Hubungan antara pengetahuan dan sikap mengenai obat tradisional dan obat modern terhadap tindakan pemilihan obat pada pengobatan mandiri di kalangan mahasiswa Universitas Sanata Dharma Yogyakarta - USD Repository

Gratis

0
2
139
7 months ago
Preview
Full text
(1)PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI HUBUNGAN ANTARA PENGETAHUAN DAN SIKAP MENGENAI OBAT TRADISIONAL DAN OBAT MODERN TERHADAP TINDAKAN PEMILIHAN OBAT PADA PENGOBATAN MANDIRI DI KALANGAN MAHASISWA UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S.Farm) Program Studi Ilmu Farmasi Oleh: Eva Cristiana NIM : 108114144 FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2014

(2) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI HUBUNGAN ANTARA PENGETAHUAN DAN SIKAP MENGENAI OBAT TRADISIONAL DAN OBAT MODERN TERHADAP TINDAKAN PEMILIHAN OBAT PADA PENGOBATAN MANDIRI DI KALANGAN MAHASISWA UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S.Farm) Program Studi Ilmu Farmasi Oleh: Eva Cristiana NIM : 108114144 FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2014 i

(3) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Pengesahan Skripsi Berjudul HUBUNGAN ANTARA PENGETAHUAN DAN SIKAP MENGENAI OBAT TRADISIONAL DAN OBAT MODERN TERHADAP TINDAKAN PEMILIHAN OBAT PADA PENGOBATAN MANDIRI DI KALANGAN MAHASISWA UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA Oleh : Eva Cristiana NIM : 108114144 Dipertahankan di hadapan Panitia Penguji Skripsi Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Pada tanggal : .......................... Mengetahui, Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Dekan ii

(4) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI …………………………….. iii

(5) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI PERSEMBAHAN “Pelaut Hebat tidak akan lahir di laut yang tenang Orang-orang hebat tidak akan lahir di situasi tanpa tantangan dan cobaan” (Jamil Azzaini) “jika anda menjumpai jalan hidup yang tidak mempunyai hambatan, mungkin saja anda tidak menuju kemanapun” (Frank A. Clark) “Janganlah kamu khawatir tentang apapun, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginan kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur”. (Filifi 4: 6) Kupersembahkan karya kecilku ini untuk: Jesus Christ Papah dan Mamah tercinta Keluarga besar dan Teman-temanku Almamater yang ku banggakan iv

(6) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma : Nama : Eva Cristiana Nomor Mahasiswa : 108114144 Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul : HUBUNGAN ANTARA PENGETAHUAN DAN SIKAP MENGENAI OBAT TRADISIONAL DAN OBAT MODERN TERHADAP TINDAKAN PEMILIHAN OBAT PADA PENGOBATAN MANDIRI DI KALANGAN MAHASISWA UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA Dengan demikian saya memberikan kepada Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengelolanya dalam bentuk pangkalan data, mendistribusikan secara terbatas, mempublikasikannya di internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta ijin dari saya maupun memberikan royalti kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis. Dengan demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya, Dibuat di Yogyakarta Pada tanggal : 10 September 2014 Yang menyatakan, (Eva Cristiana) v

(7) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI PERNYATAAN KEASLIAN KARYA Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka sebagaimana layaknya karya ilmiah. Apabila di kemudian hari ditemukan indikasi plagiarisme dalam naskah ini, maka saya bersedia menanggung segala sanksi sesuai peraturan perundangundangan yang berlaku. Yogyakarta, 10 September 2014 Penulis Eva Cristiana vi

(8) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI PRAKATA Segala puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala berkat dan kasih karunia-Nya dalam penelitian dan penyusunan skripsi yang berjudul “Hubungan antara Pengetahuan dan Sikap Mengenai Obat Tradisional dan Obat Modern terhadap Tindakan Pemilihan Obat pada Pengobatan Mandiri Di Kalangan Mahasiswa Universitas Sanata Dharma Yogyakarta” sehingga dapat diselesaikan dengan baik dan tepat waktu. Skripsi ini disusun sebagai salah satu syarat untuk meraih gelar Sarjana Farmasi (S.Farm) di Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Dalam proses penyelesaian skripsi ini, banyak kendala yang dihadapi penulis. Akan tetapi, di tengah kesulitan tersebut penulis mendapat dukungan, bimbingan, kritik dan saran dari berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada : 1. Ibu Aris Widayati, M.Si., Ph.D., Apt selaku Dekan Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma dan sebagai Dosen Pembimbing atas kebijaksanaan, perhatian, kesabaran serta waktu, tenaga, dan pikiran dalam membimbing penyusunan skripsi ini. 2. Prof. Dr. C. J. Soegihardjo, Apt selaku Dosen Penguji yang telah memberikan saran dan kritik yang membangun dalam penyusunan skripsi ini. vii

(9) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 3. Ipang Djunarko, M.Sc., Apt selaku Dosen Penguji yang telah memberikan saran dan kritik yang membangun dalam penyusunan skripsi ini. 4. Ibu Dr. Sri Hartati Yuliani, M.Si., Apt selaku Ketua Program Studi Farmasi sekaligus Ketua Tim Panitia Skripsi Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma. 5. Ibu Dra. Th. B. Titien Siwi Hartayu, Apt atas perhatian, pengarahan, masukan, kritik, saran, dan kesabarannya dalam membimbing penyusunan skripsi ini. 6. Seluruh dosen dan staf karyawan fakultas farmasi yang telah mendukung dan memberikan ilmu kefarmasian serta membentu dalam proses penyelesaian skripsi ini. 7. Papah dan mamah tercinta yang selalu memberikan cinta dan kasih sayang yang tak terhingga. 8. Sahabat-sahabat ku sejak SMA Rina, Vina, Nata, Topo, Tya yang selalu memberikan semangat dan dukungannya. 9. Antonius Yuberto yang selalu memberikan semangat, motivasi dan perhatian dari awal hingga skripsi ini dapat selesai. 10. Teman-teman angkatan 2010, khususnya FKK B dan FSM D 2010 11. Teman-teman terkasih yang telah membantu: Titie, Tari, There, Mirsha, Anna Pransiska. Teman-teman kost putri Wisma Ananda, teman-teman perantauan dari Kalimantan Tengah: Andika, Ori, Evan. viii

(10) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Terima kasih atas dukungan dan kebersamaan yang telah dilewati bersama-sama. 12. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu, yang telah membantu dan memberikan dukungan dalam penelitian ini . Penulis menyadari bahwa skripsi ini jauh dari sempurna. Oleh karena itu, penulis menerima segala ktitik dan saran yang bersifat membangun demi sempurnanya skripsi ini. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat dan memberikan informasi kepada pembaca. Yogyakarta, 10 September 2014 Penulis Eva Cristiana ix

(11) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL .............................................................................. i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ..................................... ii HALAMAN PENGESAHAN……………………………………... ..... iii HALAMAN PERSEMBAHAN ............................................................. iv HALAMAN PERSETUJUAN PUBLIKASI………………………. ..... v PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ................................................. vi PRAKATA .............................................................................................. vii DAFTAR ISI .......................................................................................... x DAFTAR GAMBAR ............................................................................. xiv DAFTAR TABEL .................................................................................. xv DAFTAR LAMPIRAN ........................................................................... xvi INTISARI ............................................................................................... xvii ABSTRACT ............................................................................................. xviii BAB I. PENGANTAR .......................................................................... 1 A. Latar Belakang .................................................................................. 1. Permasalahan .............................................................................. 2. Keaslian penelitian ...................................................................... 3. Manfaat penelitian ...................................................................... B. Tujuan Penelitian .............................................................................. 1. Tujuan umum .............................................................................. 2. Tujuan khusus ............................................................................. 1 3 4 6 7 7 7 BAB II. PENELAAHAN PUSTAKA .................................................. 8 A. Pengobatan Mandiri .................................................................... B. Penggunaan Obat dalam Pengobatan Sendiri ............................. 1. Obat ....................................................................................... a. Obat bebas ....................................................................... b. Obat bebas terbatas ......................................................... c. Obat wajib apotek (OWA) .............................................. d. Obat tradisional ............................................................... C. Perilaku Swaedikasi (Pengetahuan, Sikap dan Timdakan) ......... x 8 9 9 9 10 11 12 14

(12) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 1. Pengetahuan .......................................................................... 2. Sikap ..................................................................................... 3. Tindakan .............................................................................. D. Landasan Teori ............................................................................ E. Hipotesis ..................................................................................... 14 16 16 16 17 BAB III. METODE PENELITIAN .................................................... 19 A. B. C. D. E. F. G. H. I. Jenis dan Rancangan Penelitian ....................................................... Variabel Penelitian ............................................................................ Definisi operasional .......................................................................... Subjek dan Kriteria Inklusi Subjek Penelitian .................................. Populasi dan Besar Sampel ............................................................... Waktu dan Tempat Penelitian ........................................................... Teknik Pengambilan Sampel ............................................................ Instrumen Penelitian ......................................................................... Tahapan Penelitian ............................................................................ 1. Studi pustaka ............................................................................... 2. Penentuan lokasi penelitian ......................................................... 3. Perijinan ...................................................................................... 4. Penelusuran data populasi .......................................................... 5. Pembuatan kuesioner .................................................................. a. Penyusunan kuesioner ........................................................... b. Uji validitas dan uji pemahaman bahasa ............................... c. Uji reliabilitas........................................................................ d. Pengumpulan data ................................................................. 6. Analisis Hasil .............................................................................. a. Editing ................................................................................... b. Data coding ........................................................................... c. Data entry .............................................................................. d. Cleaning ............................................................................... e. Uji normalitas........................................................................ J. Keterbatasan Penelitian ..................................................................... 19 19 19 20 21 23 23 24 24 24 25 25 25 25 25 27 28 27 29 29 29 30 30 30 31 BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ............................................. 32 A. Karakteristik Responden ................................................................... 1. Jenis kelamin ............................................................................... 2. Usia responden ............................................................................ 3. Program studi responden dari setiap fakultas ............................. 4. Uang saku perbulan responden ................................................... 32 32 32 33 34 xi

(13) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI B. Pengenalan Responden terhadap Pengobatan Mandiri ..................... C. Pengetahuan Responden terhadap Obat Tradisional dan Obat Modern .............................................................................................. 1. Pengertian responden mengenai obat tradisional ........................ 2. Pengetahuan responden mengenai bentuk sediaan obat tradisional .................................................................................... 3. Pengetahuan responden mengenai dosis obat tradisional ........... 4. Pengetahuan responden mengenai penggolongan obat tradisional .................................................................................... 5. Pengetahuan responden mengenai logo jamu ............................ 6. Pengetahuan responden mengenai logo obat herbal terstandar . 7. Pengetahuan responden mengenai logo fitofarmaka ................. 8. Pengetahuan responden mengenai indikasi obat tradisional ....... 9. Pengetahuan responden mengenai aturan pakai obat tradisional 10. Pengetahuan responden mengenai efek samping obat tradisional ................................................................................... 11. Pengetahuan responden mengenai kontraindikasi obat tradisional ................................................................................... 12. Pengetahuan responden mengenai penggunaan obat tradisional dalam pengobatan mandiri .......................................................... 13. Pengetahuan responden mengenai penggolongan obat moderen (obat dengan bahan kimia) ......................................................... 14. Pengetahuan responden mengenai logo obat bebas ................... 15. Pengetahuan responden mengenai logo obat keras ..................... 16. Pengetahuan responden mengenai logo obat bebas terbatas ....... 17. Pengetahuan responden tentang dimana mendapatkan obat bebas/ bebas terbatas ................................................................... 18. Pengetahuan responden mengenai bentuk sediaan obat bebas/ bebas terbatas .............................................................................. 19. Pengetahuan responden mengenai dosis obat bebas/ bebas terbatas ....................................................................................... 20. Pengetahuan responden mengenai indikasi obat bebas/ bebas terbatas ....................................................................................... 21. Pengetahuan responden mengenai aturan pakai obat bebas/ bebas terbatas .............................................................................. 22. Pengetahuan responden mengenai efek samping obat bebas/ bebas terbatas .............................................................................. 23. Pengetahuan responden mengenai penggunaan obat bebas/ bebas terbatas dalam pengobatan mandiri .................................. D. Sikap Responden terhadap Obat Tradisional dan Obat Moderen ..... xii 35 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 61 62 63 64 65 66 68

(14) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI E. Tindakan Responden terhadap Obat Tradisional dan Obat Moderen F. Hubungan Pengetahuan dan Sikap terhadap Tindakan Responden dalam Pemilihan Obat Tradisional dan Obat Moderen ..................... 70 BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN ............................................... 73 A. Kesimpulan ....................................................................................... B. Saran ................................................................................................. 73 73 DAFTAR PUSTAKA ............................................................................ 75 LAMPIRAN........................................................................................... 79 BIOGRAFI PENULIS .......................................................................... 120 xiii 70

(15) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR GAMBAR Gambar 1. Logo obat bebas .................................................................... 10 Gambar 2. Logo obat bebas terbatas ....................................................... 10 Gambar 3. Logo obat keras ..................................................................... 11 Gambar 4. Presentase responden laki-laki dan perempuan..................... 32 Gambar 5. Presentase kelompok usia responden ................................... 33 Gambar 6. Presentase responden pada masing-masing fakultas ............. 34 Gambar 7. Presentase uang saku perbulan responden ........................... 34 Gambar 8. Presentase pengetaahuan responden mengenai istilah swamedikasi ......................................................................... 35 Gambar 9. Presentase sumber informasi yang diperoleh responden mengenai swamedikasi ......................................................... 36 Gambar 10. Presentase pendapat responden mengenai swamedikasi ..... 37 Gambar 11. Presentase kecenderungan pemilihan obat oleh responden untuk swamedikasi ................................................................ 38 Gambar 12. Frekuensi melakukan swamedikasi dalam 1 bulan terakhir 38 Gambar 13. Presentase jenis obat yang digunakan responden dalam melakukan swamedikasi ....................................................... 40 Gambar 14. Logo obat jamu ................................................................... 49 Gambar 15. Logo obat obat herbal terstandar ......................................... 50 Gambar 16. Logo fitofarmaka ................................................................. 52 Gambar 17. Logo obat bebas .................................................................. 58 Gambar 18. Logo obat keras ................................................................... 59 Gambar 19. Logo obat bebas terbatas ..................................................... 60 xiv

(16) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR TABEL Tabel I. Perhitungan proporsi responden tiap fakultas ....................... 22 Tabel II. Distribusi pernyataan dalam kuesioner menggambarkan pengetahuan yang diukur ..................................................... 26 Tabel III. Distribusi pernyataan dalam kuesioner ................................. 27 Tabel IV. Uji reliabilitas menggunakan Pearson Pruduct Moment ...... 28 Tabel V. Uji normalitas menggunakan Kolmogorov-Smirnov ............ 31 Tabel VI. Swamedikasi untuk diri sendiri, keluarga dan teman ........... 39 Tabel VII. Penyakit yang diatasi dengan pengobatan mandiri ............... 39 Tabel VIII.Daftar obat yang digunakan responden ................................. 40 Tabel IX.Tempat responden mendapatkan obat untuk swamedikasi ...... 42 Tabel X. Biaya yang dikeluarkan untuk membeli obat ........................ 43 Tabel XI. Alasan melakukan pengobatan mandiri ................................ 43 Tabel XII. Presentase jawaban responden mengenai obat modern dan Obat tradisional ..................................................................... 44 Tabel XIII. Presentase kategori pengetahuan responden ........................ 67 Tabel XIV. Persentase kategori pengetahuan berdasarkan fakultas ....... 68 Tabel XV. Distribusi sikap responden terhadap obat tradisional............ 68 Tabel XVI. Distribusi sikap responden terhadap obat modern ............... 69 Tabel XVII. Distribusi tindakan responden dalam menggunakan obat tradisional ketika sakit ....................................................... 70 Tabel XVIII. Distribusi tindakan responden dalam menggunakan obat modern ketika sakit ............................................................ 70 Tabel XIX. Hubungan pengetahuan dengan tindakan pemilihan obat menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov ............................ 71 Tabel XX. Hubungan sikap dengan tindakan menggunakan uji Fisher 71 xv

(17) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1. Surat ijin penelitian di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta ........................................................................ 80 Lampiran 2. Informed Consent responden ............................................ 81 Lampiran 3. Kuesioner penelitian ......................................................... 83 Lampiran 4. Leaflet yang diberikan untuk responden sebagai edukasi .. 93 Lampiran 5. Uji reliabilitas dengan Pearson Pruduct Moment .............. 94 Lampiran 6. Uji normalitas dengan Kolmogorov-Smirnov ..................... 96 Lampiran 7. Data demografi responden .................................................. 97 Lampiran 8. Jawaban responden mengenai pola pengobatan mandiri.... 100 Lampiran 9. Frekuensi dan presentase pengetahuan responden ............. 108 Lampiran 10. Frekuensi dan presentase sikap responden ....................... 114 Lampiran 11. Frekuensi dan presentase tindakan responden .................. 117 Lampiran 12. Hubungan pengetahuan dengan tindakan menggunakan uji Chi-Square dan Kolmogorov-Smirnov ....................... 118 Lampiran 13. Hubungan pengetahuan dengan tindakan menggunakan uji Chi-Square dan Fisher ............................................... 119 xvi

(18) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI INTISARI Dalam lima dekade terakhir pengobatan mandiri telah terbukti masih menjadi pilihan utama ketika sakit. Hal ini mengakibatkan pengobatan mandiri akan terus meningkat dimasa depan. Oleh karena itu, sangat penting bagi farmasis untuk lebih mengetahui tentang jenis obat yang digunakan masyarakat selain obat tanpa resep termasuk obat tradisional. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan pengetahuan dan sikap mengenai obat tradisional dan obat modern dengan tindakan pemilihan jenis obat (modern atau tradisional) dalam pengobatan mandiri di kalangan mahasiswa Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Jenis penelitian non eksperimental dengan rancangan penelitian yang digunakan adalah cross-sectional menggunakan kuesioner. Teknik pengambilan sampel yaitu convenience sampling pada 109 orang responden. Data deskriptif diolah dalam bentuk presentase dan menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov dan uji Fisher. Hasil penelitian diperoleh pengetahuan mahasiswa Universitas Sanata Dharma mengenai obat tradisional dan obat modern yaitu sebesar 79,8% memiliki pengetahuan yang sedang atau cukup. Nilai signifikansi yang didapat antara pengetahuan dan tindakan adalah 0,666 sedangkan nilai signifikansi yang didapat antara sikap dan tindakan yaitu 0,638. Artinya bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan dan sikap mahasiswa mengenai obat tradisional dan obat modern terhadap tindakan pemilihan obat pada pengobatan mandiri. Kata kunci: pengetahuan, sikap, tindakan, pemilihan obat, obat tradisional, obat modern, pengobatan mandiri xvii

(19) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ABSTRACT In the last five decade, self medication still becomes the first medication in healing. As the result, self-medication will always improve so it’s important for pharmacist to understand more about the drugs used by society besides a non prescription medicine such as traditional medicine this research aims to find out relation between knowledge and attitude about traditional medicine and modern medicine for self-medication among students in Sanata Dharma University Yogyakarta. This study employs non experimental research using questionnaire. The sampling used is convenience sampling with 109 respondents. Descriptive data processed in a form of percentage and it uses Kolmogorov-Smirnov test and Fisher test. The result shows that the knowledge of Sanata Dharma University students about traditional medicine and modern medicine 79,8% students have fair knowledge. 11% of students have a good knowledge and 9,2% have a poor knowledge. The signification obtained between knowledge and action is 0,666 meanwhile the signification is 0,638. There is a do not significant relations between knowledge and attitudes of college students about traditional medicine and modern medicine with the drugs selection for the self-medication. Keyword: knowledge, attitude, action, the selection of medicine, traditional medicine, modern xviii

(20) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB I PENGANTAR A. Latar Belakang Dalam lima dekade terakhir pengobatan sendiri atau yang dikenal dengan istilah swamedikasi telah terbukti masih menjadi pilihan utama pengobatan ketika sakit. Data dari National Opinion Survey tahun 2003 menyebutkan bahwa 59% masyarakat Amerika melakukan pengobatan sendiri dengan menggunakan obat tanpa resep (Berardi, et al., 2006). Temuan yang lain, sekitar 80% masyarakat di negara Inggris lebih memilih melakukan pengobatan sendiri dibanding pergi ke professional care (PAGB, 2013). Sebagian besar masyarakat merasa nyaman melakukan pengobatan sendiri karena dianggap mudah untuk dilakukan dalam kehidupan sehari-hari untuk mengatasi penyakit ringan. Hal ini mengakibatkan pengobatan sendiri akan terus meningkat dimasa depan. Oleh karena, itu sangat penting bagi farmasis untuk lebih mengetahui tentang jenis obat yang digunakan masyarakat selain obat tanpa resep termasuk obat herbal dan suplemen (Berardi, et al., 2006). Menurut Suryawati (cit., Melita, 2008) sebagian besar masyarakat memilih pengobatan sendiri untuk menanggulangi keluhannya karena di pandang dapat lebih menghemat biaya dan waktu. Pengobatan mandiri dapat diartikan sebagai pemilihan dan pengunaan obat-obatan oleh masyarakat untuk tujuan pengobatan penyakit ringan (minor illnesses), atau gejala yang sudah dikenali sendiri, tanpa resep atau intervensi dokter. Pengobatan mandiri meliputi penggunaan obat tradisional seperti produk herbal dan bahan alam serta penggunaan obat-obatan 1

(21) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2 modern dalam hal ini dibatasi hanya obat bebas dan obat bebas terbatas yang dapat di beli tanpa resep dokter (OTR) serta obat keras yang masuk dalam daftar Obat Wajib Apotek yang dapat diserahkan oleh apoteker tanpa resep dokter. Di masyarakat terdapat berbagai macam pandangan tentang obat tradisional maupun obat modern. Menurut Hakim (cit., Noviana, 2011) beberapa sangat fanatik terhadap obat tradisional maupun yang tidak percaya terhadap obat tradisional. Umumnya masyarakat yang tidak percaya terhadap obat tradisional, karena dianggap tidak semanjur obat modern. Namun banyak juga masyarakat yang fanatik terhadap obat tradisional karena mereka beranggapan obat tradisional lebih manjur dan lebih aman jika dibanding obat kimiawi karena mempunyai efek samping yang lebih rendah dari obat-obatan kimiawi Karena banyaknya jenis obat yang beredar dipasaran, sehingga masyarakat juga harus lebih selektif lagi memilih jenis obat yang lebih baik untuk penyakit yang dideritanya. Oleh karena itu pengetahuan dan sikap merupakan bagian penting untuk membentuk suatu tindakan, termasuk pemilihan jenis obat yang akan digunakan kelak. Mahasiswa merupakan masyarakat yang sedang menjalani pendidikan formal guna menjadi masyarakat yang lebih baik. Peran mahasiswa di masyarakat yaitu sebagai sumber informasi dan memberikan contoh yang baik kepada masyarakat sekitar. Mahasiswa juga memiliki peran sosial, dimana keberadaan dan segala perbuatannya tidak hanya bermanfaat bagi diri sendiri tetapi juga bagi lingkungan sekitar (Sarwono, 1978).

(22) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 3 Pengobatan mandiri di kalangan mahasiswa umumnya menggunakan obat modern dan obat tradisional. Penelitian oleh Angkoso (2006) mengenai pola pengobatan mandiri yang dilakukan oleh mahasiswa Universitas Sanata Dharma Kampus III Paingan, yaitu sebesar lebih dari 75% responden pria maupun wanita melakukan penilaian sendiri terhadap kondisi tubuhnya dibandingkan langsung pergi ke dokter. Berdasarkan penelitian tersebut 80% mahasiswa menggunakan obat tanpa resep dibandingkan obat dengan resep dokter. Kemudian sebesar lebih dari 70% mahasiswa menggunakan obat modern dan sebesar 20% menggunakan obat tradisional. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dijadikan acuan untuk dilakukan penelitian lagi tentang hubungan pengetahuan dan sikap terhadap tindakan pemilihan obat dalam pengobatan mandiri. Penelitian ini menarik untuk diteliti karena untuk melihat hubungan pengetahuan dan sikap terhadap tindakan dalam memilih antara obat tradisional dan obat modern dalam pengobatan sendiri di kalangan mahasiswa Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. 1. Permasalahan Dari latar belakang di atas, permasalahan yang ingin dipecahkan adalah : 1. Seperti apa pengetahuan dan sikap mahasiswa Universitas Sanata Dharma Yogyakarta mengenai obat tradisional dan modern? 2. Seperti apa pola dan alasan pengobatan mandiri yang dilakukan mahasiswa Universitas Sanata Dharma Yogyakarta?

(23) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 4 3. Adakah hubungan antara pengetahuan dan sikap mahasiswa mengenai obat tradisional dan obat modern terhadap tindakan pemilihan obat pada pengobatan mandiri? 2. Keaslian penelitian Beberapa penelitian yang berkaitan dengan pengobatan mandiri yang pernah dipublikasikan antara lain sebagai berikut : 1. “Kajian Pengetahuan dan Alasan Pemilihan Obat Herbal Pada Pasien Geriatri di RSUP Dr.Sardjito Yogyakarta” (Noviana, 2011), menitikberatkan pada perilaku penggunaan obat herbal dengan mengkaji pengetahuan dan alasan pemilihan obat herbal pada pasien geriatri di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta. Hasil dari penelitian ini yaitu pengetahuan responden terhadap obat herbal tergolong sedang sebesar 73% dengan alasan terbanyak memilih obat herbal di bandingkan obat konvensional sebesar 34,85% dengan alasan karena efek samping ringan (relatif aman). 2. Penelitian oleh Kurniawan (2008), yaitu “Hubungan Tingkat Pendidikan dan Tingkat Pendapatan dengan Perilaku Swamedikasi Penyakit Infeksi Jamur Kulit oleh Ibu-ibu Di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta”. Penelitian ini lebih menfokuskan pada swamedikasi dalam pengatasan penyakit infeksi jamur oleh ibu-ibu. Hasil dari penelitian ini yaitu tidak terdapat hubungan bermakna antara tingkat pendidikan dengan pengetahuan. Tidak terdapat hubungan bermakna antara tingkat pendidikan dengan dengan sikap. Tidak terdapat hubungan bermakna antara tingkat pendidikan dengan tindakan

(24) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 5 swamedikasi dan Tidak terdapat hubungan bermakna antara tingkat pendapatan dengan pengetahuan, sikap dan tindakan swamedikasi. 3. Penelitian oleh Handayani (2008), yaitu “Hubungan Tingkat Pendidikan dan Tingkat Pendapatan dengan Perilaku Swamedikasi Penyakit Common Cold oleh Ibu-ibu di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta”. Penelitian ini menfokuskan swamedikasi dalam pengatasan penyakit common cold oleh ibu-ibu. Hasil dari penelitian ini yaitu ada hubungan bermakna antara tingkat pendidikan dengan pengetahuan dan tindakan swamedikasi common cold, namun tidak terdapat hubungan bermakna antara tingkat pendidikan dan sikap. 4. Penelitian oleh Vania (2009), yaitu ”Studi Tentang Pemahaman Mahasiswa Fakultas Farmasi terhadap Obat Tradisional Kelompok Fitofarmaka, Obat Herbal Terstandar, Jamu dan Obat Tradisional Non Registrasi di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Penelitian ini menfokuskan pada pemahaman mahasiswa fakultas farmasi mengenai obat tradisional serta bagaimana pemahaman mahasiswa yang belum dan telah menempuh mata kuliah mengenai obat tradisional dan faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan obat tradisional oleh mahasiswa farmasi. Hasil penelitian yaitu 52% memiliki pemahaman yang cukup dan mahasiswa yang telah menempuh mata kuliah mengenai obat tradisional lebih tinggi daripada yang belum menempuh mata kuliah obat tradisional. Faktor yang mempengaruhi pemilihan Obat tradisional yaitu adanya izin edar, adanya lambang pada kemasan dan berdasarkan pengalaman turun-temurun.

(25) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 6 5. Penelitian oleh Angkoso (2006) yang berjudul “Pola Perilaku Pengobatan Mandiri di antara Pria dan Wanita di Kalangan Mahasiswa Universitas Sanata Dharma, Kampus III, Paingan, Maguwoharjo, Depok, Sleman, Yogyakarta”, lebih menitikberatkan untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang mendorong mahasiswa melakukan pengobatan mandiri. Hasil dari penelitian ini adalah sebesar 52,03% responden pria menjawab karena hemat biaya dan sebesar 36,59% untuk responden wanita. Sejauh pengetahuan peneliti, penelitian mengenai “Hubungan Pengetahuan dan Sikap Mengenai Obat Tradisional dan Obat Modern terhadap Tindakan Pemilihan Pengobatan di Kalangan Mahasiswa Universitas Sanata Dharma Yogyakarta”, belum pernah dilakukan. 3. Manfaat penelitian a. Manfaat teoritis Memberikan deskripsi tentang hubungan pengetah uan dan sikap terhadap tindakan pemilihan obat oleh mahasiswa Universitas Sanata Dharma, terkait obat tradisional dan obat modern dalam pengobatan mandiri. b. Manfaat praktis Sebagai gambaran bagi instansi terkait untuk mengembangkan upayaupaya lebih lanjut untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai obat dalam konteks pengobatan mandiri. Bagi para farmasis dapat sebagai sumber informasi dan pertimbangan untuk pemberian informasi terutama terkait dengan pengobatan mandiri.

(26) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 7 Bagi masyarakat terutama kalangan mahasiswa, penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran dan informasi kepada masyarakat terutama dalam melakukan pengobatan mandiri. B. Tujuan penelitian 1. Tujuan umum Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan pengetahuan dan sikap mengenai obat tradisional dan obat modern dengan tindakan pemilihan jenis obat (modern atau tradisional) untuk pengobatan mandiri di kalangan mahasiswa Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. 2. Tujuan khusus Penelitian ini bertujuan untuk : a. Mengidentifikasi pengetahuan dan sikap mahasiswa Universitas Sanata Dharma mengenai obat tradisional dan obat modern b. Mengidentifikasi pola dan alasan pengobatan mandiri yang dilakukan oleh mahasiswa Universitas Sanata Dharma c. Mengetahui hubungan antara pengetahuan dan sikap mahasiswa mengenai obat tradisional dan obat modern dengan tindakan pemilihan obat pada pengobatan mandiri

(27) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB II PENELAAHAN PUSTAKA A. Pengobatan Mandiri Pengobatan mandiri sering juga disebut dengan swamedikasi (self medication). Pengobatan mandiri dapat didefinisikan sebagai pemilihan dan penggunaan obat, tidak semata-mata obat modern saja, tetapi juga obat tradisional, obat herbal berstandar dan fitofarmaka oleh diri sendiri untuk mengobati penyakit (WHO, 1998). Menurut Manurung (2010), pengobatan sendiri merupakan tindakan penggunaan obat-obatan tanpa resep dokter oleh masyarakat atas inisiatif mereka sendiri. Keuntungan pengobatan sendiri yaitu praktis, ekonomis, mudah diperoleh, efisien, aman apabila digunakan sesuai petunjuk. Kerugiannya yaitu kurangnya pengetahuan tentang obat dapat menimbulkan efek samping (tidak mengetahui indikasi, tidak memperhatikan peringatan dan kontra indikasi obat) salah diagnosa, salah memilih terapi. Pengobatan sendiri juga didefinisikan sebagai upaya pengobatan yang mengacu pada kemampuan sendiri, tanpa petunjuk dokter atau tenaga medis, untuk mengatasi sakit atau keluhan penyakit ringan dengan menggunakan obat modern maupun tradisional yang di ada rumah atau membeli langsung ke toko obat atau apotek (Berardi, et.al., 2006). Penelitian oleh Angkoso (2006) mengenai pola pengobatan mandiri yang dilakukan oleh mahasiswa Universitas Sanata Dharma Kampus III Paingan, yaitu sebesar lebih dari 75% responden pria maupun wanita melakukan penilaian sendiri terhadap kondisi tubuhnya dibandingkan langsung pergi ke dokter. Berdasarkan penelitian tersebut 80% mahasiswa menggunakan obat tanpa resep 8

(28) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI dibandingkan obat dengan resep dokter. Kemudian 9 sebesar lebih dari 70% mahasiswa menggunakan obat modern dan sebesar 20% menggunakan obat tradisional. B. Penggunaan Obat dalam Pengobatan Sendiri 1. Obat Obat merupakan salah satu komponen yang tak tergantikan dalam pelayanan kesehatan. Obat menurut UU no. 36 tahun 2009 adalah: bahan atau paduan bahan-bahan yang digunakan untuk mempengaruhi atau menyelidiki sistem fisiologi atau keadaan patologi dalam rangka penetapan diagnosis, pencegahan, penyembuhan dan pemulihan, peningkatan kesehatan dan kontrasepsi, untuk manusia. Dalam hal pengobatan mandiri dapat digunakan beberapa golongan obat diantaranya obat tradisional, obat bebas dan obat bebas terbatas serta obat keras yang masuk dalam daftar Obat Wajib Apotek (OWA) yang dapat diserahkan oleh apoteker tanpa resep dokter (Departement of Health and Ageing, 2012). a. Obat bebas Obat bebas adalah obat yang boleh digunakan tanpa resep dokter. Obat ini biasa menjadi pilihan saat ada kebutuhan untuk melakukan pengobatan sendiri. Pada wadah obat terdapat tanda khusus obat bebas, berupa lingkaran hijau dengan garis tepi berwarna hitam. Contoh: vitamin A, B1, B6, B12, C, D, E atau multivitamin, beberapa obat

(29) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 10 analgetik-antipiretik (seperti: parasetamol). Obat ini dapat dibeli bebas di apotek, toko obat dan warung (DitJen Bina Kefarmasian, 2006). Gambar. 1. Logo obat bebas b. Obat bebas terbatas Disebut daftar W, obat golongan ini masih termasuk obat keras tapi dapat dibeli tanpa resep dokter. Obat bebas terbatas ditandai dengan lingkaran berwarna biru dengan garis tepi lingkaran berwarna hitam. Pada wadah obat terdapat tanda khusus obat bebas terbatas. Obat-obatan yang termasuk ke dalam golongan ini antara lain obat batuk, obat influenza, obat penghilang rasa sakit dan penurun panas pada saat demam (analgetikantipiretik), obat kumur, obat tetes mata, anti muntah. Terdapat pula tanda peringatan ”P” dalam labelnya. Label ”P” ada beberapa macam yaitu: 1. 2. 3. 4. 5. 6. P.No. 1: Awas! Obat Keras. Bacalah aturan pemakaiannya. P.No. 2: Awas! Obat Keras. Hanya untuk kumur jangan ditelan. P.No. 3: Awas! Obat Keras. Hanya untuk bagian luar badan. P.No. 4: Awas! Obat Keras. Hanya untuk dibakar. P.No. 5: Awas! Obat Keras. Tidak boleh ditelan. P.No. 6: Awas! Obat keras. Obat wasir, jangan ditelan. (DitJen Bina Kefarmasian, 2006). Gambar 2. Logo obat bebas terbatas

(30) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 11 c. Obat wajib apotek (OWA) Menurut Keputusan Menteri Kesehatan No. 347/ MENKES/SK/VII /1990 OWA yaitu obat keras yang dapat diserahkan oleh apoteker di apotek kepada pasien tanpa menggunakan resep dokter. Obat yang termasuk dalam OWA ditetapkan oleh Menteri Kesehatan dalam surat keputusan dilampiri dengan Daftar Obat Wajib Apotek No. 1. Berdasarkan No.1176/MENKES/PER/X/1999 Jumlah obat yang ditetapkan sebagai OWA bertambah menjadi Daftar Obat Wajib Apotek No.2. Surat Keputusan Menteri Kesehatan No.1176/MENKES/PER/X/1999 dilampiri Daftar Obat Wajib Apotek No.3. Pertimbangan kebijakan obat wajib apotik, yaitu : a. Bahwa untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dalam menolong dirinya sendiri guna mengatasi masalah kesehatan dirasa perlu ditunjang dengan sarana yang dapat meningkatkan pengobatan sendiri secara tepat, aman, dan rasional; b. Bahwa peningkatan pengobatan sendiri secara tepat, aman, dan rasional dapat dicapai melalui peningkatan penyediaan obat yang dibutuhkan untuk pengobatan sendiri sekaligus menjamin penggunaan obat secara tepat, aman dan rasional; c. Bahwa oleh karena itu, peran apoteker di apotik dalam pelayanan KIE (Komunikasi, Informasi dan Edukasi) serta pelayanan obat kepada masyarakat perlu ditingkatkan dalam rangka peningkatan pengobatan sendiri; d. Bahwa untuk itu, perlu ditetapkan Keputusan Menteri Kesehatan tentang obat keras yang dapat di serahkan tanpa resep dokter oleh apoteker di apotik. (KepMenKes, 1990) Gambar 3. Logo obat keras

(31) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 12 d. Obat tradisional Dalam Undang-undang No.36 tahun 2009 tentang kesehatan menyebutkan bahwa obat tradisional adalah bahan atau ramuan bahan yang berupa bahan tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral, sediaan sarian (galenik) atau campuran bahan tersebut yang secara turun-temurun telah digunakan untuk pengobatan berdasarkan pengalaman dan dapat di terapkan sebagai norma yang berlaku di masyarakat. Penggunaan obat tradisional di Indonesia merupakan bagian dari budaya bangsa dan banyak dimanfaatkan masyarakat sejak berabad-abad yang lalu sebelum dikenalnya pengobatan secara modern (Moeloek, 2005). Adanya pandangan yang keliru bahwa obat tradisional selalu aman, tidak ada resiko bahaya bagi kesehatan dan keselamatan konsumen. Tetapi dalam kenyataannya beberapa jenis obat tradisional dan atau bahannya diketahui toksik, baik sebagai bawaannya maupun akibat kandungan bahan asing yang berbahaya atau tidak diizinkan seperti terkontaminasi bahan/mikroba berbahaya seperti logam berat, mikroba patogen dan residu agrokimia (KepMenKes, 2007). Pemerintah telah berupaya memperbaiki citra, mutu dan penampilan obat tradisional dengan cara meningkatkan pengawasan kualitas dan khasiat melalui prosedur registrasi. Sampai saat ini terdapat tiga macam obat teregistrasi yang beredar yaitu jamu, obat herbal terstandar dan fitofarmaka (Moeloek, 2005). Penggunaan obat tradisional akan terus meningkat dari tahun ke tahun, 70%-95% di tiap negara di dunia menggunakan obat tradisional sebagai pilihan utama ketika sakit. Obat tradisional telah digunakan seperti obat tanpa resep (OTC) dalam pengobatan mandiri (WHO, 2011).

(32) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 13 Menurut Handayani dan Suharmiati (2002), sumber pembuat atau memproduksi obat tradisional, dikelompokan menjadi tiga, yaitu : 1. Obat tradisional buatan sendiri Obat tradisional jenis ini merupakan akar dari pengembangan obat tradisional di Indonesia saat ini. Kemampuan untuk menyediakan ramuan obat tradisional yang lebih mengarah kepada self care untuk menjaga kesehatan anggota keluarga serta penanganan penyakit ringan yang dialami oleh anggota keluarga. Sumber tanaman disediakan oleh masyarakat sendiri, baik secara individu, keluarga, maupun kolektif dalam suatu lingkungan masyarakat. 2. Obat tradisional berasal dari pembuat jamu/herbalist Penjual jamu gendong, peracik tradisional, tabib lokal dan sinshe, termasuk penbuat jamu herbalist. 3. Obat tradisional buatan industri Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan No.246/Menkes/Per/V/1990, Industri obat tradisional digolongkan menjadi industri obat tradisional dan industri kecil obat tradisional. Dengan semakin maraknya obat tradisional, tampaknya industri farmasi mulai tertarik untuk memproduksi obat tradisional. Tetapi, pada umumnya yang berbentuk sediaan modern seperti bentuk tablet, kapsul, pil, salep dan krim.

(33) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 14 C. Perilaku Pengobatan Mandiri (Pengetahuan, Sikap dan Tindakan) Perilaku kesehatan pada dasarnya adalah respon seseorang terhadap stimulus yang berkaitan dengan sakit, penyakit, sistem pelayanan kesehatan dan lingkungan. Perilaku seseorang terhadap sakit dan penyakit yaitu bagaimana seseorang dapat merespon baik secara pasif (mengetahui dan bersikap tentang sakit yang ada pada dirinya) maupun aktif berupa tindakan yang dilakukan sehubung dengan penyakit dan sakit tersebut (Notoatmodjo, 1993). Karena itu pengetahuan, sikap dan tindakan memiliki peran penting dalam menentukan perilaku seseorang untuk mengatasi sakit yang dideritanya. 1. Pengetahuan Pengetahuan adalah informasi yang disimpan dalam ingatan seseorang hingga menimbulkan persepsi terhadap suatu obyek. Pengetahuan merupakan hasil dari tahu setelah seseorang melakukan pengindraan suatu obyek. Sebagian besar pengetahuan seseorang diperoleh melalui mata dan telinga (Notoadmodjo, 1993). Pada dasarnya mahasiswa berumur sekitar 18-24 tahun, berada dalam masa remaja akhir dan dewasa awal. Mahasiswa sudah mampu berpikir secara abstrak, hipotesis dan kritis. Cara berpikir mahasiswa sudah memungkinkan mandiri sehingga mampu mengambil keputusan di masa depan secara bertanggung jawab (Nurhayati, 2011). Mahasiswa dianggap sebagai kaum intelek yang memiliki pengetahuan yang baik karena telah menempuh jenjang pendidikan yang lebih tinggi (Ali dan Asrori, 2009). Pengetahuan mahasiswa dianggap baik karena tidak hanya berasal dari ilmu yang diterimanya melalui perkuliahan, tetapi juga berasal

(34) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 15 dari pendidikan orang tua yang diperoleh secara turun-temurun dan melalui teman-teman di sekitar (Sarwono, 1994). Pengetahuan tercakup dalam domain kognitif mempunyai beberapa tingkatan diantaranya, tahu (know) merupakan kegiatan mengingat sesuatu yang telah dipelajari sebelumnya. Tahu merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah. Pengetahuan seseorang dapat dilihat dari cara orang tersebut menyebutkan, menguraikan dan mendefinisikan hal-hal yang sudah dipelajari. Memahami (Comprehension) merupakan suatu kemampuan menjelaskan dan menginterpretasikan secara tepat tentang obyek yang diketahui. Seseorang dikatakan paham apabila dapat menyebutkan dan menjelaskan contoh terhadap obyek tersebut. Analisis (Analysis) adalah suatu kemampuan menjabarkan materi ke dalam komponen-komponen yang masih berkaitan satu sama lain. Kemampuan analisis dapat dilihat dari penggunaan kata kerja, menggambarkan, membedakan dan sebagainya. Evaluasi (Evaluation) adalah kemampuan untuk melakukan penilaian terhadap suatu materi atau obyek berdasarkan kriteria-kriteria yang telah ditentukan (Notoadmodjo, 1993). Tingkat pengetahuan seseorang dapat diklasifikasikan menjadi beberapa bagian. Pengetahuan dikatakan baik apabila skor akhir pengetahuan responden >75%. Pengetahuan dikatakan cukup apabila skor akhir pengetahuan responden berkisar antara 50-75%, sedangkan pengetahuan dikatakan kurang apabila skor akhir pengetahuan responden <50% (Notoadmojo, 2003).

(35) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 16 2. Sikap Sikap adalah evaluasi, perasaan emosional dan kecenderungan seseorang untuk melakukan suatu tindakan. Sikap seseorang terhadap suatu obyek adalah perasaan memihak (mendukung) atau tidak memihak (tidak mendukung) terhadap obyek tersebut (Kotler, 1997). Sikap merupakan suatu kesiapan atau kesediaan untuk bertindak. Sikap belum merupakan suatu tindakan atau aktivitas, akan tetapi hanya merupakan predisposisi tindakan. Sikap masih merupakan reaksi tertutup, sikap dapat diukur dengan cara memberikan pernyataan pada kondisi tertentu, pendapat reponden tentang kondisi tersebut menggambarkan sikap responden (Notoatmodjo, 1993). 3. Tindakan Tindakan merupakan aksi yang telah dilakukan oleh seseorang. Seseorang melakukan suatu tindakan berdasarkan atas pengalaman, persepsi, pemahaman dan penafsiran suatu obyek tertentu. Tindakan individu dipengaruhi oleh tiga sistem, seperti sistem sosial, sistem budaya dan sistem kepribadian masing-masing individu (Sarwono, 1997). Pengukuran tindakan dapat dilakukan dengan recall atau mengingat kembali kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan beberapa waktu yang lalu (Notoatmodjo, 1993). D. Landasan Teori Pengobatan mandiri merupakan salah satu pilihan utama yang digunakan mahasiswa untuk mengatasi penyakitnya. Sebagaimana diketahui bahwa mahasiswa berada pada masa dewasa awal, dimana pada tahap ini mahasiswa

(36) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 17 telah mampu mencapai tahap berpikir abstrak, rasional, hipotesis dan kritis. Mahasiswa mampu mengambil keputusan dan bertanggung jawab atas dirinya. Mahasiswa dianggap sebagai kaum intelek yang telah memiliki pengetahuan yang baik melalui banyak sumber, tidak hanya ilmu yang berasal dari dosen tetapi juga dari pendidikan orang tua secara turun-temurun, lingkungan, dan teman-teman. Pengetahuan dan sikap mahasiswa mengenai penggunaan obat tradisional maupun obat modern dalam pengobatan mandiri merupakan suatu respon internal yang telah ada dalam diri mahasiwa, sedangkan tindakan merupakan praktek yang dilakukan oleh mahasiswa. Dalam proses pembentukan tindakan memilih obat, dimulai dari pengetahuan mahasiswa mengenai obat tradisional atau obat modern, selanjutnya menimbulkan respon batin dalam bentuk sikap. Setelah tahap tersebut dilalui akan berlanjut menimbulkan respon yang jauh lagi yaitu berupa tindakan. Namun dalam kenyataannya, seseorang dapat bertindak tanpa mengetahui terlebih dahulu makna dari kondisi yang dialaminya, dengan kata lain, tindakan seseorang tidak harus didasari oleh pengetahuan dan sikap. E. Hipotesis 1. H0 = Tidak ada hubungan antara pengetahuan mengenai obat tradisional dan obat modern terhadap tindakan pemilihan obat pada pengobatan mandiri di kalangan mahasiswa Universitas Sanata Dharma. H1 = Ada hubungan antara pengetahuan mengenai obat tradisional dan obat modern terhadap tindakan pemilihan obat pada pengobatan mandiri di kalangan mahasiswa Universitas Sanata Dharma

(37) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 18 2. H0 = Tidak ada hubungan antara sikap mengenai obat tradisional dan obat modern terhadap tindakan pemilihan obat pada pengobatan mandiri di kalangan mahasiswa Universitas Sanata Dharma. H1 = Ada hubungan antara sikap mengenai obat tradisional dan obat modern terhadap tindakan pemilihan obat pada pengobatan mandiri di kalangan mahasiswa Universitas Sanata Dharma.

(38) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis dan Rancangan Penelitian Jenis penelitian ini adalah non eksperimental karena tidak memberikan perlakuan atau intervensi pada responden penelitian (Basuki, 2006). Rancangan penelitian yang digunakan adalah cross-sectional. Penelitian cross-sectional merupakan studi yang pengambilan data yang dapat dilakukan selama jangka waktu harian, mingguan, bulanan atau hanya sekali di kumpulkan dalam waktu tertentu saja (Imron, 2010). B. Variabel 1. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah pengetahuan dan sikap mengenai obat tradisional dan obat modern di kalangan mahasiswa Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. 2. Variabel tergantung dalam penelitian ini adalah tindakan pemilihan obat tradisional atau obat modern oleh mahasiswa Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. C. Definisi Operasional 1. Pengetahuan adalah informasi mengenai obat modern dan obat tradisional yang diketahui oleh mahasiswa Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. 19

(39) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 20 2. Sikap adalah kecenderungan atau keinginan mahasiswa Universitas Sanata Dharma untuk memihak (sikap positif) atau tidak (sikap negatif) terhadap obat tradisional maupun obat modern. 3. Tindakan adalah praktek yang telah dilakukan oleh responden terhadap pemilihan obat tradisional maupun obat modern dalam pengobatan mandiri baik untuk mengobati diri sendiri, keluarga, maupun teman. 4. Pengobatan mandiri merupakan tindakan mengobati diri sendiri dengan obatobat sederhana atas inisiatif responden. 5. Obat modern dalam hal ini merupakan istilah untuk obat dengan bahan kimia sintesis yang terdiri dari golongan obat bebas, obat bebas terbatas dan OWA (obat wajib apotek). 6. Obat tradisional merupakan obat yang berasal dari bagian tumbuhan atau hewan baik dari golongan jamu, obat herbal terstandar, dan fitofarmaka. D. Subjek dan Kriteria Inklusi Subjek Penelitian Subjek dalam penelitian ini adalah mahasiswa Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, baik laki-laki maupun perempuan. Kriteria inklusi dalam penelitian ini adalah mahasiswa yang tercatat sebagai mahasiswa aktif (tidak sedang cuti kuliah) pada saat penelitian ini dilakukan dan bersedia berpartisipasi dalam mengisi serta mengembalikan kuesioner.

(40) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 21 E. Populasi dan Besar Sampel Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh mahasiswa aktif (tidak sedang cuti kuliah) di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, masing-masing fakultas memiliki jumlah mahasiswa yang berbeda. Besar sampel yang digunakan dihitung dengan menggunakan rumus baku dari Taro Yamane, yaitu jumlah populasi yang telah diketahui dengan tingkat presisi sebesar 10%, dapat di hitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut (Imron, 2010): Rumus n = N _ Nd2 +1 Keterangan: n = jumlah sampel N = jumlah populasi d2 = presisi yang di tetapkan . Hasil perhitungan sampel diperoleh 109 responden dengan tingkat kepercayaaan 90% dan dengan penambahan 10% untuk antisipasi tingkat partisipasi sehingga perhitungan dilakukan sebagai berikut: n= 11.254 11.254 x 0,12 + 1 = 99,11 = 99 responden Drop out 10% = 99 + (99 x 10%) = 99 + 9,9 = 108,9 ≈ 109 responden dengan perhitungan proporsi tiap fakultas yaitu:

(41) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI No. 1 2 Fakultas Ekonomi Sastra Tabel I. Perhitungan proporsi responden tiap fakultas Perhitungan 1. Akuntansi = 675 orang = 675 x 99 = 6 orang 11.254 2. Manajemen = 808 orang = 808 x 99 = 7 orang 11.254 1. 2. 3 4 FKIP Farmasi Sastra Inggris = 884 orang = 884 x 99 = 8 orang 11.254 Sastra Indonesia = 153 orang = 153 x 99 = 1 orang 11.254 3. Ilmu sejarah = 56 orang = 56 x 99 = 1 orang 11.254 1. PGSD = 1.200 orang = 1.200 x 99 = 11 orang 11.254 2. Pendidikan Sejarah = 253 orang = 253 x 99 = 2 orang 11.254 3. Pendidikan Akuntansi = 412 orang = 412 x 99 = 4 orang 11.254 4. Pendidikan Ekonomi = 221 orang = 221 x 99 = 2 orang 11.254 5. Pendidikan Bahasa Inggris = 923 orang = 923 x 99 = 8 orang 11.254 6. Pendidikan Bahasa Indonesia = 499 orang = 499 x 99 = 4 orang 11.254 7. Bimbingan Konseling = 421 orang = 421 x 99 = 4 orang 11.254 8. Pendidikan Biologi = 306 orang = 306 x 99 = 3 orang 11.254 9. Pendidikan Fisika = 280 orang = 280 x 99 = 2 orang 11.254 10. Pendidikan Matematika = 509 orang = 509 x 99 = 4 orang 11.254 11. Pendidikan Agama Khatolik = 221 orang = 221 x 99 = 2 orang 11.254 1. Farmasi = 735 orang = 735 x 99 = 6 orang 11.254 22 Penambahan 10 % drop out 7 orang 8 orang 9 orang 1 orang 1 orang 12 orang 2 orang 4 orang 2 orang 9 orang 5 orang 4 orang 3 orang 3 orang 5 orang 2 orang 6 orang

(42) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 23 Tabel I. Lanjutan Pada perhitungan proporsi untuk setiap fakultas dengan penambahan 10% untuk antisipasi tingkat partisipasi seharusnya dilakukan dengan menghitung dari total yaitu 109 orang responden bukan dari 99 orang responden. F. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian dilakukan bulan Juli 2013 sampai Desember 2013 di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. G. Teknik Pengambilan Sampel Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah convenience sampling atau yang dikenal dengan nama accidental sampling yaitu pemilihan sampel tanpa adanya protokoler atau aturan tertentu (Imron, 2010). Dalam penelitian ini, subjek penelitian adalah mahasiswa baik pria maupun wanita yang ditemui di lingkungan kampus I sampai kampus V Universitas Sanata Dharma.

(43) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 24 Pengambilan sampel dilakukan berdasarkan perhitungan proporsi yang telah ditetapkan sebelumnya. Data untuk perhitungan proporsi tiap fakultas diperoleh melalui BAA tahun 2013. Penyebaran kuesioner dilakukan pada pagi dan siang hari setelah jam kuliah pada bulan November sampai Desember 2013, dilakukan di kampus III Paingan di lingkungan kelas Fakultas Farmasi dipilih 6 orang responden, JPMIPA dipilih 11 orang responden, Fakultas Psikologi dipilih 9 orang responden, Fakultas Sains Teknologi dipilih 13 orang responden. Di kampus I dan II Mrican penyebaran kuesioner di lingkungan kelas Fakultas Sastra dipilih 11 orang responden, Fakultas Ekonomi dipilih 15 orang responden, FKIP dipilih 38 responden. Di kampus IV Kaliurang penyebaran kuesioner di lingkungan kelas Fakultas Teologi dipilih 4 responden dan di kampus V Kota Baru penyebaran kuesioner di lingkungan kelas program studi Ilmu Pendidikan Agama Khatolik dan dipilih 2 orang responden. H. Instrumen Penelitian Instrumen yang digunakan pada penelitian ini adalah kuesioner. Kuesioner merupakan sejumlah pertanyaan tertulis yang dipakai untuk mendapatkan informasi dari responden. Kuesioner yang digunakan telah melalui uji validitas dan reliabilitas. I. Tahapan Penelitian 1. Studi pustaka Sebelum penelitian dimulai dilakukan dengan studi pustaka, yaitu membaca literatur- literatur atau website yang berhubungan dengan obat modern

(44) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 25 dan obat tradisional dalam pengobatan mandiri, serta metodologi penelitian, statistik dan perhitungan data yang diperlukan. 2. Penentuan lokasi penelitian Lokasi penelitian yaitu seluruh kampus Universitas Sanata Dharma, yakni kampus I dan II Mrican, kampus III Paingan, kampus IV Kaliurang, dan kampus V Kota Baru. Hal ini dilakukan karena responden penelitian yang tersebar dalam beberapa program studi pada masing-masing kampus. 3. Perijinan Tahap perijinan dilakukan untuk mendapatkan ijin melakukan penelitian pada populasi penelitian yaitu mahasiswa Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Proses perijinan dimulai dengan memasukkan permohonan ijin dan proposal penelitian kepada Wakil Rektor I dengan tembusan dekan masing-masing fakultas di lingkungan Universitas Sanata Dharma. 4. Penelusuran data populasi Penelusuran data populasi dilakukan melalui BAK Kampus I Universitas Sanata Dharma. Melalui bagian ini ditelusuri data mengenai populasi penelitian yang meliputi daftar dan jumlah mahasiswa aktif masing-masing fakultas. 5. Pembuatan kuesioner Proses pembuatan kuesioner terdiri dari 3 tahap, yaitu : a. Penyusunan kuesioner Kuesioner penelitian berisi 44 butir. Bagian pertama, nomor satu sampai nomor 13 berisi pertanyaan screening terkait dengan informasi dan pola pengobatan mandiri. Bagian kedua yaitu memuat pernyataan untuk

(45) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 26 mengukur pengetahuan responden, seperti: dosis, bentuk sediaan, golongan obat, indikasi, aturan pakai, efek samping, kontra indikasi, serta penggunaannya dalam pengobatan mandiri. Dalam pernyataan ini digunakan skala nominal, responden cukup memilih jawaban antara “ya”, “tidak”, atau “tidak tahu”. Untuk jawaban “ya” di beri nilai 1, sedangkan untuk jawaban “tidak” dan “tidak tahu” diberi nilai 0 (Noor, 2011). Tabel II. Distribusi pernyataan dalam kuesioner menggambarkan pengetahuan yang diukur No Pengetahuan yang diukur Nomor pernyataan 1 Pengertian umum obat tradisional dan obat modern 14, 26 2 Bentuk sediaan 15, 31 3 Dosis obat 16, 32 4 Penggolongan obat 17, 18, 19, 20, 26, 27, 28, 29 5 Indikasi 21, 33 6 Aturan pakai 22, 34 7 Efek samping 23, 35 8 Kontra indikasi 24, 36 9 Penggunaan dan tempat memperoleh obat 25, 30 Bagian ketiga yaitu memuat pernyataan terkait sikap. Pada bagian sikap menggunakan skala Likert yang memuat alternatif jawaban responden yaitu, sangat setuju (SS), setuju (S), tidak setuju (TS), dan sangat tidak setuju (STS). Model seperti ini dipilih agar meniadakan jawaban ragu-ragu. Dalam pemberian skor, setiap respon positif (S dan SS) terhadap item favourabel akan diberi bobot yang lebih tinggi dari pada respon negatif (TS dan STS). Sebaliknya, untuk item unfavourabel, respon positif akan diberi skor lebih rendah daripada respon negatif (Azwar, 2010). Demikian pula dengan pernyataan terkait tindakan, responden cukup memilih jawaban antara “ya” atau “tidak”, untuk

(46) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 27 jawaban “ya” di beri nilai 1, sedangkan untuk jawaban “tidak” diberi nilai 0 (Noor, 2011). Bagian keempat yaitu mendeskripsikan karakteristik demografi responden meliputi nama, umur, jenis kelamin, alamat rumah, fakultas, uang saku perbulan. No. 1. 2. 3. 4. Tabel III. Distribusi pernyataan dalam kuesioner Item pada kuesioner Jumlah Pertanyaan screening untuk melihat pola pengobatan mandiri 13 Pengetahuan 23 Sikap 4 Tindakan 4 Total 44 b. Uji validitas dan uji pemahaman bahasa Validitas digunakan untuk menunjukkan sejauh mana suatu alat pengukur betul-betul mengukur apa yang akan diukur dan suatu kuesioner dikatakan sudah valid jika memenuhi unsur-unsur seperti akurasi, presisi, dan peka (Noor, 2011). Uji yang digunakan adalah uji validitas isi (content validity) dan uji validitas konstruks. Validitas konstruks dilakukan dengan mencari definisi konsep yang dikemukakan oleh para ahli yang tertulis dalam literatur kemudian dikonsultasikan kepada dosen pembimbing (judgment expert). Hal yang sama dilakukan pada uji validitas isi, dilakukan analisis rasional terhadap pertanyaan yang telah disusun oleh dosen yang berkompetensi. Uji ini dikenal dengan istilah professional judgment (Sugiyono, 2006). Uji validitas isi dilakukan bersama dengan uji pemahaman bahasa oleh dosen pembimbing dan beberapa dosen lain yang dianggap ahli dibidangnya. Dari hasil uji bahasa di ketahui bahasa yang

(47) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 28 digunakan dalam kuesioner cukup sederhana dan dapat dipahami oleh responden. c. Uji reliabilitas Pengujian reliabilitas merupakan suatu tolak ukur yang digunakan untuk melihat sejauh mana alat ukur dapat dipercaya (konsisten) terhadap hasil pengukuran jika dilakukan pengukuran dua kali atau berulang kali terhadap kondisi yang sama. Jumlah responden yang digunakan untuk uji coba kuesioner yaitu sedikitnya 30 orang (Noor, 2011). Uji reliabilitas yang dilakukan secara ekternal dan internal. Secara eksternal yaitu dengan test-retest, dalam hal ini kuesioner yang digunakan sama, responden sama, namun waktunya yang bebeda. Secara internal intrumen diuji dengan melihat koefisien korelasi. Dari data diperoleh hasil koefisien korelasi positif dan signifikan. Instrumen dinyatakan reliabel jika p ≥ 0,05 (Notoadmojo, 2010). Tabel IV. Uji reliabilitas pengetahuan, sikap dan tindakan menggunakan Pearson Pruduct Moment Pola Pengetahuan Sikap Tindakan Swamedikasi Pearson Correlation 0,841** 0,912** 0,706** 0,669** Sig. (2-tailed) 0,000 0,000 0,000 0,000 d. Pengumpulan data Pengumpulan data dilakukan dengan menyebarkan kuesioner. Penyebaran kuesioner dilakukan pada tiap kampus, yaitu kampus I, kampus II, kampus III, kampus IV dan Kampus V Universitas Sanata Dharma selama bulan November sampai Desember 2013. Pengisian kuesioner dilakukan dengan mengisi informed-consent terlebih dahulu

(48) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 29 sebagai tanda persetujuan mengikuti penelitian. Selanjutnya, pengisian kuesioner dilakukan sendiri oleh responden. Setelah pengisian kuesioner selesai, responden diberikan edukasi melalui leaflet. Leaflet yang diberikan kepada responden berisi informasi seperti definisi swamedikasi, kapan swamedikasi boleh dilakukan, penggolongan obat-obat yang dapat digunakan dalam swamedikasi, dan cara melakukan swamedikasi yang aman dan rasional. 6. Analisis hasil a. Editing (memeriksa data) Kuesioner yang diperoleh dari responden dilakukan pengecekan kembali seperti kelengkapan jawaban atau informasi terkait responden. Jika ditemukan kuesioner yang jawaban atau informasi tidak lengkap maka kuesioner tersebut di keluarkan (drop out) (Notoatmodjo, 2010). b. Data coding Setelah diperoleh jawaban dari responden, dilakukan pengkodean data dengan cara scoring yaitu dengan cara memberikan skor pada jawaban “Ya” , “Tidak”, dan “Tidak Tahu”. Pada penelitian ini setiap jawaban benar diberi skor 1 (satu) dan jawaban yang salah diberi skor 0 (nol) sedangkan untuk kategori sikap yang menggunakan skala Likert. Sikap responden diukur dengan memberikan nilai pada masing-masing pernyataan yang terdiri dari pernyataan untuk menetukan sikap positif dan sikap negatif. Pemberian nilai untuk pernyataan sikap positif yaitu jika responden memilih jawaban “sangat setuju” diberi nilai 3, menjawab

(49) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 30 “setuju” diberi nilai 2, menjawab “tidak setuju” diberi nilai 1 dan yang menjawab “sangat tidak setuju” diberi nilai 0. Sebaliknya, pemberian nilai untuk pernyataan sikap negatif yaitu jika responden memilih jawaban “sangat setuju” diberi nilai 0, menjawab “setuju” diberi nilai 1, menjawab “tidak setuju” diberi nilai 2 dan yang menjawab “sangat tidak setuju” diberi nilai 3 (Notoatmodjo, 2010). c. Data entry Pemindahan data dilakukan dengan mengisi atau memasukan data yang telah selesai diberi kode kemudian diolah dengan program SPSS 16 (Imron, 2010). d. Cleaning Menyusun dan mengorganisir data sedemikian rupa sehingga dapat dengan mudah dilakukan penjumlahan, disusun dan disajikan dalam bentuk tabel dan grafik (Imron, 2010). e. Uji normalitas Sebelum dilakukan analisis untuk mencari korelasi, dilakukan uji normalitas. Uji normalitas dilakukan guna mengetahui apakah data dalam penelitian berdistribusi secara normal atau tidak, agar dapat ditentukan metode uji hipotesis yang akan digunakan nantinya. Pada tahap ini uji normalitas menggunakan uji statistik Kolmogorov-Smirnov. Berdasarkan hasil yang diperoleh, nilai signifikansi untuk pengetahuan 0,438 sehingga

(50) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 31 data yang diperoleh berdistribusi normal, sedangkan nilai signifikansi untuk sikap 0,001 dan tindakan 0,000 sehingga data yang diperoleh berdistribusi tidak normal karena signifikansi p <0,05. Tabel V. Uji normalitas pada variabel pengetahuan, sikap dan tindakan. Variabel Z Sig. Keterangan Pengetahuan 0,868 0,438 Normal Sikap 1,905 0,001 Tidak normal Tindakan 3,386 0,000 Tidak normal Berdasarkan hasil yang diperoleh data terdistribusi secara tidak normal maka metode analisis korelasi yang digunakan selanjutnya yaitu metode analisis non-parametik Chi-Square. J. Keterbatasan Penelitian 1. Dalam penelitian teknik yang digunakan dalam pengambilan sampel dilakukan secara non-random karena peneliti hanya merekrut mahasiswa yang secara kebetulan ditemui dan dianggap cocok menjadi responden sehingga penelitian ini tidak mewakili gambaran populasi mahasiswa Universitas Sanata Dharma. 2. Penelitian ini berfokus mendeskripsikan bagaimana hubungan pengetahuan dan sikap terhadap tindakan pemilihan obat, serta pola pengobatan mandiri yang dilakukan mahasiswa Universitas Sanata Dharma, sehingga informasi yang diperoleh terbatas pada hal tersebut.

(51) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Karakteristik Responden Karakteristik responden dalam penelitian ini terdiri dari beberapa aspek, yaitu: jenis kelamin, usia, program studi dari setiap fakultas, dan uang saku perbulan. 1. Jenis kelamin Berdasarkan hasil yang diperoleh mahasiswa Universitas Sanata Dharma Yogyakarta yang bersedia menjadi responden dan mengisi kuesioner yaitu sebesar 58% adalah perempuan dengan jumlah 63 orang dan sebesar 42% laki-laki dengan jumlah 46 orang. Berardi, et al (2006) mengungkapkan bahwa perempuan lebih sering melakukan pengobatan mandiri untuk mengatasi minor illness dengan obat tanpa resep. Gambar 4. Presentase responden laki-laki dan perempuan 2. Usia responden Responden yang diteliti memiliki usia berkisar antara 17 tahun sampai 34 tahun. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa rentang usia yang mengikuti penelitian ini adalah 17-21 tahun dengan presentase 80,7% sebanyak 88 orang, 32

(52) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 33 kemudian rentang usia 22-26 tahun dengan presentase 18,3% sebanyak 20 orang. Rentang usia 27-34 tahun memiliki partisipasi paling sedikit yaitu sebesar 1%, karena di kampus sulit ditemukan mahasiswa pada rentang usia ini dan kebanyakan mereka jarang pergi ke kampus karena sedang menyelesaikan tugas akhir. Gambar 5. Presentase kelompok usia responden, N=109 3. Program studi responden dari setiap fakultas Pada penelitian ini diperoleh data dari 109 mahasiswa diseluruh kampus Universitas Sanata Dharma yang tersebar di Yogyakarta. Mahasiswa terbanyak yaitu dari Fakultas Ilmu Keguruan dan Pendidikan (FKIP) sebesar 46,8% yang terdiri dari beberapa program studi, diantaranya Pendidikan Matematika, Pendidikan Fisika, Pendidikan Biologi, Bimbingan Konseling (BK), Pendidikan Bahasa Inggris (PBI), Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah, Pendidikan Ekonomi (PBSID), Pendidikan Akuntansi, Pendidikan Sejarah, Ilmu Pendidikan Agama Khatolik dan Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Sebesar 13,7% dari Fakultas Ekonomi yang terdiri dari dua program studi yaitu akuntasi dan manajemen. Selanjutnya, Fakultas Sains Teknologi

(53) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 34 memberi kontribusi sebesar 11,9% yang terdiri dari empat program studi yaitu Teknik Mesin, Teknik Elektro, Teknik Informatika, dan Matematika Murni. Kemudian dari Fakultas Sastra sebanyak 10,1% yang terdiri atas tiga program studi yaitu Sastra Inggris, Sastra Indonesia dan Ilmu Sejarah. Fakultas Psikologi berkontribusi sebesar 8,3 %, Fakultas Farmasi 5,5% dan Fakultas teologi sebesar 3,7%. Gambar 6. Presentase responden pada masing-masing fakultas, N=109 4. Uang saku perbulan responden Gambar 7. Presentase uang saku per bulan mahasiswa di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, N=109

(54) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 35 Bedasarkan hasil yang diperoleh yaitu uang saku perbulan dengan presentase terbesar yaitu 60,6% adalah antara Rp300.000,00-Rp1.000.000,00, sebesar 18,3%, antara Rp1.000.000,00-Rp1.500.000,00, lalu sebesar 13,38% responden dengan uang saku perbulan kurang dari Rp300.000,00. Kemudian sebesar 5,5 % responden memiliki uang saku lebih dari Rp2.000.000,00 dan presentase terendah sebesar 1,8% responden dengan uang saku antara Rp1.500.000,00-Rp2.000.000,00. Jumlah uang saku atau pendapatan yang diperoleh mahasiswa perbulan menjadi faktor ekonomi yang bekaitan dengan tindakan pengobatan mandiri. Faktor ekonomi sangat berpengaruh terhadap persoalan kesehatan salah satunya dalam melakukan swamedikasi untuk mengatasi penyakit (Berardi, et al., 2006). Semakin tingginya biaya yang dikeluarkan untuk mendapatkan pelayanan kesehatan seperti biaya dokter atau rumah sakit menjadi pemicu masyarakat untuk mencari pengobatan yang lebih murah yang relatif ringan (Djunarko, 2011). B. Pengenalan Responden terhadap Pengobatan Mandiri Gambar 8. Presentase pengetahuan responden tentang istilah swamedikasi, N=109 Sebanyak 109 responden penelitian sebesar 65,2% menjawab tidak pernah mendengar istilah swamedikasi lalu sisanya sebesar 34,8% responden menjawab

(55) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 36 pernah mendengar istilah swamedikasi. Dari 34,8% menyatakan bahwa sumber informasi mengenai swamedikasi diperoleh dari teman/ saudara/ tetangga yaitu sebanyak 11,9%. Kemudian sumber informasi dari media cetak/ elektronik sebanyak 11%, perbedaan yang sangat tipis. Sebanyak 4,4% sumber informasi diperoleh dari tenaga kesehatan (kesehatan masyarakat/ahli gizi), sebanyak 2% dari dokter/ dokter gigi/ apoteker/ perawat/ bidan. Sebagian kecil responden menambah sumber informasi yang membantu mereka yaitu sebanyak 3,7% diperoleh pada saat perkuliahan, 0,9% dari dosen, dan 0,9% dari komunitas anak. Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang pernah dilakukan sebelumnya oleh Kartika (2010) yang menyatakan bahwa responden umumnya banyak menerima informasi berdasarkan iklan di media cetak/ elektronik. Promosi obat bebas dan obat tradisional yang gencar dilakukan oleh pihak produsen diberbagai media cetak maupun elektronik membuat masyarakat harus lebih bijaksana dalam memilih obat yang tepat untuk penyakitnya. Gambar 9. Presentase sumber informasi yang diperoleh responden mengenai swamedikasi Pengobatan mandiri atau swamedikasi didefinisikan sebagai pemilihan dan penggunaan obat, tidak semata-mata obat modern saja, tetapi juga obat

(56) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 37 tradisional oleh diri sendiri untuk mengobati penyakit (WHO, 1998). Mengacu pada definisi WHO tersebut, arti penting swamedikasi menurut responden yaitu diperoleh hasil sebesar 78% responden memilih jawaban “a” yaitu, “Upaya pengobatan yang dilakukan oleh seseorang tanpa bantuan dokter untuk mengatasi keluhan sakit yang dialaminya”. Sebanyak 15,6% responden memilih jawaban “b” yaitu, “Tindakan penggunaan obat-obatan tanpa resep dokter oleh masyarakat atas inisiatif mereka sendiri”. Sebesar 6,4% menjawab tidak tahu “c”. Gambar 10. Presentase pendapat responden mengenai pengobatan mandiri, N=109 Menurut World Health Organization (1998) penggunaan obat untuk swamedikasi dapat menggunakan obat bebas/ obat bebas terbatas atau obat tradisional. Berdasarkan hasil penelitian saat melakukan swamedikasi 57,8% responden cenderung memilih “c” , “Keduanya, yaitu: obat tradisional dan obat bebas/ obat bebas terbatas (obat dengan bahan kimia). Kemudian sebesar 26,6% responden yang memilih jawaban “a”, yaitu “Obat tradisional, misalnya: jamu gendong, jamu dalam bentuk tablet dan jamu berbentuk cair dalam bentuk sachet”. Lalu sebesar 15,6% responden memilih jawaban “b” ,yaitu “obat bebas/ obat bebas terbatas (obat dengan bahan kimia), misalnya: CTM dan Paracetamol”.

(57) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 38 Gambar 11. Presentase kecenderungan pemilihan obat oleh responden untuk swamedikasi Swamedikasi memiliki kecenderungan meningkat dari waktu ke waktu. Bahkan tidak dapat dipungkiri bahwa setiap individu pasti pernah melakukan swamedikasi untuk diri sendiri, teman, maupun keluarga. Penelitian ini ingin mengetahui seberapa sering responden melakukan swamedikasi dalam satu bulan terakhir. Rentang waktu yang diberikan hanya satu bulan yang bertujuan memberikan batasan waktu agar mempermudah responden dalam mengingat dan untuk menghindari bias. Kemudian sebesar 54,1% (59 responden) menjawab tidak pernah melakukan pengobatan mandiri dalam satu bulan terakhir. Kemudian sebesar 45,9% (50 responden) yang menjawab pernah melakukan pengobatan mandiri. Gambar 12. Frekuensi melakukan swamedikasi dalam satu bulan terakhir, N=109

(58) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 39 Pengobatan mandiri dapat dilakukan kepada siapa saja yang sedang membutuhkan pengobatan. Dari hasil penelitian menunjukkan sebesar 70% (35 orang) melakukan pengobatan untuk diri sendiri, lalu 28% (14 orang) untuk keluarga, 20% (10 orang) untuk teman. Tabel VI. Swamedikasi untuk diri sendiri, keluarga dan teman No. Yang melakukan swamedikasi Jumlah (n=50) Presentase (%) 1 Diri sendiri 35 70% 2 Keluarga 14 28% 3 Teman 10 20% Total 69* 118%* Ket: * responden boleh memilih lebih dari satu jawaban pada kuesioner Pengobatan mandiri bertujuan untuk pengobatan penyakit ringan (minor illnesses), atau gejala yang sudah dikenali sendiri, tanpa resep atau intervensi dokter. Berikut adalah distribusi berbagai jenis penyakit yang diatasi responden dengan swamedikasi. No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 Tabel VII. Penyakit yang diatasi dengan pengobatan mandiri Penyakit Jumlah (n=50) Presentase (%) Pusing 22 44 Flu 17 34 Batuk 11 22 Maag 11 22 Demam 9 18 Pilek 8 16 Pegal-pegal 5 10 Sakit tenggorokan 4 8 Sakit gigi 4 8 Asma 1 2 Asam urat 1 2 Gatal-gatal 1 2 Diare 1 2 Sembelit 1 2 Alergi 1 2 Tekanan darah tinggi 1 2 Total 98* 196%* Ket: * responden boleh menjawab lebih dari satu jawaban pada kuesioner

(59) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 40 Berdasarkan hasil yang diperoleh dari 50 orang responden yang melakukan swamedikasi. Jenis obat yang digunakan oleh responden dalam melakukan swamedikasi sebesar 24% mengunakan obat generik dan sebesar 76% menggunakan obat dengan merek dagang. Gambar 13. Presentase jenis obat yang digunakan responden dalam melakukan pengobatan mandiri, N=50 No 1 2 3 Tabel VIII. Daftar obat yang digunakan responden dalam swamedikasi Obat Komposisi nama generik Jumlah (n=50) Parasetamol 6 Decolgen ® Parasetamol, Fenilpropanolamin Hcl, 5 Klofeniramin maleat Intunal ® Parasetamol, Fenilpropanolamin Hcl, 4 Klofeniramin maleat, Dekstrometorfan HBr, Gliseril guaiakolat 4 OBH® 5 Panadol ® 6 7 8 F.G Troches® Tolak angin® Inza® 9 10 11 12 13 14 15 16 Captopril Antalgin Biogesik® Antangin® Bisolvon® Bodrex® CTM® Diapet® Presentase (%) 12 10 8 Succus liquiritae, Ammonium Chlorida, Ammonium anisi spir Parasetamol 4 8 4 8 Fradiomycin, Gramicidin Parasetamol, Pseudoefedrin HCl, Klofeniramin maleat Parasetamol Bromhexine hydrochloride Parasetamol, Propifenazon Klofeniramin maleat - 3 3 2 6 6 4 2 2 2 1 1 1 1 1 4 4 4 2 2 2 2 2

(60) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 41 Tabel VIII. Lanjutan 17 18 Dulcolax® Feminax® 19 Flutamol® 20 21 Jamu Kaladin® 22 23 Klorofil® Komix® 24 25 26 Koyo® Mertigo® Mylanta® 27 Mixagrif® 28 Nalgestan® 29 30 31 32 33 34 35 Neuralgin® Obat asam urat Obat batuk ibu dan anak Obat untuk gatal OBH herbal ® Omega Squa® Panadol Hijau® 36 Paramex® 37 Procold® 38 Promag® 39 40 Propolis® Safe Care® 41 42 43 Salbutamol® Salonpas® Sanaflu® 44 Tremenza® 45 Wood Antitusif® Bisacodil Parasetamol , ekstrak Hiosami Parasetamol, Fenilpropanolamin Hcl, Klofeniramin maleat, Gliseril guaiakolat Calamine, zinc oxide, camphor, menthol Succus liquiritae, Guaifenesin, Ephedrin HCl, Klofeniramin maleat Metil salisilat, menthol, comphor Betahistine mesylate Aluminium hidroksida, Magnesium hidroksida, simetikon Parasetamol, Fenilpropanolamin Hcl, Klofeniramin maleat Fenilpropanolamin Hcl, Klofeniramin maleat Parasetamol, ibuprofen, cafein Parasetamol, Pseudoefedrin HCl, Dekstrometorfan HBr, Parasetamol, propyphenazone, caffeine, dexchlorpheniramine maleat Parasetamol, Pseudoefedrin HCl, Klofeniramin maleat Hidrotalcite, Magnesium hidroksida, simetikon Menthol, camphor, minyak esensial 1 1 2 2 1 2 1 1 2 2 1 1 2 2 1 1 1 2 2 2 1 2 1 2 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 2 1 2 1 2 1 2 1 1 2 2 Salbutamol sulfat Metil salisilat, mentol Parasetamol, phenylpropanolamin HCl Pseudoefedrin HCl, Tripolidine 1 1 1 2 2 2 1 2 Dekstrometorfan HBr, Diphenhidramine HCl, - 1 2 46 Aminofilin 1 47 Asam mefenamat 1 Total 65 Ket: * responden boleh menjawab lebih dari satu jawaban pada kuesioner 2 2 148%

(61) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 42 Sebesar 84% responden mendapatkan obat untuk swamedikasi di apotek. Hal ini merupakan tindakan yang tepat karena akan lebih baik jika masyarakat mendapatkan obat untuk swamedikasi di apotek karena apoteker dapat membantu dalam menentukan diagnosis, memilih obat yang rasional, menilai kelayakan dan masyarakat dapat memperoleh informasi penting terkait obat (Djunarko, 2011). Sebesar 22% memperoleh obat di warung terdekat, sebesar 6% di toko obat , dan sebesar 6% diperoleh dari orang lain (teman, keluarga, dan lain-lain). No. 1 2 3 4 Total Tabel IX. Tempat responden mendapatkan obat untuk swamedikasi Tempat mendapatkan obat Jumlah (n=50) Persentase (%) Apotek 42 84 Warung terdekat 11 22 Toko obat 3 6 Dari orang lain (teman, keluarga, dll). 3 6 59* 118%* Ket: * responden boleh memilih lebih dari satu jawaban pada kuesioner Berdasarkan hasil yang diperoleh sebesar 42% biaya yang dikeluarkan untuk swamedikasi
(62) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI No. 1 2 3 4 5 6 7 Total 43 Tabel X. Biaya yang dikeluarkan untuk membeli obat Biaya Jumlah (n=50) Presentase (%) < Rp5.000,00 21 42 Rp5.000,00-Rp15.000,00 21 42 Rp15.000,00-Rp25.000,00 4 8 Rp25.000,00-Rp35.000,00 1 2 Rp35.000,00-Rp45.000,00 1 2 > Rp50.000,00 1 2 Tidak membeli obat 1 2 50 100 Berdasarkan tabel XI, alasan responden melakukan pengobatan mandiri yaitu sebesar 48% memilih alasan karena penyakitnya masih ringan. Hasil ini sejalan dengan definisi pengobatan mandiri. Pengobatan mandiri merupakan tindakan diagnosis, pengobatan dan pencegahan penyakit (minor illness) yang dilakukan oleh seseorang tanpa intervensi dari dokter (Berardi, et al., 2006). Sebesar 36% memilih alasan lebih praktis, sebesar 16% memilih jawaban lebih cepat karena tidak antri untuk periksa. Sebesar 8% responden memilih jawaban karena biaya lebih murah. Beberapa responden mengemukakan alasan lain seperti saran dari keluarga sebesar 4%, karena 2%, biasanya sembuh menggunakan obat tersebut 2%, kemudian sebesar 2% karena penyakitnya sudah sembuh dalam 3 hari, 2% menjawab karena tidak terlalu banyak campuran bahan kimia. Tabel XI. Alasan melakukan pengobatan mandiri No 1 2 3 4 5 6 7 8 Alasan Jumlah (n=50) 24 18 8 4 2 2 1 1 Penyakitnya masih ringan Lebih praktis Lebih cepat/ tidak antri untuk periksa Biaya lebih murah Merasa cocok Saran dari orang tua Tidak mengandung campuran bahan kimia yang terlalu banyak Obat yang tersedia hanya itu dan penyakit yang diderita sembuh kurang dari 3 hari Total 60* Ket: * responden boleh memilih lebih dari satu jawaban pada kuesioner Presentase (%) 48 36 16 8 4 4 2 2 120%*

(63) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 44 C. Pengetahuan Responden terhadap Obat Tradisional dan Obat Modern Tabel XII. Persentase jawaban responden mengenai obat modern dan obat tradisional No Pernyataan Jawaban Ya Tidak Tidak tahu 1 Obat tradisional merupakan ramuan atau produk obat 92,7% 5,5% 1,8% yang berasal dari tanaman 2 Obat tradisional dapat berbentuk tablet, cairan dalam 82,6% 13,8% 3,7% botol atau sachet atau kapsul 3 Tidak terdapat takaran dosis yang tepat pada 38,5% 38,5% 22,9% penggunaan obat tradisional 4 Terdapat beberapa jenis obat tradisional, yaitu jamu, 62,4% 4,6% 33% obat herbal terstandar dan fitofarmaka 5 Jika dalam kemasannya terdapat lambang seperti pada 57,8% 1,8% 40,4% gambar berikut ini, maka obat tersebut adalah Jamu. 6 Jika memiliki lambang dalam kemasannya seperti pada gambar berikut ini, maka obat tersebut merupakan obat tradisional yang khasiat dan keamanannya sudah distandarisasi. 18,3% 2,8% 78,9% 7 Jika memiliki lambang dalam kemasannya seperti pada gambar berikut ini, maka obat tersebut merupakan jenis obat tradisional bernama fitofarmaka 16,5% 1,8% 81,7% 8 Obat tradisional dengan kandungan jahe (Zingiberis rhizoma), dapat digunakan untuk melegakan tenggorokan serta mengatasi mual dan muntah 81,7% 4,6% 13,8% 9 Aturan pakai obat tradisional harus mengikuti aturan yang disarankan seperti yang tertera pada kemasan. Obat tradisional tidak memiliki efek samping yang berbahaya Obat tradisional dapat dikonsumsi oleh semua kalangan usia, termasuk ibu hamil, menyusui atau pun seseorang yang mengalami gangguan fungsi organ ,seperti gangguan ginjal Obat tradisional dapat digunakan dalam pengobatan mandiri Terdapat beberapa jenis obat modern (obat dengan bahan kimia) yaitu obat bebas, obat bebas terbatas, dan obat keras. 77,1% 22,9% - 33% 42,2% 24,8% 24,8% 53,2% 22% 90,8% 0,9% 8,9% 63,3% 3,7% 33% 10 11 12 13

(64) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 14 Tabel XII. Lanjutan Jika suatu obat memiliki lambang seperti pada gambar, maka obat tersebut dapat dibeli secara bebas di warung tanpa resep dokter. 45 53,2% 3,7% 43,1% 15 Jika suatu obat memiliki lambang seperti pada gambar, maka obat tersebut merupakan obat keras yang hanya bisa dibeli dengan resep dokter. 48,6% 2,8% 48,6% 16 Jika pada kemasan suatu obat terdapat lambang seperti pada gambar, maka obat tersebut merupakan obat yang dapat dibeli tanpa resep dokter, dengan batas jumlah pembelian tertentu 28,4% 2,8% 68,8% 17 Obat bebas/bebas terbatas merupakan obat yang mengandung bahan kimia, yang dapat dibeli di warung/toko, toko obat maupun apotek. Obat bebas/bebas terbatas tersedia dalam bentuk tablet, kapsul, sirup, dan salep, maupun krim dalam kemasan. Obat bebas/bebas terbatas mempunyai takaran dosis tertentu. Obat bebas yang memiliki kandungan parasetamol dapat digunakan untuk meredakan gejala demam dan pusing. Obat bebas/bebas terbatas harus digunakan sesuai dengan aturan pakai yang tertera dalam kemasan. Penggunaan obat bebas/bebas terbatas dapat menimbulkan efek samping, misalnya mual, muntah, mengantuk dan alergi. Obat bebas/bebas terbatas digunakan tanpa resep dokter (tanpa periksa terlebih dahulu) hanya untuk mengatasi gejala/penyakit ringan, seperti sakit kepala ringan, nyeri ringan, dll. 78% 7,3% 14,7% 82,6% 6,4% 11% 77,4% 6,4% 16,5% 84,4% 3,7% 11,9% 89,9% 4,6% 5,5% 75,2% 6,4% 18,3% 79,8% 6,4% 13,8% 18 19 20 21 22 23 1. Pengertian responden mengenai obat tradisional Berdasarkan tabel XI Pernyataan ke-14 pada kuesioner (Lampiran) adalah “Obat tradisional merupakan ramuan atau produk obat yang berasal dari tanaman”. Berdasarkan hasil sebanyak 92,7% (101 respponden) menjawab “Ya”,

(65) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 46 5,5% (6 responden) menjawab “Tidak”, 1,8% (8 responden) menjawab “Tidak Tahu”. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki pengetahuan yang baik tentang pengertian obat tradisional secara umum. Undangundang kesehatan nomor 36 tahun 2009 menyebutkan bahwa: Obat tradisional adalah bahan atau ramuan bahan yang berupa bahan tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral, sediaan sarian (galenik) atau campuran dari bahan tersebut yang secara turun temurun telah digunakan untuk pengobatan dan dapat diterapkan sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat. Penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian oleh Noviana (2011) bahwa respondennya yaitu pasien geriatri RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta telah paham bahwa obat tradisional adalah obat yang berasal dari bagian tanaman. Obat tradisional juga mencakup penggunaan tanaman atau ekstrak tanaman yang berbeda. Ini adalah salah satu pilihan obat yang efektif dan relatif aman. Selain digunakan untuk mengobati penyakit, obat tradisional juga sering digunakan untuk pencegahan penyakit atau meningkatkan daya tahan tubuh terhadap penyakit (Nurmalina dan Valley, 2012). 2. Pengetahuan responden mengenai bentuk sediaan obat tradisional Pernyataan ke-15 pada kuesioner (Lampiran) adalah “Obat tradisional dapat berbentuk tablet, cairan dalam botol atau sachet atau kapsul”. Bentuk sediaan obat tradisional dapat berupa serbuk, rajangan, kapsul,tablet, pil, sirup dan sediaan terdispers, sediaan topikal seperti krim atau salep, serta suppositoria yang zat aktifnya sudah berupa ekstrak (Anonim, 2004).

(66) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 47 Hasil dari penelitian menyatakan bahwa sebanyak 82,6% (90 responden) menjawab “Ya”, 13,8% (15 responden) menjawab “Tidak” dan 3,7% (4 responden) menjawab “Tidak tahu”. Dapat diartikan bahwa pemahaman atau pengetahuan responden tentang bentuk sediaan obat tradisional dikategorikan baik. Obat tradisional dapat dikemas secara modern. Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang pernah dilakukan sebelumnya oleh Noviana (2011). Bentuk sediaan obat tradisional yang beredar di pasaran dalam berbagai bentuk seperti: teh, sirup, minyak, ekstrak cair, tincture, dan ekstrak kering (pil atau kapsul). Teh biasanya dibuat dari tumbuh-tumbuhan kering yang direbus selama beberapa menit atau dengan merendam ramuan dalam air yang mendidih kemudian diaduk. Sirup biasanya terbuat dari ekstrak terkonsentrasi dan ditambahkan ke dalam cairan manis. Biasanya untuk mengobati sakit tenggorokan dan batuk. Minyak biasanya diekstrak dari tanaman dan digunakan untuk menggosok saat pijat, atau diolah kembali menjadi salep atau krim. Tincture dan ekstrak cair dibuat dari bahan aktif yang dilarutkan dalam cairan biasanya (air, alkohol, atau gliserol). Ekstrak cair lebih pekat daripada tincture, adapun ekstrak kering dijual sebagai tablet, kapsul atau permen (Nurmalina dan Valley, 2012). 3. Pengetahuan responden mengenai dosis obat tradisional Pernyataan ke-16 pada kuesioner (Lampiran) adalah “Tidak terdapat takaran dosis yang tepat pada penggunaan obat tradisional”. Hasil dari kuesioner menyatakan bahwa sebanyak 38,5% (42 responden) menjawab “Ya”, 38,5% (42 responden) menjawab “Tidak” dan 22,9% (25 responden) menjawab “Tidak

(67) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 48 tahu”. Dapat diketahui bahwa pengetahuan responden mengenai dosis obat tradisional dikatakan kurang. Pada umumya obat tradisional memiliki dosis dan aturan pakai yang harus dipatuhi, terutama untuk obat tradisional seperti obat herbal terstandar (OHT) dan fitofarmaka yang sudah mempunyai dosis pasti sehingga dalam mengkonsumsi obat harus memperhatikan aturan pakai, baik jumlah maupun waktu minum agar tidak muncul efek yang tidak diharapkan (Depkes RI, 2008). Penelitian mengenai obat tradisional oleh Vania (2009) menyatakan bahwa penggunaan obat tradisional dalam pengobatan mandiri haruslah sesuai dengan dosis yang dianjurkan karena menurut laporan dari WHO, munculnya efek yang tidak diharapkan karena bahan yang berasal dari tumbuhan obat itu sendiri, salah satunya karena ketidak-tepatan dosis pemakaian. Sehingga sangat penting bagi responden untuk mengetahui bahwa walaupun penggunaan obat tradisional relatif aman bagi pasien, namun perlu diingat juga bahwa obat tradisional memiliki dosis dan aturan pakai yang harus dipatuhi. 4. Pengetahuan responden mengenai penggolongan obat tradisional Pernyataan ke-17 yang tercantum pada kuesioner (Lampiran) adalah “Terdapat beberapa jenis obat tradisional yaitu, jamu, obat herbal terstandar dan fitofarmaka”. Berdasarkan keputusan kepala Badan POM RI No.HK.00.05.4.2411 tahun 2004 menyatakan bahwa obat tradisional digolongkan menjadi jamu, obat herbal terstandar dan fitofarmaka. Penggolongan tersebut berdasarkan cara pembuatan, jenis klaim penggunaan dan tingkat pembuktian khasiat.

(68) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 49 Hasil dari penelitian menyatakan bahwa sebanyak 62,4% (68 responden) menjawab “Ya”, 33% (36 responden) menjawab “Tidak tahu”, dan 4,6% (5 responden) menjawab “Tidak”. Dapat diketahui bahwa pengetahuan responden tentang penggolongan obat tradisional tersebut dikategorikan cukup atau sedang. Penggolongan obat tradisional di Indonesia terbagi menjadi tiga, yaitu jamu, obat herbal terstandar dan fitofarmaka. Jamu sebagai warisan budaya bangsa harus tetap dilestarikan dengan fokus utamanya yaitu aspek mutu dan keamanannya dan khasiatnya telah terbukti secara empirik dan telah berlangsung dalam kurun waktu yang sanga lama. Obat herbal terstandar adalah sediaan obat bahan alam yang telah dibuktikan keamanan dan khasiatnya secara ilmiah dengan uji praklinis, dengan bahan baku yang sudah distandarisasi. Sedangkan fitofarmaka adalah sediaan obat alam yang telah dibuktikan secara ilmiah dengan uji praklinis dan uji klinis dan bahan baku dan produknya telah distandarisasi (Wasito, 2011). 5. Pengetahuan responden mengenai logo jamu sebagai salah satu bagian dari obat tradisional Pernyataan ke-18 yang tercantum pada kuesioner (Lampiran) adalah “Jika dalam kemasannya terdapat lambang seperti pada gambar berikut ini, maka obat tersebut adalah Jamu”. Gambar 14. Logo Jamu

(69) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 50 Berdasarkan keputusan kepala Badan POM RI no. HK.00.05.4.2411 pasal 5, tahun 2004 menyatakan bahwa logo untuk jamu berupa ranting daun yang terletak dalam lingkaran dan harus tecantum pada kemasan obat. Hasil dari penelitian menyatakan bahwa sebanyak 57,8% (63 responden) menjawab “Ya”, sebesar 40,4% (44 responden) menjawab “Tidak tahu” dan sebesar 1,8% (2 responden) menjawab “Tidak”. Berdasarkan hasil dapat dikatakan bahwa pengetahuan responden mengenai logo jamu adalah cukup atau sedang. Logo jamu berupa lingkaran yang secara filosofis menyatakan sebuah proses serta tanda aman berwarna hijau serta kuning merupakan perwujudan kekayaan alam Indonesia dengan di tengah-tengahnya terdapat gambar stilisasi jari-jari daun yang melambangkan suatu proses pembuatan jamu yang sederhana. Pada umumnya jamu dibuat dengan mengacu pada resep peninggalan leluhur yang disusun dari berbagai macam tanaman obat yang jumlahnya cukup banyak sekitar 5-10 macam tanaman bahkan lebih. Jamu dimanfaatkan secara langsung untuk tujuan pengobatan atau menjaga kesehatan (Wasito, 2011). 6. Pengetahuan responden mengenai logo obat herbal terstandar sebagai salah satu bagian dari obat tradisional Pernyataan ke-19 yang tercantum pada kuesioner (Lampiran) adalah “Jika memiliki lambang dalam kemasannya seperti pada gambar berikut ini, maka obat tersebut merupakan obat tradisional yang khasiat dan keamanannya sudah distandarisasi”. Gambar 15. Logo Obat Herbal Terstandar

(70) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 51 Berdasarkan keputusan kepala Badan POM RI no. HK.00.05.4.2411 pasal 7, tahun 2004 menyatakan bahwa logo untuk obat herbal terstandar berupa jarijari daun (3 pasang) yang terletak dalam lingkaran dan harus tercantum pada kemasan obat. Hasil dari kuesioner menyatakan bahwa sebesar 78,9% (86 responden) menjawab “Tidak tahu”, 18,3% (20 responden) menjawab “Ya” dan 2,8% (3 responden) menjawab “Tidak”. Dapat dikategorikan bahwa pengetahuan responden mengenai logo obat herbal terstandar adalah kurang. Logo obat herbal terstandar berupa lingkaran hijau dengan warna dasar dalam lingkaran kuning yang memiliki filosofi sama dengan jamu serta pada bagian dalam terdapat stilisasi jari-jari daun sebanyak tiga pasang melambangkan serangkaian proses pembuatan ekstrak tanaman obat yakni uji labolatorium, uji toksisitas dan uji praklinis yang harus dilalui dalam pembuatan obat herbal terstandar. Obat herbal terstandar merupakan bagian obat tradisional yang biasanya disajikan dari ekstrak atau hasil penyarian bahan alam yang dapat berupa tanaman obat, binatang, biota laut, maupun mineral. Selain pembuatannya yang membutuhkan teknologi maju, obat herbal terstandar telah ditunjang dengan bukti ilmiah berupa uji praklinik seperti uji khasiat farmakologis dan uji toksisitas akut maupun kronis pada beberapa hewan percobaan (Wasito, 2011). 7. Pengetahuan responden mengenai logo fitofarmaka sebagai salah satu bagian dari obat tradisional Pernyataan ke-20 yang tercantum pada kuesioner (Lampiran) adalah “Jika memiliki lambang dalam kemasannya seperti pada gambar berikut ini, maka obat tersebut merupakan jenis obat tradisional bernama fitofarmaka”.

(71) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 52 Gambar 16. Logo Fitofarmaka Berdasarkan keputusan kepala Badan POM RI no. HK.00.05.4.2411 pasal 8, tahun 2004 menyatakan bahwa logo fitofarmaka berupa jari-jari daun yang kemudian berbentuk bintang, terletak dalam lingkaran dan harus tercantum pada kemasan obat. Hasil dari kuesioner menyatakan bahwa sebesar 81,7% (89 responden) menjawab “Tidak tahu”, sebesar 16,5% (18 responden) menjawab “Ya”, dan 1,8% (2 responden) menjawab “Tidak”. Dapat dikategorikan bahwa pengetahuan responden mengenai logo fitofarmaka adalah kurang. Logo fitofarmaka berupa lingkaran hijau dengan warna bagian dalam lingkaran kuning serta pada bagian dalam lingkaran terdapat gambar berupa stilisasi jari-jari daun yang kemudian membentuk bintang yang melambangkan serangkaian proses yang cukup kompleks dan dalam pembuatan fitofarmaka seperti uji laboratorium, uji toksisitas, uji praklinis, serta uji klinis pada pasien. Fitofarmaka merupakan bentuk obat tradisional yang terbuat dari bahan alam yang dapat disejajarkan dengan obat modern karena dalam pembuatannya sedah terstandar dan terbukti secara ilmiah bahkan sudah sampai uji klinis kepada manusia. Uji klinis ini akan lebih meyakinkan para profesi medis untuk menggunakan obat tradisional di sarana pelayanan kesehatan (Wasito, 2011). 8. Pengetahuan responden mengenai salah satu indikasi dari obat tradisional Pernyataan ke-21 yang tercantum pada kuesioner (Lampiran) adalah “Obat tradisional dengan kandungan jahe (Zingiberis rhizoma), dapat digunakan untuk

(72) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 53 melegakan tenggorokan serta mengatasi mual dan muntah”. Hasil dari kuesioner menyatakan bahwa sebesar 81,7% (89 responden) menjawab “Ya”, sebesar 13,8% (15 responden) menjawab “Tidak tahu” dan 4,6% (5 responden) menjawab “Tidak”. Berdasarkan hasil dapat diketahui bahwa responden sebagian besar telah paham mengenai salah satu indikasi dari obat tradisional Zingiberis rhizoma. Pengetahuan responden dikategorikan baik. Bau dan rasa khas jahe disebabkan oleh campuran zingerone, shogoals, gingerols dan minyak folatil. Berdasarkan beberapa penelitian, gingerols meningkatkan motilitas saluran pencernaan dan memiliki sifat analgesik, sedatif, antipiretik dan antibakteri. Gingerol adalah komposisi pembawa pedas yang utama dari jahe. Jahe juga memiliki kandungan minyak wangi esensial dengan unsur utamanya adalah sesquiterpenoid. Rasa pedas jahe disebakan turunan senyawa non-folatil phenylpropanoid. Manfaat kesehatan dari jahe yaitu sebagai merangsang sistem peredarah darah dan meningkatkan aliran darah ke permukaan kulit. Pelepasan keringat dalam tubuh juga bisa bertambah melalui konsumsi jahe. Jahe juga lazim digunakan untuk mengobati mual, sakit perut, diare, kehilangan nafsu makan, mengurangi peradangan, sebagai dekongestan serta antihistamin alami sehingga sangat cocok untuk mengobati pilek. Penggunaan lainnya termasuk mengobati infeksi saluran pernapasan atas, batuk, dan bronkitis (Nurmalina dan Valley, 2012). 9. Pengetahuan responden mengenai aturan pakai obat tradisional Pernyataan ke-22 yang tercantum pada kuesioner (Lampiran) adalah “Aturan pakai obat tradisional harus mengikuti aturan yang disarankan seperti

(73) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 54 yang tertera pada kemasan”. Pada dasarnya cara minum obat harus sesuai dengan anjuran yang tertera pada etiket atau brosur. Hal ini merupakan salah satu poin penting penggunaan obat secara rasional (Depkes RI, 2008). Berdasarkan hasil sebesar 77,1% (84 responden) menjawab “Ya” dan 22,9% (25 responden) menjawab “Tidak”. Berdasarkan hasil tersebut dapat diketahui bahwa responden sebagian besar telah sadar betapa pentingnya mengikuti aturan pakai yang tertera pada kemasan obat. Kategori pengetahuan responden mengenai aturan pakai obat tradisional dikatakan baik. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Noviana (2011) responden sebagian besar telah paham kalau penggunaan obat tradisional itu aman, namun dalam penggunaannya harus tetap memperhatikan waktu konsumsi dan cara penggunaan dan efek samping yang akan timbul (Harmanto dan Subroto, 2007). Obat tradisional sama seperti obat-obatan pada umumnya, bila digunakan secara tepat mengikuti aturan pakai yang tertera maka akan aman, tetapi apabila digunakan salah atau disalahgunakan bisa menjadi berbahaya (Nurmalina dan Valley, 2012). 10. Pengetahuan responden mengenai efek samping dari obat tradisional Pernyataan ke-23 “Obat tradisional yang tercantum pada kuesioner (Lampiran) adalah tidak memiliki efek samping yang berbahaya”. Hasil dari kuesioner menyatakan bahwa sebesar 42,2% (46 responden) menjawab “Tidak” , sebesar 33% (36 responden) menjawab “Ya” dan 24,8% (27 menjawab “Tidak Tahu”. Berdasarkan responden) hasil dapat diketahui bahwa sebagian

(74) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 55 besar responden masih menganggap bahwa obat tradisional tidak memiliki efek samping yang berbahaya. Dapat dikategorikan bahwa pengetahuan responden mengenai efek samping obat tradisional adalah kurang. Hal ini sejalan dengan penelitian yang pernah dilakukan sebelumnya oleh Noviana (2011). Pada dasarnya setiap obat, baik itu obat modern maupun obat tradisional memiliki efek samping, namun pada intinya masyarakat harus pintar dalam memilih produk yang berkhasiat dan mempunyai efek samping yang minimal (Harmanto, 2007). Sejumlah obat tradisional dapat digunakan dengan aman tanpa menimbulkan efek samping. Namun beberapa herbal membutuhkan kehati-hatian dalam penggunaannya karena efek samping yang akan ditimbulkan pada kondisikondisi terntentu oleh si pengguna atau pasien. Herbal-herbal tidaklah sama antara satu dengan yang lainnya, beberapa mungkin lebih cocok untuk orang-orang dengan kondisi tertentu, oleh karena itu pengetahuan dan bimbingan adalah salah satu bagian dari suksesnya pengobatan (Nurmalina dan Valley, 2012). 11. Pengetahuan responden mengenai kontraindikasi obat tradisional Pernyataan ke-24 yang tercantum pada kuesioner (Lampiran) adalah “Obat tradisional dapat dikonsumsi oleh semua kalangan usia, termasuk ibu hamil, menyusui atau pun seseorang yang mengalami gangguan fungsi organ, seperti gangguan ginjal”. Hasil dari kuesioner menyatakan bahwa sebesar 53,2% (58 responden) menjawab “Tidak” , sebesar 24,8% (27 responden) “Ya” dan 22% (24 responden) menjawab “Tidak tahu”. Hal ini menunjukan bahwa responden cukup tahu tentang adanya kontraindikasi obat tradisional. Penelitian sejalan

(75) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 56 dengan ini oleh Liliani (2004). Banyak obat tradisional yang dikontraindikasikan pada ibu hamil, ibu menyusui dan bayi akan tetapi beberapa dari obat tradisional ada yang memang diindikasikan untuk golongan tersebut, oleh karenanya sangat penting untuk mengetahui kontraindikasi terkait obat tradisional yang digunakan dalam pengobatan. 12. Pengetahuan responden mengenai penggunaan obat tradisional dalam pengobatan mandiri Pernyataan ke-25 yang tercantum pada kuesioner (Lampiran) adalah “Obat tradisional dapat digunakan dalam pengobatan mandiri”. Menurut WHO (1998), pengobatan mandiri atau swamedikasi didefinisikan sebagai pemilihan dan penggunaan obat, tidak semata-mata obat modern saja, tetapi juga obat tradisional oleh diri sendiri untuk mengobati penyakit. Hasil dari kuesioner menyatakan bahwa sebesar 90,8% (99 responden) menjawab “Ya”, sebesar 8,3% (9 responden) menjawab “Tidak tahu” dan 0,9% (1 responden) menjawab “Tidak”. Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa responden sebagian besar telah memahami bahwa obat tradisional dapat digunakan sebagai salah satu pilihan untuk mengatasi penyakit yang diderita serta memulihkan stamina. Penggunaan obat tradisional dalam pengobatan mandiri sudah lazim dilakukan. Dekade yang lalu mencatat bahwa terjadi peningkatan penggunaan obat tradisional yang cukup berarti akibat promosi WHO untuk menggunakan obat tradisional sehingga dikeluarkan kebijakan-kebijakan untuk menjamin keamanan dan keefektifan obat tradisional yang akan digunakan oleh masyarakat (Syahputri, 2006).

(76) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 57 13. Pengetahuan responden mengenai penggolongan obat modern (obat dengan bahan kimia) Pernyataan ke-26 yang tercantum pada kuesioner (Lampiran) adalah “Terdapat beberapa jenis obat modern (obat dengan bahan kimia) yaitu obat bebas, obat bebas terbatas, dan obat keras”. Hasil dari kuesioner menyatakan bahwa sebesar 63,3% (69 responden) menjawab “Ya”, sebesar 33% (36 responden) menjawab “Tidak tahu dan 3,7% (4 responden) menjawab “Tidak”. Berdasarkan hasil dapat dikategorikan pengetahuan responden mengenai penggolongan obat modern adalah cukup atau sedang. Dalam rangka membantu masyarakat terhadap pemilihan obat-obatan yang dijual bebas di pasaran telah dilakukan penggolongan obat yang umum digunakan agar dapat menjadi pegangan dalam melakukan pengobatan mandiri (Sartono, 1993). Klasifikasi obat merupakan upaya pemerintah untuk meningkatkan keamanan dan ketepatan penggunaan sekaligus pengamanan distribusi. Berdasarkan kriteria tertentu obat yang boleh digunakan dalam pengobatan mandiri antara lain obat bebas, obat bebas terbatas dan obat wajib apotik. Obat bebas dan obat bebas terbatas merupakan obat yang boleh diperjualbelikan secara bebas tanpa harus menggunaan resep dokter dinamakan OTC (Over The Counter) golongan ini untuk menangani penyakit simtomatis ringan. Sedangkan OWA (obat wajib apotek) adalah golongan obat keras yang masuk daftar obat wajib apotik yang bisa dibeli tanpa resep dokter dan diserahkan langsung oleh apoteker di apotik (Zeenot, 2013).

(77) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 58 14. Pengetahuan responden mengenai logo obat bebas Pernyataan ke-27 yang tercantum pada kuesioner (Lampiran) adalah “Jika suatu obat memiliki lambang seperti pada gambar, maka obat tersebut dapat dibeli secara bebas di warung tanpa resep dokter”. Gambar 17. Logo Obat Bebas Obat bebas merupakan obat yang dapat diperoleh secara bebas di pasaran dan dapat dibeli tanpa resep dokter. Obat bebas ditandai dengan tanda khusus yaitu berupa lingkaran berwarna hijau dan garis tepi berwarna hitam. Logo tersebut harus tercantum pada kemasan dan etiket obat bebas (Depkes RI, 2008). Hasil dari kuesioner menyatakan bahwa sebesar 53,2% (58 responden) menjawab “Ya”, sebesar 43,1% (47 responden) menjawab “Tidak tahu” dan 3,7% (4 responden) menjawab “Tidak”. Dapat dikategorikan pengetahuan responden mengenai logo obat bebas adalah cukup atau sedang. Zat aktif yang terdapat dalam golongan obat bebas relatif cukup aman sehingga pada saat pemakaiannya tidak membutuhkan pengawasan secara langsung oleh tenaga medis. Hanya cukup memperhatikan petunjuk yang tertera pada kemasan obat tersebut. Guna memastikan keamanan obat ini, pastikan membeli bersama dengan kemasannya (Zeenot, 2013).

(78) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 59 15. Pengetahuan responden mengenai logo obat keras Pernyataan ke-28 yang tercantum pada kuesioner (Lampiran) adalah “Jika suatu obat memiliki lambang seperti pada gambar, maka obat tersebut merupakan obat keras yang hanya bisa dibeli dengan resep dokter”. Gambar 18. Logo Obat Keras Obat keras merupakan obat yang hanya dapat diperoleh di apotek dan hanya dapat dibeli dengan resep dokter. Pada kemasan obat terdapat tanda khusus berupa lingkaran merah dan terdapat huruf K di tengah yang menyentuh garis tepi berwarna hitam (Depkes RI, 2008). Hasil dari kuesioner menyatakan bahwa sebesar 48,6% (53 responden) menjawab “Ya”, sebesar 48,6% (53 responden) menjawab “Tidak tahu” dan 2,8% (3 responden) menjawab “Tidak”. Dapat dikategorikan pengetahuan responden mengenai logo obat keras adalah kurang. Dulu, obat jenis ini disebut obat daftar ”G”, gevaarlijk artinya berbahaya. Obat keras dalam hal ini terdiri dari beberapa jenis obat, antara lain Daftar obat G atau obat keras, seperti antibbiotik, antihipertensi, antidiabetes dan lain sebagainya. Daftar obat O atau obat bius/anestesi, sejenis golongan obat narkotika. OKT (obat keras tertentu) atau psikotropika seperti obat sakit jiwa, obat penenang, obat tidur dan lain sebagainya. Kemudian OWA (obat wajib apotek), juga dikategorikan obat keras yang bisa dibeli dengan takaran tertentu tanpa harus menggunakan resep dokter seperti obat asma, pil KB, antihistamin, beberapa obat kulit tertentu dan lain sebagainya (Zeenot, 2013)

(79) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 60 16. Pengetahuan responden mengenai logo obat bebas terbatas Pernyataan ke-29 yang tercantum pada kuesioner (Lampiran) adalah “Jika pada kemasan suatu obat terdapat lambang seperti pada gambar, maka obat tersebut merupakan obat yang dapat dibeli tanpa resep dokter, dengan batas jumlah pembelian tertentu”. Gambar 19. Logo Obat Bebas Terbatas Obat bebas terbatas merupakan obat obat keras namun masih dapat diperoleh tanpa resep dokter, akan tetapi penggunaannya harus memperhatikan informasi pada kemasan obat. Obat bebas terbatas memiliki tanda berupa lingkaran biru dengan garis tepi berwarna hitam (Depkes RI, 2008). Hasil dari kuesioner menyatakan bahwa sebesar 68,8% (75 responden) menjawab “Tidak tahu” , sebesar 28,4% (31 responden) menjawab “Ya” dan 2,8% (3 responden) menjawab “Tidak”. Dapat dikategorikan pengetahuan responden mengenai logo obat bebas terbatas adalah kurang. Dulu, obat jenis ini disebut daftar ”W” biasanya obat ini disertai dengan tanda peringatan yang tertera pada kemasan. Obat bebas terbatas dapat diperjualbelikan apabila memenuhi persyaratan jika masih berada dalam kemasan aslinya dari pabrik atau pembuat obat tersebut. Pada setiap bungkus obat bebas dan obat bebas terbatas harus disertai brosur yang berisi cara pemakaian obat, dosis, kontraindikasi dan kemungkinan efek samping serta gejala-gejalanya. Apabila dalam bungkus obat bebas terbatas tidak disertakan brosur maka obat

(80) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 61 tersebut bisa dikategorikan sebagai obat keras dan tidak dibenarkan untuk pengobatan mandiri (Zeenot, 2013). 17. Pengetahuan responden tentang dimana mendapatkan obat bebas/ bebas terbatas Pernyataan ke-30 yang tercantum pada kuesioner (Lampiran) adalah “Obat bebas/ bebas terbatas merupakan obat yang mengandung bahan kimia, yang dapat dibeli di warung/ toko, toko obat maupun apotek”. Hasil dari kuesioner menyatakan bahwa sebesar 78% (85 responden) menjawab “Ya” , sebesar 14,7% (16 responden) menjawab “Tidak tahu”, dan 7,3% (8 responden) menjawab “Tidak”.Dari hasil penelitian, responden sebagian besar telah memahami dan mengetahui tempat mendapatkan obat untuk swamedikasi. Pada umumnya masyarakat yang melakukan swamedikasi dapat membeli obat di apotek atau toko obat berizin (Depkes RI, 2008). Ditinjau dari kemudahan memperoleh produk obat, tidak sedikit pasien lebih memilih kenyamanan untuk membeli obat dimana saja bisa diperoleh dibandingkan dengan harus mengantri lama di rumah sakit maupun klinik (Zeenot, 2013). 18. Pengetahuan responden mengenai bentuk sediaan obat bebas/ bebas terbatas Pernyataan ke-31 yang tercantum pada kuesioner (Lampiran) adalah “Obat bebas/ bebas terbatas tersedia dalam bentuk tablet, kapsul, sirup, dan salep, maupun krim dalam kemasan”. Sediaan obat pada umumnya dapat berupa padat seperti puyer, tablet, kapsul. Terdapat juga sediaan obat yang berbentuk larutan

(81) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 62 seperti sirup emulsi dan larutan yang digunakan sebagai obat dalam ataupun obat luar (Depkes RI, 2008). Hasil dari kuesioner menyatakan bahwa sebesar 82,6% (90 responden) menjawab “Ya”, sebesar 11% (12 responden) menjawab “Tidak tahu” dan 6,4% (7 responden) menjawab “Tidak”. Dapat dikategorikan pengetahuan responden mengenai bentuk sediaan obat bebas/bebas terbatas adalah baik. Obat dikenal dalam berbagai bentuk supaya memberikan efek yang maksimal sehingga perlu diketahui cara menggunakannya. Misalnya, Tablet harus selalu diminum menggunakan air dengan posisi tubuh tegak, kecuali untuk sediaan tablet jenis tertentu, antara lain tablet hisap, tablet efervesen, tablet kunyah, tablet retard atau slow release. Sediaan lainya seperti kapsul, obat cair dan obat tetes, supositoria klisma, salep, krem, gel, serbuk tabur, tetes hidung, tetes telinga, tetes mata harus mengikuti cara penggunaan yang tertera pada kemasan obat (Tan dan Rahardja, 2010). 19. Pengetahuan responden mengenai dosis obat bebas/ bebas terbatas Pernyataan ke-32 yang tercantum pada kuesioner (Lampiran) adalah “Obat bebas/ bebas terbatas mempunyai takaran dosis tertentu”. Pada dasarnya penggunaan obat harus memperhatikan aturan penggunaan obat baik jumlah maupun waktu minum, karena seperti yang telah diketahui obat merupakan zat kimia yang bersifat racun jika penggunaannya tidak sesuai dosis terapi (Depkes RI, 2008). Hasil dari kuesioner menyatakan bahwa sebesar 77,1% (84 responden) menjawab “Ya”, sebesar 16,5% (18 responden) menjawab “Tidak tahu” dan 6,4%

(82) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 63 (7 responden) menjawab “Tidak”. Dapat dikategorikan pengetahuan responden mengenai dosis obat adalah baik. Bagi sebagian orang dosis merupakan suatu istilah yang tidak asing. Dalam konteks ini dosis bisa dimaknai sebagai jumlah dari suatu obat yang harus digunakan dan dinyatakan dalam satuan tertentu. Satuan yang dimaksud bisa menggunakan satuan miligram (gm), mikrogram, International Unit (IU) untuk vitamin dan lain sebagainya. Apabila obat digunakan di bawah dosis pada lazimnya, maka khasiatnya akan berkurang atau tidak cukup untuk menimbulkan khasiat sebagaimana yang diharapkan. Jika dosis yang diberikan melebihi batas dosis maksimal, maka efek racun dari suatu obat akan terjadi pada pasien. Ketepatan jumlah dosis dalam penggunaan obat harus diperhatikan guna memperoleh khasiat yang diharapkan (Zeenot, 2013). 20. Pengetahuan responden mengenai indikasi dari obat bebas/ bebas terbatas Pernyataan ke-33 yang tercantum pada kuesioner (Lampiran) adalah “Obat bebas yang memiliki kandungan parasetamol dapat digunakan untuk meredakan gejala demam dan pusing”. Parasetamol merupakan kelompok obat golongan analgetik non narkotik yang mempunyai indikasi sebagai mengurangi rasa sakit juga berkhasiat sebagai penurun demam dikenal dengan istilah analgesik-antipiretik (Sutedjo, 2008). Hasil dari kuesioner menyatakan bahwa sebesar 84,4% (92 responden) menjawab “Ya”, sebesar 11,9% ( 13 responden) menjawab “Tidak tahu” dan 3,7% (4 responden) menjawab “Tidak”. Dapat dikategorikan pengetahuan responden mengenai indikasi obat bebas adalah baik.

(83) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 64 Parasetamol atau asetaminofen merupakan obat penurun panas (antipiretik) yang paling umum digunakan masyarakat untuk mengatasi demam karena dinilai relatif aman, baik untuk dewasa maupun anak-anak. Parasetamol juga merupakan pereda nyeri (analgesik) yang cukup efektif. Efek samping parasetamol jarang terjadi apabila digunakan sesuai dosis. Efek samping yang mungkin muncul, antara lain mual dan muntah (Djunarko, 2011). 21. Pengetahuan responden mengenai aturan pakai obat bebas/ bebas terbatas Pernyataan ke-34 yang tercantum pada kuesioner (Lampiran) adalah “Obat bebas/ bebas terbatas harus digunakan sesuai dengan aturan pakai yang tertera dalam kemasan”. Hasil dari kuesioner menyatakan bahwa sebesar 89,9% (98 responden) menjawab “Ya”, sebesar 5,5% (6 responden menjawab “Tidak tahu” dan 4,6% (5 responden) menjawab “Tidak”. Dapat dikategorikan pengetahuan responden mengenai aturan pakai obat bebas/bebas terbatas adalah baik. Pada hakekatnya penggunaan obat harus digunakan sesuai dengan petunjuk pemakaian yang tertera pada kemasan agar pengobatan yang dilakukan menjadi rasional. Alangkah lebih baik jika penderita membaca terlebih dahulu cara penggunaan obat serta tanggal kadaluarsa (Depkes RI, 2008). Guna mengatasi resiko penggunaan obat yang salah, aturan pakai atau peringatan harus disertakan pada kemasan, hendaknya ditaati dan baca dengan teliti. Obat dapat digunakan dengan berbagai cara penggunaan, tetapi obat-obat yang digunakan untuk pengobatan mandiri hanya melalui mulut, melalui dubur dan melalui kulit/ selaput lendir (salep, krem, tetes mata/ hidung/ telinga). Obat yang digunakan

(84) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 65 melalui mulut dinamakan obat dalam, sedangkan semua obat lainnya termasuk yang digunakan melalui dubur dan kulit disebut obat luar (Tan dan Rahardja, 2010). 22. Pengetahuan responden mengenai efek samping yang mungkin muncul dari penggunaan obat bebas/ bebas terbatas Pernyataan ke-35 yang tercantum pada kuesioner (Lampiran) adalah “Penggunaan obat bebas/bebas terbatas dapat menimbulkan efek samping, misalnya mual, muntah, mengantuk dan alergi”. Aziz, ddk (2008) menyatakan bahwa efek samping obat merupakan setiap respon yang merugikan dan tidak diharapkan yang muncul pada dosis terapi. Respon yang merugikan tersebut dapat berupa nyeri lambung, mual, muntah, mengantuk, ruam kulit, gatal-gatal dan sebagainya.Hasil dari kuesioner menyatakan bahwa sebesar 75,2% (82 responden) menjawab “Ya”, sebesar 18,3% (20 responden) menjawab “Tidak tahu” dan 6,4% (7 responden) menjawab “Tidak”. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat dikatakan bahwa sebagian responden telah memahami efek samping yang mungkin muncul pada saat menggunakan obat. Dapat dikategorikan pengetahuan responden mengenai efek samping adalah baik. Efek samping dari suatu obat dapat didefinisikan sebagai semua khasiat yang tidak diinginkan dalam pengobatan suatu keluhan atau gangguan tertentu. Namun pada kondisi tertentu efek samping obat menjadi efek utama obat. Misalnya asetosal bekerja sebagai pengencer darah karena menghambat penggumapalan trombosit, tetapi apabila diminum sebagai antinyeri sesudah pencabutan gigi, maka sifat mengencerkan darah tidak diharapkan. Namun bila

(85) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 66 asetosal diberikan pada penderita infark jantung untuk mengencerkan darah dan menghidarkan serangan kedua, maka efek samping tersebut digunakan sebagai efek utama yangg bermanfaat (Tan dan Rahardja, 2010). 23. Pengetahuan responden mengenai penggunaan obat bebas/ bebas terbatas dalam pengobatan mandiri Pernyataan ke-36 yang tercantum pada kuesioner (Lampiran) adalah “Obat bebas/ bebas terbatas digunakan tanpa resep dokter (tanpa periksa terlebih dahulu) hanya untuk mengatasi gejala/ penyakit ringan, seperti sakit kepala ringan, nyeri ringan, dll”. Sesuai Permenkes No.919/MENKES/PER/X/1993 menyatakan bahwa obat yang dapat digunakan terkait swamedikasi yaitu obat golongan bebas terbatas dengan logo lingkaran berwarna hijau, obat bebas terbatas dengan logo lingkaran berwarna biru. Hasil dari kuesioner menyatakan bahwa sebesar 79,8% (87 responden) menjawab “Ya”, sebesar 13,8% (15 responden) menjawab “Tidak tahu” dan 6,4% (7 responden) menjawab “Tidak”. Dapat dikategorikan bahwa pengetahuan responden mengenai penggunaan obat bebas/bebas terbata dapat digunakan dalam pengobatan mandiri adalah baik. Jenis obat yang dapat digunakan dalam pengobatan mandiri yaitu obat bebas atau OTC (Over The Counter) tanpa resep dokter, yaitu obat bebas dan obat bebas terbatas, kemudian OWA (obat wajib apotek) dan suplemen makanan (Zeenot, 2013). Penggunaan obat untuk pengobatan mandiri tidak berlaku untuk pengobatan secara terus menerus. Berdasarkan uraian-uraian sebelumnya, diperoleh tingkat pengetahuan responden mengenai obat tradisional dan obat modern secara umum. Ringkasan

(86) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 67 hasil pengetahuan responden mengenai pengertian obat tradisional dan modern, dosis, bentuk sediaan, golongan obat, indikasi, aturan pakai, efek samping, kontra indikasi, serta penggunaannya dalam pengobatan mandiri. Berdasarkan hal tersebut diperoleh bahwa sebesar 79,8% (87 responden) memiliki pengetahuan yang sedang atau cukup. Sebesar 11% (12 responden) memiliki pengetahuan yang baik dan sebesar 9,2% (10 responden) memiliki pengetahuan yang kurang. Tabel XIII. Persentase kategori pengetahuan responden Skor <50 50-75 >75 Kategori pengetahuan Kurang Sedang Baik Total Jumlah (n=109) 10 87 12 109 Persentase (%) 9,2% 79,8% 11% 100% Kemudian dilakukan pengelompokkan kategori pengetahuan responden berdasarkan fakultas. Berdasarkan hasil diperoleh kategori pengetahuan untuk mahasiswa fakultas farmasi yaitu baik dengan persentase pengetahuan sebesar 77,9%. Fakultas farmasi memiliki pengetahuan yang baik tentang obat modern dan obat tradisional dalam pengobatan mandiri karena pada umumnya responden telah menempuh mata kuliah obat tradisional dan pengobatan mandiri sehingga kategori pengetahuan untuk mahasiswa farmasi masuk kategori baik, dibandingkan dengan mahasiswa fakultas lain yang memang tidak mendapat pengetahuan mengenai obat dan pengobatan mandiri secara akademik. Kategori pengetahuan untuk fakultas ekonomi yaitu kategori pengetahuan cukup (65,5%) , fakultas sains teknologi memiliki kategori pengetahuan yang cukup (62,8%), FKIP memiliki kategori pengetahuan yang cukup (61,3%), fakultas sastra memiliki kategori pengetahuan yang cukup (61,6%), fakultas teologi memiliki kategori pengetahuan yang cukup (55,7%).

(87) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 68 Tabel XIV. Persentase kategori pengetahuan berdasarkan fakultas No. Fakultas Persentase Kategori pengetahuan pengetahuan 1 FKIP 61,3% Cukup 2 Ekonomi 65,5% Cukup 3 Sains Teknologi 62,8% Cukup 4 Sastra 61,6% Cukup 5 Psikologi 55,8% Cukup 6 Farmasi 77,9% Baik 7 Teologi 55,7% Cukup D. Sikap Responden terhadap Obat Tradisional dan Obat Modern Sikap merupakan suatu respon dari seseorang terhadap suatu stimulus. Sikap tidak dapat langsung dilihat namun hanya ditafsirkan oleh pelaku secara tertutup.Sikap belum merupakan suatu tindakan atau aktivitas melaikan suatu predisposisi dari tindakan atau dapat dikatakan bahwa sikap hanya merupakan suatu penghayatan terhadap objek (Notoatmodjo, 1993). Sikap responden diukur dengan memberikan nilai pada masing-masing pernyataan. Pemberian sikap positif yaitu jika responden memilih jawaban “sangat setuju” dan “setuju”, demikian juga untuk untuk sikap negatif yaitu jika responden memilih jawaban “sangat tidak setuju” dan “tidak setuju”. Tabel XV. Distribusi sikap responden terhadap penggunaan obat tradisional, (N=109) No 1 2 Pernyataan Menurut saya, menggunakan obat tradisional dalam pengobatan mandiri sangat bermanfaat. Menurut saya, menggunakan obat tradisional dalam pengobatan mandiri sangat merugikan Tanggapan Sikap (+) Sikap (-) 87,2% 12,8% (95 orang) (14 0rang) 6,4% 93,6% (7 orang) (102 orang) Berdasarkan tabel XV Sebesar 82,2% (95 orang) memiliki sikap positif, artinya responden setuju bahwa menggunakan obat tradisional dalam pengobatan

(88) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 69 mandiri sangat bermanfaat. Lalu sebesar 93,6% (102 orang) memiliki sikap negatif, artinya responden tidak setuju bahwa menggunakan obat tradisional dalam pengobatan mandiri sangat merugikan. Tabel XVI. Distribusi sikap responden terhadap penggunaan obat modern, (N=109) No 1 2 Pernyataan Menurut saya, menggunakan obat modern (dengan senyawa kimia) dalam pengobatan mandiri sangat menguntungkan. Menurut saya, menggunakan obat modern (dengan senyawa kimia) dalam pengobatan mandiri sangat membahayakan. Tanggapan Sikap (+) Sikap (-) 54,1% 45,9% (59 orang) (50 0rang) 51,4% (56 orang) 48,6% (53 orang) Berdasarkan tabel XVI, dapat dikatakan bahwa dari 109 responden terdapat 54,1 % (59 orang) yang memiliki sikap positif atau setuju bahwa menggunakan obat modern (dengan senyawa kimia) dalam pengobatan mandiri sangat menguntungkan. Sebesar 45,9% (50 orang) responden mempunyai sikap negatif (tidak memihak) terhadap penyataan tersebut. Kemudian untuk penyataan nomor 40, sebesar 51,4% (56 orang) mempunyai sikap positif atau setuju bahwa menggunakan obat modern (dengan senyawa kimia) dalam pengobatan mandiri sangat membahayakan. Sebesar 48,6% (53 orang) memiliki sikap negatif (tidak memihak) terhadap pernyataan tersebut.

(89) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 70 E. Tindakan Responden terhadap Obat Tradisional dan Obat Modern Tabel XVII. Distribusi tindakan responden dalam menggunakan obat tradisional ketika sakit No. 1 Ya 2 Tidak Total Tindakan Frekuensi 59 50 109 Presentase (%) 54,1 45,9 100 Tabel XVIII. Distribusi tindakan responden dalam menggunakan obat modern ketika sakit No. 1 Ya 2 Tidak Total Tindakan Frekuensi 58,5 50,5 109 Presentase (%) 53,65 46,35 100 Berdasarkan tabel XVII dan tabel XVIII dapat dilihat bahwa responden dengan tindakan menggunakan obat tradisional ketika sakit yaitu sebesar 54,1% dan responden dengan tindakan menggunakan obat modern ketika sakit yaitu sebesar 53,65%. F. Hubungan Pengetahuan dan Sikap terhadap Tindakan Responden dalam Pemilihan Obat Tradisional dan Obat Modern Uji asosiatif digunakan untuk mengetahui ada atau tidak hubungan antara dua variabel. Pada variabel pengetahuan dan tindakan digunakan uji KolmogrovSmirnov karena metode ini dianggap sesuai dengan data yang terdistribusi tidak normal (non-parametrik). Sebelum menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov, telah dilakukan uji Chi-Square pada variabel tersebut namun karena tidak memenuhi syarat dikarenakan nilai expected yang diperoleh kurang dari lima sejumlah 33%, maka uji yang dipakai yaitu uji alternatifnya, yaitu Kolmogorov-Smirnov (Dahlan, 2009).

(90) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 71 Tabel XIX. Hubungan pengetahuan dengan tindakan pemilihan obat menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov Pengetahuan Most Extreme Differences Absolute .429 Positive .429 Negative -.029 .727 .666 Kolmogorov-Smirnov Z Asymp. Sig. (2-tailed) a. Grouping Variable: Tindakan Penentuan hipotesis yaitu : Ho : tidak ada hubungan signifikan antara pengetahuan terhadap tindakan pemilihan obat H1 : ada hubungan signifikan antara pengetahuan terhadap tindakan pemilihan obat H0 akan diterima apabila angka signifikansi >0,05 dan ditolak bila angka signifikansi <0,05. Berdasarkan hasil uji Kolmogrov-Smirnov diperoleh nilai signifikansi yaitu 0,666. Berdasarkan hasil diatas maka hipotesis nol (H0) diterima, yaitu tidak ada hubungan antara pengetahuan dengan tindakan pemilihan obat. Tabel XX. Hubungan sikap dengan tindakan menggunakan uji Fisher Df Asymp. Sig. (2sided) .064 1 .800 .000 1 1.000 .067 1 .796 Linear-by-Linear Association .063 1 .801 Value a Pearson Chi-Square Continuity Correction Likelihood Ratio b Fisher's Exact Test b N of Valid Cases Exact Sig. (2sided) Exact Sig. (1sided) 1.000 .638 109 a. 2 cells (50.0%) have expected count le ss than 5. The minimum expected count is 1.24. b. Computed only for a 2x2 table

(91) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 72 Pada variabel sikap dan tindakan digunakan uji Fisher untuk melihat hubungan antara keduanya. Sebelum menggunakan uji Fisher, telah dilakukan uji Chi-Square pada variabel tersebut namun karena tidak memenuhi syarat dikarenakan nilai expected yang diperoleh kurang dari lima sejumlah 50%, maka uji yang dipakai yaitu uji alternatifnya, yaitu uji Fisher (Dahlan, 2009). Penentuan hipotesis yaitu : Ho : tidak ada hubungan signifikan antara sikap terhadap tindakan pemilihan obat H1 : ada hubungan signifikan antara sikap terhadap tindakan pemilihan obat H0 akan diterima apabila angka signifikansi >0,05 dan ditolak bila angka signifikansi <0,05. Hasil uji Fisher diperoleh nilai signifikansi yaitu 1,000 untuk 2-side (two tail) dan 0,638 untuk 1-sided (one-tail). Berdasarkan hasil diatas maka hipotesis nol (H0) diterima, yaitu tidak ada hubungan antara sikap dengan tindakan pemilihan obat. Persentase responden dalam melakukan tindakan menggunakan obat tradisional ketika sakit yaitu sebesar 54,1%, sebagian berasal dari responden yang memiliki sikap positif terhadap obat tradisional, sedangkan reponden dengan tindakan menggunakan obat modern ketika sakit sebesar 53,65%. Persentase yang tidak berbeda jauh ini menunjukkan bahwa responden yang memiliki sikap positif terhadap obat tradisional belum tentu menggunakan obat tradisional dalam mengatasi penyakitnya. Sikap belum merupakan suatu tindakan atau aktivitas akan tetapi merupakan predisposisi atau pencetus suatu tindakan (Sarwono, 1993).

(92) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan 1. Pengetahuan mahasiswa Universitas Sanata Dharma mengenai obat tradisional dan obat modern diperoleh sebesar 79,8% (87 responden) memiliki pengetahuan yang sedang atau cukup. 2. Pola pengobatan mandiri yang dilakukan oleh 50 orang responden yang melakukan swamedikasi dalam 1 bulan terakhir seperti kejadian (frekuensi) melakukan swamedikasi sebesar 28,4% melakukan swamedikasi 1 kali, kemudian sebesar 84% memperoleh obat di apotek. Biaya yang dikeluarkan dalam melakukan swamedikasi yaitu sebesar kurang dari Rp 5000,00 (42%), antara Rp 5000,00-Rp 15.000,00 (42%). 3. Alasan responden melakukan pengobatan mandiri karena penyakit masih ringan sebesar 48%. 4. Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan dan sikap mahasiswa mengenai obat tradisional dan obat modern terhadap tindakan pemilihan obat pada pengobatan mandiri. B. Saran 1. Perlu dilakukan penelitian sejenis dengan teknik pengambilan sampel yang berbeda, yaitu secara random agar lebih representatif. 73

(93) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 74 2. Perlu dilakukan penelitian serupa dengan metode wawancara agar dapat memperoleh informasi yang mendalam terkait alasan responden dalam memilih obat pada pengobatan mandiri. 3. Perlu dilakukan penelitian serupa pada responden yang mempunyai latar belakang pendidikan kesehatan atau tidak, agar dapat dibandingkan antara keduanya.

(94) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 75 DAFTAR PUSTAKA Ali, M. dan Asrori, M., 2009, Psikologi Remaja Perkembangan Peserta Didik, PT. Bumi Aksara, Jakarta, Hal. 25, 33-34. Angkoso, F.T.J., 2006, Pola Perilaku Pengobatan Mandiri di antara Pria dan Wanita di Kalangan Mahasiswa Universitas Sanata Dharma, Kampus III, Paingan, Maguwoharjo, Depok, Sleman, Yogyakarta, Skripsi, 41, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Anonim, 2004, Keputusan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia No. HK.00.05.4.2411, Ketentuan Pokok Pengelompokkan dan Penandaan Obat Bahan Alam Indonesia, BPOM, Jakarta. Anief, M., 2010, Penggolongan Obat Berdasarkan Khasiat dan Penggunaan, Buku Kedokteran EGC, Jakarta, Hal. 190-191. Aziz, S., dkk., 2008, Kembali Sehat dengan Obat (Mengenal Manfaat dan Bahaya Obat), Pustaka Populer Obor, Jakarta, hal. XXII Azwar, S., 2010, Metode Penelitian, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, hal. 105-106. Azwar, A., 2010, Tanaman Obat Indonesia, Salemba Medika, Jakarta, hal. 35-37. Basuki, S., 2006, Metode Penelitian, Wedatama Widya Sastra Universitas ndonesia, Jakarta, hal.77-78 Berardi, R., et al., 2006, Handbook of Nonprescription Drugs an Interactive Approach to Self-Care, American Pharmacist Association, Wasington DC, pp. 4-6. Dahlan, S., 2009, Statistik untuk Kedokteran dan Kesehatan, Jakarta, Hal.121139. Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2008, Materi Pelatihan Peningkatan Pengetahuan dan Keterampilan Memilih Obat Bagi Tenaga Kesehatan, DepKes RI, Jakarta, hal. 6-30. Department of Health and Ageing, 2012, Guiding Principles for Medication Management in Residential Aged Care Facilities, Australian Government, Australia, pp. 33. Ditjen Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Departemen Kesehatan, 2006, Pedoman Penggunaan Obat Bebas dan Obat Bebas Terbatas, DepKes R.I, Jakarta.

(95) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 76 Djunarko, I. dan Hendrawati, Y.D., 2011, Swamedikasi yang Baik dan Benar, PT. Citra Aji Parama, Yogyakarta, hal.9. Handayani, F., 2008, Hubungan Tingkat Pendidikan dan Tingkat Pendapatan dengan Perilaku Swamedikasi Penyakit Common Cold oleh Ibu-ibu di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Skripsi, Fakultas Farmasi, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Handayani, L., dan Suharmiati, 2002, Meracik Obat Tradisional secara Rasional, Medika, Vol. XXVIII, 648-651. Harmanto dan Subroto M.A., 2007, Pilih Jamu dan Herbal Tanpa Efek Samping, PT. Elex Media Komputindo Kelompok Gramedia, Jakarta, hal. 120. Imron, M. dan Munif, A., 2010, Metodologi Penelitian Bidang Kesehatan, CV. Sagung Seto, Jakarta, hal. 85,137, 155-156. Kartika, Nana., 2010, Pengaruh Ceramah dan Pemberian Leaflet terhadap Perilaku dalam Memilih dan Menggunakan Obat Batuk Anak oleh Ibu-ibu di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Skripsi, Fakultas Farmasi, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Keputusan Menteri Kesehatan RI, 2007, Kebijakan Obat Tradisional, DepKes RI, Jakarta. Kurniawan, Fandy., 2008, Hubungan Tingkat Pendidikan dan Tingkat Pendapatan dengan Perilaku Swamedikasi Penyakit Infeksi Jamur Kulit oleh Ibu-ibu Di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Skripsi, Fakultas Farmasi, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Kotler, P., 1997, Manajemen Pemasaran Analisis, Perencanaan, Implementasi dan Kontrol, jilid I, Prenhallindo, Jakarta, 152-179. Liliani, N. D., 2004, Kajian Motivasi, Pengetahuan, Tindakan, dan Pola Penggunaan Obat Tradisional Cina pada Pengunjung dari 8 Toko Obat Berizin di Yogyakarta Periode April-Mei 2004, Skripsi, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Manurung., Kartika U.S., 2010, Pola Penggunaan Obat dalam Upaya Pasien Melakukan Pengobatan Sendiri di Beberapa Apotek, Laporan Penelitian, Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara, Medan. Melita , Noviana., 2008, Hubungan Tingkat Pengetahuan dan Iklan Obat di Media Cetak terhadap Minat Beli Obat Bebas Terbatas Pengunjung Apotek di Kota Yogyakarta, Skripsi, Fakultas Farmasi, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

(96) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 77 Moeloek, F. A., 2005, Herbal and Traditional Medicine: National Prespective and Policies In Indonesia, 293-295. Notoatmodjo, S., 2007, Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku, 1st ed. Rineka Cipta, Jakarta, hal. 133-151. Notoatmodjo, S., 2010, Metodologi Penelitian, Rineka Cipta, Jakarta, hal. 35-49, 176. Notoatmodjo, S., 1993, Pendidikan Kesehatan dan Ilmu Perilaku Kesehatan, Penerbit Andi Offset, Yogyakarta, hal. 94-99. Noor, J., 2011, Metode Penelitian, PT. Bhuana Ilmu Populer, Jakarta, hal 34-40. Noviana, Fenny., 2011, Kajian Pengetahuan dan Alasan Pemmilihan Obat Herbal pada Pasien Geriatri di RSUP Dr.Sardjito Yogyakarta, Skripsi, Fakultas Farmasi, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Nurhayati, E., 2011, Bimbingan, Konseling dan Psikoterapi Inovatif, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, hal. 3-5. Nurmalina, R. dan Valley, B., 2012, Herbal Legendaris untuk Kesehatan Kita, PT. Elex Media Komputindo, Jakarta, Hal. 11,12,19, 223-233. PAGB, 2013, Self-care, http://www.pagb.co.uk/selfcare/evidence.html, diakses tanggal 23 Februari 2014 Peraturan Menteri Kesehatan, 1993, Peraturan Menteri Kesehatan no: 924 Menkes per X 1993 Tentang Obat Wajib Apotik no.2, DepKes R.I, Jakarta. Peraturan Menteri Kesehatan, 1990, Peraturan Menteri Kesehatan no: 246 Menkes per V 1990 Tentang Izin Usaha Industri Obat Tradisional dan Pendaftaran Obat Tradisional, DepKes R.I., Jakarta. Rachmat, M., 2011, Biostatistika Aplikasi pada Penelitian Kesehatan, Buku Kedokteran EGC, Jakarta, hal. 190-194. Sarwono, S., 1994, Psikologi mRemaja, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, Hal. 111-113. Sarwono, S., 2007, Sosiologi Kesehatan, Penerbit Bulan Bintang, Jakarta, hal.237. Sarwono, S., 1978, Perbedaan Pemimpi dan Aktivis dalam Gerakan Protes Mahasiswa, Pernerbit Bulan Bintang, Jakarta, hal. 33.

(97) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 78 Sulasmono, dan Sri Hartini Y., 2010, Praktik Kefarmasian Ulasan Peraturan tentang Bidang Pekerjaan Apoteker, Penerbit Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Hal. 280,284. Suryabrata, Sumadi., 2006, Metodologi Penelitian, PT.Raja Grafindo Persada, Jakarta, hal. 61. Sugiyono, 2006, Statistika untuk Penelitian, Alfa Beta, Bandung, hal. 352-353 Sutedjo, A., 2008, Mengenal Obat-obatan secara Mudah dan Aplikasinya dalam Perawatan, Penerbit Amara Books, Jakarta, hal. 154. Syahputri, M., 2006, Pemastian Mutu Obat, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta, Hal.37-38. Tan, T.H., dan Rahardja, K., 2010, Obat-obat Sederhana untuk Gangguan Seharihari, PT. Elex Media Komputindo, Jakarta, Hal. ix-xix. Wasito, H., 2011, Obat Tradisional Kekayaan Indonesia, Graha Ilmu, Yogyakarta, Hal.13-16. Vania, Nana., 2009, Studi Tentang Pemahaman Mahasiswa Fakultas Farmasi terhadap Obat Tradisional Kelompok Fitofarmaka, Obat Herbal Terstandar, Jamu dan Obat Tradisional Non Registrasi di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Skripsi, Fakultas Farmasi, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. WHO, 1998, The Role of The Pharmacist in Self Care and Self Medication, 3, Departement of Essential Drug and Other Medicines World Health Organization, WHO, Geneva. WHO, 2011, Essential Medicines and Health Products Information Portal, apps.who.int/medicinedocs/en/cl/CL1.1.2/, diakses 7 Juni 2014. Zeenot, S., 2013, Pengelolaan dan Penggunaan Obat Wajib Apotik, D-Medika, Yogyakarta, Hal. 36-45.

(98) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI LAMPIRAN 79

(99) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 80 Lampiran 1. Surat izin penelitian Kepada Yth. Bapak/Ibu/Sdr ………………… Di tempat Dengan hormat, Saya adalah mahasiswa Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta akan melakukan penelitian dalam rangka menyelesaikan tugas akhir (skripsi). Penelitian yang kami lakukan adalah tentang “Obat Tradisional dan Obat Moderen dalam Pengobatan Mandiri”. Maka kami mohon kesediaan Bapak/Ibu/Saudara/i untuk meluangkan waktu mengisi kuisioner ini. Dalam mengisi kuesioner ini kami mohon Bapak/Ibu/Sdr/i memberikan jawaban yang paling sesuai dengan keadaan Bapak/Ibu/Sdr/i. Jawaban Bapak/Ibu/Saudara/i tidak akan dinilai benar atau salah melainkan sangat membantu kami dalam mengumpulkan data-data penelitian yang diperlukan. Partisipasi Bapak/Ibu/Saudara/i dalam mengisi kuesioner ini sangat kami hargai dan turut berkontribusi pada peningkatan kualitas pengobatan mandiri di masa mendatang. Atas bantuan dan kerjasama dari Bapak/Ibu/Saudara/i, kami mengucapkan terima kasih. Yogyakarta, November 2013 Peneliti, Eva Cristiana

(100) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 81 Lampiran 2. Informed Consent PERNYATAAN KESEDIAAN MENJADI RESPONDEN “STUDI TENTANG PENGGUNAAN OBAT TRADISIONAL DAN OBAT MODEREN DALAM PENGOBATAN MANDIRI” Yang bertanda tangan dibawah ini: Nama : Alamat : Menyatakan bersedia menjadi responden pada penelitian tentang “Obat Tradisional dan Obat Moderen dalam Pengobatan Mandiri”, yang akan dilakukan oleh: Nama : Eva Cristiana NIM : 108114144 Mahasiswa S1 dari Program Farmasi, Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Dengan ini saya juga menyatakan dengan sesungguhnya bahwa: - saya telah diberi informasi secara detail mengenai penelitian tersebut, - saya telah diberi hak untuk didampingi oleh orang yang saya tunjuk pada saat informasi tersebut disampaikan kepada saya, - saya telah diberi kesempatan bertanya mengenai informasi penelitian yang disampaikan kepada saya, - saya telah dijelaskan bahwa saya mungkin tidak akan secara langsung menerima manfaat dari hasil penelitian tersebut dan saya paham bahwa hasil penelitian akan digunakan untuk peningkatan perilaku swamedikasi di masyarakat,

(101) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI - 82 saya juga telah diinformasikan bahwa data yang saya berikan akan digunakan sepenuhnya hanya untuk kepentingan penyelesaian tugas akhir (skripsi) peneliti dan tidak ada aspek komersial, - saya juga telah diinformasikan bahwa data pribadi saya tidak akan dipublikasikan. Jika hasil penelitian ini dipublikasikan, maka data terkait diri saya akan dalam bentuk anonim (tanpa nama). - Saya telah diberi tahu bahwa penelitian ini adalah untuk tugas akhir peneliti (skripsi) di bawah bimbingan Ibu Aris Widayati, M.Si., Apt., PhD pada Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta dan pelaksanaannya telah mendapatkan ijin dari instansi yang berwenang. - Saya tahu bahwa data yang saya berikan akan disimpan oleh peneliti selama setidaknya dua tahun dan akan dimusnahkan setelah itu. Yogyakarta, ………………..…….2013 Yang menyatakan, (_______________________) Tanda tangan dan nama jelas Saksi, (EvaCristiana )

(102) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 83 Lampiran 3. Kuesioner penelitian KUESIONER A. Lingkarilah jawaban yang menurut Anda paling tepat! 1. Apakah Anda pernah mendengar istilah pengobatan mandiri atau swamedikasi? a. Pernah b. Tidak pernah (Mohon langsung ke no.3) 2. Jika Anda pernah mendengar istilah tersebut, dari mana Anda mendapatkan informasinya? a. Media cetak / elektronik b. Teman/saudara/tetangga c. Dokter/ dokter gigi/ apoteker/ perawat / bidan d. Tenaga kesehatan (kesehatan masyarakat/ ahli gizi) e. lainnya (tuliskan), ...................................... 3. Menurut Anda apakah yang dimaksud dengan pengobatan sendiri ? a. Upaya pengobatan yang dilakukan oleh seseorang tanpa bantuan dokter untuk mengatasi keluhan sakit ringan yang dialaminya. b. Tindakan penggunaan obat-obatan tanpa resep dokter oleh masyarakat atas inisiatif mereka sendiri c. Tidak tahu d. Lainnya (tuliskan): ……………………….. …………………………………………………………………………

(103) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 84 4. Jenis obat manakah yang menurut anda dapat digunakan/dibeli untuk pengobatan mandiri? a. Obat tradisional atau herbal, misalnya: “Jamu gendong”, “Jamu berbentuk tablet”, dan “Jamu berbentuk cair dalam sachet”. b. Obat bebas/obat bebas terbatas (obat dengan bahan kimia), misalnya: “CTM” dan “Paracetamol” c. Keduanya, yaitu: obat tradisional dan obat bebas/obat bebas terbatas (obat dengan bahan kimia) 5. Apakah Anda pernah melakukan pengobatan mandiri atau swamedikasi dalam satu bulan terakhir ini? a. Pernah b. Tidak pernah (mohon langsung ke no. 14). Apabila Anda pernah melakukan pengobatan mandiri dalam satu bulan ini, 6. Berapa kali Anda pernah membeli obat tanpa resep untuk pengobatan sendiri dalam satu bulan terakhir ini? a. 1 kali b. 2 kali c. 3 kali d. lebih dari 4 kali 7. Siapa yang menggunakan obat tanpa resep yang Anda beli tersebut? (jawaban dapat lebih dari satu) a. Teman b. Keluarga

(104) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 85 c. Diri sendiri d. Lainnya (tuliskan)…………....………………………………………………… 8. Keluhan/sakit apa yang diatasi dengan obat yang dibeli tanpa resep tersebut? ………………………………………………………………………… 9. Apa nama obat yang Anda beli untuk pengobatan mandiri tersebut? .................................................................................................................. 10. Apakah obat tersebut pernah digunakan sebelumnya? a. Pernah b. Tidak pernah 11. Dimana obat tersebut Anda peroleh? (Jawaban dapat lebih dari satu) a. Toko obat b. Apotek c. Warung terdekat d. Dari orang lain (teman, keluarga, dll) e. Lainnya, (Tuliskan).......................................................................................... 12. Berapa harga obat yang digunakan untuk pengobatan mandiri tersebut? a. < Rp 5.000,00 b. Rp 5.000,00 – Rp 15.000,00 c. Rp 15.000, 00 – Rp 25.000,00

(105) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 86 d. Rp 25.000,00 – Rp 35.000,00 e. Rp 35.000,00 – Rp 45.000,00 f. > Rp 50.000,00 13. Mengapa Anda memilih obat tersebut untuk pengobatan mandiri yang Anda lakukan? (Jawaban dapat lebih dari satu). a. Biaya lebih murah b. Lebih cepat / tidak antri untuk periksa c. Lebih praktis d. Penyakitnya masih ringan e. Lainnya (tuliskan),………………………….................................................. B. Petunjuk pengisian! Berilah tanda centang (√ ) untuk jawaban dari pertanyaan yang Anda anggap paling sesuai dengan keadaan yang sebenarnya. 14. Obat tradisional merupakan ramuan atau produk obat yang berasal dari tanaman Ya Tidak Tidak Tahu 15. Obat tradisional dapat berbentuk tablet, cairan dalam botol atau sachet atau kapsul Ya Tidak Tidak tahu

(106) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 87 16. Tidak terdapat takaran dosis yang tepat pada penggunaan obat tradisional Ya Tidak Tidak tahu 17. Terdapat beberapa jenis obat tradisional, yaitu jamu, obat herbal terstandar dan fitofarmaka Ya Tidak Tidak tahu 18. Jika dalam kemasannya terdapat lambang seperti pada gambar berikut ini, maka obat tersebut adalah Jamu. Ya Tidak Tidak tahu 19. Jika memiliki lambang dalam kemasannya seperti pada gambar berikut ini, maka obat tersebut merupakan obat tradisional yang khasiat dan keamanannya sudah distandarisasi. Ya Tidak Tidak tahu 20. Jika memiliki lambang dalam kemasannya seperti pada gambar berikut ini, maka obat tersebut merupakan jenis obat tradisional bernama fitofarmaka Ya Tidak Tidak tahu 21. Obat tradisional dengan kandungan jahe (Zingiberis rhizoma), dapat digunakan untuk melegakan tenggorokan serta mengatasi mual dan muntah Ya Tidak Tidak tahu

(107) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 88 22. Aturan pakai obat tradisional harus mengikuti aturan yang disarankan seperti yang tertera pada kemasan. Ya Tidak Tidak tahu 23. Obat tradisional tidak memiliki efek samping yang berbahaya Ya Tidak Tidak tahu 24. Obat tradisional dapat dikonsumsi oleh semua kalangan usia, termasuk ibu hamil, menyusui atau pun seseorang yang mengalami gangguan fungsi organ ,seperti gangguan ginjal. Ya Tidak Tidak tahu 25. Obat tradisional dapat digunakan dalam pengobatan mandiri. Ya Tidak Tidak tahu 26. Terdapat beberapa jenis obat moderen (obat dengan bahan kimia) yaitu obat bebas, obat bebas terbatas, dan obat keras. Ya Tidak Tidak tahu 27. Jika suatu obat memiliki lambang seperti pada gambar, maka obat tersebut dapat dibeli secara bebas di warung tanpa resep dokter. Ya Tidak Tidak Tahu 28. Jika suatu obat memiliki lambang seperti pada gambar, maka obat tersebut merupakan obat keras yang hanya bisa dibeli dengan resep dokter. Ya Tidak Tidak Tahu

(108) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 89 29. Jika pada kemasan suatu obat terdapat lambang seperti pada gambar, maka obat tersebut merupakan obat yang dapat dibeli tanpa resep dokter, dengan batas jumlah pembelian tertentu. Ya Tidak Tidak tahu 30. Obat bebas/bebas terbatas merupakan obat yang mengandung bahan kimia, yang dapat dibeli di warung/toko, toko obat maupun apotek. Ya Tidak Tidak tahu 31. Obat bebas/bebas terbatas tersedia dalam bentuk tablet, kapsul, sirup, dan salep, maupun krim dalam kemasan. Ya Tidak Tidak tahu 32. Obat bebas/bebas terbatas mempunyai takaran dosis tertentu. Ya Tidak Tidak tahu 33. Obat bebas yang memiliki kandungan parasetamol dapat digunakan untuk meredakan gejala demam dan pusing. Ya Tidak Tidak tahu 34. Obat bebas/bebas terbatas harus digunakan sesuai dengan aturan pakai yang tertera dalam kemasan. Ya Tidak Tidak tahu 35. Penggunaan obat bebas/bebas terbatas dapat menimbulkan efek samping, misalnya mual, muntah, mengantuk dan alergi. Ya Tidak Tidak tahu

(109) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 90 36. Obat bebas/bebas terbatas digunakan tanpa resep dokter (tanpa periksa terlebih dahulu) hanya untuk mengatasi gejala/penyakit ringan, seperti sakit kepala ringan, nyeri ringan, dll. Ya Tidak Tidak tahu C. Petunjuk Pengisian! Pilihlah salah satu dari 4 (empat) kemungkinan jawaban yang telah tersedia sesuai dengan pendapat Anda yang dianggap paling tepat. Berilah tanda silang (X) pada setiap jawaban yang dianggap tepat, dengan ketentuan: STS TS S SS : bila Anda menjawab Sangat Tidak Setuju terhadap pertanyaan : bila Anda menjawab Tidak Setuju terhadap pertanyaan : bila Anda menjawab Setuju terhadap pertanyaan : bila Anda menjawab Sangat Setuju terhadap pertanyaan TANGGAPAN No PERNYATAAN SS 37. Menurut saya, menggunakan obat tradisional dalam pengobatan mandiri sangat bermanfaat. 38. Menurut saya, menggunakan obat tradisional dalam pengobatan mandiri sangat merugikan 39. Menurut saya, menggunakan obat moderen (dengan senyawa kimia) dalam pengobatan mandiri sangat menguntungkan. 40. Menurut saya, menggunakan obat modern (dengan senyawa kimia) dalam pengobatan mandiri sangat membahayakan. S TS STS

(110) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 91 41. Saya akan memilih menggunakan obat tradisional sebagai pengobatan utama ketika sakit. Ya Tidak 42. Jika saya melakukan pengobatan mandiri maka saya akan menggunakan obat tradisional Ya Tidak 43. Saya akan memilih menggunakan obat moderen (obat dengan bahan kimia) sebagai pengobatan utama ketika sakit. Ya Tidak 44. Jika saya melakukan pengobatan mandiri maka saya akan menggunakan obat moderen. Ya Tidak

(111) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI D. Data Diri Responden (Mohon diisi lengkap) Nama ( boleh inisial ) : Alamat : Usia : ……. tahun. Jenis kelamin : laki-laki / perempuan Semester : Fakultas / Prodi : Universitas : Uang saku per bulan : a. Kurang dari Rp 300.000,00 b. Antara Rp 300.000,00 – Rp 1.000.000,00 c. Antara Rp 1.000.000,00 – Rp 1.500.000,00 d. Antara Rp Rp 1.500.000,00 – Rp 2.000.000,00 e. Lebih dari Rp 2.000.000,00 Diisi tanggal,…….…………….. (……………………….) 92

(112) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 4. Leaflet yang diberikan untuk responden sebagai edukasi 93

(113) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 5. Uji Reliabilitas dengan Pearson Pruduct Moment Uji reliabilitas pola pengobatan mandiri responden pada minggu ke 1 dan minggu ke 2 PolaPM PolaPM2c PolaPM Pearson Correlation 1 .841 Sig. (2-tailed) ** .000 N PolaPM2 Pearson Correlation 30 30 ** 1 .841 Sig. (2-tailed) .000 N 30 30 **. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed). Uji reliabilitas pengetahuan responden pada minggu ke 1 dan minggu ke 2 Pengetahuan Pengetahuan Pearson Correlation Pengetahuan2 1 Sig. (2-tailed) Pearson Correlation 30 30 ** 1 .912 Sig. (2-tailed) .000 N 30 **. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed). Uji reliabilitas sikap responden pada minggu ke 1 dan minggu ke 2 Sikap Sikap Pearson Correlation Sikap2 1 Sig. (2-tailed) N Sikap2 Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N ** .000 N Pengetahuan2 .912 .706 ** .000 30 30 ** 1 .706 .000 30 **. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed). 30 30 94

(114) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Uji reliabilitas tindakan responden pada minggu ke 1 dan minggu ke 2 Tindakan Tindakan Pearson Correlation Tindakan2 1 Sig. (2-tailed) N Tindakan2 Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N .669 ** .000 30 30 ** 1 .669 .000 30 30 95

(115) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 96 Lampiran 6. Uji Normalitas dengan Kolmogorov-Smirnov Kolmogorov-Smirnov Test Pengetahuan N Sikap Tindakan 109 109 109 62.47 7.12 2.16 17.568 1.483 .945 Absolute .083 .182 .324 Positive .056 .148 .318 Negative -.083 -.182 -.324 Kolmogorov-Smirnov Z .868 1.905 3.386 Asymp. Sig. (2-tailed) .438 .001 .000 Normal Parameters a Mean Std. Deviation Most Extreme Differences

(116) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 7. Data demografi responden Jenis kelamin responden Cumulative Frequency Valid Percent Valid Percent Percent laki-laki 46 42.2 42.2 42.2 perempuan 63 57.8 57.8 100.0 109 100.0 100.0 Total usia responden Cumulative Frequency Valid Percent Valid Percent Percent 17 tahun 1 .9 .9 .9 18 tahun 5 4.6 4.6 5.5 19 tahun 12 11.0 11.0 16.5 20 tahun 29 26.6 26.6 43.1 21 tahun 41 37.6 37.6 80.7 22 tahun 14 12.8 12.8 93.6 23 tahun 5 4.6 4.6 98.2 25 tahun 1 .9 .9 99.1 34 tahun 1 .9 .9 100.0 109 100.0 100.0 Total Program studi responden Cumulative Frequency Valid Percent Valid Percent Percent akuntasi 7 6.4 6.4 6.4 BK 4 3.7 3.7 10.1 farmasi 6 5.5 5.5 15.6 Ilmu sejarah 1 .9 .9 16.5 IPPAK 2 1.8 1.8 18.3 97

(117) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Manajemen 8 7.3 7.3 25.7 MATMUR 1 .9 .9 26.6 P. Fis 3 2.8 2.8 29.4 P. Mat 5 4.6 4.6 33.9 P.Akun 4 3.7 3.7 37.6 P.Bio 3 2.8 2.8 40.4 P.Eko 2 1.8 1.8 42.2 P.Sej 2 1.8 1.8 44.0 PBI 9 8.3 8.3 52.3 PBSID 5 4.6 4.6 56.9 PGSD 12 11.0 11.0 67.9 psikologi 9 8.3 8.3 76.1 Sas. Indo 1 .9 .9 77.1 Sas. Ing 9 8.3 8.3 85.3 TE 2 1.8 1.8 87.2 teologi 4 3.7 3.7 90.8 TI 6 5.5 5.5 96.3 TM 4 3.7 3.7 100.0 109 100.0 100.0 Total 98 Uang saku perbulan responden Cumulative Frequency Valid antara Rp1.000.000,00- Percent Valid Percent Percent 20 18.3 18.3 18.3 2 1.8 1.8 20.2 66 60.6 60.6 80.7 kurang dari Rp300.000,00 15 13.8 13.8 94.5 lebih dari Rp2.000.000,00 6 5.5 5.5 100.0 Rp1.500.000,00 antara Rp1.500.000,00Rp2.000.000,00 antara Rp300.000,00Rp1.000.000,00

(118) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 99 Uang saku perbulan responden Cumulative Frequency Valid antara Rp1.000.000,00- Percent Valid Percent Percent 20 18.3 18.3 18.3 2 1.8 1.8 20.2 66 60.6 60.6 80.7 kurang dari Rp300.000,00 15 13.8 13.8 94.5 lebih dari Rp2.000.000,00 6 5.5 5.5 100.0 109 100.0 100.0 Rp1.500.000,00 antara Rp1.500.000,00Rp2.000.000,00 antara Rp300.000,00Rp1.000.000,00 Total

(119) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 100 Lampiran 8. Jawaban responden mengenai pola pengobatan mandiri Responden mendengar istilah swamedikasi Cumulative Frequency Valid Percent Valid Percent Percent pernah 38 34.9 34.9 34.9 tidak pernah 71 65.1 65.1 100.0 109 100.0 100.0 Total Sumber informasi yang diperoleh respoden Cumulative Frequency Valid Percent Valid Percent 71 65.1 65.1 65.1 2 1.8 1.8 67.0 Dosen 4 3.7 3.7 70.6 komunitas anak 1 .9 .9 71.6 12 11.0 11.0 82.6 1 .9 .9 83.5 13 11.9 11.9 95.4 5 4.6 4.6 100.0 109 100.0 100.0 dokter/dokter gigi/apoteker/perawat/bidan media cetak/ elektronik Perkuliahan teman/saudara/tetangga tenaga kesehatan Total Pendapat responden mengenai pengobatan mandiri Cumulative Frequency Valid Percent Percent Valid Percent Percent A 85 78.0 78.0 78.0 B 17 15.6 15.6 93.6 C 7 6.4 6.4 100.0 109 100.0 100.0 Total

(120) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 101 Kecenderungan responden memilih obat Cumulative Frequency Valid Percent Valid Percent Percent A 29 26.6 26.6 26.6 B 17 15.6 15.6 42.2 C 63 57.8 57.8 100.0 109 100.0 100.0 Total Responden melakukan swamedikasi dalam 1 bulan terakhir Cumulative Frequency Valid Percent Valid Percent Percent Pernah 50 45.9 45.9 45.9 tidak pernah 59 54.1 54.1 100.0 109 100.0 100.0 Total Frekuensi responden melakukan swamedikasi dalam 1 bulan terakhir Cumulative Frequency Valid Percent Valid Percent Percent 59 54.1 54.1 54.1 1 kali 32 29.4 29.4 83.5 2 kali 15 13.8 13.8 97.3 3 kali 1 .9 .9 98.2 lebih dari 4 kali 2 1.8 1.8 100.0 109 100.0 100.0 Total Swamedikasi untuk diri sendiri, keluarga, teman Cumulative Frequency Valid Percent Valid Percent Percent 59 54.1 54.1 54.1 diri sendiri 28 25.7 25.7 79.8 Keluarga 9 8.3 8.3 88.1 keluarga, diri sendiri 3 2.8 2.8 90.8

(121) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 102 Teman 6 5.5 5.5 96.3 teman, diri sendiri 2 1.8 1.8 98.2 teman, keluarga, diri sendiri 2 1.8 1.8 100.0 109 100.0 100.0 Total Penyakit yang diatasi dengan swamedikasi Cumulative Frequency Valid Percent Valid Percent Percent 59 54.1 54.1 54.1 asam urat 1 .9 .9 55.0 Asma 1 .9 .9 56.0 Batuk 1 .9 .9 56.9 batuk, pilek 2 1.8 1.8 58.7 batuk, pilek, maag 1 .9 .9 59.6 batuk, pusing, flu 1 .9 .9 60.6 batuk, sakit tenggorokan 1 .9 .9 61.5 bersin-bersin dan pilek 1 .9 .9 62.4 Demam 3 2.8 2.8 65.1 1 .9 .9 66.1 Flu 3 2.8 2.8 68.8 flu ringan dan batuk 1 .9 .9 69.7 flu, batuk 1 .9 .9 70.6 1 .9 .9 71.6 gatal-gatal 2 1.8 1.8 73.4 maag, demam, flu 1 .9 .9 74.3 maag, penghilang rasa sakit 1 .9 .9 75.2 1 .9 .9 76.1 1 .9 .9 77.1 demam, pusing, sakit gigi, mules, batuk flu, pusing, migrain, pegalpegal meriang dan badan pegalpegal migren, sakit perut, diare, mual, alergi, sesak

(122) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 103 mual, pusing, panas 1 .9 .9 78.0 Pilek 1 .9 .9 78.9 pilek, batuk 1 .9 .9 79.8 pilek, flu 1 .9 .9 80.7 Pusing 4 3.7 3.7 84.4 pusing, flu 1 .9 .9 85.3 pusing, lemas, demam 1 .9 .9 86.2 pusing, maag 1 .9 .9 87.2 pusing, panas, batuk 1 .9 .9 88.1 pusing, sakit perut 1 .9 .9 89.0 1 .9 .9 89.9 1 .9 .9 90.8 sakit gigi, sakit perut 1 .9 .9 91.7 sakit kepala, demam 1 .9 .9 92.7 sakit kepala, flu 1 .9 .9 93.6 sakit kepala, flu, batuk 1 .9 .9 94.5 sakit kepala, pegal-pegal 2 1.8 1.8 96.3 sakit kepala, sakit gigi 1 .9 .9 97.2 sakit perut 1 .9 .9 98.2 sakit tenggorokan 1 .9 .9 99.1 Sembelit 1 .9 .9 100.0 109 100.0 100.0 pusing, sakit tenggorokan, lelah radang tenggorokan, tekanan darah tinggi Total Obat yang digunakan dalam swamedikasi Cumulative Frequency Valid Percent Valid Percent Percent 59 54.1 54.1 54.1 Aminopilin 1 .9 .9 55.0 antalgin, safecare 1 .9 .9 56.0

(123) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 104 Antangin 1 .9 .9 56.9 asam mefenamat 1 .9 .9 57.8 biogesik, diapet 1 .9 .9 58.7 1 .9 .9 59.6 1 .9 .9 60.6 1 .9 .9 61.5 Decolgen 3 2.8 2.8 64.2 decolgen, tolak angin cair 1 .9 .9 65.1 Dulcolax 1 .9 .9 66.1 F.G Troches 1 .9 .9 67.0 1 .9 .9 67.9 Flutamol 1 .9 .9 68.8 instunal, promag 1 .9 .9 69.7 Intunal 1 .9 .9 70.6 Inza 2 1.8 1.8 72.5 jamu herbal tradisional 1 .9 .9 73.4 Kaladin 1 .9 .9 74.3 1 .9 .9 75.2 1 .9 .9 76.1 Mizagrif 1 .9 .9 77.1 Nalgestan 1 .9 .9 78.0 neozep, komix 1 .9 .9 78.9 1 .9 .9 79.8 obat asam urat dan captopryl 1 .9 .9 80.7 obat untuk gatal 1 .9 .9 81.7 biogesik, panadol, mertigo, antangin Bisolvon bodrex, decolgen, tolak angin, salonpas F.G Troches, captopril 12,5 mg klorofil, propolis, omega squa, tolak angin milanta, intunal, OBH, paracetamol neuralgin, diatabs, ctm, salbutamol

(124) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 105 OBH 3 2.8 2.8 84.4 OBH herbal 1 .9 .9 85.3 Panadol 2 1.8 1.8 87.2 panadol hijau 1 .9 .9 88.1 Paracetamo 1 .9 .9 89.0 Paracetamol 3 2.8 2.8 91.7 1 .9 .9 92.7 Paramex 1 .9 .9 93.6 Procold 1 .9 .9 94.5 Promag 1 .9 .9 95.4 promag, feminax 1 .9 .9 96.3 promag, intunal F 1 .9 .9 97.2 sanaflu, koyo 1 .9 .9 98.2 SP Troches, wood antitusif 1 .9 .9 99.1 tremenza, panadol 1 .9 .9 100.0 109 100.0 100.0 paracetamol, obat batuk ibu dan anak Total Responden pernah menggunakan obat tersebut sebelumnya Cumulative Frequency Valid pernah tidak pernah Total Percent Valid Percent Percent 59 54.1 54.1 54.1 46 42.2 42.2 96.3 4 3.7 3.7 100.0 109 100.0 100.0 Tempat mendapatkan obat Cumulative Frequency Valid Alfamart Percent Valid Percent Percent 59 54.1 54.1 54.1 1 .9 .9 55.0

(125) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Apotek 34 31.2 31.2 86.2 1 .9 .9 87.2 4 3.7 3.7 90.8 2 1.8 1.8 92.7 2 1.8 1.8 94.5 1 .9 .9 95.4 5 4.6 4.6 100.0 109 100.0 100.0 apotek, dari orang lain (teman, keluarga, dll) apotek, warung terdekat dari orang lain (teman, keluarga, dll) toko obat, apotek toko obat, apotek, warung terdekat warung terdekat Total 106 Harga obat yang digunakan dalam swamedikasi Cumulative Frequency Valid Percent Valid Percent Percent 60 55.0 55.0 55.0 21 19.3 19.3 74.3 > Rp50.000,00 1 .9 .9 75.2 Rp15.000,00-Rp25.000,00 4 3.7 3.7 78.9 Rp25.000,00-Rp35.000,00 1 .9 .9 79.8 Rp35.000,00-Rp45.000,00 1 .9 .9 80.7 21 19.3 19.3 100.0 109 100.0 100.0 < Rp5000,00 Rp5000,00-Rp15.000,00 Total Alasan melakukan swamedikasi Cumulative Frequency Valid Percent Valid Percent Percent 59 54.1 54.1 54.1 ampuh dan cocok 1 .9 .9 55.0 Biasanya sembuh 1 .9 .9 56.0 biaya lebih murah 2 1.8 1.8 57.8

(126) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 107 biaya lebih murah, lebih cepat/ tidak antri untuk 1 .9 .9 58.7 1 .9 .9 59.6 1 .9 .9 60.6 3 2.8 2.8 63.3 2 1.8 1.8 65.1 1 .9 .9 66.1 13 11.9 11.9 78.0 1 .9 .9 78.9 19 17.4 17.4 96.3 1 .9 .9 97.2 saran dari orang tua 1 .9 .9 98.2 saran keluarga 1 .9 .9 99.1 1 .9 .9 100.0 109 100.0 100.0 periksa, penyakitnya masih ringan biaya lebih murah, lebih praktis, penyakitnya masih ringan lebih cepat/ tidak antri untuk periksa lebih cepat/tidak antri untuk periksa lebih cepat/tidak antri untuk periksa, lebih praktis lebih cepat/tidak antri untuk periksa, lebih praktis, penyakitnya masih ringan lebih praktis lebih praktis, penyakitnya masih ringan penyakitnya masih ringan penyakitnya masih ringan, karena obatnya yang tersedia hanya itu dan radang tenggotokan nya <3 hari tidak ada bahan kimia yang terlalu banyak Total

(127) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 9. Frekuensi dan presentase pengetahuan responden B14 Cumulative Frequency Valid Tidak Ya Valid Percent Percent 6 5.5 5.5 5.5 101 92.7 92.7 98.2 2 1.8 1.8 100.0 109 100.0 100.0 tidak tahu Total Percent B15 Cumulative Frequency Valid Percent Valid Percent Percent Tidak 15 13.8 13.8 13.8 Ya 90 82.6 82.6 96.3 4 3.7 3.7 100.0 109 100.0 100.0 tidak tahu Total B16 Cumulative Frequency Valid Percent Valid Percent Percent Tidak 42 38.5 38.5 38.5 Ya 42 38.5 38.5 77.1 tidak tahu 25 22.9 22.9 100.0 109 100.0 100.0 Total B17 Cumulative Frequency Valid Tidak Percent Valid Percent Percent 5 4.6 4.6 4.6 Ya 68 62.4 62.4 67.0 tidak tahu 36 33.0 33.0 100.0 109 100.0 100.0 Total 108

(128) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI B18 Cumulative Frequency Valid Tidak Percent Valid Percent Percent 2 1.8 1.8 1.8 Ya 63 57.8 57.8 59.6 tidak tahu 44 40.4 40.4 100.0 109 100.0 100.0 Total B19 Cumulative Frequency Valid Tidak Percent Valid Percent Percent 3 2.8 2.8 2.8 Ya 20 18.3 18.3 21.1 tidak tahu 86 78.9 78.9 100.0 109 100.0 100.0 Total B20 Cumulative Frequency Valid Tidak Percent Valid Percent Percent 2 1.8 1.8 1.8 Ya 18 16.5 16.5 18.3 tidak tahu 89 81.7 81.7 100.0 109 100.0 100.0 Total B21 Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent Valid Tidak 5 4.6 4.6 4.6 Ya 89 81.7 81.7 86.2 tidak tahu 15 13.8 13.8 100.0 109 100.0 100.0 Total 109

(129) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI B22 Cumulative Frequency Valid Percent Valid Percent Percent Tidak 25 22.9 22.9 22.9 Ya 84 77.1 77.1 100.0 109 100.0 100.0 Total B23 Cumulative Frequency Valid Percent Valid Percent Percent Tidak 46 42.2 42.2 42.2 Ya 36 33.0 33.0 75.2 tidak tahu 27 24.8 24.8 100.0 109 100.0 100.0 Total B24 Cumulative Frequency Valid Percent Valid Percent Percent Tidak 58 53.2 53.2 53.2 Ya 27 24.8 24.8 78.0 tidak tahu 24 22.0 22.0 100.0 109 100.0 100.0 Total B25 Cumulative Frequency Valid Tidak Ya tidak tahu Total Percent Valid Percent Percent 1 .9 .9 .9 99 90.8 90.8 91.7 9 8.3 8.3 100.0 109 100.0 100.0 110

(130) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI B26 Cumulative Frequency Valid Tidak Percent Valid Percent Percent 4 3.7 3.7 3.7 Ya 69 63.3 63.3 67.0 tidak tahu 36 33.0 33.0 100.0 109 100.0 100.0 Total B27 Cumulative Frequency Valid Tidak Percent Valid Percent Percent 4 3.7 3.7 3.7 Ya 58 53.2 53.2 56.9 tidak tahu 47 43.1 43.1 100.0 109 100.0 100.0 Total B28 Cumulative Frequency Valid Tidak Percent Valid Percent Percent 3 2.8 2.8 2.8 Ya 53 48.6 48.6 51.4 tidak tahu 53 48.6 48.6 100.0 109 100.0 100.0 Total B29 Cumulative Frequency Valid Tidak Percent Valid Percent Percent 3 2.8 2.8 2.8 Ya 31 28.4 28.4 31.2 tidak tahu 75 68.8 68.8 100.0 109 100.0 100.0 Total 111

(131) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI B30 Cumulative Frequency Valid Tidak Percent Valid Percent Percent 8 7.3 7.3 7.3 Ya 85 78.0 78.0 85.3 tidak tahu 16 14.7 14.7 100.0 109 100.0 100.0 Total B31 Cumulative Frequency Valid Tidak Percent Valid Percent Percent 7 6.4 6.4 6.4 Ya 90 82.6 82.6 89.0 tidak tahu 12 11.0 11.0 100.0 109 100.0 100.0 Total B32 Cumulative Frequency Valid Tidak Percent Valid Percent Percent 7 6.4 6.4 6.4 Ya 84 77.1 77.1 83.5 tidak tahu 18 16.5 16.5 100.0 109 100.0 100.0 Total B33 Cumulative Frequency Valid Tidak Percent Valid Percent Percent 4 3.7 3.7 3.7 Ya 92 84.4 84.4 88.1 tidak tahu 13 11.9 11.9 100.0 109 100.0 100.0 Total 112

(132) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI B34 Cumulative Frequency Valid Tidak Ya Valid Percent Percent 5 4.6 4.6 4.6 98 89.9 89.9 94.5 6 5.5 5.5 100.0 109 100.0 100.0 tidak tahu Total Percent B35 Cumulative Frequency Valid Tidak Percent Valid Percent Percent 7 6.4 6.4 6.4 Ya 82 75.2 75.2 81.7 tidak tahu 20 18.3 18.3 100.0 109 100.0 100.0 Total B36 Cumulative Frequency Valid Tidak Percent Valid Percent Percent 7 6.4 6.4 6.4 Ya 87 79.8 79.8 86.2 tidak tahu 15 13.8 13.8 100.0 109 100.0 100.0 Total 113

(133) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 10. Frekuensi dan presentase sikap responden Skoring S1 Cumulative Frequency Valid Percent Valid Percent Percent Tidak 14 12.8 12.8 12.8 Ya 95 87.2 87.2 100.0 109 100.0 100.0 Total Skoring S2 Cumulative Frequency Valid Tidak Percent Valid Percent Percent 7 6.4 6.4 6.4 Ya 102 93.6 93.6 100.0 Total 109 100.0 100.0 Skoring S3 Cumulative Frequency Valid Percent Valid Percent Percent Tidak 50 45.9 45.9 45.9 Ya 59 54.1 54.1 100.0 109 100.0 100.0 Total Skoring S4 Cumulative Frequency Valid Percent Valid Percent Percent Tidak 53 48.6 48.6 48.6 Ya 56 51.4 51.4 100.0 109 100.0 100.0 Total 114

(134) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI C1 Cumulative Frequency Valid sangat tidak setuju Percent Valid Percent Percent 1 .9 .9 .9 tidak setuju 13 11.9 11.9 12.8 Setuju 76 69.7 69.7 82.6 sangat setuju 19 17.4 17.4 100.0 109 100.0 100.0 Total C2 Cumulative Frequency Valid Percent Valid Percent Percent sangat setuju 1 .9 .9 .9 Setuju 6 5.5 5.5 6.4 tidak setuju 82 75.2 75.2 81.7 sangat tidak setuju 20 18.3 18.3 100.0 109 100.0 100.0 Total C3 Cumulative Frequency Valid sangat tidak setuju Percent Valid Percent Percent 4 3.7 3.7 3.7 tidak setuju 46 42.2 42.2 45.9 Setuju 57 52.3 52.3 98.2 2 1.8 1.8 100.0 109 100.0 100.0 sangat setuju Total C4 Cumulative Frequency Valid Percent Valid Percent Percent sangat setuju 11 10.1 10.1 10.1 Setuju 41 37.6 37.6 47.7 tidak setuju 54 49.5 49.5 97.2 3 2.8 2.8 100.0 sangat tidak setuju 115

(135) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI C1 Cumulative Frequency Valid sangat tidak setuju Percent Valid Percent Percent 1 .9 .9 .9 tidak setuju 13 11.9 11.9 12.8 Setuju 76 69.7 69.7 82.6 sangat setuju 19 17.4 17.4 100.0 109 100.0 100.0 Total 116

(136) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 11. Frekuensi dan presentase tindakan responden D1 Cumulative Frequency Valid Percent Valid Percent Percent Tidak 56 51.4 51.4 51.4 Ya 53 48.6 48.6 100.0 109 100.0 100.0 Total D2 Cumulative Frequency Valid Percent Valid Percent Percent Tidak 44 40.4 40.4 40.4 Ya 65 59.6 59.6 100.0 109 100.0 100.0 Total D3 Cumulative Frequency Valid Percent Valid Percent Percent Tidak 50 45.9 45.9 45.9 Ya 59 54.1 54.1 100.0 109 100.0 100.0 Total D4 Cumulative Frequency Valid Percent Valid Percent Percent Tidak 51 46.8 46.8 46.8 Ya 58 53.2 53.2 100.0 109 100.0 100.0 Total 117

(137) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 12. Hubungan pengetahuan dengan tindakan pemilihan obat menggunakan uji Chi-Square dan Kolmogorov-Smirnov kategori pengetahuan * kategori tindakan Crosstabulation kategori tindakan positif kategori pengetahuan baik Count Expected Count cukup kurang Total 6 9 2.2 6.8 9.0 23 67 90 22.3 67.7 90.0 1 9 10 2.5 7.5 10.0 Count Expected Count Count Expected Count 27 82 109 27.0 82.0 109.0 Chi-Square Tests Value a Pearson Chi-Square Likelihood Ratio Linear-by-Linear Association N of Valid Cases Asymp. Sig. (2sided) df 1.555 1.774 1.415 2 2 1 .460 .412 .234 109 a. 2 cells (33.3%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 2.23. a Test Statistics Pengetahuan Most Extreme Differences Absolute .429 Positive .429 Negative -.029 .727 .666 Kolmogorov-Smirnov Z Asymp. Sig. (2-tailed) a. Grouping Variable:Tindakan Total 3 Count Expected Count negatif 118

(138) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 119 Lampiran 13. Hubungan sikap dengan tindakan pemilihan obat menggunakan uji Chi-Square dan Fisher kategori sikap * kategori tindakan Crosstabulation kategori tindakan positif kategori sikap positif Count Total Total 78 104 25.8 78.2 104.0 1 4 5 Expected Count 1.2 3.8 5.0 Count 27 82 109 27.0 82.0 109.0 Expected Count negatif negatif 26 Count Expected Count Chi-Square Tests Value Pearson Chi-Square Continuity Correction a 1 .800 .000 1 1.000 .067 1 .796 .064 b Likelihood Ratio Asymp. Sig. (2sided) df Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association b N of Valid Cases Exact Sig. (2sided) 1.000 .063 1 .801 109 a. 2 cells (50.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 1.24. b. Computed only for a 2x2 table Exact Sig. (1sided) .638

(139) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 120 BIOGRAFI PENULIS Penulis skrispi berjudul “Hubungan antara Pengetahuan dan Sikap Mengenai Obat Tradisional dan Obat Modern terhadap Tindakan Pemilihan Obat pada Pengobatan Mandiri di Kalangan Mahasiswa Universitas Sanata Dharma Yogyakarta” memiliki nama lengkap Eva Cristiana. Penulis lahir di Palangka Raya pada tanggal 16 Juni 1993, merupakan anak tunggal dari pasangan bapak Masriadie, SE dan ibu Herlincee, S.Pd. Penulis telah menempuh pendidikan awal di TK Dharma Wanita Kuala Kurun pada tahun 1997-1998, SD Negeri Palangka 2 pada tahun 19982004, SMP Negeri 2 Jekan Raya pada tahun 2004-2007, SMA Negeri 3 Palangka Raya pada tahun 2007-2010 dan kemudian penulis melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi di Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta pada tahun 2010. Selama di bangku perkuliah, penulis pernah bergabung dalam kegiatan donor darah sejuta jiwa pada tahun 2010 sebagai seksi publikasi, dekorasi dan dokumentasi, sebagai peserta lomba fotografi dalam acara hari anti tembakau pada tahun 2011, sebagai anggota tim pengabdian masyarakat dalam penyuluhan waspadai penyakit cacing kremi pada anakanak di posyandu Kerun Baru, Klaten, Jawa Tengah, pada tahun 2012 dan kegiatan Desa Mitra 2013 yang diselenggarakan di Dusun Warak Lor, Desa Suberadi, Kabupaten Sleman, Yogyakarta sebagai seksi hubungan masyarakat pada tahun 2013.

(140)

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Profil penggunaan obat dan perilaku pengobatan mandiri di kalangan ibu-ibu Desa Oelnasi Nusa Tenggara Timur.
0
1
47
Pola dan motivasi penggunaan obat tradisional untuk pengobatan mandiri di kalangan masyarakat desa Dieng Kecamatan Kejajar Kabupaten Wonosobo Jawa Tengah.
3
15
97
Kajian pengetahuan, sikap dan tindakan penggunaan obat tradisional untuk pengobatan mandiri di kalangan masyarakat Desa Dieng Kecamatan Kejajar Kabupaten Wonosobo Jawa Tengah.
8
19
105
Kajian pengetahuan, sikap dan tindakan penggunaan obat untuk pengobatan mandiri di kalangan masyarakat Desa Dieng Kecamatan Kejajar Kabupaten Wonosobo Jawa Tengah.
0
0
90
Hubungan tingkat pengetahuan dan sikap mengenai persepsi periklanan obat di televisi terhadap tindakan penggunaan obat di kalangan ibu Rumah Tangga di Kecamatan Cangkringan Kabupaten Sleman pada tahun 2014 : studi kasus obat sakit kepala.
0
1
171
Hubungan tingkat pengetahuan dan sikap mengenai iklan obat sakit kepala di televisi terhadap tindakan penggunaan obat sakit kepala di kalangan ibu rumah tangga di Kecamatan Depok Kabupaten Sleman Yogyakarta pada tahun 2014.
0
2
196
Hubungan tingkat pengetahuan dan sikap mengenai iklan obat sakit kepala di televisi terhadap tindakan penggunaan obat sakit kepala di kalangan Mahasiswa Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.
4
10
109
Profil penggunaan obat dan perilaku pengobatan mandiri di kalangan ibu ibu Desa Oelnasi Nusa Tenggara Timur
0
0
45
Perkembangan obat tradisional modern dar
0
0
7
Program bantu pemilihan obat di Apotek Sanata Dharma - USD Repository
0
0
215
Studi tentang pemahaman mahasiswa Fakultas Farmasi terhadap obat tradisional kelompok fitofarmaka, obat herbal terstandar, jamu dan obat tradisional non registrasi di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta - USD Repository
0
1
154
Kajian hubungan antara pemahaman tentang khasiat dan efek samping obat tradisional dengan pemilihan produk obat tradisional yang dilakukan oleh sekelompok wanita di desa Maguwoharjo - USD Repository
0
0
84
Kajian pengetahuan dan alasan pemilihan obat herbal pada pasien geriatri di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta - USD Repository
0
0
130
Hubungan pengetahuan dan sikap mengenai obat tradisional dan obat modern dengan tindakan pemilihan obat untuk pengobatan mandiri di kalangan masyarakat Desa Bantir, Kecamatan Candiroto, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah - USD Repository
0
3
142
Hubungan antara karakteristik sosio-demografi terhadap tingkat pengetahuan, sikap, dan tindakan penggunaan antibiotika tanpa resep di kalangan mahasiswa Universitas Sanata Dharma Yogyakarta - USD Repository
0
0
161
Show more