PERANAN MEDIA AUDIO VISUAL TERHADAP PROSES PENDAMPINGAN IMAN ANAK (PIA) DI LINGKUNGAN SANTO AGUSTINUS GANCAHAN I PAROKI SANTA MARIA ASSUMPTA GAMPING YOGYAKARTA SKRIPSI

Gratis

0
2
321
5 months ago
Preview
Full text

   PERANAN MEDIA AUDIO VISUAL TERHADAP PROSES PENDAMPINGAN IMAN ANAK (PIA) DI LINGKUNGAN SANTO AGUSTINUS GANCAHAN I PAROKI SANTA MARIA ASSUMPTA GAMPING YOGYAKARTA S K R I P S I

  Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

  Program Studi Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik

  Oleh: Yulius Guntur Vembrianto NIM: 091124005 PROGRAM STUDI ILMU PENDIDIKAN KEKHUSUSAN PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK JURUSAN ILMU PENDIDIKAN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA

  S K R I P S I PERANAN MEDIA AUDIO VISUAL TERHADAP PROSES PENDAMPINGAN IMAN ANAK (PIA) DI LINGKUNGAN SANTO AGUSTINUS GANCAHAN I PAROKI SANTA MARIA ASSUMPTA GAMPING YOGYAKARTA

  Oleh: Yulius Guntur Vembrianto

  NIM: 091124005 Telah disetujui oleh:

  Pembimbing Dr. B. Agus Rukiyanto, S.J. Tanggal 9 Agustus 2014

  

S K R I P S I

PERANAN MEDIA AUDIO VISUAL

TERHADAP PROSES PENDAMPINGAN IMAN ANAK (PIA)

DI LINGKUNGAN SANTO AGUSTINUS GANCAHAN I

  

PAROKI SANTA MARIA ASSUMPTA GAMPING

YOGYAKARTA

  Dipersiapkan dan ditulis oleh Yulius Guntur Vembrianto

  NIM: 091124005 Telah dipertahankan di depan Panitia Penguji pada tanggal 28 Agustus 2014 dan dinyatakan memenuhi syarat

  SUSUNAN PANITIA PENGUJI Nama

  Tanda Tangan Ketua : Drs. F.X. Heryatno W.W., S.J., M.Ed. ........................ Sekretaris : Yoseph Kristianto, SFK., M.Pd. ........................ Anggota : 1. Dr. B. Agus Rukiyanto, S.J. ........................

  2. Drs. L. Bambang Hendarto Y., M.Hum. ........................

  3. P. Banyu Dewa H.S., S.Ag., M.Si. ........................

  Yogyakarta, 28 Agustus 2014 Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

  Universitas Sanata Dharma Dekan, Rohandi, Ph.D.

  

PERSEMBAHAN

  Dengan penuh rasa syukur dan sukacita Penulis mempersembahkan skripsi ini kepada: Tuhan Yesus Kristus atas kasih karunia-Nya yang begitu luar biasa.

  Orang tua tercinta yang sangat luar biasa, yang dengan setia senantiasa mendukung dan mendampingi penulis selama menempuh studi dan selama penulisan skripsi ini. Teman-teman yang super sekali, yang senantiasa memberikan dukungan, serta mewarnai perjalanan penulis selama berkuliah dan berdinamika di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

  MOTTO

  “Jika kau ingin melihat keajaiban, maka jadilah keajaiban itu”

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

  Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebut dalam kutipan dan daftar pustaka sebagaimana layaknya karya ilmiah.

  Yogyakarta, 28 Agustus 2014 Penulis,

  Yulius Guntur Vembrianto

  

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN

PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

  Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma Yogyakarta:

  Nama : Yulius Guntur Vembrianto No. Mahasiswa : 091124005 Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada

  Perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul

PERANAN MEDIA AUDIO

  

PENDAMPINGAN IMAN ANAK (PIA) DI LINGKUNGAN SANTO

AGUSTINUS GANCAHAN I PAROKI SANTA MARIA ASSUMPTA

GAMPING YOGYAKARTA beserta perangkat yang diperlukan (bila ada).

  Dengan demikian saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengelolanya dalam bentuk pangkalan data, mendistribusikan secara terbatas dan mempublikasikannya di internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu izin dari saya maupun memberikan royalty kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis.

  Demikian penyataan ini saya buat dengan sebenarnya.

  Yogyakarta, 28 Agustus 2014 Yang menyatakan,

  Yulius Guntur Vembrianto

  

ABSTRAK

  Skripsi ini berjudul PERANAN MEDIA AUDIO VISUAL TERHADAP

  

PROSES PENDAMPINGAN IMAN ANAK (PIA) DI LINGKUNGAN

SANTO AGUSTINUS GANCAHAN I PAROKI SANTA MARIA

ASSUMPTA GAMPING YOGYAKARTA. Hal ini dipilih karena melihat fakta

  bahwa kemajuan yang sangat pesat dalam teknologi audio visual mampu memberikan manfaat positif dalam berbagai bidang, khususnya bidang pendidikan. Pada jaman yang semakin maju ini media audio visual sudah banyak digunakan dalam proses pendidikan dan pendampingan. Banyak sekolah mulai dari SD sampai SMA sudah menggunakan media tersebut dengan tujuan agar proses pembelajaran menjadi semakin menarik dan efektif.

  Media merupakan hal yang sangat penting dalam proses PIA dan media audio visual termasuk salah satu media alternatif yang dapat digunakan, namun penggunaan media tersebut dalam kegiatan PIA masih jarang dilakukan. Padahal media ini adalah media yang sangat cocok untuk menjawab perkembangan zaman yang semakin maju ini, mengingat seiring perkembangan zaman akan terjadi pergeseran yang membuat media tertentu bisa menjadi tidak efektif lagi. Berdasarkan fakta yang ada, pada jaman ini media audio visual seperti televisi, film, dan video sudah sangat akrab dengan anak-anak. Ditambah lagi kepemilikan

  

gadget dan komputer canggih yang memudahkan anak-anak untuk mengakses

hiburan audio visual.

  Melalui sebuah penelitian, penulis telah menemukan bahwa Para Pendamping PIA di lingkungan Santo Agustinus Gancahan I memiliki kerinduan untuk mendampingi kegiatan PIA dengan media audio visual, namun mereka masih menemui hambatan-hambatan untuk mewujudkan hal tersebut. Oleh karena itu penulis membuat usulan program berbentuk kaderisasi untuk mengatasi hambatan-hambatan yang dialami pendamping, dengan harapan kegiatan PIA berbasis media audio visual di lingkungan tersebut dapat berjalan dengan lancar, sehingga kegiatan PIA menjadi semakin menarik dan efektif.

  

ABSTRACT

  This small thesis entitled THE ROLE OF AUDIO VISUAL MEDIA TO

  THE PROCESS OF ASSISTANCE OF CHILD’S FAITH (PIA) IN THE

DISTRIC OF SAINT AGUSTINUS GANCAHAN I PARISH OF SAINT

MARIA ASSUMPTA GAMPING YOGYAKARTA. This tittle is chosen

  because of seeing the fact that the progress in technology of audio-visual gives the positives benefit in several fields, especially education field. In this era, audio visual media have widely been used in the process of education and assistance. Many schools from Elementary School to Senior High School have used the media in order that the process of learning to more interesting and effective.

  Media is the most important matter in the process of PIA and audio-visual media is one of alternatives media that can be used. However, the application of the media in activities of PIA is still rarely used. Where as this media is media that very suitable to answer the development of modern era, remember that where certain media can become no effective again. In this era audio visual media such as television, film, and video have been very familiar with children. In addition, gadget and computer make children easily to access the amusement of audio visual.

  According to result of research, the writer found that the people in change of PIA in the distric of Saint Agustinus Gencahan 1 has a longing to accompany the activities of PIA with audio visual media, yet they still find obstacles to realize it. Therefore, the writer makes suggestion program to face the obstacler, with the hope that the activities of PIA based audio visual media can run smoothly, so that the activities of PIA become more interesting and effective.

KATA PENGANTAR

  Puji dan syukur penulis haturkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas kasih karunia-Nya yang melimpah sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul PERANAN MEDIA AUDIO VISUAL TERHADAP PROSES

  

PENDAMPINGAN IMAN ANAK (PIA) DI LINGKUNGAN SANTO

AGUSTINUS GANCAHAN I PAROKI SANTA MARIA ASSUMPTA

GAMPING YOGYAKARTA.

  Penulisan skripsi ini melihat fakta bahwa kegiatan PIA membutuhkan media yang mampu menjawab perkembangan zaman, karena seiring perkembangan zaman akan akan terjadi pergeseran yang membuat media tertentu menjadi tidak efektif lagi. Untuk itu media Audio Visual merupakan solusi tepat untuk menjawab permasalahan tersebut. Pada zaman digital ini media Audio Visual sudah banyak digunakan dalam proses pendidikan dari jenjang SD sampai dengan SMA. Namun penggunaan media ini dalam proses PIA masih jarang dilakukan. Adapun skripsi ini bertujuan untuk mencaritahu sejauh mana media Audio Visual memiliki peranan dalam proses PIA di lingkungan Santo Agustinus Gancahan I Paroki Santa Maria Assumpta Gamping Yogyakarta. Selanjutnya penulis akan memberikan solusi berdasarkan temuan yang di dapat, demi tersukseskannya proses PIA dengan menggunakan media Audio Visual di Lingkungan tersebut.

  Selama proses penulisan dan penyusunan karya tulis ini, penulis mendapatkan dukungan dan perhatian dari berbagai pihak, untuk itu penulis dengan tulus hati mengucapkan banyak terimakasih kepada:

1. Drs. F.X. Heryatno W.W., S.J., M.Ed selaku Kaprodi IPPAK Universitas

  Sanata Dharma yang telah telah memberi dukungan kepada penulis dalam penyelesaian Skripsi ini.

  2. Dr. B. Agus Rukiyanto, S.J. selaku dosen pembimbing utama yang telah memberikan perhatian sepenuhnya dan dengan penuh kesabaran telah membimbing, memberikan perhatian, memberikan sumbangan pemikiran, serta memotivasi penulis hingga skripsi ini dapat terselesaikan dengan baik.

  3. Drs. L. Bambang Hendarto.Y., M.Hum selaku dosen pembimbing akademik sekaligus sebagai dosen pembimbing II yang dengan sabar telah mendampingi dan membimbing penulis selama menjalani studi dan menyelesaikan skripsi di kampus IPPAK universitas Sanata Dharma ini.

  4. P. Banyu Dewa HS, S.Ag, M.Si. selaku dosen pembimbing III yang dengan sabar membimbing membimbing penulis selama penulisan skripsi ini, dan memberikan sumbangan pemikiran, memberikan dukungan, serta memotivasi kepada penulis agar skripsi ini dapat terselesaikan dengan baik.

  5. Orang tua tercinta yang sangat luar biasa, yang senantiasa mendoakan, menyemangati, memberikan dukungan, dan menginspirasi penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik.

  6. Teman-teman pendamping PIA di Lingkungan Agustinus Gancahan I yang sangat luar biasa, yang telah mewarnai dinamika penulis selama melaksanakan penelitian dan meluangkan waktunya untuk mengisi angket penelitian dari penulis.

  7. Teman-teman organisasi UKM Pengabdian Masyarakat (PM) dan Dewan Perwakilan Mahasiswa Universitas Sanata Dharma (DPMU) yang luar biasa yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu, yang telah memberikan banyak inspirasi, pembelajaran, dan telah mewarnai perjalanan penulis selama menempuh studi di Universitas Sanata Dharma sampai terselesaikannya skripsi ini.

  8. Mahasiswa IPPAK USD khususnya teman-teman seperjuangan angkatan 2009 yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu, yang telah dengan tulus mendoakan, memotivasi dan mendukung penulis sehingga penulis bisa menyelesaikan skripsi ini dengan baik.

  9. Semua pihak baik langsung maupun tidak langsung telah mendoakan, menyemangati dan mendukung penulis dalam proses penyusunan skripsi ini.

  Penulis menyadari bahwa karya tulis ini masih jauh dari sempurna. Maka dari itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi semakin sempurnanya skripsi ini. Akhirnya semoga skripsi ini sungguh bermanfaat bagi para pendamping PIA yang ingin menyelenggarakan kegiatan PIA dengan media Audio Visual.

  Yogyakarta, 28 Agustus 2014 Penulis,

  Yulius Guntur Vembrianto

  

DAFTAR ISI

  HALAMAN JUDUL .................................................................................. i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ....................................... ii HALAMAN PENGESAHAN ..................................................................... iii HALAMAN PERSEMBAHAN ................................................................ iv MOTTO ..................................................................................................... v PERNYATAAN KEASLIAN KARYA .................................................... vi PERNYATAAN PERSETUJUAN

  PUBLIKASI………………………… vii ABSTRAK .................................................................................................. viii

  

ABSTRACT .................................................................................................. ix

  KATA PENGANTAR ............................................................................... x DAFTAR ISI .............................................................................................. xiii DAFTAR SINGKATAN............................................................................. xix

  BAB I. PENDAHULUAN

  1 …….............................................................

  A.

  Latar Belakang .............................................................................. 1 B. Pembatasan Masalah ..................................................................... 10 C. Rumusan Masalah ......................................................................... 11 D. Tujuan Penulisan ........................................................................... 11 E. Manfaat Penulisan ......................................................................... 11 F. Metode Penulisan .......................................................................... 12 G.

  Sistematika Penulisan ................................................................... 13

  BAB II. MEDIA AUDIO VISUAL DALAM PROSES PENDAMPINGAN IMAN ANAK (PIA)

  ……………………………………………... 15 A. Media Audio Visual ...................................................................... 15 1.

  Arti Kata Media ........................................................................ 15

  2. Pengertian Media Audio Visual ............................................... 16 3.

  Yang Dimaksud Dengan Media Audio Visual ......................... 18 a.

  Media Audio ........................................................................ 18 b.

  Media Visual ....................................................................... 18 1)

  Media Visual Dua Dimensi ............................................ 19 2)

  Media Visual Tiga Dimensi ............................................ 20 c. Media Audio Visual ............................................................ 20 4. Sejarah Penggunaan Media Audio Visual dalam Pendidikan .. 22 5. Jenis-jenis Media Audio Visual dalam Pendidikan dan

  Kelebihannya ............................................................................ 23 a.

  Film...................................................................................... 23 b.

  Televisi ................................................................................ 25 c. Video ................................................................................... 27 6. Rangkuman............................................................................... 29 B. Pendampingan Iman Anak (PIA) .................................................. 31 1.

  Pendampingan .......................................................................... 31 a.

  Arti Pendampingan .............................................................. 31 b. Ciri khas Pendampingan ...................................................... 32 c. Tujuan Pendampingan ......................................................... 32 2. Iman .......................................................................................... 33 a.

  Pengertian Iman Secara Umum ........................................... 33 b. Pengertian Iman Kristiani .................................................... 34

  1) Iman Sebagai Jawaban Manusia Atas Wahyu Allah ...... 34

  2) Iman Sebagai Penyerahan Diri Manusia Kepada Allah . 35 3.

  Peserta Pendampingan Iman Anak (PIA)................................. 38 4. Pendampingan Iman Anak Dilihat Dari Perspektif PAUD ..... 38 5. Pendampingan Iman Anak (PIA) dilihat dari Segi Pastoral

  Ajaran Gereja ........................................................................... 41 6. Pendampingan Iman Anak (PIA) ............................................ 44 a.

  Sejarah Pendampingan Iman Anak (PIA) .......................... 44

  b.

  5) Mendalam ....................................................................... 63

  Mencintai Kitab Suci ...................................................... 69 7. Rangkuman .............................................................................. 70

  Kerjasama dan Saling Melengkapi ................................ 69 6)

  Keterbukaan ................................................................... 68 5)

  Kristosentris ................................................................... 68 4)

  Beriman Dewasa ............................................................. 67 3)

  Kerendahan Hati ............................................................. 66 2)

  Spiritualitas Pendampingan Iman Anak (PIA) ................... 66 1)

  c) Terbuka ...................................................................... 65 d.

  b) Menjemaat .................................................................. 64

  a) Berpola Pada Yesus Kristus ....................................... 63

  c) Bermain ...................................................................... 62

  Kekhasan, Dasar, dan Tujuan PIA ...................................... 46 1)

  b) Bebas .......................................................................... 61

  a) Gembira ...................................................................... 60

  Santai .............................................................................. 60

  Ciri Khas Pendampingan Iman Anak (PIA) ....................... 59 4)

  3) Tujuan PIA ...................................................................... 57 c.

  d) Dasar Psikologis ......................................................... 51

  c) Dasar Teologis ........................................................... 50

  b) Dasar Dokumen Gereja .............................................. 49

  a) Dasar Biblis/Kitab Suci .............................................. 48

  Dasar PIA ........................................................................ 47

  Kekhasan PIA ................................................................. 46 2)

  BAB III. PERANAN MEDIA AUDIO VISUAL TERHADAP PROSES PENDAMPINGAN IMAN ANAK DI LINGKUNGAN SANTO AGUSTINUS GANCAHAN I .................................................. 72 A. Pendampingan Iman Anak di Lingkungan Santo Agustinus

  Gancahan I Paroki Maria Assumpta Gamping............... .............. 72 1.

  Gambaran Paroki Maria Assumpta Gamping secara umum..... 72 2. Situasi PIA di Paroki Maria Assumpta Gamping .................... 75 3. PIA di lingkungan Santo Agustinus Gancahan I Paroki

  Maria Assumpta Gamping............... ........................................ 77 4. Rangkuman............................................................................... 78 B.

  Latar Belakang Penelitian............... .............................................. 79 C. Tujuan Penelitian .......................................................................... 82 D. Tempat dan Waktu Penelitian ....................................................... 83 E. Metode Penelitian ......................................................................... 83 F. Instrumen Penelitian ..................................................................... 83 G.

  Responden Penelitian .................................................................... 84 H. Variabel Penelitian ........................................................................ 85 I. Hasil Penelitian ............................................................................. 88 1.

  Identitas Responden ................................................................. 89 2. PIA di Lingkungan Santo Agustinus Gancahan I Paroki Maria

  Assumpta Gamping .................................................................. 90 3. Peranan Media Audio Visual Terhadap Proses PIA ................ 96 4.

  Faktor Pendukung dan Penghambat ......................................... 100 J. Pembahasan Hasil Penelitian ........................................................ 103 1.

  Identitas Responden ................................................................. 103 2. PIA di Lingkungan Santo Agustinus Gancahan I Paroki Maria

  Assumpta Gamping ................................................................. 104 3. Peranan Media Audio Visual Terhadap Proses PIA ................ 110 4.

  Faktor Pendukung dan Penghambat ......................................... 114 K. Rangkuman Hasil Penelitian ........................................................ 119 L. Refleksi Terhadap Hasil Penelitian ............................................... 122

  BAB IV. USULAN PROGRAM UNTUK PARA PENDAMPING PIA DI LINGKUNGAN SANTO AGUSTINUS GANCAHAN I TENTANG PENGGUNAAN MEDIA AUDIO VISUAL DALAM PROSES PENDAMPINGAN IMAN ANAK (PIA) ............................... 124 A. Pengertian Program ....................................................................... 124 B. Latar Belakang Program ............................................................... 125 C. Tujuan Program ............................................................................ 126 D. Usulan Program ............................................................................ 127 E. Bentuk Program ............................................................................ 128 F. Pemilihan Materi Program ............................................................ 128 1. Spiritualitas Pendamping PIA ................................................. 129 2. Arti, Ciri Khas, dan Tujuan PIA ............................................. 129 3. Pengertian Media Audio Visual dan Peranan Media Audio Visual Dalam Proses PIA........................................................ 130 4. Cara Menyusun Kegiatan PIA Dengan Menggunakan Media Audio Visual ........................................................................... 130 G. Matriks Program ........................................................................... 132 H. Persiapan Program ........................................................................ 139 1. Sesi I........................................................................................ 139 2. Sesi II ...................................................................................... 150 3. Sesi III ..................................................................................... 163 4. Sesi IV ..................................................................................... 181

BAB V. PENUTUP .................................................................................... 191

A. Kesimpulan ................................................................................. 193 B. Saran ........................................................................................... 196 DAFTAR PUSTAKA ................................................................................. 200

  LAMPIRAN ................................................................................................ 202 Lampiran 1: Surat Ijin Penelitian dari Dosen Pembimbing ............... (1) Lampiran 2: Surat Ijin Penelitian dari Romo Paroki ........................ (2) Lampiran 3: Surat Ijin Penelitian dari Ketua Lingkungan ................ (3) Lampiran 4: Surat Pengantar Kuesioner Penelitian dan Hasil

  Pengisian Kuesioner .................................................... (4) Lampiran 5: Contoh Program Pendampingan PIA dengan Media

  Audio Visual .................................................................. (75) Lampiran 6: File Program Pendampingan

  PIA dalam bentuk CD….. (98)

DAFTAR SINGKATAN A.

   Kitab Suci

  Seluruh singkatan Kitab Suci dalam skripsi ini mengikuti Alkitab Deuterokanonika, Lembaga Biblika Indonesia, 2009.

B. Dokumen Resmi Gereja

  CT : Catechesi Tradendae, Anjuran Apostolik Paus Yohanes Paulus II kepada para Uskup, Klerus dan segenap umat beriman tentang Katekese Masa Kini, 16 Oktober 1979. DV : Dei Verbum, Konstitusi Dogmatis Konsili Vatikan II tentang Wahyu Ilahi, 18 November 1965.

  GE : Gravissium Educationis, Deklarasi Konsili Vatikan II tentang Pendidikan Kristen, 18 November 1965.

  GS : Gaudium et Spes, Konstitusi Pastoral Konsili Vatikan II tentang Gereja Dewasa Ini, 7 Desember 1965.

  KHK : Kitab Hukum Kanonik (Codex luris Canonici), diundangkan oleh Paus Yohanes Paulus II tanggal 25 Januari 1983.

  LG : Lumen Gentium, Konstitusi Dogmatis Konsili Vatikan II tentang Gereja, 21 November 1964.

C. Singkatan Teknologi

  3gp : 3

  rd

  Generation Project AVI : Audio Video Interleave CD : Compact Disc DVD : Digital Versatile Disc HD : High Definition MP4 : MPEG Layer-4 Audio OHP : Overhead Projector TV : Televisi D.

   Daftar Singkatan Lain

  Art : Artikel Bdk : Bandingkan Komkat : Komisi Kateketik KWI : Konferensi Waligereja Indonesia NAEYC : National Association for the Education of Young Children OMK : Orang Muda Katolik PAUD : Pendampingan Anak Usia Dini PIA : Pendampingan Iman Anak

  DAFTAR TABEL

  Tabel 1 : Lingkungan yang Berada di Wilayah Santa Maria Gancahan Tabel 2 : Ciri-Ciri Pola Perkembangan Anak Tabel 3 : Variabel Penelitian Tabel 4 : Kisi-Kisi Kuesioner Tabel 5 : Identitas Responden Tabel 6 : PIA di Lingkungan Santo Agustinus Gancahan I Tabel 7 : Peranan Media Audio Visual Terhadap Proses PIA Tabel 8 : Faktor Pendukung dan Faktor Penghambat

  1 BAB I PENDAHULUAN A.

   Latar Belakang

  Kemajuan yang sangat pesat dalam teknologi Audio Visual mampu memberikan manfaat positif di berbagai bidang khususnya di dalam pendidikan. media Audio Visual mengalami perkembangan secara bertahap dari zaman ke zaman, mulai dari jaman dahulu kala sampai pada zaman sekarang ini. Pada mulanya manusia hanya berkomunikasi dengan cara yang sangat sederhana, yaitu dengan suara dan gerakan tangannya saja untuk menunjukan suatu isyarat dengan maksud tertentu. Namun komunikasi tersebut hanya dapat didengar dan dilihat pada jarak yang terbatas. Lalu komunikasi berkembang dengan pengunaan alat- alat tertentu sebagai simbol untuk memberi isyarat dengan maksud tertentu pada teman-temannya, sebagai contoh sekitar seribu tahun sebelum masehi orang Yunani telah menemukan nyala obor sebagai isyarat yang dapat dilihat dari jarak jauh. Pada zaman yang sama orang mulai mengorek sepotong batang kayu supaya bisa berbunyi bila ditabuh dan bunyinya dapat didengar dari jauh, di Indonesia alat ini dikenal dengan nama kentongan.

  Seiring dengan perkembangan zaman lahirlah komunikasi tertulis melalui rangkaian gambar-gambar dan tanda-tanda sederhana yang disebut dengan pictograph. Setelah itu di jaman Firaun manusia telah berhasil menciptakan ”tulisan” berupa tanda-tanda dan gambar secara lebih sempurna yang disebut dengan hiroglyph. Lalu hiroglyph berkembang menjadi ideograph, yaitu lambang yang mempunyai arti tertentu seperti huruf kanji yang sekarang masih digunakan

  2

  oleh bangsa Cina dan Jepang. Setelah terciptanya abjad kira-kira tahun 1000 sebelum masehi, manusia mulai dapat mencatat peristiwa-peristiwa penting melalui tulisan dan dapat mengirim berita ke tempat-tempat yang jauh.

  Setelah itu manusia sampai pada penemuan besar pada tahun 1956 yang membawa manusia memasuki zaman elektronik, saat seorang peneliti dari Jerman bernama Jogan Guttenberg menemukan alat pencetak untuk pertama kalinya. Penemuan alat pencetak tersebut menjadi pelopor mesin cetak modern saat ini, disusul oleh penemuan alat komunikasi melalui kawat oleh Alexander Graham Bell pada tahun 1875. Setelah itu dengan adanya satelit Amerika yang bernama Telstar dan satelit Palapa yang mengorbit Indonesia percakapan antar pulau dapat dilakukan tanpa kawat dan siaran televisi dapat ditangkap di seluruh Indonesia.

  Namun penggunaan alat-alat Audio Visual secara modern dalam pendidikan sebenarnya baru dimulai setelah penggunaan film 16mm untuk melatih angkatan perang Amerika Serikat pada saat perang dunia ke II (Amir Hamzah Suleiman, 1981:1-10).

  Oleh karena perkembangan media Audio Visual yang sangat pesat dan penggunaanya sudah meluas dalam kehidupan sehari-hari baik oleh lembaga maupun perseorangan, tidak dapat dipungkiri lagi bahwa saat ini banyak golongan mulai dari anak-anak, remaja, sampai dengan orang tua sudah tidak asing lagi dengan media tersebut, bahkan media tersebut sudah menjadi kebutuhan primer bagi mereka karena berbagai manfaat yang dimilikinya. Melihat kenyataan di atas maka tidaklah pada tempatnya lagi jika penyampaian dalam pendampingan dan pengajaran secara terus menerus masih dilakukan secara verbalistis atau dengan

  3

  tulisan dan kata-kata belaka. Diperlukan inovasi dan variasi dengan mendayagunakan media Audio Visual dalam penyampaian dan penyajian materi untuk meningkatkan minat serta daya tangkap siswa, sehingga membuat praktek pendampingan dan pengajaran menjadi lebih menarik, efektif, dan tidak terkesan membosankan.

  Pada saat ini penyampaian pengajaran di berbagai sekolah formal seperti SD, SMP, dan SMA sudah mulai menggunakan alat-alat Audio Visual seperti proyektor dan televisi yang didukung dengan adanya speaker untuk mengeluarkan gambar dan suara sekaligus. Dalam kelas-kelas sudah terpasang alat-alat tersebut untuk mendukung penyampaian materi yang sudah dikemas secara Audio Visual.

  Minimal ketika alat tersebut tidak terpasang di setiap kelas, mereka telah memiliki beberapa proyektor dan televisi, atau memiliki laboratorium khusus yang mendukung penggunaan media Audio Visual untuk digunakan oleh guru dalam melakukan pendampingan maupun pengajaran. Penggunaan media ini dimaksudkan untuk membantu proses belajar mengajar yang berlangsung di dalammya sehingga pembelajaran menjadi semakin menarik dan efektif.

  Penelitian semasa perang dunia ke II membuktikan bahwa penggunaan media Audio-Visual seperti slide dengan rekaman suara untuk melatih angkatan perang Amerika Serikat mampu meningkatkan efisiensi pengajaran antara 25% sampai dengan 50% (Amir Hamzah Suleiman, 1981:12).

  Di dalam dunia Pendidikan, kita sudah tidak asing lagi dengan istilah Pendidikan Anak Usia Dini atau sering disebut dengan istilah PAUD. Pada dasarnya PAUD adalah upaya pembinaan yang diselenggarakan oleh pemerintah

  4

  khusus untuk anak usia 0 sampai dengan 6 tahun, yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan serta perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan untuk menempuh pendidikan lebih lanjut. Menurut penelitian yang dilakukan oleh para ahli, usia dini merupakan masa emas perkembangan seorang manusia, karena pada masa itu anak sangatlah peka dan sensitif terhadap berbagai rangsangan dan pengaruh dari luar. Seorang anak akan mengalami perkembangan yang sangat drastis mulai dari perkembangan berpikir, perkembangan emosi, perkembangan motorik, perkembangan fisik dan perkembangan sosial. Oleh karena itu usia dini adalah masa yang sangat baik untuk mendidik dan mendampingi anak dengan menanamkan berbagai nilai-nilai positif yang akan membawa anak ke arah yang lebih baik, karena apa yang ditanamkan pada usia dini akan sangat berpengaruh terhadap kehidupan anak di masa depan.

  Kegiatan Pendampingan Iman Anak (PIA) yang sering disebut sebagai ”Sekolah Minggu” adalah suatu bentuk pendampingan dan pengajaran iman sejak usia dini yang dilakukan secara informal, khusus untuk anak-anak beragama Katolik baik yang sudah maupun belum dibabtis. Pendidikan informal adalah jalur pendidikan keluarga dan lingkungan berbentuk kegiatan belajar secara mandiri yang dilaksanakan secara sadar dan bertanggungjawab. PIA dan PAUD sama- sama menyelenggarakan pendidikan untuk anak-anak usia dini, namun kekhasan PIA adalah menekankan ajaran iman katolik. PIA merupakan salah satu sarana pastoral Gereja sebagai perwujudan konkret dari amanat Paus Yohanes XXIII dalam pembukaan Konsili Vatikan II tanggal 11 Oktober 1962 yang antara lain

  5

  menekankan pendidikan keagamaan yang bersifat utama pastoral, Sehingga pewartaan mampu menjawab tuntutan zaman dan merangkum seluruh umat manusia yang terdiri dari jiwa dan badan. Tujuan dari kegiatan PIA tersebut adalah untuk mendampingi dan mengarahkan anak-anak, agar mereka memiliki pribadi yang matang, beriman dewasa, dan mendalam, dengan demikian anak- anak tersebut dapat menjadi orang Katolik yang militan dan dapat diandalkan untuk menghidupi, mengembangkan Gereja, serta mewujudkan kerajaan Allah di masa depan (Hardawiryana, 2008:8).

  Pada dasarnya Pendampingan Iman Anak (PIA) merupakan tanggungjawab orang tua yang merupakan pendidik pertama dan utama bagi anak- anak mereka, namun orang tua juga memerlukan bantuan orang lain untuk mendidik anak-anak mereka, karena terkadang orang tua tidak dapat melakukan pendidikan iman secara maksimal kepada anaknya, dikarenakan kesibukan yang mereka akan pekerjaan atau kurangnya pengetahuan akan iman Katolik.

  Berdasarkan survei yang diadakan oleh Keuskupan Agung Semarang pada tahun 2005, diketahui bahwa banyak orang tua menghabiskan waktunya untuk bekerja sehingga anak kurang terdampingi. Oleh karena itu tujuan diadakannya PIA adalah untuk membantu orang tua Kristiani dalam mendampingi dan membimbing anak-anaknya yang sedang berkembang menuju masa remaja dalam iman dan kepribadiannya secara bertahap dan bertanggungjawab (Komkat KWI, 2008:19-25)

  Menurut Goretti Sugiarti (1999:22) pada umumnya anak-anak yang mengikuti kegiatan Pendampingan Iman Anak (PIA) berusia antara 5-13 tahun.

  6 Mereka adalah anak beragama Katolik baik yang sudah maupun belum dibabtis.

  Biasanya setelah menerima komuni pertama anak-anak tidak mau terlibat lagi dalam kegiatan ini, dikarenakan setelah menerima komuni pertama, banyak anak- anak yang memilih untuk mengikuti kegiatan putra-putri altar atau misdinar. Pertemuan PIA pada umumnya terjadi seminggu sekali dan biasanya dilaksanakan pada hari Minggu. Melalui kegiatan PIA ini anak-anak diajak untuk semakin mengenal Yesus Kristus, mampu mengungkapkan imannya dalam doa, mampu merayakan imannya secara bersama dalam ibadat, mampu menampilkan diri dan hidupnya secara baik dan sebagainya. Perkembangan iman ini dapat terjadi melalui pengenalan Kitab Suci, liturgi Gereja, ajaran Gereja, hidup Menggereja, hidup bermasyarakat dan sebagainya. Dengan harapan anak-anak menjadi pribadi yang matang, beriman dewasa, mendalam dan nantinya akan menjadi generasi penerus Gereja yang militan untuk mengembangkan Gereja dan mewartakan kabar gembira kepada semua orang.

  Dalam praktek pendampingannya, para pendamping PIA menggunakan berbagai media penunjang agar maksud dan tujuan pendampingan dapat tercapai dengan maksimal. Media adalah segala sesuatu yang dapat dipakai untuk membantu mencapai maksud dan tujuan dari proses PIA yang telah direncanakan oleh pendamping. Media tersebut meliputi: media visual, media audio, media audio-visual, media gerak (kinestesis), dan media tiruan benda (replika). Namun dalam penulisan skripsi ini, secara khusus penulis akan membahas mengenai peranan media Audio Visual dalam proses PIA. media Audio Visual adalah media yang

  ”audible” artinya dapat didengar, dan ”visible” artinya dapat dilihat. Media

  7 Audio Visual ini dapat berupa film atau gambar-gambar animasi flash player yang

  berkaitan dengan unsur indrawi telinga dan mata, sehingga mendukung proses pendampingan secara pendangaran dan penglihatan sekaligus. Media ini populer digunakan karena memiliki banyak keunggulan. Salah satu keunggulannya adalah dapat menampilkan gambar dan suara yang dikemas secara menarik, lucu, dan tentunya efektif untuk pendampingan (Komkat KWI, 2008:42).

  Media Audio Visual adalah media yang masih jarang penggunaanya dalam proses Pendampingan Iman Anak (PIA). Terutama dalam pendampingan PIA yang diadakan di lingkungan-lingkungan yang dikelola oleh pengurus lingkungan dengan beberapa pendamping saja. Ini dikarenakan keterbatasan biaya dari para pendamping untuk membeli atau menyediakan media tersebut, karena biasanya PIA yang diadakan di lingkungan-lingkungan hanya memiliki dana yang terbatas.

  Oleh karena masih jarang, maka penggunaan media ini dalam proses PIA perlu dicoba secara berkesinambunggan. Mengingat manfaatnya yang signifikan dalam proses pendampingan. Ini diperkuat oleh penelitian yang dilakukan oleh para ahli bahwa penggunaan media Audio Visual dalam pendidikan dapat meningkatkan efektifitas pendampingan dan pendidikan secara lebih maksimal.

  Penggunaan media Audio Visual yang bersifat positif akan mempengaruhi perkembangan iman dan kepribadiaan anak ke arah yang positif. Anak-anak pada jaman ini sudah sangat akrab dengan sarana Audio Visual seperti televisi,

  

handphone , dan komputer yang mampu menampilkan media Audio Visual dengan

  sangat baik. Film adalah salah satu media Audio Visual yang dapat dengan mudah mereka saksikan melalui sarana tersebut, namun sangat disayangkan jika mereka

  8

  menyaksikan acara-acara atau film dalam televisi yang tidak pantas ditonton oleh karena program-programnya yang kurang mendidik. Pada dasarnya anak-anak dapat secara mudah memahami atau meniru apa yang mereka lihat dalam televisi, ini terbukti karena anak-anak dapat menirukan tokoh-tokoh kartun ataupun trend gaya dalam acara televisi dengan sangat cepat. Anak-anak yang oleh orang tuanya diberikan film Power Ranger, akan sangat berbeda kepribadian dan tingkah- lakunya dengan anak-anak yang oleh orangtuanya diarahkan untuk menonton film rohani, video memasak, ataupun acara musik secara berkesinambungan. Mereka cenderung akan menirukan apa yang mereka tonton dan mengaplikasikannya dalam keseharian mereka. Anak-anak yang menonton film Power Ranger akan tendang sana-tendang sini menirukan tokoh dalam film tersebut, sedangkan anak yang menonton acara menyanyi akan menjadi anak yang gemar menyanyi karena mereka menirukan apa yang dilihatnya. Oleh karena itu media Audio Visual yang dimaksud oleh peneliti cocok untuk digunakan dalam kegiatan PIA adalah media Audio-Visual berupa film dan video yang positif dan mengandung unsur rohani, Seperti film dan video mengenai kisah Cinta kasih yang inspiratif, Kisah Yesus Kristus, kisah Natal, Kisah Santo Santa dan sebagainya sehingga anak-anak mampu berkembang ke arah yang lebih positif setelah melihat tayangan tersebut.

  Paroki Santa Maria Asumpta Gamping adalah Paroki yang berada di Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

  Paroki tersebut memiliki 7 wilayah dengan 30 lingkungan. Wilayah adalah persekutuan lingkungan yang saling berdekatan dengan jumlah antara 3 sampai 8 lingkungan. Lingkungan Santo Agustinus Gancahan I yang digunakan oleh

  9

  penulis dalam peneitiannya terletak di wilayah Santa Maria Gancahan. Berikut ini adalah tabel angota wilayah Santa Maria Gancahan yang beranggotakan 4 lingkungan:

  

Tabel 1. Lingkungan yang Berada di Wilayah Santa Maria Gancahan

No Wilayah Lingkungan

  1 Wilayah Santa Maria Gancahan Lingkungan Santo Agustinus Gancahan I Lingkungan Santo Petrus Gancahan II Lingkungan Santa Maria Gancahan III Lingkungan Santo Yohanes Babtista Sidokarto

  Alasan Penulis memilih lingkungan Santo Agustinus Gancahan I untuk diteliti karena lingkungan tersebut memiliki kegiatan PIA yang masih aktif hingga sekarang. PIA diadakan pada hari Minggu sore dengan jumlah peserta aktif sekitar 30 orang dengan 10 orang pendamping termasuk pendamping senior. jumlah ini berdasarkan data yang saya dapat pada bulan Mei tahun 2013. Dalam pendampingannya para pendamping menggunakan media berupa kertas lipat, gerak, cerita, dan media gambar sedangkan penggunaan media Audio Visual masih jarang dilakukan karena keterbatasan alat penunjang.

  Sebagai pembuka, peneliti akan mencoba memasukan media Audio Visual berupa film rohani untuk menunjang kegiatan PIA ini. Film akan ditayangkan dengan menggunakan proyektor dengan harapan dalam proses PIA anak-anak

  10

  dapat dengan mudah menangkap dan memahami apa yang disampaikan oleh film, karena proyektor memiliki gambar yang besar dan dapat menjangkau seluruh anak sehingga leluasa dilihat dari sudut manapun tanpa harus berdesakan atau berebut untuk menonton, mengingat jumlah peserta yang cukup besar yaitu 30 orang.

  Selanjutnya peneliti akan mulai meneliti secara natural, dalam artian penelitian ditujukan untuk mengetahui keadaan alamiah yang terjadi berkaitan dengan pengunaan media Audio-Visual dalam proses PIA di lingkungan tersebut. Bertolak dari uraian tersebut maka penulis mengambil judul penelitian

MEDIA AUDIO

  VISUAL TERHADAP PROSES “PERANAN

PENDAMPINGAN IMAN ANAK DI LINGKUNGAN SANTO AGUSTINUS

GANCAHAN I PAROKI SANTA MARIA ASSUMPTA GAMPING

YOGYAKARTA

  ”. Diharapkan dari hasil penelitian ini, nantinya penggunaan

  media Audio Visual dapat diterapkan dalam proses Pendampingan Iman Anak (PIA) di lingkungan tersebut secara berkesinambungan.

B. Pembatasan Masalah

  Berdasarkan pemaparan materi di atas, penulis akan membatasi dan memfokuskan masalah hanya pada “Peranan Media Audio Visual Terhadap Proses Pendampingan Iman Anak di Lingkungan Santo Agustinus Gancahan I Paroki Maria Assumpta Gamping Yogyakarta”.

  11 C.

   Rumusan Masalah 1.

  Apakah yang dimaksud dengan Pendampingan Iman Anak (PIA) dan bagaimanakah situasi PIA di lingkungan Santo Agustinus Gancahan I?

  2. Apa yang di maksud dengan media Audio Visual? 3.

  Bagaimana peranan media Audio Visual terhadap proses Pendampingan Iman Anak (PIA) di lingkungan Santo Agustinus Gancahan I? D.

   Tujuan Penulisan 1.

  Menjelaskan tentang apa yang dimaksud dengan Pendampingan Iman Anak (PIA), dan memaparkan tentang situasi PIA di lingkungan Santo Agustinus Gancahan I.

  2. Menjelaskan tentang apa itu media Audio Visual.

  3. Menjelaskan tentang peranan media Audio Visual terhadap proses Pendampingan Iman Anak (PIA) di lingkungan Santo Agustinus Gancahan I secara natural.

E. Manfaat Penulisan

  Manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut: 1.

  Secara teoritis skripsi ini dapat memberikan manfaat untuk mata kuliah Pendampingan Iman Anak (PIA) di Prodi IPPAK.

  2. Bagi pembaca skripsi ini dapat memberikan pemahaman tentang apa yang dimaksud dengan Pendampingan Iman Anak (PIA) dan apa yang dimaksud dengan media Audio Visual.

  12 3.

  Bagi pendamping PIA skripsi ini akan memberi pemahaman tentang sejauh mana peranan media Audio Visual terhadap proses Pendampingan Iman Anak (PIA) dan bagaimana cara penerapannya.

  4. Bagi para orang tua di lingkungan Santo Agustinus Gancahan I skripsi ini akan memberikan pemahaman tentang manfaat media Audio Visual dalam proses Pendampingan Iman Anak (PIA), sehingga dengan mengetahui manfaat tersebut para orang tua akan memberikan dukungan penuh agar kegiatan PIA dengan media Audio Visual di lingkungan tersebut dapat berjalan dengan baik.

  5. Bagi penulis, penulis akan memperoleh pengetahuan dan pengalaman- pengalaman baru tentang peranan media Audio Visual terhadap proses Pendampingan Iman Anak (PIA) di lingkungan Santo Agustinus Gancahan I.

F. Metode Penulisan

  Metode penulisan yang digunakan dalam skripsi ini adalah deskripsi analisis. Yaitu metode yang menggambarkan dan menganalisa data-data yang diperoleh melalui penelitian maupun studi pustaka. Penulis juga terjun langsung dalam kegiatan PIA yang akan diteliti, hal ini sangat penting untuk mendapatkan data-data yang valid.

  13 G.

   Sistematika Penulisan

  Untuk memperoleh gambaran yang jelas mengenai tulisan ini, penulis akan menyampaikan pokok-pokok gagasan sebagai berikut:

  

Bab I Pendahuluan yang meliputi: Latar belakang penulisan, rumusan

  masalah, tujuan penulisan, manfaat penulisan, metode penulisan dan sistematika penulisan.

  Bab II Bab ini dibagi menjadi 2 bagian. Bagian Pertama menjelaskan: Media Audio Visual, Arti Kata Media, Pengertian Media Audio Visual, Yang di Maksud dengan Media Audio Visual, Sejarah Penggunaan Media Audio Visual dalam Pendidikan, dan Jenis-Jenis Media Audio Visual Dalam Pendidikan. Bagian Kedua berisi tentang: Pengertian Pendampingan, Pengertian Iman, Peserta Pendampingan Iman Anak

  (PIA), Pendampingan Anak Dilihat dari Perspektif PAUD. PIA Dilihat dari Segi Pastoral Ajaran Gereja, dan PIA.

  

Bab III Dalam bab ini akan diuraikan mengenai: Gambaran Paoki Maria

Assumpta Gamping Secara Umum, PIA di Paroki Maria Assumpta Gamping, dan Situasi PIA di Lingkungan Santo Agustinus Gancahan I. Selanjutnya akan diuraikan penelitian dan pembahasan mengenai: Peranan Media Audio Visual Terhadap Proses Pendampingan Iman Anak (PIA) di Lingkungan Santo Agustinus Gancahan I, yang

  meliputi: Latar Belakang Penelitian, Tujuan Penelitian, Metode Penelitian, Instrumen Penelitian, Responden Penelitian, Variabel Penelitian, Hasil Penelitian, Pembahasan Hasil Penelitian,

  14 Rangkuman Hasil Penelitian dan Peranan Media Audio Visual

  terhadap Proses Pendampingan Iman Anak di Lingkungan Santo Agustinus Gancahan I berdasarkan hasil penelitian.

  

Bab IV Pada bab ini akan disajikan usulan program untuk menanggapi hasil

  peneitian yang telah dilaksanakan. Yang berisikan hal-hal penting untuk para pendamping, berkaitan dengan peranan Media Audio Visual Terhadap Proses Pendampingan Iman Anak (PIA).

  

Bab V Berisikan kesimpulan dan saran. Bagian kesimpulan akan merangkum

  bab I sampai bab IV. Sedangkan Saran ditujukan kepada paroki setempat, para pendamping Pendampingan Iman Anak (PIA) di lingkungan Santo Agustinus Gancahan I, dan untuk mata kuliah PIA di prodi IPPAK.

  15 BAB II MEDIA AUDIO VISUAL DALAM PROSES PENDAMPINGAN IMAN

ANAK (PIA) A.

   Media Audio Visual 1. Arti Kata Media

  Kata media Berasal dari bahasa latin medium yang secara harafiah berarti “tengah”, “perantara”, atau “pengantar”. Jadi media adalah perantara atau pengantar pesan dari pengirim kepada penerima pesan. Dalam Webster Dictionary (1960), Media atau medium adalah segala sesuatu yang terletak di tengah sebagai sebuah perantara atau penghubung antara dua pihak atau dua hal. Oleh karena itu, media dapat diartikan sebagai sesuatu yang menghantarkan pesan dengan maksud tertentu yang dikirimkan oleh pengirim pesan kepada penerima pesan.

  Gerlach and Ely (1980) menjelaskan bahwa media adalah sebuah grafik, fotografi, elektronik, atau alat-alat mekanik untuk menyajikan, memproses informasi baik visual maupun lisan. Samaldino, dkk (2008) juga menjelaskan bahwa media adalah suatu alat komunikasi dan sumber informasi. Media berasal dari bahasa latin yang brarti “antara”, menunjuk pada segala sesuatu yang membawa informasi antara sumber dan penerima pesan. Media dapat dikatakan sebagai media pembelajaran ketika media tersebut membawakan pesan untuk tujuan pembelajaran,

  Sri Anitah (2009) mengatakan bahwa media adalah setiap orang, bahan, alat, atau peristiwa yang dapat menciptakan kondisi yang memungkinkan bagi pembelajar untuk menerima pengetahuan, ketrampilan, dan sikap tertentu. Setiap

  16

  media (Setiap orang, bahan, alat, atau peristiwa) merupakan sarana untuk menuju ke suatu tujuan, karena media mengandung suatu informasi yang dikomunikasikan kepada orang lain. Informasi tersebut dapat dididapatkan dari buku-buku, rekaman internet, film, dan sebagainya.

  Bertolak dari berbagai definisi di atas dapat disimpulkan bahwa media adalah segala sesuatu yang terletak di tengah sebagai sebuah penghubung antara pengirim pesan dan penerima pesan, dan ketika pesan tersebut mengandung unsur pembelajaran maka disebut sebagai media pembelajaran. Media dapat berwujud manusia, alat-alat mekanik, fotografi gambar, sesuatu yang bersuara, atau gabungan dari suara dan gambar yang sering disebut sebagai media audio visual yang akan dibahas secara khusus oleh peneliti dalam penelitian ini.

2. Pengertian Media Audio Visual

  Media audio visual adalah media yang audible artinya dapat didengar dan media yang visible artinya dapat dilihat. Media audio visual membuat cara berkomunikasi menjadi lebih efektif. Media audio visual dapat menyampaikan pengertian atau informasi dengan cara yang lebih kongkrit daripada apa yang dapat disampaikan oleh kata-kata belaka. Media audio visual membuat suatu pengertian atau informasi menjadi lebih berarti, karena dengan melihat sekaligus mendengar penerima pesan dapat lebih cepat mengerti dan mengingat maksud yang ingin disampaikan oleh pemberi pesan (Amir Hamzah Suleiman, 1981:11).

  Menurut Andre Rinanto (1982:21) media audio visual adalah suatu media yang terdiri dari media visual yang disinkronkan dengan media audio, yang memungkinkan terjadinya komunikasi dua arah antara guru dan anak didik dalam

  17

  proses belajar mengajar. Atau dengan kata lain media audio visual merupakan perpaduan yang saling mendukung antara gambar dan suara, yang mampu menggugah perasaan dan pemikiran bagi yang menonton. Yang termasuk dalam media ini antara lain adalah: acara TV, film, dan video.

  Yudhi Munandi (2010:56) mengatakan bahwa media audio visual adalah media yang melibatkan indera pendengaran dan penglihatan sekaligus dalam suatu proses. Pesan yang disalurkan melalui media tersebut adalah pesan verbal dan non verbal. Pesan verbal dan non verbal yang terdengar dan terlihat itu disajikan dalam wujud program audio visual seperti film dokumenter, drama, dan lain-lain. Dalam pelaksanaanya semua program tersebut disalurkan atau ditayangkan dengan menggunakan peralatan yang mendukung media audio-visual (peralatan audio-visual) seperti komputer, televisi, dan proyektor.

  Melalui pendapat para ahli yang telah dipaparkan di atas dapat disimpulkan bahwa media audio visual adalah media yang melibatkan dua panca indera sekaligus yaitu penglihatan dan pendengaran. Melibatkan indra penglihatan karena media tersebut menampilkan sebuah tayangan baik itu gambar maupun animasi yang dapat dilihat

  “visible”. Melibatkan indra pendengaran karena media

  tersebut mengeluarkan suara yang dapat didengar

  “audible”. Sedangkan media

  audio visual yang digunakan untuk kepentingan pendidikan dan pendampingan adalah media audio visual yang mampu membangkitkan pemikiran dan perasaan bagi yang menonton. Yang termasuk media audio visual ini adalah: Acara TV, Film, dan Video.

  18 3.

   Yang Dimaksud dengan Media Audio Visual

  Sebelum kita mengetahui lebih dalam tentang jenis-jenis media audio visual maka terlebih dahulu penulis akan menjelaskan tentang media audio visual yang dimaksud dalam penelitian ini beserta media yang lain yaitu media audio dan media visual. Sehingga pembaca dapat membedakan antara media audio visual yang dimaksud oleh penulis dengan media audio saja atau media visual saja. Berikut ini adalah penjelasan mengenai media tersebut beserta contoh- contohnya: a.

   Media Audio

  Yang dimaksud dengan media audio adalah segala jenis media yang hanya bisa dinikmati oleh indera pendengar yaitu telinga, dan mampu menggugah imajinasi bagi para pendengarnya. Terdapat beberapa jenis media yang dapat dikategorikan sebagai media audio yaitu: radio, alat perekam berupa pita magnetik, piringan hitam, Compact Disc (CD), dan laboratorium bahasa (Andre Rinanto, 1982 : 43).

  Ciri utama yang dimiliki oleh media ini adalah pesan yang disalurkan dituangkan ke dalam lambang-lambang auditif, baik verbal (bahasa lisan/kata- kata) maupun non verbal (bunyi-bunyian dan vokalisasi seperti gerutuan, gumam, musik, dll).

b. Media Visual

  Media visual ialah semua media yang bisa dinikmati oleh indera penglihatan (mata) dan mampu menimbulkan rangsangan untuk berefleksi.

  19 Misalnya: gambar, lukisan, foto-foto, slide, poster, cergam, alat peraga dan

  sebagainya (Andre Rinanto, 1982:22). Media ini mengandung unsur garis, bentuk, warna, dan tekstur. Garis adalah kumpulan dari titik-titik, dan titik tersebut membentuk berbagai macam jenis garis diantaranya adalah garis horizontal, vertikal, lengkung, lingkar dan zigzag. Sedangkan bentuk merupakan sebuah konsep simbol yang dibangun atas garis-garis atau gabungan garis dengan konsep lainnya, contohnya: hubungan antara garis-garis membentuk gambar buah apel.

  Warna pada media visual digunakan untuk memberi kesan pemisahan dan penekanan, juga untuk membangun keterpaduan dan mempertinggi tingkat realisme pada media tersebut. Sedangkan tekstur dalam media ini digunakan untuk menimbulkan kesan kasar dan halus. Juga untuk memberikan penekanan seperti halnya warna (Azhar Arsyad, 1997:105-108).

  Menurut Amir Hamzah Suleiman (1981:26) media visual ini dibagi menjadi dua, yaitu media visual dua dimensi dan media visual tiga dimensi.

  Pembagian tersebut adalah:

1) Media Visual Dua Dimensi

  Media visual dua dimensi adalah media yang hanya memiliki ukuran panjang dan lebar yang berada pada satu bidang datar. Media dua dimensi memiliki ciri-ciri dimana media ini hanya bisa dilihat dari depan saja dan tidak mengandung unsur audio dan motion (gerakan). Media visual dua dimensi terbagi menjadi dua yaitu:  Media visual dua dimensi pada bidang yang tidak transparan.

  20 Contoh: Papan tulis, gambar di atas kertas atau karton, gambar yang

  diproyeksikan dengan proyektor, gambar sederhana dengan garis dan lingkaran, gambar sketsa, grafik, diagram, wayang, dan, sebagainya  Media visual dua dimensi pada bidang yang transparan.

  Contoh: Slide, Filmstrip, dan lembar transparan untuk overhead projector (OHP).

  2) Media Visual Tiga Dimensi

  Disebut tiga dimensi karena mempunyai ukuran panjang, lebar dan tinggi. Bedanya dangan media visual dua dimensi yaitu media ini tidak hanya dapat dilihat dari depan saja, akan tetapi dapat dilihat dari berbagai sisi, Contoh: Alat peraga dengan berbagai macam sisi, benda asli, model, contoh barang atau specimen, dan alat tiruan sederhana atau mock-up. Termasuk di dalamnya diorama, pameran dan bak pasir.

c. Media Audio Visual

  Media audio visual adalah media yang audible artinya dapat didengar dan media yang visible artinya dapat dilihat. Dalam penggunaanya media audio visual ini dapat dibagi menjadi dua jenis. Jenis yang pertama, adalah media audio visual yang memiliki fungsi suara dan gambar dalam satu unit yang diberi nama media audio- visual murni seperti film (movie) gerak bersuara, televisi dan video. Jenis kedua adalah media audio-visual tidak murni. Media audio visual tidak murni ini terjadi apabila slide, overhead projector (OHP) dan peralatan visual lainnya diberi

  21

  unsur suara dari rekaman kaset atau CD yang dimanfaatkan secara bersamaan dalam satu waktu atau proses pembelajaran. Tetapi hal itu tidak mengubah hakikatnya sebagai tayangan media visual. Karena unsur gambar pada jenis yang kedua ini berupa gambar yang diproyeksikan, maka tayangan gambar tersebut tetap gambar diam (still pictures) tidak bergerak dan termasuk media visual (Yudhi Munandi, 2010:113)

  Amir Hamzah Suleiman (1981:190) mengatakan bahwa yang termasuk golongan media audio visual yang sebenarnya adalah media yang dapat menghasilkan suara dan rupa dalam satu unit. Jika slide diberi rekaman suara melalui rekaman pita kaset, slide yang ditambah dengan suara itu bukan media audio visual lengkap, sebab suara dan rupa terpisah sumbernya. Slide yang demikian merupakan media visual saja. Yang termasuk golongan media audio- visual yang sebenarnya adalah film bersuara dan televisi, karena kedua media tersebut mengkombinasikan fungsi suara dan rupa dalam satu unit. Kombinasi itu disebut sebagai media audio visual murni.

  Pendapat di atas diperkuat oleh Andre Rinanto (1982:48) yang mengatakan bahwa akan lebih baik apabila media audio visual tidak terpisah satu sama lain, tetapi tergabung menjadi satu, dengan begitu kekuatan yang dimilikinya semakin bertambah maksimal. Sehingga semakin mampu merangsang anak untuk berpikir kreatif dan penuh penghayatan.

  Pemahaman tentang media audio visual di atas memunculkan dua definisi yang berbeda yaitu media audio visual murni dan media audio visual tidak murni.

  Namun dalam penelitian ini peneliti mengkhususkan pada penggunaan media

  22

  audio visual murni. Yaitu media audio visual yang dapat menghasilkan suara dan rupa dalam satu unit seperti: film gerak bersuara, televisi, dan video.

4. Sejarah Penggunaan Media Audio Visual dalam Pendidikan

  Sekitar 3000 tahun yang lalu seorang ayah mengajar anaknya menangkap ikan dengan membawanya ke sungai atau laut beserta peralatan untuk menangkap ikan seperti tombak dan jerat. Kemudian sang ayah langsung memperlihatkan bagaimana cara menggunakan tombak dan memasang jala untuk menangkap ikan.

  Begitu pula ketika seorang ibu mengajar anak gadisnya untuk memasak, tidak hanya menggunakan uraian kata-kata tetapi juga langsung menyuruh anak untuk melakukannya dengan mengikutsertakan kelima indra si anak. Pendidik-pendidik Yunani dan Roma jaman dahulu juga membawa murid-murid mereka untuk bertamasya mengamati situasi kehidupan yang sesungguhnya dan menggunakan benda-benda sebenarnya sebagai alat peraga.

  Dunia barat menganggap penggunaan alat visual di sekolah sudah dimulai sejak zaman Comenius, beliau adalah seorang pendidik terkemuka dari Cekoslowakia yang hidup pada abad ke dua belas. Ia mencela teknik mengajar dengan kata-kata semata dan mendesak para pengajar untuk menggunakan gambar untuk melatih akal dari orang yang sedang belajar. Oleh karena itu Cornelius menciptakan buku pelajaran bergambar yang diberi nama

  “Orbis Pictus” artinya

  “Dunia Dalam Gambar” yang didalamnya terdapat 150 gambar. Inilah buku pelajaran bergambar pertama di dunia. Setelah itu Rousseau filsuf bangsa Perancis yang termasyhur menganjurkan adanya pengalaman langsung secara alamiah

  23

  dalam proses pembelajaran. Karena ketika anak memperhatikan alam, secara alamiah akan segera timbul keinginannya untuk menyelidik.

  Media visual seperti gambar, peta, dan bola dunia telah lama digunakan sebelum penggunaan alat-alat audio visual secara modern. Penggunaan media audio visual baru dimulai setelah penggunaan film 16mm membuktikan manfaatnya dalam melatih anggota-anggota angkatan perang Amerika Serikat dalam Perang Dunia Ke II. Dalam pelatihan tersebut terbukti bahwa selain gambar, peta, dan bola dunia, media audio visual seperti slide dengan rekaman suara dan proyektor sanggup meningkatkan efisiensi pengajaran antara 25% sampai 50%. (Amir Hamzah Suleiman, 1981:11)

5. Jenis-Jenis Media Audio Visual dalam Pendidikan dan Kelebihannya a. Film

  Ada film untuk kepentingan hiburan seperti film komersial yang diputar di bioskop-bioskop. Tetapi yang akan kita perbincangkan adalah film sebagai media audio visual untuk pengajaran atau pendampingan. Oleh karena itu penulis akan memaparkan manfaat film sebagai alat bantu untuk pengajaran dan pendampingan. Kelebihan film sebagai media audio visual tidak perlu dipersoalkan lagi. Film memiliki banyak kelebihan, salah satunya adalah memberikan gambaran yang paling mendekati pengalaman yang sebenarnya secara menarik (Amir Hamzah Suleiman, 1981:190)

  Masyarakat sudah tidak asing lagi dengan kehadiran gedung bioskop. Bioskop adalah tempat yang nyaman untuk menonton film, dimana kita dapat

  24

  duduk di kursi yang empuk dan nyaman sambil menonton film kesayangan dengan tampilan jumbo. Film tersebut menampilkan gambar hidup yang mampu memberikan imajinasi hingga menghanyutkan para penonton ke negeri antah berantah. Tidak perlu bersusah payah mengingat pesan yang disampaikan oleh film, karena semuanya sudah diatur dalam alur film tersebut. Setelah film selesai maka dapat dipastikan penonton telah menginggat dan menangkap makna dari film yang telah ditontonnya. Oleh karena itu film merupakan alat yang sangat ampuh untuk membantu proses pembelajaran dan pendampingan secara efektif (Yudhi Munandi 2010:115).

  Berdasarkan definisi diatas dapat dipahami bahwa jika dilihat dari indra yang terlibat, apa yang terpandang oleh mata, dan terdengar oleh telinga. Film lebih mudah diingat daripada apa yang dapat dibaca saja atau hanya didengar saja.

  Kelebihan Film:

   Selain bergerak dan bersuara, sebuah film dapat menggambarkan suatu proses, misalnya: Proses kisah sengsara penyaliban Yesus Kristus.

   Dapat menimbulkan kesan tentang ruang dan waktu.  Mampu menghasilkan gambar tiga dimensi dan suara yang natural, sehingga membuat film menjadi kian realistis dan semakin mampu menghanyutkan para penontonnya.

   Jika film itu tentang suatu pelajaran, maka penonton dapat mendengarkan sekaligus melihat penampilan seorang ahli dalam menjelaskan argumennya.

  25 Kekurangan Film:

   Film bersuara tidak dapat diselingi dengan keterangan-keterangan yang diucapkan selagi film berputar. Memang film dapat dihentikan sementara waktu untuk memberi penjelasan, namun hal itu akan menganggu keasyikan penonton.

   Jalan film terkadang terlalu cepat, tidak semua orang dapat mengikutinya dengan baik. Lebih-lebih jika film yang dipertontonkan sangat berat. Maka dapat dipastikan film tersebut tidak cocok untuk anak-anak, karena mereka tidak akan mampu memahaminya.

   Jika membuat sendiri, biaya pembuatan film tinggi dan peralatannya mahal.

b. Televisi

  Televisi sesungguhnya adalah perlengkapan elektronik yang pada dasarnya sama dengan gambar hidup yang meliputi gambar dan suara. Maka bisa dikatakan televisi sebenarnya sama dengan film, yakni dapat didengar dan dilihat. Media ini berperan sebagai gambar hidup dan juga sebagai radio yang dapat dilihat dan didengar secara bersamaan. Namun Kelebihan Televisi dibandingkan dengan film adalah mampu menampilkan dan menginformasikan kejadian-kejadian yang sebenarnya secara aktual pada saat suatu peristiwa terjadi dengan disertai komentar penyiarnya (Yudhi Munadi 2010:141).

  Omar Hamalik (1985:134)

  “Television is an electronic motion picture

with conjoined or attendant sound; both picture and sound reach the eye and ear

  26

simultaneously from a remote broadcast point” Definisi tersebut menjelaskan

  bahwa televisi sesungguhnya adalah perlengkapan elektronik, yang mampu menampilkan gambar bergerak disertai dengan suara yang dapat dilihat dan didengar secara bersamaan. Televisi mampu menyampaikan kejadian-kejadian sebenarnya secara aktual atau pada saat itu juga (pada saat peristiwa terjadi) disertai dengan komentar-komentar penyiarnya (sering disebut sebagai siaran langsung).

  Berdasarkan definisi para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa televisi

  tayangan yang

  hampir sama dengan film, karena televisi mampu menyajikan mengandung unsur gambar bergerak dan suara yang dapat dilihat dan didengar secara bersamaan. Perbedaanya adalah televisi mampu menyajikan kejadian- kejadian aktual dengan cepat, bahkan saat itu juga disertai dengan komentar penyiarnya.

  Kelebihan Televisi:

   Bersifat langsung dan nyata, serta dapat menyajikan peristiwa yang sebenarnya.

   Memperluas tinjauan kelas, melintasi berbagai daerah atau berbagai negara.

   Dapat menciptakan kembali peristiwa masa lampau.  Dapat menunjukan banyak hal dan banyak segi yang beraneka ragam.  Banyak mempergunakan sumber-sumber dari kejadian di masyarakat.  Menarik minat anak-anak.

  27 Kekurangan Televisi :

   Kelemahan televisi sebagai media pendampingan dan pengajaran, sama halnya yang terjadi dalam film, yakni TV terlalu menekankan pentingnya materi ketimbang proses pengembangan materi tersebut. Kekurangan lainnya yang mencolok adalah sifat komunikasinya yang hanya satu arah.

   Apabila pembelajaran televisi dilakukan dengan cara siaran langsung, maka guru akan mengalami kesulitan dalam mengintegrasikan jadwal siaran televisi dengan jadwal pembelajaran di sekolah. Selain itu pesan yang disampaikan tidak dapat diulang. Namun sekarang, hal tersebut dapat diatasi dengan merekam acara televisi yang cocok menggunakan komputer. Setelah itu guru dapat menggunakan rekaman tersebut sesuai dengan jadwal pelajaran yang ada tanpa harus menyesuaikan.

c. Video

  Cecep Kustandi dan Bambang Sudjipto (2011:73) mengatakan bahwa video sama dengan film, merupakan kumpulan gambar-gambar dalam frame, yang diproyeksikan melalui lensa proyektor secara mekanis untuk menghasilkan gambar yang hidup. video dan film merupakan media yang amat besar kemampuannya dalam membantu proses belajar mengajar

  Pada jaman modern seperti sekarang ini pemutaran video sudah tidak perlu menggunakan proyektor mekanis yang menggunakan mikrovis atau lembaran film transparan sebagai kaset atau media penyimpanan yang diputar secara bergantian untuk menghasilkan gambar hidup yang berkelanjutan. Namun video sudah dapat

  28

  diputar dan disimpan dengan menggunakan media penyimpanan yang sangat ringkas dan murah berupa CD, Flashdisk, atau DVD dengan format HD (High

  

Definition Video), MP4 (MPEG Layer-4 Audio), AVI (Audio Video Interleave)

dan sebagainya.

  Bahkan sekarang sudah terdapat beraneka macam alat-alat yang dapat digunakan untuk membuat video, dari yang mahal sampai yang murah. Sehingga memungkinkan setiap orang untuk membuat media audio visual berupa video dengan sangat mudah. Sebagai contoh pengguna telepon genggam dengan kualitas kamera 2MP sudah mampu menghasilkan video sederhana yang cukup mumpuni dengan format 3gp (3rd Generation Partnership Project) dan MP4 (MPEG Layer-

4 Audio) untuk digunakan dalam pendampingan dan pengajaran, atau

  mengunakan peralatan seperti handycam dan kamera digital untuk menghasilkan video dengan kualitas HD (High Definition Video) yang sudah bisa didapat dengan harga yang murah.

  Kelebihan Video:

   Video dapat menggambarkan suatu proses secara tepat dan dapat disaksikan secara berulang jika diperlukan. Misalnya, proses konsekrasi dalam ekaristi.

   Semua orang dapat belajar dengan menggunakan video, baik yang pandai maupun kurang pandai.

   Video dapat diulangi bila perlu untuk menambah kejelasan.  Video sangat kuat mempengaruhi emosi seseorang.  Video mampu menumbuhkan minat serta motivasi belajar.

  29

   Video dapat menanamkan sikap-sikap dalam segi afektif. Misalnya Film kesehatan yang menyajikan proses berjangkitnya penyakit DBD. Dapat membuat siswa sadar akan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan.

   Video yang mengandung nilai-nilai positif dan reflektif, dapat menarik minat siswa untuk melakukan pembahasan dengan berdiskusi secara kelompok.

   Video dapat mengatasi keterbatasan jarak dan waktu, video yang memakan waktu pembuatan hingga satu minggu dapat ditampilkan dalam satu atau dua menit. Misalnya bagaimana proses mekarnya bunga mulai dari munculnya kuncup bunga hingga bunga itu mekar.

   Dengan menggunakan Video penampilan para siswa dapat direkam dan diulang kembali untuk dievaluasi.

  Kekurangan Video:

   Video yang tersedia tidak selalu sesuai dengan kebutuhan dan tujuan belajar yang diinginkan. Namun jika tidak ada video yang cocok dimungkinkan untuk membuat video sendiri dengan alat yang saat ini sudah dapat didapatkan dengan harga yang murah dan tersebar secara luas di pasaran.

6. Rangkuman

  Media audio visual adalah media yang audible artinya dapat didengar dan artinya dapat dilihat. Media ini melibatkan indra penglihatan dan

  visible

  30

  pendengaran sekaligus dalam suatu proses. Ada dua jenis media audio visual yaitu media audio visual murni dan tidak murni. Media audio visual murni adalah media yang menghasilkan suara dan rupa dalam satu unit, yang termasuk media audio visual murni adalah film gerak bersuara, acara televisi dan video.

  Sedangkan media audio visual tidak murni adalah media yang suara dan rupa terpisah sumbernya. Media audio visual tidak murni ini terjadi apabila slide, tampilan overhead projector (OHP) atau peralatan visual lainnya diberi unsur suara baik dari CD maupun kaset yang dimanfaatkan secara bersamaan dalam sebuah proses pembelajaran, seperti slide yang ditambah dengan suara.

  Keunggulan media audio visual adalah membuat suatu pengertian dan informasi menjadi lebih berarti, karena media ini mampu menyampaikan informasi dengan cara yang lebih kongkrit daripada apa yang dapat disampaikan oleh kata-kata saja. Selain itu dengan melihat sekaligus mendengar penerima pesan akan mudah dan cepat mengerti maksud yang ingin disampaikan oleh si pemberi pesan.

  Dalam penelitian ini, peneliti megkhususkan pada penggunaan media audio visual murni yaitu media yang dapat mengeluarkan suara dan rupa dalam satu unit dalam peranannya terhadap proses Pendampingan Iman Anak (PIA) di Lingkungan Santo Agustinus Gancahan I.

  31 B.

   Pendampingan Iman Anak (PIA)

  Untuk menguraikan tentang Pendampingan Iman Anak (PIA), terlebih dahulu penulis akan menjabarkan mengenai arti pendampingan secara umum, yang didalamnya terdapat arti pendampingan, ciri khas pendampingan, dan tujuan pendampingan. Serta penjelasan mengenai iman yang didalamnya terdapat pengertian iman secara umum, dan pengertian iman Kristiani. Selanjutnya penulis akan menjelaskan tentang siapa saja peserta yang mengikuti kegiatan PIA, dilanjutkan dengan penjelasan mengenai kegiatan PIA dilihat dari perspektif PAUD danperspektif ajaran iman Gereja, dan yang terakhir penulis akan menjelaskan mengenai PIA.

1. Pendampingan a. Arti Pendampingan

  Pendampingan berasal dari kata dasar “damping”. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, damping mempunyai arti dekat, karib, atau akrab. Sedangkan arti kata “mendampingi” dalam pendampingan diartikan sebagai “menyertai” (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2005:234).

  Berdasarkan definisi di atas dapat dipahami bahwa pendampingan merupakan suatu kedekatan yang akrab seperti seorang sahabat dekat sehingga dalam pendampingan senantiasa tercipta suasana yang hangat. Selain itu Pendampingan dapat diartikan sejajar atau tidak ada atasan dan bawahan. Terjadi kesetaraan, kerjasama, dan kebersamaan antara yang mendampingi dan didampingi untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam pendampingan tidak ada

  32

  senioritas ataupun penggojlokan, yang ada adalah kerjasama timbal balik untuk meraih tujuan yang sudah direncanakan.

  b. Ciri Khas Pendampingan

  Pendampingan mempunyai ciri khas bahwa seseorang yang didampingi atau mendapatkan pendampingan merupakan pribadi yang bebas dan berdiri sendiri. Mereka bukanlah penerima yang pasif yang dapat menerima materi dan menelan mentah-mentah apa yang diberikan oleh pendamping. Oleh karena itu pendamping harus dapat menciptakan suasana yang menyenangkan dan kekeluargaan sehingga tercipta kesejajaran antara pendamping dan peserta.

  Kesejajaran berarti tidak ada atasan dan bawahan, sehingga terjadi kesetaraan, kerjasama, dan kebersamaan yang harmonis antara pendamping dan yang didampingi. Selain itu pendamping merupakan alat yang dapat menolong peserta dalam mengembangkan potensi mereka, sehingga orang lain dapat tumbuh dan mengembangkan potensi yang dimilikinya dengan baik (Mayerof, 1993:53).

  c. Tujuan Pendampingan

  Pendampingan bertujuan untuk membantu seseorang dalam mendapatkan ilmu pengetahuan, informasi, kecakapan, sikap, perbuatan, dan perilaku hidup memadahi dalam segi-segi pokok yang berhubungan dengan hidup pribadi, kebersamaan dengan orang lain, dan peran mereka dalam masyarakat, bangsa, dan dunia. (Mangunhardjana, 1986 : 26).

  33 Berdasarkan tujuan pendampingan di atas dapat dipahami bahwa

  pendampingan merupakan suatu kegiatan yang bertujuan untuk membantu seseorang meningkatkan kualitas pribadinya dengan memberikan sesuatu yang positif dan bermanfaat. Seperti menambah pengetahuan, meningkatkan kecakapan, peningkatan dalam segi sikap dan perilaku kearah yang lebih baik.

  Selain itu kegiatan ini juga akan meningkatkan relasi kebersamaan dengan sesama teman yang mengikuti pendampingan. Kebersamaan dan relasi ini akan membuat mereka mudah bergaul dan tidak minder untuk berteman, sehingga pada pergaulan yang lebih luas nanti mereka sudah tidak canggung lagi. Sikap-sikap seperti ini hendaknya dipupuk sejak dini dalam Kegiatan Pendampingan Anak (PIA). Untuk itu tujuan pendampingan sangat penting diketahui oleh pendamping, agar pendamping tahu ke arah mana peserta pendampingan akan diarahkan. Sehingga pendamping dapat melakukan persiapan yang matang berdasarkan tujuan pendampingan tersebut.

2. Iman a. Pengertian Iman Secara Umum

  Menurut Amalorpavadas (1972:17) iman adalah pertemuan pribadi yang mendalam dengan Allah yang hidup, di mana manusia menyerahkan diri dengan penuh cinta kepadaNya. Dengan demikian iman pertama-tama merupakan suatu peristiwa hubungan atau perjumpaan secara pribadi antara manusia dengan Allah. Jadi dapat dikatakan bahwa iman merupakan pertemuan pribadi yang mendalam dengan Allah yang hidup di mana terjadi suatu penerimaan akan

  34

  kehadiran Allah dan penyerahan diri seutuhnya kepada kehendak Allah atas hidup kita.

  Dalam buku ilmu kateketik dikatakan bahwa seorang beriman adalah: Orang yang menerima dan mau tunduk serta berserah kepada Allah, mempercayakan diri sungguh kepada Allah, menerima bahwa Allah adalah kebenaran, Menaruh sandaran kepada-Nya dan bukan dirinya sendiri, dan dengan demikian menjadi teguh dan benar oleh karena keteguhan dan kebenaran Allah.

  Beriman disini berarti menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah. Manusia akan mencapai iman yang mendalam ketika manusia membangun komitmen dan berserah diri seutuhnya kepada Allah. Menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya adalah kehendak-Nya. Apabila manusia membiasakan diri untuk berdoa dan berbuat sesuai dengan kehendak Allah maka hidupnya akan semakin terarah pada kebaikan dan akan senantiasa beroleh keselamatan. Maka dapat disimpulkan: seseorang dikatakan beriman bila percaya, berkomitmen, dan menyerahkan dirinya sepenuhnya kepada Allah, sehingga ia akan senantiasa hidup seturut kehendaknya dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

b. Pengertian Iman Kristiani

  Iman adalah hubungan antara manusia dengan Allah sang pencipta yang menuju pada keselamatan. Iman adalah sesuatu yang sangat penting yang akan menuntun manusia ke arah yang lebih baik. Dalam iman perlu diketahui bahwa:

1) Iman sebagai Jawaban Manusia atas Wahyu Allah

  Allah mewahyukan diri-Nya kepada manusia lewat perjalanan sejarah melalui perantaraan para nabi dan setelah berkali-kali mengalami kegagalan, akhirnya Allah mengutus Putra-Nya yaitu Yesus Kristus (DV 4).

  35 Yesus Kristus adalah sabda yang menjadi daging. Yesus Kristus merupakan perantara dan kepenuhan seluruh wahyu Allah yang maha tinggi.

  Melalui Yesus Kristus, Allah yang tidak kelihatan dengan cinta kasihnya menyapa manusia dan bergaul dengan mereka untuk membebaskan manusia dari kegelapan dosa dan maut. Maka barang siapa melihat Yesus Kristus maka melihat Allah juga (DV 2)

  Allah mewahyukan dirinya dalam diri Yesus Kristus yang merupakan jalan kebenaran dan hidup. Melalui Yesus Kristus Allah turun ke dunia untuk menjumpai dan berinteraksi dengan manusia yang dinyatakan dalam misteri Tritunggal Maha Kudus. Dalam karyanya Yesus Kristus mewartakan kabar gembira untuk membebaskan manusia dari kegelapan dosa dan maut. Barang siapa mengikuti Dia maka akan beroleh hidup yang kekal (DV 4).

  Maka ketika manusia secara bebas dan tanpa paksaan menjadi percaya dan berkomitmen untuk mengikuti Yesus Kristus sebagai jalan kebenaran dan hidup, tindakan tersebut merupakan jawaban manusia atas wahyu Allah yang hadir secara nyata di dalam diri Yesus Kristus.

2) Iman sebagai Penyerahan Diri Manusia kepada Allah

  Oleh karena cinta kasihnya yang begitu besar kepada umat manusia, Allah mewahyukan diri-Nya kepada manusia dengan mengutus Putra-Nya, yakni sabda kekal yang tinggal di tengah umat manusia untuk menyinari semua orang dan akan bercerita kepada mereka tentang hidup Allah yang terdalam. Yesus Kristus merupakan sabda yang menjadi daging, dan

  36

  merupakan kepenuhan wahyu Allah. Barang siapa melihat Yesus berarti melihat Bapa juga (DV 4). Melalui dokumen tersebut tampak bahwa Allah begitu baik kepada manusia sehingga rela memberikan Putra Tunggal-Nya untuk menebus dosa manusia. Yesus Kristus adalah Putra tunggal Allah yang merupakan perantara agar manusia dapat bersatu dengan Allah. Kebaikan Allah tampak dalam diri Yesus Kristus sebagai pemenuhan janji Allah. Oleh karena itu manusia wajib membalas kebaikan Allah tersebut melalui ketaatan iman dengan menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah.

  Kepada Yesus Kristus diberikan segala kuasa di surga dan di bumi.Dari dialah para Uskup sebagai pengganti para rasul menerima tugas pengutusan mengajar segala bangsa dan mewartakan injil kepada semua makhluk. Maksudnya, supaya semua memperoleh keselamatan dengan iman, pembabtisan dan pelaksanaan perintah- perintah ilahi (bdk. Mt 28, 18-20;Mk 16, 15-16; Kisah 26, 17 dst.) (LG 24 A) Satu-satunya perantara dan jalan keselamatan ialah Kristus, yang hadir di antara kita di dalam Tubuhnya, yaitu Gereja. Dengan menandaskan jelas-jelas perlunya iman dan pembabtisan. Bdk. Mk 16, 16; Yo 3,5) (LG 14). Penyerahan diri tidak berhenti pada pembabtisan saja. Penyerahan diri bukanlah setengah-setengah, melainkan menyerahkan diri sepenuhnya kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan. Penyerahan diri sepenuhnya dapat diwujudkan dengan senantiasa menjadikan Yesus sebagai andalan dalam hidup, meneruskan karya-Nya di dalam dunia ini, menjalankan perintah-Nya serta menjauhi larangan-Nya.

  Penyerahan diri kepada Allah harus dilakukan secara suka rela tanpa paksaan apapun. Konsili suci telah menegaskan hal tersebut, yang terungkap dalam dokumen Konsili Vatikan II, yaitu Dokum en tentang “Wahyu Ilahi” (DV 5) yang berbunyi:

  37 Kepada Allah yang menyampaikan wahyu manusia wajib

  menyatakan “ketaatan iman” (Rom 16, 26; bdk. Rom 1,5; 2 Kor 10, 5-6). Dengan beriman manusia menyerahkan dirinya kepada Tuhan secara bebas; ia tunduk ‘dengan akal budi dan kehendak sepenuhnya kepada Tuhan Yang menyampaikan wahyu itu’ (Konsili Vatikan I) dan mengakui dengan rela wahyu yang diberikan olehNya.

  Mengapa G ereja menekankan tindakan “bebas” atau tanpa paksaan dalam beriman? Karena penyerahan secara suka rela dan bebas merupakan salah satu pokok utama dalam ajaran iman Katolik. Ini tercantum dalam dokumen yang terdapat pada Katekismus Konsili Vatikan II. Yang menyatakan bahwa:

  Salah satu pokok utama dari ajaran katolik mengatakan bahwa jawaban iman yang diberikan kepada Tuhan harus bersifat sukarela. Jadi tak seorang pun boleh dipaksa melawan kemauannya sendiri untuk beriman. Ajaran ini dimuat dalam sabda Ilahi dan terus menerus diwartakan oleh para Bapa Gereja. Komitmen manusia untuk percaya dan mengikuti Yesus serta berlanjut pada penyerahan disi sepenuhnya kepada Yesus merupakan tindakan yang memberikan banyak karunia dan keselamatan. Dalam konteks Pendampingan Iman Anak (PIA) hal ini perlu menjadi perhatian khusus.

  Karena anak-anak adalah masa depan Gereja, maka Sejak usia dini anak-anak perlu diarahkan untuk semakin mengembangkan imannya dengan semakin mengenal dan mencintai Yesus dan Gerejanya, agar pada saat dewasa nanti mereka akan semakin mencintai Iman Kristiani dan Gereja-Nya serta semakin terdorong untuk menjadi orang katolik yang militan untuk mengembangkan Gereja di masa depan.

  38 3.

   Peserta Pendampingan Iman Anak (PIA)

  Peserta Pendampingan Iman Anak (PIA) biasanya adalah anak-anak berumur 5-13 tahun, atau seusia anak TK sampai dengan kelas II SLTP. Karena anak-anak pada rentang usia tersebut sudah diangap matang untuk bersekolah dan bergaul bersama teman-temannya (Goretti Sugiarti, 1999:22).

  Dalam Pendampingan Iman Anak (PIA) peserta biasanya terdiri dari anak- anak usia 5 sampai dengan 13 tahun, atau dari anak yang duduk di bangku TK sampai dengan SLTP. Menginggat pada usia ini mereka sudah dianggap mampu untuk bersosialisasi dan bergaul denagan baik. Oleh karena peserta PIA terdiri dari berbagai tingkatan umur, maka dalam pelaksanaan pendampingan, seorang pendamping dituntut untuk dapat memahami anak dengan baik, sehingga pendampingan dapat berjalan secara maksimal dan anak-anak dapat memperoleh manfaat yang maksimal atas pendampingan tersebut.

  Dalam Buku Dasar-dasar Pendampingan Iman Anak (PIA) Komkat KWI (2008:17) Pendidikan Iman Anak yang terjadi dalam kegiatan PIA dibedakan dalam kategori usia 2-6 tahun dan usia 6-10 tahun. Kategori ini berdasarkan dari tingkat perkembangan diri anak itu sendiri, baik yang menyangkut fisik, psikis, minat, pengertian.Perilaku, agama, dan sebagainya. Karena masing-masing anak dalam kategori usia memiliki kebiasaannya sendiri.

4. Pendampingan Anak diihat dari Perspektif PAUD

  Menurut NAEYC (National Association for the Education of Young

  

Children), Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dimulai pada saat kelahiran

  39

  hingga anak berusia delapan tahun. Di rentang usia ini Anak mengalami perkembangan yang menyeluruh mencakup semua aspek. Bantuan orang dewasa akan membantu seorang anak dalam masa perkembangannya. Maka perhatian lebih dari orang dewasa sangat dibutuhkan demi tersukseskannya hal tersebut.

  Sementara itu menurut Undang-undang RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Bab 1 ayat 14, Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) adalah:

  Suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia 6 tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut. Danar Santi (2009:11) mengatakan bahwa PAUD merupakan salah satu bentuk penyelenggaraan pendidikan yang menitik beratkan pada peletakan dasar ke arah pertumbuhan dan perkembangan fisik, kecerdasan, Sosio-emosional, bahasa dan komunikasi, sesuai dengan keunikan dan tahap-tahap perkembangan yang dilalui oleh anak usia dini. Terdapat dua dasar penyelenggaraan pendidikan anak usia dini yaitu:  Tujuan Utama: Membentuk anak Indonesia yang berkualitas, yaitu anak yang tumbuh berkembang sesuai dengan tingkat perkembangannya, sehingga memiliki kesiapan yang optimal dalam mengarungi pendidikan dasar serta mengarungi kehidupan di masa dewasa.

   Tujuan penyerta: Membantu menyiapkan anak mencapai kesiapan belajar (akademik) di sekolah.

  40 Mengapa diperlukan pendidikan usia dini? Karena usia dini merupakan

  masa emas perkembangan seorang manusia, karena pada saat itu terjadi lonjakan perkembangan yang sangat pesat sekali pada seorang anak. Perkembangan yang sangat pesat tersebut mencakup semua aspek seperti kecerdasan, moral-spiritual, fisik-motorik, sosial emosional, koknitif, bahasa, dan estetika. Bahkan keberhasilan pendidikan dalam masa keemasan ini sangat menentukan dan berpengaruh bagi perkembangan anak selanjutnya.

  Pada dasarnya pendidikan anak tidak bisa dilepaskan dari tanggungjawab dan peran orang tua sebagai pendidik pertama dan utama. Namun pada saat ini banyak orang tua yang menitipkan anak mereka ke lambaga-lembaga prasekolah agar mereka memperoleh Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) secara lebih optimal. Tindakkan ini tidak hanya didasarkan pada kekurangmampuan atau kesibukan orang tua belaka, sehingga tidak mampu mendidik dan mendampingi anaknya setiap hari, melainkan karena orang tua juga menginginkan jaminan pendidikan yang lebih baik untuk anak-anaknya, tetapi dalam pelaksanaannya PAUD tetap bekerjasama dengan orang tua dalam mendidik anak-anaknya, karena PAUD tidak bisa mengawasi anak secara terus menerus selama 24 jam, maka kerjasama dengan orang tua sangatlah dibutuhkan.

  Dalam penyelenggaraanya Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dapat muncul dalam berbagai bentuk tergantung bagaimana keyakinan dan teori yang dijalankan oleh lembaga pendidikan maupun perkumpulan yang membentuk sebuah wadah untuk anak, agar mereka dapat memperoleh pendidikan sedini mungkin dan terdampingi secara maksimal. misalnya istilah BIA-PAUD, PIA,

  41 Dll. Namun intinya sama yaitu mendampingi anak usia dini untuk menuju ke

  perkembangan yang lebih baik. Mengingat usia dini merupakan waktu yang sangat baik bagi seorang anak untuk dibimbing atau diarahkan menjadi manusia seutuhnya agar mampu berkembang secara maksimal di masa depan.

  Dalam Pendidikannya anak usia dini hendaknya mendapatkan gizi sebagaimana mestinya, karena asupan gizi juga berpengaruh terhadap perkembangan otak anak. Selain itu dukungan dari orang tua juga tidak kalah pentingnya, misalnya perhatian yang baik dari orang tua dalam memberikan stimulus pada anak. Dengan begitu anak akan mengalami pembentukan yang baik. Anak pada usia dini ibarat sebuah batang pohon, yang masih bisa “diluruskan” ketika masih muda. Sebab jika nanti sudah tua dan keras akan susah untuk diluruskan karena batangnya sudah lebar dan kuat.

5. Pendampingan Iman Anak (PIA) dari Segi Pastoral Ajaran Gereja

  Anak adalah anugerah Allah yang tertinggi dan paling mulia bagi orang tua, Gereja dan bangsa. Oleh karena itu, pasti orang tua ingin mewariskan sesuatu yang lebih baik kepada anak-anaknya.

  Para suami isteri kristiani dengan sakramen perkawinan menandakan misteri kesatuan dan cintakasih yang subur antara Kristus dan Gereja, dan ikut serta menghayati misteri itu (Bdk. Ef 5:32); atas kekuatan sakramen mereka itu dalam hidup berkeluarga maupun dalam menerima serta mendidik anak- anak saling membantu untuk menjadi suci;… Sebab dari persatuan suami isteri itu tumbuhlah keluarga, tempat lahirnya warga- warga baru masyarakat, manusia, yang berkat rahmat Roh Kudus karena babtis diangkat menjadi Anak-anak Allah, untuk melestarikan umat Allah dari abad ke abad. Dalam keluarga itu hendaknya orangtua dengan perkataan maupun teladan menjadi pewarta iman yang pertama bagi anak- anak mereka masing-masing, secara istimewa panggilan rohani (LG 11).

  42 Dokumen ini ingin menyampaikan ajaran Kristiani mengenai sakramen perkawinan dalam hidup berkeluarga yang menuntut adanya tanggungjawab.

  Penekanan tanggungjawab terletak pada kewajiban orang tua untuk mendidik anak-anaknya, dan peranan mereka dalam hidup menggereja. Serta disampaikan mengenai unsur-unsur mendasar tentang misteri iman yang mendasari sakramen tersebut.

  Orang Tua, Karena telah memberi Hidup kepada anak-anaknya, terikat kewajiban yang sangat berat dan mempunyai hak untuk mendidik mereka, Maka dari itu adalah pertama-tama tugas orang tua Kristiani untuk mengusahakan pendidikan Kristiani bagi anak-anak mereka menurut ajaran yang diwariskan gereja (Kan. 226, par. 2).

  Melalui perkawinan timbulah keluarga sebagai tempat lahirnya warga- warga baru. Anugrah yang terindah dalam sebuah perkawinan adalah hadirnya seorang anak atau momongan, karena dengan kehadiran anak maka kebahagiaan terasa semakin lengkap. Namun orang tua yang telah memberi hidup kepada anak-anaknya memiliki tanggungjawab untuk mengusahakan pendidikan kristiani sejak dini kepada anak-anaknya. Hal ini dapat dimulai dengan mengajarkan hal-hal yang sederhana, misalnya mengajari anak untuk berdoa, memperkenalkan anak dengan iman kristiani, dan memberi teladan hidup yang baik dari perkataan dan perbuatan sesuai dengan ajaran iman kristiani.

  Pembinaan iman anak memiliki tempat yang strategis dalam kehidupan menggereja. Anak dalam keluarga adalah sebuah “gereja domestik” (ecclesia

  

domestica) yang merupakan generasi penerus untuk masa depan Gereja. Karena

  kelangsungan hidup Gereja sangat ditentukan oleh pembinaan generasi muda yang dipersiapkan sejak masa anak-anak. Oleh karena itu Gereja menempatkan

  43

  keluarga sebagai unsur yang sangat penting dalam persekutuan jemaatnya. Maka anak-anak perlu mendapat tempat pertama dan utama dalam pembinaan iman mereka (Komkat KWI, 2006:5).

  KHK (Kan. 867, par. 2) secara khusus menekankan kepada para orang tua katolik untuk menjamin bahwa sejak dini hingga dewasa nanti anak akan dididik dalam agama katolik. jika tidak maka babtis hendaknya ditunda.

  “Ada harapan cukup mendasar bahwa anak itu dididik dalam agama katolik, bila harapan itu tidak ada, babtis hendaknya ditunda menurut ketentuan hukum partikular, dengan memperingatkan orangtuanya mengenai alasan itu

  ” (Kan 867, par. 2). Maka di dalam keluarga, hendaknya anak mulai dibimbing secara sederhana untuk mengenal Allah dengan mengucapkan doa-doa, dan mendengarkan sabda yang sudah disederhanakan dengan benar. Karena apa yang didapat pada masa anak-anak sangat menentukan iman anak di masa depan.

  ”Suatu masa yang sering menentukan sekali ialah masa kanak-kanak menerima unsur-unsur pertama katekese dari orangtuanya dan lingkungan keluarga ” (CT 36).

  Hal ini diperkuat oleh surat dari Paus Yohanes Paulus II, Familiaris

  Consortio tentang peranan Keluarga Kristen dalam Dunia Modern, 22 November

  1981, art. 14, bdk GS 50, Mengenai pentingnya pendidikan anak-anak sejak usia dini yang mengatakan bahwa ”Menurut rencana Allah pernikahan mendasari rukun hidup keluarga yang lebih luas, sebab lembaga pernikahan sendiri dan cinta kasih suami isteri tertunjukkan kepada timbulnya keturunan dan pendidikan anak-anak, yang merupakan mahkota mereka

  ”.

  44 Dari dokumen-dokumen Gereja di atas dapat disimpulkan bahwa

  pendidikan Iman sejak dini merupakan hal yang sangat penting bagi Gereja, karena anak merupakan anugrah terindah yang diberikan oleh Allah kepada keluarga Kristiani yang hendaknya dimuliakan di dalam keluarga, selain itu anak merupakan masa depan Gereja yang menentukan kelangsungan hidup Gereja di masa depan. Oleh karena itu perlu diperhatikan mengenai pendidikan iman sejak usia dini. Dalam janji perkawinan sudah terucap secara jelas bahwa orang tua sanggup mendidik anaknya secara katolik, oleh karena itu tidak ada alasan bagi orang tua untuk melalaikan tugasnya dalam mengusahakan pendidikan Iman sejak dini bagi anak-anaknya.

6. Pendampingan Iman Anak (PIA) a. Sejarah Pendampingan Iman Anak (PIA)

  PIA merupakan singkatan dari “Pendampingan Iman Anak” yang dahulu dikenal sebagai

  “Sekolah Minggu”. Asal kata Sekolah Minggu berasal dari bahasa inggris

  “Sunday School” yang berarti “Sunday” adalah hari pertama

  dalam minggu yang juga merupakan hari istirahat dan hari ibadah bagi orang Kristen, sedangkan

  “School” artinya lembaga formal yang menangani

  pendidikan Sunday School dan merupakan suatu kegiatan yang dihadiri oleh anak-anak dan pelaksanaanya berlangsung di gereja dengan tujuan untuk mengikuti pelajaran agama (Kursus PIA, 2001 : 8).

  Sekolah Minggu pertama kali diadakan oleh Robet Raikes yang lahir di inggris pada tanggal 14 September 1735. Dalam kesehariannya Robert suka

  45

  menolong orang-orang yang miskin dan berada di penjara. Ia mengupayakan dana untuk menolong orang-orang yang ada di penjara agar mereka mendapatkan peningkatan kondisi kesehatan, dan perlakuan lebih manusiawi. Selain itu dia juga mengadakan pembinaan bagi mereka semua.

  Robert melihat, tindak kejahatan terjadi karena rendahnya pendidikan. Saat itu sekolah yang tersedia hanya diperuntukkan bagi mereka yang mempunyai dana besar untuk biaya sekolah. Anak-anak yang tidak berpendidikan karena tidak mampu bersekolah akhirnya menjadi liar, bertindak semaunya, dan melakukan tindakan kejahatan. Sedangkan orang tua harus bekerja selama 6 hari dalam seminggu, dan hanya memiliki libur pada hari Minggu sehingga pengawasan, perhatian, serta pendidikan bagi anak-anak kurang begitu diperhatikan. Melihat kondisi yang terjadi, Robert merasa prihatin dan mencoba untuk mengumpulkan anak-anak miskin khususnya bagi mereka yang tidak bersekolah pada hari Minggu.

  Robert mengumpulkan anak-anak di gereja dan mengajarkan kepada mereka berbagai hal, salah satunya adalah pelajaran agama, selain itu Robert juga mengajarkan anak-anak untuk menulis dan membaca. Dengan apa yang dilakukan oleh Robert, Banyak orang tertarik dan mendukung usahanya. Selain itu Robert juga menggunakan rumahnya sebagai tempat belajar dan Robert juga mencari seorang guru wanita untuk mengajar anak-anak itu pada hari minggu.

  Sekolah Minggu terus berjalan dan tiga tahun kemudian di berbagai tempat juga diadakan Sekolah Minggu lain dengan model yang sama seperti dilakukan oleh Robert Raikes. Bertahun-tahun kemudian, kegiatan ini berkembang menjadi

  46

  sekolah yang dilakukan setiap hari secara cuma-cuma bagi anak-anak yang miskin pada masa itu (Ruth S. Kadarmanto, 2004 : 26).

  Kegiatan sekolah minggu yang diadakan oleh Robet Raikes tersebut merupakan cikal bakal kegiatan Sekolah Minggu saat ini atau yang sekarang ini disebut sebagai kegiatan Pendampingan Iman Anak (PIA). Memang tanggungjawab pertama dan utama pendidikan iman anak terletak pada orang tua, namun karena kesibukan orang tua, dan terkadang pengetahuan orang tua akan iman Katolik juga terbatas maka orang tua juga membutuhkan bantuan orang lain dalam mendidik anaknya. Berkenaan dengan hal itu Pendampingan Iman Anak (PIA) merupakan jawaban yang tepat untuk menjawab permasalahan tersebut.

b. Kekhasan Dasar dan Tujuan Pendampingan Iman Anak (PIA) 1) Kekhasan Pendampingan Iman Anak (PIA)

  Pendampingan Iman Anak (PIA) adalah salah satu bentuk pendampingan yang dilakukan untuk membimbing dan mengembangkan hidup anak, terutama dalam iman khusus untuk anak beragama Katolik. Anak-anak yang mengikuti kegiatan Pendampingan Iman Anak (PIA) Pada umumnya berusia antara 5-13 tahun, dan diikuti oleh anak-anak baik yang sudah maupun belum dibabtis. PIA biasanya dilaksanakan pada hari Minggu. Ini dikarenakan pada hari Minggu sekolah libur dan anak-anak bisa mengikuti kegiatan PIA dengan maksimal. Lama waktu pendampingan antara satu sampai dua jam.

  Kegiatan PIA memiliki ciri khas santai namun mendalam, yaitu menyenangkan,

  47

  menarik, tidak terlalu serius, tetapi selalu ada inti yang mendalam dari setiap pertemuannya (Gorreti Sugiarti, 1999:22).

2) Dasar Pendampingan Iman Anak (PIA)

  Pendampingan Iman Anak (PIA) adalah suatu bentuk usaha untuk membantu mengembangkan iman anak melalui pendampingan informal. Pada dasarnya PIA merupakan tanggung jawab orang tua yang merupakan pendidik yang pertama dan utama bagi anak-anaknya, namun orang tua juga memerlukan bantuan orang lain untuk mendidik anak-anak mereka. Hal ini diperkuat oleh survei yang dilakukan oleh Keuskupan Agung Semarang pada tahun 2005 yang menemukan permasalahan bahwa banyak orang tua menghabiskan waktunya untuk bekerja sehingga anak kurang terdampingi.

  Gereja melihat bahwa kehidupan kaum muda dan anak-anak sangat memprihatinkan. Hal ini mendorong Gereja membentuk kelompok untuk memberikan pendampingan iman bagi anak-anak, sehingga iman dalam diri anak-anak semakin diperkuat. Karena pendampingan ini sangat menentukan kehidupan anak di masa depan, baik yang menyangkut kehidupan pribadi, kehidupan sosial, kehidupan beriman, maupun panggilan hidupnya (Komkat KWI, 2008: 22-23).

  Kegiatan Pendampingan Iman Anak (PIA) yang dicita-citakan oleh Gereja bukanlah kegiatan PIA yang tanpa dasar, melainkan memiliki dasar-dasar yang kokoh sebagai awal pijakan demi tercapainya impian yang sudah dicita- citakan. Dasar-dasar tersebut adalah:

  48

a) Dasar Biblis/Kitab Suci

  Pendapingan iman anak merupakan cita-cita yang dikehendaki Kristus sendiri. Ini dapat dilihat dari teks dalam injil Lukas 18:15-17 yang berbunyi:

  Maka datanglah orang-orang membawa anak-anaknya yang kecil kepada Yesus, supaya ia menjamah mereka.Melihat itu murid-murid- Nya memarahi orang-orang itu. Tetapi Yesus memanggil mereka dan berkata: “Biarkanlah anak-anak itu dating kepada-Ku, dan jangan kamu menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya kerajaan Allah. Aku berkata kepadamu: sesungguhnya barang siapa tidak menyambut kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke dalamnya.

  Teks tersebut mengungkapkan sikap Yesus yang mencintai anak-anak, sehingga Ia membiarkan anak-anak untuk datang kepada-Nya. Ini berarti Tuhan Yesus tidak hanya mendatangi dan mengajar orang dewasa saja, tetapi juga membiarkan anak-anak untuk datang kepada-Nya dan mengenal-Nya secara lebih dekat. Tuhan Yesus sudah paham bahwa kabar gembira perlu diwariskan kepada anak-anak yang masih polos dan belum banyak terpengaruh oleh hal-hal negatif, agar saat dewasa nanti mereka bertindak sejalan dengan kehendak Allah, sehingga mereka tidak jatuh dalam jerat dosa.

  Melalui teks tersebut Gereja menyadari akan pentingnya kegiatan Pendampingan Iman Anak (PIA) yang dilaksanakan sejak usia dini. Anak- anak adalah empunya kerajaan Allah dan merupakan harapan Gereja di masa depan, karena mereka akan menjadi generasi penerus yang akan menentukan kejayaan Gereja di masa depan. Oleh karena itu dalam kegiatan PIA, sejak dini anak-anak sudah diajak untuk mengenal Yesus dan Gereja-Nya. Dengan

  49

  harapan, seiring dengan bertambahnya usia, mereka akan menjadi orang Katolik yang aktif dalam kegiatan menggereja dan senantiasa menjadi saksi Kristus di tengah dunia.

b) Dasar Dokumen Gereja

  Konsili Vatikan II khususnya dalam Deklarasi Tentang Pendidikan Kristiani mengatakan bahwa para orang tua mengemban tugas mulia untuk mendidik putra-putri mereka, termasuk pendidikan iman, dan mereka sendiri adalah pendidik pertama dan utama bagi putra-putri mereka. Namun diakui pula bahwa tugas ini membutuhkan bantuan masyarakat dan jemaat beriman, maka di samping orang tua, orang lain pun dapat menolongnya, demikian pula Gereja. Deklarasi tentang pendidikan iman kristiani, artikel 3 menyatakan bahwa tugas mendidik juga ada pada Gereja, bukan saja karena Gereja dianggap oleh masyarakat sebagai instansi (kelompok) yang mampu mendidik, akan tetapi bahwa Gereja wajib mewartakan jalan keselamatan bagi semua orang, sehingga makin memperkenalkan Kristus kepada semua orang.

  Saatnya kemampuan kanak-kanak ditampung ke dalam hubungan yang hidup dengan Allah, itu adalah karya yang sangat penting. Oleh karena itu karya itu memerlukan kasih yang besar dan sikap hormat yang mendalam terhadap kanak-kanak yang berhak atas penyajian iman Kristen yang sederhana sekali dan benar (CT 36).

  50 Berdasarkan dokumen-dokumen di atas dapat dipahami bahwa

  Konsili Vatikan II dan Catechesi tradendae sama-sama menekankan akan pentingnya Pendidikan Iman Anak sejak usia dini. Pendidikan yang dicita- citakan oleh dokumen tersebut menekankan pentingnya mengenalkan anak- anak dengan Iman Kristiani sejak dini. Agar sejak kecil anak-anak sudah mengenal tentang apa yang menjadi imannya. Apa yang dicita-citakan oleh dokumen tersebut saat ini sudah terwujud dengan adanya kegiatan Pendampingan Iman Anak (PIA) yang diadakan oleh Gereja dengan didukung oleh seluruh jemaat beriman.

c) Dasar Teologis

  Pendampingan Iman anak (PIA) selain didasari pada perintah Yesus yang terdapat dalam Injil. juga didasarkan pada ajaran-ajaran Gereja yang mendasari iman Kristiani. Secara dogmatis Iman Kristiani mengakui bahwa beriman merupakan hubungan relasi pribadi dengan Allah. Relasi pribadi tersebut berawal dari tanggapan manusia secara bebas dan bertanggungjawab terhadap Wahyu Allah yang diwujudnyatakan dalam diri Yesus Kristus.

  Karena hanya kepadanyalah umat kristiani wajib menyatakan ketaatan iman. Namun agar seseorang dapat beriman seperti itu diperlukan rahmat Allah yang mendahului serta menolong (DV 5).

  Ajaran Iman Kristiani memberikan kebebasan dalam menjalankan hidup beriman. Hal tersebut yang mendasari proses Pendampingan Iman Anak (PIA) yang didampingi oleh pendamping yang berperan sebagai

  51

  seorang penolong dan pendorong bagi anak untuk meyakini, memahami dan mengembangkan iman mereka secara bebas dan bertanggungjawab. Selain itu pendamping juga berperan sebaggai penganti orang tua yang membimbing anak-anak agar semakin berkembang dalam iman melalui kegiatan PIA.

d) Dasar Psikologis

  Masa kanak-kanak adalah masa dimana mereka mulai dibentuk kepribadiannya. Anak-anak memiliki rasa ingin tahu yang sangat besar, sehingga hal-hal baru yang datang dari luar dengan mudah dapat mempengaruhi kehidupan mereka. Namun anak masih belum cukup kuat dan mandiri, anak masih perlu didampingi oleh orang dewasa untuk mengembangkan diri dan mencapai kedewasaannya. Dalam hal ini pendamping Pendampingan Iman Anak (PIA) dituntut untuk memiliki kesabaran terhadap anak-anak yang didampinginya serta mampu melaksanakan pendampingan yang menarik dan mempunyai ciri khas. Sehingga dengan senang hati anak mau dibimbing untuk belajar dan meghormati pendamping karena kewibawaannya (Hurlock, 1991: 25)

  Menurut Yulia Nuraini Sugiono (2011: 64-67) dalam bukunya yang berjudul “Konsep Pendidikan Anak Usia Dini” secara psikologis anak memiliki ciri-ciri pola perkembangan pada setiap usianya. Pada tabel di bawah ini akan dijelaskan secara ringkas mengenai pola perkembangan anak dilihat dari segi fisik, sosial, emosional, dan, intelektual dari setiap anak dari

  • – 8 tahun yang perlu diketahui oleh para pendamping agar proses PIA menjadi semakin efektif.

   Melompat dengan kaki yang saling bergantian.

   Pengendalian motorik halus yang bagus; Dapat mengisi surat- surat dengan baik.

   Tingkat pertumbuhan semakin melambat.

   Adanya Peningkatan energy yang tinggi.

   Ketrampilan fisik menjadi hal yang penting dalam perkembanga n konsep diri.

   Dapat menggunakan palu, pensil, gunting dan, lain-lain.

   Adanya peningkatan perkembanga n otot yang kecil.

   Melakukan putaran atau berjungkir balik  Mengambil bagian dalam  Permainan yang menuntut keterampilan fisik.

   Mengendarai sepeda roda dua. Melakukan lemparan dengan wajar dan teliti  Menangkap Bola dengan menggunakan tangan.

  Memegang  krayon dengan jari-jari.

  52

   Memanjat pada peralatan bermain.  Dapat melepaskan pakaian dan juga berpakaian sendiri  Dapat melepaskan dan berpakaian sendiri. Mampu menangkap bola dengan menggunakan lengan  Berjalan mundur.

   Mulai dapat menggengam dan melepaskan suatu objek  Peningkatan ketrampilan fisik  Mampu mengendarai sepeda roda tiga  Mampu mondar mandir naik turun Tangga  Berlari  Melompat dengan dua kaki  Berjalan pada balok keseimbangan.

  Fisik  merangkak  Mulai untuk berjalan dan berlari  Ketrampilan motorik yang berkembang dengan baik  Mengatur sendok atau garpu untuk memberi makan.

  Usia Tujuh sampai Delapan Tahun

  Usia Lima sampai Enam Tahun

  Usia Tiga sampai Empat Tahun

  Kelahiran sampai Usia Tiga Tahun

  

Tabel 2. Ciri-Ciri Pola Perkembangan Anak

  usia 0

   Gigi tetap mulai tampak.  Proporsi badan yang baik, adanya perubahan pada struktur wajah.

  53 Kelahiran sampai

  Usia Tiga Tahun Usia Tiga sampai

  Empat Tahun Usia Lima sampai Enam

  Tahun Usia Tujuh sampai

  Delapan Tahun Sosial

   Bereaksi terhadap orang lain  Menikmati pada saat bergaul dengan anak lain  Dapat memelihara keterlibatan dengan anak yang lain dengan suatu periode yang sangat pendek  Mampu berbagi tanpa perlu membujuk  Menunjukkan kemampuan yang sangat kecil untuk menunda kepuasan  Dapat meniru tindakan dari orang lain.  Mulai untuk melibatkan diri pada permainan yang pararel

   Menjadi lebih sadar akan diri sendiri  Mengembangkan perasaan rendah hati  Menjadi sadar akan rasial dan perbedaan seksual Dapat mengambil arah mengikuti beberapa aturan  Memiliki perasaan yang kuat kearah rumah dan keluarga  menunjukkan suatu pertumbuhan dalam hal perasaan atau pengertian dari kepercayaan pada diri sendiri  Bermain pararel, mulai bermain permainan yang memerlukan kerjasama.

   Memiliki teman bermain khayalan  Dapat menjiplak gambar geometris.

   Menyatakan gagasan yang kaku tentang peran jenis kelamin  Memiliki teman baik meskipun untuk jangka waktu yang pendek  Sering bertengkar tetapi dalam waktu yang singkat  Dapat berbagi dan mengambil giliran  Ikut ambil bagian dalam setiap kegiatan pengalaman di sekolah  Mempertimb angkan setiap guru merupakan hal yang sangat penting.

   Ingin menjadi yang nomor satu  Menjadi lebih posesif.

   Lebih sering bersaing dengan teman sebaya  Bergantung pada orang tua untuk perluasan dari minat dan aktifitas

   dipengaruhi oleh pendapat dari teman sebaya  Sering bermain dengan teman lawan jenis  Membutuhka n nasehat- nasehat guru di dalam banyak hal  Mulai dapat berbagi  Mulai ingin untuk mempersilaka n orang lain  Menjadi lebih mandiri di tempat kerja dan bermain Memiliki format lebih kronis dalam hal persahabatan.

  54 Kelahiran sampai

  usia 3 tahun Usia Tiga sampai

  Empat Tahun Usia Lima sampai Enam

  Tahun Usia Tujuh sampai

  Delapan Tahun Emosio- nal

   Tidak dapat memaklumi frustasi  Mudah menangis atau berteriak  Sering tidak mampu mengendalikan dorongan atau gerakan hati Mulai untuk menyatakan kasih sayang  Membutuhkan suatu rutinitas dan rasa aman  Mulai untuk merasakan emosi dari anak yang lain  Mulai dapat menyatakan diri sendiri, kadang- kadang dengan tegas.

   Dapat memaklumi beberapa frustasi  Mulai mengembangkan pengendalian diri  Menghargai kejutan dan peristiwa tertentu  Mulai manunjukkan selera humor  Mulai mengungkapkan tentang kasih saying secara terang-terangan  Takut akan gelap, merasa diabaikan, atau takut pada situasi yang  belum dikenal. terhadap barang kepunyaanya

   Dapat menyatakan perasaan  Dapat engendalikan agresi dengan lebih baik  Menyatakan perhatian yang lebih sedikit  Menyatakan selera humor di dalam lelucon, kata- kata omong kosong.

   Belajar mengenai hal-hal yang benar dan hal-hal yang salah.

   Mulai dapat menyatakan suatu hal  Mulai membentuk kelompok- kelompok  Menyatakan reaksi kepada orang lain  Bersifat lebih sensitive ketika ditertawakan atau dikritik  Menyatakan keraguan secara berlebihan, misalnya: peperangan, kehilangan orang tua.

   Lebih tekun  Lebih dapat berempati ; dapat melihat dari sudut pandang orang lain.

  Kognitif  Melakukan penyelidikan secara sensorimotor terhadap dominasi lingkungan  Perkembangan berjalan cepat Mengembangka n perasaan atau pengertian terhadap suatu

   Dapat mengikuti dua perinyah  Dapat membuat penilaian menghitung banyaknya kesalahan yang mereka buat.

   Mengembangkan kosa kata dengan cepat  Menggunakan angka-angka.

   Menunjukkan perhatian pada masa pertumbuhan  Dapat mengurutkan objek dalam urutan yang tepat  Dapat menggolongk an objek  Melekukkan  Adanya perbedaan di dalam membaca dan kemampuan bahasa.

   Mulai ada transisi untuk mewujudkan pemikiran operasional  Berbicara dan berdiskusi

  55 Kelahiran sampai

  usia 3 tahun Usia Tiga sampai

  Empat Tahun Usia Lima sampai Enam

  Tahun Usia Tujuh sampai

  Delapan Tahun objek yang tetap.  Mengembangka n aspek bahasa.  Mulai dapat menggunakan beberapa angka, jumlah dan warna tetapi tidak memahaminya tanpa pemahaman

   Adanya kesukaran dalam membedakan antara khayalan dan kenyataan.

   Mulai melakukan penggolongan, terutama berdasarkan fungsi dari suatu benda.

   Mulai menggunakan beberapa kata- kata abstrak yang fungsional.

   Mulai menanyakan pertanyaan “mengapa” secara sering Berpikir secara egosentris Berbagai hal

   Dengan sengaja lebih, sedikit menuruti kata hati  Seringkali kesulitan dalam membedakan antara khayalan dan kenyataan.

   Menjadi tertarik dalam jumlah dan menulis huruf  Mengetahui warna  Dapat melakukan sampai dengan tiga perintah sekaligus Beberapa anak mulai  menggunakan angka, jumlah, dan panjang.

  Merupakan hal yang penting

   Dapat membuat suatu rencana  Dapat menumbuhka n suatu minat terhadap suatu hal untuk jangka waktu yang lama.

   Mulai mamahami  sebab akibat

  Mulai mengembang kan

   pemahaman terhadap waktu dan uang Mulai menggunakan bahasa pergaulan dan kata-kata yang tidak senonoh  Mulai memahami dan menggunakan terminology yang abstrak  Menyatakan kesadaran yang lebih tinggi terhadap

  56 Selanjutnya, menurut Oswald Kroh (dalam Kartini Kartono 1986:

  139-140) ciri-ciri pola perkembangan anak pada usia 8-14 tahun dibagi dalam 4 periode perkembangan yaitu:  Periode sintese-fantastis, 7-8 tahun: Pada periode ini segala pengamatan yang dilakukan anak merupakan kesan keseluruhan atau global, namun sifatnya masih samar-samar. Contoh: Apabila kita tunjukan ini rumah, anak sudah faham namun ketika kita bertanya mana jendela, mana lantai, mana atap anak masih kesulitan menunjukkannya. Selain itu, anak selalu mengkombinasikan apa yang diamati dengan fantasinya. Maka pada usia ini anak suka dengan dongeng-dongeng, legenda, mitos, kisah dan cerita- cerita khayalan.

   Periode realisme-naif, 8-10 tahun: Pada periode ini unsur fantasi sudah mulai berkurang. Anak sudah bisa membedakan onderdil atau bagian dari suatu barang, namun anak masih belum mampu menjelaskan hubungan suatu bagian dengan bagian lain. Contoh: Anak sudah mengerti bahwa ini jambu, ini pohon, dan ini daun tapi ia tidak dapat menjelaskan hubungan antar bagian tersebut.

   Periode realisme-kritis 10-12 tahun: Anak sudah mampu menghubung- hubungkan bagian menjadi satu kesatuan atau satu struktur, dalam artian anak sudah mampu berpikir dan menyimpulkan sesuatu secara logis dikarenakan wawasan dan akal anak sudah mencapai taraf kematangan. Pada fase ini pelajaran agama dapat diberikan fase lebih dalam kehidupan anak.

  57

   Fase subyektif, 12-14 tahun: Dalam fase ini unsur perasaan dan emosi anak muncul kembali, dan dengan kuat mempengaruhi pengamatan dan perilakunya. Sehingga pada fase ini anak selalu merasakan sesuatu dengan perasaannya. Selain itu pada usia ini anak sudah mulai menyukai lawan jenis.

3) Tujuan Pendampingan Iman Anak (PIA)

  Orang Kristiani yang telah dilahirkan kembali dari air dan roh adalah putera-puteri Allah, dan oleh karena itu mereka berhak menerima pendidikan kristiani. Pendidikan Kristiani bertujuan untuk mematangkan pribadi manusia, yaitu menjadi manusia sempurna sesuai dengan kepenuhan Kristus (bdk. Ef 4:13). Konsili vatikan II juga mengingatkan agar semua orang beriman memperoleh pendidikan Kristiani, terutama anak muda yang merupakan harapan Gereja.

  Sudah sewajarnya bahwa manusia menyadari tugas mereka dalam mendidik putra-putri mereka. Oleh karena itu keluarga Kristiani perlu menciptakan keluarga yang dijiwai cinta kasih terhadap Allah dan sesama, menciptakan suasana supaya setiap anggota keluarga menyembah Allah sesuai iman yang diterima pada waktu pembabtisan (bdk. Yoh 4:23). Dalam Gravissium

  

Educationis (Deklarasi Tentang Pendidikan Kristen) Konsili Vatikan II

  menegaskan bahwa para orang tua mengemban tugas mulia untuk mendidik putra-putri mereka, termasuk dalam pendidikan iman sesuai yang diucapkan dalam janji perkawinan. Karena orang tua adalah pendidik pertama dan utama

  58

  bagi putra putri mereka. Namun diakui bahwa orang tua membutuhkan bantuan orang lain untuk mendidik anak-anak mereka. Demikian pula Gereja dalam Deklarasi Tentang Pendidikan Kristen artikel 3, menyatakan bahwa tugas mendidik juga ada pada Gereja, karena Gereja wajib menuturkan jalan keselamatan bagi semua orang, dan makin memperkenalkan Yesus sebagai jalan kebenaran dan hidup kepada semua orang. Maka menanggapi hal tersebut kegiatan Pendampingan Iman Anak (PIA) ingin membantu orang tua kristiani dalam usaha mendampingi anak-anak yang sedang berkembang menuju masa remaja, di dalam iman dan di dalam kepribadian mereka (Goretti Sugiarti, 1999: 17).

  Dalam Dasar-dasar Pendampingan Iman Anak (PIA) Komisi Kateketik KWI tahun 2008 menyoroti tentang bagaimana Gereja di masa depan. Kehidupan dan perkembangan Gereja di masa depan harus diperhatikan secara serius oleh semua anggota Gereja. Kepengurusan Gereja tidak dapat dihindarkan dari sebuah siklus pergantian yang dinamakan dengan regenerasi. Tentusaja para Romo, Para pengurus gereja, Prodiakon, Katekis Awam, Orang Muda Katolik (OMK) tidak akan selamanya mampu menjalankan tugasnya atau duduk di dalam posisinya secara terus menerus, pasti mereka akan termakan usia, sebagai contoh seorang romo akan berhenti dan tidak mampu lagi memimpin umat sehingga dibutuhkan pengganti. Begitu juga dangan OMK, orang muda semakin lama pasti mengalami pertambahan usia dan menjadi orang tua, setelah menjadi orang tua ia secara otomatis akan meninggalkan OMK dan menjalani karya pelayanan lain di Gereja.

  59 Bertolak dari permasalahan di atas maka dibutuhkan generasi penerus

  yang akan menjadi regenerasi dan meneruskan perjuangan Gereja. Siapakah generasi penerus itu? Tidak lain adalah anak-anak, karena anak-anak yang hidup pada saat ini dan akan terus berkembang merupakan tumpuan bagi kehidupan dan perkembangan Gereja di masa depan. Menanggapi hal tersebut anak-anak memerlukan tempat penyemaian yang khusus dan berkesinambungan. Tempat penyemaian yang pertama dan utama adalah di dalam keluarga melalui orang tua masing-masing anak. Namun di dalam keluarga saja tidaklah cukup, anak memerlukan penyemaian di luar keluarga, yaitu melalui kegiatan Pendampingan Iman Anak (PIA) yang diselenggarakan oleh Gereja ataupun lingkungan masing- masing. Faktanya banyak benih-benih panggilan muncul dari kegiatan PIA yang membahagiakan. Maka dengan diselenggarakannya kegiatan PIA yang melibatkan banyak anak dan membahagiakan akan memberikan pengaruh tersendiri bagi mereka. Mereka akan semakin jatuh cinta terhadap Gereja dan merasa hidup sebagai orang katolik adalah menyenangkan, karena hal tersebut kelak mereka akan menjadi orang katolik yang militan dan senantiasa ambil bagian dalam kegiatan menggereja sesuai yang dicita-citakan oleh Gereja.

c. Ciri Khas Pendampingan Iman Anak (PIA)

  Kegiatan Pendampingan Iman anak memiliki kekhasan tersendiri yang berbeda dari sekolah formal. Perbedaan ini lebih pada suasana yang diciptakan dalam kegiatan Pendampingan Iman Anak (PIA). Suasana yang dimaksud adalah suasana santai namun mendalam yang akan diuraikan sebagai berikut:

  60

1) Santai

a) Gembira

  Suasana gembira melekat pada sifat anak-anak bila mereka berkumpul. Karena di mana anak-anak berkumpul di situlah kegembiraan muncul. Maka Pendampingan Iman Anak (PIA) perlu menghadirkan sesuatu yang menyenangkan, menggembirakan, menarik, sehingga anak-anak merasa krasan dan selalu ingin berkumpul lagi dengan teman-temannya dalam suasana yang menggembirakan. Oleh karena itu pendamping perlu berusaha supaya pendampingan menjadi menarik dan tidak membosankan. Tindakan membangun suasana gembira dapat dilakukan dengan mengajak anak-anak untuk menyanyi bersama, bermain bersama, mendengarkan cerita, berdoa bersama, dll. Dengan demikian PIA menjadi semakin menggembirakan dan warta gembira Yesus Kristus semakin tersampaikan dalam kegiatan PIA (Goretti Sugiarti, 1999: 19).

  Suasana gembira dapat diciptakan dengan berbagai hal, seperti mengajak anak-anak untuk menyanyi, melakukan permainan, mendengarkan permainan, berdoa bersama dengan tanda salib yang dinyanyikan, ataupun menonton film tentang kisah Yesus dengan media audio visual. Pendamping sangat menentukan dalam hal ini, keceriaan dari pendamping kemampuannya memilih suasana, dan kemampuannya membangkitkan suasana sangat dibutuhkan agar proses PIA senantiasa menggembirakan, membuat anak semakin krasan dan senantiasa merindukan kegiatan tersebut.

  61

b) Bebas

  Kebebasan merupakan unsur terpenting untuk beriman. Pendamping Pendampingan Iman Anak (PIA) ingin membantu anak-menyadari iman yang telah mereka miliki. Oleh karena itu suasana yang membebaskan perlu diterapkan dalam upaya PIA. Unsur keterpaksaan perlu dibuang jauh-jauh. Jika di sekolah anak-anak selalu merasa diabsen dan dituntut untuk selalu datang ke sekolah. Maka dalam PIA anak-anak perlu merasa bahwa kehadiran mereka tidak terpaksa (karena diabsen atau takut dihukum). Melainkan karena mereka dengan senang hati hadir dalam kegiatan tersebut. Dengan suasana demikian anak dijauhkan dari suasana gelisah karena takut akan ujian, absensi, dan nilai. Memang hal tersebut ada maknanya sendiri dalam lingkup sekolah, namun di dalam kelompok PIA bukan pada tempatnya. Pengikat pada kelompok PIA hendaknya adalah suasana yang menyenangkan, simpatiknya pembina, dan suasana kebebasan yang dapat dirasakan (Goretti Sugiarti, 1999: 19).

  Kegiatan sosial adalah kegiatan yang tidak mengikat, tidak ada sangsi seperti hukuman, pemecatan, atau pemotongan gaji, yang ada hanyalah pengabdian dan keinginan kita yang bebas untuk masuk dan terlibat di dalamnya, berbeda ketika kita bekerja di suatu lembaga, ketika bekerja di suatu lembaga maka yang dihadapi adalah tuntutan, dan ketika kita tidak mampu memenuhi tuntutan maka ada konsekuensi yang berlaku. Maka bisa dikatakan kita disiplin bukan karena kebebasan melainkan karna tuntutan, ikatan, dan ketakutan akan sanksi yg diberikan.

  62 Kegiatan menggereja adalah suatu kegiatan Sosial, dan kita bebas

  untuk terlibat ataupun tidak. Melalui PIA yang bebas, sejak usia dini anak- anak diajarkan untuk mencintai Gereja bukan karena tuntutan dan tekanan melainkan oleh karena kebebasan anak-anak. Melalui kebebasan yang dimiliki mereka memilih untuk mengikuti kegiatan PIA, dengan begitu kelak anak-anak akan menjadi generasi penerus Gereja yang militan, setia dan tanpa pamrih dalam mengikuti ataupun memelopori kegiatan-kegiatan Gereja di masa yang akan datang.

c) Bermain

  Sesuai dengan Umur anak, pertemuan

  • –pertemuan di dalam kelompok Pendampingan Iman Anak (PIA) tentu perlu memperhatikan unsur bermain. Anak umur 4-10 tahun senang sekali bermain-main. Kehidupan mereka tidak dapat dipisahkan dari bermain. Bermain merupakan aktifitas yang mendatangkan rasa puas, dengan bermain kreatifitas juga berkembang, sosialisasi meningkat, dan wawasan menjadi lebih luas. Kegiatan bermain dapat direfleksikan dan dikaitkan kembali dengan pendampingan. Dengan refleksi tersebut anak dapat melihat arti, maksud permainan bagi diri mereka sendiri dan bagi teman-temannya, yang akhirnya akan membantu anak membentuk sikap dan pribadinya (Goretti Sugiarti, 1999: 19).

  Masa anak-anak sering dikenal sebagai masa bermain, dan melalui bermain anak menjadi Gembira atau bahagia. Ketika orang dewasa masih senang memainkan permainan anak-anak, maka orang sering berkomentar

  63 pada orang tersebut dengan mengatakan “Masa kecil kurang bahagia”.

  Bermain merupakan salah satu unsur penting dan tidak boleh dihilangkan dalam PIA, menghadirkan sesuatu yang serius dan tegang hanya akan membuat anak semakin tidak nyaman dan bahkan menjadi tidak kerasan dan berhenti untuk mengikuti kegiatan PIA. Oleh karena itu semua hal yang ingin disampaikan hendaknya dikolaborasikan dengan permainan atau kegiatan yang dapat meningkatkan gairah anak untuk selalu mengikuti dan merindukan kegiatan PIA. Karena masa anak-anak adalah masa bermain, dan dengan bermain mereka akan merasa puas dan bahagia.

2) Mendalam

a) Berpola pada Yesus Kristus

  Yesus Kristus merupakan pusat kehidupan bagi orang Kristiani. Oleh karena itu dalam usaha pembinaan iman dan pengembangan iman harus senantiasa berpusat pada Yesus Kristus. Bisa diartikan pendampingan iman anak dilaksanakan atas dasar Yesus Kristus dan mengajak semua anak yang didampingi untuk semakin beriman kepada-Nya (Kursus PIA, 2001:12)

  Yesus Kristus adalah yang utama, Pusat hidup orang percaya. Yesus adalah jalan kebenaran dan hidup. Yesus pernah berkata kepada Thomas bahwa “tidak seorangpun akan sampai kepada Bapa jika tidak melalui Aku”. Kehidupan dan Ajarannya adalah jalan menuju keselamatan. Oleh Karena itu melalui kegiatan PIA, anak sudah dikenalkan dengan pribadi Yesus Kristus

  64

  dan keutamaan ajaran yang diajarkannya. Agar anak-anak hidup seturut ajaran-Nya dan semakin beriman Kepada-Nya.

b) Menjemaat

  Dalam proses Pendampingan Iman Anak (PIA) anak-anak dilatih belajar dan saling berkomunikasi dengan teman-temannya. Dengan kebiasaan yang demikian, anak terbiasa hidup bersama dengan jemaat. Pengalaman ini diharapkan dapat menumbuhkan minat mereka terhadap lingkungan Gereja dan masyarakat dimana seorang anak tinggal (Kursus PIA, 2001:12).

  Salah satu keunggulan mengikuti kelompok PIA yang diadakan secara bersama-sama di lingkungan maupun di Paroki dibanding pendampingan yang hanya dilakukan oleh orang tua adalah anak-anak dapat bertemu, bersosialisasi, dan bekerjasama dengan teman-teman lain dalam berbagai hal. Dengan begitu anak-anak akan terbiasa hidup bersama dan bekerjasama dalam kelompok dengan teman-teman seiman yang lain. Anak- anak akan berpendapat bahwa mengikuti kegiatan Gereja dan bertemu dengan saudara seiman adalah menyenangkan dan menjadi sebuah kerinduan.

  Dengan begitu anak-anak akan senantiasa terdorong untuk terlibat dalam kehidupan menggereja agar dapat bergaul dengan saudara mereka yang seiman, dan membangun jemaat dimanapun mereka berada meskipun umat Katolik adalah kaum minoritas yang memiliki komunitas yang terbatas.

  Namun diharapkan saat sudah dewasa nanti anak-anak senantiasa memiliki kerinduan untuk membangun jemaat yang mampu bekerjasama dalam

  65

  kegiatan-kegiatan di lingkungan rumah, sekolah, di Gereja dan di tempat- tempat lain. Sebagai contoh di lingkungan sekolah Negeri. Meskipun di sekolah Negeri murid seiman sangatlah terbatas, tetapi kegiatan menjemaat di sekolah-sekolah Negeri tetap tidak mati bahkan berkembang dengan merangkul sekolah-sekolah lainnya untuk melakukan kegiatan gabungan. Hal ini adalah dampak positif dari kegiatan PIA yang menjemaat.

c) Terbuka

  Kegiatan Pendampingan Iman Anak (PIA), berusaha untuk menciptakan suasana keterbukaan bagi peserta PIA. Keterbukaan dalam PIA Nampak dari situasi pesertanya. Bahwa PIA tidak hanya terbatas pada anak yang sudah dibabtis. Melainkan juga terbuka bagi anak-anak yang belum dibabtis (Kursus PIA, 2001:12)

  PIA terbuka bagi anak-anak Katolik baik yang sudah maupun belum di babtis, karena mereka semua adalah murid Kristus. Babtis mempunyai makna pembersihan dari dosa asal dan menandakan seorang simpatisan Katolik telah diterima secara resmi sebagai anggota Gereja. Ada anak-anak yang sudah dibabtis bayi dan babtis pada usia dewasa. Bagi mereka yang babtis balita, pada saat itu belum memungkinkan untuk mendapatkan pelajaran babtis, maka kegiatan PIA merupakan kesempatan bagi mereka untuk mengenal siapa Yesus yang mereka imani dan Gerejanya secara lebih mendalam. Sedangkan untuk anak-anak yang belum di babtis, melalui kegiatan ini mereka akan semakin dimantabkan hatinya untuk menjadi

  66

  seorang Katolik, sehingga mereka semakin yakin untuk mengikuti pembabtisan dan diangkat secara resmi sebagai anggota Gereja yang Satu, Kudus, Katolik, dan Apostolik.

d. Spiritualitas Pendampingan Iman Anak (PIA)

  Untuk menjadi seorang pendamping PIA, terlebih dahulu kita hendaknya menguasai spiritualitas pendamping PIA agar pendamping tahu hal-hal apa saja yang perlu dikuasai oleh seorang pendamping dan apa yang perlu untuk dilakukan. Sehingga pendampingan menjadi semakin maksimal. Spiritualitas Pendampingan Iman Anak (PIA) adalah sebagai berikut:

1) Kerendahan Hati

  Kerendahan hati atau dengan kata lain merasul, dalam arti bahwa sebagai pendamping PIA hendaknya memiliki sikap rendah hati di hadapan anak-anak, tidak bersikap menggurui atau menguasai, tetapi bersikap seperti teladan Yesus Kristus yang berkenan menghidupkan, membebaskan dan menyelamatkan manusia (Panduan Calon Pendamping PIA, 2003: 28)

  Berdasarkan pendapat di atas dapat dipahami bahwa pendamping PIA adalah sahabat bagi anak-anak, mereka membimbing dan mengarahkan anak untuk semakin mengenal Yesus dan Gereja-Nya. Dengan harapan anak-anak akan semakin tumbuh dalam iman dan kelak dapat menjadi seorang Katolik yang militan terlibat dalam berbagai kegiatan menggereja. Dalam menjalankan tugasnya hendaknya pendamping PIA mampu menjadi pendamping yang baik

  67

  bagi anak-anak. Pendamping yang baik adalah Pendamping yang rendah hati, tidak menggurui, dan mampu menjadi teladan bagi anak-anak.

2) Beriman Dewasa

  Beriman dewasa artinya memiliki keyakinan mendalam akan cinta kasih Allah yang menyelamatkan manusia melalui Yesus Kristus, dan mampu menghayati imannya dalam situasi apapun juga serta mampu memberikan seluruh hidupnya demi keselamatan orang banyak (Panduan Calon Pendamping PIA, 2003: 28)

  Berdasarkan pendapat di atas dapat dipahami bahwa pendamping PIA hendaknya memiliki iman yang dewasa. Dalam arti seorang pendamping PIA benar-benar memiliki komitmen mendalam akan ajaran Kristiani, yaitu percaya akan Yesus Kristus sang juru selamat yang penuh cinta kasih, yang diutus oleh Allah untuk menyelamatkan umat manusia. Dengan komitmen tersebut diharapkan pendamping PIA mampu menjalankan dengan sungguh-sungguh tugasnya untuk mewartakan kabar gembira kepada anak-anak melalui kegiatan PIA. Selain itu pendamping hendaknya mampu menerapkan ajaran tersebut dalam kehidupan sehari-hari khususnya dalam kegiatan pendampinggan PIA.

  Dengan begitu seorang pendamping akan menjadi Pendamping dan teladan yang baik bagi kegiatan PIA yang menjadi tanggungjawabnya.

  68

3) Kristosentris

  Kristosentris artinya seluruh hidup berpusat pada Yesus Kristus, seorang pendamping hendaknya terus menerus menimba kekuatan inspirasi dari nilai-nilai hidup Kristus untuk ditularkan pada anak-anak yang didampingi (Panduan Calon Pendamping PIA, 2003: 28)

  Berdasarkan pendapat di atas dapat dipahami bahwa beriman kepada Yesus Kristus berarti berkomitmen pribadi untuk mengikuti Dia, menjalankan segala printah-Nya, dan menjauhi larangan-Nya. Penghayatan pendamping yang mendalam akan pribadi Yesus Kristus adalah sangat penting, terutama tentang inspirasi dan nilai-nilai hidup Kristus. Sehingga pendamping mampu menularkan nilai tersebut secara maksimal kepada anak-anak yang didampingi.

4) Keterbukaan

  Pendamping PIA Mampu menciptakan hubungan yang akrab dengan anak-anaknya, mampu memahami situasi masing-masing anak dan kehidupan mereka. (Panduan Calon Pendamping PIA, 2003: 28)

  Berdasarkan pendapat di atas dapat dipahami bahwa salah satu hal terpenting untuk menjadi pendamping PIA adalah mampu menciptakan hubungan yang akrab dengan peserta PIA. Pendamping PIA bukanlah orang yang tertutup dan terlalu menjaga wibawa sehingga menimbulkan keengganan bagi peserta untuk mendekat karena mereka merasa takut. Tetapi pendamping PIA adalah seseorang yang terbuka, friendly, dan mencintai anak-anak sehingga

  69

  pendamping dapat dengan mudah masuk ke dalam dunia anak dan mengenal mereka satu-persatu.

  5) Kerjasama dan saling melengkapi

  Pendamping hendaknya mau dan mampu menjalin kerjasama dengan orang lain (sesama pendamping) agar dapat saling melengkapi dalam usaha mencapai tujuan yang diharapkan oleh Gereja (Panduan Calon Pendamping PIA, 2003: 28).

  Berdasarkan pendapat di atas dapat dipahami bahwa kerjasama antar pendamping dalam proses PIA adalah hal yang sangat penting. PIA tidak dapat berjalan secara maksimal jika para pendamping saling menjatuhkan dan tidak kompak dalam memberikan pendampingan. Memahami kelebihan dan kekurangan masing-masing pendamping adalah hal yang sangat penting, karena dengan mengetahui hal tersebut kita akan tahu dimanakah spesialisasi atau keunggulan kita. Diharapkan masing-masing dari pendamping dapat memanfaatkan keunggulannya dengan baik dan saling mengisi sehingga pendampingan dapat berjalan secara maksimal.

  6) Mencintai Kitab Suci

  Seorang pendamping PIA hendaknya akrab dengan kitab suci. Dengan membaca, merenungkan, dan menggali sabda Allah secara terus menerus diharapkan pengalaman iman dalam kitab suci sungguh mempengaruhi hidup pendamping dalam mendampingi hidup anak-anak, sehingga pendamping tidak

  70

  sekedar membagi pengetahuan tentang kitab suci, tetapi juga menjiwai kitab suci tersebut (Panduan Calon Pendamping PIA, 2003:28).

  Berdasarkan pendapat di atas dapat dipahami bahwa kitab suci adalah Yesus itu sendiri dan dengan mencintai dan mendalami Kitab Suci pendamping akan semakin mengenal Yesus Kristus dan tahu akan keutamaan-keutamaan yang diajarkannya. Dengan begitu para pendamping akan mudah mengolah. menemukan dan menafsirkan ayat-ayat manakah yang cocok untuk anak-anak.

7. Rangkuman

  Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) adalah kegiatan yang dilakukan untuk mengembangkan berbagai potensi anak sejak dini sebagai persiapan untuk hidup dan menyesuaikan diri dengan lingkungannya. PAUD di Indonesia dimulai sejak anak lahir sampai pada usia 6 tahun. Mengapa diadakan PAUD? Karena usia dini adalah masa emas masa perkembangan anak, karena pada usia ini anak mengalami lonjakan perkembangan yang sangat pesat mencakup semua aspek.

  Bahkan keberhasilan pendidikan pada masa keemasan ini sangat menentukan dan berpengaruh bagi perkembangan anak selanjutnya.

  Gereja juga memiliki kegiatan pendampingan untuk anak-anak usia dini, kegiatan ini dikenal dengan nama Pendampingan Iman Anak (PIA). Kegiatan PIA adalah suatu bentuk pendampingan yang dilakukan untuk membimbing dan mengembangkan hidup anak terutama dalam iman khusus untuk anak beragama Katolik baik yang sudah maupun belum dibabtis. Kegiatan PIA ini dilatarbelakangi oleh Gereja yang melihat bahwa anak-anak merupakan masa

  71

  depan Gereja yang nantinya akan menjadi generasi penerus Gereja. Mengingat masa depan Gereja sangat ditentukan oleh pembinaan generasi muda yang dipersiapkan sejak masa anak-anak mereka.

  Pada dasarnya PIA adalah tanggungjawab orang tua, namun orang tua juga memerlukan bantuan orang lain untuk mendidik anak-anak mereka, maka dibuatlah kelompok pendampingan yang diikuti oleh banyak anak-anak dan dikelola oleh para pendamping yang mendedikasikan dirinya untuk kegiatan ini.

  PIA bukanlah kegiatan yang menakutkan atau memiliki banyak tuntutan seperti di sekolah formal, namun PIA adalah kegiatan yang santai namun mendalam.

  Biasanya peserta terdiri dari anak-anak usia 5-13 tahun, atau seusia anak TK sampai kelas II SLTP.

  Agar pendampingan berjalan efektif, para pendamping dibekali dengan spiritualitas pendamping PIA seperti kerendahan hati, beriman dewasa, Kristosentris, keterbukaan, Kerjasama saling melengkapi, dan mencintai kitab suci. Selain itu tidak kalah pentingnya adalah peranan media yang digunakan dalam pendampingan. Ada berbagai macam media yang digunakan dalam kegiatan PIA, namun dalam skripsi ini, secara khusus penulis akan membahas mengenai Peranan Media Audio Visual Terhadap Proses PIA di Lingkungan Santo Agustinus Gancahan I Paroki Maria Assumpta Gamping Yogyakarta.

  72 BAB III PERANAN MEDIA AUDIO VISUAL TERHADAP PROSES

PENDAMPINGAN IMAN ANAK (PIA) DI LINGKUNGAN SANTO

AGUSTINUS GANCAHAN I

  A.

  

Pendampingan Iman Anak di Lingkungan Santo Agustinus Gancahan I

Paroki Maria Assumpta Gamping.

  Sebelum masuk ke dalam penelitian, terlebih dahulu penulis akan menjelaskan secara singkat mengenai Gambaran Paroki Maria Assumpta Gamping Secara Umum, setelah itu dilanjutkan penjelasan mengenai Situasi PIA di Paroki Maria Assumpta Gamping, dan Situasi PIA di Lingkungan Santo Agustinus Gancahan I yang merupakan tempat dimana penulis melakukan penelitian.

  1. Gambaran Paroki Maria Assumpta Gamping Secara Umum

  Paroki Maria Assumpta Gamping adalah Paroki yang terletak di dusun Gamping Tengah, Desa Ambarketawang, Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Letak paroki ini kurang lebih 5 Km dari pusat kota Yogyakarta. Sebelum resmi menjadi Paroki, Gereja Maria Assumpta Gamping dulunya adalah bagian atau stasi dari Paroki Kemetiran. Gereja ini resmi menjadi paroki secara mandiri pada tahun 1978 hingga sekarang. Paroki ini memiliki wilayah yang luas namun hanya memiliki seorang imam saja. Pada saat ini Paroki Maria Assumpta Gamping beranggotakan 30 lingkungan yang dibagi dalam 7 wilayah.

  73 Keadaan Geografis wilayah Paroki Gamping berupa pemukiman,

  pertanian, dan sebagian perbukitan kapur, dengan begitu terdapat beberapa tambang batu kapur yang terletak di bagian selatan. Keadaan inilah yang membuat Desa Gamping (Ambarketawang) sejak dulu dikenal oleh daerah lain di luar kota Yogyakarta. Secara teritorial Paroki ini berbatasan dengan wilayah Paroki lain, Sebelah Utara, paroki ini berbatasan dengan paroki Santa Maria Tak Bercela Kemetiran dan paroki Santo Petrus dan Paulus Klepu. Sebelah selatan, Paroki ini berbatasan dengan Paroki Hati Kudus Tuhan Yesus Pugeran. Sebelah timur berpatasan dengan Santa Maria Tak Bercela Kemetiran dan Paroki Hati Kudus Tuhan Yesus Pugeran. Lalu di sebelah barat, paroki ini berbatasan dengan Paroki Santa Theresia Sedayu (Paroki Maria Assumpta Gamping, 2008: 5).

  Umat Paroki Santa Maria Assumpta Gamping adalah suatu persekutuan paguyuban

  • –paguyuban yang berusaha mewujudkan semangat persatuan baik dalam hubungan pribadi antar umat (internal) maupun dengan umat lain

  

(eksternal). Artinya sebagai umat beriman, umat Allah harus selalu aktif berperan

  dalam menghadirkan persekutuan Allah Tritunggal kepada setiap orang. Umat Allah harus selalu menjadi garam, ragi, dan terang dalam hidup bersama dengan orang lain.

  Yesus Kristus datang ke dunia bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani. Semangat pelayanan inilah yang terus ditumbuh kembangkan kepada umat di Paroki Santa Maria Assumpta Gamping. Pelayanan yang terbuka dan bersedia bergandeng tangan dengan semua orang yang berkehendak baik.

  74 Konkretnya umat harus mau berperan aktif dalam tugas dan merasa terpanggil untuk masuk dan senantiasa berpartisipasi dalam kegiatan menggereja.

  Secara konkret pelaksanaan tugas perutusan diwujudnyatakan dalam aneka program dewan paroki yang merujuk dan berpedoman pada Arah Dasar Keuskupan Agung Semarang (ARDAS KAS). Dalam pelaksanakan tugas tersebut Dewan Paroki Santa Maria Assumpta Gamping mendasarkan diri pada tata penggembalaan yang mengikutsertakan, mengembangkan, dan memberdayakan seluruh potensi umat yang ada.

  Tata penggembalaan yang mengikutsertakan (partisipatif) artinya menyediakan ruang bagi umat setempat untuk ambil bagian serta terlibat aktif dalam kegiatan menggereja. Untuk itu dibutuhkan peran awam yang benar-benar mau menerima panggilannya sebagai awam. Awamlah yang diharapkan selalu terlibat dalam paguyuban-paguyuban yang hidup. Karena setiap anggota paguyuban adalah sahabat yang saling terbuka, terbuka pada kehendak Allah Tritunggal, dan terbuka terhadap cita-cita luhur untuk keselamatan umat manusia

  Tata penggembalaan yang mengembangkan (transformatif), Artinya mengupayakan agar umat semakin berkembang dan menjadi mampu memberi warna perubahan diri, serta perubahan dalam masyarakat. Perubahan bukan hanya semu tetapi perubahan pola hidup yang mendasar dengan membangun habitus- habitus baru, serta melihat dan membaca tanda-tanda zaman dalam arus globalisasi (Paroki Maria Assumpta Gamping, 2008:1-2).

  Bentuk perhatian Paroki Santa Maria Assumpta Gamping terhadap pendidikan iman anak sejak usia dini adalah dengan dibentuknya tim kerja

  75 Pendampingan Iman Anak (PIA) dalam struktur dewan paroki 2012-2015, Tim

  kerja ini bertugas untuk mengadakan dan memelihara segala kegiatan yang berhubungan PIA di Paroki Gamping. Untuk mencapai apa yang telah dicita- citakan, tim ini sudah membentuk paguyuban pendamping PIA se-paroki Gamping dengan berbagai kegiatan yang telah terprogram di dalamnya.

2. Situasi PIA di Paroki Santa Maria Assumpta Gamping

  Pendampingan Iman Anak (PIA) di paroki Gamping mengalami pasang surut dari tahun ke tahun. PIA Paroki gamping pernah mengalami jaman keemasan sekitar tahun 1999 ketika kegiatan PIA hampir ada di setiap lingkungan. Namun pada masa sekarang ini tahun 2013 hanya sedikit kegiatan PIA di lingkungan yang masih mampu bertahan. Diantara semua lingkungan yang ada Lingkungan Santo Antonius Jatisawit, dan Lingkungan santo Agustinus Gancahan I adalah lingkungan yang memiliki kegiatan PIA yang masih mampu bertahan hingga saat ini. Hal ini disebabkan karena tidak adanya regenerasi pendamping yang disebabkan oleh berbagai macam faktor.

  Gereja Maria Assumpta Gamping memiliki perhatian mendalam terhadap pendidikan iman anak sejak usia dini. Meskipun kegiatan PIA di lingkungan- lingkungan sudah banyak yang mati atau hanya bertahan sebentar setelah itu mati lagi, namun gereja senantiasa mengupayakan agar anak-anak tetap dapat memperoleh pendampingaan iman sejak dini melalui kegiatan PIA. Oleh karena itu pada saat ini gereja menaruh harapan yang sangat besar kepada tim kerja PIA yang termasuk dalam bidang paguyuban dan tata organisasi Dewan Paroki Maria

  76 Assumpta Gamping Periode 2012-2015 yang baru di lantik tahun lalu untuk

  merintis dan menggalakan kembali kegiatan PIA di tingkat Paroki maupun di lingkungan-lingkungan yang berada wilayah Paroki Maria Assumpta Gamping.

  Sekarang ini Tim Kerja PIA sudah mulai merintis kegiatan PIA di tingkat Paroki yang dilaksanakan pada hari Minggu bersamaan dengan misa ke II.

  Kegiatan ini dilaksanakan sebagai wadah untuk anak-anak yang ingin mengikuti kegiatan PIA, namun PIA di lingkungannya sudah mati. Selanjutnya mereka akan berupaya untuk menghidupkan PIA di lingkungan-lingkungan dan mengembangkan PIA yang sudah berjalan dengan merekrut pendamping dan mengadakan pelatihan bersama dengan mengundang narasumber yang kompeten di bidangnya. Belum lama ini mereka mengadakan pendampingan kepada para pendamping PIA mengenai penggunaan alat peraga dalam kegiatan PIA. Selain mendampingi PIA, tim kerja PIA juga senantiasa melaksanakan kegiatan yang melibatkan PIA di tingkat Paroki. Misalnya selalu ada kegiatan Natal dan Paskah anak yang melibatkan PIA dari tiap lingkungan untuk berpartisipasi dalam koor, dilanjutkan dengan Pentas seni untuk anak-anak PIA setelah misa selesai.

  Melihat kenyataan di atas dapat diketahui bahwa gereja Maria Assumpta Gamping memiliki perhatian khusus pada kegiatan PIA. Dalam hal ini gereja senantiasa berupaya menjaga kelestarian kegiatan PIA agar tidak punah tergerus oleh zaman, karena kegiatan ini merupakan ujung tombak gereja untuk mengenalkan iman katolik sejak usia dini dan meningkatkan kecintaan anak-anak terhadap gereja, agar mereka kelak dapat menjadi generasi penerus gereja yang

  77

  senantiasa berperan aktif dalam berbagai kegiatan gereja dan mewartakan kabar gembira di tengah dunia.

3. PIA di Lingkungan Santo Agustinus Gancahan I Paroki Maria Assumpta Gamping.

  Lingkungan Santo Agustinus Gancahan I terletak di Desa Gancahan, Kecamatan Sidokarto Godean, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

  Lingkungan tersebut merupakan anggota dari wilayah Santa Maria Gancahan yang terdiri dari 4 lingkungan dan merupakan bagian dari Paroki Maria Assumpta Gamping. Secara teritorial letak lingkungan ini berdampingan dengan lingkungan Santo Petrus Gancahan II, dan lingkungan Santa Maria Gancahan III (Paroki Maria Assumpta Gamping, 2008:6).

  Kegiatan Pendampingan Iman Anak (PIA) di lingkungan Santo Agustinus Gancahan I adalah salah satu kegiatan PIA Lingkungan di Paroki Maria Assumpta Gamping yang masih aktif hingga sekarang. Kegiatan PIA ini ada sejak tahun 1966 dipelopori oleh bapak Sugiono dan bapak Sugimin yang merupakan pendiri dari Kegiatan PIA di lingkungan tersebut. Kegiatan ini secara turun- temurun terus dihidupi oleh umat Katolik di lingkungan setempat yang senantiasa memberikan dukungan dalam wujud dana atau sumbangan pikiran dan tenaga dari para pendamping yang rela meluangkan waktu untuk terjun langsung dan mendampingi kegiatan PIA di lingkungan tersebut.

  Kegiatan PIA di lingkungan Santo Agustinus Gancahan I dilaksanakan secara rutin pada hari minggu pukul 16.00 WIB, kegiatan ini tidak hanya diikuti

  78

  oleh anak-anak di lingkungan tersebut tetapi juga diikuti oleh beberapa anak-anak dari lingkungan tetangga yang ingin ikut serta dalam kegiatan tersebut. Peserta yang secara aktif mengikuti kegiatan ini berjumlah sekitar 30 orang dengan rentang usia antara 2 sampai 12 tahun. Untuk mengelola dan menjalankan kegiatan tersebut mereka memiliki 10 orang pendamping termasuk pendamping senior yang secara bergantian dengan penuh dedikasi menyumbangkan pikiran, waktu, dan tenaga demi terselenggaranya kegiatan PIA di lingkungan tersebut.

  Tujuan dari kegiatan PIA ini adalah untuk mengenalkan iman Katolik kepada anak-anak sedini mungkin. Sehingga sejak usia dini, mereka sudah mengenal Yesus Kristus dan Gereja-Nya secara lebih mendalam dan diharapkan nantinya mereka akan menjadi umat Katolik yang militan dan senantiasa berperan aktif dalam kegiatan-kegiatan Menggereja.

4. Rangkuman

  Paroki Maria Assumpta Gamping adalah Paroki yang terletak di dusun Gamping Tengah, Desa Ambarketawang, Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Letak paroki ini kurang lebih 5 Km dari pusat kota Yogyakarta. Yang terdiri dari 30 lingkungan yang terbagi dalam 7 wilayah.

  Paroki Maria Assumpta Gamping adalah Paroki yang memiliki perhatian mendalam terhadap pendidikan iman anak sejak usia dini. Paroki menggalakkan kegiatan Pendampingan Iman Anak (PIA) melalui tim kerja PIA yang terdapat pada susunan dewan paroki untuk menjaga keberlangsungan kegiatan PIA baik di

  79

  lingkungan maupun di Paroki yang semakin lama semakin memprihatinkan, dengan melibatkan generasi muda yang diajak untuk dapat membimbing PIA di paroki dan dilingkungannya.

  Lingkungan Santo Agustinus Gancahan I adalah salah satu dari 30 lingkungan yang masuk dalam wilayah Paroki Maria Assumpta Gamping.

  Lingkungan Ini memiliki kegiatan Pendampingan Iman Anak (PIA) yang masih aktif hingga sekarang. Kegiatan PIA di lingkungan ini sudah ada sejak tahun 1966 dipelopori oleh bapak Sugiono dan bapak Sugimin. Kegiatan PIA di lingkungan ini diadakan setiap hari minggu pukul 16.00 WIB, dengan jumlah peserta aktif sekitar 30 orang dengan 10 orang pendamping. Lingkungan inilah yang dipilih oleh peneliti dalam penulisan skripsi yang berjudul “Peranan Media Audio Visual

  Terhadap Proses Pendampingan Iman Anak (PIA) di Lingkungan Santo Agustinus Gancahan I Paroki Maria Assumpta Gamping Yogyakarta”.

B. Latar Belakang Penelitian

  Dalam dunia pendidikan formal penggunaan media Audio Visual sudah menjadi hal yang sangat primer. Mulai dari pendidikan di Sekolah Dasar (SD) sampai dengan pendidikan di tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) sudah menerapkan penggunaan media tersebut. Dengan segala keunggulannya media tersebut sudah memikat hati para pendidik. Bahkan dengan pemanfaatan media Audio-Visual berupa education video atau lesson video yang sudah banyak dijual di pasaran, seperti video tuntunan cara memasak, tuntunan cara bermain piano,

  80

  atau video acara National Geograpic, kita sudah bisa belajar dengan cepat tanpa harus mendatangkan guru yang sesungguhnya.

  Media Audio Visual mampu menghasilkan tayangan Audio Visual yang mengatasi ruang dan waktu, tayangan tersebut dengan cepat mampu mempengaruhi dan mengubah pola hidup orang banyak. Dalam dunia modern seperti sekarang ini banyak orang belajar dan mendapatkan inspirasi dari film, video, dan acara televisi yang mereka saksikan. Sebagai contoh, akan terjadi perbedaan tingkah laku antara anak-anak yang dibiasakan menonton film Power Ranger dan anak-anak yang dibiasakan menonton acara musik. Anak-anak yang terbiasa menonton film Power Ranger akan bertingkah seperti Power Rangger dan suka memukul, sedangkan anak yang menonton acara menyanyi akan tertarik untuk menyanyi juga. Banyak penyanyi papan atas dunia yang bakat menyanyinya timbul karena sejak kecil anak itu dibiasakan oleh orangtuanya untuk menonton acara musik. Ini adalah bukti bahwa media Audio Visual mampu menjadi inspirasi dan merubah perilaku anak-anak pada usia dini.

  Pendampingan Iman Anak (PIA) adalah bentuk pendampingan sejak usia dini khusus untuk anak-anak beragama Katolik baik yang sudah maupun belum dibabtis. Pendampingaan ini bertujuan mengenalkan anak-anak pada iman Katolik sejak usia dini, sehingga sejak usia dini mereka semakin berkembang dalam iman, bertindak seturut ajaran Kristiani, mengenal Gereja, dan kelak menjadi orang Katolik yang aktif dalam kegiatan menggereja. Pendampingan dilakukan bukan tanpa media, tetapi pendamping membutuhkan media sebagai perantara untuk menyampaikan materi kepada anak-anak agar materi dapat tersampaikan dengan

  81

  baik. Media yang digunakan dalam PIA adalah media yang senantiasa mengarahkan anak pada kebaikan dan membawa anak pada perkembangan iman yang maksimal. Ada banyak media yang dapat digunakan dalam kegiatan PIA. Seperti media visual, media gerakan (kinestesis), media audio, dan media audio visual. Namun dalam skripsi ini penulis secara khusus hanya akan membahas mengenai peranan media Audio Visual terhadap proses PIA. Media Audio Visual yang dimaksud oleh penulis dalam penelitian ini adalah media Audio Visual murni berupa video, film, dan televisi.

  Lingkungan Santo Agustinus Gancahan 1 Paroki Maria Assumpta Gamping adalah lingkungan yang dipilih oleh penulis dalam penulisan skripsi ini.

  Lingkungan tersebut memiliki kegiatan PIA yang diadakan setiap hari Minggu pukul 16.00 WIB, kegiatan ini dikelola oleh 10 orang pendamping termasuk pendamping senior, yang secara bergantian dengan penuh dedikasi mendampingi anak-anak dalam kegiatan tersebut. Dalam pendampinggannya pendamping menggunakan berbagai macam media yaitu media berupa gambar, dan kertas lipat (visual), media gerakan (kinestesis), cerita (audio), dan video (audio visual) untuk menyampaikan pesan agar kegiatan pendampingan dapat berjalan dengan maksimal, Namun untuk saat ini penggunaan media Audio Visual masih dalam pengembangan, pendamping masih jarang menggunakan media Audio Visual dikarenakan keterbatasan pendamping dalam penguasaan media tersebut.

  Melihat keprihatinan tersebut, melalui penelitian ini penulis akan mencaritahu secara lebih dalam tentang keadaan PIA di lingkungan Santo Agustinus Gancahan I khususnya tentang sejauh mana masalah yang dihadapi

  82

  pendamping ketika menggunakan media Audio Visual dalam proses PIA di lingkungan tersebut. Keadaan yang di maksud oleh peneliti bukan keadaan yang di buat-buat, melainkan keadaan alamiah yang terjadi dalam kegiatan PIA di lingkungan tersebut. Melalui Kuesioner, pertama-tama peneliti akan mencaritahu tentang bagaimana pelaksanaan pendampingan PIA di lingkungan tersebut. Lalu setelah itu peneliti akan mencaritahu sejauh mana media Audio Visual yang telah digunakan memiliki peranan dalam proses PIA di lingkungan tersebut, dan yang terakhir peneliti akan mencaritahu tentang faktor pendukung dan penghambat penggunaan media Audio Visual pada proses PIA di lingkungan tersebut.

C. Tujuan Penelitian 1.

  Untuk mengetahui bagaimana pelaksanaan pendampingan Iman Anak (PIA) di lingkungan Santo Agustinus Gancahan I Paroki Maria Assumpta Gamping.

  2. Untuk mengetahui peranan media Audio Visual terhadap proses pendampingan Iman Anak (PIA) di lingkungan Santo Agustinus Gancahan I Paroki Maria Assumpta Gamping.

3. Untuk mengetahui faktor pendukung dan penghambat penggunaan media

  Audio Visual dalam proses Pendampingan Iman Anak (PIA) di lingkungan Santo Agustinus Gancahan I Paroki Maria Assumpta Gamping.

  83 D.

   Tempat dan Waktu Penelitian

  Penelitian ini akan dilaksanakan pada bulan November 2013, di Lingkungan Santo Agustinus Gancahan I Paroki Maria Assumpta Gamping Yogyakarta.

  E. Metode Penelitian

  Untuk melaksanakan penelitian ini, penulis akan menggunakan metode penelitian deskriptif. Metode penelitian deskriptif adalah suatu metode penelitian yang dilakukan dengan tujuan utama untuk membuat gambaran atau deskripsi tentang suatu keadaan secara objektif (Notoatmodjo, 2002 138). Pada penelitian ini penulis ingin mengetahui persoalan mengenai Pendampingan Iman Anak (PIA) di Lingkungan Santo Agustinus Gancahan I Paroki Maria Assumpta Gamping. Metode penelitian deskriptif digunakan untuk menjawab permasalahan yang dihadapi pada situasi sekarang (Soekidjo Notoatmodjo, 2002: 138)

  F. Instrumen Penelitian

  Dalam melaksanakan penelitian ini, pengumpulan data akan menggunakan kuesioner langsung. Kuesioner tersebut akan ditujukan bagi para pendamping PIA di lingkungan Santo Agustinus Gancahan 1 Paroki Maria Assumpta Gamping. Kuesioner langsung terjadi apabila pertanyaan dikirim langsung kepada orang yang dimintai pendapat atau keyakinannya (Sutrisno Hadi, 2004:178). Bentuk kuesioner yang akan disebarkan ialah kuesioner tertutup artinya responden atau

  84

  orang yang memberi jawaban terbatas, hanya mengisikan data-data dan jawaban yang diperlukan (Sutrisno Hadi, 2004: 179) Alasan penulis menggunakan kuesioner langsung adalah karena penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dan responden sangat mengetahui tentang bagaimana jalannya kegiatan Pendampingan Iman anak (PIA) di lingkungan Santo Agustinus Gancahan I Paroki Maria Assumpta Gamping. Artinya apa yang dinyatakan oleh subyek kepada peneliti adalah benar dan dapat dipercaya (Sutrisno Hadi, 2004 : 79).

G. Responden Penelitian

  Responden penelitian adalah para pendamping PIA di lingkungan Santo Agustinus Gancahan I Paroki Maria Assumpta Gamping. Dari data jumlah pendamping yang diungkapkan salah satu oleh pendamping PIA di lingkungan tersebut, diketahui bahwa jumlah pendamping PIA seluruhnya adalah 10 orang termasuk pendamping senior.

  Dalam penentuan jumlah responden penulis akan mengambil semua responden yang ada yaitu 10 orang pendamping yang menangani kegiatan PIA di lingkungan tersebut. Karena dalam menentukan besarnya responden penulis berpatokan pada teori yang menjelaskan bahwa jika subjeknya kurang dari 100, maka lebih baik diambil semua sehingga penelitiannya merupakan penelitian populasi (Suharsimi, 2002:112).

  85 H.

  Tabel 4. Kisi-Kisi Kuesioner

  5

  4

  3

  2

  1

  Menunjukkan bahwa salah satu tujuan Pendampingan Iman Anak (PIA) adalah untuk mengenalkan anak- anak pada iman katolik sedini mungkin sehingga

  b.

  Menunjukan apa yang dimaksud dengan Pendampingan Iman Anak (PIA).

  Menyebutkan tingkat pendidikan a.

  Menyebutkan jenis kelamin c. Menyebutkan umur d.

  a. menyebutkan nama lengkap b.

  Situasi Pendampingan Iman Anak di Lingkungan Santo Agustinus Gancahan I Paroki Maria Assumpta Gamping.

  Item 1. Identitas Responden

  No Variabel Indikator No

  30 Dari variabel kuesioner yang disusun dalam skripsi, maka disusunlah kisi-kisi kuesioner sebagai berikut:

   Variabel Penelitian

  5, 6,7,8,9,10,11, 12,13,14, 15, 16

  Variabel yang diteliti dalam penelitian skripsi ini adalah sebagai berikut :

  Tabel 3. Variabel Penelitian

  No Variabel No. Item Jumlah

  1 Identitas Responden. 1,2,3,4

  5

  2 Pendampingan Iman Anak (PIA) di Lingkungan Santo Agustinus Gancahan I Paroki Maria Assumpta Gamping.

  12

  5 Total Item

  3 Peranan Media Audio Visual Terhadap Proses Pendampingan Iman Anak (PIA).

  17,16,17,18,19,20 21,22,23,24,

  10

  4 Faktor Pendukung dan Faktor Penghambat.

  25,26, 27,28,29,30

  6

  6

  86 Gereja.

  c.

  7 Menunjukan bahwa peserta PIA adalah anak berumur 5- 13tahun.

  d.

  8 Menunjukkan bahwa PIA dilaksanakan setiap hari Minggu.

  e.

  9 Menunjukan bahwa kegiatan PIA bersifat santai namun mendalam.

  f.

  10 Menunjukkan bahwa dalam kegiatan PIA anak-anak diarahkan dan dibentuk untuk menjadi generasi penerus gereja yang aktif dalam kegiatan menggereja g.

  11 Menunjukkan alasan mengapa PIA tidak usah menunggu ketika anak dewasa h.

  12 Menunjukkan alasan mengapa kegiatan PIA harus dilaksanakan sejak usia dini i.

  13 Menunjukkan bahwa manfaat kegiatan PIA adalah untuk membantu orang tua dalam pendampingan iman anak- anaknya. j.

  14 Menunjukkan bahwa agar semakin menarik dan efektif kegiatan PIA membutuhkan sebuah media k.

  15 Menunjukan bahwa penggunaan media dalam kegiatan PIA merupakan hal penting karena akan membuat kegiatan PIA menjadi semakin menarik dan efektif. l.

  16 Menunjukkan bahwa ketidakadaan media membuat kegiatan PIA menjadi kurang menarik

  87 Peranan Media Audio m.

  17 Menunjukkan beberapa Visual Terhadap Proses jenis media yang sering Pendampingan Iman Anak digunakan dalam kegiatan (PIA). PIA di lingkungan santo

  Agustinus Gancahan 1 n.

  18 Menunjukkan bahwa pendamping pernah menggunakan media audio visual seperti film, video, dan televisi dalam kegiatan PIA. o.

  19 Menyebutkan pengertian media audio visual. p.

  20 Menunjukkan bahwa media audio visual seperti film, video dan televisi. merupakan media yang sangat cocok digunakan untuk kegiatan PIA. q.

  21 Menunjukkan keunggulan media audio visual dibandingkan dengan media audio saja atau media visual saja. r.

  22 Menunjukkan bahwa salah satu media audio visual berupa film yang dapat digunakan untuk kegiatan PIA adalah film tentang kisah Yesus dan kisah para Nabi. s.

  23 Menunjukkan keunggulan media berupa film dalam kegiatan PIA. t.

  24 Menunjukan bahwa mengajak anak-anak untuk menonton media audio visual berupa film dan video membuat anak semakin antusias mengikuti kegiatan PIA. u. Faktor Pendukung dan Menunjukkan bahwa

  25 kegiatan PIA di lingkungan penghambat penggunaan

  Santo Agustinus Gancahan I

  88

  mendapat dukungan dari umat setempat. v.

  Menunjukkan bahwa pendamping selalu mengusahakan penggunaan media dalam setiap pendampingannya w. Menunjukkan bahwa pendamping memiliki inventaris media audio visual berupa film dan video untuk pendampingan PIA. x.

  Menunjukkan apakah pendamping pernah mengalami kesulitan dalam pemilihan media audio visual berupa film atau video. y.

  Menunjukkan apakah pendamping pernah mengalamipermasalahan dalam memilih metode yang cocok untuk mengadakan kegiatan PIA yang menggunakan menggunakan media audio visual. z.

  Menunjukkan bahwa ketiadaan peralatan pendukung media audio visual yang memadahi membuat penggunaan media dalam proses pendampingan PIA menjadi terhambat.

  26

  27

  28

  29

  30 I.

   Hasil Penelitian

  Pada bagian berikut akan dibahas hasil penelitian yang telah dilaksanakan terhadap kegiatan Pendampingan Iman Anak (PIA) di lingkungan Santo Agustinus Gancahan I Paroki Maria Assumpta Gamping Yogyakarta. Jumlah kuesioner yang disebarkan adalah 10 kuesioner, dari jumlah tersebut 10 kuesioner

1. Identitas Responden

  2 Jenis Kelamin a.

  89

  telah dikembalikan. Laporan hasil penelitian ini akan diuraikan dalam bentuk tabel yang terdiri dari: Identitas responden, Kegiatan PIA di Lingkungan Santo Agustinus Gancahan I, Peranan Media Audio Visual Terhadap Proses PIA, Serta Faktor Pendukung dan Penghambat.

  Tabel berikut ini akan memaparkan tentang identitas responden sesuai dengan data yang diperoleh di lapangan.

  

Tabel 5. Identitas Responden (N: 10)

  No Item

  Identitas Responden Alternatif Jawaban Jumlah

  (X)

  %

  (X/N.100)

(1) (2) (3) (4) (5)

  • 10 100

  Laki-laki b.

  • 60

  Mahasiswi c. D3 d.

  30 Hasil Penelitian menunjukkan bahwa responden yang merupakan pendamping aktif dan pendamping PIA senior di lingkungan Santo Agustinus Gancahan I seluruhnya adalah perempuan atau 100 % pendamping PIA adalah perempuan. Untuk kategori usia, sebagian besar responden berumur 15-25 tahun (60%), 35-45 (30%), 25-35 tahun (10%). Sedangkan untuk tingkat pendidikan

  20

  40

  10

  3

  2

  4

  1

  S1

  SMK b.

  Perempuan

  4 Tingkat pendidikan saat ini a.

  30

  10

  3

  1

  45-55

  25-35 c. 35-45 d.

  15-25 b.

  3 Umur anda saat ini a.

  6

  90

  orang (40%), dan yang lainnya lulusan S1 atau sarjana sebanyak 3 orang (30%), Lulusan D3 sebanyak 2 orang (20%), dan lulusan SMK sebanyak 1 orang (10%).

2. PIA di Lingkungan Santo Agustinus Gancahan I Paroki Maria Assumpta Gamping.

  Pada bagian ini peneliti akan memaparkan tentang bagaimana kegiatan Pendampingan Iman Anak (PIA) yang terjadi di Lingkungan Santo Agustinus Gancahan I, seperti yang telah terungkap pada tabel 4 berikut ini:

  

Tabel 6. Pendampingan Iman Anak (PIA) di Lingkungan Santo Agustinus

Gancahan I Paroki Maria Assumpta Gamping. (N:10)

  No Identitas Responden Alternatif Jawaban Jumlah % Item

  (X) (X/N.100)

(1) (2) (3) (4) (5)

  5 Kegiatan Pendampingan a.

  6

  60 Sangat setuju Iman Anak (PIA) adalah b.

  3

  30 Setuju suatu bentuk c.

  Ragu-ragu pendampingan iman d.

  Tidak setuju sejak dini khusus untuk e.

  1

  10 Sangat tidak anak-anak beragama setuju katolik baik yang sudah maupun belum dibabtis.

  6 Salah satu tujuan PIA a.

  8

  80 Sangat setuju adalah untuk b.

  2

  20 Setuju mengenalkan anak-anak c.

  Ragu-ragu pada iman katolik sedini d.

  Tidak setuju mungkin agar mereka e.

  Sangat tidak semakin mencintai setuju Gereja.

  91

  Tidak setuju e. Sangat tidak setuju

  7

  1

  20

  70

  10

  10 Dalam kegiatan PIA anak-anak diarahkan dan dibentuk untuk menjadi generasi penerus Gereja yang senantiasa aktif dalam kegiatan menggereja.

  a.

  Sangat setuju b.

  Setuju c. Ragu-ragu d.

  7

  Tidak setuju e. Sangat tidak setuju

  3

  70

  30

  11 Salah satu alasan mengapa pendampingan iman pada anak-anak tidak usah menunggu ketika mereka dewasa a.

  Sangat setuju b.

  Setuju c. Ragu-ragu d.

  Tidak setuju e. Sangat tidak

  6

  4

  60

  2

  Setuju c. Ragu-ragu d.

  7 Peserta PIA adalah anak-anak yang berumur sekitar 5-13 tahun baik yang sudah maupun belum dibabtis.

  50

  a.

  Sangat setuju b.

  Setuju c. Ragu-ragu d.

  Tidak setuju e. Sangat tidak setuju

  2

  3

  5

  20

  30

  8 Kegiatan PIA di lingkungan Santo Agustinus Gancahan I selalu dilaksanakan setiap hari Minggu.

  Sangat setuju b.

  a.

  Sangat setuju b.

  Setuju c. Ragu-ragu d.

  Tidak setuju e. Sangat tidak setuju

  4

  6

  40

  60

  9 PIA adalah kegiatan yang santai namun mendalam.

  a.

  40

  92

  dikarenakan usia dini setuju merupakan masa emas perkembangan manusia dan pada saat itu terjadi lonjakan perkembangan pada anak-anak, sehingga usia dini merupakan waktu yang sangat baik bagi anak- anak untuk mulai dibimbing dan diarahkan dalam iman melalui kegiatan PIA.

  12 Anak-anak adalah a.

  6

  60 Sangat setuju tumpuan harapan bagi b.

  4

  40 Setuju kehidupan dan c.

  Ragu-ragu perkembangan Gereja di d.

  Tidak setuju masa depan. Oleh e.

  Sangat tidak karena itu dengan setuju diadakannya kegiatan PIA sejak usia dini diharapkan mereka akan semakin mencintai Gereja dan senantiasa terlibat aktif dalam kegiatan menggereja.

  13 Manfaat kegiatan PIA a.

  3

  30 Sangat setuju bagi orang tua sebagai b.

  6

  60 Setuju pendidik pertama dan c.

  1

  10 Ragu-ragu utama adalah membantu d.

  Tidak setuju

  93

  orang tua dalam e.

  Sangat tidak pendampingan iman setuju anak-anaknya karena terkadang orang tua memiliki keterbatasan, misalnya orang tua terlalu sibuk sehingga anak kurang terdampingi dan adanya keterbatasan dalam pengetahuan iman.

  14 Agar menjadi semakin a.

  6

  60 Sangat setuju menarik dan efektif b.

  4

  40 Setuju kegiatan PIA c.

  Ragu-ragu membutuhkan sebuah d.

  Tidak setuju media.

  e.

  Sangat tidak setuju

  15 Penggunaan media a.

  4

  40 Sangat setuju dalam kegiatan PIA b.

  6

  60 Setuju merupakan hal penting c.

  Ragu-ragu karena akan membuat d.

  Tidak setuju kegiatan PIA menjadi e.

  Sangat tidak semakin efektif dan setuju menarik.

  16 Ketidakadaan media a.

  3

  30 Sangat setuju seperti cerita, kertas b.

  7

  70 Setuju lipat, gambar-gambar, c.

  Ragu-ragu gerakan, dan film d.

  Tidak setuju membuat kegiatan PIA e.

  Sangat tidak menjadi kurang setuju

  94 menarik.

  Pada item nomor 5, 60% responden sangat menyetujui pernyataan yang mengatakan bahwa kegiatan Pendampingan Iman Anak (PIA) adalah suatu bentuk pendampingan iman sejak dini khusus untuk anak-anak beragama Katolik baik yang sudah maupun belum dibabtis, dan sisanya hanya menjawab setuju sebanyak 30 % dan sangat tidak setuju sebanyak 10 %. Selanjutnya pada pernyataan item nomor 6 sebanyak 80% responden menyatakan sangat menyetujui pernyataan yang mengatakan bahwa Salah satu tujuan PIA adalah untuk mengenalkan anak- anak pada iman Katolik sedini mungkin agar mereka semakin mencintai Gereja, dan sisanya menjawab setuju sebanyak 20%. Pada item nomor 7 sebanyak 50% responden menyatakan tidak setuju terhadap pernyataan yang mengatakan bahwa Peserta PIA adalah anak-anak yang berumur sekitar 5-13 tahun baik yang sudah maupun belum dibabtis, dan Sisanya menjawab ragu-ragu sebanyak 30%, dan menjawab setuju sebanyak 20%.

  Pada item nomor 8, 60% responden menyetujui pernyataan yang mengatakan bahwa kegiatan PIA di lingkungan Santo Agustinus Gancahan I selalu dilaksanakan setiap hari Minggu, dan sisanya menjawab sangat setuju sebanyak 40%. Lalu pada item nomor 9, 70% responden menyatakan setuju terhadap pernyataan yang mengatakan bahwa PIA adalah kegiatan yang santai namun mendalam, sisanya menjawab sangat setuju sebanyak 20% dan ragu-ragu sebanyak 10%. Pada item nomor 10, 70% responden sangat menyetujui pernyataan yang mengatakan bahwa dalam kegiatan PIA anak-anak diarahkan dan

  95

  dibentuk untuk menjadi generasi penerus Gereja yang senantiasa aktif dalam kegiatan menggereja, dan sisanya menjawab setuju sebanyak 30%.

  Pada item nomor 11, 60% responden sangat menyetujui pernyataan yang mengatakan bahwa salah satu alasan mengapa pendampingan iman pada anak- anak tidak usah menunggu ketika mereka dewasa dikarenakan Usia dini merupakan masa emas perkembangan manusia dan pada saat itu terjadi lonjakan perkembangan pada anak-anak, sehingga usia dini merupakan waktu yang sangat baik bagi anak-anak untuk mulai dibimbing dan diarahkan dalam iman melalui kegiatan PIA, dan sisanya menjawab setuju sebanyak 40%. Lalu pada item nomor 12, 60 % responden sangat menyetujui pernyataan yang mengatakan bahwa Anak- anak adalah tumpuan harapan bagi kehidupan dan perkembangan Gereja di masa depan. Oleh karena itu dengan diadakannya kegiatan PIA sejak usia dini diharapkan mereka akan semakin mencintai Gereja dan kelak anak senantiasa aktif dalam kegiatan menggereja, dan sisanya menjawab setuju sebanyak 40%. Pada item nomor 13, 60% responden menyetujui pernyataan yang mengatakan bahwa manfaat kegiatan PIA bagi orang tua sebagai pendidik pertama dan utama adalah membantu orang tua dalam pendampingan iman anak-anaknya karena terkadang orang tua memiliki keterbatasan, misalnya orang tua terlalu sibuk sehingga anak kurang terdampingi dan adanya keterbatasan dalam pengetahuan iman. Dan sisanya menjawab sangat setuju sabanyak 30%, dan ragu-ragu sebannyak 10%.

  Pada item nomor 14, 60% responden sangat setuju terhadap pernyataan yang mengatakan bahwa agar menjadi semakin menarik dan efektif kegiatan PIA

  96 membutuhkan sebuah media, dan sisanya menjawab setuju sebanyak 40%.

  Selanjutnya pada item nomor 15, 60% responden setuju terhadap pernyataan yang mengatakan bahwa Penggunaan media dalam kegiatan PIA merupakan hal penting karena akan membuat kegiatan PIA menjadi semakin efektif dan menarik, dan sisanya menjawab sangat setuju sebanyak 40%. Pada item nomor 16. 70% responden setuju terhadap pernyataan yang mengatakan bahwa ketidakadaan media seperti cerita, kertas lipat, gambar-gambar, gerakan, dan film membuat kegiatan PIA menjadi kurang menarik, dan sisanya menjawab sangat setuju sebanyak 30%.

3. Peranan Media Audio Visual Terhadap Proses PIA

  Pada bagian ini peneliti akan memaparkan tentang peranan media audio visual terhadap proses PIA di Lingkungan Santo Agustinus Gancahan I, yang terungkap pada tabel 7 berikut ini :

  

Tabel 7. Peranan Media Audio-Visual Terhadap Proses PIA (N:10)

  No Item Identitas Responden Alternatif Jawaban Jumlah %

  (X) (X/N.100)

(1) (2) (3) (4) (5)

  17 Media berupa gambar, a.

  2

  20 Sangat setuju kertas lipat, alat peraga, b.

  8

  80 Setuju cerita, dan gerakan c.

  Ragu-ragu merupakan beberapa media d.

  Tidak setuju yang selama ini sering e.

  Sangat tidak setuju digunakan dalam kegiatan PIA di lingkungan Santo Agustinus Gancahan I.

  97

  Tidak setuju e. Sangat tidak setuju

  4

  6

  40

  60

  21 Keunggulan media audio visual dibandingkan dengan media audio saja atau media visual saja adalah media audio visual mampu menyampaikan pengertian atau informasi kepada anak- anak dengan cara yang lebih kongkrit daripada apa yang dapat disampaikan oleh kata-kata saja atau tulisan saja.

  a.

  Sangat setuju b.

  Setuju c. Ragu-ragu d.

  3

  Setuju c. Ragu-ragu d.

  7

  30

  70

  22 Salah satu media audio visual berupa film yang a.

  Sangat setuju b.

  Setuju

  4

  6

  40

  Tidak setuju e. Sangat tidak setuju

  Sangat setuju b.

  18 Pendamping pernah menggunakan media audio visual seperti film, video, atau televisi dalam pendampingannya.

  20

  a.

  Sangat setuju b.

  Setuju c. Ragu-ragu d.

  Tidak setuju e. Sangat tidak setuju

  2

  6

  2

  20

  60

  19 Media audio-visual adalah media yang audible artinya dapat didengar dan media yang visible artinya dapat dilihat dalam waktu yang bersamaan.

  a.

  a.

  Sangat setuju b.

  Setuju c. Ragu-ragu d.

  Tidak setuju e. Sangat tidak setuju

  4

  6

  40

  60

  20 Media audio visual seperti film, video, dan televisi adalah media yang sangat cocok digunakan dalam proses PIA.

  60

  98

  dapat digunakan dalam c.

  Ragu-ragu proses PIA adalah film d.

  Tidak setuju tentang Kisah Yesus dan e.

  Sangat tidak setuju Kisah Para Nabi.

  23 Keunggulan penggunaan a.

  2

  20 Sangat setuju film dalam kegiatan PIA b.

  8

  80 Setuju adalah dalam film anak- c.

  Ragu-ragu anak tidak hanya d.

  Tidak setuju mendengarkan narasi cerita, e.

  Sangat tidak setuju tetapi juga melihat situasi yang terjadi dalam cerita tersebut secara bersamaan. Sehingga anak dapat dengan cepat mengingat dan memahami apa yang terjadi dalam film tersebut.

  24 Mengajak anak-anak a.

  4

  40 Sangat setuju menonton media audio b.

  6

  60 Setuju visual seperti film dan c.

  Ragu-ragu video yang menarik d.

  Tidak setuju Sangat tidak setuju membuat mereka semakin antusias mengikuti kegiatan PIA.

  Pada item nomor 17, 80% responden setuju terhadap pernyataan yang mengatakan bahwa media berupa gambar, kertas lipat, alat peraga, cerita, dan gerakan merupakan beberapa media yang selama ini sering digunakan dalam kegiatan PIA di lingkungan Santo Agustinus Gancahan I, dan sisanya menjawab sangat setuju sebanyak 20%. Selanjutnya pada item nomor 18, 60% responden

  99

  setuju terhadap pernyataan yang mengatakan bahwa pendamping pernah menggunakan media audio visual seperti film, video, atau televisi dalam pendampingannya, dan sisanya menjawab sangat setuju sebanyak 20% dan ragu- ragu sebanyak 20%. Pada item nomor 19. 60% responden setuju terhadap pernyataan yang mengatakan bahwa media audio visual adalah media yang

  

audible artinya dapat didengar dan media yang visible artinya dapat dilihat dalam

waktu yang bersamaan, dan sisanya menjawab sangat setuju sebanyak 40%.

  Pada item nomor 20. 60% responden merasa ragu-ragu terhadap pernyataan yang mengatakan bahwa media audio visual seperti film, video, dan televisi adalah media yang sangat cocok digunakan dalam proses PIA, dan sisanya menyatakan setuju sebanyak 40%,. selanjutnya pada item nomor 21, 70% responden setuju terhadap pernyataan yang mengatakan bahwa Keunggulan media audio visual dibandingkan dengan media audio saja atau media visual saja adalah media audio visual mampu menyampaikan pengertian atau informasi kepada anak-anak dengan cara yang lebih kongkrit daripada apa yang dapat disampaikan oleh kata-kata saja atau tulisan saja, dan sisanya menjawab sangat setuju sebanyak 30%. Pada item nomor 22, 60% responden setuju terhadap pernyataan yang mengatakan bahwa Salah satu media audio visual berupa film yang dapat digunakan dalam proses PIA adalah film tentang Kisah Yesus dan Kisah Para Nabi, dan sisanya menjawab sangat setuju sebanyak 40%.

  Pada item nomor 23. Menunjukan bahwa sebanyak 80% responden setuju terhadap pernyataan yang mengatakan bahwa keunggulan penggunaan film dalam kegiatan PIA adalah dalam film anak-anak tidak hanya mendengarkan narasi

  100

  cerita, tetapi juga melihat situasi yang terjadi dalam cerita tersebut secara bersamaan. Sehingga anak dapat dengan cepat mengingat dan memahami apa yang terjadi dalam film tersebut, dan sisanya menjawab sangat setuju sebanyak 20%. Selanjutnya pada item nomor 24, menunjukkan bahwa sebanyak 60% responden setuju terhadap pernyataan yang menyatakan bahwa mengajak anak- anak menonton media audio visual seperti film dan video yang menarik membuat mereka semakin antusias mengikuti kegiatan PIA, dan sisanya menjawab sangat setuju sebanyak 40%.

4. Faktor Pendukung dan Penghambat

  Tabel 8. Faktor Pendukung dan Penghambat (N:10)

  6

  30

  70

  3

  7

  Sangat setuju b. Setuju c. Ragu-ragu d. Tidak setuju

  26 Pendamping PIA selalu merencanakan dan mengusahakan penggunaan media a.

  60

  40

  4

  No Item

  Pada bagian ini penulis akan memaparkan faktor pendukung dan penghambat, seperti yang terungkap pada tabel 8 berikut ini:

  a.

  25 Kegiatan PIA mendapat dukungan dari umat Katolik di lingkungan setempat baik berupa dukungan materi ataupun dukungan moral.

  (X/N.100)

(1) (2) (3) (4) (5)

  %

  (X)

  Jumlah

  Identitas Responden Alternatif Jawaban

  Sangat setuju b. Setuju c. Ragu-ragu d. Tidak setuju e. Sangat tidak setuju

  101

  2

  70

  10

  29 Kesulitan lain yang dihadapi pendamping adalah dalam memilih metode yang cocok untuk mendampingi kegiatan PIA dengan menggunakan media audio visual.

  a.

  Sangat setuju b. Setuju c. Ragu-ragu d. Tidak setuju e. Sangat tidak setuju

  2

  6

  20

  1

  60

  20

  30 Ketiadaan peralatan pendukung media audio visual yang memadahi membuat penggunaan media audio visual dalam proses pendampingan PIA a.

  Sangat setuju b. Setuju c. Ragu-ragu d. Tidak setuju e. Sangat tidak setuju

  9

  1

  90

  20

  7

  dalam setiap pendampingannya.

  2

  e.

  Sangat tidak setuju

  27 Pendamping PIA memiliki inventaris media audio visual berupa film atau video yang sewaktu-waktu dapat digunakan untuk kegiatan pendampingan.

  a.

  Sangat setuju b. Setuju c. Ragu-ragu d. Tidak setuju e. Sangat tidak setuju

  4

  2

  2

  2

  40

  20

  20

  20

  28 Pendamping pernah mengalami kesulitan ketika memilih film atau video yang cocok untuk kegiatan PIA dengan tema tertentu.

  a.

  Sangat setuju b. Setuju c. Ragu-ragu d. Tidak setuju e. Sangat tidak setuju

  10

  102 menjadi terhambat.

  Pada item nomor 25, 60% responden setuju terhadap pernyataan yang mengatakan bahwa kegiatan PIA mendapat dukungan dari umat Katolik di lingkungan setempat baik berupa dukungan materi ataupun dukungan moral, dan sisanya sebanyak menjawab sangat setuju sebanyak 40%. Selanjutnya pada item nomor 26, 70% responden setuju terhadap pernyataan yang mengatakan bahwa pendamping PIA selalu merencanakan dan mengusahakan penggunaan media dalam setiap pendampingannya, dan sisanya menjawab ragu-ragu sebanyak 30%. Pada item nomor 27, 40% responden sertuju terhadap pernyataan yang mengatakan bahwa Pendamping PIA memiliki inventaris media audio visual berupa film atau video yang sewaktu-waktu dapat digunakan untuk kegiatan pendampingan, dan sisanya sebanyak 20% menjawab setuju, 20% menjawab ragu-ragu, dan 20% menjawab tidak setuju.

  Pada item nomor 28, 70% responden menyatakan setuju terhadap pernyataan yang mengatakan bahwa pendamping pernah mengalami kesulitan ketika memilih film atau video yang cocok untuk kegiatan PIA dengan tema tertentu, dan sisanya menjawab sangat setuju sebanyak 20%, dan ragu-ragu sebanyak 10%. Selanjutnya pada item nomor 29, 60% responden setuju terhadap pernyataan yang mengatakan bahwa kesulitan lain yang dihadapi pendamping adalah dalam memilih metode yang cocok untuk mendampingi kegiatan PIA dengan menggunakan media audio visual, dan sisanya menjawab ragu-ragu sebanyak 20%, dan sangat setuju sebanyak 20%. Pada item nomor 30, 90% responden setuju terhadap pernyataan yang mengatakan bahwa ketiadaan

  103

  peralatan pendukung media audio visual yang memadahi membuat penggunaan media audio visual dalam proses pendampingan PIA menjadi terhambat, dan sisanya menjawab ragu-ragu sebanyak 10%.

  J. Pembahasan Hasil Penelitian

  Berdasarkan variabel penelitian meliputi identitas responden, jalannya pendampingan Iman Anak (PIA) di Lingkungan Santo Agustinus Gancahan I paroki Maria Assumpta Gamping, peranan media audio visual dalam proses PIA, serta faktor pendukung dan faktor penghambat. Selanjutnya penulis akan mengungkapkan beberapa hal pokok berkaitan dengan hasil penelitian yang telah dilaksanakan terhadap para pendamping PIA di Lingkungan Santo Agustinus Gancahan I. sebagai berikut: 1.

   Identitas Responden

  Jumlah responden pada penelitian ini adalah 10 orang, keseluruhan responden merupakan para pendamping PIA di lingkungan Santo Agustinus Gancahan I. Responden seluruhnya adalah perempuan (100%) yang berumur 15- 25 tahun (50%), 36-45 tahun (40%), 25-35 tahun (10%). Rata-rata tingkat pendidikan responden adalah sarjana S1 (40%), selain itu beberapa sedang menjalani studi di perguruan tinggi sebagai seorang mahasiswi (50%), ada juga lulusan D3 (10%), dan lulusan SMK (10%).

  Melalui hasil penelitian tersebut dapat diketahui bahwa seluruh pendamping PIA di lingkungan Santo Agustinus Gancahan I adalah seorang perempuan. Pendamping rata-rata masih berusia muda sehingga masih sangat

  104 enerjik dalam menjalankan tugasnya sebagai seorang pendamping PIA.

  Sedangkan pendamping yang berusia 36-45 tahun merupakan pendamping senior di lingkungan tersebut. Untuk tingkat pendidikan mayoritas pendamping adalah seorang Sarjana baik sarjana strata 1 (S1) atau diploma 3 (D3), disusul seorang yang sedang menempuh studi di perguruan tinggi, dan lulusan SMK. Melihat dari tingkat pendidikannya dapat dipastikan PIA di lingkungan tersebut didampingi oleh orang-orang yang berkualitas secara akademik. Seorang yang berkualitas secara akademik pasti memiliki kecakapan yang baik, berpikiran luas dan memiliki banyak inovasi, sehingga hal tersebut akan memberikan dampak yang positif bagi jalannya kegiatan PIA di lingkungan Santo Agustinus Gancahan I.

2. PIA di Lingkungan Santo Agustinus Gancahan I paroki Maria Assumpta Gamping

  Bagian ini dimaksudkan untuk mengetahui bagaimana jalannya kegiatan PIA di lingkungan Santo Agustinus Gancahan I dan mengetahui apakah teori tentang PIA yang ada dalam dasar teori telah sesuai dengan keadaan sebenarnya yang terjadi dalam proses PIA di lingkungan tersebut. Pembahasan tentang jalannya kegiatan PIA meliputi umur peserta PIA, waktu pelaksanaan dan penggunaan media, sedangkan tentang dasar teori meliput segi pemahaman dan pandangan pendamping, serta kesesuaian teori dengan kegiatan PIA di Lingkungan Santo Agustinus Gancahan I.

  Pembahasan hasil penelitian akan dimulai dari beberapa hal pokok penting yang berkaitan dengan hal teknis jalannya kegiatan PIA di lingkungan Santo

  105

  Agustinus Gancahan I. Pernyataan mengenai jalannya kegiatan PIA ini terdapat pada item nomor 7 dan 8, pernyataan pada item ini dikhususkan untuk mengetahui kriteria peserta dan apakah benar kegiatan PIA selalu dilaksanakan pada hari Minggu. Khusus untuk pernyataan pada nomor 7, pernyataan ini diambil dari dasar teori yang terdapat pada halaman 31 skripsi ini. Pertama melalui pernyataan pada item nomor 8 dapat diketahui bahwa kegiatan PIA di lingkungan Santo Agustinus Gancahan I selalu dilaksanakan setiap hari Minggu karena keseluruhan responden menjawab sangat setuju sebanyak 4 orang (60%), dan setuju sebanyak 6 orang (60%), dan tidak satupun responden menyatakan ragu-ragu ataupun tidak setuju terhadap pernyataan tersebut. Selanjutnya melalui pernyataan pada item nomor 7 diketahui bahwa peserta PIA di lingkungan tersebut tidak hanya dari usia 5-13 tahun saja, karena sebanyak 5 orang (50%) responden menjawab tidak setuju terhadap dasar teori yang menyatakan bahwa peserta PIA adalah anak berumur 5- 13 tahun, 3 orang (30%) menjawab ragu-ragu, dan hanya 2 orang (20%) responden yang setuju. Berdasarkan data yang diperoleh dari pernyataan nomor 5 dapat disimpulkan bahwa responden tidak sependapat terhadap dasar teori yang menyatakan jika peserta PIA adalah anak berumur 5-13 tahun, karena dari pengamatan peneliti dan wawancara dengan para pendamping terdapat juga anak- anak di bawah 5 tahun yang mengikuti kegiatan PIA dengan didampingi oleh orang tuanya. Maka dari kedua pernyataan di atas scara keseluruhan dapat diketahui bahwa PIA di Lingkungan Santo Agustinus Gancahan I selalu diadakan setiap hari Minggu dan diikuti tidak hanya oleh anak berumur 5-13 tahun saja, tetapi juga diikuti oleh anak berusia di bawah 5 tahun.

  106

  Setelah mengetahui hal mengenai jalannya kegiatan PIA yang berkaitan dengan hal teknis maka selanjutnya akan dibahahas mengenai jalannya kegiatan PIA, tetapi dikhususkan pada penggunaan media dalam kegiatan PIA di Lingkungan Santo Agustinus Gancahan I. Pernyataan mengenai penggunaan media ini terdapat pada item nomor 14, 15, dan 17. Ketiga pernyataan tersebut dimaksudkan untuk mengetahui apakah penggunaan media dalam kegiatan PIA itu penting. Pertama melalui jawaban responden pada pernyataan nomor 14 dapat disimpulkan bahwa seluruh responden sependapat bahwa agar menjadi semakin menarik dan efektif kegiatan PIA membutuhkan sebuah media, hal ini berdasarkan jawaban responden yang menyatakan sangat setuju sebanyak 6 orang (60%), dan menyatakan setuju sebanyak 4 orang (40%). Kedua melalui pernyataan pada item nomor 15 dapat disimpulkan bahwa seluruh pendamping menyadari akan pentingnya penggunaan media dalam kegiatan PIA agar kegiatan PIA menjadi semakin efektif dan menarik, Hal ini berdasarkan jawaban responden yang menyatakan sangat setuju sebanyak 4 orang (40%) dan setuju sebanyak 6 orang (60%). Selanjutnya melalui pernyataan yang terdapat pada item nomor 14 dapat disimpulkan bahwa seluruh pendamping menyadari jika tidak ada media seperti cerita, gambar, gerakan, dan film kegiatan PIA menjadi kurang menarik, hal ini berdasarkan jawaban dari responden yang menyatakan sangat setuju sebanyak 3 orang (30%), setuju sebanyak 7 orang (70%), dan tidak satupun responden menyatakan ragu-ragu, atau tidak setuju. Sehingga dari seluruh hasil penelitian yang didapat dari item nomor 14,15, dan 16 secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa para responden menyadari akan pentingnya penggunaan

  107

  media dalam proses PIA di lingkungan Santo Agustinus Gancahan I Paroki Maria Assumpta Gamping.

  Selain hal itu diperoleh juga beberapa pokok penting mengenai pandangan pendamping terhadap beberapa teori tentang PIA yang tertulis dalam dasar teori penulisan skripsi ini. Teori ini dituliskan pada pernyataan yang terdapat pada item nomor 5, 6, 9, 10, 11,12, dan 13. Pertama melalui dasar teori yang dituliskan pada item nomor 5 dapat disimpulkan bahwa hampir seluruh pendamping PIA di Lingkungan Santo Agustinus Gancahan I sangat sependapat jika PIA adalah suatu bentuk pendampingan iman sejak usia dini khusus untuk anak-anak beragama Katolik baik yang sudah dibabtis maupun belum dibabtis, hal ini berdasarkan pendapat responden pada pernyataan pada item nomor 5 yang menyatakan sangat setuju sebanyak 6 orang (60%) dan setuju sebanyak 3 orang (30%), sedangkan hanya 1 orang (10%) responden menyatakan sangat tidak setuju terhadap pendapat tersebut. Selanjutnya melalui pernyataan pada item nomor 6 dapat disimpulkan bahwa seluruh pendamping PIA sudah mengerti atau setuju dengan tujuan dari PIA yang terdapat dalam dasar teori yaitu untuk mengenalkan anak- anak pada iman katolik sedini mungkin agar mereka semakin mencintai Gereja, hal ini berdasarkan pendapat responden yang menyatakan sangat setuju sebanyak 7 orang (80%) dan setuju sebanyak 3 orang (20%).

  Pada Item nomor 8 terdapat pernyataan berdasarkan dasar teori yang mengatakan bahwa PIA merupakan kegiatan yang santai namun mendalam, berdasarkan data yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa hampir seluruh pendamping memahami dan menyetujui pendapat tersebut, karena 3 orang (40%)

  108

  responden menyatakan sangat setuju, dan 6 orang (60%) responden menyatakan setuju, meskipun ada satu orang responden yang masih merasa ragu-ragu atas pendapat tersebut. Selanjutnya melalui pernyataan pada item nomor 10 dapat disimpulkan bahwa seluruh pendamping sudah memahami dan menyetujui arah dan tujuan PIA yaitu dalam kegiatan PIA anak-anak diarahkan dan dibentuk untuk menjadi generasi penerus Gereja yang senantiasa aktif dalam kegiatan menggereja, hal ini berdasarkan pendapat responden yang menyatakan sangat setuju sebanyak 8 orang (70%), sebanyak 3 orang (30%) menyatakan setuju dan tidak ada satupun responden yang menyatakan ragu-ragu atau tidak setuju.

  Dari data yang diperoleh dari pernyataan pada item nomor 11 dapat disumpulkan bahwa seluruh pendamping PIA memahami dan sependapat dengan dasar teori yang diambil dari buku PAUD yang mengatakan bahwa salah satu alasan mengapa pendampingan iman pada anak-anak tidak usah menunggu ketika mereka dewasa dikerenakan usia dini merupakan masa emas pekembangan manusia dan pada saat itu terjadi lonjakan perkembangan pada anak-anak, sehingga usia dini merupakan waktu yang sangat baik bagi anak-anak untuk mulai dibimbing dan diarahkan dalam iman melalui kegiatan PIA, hal ini diperoleh berdasarkan pendapat responden yang menyatakan sangat setuju sebanyak 6 orang (60%), setuju sebanyak 4 orang (40%) dan tidak ada satupun responden yang merasa ragu-ragu ataupun tidak setuju. Selanjutnya melalui pernyataan pada item nomor 12 dapat disimpulkan bahwa seluruh pendamping memahami dan sependapat dengan pernyataan yang menyatakan bahwa anak-anak adalah tumpuan harapan bagi kehidupan dan perkembangan Gereja di masa depan, oleh

  109

  karena itu dengan diadakannya kegiatan PIA sejak usia dini diharapkan mereka akan semakin mencintai Gereja dan kelak anak akan senantiasa aktif dalam kegiatan menggereja, hal ini diperoleh dari jawaban responden yang menyatakan sangat setuju sebanyak 6 orang (60%) responden, setuju sebanyak 4 orang (40%) responden, dan tidak ada satupun responden yang menyatakan ragu-ragu atau tidak setuju terhadap pernyataan tersebut. Melalui pernyataan pada item nomor 13 dapat disimpulkan bahwa hampir seluruh pendamping memahami dan menyetujui dasar teori tentang manfaat diadakannya PIA bagi orang tua, yaitu untuk membantu orang tua dalam pendampingan iman anak-anaknya, karena terkadang orang tua memiliki keterbatasan-keterbatasan seperti orang tua terlalu sibuk sehingga anak kurang terdampingi selain itu juga adanya keterbatasan orang tua dalam pengetahuan iman, hal ini berdasarkan pendapat responden yang menyatakan sangat setuju sebanyak 3 orang (30%), setuju sebanyak 6 orang (60%) dan hanya 1 (10%) orang responden yang ragu-ragu. Sehingga bedasarkan hasil penelitian yang didapat dari item nomor 5, 6, 9, 10, 11,12, dan 13 dapat disimpulkan bahwa hampir seluruh pendamping PIA di lingkungan Santo Agustinus Gancahan I sudah sependapat dengan dasar teori tentang PIA yang ditulis oleh para ahli.

  Secara keseluruhan dari hasil penelitian terhadap jalannya Pendampingan Iman Anak (PIA) di Lingkungan Santo Agustinus Gancahan I paroki Maria Assumpta Gamping diperoleh hasil sebagai berikut: Pertama, berkaitan dengan hal teknis PIA di Lingkungan Santo Agustinus Gancahan I selalu diadakan setiap hari Minggu dan diikuti tidak hanya oleh anak berumur 5-13 tahun saja, tetapi

  110

  juga diikuti oleh anak berusia di bawah 5 tahun. Kedua mengenai penggunaan media bahwa para responden menyadari akan pentingnya penggunaan media dalam proses PIA di lingkungan Santo Agustinus Gancahan I Paroki Santa Maria Assumpta Gamping. Ketiga berkaitan dengan teori tentang PIA yang terdapat dalam dasar teori ditemukan bahwa hampir seluruh pendamping PIA di lingkungan Santo Agustinus Gancahan I sudah sependapat dengan dasar teori tentang PIA yang ditulis oleh para ahli.

3. Peranan Media Audio Visual Terhadap Proses PIA

  Pada bagian sebelumnya telah dibahas mengenai jalannya kegiatan PIA di lingkungan Santo Agustinus Gancahan I dan kesesuaian teori tentang PIA dengan keadaan sebenarnya. Maka selanjutnya pada bagian ini akan dibahas secara khusus mengenai penggunaan media, khususnya media audio visual dalam proses PIA di lingkungan santo Agustinus Gancahan I. Memang pada bagian sebelumnya telah disinggung mengenai penggunaan media dalam proses PIA, namun media dalam pembahasan tersebut masih bersifat umum atau dalam artian belum dispesifikkan pada penggunaan salah satu media. Oleh karena itu pada bagian ini secara spesifik akan diulas mengenai penggunaan media audio visual dalam proses PIA yang terjadi di lingkungan tersebut. Sehingga nantinya melalui pembahasan ini dapat diketahui sejauh mana peranan media audio visual terhadap proses PIA di lingkungan Santo Agustinus Gancahan I secara natural.

  Untuk mengetahui sejauh mana peranan media audio visual terhadap proses PIA. Maka peneliti menggunakan 8 pernyataan yang terdapat pada item

  111

  nomor 17, 18, 19, 20, 21, 22, dan 24, Pernyataan tersebut adalah pernyataan yang berkesinambungan dan memiliki keterkaitan antara pernyataan yang satu dengan yang lainnya. Selain pernyataan untuk mengetahui sejauh mana peranan media audio visual di lingkungan Santo Agustinus Gancahan I, di dalamnya juga terdapat pernyataan berupa dasar teori tentang media audio visual yang diambil dari dasar teori dalam skripsi ini untuk mengetahui sejauh mana pemahaman pendamping mengenai apa itu media audio visual.

  Berdasarkan data yang diperoleh dari pernyataan pada item nomor 17 maka dapat diketahui bahwa media berupa gambar, kertas lipat, alat peraga, cerita, dan gerakan merupakan media yang selama ini sering digunakan dalam kegiatan PIA di lingkungan Santo Agustinus Gancahan I, hal ini berdasarkan pendapat responden yang menyatakan sangat setuju sebanyak 2 orang (20%), setuju sebanyak 8 orang (80%) dan tidak satupun responden merasa ragu-ragu atau tidak setuju terhadap pernyataan tersebut. Selanjutnya berdasarkan data yang diperoleh dari pernyataan pada item nomor 18 dapat diketahui bahwa pendamping PIA di lingkungan tersebut pernah menggunakan media audio visual berupa film, video atau televisi dalam pendampingannya meskipun dari 8 responden yang menyatakan setuju masih ada 2 responden yang merasa ragu-ragu, hal ini berdasarkan jawaban responden yang menyatakan sangat setuju sebanyak 2 orang (20%), setuju sebanyak 6 orang (60%) dan sisanya sebanyak 2 orang (20%) menyatakan ragu-ragu.

  Berdasarkan data yang diperoleh dari pernyataan pada item nomor 19 dapat disimpulkan bahwa pendamping sudah mengerti apa yang dimaksudkan

  112

  dengan media audio visual itu dan menyetujui teori yang mengatakan bahwa media audio visual adalah media yang audible artinya dapat didengar dan media yang visible artinya dapat dilihat dalam waktu yang bersamaan, hal ini berdasarkan jawaban responden yang menyatakan sangat setuju sebanyak 4 orang (40%), setuju sebanyak 6 orang (60%) dan tidak ada satupun responden yang merasa ragu-ragu atau tidak setuju terhadap pernyataan tersebut. Selanjutnya berdasarkan data yang diperoleh pada pernyataan nomor 20 belum dapat disimpulkan jika media audio visual seperti film, video, dan televisi adalah media yang sangat cocok digunakan dalam kegiatan PIA karena sebanyak 6 orang (60%) responden dari keseluruhan responden masih merasa ragu-ragu, dan hanya 4 orang (40%) responden yang menyetujui pernyataan tersebut. Maka jika dikaitkan dengan hasil penelitian pada item nomor 18 yang menyatakan bahwa 80% responden sependapat bahwa media audio visual pernah digunakan kegiatan PIA di lingkungan tersebut, kemungkinan yang terjadi adalah media audio visual belum dimanfaatkan secara maksimal sehingga responden masih ragu-ragu menyatakan bahwa media audio visual adalah media yang sangat cocok dalam kegiatan PIA. Tidak maksimal bukan berarti tidak menggunakan, tetapi tidak maksimal dalam hal ini adalah dalam pemilihan media atau metode yang digunakan dalam pendampingan tersebut, dan hal ini akan dikaji secara lebih mendalam dalam faktor pendukung dan penghambat pada bagian ke 4.

  Berdasarkan data yang diperoleh dari pernyataan pada item nomor 21 dapat disimpulkan bahwa responden sudah memahami tentang keunggulan media audio visual dan sependapat terhadap dasar teori yang menyatakan bahwa

  113

  keunggulan media audio visual dibandingkan dengan media audio saja atau media visual saja adalah media audio visual mampu menyampaikan informasi kepada anak-anak dengan cara yang lebih kongkrit daripada apa yang dapat disampaikan oleh kata-kata atau tulisan saja, hal ini diperoleh berdasarkan jawaban responden yang menyatakan sangat setuju sebanyak 3 orang (30%), setuju sebanyak 7 orang (70%) dan tidak ada satupun responden yang merasa ragu-ragu atau tidak setuju terhadap pernyataan tersebut. Selanjutnya berdasarkan data yang diperoleh dari pernyataan nomor 22 dapat disimpulkan bahwa seluruh pendamping memahami dan setuju bahwa salah satu media audio visual berupa film yang dapat digunakan dalam proses PIA adalah film tentang kisah Yesus dan kisah para Nabi, hal ini diperoleh berdasarkan jawaban responden yang menyatakan sangat setuju sebanyak 4 orang (40%), setuju sebanyak 6 orang (60%) dan tidak ada satupun responden yang merasa ragu-ragu atau tidak setuju terhadap pernyataan tersebut.

  Berdasarkan data yang diperoleh dari pernyataan pada item nomor 23 dapat diketahui bahwa seluruh pendamping memahami dan sependapat bahwa keunggulan penggunaan film dalam kegiatan PIA adalah dalam film anak-anak tidak hanya mendengarkan narasi cerita tetapi juga melihat situasi yang terjadi dalam cerita sehingga anak dapat dengan cepat mengingat dan memahami apa yang terjadi dalam film tersebut, hal ini diperoleh berdasarkan jawaban responden yang menyatakan sangat setuju sebanyak 2 orang (10%), setuju sebanyak 8 orang (80%) dan tidak ada satupun responden yang merasa ragu-ragu atau tidak setuju dengan pernyataan tersebut. Selanjutnya berdasarkan data yang diperoleh dari pernyataan pada item nomor 24 dapat disimpulkan seluruh responden setuju

  114

  bahwa dengan mengajak anak-anak menonton media audio visual seperti film dan video yang menarik akan membuat mereka semakin antusias mengikuti kegiatan PIA, hal ini diperoleh berdasarkan jawaban responden yang menyatakan sangat setuju sebanyak 4 orang (40%), setuju sebanyak 6 orang (60%) dan tidak ada satupun responden yang ragu-ragu atau tidak setuju terhadap pernyataan tersebut.

  Dari keseluruhan hasil dari 8 pernyataan yang terdapat pada item nomor 17, 18, 19, 20, 21, 22, dan 24, dapat disimpulkan bahwa media audio visual sudah memiliki peranan dalam proses PIA di Lingkungan Santo Agustinus Gancahan I, ini dapat dilihat dari hasil yang di dapat bahwa pendamping sudah pernah menggunakan media audio visual dalam pendampingganya, selain itu pendamping juga sudah memahami apa yang dimaksud dengan media audio visual dan keunggulannya melalui dasar teori yang dimunculkan oleh peneliti dalam beberapa item pernyataan dari 8 pernyataan yang ada, pendamping juga sudah mengetahui keunggulan media audio visual berupa film jika digunakan dalam kegiatan PIA, namun pendamping masih ragu-ragu bahwa media audio visual adalah media yang sangat cocok digunakan dalam kegiatan PIA.

4. Faktor Pendukung dan Faktor Penghambat

  Setelah pada bagian sebelumnya sudah diperoleh hasil penelitian mengenai sejauh mana peranan media audio visual terhadap proses PIA di lingkungan Santo Agustinus Gancahan I. Maka pada bagian ini akan mencaritahu mengenai faktor pendukung dan penghambat dari penggunaan media audio visual dalam kegiatan PIA di lingkungan tersebut. Pada bagian ini terdapat 6 item

  115

  pernyataan yang dibagi menjadi 2 bagian yaitu faktor pendukung pada nomor 25, 26, dan 27. Sedangkan faktor penghambat dituliskan pada item nomor 28,29 dan 30.

  Berdasarkan data yang diperoleh dari pernyataan pada item nomor 25 maka secara jelas dapat disimpulkan bahwa kegiatan PIA di lingkungan Santo Agustinus Gancahan I mendapatkan dukungan dari umat katolik di lingkungan setempat baik berupa dukungan materi ataupun dukungan moral. Hal ini diperoleh berdasarkan jawaban responden yang menyatakan sangat setuju sebanyak 5 orang (50%), setuju sebanyak 5 orang (50%) dan tidak ada satupun responden yang merasa ragu-ragu ataupun tidak setuju. Dengan dukungan yang diberikan maka tidak menutup kemungkinan penggunaan media audio visual dalam kegiatan PIA juga senantiasa didukung oleh umat.

  Berdasarkan data yang diperoleh dari pernyataan pada item nomor 26 dapat diketahui bahwa sebanyak 7 orang (70%) pendamping selalu merencanakan dan mengusahakan penggunaan media dalam setiap pendampingannya, sedangkan 3 orang (30%) lainnya menjawab ragu-ragu. Ragu-ragu bisa diartikan sebagai tidak selalu, maka sebanyak 3 orang tidak selau mengusahakan media dalam setiap pendampinggannya. Berarti media tetap diusahakan oleh sebagian besar pendamping dan hanya beberapa pendamping saja yang tidak selalu mengusahakan media dalam setiap pendampingannya. Maka berdasarkan hasil dari data yang diperoleh dan analisis di atas dapat disimpulkan bahwa penggunaan media dalam kegiatan PIA di Lingkungan Santo Agustinus Gancahan I sangat

  116

  didukung oleh para pendampingnya sehingga para pendamping senantiasa menyiapkan media dalam setiap pendampingannya.

  Berdasarkan data yang diperoleh dari pernyataan pada item nomor 27 tentang inventaris media audio visual yang dimiliki pendamping, sebanyak 4 orang (40%) pendamping menjawab sangat setuju dan 2 orang (20%) pendamping menjawab setuju terhadap pernyataan yang mengatakan bahwa pendamping PIA memiliki inventaris berupa film atau video yang sewaktu-waktu dapat digunakan untuk kegiatan pendampingan. Berdasarkan hal tersebut dapat diketahui bahwa ke 6 pendamping memiliki inventaris berupa media audio visual baik berupa film atau video yang sewaktu-waktu dapat digunakan dalam kegiatan PIA. Selanjutnya terdapat 2 orang (20%) responden yang merasa ragu-ragu dan 2 orang (20%) lain yang menyatakan tidak setuju, maka dapat diketahui bahwa ke 4 responden tersebut tidak memiliki inventaris media audio visual yang sewaktu-waktu dapat digunakan dalam kegiatan PIA. Inventaris media audio visual yang dimiliki pendamping merupakan modal yang sangat baik untuk mengadakan PIA dengan media audio visual, dengan adanya inventaris yang dimiliki oleh pendamping tersebut dapat disimpulkan bahwa penggunaan media audio visual dalam kegiatan PIA di Lingkungan Santo Agustinus Gancahan I didukung oleh para pendamping.

  Melalui hasil dari ketiga pernyataan di atas mengenai faktor pendukung penggunaan media audio visual dapat disimpulkan bahwa kegiatan PIA dengan media audio visual di lingkungan tersebut sangat mungkin untuk dilaksanakan. Hal ini dilihat dari adanya dukungan umat untuk kegiatan PIA baik dukungan moral maupun materi, selanjutnya pendamping selalu mengusahakan media dalam

  117

  setiap pendampingannya, dan sebagian besar pendamping sudah memiliki media audio-visual yang siap digunakan untuk kegiatan PIA.

  Pada pernyataan nomor 28,29, dan 30 akan dibahas secara khusus mengenai faktor penghambat penggunaan media audio visual dalam kegiatan PIA di lingkungan Santo Agustinus Gancahan I. Bagian ini dimaksudkan untuk mengetahui hambatan atau kesulitan yang dialami pendamping ketika akan menggunakan media audio visual dalam kegiatan PIA di lingkungan tersebut. Hambatan tersebut akan digali melalui ke 3 pernyataan yang meliputi apakah pendamping pernah mengalami kesulitan ketika memilih media, kesulitan dalam memilih metode, dan hambatan yang berkaitan dengan peralatan pendukung yang ada.

  Berdasarkan data yang diperoleh dari pernyataan nomor 28 tentang kesulitan yang pernah dialami pendamping ketika mereka memilih film atau video yang cocok untuk kegiatan PIA, dapat disimpulkan bahwa sebagian besar atau mayoritas pendamping PIA mengalami kesulitan ketika memilih film atau video yang cocok untuk kegiatan PIA, hal ini berdasarkan data yang diperoleh dari responden yang menyatakan sangat setuju sebanyak 2 orang, setuju sebanyak 6 orang (60%) dan sisanya menyatakan ragu-ragu.

  Berdasarkan data yang diperoleh dari pernyataan pada item nomor 29 dapat disimpulkan bahwa pendamping juga mengalami kesulitan dalam memilih metode yang cocok untuk mendampingi kegiatan PIA dengan menggunakan media audio visual, hal ini diperoleh berdasarkan jawaban responden yang

  118

  menyatakan sangat setuju sebanyak 2 orang (20%), setuju sebanyak 6 orang (60%), dan terdapat 2 (20%) orang responden yang merasa ragu-ragu.

  Berdasarkan data yang diperoleh dari pernyataan nomor 30 dapat disimpulkan bahwa hambatan ketiga untuk menggunakan media audio visual dalam proses PIA adalah ketiadaan peralatan pendukung media audio visual yang memadahi membuat penggunaan media audio visual dalam proses PIA menjadi terhambat, hal ini diperoleh berdasarkan jawaban responden yang menyatakan setuju sebanyak 9 orang (90%), dan hanya 1 orang (10%) responden yang masih ragu-ragu.

  Melalui hasil dari ketiga pernyataan di atas mengenai faktor penghambat penggunaan media audio visual dapat disimpulkan bahwa mayoritas pendamping masih mengalami banyak hambatan dalam menerapkan media audio visual dalam proses PIA di Lingkungan Santo Agustinus Gancahan I. Hambatan tersebut meliputi hambatan dalam pemilihan film atau video yang cocok untuk kegiatan PIA dengan tema tertentu, hambatan dalam pemilihan metode yang cocok untuk kegiatan PIA yang menggunakan media audio visual, dan ketiadaan peralatan pendukung media audio visual yang memadahi.

  Secara keseluruhan dari hasil penelitian mengenai Faktor Pendukung dan faktor penghambat penggunaan media audio visual di lingkungan Santo Agustinus Gancahan I ditemukan bahwa Kegiatan PIA dengan media audio visual di lingkungan tersebut sangat mungkin untuk dilaksanakan karena PIA mendapat dukungan dari umat, Pendamping selalu mengusahakan media dalam setiap pendampingannya, dan sebagian pendamping sudah memiliki media audio visual

  119

  yang dapat digunakan dalam pendampingan. Namun dalam pelaksanaanya pendamping masih menemui hambatan-hambatan meliputi kesulitan dalam memilih media audio visual untuk pendampingan dengan tema tertentu, kesulitan dalam memilih metode pendampingan yang tepat, dan ketiadaan sarana pendukung media audio visual yang memadahi.

  K. Rangkuman Hasil Penelitian

  Melalui hasil penelitian yang telah dilaksanakan tentang identitas responden pada item nomor 2, 3, dan 4, dapat diketahui bahwa seluruh pendamping PIA di Lingkungan Santo Agustinus Gancahan I adalah seorang perempuan. Pendamping rata-rata masih berusia muda yaitu antara 15-25 tahun sehingga masih sangat enerjik dalam menjalankan tugasnya sebagai seorang pendamping PIA, sedangkan pendamping yang berusia 36-45 tahun merupakan pendamping senior di lingkungan tersebut. Untuk tingkat pendidikan mayoritas pendamping adalah seorang Sarjana baik sarjana strata 1 (S1) atau diploma 3 (D3), disusul seorang yang sedang menempuh studi di perguruan tinggi, dan lulusan SMK. Melihat dari tingkat pendidikannya dapat dipastikan PIA di lingkungan tersebut didampingi oleh orang-orang yang berkualitas secara akademik. Seorang yang berkualitas secara akademik pasti memiliki kecakapan yang baik, berpikiran luas dan memiliki banyak inovasi, sehingga hal tersebut akan memberikan dampak yang positif bagi jalannya kegiatan PIA di lingkungan Santo Agustinus Gancahan I.

  120

  Selanjutnya dari hasil penelitian mengenai kegiatan PIA di lingkungan Santo Agustinus Gancahan I yang dituliskan dalam 12 pernyataan pada item nomor 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11, 12, 13, 14, 15, dan 16 diperoleh hasil sebagai berikut: Pertama, berkaitan dengan hal teknis, PIA di Lingkungan Santo Agustinus Gancahan I selalu diadakan setiap hari Minggu dan diikuti tidak hanya oleh anak berumur 5-13 tahun saja, tetapi juga diikuti oleh anak berusia di bawah 5 tahun.

  Kedua, berkaitan dengan penggunaan media secara umum, para responden menyadari akan pentingnya penggunaan media dalam kegiatan PIA yang dilaksanakan di lingkungan tersebut. Ketiga, berkaitan dengan teori tentang PIA yang terdapat dalam dasar teori ditemukan bahwa hampir seluruh pendamping PIA di lingkungan tersebut sudah sependapat dengan dasar teori tentang PIA yang dicetuskan oleh para ahli maupun oleh Komkat KWI.

  Selanjutnya berkaitan dengan peranan media audio visual terhadap proses PIA di Lingkungan Santo Agustinus Gancahan I yang dituliskan dalam 8 pernyataan pada item nomor 17, 18, 19, 20, 21, 22, dan 24, diperoleh hasil sebagai berikut: Media audio visual sudah memiliki peranan dalam proses PIA di Lingkungan Santo Agustinus Gancahan I, karena diketahui bahwa pendamping sudah pernah menggunakan media audio visual dalam pendampinganya, selain itu pendamping juga sudah memahami apa yang dimaksud dengan media audio- visual dan keunggulannya melalui dasar teori yang dimunculkan oleh peneliti dalam beberapa item pernyataan dari 8 pernyataan yang ada, pendamping juga sudah mengetahui keunggulan media audio visual berupa film jika digunakan dalam kegiatan PIA, namun yang menjadi persoalan adalah pendamping masih

  121

  ragu-ragu bahwa media audio visual adalah media yang sangat cocok digunakan dalam kegiatan PIA.

  Secara keseluruhan dari hasil penelitian mengenai Faktor Pendukung dan faktor penghambat penggunaan media audio visual di lingkungan Santo Agustinus Gancahan I yang dituliskan dalam 6 pernyataan pada item nomor 25, 26, 27, 28, 29, dan 30 ditemukan bahwa Kegiatan PIA dengan media audio visual di lingkungan tersebut sangat mungkin untuk dilaksanakan, karena PIA mendapat dukungan dari umat, Pendamping selalu mengusahakan media dalam setiap pendampingannya, dan sebagian pendamping sudah memiliki media audio visual yang dapat digunakan dalam pendampingan. Namun dalam pelaksanaanya pendamping masih menemui hambatan-hambatan meliputi kesulitan dalam memilih media audio visual untuk pendampingan dengan tema tertentu, kesulitan dalam memilih metode pendampingan yang tepat, dan ketiadaan sarana pendukung media audio visual yang memadahi.

  Dari keseluruhan hasil penelitian berkaitan dengan media audio visual ditemukan bahwa pendamping PIA di lingkungan Santo Agustinus Gancahan I memiliki kerinduan untuk melaksanakan kegiatan PIA secara audio visual namun mereka masih menemui hambatan-hambatan. Kerinduan Ini dilihat dari pendamping yang sebagian besar memiliki inventaris berupa media audio visual yang sewaktu-waktu dapat digunakan, selain itu mereka juga mendapat dukungan dari umat, lalu hambatan yang dialami pendamping adalah berkaitan dengan pemilihan media audio visual untuk kegiatan pendampingan dengan tema tertentu,

  122

  selanjutnya berkaitan dengan metode yang tepat dalam kegiatan PIA yang menggunakan media audio visual, dan kurangnya peralatan pendukung.

  L. Refleksi Terhadap Peranan Media Audio Visual Terhadap Proses Pendampingan Iman Anak (PIA) di Lingkungan Santo Agustinus Gancahan I Berdasarkan Hasil Penelitian

  Media merupakan hal penting dalam proses Pendampingan Iman Anak (PIA). Media membuat kegiatan PIA menjadi semakin efektif dan menarik. Salah satu dari berbagai macam media yang dapat digunakan dalam proses PIA adalah media audio visual. Secara khusus skripsi ini membahas mengenai peranan media audio visual terhadap proses PIA di lingkungan Santo Agustinus Gancahan I Paroki Maria Assumpta Gamping. Melalui hasil penelitian ditemukan bahwa Pendamping PIA di lingkungan Santo Agustinus Gancahan I memiliki kerinduan untuk mendampingi kegiatan PIA dengan menggunakan media audio visual, namun mereka masih menemui hambatan-hambatan untuk mewujudkan hal tersebut. Memang mereka sudah pernah melakukan pendampingan dengan media audio visual dan sebagian besar pendamping sudah mempunyai inventaris media audio visual yang sewaktu-waktu dapat digunakan untuk kegiatan PIA. Namun pendamping masih mengalami kesulitan dalam memilih media audio visual yang tepat untuk kegiatan PIA dengan tema tertentu, selain itu pendamping juga mengalami kesulitan dalam memilih metode yang tepat untuk mendampingi PIA secara audio visual, dan ketiadaan peralatan pendukung yang memadahi membuat

  123

  penggunaan media audio visual dalam proses PIA di lingkungan Santo Agustinus Gancahan I menjadi terhambat.

  Menyadari hal tersebut peneliti akan memberikan solusi berupa usulan program pendampingan khusus untuk para pendamping PIA di lingkungan Santo Agustinus Gancahan I. Program tersebut adalah tentang pendampingan PIA dengan meggunakan media audio visual yang didalamnya terdapat solusi-solusi untuk mengatasi hambatan-hambatan yang dialami pendamping. Peneliti juga akan memberikan contoh-contoh paket pendampingan yang dapat menjadi pedoman pendamping dalam membuat PIA yang menarik dan efektif menggunakan media audio visual. Usulan program ini akan dibahas dalam Bab IV skripsi ini, dan diharapkan usulan program ini dapat menjadi solusi dari hambatan-hambatan yang dialami pendamping dalam melaksanakan PIA dengan media audio visual, dan bermanfaat bagi perkembangan kegiatan PIA di lingkungan Santo Agustinus Gancahan I Paroki Maria Assumpta Gamping Yogyakarta.

  124

BAB IV USULAN PROGRAM UNTUK PARA PENDAMPING PIA DI LINGKUNGAN SANTO AGUSTINUS GANCAHAN I TENTANG PENGGUNAAN MEDIA AUDIO VISUAL DALAM PROSES PENDAMPINGAN IMAN ANAK (PIA) Pada bab ini penulis akan membahas mengenai usulan program untuk para

  pendamping Pendampingan Iman Anak (PIA) di lingkungan Santo Agustinus Gancahan I Paroki Santa Maria Assumpta Gamping Yogyakarta. Usulan program ini disusun berdasarkan hasil penelitian yang telah diperoleh pada bab III skripsi ini. Adapun usulan program ini bertujuan untuk mengatasi masalah-masalah yang dihadapi oleh pendamping dalam upayanya mengadakan kegiatan PIA dengan menggunakan media audio visual.

A. Pengertian Program

  Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia “program adalah suatu rancangan mengenai azas-azas atau usaha yang ingin dijalankan

  ” (Tim Penyusun Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2005:897). Maka program ini berisi tentang upaya atau usaha yang ingin dijalankan untuk mengatasi masalah berupa hambatan-hambatan yang dialami pendamping dalam upaya mengadakan kegiatan Pendampingan Iman Anak (PIA) dengan menggunakan media audio visual.

  Usulan program bagi para pendamping PIA dalam bab IV ini terdiri dari latar belakang program, tujuan yang akan dicapai dari program pendampingan

  125

  tersebut, usulan program, bentuk program, pemilihan materi program, matriks program, dan yang terakhir adalah satuan persiapan program yang didalamnya terdapat materi-materi yang akan digunakan untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi oleh para pendamping PIA.

B. Latar Belakang Program

  Penggunaan media audio visual dalam proses Pendampingan Iman Anak (PIA) merupakan solusi yang tepat. Karena media tersebut membuat kegiatan PIA di zaman modern ini menjadi semakin menarik dan efektif. Banyak hal kreatif dapat dilakukan dengan media audio visual, yaitu: pendamping dapat melakukan pemutaran film, acara televisi, dan video berisi berbagai macam hal menarik sesuai kreasi pendamping untuk mengembangkan iman dan kepribadian anak-anak peserta PIA. Maka berdasarkan alasan di atas penggunaan media audio visual dalam proses PIA harus diperjuangkan karena akan memberikan pengaruh yang besar bagi kesuksesan kegiatan PIA yang dilaksanakan di Lingkungan Santo Agustinus Gancahan I Paroki Maria Assumpta Gamping Yogyakarta,

  Berdasarkan dari hasil penelitian yang telah diperoleh, diketahui bahwa para pendamping PIA di lingkungan Santo Agustinus Gancahan I Paroki Maria Assumpta Gamping, memiliki kerinduan untuk melaksanakan kegiatan Pendampingan Iman Anak (PIA) dengan menggunakan media audio visual, namun untuk mewujudkan kerinduan tersebut mereka masih menemui hambatan- hambatan yaitu: pertama, berkaitan dengan pemilihan media audio visual yang cocok untuk kegiatan pendampingan PIA dengan tema tertentu. Kedua, berkaitan

  126

  dengan pemilihan metode yang tepat dalam pendampingan PIA yang menggunakan media audio visual. Dan yang terakhir berkaitan dengan kurangnya peralatan pendukung.

  Berdasarkan hasil penelitian yang telah disebutkan di atas maka dalam bab

  IV ini peneliti akan menyusun usulan program untuk menjawab permasalahan tersebut. Program ini ditujukan untuk para pendamping PIA di lingkungan Santo Agustinus Gancahan I. Adapun Materi pokok dari program ini adalah berisi tentang bagaimana mengadakan kegiatan PIA dengan menggunakan media audio visual, yang didalamnya antara lain berisi tentang pengenalan media audio visual, meliputi macam-macam alat audio visual serta cara pengaplikasiannya, bagaimana cara memilih media audio visual yang cocok untuk digunakan dalam kegiatan PIA dengan tema tertentu, selanjutnya tentang metode yang tepat untuk mendampingi PIA secara audio visual. dan yang terakhir adalah contoh-contoh paket pendampingan PIA untuk memudahkan pendamping dalam menyusun persiapan pendampingan.

C. Tujuan Program

  Tujuan dari program ini adalah untuk mengatasi hambatan-hambatan yang dialami oleh para pendamping Pendampingan Iman Anak (PIA) di Lingkungan Santo Agustinus Gancahan I dalam mengusahakan kegiatan PIA dengan menggunakan media audio visual, terutama tentang bagaimana cara pemilihan media audio visual yang tepat, serta pemilihan metode yang tepat untuk

  127

  mendampingi kegiatan PIA dengan menggunakan media audio visual, dan alternatif alat-alat audio visual yang dapat digunnakan dalam kegiatan PIA.

D. Usulan Program

  Usulan program untuk Para Pendamping Pendampingan Iman Anak (PIA) di Lingkungan Santo Agustinus Gancahan I Paroki Maria assumpta Gamping mengambil tema umum

  “Pendampingan Iman Anak (PIA) dengan Menggunakan Media Audio

  Visual”. Tema ini diambil untuk menanggapi hasil penelitian yang mengungkapkan bahwa para pendamping PIA di lingkungan tersebut memiliki kerinduan untuk mendampingi kegiatan PIA dengan menggunakan media audio visual, namun mereka masih menemui hambatan-hambatan berkaitan dengan pemilihan media audio visual yang cocok, metode yang digunakan dan yang terakhir adalah kurangnya peralatan pendukung.

  Pemilihan tema ini sudah disesuaikan dengan kebutuhan pendamping berdasarkan dari hasil penelitian yang telah dilakukan. Dalam usulan program ini penulis tidak hanya membahas tentang PIA dengan media audio visual saja, tetapi juga menambahkan materi tentang dasar-dasar PIA sebagai materi tambahan yang ditempatkan pada sesi awal pendampingan untuk menambah wawasan pendamping tentang kegiatan PIA yang dicita-citakan oleh Gereja. Materi tambahan itu adalah “Spiritualitas Pendamping PIA” dan “Arti, Tujuan dan Ciri Khas Pendampingan PIA”

  128 E.

   Bentuk Program

  Adapun bentuk dari program ini adalah kaderisasi bagi para pendamping PIA di lingkungan santo Agustinus Gancahan I tentang bagaimana mendampingi kegiatan PIA dengan menggunakan media audio visual. Kaderisasi dipilih karena kaderisasi merupakan usaha untuk membentuk seseorang menjadi kader, yang berlanjut pada pengembangan sesuatu hal (Tim Penyusun Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2005: 488) dan untuk pengembangan penggunaan media audio visual dalam kegiatan PIA maka penulis perlu mengadakan kaderisasi untuk para pendamping agar nantinya mereka mampu mendampingi kegiatan PIA dengan menggunakan media audio visual dengan baik, sehingga kegiatan PIA menjadi semakin menarik dan efektif.

  Adapun Program kaderisasi ini terdiri dari empat sesi yang masing-masing berdurasi 60 menit dan dilaksanakan dalam empat kali pertemuan. Dalam setiap sesi terdapat materi-materi yang telah disusun secara sistematis agar para pendamping dapat dengan mudah memahami apa yang disampaikan.

F. Pemilihan Materi Program

  Selain materi pokok mengenai penggunaan media audio visual dalam kegiatan PIA untuk menjawab permasalahan yang dihadapi pendamping, penulis juga memperkaya pendamping dengan dua materi tambahan tentang dasar-dasar Pendampingan Iman Anak (PIA) yang sudah disebutkan sebelumnya untuk menambah wawasan pendamping dan membuat pendamping semakin matang dalam tugasnya menjadi pendamping PIA. Program pendampingan dalam bentuk

  129

  kaderisasi ini dibagi menjadi empat sesi pendampingan yang berisi materi sebagai berikut:

  1. Spiritualitas Pendamping PIA

  Materi ini adalah materi tambahan yang penting untuk diketahui oleh para pendamping. Karena dengan mengetahui spiritualitas pendamping PIA, para pendamping akan semakin matang dalam mendampingi kegiatan PIA. Tujuan dari materi ini adalah agar para pendamping PIA di Lingkungan Santo Agustinus Gancahan I mampu menjadi pendamping PIA yang mencintai anak-anak, memiliki kerendahan hati, beriman dewasa, kristosentris, terbuka pada anak-anak, mampu saling bekerkasama antar pendamping, dan mencintai kitab suci, Sehingga nantinya mereka dapat mendampingi kegiatan PIA dengan maksimal.

  2. Arti , Ciri Khas dan Tujuan PIA

  Materi ini dimaksudkan untuk menambah wawasan pendamping PIA di Lingkungan Santo Agustinus Gancahan I tentang bagaimana sebenarnya jalannya pendampingan itu melalui materi arti pendampingan secara umum. Selain itu pendamping juga diajak untuk mengetahui ciri khas dari kegiatan PIA dan tujuan dari kegiatan PIA yang dicita-citakan oleh Gereja. Penulis mengangkat materi ini karena materi ini sangat penting bagi pendamping dalam melaksanakan tugas pendampingannya, dengan harapan pendamping dapat menciptakan suasana pendampingan yang sebenarnya dan sejalan dengan tujuan dari kegiatan PIA yang dicita-citakan oleh Gereja.

  130 3.

   Pengertian Media Audio Visual dan Peranan Media Audio Visual dalam Proses PIA

  Sebelum menyusun program pendampingan Iman Anak (PIA) secara audio visual maka pendamping terlebih dahulu diberikan pemahaman mengenai pengertian media audio visual yang berisi pengertian media audio visual itu sendiri, perbedaan media audio visual dengan media lainnya, jenis media audio visual dan peralatan yang dapat digunakan untuk menampilkan media audio- visual. Hal ini dimaksudkan agar para pendamping benar-benar memahami apa itu media audio visual secara mendalam.

  Selanjutnya pendamping diajak untuk mengetahui peranan media audio visual dalam proses PIA, seperti penggunaanya dalam kegiatan PIA dan upaya dari pihak-pihak terkait untuk menyediakan media audio visual untuk anak-anak demi keberhasilan proses PIA di zaman modern ini. Agar pendamping mengetahui bahwa penggunaan media audio-visual dalam kegiatan PIA sudah diserukan oleh Gereja dan fakta bahwa media tersebut telah digunakan untuk menunjang kegiatan PIA di banyak tempat.

4. Cara Menyusun Kegiatan PIA dengan Menggunakan Media Audio Visual

  Materi ini adalah materi puncak untuk mengatasi hambatan-hambatan yang dialami pendamping dalam upaya mendampingi kegiatan PIA secara audio visual. Pada materi ini para pendamping PIA diajarkan tentang bagaimana cara menyusun kegiatan PIA secara audio visual dengan mengetahui cara memilih media yang cocok untuk kegiatan PIA dengan tema tertentu. Selain itu

  131

  pendamping juga diajak untuk mengetahui metode yang cocok untuk mendampingi kegiatan PIA secara audio visual. Setelah itu pendamping diberikan contoh paket pendampingan yang sudah jadi untuk membantu pendamping dalam menyusun persiapan kegiatan PIA dengan menggunakan media audio visual.

  132

  133

  134

  135

  136

  137

  138

G. Persiapan Program

  

SATUAN PENDAMPINGAN SESI I

1. Identitas : Spiritualitas Pendamping PIA.

   Judul Pertemuan : Para Pendamping PIA di Lingkungan Santo  Peserta Agustinus Gancahan I.

  : 60 menit  Alokasi waktu 2.

   Pemikiran Dasar

  Kegiatan Pendampingan Iman Anak (PIA) yang sukses tidak lepas dari peranan pendamping yang memiliki dedikasi tinggi untuk memelihara dan menghidupi kegiatan tersebut. Sekarang ini sudah banyak kegiatan PIA yang mati karena ketiadaan pendamping dikarenakan pendamping sudah tidak mampu lagi untuk mendampingi atau kengganan generasi muda untuk menjadi regenerasi dan menghidupkan kegiatan PIA di lingkungannya. Kegiatan PIA di lingkungan Santo Agustinus Gancahan I adalah salah satu kegiatan PIA yang masih aktif di Paroki Maria Assumpta Gamping, dengan mayoritas pendamping adalah generasi muda.

  Dari wawancara dengan salah seorang pendamping, ternyata kegiatan PIA di lingkungan ini selalu berjalan dengan lancar dari tahun ke tahun sampai pendampingnya mengalami beberapa kali regenerasi atau pergantian. Yang dahulu menjadi peserta PIA sekarang menjadi pendamping, Contohnya adalah beberapa generasi muda yang saat ini menjadi pendamping PIA. . Ini adalah suatu hal yang dengan lancar dan generasi mudanya peduli terhadap perkembangan iman anak- anak di lingkungannya.

  Dalam sesi ini penulis akan memaparkan mengenai spiritualitas pendamping PIA yang didalamnya terdapat beberapa hal penting yang harus dimiliki oleh pendamping PIA, yang nantinya akan sangat berguna bagi para pendamping PIA di lingkungan Santo Agustinus Gancahan I. Khususnya yang masih berusia muda dalam melaksanakan tugasnya sebagai pendamping PIA di lingkungannya.

  Dengan mengikuti sesi ini diharapkan nantinya mereka akan menjadi pendamping PIA yang bersemangat, memiliki kerendahan hati, beriman dewasa, kristosentris, terbuka pada anak-anak, mampu saling bekerjasama antar pendamping dan mencintai kitab suci. Sehingga pendamping semakin mampu untuk mendampingi kegiatan PIA dengan maksimal.

  3. Tujuan Pertemuan  Menggali pengalaman peserta dalam mendampingi kegiatan PIA.

   Melalui spiritualitas Kristiani ini para pendamping PIA akan semakin mampu untuk mendampingi kegiatan PIA dengan maksimal.

  4. Materi

   Injil Lukas 18:15-17  Spiritualitas Pendamping PIA

  5. Sumber Bahan

   Pengalaman Peserta  Injil Lukas 18: 15-17  Dasar-Dasar Pendampingan Iman Anak. 2008. Jakarta: Komkat KWI  Kursus Pendampingan Iman Anak Bagi Para Novis Dan Postulan. 2001.

  Yogyakarta: Pusat Kateketik.

  6. Metode

   Sharing  Informasi  Tanya jawab

  7. Sarana

   Teks lagu  Laptop  LCD  Speaker Aktif  Hand out 8.

   Proses Pendampingan

a. Pengantar

  1) Belajar dari Injil Lukas 18 : 15 - 17

  Maka datanglah orang-orang membawa anak-anaknya yang kecil kepada Yesus, supaya Ia menjamah mereka. Melihat itu murid-muridNya memarahi orang-orang itu. Tetapi Yesus memanggil mereka dan berkata: Biarkanlah anak-anak itu datang kepada-Ku, dan jangan kamu menghalang- halangi mereka, sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya kerajaan Allah.

  2) Pendalaman injil

   Bagaimana pendapat teman-teman setelah membaca injil tersebut?  Apakah yang ingin dikatakan Yesus dalam injil tersebut? 3)

  Rangkuman singkat Teks ini merupakan dasar diadakannya kegiatan PIA dalam Gereja

  Katolik. Teks tersebut mengungkapkan sikap Yesus yang mencintai anak-anak, sehingga ia membiarkan anak-anak untuk datang kepada-Nya. Ini berarti Tuhan Yesus tidak hanya mendatangi dan mengajar orang dewasa saja, tetapi juga membiarkan anak-anak untuk datang kepadanya. Selain itu ayat ini juga dapat dipahami sebagai pesan untuk para rasul agar mereka mencintai dan mewartakan kabar gembira tidak hanya pada orang dewasa saja tetapi juga kepada anak-anak yang merupakan empunya kerajaan surga.

  Para pendamping PIA di lingkungan Santo Agustinus Gancahan I adalah para rasul yang memiliki tugas dan tanggungjawab untuk mendampingi anak-anak dalam iman. Agar mereka dapat semakin matang dalam iman, selain itu mereka juga dipersiapkan untuk menjadi generasi penerus Gereja yang akan mengembangkan Gereja di masa yang akan datang, Oleh karena itu diperlukan spiritualitas pendamping PIA agar para pendamping PIA dapat menjalankan panggilan tugasnya sebagai pendamping PIA dengan maksimal.

  4) Lagu selingan “Jalan serta Yesus”

  Jalan Serta Yesus Jalan serta Yesus, jalan sertaNya setiap hari Jalan serta Yesus, serta Yesus slamanya Jalan dalam suka, jalan dalam duka Jalan sertaNya setiap hari Jalan serta Yesus, serta Yesus slamanya b.

   Spiritualitas Pendamping PIA

  Mungkin para pendamping sering berkata dalam hati “kok sulit menjadi pendamping” yang mungkin disebabkan oleh perasaan takut, perasaan malu, atau merasa tidak fasih berbicara di muka umum. Atau disebabkan oleh

  “perasaan tak pantas menjadi pendamping” karena merasa kehidupannya belum berada di jalan yang lurus, dan jarang pergi ke gereja sehingga merasa tidak pantas mendampingi anak-anak. Namun yang patut dibanggakan adalah jika pendamping sudah memiliki niat untuk mendampingi anak-anak dengan baik meskipun masih terkendala dalam cara berkomunikasi atau masih mencari-cari bagaimana cara menjadi pendamping PIA yang benar-benar dapat berdaya guna bagi anak-anak yang didampinginya. Dengan niat tersebut dan kemauan untuk belajar dimungkinkan bahwa suatu saat nanti teman-teman akan menjadi pendamping PIA yang fasih dan senantiasa berdaya guna bagi anak-anak sehingga kegiatan PIA dapat berjalan dengan maksimal.

  Dalam melaksanakan karya pelayanannya sebagai pendamping PIA, para pendamping diharapkan senantiasa mau mengasah diri dengan mencoba berinovasi dalam hal mengusahakan kegiatan PIA yang menarik dan berdaya guna bagi anak-anak dampingannya. Salah satu hal yang dapat membuat pendamping mampu melaksanakan atau mengadakan kegiatan PIA yang berdaya guna adalah jika para pendamping PIA menguasai spiritualitas pendamping PIA sehingga para pendamping tahu apa yang perlu dimiliki oleh seorang pendamping dan apa yang perlu dilakukan dalam kegiatan PIA agar kegiatan pendampingan dapat berjalan dengan maksimal, dalam artian menarik dan berdaya guna bagi anak-anak dampingannya. Berkaitan dengan hal tersebut, spiritualitas pendamping PIA yang diharapkan dapat tumbuh dan berkembang dalam diri masing-masing pendamping adalah sebagai berikut:

  1) Kerendahan Hati

   Pendamping PIA hendaknya memiliki sikap rendah hati di hadapan

  anak-anak, tidak bersikap menggurui atau menguasai, tetapi bersikap seperti teladan Yesus Kristus yang berkenan menghidupkan, membebaskan dan menyelamatkan manusia

  Penjelasan: Pada dasarnya pendamping PIA adalah sahabat bagi anak-anak.

  Mereka membimbing dan mengarahkan anak untuk semakin mengenal Yesus dan Gereja, agar anak-anak tumbuh dalam iman dan kelak dapat menjadi seorang Katolik yang militan terlibat dalam berbagai kegiatan Gereja. Dalam menjalankan tugasnya hendaknya pendamping PIA mampu menjadi pendamping yang baik bagi anak-anak. Pendamping yang baik adalah Pendamping yang rendah hati, tidak menggurui, dan mampu menjadi teladan bagi anak-anak dampingannya.

  2) Beriman Dewasa

  Pendamping yang beriman dewasa memiliki keyakinan mendalam akan cinta kasih Allah yang menyelamatkan manusia melalui Yesus Kristus, dan mampu menghayati imannya dalam situasi apapun juga, serta mampu memberikan seluruh hidupnya demi keselamatan orang banyak.

   Penjelasan:

  Pendamping PIA hendaknya memiliki iman yang dewasa, dikatakan beriman dewasa apabila seorang pendamping PIA benar-benar memiliki komitmen mendalam akan ajaran Kristiani, yaitu percaya pada Yesus Kristus sang juru selamat yang penuh cinta kasih, yang diutus oleh Allah untuk menyelamatkan umat manusia. Dengan komitmen tersebut pendamping PIA akan mampu menjalankan dengan sungguh-sungguh tugasnya untuk mewartakan kabar gembira kepada anak-anak melalui kegiatan PIA. Selain itu pendamping hendaknya mampu menerapkan ajaran tersebut dalam kehidupan sehari-hari khususnya dalam kegiatan pendampinggan PIA. Dengan begitu seorang pendamping juga akan menjadi teladan yang baik bagi anak-anak yang didampinginya.

  3) Kristosentris

  Kristosentris artinya seluruh hidup berpusat pada Yesus Kristus, seorang pendamping hendaknya terus menerus menimba kekuatan inspirasi dan nilai-nilai hidup Kristus untuk ditularkan pada anak-anak yang didampingi.

   Penjelasan:

  Beriman kepada Yesus Kristus berarti memiliki komitmen pribadi untuk mengikuti Dia, menjalankan segala printah-Nya dan menjauhi larangan- Nya. Penghayatan pendamping yang mendalam akan pribadi Yesus Kristus adalah sangat penting, terutama tentang inspirasi dan nilai-nilai hidup Kristus.

  Sehingga pendamping mampu menularkan nilai tersebut secara maksimal kepada anak-anak yang didampingi.

  4) Keterbukaan

  Pendamping PIA Mampu menciptakan hubungan yang akrab dengan anak-anaknya, mampu memahami situasi masing-masing anak dan kehidupan mereka

  Penjelasan:

  Salah satu hal terpenting yang perlu dikuasai untuk menjadi pendamping PIA adalah mampu menciptakan hubungan yang akrab dengan peserta PIA. Pendamping PIA bukanlah orang yang tertutup dan terlalu menjaga wibawa sehingga menimbulkan keengganan bagi peserta untuk mendekat karena mereka merasa takut. Tetapi pendamping PIA adalah seseorang yang terbuka, friendly dan mencintai anak-anak sehingga pendamping dapat dengan mudah masuk ke dalam dunia anak dan mengenal mereka satu-persatu.

  5) Kerjasama dan saling melengkapi

  Pendamping mau dan mampu menjalin kerjasama dengan sesama pendamping agar mereka dapat saling melengkapi dalam usaha mencapai tujuan kegiatan PIA yang sudah direncanakan.

   Penjelasan :

  Kerjasama antar pendamping dalam pendampingan PIA adalah hal yang sangat penting. Kegiatan pendampingan anak PIA tidak dapat berjalan secara maksimal jika para pendamping saling menjatuhkan dan tidak kompak dalam memberikan pendampingan. Memahami kelebihan dan kekurangan masing-masing pendamping adalah hal yang sangat penting, karena dengan mengetahui hal tersebut kita akan tahu dimanakah spesialisasi atau keunggulan masing-masing pendamping. Maka diharapkan masing-masing dari pendamping dapat saling berkerja sama serta dapat memanfaatkan keunggulan masing-masing dengan baik sehingga kegiatan PIA dapat berjalan secara maksimal.

  6) Mencintai Kitab Suci

  Dengan senantiasa membaca, merenungkan, dan menggali sabda Allah secara terus menerus diharapkan pengalaman iman dalam Kitab Suci sungguh mempengaruhi hidup para pendamping PIA dalam mendampingi hidup anak- anak, sehingga pendamping tidak hanya sekedar membagi pengetahuan tentang Kitab Suci tetapi juga menjiwai Kitab Suci tersebut.

  Penjelasan:

  Kitab Suci adalah Yesus itu sendiri dan dengan mencintai dan mendalami Kitab Suci pendamping akan semakin mengenal Yesus Kristus dan tahu akan keutamaan-keutamaan yang diajarkannya. Ketika pendamping telah mencintai dan dengan rutin mendalami Kitab Suci maka para pendamping dapat dengan mudah mengolah menemukan dan menafsirkan ayat-ayat yang cocok untuk anak-anak.

c. Peneguhan

  Teman-teman pendamping PIA bersama-sama kita sudah mengetahui tentang spiritualitas pendamping PIA yang sangat penting dijiwai oleh para pendamping. Kita menyadari bahwa menjadi pendamping yang mampu mengusahakan kegiatan PIA yang menarik dan senantiasa berdaya guna bagi anak-anak tidaklah mudah. Untuk mencapai hal tersebut dibutuhkan ketekunan, dan kemauan untuk terus mengasah diri dengan melakukan pendampingan secara terus menerus. Dengan pengalaman yang terus bertambah, seiring dengan berjalannya waktu semua itu pasti akan terwujud. Akhir kata, menjadi pendamping PIA merupakan tugas yang sangat mulia, oleh karena itu tetap semangat teman-teman, senantiasa bertekunlah dalam karya pendampingan PIA di lingkungan Santo Agustinus Gancahan I ini.

SATUAN PENDAMPINGAN SESI II 1.

   Identitas : Arti, Ciri Khas, dan Tujuan PIA.

   Judul Pertemuan : Para Pendamping PIA di Lingkungan Santo  Peserta Agustinus Gancahan I.

  : 60 menit  Waktu

2. Pemikiran Dasar

  Pendamping Pendampingan Iman Anak (PIA) di lingkungan Santo Agustinus Gancahan I adalah ujung tombak yang memiliki peran penting demi tersukseskannya kegiatan PIA di lingkungan tersebut. Sebelum kegiatan PIA dilaksanakan pendamping terlebih dahulu merancang jalannya pertemuan dan menyiapkan media, agar kegiatan PIA dapat berjalan dengan lancar sesuai tujuan yang telah direncanakan, dan anak-anak dapat memperoleh pembelajaran positif dari kegiatan tersebut.

  Berdasarkan hasil penelitian yang telah diperoleh, ditemukan bahwa sebagian besar pendamping PIA di lingkungan Santo Agustinus Gancahan I sudah paham mengenai arti pendampingan, ciri khas PIA, dan tujuan dari kegiatan PIA yang dicita-citakan oleh Gereja. Namun dalam sesi ini hal tersebut akan dimunculkan kembali secara lebih lengkap agar pendamping mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam berkaitan dengan hal tersebut. Penulis berharap, setelah mengikuti sesi ini, para pendamping akan mendapat tambahan pengetahuan dan semakin memahami arti, ciri khas dan tujuan PIA. Karena apa yang didapat dalam sesi ini akan menjadi dasar yang baik bagi para pendamping PIA di lingkungan Santo Agustinus Gancahan I dalam upaya merancang dan mendampingi jalannya kegiatan PIA di lingkungan tersebut secara berkelanjutan sesuai apa yang dicita-citakan oleh Gereja.

  3. Tujuan Pertemuan

   Pendamping mengerti dan memahami arti pendampingan secara umum  Pendamping mengerti dan memahami ciri khas pendampingan Iman Anak (PIA).

   Pendamping mengerti dan memahami arah dan tujuan Pendampingan Iman Anak (PIA) sesuai apa yang dicita-citakan oleh Gereja.

  4. Materi

   Arti Pendampingan  Ciri Khas Pendampingan Iman Anak (PIA)  Tujuan Pendampingan Iman Anak (PIA) 5.

   Sumber Bahan

   Dasar-dasar pendampingan iman anak. 2008. Jakarta: Komkat KWI  Sr Gorreti. Pendampingan Iman Anak. 1999. Fakultas Ilmu Pendidikan Agama. Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta  Mangunhardjana A.M. S.J. Pendampingan Kaum Muda. 1986. Yogyakarta: Kanisius.

   Pendampingan Iman Anak Dari Segi Pastoral Berdasarkan Ajaran-Ajaran Gereja . 2006. Yogyakarta: Komkat KWI.

  6. Metode

   Informasi  Tanya jawab

  7. Sarana

   Laptop  LCD  Hand out

  8. Proses Pendampingan

a. Pengantar

  Selamat malam teman-teman pendamping Pendampingan Iman Anak (PIA) di lingkungan Santo Agustinus Gancahan I. Setelah pada sesi sebelumnya kita telah belajar mengenai spiritualitas pendamping PIA, Maka pada sesi ke II ini akan dibahas mengenai arti dari pendampingan secara umum, ciri khas kegiatan PIA dan Tujuan dari kegiatan PIA yang dicita-citakan oleh Gereja. Tujuan dari sesi ke II ini adalah untuk menambah wawasan pendamping mengenai beberapa hal penting yang perlu diketahui oleh para pendamping. Sehingga dalam pendampingan nanti teman-teman pendamping dapat merancang dan mendampingi jalannya kegiatan PIA secara berkelanjutan sesuai apa yang dicita- citakan oleh Gereja.

b. Arti Pendampingan Secara Umum Sebelum membahas tentang ciri khas Pendampingan Iman Anak (PIA).

  Sebagai pengantar, terlebih dahulu saya akan menyampaikan tentang arti pendampingan secara umum. Dalam materi arti pendampingan ini, disertakan juga tentang ciri khas dan tujuan pendampingan secara umum. Hal ini dimaksudkan agar para pendamping mendapatkan pengetahuan tentang bagaimanakah jalannya pendampingan secara umum itu, karena pendampingan berbeda dengan pengajaran. Untuk lebih jelasnya marilah kita masuk ke dalam pokok bahasan pertama yaitu arti pendampingan:

  1) Arti Pendampingan

  Pendampingan merupakan suatu kedekatan yang akrab seperti seorang sahabat dekat sehingga dalam pendampingan senantiasa tercipta suasana yang hangat. Selain itu dalam proses pendampingan tidak ada atasan dan bawahan, tetapi yang ada adalah kesetaraan, kerjasama, dan kebersamaan antara yang mendampingi dan didampingi untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam pendampingan juga tidak ada senioritas ataupun penggojlokan, yang ada adalah kerjasama timbal balik untuk meraih tujuan yang sudah direncanakan.

  2) Ciri Khas Pendampingan

  Pendampingan mempunyai ciri khas bahwa seseorang yang didampingi atau mendapatkan pendampingan merupakan pribadi yang bebas dan berdiri sendiri. Mereka bukanlah penerima yang pasif yang dapat menerima materi dan menelan mentah-mentah apa yang diberikan oleh pendamping. Oleh karena itu pendamping harus dapat menciptakan suasana yang menyenangkan dan kekeluargaan sehingga tercipta kesejajaran antara pendamping dan peserta. Kesejajaran berarti tidak ada atasan dan bawahan, sehingga terjadi kesetaraan, kerjasama, dan kebersamaan yang harmonis antara pendamping dan yang didampingi.

  3) Tujuan Pendampingan

  Pendampingan bertujuan untuk membantu seseorang meningkatkan kualitas pribadinya dengan memberikan sesuatu yang positif dan bermanfaat.

  Seperti menambah pengetahuan, meningkatkan kecakapan, peningkatan dalam segi sikap dan perilaku kearah yang lebih baik. Selain itu pendampingan bertujuan untuk meningkatkan kebersamaan dan relasi dengan sesama teman yang mengikuti pendampingan. Kebersamaan dan relasi ini akan membuat mereka mudah bergaul dan tidak minder untuk berteman, sehingga pada pergaulan yang lebih luas nanti mereka sudah tidak canggung lagi. Tujuan pendampingan ini sangat penting diketahui oleh pendamping, agar pendamping mengetahui bagaimana kegiatan pendampingan pada umumnya.

c. Ciri Khas Pendampingan Iman Anak (PIA)

  Kegiatan Pendampingan Iman anak memiliki kekhasan tersendiri yang berbeda dari sekolah formal ataupun kegiatan PAUD. Perbedaan ini lebih pada suasana yang diciptakan di dalamnya. Ciri khas kegiatan Pendampingan Iman Anak (PIA) dalam Gereja Katolik adalah Santai dan mendalam.

  “Santai” mengandung unsur-unsur yaitu gembira, bebas, dan bermain sedangkan “mendalam” di dalamnya mengandung unsur-unsur yaitu berpola pada Yesus Kristus, menjemaat, dan terbuka.

  1) Santai

  a) Gembira

  Suasana gembira melekat pada sifat anak-anak bila mereka berkumpul. Di mana anak-anak berkumpul di situlah kegembiraan muncul.

  Maka Pendampingan Iman Anak (PIA) perlu menghadirkan sesuatu yang menyenangkan, menggembirakan, dan menarik, sehingga anak-anak merasa krasan dan selalu ingin berkumpul lagi dengan teman-temannya dalam kegiatan PIA.

  Penjelasan :

  Suasana gembira dapat diciptakan dengan berbagai hal, seperti mengajak anak-anak untuk bernyanyi, melakukan permainan, mendengarkan cerita, berdoa bersama dengan tanda salib yang dinyanyikan, ataupun menonton film tentang kisah Yesus. Dalam hal ini keberhasilan ditetukan oleh kemampuan Pendamping dalam membangkitkan suasana yang menggembirakan untuk anak-anak. b) Bebas

  Kebebasan merupakan unsur terpenting dalam beriman. Pendamping Pendampingan Iman Anak (PIA) bertugas untuk membantu anak menyadari iman yang telah mereka miliki tetapi bukan melalui paksaan. Oleh karena itu suasana yang membebaskan perlu diterapkan dalam kegiatan PIA.

  Penjelasan :

  Cara membangun kebebasan dalam kegiatan PIA adalah dengan membuang jauh-jauh unsur keterpaksaan dalam kegiatan tersebut. Jika di sekolah anak-anak selalu merasa diabsen dan dituntut untuk selalu datang ke sekolah. Maka dalam kegiatan tersebut anak-anak perlu merasa bahwa kehadiran mereka tidak terpaksa (karena diabsen atau takut dihukum), Melainkan karena mereka dengan senang hati hadir dalam kegiatan tersebut.

  Dengan demikian anak-anak harus dijauhkan dari suasana gelisah karena takut akan ujian, absensi, dan nilai. Memang hal tersebut ada maknanya sendiri dalam lingkup sekolah, namun di dalam kegiatan PIA bukan pada tempatnya. Pengikat pada kegiatan PIA adalah suasana yang menyenangkan, simpatiknya pembina, dan suasana kebebasan yang dapat dirasakan.

  c) Bermain

  Sesuai dengan umur anak, pertemuan

  • –pertemuan di dalam kelompok Pendampingan Iman Anak (PIA) sangat perlu memperhatikan unsur bermain. Anak-anak sangat senang sekali bermain, kehidupan mereka tidak
dapat dipisahkan dari bermain. Karena dalam diri anak-anak bermain merupakan aktifitas yang mendatangkan rasa puas, Selain itu dengan bermain kreatifitas juga berkembang, sosialisasi meningkat, dan wawasan menjadi lebih luas.

  Penjelasan :

  Masa anak-anak sering dikenal sebagai masa bermain, melalui bermain anak mengalami kebahagiaan. Ketika orang dewasa masih senang memainkan permainan anak-anak, maka orang sering berkomentar pada orang ter sebut dengan mengatakan “Masa kecil kurang bahagia”. Bermain merupakan salah satu unsur penting dan tidak boleh dihilangkan dalam kegiatan PIA, menghadirkan sesuatu yang serius dan tegang hanya akan membuat anak semakin tidak nyaman dan bahkan menjadi tidak kerasan dan berhenti untuk mengikuti kegiatan PIA. Oleh karena itu semua hal yang ingin disampaikan hendaknya dikolaborasikan dengan permainan atau kegiatan yang dapat meningkatkan gairah anak untuk mengikuti dan selalu merindukan kegiatan PIA.

  2) Mendalam

  a) Berpola pada Yesus Kristus Yesus Kristus merupakan pusat kehidupan bagi orang Kristiani.

  Maka kegiatan pembinaan iman dan pengembangan iman harus senantiasa berpusat pada Yesus Kristus. Artinya Pendampingan Iman Anak (PIA) harus dilaksanakan atas dasar ajaran Yesus Kristus, dan mengajak semua anak yang untuk semakin beriman kepada-Nya.

  Penjelasan :

  Yesus Kristus adalah yang utama, pusat hidup orang percaya, jalan kebenaran dan hidup. Yesus pernah berkata kepada Thomas bahwa

  “tidak seorangpun akan sampai kepada Bapa jika tidak melalui Aku”. kehidupan

  dan ajarannya merupakan jalan menuju keselamatan. Oleh Karena itu, sejak mengikuti kegiatan PIA anak-anak sudah harus dikenalkan dengan pribadi Yesus Kristus dan keutamaan-keutamaan diajarkannya. Agar sejak dini anak-anak sudah hidup seturut ajaran-Nya dan semakin beriman Kepada- Nya.

  b) Menjemaat

  Dalam kegiatan Pendampingan Iman Anak (PIA) anak-anak dilatih untuk saling berkomunikasi dengan teman-temannya, dengan demikian mereka akan terbiasa hidup bersama dengan jemaat. Pengalaman ini diharapkan dapat menumbuhkan minat mereka terhadap lingkungan Gereja dan masyarakat dimana seorang anak tinggal.

  Penjelasan :

  Suasana kebersamaan dalam kegiatan PIA adalah hal yang sangat penting, suasana kebersamaan dapat dibangun dengan membuat permainan yang melibatkan banyak teman agar anak-anak terbiasa untuk bersosialisasi dan berkerjasama dengan teman lainnya. Dengan harapan setelah dewasa nanti anak-anak akan menjadi pribadi yang menjemaat, dan mampu bekerjasama dengan baik untuk mengembangkan Gereja.

  c) Terbuka

  Kegiatan Pendampingan Iman Anak (PIA), berusaha untuk menciptakan suasana keterbukaan para pesertanya. Keterbukaan dalam kegiatan PIA nampak dari keikutsertaan pesertanya yang tidak hanya terbatas pada anak yang sudah dibabtis, tetapi juga terbuka bagi anak-anak yang belum dibabtis pula.

  Penjelasan :

  Kegiatan PIA terbuka bagi anak-anak Katolik baik yang sudah maupun belum di babtis, karena mereka semua adalah murid Kristus. Babtis mempunyai makna pembersihan dari dosa asal dan menandakan seorang simpatisan Katolik telah diterima secara resmi sebagai anggota Gereja. Ada anak-anak yang babtis bayi dan babtis pada usia dewasa. Bagi mereka yang babtis bayi sehingga belum pernah mengikuti pelajaran babtis, maka kegiatan ini adalah kesempatan bagi mereka untuk mengenal siapa Yesus yang mereka imani dan Gerejanya secara lebih mendalam. Sedangkan untuk anak-anak yang belum di babtis, melalui kegiatan ini mereka akan semakin dimantabkan hatinya untuk menjadi seorang Katolik, sehingga mereka semakin mantab untuk mengikuti pembabtisan dan diangkat secara resmi sebagai anggota Gereja Katolik.

d. Tujuan Pendampingan Iman Anak (PIA)

  Pada bagian yang ke tiga ini, teman teman pendamping PIA akan diajak untuk mengetahui tujuan kegiatan PIA yang dicita-citakan oleh Gereja. Namun sebelum pendamping memaparkan tujuan dari kegiatan PIA tersebut, pendamping akan diajak untuk mencari tahu tujuan PIA terlebih dahulu dengan sebuah pertanyaan.  Setelah sekian lama menjadi pendamping PIA, Menurut teman-teman apa kiranya tujuan dari kegiatan PIA itu?

  Setelah teman-teman pendamping menjawab pertanyaan tersebut maka jawaban dari teman-teman pendamping akan dirangkum dan disimpulkan.

  Gambaran kesimpulan tersebut adalah sebagai berikut : 1) kegiatan Pendampingan Iman Anak (PIA) ingin membantu orang tua kristiani dalam usaha mendampingi anak-anak agar berkembang dalam iman dan dalam kepribadian seturut dengan ajaran kristiani.

  Penjelasan :

  Terkadang karena keterbatasannya orang tua sebagai pendidik pertama dan utama tidak mampu memberikan penampingan iman yang maksimal kepada anak-anaknya. Keterbatasan itu bisa disebabkan karena tuntutan pekerjaan yang menyebabkan anak kurang mendapat perhatian, bisa juga disebabkan karena kurangnya pengetahuan orang tua akan ajaran Gereja sehingga mereka tidak dapat meendampingi anak dalam iman secara maksimal. Oleh karena itu kegiatan PIA yang dikelola oleh para pendamping PIA baik di lingkungan maupun di gereja berusaha membantu para orang tua untuk mengatasi masalah tersebut.

  2) Sebagai tempat penyemaian yang khusus dan berkesinambungan untuk mengembangkan kepribadian, dan iman anak-anak, agar mereka dapat berjalan lurus sesuai dengan ajaran kristiani.

  Penjelasan :

  Kegiatan pendampingan Iman Anak (PIA) tidak hanya tempat untuk berkumpul dan bermain saja bagi anak-anak, namun melalui kegiatan dan permainan yang ada anak-anak didampingi untuk tumbuh berkembang dalam iman dan kepribadian mereka, sehingga saat dewasa nanti, mereka menjadi pribadi yang matang dalam iman.

  3) Mengarahkan anak-anak untuk menjadi generasi penerus Gereja, karena anak-anak adalah tumpuan bagi kehidupan dan perkembangan gereja di masa depan.

  Penjelasan :

  Para Romo, Para pengurus gereja, Prodiakon, Katekis Awam, Orang Muda Katolik (OMK) tidak akan selamanya mampu menjalankan tugasnya atau duduk di dalam posisinya secara terus menerus. Pasti mereka akan termakan usia dan tidak mampu lagi untuk mengemban tugas pelayanannya. Maka melalui kegiatan PIA anak-anak sudah mulai dipersiapkan untuk menjadi regenerasi dan meneruskan perjuangan mereka di masa depan.

e. Peneguhan

  Menjadi pendamping kegiatan Pendampingan Iman Anak (PIA) adalah sesuatu yang sangat mulia, karena dengan membantu mengembangkan iman anak- anak sejak dini, para pendamping telah berjasa terhadap perkembangan Gereja di masa depan. Karena anak-anak adalah generasi penerus gereja yang harus diperhatikan demi perkembangan Gereja di masa depan. Teman-teman pendamping PIA yang terkasih dalam Kristus demikianlah pemaparan materi dari sesi ke 2 ini berkaitan dengan arti pendampingan, ciri khas PIA dan tujuan PIA. Apa telah disampaikan dalam sesi ini kiranya dapat menambah pengertahuan teman-teman sebagai pendamping PIA. Semoga materi ini dapat bermanfaat bagi teman-teman dalam mengemban tugas sebagai pendamping PIA di lingkungan Santo Agustinus Gancahan I ini.

  163

SATUAN PENDAMPINGAN SESI III 1.

   IDENTITAS

  : Pengertian Media Audio Visual dan Perananan  Judul Pertemuan Media Audio Visual Dalam Proses PIA. : Para Pendamping PIA di Lingkungan Santo  Peserta Agustinus Gancahan I. : 60 menit  Waktu 2.

PEMIKIRAN DASAR

  Media merupakan salah satu unsur penting dalam kegiatan Pendampingan Iman Anak (PIA), Tanpa adanya media rasanya kegiatan PIA menjadi kurang menarik atau terasa hambar. Ada bermacam-macam media yang dapat digunakan dalam kegiatan PIA yaitu: media visual, media audio, media audio-visual, media gerakan (kinestesis) dan media tiruan benda (replika) yang masih termasuk dalam media visual. Karena skripsi ini mengambil fokus untuk membahas mengenai peranan media audio visual terhadap proses PIA. Maka pada session ini secara khusus akan dibahas mengenai apa itu media audio visual dan peranan media audio visual dalam proses PIA.

  Skripsi ini mengangkat tema mengenai Peranan Media Audio Visual Terhadap Proses PIA di Lingkungan Santo Agustinus Gancahan I. Berdasarkan dari hasil penelitian ditemukan bahwa Para pendamping PIA di lingkungan tersebut memiliki kerinduan untuk mendampingi kegiatan PIA dengan

  164

  menggunakan media audio visual namun terbentur dengan berbagai hambatan- hambatan berkaitan dengan keterbatasan peralatan pendukung, pemilihan media audio-visual yang tepat untuk mengadakan kegiatan pendampingan PIA dengan tema tertentu, serta berkaitan dengan metode yang cocok untuk mendampingi kegiatan PIA secara audio visual.

  Sesion ini merupakan pengantar untuk menjawab kendala-kendala yang dihadapi oleh pendamping, Sebelum beranjak memasuki sesi ke IV yang berisi: Cara mendapatkan dan memilih media audio visual yang cocok, dilanjutkan dengan membahas metode yang dapat digunakan dalam pendampingan PIA secara audio-visual, dan yang terakhir akan ditampilkan contoh paket pendampingan PIA dengan menggunakan media audio visual. Pada sesi ke III ini pendamping akan diajak untuk memahami terlebih dahulu pengertian media audio visual dan peranannya dalam kegiatan PIA. Setelah mengikuti sesi ini diharapkan pendamping sudah memahami tentang pengertian media audio visual, alat apa saja yang dapat digunakan untuk menampilkan media tersebut, dan perananan media audio-visual dalam kegiatan PIA di jaman yang sudah modern ini.

3. Tujuan

   Peserta memahami apa yang dimaksud dengan media audio visual secara mendalam beserta alternatif peralatan yang dapat digunakan untuk menayangkan media tersebut.

   Peserta mengetahui peranan media audio visual dalam proses Pendampingan Iman Anak (PIA).

  165 4.

   Materi  Pengertian media audio visual.

   Perbedaan media audio visual dengan media lainnya.  Jenis media audio visual.  Peralatan yang dapat digunakan untuk menampilkan media audio-visual.  Peranan media audio visual dalam proses Pendampingan Iman Anak (PIA) 5.

   Sumber Bahan  Andre Rinanto. Peranan Media Audio Visual Dalam Pendidikan. 1982.

  Yogyakarta: Kanisius.  Azhar Arsyad. Media Pembelajaran. 2002. Jakarta: PT Raja Grafindo.

   Cecep Kustandi & Bambang Sudjipto. Media Pembelajaran Manual dan Digital . 2011. Jakarta: Gramedia.

   Hamzah, Suleiman. Media Pembelajaran Untuk Penerangan dan Penyuluhan . 1979. Jakarta: Gramedia.

   Iswarahadi S.J. Media dan pewartaan iman. 2010. Yogyakarta: Pusat Kateketik.

6. Metode

   Informasi  Tanya Jawab

  166 7.

   Sarana

   Laptop  LCD  Hand out 8.

   Proses Pertemuan a. Pembuka

  Selamat malam teman-teman pendamping Pendampingan Iman Anak (PIA) lingkungan Santo Agustinus Gancahan I, Pada sesi yang ke III ini kita bersama-sama akan mendalami tentang pengertian media audio visual dan peranan media audio-visual dalam kegiatan PIA. Pengertian media audio visual didalamnya akan terdapat beberapa poin yaitu tentang pengertian media audio- visual itu sendiri, lalu dilanjutkan dengan jenis-jenis media audio visual beserta contoh-contohnya. Selanjutnya dalam peranan media audio visual akan dipaparkan mengenai kegiatan PIA yang menggunakan media audio visual untuk menambah wawasan pendamping bahwa media audio visual telah banyak digunakan dalam kegiatan PIA.

b. Uraian Materi

  Uraian materi yang pertama akan membahas tentang pengertian media audio-visual yang memuat beberapa pokok penting yaitu: Pengertian media audio visual itu sendiri, lalu dilanjutkan dengan jenis-jenis media audio visual serta masing-masing keunggulannya dalam kegiatan pendampingan, ditambah peralatan yang dapat digunakan untuk menampilkan media tersebut. Jadi dalam membahas

  167

  tentang pengertian media audio visual tidak hanya berhenti pada pengertian saja tetapi memberikan pengetahuan tentang media-audio visual yang lebih mendalam.

  Kedua akan membahas mengenai peranan media audio visual terhadap proses pendampingan iman anak PIA. Dalam materi bagian ke dua ini akan dimunculkan mengenai media audio visual yang telah digunakan dalam kegiatan PIA untuk menambah wawasan pendamping bahwa penggunaan media audio visual dalam kegiatan PIA sudah diserukan oleh Gereja dan telah banyak kegiatan PIA yang memanfaatkan media audio visual.

  1) Pengertian Media Audio Visual

  Media audio visual adalah media yang melibatkan dua panca indera sekaligus yaitu penglihatan dan pendengaran, melibatkan media penglihatan karena media tersebut dapat dilihat

  ”visible” dan melibatkan indera

  pendengaran karena media tersebut mengeluarkan suara yang dapat didengar

  ”audible”. Ada dua jenis media audio visual, yaitu:

  a) Media audio visual murni: Adalah media yang dapat menghasilkan gambar dan suara dalam satu unit atau tidak terpisah satu sama lain, yang merupakan media audio visual murni adalah Film gerak bersuara, televisi, dan video.

  b) Media audio visual tidak murni: Terjadi apabila Slide, Overhead

  Projector (OHP) dan peralatan visual lainnya diberi unsur suara dari

  rekaman kaset atau CD yang dimanfaatkan secara bersamaan. Namun sebenarnya hal ini tidak mengubah hakikatnya sebagai media visual

  168

  karena tayangan pada slide, OHP, dan peralatan visual lainnya tetap gambar diam (still pictures) dan termasuk media visual.

  2) Perbedaan Media Audio Visual dengan Media Audio dan Media Visual Saja adalah: a)

  Media Audio: Adalah segala jenis media yang hanya bisa dinikmati oleh indera pendengar yaitu telinga, dan mampu menggugah imajinasi bagi para pendengarnya. Terdapat beberapa jenis media yang dapat diketegorikan sebagai media audio, yaitu radio, kaset yang diputar menggunakan tape, CD berisi suara dll.

  b) Media Visual: Semua media yang bisa dinikmati dengan indera penglihatan, media ini mengandung unsur garis, bentuk, warna dan tekstur dan tidak mengandung unsur audio atau suara. Media ini dibedakan lagi menjadi media visual dua dimensi dan media visual tiga dimensi. Media visual dua dimensi seperti gambar, wayang, gambar sketsa. Dll, sedangkan media visual tiga dimensi seperti alat peraga dengan berbagai macam sisi, diorama, replika bangunan, dll.

  c) Media Audio Visual: Seperti yang telah disampaikan sebelumnya media audio visual adalah media yang audible artinya dapat didengar dan media yang visible artinya dapat dilihat. Yang termasuk dalam golongan media ini adalah TV, Video, dan Film.

  169

3) Jenis Media Audio Visual Beserta Kelebihan dan Kekurangannya.

  a) Film: film adalah gambar hidup yang terdiri dari kumpulan gambar- gambar dalam frame yang berisi rekayasa peristiwa yang dibuat dengan alur cerita yang disusun sedemikian rupa sehingga menjadi sebuah cerita dalam bentuk film.

  Kelebihan:

  • Selain bergerak dan bersuara, sebuah film dapat menggambarkan sebuah proses atau kejadian tertentu. Contoh: Film tentang kelahiran Yesus Kristus. Film tentang anak yang hilang, Pembebasan bangsa mesir. Dll -

  Suara yang dihasilkan dapat membuat film menjadi semakin nyata dan membawa penonton untuk terhanyut dalam alur cerita

  Kekurangan:

  • Film tidak dapat diselingi dengan keterangan-keterangan dari pendamping yang diucapkan selagi film diputar atau film dihentikan sejenak untuk menyelipkan keterangan-keterangan karena itu malah akan menggangu konsentrasi dari peserta dalam memahami film tersebut.
  • Terkadang jalan film terlalu cepat sehingga tidak semua anak mampu mengikutinya dengan baik.

  b) Video: video hampir sama dengan film, video merupakan gambar hidup yang terdiri dari kumpulan gambar-gambar dalam frame, namun yang

  170

  membuatnya berbeda dengan film: video adalah rekaman peristiwa biasa tanpa alur cerita yang tersusun rapi.

  Kelebihan:

  • Video dapat menggambarkan suatu proses secara tepat dan dapat disaksikan secara berulang jika diperlukan untuk menambah kejelasan. Contoh: video proses terbentuknya alam semesta. Proses mekarnya bunga.
  • Jika video tersebut menarik video dapat sangat kuat mempengaruhi emosi para peserta Pendampingan Iman Anak (PIA). Contoh: video yang menggambarkan kasih sayang orang tua, tentang kerusakan alam, kemiskinan, dll

  Kekurangan:

  • Video yang tersedia di toko maupun yang dapat di unduh internet tidak selalu sesuai dengan tema kegiatan PIA yang diinginkan pendamping. Namun untuk mengatasi kekurangan tersebut dimungkinkan untuk membuat video sendiri secara kreatif dengan peralatan yang saat ini sudah dimiliki oleh para pendamping seperti handphone, kamera digital, tablet, dan laptop.

  c) Televisi: televisi hampir sama dengan film ataupun video, perbedaannya televisi mampu menyajikan kejadian-kejadian aktual dengan cepat bahkan saat itu juga. Saat ini jika ingi mengadakan kegiatan PIA dengan sarana siaran televisi, pendamping tidak perlu menyesuaikan jadwal

  171

  pendampingan dengan siaran yang ada, karena siaran yang diinginkan dapat direkam dengan laptop atau komputer yang dimiliki oleh pendamping.

  Kelebihan:

  • terdapat berbagai macam program, program untuk anak-anak seperti film kartun, program rohani, program kesehatan dll. Program tersebut sekiranya cocok dapat dimanfaatkan untuk kegiatan Pendampingan Iman Anak (PIA).

  Dapat menyajikan peristiwa-peristiwa yang aktual, dan didalamnya

  Kekurangan:

  • (PIA) harus menyesuaikan dengan jadwal siaran TV tersebut. Problem yang sering terjadi adalah terjadi kesulitan dalam menyesuaikan jadwal siaran dan jadwal kegiatan PIA. Namun semua itu bisa diatasi dengan peralatan yang canggih saat ini, karena program siaran televisi dapat direkam baik menggunakan komputer atau televisi itu sendiri.

  Sifat komunikasi hanya satu arah, kegiatan Pendampingan Iman Anak

  • digunakan dalam kegiatan PIA karena tidak semua tayangan baik untuk ditonton oleh anak-anak.

  Pendamping harus selektif dalam memilih tayangan yang akan

  4) Peralatan audio visual yang dapat digunakan untuk menjalankan media audio visual.

  172

  a) Proyektor: Proyektor adalah alat yang paling efektif untuk mengadakan pendampingan PIA secara audio visual, karena dapat menayangkan gambar berukuran besar sehingga membuat anak mudah memahami apa yang ingin disampaikan oleh media tersebut. Namun karena harganya yang cukup tinggi jadi tidak semua orang memilikinya. Jika pendamping ada yang memilikinya proyektor ini dapat digunakan dalam kegiatan PIA. Namun jika tidak memiliki pendamping dapat meminjam proyektor di gereja Maria Assumpta Gamping karena gereja menyediakan proyektor untuk kegiatan pelayanan di luar gereja. Pendamping dapat memesannya terlebih dahulu pada koster gereja.

  b) Monitor LED dan LCD: Monitor LCD atau LED komputer merupakan peralatan alternatif yang dapat digunakan untuk kegiatan PIA dengan media audio-visual. Sifatnya yang ringan, menghasilkan gambar yang cerah dan dapat dikoneksikan dengan mudah pada laptop membuat mobilitas menjadi mudah. Mudah dibawa-bawa dan tidak mengeluarkan banyak tenaga. Akan menjadi maksimal jika monitor berukuran antara 18-20 inchi atau lebih, Jika pendampig memilikinya alat ini bisa digunakan untuk kegiatan pendampingan PIA.

  c) Televisi : Televisi juga dapat digunakan untuk menjalankan media audio visual. Namun jika ingin menggunakan televisi model lama, kekurangannya adalah televisi model lama itu berat terutama yang

  173

  berukuran 20 inchi ke atas dan susah dikoneksikan dengan laptop sehingga menyulitkan mobilitas. Namun media dapat diputar dengan enggunakan DVD atau VCD dan keterangan disampaikan pendamping secara manual atau slide sudah di setting dalam bentuk video dengan program movie maker atau sejenisnya. Namun jika menggunakan televisi modern yang tipis penggunaannya sama dengan monitor LED atau LCD pada komputer, mudah dibawa dan dikoneksikan dengan laptop. Namun pada umumnya Televisi LED atau LCD sedikit lebih berat daripada monitor dengan teknologi serupa untuk komputer.

5) Peranan media audio visual dalam proses Pendampingan Iman Anak (PIA).

  Setelah memahami tentang pengertian media audio visual maka pada materi kedua ini akan diungkapkan mengenai peranan media audio visual dalam kegiatan Pendampingan Iman Anak (PIA). Pertama-tama peserta akan diajak untuk membaca sebuah artikel yang diambil dari buku “Media dan

  Pewartaan Iman” yang berisi kumpulan bahan matakuliah “Komunikasi Sosial dan Katekese Audio Visual II” Fakultas Teologi dan IPPAK-FKIP Universitas Sanata Dharma Yogyakarta karangan Y.I. Iswarahadi, S.J yang diterbitkan pada tahun 2010. Penggalan artikel yang diambil tersebut berjudul “Mencari

  Model Pendidikan Iman Anak Dalam Zaman Digital”. Selanjutnya peserta akan diajak bersharing mengenai artikel tersebut, dan setelah sharing selesai akan diberikan rangkuman yang berisi maksud dari artikel tersebut.

  174

Mencari Model Pendidikan Iman Anak dalam Zaman Digital

  Oleh Y.I. Iswarahadi, SJ Pewartaan yang dilakukan Yesus Pada jamannya menggerakkan banyak orang untuk berbondong-bondong mengikuti-Nya. Yesus mewartakan kerajaan

  Allah baik dengan kata maupun perbuatan. Pewartaannya begitu kuat sampai Ia menanggung resiko mati di kayu salib. Yesus adalah medium sekaligus

  

message. Yesus menggunakan media perumpamaan dan juga kejadian nyata di

sekitar. Cara yang digunakannya pada saat itu ternyata sangat efektif.

  Sadarkah kita bahwa peran orangtua, Gereja dan sekolah dalam bentuk nilai-nilai sudah diambil alih oleh media, dunia digital, dan terutama televisi? Sudahkan dalam pewartaan iman kita memanfaatkan medium dari jaman ini, sehinngga message (pesan injil) dapat menyentuh hati anak-anak? Melalui artikel pendek ini, penulis mewakili Studio Audio Visual Puskat (SAV Puskat) ingin membagikan pengalamannya.

  Kehadiran televisi dan teknologi komunikasi lainnya yang semakin digital membentuk “budaya baru” yang ikut mengubah cara berpikir dan berkomunikasi masyarakat. Budaya televisi berbahasa simbolis sedangkan budaya tulis berbahasa konseptual. Pada jaman ini cara berkomunikasi masyarakat, terutama anak-anak sudah dipengaruhi oleh budaya baru ini. Berdasarkan penelitian Alan Ducan Holaday (1996) dan mengingat pertambahan pesawat televisi di Indonesia 650.000 per tahun, penulis memperkirakan bahwa pada tahun 2010 di Indonesia terdapat 99.100.000

  175

  bahwa sekitar 198.200.000 orang Indonesia adalah pemirsa TV (82%). Rata- rata pemirsa menonton TV per hari adalah 2-3 jam. Sekarang ini berbagai teknologi baru seperti komputer, internet, dan telepon seluler telah membentuk suasana hidup sehari-hari yang dialami oleh anak-anak. Oleh karena itu , dalam pendidikan iman kita perlu memperhatikan konteks psikologis, dan teknologis ini. Dan lagi, siaran radio dan siaran TV juga bisa diakses melalui telepon seluler.

  Sejak tahun 1986, Studio Audio Visual Puskat (SAV Puskat) mempunyai keprihatinan bahwa program-program audio-visual untuk pendidikan anak-anak masih kurang. Oleh karena itu, SAV Puskat menyiapkan program-program yang berupa cerita bergambar, program kaset suara, dan program video. tema-temanya diangkat dari cerita kitab suci, cerita rakyat dan cerita kehidupan. Penyusunan cerita diwarnai oleh usaha SAV puskat untuk mengkontekstualisasikan pewartaan iman pada situasi masyarakat sekarang. Dalam perkembangan waktu, sejak tahun 1995 program cerita bergambar dan sound slide tidak begitu digemari lagi. Umat sudah lebih senang memilih program audio-visual, yakni program video atau VCD.

  Untuk mendukung pewartaan iman SAV Puskat berupaya untuk membuat program-program video bagi anak-anak. SAV Puskat mengemmas cerita-cerita kitab suci, cerita santo santa, perumpamaan modern, atau kisah- kisah pendek. Program-program tersebut sebagian besar didesain dengan cara lokal dalam bentuk drama atau cerita boneka, agar bisa mempromosikan gaya lokal dan memberdayakan artis-artis lokal. Pendek kata, berbagai serial VCD

  176

  sudah diproduksi, yaitu: Pelestarian Alam, Cerita Boneka Kitab Suci Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, serta Kisah Santo Santa. Program-program ini dikemas sedemikian rupa, sehingga orang dewasapun bisa menyaksikan, mempelajari, dan memanfaatkannya untuk pendidikan iman anak-anak. Selain menyiarkan program-program tersebut melalui televisi, SAV Puskat menyediakannya untuk bahan katekese. Pada tahun 2007, mengingat kebutuhan akan sarana-sarana semacam itu, SIGNIS Regio Jawa Bali telah menerbitkan ulang cerita boneka “Kitab Suci dan Santo-Santa Katolik” Produksi SAV Puskat itu dalam kemasan terbaru sekitar 2.000 keping ditawarkan kepada umat dan cukup mendapat perhatian.

  Selain mengerjakan produksi program, SAV Puskat juga menyelenggarakan lokakarya bagi orangtua, guru-guru, katekis/guru agama, yaitu lokakarya tentang cara memahami bahasa televisi dan bagaimana menggunakan program-program televisi. Lokakarya ini sering disebut dengan “Lokakarya Kesadaran Bermedia”. Inilah bagian dari pendidikan yang oleh Paus Benediktus XVI disebut sebagai “pendidikan media” (bdk. Surat Gembala Paus pada Hari Komunikasi Sosial se-dunia ke 41, 20 Mei 2007). Mereka dilatih untuk mempergunakan program-program audio visual dan VCD cerita kitab suci, khususnya untuk mendampingi proses pendidikan iman untuk anak- anak. Pelatihan macam ini membantu untuk meningkatkan ketrampilan Guru dan katekis dalam mewartakan iman pada jaman digital, sayangnya upaya ini belum menjadi gerakan Gereja Katolik secara nasional.

  177

  Selanjutnya dalam buku berjudul Metode Katekese Alternatif yang ditulis oleh Rm Iswarahadi S.J pada tahun 1995 diungkapkan bahwa eksperimen kegiatan PIA dengan media audio visual berupa sound-slide terbukti mengalami keberhasilan. Pada periode selanjutnya di tahun 2010 dalam artikel mencari model pendidikan iman anak di jaman digital dalam buku yang berjudul “Media dan Pewartaan Iman” yang ditulis oleh orang yang sama. Dikatakan bahwa pada jaman audio visual ini kita perlu melakukan pewartaan iman pada anak-anak dengan medium atau media yang sesuai.

  Pertanyaan untuk mendalami teks:

  • visual berdasarkan apa yang diperoleh dari artikel tersebut?

  Gagasan apakah yang teman-teman temukan berkaitan dengan media audio

  • pelatihan tentang cara menggunakan media audio visual untuk kegiatan Pendampingan Iman Anak (PIA)?

  Apa usaha dari SAV PUSKAT dalam rangka memberikan pemahaman dan

  • penggunaan media dalam proses Pendampingan Iman Anak (PIA)?

  Apa pesan artikel tersebut bagi para pendamping PIA berkaitan dengan

  Rangkuman dari pendamping berdasarkan artikel:

  • digital (zaman digital) membentuk budaya baru yang mengubah cara berpikir dan berkomunikasi masyarakat termasuk anak-anak, Budaya baru tersebut adalah budaya audio visual. Kedua sejak tahun 1995 program cerita bergambar dan sound slide tidak begitu digemari lagi. Umat sudah lebih

  Pertama, Kehadiran televisi dan teknologi komunikasi lainnya yang semakin

  178

  senang memilih program video atau VCD untuk mendampingi anak-anak mereka. Ketiga Untuk mendukung pewartaan iman SAV Puskat berupaya untuk membuat program-program video bagi anak-anak. berbagai serial

  VCD sudah diproduksi, yaitu: tentang Pelestarian Alam, Cerita Boneka Kitab Suci Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, serta Kisah Santo Santa.

  Keempat Puskat juga menyelenggarakan lokakarya audio visual bagi para orangtua, guru-guru, katekis/guru agama.

  • dan katekis/guru agama. Lokakarya tersebut berisi tentang bagaimana menggunakan program audion visual untuk mendampingi anak-anak dalam kegiatan Pendampingan Iman Anak (PIA). Ini adalah bukti bahwa media- audio visual mulai digalakkan oleh SAV Puskat untuk menjawab tangtangan zaman. Karena pada zaman digital ini dibutuhkan cara baru dalam pewartaan. Salah satunya adalah dengan menggunakan media audio visual. Ini artinya media audio visual akan memegang peranan penting dalam pewartaan di zaman digital ini. Megingat anak-anak pada zaman ini sudah sangat akrab dengan media audio visual.

  SAV Puskat menyelenggarakan lokakarya bagi para orangtua, guru-guru,

  • pewartaan iman kita memanfaatkan medium dari jaman ini, sehinngga

  Dalam pembukaan artikel tersebut terdapat pertanyaan, Sudahkan dalam

  message (pesan injil) dapat menyentuh hati anak-anak? Maka artikel

  tersebut mengajak kita untuk mengimbangi perkembangan jaman (jaman digital) dengan memanfaatkan media baru untuk kegiatan Pendampingan Iman Anak (PIA). Media yang sangat cocok digunakan untuk pewartaan

  179

  kepada anak-anak di zaman digital ini adalah media audio visual. hal ini berdasarkan fakta bahwa tayangan-tayangan televisi di zaman digital yang begitu menarik, ditambah dengan penggunaan gadget yang menyuguhkan berbagai hiburan audio visual yang menarik. Karena saking menariknya anak-anak menjadi autis dan enggan untuk melakukan hal lain. Contohnya: Pertama, mereka lebih suka menonton acara kesayangan atau bermain game dengan gadget yang mereka miliki daripada bermain di luar, atau mengikuti kegiatan-kegatan seperti PIA. Kedua, karena banyak hal yang menarik di zaman digital ini mereka jadi cepat bosan ketika melihat sesuatu yang kurang menarik atau terkesan membosankan. Maka kegiatan PIA harus mampu menghadirkan segala sesuatu yang baru dan menarik sehingga anak- anak di zaman yang memang sudah modern ini menjadi tersapa dan bersemangat mengikuti kegiatan PIA. Salah satu hal yang dapat dilakukan adalah mendampingi kegiatan PIA dengan menggunakan media audio visual (memanfaatkan kemajuan jaman untuk kegiatan PIA).

c. Peneguhan

  Teman-teman pendamping PIA lingkungan Santo Agustinus Gancahan I, kita telah bersama sama mengetahui apa itu media audio visual, Perbedaam media audio visual dengan media lainnya, jenis-jenis media audio visual, dan peralatan yang dapat digunakan untuk menunjang penggunaan media tersebut. Selanjutnya kita telah bersama-sama berdiskusi mengenai peranan media audio visual dalam kegiatan Pendampingan Iman Anak (PIA) yang diperoleh

  180

  kesimpulan bahwa di jaman yang semakin maju ini dengan berbagai macam pengaruhnya, media audio visual memegang peranan penting dalam proses PIA.

  Karena media tersebut mampu menghadirkan sesuatu yang menarik bagi anak- anak dan dapat menyampaikan tujuan dari kegiatan PIA dengan baik. Selanjutnya kita akan masuk pada sesi yang ke IV, yaitu mengenai Cara menyusun kegiatan PIA dengan menggunakan media audio visual, yang didalamnya terdapat cara mendapatkan dan memilih media audio visual yang cocok, metode yang dapat diginakan dalam pendampingan PIA secara audio visual, dan contoh paket pendampingan PIA dengan menggunakan media audio visual.

SATUAN PENDAMPINGAN SESI IV 1.

   Identitas

  : Cara Menyusun Kegiatan PIA dengan  Judul Pertemuan Menggunakan Media Audio Visual.

  : Para Pendamping PIA di Lingkungan Santo  Peserta Agustinus Gancahan I.

  : 60 menit  Waktu 2.

   Pemikiran Dasar

  Kehadiran media audio visual telah membentuk budaya baru yang telah mengubah cara berpikir dan berkomunikasi masyarakat termasuk anak-anak. Pada saat ini acara televisi dan film-film yang beredar di pasaran sudah banyak berpengaruh terhadap kepribadian anak-anak. Mereka dengan cepat akan meniru apa yang mereka lihat dan jika tidak hati-hati maka hal ini dapat menjerumuskan anak-anak pada hal-hal yang negatif, sebagai contoh anak-anak dapat meniru tindak kekerasan yang ada dalam televisi. Namun tayangan yang positif juga membawa dampak positif bagi anak-anak.

  Di zaman yang sudah sangat maju ini Gereja sudah memanfaatkan media audio-visual berupa acara Televisi dalam kegiatan pewartaannya. Selain itu pewartaan juga dilakukan melalui media audio visual dalam bentuk VCD dan DVD yang berisi acara penyejuk iman atau film rohani yang dapat kita temui di toko-toko rohani terdekat. Media dalam bentuk VCD dan DVD tersebut tidak hanya tersedia untuk orang dewasa saja, tetapi juga sudah tersedia untuk anak- anak, yang khusus dibuat untuk memfasilitasi kegiatan PIA. Melihat hal tersebut sudahkah kita memanfaatkan media ini secara efektif untuk menyentuh hati para peserta PIA yaitu anak-anak?

  Dalam sesi ke IV ini melalui sumber terkait para pendamping Pendampingan Iman Anak (PIA) di lingkungan Santo Agustinus Gancahan I akan diajak untuk mengetahui cara menyusun kegiatan PIA dengan menggunakan media audio visual. Pendamping dapat menyusun kegiatan PIA tersebut dengan menetahui cara memilih media audio visual yang cocok untuk kegiatan PIA, serta mengetahui metode yang cocok untuk mendampingi kegiatan PIA secara audio visual, dan ditambah lagi dengan contoh-contoh paket pendampingan PIA dengan media audio-visual yang sudah jadi sebagai contoh agar pendamping dapat dengan mudah menyusun kegiatan PIA dengan menggunakan media audio visual.

3. Tujuan Pertemuan

   Pendamping mengerti cara mendapatkan dan memilih video yang cocok untuk kegiatan PIA dengan tema tertentu.

   Pendamping mengetahui metode yang cocok untuk mendampingi PIA dengan media audio visual.

   Pendamping tahu bagaimana cara menyusun kegiatan PIA dengan menggunakan media audio visual.

  4. Materi

   Cara mendapatkan dan memilih video yang cocok untuk kegiatan PIA dengan tema tertentu.

   Metode yang cocok untuk mendampingi PIA dengan media audio visual.  Contoh paket pendampingan PIA dengan media audio visual.

  5. Sumber Bahan

   Iswarahadi, S.J. Metode Katekese Alternatif. 1995. Yogyakarta: Pusat Pastoral  Iswarahadi, S.J. Media dan pewartaan iman. 2010. Yogyakarta: Pusat Kateketik  Video “Anak yang Hilang” 6.

   Metode

   Informasi  Tanya jawab 7.

   Sarana

   Laptop  LCD  Hand out

8. Proses Pendampingan a. Pengantar

  Selamat malam teman-teman pendamping kegiatan Pendampingan Iman Anak (PIA) lingkungan Santo Agustinus Gancahan I. Setelah pada sesi sebelumnya kita telah membahas mengenai pengertian media audio visual dan peranan media audio visual dalam proses PIA. Maka pada sesi ke IV ini kita akan membahas mengenai cara menyusun kegiatan PIA dengan menggunakan media audio-visual. Pertama kita akan memulai dengan mengetahui cara mendapatkan dan memilih video yang cocok untuk kegiatan PIA dengan tema tertentu. Selanjutnya, tentang metode yang cocok untuk mendampigi PIA secara audio-visual dan yang terakhir akan diperlihatkan contoh paket pendampingan PIA dengan media audio visual yang sudah jadi agar para pendamping dapat dengan mudah merencanakan dan menyusun kegiatan PIA dengan media audio visual.

b. Cara Mendapatkan dan Memilih Media Audio Visual

  Pada sesi ini pertama-tama akan dijelaskan mengenai cara mendapatkan dan memilih media audio visual yang cocok untuk kegiatan PIA dengan tema tertentu. Dalam pembahasannya sesi ini akan dibagi menjadi dua bagian yaitu cara mendapatkan dilanjutkan dengan cara memilih.

1) Cara Mendapatkan Media Audio Visual

  • audio visual. Melalui internet para pendamping PIA dapat memperoleh

  Melalui Internet: Internet adalah sumber yang sangat kaya akan media berbagai macam media audio visual berupa film, video dan rekaman acara televisi secara gratis. Sebagai contoh: melalui situs

  pendamping dapat memilih

  dari jutaan video, film dan rekaman acara televisi yang ada, lalu mengunduhnya untuk digunakan dalam kegiatan PIA.

  • kita tidak perlu menyesuaikan jadwal pendampingan dengan jadwal siaran acara televisi yang akan digunakan dalam kegiatan PIA. Karena sekarang kita dapat merekam acara tersebut melalui laptop, atau melalui televisi LED dan LCD yang kebanyakan sudah dapat digunakan untuk merekam acara televisi. Tidak dapat dipungkiri bahwa televisi menyajikan beraneka macam program yang sangat kaya yang dapat digunakan dalam kegiatan PIA. Seagai contoh: Pendamping PIA dapat menggunakan acara tolong yang disiarkan di SCTV atau acara orang pinggiran yang sangat menyentuh hati dan dapat mengajarkan anak- anak tentang pentingnya menolong sesama, terutama kaum lemah, miskin, tersingkir, dan tertindas.

  Merekam acara televisi: Di jaman yang modern dan serba canggih ini

  • visual untuk kegiatan PIA. Seperti Film animasi rohani, cerita kitab suci yang dikemas dalam film kartun dan cerita boneka. Selain itu juga terdapat video klip lagu-lagu sekolah minggu yang dapat digunakan untuk penyegaran saat kegiatan PIA berlangsung. Para pendamping dapat mencari VCD atau DVD di toko-toko rohani terdekat seperti

  Membeli di toko rohani: Toko-toko rohani menyediakan media audio-

  Percetakan Kanisius, Betania, atau Pondok Pujian. Namun menurut pengalaman persediaan media audio visual tersebut di toko rohani Katolik masih kalah banyak ketimbang persediaan toko rohani Kristen. Membuat sendiri: Alternatif yang paling kreatif adalah membuat

  • media audio visual sendiri, karena dengan membuat sendiri para pendamping dapat berinovasi dalam menciptakan media audio visual seperti video atau film pendek untuk anak-anak. Media tersebut dapat dibuat dengan mudah hanya dengan menggunakan hanphone, kamera digital, dan laptop yang mayoritas pendamping sudah memilikinya. Contoh: Merekam perayaan ekaristi saat sedang memasuki tahap konsekrasi, rekaman tersebut dapat diperlihatkan pada anak-anak untuk mengenal tahap-tahap saat konsekrasi, atau untuk mengenal alat-alat misa yang digunakan room saat konsekrasi. Atau membuat drama pendek yang berakhir saling memafkan untuk melatih anak-anak agar meminta maaf saat berbuat salah pada temannya.

2) Cara Memilih Media Audio Visual Untuk Kegiatan PIA dengan Tema Tertentu

  • kartun atau animasi, kisah santo santa, perumpamaan modern, alam, kisah kehidupan, ekaristi, dan masih banyak lagi.

  Media dapat berupa cerita-cerita kitab suci yang dikemas dalam film

  • Pemilihan media dapat berdurasi pendek atau panjang, tetapi sebaiknya menyesuaikan dengan alokasi waktu yang ada, sehingga seluruh proses pendampingan dapat tercapai dan tidak habis untuk film atau video saja.
  • Pemilihan media yang akan digunakan harus mempertimbangkan rentang usia anak yang mengikuti kegiatan Pendampingan Iman Anak (PIA). Karena dalam kegiatan PIA, kebanyakan tidak ada kelas-kelas berbeda untuk tiap usianya jadi harus memilih film, video, atau siaran televisi yang mampu dipahami oleh seluruh peserta, dalam artian jangan yang berat-berat.
  • Pemilihan media harus memperhatikan unsur-unsur sara, atau unsur yang tidak mendidik yang ada di film atau video yang kita pilih karena bisa berdampak negatif bagi anak.

c. Metode PIA Dengan Menggunakan Media Audio Visual

  Pada prinsipnya Pendampingan Iman Anak (PIA) dengan menggunakan media audio visual adalah keseluruhan proses dari kegiatan pendampingan tersebut. Jadi PIA dengan menggunakan media audio visual bukan berarti meniadakan media lainnya, meniadakan berarti hanya film saja atau video saja lalu selesai. Namun media lainnya seperti gerakan, gambar atau tulisan-tulisan merupakan pendukung yang menjadi satu kesatuan dalam proses PIA secara audio visual demi mencapai tujuan yang telah direncanakan atau dicita-citakan.

  Dalam kegiatan pendampingan PIA secara audio visual para pendamping dapat menggunakan metode berikut :

  1) Pembukaan: Pertemua dibuka dengan doa yang dipimpin oleh pendamping ataupun dipimpin oleh anak sendiri baik doa spontan maupun hafalan. Selanjutnya dapat dilanjutkan dengan nyanyian-nyanyian atau permainan ice breaking untuk membangkitkan ssemangat. Setelah itu Pembina dapat mengantar anak untuk memasuki tema pertemuan yang ditentukan oleh pendamping.

  2) Pemutaran media audio visual: Pemutaran dapat berlangsung sesuai durasi film, video, atau acara televisi yang telah ditentukan oleh pendamping. Jika masih kurang jelas, program dapat diputar lagi, baik langsung seluruhnya jika waktu memungkinkan karena durasinya pendek atau pada bagian tertentu saja.

  3) Pendalaman: Setelah Film, Video, atau Acara telvisi yang telah ditentukan oleh pendamping diputar, dilanjutkan dengan memberi kesempatan pada anak untuk mengungkapkan kesan terhadap program yang dilihat, menyebut isi pokoknya, melihat kaitannya dengan kehidupan, dan perbuatan apa yang seharusnya dilakukan. Dalam langkah ini anak disemangati untuk tidak malu-malu mengemukakan pendapatnya.

  Pendapat yang kurang lengkap dilengkapi temannya. Jika ada yang berprestasi lalu diberikan pujian agar semakin bersemangat.

  4) Selingan dan penutup: Langkah ini merupakan kesempatan bagi pendamping untuk berkreasi sendiri mengenai tema yang sudah ditentukan. Ada macam-macam jalan yang dapat ditempuh, missalnya anak diberikan kesempatan untuk menceritakan kembali isi pokok program, atau secara kelompok mementaskan sandiwara singkat, berdeklamasi, atau menyanyi untuk menyimpulkan apa yang telah ditampilkan. Setelah itu pertemuan dapat diakhiri dengan doa yang diwarnai dengan pesan-pesan atau isi pokok yang ada dalam pertemuan tersebut.

d. Contoh Paket Pendampingan

  Contoh paket kegiatan PIA ini disusun dengan menggunakan program

  

Microsoft Power Point dengan mengaplikasikan metode yang telah kita bahas

  sebelumnya. Paket pendampingan ini mengambil tema dalam Yesus kita berbagi, dan video yang digunakan adalah video tentang kisah Lazarus yang diambil dari situs youtube. Tema ini bertujuan agar anak

  • –anak yang mengikuti PIA sadar akan pentingnya berbagi kepada sesama terutama mereka yang miskin, lemah, tersingkir,dan tertindas. Sehingga anak tidak menjadi orang yang pelit dan kikir, karena sifat seperti itu tidak disukai oleh Allah.

  

Keterangan : Contoh ini dimaksudkan agar pendamping memperoleh gambaran

  nyata tentang paket PIA secara audio visual, agar para pendamping PIA di Lingkungan Santo Agustinus Gancahan I dapat merencanakan dan menyusunya dengan mudah. Contoh tersebut hanyalah patokan tetapi tidak mutlak harus seperti itu. jika pendamping ingin melakukan modifikasi-modifikasi dan ternyata berjalan efektif maka itu sangat baik. Jadi pendamping dapat berkreasi sekreatif dan semenarik mungkin dengan menambahkan video gerak dan lagu, animasi-animasi, bacaan Kitab Suci, dan masih banyak lagi sesuai dengan tema yang diinginkan.

C. Peneguhan

  Berdasarkan pembahasan yang disampaikan pada sesi ini, dapat disimpulkan bahwa kegiatan PIA dengan menggunakan media audio visual bukanlah sesuatu yang sulit untuk dilaksanakan. Hanya saja dibutuhkan kemauan pendamping untuk mencari atau membuat media dan menyusun pendampingan PIA dengan menggunakan media audio visual tersebut semenarik mungkin. Untuk masalah sarana para pendamping PIA di lingkungan Santo Agustinus Gancahan I dapat meminjam proyektor di gereja Gamping dengan memesan terlebih dahulu, karena gereja menyediaan proyektor yang dapat dipinjam untuk kegiatan pengembangan iman jemaat.

  Akhir kata semoga apa yang disampaikan ini dapat berguna bagi para pendamping PIA di lingkungan Santo Agustinus Gancahan I, sehingga pada saat mengadakan kegiatan PIA dengan media audio visual nanti pendamping mampu merencanakan dan mendampingi kegiatan PIA dengan media audio visual secara maksimal.

  193

BAB V PENUTUP Pada bagian penutup ini, penulis akan memaparkan kesimpulan dan saran

  berkaitan dengan Peranan Media Audio Visual Terhadap Proses Pendampingan Iman Anak (PIA) di Lingkungan Santo Agustinus Gancahan I Paroki Santa Maria Assumpta Gamping Yogyakarta. Bagian kesimpulan berisikan gagasan-gagasan pokok dari keseluruhan isi skripsi ini, sedangkan pada bagian saran berisikan usaha-usaha yang dapat dilakukan agar proses PIA dengan menggunakan media Audio Visual dapat berjalan dengan sukses. Terdapat tiga saran, yaitu saran untuk: Gereja Paroki Santa Maria Assumpta Gamping, Para Pendamping PIA di Lingkungan Santo Agustinus Gancahan I, dan bagi mata kuliah PIA di prodi IPPAK.

A. Kesimpulan

  Penggunaan media merupakan hal penting dalam kegiatan Pendampingan Iman Anak (PIA), Karena media membuat kegiatan PIA menjadi semakin menarik dan efektif. Namun seiring perkembangan zaman akan terjadi pergeseran yang membuat media tertentu bisa menjadi tidak efektif lagi. Melihat kenyataan tersebut, sangat penting untuk terus berinovasi dalam penggunaan media dengan memanfaatkan kemajuan zaman yang semakin modern ini. Tidak dapat dipungkiri bahwa pada jaman ini media audio-visual seperti televisi, film, dan video sudah sangat akrab dengan anak-anak. Ditambah lagi kepemilikan gadget dan komputer canggih yang memudahkan anak-anak untuk mengakses hiburan Audio Visual

  194

  yang memberikan berbagai macam kesenangan, sehingga mereka tidak mau beranjak dari kesenangan tersebut. Dengan banyaknya kesenangan, mereka akan malas untuk melihat hal yang kurang menarik. Oleh karena itu dibutuhkan inovasi agar kegiatan PIA menjadi semakin menarik sehingga apa yang disampaikan tetap mampu menyentuh hati anak-anak di zaman ini.

  Media Audio Visual merupakan solusi yang tepat untuk membuat kegiatan Pendampingan Iman Anak (PIA) menjadi semakin menarik dan efektif. Karena media Audio Visual merupakan media yang sesuai dengan zaman ini dan akrab dengan kehidupan anak-anak. Banyak hal yang dapat dilakukan dengan media Audio Visual. Pendamping dapat melakukan pemutaran film, acara televisi, dan video berisi berbagai macam hal menarik sesuai kreasi pendamping untuk mendampingi anak-anak dalam iman. Mungkin telah banyak kegiatan PIA di tempat lain yang telah memanfaatkan media ini untuk menunjang proses pendampingannya. Namun dalam penelitian ini peneliti mengkhususkan diri untuk melihat secara lebih dalam mengenai peranan media Audio Visual tehadap proses PIA di Lingkungan Santo Agustinus Gancahan I secara natural.

  Berdasarkan dari hasil penelitian yang telah dilakukan penulis terhadap para pendamping PIA di lingkungan Santo Agustinus Gancahan I berkaitan dengan Peranan Media Audio Visual Terhadap Proses Pendampingan Iman Anak (PIA) di Lingkungan tersebut, ditemukan bahwa: Para pendamping PIA memiliki kerinduan untuk mendampingi kegiatan PIA secara Audio Visual, namun untuk melaksanakan hal tersebut pendamping masih mengalami kendala. Pertama karena pendamping mengalami kesulitan dalam memilih media Audio Visual

  195

  yang cocok untuk mendampingi kegiatan PIA dengan tema tertentu, yang kedua para pendamping PIA di lingkungan tersebut juga mengalami kesulitan dalam memilih metode yang tepat untuk mendampingi kegiatan PIA secara Audio Visual, dan yang terakhir pendamping mengalami keterbatasan sarana untuk melaksanakan kegiatan PIA yang menggunakan media Audio Visual.

  Beranjak dari hal tersebut penulis menyusun sebuah usulan program untuk mengatasi kendala yang dialami oleh para pendamping PIA di lingkungan Santo Agustinus Gancahan I berkaitan dengan penggunaan media Audio Visual. Memang tidak mudah melakuan pendampingan secara Audio Visual, terkadang dibutuhkan pemahaman-pemahaman agar pendampingan dapat berjalan dengan efektif. Oleh karena itu, program ini berisi hal-hal penting yang perlu diketahui oleh pendamping berkaitan dengan Penggunaan media Audio Visual dalam proses PIA ditambah dengan dasar-dasar teori kegiatan PIA untuk memperkaya pengetahuan pendamping. Program ini diharapkan dapat membantu para pendamping PIA dalam upaya mendampingi kegiatan PIA dengan menggunakan media Audio Visual di lingkungan tersebut, sehingga kegiatan PIA dengan media Audio Visual yang diusahakan pendamping dapat berjalan dengan lancar dan efektif, dalam artian anak-anak tertarik dan pesan-pesan yang ada dapat tersampaikan dengan baik.

  196 B.

   Saran 1. Bagi Gereja Paroki Santa Maria Assumpta Gamping

  Untuk menunjang penggunaan media Audio Visual dalam proses Pendampingan Iman Anak (PIA) di lingkungan-lingkungan, maka gereja perlu melakukan usaha-usaha sebagai berikut:

   Mengadakan pelatihan-pelatihan atau seminar bagi para pendamping PIA yang ada di lingkungan-lingkungan tentang penggunaan media dalam kegiatan PIA, khususnya media Audio Visual karena penggunaan media Audio Visual dalam proses PIA merupakan solusi tepat untuk menjawab perkembangan zaman yang semakin maju dan serba digital ini.

   Menyediakan media Audio Visual seperti video dan film dalam bentuk

  VCD atau DVD yang dapat dipinjam atau dicopy oleh para pendamping yang ingin mengadakan kegiatan PIA dengan media Audio Visual di lingkungannya masing-masing. Karena pendamping sering kesulitan untuk menemukan dan memilih media Audio Visual yang cocok untuk digunakan dalam proses PIA.  Menyediakan peralatan Audio Visual seperti proyektor yang dapat dipinjam oleh para pendamping, untuk mendukung para pendamping yang ingin mengadakan kegiatan PIA dengan media Audio Visual namun tidak memiliki peralatan Audio Visual yang memadahi.

  197 2.

   Bagi Para Pendamping PIA di Lingkungan Santo Agustinus Gancahan I

  Agar proses Pendampingan Iman Anak (PIA) dengan menggunakan media Audio Visual dapat berjalan dengan lancar, ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh para pendamping:

   Diperlukan kemauan pendamping untuk merencanakan dan mencari media Audio Visual yang cocok untuk kegiatan PIA dengan tema tertentu. Selain itu pemilihan media Audio Visual juga harus melihat usia anak, yaitu rentang usia terendah dan tertingi dari anak yang mengikuti kegiatan PIA, sehingga dapat dilakukan penyesuaian yang mencakup semua. misalnya tidak memberikan film atau video yang terlalu berat sehingga hanya sebagian saja yang mampu mengikuti dan memahaminya, namun mencari video atau film yang dapat mencakup semua anak.  Selain media audio visual yang tersedia di toko-toko terdekat. Pendamping dapat memanfaatkan internet untuk mengunduh video atau film yang sekiranya cocok digunakan dalam kegiatan pendampingan PIA dengan tema tertentu, karena internet sangat kaya dengan media tersebut. Selain itu pendamping juga dapat berinovasi dengan membuat media Audio Visual sendiri dengan peralatan yang ada, seperti handphone atau kamera digital.

   Pendamping dapat berkreasi dalam merancang kegiatan PIA dengan media Audio Visual, karena media Audio Visual bukan semata-mata film yang digunakan, namun keseluruhan dalam proses tersebut, misalnya pendamping dapat menambahkan teks lagu, gambar-gambar, dan

  198

  pertanyaan-pertanyaan atau perintah yang dituliskan dalam slide sebagai pengantar dan penutup untuk menghantar peserta kepada tujuan.

   Film, Video, dan Siaran televisi yang digunakan tidak harus berdurasi panjang. Jika sekiranya film tersebut terlalu panjang dapat dipotong untuk diambil inti-intinya saja. Selain itu jika ingin menggunakan siaran televisi, sekarang sudah tidak perlu repot-repot untuk menyesuaikan jadwal televisi dengan kegiatan pendampingan, karena siaran tersebut dapat dengan mudah direkam dengan menggunakan laptop yang yang sudah diintegrasikan dengan TV turner. Sehingga pendamping tinggal memilih acara yang sekiranya cocok, direkam lalu ditampilkan.

   Pendamping dapat menggunakan program Microsoft Power Point untuk merancang jalannya kegiatan PIA dengan media Audio Visual. Selain itu pendamping dapat menggunakan program seperti Ulead, Corel Video untuk melakukan editing film, video, atau acara televisi yang

  Studio Pro

  akan digunakan dalam kegiatan PIA  Jika tidak memiliki proyektor untuk menampilkan media Audio Visual yang telah direncanakan. Pendamping dapat menggunakan memanfaatkan televisi baik televisi tabung, LCD, atau LED. Namun akan lebih mudah menggunakan TV LED dan LCD karena dapat terhubung langsung dengan laptop dengan bantuan kabel HDMI atau dengan flashdisk.

  199 3.

   Bagi Mata Kuliah PIA di Prodi IPPAK

  Mengingat penggunaan media Audio Visual dalam kegiatan PIA merupakan hal yang mendesak untuk menanggapi perkembangan zaman yang semakin modern ini. Mata kuliah tersebut perlu mambahas secara khusus tentang peranan dan penggunaan media Audio Visual dalam proses PIA sebagai bekal bagi para mahasiswa jika ingin mengadakan kegiatan PIA dengan media Audio Visual. Oleh karena itu dalam kuliah ini dapat ditambahkan materi tentang: Peranan media Audio Visual dalam proses PIA, pengertian media Audio Visual beserta keunggulannya, cara pemilihan media Audio Visual untuk digunakan dalam kegiatan PIA, cara membuat media Audio Visual sendiri, peralatan yang dapat digunakan untuk menampilkan media Audio Visual dan metode yang tepat untuk mendampingi kegiatan PIA dengan menggunakan media Audio Visual beserta contoh-contohnya. Berkaitan dengan hal tersebut dosen pengampu dapat memanfaatkan isi skripsi ini sebagai referensi untuk membantu menjelaskan materi-materi tersebut kepada para mahasiswa.

  200

DAFTAR PUSTAKA

Amalorpavadas, D.S. (1972). Katekese Sebagai Tugas Pastoral Gereja.

  Ajaran-Ajaran Gereja. Yogyakarta :Kanisius

  Pusat Kateketik. (2001). Kursus Pendampingan Iman Anak Bagi Para Novis dan Postulan Yogyakarta.

  “Menjadi Pendamping PIA yang Berkualitas ”. Dalam Diktat Mata Kuliah Pendidikan Kader Fakultas Ilmu Pendidikan Agama, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

  Pendampingan Calon Pendamping PIA (2003).

  Santa Maria Assumpta Gamping . Yogyakarta: Paroki Maria Assumpta Gamping.

  Pendampingan Iman Anak bagi mahasiswa semester IV. Fakultas Ilmu Pendidikan Agama, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Mayeroff, Milton. (1993). Mendampingi Untuk Menumbuhkan. Yogyakarta: Kanisius. Omar Hamalik. (1985). Media Pendidikan. Bandung: Alumni Paroki Maria Assumpta Gamping. (2008). Pedoman Pelaksanaan Dewan Paroki

  ____________ .(2008). Dasar-Dasar Pendampingan Iman Anak. Yogyakarta: Kanisius. Mangunhardjana, A.M. (1986). Pendampingan Kaum Muda. Yogyakarta: Kanisius. Goretti Sugiarti, A.K. (1999). Pendampingan Iman Anak. Diktat Mata Kuliah

  Iswarahadi, S.J. (2002). Pendidikan Iman di Jaman Audiovisual. Yogyakarta: Pusat Pastoral. ____________.(2010). Media dan Pewartaan Iman. Yogyakarta : Pusat Kateketik Kartini Kartono. (1986). Psikologi Anak. Bandung: Alumni Kitab Hukum Kanonik, Jakarta : Dokpen KWI 2006. Komkat KWI .(2006). Pembinaan Iman Anak Dari Segi Pastoral Berdasar

  Yogyakarta: Pusat Kateketik. Amir Hamzah Suleiman. (1979). Media Pembelajaran Untuk Penerangan dan Penyuluhan . Jakarta : Gramedia.

  Inc Englewood Cliffs. Hardawiryana, S.J. (2008). Pengantar Dokumen Konsili Vatikan II. Jakarta: Obor. Hurlock, Elizabeth B. (1991). Psikologi Perkembangan Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan . Jakarta: Erlangga.

  Gerlach, R., and Ely, D.P 1980. Teaching and Media. New York: Prentice Hall.

  Dokumen Konsili Vatikan II : Jakarta: Obor 2008.

  Jakarta: PT Macan Jaya Cemerlang.

  Danar Santi. (2009). Pendidikan Anak Usia Dini:Antara Teori dan Praktik.

  Med Meitasari Tjadrasa. Jakarta: Erlangga Cecep Kustandi & Bambang Sudjipto. (2011). Media Pembelajaran Maual dan Digital . Bogor: Ghalia Indonesia.

  Andre Rinanto. (1982). Peranan Media Audio Visual dalam Pendidikan .Yogyakarta : Kanisius. Azhar Arsyad. (2002). Media Pembelajaran. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada Hurlock, Elisabeth B. (1991). Psikologi Perkembangan Anak: Cetakan 1. Terj.

  IPPAK.

  201

  Ruth S. Kadarmanto (2004). Tuntunlah ke Jalan Yang Benar, Panduan Mengajar Anak di Jemaat .Jakarta : PT BPK Gunung Mulia. SAGKI (2005). Bangkit dan Bergeraklah! Dokumentasi Hasil Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia 2005. Jakarta 2006: Obor. Samaldino, S.E., Lowther, D.L. (2008). Instructional Technology and Media for Learning . New Yersey: Pearson Prentice Hall. Soekidjo Notoatmodjo. (2002). Metode Penelitian Kesehatan. Jakarta: PT Rineka Cipta. Suharsimi Arikunto, Prof. Dr. (2002). Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: PT. Rineka Cipta. Sutrisno Hadi, M.A. Prof. Dr. (2002). Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan

  Praktek. Jakarta: Obor Sri Anitah. (2008). Media Pembelajaran. Surakarta: UNS Press. Tim Penyusun Kamus Besar Bahasa Indonesia. (2005). Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka. Yohanes Paulus II, (1981). Anjuran Apostolik, Familiaris Consortio, Peranan Keluarga Kristen Dalam Dunia Modern . Jakarta: KWI. _______________. (1992) Catechesi Tradendae. Terj. R. Hardawiryana, SJ.

  Dalam Dokumen Gerejani. Jakarta: KWI. Yudhi Munadi. (2010) Media Pembelajaran. Jakarta : Gaung Persada (GP) Press. Yulia Nuraini Sugiono. (2011). Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dini.

  Jakarta 2011: PT Permata Puri Media.

  

LAMPIRAN

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

EVALUASI STRUKTUR PENGENDALIAN INTERN PENERIMAAN KAS PAROKI HATI SANTA PERAWAN MARIA TAK BERCELA EVALUASI STRUKTUR PENGENDALIAN INTERN PENERIMAAN KAS PAROKI HATI SANTA PERAWAN MARIA TAK BERCELA KUMETIRAN YOGYAKARTA.
0
2
16
PERANAN SCRIPT SUPERVISOR DALAM PROSES PRODUKSI PROGRAM FILM CHARACTER BUILDING DI STUDIO AUDIO VISUAL PUSKAT YOGYAKARTA
0
2
52
METODE USER-CENTERED DESIGN UNTUK PEMBANGUNAN SISTEM INFORMASI UMAT GEREJA PAROKI MARIA ASSUMPTA BABARSARI YOGYAKARTA
0
0
8
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang - MOTIVASI MENJADI PENDAMPING PENDIDIKAN IMAN ANAK (PIA) DITINJAU DARI PERSEPSI TERHADAP TUGAS PENDAMPINGAN - Unika Repository
0
0
12
KETERLIBATAN KAUM AWAM DALAM TUGAS KERASULAN GEREJA SEBAGAI PENGURUS DEWAN PAROKI DI PAROKI SANTO YOHANES RASUL, PRINGWULUNG, YOGYAKARTA SKRIPSI
0
4
175
PENINGKATAN KESADARAN ORANG TUA AKAN PERANNYA DALAM PENDIDIKAN IMAN ANAK MELALUI KATEKESE MODEL SHARED CHRISTIAN PRAXIS DI LINGKUNGAN BRAYAT MINULYO WILAYAH SANTA MARIA KALASAN BARAT PAROKI MARGANINGSIH KALASAN SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu S
0
0
146
UPAYA MENINGKATKAN PENGHAYATAN IMAN SISWA-SISWA SMA SEMINARI SANTO PAULUS NYARUMKOP KALIMANTAN BARAT MELALUI KATEKESE AUDIO VISUAL SKRIPSI
0
1
142
USULAN MENINGKATKAN PEMAHAMAN TENTANG MAKNA SAKRAMEN EKARISTI DEMI PENGEMBANGAN IMAN PUTERA ALTAR KUASI PAROKI SANTO YUSUP BANDUNG, GUNUNG KIDUL, YOGYAKARTA SKRIPSI
0
0
147
PERANAN KURSUS PERSIAPAN PERKAWINAN DALAM RANGKA MEMBANGUN HIDUP IMAN KELUARGA MUDA DI PAROKI SANTO MARKUS MELAK KUTAI BARAT KALIMANTAN TIMUR
0
0
188
SENI KARAWITAN SEBAGAI SARANA PENGHAYATAN IMAN UMAT AKAN EKARISTI DI PAROKI SANTO YAKOBUS, BANTUL, YOGYAKARTA SKRIPSI
0
1
151
PEMBERDAYAAN PENDAMPING PENDAMPINGAN IMAN ANAK SEBAGAI UPAYA MENINGKATKAN MUTU PENDAMPINGAN IMAN ANAK DI PAROKI SANTO STEPHANUS CILACAP SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Ilmu Pendidikan Kek
0
0
177
KETAATAN IMAN MARIA BAGI SUSTER-SUSTER SANTA BUNDA MARIA DI PROVINSI INDONESIA SKRIPSI
0
1
144
PERANAN ORANG TUA DALAM MENGHADAPI PENGARUH NEGATIF MEDIA TELEVISI TERHADAP PERKEMBANGAN IMAN ANAK DI LINGKUNGAN SANTO YOHANES PAROKI KRISTUS RAJA KATEDRAL SINTANG KALIMANTAN BARAT SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana
0
1
146
USAHA MENEMUKAN MAKNA SAKRAMEN EKARISTI DEMI PENGEMBANGAN IMAN UMAT LINGKUNGAN SANTO ANTONIUS JOTON PAROKI SANTO YUSUF PEKERJA GONDANGWINANGUN KLATEN SKRIPSI
0
0
153
UPAYA MEMBANGUN KELUARGA KRISTIANI MELALUI PENDAMPINGAN KELUARGA DI PAROKI KUNJUNGAN SANTA MARIA PENIUNG, KAPUAS HULU, KALIMANTAN BARAT
0
0
137
Show more