Makna perayaan ekaristi bagi anggota misdinar di Paroki Santo Antonius Padua Kotabaru Yogyakarta. - USD Repository

Gratis

0
0
122
1 month ago
Preview
Full text
(1)PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI MAKNA PERAYAAN EKARISTI BAGI ANGGOTA MISDINAR DI PAROKI SANTO ANTONIUS PADUA KOTABARU YOGYAKARTA SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Agama Katolik Oleh : Veronika Sigalingging NIM: 141124004 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK JURUSAN ILMU PENDIDIKAN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2019

(2) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI SKRIPSI MAKNAPERAYAANEKARISTIBAGIANGGOTA MISDINAR DI PAROKI SANTO ANTONllJS PADUA KOTABARU YOGYAKARTA Oleh: ~: p FX. ~YiPaD Tanggal17Desember2018 SFK, M. Pd 11

(3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI SKRIPSI MAKNA PERAYAAN EKARISTI BAGI ANGGOTA MISDINAR DI PAROKI SANTO ANTONIUS PADUA KOTABARU YOGYAKARTA Dipersiapkan dan ditulis oleh: Veronika Sigalingging NIM:: 141124004 Telah dipertaliankan di depan Eanitia Penguji Pad tanggal7 Jan~ 2019 dan dinyatakan. memenuhi syarat SUSUNAN PANITIA PENGUn ~ Nama Ketua : Dr. B. Agus. Rukiyanto, 8J. Sekretaris : Yoseph Kristianto, SFK, M.Pd. Anggota : 1. FX. Dapiyanta SFK, M. Pd 2. P. Banyu Dewa HS. S.Ag. M.Si.. , 3. M. Ariya S'e~ S.Pd. Mag. Theo 11l

(4) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PERSEMBAHAN Skripsi ini kupersembahkan kepada: Skripsi ini kupersembahkan kepada “Tuhan Yesus Kristus yang selalu menyertai dan membimbingku, serta kepada Bunda maria yang mulia yang menghantarkan doa-doaku kepada Bapa” “Anggota Misdinar Paroki Santo Antonius Padua Kotabaru Yogyakarta” “Program Studi Pendidikan Agama Katolik Universitas Sanata Dharma yang telah mendidik dan memberikan pengalaman terindah didalam hidupku” Kedua Orang tuaku “Abner Sigalingging dan Ibu Theresia Sinaga” Kakak dan adikku “Saut, Lusiana, Yohannes, Gunawan, Alfonsius” iv

(5) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI MOTTO “Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu, dan dalam kesucianmu” (1 Timotius 4:12) v

(6) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PERNYATAAN KEASLIAN KARYA Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebut dalam kutipan dan daftar pustaka sebagaimana layaknya karya ilmiah. Yogyakarta, 7 Januari 2019 vero~ng VI ~1 MmA

(7) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI LEMBARPERNYATAANPERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma: Nama :Veronika Sigalingging NIM : 141124004 Derni pengembangan ilmu pengetahuan saya memberikan kepada perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah yang berjudul: MAKNA PERAYAAN EKARISTI BAGI ANGGOTA MISDINAR PAROKI SANTO ANTONIUS PADUA KOTABARU YOGYAKARTA. Beserta perangkat yang diperlukan (bila ada)Dengan demikian saya memberikan kepada perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dan membentuk media lain, mengolahnya dalam bentuk pangkalan, mendistribusikan secara terbatas dan mempublikasikannya di internet dan media lain untuk kepentingan akadernis tanpa perIu merninta ijin dari saya maupun memberikan royalty kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis. Demikianlah pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya. Dibuat di Yogyakarta Pada tanggal 7 Januari 2019 nak ~Y Veronika Sigalingging VII

(8) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ABSTRAK Skripsi ini berjudul MAKNA PERAYAAN EKARISTI BAGI ANGGOTA MISDINAR DI PAROKI SANTO ANTONIUS PADUA KOTABARU, YOGYAKARTA. Judul ini dipilih berdasarkan keingintahuan penulis sejauh mana para misdinar yang aktif sebagai pelayan altar memaknai perayaan Ekaristi. Sakramen Ekaristi adalah sakramen utama, dikatakan utama karena Ekaristi sebagai sumber dan puncak seluruh hidup Kristiani. Dalam perayaan Ekaristi diungkapkan iman seluruh Gereja akan penyelamatan Allah yang terjadi dalam Kristus. Dalam Ekaristi umat bersatu sebagai Gereja yang nyata. Melalui Ekaristi orang yang mengimani Kristus semakin penuh bersatu dengan tubuh dan darah Kristus sebagai sumber keselamatan dan puncak seluruh hidup Kristiani. Fokus penelitian adalah Makna Ekaristi yang secara primer meliputi pengalaman keterlibatan remaja menjadi misdinar dalam perayaan Ekaristi. Misdinar dapat memaknai perayaan Ekaristi untuk memperkuat iman remaja dalam setiap keterlibatan. Sedangkan secara sekunder, meliputi sikap yang tercermin dalam perbuatan hidup sehari-hari baik dilingkungan Gereja dan masyarakat. Jenis penelitian yang digunakan adalah kualitatif fenomologis. Peneliti memilih informan menurut kriteria tertentu yang telah diterapkan yaitu informan yang benar-benar aktif dalam setiap setiap tugas atau pertemuan misdinar dan sudah memiliki banyak pengalaman, informan yang dipilih pun bersedia untuk terlibat dalam penelitian ini. Penulis menggunakan metode Triangulasi sumber data, untuk mencapai validitas data penulis memeriksa kembali informasi dari responden dengan mewawancara orang tua dan pendamping. Informasi-informasi tersebut kemudian dianalisis secara kualitatif dengan cara reduksi data, penyajian data, verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemahaman misdinar mengenai arti perayaan Ekaristi sebatas hafalan yakni sebagai kesempatan untuk berdoa dan bersyukur sedangkan makna Ekaristi bagi misdinar mendapat pelajaran baru mengenai Injil melalui homili dan tempat untuk berdoa meminta berkat Tuhan atas kehidupan sehari-hari. Dalam hidup sehari-hari anggota misdinar juga sering mengalami kesulitan, mereka belum melibatkan Ekaristi sebagai sumber dan puncak hidup, yang mereka lakukan selalu berdoa dan intropeksi diri. Sebagai misdinar bertanggung jawab dalam menjalankan tugas yang sudah dibagi dan berlatih terus untuk mempersiapkan tugas yang akan datang sehingga pada saat perayaan Ekaristi dapat berjalan dengan lancar. Merespon permasalahan tersebut maka penulis mendesain program pendampingan rekoleksi untuk komunitas Misdinar Paroki Kotabaru sebagai upaya untuk membantu misdinar memahami Ekaristi dan memaknainya dalam hidup sehari-hari mereka. Melalui rekoleksi tersebut, penulis akan mengajak Misdinar untuk melihat dan menjadikan Ekaristi sebagai sumber dan puncak iman kristiani yang mereka hayati. viii

(9) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ABSTRACT The title of this study is THE MEANING OF EKARISTIES FOR ACOLYTES IN THE SANTO ANTONIUS PADUA KOTA BARU PARISH, YOGYAKARTA. This title was chosen based on the writer's curiosity to the extent to which the acolytes who were active as altar servants interpreted the celebration of the Eucharist. The Sacrament of the Eucharist is the main sacrament,it said to be primary because the Eucharist is the source and culmination of the entire Christians life. In the celebration of the Eucharist the faith of the whole Church is revealed in the salvation of God that occurs in Christ In the Eucharist the people unite as the real Church. Through the Eucharist the person who believes in Christ is more fully united with the body and blood of Christ as the source of salvation and the peak of the whole Christian life. The focus of the research is the Eucharistic Meaning which primarily includes experiences of adolescent involvement into acolyte in the celebration of the Eucharist. Acolytes can interpret the celebration of the Eucharist to strengthen the faith of adolescents in every engagement. While secondary, includes attitudes that are reflected in the actions of daily living both within the Church and society. The method used in this research is phenomenological qualitative. Researcher chooses informants according to certain criteria that have been applied, namely informants who are truly active in each task or meeting, and have had a lot of experience, the selected informants are also willing to be involved in this research. The author uses the triangulation method of data sources, to achieve the validity of the data the author re-checks information from respondents by interviewing parents and companions. The information is then analyzed qualitatively by means of data reduction, data presentation, verification. The results of the research show that the understanding of meaning of the celebration of the Eucharist is limited to memorization, namely as an opportunity to pray and be grateful while the Eucharistic meanings for acolytes receive new lessons about the gospel through homilies and places to pray for God's blessings on daily life. In the daily life of the acolyte members, they often experience difficulties, they have not involved the Eucharist as the source and peak of life, which they do always pray and self-reflections. As an acolyte, it is responsible for carrying out the tasks that have been shared and continues to practice preparing for the upcoming task so that when the Eucharistic celebration can run smoothly. Responding to these problems, researcher designed a recollection assistance program for the Acolytes in Kotabaru Parish community as an effort to help the acolyte understand the Eucharist and interpret it in their daily lives. Through the recollection, the author will invite Misdinar to see and make the Eucharist the source and culmination of the Christian faith they live in. ix

(10) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI KATA PENGANTAR Puji dan syukur kepada Tuhan Yesus Kristus, karena kasih karunia dan bimbingan-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Skripsi dengan judul MAKNA EKARISTI BAGI ANGGOTA MISDINAR DI PAROKI SANTO ANTONIUS PADUA KOTABARU YOGYAKARTA ini terselesikan dengan baik. Skripsi ini ditulis dengan maksud memberikan sumbayangn pemikiran mengenai makna Ekaristi bagi anggota misdinar di paroki Santo Antonius Padua Kotabaru Yogyakarta. Selain itu skripsi ini disusun sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan pada Fakultas Keguruan dan Ilmu pendidikan, Universitas Santa Dharma Yogyakarta. Tersusunnya Skripsi ini tidak lepas dari bantuan berbagai pihak baik secara langsung maupun tidak langsung. Pada kesempatan ini penulis dengan setulus hati mengucapkan banyak terima kasih kepada: 1. Dr. B. Agus. Rukiyanto, SJ selaku Kaprodi Pendikkat Universitas Sanata Dharma, yang telah memberikan kesempatan dan dukungan kepada penulis selama menjalankan proses perkuliahan di kampus. 2. F.X. Dapiyanta SFK, M. Pd selaku dosen pembimbing akademik dan dosen penguji I bersedia meluangkan waktu dan penuh kesabaran, ketulusan dan kesetiaan mendampingi dan membimbing penulis hingga akhir penulisan skripsi. 3. P. Banyu Dewa HS. M.Si selaku dosen II yang telah meluangkan waktu dalam mendampingi penulis pada saat ujian berlangsung x

(11) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4. M. Ariya Seta, S,Pd., Mag.Theol. selaku dosen III yang telah meluangkan waktu dalam mendampingi penulis pada saat ujian berlangsung 5. Segenap Dosen prodi Pendikkat, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma, yang telah mendidik dan membimbing penulis selama proses belajar hingga selesainya skripsi ini. 6. Segenap Staf Sekretariat, Perpustakan Prodi Pendikkat, Perpustakan Kolsani, dan segenap karyawan bagian lain yang telah memberi dukungan kepada penulis dalam penulisan skripsi. 7. Romo Macarius Maharsono Proboho Sj, Gereja Santo Antonius Padua Kotabaru Yogyakarta yang telah memberi ijin kepada penulis untuk menjalankan penelitian di Paroki. 8. Para Orang tua anggota Misdinar yang telah meluangkan waktu untuk dapat diwawancara dan membantu penulis dalam menjalankan penelitian di Paroki. 9. Anggota Misdinar Paroki Santo Antonius Padua Kota Baru, Yogyakarta yang telah meluangkan waktu memberikan jawaban dalam penelitian wawancara. 10. Bapak Abner Sigalingging dan Ibu Theresia Rosula Sinaga, selaku orang tua penulis yang selalu setia mendampingi, memberi kasih sayang dan mendukung penulis sehingga skripsi ini dapat terselesaikan dengan lancar. 11. Kakak saya Saut Nauli Margaretha Sigalingging, Lusi ana Sigalingging, Yohanes Ferdinan Sigalingging, Mendrat Gunawan Sigalingging, Alfonsius Rivaldi Sigalingging, yang mendukung dan menyemangati penulis menyelesaikan skripsi. xi

(12) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 12. Induk sornang selama di Yogyakarta(+) Bapak Modestus Adi Sulistyana dan Ibu Anastasia Endang Murtiasih, Bude Ning, mba Vitalista Epivani Tyas Murwaningsih, Mikael Aditya. Yang selalu mendukung dan mernbantu penulis menyelesaikan skripsi. 13. Sahabat-sahabat saya, Elisabeth Dhian Novitasari, Retno Wulandari, Mega Hylda Carolina Simanungkalit, Maria Fransiska Burek Sari, Guslita Seventina, GusH Laurensius, Fuad Insani Anif, Santy Utami, Maria Merianti Malau, yang selalu mendukung dan membantu penulis menyelesaikan skripsi. 14. Teman-ternan Pendikkat angkatan 2014 yang selalu memberi dukungan dan semangat dalam menyelesaikan skripsi. 15. Tomio: tempat part time yang selalu rnendukung dan membantu penulis rnenyelesaikan skripsi. 16. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu, yang telah memberikan bantuan, dukungan, doa, perhatian dan keIjasama sehingga skripsi ini dapat selesai dengan baik. Penulis juga menyadari bahwa keterbatasan pengetahuan dan pengalaman dalarn menyusun skripsi. Oleh karena itu, segala kritik dan saran yang membangun demi perbaikan skripsi akan penulis terima dengan senang hati. Akhir kata, semoga skripsi ini dapat berguna dan bermanfaat bagi semua pembaca. Yogyakarta,7 Januari 2019 . xu

(13) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL ……………………………………………………... HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING …………………………. HALAMAN PENGESAHAN……………………………………………. HALAMAN PERSEMBAHAN………………………………………….. HALAMAN MOTTO……………………………………………………... PERNYATAAN KEASLIAN KARYA…………………………………... LEMBAR PERSETUJUAN PUBLIKASI ABSTRAK………………………………………………………………… ABSTRACT………………………………………………………………… KATA PENGANTAR…………………………………………………….. DAFTAR ISI………………………………………………………………. DAFTAR SINGKATAN…………………………………………………. BAB 1. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah…………………………………………... B. Identifikasi Masalah......................................................................... i ii iii iv v vi vii viii ix x xiii Xv 1 1 7 C. Pembatasan Masalah………………………………………………. 7 D. Rumusan Masalah…………………………………………………. 7 E. Tujuan Penulisan…………………………………………………... 8 F. Manfaat Penulisan…………………………………………………. 8 G. Sistematika Penulisan……………………………………………... 9 BAB II. KAJIAN PUSTAKA……………………………………………… 11 A. Perayaan Sakramen Ekaristi………………………………………. 11 1. Sakramen ……………………………………………………... 11 2. Gereja Sebagai Sakramen……………………………………… 13 3. Tujuh Sakramen Dalam Gereja………………………………... 15 4. Sakramen Ekaristi…………………………………………….. 17 5. Menghayati Sakramen Ekaristi………………………………... 20 6. Liturgi Sakramen Ekaristi……………………………………... 22 7. Struktur Perayaan Ekaristi…………………………………….. 22 B. Perkembangan Iman dan Moral Anak Usia Misdinar …………….. 25 1. Kepercayaan Mitis-Harfiah…………………………………… 25 2. Kepercayaan Sintetis-Konvensional…………………………... 26 3. Kepercayaan Individuatif-Reflektif …………………………… 27 C. Misdinar……………………………………………………....... xiii 28

(14) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 1. Sejarah Misdinar………………………………………………. 29 2. Bentuk-Bentuk Kegiatan Misdinar…………………………….. 30 a. Tugas Dalam Perayaan Ekaristi……………………………. 30 b. Latihan Misdinar…………………………………………... 31 c. Pertemuan Rutin…………………………………………… 31 3. Spiritualitas Misdinar………………………………………….. 32 a. Melayani Dengan Penuh Cinta……………………………… 32 b. Melayani Tanpa Pamrih…………………………………….. 32 c. Mewaspadai Virus Misdinar……………………………….. 33 D. Makna Perayaan Ekaristi Bagi Misdinar…………………………… 35 E. Penelitian Yang Relevan…………………………………………… 43 F. Fokus Penelitian…………………………………………………… 43 BAB III. PENELITIAN METODOLOGI……………………………….. 45 A. Jenis Penelitian…………………………………………………….. 45 B. Desain Penelitian ………………………………………………….. 46 C. Tempat dan Waktu Penelitian…………………………………….. 46 D. Responden Penelitian…………………………………………….. 46 E. Pertanyaan Penelitian……………………………………………… 47 F. Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data………………………… 48 1. Teknik Pengumpulan Data……………………………………. 48 2. Instrumen pengumpulan Data ………………………………… 48 a. Pedoman Wawancara……………………………………… 48 G. Teknik Keabsahan Data…………………………………………… 50 H. Teknik Analisis Data………………………………………………. 51 BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN………………. 53 A. Hasil Penelitian …………………………………………………… 53 1. Profil Responden………………………………………………. 53 2. Hasil Wawancara………………………………………………. 55 a. Pemahaman Anggota Misdinar Kotabaru Mengenai Perayaan Ekaristi…………………………………………………….. b. Makna Perayaan Ekaristi Bagi Anggota Misdinar………… xiv 56

(15) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI c. Pelaksanaan Tugas Sebagai Misdinar……………………… 60 67 3. Pembahasan Hasil Penelitian………………………………….. 70 a. Pemahaman Ekaristi Bagi Anggota Misdinar…………….. 71 1. Pemahaman Arti Ekaristi Bagi Anggota Misdinar………… 71 2. Makna Perayaan Ekaristi Bagi Anggota Misdinar………… 71 3. Keterlibatan Menjadi Misdinar……………………………. 72 B. Usulan Program…………………………………………………… 73 1. Latar Belakang ……………………………………………….. 73 2. Tujuan Program ……………………………………………….. 75 3. Usulan Kegiatan Program…………………………………….. 75 a. Tema Umum ……………………………………………… 75 b. Tujuan Rekoleksi ………………………………………….. 76 c. Peserta …………………………………………………….. 76 d. Tempat dan Waktu………………………………………… 76 e. Bentuk dan Metode ………………………………………. 76 f. Sarana ….………………………………………………….. 76 g. Materi ……………………………………………………... 76 h. Susunan Acara Rekoleksi………………………………….. 80 C. Refleksi…………………………………………………………… 84 D. Keterbatasan Penelitian…………………………………………….. 86 E. BAB V PENUTUP ………………………………………………… 89 A. Kesimpulan ……………………………………………………... 89 B. Saran ……………………………………………………………. 91 DAFTAR PUSTAKA………………………………………………………. 92 LAMPIRAN ……………………………………………………………….. 93 Lampiran 1: Surat Permohonan Izin Penelitian ……………………… 1 Lampiran 2: Surat Bersedia Memberi Hasil Penelitian………………. 2 Lampiran 3: Panduan Wawancara……………………………………. 3 Lampiran 4: Hasil Wawancara ……………………………………… 4 Lampiran 5: Presensi Penelitian……………………………………… 15 xv

(16) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR SINGKATAN A. SINGKATAN DOKUMEN GEREJA KHK : Kitab Hukum Kanonik (Codex luris Canonici) SC : Sacrosantum Concilium, Konsili Suci, Konstitusi Dogmatis Konsili Vatikan II tentang Liturgi kudus, 8 Desember 1965 LG : Lumen Gentium, Konstitusi Dogmatis Konsili Vatikan II tentang Gereja, 21 November 1964 PO :Presbyterorum Ordinis, Konstitusi Dogmatis Konsili Vatikan II tentang pelayanan dan kehidupan Imam, 7 Desember 1965 RS : Rademptionis Sacramentum, Konstitusi Dogmatis Konsili Vatikan II tentang Sakramen penebusan. B. Singkatan lain PUMR : Pedoman Umum Misale Romawi (Institutio Generalis Missalis Romawi) buku liturgi 14 Juli 1570 TPE : Tata Perayaan Ekaristi DSA : Doa Syukur Agung KWI : Konferensi Waligereja Indonesia St : Santo Lih : Lihat xvi

(17) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB I PENDAHULUAN Pada bab ini dijelaskan latar belakang masalah, identifikasi masalah, pembatasan masalah, rumusan masalah, tujuan penulisan, dan manfaat penulisan, metode penulisan, dan sistematika penulisan. A. Latar Belakang Masalah Sejak awal Gereja tekun merenungkan, merefleksikan, dan menggali kekayaan makna Ekaristi bagi hidup panggilan melayani dan perutusan di dunia ini. Dalam Perayaan Ekaristi, berlangsunglah perjumpaan antara Allah dan umat beriman melalui Yesus Kristus dalam ikatan Roh Kudus yang merupakan penghayatan iman dalam hidup kita (Martasudjita, 2005:9). Perayaan Ekaristi adalah ungkapan pujian syukur umat atas berkat yang dirasakan di dalam kehidupan sehari-hari. Ekaristi dipandang juga sebagai sumber dan puncak hidup Gereja yang membawa perubahan bagi umat dan mengingat karya penyelamatan Allah. Umat bersama-sama mengenang peristiwa penebusan-Nya dan bersatu dalam tubuh Kristus. Dengan dipersatukannya kita dengan Kristus, kita akan mengambil bagian dalam kehidupan-Nya dan makna Sakramen Ekaristi akan diubah menjadi serupa dengan Dia. Kesatuan sebagai Gereja merupakan kebersamaan yang melibatkan lebih dari satu orang. Saat Perayaan Ekaristi, Kristus hadir dan merayakan bersama seluruh umat di dalamnya sehingga menjadi satu persatuan di dalam iman kita. Ekaristi merupakan salah satu sakramen Gereja. Seluruh sakramen Gereja berpusat pada sakramen Ekaristi. Ekaristi sebagai pelaksanaan diri Gereja di bidang perayaan Ekaristi. Sebagai sakramen yang merupakan tanda dan sarana

(18) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2 persatuan dengan Allah dan dengan sesama manusia. Ekaristi adalah Gereja dalam bentuk Sakramen yang merupakan perayaan umat di mana menandakan kehadiran dalam umat yang sungguh-sungguh dihayati dalam iman. Di dalam Sakramen Ekaristi, Gereja merayakan dan mengenangkan misteri sengsara, wafat dan kebangkitan Yesus Kristus, dalam penyelamatan umat manusia. Gereja mengajarkan kepada kita bagaimana memaknai perjamuan Ekaristi setiap kali kita merayakannya. Hal ini sebagaimana yang dilakukan oleh Yesus bersama dengan para murid sebelum ia memasuki misteri sengsara dan wafatnya. Inilah yang terus dirayakan Gereja sampai saat ini. Ekaristi dikatakan sebagai sumber dan puncak hidup umat beriman. Dalam sakramen Tuhan hadir dan berkarya secara nyata, maka dikatakan Ekaristi sebagai puncak misteri keselamatan (Hadisumarta, 2003:2). Di dalam (KHK) § 1247 dinyatakan bahwa pada hari minggu dan pada hari pesta wajib lain, umat beriman berkewajiban untuk ambil bagian dalam Ekaristi; selain itu, hendaknya mereka tidak melakukan pekerjaan dan urusanurusan yang merintangi ibadat yang harus dipersembahkan kepada Allah atau merintangi kegembiraan khusus hari Tuhan atau istirahat yang dibutuhkan bagi jiwa dan raga. Tata cara Perayaan Ekaristi memiliki 4 bagian yaitu Ritus pembuka, Liturgi Sabda, Liturgi Ekaristi dan Ritus penutup. Empat bagian tata cara perayaan Ekaristi ada yang perlu kita pahami. Ekaristi dibuka dengan sebuah ritus pembuka, yang bertujuan mempersatukan kita (umat) dan mempersiapkan umat agar menyadari kehadiran Allah, agar dapat mendengarkan sabda Allah dengan pantas dan bergairah dan dapat merayakan Ekaristi dengan pantas. Liturgi Sabda dan Liturgi Ekaristi merupakan dua bagian pokok dalam perayaan Ekaristi

(19) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3 (PUMR 28), keduanya berhubungan erat. Dalam Liturgi Sabda, dipaparkan karya keselamatan Allah yang disyukuri dalam Liturgi Ekaristi. Perutusan merupakan konsekuwensi dari seluruh perayaan. Setelah mendengarkan firman Tuhan, kita dipanggil untuk mewartakan melalui hidup sehari-hari. Dalam Perayaan Ekaristi diperlukan pelayan tertahbis dan umat. Di antara umat beriman dipilih para petugas perayaan Ekaristi yang ambil bagian antara lain lektor, misdinar, prodiakon, koor, petugas musik, serta keterlibatan umat. Umat yang hadir dalam Perayaan Ekaristi perlu secara sadar dan aktif. Sadar berarti tahu apa yang diperbuat sedangkan aktif berarti terlibat yang sepenuhnya dan seutuhnya. Sadar dan aktif itu mencakup pemahaman akan seluruh misteri yang dirayakan dan sekaligus keterlibatan yang penuh, utuh, dan aktif sejak persiapan, pelaksanaan, hingga sesudah perayaan, yakni dengan ikut memaknai Perayaan Ekaristi. Partisipasi aktif dari umat dalam Perayaan Ekaristi sulit untuk dinilai. Melalui pengalaman saya sendiri pada saat Perayaan Ekaristi dimulai, umat yang ada di sekitar saya pada saat menyahut, nyanyian bersama dan jawaban-jawaban doa hanya diam. Umat tersebut sadar tapi tidak terlibat secara penuh, karena itu berkaitan dengan pribadi masing-masing umat. Mungkin belum banyak yang terpikir, bahwa ada bentuk partisipasi aktif lain yang tidak kalah pentingnya: yaitu diam dan hening. Bisa jadi diam dan hening adalah bentuk partisipasi aktif yang paling sulit dilakukan umat. Kadang lebih mudah bagi umat untuk bicara dan bergerak daripada diam dan hening. Kapan umat dituntut untuk berpartisipasi aktif dengan diam dan hening dalam Perayaan Ekaristi? Sesungguhnya, dalam Perayaan Ekaristi ada banyak waktu di mana umat diminta untuk diam dan hening Hal keaktifan ini yang harus diketahui untuk semakin

(20) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4 menemukan makna Ekaristi, terlebih perayaan Ekaristi merupakan suatu yang sakral dan suci bagi umat Katolik. Kesan saya pada saat mengikuti Perayaan Ekaristi ada beberapa umat seharusnya sadar dan aktif dalam berpartisipasi mengikuti tata perayaan Ekaristi tetapi ada beberapa umat belum terlibat secara penuh pada saat berdiri memilih duduk. Umat hanya fokus pada diri sendiri tidak pada Perayaan Ekaristi yang sedang berlangsung. Perayaan Ekaristi tidak hanya terbatas pada ritual kesalehan, karena akan cenderung mengarah pada sikap kaku, tertutup dan beku, sehingga Perayaan Ekaristi menjadi kering dan mati. Hal ini bertentangan dengan kenyataan bahwa Ekaristi merupakan perayaan yang hidup dan ungkapan kasih yang tergambar nyata dalam pengorbanan diri Yesus. Ekaristi juga menumbuhkan sikap dalam diri umat sikap saling berbagi satu sama lain. Sebab dalam semangat saling berbagi umat beriman secara personal maupun melayani Tuhan. Melalui pengalaman dalam mendampingi Misdinar tahun 2017, anak-anak yang bergabung menjadi Misdinar memiliki karakter dan kemampuan yang berbeda-beda, untuk menyatukan itu semua sangat sulit. Ada anak yang mudah diajak untuk latihan secara serius dan ada yang suka bercanda terus pada saat latihan. Kesabaran dalam mendampingi anak-anak sangatlah perlu. Pada saat Misdinar bertugas terjadi kesalahan. Karena anak-anak lebih fokus pada urutan tugasnya bukan pada tugas. Ini bisa dimaklumi karena masih anak-anak dan sebagai pendamping tidak harus dimarah tapi lebih ditingkatkan menjadi lebih baik. Menjadi seorang misdinar sering terjebak pada Tata Perayaan Ekristi, sehingga dalam tugas dan pelayanannya menjadi kaku dan kering. Misdinar menjadi kurang menghayati dalam setiap tugas karena takut salah. Sebagai pelayan dalam Perayaan Ekaristi, misdinar dapat membantu umat memahami

(21) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 5 esensi dari Perayaan Ekaristi itu sendiri, yaitu berkumpul sebagai komunitas beriman dan mengenang peristiwa penyelamatan Allah yang terwujud dalam diri Yesus Kristus. Misdinar dalam menjalankan perannya perlu memahami dengan baik mengenai sakramen, memiliki spiritualitas seperti St. Tarsisius yang karena keberaniannya berkorban membela hosti kudus. Spiritualitas ini menunjukkan betapa bermaknanya hosti bagi umat Kristiani, dan tata cara Ekaristi. Pemahaman ini sangat diperlukan karena Perayaan Ekaristi itu sendiri penuh dengan simbol, ada berbagai warna pakaian, tata gerak, dan berbagai peralatan misa. Spiritualitas Santo Tarsisius membantu misdinar memahami dalam tugas pelayananya pada Perayaan Ekaristi. Selain itu anggota misdinar juga harus mampu menjalin kerja sama atau komunikasi yang baik terhadap romo dan teman satu kelompok. Terjalinnya hubungan komunikasi yang baik antara teman kelompok sangat membantu berjalannya tugas sebagai misdinar dengan lancar. Misdinar sangat diharapkan memahami tugas sebelum Perayaan Ekaristi dimulai, sehingga mampu mengikuti tugas dengan serius. Dengan adanya tata cara perayaan Ekaristi dapat membantu Misdinar memahami dan mengetahui apa misdinar hanya tahu tata cara tapi tidak bisa memaknainya. Terkadang Misdinar bingung dan lupa dalam tugas yang diemban dan mengakibatkan saling bertanya dan berbicara. Misdinar lupa bahwa mereka berada di tengah-tengah Panti Imam dan seluruh mata tertuju dalam setiap gerak yang dilakukan. Misdinar tahu mengenai sikap-sikap liturgi seperti Berdiri, berlutut, atau duduk, bukan sekedar hafal melainkan mengerti maknanya sehingga juga melakukan dengan kesungguhan hati. Hambatan yang dialami oleh misdinar yaitu sikap dan perilaku pada saat tugas. Seperti mempertahankan keserasian dalam bekerjasama dalam

(22) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 6 bertugas, berbicara dengan rekan sesama Misdinar pada saat bertugas dalam Perayaan Ekaristi, pandangan mata liar, keterlambatan dan sebagainya. Hal ini bisa mengganggu konsentrasi umat yang sedang berlangsung mengikuti Perayaan Ekaristi. Dengan mengalami berbagai hambatan Misdinar belum bisa dan memaknai perayaan Ekaristi. Misdinar bisa mengalami perjumpaan dengan Allah dalam Perayaan Ekaristi. Namun untuk mengalami hal itu, misdinar mesti tinggal bersama Yesus, bekerja bersama Yesus, dan bekerja seperti Yesus. Jika ketiga prasyarat tersebut kita penuhi, niscaya kita akan mengalami perjumpaan dengan Allah (Gabriel 1997:9). Tinggal dan bekerja seperti Yesus dimaksud bahwa sebagai anak Misdinar yang belum mengetahui banyak mengenai Ekaristi anak-anak diajak untuk mengikuti Yesus yang tulus dalam melayani orang lain tanpa harus diberi imbalan. Bekerja bersama Yesus dimaksud bahwa setiap tugas pelayanan yang kita lakukan selalu menghadirkan Yesus hadir dalam doa untuk melancarkan segala tugas yang kita lakukan. Bekerja seperti Yesus berarti memiliki semangat tugas pelayanan sebagai misdinar, segala tantangan Ia hadapi tidak menjadi halangan untuk melayani sesama. Tidak jarang misdinar sekedar melaksanakan tugas akibatnya malas dan hanya rutinitas. Untuk masuk menjadi anggota Misdinar berusia 9-16 tahun, jenjang pendidikan dari kelas IV SD sampai dengan kelas III SMA. Pada usia tersebut mereka berada pada tahap remaja, di mana pola pikir anggota misdinar tersebut masih sangat sederhana dan membutuhkan pendampingan. Berdasarkan kenyataan, penulis tertarik untuk menulis skripsi yang berjudul: MAKNA EKARISTI BAGI ANGGOTA MISDINAR DI PAROKI SANTO ANTONIUS KOTABARU YOGYAKARTA.

(23) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 7 B. Identifikasi Masalah Berdasarkan latar belakang di atas maka masalah dapat diidentifikasikan sebagai berikut: 1. Umat yang hadir dalam perayaan Ekaristi perlu sadar dan aktif. Sadar berarti paham apa yang dilakukan sedangkan aktif terlibat sepenuhnya dan seutuhnya. 2. Partisipasi umat pada saat bernyanyi dan menyahut terlihat diam, umat tersebut sadar tapi tidak sepenuhnya terlibat. 3. Pada saat bertugas anak-anak lebih fokus pada urutan tugas perayaan Ekaristi yang akan dilakukan selanjutnya sehingga misdinar tidak sepenuhnya memaknai perayaan Ekaristi. C. Pembatasan Masalah Sehubungan dengan keterbatasan penulisan dan sumber pustaka yang ada, dan judul penelitian, maka pembatasan masalah terfokus pada makna perayaan Ekaristi bagi anggota misdinar di paroki Santo Antonius Kotabaru Yogyakarta. D. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang penulisan ini, dirumuskan beberapa permasalahan sebagai berikut: 1. Bagaimana anggota misdinar menjalankan tugasnya di paroki Santo Antonius Padua Kotabaru Yogyakarta? 2. Bagaimana anggota misdinar memahami sakramen Ekaristi? 3. Bagaimana anggota Misdinar mamaknai perayaan Ekaristi di paroki Santo Antonius Padua Kotabaru Yogyakarta?

(24) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 8 E. Tujuan Penulisan Skripsi ini ditulis dengan tujuan memberi pemahaman lebih mendalam terkait makna perayaan Ekaristi bagi anggota misdinar di paroki Santo Antonius Padua Kotabaru Yogyakarta, dengan demikian tujuan penulisan ini dirumuskan sebagai berikut: 1. Mengetahui anggota misdinar menjalankan tugasnya di paroki Santo Antonius Padua Kotabaru Yogyakarta. 2. Mengetahui misdinar memahami sakramen Ekaristi di paroki Santo Antonius Padua Kotabaru Yogyakarta. 3. Mengetahui anggota Misdinar dalam memaknai perayaan Ekaristi di paroki Santo Antonius Padua Kotabaru Yogyakarta. 4. Mengetahui Misdinar menghayati perayaan Ekaristi. F. Manfaat Penulisan Penulisan ini diharapkan mampu memberikan manfaat berbagai pihak, baik secara teoritis maupun secara praktis. Adapun manfaat dari penelitian ini adalah: 1. Manfaat Teoritis Penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan dan pengetahuan mengenai sakramen Ekaristi bagi misdinar, umat Gereja untuk semakin memahami dan memaknai perayaan Ekaristi 2. Manfaat Praktis a. Bagi Penulis 1) Mengetahui sejauh mana misdinar memahami makna Ekaristi.

(25) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 9 2) Membagikan pengetahuan yang didapatkan selama kuliah terkait makna Ekaristi untuk membuka wawasan misdinar gereja Santo Antonius Kotabaru. b. Bagi anggota Misdinar 1) Memberi pemahaman tentang Ekaristi dan makna perayaan Ekaristi. 2) Mengetahui makna Perayaan Ekaristi sebagai pelayan Altar dan Mengetahui sejarah Misdinar sehingga semakin mampu untuk mengenal. c. Pastor Paroki 1) Mendorong Mesdinar untuk tetap aktif dalam pelayanan Altar. 2) Membantu Misdinar yang pasif untuk kembali menjadi pelayan altar. d. Orang tua Membantu orang tua ikut mengawasi putra-putrinya pada waktu latihan maupun dalam pergaulan sehari-hari digereja serta ikut memberikan dorongan padanya. G. Sistematika Penulisan BAB I: berisi pendahuluan yang meliputi latar belakang, perumusan masalah, tujuan penulisan, manfaat penulisan, metode penulisan dan sitematika penulisan. BAB II: berisi tentang kajian teori tentang perayaan Ekaristi yang meliputi: pengertian sakramen, Gereja sebagai sakramen, tujuh sakramen dalam Gereja, sakramen Ekaristi, menghayati sakramen Ekaristi, liturgi sakramen Ekaristi, struktur perayaan Ekaristi, perkembangan iman dan moral anak usia misdinar, pengertian misdinar, sejarah misdinar, bentuk-bentuk kegiatan misdinar, nilainilai yang didapatkan misdinar, makna perayaan Ekaristi, penelitian relevan, fokus penelitian.

(26) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 10 BAB III: menjelaskan metodologi penelitian yang meliputi jenis penelitian, desain penelitian, tempat dan waktu penelitian, responden penelitian, pertanyaan penelitian, pengumpulan data, instrumen pengumpulan data, pedoman wawancara, teknik keabsahan data, dan teknik analisis data. BAB IV: menguraikan tentang hasil penelitian yang terdiri dari uji persyaratan analisis, deskripsi data hasil penelitian, pembahasan hasil penelitian, refleksi kateketik, dan keterbatasan penelitian BAB V: merupakan bagian penutup yang berisikan, kesimpulan dan saran atas hasil penelitian yang dilakukan oleh penulis dan sekaligus menjawab permasalahan dari judul yang telah dipilih oleh penulis.

(27) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB II KAJIAN PUSTAKA Di dalam kajian pustaka ini penulis akan membahas tentang perayaan Ekaristi dan makna perayaan Ekaristi bagi Misdinar. Pada pembahasan ini akan dibahas lebih mendalam tentang perayaan Ekaristi mengenai Gereja sebagai sakramen, tujuh sakramen dalam Gereja, sakramen Ekaristi, menghayati sakramen mahakudus, liturgi sakramen Ekaristi, struktur perayaan Ekaristi. Pembahasan tentang Misdinar mengenai perkembangan iman dan moral anak usia Misdinar, Misdinar, sejarah Misdinar, bentuk kegiatan Misdinar, spiritualitas Misdinar, makna Ekaristi bagi Misdinar. A. Perayaan Sakramen Ekaristi 1. Sakramen Konferensi Waligereja Indonesia (KWI, 1996:400) mendefinisikan pengertian sakramen sebagai berikut: “sakramen sebagai konkret duniawi yang menandai, menampakkan dan melaksanakan atau menyampaikan keselamatan Allah atau dengan lebih tepat Allah yang menyelamatkan”. Sakramen itu sungguh-sungguh nyata yang datang dari Allah sendiri yang mampu menyelamatkan umat-Nya. Keselamatan yang datang melalui sakramen-sakramen bisa dirasakan dengan penghayatan dalam hidup sehari-hari. Menurut KHK § 840 “sakramen merupakan tanda dan sarana yang mengungkapkan dan menguatkan iman”. Sakramen yang telah kita terima bukan sekedar tanda, tetapi tanda yang menyangkut hubungan kita dengan Allah sebagai tanda yang mendatangkan rahmat. Menerima suatu sakramen juga diartikan sebagai sarana untuk menyelamatkan kita melalui rahmat yang diterima.

(28) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 12 Di dalam SC 59 menyatakan pengertian sakramen sebagai berikut: “Sakramen dimaksud sebagai tanda untuk mendidik”. Sakramen memberi tanda dengan memperoleh rahmat secara nyata. Melalui rahmat Allah secara nyata, membuahkan hasil nyata, yaitu untuk menyembah Allah secara benar, dan mengamalkan cinta kasih, menjadi salah satu tanda mendidik iman. Maka dari itu umat kristiani dapat memahami arti lambang-lambang Sakramen, yang kita terima untuk memupuk hidup iman kristiani. KGK 1118 menyatakan bahwa “Sakramen merupakan kekuatan-kekuatan yang datang dari Tubuh Kristus yang tetap hidup dan menghidupkan”. Kekuatankekuatan yang kita terima melalui sakramen, memberikan kehidupan baru melalui rahmat Allah. Rahmat yang kita rasakan yakni persaudaraan, kasih sesama yang saling menghidupkan suatu kesatuan didalam diri Allah. Bagi umat yang menerimanya dengan sikap batin yang terbuka akan menghasilkan buah yang baik. Kata sakramen dalam bahasa Indonesia berasal dari kata Latin, “Sacramentum berakar pada kata sacr, sacer yang berarti: kudus, suci, lingkungan orang kudus atau bidang yang suci. Bahasa latin sacrare berarti menyucikan, menguduskan”. Kata sacramentum menunjuk tindakan penyucian ataupun menguduskan. Kata sacramentum menunjuk “sumpah” prajurit yang digunakan untuk menyatakan kesediaan diri seseorang untuk mengabdikan diri atau menguduskan diri bagi dewata dan Negara. Kata sacramentum menunjuk pada uang jaminan atau denda yang ditaruh dalam suatu kuil dewa oleh orang-orang atau pihak-pihak yang berperkara dalam pengadilan. Pihak yang menang berhak mendapat kembali uangnya sedangkan yang kalah merelakan uang jaminan menjadi milik dewa atau Negara. Sacramentum sendiri dipakai untuk menerjemahkan mysterion dalam Kitab Suci. Dalam Perjanjian Lama mysterion menggambarkan Allah sendiri yang mewahyukan diri baik dalam sejarah

(29) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 13 masa kini maupun masa yang akan datang (eskatologis). Atau rencana penyelamatNya dalam sejarah manusia. Perjanjian Baru memahami mysterion sebagai rencana keselamatan Allah yang terlaksana dalam Yesus Kristus (Martasudjita 2003:61). Berdasarkan pengertiaan di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa sakramen adalah sebuah peristiwa konkret duniawi yang menandai, menampakkan dan melaksanakan atau menyampaikan keselamatan Allah atau dengan lebih tepat Allah yang menyelamatkan. Sakramen itu sungguh-sungguh nyata yang datang dari Allah sendiri yang mampu menyelamatkan umat-Nya. Keselamatan yang datang melalui sakramen-sakramen bisa kita rasakan dengan penghayatan dalam hidup sehari-hari. Sakramen yang telah kita terima bukan sekedar tanda tetapi tanda yang menyangkut hubungan langsung dengan Allah sebagai tanda yang mendatangkan rahmat. Melalui rahmat Allah secara nyata, membuahkan hasil nyata untuk menyembah Allah secara benar dan mengamalkan cinta kasih, menjadi salah satu tanda kekuatan-kekuatan yang kita terima melalui sakramen. Rahmat yang kita rasakan yakni persaudaraan, kasih sesama yang saling menghidupkan suatu kesatuan di dalam diri Allah. Bagi umat yang menerimanya dengan sikap batin yang terbuka akan menghasilkan buah yang baik. 2. Gereja sebagai Sakramen Menurut Martasudjita (2003: 102-103) menyatakan bahwa Gereja sebagai Sakramen keselamatan Allah sungguh-sungguh suatu ajaran yang harus kita syukuri. Dengan sebutan sebagai sakramen, Gereja bukan lagi institusi penyelamatan itu sendiri yakni seolah-olah Gereja sendiri adalah lembaga penyelamatan Allah. “Keyakinan mengenai Gereja sebagai institusi penyelamatan Allah telah menjadi kepercayaan Gereja selama berabad-abad. Gereja konsili Vatikan II adalah Gereja

(30) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 14 yang mestinya mengakui dengan rendah hati bahwa yang terpenting dan yang menjadi penyelamat adalah Yesus Kristus dan bukan diri sendiri”. Gereja hanyalah sakramen keselamatan Allah dan bukan lembaga keselamatan itu sendiri. Kerajaan Allah dan karya keselamatan Allah jauh lebih luas daripada Gereja. Gereja hanya menampakkan saja yakni menandakan dan menghadirkan keselamatan itu bagi dunia. Menurut Kasper dalam Martasudjita (2003: 104-105) menafsirkan mengenai sakramen Gereja dalam dokumen Vatikan II, yang terbagi menjadi 4 poin. Pertama, peristilaan Gereja sebagai sakramen keselamatan harus dimengerti dalam keseluruhan eklesiologi Vatikan II. Istilah tersebut bukan satu-satunya yang dikatakan Vatikan II mengenai Gereja. Ada banyak sebutan lain: “umat Allah, kandang, tanaman dan ladang Allah, bangunan Allah, keluarga Allah, mempelai Kristus, dan tubuh Kristus”. Adanya banyak sebutan untuk Gereja ini menunjuk pemahaman Konsili bahwa Gereja pertama-tama merupakan misteri. Istilah Gereja sebagai sakramen tidak tepat. Kedua, pemahaman Gereja sebagai sakramen Keselamatan perlu diletakan dalam Kristologis yang jelas, menunjuk bahwa “Gereja itu bagaikan sakramen dalam Kristus”. Artinya Kristus, yang ditinggikan, mampu menarik para murid untuk mengikutinya. Ia mengutus Roh-Nya yang menghidupkan ke dalam hati para muridNya, dan melalui Roh itu Ia menjadikan Tubuh-Nya, yakni Gereja, sakramen keselamatan bagi semua orang. Dengan demikian, ciri Kristologis dari sakramentalitas Gereja harus betul-betul sadar. Ketiga, istilah Gereja sebagai sakramen keselamatan. Gereja berada dalam tanda keselamatan yang sudah tampak dan sekaligus belum juga dipenuhi. Gereja ini merupakan benih awal mula Kerajaan Kristus di dunia. “Sementara itu, Gereja lambat-laut berkembang, mendambakan kerajaan yang sempurna, dan dengan sekuat tenaga berharap dan menginginkan agar kelak dipersatukan dalam kemuliaan”. Dengan demikian ciri eskatologis juga menjadi

(31) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 15 sifat dari sakramentalitas Gereja. Keempat, pernyataan Vatikan II mengenai Gereja sebagai sakramen sebenarnya di satu pihak menunjuk bahwa sebutan sakramen “menunjuk pada realitas Gereja yang kompleks yang membuat kesatuan tegangan antara kelihatan dan tidak kelihatan yang manusiawi dan Ilahi dan yang untuk misteri itu orang hanya bisa memahami dalam iman”. Gereja disebut sakramen, itu berarti bahwa apa yang tampak dalam Gereja menjadi simbol real, yakni tanda yang efektif dan menghadirkan keselamatan Allah yang terlaksana di dalam Kristus bagi dunia. Menurut Madya Utomo (2017:3-4) karya keselamatan Allah itu dinyatakan dalam Yesus Kristus, maka Yesus Kristus dapat disebut sebagai sakramen pokok. Sebagai sakramen keselamatan Bapa, Kristus dapat disebut sebagai “simbol representatif karya keselamatan Allah”. Representatif yaitu simbol yang menunjuk dan menghadirkan realitas melalui tanda dan simbol. Seluruh hidup Yesus menampilkan karya keselamatan Allah. Maka Ia menjadi sakramen Allah, tanda dari keselamatan yang ditawarkan Allah kepada manusia. Kehadiran Kristus di dunia menghadirkan karya keselamatan Allah diteruskan oleh Gereja. Dengan hidup dan karya-Nya, Gereja menghadirkan karya Kristus sendiri di dunia ini melalui sakramen Kristus yang menjadi tanda dan sarana yang menghasilkan keselamatan Allah. 3. Tujuh Sakramen dalam Gereja Gereja sebagai sakramen terwujud dalam tujuh sakramen Gereja. yaitu Sakramen Baptis, Sakramen Ekaristi, Sakramen Krisma, Sakramen Tobat, Sakramen Perkawinan, Sakramen Tahbisan, Sakramen pengurapan orang sakit. Konferensi Waligereja Indonesia (KWI, 1996:420) mendefinisikan pengertian Sakramen Baptis sebagai berikut: Sakramen Baptis merupakan langkah pertama kearah kesatuan hidup dan mati Kristus yang sudah terbebas dari dosa asal dan dilahirkan kembali menjadi putra Allah dalam kehidupan yang baru dan menandakan sudah sah menjadi anggota Gereja. Dengan menerima sakramen baptis kesatuan kita dengan

(32) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 16 Yesus dan Menjadi anggota Gereja, berarti menjadi pengikut Kristus dan mampu terlibat dalam pelayanan Gereja. Menurut Martasudjita (2003:266) “sakramen Ekaristi merupakan sakramen utama, dikatakan utama karena Ekaristi sebagai sumber dan puncak seluruh hidup Kristiani”. Seluruh misteri kehidupan bersama dengan Allah dan manusia yang mengalami kepenuhannya dengan Kristus. Secara lebih mendalam sakramen Ekaristi akan dibahas pada no 4. Martasudjita (2003:245) menjelaskan bahwa sakramen krisma adalah “penerimaan karunia Roh Kudus dengan pengurapan minyak. Maka itu berarti bahwa umat yang beroleh bagian atau ambil bagian dalam pengurapan roh Allah pada diri Kristus”. Pengurapan Roh Kudus atas diri orang-orang Kristiani lebih merupakan suatu gambaran bahwa Roh Kudus ini benar-benar berkarya dalam diri mereka, sebagaimana Kristus terurapi. Penguatan dihubungkan dengan karunia Roh Kudus yang memberi kekuatan untuk bertumbuh sebagai orang Kristiani dan memampukan orang beriman ikut ambil bagian dalam tugas pelayanan Gereja. Konferensi Waligereja Indonesia (KWI 1996:430) mendefinisikan pengertian sakramen tobat sebagai berikut: Sakramen Tobat adalah mengakui segala dosa melalui sakramen tobat, tidak hanya dosanya diampuni, tetapi Ia dapat lagi mengambil bagian secara penuh dalam kehidupan Gereja. Di mana kita memperoleh belas kasihan Allah berupa pengampunan atas dosa yang diakui dan disesali. Tetapi bisa terjadi kejahatan yang besar terkena hukuman Gereja yaitu ekskomunikasi.orang tersebut tetap menjadi anggota Gereja namun dilarang mengambil bagian dalam perayaan Ekaristi dan tugas gereja lainya. Martasudjita (2013: 370) menjelaskan bahwa “Sakramen tahbisan sering juga disebut sakramen Imamat. Dengan istilah Imamat diungkapkan terutama aspek tugastugas menguduskan seperti pelayanan Ekaristi, pemberian absolusi sakramen tobat, dan sebagainya, meskipun tentu saja, tugas Imamat meliputi bidang pengembalaan,

(33) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 17 pelayanan, dan pengudusan”. Sedangkan tahbisan lebih menekankan aspek peristiwa penuh rahmat yang mengubah dan menguduskan seseorang menjadi pemimpin gereja. Konferensi Waligereja Indonesia (KWI 1996:435-436) mendefinisikan pengertian Sakramen Perkawinan sebagai berikut: “sakramen perkawinan pada dasarnya juga menyangkut keanggotaan Gereja dalam arti Sakramen perkawinan adalah syarat dapat mengambil bagian dalam perayaan Ekaristi”. Konferensi Waligereja Indonesia (KWI, 1996: 414) menyatakan bahwa “sakramen Pengurapan orang sakit adalah orang yang menerima sakramen perminyakan dan doa khusus ketika orang sungguh-sungguh menghadapi musuh yang terakhir ialah “maut”. Melalui perminyakan suci dan doa para imam dan seluruh Gereja menyerahkan orang yang sakit kepada Tuhan. Untuk itu ia perlu dikuatkan secara khusus, dengan mengoleskan minyak suci dan doa. Sakramen ini mengharapkan penyembuhan ataupun kekuatan untuk menghadapi maut. 4. Sakramen Ekaristi Menurut Konferensi Waligereja Indonesia (KWI 1996:401-403) Sakramen Ekaristi adalah “sakramen utama”. Ini sesuai dengan ajaran Konsili Vatikan II, yang menyebut Ekaristi sumber dan puncak seluruh hidup Kristiani. Konsili Vatikan kedua memakai istilah Yunani kuno untuk Ekaristi, yakni synaxiz. Kata yunani itu berarati “kumpulan” atau “pertemuan”, sama dengan ekklesia (gereja). Tetapi itu tidak berarti bahwa perayaan Ekaristilah satusatunya pertemuan Gereja. Di banyak tempat, bila tidak ada Imam, umat berkumpul untuk ibadat sabda atau doa bersama yang lain. Disitu pun terlaksana kesatuan umat dalam Kristus walaupun tidak dalam bentuk sakramen. Istilah sumber dan puncak yang dipakai Konsili Vatikan II dapat memberi kesan seolah-olah hanya umat yang merayakan Ekaristi sungguh umat Allah. Sabda Kristus, dimana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, disitu Allah ada ditengah-tengah mereka. Yang dimaksudkan Konsili ialah bahwa dalam Ekaristi misteri dan kebangkitan, yang merupakan sumber seluruh hidup Kristiani, dirayakan dengan paling meriah dan paling resmi (Konferensi Waligereja Indonesia 401-403).

(34) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 18 Menurut Martasudjita (2005:292) ajaran mengenai Ekaristi ada di dalam berbagai dokumen Gereja, terutama konsititusi Lumen gentium, sacrosanctum concillium dan dekret presbyterorum ordinis. Secara singkat dan padat, Vatikan II merumuskan ajarannya mengenai Ekaristi SC 4: Pada perjamuan terakhir, pada malam ia diserahkan, penyelamat kita mengadakan kurban Ekaristi tubuh dan darah-Nya. Dengan demikian ia mengabdikan kurban salib untuk selamanya dan mempercayakan kepada Gereja, mempelai-Nya yang terkasih, kenangan wafat dan kebangkitan-Nya: sakramen cinta kasih, perjamuan paskah. Dalam perjamuan itu Kristus disambut, jiwa penuh rahmat, dan kita dikurniai jaminan kemulian yang akan datang. Meskipun Vatikan II tidak memberikan dogma baru mengenai Ekaristi tetapi Konsili ini mengajarkan Ekaristi secara baru. Mengenai sakramen dan Ekaristi dalam konteks aspek Antropologis; Adalah aspek yang berhubungan dengan sifat manusiawi atau kemanusiaan manusia. Dalam setiap sakramen ada Materi (Tanda / Perbuatan) dan Forma (kata) yang dapat dipahami (atau diindera) manusia. aspek Kristologis; Adalah aspek yang bersumber pada Kristus sebagai asal dari semua sakramen, karena Kristus adalah Sakramen Dasar. Aspek Eklesiologis; Adalah aspek yang berhubungan dengan Gereja sebagai pelaksana sakramen berdasarkan perintah Kristus dan sebagai jemaat. Gereja adalah sakramen keselamatan karena Gereja adalah tanda persatuan mesra dengan Allah dan kesatuan seluruh umat manusia. Gereja menghadirkan Kristus, Kristus menghadirkan Allah. Konsili Vatikan II tetap menyampaikan berbagai ajaran tentang Ekaristi yang tersebar diberbagai dokumen. Menurut Madya Utomo (2017:20) “perayaan Ekaristi adalah perayaan iman, artinya pada perayaan Ekaristi diungkapkan iman seluruh Gereja akan penyelamatan Allah yang terjadi dalam Yesus Kristus”. Dalam Ekaristi seluruh umat dapat bersatu sebagai Gereja secara nyata. Melalui Ekaristi orang yang mengimani Kristus semakin penuh bersatu dengan tubuh dan darah Kristus sebagai sumber keselamatan dan

(35) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 19 puncak seluruh hidup Kristiani. Ekaristi dipahami sebagai “sumber dan puncak, karena melalui Ekaristi tampaklah pengungkapan diri Gereja sebagai sakramen Ekaristi yang paling mendasar, karena dalam Ekaristi persatuan dengan Kristus dan tentu saja juga dengan seluruh umat, ditampilkan dalam tanda”. Perayaan Ekaristi dibagi menjadi dua bagian yaitu Liturgi Sabda dan Liturgi Ekaristi. Dalam liturgi Ekaristi ada dua unsur pokok; perayaan Syukur dan perjamuan. Ungkapan syukur laksanakan dalam bentuk perjamuan. Ekaristi sendiri berarti syukur. Karena kebaikan Allah yang telah kita alami dalam kehidupan seharihari. Ekaristi berarti syukur, berarti mengenangkan peristiwa yang kita alami. Dalam upacara ataupun tradisi dalam masyarakat, selalu membuat syukuran melalui berkat yang diterima dari Tuhan. Melalui perayaan syukur ini orang-orang menjadikan ini tanda persekutuan dan persaudaraan sekaligus ikut merasakan berkat Allah yang melimpah bagi hidup kita. Menurut Madya Utomo (2017:23-25) “Ekaristi juga berbentuk perjamuan, sudah menjadi kebiasaan Gereja Perdana untuk berkumpul dan mengadakan perjamuan.” Tradisi ini berasal dari Allah sendiri pada saat perjamuan terakhir. Maka untuk melihat makna Ekaristi kita harus melihat kembali pada perjamuan terakhir yang diadakan Yesus bersama para murid. Yesus mengajak para Murid untuk ambil bagian dalam penyerahan diri-Nya, ajakan yang dilakukan Yesus untuk mempersatukan diri dengan tubuh Yesus sendiri. Dengan demikian penyerahan diri Yesus menghasilkan keselamatan bagi semua orang setiap kali mengikuti Ekaristi berarti “mengenangkan peristiwa wafat dan kebangkitan Kristus sebagai pemenuhan karya keselamatan Allah bagi manusia” Madyo Utomo (2017:20). Dengan demikian inti kenangan itu ialah peristiwa keselamatan yang berpuncak pada wafat dan kebangkitan Yesus. Inilah yang dikenang dalam perjamuan Ekaristi. Pengenangan

(36) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 20 tidak hanya terjadi pada masa lampau tetapi keselamatan kita rasakan hingga saat ini. Berkat dan rahmat keselamatan yang diberikan Allah kepada manusia dalam perayaan Ekaristi kita terima dengan menyambut komuni, tubuh darah Kristus sendiri. Dengan menyambut komuni persatuan dengan penyerahan diri Kristus menjadi nyata. Dalam Ekaristi, kehadiran Kristus terjadi secara “sacramental, artinya dalam tanda yang konkrit. Dalam hal ini Gereja mengajarkan mengenai kehadiran Kristus secara real dalam rupa roti dan anggur” (Madya Utomo 2017:23-25) Kehadiran Kristus dalam Ekaristi memang kehadiran yang sungguh nyata, dan bukan hanya tanda dan simbol. Sungguh, nyata dalam arti tubuh dan darah Tuhan kita Yesus Kristus. Kehadiran Kristus terjadi selama perayaan, komuni, dan saat roti dan anggur disantap. Tetapi dengan jelas Gereja Katolik mengajarkan bahwa “kehadiran Tuhan dalam Ekaristi bukan hanya selama perayaan atau bila disantap”. Kehadiran Kristus dalam Ekaristi tetap ada dan tidak dibatasi pada saat perayaan saja. 5. Menghayati Sakramen Ekaristi Yang pokok dalam penghayatan sakramen mahakudus yaitu sumber puncak seluruh hidup Kristiani. Dalam perayaan seluruh umat dapat bersatu di dalam Gereja secara nyata. Melalui Ekaristi orang yang mengimani Kristus semakin penuh bersatu dengan tubuh dan darah Kristus sebagai sumber keselamatan dan puncak seluruh hidup Kristiani. Ekaristi dipahami sebagai “sumber dan puncak, karena melalui Ekaristi tampaklah pengungkapan diri Gereja sebagai sakramen Ekaristi yang paling mendasar, karena dalam Ekaristi persatuan dengan Kristus dan tentu saja juga dengan seluruh umat, ditampilkan dalam tanda”. Konferensi Waligereja (KWI 1996: 413-414) mengatakan bahwa “Komuni berarti ikut serta secara sacramental melalui tanda dan sarana”. Maka dari umat pertama-tama diharapkan sikap iman yang sama.

(37) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 21 Penghayatan Ekaristi dan sakramen pada umumnya, terutama merupakan suatu pengalaman iman. Dalam iman orang dipersatukan dengan Kristus, dan dengan sesama. “Ekaristi berarti suatu pertemuan pribadi dalam iman dengan Kristus. Persekutuan iman berarti persekutuan jemaat, sebab semua bersama-sama menghayati iman Gereja’. Sakramen itu “sakramen iman”, dan Ekaristi sebagai pusat dan puncak semua sakramen merupakan perayaan iman bersama. Pusatnya bukanlah roti dan anggur, melainkan Kristus yang karena iman hadir dalam seluruh umat. Kesimpulan mengenai Ekaristi sesuai dengan ajaran konsili vatikan II yang menyebut Ekaristi sumber puncak seluruh hidup Kristiani. (Martasudjita 2005: 29) “kata dari Ekaristi mau mengungkapkan pujian syukur atas karya penyelamatan Allah yang terlaksana melalui Yesus Kristus, sebagaimana berpuncak dalam peristiwa wafat dan kebangkitan Kristus. Dengan pujian syukur, Gereja mengenangkan atau menghadirkan misteri penebusan kristus Kristus untuk selama-lamanya. Diantara sakramen-sakramen Gereja, Ekaristi adalah sakramen yang sangat penting dalam kehidupan Gereja. Hal ini karena Gereja hidup dari dan untuk Ekaristi. Karena itu, Ekaristi menjadi sumber dan puncak kehidupan kristiani. Kehadiran Kristus dalam perayaan Ekaristi menjadi satu persatuan didalam hidup beriman kita. Pada saat kita menerima komuni kudus, saat roti disantap. Tetapi dengan jelas Gereja Katolik mengajarkan bahwa kehadiran Tuhan dalam Ekaristi bukan hanya selama perayaan atau bila disantap. Kehadiran Kristus dalam Ekaristi tetap dan tidak hanya dibatasi selama perayaan saja. Itulah sebabnya Gereja Katolik mempunyai tradisi sakramen. Kehadiran Kritus didalam sakramen Ekaristi dapat mempersatukan kita. Penghayatan Ekaristi dan sakramen pada umumnya terutama merupakan suatu pengalaman iman. Dalam iman orang dipersatukan dengan Kristus, dan dengan sesama. Ekaristi berarti

(38) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 22 suatu pertemuan pribadi, dalam iman dengan Kristus. Bersatunya jemaat dalam Kristus menjadi wujud dan membentuk satu tubuh dalam Kristus. 6. Liturgi Sakramen Ekaristi Dalam sejarah perkembangan Gereja, Liturgi diartikan sebagai keikutsertaan umat dalam karya keselamatan Allah. Baru sejak abad keempat sebelum masehi, pemakaian kata leitourgia diperluas, yakni “untuk menyebut berbagai macam karya pelayanan” (Martasudjita, 2011: 15). Dengan demikian, Liturgi sebagai kultus (upacara) manusia untuk menyembah Allah sebagai karya penyelamatan Allah pada umatnya. Yang terlibat dalam Liturgi adalah “Kepala, dan anggota Mistik Kristus” (SC 7) itu berarti, subjek atau pelaku Liturgi adalah Yesus Kristus dan Gereja. Maka Liturgi selalu merupakan tindakan Kristus dan Gereja. Sehingga di dalam Liturgi terwujudlah persatuan yang begitu erat antara Kristus dengan Gereja sebagai “Mempelai-Nya dan Tubuh-Nya sendiri. Yang dimaksud dengan Liturgi adalah perayaan misteri karya keselamatan Allah dalam Kristus, yang dilaksanakan oleh Yesus Kristus, Sang Imam Agung, bersama Gereja-Nya di dalam ikatan Roh Kudus (Martasudjita, 2011:22)”. Dalam pembaharuan dan pengembangan Liturgi suci keikutsertaan segenap umat secara penuh dan aktif itu perlu sangat diharapkan. 7. Struktur Perayaan Ekaristi Menurut Martasudjita (2005:116) perayaan Ekaristi terdiri dari dua bagian pokok yaitu Liturgi Sabda dan Liturgi Ekaristi. Kedua bagian pokok itu diapit oleh Ritus pembuka sebagai bagian yang mempersiapkan dan ritus penutup sebagai bagian penutup.

(39) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 23 Perayaan Ekaristi merupakan perayaan kehadiran Tuhan Yesus Kristus dan seluruh karya penebusan-Nya secara sacramental dalam persekutuan umat Dari pengertian dasar Ekaristi sebagai perayaan kehadiran Tuhan ini, kita bisa memahami makna perbagian dari perayaan Ekaristi. Menurut Suharyo (2011:15) menjelaskan ritus pembuka memiliki tujuan untuk “mempersatukan umat yang berhimpun dan menyiapkan mereka supaya dapat mendengarkan sabda Allah dengan penuh perhatian dan merayakan Ekaristi dengan sebaik-baiknya”. Mempersatukan dan mempersiapkan umat agar mereka dapat mendengarkan sabda Allah dan merayakan Ekaristi dengan layak. Bagian- bagian dalam Ritus Pembuka biasanya ada perarakan masuk, penghormatan altar, pendupaan, tanda salib, salam, pengantar, tobat, kyrie (Tuhan kasihanilah) Gloria (kemuliaan) dan doa pembuka (Martasudjita 2005:118). Martasudjita (2005:133) menjelaskan Liturgi Sabda, menjadi bagian yang tak terpisahkan dari liturgi Ekaristi dalam keseluruhan Ekaristi. Liturgi sabda dialog perjumpaan antara Allah yang bersabda dan umat yang menanggapi sabda Allah. Pewartaan Allah dilaksanakan dalam pembacaan Kitab suci dan Homili yang memperdalam sabda Allah. Tanggapan umat atas sabda Allah melalui mazmur tanggapan dan bait pengantar injil serta syahadat dan doa umat kepada Allah. Liturgi Ekaristi yaitu pusat seluruh perayaan Ekaristi. Sebab dalam Liturgi Ekaristi doa syukur Agung yang menjadi pusat dan puncak seluruh perayaan Ekaristi (PUMR 30 dan 78). Doa Syukur Agung terdiri dari dua bagian: “Puji-syukur dan permohonan” Yang pokok adalah puji-syukur, Maka jelaslah bahwa inti perayaan Ekaristi adalah puji-syukur”. Puji-syukur yang kita rayakan adalah salah satu tanda keselamatan dan rahmat yang telah kita terima dari Allah. Puji-syukur itu salah satu pengungkapan iman kita kepada Allah. Selain itu, puji-syukur juga dapat kita

(40) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 24 sampaikan melalui permohonan, tanda kepercayaan akan kebaikan Allah. Dengan selalu mengandalkan Tuhan didalam hidup ini meenandakan bahwa kita selalu mengimani dan percaya pada Allah. Konferensi Waligereja Indonesia (KWI 1996: 406). Melalui doa Syukur Agung, umat dapat menyampaikan “ucapan puji syukur kepada Allah Bapa atas seluruh karya penyelamatan-Nya melalui Yesus Kritus yang wafat dan bangkit kepada-Nya dipersembahkan roti dan anggur yang menjadi tubuh dan darah Kritus dan doa-doa permohonan”. Komuni merupakan kesatuan bagian Liturgi Ekaristi. Kesatuan umat beriman dengan Tuhan sudah terjadi dari awal hingga akhir perayaan Ekaristi, hanya saja kesatuan dan persatuan kita dengan Kristus terjadi secara singkat dan istimewa dalam bentuk tanda menyantap tubuh dan darah Kristus dalam rupa roti dan anggur. Menyambut tubuh Kristus kita juga berpartisipasi dalam seluruh karya penebusan Kristus yang dikenangkan atau dihadirkan dalam doa syukur Agung (Martasudjita, 2005:143). Ritus penutup, mengakhiri seluruh rangkaian perayaan Ekaristi dan mengantar umat untuk kembali menjalankan kehidupannya sehari-hari dan menjalankan utusannya di dunia melalui berkat dan pengutusan yang kita terima dari Allah melalui tangan imam. Inti dari ritus penutup ini adalah berkat dan pengutusan, sebelumnya di sampaikan pengumuman serta perarakan keluar. Berkat mengungkapkan bahwa Tuhan sungguh hadir dan menyertai umatnya, dengan menerima berkat kita dianugrahi kesatuan hidup dengan persatuan Allah Tritunggal. Berkat memungkinkan kita untuk melaksanakan tugas perutusan. Pengutusan mengharapkan kita untuk melaksanakan apa yang telah kita rayakan dalam misa kudus dalam hidup sehari-hari. Dalam teks TPE 2005 pengutusan diawali dengan pernyataan “saudara sekalian, perayaan Ekaristi sudah selesai” dan umat menjawab;

(41) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 25 “syukur kepada Allah” kemudian disampaikan pengutusan itu; “Marilah pergi! Kita diutus” dan umat menjawab amin” (Martasudjita, 2005:212). B. Perkembangan Iman dan Moral anak usia Misdinar Keterlibatan anak remaja pada saat melayani di Gereja membantu Perkembangan iman di dalam diri seorang anak remaja secara perlahan-lahan. Untuk mencapai pada tindakan tersebut maka remaja perlu didampingi dalam perkembangan iman mereka. Perkembangan Iman anak saling berhubungan antara pemikiran, hati, dan tindakan yang menjadi teladan untuk remaja sebagai penerus Gereja. Sebagai pelayan Gereja Tahap perkembangan kepercayaan anak memiliki ciri-ciri tersendiri sehingga dengan bertumbuh kembangnya anak semakin mampu untuk mendalami iman kepercayaannya. Usia Anak remaja yang ikut terlibat khususnya sebagai pelayan Altar sekitar 9-18 Tahun. 1. Kepercayaan Mitis-Harfiah Menurut Fowler (1995:117) tahap perkembangan Mitis-Harfiah usia 6-12 tahun. Menjelaskan Mitis-Harfiah menjadi salah satu cara anak untuk memahami kepercayaan dengan mudah. Mitis atau yang disebut mitos adalah kisah suci yang menceritakan berbagai kisah mengenai kehidupan atau kepercayaan pada zaman sebelumnya. Mitos juga erat dikatakan kaitannya dengan ritual kepercayaan. “Pemahaman anak mengenai mitos dapat dipahami secara harfiahnya Arti kata yang dipahami anak, hanya sebagai identik dari cerita tersebut”. Cerita mitos sungguhsungguh penting sebab dapat menjadi kunci utama bagi remaja untuk mengetahui lebih dalam mengenai gambaran-gambaran mengenai Allah sendiri (Fowler 1995:128).

(42) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 26 (Fowler, 1995:131) ada beberapa Ciri-ciri Mitis-Harfiah anak- anak memahami dan mengartikan dunia pengalamannya melalui cerita, simbol religius, gambaran, tradisi, upacara, musik dan tokoh-tokoh berani yang menjadi sarana anak memahami cerita secara konkrit. Anak memahami cerita mitis secara harfiah, artinya mitos belum dimengerti sebagai salah satu bahasa simbolik melainkan ditanggap menurut arti kata-kata. Pada tahap perkembangan iman seorang anak harus diseimbangi dengan perkembangan moral yang sudah dibina sejak awal. Penalaran moral pada diri anak hingga remaja memiliki tahap yang berbeda. Yang pertama tingkat prakonvensional adalah tingkat yang paling rendah dalam teori perkembangan moral Kholberg. Pada tingkat ini, anak tidak memperlihatkan nilai-nilai moral karena penalaran moral dikendalikan oleh imbalan dan hukuman. Dengan kata lain aturan dikontrol oleh orang lain dan tingkah laku yang baik akan mendapat hadiah dan tingkah laku yang buruk mendapatkan hukuman. Pada tingkat pertaman ada dua tahap di antaranya: tahap I orientasi hukuman dan ketaatan, tahap pertama yang mana pada tahap ini penalaran moral didasarkan atas hukuman dan anak taat karena orang dewasa menuntut mereka lebih untuk taat. Tahap II individualism dan tujuan, pada tahap ini penalaran moral didasarkan atas imbalan dan kepentingan sendiri. Anak-anak taat bila mereka ingin taat Karena itu yang terbaik bagi mereka. Apa yang benar adalah apa yang dirasakan baik dan apa yang dianggap menghasilkan hadiah (Kohlberg 1995:80). 2. Kepercayaan Sintetis-Konvensional Tahap Perkembangan kepercayaan Sintetis-konvensional usia 12-17 tahun ini menjelaskan bahwa Sintetis adalah menyatukan dua atau lebih arti. Sedangkan konvensional berasal dari kata konvensi yang artinya kesepakatan. Kesepakatan

(43) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 27 dalam arti istilah ini bisa tercapai bila ada beberapa orang atau kelompok secara umum sepakat sehingga dapat terjadi persepakatan (Fowler 1995:136). Ciri-ciri tahap sintetis konvensional yaitu a)Remaja mampu memahami simboi menurut artinya yang mengandung banyak dimensi. b)Gambaran religius dan keyakinan religius disahkan oleh konvensi dan konsesus umum (Fowler, 1995:144). c)Gambaran mengenai kesatuan dengan Allah yang transenden dicapai melalui simbol. d)Allah menjadi tokoh yang mewakili dan melambangkan segala harapan sah, remaja. . (Fowler, 1995: 157) Perkembangan moral pada tahap konvensional merupakan suatu tingkat penggabungan didalam diri remaja untuk menaati aturan-aturan baik dari dalam (keluarga) maupun luar (masyarakat) tertentu, tetapi mereka tidak menaati aturan dari dalam dan luar. Penalaran konvensional memiliki dua tahap, yang pertama normanorma interpersonal, dimana seseorang mengharagi kebenaran, kepedulian, dan kesetiaaan kepada orang lain sebagai landasan pertimbangan-pertimbangan moral. Seorang anak mengharapkan dihargai oleh orang tuanya sebagai yang terbaik kedua, moralitas sistem sosial; dimana suatu pertimbangan itu didasarkan atas pemahaman aturan sosial, hukum-hukum, keadilan dan kewajiban. Semua orang harus mematuhi peraturan yang sudah ada. Perbuatan yang benar adalah mengikuti sebuah peraturan yang sudah ditetapkan sehingga orang dapat merasakan rasa hormat dengan menaati peraturan (Kohlber 1995: 81). 3. Kepercayaan Individuatif-Reflektif Menurut Fowler (1995:160) Kepercayaan Individuatif-Reflektif pada usia 18 tahun ini orang dewasa tidak bergantung terhadap orang lain dan mampu mandiri, sehingga kesadaran diri untuk refleksi dapat dilakukan lebih mendalam.” Dalam perkembangan iman orang dewasa pada tahap ini sudah mampu untuk berpikir lebih

(44) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 28 kritis, mengenai keyakinan kepercayaan, simbol-simbol dan cerita mitis. Perkembangan iman orang dewasa dapat dilakukan melalui ritual dan simbolik, Ritual juga mempunyai langkah-langkah yang memiliki makna dan arti sehingga dapat direfleksikan dan dipahami. Sehingga perkembangan iman orang muda dewasa terus berkembang. Dari tahapan Individuatif-reflektif memiliki ciri bahwa orang muda dewasa dapat mengembangkan kepercayaannya melalui ritual, simbol dan gambaran dogmatis secara lebih mendalam melalui refleksi secara pribadi. Menurut Kohlberg (1995:82) “Perkembangan moral pada tahap pasca konvensional dicirikan oleh dorongan utama menuju prinsip-prinsip yang mandiri.” Dimana pada tahap ini kesadaran akan sebuah peraturan dan hukum yang harus ditaati. Tahap perkembangan moral yang aturan-aturan dan ungkapan-ungkapan moral dirumuskan secara jelas berdasarkan nilai-nilai dan prinsip moral yang memiliki keabsahan kode yang dapat diterapkan. Kedua, prinsip-prinsip etis yang dipilih dari hati nurani yang berlaku untuk umat manusia, jika seseorang menghadapi konflik secara hukum dan suara hati, seseorang akan mengikuti suara hati walaupun keputusan itu melibatkan resiko pribadi. C. Misdinar Misdinar adalah sekolompok remaja Katolik yang berjiwa penuh pengabdian, tanpa pamrih, menyediakan dirinya dengan rela untuk melayani dalam gereja ibadat atau kebaktian liturgis, khususnya dalam perayaan Ekaristi (Gabriel, 1997:11). Syarat menjadi anggota misdinar yaitu remaja Katolik, boleh juga yang masih Katekumenat, berjiwa pengabdian tanpa Pamrih. Itu merupakan syarat menjadi anggota Misdinar, tetapi syarat agar bisa melayani misa adalah: Remaja Katolik yang sudah menerima Komuni, hafal skema misa atau susunan Tata Perayaan Ekaristi

(45) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 29 supaya tidak banyak mengalami kesulitan saat bertugas (Menurut Gabriel 1997:17). Harus berpantang dari segala makanan dan minuman (hanya boleh minum air) minimal satu jam sebelum menyambut Komuni (bukan satu jam sebelum Misa dimulai (KHK 1983, Kanon 919). Tugas Misdinar ialah mendampingi pemimpin liturgi dalam perayaan liturgi, agar kebutuhan imam terpenuhi, dan dalam arti tertentu “mewakili” umat di sekitar Altar, selain itu Misdinar dapat menambah perayaan khususnya pada hari raya dan kesempatan khusus (Gabriel, 1997:59). 1. Sejarah Misdinar Sejarah Misdinar terkait erat dengan sejarah perayaan Ekaristi dan pelayanan para akolit. Dalam hal ini ada keterkaitan antara Misdinar, akolit dan perayaan Ekaristi (Gabriel 1997: 11). Pada zaman gereja purba Misa Kudus senantiasa dirayakan untuk mengenang sengsara, wafat dan kebangkitan Kristus. Demikian juga ketika gereja mengalami penganiayaan oleh pemerintah Romawi, secara sembunyi-sembunyi para pengikut Kristus tetap setia merayakan Misa Kudus. Sampai abad ketiga yang boleh mengkonsekrasikan roti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah Kristus hanya para uskup Kemudian Tuhan dan darah Kristus itu dibawa oleh para Akolit ini pertama kali dikenal di Roma pada pertengahan abad III. Biasanya mereka juga bertugas membawa lilin. Sedangkan menurut surat-surat St. Cyprianus, para Akolit di Afrika bertugas sebagai pengantar surat dan persembahan (calon Imam). Makan dalam merayakan Ekaristi dibantu oleh para remaja Katolik yang disebut pelayan misa. Dalam bahasa Belanda pelayan misa itu dinamakan Misdinar dalam bahasa Indonesia dipakai istilah Putra Altar. Pada masa sebelum konsili Vatikan II (1962-

(46) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 30 1965), tugas Misdinar tidak hanya melayani Imam, tetapi juga menjawab doa-doa imam saat konsekrasi “Prefasi umat”. Setelah Konsili Vatikan II Gereja memperbaharui liturgi dan mengajak seluruh berpartisipasi aktif didalam liturgi. Misdinar juga mempunyai pelindung yakni Santo Tarsisius yang diperingati setiap 15 Agustus Tarsisius yang hidup sekitar tahun 250 Masehi adalah seorang Misdinar. Dia adalah Misdinar seorang paus!. Pada masa Gereja masih masa penganiayaan oleh kekaisaran Romawi. (RS 47) mempertahankan kebiasaan yang luhur sangatlah dianjurkan, pelayanan altar oleh anak laki-laki dan pemuda biasanya disebut ajuda atau pelayanan Misa, suatu tugas yang dilaksanakannya seturut cara para akolit namun berjalannya waktu para perempuan diberi izin untuk melayani altar, sesuai kebijakan diosesan dan dengan memperhatikan norma-norma yang sudah ditetapkan. 2. Bentuk-bentuk Kegiatan Misdinar Kelompok misdinar merupakan salah satu kelompok kategorial anak yang ada dalam Paroki. Dalam perkembangannya, kelompok misdinar dalam setiap Paroki memiliki kegiatan masing-masing. Kegiatan yang dilaksanakan oleh kelompok misdinar tidak jauh dari kegiatan yang dapat meningkatkan kecintaan terhadap Gereja. Kegiatan tersebut meliputi melaksanakan tugas dalam Perayaan Ekaristi, latihan misdinar, dan pertemuan rutin anggota kelompok. a. Tugas dalam perayaan Ekaristi Tugas utama yang harus dijalankan oleh seorang misdinar adalah melayani imam saat perayaan Ekaristi, baik harian, mingguan, maupun hari-hari besar. Ketika melayani imam di altar, tugas misdinar terbagi menjadi tiga, yaitu sebelum, selama, dan sesudah perayaan Ekaristi. Sebelum perayaan dimulai, misdinar bertugas untuk membantu koster menyiapkan perlengkapan dan peralatan misa serta menyiapkan

(47) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 31 buku (Gabriel, 1997: 22). Selama perayaan berlangsung, misdinar bertugas melayani imam seperti membawa piala dan sibori ke altar, membawa ampul berisi air anggur ke imam, menolong imam mencuci tangan, dan membantu imam membersihkan bejana-bejana suci (Waskito, 1984: 22). Ketika perayaan Ekaristi selesai, para misdinar masih memiliki tugas membantu koster kembali untuk meringkas buku dan perlengkapan Misa (Gabriel, 1997: 22). b. Latihan misdinar Latihan misdinar biasanya dilakukan menjelang hari-hari besar seperti perayaan Natal dan Pekan Suci (Minggu Palma, Kamis Putih, Jumat Agung, Malam Paskah, Minggu Paskah). Dalam pelaksanaannya, Misa meriah yang telah disebut di atas memiliki perbedaan dengan hari Minggu biasa. Setiap perayaan memiliki kekhasan dan keunikannya masing-masing. Alat-alat liturgi yang dibutuhkan biasanya dalam setiap perayaan berbeda, dan jumlahnya lebih banyak. Oleh karena itu, butuh persiapan yang matang bagi para misdinar untuk mengetahui fungsi alat-alat liturgi serta kapan alat tersebut digunakan. Dalam khotbahnya pada bulan April 1980, Paus Yohanes Paulus II berpesan sebagaimana dikutip oleh Waskito (1984:11) bahwa dalam melaksanakan tugas melayani itu dibutuhkan persiapan yang baik supaya pada waktu hari pelaksanaan dapat bertugas dengan baik, khidmad, dan lancar karena liturgi menghubungkan kita dengan Kristus yang amat kudus. c. Pertemuan rutin Pertemuan rutin diadakan sesuai dengan kesepakatan anggota misdinar. Setiap Paroki berbeda satu sama lain, karena kebutuhan dan keadaan misdinar dalam setiap Paroki berbeda. Pertemuan rutin ada yang diadakan seminggu sekali, dua minggu sekali, tiga minggu sekali, bahkan sebulan sekali. Kegiatan yang dilaksanakan saat

(48) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 32 pertemuan rutin pada umumnya adalah pembagian jadwal untuk tugas, doa bersama, dan memperdalam pengetahuan tentang liturgi Gereja. Dalam prakteknya, pertemuan misdinar tidak hanya terpaku pada pembagian tugas semata, namun juga dapat dikemas dengan acara yang menarik seperti rujakan, rekreasi bersama, fun bike, diskusi, perkemahan, rekoleksi ataupun olahraga. Bahkan tidak menutup kemungkinan para misdinar mengadakan anjangsana misdinar ke Paroki lain atau mengunjungi seminari. Hal ini dilakukan untuk semakin menanamkan tali persaudaraan antar anggota, dan menciptakan iklim yang menyenangkan dalam komunitas tersebut. Dalam hal ini, pengurus meminta pertimbangan kepada pendamping ataupun pastur Paroki (Gabriel, 1997: 24). 1. Spiritualitas Misdinar Spiritualitas berasal dari kata Spirit yang berarti roh, jiwa semangat. Dengan demikian spiritualitas Misdinar dapat diartikan sebagai semangat yang mesti menjiwai pelayanan para Misdinar. Sebagai pelayan Misa, hendaknya kita mengembangkan semangat / jiwa pengabdian tanpa pamrih. Adapun yang dimaksud dengan semangat pengabdian tanpa pamrih adalah. Gabriel (2001:78) a. Melayani dengan penuh cinta Melayani bukanlah tugas yang hina, melainkan tugas yang luhur dan mulia. Apalagi Tuhan sendiri yang kita layani dalam perayaan Ekaristi. Karenanya, semangat ini juga menyiratkan rasa syukur atas kesempatan boleh melayani Tuhan dan sesama. b. Melayani tanpa pamrih Yang dimaksud tanpa pamrih berarti melayani Tuhan dengan ketulusan hati Ada banyak contoh pelayanan Misdinar yang tidak sepenuh hati. Mau menjadi Misdinar manten, pembaptisan, pemakaman, asalkan mendapat imbalan. Mau

(49) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 33 bertugas, asalkan ditraktir atau diajak piknik. Menjadi Misdinar agar nilai agamanya bagus atau pelayanannya di altar disalahgunakan sebagai ajang bermain dan cari perhatian dan sebagainya. c. Mewaspadai virus misdinar Dalam kaitannya dengan spiritualitas misdinar, perlu diketahui pula mengenai virus yang mengincar para misdinar. Virus adalah kepanjangan dari pikiran rusak. Adapun yang termasuk virus misdinar adalah malas, terlebih bila tidak ditugaskan pada misa-misa favorit, mengharap imbalan, sombong lantaran bisa menjadi anaknya romo, dengki atau iri terhadap kelebihan rekan-rekannya atau kelompok lain, ikutikutan atau tidak punya pendirian, nakal dan nekad, selalu mencari alasan untuk berdalih, ramai atau kurang bisa bisa menjaga keheningan di gereja dan di sakristi (Gabriel, 2001: 94). 3. Nilai-nilai yang didapatkan dengan menjadi anggota Misdinar Tugas pelayanan itu hendaknya juga dilandasi oleh semangat cinta kerena tugas Misdinar itu suatu tugas yang mulia. Sebab Tuhan sendrilah yang mereka layani dalam perayaan Ekaristi. Menurut Gabriel Nilai-nilai yang Misdinar dapatkan menjadi anggota Altar adalah: 1. Rasa tanggung jawab terhadap tugas yang diberikan. Hal ini berarti tidak meremehkan atau melemparkan tugas yang diberikan, tetapi dengan senang hati menerima dan melaksanakan dengan sebaik-baiknya demi kemuliaan Tuhan. 2. Disiplin; kita dilatih berdisiplin waktu karena misa senantiasa dimulai tepat pada waktunya. Kalau Misdinar nya terlambat, jadwal misa Kudus bisa kacau.

(50) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 34 3. Kerendahan hati untuk menjadi seorang pelayan dituntut sikap rendah hati. Artinya menyadari bahwa bukan dirinya yang terpenting, melainkan yang dilayaninya. Namun untuk sampai pada kerendahan hati diperlukan perjuangan yang tiada henti, Sebab bahaya kesombongan rohani senantiasa menyerang seorang misdinar. 4. Kesederhanaan; belajar dari baju misdinar yang di pakai untuk bertugas. Diharapkan kesederhanan penampilan lahiriah ini pada akhirnya menjadi sikap hidup sehari-hari. 5. Mau bekerjasama; sikap ini dilatih dengan melaksanakan tugas masing-masing dalam satu tim pelayan Misa maupun dalam organisasi Misdinar. 6. Latihan kepemimpinan dan berorganisasi; dari pengalaman beroganisasi ini kita ketahui bagaimana cara memimpin dan mempersatukan para anggota, serta seni dalam berhubungan dengan orang banyak. 7. Menambah teman; artinya bersama-sama dengan teman seiman, sekelompok dan sebaya ini kita bisa saling bertukar pengalaman. 8. Bertambahnya wawasan keimanan membantu penghayatan iman. Melalui kegiatan Misdinar wawasan keimanan kita diperluas seperti mengenal alat-alat liturgy, sikap-sikap liturgi, seluk-beluk misa Kudus dan berbagi kegiatan rohani. Bertambahnya wawasan keimanan kita turut meningkatkan penghayatan iman kita. 9. Kebersamaan dengan teman-teman seiman dalam menghayati iman terlebih dalam pelayanan misa. Hal ini akan menumbuhkan sikap setia kawan karena merasa senasib sepenanggungan.

(51) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 35 D. Makna perayaan Ekaristi bagi Misdinar Perayaan Ekaristi terdiri atas dua bagian pokok, yaitu liturgi sabda dan liturgi Ekaristi, dan kedua bagian pokok ini, diapit oleh ritus pembuka sebagai bagian yang mempersiapkan dan ritus penutup sebagai bagian penutup (Martasudjita, 2005:116). Dalam perayaan Ekaristi ada banyak petugas palayan untuk melancarakan perayan yang diarayakan terutama salah satunya yaitu misdinar. Anak yang terlibat sebagai tugas misdinar yaitu usia 9-18 tahun. Berdasarkan tahap-tahap kepercayaan: Mitisharfiah, usia (6-12) tahun, sintetis-Konvensional, usia (13-17) tahun, individuatifreflektif, usia (18 ke atas), anak hingga dewasa memiliki pemahaman berbeda –beda untuk memaknai perayaan Ekaristi. Tahap pertama Mitis-harfiah, anak lebih memahami perayaan Ekaristi melalui simbol yang ada di dalam setiap bagian perayaan Ekaristi. Ritus Pembuka bertujuan untuk mempersatukan umat yang berkumpul dan mempersiapkan mereka agar dapat mendengarkan sabda Allah dan merayakan Ekaristi dengan layak. Ritus pembuka diawali dengan perarakan masuk yang diiringi dengan lagu pembuka. Para petugas yang berjalan menuju altar juga membawa berbagai hal simbol yang akan digunakan dalam perayaan Ekaristi, seperti misdinar: membawa salib, dan lilin. Lektor: membawa kitab suci, pemazmur: buku mazmur, dan urutan paling terakhir prodiakon dan Imam (Martasudjita, 2005:119). Lalu sesampainya dialtar, salib dipajang di dekat altar, lilin di atasnya altar dan kitab suci diletakan diatas altar. Untuk memulai perayaan Ekaristi diawali dengan membuat tanda kemengaan (+) sebagai simbol sebagai pengikut Kristus dan tanda keselamatan (Martasudjita, 2005:122) salam, pengantar, tobat, kyrie, Gloria, doa pembuka (Martasudjita. Pada tahap mitis-harfiah usia 6-12 tahun. Anak-anak dapat memaknai simbol lilin: sebagai penerang dan salib: suatu simbol yang digunakan sebagai tanda bahwa Allah ikut hadir bersama kita

(52) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 36 selama misa berlangsung. Anak-anak memaknai ritus pembuka sebagai persiapan diri untuk menyambut kehadiran Tuhan yang diiringi dengan lagu-lagu pujian. Nyanyi pembuka ini bertujuan untuk membuka Misa, membina kesatuan umat melalui tobat dan doa-doa (Martasudjita, 2005:116). Liturgi sabda terbagi menjadi beberapa bagian seperti bacaan pertama, mazmur tanggapan, bacaan II, bait injil / Alleluya, Injil, aklamasi, homili, syahadat, doa umat. Pewartaan sabda Allah dilaksanakan dalam pembacaan kitab suci dan homili yang memperdalam sabda Allah, patut untuk anak-anak dengarkan. Anak mitis-harfiah, dapat memakni bacaan kitab suci sebagai Allah yang hadir sendiri menyampaikan firman-Nya ditengah Gereja karena bacaan Injil merupakan puncak liturgi sabda. “Pembacaan injil menunjuk realitas iman bahwa Yesus Kristus sendiri tetap hadir ditengah Gereja dan terus mewartakan Injil-Nya kepada segala makhluk” (Martsudjita 2005:137). Setelah selesai mendengarkan liturgi sabda, sekarang dilanjutkan Liturgi Ekaristi. Liturgi Ekaristi “kehadiran Tuhan dan karya penebusan-Nya bagi Gereja secara Sakramental, yaitu dalam rupa roti dan angur” (Martasudjita, 2005:117). Persiapan liturgi Ekaristi dapat dilakukan menghantarkan persembahan ke depan altar, terutama roti dan anggur, itulah bahan yang sama yang digunakan oleh Kristus. Secara mitis-harfiah anak memandang bahwa roti dan anggur dipandang sebagai sebuah simbol yang akan dibagi-bagikan kepada seluruh umat khusus orang yang sudah menerima sakramen komuni pertama. Pada kisah kitab suci yang tertulis Markus 14:22-25, mengenai perjamuan malam terkhir yang diadakan bersama muridmurid Yesus. Liturgi Ekaristi menjadi “Pusat seluruh perayaan Ekaristi, sebab dalam liturgi Ekaristi ini terdapat seluruh perayaan Ekaristi, sebab dalam liturgi Ekaristi terdapat doa syukur Agung yang menjadi pusat dan puncak seluruh perayaan

(53) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 37 Ekaristi”. Roti dan anggur yang berubah menjadi tubuh dan darah Kristus, dapat disantap pada saat penerimaan komuni. Namun pada anak-anak yang belum bisa menerima tubuh dan darah Kristus dapat menerima berkat langsung kepada romo. Ini menjadi simbol bahwa Allah memberikan berkat melalui tangan para imam kepada anak-anak. Ritus penutup, “menyampaikan berkat Tuhan kepada seluruh umat beriman sebagai kekuatan-bekal dalam menjalankan perutusan Gereja ditengah dunia” (Martasudjita, 2005: 118). Anak-anak memaknainya dengan cara Imam mengangkat tangan keatas beserta ucapan doa berkat kepada semua orang. Para pelayan dan Imam juga turun meninggalkan altar diiringi lagu penutup. Sintetis-konvensional usia 13-17 tahun, pada tahap ini usia remaja yang semakin dewasa dapat memaknai simbol perayaan Ekaristi yang mengandung banyak arti dimensi. Ritus pembuka, yang diawali dengan perarakan dan diiringi lagu pembuka dengan bertujuan untuk membuka misa dan menghantar masuk kemisteri iman sesuai dengan masa liturgi atau pesta yang dirayakan dan mengiringi para imam beserta pelayan yang lainnya. Perarakan juga terkadang dilakukan dengan Penghormatan atau pendupaan, yang dilakukan pada saat hari-hari raya besar dan khusus.“Mencium altar ini menjadi lambang untuk memberi salam dan penghormatan kepada Kristus Sang Imam Agung dan Sang Tuan Rumah perayaan Ekaristi”. Pendupaan yang dilakukan oleh Imam dapat dimaknai remaja sebagai ungkapan rasa hormat dan doa kepada sakramen maha kudus (Martasudjita, 2005: 121). Setelah salam dan pengantar dilanjutkan doa tobat, seruan tobat, gloria. Doa tobat menyampaikan penyesalan dan pertobatan atas dosa dan kesalahannya kepada Tuhan dan sesama setelah itu disambung dengan lagu Tuhan kasianilah kami dan kemuliaan. Doa Tobat, seruan tobat dan lagu kemuliaan menjadi satu-kesatuan dalam ritus

(54) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 38 pembukaan yang sudah disahkan oleh TPE 2005. Remaja memaknai ini sebagai bagian yang tak terpisahkan dari ritus pembuka dan remaja memaknainya bahwa kita manusia diberi kesempatan untuk mengakui dosa dan kesalahan sehingga kesiapan batin kita untuk menerima tubuh dan darah Kristus dari hati dan pikiran sudah bersih kembali. Liturgi sabda, pewartaan Sabda Allah, renungan dan tanggapan umat beriman atas sabda Allah itu. Bacaan I & II dan mazmur tanggapan, membuat suatu dialog perjumpaan antara Allah yang bersabda dan umat yang menanggapi Sabda Allah itu (Martasudjita, 2005:133) pewartaan sabda Allah dilakukan dalam pembacaan kitab suci dan homili yang memperdalam sabda Allah. Syahadat singkat merupakan ungkapan tanggapan umat terhadap sabda Allah yang telah didengarkan melalui bacaan-bacaan dan homili. Bagi remaja syahadat singkat ini kita mengakui iman kepercayaan yang digunakan dalam perayaan liturgi pembaptisan. Liturgi Ekaristi ada bagian persiapan persembahan yang akan diantar kedepan altar terutama roti dan anggur dan doa syukur agung sampai doa sesudah komuni yang dirangkum menjadi pokok dalam sebuah pengharapan kepada Allah. Pengharapan ini dimaknai remaja sebagai kepenuhan hidupnya dan kepenuhan akan keyakinan keselamatan yang datang dari Allah sendiri didalam setiap langkah hidupnya. Selain roti dan angggur masih ada satu lambang yang amat penting artinya, yaitu pencampuran air kedalam anggur. Sebelum dihunjukkan, tindakan pencampuran ini disertai dengan kata-kata ini: “Sebagaimana dilambangkan oleh pencampuran air dan anggur ini, semoga kami boleh mengambil bagian dalam Kaallahan Kristus yang telah berkenan menjadi manusia seperti kami” kata-kata itu mengungkapkan keyakinan iman, menegaskan kenyataan bahwa seorang manusia bukanlah hanya manusiawi saja tetapi mengambil bagian tugas untuk melayani sesama (Suharyo,

(55) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 39 2011: 66). Doa syukur Agung dimulai dengan dialog prefasi dan doa/ nyanyian, tiga kali kudus untuk masuk ke dalam Doa Syukur Agung. Didalamnya terkenang perjamuan malam terakhir Yesus dengan murid-muridNya sebelum Ia wafat dikayu salib. Kita mengenangkan peristiwa itu dan mengingatkan Bapa akan pengorbanan Yesus yang mendamaikan manusia dengan diriNya. “Yesus adalah damai sejahtera kita. Perjamuan malam itu menjelaskan dan memberi arti kepada kematian Yesus” (Suharyo, 2011: 68) kematian dan sengsara Yesus, sulit untuk dilupakan karena pada saat itu Allah memurnikan dan menyembuhkan serta mengembangkan persaudaraan sejati.“Ekaristi mengajarkan kita untuk menghadapi dengan tabah kenangankenangan yang menyakitkan”. Disini remaja dapat memaknai bahwa segala persoalan yang kita hadapi didalam hidup ini harus penuh perjuangan dan pengorbanan yang murni sehingga Allah akan memberi jalan yang terbaik. Sengsara dan wafat yesus memberi kita makna kepada pengalaman hidup kita sekarang. Puncak dari perayaan Ekaristi adalah Doa Syukur Agung yang dilanjutkan dengan penerimaan Tubuh dan Darah Kristus dalam komuni. Komunio berarti persekutuan kasih. Sebagai persiapan menyambut tubuh darah Kristus kita melakukan salam damai. Ini mengungkapkan simbolis kesadaraan kita sebagai anggota komunitas dan akan kasih Bapa yang mengikat kita satu sama lain. Menyambut tubuh dan darah Kristus adalah harapan semua orang, melalui roti kita menjadi satu tubuh Kristus bersama saudara-saudari seimannya kita (Gal 3:26-29) kita tidak akan mencintai bapa atau mengalami cintanya kalau tidak ada kasih yang tulus terhadap sesama. Setelah doa Komuni, Liturgi Ekaristi selesai. Perayaan Ekaristi ditutup dengan ritus penutup. Ritus penutp adalah ritus pengutusan. Yesus mengutus para muridnya untuk berani menyampaikan kesaksiannya mengenai kerajaan Allah. Ikut serta dalam

(56) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 40 Ekaristi berarti siap diutus untuk memberikan kesaksian tentang hidup kepada orangorang yang ada disekitar kita. Demikianlah, “perutusan untuk membagikan hidup Kristus mendorong kita lagi-lagi untuk berhimpun sebagai persekutuan, membaharui iman, menyalakan harapan, memurnikan kasih dan melanjutkan kesaksian hidup dan pelayanan yang nyata” (Suharyo 2011:101). Tahap Individuatif-reflektif usia 18 ke atas. Pada tahap ini ritus pembuka orang dewasa memaknainya sebagai perayaan Ekaristi yang mengajak kita untuk menyadari bahwa Allah tri tunggal memanggil kita, mengundang kita untuk menjadi persekutuan yang satu. “Kita datang merayakan Ekaristi sebagai tanggapan kita terhadap undangan Allah Bapa, Putra dan Roh kudus” (Suharyo, 2011:16). Undangan tersebut ditujukan kepada semua orang tanpa memandang status perbedaan. Pengakuan dosa yang kita lakukan bukan hanya kepada Allah saja melainkan kepada sesama kita. Kita mengakui bahwa kita adalah bagian dari umat manusia yang berdosa. “Dalam pengakuan diri sebagai orang-orang berdosa, kita menempatkan diri kita sebagai makhluk ciptaan Allah”. Dengan mengakui kesalahan kita terhadap Allah kesiapan hati untuk mendengarkan sabda Allah semakin siap. Kita diajak untuk membuka hati dan pikiran untuk menerima sabda Allah yang dapat mengubah diri menjadi lebih baik dalam tindakan maupun membaginya kepada orang lain. ‘Sabda Allah yang dibacakan bukan hanya sebagai sekedar cerita yang dibacakan melainkan dimengerti dan dikenang kembali, menjadi bagian dari kisah penyelamatan Allah itu” (Suharyo. 2011: 43) Sehingga iman yang timbul semakin mendewasakan dan mengarahkan hidup kita kejalan yang benar. Pengakuan iman berarti berpegang pada rumus-rumus mati dan beku, sebaliknya dengan pengakuan iman ini, umat berpegang pada pemahaman dan pengalaman iman yang selalu diperdalam dan diperbaharui.

(57) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 41 Keyakinan yang ada dibalik doa umat ialah bahwa Allah adalah Dia yang selalu mendengarkan. Liturgi Ekaristi adalah puncak seluruh perayan Ekaristi. Dimana roti dan anggur berubah menjadi tubuh dan darah Kristus atau disebut dengan Transubtansiasi. Perubahan roti dan anggur ini didalamnya dikenang perjamuan malam terakhir Yesus dengan murid-muridNya, sebelum Ia wafat dikayu salib. Kita mengenang peristiwa itu dan mengingatkan Bapa akan pengorbanan Yesus yang mendamaikan manusia dengan diri-Nya. Yang kita kenangkan pada malam ketika Ia dikhianati, ia mengambil roti dan mengubahnya. “Kenangan itu mempunyai daya memurnikan dan menyembuhkan serta mengembangkan persaudaraan yang sejati”. Karena dalam kenangan akan peristiwa yang seperti apapun gelapnya, kita melihat karya Allah yang mengubah malam kelam penghianatan menjadi perdamaian (Suharyo,2011: 69). Doa syukur Agung juga mengingatkan kita kepada orang yang hidup dan mati. Ketika disadarkan disebut persekutuan para kudus. Kenangan ini menghidupkan penziarahan kita didunia ini akan sampai pada kepenuhannya dalam kemuliaan abadi di surga bersama Bapa. Dengan mengenang orang-orang yang meninggal, kita berharap agar karena penyelamatan Allah mereka ikut ambil bagian dalam kebangkitan Kristus, seperti halnya para kudus (Suharyo, 2011: 85). Roti yang dipecah-pecahkan menjadi lambang kesatuan kita dengan Tuhan dan umat beriman lainnya karena kita semua merupakan satu tubuh (Martasudjita, 2005: 202). Komuni umat merupakan saat yang suci, penting dan agung. Melalui komuni kita berpartisipasi dalam peristiwa penebusan Kristus yang dikenangkan dalam doa syukur Agung, dan kini diterima dalam bentuk tanda, yakni tubuh dan darah Kristus sendiri. Untuk menerima tubuh dan darah Kristus kita perlu memberi hormat dan

(58) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 42 menjawab amin. Doa sesudah komuni umumnya mengungkapkan syukur atas karunia Ekaristi yang telah dirayakan dan diterima. Orang dewasa juga memaknai sebagai kekuatan dan kesatuan Allah didalam diri kita. Doa perutusan dan penutup perayaan Ekaristi adalah berkat pengutusan. Allah memberikan berkat pengutusan melalui tumpangan tangan imam sehingga perjalanan hidup kita kedapan selalu dalam lindungan Tuhan dan berkat melimpah didalam kehidupan sehari-hari. “Ikut serta dalam perayaan Ekaristi berarti siap untuk diutus dan menyampaikan kabar berita kepada orang-orang dan berani menjadi saksi Kristus (Suharyo, 2011: 98). Para petugas pelayan awam sangat lah membantu berjalannya perayaan Ekaristi khususnya Misdinar. Yang terlibat menjadi Misdinar adalah anak-anak remaja. Anak-anak Misdinar yang baru mengalami masa peralihan dari anak-anak yang memiliki rasa keinginan tahu yang besar dengan berani tampil didepan orang banyak untuk melayani Tuhan. Gereja mendukung adanya petugas liturgi seperti para Misdinar, Gabriel (1997:16-18). “Dalam tradisi Gereja meski dianjurkan untuk mempertahankan pelayanan altar oleh anak laki-laki, tetaplah diberi kemungkinan untuk keterlibatan anak perempuaan untuk pelayanan Altar” (RS art 47). Para Misdinar juga sangat bersyukur atas kesempatan dalam melayani Tuhan dalam perayaan Ekaristi. Sebab tidak semua orang memiliki kesempatan melakukan tugas mulia ini. Misdinar juga berpendapat melayani perayaan Ekaristi bukan untuk mencari perhatian melainkan untuk menambah kemuliaan Tuhan (Martasudjita 2005:106). Perayaan Ekaristi memiliki makna pokok dari segi kebersamaan yang melibatkan seluruh orang untuk mengambil bagian dalam perayaan Ekaristi, “Dimana dalam perayaan Ekaristi Tuhan dan bersama seluruh Gereja ikut merayakan”. Dalam segi partisipatif menuntut seluruh umat untuk sadar dan aktif (SC 14). Dalam

(59) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 43 mengikuti perayaan Ekaristi kita sungguh-sungguh dari hati yang tulus dan mau terlibat secara penuh. Dan segi kontekstual adalah “mampu menjawab kebutuhan dan kerinduan actual dari umat beriman” (Kan. 943). “Diangkat menjadi akolit, seorang awam bertugas dalam pelayanan di altar dan pembagian komuni, dan berdasarkan dalam pelayanan akolit ini biasa disebut sebagai prodiakon/asisten imam. Perlu juga diingat bahwa pengangkatan lektor dan akolit di dalam Gereja bukanlah sebuah pekerjaan, melainkan sebuah pelayanan demi pembangunan umat Allah. Sebagai sebuah pelayanan, maka orientasinya adalah cinta kasih, dan bukannya pencarian bentuk-bentuk material demi kepentingan pribadi. E. Penelitian yang Relevan Penelitian yang relevan dengan penelitian yang diteliti adalah penelitian yang dilakukan Oleh Asnelly 2018 yang berjudul “Makna Perayaan Ekaristi Bagi Lanjut Usia”. Penelitian ini bertujuan untuk melihat sejauh mana makna Ekaristi, untuk membantu persoalan hidup sehari-hari. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan tersebut, menunjukkan bahwa Ekaristi yang mereka rayakan memberikan peneguhan tentang semangat hidup dengan nilai-nilai injili yang memberi pengharapan dan kepasrahaan kepada Allah sang empunya kehidupan. maka dengan demikian mereka dapat menemukan arti hidup bahagia, damai dan sejahtera. F. Fokus Penelitian Fokus penelitian adalah makna Ekaristi bagi anggota misdinar di paroki Santo Antonius Kotabaru. Makna Ekaristi yang pertama secara primer yang meliputi pengalaman keterlibatan remaja menjadi Misdinar dalam perayaan Ekaristi. Misdinar dapat memaknai perayaan Ekaristi untuk memperkuat iman remaja dalam setiap

(60) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 44 keterlibatan. Sedangkan secara sekunder, meliputi sikap yang tercermin dalam perbuatan hidup sehari-hari baik di lingkungan Gereja dan masyarakat. Setelah mengikuti perayaan Ekaristi, misdinar menyadari bahwa segala tugas yang diemban menjadi tugas dari kerelaan hati misdinar dalam menjalankan tugas (Sugiyono, 2015:225).

(61) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB III METODOLOGI PENELITIAN Penelitian ini dilaksanakan sebagai bentuk usaha untuk memperoleh pengetahuan yang mendalam mengenai makna perayaan Ekaristi bagi anggota Misdinar di paroki Antonius Padua kotabaru Yogyakarta. Pada bagian ini penulisan menjelaskan jenis penelitian, desain penelitian, tempat dan waktu penelitian, responden penelitian teknik dan intrumen pengumpulan data, teknik analisis data. A. Jenis Penelitian Jenis penelitian yang digunakan oleh penulis adalah penelitian kualitatif fenomenologis. Fenomenologi merupakan pandangan berpikir yang menekankan fokus pada pengalaman dan pendapat setiap subjek. Fenomologi mencoba mencari arti pengalaman dalam kehidupan. Peneliti mendapatkan data dengan konsep pendapat dan pembedaan makna terhadap situasi atau pengalaman dalam kehidupan. Tujuan dari fenomologi untuk mencari atau menemukan makna dari hal-hal yang mendasar dari pengalaman hidup. (Moleong, 2012:6). Fungsi dan pengamatan penelitian kualitatif digunakan peneliti bermaksud meneliti secara mendalam (Moleong, 2012:7). Penulis menggunakan metode kualitatif fenomenologi untuk menggali makna Ekaristi bagi anggota Misdinar di paroki Antonius Padua Kotabaru melalui pengalaman subyektif dari berbagai subyek yang ditemui.

(62) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 46 B. Desain Penelitian Desain penelitian kualitatif menggunakan desain studi kasus. Dalam arti penelitian difokuskan pada satu fenomena saja yang dipilih dan ingin dipahami secara mendalam. Lalu membuat perencanaan yang matang untuk menentukan tempat, partisipan dan memulai pengumpulan data. Rencana ini bersifat fleksibel, desain penelitian yang fleksibel memiliki kebebasan dalam menentukan langkah dalam proses penelitian yang tepat. Strategi penelitian yang fleksibel itu mengkombinasikan berbagai teknik untuk mendapatkan data yang valid, selain itu peneliti yang menyesuaikan strategi pengumpulan data selama penelitian. C. Tempat dan Waktu Penelitian 1. Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di wilayah Paroki Santo Antonius Padua Kotabaru Yogyakarta karena di paroki ini , disatu sisi masih banyak anak remaja yang terlibat menjadi Misdinar di tengah kota yang memiki tantangan yag besar dalam keterlibatan dalam melayani. Hal ini menjadi Alasan mendasar penulis memilih Paroki Santo Antonius Padua Kotabaru Yogyakarta. 2. Waktu Penelitian ini dilaksanakan dalam kurun waktu satu bulan yakni pada bulan 30 Oktober - 6 November 2018. D. Responden Penelitian Penelitian kualitatif tidak mempersoalkan berapa jumlah informan, tetapi tergantung dari tepat tidaknya pemilihan informan. Dengan demikian informan yang ditentukan dengan teknik Purposive sampling, yakni peneliti memilih informan

(63) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 47 menurut kriteria tertentu yang telah diterapkan. Kriteria ini harus sesuai dengan topik penelitian. Kriterinya yaitu informan yang benar-benar aktif dalam setiap tugas atau pertemuan misdinar dan sudah memiliki banyak pengalaman, informan yang dipilih pun bersedia untuk terlibat dalam penelitian ini. Peran responden adalah memberi tanggapan dan informasi terkait data yang dibutuhkan oleh peneliti serta memberi masukan kepada peneliti baik secara langsung maupun tidak langsung. Responden dalam penelitian ini adalah Misdinar yang berusia 9-18 tahun, pendamping misdinar dan orang tua. Mereka dipilih sebagai responden karena dinilai menguasai permasalahan, memiliki data dan bersedia memberikan informasi yang akurat dan terpercaya. Dengan demikian responden dalam penelitian ini adalah anggota misdinar, pendamping misdinar dan orang tua. F. Pertanyaan Penelitian Untuk menjawab permasalahan penelitian ini maka penulis menentukan beberapa pertanyaan berikut: 1. Primer. a. Aspek pemahaman tentang Ekaristi dan makna. 1. Apa yang dimaksud dengan perayaan Ekaristi? 2. Bagaimana misdinar memahami arti setiap ritus-ritus perayaan Ekaristi? b.Makna 3. Apa yang misdinar rasakan pada saat mengikuti perayaan Ekaristi? 4. Kesulitan apa yang dirasakan misdinar didalam kehidupan sehari-hari? 2. Sekunder 1. Apa tujuan misdinar mengikuti perayaan Ekaristi? 2. Dorongan apa yang membuat misdinar ikut terlibat, menjadi pelayan altar?

(64) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 48 G. Teknik dan instrumen pengumpulan data 1. Teknik Pengumpulan Data Penelitian ini, menggunakan teknik atau jenis metode yang digunakan oleh peneliti adalah (1) wawancara mendalam (indepth interview). Wawancara mendalam merupakan proses menggali informasi secara mendalam, terbuka, bebas dengan masalah fokus penelitian diarahkan pada pusat penelitian (Moleong, 2005:186). Wawancara mendalam ini dilaksanakan dengan adannya daftar pertanyaan yang telah disusun dengan hasil yang ingin dicapai. Teknik wawancara ini bertujuan untuk memperoleh data atau informasi yang dibutuhkan secara mendalam dari narasumber yang bersangkutan sehingga mendapatkan informasi secara langsung dan mengetahui dengan jelas peristiwa tersebut. (2) dan observasi: adalah metode pengamatan langsung menggunakan alat indera atau alat bantu untuk pengindara suatu subjek dan objek. Beberapa yang dapat diperoleh dari observasi adalah tempat, pelaku kegiatan atau peristiwa, waktu dan perasaan. Dilakukannya observasi berguna untuk menyajikan gambaran yang realistis perilaku dan kejadian untuk menjawab pertanyaan, dan membantu mengerti perilaku narasumber dan juga evaluasi yaitu melakukan pengukuran terhadap aspek tertentu dan melakukan umpan balik terhadap pengukuran. 2. Instrumen pengumpulan Data Dalam pengambilan data di lapangan, peneliti dibantu dengan pedoman wawancara (alat rekam) dan observasi. Hal ini dilakukan untuk memudahkan peneliti dalam pengambilan dan pengumpulan data. Sehingga data yang diambil dapat untuk saling melengkapi data yang kurang lengkap. a. Pedoman wawancara

(65) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 49 Peneliti dengan pendekatan kualitatif menggunakan instrumen, berupa pedoman wawancara karena dalam proses pengumpulan data menekankan pada wawancara terhadap narasumber/ responden untuk mengetahui makna Ekaristi bagi Misdinar. Responden adalah pemberi informasi yang berhubungan dengan permasalahan penelitian dalam kualitatif. Berikut pedoman wawancara yang digunakan. Pedoman wawancara Nama Responden : Jenis kelamin : Tanggal wawancara : Tempat wawancara : Wawancara ke : 1. Primer: a. Pemahaman tentang Ekaristi dan makna. 1. Menurut anda apa yang dimaksud dengan perayaan Ekaristi? 2. Apa makna dari setiap ritus-ritus perayaan Ekaristi? b. Makna Ekaristi 3. Apa yang anda temukan pada saat mengikuti perayaan Ekaristi? 4. Dorongan apa yang membuat anda ikut terlibat, menjadi pelayaan altar? 5. Kesulitan apa yang anda rasakan khususnya sebagai misdinar? 2. Sekunder 1. Jika mengalami kesulitan hidup, apa yang kamu lakukan ? a. Kesulitan dalam sebuah kegagalan, emosi, berantem apa yang kamu lakukan? b. Pada saat merasakan kebahagian apa yang kamu lakukan? 2. Apa tujuan anda mengikuti perayaan Ekaristi?

(66) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 50 H. Teknik Keabsahan Data Triangulasi pada hakekatnya merupakan metode yang dilakukan peneliti pada saat mengumpulkan dan menganalisis data. Fenomena yang diteliti dapat dipahami dengan baik sehingga diperoleh kebenaran yang pasti jika dilihat dari berbagai sudut pandang. Karena itu triangulasi ialah usaha mengecek kebenaran data atau informasi yang diperoleh peneliti dari berbagai sudut pandang yang berbeda dengan cara mengurangi sebanyak mungkin kesalahan yang terjadi pada saat pengumpulan dan analisis data (Moleong, 2008:330). Triangulasi yang digunakan untuk penelitian yaitu triangulasi sumber data. Sumber data adalah pengumpulan data dari beragam sumber yang saling berbeda dengan menggunakan suatu metode yang sama. Dalam penelitian ini sumber data yang berbeda akan diambil dari anggota misdinar, pendamping misdinar, dan orang tua. Tentu masing-masing cara itu akan menghasilkan bukti atau data yang berbeda, yang selanjutnya akan memberikan pandangan yang berbeda pula mengenai fenomena yang diteliti. Berbagai pandangan itu akan melahirkan keluasan pengetahuan untuk memperoleh kebenaran handal. Sedangkan metode yang digunakan wawancara. Alat yang digunakan untuk melakukan penelitian yaitu alat perekam suara untuk merekam pendapat dari berbagai narasumber. Untuk itu maka peneliti dapat melakukannya dengan jalan: a) mengajukan berbagai macam variasi pertanyaan. b) mengeceknya dengan berbagai sumber data. c) memanfaatkan berbagai metode agar pengecekan kepercayaan data dapat dilakukan.

(67) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 51 I. Teknik Analisis Data Menurut Moleong (2004:248) analisis data kualitatif adalah upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data, mengorganisasikan data, memilahmilahnya menjadi satuan yang dapat dikelola, mensintesiskannya, mencari dan menemukan apa yang penting dan apa yang dipelajari. Analisis data adalah proses mencari dan menyusun data secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan dan bahan-bahan lain, sehingga mudah dipahami, dan temuannya dapat diinformasikan kepada orang lain (analisis data dilakukan dengan mengorganisasikan data, menjabarkan kedalam unitunit, melakukan sintesa, menyusun ke dalam pola, memilih nama yang penting dan yang akan dipelajari dan yang akan dipelajari. Setelah itu membuat kesimpulan sehingga mudah dipahami (Sugiyono 2014:334). Langkah-langkah analisis yang digunakan penelitian kualitatif; 1. Reduksi Data Reduksi data berarti merangkum, memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting, dicari tema dan polanya dan membuang yang tidak perlu. Dengan demikian data yang telah direduksi akan memberikan gambaran yang lebih jelas, dan mempermudah peneliti untuk melakukan gambaran yang lebih jelas, dan mempermudah peneliti untuk melakukan pengumpulan data selanjutnya, dan mencarinya bila diperlukan (Sugiono, 2014:338). 2. Penyajian data Miles dan Hubermen, menyatakan bahwa: “yang paling sering digunakan untuk menyajikan data dalam penelitian kualitatif adalah dengan teks yang bersifat naratif”. Dengan mendisplaykan data, maka akan memudahkan untuk memahami apa

(68) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 52 yang terjadi, merencanakan kerja selanjutnya berdasarkan apa yang telah dipahami tersebut (Sugiyono, 2014:341). 3. Verifikasi Langkah ketiga dalam analisis data kualitatif menurut Miles and Huberman (Sugiyono, 2014: 345) adalah penarikan kesimpulan verifikasi. Kesimpulan awal yang dikemukakan masih bersifat sementara dan akan berubah bila tidak ditemukan bukti-bukti yanga kuat yang mendukung pada tahap awal, didukung oleh bukti-bukti yang valid dan konsisten saat peneliti kembali ke lapangan mengumpulkan data, kesimpulan yang dikemukakan merupakan kesimpulan yang kredibel.

(69) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian Pada bagian ini penulis memaparkan hasil penelitian dengan menggunakan metode wawancara. Penelitian ini melibatkan beberapa responden yakni anggota misdinar, pendamping misdinar, dan orang tua misdinar di Paroki Santo Antonius Kotabaru. Hasil penelitian ini merupakan rangkuman dan jawaban responden tentang makna Ekaristi bagi anggota misdinar didalam kehidupan sehari-hari. Dimensi makna Ekaristi yang menjadi fokus penelitian ini, dibagi ke dalam dua hal yakni penghayatan secara primer dan sekunder. Makna primer dibagi ke dalam dua aspek yaitu aspek pengetahuan, makna perayaan Ekaristi. Sedangkan secara sekunder, penulis cenderung melihat pengaruh terhadap kesadaran dan cara mereka memaknai Ekaristi didalam kehidupan sehari-hari. 1. Profil Responden Responden 1 AL, kelahiran Jakarta, 5 September 2003 (umur 15 tahun). Ia bergabung sebagai anggota misdinar dari kelas 5 SD-SMA kelas X. Sekarang menempuh pendidikan di sekolah SMAN 7 Yogyakarta. Ia mengaku sangat senang ketika berdinamika bersama teman-teman misdinar yang lain. Saat penulis melakukan wawancara ini, ia sedang terlibat membantu mendampingi anak-anak misdinar yang baru. Ini menjadi sebuah kebanggaan bagi dirinya sendiri. Saat ini AL tinggal bersama keluarganya di Jln. Gunung Ketur PA II/214. Wawancara bersamanya dilaksanakan pada Rabu, 30 November 2018 pukul 18.46-19.05.

(70) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 54 Responden 2 WAR, lahir di Yogyakarta, 26 Maret 2004 (umur 14 tahun). Ia bergabung sebagai anggota misdinar dari kelas 4 SD-SMP kelas VIII. Sekarang menempuh pendidikan di sekolah SMP Pangudi Luhur 1 Yogyakarta. Ia sangat senang ikut terlibat dalam melayani. Saat penulis melakukan wawancara ini, ia sedang terlibat membantu mendampingi anak-anak misdinar yang baru. Menjadi sebuah kebanggaan bagi dirinya sendiri. Saat ini WAR tinggal bersama keluarganya di jalan Mangkukusuman GK IV/1555. Wawancara bersamanya dilaksanakan pada Rabu, 30 November 2018 pukul 19.22-19.30. Responden 3 RPI, lahir di Klaten, 16 Juli 2006 (umur 12 tahun). Ia bergabung sebagai anggota misdinar dari kelas 4 SD- SMP VII. Sekarang menempuh pendidikan di SMPK Gayam Yogyakarta. Ia terlibat aktif menjadi misdinar pada saat masih berada dikota Kudus dan melanjutkan menjadi misdinar Gereja Kotabaru. Saat ini RPI tinggal di Ledok Tukangan Dn II no 679. Wawancaran bersamanya dilaksanakan pada hari Rabu, 30 November 2018 pukul 19.31-19.40. Responden 4 GURP, lahir di Yogyakarta 12, Juni 2008. Ia bergabung sebagai anggota misdinar baru mulai kelas 5 ini. Sekarang menempuh pendidikan di SD Pangudi Luhur Yogyakarta. Saat ini GURP tinggal di Mangkukusuman GK IV/1555. Wawancaran bersamanya dilaksanakan pada hari Rabu, 30 November 2018 pukul 19.41-19.48. Responden 5 BE, lahir Yogyakarta, 3 October 2003 (umur 15 tahun). Ia bergabung menjadi misdinar kelas VII SMP–IX SMP. Sekarang menempuh pendidikan di sekolah SMP Kanisius Gayam Yogyakarta. Keterlibatan menjadi misdinar ternyata baginya sungguh luar biasa karena mendapatkan kesempatan membantu menjadi pendamping misdinar yang baru terlibat. Saat ini BE tinggal

(71) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 55 bersama keluarganya di jalan Kusbini no 198/Yogyakarta. Wawancara bersamanya dilaksanakan pada Rabu, 30 November 2018 pukul 19.50-19.58. Responden 6 CM, lahir Yogyakarta 4 kelas Juli 2003 (umur 15 tahun). Ia bergabung menjadi misdinar kelas 4 SD- SMA. Sekarang menempuh pendidikan di sekolah SMA Santa Maria Marsudirini. Keterlibatan menjadi misdinar lumayan lama dan masih bertahan sampai sekarang dan menjadi salah satu pengurus. Saat ini CM tinggal di jalan Mataram bn 1/377. Wawancara bersamanya dilaksanakan pada Rabu, 30 November 2018 pukul 20.00-20.15. 2. Hasil Wawancara Pada bagian ini penulis menyajikan jawaban atau tanggapan dari responden misdinar paroki Santo Antonius Kotabaru Yogyakarta 1) Mengenai perayaan Ekaristi dan (2) Makna Ekaristi dalam kehidupan sehari-hari. Untuk mendapatkan tanggapan atas kedua hal diatas, penulis menyiapkan beberapa pertanyaan kunci yang mudah dijawab oleh responden. Penulis menemukan variasi jawaban yang beragam terkait cara remaja berani terlibat menjadi misdinar dan memaknai perayaan Ekaristi didalam kehidupan sehari-harinya. Untuk menguji kebenaran tanggapan responden, penulis melakukan proses “trianggulasi sumber” dengan cara mewawancarai pihak tertentu, biasanya orang yang dekat yaitu orang tua (informan) dan pendamping (Informan 2). Responden yang dinilai bisa mengonfirmasi pernyataan-pernyataan responden secara valid. Makna Ekaristi zaman sekarang ini sangat bergantung pada seberapa dalam seseorang memaknai arti Ekaristi dalam hidupnya dengan keterlibatannya sebagai misidnar. Menurut penulis, memaknai dan keterlibatan menjadi misdinar adalah kedua hal yang berbeda secara substansial. Kadang orang hanya terlibat dalam

(72) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 56 melayani tapi sulit untuk memaknainya dan menerapkan didalam kehidupan seharihari. Dalam konteks ini penelitian ini, penulis ingin mencari tahu seberapa besar pengetahuan responden tentang arti Ekaristi dan bagaimana memaknainya. a. Pemahaman anggota misdinar Kotabaru mengenai perayaan Ekaristi Untuk mendapatkan tanggapan yang luas mengenai Ekaristi, penulis menentukan beberapa pertanyaan kunci yang berhubungan dengan: (1) Arti perayaan Ekaristi; (2) Makna dari setiap ritus-ritus perayaan Ekaristi. 1) Arti Perayaan Ekaristi Penulis bertanya kepada semua responden tentang apa yang mereka ketahui tentang arti perayaan Ekaristi. Secara keseluruhan responden memberi jawaban yang hampir serupa. Responden 1 dengan penuh keyakinan dan sangat lancar dalam menjawab: Perayaan Ekaristi kayak tempat dimana kita bisa, bersyukur kepada Tuhan. Memang bersyukur bisa kapan aja tapi di perayaan Ekaristi itu kita dapat bersyukur lebih intensif, karena adanya perayaan Ekaristi kita bisa selalu ingat sama Tuhan dan komunikasi kepada Tuhan. Yang aku syukuri itu mengenai kehidupan sehari-hari dan berdoa untuk keluarga itu aja [wawancara R1, 30 Oktober 2018]. Responden 2 dengan singkat menjawab: Perayaan Ekaristi itu apa namanya, kayak kita berkumpul lalu berdoa dan menerima tubuh dan darah Kristus dalam suatu perjamuan. Hmmmm tubuh dan darah Kristus itu kayak roti dan anggur yang sudah diberkati hmmm maknanya yah itu kayak puncak pada saat perayaan Ekaristi [wawancara R2, 30 Oktober 2018] Responden 3 kurang yakin untuk menjawab, seperti berpikir keras: Perayaan Ekaristi emmm menurut saya berbicara dengan Tuhan pada saat hari minggu, waktu untuk bertobat atas kesalahan satu minggu ini. Kayak ganggu teman, bohong [wawancara R3, 30 Oktober 2018]. Responden 4 sangat santai dan singkat untuk menjawab pertanyaan: Suatu perayaan tempat orang-orang berkumpul untuk berdoa kepada Tuhan dan bersyukur kepada Tuhan [wawancara R4, 30 Oktober 2018]. Responden 5 sangat berpikir keras dan ragu-ragu untuk menjawab:

(73) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 57 Hemmmm kayak organisasi tempat melayani Ekaristi, hmmm tempat berdoa dan bersyukur, hmm semangat dan sumber dalam kehidupan [wawancara R5, 30 Oktober 2018]. Responden 6 sedikit grogi namun tetap mencoba untuk menjawab: Perayaan Ekaristi itu sebuah perayaan iman, dimana umat berkumpul, terus nanti akan ada konsekrasi yang menjadi sumber atau puncak pada saat perayaan Ekaristi, lalu kita menerima Tubuh Kristus [wawancara R6, 30 Oktober 2018]. Semua data yang dijabarkan di atas adalah valid. Penulis menggunakan sistem member check untu menguji kebenaran datanya. Semua data wawancara divalidasi ulang dengan cara meminta responden melihat lagi hasil transkripnya, karena itu penulis menilai bahwa pernyataan-pernyataan yang dikutip diatas adalah benar dan kredibel. Dari wawancara yang dilakukan kepada salah satu informan 1 yang mengenal para responden mengatakan bahwa pemahaman misdinar mengenai perayaan Ekaristi “tempat berdoa dan bertugas untuk melayani pada saat perayaan Ekaristi, karena pada saat tidak bertugas, pada saat mengikuti perayaan Ekaristi, hati anak-anak tidak sepenuhnya ikut terlibat dalam perayaan Ekaristi. [Wawancara II, Selasa, 6 November 2018]. Dari wawancara salah informan 2 mengatakan bahwa pemahaman misdinar mengenai perayaan Ekaristi, “tempat untuk berkumpul dan berdoa kepada Tuhan dan melayani”. Tanggapan yang diberikan oleh informan 1 dan informan 2 mengenai arti Ekaristi dapat dilihat bahwa anak-anak benar-benar antusias jika bertugas dan mengikuti perayaan Ekaristi. Anak-anak juga pernah mengatakan kepada saya bahwa Ekaristi ini tempat melayani Tuhan. Dari jawaban informan 1 dan informan 2 mengenai arti perayaan Ekaristi, sesuai dengan jawaban yang diberikan para responden, yaitu “tempat berkumpul, berdoa dan bersyukur kepada Tuhan” Dengan begitu data yang diberikan misdinar dapat dikatakan valid.

(74) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 58 2) Pemahaman perayaan Ekaristi bagi anggota misdinar Kotabaru Penulis bertanya kepada semua responden tentang makna ritus-ritus perayaan Ekaristi. Secara keseluruhan responden memberi jawaban yang berbeda-beda. Berikut tanggapan responden masing-masing. Responden 1 dengan penuh keyakinan dan sangat lancar dalam menjawab: Pembuka: hmmm itu kayak kita misalnya bertamu kerumah orang, pembuka itu ya kita mengucapkan salam, nah perayaan Ekaristi dirayakan di Gereja nah kita mengucapkan salam kepada Tuhan untuk permisi dan berdoa lebih dulu kepada Tuhan bahwa kita akan melakukan misa. Liturgi Sabda: itu kita mendengarkan cerita Tuhan, kita bisa ambil apa yang dalam bacaan dan mengambil nilainya untuk kehidupan sehari-hari kita melalui cerita Tuhan. Liturgi Ekaristi: itu inti dari perayaan Ekaristi, tujuan kita dari Ekaristi itu tersampaikan pada pada saat konsekrasi dan komuni. Penutup: itu kita pamitan kepada Tuhan, menerima berkat dari Tuhan untuk kehidupan seminggu kedepan [wawancara R1, 30 Oktober 2018]. Responden 2 dengan singkat menjawab: Pembuka: menyambut kehadiraan Tuhan Yesus dalam perayaan Ekaristi. Liturgi sabda: mendengarkan sabda-sabda Tuhan. Liturgi Ekaristi: itu mengenang sengsaranya Tuhan Yesus. Penutup: selesainya Ekaristi, mendapatkan berkat, berani mewartakan sabda Allah [wawancara R2, 30 Oktober 2018]. Responden 3 kurang yakin, seperti berpikir panjang menjawab pertanyaan: Pembuka menyambut kehadiraan Tuhan Yesus dalam perayaan Ekaristi Liturgi sabda hmm mendengarkan sabda-sabda Tuhan. Liturgi Ekaristi itu mengenang sengsaranya Tuhan Yesus. Penutup selesainya Ekaristi, mendapatkan berkat, berani mewartakan sabda Allah [wawancara R3, 30 Oktober 2018]. Responden 4 sangat santai dan untuk menjawab: Pembuka: Untuk permulaan berdoa mengawali perayaan Ekaristi. Liturgi sabda: mendengarkan pengalaman lalu menanamkan ee suatu pengalaman yang pernah dialami oleh Yesus sendiri.Liturgi Ekaristi: adanya permohonan dalam hidup untuk dibimbing. Hmm konsekrasi dan komuni untuk bersatu dengan Tuhan, kan didalam komuni dan konsekrasi. Hmmm sebagai tempat bersatu dengan Tuhan untuk bersatu dengan Tuhan. Kan didalam komuni ada tubuh dan darah Kristus nah itu berkat dan anugrah dari Allah sendiri Penutup: nah itu kita menerima suatu berkat dan utusan [wawancara R4, 30 Oktober 2018]

(75) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 59 Responden 5 berpikir panjang dan ragu-ragu berpikir panjang untuk menjawab: Pembuka itu berterimakasih dan mengajak untuk bertobat dan berkumpul bersama untuk berdoa. Liturgi sabda mendengarkan bacaan injil untuk pedoman kehidupan sehari-hari, hmm liturgi Ekaristi: menerima yesus didalam diri kita, pada saat penghormatan konsekrasi tubuh Kristus sebagai sumber puncak. Penutup itu menerima berkat, melalui sabda yang didengar saya harus berani bersaksi didalam kehidupan sehari-hari [wawancara R5, 30 Oktober 2018]. Responden 6 sedikit grogi namun tetap mencoba untuk menjawab: Ritus pembuka: tobat atau lebih mempersiapkan diri untuk mengikuti perayaan Ekaristi. Liturgi sabda itu isinya mendengarkan sabda Allah dan mengambil nilai-nilai tentang kehidupan Yesus. Liturgi Ekaristi: ehmmm mendekatkan diri kepada Tuhan, sebagai sumber puncak pada saat konsekrasi, disitu kita menyembah tubuh dan darah Kristus, ada roti dan anggur juga yang artinya mempersatukan kita kepada Tuhan mengenangkan. Penutup: bersyukur dan mendapat berkat, melalui bacaan injil aku juga harus berani bersaksi melalui bacaan injil yang aku dengar [wawancara R6, 30 Oktober 2018]. Kebenaran data yang diperoleh telah diuji validitasnya dengan mengadakan member check untuk menguji kepada masing-masing responden yang telah memberikan jawaban atas wawancara yang dilakukan sehingga jawaban dan pertanyan dari responden sungguh benar dan bisa dipercaya. Dari wawancara yang dilakukan kepada informan 1, mengatakan seluruh misdinar mengetahui semua keempat ritus tersebut karena mereka sudah terbiasa dengan tugas perayaan Ekaristi tapi untuk memaknainya misdinar pasti belum bisa, karena sangat sulit bagi mereka memaknainya. Misdinar hanya memahami ritus-ritus Ekaristi, hafalan saja. Yah paling secara keseluruhan mereka tahu setiap langkahlangkah apa yang akan dilakukan, cukup hanya tindakan [wawancara 11, Selasa, 6 November 2018]. Menurut informan 2 anak-anak dapat memaknai ritus-ritus perayaan Ekaristi karena mereka sudah terbiasa sering terlibat menjadi pelayan Altar jadi pasti tahu. Hasil wawancara antara informan 1 dan informan 2 sangat berbeda karena, menurut tanggapan dari orang tua terbukti bahwa misdinar tidak dapat memaknai

(76) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 60 setiap ritus-ritus perayaan Ekaristi, mereka hanya sekedar menghafal dan apa yang mereka ucapkan tidak dapat di jelaskan secara mendalam. Sehingga data ini tidak dapat disebut valid. b. Makna perayaan Ekaristi Bagi anggota misdinar Untuk mendapatkan tanggapan yang komprehensif tentang makna Ekaristi bagi kehidupan sehari-hari misdinar, Penulis menentukan beberapa pertanyaan kunci yang berhubungan dengan makna sekunder dan primer. Poin-poin yang berhubungan dengan makna sekunder antara lain: (1) Apa makna yang ditemukan pada saat mengikuti perayaan Ekaristi. (2) Kesulitan yang dirasakan sebagai misdinar. Sedangkan poin-poin kunci yang berhubungan dengan makna sekunder antara lain: (a) yang dilakukan jika mengalami kesulitan hidup. (b) Jika mengalami kebahagian apa yang dilakukan. (3) Pelaksanaan tugas sebagai misdinar (4) Tujuan mengikuti perayaan Ekaristi. 1) Makna mengikuti perayaan Ekaristi Penulis bertanya kepada semua responden tentang makna dalam saat mengikuti perayaan Ekaristi. Secara keseluruhan responden memberi jawaban yang berbeda-beda. Berikut tanggapan responden masing-masing. Responden 1penuh keyakinan dan sangat lancar dalam menjawab: Hmmm yang aku dapatkan, kayak kalau diperayaan Ekaristi itu dapat pelajaran baru, dari Injil-injil Tuhan pada saat romo memberikan homili, bacaan Injil yang sudah kita dengar diartikan oleh romo dan ternyata arti dari Injil tersebut ini toh, akhirnya aku tahu arti Injil tersebut, dari Injil tersebut dapat mengambil nilai bagi kehidupan sehari-hari. Dari perayaan Ekaristi aku sadar bahwa Tuhan itu benar-benar ada dalam hidupku, bahwa Tuhan itu benar-benar berperan penting dalam hidupku, bahwa perayaan Ekaristi itu tempat bersyukur kepada Tuhan. Perayaan Ekaristi juga sumber puncak hidup dan pengenangan akan Yesus Kristus [wawancara, selasa 30 Oktober 2018] Responden 2 dengan singkat menjawab: Dalam perayaan Ekaristi, banyak orang yang berkumpul, bersyukur dalam mengikuti perayaan Ekaristi selain itu ada makna perkumpulan perjamuan

(77) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 61 kudus untuk memuliakan Tuhan dan beryukur [wawancara, selasa 30 Oktober 2018]. Responden 3 kurang yakin untuk menjawab seperti berpikir panjang menjawab pertanyaan: Dosa-dosa yang kita lakukan dapat diampuni dalam satu minggu tersebut, tapi selain itu sebagai pedoman rasa syukur kepada Tuhan. Hmmm kayak berantem dengan teman, jahil, yah itulah [wawancara, selasa 30 Oktober 2018]. Responden 4 santai dan singkat untuk menjawab pertanyaan: Maknanya bisa berdoa memohon pertolongan bimbingan untuk kehidupan sehari-hari dan jika mengalami kesulitan dapat dibantu oleh Tuhan. Selain itu ada rasa syukur juga kepada Tuhan atas kehidupan. Selain itu ada rasa syukur juga kepada Tuhan atas kehidupan sehari-hari [wawancara, selasa 30 Oktober 2018]. Responden 5 sangat berpikir keras dan ragu-ragu untuk menjawab: Maknanya harus memuji Tuhan, semangat dalam melayani, tempat berkumpul untuk bertemu Tuhan [wawancara, selasa 30 Oktober 2018]. Responden 6: sedikit grogi namun tetap menjawab: Maknanya lebih dekat kepada Tuhan, menguatkan iman, lebih bersyukur dan bertobat [wawancara, selasa 30 Oktober 2018]. Untuk mengecek kebenaran data penulis mengadakan member check kepada responden penelitian. Semua data wawancara divalidasi ulang dengan cara meminta responden melihat lagi dan memeriksa hasil transkrip wawancara sehingga penulis menilai pernyataan-pernyataan yang dikutip di atas adalah benar dan bisa dipercaya kebenarannya. Berdasarkan hasil wawancara yang kepada Informan 1 mengenai makna apa yang didapat anak misdinar pada saat mengikuti Ekaristi, tanggapan secara umum, orang tua mengatakan makna yang didapat anak-anak itu dapat mendengar firman Tuhan, berdoa dan bersyukur kepada Tuhan, tempat bertugas atau melayani. Karena misdinar itu dilihat-lihat belum bisa mengambil makna pada saat mengikuti perayaan Ekaristi. Orang tua pernah Tanya secara langsung makna apa yang didapat dari perayaan Ekaristi, pada saat anaknya selesai mengikuti misa tapi “anaknya hanya

(78) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 62 diam lalu menjawab hmm yah berdoa dan bersyukur Tuhan kasih kesehatan, dengar romo kotbah tapi uda lupa” [wawancara, selasa 30 Oktober 2018]. Berdasarkan wawancara informan 2 mengenai makna apa yang didapat misdinar pada saat mengikuti perayaan Ekaristi “tempat untuk bertemu Tuhan, mendengar bacaan Injil dan pasti banyaklah makna yang mereka dapat, sudah sering bertugas juga” [wawancara, selasa 30 Oktober 2018]. Hasil wawancara informan 1 dan informan 2 dan pendamping jawaban yang diberikan oleh misdinar sangat berbeda-beda ada yang mengatakan “tempat orang berkumpul untuk berdoa, bersyukur kepada Tuhan dan mendengarkan sabda Tuhan untuk kehidupan hari-hari” dan makna yang di berikan misdinar hanya begitu singkat dan tidak dapat dijelaskan lebih dalam oleh mereka. Begitu juga dengan tanggapan responden 3 [Lampiran] hanya menjelaskan dosa yang dapat di ampuni kayak berantem dengan teman-teman. Dari hasil wawancara yang diberikan misdinar data yang diberikan dapat dikatakan valid, bahwa mereka memaknai perayaan Ekaristi “dapat pelajaran baru mengenai injil pada saat romo memberikan homili, berdoa memohon pertolongan Tuhan untuk kehidupan sehari-hari dan jika mengalami kesulitan dapat dibantu oleh Tuhan, lebih dekat dengan Tuhan dan bertobat”. Makna yang diungkapkan responden tidak mendalam karena cara pemikiran anak-anak dan remaja mengenai Ekaristi masih sangat sederhana dan sekedar hafalan. 2. Kesulitan yang dirasakan misdinar Responden 1 dengan penuh keyakinan menjawab: Kesulitan dalam bertugas awalnya aku grogi karena melihat orang ramai, akhirnya lama-kelamaan menjadi terbiasa. Kalau misalkan ada kayak acara rekoleksi misdinar dan aku pengen ikut tapi pada saat itu ada acara sekolah juga, ini sungguh sulit bagi waktu juga karena sudah berapa kali tidak ikut rekoleksi, trus juga aku orangnya benar-benar kebo untuk bangun pagi, padahal aku sering dapat tugas harian pagi, malas-malasan ku juga besar dan membutuhkan tanggung jawab. Untuk kesulitan dalam bertugas tidak ada [wawancara, selasa 30 Oktober 2018].

(79) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 63 Responden 2 dengan singkat menjawab: Komunikasi antar misdinar, karena pendapat setiap orang berbeda-beda apalagi belum kenal dengan orang tersebut. Untuk kesulitan dalam bertugas lupa apa yang selanjutnya untuk dilanjutkan mungkin karena kurang latihan karena jadwal padat [wawancara, selasa 30 Oktober 2018]. Responden 3 kurang yakin untuk menjawab seperti berpikir keras: Kesulitan yang aku rasakan gugup pada saat bertugas dan komunikasi dengan teman-teman [wawancara, selasa 30 Oktober 2018]. Responden 4 sangat santai dan singkat menjawab: Kesulitannya pada saat latihan dan bertugas sering deg-degan, lalu kerja sama dengan teman-teman belum dapat berjalan dengan baik karena belum mengenal teman-teman oleh sebab itu aku mau lebih mengenal teman-teman supaya dapat berkomunikasi dan bekerjasama dengan baik [wawancara, selasa 30 Oktober 2018]. Responden 5 sangat berpikir keras dalam menjawab: Diawal dulu kesulitannya pada saat tugas harian jika telat langsung digantikan oleh teman karena saya terlalu lama datang dan komunikasi kurang disitu saya merasakan kecewa hati, mau keluar dari midinar tapi dilarang sama kakak misdinar baik [wawancara, selasa 30 Oktober 2018]. Responden 6 sedikit grogi namun tetap mencoba menjawab: Kesulitan yang aku alami komunikasi kepada teman seharusnya bertugas tapi tidak bertugas, jadi kesulitan untuk mencari pengganti. Pada saat awal mengalami grogi. Kesulitan sebagai pengurus semakin sulit untuk mengatur jadwal dan waktu [wawancara, selasa 30 Oktober 2018]. Untuk mengecek kebenaran data penulis mengadakan member check kepada responden penelitian. Semua data wawacara divalidasi ulang dengan cara meminta responden melihat lagi dan memeriksa hasil transkrip wawancara sehingga penulis menilai pernyataan-pernyataan yang dikutip di atas adalah benar dan bisa dipercaya kebenarannya. Dari wawancara yang dilakukan kepada informan 1, kesulitan anak-anak sering terjadi pada saat tugas pertama kali, rasa grogi yang mereka miliki sangat kuat itu sering terjadi kepada anak-anak. Cara komunikasi anak- anak kepada teman yang lainnya masih sangat kurang baik karena belum mengenal dengan dekat, membagi waktu untuk kegiatan sekolah dan Gereja sering bertabrakan. Menurut informan 2,

(80) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 64 kesulitan yang dihadapi misdinar itu, grogi pada saat awal bertugas dan itu wajar, komunikasi antar misdinar sulit karena banyak anggota yang baru terus sehingga menjadi sedikit kesulitan. Anak misdinar juga harus bisa bagi waktu dengan sekolah, saya salut lihat mereka dapat membagi waktu untuk melayani [wawancara, selasa 30 Oktober 2018]. Dari tanggapan informan 1 dan informan 2 penulis melihat bahwa apa yang dikatakan misdinar sesuai dan valid. Kesulitan yang dialami responden yaitu “grogi pada saat awal tugas, komunikasi yang kurang sama teman-teman, membagi waktu dengan kegiatan sekolah”. 5) Pada saat mengalami kesulitan hidup dan kebahagiaan, apa yang dilakukan. Responden 1 Dengan penuh keyakinan dan lancar dalam menjawab: Jika aku mengalami kegagalan, aku akan berusaha untuk intropeksi diri sehingga aku dapat memperbaiki nilaiku untuk kedepannya. Kesulitan yang aku hadapi dalam hidupku, aku mencoba untuk selalu bawa dalam doa dan berusaha. Kayak aku bilang diawal tadi bahwa dalam perayaan Ekaristi adalah tempat paling nyaman untuk menyampaikan keluh kesah kita [wawancara, selasa 30 Oktober 2018]. Responden 2 dengan singkat menjawab: Yang aku lakukan yang pertama yaitu intropeksi diri dan membutuhkan waktu untuk memperbaikinya dan berdoa. Sebenarnya banyak kesulitan hidup yang aku jalani tapi semuanya ada solusinya. Aku juga sering berdoa pada saat mengalami kesulitan pada saat mengikuti perayaan Ekaristi. Serasa hati adem, tenang, percaya bahwa Tuhan akan bantu aku [wawancara, selasa 30 Oktober 2018]. Responden 3 kurang yakin untuk menjawab seperti berpikir keras: Berdoa dan bertanya kepada Tuhan dan berserah kepada Tuhan dan memperbaiki diri [wawancara, selasa 30 Oktober 2018]. Responden 4 sangat santai dan singkat dalam menjawab: Kesulitan yang aku hadapi dalam kegagalan nilai jelek dan kesulitan lain mohon pertolongan kepada Tuhan, dan Intropeksi diri dengan memperbaiki cara belajar [wawancara, selasa 30 Oktober 2018]. Responden 5 sangat berpikir keras dan ragu-ragu untuk menjawab: Jika mendapatkan nilai jelek aku belajar lebih giat. Kalau aku lagi emosi kegereja ketemu teman-teman dan mengikuti misa menjadi tenang dan berdoa.

(81) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 65 Kalau ada masalah hari-hari yang lalu minggu kegereja dan berdoa didepan bunda Maria seperti dikasih jalan [wawancara, selasa 30 Oktober 2018]. Responden 6 sedikit grogi namun tetap menjawab: Kesulitan yang aku hadapai cerita dengan orang tua terdekat, berdoa, cari solusi yang penting jangan panik [wawancara, Selasa 30 Oktober 2018]. Data yang diperoleh di atas dinyatakan valid karena telah divalidasi ulang dengan menggunakan sistem member check dengan cara meminta responden melihat kembali hasil wawancaranya. Sehingga penulis menilai bahwa pernyataan-pernyataan yang disajikan di atas dapat dipercaya kebenarannya. Wawancara bersama infroman 1 memberikan pernyataan bahwa ketika dihadapkan dalam persoalan hidup, mereka berdoa meminta pertolongan kepada Tuhan dan intorpeksi diri”. Jawaban ini diperkuat oleh orang tua yang mengatakan bahwa “anak-anak mulai mampu untuk membawa diri jika mengalami kesulitan, kenapa bisa terjadi dan langsung mengintorpeksi diri dan memperbaikinya dan meminta pertolongan kepada Tuhan” [wawancara 2, Selasa 6 November 2018]. Penulis juga melakukan wawancara kepada informan 2 yang lebih mengenal responden agar data valid. Pada saat mengalami kesulitan yang paling sering dilakukan oleh anak-anak adalah berdoa dan berserah kepada Tuhan dan intropeksi diri. Jawaban yang telah diberikan oleh responden dapat dikatakan valid dengan bukti yang telah diberikan oleh orang tua. Sedangkan informan 2, menurut saya pasti mereka meluangkan waktu berdoa dan cerita sama keluarga. Dari hasil ini wawanacara penulis melihat bahwa, hal yang dilakukan oleh misdinar jika mengalami kesulitan hidup sehari-hari yaitu “berdoa dan berserah diri kepada Tuhan, dan intropeksi diri”. Dari jawaban misdinar dapat disimpulkan bahwa Ekaristi belum menjadi sumber dan puncak dalam hidup mereka pada saat

(82) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 66 menghadapi kesulitan. Dari data ini yang diberikan misdinar valid dengan apa yang dikatakan oleh orang tua dan pendamping. b. Yang dilakukan jika mengalami kebahagiaan: Responden 1 dengan penuh keyakinan dan sangat lancar menjawab: Yang aku lakukan pada saat merasakan kebahagiaan yaitu aku membagikannya kepada orang-orang disekitar ku, misalnya pada saat aku ulang tahun. Rasa syukur yang lain aku mungkin ngak terang-terangan langsung berdoa kepada Tuhan tapi aku rasa syukurnya sepontan mengucapkan terimakasih kepada Tuhan. Rasa syukur juga sering aku sampai pada saat perayaan Ekaristi karna kan kayak aku bilang juga perayaan Ekaristi itu tempat mengucap syukur [wawancara, selasa 30 Oktober 2018]. Responden 2 dengan singkat menjawab: Bersyukur kepada Tuhan, kek trimakasih Tuhan karena sudah dikasih anugrah, berbagi buat orang lain, karena jika kita berbagi kepada orang lain itu sangat baik, yah misalnya aku ada rezeki yah traktir teman [wawancara, selasa 30 Oktober 2018]. Responden 3 dengan singkat menjawab seperti berpikir keras: Kalau naik kelas nilainya ditingkatkan kembali itu aja selain itu aku mengucap syukur kepada Tuhan, berdoa [wawancara, selasa 30 Oktober 2018]. Responden 4 sangat berpikir keras dan ragu-ragu menjawab: Tetap bersyukur tetap merayakan kegembiran dan berdoa, puncaknya juga kepada Tuhan aja. Mengucap syukur kan bisa dimana saja, yang penting ingat Tuhan. tapi aku juga tidak lupa menyampaikan rasa syukur kepada Tuhan melalui perayaan Ekaristi pada hari minggu [wawancara, selasa 30 Oktober 2018]. Responden 5 sangat singkat dalam menjawab: Kalau merasakan kebahagiaan tetap berdoa dan bersyukur kepada Tuhan [wawancara, selasa 30 Oktober 2018]. Responden 6 sedikit grogi namun tetap menjawab: Kalau merasakan kebahagiaan lebih semangat, dan beryukur kepada Tuhan [wawancara, selasa 30 Oktober 2018]. Data yang diperoleh diatas dinyatakan valid karena telah dinyatakan ulang dengan menggunkan sistem member chek dengan cara meminta responden melihat kembali hasil wawancaranya. Sehingga penulis menilai bahwa pernyataan-pernyataan yang disajikan diatas dapat dipercaya kebenarannya.

(83) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 67 Wawancara bersama informan 1 yang mengenal responden juga mengatakan bahwa yang dilakukan anak-anak pada saat merasakan kebahagiaan dalam hidup sehari-hari mengucap bersyukur, berdoa dan trimakasih kepada Tuhan dengan membagikan kebahagiaan kepada teman-teman jika ada rezeki. Orang tua juga mengatakan responden selalu mengandalkan Tuhan baik senang maupun susah. [Wawancara 1, sabtu 17 November 2018]. Jawaban yang diberikan oleh orang tua hampir sama dengan apa yang dikatakan oleh responden, kebahagiaan yang mereka rasakan mereka bersyukur, berdoa dan membagikan kepada orang disekitar jika ada rezeki. Informan 2 memberi tanggapan bahwa kebahagiaan yang di rasakan oleh anak-anak biasanya kelihatan langsung, misalnya pada saat misdinar kumpul, yah tertawa bersam teman-teman lain, kalau misalnya ulang tahun pasti ada aja mau traktir teman-teman lain. Kadang-kadang sih kalau anak-anak ada uang. Kalau berdoa bersyukur pasti anak-anak lakukan meskipun tidak kelihatan langsung tapi secara spontan anak-anak sudah mengucap syukur. Apa yang disampaikan oleh orang tua dan pendamping dapat dikatakan valid “bahwa rasa kebahagiaan yang mereka rasakan dilakukan dengan bersyukur, berdoa dan berbagi kepada teman jika ada rezeki”. c. Pelaksanaan tugas sebagai misdinar Responden 1: menjawab penuh keyakinan dan sangat lancar: Kalau awalnya ikut misdinar itu, dulu itu Cuma lihat teman eehh kayaknya seru itu ikut misdinar, sebenarnya aku juga bukan paroki sini cuman banyak temanku ikut misdinar di gereja Kotabaru ini. Pada saat awal ikut misdinar eee ternyata begini toh, aku pun merasakan fase bosan jarang tugas, jarang datang pertemuan. Pada saat jarang ikut pertemuan dan tugas, aku juga merasakan ada yang kurang, lalu aku aktif lagi di misdinar karena aktif itu aku jadi merasakan ternyata jadi pelayan Tuhan itu seru dan menyenangkan kok. Jika dari hati ikhlas ya kedepannya akan menyenangkan, pada saat tidak aktif ada yang kurang. Dari misdinar ini juga banyak belajar bahwa apa yang kita lakukan dari tulus hati pasti akan menyenangkan seperti sekarang aku dipercaya oleh kakak pendamping untuk mendampingi teman-teman misdinar

(84) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 68 yang lain, itu menjadi suatu mencapaian untuk diri sendiri bisa dipercaya oleh orang lain, karena aku bisa terlibat aktif di misdinar ini. Pengalaman aku sebagai pendamping yang baru, misalnya misdinar ada acara natal bersama dan kita pendamping yang membuat acara tersebut, sungguh bahagia jika teman-teman misdinar datang mengikuti acara tersebut meskipun rasa lelah dalam mempersiapkan acara tersebut membutuhkan waktu yang lama namun dari situ banyak belajar. Justru jadi pengurus sungguh merasakan ternyata susah senang dalam misdinar. Dukungan dari yang lain terus mencoba, selain itu orang tua juga pernah omong jika kamu dari kecil terus ikut organisasi besok kamu akan enak dan enjoy jika mendapatkan tugas dari sekolah selain itu kamu juga belajar untuk mengatur waktu, dukungan dari teman-teman yang lama juga masih saya dapat [wawancara, selasa 30 Oktober 2018] Responden 2 dengan sangat singkat menjawab: Dari diri sendiri sebenarnya, kalau aku melihat orang melayani kayak asik dan banyak dicintai orang [wawancara, selasa 30 Oktober 2018]. Responden 3 kurang yakin untuk menjawab: Karena ingin membantu Yesus untuk mewartakan sabda selain itu dari hati saya sendiri [wawancara, selasa 30 Oktober 2018]. Responden 4 sangat santai dan singkat dalam menjawab: Sebenarnya hanya ikut-ikut saja tapi meskipun hanya ikut-ikutan akhirnya ada keinginan dari hati sendiri [wawancara, selasa 30 Oktober 2018]. Responden 5 sangat berpikir keras dan ragu-ragu untuk menjawab: Dulu tidak tertarik, karena ada temanya anak nya ayah yang misdinar ditawarin lalu aku mendaftar, pertama kali tugas malas-malasan, beriringnya waktu ternyata temannya semakin banyak dan semakin rajin, nah sekarang aku dikasih kesempatan sebagai pendamping membantu teman-teman ini menjadi kesempatan buatku untuk belajar [wawancara, selasa 30 Oktober 2018]. Responden 6 sedikit grogi namun tetap menjawab: Dulu itu awalnya karena kakak saya, jadi pengen ikut. Ingin merasakan melayani Tuhan [wawancara, selasa 30 Oktober 2018]. Untuk mengecek kebenaran data penulis mengadakan member check kepada responden penelitian. Semua data wawacara divalidasi ulang dengan cara meminta responden melihat lagi dan memeriksa hasil transkrip wawancara sehingga penulis menilai pernyataan-pernyataan yang dikutip di atas adalah benar dan bisa dipercaya kebenarannya. Berdasarkan wawancara yang dilakukan kepada infroman 1 yang mengenal responden, anak-anak terlibat menjadi misdinar itu, rata-rata ikutan dari teman-teman

(85) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 69 dan dorongan orang tua. Untuk kesadaran dari diri sendiri masih sulit. Terkadang anak juga harus dingatkan untuk ikut pertemuan, karna rasa malas mereka masih kuat. Tapi sebagai orang tua tetap mendukung setiap aktivitas keterlibatan anak. Tapi saya melihat anak-anak semakin hari semakin senang untuk ikut terlibat menjadi misdinar tanpa ada rasa paksaan karna banyak bertemu teman dan belajar dari yang lain misal berorganisasi. Menurut informan 2 keterlibatan misdinar rata-rata itu tertarik karena melihat teman lalu didukung oleh orang tua dan mereka merasa aman dan menjadi daya tarik diri sendiri [wawancara, selasa 30 Oktober 2018]. Dari tanggapan orang tua dan pendamping mengatakan bahwa keterlibatan msdinar itu rata-rata dari teman dan dorongan orang tua dan akhirnya panggilan dari diri sendiri, dengan begitu data ini dapat dikatakan valid. d) Tujuan mengikuti perayaan Ekaristi Penulis bertanya kepada semua responden tentang apa yang membuat mereka mengikuti perayaan Ekaristi. Secara keseluruhan responden memberi jawaban yang berbeda-beda. Berikut tanggapan responden masing-masing. Responden 1 menjawab dengan penuh keyakinan: Kalau perayaan Ekaristi dari empat tahun yang lalu aku selalu berdoa kesembuhan buat papa, ekonomi keluarga dilancarkan, kebanyakan doa untuk keluarga. Tapi belakangan ini doaku selalu agar aku keterima disekolah negeri agar membantu meringankan biaya keluarga ku, selain itu ujudnya bersyukur masih dikasih kebahagian dan nafas kehidupan. Tujuan mengikuti perayaan Ekaristi pokoknya mengucap syukur [wawancara, selasa 30 Oktober 2018]. Responden 2 dengan singkat menjawab: Buat berdoa, berkumpul, untuk menyambut tubuh dan darah Kristus, dan untuk meyampaikan ujud-ujud doa [wawancara, selasa 30 Oktober 2018]. Responden 3 kurang yakin untuk menjawab seperti berpikir keras: Supaya disepanjang hidup rmemiliki tujuan yang sama dalam mengikuti perayaan Ekaristi yaitu ucapan syukur dan ujud-ujud doa pribadi terhadap Tuhan [wawancara 1, Selasa 30 Oktober 2018]

(86) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 70 Responden 4 sangat berpikir keras dan ragu-ragu menjawab: Hmm sebenarnya sih untuk minta pertolongan. Kadang-kadang sih malas ke gereja tapi tetap disuruh. Yah namanya kesulitan kita harus ke Gereja untuk berdoa. Namanya kesulitan harus kita minta sama Tuhan. Responden 5 sangat singkat dalam menjawab: Bersyukur kepada Tuhan dan berdoa, adanya juga ujud-ujud doa untuk kesehatan dan kebahagaian keluarga dan pribadi. Responden 6 sedikit grogi namun tetap menjawab: Tujuannya hmmm supaya memperbaharui iman supaya lebih kuat pokoknya bersyukur dan lebih mengembangkan iman, adanaya ujud-ujud pribadi. Wawancara informan 1 yang mengenal responden juga memberikan jawaban bahwa mereka mengikuti perayaan Ekaristi itu tujuannya “ada menyampaikan rasa syukur dan ujud-ujud doa pribadi”. Ujud doa yang mereka sampaikan yaitu tentang keluarga dan diri sendiri. Menurut pendamping tujuan misdinar mengikuti perayaan Ekaristi “Itu sudah kewajiban umat katolik, anak-anak juga harus terlibat melayani dan dalam Ekaristi anak-anak pasti untuk berdoa kepada Tuhan untuk keluarga dll. [Wawancara 1, Sabtu 17 November 2018]. Apa yang dikatakan oleh informan 1 dan informan 2 sangat membantu, Sehingga data yang valid adalah “tujuan mereka mengikuti perayaan Ekaristi untuk berdoa, dan adanya ujud-ujud doa pribadi mengenai keluarga dan diri sendiri” [wawancara 2, Selasa 30 Oktober 2018]. 3. Pembahasan Hasil Penelitian Pada bagian ini penulis akan membahas fenomologis kualitatif: makna perayaan Ekaristi bagi anggota misdinar di Paroki Santo Antonius Padua Kotabaru Yogyakarta. Fenomologis kualitatif makna perayaan Ekaristi ini dibagi menjadi (1) Fenomologis tentang pemahaman mengenai arti Ekaristi; (2) Fenomologis tentang makna perayaan Ekaristi;

(87) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 71 A. Pemahaman Ekaristi bagi anggota Misdinar Penulis menemukan keragaman tentang jawaban dari remaja terkait pemahamn makna mengenai Perayaan Ekaristi. Hal ini bukan karena keluasaan tema Ekaristi itu sendiri melainkan karena keragaman pemahaman dan cara pandang masing-masing dari responden yang berbeda-beda. Berdasarkan hasil penelitian secara umum penulis menyimpulkan bahwa pemahaman responden mengenai Ekaristi yaitu. 1. Pemahaman arti Ekaristi bagi anggota misdinar Arti Ekaristi yang diberikan oleh mereka “tempat berkumpul, berdoa dan bersyukur kepada Tuhan” arti yang diberikan oleh mereka tidak dapat jelaskan secara rinci dan mendalam karena Pemahaman mereka sebatas hafalan berarti mereka tak paham apa arti perayaan Ekaristi yang sebenarnya. Begitu juga dengan makna ritusritus perayaan Ekaristi misdinar tidak dapat memaknai setiap ritus-ritus perayaan Ekaristi, mereka hanya sekedar menghafal dan apa yang mereka ucapkan tidak dapat di jelaskan secara mendalam. 2. Makna perayaan Ekaristi bagi anggota misdinar Makna perayaan Ekaristi Pada saat mereka mengikuti perayaan Ekaristi ada macam-macam yang diperoleh mereka yaitu “dapat pelajaran baru mengenai Injil pada saat romo memberikan homili, berdoa memohon pertolongan Tuhan untuk kehidupan sehari-hari dan jika mengalami kesulitan dapat dibantu oleh Tuhan, lebih dekat dengan Tuhan dan bertobat”. Makna yang diucapkan oleh mereka tidak sesuai dengan apa yang mereka katakan karena informan 1 mengatakan bahwa mereka masih sulit untuk terlibat mengikuti perayaan Ekaristi pada saat tidak bertugas,

(88) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 72 Mereka belum paham bagaimana mereka memaknai Ekaristi. Mereka harus mendalami Ekaristi itu apa, baru mereka bisa memaknai. Kesulitan-kesulitan hidup yang dihadapi oleh mereka, dengan melakukan upaya untuk tempat berdoa dan berserah diri kepada Tuhan, dan intropeksi diri. Dalam mengalami kesulitan mereka selalu bawa dalam doa. Ekaristi belum menjadi sumber dan puncak dalam hidup mereka pada saat menghadapi kesulitan dan kebahagiaan yang dilakukan berbagi kepada teman. Tujuan mereka untuk mengikuti perayaan Ekaristi khususnya “ada rasa syukur dan wujud-wujud doa pibadi dan keluarga”. Dari tujuan yang diungkapkan mereka maknanya mereka berdoa belum tentu ada hubungannya dalam kehidupan sehari-hari yaitu pada saat kesulitan dan kebahagiaan. Tapi untuk keinginan, masih kurang lebih pada keluarga. Pemahaman mereka sebatas hafalan saja berarti tak paham tujuan mereka mengikuti perayaan Ekaristi tempat untuk berdoa. 3. Keterlibatan menjadi misdinar Keterlibatan mereka sebagai misdinar masih tetap terlibat aktif. Keterlibatan mereka sebagai misdinar memiliki dorongan yang berbeda-beda. Hampir semua responden terlibat menjadi misdinar awalnya hanya ikut-ikutan saja namun mereka sekarang benar-benar menjadi pelayan altar dari keinganan hati mereka. Karena merasakan bahwa melayani Tuhan sangatlah seru dan bahagia. Sebagai misdinar memiliki kesulitan yang dihadapi pada saat bertugas maupun tidak bertugas yaitu grogi pada saat awal bertugas, komunikasi yang kurang sama teman-teman dan membagi waktu dengan kegiatan sekolah. Meskipun begitu mereka tetap terlibat aktif dan kompak.

(89) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 73 Melalui pembahasan hasil penelitian mengenai makna Ekaristi pendapat yang diberikan oleh misdinar tidak dapat dijelaskan lebih lanjut karena apa yang mereka ketahui hanya sekedar hafalan. Cara pemahaman misdinar mengenai Ekaristi masih sangat sederhana sesuai dengan tahap pemikiran anak-anak yaitu melalui cerita, simbol, narasi. B. Usulan Program Untuk menindak lanjuti temuan penelitian ini, penulis mengajukan usulan program berupa rekoleksi untuk meningkatkan pemahaman misdinar mengenai makna perayaan Ekaristi. 1. Latar Belakang Misdinar adalah salah satu dari pelayan altar yang membantu para imam pada saat perayaan Ekaristi. Memang itulah yang menjadi tugas utama misdinar. Akan tetapi kegiatan misdinar tidak hanya itu. Misdinar bersama teman-teman yang lainnya sering berkumpul bersama setelah misa berakhir dan mengadakan kegiatan bersama. Bahkan misdinar mempunyai kelompok tersendiri, lengkap dengan ketua dan pengurusnya segala. Disini misdinar benar-benar dilatih dalam berorganisasi yang benar dan bertanggung jawab. Berdasarkan hasil penelitian, yang diperoleh bahwa misdinar di paroki Santo Antonius Padua Kotabaru Yogyakarta sebagian masih belum memahami dan memaknai perayaan Ekaristi. Arti perayaan Ekaristi bagi misdinar masih sebatas tempat berkumpul untuk berdoa, bersyukur kepada Tuhan dan mendengarkan sabda Tuhan untuk kehidupan hari-hari. Hal ini menyebabkan mereka sekedar menghafal dan apa yang mereka ucapkan tidak dapat di jelaskan secara mendalam.

(90) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 74 Pemahaman misdinar mengenai Ekaristi masih sangat terbatas dapat dilihat berdasarkan dari teori mengenai tahap perkembangan kepercayaan anak. Yang pertama itu tahap Mitis harfiah usia 6-11 tahun anak memahami Ekaristi dapat melalui narasi, simbol dan cerita. Tahap sintetis-konvensional 12-17 tahun anak memahami nya dengan ajaraan-ajaran Gereja yang ada sedangkan individuatifreflektif dewasa memahaminya dengan refleksi pribadi (fowler 1995:117). Dari tahapan-tahapan yang dialami oleh anak hingga remaja mengenai pemahaman Ekaristi masih dengan cara hal yang sangat sederhana dan mereka hanya mampu memahami sesuai dengan kemampuan mereka dan belum sampai pada tahap refleksi sehingga remaja belum mampu memaknai Ekaristi secara mendalam dan masih pada tahap pertama dan kedua. Sesuai dengan apa yang didapatkan misdinar pada saat bertugas atau mengikuti perayaan Ekaristi. Sehingga perkembangan iman mereka belum mendalam. Permasalahan yang dihadapi oleh misdinar yaitu pemahaman mengenai Ekaristi dan ritus-ritus perayaan Ekaristi, dan memaknai perayaan Ekaristi didalam kehidupan sehari-hari. Untuk membantu remaja agar dapat mengembangkan iman mereka melalui perayaan Ekaristi diharapkan kegiatan misdinar yang diadakan dapat dibuat menarik terutama mengenai Ekaristi yang dekat dengan tugas pelayanan mereka. Melalui usulan pertama program ini diharapkan misdinar, sungguh terbantu untuk mengerti mengenai Ekaristi, sehingga misdinar terbantu untuk memaknai perayaan Ekaristi. Mendorong atau mengarahkan mereka agar semakin berusaha dan bertanggung jawab dalam melaksanakan tugas. Sehingga misdinar benar-benar dapat melibatkan Ekaristi didalam kehidupan sehari-hari sebagai sumber dan puncak hidup

(91) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 75 mereka. Makna Ekaristi yang didapatkan misdinar bermanfaat bagi kehidupan seharihari misdinar. Penulis mengusulkan rekoleksi sebagai usulan program untuk misdinar karena kegiatan rekoleksi misdinar yang menarik akan membangun niat dan kesenangan untuk mengikuti dan pada akhirnya membentuk niat-niat konkret sebagai buah dari rekoleksi yang akan memperkembangkan iman mereka baik pelayanan di Gereja maupun dimasyarakat. Melalui rekoleksi ini, misdinar akan dikenalkan mengenai sakramen dan liturgi Ekaristi yang selama ini dekat dengan tugas pelayanan mereka. Pemaknaan Ekaristi dikemas dengan bahasa yang ringan dan cukup mudah dipahami oleh misdinar dimana mereka adalah umat pada usia remaja. Kegiatan rekoleksi ini dikemas dengan dinamika kelompok yang menarik yang akan membangun persekutuan yang solid dalam organisasi misdinar ini sehingga mudah bersama-sama melayani masyarakat. 2. Tujuan Program Program yang diusulkan penulis ini memiliki tujuan agar Misdinar Paroki Kotabaru semakin memiliki pengertian yang mendalam mengenai Ekaristi dan semakin memaknai Ekaristi dalam kehidupan sehari-hari. 3. Usulan Kegiatan Rekoleksi a. Tema Umum Kegiatan rekoleksi ini mengakat tema: “sakramen Ekaristi dalam hidupku” tema ini diambil untuk membantu Misdinar Paroki Santo Antonius Padua Kota Baru semakin memiliki pengertian yang mendalam mengenai Ekaristi dan semakin memaknai Ekaristi dalam kehidupan sehari-hari.

(92) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 76 b. Tujuan Rekoleksi Tujuan rekoleksi ialah bersama pendamping peserta semakin memahami arti mengenai perayaan Ekaristi sehingga peserta mampu memaknai perayaan Ekaristi. c. Peserta Peserta Rekoleksi adalah Seluruh anggota misdinar di Paroki Santo Antonius Padua Kotabaru, Yogyakarta. d. Tempat dan waktu Rekoleksi ini dilaksanakan pada bulan 25 Mei 2019 pukul 08.00- 15.00 WIB di Aula widyamandala Paroki Santo Antonius Padua Kotabaru, Yogyakarta. e. Bentuk dan metode Rekoleksi dilaksanakan dengan diawali dengan dinamika kelompok. Menggali pengalaman, penyampaian materi, sharing kelompok, refleksi pribadi, peneguhan dan ditutup dengan perayaan Ekaristi. Metode yang digunakan dalam rekoleksi ini yaitu dibuka dengan gerak dan lagu, dinamika kelompok, penggalian pengalaman, ceramah/ informasi, diskusi dan sharing pengalaman. f. Sarana Pendukung untuk memperlancar pelaksanaan rekoleksi adalah laptop, hand out, LCD, sound system dan speaker g. Materi Yesus memberikan diri-Nya kepada kepada kita dalam rupa tubuh dan darahNya

(93) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 77 •  Ekaristi: Sumber dan puncak seluruh perayaan liturgi dan bahkan seluruh hidup kristiani (LG.11)  Ekaristi artinya perayaan syukur. Ekaristi berarti pengungkapan syukur kita kepada Tuhan atas rahmat dan berkat yang telah kita terima sepanjang hari, minggu, dan bulan. Jadi, bila kita merayakan ekaristi, berarti kita merayakan hidup yang sudah dianugerahkan Tuhan kepada kita.  Ekaristi: Yesus yang mengurbankan diri-Nya bagi kita (tubuh dna darah-Nya).

(94) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 78 Apa makna Roti/hosti kudus?  Roti/hosti adalah lambang tubuh Yesus. • Yesus memberikan tubuh-Nya kepada kita supaya kita memperoleh kekuatan dan hidup. • Yesus seperti hosti yang dipecah-pecah bagi kita supaya kita pun berbagi dengan sesama kita yang berkekurangan, miskin dan kelaparan. Apa makna Anggur kudus? • Anggur adalah lambang darah Yesus yang dikorbankan bagi kita untuk menebus dosa-dosa kita. Darah Yesus mengalir dari lambung Yesus saat Ia disalibkan. • a.  Anggur lambang air kehidupan. Materi sesi 2: Menjadi roti yang terpecah Sakramen adalah tanda dan sarana keselamatan Allah kepada manusia yang dihadirkan dalam diri Yesus Kristus.

(95) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 79  Ekaristi artinya syukur. Ekaristi berarti pengungkapan syukur kita kepada Tuhan atas rahmat dan berkat yang telah kita terima sepanjang hari, minggu, dan bulan. Jadi, bila kita merayakan ekaristi, berarti kita merayakan hidup yang sudah dianugerahkan Tuhan kepada kita. Tiga hal menjadi pribadi yang Ekaristi : Kis. Par. 2:24-47Tekun mendalami ajaran iman dalam kelompok (keluarga, lingkungan dan kelompok kategorial). Tekun berkumpul untuk berdoa bersama dan makan bersama dengan gembira dan tulus hati (memecahkan roti)  Saling berbagi harta kekayaan (rohani dan material)  Sehati, sejiwa, seperasaan dengan Yesus Ekaristi (Mgr. I. Suharyo)  Mensyukuri anugerah Allah dalam hidup kita  Memohon ampun atas segala dosa dan kesalahan kita  Merefleksikan hidup kita dalam terang sabda Allah yang kita dengarkan  Mempersembahkan hidup kita dan memperbarui komitmen hidup beriman  Siap diutus menjadi pribadi dan keluarga yang ekaristis (pemberian diri) Ekaristi (Paus Yoh.Paulus II)  Menjadi pelopor diwujudkannya persekutuan dan persaudaraan, perdamaian dan solidaritas dalam segala situasi.  Turut mencari jalan keluar untuk mengatasi salah satu bentuk kemiskinan dalam dunia (pendidikan, moral, iman dll) :keluarga, sekolah, Gereja dna masyarakat. Menerima Hosti artinya:  Menerima Yesus yang menyelamatkan manusia  Membangun relasi yang lebih dekat dengan Yesus

(96) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 80  Menyatakan diri sebagai anggota Gereja (siap menerima tugas dan tanggungjawab sebagai anggota Gereja). h. Susunan Acara rekoleksi Waktu Acara Petugas 08.00-08.30 -check in dan ice breaking Pendamping -salam pengantar 08.30-08.45 Pembuka Pendamping dan peserta. --Sapaan dan salam - Lagu pembuka: gerak dan lagu - Doa Pembuka Sesi I 08.45-09.15 -Penggalian pengalaman Pendamping dan peserta 09.15-10.30 Snack Petugas khusus 10.30-10.45 Dinamika kelompok (Pesan Pendamping Berantai) Sesi II 10.45-11.20 Yesus sebagai sumber hidup Pendamping dan peserta dan puncak 11.20-11.45 Sharing pengalaman Pendamping (pengalaman hidup mengenai memaknai Ekaristi) Sesi III

(97) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 81 11.45-12.30 -menjadi roti yang terpecah Pendamping 12.30-13.00 Makan siang Khusus 13.00-13.25 Sesi pertanyaan Romo 13.25-13.40 Refleksi pribadi Romo &Pendamping Sesi IV 13.40-14.15 -Peneguhan Pendamping 14.15-15.15 -Misa Penutup Romo Paroki 15.15- 15.30 Terimaksih dan sayonara Pendamping dan peserta (selesai) -Lagu Penutup: “ kumau cinta Yesus selamanya” i. Detail kegiatan Salam dan pengantar Pendamping menyapa selamat pagi selamat datang kepada Misdinar peserta rekoleksi, selanjutnya mengucapkan terimakasih atas kesempatan yang diberikan sehingga dapat berkumpul bersama untuk melaksanakan rekoleksi. Pendamping juga menyampaikan tujuan pelaksanaan rekoleksi agar rekoleksi dapat berjalan dengan lancar dan memberikan manfaat bagi peserta rekoleksi. Lagu Pembuka Yesus pokok Dan kitalah cara-Nya Tinggalah di dalamNya Yesus pokok

(98) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 82 Dan kitalah caraNya Tinggallah di dalamNya Yesus pokok Dan kitalah caraNya Tinggallah di dalamNya Pastilah kau akan berbuah Yesus cintaku, ku cinta Kau Pembukaan Pendamping: Adik-adik, saat ini kita memasuki kegiatan pertemuan kita dengan hati yang gembira dan bebas, sebab Tuhan hadir dan ada dengan kita di sini. Kita bergembira karena kita bisa berkumpul bersama sebagai saudara. Kita disatukan karena memiliki iman yang sama. Dan terlebih karena kita mempunyai tanggung jawab dan pelayaanan yang sama. Selama ini kita sudah menjalankan tugas kita pelayan dalam perayaan Ekaristi. Sebuah tugas yang sangat mulia. Ada banyak kegembiraan, suka dan duka yang sudah kita alami dalam menjalankan tugas ini. Pada sore hari ini kita diajak untuk hening sejenak melihat kembali tugas pelayanan kita selama ini. untuk itu mari kita menyadari kehadiran Tuhan dalam kegitan ini seraya memohon rahmat-Nya, agar dapat berjalan Doa pembuka: Bapa yang mahabaik, kami bersyukur dan bertrimakasih kepada-Mu karena pada pagi hari ini Engkau berkenan hadir ditengah-tengah kami. Bapa saat ini kami berkumpul di tempat ini ingin mendalami bersama tentang Ekaristi dan ritus-ritus liturgi. Bapa bimbinglah kami agar semakin dapat mendalami makna Ekaristi dalam hidup sehari-hari kami. Bapa, doa dan harapan ini kami haturkan ke dalam tangan-Mu dengan perantaraan Kristus Tuhan kami. Amin.

(99) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 83 Sesi I: diawali perayaan Ekaristi. Dinamika kelompok: “Pesan Berantai”. Teknis Pelaksanaan : 1. Bagi peserta anda menjadi dua atau tiga kelompok 2. Tempatkan masing-masing kelompok berdiri berbanjar di ruang training 3. Panggil masing-masing satu orang paling pangkal dari kelompok untuk melihat dan menghafal teks pesan yang telah anda sediakan 4. Tingkat kesulitan teks pesan tergantung dari kemampuan peserta anda 5. Setelah ketiga peserta tersebut menghafal teks yang anda perlihatkan, lalu mereka membisikkan ke peserta lain dalam kelompoknya, sampai pesan itu berakhir pada peserta paling ujung dari kelompok tersebut dengan mencatatkan pada selembar kertas pesan yang dia terima tadi. 6. Pelatih memanggil peserta paling akhir tersebut, secara bergantian membacakan pesan terakhir yang dia terima dan telah dicatatnya tadi 7. Pelatih mengamati proses permainan jika ada yang berbuat curang dan memberikan penilaian yang didasarkan pada hasil akhir komunikasi berantai tersebut Sesi II: Menggali pengalaman dalam kelompok: 1. Apa yang kamu ketahui mengenai arti perayaan Ekaristi? 2. Jelaskan makna ritus-ritus Ekaristi bagi hidup sehari-hari? 3. Makna apa yang dapat kamu ambil pada saat perayaan Ekaristi untuk kehidupan sehari-hari? Sesi IV: Doa Penutup: dipimpin oleh satu peserta Lagu penutup: “Kumau Cinta Yesus Selamanya” Ku mau cinta Yesus selamanya (2x) Meskipun badai silih berganti dalam hidupuku.

(100) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 84 Kutetap cinta yesus selamanya. Ya Abba Bapa ini aku anakMu. Layakanlah seluruh hidupku. Ya Abba Bapa ini aku anakMu. Pakailah sesuai dengan rencaMu. C. REFLEKSI Melalui penelitian yang dilakukan di paroki Santo Antonius Kotabaru Yogyakarta, Misdinar masih kurang memahami Ekaristi dan memaknai dalam kehidupan sehari-hari mereka. Perayaan Ekaristi adalah sumber dan puncak hidup kristiani (LG 11). Seharusnya Ekaristi menjadi sumber dan puncak keseluruhan hidup kristiani. Namun pada kenyataannya perayaan Ekaristi hanya dipandang sebagai tempat untuk berdoa, bersyukur, mengembangkan iman dan melayani. Mereka belum membawa Ekaristi sebagai sumber dan puncak iman mereka. Ada kalanya ketika mereka memiliki kesulitan didalam hidup sehari-hari, mereka harusnya membawa seluruh permasalahan hidupnya ke dalam Ekaristi. Mereka belum bisa memaknai Ekaristi dalam hidup sehari-hari mereka dan menjadikan Ekaristi sumber dan puncak keseluruhan hidup mereka. Dalam perayaan Ekaristi, penulis melihat bahwa misdinar memang terlibat aktif menjadi pelayan Altar, namun pengetahuan mereka mengenai Ekaristi masih kurang. Pengetahuan yang dimiliki misdinar sekedar pemahaman alat-alat liturgi, cara bertugas dan warna-warna liturgi. namun untuk maknanya misidnar belum memahaminya. Sebagai misdinar diharapkan untuk memiliki pengetahuan yang luas dan mendalam supaya dalam perayaan Ekaristi benar-benar memahami perayaan Ekaristi yang di rayakan agar makna yang didapat dapat berguna bagi kehidupan sehari-hari.

(101) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 85 Melalui penelitian ini saya menyadari bahwa Ekaristi tidak hanya pusat seluruh liturgi Gereja, tetapi juga menjadi sumber dan puncak kehidupan Gereja. hal ini didukung dengan tegas oleh LG 11 yang menyatakan: Dengan ikut serta dalam kurban Ekaristi, sumber dan puncak seluruh hidup kristiani mereka mempersembahkan Anak domba Ilahi dan diri sendiri bersama dengan-Nya kepada Allah: demikianlah semua menjalankan peranannya sendiri dalam perayaan liturgi, baik dalam persembahan maupun dalam komuni suci, bukan dengan campur baur, melainkan masing-masing dengan caranya sendiri. Kemudian, sesudah memperoleh kekuatan dari tubuh Kristus dalam perjamuan suci, mereka secara konkret menampilkan kesatuan umat Allah, yang oleh sakramen mahaluhur itu dilambangkan dengan tepat dan diwujudkan secara mengagumkan. Ekaristi sebagai sumber dan puncak seluruh hidup kristiani menunjuk bahwa Ekaristi tidak terpisahkan dengan kehidupan sehari-hari. Hidup sehari-hari memperoleh kekuatan dan dasarnya dari Ekaristi sebagai sumber. Ekaristilah yang memberi kekuatan yang menjiwai dan menggerakan seluruh hidup orang kristiani dalam mengarungi kesulitan-kesulitan dalam kehidupan dan melalui komuni suci kita bersatu didalam tubuh Kistus. Segala sesuatu yang kita hadapi harus tertuju dan mengarah kepada Ekaristi sebagai puncaknya. Dalam proses penelitian yang dilakukan, penulis sungguh bersyukur karena semakin dapat belajar dan menimba pengalaman yang baru dari setiap responden dan memperoleh ilmu baru mengenai Ekaristi dari berbagai sumber yang sangat kredibel. Selain dalam hal kemampuan yang diperoleh, penulis semakin diteguhkan dan dapat mengambil nilai-nilai yang dapat memperkembangkan penulis sebagai calon katekis dan guru agama Katolik. Penulis belajar menjadi pribadi yang rendah hati, sabar, semangat, tekun dan pantang menyerah selama proses penelitian ini berlangsung sehingga penelitian ini dapat terselesaikan berkat karya Tuhan yang luar biasa. Memang banyak tantangan dan hambatan yang menghadang, namun penulis selalu berjuang demi terselesaikannya penulisan skripsi ini, berkat dukungan dari pihak yang semakin memotivasi penulis. Perjumpaan dengan misdinar semakin

(102) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 86 menyadarkan penulis betapa pentingnya pemahaman akan Ekaristi sehingga dapat dijadikan pedoman dalam bertindak dan dapat mengambil makna Ekaristi dalam bagi kehidupan sehari-hari. Penulis sebagai calon katekis semakin terpanggil untuk membantu misdinar agar memiliki pengetahuan yang mendalam mengenai Ekaristi, sehingga mereka memiliki pengetahuan yan mendalam agar keseimbangan sebagai misdinar dapat menjadi lengkap baik pengalaman ataupun pengetahuan. Selain itu agar mereka dapat memaknai Ekaristi sebagai sumber dan puncak iman mereka. D. Keterbatasan Penelitian Hasil penelitian ini, memberikan kesimpulan bahwa ada makna perayaan Ekaristi terhadap anggota misdinar di Paroki Santo Antonius Padua Kotabaru Yogyakarta. Dari kesimpulan tersebut, diketahui bahwa keaktifan misdinar menjadi pelayan altar juga membantu untuk memaknai Ekaristi dalam hidup sehari-hari. Selama proses penelitian ini baik dari persiapan, pelaksanaan, menganalisis data dan penyusunan, penulis menyadari bahwa keseluruhan proses penelitian masih ada kekurangan dan belum sepenuhnya sempurna. Berikut ini dipaparkan secara singkat beberapa keterbatasan dalam penelitian ini. 1. Keterbatasan penelitian kualitatif adalah sulit untuk menperdalam data. Peneliti sulit untuk mendapatkan data yang lebih dari hasil wawancara (penelitian wawancara kurang mendalam). Hal ini dikarenakan pada saat melakukan wawancara dan observasi, alat utama dalam pengumpulan data adalah alat perekam suara untuk memudahkan peneliti dalam pengambilan dan pengumpulan data.. Melalui wawancara ini membantu responden untuk menjawab dan analisis data menggunakan reduksi data,penyajian data, dan verifikasi (mengharuskan

(103) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 87 peneliti harus pandai menganalisis data secara reduksi data,penyajian data, dan verifikasi yang diperoleh) 2. Kelemahan Desain Studi Kasus Dalam arti penelitian difokuskan pada satu fenomena saja yang dipilih dan ingin dipahami secara mendalam. Responden yang diteliti masih sulit untuk menjawab pertanyaan yang secara mendalam, (b) Strategi penelitian yang fleksibel itu mengkombinasikan berbagai teknik untuk mendapatkan data yang valid (membutuhkan waktu yang lama untuk melakukan wawancara keresponden yang lain untuk memvalidkan data. 3. Bahan dan penelitian buku-buku referensi belum optimal mendukung penelitian ini. Peneliti mengalami keterbatasan dalam mencari buku-buku acuan yang mendukung penelitian ini khususnya mengenai misdinar yang memiliki sumber referensi buku yang terbatas. 4. Peneliti melakukan wawancara kepada masing-masing responden yang telah ditemui langsung di Gereja dengan hari dan waktu yang berbeda. Sehingga memerlukan waktu yang cukup lama dalam melakukan wawancara. 5. Data yang diperoleh dalam penelitian ini diasumsikan bahwa responden menjawab pertanyaan instrumen sesuai dengan pengetahuan dan pengalaman yang sebenarnya dengan penuh kejujuran serta keterbukaan sehingga kebenaran data dapat dianalis dengan baik. Bila responden yang diwawancara tidak sesuai dengan realitas dan pengalaman yang sebenarnya, kesimpulan dapat berbeda dan kebenaran data tidak dapat diukur dengan baik. 6. Peneliti memiliki keterbatasan dan kekurangan dalam pengetahuan dan kemampuan membuat pertanyaan yang mudah dipahami oleh remaja, sehingga peneliti harus menjelaskan dengan cara yang sederhana kepada remaja.

(104) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 88 7. Penulis juga menyadari adanya keterbatasan dan kelemahan, bukan hanya dalam penyusunan skripsi ini, namun juga secara pribadi penulis memiliki kelemahan dalam menganalisis data, sehingga membutuhkan waktu yang lama.

(105) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Ekaristi merupakan sumber dan puncak hidup kristiani, Ekaristi hendaknya dijadikan pedoman dalam kehidupan sehari-hari oleh umat Katolik yang mengimani Kristus. Karena melalui Ekaristi kita memiliki tujuan hidup yang menuju pada Allah. Melalui perayaan Ekaristi kita dapat berkumpul, bersyukur dan memuliakan nama Tuhan. Beberapa poin simpulan berdasarkan hasil penelitian tentang makna Ekaristi bagi anggota Misdinar Paroki Antonius Padua Kotabaru, Yogyakarta, sebagai berikut: Pengertian Misdinar Paroki Santo Antonius Padua Kotabaru, mengenai arti perayaan Ekaristi adalah tempat berkumpul, berdoa dan bersyukur kepada Tuhan Berdasarkan pemahaman berikut menunjukkan bahwa mereka memiliki pemahaman mengenai Ekaristi masih sekedar hafal. Dengan terlibatnya mereka sebagai misdinar membantu mereka perlahan-lahan memahami mengenai Ekaristi. Misdinar menjelaskan Makna ritus-ritus perayaan Ekaristi, pembuka itu sebagai awal Ekaristi. Liturgi sabda: mendengar sabda Tuhan dan mendapatkan nilai untuk kehidupan sehari-hari. liturgi sabda: adannya konsekrasi untuk penghormatan Kristus. Penutup: kita mendapatkan berkat dari Tuhan dan berani bersaksi mengenai sabda Allah. Dari jawaban tersebut misdinar masih kesulitan untuk menjelaskan makna ritus-ritus perayaan Ekaristi. Mereka sekadar mengetahui yang akan dilakukan dalam setiap ritus. Arti yang diberikan oleh mereka tidak dapat jelaskan secara rinci dan mendalam karena Pemahaman mereka sebatas hafalan berarti mereka tak paham apa arti perayaan Ekaristi yang sebenarnya. Begitu juga dengan makna ritus-ritus perayaan

(106) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 90 Ekaristi misdinar tidak dapat memaknai setiap ritus-ritus perayaan Ekaristi, mereka hanya sekedar menghafal dan apa yang mereka ucapkan tidak dapat di jelaskan secara mendalam Makna perayaan Ekaristi misdinar Paroki Santo Antonius Padua Kotabaru Yogyakarta, dibagi kedalam makna secara primer dan sekunder Makna perayaan Ekaristi secara primer mengatakan bahwa makna yang mereka dapatkan pada saat mengikuti perayaan Ekaristi dapat pelajaran baru mengenai injil pada saat romo memberikan homily dan tempat berdoa memohon pertolongan Tuhan untuk kehidupan sehari-hari. Jika mengalami kesulitan dapat dibantu oleh Tuhan, lebih dekat dengan Tuhan dan bertobat. Kesulitan-kesulitan hidup yang dihadapi mereka, melakukan upaya dengan “berdoa dan berserah diri kepada Tuhan, dan intropeksi diri. Dalam mengalami kesulitan mereka selalu bawa dalam doa. Ekaristi belum menjadi sumber dan puncak dalam hidup mereka. Pada saat menghadapi kebahagiaan yang dilakukan mereka berbagi kepada teman. Tujuan mereka untuk mengikuti perayaan Ekaristi khususnya ada Syukur dan ujud-ujud doa pibadi dan keluarga. Dari tujuan yang diungkapkan mereka maknanya mereka berdoa belum tentu ada hubungannya dalam kehidupan sehari-hari yaitu pada saat kesulitan dan kebahagiaan. Tapi untuk keinginan, masih kurang lebih pada keluarga. Pemahaman mereka sebatas hafalan berarti tak paham tujuan mereka mengikuti Ekaristi hanya berdoa. Faktor pendorong dan penghambat sebagai misdinar paroki Santo Antonius Padua Kotabaru Yogyakarta. keterlibatan misdinar sebagai pelayan altar memiliki dorongan ikut teman dan saudara Meskipun mereka awalnya terlibat menjadi misdinar tidak dari hati semua, namun dengan beiringnya waktu mereka benar-benar mengakui bahwa sekarang menjadi misdinar sudah dari hati yang paling tulus, karena merasakan hal-hal yang positif dan banyak menambah pengalaman dalam

(107) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 91 berorganisasi. Sebagai misdinar juga memiliki kesulitan yang dihadapi yaitu harus mampu membagi waktu kegiatan sekolah dan bangun pagi pada saat tugas harian, komunikasi antar teman yang masih sulit karena belum terlalu mengenal teman lebih dalam, kurangnya latihan pada saat bertugas dapat lupa urutan tugas selanjutnya, awal bertugas menjadi misdinar mengalami grogi dan gugup. Kesulitan yang dialami misdinar akhirnya dapat terlewati dengan keterlibatan mereka secara terus-menerus secara aktif untuk belajar menjadi misdinar yang handal. B. SARAN Berdasarkan realitas yang ada, penulis akan mengungkapkan beberapa saran kepada pihak yang terkait supaya misdiar paroki Santo Antonius Padua Kotabaru Yogyakart lebih memahami dan memaknai Ekaristi dalam hidup sehari-hari. 1. Kepada Pastor Paroki dan Pembina Paroki Santo Antonius Padua Kotabaru Yogyakarta agar dapat memberikan pembekalan dan pendampingan mengenai Ekaristi agar Misdinar lebih mengerti, memahami dan memaknai Ekaristi sebagai sumber dalam hidup sehari-hari 2. Kepada Misdinar Paroki Santo Antonius Padua Kotabaru Yogyakarta supaya lebih banyak belajar tentang Ekaristi dan selalu berupaya untuk terlibat aktif sebagai misdinar agar semakin memaknai Ekaristi sebagai pucak dalam hidup sehari-hari.

(108) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 92 DAFTAR PUSTAKA Fowler, James W. (1995) Tahap-tahap Perkembangan Kepercayaan. Yogyakarta: Kanisius. Gabriel, F.X (1997) Seluk-Beluk Putra-Altar. Malang: Lumen Christi __________ . (2001) Buku Pintar Misdinar. Yogyakarta: Yayasan Pustaka Nusatama Konsili Vatikan II. (1990) Sacrosanctum Concilium. R. Hardawiryana, Jakarta: departemen Dokumentasi dan penerangan KWI Kohlberg Lawrence. (1995) Tahap-tahap Perkembangan Moral. Yogyakarta: Kanisius. Kitab hukum kanonik. (2006) (editor dan penerjemah Dr. Rubiyatmoko) Bogor: Grafika Mardi Yuana. Konferensi WaliGereja. (1996) Iman Katolik: Buku Informasi dan Referensi. Yogyakarta: Kanisius __________. (2016.) Kitab Hukum Kanonik: Bogor: Grafika Lembaga Biblika Indonesia. (2014) Kitab Suci Katolik. Ende: Arnoldus Ende. Martasudjita, Emanuel (1999) Pengantar Liturgi : Makna, Sejarah dan Teologi Liturgi. Yogyakarta: Kanisius. __________. (2003) Sakramen-sakramen Gereja: Tinjauan Teologis dan Liturgis, dan Pastoral. Yogyakarta: Kanisius. __________. (2005a) Ekaristi: Tinjauan Teologis, Liturgis, dan Pastoral. Yogyakarta: Kanisius. __________. (2005b) Tentang Ekaristi. Yogyakarta: Kanisius __________. (2011) Liturgi Pengantar untuk Studi dan Praksis Liturgi. Yogyakarta: Kanisius Madya Utama Ignatius L. (2017) Sakramentologi. Diktat Prodi IPPAK Sanata Dharma Yogyakarta. Moleong, Lexy J. (2012) Metodologi Penelitiaan Kualitatif. Bandung: Rosdakarya. Prier. Karl-Edmund (2014-2015) Katekismus Gereja Katolik. Diktat Prodi IPPAK Sanata Dharma Yogyakarta. Puskat. Seri Puskat no 22. Pastoral Ekaristi untuk Anak-anak. Yogyakarta. Suharyo. Ignasius (2011) Ekaristi: Meneguhkan Iman, Membangun Persaudaraan, Menjiwai Pelayanan. Yogyakarta:Kanisius. Sugiono. Dr (2014) Penelitian Pendidikan: Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: ALFABETA. Sumber dari Internet http://nataliageovani.blogspot.com/2015/05/contoh-persiapan-materi-rekoleksi.html. Diakses pada tanggal 11 November 2018 http://komkat-kwi.org/model-katekese-remaja-memahami-sakramen-ekaristi. Diakses pada tanggal 28 Agustus 2018

(109) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 1 Surat Ijin Penelitian (1)

(110) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 2 Surat Bersedia Memberi Hasil Penelitian (2)

(111) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 3 Panduan Wawancara (3

(112) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI LAMPIRAN 4 HASIL WAWANCARA Responden 1 : AL Pewawancara : Vero Waktu : 18.46-19.05 Tempat : Jln. Gunung Ketur PA II/214 Vero AL Vero AL Vero AL Vero AL Vero Apa yang dimaksud dengan perayaan Ekaristi? Eee perayaan Ekaristi tempat dimana kita bisa, apa ya. Kayak Salah satu tempat kita kayak bersyukur kepada Tuhan. Memang sih bersyukur kepada Tuhan itu bisa kapan saja, tapi kalau misalkan perayaan Ekaristi kalau bersyukur lebih apa yah, lebih intensif. Karena ada perayaan Ekaristi kita bisa ingat selalu sama Tuhan, berdoa sama Tuhan, komunikasi sama Tuhan. Apa yang kamu syukuri dalam perayaan Ekaristi? Yang aku syukuri itu mengenai kehidupan sehari-hari dan berdoa untuk keluarga itu aja. Dalam Ekaristi ada 4 ritus, apa makna dari setiap ritus-ritus perayaan Ekaristi, tersebut? Hmmmm pembuka itu kayak kita misalnya bertamu kerumah orang, pembukanya itu ya kita mengucapkan salam, kayak perayaan Ekaristi dirayakan di Gereja nah pembuka itu mengucapkan salam kepada Tuhan untuk permisi ke Tuhan “ Tuhan aku permisi datang kesini, aku mau doa” berdoa lebih dulu kepada Tuhan bahwa akan melakukan misa. Liturgi Sabda: ada bacaan sabda: nah kalau bacaan sabda itu kayak kita dengarin cerita Tuhan, kayak apa ya, dengarinlah cerita Tuhan kayak gimana, trus kita bisa ambil apa aja yang Tuhan ceritain ke kita. Kita bisa ambil untuk kehidupan kita sehari-hari. Liturgi Ekaristi: itu kayak intinya, kalau misalkan intinya itu tujuannya kita dari perayaan Ekaristi, itu dapat tersampaikan pada saat Liturgi Ekaristi. Penutup itu kita pamitan kepada Tuhan, menerima berkat dari Tuhan untuk kehidupan seminggu kedepan. Apa yang kamu maksud dari intinya dari makna liturgi Ekaristi? Maksudnya aku yah Pada saat konsekrasi, dan menerima komuni sudah menjadi intinya dalam perayaan Ekaristi, pokoknya itu. Apa yang kamu dapatkan pada saat mengikuti perayaan Ekaristi?

(113) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI AL Vero AL Vero Hmmm yang aku dapatkan sih, kayak kalau diperayaan Ekaristi itu dapat pelajaran baru, dari Injil-injil Tuhan terus homili yang biasanya romo kasih, itu kan sudah disangkut pautkan sama injil yang sudah dikasih. Owh ini toh arti Injil nya nah akhirnya aku tahu arti injil tersebut, dari Injil tersebut dapat nilai-nilai yang dingatingat buat kehidupan sehari-hari. Dari perayaan Ekaristi aku sadar bahwa Tuhan itu benar-benar ada dalam hidupku, bahwa Tuhan itu benar-benar berperan penting dalam hidupku, kayak diawal aku bilang perayaan Ekaristi itu tempat bentuk bersyukur kepada Tuhan. Dorongan apa yang membuat anda ikut terlibat menjadi pelayan altar? Kalau awalnya untuk ikut misdinar itu, dulu itu Cuma lihat teman eehh kayaknya seru itu ikut misdinar, trus ikutan deh. Sebenarnya aku juga bukan paroki sini cuman banyak temanku ikut misdinar di gereja kota baru ini. Pada saat awal ikut misdinar kok gini sih, eee ternyata begini toh, aku pun ada fasenya, merasakan fase bosan jarang tugas, jarang datang pertemuan. Pada saat jarang ikut pertemuan, tugas aku juga merasakan ada yang kurang, lalu aku aktif lagi di misdinar ini karena aktif itu aku jadi merasa oh begini yah cerita Tuhan ternyata jadi pelayan Tuhan itu seru dan menyenangkan kok.emang dari hati ikhlas ya kedepannya akan meyenangkan, rasanya menyenangkan jika tidak aktif ada yang kurang. Dari misdinar ini juga banyak belajar bahwa apa yang kita lakukan dari tulus hati pasti akan menyenangkan, seperti sekarang aku dipercaya oleh kakak pendamping untuk mendampingi teman-teman misdinar yang lain, itu sudah kayak pencapaian tersendiri kayak bisa dipercaya oleh orang lain, karena aku bisa terlibat aktif di misdinar ini. Sebagai pendamping misdinar pengalaman apa yang kamu dapatkan? Pengalaman aku sebagai pendamping yang baru, karena baru-baru juga misalnya misdinar ada acara natal dan paskahan bersama dan kita pendamping yang membuat acara tersebut, sungguh bahagia jika teman-teman misdinar datang mengikuti acara tersebut kayak wow, jadi gini yah kalau karya kita dihargaiin, jadi gini toh mengurus adekadek capek juga dalam rapat dan mempersiapkan yang lain. Meskipun rasa lelah dalam mempersiapkan acara tersebut membutuhkan waktu yang lama namun dari situ banyak belajar. Justru jadi pengurus sungguh merasakan ternyata susah senang dalam misdinar. Selain dorongan dari teman, apakah ada dorongan dari

(114) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Vero AL AL Vero AL Vero pihak lain? Dukungan dari yang lain terus mencoba, selain itu orang tua juga pernah omong jika kamu dari kecil terus ikut organisasi besok kamu akan enak dan enjoy jika mendapatkan tugas dari sekolah selain itu kamu juga belajar untuk mengatur waktu, dukungan dari teman-teman yang lama juga masih saya dapat Kesulitan apa yang anda rasakan khususnya sebagai misdinar? Kesulitannya itu Kalau misalkan ada kayak acara rekoleksi misdinar dan aku pengen ikut tapi pada saat itu ada acara sekolah juga, ini sungguh sulit bagi waktu juga karena sudah berapa kali tidak ikut rekoleksi, trus juga aku orangya benar-benar kebo untuk bangun pagi, padahal aku sering dapat tugas harian pagi, malas-malasan ku juga besar dan membutuhkan tanggung jawab. Kesulitan pada saat bertugas yang pernah kamu alami, apakah ada? Untuk kesulitan dalam bertugas tidak ada. Paling hanya sebuah komitmen yang dilepas begitu saja, sama temanteman. Sebagai misdinar, kalau menghadapi kesulitan dan kebahagiaan dalam hidup apa yang kamu buat? Kesulitan yang aku hadapi misalnya berantem sama teman ku, mau siapa yang salah biasanya aku minta maaf lebih dulu karena aku tidak suka sama keadaan dimana sesama teman diam-diaman. Jika aku mengalami kegagalan, misalnya tidak terpilih tugas paskah pasti aku ada yang kurang, apa aku kurang rajin. Kenapa aku tidak kepilih. Aku langsung kepikiran dan akan berusaha untuk intropeksi diri. Kesulitan yang aku hadapi dalam hidupku, aku mencoba untuk selalu bawa dalam doa dan berusaha. Kayak aku bilang diawal tadi bahwa dalam perayaan Ekaristi adalah tempat paling nyaman untuk menyampaikan keluh kesah kita. Pada saat merasakan kebahagiaan, Yang aku lakukan yaitu secara tidak langsung aku membagikannya kebahagiaan dengan teman-teman yang lain misalnya ketemu teman membuat lelucon. Selain itu pada saat aku ulang tahun rasa syukur bangat sama Tuhan. Aku emang ngak terangterangan langsung berdoa kepada Tuhan tapi aku rasa syukurnya sepontan mengucapkan terimakasih kepada Tuhan. Apa tujuan anda mengikuti perayaan Ekaristi?

(115) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI AL Kalau perayaan Ekaristi dari 4 tahun yang lalu hingga sekarang minta kesembuhan papah, aku diberi kebahagiaan, rezeki keluarga dilancarkan, aku dapat keterima di sekolah SMA negri, bersyukur masih diberi nafas kehidupan dan teman-teman yang peduli. Pokonya dalam perayaan Ekaristi lebih berdoa untuk keluarga. Responden 2 : WAR Pewawancara : Vero Waktu : 19.22-19.30 Tempat : Jln. Mangkukusuman GK IV/1555 Vero WAR Vero WAR Vero WAR Vero WAR Vero WAR Vero Apa yang dimaksud dengan perayaan Ekaristi? Perayaan Ekaristi apa namanya kita berkumpul dalam suatu perjamuan untuk menerima tubuh dan darah Kristus. Apa itu tubuh dan darah Kristus dan maknanya bagi hidupmu? Hmmmm tubuh dan darah Kristus itu kayak roti dan anggur yang sudah diberkati hmmm maknanya yah itu kayak puncak pada saat perayaan Ekaristi Dalam Ekaristi ada 4 ritus, apa makna dari setiap ritus-ritus perayaan Ekaristi, tersebut? Pembuka: mungkin kek awalan. Liturgi sabda: mendengarkan bacaan sabda Allah. Liturgi Ekaristi: sebagai puncak, penutup sebagai berkat perutusan. Yah maknanya itu pokoknya susah jelasin Apa yang kamu dapatkan pada saat mengikuti perayaan Ekaristi? Banyak orang berkumpul, misdinar, romo, koster, koor, Yang aku temukan dalam perayaan Ekaristi, banyak orang yang berkumpul dalam mengikuti perayaan Ekaristi selain itu ada makna perkumpulan perjamuan, berkumpul untuk memuliakan Tuhan. perkumpulan perjamuan itu kayak kita menerima tubuh Kristus sebagai kekuatan hidup Dorongan apa yang membuat anda ikut terlibat menjadi pelayan altar? Hmm Sebenarnya kayak aku lihat, orang melayani itu merasa dicintai umat dan disukai umat. Simple aja sih. Apakah ada dorongan dari yang lain?

(116) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI WAR Vero WAR Vero WAR vero WAR Kalau yang lain dari orang tua dan keluarga juga itu pasti. Kesulitan apa yang anda rasakan khususnya sebagai misdinar? Komunikasi antar misdinar, karena pendapat setiap orang berbeda-beda apalagi belum kenal dengan orang tersebut dan terjadi miskomunikasi dan itu menjadi masalah bangat, karena susah aja kita tidak mengenal orang itu. Untuk kesulitan dalam bertugas lupa apa yang selanjutnya untuk dilanjutkan mungkin karena kurang latihan karena jadwal padat dan untuk romo tidak ada kesulitan. Sebagai misdinar, kalau menghadapi kesulitan dan kebahagiaan apa yang kamu buat? Yang aku lakukan yang pertama pada saat mengalami kesulitan berantem sama teman dan kegagalan dalam melakukan sesuatu yaitu intropeksi diri lalu minta maaf dan membutuhkan waktu untuk memperbaikinya dan berdoa kepada Tuhan agar masalah yang aku hadapi ada jalan keluar. Dan kebahagiaan yang aku dapat dengan Bersyukur kepada Tuhan, kek trimakasih Tuhan karena sudah dikasih anugrah, berbagi buat orang lain, yah misalnya aku ada rezeki yah traktir teman. karena jika kita berbagi kepada orang lain itu sangat baik, Apa tujuan anda mengikuti perayaan Ekaristi? Buat berdoa, berkumpul, untuk menyambut tubuh dan darah Kristus, kayak ada permohonan dan untuk meyampaikan ujud-ujud doa. Responden 3 : RPI Pewawancara : Vero Waktu : 19.31-19.40 Tempat : Jln Ledok Tukangan Dn II no 679. Vero RPI Apa yang dimaksud dengan perayaan Ekaristi? Perayaan Ekaristi emmm menurut saya berbicara dengan Tuhan pada saat hari minggu, waktu untuk bertobat atas kesalahan satu minggu ini. Kayak ganggu teman, bohong.

(117) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Vero RPI Vero RPI Vero RPI Vero RPI Vero RPI Vero RPI Vero RPI Dalam Ekaristi ada 4 ritus, apa makna dari setiap ritus-ritus perayaan Ekaristi, tersebut? Pembuka menyambut kehadiraan Tuhan Yesus dalam perayaan Ekaristi Liturgi sabda hmm mendengarkan sabda-sabda Tuhan. Liturgi Ekaristi itu mengenang sengsaranya Tuhan Yesus. Penutup selesainya Ekaristi, mendapatkan berkat, berani mewartakan sabda Allah. Apa yang kamu dapatkan pada saat mengikuti perayaan Ekaristi? Dosa-dosa yang kita lakukan dalam semingu dapat hilang karena kita berbicara kepada Tuhan dan meminta maaf kepada Tuhan. Hmm sebagai pedoman rasa syukur kepada Tuhan. Dosa seperti apa yang dilakukan selama seminggu dan dapat diampuni oleh Tuhan Hmmm kayak berantem dengan teman, jahil, yah itulah. Dorongan apa yang membuat anda ikut terlibat menjadi pelayan altar? Karena ingin membantu Yesus mewartakan sabda. Hmm yang lain tidak ada Karena dari diri sendiri. Kesulitan apa yang anda rasakan khususnya sebagai misdinar? Tidak ada kesulitan. Hanya gugup saat bertugas dan komunikasi dengan teman lain. Sebagai misdinar, kalau menghadapi kesulitan dan kebahagiaan apa yang kamu buat? Berdoa dan bertanya kepada Tuhan dan berserah kepada. Kebahagiaan kalau naik kelas nilainya ditingkatkan kembali, kalau ulang tahun semakin berbakti kepada orang tua. Hmmm mengucap syukur. Apa tujuan anda mengikuti perayaan Ekaristi? Supaya disepanjang hidup rafa selalu diberkati oleh Tuhan, orang-orang yang saya sayang yang sudah meninggal dapat diterima disurga dan bahagia. Selain itu ada rasa syukur bagi pribadi dan keluarga

(118) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Responden 4 : GURP Pewawancara : Vero Waktu : 19.41-19.48 Tempat : Jln Mangkukusuman GK IV/1555. Vero GURP Apa yang dimaksud dengan perayaan Ekaristi? Suatu perayaan yang tempat orang-orang berkumpul, untuk berdoa kepada Tuhan, semakin bersyukur kepada Tuhan Dalam Ekaristi ada 4 ritus, apa makna dari setiap ritus-ritus perayaan Ekaristi, tersebut? Vero GURP Vero GURP Vero GRUP Vero GRUP Vero GRUP Vero GRUP Pembuka: Untuk permulaan berdoa kepada Tuhan dan mengawali perayaan Ekaristi. Liturgi sabda: menanamkan ee suatu pengalaman yang pernah dialami oleh Yesus sendiri. liturgi Ekaristi: adanya permohonan dalam hidup untuk dibimbing. Hmm konsekrasi dan komuni. Penutup: berkat dari Tuhan. Apa makna Konsekrasi dan komuni dalam liturgi Ekaristi Hmmm sebagai tempat bersatu dengan Tuhan untuk bersatu dengan Tuhan. kan didalam komuni ada tubuh dan darah Kristus nah itu berkat dan anugrah dari Allah sendiri Apa yang kamu dapatkan pada saat mengikuti perayaan Ekaristi? Maknanya bisa berdoa memohon pertolongan bimbingan untuk kehidupan sehari-hari dan jika mengalami kesulitan dapat dibantu oleh Tuhan. Selain itu ada rasa syukur juga kepada Tuhan atas kehidupan sehari-hari. Dorongan apa yang membuat anda ikut terlibat menjadi pelayan altar? Sebenarnya hanya ikut-ikut saja tapi meskipun hanya ikutikutan akhirnya ada keinginan dari hati sendiri Kesulitan apa yang anda rasakan khususnya sebagai misdinar? Kesulitannya pada saat latihan dan bertugas sering degdegan takutnya salah tapi setelah tugas ternyata berjalan lancar. Lalu kerja sama dengan teman-teman belum dapat berjalan dengan baik karena belum mengenal teman-teman oleh sebab itu aku mau lebih mengenal teman-teman supaya dapat berkomunikasi dan bekerjasama dengan baik. Sebagai misdinar, kalau menghadapi kesulitan dan kebahagiaan apa yang kamu buat? Kesulitan yang aku hadapi dalam kegagalan mohon pertolongan kepada Tuhan misalnya pada saat mau ujian.

(119) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Vero Pokoknya selalu minta pertolongan sama Tuhan dan intropeksi diri dengan memperbaiki cara belajar. Tetap bersyukur tetap merayakan kegembiran dan berdoa, puncaknya juga kepada Tuhan. Apa tujuan anda mengikuti perayaan Ekaristi? Hmm sebenarnya sih untuk minta pertolongan. Kadangkadang sih malas ke gereja tapi tetap disuruh. Yah namanya kesulitan kita harus ke Gereja untuk berdoa. Namanya kesulitan harus kita minta sama Tuhan Responden 5 : BE Pewawancara : Vero Waktu : 19.50-19.58 Tempat : Jln Kusbini no 198/Yogyakarta Vero BE Apa yang dimaksud dengan perayaan Ekaristi? Hemmmm kayak organisasi tempat melayani Ekaristi hmmm tempat berdoa dan bersyukur, hmm semangat dan sumber dalam kehidupan. Dalam Ekaristi ada 4 ritus, apa makna dari setiap ritus-ritus perayaan Ekaristi, tersebut? Pembuka itu hmmm berterimakasih dan mengajak untuk bertobat dan berkumpul bersama untuk berdoa. Liturgi sabda mendengarkan bacaan injil kayak motivasi hidup, hmm itu aja. Liturgi Ekaristi: menerima yesus didalam diri kita, pada saat penghormatan konsekrasi tubuh Kristus sebagai sumber puncak. Penutup itu berterimakasi juga, menerima berkat, melalui sabda yang didengar saya harus berani bersaksi didalam kehidupan sehari-hari. Apa yang kamu dapatkan pada saat mengikuti perayaan Ekaristi? Maknanya harus terus memuji Tuhan, semangat dalam melayani, tempat berkumpul untuk bertemu Tuhan. Dorongan apa yang membuat anda ikut terlibat menjadi pelayan altar? Kalau Dulu tidak tertarik, karena ada temanya anak nya ayah yang misdinar ditawarin lalu dipaks untuk mendaftar, pertama kali tugas malas-malasan, beriringnya waktu ternyata temannya semakin banyak dan semakin rajin, nas misalkan ke Gereja malas sekarang rajin. Nah sekarang aku dikasih kesempatan sebagai pendamping membantu temanteman ini menjadi kesempatan buatku untuk belajar. Kesulitan apa yang anda rasakan khususnya sebagai misdinar? Vero BE Vero BE Vero BE Vero

(120) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BE Vero BE Vero BE Mungkin kesulitan waktu Diawal. Kesulitannya pada saat tugas harian langsung digantikan oleh teman karena saya terlalu lama datang, jadi seperti tugas aku direbut. Disitu saya merasakan kecewa hati, mau keluar dari midinar tapi dilarang sama kakak misdinar. Sebagai misdinar, kalau menghadapi kesulitan dan kebahagiaan apa yang kamu buat? Pertama itu kayak aku mengalami kesulitan, Kalau aku lagi emosi kegereja ketemu teman-teman dan mengikuti misa menjadi tenang dan berdoa. Kalau ada masalah hari-hari yang lalu minggu kegereja dan berdoa didepan Bunda Maria seperti dikasih jalan. Kalau merasakan bahagian tetap berdoa dan bersyukur kepada Tuhan. Apa tujuan anda mengikuti perayaan Ekaristi? Bersyukur kepada Tuhan dan berdoa, adanya juga ujudujud doa untuk kesehatan dan kebahagaian keluarga dan pribadi. Responden 6 : CM Pewawancara : Vero Waktu : 20.00-20.15. Tempat : Jln Mataram bn 1/377 Vero CM Apa yang dimaksud dengan perayaan Ekaristi? Perayaan Ekaristi itu ee sebuah perayaan iman dimana umat berkumpul, hmm trus nanti kita ada konsekrasi yang menjadi utama atau sumber lalu kita menerima Tubuh Kristus. Dalam Ekaristi ada 4 ritus, apa makna dari setiap ritus-ritus perayaan Ekaristi, tersebut? Ritus pembuka: maknanya itu tobat atau lebih mempersiapkan diri untuk mengikuti perayaan Ekaristi. Liturgi sabda: itu isinya bacaan-bacaan, mendengarkan sabda Allah dan mengambil nilai-nilai tentang kehidupan Yesus. Masing-masing yang bisa diambil itu kayak cerita mengenai mujizat yang dilakukan Tuhan kayak 5 roti dan 2 ikan. Liturgi Ekaristi: ehmmm mendekatkan diri kepada Tuhan, sebagai sumber puncak pada saat konsekrasi, disitu kita menyembah tubuh dan darah Kristus, ada roti dan anggur juga yang artinya menguatkan dan mempersatukan Vero CM

(121) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Vero CM Vero CM Vero CM Vero CM Vero CM Vero CM kita kepada Tuhan, hmm pokoknya lebih mengenangkan. Penutup: bersyukur dan mendapat berkat, melalui bacaan injil aku juga harus berani bersaksi melalui bacaan injil yang aku dengar. Apa yang kamu dapatkan pada saat mengikuti perayaan Ekaristi? Maknanya lebih dekat kepada Tuhan, menguatkan iman, pokoknya intinya lebih bersyukur dan bertobat Perayaan Ekaristi itu bagi kamu sebagai sumber puncak dalam hidup sehari-hari ngak? Hmmm ia, jadi kalau misa kan seminggu sekali, ada pengakuan dosa memang tidak selama seminggu. Dorongan apa yang membuat anda ikut terlibat menjadi pelayan altar? Dulu itu awalnya karena kakak saya, jadi pengen ikut, ingin merasakan melayani Tuhan. Kesulitan apa yang anda rasakan khususnya sebagai misdinar? Kesulitan yang aku alami komunikasi kepada teman seharusnya bertugas tapi tidak bertugas, jadi kesulitan untuk mencari pengganti. Pada saat awal mengalami grogi. Kesulitan sebagai pengurus semakin sulit untuk mengatur jadwal dan waktu. Sebagai misdinar, kalau menghadapi kesulitan dan kebahagiaan apa yang kamu buat? Kesulitan yang aku hadapi cerita dengan orang tua dan terdekat, berdoa, cari solusi yang penting jangan panik Kalau merasakan kebahagiaan lebih semangat, dan besyukur kepada Tuhan Apa tujuan anda mengikuti perayaan Ekaristi? Tujuannya hmmm supaya memperbaharui iman supaya lebih kuat pokoknya bersyukur dan lebih mengembangkan iman, adanaya ujud-ujud pribadi.

(122) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 5 Presensi Penelitian (14)

(123)

Dokumen baru

Download (122 Halaman)
Gratis

Tags

Dokumen yang terkait

Penggunaan Bahasa Jawa dalam perayaan Ekaristi di Stasi Santo Fransiskus Xaverius Kemranggen, Paroki Santo Yohanes Rasul Kutoarjo.
4
67
183
Makna spiritualitas Santo Tarsisius dalam tugas pelayanan misdinar di Paroki Santo Mikael Pangkalan Yogyakarta.
10
101
214
Evaluasi pengendalian internal dalam sistem informasi akuntansi penerimaan dan pengeluaran kas: studi kasus pada Paroki Santo Antonius Padua Kendal.
0
2
233
Peranan lagu rohani ekaristi dalam meningkatkan pemaknaan perayaan ekaristi bagi kaum muda Katolik di Paroki Santo Antonius Kotabaru.
0
3
146
Pengaruh sosok katekis terhadap minat umat dalam mengikuti katekese orang dewasa di Lingkungan Santo Yosef Benediktus Sagan Paroki Santo Antonius Kota Baru Yogyakarta.
0
1
173
Penggunaan Bahasa Jawa dalam perayaan Ekaristi di Stasi Santo Fransiskus Xaverius Kemranggen, Paroki Santo Yohanes Rasul Kutoarjo
1
27
181
Upaya inovasi pelaksanaan liturgi perayaan ekaristi di Paroki ST. Fransiskus Xaverius Kidul Loji Yogyakarta demi keterlibatan kaum muda - USD Repository
0
0
123
Peran film “Cheng-Cheng Po� untuk mananamkan semangat perdamaian bagi remaja Katolik di Stasi Santo Antonius Padua, Paroki Santo Hendrikus, Melolo, Sumba Timur - USD Repository
0
0
128
Pengaruh iringan gamelan Jawa terhadap penghayatan iman umat dalam perayaan ekaristi di Paroki Hati Kudus Yesus Pugeran Yogyakarta - USD Repository
0
0
156
Pengaruh perayaan ekaristi bagi keterlibatan kaum muda dalam hidup menggereja di wilayah Brayat Minulya, Balecatur, Paroki Santa Maria Assumta, Gamping, Yogyakarta - USD Repository
0
0
135
SISTEM PENGENDALIAN INTI PADA ORGANISASI RELIGIUS Studi Kasus pada Paroki Santo Antonius Kotabaru Yogyakarta
0
0
216
Pengaruh model pendampingan kooperatif tipe student teams achievement divisions dalam persiapan komuni pertama terhadap keterlibatan anak dalam perayaan ekaristi di Paroki Santo Petrus dan Paulus Klepu, Sleman, Yogyakarta - USD Repository
0
0
184
Deskripsi kunjungan keluarga oleh suster-suster MASF sebagai anggota tim pastoral keluarga di wilayah Santo Andreas Songgolangit Paroki Santo Paulus kleco Surakarta - USD Repository
0
0
194
Peranan mengikuti kegiatan persekutuan doa Karismatik Katolik di Gereja Santo Antonius Kotabaru Keuskupan Agung Semarang terhadap keaktifan anggota dalam hidup menggereja - USD Repository
0
0
159
Makna ekaristi bagi spiritualitas pelayanan prodiakon Paroki Santa Perawan Maria Tak Bercela Nanggulan - USD Repository
0
0
169
Show more