PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Gratis

0
0
161
9 months ago
Preview
Full text
(1)PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI PENGALAMAN DISKRIMINASI WARGA TIONGHOA DI PONTIANAK Skripsi Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi Oleh : Cynthia Budi Janto NIM : 089114144 PROGRAM STUDI PSIKOLOGI FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2014

(2) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI PENGALAMAN DISKRIMINASI WARGA TIONGHOA DI PONTIANAK Skripsi Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi Oleh : Cynthia Budi Janto NIM : 089114144 PROGRAM STUDI PSIKOLOGI FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2014 i

(3) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI SKRIPSI PENGALAMAN DISKRIMINASI WARGA TIONGIIOA DI PONTIANAK Oleh: Cynth;a l3::tli Janto 0tiql t4144 '.felah Dir:.l t$,;i r,leh: Dosen Pembimi-rins. Dr Tiinto Susana- M.Si ranggal:..... 2:{...J1N.. ?014

(4) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI SKRIPSI PENGATAMATT DISKRIMINASI WARGA TIONGHOA DI PONTIANAK Dipersiapkan dan ditulis oleh: Cynthia Budi Janto l\[IM:089114144 Telah dipertanggun glav,'abkarr di
(5) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI MOTTO : "Do not let your hearts be troubled. You have faith in God; have faith also in me." Jesus of Nazareth (John 14:1) iv

(6) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Dipersembahkan untuk Tuhan Yesus, untuk berkat, penyertaan, dan insipirasi yang luar biasa Papa Mama untuk dukungan yang tidak pernah berhenti diberikan kepada saya sedari saya kecil sampai saat ini v

(7) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI PERNYATAAN KEASLIAN KARYA Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka sebagaimana layaknya karya ilmiah. Yogyakarta, 24 Januari 2014 Penulis, Cynthia Budi Janto vi

(8) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI PENGALAMAN DISKRIMINASI WARGA TIONGHOA DI PONTIANAK Cynthia Budi Janto ABSTRAK Tionghoa sebagai masyarakat minoritas di Indonesia dicap sebagai orang asing yang mengancam integrasi bangsa. Maka, tidak jarang mereka mendapat perlakuan yang kurang menyenangkan. Dari berbagai peristiwa yang terjadi akhirakhir ini di Indonesia, tampaknya warga Tionghoa sudah semakin memiliki tempat yang setara dengan warga Indonesia lainnya. Harapannya hal ini memberikan dampak yang semakin positif terhadap seluruh warga Tionghoa di Indonesia dalam kehidupan mereka. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap relasi antaretnik antara Tionghoa dengan pribumi dalam konteks diskriminasi warga Tionghoa di Pontianak. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan metode analisis fenomenologi. Metode pengumpulan data menggunakan wawancara semiterstruktur terhadap tiga orang subjek. Subjek dipilih berdasarkan kriteria yang sesuai dengan konteks penelitian yakni etnis Tionghoa dari kelompok usia dewasa awal, dan dibesarkan di kota Pontianak. Penelitian ini mengungkapkan pengalaman-pengalaman subjek tentang kehidupan mereka di masyarakat Pontianak yang berkaitan dengan interaksi mereka dengan warga pribumi lokal. Dari hasil penelitian ini, ditemukan bahwa etnis Tionghoa di Pontianak masih merasakan ketidaksukaan antara Tionghoa dengan pribumi dalam lingkup situasi sehari-hari. Selain itu, secara umum konflik dan perilaku diskriminasi antara Tionghoa dan pribumi sudah berkurang. Kata kunci : Tionghoa, diskriminasi, Pontianak vii

(9) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI CHINESE DESCENDANTS’ EXPERIENCE OF DISCRIMINATION IN PONTIANAK Cynthia Budi Janto ABSTRACT Chinese descendants as minority group in Indonesia had been stigmatized as foreigners who threaten the nation integrity. Therefore, they often encounter unpleasant treatments. By the events occurred recently in Indonesia, Chinese descendants seem to receive more equality to other Indonesian citizens. It is expected that all Chinese descendants in Indonesia will receive positive impact in their lives from those events. This research aims to reveal interethnic relation between Chinese descendants’ and native citizens in the context of discrimination in Pontianak. This research is a phenomenological qualitative research. Data was collected from three participants using semi-structured interview. Participants of this research selected by criteria appropriate to this research context, that is Chinese descent young adult and raised in Pontianak. This research reveals participants’ living experiences in Pontianak related to their interactions with native citizens. It is found that there are still subtle prejudice between both ethnic groups. Nevertheless, according to the participants, there is more openness between Chinese descents and native citizens in their daily lives. Keywords: Chinese descent, discrimination, Pontianak viii

(10) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI LEMBAR PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma Nama Nomor Mahasiswa : Cynthia Budi Janto : 089114144 Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul : PENGALAMAN DISKRIMINASI WARGA TIONGHOA DI PONTIANAK beserta perangkat yang diperlukan (bila ada). Dengan demikian saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengelolanya di internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta izin dari saya maupun memberikan royalty kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis. Demikian pernyataan ini yang saya buat dengan sebenarnya. Dibuat di Yogyakarta Pada tanggal : 24 Januari 2014 Yang menyatakan, (Cynthia Budi Janto) ix

(11) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI KATA PENGANTAR Akhirnya peneliti memberikan ucapan terima untuk segala dukungan dari pihak-pihak yang turut serta dalam penyelesaian tugas akhir ini. Terima kasih dihaturkan kepada : 1. Tuhan Yesus Kristus yang begitu murah hati karena selalu memberkati saya dalam setiap langkah kehidupan saya. 2. Bapak C. Siswa Widyatmoko, M.Psi. selaku Dekan Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma, atas masukan kecil namun sangat berarti buat proses pengerjaan skripsi ini. 3. Alm. ibu Dr. Christina Siwi Handayani di surga. Terima kasih atas inspirasinya yang selalu menyertai kami semua yang mengenalmu. 4. Ibu Dr. Tjipto Susana, M.Si. selaku dosen pembimbing skripsi. Senang sekali punya dosen yang cerdas, humoris, tapi kadang juga bikin frustrasi selama proses pengerjaan skripsi ini. 5. Ibu Sylvia CMYM, M.Si., dosen pembimbing akademik yang ramah dan selalu sabar memberikan masukan dan bimbingan selama masa perkuliahan saya. 6. Seluruh dosen Fakultas Psikologi yang telah mendidik dan mengajar saya selama masa perkuliahan. Terima kasih atas semua ilmu, semangat, dan pandangan-pandangan baru yang dibagikan. 7. Papa Mama yang sudah berikan dukungan lahir batin dari saya kecil sampai sekarang. Tanpa Papa Mama saya bukan apa-apa. x

(12) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 8. My dearest brothers and sisters. Love you all. 9. Felicia Putri Hernat, teman baik yang sering berbagi cerita, pandangan, dan dukungan. Sometimes, the way you act might intimidate me. Sometimes, I wish I could be like you. But eventually, I think we’re just the same in some ways and also will always be different in other ways too. Lol. 10. Teman-teman seperguruan di Kempo Sadhar. Ke manapun saya pergi saya tidak akan melupakan kebersamaan kita. Uye! 11. Teman-teman seperjuangan di masa-masa skripsi, Ines, Intan, Nopai, Risya, Puji yang sudah bersama-sama bahu-membahu memberikan dukungan, dan akhirnya satu-persatu berhasil menaklukan sang Tugas Akhir, si Kemalasan, dan teman-temannya. Sampai ketemu lagi di masa depan yang cerah, teman-teman. 12. Yuga, yang sudah menularkan semangat dalam hal apapun di kehidupan saya. 13. Para partisipan yang sudah bersedia saya wawancarai dan saya mintai tolong. Terima kasih banyak buat kontribusinya. 14. Semua pihak yang tidak bisa saya sebutkan satu per satu. Terima kasih untuk dukungan selama pengerjaan tugas akhir ini. Akhir kata, penulis menyadari bahwa penelitian dan penyusunan skripsi ini masih jauh dari sempurna. Peneliti mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun untuk kesempurnaan skripsi ini dari xi

(13) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI pembaca semua. Semoga skripsi ini memberikan manfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan. xii

(14) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL ............................................................................. i HALAMAN PERSETUJUAN DOSEN PEMBIMBING .................. ii HALAMAN PENGESAHAN ............................................................... iii HALAMAN MOTTO ........................................................................... iv HALAMAN PERSEMBAHAN ........................................................... v HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ......................... vi ABSTRAK ............................................................................................. vii ABSTRACT ........................................................................................... viii HALAMAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH ...... xi KATA PENGANTAR ........................................................................... x DAFTAR ISI.......................................................................................... xiii DAFTAR TABEL ................................................................................. xvii BAB I. PENDAHULUAN ..................................................................... 1 A. Latar Belakang.............................................................................. 1 B. Rumusan Masalah ........................................................................ 8 C. Tujuan Penelitian .......................................................................... 8 D. Manfaat Penelitian ........................................................................ 9 1. Manfaat Teoritis ..................................................................... 9 2. Manfaat Praktis ....................................................................... 9 BAB II. TINJAUAN PUSTAKA ......................................................... A. Review Literatur Penelitian Tentang Pengalaman Diskriminasi xiii 10

(15) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Tionghoa di Indonesia................................................................. 10 B. Diskriminasi ................................................................................ 12 1. Pengertian Diskriminasi ........................................................ 12 2. Bentuk-bentuk Diskriminasi ................................................. 14 3. Penyebab Diskriminasi ......................................................... 17 C. Relasi Antar Etnis ....................................................................... 18 1. Bentuk-bentuk Hubungan Antar Etnis .................................. 19 D. Etnis Tionghoa ............................................................................ 20 1. Awal Kedatangan Etnis Tionghoa ........................................ 20 2. Pembagian Etnis Tionghoa ................................................... 21 3. Ajaran-ajaran yang Mempengaruhi Etnis Tionghoa ............................................................................... 22 4. Aspek-aspek yang Diprasangkai dari Masyarakat Etnis Tionghoa ...................................................................... 25 E. Kota Pontianak ............................................................................ 29 1. Geografi dan Topografi ......................................................... 29 2. Penduduk Kota Pontianak ..................................................... 30 3. Tionghoa di Kota Pontianak ................................................. 31 F. Relasi Antar Etnis dan Identitas Etnis dalam Konteks Diskriminasi ................................................................................ 31 BAB III. METODOLOGI PENELITIAN .......................................... 33 A. Jenis Penelitian............................................................................ 33 B. Strategi Penelitian ....................................................................... 34 xiv

(16) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI C. Fokus Penelitian .......................................................................... 34 D. Subjek Penelitian ........................................................................ 35 E. Metode Pengambilan Data .......................................................... 35 F. Metode Analisis Data .................................................................. 40 1. Mencari Tema-tema pada Subjek Pertama ............................. 41 2. Menghubungkan Tema-tema pada Subjek Pertama ............... 41 3. Menghubungkan Tema-tema pada Subjek Lainnya ............... 41 G. Kredibilitas Penelitian ................................................................. 42 BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ................... 43 A. Konteks Penelitian ...................................................................... 43 B. Profil Subjek ............................................................................... 46 1. Deskripsi Subjek 1 ................................................................ 46 2. Deskripsi Subjek 2 ................................................................ 47 3. Deskripsi Subjek 3 ................................................................ 47 C. Hasil Penelitian ........................................................................... 48 1. Identitas ................................................................................. 53 2. Relasi..................................................................................... 57 D. Pembahasan................................................................................. 77 BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN ............................................... 85 A. Kesimpulan ................................................................................. 85 B. Keterbatasan Penelitian ............................................................... 86 C. Saran ........................................................................................... 86 1. Bagi Penelitiaan Selanjutnya ................................................ 86 xv

(17) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2. Bagi Masyarakat ................................................................... 87 3. Bagi Warga Tionghoa di Indonesia ..................................... 87 DAFTAR PUSTAKA ............................................................................ 88 LAMPIRAN........................................................................................... 91 xvi

(18) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR TABEL Tabel 1. Daftar panduan pertanyaan wawancara ................................... 37 Tabel 2. Pelaksanaan wawancara ........................................................... 40 Tabel 3. Master tabel .............................................................................. 49 xvii

(19) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI PENGALAMAN DISKRIMINASI WARGA TIONGHOA DI PONTIANAK Skripsi Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi Oleh : Cynthia Budi Janto NIM : 089114144 PROGRAM STUDI PSIKOLOGI FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2014 i

(20) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI PENGALAMAN DISKRIMINASI WARGA TIONGHOA DI PONTIANAK Skripsi Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi Oleh : Cynthia Budi Janto NIM : 089114144 PROGRAM STUDI PSIKOLOGI FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2014 i

(21) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Masyarakat Indonesia merupakan masyarakat yang majemuk. Masyarakat Indonesia terdiri dari berbagai etnis yang memiliki latar belakang sosial dan budaya yang beragam. Salah satu etnis yang ada di Indonesia adalah etnis Tionghoa. Etnis tionghoa merupakan salah satu kelompok etnis minoritas di Indonesia. Suryadinata mendefinisikan etnis Tionghoa sebagai berikut: istilah etnis Tionghoa-Indonesia digunakan di sini untuk merujuk pada etnis Tionghoa di Indonesia yang memiliki nama keluarga atau marga tanpa memandang kewarganegaraannya (Yuniartie, 2011). Etnis Tionghoa seringkali mendapat pandangan kurang baik di mata masyarakat Indonesia. Selama ini selalu saja kebijakan para penguasa membuat kedudukan etnis minoritas ini selalu tersudut baik itu di era kolonial maupun di era kemerdekaan (Susetyo dalam Susetyo, 2007). Kedatangan Belanda ke Indonesia mulai mengubah peta politik di negeri ini. Dengan tujuan untuk memecah-belah kekuatan rakyat Indonesia, Belanda kemudian mulai menjalankan politik yang terkenal dengan nama devide et impera atau politik pecah-belah. Antara lain, dengan menempatkan posisi etnis Tionghoa menjadi Timur Asing (Vreemde Oosterlingen) yang berarti, secara kedudukan mereka berada di atas warga Pribumi (Inlander), mengeksklusifkan tempat tinggal mereka, dan memberi mereka hak untuk 1

(22) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2 memungut pajak, menjual candu, dan membuka rumah judi bagi warga pribumi. Sejak saat itulah, hubungan antara etnis Tionghoa dengan penduduk pribumi Indonesia lainnya mulai merenggang (Yuniartie, 2011). Selain itu, ada pula pendapat yang menyatakan bahwa masalahmasalah yang terjadi di masyarakat saat ini merupakan dampak dari masyarakat Tionghoa yang masih mempertahankan budaya asing dan tidak memiliki identitas sebagai rakyat Indonesia. Pendapat lainnya menyatakan bahwa masyarakat tionghoa di Indonesia belum berbaur dengan masyarakat pribumi. Adanya perasaan sebagai minoritas membuat mereka mengidentifikasikan dirinya sebagai suatu kelompok. Kelompok tersebut dianggap sebagai in-groupnya, sedangkan kelompok lain di luar kelompok sosialnya disebut out-group, dimana individu-individu anggota kelompok tersebut dianggap sebagai lawannya (Bonner dalam Helmi, 1990). Ada perasaan tidak nyaman bila bergaul dan berbaur dengan etnis atau suku lain karena mereka khawatir akan dikucilkan dan didiskriminasikan dalam pergaulan dan kehidupan bersosial. Ditambah lagi, hal ini diperkuat dengan berbagai peristiwa di Indonesia yang menyinggung isu SARA (suku, agama, ras, antar golongan) seperti peristiwa Mei 1998 dimana masyarakat Tionghoa dijadikan sasaran agresi. Peristiwa tragis Mei 1998 yang memakan banyak korban juga belum pernah diselesaikan secara hukum. Ganjalan inilah yang bagi sebagian orang bisa diinterpretasikan sebagai tanda bahwa “orang Tionghoa belum

(23) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 3 sepenuhnya diterima”, atau bahwa ‘masih ada kemungkinan orang Tionghoa diperlakukan secara tidak adil sebagaimana yang mereka alami sebelumnya” (Wibowo & Thung, 2010). Beberapa upaya sudah dilakukan pemerintah negara untuk menghapuskan praktik-praktik diskriminatif, seperti pencabutan Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967 tentang Pelarangan Ekspresi Kebudayaan Cina di Ruang Publik oleh Keputusan Presiden Nomor 6 tahun 2000 oleh Presiden Abdurrahman Wahid serta dikeluarkannya Undang-Undang Kewarganegaraan Indonesia (yang baru) Nomor 12 Tahun 2006 yang, menurut Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, menempatkan warga Tionghoa dalam persamaan dan kesetaraan dengan warga negara lain dalam kehidupan berbangsa dan bernegara (Wibowo & Thung, 2010). Belakangan ini, terpilihnya pasangan Jokowi-Ahok sebagai gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta tahun 2012 menunjukkan bahwa adanya kesadaran dan pemahaman warga tentang hak yang sama sebagai warga negara untuk berkarier di bidang politik tanpa melihat adanya perbedaan dari SARA. Ini merupakan sebuah peristiwa yang menarik dalam sejarah negara kita.Sekilas peristiwa ini menunjukkan bahwa setiap warga negara di Indonesia sudah mendapatkan hak-haknya yang mengarah kepada kesetaraan dan kebebasan tanpa memandang perbedaan. Akan tetapi, kita belum tahu seberapa jauh masyarakat kita sudah mampu menerima dan hidup di tengah keberagaman, terutama mengenai hubungan warga pribumi dengan etnis Tionghoa.

(24) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 4 Meskipun sudah dihapuskan secara formal, permasalahan lain adalahpraktik-praktik diskriminatif berdasarkan identitas sosial budaya dalam kehidupan bermasyarakat sehari-hari yang tidak ditampakkan secara terangterangan masih ada (Madyaningrum, 2010). Hal ini oleh Jones (dalam Madyaningrum, 2010) disebut dengan 'everyday racism'. Istilah ini digunakan untuk menengarai bentuk-bentuk diskriminasi berdasar identitas sosial budaya seseorang, yang susah untuk dibuktikan dan diintervensi secara legal formal, namun terus muncul dalam percakapan, perilaku dan kebiasaan sehari-hari. Dari penjabaran di atas, kita dapat melihat bahwa diskriminasi terhadap warga Tionghoa sudah perlahan-lahan dihapuskan melalui upaya legal dan formal. Akan tetapi, kita belum banyak mengetahui tentang seberapa besar pengaruh dari upaya tersebut terhadap kehidupan masyarakat di Indonesia sehari-hari saat ini. Selain itu, belum banyak pula diskusi dan penelitian psikologi yang membahas tentang diskriminasi Tionghoa di masa Indonesia sekarang ini. Madyaningrum (2010) dalam jurnal penelitiannya membahas tentang diskriminasi berdasarkan identitas sosial budaya dan pendidikan HAM di Indonesia. Dalam penelitian tersebut, beliau menjabarkan bahwa di kehidupan sehari-hari kita diskriminasi bukan hanya rasial saja tetapi juga terhadapidentitas sosial-budaya individu. Diskriminasi yang terpelihara di masyarakat merupakan akibat dari adanya bias kognitif dalam memandang diskriminasi itu sendiri. Hal ini dianggap sebagai sesuatu yang alamiah dan tak terhindarkan sehingga pihak yang menjadi sasaran perilaku diskriminasi

(25) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 5 itu sendiri yang perlu melakukan penyesuaian. Beliau juga menyarankan pendidikan HAM untuk masyarakat sebagai solusi permasalahan tersebut. Dari penelitian tersebut terungkap bahwa memang benar dalam kehidupan bermasyarakat di Indonesia saat ini diskriminasi masih ada. Akan tetapi, peneliti tidak menggali secara khusus mengenai diskriminasi rasial, terutama diskriminasi etnis Tionghoa. Penelitian mengenai diskriminasi rasial di Indonesia lainnya yakni penelitian oleh Hertz (2003) yang membahas upaya-upaya melawan diskriminasi rasial dan etnis oleh 2 LSM di Indonesia. Hertz menemukan bahwa ada beberapa halangan yang ditemukan dalam usaha melawan diskriminasi rasial oleh kedua LSM tersebut terutama saat terlibat dalam merancang RUU anti diskriminasi rasial dan etnis, yaitu masalah sekularisme dan hak-hak Individu muncul dalam konteks agama, khususnya pranata dan tradisi Islam.Artikel ini juga memberikan saran-saran bagi para LSM yang bergerak di bidang serupa. Selain itu, sebuah penelitian tentang diskriminasi etnis Tionghoa di Indonesia oleh Hermanto (2012) menggali tentang identitas etnis Tionghoa yang ada di Jawa Tengah. Dalam penelitian ini etnis Tionghoa sebagai kelompok minoritas di masyarakat kerap kali menjadi sasaran tindakan diskriminatif dari masyarakat maupun pemerintah dan pengaruhnya terhadap bagaimana mereka mempertahankan identitas kebudayaan mereka sebagai keturunan tionghoa. Peneliti menggunakan metode fenomenologi melalui wawancara semi-terstruktur terhadap 3 subjek keturunan tionghoa yang

(26) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 6 berdomisili di Jawa Tengah yang semua berstatus sudah menikah.Dari penelitian tersebut terungkap bahwa subjek melihat dirinya sebagai warga keturunan Tionghoa, merupakan bagian dari masyarakat, merasa terancam oleh diskriminasi, dan berupaya mengatasi diskriminasi. Ada pula penelitian mengenai kebijakan pemerintah Indonesia mengenai etnis Cina oleh Rahardjo (2005). Dalam artikel ini dijabarkan berbagai hal berupa peraturan dan peristiwa yang dianggap merugikan warga Tionghoa dari berbagai aspek politik, ekonomi, kultural, hukum sejak pemerintahan Hindia Belanda hingga pemerintahan presiden Abdurrahman Wahid. Studi ini bertujuan untuk mengetahui pengalaman etnis Tionghoa dalam memahami persoalan pengakuan identitas kultural mereka. Sang peneliti mengkhususkan penelitiannya pada etnis Tionghoa di kota Solo. Beliau menemukan bahwa di daerah tersebut hubungan antara etnis Tionghoa dan Jawa sudah membaur, misalnya perkawinan campur antara kedua etnis tersebut sudah menjadi hal yang lumrah.. Terlebih lagi, beberapa penelitian sebelumnya mengenai etnis Tionghoa di Indonesia pada umumnya melihat pemerintah Indonesia maupun masyarakat pribumi sebagai pelaku utama dalam fenomena diskriminasi terhadap Tionghoa. Padahal, dari penjabaran di atas tampak realitanya saat ini orang Tionghoa sudah semakin mendapatkan haknya setara dengan warga Indonesia lainnya. Berangkat dari pemikiran ini, peneliti berasumsi bahwa ada permasalahan lain di dalam masyarakat mengenai hubungan etnis Tionghoa pribumi yang belum terungkap.

(27) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 7 Maka, peneliti memfokuskan penelitian mengenai relasi antara etnis Tionghoa dan pribumi di Indonesia dari sudut pandang etnis Tionghoa. Lewat penuturan subjek mengenai perilaku berelasi, kita dapat menungkap persepsi subjek saat berinteraksi dengan warga pribumi, khususnya di kota Pontianak. Dari persepsi tersebut dapat diketahui bagaimana mereka memandang dirinya atau ingroup-nya dan orang lain atau outgroup-nya di masyarakat, dan bagaimana mereka berinteraksi di masyarakat. Sebagaimana yang telah diketahui, persepsi seseorang terhadap suatu kejadian atau objek salah satu satunya dipengaruhi oleh proses pembelajaran sebelumnya (Samovar, Porter, & McDaniel, 2010). Selain itu, dengan meningkatkan pengetahuan mengenai relasi antar etnis kita dapat mengetahui dan menganalisis persoalan relasi etnis dan relasi ras, misalnya dalam kasus hubungan mayoritas dengan minoritas berdasarkan definisi-definisi sosiologi, teori dan metodologi yang lebih relevan; mengembangkan pengetahuan tersebut dalam kemampuan untuk bertindak terampil dalam hubungan antar etnis, misalnya melalui komunikasi antar etnis; mengembangkan pengetahuan dan kemampuan berbasis sosiologi untuk memahami beragam dimensi persoalan etnis dan ras, termasuk hubungan antar etnis atau antar ras dalam masyarakat multikultur (Ikegwouha dalam Liliweri, 2010). Penelitian ini akan mengambil tempat di kota Pontianak. Pemilihan kota Pontianak sebagai tempat penelitian didasarkan pada argumentasi bahwa menurut Vasanty (dalam Koentjaraningrat, 2002) proses akulturasi sangat

(28) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 8 kurang di tempat-tempat di Indonesia seperti halnya di Kalimantan Barat dan Sumatera Timur. Selain itu, banyak di antara orang Tionghoa di Kalimantan Barat dan Sumatera Timur itu mungkin sudah banyak juga yang lahir di Indonesia, tetapi mereka masih akan disebut orang Tionghoa totok oleh orang Indonesia (Koentjaraningrat, 2002). Untuk di Kalimantan Barat, salah satu hal yang memperkuat hal tersebut adalah penggunaan bahasa Cina sebagai bahasa pergaulan bagi masyarakat etnis Tionghoa di daerah tersebut. B. RUMUSAN MASALAH Bagaimana persepsi etnis Tionghoa mengenai hubungan antara etnis Tionghoa dengan pribumi dalam kehidupan sehari-hari di Pontianak? Bagaimana persepsi etnis Tionghoa mengenaidiskriminasi etnis Tionghoa di Pontianak? C. TUJUAN PENELITIAN Peneltitian ini dilakukan untuk mengetahui relasi antara etnis Tionghoa dan pribumi di Pontianak dalam konteks diskriminasi, dilihat dari sudut pandang etnis Tionghoa dalam kehidupan sehari-hari pada masa sekarang ini.

(29) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 9 D. MANFAAT PENELITIAN 1. Manfaat Teoritis Penelitian ini dapat digunakan sebagai masukan bagi kajian ilmu psikologi sosial terutama dalam mempelajari diskriminasi rasial. 2. Manfaat Praktis Penelitian ini dapat digunakan untuk lebih memahami hubungan antar etnis di Indonesia. Melalui pengetahuan dan pemahaman ini, masyarakat lebih bisa menilai cara mereka berinteraksi di dalam masyarakat yang majemuk.

(30) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. REVIEW LITERATUR PENELITIAN TENTANG PENGALAMAN DISKRIMINASI TIONGHOA DI INDONESIA Penelitian tentang diskriminasi etnis Tionghoa oleh Hermanto (2012) menggali tentang identitas etnis Tionghoa yang ada di Jawa Tengah. Dalam penelitian ini etnis Tionghoa sebagai kelompok minoritas di masyarakat kerap kali menjadi sasaran tindakan diskriminatif dari masyarakat maupun pemerintah. Hal ini kemudian berdampak pada bagaimana orang tionghoa melihat dirinya sendiri di dalam kehidupannya sebagai bagian dari masyarakat, yakni bagaimana mereka mempertahankan identitas kebudayaan mereka sebagai keturunan tionghoa. Peneliti menggunakan metode analisis interpretatif dengan penggalian data melalui wawancara semi-terstruktur terhadap 3 subjek keturunan tionghoa yang berdomisili di Jawa Tengah, khususnya kota Temanggung dan semua berstatus sudah menikah. Dari penelitian tersebut terungkap bahwa subjek melihat dirinya sebagai warga keturunan Tionghoa, merupakan bagian dari masyarakat, merasa terancam oleh diskriminasi, dan berupaya mengatasi diskriminasi. Dalam penelitian tersebut, peneliti memilih subjek yang usianya tergolong ke dalam dewasa akhir sehingga dari informasi yang didapat pun menceritakan pengalaman diskriminasi Tionghoa Indonesia di masa yang sudah lampau. Tentu saja ada banyak perbedaan dalam hubungan antara etnis 10

(31) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 11 Tionghoa dengan pribumi pada masa lampau dan masa sekarang. Hal ini khususnya ditandai dengan sebelum dan sesudah masa pemerintahan Abdurrahman Wahid yang memperjuangkan pluralisme di Indonesia. Indonesia pada masa lampau masih begitu sarat akan bentuk diskriminasi yang ditujukan terang-terangan terhadap Tionghoa, sedangkan pada masa sekarang segala kebijakan pemerintah sudah mengutamakan kesetaraan hak bagi seluruh warganya tanpa membeda-bedakan etnis. Akan tetapi, meskipun demikian diskriminasi terhadap tionghoa bukan berarti terselesaikan sampai di situ saja. Disinyalir masih ada bentuk-bentuk diskriminasi yang tidak kasat mata yang terjadi di masyarakat kita dan hal ini hanya dapat dirasakan oleh warga Tionghoa yang hidup di masa sekarang. Ada pula penelitian mengenai kebijakan pemerintah Indonesia mengenai etnis Cina oleh Rahardjo (2005) yang menjabarkan berbagai hal berupa peraturan dan peristiwa yang dianggap merugikan warga Tionghoa dari berbagai aspek politik, ekonomi, kultural, hukum sejak pemerintahan Hindia Belanda hingga pemerintahan presiden Abdurrahman Wahid. Studi ini bertujuan untuk mengetahui pengalaman etnis Tionghoa dalam memahami persoalan pengakuan identitas kultural mereka. Studi ini merujuk pada gagasan dari paradigma interpretif, yaitu usaha untuk memahami pengalaman individu-individu etnis Cina dan etnis non Cina (Jawa) sebagai pelaku sosial dalam menginterpretasikan hubungan antar etnis yang terjalin selama ini.

(32) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 12 Peneliti mengkhususkan penelitiannya pada etnis Tionghoa di kota Solo. Beliau menemukan bahwa di daerah tersebut hubungan antara etnis Tionghoa dan Jawa sudah membaur, misalnya perkawinan campur antara kedua etnis tersebut sudah menjadi hal yang lumrah. Penelitian ini melibatkan para partisipan dari masing-masing kelompok etnis. Partisipan dari etnis Cina dikelompokkan berdasarkan usia yakni 30-an dan 60-an. Selain itu data juga diperoleh melalui lembaga-lembaga yang terkait di kota tersebut. Kedua penelitian tersebut memiliki kesamaan yakni mengenai identitas kultural etnis Tionghoa yang berdomisili di provinsi Jawa Tengah. Selain itu, subjek penelitian berasal dari kelompok usia dewasa tengah hingga dewasa akhir. Peneliti mengasumsikan bahwa ada perbedaan karakteristik individu dari masyarakat di luar daerah tersebut. Selain itu, belum pernah ditemukan penelitian mengenai pengalaman diskriminasi pada kelompok masyarakat yang usianya lebih muda. Kedua hal ini kemungkinan akan memunculkan pengungkapan pengalaman yang berbeda dari kedua penelitian di atas. B. DISKRIMINASI 1. Pengertian Diskriminasi Taylor, Peplau, & Sears (2009) mengemukakan diskriminasi adalah komponen behavioral dari antagonisme kelompok. Diskriminasi terdiri dari perilaku negative terhadap individu karena individu itu adalah anggota dari kelompok tertentu. Diskriminasi dapat sulit dilihat jika ia

(33) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 13 dilakukan dalam wajah yang berbeda. Tindakan diskriminasi sering memuat attributional ambiguity (ambiguitas atribusional). Seseorang yang dijegal kariernya tidak selalu bisa mengetahui apakah penjegalan itu disebabkan karena kinerjanya kurang bagus atau karena dirinya didiskriminasi. Macionis (2007) menerangkan bahwa diskriminasi berkaitan erat dengan prasangka. Diskriminasi berarti perlakukan tidak setara dalam berbagai kategori terhadap orang-orang. Prasangka mengacu pada sikap, tetapi diskriminasi berkaitan dengan tindakan. Sama halnya dengan prasangka, diskriminasi bisa bersifat positif (memberikan kemudahan khusus) atau negatif (menciptakan halangan) dan berkisar pada tindakan yang ditunjukkan secara halus hingga yang ditunjukkan terang-terangan. Dalam The Corsini Ecyclopedia of Psychology (2010) diskriminasi didefinisikan sebagai perilaku negatif yang ditujukan kepada individu atau kelompok individu dikarenakan keanggotaan kelompok sosial mereka. Diskriminasi didasarkan pada kategori sosial yang pada umumnya keanggotaannya tidak dipilih oleh individu, misalnya gender, ras, agama, kecacatan, orientasi seksual, stigma, usia, dan penampilan fisik. Meskipun menyukai orang-orang yang mirip dengan diri kita adalah hal yang wajar, diskriminasi melibatkan perlakuan yang tidak adil, tidak beralasan, dan tidak dapat dibenarkan terhadap orang lain. Soelistyowati (2000) mengungkapkan diskriminasi merupakan tindakan yang melakukan pembedaan secara rasial, agama, status sosial

(34) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 14 ekonomi, gender, kondisi fisik tubuh, pandangan politik, dan orientasi seksual. Tindakan ini termasuk pelanggaran HAM dengan meletakkan manusia sebagai subjek yang dibeda-bedakan. Persamaan harkat dan martabat sebagai makhluk ciptaan Tuhan tidak diperhitungkan dan diingkari. 2. Bentuk-Bentuk Diskriminasi Dalam “Diskriminasi” (2013), bentuk-bentuk diskriminasi dapat dibagi ke dalam dua kategori umum, yakni diskriminasi langsung dan tidak langsung. Diskriminasi langsung merujuk pada tindakan diskriminasi yang terjadi pada saat hukum, peraturan atau kebijakan-kebijakan yang jelas-jelas menyebutkan karakteristik tertentu, seperti jenis kelamin, orientasi seksual, ras, dan sebagainya, dan menghambat adanya peluang yang sama bagi individu-individu yang mempunyai karakteristik yang disebutkan di dalam hukum, peraturan ataupun kebijakan tersebut. Sedangkan, diskriminasi tidak langsung yaitu diskriminasi yang terjadi pada saat peraturan bersifat netral menjadi diskriminatif saat diterapkan di lapangan. Dalam The Corsini Ecyclopedia of Psychology (2010) dijelaskan diskriminasi memiliki wujud-wujud yang beragam, dari permusuhan, kekerasan, dan genosida yang tampak hingga dalam hiruk pikuk kecil setiap hari. Bentuk-bentuk diskriminasi ini dapat diklasifikasikan ke dalam bentuk diskriminasi eksplisit dan halus. Diskriminasi halus dapat berupa

(35) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 15 tindakan-tindakan yang wajarnya lebih sulit dideteksi, seperti menghindari kontak mata dengan seseorang, menatap atau menghindari seseorang, atau mengabaikan mereka. Menurut Jones (dalam Whitley, 2006), diskriminasi dapat dikategorikan ke dalam 3 bentuk, yakni: a. Interpersonal discrimination Diskriminasi ini terjadi ketika seseorang memperlakukan orang lain secara tidak adil karena keanggotaan orang tersebut. Diskriminasi ini terjadi dalam level person to person. Contohnya adalah stigmatisasi, cemoohan, pelecehan, dan kekerasan fisik. b. Institutional discrimination Terjadi ketika suatu institusi atau badan pemerintahan lebih mempercayai atau memihak terhadap kesuperioritasan suatu kelompok. Diskriminasi tipe ini dapat terjadi secara halus dan sering di bawah tingkat kesadaran masyarakat. Institutional discrimination bisa juga merupakan hasil dari praktik nyata yang memberikan keuntungan suatu kelompok dengan membatasi pilihan, hak, mobilitas, atau akses informasi, sumber dan orang lain. Beberapa contoh diskriminasi yang termasuk di dalamnya adalah: i. Diskiminasi sosial, meliputi tidak adanya kesempatan yang sama untuk mengenyam pendidikan formal dan pengucilan

(36) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ii. 16 Diskriminasi hukum, contohnya adalah kebijakan negara yang melanggar hak-hak minoritas dan perlakuan hukum yang berbeda iii. Diskriminasi politik, contohnya adalah kesempatan yang berbeda dalam wilayah politik praktis dan pencekalan atau tidak adanya keterwakilan politik dari kelompok minoritas. iv. Diskriminasi ekonomi, meliputi pelanggaran hak atas pekerjaan. c. Cultural discrimination Terjadi jika dalam sebuah budaya, suatu kelompok menahan kekuatan untuk menegaskan nilai-nilai kebudayaan. Kekuatan kelompok tersebut terbangun dan terpelihara dengan adanya reward bagi yang merespon atau melaksanakan nilai-nilai tersebut dan memberikan hukuman bagi yang tidak menjalankannya. Ketiga bentuk diskriminasi di atas tentunya saling memiliki keterkaitan. Interpersonal discrimination dan institutional discrimination berakar dari cultural discrimination. Kedua bentuk diskriminasi tersebut dapat terjadi karena adanya budaya, gaya, atau pola pikir yang ada di tengah masyarakat. Misalnya dalam kasus Tionghoa di Indonesia, sejak awal kedatangannya Tionghoa dianggap kurang mampu beradaptasi dengan masyarakat lokal. Bagi orang Indonesia pribumi, orang Tionghoa tidak mampu berbaur dan melebur dengan kebudayaan lokal orang Indonesia sehingga Tionghoa tidak

(37) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 17 mendapat simpati orang Indonesia dan dianggap asing. Kemudian muncul gagasan untuk melakukan asimilasi dengan cara-cara yang memaksa etnis Tionghoa untuk mengingkari ataupun menghilangkan ciri-ciri kultural mereka. Meskipun demikian, kebijakan tersebut menjadi salah arah dan malah semakin memperpanjang masalah antar etnis yang ada. Masih banyak warga pribumi yang menganggap etnis Tionghoa adalah orang asing hingga beberapa masa setelah itu. Imbasnya pun dapat dirasakan dalam hal birokrasi seperti pemberlakuan SBKRI dalam mengurus dokumen-dokumen penting bagi etnis Tionghoa. 3. Penyebab Diskriminasi Diskriminasi berkaitan erat dengan kecenderungan orang meyakini stereotip negatif terhadap anggota kelompok lain dan membuat prasangka terhadap anggota kelompok tersebut, dan terjadi ketika orang memilih untuk bertindak sesuai stereotip dan prasangka tersebut. Diskriminasi juga terjadi ketika ia dapat mempertahankan self-esteem dan identitas sosial seseorang. Orang dapat merasa lebih baik akan dirinya dan kelompoknya ketika mereka merendahkan, menghina anggota kelompok lain. Orang juga mengasumsikan individu dari kelompok lain meyakini nilai dan keyakinan yang berbeda sehingga mereka tidak disukai dan diperlakukan berbeda (The Corsini Ecyclopedia of Psychology, 2010).

(38) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 18 C. RELASI ANTAR ETNIS Pembahasan mengenai relasi antar budaya (etnik/ras) berkaitan erat dengan konsep interaksi sosial, karena interaksi sosial merupakan awal dari relasi sosial dan komunikasi sosial antar manusia (Liliweri, 2005). Johnson (dalam Liliweri, 2005) mengungkapkan bahwa kehidupan sosial merupakan pola-pola interaksi yang kompleks antara individu. Untuk memahami kehidupan sosial, kita harus memberikan perhatian pada interaksi sosial, karena interaksi sosial merupakan proses. Setiap orang berbuat dan terlibat dalam proses itu, dan itulah yang disebut relasi dengan orang lain. Interaksi sosial merupakan suatu proses yang dilakukan oleh setiap orang ketika dia bertindak dalam suatu relasi dengan orang lain. Interaksi sosial merupakan proses yang kompleks, yang dilalui oleh setiap orang ketika mengorganisasi dan menginterpretasikan persepsi dia tentang orang lain dalam situasi di mana kita sama-sama berada, sehingga memberi kita kesan mengenai siapakah orang lain itu, apa yang sedang ia perbuat, dan apa sebab dia berbuat seperti itu (Johnson dalam Liliweri, 2005). Interaksi sosial dapat pula dipahami sebagai sebuah proses yang dilakukan oleh seseorang untuk menyatakan identitas dirinya kepada orang lain, dan menerima pengakuan atas identitas diri tersebut sehingga terbentuk perbedaan identitas antara seseorang dengan orang lain (Schaver dalam Liliweri, 2005). Maka, dapat dikatakan bahwa identitas seseorang adalah hal yang penting dalam suatu interaksi sosial. Erikson (1989) menyatakan bahwa

(39) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 19 identitas seseorang pada dasarnya bersifat psikososial, karena identitas merupakan solidaritas batin dengan cita-cita kelompok. Pembentukan identias adalah suatu proses yang terjadi dalam diri pribadi dan juga di tengah masyarakat. Identitas setiap individu diresapi dari pengalaman sejarah masyarakat, dan karena itu identitas selalu mengandung dimensi sosial budaya. 1. Bentuk-Bentuk Hubungan Antar Etnis a. Asimilasi Asimilasi merupakan salah satu bentuk hubungan antar etnis atau ras dalam suatu masyarakat yang ditandai oleh upaya mengurangi perbedaan-perbedaan di antara mereka demi meningkatkan kesatuan tindak dan sikap untuk mencapai tujuan bersama. Apabila kelompokkelompok etnis mengadakan asimilasi, maka mereka akan mengidentifikasikan dirinya sebagai satu kelompok baru. b. Akomodasi Dalam akomodasi, masing-masing pihak tetap menjaga nilai dan norma sosial yang berlaku umum dalam suatu masyarakat. Hubungan sosial antar etnis dalam kerangka akomodasi itu dilakukan melalui adaptasi budaya. Artinya, setiap kelompok etnis dapat mengadaptasikan kebudayaannya ke dalam kebudayaan etnis lain maupun mengadaptasikan kebudayaan kelompok etnis lain ke dalam kebudayaan kelompok etniknya (Liliweri, 2010).

(40) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 20 D. ETNIS TIONGHOA 1. Awal Kedatangan Etnis Tionghoa Masyarakat etnis Tionghoa di Indonesia adalah masyarakat keturunan Tionghoa perantauan yang menetap di Indonesia. Cina perantauan merupakan sebutan bagi masyarakat Tionghoa yang tinggal di negara lain di luar daratan Cina. Jumlah mereka tidak diketahui dengan pasti, namun diperkirakan sampai sekitar seratus juta jiwa. Keturunan Cina perantauan yang menetap di suatu negara umumnya menempati daerah atau kampung yang terletak di dekat pelabuhan dan wilayah-wilayah perdagangan (Ensiklopedi Nasional Indonesia, 1997). Pada masa colonial Belanda kelompok etnis Cina mempunyai status di bawah orang Eropa (vreemde osterlingen). Golongan pribumi diberi status paling rendah kecuali kaum bangsawan yang statusnya seperti orang Eropa. Status orang cina yang ditengah ini membuat kelompok cina mendekati orang Belanda dan pribumi. Mereka mendekati orang Belanda karena merasa lebih banyak mendapat hak dan fasilitas, selain itu mereka mendekati orang pribumi karena mereka hidup dan tinggal di tengahtengah orang pribumi, pembeli, dan lain sebagainya (Suryadinata, 1978). Belanda juga menunjuk tokoh-tokoh keturunan Cina perantauan untuk mengatur masyarakatnya sendiri. Mereka diberi pangkat kapiten atau mayor. Tokoh semacam ini bukan hanya berwibawa dikalangan masyarakat keturunan cina tetapi ditakuti oleh penduduk asli. Pada

(41) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 21 umumnya mereka hidup sebagai pedagang atau pengusaha di bidang industry serta jasa (Ensiklopedi Nasional Indonesia, 1997). 2. Pembagian Etnis Tionghoa Etnis Tionghoa merupakan keturunan asing yang secara kuantitatif paling dominan dibandingkan dengan keturunan asing lain yang ada di Indonesia. Orang-orang Tionghoa perantauan yang awalnya berimigrasi ke Indonesia terdiri dari berbagai suku bangsa yang ada di Cina, seperti suku bangsa Khek, Tiociu, Hokkian, dan Kanton. Akan tetapi di Indonesia mereka umumnya lebih dikenal ke dalam dua golongan, yaitu totok dan perantauan (Vasanty dalam Koentjaraningrat, 2002). Golongan totok adalah mereka yang berorientasi pada kebudayaan Cina, mereka masih menghayati nilai-nilai budaya Cina seperti menggunakan bahwa Tionghoa di rumah dan merayakan tahun baru Imlek. Sedangkan golongan Tionghoa peranakan adalah mereka yang sudah berorientasi pada kebudayaan setempat, seperti budaya Jawa, Sunda, Ambon, Manado, dan di rumahnya menggunakan bahasa setempat. Dalam hal ini, mereka telah mengalami proses akulturasi dengan kebudayaan di mana mereka dilahirkan dan dibesarkan. Seorang peranakan biasanya, tapi tidak selalu, dilahirkan dari perkawinan campuran dengan orang pribumi (Tan, 1981). Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pembagian tersebut lebih didasarkan pada derajat penyesuaian dan akulturasi terhadap kebudayaan Indonesia,

(42) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 22 dan derajat akulturasi itu juga tergantung pada jumlah generasi yang telah menetap. Lebih lanjut, Vasanty (dalam Koentjaraningrt, 2002) menambahkan bahwa proses akulturasi sangat kurang di tempat-tempat di Indonesia seperti halnya di Kalimantan Barat dan Sumatera Timur. Walaupun banyak di antara orang Tionghoa di Kalimantan Barat dan Sumatera Timur itu mungkin sudah banyak juga yang lahir di Indonesia, tetapi mereka masih akan disebut orang Tiongkok totok oleh orang Indonesia (Vasanty dalam Koentjaraningrat, 2002). Untuk di Kalimantan Barat, salah satu yang memperkuat hal tersebut adalah penggunaan bahwa Tionghoa sebagai bahasa pergaulan bagi masyarakat etnis Tionghoa di daerah tersebut. Dengan demikian, etnis Tionghoa yang dimaksud dalam peristiwa ini adalah etnis Tionghoa yang termasuk dalam golongan Tionghoa totok, karena mereka masih berorientasi pada kebudayaan Tionghoa dan tidak merupakan hasil perkawinan campur orang pribumi. 3. Ajaran-Ajaran yang Mempengaruhi Etnis Tionghoa Setiap hidup manusia tentunya senantiasa dipengaruhi oleh berbagai pengetahuan yang didapatnya dari lingkungan. Budaya dan tradisi merupakan pengetahuan utama yang dijadikan pedoman dalam bersikap dan berperilaku oleh manusia. Dalam setiap kebudayaan ada cara pandang yang berbeda-beda mengenai kehidupan. Etnis Tionghoa pun

(43) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 23 memiliki tradisi dan budaya tersendiri. Di dalam pemabahasan ini, tidak akan dibedakan antara Tionghoa totok dengan peranakan karena meskipun ada perbedaan di antara keduanya memiliki akar yang sama. Hariyono (1993) mengutarakan kebudayaan dan kehidupan suatu masyarakat banyak dipengaruhi oleh sistem kepercayaannya. Husodo (1985) berpendapat bahwa ajaran-ajaran yang banyak memberikan pengaruh pada perkembangan dasar berpikir, pandangan hidup, dan filsafat orang-orang Konfusianisme. Di Tionghoa antara adalah ketiga Budhisme, kepercayaan Taoisme, tersebut, dam ajaran Konfusianisme atau yang lebih dikenal dengan sebutan Kong Hu Cu diyakini paling berpengaruh dan mendarah daging dalam kehidupan orang Tionghoa sehari-hari. Ajaran ini juga diduga menyumbangkan kekhasan kultur Tionghoa dan banyak mempengaruhi pola pikir orang Tionghoa (Hariyono, 1993). a. Tao atau Taoisme Hidajat (1977) mengungkapkan bahwa Taoisme merupakan ajaran pertama bagi orang Tionghoam yang merupakan suatu spekulasi filsafat. Dalam ajaran Taoisme, tempat individu tidak begitu penting jika dibandingkan kepentingan keluarga, dan keluarga merupakan struktur dasar sosial. Kewajiban seseorang bukan langsung untuk dirinya sendiri dan bukan untuk bangsa atau negara, tetapi hanya diperuntukkan bagi keluarga besarnya. Keluarga merupakan tempat perlindungan dari segala pengaruh luar dan hubungan kekeluargaan

(44) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 24 terjalin sangat erat serta dekat, menyebabkan pengaruh dari luar sulit sekali mempengaruhi tata kehidupan orang Tionghoa. Oleh karena itu, bangsa Tionghoa selalu menjaga kemurnian rasnya dan menutup diri dari pengaruh ras lain (Husodo, 1985). Husodo juga menjelaskan bahwa rasa kesatuan dalam keluarga ini merupakan modal utama dalam perjuangan hidup di mana mereka berada. Menurut Hariyono (1993) ajaran Taoisme banyak mempengaruhi orang Tionghoa mengenai hidup sederhana. Jalan tengah (hubungan keseimbangan yang mengatasi dua dikotomi yang berjauhan) dan penyesuaian diri dengan lingkungan sehingga manusia dapat hidup di manapun ia berada. b. Konfusianisme atau Kong Hu Cu Pada dasarnya Konfusius mengajarkan moralitas yang harus dimiliki oleh setiap manusia, seperti yang diungkapkan Hariyono (1993). Konfusianisme mengutamakan ajaran mengenai moralitas individu dan juga moralitas keluarga. Keluarga memang merupakan lembaga penting dalam Konfisianime karena keluarga merupakan satuan dasar masyarakat yang terpenting. Selanjutnya dalam keluarga, penghormatan anak kepada orangtua memegan peranan kunci. Maka dikembangkan konsep kesalehan sang anak. Kewajiban para anak kepada orangtua merupakan seluruh sumber kebajikan. Perwujudan materi secara real menjadi tuntutan mitos rasa bakti anak kepada orangtua. Namun, dalam perkembangannya,

(45) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 25 ungkapan rasa bakti ini tidak hanya dalam bentuk materi tetapi dapat berubah pada segala upaya untuk dapat memperoleh sesuatu yang memiliki nilai tinggi. Hal tersebut dapat berwujud seperti keinginan untuk mencapai sesuatu yang terbaik mengenai cita-cita, pekerjaan, pemilikan suatu benda, status sosial, dan sebagainya. 4. Aspek-aspek yang Diprasangkai dari Masyarakat Etnis Tionghoa a. Orientasi Nilai Budaya Etnis Tionghoa Orientasi nilai budaya etnis Tionghoa adalah (Hariyono, 1993): 1) Hakekat Hidup Hidup dikatakan penuh dengan kesengsaraan, godaan, dan dukkha namun manusia diberi alternatif untuk menyingkirkan kesengsaraan itu yaitu dengan mencapai puncak yang paling sempurna di dalam menjalin hubungan antar manusia. 2) Hakekat Kerja Etos kerja pada orang cina banyak dipengaruhi oleh ajaran Konfusius yang di dalamnya terdapat ajaran yang disebut “hubungan segi tiga” yaitu hubungan antara Konfusianisme, keluarga, dan kerja sehingga etos kerja masyarakat cina terletak pada keinginan untuk berbakti pada keluarga serta memperoleh pahala di akhirat.

(46) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 26 3) Hubungan Manusia dengan Alam Orang cina mengikuti gerakan Tao (hukum alam) yaitu menilik kesederhanaan hukum alam. Jalan Tengah (hukum keseimbangan yang mengatasi dua dikotomi yang berjauhan) dan penyesuaian diri dengan lingkungan. 4) Persepsi Mengenai Waktu Orang cina memiliki orientasi waktu masa lalu, masa kini, dan ada kecenderungan memiliki orientasi waktu masa yang akan datang. 5) Hubungan Manusia dengan Sesamanya Manusia di dunia ini adalah satu keluarga dan lembaga keluarga merupakan hubungan yang terpenting di antara segala hubungan sosial karena keluarga merupakan dasar bagi pengertian anti terbentuknya masyarakat. 6) Nilai Kerukunan Konsep kekerasan, rukun hidup menunjukkan saling pada tolong-menolong, dan pasifisme dan hubungan (mengalah) dalam menghadapi konflik. 7) Prinsip Hormat Penghormatan kekeluargaan. didasarkan atas usia

(47) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 27 8) Etika kebijaksanaan Etika ini tentang moralitas yang harus dimiliki oleh setiap manusia dengan mengutamakan kebijaksanaan. Hal ini dipakai untuk mengatur hubungan antar manusia dalam kehidupan kemasyarakatan. 9) Jalan Tengah Jalan tengah adalah jalan yang tetap di tengah, di antara ujung-ujung kehidupan ini. Dengan mengikuti jalan ini akan menuju pada keselarasan dan keseimbangan, serta menjauhi sagala hal yang menuju fanatisme. 10) Perkawinan Pada tradisi Tionghoa, perkawinan melibatkan keluarga besar dan orang tua terlibat dalam pengaturan tersebut. Oleh karena itu, masalah keluarga atau perceraian dianggap sebagai perbuatan yang menentang orang tua. b. Stereotip Kultur Tionghoa Stereotip berdasarkan suatu pendapat yang sudah ada sebelumnya kemudian diperkuat oleh pengamatan pribadi secara sepintas dan biasanya berkonotasi negative (Hariyono, 1993). Stereotip yang melekat pada orang Tionghoa adalah : 1) Sikap praktis fungsional membuat masyarakat etnis Tionghoa mempunyai kebiasaan mengungkapkan opini secara vulgar, bagi orang lain pengungkapan ini ada kalanya kurang berkenan di hati.

(48) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2) Sikap praktis terkadang membuat orang etnis 28 Tionghoa berpenampilan secara sederhana. Oleh karena itu, mereka kurang menyukai hal-hal yang bersifat formalitas. 3) Sistem kepercayaan yang kuat menumbuhkan rasa kredibilitas yang tinggi sehingga memberi kesan tertutup. Loyalitas kebangsaan yang tinggi, loyalitas terjadi jika pada saat itu seseorang memiliki komitmen dengan penguasa pemerintahan. Bagi orang lain dapat menimbulkan adanya kecurigaan terhadap etnis Tionghoa. 4) Orang Tionghoa mengatakan bahwa penderitaan, rasa sakit, petaka, maut, dan kematian yang dialami seseorang sebagai salah satu kemungkinan yang bersifat tradisional saja sehingga orang Tionghoa dianggap kurang memiliki rasa peduli terhadap masalah kehidupan. 5) Orang Tionghoa memiliki rasa optimisme tinggi sehingga memberi kesan bahwa orang Tionghoa memiliki sifat ulet, tapi pada sisi lain dianggap sebagai orang yang keras, angkuh, dan superior. Perasaan superior ini bisa timbul juga karena ajaran Konfusius yang mereka yakini adalah ajaran yang paling sesuai dengan norma yang ada (Soekisman, 1975). 6) Peraturan-peraturan dalam menjalankan usaha sangat jelas sehingga menimbulkan kesan bahwa orang Tionghoa itu disiplin.

(49) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 29 7) Moralitas keluarga yang terdapat di masyarakat etnis Tionghoa mengharuskan agar seorang anak wajib untuk menyenangkan dan membahagiakan orangtuanya dengan membuat perayaan yang besar. Semakin meriah perayaan itu, maka akan semakin mengharumkan nama orangtua dan juga akan membuat hubungan dengan Tuhan semakin dekat. Oleh karena itu, orang kadang memandang bahwa masyarakat etnis Tionghoa suka menghamburhamburkan uang dan menimbulkan perasaan ketidakadilan bagi orang lain. Tetapi di sisi lain orang melihat adanya kepatuhan dan kerajinan seorang anak untuk membahagiakan orangtuanya. E. KOTA PONTIANAK 1. Geografi dan Topografi Kota Pontianak merupakan Ibukota Propinsi Kalimantan Barat yang terdiri dari 6 (enam) kecamatan dan terbagi menjadi 29 (dua puluh sembilan) kelurahan dengan luas 107,82 km². Kota Pontianak terletak pada Lintasan Garis Khatulistiwa dengan ketinggian berkisar antara 0,10 meter sampai 1,50 meter diatas permukaan laut. Kota Pontianak dipisahkan oleh Sungai Kapuas Besar, Sungai Kapuas Kecil dan Sungai Landak dengan lebar = 400 meter, kedalaman air antara 12 sataud 16 meter, sedangkan cabangnya mempunyai lebar 250 meter. Dengan demikian Kota Pontianak terbagi atas tiga belahan yakni Belahan Utara dengan Kecamatan Pontianak Utara, belahan Timur dengan Kecamatan Pontianak Timur,

(50) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 30 belahan Selatan dengan Kecamatan Pontianak Selatan, belahan Barat dengan Kecamatan Pontianak Barat, belahan Tenggara dengan Kecamatan Pontianak Tenggara, bagian Kota dengan Kecamatan Pontianak Kota (Deskripsi Wilayah, 2009). 2. Penduduk Kota Pontianak Sebagai kota yang terbuka dengan kota-kota lain serta merupakan pusat kegiatan pemerintahan, swasta, dan sosial budaya sehingga menjadikan kota ini tempat pendatang dibandingkan dengan kabupatenkabupaten lainnya sehingga lebih heterogen. Hampir sebagian besar suku bangsa yang ada di Indonesia terwakili menjadi warga masyarakat kota. Suku-suku bangsa yang ada di Kota Pontianak seperti suku bangsa Dayak, suku bangsa Batak, suku bangsa Padang, suku bangsa Jawa, suku bangsa Bugis, suku bangsa Melayu, suku bangsa Tionghoa, dan lain-lain. Persentase penduduk terbesar adalah keturunan Tionghoa yakni 31,24 %. Lainnya terdiri dari Melayu 26,05 %, Bugis 13,12 %, Jawa 11,67%, Madura 6,35 %, dan lainnya sebanyak 8,57% (Deskripsi Wilayah, 2009). 3. Tionghoa Di Kota Pontianak Etnis Tionghoa mencakup 31,24 % dari komposisi penduduk dan merupakan kelompok etnis terbanyak di kota Pontianak. Selain bermata pencaharian sebagai pedagang, mereka melakukan ekspansi usaha pada sektor-sektor lain yang juga merupakan kebutuhan hidup masyarakat.

(51) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 31 Sektor-sektor yang digeluti oleh masyarakat Tionghoa di Kota Pontianak antara lain yakni perdagangan, pertanian, perikananm transportasi, perbengkelan, biro travel, perindustrian, pasar swalayan, perbankan, dan usaha jasa. F. RELASI ANTAR ETNIS DAN IDENTITAS ETNIS DALAM KONTEKS DISKRIMINASI Berbagai praktik diskriminatif yang diberlakukan terhadap masyarakat Tionghoa di Indonesia memberikan dampak besar bagi kehidupan mereka. Meskipun saat ini telah banyak perbaikan yang telah diupayakan oleh pemerintah untuk menghapuskan berbagai peraturan diskriminatif, belum diketahui sejauh mana masyarakat Tionghoa merasakan penerimaan dan keseteraan sebagai warga negara di Indonesia, terutama dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, untuk menciptakan situasi yang harmonis dalam masyarakat Indonesia yang majemuk, setiap kelompok-kelompok etnis/ras harus mengenali diri mereka dan kelompok lain. Demikian pula, dengan individu sebagai anggota kelompok, ia juga harus mengenali siapa dirinya. Dengan mengenali identitas diri, seseorang juga dapat menempatkan dirinya di masyarakat dan menjalin hubungan yang baik dengan lingkungan di mana ia tinggal. Hal ini juga berlaku bagi masyarakat Tionghoa yang saat ini telah lama menetap dan menjadi bagian dari negara Indonesia. Etnis Tionghoa hendaknya juga mampu memelihara hubungan yang baik dengan kelompok etnis lain yang ada di masyarakat.

(52) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 32 Dengan melihat penuturan di atas, peneliti ingin menggali mengenai relasi antar etnis Tionghoa – pribumi serta identitas etnis sebagai latar belakang dapat diketahui relasi mereka dengan masyarakat dan bagaimana mereka menempatkan identitas mereka sebagai etnis Tionghoa di tengah masyarakat Indonesia. Maka, lewat penelitian ini dapat mengungkap seperti apa pengalaman diskriminasi yang dirasakan etnis Tionghoa saat ini.

(53) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. JENIS PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Menurut Bogdan & Tylor (Moleong, 2004), metode kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orangorang atau perilaku yang diamati. Penelitian kualitatif bertujuan untuk menggali dan memahami inti sebuah masalah sosial atau fenomena yang dialami individu secara alamiah dalam suatu konteks khusus dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah (Creswell, 2007). Jenis penelitian kualitatif yang digunakan dalam penelitian ini adalah fenomenologi. Fenomenologi bertujuan untuk sebisa mungkin mempertahankan fenomena dan konteksnya sebagaimana muncul dalam dunia. Hal ini berarti bahwa meneliti suatu fenomena, berarti mengandaikan para individu menjadi pihak pertama dalam mendeskripsikan kehidupan mereka. Suatu situasi di mana mereka dapat mendeskripsikan sebagaimana mereka mengambil tempat dalam kehidupan mereka. Tujuan penelitian fenomenologi adalah menangkap sedekat mungkin bagaimana fenomena tersebut dialami di dalam konteks terjadinya fenomena tersebut (Smith, 2009). B. STRATEGI PENELITIAN Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif. Menurut Poerwandari (1998) penelitian kualitatif 33

(54) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 34 memilki ciri yang membedakannya dengan jenis penelitian lainnya. Penelitian kualitatif merupakan studi dalam situasi alamiah (naturalistic inquiry) yaitu: desain yang bersifat alamiah, dalam arti peneliti tidak berusaha untuk memanipulasi setting penelitian. Peneliti mencoba memahami situasi sesuai dengan bagaimana situasi tersebut menampilkan diri. Kontak personal langsung peneliti di lapangan, agar peneliti memperoleh pemahaman secara jelas tentang realitas dan kondisi nyata kehidupan sehari-hari. Penelitian kualitatif menekankan pada perspektif holistik, perspektif dinamis, dan perspektif perkembangan yaitu: keseluruhan fenomena perlu dimengerti sebagai suatu sistem yang kompleks dan menyeluruh. Dalam penelitian ini, tujuan peneliti adalah mengungkap hubungan antara etnis tionghoa dan pribumi yang ada di kota Pontianak, secara spesifik adalah hubungan yang berkaitan dengan pengalaman diskriminasi yang dialami warga Tionghoa di sana. Kemudian peneliti menginterpretasikan data yang telah dikumpulkan dari hasil wawancara dengan para subjek. Dengan demikian, penelitian dapat mengarah pada analisis yang lebih mendalam terhadap subjek. C. FOKUS PENELITIAN Pada penelitian ini, yang menjadi fokus penelitian adalah pengalaman diskriminasi pada etnis tionghoa di Pontianak. Pengalaman tersebut dilihat dari interaksi antara etnis Tionghoa di Pontianak dengan orang pribumi setempat yang melibatkan pengalaman-pengalaman diskriminasi baik yang

(55) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 35 terjadi secara lansung dan terang-terangan ataupun tidak langsung dan halus di bidang formal ataupun kehidupan sehari-hari. Dari fokus tersebut maka akan mampu mengungkap berbagai manifestasi dari diskriminasi yang dialami. D. SUBJEK PENELITIAN Penelitian kualitatif tidak menekankan pada upaya generalisasi melalui perolehan sampel acak melainkan merupakan suatu upaya untuk memahami sudut pandang dan konteks penelitian secara mendalam (Poerwandari, 1998). Pemilihan subjek penelitian dalam penelitian kualitatif disesuaikan dengan kekhususan dan kecocokan konteks penelitian (Poerwandari, 1998). Subjek penelitian dipilih berdasarkan kriteria yang telah ditentukan sebelumnya. Dalam penelitian ini, subjek yang dipilih adalah yang memiliki kriteria yakni subjek adalah etnis Tionghoa, subjek dipilih mulai dari yang berusia dewasa awal yakni 18 tahun ke atas, dan subjek besar dan menetap di kota Pontianak. E. METODE PENGAMBILAN DATA Penelitian ini menggunakan wawancara sebagai metode pengambilan data. Wawancara adalah percakapan dan tanya jawab yang diarahkan untuk mencapai tujuan tertentu (Poerwandari, 1998). Dalam penelitian ini, wawancara digunakan sebagai alat utama dalam pengumpulan data. Metode pendataan adalah wawancara semi-terstruktur. Metode ini memungkinkan peneliti dan partisipan terlibat dalam dialog, sehingga pertanyaan dapat

(56) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 36 dimodifikasi untuk menggali wilayah menarik dan penting selama wawancara (Smith & Osborn, dalam Smith, 2009). Sebelum melakukan wawancara, peneliti menyusun panduan pertanyaan berdasarkan fokus penelitian. Panduan pertanyaan berjenis pertanyaan terbuka yang tidak mengarahkan subjek pada jawaban tertentu. Wawancara semi-terstruktur ini memungkinkan peneliti untuk fleksibel dalam mengembangkan pertanyaan sesuai respon yang diberikan subjek penelitian. Akan tetapi, peneliti harus membuat daftar pertanyaan sebagai panduan dalam proses wawancara. Panduan pertanyaan wawancara harus dapat mengungkapkan tujuan maupun fokus dari penelitian. Bentuk wawancara ini memungkinkan peneliti dan subjek terlibat dalam suatu dialog dimana pertanyaan dapat dimodifikasi sesuai jawabannya dan pewawancara pun dapat menggali wilayah menarik dan penting yang muncul dalam proses wawancara (Smith & Osborn dalam Smith, 2009). Daftar panduan pertanyaan wawancara dapat dilihat pada tabel 1.

(57) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 37 Tabel 1 Daftar panduan pertanyaan wawancara No. Pertanyaan Tujuan pertanyaan A. Identitas Subjek sebagai Warga Tionghoa di Indonesia 1 Apakah tradisi sebagai orang Tionghoa mendapatkan informasi tentang masih dilakukan di keluarga anda? kebiasaan subjek berkaitan dengan yang tradisi sebagai tionghoa 2 Bagaimana anda sendiri melihat warga Mengungkapkan Tionghoa di Pontianak? persepsi subjek terhadap kelompoknya B. Relasi antara Tionghoa – Pribumi di Pontianak 3 Bagaimana komposisi penduduk di kota Mengetahui kondisi masyarakat Pontianak? 4 Bagaimana di Pontianak hubungan antara Tionghoa dan pribumi di Pontianak? etnis Mendapatkan gambaran secara umum hubungan antara etnis pribumi-tionghoa dalam masyarakat Pontianak. 5 Bagaimana hubungan antara etnis Mendapatkan gambaran secara Tionghoa dan pribumi di Indonesia umum hubungan antara etnis secara umum? pribumi-tionghoa dalam masyarakat Indonesia secara keseluruhan.

(58) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI No. Pertanyaan 6 Dalam 38 Tujuan pertanyaan kesempatan apa saja orang Mengungkap ruang sosial yang pribumi dan tionghoa biasanya bertemu menciptakan interaksi atau berkomunikasi paling banyak di tionghoa-pribumi dalam masyarakat kota Pontianak? 7 Pernah berinteraksi atau berkomunikasi Mengungkap kesan subjek saat dengan warga Pontianak? pribumi Jika ya, selama di berinteraksi dengan etnis bagaimana pribumi pontianak kesan/perasaan anda terhadap mereka? 8 Apakah anda pernah mengalami hal yang Menggali berkesan, baik yang positif atau negatif, terhadap saat berinteraksi/berkomunikasi dengan berdasarkan pribumi di Pontianak? 9 kesan warga subjek pribumi pengalaman sehari-harinya di Pontianak Apakah warga tionghoa di Pontianak Mengungkap pengalaman sudah mendapatkan perlakuan adil dan diskriminasi terhadap tionghoa setara seperti warga negara lainnya? 10 sebagai anggota masyarakat Apakah dalam hal birokrasi, warga Mengungkap Tionghoa Pontianak sudah mendapatkan diskriminasi layanan yang adil? 11 pengalaman dalam hal stereotip yang birokrasi. Menurut anda, di dalam masyarakat Mengungkap Pontianak, bagaimana warga pribumi ditujukan pada etnis tionghoa melihat warga Tionghoa? 12 Apa komentar anda tentang hubungan Mengungkap cara dan

(59) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI antar etnis ini, yakni hubungan tionghoa- pandangan pribumi di kota Pontianak? menghadapi subjek 39 dalam problema diskriminasi etnis tionghoa Panduan daftar pertanyaan yang disusun oleh peneliti dapat berubah atau berkembang sesuai dengan kondisi dan jawaban yang muncul saat wawancara dilakukan. Panduan tersebut mempermudah peneliti untuk mendapatkan informasi-informasi penting dan terarah untuk menjawab pertanyaan penelitian. Proses wawancara juga akan melalui beberapa tahap antara lain : 1. Peneliti mencari subjek atau partisipan yang akan bersedia menjadi informan dalam penelitian ini. 2. Melakukan rapport, perkenalan, menjelaskan maksud penelitian dan memastikan subjek bersedia menjadi informan dan siap menjalani proses bersama-sama. 3. Membuat jadwal wawancara bersama sesuai kesepakatan agar tidak mengganggu aktivitas informan. 4. Melakukan wawancara. Hasil wawancara yang sudah dikumpulkan selanjutnya diinterpretasi lebih lanjut. Proses tersebut dilakukan hingga ditemukan informasi yang mampu menggambarkan pengalaman informan secara utuh (Creswell, 1998). Data wawancara akan direkam dengan menggunakan digital recorder untuk kemudian disalin dalam transkrip wawancara verbatim. Wawancara dilakukan

(60) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 40 dengan tiap-tiap subjek pada tempat dan waktu yang sudah disepakati bersama oleh peneliti dan subjek. Peneliti tidak membatasi durasi waktu setiap wawancara. Wawancara berakhir setelah semua pertanyaan sudah ditanyakan dan subjek sudah menceritakan semua hal yang berkaitan dengan wawancara. Berikut adalah gambaran pelaksanaan wawancaranya. Tabel 2 Pelaksanaan Wawancara Pelaksanaan Wawancara No. 1. 2. 3. Subjek Tanggal dan Waktu Lokasi Noel (Wanita, 22 tahun) Jumat, 17 Mei 2013 16.00 – 17.00 WIB Kos subjek Kos subjek Le (Pria, 22 tahun) Rabu, 19 Juni 2013 10.00 – 11.00 WIB Senin, 20 Mei 2013 16.00 – 17.00 WIB Kos teman subjek Tiffa (Wanita, 19 tahun) Jumat, 21 Juni 2013 13.00 – 14.00 WIB Kamis, 18 April 2013 18.00 – 19.00 WIB Minggu, 23 Juni 2013 11.00 – 12.00 WIB Kos subjek Kos teman subjek Kos subjek F. METODE ANALISIS DATA Analisis data dilakukan guna mengungkap hal-hal yang tercantun dalam tujuan penelitian dari data-data yang diperoleh. Analisis data menggunakan analisis fenomenologis deskriptif yang bertujuan

(61) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 41 mengklarifikasi situasi yang dialami dalam kehidupan seseorang sehari-hari. Menurut Smith (2009), fenomenologis deskriptif berusaha menangkap sedekat mungkin bagaimana suatu fenomena dialami oeh seseorang sibjek penelitian di dalam konteks terjadinya fenomena tersebut. Fenomenologi juga berusaha menemukan makna-makna psikologis yang terkandung dalam suatu fenomena. Analisis dilakukan dalam tahap-tahap sebagai berikut: 1. Mencari Tema-tema pada Subjek Pertama Mencari tema-tema dilakukan dengan membaca transkrip wawancara beberapa kali. Tepi kiri tabel digunakan untuk memberikan komentar akan hal-hal yang menarik dari transkrip wawancara. Kemudian komentar-komentar tersebut ditransformasikan ke dalam frasa-frasa singkat berupa tema-tema pada tepi kanan tabel. Tema-tema tersebut menunjukkan abstraksi yang lebih tinggi dan memunculkan istilah psikologis yang lebih banyak (Smith, 2009). 2. Menghubungkan Tema-tema pada Subjek Pertama Setelah itu, tema-tema pada satu kasus diurutkan secara kronologis. Tema-tema disusun berdasarkan urutan kemunculannya dalam transkrip. Tema-tema yang telah diurutkan secara kronologis, diurutkan lagi secara analitis atau teoritis untuk menemukan hubungan antar tema. 3. Menghubungkan Tema-tema pada Subjek Lainnya Tema-tema yang telah terangkum dari subjek pertama digunakan untuk menganalisis transkrip pada subjek-subjek berikutknya. Pada prosesnya, akan ditemukan tema-tema yang sama dari masing-masing subjek dan tema-tema yang khas dari masing-masing subjek. Untuk dapat

(62) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 42 memperlihatkan tema-tema yang sama dan tema-tema yang berbeda dari masing-masing subjek, maka dibuat tabel tema. Selanjutnya dilakukan penjabaran terhadap tema-tema. G. KREDIBILITAS PENELITIAN Kredibilitas dalam suatu penelitian terletak pada keberhasilannya mencapai maksud mengeksplorasi masalah atau mendeskripsikan setting, proses, kelompok sosial, atau pola interaksi yang kompleks (Poerwandari, 2005). Kredibilitas dalam penelitian ini dicapai melalui validitas argumentatif, yakni presentasi temuan dan kesimpulan dapat diikuti dengan baik dan rasional, serta dapat dibuktikan dengan melihat kembali data mentah (Poerwandari, 2005). Untuk mendukung kredibilitas penelitian ini, peneliti melakukan pemeriksaan terhadap transkrip wawancara dengen pertanyaan yang telah disusun sebelumnya. Dengan demikian, peneliti dapat memeriksa kesesuaian dan kelengkapan informasi yang didapatkan dari hasil wawancara. Peneliti juga melakukan wawancara ulang bila terdapat bagian-bagian yang belum jelas dari transkrip wawancara pertama. Kemudian, peneliti menganalisis tema-tema yang muncul dari transkrip wawancara para subjek. Tema-tema tersebut kemudian dikelompokkan ke dalam kategori-kategori yang lebih umum berdasarkan tujuan penelitian.

(63) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. KONTEKS PENELITIAN Pontianak merupakan salah kota di Indonesia yang terletak di Pulau Kalimantan. Kota Pontianak merupakan Ibukota Propinsi Kalimantan Barat yang terdiri dari 6 (enam) kecamatan dan terbagi menjadi 29 (dua puluh sembilan) kelurahan dengan luas 107,82 km². Kota Pontianak terbagi atas tiga belahan yakni Belahan Utara dengan Kecamatan Pontianak Utara, belahan Timur dengan Kecamatan Pontianak Timur, belahan Selatan dengan Kecamatan Pontianak Selatan, belahan Barat dengan Kecamatan Pontianak Barat , belahan Tenggara dengan Kecamatan Pontianak Tenggara, bagian Kota dengan Kecamatan Pontianak Kota (Dekripsi Wilayah, 2009). Etnis Tionghoa termasuk salah satu etnis yang cukup mendominasi di masyarakat Pontianak. Hal ini dikarenakan etnis Tionghoa di sana umumnya bermata pencaharian sebagai wirausahawan atau pedagang. Oleh karena itu dapat dikatakan mereka menguasai bidang perekonomian daerah tersebut. Meskipun demikian, tidak seluruhnya dari mereka mempunyai usaha yang mapan dan besar. Warga Tionghoa yang tinggal pusat kota rata-rata memiliki usaha dengan penghasilan yang cukup baik, pada umumnya mereka berdagang dan memiliki toko, mendirikan supermarket, membuka restoran, menjalankan perusahaan, dan berbagai usaha besar lainnya. Akan tetapi, mereka yang tinggal di pinggiran kota tidak jarang hanya mendirikan warung-warung kecil, 43

(64) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 44 menjajakkan jajanan di sekitar tempat tinggal mereka, ataupun juga berjualan di pasar. Warga Tionghoa cukup mendominasi kehidupan di pusat kota Pontianak, oleh karena itu umumnya di sekitar tempat tinggal mereka hidup bertetangga dengan sesama warga Tionghoa juga. Sedangkan, warga Tionghoa yang ada di pinggiran kota tempat tinggalnya berbaur dengan warga pribumi, baik etnis Melayu, Dayak, Jawa, Batak, Madura, dan sebagainya. Perbedaan ini cukup mempengaruhi intensitas komunikasi atau interaksi antara warga Tionghoa dan pribumi di Pontianak. Etnis Tionghoa di Pontianak masih menggunakan bahasa Tionghoa dalam komunikasi sehari-hari. Bahasa Tionghoa yang umumnya digunakan yaitu dialek Khek (Hakka) dan Tiociu. Tapi tidak jarang mereka juga memahami bahasa Mandarin. Menurut mereka orang Tionghoa semestinya menguasai bahasa Tionghoa. Orang Tionghoa yang tidak bisa berbahasa Tionghoa biasanya akan mendapatkan cibiran dari mereka. Warga Tionghoa di Pontianak masih menjalankan tradisi Konghucu, seperti sembayang di kelenteng, menjalani rangkaian ritual-ritual dalam berbagai acara seperti pernikahan, tahun baru imlek, mendoakan orang yang meninggal, sembayang kubur (ching ming), festival kue bulan, festival bakcang (pehcun), dan sebagainya. Selain itu, banyak pula yang memeluk agama Kristen dan Budha. Meskipun mereka sudah memeluk agama, kebanyakan masih menjalani tradisi Konghucu walaupun pelan-pelan mulai meninggalkan kebiasaan tersebut.

(65) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 45 Etnis Tionghoa di Kalimantan Barat pada umumnya termasuk Tionghoa totok, yakni yang belum ada darah campurannya dengan etnis lain. Oleh karena itu, mereka masih sangat menjaga kemurnian keturunan dari etnis mereka. Hal semacam perkawinan campur merupakan hal yang tidak biasa dan tidak jarang juga termasuk hal yang dihindari. Oleh karena itu, dalam pergaulan sehari-hari etnis Tionghoa terkesan eksklusif dan tidak suka berbaur dengan etnis lain. Kebanyakan warga Tionghoa di Pontianak menyekolahkan anakanaknya di sekolah swasta. Maka dari itu, sekolah-sekolah swasta di Pontianak didominasi oleh siswa-siswi dari etnis Tionghoa dan sebagian kecil etnis Dayak, Batak, dan Jawa. Sehingga dapat dikatakan bahwa di lingkungan sekolah pun interaksi antara etnis Tionghoa dengan pribumi tidak terlalu signifikan. Selain itu, ketika akan melanjutkan kuliah atau mengembangkan usaha mereka, warga Tionghoa di Pontianak kebanyakan memilih Jakarta sebagai kota tujuan mereka. Oleh karena itu, banyak etnis Tionghoa yang masih tinggal di Pontianak memiliki kerabat di Jakarta, dan tidak jarang pula mereka pindah ke Jakarta untuk mengelola usaha mereka. Pada saat terjadi kerusuhan Mei 1998 di Jakarta, banyak kerabat mereka yang menjadi korban kekerasan, pemerkosaan, dan penjarahan, sehingga secara tidak langsung hal ini berdampak pada mereka. Rasa takut, tidak percaya, dan sentimen terhadap warga pribumi pun tidak dapat dihindari.

(66) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 46 Kejadian lainnya seperti G30S PKI yang menjadikan orang Tionghoa sebagai sasaran operasi saat itu serta adanya pemaksaan asimilasi dengan mengcabut budaya Tionghoa dari masyarakat merupakan beberapa peristiwa yang traumatis bagi generasi orang-orang tua warga Tionghoa. Maka, tidak mengherankan bahwa banyak dari mereka yang masih menanamkan rasa permusuhan terhadap kaum pribumi. B. PROFIL SUBJEK Berikut adalah profil subjek dalam penelitian ini : 1. Deskripsi Subjek 1 Subjek pertama berinisial Noel. Subjek berusia 23 tahun dan sedang menyelesaikan kuliahnya di salah satu universitas di Yogyakarta. Subjek lahir dan dibesarkan di kota Pontianak. Kedua orangtua subjek adalah keturunan Tionghoa yang juga berasal dari kota Pontianak. Subjek berjenis kelamin perempuan, ia adalah anak keempat dari lima bersaudara. Subjek termasuk orang yang tertutup dalam mengutarakan kehidupan pribadinya, akan tetapi ketika dimintai kesediaannya sebagai partisipan dalam wawancara penelitian subjek cukup antusias. Subjek beragama Katolik. Subjek dibesarkan dalam keluarga yang masih cukup melekat dengan adat istiadat dan tradisi Tionghoa. Kedua orangtua subjek sendiri masih menggunakan bahasa Tionghoa Khek sebagai bahasa percakapan sehari-hari, meskipun subjek sendiri dan saudara-saudarinya tidak banyak

(67) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 47 menggunakan bahasa Tionghoa dan lebih banyak menggunakan bahasa Indonesia. 2. Deskripsi Subjek 2 Subjek kedua berinisial Le.Subjek berusia 23 tahun dan sedang bekerja di Jakarta. Subjek adalah anak laki-laki sulung dari tiga bersaudara. Orangtua dan kedua saudara subjek menetap di Pontianak. Ayah dan ibu subjek masing-masing beragama Budha dan Katolik. Sedangkan subjek dan kedua saudaranya cenderung menganut agama Katolik meskipun subjek sendiri belum dibaptis. Subjek lahir dan dibesarkan di kota Pontianak, kemudian sejak kuliah ia menetap di Jakarta. Di keluarganya, pelaksanaan tradisi Tionghoa seperti berbagai upacara adat sudah mulai berkurang. Berbagai acara tradisi dilaksanakan dengan lebih sederhana dan tidak terlalu rumit dan mendetil. Meskipun demikian, subjek masih menggunakan bahasa Tionghoa tiociu sebagai bahasa utama dalam berkomunikasi baik di keluarga maupun di lingkungan pergaulan. Akan tetapi, penggunaan bahasa Tionghoa tetap disesuaikan dengan situasinya. Orangtua subjek adalah wirausahawan, dan di tempat usahanya mereka memiliki beberapa karyawan orang pribumi. Maka, lingkungan sehari-hari subjek cukup berbaur antara Tionghoa dan pribumi. 3. Deskripsi Subjek 3 Subjek ketiga berinisial Ti. Subjek berusia 19 tahun, adalah seorang mahasiswi di salah satu universitas di Yogyakarta. Subjek lahir

(68) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 48 dan dibesarkan di Pontianak dan sudah tinggal di Yogyakarta selama satu tahun. Selama di Pontianak, subjek bersekolah di sekolah swasta Katolik yang pada umumnya mayoritas siswanya adalah warga Tionghoa. Keluarga subjek adalah keturunan Tionghoa dan kakek subjek adalah pendatang dari Cina. Subjek sendiri termasuk orang yang cukup peduli dengan budaya Tionghoa. Subjek juga gemar terlibat dalam organisasi pemuda Tionghoa di mana ia belajar mengenai budaya Tionghoa. C. HASIL PENELITIAN Hasil analisis lanjutan terhadap ketiga subjek digunakan sebagai hasil pembahasan. Hasil pembahasan dilakukan dengan mensintesiskan tematema yang muncul secara berulang pada subjek dan tema-tema yang baru didapatkan pada subjek lainnya. Maka, dimungkinkan terjadinya tema-tema yang sama dan berbeda pada masing-masing subjek. Analisis tema dibagi menjadi 2 tema besar, yakni hubungan antar etnis Tionghoa-Pribumi di Pontianak dan pengalaman sebagai warga keturunan Tionghoa di masyarkat. Dari kedua tema tersebut akan dibagi lagi menjadi beberapa subtema dalam tabel 3 berikut.

(69) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 49 Tabel 3 Master tabel Tema-tema Noel Le Tiff A. IDENTITAS 1. Pembentukan identitas ketionghoaan di keluarga a. Tradisi tionghoa masih 39 – 45 dijalankan di keluarga b. Tradisi tionghoa semakin 26 – 29, 39 – 45 34 – 40 50 – 60 26 – 31 45 – 52 608 – 663 468 – 475 679 – 692 487 – 492 - - 360 – 367 351 – 359 334 – 337 242 – 249, berkurang c. Ada peran dalam orangtua 430 – 434 membentuk identitas dan sikap sebagai tionghoa d. Pandangan bahwa orangtua tionghoa 450– 454 lebih baik daripada pribumi 2. Pandangan terhadap in-group a. Tionghoa sebagai kelompok yang solid b. Tionghoa eksklusif dan punya prasangka negatif 355 – 360 terhadap pribumi B. RELASI 1. Lingkungan tempat tinggal a. Tionghoa-pribumi hidup 123 – 127 261 – 264 67 – 70 529 – 542 269 – 280 70 – 72 berbaur b. Ada interaksi Tionghoa- pribumi di lingkungan tempat tinggal

(70) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Tema-tema c. Ada rasa tidak suka 50 Noel Le Tiff 127 – 141 - - - - 72 – 75 66 – 84 53 – 66 57 – 62 234 – 236, 105 – 112 186 – 193 145 – 157 71 – 97 81 – 108 168 – 181 117 – 135 112– 129 198 – 199 - - - - antara tionghoa-pribumi di lingkungan tempat tinggal d. Ada kesetaraan tingkat ekonomi 2. Lingkungan masyarakat Pontianak a. Masyarakat Pontianak terdiri dari beragam suku didominasi etnis Melayu b. Ruang sosial terjadinya interaksi tionghoa- 521 – 525 pribumi di Pontianak c. Rasa tidak suka antara kedua etnis secara diamdiam di masyarakat Pontianak d. Konflik antar etnis Tionghoa – pribumi di Pontianak e. Konflik antar etnis semakin berkurang f. Ada diskriminasi dalam layanan birokrasi g. Mendapat 328 – 331, 334- 340 stereotip 295 – 301 - - - 253 – 261 , - negative di masyarakat h. Ada harapan di masy. Pontianak hubungan kedua etnis semakin baik 345 – 351 , 508 – 509

(71) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Tema-tema Noel Le 51 Tiff 3. Di dalam kehidupan bernegara a. Ada diskriminasi dalam kebebasan 207– 223 198 – 203 - 157 – 180 281 – 289 berekspresi, hak berkarya di lembaga pemerintahan, layanan birokrasi, pendidikan b. Masih ada antara prasangka tionghoa 153 – 157 dan pribumi di masyarakat Indonesia c. Perbedaan tingkat 223 – 229 - 157 – 172 diskriminasi di berbagai daerah d. Kecurigaan antara kedua etnis dikarenakan - ada 148 – 187, - 316 – 329 latar belakang sejarah dan rasa enggan utk berbaur diskriminasi e. Justifikasi - 195 – 214 - 244 – 247 264 – 270 - 24 – 34 46 – 48 - 547 – 558 379 – 385, 270 – 274 dari tionghoa ke pribumi 4. Pengalaman hidup di masyarakat Pontianak a. Hubungan dengan pribumi baik b. Mampu menyesuaikan dengan kebiasaan berkomunikasi di masyarakat c. Diejek Tionghoa sebagai orang 389 – 390, 394 – 396

(72) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Tema-tema Noel Le Tiff 443 – 450 405 – 407 421 – 423 483 – 493 429 – 435 417 – 421 cenderung 254 – 262, - - oleh 450 – 472, - 293 – 321 - - - 402 – 409, d. Menerima kemajemukan dalam 52 hidup di masyarakat e. Diskriminasi di masyarakat tidak mempengaruhi minat untuk dalam terlibat interaksi dengan pribumi f. Prasangka dipengaruhi penampilan seseorang 501 – 509 g. Mengalami penjegalan di - dalam event perlombaan h. Kesan yang kurang baik 92 – 99 terhadap pribumi i. Menilai cenderung pada - 204 – 208 pribadi 5. Sikap sebagai warga negara a. Menghindari sikap 586 – 601, 358 – 370, 454 – 460, 697 – 717 443 – 458 466 – 481 b. Menganggap diskriminasi 356 – 364, 502 – 507 249 – 253 di masyarakat adalah hal 400 – 411 - 376 – 381, rasisme dan diskriminasi yang lumrah c. Rasa bangga sebagai - keturunan tionghoa d. Rugi oleh adanya 385 – 388 - - 567 – 586 - 381 – 385 sentiment dari pribumi e. Menikmati sebagai warga Indonesia -

(73) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 53 1. Identitas a. Pembentukan Identitas Ketionghoaan di Keluarga Sebagai warga keturunan Tionghoa di Pontianak pada umumnya, para subjek dibesarkan dengan tradisi tionghoa yang masih dijalankan di keluarga mereka, terutama oleh generasi yang lebih tua seperti orangtua atau nenek-kakek mereka. Beberapa hal seperti berbicara bahasa Tionghoa, merayakan hari raya seperti imlek, sembayang kubur, upacara pernikahan, upacara pemakaman masih dijalankan meskipun juga tidak lagi serumit dan sekental tradisi asli. “Tradisi chinese masih. Orangtua masih menjalankan tradisi konghucu.Semacam sembayang di kelenteng setiap tanggal 1 dan 15 tahun imlek, kalender lunar.Imlek, sembayang kubur juga masih.” (Noel, 39 – 45) “Udah berkurang, tapi masihlah, makan bareng, terus kayaknya ada sembahyang kubur…” (Le, 26 – 29) “…yang termasuk tradisi apalagi ya?karena udah kebiasaan jadi ya kayak kebiasaan keluarga sih… Terus imlekan sih masih, malam imlek makan bareng keluarga, terus imleknya ke rumah saudara-saudara.” (Le, 34 – 40) “Ya. Dalam keluarga besarku, banyak tradisi masih dilakukan, seperti sembahyang leluhur, makan bakcang, dan serangkaian tradisi rumit kayak dalam perkawinan dan hari raya imlek.” (Tiff, 39 – 45) Dari penuturan ketiga subjek, beberapa upacara dan tradisi tionghoa tersebut pun sudah mulai berkurang intensitasnya mulai dari generasi para subjek sendiri. Seperti yang dituturkan Noel, meskipun tidak sepenuhnya meninggalkan tradisi tersebut tapi dirinya sendiri

(74) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 54 sudah kurang menguasai dan memahami makna dari berbagai tradisi tersebut serta lebih cenderung mengarah kepada ritual agama yang dipeluknya. “Kalau saya sendiri kurang ngerti juga soal sembayang soalnya jarang ikut hehehe… ya sebenernya pengen juga sih supaya tau, kan sebagai orang chinese minimal harus tau lah. Tapi kadang ya, makin ke sini makin jarang, ya orangtua juga membebaskan mau pegang agamanya apa.” (Noel, 50 – 60) “Udah berkurang, tapi masihlah, makan bareng, terus kayaknya ada sembahyang kubur walaupun 7 tahun belakangan ga serutin dulu.” (Le, 26 – 31) Subjek Tiff mengatakan bahwa mulai berkurangnya tradisi tersebut dikarenakan beberapa hal dirasa sudah tidak relevan bahkan tidak praktis untuk kehidupan di zaman modern ini. “Tapi dalam keluarga kecilku, cuma sebagian aja tradisi yang kami lakukan. Ya mungkin karena ada hal-hal tertentu dirasa kurang relevan lagi dengan kehidupan modern, atau ya semacam dirasa kurang praktis, kayak gitu-gitu.” (Tiff, 45 – 52) Orangtua berperan dalam membentuk identitas dan sikap sebagai orang Tionghoa bagi para subjek. Beberapa hal yang diajarkan oleh orangtua mereka yakni watak pekerja keras dan kemampuan dalam mengelola keuangan. Noel beranggapan bahwa orang Tionghoa pada umumnya memiliki watak pekerja keras yang sekaligus menurunkan kemampuan untuk bertahan hidup di segala situasi. “Ada. Orangtua termasuk keras dalam mendidik anakanaknya, dan pekerja keras juga ya… aku rasa mereka itu seperti itu masih bawaan leluhur saya dari Cina haha… mungkin ya, mungkin… haha. Karena di Cina setau saya,

(75) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 55 situasi dan kehidupan di sana keras, kayak yang ya contohnya aja aku pernah kenal sama orang Cina. Dia guruku les bahasa mandarin, dan sangat ketat kalau di kelas. Ga masuk les aja ditanyain, ketawa di kelas aja diomelin. Bahkan dia cerita bahwa dia dari dulu kalau sekolah, sakit dikit ya tetap berangkat sekolah. Kalau bisa dibandingin sama guru les lainnya yang bukan asli, bukan native itu kan beda banget. Ga ada disiplinnya juga kadang. Ya itu… mungkin aja hehe, saya punya asumsi kayak gitu. Jadi banyak orang Cina bisa survive di mana-mana karena mereka mampu menghadapi persaingan yang keras. Ohya tapi soal dagang sih jujur saya ga jago haha.Soalnya bukan keluarga pedagang. Dan mm… apa ya… soal cina itu pelit, engga banget, itu salah… kalau aku bilang cina itu memang ada yang pelit, bahkan sama keluarganya sendiri aja pelit. Tapi orangtuaku engga pernah ngajarin pelit, Cuma lebih berhati-hati dalam membuat pengeluaran, begitu. Terus… apa lagi ya… ohya, soal bahasa chinese, jujur juga aku ga gitu sering ngomong bahasa chinese, dari kecil aku ga ngomong bahasa chinese selalu pake bahasa Indonesia kalau ngomong dengan siapapun. Kan ingat kata bu guru waktu masih kecil, gunakan bahasa Indonesia di tempat umum. Hehe… (Noel, 608 – 663) Le diajarkan tentang nilai budaya Tionghoa dari orangtuanya dan juga prinsip berwirausaha. “Diajarkan mengenai budaya sebagai etnis ya, misalkan tradisi imlek atau sembahyang kubur, lalu tata krama dan semacamnya juga mengenai ujung-ujung harus dagang, jangan mau kerja sama orang” (Le, 468 – 475) Sedangkan Tiff meskipun juga tidak lepas dari pengaruh orangtuanya dalam mengembangkan identitasnya sebagai orang Tionghoa, ia lebih banyak belajar dari pengalamannya berorganisasi bersama dengan para tokoh dan pemuda-pemudi Tionghoa selama di Pontianak.

(76) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 56 “Ya, tetapi gak terlalu. Aku lebih banyak belajar tentang identitas sebagai orang Tionghoa lewat kegiatan organisasi kepemudaan Tionghoa.” (Tiff, 430 – 434) Selain itu, ketiga subjek mengakui bahwa masih ada pandangan generasi tua, baik orangtua maupun kakek-nenek mereka, bahwa tionghoa lebih baik daripada pribumi. Hal ini sedikit banyak dapat mempengaruhi generasi yang lebih muda sehingga menurunkan pola pikir yang sama dengan generasi tua. “Bagi mereka tu Chinese lebih baik daripada pribumi. Chinese itu punya masa depan yang prospektif daripada pribumi, chinese itu pinter ngelola uang kalau pribumi tu ya biasanya karena ga pinter dagang atau make uang. Misalnya punya uang dikit terus langsung dihabisin atau dipake untuk apa, gitu, ngga diinvestasiin dulu. Ya sampe sekarang juga gitu… masih sering ngomong begitu.” (Noel, 679 – 692) “Masih, orangtua saya, terutama kakek dan nenek masih cenderung rasis dan membedakan. Yah, seperti membahas kekurangcerdasan pribumi.” (Le, 487 – 492) “Ya, sebagaimana orang Tionghoa pada umumnya, mereka juga memiliki paradigma tertentu mengenai orang pribumi.” (Tiff, 450 – 454) b. Pandangan Terhadap In-Group Para subjek umumnya menilai orang Tionghoa sendiri secara objektif, yakni secara seimbang dari sisi baik dan buruknya. Tiff menilai ada hal positif dari masyarakat Tionghoa Pontianak yakni adanya solidaritas dalam kelompok mereka. Hal ini ditunjukkan umumnya lewat berbagai acara besar seperti dalam penyelenggaraan pawai imlek dan capgomeh.

(77) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 57 “Tapi, secara umum, ada kekuatan-kekuatan, persatuan, ada kebersamaan yang bisa ditemukan ya dalam masyarakat Tionghoa, contohnya kayak bahu-membahu dalam acara besar, dan.. ya itu sih.” (Tiff, 360 – 367) Dari sisi negatif subjek menilai Tionghoa di Pontianak masih eksklusif dan punya prasangka negatif kuat terhadap pribumi. Selain itu ada pula kecenderungan untuk meninggikan derajatnya lebih daripada etnis lain, khususnya dalam hal material dan ekonomi. “Secara objektif memang terkadang orang tionghoa itu ada sifat suka sombong, menyombongkan diri, biasanya dari segi materiil. Ya, terlalu menonjolkan kekayaan semacam itu. Dan kalau dibilang kurang percaya dengan orang pribumi, iya.” (Noel, 351 – 359) “Eksklusif dan kurang mau membaur. Masih berprasangka negatif terhadap pribumi secara general.” (Le, 334 – 337) “Yah, terlahir di keluarga Tionghoa, ga bisa menutupi fakta juga bahwa di kalangan orang tionghoa sendiri, ada pandangan-pandangan tertentu yang melecehkan atau merendahkan orang pribumi pula…” (Tiff, 242 – 249) “Seperti yang aku katakan tadi, secara umum keliatannya rukun, harmonis, tapi di baliknya itu ada rasa benci, iri, perasaan negatif lainnya antar etnis dan agama ya...” (Tiff, 355 – 360) 2. Relasi a. Lingkungan Tempat Tinggal Para subjek dibesarkan dan tinggal di daerah yang para pemukimnya saling berbaur antara etnis Tionghoa dan Pribumi. Hal ini

(78) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 58 menunjukkan bahwa dalam situasi sehari-hari di tempat tinggal mereka mereka cukup familiar dengan warga Pribumi. “Di masyarakat, seperti misalnya di daerah tempat tinggal saya, memang etnis tionghoa dan pribumi tinggal berdekatan ya.” (Noel, 123 – 27) “Selain itu, keluarga saya memiliki toko dan kebanyakan karyawannya adalah pribumi.” (Le, 261 – 264) “Di lingkungan sekitar rumah saya, yang mendominasi adalah orang Melayu dan orang Tionghoa.” (Tiff, 67 – 70) Di sekitar tempat tinggalnya subjek Noel termasuk jarang berinteraksi dengan tetangga di sekitar pemukimannya, terutama warga pribumi. ‘Tetangga sih kalau aku sendiri jarang, hehe… tapi mama atau papa itu masih ada, beberapa yang mereka kenal, karena mereka kan udah lama tinggal di situ, ada yang mereka udah kenal lama jadi masih nyapa, ngobrol-ngobrol… soalnya sering juga kan kalau suka jalan-jalan misalnya kayak ke pasar, atau jalan-jalan sore, ketemu ibu yang ini bapak yang itu ya nyapa” (Noel, 529 – 542) Subjek Le dan Tiff beserta keluarga mereka masing-masing memiliki komunikasi yang cukup baik dengan warga pribumi di sekitar tempat tinggal mereka sehingga hal ini semakin menambah interaksi mereka dengan warga sekitar. “masih menjalin hubungan baik dengan keluarga kami, walaupun tidak semua demikian. Akan tetapi itu cukup bagi saya bahwa tanpa ikatan pekerjaan pun mereka mau bergaul dengan etnis yang berbeda. Terkadang mereka mengantarkan

(79) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 59 kue atau makanan lain bahkan saat mereka sudah tidak bekerja di tempat kami lagi.” (Le, 269 – 280) “Kalau dengan tetangga, kami hidup sangat rukun kok.” (Tiff, 70 – 72) Meskipun tinggal di pemukiman di mana antara warga tionghoa dan pribumi saling berdekatan dan ada komunikasi, salah satu subjek mengaku masih ada rasa tidak suka terhadap warga pribumi walaupun tidak ditunjukkan terang-terangan. Bagi Noel kepercayaan orang Tionghoa lebih besar pada sesama orang Tionghoa sendiri. “Tapi kalau dipikir-pikir ya dibilang akur ya akur, dibilang akur sekali ya gak juga.Sebagai tetangga kami ya basa basi, tapi ya jeleknya kami juga ada rasa gak percaya. Istilahnya ya, gini… orang tionghoa ya tetap lebih percaya dengan sesama tionghoa dibandingkan dengan orang pribumi, meskipun di sehari-hari kami biasa-biasa aja. Mungkin karena perbedaan itu ya. Saya kurang paham juga.” (Noel, 127 – 141) Subjek Tiff menambahkan bahwa di sekitar lingkungan tempat tinggalnya etnis Tionghoa dan pribumi memiliki kemampuan ekonomi yang setara, yakni ekonomi menengah ke atas. “Ya secara umum sih, tetangga-tetangga itu orang-orang yang secara ekonomi bisa dibilang menengah ke atas.” (Tiff, 72 – 75) b. Lingkungan Masyarakat Pontianak Warga di kota Pontianak terdiri dari berbagai macam etnis. Beberapa di antaranya adalah suku lokal seperti Melayu dan Dayak sedangkan selain itu adalah suku-suku pendatang seperti Tionghoa,

(80) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 60 Jawa, Batak, Bugis, Madura. Suku yang disebut-sebut mendominasi di masyakat adalah Melayu. “komposisi penduduknya kalau di Pontianak itu banyak suku melayu, dayak, jawa, batak beberapa juga ada, Tionghoa, Madura juga. Kalau Tionghoa biasanya berdagang, cukup banyak ya di Pontianak. Jawa paling banyak berprofesi sebagai guru. Orang Madura biasanya supir angkot, oplet semacam itu, atau banyak juga biasanya sebagai pedagang sayur dan buah di pasar. Kalau melayu sepertinya banyak bekerja jadi pejabat di pemerintahan. Sedangkan, Dayak sepertinya juga banyak yang di pemerintahan.” (Noel, 66 – 84) “yang utama Melayu, mungkin 50% atau lebih,terus tionghoa, dayak, baru suku-suku lain seperti Jawa, Bugis, Madura dan lainnya. Kalau sekolahan biasa suku lain-lain seperti tionghoa, dayak dan jawa di sekolah swasta. Sekolah negeri kebanyakan terdiri dari suku melayu tetapi sekolah seperti SMK lebih tercampur. Beberapa tahun ini sudah banyak dari suku melayu yang di sekolah swasta juga.” (Le, 53 – 66) “Sejujurnya saya kurang tahu ya, tapi secara umum tiga suku dominan itu Melayu, Dayak, dan Tionghoa. Yang pasti jumlah orang Melayu paling banyak.” (Tiff, 57 – 62) Interaksi antara warga Tionghoa dan pribumi sehari-hari pada umumnya terjadi di lingkungan sekolah, urusan dagang, dan birokrasi. Sedangkan hal-hal lainnya seperti urusan politik dan festival kebudayaan juga menjadi ruang sosial terjadi interaksi antara kedua etnis meskipun frekuensinya lebih minim. “Ya… pernah. Tapi paling sering dengan teman-teman di sekolah.” (Noel, 234 – 236) “Seringnya sih… dalam hal dagang, maksudnya jual beli. Terus, birokrasi, urusan surat surat penting itu.” (Noel, 521 – 525)

(81) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 61 “Urusan dagang maupun hubungan dengan pemerintahan ya saya rasa. Pedagang besar umumnya tionghoa, pedagang kecil maupun yang bekerja di pemerintahan umumnya dari pribumi walaupun tidak selalu demikian.” (Le, 105 – 112) “Biasanya dalam perdagangan, atau juga festival-festival yang diadakan bersama… terus... semacam acara politik dan organisasi tertentu, gitu aja sih... Sisanya, sepertinya dan sepengetahuanku juga sangat jarang.” (Tiff, 186 – 193) Minimnya interaksi antara kedua etnis di kehidupan sehari-hari menjadikan hubungan antara keduanya rawan akan konflik. Tampak dari penuturan salah satu subjek di atas yang menyatakan bahwa di luar urusan dagang, pertemanan di sekolah, dan sebagainya, kedua kelompok tersebut jarang melakukan interaksi sebagaimana halnya warga yang tinggal berdekatan di masyarakat. “Seingat saya pernah ada beberapa kejadian. Jadi saat itu perayaan capgomeh biasanya di kota saya ada arak-arakan naga yang dimainkan di jalan-jalan protokol. Pada saat itu entah kenapa ada larangan mungkin dari pemerintah, semacam larangan bahwa naga itu cuma boleh dimainkan di dalam lapangan PSP, semacam stadion untuk pertandingan sepak bola” (Noel, 168 – 181) “Waktu itu saya tidak di Pontianak dan hanya mengikuti dari forum maupun website Kompas dan TV. Tapi yang saya tahu adalah ketika itu ada arak-arakan pawai naga yang berpapasan dengan rombongan warga yang merayakan maulid nabi, lalu entah bagaimana terjadi” (Le, 117 – 135) “yang Gang 17 aku uda rada lupa... coba cari di internet. Intinya itu, ada 2 orang berbeda suku yang bermasalah. Kalo gak salah awalnya kebakaran atau pencopetan atau apa, bener-bener lupa. Lalu jadi masalah antar etnis yang bersangkutan, masing-masing membela orang yang sesuku dengannya... Oh, engga denk, pokoknya awalnya ada tabrakan

(82) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 62 gitu... hehe… Bukankebakaran atau pencopetan. Jadi, mobil orang Tionghoa serempet mobil orang melayu yang katanya masih keturunan Keraton Kadariyah.” (Tiff, 112 – 129) Akan tetapi, subjek menuturkan bahwa konflik antara tionghoa dan pribumi akhir-akhir ini sudah semakin berkurang atau setidaknya demikian yang dapat diketahui oleh subjek mengingkat subjek sudah lama tidak menetap di Pontianak sejak 5 tahun yang lalu. “Kurang tahu… Sepertinya sih sudah berkurang.” (Noel, 198 – 199) Layanan birokrasi yang kurang baik telah lama menjadi momok bagi para warga Tionghoa di Indonesia. Meskipun penghapusan peraturan yang bersifat diskriminatif sudah lama dihapuskan, oleh pemerintah, diakui oleh warga tionghoa masih ada pembedaan dalam layanan yang mereka alami sampai saat ini. Demikian pula yang diinformasikan oleh subjek tentang layanan birokrasi di Pontianak. “Sudah jauh lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya ya, tapi masih ada ketidakadilan setahuku...” (Tiff, 328 – 331) “Yah, dalam pembuatan surat seperti KTP, paspor, dan lainlain…apa ya… dirasanya tuh ada aja berbagai kesulitan seperti lebih lama, proses wawancara lebih rumit dan kurang bersahabat, gitu-gitu…” (Tiff, 334 – 340) Sebagai warga Tionghoa di Pontianak subjek mengaku bahwa masih ada stereotip negatif yang ia rasakan. Stereotip yang dimaksud di sini adalah pandangan kurang baik yang didapatkan oleh warga

(83) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 63 Tionghoa di masyarakat Pontianak, terutama yang berkaitan tentang kemampuan finansial dan ekonomi. “Mungkin mereka selama ini masih menganggap bahwa orang tionghoa itu ya kaya, secara ekonomi mapan, jadi bagi mereka tionghoa itu sombong, merasa berkuasa, merasa lebih dalam segala hal.” (Noel, 295 – 301) Meskipun demikian, ada pula subjek yang menuturkan harapan bahwa masyarakat Pontianak dapat semakin terbuka terhadap kemajemukan, menjalin hubungan yang akrab, dan semakin berbaur terutama antara warga Tionghoa dan pribumi. “Ketika saat itu saya merasa bahwa ya, masih ada harapan bahwa rasisme di Pontianak bisa berkurang bahkan mudahmudahan bisa terhapus, bahwa suatu kejadian salah adalah salah dan benar adalah benar tidak memandang siapa pelakunya.” (Le, 253 – 261) “Saya masih berharap bahwa di masa yang akan datang etnis tionghoa bisa lebih menghargai pribumi, juga pribumi bisa lebih menerima etnis tionghoa sebagai bagian dari sesama bangsa Indonesia.” (Le, 345 – 351) “….Yang penting generasi kedepannya harus lebih baik.” (Le, 508 –509) c. Dalam Kehidupan Bernegara Berdasarkan informasi dan pengamatan mereka, para subjek selaku bagian dari masyarakat di negara Indonesia berpendapat bahwa Tionghoa masih mendapatkan perlakuan tidak adil. Meskipun berbagai peraturan yang mendiskreditkan orang Tionghoa sudah dihapuskan oleh pemerintah, masih saja dirasakan adanya ketidaksetaraan hak

(84) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 64 sebagai warga negara dalam berbagai bidang, seperti kesempatan untuk bekerja di lembaga pemerintahan, mengekspresikan tradisi dan kebudayaan, ketidakadilan dalam layanan birokrasi dan pendidikan. “Kalau saya rasa sih lumayan aman.Tapi kalau dibilang sangat harmonis sih belum. Contohnya ya seperti pas ahok terpilih sebagai wagub Jakarta ya, kan banyak yang gak suka, lalu ngata-ngatai si ahok cina, gak layak, dan sebagainya semacam merendahkan seperti itu. Farhat Abass, Rhoma Irama… Seakan-akan warga keturunan Tionghoa gak boleh mendapatkan hak yang sama dalam membangun kemajuan negara ini. Ya itu yang terekspos ya.” (Noel, 207 – 223) “Berapa banyak tionghoa yang bisa bekerja di pemerintahan, kepolisian, TNI, PNS dan semacamnya? Saya rasa tidak banyak, dipersulit dengan berbagai cara.” (Le, 198 – 203) “Kayaknya sih, sebenernya… engga ya, belum. Masih banyak kesulitan yang dialami orang, maksudnya warga Tionghoa dalam hal-hal kayak kebebasan berekspresi dan merayakan hari-hari raya secara meriah…, dalam hal birokrasi, dalam hal pendidikan juga.” (Tiff, 281 – 289) Selain itu, di dalam kehidupan masyarakat di Indonesia, hubungan antara warga Tionghoa dan pribumi masih diwarnai rasa curiga dan tidak suka sama halnya dengan di Pontianak. Perasaan tersebut tidak ditunjukkan secara terang-terangan tetapi hanya berupa perilaku dan sikap yang tersamarkan. “Di berbagai daerah mereka masih saling menjaga jarak, padahal dahulu begitu dekat sampai banyak budaya yang jika kita telusuri merupakan perpaduan budaya tionghoa dengan budaya lokal. Saya rasa semakin lama hubungan antara tionghoa dengan pribumi di indonesia memang semakin baik, akan tetapi masih banyak yang harus diperbaiki seperti kalangan tionghoa yang cenderung eksklusif, kemanapun pergi ingin berkumpul dengan sesama tionghoa dan kurang mau

(85) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 65 berbaur dengan kaum lainnya. Juga kaum pribumi yang terkadang pemikirannya hanya jangka pendek dan mudah curiga. Secara umum ya, antara pribumi dan tionghoa memang berjarak dan saling curiga…” (Le, 157 – 180) Demikian pula yang diutarakan Tiff mengenai keadaan yang ada di Indonesia secara umum berkaitan dengan hubungan antara Tionghoa dan pribumi.Tidak ada perbedaan yang mencolok antara keadaan di Pontianak dengan di Indonesia saat ini. “Kalo di tempat-tempat lain sih kayaknya juga kurang lebih.Maksudku, secara umum dan eksplisit tampak baik-baik saja padahal tidak demikian.” (Tiff, 153 – 157) Akan tetapi, meskipun dilihat secara umum mengenai adanya rasa curiga dan ketidakadilan yang ditujukan kepada Tionghoa di Indonesia, berdasarkan pengalaman subjek Noel dan Tiff dirasakan ada perbedaan tingkat diskriminasi dari satu daerah dan daerah lainnya.Hal ini diungkapkan berdasarkan pengalaman mereka ketika berkuliah dan menetap di Yogyakarta. “…Terus juga kalau dibandingkan dengan keadaan saya di Jogja, seperti lebih terlihat ada jarak yang lebih dekat dan lebih berbaur antara tionghoa dengan warga lokal ya. Itu sih yang saya rasakan.” (Noel, 223 – 229) “Tapi kalo di daerah di luar Pontianak, khususnya di Jawa rasanya tidak terlalu terasa diskriminasinya. Bahkan, di jogja ini saya merasa diterima dengan baik di antara teman-teman saya yang pribumi. Entah mungkin karena di sini memang banyak orang-orang yang datang dari luar daerah sehingga semua orang dapat berbaur dengan baik atau mereka memang tidak memandang rendah orang-orang yang berbeda suku.” (Tiff, 157 – 172)

(86) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 66 Sedangkan Le berpendapat bahwa kecurigaan antara kedua etnis dikarenakan masih ada rasa enggan untuk berbaur dan juga dikarenakan ada latar belakang sejarah yang panjang yakni adanya politik devide et impera ketika masa penjajahan hingga berbagai agenda politik yang menjadikan Tionghoa sebagai sasaran ketika masa Orde baru. “Menyedihkan ya, mereka tidak mau belajar dari sejarah bahwa akar permasalahan mereka karena diadu domba, mereka tidak ingat bahwa awal pertemuan mereka itu berawal dari perbuatan-perbuatan serta itikad baik, hubungan dagang, hubungan kebudayaan bahkan pernikahan.Di berbagai daerah mereka masih saling menjaga jarak, padahal dahulu begitu dekat sampai banyak budaya yang jika kita telusuri merupakan perpaduan budaya tionghoa dengan budaya lokal. Saya rasa semakin lama hubungan antara tionghoa dengan pribumi di indonesia memang semakin baik, akan tetapi masih banyak yang harus diperbaiki seperti kalangan tionghoa yang cenderung eksklusif, kemanapun pergi ingin berkumpul dengan sesama tionghoa dan kurang mau berbaur dengan kaum lainnya. Juga kaum pribumi yang terkadang pemikirannya hanya jangka pendek dan mudah curiga. Secara umum ya, antara pribumi dan tionghoa memang berjarak dan saling curiga, tetapi pendidikan bahwa semua itu setara harus lebih ditingkatkan, rasa cinta tanah air indonesia itu sangat-sangat kurang, masing-masing sibuk dengan bangga akan kelompoknya sendiri.” (Le, 148 – 187) “Bawaan manusia yang cenderung lebih nyaman bergaul dengan yang memiliki kemiripan semirip mungkin dengan dirinya.Serta dampak dari masa lalu dimana antara tionghoa dan pribumi dipisahkan oleh penjajah yang diteruskan pada zaman orde baru. Etnis tionghoa dan pribumi dipisahkan sedemikian rupa agar saling curiga dan tidak berbaur, dampaknya masih terjadi sampai sekarang.” (Le, 316 – 329) Menurut Le, di dalam kehidupan bernegara masih ada ketidakadilan yang ditujukan kepada warga Tionghoa terutama bagi

(87) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 67 mereka yang ingin berkarier di lembaga pemerintahan. Akan tetapi, pembedaan tersebut juga dilakukan juga kepada para warga pribumi yang ingin bekerja di perusahaan-perusahaan milik warga Tionghoa. Hal ini terjadi sebagai tanggapan akan diskriminasi yang warga Tionghoa alami. Maka, dapat dikatakan bahwa ada justifikasi diskriminasi di sini. “Kalau ketidakadilan berlaku untuk semua warga, bukankah hal tersebut jadinya adil? Berapa banyak tionghoa yang bisa bekerja di pemerintahan, kepolisian, TNI, PNS dan semacamnya? Saya rasa tidak banyak, dipersulit dengan berbagai cara. Begitu pula dengan pribumi yang ingin bekerja di perusahaan-perusahaan milik tionghoa, banyak saya dengar dari teman-teman saya yang sudah bekerja maupun relasi, bahwa banyak diskriminasi terhadap non tionghoa. Atau terkadang non tionghoa memang tidak dipersulit, akan tetapi untuk etnis tionghoa dipermudah.” (Le, 197 – 214) d. Pengalaman Hidup di Masyarakat Pontianak Selama tinggal di kota Pontianak, para subjek dapat membangun hubungan yang baik dengan warga pribumi. Noel tidak merasa ada permasalahan dalam menjalin pertemanan dengan temantemannya yang pribumi selama ia duduk di bangku sekolah. “Dengan teman-teman baik-baik aja ya. Kami juga gak pernah ada masalah. Semuanya sama.” (Noel, 244 – 247) Sedangkan Le juga berhubungan baik dengan para karyawan toko milik keluarganya. Mereka saling menjalin silaturahmi yang baik selama menjadi karyawan ataupun setelah tidak lagi bekerja di toko

(88) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 68 keluarga Le. Ada hubungan yang mutual di antara Le sekeluarga dan para karyawan. “Saya sendiri merasa cukup nyaman dengan keberadaan mereka, tidak membeda-bedakan, bahkan setelah mereka tidak bekerja lagi, masih menjalin hubungan baik dengan keluarga kami” (Le, 264 – 270) Subjek Noel dan Le juga mengungkapkan kebiasaan berkomunikasi mereka baik di dalam keluarga maupun di lingkungan masyarakat. Keduanya mengatakan bahwa mereka memahami dan menggunakan bahasa Tionghoa, akan tetapi juga menguasai dan menggunakan bahasa Melayu sebagai bahasa daerah ataupun bahasa Indonesia ketika di lingkungan masyarakat umum. Hal ini menunjukkan bahwa mereka sebagai warga Tionghoa mampu menyesuaikan dengan kebiasaan berkomunikasi di masyarakat Pontianak. “Di rumah biasanya bahasa Indonesia, tapi campur-campur juga. Kalau papa mama pakai bahasa Chinese, bahasa Khek. Kalau kami anak-anak pakai bahasa Indonesia campurcampur logatnya, campuran logat melayu dan chinese. Makanya kalau kami anak-anak gak begitu lancar berbahasa khek” (Noel, 24 – 34) “Kalau di Pontianak sih tiociu, atau Indonesia. Bahasa Melayu juga iya.” (Le, 46- 48) Meskipun demikian, para subjek pun pernah mengalami ataupun menemukan situasi di mana orang Tionghoa dijadikan bahan ejekan atau cemoohan. Ejekan atau cemoohan tersebut tidak selalu

(89) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 69 diungkapkan atau ditujukan secara terang-terangan. Ada pula yang dilakukan secara diam-diam atau terselubung. Seperti yang diungkapkan Noel dan Le berikut, meskipun mereka tidak mengalami dicemooh secara langsung, mereka mengingat ada ejekan-ejekan yang ditujukan kepada orang Tionghoa seperti sindiran ataupun bisikan. “Ga ingat sih, tapi kalau sikap orang pribumi yang ga suka sama chinese kayak mengejek gitu aku pernah menemukan. Dulu waktu masih kecil, ada aja bahkan itu beberapa guru yang suka dengan gak langsung merendahkan orang cina, tapi dulu masih kecil kan ga ngerti apa-apa, ga diinget-inget terus juga, jadi ya gitu… ga notice.” (Noel, 547 – 558) “Secara verbal seingat saya sih tidak, terlebih sudah tidak tinggal menetap di kota pontianak kurang lebih 5 tahun. Akan tetapi dari non verbal seperti tatapan mata, atau sindiran tidak langsung pernah.” (Le, 379 – 385) “…seperti misalkan bisik-bisik, atau tatapan sinis.” (Le, 389 – 390) “Kurang jelas, tapi biasa ada selipan kata-kata ‘cina… cina…’ seperti itu.” (Le, 394 – 396) Tiff mengungkapkan ejekan yang pernah ia dapatkan sebagai orang Tionghoa berupa ejekan yang menyinggung orientasi orang Tionghoa pada ekonomi. “Pernah. Yang paling sering misalnya mendengar celetukan seperti ‘Cina sih, gak mau rugi’, ya yang seperti itu lah…” (Tiff, 270 – 274) Sebagai bagian dari masyarakat, ketiga subjek hidup di lingkungan yang majemuk sehingga dalam pergaulan tumbuh kesadaran mereka untuk menerima kemajemukan dalam hidup di

(90) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 70 masyarakat Pontianak. Hal ini salah satunya didorong oleh situasi saat bersekolah dulu, yakni adanya teman-teman pribumi dari berbagai suku. “Kalau aku sih, dibilang pemilih engga, karena di sekolah juga kan tadi aku bilang sama teman-teman yang dayak, apa batak juga kita becanda bareng dan seru-seru aja, sama kayak dengan yang lainnya.” (Noel, 443 – 450) Bagi Le, selama ada kenyamanan di dalam suatu pertemanan ia cenderung tidak melihat dari perbedaan suku atau etnis seseorang dalam bergaul. “Saya sih tidak pemilih, dengan siapa saja selama nyaman ya saya bergaul.” (Le, 405 – 407) Tiff memanfaatkan situasi ketika bergaul dengan temantemannya yang pribumi untuk menepis pandangan negatif terhadap orang Tionghoa. “…ya mungkin caranya dengan banyak bergaul dengan mereka.” (Tiff, 421 – 423) Selain itu, para subjek juga tidak terpengaruh oleh adanya diskriminasi di masyarakat untuk terlibat dalam interaksi dengan pribumi. Menurut Noel, perilaku diskriminasi itu ada tetapi tidak berarti akan dilakukan oleh semua orang pribumi terhadap dirinya. “Hmm… rasa sungkan engga sih ya… Kalau mereka welcome ya saya juga dengan senang hati ngobrol atau berteman bahkan ya… saya rasa engga sampai sejauh itu kesimpulannya kalau dalam hal ini. Ga semata-mata semua orang pribumi yang saya temui kan bakal mendiskriminasi saya.” (Noel, 483 – 493)

(91) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 71 Sikap untuk tidak cepat berprasangka buruk terhadap pribumi juga dilakukan oleh Le yang sering bergaul dengan para karyawan toko, tukang parkir atau siapapun yang ia temui di masyarakat. “Saya sih tidak… Saya senang ngobrol dengan karyawan toko yang rata-rata non Chinese, juga dengan tukang parkir atau siapa saja, selama mereka juga nampaknya senang bergaul dengan saya.” (Le, 429 – 435) Tiff menambahkan penjelasan sebelumnya mengenai niatnya untuk menghapuskan rasa curiga dan parsangka buruk antara Tionghoa dan pribumi lewat meningkatkan interaksi dengan warga pribumi di Pontianak. “Gak sih... aku malah merasa tertantang gimana sih aku bisa mematahkan berbagai pandangan mereka yang salah mengenai orang Tionghoa.” (Tiff, 417 – 421) Meskipun Noel menghindari prasangka buruk terhadap orang pribumi, akan tetapi prasangka terhadap individu tetap ia rasakan. Prasangka tersebut tidak semata-mata dikarenakan oleh etnis melainkan cenderung dipengaruhi oleh kesan dari penampilan dan sikap seseorang. Biasanya kesan yang kurang baik terhadap pribumi timbul karena tingkah laku yang ditampilkan kurang bersahabat baginya. “Kalau di jalan, bertemu dengan supir truk, atau ya istilahnya abang-abang seperti itu ya ada rasa takut dan gak nyaman. Meskipun mereka gak melakukan apapun terhadap saya, tapi entah ya rasanya kadang gak nyaman begitu. (Noel, 254 – 262)

(92) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 72 “Tapi kalau dengan, … mungkin kalau aku liat lebih ke sikapnya mereka juga ke aku gimana. Aku pikir sih mungkin beda ya di sekolah sama di lingkungan di jalanan, itu orang yang ada di sekolahku mungkin lebih terbiasa dengan kami yang tionghoa dan lebih terpelajar juga. Tapi kalau di luaran sana kan biasanya kayak sopir oplet, atau bibi-bibi yang di pasar, atau juga mereka yang kurang berbaur dengan tionghoa mungkin lebih ga bersahabat buat aku. Jadi kadang ngerasa ga nyaman juga. Ya liat-liat orangnya juga, aku rasa kita semua biasa juga pasti menilai orang dari penampilannya kan.” (Noel, 450 – 472) “… tapi tetap aja sih, aku berusaha engga membenci orang atau menjauhi orang hanya karena mereka itu pribumi. kan liat dari tampangnya juga. Kalau tampangnya sinis, ga bersahabat ya gimana kita berani dekatin. Hehehe…” (Noel, 501 – 509) Tiff menjelaskan lebih lanjut mengenai masih adanya ketidakadilan terhadap orang Tionghoa di masyarakat Pontianak lewat pengalamannyadijegal dalam sebuah event perlombaan. “Apa ya….. Ah, ini… Contohnya dari pengalamanku sendiri. Dulu banget aku pernah ikut festival film indie dengan temantemanku. Nah, saat itu peserta lomba yang berasal dari sekolah swasta cuma timku dan kami isinya orang Tionghoa semua, dengan pembimbing Tionghoa pula. Nah, kita uda kirim filmnya, dan kita sangat yakin dengan kemampuan kita. Nah, kita sih memang gak terlalu menyombong dengan yakin 100% pasti kita menang, tapi memang ada sedikit harapan yang kita miliki. Tapi, bahkan pemberitahuan apapun juga gak ada. Kemudian, kita baru tahu bahwa kita dinilai tidak memenuhi persyaratan karena tidak ada yang memvoting kelompok kita. Padahal, kita tidak diberitahu bahwa ada peraturan mengenai voting. Itu mungkin salah satu pengalamanku yang ada hubungannya dengan hal itu ya…” (Tiff, 293 – 321) Sebagai warga Pontianak Noel mengakui bahwa ada kesan yang kurang baik yang ia dapatkan dari warga pribumi di sana. Hal ini menambahkan penjelasan sebelumnya bahwa meskipun tidak

(93) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 73 memandang status etnis dalam pergaulan, adanya prasangka dan rasa tidak nyaman di sini timbul karena pribumi di Pontianak punya sikap yang kurang bersahabat terhadap orang Tionghoa. “Kalau saya sendiri sih bisa dibilang ngga begitu simpati ya… hmm… gimana ya. Maksudnya ya saya ngga membenci mereka, cuma sejauh ini kesannya juga banyak yang ngga begitu suka.” (Noel, 92 – 99) Tiff juga mengakui adanya pandangan tertentu yang melekat pada individu terkait dengan status etnis. Meskipun demikian ia cenderung lebih suka mencari kesamaan dalam berbagai aspek kepribadian seseorang dengan dirinya. “Yang pastinya iya ya. Tapi ini gak berhubungan dengan apakah seseorang bersuku atau beragama yang sama dengan aku, tapilebih ke kesamaan minat, bakat, kebiasaan, kepribadian, pola pikir, hal-hal kayak gitu…” (Tiff, 402 – 409) “Emm… apa ya… buat aku sih gak ada perasaan khusus ya kalau terkait latar belakang budaya mereka. Kalo aku ngeliatnya, masing-masing orang punya perbedaan dalam diri mereka itu tergantung sifat dan perilaku orang itu sebagai pribadi, bukan karena dia itu bagian dari kelompok tertentu. Tapi…, memang kadang perbedaan suku itu yang menyebabkan ada perbedaan paradigma dan respon terhadap hal tertentu…” (Tiff, 204 – 208) e. Sikap Sebagai Warga Negara Para subjek termasuk orang yang cenderung menghindari sikap rasisme dan diskriminasi meskipun mereka sendiri pernah menyaksikan dan mengalami perilaku diskriminasi sebagai orang Tionghoa di Pontianak. Noel menganggap sikap membeda-bedakan ras

(94) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 74 dan etnis merupakan sikap yang perlu dihindari orang muda Tionghoa karena adanya taraf pendidikan yang lebih baik dibandingkan generasi sebelumnya. “Ngapain pusingin orang-orang yang masih rasis sama orang cina, kalau kita udah berusaha bikin enak hidup kita sendiri kenapa harus peduliin orang-orang yang yah istilahnya mereka yang rasis itu ‘ga punya otak’ ya, haha. Mereka itu rasis ya masalah mereka deh. Kita jangan ikut-ikutan rasis sama orang yang ga rasis, ga jahat sama kita. Gitu aja… orang kita mau berkembang kok, mereka rasis terus ya ga bisa berkembang kan.” (Noel, 586 – 601) “Aku kadang malah sampe berdebat hehe… sampe tak pikirpikir percuma juga berdebat sama orangtua. Yang ada malah dibilang kurang ajar. Ya aku sih orang udah dewasa juga, lagipun era kita kan beda dengan era mereka. Lingkungan kita juga beda dengan lingkungan mereka. Percuma sekolah tinggitinggi, punya pendidikan bagus tapi ga bisa memilih mana ajaran yang baik dan kurang baik. Hehe… jangan sampe lah, kita ikutin ajaran yang ga baik. Hehe. Aku sih yakin, orang udah gede pasti bisa bedain yang baik dan ngga.” (Noel, 697 – 717) Le memandang bahwa Tionghoa dan pribumi di masa sekarang harus semakin mengembangkan rasa saling menghargai. Orang Tionghoa perlu menyadari rasa cinta tanah air terhadap negara Indonesia sebagai tempat tinggal mereka. Baginya menjadi seorang keturunan Tionghoa tidak perlu dijadikan sebuah kebanggaan yang disombong-sombongkan. “Saya berusaha tidak membeda-bedakan karena tidak ingin dibeda-bedakan juga..nggak ada yang menang dari perselisihan semacam itu, di ujung pasti sama-sama rugi saja… Yah, semoga generasi depan lebih cerdas dalam bersikap dan berpikir, bahwa etnis apapun, kita tetap bangsa indonesia, minum dari sumber air yang sama dan makan dari tanah yang sama.”

(95) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 75 (Le, 358 – 370) “Membanggakan sih tidak juga, kan terlahir menjadi warga keturunan bukan pilihan saya. Yang berlaku rasis itu memang terkadang mengesalkan, belum tentu mereka lebih cinta tanah air dibanding yang cina-cina itu padahal. Padahal memangnya ada privilege apa yang cina-cina itu dapatkan dengan mata sipitnya, yang ada cuma kita lebih terpacu untuk bekerja lebih keras karena dulunya kita pendatang ingin hidup lebih baik.” (Le, 443 – 458) Tiff menolak sikap diskriminasi dan rasis dengan mengubah pandangan-pandangan yang salah mengenai kedua etnis lewat komunikasi langsung, baik terhadap orangtua yang masih berpandangan negatif terhadap pribumi, maupun pribumi terhadap tionghoa. “Aku makanya gak terlalu ambil pusing. Sebisa mungkin sih ya bersikap objektif aja, kalau bisa kita berikan penjelasan kalo ternyata ada pandangan yang keliru mengenai orang pribumi.” (Tiff, 454 – 460) “Kayak yang udah aku jelaskan tadi, sebisa mungkin sih kita juga menjaga, menciptakan keharmonisan, lebih ke gimana caranya meluruskan pandangan-pandangan yang salah antar etnis… Paling ga di lingkunganku sendiri. Aku tidak ga terlalu mikirin atau musingin hal-hak kayak gitu,… karena selain perasaan gak nyaman dan apa yah…. Ya hal lainnya itu, paling ya ketidaklancaran dalam mendapat pelayanan umum gitu-gitu, gak banyak kerugian yang dialami dari keadaan ini.” (Tiff, 466 – 481) Para subjek menganggap diskriminasi di masyarakat adalah hal yang lumrah. Menurut mereka diskriminasi dan prasangka antara Tionghoa dan pribumi terjadi tentunya karena ada hubungan sebabakibat, seperti trauma masa lalu. Bagi Noel, hal tersebut adalah

(96) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 76 fenomena yang dapat ditemukan di masyarakat manapun di dunia. Demikian pula Le beranggapan bahwa mengubah pemikiran seseorang yang suka mendiskriminasi merupakan hal yang sia-sia. “Ya, terlalu menonjolkan kekayaan semacam itu. Dan kalau dibilang kurang percaya dengan orang pribumi, iya. Mungkin ada trauma tersendiri ya karena selama ini kan orang chinese seperti dianggap minoritas, ya diskriminasi.” (Noel, 356 – 364) “Ya, saya rasa diskriminasi, rasa gak suka terhadap golongan lain itu ada di mana-mana ya, dan itu semacam watak alami manusia itu sendiri ketika mereka hidup berkelompok. Bagi saya sih, kalau saya bermimpi bahwa dunia ini, negara ini bisa suatu saat gak ada lagi diskriminasi itu agak terlalu mulukmuluk ya.” (Noel, 400 – 411) “Yah, siapapun yang berbicara seperti itu, kalau sudah mengurat akar dalam otaknya ada perbedaan semacam itu ya biarkan saja, percuma dijelaskan.” (Le, 502 – 507) “Kalau ya bisa dikatakan itu mungkin sebagai respon, respon dari perlakuan tidak adil yang seringkali dialami oleh orang Tionghoa sendiri.” (Tiff, 249 – 253) Tiff mengungkapkan adanya rasa bangga sebagai keturunan tionghoa karena cenderung lebih maju dalam hal yang berkaitan dengan ekonomi dan kesejahteraan hidup. “Kalau kebanggaan…., saya merasa agak disegani ya…, mungkin karena dipandang sebagai keturunan dari ya istilahnya ‘penguasa ekonomii Indonesia…” (Tiff, 376 – 381) “Habis itu juga terkadang ada kesan kalo orang Tionghoa lebih maju dalam pola pikir dan taraf kehidupan.” (Tiff, 385 – 388)

(97) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 77 Sedangkan kurangnya rasa simpati yang didapatkan dari warga pribumi merupakan sebuah kerugian baginya sebagai warga Tionghoa. “…tapi sekaligus dibenci karena seolah-olah kita orang Tionghoa dibilang merebut lahan dan kesempatan orang pribumi.” (Tiff, 381 – 385) Noel melihat dirinya sebagai warga keturunan Tionghoa merasakan adanya kenyamanan sebagai warga Indonesia. Baginya kehidupan warga Tionghoa saat ini sudah jauh lebih baik dibandingkan masa lalu dan hal tersebut hendaknya perlu disyukurinya. “Nyesel gimana, apanya yang mau disesali. Enakan tinggal di Indonesia kali haha… cari uang gampang, kesempatan kerja besar. Ya, kalau dibilang bangga sih engga juga, ga bisa dibilang bangga. Tapi ya meskipun banyak kejadian seharihari bertemu hal-hal yang ngga enak tentang hubungan dengan mereka yang pribumi, tapi saya akui sekarang saya merasa jauh beruntung ya, sekarang hidup udah enak. Tionghoa juga lebih bebas, ga kayak jaman soeharto dulu seperti yang diceritain orang-orang tua kita.” (Noel, 567 – 586) D. PEMBAHASAN Keluarga merupakan komunitas terkecil yang menyusun masyarakat. Di dalam keluarga, individu mengembangkan identitas dirinya. Demikian pula para subjek yang mengembangkan identitas dirinya sebagai warga keturunan Tionghoa di tengah-tengah masyarakat kota Pontianak diawali dari interaksi di dalam keluarga. Ketiga subjek sama-sama lahir dan dibesarkan di kota Pontianak dan berasal dari keluarga keturunan Tionghoa totok. Kedua orangtua mereka rata-

(98) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 78 rata masih menjalankan berbagai tradisi Tionghoa seperti sembayang di kelenteng, merayakan hari raya imlek, menjalankan upacara sembayang kubur, melaksanakan tata upacara dalam ada tionghoa seperti upacara pernikahan, pemakaman, dan lain sebagainya. Orangtua pada umumnya mengajarkan prinsip hidup yang dianut oleh masyarakat Tionghoa, seperti semangat kerja keras, berwirausaha, dan pengelolaan finansial. Meskipun demikian, berbagai tradisi atau upacara adat tersebut pelaksanaannya mulai berkurang oleh ketiga subjek. Hal ini disebabkan oleh berbagai upacara adat atau berbagai tradisi dirasakan kurang praktis di zaman modern sekarang ini serta adanya kebebasan dari orangtua kepada generasi muda untuk memilih dan memeluk agama atau keyakinannya masing-masing. Banyak generasi muda mulai meninggalkan adat dan tradisi leluhur mereka dan menjalankan sesuai ajaran agama yang diyakini. Di kalangan internal masyarakat Tionghoa sendiri terjadi pergeseran dalam memaknai arti identitas Tionghoa dalam format yang berubah (Susetyo, 2002). Pergeseran dari ketionghoaan yang tradisional, berorientasi etnis dan negeri leluhur menjadi ketionghoaan yang modern, berorientasi nasional dan lokal terkait dengan upaya meninggalkan trauma masa lalu (Lan, dalam Susetyo, 2002). Pergeseran ini juga dialami oleh ketiga subjek. Meskipun tradisi di keluarga mereka tergolong dalam Tionghoa totok, tetapi mereka sendiri sudah bergeser menjadi generasi tionghoa yang modern serta mampu beradaptasi dengan kebiasaan di masyarakat. Mereka mampu membina hubungan yang baik dalam pengalaman mereka hidup di masyarakat kota Pontianak, yakni

(99) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 79 salah satunya lewat penggunaan bahasa daerah ataupun bahasa Indonesia dalam berkomunikasi. Dari karakteristik masyarakat di sekitar tempat tinggal para subjek, ada pembauran antara Tionghoa dan pribumi sehingga memungkinkan lebih banyak interaksi antara keduanya. Walaupun demikian, hal tersebut tidak menjamin interaksi tersebut menciptakan hubungan yang harmonis antara keduanya, seperti yang dituturkan subjek Noel, “Sebagai tetangga kami ya basa basi, tapi ya jeleknya kami juga ada rasa gak percaya”. Lain halnya dengan Tiff yang tinggal di pemukiman yang warganya memiliki kesetaraan tingkat ekonomi, “Kalau dengan tetangga, kami hidup sangat rukun kok. Ya secara umum sih, tetangga-tetangga itu orang-orang yang secara ekonomi bisa dibilang menengah ke atas.”. Hal ini sependapat dengan penuturan Setiono (2002) yakni kesetaraan pendidikan dan ekonomi di masyarakat dapat memperkecil kemungkinan adanya diskriminasi rasial. Dari sekian banyak etnis yang mendiami kota Pontianak, etnis yang mendominasi adalah Melayu. Sedangkan warga Tionghoa termasuk cukup banyak setelah etnis Melayu. Dalam kehidupan sehari-hari, interaksi yang akrab antara tionghoa dan pribumi tidak banyak terjadi. Pada umumnya suatu interaksi terjadi karena hubungan pertemanan di sekolah, perdagangan, dan birokrasi. Selain itu ada pula interaksi yang rutin terjadi seperti dalam festival hari raya yang dirayakan setahun sekali. Para subjek menyadari adanya pandangan para warga pribumi terhadap in-group mereka, yakni warga Tionghoa itu sendiri. Para subjek

(100) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 80 menarik kesimpulan bahwa warga Tionghoa mendapat stereotip negatif di masyarakat karena perilaku mereka yang cenderung eksklusif dan kurang suka berbaur dengan warga lainnya. Sedangkan, imbas dari keeksklusifan ini secara positif membentuk solidaritas yang kuat di dalam kelompok warga Tionghoa itu sendiri. Selain itu, rata-rata generasi tua seperti nenek-kakek ataupun orangtua para subjek pun masih menghindari dan berprasangka negatif terhadap orang pribumi. Hal ini terjadi karena ada pengalaman buruk di masa lalu yang dialami orang Tionghoa sehingga menyebabkan adanya ketidakpercayaan kepada masyarakat pribumi hingga sekarang. Sikap seperti ini dapat menyebabkan semakin terpisahnya hubungan Tionghoa-pribumi seperti terjadinya konflik yang melibatkan warga Tionghoa dan pribumi. Dalam pengalamannya tinggal di kota Pontianak, subjek mengaku pernah mengalami diejek sebagai orang Tionghoa. Ada pula yang mengalami penjegalan dalam suatu event perlombaan karena merupakan satu-satunya peserta dari sekolah swasta yang siswa mayoritasnya adalah etnis Tionghoa. Istilah Cina sebenarnya merupakan ‘hukuman’ yang diberikan oleh pemerintahan Orde Baru menggantikan sebutan Tionghoa, karena orang-orang Cina di Indonesia dianggap sebagai agen pemerintah Cina yang turut mendukung pemberontakan PKI tahun 1965 (Susetyo, 2002). Bila ditinjau kembali dari pembahasan di atas tampak bahwa hubungan Tionghoa – pribumi seakan-akan masih berjarak meskipun ada lingkungan yang memungkinkan keduanya untuk saling berbaur. Contohnya, terbatasnya komunikasi dan interaksi antara kedua kelompok hanya pada

(101) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 81 kegiatan di sekolah, perdagangan, dan festival hari raya yang hanya diadakan minimal 1 tahun sekali. Ada pula, sikap eksklusif dan rasisme yang dimiliki oleh para generasi tua Tionghoa turut memperbesar jurang komunikasi di antara kedua kelompok. Konflik dan perilaku diskriminasi dirasakan sudah mulai berkurang belakangan ini. Subjek Le merasakan adanya perubahan ke arah yang lebih baik yakni sudah tampak keterbukaan antara warga Tionghoa dan pribumi di Pontianak, ” Ketika saat itu saya merasa bahwa ya, masih ada harapan bahwa rasisme di Pontianak bisa berkurang bahkan mudah-mudahan bisa terhapus”. Subjek merasakan ada harapan masyarakat Pontianak di zaman sekarang ini memiliki pemikiran yang semakin terbuka dan dapat lebih menerima kemajemukan dalam kehidupan sehari-hari. Dari berbagai peristiwa diskriminatif yang dialami, ada subjek yang mengaku masih menyimpan kesan kurang baik terhadap warga pribumi. Akan tetapi hal ini tidak semata-mata mengurangi minat untuk menjalin komunikasi dan membangun interaksi dengan warga pribumi. Bagi subjek, kesan negatif terhadap warga pribumi dapat muncul tergantung pada penampilan seseorang sehingga prasangka tidak semata-mata ditujukan kepada semua orang pribumi yang ditemui. Minat untuk berelasi juga dipengaruhi oleh kecocokan dari sisi kepribadian seseorang. Berdasarkan pengalaman para subjek sendiri, mereka merasakan adanya perbedaan tingkat diskriminasi terhadap orang tionghoa dari satu daerah dengan daerah lainnya. Hal ini dirasakan subjek Noel dan Tiff ketika

(102) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 82 berpindah tempat tinggal dari kota Pontianak ke Yogyakarta. Adanya kemajemukan yang merata di masyarakat memperkecil terjadinya diskriminasi. Selain itu, pengalaman semacam ini dapat mengubah pemikiran dan stereotip yang salah terhadap kelompok etnis lain, karena seseorang didorong untuk mengalami interaksi secara langsung, sehingga kemudian ia dapat membandingkan pemikiran sebelumnya dengan kenyataan yang didapatnya dari interaksi langsung tersebut. Lewat interaksi dan komunikasi yang lebih intensif maka akan didapatkan pemahaman yang lebih baik antara berbagai kelompok etnis (Rahardjo, 2005). Para subjek pada umumnya selalu berupaya untuk terbuka terhadap kemajemukan di masyarakat di mana mereka tinggal khususnya di Pontianak. Sebagai bagian dari masyarakat Indonesia, subjek pun cenderung bersikap menentang diskriminasi dan rasisme, meskipun bagi mereka diskriminasi adalah hal yang lumrah dan ditemukan di masyarakat manapun di dunia. Hal ini didorong oleh kesadaran para subjek untuk tidak menggeneralisasi diskriminasi terhadap warga pribumi serta ada keinginan untuk mengubah paradigma yang salah antara kedua kelompok tersebut. Dalam kehidupan sebagai bagian dari warga Indonesia secara umum, para subjek bahwa berpendapat bahwa masih ada pembedaan terhadap warga Tionghoa, terutama dalam hal kebebasan berekspresi, hak berkarya di lembaga pemerintahan, layanan birokrasi, pendidikan. Masyarakat Indonesia masih menganggap orang Tionghoa berbeda dan asing sehingga hal ini mendukung adanya prasangka antara warga Tionghoa dan pribumi. Subjek

(103) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 83 mempersepsikan bahwa adanya situasi seperti ini diakibatkan ada latar belakang sejarah dan rasa enggan untuk berbaur. Pelayanan birokrasi merupakan salah satu hal yang selalu dikeluhkan warga Tionghoa sejak dulu. Meskipun pemberlakuan peraturan yang mendiskriminasi Tionghoa sudah dihapuskan tetapi masih ada ketidaksetaraan dalam pelayanan yang dirasakan subjek, seperti proses pembuatan dokumen yang dipersulit atau diperlama. Susetyo (2002) menuturkan bahwa kalangan aparat, birokrasi pemerintahan, sampai sekarang mereka nampaknya masih menggunakan paradigma lama dengan perlakuan diskriminatif terhadap etnis Tionghoa misalnya dalam hal status kependudukan ataupun status kewarganegaraan. Meskipun demikian, kesadaran akan diskriminasi yang mereka alami ini pun kemudian memunculkan adanya diskriminasi terhadap pribumi yang ingin bekerja di institusi atau perusahaan milik Tionghoa seperti yang dikatakan subjek Le, “Begitu pula dengan pribumi yang ingin bekerja di perusahaanperusahaan milik tionghoa, banyak saya dengar dari teman-teman saya yang sudah bekerja maupun relasi, bahwa banyak diskriminasi terhadap non tionghoa.” Hal ini dilakukan untuk menyeimbangkan kedudukan antara tionghoa dan pribumi. Cara pandang semacam ini menghalangi munculnya pemahaman kritis bahwa ada tindakan atau kebiasaan yang dinilai merugikan dalam diri seseorang tidak dengan sendirinya melegitimasi atau memberi hak pada pihak yang merasa dirugikan untuk melakukan diskriminasi pada orang tersebut dan kelompoknya (Eviandaru, 2010).

(104) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 84 Sebagai warga keturunan tionghoa, kebanggaan dirasakan dari taraf hidup dan kemampuan ekonomi yang baik, sedangkan kerugiannya karena kurangnya simpati dari warga pribumi. Ada pula yang beranggapan bahwa menjadi orang Tionghoa bukanlah hal yang perlu dibanggakan. Selain itu, ada kenyamanan yang semakin dirasakan sebagai warga negara Indonesia.

(105) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. KESIMPULAN Dari hasil penelitian ini, ditemukan bahwa etnis Tionghoa di Pontianak masih merasakan ketidaksukaan antara Tionghoa dengan pribumi dalam lingkup situasi sehari-hari. Meskipun demikian, hal ini tidak ditunjukkan secara langsung dan terang-terangan. Sedangkan, dari segi formal, kesempatan dan hak yang dimiliki etnis Tionghoa sebagai warga sudah terasa lebih baik dibandingkan masa-masa sebelumnya. Secara umum, konflik dan perilaku diskriminasi antara Tionghoa dan pribumi sudah berkurang. Etnis Tionghoa di Pontianak masih cukup erat dalam menjalani tradisi leluhurnya, terutama pada generasi yang lebih tua. Sedangkan, para generasi muda sudah lebih banyak meninggalkan ritual dan tradisi tersebut. Mereka juga mampu berbaur dan beradaptasi dengan masyarakat di sekitar. Hal ini didasari adanya kesadaran mereka sebagai bagian dari masyarakat Indonesia yang majemuk. Semakin sering dan banyaknya pengalaman berinteraksi dan menjalin relasi antar etnis merupakan salah satu faktor yang mengurangi prasangka dan perbedaan cara pandang antara Tionghoa dan pribumi, terutama di masyarakat yang dianggap masih kurang akulturasinya seperti di Pontianak. 85

(106) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 86 B. KETERBATASAN PENELITIAN Keterbatasan dalam penelitian ini terletak pada beberapa hal. Pertama yakni pada variasi subjek. Para subjek dalam penelitian ini berasal dari keluarga berstatus sosial ekonomi menengah ke atas, berdomisili di luar kota Pontianak sejak kuliah, memiliki rentang usia yang tidak terlalu jauh. Diasumsikan para subjek memiliki pola pikir yang kurang lebih serupa sehingga pengalaman yang dituturkan menjadi kurang bervariasi antara subjek yang satu dengan yang lainnya. Kedua, dalam meneliti fenomena diskriminasi, peneliti hendaknya tidak hanya menggali dari satu sudut pandang saja, dalam hal ini dari sudut pandang orang Tionghoa. Dengan menambah data dari sisi warga pribumi, fenomena diskriminasi yang ingin ditangkap dapat lebih menyeluruh dan lebih objektif. C. SARAN Beberapa hal yang dapat disarankan oleh peneliti yakni : 1. Bagi Penelitian Selanjutnya Peneliti selanjutnya dapat melibatkan subjek-subjek yang latar belakang demografisnya lebih bervariasi sehingga dapat menangkap fenomena lebih luas. Selain itu, pemilihan subjek lebih baik difokuskan pada penduduk yang memang sedang berdomisili di kota Pontianak sehingga data yang didapatkan lebih sesuai dengan kondisi terkini. Selain itu, peneliti selanjutnya dapat pula meneliti diskriminasi dengan

(107) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 87 mengambil dari sudut pandang orang Tiongha dan orang pribumi, sehingga fenomena dapat digali lebih menyeluruh. 2. Bagi Masyarakat Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangsih bagi masyarakat di Indonesia akan pemahaman mereka dalam hidup bermasyarakat yang majemuk. Masyarakat hendaknya dapat semakin membuka pikiran akan perbedaan yang dimiliki setiap individu. Selain itu, dengan membuka mata akan fenomena diskriminasi ini membuat kita semakin menyadari bahwa hal ini terjadi bukan karena kesalahan satu pihak tetapi semua juga turut mendukung terpeliharanya diskriminasi di dalam masyarakat. 3. Bagi Warga Tionghoa di Indonesia Sebagai warga Tionghoa yang tinggal di masyarakat Indonesia hendaknya melalui penelitian ini mereka dapat lebih memahami akan pengalaman diskriminasi yang mereka alami. Kurangnya keterbukaan dan masih adanya prasangka serta justifikasi diskriminasi yang dilakukan terhadap warga pribumi merupakan hal-hal yang turut melestarikan adanya perilaku diskriminasi di masyarakat. Warga Tionghoa di generasi mendatang perlu menumbuhkan rasa sebagai satu bangsa dan satu tanah air untuk menciptakan situasi bermasyarakat yang lebih baik.

(108) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR PUSTAKA Creswell, J. W. (2007). Qualitative Inquiry and Research Design Choosing Among Five Approaches (ed. Ke-2). Thousand Oak, CA : Sage. Deskripsi Wilayah. (2009). Pemerintah Kota Pontianak. Diakses pada tanggal 15 Maret 2013 dari http://pontianakkota.go.id/pemkot/deskripsi.html. Diskriminasi. (2013). Wikipedia Bahasa Indonesia. Diakses pada tanggal 10 Maret 2013 dari http://id.wikipedia.org/wiki/Diskriminasi. Haryono, P. (1994). Kultur Cina dan Jawa. Pemahaman Menuju Asimilasi Kultural. Jakarta : Pustaka Sinar Harapan. Helmi, A.F. (1990). Sikap Etnosentrik pada Generasi Tua dan Muda Etnik Cina (Laporan penelitian tidak diterbitkan). Yogyakarta : Fakultas Psikologi Universitas Gajah Mada Press Hermanto, A. S. A. (2012). Identitas Warga Keturunan Cina di Jawa Tengah. (Skripsi tidak diterbitkan), Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, Indonesia. Hertz, J. C. (2003). Sekularisme dan Hak-hak Individu dalam Usaha Melawan Diskriminasi Rasial dan Etnis di Indonesia. Antropologi Indonesia, 72. Diunduh dari http://anthropology.fisip.ui.ac.id/httpdocs/jurnal/2003 Hidayat, Z. M. (1977). Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta : Aksara Baru. Husodo, S. Y. (1985). Warga Baru (Kasus Cina di Indonesia). Jakarta : Lembaga Penerbitan Yayasan Padamu Negeri. Koentjaraningrat. (2002). Manusia dan Kebudayaan di Indonesia. Jakarta. Djambatan. Liliweri, A. (2005). Prasangka dan Konflik : Komunikasi Lintas Budaya Masyarakat Multikultur. Yogyakarta, LKiS. Madyaningrum, M. E. (2010). Jurnal INSAN Vol 12 No. 01, April 2010. Diskriminasi berdasar Identitas Sosial-Budaya dan Pendidikan HAM di Indonesia dalam Perspektif Psikologi Sosial. Diunduh dari http://journal.lib.unair.ac.id/index.php/JIMP/article/view/635/637 Melly G. T. (1981). Golongan Etnis Tionghoa di Indonesia, Suatu Masalah Pembinaan Kesatuan Bangsa. Jakarta : Yayasan Obor Indonesia. 88

(109) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 89 Moleong, L. J. 2004. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung : Remaja Rosdakarya. Poerwandari, E. K. (1998). Pendekatan Kualitatif dalam Penelitian Psikologi. Jakarta : Lembaga Pengembangan Sarana Pengukuran dan Pendidikan Psikologi Fakultas Universitas Indonesia. Rahardjo. T. (2005). Kebijakan Pemerintah tentang Etnis Cina. “Dialogue” JIAKP, 2, No.2, Mei 2005 : 780-802. Diunduh dari http://ejournal.undip.ac.id/index.php/dialogue/article/view/465/345 Samovar, L.A., Porter, L.E., McDaniel, E.R. (2010). Communication Between Cultures : 7th edition. Boston : Wadsworth. Setiawan, B . (1997). Ensiklopedi Nasional Indonesia [Jilid VIII: k-Kiwi]. Jakarta : Delta Pamungkas Smith, J. A. (2009). Psikologi Kualitatif, Panduan Praktis Metode Riset. Yogyakarta : Pustaka Pelajar. Soekisman. (1975). Masalah Cina di Indonesia. Jakarta : CV. Bangun Indah. Soelistyowati & Soegondo. (2000). Diskriminasi Warga Negara & HAM. Jakarta : Komnas HAM. Suryadinata, Leo. (1984). Dilema Minoritas Tionghoa. Jakarta : Grafiti Pers. Susetyo, D.P. B. (2002). Krisis Identitas Etnis Cina di Indonesia. Jurnal Psikodimensia, 2002, Vol. 2. No. 2. Diunduh dari http://budisusetyoinside.blogspot.com/2010/01/krisis-identitas-etnis-cina.html Taylor, S.E., Peplau, L. A., & Sears, D.O. (2009). Psikologi Sosial. (ed. Ke-12). Jakarta : Kencana. Whitley, B & Kite, M. (2006). The Psychology of Prejudice and Discrimination. Canada : Thomson Wadsworth. Wibowo, I. & Thung Ju Lan. (2010). Setelah Air Mata Kering : Masyarakat Tionghoa Pasca-Peristiwa Mei 1998. Jakarta. Penerbit Buku Kompas. Wiener, I. B. & Craighead, W. E. (2010). The Corsini Encyclopedia of Psychology : D - L (ed. Ke-4/Vol. 2). Hoboken : John Wiley & Sons, Inc. Yuniartie, Mia. (2011). Peranan Media untuk Masyarakat Etnis Tionghoa Setelah Era Reformasi (Studi Kasus : Majalah Suara Baru Tahun 2000 – 2001).

(110) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 90 Jurnal Komunikasi Universitas Tarumanegara, tahun III/01/2011. Diunduh dari http://journal.tarumanagara.ac.id/index.php/FIKOM/article.

(111) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 91 LAMPIRAN

(112) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 92 VERBATIM SUBJEK 1, NOEL No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25. 26. 27. 28. 29. 30. 31. 32. 33. 34. 35. 36. 37. Judul tema Verbatim Komentar bisa ceritakan identitas dan jati dirimu? ohya… Nama Noel. Umur saya 22 tahun. Saya kelahiran Pontianak, Kalimantan Barat dan sudah tinggal di Pontianak sejak saya lahir, lalu pada saat saya kuliah saya ke Jogja. Tapi sampai sekarang rumah masih di Pontianak, kadang-kadang sekali atau dua kali setahun pulang. Orangtua juga asli Pontianak. Papa kerja di bengkel bubut, ya semacam tukang bikin mesin-mesin. Kalau mama di rumah, ibu rumah tangga. Terus apa lagi ya? Biasa di rumah berkomunikasi dengan bahasa apa? Mampu menyesuaikan Di rumah biasanya bahasa 1. Komunikasi di keluarga dengan kebiasaan Indonesia, terutama dengan bahasa tapi campurberkomunikasi di campur juga. Kalau papa Tionghoa, Indonesia masyarakat Pontianak mama pakai bahasa Chinese, 2. Memahami bahasa Tionghoa tetapi jarang bahasa Khek. Kalau kami anak-anak pakai bahasa digunakan di sehari-hari. Indonesia campur-campur logatnya, campuran logat melayu dan chinese. Makanya kalau kami anak-anak gak begitu lancar berbahasa khek. terus, kalau di keluarga masih ngejalani tradisi

(113) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 38. 39. 40. 41. 42. 43. 44. 45. 46. 47. 48. 49. 50. 51. 52. 53. 54. 55. 56. 57. 58. 59. 60. 61. 62. 63. 64. 65. 66. 67. 68. 69. 70. 71. 72. 73. 74. 75. 76. 77. Tradisi tionghoa masih dijalankan di keluarga Orangtua cukup demokratis terkait keyakinan subjek dan saudara-saudaranya Tradisi tionghoa semakin berkurang 93 chinese ga? tradisi chinese masih. 3. Dalam keluarga masih Orangtua masih menjalankan menjalankan tradisi tradisi konghucu. Semacam Konghucu, dan saudarasembayang di kelenteng 4. Subjek saudaranya masih setiap tanggal 1 dan 15 tahun menjalankan meskipun imlek, kalender lunar. Imlek, pemahaman akan tradisi sembayang kubur juga masih. Tapi yang rutin biasanya sudah berkurang, orangtua aja, kalau anak-anak 5. orangtua membebaskan bebas, kadang kalau mau ikut subjek dan saudarasembayang ya ikut, kalau gak saudaranya memilih agamanya masing-masing. ya gak apa-apa. Kalau saya sendiri kurang ngerti juga soal sembayang soalnya jarang ikut hehehe… ya sebenernya pengen juga sih supaya tau, kan sebagai orang chinese minimal harus tau lah. Tapi kadang ya, makin ke sini makin jarang, ya orangtua juga membebaskan mau pegang agamanya apa. Bisa jelaskan sedikit tentang komposisi penduduk di Pontianak kasarannya seperti apa? Masyarakat Pontianak komposisi penduduknya kalau 6. Pontianak terdiri dari beragam suku dan etnis di terdiri dari beragam di Pontianak itu banyak suku masyarakat suku didominasi etnis melayu, dayak, jawa, batak Melayu beberapa juga ada, Tionghoa, Madura juga. Kalau Tionghoa biasanya berdagang, cukup banyak ya di Pontianak. Jawa paling banyak berprofesi sebagai guru. Orang Madura biasanya supir angkot, oplet semacam itu, atau banyak juga biasanya sebagai

(114) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 78. 79. 80. 81. 82. 83. 84. 85. 86. 87. 88. 89. 90. 91. 92. 93. 94. 95. 96. 97. 98. 99. 100. 101. 102. 103. 104. 105. 106. 107. 108. 109. 110. 111. 112. 113. 114. 115. 116. 117. 94 pedagang sayur dan buah di pasar. Kalau melayu sepertinya banyak bekerja jadi pejabat di pemerintahan. Sedangkan, Dayak sepertinya juga banyak yang di pemerintahan. Rasa tidak suka antara kedua etnis secara diam-diam di masyarakat Pontianak Kesan yang kurang baik terhadap pribumi menurutmu, sejauh yang kamu lihat selama ini, hubungan antara etnis pribumi dan tionghoa di ponti itu kayak gimana? Hubungan keduanya ya biasa 7. Tidak simpati terhadap aja… kalau saya sendiri sih warga pribumi bisa dibilang ngga begitu 8. Ada hubungan baik simpati ya… hmm… gimana tionghoa-pribumi terjalin ya. Maksudnya ya saya ngga di situasi sekolah. membenci mereka, cuma sejauh ini kesannya juga banyak yang ngga begitu suka. Karena apa ya, mungkin juga kelakukan mereka kurang sopan, kadang ga tau aturan, kayak gitu… tapi kalau di sekolah justru beda, lebih santai. Enak orangorangnya. Biasanya berapa jumlahnya dari teman-teman pribumi di sekolah seperti di sekolah kamu? Jumlah, dalam satu kelas 9. Di sekolah subjek lebih biasanya ada 40 siswa, dan didominasi Tionghoa dan kebanyakan etnis Tionghoa, hanya sedikit pribumi pribumi mungkin sekitar 10 orang. Di luar sekolah?

(115) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 118. 119. 120. 121. 122. 123. 124. 125. 126. 127. 128. 129. 130. 131. 132. 133. 134. 135. 136. 137. 138. 139. 140. 141. 142. 143. 144. 145. 146. 147. 148. 149. 150. 151. 152. 153. 154. 155. 156. 157. 95 Maksudnya tentang hubungan etnis tionghoa dan pribuminya. Ya, dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat. Tionghoa-pribumi Di masyarakat, seperti 10. Di lingkungan rumah Hidup berbaur misalnya di daerah tempat subjek penduduk tionghoa tinggal saya, memang etnis & pribumi tinggal tionghoa dan pribumi tinggal berdekatan. Ada rasa tidak suka berdekatan ya. Tapi kalau 11. Ada rasa saling tidak antara tionghoa- dipikir-pikir ya dibilang akur percaya antara tionghoapribumi di lingkungan ya akur, dibilang akur sekali pribumi tempat tinggal ya gak juga. Sebagai tetangga 12. Tionghoa lebih percaya kami ya basa basi, tapi ya dengan sesama tionghoa jeleknya kami juga ada rasa gak percaya. Istilahnya ya, gini… orang tionghoa ya tetap lebih percaya dengan sesama tionghoa dibandingkan dengan orang pribumi, meskipun di sehari-hari kami biasa-biasa aja. Mungkin karena perbedaan itu ya. Saya kurang paham juga. beda gimana? Rasa tidak suka antara Beda… Ada rasa gak suka ya 13. Ada rasa curiga dari kedua etnis secara mungkin. Kalau saya sendiri tionghoa terhadap pribumi diam-diam di karena rumah saya ga 14. Tionghoa menganggap masyarakat Pontianak berdempetan langsung dengan pribumi iri tetangga jadi jarang berinteraksi langsung dengan yang pribumi. Saya merasa ada dari sikap dan perilaku mereka yang kadang suka ya mungkin semacam rasa iri ya dengan tionghoa. Ini maksudnya di masyarakat Pontianak secara umum.

(116) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 158. 159. 160. 161. 162. 163. 164. 165. 166. 167. 168. 169. 170. 171. 172. 173. 174. 175. 176. 177. 178. 179. 180. 181. 182. 183. 184. 185. 186. 187. 188. 189. 190. 191. 192. 193. 194. 195. 196. 197. Konflik antaretnis Tionghoa – pribumi di Pontianak Ada diskriminasi terhadap warga Tionghoa yang ingin berkarier di lembaga pemerintahan. 96 dari peristiwa atau kejadian-kejadian yang terjadi di masyarakat mungkin, sejauh yang pernah kamu dengar atau baca dari berita… apa pernah terjadi kejadian yang merugikan etnis tionghoa di Pontianak? Seingat saya pernah ada 15. Peraturan yang membatasi beberapa kejadian. Jadi saat perayaan capgomeh di itu perayaan capgomeh Kota Pontianak. biasanya di kota saya ada arak-arakan naga yang dimainkan di jalan-jalan 16. Ada prasangka terhadap protokol. Pada saat itu entah pribumi yang tidak senang kenapa ada larangan mungkin terhadap Tionghoa dari pemerintah, semacam larangan bahwa naga itu cuma boleh dimainkan di dalam lapangan PSP, semacam stadion untuk pertandingan sepak bola. Isu yang terdengar adalah mungkin karena ada yang pihak yang gak senang dengan terpilihnya orang tionghoa sebagai wakil gubernur, namanya Christiandy Sanjaya. Seperti itu. itu kejadian kapan? Udah lama ya? Sekitar tahun 2007 atau 2008 ya, itu saya masih SMA. Masih ada kah kejadian serupa belakangan ini? Atau setelah itu?

(117) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 198. 199. 200. 201. 202. 203. 204. 205. 206. 207. 208. 209. 210. 211. 212. 213. 214. 215. 216. 217. 218. 219. 220. 221. 222. 223. 224. 225. 226. 227. 228. 229. 230. 231. 232. 233. 234. 235. 236. 237. 97 Konflik antaretnis Kurang tahu… Sepertinya sih semakin berkurang sudah berkurang. Ada diskriminasi dalam kebebasan berekspresi, hak berkarya di lembaga pemerintahan, layanan birokrasi, pendidikan Tingkat diskriminasi dari satu daerah dan daerah lainnya berbeda Pertanyaan serupa dengan hubungan tionghoa dan pribumi di Pontianak tadi… bagaimana dengan di Indonesia secara umum? Khususnya akhir-akhir ini. kalau saya rasa sih lumayan 17. masih ada rasa tidak aman. Tapi kalau dibilang senang pribumi terhadap tionghoa yang berpolitik sangat harmonis sih belum. Contohnya ya seperti pas 18. Di Jogjakarta hubungan ahok terpilih sebagai wagub tionghoa-pribumi tidak ada jarak/berbaur Jakarta ya, kan banyak yang gak suka, lalu ngata-ngatai si ahok cina, gak layak, dan sebagainya semacam merendahkan seperti itu. Farhat Abass, Rhoma Irama… Seakan-akan warga keturunan Tionghoa gak boleh mendapatkan hak yang sama dalam membangun kemajuan negara ini. Ya itu yang terekspos ya. Terus juga kalau dibandingkan dengan keadaan saya di Jogja, seperti lebih terlihat ada jarak yang lebih dekat dan lebih berbaur antara tionghoa dengan warga lokal ya. Itu sih yang saya rasakan. kalau bergaul dengan pribumi di tempatmu pernah? terjadi Ruang sosial terjadinya Ya… pernah. Tapi paling 19. Pergaulan umumnya di sekolah sering dengan teman-teman di interaksi tionghoasekolah. Di luar itu jarang. pribumi di Pontianak

(118) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 238. 239. 240. 241. 242. 243. 244. 245. 246. 247. 248. 249. 250. 251. 252. 253. 254. 255. 256. 257. 258. 259. 260. 261. 262. 263. 264. 265. 266. 267. 268. 269. 270. 271. 272. 273. 274. 275. 276. 277. Hubungan pribumi baik dengan Kesan yang kurang baik terhadap pribumi Prasangka cenderung dipengaruhi oleh penampilan seseorang tersebut 98 kalau bisa dijelaskan lebih spesifik, bagaimana perasaan atau kesanmu terhadap mereka? Dengan teman-teman baik- 20. Hubungan subjek terhadap pribumi baik. baik aja ya. Kami juga gak pernah ada masalah. 21. Jumlah pribumi yg lebih Semuanya sama. Mungkin sedikit mempengaruhi juga karena, ya ini hanya dalam interaksi di sekolah pendapat saya ya, karena mereka juga minoritas di situ. Kalau di luar itu, saya gak 22. Di luar lingkungan sekolah, subjek merasa punya kesan langsung ya, artinya hanya berdasarkan tidak nyaman berinteraksi dengan pribumi pengamatan saya aja. Kalau di jalan, bertemu dengan supir truk, atau ya istilahnya abangabang seperti itu ya ada rasa takut dan gak nyaman. Meskipun mereka gak melakukan apapun terhadap saya, tapi entah ya rasanya kadang gak nyaman begitu. Oke, terus, apakah pernah mengalami hal yang kurang menyenangkan yang berkaitan dengan mereka? 23. Subjek belum pernah hmm… mengalami ya… mendepat pengalaman buruk dari pribumi mungkin juga bukan kamu yang mengalami langsung, mungkin orang terdekat seperti keluargamu. Kesan yang kurang Sepertinya belum ya. Saya baik terhadap pribumi juga gak ingat. Tapi pernah 24. Pribumi suka memanfaatkan kesempatan mendengar sih semacam misalnya di jalan itu kita naik untuk mendapatkan

(119) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 278. 279. 280. 281. 282. 283. 284. 285. 286. 287. 288. 289. 290. 291. 292. 293. 294. 295. 296. 297. 298. 299. 300. 301. 302. 303. 304. 305. 306. 307. 308. 309. 310. 311. 312. 313. 314. 315. 316. 317. motor atau mobil lalu secara gak sengaja menabrak atau bahkan menyerempet orang lain maksudnya ya orang pribumi begitu, karena kita chinese biasanya mereka sengaja meminta ganti rugi, meskipun mereka sama sekali gak mengalami kerugian apapun ya, seperti terluka atau kendaraannya rusak dan sebagainya. Semacam itu. 99 keuntungan dari Tionghoa kalau menurutmu, bagaimana mereka memandang orang tionghoa sendiri? Mendapat stereotip Mungkin mereka selama ini 25. Menurut subjek, pribumi negative di masyarakat masih menganggap bahwa mempersepsikan tionghoa orang tionghoa itu ya kaya, itu kaya, sombong, superior, rakus secara ekonomi mapan, jadi bagi mereka tionghoa itu sombong, merasa berkuasa, Kesan yang kurang merasa lebih dalam segala hal. Sehingga ada kalanya baik terhadap pribumi mereka yang pribumi sering mencari kesempatan untuk dapat keuntungan dari orang tionghoa. Dan saya pernah membaca dari sebuah buku yang bagi saya itu penulisnya gak jelas dan isinya sangat gak berdasar, ia menulis banyak sekali kalimat yang menyatakan bahwa tionghoa itu merugikan orang pribumi dalam banyak hal dan orang tionghoa itu rakus, dan sebagainya, hal-hal semacam itu.

(120) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 318. 319. 320. 321. 322. 323. 324. 325. 326. 327. 328. 329. 330. 331. 332. 333. 334. 335. 336. 337. 338. 339. 340. 341. 342. 343. 344. 345. 346. 347. 348. 349. 350. 351. 352. 353. 354. 355. 356. 357. 100 Pernah merasa bahwa anda mendapatkan perlakuan berbeda dari kaum pribumi? perlakuan berbeda… ya mungkin kayak ada perlakuan gak adil, gak mendapatkan kesempatan yang sama seperti warga yang lainnya... semacam itu. apa ya… ga deh kayaknya. 26. Subjek belum pernah mengalami diskriminasi Atau mungkin kurang secara langsung menyadari ya. Saya sendiri belum mengalami langsung, 27. Interaksi dengan pribumi kurang sehingga ya mungkin itu tadi karena kurang interaksi juga. Kalau meminimalisir ya mungkin seperti orang diskriminasi tionghoa lebih susah untuk 28. Diskriminasi di bidang masuk ke dunia politik ya. politik Kalau birokrasi, saya kurang paham. Kalau pendapatmu kenapa, kan sepertinya, bukan sepertinya, tadi yang kamu bilang mereka mempersepsikan bahwa orang chinese itu sombong, begitu… kalau kamu sendiri berpendapat orang chinese sendiri bagaimana? Tionghoa eksklusif dan secara objektif memang 29. Subjek melihat tionghoa punya prasangka terkadang orang tionghoa itu superior dalam hal materi terhadap negatif terhadap ada sifat suka sombong, 30. Prasangka menyombongkan diri, pribumi pribumi masih ada biasanya dari segi materiil. 31. Tionghoa kurang mau Ya, terlalu menonjolkan beradaptasi kekayaan semacam itu. Dan

(121) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 358. 359. 360. 361. 362. 363. 364. 365. 366. 367. 368. 369. 370. 371. 372. 373. 374. 375. 376. 377. 378. 379. 380. 381. 382. 383. 384. 385. 386. 387. 388. 389. 390. 391. 392. 393. 394. 395. 396. 397. kalau dibilang kurang percaya dengan orang pribumi, iya. Mungkin ada trauma Menganggap diskriminasi di tersendiri ya karena selama ini masyarakat adalah hal kan orang chinese seperti yang lumrah dianggap minoritas, ya diskriminasi, didiskriminasikan, meskipun sekarang orang chinese lebih bebas, ada kesamaan hak sebagai warga negara… tapi ya namanya kecurigaan, biarpun gak terlihat jelas tapi masih ada. Ohya… dan mungkin karena seperti orang tionghoa kurang ada tenggang rasa juga ya sepertinya. Terutama di pontianak. Contohnya dalam hal cara bicara, di tempat umum, kadang berbicara sesama teman dengan bahasa tionghoa padahal di sekitarnya ada orang lain. Seingat saya saat saya sekolah dulu pernah diajarkan untuk menghargai orang lain di sekitar kita seperti bila di tempat umum bicaralah dengan bahasa Indonesia. seperti itu. terakhir mungkin, pendapatmu pribadi terhadap e… cara untuk menghadapi. Eh… bukan deh, mungkin semacam pendapatmu tentang hubungan tionghoa dengan pribumi yang seperti sudah 101

(122) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 398. 399. 400. 401. 402. 403. 404. 405. 406. 407. 408. 409. 410. 411. 412. 413. 414. 415. 416. 417. 418. 419. 420. 421. 422. 423. 424. 425. 426. 427. 428. 429. 430. 431. 432. 433. 434. 435. 436. 437. 102 kamu ceritakan tadi semua bagaimana? Ya, saya rasa diskriminasi, 32. Subjek menerima bahwa Menganggap diskriminasi adalah hal diskriminasi di rasa gak suka terhadap masyarakat adalah hal golongan lain itu ada di manayang lumrah di masyarakat yang lumrah mana ya, dan itu semacam 33. Subjek menginginkan watak alami manusia itu kebebasan dalam sendiri ketika mereka hidup menjalani kehidupan berkelompok. Bagi saya sih, sebagai tionghoa kalau saya bermimpi bahwa 34. Subjek menghindari sikap dunia ini, negara ini bisa suatu rasisme saat gak ada lagi diskriminasi itu agak terlalu muluk-muluk ya. Untuk saat ini, ya saya sebagai seorang tionghoa yang tinggal dan juga lahir di Indonesia dengan bisa menjalani kehidupan saya dan menjadi diri saya sebagaimana adanya bahwa saya ini orang tionghoa yang juga punya identitas budaya tersendiri, itu sudah cukup. gak ada lagi provokasiprovokasi berbau SARA, Menghindari diskriminasi dan seperti itu. Dan juga saya rasa setiap orang juga perlu rasisme menyadari bahwa kita gak perlu juga menggubris orangorang yang perilakunya mengarah ke rasisme, dan juga kita gak perlu lah jadi orang yang suka menyombongkan ataupun meninggikan golongan kita, begitu. Itu sudah cukup. Kamu sendiri sebagai warga Pontianak apakah termasuk orang yang pemilih dalam

(123) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 438. 439. 440. 441. 442. 443. 444. 445. 446. 447. 448. 449. 450. 451. 452. 453. 454. 455. 456. 457. 458. 459. 460. 461. 462. 463. 464. 465. 466. 467. 468. 469. 470. 471. 472. 473. 474. 475. 476. 477. Menerima kemajemukan dalam hidup di masyarakat Prasangka cenderung dipengaruhi oleh penampilan seseorang tersebut 103 hal bergaul? Misalnya kamu lebih suka ngobrol/main bareng sama yang tionghoa aja atau gimana? Kalau aku sih, dibilang 35. Dalam pergaulan/interaksi, pemilih engga, karena di subjek cenderung tidak sekolah juga kan tadi aku melihat dari etnis. bilang sama teman-teman yang dayak, apa batak juga kita becanda bareng dan seruseru aja, sama kayak dengan yang lainnya. Tapi kalau dengan, … mungkin kalau aku liat lebih ke sikapnya mereka juga ke aku gimana. Aku pikir sih mungkin beda ya di sekolah sama di lingkungan di jalanan, itu orang yang ada di sekolahku mungkin lebih terbiasa dengan kami yang tionghoa dan lebih terpelajar juga. Tapi kalau di luaran sana kan biasanya kayak sopir oplet, atau bibi-bibi yang di pasar, atau juga mereka yang kurang berbaur dengan tionghoa mungkin lebih ga bersahabat buat aku. Jadi kadang ngerasa ga nyaman juga. Ya liat-liat orangnya juga, aku rasa kita semua biasa juga pasti menilai orang dari penampilannya kan. Berarti dalam hal berinteraksi di masyarakat, apakah dengan adanya beberapa pihak yang masih

(124) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 478. 479. 480. 481. 482. 483. 484. 485. 486. 487. 488. 489. 490. 491. 492. 493. 494. 495. 496. 497. 498. 499. 500. 501. 502. 503. 504. 505. 506. 507. 508. 509. 510. 511. 512. 513. 514. 515. 516. 517. Diskriminasi di masyarakat tidak mempengaruhi minat untuk terlibat dalam interaksi dengan pribumi 104 suka mendiskriminasi tionghoa, kamu merasakan gimana? Apakah ada rasa segan, sungkan dengan mereka yang pribumi? Hmm… rasa sungkan engga 36. Subjek tidak sih ya… Kalau mereka menggeneralisasi bahwa welcome ya saya juga dengan semua pribumi akan senang hati ngobrol atau mendiskriminasi tionghoa berteman bahkan ya… saya rasa engga sampai sejauh itu kesimpulannya kalau dalam hal ini. Ga semata-mata semua orang pribumi yang saya temui kan bakal mendiskriminasi saya. Tapi apakah ada inisiatif untuk memulai komunikasi terlebih dahulu? Inisiatif ya… kalau aku rasa 37. Subjek ada rasa ragu untuk Prasangka cenderung sih hal semacam itu masih di memulai interaksi dengan pribumi dipengaruhi oleh awalnya ya pasti masih ada penampilan seseorang rasa ragu hehe… tapi tetap aja 38. Inisiatif untuk tersebut sih, aku berusaha engga berinteraksi/komunikasi membenci orang atau dengan pribumi cenderung menjauhi orang hanya karena dipengaruhi oleh kesan mereka itu pribumi. kan liat yang ditampilkan dari tampangnya juga. Kalau sinis, ga tampangnya bersahabat ya gimana kita berani dekatin. Hehehe Terus… ohya, ini agak melompat dikit ya, hehe… dalam hal apa aja sih biasanya, di masyarakat Pontianak, di kehidupan sehari-hari lah, biasanya

(125) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 518. 519. 520. 521. 522. 523. 524. 525. 526. 527. 528. 529. 530. 531. 532. 533. 534. 535. 536. 537. 538. 539. 540. 541. 542. 543. 544. 545. 546. 547. 548. 549. 550. 551. 552. 553. 554. 555. 556. 557. 105 tionghoa dan pribumi banyak berinteraksi, atau berkomunikasi, gitu? Seringnya sih… dalam hal 39. Interaksi tionghoa-pribumi Ruang sosial terjadinya dagang, maksudnya jual beli. di Pontianak umunya interaksi tionghoa- Terus, birokrasi, urusan surat terjadi dalam urusan pribumi di Pontianak surat penting itu. Terus, apa dagang dan birokrasi. ya… Dengan tetangga? Basa basi gitu apa jarang ya? Tetangga sih kalau aku sendiri 40. Di lingkungan subjek, Ada interaksi jarang, hehe… tapi mama masih sering terjadi Tionghoa-pribumi di atau papa itu masih ada, kontak/interaksi/komunika lingkungan tempat beberapa yang mereka kenal, si antara tionghoa dan tinggal pribumi karena mereka kan udah lama tinggal di situ, ada yang mereka udah kenal lama jadi masih nyapa, ngobrolngobrol… soalnya sering juga kan kalau suka jalan-jalan misalnya kayak ke pasar, atau jalan-jalan sore, ketemu ibu yang ini bapak yang itu ya nyapa. Pernah ga selama di sana kamu diejek karena kamu itu cina? Ga ingat sih, tapi kalau sikap 41. Subjek pernah menemukan adanya ejekan-ejekan tidak Diejek sebagai orang orang pribumi yang ga suka Tionghoa sama chinese kayak mengejek langsung yang diberikan gitu aku pernah menemukan. pribumi terhadap tionghoa. Dulu waktu masih kecil, ada aja bahkan itu beberapa guru yang suka dengan gak langsung merendahkan orang cina, tapi dulu masih kecil kan ga ngerti apa-apa, ga diingetinget terus juga, jadi ya gitu…

(126) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 558. 559. 560. 561. 562. 563. 564. 565. 566. 567. 568. 569. 570. 571. 572. 573. 574. 575. 576. 577. 578. 579. 580. 581. 582. 583. 584. 585. 586. 587. 588. 589. 590. 591. 592. 593. 594. 595. 596. 597. 106 ga notice. Apa yang dirasakan menjadi seorang warga keturunan Tionghoa di Indonesia? ada rasa bangga kah, atau nyesel, sebel, hehehe… contoh doank. Iya gimana? Hehe… nyesel gimana, 42. Subjek merasakan adanya Menikmati sebagai apanya yang mau disesali. kenyamanan menjadi warga Indonesia Enakan tinggal di Indonesia warga Indonesia kali haha… cari uang 43. Subjek cenderung tidak gampang, kesempatan kerja menggubris adanya pihakbesar. Ya, kalau dibilang pihak yang melakukan bangga sih engga juga, ga bisa diskriminisi / rasisme dibilang bangga. Tapi ya meskipun banyak kejadian sehari-hari bertemu hal-hal yang ngga enak tentang hubungan dengan mereka yang pribumi, tapi saya akui sekarang saya merasa jauh beruntung ya, sekarang hidup udah enak. Tionghoa juga lebih bebas, ga kayak jaman soeharto dulu seperti yang diceritain orang-orang tua kita. Ngapain pusingin orangorang yang masih rasis sama orang cina, kalau kita udah berusaha bikin enak hidup kita sendiri kenapa harus Menghindari sikap peduliin orang-orang yang rasisme dan yah istilahnya mereka yang diskriminasi rasis itu ‘ga punya otak’ ya, haha. Mereka itu rasis ya masalah mereka deh. Kita jangan ikut-ikutan rasis sama orang yang ga rasis, ga jahat

(127) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 598. 599. 600. 601. 602. 603. 604. 605. 606. 607. 608. 609. 610. 611. 612. 613. 614. 615. 616. 617. 618. 619. 620. 621. 622. 623. 624. 625. 626. 627. 628. 629. 630. 631. 632. 633. 634. 635. 636. 637. 107 sama kita. Gitu aja… orang kita mau berkembang kok, mereka rasis terus ya ga bisa berkembang kan. Hehe… Oke, sipsip… terus… ada gak peran orang tua dalam mengajarkan tentang identitas sebagai orang keturunan Tionghoa? Ada. Orangtua termasuk 44. Orangtua subjek Ada peran orangtua keras dalam mendidik anakmengajarkan tentang kerja dalam membentuk anaknya, dan pekerja keras keras, kemampuan identitas dan sikap juga ya… aku rasa mereka itu mengelola keuangan, dan adaptasi dengan budaya sebagai tionghoa seperti itu masih bawaan leluhur saya dari Cina haha… setempat. mungkin ya, mungkin… haha. Karena di Cina setau saya, situasi dan kehidupan di sana keras, kayak yang ya contohnya aja aku pernah kenal sama orang Cina. Dia guruku les bahasa mandarin, dan sangat ketat kalau di kelas. Ga masuk les aja ditanyain, ketawa di kelas aja diomelin. Bahkan dia cerita bahwa dia dari dulu kalau sekolah, sakit dikit ya tetap berangkat sekolah. Kalau bisa dibandingin sama guru les lainnya yang bukan asli, bukan native itu kan beda banget. Ga ada disiplinnya juga kadang. Ya itu… mungkin aja hehe, saya punya asumsi kayak gitu. Jadi banyak orang cina bisa survive di mana-mana karena mereka mampu menghadapi

(128) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 638. 639. 640. 641. 642. 643. 644. 645. 646. 647. 648. 649. 650. 651. 652. 653. 654. 655. 656. 657. 658. 659. 660. 661. 662. 663. 664. 665. 666. 667. 668. 669. 670. 671. 672. 673. 674. Pandangan orangtua 675. bahwa tionghoa lebih 676. baik daripada pribumi 677. 108 persaingan yang keras. Ohya tapi soal dagang sih jujur saya ga jago haha. Soalnya bukan keluarga pedagang. Dan mm… apa ya… soal cina itu pelit, engga banget, itu salah… kalau aku bilang cina itu memang ada yang pelit, bahkan sama keluarganya sendiri aja pelit. Tapi orangtuaku engga pernah ngajarin pelit, Cuma lebih berhati-hati dalam membuat pengeluaran, begitu. Terus… apa lagi ya… ohya, soal bahasa chinese, jujur juga aku ga gitu sering ngomong bahasa chinese, dari kecil aku ga ngomong bahasa chinese selalu pake bahasa Indonesia kalau ngomong dengan siapapun. Kan ingat kata bu guru waktu masih kecil, gunakan bahasa Indonesia di tempat umum. Hehe… Terus, ada gak, atau pernah gak orangtua mengajarkan tentang adanya perbedaan antara Tionghoa dan pribumi? misalnya kayak “orang tionghoa itu bla bla, beda sama orang pribumi…”. Pernah. Sampai sekarang 45. Orangtua subjek masih hehe… aku sih wajar mengajarkan adanya aja mereka ngomong begitu, perbedaan antara tionghoa karena rata-rata orangtua itu dan pribumi menurutku punya cara pikir 46. Menurut orangtua subjek,

(129) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 678. 679. 680. 681. 682. 683. 684. 685. 686. 687. 688. 689. 690. 691. 692. 693. 694. 695. 696. 697. 698. Menghindari 699. angkuh 700. tionghoa 701. 702. 703. 704. 705. 706. 707. 708. 709. 710. 711. 712. 713. 714. 715. 716. 717. yang saklek, susah diubah. Bagi mereka tu chinese lebih baik daripada pribumi. Chinese itu punya masa depan yang prospektif daripada pribumi, chinese itu pinter ngelola uang kalau pribumi tu ya biasanya karena ga pinter dagang atau make uang. Misalnya punya uang dikit terus langsung dihabisin atau dipake untuk apa, gitu, ngga diinvestasiin dulu. Ya sampe sekarang juga gitu… masih sering ngomong begitu. 109 tionghoa lebih baik dalam segi pengelolaan keuangan dibanding pribumi. Terus kamu nanggapinya gimana? Menurut kamu gimana? Aku kadang malah sampe 47. Subjek cenderung tidak sikap berdebat hehe… sampe tak menghiraukan opini sebagai pikir-pikir percuma juga orangtua mengenai perbedaan tionghoa dan berdebat sama orangtua. Yang ada malah dibilang kurang pribumi tersebut. ajar. Hehe Ya aku sih orang udah dewasa juga, lagipun era kita kan beda dengan era mereka. Lingkungan kita juga beda dengan lingkungan mereka. Percuma sekolah tinggitinggi, punya pendidikan bagus tapi ga bisa memilih mana ajaran yang baik dan kurang baik. Hehe… jangan sampe lah, kita ikutin ajaran yang ga baik. Hehe. Aku sih yakin, orang udah gede pasti bisa bedain yang baik dan ngga.

(130) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI TABEL TEMA-TEMA SUBJEK 1, NOEL Noel Hubungan Antaretnis Tionghoa-Pribumi Di Pontianak Lingkungan tempat tinggal a. Tionghoa-pribumi hidup berbaur b. Ada interaksi Tionghoa-pribumi di lingkungan tempat tinggal c. Ada keseragaman tingkat ekonomi di lingkungan rumah d. Ada rasa tidak suka antara tionghoa-pribumi di lingkungan tempat tinggal Lingkungan masyarakat Pontianak a. Masyarakat Pontianak terdiri dari beragam suku didominasi etnis Melayu b. Ruang sosial terjadinya interaksi tionghoapribumi di Pontianak c. Rasa tidak suka antara kedua etnis secara diamdiam di masyarakat Pontianak d. Konflik antaretnis Tionghoa – pribumi di Pontianak e. Konflik antaretnis semakin berkurang f. Ada diskriminas idalam layanan birokrasi g. Mendapat stereotip negative di masyarakat h. Ada harapan di masyarakat Pontianak hubungan antara kedua etnis semaki nbaik Di dalam kehidupan bernegara a. Ada diskriminasi dalam kebebasan berekspresi, hak berkarya di lembaga pemerintahan, layanan birokrasi, pendidikan b. Masih ada prasangka antara tionghoa dan pribumi di masyarakat Indonesia c. Tingkat diskriminasi dari satu daerah dan daerah lainnya berbeda d. Kecurigaan antara kedua etnis dikarenakan ada latar belakang sejarah dan rasa enggan utk berbaur e. Ada justifikasi diskriminasi dari tionghoa ke pribumi 123 – 127 529 – 542 127 – 141 66 – 84 234 – 236, 521 – 525 145 – 157 168 – 181 198 – 199 295 – 301 - 207– 223 223 – 229 - - 110

(131) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Pengalaman Sebagai Warga Keturunan Tionghoa Di Masyarakat Pembentukan identitas ketionghoaan di dalam keluarga a. Tradisi tionghoa masih dijalankan di keluarga 39 – 45 b. Tradisi tionghoa semakin berkurang 50 – 60 c. Ada peran orangtua dalam membentuk identitas 608 – 663 dan sikap sebagai tionghoa d. Pandangan orangtua bahwa tionghoa lebih baik 679 – 692 daripada pribumi Pengalaman hidup di masyarakat Pontianak a. Hubungan dengan pribumi baik b. Mampu menyesuaikan dengan kebiasaan berkomunikasi di masyarakat Pontianak c. Diejek sebagai orang Tionghoa d. Menerima kemajemukan dalam hidup di masyarakat e. Diskriminasi di masyarakat tidak mempengaruhi minat untuk terlibat dalam interaksi dengan pribumi f. Prasangka cenderung dipengaruhi oleh penampilan seseorang penjegalan di dalam event g. Mengalami perlombaan h. Kesan yang kurang baik terhadap pribumi i. Menilai cenderung pada pribadi Pendangan terhadap in-group a. Tionghoa sebagai kelompok yang solid b. Tionghoa eksklusif dan punya prasangka negatif terhadap pribumi Sikap sebagai warga negara a. Menghindari sikap rasisme dan diskriminasi b. Menganggapdiskriminasi di masyarakat adalah hal yang lumrah c. Rasa bangga sebagai keturunan tionghoa d. Kerugian berasal dari ketidaksukaan yang didapat dari warga pribumi e. Menikmati sebagai warga Indonesia 244 – 247 24 – 34 547 – 558 443 – 450 483 – 493 254 – 262, 450 – 472, 501 – 509 92 – 99 351 – 359 586 – 601, 697 – 717 356 – 364, 400 – 411 567 – 586 111

(132) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 112 VERBATIM SUBJEK 2, LE No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25. 26. 27. 28. 29. 30. 31. 32. 33. 34. 35. 36. 37. Judul tema Verbatim Bisa ceritakan tentang dirimu? Saya anak pertama dr 3 bersaudara. Punya 2 adik perempuan, yang satu umur 15, yang satu lagi 12. Saya ngekos sendiri di jakarta sejak kuliah, keluarga masih di Pontianak. Ayah dan ibu wiraswasta. Pendidikan terakhir mrk SMA. Usia 41 dan 42 tahun. Ibu agama katolik, ayah Buddha. Saya KTP katolik tapi belum dibaptis. Adek saya identitas katolik dua-duanya, tapi juga belum dibaptis. Apa lagi ya? Komentar Pendidikan dan usia. Pendidikan terakhir saya S1 psikologi. Usia 22 tahun. Status single but ready to mingle. sip.... kebiasaan atau tradisi di rumah sebagai orang chinese masih dijalanin ga? menjalankan Tradisi tionghoa masih udah berkurang, tapi masihlah, 1. Masih tradisi utama tionghoa dijalankan di keluarga makan bareng, terus kayaknya ada sembahyang kubur meskipun tidak rutin walaupun 7 Tradisi tionghoa tahun belakangan ga serutin semakin berkurang dulu Hanya itu? Tradisi tionghoa masih yang termasuk tradisi apalagi dijalankan di keluarga ya? karena udah kebiasaan jadi ya kayak kebiasaan keluarga sih terus imlekan sih masih, malam

(133) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 38. 39. 40. 41. 42. 43. 44. 45. 46. 47. 48. 49. 50. 51. 52. 53. 54. 55. 56. 57. 58. 59. 60. 61. 62. 63. 64. 65. 66. 67. 68. 69. 70. 71. 72. 73. 74. 75. 76. 77. 113 imlek makan bareng keluarga, terus imleknya ke rumah saudara-saudara Bahasa yang biasanya digunakan sehari-hari selama kehidupan di Ponti apa? maksudnya dirimu. Mampu menyesuaikan Kalau di Pontianak sih tiociu, 2. Menggunakan bahasa dengan kebiasaan atau Indonesia. Bahasa melayu ibu dan bahasa lokal berkomunikasi di juga iya. sehari-hari masyarakat Pontianak oke, terus bagaimana deskripsi tentang komposisi penduduk di Pontianak? Masyarakat Pontianak yang utama Melayu, mungkin 3. Pontianak terdiri dari terdiri dari beragam 50% atau lebih,terus tionghoa, berbagai suku yang didominasi bangsa suku didominasi etnis dayak, baru suku-suku lain Melayu seperti jawa, bugis, madura dan Melayu lainnya. Kalau sekolahan biasa 4. Sekolah negeri suku lain-lain seperti tionghoa, didominasi melayu dayak dan jawa di sekolah 5. Sekolah swasta dominasi tionghoa, dayak, jawa swasta. Sekolah negeri kebanyakan terdiri dari suku melayu tetapi sekolah seperti SMK lebih tercampur. Beberapa tahun ini sudah banyak dari suku melayu yang di sekolah swasta juga Gimana hubungan antar warga yang pribumi dengan tionghoa di sana? Rasa tidak suka antara Kadang masih ada konflik, 6. Masih ada prasangka kedua etnis secara seperti beberapa tahun lalu diam-diam antara diam-diam di perayaan cap go meh tionghoa-pribumi masyarakat Pontianak berbarengan dengan hari raya 7. Ada perseturuan di masyarakat akibat maulid nabi. Tingkat persaingan perbedaan SARA maupun rasa saling tidak suka sepertinya cukup tinggi, 8. Tionghoa ekslusif

(134) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 78. 79. 80. 81. 82. 83. 84. 85. 86. 87. 88. 89. 90. 91. 92. 93. 94. 95. 96. 97. 98. 99. 100. 101. 102. 103. 104. 105. 106. 107. 108. 109. 110. 111. 112. 113. 114. 115. 116. 117. 114 walaupun tidak selalu ditunjukkan dengan terangterangan. Teman-teman saya yang tionghoa juga masih banyak yang kurang mau bergaul dengan pribumi. Sedangkan teman-teman saya yang pribumi, yah, mereka berteman dengan saya. Sedangkan dengan pribumi yang tidak berteman dengan saya, tidak banyak saya ketahui pendapat mereka. Secara umum yang saya ketahui, antar warga tionghoa dengan dayak cukup akur, sedangkan dengan warga melayu ataupun madura kurang akur walaupun tidak bermusuhan terang-terangan pula ya. Dalam kesempatan apa saja orang pribumi dan tionghoa biasanya bertemu atau berkomunikasi paling banyak di dalam masyarakat, khususnya di pontianak? tionghoaRuang sosial Urusan dagang maupun 9. Interaksi terjadinya interaksi hubungan dengan pemerintahan pribumi paling banyak tionghoa-pribumi di ya saya rasa. Pedagang besar lewat dagang dan umumnya tionghoa, pedagang Pontianak administrasi/birokrasi kecil maupun yang bekerja di pemerintahan umumnya dari pribumi walaupun tidak selalu demikian Konflik konflik yang disebutin tadi itu bisa diceritakan seperti apa kejadiannya? antaretnis Waktu itu saya tidak di

(135) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 118. 119. 120. 121. 122. 123. 124. 125. 126. 127. 128. 129. 130. 131. 132. 133. 134. 135. 136. 137. 138. 139. 140. 141. 142. 143. 144. 145. 146. 147. 148. 149. 150. 151. 152. 153. 154. 155. 156. 157. 115 Tionghoa – pribumi di Pontianak dan hanya mengikuti dari forum maupun website Pontianak kompas dan tv. Tapi yang saya tahu adalah ketika itu ada arakarakan pawai naga yang berpapasan dengan rombongan warga yang merayakan maulid nabi, lalu entah bagaimana terjadi waktu itu saya tidak di Pontianak dan hanya mengikuti dari forum maupun website kompas dan tv. Tapi yang saya tahu adalah ketika itu ada arakarakan pawai naga yang berpapasan dengan rombongan warga yang merayakan maulid nabi, lalu entah bagaimana terjadi kejadian tahun berapa? Kejadian tahun 2010 Kecurigaan antara kedua etnis dikarenakan ada latar belakang sejarah dan rasa enggan utk berbaur bagaimana dirimu melihat hubungan antar etnis ini, tionghoa & pribumi, di Indonesia secara umum? maksudnya, pertanyaannya sama dengan yang tadi tapi dilihat secara umum di Indonesia. Menyedihkan ya, mereka tidak 10. Masih ada prasangka mau belajar dari sejarah bahwa karena ketidakpahaman akar permasalahan mereka akan latar belakang sejarah karena diadu domba, mereka tidak ingat bahwa awal 11. Ekslusivisme tionghoa terhadap kelompoknya pertemuan mereka itu berawal dari perbuatan-perbuatan serta itikad baik, hubungan dagang, hubungan kebudayaan bahkan pernikahan. Di berbagai daerah

(136) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 158. 159. 160. 161. 162. 163. 164. 165. 166. 167. 168. 169. 170. 171. 172. 173. 174. 175. 176. 177. 178. 179. 180. 181. 182. 183. 184. 185. 186. 187. 188. 189. 190. 191. 192. 193. 194. 195. 196. 197. Masih ada prasangka antara tionghoa dan pribumi di masyarakat Indonesia 116 mereka masih saling menjaga jarak, padahal dahulu begitu dekat sampai banyak budaya yang jika kita telusuri merupakan perpaduan budaya tionghoa dengan budaya lokal. Saya rasa semakin lama hubungan antara tionghoa dengan pribumi di indonesia memang semakin baik, akan tetapi masih banyak yang harus diperbaiki seperti kalangan tionghoa yang cenderung eksklusif, kemanapun pergi ingin berkumpul dengan sesama tionghoa dan kurang mau berbaur dengan kaum lainnya. Juga kaum pribumi yang terkadang pemikirannya hanya jangka pendek dan mudah curiga. Secara umum ya, antara pribumi dan tionghoa memang berjarak dan saling curiga, tetapi pendidikan bahwa semua itu setara harus lebih ditingkatkan, rasa cinta tanah air indonesia itu sangat-sangat kurang, masing-masing sibuk dengan bangga akan kelompoknya sendiri kesempatan bagi setiap warga khususnya kepada tionghoa dari pemerintah apa menurut anda sudah setara / adil? baik di pontianak ataupun di Indonesia. Ada diskriminasi Kalau ketidakadilan berlaku 12. Ada diskriminasi dalam kebebasan untuk semua warga, bukankah terhadap tionghoa yang ingin berkarir di lembaga berekspresi, hak hal tersebut jadinya adil?

(137) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 198. 199. 200. 201. 202. 203. 204. 205. 206. 207. 208. 209. 210. 211. 212. 213. 214. 215. 216. 217. 218. 219. 220. 221. 222. 223. 224. 225. 226. 227. 228. 229. 230. 231. 232. 233. 234. 235. 236. 237. 117 berkarya di lembaga Berapa banyak tionghoa yang negara pemerintahan, layanan bisa bekerja di pemerintahan, 13. Tionghoa melakukan kepolisian, TNI, PNS dan birokrasi, pendidikan diskriminasi thd pribumi semacamnya? Saya rasa tidak banyak, dipersulit dengan berbagai cara. Begitu pula Ada justifikasi dengan pribumi yang ingin di perusahaandiskriminasi dari bekerja tionghoa ke pribumi perusahaan milik tionghoa, banyak saya dengar dari temanteman saya yang sudah bekerja maupun relasi, bahwa banyak diskriminasi terhadap non tionghoa. Atau terkadang non tionghoa memang tidak dipersulit, akan tetapi untuk etnis tionghoa dipermudah. kembali ke situasi di pontianak, selama tinggal di pontianak punya kesan apa terhadap pribumi di sana? pernah mengalami peristiwa atau kejadian yang berkesan? boleh kesan yang baik atau buruk. Baru minggu lalu saya pulang 14. Subjek punya pengalaman baik dengan pontianak, ketika di perempatan pribumi lampu merah, saat itu lampu masih berwarna hijau, motor di 15. Lewat pengalaman tersebut subjek melihat depan saya ingin menerobos dan saya mengikuti ada perubahan di akan tetapi lampu berubah masyarakat ke arah yang Kesan yang baik merah dan dia mengerem lebih positif, terhadap warga mendadak, saya pun mengerem berkurangnya pribumi pontianak akan tetapi karena terlalu laju, diskriminasi motor saya sedikit 16. Subjek menjalin menyerempet motornya. silaturahmi yang baik Pengendara motor tersebut dengan para seorang wanita pribumi yang karyawannya yang rata-

(138) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 238. 239. 240. 241. 242. 243. 244. 245. 246. 247. 248. 249. 250. 251. 252. 253. 254. 255. 256. 257. 258. 259. 260. 261. 262. 263. 264. 265. 266. 267. 268. 269. 270. 271. 272. 273. 274. 275. 276. 277. Ada harapan di masyarakat Pontianak hubungan antara kedua etnis semakin baik Tionghoa-pribumi hidup berbaur Hubungan pribumi baik dengan Ada interaksi Tionghoa-pribumi di lingkungan tempat tinggal menoleh lalu marah-marah kepada saya walaupun saya perhatikan motornya tidak lecet maupun terbaret. Saya meminta maaf berulang kali akan tetapi tidak digubris. Lalu ada seorang pengemudi motor lainnya yang menyaksikan, ikut membela saya dan mengatakan bahwa pengendara motor wanita tersebut juga salah dan tidak perlu memarahi saya sampai sedemikian rupa. Pengendara motor yang membela saya seorang pribumi laki-laki. Ketika saat itu saya merasa bahwa ya, masih ada harapan bahwa rasisme di Pontianak bisa berkurang bahkan mudahmudahan bisa terhapus, bahwa suatu kejadian salah adalah salah dan benar adalah benar tidak memandang siapa pelakunya. Selain itu, keluarga saya memiliki toko dan kebanyakan karyawannya adalah pribumi. Saya sendiri merasa cukup nyaman dengan keberadaan mereka, tidak membeda-bedakan, bahkan setelah mereka tidak bekerja lagi, masih menjalin hubungan baik dengan keluarga kami, walaupun tidak semua demikian. Akan tetapi itu cukup bagi saya bahwa tanpa ikatan pekerjaan pun mereka mau bergaul dengan etnis yang berbeda. Terkadang mereka mengantarkan kue atau 118 rata adalah pribumi

(139) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 278. 279. 280. 281. 282. 283. 284. 285. 286. 287. 288. 289. 290. 291. 292. 293. 294. 295. 296. 297. 298. 299. 300. 301. 302. 303. 304. 305. 306. 307. 308. 309. 310. 311. 312. 313. 314. 315. 316. 317. 119 makanan lain bahkan saat mereka sudah tidak bekerja di tempat kami lagi. ada lagi ? saya rasa saat ini hanya itu yang teringat oleh saya. dalam hal birokrasi biasanya menjadi hal yang paling dilematis untuk orang tionghoa di Indonesia, kalau di Pontianak sendiri bagaimana? apakah ada pembedaan antara 17. Kemudahan dalam hal etnis tionghoa dan pribumi saya birokrasi didapat dengan biaya tambahan kurang yakin, yang pasti ada uang segalanya menjadi lebih mudah… Masih ada prasangka tertentu kah yang diberikan orang tionghoa terhadap pribumi di pontianak? Rasa tidak suka antara Masih, sebagian teman saya 18. Di Pontianak, kedua etnis secara masih kurang mau bergaul masih diam-diam di dengan pribumi. Bahkan tidak prasangka masyarakat Pontianak hanya bergaul, memiliki rekan kerja pribumi saja terkadang pribumi mereka masih memiliki prasangka-prasangka yang kurang baik masyarakat Tionghoa menyimpan terhadap memangnya kenapa ya... menurut dirimu apa sih yang membuat beberapa orang kurang nyaman dengan pribumi di sana? Prasangka tionghoa- Bawaan manusia yang 19. Eksklusivisme tionghoa lebih nyaman 20. Sejarah yang kurang baik pribumi disebabkan cenderung

(140) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 318. 319. 320. 321. 322. 323. 324. 325. 326. 327. 328. 329. 330. 331. 332. 333. 334. 335. 336. 337. 338. 339. 340. 341. 342. 343. 344. 345. 346. 347. 348. 349. 350. 351. 352. 353. 354. 355. 356. 357. keengganan berbaur. untuk bergaul dengan yang memiliki kemiripan semirip mungkin dengan dirinya. Serta dampak dari masa lalu dimana antara tionghoa dan pribumi dipisahkan oleh penjajah yang diteruskan pada zaman orde baru. Etnis tionghoa dan pribumi dipisahkan sedemikian rupa agar saling curiga dan tidak berbaur, dampaknya masih terjadi sampai sekarang 120 antara pribumi dengan tionghoa kalau dirimu sendiri memandang etnis chinese di sana seperti apa? Tionghoa eksklusif eksklusif dan kurang mau 21. Tionghoa sebagai dan punya prasangka membaur. kelompok yang eksklusif negatif terhadap Masih berprasangka negatif dan berprasangka pribumi terhadap pribumi secara general terhadap pribumi bagaimana kamu melihat hubungan antar kedua etnis ini... ya... mungkin tentang apa bagaimana kamu sebagai etnis tionghoa sendiri menyikapi hal ini.. saya masih berharap bahwa di 22. Harapan bahwa Ada harapan di masa yang akan datang etnis tionghoa-pribumi dapat masyarakat Pontianak tionghoa bisa lebih menghargai saling menghargai di hubungan antara kedua pribumi, juga pribumi bisa lebih masyarakat etnis semakin baik menerima etnis tionghoa sebagai bagian dari sesama bangsa indonesia ada lagi selain itu? mungkin ada komentar tambahan tentang kehidupan bermasyarakat dan antaretnis khususnya di pontianak.

(141) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 358. 359. 360. 361. 362. 363. 364. 365. 366. 367. 368. 369. 370. 371. 372. 373. 374. 375. 376. 377. 378. 379. 380. 381. 382. 383. 384. 385. 386. 387. 388. 389. 390. 391. 392. 393. 394. 395. 396. 397. 121 Menghindari rasisme saya berusaha tidak membeda- 23. Menghindari melakukan bedakan karena tidak ingin dan diskriminasi diskriminasi dibeda-bedakan juga.. nggak ada yang menang dari perselisihan semacam itu, di ujung pasti sama-sama rugi saja… Yah, semoga generasi depan lebih cerdas dalam bersikap dan berpikir, bahwa etnis apapun, kita tetap bangsa indonesia, minum dari sumber air yang sama dan makan dari tanah yang sama baiklah, langsung aja, ya… oke pernah ga mengalami diejek karena kamu seorang chinese? selama menjadi warga pontianak khususnya Diejek sebagai orang secara verbal seingat saya sih 24. Subjek beberapa kali Tionghoa mendapat ejekan tidak tidak, terlebih sudah tidak tinggal menetap di kota langsung nonverbal pontianak kurang lebih 5 tahun berupa tatapan mata atau bisik-bisikan yang sinis akan tetapi dari non verbal seperti tatapan mata, atau sindiran tidak langsung pernah gimana bisa kamu tahu? contohnya gimana? seperti misalkan bisik-bisik, atau tatapan sinis kalau bisik-bisik, kamu tahu apa yang mereka omongin? kurang jelas, tapi biasa ada selipan kata-kata "cina-cina" seperti itu..

(142) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 398. 399. 400. 401. 402. 403. 404. 405. 406. 407. 408. 409. 410. 411. 412. 413. 414. 415. 416. 417. 418. 419. 420. 421. 422. 423. 424. 425. 426. 427. 428. 429. 430. 431. 432. 433. 434. 435. 436. 437. 122 selama di pontianak, apa kamu termasuk orang yang pemilih dalam berteman, maksudnya melihat ras dengan siapa kamu berkomunikasi, main bareng, semacam itu? Menerima saya sih tidak pemilih, dengan 25. Subjek berteman dengan kemajemukan dalam siapa saja selama nyaman ya siapa saja baik sesama hidup di masyarakat saya bergaul tionghoa maupun dengan hanya saja karena saya sekolah pribumi di swasta yang notabene mayoritas dari etnis chinese, tidak banyak pilihan bergaul dengan ras lain walaupun memang ada beberapa teman saya yang dari non chinese Diskriminasi di masyarakat tidak mempengaruhi minat untuk terlibat dalam interaksi dengan pribumi oke. next... kita tau bahwa di pontianak, seperti yang digambarkan, bahwa keadaan masyarakat sehari masih ada rasa saling tidak suka antar etnis begitu, apa itu menimbulkan rasa segan kamu untuk terlibat dalam kegiatan bareng dengan pribumi? mungkin dalam lingkup sekitar lingkungan tempat tinggal semacam itu. saya sih tidak diskriminasi 26. Adanya saya senang ngobrol dengan tidak membuat subjek menghindari untuk karyawan toko yang rata-rata berinteraksi dengan non chinese, juga dengan pribumi tukang parkir atau siapa saja, selama mereka juga nampaknya senang bergaul dengan saya Apa yang dirasakan menjadi

(143) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 438. 439. 440. 441. 442. 443. 444. 445. 446. 447. 448. 449. 450. 451. 452. 453. 454. 455. 456. 457. 458. 459. 460. 461. 462. 463. 464. 465. 466. 467. 468. 469. 470. 471. 472. 473. 474. 475. 476. 477. 123 seorang warga keturunan Tionghoa di Indonesia? mungkin ada kecenderungan rasa senang, kebanggaan atau mungkin juga kerugian... ada perasaan Menghindari rasisme membanggakan sih tidak juga, 27. Tidak dan diskriminasi kan terlahir menjadi warga khusus yang subjek keturunan bukan pilihan saya rasakan sebagai seorang yang berlaku rasis itu memang warga keturunan terkadang mengesalkan, belum Tionghoa tentu mereka lebih cinta tanah 28. Bagi subjek, latar air dibanding yang cina-cina itu belakang budaya / status padahal etnis bukanlah suatu hal yang harus dibanggakan padahal memangnya ada privilege apa yang cina-cina itu dapatkan dengan mata sipitnya, yang ada cuma kita lebih terpacu untuk bekerja lebih keras karena dulunya kita pendatang ingin hidup lebih baik.. Apakah orangtua berperan dalam mengajarkan tentang identitas mu sebagai orang keturunan Tionghoa? maksudnya semacam 'kita orang cina tu bla bla bla...." semacam prinsip-prinsip sebagai tionghoa Ada peran orangtua diajarkan mengenai budaya 29. Orangtua menurunkan dalam membentuk sebagai etnis ya, misalkan prinsip/ajaran yang identitas dan sikap tradisi imlek atau sembahyang membentuk identitas kubur, lalu tata krama dan ketionghoaan pada sebagai tionghoa semacamnya subjek tentang kebiasaan umum dan cara hidup juga mengenai ujung-ujung sehari-hari harus dagang, jangan mau kerja sama orang 30. Subjek cenderung tidak tapi saya rasa saya cenderung terkekang budaya/tradisi, dibentuk oleh bacaan-bacaan dan lebih dipengaruhi

(144) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 478. 479. 480. 481. 482. 483. 484. 485. 486. 487. 488. 489. 490. 491. 492. 493. 494. 495. 496. 497. 498. 499. 500. 501. 502. 503. 504. 505. 506. 507. 508. 509. 510. 511. 512. 513. 514. 515. sedari kecil 124 oleh pengetahuan yang ia dapatkan dari sumber bacaan umum terus apa orangtua pernah berbicara tentang bedanya orang tionghoa dengan pribumi? misalnya "kita orang cina tu bla bla bla... sedangkan orang pribumi tu bla bla bla" Pandangan orangtua masih, orangtua saya, terutama 31. Orangtua dan bahwa tionghoa lebih kakek dan nenek masih nenek,kakek subjek baik daripada pribumi cenderung masih berpandangan rasis dan membedakan negatif dan melihat yah, seperti membahas sebelah mata pada kekurangcerdasan pribumi pribumi padahal dalam hati, ya tentu saja mereka kurang cerdas, makannya aja nasi sama telor udah mewah, sekolah juga di antah berantah Menganggap diskriminasi di masyarakat adalah hal yang lumrah Ada harapan di masyarakat Pontianak hubungan antara kedua etnis semakin baik kalau menurut kamu sendiri terhadap pembicaraan itu gimana? yah, siapapun yang berbicara 32. Subjek punya pandangan seperti itu, kalau sudah bertentangan terhadap mengurat akar dalam otaknya rasisme dan diskriminasi ada perbedaan semacam itu ya biarkan saja, percuma dijelaskan yang penting generasi kedepannya harus lebih baik

(145) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 125 TABEL TEMA-TEMA SUBJEK 2, LE Le Hubungan Antaretnis Tionghoa-Pribumi Di Pontianak Lingkungan tempat tinggal a. Tionghoa-pribumi hidup berbaur b. Ada interaksi Tionghoa-pribumi di lingkungan tempat tinggal c. Ada keseragaman tingkat ekonomi di lingkungan rumah d. Ada rasa tidak suka antara tionghoa-pribumi di lingkungan tempat tinggal Lingkungan masyarakat Pontianak a. Masyarakat Pontianak terdiri dari beragam suku didominasi etnis Melayu b. Ruang sosial terjadinya interaksi tionghoa-pribumi di Pontianak c. Rasa tidak suka antara kedua etnis secara diam-diam di masyarakat Pontianak d. Konflik antaretnis Tionghoa – pribumi di Pontianak e. Konflik antaretnis semakin berkurang f. Ada diskriminas idalam layanan birokrasi g. Mendapat stereotip negative di masyarakat h. Ada harapan di masyarakat Pontianak hubungan antara kedua etnis semakin baik Di dalam kehidupan bernegara a. Ada diskriminasi dalam kebebasan berekspresi, hak berkarya di lembaga pemerintahan, layanan birokrasi, pendidikan b. Masih ada prasangka antara tionghoa dan pribumi di masyarakat Indonesia c. Tingkat diskriminasi dari satu daerah dan daerah lainnya berbeda d. Kecurigaan antara kedua etnis dikarenakan ada latar belakang sejarah dan rasa enggan utk berbaur e. Ada justifikasi diskriminasi dari tionghoa kepribumi 261 – 264 269 – 280 - 53 – 66 105 – 112 71 – 97 117 – 135 253 – 261 , 345 – 351 , 508 – 509 198 – 203 157 – 180 148 – 187, 316 – 329 195 – 214

(146) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 126 Pengalaman Sebagai Warga Keturunan Tionghoa Di Masyarakat Pembentukan identitas ketionghoaan di dalam keluarga a. Tradisi tionghoa masih dijalankan di keluarga 26 – 29, 34 – 40 b. Tradisi tionghoa semakin berkurang 26 – 31 c. Ada peran orangtua dalam membentuk identitas dan 468 – 475 sikap sebagai tionghoa d. Pandangan orangtua bahwa tionghoa lebih baik 487 – 492 daripada pribumi Pengalaman hidup di masyarakat pontianak a. Hubungan dengan pribumi baik b. Mampu menyesuaikan dengan kebiasaan berkomunikasi di masyarakat Pontianak c. Diejek sebagai orang Tionghoa d. Menerima kemajemukan dalam hidup di masyarakat e. Diskriminasi di masyarakat tidak mempengaruhi 264 – 270 46 – 48 379 – 385, 389 – 390, 394 – 396 405 – 407 429 – 435 minat untuk terlibat dalam interaksi dengan pribumi f. Prasangka cenderung dipengaruhi oleh penampilan seseorang g. Mengalami penjegalan di dalam event perlombaan h. Kesan yang kurang baik terhadap pribumi i. Menilai cenderung pada pribadi Pendangan terhadap in-group a. Tionghoa sebagai kelompok yang solid b. Tionghoa eksklusif dan punya prasangka negatif terhadap pribumi Sikap sebagai warga negara a. Menghindari sikap rasisme dan diskriminasi b. Menganggap diskriminasi di masyarakat adalah hal yang lumrah c. Rasa bangga sebagai keturunan tionghoa d. Kerugian berasal dari ketidaksukaan yang didapat dari warga pribumi e. Menikmati sebagai warga Indonesia 334 – 337 358 – 370, 443 – 458 502 – 507 -

(147) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI VERBATIM SUBKEK 3, TIFF No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25. 26. 27. 28. 29. 30. 31. 32. 33. 34. 35. 36. 37. Judul Tema Dibesarkan di Pontianak Verbatim Komentar Ceritakan sedikit tentang dirimu dan keluargamu. Nama (inisial) Tiff. Aku lahir di Pontianak, 23 Maret 1994. Anak pertama dari 2 bersaudara. Papa saya, seorang pegawai swasta, bernama Edi C.. Mamaku, Suriati H., berwirausaha. Adikku, sekarang duduk di bangku SMA kelas X. Kami sekeluarga adalah masyarakat suku Tionghoa. Kakekku, ayah dari Mamaku, datang langsung dari dataran Cina saat berusia 17 tahun. Aku pribadi menilai diriku sendiri sebagai orang yang cenderung mudah bergaul, punya kebutuhan yang sangat tinggi akan kehidupan sosial, tapi di sisi lain juga tertutup, mudah mengasihani diri sendiri. Sampai saat ini sih aku agak bingung bakatku apa. Beberapa kali aku merasa berbakat dalam beberapa hal, lalu aku menemukan bahwa mengira aku mampu melakukan hal-hal tersebut adalah salah besar. Tapi, dari beberapa pengalaman yang telah kuperoleh, mungkin bakatku menulis, terutama segala sesuatu yang fiksi. Hehe. Apakah tradisi sebagai orang Tionghoa masih dilakukan di 127

(148) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 38. 39. 40. 41. 42. 43. 44. 45. 46. 47. 48. 49. 50. 51. 52. 53. 54. 55. 56. 57. 58. 59. 60. 61. 62. 63. 64. 65. 66. 67. 68. 69. 70. 71. 72. 73. 74. 75. 76. 77. 128 keluargamu? Tradisi tionghoa masih Ya. Dalam keluarga besarku, 1. Tradisi tionghoa dijalankan di keluarga banyak tradisi masih dilakukan, masih dijalankan di seperti sembahyang leluhur, keluarga besar makan bakcang, dan 2. Tradisi sudah serangkaian tradisi rumit kayak berkurang karena dianggap kurang dalam perkawinan dan hari raya Tradisi tionghoa semakin imlek. Tapi dalam keluarga praktis di zaman berkurang kecilku, cuma sebagian aja sekarang tradisi yang kami lakukan. Ya mungkin karena ada hal-hal tertentu dirasa kurang relevan lagi dengan kehidupan modern, atau ya semacam dirasa kurang praktis, kayak gitu-gitu. Bisa diceritakan seperti apa komposisi penduduk di kota Pontianak? Masyarakat Pontianak Sejujurnya saya kurang tahu ya, 3. Komposisi penduduk terdiri dari beragam suku tapi secara umum tiga suku di Pontianak terdiri didominasi etnis Melayu dominan itu Melayu, Dayak, dari ragam suku, didominasi etnis dan Tionghoa. Yang pasti jumlah orang Melayu paling melayu banyak. Tionghoa-pribumi hidup berbaur Ada interaksi Tionghoapribumi di lingkungan tempat tinggal Ada kesetaraan tingkat ekonomi Gimana kondisi masyarakat di sekitar lingkungan rumahmu? Di lingkungan sekitar rumah 4. Subjek tinggal di lingkungan yang saya, yang mendominasi adalah orang Melayu dan orang berbaru antara Tionghoa. Kalau dengan tionghoa dan melayu tetangga, kami hidup sangat 5. Warga sekitar tempat rukun kok. Ya secara umum sih, tinggal berstatus ekonomi setara. tetangga-tetangga itu orangorang yang secara ekonomi bisa dibilang menengah ke atas. Ceritakan donk tentang

(149) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 78. 79. 80. 81. 82. 83. 84. 85. 86. 87. 88. 89. 90. 91. 92. 93. 94. 95. 96. 97. 98. 99. 100. 101. 102. 103. 104. 105. 106. 107. 108. 109. 110. 111. 112. 113. 114. 115. 116. 117. 129 bagaimana hubungan antara etnis tionghoa dan pribumi di Pontianak? Secara umum dan yang 6. Ketidaksesuaian terekspos sih ya biasanya orang antara pandangan akan mengatakan bahwa luar dan realita di masyarakat tentang Pontianak itu kota Khatulistiwa yang istilahnya “unity in hubungan antar diversity”, maksudnya sebagai warga di Pontianak cerminan dari Indonesia mini, 7. Beberapa peristiwa Rasa tidak suka antara kayak gitu ya. Namun, pada yang melibatkan kedua etnis secara diam- kenyataannya, hubungan perseturuan antar diam di masyarakat antaretnis yang ada di kelompok etnis di Pontianak Pontianak itu ga seharmonis masyarakat yang dikatakan atau yang diharapkan banyak orang. Ya contohnya aja kayak dulu kerusuhan Dayak sama Madura, terus peristiwa Gang 17, lainlain… Ya bisa dibilang ga cuma soal perbedaan etnis, pluralitas dalam hal keagamaan gitu-gitu juga bisa menyebabkan perpecahan…, konflik di Pontianak ya... Umumnya sih bisa dikatakan bahwa hubungan antaretnis dari luar keliatannya sih baik-baik aja, tetapi busuk di dalamnya, ya karena masih ada stereotip, suka curigacuriga, dan lain-lain... Kayak apa itu peristiwanya yang di gang 17? Konflik antaretnis yang gang 17 aku uda rada 8. Konflik yang Tionghoa – pribumi di lupa... coba cari di internet. melibatkan warga Pontianak Intinya itu, ada 2 orang berbeda tionghoa dan melayu suku yang bermasalah. Kalo gak salah awalnya kebakaran atau pencopetan atau apa,

(150) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 118. 119. 120. 121. 122. 123. 124. 125. 126. 127. 128. 129. 130. 131. 132. 133. 134. 135. 136. 137. 138. 139. 140. 141. 142. 143. 144. 145. 146. 147. 148. 149. 150. 151. 152. 153. 154. 155. 156. 157. 130 bener-bener lupa. Lalu jadi masalah antaretnis yang bersangkutan, masing-masing membela orang yang sesuku dengannya... Oh, engga denk, pokoknya awalnya ada tabrakan gitu... hehe… Bukan kebakaran atau pencopetan. Jadi, mobil orang Tionghoa serempet mobil orang melayu yang katanya masih keturunan Keraton Kedariyah. Kalau hubungan tionghoapribumi di Indonesia secara umum? Masih ada prasangka Dalam masyarakat Tionghoa 9. Ada ketidakrukunan antara tionghoa dan sendiri…., ada bisa dibilang ini yang tersamarkan umum bahwa pribumi di masyarakat rahasia masyarakat Tionghoa Indonesia sebenernya ya lebih akrab dan akur dengan orang-orang Dayak daripada orang Melayu. Namun, ya… kayak yang saya bilang tadi, dari luar semua keliatan baik-baik aja. Kalau kamu melihat keadaan di daerah lain di Indonesia bagaimana? Misalnya saat ini kamu tinggal di Jogja, atau melihat dari berita-berita di media tentang hubungan tionghoa-pribumi sekarang ini. Masih ada prasangka kalo di tempat-tempat lain sih 10. Ketidakrukunan yang antara tionghoa dan kayaknya juga kurang lebih. tersamarkan antar pribumi di masyarakat Maksudku, secara umum dan kelompok warga Indonesia eksplisit tampak baik-baik saja 11. Ada penerimaan padahal tidak demikian. Tapi yang lebih dirasakan

(151) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 158. 159. 160. 161. 162. 163. 164. 165. 166. 167. 168. 169. 170. 171. 172. 173. 174. 175. 176. 177. 178. 179. 180. 181. 182. 183. 184. 185. 186. 187. 188. 189. 190. 191. 192. 193. 194. 195. 196. 197. kalo di daerah di luar Pontianak, khususnya di Jawa Tingkat diskriminasi dari rasanya tidak terlalu terasa satu daerah dan daerah diskriminasinya. Bahkan, di jogja ini saya merasa diterima lainnya berbeda dengan baik di antara temanteman saya yang pribumi. Entah mungkin karena di sini memang yang banyak orang-orang datang dari luar daerah sehingga semua orang dapat berbaur dengan baik atau mereka memang tidak memandang rendah orangorang yang berbeda suku. Tapi tetep aja kadang-kadang ada yang menunjukkan sikap rasis, kayak gitu, misalnya kayak dengan menggunakan istilahistilah “cina, sipit.”, dan lainlain… 131 ketika subjek menetap di Jogja Dalam kesempatan apa saja orang pribumi dan tionghoa biasanya bertemu atau berkomunikasi paling banyak di dalam masyarakat kota Pontianak? Ruang sosial terjadinya Biasanya dalam perdagangan, interaksi tionghoa- atau juga festival-festival yang 12. Hubungan Tionghoa pribumi di Pontianak diadakan bersama… terus... – pribumi di semacam acara politik dan Pontianak pada organisasi tertentu, gitu aja umumnya terjadi lewat perdagangan, sih... Sisanya, sepertinya dan acara kebudayaan, sepengetahuanku juga sangat politik jarang. Pernah berinteraksi atau berkomunikasi dengan warga pribumi selama di Pontianak?

(152) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 132 198. Pernah, malah sering 199. 200. 201. 202. Gimana kesan, perasaannya 203. terhadap mereka? 204. Menilai cenderung pada Emm… apa ya… buat aku sih 13. Kesan netral 205. pribadi gak ada perasaan khusus ya terhadap pribumi kalau terkait latar belakang 206. lewat interaksi 207. budaya mereka. Kalo aku langsung 208. ngeliatnya, masing-masing 14. Subjek cenderung 209. orang punya perbedaan dalam menilai seseorang 210. diri mereka itu tergantung sifat dari pribadinya 211. ada dan perilaku orang itu sebagai 15. Umumnya pribadi, bukan karena dia itu 212. penempelan stereotip 213. bagian dari kelompok tertentu. terhadap suatu 214. Tapi…, memang kadang kelompok etnis perbedaan suku itu yang 215. 216. menyebabkan ada perbedaan 217. paradigma dan respon terhadap 218. hal tertentu… 219. 220. Pernah gak mengalami hal 221. yang berkesan, saat 222. berinteraksi, berkomunikasi 223. dengan pribumi di 224. Pontianak? 225. Pernah. Hal berkesan yang 16. Subjek melihat pribumi secara 226. positif itu…., misalnya ya orang 227. pribumi lebih mementingkan objektif 228. solidaritas, sedangkan eh 17. Tidak ada kesan 229. maksudnya, dibandingkan yang menonjol di orang Tionghoa. Terus…, kalo 230. salah satu sisi, negatif ataupun 231. negatifnya, misalnya orang 232. pribumi sering kayak cuma positif 233. menuntut hak tapi gak 234. memperhatikan kewajiban. Hal 235. ini maksudnya terkait stereotip 236. yang muncul dari kalangan 237. tertentu.

(153) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 238. 239. 240. 241. 242. 243. 244. 245. 246. 247. 248. 249. 250. 251. 252. 253. 254. 255. 256. 257. 258. 259. 260. 261. 262. 263. 264. 265. 266. 267. 268. 269. 270. 271. 272. 273. 274. 275. 276. 277. Tionghoa eksklusif dan punya prasangka negatif terhadap pribumi Menganggap diskriminasi di masyarakat adalah hal yang lumrah Diejek sebagai tionghoa 133 Maksudnya terkait stereotip dari kalangan tertentu? Itu gimana? Yah, terlahir di keluarga 18. Ada kecenderungan Tionghoa, ga bisa menutupi tionghoa memandang dirinya lebih fakta juga bahwa di kalangan orang tionghoa sendiri, ada daripada pribumi pandangan-pandangan tertentu 19. Ada hubungan sebab akibat dari sikap yang melecehkan atau tionghoa terhadap merendahkan orang pribumi pula… Kalau ya bisa dikatakan pribumi itu mungkin sebagai respon, respon dari perlakuan tidak adil yang seringkali dialami oleh orang Tionghoa sendiri. Nah, salah satu pandangannya itu adalah orang pribumi sering kali dianggap, ini oleh orang Tionghoa ya…, dianggap malas, lamban berpikir, kurang cerdas, curang, kayak gitu-gitu. Stereotip-stereotip seperti ini yang tanpa sadar ikut diturunkan dari generasi ke generasi sebagai bekal dalam menghadapi, atau dalam berinteraksi dengan orang pribumi Pernah mengalami diejek sebagai orang Tionghoa gak oleh pribumi di Pontianak? orang Pernah. Yang paling sering 20. Ejekan mengarah misalnya mendengar celetukan pada hal materiil seperti “Cina sih, gak mau rugi”, ya yang seperti itu lah… Apakah warga tionghoa di Pontianak sudah

(154) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 278. 279. 280. 281. 282. 283. 284. 285. 286. 287. 288. 289. 290. 291. 292. 293. 294. 295. 296. 297. 298. 299. 300. 301. 302. 303. 304. 305. 306. 307. 308. 309. 310. 311. 312. 313. 314. 315. 316. 317. 134 mendapatkan perlakuan adil dan setara seperti warga negara lainnya? Ada diskriminasi dalam Kayaknya sih, sebenernya… 21. Masih ada kebebasan berekspresi, engga ya, belum. Masih banyak diskriminasi tionghoa sebagai layanan birokrasi, kesulitan yang dialami orang, warga negara dalam pendidikan di Pontianak maksudnya warga Tionghoa berbagai bidang dalam hal-hal kayak kebebasan berekspresi dan merayakan hari-hari raya secara meriah…, dalam hal birokrasi, dalam hal pendidikan juga. Bisa memberikan contoh? ya….. Ah, ini… 22. Subjek mengalami Mengalami penjegalan di Apa penjegalan dalam dalam event perlombaan Contohnya dari pengalamanku perlombaan yang sendiri. Dulu banget aku pernah ikut festival film indie dengan diikutinya teman-temanku. Nah, saat itu peserta lomba yang berasal dari sekolah swasta cuma timku dan kami isinya orang Tionghoa semua, dengan pembimbing Tionghoa pula. Nah, kita uda kirim filmnya, dan kita sangat yakin dengan kemampuan kita. Nah, kita sih memang gak terlalu menyombong dengan yakin 100% pasti kita menang, tapi memang ada sedikit harapan yang kita miliki. Tapi, bahkan pemberitahuan apapun juga gak ada. Kemudian, kita baru tahu bahwa kita dinilai tidak memenuhi persyaratan karena tidak ada yang memvoting kelompok kita. Padahal, kita tidak diberitahu bahwa ada peraturan mengenai

(155) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 318. 319. 320. 321. 322. 323. 324. 325. 326. 327. 328. 329. 330. 331. 332. 333. 334. 335. 336. 337. 338. 339. 340. 341. 342. 343. 344. 345. 346. 347. 348. 349. 350. 351. 352. 353. 354. 355. 356. 357. 135 voting. Itu mungkin salah satu pengalamanku yang ada hubungannya dengan hal itu ya… Dalam hal birokrasi gimana, apakah warga Tionghoa di Pontianak sudah mendapatkan layanan yang adil? Ada diskriminasi dalam Sudah jauh lebih baik dari 23. Masih layanan birokrasi tahun-tahun sebelumnya ya, diskriminasi tapi masih ada ketidakadilan birokrasi setahuku... ada dalam Ketidakadilan seperti apa? Ada diskriminasi dalam Yah, dalam pembuatan surat 24. Diskriminasi layanan birokrasi seperti KTP, paspor, dan lainbirokrasi berupa lain… apa ya… dirasanya tuh kesulitan dalam ada aja berbagai kesulitan memproses dokumen seperti lebih lama, proses wawancara lebih rumit dan kurang bersahabat, gitu-gitu… Menurutmu, bagaimana warga pribumi Pontianak melihat warga Tionghoa? Tergantung pribadi masingmasing juga ya, ada yang memandang secara positf ada yang negatif. Ada orang yang bersahabat baik dengan warga Tionghoa, ada yang memusuhi. Bagaimana kamu sendiri melihat warga Tionghoa di Pontianak? Tionghoa eksklusif dan Seperti yang aku katakan tadi, 25. Ketidaksukaan yang punya prasangka negatif secara tersamarkan terhadap umum keliatannya terhadap pribumi kelompok rukun, harmonis, tapi di

(156) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 358. 359. 360. 361. 362. 363. 364. 365. 366. 367. 368. 369. 370. 371. 372. 373. 374. 375. 376. 377. 378. 379. 380. 381. 382. 383. 384. 385. 386. 387. 388. 389. 390. 391. 392. 393. 394. 395. 396. 397. 136 baliknya itu ada rasa benci, iri, masyarakat selain perasaan negatif lainnya tionghoa Tionghoa sebagai antaretnis dan agama ya... Tapi, 26. Ada solidaritas yang secara umum, ada kekuatankuat dalam warga kelompok yang solid kekuatan, persatuan, ada tionghoa Pontianak kebersamaan yang bisa ditemukan ya dalam masyarakat Tionghoa, contohnya kayak bahu-membahu dalam acara besar, dan.. ya itu sih. Rasa bangga karena mampu secara ekonomi Kerugian berasal dari ketidaksukaan yang didapat dari warga pribumi Apa yang dirasakan menjadi seorang warga keturunan Tionghoa di Indonesia? mungkin bisa dibilang kebanggaaan, ada rasa bangga kah, atau mungkin rasa rugi, seperti itu… Kalau kebanggaan…., saya 27. Ada kebanggan merasa agak disegani ya…, sebagai tionghoa mungkin karena dipandang 28. Menyayangkan sebagai keturunan dari ya sebagai tionghoa seringkali istilahnya “penguasa ekonomi” ditidaksenangi warga Indonesia, tapi sekaligus pribumi dibenci karena seolah-olah kita orang Tionghoa dibilang merebut lahan dan kesempatan orang pribumi. Habis itu juga terkadang ada kesan kalo orang Tionghoa lebih maju dalam pola pikir dan taraf kehidupan. Bisa dibilang jauh lebih baik daripada orang pribumi, tapi gak jarang yang aku lihat sih hal kayak gitu ga semuanya benar, gak juga... Selama di Pontianak, dalam hal berteman, apakah kamu termasuk pemilih dengan

(157) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 398. 399. 400. 401. 402. 403. 404. 405. 406. 407. 408. 409. 410. 411. 412. 413. 414. 415. 416. 417. 418. 419. 420. 421. 422. 423. 424. 425. 426. 427. 428. 429. 430. 431. 432. 433. 434. 435. 436. 437. 137 etnis apa? Misalnya main bareng, atau ya teman diajak kerja tugas bareng, semacam itu Menilai cenderung pada Yang pastinya iya ya. Tapi ini 29. Memberikan gak berhubungan dengan pribadi penilaian terhadap pribadi seseorang apakah seseorang bersuku atau beragama yang sama dengan dalam berteman aku, tapi lebih ke kesamaan 30. Berteman berdasarkan bakat, kebiasaan, minat, kepribadian, pola pikir, hal-hal kesamaan minat kayak gitu… Diskriminasi di masyarakat tidak mempengaruhi minat untuk terlibat dalam interaksi dengan pribumi Menerima kemajemukan dalam hidup di masyarakat Apakah dengan adanya diskriminasi membuat kamu segan untuk berbaur dan melakukan kegiatan bersama dengan etnis pribumi, khususnya di Pontianak? Gak sih... aku malah merasa 31. Berbaur dalam tertantang gimana sih aku bisa pergaulan agar mematahkan berbagai mampu menghapus pandangan mereka yang salah pandangan negatif mengenai orang Tionghoa, ya terhadap tionghoa mungkin caranya dengan banyak bergaul dengan mereka. Orang tuamu adakah perannya dalam mengajarkan tetang identitas sebagai orang keturunan Tionghoa kepada kamu? Ada peran orangtua Ya, tetapi gak terlalu. Aku lebih 32. Ada peran orangtua dalam membentuk banyak belajar tentang identitas dalam identitas dan sikap sebagai orang Tionghoa lewat mengembangkan sebagai tionghoa kegiatan organisasi identitas kepemudaan Tionghoa. Di situ ketionghoaan pada saya belajar banyak ya, tentang subjek meskipun sejarah, budaya, hingga pola tidak mendominasi pikir Tionghoa dengan

(158) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 438. 439. 440. 441. 442. 443. 444. 445. 446. 447. 448. 449. 450. 451. 452. 453. 454. 455. 456. 457. 458. 459. 460. 461. 462. 463. 464. 465. 466. 467. 468. 469. 470. 471. 472. 473. 474. 475. 476. 477. 138 bimbingan langsung dari tokohtokoh yang memang berkompeten untuk itu... Terus, orangtua mengajarkan gak tentang adanya perbedaan antara Tionghoa dan pribumi? ya mungkin kayak mereka ngomong ke kamu “orang tionghoa itu bla bla, beda sama orang pribumi…”. Pandangan orangtua Ya, sebagaimana orang 33. Ada pandangan bahwa tionghoa lebih Tionghoa pada umumnya, negative dari mereka juga memiliki orangtua/ generasi baik daripada pribumi paradigma tertentu mengenai tua terhadap pribumi orang pribumi. Aku makanya 34. Tidak menghiraukan gak terlalu ambil pusing. Sebisa pandangan negatif Menghindari sikap mungkin sih ya bersikap tersebut rasisme dan diskriminasi objektif aja, kalau bisa kita berikan penjelasan kalo ternyata ada pandangan yang keliru mengenai orang pribumi. Bagaimana anda sebagai seorang keturunan Tionghoa menghadapi perilaku diskriminasi? Menghindari sikap Kayak yang udah aku jelaskan 35. Menghindari rasisme dan diskriminasi tadi, sebisa mungkin sih kita membalas juga menjaga, menciptakan perlakukan keharmonisan, lebih ke gimana diskriminatif caranya meluruskan pandangan- 36. Bertindak agar pandangan yang salah mengurangi antaretnis… Paling ga di pandangan yang lingkunganku sendiri. Aku tidak salah tentang hubungan antaretnis ga terlalu mikirin atau musingin hal-hak kayak gitu,… karena selain perasaan gak nyaman dan apa yah…. Ya hal lainnya itu,

(159) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 478. 479. 480. 481. paling ya ketidaklancaran dalam mendapat pelayanan umum gitu-gitu, gak banyak kerugian yang dialami dari keadaan ini. 139

(160) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 140 TABEL TEMA-TEMA SUBJEK 3, TIFF Tiff Hubungan Antaretnis Tionghoa-Pribumi Di Pontianak Lingkungan tempat tinggal a. Tionghoa-pribumi hidup berbaur b. Ada interaksi Tionghoa-pribumi di lingkungan tempat tinggal c. Ada keseragaman tingkat ekonomi di lingkungan rumah d. Ada rasa tidak suka antara tionghoa-pribumi di lingkungan tempat tinggal Lingkungan masyarakat Pontianak a. Masyarakat Pontianak terdiri dari beragam suku didominasi etnis Melayu b. Ruang sosial terjadinya interaksi tionghoa-pribumi di Pontianak c. Rasa tidak suka antara kedua etnis secara diam-diam di masyarakat Pontianak d. Konflik antaretnis Tionghoa – pribumi di Pontianak e. Konflik antaretnis semakin berkurang f. Ada diskriminas idalam layanan birokrasi g. Mendapat stereotip negative di masyarakat h. Ada harapan di masyarakat Pontianak hubungan antara kedua etnis semaki nbaik Di dalam kehidupan bernegara a. Ada diskriminasi dalam kebebasan berekspresi, hak berkarya di lembaga pemerintahan, layanan birokrasi, pendidikan b. Masih ada prasangka antara tionghoa dan pribumi di masyarakat Indonesia c. Tingkat diskriminasi dari satu daerah dan daerah lainnya berbeda d. Kecurigaan antara kedua etnis dikarenakan ada latar belakang sejarah dan rasa enggan utk berbaur e. Ada justifikasi diskriminasi dari tionghoa kepribumi 67 – 70 70 – 72 72 – 75 - 57 – 62 186 – 193 81 – 108 112 – 129 328 – 331, 334- 340 - 281 – 289 153 – 157 157 – 172 -

(161) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 141 Pengalaman Sebagai Warga Keturunan Tionghoa Di Masyarakat Pembentukan identitas ketionghoaan di dalam keluarga a. Tradisi tionghoa masih dijalankan di keluarga 39 – 45 b. Tradisi tionghoa semakin berkurang 45 – 52 c. Ada peran orangtua dalam membentuk identitas dan 430 – 434 sikap sebagai tionghoa d. Pandangan orangtua bahwa tionghoa lebih baik 450 – 454 daripada pribumi Pengalaman hidup di masyarakat Pontianak a. Hubungan dengan pribumi baik b. Mampu menyesuaikan dengan kebiasaan berkomunikasi di masyarakat Pontianak c. Diejek sebagai orang Tionghoa d. Menerima kemajemukan dalam hidup di masyarakat e. Diskriminasi di masyarakat tidak mempengaruhi minat untuk terlibat dalam interaksi dengan pribumi f. Prasangka cenderung dipengaruhi oleh penampilan seseorang g. Mengalami penjegalan di dalam event perlombaan h. Kesan yang kurang baik terhadap pribumi i. Menilai cenderung pada pribadi Pendangan terhadap in-group a. Tionghoa sebagai kelompok yang solid b. Tionghoa eksklusif dan punya prasangka negatif terhadap pribumi Sikap sebagai warga negara a. Menghindari sikap rasisme dan diskriminasi b. Menganggapdiskriminasi di masyarakat adalah hal yang lumrah c. Rasa bangga sebagai keturunan tionghoa d. Kerugian berasal dari ketidaksukaan yang didapat dari warga pribumi e. Menikmati sebagai warga Indonesia 270 – 274 421 – 423 417– 421 293 – 321 402 – 409, 204 – 208 360 – 367 242 – 249 , 355 – 360 454 – 460, 466 – 481 249 – 253 376 – 381, 385 – 388 381 – 385 -

(162)

Dokumen baru