BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Penelitian Terdahulu - Aji Yoga Piguna Bab II

Gratis

0
0
26
3 months ago
Preview
Full text

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Penelitian Terdahulu Selama peneliti melakukan penelusuran terhadap beberapa skripsi

  penulis belum mendapatkan karya yang sama persis dengan penelitian yang akan penulis teliti. Namun ada beberapa karya yang berkaitan, yaitu mengenai penelitian karya sastra, pembaruan Islam. Di antaranya:

  1. Skripsi Novyandha Tiara Andriawan (UMP, Fakultas Agama Islam, 2014) yang berjudul Nilai-nilai Pendidikan Islam dalam Novel Kubah Karya Ahmad Tohari mempunyai tujuan untuk mendeskripsikan nilai-nilai pendidikan agama Islam dalam novel Kubah karya Ahmad Tohari.

  Mengungkapkan tentang nilai-nilai pendidikan Islam yang terkandung dalam novel Kubah karya Ahmad Tohari. Nilai-nilai pendidikan Islam yang terkandung dalam novel Kubah di antaranya adalah nilai

I‟tiqadiyyah, yaitu berkaitan dengan pendidikan keimanan. Nilai Khulukuyyah , yaitu berkaitan dengan pendidikan etika. Dan yang terakhir

  adalah nilai Amaliyyah, yang berkaitan dengan pendidikan tingkah laku sehari-hari meliputi ibadah. Perbedaan dengan penelitian yang dilakukan peneliti saat ini adalah pada obyek dan hal-hal yang terkandung di dalam penelitian antara nilai-nilai dengan pembaruan pendidikan Islam.

  2. Skripsi Ahmad Syauki Mubarak (UMP, Fakultas Agama Islam, 2007) yang berjudul Studi Analisis tentang Aspek-aspek Pendidikan Islam dalam

  8 Ibadah Kurban. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tentang aspek- aspek pendidikan Islam yang terkandung dalam ibadah Kurban. Penelitian ini bersifat deskriptif analisis yang berusaha memaparkan aspek-aspek pendidikan Islam. Hasil penelitian ini adalah bahwa di dalam ibadah Kurban terdapat aspek-aspek pendidikan Islam yaitu aspek aqidah, akhlaq, rasa keindahan dan sosial kemasyarakatan yang semua saling melengkapi dimana dalam pendidikan Islam dibutuhkan penanaman aqidah dan akhlak sesuai dengan ajaran Islam yang disertai dengan rasa keindahan tanpa mengesampingkan rasa sosial kemasyarakatan. Gambarannya pendidikan Islam adalah pendidikan yang berlandaskan firman Allah dan Sunah Rasul dan beserta Sunah Pencipta Alam. Tujuannya adalah menciptakan manusia yang berkualitas yang diharakan mampu berperan sebagai khalifah di bumi. Perbedaan yang nampak dalam penelitian yang dilakukan peneliti saat ini terletak pada sifat penelitian, yaitu deskriptif analisis dengan content analysis .

  2013) yang berjudul Perbandingan Religiusitas Tokoh Utama Antara Novel Sang Pencerah Karya Akmal Nasery Basral dengan Jejak Sang Pencerah Karya Didik L. Hariri. Obyek penelitian ini adalah kereligiusitas tokoh utama yang terdapat pada novel Sang Pencerah karya Akmal Nasery Basral dengan Jejak Sang Pencerah karya Didik L. Hariri. Data yang di gunakan adalah teks yang mengandung religiusitas tokoh utama yang terdapat pada novel Sang Pencerah karya Akmal Nasery Basral dengan

  Jejak Sang Pencerah karya Didik L. Hariri. Pendekatan yang dilakukan adalah pendekatan struktural dan pendekatan moral. Pendekatan struktural untuk mengetahui tokoh utama pada kedua novel dan pendekatan moral digunakan untuk menguji kereligiusitasnya. Hasil penelitian ini kereligiusitas yang di temukan meliputi lima aspek yaitu, aspek Ilmu, aspek Amal, aspek Ihsan, aspek Islam, aspek Iman. Di dalam perbandingan yang dilakukan oleh peneliti ditemukan persamaan dan perbedaan kereligiusitasnya tokoh utama yang terdapat pada beberapa aspek religiusitas tokoh utama. Perbedaan dengan penelitian yang dilakukan peneliti saat ini adalah pada obyek dan hal-hal yang terkandung di dalam penelitian antara perbandingan antara dua novel dengan pembaruan pendidikan Islam.

  Tiga penelitian di atas merupakan beberapa judul yang mengungkap tentang seni sastra dan pemikiran pembaruan, dan pendidikan Islam.

  Sedangkan penulis mencoba membuka ranah seni sebagai sarana dalam penyampaian pembaruan yang digunakan dalam melakukan penelitian pada novel Sang Pencerah karya Akmal Nasery Basral dengan judul pembaruan pendidikan Islam K.H Ahmad Dahlan dalam novel Sang Pencerah karya Akmal Nasery Basral. Menjadi fokus penelitian adalah analisis dan pengungkapan tentang isi cerita yang terkandung dalam novel, yang mengandung dan selaras dengan pembaruan pendidikan Islam, sehingga kemudian memberikan penguatan bahwa dengan media karya sastra, terutama novel, dapat pula memberikan kontribusi dan tambahan referensi untuk materi di dalam pembaruan ajaran agama Islam.

B. Pembaruan

  Istilah pembaruan berasal dari kata “baru”, yang dapat di sama artikan dengan “kekinian”, “akhir”, “up-todate”, atau semacamnya. Bisa dikatakan sebagai kebalikan dari “lama”, “kolot”, atau semacamnya. (Azizy, 2004: 5).

Istilah “pembaruan” berasal dari kata “baru” yang bermakna sesuatu yang tidak pernah ada, tidak pernah dilihat, tidak pernah diketahui atau di

  dengar sebelumnya. Pembaruan juga mengandung pengertian memperbaiki supaya menjadi baru atau mengganti dengan yang baru (Harahap, 1997: 171).

  Pembaruan perlu menjadi arah yang terbaik dalam menghadapi perkembangan zaman yang begitu cepat berubah dari masa ke masa.

  Pembaruan adalah proses, cara, perbuatan memperbarui (Moeliono, 2005: 109).

  Pembaruan sesungguhnya lebih merupakan upaya atau usaha perbaikan keadaan, baik dari segi cara, konsep dan serangkaian metode yang bisa diterapkan dalam rangka mengantarkan keadaan yang lebih baik. (Suwito, 2008: 161)

  Harun Nasution dalam Lestari (2010: 88) pembaruan adalah suatu aliran, gerakan, pemikiran, dan usaha untuk mengubah paham, adat istiadat lama agar semuanya disesuaikan dengan pendapat dan keadaan baru yang timbul oleh kemajuan ilmu pengetahuan serta teknologi modern.

  Pembaruan sama halnya dengan modernisasi yang dasarnya adalah suatu bentuk tindakan kultural yang amat penting dan berlangsung dalam perangkat tradisi yang dinamis. (Madjid, 2000: 454)

  Menurut Al-Maududi dalam Lestari (2010: 89) suatu gerakan dapat disebut sebagai pembaruan jika:

  1. Merupakan usaha perbaikan kondisi masyarakat dengan membersihkan penyakit yang meracuninya.

  2. Mencari letak permasalahan untuk menyelesaikannya.

  3. Identifikasi kemampuan dirinya untuk melakukan pembaruan.

  4. Upaya menciptakan perombakan pandangan dan pola pikir masyarakat ke arah yang lebih baik.

  5. Berijtihad

  6. Active dan responsive mengembangkan aplikasi Islam Menurut Azizy (2005: 9) langkah pembaruan pada dasarnya lebih menekankan pada tiga hal, yaitu:

  1. Progressive (kemajuan),

  2. Scientific (ilmiah), 3. Rational (segala sesuatu harus masuk akal).

  Jadi pada intinya, pembaruan merupakan suatu upaya positif membawa kemajuan yang dilakukan dengan persiapan yang matang, sikap terbuka terhadap perubahan sesuai dengan perkembangan zaman dan bertujuan untuk mengimbangi serta menyetarakan bahkan mengoreksi kekurangan masa lalu dengan kondisi saat ini dan saat yang akan datang agar terwujudnya keadaan yang lebih baik.

C. Pendidikan Islam

  Kegiatan pendidikan amat banyak macamnya, antara lain disebabkan beranekanya segi kepribadian yang harus dibina oleh pendidikan. Pendidikan Islam tumbuh dan berkembang sejalan dengan adanya dakwah Islam yang telah dilakukan Nabi Muhammad SAW. Pola pendidikan Islam memiliki corak dan karakteristik yang berbeda, sejalan dengan upaya pembaruan yang dilakukan secara terus menerus pasca generasi Nabi. pengertian yang luas pendidikan itu menyangkut seluruh pengalaman. (Tafsir, 2011: 5)

  Pendidikan Islam terus mengalami perubahan baik dari segi kurikulum (mata pelajaran), maupun dari segi lembaga pendidikan Islam yang dimaksud.

  Telah tampak dan terjadi upaya perubahan secara alamiah (nature) dalam pendidikan Islam (Suwito, 2008: 158).

  Menurut Arifin (2011: 7) pendidikan Islam berarti sistem pendidikan yang dapat memberikan kemampuan seseorang untuk memimpin kehidupannya sesuai dengan cita-cita dan nilai-nilai Islam yang telah menjiwai dan mewarnai corak kepribadiannya.

  Menurut Arief (2002: 16) pendidikan Islam yaitu sebuah proses yang dilakukan untuk menciptakan manusia-manusia yang seutuhnya, beriman dan bertakwa kepada Tuhan serta mampu mewujudkan eksistensinya sebagai khalifah Allah di muka bumi, berdasarkan kepada ajaran Al Qur‟an dan sunah.

  Sependapat dengan pengertian di atas, Daulay (2007: 3) Pendidikan Islam adalah proses pembentukan manusia ke arah yang di cita-citakan Islam.

  Menurut Jamal (1980: 7) yang dikutip Idi (2006: 46) pendidikan Islam adalah usaha yang dilakukan Islam dalam rangka pembentukan masyarakat baru sebagai lawan dari masyarakat Jahiliyyah.

  Dari beberapa pendapat yang telah dikutip di atas, dapat disimpulkan bahwa pendidikan Islam adalah usaha sadar dan terencana dalam menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati, mengimani, bertakwa berakhlak mulia, mengajarkan ajaran agama Islam secara utuh diarahkan kepada pembentukan kepribadian anak untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan serta harus mampu hidup di dalam kedamaian dan kesejahteraan sebagaimana diharapkan oleh cita-cita Islam sebagai pemimpin di dunia, sebagaimana Islam telah menjadi pedoman bagi seluruh aspek kehidupan manusia, baik duniawi maupun ukhrawi. Pendidikan Islam tetap terbuka terhadap tuntutan kesejahteraan umat manusia baik tuntutan bidang ilmu pengetahuan dan teknologi maupun tuntutan pemenuhan kehidupan rohaniah. Pendidikan Islam bersifat akomodatif terhadap tuntutan kemajuan jaman sesuai acuan norma-norma kehidupan Islam.

  Menurut Ramayulis (2011: vii) pendidikan Islam terdapat dua bagian, yaitu pelaku pendidikan Islam dan komponen-komponen dasar pendidikan Islam. Dapat di jelaskan lebih terperinci dua bagian tersebut, yaitu:

  1. Pelaku Pendidikan Islam

  a. Pendidik dalam Pendidikan Islam Menurut Ramayulis (2011: 56) pendidik dalam pendidikan Islam adalah setiap orang dewasa yang karena kewajiban agamanya bertanggung jawab atas pendidikan dirinya dan orang lain. Sedangkan yang menyerahkan tanggung jawab dan amanat pendidikan adalah agama, dan wewenang pendidik dilegitimasi oleh agama, sementara yang menerima tanggung dan amanat adalah setiap orang dewasa.

  Menurut Saebani (2009: 224) pendidik merupakan orang pilihan, yang bukan hanya memiliki kelebihan ilmu pengetahuan melainkan juga memiliki tanggung jawab yang berat dalam melaksanakan tugas dan fungsinya. Pendapat tersebut dikuatkan oleh Tirtarahardja (2008: 54) pendidik ialah orang yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan pendidikan dengan sasaran peserta didik.

  Moh. Fadhil al-Djamil yang dikutip Ramayulis (2011: 58) menyebutkan bahwa pendidik adalah orang yang mengarahkan manusia kepada kehidupan yang baik sehingga terangkat derajat kemanusiaannya sesuai dengan kemampuan dasar yang dimiliki oleh manusia.

  Pendidik adalah orang yang mendidik, karenanya secara implisit ia telah merelakan dirinya menerima dan memikul sebagian tanggung jawab pendidikan yang dipikul di pundak orang tua, selain itu pendidik juga menjadi pemimpin bagi anak didiknya dan sebagai pemimpin akan diminta pertanggungjawabannya terhadap apa yang dipimpin, sesuai dengan firman Allah pada Q.S Al Thuur: 21) yang artinya: “tiap-tiap

  manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya

  ” (Sutoyo dalam Djamil, 2005: 229)

  Pendidik adalah orang dewasa yang bertanggung jawab memberikan pertolongan pada peserta didiknya dalam perkembangan jasmani dan rohaninya, agar mencapai tingkat kedewasaannya, mampu mandiri dalam memenuhi tugasnya sebagai hamba dan khalifah Allah SWT, dan mampu melakukan tugas sebagai makhluk sosial dan sebagai makhluk individu yang mandiri. Di dalam Al Qur‟an dijelaskan beberapa aspek karakter pendidik, yaitu (1) al-murabbi; (2) al-muallim; (3) al-muzakki; (4) al-ulama; (5) al-rasikun fi al-

  „ilm; (6) ahl-al-dzikr;

  (7) ulu al-bab; (8) al-muaddib; (9) al-mursyid; (10) al-

  muwa‟idz; (11) al-faqih . (Nata, 2010: 160)

  Tugas pendidik dalam pandangan Islam adalah mendidik, yaitu mengupayakan perkembangan seluruh potensi anak didik, baik potensi

  

psikomotor, kognitif maupun potensi afektif. Potensi itu harus

  dikembangkan secara seimbang sampai ke tingkat setinggi mungkin menurut ajaran Islam. (Tafsir, 2012: 120)

  Ahmadi (2014: 120) menggolongkan pendidik dalam pendidikan Islam dipandang dari segi diri-pribadinya (self oriented), seorang pendidik berperan sebagai: 1) Pekerja sosial (social worker), yaitu seorang yang harus memberikan pelayanan kepada masyarakat.

  2) Pelajar dan ilmuwan, yaitu seorang yang harus senantiasa belajar secara terus-menerus untuk mengembangkan penguasaan keilmuannya. 3) Orang tua, artinya guru adalah wakil orang tua peserta didik bagi setiap peserta didik di sekolah.

  4) Model keteladanan, artinya guru adalah model perilaku yang harus dicontoh oleh para peserta didik, dan 5) Pemberi keselamatan bagi setiap peserta didik. Peserta didik diharapkan akan merasa aman berada dalam didikan pendidiknya.

  Menurut Muchtar (2008: 155) secara umum tugas pendidik adalah: 1) Mujadid ( ) yakni sebagai pembaharu ilmu, baik dalam teori

  دداجم maupun praktek, sesuai syariat Islam.

  2) Mujtahid ( ) yaitu sebagai pemikir yang ulung, dan

  دهتجم

  3) Mujahid ( ) yaitu sebagai pejuang kebenaran terhadap agama

  دهاجم Allah SWT. Pendidik adalah orang yang melakukan pertolongan kepada peserta didik dalam proses pendidikan, pengajaran penanaman ilmu yang tidak hanya di lingkungan sekolah, melainkan di dalam kehidupan keluarga dan masyarakat. Semua kegiatan yang di dalamnya terdapat penanaman nilai Islam, norma Islam dan pengetahuan Islam maka sudah dikatakan sebagai langkah mendidik sesuai tujuan Islam.

  b. Peserta Didik dalam Pendidikan Islam Menurut Ramayulis (2011: 77) peserta didik adalah orang yang sedang berada pada fase pertumbuhan dan perkembangan baik secara fisik maupun psikis, pertumbuhan dan perkembangan merupakan ciri dari seorang peserta didik yang perlu bimbingan dari seorang pendidik.

  Menurut Mujib (2008: 103) peserta didik dalam pendidikan islam adalah individu sedang tumbuh dan berkembang, baik secara fisik, psikologis, sosial, dan religius dalam mengarungi kehidupan di dunia dan di akhirat kelak.

  Peserta didik cakupannya lebih luas daripada anak didik. Peserta didik tidak hanya melibatkan anak-anak, tetapi juga orang dewasa.

  Penyebutan istilah peserta didik ini bukan hanya orang-orang yang belum dewasa dari segi usia, melainkan juga orang-orang yang dari segi usia sudah dewasa, namun dari segi mental, wawasan, pengalaman, keterampilan, dan sebagainya masih memerlukan bimbingan. (Nata, 2012: 173)

  Menurut Mochtar (2008: 159) dalam menuntut ilmu (belajar) terdapat beberapa prinsip peserta didik yang harus diperhatikan: 1) Ilmu yang dituntut adalah ilmu yang diridhai Allah SWT. Bukan yang dilarang karena bertentangan dengan agama Islam.

  2) Berniat baik dan ikhlas karena Allah SWT. 3) Beribadah dengan benar dan taat melaksanakan perintah Allah SWT serta menjauhi larangan-Nya.

  4) Bersungguh-sungguh, rajin dan ulet. 5) Bersikap hormat dan sopan kepada siapapun, terutama kepada orangtua dan pendidik.

  6) Mengajarkan dan mengamalkan ilmu yang telah di dapat.

  Berdasarkan pengertian di atas dapat di tarik kesimpulan bahwa peserta didik adalah individu yang sedang memerlukan bimbingan dari seorang pendidik. Peserta didik harus memiliki adab yang baik terhadap pendidik supaya dapat memiliki ilmu yang bermanfaat bagi dirinya dan orang lain.

  2. Komponen-komponen dasar Pendidikan Islam

  a. Sumber Pendidikan Islam Menurut Hans Wehr dalam Nata (2012: 73) kata Sumber dapat diartikan starting point (titik tolak), point of origin (sumber asli), origin

  (asli), source (sumber), infinitive (tidak terbatas), verbal nounce (kalimat kata kerja), dan absolute or internal object (mutlak atau tujuan yang bersifat internal).

  Menurut Nizar (2005: 179) sumber pendidikan Islam dapat dibagi kepada Al Qur‟an dan Hadist, yang kemudian akal (rasional) dan intuisi (qalb) menjadi penerjemah dalam setiap isi ajarannya.

  Menurut Razak (2011: 102) Sumber pendidikan Islam adalah Al Qur‟an dan Sunnah. Kitab Al Qur‟an adalah kumpulan firman Allah SWT yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW. Sedangkan Sunah adalah kumpulan kata-kata, perbuatan dan sikap nabi Muhammad SAW yang dijadikan teladan bagi umat Islam

  Lebih luas dijelaskan menurut Langgulung yang dikutip Nata (2012: 75) bahwa sumber pendidikan Islam adalah Al Qur‟an, as Sunah, ucapan para sahabat (mazhab al Shahabi), kemaslahatan umat (mashalih al-mursalah), tradisi atau adat yang sudah di praktikkan dalam kehidupan masyarakat (al-

  „urf), dan hasil ijtihad para ahli.

  Sehubungan dengan pendapat di atas dapat di tarik suatu kesimpulan bahwa sumber pendidikan Islam adalah yang utama adalah Al Qur‟an yang memuat wahyu Allah SWT, dimana ajarannya mencakup seluruh ilmu pengetahuan dan Sunnah yang merupakan segala sesuatu yang datangnya dari Rasulullah SAW yang menjelaskan lebih terperinci isi kandungan Al Qur‟an.

  b. Tujuan Pendidikan Islam Perlu diuraikan istilah “tujuan” atau “sasaran”, atau “maksud” yang dalam bahasa bahasa Arab dinyatakan dengan kata-kata ghayat, atau ahdaaf, atau maqasid . Dalam bahasa Inggris “tujuan” dikatakan dengan goal, purpose, objectives atau aim. (Arifin, 2011: 53)

  Ramayulis (2012: 22) pendidikan Islam bertujuan meningkatkan keimanan, pemahaman, penghayatan dan pengalaman tentang agama Islam sehingga menjadi manusia muslim yang beriman dan bertakwa kepada Allah SWT serta berakhlak mulia dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

  Tujuan pendidikan Islam adalah perwujudan nilai-nilai Islami dalam pribadi manusia didik yang di ikhtiarkan oleh pendidik muslim melalui proses yang terminal pada hasil (produk) yang berkepribadian Islam yang beriman, bertakwa, dan berilmu pengetahuan yang sanggup mengembangkan dirinya menjadi hamba Allah yang taat. (Arifin, 2011: 54). Sedangkan bertujuan untuk membina atau mengembalikan manusia kepada fitrahnya yaitu kepada Rubbubiyah Allah sehingga mewujudkan manusia yang berjiwa tauhid, takwa kepada Allah SWT, rajin beribadah dan beramal shalih, ulil albab, serta berakhlakul karimah. (Muchtar, 2008: 128).

  Di dalam Laporan Hasil World Conference on Muslim Education yang pertama di Mekkah tanggal 31 Maret sampai 8 April 1977, yang dikutip Idi (2006: 49) disebutkan:

  “Education should aim at balanced growht of the total personality of man through the Training of Mans spirit, intellect, the rational self, feelings, and bodily senses. Education should therefore carter for the growth of man in alk Ita aspects: spiritual, Intellectual, imaginative, physical, Scientific, linguistic bot individually and collectively and motivate al these aspect towards

  goodness and the attainment of perfection. The ultimate aim of Muslim Education lies in the realization of complete submission to

Allah on the level of individual, the community and humanity at large”

  (Pendidikan seharusnya bertujuan menimbulkan pertumbuhan kepribadian total manusia secara seimbang, melalui latihan spiritual, intelektual, rasional diri, perasaan dan kepekaan tubuh manusia. Oleh karena it u, pendidikan seharusnya menyediakan jalan bagi pertumbuhan manusia dalam segala aspeknya: spiritual, intelektual, imajinasi, fisik, ilmiah, linguistik baik secara individual maupun kolektif dan memotivasi aspek tersebut untuk mencapai kebaikan dan kesempurnaan. Tujuan akhir pendidikan Muslim terletak pada realisasi kepasrahan mutlak kepada Allah pada tingkat individual, masyarakat, dan kemanusiaan pada umumnya)

  Demikian pula yang terjadi dalam tujuan pendidikan Islam, bahwa penetapan tujuan akhir itu mutlak diperlukan dalam rangka mengarahkan pembaruan segala proses, latihan, sejak dari perencanaan program sampai dengan pelaksanaannya, untuk membentuk manusia yang berkepribadian Islam yang beriman, bertakwa, dan berilmu pengetahuan yang sanggup mengembangkan dirinya agar tetap konsisten dan tidak mengalami deviasi (penyimpangan) dari aturan dan nilai-nilai agama. Tujuan pendidikan Islam lebih pada upaya kebahagiaan di dunia dan di akhirat, menghamba diri kepada Allah SWT, memperkuat keislaman, melayani kepentingan masyarakat Islam dan akhlak mulia.

  c. Kurikulum Pendidikan Islam Kurikulum dalam pendidikan Islam dikenal dengan kata

  “Manhaj” yang berarti jalan yang terang yang dilalui oleh pendidik bersama peserta didiknya untuk mengembangkan pengetahuan, keterampilan dan sikap mereka. (Arief, 2002: 30) Kurikulum (Manhaj) adalah seperangkat perencanaan dan media untuk mengantar lembaga pendidikan dalam mewujudkan tujuan pendidikan yang diinginkan. (Mujib, 2008:122)

  Adapun tentang pengertian kurikulum dalam pendidikan, maka jika kita kembali kepada kamus-kamus bahasa Arab, maka kita dapati kata- kata “manhaj” (kurikulum) yang bermakna jalan yang terang, atau jalan terang yang dilalui manusia pada berbagai bidang kehidupan. (Nata, 2012: 121)

  Menurut Hasan Langgulung (1988: 303) yang dikutip Ramayulis (2011: 153) ada empat komponen kurikulum yaitu: 1) Tujuan-tujuan yang ingin dicapai oleh pendidikan itu.

  2) Pengetahuan (knowledge), informasi-informasi, data-data, aktifitas- aktifitas dan pengalaman-pengalaman.

  3) Metode dan cara-cara mengajar yang dipakai pendidik untuk mendidik dan memotivasi.

  4) Metode dan cara penilaian yang dipergunakan dalam menilai dan mengukur kurikulum.

  Kurikulum yang baik dan relevan dalam rangka mencapai tujuan pendidikan Islam adalah yang bersifat intergrated dan komprehensif serta menjadiakan Al Qur‟an dan Hadist sebagai sumber utama dalam penyusunannya. Al Qur‟an dan Hadist merupakan sumber utama pendidikan Islam berisi kerangka dasar yang dapat dijadikan sebagai acuan operasional penyusunan dan pengembangan kurikulum pendidikan Islam. (Ramayulis, 2011: 155)

  Menurut Ramayulis (2011: 155) kerangka dasar kurikulum pendidikan Agama Islam, kerangka itu adalah tauhid dan perintah membaca.

  Dapat disimpulkan bahwa kurikulum pendidikan Islam adalah suatu jalan yang dilalui dalam pencapaian tujuan pendidikan, yang berisikan tujuan, pengetahuan, cara-cara mengajar, dan cara menilai, yang bersifat integrated dan komprehensif .

  d. Metode Pendidikan Islam Metode mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam upaya pencapaian tujuan, karena ia menjadi sarana dalam menyampaikan materi. Tanpa metode, suatu materi pelajaran tidak akan dapat berproses secara efisien dan efektif dalam kegiatan belajar. (Arifin, 2011: 144)

  Menurut Ahmadi (2014: 55) pengertian metode adalah suatu cara atau pola yang digunakan dalam pendidikan, memberikan petunjuk kepada pengajar dalam setting pengajaran maupun setting lainnya.

  Menurut Ramayulis (2011: 185) metode adalah seperangkat cara, jalan dan teknik yang digunakan oleh pendidik dalam proses pembelajaran agar peserta didik dapat mencapai tujuan pembelajaran atau menguasai kompetensi tertentu yang dirumuskan dalam suatu model.

  Metode pendidikan Islam adalah prosedur umum dalam penyampaian materi untuk mencapai tujuan pendidikan didasarkan atas asumsi tertentu tentang hakikat Islam sebagai suprasistem.(Mujib, 2006: 165).

  Menurut Arief (2002: 41) metode pendidikan Islam adalah cara yang dapat di tempuh dalam memudahkan pencapaian tujuan pendidikan Islam. Pengertian ini sependapat dengan Saebani (2009: 260) yang mengemukakan metode pendidikan Islam adalah cara-cara yang ditempuh dan dilaksanakan dalam pendidikan Islam agar mempermudah tercapainya tujuan pendidikan. Kemudian Saebani juga menjelaskan metode yang diterapkan adalah: 1) Metode Al-Hikmah, yakni metode pendidikan Islam dengan pemberian pemahaman ajaran Islam secara filosofis yang bersandarkan pada nilai-nilai cinta dan kebijaksanaan, kemudian bersifat persuasif dan menekankan pendekatan kasih sayang kepada semua peserta didik. 2) Metode Al-

Mau‟idhah, yakni metode pendidikan Islam yang

  menerapkan nasihat-nasihat secara lisan maupun tulisan, melalui berbagai perumpamaan, cerita, dan sindiran.

  3) Metode Mujadalah atau debat, yakni metode pendidikan Islam yang menggunakan perdebatan baik debat langsung atau polemik.

  Menurut Muchtar (2008: 18) metode pendidikan Islam secara garis besar terdiri dari lima metode, yaitu: 1) Metode Keteladanan (Uswah Hasanah), yaitu dengan memberikan contoh atau teladan terhadap peserta didik bagaimana cara berbicara, bersikap dan mengerjakan sesuatu atau cara beribadah. 2) Metode Pembiasaan, yaitu melaksanakan tugas atau kewajiban secara benar dan rutin terhadap peserta didik diperlukan pembiasaan.

  3) Metode Nasihat, yaitu pemberian petuah dan nasihat yang bermanfaat kepada peserta didik.

  4) Metode Memberi Perhatian, yaitu dengan memberikan pujian dan penghargaan.

  5) Metode Hukuman, yaitu penghargaan (reward/targhib)dan hukuman (punishment/tarhib)

  Peran metode dalam pendidikan sangatlah penting. Sehubungan itu dianjurkan agar menggunakan metode yang menarik perhatian peserta didik. Misalnya dalam pemberian nasihat di selingi oleh kisah- kisah para Nabi, sahabat, atau orang-orang salih. Juga hendaknya jangan hanya menggunakan satu metode saja, tapi gunakan juga metode-metode yang lainnya. Lebih baik lagi apabila dengan disertai menggunakan alat peraga (media). (Muchtar, 2008: 15)

  Metode menjadi hal penting dalam setiap proses pendidikan Islam melalui prosedur umum dalam menyampaikan materi dan penanaman nilai-nilainya, karena dalam suatu pendidikan pasti akan membutuhkan cara dalam penyampaiannya, agar materi yang disampaikan dapat dipahami secara utuh oleh peserta didik yang ada.

  e. Media Pendidikan Islam Menurut Daradjat pengertian media pendidikan adalah sumber belajar dan juga pengantar yang dapat membuat siswa mungkin memperoleh pengetahuan, keterampilan atau sikap. (Ramayulis, 2011: 203)

  Menurut Saebani (2009: 245) pengertian media pendidikan adalah sebuah perangkat atau alat yang digunakan dalam melaksanakan dan dimanfaatkan untuk pendidikan, yang secara umum media pendidikan bukan hanya perangkat dalam bentuk benda, tetapi ada yang bersifat abstrak.

  Ramayulis (2011: 204) mengklasifikasikan media/alat pendidikan kepada dua bagian yaitu media pendidikan yang bersifat benda (materiil) dan media pendidikan yang bukan bersifat benda (non materiil).

  Dapat disimpulkan bahwa media dalam pendidikan Islam adalah seperangkat alat yang digunakan untuk membantu ketercapaian dalam penanaman dan pemahaman peserta didik dalam mempelajari pendidikan Islam melalui bantuan benda ataupun bukan bersifat benda. f. Lembaga Pendidikan Islam Menurut Nata (2010: 189) lembaga pendidikan adalah badan atau organisasi yang melakukan kegiatan pendidikan yang di dalamnya mengandung nilai-nilai dan aturan.

  Lembaga pendidikan Islam adalah suatu bentuk organisasi yang diadakan untuk mengembangkan lembaga-lembaga sosial, baik yang permanen (rukun iman, rukun Islam) maupun yang berubah-ubah (ijtihad, fiqih, akhlak, lembaga ekonomi, lembaga seni, lembaga politik, lembaga negara), serta mempunyai struktur tersendiri yang dapat mengikat individu yang berada dalam naungannya, sehingga lembaga ini mempunyai kekuatan hukum tersendiri. (Mujib, 2008: 222)

  Lembaga pendidikan Islam adalah suatu bentuk organisasi yang diadakan untuk mengembangkan lembaga-lembaga Islam, dan mempunyai pola-pola tertentu dalam memerankan fungsinya, serta mempunyai struktur tersendiri yang dapat mengikat individu yang berada di bawah naungannya, sehingga mempunyai kekuatan hukum tersendiri (Ramayulis, 2011: 279)

  Menurut Ramayulis (2011: 281) jenis lembaga pendidikan Islam dari aspek penanggung jawabnya terdiri atas tiga jenis, yaitu: 1) Lembaga Pendidikan In-Formal (keluarga) 2) Lembaga Pendidikan Formal (Sekolah/Madrasah) 3) Lembaga Pendidikan Non-Formal (Masyarakat)

  Menurut Hasbullah (2001: 131) wujud dari lembaga pendidikan Islam adalah: 1) Masjid (surau, langgar, mushalla dan muanasah) 2) Madrasah dan pondok pesantren (kuttab) 3)

Pengajian dan penerangan Islam (majelis ta‟lim)

  4) Kursus-kursus keislaman (training) 5) Badan-badan pembinaan rohani 6) Badan-badan konsultasi keislaman 7) Musabaqah Tilawatil Quran.

  Dari pemaparan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa lembaga pendidikan Islam adalah badan atau organisasi untuk mengembangkan lembaga-lembaga Islam, lembaga dapat berupa keluarga, sekolah dan masyarakat melalui jalur pendidikan yang memuat nilai-nilai Islam dan terdapat dasar kekuatan hukum tersendiri.

D. Pembaruan Pendidikan Islam

  Pembaruan pendidikan Islam merupakan suatu yang sangat penting dalam menghadapi tantangan zaman. Pembaruan pendidikan Islam yang dimaksud adalah pembaruan dalam pola pikir dan praktis. Sebagaimana pendapat Lestari dalam bukunya (2010: 93), bahwa pembaruan pendidikan Islam diartikan sebagai pembaruan pemikiran yang dilakukan dalam bidang pemikiran maupun praktek pendidikan Islam.

  Pembaruan pendidikan Islam pada dasarnya suatu upaya menciptakan sosok Muslim yang memiliki kombinasi harmonis antara tradisi keulamaan dan sifat intelektualisme dengan melalui peralatan ilmu dan wawasan keislaman yang kokoh. (Shihab, 1999: 309)

  Pembaruan pendidikan Islam memiliki langkah akselerasi (percepatan menuju kesempurnaan dan kecanggihan) dengan adanya kemauan yang kuat, komitmen yang tinggi dan konsistensi terhadap proses. Tanpa ada akselerasi, pendidikan akan mengalami set back, tidak mampu mengikuti dinamika zaman, apalagi memandu perubahan zaman yang berjalan secara cepat. (Asmani, 2011: 227).

  Pembaruan pendidikan Islam sebagai suatu upaya melakukan proses perubahan kurikulum, cara, metodologi, situasi dan kondisi pendidikan Islam dari yang tradisional (orthodox) ke arah yang lebih rasional, dan profesional sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (Suwito, 2008: 162).

  Menurut Zuhairini (2011: 117) pola-pola pembaruan pendidikan Islam pada garis besarnya terdapat tiga golongan yaitu:

  1. Golongan yang berorientasi pada pola pendidikan modern di Barat.

  Melalui proses pendidikan dengan meniru (imitasi) pola pendidiakan yang dikembangkan oleh negara Barat, sebagaimana dulu dunia Barat pernah meniru dan mengembangkan sistem pendidikan Islam.

  2. Gerakan pembaruan pendidikan Islam yang berorientasi pada sumber Islam yang murni. Pola ini berpandangan bahwa Islam sendiri merupaka sumber bagi kemajuan dan perkembangan peradaban dan ilmu pengetahuan modern. Islam sudah penuh dengan ajaran-ajaran dan pada hakikatnya mengandung potensi untuk membawa kemajuan dan kesejahteraan serta kekuatan bagi umat manusia.

  3. Usaha pembaruan pendidikan Islam yang berorientasi pada nasionalisme.

  Rasa nasionalisme timbul bersamaan dengan berkembangnya pola kehidupan modern. Adanya keyakinan di kalangan pemikir-pemikir pembaruan di kalangan umat Islam , bahwa pada hakikatnya ajaran Islam bisa diterapkan dan sesuai dengan segala zaman dan tempat. Ide pembaruan yang berorientasi pada nasionalisme sesuai dengan ajaran Islam.

  Sedangkan menurut Abuddin Nata (2004: 188) yang mengklasifikasikan pola-pola pembaruan dalam pendidikan Islam menjadi tiga yaitu golongan yang berorientasi pada pola pendidikan modern Barat, gerakan pembaruan pendidikan Islam yang berorientasi pada sumber Islam yang murni, dan pembaruan pendidikan Islam yang ber orientasi pada nasionalisme.

  Masalah pembaruan pendidikan Islam sebenarnya bermula dari munculnya kesadaran kaum Muslim terpelajar pada kondisi pendidikan Islam disertai keinginan untuk memperbaikinya dengan membuka diri terhadap ide- ide pemikiran dari luar yang membawa perubahan (perbaikan). Mengenai prosesnya sangat tergantung pada budaya dan tradisi masing-masing wilayah atau negara bersangkutan. (Zurqoni, 2001: 108)

  Tuntutan pembaruan pendidikan menjadi suatu keharusan dan “pembaruan” pendidikan selalu mengikuti dan relevan dengan kebutuhan masyarakat. Baik pada konsep, kurikulum, sumber, proses, fungsi, tujuan, lembaga-lembaga pendidikan dan sumber daya pengelola pendidikan (Barnadib, 2003: 5).

  Pembaruan pendidikan Islam adalah upaya perubahan melalui pemikiran dan praktek pendidikan Islam dimulai dari konsep (berupa sumber pendidikan), kurikulum, proses (berupa metode dan media pendidikan) fungsi, tujuan, lembaga pendidikan dan sumber daya pengelola pendidikan (berupa pendidik) dengan menggunakan langkah akselerasi (percepatan) menggunakan pola imitasi yang diambil dari barat, pola pengamalan melalui ajaran agama Islam yang murni dan pola nasionalisme dalam perubahan yang berorientasi pada keislaman yang kokoh.

  Pengaplikasian teori dalam pengkajian pembaruan pendidikan Islam K.H Ahmad Dahlan dalam novel Sang Pencerah karya Akmal Nasery Basral, peneliti mencoba mengkaji pembaruan pendidikan Islam yang dlilakukan K.H Ahmad Dahlan semasa hidupnya dari sisi sebagai pelaku pendidikan Islam dan juga menyikapi komponen-komponen dasar pendidikan Islam pada kurun waktu tertentu. Peneliti menfokuskan penelitian ini pada pelaku pendidikan Islam dan komponen-komponen dasar pendidikan Islam. Penelitan pelaku pendidikan Islam yang dimaksud adalah pembaruan pendidik. Sedangkan penelitian komponen- komponen dasar pendidikan Islam yang dimaksud adalah pembaruan dalam sumber pendidikan Islam, tujuan pendidikan Islam, kurikulum pendidikan Islam, metode pendidikan Islam, media pendidikan Islam dan lembaga pendidikan Islam.

Dokumen baru