergolong Sedang (Campers). Mereka puas dengan mencukupi diri dan tidak mau mengembangkan diri, sehingga mereka kurang berhasil dalam belajar, tumbuh dan berprestasi.

(16)

ISBN : 978-602-60885-0-5        Prosiding Seminar Nasional Psikologi UMG 

semakin tinggi pula skor Kemandirian Belajar Siswa. Kemandirian seorang remaja diperkuat melalui proses sosialisasi yang terjadi antara remaja dan teman sebaya. Hurlock (1991) menyatakan bahwa melalui hubungan dengan teman sebaya, remaja berpikir secara mandiri, mengambil keputusan sendiri, menerima (bahkan dapat juga menolak) pandangan dan nilai yang berasal dari keluarga dan mempelajari pola perilaku yang diterima di dalam kelompoknya.

Menurut Danuari (1990) Kemandirian Belajar adalah adanya tendensi untuk berprilaku bebas dalam berinisiatif atau bersikap atau berpendapat, adanya tendensi percaya diri, adanya sifat original (keaslian) yaitu bukan sekedar meniru orang lain, tidak mengharapkan pengarahan orang lain, dan adanya tendensi untuk mencoba sendiri.

Kesimpulan

Kemandirian Belajar adalah kecenderungan untuk melakukan sesuatu tanpa adanya ketergantungan pada orang lain dalam membuat keputusan dan menyelesaikan tugas serta pekerjaan sendiri, yang ditandai dengan rasa percaya diri yang tinggi, bertanggung jawab terhadap diri sendiri, serta memiliki inisiatif dan mampu memulai sesuatu dengan sendiri dan mendapat kepuasan dari hasil kerjanya.

Berdasarkan beberapa faktor yang mempengaruhi Kemandirian Belajar siswa , yaitu faktor yang berasal dari dalam diri siswa dan faktor yang berasal dari luar diri siswa. Faktor-faktor yang berasal dari dalam diri siswa meliputi faktor psikis seperti,

(17)

faktor lingkungan alam, faktor sosio-ekonomi, guru, metode mengajar, kurikulum, mata pelajaran, sarana dan prasarana, peneliti mengamati bahwa Self-Esteem adalah faktor yang paling berperan.

Kemandirian Belajar peserta didik perlu dikembangkan mengingat besarnya peranan kemandirian belajar dalam kehidupan. Pengembangan Kemandirian Belajar mengacu pada fakta bahwa Kemandirian Belajar berhubungan dengan beberapa faktor, baik faktor internal maupun faktor eksternal. Salah satu faktor internal yang menarik untuk diteliti dalam hubungannya dengan kemandirian belajar adalah Self-Esteem ( mengacu pada perasaan seseorang terhadap dirinya sendiri, sejauh mana seseorang menghargai dan menilai dirinya sendiri). Karena dengan memiliki Self-Esteem yang tinggi maka dapat mendorong Kemandirian Belajar seseorang.

Penelitian ini bertujuan untuk menguji hipotesis yang berbunyi bahwa “Ada hubungan antara Self-Esteem dan Adversity Quotient dengan Kemandirian Belajar Siswa”. Variabel penelitian meliputi satu variabel terikat yaitu Kemandirian Belajar Siswa, dan dua variabel bebas yaitu Self-Esteem dan Adversity Quotient. Penelitian ini dilakukan di SMP Negeri 4 Gresik, sedangkan yang menjadi populasinya adalah seluruh Siswa kelas VIII (delapan) di SMP Negeri 4 Gresik yang berjumlah 324 (yang terdiri dari 9 kelas, masing-masing kelas berisi 36 siswa). Penentuan sampel mengunakan Random Sampling. Adapun responden yang diteliti adalah 175 siswa.

Penelitian ini menggunakan teknik analisis regresi dengan bantuan program SPSS for windows Ver. 11.5. Data penelitian diperoleh melalui penggunaan skala Kemandirian Belajar yang disusun sendiri oleh peneliti dengan indikator-indikator: mencukupi kebutuhan belajar sendiri; mampu mengerjakan tugas-tugas rutin dalam belajar, memiliki inisiatif belajar sendiri; mampu mengatasi masalah belajar tanpa bantuan orang lain; serta dapat mengambil keputusan sendiri dalam belajar.

Sedangkan skala Self-Esteem juga disusun sendiri oleh peneliti terdiri atas indikator-indikator: adanya keyakinan yang kuat, meliputi perasaan aman dan nyaman; penggambaran diri yang akurat dan realistik; penggambaran diri yang akurat dan realistik; sikap dianggap penting, memiliki perasaan diakui, dihargai; Mempunyai tujuan dan motivasi untuk hidup, mempunyai tanggung jawab atas konsekuensi dari keputusan.

(18)

ISBN : 978-602-60885-0-5        Prosiding Seminar Nasional Psikologi UMG 

(2007), yang memiliki dimensi : Control (Kendali); Origin dan Ownership (Asal Usul dan Pengakuan); Reach (Jangkauan); Endurance (Daya tahan).

Hasil Penelitian menunjukkan bahwa hipotesis penelitian pertama diterima, yaitu Kemandirian Belajar seseorang berhubungan dengan Self-Esteem Kemandirian Belajar seseorang siswa tidak akan terlepas dari kemampuan menghargai dan menilai dirinya sendiri secara positif. Jika Harga Diri seseorang dioptimalkan maka akan memunculkan perilaku mandiri dalam belajar. Sehingga bagi siswa yang memiliki tingkat Self-Esteem yang tinggi akan menumbuhkan Kemandirian Belajar.

Hasil Penelitian menunjukkan bahwa hipotesis kedua ditolak, yang artinya bahwa Adversity Quotient tidak mempengaruhi Kemandirian Belajar seseorang.

Adversity Quotient, ternyata tidak terlalu banyak memberikan pengaruh terhadap Kemandirian Belajar.

Hasil analisis regresi linier menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang positif antara Self Esteem dan Adversity Quotient dengan Kemandirian Belajar Siswa, artinya secara bersama-sama kedua variabel bebas mempunya korelasi dengan Kemandirian Belajar Siswa, sehingga hipotesis ketiga dalam penelitian ini diterima.

Secara bersama-sama, sumbangan efektif yang menggambarkan hubungan antara Self esteem dan Adversity Quotient dengan Kemandirian Belajar Siswa menunjukkan prosentase sebesar 13,2 %. Hal ini berarti masih terdapat variabel lain yang belum diteliti 86,8 %. Adapun variabel lain yang mungkin akan berpengaruh atau memiliki hubungan dengan Kemandirian Belajar diantaranya adalah Self-Efficacy, motivasi belajar, sikap, minat, locus of control, dan kebiasaan belajar,

Saran

Sehubungan dengan hasil penelitian, ada beberapa saran yang peneliti sampaikan kepada :

1. Siswa

(19)

perlu membiasakan diri untuk bergaul yang dapat diasah dan dikembangkan melalui interaksi langsung dalam pergaulan, misalnya dalam kelompok teman sebaya siswa dapat melatih berbagi, kerja sama, menghargai, menolong dengan cara-cara yang menyenangkan.

2. Pendidik dan Orang Tua

Kemandirian Belajar seseorang berhubungan dengan Self-Esteem, Kemandirian Belajar seseorang siswa tidak akan terlepas dari kemampuan menghargai dan menilai dirinya sendiri secara positif. Jika Harga Diri seseorang dioptimalkan maka akan memunculkan perilaku mandiri dalam belajar. Yaitu dengan cara memberikan pujian, memberikan penghargaan terhadap usaha siswa, meningkatkan kulitas interaksi yang hangat dan kasih sayang kepada remaja, memberikan kesempatan yang lebih luas pada siswa atau remaja untuk belajar mengatasi persoalannya sendiri. Selain itu Ketika siswa sukses melakukan suatu tugas, sampaikan bahwa ia benar-benar telah berhasil. Sebaliknya, ketika siswa gagal dalam melaksanakan tugas, katakan dengan kalimat “belum berhasil” dan masih ada kesempatan lebar untuk mencapai hasil yang lebih baik.

3. Peneliti selanjutnya

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sumbangsih Self esteem dan Adversity Quotient terhadap Kemandirian Belajar Siswa sebesar 13,2 % ini berarti masih terdapat 86,8 % variabel-variabel lain yang mempengaruhi lainnya (diluar variabel yang diteliti).

Pengambilan subyek penelitian juga perlu diperhatikan khususnya yang berkaitan dengan adversity. Dalam penelitian ini, tidak dibedakan jenis kelamin siswa, urutan kelahiran, dan status sosial ekonomi.

(20)

ISBN : 978-602-60885-0-5        Prosiding Seminar Nasional Psikologi UMG 

Daftar Pustaka

Anastasi, A. & Urbina, S. (1997). Tes psikologi. Alih Bahasa : Robertus H. Imam. Jakarta : Prenhalindo.

Atwater, E. (1983). Psychology of adjusment. Personal Growth In Changing World (2ndEd.). New Jersey : Prentice Hall.

Azwar, S. (1992). Reliabilitas dan Validitas. Yogyakarta : Sigma Alpha.

Arslan , C. (2009),Self-Esteem, And Perceived Social Support in Adolecence Jurnal Social Behaviour And Personality, 37(4), 555-564

Afianti, R., Hartati, S., Sawitri, D, R. (2008) “Hubungan antara self regulated (SLR) dengan kemandirian pada siswa program akselerasi SMAN 1 Purworejo”

Busnawir dan Suhaena (2005). Pengaruh Penilaian Berbasis Portofolio terhadap Hasil Belajar Matematika dengan Mempertimbangkan Kemandirian Belajar Siswa (Eksperimen pada Siswa SMP Negeri 44 Jaktim). Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan. Edisi Khusus, Desember 2006.

Bernadib, S.I. (1999). Pengantar Ilmu Pendidikan Sistematis. Yogyakarta : Andi Offset.

Branden, N. (1999). Kiat jitu meningkatkan harga diri. Alih Bahasa. Jakarta : Pustaka delapratesa.

Butler, D.L. (2002). Individualizing Instrction in Self-Regulated Learning.

http//articles.findarticles.com/p/articles/mi_mOQM/is_2_41/ni_90190495 diakses

4 Pebruari 2012

Corno L. & Randi, J. (1999). Self-Regulated Learning. http//www.personal. psu.edu/users/h/x/hxk223/self.htm diakses 4 Pebruari 2012

Hadi, Sutrisno. (1992). Analisis Regresi. Yogyakarta. Andi Offset

(21)

Hiemstra R,_________ (http://www.uwex.edu/diste/conference/) Participating in the future: shared leading, collaborative learning, and creatively deciding. diakses 16 Pebruari 2012

Hergenhahn, B.R. (2010). Theories of Learning (Teori Belajar)-edisi ketujuh. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Habibollah. Naderi, (2009). Self Esteem, Gender and Academic Achievement of Undergraduate Students, American Journal Penelitian Ilmiah ISSN 1450-223X Edisi 3, pp.26-37 EuroJournals Publishing, Inc diakses 14 Pebruari 2012http://www.eurojournals.com/ajsr_3_03.pdf

Ismawati, F., dan Sirodj, S. (2010). Perbedaan Self-Confindence dan Self Regulated Learning antara siswa kelas IMERSI dan siswa regular. Jurnal Penelitian Psikologi, 1,1,75-86.

Kerllinger. ( 2000). Asas-asas Penelitian Behavioral. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.

Lasmono. (2001). “Tinjauan Singkat Adversity Quotient” Anima, Indonesian Psychological Journal Vol.17 No.1, 63-68. Fakultas Psikologi, Universitas Surabaya.

Nurmalasari. Y., dan Putri, D. E. (2007) ”The Relationship Between Social Support And Self Esteem in Teenagers Sufeering from Lupus” http://www.gunadarma.ac.id

diakses 6 Agustus 2012

Syah, M. (1995). Psikologi Pendidikan Suatu Pendekatan Baru. Bandung : Remaja Rosdakarya.

Stoltz, Paul G. (2007). Adversity Quotient, Mengubah Hambatan Menjadi Peluang. Jakarta: PT. Grasindo.

Sugiyono. (2012). Metode penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R & D. Bandung : Alfabeta

Slameto. (2004). “Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya”. Jakarta: Rineka Cipta.

Slavin, R. E. (2009). Psikologi Pendidikan Teori dan Praktik-edisi kedelapan jilid 1. Jakarta :Erlangga

(22)

ISBN : 978-602-60885-0-5        Prosiding Seminar Nasional Psikologi UMG 

Undang –Undang RI No.20 tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional

Wayne, C,.S. (2001). Self-Directed Anticipative Learning Processes.

Gambar

Tabel 1. Deskripsi Data Penelitian
Tabel 1 Deskripsi Data Penelitian . View in document p.11
Tabel 2. Sebaran Frekwensi Subyek Pada  Variabel Penelitian.
Tabel 2 Sebaran Frekwensi Subyek Pada Variabel Penelitian . View in document p.11
Tabel 3.  Rangkuman Hasil Analisis Regresi
Tabel 3 Rangkuman Hasil Analisis Regresi . View in document p.12

Referensi

Memperbarui...

Download now (22 pages)
Related subjects : Motivasi dan Self Efficacy