HUBUNGAN ANTARA KECERDASAN EMOSIONAL DAN ETOS KERJA PADA PEGAWAI NEGERI SIPIL KOTA YOGYAKARTA

Gratis

0
0
120
7 months ago
Preview
Full text
(1)PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI HUBUNGAN ANTARA KECERDASAN EMOSIONAL DAN ETOS KERJA PADA PEGAWAI NEGERI SIPIL KOTA YOGYAKARTA SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi Disusun oleh: Antonius Septian Nugroho NIM: 07 9114 010 PROGRAM STUDI PSIKOLOGI JURUSAN PSIKOLOGI FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2014 i

(2) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ii

(3) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Pernyataan Keaslian Karya Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis tidak memuat karya atau bagaian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka, sebagaimana layaknya karya ilmiah. Yogyakarta, 23 April 2014 Penulis Antonius Septian Nugroho iii

(4) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI iv

(5) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI HUBUNGAN ANTARA KECERDASAN EMOSIONAL DAN ETOS KERJA PADA PEGAWAI NEGERI SIPIL KOTA YOGYAKARTA Antonius Septian Nugroho ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kecerdasan emosional dan etos kerja pada pegawai negeri sipil kota Yogyakarta. Hipotesis dari penelitian tersebut adalah adanya hubungan yang positif antara kecerdaan emosinal dan etos kerja pada pegawai negeri sipil. Subjek dalam penelitian ini berjumlah 133 orang pegawai negeri sipil dengan rentang usia 24 tahun hingga 56 tahun. Alat pengumpulan data yang digunakan ialah skala kecerdasan emosional dan skala etos kerja yang disusun oleh peneliti. Skala kecerdasan emosi memiliki koefisien reliabilitas sebesar 0,913 dan skala etos kerja memiliki koefisien reliabilitas sebesar 0,908. Teknik analisis data menggunakan uji korelasi Spearman’s rho dikarenakan sebaran data pada kedua varibel bersifat tidak normal. Hasil penelitian ini menghasilkan r sebesar 0,647 dan nilai p sebesar 0,000< 0,05. Hasil perhitungan tersebut menunjukkan adanya hubungan positif antara kecerdasan emosional dengan etos kerja. Hal ini berarti semakin tinggi tingkat kecerdasan emosional yang dimiliki PNS, maka semakin tinggi pula etos kerjanya. Begitu juga sebaliknya, semakin rendah kecerdasan emosional, maka semakin rendah pula etos kerja yang dimiliki oleh PNS. Kata kunci : kecerdasan emosional, etos kerja, pegawai negeri sipil v

(6) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI THE CORRELATION BETWEEN EMOTIONAL INTELLIGENCE AND WORK ETHIC ON CIVIL SERVANTS IN YOGYAKARTA Antonius Septian Nugroho ABSTRACT This research aims to investigate the correlation between emotional intelligence and work ethic on civil servants in Yogyakarta. The hypothesis was that there was positive relationship between emotional intelligence and work ethic of the civil servants. Subject in this research were 133 civil servants about 24 to 56 years old. Data instruments being used was the scale of emotional intelligence and work ethic arranged by the researcher. The emotional intelligence scale showed that the alpha reliability coefficient was 0.913 and the coefficient of work ethic scale was 0.908. The technique of data analysis being used was Spearman’s rho correlation test because data on both variables are not normal. This research showed that the value of r was 0.647 and p was 0.000 < 0.05. The calculation results indicated a positive relation between the emotional intelligence and the work ethic. It means that the higher level of emotional intelligence of the civil servants, thus the higher level of the work ethic. On the contrary, the lower level of the emotional intelligence, therefore the lower level of the work ethic of the civil servants. Keywords : emotional intelligence, work ethic, civil servants vi

(7) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI vii

(8) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI KATA PENGANTAR Puji Syukur dipanjatkan kepada Tuhan Yesus Kristus, atas kebesaran kuasaNya, rahmat kasihNya, dan kelimpahan berkatNya kepada penulis sehingga perjalanan penyelesaian tugas akhir dapat berjalan dengan baik. Tugas akhir tersebut disusun sebagai salah satu syarat untuk mendapatkan gelar sarjana dari Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Penulis menyadari bahwa dalam penulisan skripsi ini masih terdapat beberapa kekurangan dan keterbatasan. Kiranya masukan dan kritikan dapat dipergunakan untuk menyempurnakan skripsi tersebut. Selain itu, dalam proses penyusunan tugas akhir ini, terdapat banyak sekali pihak yang telah memberikan semua bantuan dan dukungannya dengan tulus hingga penulisan skripsi dapat terselesaikan. Semoga ucapan terima kasih dari penulis kepada beberapa pihak dapat mewakili seluruh ungkapan rasa syukur penulis akan tugas akhir ini. Pada kesempatan ini, pantasnya penulis mengucapkan terima kasih kepada : 1. Bapak Dr. T Priyo Widiyanto, M.Si. selaku Dekan Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma. 2. Ibu Ratri Sunar A., M. Si selaku Kepala Program Studi Psikologi Universitas Sanata Dharma. 3. Ibu P. Henrietta P. D. A. D. S., S. Psi, M.A., selaku dosen pembimbing skripsi yang telah mendampingi selama proses penyusunan skripsi. viii

(9) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Terimakasih atas segala perhatian, bimbingan, saran, dan tentunya kesabaran yang telah diberikan dengan sungguh tulus. Maturnuwun Mbak, Gusti Yesus selalu memberkati. Amin. 4. Bapak V. Didik Suryo H. M.Si selaku dosen pembimbing akademik 2007 yang selalu memberikan dukungan juga pengertiannya selama penulis menempuh studi. 5. Seluruh Bapak dan Ibu Dosen Fakultas Psikologi Sanata Dharma yang telah memberikan semangat, dukungan dan perhatiannya. 6. Mas Muji, Mas Gandung, Mas Doni, Mbak Nanik, dan Pak Gik yang sudah membantu serta memberikan semangat dan dukungan juga pembelajaran hidup bagi penulis selama berada di Fakultas Psikologi. 7. Kepada Kepala Dinas Perizinan Kota Yogyakarta yang sudah memperlancar proses perizinan sehingga penelitian ini dapat berjalan dengan lancar. Dan juga kepada Pegawai Negeri Sipil yang sudah berkenan dan bersedia meluangkan waktu untuk berpartisipasi dalam penelitian tersebut. 8. Kedua orangtuaku, Bap Bro F. Handoyo dan Mam Bro M.Th. Tri Iriani, atas segala curahan doa, perhatian, dan kasih sayangnya selama ini. Maturnuwun atas kesabaran dan kepercayaannya selama 7 tahun penantian kelulusanku. Dan juga untuk Dek Bro Bertha Septiana dan Mas Bro Ekky Aditama, maturnuwun atas dukungan yang luar biasa, terimakasih atas doa dan kasih sayangnya. ix

(10) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 9. Bapak Mulyadi dan Ibu Widyaningsih di Iromejan, maturnuwun atas doa dan dukungannya selama ini. Dan juga untuk Mbak Widya Warasita atas kesetiaan, kesabaran, perhatian, dan cinta kasihnya yang senantiasa diberikan guna mendukung penulis hingga terselesaikannya skripsi ini. Serta untuk Dek Asa, Mas Tony & Mbak Ituk, Mas Itok & Mbak Titih atas kehangatan, perhatian, doa dan dukungannya selama ini. 10. Teman-teman Pejuang Akhir 2007 ; Dody, Eek, Tino, Bambang, Arya, Riko, De‟a, Tia, Ayuk, Eva, Intan dan Ve. Terimakasih atas kebersamaan dan dukungannya selama ini dalam perjuangan menyelesaikan skripsi. Tuhan memberkati kalian selalu. Amin. 11. Brother I Putu Ardika Yana atas bantuannya dalam menuntaskan perjuangan ini. Terimakasih untuk waktu, pikiran, dan perhatian serta dukungan hingga akhirnya semua ini bisa diselesaikan. Dan juga untuk Brother Patrick Taum atas kebersamaan dan proses pembelajaran yang boleh dibagikan selama berdinamika bersama di Psikologi. 12. Kang Jaya atas sharing dan diskusi akademiknya yang sangat menginspirasi penulis dalam mempersiapkan pendadaran. Juga untuk MasBro Ucil atas ketulusan bantuan dan sharingnya dalam menyelesaikan revisi skipsi. Tuhan senantiasa memberikan yang terbaik untuk kalian. Amin 13. Brother Tino, Tatad dan Bambang atas kebersamaan di tahun 2013 dalam satu rumah penuh cerita, perjuangan, dan tentunya pembelajaran hidup yang sungguh berkesan. Untuk mas Windra dan Bro Bamby atas x

(11) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI kebersamaan dalam KresnaAdventure; terimakasih boleh mengenal dan belajar bersama dengan kalian. Tuhan memberkati selalu dalam perjalanan kalian menempuh kebahagiaan. Amin. 14. Semua teman-teman Psikologi Sanata Dharma yang selama ini memberikan warna, cinta dan persaudaraan yang begitu indah terutama dalam berdinamika dan proses pembelajaran bersama dalam beberapa kepengurusan, kepanitiaan, komunitas, serta seluruh aktifitas yang berlangsung selama ini di Universitas Sanata Dharma. Akhri kata, ucap syukur senaniasa dihaturkan atas penyelesaian tugas akhir ini. Semoga apa yang ditulis dalam skripsi ini menjadikan manfaat dan berkat bagi siapapun yang membacanya. Terimakasih atas perhatiannya. Yogyakarta, 23 April 2013 Penulis, Antonius Septian Nugroho xi

(12) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL ............................................................................................ i HALAMAN PERSETUJUAN DOSEN PEMBIMBING ..................................... ii HALAMAN PENGESAHAN ............................................................................ iii PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ............................................................. iv ABSTRAK .......................................................................................................... v ABSTRACT ...................................................................................................... vi HALAMAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH ........................ vii KATA PENGANTAR ..................................................................................... viii DAFTAR ISI .................................................................................................... xii DAFTAR TABEL ............................................................................................ xv DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................... xvi BAB I : PENDAHULUAN ................................................................................. 1 A. Latar Belakang Masalah ....................................................................... 1 B. Rumusan Masalah ................................................................................ 8 C. Tujuan Penelitian.................................................................................. 8 D. Manfaat Penelitian ................................................................................ 9 BAB II : LANDASAN TEORI ......................................................................... 10 A. Etos Kerja ........................................................................................... 10 1. Pengertian Etos Kerja ............................................................. 10 2. Dimensi Etos Kerja ................................................................. 12 3. Faktor yang Mempengaruhi Etos Kerja ................................... 16 xii

(13) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI A. Kecerdasan Emosional ......................................................................... 18 1. Pengertian Emosi .......................................................................... 18 2. Kecerdasan Emosional.................................................................. 19 3. Aspek-aspek Kecerdasan Emosional ............................................. 20 4. Dampak Kecerdasan Emosional .................................................... 24 B. Pegawai Negeri Sipil ........................................................................... 25 C. Dinamika Hubungan Antara Kecerdasan Emosional dan Etos Kerja ..... 26 D. Hipotesis ............................................................................................. 32 BAB III : METODE PENELITIAN .................................................................. 33 A. Jenis Penelitian.................................................................................... 33 B. Variabel Penelitian .............................................................................. 33 C. Defenisi Operasional ............................................................................ 33 1. Kecerdasan Emosional.................................................................. 33 2. Etos Kerja ..................................................................................... 34 D. Subyek Penelitian ................................................................................ 35 E. Metode dan Alat Pengumpulan Data ................................................... 35 1. Skala Kecerdasan Emosional ........................................................ 36 2. Skala Etos Kerja ........................................................................... 37 F. Validitas & Reliabilitas ......................................................................... 39 1. Validitas ....................................................................................... 39 2. Seleksi Item.................................................................................. 40 3. Reliabilitas ................................................................................... 43 G. Teknik Analisis Data ............................................................................. 44 xiii

(14) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 1. Uji Asumsi ................................................................................... 44 a. Uji Normalitas ......................................................................... 44 b. Uji Linearitas ........................................................................... 45 2. Uji Hipotesis ................................................................................ 45 BAB IV : HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN .................................. 47 A. Pelaksanaan Penelitian .......................................................................... 47 B. Deskripsi Subyek .................................................................................. 48 C. Deskripsi Data ....................................................................................... 49 1. Uji Asumsi ................................................................................... 51 a. Uji Normalitas ....................................................................... 51 b. Uji Linearitas ......................................................................... 52 c. Uji Hipotesis .......................................................................... 53 d. Analisis Tambahan ................................................................ 54 D. Pembahasan .......................................................................................... 56 BAB V : KESIMPULAN DAN SARAN........................................................... 62 A. Kesimpulan ........................................................................................... 62 B. Saran ..................................................................................................... 62 DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................... 65 LAMPIRAN .................................................................................................... 70 xiv

(15) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR TABEL Tabel 1. Model Perbaikan Kecerdasan Emosional Goleman .............................. 24 Tabel 2. Pemberian Skor ................................................................................... 35 Tabel 3. Distribusi Item Skala Kecerdasn Emosional ........................................ 36 Tabel 4. Blue Print Skala Kecerdasan Emosional .............................................. 37 Tabel 5. Distribusi Item Skala Etos Kerja .......................................................... 38 Tabel 6. Blue Print Skala Etos Kerja ................................................................. 38 Tabel 7. Daftar Item yang Gugur Skala Kecerdasa Emosional ........................... 41 Tabel 8. Hasil Seleksi Item Skala Kecerdasan Emosional.................................. 42 Tabel 9. Daftar Item yang Gugur Skala Etos Kerja ............................................ 42 Tabel 10. Hasil Seleksi Item Skala Etos Kerja ................................................... 43 Tabel 11. Sebaran Subyek Penelitian................................................................. 48 Table 12. Sebaran Subyek Penelitian Berdasarkan Rentang Usia....................... 48 Tabel 13. Deskripsi Data Penelitian .................................................................. 49 Tabel 14. Hasil Uji T Kecerdasan Emosional .................................................... 50 Tabel 15. Hasil Uji T Etos Kerja ....................................................................... 50 Tabel 16. Hasil Uji Normalitas .......................................................................... 51 Tabel 17. Hasil Uji Normalitas Dimensi Etos Kerja .......................................... 52 Tabel 18. Hasil Uji Linearitas ........................................................................... 52 Tabel 19. Hasil Uji Hipotesis ............................................................................ 55 Tabel 20. Hasil Uji Korelasi Dimensi Etos Kerja .............................................. 55 xv

(16) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR LAMPIRAN 1. Skala Penelitian ...................................................................................... 71 2. Analisis dan Seleksi Item Skala Kecerdasan Emosional .......................... 85 3. Analisis dan Seleksi Item Skala Etos Kerja ............................................. 88 4. Hasil Uji Reliabilitas ............................................................................... 91 5. Hasil Uji T Mean Teoritik dan Mean Empiris ......................................... 93 6. Hasil Uji Normalitas ............................................................................... 96 7. Hasil Uji Linearitas ................................................................................. 98 8. Hasil Uji Hipotesis ................................................................................ 100 9. Surat Ijijn Penelitian ............................................................................. 102 xvi

(17) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pegawai Negeri Sipil (PNS) merupakan salah satu unsur aparatur negara yang memiliki peranan penting dalam menyelenggarakan pemerintahan dan pembangunan dalam skala tugas-tugas nasional maupun daerah (http://pusdiklat.bpk.go.id). Kewajiban dan hak PNS yang diatur dalam UndangUndang merupakan bentuk pengawasan terhadap kinerja mereka. Seperti yang diatur dalam Peraturan Pemerintah No.30 Tahun 1980, salah satu hal yang tertulis di dalamnya adalah mengharuskan semua PNS untuk memiliki kedisiplinan dalam hal tutur kata, secara tertulis maupun dalam tindakan nyata, termasuk didalamnya kewajiban mentaati jam kerja yang diberlakukan oleh masing-masing institusi. Pernyataan tersebut bertolakbelakang dengan pandangan masyarakat kini yang menganggap PNS sebagai pegawai aparatur pemerintah yang sering kali dikonotasikan sebagai sumber daya manusia yang memiliki tingkat profesionalitas kerja yang relatif rendah. Kondisi semacam ini dapat dilihat pada beberapa indikator seperti: pelayanan yang tidak optimal, penggunaan waktu yang tidak produktif, dan peran PNS yang belum optimal dalam menemukan terobosan selama menjalankan tugasnya. Hal lain juga dapat diamati dari maraknya praktik korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) di kalangan PNS, tidak efektifnya 1

(18) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2 pelaksanaan diklat pegawai, tidak jelasnya jenjang karier PNS dan masih banyak gambaran lainnya yang menunjukkan masih kurang bagusnya potret PNS di Indonesia (Bappenas, 2004; Rakhmawanto, 2012; Sulistyo, 2013). Berdasarkan data dari Badan Kepegawaian Negara, jumlah PNS hingga tahun 2011 di Indonesia mencapai 4,7 juta orang. Beberapa diantara jumlah tersebut memiliki kinerja yang relatif buruk. Kecenderungan yang terjadi adalah mereka terkesan hanya mengambil gaji tanpa berkontribusi berarti bagi pekerjaannya (Usman, 2013). Publik pun menjustifikasi bahwa PNS adalah profesi yang penuh dengan kemalasan, tidak produktif, lamban, korup, dan inefisien (“Rendahnya etos kerja PNS”, 2011). Hal lain juga terjadi dan marak diberitakan di media cetak akan ketidakdisiplinan PNS terhadap jam kerja yang sudah ditetapkan dalam peraturan. Banyak razia masih sering dilakukan oleh pemerintah daerah dalam menertibkan para PNS yang mangkir. Salah satu kasus pernah terjadi di pemerintahan DI Yogyakarta, sebanyak 199 orang dari 2762 PNS di Kabupaten Bantul telah mangkir ketika hari pertama masuk setelah libur lebaran (JogjaNews, 25 Agustus 2012). Kota Yogyakarta seperti yang diberitakan oleh Tribun Jogja pada 26 Juni 2013 bahwa telah mengalami penurunan akan kedisiplinan PNS Pemkot pada tahun 2012 jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Sikap tidak disiplin dari pegawai sepanjang tahun 2012 telah mengakibatkan Pemkot Yogyakarta menderita kerugian sebesar Rp 84,8 juta.

(19) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 3 Beberapa fenomena tersebut merupakan cerminan dari kinerja PNS yang masih kurang baik. Hal tersebut dapat diamati melalui perilaku-perilaku PNS yang melanggar hukum dan etika dalam bekerja. Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara melalui metrotvnews (tanggal 8 November 2012) menyatakan bahwa beliau sebagai bagian dari pemerintah juga mengakui bahwa kinerja PNS buruk. Perilaku sebagian PNS yang menyimpang tersebut jelas tidak sesuai dengan harapan pemerintah pusat dan masyarakat pada umumnya untuk menikmati kinerja dan pelayanan PNS yang baik dan efisien. Untuk itu diperlukan PNS dengan sumber daya manusia yang berkualitas dan bermutu. Hal ini dibutuhkan untuk menumbuhkan semangat kerja yang baik sehingga mampu menciptakan lingkungan kerja yang produktif. Hal ini selaras dengan pendapat Sinamo (2005) yang menyatakan bahwa komponen primer yang harus dimiliki oleh sumber daya manusia yang berkualitas adalah dengan memiliki etos kerja. Nitisemito (1996) juga menjelaskan bahwa pegawai atau karyawan yang memiliki etos kerja, pekerjaannya akan lebih cepat dilaksanakan, kerusakan dapat dikurangi, absensi dapat diperkecil dan kemungkinan perpindahan karyawan dapat diperkecil. Zulham (2008) serta Shapira dan Griffith (dalam Saks dkk 1996) dalam penelitiannya menyatakan bahwa etos kerja memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kinerja karyawan, performansi kerja dan berguna untuk menemukan nilai kerja dalam sebuah organisasi. Oleh sebab itu, etos kerja seorang pegawai atau karyawan menjadi penting untuk diperhatikan dan ditingkatkan karena aspek

(20) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 4 tersebut mempengaruhi kinerja dalam suatu instansi dan diyakini sebagai pondasi kesuksesan (Lembaga Administrasi Negara, 2009). Etos kerja adalah karakteristik yang harus dimiliki pekerja untuk menghasilkan pekerjaan yang terdiri dari keahlian interpersonal, inisiatif, dan dapat diandalkan, serta merupakan paradigma kerja yang terintegrasi dari perilaku positif yang berakar dari keyakinan fundamental serta adanya komitmen yang total dalam bekerja (Petty & Hill, 2005 ; Sinamo, 2005). Ketika seseorang memiliki paradigma yang benar akan bekerja, maka dirinya akan memiliki sikap dan perilaku kerja yang khas. Perilaku tersebut terkait dengan sikap mental, disiplin, tekad, dan semangat kerja. Berdasarkan PP Nomor 42 tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik PNS, ruang lingkup etos kerja PNS dapat dilihat dari 2 (dua) sisi, yaitu produktivitas kerja dan profesionalitasnya. Dengan etos kerja yang baik, seorang PNS semestinya akan dapat menjadi pegawai yang produktif dan profesional, begitu juga sebaliknya, maka PNS tersebut akan menjadi pegawai yang kurang/tidak produktif dan kurang/tidak professional (Lembaga Administrasi Negara, 2009). Etos kerja yang dimiliki seseorang tergantung dari bagaimana seseorang memandang dan mengartikan bekerja dalam menjalaninya. Anoraga (2005) menjelaskan bahwa seseorang yang melihat bekerja sebagai sesuatu yang luhur untuk eksistensi manusia, maka etos kerjanya akan tinggi. Etos kerja juga dipengaruhi oleh beberapa faktor internal dan eksternal. Secara eksternal

(21) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 5 dipengaruhi oleh situasi dan kondisi lingkungan kerja dan interaksi sosial. Siburian dan Pudyastuti (dalam Hermanto, 2008) mengemukakan bahwa secara internal etos kerja dipengaruhi oleh situasi dan kondisi individu, seperti pendidikan juga termasuk agama atau kepercayaan. Pachrudianto (2012) menemukan bahwa salah satu faktor internal yang dapat mempengaruhi etos kerja adalah kecerdasan emosional. Goleman (2001) mengartikan kecerdasaan emosional sebagai kemampuan dalam mengenali perasaan diri sendiri dan orang lain, kemampuan memotivasi diri dan kemampuan mengelola emosi dengan baik pada diri sendiri dan dalam berhubungan dengan orang lain. Ditambahkan pula oleh Sparrow dan Knight (2006) bahwa kecerdasan emosi dapat membantu menyelesaikan konflik-konflik interpersonal ketika individu mampu mengendalikan dan mengekspresikan emosinya secara tepat. Kecerdasan emosional pada pegawai/karyawan mulai dipertimbangkan dalam sebuah institusi atau perusahaan karena dipercaya mampu memberikan dampak positif bagi kinerja. Kinerja pegawai cenderung mengalami peningkatan dengan semakin tingginya kecerdasan emosi yang dimiliki (Melianawati, dkk.2001). Seseorang dengan kecerdasan emosi yang tinggi dapat dengan baik membawa dirinya dalam berbagai situasi kerja. Seseorang dengan kecerdasan emosi yang baik juga dapat mengontrol diri dan mampu berhubungan dengan baik dengan rekan kerjanya. Individu dengan pengendalian diri yang baik akan mampu pula dalam mengatur tanggung jawab termasuk mengatur waktu dan semangatnya dalam bekerja. Hal tersebut membuat individu memiliki pandangan yang positif akan bekerja dan pekerjaan yang dihadapi dapat terselesaikan dengan baik.

(22) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 6 Individu yang mampu bekerja dengan penuh semangat, tekun, displin, terkendali, tepat waktu, toleran, peka, menghargai, dan optimis merupakan sifat-sifat yang mencerminkan etos kerja yang baik (Lembaga Administrasi Negara, 2009). Berbeda halnya dengan individu yang memiliki kecerdasan emosi rendah. Hal yang cenderung terjadi dalam lingkungan kerja misalnya ketika PNS dihadapkan pada stressor kerja dan kurang memiliki kemampuan dalam mengelola emosi, hal tersebut dapat berdampak pada emosi yang tidak terkontrol. Pribadi yang kurang tepat dalam mengelola emosi dapat mempengaruhi bagaimana individu tersebut berhubungan dengan orang lain. Salah satu ciri orang yang memiliki kecerdasan emosi rendah adalah tidak mampu memahami emosi orang lain, memiliki kesadaran sosial yang buruk dan cenderung sulit dalam bekerjasama dengan orang lain (Cherniss & Goleman, 2001). Individu yang demikian cenderung malas dan kurang mampu memberikan pelayanan yang baik kepada orang lain. Kecenderungan untuk malas tersebut bisa juga muncul ketika seseorang kurang mampu dalam mengelola emosinya. Ketika emosi negatif yang muncul tidak mampu dikelola dengan baik dimungkinkan seseorang tersebut kurang memiliki kemampuan dalam mengelola dirinya. Dalam lingkungan pekerjaan, hal ini bisa saja muncul ketika perasaan malas atau hubungan sosial yang tidak baik terjadi dibarengi dengan pekerjaan yang menumpuk. Dalam situasi yang demikian seseorang dengan selfmanagement yang buruk akan cenderung menggunakan waktunya untuk bermain internet atau membuang waktu yang tidak berhubungan dengan pekerjaan. Hal ini sejalan dengaan gagasan Sinamo (2005) bahwa individu yang tidak memiliki

(23) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 7 semangat kerja, malas, dan tidak dapat mengatur dirinya sendiri serta memiliki pandangan yang negatif akan pekerjaannya merupakan sifat individu yang memiliki etos kerja rendah. Penelitian yang dilakukan oleh Tejosukmono (2010) pada pegawai negeri di Pusdiklat Migas Cepu menemukan bahwa ada hubungan yang signifikan antara kecerdasan emosi dengan etos kerja. Bagi penulis, penelitian dengan tema tersebut masih perlu untuk diteliti. Hal ini dikarenakan pada penelitian sebelumnya subjek penilitian yang diambil adalah individu yang bekerja dalam ruang lingkup internal. Karakteristik subjek pada penelitian sebelumnya lebih sering berinteraksi, berdinamika dan berhubungan dengan pihak internal dalam hal ini Dinas Minyak dan Gas. Hal berbeda dalam penelitian ini adalah dengan memilih subjek PNS yang memiliki intensitas tinggi dalam berdinamika, berkomunikasi, dan berhubungan dengan orang lain dalam ruang lingkup eksternal yakni masyarakat secara umum. PNS yang dipilih peneliti sebagai subjek penelitian adalah PNS yang bekerja dalam bidang pelayanan masyarakat dan sebagian pekerjaannya digunakan untuk melayani masyarakat. Karakteristik PNS yang bekerja dalam bidang tersebut jelas memiliki perbedaan dengan PNS yang bekerja di balik layar atau backoffice, berbeda pula dengan PNS yang bekerja di bidang mekanik atau mesin. PNS yang berhadapan langsung dengan masyarakat atau konsumen memiliki intensitas yang lebih banyak dalam berkomunikasi dan berhubungan dengan orang lain. Seperti yang ditulis oleh Oginska-Bulik (2005) bahwa pekerjaan yang berhubungan dengan pelayanan terhadap orang lain sangat terkait dengan pengalaman emosional,

(24) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 8 terutama ketika berhubungan dengan pelanggan/masyarakat yang sangat memungkinkan menjadi penyebab terjadinya stress dalam tempat kerja. Hal lain yang menjadi alasan diperlukannya penelitian tersebut adalah adanya beberapa fenomena terkait dengan etos kerja yang khas pada masingmasing dinas-dinas pemerintah di Kota Yogyakarta. Jika penelitian sebelumnya didasarkan pada fenomena tunggal pada satu dinas yaitu Pusdiklat Cepu Migas, maka pada penelitian tersebut peneliti mengangkat subyek PNS dengan beberapa dinas yang memiliki fenomena etos kerja berbeda-beda disetiap intansinya. B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang tersebut maka dapat dirumuskan masalah penelitian ini, yaitu: Apakah ada hubungan antara kecerdasan emosional dan etos kerja pada Pegawai Negeri Sipil Kota Yogyakarta ? C. Tujuan Penelitian Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara kecerdasan emosional dan etos kerja pada Pegawai Negeri Sipil Kota Yogyakarta.

(25) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 9 D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis Hasil penelitian ini dapat memberikan manfaat untuk memperkaya dan menyumbangkan teori-teori ilmu psikologi khususnya psikologi organisasi dan industri yang berkaitan dengan kecerdasan emosional dan etos kerja. 2. Manfaat Praktis Bagi Pegawai Negeri Sipil Penelitian ini dapat memberikan masukan sebagai bahan evaluasi dan refleksi diri bagi Pegawai Negeri Sipil Kota Yogyakarta untuk mempertimbangkan aspek psikologis yaitu kecerdasan emosional dalam meningkatkan etos kerja.

(26) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 10 BAB II LANDASAN TEORI A. Etos Kerja 1. Pengertian Etos Kerja Secara etimologis, kata ethos berasal dari bahasa Yunani yang berarti adat istiadat atau kebiasaan. Semakin berkembang dan berevolusinya waktu, arti tersebut menjadi luas dan lebih kompleks menjadi „keyakinan yang mengarahkan individu, kelompok atau institusi‟ (Webster, dalam Sinamo 2011). Konsep etos kerja pertama kali muncul berawal dari pemikiran Max Weber yang tertuang dalam tesisnya berjudul “The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism” (Miller, 2001 ;Woehr, 2003 ;Woehr, 2007 ;Sinamo, 2011). Sejak diperkenalkannya etos kerja sebagai konstruk dalam ilmu psikologi pada tahun 1960, peneliti ilmu behavior telah berusaha menyelidiki ajaran yang ditetapkan oleh Weber (McClelland, dalam Hudspeth 2003). Secara khusus, Weber mengemukakan bahwa mereka menganggap keyakinan agama protestan didasarkan pada prinsip-prinsip yang mencerminkan kerja yang baik karena sebuah pekerjaan, misalnya ketekunan, ketepatan waktu dan dominasi dalam bekerja (Hudspeth, 2003). Konsep etos kerja menurut Weber memiliki karakteristik sebagai 10

(27) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 11 berikut : a) multidimensional, b) mengenai pekerjaan dan aktifitas yang berhubungan dengan bekerja, tidak spesifik pada jenis pekerjaan tertentu, c) dapat dipelajari, d) menunjuk kepada sikap dan keyakinan, namun tidak selalu perilaku, e) konstruk motivasi yang merefleksikan perilaku, dan f) sekuler, tidak mengarah pada keyakinan agama tertentu (Miller, 2001). Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan Kalemci (2011) bahwa konsep Protestant Work Ethic mampu diterapkan dalam berbagai konteks budaya, termasuk budaya non-Protestant. Konsep tentang etos kerja telah dipelajari oleh psikolog sosial dan bahkan para praktisi dalam beberapa dekade ini. Miller (2001) mendefinisikan etos kerja sebagai seperangkat keyakinan dan sikap yang mencerminkan nilai fundamental dari bekerja. Konsep yang diberikannya merupakan gambaran utuh dari literatur yang berasal dari Weber. Tasmara (2004) mengartikan etos kerja sebagai suatu totalitas dari individu serta cara individu mengekspresikan, memandang, meyakini, dan memberikan makna terhadap suatu yang mendorong individu untuk bertindak meraih hasil yang optimal. Menurut Anoraga (2005) etos kerja adalah suatu pandangan dan sikap suatu bangsa atau satu umat terhadap kerja. Pandangan Sinamo (2011) mengenai etos kerja dalam bukunya yang berjudul “Delapan Etos Kerja Profesional” mengartikannya sebagai seperangkat perilaku positif yang berakar pada keyakinan yang disertai komitmen total pada paradigma kerja. Mc Cortney dan Engels (dalam Schouten, 2011) mendefinisikan etos

(28) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 12 kerja sebagai konstruksi multidimensi yang terdiri dari dua bagian yaitu sikap internal atau nilai yang menjadi pegangan bagi individu dan sikap serta nilai yang tercermin dalam perilaku yang berhubungan dengan kerja. Berdasarkan penjelasan tersebut, dapat disimpulkan bahwa etos kerja merupakan suatu pandangan atau keyakinan yang melekat pada individu yang berkaitan dengan bekerja, keyakinan tersebut akan menciptakan sikap maupun perilaku tertentu ketika individu tersebut melakukan pekerjaannya. Seseorang yang memiliki etos kerja yang tinggi akan menempatkan nilai yang besar akan pentingnya bekerja guna menghasilkan performansi kerja yang baik. Lain halnya apabila seseorang memiliki etos kerja yang rendah, maka akan cenderung memandang pekerjaan sebagai sesuatu yang tidak berarti sehingga hal tersebut menghambat dalam penyelesaian tanggung jawabnya yang berhubungan dengan bekerja. 2. Dimensi Etos Kerja Miller, Woehr, dan Hudpeth (2001) merumuskan tujuh dimensi dari etos kerja yang kemudian disebut sebagai Multidimensional Work Ethic Profile (MWEP). Adapun beberapa dimensinya adalah sebagai berikut :

(29) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 13 a. Kemandirian (Self Reliance) Miller mendefinisikan sebagai berjuang untuk mandiri dalam pekerjaan sehari-hari. Gonzalez (2006) menjelaskan kemandirian kemampuan mengacu pada individu untuk menghindari kebutuhan untuk bergantung pada orang lain. b. Moralitas (Morality/Ethics) Miller mendefinisikan sebagai keyakinan pada keadilan dan keberadaan moral, termasuk perilaku-perilaku tentang kerja. Gonzalez (2006) menambahkan bahwa hal ini mengacu pada keyakinan individu dalam memperlakukan orang lain, tidak pernah mengambil sesuatu yang bukan miliknya dan hidup dalam keadilan. c. Waktu Luang (Leisure) Miller mendefinisikan sebagai sikap-sikap yang mendukung waktu luang dan keyakinan untuk lebih memilih menggunakan waktu senggang ketika jam kerja berlangsung untuk bersantai atau melakukan aktifitas bukan untuk bekerja. Aktivitas waktu luang merupakan keikutsertaan dalam aktivitas di luar pekerjaan dan orientasi waktu luang merupakan keinginan untuk berpartisipasi dalam aktivitas tidak bekerja (Parker, dalam Van Ness, 2010).

(30) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 14 d. Kerja keras (Hard Work) Miller mendefinisikan kerja keras sebagai keyakinan akan baiknya kerja keras. Seseorang yang berkomitmen untuk bekerja keras dapat mengatasi hampir semua masalah, dapat meraih tujuan pribadi dan menjadikannya lebih baik. Van Ness (2010) mengartikan kerja keras sebagai kepercayaan bahwa seseorang dapat menjadi seseorang yang lebih baik dan meraih tujuannya melalui komitmen terhadap nilai dan pentingnya bekerja. e. Sentralitas dalam bekerja (Centrality of Work) Miller mendefinisikan sebagai keyakinan akan bekerja demi pekerjaan dan pentingnya bekerja. Gonzalez (2006) merepresentasikan sebagai pandangan bahwa terlepas dari situasi keuangan individu, pekerjaan tidak bisa dihindari karena memberikan makna dan tujuan dalam kehidupan seseorang. Penelitian Pryor dan Davies (dalam Van Ness, 2010) menyelidiki konsep sentralitas dalam bekerja sebenarnya fokus pada tiga konsep yakni : keyakinan bahwa bekerja itu baik dan meningkatkan martabat, sentralitas dalam bekerja adalah konsep residual, serta adanya ketertarikan afektif akan kerja.

(31) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 15 f. Waktu yang terbuang (Wasted Time) Miller mendefinisikan sebagai sikap dan keyakinan yang mencerminkan penggunaan waktu yang aktif dan produktif. Gonzalez (2006) menjelaskan waktu yang terbuang mengarah sebagai keyakinan seseorang dalam menggunakan waktu dengan cara yang paling efisien, produktif dan konstruktif yang dilakukan dengan perencanaan dan kegiatan yang terkoordinasi untuk menghindari terbuangnya waktu. g. Penundaan Kepuasan (Delay of Gratification) Miller mendefinisikan sebagai orientasi pada masa depan dan penundaan akan penghargaan. Penundaan tersebut mengacu pada apakah seseorang lebih memungkinan untuk bekerja keras untuk mencapai tujuan atau memperoleh imbalan, daripada terlibat dalam kepuasan yang instan. Van Ness (2010) menjelaskan bahwa penundaan kepuasan merefleksikan kemampuan meninggalkan kebiasaan penghargaan jangka pendek untuk menuai keuntungan di masa yang akan datang. Hal ini merupakan kemampuan individu untuk mempertahankan tindakan yang dipilih untuk penerimaan dari tujuan jangka panjang walaupun ada alternatif yang menggoda dan menawarkan kepuasan jangka pendek.

(32) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 16 3. Faktor yang mempengaruhi Etos Kerja Etos kerja dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu: a. Faktor Internal Seberapa tinggi atau rendahnya etos kerja seseorang dapat dipengaruhi oleh adanya motivasi intrinsik dalam diri individu. Anoraga (2005) mengatakan bahwa individu yang memiliki etos kerja tinggi adalah individu yang bermotivasi tinggi. Etos kerja merupakan suatu pandangan dan sikap, yang tentunya didasari oleh nilai-nilai yang diyakini seseorang. Keyakinan ini menjadi suatu motivasi kerja, yang mempengaruhi juga etos kerja seseorang. Etos kerja juga ditentukan oleh kualitas pendidikan, keahlian dan ketrampilan yang dimiliki individu. Sehingga, dengan meningkatnya kualitas tersebut semakin bertambahnya pula pandangan, sikap dan perilaku individu dalam bekerja. Peningkatan sumber daya manusia akan membuat seseorang mempunyai etos kerja. Rahimah, Fauziah, Suri dan Nasution (dalam Novliadi, 2009) juga menambahkan bahwa meningkatnya kualitas penduduk dapat tercapai apabila ada pendidikan yang merata dan bermutu, disertai dengan peningkatan dan perluasan pendidikan, keahlian dan keterampilan, sehingga semakin meningkat pula aktivitas dan produktivitas masyarakat sebagai pelaku ekonomi.

(33) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 17 Sebuah penelitan yang dilakukan oleh Pachrudianto (2012) menunjukkan bahwa kecerdasan emosional memiliki pengaruh yang signifikan dalam mempengaruhi etos kerja seseorang. Djajendra (2012) juga menyatakan bahwa emosi negatif karyawan yang tidak dikelola dengan baik akan menjadi sumber masalah, dapat mengurangi upaya dan kerja keras, mempengaruhi produktifitas, profitabilitas, kerja sama, kinerja, daya tahan, semangat kerja, dan pada akhirnya akan mengurangi keberhasilan perusahaan untuk mencapai target. Emosi negatif yang tidak dapat dikelola dengan baik akan mempengaruhi etos kerja seseorang. b. Faktor Eksternal Budaya yang tertanam sejak lama dalam masyarakat mampu mempengaruhi etos kerja yang dimunculkan individu. Budaya tersebut meliputi, disiplin, sikap mental yang diyakini oleh masyarakat setempat. Masyarakat yang memiliki sistem orientasi maju akan memiliki etos kerja yang tinggi. Sedangkan, masyarakat yang memiliki sistem masyarakat konservatif akan memiliki etos kerja yang rendah. Etos kerja juga dipengaruhi oleh lingkungan kerja yang mampu meningkatkan kinerja individu. Yang mana lingkungan kerja tersebut dipengaruhi oleh diantaranya fasilitas kerja, gaji atau tunjangan, dan hubungan kerja. Hubungan kerja antara individu satu

(34) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 18 dengan yang lain dapat meningkatkan produktivitas kerja ketika individu mampu mengahadapi pekerjaannya dan juga ketegangan psikologis yang ditimbulkan dari hubungan kerja tersebut (Sofyan, 2013). B. Kecerdasan Emosional 1. Pengertian Emosi Emosi berasal dari bahasa latin yaitu „movere‟ yang berarti bergerak. Arti tersebut mengungkapkan bahwa emosi ialah pusat dalam individu melakukan, bergerak, menuju ataupun menjauh kepada suatu stimulus (Sparrow & Knight, 2006). Menurut Daniel Goleman (2007) emosi ialah sesuatu yang merujuk pada perasaan dan pikiran yang khas, suatu keadaan biologis dan psikologis dan serangkaian kecenderungan untuk bertindak. Dijelaskan pula oleh Saphiro (2003) bahwa emosi bisa menjadi kekuatan apabila dapat mengelolanya dengan baik, dan agar bisa dikelola dengan baik perlu untuk dikendalikan dan dipelajari bagaimana mengutamakan kekuatan emosi yang efektif. Dijelaskan pula oleh Candace Pert (dalam Sparrow & Knight, 2006) melalui bukunya „Molecules of Emotion‟, ilmuwan saraf tersebut telah mengeksplorasi sistem komunikasi otak dengan tubuh. Hasil penelitiannya menyatakan bahwa emosi tidak hanya berada di otak, melainkan didasarkan pula pada reaksi biokimia yang terjadi di seluruh tubuh serta ditemukan di dalam hati dan dalam seluruh sistem saraf pusat.

(35) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 19 Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa emosi merupakan sesuatu yang merujuk pada perasaan khas yang dimiliki seseorang yang disebabkan oleh keadaan fisiologis maupun psikologis. Emosi tersebut dapat menjadi kekuatan apabila dikelola, dikendalikan dan digerakkan dengan baik untuk merespon stimulus tertentu. 2. Kecerdasan Emosional Istilah kecerdasan emosional pertama kali diperkenalkan oleh Peter Salovey dan Jack Mayer pada tahun 1990an. Mayer dan Salovey (dalam Serrat, 2009) mendeskripsikan kecerdasan emosi sebagai kemampuan dalam memonitor perasaan dan emosi diri sendiri maupun orang lain, serta untuk membedakan informasi yang diterima dan menggunakan informasi tersebut sebagai panduan dalam berpikir dan bertindak. Goleman (2007) menjelaskan kecerdasan emosional sebagai kemampuan untuk mengenali perasaan diri sendiri dan orang lain, memotivasi diri sendiri dan terkait pula dalam hubungan terhadap orang lain. Sementara itu, Fuimano (2004) mengartikan kecerdasan emosional sebagai kemampuan untuk secara efektif memahami, mengungkapkan, dan mengelola emosi diri maupun emosi orang lain secara positif dan dengan cara yang produktif. Salovey dan Mayer (dalam Vitello-Cicciu, 2003) membagi kecerdasan emosi kedalam empat proses mental, yaitu : mempersepsi atau mengidentifikasi emosi, mengintegrasikan emosi ke dalam proses berpikir, pemahaman terhadap emosi dan mengelola emosi.

(36) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 20 Berdasarkan penjelasan tersebut, dapat disimpulkan bahwa kecerdasan emosional ialah kompetensi pribadi yang berfungsi dalam mengenali emosi dan kemampuan untuk mengelolanya; serta merupakan kemampuan sosial dalam mengenali emosi orang lain, memahami secara empati dan membina hubungan yang baik dengan orang lain. 3. Aspek-Aspek Kecerdasan Emosional Goleman (2007) mengutip Salovey yang menempatkan kecerdasan pribadi Gardner ke dalam lima wilayah utama kecerdasan emosi, yaitu : a. Mengenali emosi diri Merupakan kemampuan untuk menyadari perasaan dan suasana hati, mengidentifikasi perasaan ketika itu terjadi, kemudian memahami penyebab perasaan itu muncul. Hal ini juga termasuk kesadaran diri akan perasaan yang dihasilkan dari orang lain. b. Mengelola emosi Setelah individu mampu mengenali perasaannya, kemudian menangani perasaan tersebut agar dapat diungkapkan dengan tepat. Kemampuan ini tergantung pada sejauh mana individu dengan baik mengenali emosinya. Orang-orang yang mampu mengelola emosi dapat berupa : mampu menghibur diri sendiri, melepaskan kecemasan, kemurungan atau ketersinggungan.

(37) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 21 c. Memotivasi diri sendiri Hal tersebut terkait dengan bagaimana individu mampu memotivasi diri dan menguasai diri sendirinya. Keterampilan ini juga termasuk ketekunan dalam menahan diri terhadap kepuasan dan mengendalikan dorongan hati. Orang-orang yang memiliki kemampuan tersebut cenderung lebih produktif dan efektif dalam apapun yang mereka kerjakan. d. Mengenali emosi orang lain Disebut pula sebagai empati yang merupakan kemampuan dalam mengenali secara sadar dan memahami emosi yang sedang orang lain rasakan. Orang yang memiliki empati lebih mampu menangkap sinyal-sinyal sosial yang tersembunyi yang mengisyaratkan apa saja yang dibutuhkan dan dikehendaki. e. Membina hubungan dengan orang lain Keterampilan tersebut merupakan keterampilan yang menunjang popularitas, kepemimpinan dan keberhasilan antar pribadi. Orang yang memiliki kemampuan tersebut mampu berinteraksi, menjalin hubungan dan mampu menempatkan dirinya dengan tepat dalam suatu kelompok. Lima aspek tersebut diklasifikasikan dalam dua kategori besar yaitu kompetensi pribadi dan kompetensi sosial. Kompetensi pribadi

(38) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 22 terdiri dari : mengenali emosi diri, mengelola emosi, dan memotivasi diri sendiri. Sedangkan kompentensi sosial terdiri dari : mengenali emosi orang lain dan membina hubungan dengan orang lain. Berdasarkan analisis statistik, terdapat model perbaikan dari lima aspek menjadi empat aspek sebagai berikut (Boyatzis, Goleman, & Rhee, 2000 ; Khalili, 2012) : a. Kesadaran diri (Self Awareness) Merupakan kompetensi personal dalam menyadari emosi. Kemampuan tersebut meliputi kekuatan untuk menilai diri secara akurat, mengenali dampak emosi yang timbul untuk menuntun keputusan pribadi, dan memiliki kepercayaan diri. b. Manajemen diri (Self Management) Merupakan kompetensi personal dalam mengelola atau mengendalikan emosi yang ditimbulkan secara pribadi. Kemampuan tersebut termasuk bagaimana seseorang mampu menjaga emosi yang mengganggu dan memiliki fleksibilitas dalam beradaptasi terhadap hambatan atau perubahan emosi yang dialami. Seseorang yang mampu mengelola emosi diri cenderung memiliki integritas dan menampilkan kejujuran,memiliki dorongan yang kuat dalam mencapai standar kinerja yang baik, memiliki inisiatif dan optimistik.

(39) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 23 c. Kesadaran sosial (Social Awareness) Merupakan kompetensi sosial dalam menyadari emosi orang lain dan respon terhadap emosi tesebut. Kemampuan tersebut meliputi bagaimana berempati terhadap emosi orang lain, memahami sudut pandang orang lain, dan melakukan aksi yang tepat dalam meresponnya. Dalam dunia kerja, seseorang yang memiliki kesadaran sosial akan mampu membaca situasi organisasi dan bersikap dewasa dalam meresponnya. Ditambahkan pula bahwa orang yang memiliki kesadaran sosial mampu memberikan pelayanan sosial yang baik terhadap klien ataupun orang lain yang berhubungan dengan pekerjaannya. d. Menjalin hubungan (Relationship Management) Merupakan kompetensi sosial dalam menjalin hubungan yang baik dengan orang lain. Seseorang yang memiliki kemampuan tersebut mampu untuk bekerjasama dalam tim, mampu menyelesaikan perselisihan yang timbul didalam kelompok, dan mampu memelihara agar hubungan dapat terjalin dengan baik. Termasuk didalam sikap kepemimpinan, merupakan pribadi yang berpengaruh, dan mampu mengembangkan kemampuan orang lain melalui umpan balik yang diberikan.

(40) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 24 Tabel 1 Model Perbaikan Kecerdasan Emosional Goleman (Khalili,2012) Recognition Regulation Personal Competence Self Awareness - Emotional self awareness - Accurate self-assessment - Self confidence Self Management - Emotional self control - Transparency - Adaptability - Achievement - Initiative - Optimism Social Competence Social Awareness - Empathy - Organisational awareness - Service Relationship Management - Inspirational leadership - Influence - Developing others - Change catalyst - Conflict management - Building bonds - Teamwork & collaboration 4. Dampak Kecerdasan Emosional Cary Cherniss (2001) melalui tulisannya dalam buku “The Emotionally Intelligent Workplace” mengatakan bahwa kecerdasan emosional memainkan peran yang penting dalam menjawab setiap permasalahan dalam organisasi khususnya di tempat kerja. Dijelaskan pula bahwa kecerdasan emosi di tempat kerja berdampak pada efektivitas organisasi yang tampak dalam beberapa hal antara lain : Teamwork, Employee Commitment, Innovation, Productivity, Efficiency, dan Quality of Service. Nasser (2011) juga menambahkan bahwa kecerdasan emosi memiliki dampak yang positif pada kinerja kelompok/organisasi. Druskat dan Wolff (2001) dan Paul (2006) menjelaskan bahwa kecerdasan emosional pada individu memberikan konstribusi bermakna untuk membangun sebuah organisasi yang memiliki kecerdasan emosi.

(41) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 25 Setiap orang bertanggungjawab sendiri untuk meningkatkan kecerdasan emosinya, untuk digunakan dalam berhubungan dengan orang lain, dan untuk menerapkan keterampilan kecerdasan emosi terhadap organisasi secara keseluruhan. Nasser (2011) juga menjelaskan bahwa kecerdasan emosional merupakan konsep multi-dimensi yang menghubungkan emosi dan kognisi untuk meningkatkan interaksi dengan orang lain. Emosi yang sedang dialami pada masing-masing individu diekspresikan melalui beberapa perilaku dalam kelompok. Dalam menginterpretasi dan mengelola emosi tidak jarang menimbulkan beberapa dinamika termasuk diantaranya muncul sebuah konflik. Sebuah organisasi/kelompok yang cerdas secara emosional akan merespon dan menampilkan kerjasama, komitmen dan kreativitas yang penting bagi efektivitas organisasi (Cherniss, 2001). Dalam sebuah penelitian juga ditemukan bahawa kinerja kelompok secara positif dan signifikan dipengaruhi jika kelompok mampu mengenali emosi dari anggota kelompok yang lain (Stough, Saklofske & Parker, 2009). C. Pegawai Negeri Sipil Pengertian Pegawai Negeri dicantumkan dalam Undang-undang Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 1999 tentang perubahan atas Undang-undang Nomor 8 Tahun 1974 Tentang Pokok-pokok Kepegawaian. Dalam Undangundang tersebut menjelaskan pegawai negeri sebagai warga negara Republik Indonesia yang telah memenuhi syarat yang ditentukan, diangkat oleh pejabat

(42) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 26 yang berwenang dan diserahi tugas dalam suatu jabatan negera, atau diserahi tugas negara lainnya, dan digaji berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Berikut pada pasal 2 UU No.43 Th.1999 dijelaskan bahwa pegawai negeri terdiri dari Pegawai Negeri Sipil, Anggota Tentara Nasional Indonesia dan Anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia. Pegawai Negeri Sipil yang dimaksud terbagi menjadi Pegawai Negeri Sipil Pusat dan Pegawai Negeri Daerah. Dalam Peraturan Pemerintah No.96 Th 2000 mengatur bahwa Pegawai Negeri Sipil Daerah adalah pegawai negeri sipil daerah propinsi/kabupaten/kota yang gajinya dibebankan pada anggaran pendapatan dan belanja daerah dan bekerja pada pemerintah daerah atau dipekerjakan di luar instansi induknya. D. Dinamika Hubungan Antara Kecerdasan Emosional dan Etos Kerja Kecerdasan emosi memiliki manfaat dalam meningkatkan produktivitas dan performansi kerja karyawan. Kecerdasan emosi membuat individu mampu secara personal mengenali dan mengelola emosinya, juga secara sosial mampu mengenali dan memahami emosi orang lain dengan penuh empati. Dalam aspek kesadaran diri, individu yang memiliki tingkat kecerdasan emosi tinggi cenderung akan memiliki kapasitas untuk membuat keputusan dan memiliki kepercayaan diri yang memadai. Dengan kapasitas tersebut, maka individu tersebut akan mampu menjadi pribadi yang mandiri.

(43) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 27 Kemandirian ini ditandai dengan tiadanya ketergantungan terhadap orang lain sehingga pribadi tersebut mampu untuk secara sadar bertanggung-jawab terhadap dirinya sendiri dan pekerjaannya. Kesadaran bahwa dirinya memiliki tanggung jawab ini akan berdampak pada kompetensi sosial seseorang. Dengan bertanggung-jawab terhadap dirinya sendiri, individu ini memiliki pemahaman bahwa tiap-tiap orang dalam organisasi memiliki tugas masing-masing. Dalam hal ini, individu mampu memahami bahwa ada unsur keadilan dalam pembagian kerja sesuai kemampuan masing-masing. Pemahaman bahwa hanya kemampuan dirinya yang bisa menyelesaikan tugas yang diberikan padanya, memunculkan sikap optimis terhadap penyelesaian tugas. Optimisme ini dengan sendirinya akan mendukung individu dalam menyelesaikan tugasnya. Individu yang mampu menyelesaikan tugasnya, tidak akan menyusahkan rekan-rekan organisasinya. Dengan penyelesaian tugas ini, individu tersebut telah berpartisipasi dalam tercapainya tujuan bersama dalam pekerjaannya. Artinya, individu ini juga bertanggung-jawab secara sosial sehingga muncullah kesadaran sosial bahwa dirinya adalah bagian kecil dari suatu sistem yang lebih luas. Oleh karena itu, dengan penyelesaian tugas yang menjadi bagiannya, perselisihan yang timbul dalam kelompok dapat direduksi. Sedikitnya konflik yang muncul ini akan menciptakan relasi yang baik antar rekan organisasinya sehingga lingkungan kerja menjadi lebih nyaman dan kondusif untuk bekerja.

(44) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 28 Lingkungan yang kondusif ini berpotensi memberi makna bagi individu. Dalam lingkungan yang kondusif, individu mampu belajar untuk membangun empati terhadap teman kerjanya. Empati inilah yang kemudian mampu memberi arti bahwa dirinya berharga dalam lingkungan kerjanya sehingga apa yang dia kerjakan bukanlah semata-mata hanya untuk memenuhi target, melainkan juga menjadi sebuah pembelajaran hidup yang berharga. Penghargaan akan dirinya dan pekerjaannya ini akan memungkinkan seseorang akan bekerja keras tidak hanya demi imbalan semata, melainkan juga demi diri dan orang sekitarnya. Selain itu, lingkungan yang kondusif cenderung membuat individu untuk menikmati pekerjaannya. Oleh karenanya, perilaku yang menunjukkan penundaan pekerjaan akan direduksi sesedikit mungkin. Dengan minimnya penundaan kerja, implikasinya adalah pada penggunaan waktu yang efektif, produktif, efisien, juga konstruktif. Penggunaan waktu secara tepat inilah yang menunjukkan bahwa individu ini memiliki manajemen diri yang baik berkaitan dengan pencapaian kerjanya. Selain itu, hal ini juga berkaitan dengan empati dalam bekerja, individu akan merasa tidak “enak” jika melihat dirinya bersantai sedangkan orang lain sedang susah-susah bekerja, kecuali apabila pekerjaannya pribadi benar-benar sudah final. Ketika seseorang memiliki kecerdasan emosi secara personal maupun sosial di lingkungan kerja, ia mampu mengendalikan diri dan memiliki daya tahan dalam menghadapi stress kerja. Dia juga mampu mengatur suasana hati dan kecemasan agar tidak menganggu performansinya dalam bekerja. Dengan

(45) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 29 demikian, kecerdasan emosi mampu menciptakan pola hubungan yang harmonis antar individu di lingkungan kerja sehingga mereduksi ketegangan psikologi dari masing-masing individu. Dengan demikian, setiap orang dapat bekerja dengan maksimal dan produktif karena didukung oleh lingkungan sosial yang kondusif (Sofyan, 2013). Kecerdasan emosi juga membuat individu mampu meningkatkan daya tahan dan semangat kerja, sehingga mampu meningkatkan motivasi diri untuk lebih produktif dan berhasil mencapai target. Hal ini berarti kecerdasan emosi dapat membuat individu memiliki motivasi yang tinggi, yang mana motivasi tersebut dapat mempengaruhi seseorang untuk memiliki etos kerja yang tinggi pula. Berbeda halnya dengan seseorang yang memiliki kecerdasan emosi rendah. Ketidakmampuan dalam mengontrol diri akan cenderung mengarahkan individu untuk menyia-nyiakan waktu kerja. Seseorang yang dilanda amarah ataupun perasaan malas ketika sedang bekerja, apabila dirinya tidak mampu mengatasi situasi emosinya maka akan dimungkinkan untuk menggunakan waktu kerjanya untuk hal-hal yang tidak berguna. Lebih parah lagi apabila seseorang tersebut meninggalkan jam kerja untuk berbelanja, bermain internet, atau mengkorupsi waktu untuk kebutuhan pribadinya. Hal ini dapat menjadi kebiasaan apabila seringkali dilakukan dan akan terinternalisasikan hingga kemudian menyebabkan etos kerja seseorang tersebut menjadi tidak baik. Apabila seseorang tidak mampu mengenali dan mengontrol emosinya maka kejenuhan yang dialami tidak mampu

(46) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 30 menggerakkan semangat kerjanya. Dengan kata lain, perasaan malas yang ditimbulkan tidak mampu dikontrolnya dengan baik sehingga perilaku yang muncul justru dapat mengganggu penyelesaian tanggunjawab seseorang tersebut. Demikian juga terjadi pada Pegawai Negeri Sipil yang bekerja pada bidang pelayanan masyarakat tidak hanya dituntut untuk melayani tetapi juga perlu memiliki kecerdasan emosi dalam berdinamika di tempat kerja. Hal ini dikarenakan, pekerjaan yang terkait dengan pelayanan terhadap orang lain jelas terkait pula dengan emosi (Oginska-Bulik, 2005). Dengan cerdas secara emosi mereka memiliki daya tahan, motivasi, semangat kerja dan kemampuan emosi negatif sehingga mampu menciptakan kedisiplinan, sikap mental yang kuat, tekad dan orientasi maju terhadap pekerjaan. Sehingga mampu menghasilkan produkfitias yang baik dalam lingkungan kerja dan baik pula dalam bentuk pelayanan kepada masyarakat. Hal tersebut tercermin dalam perilaku baik, adil, mengedepankan moral dalam melayani orang lain. Memiliki keyakinan akan pentingnya bekerja dan rela menunda kepuasan sementara demi tercapainya tujuan kerja yang lebih besar.

(47) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 31 Pegawai Negeri Sipil Kecerdasan Emosi Tinggi  Memiliki kompetensi emosi secara personal maupun sosial yang baik.  Mampu mengenali dan mengelola emosi dengan baik.  Mampu memahami emosi orang lain, memiliki kesadaran sosial yang baik, dan mampu bekerjasama dan berhubungan baik dengan orang lain.  Memiliki daya juang, kemandirian dan semangat kerja keras dalam bekerja.  Menggunakan waktu kerja dengan penuh tanggungjawab  Berperilaku baik, adil, mengedepankan moral dalam melayani orang lain.  Memiliki keyakinan akan pentingnya bekerja dan rela menunda kepuasan sementara demi tercapainya tujuan kerja yang lebih besar. Memiliki Etos Kerja Tinggi Kecerdasan Emosi Rendah  Tidak memiliki kompetensi emosi secara personal maupun sosial.  Tidak Mampu mengenali dan mengelola emosi dengan baik.  Tidak Mampu memahami emosi orang lain, memiliki kesadaran sosial yang buruk, dan tidak mampu bekerjasama dan berhubungan baik dengan orang lain.  Cenderung malas, sangat tergantung oleh orang lain, dan tidak memiliki semangat kerja keras.  Cenderung membuang waktu untuk halhal yang tidak berhubungan dengan pekerjaan. Termasuk melakukan korupsi terhadap jam kerja.  Berperilaku tidak baik dalam memberikan pelayanan kepada orang lain.  Baginya pekerjaan tidak memiliki arti yang besar dan cenderung mudah puas dengan pencapaian yang sifatnya instan atau sementara. Memiliki Etos Kerja Rendah Gambar 1. Skema Hubungan Antara Kecerdasan Emosional dan Etos Kerja pada Pegawai Negeri Sipil

(48) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 32 C. Hipotesis Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah adanya hubungan yang positif antara kecerdasan emosional dengan etos kerja pada pegawai negeri sipil Kota Yogyakarta.

(49) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 33 BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Jenis penelitian ini adalah penelitian korelasional, dimana penelitian tersebut berbentuk hubungan antara dua variabel yang memiliki tujuan untuk melihat variasi antara satu variabel dengan variabel lainnya (Azwar,2009). Tujuan dari penelitian ialah untuk melihat hubungan antara variabel kecerdasan emosional dengan variabel etos kerja pada Pegawai Negeri Sipil Kota Yogyakarta. B. Variabel Penelitian Variabel yang digunakan dalam penelitian tersebut ialah : 1. Variabel bebas (x) : Kecerdasan Emosional pada Pegawai Negeri Sipil 2. Variabel tergantung (y) : Etos Kerja pada Pegawai Negeri Sipil C. Defenisi Operasional 1. Kecerdasan Emosional Kecerdasan emosional adalah kompetensi pribadi yang berfungsi dalam mengenali emosi dan kemampuan untuk mengelolanya; serta merupakan kemampuan sosial dalam mengenali emosi orang lain, memahami secara empati dan membina hubungan yang baik dengan 33

(50) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 34 orang lain. Kecerdasan emosional diungkap melalui skala kecerdasan emosional yang terdiri dari empat aspek yaitu kesadaran diri, manajemen diri, kesadaran sosial, dan menjalin hubungan. Perolehan nilai skor total dari skala menentukan tinggi rendahnya kecerdasan emosional pada PNS. Semakin tinggi nilai skor total yang diperoleh subjek dalam skala kecerdasan emosional menunjukkan bahwa subyek memiliki kecerdasan emosi yang tinggi. Sebaliknya, apabila nilai skor semakin rendah menunjukkan bahwa subjek memiliki kecerdasan emosional yang semakin rendah. 2. Etos Kerja (Work Ethics) Etos kerja merupakan suatu pandangan atau keyakinan yang melekat pada PNS yang berkaitan dengan bekerja. Keyakinan tersebut akan menciptakan sikap maupun perilaku tertentu ketika individu tersebut melakukan pekerjaannya. Tujuh dimensi etos kerja adalah kemandirian (Self Reliance), moralitas (Morality/Ethics), waktu luang (Leisure), kerja keras (Hard Work), sentralitas dalam bekerja (Centrality of Work), waktu yang terbuang (wasted time), dan penundaan kepuasan (Delay of Gratification). Perolehan nilai skor total dari skala menentukan tinggi rendahnya etos kerja pada PNS. Semakin tinggi skor total yang diperoleh maka semakin tinggi pula etos kerja subyek. Demikian pula apabila skor

(51) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 35 semakin rendah, maka subyek tersebut memiliki etos kerja yang semakin rendah. Selain dilihat dari skor total, dapat pula dilihat pada tiap dimensi. D. Subjek Penelitian Subjek penelitian ini adalah pegawai negeri sipil. Adapun kriteria subyek yang dimaksud adalah pegawai negeri sipil yang berdomisili atau bekerja di wilayah kota Yogyakarta. PNS yang dijadikan sampel adalah PNS yang bekerja dalam bidang pelayanan publik. Dalam menentukan sampel penelitian, peneliti menggunakan model convenience sampling. Model tersebut berarti pemilihan sekelompok subjek didasarkan atas kemudahan peneliti. E. Metode dan Alat Pengumpulan Data Dalam penelitian ini metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode skala. Jenis skala yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan skala Likert. Pada skala ini terdiri dari pernyataanpernyataan favorable dan unfavorable dengan alternatif jawaban seperti “Sangat Sesuai”, “Sesuai”, “Tidak Sesuai”, “Sangat Tidak Sesuai”. Adapun penilaian subjek untuk pernyataan favorable dan unfavorable tampak pada tabel berikut ini: Tabel 2 Pemberian Nilai Skor Sangat Skor Item Sesuai Favorable 4 Unfavorable 1 Sesuai 3 2 Tidak Sesuai 2 3 Sangat Tidak Sesuai 1 4

(52) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 36 Pada penelitian ini digunakan dua skala, yaitu skala kecerdasan emosi dan skala etos kerja. Adapun skala dari masing-masing variabel penelitian adalah sebagai berikut : 1. Skala Kecerdasan Emosional Skala kecerdasan emosi ini disusun berdasarkan aspekaspek yang dikemukakan oleh Goleman, yaitu : a. Kesadaran diri (Self Awareness) b. Manajemen diri (Self Management) c. Kesadaran sosial (Social Awareness) d. Menjalin hubungan (Relationship Management) Keempat aspek tersebut merupakan dasar dalam penyusunan skala kecerdasan emosi yang disusun oleh peneliti dengan jumlah total 56 item pernyataan. Tabel 3 Distribusi Item Skala Kecerdasan Emosional Item Aspek Kecerdasan Emosi Favourable Unfavourable Total Item Kesadaran Diri Mengelola Diri Kesadaran Sosial Mengelola Hubungan Sosial Total Item 7 7 7 7 28 7 7 7 7 28 14 14 14 14 56

(53) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 37 Tabel 4 Blue Print Skala Kecerdasan Emosional Aspek Kecerdasan Emosi Kesadaran Diri Mengelola Diri Kesadaran Sosial Mengelola Hubungan Sosial Total Item 2. Nomor Item Favourable Unfavourable 7,9,17,19,23,25,2 7 2,4,12,14,22,24,2 6,8,10,16,18,20,2 8 6 29,32,38,39,43,44 34,35,45,46,49,50 ,55 ,54, 1,3,5,11,13,15,21 33,36,37,47,48,51 30,31,40,41,42,53 ,52 ,56 28 28 Total Prosentase Item 14 14 14 25% 25% 25% 25% 14 56 100% Skala Etos Kerja Skala etos kerja disusun berdasarkan aspek-aspek yang dikemukakan oleh Miller : a. Kemandirian (Self Reliance) b. Moralitas (Morality/Ethics) c. Waktu Luang (Leisure) d. Kerja Keras (Hard Work) e. Sentralitas dalam bekerja (Centrality of Work) f. Waktu yang terbuang (Wasted Time) g. Penundaan Kepuasan (Delay of Gratification)

(54) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 38 Tabel 5 Distribusi Item Skala Etos Kerja Aspek Etos Kerja Item Keterangan Kemandirian Moralitas Waktu Luang Kerja Keras Sentralitas dalam bekerja Waktu yang terbuang Penundaan Kepuasan Total Item 10 10 10 10 10 8 7 65 Favorable Favorable Unfavorable Favorable Favorable Favorable Favorable Tabel 6 Blue Print Skala Etos Kerja Aspek Etos Kerja Nomor Item 6, 21, 26, 28, 32, 34, 44, 50, 55, 59 7, 16, 15, 25, 37, 48, 51, 54, Moralitas* 57, 61 5, 8, 14, 18, 27, 31, 43, 49, Waktu Luang 58, 63 17, 20, 22, 24, 35, 38, 45, Kerja Keras 47, 53, 60 2, 4, 10, 13, 30, 33, 40, 41, Sentralitas dalam 52, 64 bekerja 1, 9, 12, 23, 36, 39, 56, 65 Waktu yang terbuang 3, 11, 19, 29, 42, 46, 62 Penundaan Kepuasan 65 Total Item *item yang digaris bawah adalah item unfavorable Kemandirian Total Item Keterangan 10 Favorable 10 Favorable 10 Unfavorable 10 Favorable 10 Favorable 8 7 65 Favorable Favorable

(55) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 39 F. Validitas & Reliabilitas 1. Validitas Validitas dalam pengertian yang paling umum, adalah ketepatan dan kecermatan skala dalam menjalankan fungsi ukurnya. Artinya, sejauhmana skala itu mampu mengukur atribut yang dirancang untuk mengukurnya (Azwar, 2010). Suatu tes atau instrumen pengukur dapat dikatakan mempunyai validitas yang tinggi apabila alat tersebut menjalankan fungsi ukurnya atau memberikan hasil ukur yang sesuai dengan maksud dilakukannya pengukuran tersebut. Tes yang menghasilkan data tidak relevan dengan tujuan pengukuran dikatakan sebagai tes yang memiliki validitas rendah (Azwar, 2010). Penelitian ini menggunakan validitas isi yang menunjukan adanya item-item yang dalam alat ukur yang menunjukan keseluruhan isi objek yang hendak diukur. Validitas isi dalam penelitian ini diuji dengan analisis rasional terhadap isi atau professional judgement (Azwar, 2007). Analisis rasional atau professional judgement dalam penelitian ini dilakukan dengan mengkonsultasikan item-item tersebut kepada ahli yang dalam hal ini adalah dosen pembimbing dan translator bahasa. Tujuannya adalah untuk mengetahui sejauh mana item-item dalam alat ukur ini mencakup keseluruhan isi objek yang hendak diukur (Azwar, 2007).

(56) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 40 2. Seleksi Item Uji daya beda item atau seleksi item dilakukan sebelum melakukan pengujian terhadap reliabilitas dan validitas. Prosedur seleksi item dilakukan dengan cara menguji karakteristik masing-masing item yang menjadi bagian skala pengukuran. Item yang tidak memenuhi syarat kualitas tidak diikutkan menjadi bagian tes (Azwar,2010). Menurut Azwar, pengujian daya diskriminasi item dilakukan dengan cara menghitung koefisien korelasi antara distribusi skor item dengan distribusi skor skala itu sendiri. Hasil dari pengujian ini disebut koefisien korelasi item total (rix) (2012). Uji coba dalam penelitian ini dilakukan pada tanggal 23 – 27 Januari 2014 dengan melibatkan 80 subjek, yaitu PNS yang bekerja di Dinas Perizinan, Dinas Sosial, dan Dinas Perpajakan Daerah Kota Yogyakarta. Peneliti menggunakan batasan rix ≥ 0,30 sebagai kriteria untuk memilih item yang sahih dan berkualitas. Hasil pada skala kecerdasan emosi dari jumlah 56 item, terdapat 40 item yang baik dan 16 item yang tidak baik. Besarnya rix bergerak dari angka -0,120 sampai 0,608. Sedangkan, pada skala etos kerja dari jumlah 65 item, terdapat 45 item yang baik dan 20 item yang tidak baik. Besarnya rix bergerak dari angka -0,196 sampai 0,656. Berdasarkan analisis tersebut, ditemukan bahwa ada satu dimensi dari varibel etos kerja yaitu leisure yang tidak digunakan oleh peneliti karena semua item yang terdapat didalamnya memiliki nilai diskriminasi sangat rendah. Dimensi Leisure yang memiliki

(57) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 41 10 item terdapat 9 item diantaranya gugur dengan nilai r ix yaitu -0,196 sampai 0,185. Nilai tersebut berarti pada dimensi leisure memiliki diskriminasi item yang rendah. Hal yang memungkinkan nilai tersebut sangat rendah adalah penyusunan item yang kurang dapat dipahami oleh subyek yang memungkinkan untuk menimbulkan multi tafsir dalam mengartikan waktu luang atau waktu senggang. Dalam hal ini, peneliti menyadari bahwa hal tersebut menjadi salah satu kekurangan yang terdapat dalam penelitian tersebut. Tabel 7 Daftar item yang gugur Skala Kecerdasan Emosional SebelumUji Coba Aspek Kecerdasan Emosi Kesadaran Diri Mengelola Diri Kesadaran Sosial Mengelola Hubungan Sosial Total Item Nomor Item Favourable Unfavourable 1,3,5,11,13,15,2 7,9,17,19,23,2 1 5,27 * * 2,4,12,14 ,22,2 6,8 ,10,16*,18, 4,28 20,26 * 29,32,38 ,39,43 34,35,45,46,49 ,44,55 ,50,54, Total Item 14 14 14 Prosentase 25% 25% 25% 25% 33,36,37*,47,48 ,51,52 30,31,40,41*,4 2,53,56* 14 28 28 56 100% Keterangan : tanda _ item digugurkan karena rix ≤ 0,30, * sengaja digugurkan.

(58) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 42 Tabel 8 Hasil Seleksi Item Skala Kecerdasan Emosional Sesudah Uji Coba Aspek Kecerdasan Emosi Nomor Item Favourable Kesadaran Diri 9, 17, 21, 25 Mengelola Diri 2, 14, 18, 26, 34 Kesadaran Sosial Mengelola Hubungan Sosial 3, 19, 23, 31 4, 12, 20, 24, 28, 36 Total Item Unfavourable 1, 5, 13, 29, 33, 37 6, 10, 22, 30, 38 7, 11, 15, 27, 35, 39 10 10 10 Prosentase 25% 25% 25% 25% 8, 16, 32, 40 10 Total Item 40 100% Tabel 9 Daftar item yang gugur Skala Etos Kerja SebelumUji Coba Aspek Etos Kerja Kemandirian Moralitas Waktu Luang Kerja Keras Sentralitas dalam bekerja Waktu yang terbuang Penundaan Kepuasan Total Item Nomor Item 6, 21, 26, 28, 32, 34, 44, 50, 55, 59 7, 16, 15, 25, 37, 48, 51, 54, 57, 61 5, 8, 14, 18, 27, 31, 43*, 49, 58, 63 17, 20, 22, 24, 35, 38, 45, 47, 53, 60 2, 4, 10, 13, 30, 33, 40, 41, 52, 64 1, 9, 12, 23, 36, 39, 56, 65 3, 11, 19, 29, 42, 46, 62 65 Total Item Keterangan 10 Favorable 10 Favorable 10 Unfavorable 10 Favorable 10 Favorable 8 Favorable 7 Favorable 65 Keterangan : tanda _ adalah item unfavorable. Cetak hitam adalah item yang digugurkan karena rix ≤ 0,30, * sengaja digugurkan.

(59) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 43 Tabel 10 Hasil Seleksi Item Skala Etos Kerja Sesudah Uji Coba Aspek Etos Kerja Nomor Item Total Item 1, 7, 13, 18, 23, 9 31, 35, 40, 44 2, 8, 14, 19, 24, 8 Moralitas* 32, 36, 41 3, 9, 15,20, 25, 10 Kerja Keras 26, 33, 37, 42, 45 4, 10, 16, 21, 27, 7 Sentralitas dalam 34, 38 bekerja 5, 11, 17, 22, 28, 8 Waktu yang terbuang 29, 39, 43 6, 12, 30 3 Penundaan Kepuasan 45 45 Total Item *item yang digaris bawah adalah item unfavorable Kemandirian Keterangan Favorable Favorable Favorable Favorable Favorable Favorable 3. Reliabilitas Azwar (2007) mengungkapkan bahwa reliabilitas mengacu pada konsistensi atau kepercayaan hasil ukur, yang mengandung makna kecermatan pengukuran. Dalam penelitian ini, teknik reliabilitas yang digunakan adalah koefisien Alpha Cronbach dengan perhitungannya menggunakan program komputer Statistical Packages for Social Sciences (SPSS) for Windows version 16.0. Hasil analisis data yang telah dilakukan menunjukkan bahwa koefisien Alpha Cronbach pada variabel kecerdasan emosional adalah 0,913. Hal tersebut menunjukkan bahwa koefisien realiabilitas pada variabel kecerdasan emosional adalah tinggi karena nilai mendekati angka

(60) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 44 1,00. Demikian juga dengan variabel etos kerja, berdasarkan analisis data diperoleh nilai 0,908. Hal tersebut berarti bahwa varibel etos kerja memiliki koefisien reliabilitas yang tinggi karena nilai yang dimiliki mendekati angka 1,00. Variabel etos kerja terdiri dari tujuh dimensi yaitu kemandirian (Self Reliance), moralitas (Morality/Ethics), waktu luang (Leisure), kerja keras (Hard Work), sentralitas dalam bekerja (Centrality of Work), waktu yang terbuang (wasted time), dan penundaan kepuasan (Delay of Gratification). Dari masing-masing dimensi tersebut diperoleh koefisien realiabilitas yaitu 0,810 ; 0,734 ; 0,734 ; 0,891 ; 0,725 ; 0,671 dan 0,582. G. Teknik Analisis Data 1. Uji Asumsi Pengujian hipotesis dilakukan dengan menggunakan korelasi Spearman’s rho. Agar hasil pengujian korelasi tidak bias, data-data dari variabel tergantung dan bebas harus memenuhi uji asumsi yaitu : uji normalitas dan linearitas. Uji asumsi ini dilakukan untuk mengetahui normal atau tidaknya sebaran dan hubungan antar variabel bersifat linier atau tidak. a. Uji Normalitas Uji normalitas adalah pengujian untuk melihat data penelitian yang berasal dari sebaran dari populasi bersifat normal atau tidak.

(61) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 45 Teknik yang digunakan dalam pengujian normalitas adalah teknik Kolmogorov-Smirnov. Taraf signifikan yang digunakan untuk menguji asumsi normalitas sebaran adalah 0,05. Hasil uji normalitas dengan p˂0,05 mengindikasikan bahwa data yang dimiliki memiliki sebaran data yang tidak normal. Sebalikanya, hasil uji normalitas dengan p˃0,05 dapat disimpulkan bahwa sebaran data yang dimiliki bersifat normal. b. Uji Linearitas Uji linearitas digunakan untuk melihat hubungan antar variabel bersifat linear atau tidak yang berarti apabila terjadi peningkatan atau penurunan kuantitas pada satu variabel, maka hal tersebut akan diikuti secara liniar (mengikuti garis lurus) oleh peningkatan atau penurunan kuantitas pada variabel lain (Santoso, 2010). Uji linearitas pada penelitian ini akan menggunakan test for linierity yang terdapat dalam program SPSS. 2. Uji Hipotesis Teknik analisis data yang dilakukan dalam penelitian ini menggunakan teknik korelasi Spearman’s rho. Teknik korelasi Spearmen digunakan untuk melihat hubungan antara kedua variabel dengan karakteristik data non parametrik. Teknik tersebut digunakan apabila uji normalitas telah ditemukan bahwa sebaran data bersifat tidak normal yaitu dengan

(62) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 46 p>0,05. Perhitungan teknik korelasi ini dilakukan dengan bantuan program SPSS versi 16.00.

(63) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 47 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Pelaksanaan Penelitian Penelitian dilakukan pada tanggal 13 Februari 2014 sampai dengan 27 Februari 2014. Peneliti melakukan pengambilan data ke beberapa Kecamatan yang mudah terjangkau dan beberapa Dinas Pemerintah Kota yang berada di Balai Kota. Peneliti mengunjungi beberapa intansi pemerintah tersebut untuk bertemu dengan bagian sekertariat, pelayanan atau bagian umum. Setelah peneliti mendapatkan jumlah subyek yang sesuai dengan kriteria subyek penelitian, maka peneliti menitipkan skala penelitian ke salah satu orang petugas untuk dibagikan dan diisi oleh subyek dan akan peneliti ambil pada waktu yang sudah disepakati bersama. Secara keseluruhan, peneliti membagikan 177 lembar skala penelitan. Dari jumlah tersebut yang kembali dan dapat dianalisis terdapat 133 lembar skala penelitian. Tidak kembalinya skala penelitian yang berjumlah 44 lembar dikarenakan beberapa alasan, antara lain: hilangnya skala penelitian, jumlah subyek yang ternyata tidak seperti yang dikatakan diawal, subyek yang lupa mengisi, dan subyek yang membutuhkan waktu lama untuk mengisi sehingga peneliti memutuskan untuk tidak mengambil skala tersebut. 47

(64) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 48 B. Deskripsi Subyek Berdasarkan sebaran skala penelitian pada subyek PNS yang berkerja di bidang pelayanan publik, diperoleh data sebagai berikut : Tabel 11 Sebaran Subyek Penelitian No. Nama Instansi 1 Dinas Kesehatan 2 Dinas Kependudukan & Pencatatan Sipil 3 Puskesmas Wirobrajan 4 Kecamatan Jetis 5 Kecamatan Tegalrejo 6 Kecamatan Wirobrajan 7 Kecamatan Ngampilan 8 Kecamatan Gondomanan 9 Kecamatan Mergangsan 10 Kecamatan Danurejan 11 Kecamatan Umbulharjo 12 Kecamatan Pakualaman TOTAL Laki-Laki Perempuan 6 orang 9 orang 8 orang 9 orang Jumlah 15 orang 17 orang 5 orang 6 orang 6 orang 6 orang 7 orang 3 orang 9 orang 4 orang 2 orang 4 orang 6 orang 1 orang 14 orang 10 orang 8 orang 10 orang 13 orang 4 orang 1 orang 3 orang 4 orang 6 orang 10 orang 3 orang 5 orang 9 orang 15 orang 9 orang 5 orang 14 orang 73 orang 60 orang 133 orang Tabel 12 Sebaran Subyek Berdasarkan Rentang Usia No. 1 2 3 4 Rentang Usia 25 – 30 tahun 31 – 40 tahun 41 – 50 tahun 51 – 56 tahun TOTAL Jumlah Subyek 16 orang 37 orang 49 orang 31 orang 133 orang

(65) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 49 C. Deskripsi Data Deskripsi data penelitian yang dipeolah setelah melakukan pengolahan data menggunakan SPPS version 16 adalah sebagai berikut: Tabel 13 Deskripsi Data Penelitian Variabel Data Teoretik Xmin Xmax Mean 40 160 100 45 180 112.5 KE Etoskerja Keterangan: KE :Kecerdasan Emosional Xmin 98 72 Data Empirik Xmax Mean 160 122.36 180 140.22 SD 11.738 16.453 Uji beda mean dilakukan untuk melihat perbedaan antara mean teoritik dan mean empiris. Uji beda mean dalam penelitian ini menggunakan One Sample T Test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mean teoretik untuk skala kecerdasan emosional sebesar 100, sedangkan mean empirik adalah sebesar 122.36. Mean empirik lebih tinggi daripada mean teoretik, yaitu 122,36 > 100 menunjukkan bahwa tingkat kecerdasan emosional pada pegawai negeri sipil kota Yogyakarta adalah tinggi. Berdasarkan hasil uji t, dapat disimpulkan bahwa mean empiric memiliki perbedaan yang signifikan dengan mean teoritik karena memiliki signifikansi lebih kecil kecil dari 0,05 dengan nilai p = 0,000 (p<0,05). Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa mean teoritik untuk skala etos kerja sebesar 112.5, sedangkan mean empiriknya adalah

(66) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 50 sebesar 140.22. Pada skala etos kerja diketahui pula bahwa mean empirik lebih tinggi daripada mean teoretik, yaitu 140,22 > 112,5. Hal tersebut mengindikasikan bahwa Pegawai Negeri Sipil Kota Yogyakarta memiliki etos kerja yang tinggi. Berdasarkan hasil uji t dapat disimpulkan bahwa mean empirik dan mean teoritis memiliki perbedaan yang signifikan karena memiliki nilai signifikansi lebih kecil dari 0,05 dengan nilai p = 0,000 (p<0,05). Tabel 14 Hasil Uji T Kecerdasan Emosional One-Sample Test Test Value = 100 t Kecerdasan Emosi 20.221 df 132 Sig. (2tailed) Mean Difference .000 95% Confidence Interval of the Difference Lower 22.361 20.35 Upper 24.37 Tabel 15 Hasil Uji T Etos Kerja One-Sample Test Test Value = 112.5 t Etos Kerja 19.428 df 132 Sig. (2tailed) .000 Mean Difference 27.718 95% Confidence Interval of the Difference Lower 24.90 Upper 30.54

(67) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 51 D. Hasil Analisis Penelitian 1. Uji Asumsi Uji asumsi data dalam penelitian ini meliputi uji normalitas dan uji linearitas. Uji asumsi data dilakukan dengan tujuan agar hasil analisis data dan interpretasi tidak menyimpang dari tujuan penelitian. a. Uji Normalitas Tabel 16 Hasil Uji Normalitas One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test Kolmogorov-Smirnov Z Asymp. Sig. (2-tailed) Kecerdasan Etoskerja Emosional 1.396 1.578 0.041 0.014 Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui apakah data penelitian berasal dari populasi yang memiliki sebaran data yang normal atau tidak. Uji normalitas pada penelitan tersebut menggunakan teknik analisis One-Sample Komogorov-Smirnov yang diperhitungannya menggunakan program SPPS for Windows versi 16.0. Nilai probabilitas (p) pada variabel kecerdasan emosional sebesar 0,041 dan pada variabel etoskerja, memiliki nilai Asymp.Sig. sebesar 0,014. Hal ini menunjukkan bahwa sebaran data pada kedua variabel bersifat tidak normal karena nilai

(68) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 52 signifikansi lebih kecil dari 0,05 (p<0,05). Demikian halnya pada semua dimensi pada varibel etos kerja menunjukkan nilai p yang bergerak pada nilai 0,000 hingga 0,036 dengan p < 0,05. Hal ini berarti sebaran data pada tiap dimensi bersifat tidak normal. Tabel 17 Hasil Uji Normalitas Dimensi Etos Kerja One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test Self Morality Reliance KolmogorovSmirnov Z Asymp. Sig. (2tailed) Hard Centrality Wasted Work of Work Time Delay of Gratification 2.077 1.417 2.073 2.184 1.966 2.784 .000 .0.36 .000 .000 .001 .000 Mean Square F b. Uji Linearitas Tabel 18 Hasil Uji Linearitas Hubungan Antar Variabel ANOVA Table Sum of Squares etoskerja * Between Groups kecerdasan emosional df (Combined) 23037.368 42 548.509 Linearity 16073.616 Deviation from Linearity 6963.751 41 169.848 Within Groups 12697.309 90 141.081 Total 35734.677 132 Sig. 3.888 .000 1 16073.616 113.932 .000 1.204 Uji linearitas bertujuan untuk melihat hubungan antar variabel mengikuti garis lurus atau tidak. Hal tersebut berarti .231

(69) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 53 apabila terjadi peningkatan atau penurunan kuantitas pada satu variabel, maka akan diikuti secara linier (mengikuti garis lurus) oleh peningkatan atau penurunan kuantitas pada variabel lain. Uji linearitas pada penelitian ini menggunakan test for linierity yang terdapat dalam program SPSS for Windows versi 16.0. Hasil uji linearitas menunjukkan bahwa variabel kecerdasan emosi dan etos kerja pada Pegawai Negeri Sipil Kota Yogyakarta memiliki nilai F = 113.932 dan Sig. (p) = 0,000. Nilai p yang diperoleh kurang dari nilai 0,01 sehingga hubungan antara kedua variabel bersifat linear. c. Uji Hipotesis Berdasarkan hasil uji normalitas diketahui bahwa data tidak terdistribusikan dengan normal. Sehingga, pengujian hipotesis dalam penelitian ini dengan menggunakan teknik korelasi Spearman rho pada taraf signifikansi 0.05, dengan menggunakan SPSS for Windows versi 16.0. Berikut ini tabel hasil uji hipotesis kecerdasan emosional dan etos kerja:

(70) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 54 Tabel 19 Hasil Uji Hipotesis Correlations Kecerdasan Etos Kerja Emosi Kecerdasan emosional Correlation Coefficient Sig. (1-tailed) Spearman's rho N Etos kerja ** 1.000 .647 . .000 133 ** 133 Correlation Coefficient .647 1.000 Sig. (1-tailed) .000 . N 133 133 **. Correlation is significant at the 0.01 level (1-tailed). Berdasarkan hasil uji hipotesis tersebut menunjukan bahwa koefisien antara variabel kecerdasan emosional dan etos kerja pada Pegawai Negeri Sipil adalah 0.647 dengan probabilitas 0.000. Hal ini menunjukan adanya hubungan positif dan signifikan antara variabel kecerdasan emosi dan etos kerja. d. Analisis Tambahan Analisis tersebut bertujuan untuk melihat hubungan antara variabel kecerdasan emosi dengan tiap dimensi yang ada pada variabel etos kerja. Teknik analisis korelasi menggunakan Spearman rho dikarenakan semua dimensi tersebut datanya bersifat tidak normal,sehingga diperoleh hasil sebagai berikut :

(71) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 55 Tabel 20 Hasil Uji Korelasi Dimensi Etos Kerja Correlations Kecerdasan Centrality Wasted emosional Self reliance Spearman's kecerdasan Correlation rho emosional Coefficient Sig. (1-tailed) N Morality Hard work ofwork time Delay gratification 1.000 .494** .603** .611** .544** .628** .326** . .000 .000 .000 .000 .000 .000 133 133 133 133 133 133 133 **. Correlation is significant at the 0.01 level (1-tailed). Berdasarkan hasil uji korelasi tersebut, diketahui bahwa hubungan antara kecerdasan emosi dengan dimensi self reliance memiliki koefisien korelasi sebesar r xy1 = 0,494. Memiliki hubungan antara dimensi morality dan hard work masing-masing sebesar rxy2 = 0,603 and rxy3 = 0,611. Kecerdasan emosional memiliki hubungan antara dimensi centrality of work, wasted time dan delay of gratification dengan nilai koefisien korelasi masingmasing yaitu rxy4 = 0,544, rxy5 = 0,628, dan r xy1 = 0,326. Berdasarkan analisis diatas dapat disimpulkan bahwa koefisien korelasi yang paling rendah adalah pada dimensi delay of gratification yaitu rxy6 = 0,326. Sedangkan koefisien korelasi yang paling tinggi pada dimensi wasted time dengan nilai rxy5 = 0,628.

(72) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 56 E. Pembahasan Berdasarkan hasil uji hipotesis dengan menggunakan teknik korelasi Spearman rho, kecerdasan emosi dan etos kerja memiliki koefisien korelasi sebesar 0,647 dengan p = 0,000 < 0,05. Hal tersebut menunjukkan bahwa hipotesis yang diajukan diterima yaitu terdapat hubungan yang signifikan antara kecerdasan emosional sebagai variabel bebas dengan etos kerja sebagai variabel tergantung. Nilai koefisien korelasi (rxy) yang bernilai positif tersebut menunjukkan adanya hubungan positif antara kecerdasan emosional dengan etos kerja yaitu semakin tinggi tingkat kecerdasan emosional yang dimiliki PNS, maka semakin tinggi pula etos kerjanya. Begitu juga sebaliknya, semakin rendah kecerdasan emosional, maka semakin rendah pula etos kerja yang dimiliki oleh PNS. Dalam dunia kerja terutama pada ruang lingkup PNS, memungkinkan seseorang untuk bekerja bukan hanya dilihat dari hasil kinerja mereka melainkan juga proses dinamika yang terjadi dalam lingkungan kerja. Tidak dipungkuri dengan berbagai tekanan kerja yang terjadi dan juga adanya tanggungjawab moral, seorang PNS dituntut untuk dapat memberikan pelayanan yang maksimal bagi masyarakat atau publik. Dalam memberikan pelayanannya, para PNS yang bekerja untuk masyarakat secara langsung akan berinteraksi dengan individu yang memiliki berbagai karakteristik kepribadian. Proses berkomunikasi dan berinteraksi dengan masyarakat ini akan melibatkan unsur emosi atau

(73) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 57 afeksi. Untuk itu dibutuhkan kemampuan dalam mengelola emosi yang muncul pada setiap individu. Kecerdasan emosional dapat meningkatkan etos kerja seseorang dalam bekerja karena dapat meningkatkan pandangan dan sikap yang positif dalam bekerja. Ketika seorang PNS mampu mengendalikan emosi, sadar dengan apa yang dirasakan, dan mampu berdinamika secara emosi dengan orang lain, maka dirinya akan merasa nyaman dalam menjalani sebuah rutinitas dalam bekerja. Secara psikologis seorang PNS tersebut akan menunjukkan sikap dan perilaku yang positif pula terutama terkait dengan pekerjaannya dalam hal ini pelayanan terhadap publik. Ketika seseorang memiliki kecerdasan emosi secara personal maupun sosial di lingkungan kerja, ia mampu mengatur suasana hati dan kecemasan agar tidak menganggu performansinya dalam bekerja. Dia juga mampu menciptakan pola hubungan yang harmonis antar individu di lingkungan kerja sehingga mereduksi ketegangan psikologis dari masingmasing individu. Dengan demikian, setiap orang dapat bekerja dengan maksimal dan produktif karena didukung oleh lingkungan sosial yang kondusif (Sofyan, 2013). Kecerdasan emosi juga membuat individu mampu meningkatkan daya tahan dan semangat kerja, sehingga mampu meningkatkan motivasi diri untuk lebih produktif dan berhasil mencapai target. Seperti yang disampaikan Djajendra (2012) bahwa emosi negatif yang tidak mampu

(74) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 58 dikelola dengan baik akan mempengaruhi kerja keras, produktifitas, dan akan merugikan organisasi secara etika dan integritas kerja. Kemampuan individu dalam mengelola emosi akan berdampak pada pandangan dan sikap individu dalam bekerja yang disebut dengan etos kerja. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa kecerdasan emosi memang memiliki hubungan yang positif dengan etos kerja. Hal ini berarti semakin tinggi kecerdasan emosi yang dimiliki oleh PNS akan ditunjukkan pula dengan etos kerja yang tinggi. Sebaliknya, jika semakin buruk kecerdasan emosi yang dimiliki, maka semakin rendah pula etos kerja PNS tersebut. Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan dengan mengkorelasikan antara varibel kecerdasan emosional dengan dimensi etos kerja, diperoleh data bahwa kecerdasan emosional memiliki korelasi paling tinggi dengan r = 0,628 terhadap dimensi waktu yang terbuang (wasted time), serta kerja keras (hardwork) r = 0,611, moralitas (morality) r = 0,603, dan sentralitas dalam bekerja (centrality of work) r = 0,544. Tingginya korelasi kecerdasan emosional dengan wasted time ini berkaitan erat aspek kecerdasan emosional. Seseorang yang tidak membuang-buang waktu dapat bekerja secara aktif, produktif, konstruktif serta optimal. Empat hal tersebut berkaitan erat dengan kemampuan seseorang dalam beradaptasi dengan masalahnya. Misalnya saja ketika seseorang dalam keadaan stress yang berhubungan dengan pekerjaannya,

(75) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 59 seseorang yang memiliki pemahaman bahwa menghamburkan waktu bukanlah sesuatu yang profesional, cenderung akan mengolah emosinya secara seimbang sehingga keadaan emosinya tidak membuat pekerjaannya menjadi terhambat. Namun, sebelum seseorang mampu untuk memanajemen diri, seseorang tersebut terlebih dulu perlu untuk menyadari keadaan dirinya secara akurat termasuk emosi yang melandanya saat itu. Pada seorang PNS, profesionalitas ini akan berdampak baik terhadap pelayanan terhadap masyarakat maupun rekan kerja (aspek kesadaran sosial dalam kecerdasan emosional) sehingga relasi juga cenderung berkembang secara konstruktif. Artinya bahwa semakin tinggi kecerdasan emosinya yang dimiiliki seseorang maka akan semakin baik ia memanfaatkan waktu yang ada untuk menghasilkan pekerjaan yang maksimal sebagai bentuk kerja keras dan tanggungjawab (moralitas) terhadap pekerjaannya. Seperti yang dijelaskan sebelumnya bahwa kecerdasan emosional dapat meningkatkan daya tahan dan semangat kerja sehingga individu yang cerdas secara emosi dapat memanfaatkan waktunya dengan semangat kerja yang tinggi dan bertanggungjawab. Dengan demikian individu tersebut bekerja demi pekerjaan dan pentingnya pekerjaan itu bukan karena ia terpaksa bekerja demi tuntutan tertentu. Korelasi antara kecerdasan emosional dengan dimensi kemandirian (self reliance) adalah r = 0,494. Uji korelasinya menunjukan bahwa ada hubungan yang cukup signifikan pada kedua variabel yang berarti bahwa

(76) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 60 semakin cerdas secara emosi maka semakin individu tersebut bersikap mandiri tanpa bergantung pada orang lain seperti contohnya ketika membuat keputusan terhadap pekerjaan dan keberanian menerima tantangan atas pekerjaannya. Korelasi antara kecerdasan emosional dengan dimensi penundaan kepuasan (delay of gratification) dengan nilai 0,326. Uji korelasi menunjukan hasil yang kurang signifikan tetapi masih memiliki daya korelasi antara kedua variabel. Jika dilihat dari data penelitian, tampak bahwa penundaan kepuasaan memiliki nilai korelasi yang lebih tinggi dengan kerja keras (0.585) dan sentralitas kerja (0.548), nilai ini lebih tinggi dibandingkan dengan korelasi kecerdasan emosional dengan dimensi penundaan kepuasan. Artinya, dua dimensi tersebut cenderung lebih memiliki hubungan yang signifikan terhadap level penundaan kepuasan. Dengan kerja keras dan sentralitas kerja, seseorang akan fokus dalam arti penting dari aktivitas bekerja itu sendiri. Fokus terhadap pentingnya aktivitas kerja inilah yang kemudian membuat seseorang tidak lekas puas dengan keberhasilan jangka pendek. Tidak heran, sampai saat ini masih saja terjadi praktek pemerolehan imbalan tanpa disertai kerja keras, misalnya praktek korupsi. Berdasarkan pembahasan tersebut, dapat terlihat bahwa kecerdasan emosional memiliki korelasi positif terhadap etos kerja. Hal ini berarti semakin tinggi kecerdasan emosional akan semakin tinggi pula etos kerja seseorang yang berdampak pada terciptanya kedisilpinan, sikap mental

(77) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 61 yang kuat, tekad dan orientasi maju terhadap pekerjaan. Kecerdasan emosi berkorelasi tinggi terhadap dimensi waktu yang terbuang (wasted time), serta kerja keras, moralitas (morality), dan sentralitas dalam bekerja (centrality of work) sehingga seseorang dapat memanfaatkan waktu yang ada untuk menghasilkan pekerjaan yang maksimal sebagai bentuk keras dan tanggungjawab (moralitas) terhadap pekerjaannya. Dengan demikian mampu menghasilkan produkfitias yang baik dalam lingkungan kerja dan baik pula dalam bentuk pelayanan kepada masyarakat. Hal tersebut tercermin dalam perilaku baik, adil, mengedepankan moral dalam melayani orang lain. Memiliki keyakinan akan pentingnya bekerja dan rela menunda kepuasan sementara demi tercapainya tujuan kerja yang lebih besar.

(78) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 62 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Berdasarkan hasil pengolahan data dan analisis yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara kecerdasan emosional dengan etos kerja pada pegawai negeri sipil kota yogyakarta. Nilai r = 0,647 dan p = 0,001 ˂ 0,05 menunjukkan adanya hubungan yang positif antara kecerdasan emosional dengan etos kerja. Hal tersebut berarti bahwa kecerdasan emosional yang tinggi akan diikuti dengan tingginya etos kerja pada pegawai negeri sipil. Demikian sebaliknya, semakin buruk etos kerja yang dimiliki oleh PNS, maka akan semakin rendah pula kecerdasan emosionalnya. B. Saran 1. Bagi Pegawai Negeri Sipil Bekerja dengan penuh bertanggungjawab dan memiliki etos kerja menjadi harapan bagi setiap pegawai khususnya pegawai negeri sipil yang memiliki tanggungjawab dalam memberikan kinerja dan pelayanan yang terbaik bagi masyarakat. Melalui hasil penelitian tersebut, pegawai negeri 62

(79) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 63 sipil disarankan juga untuk memperhatikan dan meningkatkan aspek emosi atau afektif dalam bekerja. Kemampuan dalam mengelola emosi yakni menjadi pribadi yang lebih cerdas secara emosi dapat menjadi salah satu cara untuk meningkatkan etos kerja. 2. Bagi Badan Kepegawaian Kota Yogyakarta Melalui hasil penelitian tersebut, penulis memberikan saran bagi Badan Kepegawaian Kota Yogyakarta untuk dapat memperhatikan aspek psikologi khususnya kecerdasan emosional yang dapat digunakan untuk meningkatkan etos kerja pegawai. Badan Kepegawaian dapat memberikan fasilitas berupa pelatihan kecerdasan emosi yang dapat dilaksanakan guna meningkatkan pemahaman akan pentingnya cerdas secara emosi yang dampaknya akan dapat meningkatkan etos kerja PNS. 3. Bagi Penelitian Selanjutnya a. Berkaitan dengan skala etos kerja pada penelitian tersebut, peneliti menyarankan untuk lebih memperhatikan prosedur dalam menyusun konstrak/ konsep etos kerja sehingga skala yang dibuat dapat mudah dipahami sehingga dapat mengurangi bias dalam mengartikan pernyataan dan dapat mengurangi facking good dalam pengisian skala tersebut. b. Berkaitan dengan keterbatasan pada penelitian kuantitatif yaitu besarnya kemungkinan facking good atau kecenderungan subyek

(80) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 64 memilih respon yang baik secara sosial (social desirability), untuk penelitian selanjutnya disarankan untuk menggunakan metode penelitian kualitatif dalam mengungkap kecerdasan emosional dan etos kerja pada pegawai negeri sipil. c. Peneliti menyadari akan keterbatasan yang terdapat dalam penelitian tersebut. Terkait dengan penghapusan satu dimensi yaitu Leisure pada variabel etos kerja. Tidak diikutsertakannya dimensi tersebut oleh karena adanya distriminasi item yang rendah pada hamper semua item. Peneliti merasa bahwa alasan tersebut tidak cukup kuat, sehingga peneliti menyarankan untuk penelitian selanjutnya yang menggunakan kontruk etos kerja dari Miller untuk tetap mempertahankan dan mengkaji ulang terhadap dimensi Leisure tersebut.

(81) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 65 DAFTAR PUSTAKA Addis, F Scott, CPCU. (2010). Buliding a strong work ethic. Rough Notes; Jan 2010; 153. 1; ABI/INFORM Complete pg. 88. Diunduh 7 Agustus 2012, dari http://search.proquest.com Anoraga, P. (2005). Psikologi kerja. Jakarta: PT. Rineka Cipta Arikunto, S. (2005). Manajemen penelitian – Edisi Revisi. Jakarta: PT Asdi Mahasatya Azwar, Saifuddin. (2007). Reliabilitas dan validitas. Yogyakarta : Pustaka Pelajar Azwar, Saifuddin. (2009). Metode penelitian. Yogyakarta : Pustaka Pelajar Azwar, Saifuddin. (2010). Penyusunan skala psikologi. Yogyakarta : Pustaka Pelajar. Bappenas. (2004). Kajian rencana tindak reformasi birokrasi. Direktorat Aparatur Negara. Diunduh 20 Oktober 2013, dari http://goodgovernance.bappenas.go.id Boyatzis, R. E., Goleman, D., & Rhee, K. (2000). Clustering Competence in Emotional Intelligence: Insights from the emotional competence inventory (ECI) In R. Bar-On & J. D. A. Parker (Eds.), The handbook of emotional intelligence: Theory, development, assessment, and application at home, school, and in the workplace (pp. 343-362). San Francisco: Jossey-Bass. Diunduh 7 Agustus 2012, dari http://library.nu Cherniss, Cary & Goleman, D. (2001). Emotional intelligence and organizational effectiveness. The Emotionally Intelligent Workplace ; How to Select for, Measure, and Improve Emotional Intelligence in Individuals, Groups, and Organizations. San Fransisco : Jossey-Bass. Diunduh 7 Agustus 2012, dari http://library.nu Djajendra. (2012). Emosi karyawan mempengaruhi sukses perusahan. Artikel. Diunduh 13 November 2013, dari http://.djajendra-motivator.com Druskat, Vanessa Urch & Wolff, Steven B. (2001). Group Emotional Intelligence and Its Influence On Group Effectiveness. Chapter 6. Emotional Intelligence and Organizational Effectiveness. The Emotionally Intelligent Workplace ; How to Select for, Measure, and Improve Emotional Intelligence in Individuals, Groups, and Organizations. San Fransisco : Jossey-Bass. Diunduh 7 Agustus 2012, dari http://library.nu

(82) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 66 Fuimano, J. (2004). Raise your emotional intelligence. Nursing Management. 35(7) : 1-12. Goleman, D. (2007). Kecerdasan Emosional: Mengapa kecerdasan emosional penting dari pada IQ. Jakarta: PT.Gramedia Pustaka Utama Gonzalez, Cathy J.A. (2006). A causal comparative study of work ethic as a function of generational cohorts. A Dissertation presented in partial fulfillment of the requirements for the degree doctor of management in organizational leadership. University of Phoenix. Hadi, Sutrisno. (2004). Statistik jilid 2. Yogyakarta: Andi Offset Hermanto, Juliana. (2008). Etos kerja pedagang etnis cina yang mengelola toko obat cina di kotamadya pontianak. Skripsi. Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Hudspeth, Natasha A. (2003). Examining the MWEP: further validation of the multidimensional work ethic profile. A thesis submitted in partial fulfillment of the requirements for the Degree of Master of Science in Psychology. Texas A&M University. Kalemci, R. Arzu & Atakan, Sirin D. (2011). Which One is More Determining for Various Occupations in Turkey : Islamic work ethic or protestant work ethic values?. International Journal of Arts & Sciences, 4(15):365-373 (2011). di unduh 19 September 2012 dari http:/InternationalJournal.org Khalili, Ashkan. (2012). The role of emotional intelligence in the workplace: a literature review. International Journal of Management, Vol. 29 No.3 Part 2. Multimedia University, Malaysia. Lembaga Adminitrasi Negara, (2009). Etos Kerja PNS :Modul pilot project pendidikan dan pelatihan prajabatan golongan III. LAN Republik Indonesia. Melianawati, dkk. (2001). Hubungan antara kecerdasan emosional dengan kinerja karyawan. Journal Anima Psikologi Indonesia, Volume 17 No. 1, 57-62 Miller, M.J., Woehr, D.J., & Hudspeth, N. (2001). The Meaning and Measurement of Work Ethic: Construction and initial validation of a multidimensional inventory. Journal of Vocational Behavior, 59, 1-39. Diunduh 19 September 2012 dari www.idealibrary.com

(83) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 67 Naseer, Zainab; Chishti, Saeed H; Rahman, Fazalur; Jumani, Nabi R. (2011). Impact of emotional intelligence on team performance in higher education institutes. International Online Journal of Educational Sciences, 2011, 3(1), 30-46. Diunduh 29 November 2013 dari http://iojes.net Nitisemito, A.S. (1996). Manajemen Personalia: Manajemen sumber daya manusia. Jakarta: Ghalia Indonesia. Novliadi, Ferry. (2009). Hubungan antara organization-based self-esteem dengan etos kerja. Karya Tulis. Medan: Universitas Sumatera Utara. Oginska-Bulik, Nina. (2005). Emotional Intelligence in The Workplace: Exploring its effects on occuptional stress and health outcomes in human service workers. International Journal of Occupational Medicine and Environmental Health, 2005; 18(2):167-175 Pachrudianto, (2012). Pengaruh kecerdasan emosional, kecerdasan ruhaniah dan etos kerja terhadap kinerja karyawan pada PT. Madubaru di Bantul Yogyakarta. Thesis . Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta. Paul, Stephanie. (2006). Determining the impact of emotional intelligence on organisational effectiveness. A Thesis submitted in partial fulfillment of the requirements for the Degree of Master in Business Administration. Nelson Mandela Metropolitan University. Petty and Hill. (2005). Organization behavior. North America: Mc Graw.Hill Rakhmawanto, Ajib. (2012). Strategi Perbaikan Penghasilan PNS: Meningkatkan kompetensi dan profesionalitas. Jurnal Kebijakan dan Manajemen PNS VOL.6, No.2 November 2012. Rosmiani. (1996). Etos kerja nelayan muslim di Desa Paluh Sebaji Den Serdang Sumatera Utara; Hubungan antara kualitas keagamaan dengan etos kerja. Thesis. Kerjasama Program Pascasarjana Institut Agama Islam Negeri Jakarta & Pascasarjana UI Jakarta. Saks, Alan M; Mudrack, Peter E; Ashforth, Blake E. (1996). The relationship between the work ethic, job attitudes, intentions to quit, and turnover for temporary service employees. Revue Canadienne des Sciences de 1‟Administration; Sep 1996; 13, 3;ABI/INFORM Complete pg. 226. Diunduh 7 Agustus 2012 dari http://search.proquest.com Santoso, A. (2010). Statistik untuk psikologi dari blog menjadi buku. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma

(84) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 68 Schouten, Linda. (2011). The impact of caregiver employment experiences and support on adolescents’ work ethics. A research project submitted in partial fulfilment of the requirements for the Degree of Master of Science in Applied Psychology. University of Canterbury. Serrat, Olivier. (2009). Understanding and developing emotional intelligence. Philippines: Asian Development Bank: Knowledge Solutions Shapiro, L.E. (2003). Mengajarkan emotional intelligence pada anak. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama Sinamo, J.H. (2005). 8 etos kerja profesional. Bogor: PT. Grafika Mardi Yuana. Sinamo, J.H. (2011). 8 etos kerja profesional. Bogor: PT. Grafika Mardi Yuana. Sofyan, Diana K. (2013). Pengaruh lingkungan kerja terhadap kinerja kerja pegawai BAPPEDA. Malikussaleh Industrial Engineering Journal Vol.2 No.1 (2013) 18-23. Sparrow, Tim & Knight, Amanda. (2006). Applied EI : The importance of attitudes in developing emotional intelligence. England: Jossey-Bass Stough, C., Saklofske, D. H., & Parker, J. D. (2009). Assessing Emotional Intelligence: theory, research, and applications. The Springer Series on Human Exceptionality. Diunduh 7 Agustus 2012, dari http://library.nu Sulistyo, Agustinus dkk. (2013). Sistem pendayagunaan SDM aparatur. Artikel STIA LAN. Jakarta. Diunduh 20 Oktober 2013 dari http://stialan.ac.id/publik/artikel. Tasmara, T. (2004). Etos kerja pribadi muslim. Jakarta: Labmen. Tejosuksmono, Adipuday. (2010). Hubungan antara kecerdasan emosi dan etos kerja pada pegawai negeri di Pusdiklat Migas Cepu. Skripsi. Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya. Universitas Islam Indonesia Yogyakarta. Usman, Kasim A, S.Ag, M.Pd. (2013). Strategi Optimalisasi : Dalam upaya peningkatan etos kerja pegawai pada instansi pemerintah. Artikel Balai Diklat Keagamaan Manada Kementerian Agama RI. Diunduh 20 Oktober 2013 dari http://bdkmanado.kemenag.go.id Van Ness, Raymond K., Melinsky, K., Buff, C.L., & Seifert, C.F. (2010). Work Ethic: Do new employees mean new work values ?. Journal of Managerial Issues, Spring 2010, 22, 1: 10-34. Diunduh 7 Agustus 2012 dari http://search.proquest.com

(85) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 69 Vitello-Cicciu, J.M. (2003). Innovative leadership through emotional Intelligence. nursing management, 34(10), 28-32. Wahyono, Tekad. (2002). Peran kecerdasan spiritual (Spiritual Quotient) dan kecerdasan dalam menghadapi rintangan (Adversity Quotient) untuk meningkatkan etos kerja SDM. Disampaikan dalam Konferensi I Asosiasi Psikologi Industri & Organisasi (APIO) di Surabaya. Fakultas Psikologi Universitas Wangsa Manggala Yogyakarta. Woehr, D.J., & Arcieniega, L.M. (2003). Examining Work Values Across Populations : A confirmatory factor analytic examination of the measurement equivalence of english and spanish versions of the multidimensional work ethic profile. MWEP Measurement Equivalence. Woehr, D.J., Arcieniega, L.M., & Lim, D. H. (2007). Examining work ethic across populations: A comparison of the multidimensional work ethic profile across three diverse cultures. Educational and Psychological Measurement, 67(1), 154-168. Diunduh 27 Oktober 2012 dari http://epm.sagepub.com/ Zulham, Muhammad. (2008). Analisis pengaruh budaya organisasi dan etos kerja terhadap kinerja pegawai. Tesis Pasca Sarjana Universitas Sumatera Utara Medan.

(86) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 70 LAMPIRAN

(87) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 71 LAMPIRAN 1 SKALA PENELITIAN Bagian Pertama : Kecerdasan Emosional Bagian Kedua : Etos Kerja

(88) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 72 Yogyakarta, 20 Januari 2014 Kepada : Yth. Bapak/Ibu Saudara/i Responden/Partisipan Dengan Hormat, Saya adalah mahasiswa Fakultas Psikologi Sanata Dharma Yogyakarta yang sedang melakukan sebuah penelitian guna penyusunan tugas akhir. Untuk itu, saya mohon kesediaan anda untuk meluangkan waktu sejenak guna mengisi skala tersebut. Skala tersebut berisi pernyataan yang dibagi menjadi dua bagian. Saya berharap anda dapat mengisinya dengan sejujur-jujurnya sesuai dengan keadaan atau kondisi yang anda rasakan saat ini tanpa dipengaruhi oleh apapun. Semua jawaban tidak ada yang salah. Semua jawaban yang anda berikan benar apabila sesuai dengan keadaan yang anda alami. Sangat diharapkan untuk mengisinya dengan lengkap tanpa ada pernyataan satupun yang terlewatkan. Semua identitas dan jawaban anda sangat dijamin kerahasiaannya. Atas waktu dan kesediaannya untuk menjawab setiap pernyataan berikut, saya ucapkan terima kasih. Hormat saya, Antonius Septian Nugroho

(89) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 73 IDENTITAS DIRI Nama : ...................................................... Usia / Jenis Kelamin : ………tahun. L / P (lingkari salah satu) PETUNJUK PENGISIAN 1. Bacalah setiap pernyataan dengan seksama. 2. Tentukan pilihan jawaban dengan jujur, sesuai yang anda rasakan, alami dan sungguh-sungguh menggambarkan diri anda yang sebenarnya. 3. Pilihan jawaban meliputi ; SS : SANGAT SESUAI dengan diri anda S : SESUAI dengan diri anda TS : TIDAK SESUAI dengan diri anda STS : SANGAT TIDAK SESUAI dengan diri anda 4. Setiap pernyataan hanya ada satu jawaban. Jawablah dengan memberikan tanda centang () pada pilihan jawaban anda. CONTOH No Pernyataan SS 1 Saya merasa senang ketika bisa berinteraksi dengan orang lain. Jawaban S TS  STS

(90) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 74 BAGIAN PERTAMA No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Pernyataan Saya menyadari yang menyebabkan saya marah adalah alasan yang bisa saya jelaskan. Saya tetap bisa menyelesaikan pekerjaan/ tanggungjawab saya dengan tuntas, walaupun dalam keadaan perasaan /mood yang tidak baik. Ketika saya merasa gelisah, secara akurat saya bisa merasakan bahwa kegelisahan itu diakibatkan oleh permasalahan pekerjaan ataukah dari permasalahan keluarga. Saya selalu bertindak jujur dan bisa dipercaya. Saya merasa percaya diri dihadapan rekan kerja dan orang lain. Ketika saya tidak puas akan sesuatu, saya melampiaskannya dengan marah-marah kepada orang lain. Saya tidak mengerti hal apa yang menyebabkan saya menjadi malas untuk beraktivitas. Sulit bagi saya untuk mengakui kesalahan saya sendiri. Saya tetap menyelesaikan semua pekerjaan tanpa mempedulikan keadaan fisik dan emosi yang terjadi pada diri saya. Saya sering bingung jika harus menghadapi perubahan situasi kerja yang mendadak dan asing SS Jawaban S TS STS

(91) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 75 11 12 13 14 bagi saya. Saya berani mengambil resiko dalam kehidupan saya untuk apa yang saya yakini benar. Ketika dihadapkan pada lingkungan yang baru, saya segera menyesuaikan diri dengan baik. Saya merasa bisa menyelesaikan pekerjaan yang menjadi tanggungjawab saya dengan mempertimbangkan kemampuan yang saya miliki Saya selalu termotivasi untuk memperbaiki kinerja saya dalam bekerja. 15 Saya menyadari akan kemarahan saya kepada orang lain diakibatkan oleh kondisi tubuh saya yang sedang capek dan kurang sehat. 16 Saya merasa sudah puas dalam bekerja dan tidak perlu meningkatkan performansi kerja. 17 Saya merasa kebingungan tentang masalah pekerjaan yang saya alami, apakah saya mampu atau tidak untuk mengatasi. 18 Saya lebih memilih diam dan menunggu orang lain meminta saya untuk melakukan sesuatu. 19 Saya merasa kurang percaya diri karena saya memiliki suatu kekurangan dalam diri saya. Saya menyerah dan pasrah, apabila saya mendengar bahwa orang lain mengatakan „kalau 20

(92) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 76 saya tidak akan menyelesaikan tugas itu‟. 21 22 23 24 25 26 27 28 29 bisa Saya merasa bisa menyelesaikan tugas dan tanggungjawab yang diberikan karena melihat kemampuan dan kapasitas yang saya miliki. Jika orang lain membutuhkan, maka saya akan membantunya dengan senang hati. Saya merasa tidak mampu dalam menyelesaikan tugas baru yang dipercayakan kepada saya. Ketika dalam keadaan yang tersulit sekalipun, saya selalu percaya bahwa saya memiliki kemampuan untuk keluar dari permasalahan. Saya merasa tidak percaya diri dalam rutinitas pekerjaan yang saya kerjakan ini. Ketika saya gelisah, saya akan membentak-bentak orang lain. Saya seringkali kesal dengan orang lain tanpa tahu penyebabnya. Ketika saya sangat marah pada orang lain, saya mampu berpikir jernih dan positif tentang respon yang seharusnya saya lakukan. Ketika rekan kerja saya merasa sedih, saya bisa memahami apa yang dirasakannya. 30 Saya lebih memilih mengerjakan sesuatu secara individu, daripada harus ada rekan kerja lain yang terlibat didalamnya. 31 Saya merasa tidak perlu mempedulikan hubungan baik

(93) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 77 saya dengan orang lain dalam menyelesaikan sebuah tugas atau tanggungjawab. 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 Saya adalah pendengar yang baik, ketika rekan kerja saya sedang menceritakan masalahnya. Saya dapat membimbing dan memotivasi ketika berkoordinasi dengan orang lain. Saya tidak mengerti apa yang sebenarnya orang lain butuhkan. Saya akan memenuhi prosedur pekerjaan, tanpa perlu peduli dan memerhatikan apakah orang lain sudah terlayani. Saya mampu membujuk dan mengajak orang lain yang sebenarnya malas, untuk mau melakukan suatu pekerjaan bersama-sama. Saya selalu memberikan kritik dan saran yang positif terhadap orang lain, meskipun pekerjaannya belum maksimal. Saya merasa bisa memahami perspektif orang lain yang sedang mengalami masalah. Saya memiliki hubungan yang baik dengan semua orang dalam lingkungan kerja. Saya cenderung menghindar ketika sedang berselisih atau bermasalah dengan orang lain dalam lingkungan kerja. Menanggapi perubahan organisasi merupakan hal yang menyita tenaga dan pikiran saya Sulit bagi saya untuk memberikan perhatian dan

(94) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 78 43 44 pujian akan prestasi yang dicapai oleh orang-orang di sekitar saya. Dalam lingkungan kerja, saya berusaha membuat pimpinan merasa puas dan senang dengan kinerja / performansi saya. Saya dengan senang hati akan menawarkan bantuan pada oranglain yang tampaknya sedang kesulitan menyelesaikan sesuatu. 45 Saya tidak memahami dan mengerti apa yang menyebabkan rekan kerja saya tampak murung dan gelisah. 46 Ketika rekan kerja saya bercerita tentang permasalahannya, saya malas untuk mendengarkan. Saya merasa sudah berkontribusi bagi pekerjaan guna menciptakan pola kerja yang efektif dan produktif. Ketika dihadapkan pada perbedaan pendapat dan situasi konflik yang tegang, saya merasa bisa menanganinya dengan penuh kebijaksanaan. 47 48 49 50 51 52 Saya tidak berminat untuk merasakan, apalagi memahami apa yang dirasakan rekan kerja saya. Saya merasa ada saja orang lain yang tidak cocok dengan saya. Saya selalu meningkatkan dan menjaga hubungan yang harmonis dengan orang lain. Saya bisa bekerjasama dan

(95) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 79 53 54 55 56 berkolaborasi dengan semua orang dari latarbelakang apapun. Saya cenderung menolak jika diberikan tanggungjawab sebagai koordinator karena saya merasa tidak mampu. Saya tidak peduli akan interaksi dan dinamika kerja yang terjadi di lingkungan tempat saya bekerja. Saya merasa sudah maksimal dalam memberikan pelayanan yang baik pada orang lain. Orang-orang di sekitar saya tidak memperhatikan saya ketika saya berbicara menyampaikan pendapat. BAGIAN KEDUA No Pernyataan 1 Penting bagi saya untuk tetap bekerja di kantor dan tidak membuang waktu. 2 Saya merasa tidak nyaman ketika hanya ada sedikit pekerjaan untuk saya kerjakan. Ketika saya berkeinginan untuk membeli sesuatu, saya selalu menunggu sampai saya mampu untuk membelinya. Saya merasa puas ketika saya telah menghabiskan waktu seharian untuk bekerja. Bagi saya hidup akan lebih bermakna jika saya memiliki lebih banyak waktu luang. Saya percaya bahwa untuk menjadi benar-benar sukses, saya harus mandiri. Saya harus selalu mau 3 4 5 6 7 SS Jawaban S TS STS

(96) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 80 8 bertanggung jawab atas segala tindakan yang saya lakukan dalam pekerjaan. Saya lebih menyukai pekerjaan yang memungkinan saya untuk memiliki lebih banyak waktu luang. 9 Menurut saya, waktu itu tidak boleh disia-siakan, tetapi seharusnya digunakan secara efisien. 10 Sekalipun saya termasuk mampu secara financial, saya tidak akan pernah berhenti untuk bekerja. Saya merasa lebih puas apabila akhirnya saya mendapatkan barang-barang yang telah saya tunggu sekian lama. Saya selalu merencanakan kegiatan dari jauh-jauh hari dan pekerjaan saya, supaya tidak ada waktu yang terbuang sia-sia. Saya menganggap bahwa bekerja keras itu sangat memuaskan. Semakin banyak waktu yang saya habiskan untuk aktivitas waktu luang, saya merasa lebih baik. Saya harus selalu melakukan apa yang benar dan adil bagi pekerjaan. Saya akan mengambil barangbarang dari tempat saya bekerja apabila saya merasa saya tidak dibayar dengan cukup. Saya beryakinan bahwa tidak ada yang tidak mungkin apabila seseorang mau bekerja keras. 11 12 13 14 15 16 17 18 Semakin sedikit waktu yang saya habiskan untuk bekerja dan semakin banyak waktu luang

(97) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 81 19 20 21 22 23 24 25 yang saya miliki, itu lebih baik. Saya merasa hal-hal yang seharusnya saya tunggu adalah sesuatu yang paling berharga. Bagi saya, bekerja keras adalah kunci untuk menjadi sukses. Bagi saya, kemandirian adalah kunci untuk menjadi sukses. Saya percaya apabila saya bekerja cukup keras, maka saya akan memiliki hidup yang lebih baik lagi. Saya selalu mencari cara untuk menggunakan waktu saya secara produktif. Saya meyakini bahwa kerja keras mampu membuat orang memiliki pribadi yang lebih baik. Saya seharusnya tidak memberikan suatu penilaian sampai saya mendengar semua fakta-faktanya. 26 Saya percaya bahwa saya akan menjadi lebih baik jika saya bergantung pada diri saya sendiri. 27 Saya merasa bahwa pekerjaan menyita banyak waktu saya dan menyisakan sedikit waktu luang untuk bersantai. Sedapat mungkin, saya harus bisa hidup mandiri tanpa bergantung pada orang lain. Perhargaan jangka panjang biasaya lebih memuaskan daripada jangka pendek. Penting bagi saya untuk selalu mampu bekerja. 28 29 30 31 Saya beranggapan bahwa baik bagi banyak orang untuk mempunyai lebih banyak waktu luang.

(98) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 82 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 Saya harus menghindari sikap ketergantungan pada orang lain kapanpun disaat itu memungkinkan. Sekalipun saya memiliki banyak uang, saya akan tetap terus bekerja. Saya tidak suka untuk tergantung pada orang lain. Saya percaya dengan kerja keras, saya dapat mengatasi setiap masalah yang datang dalam kehidupan saya. Saya mencoba untuk merencanakan hari kerja saya sehingga tidak membuang waktu dengan percuma. Saya seharusnya tidak pernah mengatakan kebohongan tentang orang lain. Saya yakin apapun masalahnya dapat diatasi dengan kerja keras. Saya percaya bahwa bagaimana seseorang menghabiskan waktu mereka, sama pentingnya dengan bagaimana mereka menghabiskan uangnya. Sekalipun jika memungkinkan bagi saya untuk berhenti bekerja, saya masih akan terus bekerja. Saya meyakini bahwa hidup tanpa bekerja akan sangat membosankan. Saya memilih untuk menabung sampai saya mampu untuk mendapatkan sesuatu dibandingkan membelinya dengan cara kredit. Dunia akan menjadi tempat yang lebih menyenangkan apabila banyak orang menghabiskan lebih banyak waktunya untuk bersantai. Saya berusaha untuk menjadi

(99) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 83 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 mandiri Apabila saya mau bekerja keras, saya akan menjadi sukses. Saya percaya bahwa hal-hal terbaik dalam hidup merupakan hal-hal yang membuat saya harus menunggu untuk mendapatkannya. Saya percaya bahwa siapapun yang mampu dan mau bekerja keras akan memiliki kesempatan yang baik untuk meraih sukses. Menurut saya mencuri itu sahsah saja selama tidak ada yang mengetahuinya. Saya merasa pekerjaan yang memberikan saya waktu luang paling banyak adalah pekerjaan untuk saya. Memiliki jiwa yang bebas sangat penting bagi saya. Penting bagi saya untuk memperlakukan orang lain seperti halnya saya ingin diperlakukan. Saya mengalami perasaan puas dengan pekerjaan yang saya lakukan. Saya selalu melakukan pekerjaan sebaik mungkin. Bagi saya tidak dibenarkan untuk mengambil sesuatu yang bukan milik saya. Saya percaya bahwa ketika saya bergantung pada diri saya sendiri, maka saya akan semakin maju di dalam kehidupan. Bagi saya, membuang-buang waktu sama buruknya dengan menyiakan-nyiakan sesuatu yang dibenarkan. Menurut saya, ada kalanya mencuri itu dibenarkan. Saya harus lebih banyak menghabiskan waktu senggang

(100) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 84 saya untuk bersantai. 59 60 61 62 63 64 65 Penting bagi saya untuk mengendalikan nasib saya sendiri tanpa bergantung pada orang lain. Saya percaya dengan kerja keras yang cukup, seseorang dapat mencapai tujuannya. Saya harus bersikap adil di dalam berhubungan dengan orang lain. Saya yakin bahwa satu-satunya cara untuk mendapatkan sesuatu yang berharga adalah dengan menabung untuk mendapatkannya. Menurut saya aktivitas waktu luang lebih menarik daripada bekerja. Hari-hari yang saya habiskan untuk bekerja keras memberikan rasa keberhasilan bagi saya. Saya percaya bahwa seseorang yang memiliki ketidakmauan dalam bekerja keras biasanya mencerminkan karakter yang lemah.

(101) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 85 LAMPIRAN 2 Analisis dan Seleksi Item Skala Kecerdasan Emosional

(102) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 86 Item-Total Statistics Scale Mean if Item Deleted Scale Variance if Item Deleted Corrected Item-Total Cronbach's Alpha if Correlation Item Deleted VAR00001 167.5500 181.744 -.012 .916 VAR00002 167.4750 181.923 -.008 .915 VAR00003 167.6500 183.699 -.120 .917 VAR00004 167.0750 175.817 .427 .911 VAR00005 167.4750 174.556 .470 .911 VAR00006 167.1875 173.521 .450 .911 VAR00007 167.5875 173.005 .536 .910 VAR00008 167.5875 177.334 .266 .913 VAR00009 167.7750 179.316 .153 .914 VAR00010 167.9250 173.108 .507 .910 VAR00011 167.2375 177.626 .336 .912 VAR00012 167.3625 173.728 .501 .911 VAR00013 167.1250 175.098 .509 .911 VAR00014 167.2125 176.195 .398 .912 VAR00015 168.0000 183.063 -.077 .917 VAR00016 167.5625 175.768 .317 .913 VAR00017 167.6625 174.404 .515 .911 VAR00018 167.6375 174.285 .443 .911 VAR00019 167.8000 173.580 .478 .911 VAR00020 167.4250 174.855 .408 .911 VAR00021 167.3750 176.415 .382 .912 VAR00022 167.0500 175.694 .436 .911 VAR00023 167.5625 173.692 .532 .910 VAR00024 167.2875 174.005 .534 .910 VAR00025 167.4625 173.239 .599 .910 VAR00026 167.0875 173.144 .595 .910 VAR00027 167.2625 172.981 .571 .910 VAR00028 167.7625 175.069 .400 .912 VAR00029 167.4625 179.340 .201 .913 VAR00030 167.7250 173.493 .451 .911 VAR00031 167.3500 173.116 .455 .911 VAR00032 167.3375 174.657 .512 .911 VAR00033 167.4750 173.670 .608 .910 VAR00034 167.7375 175.082 .486 .911 VAR00035 167.5250 174.784 .517 .911 VAR00036 167.6500 176.711 .400 .912 VAR00037 167.7500 177.861 .253 .913 VAR00038 167.6250 179.047 .294 .912 VAR00039 167.1500 177.066 .361 .912 VAR00040 168.0125 177.557 .226 .913 VAR00041 167.9250 176.070 .369 .912 VAR00042 167.4250 173.032 .583 .910 VAR00043 167.3750 174.845 .453 .911 VAR00044 167.3125 177.306 .328 .912 VAR00045 167.9125 174.967 .512 .911 VAR00046 167.3875 175.177 .437 .911 VAR00047 167.5375 176.454 .454 .911

(103) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 87 VAR00048 167.5750 175.893 .377 .912 VAR00049 167.5625 175.642 .419 .911 VAR00050 168.0500 179.187 .134 .914 VAR00051 167.1875 175.521 .463 .911 VAR00052 167.3750 174.288 .536 .910 VAR00053 167.7125 171.372 .578 .910 VAR00054 167.3625 174.031 .547 .910 VAR00055 167.7625 179.550 .112 .915 VAR00056 167.5125 178.076 .280 .913

(104) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 88 LAMPIRAN 3 Analisis dan Seleksi Item Skala Etos Kerja

(105) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 89 Item-Total Statistics Scale Mean if Item Deleted Scale Variance if Item Deleted Corrected Item-Total Cronbach's Alpha if Correlation Item Deleted VAR00001 197.8250 209.463 .417 .906 VAR00002 198.5000 212.430 .235 .908 VAR00003 198.1375 213.968 .165 .908 VAR00004 198.3625 213.525 .149 .909 VAR00005 198.3625 214.918 .088 .909 VAR00006 197.8750 210.465 .384 .907 VAR00007 197.8125 209.066 .479 .906 VAR00008 198.5625 213.996 .117 .909 VAR00009 197.7125 208.866 .479 .906 VAR00010 198.1125 207.418 .477 .906 VAR00011 198.1375 215.082 .087 .909 VAR00012 198.0250 208.253 .422 .906 VAR00013 198.1000 211.256 .323 .907 VAR00014 198.7125 218.866 -.121 .912 VAR00015 197.9125 209.372 .468 .906 VAR00016 197.5750 210.045 .394 .907 VAR00017 197.7750 206.987 .607 .905 VAR00018 198.3000 214.213 .092 .910 VAR00019 198.2250 211.392 .343 .907 VAR00020 197.7875 207.056 .556 .905 VAR00021 197.7500 209.430 .467 .906 VAR00022 197.9250 207.260 .563 .905 VAR00023 197.9500 210.959 .454 .906 VAR00024 197.9625 206.720 .591 .905 VAR00025 198.0875 208.866 .466 .906 VAR00026 198.4250 208.247 .389 .907 VAR00027 198.6625 220.176 -.196 .912 VAR00028 198.1000 209.180 .403 .906 VAR00029 198.2500 208.038 .502 .906 VAR00030 197.8750 208.845 .488 .906 VAR00031 198.4375 213.287 .185 .908 VAR00032 198.3250 208.273 .404 .906 VAR00033 197.9375 209.983 .398 .907 VAR00034 197.9625 207.606 .586 .905 VAR00035 198.0375 207.277 .578 .905 VAR00036 198.0000 208.987 .622 .905 VAR00037 197.9875 209.633 .490 .906 VAR00038 198.1625 207.581 .516 .905 VAR00039 198.8250 209.539 .325 .907 VAR00040 198.2500 207.684 .503 .906 VAR00041 197.8875 208.633 .532 .906 VAR00042 198.3750 213.756 .113 .910 VAR00043 198.0250 211.113 .329 .907 VAR00044 197.8250 207.640 .639 .905 VAR00045 197.9125 207.549 .656 .905 VAR00046 198.4125 212.271 .240 .908 VAR00047 197.7875 209.334 .479 .906

(106) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 90 VAR00048 197.4500 214.478 .151 .908 VAR00049 198.4625 213.416 .182 .908 VAR00050 198.5625 216.477 -.011 .911 VAR00051 198.0125 210.620 .284 .908 VAR00052 198.2500 212.975 .238 .908 VAR00053 197.7875 208.676 .499 .906 VAR00054 197.7250 208.885 .258 .909 VAR00055 198.1375 205.968 .592 .905 VAR00056 197.9625 208.695 .469 .906 VAR00057 197.6875 214.192 .113 .909 VAR00058 198.3375 214.404 .106 .909 VAR00059 198.1000 206.268 .590 .905 VAR00060 197.9750 207.923 .639 .905 VAR00061 197.9500 208.529 .574 .905 VAR00062 198.1875 210.585 .303 .907 VAR00063 198.2625 214.120 .118 .909 VAR00064 198.0375 208.796 .638 .905 VAR00065 198.1625 210.999 .291 .907

(107) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 91 LAMPIRAN 4 Hasil Uji Reliabilitas Skala Kecerdasan Emosional Skala Etos Kerja

(108) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 92 Skala Kecerdasan Emosional Case Processing Summary N Cases Valid % 80 100.0 0 .0 80 100.0 a Excluded Total a. Listwise deletion based on all variables in the procedure. Reliability Statistics Cronbach's Alpha N of Items .913 56 Skala Etos Kerja Case Processing Summary N Cases Valid % 80 a Excluded Total 100.0 0 .0 80 100.0 a. Listwise deletion based on all variables in the procedure. Reliability Statistics Cronbach's Alpha .908 N of Items 65

(109) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 93 LAMPIRAN 5 Hasil Uji T Mean Teoritik dan Mean Empiris

(110) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 94 Skala Kecerdasan Emosional One-Sample Statistics N Kecerdasan emosi Mean 133 122.36 Std. Deviation Std. Error Mean 11.738 1.018 One-Sample Test Test Value = 100 95% Confidence Interval of the Difference t Kecerdasan emosi 21.970 df Sig. (2-tailed) 132 .000 Mean Difference 22.361 Lower Upper 20.35 24.37

(111) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 95 Skala Etos Kerja One-Sample Statistics N etoskerja Mean 133 140.22 Std. Deviation Std. Error Mean 16.453 1.427 One-Sample Test Test Value = 112.5 95% Confidence Interval of the Difference t etoskerja 19.428 df Sig. (2-tailed) 132 .000 Mean Difference 27.718 Lower 24.90 Upper 30.54

(112) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 96 LAMPIRAN 6 Hasil Uji Normalitas

(113) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 97 One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test kecerdasanemos ional N Normal Parameters a Most Extreme Differences Kolmogorov-Smirnov Z Asymp. Sig. (2-tailed) a. Test distribution is Normal. etoskerja 133 133 Mean 122.36 140.22 Std. Deviation 11.738 16.453 Absolute .121 .137 Positive .121 .137 Negative -.070 -.124 1.396 1.578 .041 .014

(114) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 98 LAMPIRAN 7 Hasil Uji Linearitas

(115) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 99 ANOVA Table Sum of Squares etoskerja * Between Groups df Mean Square F Sig. (Combined) 23037.368 42 548.509 3.888 .000 Linearity 16073.616 1 16073.616 113.932 .000 6963.751 41 169.848 1.204 .231 Within Groups 12697.309 90 141.081 Total 35734.677 132 kecerdasanemosional Deviation from Linearity

(116) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 100 LAMPIRAN 8 Hasil Uji Hipotesis

(117) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 101 Correlations kecerdasanemos ional Spearman's rho kecerdasanemosional Correlation Coefficient Sig. (2-tailed) 1.000 ** .647 . .000 133 133 .647** 1.000 Sig. (2-tailed) .000 . N 133 133 N etoskerja etoskerja Correlation Coefficient **. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).

(118) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 102 LAMPIRAN 9 Surat Ijin Penelitian

(119) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 103

(120) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI civ

(121)

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

HUBUNGAN ANTARA PEMENUHAN KEBUTUHAN DENGAN KOMITMEN PEGAWAI NEGERI SIPIL PADA ORGANISASI
0
3
2
HUBUNGAN ANTARA KECERDASAN EMOSIONAL DENGAN PRODUKTIVITAS KERJA RESEPSIONIS HOTEL
0
7
2
TESIS PENGARUH KECERDASAN SPIRITUAL DAN KECERDASAN EMOSIONAL TERHADAP KINERJA PEGAWAI NEGERI SIPIL DI KECAMATAN DEPOK KABUPATEN SLEMAN.
0
3
16
PENDAHULUAN PENGARUH KECERDASAN SPIRITUAL DAN KECERDASAN EMOSIONAL TERHADAP KINERJA PEGAWAI NEGERI SIPIL DI KECAMATAN DEPOK KABUPATEN SLEMAN.
0
2
12
PENUTUP PENGARUH KECERDASAN SPIRITUAL DAN KECERDASAN EMOSIONAL TERHADAP KINERJA PEGAWAI NEGERI SIPIL DI KECAMATAN DEPOK KABUPATEN SLEMAN.
0
2
47
HUBUNGAN ANTARA KECERDASAN EMOSIONAL DENGAN PROFESIONALISME KERJA PADA POLISI LALU LINTAS.
0
0
7
HUBUNGAN ANTARA KECERDASAN EMOSIONAL DENGAN KESIAPAN KERJA PEGAWAI.
0
2
66
HUBUNGAN ANTARA KETERLIBATAN KERJA DAN KEPUASAN KERJA DENGAN KECEMASAN MENGHADAPI PENSIUN PADA PEGAWAI NEGERI SIPIL DI KABUPATEN SLEMAN.
0
0
16
HUBUNGAN ANTARA KECERDASAN EMOSIONAL DENGAN KESIAPAN KERJA PEGAWAI - repository UPI S PSI 0901238 Title
0
0
6
HUBUNGAN ANTARA KECERDASAN EMOSIONAL DEN
0
1
72
HUBUNGAN ANTARA KECERDASAN EMOSIONAL DEN
0
0
1
HUBUNGAN ANTARA KECERDASAN EMOSIONAL DAN
0
0
16
HUBUNGAN ANTARA KECERDASAN EMOSIONAL DENGAN RESILIENSI PADA PARA SUSTER YUNIOR DI KOTA YOGYAKARTA
0
0
9
HUBUNGAN ANTARA KOMITMEN ORGANISASI DENGAN DISIPLIN KERJA PADA PEGAWAI NEGERI SIPIL - Unika Repository
0
0
17
HUBUNGAN ANTARA KOMITMEN ORGANISASI DENGAN DISIPLIN KERJA PADA PEGAWAI NEGERI SIPIL - Unika Repository
0
0
60
Show more