MAKNA HIDUP DOA SEBAGAI SUMBER SPIRIT PELAYANAN PARA KATEKIS DI ZAMAN SEKARANG SKRIPSI

Gratis

0
0
161
3 weeks ago
Preview
Full text
(1)PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI MAKNA HIDUP DOA SEBAGAI SUMBER SPIRIT PELAYANAN PARA KATEKIS DI ZAMAN SEKARANG SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Agama Katolik Oleh: Retno Wulandari NIM: 141124016 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK JURUSAN ILMU PENDIDIKAN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2019 i

(2) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI SKRIPSI MAKNA HIDUP DOA SEBAGAI SUMBER SPIRIT PELAYANAN PARA KATEKIS DI ZAMAN SEKARANG Oleh: Retno Wula'n'daIj NIM: 141124016 o 1- 'j) ;U ~)i. Telah disetujui oleh Dosen Pembimbing -1J~ \. Drs. FX. Heryatno Wono Wulung SJ, M.Ed. 11 Tanggall0 Januari 2019

(3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI SKRIPSI MAKNA HIDUP DOA SEBAGAI SUMBER SPIRIT PELAYANAN PARA KATEKIS DIZAMANSEKARANG Dipersiapkan dan ditulis oleh Retno Wulandari NIM: l4l1Q4016 . Telah dipertahankan di depan Panitia Penguji pada tanggal10 Januari 2019 dan dinyatakao memenuhi syarat SUSUNAN PbNITIA PENGUJI Nama Tat;ndaTan,gan Ketua Dr. B. Agus Rukiyanto SJ Sekretaris Yoseph Kristianto, SFK., M.Pd Anggota I. Drs. FX Heryatno Wono WUlung, SJ;M.Ed. 2. Yoseph Kristianto, SFK., M.Pd. -~ 3. FX. Dapiyanta, SFK., M:Pd. Yogyakarta, 10 Januari 2019 Fakultas Keguruan dan I1mu Pendidikan .r- :=~ ~nivers ta Sanata Dharma ..,~Y ·L:?, I.' Po ,.. J i/ / ? . '~·", :Kr\ '~ i, ttl lil; . ~ianes '~ .:il . <~ ~ ~, \~:. ' 1!'" .......-•.~ •. P-{t·~ ... 1 fi 1'0 ~ an, ;\ h JJ Harsoyo, III ••. •. •..5. •.•..• "-L~f r%;~ ' n.0.•··

(4) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PERSEMBAHAN Skripsi ini kupersembahkan untuk seluruh umat Paroki St. Yusuf Ambarawa, untuk Universitas Sanata Dharma, untuk orang tua, kakak-kakakku dan keluarga besarku serta tak lupa sahabat-sahabatku yang sudah sangat membantu memberikan dukungan, semangat serta pertolongan dalam menyelesaikan skripsi ini. iv

(5) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI MOTTO “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang kupasang dan belajarlah padaKu, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan.” (Mat 11: 28-30) v

(6) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PERNYATAAN KEASLIAt"l KARYA Saya rnenyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak rnernuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalarn kutipan dan daftar pustaka sebagairnana layakuya karya ilrniah. Yogyakarta, 10 Januari 2019 Penulis c#: Retno Wulandari VI

(7) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS Yang bertanda tangan di bawah ini, mahasiswa Universitas Sanata Dharma Yogyakarta: Nama : Retno Wulandari NIM : 141124016 Demi pengembangan ilmu pengetahuan penulis memberikan wewenang kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah penulis yang berjudul: MAKNA HIDUP DOA SEBAGAI SUMBER SPIRIT PELAYANAN PARA KATEKIS DI ZAMAN SEKARANG beserta perangkat yang diperlukan. Dengan demikian penulis memberikan hak kepada Perpllstakaan Universitas Sanata Dharma untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengolahnya dalam bentuk pangkalan data, mendistribllsikan secara terbatas, dan mempublikasikannya di media internet atau media lain llntuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta izin maupun memberikan royalti kepada penulis, selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis. Demikian pernyataan ini penulis buat dengan sebenarnya. Yogyakarta, 10 Januari 2019 Yang menyatakan, c# Retno Wlilandari Vll

(8) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ABSTRAK Skripsi ini berjudul “MAKNA HIDUP DOA SEBAGAI SUMBER SPIRIT PELAYANAN PARA KATEKIS DI ZAMAN SEKARANG”. Judul skripsi ini dipilih berdasarkan keprihatinan atas menurunnya spirit pelayanan para katekis yang diakibatkan oleh tantangan-tantangan pelayanan khususnya arus besar perubahan zaman yang terjadi pada masa sekarang. Dalam kenyataan di lapangan, diketahui bahwa tantangan pelayanan yang ada dapat melemahkan spirit pelayanan para katekis. Hal ini harus segera ditanggapi dan disikapi dengan bijak. Berdasarkan dengan kenyataan tersebut, maka skripsi ini dimaksudkan untuk memberikan inspirasi kepada para katekis supaya tetap memiliki spirit dalam melayani umat di zaman sekarang. Persoalan pokok dalam skripsi ini adalah spirit pelayanan seperti apa yang dapat digali dari makna hidup doa untuk membantu para katekis dalam melayani umat di zaman sekarang. Persoalan tersebut diolah dengan menggunakan studi pustaka terhadap esensi doa untuk memperoleh inspirasi spirit pelayanan katekis dari makna hidup doa. Inspirasi-inspirasi spirit pelayanan katekis yang dipaparkan sekiranya dapat memberikan manfaat bagi para katekis untuk meningkatkan spirit pelayanan mereka. Makna hidup doa memberikan inspirasi spirit bagi pelayanan katekis. Kemudian muncul sikap-sikap baru yang positif dalam diri katekis. Dengan makna hidup doa yang dihayati, tumbuhlah suatu relasi yang mendalam dengan Allah. Muncul pula kesadaran bahwa doa perlu dilakukan terus menerus karena dapat menguatkan iman dan meneguhkan hati dari segala persoalan. Makna hidup doa yang dihayati memunculkan kemauan untuk mengasihi dan menggerakkan seseorang untuk mengatasi egosentrisme. Makna hidup doa yang dihayati sungguh-sungguh membuat orang memiliki iman yang cerdas, tangguh dan misioner. Doa juga membuat seseorang menjadi pribadi yang penuh harapan karena selalu menginginkan keselamatan seluruh umat manusia terwujud. Hati yang terus mengarah pada Allah melahirkan pribadi yang penuh kasih kepada Allah dan kepada sesama. Doa dapat membuat katekis semakin mencintai Yesus Kristus dan berusaha untuk meneladani-Nya. Makna hidup doa yang dihayati membuat para katekis memiliki keutuhan dan keaslian hidup karena dapat mengalami sendiri kasih Allah di dalam hidupnya, sehingga apa yang diwartakannya merupakan sebuah kesaksian iman. Tugas dan peran katekis sangat penting bagi Gereja. Katekis membantu umat untuk memperkembangkan imannya. Maka, pembinaan dan pendampingan terhadap para katekis dan juga calon katekis perlu untuk terus dilakukan. Oleh karena itu penulis juga menawarkan suatu kegiatan rekoleksi sebagai salah satu upaya untuk membantu para katekis meningkatkan spirit pelayanan mereka bagi Gereja pada masa sekarang. viii

(9) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ABSTRACT This undergraduate thesis entitles " THE MEANING OF PRAYER AS THE SPIRIT’S RESOURCE OF THE MINISTRY OF CATECHISTS TODAY". The title of this thesis was chosen based on concerns over the decline of the spirit of the catechists ministry caused by the challenges of ministry, especially the large flow of changing times that occur in the present. In reality in the field, it is known that the challenges of existing ministries can weaken the spirit of ministry of catechists. This must be responded to immediately and wisely. Based on this fact, this thesis is intended to inspire catechists to increase a spirit in serving people today. The main problem in this thesis is what kind of service spirit can be extracted from the meaning of the prayer to help catechists in serving people today. The problem is processed by using literature studies on the essence of prayer to obtain inspiration for the spirit of catechist ministry from the meaning of living prayer. The inspirations of the catechistic ministry spirit presented if it can provide benefits for catechists to increase the spirit of their ministry. The meaning of prayer inspires the spirit for catechist ministry. Then new positive attitudes arise in the catechists. By the meaning of prayer, a deep relationship with God grows. There was also the realization that prayer needs to be done continuously because it can strengthen faith and the heart by all problems. The meaning of prayer raises the willingness to love and actuating a person to stay away from egocentrism. The meaning of prayers that truly makes people have intelligent, tough and missionary faith. Prayer also makes a person to be hopeful because he always wants the salvation of all humanity to be realized. The heart that continues to lead to God grows a loving person to God and to others. Prayer can make catechists love Jesus Christ more and try to emulate Him. The meaning of prayer makes the catechists have the integrity and authenticity of life because they can experience for themselves the love of God in their lives, so what they inform is an experience of faith. The duties and roles of catechists are very important for the Church. Catechists help people to develop their faith. So, coaching and mentoring of catechists and also catechist candidates need to be continued. Therefore the author also offers a recollection activity as an effort to help catechists increase the spirit of their ministry for the Church in the present. ix

(10) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI KATA PENGANTAR Puji dan syukur penulis haturkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul MAKNA HIDUP DOA SEBAGAI SUMBER SPIRIT PELAYANAN PARA KATEKIS DI ZAMAN SEKARANG. Skripsi ini disusun berdasarkan keprihatinan penulis akan kenyataan kehidupan beriman dan pelayanan katekis yang sungguh dihadapkan pada banyak kesulitan dan tantangan. Sebagai contoh kesulitan dan tantangan tersebut yaitu sekularisasi dan sekularisme, materialisme, konsumerisme, individualisme, sensualisme, hedonisme, primordialisme, radikalisme, terorisme, rusaknya lingkungan hidup, dampak negatif media sosial, serta krisis iman dan moral. Spirit pelayanan katekis menumbuhkan keinginan untuk memberikan sumbangan pemikiran berupa inspirasi spirit pelayanan para katekis di zaman sekarang meskipun menghadapi banyak tantangan. Kehadiran katekis sungguh sangat berarti bagi Gereja. Akan tetapi katekis dihadapkan pada realitas zaman sekarang yang kompleks berupa arus besar perubahan zaman. Hal ini sangat mempengaruhi pelayanan katekis karena dapat menghambat pelayanan mereka. Oleh karena itu, penulisan skripsi ini dimaksudkan untuk menggali makna hidup doa sebagai inspirasi bagi spirit pelayanan para katekis di zaman sekarang. Selain itu, skripsi ini juga menawarkan kegiatan rekoleksi untuk membantu meningkatkan spirit pelayanan para katekis. Skripsi ini juga disusun dalam rangka memenuhi salah satu syarat untuk x

(11) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI memperoleh gelar Sarjana Pendidikan pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Skripsi ini tersusun dengan bantuan berbagai pihak baik secara langsung maupun tidak langsung. Oleh karena itu pada kesempatan ini penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada: 1. Drs. FX. Heryatno Wono Wulung, SJ., M.Ed sebagai dosen pembimbing utama dan dosen pembimbing akademik yang selalu memberikan perhatian, meluangkan waktu dan dengan penuh kesabaran serta kemurahan hati membimbing penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. 2. Yoseph Kristianto, SFK, M.Pd sebagai dosen penguji II yang telah bersedia membaca, mempelajari, memberikan kritik dan masukan yang membangun serta mendampingi penulis dalam penulisan skripsi ini. 3. FX. Dapiyanta, SFK, M.Pd sebagai dosen penguji III yang telah bersedia membaca, mempelajari, memberikan kritik dan masukan yang membangun serta mendampingi penulis dalam penulisan skripsi ini. 4. Dr. B. A. Rukiyanto SJ selaku Kaprodi Program Studi Pendidikan Agama Katolik yang telah bersedia membantu penulis demi kelancaran pelaksanaan ujian skripsi bagi penulis. 5. Seluruh staf dosen dan karyawan Program Studi Pendidikan Agama Katolik yang telah mendidik dan membimbing penulis selama ini serta membantu seluruh proses penulisan sampai terselesaikannya skripsi ini sehingga penulis akhirnya dapat menyelesaikan studi di Program Studi Pendidikan Agama Katolik Universitas Sanata Dharma. xi

(12) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 6. Orang tua dan kakak-kakak saya yang ikut memberikan dukungan, semangat, perhatian dan doa baik selama penulisan skripsi saya maupun dalam perkuliahan. 7. Sahabat-sahabat saya FX. Adswi Fransibena, Veronika Sigalingging, Elisabeth Dhian Novitasari, Fransiska Siki, Rotiarni Rustinikasi Simbolon, Sr. Maxima PI dan Verena Miranti yang dengan penuh kasih mendorong, mendukung dan senantiasa memberikan bantuan demi terselesaikannya penulisan skripsi ini. 8. Teman-teman mahasiswa terkhusus angkatan 2014 yang selalu memberi dorongan, semangat, motivasi dan bantuan kepada penulis selama proses perkuliahan hingga selesainya skripsi ini. 9. Seluruh staf perpustakaan Program Studi Pendidikan Agama Katolik, perpustakaan Mrican Universitas Sanata Dharma, dan perpustakaan Kolese St. Ignatius Kotabaru yang dengan penuh kesabaran dan kemurahan hati membantu penulis dalam mencari buku-buku dan sumber-sumber bahan skripsi yang lainnya. 10. Seluruh warga kampus Program Studi Pendidikan Keagamaan Katolik yang selalu memberikan semangat serta dukungan dari awal perkuliahan hingga akhir penyelesaian skripsi ini. 11. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu yang dengan kemurahan hati memberikan masukan dan dorongan hingga tersusunnya skripsi ini. xii

(13) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Penulis menyadari bahwa dalam penulisan skripsi ini terdapat kekurangan dan keterbatasan. Oleh karena itu penulis terbuka terhadap segala saran dan kritik yang membangun demi perbaikan dan pemanfaatan skripsi ini. Akhimya penulis berharap semoga skripsi ini bermanfaat bagi semua pihak yang berkepentingan. Yogyakarta, 10 Januari 2019 Penulis, vii Retno Wulandari Xlll

(14) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL .................................................................................... HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING i ........................................... ii ...................................................................... iii HALAMAN PERSEMBAHAN .................................................................... iv MOTTO ........................................................................................................ v PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ......................................................... vi PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI .......................................... vii ABSTRAK .................................................................................................... viii ABSTRACT ................................................................................................. ix HALAMAN PENGESAHAN KATA PENGANTAR DAFTAR ISI .................................................................................. x .............................................................................................. xiv DAFTAR SINGKATAN ............................................................................... xviii BAB I PENDAHULUAN ........................................................................... 1 ................................................................................. 1 B. Rumusan Permasalahan ..................................................................... 9 C. Tujuan Penulisan .............................................................................. 9 D. Manfaat Penulisan .............................................................................. 10 ………………………………………………….. 10 …………………………………………….. 11 BAB II POKOK-POKOK HIDUP DOA …………………………………… 13 ………………………………………………………… 14 1. Doa Menurut Hidup Tokoh dalam Kitab Suci ………………… 14 a. Doa Menurut Hidup Para Tokoh dalam Perjanjian Lama …. 15 b. Doa Menurut Hidup Para Tokoh dalam Perjanjian Baru ….. 19 ………………………………. 21 3. Doa Menurut Tokoh Gereja dan Para Ahli ……………………. 25 …………………………………………………………….. 30 …………………………………….. 30 A. Latar Belakang E. Metode Penulisan F. Sistematika Penulisan A. Esensi Doa 2. Doa Menurut Dokumen Gereja B. Isi Doa 1. Berkat dan Penyembahan xiv

(15) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ……………………………………………… 33 3. Doa Syafaat …………………………………………………… 36 4. Doa Syukur …………………………………………………… 38 5. Doa Pujian ……………………………………………………. 40 ……………………………………………….. 42 …………………………………………………….. 42 2. Doa Renung / Meditasi ………….……………………………… 43 3. Doa Batin / Kontemplasi ……………………………………….. 45 ……………………………. 47 1. Hidup dan Doa Yesus yang Perlu Diteladani …………………. 48 a. Yesus Selalu Mengarah Kepada Allah Bapa dan Setia Kepada-Nya ……………………………………………… b. Yesus Mendapat Kekuatan dengan Berdoa ……………… 48 51 c. Yesus Berdoa Demi Kepentingan Orang Lain ……………. 54 d. Yesus Berdoa Sendiri dalam Kesunyian/Keheningan ……. 56 2. Doa Kristen Melanjutkan Doa Yesus …………………………. 58 BAB III TANTANGAN DAN PELAYANAN KATEKIS DI ZAMAN DSSS D SEKARANG …………………………………………………… A. Tantangan Katekis dalam Pelayanan ………………………………. 60 61 1. Sekularisasi: Sekularisme, Materialisme, Konsumerisme …….. 62 2. Individualisme, Sensualisme, Hedonisme …………………….. 63 3. Primordialisme, Radikalisme dan Terorisme …………………… 64 4. Rusaknya Lingkungan Hidup …………………………………… 65 5. Dampak Negatif Media Sosial …………………………………. 66 6. Krisis Iman dan Moral ………………………………………….. 66 B. Pelayanan Katekis …………………………………………………… 67 1. Pelayanan ……………………………………………………….. 67 a. Pelayanan Menurut Kitab Suci ……………………………. 67 b. Pelayanan Menurut Dokumen Gereja ……………………… 69 c. Pelayanan Menurut Para Ahli ……………………………… 70 2. Panggilan dan Identitas Katekis ………………………………… 71 3. Tugas dan Peran Katekis ………………………………………. 73 2. Doa Permohonan C. Bentuk-Bentuk Doa 1. Doa Lisan D. Yesus Kristus sebagai Teladan Pendoa xv

(16) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4. Syarat menjadi Katekis ………………………………………… 75 ……………………………………………… 76 6. Spiritualitas Katekis …………………………………………… 77 a. Keterbukaan Kepada Allah Tritunggal ……………………. 78 b. Keterbukaan Terhadap Gereja …………………………….. 79 c. Keterbukaan Terhadap Dunia ……………………………… 80 d. Keutuhan dan Keaslian Hidup ……………………………. 80 e. Semangat Misioner ………………………………………… 81 f. Devosi kepada Bunda Maria ……………………………… 82 g. Menimbang Zaman ……………………………………….. 83 BAB IV MAKNA HIDUP DOA SEBAGAI SUMBER kkkkkkkkkkkkkSPIRIT PELAYANAN KATEKIS ………………………. 87 5. Kategori Katekis A. Makna Hidup Doa Sebagai Sumber Spirit Pelayanan Katekis ………. 88 1. Memiliki Relasi yang Mendalam Dengan Allah ………….…….. 88 2. Menjadi Pribadi yang Senantiasa Berdoa ………………………. 90 3. Berdoa dan Berbuat Demi Kepentingan Banyak Orang………….. 92 4. Menjadi Pribadi yang Beriman Cerdas, Tangguh dan Misioner…. 94 a. Cerdas ……………………………………………………… 94 b. Tangguh …………………………………………………… 96 c. Misioner ………………………………………………….. 98 5. Menjadi Pribadi yang Berpengharapan ……….……………….. 99 6. Menjadi Pribadi yang Penuh Kasih ……………………………. 100 7. Meneladani Hidup Yesus Kristus 8. Memiliki Keutuhan dan Keaslian Hidup ……………………….. 103 …………………………….. 101 B. Usulan Kegiatan Rekoleksi untuk Meningkatkan Spirit Pelayanan para Katekis di Paroki St. Yusuf Ambarawa Keuskupan Agung Semarang ……………………………………………………………. 105 1. Latar Belakang Kegiatan ………………………………………. 105 2. Pengertian Rekoleksi …………………………………………… 109 ……………….…………………. 110 3. Alasan Diadakan Rekoleksi 4. Tujuan Diadakan Rekoleksi …………………………………… 111 5. Gambaran Pelaksanaan Kegiatan Rekoleksi …………………… 112 xvi

(17) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 6. Pemilihan Materi ……………………………………………….. 112 7. Matriks Usulan Materi Kegiatan Rekoleksi ……………………. 115 8. Contoh Persiapan Kegiatan Rekoleksi untuk Meningkatkan Spirit Pelayanan para Katekis di Paroki St. Yusuf Ambarawa Keuskupan Agung Semarang ………………………………….. 123 Bab V PENUTUP ………………………………………………………….. 134 A. Kesimpulan …………………………………………………………. 134 B. Saran …………………………………………………………………. 137 DAFTAR PUSTAKA ………………………………………………………. 139 xvii

(18) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR SINGKATAN A. Singkatan Kitab Suci Seluruh singkatan Kitab Suci dalam skripsi ini mengikut Alkitab Deuterokanonika © LAI 1976. (Alkitab yaitu Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru dalam terjemahan baru, yang diselenggarakan oleh Lembaga Alkitab Indonesia, ditambah dengan Kitab-kitab Deuterokanonika yang diselenggarakan oleh Lembaga Biblika Indonesia. Terjemahan diterima dan diakui oleh Konferensi Wali Gereja Indonesia). Jakarta: LAI, 2001, hal 8. B. Singkatan Dokumen Resmi Gereja AA : Apostolicam Actuositatem, Dekrit Konsili Vatikan II tentang Kerasulan Awam, 18 November 1965 CT : Catechesi Tradendae, Anjuran Apostolik Sri Paus Yohanes Paulus II kepada para uskup, klerus, dan segenap umat beriman tentang katekese masa kini, 16 Oktober 1979. DV : Dei Verbum, Konstitusi Dogmatis Konsili Vatikan II tentang Wahyu Ilahi, 18 November 1965. GS : Gaudium et Spes, Konstitusi Pastoral Konsili Vatikan II mengenai Gereja di Dunia Dewasa Ini, 7 Desember 1965. KGK : Katekismus Gereja Katolik, uraian tentang ajaran iman dan moral Gereja Katolik, 22 Juni 1992. LG : Lumen Gentium, Konstitusi Dogmatis Konsili Vatikan II xviii

(19) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI tentang Gereja di Dunia Dewasa ini, 21 November 1964. UR : Unitatis Redintegratio, Dekrit tentang Ekumenisme (Persatuan Gereja), 21 November 1964. C. Singkatan Lain Art : Artikel Bdk : Berdasarkan CEP : Congregation for Evangelization of Peoples, Kongregasi Evangelisasi untuk Bangsa-Bangsa, menerbitkan buku Pedoman Untuk Katekis, 3 Desember 1993. IKAPI : Ikatan Penerbit Indonesia, Asosiasi profesi penerbit satusatunya di Indonesia yang menghimpun para penerbit buku dari seluruh Indonesia, 17 Mei 1950. Jl : Jalan Kab : Kabupaten KAS : Keuskupan Agung Semarang KWI : Konferensi Wali Gereja Indonesia LCD : Liquid Crystal Display, salah satu jenis proyektor Mgr : Monsinyur OFM : Ordo Fratrum Minorum, Sebuah ordo yang didirikan oleh Santo Fransiskus dari Asisi, 24 Februari 1209. PKKI : Pertemuan Kateketik Keuskupan Se-Indonesia PPLK : Program Pembinaan Lanjut Katekis, Salah satu divisi Komisi xix

(20) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Kateketik Keuskupan Agung Jakarta Prodi : Program Studi PUK : Petunjuk Umum Katekse SJ : Serikat Yesus (biasa dikenal sebagai Yesuit), didirikan pada : tahun 1534. St Santo/Santa xx

(21) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sejak zaman dahulu manusia selalu memiliki berbagai pertanyaan mengenai kehidupan. Manusia selalu bertanya-tanya mengenai makna hidup mereka di dunia ini. Lambat laun manusia menyadari bahwa mereka lemah, selalu cemas pada kejadian yang tidak bisa mereka atasi, ingin mencurahkan isi hati dan mengeluhkan hidup pada pribadi yang berkuasa mengubah hidup. Akhirnya manusia beragama menyadari kehadiran sang pencipta dan orang Kristen menyebut-Nya sebagai “Allah”. Cara manusia dalam memaknai hidup adalah dengan berdoa, berefleksi dan menjalin relasi dengan Allah. Dalam hal ini, iman dan agama berperan membantu manusia menjalin relasi dengan Allah. Iman membuat orang bertekun mencari Allah dan agama memberikan petunjuk untuk menjalin relasi dengan Allah. Kerinduan untuk menjalin relasi dengan Allah sudah ditanamkan dalam diri manusia. Katekismus Gereja Katolik menguraikan bahwa “Kerinduan akan Allah sudah terukir di dalam hati manusia karena manusia diciptakan oleh Allah dan untuk Allah. Allah tidak henti-hentinya menarik dia kepada diri-Nya. Hanya dalam Allah manusia dapat menemukan kebenaran dan kebahagiaan yang dicarinya terus-menerus” (KGK 27). Kutipan tersebut menjelaskan bahwa manusia akan selalu rindu menjalin relasi dengan Allah karena manusia diciptakan oleh Allah dan manusia hidup untuk Allah. Allah menarik manusia

(22) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2 untuk datang kepada Allah dan menjalin relasi dengan-Nya. Manusia akan terus merasa rindu dan mencari Allah karena kebahagiaan sejati manusia ada di dalam Allah. Jadi kerinduan, pencarian manusia, dan kebahagiaan manusia bermuara pada perjumpaan atau relasi dengan Allah. Meskipun manusia memiliki kecenderungan untuk mencari dan merindukan kehadiran Allah, sebenarnya Allah sudah lebih dahulu rindu dan memanggil manusia. Hal ini telah dirumuskan oleh Gereja dalam Katekismus Gereja Katolik (KGK 2567) sebagai berikut: Sebelum manusia memanggil Tuhan, Tuhan memanggil manusia. Juga apabila manusia melupakan Penciptanya atau menyembunyikan diri dari hadapan-Nya, juga apabila ia mengikuti berhalanya atau mempersalahkan Allah, bahwa Ia telah melupakannya, namun Allah yang hidup dan benar tanpa jemu-jemunya memanggil setiap manusia untuk suatu pertemuan penuh rahasia dengan-Nya di dalam doa. Dalam doa gerak cinta kasih Allah yang setia ini pertama-tama datang dari Dia; gerak manusia selalu merupakan jawaban. Sejauh Allah mewahyukan Diri dan menyanggupkan manusia mengenal dirinya sendiri, doa kelihatan sebagai satu sapaan timbal balik, sebagai peristiwa perjanjian, yang melalui kata dan tindakan, mengikutsertakan hati. Ia menyata dalam perjalanan seluruh sejarah keselamatan. Kutipan tersebut menjelaskan bahwa Allahlah yang memulai untuk membangun relasi dengan manusia. Allah memanggil manusia tidak peduli bagaimana perlakuan manusia. Bahkan ketika manusia mempersalahkan Allah akan kejadian buruk di dalam hidupnya, Allah tetap setia memanggil manusia. Pertemuan antara Allah dan manusia terjadi di dalam doa. Doa terjadi karena Allah telah mengawali perjumpaan dengan manusia, yaitu dengan memanggil manusia. Kemudian gerak manusia adalah jawaban akan panggilan Allah. Jadi, doa terjadi ketika panggilan Allah ditanggapi oleh manusia karena doa adalah

(23) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3 suatu peristiwa timbal balik. Adalah suatu bentuk kemurahan hati Allah ketika Allah yang lebih dulu mengajak manusia membangun relasi dengan-Nya. Doa sebagai peristiwa timbal balik antara Allah dan manusia sangat diperlukan supaya manusia dapat menjalin relasi dengan Allah. Lalu apakah yang dimaksud dengan doa? Youcat Katekismus Populer (469) merumuskan bahwa “doa berarti mengarahkan hati kepada Allah. Ketika seseorang berdoa, ia masuk dalam hubungan yang hidup dengan Allah. Doa adalah pintu gerbang untuk berkomunikasi dengan Allah”. Dengan demikian ada dua hal penting dari kutipan tersebut. Yang pertama, doa mengajak manusia mengarahkan hati kepada Allah. Manusia yang hidup berinteraksi dengan sesamanya terkadang dipenuhi pikiran dan perasaan tentang hal-hal di sekitarnya atau tentang orang-orang yang ditemuinya. Dengan begitu doa menuntut manusia untuk fokus merasakan kehadiran Allah dan mendengarkan Allah. Mengapa mengarahkan ‘hati’ dan bukan yang lain? Karena hati adalah tempat keputusan, tempat kebenaran, tempat perjanjian dan tempat pertemuan manusia dengan Allah (KGK 2563). Yang kedua, doa adalah pintu gerbang untuk berkomunikasi dengan Allah. Pintu gerbang dimaksudkan bahwa doa adalah langkah awal dari gerakan manusia dalam membangun relasi dengan Allah dan mengenal Allah. Untuk dapat membangun relasi dengan Allah, manusia harus terus berkomunikasi dengan Allah. Jadi, doa membuat manusia membuka hatinya akan kehadiran Allah. Jika hati manusia sudah terbuka, manusia dapat berkomunikasi dengan Allah. Dari komunikasi itu terjadilah relasi dengan Allah karena manusia menjawab panggilan Allah.

(24) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4 Dengan pengertian doa tersebut, maka jelaslah bahwa doa itu sangat penting bagi manusia. Bagaimana caranya berdoa? Rasul Paulus menjelaskan “Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan” (Rm 8: 26). Ayat tersebut mengungkapkan bahwa sebenarnya manusia tidak tahu bagaimana sebenarnya harus berdoa. Tidak ada cara baku secara fisik untuk berdoa dan manusia berdoa hanya dengan bimbingan Roh Kudus. Manusia memang tidak tahu bagaimana harus berdoa, akan tetapi Yesus mengajari manusia bagaimana manusia harus berdoa. Yesus juga mengajari manusia sebuah doa yang paling sempurna yaitu Doa Bapa Kami. Bagaimana manusia harus berdoa? Katekismus Gereja Katolik merumuskan hal penting dalam khotbah Yesus di bukit mengenai doa yaitu bahwa Yesus menekankan adanya pertobatan hati. Sebelum kita berdoa dan membawa persembahan ke altar, kita harus berdamai dengan saudara kita. Kita berdoa di tempat yang tersembunyi, bukan di tempat umum supaya dilihat orang. Hendaknya ketika berdoa, kita tidak bertele-tele atau mengucapkan terlalu banyak kata. Di dalam doa kita juga harus mengampuni orang lain dengan segenap hati dan sungguh mencari Kerajaan Allah (KGK 2608). Yesus juga mengajarkan kepada kita supaya kita berdoa dalam iman. Maksudnya adalah kita dipenuhi dengan penyerahan diri kepada Allah. Ketika berdoa, kita harus berani meminta kepada Allah dan siap melakukan kehendak Allah (KGK 2609). Dalam Katekismus Gereja Katolik, yang penting dalam doa

(25) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 5 Kristen adalah kita berdoa atas nama Yesus Kristus (KGK 2614). Iman kepada Kristus mengantar para murid masuk ke dalam perkenalan dengan Bapa, karena Yesus adalah “jalan kebenaran dan hidup” (Yoh 14:6). Jadi kita hendaknya berdoa seperti apa yang Yesus telah ajarkan dan berdoa atas nama-Nya (Yoh 16:24). Dengan terus berdoa sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Yesus, kepribadian manusia dapat berubah menjadi semakin lebih baik. Dalam buku yang berjudul Jika Allah Sudah Tahu, Mengapa Masih Berdoa? (Kelly, 2003: 113) dijelaskan sebagai berikut: Allah bekerja untuk mengubah kita melalui permohonan kita, melalui segala yang diizinkan-Nya terjadi dalam kehidupan kita, melalui Kitab Suci, Roh Kudus, penyelenggaraan ilahi, kesukaran, penderitaan, dan kebahagiaan. Melalui semua hal ini, Allah aktif membentuk kita menjadi seperti Yesus agar kita ada di tempat di mana Roh Kudus dapat memperantarai, bekerja dan memohon dalam diri kita serta memantulkan suara Yesus. Kutipan tersebut ingin menjelaskan bahwa melalui doa dan hidup kita, Allah terus berusaha membentuk kita supaya kita semakin menjadi seperti Yesus. Memang Allah sebenarnya sudah tahu apa yang hendak kita ucapkan dalam doa. Tapi doa bukan hanya tentang bagaimana kita datang kepada Allah untuk memohon atau mengungkapkan perasaan kita. Berdoa tidak hanya dilakukan ketika kita membutuhkan sesuatu lalu meminta kepada Allah kemudian berhenti berdoa ketika doa kita sudah dikabulkan. Anselm Grun menyebutkan bahwa “doa menjadi sarana ulang untuk mengenal diri” (Grun, 1985: 21). Kutipan tersebut menjelaskan bahwa doa membuat kita berefleksi mengenai diri kita, sehingga kita bisa meneliti apa dosa dan kesalahan yang kita perbuat serta bagaimana cara

(26) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 6 memperbaikinya. Dari doa kita dapat terus meneliti sejauh mana kita mengikuti teladan Yesus Kristus Putra Allah, sang pendoa. Spirit hidup Yesus sangat penting kita dihidupi. Lalu mengapa Yesus adalah figur paling sempurna untuk dijiwai spirit-Nya? Atau mengapa Allah membentuk kita supaya semakin menyerupai Yesus? Kita perlu mengerti bahwa Yesus adalah teladan pendoa yang sangat sempurna. Menurut buku Iman Katolik, “suri teladan doa bagi semua orang tetap Yesus sendiri” (KWI, 1996: 200). Kutipan tersebut menjelaskan bahwa Yesus adalah teladan pendoa karena seluruh hidup Yesus ditentukan oleh kesatuan-Nya dengan Allah sebagai Bapa-Nya dan ini terungkap dalam doa-doa-Nya. Oleh Roh, Yesus selalu bersatu dengan Allah dan doa menduduki tempat sentral dalam hidup Yesus (KWI, 1996: 201). Youcat Katekismus Populer (475) juga mengungkapkan bahwa hidup Yesus adalah doa dan menjadi satu dengan Bapa dalam Roh Kudus adalah prinsip bagi-Nya. Yesus selalu berdoa dan menyatukan diri dengan Allah di sepanjang hidup-Nya. Katekismus Gereja Katolik mengungkapkan bahwa “Yesus telah menyelesaikan seluruh pekerjaan Bapa” (KGK 2749). Kutipan ini menjelaskan kepada kita bahwa Yesus di dalam hidup-Nya selalu fokus menyelesaikan pekerjaan Allah, Bapa-Nya. Yesus juga selalu menyerahkan diri-Nya sepenuhnya kepada Bapa (KGK 2749). Dengan begitu, hal yang perlu kita garis bawahi adalah Yesus memang figur yang paling sempurna untuk dijiwai spirit-Nya. Yesus selalu hidup sesuai dengan kehendak Allah. Prinsip dan spirit Yesus harus kita jiwai karena Yesus adalah contoh bagaimana hidup yang berkenan pada Allah.

(27) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 7 Spirit Yesus harus bisa dijiwai oleh semua orang Kristen, tak luput juga para katekis. Kongregasi Evangelisasi untuk Bangsa-Bangsa menjelaskan bahwa “setiap orang Katolik yang telah dibaptis secara pribadi dipanggil oleh Roh Kudus untuk memberi sumbangan bagi kedatangan Kerajaan Allah” (CEP, 1997: 15). Jadi setiap orang Katolik yang sudah dibaptis baik religius maupun awam, memiliki perannya masing-masing untuk membangun Kerajaan Allah. Secara khusus, Dekrit tentang Kerasulan Awam mengungkapkan bahwa “kaum awam menerima tugas serta haknya untuk merasul berdasarkan persatuan mereka dengan Kristus Kepala” (AA 3). Kutipan tersebut menjelaskan bahwa semua kaum awam yang telah dibaptis menerima tugas dan haknya untuk merasul. Kaum awam memiliki berbagai ragam panggilan dan kerasulan yang berbeda-beda. Dalam panggilan umum kaum awam, ada pula panggilan khusus. Menurut Kongregasi Evangelisasi untuk Bangsa-Bangsa, katekis memiliki panggilan khusus dari Roh Kudus yaitu suatu “karisma khusus yang diakui oleh Gereja”. Panggilan katekis yang bersifat khusus ini adalah tugas untuk berkatekese. Katekese berhubungan sangat erat dengan perintah Yesus yang terakhir. Hal ini telah dimuat dalam Anjuran Apostolik Catechesi Tradendae (CT 1) sebagai berikut: Penyelenggaraan katekese oleh Gereja selalu dipandang sebagai salah satu tugasnya yang amat penting. Sebab sebelum Kristus naik menghadap Bapa-Nya sesudah kebangkitan-Nya, Ia menyampaikan kepada para Rasul perintah-Nya yang terakhir, yakni menjadikan semua bangsa murid-murid-Nya, dan mengajar mereka mematuhi segala sesuatu yang telah diperintahkan-Nya. Kutipan dari CT art 1 tersebut menjelaskan bahwa Yesus Kristus memberikan tugas kepada Gereja untuk terus mengajar dan mewartakan kabar

(28) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 8 gembira. Gereja berkewajiban untuk mewartakan apa yang sudah diajarkan Yesus kepada murid-murid-Nya dan mengajarkan umat untuk mematuhi perintah Yesus. Istilah “katekese” itu sendiri digunakan untuk merangkum seluruh usaha dalam Gereja untuk memperoleh murid-murid, untuk membantu umat mengimani bahwa Yesus itu Putera Allah. Begitu vital dan seriusnya tugas berkatekese dalam Gereja. Oleh karena itu katekis sebagai pelaku katekese harus memiliki kualitas kepribadian dan pelayanan yang sungguh baik. Seorang katekis yang kualitas kepribadian dan pelayanannya rendah, kurang dapat membantu umat dalam memperkembangkan iman mereka. Bagaimana tidak? Seorang katekis yang kualitas kepribadiannya rendah memiliki kedekatan yang kurang dengan Allah, daya reflektif yang rendah, semangat kasih yang kurang bernyala-nyala, jauh dari figur pembawa kabar gembira. Hal ini terjadi karena katekis yang demikian kurang dapat menghadirkan kasih Allah kepada sesamanya dan pekerjaan Roh tidak menjadi hal yang pokok dalam hidupnya. Seorang katekis yang kualitas pelayanannya juga rendah biasanya tidak sepenuh hati dalam melayani umat, banyak perhitungan ketika harus melayani, tidak ada keinginan untuk terus-menerus belajar, dan pengetahuannya rendah. Oleh karena itu untuk bisa membantu melayani umat memperkembangkan iman mereka melalui katekese, katekis harusnya mulai memperbaiki kualitas dirinya sendiri terlebih dahulu. Karena katekis harus berkualitas supaya dapat melaksanakan tugas katekesenya dengan baik, maka katekis harus memiliki spirit yang bernyala-nyala. Kita tidak boleh lupa bahwa melalui doa dan hidup manusia, Allah terus aktif

(29) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 9 membentuk manusia supaya semakin menjadi seperti Kristus. Katekis harus benar-benar menghidupi spirit Yesus Kristus supaya semakin menjadi pribadi yang sempurna dan dekat dengan Allah. Oleh karena itu katekis sangat perlu melakukan doa secara intensif karena doa dapat mengubah manusia. Pemaknaan oleh katekis mengenai hidup doanya dapat mengubah kepribadian katekis, sehingga doa dapat memberikan dampak terhadap spirit pelayanan para katekis. Dengan permasalahan bagaimana makna hidup doa yang sungguh dihayati mempengaruhi spirit pelayanan katekis, maka pada penulisan skripsi ini penulis mengambil judul “MAKNA HIDUP DOA SEBAGAI SUMBER SPIRIT PELAYANAN PARA KATEKIS DI ZAMAN SEKARANG”. B. Rumusan Permasalahan Berdasarkan latar belakang yang sudah disebut di atas, maka penulismerumuskan permasalahan yang akan dibahas dalam skripsi ini, yaitu sebagai berikut : 1. Apa pokok-pokok hidup doa? 2. Seperti apakah tantangan dan pelayanan para katekis kepada umat? 3. Makna apa yang dapat ditemukan dalam hidup doa? C. Tujuan Penulisan Dalam penulisan skripsi ini, ada beberapa tujuan yang hendak dicapai oleh penulis, yaitu sebagai berikut :

(30) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 10 1. Memaparkan pokok-pokok makna hidup doa sebagai spirit pelayanan para katekis di zaman sekarang. 2. Menggambarkan tantangan dan pelayanan para katekis kepada umat di zaman sekarang. 3. Menguraikan makna hidup doa sebagai sumber spirit pelayanan para katekis di zaman sekarang. D. Manfaat Penulisan 1. Memberikan wawasan yang baru dan menambah pengetahuan para katekis tentang makna hidup doa yang dapat digunakan sebagai spirit pelayanan para katekis di zaman sekarang. 2. Memberikan pemahaman kepada umat Katolik mengenai tantangan dan pelayanan katekis di zaman sekarang supaya katekis dan umat sama-sama semakin disadarkan akan tugas dan peranan katekis dalam Gereja sehingga dapat saling membantu dalam membangun Gereja. 3. Memberikan penyadaran, sumbangan pemikiran dan inspirasi bagi para katekis supaya lebih sepenuh hati dalam menjalani panggilannya serta semakin menjadi pribadi yang menghidupi kasih Kristus. E. Metode Penulisan Metode penulisan yang digunakan dalam skripsi studi pustaka ini adalah deskriptif interpretatif. Dengan metode deskripsi interpretatif ini, penulis akan mengemukakan atau memberikan gambaran tentang apa yang penulis sudah

(31) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 11 dapatkan berdasarkan studi pustaka kemudian penulis menjelaskan, memahami dan memaknainya. Berdasarkan judul yang telah dipilih, penulis akan menjabarkan pemaknaan hidup doa sebagai spirit pelayanan para katekis di zaman sekarang. F. Sistematika Penulisan Skripsi ini mengambil judul “MAKNA HIDUP DOA SEBAGAI SUMBER SPIRIT PELAYANAN PARA KATEKIS DI ZAMAN SEKARANG”. Berdasarkan judul tersebut, makna hidup doa dapat dijadikan sumber spirit pelayanan para katekis di zaman sekarang. Untuk itu, penulis merencanakan penulisan skripsi ini terdiri dari lima bab yang akan dikembangkan sebagai berikut: Bab I menguraikan pendahuluan yang terdiri dari latar belakang penulisan, rumusan permasalahan, tujuan penulisan, manfaat penulisan, metode penulisan dan sistematika penulisan. Bab II membahas hasil studi pustaka tentang pokok-pokok yang penting mengenai pemaknaan hidup doa yang dijelaskan dalam beberapa sub bab seperti esensi doa, pewahyuan doa, isi doa, bentuk-bentuk doa, dan Yesus Kristus sebagai teladan pendoa. Bab III membahas tentang tantangan dan pelayanan katekis. Bab ini berisikan dua hal pokok yaitu mengenai tantangan pelayanan katekis dan pelayanan katekis. Bagian pokok yang pertama memaparkan tantangan pelayanan katekis yang berisikan tentang sekularisasi : sekularisme, materialisme,

(32) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 12 konsumerisme; individualisme, sensualisme, hedonisme; primordialisme, radikalisme dan terorisme; rusaknya lingkungan hidup; dampak negatif media sosial; serta krisis iman dan moral. Kemudian bagian pokok yang kedua memaparkan tentang pelayanan, tugas dan peran katekis, syarat menjadi katekis, kategori katekis, spiritualitas katekis. Bab IV berisikan makna hidup doa apa saja yang dapat dijadikan sebagai spirit pelayanan para katekis di zaman sekarang. Kemudian bab ini ditutup dengan usulan kegiatan rekoleksi sebagai usaha meningkatkan kualitas diri dan spirit pelayanan para katekis di Paroki St. Yusuf Ambarawa Keuskupan Agung Semarang. Bab V berisikan penutup yang meliputi dua bagian. Bagian yang pertama yaitu kesimpulan untuk menjawab rumusan masalah dan tujuan penulisan skripsi. Bagian kedua berisi saran untuk Romo Paroki St. Yusuf Ambarawa Keuskupan Agung Semarang, ketua seksi pewartaan paroki St. Yusuf Ambarawa Keuskupan Agung Semarang, para katekis di mana pun mereka berada dan juga para pembaca skripsi ini.

(33) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 13 BAB II POKOK-POKOK HIDUP DOA Doa memegang peran penting dalam kehidupan orang beriman karena doa menjadi cara manusia dalam memaknai hidupnya. Doa dapat membantu manusia untuk terus melibatkan Tuhan di dalam hidupnya. Doa bisa dilakukan siapapun tidak peduli apapun agamanya. Setiap agama memiliki keyakinan tersendiri mengenai hidup doa dan pokok-pokoknya yang berbeda-beda. Agama Katolik memiliki pemahaman tersendiri mengenai doa. Ada pokok-pokok tertentu dalam hidup doa umat Katolik. Kesemuanya ini penting diketahui bagi umat Katolik karena dapat membantu umat Katolik dalam memahami hidup doa Katolik. Dengan begitu, setiap umat Katolik dapat lebih mendekatkan diri dengan Tuhan di dalam terang Yesus Kristus. Berdasarkan hal tersebut, maka pembahasan bab II ini ingin memberikan halhal penting atau pokok-pokok dalam hidup doa. Bab II ini juga menjadi bagian yang penting dalam skripsi ini. Adapun isi dari bab II ini adalah mengenai esensi doa, pewahyuan doa, isi doa, bentuk-bentuk doa, dan Yesus Kristus sebagai teladan pendoa. Pada bab II ini, esensi doa dibagi ke dalam poin-poin penting yaitu doa menurut Kitab Suci, doa menurut dokumen Gereja, dan doa menurut para tokoh dan para ahli. Pewahyuan doa dijabarkan dalam uraian panjang. Isi doa atau juga bisa dikenal sebagai bentuk esensial/jenis doa dijabarkan dalam poin-poin yaitu, berkat dan penyembahan, doa permohonan, doa syafaat, doa syukur, dan doa

(34) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 14 pujian. Kemudian bentuk-bentuk doa dijelaskan dalam poin-poin yaitu doa lisan, doa renung atau meditasi, dan doa batin atau kontemplasi. Setelah itu dalam sub bab selanjutnya, dijelaskan mengenai Yesus Kristus sebagai teladan pendoa. A. Esensi Doa Gereja Katolik memiliki penghayatan mengenai doa yang mungkin berbeda dengan penghayatan doa menurut agama lain. Sumber keyakinan mengenai esensi doa bagi orang Katolik yang pertama dan paling utama adalah dari Kitab Suci. Mengapa yang paling utama adalah Kitab Suci? Karena Allah sendirilah pengarang Kitab Suci. Karena itulah Kitab Suci mengajarkan kebenaran yang perlu bagi keselamatan manusia. Roh Kudus menginspirasikan para pengarang untuk menuliskan apa yang ingin Allah ajarkan kepada manusia (Kompendium KGK, 2009: 20). Kemudian dari Kitab Suci tersebut, Gereja menjelaskan doa melalui dokumen Gereja seperti Katekismus Gereja Katolik, dokumen Konsili Vatikan II, dan sebagainya. Kemudian dari sana, para ahli mengomentari Kitab Suci dan dokumen-dokumen Gereja bisa dalam artikel ataupun juga buku-buku. 1. Doa Menurut Hidup Tokoh dalam Kitab Suci Doa dalam hidup manusia telah ada sejak dulu. Dari para nabi, doa sudah berada pada tempat yang sangat penting dalam hidup mereka. Kitab Suci sebagai acuan umat Katolik tidak pernah secara definitif menyebut apa itu doa. Akan

(35) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 15 tetapi Kitab Suci dengan jelas menuliskan kebiasaan-kebiasaan doa para tokoh di dalam Kitab Suci dari Perjanjian Lama sampai Perjanjian Baru. Doa memegang peranan yang sangat penting bagi tokoh-tokoh yang dikisahkan di dalam Kitab Suci. Dalam Kitab Suci Perjanjian Lama kebiasaan doa banyak dilakukan. Abraham, Nuh, Yakub, Musa, Daud, Salomo, Elia dan lain-lain telah banyak menunjukkan kebiasaan-kebiasaan doa tersebut. Dalam Perjanjian Baru dapat kita ketemukan hidup doa dari Yesus Kristus, Bunda Maria dan juga para rasul seperti Petrus, Paulus, Yohanes, dan lain sebagainya. Sebenarnya semua tokoh dalam Kitab Suci yang sudah disebutkan sebelumnya, penting bagi umat Katolik untuk memaknai hidup doa. Akan tetapi dari kesemuanya itu, yang menjadi pusat atau tokoh sentralnya adalah Yesus Kristus karena Yesus Kristus adalah Allah yang berinkarnasi menjadi manusia dan Ia adalah pribadi yang mengajari kita bagaimana harus berdoa. Oleh karena itu, pemahaman mengenai Yesus Kristus akan dipisah menjadi sub bab tersendiri dan dibahas lebih dalam dibandingkan tokoh lain dalam skripsi ini. a. Doa Menurut Hidup Para Tokoh dalam Kitab Suci Perjanjian Lama Dalam Kitab Suci Perjanjian Lama, telah disebutkan di atas bahwa ada banyak tokoh yang memaknai hidup doa. Karena terlalu banyaknya tokoh tersebut, maka di sini kita akan bahas beberapa tokoh saja yang hidup doanya sangat dominan mewarnai Kitab Suci Perjanjian Lama. Tokoh yang pertama adalah Abraham. Oleh Abraham, doa dalam beberapa kesempatan dimaknai sebagai perjuangan iman. Ketika Allah

(36) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 16 memanggil Abraham, ia selalu berangkat dengan segera dan begitu patuh seperti dalam Kej 12: 4 “Lalu pergilah Abram seperti yang difirmankan Tuhan kepadanya, dan Lot pun ikut bersama-sama dengan dia…”. Abraham selalu melayani Allah. Doa Abraham selalu dinyatakan melalui tindakan yaitu dengan mendirikan mezbah bagi Allah. Allah memberikan janji kepada Abraham yaitu untuk memberikan tanah Kanaan kepada keturunan Abraham (Kej 12:7). Abraham harus bersabar sampai janji Allah dipenuhi. Sampai pada waktu itu, doa bagi Abraham menjadi suatu keluhan karena rasanya janji Allah tidak kunjung dipenuhi. Doa pun menjadi ujian iman akan kesetiaan Allah bagi Abraham (KGK 2570). Abraham sungguh percaya kepada Allah sehingga ia bersedia menerima tamu yang sungguh misterius dalam kemahnya (Kej 18:2). Abraham juga memiliki keyakinan yang sungguh besar kepada Allah. Bahkan ketika Abraham diminta untuk mempersembahkan anaknya, Abraham dengan tegar hati sungguh melakukan apa yang dikehendaki Allah (Kej 22:10). Akan tetapi Allah menyediakan domba sebagai persembahan bagi-Nya (Kej 22:11). Dalam hidup Abraham, doa bukan hanya sebatas ucapan atau keluhan yang terselubung. Dengan doanya, ia membangun mezbah bagi Allah sebagai wujud kasih dan persembahannya. Dengan doa, ia terus menjaga hubungan yang dekat dengan Allah. Dan dengan doa pula Abraham dapat melampaui ujian iman yang diberikan Allah. Yang kedua adalah dari pribadi Musa. Ciri khas doa dalam hidup Musa adalah doa syafaat, yang terpenuhi dalam diri Yesus Kristus. Dari hidup Musa ini

(37) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 17 juga tercermin sifat Allah yang sungguh mengasihi manusia. Allah memanggil Musa dalam semak bernyala. Kejadian ini pula yang selalu dimaknai manusia bahwa Allah Abraham, Ishak, Yakub adalah Allah yang selalu mendahului manusia untuk memulai hubungan yang hidup dengan-Nya. Allah selalu menginginkan kehidupan dan keselamatan bagi manusia. Akan tetapi Allah tidak ingin melakukannya sendiri, Ia menginginkan keselamatan itu juga dengan bantuan atau campur tangan manusia juga. Oleh karenanya Ia mengutus Musa menjadi perantara atau alat Allah untuk menyelamatkan bangsa Israel (Kel 3:24:17). Dengan tugas perutusan yang diberikan oleh Allah kepada Musa, awalnya Musa tidak mau melakukannya. Dari percakapannya dengan Allah, ia mulai belajar berdoa. Ketika berdoa Musa seringkali bertanya, menyampaikan rasa keberatan dan berdalih (KGK 2575). Akhirnya Musa yang menyanggupi tugas perutusannya, selalu bersandar kepada Allah dalam setiap hal, mengambil keputusan, menyelesaikan perkara, mengeluh dan lain-lain. Musa seringkali mendaki gunung untuk berdoa (mendengarkan Allah dan memohon bantuan-Nya demi tugas perutusan Musa) dengan waktu yang cukup lama (misalnya dalam Kel 19, 24, 34). Dalam Kel (33:11) dikatakan bahwa Tuhan berbicara kepada Musa dengan berhadapan muka seperti seorang berbicara kepada temannya. Terdapat juga suatu ciri doa yang dilakukan oleh Musa. Sebagai pengantara antara Allah dan bangsa Israel, Musa mendoakan doa syafaat. Doa syafaat itu terjadi ketika Musa tidak meminta bagi dirinya sendiri saja. Musa terus berdoa bagi keselamatan bangsanya (KGK 2577). Salah satu contohnya adalah

(38) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 18 ketika Allah murka kepada bangsa Israel yang membuat allah lain dari emas yang dibentuk menjadi seekor anak lembu oleh Harun. Di sana, Musa naik ke gunung Sinai dan memohon ampun bagi dosa bangsanya (Kel 32: 31-32). Jadi doa Musa yang paling khas adalah doa sebagai perantara antara Allah dan umat-Nya. Pribadi selanjutnya adalah Daud dan Salomo. Daud adalah sosok seorang raja yang sungguh berkenan di hati Allah. Dalam doanya, ia memegang janji Allah dengan setia (2 Sam 7:18-29). Sebagai baktinya kepada Allah, ia berusaha mendirikan kenisah Yerusalem, akan tetapi ternyata Salomo yang mendirikan. Dengan kenisah ini pula, Allah menepati janji-Nya kepada Daud (1 Raj 8:14-21). Ketika kenisah itu berdiri, Salomo pun memanjatkan doa kepada Allah (1 Raj 8: 22-53). Dalam doanya itu, ia bersyukur dan memuji Allah, memohon untuk dirinya sendiri dan bangsanya, serta meminta pengampunan bagi bangsanya. Dari zaman antara Daud dan kedatangan Mesias, terdapat teks-teks doa dalam buku-buku suci yang memberi kesaksian doa untuk diri sendiri dan untuk orang lain. Dalam hal ini, buku Mazmur menjadi salah satu bukti menonjol mengenai doa dalam Perjanjian Lama. Mazmur menjadi doa jemaat karena tidak hanya berisi doa bagi diri sendiri akan tetapi untuk orang banyak. Dalam Mazmur, tertulis doa bagi diri sendiri (Mzm 3-7, 16). Doa bagi jemaat (doa syafaat juga tertulis dalam Mazmur (Mzm 8, 12, 145). Nada doa Mazmur adalah pujian, karenanya Mazmur juga disebut sebagai “Madah Pujian” (KGK 2589). Mazmur mengajak kita untuk senantiasa memuji dan memuliakan Tuhan (Mzm 33:1-9).

(39) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 19 Tokoh berikutnya adalah Elia. Doa dalam hidup Elia lebih diwarnai dengan pertobatan dan juga mencari Allah. Pertobatan terlihat dalam kisah Elia yang mengajar janda supaya percaya kepada sabda Allah (1 Raj 17:7-24). Jadi dalam Perjanjian Lama, doa dimaknai dengan berbagai hal. Bagi Abraham, doa dimaknai sebagai komunikasi dengan Allah supaya ia bisa terus dekat dengan Allah dan dengan doa Abraham mampu melampaui ujian iman akan kesetiaan Allah. Bagi Musa, doa dimaknai sebagai doa syafaat yaitu doa yang memohon bukan untuk kepentingan diri sendiri tetapi juga untuk orang lain serta doa menjadi sarana untuk mendengarkan Allah. Bagi Daud dan Salomo, sebagai pemimpin (raja) doa sebagai sarana untuk memohon berkat bagi diri sendiri dan terutama bangsanya. Dan bagi Daud dalam Mazmur, doa menjadi puji-pujian untuk memuji dan memuliakan Allah. Kemudian makna doa bagi Elia adalah sebagai pertobatan. b. Doa Menurut Hidup Para Tokoh dalam Perjanjian Baru Doa juga sangat mewarnai Perjanjian Baru. “Peristiwa doa diwahyukan sepenuhnya kepada kita dalam Sabda yang menjadi manusia dan tinggal di antara kita” (KGK 2598). Kutipan tersebut menjelaskan bahwa peristiwa doa yang paling utama adalah doa yang diwahyukan sepenuhnya dalam sosok Sabda yang menjadi manusia yaitu Yesus Kristus, Putra Allah. Memang dalam Perjanjian Baru, doa bukan hanya dimuat dalam Injil namun juga dalam surat-surat para rasul. Namun yang menjadi utama dalam doa adalah sosok Yesus Kristus. Dalam Injil tertulis bagaimana hidup Yesus yang tak pernah lepas dari doa. Berkaca dari hidup Yesus,

(40) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 20 doa dimaknai sebagai doa seorang anak kepada Bapa-Nya. Injil Lukas menuliskan kata-kata Yesus “Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?” (Luk 2: 49). KGK 2599 menjelaskan kutipan Injil ini, “Di sinilah bentuk doa yang baru dalam kepenuhan waktu mulai menyatakan diri. Doa seorang anak, yang diharapkan Bapa dari anak-anak, akhirnya dihayati oleh Putera tunggal dalam kodrat manusiawi bersama manusia dan untuk mereka”. Yesus menunjukkan intimitas dalam doa. Hubungan manusia dan Tuhan dalam doa bukanlah semata-mata hubungan hamba dan tuan. Lebih dari itu, Allah membuka dirinya sebagai seorang Bapa yang dekat dengan manusia. Di dalam Injil pula, kita bisa menemukan hidup doa dari teladan Bunda Maria. Bunda Maria adalah pribadi yang selalu menyertakan doa di dalam hidupnya. Sikap rendah hati dan kesetiannya kepada Allah ia ungkapkan dalam doa ketika malaikat menyampaikan kabar bahwa Maria akan mengandung dari Roh Kudus. Kata Maria “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Luk 1:38). Kutipan dari Injil tersebut menjelaskan bahwa dalam hidup Maria, ia sungguh merefleksikan bahwa dirinya sebagai milik Allah sepenuhnya sehingga apapun yang dikehendaki Allah maka terjadilah pada dirinya. Bunda Maria juga setia melaksanakan sabda Allah di dalam dirinya tanpa tawar-menawar atau menolak. Dalam Kitab Suci Perjanjian Baru khususnya dalam Kisah Para Rasul warna doa yang sangat kentara adalah ketika doa dilakukan dalam jemaat, demi kekuatan iman diri sendiri dan bagi kepentingan jemaat (bersama). Selepas Yesus Kristus naik ke surga, para rasul tetap terus bertekun sehati dalam doa (Kis 1: 14,

(41) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 21 24). Cara hidup jemaat yang pertama juga digambarkan selalu berkumpul bersama untuk memecah roti dan berdoa (Kis 2: 42), juga dikatakan bahwa ketika jemaat sedang berdoa, tiba-tiba tempat mereka berkumpul pun bergoyang dan semua penuh dengan Roh Kudus (Kis 4: 31). Demikian pula ketika tujuh orang dipilih untuk melayani orang miskin, para rasul berdoa dan meletakkan tangan di atas tujuh orang itu (Kis 6: 6). Para rasul digambarkan berdoa demi kepentingan banyak orang, bukan hanya untuk kepentingan mereka sendiri. Mereka (Petrus dan Yohanes) mendoakan orang-orang Samaria supaya beroleh Roh Kudus (Kis 8: 15). Masih banyak perihal doa dalam kehidupan para Rasul. Misalnya rasul Paulus yang ajakan dan doanya sangat diwarnai oleh doa syafaat bagi kepentingan jemaat. Salah satu contohnya adalah ketika Paulus memberi nasihat melalui surat pertamanya kepada Timotius “Pertama-tama aku menasihatkan: Naikkanlah permohonan, doa syafaat dan ucapan syukur untuk semua orang” (1 Tim 2: 1). Jadi dari kutipan tersebut adalah salah satu contoh ajakan Paulus supaya umat saling mendoakan (berdoa bagi kepentingan banyak orang) dan supaya tidak egois hanya mementingkan diri sendiri. 2. Doa Menurut Dokumen Gereja Gereja Katolik memiliki pemahaman iman yang bertolak dari Kitab Suci. Berdasarkan Kitab Suci, Gereja telah menafsirkan sabda Tuhan melalui dokumendokumen Gereja. Dari antara dokumen-dokumen Gereja, keyakinan Gereja Katolik mengenai doa sangat diwarnai oleh Katekismus Gereja Katolik.

(42) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 22 Gereja telah mendefinisikan apa itu doa. Kita bisa melihat definisi doa dalam Gereja Katolik berdasarkan KGK 2559: “Doa adalah pengangkatan jiwa kepada Tuhan, atau satu permohonan kepada Tuhan demi hal-hal yang baik” (Yohanes dari Damaskus, f.o.3,24). Dari mana kita berbicara, kalau kita berdoa? Dari ketinggian kesombongan dan kehendak kita ke bawah atau “dari jurang” (Mzm 130:1) hati yang rendah dan penuh sesal? Siapa yang merendahkan diri akan ditinggikan (Bdk. Luk 18:9-14). Kerendahan hati adalah dasar doa, karena “kita tidak tahu bagaimana sebenarnya harus berdoa” (Rm 8:26). Supaya mendapat anugerah doa, kita harus bersikap rendah hati: Di depan Allah, manusia adalah seorang pengemis. Berdasarkan kutipan tersebut, berdoa adalah pengangkatan jiwa dan hati kepada Allah. Pengangkatan jiwa dan hati oleh manusia ini harus berasal dari kerendahan hati manusia. Manusia tidak tahu bagaimana caranya harus berdoa. Doa sendiri adalah anugerah dari Allah, jadi supaya manusia dapat memperoleh anugerah doa maka manusia harus memulainya dari kerendahan hati. Kerendahan hati adalah sikap yang harus manusia miliki terlebih apabila sedang berdoa karena manusia adalah seorang pengemis di hadapan Allah yang selalu meminta apapun kepada-Nya. Menurut buku Iman Katolik, doa pertama-tama dan terutama adalah suatu pernyataan iman di hadapan Allah (KWI, 1996: 194). Jadi manusia menyatakan imannya bahwa ia menyembah Allah dan mengakui keagungan Allah melalui doa. Kemudian Iman Katolik juga menyatakan bahwa doa pada dasarnya berarti mengangkat hati, mengarahkan hati kepada Tuhan, menyatakan diri anak Allah, mengakui Allah sebagai Bapa (KWI, 1996: 194). Maka manusia menyatakan imannya dengan mengarahkan hatinya kepada Tuhan. Dengan mengarahkan hatinya, manusia sungguh meyakini eksistensi Allah sebagai Bapa

(43) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 23 dan menyatakan bahwa dirinya adalah anak Allah sehingga berbuat seturut kehendak Bapanya. Doa yang dipanjatkan manusia selalu dilukiskan oleh Kitab Suci berasal dari jiwa atau roh. Tetapi yang paling sering disebutkan adalah hati. Jika hati jauh dari Allah, doa pun tidak mempunyai arti (KGK 2562). Jadi berdasarkan KGK tersebut jelaslah bahwa dari diri manusia, doa berasal dari hati manusia. Manusia hanya dapat berdoa apabila hatinya dekat dengan Allah. Ketika manusia berdoa, ia mengarahkan hati sepenuhnya kepada Allah. Kehidupan duniawi manusia membuat pikiran dan hati manusia begitu sibuk dengan perkara di sekitarnya. Maka ketika berdoa, manusia menyingkirkan pikiran dan hatinya yang sibuk dengan perkara di sekitarnya itu kemudian menyediakan tempat bagi Allah di dalam hatinya. Mengapa hati adalah yang paling utama dari pihak manusia ketika berdoa? Karena hati adalah tempat keputusan, ia adalah tempat kebenaran di mana kita memilih antara hidup dan mati. Dan hati adalah tempat pertemuan karena manusia hidup dalam hubungan dengan citra Allah, hati adalah tempat perjanjian (KGK 2563). Dalam lubuk hati nuraninya manusia menemukan hukum yang tidak diterimanya dari dirinya sendiri melainkan harus ditaati. Sebab dalam hatinya manusia menemukan hukum yang ditulis oleh Allah. Martabat manusia adalah mematuhi hukum itu. Hati nurani adalah inti manusia yang paling rahasia, sebagai sanggar sucinya; di situ ia seorang diri bersama Allah, yang sapaan-Nya menggema dalam batinnya (GS 16). Jadi hati nurani adalah tempat Allah hadir dalam hidup manusia, sebagai tempat Allah menyampaikan hukumnya sebagai

(44) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 24 suara hati manusia yang memberi tahu baik atau buruknya sesuatu. Dalam hati manusia, hanya ada manusia itu sendiri dan Allah yang mengenal dirinya. Hati manusia juga dapat menimbang-nimbang berbagai macam perkara. Secara lebih spesifik sebagai murid Kristus, orang Kristen memiliki pemahaman tersendiri mengenai doa. KGK 2564 menjelaskan doa Kristen adalah hubungan perjanjian antara Allah dan manusia di dalam Kristus, sebagai tindakan Allah dan tindakan manusia. Menurut KGK 2565, doa dalam Perjanjian Baru dimaknai sebagai hubungan yang hidup antara anak-anak Allah dengan Bapanya bersama Yesus Kristus dan dengan Roh Kudus. Menurut LG 4, Tritunggal maha kudus sangat melekat dalam doa orang Katolik. Allah Bapa yang menginginkan keselamatan manusia, mengutus Putera-Nya dan menjadi pengantara kita serta Roh Kudus membantu menyertai kita dan membantu kita berdoa. Dalam ensiklik Fides et Ratio 7 oleh Paus Yohanes Paulus II, dijelaskan bahwa dalam kebaikan dan kebijaksanaan, Tuhan memilih menyatakan diri-Nya dan memberitahukan tujuan-Nya yang tersembunyi kepada manusia melalui diri Yesus Kristus. Yesus Kristus adalah firman Allah yang menjadi manusia. Manusia dapat menuju Allah melalui Roh Kudus. Bagaimana manusia dapat menjangkau Allah adalah inisiatif dari Allah kepada manusia baik pria dan wanita supaya beroleh keselamatan. Tuhan ingin dirinya dikenal oleh manusia dan pengetahuan yang dimiliki manusia menyempurnakan semua yang dapat diketahui oleh pikiran manusia tentang makna kehidupan. Dokumen Gereja, dekrit UR juga membahas mengenai doa akan tetapi dalam lingkup ekumenisme. Umat Katolik diajak untuk terus berdoa. Pertobatan

(45) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 25 hati dan kesucian hidup disertai doa-doa permohonan perorangan maupun bersama harus dipandang sebagai jiwa seluruh gerakan ekumenisme. Sebab bagi umat Katolik merupakan kebiasaan yang sangat baik berkumpul untuk mendoakan kesatuan Gereja (UR 8). Jadi menurut UR 8 tersebut, doa bagi umat Katolik sangat penting apalagi doa yang menyangkut kesatuan Gereja. Setiap orang Katolik diajak untuk terus berdoa. 3. Doa Menurut Tokoh Gereja dan Para Ahli Setelah bertolak dari Kitab Suci dan kemudian dokumen/ajaran Gereja, maka barulah kita melihat bagaimana doa menurut para ahli atau tokoh dalam Gereja. Gusti Kusumawanta (2018) dalam artikelnya berjudul “Berdoa dengan Benar Secara Katolik” menegaskan apa itu doa menurut St. Theresa dari Lisieux “For me, prayer is a surge of the heart; it is a simple look turned toward heaven, it is a cry of recognition and of love, embracing both trial and joy” yang diterjemahkan oleh Kusumawanta sebagai berikut: “suatu gelora, sentakan dalam hati, sebuah penglihatan kembali untuk ke depan menuju takhta surgawi, sebuah jeritan pengetahuan akal budi dan cinta yang memeluk keduanya dalam suatu cobaan dan sukacita”. Jadi berdasarkan kutipan tersebut, Santa Theresa dari Lisieux memahami bahwa doa adalah sebuah gelora dari dalam hati, sebagai penglihatan atau pandangan sederhana ke surga, sebagai jeritan atau tangisan dari pengakuan, akal budi dan cinta yang memeluk cobaan dan sukacita. Doa adalah sebuah gelora yang berasal dari hati. Gelora dari dalam hati manusia itu selalu mengarah ke surga.

(46) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 26 Dalam buku yang ditulis oleh Heuken (2016: 7), terdapat petunjuk yang baik mengenai doa menurut St. Teresa dari Avila berdasarkan karangan S. Teresa Camino de Perfectión (Jalan ke kesempurnaan), yaitu sebagai berikut: Jalan untuk maju bukan berbagai latihan mati raga, melainkan doa. Maka, Teresa sering berbicara tentang seni berdoa sesuai pengalamannya sendiri. Apa pun bentuk doa itu, lisan atau batiniah, doa permohonan maupun doa syukur ataukah doa pribadi serta bersama, adalah jalan orang beriman menuju kepada Allah. Doa tak lain daripada pertemuan dengan Allah dari sendirinya mendekatkan kita dengan-Nya. Berdasarkan kutipan tersebut, Heuken menegaskan bahwa menurut santa Teresa dari Avila cara untuk memiliki kemajuan rohani adalah dengan doa bukan dengan berbagai jenis latihan mati raga. Apapun jenis doa yang dilakukan, doa tetap menjadi jalan bagi orang beriman untuk mengarahkan hatinya kepada Allah dan mulai hidup seturut kehendak Allah. Karena doa adalah sebuah pertemuan antara manusia dengan Allah, maka dengan pertemuan tersebut manusia dapat mendekatkan dirinya kepada Allah. Menurut Ruben (2007: 24) berdasarkan refleksi St. Teresa dari Avila, perjalanan awal menuju hidup doa harus bermula dari pengenalan diri. Barangsiapa mengenal dirinya, ia akan tahu siapakah Allah, tahu bahwa Allah mencintainya dan berkehendak mencintai-Nya. Menurut Ruben (2007: 24) berdasarkan St. Teresa dari Avila juga, doa adalah percakapan sejati antara kita dengan Allah. Selanjutnya adalah hidup doa dari Ibu Teresa (St. Theresa dari Kalkuta). Menurut Youcat Katekismus Sakramen Penguatan (82), Ibu Teresa membutuhkan waktu yang lama untuk belajar berdoa. Bahkan Ibu Teresa pernah merasa bahwa Allah sungguh jauh dari dirinya, ia juga tidak merasa bahwa dirinya itu suci.

(47) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 27 Namun ada satu hal yang dipahami: kalau Allah dekat dengan kita maka relasi kita dengan Allah harus hidup. Allah adalah sumber hidup maka tidak ada yang bisa terjadi jika Allah tidak menghendaki. Karena itu kita harus mencari Allah dengan kerinduan yang kuat dan tanpa kenal lelah. Menurut Youcat Katekismus Sakramen Penguatan (82) Ibu Teresa mengungkapkan pemahamannya mengenai doa. Ibu Teresa yakin bahwa Allah menantikan dirinya untuk membangun relasi dengan Allah. Doa yang dipanjatkan Ibu Teresa selalu berasal dari kerendahan hati karena perasaan tidak berarti dan lemah yang dirasakannya sehingga ia tidak mau hidup sendiri tanpa Allah. Ia begitu mencintai Allah dan ingin hidup bersama Allah sehingga ia selalu menyediakan waktu sepenuhnya bagi Allah melalui doa. Ia memberikan waktu sepenuhnya dalam hidupnya bagi Allah dalam doa tanpa mengeluh atau bosan karena ia sungguh mencintai doa. Hatinya sungguh peka hingga ia dapat merasakan sungguh-sungguh dorongan untuk selalu berdoa. Baginya, doa dapat membuat hati menjadi lebih siap menerima anugerah Allah. Jika kita ingin berdoa dengan benar maka kita harus lebih sering berdoa karena doa juga membuat kita lebih sanggup mengasihi. Kita juga bisa belajar bagaimana hidup doa Fransiscus dari Asisi. St. Fransiscus Asisi adalah pendiri Ordo Fransiskan (OFM). Ayahnya adalah saudagar kain yang kaya raya di Asisi. Pada tahun 1202 timbul pertikaian mengenai perbatasan Perugia dengan Asisi. Pertikaian ini menimbulkan perang. Fransiscus sebagai pemuda Asisi ikut membela negerinya. Dalam peperangan ini ia tertawan dan dipenjara selama setahun kemudian setelah ia bebas ia ikut lagi

(48) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 28 berperang namun kali ini ia harus kembali karena sakit. Dalam sakitnya itu, ia mengalami pergumulan rohani yang hebat. Kemudian ia memutuskan untuk menyerahkan dirinya demi mengabdi kepada doa dan orang-orang miskin. Pada tahun 1205 ia mengadakan perjalanan ziarah ke Roma. Kemudian di pintu gerbang gereja St. Petrus, ia kasihan melihat pengemis yang berdiri di pintu gerbang dan ia pun memberikan bajunya kepada pengemis itu. Pada kesempatan yang lain ia bertemu dengan seorang yang menderita penyakit kusta dan ia pun memeluk orang itu karena belas kasihan. Pada tahun 1206 Fransiscus berdoa dalam Gereja St. Damian di Asisi. Ketika berdoa ia mendengar suara dari lukisan Kristus yang berkata kepadanya untuk memperbaiki gedung gereja yang hampir runtuh. Ia pun menjual kain ayahnya dan menggunakan hasil penjualan kain untuk memperbaiki gedung. Fransiscus juga membagi-bagikan uang ayahnya kepada orang miskin dan ini menyebabkan ayahnya marah dan hak waris Fransiscus dicabut ayahnya (Wellem, 2003: 81). Fransiscus terus hidup dalam doa dan kemiskinan sepanjang hidupnya. Sebelum ia meninggal, ia bertapa di gunung La Verna tempat ia memperoleh stigmata (bekas luka-luka Kristus di tangan dan kaki). Ia pun meninggal pada tanggal 3 Oktober 1226 pada usia lanjut di kaki altar Kapel Portiuncula (Wellem, 2003: 82). Jadi dapat disimpulkan bahwa santo Fransiscus dari Asisi sungguh mewujudkan hidup doa dengan kemiskinan dan berbelarasa terhadap mereka yang miskin dan sakit. Doa tidak hanya menjadi sebatas kata-kata yang diucapkan kepada Allah akan tetapi juga diwujudkan dalam perbuatan. Karena doa juga

(49) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 29 Fransiscus tidak khawatir akan hidupnya, ia yakin bahwa ia hidup untuk Allah dalam kemiskinan dan Allah akan memelihara hidupnya. Menurut Pai (2003: 13), doa merupakan suatu relasi, perjumpaan dan pertemuan dengan Pribadi lain, yakni dengan Allah. Kalau hubungan kita dengan Allah baik, maka doa kita akan mendalam dan hidup kita menjadi lebih bermakna. Kutipan tersebut menjelaskan bahwa doa adalah sebuah relasi dan perjumpaan antara Allah dan manusia. Doa menjadi mendalam dan hidup sungguh bermakna apabila hubungan manusia dengan Allah sungguh baik. Menurut Darminta (1981: 20) ketika seseorang berdoa maka ia harus mengosongkan dirinya dari segala kesibukan, kepentingan pribadi, dan segala macam persoalan yang bersifat egosentris karena semua itu membuat orang buta dan tuli akan Allah. Selain itu, dalam doa juga diperlukan pengosongan diri dalam pengertian pribadi Yesus (Flp 2:5-8). Manusia perlu hidup dengan pengosongan diri seperti Yesus Kristus. Meskipun Ia hidup dalam rupa Allah, Ia tidak menyombongkan diri dengan menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan. Ia berdoa dengan mengambil rupa sebagai seorang hamba seperti manusia, yaitu ciptaan yang bergantung pada Allah. Menurut Laplace (1984: 10), doa Kristen yang bersumberkan dan berinspirasikan Kitab Suci selayaknya merupakan proses penyerahan diri dalam iman kepada kuasa Allah yang mampu menyelamatkan. Puncak hidup rohani adalah penyerahan diri secara total kepada Allah yang menyelamatkan. Dengan begitu, manusia diajak untuk belajar berdoa hanya untuk mencari Allah, bukan untuk mencari hal lain (bdk. Mat 6: 33). Jadi menurut Laplace, doa sebaiknya

(50) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 30 dimaknai sebagai proses penyerahan diri kepada Allah secara total. Penyerahan diri secara total membuat manusia percaya kepada karya Allah dalam hidupnya dan tidak khawatir akan hidupnya. Dengan penyerahan diri dan sikap percaya seutuhnya kepada Allah, manusia harus fokus berdoa untuk mencari Allah karena Allah menjadi prioritas ketika manusia mampu menyerahkan hidupnya seutuhnya kepada Allah. Yang terakhir adalah doa menurut St. Agustinus. Bavel (2011:11-17) menjelaskan pemahaman doa menurut St. Agustinus yaitu bahwa berdoa merupakan aktivitas di mana relasi antara manusia dan Allah dialami dan dibentuk. Aspek krusial dalam doa adalah bahwa inisiatif ada pada Allah. Menurut gagasan umum St. Agustinus, Allah sendiri mengajar kita untuk berdoa. Ia berinisiatif untuk berdialog dengan manusia. Suara-Nya menggapai hati kita. B. Isi Doa Isi doa merujuk pada bentuk-bentuk esensial atau juga jenis utama doa. Yang dimaksud esensi adalah inti pokok. Menurut KGK, doa memiliki berbagai bentuk esensialnya (isi) sebagai berikut: 1. Berkat dan Penyembahan Bentuk esensial doa yang pertama adalah berkat dan penyembahan. Pertama-tama kita perlu mengetahui tentang berkat. Apakah itu berkat? Menurut KGK 2626 berkat adalah pertemuan antara Allah dan manusia. Pertemuan antara Allah dan manusia ini adalah sebuah anugerah dari Allah, bukan karena prestasi

(51) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 31 manusia. Berkat itu menjadi sempurna ketika manusia membuka hatinya bagi kehadiran Allah. Menurut Youcat Katekismus Populer (484), “doa berkat adalah doa permohonan agar berkat Allah turun atas kita. Dari Allah sendirilah semua berkat mengalir. Kebaikan-Nya, kedekatan-Nya, belas kasih-Nya merupakan berkat”. Kutipan tersebut menjelaskan bahwa satu-satunya pribadi pemberi berkat kepada manusia adalah Allah. Oleh karenanya supaya manusia dapat berlimpah berkat, manusia harus memohon berkat itu kepada Allah. Allah adalah sumber berkat dalam hidup manusia. Berkat Allah kepada manusia terwujud melalui kebaikan Allah, kedekatan Allah (Allah yang mau mendekat dan yang mau didekati manusia), dan juga belas kasih-Nya atas kehidupan manusia. Jadi berdasarkan beberapa dokumen Gereja dan juga pendapat ahli, berkat dimengerti sebagai pertemuan antara Allah dan manusia dalam doa. Dalam pertemuan ini Allah melimpahkan kebaikan-Nya, kedekatan-Nya dan juga belas kasih-Nya kepada manusia dan manusia menanggapinya dengan ungkapan memuji, menyembah dan mengagungkan Allah. Yang kedua adalah penyembahan. Apakah itu penyembahan? KGK 2628 merumuskan penyembahan sebagai: Penyembahan adalah sikap pertama manusia, yang mengakui diri sebagai makhluk di depan pencipta-Nya. Ia memuliakan kebesaran Tuhan yang menciptakan kita dan kemahakuasaan penyelamat yang membebaskan kita dari yang jahat. Dalam penyembahan, roh menundukkan diri di depan “Raja Kemuliaan”. Kutipan tersebut menjelaskan bahwa penyembahan adalah “sikap manusia” berupa pengakuan bahwa dirinya adalah makhluk di depan Allah. Kata

(52) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 32 makhluk menggambarkan bagaimana status manusia. Bahwa manusia adalah ciptaan, memiliki keterbatasan, harus menyembah pada Sang Pencipta yang telah memberikan hidup dan yang melindungi manusia. Menurut Kompendium KGK 552, “penyembahan adalah pengakuan yang rendah hati dari pihak manusia bahwa mereka adalah makhluk dari Pencipta yang mahakudus” (KWI, 2009: 185). Menurut kutipan tersebut, penyembahan berasal dari pihak manusia yang mengaku dengan rendah hati bahwa dirinya hanyalah makhluk yang berasal atau diciptakan oleh Pencipta yang mahakudus. Sedangkan menurut Pai (2003: 129), “sembah sujud hanya diperuntukkan bagi Allah semata”. Menurut kutipan tersebut, sembah sujud (menyembah) membuat manusia tertantang untuk meninggalkan allah-allah lain (penyembahan berhala). Penyembahan berhala bisa saja terjadi ketika manusia terlalu mendewakan uang, status, kekuasaan, seks, dan sebagainya. Maka Pai (2003: 131) menyebutkan bahwa apabila kita menolak untuk menyembah dewa yang lain, kita akan menjadi sangat bebas untuk menjawab panggilan Allah yang esa, benar dan hidup. Berdasarkan dokumen Gereja dan pendapat ahli, maka dapat disimpulkan bahwa penyembahan adalah sikap kerendah-hatian manusia di hadapan Allah. Dalam sikap rendah hati ini, muncul kesadaran bahwa dirinya sendiri adalah makhluk ciptaan Allah. Sebagai makhluk ciptaan, manusia sadar bahwa ia harus berbakti seutuhnya pada penciptanya dan tidak membiarkan dirinya berbakti kepada pribadi/hal yang lain selain Allah.

(53) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 33 Jadi dalam doa berkat dan penyembahan ini, dalam diri manusia yang berdoa harus tumbuh keinginan untuk menjawab panggilan Allah dengan tulus dan bersungguh-sungguh. Manusia harus menyadari bahwa kehadiran Allah dalam hidup manusia adalah sebuah berkat dan anugerah cuma-cuma dari Allah. Dan dalam doa yang disadari berkat Allah itu, manusia harus sungguh-sungguh menyembah. Manusia harus mengakui bahwa ia hanyalah makhluk ciptaan Allah dan Allah berkuasa atas dirinya sehingga manusia harus memuliakan Allah. 2. Doa Permohonan Isi atau bentuk esensial doa yang kedua adalah permohonan. Katekismus Gereja Katolik mengungkapkan bahwa “dalam doa permohonan terungkap kesadaran akan hubungan kita dengan Allah” (KGK 2629). Kutipan tersebut menjelaskan bahwa ketika manusia berusaha memanjatkan doa permohonan, dari dirinya sebenarnya telah muncul kesadaran bahwa antara dia dengan Allah ada suatu hubungan. Hubungan itu tersirat dari bagaimana perlunya manusia menjalin komunikasi dengan Allah. Bukan hanya diam menunggu keajaiban dari Allah. Manusia selalu memiliki kecenderungan untuk memohon. Mengapa manusia harus memohon kepada Allah? “Allah menginginkan kita untuk meminta, untuk berpaling kepada-Nya pada saat kita membutuhkan Dia” (Youcat Katekismus Populer 486). Dan Youcat Katekismus Populer (486) sendiri memberikan penjelasan lebih lanjut sebagai berikut: Tentu saja, Allah tidak memerlukan permohonan kita agar dapat menolong kita. Untuk kepentingan diri kita sendiri saja sehingga kita memanjatkan doa permohonan. Seseorang yang tidak meminta dan tidak mau meminta, menutup dirinya sendiri. Hanya seseorang yang meminta

(54) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 34 yang membuka dirinya dan berpaling kepada Sang Pencipta semesta. Maka, doa permohonan membawa manusia pada hubungan yang tepat dengan Allah yang menghargai kebebasan kita. Kutipan tersebut menjelaskan bahwa permohonan sebenarnya adalah kebutuhan manusia sendiri. Allah tidak membutuhkan permohonan dari manusia. Allah juga sebenarnya sudah mengerti apa yang dibutuhkan manusia tanpa manusia harus memohon. Akan tetapi dengan memohon, manusia membuka dirinya bagi kehadiran Allah. Menurut Jacobs (2004: 29), doa permohonan berasal dari kejadian yang benar-benar dialami oleh manusia. Doa permohonan bukanlah sebuah refleksi ataupun perenungan atas kejadian yang dialami oleh seseorang. Doa permohonan lebih berwujud sebuah seruan kepada Allah dan seringkali merupakan reaksi spontan atas situasi terjepit. Pusat dari doa permohonan bukan hanya pada kebutuhan manusia. Kebutuhan manusia lebih menjadi sumber yang mendorong seseorang untuk berdoa. Seseorang memohon kepada Allah karena merasa tidak berdaya dan Allah menjadi tempat perlindungan yang sungguh tepat. Menurut KGK 2631, bentuk pertama dari doa permohonan adalah mohon pengampunan seperti dalam doa pemungut cukai: “Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini” (Luk 18:13). Dan dalam ajaran Yesus Kristus sendiri, ada suatu hierarki permohonan: pertama-tama memohon Kerajaan dan sesudah itu segala sesuatu yang kita butuhkan untuk menerimanya dan untuk turut bekerja demi kedatangan-Nya. Turut serta dalam perutusan Kristus dan Roh Kudus, yang kini menjadi perutusan Gereja, adalah pokok doa umat apostolik (KGK 2632).

(55) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 35 Dalam buku yang ditulis oleh Bavel (2011: 134), ia menuliskan bahwa menurut St. Agustinus, kita harus menghaturkan doa permohonan dengan tiga alasan: yang pertama, sebagai ciptaan kita harus menaati Allah dan menghubungkan hal-hal yang bersifat sementara ke kehidupan kekal. Yang kedua kita melakukannya dengan memohon supaya segala sesuatu dilimpahkan kepada kita. Dan yang ketiga, kita melakukannya dengan meminta nasihat yang berkaitan dengan apa yang harus dilakukan. Apa yang sebaiknya kita mohon kepada Allah melalui doa permohonan? Kita bisa memohon anugerah surgawi dan duniawi. Menurut St. Agustinus, Allah tidak melarang kita untuk mencintai apa yang telah diciptakan-Nya tetapi melarang kita untuk mencintainya seakan-akan itulah kebahagiaan akhir. Belas kasih Allah tidak hanya ditemukan di surga tetapi juga di bumi. Anugerahanugerah surgawi dan duniawi diberikan oleh Allah kepada manusia. Kesemuanya menjadi anugerah Allah karena Allah menciptakan manusia dengan jiwa dan badan, Dia juga peduli pada jiwa dan badan manusia. Hal-hal duniawi itu kadang menguntungkan dan kadang merugikan. Kita perlu memohon hal-hal duniawi kepada Allah secara tidak berlebihan supaya kita tidak melupakan Allah karena semua jenis kesenangan. Jika kita tidak menerima apa yang kita minta, janganlah bersedih karena Allah tahu apa yang baik bagi kita. (Bavel, 2011: 135-138). Pai (2003: 31) mengungkapkan bagaimana jika permohonan yang kita panjatkan tidak dikabulkan: Berdoa berarti meminta ini atau itu atau meminta seseorang, lalu kamu memperoleh apa yang tidak kamu minta yakni: “kekuatan untuk menerima, tanpa sikap sinis kalau ternyata hal ini atau itu atau seorang

(56) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 36 pribadi yang kau minta itu tidak diberikan kepadamu…” kekuatan itulah yang disebut Roh Kudus dalam Injil (Luk 11: 13). Kutipan tersebut menjelaskan bahwa sejatinya berdoa itu justru adalah ketika kita memohon kepada Allah, Allah memberikan apa yang tidak kita mohon. Itu adalah kekuatan dan ketegaran apabila apa yang kita minta tidak diberikan kepada kita. Jadi memohon adalah suatu yang penting yang mengungkapkan kesadaran manusia akan kehambaan. Allah tidak membutuhkan permohonan manusia, akan tetapi Allah mengharapkan manusia memohon kepada Allah. Dengan memohon kepada Allah, manusia terus menjalin relasi dengan Allah melalui doa. Dalam doa permohonan, manusia perlu memohon ampun kepada Allah karena kelemahan dan kemiskinannya di hadapan Allah. Dalam doa permohonan pula, manusia belajar untuk tidak mencintai hal-hal duniawi secara berlebihan. Doa permohonan membuat manusia belajar ketegaran dan kekuatan menerima apabila apa yang dimintanya tidak diterimanya. 3. Doa Syafaat Menurut KGK 2634, doa syafaat adalah “doa permohonan yang membuat doa kita serupa dengan doa Yesus.” Apa maksudnya serupa dengan doa Yesus? Yesus adalah pribadi yang tidak selalu berdoa hanya untuk diri-Nya sendiri, Ia adalah pribadi pendoa. Yesus mendoakan semua orang, bahkan orangorang yang membenci-Nya sekalipun. Yesus tidak hanya berdoa demi kepentingan-Nya sendiri. Ia selalu mendoakan bagi kepentingan orang lain dan orang banyak juga.

(57) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 37 Kitab Suci juga mengajak kita untuk melakukan doa syafaat misalnya Flp 2:4 “dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga”. Dalam doa syafaat, kita mendoakan orang lain baik secara pribadi maupun kelompok (doa bersama). Mengapa kita berdoa bersama? Menurut Jacobs (2004: 75), kita berdoa bersama karena kita adalah Gereja. Gereja adalah persekutuan orang yang dipersatukan dalam Kristus, dibimbing oleh Roh Kudus dalam peziarahan menuju Kerajaan Bapa; mereka telah menerima warta keselamatan untuk selanjutnya disampaikan kepada semua orang (GS 1). Jadi kita berdoa bersama-sama karena kita adalah persekutuan orang beriman akan Kristus yang telah menerima warta keselamatan untuk disampaikan kepada semua orang. Selain itu, Jacobs mendasari pemikiran ini berdasarkan LG 9. Isinya menyebutkan bahwa Allah menguduskan dan menyelamatkan orang bukannya satu persatu tanpa hubungan satu dengan yang lain, Ia membentuk mereka menjadi umat yang mengakui-Nya dalam kebenaran dan mengabdi kepada-Nya dengan suci. Jadi menurut LG 9, Allah menguduskan dan menyelamatkan kita bukan secara perseorangan tetapi sebagai umat (persekutuan) yang mengabdi kepada-Nya dengan suci. Jadi doa syafaat menyelaraskan doa kita sendiri dengan doa Yesus yang mendoakan semua orang terutama yang berdosa. Doa syafaat bukan hanya berisi doa untuk kepentingan orang-orang yang kita kasihi saja. Kita juga berdoa bersama di dalam persekutuan. Dalam doa syafaat, kita juga harus mau berbesar

(58) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 38 hati mendoakan musuh kita. Dengan mau mendoakan musuh, kita menyingkirkan kebencian di hati kita dan membiarkan kasih menyelimuti hati kita. 4. Doa Syukur Menurut Katekismus Gereja Katolik “ucapan syukur merupakan ciri khas doa di dalam Gereja, yang dalam perayaan Ekaristi menyatakan hakikatnya dan terbentuk menurut apa yang dinyatakan itu.” (KGK 2637). Menurut kutipan tersebut, doa syukur menjadi ciri khas dalam Gereja. Ungkapan syukur Gereja terwujud dalam perayaan Ekaristi. Gereja tidak pernah berhenti mengucap syukur atas karunia Allah. Oleh karenanya pula, Gereja selalu merayakan Ekaristi. Mengapa kita harus bersyukur kepada Allah? Kita bersyukur kepada Allah karena segala sesuatu mengenai kita dan apa saja yang ada pada kita berasal dari Allah (Youcat Katekismus Populer 488). Kapan kita harus mengucap syukur kepada Allah? Kompendium KGK 555 mengungkapkan, “Gereja mengucap syukur kepada Allah terus-menerus, terutama dengan merayakan Ekaristi, tempat Kristus membuat Gereja berpartisipasi dalam ucapan syukur-Nya kepada Bapa. Bagi orang Kristen, setiap peristiwa dapat menjadi alasan mengucap syukur” (IKAPI, 2011: 193). Kutipan tersebut menjelaskan bahwa Gereja selalu mengucap syukur. Dan ucapan syukur Gereja itu terwujud dalam perayaan Ekaristi. Kristus membuat Gereja ikut ambil bagian dalam ucapan syukur Yesus Kristus kepada Bapa melalui perayaan Ekaristi. Secara personal sebagai orang Kristen, mengucap syukur tidak terbatas pada waktu-waktu tertentu atau berdasarkan peristiwa suci

(59) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 39 tertentu. Bagi orang Kristen peristiwa apapun yang dialaminya dapat menjadi alasan seseorang untuk mengucap syukur kepada Allah. Menurut Bavel (2011: 129), St. Agustinus menghubungkan antara doa permohonan dengan doa syukur. Dia berkata “Bersyukur adalah satu aktivitas; doa permohonan adalah aktivitas lain. Kita bersyukur untuk sesuatu. Kita menghaturkan permohonan agar yang tidak ada menjadi ada”. Jadi menurut kutipan tersebut, ungkapan syukur terjadi ketika kita menerima sesuatu. Seringkali setelah manusia memanjatkan doa permohonan kemudian menerima apa yang dimintanya, manusia beryukur melalui doa syukur. Di dalam Injil kita membaca bahwa Yesus seringkali berterimakasih kepada Bapa-Nya seperti dalam Luk 10: 21, Yoh 11: 41, dan Luk 17: 18 (Pai, 2003: 24). Menurut Pai (2003: 25), ungkapan rasa terimakasih manusia kepada Allah dapat dibedakan dalam tiga tingkat, yaitu: berterimakasih karena mendapatkan berkat yang luar biasa; bersyukur untuk hal-hal yang biasa dan sederhana, namun merasa sedih dan meragukan kasih Allah ketika mengalami penderitaan atau kegagalan; dan bersyukur atas segala situasi, segala sesuatu selalu diterima sebagai anugerah. Jadi menurut Pai, pada tingkatan yang paling rendah dalam rasa terimakasih seseorang adalah ketika orang tersebut bersyukur setelah mendapatkan berkat yang luar biasa. Contoh dari berkat yang luar biasa tersebut adalah ketika selamat dari sebuah kecelakaan atau dari kematian. Kemudian satu tingkat di atasnya adalah ketika seseorang bersyukur atas hal-hal yang biasa dan sederhana di dalam hidupnya setiap hari, misalnya bisa makan makanan yang sederhana. Akan tetapi orang dalam tingkatan rasa

(60) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 40 terimakasih/syukur seperti ini akan sedih, putus asa dan meragukan berkat Allah ketika mengalami penderitaan atau kegagalan. Kemudian pada tingkat yang paling atas (paling sulit) di mana hanya sedikit orang yang bisa melakukannya adalah mensyukuri apapun yang dialaminya sebagai anugerah. 5. Doa Pujian Menurut Katekismus Gereja Katolik “Pujian adalah bentuk doa yang mengakui Allah secara paling langsung. Pujian mengagungkan Allah demi diriNya sendiri. Ia memberikan hormat kepada-Nya, bukan hanya karena perbuatanperbuatan-Nya, melainkan karena Ia ada.” (KGK 2639). Kutipan tersebut menjelaskan bahwa pujian adalah bentuk doa yang dari sana manusia dapat mengakui keagungan Allah. Pujian adalah wujud hormat manusia sebagai ciptaan kepada Allah. Menurut Youcat Katekismus Populer (489), Allah tidak membutuhkan pujian. Kita memuji Allah karena Ia ada dan karena Ia baik. Menurut Darminta (1983: 25) bagi orang Kristen pujian merupakan pengakuan atas misteri Allah Tritunggal. Pujian merupakan doa yang mengangkat hati manusia kepada Allah. Doa pujian ini biasanya dirumuskan dalam bentuk himne-himne atau nyanyian pujian. Dalam buku Sadhana menurut de Mello (1980: 127), doa pujian dijelaskan sebagai berikut: Doa ini bentuknya sederhana: hanya memuji dan bersyukur kepada Tuhan atas segala sesuatu yang kita terima. Dasarnya adalah kepercayaan, bahwa dalam hidup kita tak ada sesuatu yang terjadi, yang tidak diketahui lebih dahulu dan direncanakan oleh Tuhan, tak ada sesuatu apa pun juga, termasuk dosa-dosa kita.

(61) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 41 Menurut kutipan tersebut, doa pujian bentuknya sangat sederhana karena di dalam doa itu hanya ada pujian dan syukur kepada Allah atas segala sesuatu yang diterima manusia. Doa pujian bertolak dari iman bahwa segala sesuatu yang dialami dan dimiliki manusia adalah berkat karunia Allah yang murah hati. Doa pujian banyak sekali tertulis dalam Kitab Suci khususnya Mazmur. Mazmur seringkali mengajak kita untuk menyampaikan pujian kita kepada Allah. Misalnya: “Pujilah Allah karena Ia baik; bernyanyilah bagi Allah kita karena Ia penuh cinta; hanya Dialah yang pantas dipuji (Mzm 146). Pujian lebih terarah pada pribadi Allah seraya mengakui kebaikan dan kemurahan cinta-Nya, belas kasihan dan kekuatan-Nya yang dinyatakan melalui karya-karya ciptaan-Nya yang megah, melalui pembebasan dan penyelamatanNya. Doa pujian tidak dapat muncul secara spontan seperti doa syukur yang spontan dipanjatkan, atau doa permohonan yang spontan dipanjatkan ketika manusia membutuhkan sesuatu. Doa pujian hanya bisa dipanjatkan dari manusia yang rendah hati, tidak egois dan dapat dengan mudah memuji orang lain. Pujian dapat menghancurkan ketakutan dan kecemasan dalam menghadapi masa depan. (Pai, 2003: 59-61). Dalam buku karangan Bavel (2011: 98), pujian seperti dalam awalan doa Bapa Kami merupakan tanda kasih. Bavel menekankan doa pujian menurut St. Agustinus bahwa kita harus memuji Allah dengan bersemangat dan sukarela karena kita mencintai Allah tanpa minta ganti sesuatu (gratis) dan bukan demi yang lain. Kita memuji Allah dengan kebebasan. Kita harus memuji Allah tanpa pamrih, berpikir mencari keuntungan diri sendiri. Kita bukan memuji Allah

(62) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 42 karena alasan ini dan itu tetapi kita memuji Allah karena Dia menggembirakan kita. Jadi menurut Agustinus, pujian kepada Allah merupakan sebuah wujud kasih kepada Allah. Sikap dalam memuji yang paling baik adalah kita memuji Allah dengan tanpa mengharapkan sesuatu. Kita memuji Allah karena Allah menggembirakan kita, jadi pujian ini juga tidak jauh dari ungkapan syukur. Jadi, doa pujian dapat disimpulkan sebagai doa yang sangat sederhana. Doa ini adalah berupa pengakuan dan rasa takjub atau kagum akan keagungan serta kasih Allah. Allah tidak membutuhkan pujian dari manusia demi keagunganNya. Doa pujian ini tidak terarah pada kepentingan pendoa, hanya sebagai bentuk menghormati Allah. Doa pujian juga hanya bisa dilambungkan dari pribadi yang rendah hati. C. Bentuk-Bentuk Doa 1. Doa Lisan Gereja telah menjelaskan apa itu doa lisan dengan baik dan jelas. Menurut KGK 2700, doa lisan dijelaskan sebagai doa yang berbentuk kata-kata baik yang dipikirkan maupun yang diucapkan. KGK 2700 menuliskan bahwa menurut Yohanes Krisostomus, entah doa kita dikabulkan atau tidak, itu tidak tergantung dari banyaknya kata yang kita ucapakan dalam doa akan tetapi jiwa dan kesungguhan kita dalam berdoa. “Doa lisan merupakan cara untuk menyapa Allah dengan menggunakan baik doa-doa formal seperti Bapa Kami, Salam Maria, Kemulian kepada Allah maupun mengungkapkan pemikiran dan keprihatinan hati kita kepada Allah

(63) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 43 dengan kata-kata kita sendiri” (Rausch, 2001: 272). Kutipan tersebut menjelaskan bahwa ciri khas dari doa lisan adalah bahwa doa tersebut disampaikan kepada Allah dengan kata-kata manusia. Doa dengan kata-kata tersebut dapat berbentuk doa formal seperti Bapa Kami, Salam Maria, Kemuliaan, dan lain-lain. Selain itu doa lisan juga dapat berupa doa-doa yang kita ungkapkan dengan kata-kata kita sendiri sesuai dengan keinginan hati kita apa yang ingin kita ucapkan atau ungkapkan kepada Allah. Berkata-kata menjadi tanda lahiriah dari apa yang diinginkan secara batiniah. Yesus pun mengajarkan doa lisan (Bapa Kami) agar kita mengetahui bagaimana harus berbicara dengan Allah (Bavel, 2011: 82). Jadi doa lisan yang dipanjatkan dengan kata-kata menjadi tanda atau ekspresi manusia dalam mengungkapkan hatinya. Yesus pun juga mengajarkan suatu doa lisan yaitu doa Bapa Kami supaya kita tahu bagaimana harus berdoa kepada Allah. Jadi kesimpulannya, doa lisan dapat dipahami sebagai doa yang dilambungkan kepada Allah dengan kata-kata. Yesus sendiri mengajari kita salah satu doa lisan yaitu doa Bapa Kami. Doa dengan kata-kata itu dapat berupa doa formal seperti Bapa Kami, Salam Maria, dan lain-lain maupun berupa kata-kata kita sendiri sesuai apa yang ingin kita ungkapkan atau sampaikan kepada Allah. 2. Doa Renung / Meditasi Menurut KGK 2708, “Meditasi memakai pikiran, daya khayal, gerak perasaan dan kerinduan. Usaha ini penting untuk memperdalam kebenaran iman, untuk menggerakkan pertobatan hati dan memperkuat kehendak guna mengikuti

(64) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 44 Kristus”. Jadi menurut kutipan tersebut, meditasi lebih banyak memakai pikiran, daya khayal, gerak perasaan dan kerinduan. Doa renung atau meditasi berbeda dengan doa lisan yang lebih banyak diungkapkan dengan kata-kata. Usaha doa dengan meditasi ini penting untuk memperdalam iman, menggerakkan pertobatan hati dan juga memperkuat kehendak untuk mengikuti Kristus. Menurut Youcat Katekismus Populer (502), meditasi dimulai dengan teks Kitab Suci atau gambar kudus dan kemudian menjelajahi kehendak, tanda-tanda, dan kehadiran Allah. Menurut Trust (2007: 26), Doa kita harus mengatasi katakata dan pemikiran. Dan meditasi adalah praktik untuk mengatasi kata-kata dan pikiran, yang oleh Evagrius, satu dari rahib besar padang gurun, disebut doa murni. Jadi doa sebaiknya tidak hanya terbatas pada kata-kata dan pemikiran. Dan meditasi menjadi praktik doa yang mengatasi kata-kata dan pikiran. Dalam meditasi, kita perlu memiliki sikap tubuh yang baik. Menurut Trust (2007: 79), kita perlu duduk diam. Trust menjelaskan bahwa untuk bermeditasi kita harus belajar duduk diam dengan punggung tegak. Mengapa? Karena meditasi menyangkut ketenangan jiwa dan raga yang sempurna. Di dalam ketenangan itulah kita membuka hati kita kepada keheningan abadi Allah. Kapan sebaiknya kita melakukan meditasi? Menurut Green (1988: 87), waktu yang baik melakukan meditasi adalah di pagi hari sebelum pikiran kita dipenuhi dengan urusan dan kesibukan lain pada hari itu. Lalu apa tujuan kita melakukan meditasi? Menurut Rochadi Widagdo (2003: 48) tujuan meditasi adalah sebagai berikut: Tujuan meditasi adalah belajar berdoa. Belajar berdoa berarti belajar dicintai dan mencintai Tuhan. Meditasi adalah duduk diam di kaki Tuhan Yesus dan mendengarkan apa yang diucapkan-Nya, dan berdiam di

(65) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 45 dalam kasih-Nya. “… barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia” (1 Yoh 15: 16). Menurut kutipan tersebut, tujuan meditasi adalah belajar berdoa. belajar berdoa diartikan sebagai belajar dicintai dan mencintai Tuhan. Kita diajak memiliki sikap duduk diam dan mendengarkan Tuhan dan mendengarkan sabda Tuhan Yesus serta tinggal dalam kasih-Nya. Setiap orang yang memiliki kasih, ada di dalam Allah dan Allah tinggal di dalam dia. Jadi dapat disimpulkan bahwa doa renung atau meditasi adalah pencarian akan Allah melalui doa yang tidak mengandalkan kata-kata seperti doa lisan. Dalam meditasi, keheningan sangat diperlukan. Diperlukan pula pikiran, daya khayal, gerak perasaan dan kerinduan. Doa ini pertama-tama bersumber dari teks Kitab Suci, atau juga gambar kudus yang kita renungkan atau kita pikirkan. Dalam melakukan meditasi kita perlu sikap duduk yang baik yaitu duduk diam dan punggung tegak. Waktu terbaik untuk melakukan meditasi adalah pagi hari sebelum melakukan aktivitas. Dan tujuan melakukan meditasi adalah untuk belajar merasakan dicintai dan mencintai Allah. 3. Doa Batin / Kontemplasi Doa batin adalah ungkapan sederhana tentang misteri doa. Dalam doa batin ini kita memandang Yesus dengan penuh iman, mendengarkan Sabda Allah dan mencintai tanpa banyak kata (KGK 2724). Salah satu cara kontemplasi yang sering digunakan adalah kontemplasi cara Santo Ignatius Loyola. Bentuk dari kontemplasi tersebut yaitu mengambil suatu peristiwa dari kehidupan Kristus dan

(66) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 46 mementaskannya dalam fantasi, ikut ambil bagian di situ, seakan-akan ini pertama kali terjadi dan mengambil peranan di dalamya (de Mello, 1980: 73). Sedangkan menurut Ballester (1986: 58), kontemplasi dari St. Ignatius Loyola mengajak kita untuk menemukan Allah dalam segala sesuatu, yaitu setiap langkah, dalam setiap unsur alam, dan dalam setiap keadaan hidup. Jadi, dalam doa kontemplasi kita diajak untuk menemukan Allah dalam setiap kejadian dalam hidup kita, pada setiap hal yang kita temui di dalam hidup kita. Yang sangat khas dalam kontemplasi adalah kita memasukkan unsur angan-angan di dalam doa, dan kita mencoba menghayati kembali, bukan sebagai suatu adegan film, tetapi kehidupan Yesus Tuhan kita. Dalam contoh, kita mencoba hadir di sumur ketika Yesus bertemu dengan wanita (Green, 1988: 92). Menurut Widagdo (2003: 29), kontemplasi artinya memandang dalam waktu yang lama dan penuh kasih. Ibarat seorang pemuda yang penuh kasih memandang gadis pujaan hatinya dengan penuh kerinduan hingga seolah-olah bertemu dengan dia. Jadi doa batin atau kontemplasi adalah ungkapan yang sederhana dalam doa. Kontemplasi tidak menggunakan banyak kata sama seperti meditasi. Perbedaan meditasi dan kontemplasi adalah jika dalam meditasi kita merenungkan Allah dan menggunakan daya akal budi, maka kontemplasi lebih pada merasakan kehadiran Allah dan lebih menggunakan angan-angan. Dalam doa kontemplasi St. Ignatius Loyola kita diajak untuk menemukan Allah dalam segala sesuatu. Dalam doa kontemplasi pula kita berangan-angan bahwa kita sungguh hadir dalam peristiwa yang dialami oleh Yesus kemudian memandang-Nya dengan penuh cinta dan kekaguman. Baik doa lisan, doa renung (meditasi) maupun doa batin

(67) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 47 (kontemplasi), tidak diharuskan untuk dipilih dalam berdoa karena dalam berdoa yang terpenting adalah hati. Bagaimana hati kita dapat mengarah kepada Tuhan sepenuhnya adalah yang paling penting dalam doa. D. Yesus Kristus sebagai Teladan Pendoa Menurut buku Iman Katolik, suri teladan doa bagi semua orang tetap Yesus sendiri (KWI, 1996: 200). Yesus menjadi suri teladan doa karena hidup Yesus sepenuhnya adalah doa-Nya. Yesus adalah pribadi yang selalu berdoa di sepanjang hidup-Nya. Ketika Ia sibuk mengajar dan dikerumuni banyak orang, Ia selalu menyempatkan diri menyingkir ke tempat yang sepi untuk berdoa kepada Allah Bapa. Doa menduduki tempat sentral dalam hidup Yesus. Yesus selalu berdoa di sepanjang hidup-Nya seperti yang dijelaskan dalam buku Doa Berdoa karangan Darminta (1981: 26): Selama Yesus hidup di depan umum, Dia kerap kali ditemukan sedang berdoa. Ia berdoa untuk mengambil keputusan, memilih para rasul (Luk 4:12-16). Yesus berdoa sebelum mulai karya publik-Nya (Luk 4:1-13). Dia mengajar para murid untuk berdoa dan menganjurkan supaya mereka berdoa dengan baik (Luk 11:1-13). Yesus berdoa di taman Getsemani (Luk 22:39-46). Yesus berdoa pula waktu tergantung di salib (Luk 23:4449). Menurut kutipan tersebut, jelaslah bahwa Yesus menjadi pribadi yang sungguh dapat dijadikan sebagai teladan pendoa. Yesus berdoa dalam hidup keseharian-Nya, Ia berdoa untuk mengambil keputusan, untuk memilih para rasul, untuk memulai melaksanakan tugas perutusan-Nya, di taman Getsemani sebelum Ia diserahkan untuk diadili dan Yesus juga berdoa menjelang wafat-Nya di kayu salib. Yesus sebagai tokoh sentral teladan pendoa, perlu kita ketahui hidup dan

(68) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 48 doa-Nya dan juga kita perlu mengetahui mengenai doa Kristen yang bersumber dari diri-Nya. 1. Hidup dan Doa Yesus yang Perlu Diteladani a. Yesus Selalu Mengarah Kepada Allah Bapa dan Setia kepada-Nya Yesus sebagai Putera Allah sungguh-sungguh seorang manusia. Akan tetapi doa yang dipanjatkan Yesus tidaklah diucapkan ke luar dari kesadaran yang dinodai oleh dosa. Yesus sebagai manusia tetap diwarnai oleh kelemahankelemahan manusiawi. Dalam kelemahan manusiawi Yesus tidak kehilangan kepercayaan kepada Bapa (Darminta, 1983: 14-15). Dalam doanya Ia mengatakan, “Ya Abba, ya Bapa, tidak ada yang mustahil bagi-Mu, ambillah cawan ini dari pada-Ku, tetapi janganlah apa yang Aku kehendaki, melainkan apa yang Engkau kehendaki” (Mrk 14: 36). Yesus menjadi teladan pribadi yang menyerahkan seluruh hidup-Nya kepada Allah Bapa. Menurut Pai (2003: 251-252) Yesus telah menjalani seluruh hidup-Nya untuk mengabdi Bapa-Nya (“Segala kepunyaan-Ku adalah kepunyaanMu” Yoh 17: 10) dan demi orang-orang yang membutuhkan bantuan. Injil (Mrk 1:28-29) melukiskan hidup Yesus sehari-hari yang padat dengan pengajaran dan penyembuhan orang banyak, dengan doa dan persatuan pribadi-Nya dengan Allah. Pada kesempatan lain (Mrk 3:20) dikisahkan bahwa segerombolan orang mencariNya sehingga Ia tidak sempat makan. Pemberian diri-Nya berlangsung sampai pada jalan salib. Ia melepaskan segalanya: pakaian-Nya, sahabat-sahabat-Nya, nama baik-Nya, menyerahkan ibu-Nya, harta milik-Nya terakhir yang paling

(69) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 49 berharga. Dia tidak mempunyai apa-apa lagi untuk dilepaskan kecuali meletakkan jiwa dan raga-Nya dalam tangan Bapa-Nya (Luk 23:46). Jadi menurut Kitab Suci yang dijelaskan oleh Pai tersebut, Yesus sungguh bersikap lepas bebas dalam memenuhi kehendak Allah. Ia menyerahkan seluruh hidup-Nya pada kehendak Allah. Ia menyerahkan segala yang ada dalam diri-Nya dari hal yang paling kecil sampai hal yang paling besar dalam hidup-Nya yaitu nyawa-Nya sendiri. Ketika menyerahkan nyawa-Nya, Ia berdoa kepada Bapa “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku” (Luk 23:46). Yesus selalu berdoa bahkan sampai menjelang wafat-Nya. Yesus juga berfokus pada kemuliaan Allah. Menurut Pai (2003: 141) hal ini didasari kutipan dalam Kitab Suci “yang dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia” (Flp 2:6-8). Dari kutipan Kitab Suci tersebut ia menjelaskan demikian, “Yesus adalah tokoh teladan sempurna yang tak pernah mencari kemulian diri-Nya sendiri, tapi selalu mencari apa yang menyenangkan hati Bapa-Nya” (Pai, 2003: 141). Jadi menurut kutipan tersebut, Yesus adalah teladan yang paling sempurna dari pribadi yang terus berbuat apapun demi kemuliaan Allah. Seringkali kita sebagai manusia cenderung mudah berbuat sesuai dengan apa yang kita inginkan, atau menguntungkan dan menyenangkan diri kita sendiri. Yesus mampu mengatasi kecenderungan manusia tersebut. Yesus selalu berfokus pada kehendak Bapa. Menurut Darminta (1983: 17), “Dalam doa-Nya Dia selalu menyesuaikan kehendak-Nya dengan kehendak

(70) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 50 Bapa, seperti yang terungkap dalam doa Bapa Kami yang diajarkan kepada para murid-Nya”. Menurut kutipan tersebut, Yesus selalu menyesuaikan kehendak-Nya dengan kehendak Bapa. Ia yang juga menjadi manusia memiliki kehendak bebas. Ia mempergunakan kehendak bebas-Nya untuk sungguh-sungguh melaksanakan kehendak Bapa. Jadi menyesuaikan kehendak-Nya dengan kehendak Bapa bermaksud bahwa Yesus melaksanakan kehendak Bapa bukan dengan terpaksa, namun juga dengan kehendak-Nya sendiri. Menurut Darminta (1983: 17) pula, “Motivasi Yesus ialah cinta, yang berkehendak untuk melaksanakan kehendak Bapa. Doa Yesus tumbuh dari kerinduan atau keinginan untuk melaksanakan kehendak Allah Bapa itu”. Menurut kutipan tersebut, Yesus melaksanakan kehendak Bapa atas dasar cinta-Nya. Ia memiliki kerinduan untuk melaksanakan kehendak Allah Bapa. Maka benarlah bahwa Yesus menyesuaikan kehendak-Nya dengan kehendak Allah Bapa. Seluruh hidup Yesus adalah jawaban “ya” atas kehendak Bapa. Menurut Yesus dalam Injil (Yoh 4:34), makanan-Nya adalah melaksanakan kehendak Bapa yang mengutus-Nya dan menyelesaikan pekerjaan yang diberikan Bapa kepadaNya (Pai, 2003: 103). Jadi Yesus tidak punya penolakan untuk kehendak Bapa atas diri-Nya. Di dalam hidup-Nya hanya ada kata “ya” atas seluruh kehendak Bapa. Menurut Pai (2003: 164), Yesus menjadi pribadi yang setia pada Allah dan pada tugas perutusan-Nya hingga akhir. Ia menyatakan kasih Bapa (Yoh 3:6), menjadi saksi kebenaran (Yoh 18:37) dan menjadi seorang pembela kaum tertindas (Luk 4:18). Dia setia pada Allah dan pada diri-Nya sendiri hingga akhir

(71) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 51 (Yoh 13:1). Jadi Yesus adalah pribadi yang sungguh setia. Kita sungguh patut meneladani kesetiaan-Nya. Kepada Allah Yesus memanjatkan pujian dan syukur. Yesus menyanyikan pujian kepada Allah, “Sesudah menyanyikan nyanyian pujian, pergilah Yesus dan murid-murid-Nya ke Bukit Zaitun” (Mat 26:30). Kutipan tersebut menjelaskan bahwa dalam hidup-Nya, Yesus memanjatkan pujian kepada Allah. Menurut Darminta (1983: 16), Yesus Kristus bersyukur kepada Bapa-Nya bahwa Allah Bapa selalu bergiat dan bekerja (bdk. Yoh 5:17). Doa syukur yang dipanjatkan oleh Yesus tidak hanya ditujukan pada hal-hal yang sudah terjadi tetapi juga kepenuhan keselamatan yang sedang dilaksanakan-Nya. Yesus bersyukur atas hal-hal yang akan terjadi karena Ia yakin bahwa akan terpenuhi (Yoh 11:41-42). Puji syukur yang dipanjatkan Yesus ditujukan pada karya keselamatan. Jadi dalam berdoa, Yesus senantiasa memanjatkan pujian dan syukur kepada Allah. Kita pun harus senantiasa memanjatkan pujian dan syukur kepada Allah. b. Yesus Mendapat Kekuatan dengan Berdoa Hidup Yesus yang tertulis dalam Kitab Suci, memberitahu kita bahwa doa dapat memberi kita kekuatan untuk menghadapi hidup kita. “Untuk itu perlu kiranya kita menyadari bahwa dengan doa, Yesus dapat memperoleh kekuatan untuk melaksanakan misi-Nya dan melengkapi misi-Nya itu sesuai dengan kehendak Bapa” (Fuellenbach, 2004: 144). Menurut kutipan tersebut, Yesus dapat menjalankan misi-Nya dan melengkapi misi-Nya sesuai kehendak Bapa dengan

(72) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 52 menimba kekuatan melalui doa. Doa memberikan kekuatan dan ketegaran dalam menghadapi hidup yang berat. Mungkin tidak asing lagi peristiwa ini bagi kita, yaitu ketika Yesus menghadapi kematian-Nya seperti yang dituliskan oleh Youcat Katekismus Populer 176: Ketika berhadapan muka dengan maut, Yesus mengalami puncak ketakutan manusiawi. Namun, Ia menemukan kekuatan ketika menyerahkan Diri kepada Bapa-Nya di Surga: “Abba, ya Bapa Segala sesuatu mungkin bagi-Mu. Ambillah cawan ini daripada-Ku. Tetapi janganlah apa yang Kukehendaki, melainkan apa yang Engkau kehendaki (Mrk 14:36). Yesus sebagai manusia, punya ‘kelemahan’ dalam diri-Nya. Pada malam itu di Taman Getsemani, Ia begitu takut menghadapi penyaliban-Nya. Dalam perikope “di Taman Getsemani” pada Mrk 14:32-42 dituliskan bahwa “Ia membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes serta-Nya, Ia sangat takut dan gentar” (Mrk 14:33). Menghadapi kematian-Nya yang sungguh menyakitkan dan menakutkan, Ia merasa sangat sedih dan tidak berdaya lagi hingga mengatakan “Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya” (14:34). Bahkan dalam Injil yang lain dikatakan “Ia sangat ketakutan dan makin bersungguh-sungguh berdoa. peluh-Nya menjadi seperti titik-titik darah yang bertetesan ke tanah” (Luk 22:44). Akan tetapi dalam doa Ia mendapatkan kekuatan untuk tegar menghadapi kematian-Nya dan menyadari bahwa segala sesuatu yang terjadi haruslah seperti kehendak Bapa. Oleh karena itu Ia sampai pada kata-kata-Nya (Mrk 14:36) tersebut, bahwa Ia mohon Bapa mengambil cawan dari pada-Nya dan pasrah pada kehendak Bapa supaya terjadi.

(73) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 53 Fuellenbach (2004: 146) juga menjelaskan bahwa dalam doa-Nya di Taman Getsemani, Yesus mendapatkan kekuatan mengatakan “ya” untuk mati di kayu salib atas kehendak Bapa-Nya. Sebenarnya kesanggupan ini juga merupakan perjuangan sepanjang hidup Yesus seperti yang terungkap dalam Ibrani 5:7-8: Dalam hidup-Nya sebagai manusia, Ia telah mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan kepada Dia, yang sanggup menyelamatkan-Nya dari maut, dan karena kesalehan-Nya Ia telah didengarkan. Dan sekalipun Ia adalah Anak, Ia telah belajar menjadi taat dari apa yang telah diderita-Nya. Menurut kutipan Kitab Suci tersebut dalam hidup-Nya yang juga diwarnai dengan kepahitan Yesus berdoa, memohon dengan ratap tangis dan mengeluh kepada Allah Bapa. Karena kesalehan Yesus, Ia telah didengarkan oleh Bapa yang menyelamatkan Ia dari maut. Dari doa Ia memperoleh kekuatan untuk tetap setia dan taat menjalani tugas perutusan-Nya yang tidak pernah luput dari penderitaan. Menurut Fuellenbach (2004: 146), ada pula saat-saat sulit dalam hidup Yesus yang membuat-Nya hampir putus asa. Yesus seringkali merasa lelah mengajar murid-murid-Nya yang tanpa kedalaman dan seakan-akan tidak mengerti pada visi-misi yang Ia bawakan. Sekitar 17 kali Yesus mengajukan pertanyaan kepada murid-murid-Nya dengan kata-kata “Mengertikah kamu?” atau yang senada dengan itu. Dengan situasi tersebut, Yesus sering merasa menemui jalan buntu sehingga Ia memilih pergi ke tempat-tempat yang sunyi untuk berdoa (Luk 5:16). Jadi Yesus selama menjalani tugas perutusan-Nya, selalu ada saat di mana Ia merasa hampir putus asa dan menemui jalan buntu. Hidup manusia tidak

(74) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 54 bisa berjalan mulus dan berisi kebahagiaan terus-menerus. Akan selalu ada situasi yang berat di dalam hidup manusia. Yesus sebagai manusia juga mengalami saatsaat yang berat. Ia memilih berdoa untuk bersandar pada Allah Bapa. Doa memberi kekuatan kepada-Nya supaya terus memiliki semangat, kesetiaan dan ketaatan dalam menjalani tugas perutusan. c. Yesus Berdoa Demi Kepentingan Orang Lain Sebagai perantara, Yesus selalu berdoa demi kepentingan orang lain. Menurut Darminta (1983: 15) “Yesus Kristus berdoa dengan keprihatinan tidak hanya atas terlaksananya tugas perutusan-Nya tetapi juga atas keselamatan umat manusia. Dia berdoa sebagai penyelamat yang prihatin atas orang-orang yang diserahkan kepada-Nya” (Yoh 17:1-26). Menurut kutipan tersebut, Yesus sebagai penyelamat manusia selalu peduli dengan keselamatan manusia. Ia tidak hanya fokus pada hubungan-Nya dengan Bapa dan terlaksananya tugas perutusan-Nya saja. Lebih daripada itu, Yesus mencintai manusia dan memikirkan keselamatan manusia. Menurut Darminta (1983: 18) “Isi doa pengantaraan Yesus nampak jelas dalam doa imami-Nya. Dia memohonkan kesatuan orang-orang-Nya sebagai bukti pemuliaan Allah Bapa (Yoh 17). Karena cinta Yesus kekal adanya, maka Dia tetap berdoa bagi manusia (1 Yoh 2:1)”. Menurut kutipan tersebut, Yesus juga memohonkan kesatuan umat Allah sebagai bukti pemuliaan Allah Bapa. Ia selalu memohon bagi manusia karena rasa cinta-Nya kepada manusia terus ada.

(75) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 55 Ada beberapa kutipan Kitab Suci menurut Pai (2003:40-41) yang menunjukkan bahwa Yesus selalu berdoa untuk orang lain, yaitu: Sebelum kematian dan penderitaan-Nya yang terakhir, Yesus berkata kepada Petrus: “Simon, Aku telah berdoa untukmu” (Luk 22:23) dan menyampaikan doa seorang imam (doa imami) yang sangat indah (Yoh 17) untuk para murid-Nya dan untuk kita supaya mereka semua bersatu satu sama lainnya dan pantas menjalankan tugas perutusan/misi yang diterima dari Bapa. Di salib Dia berdoa bagi musuh-musuh-Nya: “Bapa, ampunilah mereka, sebab merekatidak tahu apa yang mereka perbuat” (Luk 23:24) dan sebagai Tuhan yang telah bangkit Dia tetap menjadi Pengantara bagi kita untuk selama-lamanya (Ibr 7:25). Menurut kutipan tersebut, Kitab Suci telah menuliskan dengan sangat jelas dan lengkap bukti bahwa Yesus selalu berdoa demi kepentingan umat-Nya baik untuk individu maupun kelompok. Dalam Luk 22:31 Yesus mendoakan Simon supaya imannya jangan gugur. Hal ini terjadi dalam percakapan waktu perjamuan malam terakhir. Yesus tahu apa yang akan terjadi kepada Simon Petrus, yakni penyangkalan yang akan dia lakukan. Yesus mengutus Simon Petrus supaya menguatkan saudara-saudaranya ketika ia sudah insaf. Yesus benar-benar peduli dengan Simon Petrus dan murid-murid-Nya. Kemudian dalam Yoh 17, tertulis dalam Kitab Suci bahwa Yesus mendoakan murid-murid-Nya supaya mereka menjadi satu dengan Allah sama seperti Yesus dengan Allah Bapa. Ia juga berdoa supaya murid-murid-Nya dapat bersatu dan menjalankan tugas perutusan mereka dengan baik. Dalam doa-Nya yang panjang tersebut, dapat kita ketahui bahwa Yesus sangat peduli pada nasib murid-murid-Nya. Kemudian dalam Luk 23:34 Yesus berkata “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat”. Nampak sekali bahwa Yesus sangat peduli kepada orang lain bahkan Ia mendoakan orang-

(76) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 56 orang yang bersalah pada-Nya. Yesus sangat berjiwa besar, dengan doa ini pula dapat kita rasakan bahwa Yesus tidak menyimpan dendam dan mengampuni siapapun yang bersalah kepada-Nya. Ia bahkan mendoakan mereka, memohonkan ampunan Bapa bagi mereka. Dalam Ibr 7:25 dikatakan bahwa Yesus sanggup menyelamatkan semua orang yang oleh Dia datang kepada Allah dan Ia hidup senantiasa menjadi pengantara mereka. Jadi Yesus sungguh menyelamatkan semua orang yang datang kepada Allah oleh karena Yesus dan hidup selamanya menjadi Pengantara dan Imam Besar bagi mereka. d. Yesus Berdoa Sendiri dalam Kesunyian/Keheningan Ketika Yesus berdoa seorang diri, Ia berdoa dalam kesunyian atau keheningan. Menurut Iman Katolik (1996: 200), “betapapun sibuknya hidup-Nya dengan pewartaan dan pelayanan orang, Ia selalu menemukan kesempatan untuk naik ke atas bukit dan berdoa seorang diri” (Mat 11:25). Menurut kutipan tersebut, Yesus yang melaksanakan tugas perutusan-Nya memiliki keseharian yang sangat sibuk. Setiap hari Ia sibuk mewartakan Kerajaan Allah dan juga melayani orangorang. Di tengah kesibukan itu, Ia tidak pernah meninggalkan kegiatan doa. Ketika berdoa, Ia menyingkir dari antara keramaian dan naik ke atas bukit untuk berdoa sendiri dalam keheningan. Menurut Darminta (1983: 14), diceritakan bahwa Yesus kerap kali berdoa sendirian. Dengan berdoa sendirian seperti itu Yesus dapat merasakan secara mendalam hidup dan diri-Nya sebagai Putera Allah. Hanya Dia adalah Putera dan hanya Dia kenal Bapa-Nya (Mat 11:25-27). Jadi menurut Darminta

(77) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 57 berdasarkan Matius 11:25-27, Yesus kerap kali berdoa sendirian. Dalam doa-Nya itu, Ia dapat merasakan rasa syukur atas segenap karya Bapa. Yesus memahami bahwa tidak ada seorangpun yang mengenal Yesus selain Allah Bapa dan tidak ada seorangpun yang mengenal Allah Bapa selain Yesus dan orang yang kepadanya Yesus berkenan menyatakannya. Menurut Fuellenbach (2004: 146), “Yesus memilih tempat-tempat sepi seperti puncak bukit atau padang gurun untuk berdoa. Tetapi Dia tidak pernah sampai tinggal di tempat itu. Setelah selesai berdoa Yesus selalu kembali ke tengah-tengah masyarakat untuk melaksanakan misi-Nya”. Menurut kutipan tersebut, Yesus memilih tempat-tempat yang sepi seperti puncak bukit atau padang gurun menjauh dari keramaian untuk berdoa. Di tempat yang sunyi itu Yesus tidak menetap dalam waktu yang lama. Ia hanya di sana untuk berdoa kemudian Ia kembali lagi ke tengah-tengah masyarakat untuk melaksanakan tugas perutusan-Nya. Ia selalu berkomunikasi dengan Allah setiap melakukan apapun, terlebih ketika akan melaksanakan tugas perutusan-Nya. Kita dapat meneladani Yesus yang berdoa sendiri dalam kesunyian atau keheningan. Keheningan sangat diperlukan Yesus untuk berdoa. Mengapa keheningan diperlukan dalam berdoa? Menurut Laplace (1984:37), dalam berdoa diperlukan pemusatan perhatian. Setiap orang yang bekerja apa pun pekerjaannya, pada dasarnya sedang dalam keadaan hening sekurang-kurangnya karena dia sedang memusatkan perhatian kepada pekerjaannya. Bila tidak hening, maka orang itu akan sibuk ke sana ke mari dan menjadi bosan kepada pekerjaannya lalu tidak membuahkan apa-apa. Memusatkan perhatian kepada Allah itu tidak

(78) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 58 mungkin tanpa usaha untuk menguasai diri. Keheningan berhubungan erat dengan penguasaan diri. Jadi menurut Laplace, keheningan sungguh diperlukan karena dengan keheningan seseorang dapat memusatkan perhatian atau fokus pada apa yang sedang dilakukannya. Setiap orang yang sedang bekerja sekurang-kurangnya sedang hening karena fokus pada pekerjaannya. Untuk pekerjaan tertentu yang membutuhkan dialog, hening dapat diartikan bukan tanpa mengeluarkan kata-kata akan tetapi lebih berarti fokus atau memusatkan pikiran pada apa yang hendak dibicarakan. Dengan keheningan, kita bisa memusatkan perhatian kita kepada Allah yang kita tuju dalam doa dan kita juga bisa menguasai diri kita. 2. Doa Kristen melanjutkan doa Yesus Apa itu doa Kristen? Doa kristen berarti mendalami doa murid Yesus Kristus. Bila seorang Kristen berdoa, dia melanjutkan doa Yesus Kristus. Bagi Gereja itu berarti bahwa orang Kristen berdoa bersama, melalui dan dalam nama Yesus Kristus (Darminta, 1983: 12). Karena orang Kristen itu pada dasarnya adalah murid Yesus, doa Kristen juga merupakan doa yang mengikuti, meniru dan melanjutkan doa Yesus. Doa Kristen juga dirumuskan sebagai ungkapan cinta akan rencana keselamatan Allah. Ada perbedaan fundamental antara doa Yesus dan doa Kristen. Yesus berdoa sebagai penyelamat yang harus menyampaikan keselamatan kepada manusia sedangkan orang Kristen berdoa sebagai penerima anugerah keselamatan itu. Setiap orang Kristen membangun hubungan pribadi dengan Allah dan ikut dalam

(79) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 59 kegiatan keselamatan Allah. Sebagai murid Yesus Kristus, orang Kristen tidak menerima keselamatan secara pribadi saja namun juga bersama sebagai umat Allah. Dengan begitu doa dapat dipanjatkan secara pribadi dan bersama (Darminta, 1983: 19). Jadi dapat disimpulkan bahwa doa Kristen adalah doa murid Yesus yang melanjutkan doa Yesus. Meskipun meniru dan melanjutkan doa Yesus, namun adad perbedaan yang sangat mendasar antara doa Yesus dengan doa Kristen. Perbedaan tersebut adalah jika Yesus berdoa sebagai penyelamat yang menyampaikan keselamatan kepada manusia, maka orang Kristen berdoa sebagai penerima keselamatan tersebut. Seperti Yesus yang memiliki hubungan yang dekat dengan Allah, maka orang Kristen juga membangun hubungan pribadi dengan Alah melalui doa Kristen. Doa Kristen tidak hanya dipanjatkan secara individu saja karena keselamatan tidak diberikan hanya kepada orang-orang tertentu saja secara individu melainkan keselamatan diberikan kepada umat Allah. Antara doa individu dan doa bersama atau doa umat perlu dipanjatkan sebagai bagian dari doa Kristen.

(80) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 60 BAB III TANTANGAN DAN PELAYANAN KATEKIS DI ZAMAN SEKARANG Katekis memiliki panggilan khusus bagi perkembangan Gereja. Dengan panggilan khususnya ini, katekis diharapkan dapat menjalankan tugas perutusannya dengan sepenuh hati dan seluruh hidupnya. Dengan memaknai hidup doa, katekis dapat menjadi pribadi yang lebih baik. Karena pada hakikatnya, katekis harus mewartakan Kerajaan Allah maka terlebih dahulu katekis harus mengalami Kerajaan Allah itu di dalam hidupnya. Katekis yang selalu diharapkan dan dinantikan oleh Gereja ini memiliki karya pelayanan yang tidak mudah. Melayani umat dalam kesatuan Gereja itu tidak mudah ditambah lagi para katekis harus dapat menimbang zaman, menghadapi tantangan-tantangan yang dapat mengganggu pelayanannya. Tantangan katekis di zaman modern semakin banyak. Dengan kemajuan zaman yang begitu pesat, kenikmatan seringkali menjadi tujuan hampir semua orang. Dengan begitu seringkali hubungan dengan Allah ditinggalkan, tidak dianggap penting lagi. Katekis diharapkan memiliki iman yang tangguh supaya dapat menghadapi tantangan-tantangan pelayanannya dan dapat mengajak umat yang mulai meninggalkan intimitas dengan Allah Tritunggal untuk kembali kepada intimitasnya dengan Allah Tritunggal. Pembahasan Bab III ini berisi mengenai tantangan-tantangan yang harus dihadapi katekis dan juga pelayanannya. Bab ini dibagi menjadi dua sub bab yang berisi tantangan katekis dalam pelayanan dan pelayanan katekis. Dalam sub bab

(81) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 61 yang pertama yaitu tantangan katekis dalam pelayanan, dijabarkan beberapa poin penting yaitu, individualism, sekularisasi: sensualisme, sekularisme, hedonisme; materialisme, primordialisme, konsumerisme; radikalisme dan terorisme; rusaknya lingkungan hidup; dampak negatif media sosial; krisis iman dan moral. Kemudian pada sub bab yang kedua yaitu pelayanan katekis dijabarkan beberapa poin penting yaitu, pelayanan; panggilan dan identitas katekis; tugas dan peran katekis; kategori katekis; spiritualitas katekis. Pada poin yang terakhir yaitu spiritualitas katekis, dijelaskan beberapa hal mengenai unsurunsur spiritualitas katekis: keterbukaan kepada Allah Tritunggal, keterbukaan terhadap Gereja, keterbukaan terhadap dunia, keutuhan dan keaslian hidup, semangat misioner, dan devosi kepada Bunda Maria. Penjabaran masing-masing bagian dalam bab III adalah sebagai berikut: A. Tantangan Katekis dalam Pelayanan Katekis yang dipanggil untuk mewartakan Kerajaan Allah, tentunya hidup di tengah dunia. Dengan hidup di tengah dunia dan menjadi warga dunia tentunya mereka menghadapi perubahan arus besar zaman yang membawa tantangan-tantangan bagi pelayanan katekis. Dunia ini menawarkan banyak sekali kenikmatan duniawi. Di sisi yang negatif, hal ini dapat menjauhkan umat dari Allah. Tidak hanya umat, katekis apabila imannya tidak teguh juga dapat ikut terbawa arus besar zaman yang seringkali mengakibatkan memudarnya intimitas dengan Allah Tritunggal.

(82) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 62 Oleh karena itu, para katekis harus sanggup menimbang zaman. Menimbang zaman adalah melihat secara lebih kritis segala keadaan dan perkembangan zaman yang menjadi konteks hidup umat dan masyarakat dalam menghayati dan menghidupi imannya. Konteks ini sangat menentukan dan mempengaruhi kehidupan beriman. Pengaruh yang ditimbulkan dapat bersifat positif yaitu mengembangkan iman dan bisa juga negatif yaitu melemahkan kehidupan beriman (Direktorium Formatio Iman, 2018: 14). Berikut adalah tantangan-tantangan pelayanan katekis pada zaman sekarang: 1. Sekularisasi: Sekularisme, Materialisme, Konsumerisme Dewasa ini hidup beriman kita tidak bisa lepas dari sekularisasi, sekularisme, materialisme dan konsumerisme. Semuanya itu memberikan dampak yang mendalam dan meluas pada hidup manusia. Sekularisasi adalah salah satu arus besar zaman yang secara mendasar mengubah pola berpikir bahwa dunia itu otonom, namun tetap berkorelasi dengan Sang Pencipta. Otonomi dunia berarti bahwa makhluk-makhluk dan masyarakat sendiri mempunyai hukum dan nilai sendiri yang harus dikenal, dimanfaatkan dan makin diatur manusia selaras dengan kehendak Sang Pencipta. Namun dalam perkembangannya, proses sekularisasi ini memunculkan pandangan dan perilaku manusia di mana tidak adanya lagi ketergantungan dan keterhubungan ciptaan dengan Allah. Dunia menjadi otonom, berjalan sendiri seolah-olah Allah tidak ada (Direktorium Formatio Iman, 2018: 14-15).

(83) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 63 Dari pandangan itu kemudian lahirlah sekularisme yaitu suatu ideologi tertutup yang memutlakkan otonomi duniawi tanpa keterbukaan kepada Yang Ilahi. Manusia bertindak sekehendak dirinya sendiri tanpa menghiraukan Allah, seolah-olah Allah tidak ada. Allah tidak diperhitungkan dalam mengambil keputusan-keputusan hidupnya. Hal itu membuat hidup manusia menjadi dangkal karena tidak lagi menghargai hidup sebagai anugerah, sehingga hidup mudah sekali dikurbankan demi kepentingan duniawi (Direktorium Formatio Iman, 2018: 15). Dari situ yang paling penting bagi manusia adalah materi. Orang menjadi materialistis, segala sesuatu diukur dengan materi dan uang menjadi penggeraknya. Kebahagiaan, kesuksesan, keberhasilan dan kemajuan diukur secara materialistik sehingga seringkali nilai-nilai etis dikesampingkan demi pencapaian materi yang lebih besar (Direktorium Formatio Iman, 2018: 15). Cara hidup yang materialistik seperti itu kemudian memunculkan perilaku baru dalam hidup manusia yaitu konsumtif. Konsumerisme berasal dari gaya hidup yang konsumtif. Apa yang ada di dunia dibeli untuk dimiliki. Dasar pembelian itu tidak selalu berdasarkan kebutuhan tetapi seringkali adalah karena gaya hidup dan trend. Hidup yang konsumtif kemudian melahirkan hidup yang individualis (Direktorium Formatio Iman, 2018: 15). 2. Individualisme, Sensualisme, Hedonisme Bertolak dari hidup yang sangat konsumtif, orang akan memusatkan perhatiannya pada kebutuhan sendiri. Dengan begitu semangat sosial kemudian

(84) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 64 menurun dan cenderung memenuhi kebutuhan diri yang seringkali tak pernah terpuaskan. Dengan kecenderungan itu, orang menjadi lemah dalam perhatian dan kepeduliannya pada orang lain (Direktorium Formatio Iman, 2018: 15). Ketika manusia sudah dikuasai oleh materi duniawi, orang akan menjadi individualis, sensualis dan hedonis. Orang menjadi individualis karena berfokus pada diri sendiri. Ia akan mengejar kebutuhan diri yang tak pernah terpuaskan. Semakin orang mengejar materi tanpa sadar ia juga meninggalkan sesamanya karena materi yang selalu dicari. Apa yang dirindukan oleh orang-orang yang memiliki materi? Materi dianggap memuaskan dahaga sensualisme (Direktorium Formatio Iman, 2018: 16). Sensualisme terjadi ketika seseorang hanya menganggap hidup sebatas kenikmatan inderawi semata. Jadi apa yang mendatangkan kenikmatan itu yang akan dikejarnya. Sensualisme dapat mengarah kepada hedonisme ketika orang menjadikan kenikmatan sebagai tujuan hidupnya. Hidup orang itu hanya berisi kenikmatan semata (Direktorium Formatio Iman, 2018: 16). 3. Primordialisme, Radikalisme dan Terorisme Belakangan ini di Indonesia, primordialisme, fundamentalisme, dan radikalisme berkembang. Primordialisme adalah sebuah istilah yang menunjuk pada sikap kesukuan yang berlebihan. Orang lebih cenderung terlalu membanggakan sukunya dan meremehkan atau berusaha menyingkirkan orang yang berbeda dengan dirinya. Dari situ ada semacam identitas yang menguat dan menegaskan perbedaan dan menyingkirkan mereka yang berbeda dengan dirinya.

(85) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 65 Orang menjadi tidak setuju apabila ada orang di luar sukunya menduduki sebuah jabatan publik dan menjadi tetangga hidup mereka (Direktorium Formatio Iman, 2018: 16-17). Selain primordialisme kesukuan, muncul pula radikalisme agama. Radikalisme menunjuk pada kelompok yang seringkali memaksakan pandangannya dengan tindakan kekerasan yang diarahkan kepada orang yang berbeda pandangan dan berbeda keyakinan sehingga menjurus pada tindakan intoleran terhadap kelompok lain. Sejalan dengan gerakan itu, muncul pula terorisme. Contohnya adalah kelompok garis keras ISIS yang melakukan tindakan bom bunuh diri di tempat-tempat umum atau pos-pos penjagaan keamanan. Tindakan para teroris telah menelan ratusan korban. Kaum radikal seperti digerakkan oleh kekuatan lain yang ehendak mengguncang ideologi Pancasila, menggantinya dengan ideologi baru keagamaan (Direktorium Formatio Iman, 2018: 17). 4. Rusaknya Lingkungan Hidup Hidup beriman dewasa ini juga semakin ditantang atas eksistensi manusia dalam hubungannya dengan alam ciptaan. Pada masa ini keutuhan ciptaan mulai terancam karena ulah keserakahan manusia sendiri dan juga karena faktor alam. Penyebab rusaknya lingkungan hidup terbesar disebabkan karena perilaku manusia yang menempatkan dirinya sebagai subjek dan menjadikan alam sebagai objek untuk dikeruk kekayaannya dan dicemari (Direktorium Formatio Iman, 2018: 17-18).

(86) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 66 Pengerukan dan pencemaran meliputi: energi-pertambangan, perkebunan, kehutanan, pencemaran tanah, pencemaran udara, pencemaran air, sampah dan perubahan iklim. Keutuhan ciptaan yang telah rusak harus dipulihkan dan diselamatkan oleh karena itu mulai muncul gerakan-gerakan ekologis yaitu perubahan paradigma dari antroposentris menuju biosentris (Direktorium Formatio Iman, 2018: 18). 5. Dampak Negatif Media Sosial Sekarang media sosial sudah berkembang pesat. Hidup manusia tidak bisa dipisahkan lagi dengan media sosial baik mereka yang berada di kota maupun desa, baik mereka yang terpelajar maupun yang tidak mengenyam pendidikan. Perkembangan teknologi itu membawa kemajuan bagi manusia. Namun di sisi lain, media telah digunakan oleh orang-orang tertentu untuk menghimpun kekuatan dan untuk melakukan propaganda. Sebagai contoh kelompok ISIS sebagai kaum radikal, telah menggunakan media sosial dengan maksimal untuk memperluas propaganda mereka, mengadu domba, melakukan ujaran-ujaran kebencian, hoax dan menyampaikan ujaran negatif yang dapat merusak persatuan bangsa (Direktorium Formatio Iman, 2018: 18). 6. Krisis Iman dan Moral Persoalan lain yang mempengaruhi umat beriman dewasa ini adalah ritualisme yaitu pelaksanaan agamanya tidak seimbang karena lebih mengutamakan upacara-upacara keagaman atau ritual saja tetapi kurang

(87) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 67 memperhatikan penghayatan atau perwujudan iman dalam hidup sehari-hari. Karena itu manusia kehilangan hidup mistiknya, yaitu suatu relasi pribadi yang akrab dengan Tuhan (Direktorium Formatio Iman, 2018: 19). Hilangnya keakraban dengan Tuhan mengakibatkan tumpulnya hati nurani. Dengan hal ini maka muncul suatu relativisme etis dan moralitas disingkirkan. Budaya relativisme membuahkan sikap dan cara bertindak yang hendak merelatifkan segala sehingga tidak ada yang absolut, tidak ada kebenaran yang pasti dan hakiki. Orang bisa bertindak semaunya sendiri karena bertindak atas kebenaran menurut dirinya sendiri (Direktorium Formatio Iman, 2018: 19). B. Pelayanan Katekis Katekis memiliki tugas dan peranan bagi Gereja. Sosok katekis sangat lekat dengan pelayanan kepada umat. Pelayanan katekis mencakup beberapa poin penting. Bagian ini akan memaparkan pelayanan katekis sebagai pelayan umat. 1. Pelayanan a. Pelayanan Menurut Kitab Suci Kitab Suci menceritakan tentang pelayanan beberapa kali. Kitab Suci Perjanjian Baru lebih banyak berbicara mengenai pelayanan. Pelayanan bisa berarti melayani Tuhan Yesus seperti dalam Injil Matius “Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar, atau haus, atau sebagai orang asing, atau telanjang atau sakit, atau dalam penjara dan kami tidak melayani Engkau?” (Mat 25:44).

(88) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 68 Kutipan ayat Kitab Suci tersebut mengarah pada pelayanan umat pada Yesus. Pelayanan kepada Yesus ini lebih meliputi hal yang sifatnya fisik. Pelayanan dalam Kitab Suci Perjanjian Baru juga berbicara mengenai pelayanan jemaat misalnya, “Layanilah seorang akan yang lain, sesuai dengan karunia yang telah diperoleh tiap-tiap orang sebagai pengurus yang baik dari kasih karunia Allah” (1 Ptr 4: 10). Kutipan Kitab Suci tersebut menjelaskan bahwa setiap orang harus melayani seorang akan yang lain (melayani sesama). Bentuk pelayanannya tidaklah harus sama karena setiap orang memiliki karunia masingmasing yang berbeda-beda. Kemudian Kitab Suci juga menyebut pelayanan, “Tetapi aku tidak menghiraukan nyawaku sedikitpun, asal saja aku dapat mencapai garis akhir dan menyelesaikan pelayanan yang ditugaskan oleh Tuhan Yesus kepadaku untuk memberi kesaksian tentang Injil kasih karunia Allah” (Kis 20:24). Kutipan tersebut menjelaskan bahwa umat memiliki tugas pelayanan yang diberikan oleh Yesus sendiri seperti Yesus memberi tugas pelayanan kepada Paulus. Yesus mengajak kita untuk melayani. Dalam Mrk 10:35-45 ketika para murid-Nya saling ingin mendapatkan kedudukan ketika Yesus menyampaikan penderitaan-Nya, Yesus menegaskan bahwa siapa yang ingin menjadi besar harus melayani. Kemudian dalam Mrk 2:13-17 Yesus mengajak kita untuk melayani dan mengutamakan siapapun yang lemah dan butuh pertolongan (Yesus datang bukan untuk memanggil orang benar melainkan orang berdosa). Dalam perumpamaan, Yesus mengajak kita semua untuk melayani. Dalam Luk 10:25-37 Yesus menjelaskan perumpamaan mengenai orang Samaria

(89) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 69 yang murah hati yang mau melayani orang Yahudi yang dirampok dan hampir mati, padahal Samaria dan Yahudi bisa dikatakan sebagai musuh bebuyutan. Kita diajak untuk melayani orang yang mungkin tidak segolongan dengan kita. b. Pelayanan Menurut Dokumen Gereja Dokumen Gereja juga banyak yang menyinggung mengenai pelayanan. Dalam LG 34-36 dibicarakan keikutsertaan anggota Gereja dalam tugas Kristus yaitu sebagai “imam, nabi, dan raja”. Berdasarkan dokumen tersebut, pelayanan ditujukan pada keikutsertaan dalam tugas Kristus sebagai imam, nabi, dan raja. Konstitusi Pastoral (GS 3) membahas mengenai pelayanan yang ditujukan kepada manusia. Pelayanan ini juga merupakan karya Kristus untuk kepentingan manusia. Dekrit (AA 2) juga membahas bagaimana panggilan awam dalam melayani. Di sana juga dikatakan bahwa “dalam Gereja terdapat keanekaan pelayanan, tetapi kesatuan utusan” (AA 2) kutipan ini menjelaskan bahwa setiap orang memiliki tugas pelayanan. Tugas itu tidak melulu sama satu sama lain, setiap orang memiliki karunia masing-masing jadi jenis pelayanannya juga berbeda-beda. Menurut dekrit (AA 6), orang diajak untuk menjadi saksi Kristus melalui perkataan dan perbuatannya, menyalurkan rahmat-Nya, mengajak mereka yang belum beriman menjadi beriman, meneguhkan orang-orang yang sudah beriman dan juga memberikan semangat untuk hidup. Dalam Konstitusi Dogmatis Tentang Gereja (LG 32) dijelaskan bahwa kaum awam diangkat ke dalam pelayanan suci dan dengan tugas mengajar, menguduskan serta membimbing dengan kewibawaan

(90) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 70 Kristus ikut menggembalakan keluarga Allah sedemikian rupa dengan caranya sendiri. c. Pelayanan Menurut Para Ahli Krispurwana Cahyadi (2003: 59-61) menegaskan kembali pelayanan menurut Ibu Teresa. Bagi Ibu Teresa ketika ia melayani orang-orang miskin, yang dilayani adalah Yesus sendiri. Pelayanan yang ia lakukan adalah pemenuhan panggilan Kristus yaitu untuk mewartakan kabar baik kepada yang miskin (Luk 4:18). Ia bersedia membiarkan Allah berkarya di dalam dirinya. Ia bersedia menerima apa pun yang diberikan Tuhan kepadanya. Ibu Teresa mengatakan bahwa ia tidak bekerja untuk para penderita kusta ataupun orang miskin dan yang sekarat. Panggilannya adalah untuk menjadi milik Kristus yang berarti melayani dan mengabdi kepada-Nya. Bukan banyaknya karya dan orang yang ia layani yang menjadi tolok ukur tetapi berapa banyak kasih, kemurahan hati dan iman yang tercurah di dalamnya. Menurut Darminta (2002: 82), hakikat Gereja adalah melayani. Pelayanan Gereja bersifat teosentris karena ambil bagian dalam tugas perutusan Kristus dari Allah, kristosentris karena didasarkan atas tugas pelayanan Kristus sendiri dan antroposentris karena demi kepentingan umat manusia. Nouwen (1986: 133-134) menegaskan pemahaman mengenai pelayanan berdasarkan Yoh 15:13. Mengajar, berkhotbah, pelayanan pastoral pribadi, mengorganisasi dan merayakan adalah tindakan pelayanan yang melebihi keahlian profesional karena dalam tindakan-tindakan pelayanan itu kita dituntut untuk

(91) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 71 memberikan hidup bagi sahabat-sahabat kita. Pelayanan berarti usaha terusmenerus untuk menjadikan pencarian Alah yang dilakukan sendiri siap dipakai oleh mereka yang ingin menggabungkan diri dalam pencarian itu akan tetapi tidak tahu jalannya. Pelayanan adalah inti hidup kristiani. Apapun bentuk pelayanan itu, dasarnya selalu sama yaitu memberikan hidupnya bagi sahabat-sahabatnya. Semua fungsi pelayanan adalah memberikan hidup. Pelayanan berarti mengubah orientasi dari diri sendiri (self interest, dengan pamrih) kita mengarahkan diri pada kepentingan orang lain. Orang lain yang dimaksud adalah mereka yang berada dalam keadaan lemah sehingga harus didahulukan (Gerrit Singgih, 1997: 19). Kalau pelayanan hanya dianggap sebagai aspek ritual atau alat untuk membantu organisasi Gereja, maka pelayanan tidak pernah akan menjadi pelayanan sosial yang menjangkau masyarakat luas. Kalau dulunya pelayanan selalu hanya dilihat dalam kerangka peningkatan taraf hidup jemaat, maka sekarang perhatian pelayanan jemaat adalah bagaimana agar taraf hidup masyarakat terutama di sekitar jemaat itu dapat berkembang (Gerrit Singgih, 1997: 27-28). 2. Panggilan dan Identitas Katekis Setiap orang yang telah dibaptis secara pribadi dipanggil oleh Roh Kudus untuk memberikan sumbangannya bagi kedatangan Kerajaan Allah. Dalam keadaan sebagai awam ada berbagai ragam panggilan yang berbeda. Dalam panggilan kaum awam tersebut ada panggilan-panggilan khusus. Oleh karena itu dalam sumber panggilan katekis ada panggilan khusus dari Roh Kudus, suatu

(92) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 72 “karisma khusus yang diakui oleh Gereja” dan diperjelas oleh tugas perutusan dari uskup (CEP, 1997: 15). Dalam praktik yang sebenarnya panggilan katekis bersifat khusus yakni untuk tugas katekese dan umum untuk bekerja sama dalam pelayanan kerasulan apa saja yang berguna untuk membangun Gereja. CEP menekankan kekhususan panggilan sebagai katekis. Oleh karena itu setiap katekis harus berusaha menemukan, menangkap dan memupuk panggilannya yang khusus ini (CEP, 1997:15). Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh divisi PPLK Komisi Kateketik Keuskupan Agung Jakarta dan prodi Ilmu Pendidikan Teologi Atmajaya Jakarta pada tahun 2004, ditemukan lima macam pengertian katekis yaitu: orang yang merasa terpanggil dan memiliki kewajiban memberi pelajaran atau pewartaan, orang yang memiliki pendidikan khusus bidang katekese dan memiliki pengetahuan luas tentang agama lain dan terutama protestanisme, sukarelawan bidang pewartaan, membantu pastor yang bertugas bidang pewartaan, pekerjaan mingguan/sampingan dan melaksanakan tugas teknis lapangan (Hendro Budiyanto, 2011: 36). Berdasarkan Rumusan PKKI II no. 4, pemimpin katekese dikenal dengan berbagai sebutan di Indonesia. Ada yang menyebutnya katekis, guru jumat, porhanger, guru minggu, ketua umat, guru agama, dan lain-lain. Pemimpin katekese bertindak terutama sebagai pengarah dan pemudah (fasilitator). Pemimpin katekese umat tidak membawa diri sebagai pembesar yang mendoktrinasikan bawahannya dan juga tidak memberi kesan seakan-akan ia yang

(93) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 73 pandai menyampaikan pengetahuan/pandangan kepada peserta yang bodoh. Pemimpin katekese menghayati Kristus yang berada di tengah para murid sebagai pelayan (Yosef Lalu, 2007: 94-95). Jadi berdasarkan berbagai sumber, katekis secara khusus memiliki panggilan dan karisma yang diakui oleh Gereja untuk berkatekese dan secara umum adalah untuk bekerja sama dalam pelayanan kerasulan apa saja yang berguna untuk membangun Gereja. Katekis juga memiliki kewajiban memberi pelajaran atau pewartaan, menjadi orang yang memiliki pendidikan khusus bidang katekese dan memiliki pengetahuan luas tentang agama lain dan terutama protestanisme, menjadi sukarelawan bidang pewartaan (katekis sukarela), membantu pastor yang bertugas bidang pewartaan, pekerjaan mingguan/sampingan dan melaksanakan tugas teknis lapangan. Katekis juga adalah pemimpin jalannya katekese yang bertindak sebagai pengarah dan pemudah (fasilitator), sehingga tidak membawakan diri sebagai pembesar di antara umat. 3. Tugas dan Peran Katekis Dalam kehidupan sebagai murid-murid Kristus, kita memiliki tugas perutusan yang diberikan oleh Kristus sendiri sebelum Ia menghadap Bapa-Nya sesudah kebangkitan-Nya. Kita mengenal hal ini sebagai perintah Kristus yang terakhir. Perintah Kristus yang terakhir telah dijelaskan dalam anjuran apostolik (CT 1) “Ia menyampaikan kepada para Rasul perintah-Nya yang terakhir, yakni menjadikan semua bangsa murid-murid-Nya, dan mengajar mereka mematuhi

(94) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 74 segala sesuatu yang telah diperintahkan-Nya”. Dari CT 1 tersebut kemudian muncullah istilah “katekese” yang digunakan untuk merangkum seluruh usaha dalam Gereja untuk melaksanakan perintah Kristus yang terakhir tersebut. Tugas utama seorang katekis adalah berkatekese. Katekis diharapkan dapat memahami kegiatan perwataan sebagai mewartakan Yesus Kristus yang pertama dan terutama baik bagi orang yang belum beriman maupun orang yang sudah beriman kepada-Nya (Prasetya, 2007: 32). Kongregasi Evangelisasi untuk Bangsa-Bangsa (CEP, 1997: 16) menjelaskan bahwa pada tempat pertama, katekis berperan menyampaikan secara jelas pesan Kristiani dan menemani para katekumen dan orang-orang Kristen yang baru dibaptis dalam dalam perjalanannya menuju kedewasaan iman serta kehidupan sakramental yang penuh. Berdasarkan AA 6, katekis bertugas di bidang pewartaan khususnya mewartakan Yesus Kristus yang pertama dan terutama, baik kepada orang yang belum beriman maupun orang yang sudah beriman kepadanya (Prasetya, 2007: 32). Mewartakan Yesus Kristus berarti mewartakan Kabar Gembira kepada semua orang secara berkesinambungan dari tahap pengajaran sampai tahap pendewasaan sehingga orang merasa terbantu untuk semakin mengenal, mencintai dan mengimani Yesus Kristus (Prasetya, 2007: 33). Menurut Paus Fransiskus, menjadi katekis bukan merupakan pekerjaan melainkan panggilan untuk membantu umat supaya semakin mengenali, mencintai, dan mengikuti Yesus Kristus melalui kesaksian hidup dan bukan hanya dengan kata-kata yang indah-indah. Langkah pertama adalah kesaksian hidup

(95) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 75 untuk kemudian diungkapkan dengan kata-kata untuk memaknai kesaksian tersebut (Heryatno, 2018: 227-228). 4. Syarat menjadi Katekis Katekis sebagai orang yang berkatekese, keberadaannya sangat strategis di kalangan masyarakat dan umat Katolik lainnya, sudah sepantasnya kalau dipikirkan syarat menjadi katekis. Menurut Prasetya (2007: 41-42), syarat yang diperlukan untuk menjadi katekis yang baik yaitu:  Memiliki hidup rohani yang mendalam Katekis hendaknya memiliki hidup rohani yang mendalam dan iman yang terbuka akan sapaan Allah baik melalui doa, membaca dan merenungkan Kitab Suci, menghidupi aneka devosi yang disediakan Gereja, maupun dengan cara-cara lain.  Memiliki nama baik sebagai pribadi dan keluarganya Katekis hendaknya memiliki nama baik entah perilakunya, hidup imannya dan juga hidup moralnya. Nama baik ini dimiliki secara pribadi dan juga keluarganya.  Diterima oleh umat Katekis diharapkan dapat diterima baik oleh umat Katolik di lingkungan sekitar ia tinggal karena perilaku dan kepribadian yang baik dan terpuji, memiliki dedikasi dan komitmen yang tinggi untuk mewartakan kabar gembira.  Mempunyai pengetahuan yang memadai

(96) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 76 Modal untuk mewartakan Kabar Gembira tidak cukup hanya kemauan tetapi juga bekal pengetahuan yang memadai, misalnya Kitab Suci, teologi, moral, liturgi dan sebagainya. Lebih baik apabila katekis memang punya latar belakang pendidikan akademis di bidang tersebut. Tetapi apabila tidak, minimal katekis pernah mengikuti kursus atau pembekalan untuk menjadi katekis.  Mempunyai ketrampilan yang cukup Katekis diharapkan memiliki aneka keterampilan yang dapat mendukung tugas perutusannya termasuk menggunakan aneka sarana untuk menunjang proses pewartaannya. 5. Kategori Katekis Menurut Kongregasi Evangelisasi untuk Bangsa-Bangsa (CEP, 1997: 17), ada dua tipe atau kategori utama katekis. Kategori pertama adalah katekis purna waktu, yang mengabdikan seluruh hidupnya demi pelayanan katekese dan yang diakui secara resmi sebagai katekis. Kemudian kategori kedua, oo=katekis paruh waktu adalah katekis yang ikut terlibat secara lebih terbatas tetapi tulus dan serius. Menurut KWI (2005: 143), kategori katekis dibedakan menjadi dua segi yaitu dari segi waktu dan juga dari segi pendidikan. Dari segi waktu, ada 4 macam katekis yaitu katekis full-time, katekis part-time, katekis kontrak dan katekis sukarelawan. Katekis full-time berarti katekis yang profesi atau pekerjaan utamanya sebagai katekis sehingga sumber penghasilannya dari pekerjaannya sebagai katekis. Katekis part-time adalah katekis yang sebagian waktunya

(97) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 77 digunakan untuk berkarya sebagai katekis sehingga sumber penghidupannya tidak sepenuhnya dari pekerjaan sebagai katekis. Katekis part-time biasanya dikenal sebagai tenaga honorer. Katekis kontrak adalah katekis yang dikontrak dalam kurun waktu tertentu kemudian kontrak diperbarui atau tidak tergantung instansi terkait. Ada beberapa pemerintah daerah yang mengangkat tenaga kontrak untuk Guru Agama Katolik atau katekis. Katekis sukarelawan adalah katekis yang merelakan dirinya sebagai katekis tanpa batasan waktu, berkarya atas niat baiknya sendiri dan tidak meminta upah. Prinsipnya adalah ingin berpartisipasi dalam karya pewartaan Injil. Dari segi pendidikan, katekis di Gereja Katolik Indonesia dikategorikan menjadi dua bentuk yaitu katekis akademis dan non akademis. Katekis akademis adalah katekis yang berbasis pendidikan formal kateketik, pastoral atau filsafat/teologi. Sedangkan katekis non akademis adalah katekis yang tidak memiliki dasar pendidikan formal seperti katekis akademis namun memiliki atau tidak memiliki sertifikat dari kursus atau pelatihan menjadi katekis (KWI, 2005: 143-144). 6. Spiritualitas Katekis Menurut Kongregasi Evangelisasi Bangsa-Bangsa (CEP, 1997: 22) para katekis harus mempunyai spiritualitas yang mendalam, yakni mereka harus hidup dalam Roh, yang akan membantu mereka untuk memperbarui mereka terusmenerus dalam identitas khusus mereka. Para katekis dipanggil pada kesucian dan tugas perutusan yaitu menghidupi panggilan mereka dengan semangat para santo.

(98) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 78 Menurut CEP (1997: 23), spiritualitas katekis dikondisikan oleh panggilan kerasulan mereka dan karena itu seharusnya memiliki ciri-ciri: a. Keterbukaan Kepada Allah Tritunggal Para katekis harus membiarkan dirinya ditarik ke dalam lingkungan Bapa yang menyampaikan sabda tersebut, Putra sebagai pengejawantahan Sabda yang berbicara tentang sabda yang didengar-Nya dari Bapa (Yoh 8:26; 12:49), dan Roh Kudus yang menerangi pikiran untuk membantu memahami sabda Tuhan dan membuka hati untuk menerima sabda dengan cinta dan mempraktikkannya (Yoh 16: 12-14). Oleh karena itu spiritualitas katekis berakar dalam sabda Tuhan yang hidup dengan dimensi Tritunggal. Spiritualitas ini membutuhkan sikap batin yang mau membagi kasih dengan Bapa, mengharapkan semua orang mengenal kebenaran dan diselamatkan (1 Tim 2:4). Sikap batin ini selalu mencari persekutuan dengan Kristus agar ikut ambil bagian dalam pikiran (Flp 2:5). Juga sikap yang membiarkan diri untuk dibentuk oleh Roh dan diubah menjadi saksi Kristus yang berani serta menjadi pewarta sabda yang cemerlang (CEP, 1997: 2324). Pengakuan iman yang melekat pada permandian sungguh-sungguh bersifat Tritunggal. Gereja mempermandikan “dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus” (Mat 28:19). Katekese awal baik sebelum dan sesudah permandian mempersiapkan tindakan yang menentukan ini. Katekese lanjut membantu untuk mematangkan pengakuan iman ini. Dia yang berbalik kepada Yesus Kristus dan mengakui-Nya sebagai Tuhan melalui pemakluman pertama Injil memulai suatu

(99) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 79 proses dengan bantuan katekese kepada pengakuan yang nyata akan Tritunggal (KWI, 2000: 69). Katekese yang membantu iman umat supaya mengakui dan mengalami Allah Tritunggal di dalam hidupnya, mengharuskan para katekis untuk menghayatinya terlebih dahulu sebelum mereka berkatekese kepada umat. b. Keterbukaan Terhadap Gereja Para katekis adalah anggota Gereja yang ingin mereka bangun dan dari Gereja inilah mereka memperoleh amanat untuk menjadi katekis. Gereja membutuhkan katekis yang mempunyai rasa memiliki dan tanggung jawab yang mendalam. Pelayanan katekis tidak pernah merupakan suatu kegiatan individu atau kegiatan yang terpisah melainkan selalu merupakan kegiatan gerejawi. Keterbukaan katekis terhadap Gereja terungkap dalam cinta, pengabdian terhadap pelayanannya, dan kesediaan untuk menderita. Perasaan bersatu dengan Gereja yang tepat untuk spiritualitas katekis terungkap melalui cinta yang tulus terhadap Gereja dalam mengikuti Kristus yang mencintai Gereja dan mengorbankan diriNya untuk Gereja (CEP, 1997: 24-25). Mencintai Gereja dilihat sebagai suatu sikap yang mendapat dasarnya dari sikap Yesus sendiri yang telah mencintai Gereja dan memberikan seluruh hidup-Nya bagi Gereja. Cinta kepada Gereja diungkapkan dalam kemampuan memberikan diri bagi Gereja. Pemberian diri tidak hanya menyangkut kesiapan seseorang bekerja bagi Gereja dengan mengorbankan kepentingan dirinya tetapi terutama juga dalam menerima keterbatasan anggota Gereja lainnya (Yan Olla, 2008: 146-147).

(100) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 80 c. Keterbukaan Terhadap Dunia Para katekis hendaknya terbuka dan peka terhadap kebutuhan dunia karena mereka dipanggil untuk bekerja di dunia dan untuk dunia tanpa sepenuhnya menjadi milik dunia (Yoh 17:14-21). Ini berarti katekis harus sepenuhnya terlibat dalam kehidupan masyarakat di sekitar mereka tanpa mundur karena takut pada kesulitan yang akan mereka hadapi atau karena lebih senang diam. Keterbukaan terhadap dunia merupakan suatu ciri spiritualitas katekis atas dasar cinta rasuli Kristus Gembala yang baik yang datang untuk mengumpulkan dan menyatukan anak-anak Allah yang tercerai berai (Yoh 11:52). Para katekis harus dipenuhi cinta ini dan membawanya kepada semua orang ketika mewartakan kepada mereka bahwa Tuhan mencintai dan memberikan keselamatan-Nya kepada semua orang (CEP, 1997: 25-26). d. Keutuhan dan Keaslian Hidup Karya para katekis melibatkan seluruh hidupnya, sebelum mereka mewartakan sabda mereka harus menjadikan sabda itu milik mereka dan menghayatinya. Dunia membutuhkan pewarta yang berbicara mengenai Tuhan seakan mereka melihat-Nya sendiri. Apa yang diajarkan katekis seharusnya bukan semata-mata ilmu kemanusiaan dan juga bukan pendapat pribadi mereka melainkan iman Gereja yang mereka hidupi dan mereka sendiri adalah saksinya. Oleh karena itu dibutuhkan keutuhan dan keaslian hidup. Katekis harus mempraktekkan apa yang mereka wartakan bukan berbicara tentang Tuhan hanya secara teoritis. Keaslian hidup berarti hidup doa, pengalaman akan Tuhan dan

(101) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 81 kesetiaan terhadap tindakan Roh Kudus. Para katekis juga perlu berkembang secara rohaniah dalam kedamaian dan kebenaran (Rm 12:12). Para katekis harus menjadi pembawa sukacita dan harapan Paskah atas nama Gereja (CEP, 1997: 2627). e. Semangat Misioner Dengan kenyataan bahwa katekis hidup dalam pergaulan dengan sejumlah besar orang bukan Kristen, katekis harus tetap memiliki semangat untuk mewartakan Injil kepada segala makhluk (Mrk 16:15). Para katekis harus mempunyai semangat kerasulan yang tinggi. Seperti yang ditegaskan dalam Katekismus Gereja Katolik, dari pengetahuan kasih akan Kristus timbul hasrat untuk mewartakan, memberitakan dan untuk menuntun orang lain untuk menjawab ‘ya’ terhadap iman akan Yesus Kristus. Katekis seharusnya berusaha menjadi seperti gembala yang pergi mencari domba yang hilang sampai menemukannya (Luk 15:4). Lambang kemurnian semangat misioner adalah salib. Kristus yang telah dikenal oleh para katekis adalah “Kristus yang disalibkan” (1 Kor 2:2). Karena itu mereka harus menyiapkan diri untuk menghidupi dengan penuh harapan misteri kematian dan kebangkitan Kristus di tengah situasi yang sulit, penderitaan pribadi, masalah-masalah keluarga, dan hambatan-hambatan bagi karya kerasulan mereka ketika berusahan mengikuti jalan Tuhan yang sulit (CEP, 1997: 28-29).

(102) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 82 f. Devosi kepada Bunda Maria Devosi atau kebaktian kepada Maria Bunda Yesus merupakan bagian penting dari spiritualitas Katolik sejak abad-abad awal (Rausch, 2001: 294). Maria adalah guru yang mengajari Putra Allah pengetahuan akan Kitab Suci dan akan rencana kasih Allah bagi umat-Nya. Maria adalah murid pertama Yesus sebagaimana dikatakan oleh St. Agustinus bahwa bagi Bunda Maria menjadi murid-Nya adalah jauh lebih penting daripada menjadi ibu-Nya. Bunda Maria adalah katekismus hidup, ibu dan model katekis (CEP, 1997: 29). Menurut CEP (1997: 29-30) spiritualitas katekis sebagaimana spiritualitas setiap orang Kristen dan yang terlibat dalam karya kerasulan akan diperkaya oleh devosi yang mendalam kepada bunda Tuhan. Sebelum menjelaskan kepada orang lain tempat Maria dalam misteri Kristus dan Gereja, mereka harus merasakan kehadiran Maria dalam hati mereka dan memberikan kesaksian akan kesucian yang tulus dari Bunda Maria yang akan mereka sampaikan kepada umat. Dalam diri Maria, ada suatu model yang sederhana dan efektif bagi dirinya sendiri dan bagi orang lain. Maria memberikan contoh mengenai kasih ibu yang membangkitkan semangat semua orang yang ikut ambil bagian dalam misi kerasulan Gereja demi kelahiran kembali umat manusia. Pewartaan sabda selalu dikaitkan dengan doa, perayaan ekaristi dan pembangunan komunitas Kristiani. Komunitas Kristen paling awal merupakan model bagi komunitas ini (Kis 2-4) yang dipersatukan di sekitar Bunda Maria ibu Yesus (Kis 1:14).

(103) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 83 Maria mempunyai tempat terhormat dalam tradisi Katolik baik dalam hidup devosional maupun dalam warisan ajaran. Gereja Katolik membedakan antara pemujaan yang hanya ditujukan kepada Allah dan penghormatan bagi orang-orang kudus dan Maria.Orang Katolik amat menghargai penghormatan kepada Maria (Rausch, 2001: 300-301). g. Menimbang Zaman Menurut Direktorium Formatio Iman (2018: 14), menimbang zaman adalah melihat segala keadaan dan perkembangan zaman yang menjadi konteks hidup masyarakat dalam menghidupi imannya secara lebih kritis. Arus perubahan zaman sangat mempengaruhi kehidupan beriman. Pengaruh itu bisa positif yaitu mengembangkan iman dan bisa juga negatif yaitu melemahkan kehidupan beriman. Yang pertama, katekis hendaknya mampu menyikapi sekularisasi dengan positif. Sekularisasi mendasari pemikiran bahwa dunia ini otonom namun tetap berkorelasi dengan sang pencipta. Dalam proses sekularisasi, seringkali terjadi sekularisme yang mengakibatkan manusia merasa tidak memerlukan peran serta Tuhan dalam hidup (Direktorium Formatio Iman, 2018: 14-15). Sekularisme adalah contoh bagaimana sekularisasi dimaknai secara negatif. Sekularisasi yang dimaknai secara negatif membawa dampak yang cukup besar dalam melemahnya kehidupan umat beriman. Bagaimana tidak? Ketika orang sudah masuk dalam sekularisme, orang beranggapan bahwa keputusannya tidak perlu

(104) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 84 dipertimbangkan apakah sesuai dengan perintah Allah atau tidak karena seolaholah Allah tidak ada dan tidak memberi dampak apapun. Sekularisasi yang dimaknai secara negatif dapat mengakibatkan orang terjerumus dalam sekularisme, materialisme, konsumerisme, individualisme, sensualisme, hedonisme, dan juga rusaknya lingkungan hidup. Ketika manusia tidak lagi menganggap Allah itu penting, maka hidupnya akan berorientasi pada materi atau hal-hal duniawi saja sehingga terjadilah materialisme. Materialisme terjadi ketika segalanya hanya diukur berdasarkan materi dengan uang sebagai penggeraknya. Materialisme dapat memunculkan perilaku konsumtif dalam diri manusia sehingga terjadilah konsumerisme. Orang hanya membeli apa yang ada di dunia ini bukan karena kebutuhan namun karena gaya hidup dan trend. Hidup yang konsumtif ini dapat melahirkan hidup yang individualis karena orang hanya memusatkan dirinya pada kebutuhan diri sendiri (Direktorium Formatio Iman, 2018: 15). Orang yang individualis akan terus mengejar kebutuhan dirinya yang tidak akan pernah terpuaskan. Materi akan terus dikejar semakin jauh hingga tanpa sadar orang akan meninggalkan sesamanya karena hanya fokus pada materi yang dicarinya. Materi dianggap dapat memuaskan dahaga sensualisme. Artinya, orang menganggap hidupnya hanya sebatas kenikmatan indrawi saja. Lalu ketika orang menjadikan kenikmatan sebagai tujuan hidupnya, orang menjadi hedonis karena itu muncullah hedonisme (Direktorium Formatio Iman, 2018: 16). Kemudian tidak bisa dilupakan juga bahwa ketika manusia cenderung mengejar materi dan kenikmatan saja, manusia seringkali merusak keutuhan alam ciptaan.

(105) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 85 Selain karena faktor alam, keutuhan ciptaan ini rusak karena perilaku manusia yang menempatkan dirinya sebagai subjek dan alam sebagai objek. Alam dimanfaatkan sedemikian rupa untuk memenuhi kebutuhannya akan tetapi manusia tidak berupaya untuk memulihkannya (Direktorium Formatio Iman, 2018: 17-18). Yang kedua, katekis hendaknya menghindari primordialisme dan radikalisme. Di samping primordialisme, radikalisme dapat memicu terjadinya terorisme. Primordialisme menunjuk pada sikap kesukuan yang berlebihan atau terlalu membanggakan sukunya sampai ada kecenderungan untuk menyingkirkan kelompok yang berbeda dengan dirinya. Selain itu ada juga radikalisme keagamaan. Mereka memaksakan pandangannya dengan tindak kekerasan kepada yang berbeda keyakinan sehingga menjadi intoleran terhadap kelompok lain. Radikalisme ini dapat memicu adanya terorisme seperti yang dilakukan ISIS dengan melakukan bom bunuh diri (Direktorium Formatio Iman, 2018: 17). Yang ketiga, katekis hendaknya memanfaatkan media sosial dengan sebaik-baiknya. Saat ini media sosial telah berkembang sangat pesat. Namun seringkali media sosial digunakan secara negatif. Misalnya oleh ISIS yang menggunakan media sosial untuk memperluas propaganda mereka, mengadu domba, melakukan ujaran-ujaran kebencian, hoax dan menyampaikan ujaranujaran negatif yang merusak persatuan bangsa (Direktorium Formatio Iman, 2018: 18). Katekis dapat menggunakan media sosial untuk hal-hal yang positif, misalnya membuat forum diskusi rohani, membuat akun instagram yang berisi pesan-pesan inspiratif dan lain sebagainya.

(106) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 86 Yang keempat adalah krisis iman dan moral. Persoalan lain yang mempengaruhi umat beriman dewasa ini adalah ritualisme. Orang hanya mengutamakan upacara-upacara keagamaan atau ritual saja tanpa memperhatikan penghayatan dan perwujudan iman dalam hidup sehari-hari. Dengan begitu orang kehilangan keakraban dengan Allah dan berakibat pada tumpulnya hati nurani. Bangkitlah suatu relativisme etis. Moralitas kemudian disingkirkan dan orang bertindak semaunya sendiri karena setiap orang berpegang pada kebenarannya sendiri-sendiri (Direktorium Formatio Iman, 2018: 19). Katekis harus dapat menimbang zaman dengan baik dalam menjalani hidupnya. Kemudian setelah itu hendaknya katekis mengajak umat untuk ikut menimbang zaman supaya kehidupan berimannya menjadi semakin baik. Katekis dapat mengajak umat untuk menimbang zaman dengan dialog sehari-hari atau juga dalam waktu khusus seperti ketika terjadinya katekese umat. Hal ini sangat penting mengingat katekis juga adalah manusia duniawi. Maka katekis perlu menghidupi semangat spiritualias yang menunjang batin (hubungan dengan Allah) dan juga fisik (menimbang zaman).

(107) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 87 BAB IV MAKNA HIDUP DOA SEBAGAI SUMBER SPIRIT PELAYANAN KATEKIS Pelayanan katekis dewasa ini tak terhindarkan dari tantangan arus besar zaman. Katekis diharapkan dapat menjadi pribadi yang teguh dan mampu meneguhkan umat dalam menghadapi tantangan arus besar zaman. Karena itulah spiritualitas katekis menjadi hal yang sangat penting supaya para katekis memiliki semangat yang berapi-api dalam pelayanannya. Selain itu juga supaya katekis tidak mudah putus asa ketika menghadapi tantangan atau masalah yang ada dalam pelayanannya. Berdasarkan keprihatinan tersebut, pembahasan dalam bab IV ini dimaksudkan untuk memberi inspirasi bagi katekis supaya memiliki spirit pelayanan yang baik. Secara khusus bab IV ini menyampaikan inspirasi spirit pelayanan katekis berdasarkan pemaknaan terhadap hidup doa dan usulan kegiatan rekoleksi untuk meningkatkan pelayanan para katekis khususnya di Paroki St. Yusuf Ambarawa Keuskupan Agung Semarang. Pembahasan bab IV ini terdiri dari dua bagian utama yaitu, bagian pertama membahas tentang makna hidup doa sebagai spirit pelayanan katekis dan bagian kedia tentang usulan program. Pada bagian pertama, pembahasan dibagi menjadi delapan topik.Bagian kedua membahas tentang usulan program rekoleksi yang diawali dengan pengertian rekoleksi dan kemudian diakhiri dengan persiapan usulan program rekoleksi.

(108) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 88 A. Makna Hidup Doa Sebagai Sumber Spirit Pelayanan Katekis Spirit pelayanan para katekis sangat berguna supaya katekis tidak mudah putus asa dalam menjalani tugas perutusannya dan memberikan seluruh hidupnya untuk menjalani tugas perutusannya. Hidup doa menjadi sesuatu yang amat penting bagi katekis supaya senantiasa memiliki kepribadian yang baik dan hati yang senantiasa mengarah kepada Allah Tritunggal. Maka dari itu, di tengah tantangan pelayanan katekis di zaman ini, para katekis perlu dan dapat menemukan inspirasi spirit pelayanannya melalui pemaknaan akan hidup doa. Berikut akan dijelaskan tujuh inspirasi pemaknaan hidup doa sebagai spirit pelayanan katekis. 1. Memiliki relasi yang mendalam dengan Allah Hidup doa manusia pada dasarnya adalah panggilan Allah yang ditanggapi manusia. Panggilan Allah ini merupakan kerinduan Allah kepada manusia. Panggilan ini mengajak manusia untuk terus mengikutsertakan Allah dalam setiap segi dalam hidupnya. Manusia terpanggil untuk mencari Allah dan berkomunikasi dengan-Nya melalui doa. Komunikasi yang intensif dengan Allah ini dapat membangun relasi yang mendalam dengan Allah. Relasi yang mendalam dengan Allah sungguh sangat penting bagi kehidupan seorang katekis. Ketika relasi seseorang sudah begitu mendalam dengan Allah, ia akan menempatkan Allah sebagai pusat hatinya dan hidupnya. “Mengarahkan hati kepada Allah” kiranya adalah kata yang sangat tepat untuk mencerminkan kedalaman relasi dengan Allah dalam hidup manusia.

(109) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 89 “Hati adalah tempat keputusan, kebenaran, pertemuan dengan Allah dan sebagai tempat perjanjian” (KGK 2563). Ketika hati seorang katekis sudah mengarah kepada Allah, maka segala keputusan yang ia ambil dalam hidupnya pastilah berorientasi pada terwujudnya Kerajaan Allah di dunia. Dengan begitu, hati nurani seorang katekis menjadi sungguh peka dalam menghadapi segala sesuatu. Ia menjadi pribadi yang lebih mengutamakan kebenaran dan bukan keuntungan bagi dirinya sendiri ketika mengambil sebuah keputusan. Relasi yang mendalam dengan Allah mengarahkan manusia pada kesatuan dan persekutuan hidup dengan Allah. Inisiatif Allah dalam memanggil manusia tidak dimaksudkan supaya manusia dapat bersatu dengan Allah pada akhir zaman ketika segala sesuatunya mendapatkan pemenuhan dan penyelesaian. Akan tetapi juga agar kesatuan dan persekutuan hidup itu juga menjadi kenyataan sekarang di dunia ini dalam hidup manusia. Allah tidak hanya dialami sebagai pribadi yang menyapa manusia melainkan juga menjadi prinsip dan tujuan hidup manusia (Darminta, 1983: 36-37). Relasi yang mendalam dengan Allah dan hati yang senantiasa mengarah kepada Allah menjadikan manusia menjadi pribadi yang dewasa. Ketika katekis memiliki relasi yang sungguh mendalam dengan Allah, perbuatannya akan terus mengarah pada rencana keselamatan Allah. Relasi yang mendalam ini juga memunculkan kesadaran dalam diri katekis bahwa dirinya adalah makhluk yang harus menyembah Allah yang Maha Agung. Ia menyadari bahwa ia memiliki banyak sekali kelemahan dan Allah adalah Pribadi sempurna yang terus menolong hidupnya. Dari kesadaran akan kelemahan tersebut, katekis terdorong untuk

(110) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 90 menjadi pribadi yang rendah hati. Oleh karena itu muncullah dalam diri manusia sikap memandang hidup sebagai berkat, sikap menyembah, memuji Allah, bersyukur kepada Allah, dan memohon kepada Allah. Untuk mengatasi beberapa tantangan pelayanan katekis khususnya arus besar zaman ini, relasi yang mendalam dengan Allah harus dimiliki seorang katekis. Relasi yang mendalam dengan Allah diperlukan untuk menghadapi sekularisme, materialisme, konsumerisme, sensualisme, hedonisme, primordialisme, radikalisme, terorisme, rusaknya lingkungan hidup serta krisis iman dan moral. Hal ini dikarenakan beberapa arus besar zaman sekarang tersebut bisa terjadi ketika seseorang tidak atau kurang memiliki cinta dan kesetiaan kepada Allah. Cinta dan kesetiaan kepada Allah sendiri juga akan muncul ketika seseorang memiliki relasi yang mendalam dengan Allah. Semua isi doa sejalan dengan relasi yang mendalam dengan Allah tetapi yang paling mewarnai adalah berkat dan penyembahan, doa syukur serta doa pujian. 2. Menjadi pribadi yang senantiasa berdoa Doa yang terus dilakukan berdasarkan kerinduan akan menjadi sebuah kebutuhan bagi seseorang. Katekis hendaknya menjadi pribadi yang senantiasa berdoa dalam hidupnya dan menjadikan doa sebagai kebutuhannya. Kebutuhan di sini bukan berarti hanya sebatas karena manusia perlu terus memohon banyak hal kepada Allah demi terpenuhi kebutuhan hidupnya. Katekis senantiasa berdoa karena terus rindu kepada Allah dan menyadari bahwa dirinya diciptakan oleh Allah sehingga harus berbakti kepada-Nya.

(111) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 91 Dengan senantiasa berdoa, katekis mendapatkan kekuatan di dalam hidupnya. Dalam pelayanannya, katekis seringkali menghadapi banyak sekali rintangan. Tak jarang rintangan ini membuat katekis menjadi berputus asa dan bahkan menyerah. Tak dapat dipungkiri bahwa doa memberikan kekuatan bagi katekis. Doa memberikan semangat yang mendalam dalam diri katekis. Menurut Pai (2003: 107-108), apabila kita sungguh berdoa maka kita dapat beralih dari halhal yang dangkal kepada hal yang lebih mendalam. Roh Yesus membantu kita untuk menilai segala sesuatu secara benar. Kita tidak lagi dituntun dan dikontrol oleh perasaan-perasaan yang spontan saja, oleh rasa suka atau tidak suka, oleh waktu dan situasi, oleh penilaian dan perkataan orang lain. Dengan senantiasa berdoa, seringkali kita berseru di dalam kesusahan kita. Kita menumpahkan kesusahan dan penderitaan kita dengan keyakinan bahwa ada Pribadi yang mau mendengarkan dan membebaskan kita (Pai, 2003: 168). Oleh karena itulah dengan senantiasa berdoa, katekis mendapatkan kelegaan. Doa juga dapat menghilangkan kekhawatiran katekis ketika ia sungguh percaya bahwa Allah akan menolongnya dengan berbagai cara. Seringkali ketika dihadapkan dalam suatu masalah, orang menjadi goyah dan kehilangan keyakinan bahwa dirinya dapat melalui atau menyelesaikan masalah tersebut. Hal ini menjadikan kekhawatiran dalam diri manusia muncul. Yesus mengajak kita agar jangan khawatir akan hidup kita. Burung pipit dan bunga bakung dipelihara oleh Allah oleh karena itu kita yang lebih dari pada itu juga pastilah dipelihara oleh Allah. Dengan kekhawatiran juga kita tidak dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidup kita (Luk 12:22-32).

(112) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 92 Doa membuat kita menyadari bahwa Allah berkuasa atas hidup kita. Keyakinan akan kehidupan kita peroleh dengan berdoa. Doa mengatasi ketakutan dan kecemasan kita. Oleh karena itu, katekis hendaknya senantiasa berdoa sehingga menjadi pribadi yang lebih siap dalam menjalani tugas perutusannya dan pelayanannya. Doa juga membuat katekis semakin mengenal dirinya dengan baik. Ini karena doa membuat katekis mengungkapkan dengan jujur apa yang ia rasakan, apa yang ia keluhkan di dalam hidupnya. Dengan begitu katekis juga lebih mengenal sifat-sifatnya yang baik dan buruk. Memohon ampun atas sifat dan sikapnya yang buruk serta berjanji untuk tidak mengulanginya lagi. Serta bersyukur karena Allah membuatnya mampu melakukan hal-hal yang baik tanpa harus menyombongkan diri. 3. Berdoa dan berbuat demi kepentingan banyak orang Hidup doa dapat mendorong seseorang untuk mengarahkan hatinya kepada Allah dan berusaha menaati segala hukum Allah. Dengan begitu, doa menjadi inspirasi katekis untuk mengasihi Allah dan juga sesama manusia. Ketika seseorang mencintai Allah dengan segenap hatinya, secara otomatis ia akan terdorong untuk mengasihi ciptaan-Nya dengan segenap hati pula. Doa membuat katekis perlahan meninggalkan egosentrisme. Ketika katekis mulai meninggalkan sikap egosentrisnya, ia akan mulai peduli pada orang lain. Ketika seorang katekis bertindak atau melakukan sesuatu, ia tidak hanya mempertimbangkan apa yang menguntungkan dirinya saja tetapi juga demi kepentingan orang banyak. Katekis yang mulai tulus mencintai

(113) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 93 sesamanya, akan menyadari bagaimana ia harus berusaha menjadi pengantar bagi orang lain. Pengantar di sini adalah menjadi pribadi yang mendoakan orang lain. Menurut Pai (2003: 40), berdoa untuk orang lain atau doa umat mengungkapkan dimensi sosial iman, tanggungjawab dan solidaritas kita terhadap sesama. Kita telah mengenal beberapa sosok pengantara di dalam Kitab Suci, yaitu Abraham yang berdoa bagi Sodom dan Gomora (Kej 18), Musa yang berkali-kali memohon untuk bangsa Israel, Yesus yang berdoa bagi Petrus (Luk 22:23), dan lain sebagainya. Doa dapat membuat kita menjadi pribadi yang lebih baik. Doa untuk orang lain mencabut kita dari sikap hanya memperhatikan diri sendiri. Melalui doa untuk orang lain, hati kita menjadi lebih peka terhadap kebutuhan dan penderitaan orang lain. Dengan begitu kita semakin mampu menciptakan suatu ruang untuk orang lain dalam hidup kita sampai akhirnya tak ada seorang pun yang disingkirkan dari hati kita (Pai, 2003: 41). Ketika kita sudah memiliki ruang bagi orang lain di dalam hati kita, kita akan dapat berbuat apapun demi kepentingan orang lain tanpa merasa keberatan atau terpaksa. Intinya adalah katekis harus senantiasa berdoa hingga sungguh menemukan dirinya yang mencintai Allah. Dengan mencintai Allah, katekis pasti berusaha untuk mencintai manusia. Untuk mencintai manusia tentunya hatilah yang paling berperan. Dimulai dengan mendoakan orang lain atau banyak orang, pasti secara otomatis akan muncul keinginan untuk melayani orang lain. Dasar pelayanan ini sangat diperlukan bagi katekis supaya dalam perjalanan pelayanannya ia tidak menjadi pribadi yang perhitungan, misalnya ketika katekis

(114) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 94 profesional dibutuhkan paroki harus mengkader katekis-katekis sukarelawan, ia hanya mau apabila diberi bayaran atau gaji yang tinggi, dan lain sebagainya. Dengan berdoa dan berbuat demi kepentingan banyak orang, hati seorang katekis menjadi semakin mencintai sesama. Ketika seorang katekis semakin mencintai sesama, ia mampu meninggalkan individualisme, primordialisme, radikalisme dan terorisme. Isi doa yang sangat mewarnai makna doa ini (berdoa dan berbuat demi kepentingan banyak orang) adalah doa syafaat. 4. Menjadi Pribadi yang Beriman Cerdas, Tangguh dan Misioner Doa yang dimaknai secara mendalam mendorong orang untuk semakin beriman. Semakin beriman adalah dampak dari rasa cinta manusia kepada Allah yang tumbuh melalui hidup doa. Akan tetapi iman Katolik yang baik haruslah sungguh-sungguh dimaknai secara mendalam dan bijaksana. Menurut Formatio Iman Berjenjang (2014: 29) iman kekatolikan haruslah dihayati secara cerdas, tangguh dan misioner. a. Cerdas Menurut Formatio Iman Berjenjang (2014: 29-30), cerdas menyangkut beberapa aspek, di antaranya: 1) kedewasaan dan kematangan dalam pemahaman dan penghayatan tentang imannya sehingga ia bisa mempertanggungjawabkan dengan benar. Ia tidak percaya secara membabi buta yang hanya mengandalkan emosi, tetapi juga melibatkan akal budi, kehendak, dan perasaan. 2) pandai memperhitungkan keadaan dan siap mengatasi tantangan yang ada, seperti dalam

(115) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 95 perumpamaan Kitab Suci mengenai lima gadis bodoh dan lima gadis yang pandai (Mat 25:1-13). Katekis yang sungguh beriman dengan cerdas, pasti benar-benar mendengarkan hati nuraninya sehingga dapat menimbang-nimbang suatu perkara dengan bijak. Katekis yang hidup di dunia dihadapkan dengan realitas dunia yang kompleks. Dalam kehidupan beriman, katekis hendaknya tidak beriman dengan gelap mata misalnya dengan menganggap bahwa agamanya sendiri paling benar dan agama lain salah sehingga di luar Gereja tidak ada keselamatan. Katekis hendaknya menjadi pribadi yang toleran terhadap umat beragama lain. Dalam perkembangan teknologi zaman ini, semua orang disuguhkan berbagai kemudahan untuk berkomunikasi dan lain sebagainya. Dengan kenyataan ini, katekis hendaknya menggunakan media sosial bukan untuk hal-hal yang sifatnya destruktif melainkan konstruktif. Maksudnya adalah katekis hendaknya tidak menggunakan media sosial misalnya untuk menyatakan ujaran-ujaran kebencian, menghasut orang banyak dan lain sebagainya. Sebaliknya, katekis hendaknya bijaksana dalam menggunakan media sosial.Misalnya saja dengan membuat forum diskusi atau meng-upload renungan harian yang inspiratif dan menyentuh.Katekis juga hendaknya mampu mengajak umat untuk bersama-sama mengatasi krisis iman dan moral di mana agama hanya dilakukan sebagai rutinitas saja misalnya. Dalam beriman katekis juga diajak untuk menjadi pribadi yang cerdas.Iman dilandaskan pada kasih bukan pada ketaatan hukum secara ritual seperti dalam Luk (13: 10-17) di mana Yesus menyembuhkan orang sakit pada

(116) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 96 hari Sabat, atau juga pada Luk (10: 25-37) di mana Yesus memberikan perumpamaan mengenai orang Samaria yang murah hati. Kemudian katekis juga hendaknya tidak hanya menyimpan imannya untuk dirinya sendiri tanpa berbuat apa pun. Iman itu diungkapkan dalam pelayanan katekis terhadap kehidupan menggereja. Dalam mengungkapkan imannya melalui pelayanan, katekis hendaknya menjadi sosok yang cerdas melalui kreatifitasnya. Kreatifitas di sini dimaksudkan bahwa katekis mampu memperhitungkan segala kondisi yang terjadi dan siap mengatasi tantangan apapun dalam pelayanannya. Ia menjadi pribadi yang selalu berjaga-jaga. Misalnya ada seorang katekis yang tidak mampu memberikan renungan secara mendadak, maka setiap hari ia hendaknya memiliki waktu khusus membaca bacaan liturgi pada hari itu dan merenungkannya. Seorang katekis yang beriman cerdas, dapat lebih mudah mengatasi arus besar zaman ini khususnya dampak negatif media sosial. Ini dikarenakan katekis menjadi tidak mudah mempercayai hoax dan dapat memanfaatkan media sosial dengan cerdas dan kreatif sesuai dengan kebutuhan pelayanan. b. Tangguh Iman yang didapat dengan hidup doa, haruslah diwarnai dengan ketangguhan. Menurut Formatio Iman Berjenjang (2014: 30), tangguh menyangkut aspek sikap dalam menghadapi pergulatan hidup. Pergulatan hidup bisa datang dari dalam diri kita sendiri karena berbagai persoalan hidup yang dialami tetapi juga bisa datang dari luar berupa godaan (dosa) dan tantangan.

(117) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 97 Santo Paulus membagikan pengalaman mengapa ia tidak mudah goyah imannya dan tidak mudah putus asa. Semua itu karena hidupnya berakar pada Kristus dan dibangun di atas Dia sehingga situasi hidupnya tetap di dalam Dia (bdk Kol 2:12). Berbagai macam arus besar zaman ini menjadi tantangan bagi pelayanan katekis.Bukannya tergiur untuk tenggelam dengan kenikmatan duniawi, melainkan katekis harus mampu untuk tetap teguh pada imannya. Segala hal yang ditawarkan dunia hendaknya dapat dimanfaatkan secara positif oleh katekis. Misalnya dalam arus sekularisasi di mana manusia memiliki kehendak bebas untuk berbuat dan memutuskan sesuatu, katekis hendaknya tidak tenggelam dalam sekularisme. Dari pribadinya sendiri, sebaiknya katekis menikmati apa yang ditawarkan dunia ini secukupnya sesuai dengan kebutuhannya dan tidak meninggalkan Tuhan. Katekis hendaknya memiliki iman yang tangguh, ini bisa dilihat dari teguhnya pendirian katekis untuk tidak terlena pada kenikmatan duniawi semata hingga meninggalkan intimitas dengan Tuhan. Selain tangguh dalam menghadapi arus besar zaman, katekis hendaknya juga tangguh dalam menghadapi situasi yang sulit. Hidup doa yang dimaknai sungguh-sungguh dapat memunculkan keyakinan bahwa Tuhan akan selalu punya cara untuk menolong katekis di dalam hidupnya. Keyakinan seperti itu membuat katekis menjadi semakin berani mengambil resiko atas pelayanan yang dirasa berat dan sulit. Dengan doa dan keyakinan akan penyertaan Tuhan di dalam hidup, katekis dapat menjadi pribadi yang tidak gentar dalam menghadapi segala persoalan dalam pelayanannnya.

(118) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 98 c. Misioner Menurut Formatio Iman Berjenjang (2014: 30-31), misioner menyangkut gerak keluar untuk memberikan kesaksian akan imannya. Karena beriman, orang akan keluar dari dirinya dan mengambil bagian dalam karya misi Allah. Misioner berarti berani bersaksi tentang imannya, tidak malu mengakui dan menunjukkan kekatolikannya kepada khalayak umum. Hidup doa yang menumbuhkan iman, perlu dituangkan dalam perbuatan (bdk. Yak 2:17). Katekis sangat perlu memiliki iman yang misioner, yaitu iman yang diungkapkan melalui perbuatan mengambil bagian dalam karya misi Allah yaitu penyelamatan. Ketika ada orang yang bertindak salah tak jarang orang takut atau ragu untuk menegur karena berbagai macam alasan. Di sini katekis berperan untuk mengajak setiap orang yang berbuat tidak sesuai dengan kehendak Allah, kembali kepada hidup yang sesuai dengan kehendak Allah. Oleh karena itu, misioner dimaknai sebagai sikap di mana katekis berani berbicara tentang Kristus kepada orang lain apabila memang situasi menuntut demikian. Kepada orang yang berbeda agama pun, katekis hendaknya berani menyatakan imannya tanpa harus membuat orang lain tersinggung. Semua itu bertujuan untuk keselamatan umat manusia. Iman yang misioner juga berarti katekis mau melibatkan diri dalam masyarakat dan bekerja sama dengan semua yang berkehendak baik untuk menegakkan keadilan dan kebenaran, mewujudkan kesejahteraan umum dan membangun bangsa Indonesia menjadi bangsa yang bermartabat, mengedepankan nilai-nilai keimanan, kejujuran, kebangsaan dan keberpihakan kepada kaum yang

(119) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 99 lemah. Dengan begitu katekis mengambil bagian dalam kerja Allah mewujudkan keselamatan (Formatio Iman Berjenjang, 2014: 31). Dengan begitu maka iman katekis yang misioner bukan hanya terbatas diungkapkan kepada kalangan Gereja, tetapi dalam lingkup seluruh umat manusia. Karena itulah katekis menjadi garam dan terang dunia. Katekis menjadi alat yang dipakai Allah untuk mewujudkan Kerajaan-Nya. 5. Menjadi Pribadi yang Berpengharapan Dalam hidup doa, manusia selalu memanjatkan permohonan kepada Allah. Manusia memohon kepada Allah di dalam doa karena manusia selalu punya harapan akan hidupnya. Kenyataan di dunia ini dan apa yang didapat manusia seringkali tidak sesuai dengan harapan. Oleh karena itulah manusia selalu mengungkapkan harapannya kepada Allah dalam wujud doa permohonan. Dalam kehidupan pelayanannya, katekis tak jarang juga mengalami hal demikian. Situasi dan kondisi yang dihadapi katekis seringkali menyulitkan dan tidak sesuai dengan harapan. Katekis harus hidup dengan memiliki harapan. Katekis yang tidak punya harapan hanya akan hidup mengikuti arus, tidak punya target, tidak punya tujuan, tidak punya mimpi demi terwujudnya Kerajaan Allah. Dalam doa permohonan, tertuang berbagai harapan katekis akan kehidupan yang lebih baik. Tentu saja pengharapan ini bukan hanya sebuah mimpi atau keinginan tanpa usaha untuk mencapainya. Pengharapan bukan berarti menyerahkan mimpi dan segala keinginan kepada Allah melalui doa lalu kita menunggu untuk menerimanya. Pengharapan

(120) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 100 berarti kita memohon kepada Allah melalui doa mengenai keadaan atau situasi baik yang kita harapkan. Setelah itu kita juga melakukan sesuatu untuk mewujudkan harapan itu. Oleh karena itu, katekis hendaknya menjadi pribadi yang berpengharapan. Bukan hanya mengungkapkan harapan kepada Allah melalui doa kemudian katekis berpangku tangan tidak mengusahakan harapannya, katekis juga harus berusaha. Harapan bisa dikatakan cita-cita demi kehidupan yang lebih baik. Maka katekis harus selalu punya harapan. Yang menggerakkan katekis untuk terus melayani adalah harapan demi keselamatan, demi kehidupan semua orang yang lebih baik. 6. Menjadi Pribadi yang Penuh Kasih Hidup doa yang mendalam membuat orang mencintai Allah dengan sungguh-sungguh. Allah adalah kasih, ketika manusia mencintai Allah otomatis ia akan berbuat kasih. Maka dapat dikatakan bahwa dampak dari hidup doa adalah pribadi yang penuh kasih. Hukum terutama adalah kasih kepada Allah dan kasih kepada sesama (Mat 22:37-40). Ketika orang sungguh-sungguh mengarahkan hatinya kepada Allah, ia akan hidup sesuai dengan hukum Allah yaitu kasih. Oleh karena itu, makna dari hidup doa yang dapat menjadi inspirasi spirit pelayanan katekis adalah kasih. Katekis adalah alat yang digunakan Allah untuk menyelamatkan. Oleh karena itu katekis harus mampu menjadi pribadi yang penuh kasih supaya dapat digunakan sebagai perantara kasih Allah kepada manusia. Sikap seperti apa yang mencerminkan kasih? 1 Kor 13:4-7 menjelaskan sebagai berikut.

(121) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 101 Kasih itu sabar, kasih itu murah hati, ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi ia bersukacita karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu. Berdasarkan kutipan Kitab Suci tersebut, jelaslah bahwa poin-poin tersebut adalah sikap yang menunjukkan kasih. Kasih memang berasal dari hati akan tetapi butuh perwujudan nyata. Dari poin-poin dalam kutipan tersebut, sudah sangat jelas bahwa kasih itu membawa sukacita dan keselamatan. Inti dari pelayanan katekis adalah keselamatan bagi semua orang, dengan begitu katekis harus menjadi pribadi yang penuh kasih. Kasih yang sejati tidak pernah membeda-bedakan atau hanya berlaku untuk golongan tertentu saja. Kasih tidak terbatas pada orang-orang yang seagama, sesuku, maupun segolongan saja. Di mana pun diwujudkan, kasih selalu membawa suasana penuh sukacita. Ketika katekis hadir menjadi pribadi yang penuh kasih, semua orang di sekitarnya dapat merasakan sukacita kasih Allah melalui perbuatan katekis yang penuh kasih. 7. Meneladani hidup Yesus Kristus Doa orang Katolik selalu dipanjatkan kepada Allah di dalam nama Yesus Kristus sebagai pengantara yang agung. Yesus Kristus sebagai jalan keselamatan manusia menuju kepada Allah Bapa, menjadi pribadi yang paling sempurna. Hidup doa yang mendalam mengarahkan kita untuk semakin mencintai dan meneladani Yesus Kristus pula. Yesus menjadi suri teladan hidup doa. Jika kita

(122) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 102 dapat berada dalam hidup doa yang mendalam, kita akan mengerti bahwa Allah menginginkan kita untuk hidup meneladani Yesus Kristus, Putera-Nya. Keseluruhan dari spirit pelayanan katekis, dimiliki oleh figur Yesus oleh karena itulah Yesus selalu dikatakan menjadi figur yang paling sempurna. Hidup Yesus adalah doa dan yang paling penting dalam hidup-Nya adalah melaksanakan kehendak Bapa. Bahkan Yesus mengatakan bahwa makanan-Nya adalah melaksanakan kehendak Bapa (Yoh 4:34). Yesus begitu setia pada tugas perutusan-Nya meskipun tugas itu begitu berat hingga Ia disalibkan. Ia selalu menyerahkan diri-Nya secara total. Dalam hidup-Nya, Ia mengosongkan diri-Nya dan mengambil rupa sebagai hamba (Flp 2:6-7). Ia tidak pernah memegahkan diri-Nya atau hidup dalam kesombongan karena Ia adalah Putera Allah. Ia yang begitu agung bersedia menyelamatkan manusia dan hidup sebagai manusia. Ia selalu menjadi pribadi yang bersyukur dalam hidup-Nya, segala sesuatu selalu Ia syukuri. Ia berani melawan perbuatan yang tidak benar di mata Allah seperti ketika Ia menyucikan Bait Allah (Luk 19:45-48). Yesus selalu menimba kekuatan dari Allah melalui doa yang Ia panjatkan. Dalam kesibukan-Nya, Ia selalu mengambil waktu untuk fokus berdoa dalam kesunyian. Ia menjadi pribadi yang sungguh peduli terhadap hidup orang lain dan orang banyak. Ia juga merupakan pribadi yang sungguh pengampun (Luk 23:34). Banyak sekali aspek dari dalam diri Yesus yang harus diteladani oleh katekis. Karena Ia adalah pribadi yang sempurna, oleh karena itu banyak sekali hal-hal yang perlu katekis teladani. Katekis hendaknya menjadi pribadi yang

(123) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 103 tekun menjadi pelayan bagi Allah dan manusia seperti layaknya yang dilakukan oleh Yesus Kristus. Katekis akan sangat sulit merasakan kasih Yesus apabila ia sendiri jarang berdoa. Karena dalam doa kita juga menyadari, bahwa Ia sang penyelamat adalah pribadi yang sempurna dan penuh kasih serta membawa doa kita kepada Allah Bapa supaya kita beroleh keselamatan. Dengan kesadaran itu maka katekis juga harus menjadi pribadi yang menghadirkan keselamatan kepada orang banyak. 8. Memiliki Keutuhan dan Keaslian Hidup Hidup doa yang mendalam dapat mengubah seseorang menjadi lebih baik. Dalam doa, orang terus berfokus pada rasa cintanya akan Allah. Dengan rasa cinta itu, orang menjadi ingin mendekatkan diri kepada Allah dengan terus berbuat kasih dan ikut andil dalam karya penyelamatan Allah. Orang yang tadinya tidak peduli pada sesama, menjadi semakin peduli karena semakin memahami sukacita dari wujud kasih terhadap sesama. Orang yang tadinya mudah cemas dan khawatir menjadi tangguh dan tidak mudah putus asa karena memiliki keyakinan yang kuat akan pertolongan Allah akan hidupnya. Dalam karya pelayanan katekis di dunia ini, katekis tidak hanya berkatekese dengan mengajarkan teori-teori agama. Memang dalam berkatekese tentu saja pengetahuan iman dan juga pengetahuan mengenai Gereja sungguh penting. Teori-teori kasih juga merupakan salah satu tema yang selalu menjadi perhatian dalam berkatekese.Akan tetapi teori saja tidak cukup. Umat tidak terlalu tertarik dengan pengajaran atau teori-teori saja. Umat mungkin akan

(124) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 104 mendengarkan akan tetapi seringkali sulit mengena di hatinya. Yang sangat penting dalam pelayanan katekis adalah keutuhan dan keaslian hidupnya. Ia sungguh menjadi saksi cinta Tuhan kepada manusia. Ia yang selalu mengajarkan teori bahwa Tuhan itu baik, harus punya pengalaman bagaimana Tuhan mencintai dirinya. Ia bersaksi bahwa Tuhan menganugerahkan mukjizat di dalam hidupnya. Ia membagikan pengalamannya bagaimana cintanya kepada Tuhan dan bagaimana Tuhan bekerja dalam hidupnya. Kesaksian yang diberikan oleh katekis haruslah sebuah kesaksian yang nyata dan asli yaitu sungguh-sungguh terjadi dalam hidupnya. Menurut CEP (1997: 26), keaslian hidup doa berarti hidup doa, pengalaman akan Tuhan, dan kesetiaan terhadap tindakan Roh Kudus. Kepekaan akan anugerah Allah dan pengalaman akan Allah bukanlah sesuatu yang instan. Allah memang mengasihi kita dan bekerja di dalam hidup kita akan tetapi kita perlu membuka diri pada kehadiran-Nya. Kita harus siap mendengarkan apabila Allah memanggil kita. Oleh karena itu, hidup yang terus menerus dalam cinta kasih Allah harus dimulai dengan keterbukaan kita akan karya Allah. Kita mulai terbuka pada Allah ketika kita mulai berdoa. Berdoa bukan hanya berbicara dan memohon terus kepada Allah akan tetapi kita juga dituntut untuk siap mendengar sabda Allah di hati kita. Dari situlah kita mulai berkembang pada kedewasaan iman. Kedewasaan iman dan pengalaman akan Allah itulah yang perlu dimiliki katekis untuk dibagikan kepada umat.

(125) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 105 B. Usulan Kegiatan Rekoleksi untuk Meningkatkan Spirit Pelayanan Para Katekis di Paroki St. Yusuf Ambarawa Keuskupan Agung Semarang 1. Latar Belakang Kegiatan Pada zaman sekarang katekis semakin sulit menghayati pelayanannya. Di zaman yang modern seperti sekarang ini, terdapat banyak arus besar zaman yang sangat kompleks. Dunia menawarkan banyak kemudahan dan kenikmatan yang apabila tidak disikapi dengan bijaksana dapat mengganggu intimitas katekis dengan Allah. Terkadang katekis secara tidak sadar hanyut dalam arus besar zaman ini. Maka dari itu katekis perlu mendapatkan pembinaan khusus supaya dapat semakin bersemangat, semakin menghayati dan meningkatkan kualitas pelayanannya. Fokus pembinaan katekis ini adalah meningkatkan spirit dan kualitas pelayanan katekis dengan mengajak para katekis untuk menjadi semakin cerdas, tangguh dan misioner. Semangat muncul dari keinginan atau kecintaan yang kuat terhadap sesuatu. Semua bidang pekerjaan tentunya membutuhkan semangat sebagai penggeraknya. Orang yang tidak punya spirit atau semangat dalam bekerja akan menjadi malas dalam bekerja, tidak nyaman bekerja, ingin cepat pulang ketika bekerja, tidak punya keinginan untuk memberikan yang terbaik, mudah menyerah dan perhitungan dalam melakukan pekerjaannya. Pelayanan katekis pun membutuhkan spirit atau semangat sebagai penggeraknya. Pelayanan katekis membutuhkan keinginan atau kecintaan yang kuat terhadap Tuhan dan sesama serta keinginan untuk menghadirkan keselamatan. Dengan spirit seperti itu, katekis menjadi pribadi yang sungguh melayani dengan kerelaan hati, cinta, serta dedikasi dan loyalitas yang tinggi. Tak jarang manusia

(126) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 106 menjadi semakin terseret semakin jauh ke dalam arus perkembangan zaman. Katekis pun tidak luput pada efek arus perkembangan zaman sekarang. Mereka menjadi semakin kesulitan menghayati panggilan mereka. Dunia menawarkan banyak sekali hal yang menyenangkan dan menggiurkan. Maka dari itu arus perkembangan zaman sekarang menjadi tantangan tersendiri bagi pelayanan katekis. Katekis harus tahu batasan dalam mengikuti perkembangan zaman ini, jangan sampai menjadi terlena dan kehilangan intimitas dengan Allah. Dengan begitu maka spirit atau semangat katekis dalam melayani akan semakin melemah. Dalam iman dan pelayanannya, katekis diharapkan dapat menjadi pribadi yang cerdas, tangguh dan misioner. Tugas katekis adalah mewartakan Kerajaan Allah khususnya dengan berkatekese. Penyelenggaraan katekese oleh Gereja selalu dipandang sebagai salah satu tugas yang amat penting. Sebelum Kristus naik menghadap Bapa-Nya sesudah kebangkitan-Nya, Ia menyampaikan perintah-Nya yang terakhir kepada para Rasul. Perintah itu adalah untuk menjadikan semua bangsa murid-murid-Nya dan mengajar mereka mematuhi segala sesuatu yang telah diperintahkan-Nya. Kepada mereka dipercayakan misi dan kuasa untuk mewartakan kepada umat manusia mengenai Sabda Kehidupan (CT 1). Karena katekese begitu penting, maka kualitas katekis pun juga menjadi sangat penting. Kongregasi Evangelisasi Bangsa-bangsa menekankan prinsip bahwa pilihan yang baik atas calon katekis merupakan hal yang sangat penting. Sejak awal harus ditetapkan suatu kualitas yang tinggi. Seorang katekis harus memenuhi tuntutan tugasnya, yang bertanggung jawab dan dinamis yaitu seorang katekis yang bekerja dengan penuh

(127) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 107 semangat dan sukacita di dalam tugas pelayanan yang diberikan kepadanya (CEP, 1997: 41). Dengan pentingnya tugas katekis dan tuntutan akan kualitas pribadi yang tinggi, maka diperlukan suatu pembinaan bagi katekis. Kongregasi Evangelisasi Bangsa-bangsa mengutip kata-kata Paus Yohanes Paulus II bahwa menetapkan standar yang tinggi berarti menyediakan suatu pendidikan dasar demi menyesuaikan kebutuhan zaman (CEP, 1997: 43). Agar tugas perutusannya dapat dilakukan dengan baik dan bertanggung jawab, perlu diupayakan aneka pembinaan yang berguna. Pembinaan ini menyangkut baik pengetahuan maupun keterampilan berpastoral agar pewartaannya sungguh berbobot dan dapat dipertanggung jawabkan (Prasetya, 2007: 53). Di samping pembinaan, para katekis juga perlu melakukan sharing pengalaman.Dalam pelayanannya setiap katekis memiliki pengalaman yang beragam. Para katekis dapat saling memperkaya iman dan pengetahuan mereka dengan saling berbagi pengalaman dan mungkin berdiskusi membicarakan permasalahan pastoral serta jalan keluarnya. Dalam bagian ini penulis memberi perhatian khusus pada Paroki St. Yusuf Ambarawa Keuskupan Agung Semarang karena paroki ini merupakan paroki asal penulis dan juga sebagai upaya pendampingan serta pembinaan bagi para katekis yang mengalami kesulitan dalam menghayati panggilan mereka karena semangat pelayanan yang melemah. Hal ini disebabkan karena katekis menghadapi banyak tantangan pelayanan terutama karena arus besar perubahan zaman. Upaya pembinaan dan pendampingan bagi katekis merupakan suatu hal

(128) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 108 yang penting, menjadi suatu keprihatinan di Paroki St. Yusuf Ambarawa. Hal ini dikarenakan wilayah paroki yang luas dan jumlah umat yang banyak menjadi kendala bagi pelayanan para pastor. Dengan begitu tenaga katekis sungguh dibutuhkan untuk membantu pastor dalam pelayanannya khususnya dalam hal katekese. Oleh karena itu untuk memenuhi kebutuhan pelayanan, Paroki St. Yusuf Ambarawa perlu mendidik dan membina para katekis. Berkaitan dengan para katekis, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh Paroki St. Yusuf Ambarawa. Pertama, dengan wilayah yang luas katekis profesional sangat sedikit dan katekis sukarelawan tentunya perlu diberikan pembinaan. Kedua, pengetahuan iman umat secara umum masih minim. Seringkali umat mudah terpengaruh hal-hal yang bertentangan dengan iman Kristiani. Ketiga, tantangan arus besar perkembangan zaman sekarang dapat menjadi sangat berpengaruh dalam hidup iman umat Katolik. Dengan beberapa hal ini, maka paroki perlu mengadakan pembinaan bagi para katekis. Seringkali katekis yang dihadapkan dengan banyak tantangan pelayanan, melemah semangat pelayanannya. Dengan situasi yang seperti itu, kualitas pelayanan katekis pun menurun dan umat yang dilayani juga pasti menerima dampaknya. Di sisi lain secara internal dari dalam diri katekis sendiri, seringkali katekis tetap mengalami pergulatan mengenai panggilannya. Maka dari itu penulis mengupayakan program rekoleksi sebagai upaya untuk meningkatkan spirit dan kualitas pelayanan para katekis dengan menjadi pribadi yang cerdas, tangguh dan misioner.

(129) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 109 Menjadi cerdas, tangguh dan misioner juga merupakan ajakan khususnya dari Keuskupan Agung Semarang bagi umat di keuskupan tersebut supaya mereka menjadi semakin ‘Katolik’. Karena katekis adalah fasilitator bagi umat yang berperan membantu umat dalam mendewasakan iman mereka, maka tentunya para katekis pun juga harus menjadi pribadi yang cerdas, tangguh dan missioner terlebih dahulu. 2. Pengertian Rekoleksi Rekoleksi dapat disebut juga sebagai gladi rohani. Rekoleksi dikaitkan dengan pengalaman dan harapan-harapan para peserta rekoleksi itu. Kata “rekoleksi” berasal dari dua kata yaitu “re” yang berarti kembali dan “koleksi” yang berarti mengumpulkan. Dengan demikian, rekoleksi berarti sebuah usaha untuk mengumpulkan kembali. Banyak hal yang bisa dikumpulkan. Namun secara khusus rekoleksi mengajak peserta untuk mengumpulkan kembali pengalamanpengalaman mereka akan kasih Allah. Pengalaman-pengalaman itu dihadirkan kembali, direnungkan, dimaknai dan diolah agar sungguh berguna bagi hidup selanjutnya. Rekoleksi atau gladi rohani adalah suatu latihan rohani yang ingin membantu orang untuk memperteguh imannya akan Kristus (Hartana, 2008: 12). Berdasarkan pengertian tersebut, maka rekoleksi dimaknai sebagai sebuah usaha untuk penyegaran rohani agar menjadi lebih dewasa dalam iman dan semakin dekat dengan Yesus Kristus. Dengan kegiatan rekoleksi, peserta diajak untuk mengumpulkan kembali peristiwa-peristiwa pengalaman akan kasih Allah di dalam hidupnya yang berserakan atau dibiarkan berlalu begitu saja tanpa

(130) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 110 direfleksikan. Dengan permenungan akan kasih Tuhan di dalam hidup, peserta diajak untuk menjadi semakin dewasa dalam iman dalam arti semakin mencintai Kristus. Rekoleksi yang baik adalah rekoleksi yang sungguh berdampak pada hidup seseorang terus-menerus sesuai dengan tema dan tujuan rekoleksi yang ingin dicapai. Dengan begitu, hidup seseorang berkembang menjadi semakin lebih baik. 3. Alasan Diadakan Kegiatan Rekoleksi Katekis sebagai pelayan katekese kepada umat harus senantiasa memiliki cinta kepada Allah dan sesama. Dalam pelayanannya katekis mendapatkan pengalaman yang menggembirakan dan juga sebaliknya. Seringkali katekis dihadapkan pada tantangan yang begitu banyak sehingga dapat mempersulit pelayanannya. Kesulitan ini tak jarang mengakibatkan melemahnya spirit pelayanan para katekis di zaman sekarang. Hal ini tak jarang membuat katekis putus asa dan mudah menyerah dalam melayani Allah dan sesama. Katekis juga dihadapkan pada realitas kemajemukan umat yang dilayaninya. Selain itu juga katekis juga melayani umat yang sama-sama dihadapkan pada pengaruh arus besar perkembangan zaman sekarang. Melalui kegiatan rekoleksi dan sekaligus senada dengan ajakan Keuskupan Agung Semarang, para katekis diajak untuk kembali mengingat pengalaman akan kasih Allah di dalam hidupnya serta memperbaiki dirinya supaya menjadi semakin cerdas, tangguh dan misioner. Di samping itu katekis juga diajak untuk mengoreksi diri supaya dapat merencanakan dan melakukan

(131) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 111 perbaikan terhadap pelayanan dan kualitas dirinya. Rekoleksi ini juga menjadi kesempatan bagi para katekis untuk saling berbagi pengalaman dengan harapan akan semakin memperkaya iman satu sama lain. Melalui rekoleksi ini, katekis kembali disegarkan semangatnya dalam melayani. Katekis juga mendapatkan inspirasi baru untuk semakin menjadi pribadi yang cerdas, tangguh dan misioner dalam melayani umat. 4. Tujuan Diadakan Rekoleksi Berdasarkan latar belakang situasi dan alasan dalam pemilihan program, tujuan diadakannya program rekoleksi ini adalah sebagai berikut: a. Memberikan kesempatan kepada para katekis untuk semakin menghayati panggilannya sebagai katekis. b. Mengajak para katekis untuk mengenali tantangan dan kesulitan dalam melayani serta mencari solusinya. c. Memberikan kesempatan kepada para katekis untuk semakin memaknai hidup doa. d. Mengajak para katekis untuk semakin memperdalam relasi dengannya Tuhan. e. Memberikan ruang bagi para katekis untuk memaknai pentingnya kualitas pribadi dan pelayanan mereka. f. Memberikan ruang kepada para katekis untuk saling memperkaya iman satu sama lain melalui sharing pengalaman peserta dan seluruh dinamika rekoleksi.

(132) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 112 g. Memberikan ruang kepada para katekis untuk membuat rencana sebuah aksi konkret demi menjadi pelayan yang bersemangat serta menjadi pribadi yang cerdas, tangguh dan misioner. 5. Gambaran Pelaksanaan Kegiatan Rekoleksi Kegiatan rekoleksi ini akan dilaksanakan di Rumah Retret Pangesti Wening yang beralamat di Jl. Mgr. Sugiyopranoto No. 58, Sumber, Panjang, Ambarawa, Kab. Semarang, Jawa Tengah 50614. Kegiatan rekoleksi direncanakan akan dilaksanakan hari Minggu, tanggal 27-28 Juli 2019 dengan jumlah peserta 24 orang yaitu seluruh katekis di Paroki St. Yusuf Ambarawa. Peserta diharapkan memberikan kontribusi sebesar Rp 50.000, 00 per orang. 6. Pemilihan Materi Dalam mempersiapkan kegiatan rekoleksi ini perlu diketahui terlebih dahulu siapa pesertanya, latar belakang peserta, kebutuhan dan permasalahan peserta. Dalam rekoleksi yang diusulkan oleh penulis, pesertanya adalah semua katekis di Paroki St. Yusuf Ambarawa baik yang profesional maupun sukarelawan. Dalam pelayanannya mereka menghadapi kesulitan dalam menghayati panggilannya. Berikut ini adalah materi sebagai usulan kegiatan rekoleksi: Tema : Pentingnya hidup doa demi menjadi katekis yang cerdas, tangguh dan misioner Tujuan Umum : Membantu para katekis supaya meningkatkan semangat

(133) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 113 untuk menjadi katekis yang cerdas, tangguh dan misioner melalui penghayatan hidup doa. Demi tercapainya tujuan tersebut, berikut ini adalah usulan materi selama pelaksanaan kegiatan rekoleksi: Materi 1 : Menggali dan Mendalami Pengalaman Hidup Katekis. Tujuan Khusus : Agar para katekis dapat mengingat kembali dan mensharingkan pengalamannya khususnya kesulitan dalam berdoa dan menjadi katekis yang cerdas, tangguh dan misioner. Materi 2 : Menjadi Cerdas, Tangguh dan Misioner Dengan Memaknai Hidup Doa. Tujuan Khusus : Agar para katekis mendapatkan pemahaman bagaimana memaknai hidup doa dan bagaimana menjadi cerdas, tangguh dan misioner menurut tradisi Gereja khususnya di Keuskupan Agung Semarang melalui pemaknaan akan hidup doa. Materi 3 : Menerapkan Pemaknaan Doa Demi Menjadi Katekis yang Cerdas, Tangguh dan Misioner dalam Situasi Konkret. Tujuan Khusus : Agar para katekis menemukan nilai hidup yang hendak diperkembangkan dari pemaknaan hidup doa dan tradisi kristiani yang dihubungkan dengan situasi konkret mereka. Materi 4 : Bagaimana Menjadi Katekis yang Cerdas, Tangguh dan

(134) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 114 Misioner Dengan Memaknai Hidup Doa? Tujuan Khusus : Membantu para katekis untuk mengusahakan suatu aksi konkret supaya semakin menjadi katekis yang cerdas, tangguh dan misioner melalui pemaknaan hidup doa.

(135) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 115 7. Matriks Usulan Materi Kegiatan Rekoleksi USULAN KEGIATAN REKOLEKSI Tema : Pentingnya hidup doa demi menjadi katekis yang cerdas, tangguh dan misioner Tujuan Umum : Membantu para katekis supaya meningkatkan semangat untuk menjadi katekis yang cerdas, tangguh dan misioner melalui penghayatan hidup doa. No Waktu Judul Pertemuan Tujuan Pertemuan Uraian Materi Metode Sarana Sumber Bahan Hari Pertama 1 16.30 – Pengantar Agar para peserta 17.00 dan Ice rekoleksi mengenal breaking pendamping rekoleksi dan juga sesama peserta 1. Perkenalan antar Dialog LCD 1. Naskah peserta dan juga interaktif, proyektor, persiapan pendamping. transfer laptop, rekoleksi informasi sound 2. Video Chicken

(136) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 116 rekoleksi. Selain itu 2. Penjelasan mengenai (ceramah), system, Dance : supaya peserta tujuan rekoleksi, materi tanya meja, https://www.you memahami tujuan rekoleksi, peraturan jawab kamera tube.com/watch rekoleksi, apa saja yang (tata tertib rekoleksi) ?v=4xmV5uHW akan dibahas selama dan jadwal acara Nag rekoleksi, peraturan (tata rekoleksi. tertib) selama acara rekoleksi serta jadwal 3. Ice breaking berupa acara rekoleksi. Setelah menarikan “Chicken itu peserta diajak untuk Dance” bersama-sama. menari dalam ice breaking supaya pikiran menjadi lebih segar dan siap untuk mengikuti sesi

(137) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 117 pertama dalam rekoleksi. 2 17.00 – Sesi I Agar para katekis dapat 19.00 Menggali mengingat kembali dan dan mensharingkan Mendalami pengalamannya Pengalaman 1. Sharing kesulitan Dialog LCD interaktif, proyektor, tentang catatan transfer laptop, peran penting menjadi katekis yang informasi sound karya pewartaan khususnya kesulitan cerdas, tangguh dan (ceramah), system, bagi tumbuhnya Hidup dalam berdoa dan misioner dalam tanya meja, dinamika KAS : Katekis menjadi katekis yang pelayanan selama ini. jawab kamera https://www.yo dalam berdoa 2. Sharing kesulitan 1. Video singkat cerdas, tangguh dan utube.com/watc misioner. h?v=zduEInYm 7jQ 2. Pengalaman para peserta (katekis) dalam

(138) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 118 pelayanan 3 19.30 – Sesi II Agar para katekis 1. Makna Hidup Doa Dialog LCD 21.30 Menjadi mendapatkan 2. Menjadi Katekis yang interaktif, proyektor, Gereja Katolik Cerdas, pemahaman bagaimana Cerdas, Tangguh dan transfer laptop, (KGK) Tangguh memaknai hidup doa dan Misioner informasi sound 2. Pai, Rex A. dan bagaimana menjadi (ceramah), system, (2003). Harta Misioner cerdas, tangguh dan tanya meja, Karun dalam Dengan misioner menurut tradisi jawab kamera Doa. (P. Memaknai Gereja khususnya di Dwiardy K. Hidup Doa Keuskupan Agung Penerjemah). Semarang melalui Yogyakarta : pemaknaan akan hidup Kanisius. doa. 1. Katekismus 3. Dewan Karya Pastoral KAS.

(139) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 119 (2014). Formatio Iman Berjenjang. Yogyakarta: Kanisius. 4. Kitab Suci Hari Kedua 4 07.30 – Sesi III 09.30 Menerapkan menemukan nilai hidup Pemaknaan Agar para katekis 1. Menghubungkan nilai Dialog LCD 1. Katekismus yang ditemukan dalam interaktif, proyektor, Gereja Katolik yang hendak sesi II dengan transfer, laptop, (KGK) Doa Demi diperkembangkan dari kehidupan konkret para tanya meja, 2. Pai, Rex A. Menjadi pemaknaan hidup doa peserta jawab kamera Katekis dan tradisi kristiani yang Karun dalam yang dihubungkan dengan Doa. (P. (2003). Harta

(140) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 120 Cerdas, situasi konkret mereka. Dwiardy K. Tangguh Penerjemah). dan Yogyakarta : Misioner Kanisius. dalam 3. Dewan Karya Situasi Pastoral KAS. Konkret (2014). Formatio Iman Berjenjang. Yogyakarta: Kanisius. 4. Pengalaman konkret peserta 5 10.00 – Sesi IV Membantu para katekis 1. Menemukan dan Dialog LCD 1. Katekismus

(141) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 121 12.00 Bagaimana untuk mengusahakan mendiskusikan aksi Menjadi suatu aksi konkret supaya Katekis interaktif, proyektor, Gereja Katolik konkret supaya menjadi transfer laptop, (KGK) semakin menjadi katekis katekis yang cerdas, informasi sound 2. Pai, Rex A. yang yang cerdas, tangguh dan tangguh dan misioner (ceramah), system, (2003). Harta Cerdas, misioner melalui bersama-sama. tanya meja, Karun dalam Tangguh pemaknaan hidup doa. jawab kamera, Doa. (P. dan alat tulis Dwiardy K. Misioner (kertas dan Penerjemah). Dengan pulpen) Yogyakarta : Memaknai Kanisius. Hidup Doa? 3. Dewan Karya Pastoral KAS. (2014). Formatio Iman

(142) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 122 Berjenjang. Yogyakarta: Kanisius. 4. Pengalaman dan refleksi peserta dalam melayani sebagai katekis.

(143) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 123 8. Contoh Persiapan Kegiatan Rekoleksi untuk Meningkatkan Spirit Pelayanan para Katekis di Paroki St. Yusuf Ambarawa Keuskupan Agung Semarang. REKOLEKSI KATEKIS Lokasi : Rumah Retret Pangesti Wening Tanggal : 27-28 Juli 2019 A. Konsep Dasar Tema : Menjadi katekis yang cerdas, tangguh dan misioner Tujuan : Membantu para katekis meningkatkan semangat untuk menjadi katekis yang cerdas, tangguh dan misioner. B. Dinamika Hari Pertama (27 Juli 2019) 15.00 – 16.30 : Tiba di tempat rekoleksi, minum dan persiapan 16.30 – 17.00 : Pengantar dan ice breaking 17.00 – 19.00 : Sesi I “Menggali dan Mendalami Pengalaman Hidup Katekis” 19.00 – 19.30 : Makan malam 19.30 – 21.30 : Sesi II “Menjadi Cerdas, Tangguh dan Misioner Dengan Memaknai Hidup Doa” 21.30 – 22.00 : Renungan malam 22.00 – … : Istirahat Hari Kedua (28 Juli 2019) 05.30 – 06.00 : Senam pagi 06.00 – 07.00 : Mandi

(144) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 124 07.00 – 07.30 : Sarapan 07.30 – 09.30 : Sesi III “Menerapkan Pemaknaan Doa Demi Menjadi Katekis yang Cerdas, Tangguh dan Misioner dalam Situasi Konkret” 09.30 – 10.00 : Snack 10.00 – 12.00 : Sesi IV “Bagaimana Menjadi Katekis yang Cerdas, Tangguh dan Misioner Dengan Memaknai Hidup Doa?” 12.00 – 13.00 : Misa penutup 13.00 – … : Makan siang, packing, sayonara C. Langkah-Langkah Dinamika Rekoleksi 1. Hari Pertama (27 Juli 2019) 15.30 – 16.30 : Tiba di tempat rekoleksi, minum dan persiapan  Peserta tiba di tempat rekoleksi kemudian minum (beristirahat) sebentar dan mempersiapkan diri (mandi dan lain sebagainya). 16.30 – 17.00 : Pengantar dan ice breaking a. Tujuan : - Agar peserta rekoleksi mengenal pendamping rekoleksi dan juga sesama peserta rekoleksi. - Agar peserta bersama-sama menentukan koordinator umum peserta rekoleksi.

(145) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 125 - Agar peserta memahami tujuan rekoleksi, apa saja yang akan dibahas selama rekoleksi, peraturan (tata tertib) selama acara rekoleksi, serta jadwal acara rekoleksi. - Membantu peserta agar disegarkan pikirannya dan siap untuk mengikuti sesi kedua dalam rekoleksi. b. Langkah I : - Peserta masuk ke ruangan untuk dinamika rekoleksi. Pendamping menyapa para peserta dan membuka acara dengan berdoa (dipimpin oleh pendamping). - Pendamping memperkenalkan dirinya kepada peserta kemudian pendamping mengajak peserta untuk memperkenalkan dirinya satu persatu. - Pendamping mengajak peserta untuk menentukan koordinator umum peserta rekoleksi. c. Langkah II : - Pendamping mengajak peserta untuk memahami maksud, tema, tujuan, materi-materi rekoleksi, peraturan (tata tertib) selama rekoleksi, dan jadwal acara rekoleksi. - Pendamping mempersilakan peserta apabila ingin bertanya dan apabila diperlukan, membuat kesepakatan bersama sehubungan dengan kelancaran kegiatan rekoleksi sesuai situasi dan kebutuhan peserta. d. Langkah III :

(146) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 126 - Pendamping mengajak peserta untuk bangkit berdiri dan mengatur jarak agar tidak terlalu berdekatan satu sama lain. - Pendamping menjelaskan kepada peserta dan mengajak mereka melakukan gerak dan lagu bersama-sama sebelum mulai masuk pada sesi II. - Pendamping memutar tayangan video “Chicken Dance” dan ikut menari bersama peserta. 17.00 – 19.00 : Sesi I “Menggali dan Mendalami Pengalaman Hidup jnjwnjkinjjknj k Katekis” a. Tujuan : - Membantu para peserta untuk mengingat kembali tugas dan peran mereka sebagai katekis sungguh sangat dibutuhkan dan sangat mulia. - Membantu para peserta untuk kembali mengingat pengalaman selama pelayanan mereka sebagai katekis khususnya dalam hal permasalahan atau kesulitan yang mereka hadapi dalam memaknai hidup doa serta untuk menjadi katekis yang cerdas, tangguh dan misioner. - Membantu para peserta untuk memperkaya pengetahuan mengenai kesulitan para katekis menjadi pribadi yang cerdas, tangguh dan misioner dengan mendengarkan sharing dari peserta lain.

(147) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 127 b. Langkah I : - Pendamping memutar video singkat tentang catatan peran penting karya pewartaan bagi tumbuhnya dinamika KAS dan mengajak peserta untuk mencermati video tersebut. - Pendamping menjelaskan video yang sudah ditonton. c. Langkah II : - Pendamping memberikan pertanyaan kepada para peserta untuk direnungkan kemudian disharingkan dalam kelompok kecil. - Pendamping membagi peserta menjadi empat kelompok. - Pendamping mempersilakan peserta untuk sharing dalam kelompok kecil dan mengingatkan supaya setiap kelompok memiliki juru bicara. d. Langkah III : - Pendamping mempersilakan juru bicara dalam setiap kelompok untuk mensharingkan pengalaman semua anggota kelompoknya dalam pleno secara bergiliran - Pendamping menginventarisasikan hasil sharing para peserta dalam powerpoint sambil ditayangkan. 19.00 – 19.30 : Makan malam  Peserta diarahkan untuk menuju ke ruang makan sesuai dengan peraturan dan kesepakatan bersama. 19.30 – 21.30 : Sesi II “Menjadi Cerdas, Tangguh dan Misioner Dengan dsdsa Memaknai Hidup Doa”

(148) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 128 a. Tujuan : - Memahami makna kekatolikan menurut formatio iman Keuskupan Agung Semarang yaitu cerdas, tangguh dan misioner. - Agar para katekis mendapatkan pemahaman bagaimana memaknai hidup doa dan bagaimana menjadi cerdas, tangguh dan misioner menurut tradisi Gereja khususnya di Keuskupan Agung Semarang melalui pemaknaan akan hidup doa. b. Langkah I : - Pendamping menyampaikan pengantar singkat untuk memulai sesi II. - Pendamping memberikan beberapa pertanyaan kepada para peserta. c. Langkah II : - Pendamping mempersilakan peserta untuk menjawab pertanyaan yang sudah diberikan di dalam pleno d. Langkah III : - Pendamping memberikan pemahaman mengenai pemaknaan hidup doa - Pendamping memberikan pemahaman mengenai cerdas, tangguh dan misioner.

(149) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 129 21.30 – 22.00 : Renungan malam  Pendamping mengajak peserta untuk doa malam dan pendamping memberikan renungan malam kepada para peserta sebelum beristirahat.  Selesai renungan malam, pendamping mempersilakan peserta untuk beristirahat dan mengingatkan kembali tentang acara besok secara sekilas. 22.00 – … : Istirahat  Peserta beristirahat di kamar masing-masing.  Semua peserta menjaga keheningan dan menghormati peserta lain yang ingin berkonsentrasi mengarahkan hatinya kepada Tuhan di dalam keheningan malam. 2. Hari Kedua (28 Juli 2019) 05.30 – 06.00 : Senam pagi  Semua peserta menuju tempat untuk senam pagi. 06.00 – 07.00 : Mandi dan persiapan pribadi  Peserta dan pendamping mempersiapkan diri. 07.00 – 07.30 : Sarapan  Pendamping dan peserta menikmati sarapan bersama-sama dan berdoa secara pribadi.

(150) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 130 07.30 – 09.30 : Sesi III “Menerapkan Pemaknaan Doa Demi Menjadi csdfsdasfsasasfa Katekis yang Cerdas, Tangguh dan Misioner dalam Situasi Konkret” safdsfdfdg a. Tujuan : - Membantu para peserta untuk melihat kembali bagaimana cerdas, tangguh dan misioner berhubungan dengan situasi konkret selama ini. - Agar para katekis menemukan nilai hidup yang hendak diperkembangkan dari pemaknaan hidup doa dan tradisi kristiani yang dihubungkan dengan situasi konkret mereka. b. Langkah I : - Pendamping memberikan pengantar untuk masuk pada sesi III - Pendamping mempersilakan para peserta untuk merefleksikan poin-poin penting dari bagaimana pemaknaan hidup doa menghantarkan seseorang menjadi cerdas, tangguh dan misioner dihubungkan dengan kenyataan hidup konkret mereka. - Pendamping membagi peserta dalam empat kelompok dan mengajak peserta untuk menentukan juru bicara kelompoknya. - Pendamping mengajak peserta supaya memilih juru bicara dalam kelompoknya untuk mensharingkan hasil refleksi para anggota kelompok dalam pleno.

(151) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 131 c. Langkah II : - Pendamping mempersilakan peserta untuk mensharingkan jawaban atas pertanyaan yang telah diberikan pendamping dalam kelompok kecil. - Pendamping mengarahkan peserta untuk pleno. d. Langkah III : - Pendamping mempersilakan setiap juru bicara kelompok secara bergiliran menyampaikan hasil sharing setiap hasil sharing anggota kelompoknya. - Pendamping menginventarisasikan dalam powerpoint yang ditayangkan kepada peserta. 09.30 – 10.00 : Snack  Pendamping dan peserta menikmati bersama snack dan minuman. 10.00 – 12.00 : Sesi IV “Bagaimana Menjadi Katekis yang Cerdas, dszgsgzdg Tangguh dan Misioner Dengan Memaknai Hidup efdzfdzd Doa?” a. Tujuan : - Membantu para katekis untuk mengusahakan suatu aksi konkret supaya semakin menjadi katekis yang cerdas, tangguh dan misioner melalui pemaknaan hidup doa. b. Langkah I : - Pendamping memberikan pengantar untuk masuk sesi IV

(152) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 132 - Pendamping memberikan waktu kepada peserta untuk memikirkan dan merenungkan aksi konkret apa yang bisa mereka lakukan untuk bisa menjadi katekis yang cerdas, tangguh, dan misioner (niat pribadi dan bersama). c. Langkah II : - Pendamping membagi peserta dalam empat kelompok dan mengajak peserta untuk menentukan juru bicara pada setiap kelompok. - Pendamping memberikan kertas kepada setiap peserta untuk menuliskan aksi konkret berupa komitmen bagi dirinya sendiri. - Pendamping mengajak peserta untuk mengoper kertasnya bergantian pada anggota kelompoknya untuk diberikan tanggapan, masukan dan dukungan. d. Langkah III : - Pendamping mengajak peserta untuk menentukan aksi konkret bersama dalam setiap kelompok. - Pendamping mempersilakan juru bicara kelompok untuk menyampaikan hasil diskusi aksi konkret bersama mereka dalam kelompok. - Pendamping menginventarisasikan usulan aksi konkret dari setiap kelompok. - Pendamping mengajak seluruh peserta untuk menentukan aksi konkret mana yang akan mereka lakukan bersama.

(153) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 133 12.00 – 13.00 : Misa penutup  Pendamping dan peserta mengikuti Misa penutupan rekoleksi. 13.00 – … : Makan siang, persiapan, dan pulang  Peserta dan pendamping bersama-sama menikmati makan siang. Doa makan dilakukan secara pribadi.  Pendamping dan peserta bersiap untuk pulang.

(154) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 134 BAB V PENUTUP Hasil dari penulisan skripsi ini penting untuk dipelajari oleh para katekis untuk meningkatkan dan memantapkan spirit pelayanan mereka di zaman ini. Oleh karena usaha mencapai maksud dan tujuan penulisan skripsi ini, maka pembahasan dari bab II hingga bab IV berisikan hal-hal yang cukup menarik untuk dipelajari, direnungkan dan direfleksikan oleh para katekis. Dalam beberapa bab tersebut, dipaparkan makna hidup doa serta tantangan dan pelayanan katekis. Inspirasi spirit pelayanan katekis yang dimaknai dari hidup doa juga telah dibahas dalam bab IV. Oleh karena itu, pada bab V ini penulis akan menarik kesimpulan yang sekiranya dapat memudahkan pembaca untuk memahami isi dari skripsi ini. Dalam bagian ini, juga dimuat beberapa saran untuk memanfaatkan skripsi ini dan juga untuk meningkatkan spirit pelayanan katekis di zaman sekarang. A. Kesimpulan Pada zaman sekarang pelayanan katekis menjadi semakin sulit untuk dijalani karena muncul tantangan-tantangan yang terutama datang dari arus besar perubahan zaman. Hal ini dapat melemahkan spirit atau semangat para katekis dalam melayani. Hal ini juga dapat menyebabkan relasi dengan Tuhan menjadi semakin dangkal. Mengingat tugas dan peranan katekis yang begitu penting demi kehidupan Gereja, maka hal ini harus disikapi dengan serius. Baik keuskupan maupun paroki harus mengupayakan pembinaan terus-menerus kepada katekis

(155) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 135 supaya terus memiliki spirit dalam pelayanannya dan juga menjadi semakin mampu menyesuaikan dengan perkembangan zaman. Dari dalam diri katekis sendiri, katekis juga harus berupaya membangun relasi yang mendalam dengan Tuhan. Upaya membangun relasi yang mendalam dengan Tuhan dapat dilakukan melalui pemaknaan hidup doa. Dalam memaknai hidup doa, katekis dapat memiliki relasi yang mendalam dengan Allah. Ketika kita berdoa, sejatinya kita menanggapi panggilan Allah untuk membangun relasi yang mendalam. Dalam pemaknaan hidup doa, tentunya katekis harus terus berdoa dengan intensif supaya dapat memiliki kedewasaan iman. Doa sungguh bermakna apabila dilakukan terus-menerus dan dipandang sebagai sebuah kebutuhan. Dengan terus berdoa, katekis menimba kekuatan di dalam hidupnya supaya tidak mudah putus asa dalam menghadapi masalah. Dengan memaknai hidup doa, katekis juga belajar untuk berdoa dan berbuat demi kepentingan banyak orang. Dengan begitu, katekis mulai meninggalkan sikap egosentris. Dari sini jugalah katekis menjadi pribadi yang sungguh bersemangat dalam melayani karena pelayanannya didasarkan pada cinta akan Tuhan dan sesamanya. Dengan memaknai hidup doa yang sungguh mendalam, katekis menjadi pribadi yang sungguh beriman dengan cerdas, tangguh dan misioner. Dalam hidup dan pelayanannya, iman katekis sungguh dewasa sehingga bisa ia pertanggungjawabkan dengan benar. Beriman dengan cerdas juga ditunjukkan katekis ketika ia pandai memperhitungkan keadaan dan siap mengatasi tantangan yang ada. Dengan memaknai hidup doa, iman katekis menjadi semakin tangguh.

(156) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 136 Ia menjadi pribadi yang tangguh dalam menghadapi pergulatan hidup, tidak mudah goyah imannya, tidak mudah berputus asa, lebih mampu dalam menghadapi tantangan pelayanannya. Dengan memaknai hidup doa, seorang katekis menjadi pribadi yang berpengharapan. Dengan memiliki harapan maka seorang katekis memiliki impian akan hal baik yang terjadi di masa depan. Dalam harapan katekis tidak hanya mengandalkan permohonan kepada Allah namun juga berbuat melakukan sesuatu untuk mencapai harapan itu. Pemaknaan hidup doa memunculkan semangat pelayanan katekis melalui kasih. Dengan memaknai hidup doa, katekis semakin menjadi pribadi yang penuh kasih. Karena Allah sendiri adalah kasih dan katekis adalah alat yang dipakai Allah untuk menyelamatkan umat-Nya, maka kasih menjadi amat penting dimiliki katekis. Dengan pribadi dan perilaku yang penuh kasih, maka katekis juga mampu menjadi perantara dalam menghadirkan kasih Allah bagi sesama. Katekis yang sungguh memaknai hidup doa, akan sungguh mencintai Tuhan. Dengan cinta itu ia menjadi pribadi yang penuh kasih dan dewasa dalam iman. Dengan begitu pula, katekis dapat semakin peka merasakan kehadiran Allah di dalam hidupnya. Dalam berkatekese, hendaknya katekis tidak hanya berceramah soal teori saja. Ia perlu memiliki keutuhan dan keaslian hidup, yakni sungguh mengalami cinta kasih Allah di dalam hidupnya. Apa yang Ia wartakan adalah pengalamannya akan kasih Allah.

(157) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 137 B. Saran Penulis menyadari bahwa skripsi ini bukanlah sebuah hasil karya yang sempurna. Penulis menyadari adanya kekurangan dan keterbatasan dalam penulisan skripsi ini. Misalnya pembahasan mengenai Yesus Kristus sebagai teladan pendoa di bab II yang mungkin masih belum begitu lengkap. Oleh karena itu, penulis menyarankan kepada pembaca agar juga membaca buku-buku tentang Yesus Kristus khususnya sebagai teladan pendoa. Hal ini agar para pembaca memperoleh pengetahuan yang lebih banyak yang mungkin tidak dituliskan dalam skripsi ini. Selain itu penulis memberikan saran kepada beberapa pihak, di antaranya: 1. Penulis memberikan saran kepada Romo Paroki St. Yusuf Ambarawa Keuskupan Agung Semarang supaya berkenan memberikan pengayaan berupa rekoleksi untuk umat di setiap wilayah tentang doa. Selain berguna bagi katekis, tentunya penghayatan atau pemaknaan hidup doa sangat dibutuhkan oleh umat. 2. Apabila usulan kegiatan yang penulis usulkan sudah digunakan dan dimanfaatkan sebaik-baiknya serta dilaksanakan, penulis memberikan saran kepada ketua seksi pewartaan paroki St. Yusuf Ambarawa Keuskupan Agung Semarang supaya berkenan menindaklanjuti kegiatan rekoleksi katekis dengan peningkatan spiritualitas katekis. Rekoleksi yang mendorong para katekis untuk menjadi pribadi yang cerdas, tangguh, dan misioner tidak hanya cukup diberikan sekali. Sangat perlu tindak lanjut berupa kegiatan rutin yang

(158) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 138 dapat terus menginspirasi para katekis untuk meningkatkan kualitas diri dan pelayanan mereka. 3. Penulis juga memberikan saran kepada para katekis di mana pun mereka berada supaya mau sungguh-sungguh memaknai hidup doa untuk meningkatkan semangat pelayanan dan juga kualitas pribadi mereka. Bagi katekis yang hendak menjadi pendamping kegiatan rekoleksi, penulis sarankan supaya selalu merancang kegiatan rekoleksi dengan menyesuaikan kebutuhan katekis di tempat ia melayani. Hal ini sangat perlu bagi para katekis baik yang mendampingi maupun yang didampingi dalam rekoleksi supaya pelayanan mereka bagi umat sungguh kontekstual dan sesuai dengan kebutuhan umat di zaman sekarang.

(159) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 139 DAFTAR PUSTAKA Bagiyowinadi, FX. Didik. (2012). Identitas dan Spiritualitas Seorang Katekis (online). (http://www.imankatolik.or.id/identitas_dan_spiritualitas_seorang_katekis.ht ml, diakses 23 April 2018). Ballester, Mariano. (1986). Dahaga Akan Allah. (A. Widyamartaya. Penerjemah). Yogyakarta: Kanisius. Barry, William A. (2002). Apa yang Kuinginkan dalam Doa?. (W. Bait. Penerjemah). Jakarta: Obor. Bavel, T. J. van. (2011). Hatiku Merindukan Allah. (L. Prasetya. Penerjemah). Yogyakarta: Kanisius. Darminta, J. (1981). Doa Berdoa. Yogyakarta: Kanisius. _________. (1983). Tuhan Ajarlah Kami Berdoa. Yogyakarta : Kanisius. _________. (2002, Desember, No 57). Imamat Pelayanan Imam di Hadapan Kesadaran akan Pelayanan. Majalah Melintas h. 81-98. Dewan Karya Pastoral KAS. (2014). Formatio Iman Berjenjang. Yogyakarta: Kanisius. _________. (2018). Direktorium Formatio Iman Keuskupan Agung Semarang. Yogyakarta: Kanisius. de Mello, Anthony. (1980). Sadhana. Yogyakarta: Kanisius. Fuellenbach, John. (2004). Mewartakan Kerajaan Allah. (P. Yuliadi. Penerjemah). Ende: Nusa Indah. Gerrit Singgih, Emanuel. (1997). Reformasi dan Transformasi Pelayanan Gereja. Yogyakarta: Kanisius. Green, Thomas H. (1998). Bimbingan Doa. Yogyakarta: Kanisius. Grun, Anselm. (1985). Doa dan Mengenal Diri (Cyprianus Verbeek, penerjemah). Yogyakarta : Kanisius (dokumen asli diterbitkan tahun 1979). Gunadi, F.X. Agus Suryana & I. Suharyo. (1998). Datanglah Kerajaan-Mu. Yogyakarta: Kanisius. Gusti Kusumawanto. (2018). Berdoa dengan Benar Secara Katolik (online). (http://www.katolisitas.org/berdoa-dengan-benar-secara-katolik/, diakses 20 Oktober 2018). Hardjana, Agus M. (2005). Religiositas, Agama & Spiritualitas. Yogyakarta : Kanisius. Hartana, Albert dan tim. (2008). 11 Langkah Menuju Pribadi Unik, Cerdas, Solider, dan Beriman. Yogyakarta: Kanisius. Hayford, Jack. (2005). Doa Mengalahkan Kemustahilan. Yogyakarta: Kanisius. Hendro Budiyanto, ST. (2011). Menjadi Katekis Volunter. Yogyakarta : Kanisius. Heryatno Wono Wulung. (2018). Belajar Mewartakan Kabar Gembira dari Cara Yesus Sang Guru Sejati (Menjadi Katekis Handal di Zaman Sekarang. Ignatius L. Madya Utama. Editor). Yogyakarta: Kanisius. Heuken, Adolf. (2016). Doa Bapa Kami menurut S. Teresa dari Avila. Jakarta: Cipta Loka Caraka.

(160) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 140 Hutabarat, P. Rafael. (1981). Berkatekese. Yogyakarta : Kanisius. Jacobs, Tom. (2004). Teologi Doa. Yogyakarta: Kanisius. John Paul II. (1998). Fides et Ratio (online). (http://w2.vatican.va/content/johnpaul-ii/en/encyclicals/documents/hf_jp-ii_enc_14091998_fides-et-ratio.html, diakses 25 Oktober 2018). Kelly, Douglas F & Kelly, Caroline S. (2003). Jika Allah Sudah Tahu, Mengapa Masih Berdoa. Jakarta : BPK Gunung Mulia. Komisi Kateketik KWI. (1997). Pedoman untuk Katekis. Yogyakarta : Kanisius. _________. (2000). Petunjuk Umum Katekese. Jakarta: Departemen Dokumentasi dan Penerangan KWI. _________. (2005). Identitas Katekis di Tengah Arus Perubahan Jaman. Jakarta: Komisi Kateketik KWI. Konferensi Waligereja Indonesia. (1996). Iman Katolik. Yogyakarta : Kanisius. Konsili Vatikan II. “Anjuran Apostolik Sri Paus Yohanes Paulus II tentang Penyelenggaraan Katekese” (Catechesi Tradendae) terj. R. Hardawiryana SJ. Jakarta : Departemen Dokumentasi dan Penerangan KWI – Obor 2011. Krispurwana Cahyadi, T. (2003). Jalan Pelayanan Ibu Teresa. Yogyakarta: Kanisius. Laplace, Jean. (1984). Doa Menurut Kitab Suci. (J. Darminta. Penerjemah). Yogyakarta: Kanisius. Liberia Editrice Vaticana @ 2005. (2009). Kompendium Katekismus Gereja Katolik. (Harry Susanto. Penerjemah). Yogyakarta: Kanisius. _________. (2011). Kompendium (Ikhtisar) Katekismus Gereja Katolik. (Paskalis Edwin N. P. Penerjemah). Malang: Dioma. Nouwen, Henri J.M. (1986). Pelayanan yang Kreatif. Yogyakarta: Kanisius. Pai, Rex A. (2003). Harta Karun dalam Doa. (P. Dwiardy K. Penerjemah). Yogyakarta : Kanisius. Prasetya, L. (2007). Panduan Tim Kerja Pewartaan Paroki. Yogyakarta : Kanisius. Provinsi Gerejani Ende. (1995). Katekismus Gereja Katolik. (P. Herman Embuiru. Penerjemah). Ende: Percetakan Arnoldus. (Dokumen asli diterbitkan tahun 1993). Rausch, Thomas P. (2001). Katolisisme: Teologi Bagi Kaum Awam. (Agus M. Hardjana. Penerjemah). Yogyakarta: Kanisius. Rochadi Widagdo. (2003). Meditasi itu Keheningan. Yogyakarta: Kanisius. Ruben Hetu, Inocencs. (2007). Latihan Doa Teresiana. Yogyakarta: Kanisius. Supama, Marcus Leonhard. (2012). Panduan Katekis Volunter.Yogyakarta: Kanisius. Tondowidjojo T, John. (2012). Sosrokartono dan Spiritualitas dari Abad ke Abad. Surabaya: Yayasan Sanggar Bina Tama. Trust, Bede Griffiths. (2007). Meditasi Kristiani dan Ciptaan Baru dalam Kristus. (Siriakus Maria Ndolu. Penerjemah). Malang: Dioma. Wellem, F. D. (2003). Riwayat Hidup Singkat Tokoh-Tokoh dalam Sejarah Gereja. Jakarta: Gunung Mulia. Yan Olla, Paulinus. (2008). Dipanggil Menjadi Saksi Kasih. Yogyakarta: Kanisius.

(161) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 141 Yosef Lalu. (2007). Katekese Umat. Jakarta: Komisi Kateketik KWI. Youcat English @ 2010. (2012). Youcat Katekismus Populer. (R. D. Yohanes Dwi H., dkk. Penerjemah). Yogyakarta: Kanisius. Youcat Firmbuch @ 2012. (2014). Youcat Katekismus Sakramen Penguatan. (Krispurwana Cahyadi. Penerjemah). Yogyakarta: Kanisius.

(162)

Dokumen baru

Download (161 Halaman)
Gratis

Tags

Dokumen yang terkait

MAKNA HIDUP WARIA
0
31
2
MEMAHAMI MAKNA DIKABULKANNYA DOA
0
3
2
ANALISIS BENTUK MUSIK DAN MAKNA SIMBOLIK LAGU SULUK ZAMAN AKHIR
0
0
29
PESAN SKRIPSI SEKARANG DENGAN HARGA SANG
0
1
4
KATEKIS DAN PASTORAL LINGKUNGAN HIDUP
0
0
10
SUMBANGAN SPIRITUALITAS SANTO VINSENSIUS A PAULO BAGI PELAYANAN KATEKIS DI PAROKI TAMIANG LAYANG
0
0
25
PROSES PENCARIAN MAKNA HIDUP PADA WARIA ODHA (ORANG DENGAN HIVAIDS) SKRIPSI
0
0
13
HIDUP MENGGEREJA KONTEKSTUAL SEBAGAI UPAYA MENGHAYATI HIDUP BERIMAN KRISTIANI DI INDONESIA MASA KINI SKRIPSI
0
0
141
SEJARAH PANJANG JIMAT DI KERATON KANOMAN DAN PERKEMBANGANNYA DARI ZAMAN DAHULU HINGGA SEKARANG - IAIN Syekh Nurjati Cirebon
0
0
26
KEPEMIMPINAN KEGEMBALAAN YESUS DALAM INJIL YOHANES 10:11-15 SEBAGAI MODEL KEPEMIMPINAN PARA FRATER KONGREGASI FRATER BUNDA HATI KUDUS DI INDONESIA DALAM KEHIDUPAN DI ZAMAN SEKARANG
0
0
206
TANTANGAN EVANGELISASI ZAMAN SEKARANG UNTUK KAUM AWAM DI WILAYAH BUSUR PAROKI KRISTUS RAJA BARONG TONGKOK KEUSKUPAN AGUNG SAMARINDA KALIMANTAN TIMUR SKRIPSI
0
0
193
USAHA MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERKATEKESE UMAT BAGI PARA KATEKIS SUKARELA DI PAROKI KELUARGA SUCI TERING KEUSKUPAN AGUNG SAMARINDA SKRIPSI
0
0
151
PENGOLAHAN KEDEWASAAN BERKOMUNIKASI SEBAGAI SARANA HIDUP BERKOMUNITAS PARA SUSTER ABDI KRISTUS SKRIPSI
0
0
160
SPIRITUALITAS PELAYANAN IBU TERESA DARI KALKUTA SEBAGAI TELADAN BAGI KATEKIS DALAM MEWUJUDKAN SEMANGAT PELAYANAN BAGI KAUM MISKIN SKRIPSI
0
0
135
DESKRIPSI PENGHAYATAN DOA ROSARIO DALAM KEHIDUPAN DOA UMAT DI PAROKI SANTO STEFANUS PURWOSARI, PURWOREJO, JAWA TENGAH SKRIPSI
0
0
192
Show more