Prevalensi dan evaluasi interaksi farmakokinetik resep racikan pada lima PUSKESMAS di Kabupaten Sleman periode Desember 2013 - USD Repository

Gratis

0
0
113
7 months ago
Preview
Full text
(1)PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI PREVALENSI DAN EVALUASI INTERAKSI FARMAKOKINETIK RESEP RACIKAN PADA LIMA PUSKESMAS DI KABUPATEN SLEMAN PERIODE DESEMBER 2013 SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S.Farm.) Program Studi Farmasi Oleh: I Dewa Ayu Dwi Komaladewi 108114026 FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2014

(2) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI PREVALENSI DAN EVALUASI INTERAKSI FARMAKOKINETIK RESEP RACIKAN PADA LIMA PUSKESMAS DI KABUPATEN SLEMAN PERIODE DESEMBER 2013 SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S.Farm.) Program Studi Farmasi Oleh: I Dewa Ayu Dwi Komaladewi 108114026 FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2014 i

(3) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ii

(4) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI iii

(5) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI iv

(6) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI HALAMAN PERSEMBAHAN Selama kita masih mempunya TEKAD yang terpelihara dalam SEMANGAT, maka tiada kata TERLAMBAT untuk memulai SEBUAH AWAL yang baru Jangan berputus asa jika mengalami kesulitan, karena setiap tetes air hujan yang jernih berasal dari awan yang gelap “Tuhan tidak akan memberikan cobaan melebihi batas kemampuan umatnya” Sebuah karya kecil kupersembahkan kepada : Ida Shang Hyang Widhi Wasa sebagai wujud rasa syukurku Ibu Budhiari dan Ajunk Kawiyasa , sebagai wujud baktiku, Kakakku Satya dan Sinta Adikku, sebagai tanda sayangku, Joseph Singgih Dwilaksono yang selalu menghadirkan hujan dan pelangi dalam hidupku Semua teman Farmasi USD 2010 dan almamater tercinta v

(7) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI PRAKATA Puji syukur dan terima kasih penulis panjatkan kepada Ide Shang Hyang Widhi Wasa atau Tuhan Yang Maha Esa, atas segala berkat dan anugerah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Prevalensi dan Evaluasi Interaksi Farmakokinetik Resep Racikan pada Lima Puskesmas di Kabupaten Sleman Periode Desember 2013”. Skripsi ini disusun untuk memenuhi syarat memperoleh gelar Sarjana Farmasi di Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah ikut membantu, memberikan dukungan, bimbingan, kritik, dan saran selama proses penyelesaian skripsi ini. Dalam kesempatan ini, penulis hendak mengucapkan terima kasih kepada : 1. Ibu Aris Widayati, M.Si., Apt., PhD. selaku Dekan Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma sekaligus selaku Dosen Pembimbing dan Dosen Penguji yang telah banyak memberi bimbingan, arahan, dan masukan dalam penyusunan skripsi ini sehingga dapat menjadi lebih baik. 2. Ibu Dita Maria Virginia, S.Farm., Apt., M.Sc. selaku Dosen Penguji yang telah memberikan masukan yang berarti terhadap skripsi ini. 3. Ibu Dr. Sri Hartati Yuliani, M.Si., Apt. selaku Dosen Penguji yang telah memberikan masukan yang berarti terhadap skripsi ini. 4. Kepala Puskesmas Depok I serta Asisten Apoteker Puskesmas Depok I : Ibu Rusmini yang memberikan bantuan selama penyusunan skripsi. vi

(8) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 5. Kepala Puskesmas Mlati II serta Apoteker Puskesmas Mlati II : Ibu Chrisna Wardani yang memberikan bantuan selama penyusunan skripsi. 6. Kepala Puskesmas Tempel I serta Asisten Apoteker Puskesmas Tempel I : Ibu Ilmi Jazmiati yang memberikan bantuan selama penyusunan skripsi. 7. Kepala Puskesmas Seyegan serta Asisten Apoteker Puskesmas Seyegan : Ibu Noer Hidayati yang memberikan bantuan selama penyusunan skripsi. 8. Kepala Puskesmas Kalasan serta Apoteker Puskesmas Kalasan : Nur Djanah Alboneh yang memberikan bantuan selama penyusunan skripsi. 9. Rekan-rekan tim skripsi : Harris Kristanto Setiadi, Lenny Aftalina Letlora, Lelo Susilo, Vera Juniarta dan Septi Martiani Pertiwi atas segala kerjasama, bantuan dan dukungan dalam pengerjaan skripsi. 10. Sahabat-sahabatku : Harris, Ayu, Yosri, Ci Puji, Rotua, Vivo, Gita, Sugi, Hans, Intan, Lenny, Lelo dan Vera atas motivasi, kebersamaan dan persahabatannya. 11. Seluruh dosen dan teman-teman FSM A 2010, FKK A 10 serta seluruh angkatan 2010 Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma. 12. Semua pihak yang penulis tidak dapat menyebutkan satu-persatu yang telah ikut membantu selama penyusunan skripsi ini. Penulis menyadari bahwa skripsi ini jauh dari sempurna. Oleh karena itu, segala kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan demi sempurnanya skripsi ini. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat dan memberi informasi bagi pembaca. Penulis vii

(9) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI viii

(10) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL ................................................................................. i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ....................................... ii HALAMAN PENGESAHAN ................................................................. iii HALAMAN PERSEMBAHAN .............................................................. iv PRAKATA ................................................................................................ v PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ................................................. vii DAFTAR ISI .......................................................................................... viii DAFTAR TABEL .................................................................................... xi DAFTAR GAMBAR .............................................................................. xii DAFTAR LAMPIRAN .......................................................................... xiii INTISARI .............................................................................................. xiv ABSTRACT .............................................................................................. xv BAB I. PENGANTAR .............................................................................. 1 A. Latar Belakang .................................................................................... 1 1. Perumusan masalah ....................................................................... 3 2. Keaslian penelitian ........................................................................ 3 3. Manfat penelitian ........................................................................... 5 B. Tujuan Penelitian ................................................................................. 5 1. Tujuan umum ................................................................................ 6 2. Tujuan khusus ............................................................................... 6 ix

(11) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB II. PENELAAHAN PUSTAKA .................................................... 7 A. Pengertian Resep .................................................................................. 7 1. Definisi resep ................................................................................. 7 2. Resep racikan dan manfaat resep racikan ........................................ 8 3. Kombinasi obat ................................................................................ 8 B. Pola Resep Racikan ................................................................................ 9 C. Interaksi Obat ..................................................................................... 11 1. Definisi interaksi obat ................................................................... 11 2. Dampak klinis interaksi obat ........................................................ 11 3. Interaksi farmakokinetik ............................................................... 12 D. Keterangan Empiris ............................................................................ 20 BAB III. METODE PENELITIAN ......................................................... 21 A. Jenis dan Rancangan Penelitian ........................................................... 21 B. Variabel Penelitian ............................................................................ 21 C. Definisi Operasional ........................................................................ 22 D. Tempat dan Waktu Penelitian ........................................................... 24 E. Obyek dan Subyek Penelitian ........................................................... 24 F. Metode Pengambilan Data ................................................................ 25 G. Instrumen Penelitian .......................................................................... 25 H. Tata Cara Penelitian ............................................................................ 26 I. Tata Cara Analisis Hasil ...................................................................... 31 J. Keterbatasan Penelitian ....................................................................... 32 BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ............................................... 33 x

(12) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI A. Prevalensi Resep Racikan .................................................................... 33 B. Pola Peresepan Racikan ....................................................................... 35 C. Interaksi Farmakokinetik Resep Racikan ............................................ 42 D. Pendapat Apoteker dan Asisten Apoteker ........................................... 44 BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN ................................................ 48 A. Kesimpulan ......................................................................................... 48 B. Saran ................................................................................................... 49 DAFTAR PUSTAKA ............................................................................. 50 LAMPIRAN ............................................................................................ 53 BIOGRAFI PENULIS ............................................................................ 96 xi

(13) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR TABEL Halaman Tabel I. Tingkat Keparahan Interaksi Obat ......................................... 11 Tabel II. Pemetaan Puskesmas Berdasarkan Kecamatan ...................... 27 Tabel III. Kelas Terapi dan Jenis Obat Resep Racikan .......................... 35 Tabel IV. Komposisi, Bentuk Sediaan dan Rute Pemberian Dua Komposisi Racikan . ................................................................ 37 Tabel V. Komposisi, Bentuk Sediaan dan Rute Pemberian Tiga Komposisi Racikan . ................................................................ 38 Tabel VI. Komposisi, Bentuk Sediaan dan Rute Pemberian Empat Komposisi Racikan . ................................................................ 38 Tabel VII.Komposisi, Bentuk Sediaan dan Rute Pemberian Dua Komposisi Racikan dan Non Racikan . .................................. 39 Tabel VIII.Komposisi, Bentuk Sediaan dan Rute Pemberian Tiga Komposisi Racikan dan Non Racikan . .................................. 39 Tabel IX. Komposisi, Bentuk Sediaan dan Rute Pemberian Empat Komposisi Racikan dan Non Racikan . .................................. 40 Tabel X. Komposisi, Bentuk Sediaan dan Rute Pemberian Racikan Tunggal dan Racikan Campuran . ............................. 40 Tabel XI. Persentase Komposisi Resep Racikan …………................... 43 xii

(14) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR GAMBAR Halaman Gambar 1. Persentase Resep Racikan dan Non Racikan pada Lima Puskesmas di Kabupaten Sleman Periode Desember 2013 ..... 33 Gambar 2. Persentase Masing-Masing Resep Racikan dan Non Racikan pada Puskesmas di Kabupaten Sleman Periode Desember 2013 ....................................................................................... 34 Gambar 3. Penggunaan Komposisi Resep Racikan disertai Non Racikan pada Lima Puskesmas di Kabupaten Sleman Periode Desember 2013 .................................................................... 41 xiii

(15) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1. Formulir Isian Permohonan Ijin Pra Penelitian ..................... 54 Lampiran 2. Surat Rekomendasi Kantor Kesatuan Bangsa ........................ 55 Lampiran 3. Surat Ijin Penelitian dari BAPPEDA ..................................... 56 Lampiran 4. Sura Permohonan Informasi Data Dinas Kesehatan .............. 58 Lampiran 5. Informed Consent Puskesmas Seyegan ................................. 59 Lampiran 6. Informed Consent Puskesmas Mlati II .................................. 60 Lampiran 7. Informed Consent Puskesmas Depok I ................................. 61 Lampiran 8. Informed Consent Puskesmas Tempel I ............................... 62 Lampiran 9. Informed Consent Puskesmas Kalasan ................................. 63 Lampiran 10.Resep Racikan Puskesmas Seyegan ..................................... 64 Lampiran 11.Resep Racikan Puskesmas Mlati II ...................................... 67 Lampiran 12.Resep Racikan Puskesmas Depok I ...................................... 72 Lampiran 13.Resep Racikan Puskesmas Tempel I .................................... 77 Lampiran 14.Resep Racikan Puskesmas Kalasan ...................................... 81 Lampiran 15.Persentase Komposisi Resep Racikan .................................. 85 Lampiran 16.Wawancara Puskesmas Seyegan .......................................... 90 Lampiran 17.Wawancara Puskesmas Mlati II ........................................... 91 Lampiran 18.Wawancara Puskesmas Depok I ........................................... 92 Lampiran 19.Wawancara Puskesmas Tempel I ......................................... 93 Lampiran 20.Wawancara Puskesmas Kalasan ........................................... 94 Lampiran 21. Surat Keterangan Validasi .................................................... 95 xiv

(16) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI INTISARI Obat racikan merupakan bentuk sediaan kefarmasian yang dibuat dengan cara mencampurkan, menggabungkan, atau mengubah bentuk obat untuk disesuaikan dengan kebutuhan pasien. Menurut beberapa ahli, obat racikan dapat menimbulkan beberapa permasalahan. Hal inilah yang menjadi dasar tujuan untuk mengetahui prevalensi dan evaluasi interaksi farmakokinetik resep racikan pada lima puskesmas di Kabupaten Sleman periode Desember 2013. Penelitian ini termasuk penelitian non eksperimental dengan rancangan penelitian bersifat deskriptif cross sectional. Jenis data yang digunakan bersifat retrospektif, pemilihan sampel menggunakan metode cluster random. Prevalensi resep racikan pada lima puskesmas adalah sebanyak 4,8% dari 643 resep racikan. Jenis obat yang sering diresepkan adalah klorpeniramin maleat sebanyak 145 (33%) dengan kelas terapi antihistamin. Pasien pengguna racikan adalah anak-anak dengan kisaran umur 2 bulan - 9 tahun. Kombinasi resep racikan yang paling sering diresepkan adalah klorpeniramin maleat dan salbutamol sebanyak 26 (15%) dengan 2 kombinasi obat. Bentuk sediaan racikan yang paling sering digunakan adalah pulveres sebanyak 169 (96%) dengan rute pemberian oral. Tidak ditemukan interaksi farmakokinetik yang terjadi. Apoteker dan asisten apoteker berpendapat bahwa penggunaan obat racikan masih dapat digunakan. Permasalahan interaksi obat pada resep racikan dapat diminimalkan dengan adanya komunikasi antara apoteker dengan dokter mengenai komposisi campuran obat pada resep racikan. Kesimpulan penelitian ini adalah prevalensi resep racikan pada lima puskesmas di Kabupaten Sleman sebanyak 4,8% dan tidak ditemukannya interaksi farmakokinetik pada kombinasi resep racikan periode Desember 2013. Kata kunci: prevalensi, pola, interaksi farmakokinetik, pendapat xv

(17) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ABSTRACT Compounded drug is a pharmaceutical dosage form that made by “combines, mixes, or alters ingredients to create a medication tailored to the needs of an individual patients” in response to a prescription from a health care provider. According to some experts, personalized medicine may cause some problems because of drug concoction made by mixing several drugs into the composition of pharmaceutical dosage forms. This is the basic aim to determine the prevalence and evaluation of pharmacokinetic interactions compounded prescription at five health centers in Sleman regency period in December 2013. This study includes the design of non-experimental research is a descriptive cross sectional study. Based on the type of data used, this study is retrospective, sample selection in this study using cluster random. Prevalence of compounded prescription at five health centers is 4,8% of the 643 total compounded prescription. Types of drug are often prescribed as 145 chlorpheniramin maleate (33%) with class antihistamine therapy. Patients concoction users are children with the age range of 2 months - 9 years. The combination of compounded prescription is the most commonly prescribed clorpheniramin maleate and salbutamol were 26 (15%) with 2 drug combinations. Concoction dosage forms are most often used is pulveres were 169 (96%) with oral route. Found no pharmacokinetic interactions that occur. Pharmacists and assistant pharmacists argue that the use of personalized medicine can still be used. Problems compounded prescription drug interactions can be minimized in the presence of communication between pharmacists with a doctor about prescribed drug interaction problems was also needed. The conclusion of this study is the prevalence of compounded prescription at five health centers in Sleman is 4,8% and not finding pharmacokinetic interactions in combination compounded prescription period in December 2013. Keywords: prevalence, patterns, pharmacokinetic interactions, opinions xvi

(18) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB I PENGANTAR A. Latar Belakang Pada awalnya obat racikan merupakan salah satu bentuk sediaan yang digunakan di seluruh dunia. Obat racikan merupakan bentuk sediaan kefarmasian yang digunakan untuk memberikan atau menyediakan obat sesuai kondisi dan kebutuhan pasien. Obat racikan dibuat dengan menggerus atau mencampurkan sediaan tablet yang biasanya terdiri atas sedikitnya dua macam obat. Bentuk obat racikan bisa berupa bentuk padat, bentuk cair, bentuk injeksi, atau bentuk larutan inhalasi (Glassgold, 2013). Tahun 1930 hingga tahun 1940, sekitar 60% dari keseluruhan obat telah diracik. Tahun 1970 di luar negeri penggunaan resep racikan hanya 1%, kurang lebih 30-40 juta resep telah diracik setiap tahunnya (Than, 2009). Studi di Negara bagian Illinois, Missouri, Kansas dan Iowa, tahun 2005 ditemukan bahwa jumlah resep racikan yang dibuat sejumlah 2,3% dari keseluruhan resep yang ada (McPherson, et al., 2006). Di Indonesia bentuk obat racikan sering diresepkan oleh dokter. Alasan dokter meresepkan resep racikan adalah: a). dapat menyesuaian dosis pemberian dengan berat badan anak, b). biaya yang relatif lebih murah, c). dapat menutupi rasa obat yang tidak enak, d). tidak menimbulkan kekhawatiran pasien bila komponen obat terlalu banyak (Setiabudy, 2011). Wiedyaningsih (2003), menemukan bahwa penggunaan resep racikan di apotek-apotek di kotamadya Yogyakarta sebanyak 71% atau 900 jumlah resep. Hasil penelitian yang dilakukan 1

(19) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2 oleh Cahyo (2008), ditemukan terdapat sebanyak 78% atau 513 jumlah penggunaan resep racikan untuk pediatri pada periode Juli 2007 di Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta. Menurut beberapa ahli, obat racikan dapat menimbulkan beberapa permasalahan. Salah satu masalah potensial pada obat racikan adalah kemungkinan terjadinya interaksi antara obat yang diracik dalam satu bentuk sediaan farmasi. Hal ini disebabkan karena obat racikan dapat dibuat dengan cara mencampurkan lebih dari satu macam obat menjadi satu bentuk sediaan farmasi. Interaksi obat dapat terjadi pada proses absorpsi, distribusi, metabolisme, dan ekskresi yang dapat mempengaruhi kerja obat di dalam tubuh (Collet and Aulton, 1990). Penelitian yang dilakukan oleh Piliarta, dkk. (2009), di rumah sakit swasta di Kabupaten Gianyar Bali ditemukan bahwa terjadi sebanyak 21 kejadian atau sebesar 45,65% angka kejadian interaksi obat dari 96 resep racikan. Berdasarkan penelitian-penelitian tersebut, penelitian ini perlu dilakukan untuk mengetahui dan melihat potensi terjadinya interaksi pada resep racikan. Hal lain yang juga mendukung dilakukan penelitian ini yaitu untuk mengetahui prevalensi penggunaan resep racikan khususnya pada lima pusksmas di Kabupaten Sleman. Penelitian ini terfokus pada penggunaan resep racikan, meliputi jumlah resep racikan, pola resep racikan, interaksi farmakokinetik dan wawancara terhadap apoteker dan asisten apoteker untuk mengetahui pendapat mereka mengenai penggunaan resep racikan. Puskesmas dipilih sebagai tempat penelitian ini karena puskesmas merupakan tempat pelayanan kesehatan tingkat pertama sebagai salah satu fasilitas kesehatan yang disediakan oleh pemerintah di suatu

(20) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 3 kecamatan pada setiap kabupaten (Sulastomo, 2007). Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai tambahan informasi terkait prevalensi resep racikan di Kabupaten Sleman khususnya penggunaan resep racikan pada lima puskesmas di Kabupaten Sleman periode Desember 2013. 1. Permasalahan Berdasarkan latar belakang yang sudah dipaparkan diatas, permasalahan yang dapat dirumuskan dalam penelitian ini meliputi : a. Berapa prevalensi resep racikan pada lima puskesmas di Kabupaten Sleman periode Desember 2013? b. Seperti apakah pola peresepan resep racikan? c. Adakah interaksi farmakokinetik obat yang terjadi pada resep racikan dan dengan non racikan? d. Seperti apakah pendapat dari apoteker dan asisten apoteker terkait penggunaan resep racikan? 2. Keaslian penelitian Penelitian mengenai prevalensi dan evaluasi interaksi farmakokinetik resep racikan pada lima puskesmas di Kabupaten Sleman periode Desember 2013 belum pernah dilakukan. Penelitian terkait dengan penggunaan resep racikan telah dilakukan oleh beberapa peneliti lain, akan tetapi terdapat perbedaan antara penelitian ini dengan penelitian yang telah dilakukan sebelumnya. Perbedaan tersebut antara lain yaitu dalam hal tujuan penelitian, lokasi penelitian, dan waktu penelitian.

(21) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 4 Beberapa penelitian yang terkait/tentang penggunaan resep racikan antara lain : a. Evaluasi Peresepan Kasus Pediatri di Bangsal Anak Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta yang Menerima Resep Racikan dalam Periode Juli 2007 (Kajian Kasus Gangguan Sistem Saluran Cerna) yang diteliti oleh Marselin (2008). Rancangan penelitian yang digunakan adalah deskriptif evaluatif. Hasil analisis dari penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan obat racikan sebesar 78% dan obat bukan racikan sebesar 22% di instalasi farmasi rawat jalan, sedangkan di bangsal anak penggunaan obat racikan sebesar 52% dan bukan racikan sebesar 48%. Terdapat 5 jenis racikan dengan 209 penggunaan untuk pasien pediatri yang berpotensi untuk terjadi interaksi obat. b. Evaluasi Komposisi, Indikasi, Dosis, dan Interaksi Obat Resep Racikan untuk Pasien Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta Periode Juli 2007, yang diteliti oleh Cahyo (2008). Rancangan penelitian yang digunakan adalah deskriptif evaluatif. Hasil analisis dari penelitian ini menunjukkan bahwa sebanyak 54 kasus yang paling banyak menerima satu jenis racikan, dengan jenis racikan paling banyak parasetamol dan fenobarbital. Interaksi obat terjadi sebanyak 24 kasus, obat tanpa indikasi sebanyak 31 kasus, dosis terlalu tinggi sebanyak 2 kasus, dan dosis terlalu rendah sebanayk 11 kasus. c. Evaluasi Peresepan Kasus Pediatri di Bangsal Anak Rumah Sakit Bethesda yang Menerima Resep Racikan dalam Periode Juli 2007

(22) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 5 (Kajian Kasus Gangguan Sistem Saluran Nafas) yang dilakukan oleh Wibowo (2008). Rancangan penelitian yang digunakan adalah deskriptif evaluatif. Hasil analisis dari penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan obat racikan sebanyak 54,5% dengan jenis racikan yang paling sering digunakan adalah parasetamol dan fenobarbital 39,4%. Penggunaan obat non racikan terdiri dari 8 kelas terapi. Kelas terapi yang paling banyak digunakan adalah obat saluran cerna 91,9%. 3. Manfaat penelitian Manfaat praktis penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat baik secara langsung maupun tidak langsung antara lain : a) Bagi Tenaga Kesehatan Sebagai bahan masukan bagi tenaga kesehatan khususnya di puskesmas Kabupaten Sleman mengenai prevalensi, pola, potensial interaksi farmakokinetik dan pendapat apoteker dan asisten apoteker terkait penggunaan resep racikan agar tetap meningkatkan mutu dan kualitas pelayanan. b) Bagi Calon Peneliti Sebagai tambahan informasi dan referensi pengembangan penelitian prevalensi, pola, potensial interaksi farmakokinetik dan pendapat apoteker dan asisten apoteker terkait penggunaan resep racikan. c) Bagi Peneliti Sebagai sarana belajar untuk mengintegrasikan pengetahuan dan keterampilan dengan terjun langsung sehingga dapat melihat dan

(23) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 6 mengetahui prevalensi, pola, potensial interaksi farmakokinetik dan pendapat apoteker dan asisten apoteker terkait penggunaan resep racikan pada lima puskesmas di Kabupaten Sleman. B. Tujuan Penelitian 1. Tujuan umum Tujuan umum penelitian ini adalah untuk mengetahui prevalensi dan evaluasi interaksi farmakokinetik resep racikan pada lima puskesmas di Kabupaten Sleman periode Desember 2013. 2. Tujuan khusus Tujuan khusus penelitian adalah untuk melihat hasil penelitian mengenai masalah berikut: a. Mengetahui prevalensi resep racikan pada lima puskesmas di Kabupaten Sleman periode Desember 2013. b. Menggambarkan pola peresepan dari resep racikan. c. Mengetahui terjadinya potensial interaksi farmakokinetik pada resep racikan dan dengan non racikan. d. Mengeksplorasi pendapat dari apoteker dan asisten apoteker terkait penggunaan resep racikan.

(24) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB II PENELAAHAN PUSTAKA A. Pengertian Resep 1. Definisi Resep Menurut Kepmenkes RI No. 1027/Menkes/SK/IX/2004 resep adalah permintaan tertulis dari dokter, dokter gigi, dokter hewan kepada apoteker pengelola apotek untuk menyediakan dan menyerahkan obat bagi penderita sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku. Ada beberapa jenis resep, yaitu: a. Resep standar (R/. Officinalis) Yaitu resep yang komposisinya telah dibakukan dan dituangkan ke dalam buku farmakope atau buku standar lainnya. Penulisan resep sesuai dengan buku standar b. Resep magistrales (R/. Polifarmasi) Yaitu resep yang sudah dimodifikasi atau diformat oleh dokter (resep racikan), bisa berupa campuran atau tunggal yang diencerkan dalam pelayanannya harus diracik terlebih dahulu c. Resep medicinal Yaitu resep obat jadi, bisa berupa obat paten, merek dagang maupun generik, dalam pelayanannya tidak mangalami peracikan 7

(25) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI d. 8 Resep obat generik Yaitu penulisan resep obat dengan nama generik dalam bentuk sediaan dan jumlah tertentu. Dalam pelayanannya bisa atau tidak mengalami peracikan (Jas, 2009). Obat diresepkan untuk memperbaiki kualitas hidup pasien dengan mengobati penyakit, mengurangi atau mengeliminasi gejala penyakit, menghentikan atau memperlambat proses penyakit, atau mencegah penyakit atau gejala sejak awal kejadian (Hepler and Strand,1990). 2. Resep Racikan dan Manfaat Resep Racikan Obat racikan disebut juga resep magistrales dibuat dengan menghaluskan atau menghancurkan sediaan obat tablet yang biasanya terdiri atas sedikitnya dua macam obat (Glassgold, 2013). Menurut U.S. Food and Drug Administration (2007), sediaan racikan diresepkan bermanfaat untuk pasien yang tidak dapat menelan tablet, sejumlah dosis dapat disesuaikan terhadap pasiennya, dapat diperuntukkan kepada pasien yang tidak dapat menerima rasa tidak enak dari obat. 3. Kombinasi Obat Menurut American Medical Association (AMA) tahun 1994, peresepan kombinasi obat secara umum perlu memperhatikan beberapa hal, meliputi : a. Mengandung tidak lebih dari 3 macam obat dengan aksi farmakologis yang berbeda dan tidak boleh mengandung lebih dari satu macam obat dengan aksi farmakologis yang sama.

(26) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 9 b. Setiap komponen aktif terdapat dalam dosis yang efektif dan aman serta mempunyai efek terapetik. c. Kombinasi obat dapat diberikan untuk mengobati penyakit yang kompleks. d. Kombinasi obat mempunyai nilai terapetik untuk mengatasi gejala sesuatu dengan tipe dan tingkat keparahannya. e. Interaksi obat yang merugikan antara komponen sudah diperhitungkan. B. Pola Resep Racikan Menurut World Health Organization (2002), pengobatan yang rasional adalah pemberian obat yang sesuai kebutuhan pasien, dalam dosis yang sesuai dan periode waktu tertentu, serta dengan biaya serendah mungkin baik bagi pasien maupun komunitasnya. Pola pengobatan yang tidak mengikuti kaidah-kaidah di atas adalah pola pengobatan tidak rasional. Berikut adalah pola resep racikan yaitu: a. Jenis obat Obat ialah suatu bahan yang digunakan dalam menyembuhkan penyakit atau gejala penyakit. Ada bermacam-macam jenis obat yang dapat digunakan sebagai obat racikan, kecuali jenis obat bersalut yang tidak dianjurkan digunakan sebagai komposisi obat racikan. Pemilihan jenis obat biasanya disesuaikan dengan kebutuhan pasien (Nugroho, 2012). Ada berbagai macam jenis obat yang dapat digunakan sebagai komposisi resep racikan, salah

(27) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 10 satunya yaitu efedrin, parasetamol, salbutamol, dexametason, dll (Depkes RI, 2008). b. Kelas terapi Kelas terapi adalah suatu penggolongan obat baik sintesis maupun herbal berdasarkan fungsinya yang khas dan spesifik dalam efek farmakologi. Penggolongan obat ini bertujuan agar mempermudah dalam klasifikasi serta pemahaman dalam hal mekanisme aksi dari obat yang bekerja pada reseptorreseptor tubuh guna menghasilkan sebuah efek farmakologi (Nugroho, 2012). c. Pasien penerima obat racikan Anak-anak dan lansia merupakan golongan usia yang sangat rentan terserang penyakit. Dokter sering kali memberikan obat racikan untuk pasien anak-anak dan lansia karena memudahkan pemberian obat yang sesuai kebutuhan pasien dan sesuai dengan pelayanan kesehatan (Danish, 1996). d. Bentuk obat racikan Bentuk obat racikan dibuat berdasarkan tujuan penggunaan obat sehingga dapat memenuhi kebutuhan pasien. Bentuk obat racikan yang biasa dijumpai antara lain seperti pulvis, pulveres, kapsul, larutan, suspensi, emulsi, salep, suppositoria, krim dan gel (Syamsuni, 2006). e. Rute pemberian Rute pemberian adalah jalur pemberian obat. Jalur pemberian obat tersebut disesuaikan berdasarkan bentuk sediaan yang digunakan. Obat dapat diberikan melalui berbagai macam rute pemberian yang dikehendaki pasien. Macam-macam rute pemberian obat antara lain yaitu pemberian obat secara

(28) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 11 enteral (oral, sublingual, rektal), parenteral (intra vaskular, IM, SC), lain-lain (inhalasi, intranasal, intratekal, topikal, transdermal) (Syamsuni, 2006). C. Interaksi Obat 1. Definisi Interaksi Obat Interaksi obat adalah modifikasi efek suatu obat akibat obat lain yang diberikan bersamaan sehingga keefektifan atau toksisitas satu obat atau lebih berubah. Efek yang terjadi bisa meningkatkan atau mengurangi aktifitas sehingga menghasilkan efek baru yang tidak dimiliki sebelumnya. Interaksi bisa terjadi karena pencampuran obat satu dengan obat yang lainnya, obat dengan makanan, obat dengan herbal, obat dengan mikronutrien, dan obat injeksi dengan kandungan infus (Laurence, 1997). 2. Dampak klinis interaksi obat Interaksi obat dapat mempengaruhi kondisi klinis pasien. Dampak klinis ini dapat dilihat dengan mengetahui tingkat signifikansi dari interaksi obat yang ditimbulkan. Tingkat keparahan akibat interaksi obat tersebut dapat dilihat pada table I. Tabel I. Tingkat Keparahan Interaksi Obat (Tatro, 2001). Tingkat Skala Interaksi Obat Tingkat Signifikan 1 2 3 4 5 Keparahan Laporan/Bukti Berat (major) Sedang (moderat) Ringan (minor) Berat/Sedang (major/moderat) Ringan (minnor) Tidak terjadi Terbukti Terbukti Terbukti Mungkin terjadi Mungkin terjadi Tidak mungkin terjadi

(29) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 12 Derajat keparahan akibat interaksi obat diklasifikasikan menjadi tiga tingkat keparahan, yaitu ringan/minor, sedang/moderate, dan berat/major. 1. Keparahan minor Sebuah interaksi termasuk ke dalam keparahan minor apabila interaksi terjadi tetapi tidak mempengaruhi tujuan terapi secara signifikan, akibat dari interaksi obat tidak diketahui dan tidak membutuhkan terapi tambahan (Tatro, 2001). 2. Keparahan moderate Sebuah interaksi termasuk ke dalam keparahan moderate jika satu dari bahaya potensial terjadi pada pasien. Potensial bahaya yang terjadi tergantung dari kondisi klinis pasien. Kondisi klinis pasien mempengaruhi efek interaksi obat sehingga mempengaruhi proses penyembuhan, mulai dari membutuhkan terapi tambahan, rawat inap di rumah sakit, sampai memperlama proses penyembuhan (Tatro, 2001). 3. Keparahan major Sebuah interaksi termasuk ke dalam keparahan major jika potensi yang dapat menimbulkan kerusakan organ permanen sampai menyebabkan kematian pada pasien tinggi (Tatro, 2001). 3. Interaksi Farmokokinetik Interaksi farmakokinetik adalah perubahan farmakokinetik suatu obat karena adanya interaksi dengan obat lain di dalam tubuh. Interaksi farmakokinetik dapat terjadi akibat perubahan-perubahan yang terjadi pada absorbsi, distribusi, metabolisme dan ekskresi sesuatu obat karena obat lain.

(30) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 13 Interaksi yang terjadi antara lain dapat mengubah salah satu kerja dari komposisi obat yang dicampur, meningkatkan toksisitas dan/atau mengurangi efektifitas obat atau menyebabkan efek samping yang tidak terduga. Interaksi farmakokinetik dapat digolongkan menjadi beberapa kelompok : a. Mempengaruhi absorpsi Obat-obat yang digunakan secara oral biasanya diserap dari saluran cerna ke dalam sistem sirkulasi. Ada banyak kemungkinan terjadi interaksi selama obat melewati saluran cerna. Absorpsi obat dapat terjadi melalui transport pasif maupun aktif, di mana sebagian besar obat diabsorpsi secara pasif. Proses ini melibatkan difusi obat dari daerah dengan kadar tinggi ke daerah dengan kadar obat yang lebih rendah. Pada transport aktif terjadi perpindahan obat melawan gradien konsentrasi (contohnya ion-ion dan molekul yang larut air) dan proses ini membutuhkan energi. Absorpsi obat secara transport aktif lebih cepat dari pada secara tansport pasif. Obat dalam bentuk tak-terion larut lemak dan mudah berdifusi melewati membran sel, sedangkan obat dalam bentuk terion tidak larut lemak dan tidak dapat berdifusi (Harkness and Richard, 1989). Bila kecepatan absorpsi berubah, interaksi obat secara signifikan akan lebih mudah terjadi, terutama obat dengan waktu paro yang pendek. Berikut adalah beberapa interaksi akibat gangguan absorpsi antara lain :

(31) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 14 1. Efek perubahan pH Cairan saluran cerna yang alkalis, misalnya akibat adanya antasid, akan meningkatkan kelarutan obat yang bersifat asam yang sukar larut dalam saluran cerna, misalnya aspirin. Dengan demikian percepatan disolusi aspirin oleh basa akan mempercepat absorpsinya. Akan tetapi, suasana alkalis di saluran cerna akan mengurangi kelarutan beberapa obat yang bersifat basa (misalnya tetrasiklin) dalam cairan saluran cerna, sehingga mengurangi absorpsi. Berkurangnya keasaman lambung oleh antasida akan mengurangi pengrusakan obat yang tidak tahan asam sehingga meningkatkan bioavailabilitas (Harkness and Richard, 1989). Ketokonazol yang diminum per oral membutuhkan medium asam untuk melarutkan sejumlah yang dibutuhkan sehingga tidak memungkinkan diberikan bersama antasida, obat antikolinergik, penghambatan H2, atau inhibitor pompa proton (misalnya omeprazol) (Harkness and Richard, 1989). 2. Pembentukan senyawa kompleks tak larut atau khelat dan adsorpsi Interaksi antara antibiotik golongan fluorokinolon (siprofloksasin, enoksasin, levofloksasin, lomefloksasin, norfloksasin, ofloksasin dan sparfloksasin) dan ion-ion divalent dan trivalent (misalnya ion Ca2+, Mg2+ dan Al3+ dari antasida dan obat lain) dapat menyebabkan penurunan yang signifikan dari absorpsi saluran cerna, bioavailabilitas dan efek terapetik, karena terbentuknya senyawa kompleks. Interaksi ini juga sangat menurunkan aktivitas antibiotik fluorokuinolon. Efek

(32) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 15 interaksi ini dapat secara signifikan dikurangi dengan memberikan antasida beberapa jam sebelum atau setelah pemberian fluorokuinolon (Harkness and Richard, 1989). 3. Perubahan mortilitas gastrointestinal Kebanyakan obat sebagian besar diserap di bagian atas usus kecil, obat-obatan yang mengubah laju pengosongan lambung dapat mempengaruhi absorpsi. Propantelin misalnya, menghambat pengosongan lambung dan mengurangi penyerapan parasetamol (asetaminofen), sedangkan metoklopramid memiliki efek sebaliknya (Baxter and Karen, 2008). 4. Induksi atau inhibisi protein transporter obat Ketersediaan hayati beberapa obat dibatasi oleh aksi protein transporter obat. Transporter obat yang terkarakteristik paling baik adalah P-glikoprotein. Digoksin adalah substrat P-glikoprotein, dan obat-obatan yang menginduksi protein ini, seperti rifampisin, dapat mengurangi ketersediaan hayati digoksin (Baxter and Karen, 2008). b. Mempengaruhi distribusi Setelah obat diabsorpsi ke dalam sistem sirkulasi, obat di bawa ke tempat kerja di mana obat akan bereaksi dengan berbagai jaringan tubuh dan atau reseptor. Selama berada di aliran darah, obat dapat terikat pada berbagai komponen darah terutama protein albumin. Obat-obat larut lemak mempunyai afinitas yang tinggi pada jaringan adiposa, sehingga obat-obat dapat tersimpan di jaringan adiposa ini. Rendahnya aliran darah ke

(33) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 16 jaringan lemak mengakibatkan jaringan ini menjadi tempat untuk obatobat larut lemak. Hal ini memperpanjang efek obat. Obat-obat yang sangat larut lemak misalnya golongan fenotiazin, benzodiazepin dan barbiturate (Harkness and Richard, 1989). Sejumlah obat yang bersifat asam mempunyai afinitas terhadap protein darah terutama albumin. Obat-obat yang bersifat basa mempunyai afinitas untuk berikatan dengan asam-α-glikoprotein. Ikatan protein plasma (PPB : plasma protein binding) dinyatakan sebagai persen yang menunjukkan persen obat yang terikat. Obat yang terikat albumin secara farmakologi tidak aktif, sedangkan obat yang tidak terikat, biasa disebut fraksi bebas, aktif secara farmakologi. Bila dua atau lebih obat yang terikat protein digunakan bersama-sama, terjadi kompetisi pengikatan pada tempat yang sama, yang mengakibatkan terjadi penggeseran salah satu obat dari ikatan dengan protein, dan akhirnya terjadi peninggatan kadar obat bebas dalam darah. Bila satu obat tergeser dari ikatannya dengan protein oleh obat lain, akan terjadi peningkatan kadar obat bebas yang terdistribusi melewati berbagai jaringan. Pada pasien dengan hipoalbuminemia kadar obat bebas atau bentuk aktif akan lebih tinggi. Obat-obat yang cenderung berinteraksi pada proses distribusi adalah obat-obat yang : a. persen terikat protein tinggi ( lebih dari 90%) b. terikat pada jaringan c. mempunyai volume distribusi yang kecil d. mempunyai rasio ekskresi hepatik yang rendah

(34) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 17 e. mempunyai rentang terapetik yang sempit f. mempunyai onset aksi yang cepat g. digunakan secara intravena. Obat-obat yang mempunyai kemampuan tinggi untuk menggeser obat lain dari ikatan dengan protein adalah asam salisilat, fenilbutazon, sulfonamid dan anti-inflamasi nonsteroid (Harkness and Richard, 1989). c. Mempengaruhi metabolisme Obat akan melewati membran plasma menuju reseptor dalam bentuk larut lemak untuk menghasilkan efek sistemik dalam tubuh. Metabolisme dapat mengubah senyawa aktif yang larut lemak menjadi senyawa larut air yang tidak aktif, yang nantinya akan diekskresi terutama melalui ginjal. Obat dapat melewati dua fase metabolisme, yaitu metabolisme fase I dan II. Metabolisme fase I, terjadi oksidasi, demetilasi, hidrolisa, dsb. Oleh enzim mikrosomal hati yang berada di endotelium, menghasilkan metabolit obat yang lebih larut dalam air. Metabolisme fase II, obat bereaksi dengan molekul yang larut air (misalnya asam glukuronat, sulfat, dsb) menjadi metabolit yang tidak atau kurang aktif, yang larut dalam air. Suatu senyawa dapat melewati satu atau kedua fase metabolisme di atas hingga tercapai bentuk yang larut dalam air. Sebagian besar interaksi obat yang signifikan secara klinis terjadi akibat metabolisme fase I dari pada fase II (Baxter and Karen, 2008).

(35) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 18 Berikut adalah beberapa interaksi akibat gangguan metabolisme antara lain: 1. Peningkatan metabolisme Beberapa obat bisa meningkatkan aktivitas enzim hepatik yang terlibat dalam metabolisme obat-obat lain. Misalnya fenobarbital meningkatkan metabolisme warfarin sehingga menurunkan aktivitas antikoagulannya. Peningkatan dosis warfarin perlu dilakukan pada kasus ini, tapi setelah pemakaian fenobarbital dihentikan dosis warfarin harus diturunkan untuk menghindari potensi toksisitas. Sebagai alternatif dapat digunakan sedatif selain barbiturate, misalnya golongan benzodiazepine. Fenobarbital juga meningkatkan metabolisme obatobat lain seperti hormon steroid (Harkness and Richard, 1989). 2. Penghambatan metabolisme Suatu obat dapat juga menghambat metabolisme obat lain, dengan dampak memperpanjang atau meningkatkan aksi obat yang dipengaruhi. Sebagai contoh, alopurinol mengurangi produksi asam urat melalui penghambatan enzim kasantin oksidase, yang memetabolisme beberapa obat yang potensial toksik seperti merkaptopurin dan azatioprin. Penghambatan kasantin oksidase dapat secara bermakna meningkatkan efek obat-obat ini. Sehingga jika dipakai bersama alopurinol, dosis merkaptopurin atau azatioprin harus dikurangi hingga 1/3 atau 1/4 dosis biasanya (Harkness and Richard, 1989).

(36) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 19 d. Mempengaruhi ekskresi ginjal Kecuali obat-obat anestetik inhalasi, sebagian besar obat diekskresi lewat empedu atau urin. Darah yang memasuki ginjal sepanjang arteri renal, mula-mula dikirim ke glomeruli tubulus, dimana molekul-molekul kecil yang cukup melewati membran glomerular (air, garam dan beberapa obat tertentu) disaring ke tubulus. Molekul-molekul yang besar seperti protein plasma dan sel darah ditahan. Aliran darah kemudian melewati bagian lain dari tubulus ginjal dimana transport aktif yang dapat memindahkan obat dan metabolitnya dari darah ke filtrat tubulus. Sel tubulus kemudian melakukan transport aktif maupun pasif (melalui difusi) untuk mereabsorpsi obat. Interaksi bisa terjadi karena perubahan ekskresi aktif tubuli ginjal, perubahan pH dan perubahan aliran darah ginjal (Harkness and Richard, 1989). 1. Perubahan pH urin Pada nilai pH tinggi (basa), obat yang bersifat asam lemah (pKa 37,5) sebagai besar terdapat sebagai molekul terionisasi larut lipid, yang tidak dapat berdifusi ke dalam sel tubulus sehingga akan tetap dalam urin dan akan dikeluarkan dari tubuh. Dengan demikian, perubahan pH yang meningkatkan jumlah obat dalam bentuk terionisasi, meningkatkan hilangnya obat (Baxter and Karen, 2008). 2. Perubahan ekskresi aktif tubuli ginjal Obat yang bekerja pada sistem transport aktif yang sama di tubulus ginjal dapat bersaing satu sama lain dalam hal ekskresi. Sebagai contoh,

(37) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 20 probenesid mengurangi ekskresi penisilin. probenesid menghambat sekresi ginjal akibat meningkatnya protein transporter pada ginjal (Baxter and Karen, 2008). 3. Perubahan aliran darah ginjal Aliran darah melalui ginjal dikendalikan oleh vasodilator prostaglandin ginjal. Jika sintesis prostaglandin ini dihambat, maka ekskresi beberapa obat dari ginjal dapat berkurang (Baxter and Karen, 2008). D. Keterangan Empiris Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi tentang prevalensi dari resep racikan, pola dari resep racikan, interaksi farmakokinetik, dan pendapat apoteker dan asisten apoteker terhadap penggunaan resep racikan pada lima puskesmas di Kabupaten Sleman periode Desember 2013.

(38) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis dan Rancangan Penelitian Penelitian tentang prevalensi dan evaluasi interaksi farmakokinetik resep racikan pada lima puskesmas di Kabupaten Sleman periode Desember 2013 termasuk penelitian non eksperimental dengan rancangan penelitian bersifat deskriptif cross sectional. Penelitian ini disebut penelitian non ekperimental karena hanya melakukan pengamatan terhadap sejumlah ciri (variabel) yang ada pada objek penelitian tanpa adanya manipulasi atau intervensi dari peneliti. Penelitian ini juga termasuk penelitian deskriptif karena pada penelitian ini menggambarkan kejadian atau fenomena yang terjadi tanpa menganalisis bagaimana dan mengapa fenomena tersebut terjadi. Rancangan penelitian cross sectional karena hanya melakukan observasi dan pengukuran variabel pada satu saat tertentu. Berdasarkan jenis data yang digunakan, penelitian ini bersifat retrospektif karena data yang digunakan diambil berdasarkan data terdahulu/lampau (Saryono, 2011). B. Variabel Penelitian 1. Prevalensi resep racikan pada lima puskesmas di Kabupaten Sleman periode Desember 2013 2. Pola peresepan resep racikan 3. Interaksi farmakokinetik resep racikan 4. Pendapat apoteker dan asisten apoteker terkait penggunaan resep racikan 21

(39) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 22 C. Definisi Operasional 1. Resep racikan adalah permintaan (R/) yang berisikan nama obat, dimana obat tersebut akan dibuat dengan cara merubah bentuk sediaan semula menjadi bentuk sediaan farmasi yang lain (misal: tablet dirubah bentuk sediaannya menjadi serbuk) yang disiapkan/diracik di instalasi/bagian obat pada lima puskesmas di Kabupaten Sleman periode Desember 2013. Contoh resep racikan: R/ Parasetamol CTM Salbutamol 1500 mg 12 mg 12 mg m.f. pulv. No. X S 3.d.d.pulv I 2. Resep non racikan adalah permintaan (R/) yang berisikan nama obat, dimana obat tersebut tidak dibuat dengan cara merubah bentuk sediaan semula menjadi bentuk sediaan farmasi yang lain. Contoh resep non racikan : R/ Parasetamol 500 mg No.X S 3.d.d. Tab. I 3. Racikan campuran adalah racikan dengan komposisi dua obat atau lebih. Racikan tunggal adalah racikan dengan komposisi hanya satu obat. 4. Lembar resep adalah catatan yang berisikan identitas pasien berupa nama, umur dan permintaan obat yang ditulis oleh dokter. Dalam satu lembar resep dapat berisi resep racikan dan resep non racikan, misalnya dalam satu lembar resep untuk pasien A terdapat 3 peresepan (R/1; R/2; R/3), dimana R/1 merupakan resep racikan tunggal dan R/2 merupakan resep racikan campuran, R/3 merupakan resep non racikan, maka jumlah resep racikan dalam satu

(40) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 23 lembar resep sebanyak 2 permintaan, dan jumlah total permintaan pada satu lembar resep adalah 3 permintaan. 5. Prevalensi resep racikan adalah jumlah resep racikan bulan Desember 2013 (racikan tunggal dan racikan campuran) dibagi dengan total jumlah resep bulan Desember 2013 (resep racikan dan non racikan) dikali seratus persen. 6. Pola resep racikan yang dimaksudkan adalah gambaran penggunaan obat racikan meliputi jenis obat (misal: vitamin, parasetamol, chlorpheniramin maleat, glyceryl guaiacolate, salbutamol, dll.); kelas terapi (misal: obat saluran nafas, antihistamin, mempengaruhi nutrisi, obat penurun demam, antibiotik, kortikosteroid, obat saluran cerna, dan lain-lain); pasien pengguna (misal: anak-anak, dewasa); kombinasi racikan (misal: 2 komposisi obat, 3 komposisi obat, 4 komposisi obat, dan lain-lain); bentuk sediaan (misal: pulvis, pulveres, kapsul, larutan, suspensi, emulsi, salep, suppositoria, krim dan gel); dan rute pemberian seperti enteral (misal: oral, sublingual, rektal), parenteral (misal: intra vaskular, IM, SC), lain-lain (misal: inhalasi, intranasal, intratekal, topikal, transdermal). Kategori jenis obat dan kelas terapi diidentifikasi dengan menggunakan bantuan pustaka acuan dari Depkes RI (2008), dan Lacy et al. (2006). 7. Interaksi obat adalah reaksi antara obat dengan obat lainnya di dalam tubuh maupun yang dapat mempengaruhi kerja obat jika digunakan bersamaan pada pengobatan dalam bentuk racikan dan non racikan. Interaksi yang dievaluasi dalam penelitian ini adalah interaksi pada fase farmakokinetik berdasarkan

(41) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 24 pustaka acuan yang ditulis oleh Tatro (2007), Stockley (2010), Zucchero et al. (2002), dan Drug Interaction Checker. 8. Pendapat apoteker dan asisten apoteker terhadap resep racikan adalah hal yang diinginkan apoteker dan asisten apoteker terkait penggunaan resep racikan, dideskripsikan berdasarkan hasil wawancara terhadap apoteker dan asisten apoteker yang bertugas pada lima puskesmas di Kabupaten Sleman. D. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan pada lima puskesmas yang berada di wilayah Kabupaten Sleman yaitu di Puskesmas Seyegan, Mlati II, Depok I, Tempel I dan Kalasan. Tempat pengambilan data dilakukan di gedung pertemuan/aula yang terdapat pada tiap-tiap puskesmas. Pengambilan data di Puskesmas Seyegan dilakukan pada pukul 09.00- 12.30 dan 09.00-13.00 WIB selama dua hari pada tanggal 21- 22 Januari 2014. Pengambilan data di Puskesmas Mlati II dilakukan pada pukul 10.00-13.30 WIB, 09.00-11.00 WIB dan 09.00-12.00 WIB selama tiga hari pada tanggal 24-26 Januari 2014. Pengambilan data di Puskesmas Depok I dilakukan pada pukul 09.00-13.00 WIB, 10.00-12.30 WIB dan 10.30-12.30 WIB selama tiga hari pada tanggal 28-30 Januari 2014. Pengambilan data di Puskesmas Tempel I dilakukan pada pukul 09.00-11.30 WIB dan 10.00-12.30 WIB selama dua hari pada tanggal 1-2 Februari 2014. Pengambilan data di Puskesmas Kalasan dilakukan pada pukul 09.00-12.30 WIB dan 08.30-13.00 WIB selama dua hari pada tanggal 5-6 Februari 2014. Penelitian dilakukan selama dua bulan yaitu pada bulan Januari 2014 sampai dengan Februari 2014.

(42) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 25 E. Obyek Dan Subyek Penelitian Objek pada penelitian ini adalah resep racikan pada periode Desember 2013 yang diperoleh dari lima puskesmas di Kabupaten Sleman. Resep racikan yang digunakan sebagai objek penelitian untuk mengetahui prevalensi penggunaan resep racikan sebanyak 643 resep racikan dari 13.416 jumlah resep yang diterima bulan Desember 2013. Subyek untuk wawancara terstruktur adalah apoteker maupun asisten apoteker yang menangani resep racikan dan subyek besedia terlibat dalam proses wawancara terstruktur. Subyek pada penelitian ini sejumlah 5 orang, terdiri dari 2 orang apoteker, dan 3 orang asisten apoteker. F. Metode Pengambilan Data 1. Prevalensi resep racikan, pola resep racikan dan interaksi farmakokinetik resep racikan diperoleh dengan menghitung keseluruhan resep dan mencatat resep racikan yang terdapat pada lembar resep pasien. 2. Pendapat dari apoteker maupun asisten apoteker terkait penggunaan resep racikan diperoleh dengan wawancara terstruktur. G. Instrumen Penelitian Instrumen pada penelitian ini adalah pustaka yang ditulis oleh Tatro (2007), Stockley (2010), dan Zucchero et al. (2002), Drug Interaction Checker, digunakan sebagai acuan untuk evaluasi interaksi farmakokinetik. Pustaka yang ditulis oleh Depkes RI (2008), dan Lacy et al. (2006) digunakan sebagai acuan

(43) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 26 terkait kategori jenis obat dan kelas terapi pada gambaran pola resep racikan. Lembar observasi yang didapat dari observasi yang dilakukan di Dinas Kesehatan dan hasil wawancara yang digunakan sebagai intrumen. Serta dilampirkan inform consent sebagai lembar persetujuan kesediaan apoteker dan asisten apoteker untuk diwawancarai. H. Tata Cara Penelitian Ada enam tahapan yang dilakukan dalam penelitian ini, diantaranya yaitu tahap observasi awal, tahap pemilihan lokasi, tahap perijinan, orientasi, tahap pengambilan data dan tahap pengolahan data. 1. Observasi awal Tahap ini dimulai dengan pembuatan proposal. Pada tahap ini juga dilakukan kunjungan langsung ke Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman Yogyakarta untuk mengetahui jumlah puskesmas yang ada di Kabupaten Sleman dan persyaratan yang harus dipenuhi untuk memperoleh ijin penelitian. 2. Pemilihan lokasi Pemilihan puskesmas dilakukan menggunakan metode cluster random. Pengelompokan populasi ditentukan berdasarkan letak geografis kecamatan yang ada di Kabupaten Sleman. Hasil dari pengelompokan populasi berdasarkan letak geografis akan dikelompokkan menjadi beberapa gugus. Gugus yang dimaksud adalah jumlah puskesmas dari masing-masing subpopulasi. Kabupaten Sleman memiliki 17 kecamatan dan terdapat

(44) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 27 sebanyak 25 puskesmas yang tersebar di masing-masing kecamatan. Hasil dari klaster ini dapat dilihat pada Tabel II. Tabel II. Pemetaan Puskesmas Berdasarkan Kecamatan Kabupaten Sleman. Letak Geografis Utara Timur Tengah Barat Selatan Total Kecamatan (subpopulasi) Tempel Cangkringan Turi Pakem Ngemplak Prambanan Kalasan Berbah Mlati Sleman Ngaglik Moyudan Minggir Seyegan Godean Depok Gamping 17 Kecamatan Jumlah Puskesmas (gugus) 5 Puskesmas 5 Puskesmas 5 Puskesmas 5 Puskesmas 5 Puskesmas 25 Puskesmas Jumlah gugus yang didapat kemudian dihitung secara proporsional menggunakan proporsi 20% sehingga didapatkan 1 puskesmas yang dipilih secara random sederhana dari masing-masing subpopulasi. Teknik random sederhana dilakukan untuk memilih lokasi pengambilan data, sehingga dari masing-masing subpopulasi didapat dipilih 1 puskesmas. Berdasarkan hasil random sederhana yang dilakukan, didapatkan sebanyak 5 puskesmas sebagai lokasi pengambilan data yaitu Puskesmas Seyegan, Mlati II, Depok I, Tempel I dan Kalasan.

(45) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 28 3. Permohonan ijin Pada penelitian ini permohonan ijin diperoleh dengan mengajukan surat pengantar yang diberikan oleh Dekan Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma disertai proposal penelitian dan fotokopi kartu mahasiswa yang ditujukan ke Kepala Kantor Kesatuan Bangsa (KesBang) untuk memperoleh surat rekomendasi permohonan ijin penelitian. Surat rekomendasi yang diperoleh dari KesBang nantinya akan ditujukan kepada Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) Kabupaten Sleman untuk diproses sehingga surat ijin penelitian dapat dikeluarkan. BAPPEDA nantinya akan mengeluarkan surat tembusan ijin penelitian yang ditujukan kepada Bupati Sleman, Kepala Dinas Kesehatan Kab. Sleman, Kabid. Sosisal Budaya BAPPEDA Kab. Sleman, Camat Tempel, Camat Seyegan, Camat Depok, Camat Kalasan, Camat Mlati, Kepala UPT Puskesmas Tempel I, Kepala UPT Puskesmas Seyegan, Kepala UPT Puskesmas Depok I, Kepala UPT Puskesmas Kalasan, Kepala UPT Puskesmas Mlati II, dan Dekan Fak. Farmasi USD Yogyakarta. 4. Orientasi Pada tahap ini dilakukan orientasi ke lima puskesmas yang bersangkutan untuk menyesuaian teknis pengambilan data yang sesuai agar tidak mengganggu aktivitas pelayanan di masing-masing puskesmas yang dituju. 5. Pengambilan data Pada proses ini, objek penelitian ditentukan berdasarkan kriteria inklusi. Kriteria inklusi pada penelitian ini adalah resep yang bersikan resep racikan

(46) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 29 yang dituliskan oleh dokter untuk pasien pada bulan Desember 2013. Pada tahap ini dilakukan pencatatan semua resep yang berisi obat racikan meliputi nama obat, jumlah penggunaan obat, aturan pakai obat, bentuk sediaan, umur dan diagnosis pasien. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan data kuantitatif mengenai prevalensi penggunaan resep racikan dan mengetahui gambaran pola resep racikan, dan juga mendapatkan data interaksi farmakokinetik obat dari resep racikan yang dilakukan secara evaluatif pada resep racikan. Hal lain yang juga dilakukan adalah melakukan wawancara terhadap apoteker dan asisten apoteker terkait pendapat mereka mengenai penggunaan resep racikan dengan cara merekam suara menggunakan perekam suara. Data yang diperoleh melalui wawancara merupakan data kualitatif. 6. Pengolahan data Pada tahap ini dilakukan sampling pengambilan obyek penelitian untuk memperoleh data terkait gambaran pola resep racikan dan evaluasi interaksi farmakokinetik resep racikan. Hal ini dilakukan karena jumlah objek yang diperoleh cukup besar sehingga memerlukan waktu yang cukup lama dalam penelitian. Penghitungan sampling obyek penelitian diperoleh dengan cara menghitung jumlah sampel minimal sampling yang dapat digunakan. Data penggunaan resep racian periode Desember 2013 pada lima puskesmas didapatkan sebanyak 643 resep, terdiri dari 81 resep racikan tunggal dan 562 resep racikan campuran. Untuk mengetahui jumlah sampel minimal pada penelitian ini dilakukan dengan perhitungan menggunakan rumus sebagai berikut :

(47) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ) ( ( ) ( 30 ) ((Lemeshow and David, 1997) Keterangan : n = jumlah minimal resep racikan campuran yang diperlukan α = derajad kepercayaan p = proporsi penggunaan resep racikan campuran q = 1-p (proporsi penggunaan resep racikan tunggal) d = limiting dari error atau presisi absolut (0,05) Jika ditetapkan α = 0,05 atau Z1-α/2 = 1,96 atau Z21--α/2 = 1,9622 atau dibulatkan mejadi 4, maka rumus untuk besar N yang diketahui menjadi : 𝑛 4pq 𝑑2 Rumus perhitungan sampel pada penelitian ini dapat dilakukan karena besar atau jumlah populasi untuk perhitungan sampel pada penelitian diketahui (Lemeshow and David, 1997). Berdasarkan perhitungan yang dilakukan, jumlah minimal resep racikan campuran yang didapatkan adalah sebanyak 176 resep. Mengingat jumlah resep racikan campuran pada lima puskesmas memiliki jumlah yang bervariasi, sehingga dilakukan perhitungan secara proporsional random sampling untuk memperoleh sampel yang proporsional dengan jumlah resep

(48) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 31 racikan campuran di masing-masing puskesmas. Sampel yang digunakan sebagai data di Puskesmas Seyegan sebanyak 26 resep, di Puskesmas Mlati II sebanyak 42 resep, di Puskesmas Depok I sebanyak 44 resep, di Puskesmas Tempel I sebanyak 32 resep dan di Puskesmas Kalasan sebanyak 32 resep. Pemilihan resep dilakukan menggunakan metode random sampling sederhana. I. Tata Cara Analisis Hasil Data yang diperoleh kemudian dianalisis dengan cara menghitung prevalensi resep racikan, penggambarkan pola resep racikan, mengevaluasi interaksi farmakokinetik, serta mewawancarai apoteker maupun asisten apoteker terkait penggunaan resep racikan pada lima puskesmas di Kabupaten Sleman. 1. Prevalensi resep racikan periode Desember 2013 Perhitungan prevalensi resep racikan dilakukan dengan membagi jumlah resep racikan (racikan campuran dan racikan tunggal) yang di resepkan oleh dokter bulan Desember 2013 dengan jumlah resep non racikan dan racikan (racikan campuran dan racikan tunggal) pada bulan Deasember 2013 dikali seratus persen. Dengan rumus : prevalensi resep racikan ( 2 ) x 100% Berdasarkan hasil perhitungan, didapatkan persentase/prevalensi dari resep racikan yang digunakan pada periode satu bulan yaitu bulan Desember 2013.

(49) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 32 2. Pola resepan racikan Data pola peresepan didapat dengan menghitung dan mengklompokkan masing-masing pola yang terdapat dalam lembar resep raikan berdasarkan jenis obat yang digunkan, kelas terapi, pasien penerima obat racikan, kombinasi obat racikan, jenis bentuk sediaan dan rute pemberian obat racikan. 3. Interaksi farmakokinetik resep racikan Interaksi farmakokinetk dari kombinasi obat pada lembar resep racikan dievaluasi dengan menggunakan pustaka acuan yang ditulis oleh Tatro (2007), Stockley (2010), Zucchero et al. (2002) dan Drug Interaction Checker. 4. Wawancara apoteker dan asisten apoteker terkait penggunaan resep racikan Pendapat yang diberikan oleh apoteker maupun asisten apoteker mengenai penggunaan resep racikan dikumpulkan dalam suatu lembar yang berisikan kumpulan pendapat dari hasil wawancara yang dianalisis dengan menggunakan teknik analisis tematik. J. Keterbatasan Penelitian Keterbatasan dari penelitian ini yaitu terbatasnya informasi mengenai data demografi penduduk yang berfungsi untuk melegkapi data penerima resep racikan pada puskesmas-puskesmas di Kabupaten Sleman periode Desember 2013.

(50) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian ini disajikan dalam empat bagian. Bagian pertama menguraikan tentang prevalensi penggunaan resep racikan pada lima puskesmas di Kabupaten Sleman periode Desember 2013. Bagian kedua menguraikan tentang gambaran pola resep racikan. Bagian ketiga menjelaskan evaluasi interaksi farmakokinetik obat pada resep racikan berdasarkan referensi acuan, dan bagian keempat menguraikan pendapat apoteker dan asisten apoteker terkait penggunaan resep racikan. A. Prevalensi Resep Racikan pada Lima Puskesmas di Kabupaten Sleman Periode Desember 2013 Selama periode Desember 2013 di lima puskesmas Kabupaten Sleman terdapat sebanyak 13.416 jumlah resep (R/) yang diberikan kepada pasien. Jumlah resep tersebut terdiri dari 12.773 penggunaan resep non racikan dan 643 penggunaan resep racikan. (R/) Non-Racikan 4,8% (R/) Racikan 95,2% Gambar 1. Persentase Resep Racikan dan Non Racikan pada Lima Puskesmas di Kabupaten Sleman Periode Desember 2013 33

(51) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 96,3% 3,7% Kalasan Non Racikan 96,1% 94,2% Racikan 96,1% 92,2% 5,8% 3,9% 3,9% Depok I Seyegan 34 7,8% Mlati II Tempel I Gambar 2. Persentase Masing-Masing Resep Racikan dan Non Racikan pada lima Puskesmas di Kabupaten Sleman Periode Desember 2013 Berdasarkan Gambar 1 persentase penggunaan resep racikan total pada lima puskesmas di Kabupaten Sleman periode Desember 2013 sebesar 4,8%. Jumlah ini lebih rendah persentasenya dibandingkan dengan penggunaan resep obat non racikan yaitu sebanyak 95,2%. Berdasarkan Gambar 2 penggunaan resep racikan yang paling banyak yaitu pada Puskesmas Tempel dengan persentase sebanyak 7,8% dibandingkan dengan penggunaan resep racikan pada puskesmas lain. Berdasarkan prevalensi penggunaan resep racikan dapat dikatakan bahwa penggunaan obat dengan resep non racikan lebih banyak digunakan dibandingkan dengan penggunaan resep racikan. Menurut penelitian yang dilakukan McPherson et al. (2006), di Amerika Serikat tahun 2005, penggunaan resep racikan di negara tersebut sejumlah 2,3% dari keseluruhan resep yang ada, hal ini menunjukkan resep racikan masih digunakan, tetapi penggunaannya dalam jumlah yang rendah. Berdasarkan penelitian tersebut memperkuat bahwa penggunaan resep racikan masih digunakan, namun digunakan dalam jumlah yang rendah.

(52) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 35 B. Pola Peresepan Racikan Resep racikan yang digunakan pada lima puskesmas di Kabupaten Sleman memiliki berbagai macam kombinasi obat yang disesuaikan dengan kebutuhan pasien. Gambaran pola resep racikan pada lima puskesmas di Kabupaten Sleman dapat diketahui dengan melihat jenis obat yang digunakan, pasien pengguna resep racikan, kelas terapi, kombinasi resep racikan, jenis bentuk sediaan dan rute pemberian obat racikan. Berikut adalah gambaran pola resep racikan pada lima puskesmas di Kabupaten Sleman adalah sebagai berikut: Tabel III. Kelas Terapi dan Jenis Obat Resep Racikan pada Lima Puskesmas di Kabupaten Sleman Periode Desember 2013 No. Kelas Terapi Obat Obat Saluran Cerna Antirefluk 1 Antagonis reseptor H-2 2 Antasid Antiemetik Antagonis dopamin Obat Mempengaruhi Nutrisi 1 Vitamin 2 Multivitamin 3 Mineral Obat Anti Bakteri 1 Beta Laktam a. Penicilin 2 Macrolida 3 Polipeptida topical Kortikosteroid 1 Glukokortikioid 2 Glukokortikoid topikal Obat Sauran Nafas 1 Antagonis adrenoseptor 2 Dekongenstan 3 Antitusif non-narkotik 4 Ekspektoran Obat Anti Alergi 1 Antihistamin H1 antagonis Obat Penurun Demam 1 Analgesik non-opioid Total Jenis Obat Jumlah Persen Ranitidin Antasida 2 2 0,5% 0,5% Metoklopramid 2 0,5% Vit. C Vit. B6 (piridoksin) B Complex Zink 44 8 9 1 10% 2% 2% 0,2% Amoxcillin Erithromisin Bacitracin 17 3 1 4% 1% 0,2% Dexamethason Prednison Bethametazone 14 3 1 3% 0,7% 0,2% Salbutamol Epedrin Dextromethorpan Gliseril Guaiakolate 46 5 3 65 10% 1% 0,7% 15% Klorpeniramin Maleat 145 33% Parasetamol 70 438 16% 100,5%

(53) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI a. 36 Jenis obat Jenis obat yang sering diresepkan pada resep racikan adalah klorpeniramin maleat sebanyak 145 (33%) dari total resep racikan pada periode Desember 2013 (Tabel III). Wiedyaningsih (2003), dalam penelitiannya yang dilakukan di apotek kotamadya Yogyakarta menemukan bahwa obat yang paling sering ditambahkan pada resep racikan adalah klorpeniramin maleat. Klorpeniramin maleat merupakan obat golongan antihistamin H1 antagonis yang biasanya diberikan untuk mengatasi gangguan yang disebabkan karena adanya alergen (Depkes RI, 2008). b. Pasien pengguna resep racikan Resep racikan pada lima puskesmas di Kabupaten Sleman periode Desember 2013 diresepkan untuk pasien anak-anak. Rentang umur pasien anak-anak penerima obat dengan pemberian resep racikan berkisar antara 2 bulan sampai dengan 9 tahun. Penelitian yang dilakukan Wibowo (2008), rentang umur anak-anak yang menerima resep racikan antara 0 bulan sampai dengan 5,8 tahun di instalasi rawat jalan Rumah Sakit Bethesda periode Juli 2007. Berdasarkan dua data tersebut memperkuat bahwa penggunaan resep racikan memang digunakan untuk pasien anak-anak. c. Kelas terapi Obat yang sering diresepkan adalah obat dengan kelas terapi sebagai obat anti alergi (33%), obat saluran nafas (26,7%), obat penurun demam (16%), dan obat mempengaruhi nutrisi (14,2%). Obat dengan kelas terapi tersebut biasanya diresepkan dokter untuk pasien anak-anak dengan gangguan

(54) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 37 infeksi pada saluran penafasan. Infeksi saluran pernafasan merupakan suatu penyakit yang sering terjadi pada semua golongan umur terutama pada balita dan anak. Infeksi saluran pernafasan merupakan infeksi yang menyerang salah satu bagian atau lebih dari saluran pernafasan, mulai hidung, telinga tengah, faring (tenggorokan), laring (kotak suara), bronki, bronkioli hingga alveoli (Djaja, et al., 2001). Berdasarkan hal-hal tersebut memperkuat bahwa kelima kelas terapi tersebut memang diresepkan dokter untuk pengobatan pada anakanak dengan gangguan infeksi saluran pernafasan. Tabel IV, V, VI, VII, VIII, IX dan X menunjukkan komposisi, bentuk sediaan, rute pemberian dan jumlah penggunaan dari resep racikan pada lima puskesmas di Kabupaten Sleman periode Desember 2013. Tabel IV. Komposisi, Bentuk Sediaan dan Rute Pemberian pada Lima Puskesmas Kabupaten Sleman yang menerima Dua Komposisi (Zat Aktif) Racikan Periode Desember 2013 No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 Komposisi Racikan Parasetamol+Klorpeniramin Maleat Parasetamol+Gliseril Guaiakolat Parasetamol+Dexamethason Klorpeniramin Maleat+Amoxcillin Klorpeniramin Maleat+Gliseril Guaiakolat Klorpeniramin Maleat+Salbutamol Klorpeniramin Maleat+Vitamin C Klorpeniramin Maleat+Prednison Klorpeniramin Maleat+Vitamin B complex Klorpeniramin Maleat+Efedrin Klorpeniramin Maleat+Dexamethason Gliseril Guaiakolat+Salbutamol Gliseril Guaiakolat+Dexamethason Gliseril Guaiakolat+Efedrin Vitamin B6+Ranitidin Vitamin B6+Dextromethorphan Vitamin C+Dexamethason Vitamin C+Ranitidin Bethametazon+Bacitrasin Amoxcillin syr+Amoxcillin+Klorpeniramin Maleat Eritromisin syr+Eritromisin+Klorpeniramin Maleat Bentuk Sediaan Pulveres Pulveres Pulveres Pulveres Pulveres Pulveres Pulveres Pulveres Pulveres Pulveres Pulveres Pulveres Pulveres Pulveres Pulveres Pulveres Pulveres Pulveres Salep Larutan Larutan Rute Pemberian Oral Oral Oral Oral Oral Oral Oral Oral Oral Oral Oral Oral Oral Oral Oral Oral Oral Oral Topikal Oral Oral Jumlah Lembar 6 1 2 1 17 26 5 1 2 1 4 2 3 2 1 1 1 1 1 3 3

(55) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 38 Tabel V. Komposisi, Bentuk Sediaan dan Rute Pemberian pada Lima Puskesmas Kabupaten Sleman yang menerima Tiga Komposisi (Zat Aktif) Racikan Periode Desember 2013 Komposisi Racikan Parasetamol+Vitamin C+Klorpeniramin Maleat Parasetamol+Gliseril Guaiakolat+ Klorpeniramin Maleat Parasetamol+VitaminC+Dexamethason Parasetamol+Vitamin C+Gliseril Guaiakolat Parasetamol+Salbutamol+ Klorpeniramin Maleat Parasetamol+VitaminB6+ Klorpeniramin Maleat Parasetamol+ Dextromethorphan Klorpeniramin Maleat Gliseril Guaiakolat+ Vitamin B complex+ Klorpeniramin Maleat Gliseril Guaiakolat+ Salbutamol Klorpeniramin Maleat Gliseril Guaiakolat+ Vitamin C Klorpeniramin Maleat Gliseril Guaiakolat+ Vitamin B6 Klorpeniramin Maleat Gliseril Guaiakolat+Vitamin C+Salbutamol Gliseril Guaiakolat+ Dexamethason Klorpeniramin Maleat Gliseril Guaiakolat+ Efedrin Klorpeniramin Maleat Klorpeniramin Maleat+ Salbutamol+Vitamin C Klorpeniramin Maleat+ Vitamin C Vitamin B complex Antasida+Vitamin B6+Metoklorpramid No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 Bentuk Sediaan Pulveres Pulveres Rute Pemberian Oral Oral Jumlah Lembar 4 8 Pulveres Pulveres Pulveres Oral Oral Oral 1 1 2 Pulveres Oral 1 Pulveres Oral 1 Pulveres Oral 2 Pulveres Oral 2 Pulveres Oral 9 Pulveres Oral 2 Pulveres Pulveres Oral Oral 1 1 Pulveres Oral 1 Pulveres Pulveres Oral Oral 1 3 Pulveres Oral 1 Tabel VI. Komposisi, Bentuk Sediaan dan Rute Pemberian pada Lima Puskesmas Kabupaten Sleman yang menerima Empat Komposisi (Zat Aktif) Racikan Periode Desember 2013 No. 1 2 3 4 Komposisi Racikan Parasetamol+Klorpeniramin Maleat+ Gliseril Guaiakolat+Vitamin C Parasetamol+ VitaminC+ Klorpeniramin Maleat+Dexamethason Parasetamol+ Gliseril Guaiakolat+ Klorpeniramin Maleat+ Vitamin B complex Gliseril Guaiakolat+Klorpeniramin Maleat+Efedrin+Prednison Bentuk Sediaan Pulveres Rute Pemberian Oral Jumlah Lembar 8 Pulveres Oral 1 Pulveres Oral 1 Pulveres Oral 1

(56) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 39 Tabel VII. Komposisi, Bentuk Sediaan dan Rute Pemberian pada Lima Puskesmas Kabupaten Sleman yang menerima Dua Komposisi (Zat Aktif) Racikan dan Komposisi Non Racikan Periode Desember 2013 1 Komposisi Non Racikan Amoxcillin syr 2 Amoxcillin syr 3 Amoxcillin syr 4 Parasetamol syr 5 Parasetamol syr 6 Parasetamol syr 7 Parasetamol syr 8 Parasetamol syr 9 Parasetamol tab 10 Parasetamol tab 11 Amoxcillin syr, Parasetamol syr No. Komposisi Racikan Klorpeniramin Maleat+ Parasetamol Gliseril Guaiakolat+ Salbutamol Gliseril Guaiakolat+ Parasetamol Klorpeniramin Maleat+ Vitamin C Klorpeniramin Maleat+ Salbutamol Vitamin B6+ Metklorpramid Gliseril Guaiakolat+ Salbutamol Gliseril Guaiakolat+ Klorpeniramin Maleat Klorpeniramin Maleat+ Vitamin C Gliseril Guaiakolat+ Klorpeniramin Maleat Klorpeniramin Maleat+ Salbutamol Bentuk Sediaan Pulveres Rute Pemberian Oral Jumlah Lembar 3 Pulveres Oral 1 Pulveres Oral 1 Pulveres Oral 1 Pulveres Oral 2 Pulveres Oral 1 Pulveres Oral 4 Pulveres Oral 4 Pulveres Oral 1 Pulveres Oral 1 Pulveres Oral 2 Tabel VIII. Komposisi, Bentuk Sediaan dan Rute Pemberian pada Lima Puskesmas Kabupaten Sleman yang menerima Tiga Komposisi (Zat Aktif) Racikan dan Komposisi Non Racikan Periode Desember 2013 1 Komposisi Non Racikan Amoxcillin syr 2 Amoxcillin syr 3 Parasetamol syr 4 Parasetamol syr 5 Parasetamol syr 6 Parasetamol syr 7 Amoxcillin syr, Parasetamol syr No. Komposisi Racikan Parasetamol+Gliseril Guaiakolat +Klorpeniramin Maleat Parasetamol+Vitamin C Klorpeniramin Maleat Klorpeniramin Maleat+ Salbutamol+Vitamin C Klorpeniramin Maleat+ Vitamin B complex+Vitamin C Klorpeniramin Maleat+ Gliseril Guaiakolat+ Salbutamol Antasida+ Prednison +Metoklorpramid Gliseril Guaiakolat+Salbutamol +Klorpeniramin Maleat Bentuk Sediaan Pulveres Rute Pemberian Oral Jumlah Lembar 3 Pulveres Oral 1 Pulveres Oral 1 Pulveres Oral 1 Pulveres Oral 1 Pulveres Oral 1 Pulveres Oral 1

(57) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 40 Tabel IX. Komposisi, Bentuk Sediaan dan Rute Pemberian pada Lima Puskesmas Kabupaten Sleman yang menerima Emat Komposisi (Zat Aktif) Racikan dan Komposisi Non Racikan Periode Desember 2013 1 Komposisi Non Racikan Amoxcillin syr 2 Amoxcillin syr 3 Amoxcillin tab No. Komposisi Racikan Parasetamol+ Vitamin C Klorpeniramin Maleat+ +Dexamethason Parasetamol+ Vitamin C Klorpeniramin Maleat +Gliseril Guaiakolat Parasetamol+ Vitamin C Klorpeniramin Maleat+ Gliseril Guaiakolat Bentuk Sediaan Pulveres Rute Pemberian Oral Jumlah Lembar 1 Pulveres Oral 1 Pulveres Oral 1 Tabel X. Komposisi, Bentuk Sediaan dan Rute Pemberian pada Lima Puskesmas Kabupaten Sleman yang menerima Racikan Tunggal dan Racikan Campuran dengan Rute Pemberian yang Sama No. 1 Komposisi Racikan Tunggal Amoxcillin pulv 2 3 4 Amoxcillin pulv Amoxcillin pulv Parasetamol pulv 5 Dexamethason pulv Komposisi Racikan Klorpeniramin Maleat +Parasetamol Parasetamol+Dexamethason Parasetamol+Vitamin C Gliseril Guaiakolat +Klorpeniramin Maleat Klorpeniramin Maleat +Salbutamol Bentuk Sediaan Pulveres Rute Pemberian Oral Jumlah Lembar 1 Pulveres Pulveres Pulveres Oral Oral Oral 1 1 2 Pulveres Oral 1 d. Kombinasi resep racikan Berdasarkan table-tabel diatas, terdapat 3 jenis kombinasi obat racikan (Tabel IV, V, VI), 3 jenis kombinasi obat racikan disertai pemberian obat non racikan (Tabel VII, VIII, IX) dan 1 jenis kombinasi obat racikan campuran dan racikan tunggal dengan rute pemberian yang sama (Tabel X) yang digunakan pada lima puskesmas di Kabupaten Sleman.

(58) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 41 Racikan Racikan dan Non Racikan 84 Racikan Tunggal dan Campuran 41 21 6 2 komposisi 9 3 komposisi 11 3 4 komposisi Gambar 3. Penggunaan Komposisi Resep Racikan disertai Non Racikan pada lima Puskesmas di Kabupaten Sleman Periode Desember 2013 Berdasarkan Gambar 3 penggunaan racikan dengan 2 komposisi yang paling sering diresepkan yaitu sejumlah 84 resep dan penggunaan racikan dengan 2 komposisi disertai obat non racikan sejumlah 21 resep. Penelitian yang dilakukan oleh Cahyono (2008), pada pasien pediatri di bangsal anak dan instalasi rawat jalan Rumah Sakit di Bethesda periode Juli 2007, penggunaan racikan dengan 2 komposisi terdapat sejumlah 417 resep, 3 komposisi terdapat sejumlah 74 resep, 4 komposisi terdapat sejumlah 81 resep, dan 5 komposisi terdapat sejumlah 16 resep. Berdasarkan data tersebut memperkuat bahwa penggunaan racikan dengan 2 komposisi lebih banyak diresepkan daripada racikan dengan 3 komposisi atau lebih. Menurut American Medical Association (AMA) tahun 1994, peresepan kombinasi obat secara umum mengandung tidak lebih dari 3 macam obat dengan aksi farmakologis yang berbeda dan tidak boleh mengandung lebih dari satu macam obat dengan aksi farmakologis yang sama. Berdasarkan data pada tabel VI dan IX terdapat 4 kombinasi racikan yang mengandung lebih

(59) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 42 dari 3 macam obat dengan aksi farmakologis yang berbeda, seperti parasetamol+ klorpeniramin maleat+ gliseril guaiakolat+ vitamin c; parasetamol+ klorpeniramin maleat+ gliseril guaiakolat+ vitamin b complex; parasetamol+ klorpeniramin maleat+ vitamin c+ dexametason; dan gliseril guaiakolat+ klorpeniramin maleat+ efedrin+ prednison. e. Bentuk sediaan racikan dan rute pemberian Bentuk sediaan racikan yang paling sering diresepkan pada resep racikan adalah bentuk sediaan pulveres sebanyak 169 (96%) dari 176 resep yang diberikan dengan rute pemberian oral. Penelitian yang dilakukan oleh Wiedyaningsih (2003), diketahui bahwa bentuk sediaan racikan yang paling dominan adalah sediaan pulveres sebanyak 71% atau 900 resep di apotek daerah kotamadya Yogyakarta. Hal ini menunjukkan bahwa bentuk sediaan racikan yang mendominasi resep racikan adalah pulveres dengan rute pemberian oral yang digunakan untuk pasien anak-anak. C. Interaksi Farmakokinetik Resep Racikan Pencampuran beberapa komposisi obat dalam pembuatan obat racikan dapat memungkinkan terjadinya beberapa interaksi, salah satunya adalah terjadi interaksi farmakokinetik. Interaksi farmakokinetik dapat terjadi akibat perubahanperubahan yang terjadi pada absorbsi, metabolisme, distribusi dan ekskresi sesuatu obat karena obat lain. Interaksi yang terjadi antara lain dapat mengubah salah satu kerja dari komposisi obat yang dicampur, meningkatkan toksisitas

(60) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 43 dan/atau mengurangi efektifitas obat atau menyebabkan efek samping yang tidak terduga (Collet and Aulton, 1990). Tabel X merupakan tabel yang menunjukkan 5 komposisi resep racikan yang paling sering diresepkan pada lima puskesmas di Kabupaten Sleman periode Desember 2013. Tabel XI. Persentase Lima Komposisi Resep Racikan yang Paling Sering di Resepkan pada Lima Puskesmas di Kabupaten Sleman periode Desember 2013 No. 1 2 3 4 5 Komposisi Obat Klorpeniramin Maleat+ Salbutamol Klorpeniramin Maleat+ Gliseril Guaiakolat Gliseril Guaiakolat + Vitamin C+ Klorpeniramin Maleat Parasetamol+ Gliseril Guaiakolat + Klorpeniramin Maleat Parasetamol+Vitamin C Klorpeniramin Maleat+ Gliseril Guaiakolat Jumlah 26 Persen 15% 17 10% 9 5% 8 5% 8 5% Resep racikan pada lima puskesmas di Kabupaten Sleman periode Desember 2013 terdapat sebanyak 69 macam resep racikan (lampiran 15) yang dikelompokkan berdasarkan komposisi obat racikan. Kombinasi resep racikan yang paling sering diresepkan adalah obat klorpeniramin maleat + salbutamol sebanyak 15%. Kombinasi obat klorpeniramin maleat + salbutamol tidak menimbulkan terjadinya interaksi. Berdasrkan parameter farmakokinetik, hal ini disebabkan karena : 1. Tidak terjadi kompetisi antara klorpeniramin maleat dan salbutamol yang menghambat proses absorpsi. Absorpsi obat salbutamol memiliki onset dan

(61) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 44 durasi lebih cepat dibandingkan klorpeniramin maleat. Salbutamol memiliki onset yaitu 2 - 3 jam dan durasi selama 4 - 6 jam dengan rute pemberian oral, sedangkan klorpeniramin maleat memiliki onset selama 6 jam dan durasi selama 24 jam. Hal tersebut mengakibatkan ketersediaan obat salbutamol dan klorpeniramin maleat dalam sirkulasi sistemik mencapai kadar maksimal, sehingga efek terapi dapat tercapai (Drug Interaction Checker, 2014). 2. Tidak adanya ikatan protein yang mendominasi antara klorpeniramin maleat dan salbutamol sehingga distribusi obat dapat berjalan optimal (Drug Interaction Checker, 2014). 3. Metabolisme obat klorpeniramin maleat dan salbutamol terjadi di hati (Drug Interaction Checker, 2014). 4. Eliminasi obat salbutamol yaitu 3,7 – 5 jam dan klorpeniramin maleat yaitu 14 - 25 jam, di ekskresi melewati urin. Tidak adanya inhibitor dan induksi yang menghalangi eliminasi dari obat menyebabkan interaksi farmakokinetik tidak terjadi (Drug Interaction Checker, 2014). Berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa tidak ditemukan interaksi farmakokinetik yang terjadi akibat pencampuran obat dalam sediaan racikan yang digunakan pada lima puskesmas di Kabupaten Sleman periode Desember 2013. Berdasarkan Tatro (2007), Stockley (2010), Zucchero et al. (2002), dan Drug Interaction Cheaker. Selain itu menurut Lacy (2006), tidak terjadi interaksi antara obat racikan campuran dengan obat non racikan dan obat racikan tunggal dengan racikan campuran yang digunakan oleh satu pasien dengan rute pemberian dan waktu pemberian yang sama. Pada penelitian ini terdapat sebanyak 33 jumlah

(62) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 45 resep dengan pemberian resep racikan campuran disertai tambahan obat non racikan (Table VII, Tabel VIII, dan Tabel IX), dan sebanyak 6 jumlah lembar resep dengan pemberian resep racikan tunggal disertai racikan campuran (Tabel X). Pada penelitian ini ditemukan hal menarik terkait dengan penggunaan vitamin C. Vitamin C atau L-asam askorbat merupakan vitamin yang paling sederhana, memiliki stabilitas yang rendah, cenderung dapat terurai menjadi Ldehidroaskorbat (DHA) yang bersifat reversibel akibat teroksidasi (Andarwulan dan Koswara, 1989). Teroksidasinya vitamin C pada penelitian ini tidak menimbulkan terjadinya interaksi farmakokinetik (Glowm, 2014). D. Pendapat Apoteker dan Asisten Apoteker terhadap Pengunaan Resep Racikan Berdasarkan penelian yang dilakukan Marselin (2008) di Rumah Sakit Bethesda, proses peracikan merupakan tanggung jawab dari apoteker untuk menjamin bahwa proses peracikan dilakukan dengan benar dan aman. Salah satu parameter yang dinilai untuk menjamin keamanan sediaan racikan adalah terkait adanya interaksi obat. Menurut pendapat apoteker sebaiknya resep racikan tidak digunakan karena bentuk sediaan obat yang sudah jadi tidak boleh diformulasikan ulang. Hal ini berhubungan dengan keamanan dan efektifitas dari obat racikan, ketepatan dosis dan kebersihan saat proses peracikan. Obat racikan juga kurang menguntungkan dari segi efisiensi tenaga, waktu, dan kerasionalan terapi.

(63) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 46 Alangkah baiknya apabila industri farmasi dapat mengeluarkan produk-produk yang khusus untuk anak-anak, sehingga proses peracikan tidak dibutuhkan lagi. Berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa apoteker dan asisten apoteker pada lima puskesmas di Kabupaten Sleman terdapat beberapa alasan penggunaan sediaan racikan tetap digunakan, antara lain sebagai berikut: a. Sediaan obat jadi di pasaran tidak mendukung kebutuhan kondisi penyakit pasien. b. Permintaan dari pasien, terkait kemudahan untuk pasien-pasien yang belum dapat menelan tablet, kemudahan untuk pasien yang menerima lebih dari 2 obat atau lebih jenis obat. c. Dapat meningkatkan kepatuhan pasien karena pasien dapat mengkonsumsi obat dengan lebih praktis dan tidak berkali-kali. Berdasarkan hasil wawancara, diketahui juga bahwa selain bentuk sediaan pulveres, bentuk sediaan racikan obat yang diberikan pada pasien anakanak dapat berupa sediaan sirup dan salep. Peracikan bentuk sediaan pulveres lebih banyak dikerjakan dibandingkan dengan peracikan bentuk sediaan sirup dan salep. Ada beberapa kendala yang dialami saat melayani permintaan obat racikan salah satunya terkait dengan kurangnya tenaga kefarmasian yang bertugas di beberapa puskesmas, seperti pada puskesmas Depok I, Seyegan dan Tempel I. Selain itu kendala yang dialami yaitu dalam hal waktu peracikan obat membutuhkan waktu yang relatif lama.

(64) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 47 Menurut pendapat dari masing-masing apoteker dan asisten apoteker, walaupun penggunaan obat racikan dapat menimbulkan permasalahan tetapi penggunaan obat racikan masih dapat digunakan. Hal ini disebabkan karena tidak tersedianya sediaan farmasi yang sesuai dengan kebutuhan kondisi pasien dan belum tersedianya pilihan sediaan lain yang ada dipasaran yang sesuai dengan kondisi pasien. Terkait permasalahan interaksi obat pada resep racikan, menurut pendapat apoteker dan asiten apoteker hal ini dapat diminimalkan dengan adanya komunikasi antara apoteker dengan dokter mengenai kompsisi campuran obat pada resep racikan.

(65) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan 1. Selama periode Desember 2013 terdapat sebanyak 643 (4,8%) resep racikan pada lima puskesmas di Kabupaten Sleman. 2. Gambaran pola resep racikan pada lima puskesmas di Kabupaten Sleman adalah sebagai berikut: a. Jenis obat yang sering diresepkan adalah obat dengan kelas terapi obat anti alergi atau antihistamin yaitu klorpeniramin maleat sebanyak 145 (33%) dari 176 resep racikan. b. Obat racikan diresepkan untuk anak-anak berkisar antara umur 2 bulan sampai 9 tahun. c. Kombinasi resep racikan yang paling sering diresepkan adalah 2 kombinasi obat yaitu klorpeniramin maleat + salbutamol sebanyak 26 (15%) resep. d. Bentuk sediaan racikan yang paling sering digunakan adalah bentuk sediaan pulveres sebanyak 169 (96%) resep dengan rute pemberian oral. 3. Tidak ditemukan interaksi farmakokinetik yang terjadi akibat pencampuran beberapa komposisi obat pada resep racikan yang digunakan pada lima puskesmas di Kabupaten Sleman. 4. Menurut pendapat dari masing-masing apoteker maupun asisten apoteker mengenai penggunaan resep racikan/racikan obat yaitu bahwa obat racikan 48

(66) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 49 masih dapat digunakan sebagai salah satu pilihat bentuk sediaan obat, meski menimbulkan permasalahan. Penggunaan sediaan racikan tetap digunakan sebagai pilihan sediaan obat, asalkan sesuai penggunaannya. Untuk meminimalkan terjadinya interaksi obat pada resep racikan diperlukan adanya komunikasi antara apoteker dengan dokter terkait permasalahan interaksi obat yang diresepkan. B. Saran Dari hasil penelitian ini dapat disarankan : 1. Dapat dilakukan penelitian sejenis terkait permasalahan prevalensi resep racikan di puskesmas lain sebagai perbandingan. 2. Dapat dilakukan penelitian sejenis terkait permasalahan prevalensi resep racikan dengan dilengkapi data-data demografi penerima resep racikan pada puskesmas-puskesmas di Kabupaten Sleman sebagai penyempurnaan penelitian ini. 3. Dapat dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai interaksi farmakodinamik dari obat racikan. 4. Dapat dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai inkompatibilitas dari obat racikan.

(67) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR PUSTAKA American Medical Association, 1994, http://www.worstpills.org/public/page.cfm?op_id=3, diakses pada tanggal 20 September 2013 Andarwulan, N., dan Koswara, S. (1989), Kimia Vitamin, Rajawali Press, Jakarta, pp. 23-44. Baxter and Karen, 2008, Stockley’s Drug Interaction 8th Editions, Pharmaceutical Press, London Cahyo, S.Y., 2008, Evaluasi Komposisi, Indikasi, Dosis, dan Interaksi Obat Resep Racikan untuk Pasien Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta Periode Juli 2007, Tesis, 41 Collet, D.M., J.M., and Aulton, M.E., 1990, Pharmaceutical Practice, ELBA, United Kingdom, pp. 145,381,418-420 Danish, M., Kottke, M.K., 1996, Pediatric and Geriatric Aspects of Pharmacentics in modern Pharmacentics3rd ed, Marcel Deker, Inc Depkes RI., 2008, Informatorium Obat Nasional Indonesia 2008, Jakarta Djaja, Sarimawar et al., 2001, Determinasi Perilaku Pencarian Pengobatan ISPA pada Balita, Buletin Peneltian Kesehatan, pp. 29 Drug Interaction Checker, 2014, Medscape Drug Interaction Chacker, http://reference.medscape.com/drug-interactionchecker/, diakses pada tanggal 18 Februari 2014 Glassgold, J.M., 2013, Compounded Drugs, http://www.fas.org/sgp/crs/fas.orgmisc/R43082.pdf, diakses pada tanggal 20 September 2013 Glowm, 2014, Ascorbic Acid (Vitamin C), http://glowm.com/resources/glowm/cd/pages/drugs/a059.html, diakses pada tanggal 20 September 2014 Harkness and Richard, 1989, Informasi Obat, UI Press, Jakarta Hepler C.D., and Strand L.M., 1990, Opportunities and Responsibilities in Pharmaceutical Care,Am J Hosp Pharm, pp. 47 (3):533-543 Jas, A., 2009, Perihal Resep & Dosis serta Latihan Menulis Resep. Ed. 1. Medan : Universitas Sumatera Utara Press, pp. 1-13 Laurence, D.R., Bannet, P.N., and Brown, M.J., 1997, Clinical Pharmacology 8th edition, Churchill Livingstone, United State of America, pp. 116-120 Lacy, C.F., Amstrong, L.L., Goldman., M.P., and Lance, L.L., 2006, Drug Information Handbook, Lexi-com, Ohio Lemeshow, S., and David, W.H.Jr, 1997, Besar Sampel dalam Penelitian Kesehatan (terjemahan), Gajahmada University Press, Yogyakarta 50

(68) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 51 Marselin, N.L., 2008, Evaluasi Komposisi, Dosis, Indikasi, dan Interaksi Obat Resep Racikan untuk Pasien Pediatri Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta Periode Juli 2007, Tesis, 29 McPherson, T.B., Fontane, P.E., Jackson, K.D., Martin, K.S., Berry, T., Chereson, R., et al., 2006, Prevalence of Compounding in Independent Community Pharmacy Practice, http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/17036642, NCBI, diakses tanggal 19 Oktober 2013 Menteri Kesehatan Republik Indonesia, 2004, Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1027/MENKES/SK/IX/2004 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek, Depkes RI, Jakarta Nugroho, A., Endro., 2012, Obat-obat Penting dalam Pembelajaran Ilmu Farmasi dan Dunia Kesehatan, Pustaka Belajar, Yogyakarta, pp. 2-3 Piliarta, I.N.G., Swastiwi, D.A., and Noviyanti, R., 2009, Kajian Kelengkapan Resep Pediatri Rawat Jalan yang Berpotensi Menimbulkan Medication Error di Rumah Sakit Swasta di Kabupaten Gianyar, Laporan Penelitian, Fakultas Farmasi Fakultas Matematika dan Fakultas Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Udayana Denpasar Bali Saryono, 2011, Metodologi Penelitian Kesehatan, Mitra Cendikia Press, Yogyakarta Setiabudy, R., 2011, Masalah Polifarmasi dan Peresepan Obat Racikan, Departemen Farmakologi FKUI, Jakarta Stockley I.H., 2010, Drug Interactions, Pharmaceutical Press, USA Sulastomo, 2007, Manajemen Kesehatan, PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta Syamsuni, H., 2006, Farmasetikal Dasar dan Hitungan Farmasi, EGC, Jakarta, pp. Tatro, D.S., 2001, Drug Interaction Facts, 5th Edition, St Louis Missouri: A Wolters Kluwer Company Tatro, D.S., 2007, Drug Interaction Facts, Wolters Kluwer Health and Facts & Comparison, America, pp. xiii-xiv Than, T.P., 2009, Individualized Drug For Individual Needs, http://www.reviewofoptometry.com/content/d/news_review/c/14924/, diakses pada tanggal 19 September 2014 U.S Food and Drug Administration, 2007, FDA Consumer Healt Information-The Special Risks of Pharmacy Compounding Wiedyaningsih, C., 2003, Tinjauan Terhadap Bentuk Sediaan Obat: Kajian ResepResep di Apotek Kotamadya Yogyakarta, Laporan Penelitian, Fakultaas Farmasi Universitas Gajahmada, Yogyakarta

(69) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 52 Wibowo, A., 2008, Evaluasi Peresepan Kasus Pediatri di Bangsal Anak Rumah Sakit Bethesda yang Menerima Resep Racikan dalam Periode Juli 2007, Tesis, 42 World Health Organization, 2002, Promoting Rational Use of Medicine: Core Components, Geneva Zucchero, R.J., Hogan, M.J., and Sommer, C.D., 2002, Evaluations of Drug Interactions, 4th Edition, Ameican Express, Canada

(70) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 53 LAMPIRAN

(71) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 1. Formulir Isian Permohonan Pra Penelitian 54

(72) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 2. Surat Rekomendasi Kantor Kesatuan Bangsa 55

(73) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 3. Surat Ijin Penelitian dari BAPPEDA 56

(74) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 57

(75) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 4. Sura Permohonan Informasi Data Dinas Kesehatan 58

(76) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 5. Informed Consent Puskesmas Seyegan 59

(77) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 6. Informed Consent Puskesmas Mlati II 60

(78) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 7. Informed Consent Puskesmas Depok I 61

(79) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 8. Informed Consent Puskesmas Tempel I 62

(80) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 9. Informed Consent Puskesmas Kalasan 63

(81) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 64 Lampiran 10. Resep Racikan di Puskesmas Seyegan Periode Desember 2013 No. 1 2 3 4 Permintaan (R) Racikan 5-Dec-13 R/ GG II No : 24 CTM II Dx : ISPA PCT II Umur : 11 bln m.f. pulv. No.IX S 3.d.d.pulv I 26-Dec-13 R/ PCT 200mg No : 18 CTM 1/4 tab Dx : OED m.f. pulv. No.X Umur : 8 thn S 3.d.d.pulv I 23-Dec-13 No : 44 Dx : ISPA Umur : 5 thn 31-Dec-13 No : 8 Dx : ISPA Umur : 9 bln R/ GG IV CTM IV m.f. pulv. No.X S 3.d.d.pulv I R/ PCT IV S 3.d.d. 1/2 tab R/ GG II CTM II PCT II m.f. pulv. No. IX No. 6 7 8 Permintaan (R) Racikan 17-Dec-13 R/ GG IV No : 18 CTM IV Dx : ISPA PCT IV Umur : 4,5 thn m.f. pulv. No. IX S 3.d.d.pulv I 10-Dec-13 No : 55 Dx : ISPA Umur : 5 th 19-Dec-13 No : 16 Dx : ISPA Umur : 19 bln 30-Dec-13 R/ PCT IV No : 71 CTM IV Dx : Impetigo m.f. pulv. No. IX Umur : 3 thn S 3.d.d.pulv I 9 6-Dec-13 No : 12 Dx : ISPA Umur : 2 thn 10 17-Dec-13 No : 26 Dx : TF Bacteri Umur : 5 thn R/ Amox syr II S 3.d.d. I 1/2 cth m.f. pulv. No. IX S 3.d.d.pulv I R/ GG I PCT I CTM I m.f. pulv. No.X S 3.d.d.pulv I S 3.d.d.pulv I 5 R/ PCT III CTM III R/ PCT III CTM III DMP III m.f. Pulv. No. IX S 3.d.d. Pulv I R/ GG III CTM III m.f. pulv.No. IX S 3.d.d.pulv I

(82) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI No. 11 12 Permintaan (R) Racikan 7-Dec-13 R/ CTM III No : 31 GG III Dx : ISPA Umur : 4,5 thn m.f. pulv. X S 3.d.d.pulv I 9-Dec-13 R/ GG 1/7 tab No : 13 Salbutamol 0,6 g Dx : Bronkitis m.f. pulv. XIV Umur : 9 bln S 3.d.d.pulv I No. 16 Permintaan (R) Racikan 13-Dec-13 R/ GG 1/7 No : 35 Efedrin 1/7 Dx : ISPA Umur : 3 th m.f. pulv. No. X S 3.d.d.pulv I 17 21-Dec-13 No : 5 Dx : Tf Bacteri Umur : 4,5 thn R/ Amox syr II S 3.d.d. I cth 13 14 15 26-Dec-13 No : 55 Dx : ISPA Umur : 5thn 27-Dec-13 No : 28 TF Dx : Bacteri Umur : 3thn 7-Dec-13 No : 25 Dx : ISPA Umur : 3 thn R/ CTM 1/6 Efedrin 1/6 18 m.f. pulv. No. XII S 3.d.d.pulv I R/ GG IV PCT IV 19 m.f. pulv. No. IX S 3.d.d.pulv I R/Amox syr II S 3.d.d. I 3/4 cth R/ CTM III GG III m.f. pulv. No. X 65 30-Dec-13 No : 76 Dx : ISPA Umur : 2,5 thn 10-Dec-13 No : 20 Dx : ISPA Umur : 2 thn 20 3-Dec-13 No : 41 Dx : ISPA Umur : 4,5 thn R/ GG IV CTM IV PCT IV m.f. Pulv. No. X S3.d.d. Pulv I R/ Amox syr II S 3.d.d. I cth R/ CTM III GG III m.f. pulv. No. IX S 3.d.d.pulv I R/ PCT V m.f. pulv. No. X S 3.d.d.pulv I R/ CTM II GG II m.f. pulv. No. X S 3.d.d. pulv I R/ GG II CTM II PCT II m.f. pulv. No. IX

(83) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI No. 21 22 23 24 25 26 Permintaan (R) Racikan 12-Dec-13 R/ GG I No : 15 CTM I Dx : ISPA Umur : 6 bln m.f. pulv. No.X S 3.d.d.pulv I 26-Dec-13 R/ GG I No : 37 CTM I Dx : ISPA Umur : 7 th m.f. pulv. No.X S 3.d.d.pulv I 26-Dec-13 R/ GG ¼ No : 41 Efedrin ¼ Dx : ISPA Umur : 8 th m.f. pulv. No.XII S 3.d.d.pulv I 30-Dec-13 R/ GG IV No : 9 CTM IV Dx : ISPA PCT IV Umur : 4 th m.f. pulv. No.IX S 3.d.d.pulv I 31-Dec-13 R/ GG III No : 30 CTM III Dx : ISPA PCT III Umur : 1,5 th m.f. pulv. No.IX S 3.d.d.pulv I 31-Dec-13 R/ B 6 IV No : 34 DMP IV Dx : Batuk Umur : 3 th m.f. pulv. No.IX S 3.d.d.pulv I 66

(84) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 67 Lampiran 11. Resep Racikan di Puskesmas Mlati II Periode Desember 2013 No. 1 2 Permintaan (R) Racikan 10-Dec-13 R/ GG IV No : 95 Salbutamol II Dx : ISPA m.f. Pulv. No. X Umur : 4 th S3.d.d. Pulv I R/ PCT Syr I S 3.d.d. I Cth 17-Dec-13 R/ CTM III No : 63 GG III Dx : ISPA m.f. pulv. No. X Umur : 6 thn S 3.d.d.pulv I No. 6 7 R/ PCT syr I S 3.d.d I 1/2 Cth 3 16-Dec-13 No : 14 Dx : batuk alergi Umur : 2th 2 bln 4 26-Dec-13 No : 39 Dx : Umur : 5 Salesma 4 bln 24-Dec-13 No : 42 Dx : Salesma Umur : 4 bln R/ Salbutamol IV CTM III m.f. pulv. No.XII S 3.d.d.pulv I R/ Dexa II ½ m.f. pulv. No.X S 3.d.d.pulv I R/Salbutamol II ½ CTM I 1/5 m.f. pulv. No. X S 3.d.d.pulv I R/Salbutamol III CTM I 1/5 m.f. pulv. No. X S 3.d.d.pulv I 8 9 10 Permintaan (R) Racikan 6-Dec-13 R/ CTM II No : 26 Salbutamol III Dx : Febris m.f. pulv. No. X ISPA S 3.d.d.pulv I Umur : 3 thn R/ PCT Syr I S 3.d.d. I Cth 18-Dec-13 R/Salbutamol II No : 60 CTM II Dx : ISPA m.f. pulv. No. X Umur : 2 thn S 3.d.d.pulv I R/ PCT syr I S 3.d.d. 3/4 Cth R/ Amox Syr I S 3.d.d. 3/4 Cth 2-Dec-13 R/ Salbutamol II No : 22 CTM I 1/2 Dx : ISPA Umur : 7 bln m.f. pulv. No.X S 3.d.d.pulv I 30-Dec-13 No : 63 Tb Dx : primer Umur : 19 bln 27-Dec-13 No : 34 Dx : ISPA Umur : 5 thn R/ Amox Syr Amox 1500 mg CTM V m.f. Solut. 65 CC S 3.d.d. I d.s R/ GG III CTM III m.f. pulv.No. X S 3.d.d.pulv I R/ PCT syr I S 3.d.d I 1/2 Cth

(85) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI No. 11 12 13 14 15 Permintaan (R) Racikan 2-Dec-13 R/ CTM III No : 69 GG III Dx : ISPA m.f. pulv. XII Umur : 3 thn S 3.d.d.pulv I R/ PCT syr I S 3.d.d. I cth 12-Dec-13 R/ CTM III No : 7 GG III Dx : ISPA m.f. pulv. XII Umur : 2 th S 3.d.d.pulv I R/ PCT syr I S 3.d.d. I 1/3 Cth 21-Dec-13 R/ CTM II No : 25 Salbutamol II Dx : ISPA m.f. pulv. No. X Umur : 1 th 2 bln S 3.d.d.pulv I R/ PCT syr I S 3.d.d. 3/4 Cth 4-Dec-13 R/ CTM II No : 22 Salbutamol II Dx : ISPA GG II Umur : 3th 8 bln m.f. pulv. No. X S 3.d.d.pulv I R/ Pct Syr I S 3.d.d. I cth 28-Dec-13 R/ CTM II Salbutamol II No : 11 1/5 Dx : ISPA Umur : 1th 8 bln m.f. pulv. No. X S 3.d.d.pulv I No. 16 17 Permintaan (R) Racikan 2-Dec-13 R/ CTM III No : 37 Salbutamol V Dx : ISPA m.f. pulv. No. XII Umur : 3 th S 3.d.d.pulv I R/ PCT syr I S 3.d.d. I 1/2 cth 16-Dec-13 R/Eritromisin Syr No : 55 Eritromisin Dx : Bronkitis akut 1000mg Umur : 10 thn CTM VIII m.f. Solut. 65 CC 18 31-Dec-13 No : 71 Dx : ISPA Umur : 2 thn 19 21-Dec-13 No : 20 Dx : ISPA Umur : 15 bln 20 68 19-Dec-13 No : 58 Dx : ISPA Umur : 2 th 7 bln S3.d.d I d.s R/ CTM II Salbutamol II m.f. pulv. No. X S 3.d.d.pulv I R/ PCT syr I S 3.d.d. I cth R/ CTM II Salbutamol II m.f. pulv. No. X S 3.d.d. pulv I R/ CTM II Salbutamol II 1/5 m.f. pulv. No. X S 3.d.d.pulv I R/ PCT syr I S 3.d.d. 3/4 cth R/ Amox syr I S 3.d.d. 3/4 cth

(86) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI No. 21 22 23 Permintaan (R) Racikan 2-Dec-13 R/ CTM III No : 63 GG III Dx : ISPA Umur : 5 th m.f. pulv. No. X S 3.d.d.pulv I 4-Dec-13 R/ GG III No : 23 CTM III Dx : ISPA Umur : 6 th m.f. pulv. No. X S 3.d.d.pulv I 5-Dec-13 R/ GG III No : 35 CTM III Dx : ISPA Umur : 9 th 24 25 No. 26 27 28 m.f. pulv. No. XII S 3.d.d.pulv I 5-Dec-13 R/ Salbutamol II ½ No : 57 CTM I ½ Dx : Selesma Umur : 1,5 th m.f. pulv. No. X S 3.d.d.pulv I 6-Dec-13 R/ Eritromisin syr No : 57 Eritromisin 500mg TB Dx : Primer CTM V Umur : 5,5 th m.f. Solut. 65 CC S 3.d.d. I d.s 5 hari 29 30 69 Permintaan (R) Racikan 7-Dec-13 R/ Salbutamol II No : 20 CTM II Dx : ISPA Umur : 1,5 th m.f. pulv. No. X S 3.d.d.pulv I 7-Dec-13 R/ CTM II No : 27 Salbutamol III 1/2 Dx : ISPA Umur : 4 th m.f. pulv. No. X S 3.d.d.pulv I 9-Dec-13 R/ Eritromisin syr No : 21 Eritromisin 500mg TB Dx : Primer CTM V Umur : 4 th 8 bln m.f. Solut. 65 CC S 3.d.d. I d.s 5 hari 9-Dec-13 R/ CTM II No : 66 Dexa II Dx : ISPA Umur : 2,5 th m.f. pulv. No. X S 3.d.d.pulv I 10-Dec-13 R/ CTM II 1/2 No : 18 Salbutamol III Dx : ISPA Umur : 2,5 th m.f. pulv. No. X S 3.d.d.pulv I

(87) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI No. 31 32 33 34 35 Permintaan (R) Racikan 10-Dec-13 R/ GG II No : 26 Salbutamol II Dx : ISPA Umur : 1 th 7 bln m.f. pulv. No. XII S 3.d.d.pulv I 10-Dec-13 R/ CTM I No : 64 Salbutamol I Dx : ISPA Umur : 1 th 2 bln m.f. pulv. No. X S 3.d.d.pulv I 10-Dec-13 R/ CTM II No : 90 Salbutamol II 12 Dx : ISPA Umur : 1 th 11 bln m.f. pulv. No. X S 3.d.d.pulv I 12-Dec-13 R/ CTM II No : 8 GG II Dx : ISPA Umur : 3 th m.f. pulv. No. X S 3.d.d.pulv I 13-Dec-13 R/ Amox Syr No : 27 Amox 1000 mg Dx : TB primer CTM V Umur : 23 bln m.f. Solut. 65 CC S 3.d.d. I u.i No. 36 37 38 39 40 70 Permintaan (R) Racikan 14-Dec-13 R/ CTM I 1/5 No : 26 Salbutamol I 1/5 Dx : ISPA Umur : 1 th m.f. pulv. No. X S 3.d.d.pulv I 16-Dec-13 R/ CTM I 1/5 No : 32 Salbutamol II Dx : ISPA Umur : 9 bln m.f. pulv. No. X S 3.d.d.pulv I 16-Dec-13 CTM II 1/5 No : 79 GG V Dx : ISPA Umur : 3 th m.f. pulv. No. X S 3.d.d.pulv I 17-Dec-13 R/ CTM III No : 15 Salbutamol III 1/2 Dx : ISPA Umur : 2,5 th m.f. pulv. No. X S 3.d.d.pulv I 2-Dec-13 R/ CTM III No : 2 Dexa III Dx : obs febris Umur : 3 th 9 bln m.f. pulv. No. X S 3.d.d.pulv I

(88) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI No. 41 Permintaan (R) Racikan 23-Dec-13 R/ Amox Syr No : 64 Amox 1250 mg Tb Dx : primer CTM IV Umur : 3,5 th m.f. Solut. 65 CC S 3.d.d. I d.s 42 26-Dec-13 No : 24 Dx : ISPA Umur : 9 bln R/ CTM I 1/5 Dexa I 1/5 m.f. pulv. No. X S 3.d.d.pulv I 71

(89) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 72 Lampiran 12. Resep Racikan di Puskesmas Depok I Periode Desember 2013 No. 1 Permintaan (R) Racikan 17-Dec-13 R/ Dexa III No : 40 Vit C III Dx : Obs Febris m.f. Pulv. No. X Umur : 6 thn S3.d.d. Pulv I No. 6 Permintaan (R) Racikan 9-Dec-13 R/ GG III No : 4 Dexa I Dx : Asma m.f. pulv. No. X Umur : 6 th S 3.d.d.pulv I 2 13-Dec-13 No : 25 Dx : ISPA Umur : 2,5 thn R/Salbutamol II CTM II m.f. pulv. X S 3.d.d.pulv I 7 6-Dec-13 No : 15 Dx : Faringitis Umur : 1th 11 bln R/ GG I CTM I m.f. pulv. No. VIII S 2.d.d.pulv I 3 2-Dec-13 No : 23 Dx : DCA Umur : 5 th R/ Antasida III B 6 III m.f. pulv. No.VIII S 2.d.d.pulv I R/ Zink X S 3 d.d. I 8 4-Dec-13 No : 32 Dx : GEA Umur : 6th 9bln 4 20-Dec-13 No : 18 Dx : CC Umur : 10 bln R/ GG I CTM I Vit C I m.f. pulv. No. X S 3.d.d.pulv I 9 23-Dec-13 No : 36 Dx : Batuk Umur : 7 thn R/ Antasida III Metclorpramid II Peridoksin IV m.f. Pulv. No. X S3.d.d. Pulv I R/ PCT Syr I S3.d.d. I 1/2 Cth R/ GG III Dexa III 2-Dec-13 No : 8 Dx : ISPA Umur : 8 bln R/ CTM ½ Vit C V m.f. pulv. No. IX S 3.d.d.pulv I 10 5 26-Dec-13 No : 6 Dx : CC Umur : 3th 10 bln m.f. Pulv. No. VIII S 2.d.d. Pulv I R/Salbutamol II CTM II 1/5 m.f. pulv.No. VIII S 2.d.d.pulv I

(90) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI No. 11 12 13 14 15 73 Permintaan (R) Racikan 26-Dec-13 R/ CTM II No : 8 Vit C III Dx : Rhinitis m.f. pulv. X Umur : 1th 6 bln S 3.d.d.pulv I R/ PCT VIII 100 S 3.d.d I tab 30-Dec-13 R/ GG II No : 54 CTM II Dx : CC Vit C II Umur : 3 thn m.f. pulv. X S 3.d.d.pulv I No. 16 Permintaan (R) Racikan 21-Dec-13 R/ CTM I 3/4 No : 8 B com II Dx : Varicella Vit C II Umur : 13 bln m.f. pulv. No. X S 2.d.d.pulv I pc 17 5-Dec-13 No : 42 Dx : Vomitus Umur : 2th 8 bln 27-Dec-13 No : 4 Dx : CC Umur : 2 th 18 R/ CTM I Vit C II m.f. pulv. VI S 2.d.d.pulv I kp 13-Dec-13 No : 11 Dx : OMA Umur : 2 thn R/ Salbutamol II CTM II ½ 17-Dec-13 No : 55 Dx : Rinitis Umur : 1 th 7 bln R/ CTM II Vit C I R/ PCT syr I S 3. d.d. I Cth R/ Ranitidin I B 6 III Paint 19 m.f. pulv. VIII S 2.d.d.pulv I m.f. pulv. No. VIII S 2.d.d.pulv I 16-Dec-13 No : 52 Dx : Abdominal - R/ B6 V Metoclopramid II m.f. Pulv. No. X S 3.d.d. Pulv I ac 20 Umur : 3 thn m.f. pulv. No. VIII S 2.d.d.pulv I 16-Dec-13 No : 36 Dx : Bronkitis Umur : 1 th 5bln R/ GG I Salbutamol I 1/2 2-Dec-13 No : 26 Dx : CC Umur : 13 bln R/ GG I CTM I Vit C II m.f. pulv. No. X S 3.d.d.pulv I m.f. pulv. No. VIII S 2.d.d. pulv I

(91) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI No. 21 22 23 24 25 Permintaan (R) Racikan 2-Dec-13 R/ GG I No : 47 Vit C II Dx : Ispa CTM I Umur : 10 bln m.f. pulv. No. X S 3.d.d.pulv I 4-Dec-13 R/ GG II 1/2 No : 37 CTM III Dx : Febris Dexa III Umur : 6 th 8 bln m.f. pulv. No. X S 2.d.d.pulv I pc 4-Dec-13 R/ GG II No : 40 CTM II Dx : RFA Efedrin II Umur : 1 th 2 bln Prednison II m.f. pulv. No. XII S 2.d.d.pulv I pc 9-Dec-13 R/ GG III No : 27 CTM IV Dx : Varicella Vit C IV Umur : 6 th m.f. pulv. No. X S 3.d.d.pulv I 9-Dec-13 R/ CTM III No : 55 Vit C III Dx : Varicella B comp III Umur : 3 th m.f. pulv. No. VIII S 2.d.d.pulv I 74 No. 26 Permintaan (R) Racikan 10-Dec-13 R/ CTM III No : 13 GG III Dx : CC Umur : 6 th m.f. pulv. No. X S 3.d.d.pulv I 27 10-Dec-13 No : 21 Dx : CC Umur : 4 th R/ CTM III GG III 11-Dec-13 No : 26 Dx : RFA Umur : 5 th R/ CTM III GG III Efedrin I 1/2 28 m.f. pulv. No. X S 3.d.d.pulv I m.f. pulv. No. XII S 3.d.d.pulv I 29 5-Dec-13 No : 54 Dx : Varecella Umur : 6 th 10 bln R/ CTM V B comp X Vit C X m.f. pulv. No. X S 2.d.d.pulv I pc 30 7-Dec-13 No : 23 Dx : Faringitis Umur : 4 th R/ PCT I 1/2 Dexa III m.f. pulv. No. X S 3.d.d.pulv I

(92) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 75 No. 31 Permintaan (R) Racikan 7-Dec-13 R/ CTM 1/2 No : 37 B comp I Dx : CC Umur : 10 bln m.f. pulv. No. X S 3.d.d.pulv I No. Permintaan (R) Racikan 13-Dec-13 R/ PCT III No : 21 Dexa III Dx : Limfodermis Umur : 5 th m.f. pulv. No.IX S 3.d.d.pulv I 32 7-Dec-13 No : 49 Dx : Urtikaria Umur : 5 th 37 14-Dec-13 No : 14 Dx : ISPA Umur : 6 th 33 12-Dec-13 No : 17 Dx : CC Umur : 23 bln R/ Dexa II CTM IV m.f. pulv. No. VIII S 2.d.d.pulv I R/ GG I CTM I Vit C I m.f. pulv. No. X S 3.d.d.pulv I 38 14-Dec-13 No : 41 Dx : RFA Umur : 4 th m.f. pulv. No. VIII S 2.d.d.pulv I 34 12-Dec-13 No : 57 Dx : Tince Korporis Umur : 3,5 th 35 13-Dec-13 No : 9 Dx : Ispa Umur : 15 bln R/ CTM II B comp II m.f. pulv. No. VIII S 2.d.d.pulv I R/ CTM II GG II Vit C III m.f. pulv. No. X S 3.d.d.pulv I 39 m.f. pulv. No. VIII S 2.d.d.pulv I R/ Salbutamol I 1/2 CTM II R/ CTM III GG III Salbutamol IV 40 19-Dec-13 No : 1 Dx : ISPA Umur : 5 th R/ Salbutamol II 1/5 CTM III 19-Dec-13 No : 9 Dx : Faringitis Umur : 17 bln R/ Salbutamol I 1/5 GG I m.f. pulv. No. VIII S 2.d.d.pulv I m.f. pulv. No. VIII S 2.d.d.pulv I

(93) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI No. 41 Permintaan (R) Racikan 19-Dec-13 R/ Salbutamol III No : 25 CTM III 1/5 Dx : CC Umur : 5 th m.f. pulv. No. VIII S 2.d.d.pulv I 42 20-Dec-13 No : 7 Dx : urtikaria Umur : 4 th R/ CTM II Dexa II 21-Dec-13 No : 14 Dx : ISPA Umur : 1 th 3 bln R/ Salbutamol I 1/5 CTM II 43 44 m.f. pulv. No.X S 2.d.d.pulv I m.f. pulv. No. VIII S 2.d.d.pulv I 24-Dec-13 R/ Antasida II No : 31 B 6 III Dx : Dispepsia Metoklorpramid II Umur : 5 th 6 bln m.f. pulv. No. VIII S 2.d.d.pulv I a.c 76

(94) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 77 Lampiran 13. Resep Racikan di Puskesmas Tempel I Periode Desember 2013 No. 1 2 3 Permintaan (R) Racikan 6-Dec-13 R/ CTM 1/3 No : 8 PCT 1/3 Dx : Scabies m.f. pulv.No. X Umur : 3 thn S 3.d.d. pulv I R/ Amox Syr II S 3 d.d. I 1/4 Cth 16-Dec-13 R/ PCT IV No : 14 CTM 1/4 Dx : Varicella Vit C X Umur : 6 thn Dexa V m.f. pulv. X S 3.d.d.pulv I R/ Amox Syr II S 3 d.d. I 1/2 Cth 16-Dec-13 R/ PCT 1/3 No : 72 CTM 1/2 Dx : CC GG 1/2 Umur : 5 thn Vit C X m.f. pulv. No.X S 3.d.d.pulv I No. 6 7 Permintaan (R) Racikan 19-Dec-13 R/ Ranitidin I No : 4 Vit C X Dx : Vomitis m.f. pulv. No. X Umur : 5 thn S 3.d.d.pulv I 24-Dec-13 No : 19 Dx : Obs Febris Umur : 1 thn R/ PCT II CTM II 1/2 8 26-Dec-13 No : 45 Dx : CC Umur : 9 th R/ PCT V CTM V m.f. pulv. No. X S 3.d.d.pulv I R/ Amox VII m.f. pulv. No. XV S 3.d.d.pulv I R/ PCT II CTM II m.f. pulv. No. X S 3.d.d.pulv I R/ Amox Syr I S 3.d.d. I 1/4 Cth R/ PCT 1/2 CTM 1/2 GG X, Vit C X m.f. pulv.No. X S 3.d.d. I R/ Amox SyrII S 3.d.d. I 1/2 Cth 4 13-Dec-13 No : 18 Dx : Obs Febris Umur : 20 bln R/ PCT II CTM 1/3 Vit C 1/2 m.f. pulv. No. X S 3.d.d.pulv I 9 18-Dec-13 No : 22 Dx : Miliaria Umur : 2 bln 5 13-Dec-13 No : 13 Dx : ISPA Umur : 2 thn R/ GG 1/2 CTM 1/3 PCT II Vit C 1/2 m.f. pulv. No. X S 3.d.d.pulv I 10 18-Dec-13 No : 30 Dx : ISPA Umur : 5 thn m.f. pulv. No. X S 3.d.d.pulv I

(95) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI No. 11 12 13 Permintaan (R) Racikan 16-Dec-13 R/ PCT 1/2 No : 74 GG X Dx : CC CTM 1/2 Umur : 6 thn Vit C X m.f. pulv. X S 3.d.d.pulv I 10-Dec-13 R/ PCT III No : 21 CTM II Dx : Varicela Umur : 3th m.f. pulv. No.X S 3.d.d.pulv I No. 16 Permintaan (R) Racikan 12-Dec-13 R/ PCT 1/2 No : 11 Vit C X Dx : obs febris Dexa 1/2 Umur : 7 th m.f. pulv. No. X S 3.d.d.pulv I 17 7-Dec-13 No : 29 Dx : Konjungtivitis Obs febris Umur : 9 th 12-Dec-13 No : 6 Dx : ISPA Umur : 18 bln 18 20-Dec-13 No : 12 Dx : ISPA Umur : 7 th 19 13-Dec-13 No : 4 Dx : Varicella Umur : 5 th 20 7-Dec-13 No : 4 Dx : ISPA Umur : 16 bl R/ PCT II GG II CTM 1/4 Vit C 1/2 m.f. pulv. No. X S 3.d.d.pulv I 14 15 78 9-Dec-13 No : 35 Dx : ISPA Umur : 1th 5bl 18-Dec-13 No : 13 Dx : Dermatitis Umur : 8 th R/ GG 1/5 PCT I m.f. pulv. No. X S 3.d.d.pulv I R/ PCT IV CTM 1/2 Vit C X m.f. pulv. No. X S 3.d.d.pulv I R/ Amox Syr II S 3.d.d. I 1/2 Cth R/ PCT 1/2 Dexa 1/2 m.f. pulv. No. X S 3.d.d.pulv I R/ Amox 250 m.f. pulv. No. XV S 3.d.d.pulv I R/ PCT III GG X CTM V Vit C X m.f. pulv. No. X S 3.d.d.pulv I R/ Amox Syr II S 3.d.d. I 1/2 Cth R/ PCT IV CTM V Vit C X m.f. pulv. No. X S 3.d.d. pulv I R/PCT 1/4 GG 1/3 CTM 1/3 m.f. pulv. No. X S 3.d.d.pulv I R/ Amox Syr I S 3.d.d.I 3/4 Cth

(96) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI No. 21 22 23 24 25 Permintaan (R) Racikan 13-Dec-13 R/ PCT 1/2 No : 1 GG X Dx : Ispa Vit C X Umur : 7 th m.f. pulv. No. X S 3.d.d.pulv I 18-Dec-12 R/ PCT III No : 5 GG 1/2 Dx : obs febris CTM 1/3 Umur : 5 th Vit C X m.f. pulv. No. X S 3.d.d.pulv I 2-Dec-13 R/ GG 1/5 No : 30 CTM 1/5 Dx : ispa Umur : 2 bln m.f. pulv. No. X S 3.d.d.pulv I No. 26 28 30-Dec-13 No : 25 Dx : ispa Umur : 18 bln 3-Dec-13 No : 25 Dx : ispa Umur : 5 th R/ GG X CTM 1/3 B comp X m.f. pulv. No. X S 3.d.d.pulv I 29 30-Dec-13 No : 28 Dx : CC Umur : 2 bln 5-Dec-13 No : 25 Dx : ispa Umur : 7,5 th R/ GG X PCT V CTM V B comp X m.f. pulv. No. X S 3.d.d.pulv I 30 27 79 Permintaan (R) Racikan 6-Dec-13 R/ CTM 1/3 No : 11 PCT 1/4 Dx : dermatitis Vit C X Umur : 19 bln m.f. pulv. No. X S 3.d.d.pulv I 27-Dec-13 R/ PCT I 1/2 No : 8 CTM 1/4 Dx : ispa Vit C 1/2 Umur : 11 bln m.f. pulv. No. X S 3.d.d.pulv I 30-Dec-13 No : 35 Dx : ispa Umur : 7 th R/ PCT II GG 1/3 CTM 1/4 Vit C 1/2 m.f. pulv. No. X S 3.d.d.pulv I R/ PCT II 1/2 CTM II 1/2 m.f. pulv. No. X S 3.d.d.pulv I R/ PCT V DMP V CTM III Vit C X m.f. pulv. No. X S 3.d.d.pulv I

(97) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI No. 31 Permintaan (R) Racikan 30-Dec-13 R/ Amox III ¾ No : 39 CTM III ¾ Dx : ispa Umur : 3 th m.f. pulv. No. XV S 3.d.d.pulv I 32 31-Dec-13 No : 19 Dx : CC Umur : 7 bln R/ PCT IV CTM V m.f. pulv. No. X S 3.d.d.pulv I 80

(98) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 81 Lampiran 14.Resep Racikan di Puskesmas Kalasan Periode Desember 2013 No. 1 2 3 Permintaan (R) Racikan 24-Dec-13 R/ PCT II No : 8 GG II Dx : CC CTM II Umur : 1 thn m.f.pulv. No. X S 3.d.d. Pulv I 7-Dec-13 R/ CTM II No : 63 Prednison II Dx : inf. Kulit Umur : 2 thn m.f. pulv. No.X S 3.d.d.pulv I 11-Dec-13 R/ GG II No : 5 CTM II Dx : CC B com II Umur : 5 bln m.f. pulv. No.X S 3.d.d.pulv I 4 21-Dec-13 No : 13 Dx : Impetigo Campak Umur : 20 bln 5 28-Dec-13 No : 15 Dx : ISPA Umur : 3 th R/ CTM II Salbutamol IV m.f. pulv. No. VIII S 3.d.d.pulv I R/ PCT syr I S 3.d.d. I cth R/ Amox syr I S 3.d.d. I cth R/ CTM III Salbutamol VI Vit C III m.f. pulv. No. IX S 3.d.d.pulv I R/ PCT syr I S 3.d.d. I cth No. 6 7 8 9 10 Permintaan (R) Racikan 16-Dec-13 R/ CTM II No : 60 Salbutamol IV Dx : ISPA Umur : 2 thn m.f. pulv. No. VIII S 3.d.d.pulv I 3-Dec-13 R/ GG II No : 59 CTM II Dx : CC B 6 IV Umur : 20 bln m.f.pulv. No. X S 3.d.d. Pulv I 7-Dec-13 R/ CTM II No : 11 Vit C II Dx : Febris m.f. pulv. No. VIII Rinitis S 3.d.d. pulv I Umur : 2 thn R/ PCT Syr I S 3.d.d. I Cth 7-Dec-13 R/ GG II No : 4 Salbutamol IV Dx : Febris CTM II Umur : 3 thn m.f. pulv. No. VIII S 3.d.d. pulv I 28-Dec-13 No : 56 Dx : Selulit Umur : 9 thn R/Betametason tube I Basitrasin tube I m.f.da in pot S 2.d.d.ue

(99) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI No. 11 12 13 Permintaan (R) Racikan 31-Dec-13 R/ CTM II No : 50 Salbutamol IV Dx : ISPA m.f. pulv. No. X Umur : 9 bln S 3.d.d.pulv I 6-Dec-13 No : 31 Dx : CC Umur : 5 thn 24-Dec-13 No : 10 Dx : CC Stomatitis Umur : 5thn 14 4-Dec-13 No : 54 Dx : TFA Umur : 6thn 15 24-Dec-13 No : 20 Dx : CC inf. Kulit Umur : 3th 8bln R/ PCT syr I S 3.d.d I Cth R/ PCT III CTM III Salbutamol V m.f. pulv. No. X S 3.d.d.pulv I R/ PCT IV CTM V GG IV Vit C VI m.f.pulv. No.X S 3.d.d.pulv I R/ GG IV CTM IV Vit C IV PCT IV m.f.pulv. No. X S 3.d.d.pulv I R/ Amox VIII S3.d.d 1/2 tab R/ PCT III GG III CTM III m.f. pulv. No. X S 3.d.d.pulv I R/ amox syr II S 3.d.d. I 1/2 cth 82 No. 16 Permintaan (R) Racikan 5-Dec-13 R/ GG III No : 12 CTM III Dx : CC Vit C III Umur : 3 thn m.f. pulv. No. X S 3.d.d.pulv I 17 16-Dec-13 No : 34 Dx : ISPA Umur : 6 bln 18 26-Dec-13 No : 37 Dx : TFA Umur : 8 th 19 14-Dec-13 No : 11 Dx : Tonsilitis Umur : 4 thn 20 11-Dec-13 No : 41 Dx : Suspek Morbili Umur : 8th 6 bln R/ CTM I 1/2 Salbutamol III m.f. Pulv. No. IX S 3.d.d.pulv I R/ PCT V Vit C X m.f. pulv. No. X S 3.d.d.pulv I R/ Amox 250 mg m.f. pulv. No. X S 3.d.d.pulv I R/ GG II CTM II Salbutamol IV m.f. pulv. No. VIII S 3.d.d. pulv I R/ Amox syr I R/ PCT syr I S 3.d.d. I Cth R/ CTM II B comp II Vit C II m.f. pulv. No. X S 3.d.d.pulv I R/ PCT syr I S 3.d.d. 3/4 cth

(100) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI No. 21 22 23 24 25 Permintaan (R) Racikan 9-Dec-13 R/ GG V No : 11 CTM V Dx : CC Umur : 2 th m.f.pulv. No. X S 3.d.d. pulv I 10-Dec-13 R/ Salbutamol IV No : 45 CTM III Dx : Ispa PCT III Umur : 3,2 th m.f.pulv. No. X S 3.d.d. pulv I 12-Dec-13 R/ PCT III No : 36 CTM III Dx : CC B 6 III Umur : 3 th m.f.pulv. No. X S 3.d.d. pulv I 13-Dec-13 R/ GG III No : 18 CTM III Dx : Vit C III CC Umur : 3 th m.f.pulv. No. X S 3.d.d. pulv I 20-Dec-13 R/ CTM III No : 15 Vit C III Dx : Rhinitis Umur : 1 th 4 bln m.f.pulv. No. X S 3.d.d. pulv I No. 26 27 28 29 30 83 Permintaan (R) Racikan 21-Dec-13 R/ CTM II No : 48 Salbutamol IV Dx : susp. m.f.pulv. No. X pnemonia Umur : 7 bln S 3.d.d. pulv I 24-Dec-13 R/ PCT III No : 26 CTM III Dx : ispa B 6 III Umur : 3 th 6 bln m.f.pulv. No. X S 3.d.d. pulv I 27-Dec-13 R/ Salbutamol III No : 43 GG II Dx : CC Vit C III Umur : 3,5 th m.f.pulv. No. X S 3.d.d. pulv I 30-Dec-13 R/ CTM I No : 28 Salbutamol I Dx : CC Vit C I Umur : 17 bln m.f.pulv. No. X S 3.d.d. pulv I 30-Dec-13 R CTM II No : 9 Vit C III Dx : urtikaria Umur : 2 th m.f.pulv. No. X S 3.d.d. pulv I

(101) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI No. 31 Permintaan (R) Racikan 31-Dec-13 R/ CTM II No : 53 Salbutamol III Dx : CC Umur : 19 bln m.f.pulv. No. X S 3.d.d. pulv I 32 31-Dec-13 No : 2 Dx : CC Umur : 3 th R/ GG III CTM III m.f.pulv. No. X S 3.d.d. pulv I 84

(102) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 85 Lampiran 15. Persentase Komposisi Resep Racikan pada Lima Puskesmas di Kabupaten Sleman periode Desember 2013 No. Komposisi Obat 1 Klorpeniramin Maleat+ Salbutamol 2 Klorpeniramin Maleat+ Gliseril Guaiakolat 3 Gliseril Guaiakolat + Vitamin C+ Klorpeniramin Maleat 4 Parasetamol+ Gliseril Guaiakolat + Klorpeniramin Maleat 5 Parasetamol+ Klorpeniramin Maleat+ Gliseril Guaiakolat + Vitamin C 6 Parasetamol+ Klorpeniramin Maleat 7 Klorpeniramin Maleat+ Vitamin C 8 Klorpeniramin Maleat+ Dexamethason 9 Parasetamol+ Klorpeniramin Maleat+ Vitamin C 10 Parasetamol syr+ Gliseril Guaiakolat+ Salbutamol Jumlah 26 Persen 15% 17 10% 9 5% 8 5% 8 5% 6 3% 5 3% 4 2% 4 2% 4 2%

(103) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 Parasetamol syr+ Gliseril Guaiakolat + Klorpeniramin Maleat Gliseril Guaiakolat+ Dexamethason Amoxcillin syr+ Paracetamol Klorpeniramin Maleat Amoxcillin syr+ Amoxcillin Klorpeniramin Maleat Klorpeniramin Maleat+ Vitamin C+ Vitamin B complex Eritromisin syr+ Eritromisin+ Klorpeniramin Maleat Amoxcillin syr+ Parasetamol+ Gliseril Guaiakolat + Klorpeniramin Maleat Parasetamol+ Dexamethason Klorpeniramin Maleat + Vitamin B complex Gliseril Guaiakolat+ Salbutamol Gliseril Guaiakolat+ Efedrin Parasetamol+ Salbutamol Klorpeniramin Maleat Gliseril Guaiakolat + Klorpeniramin Maleat+ Vitamin B complex Gliseril Guaiakolat + Klorpeniramin Maleat+ Salbutamol Gliseril Guaiakolat + Klorpeniramin Maleat+ Vitamin B6 Parasetamol syr+ Klorpeniramin Maleat+ Salbutamol Parasetamol pulv+ Gliseril Guaiakolat + Klorpeniramin Maleat Amoxcillin syr+ Parasetamol syr+ Klorpeniramin Maleat+ Salbutamol 4 2% 3 2% 3 2% 3 2% 3 2% 3 2% 3 2% 2 2 1% 1% 2 2 2 1% 1% 1% 2 1% 2 1% 2 1% 2 1% 2 1% 2 1% 86

(104) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI No. 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 Komposisi Obat Parasetamol+ Gliseril Guaiakolat Klorpeniramin Maleat+ Amoxcillin Klorpeniramin Maleat+ Prednison Klorpeniramin Maleat+ Efedrin Vitamin B6+Ranitidin Vitamin B6+Dekstrometorphan Vitamin C+Dexamethason Vitamin C+Ranitidin Bethametazon+ Bacitrasin Parasetamol+ Vitamin C+ Dextromethorparhan Parasetamol+ Gliseril Guaiakolat + Vitamin C Parasetamol+ Klorpeniramin Maleat+ Vitamin B6 Parasetamol+ Klorpeniramin Maleat+ Dexamethason Gliseril Guaiakolat + Vitamin C+Salbutamol Gliseril Guaiakolat + Klorpeniramin Maleat+ Dexamethason Gliseril Guaiakolat + Efedrin Klorpeniramin Maleat Klorpeniramin Maleat+ Salbutamol+Vitamin C Antasida+Vitamin B6+ Metoklorpramid Parasetamol+ Klorpeniramin Maleat+ Vitamin C+Dexamethason Parasetamol+ Klorpeniramin Maleat+ Gliseril Guaiakolat + Vitamin B complex Jumlah Persen 1 1% 1 1% 1 1% 1 1% 1 1 1 1 1 1 1% 1% 1% 1% 1% 1% 1 1% 1 1% 1 1% 1 1% 1 1% 1 1% 1 1% 1 1% 1 1% 1 1% 87

(105) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI No. 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 Komposisi Obat Gliseril Guaiakolat + Klorpeniramin Maleat+ Efedrin+Prednison Amoxcillin syr+ Salbutamol Gliseril Guaiakolat + Amoxcillin syr+ Gliseril Guaiakolat + Parasetamol Parasetamol syr+ Klorpeniramin Maleat+ Vitamin C Parasetamol syr+ Vitamin B6+Metklorpramid Parasetamol tab+ Klorpeniramin Maleat + Vitamin C Parasetamol tab+ Gliseril Guaiakolat + Klorpeniramin Maleat Amoxcillin pulv+ Klorpeniramin Maleat+ Parasetamol Amoxcillin pulv+ Parasetamol+ Dexamethason Amoxcillin pulv+ Parasetamol+Vitamin C Zink+Vitamin B6+ Antasida Dexamethason pulv+ Klorpeniramin Maleat+ Salbutamol Amoxcillin syr+ Parasetamol+ Vitamin C Klorpeniramin Maleat+ Parasetamol syr+ Klorpeniramin Maleat+ Salbutamol+Vitamin C Parasetamol syr+ Vitamin C Klorpeniramin Maleat+ Vitamin B complex+ Parasetamol syr+ Klorpeniramin Maleat+ Gliseril Guaiakolat + Salbutamol Jumlah 1 Persen 1% 1 1% 1 1% 1 1% 1 1% 1 1% 1 1% 1 1% 1 1% 1 1% 1 1% 1 1% 1 1% 1 1% 1 1% 1 1% 88

(106) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI No. 65 66 67 68 69 Komposisi Obat Parasetamol syr+ Antasida+ Metoklorpramid+ Prednison Amoxcillin syr+ Parasetamol syr+ Gliseril Guaiakolat + Klorpeniramin Maleat+ Salbutamol Amoxcillin syr+ Parasetamol+ Klorpeniramin Maleat+ Vitamin C+ Dexamethason Amoxcillin syr+ Parasetamol+ Klorpeniramin Maleat+ Gliseril Guaiakolat + Vitamin C Amoxcillin tab+ Parasetamol+ Klorpeniramin Maleat+ Gliseril Guaiakolat + Vitamin C Jumlah 1 Persen 1% 1 1% 1 1% 1 1% 1 1% 89

(107) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 16. Wawancara Puskesmas Seyegan 90

(108) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 17.Wawancara Puskesmas Mlati II 91

(109) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 18. Wawancara Puskesmas Depok I 92

(110) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 19. Wawancara Puskesmas Tempel I 93

(111) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 20. Wawancara Puskesmas Kalasan 94

(112) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 95 Lampiran 21. Surat Keterangan Validasi SURAT KETERANGAN VALIDASI Yang beratanda tangan dibawah ini Nama : Aris Widayati, M.Si., Apt., Ph.D. Instansi : Universitas Sanata Dharma Jabatan : Dosen Telah membaca instrument penelitian berupa pertanyaan wawancara yang dilakukan dalam penelitian skripsi dengan judul “Prevalensi Dan Evaluasi Interaksi Farmakokinetik Resep Racikan Pada Lima Puskesmas Di Kabupaten Sleman Periode Desember 2013” oleh peneliti : Nama : I Dewa Ayu Dwi Komaladewi NIM : 108114026 Prodi : Farmasi Setelah memperhatikan instrument yang telah dibuat, maka masukan untuk instrument tersebut adalah : ……………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………… …………… Demikian Surat keterangan ini dibuat agar dapat digunakan dalam pengumpulan data di lapangan.

(113) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 96 BIOGRAFI PENULIS Skripsi yang berjudul ”Prevalensi dan Evaluasi Interaksi Farmakokinetik Resep Racikan pada Lima Puskesmas di Kabupaten Sleman Periode Desember 2013” ini ditulis oleh I Dewa Ayu Dwi Komaladewi. Penulis merupakan anak kedua dari tiga bersaudara, yang lahir di Bangli, Bali 9 Juli 1992. Pada tahun 1998, penulis menempuh pendidikan di SD Negeri 1 Kawan Bangli hingga tahun 2004. Pada tahun 2004 – 2007 penulis menempuh pendidikan menengah pertama di SMP Negeri 1 Bangli. Selepas dari pendidikan menengah pertama penulis melanjutkan pendidikan di SMA Negeri 1 Bangli pada tahun 2007 – 2010. Selanjutnya mulai tahun 2010 penulis melanjutkan pendidikan di Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Pada tahun 2011 penulis pernah mengikuti kegiatan Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat. Pada tahun 2011 penulis pernah menjabat sebagai CO Sie Publikasi, Dekorasi, Dokumentasi dalam kegiatan pelepasan wisuda. Pada tahun 2013 penulis lolos Program Kreativitas Mahasiswa (PKM-M) didanai DIKTI. Penulis juga menjadi Asisten Praktikum Botani Farmasi (2012/2013).

(114)

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Prevalensi dan evaluasi potensial interaksi farmakokinetik peresepan racikan di Instalasi Rawat Jalan dan Rawat Inap RSUD Kabupaten Magelang periode Desember 2013.
0
3
117
Medication error dalam fase dispensing dan fase administration pada resep racikan (studi kasus) di empat apotek di Kabupaten Sleman periode Februari dan Maret 2014.
3
19
115
Persepsi dokter, apoteker dan pasien mengenai kelengkapan resep dan kemudahan pembacaan tulisan dalam resep [legibility] di Kabupaten Sleman periode Januari-Februari 2007.
0
2
107
Persepsi dokter, apoteker dan pasien mengenai kelengkapan resep dan kemudahan pembacaan tulisan dalam resep [legibility] di Kabupaten Sleman periode Januari-Februari 2007 - USD Repository
0
1
105
Evaluasi peresapan kasus pediatri di bangsal anak rumah sakit Bethesda yang menerima resep racikan dalam periode Juli 2007 : kajian kasus gangguan sistem saluran nafas - USD Repository
0
0
137
Evaluasi peresapan kasus pediatri di bangsal anak rumah sakit Bethesda Yogyakarta yang menerima resep racikan periode Juli 2007 : kajian kasus gangguan sistem saluran cerna - USD Repository
0
0
96
Persepsi, dokter, apoteker, dan pasien mengenai kelengkapan resep dan kemudahan pembacaan tulisan dalam resep [Legibility] di Kota Yogyakarta periode Februari-Mei 2007 - USD Repository
0
1
123
Evaluasi komposisi, indikasi, dosis, dan interaksi obat resep racikan untuk pasien pediatri Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta periode Juli 2007 - USD Repository
0
0
148
Studi pustaka interaksi obat pada peresepan pasien tuberkulosis di Instalasi Rawat Jalan RSUD Panembahan Senopati Bantul periode Oktober-Desember 2013 - USD Repository
0
0
140
Medication error dalam fase prescribing dan transcribing pada resep racikan : studi kasus di empat apotek di Kabupaten Sleman - USD Repository
0
1
123
Medication error fase prescribing dan fase transcribing pada resep racikan untuk pasien pediatrik di rawat inap di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta periode Februari 2014 - USD Repository
0
1
119
Studi literatur interaksi obat pada peresepan pasien diabetes melitus tipe 2 di Instalasi Rawat Jalan RSUD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta periode Desember 2013 - USD Repository
0
1
205
Studi literatur interaksi obat pada peresepan pasien hipertensi di Instalasi Rawat Jalan RSUD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta periode Desember tahun 2013 - USD Repository
0
0
144
Medication error resep obat racikan pasien pediatri rawat inap di RSUP Dr. Sardjito pada periode Februari 2014 (tinjauan fase dispensing dan fase administration) - USD Repository
0
0
116
Prevalensi dan evaluasi interaksi farmakokinetik peresepan racikan pada pasien rawat jalan di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta periode Desember 2013 - USD Repository
0
2
100
Show more