Studi kasus gambaran pengaruh sistem sekolah terhadap perilaku kenakalan siswa di sekolah X - USD Repository

Gratis

0
0
158
3 months ago
Preview
Full text

  

Studi Kasus Gambaran Pengaruh Sistem Sekolah Terhadap

Perilaku Kenakalan Siswa di Sekolah X

  SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

  Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi

  Oleh : Fera Elsarina Naipospos

  NIM : 069114020

  

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

2011

  Halaman Motto Kamu tidak akan pernah bisa menyeberangi lautan apabila takut melupakan pantai

  (Christopher Columbus) Di setiap hembusan nafasmu, ingat selalu ada doa Mama disitu...

  (Love From Mom)

  

Halaman Persembahan

Karya ini kupersembahkan untuk :

Tuhan Allah Bapaku yang Maha Penyabar,

  

Papa, Mama, Adik-adikku,

Seluruh Keluarga besar,

Teman bertukar pikiran Rafael

Segenap Dosen dan seluruh warga Fakultas Psikologi

  

Teman-teman angkatan 2006

almamater kebanggaanku

Terima Kasih

  

STUDI KASUS GAMBARAN PENGARUH SISTEM SEKOLAH TERHADAP

PERILAKU KENAKALAN SISWA DI SEKOLAH X

Fera Elsarina Naipospos

  

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan ingin memahami kasus kenakalan remaja berdasarkan situasi yang alamiah dan sesuai dengan konteks dimana peristiwa itu terjadi sehingga dapat diperoleh gambaran menyeluruh mengenai pengaruh sistem sekolah terhadap perilaku kenakalan siswa di sekolah X. Narasumber dalam penelitian ini terdiri atas guru BK, guru mata pelajaran, anggota komite sekolah dan siswa. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif deskriptif dengan desain studi kasus. Sedangkan data penelitian diperoleh dari proses wawancara, observasi dan dokumentasi data berupa catatan konseling serta transkrip nilai rapot salah satu narasumber siswa. Kemudian proses pengolahan data dalam penelitian ini dilakukan dengan cara analisis tematik sehingga dapat mengarah pada pengembangan konsep yaitu mendapat data konkrit berupa kata kunci, tema, kategori, hubungan antar kategori serta mengembangkan teori. Tema–tema yang muncul dalam penelitian ini antara lain : adanya peluang ketidakdisiplinan, guru memberi contoh yang kurang baik, sistem kepemimpinan kepala sekolah, dampak sistem sekolah yang kurang maksimal, faktor penyebab kenakalan di sekolah, perwujudan sistem sekolah, adanya tuntutan pekerjaan dalam sistem, dan ketidakdisiplinan di dalam sekolah. Kata kunci : kenakalan remaja, remaja, sekolah

  

CASE STUDY OVERVIEW EFFECT SCHOOL SYSTEM AGAINST

DELIQUENCY STUDENT BEHAVIOR ON X SCHOOL

Fera Elsarina Naipospos

ABSTRACT

  This study aims to understand the case of juvenile delinquency based on the

natural situation and in accordance with the context in which it happened so as to obtain

an overall picture of the school system influence the behavior of students in X

delinquency school. Resource persons in this study consisted of teachers BK, subject

teachers, school committee members and students. The research method used is

descriptive qualitative approach to the design case studies. While the research data

obtained from the interviews, observation and documentation of data in the form of

counseling records and transcripts report one student speaker. Then the data processing

in the study done by the thematic analysis that could lead to the development of the

concept of getting concrete data in the form of keywords, themes, categories,

relationships between categories and developing theory. The themes that emerged in this

study include: the opportunity indiscipline, teachers gave examples of poor, school

leadership system, the impact of the school system less than the maximum, the factors

causing mischief at school, school system embodiment, the demands of work in the

system, and indiscipline in schools.

  Keywords: juvenile delinquency, juvenile, school

KATA PENGANTAR

  Pujian dan rasa syukur penulis panjatkan pada Tuhan Yesus Kristus atas penyertaan yang diberikan selama pengerjaan skripsi. Penulis menyadari banyak orang telah menjadi inspirasi selama pengerjaan skripsi. Oleh karena itu, penulis ingin mengucapkan terima kasih pada beberapa orang tersebut, yakni :

  1. Sylvia Carolina MYM, S.Psi, M.Si. selaku Dosen Pembimbing Skripsi atas pengertian, waktu, energi, pembelajaran, dan tentunya doa selama pengerjaan skripsi.

  2. Ibu Dr. Ch. Siwi Handayani. S.Psi., M.Si. selaku Dekan Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma.

  3. Bapak Prof. Dr. Augustinus Supratiknya selaku Dosen Pembimbing Akademik semester I-VIII atas pendampingannya selama ini.

  4. Ibu Agnes Indar Etikawati S.Psi. Psi. M.Si. atas kepercayaan dan bimbingan ketika penulis menjadi Asisten Mata Kuliah Tes Proyektif TAT / CAT.

  5. Seluruh Dosen Fakultas Psikologi atas pendidikan dan bimbingan selama penulis menjalankan masa studi.

  6. Karyawan Fakultas Psikologi (Mas Muji, Mas Doni, Mbak Nanik, Mas Gandung dan Pak Gi) dan seluruh karyawan di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

  Terima kasih atas bantuan selama masa kuliah dan selama pengerjaan skripsi.

  7. Semua teman-teman dalam berbagai kepanitian yang ada di Fakultas Psikologi

  8. Rafa, Iwel, Leo dan keluarga atas segala semangat yang membuat pengerjaan ini lebih mudah.

  9. Rateh, Rara, Devi, Emak, Cika, Nobi, Viany, Ari, Arya, Paimun, Komeng, Abe, Nita, Wayan, Coro, Adit, Satria, Windy, Berto, Aji, Liem, Herman, Tante, Mami, Endy, Piping, Wulan, Made, Wandan, Ely, Ike, Riani, Jina, Chris, Bruder Pras, Yoga, Erisa, Mia, Tari, Dita, Sha-Sha, Timo, Ance, Andin, Thea, Nita Sinaga, Tya, Melida, Lingga, Spy, Brijit, Jeny Wulandari, Hayu, Ayu, Manto, Guntur, Lisa “Mumun” dan semua teman-teman angkatan 2006. Keberadaan kalian membuat masa-masa kuliah menjadi indah dan selalu kompak.

  10. Kakak-kakak angkatan yang banyak membantu selama ini Mas Koen, Mbak Jesy, Mbak Matilda, Mbak Tyas (asisten kognitif), Mbak Asti (asisten grafis), Mbak Fera (asisten TAT), Mbak Galuh, Mbak Ucik, Mas Bagwan, Ko Ronald atas pinjaman bukunya, Mas Alit, Bang Printa, serta mas dan mbak lainnya yang belum disebut, terima kasih atas keceriaannya selama ini.

  11. Anak-anak kos putri “Ayu” Mbak Ocha, Mbok Esi, Mbok Eva, Mbok Ulik, Mbak Dewi, Mbak Desty, Mbak Tika, Mbak Tya, Mbak Rizka, Teta, Nuri, Dek Anggi Gendut, Dek Nisa, Dek Gita, Dek Anggita, Astie, Mbok Devi, Gek Ayu, Dini, Mbak Dwi, Tata, Mbak Vita, Mbak Ika, Mayang, Mas Sugi, Mas Mail, Mas Susilo dan semua mantan anak kos yang udah pada pindah.

  12. Khususnya pada kedua orangtua, adik Dewi, adik Jefri dan almarhum adik Cahya. Sepupu-sepupuku Mbak Ely, Mas Bagus, Mas Bayu, Mega, Nunuk,

  Eyang putri, Opung doli dan Opung boru, pakde, bude, om, tante dan semua kerabat. Terima kasih atas kesabaran dan dukungan baik secara langsung maupun dalam doa.

  13. Tak lupa penulis mengucapkan terimakasih pada pihak-pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu.

  Penulis menyadari keterbatasan dalam penelitian. Oleh karenanya, penulis terbuka akan kritik, saran, dan informasi tambahan guna membuat penelitian ini lebih baik.

  Yogyakarta, 2011 Fera Elsarina Naipospos

  DAFTAR ISI

  HALAMAN JUDUL...................................................................................... i HALAMAN PERSETUJUAN DOSEN......................................................... ii HALAMAN PENGESAHAN........................................................................ iii HALAMAN MOTTO..................................................................................... iv HALAMAN PERSEMBAHAN..................................................................... v PERNYATAAN KEASLIAN KARYA......................................................... vi ABSTRAK.................................................................................................... vii ABSTRACT.................................................................................................... viii ix LEMBAR PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH....................... KATA PENGANTAR.................................................................................... x DAFTAR ISI................................................................................................... xiii DAFTAR TABEL .......................................................................................... xvii DAFTAR GAMBAR...................................................................................... xviii DAFTAR LAMPIRAN................................................................................... xix BAB I. PENDAHULUAN..............................................................................

  1

  1 A. Latar Belakang Masalah.................................................................

  B. Rumusan Masalah..........................................................................

  5 C. Tujuan Penelitian............................................................................

  5 D. Manfaat Penelitian..........................................................................

  5

  BAB II. LANDASAN TEORI........................................................................

  17 2. Perkembangan Remaja............................................................

  25 E. Gambaran Sekolah X....................................................................

  24 5. Kepala Sekolah Sebagai Bagian dari Sistem..........................

  23 4. Karakteristik Sekolah..............................................................

  23 3. Pengertian Sekolah..................................................................

  22 2. Karakteristik Sistem................................................................

  22 1. Pengertian Sistem....................................................................

  21 D. Sistem Sekolah..............................................................................

  18 3. Tugas-tugas Perkembangan Remaja.......................................

  17 1. Pengertian Remaja..................................................................

  7 A. Kenakalan Remaja........................................................................

  16 C. Remaja..........................................................................................

  14 2. Problema Sosial......................................................................

  14 1. Pranata Sosial..........................................................................

  11 B. Kontrol Sosial...............................................................................

  10 5. Latarbelakang Penyebab Terjadinya Kenakalan Remaja.......

  8 4. Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Nakal...........................

  7 3. Karakteristik Remaja yang Nakal...........................................

  7 2. Bentuk-Bentuk Kenakalan Remaja.........................................

  7 1. Pengertian Kenakalan Remaja................................................

  28

  F. Pengaruh Sistem Sekolah terhadap Perilaku Kenakalan Siswa di

  33 Sekolah..........................................................................................

  BAB III. METODOLOGI PENELITIAN......................................................

  38 A. Pendekatan Penelitian................................................................

  38 B. Batasan Kasus............................................................................

  39 C. Subyek Penelitian......................................................................

  40 D. Metode Pengumpulan Data........................................................

  41 1. Teknik Wawancara...............................................................

  41 2. Teknik Observasi..................................................................

  44 3. Dokumentasi Data.................................................................

  45

  46 E. Teknik Analisis Data..................................................................

  1. Reduksi Data........................................................................

  46 2. Penyajian Data.....................................................................

  47 3. Menarik Kesimpulan............................................................

  47 F. Kredibilitas Data........................................................................

  48 BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN.......................................................

  50 A. Gambaran Setting Penelitian......................................................

  50

  55 B. Hasil Penelitian..........................................................................

  1. Adanya Peluang Ketidakdisiplinan.......................................

  55 2. Guru Memberi Contoh Kurang Baik....................................

  56 3. Sistem Kepemimpinan Kepala Sekolah................................

  56

  4. Dampak Sistem Sekolah yang Kurang Maksimal................

  57 5. Faktor Penyebab Kenakalan di Sekolah...............................

  57

  58 6. Perwujudan Sistem Sekolah.................................................

  7. Adanya Tuntutan Perkerjaan dalam Sistem..........................

  60 8. Ketidakdisiplinan dalam Sistem Sekolah.............................

  60 C. Pembahasan................................................................................

  62 BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN........................................................

  68 A. Kesimpulan................................................................................

  68 B. Keterbatasan Penelitian..............................................................

  69 C. Saran..........................................................................................

  70

  71 DAFTAR PUSTAKA..................................................................................... LAMPIRAN....................................................................................................

  73

  

DAFTAR TABEL

Tabel 1 Wawancara.......................................................................................

  43 Tabel 2 Observasi..........................................................................................

  45 Tabel 3 Kode Organisasi Data.......................................................................

  48

  

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1 Skema Teoritis..................................................................................

  37

  DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1 Wawancara Guru BK 1............................................................

  75 Lampiran 2 Wawancara Korban..................................................................

  78 Lampiran 3 Wawancara Narasumber Siswa Bermasalah............................

  80 Lampiran 4 Wawancara Orangtua Narasumber...........................................

  86 Lampiran 5 Wawancara Latarbelakang Keluarga Narasumber Siswa.........

  88 Lampiran 6 Catatan Proses Konseling.........................................................

  89 Lampiran 7 Catatan Kejadian Konseling.....................................................

  95 Lampiran 8 Rangkuman Konseling.............................................................

  98 Lampiran 9 Observasi Lapangan................................................................. 101 Lampiran 10 Deskripsi Observasi Sekolah.................................................... 106 Lampiran 11 Wawancara Guru BK 2............................................................ 111 Lampiran 12 Wawancara Anggota Komite Sekolah..................................... 116 Lampiran 13 Wawancara Guru...................................................................... 125 Lampiran 14 Surat Keterangan Penelitian..................................................... 139

  Informed Concent

  Lampiran 15 ..................................................................... 140

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Kenakalan remaja belakangan ini merupakan salah satu dari sekian

  banyak masalah sosial yang semakin merebak di kalangan masyarakat. Masalah sosial sering juga dikaitkan dengan masalah perilaku menyimpang dan bahkan pelanggaran hukum atau tindak kejahatan. Kenakalan remaja tidak hanya berbentuk perilaku bolos sekolah, mencuri kecil-kecilan, tidak patuh pada orang tua, tetapi dapat pula mengarah pada tindakan kriminal seperti, perkelahian antar pelajar atau tawuran yang menyebabkan kematian, perkosaan, pembunuhan dan lain-lain.

  Pelaku kenakalan pada umumnya adalah para remaja yang belum matang secara emosional dan berada pada masa pencarian identitas sehingga menyebabkan remaja cenderung sulit untuk dikontrol dan terkesan liar (Santrock, 2002). Banyak pihak menganggap bahwa perilaku kenakalan remaja disebabkan oleh pola pengasuhan dalam keluarga yang kurang baik, namun perlu disadari bahwa remaja juga berinteraksi secara luas di lingkungan sosialnya. Lingkungan keluarga bisa menjadi salah satu penyebab kenakalan remaja, namun penyebab lain yang dapat saling mempengaruhi adalah pola pergaulan, karakteristik remaja itu sendiri, lingkungan tempat tinggal dan tidak

  Lingkungan keluarga yang cenderung kurang perhatian terhadap anak dapat menjadi salah satu penyebab timbulnya perilaku nakal. Akan tetapi karakteristik dari diri remaja yang mudah terpengaruh oleh pola pergaulan yang kurang baik pun menjadi penyebab lain terjadinya kenakalan remaja. Adapun karakteristik diri remaja yang suka melakukan tindak kenakalan diantaranya adalah memiliki fisik yang lebih kuat, memiliki emosi yang lebih labil, kurang memiliki kontrol diri serta rasa tanggunjawab terhadap diri sendiri, pada umumnya menyukai tantangan, memikirkan kesenangan sesaat dan lain sebagainya (Kartono, 2003).

  Soerjono Soekanto dalam (Herimanto & Winarno, 2010 : 192) mengatakan bahwa setiap masyarakat memiliki sejumlah norma-norma yang menyangkut kesejahteraan, kebendaan, kesehatan, dan penyesuaian terhadap lingkungan sosial. Penyimpangan terhadap norma-norma tersebut memunculkan gejala abnormal yang mengarah pada terciptanya problema sosial yang salah satunya karena adanya faktor kebudayaan sehingga dapat menimbulkan tindak kenakalan anak. Oleh sebab itu, apabila lingkungan sekolah tidak kondusif dan kurang mampu menjalankan sistem dengan baik maka perilaku kenakalan dapat terjadi terutama di lingkungan sekolah karena remaja merasa tidak takut dan berani melawan aturan yang telah diberlakukan.

  Menurut Koentjaraningrat, kehidupan masyarakat memiliki beragam pranata sehingga apabila makin besar dan makin kompleks kehidupan Winarno, 2010 : 190). Pranata adalah sistem norma atau aturan yang menyangkut suatu aktivitas masyarakat yang bersifat khusus. Sedangkan dalam tatanan kehidupan masyarakat Bali yang menjadi lokasi diadakannya penelitian, pranata lebih dikenal dengan istilah awig-awig desa adat. Tatanan kehidupan desa adat diatur oleh perangkat hukum yang dikenal dengan hukum adat. Adapun hukum adat atau awig-awig dibuat seperti halnya tujuan hukum yaitu untuk mewujudkan kedamaian dalam masyarakat atau suasana yang tertib secara fisik dan tentram secara batin (Windia, 2010 : 31).

  Sekolah yang juga dapat berpotensi menjadi salah satu penyebab terjadinya perilaku kenakalan remaja, bagi sebagian orang menjadi tempat pendidikan sekunder yang setiap hari didatangi oleh remaja selain lingkungan rumah. Oleh sebab itu pengaruh sekolah diharapkan mampu membawa nilai positif bagi perkembangan jiwa remaja melalui pendidikan formal. Sebagai lembaga pendidikan, salah satu fungsi sekolah yaitu berkewajiban mengajarkan nilai-nilai dan norma-norma yang ada di masyarakat disamping mengajarkan berbagai keterampilan dan kepandaian kepada para siswanya (Sarwono, 1994 : 121).

  Lingkungan sekolah pastinya memiliki suatu sistem yang berlaku umum dan bertujuan untuk mengatur banyak kepentingan di dalamnya. Apabila sistem dapat dijalankan dengan baik maka akan diperoleh ketertiban serta keteraturan di dalam lingkungan sekolah. Termasuk dalam hal ini tindak kenakalan remaja sistem tidak dapat dijalankan dengan baik oleh sekolah, maka hal tersebut dapat menjadi salah satu penyebab munculnya tindakan kenakalan remaja yang terjadi di lingkungan sekolah antara lain membolos, mengganggu teman, tidak mendengarkan pelajaran, mencontek, memalak, dan lain sebagainya karena siswa merasa dapat bersikap seenaknya tanpa takut akan mendapatkan teguran yang tegas.

  Karakteristik sekolah yang berada pada lingkungan desa adat juga menjadi situasi yang secara tidak langsung dapat mempengaruhi sistem karena sekolah memiliki keterikatan dengan nilai kebudayaan desa adat setempat (banjar) yaitu dalam hal kegiatan persembahyangan keagamaan, sehingga muncul harapan dari salah satu anggota komite sekolah sebagai penyambung aspirasi warga masyarakat bahwa ketika berhadapan dengan tindak kenakalan siswa sebaiknya pihak sekolah tidak melupakan nilai-nilai keagamaan yang mengajarkan kebaikan (dharma) serta turut memperhatikan kaidah hukum adat setempat (awig-awig).

  Berdasarkan hal tersebut di atas, peneliti tertarik untuk mengadakan penelitian di lingkungan sekolah X karena pada dasarnya sekolah memiliki karakteristik khusus yaitu berada pada lingkungan desa adat yang secara tidak langsung turut memperhatikan aturan adat atau awig-awig yang ada di daerah tersebut. Oleh sebab itu, penelitian ini bertujuan ingin memahami kasus kenakalan remaja berdasarkan situasi yang alamiah dan sesuai dengan konteks mengenai pengaruh sistem sekolah terhadap perilaku kenakalan siswa di sekolah X.

  B. RUMUSAN MASALAH

  Bagaimana gambaran menyeluruh mengenai pengaruh sistem sekolah terhadap perilaku kenakalan siswa di sekolah X?

  C. TUJUAN PENELITIAN

  Penelitian ini bertujuan ingin memahami kasus kenakalan remaja berdasarkan situasi yang alamiah dan sesuai dengan konteks dimana peristiwa itu terjadi sehingga dapat diperoleh gambaran menyeluruh mengenai pengaruh sistem sekolah terhadap perilaku kenakalan siswa di sekolah X.

  D. MANFAAT PENELITIAN

  1. Manfaat Teoritis

  a. Memberikan tambahan informasi yang sesuai dengan batasan konteks serta situasi yang melatarbelakangi timbulnya perilaku kenakalan remaja di sekolah.

  b. Menambah wawasan pengetahuan terutama dalam bidang psikologi pendidikan dan kebudayaan yang terkait dengan karakteristik suatu sekolah.

  2. Manfaat Praktis Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi atas penerapan sistem yang selama ini diberlakukan oleh pihak sekolah sehingga dapat membenahi sistem menjadi lebih baik lagi.

BAB II LANDASAN TEORI A. KENAKALAN REMAJA

  1. Pengertian Kenakalan Remaja

  Kenakalan remaja (juvenile delinquency) mengacu kepada suatu rentang perilaku yang luas, mulai dari perilaku yang tidak dapat diterima secara sosial seperti bertindak berlebihan di sekolah, melakukan pelanggaran seperti melarikan diri dari rumah hingga tindakan-tindakan kriminal seperti mencuri (Santrock, 2002 : 22). Sedangkan kenakalan remaja yang dimaksud oleh Sarwono (1994 : 200) adalah perilaku yang menyimpang dari atau yang melanggar aturan hukum.

  Dengan demikian dapat ditarik kesimpulan bahwa kecenderungan kenakalan remaja adalah mengacu pada perilaku atau tindakan yang melanggar aturan sehingga mengakibatkan kerugian terhadap diri sendiri maupun orang lain yang dilakukan oleh remaja.

  2. Bentuk-Bentuk Kenakalan Remaja

  Jensen dalam Sarwono (1994 : 200) membagi perilaku kenakalan remaja dalam 4 bentuk yaitu : a. Kenakalan yang menimbulkan korban fisik pada orang lain: perkelahian, b. Kenakalan yang menimbulkan korban materi: perusakan, pencurian, pencopetan, pemerasan dan lain- lain.

  c. Kenakalan sosial yang tidak menimbulkan korban di pihak orang lain: pelacuran, penyalahgunaan obat, hubungan seks bebas.

  d. Kenakalan yang melawan status, misalnya mengingkari status anak sebagai pelajar dengan cara membolos, minggat dari rumah, membantah perintah.

3. Karakteristik Remaja yang Nakal

  Menurut Kartono (2003), remaja nakal itu mempunyai karakteristik umum yang sangat berbeda dengan remaja tidak nakal. Perbedaan itu mencakup:

  a. Perbedaan struktur intelektual Mereka kurang toleran terhadap hal-hal yang ambigu biasanya mereka kurang mampu memperhitungkan tingkah laku orang lain bahkan tidak menghargai pribadi lain dan menganggap orang lain sebagai cerminan dari diri sendiri.

  b. Perbedaan fisik dan psikis Remaja yang nakal ini memiliki perbedaan ciri karakteristik yang jasmaniah sejak lahir jika dibandingkan dengan remaja normal. Bentuk tubuh mereka lebih kekar, berotot, kuat, dan pada umumnya bersikap c. Karakteristik individual Remaja yang nakal mempunyai sifat kepribadian khusus yang menyimpang seperti : 1) Rata-rata remaja nakal ini hanya berorientasi pada masa sekarang, bersenang-senang dan puas pada hari ini tanpa memikirkan masa depan. 2) Kebanyakan dari mereka terganggu secara emosional. 3) Mereka kurang bersosialisasi dengan masyarakat normal, sehingga tidak mampu mengenal norma-norma kesusilaan, dan tidak bertanggungjawab secara sosial. 4) Mereka senang menceburkan diri dalam kegiatan tanpa berpikir yang merangsang rasa kejantanan, walaupun mereka menyadari besarnya risiko dan bahaya yang terkandung di dalamnya. 5) Pada umumnya mereka sangat impulsif dan suka tantangan dan bahaya.

  6) Hati nurani tidak atau kurang lancar fungsinya. 7) Kurang memiliki disiplin diri dan kontrol diri sehingga mereka menjadi liar dan jahat.

4. Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Nakal

  Perilaku yang mendahului kenakalan remaja sebagaimana dijelaskan oleh Santrock (2002 : 24) adalah sebagai berikut : a. Identitas

  Erikson yakin apabila kenakalan remaja terjadi karena anak remaja gagal mengatasi identitas peran.

  b. Pengendalian diri Beberapa anak remaja gagal memperoleh pengendalian yang esensial yang pada umumnya dicapai orang lain selama proses pertumbuhan.

  c. Usia Penampakan awal perilaku antisosial berkaitan dengan pelanggaran- pelanggaran serius di kemudian hari pada masa remaja. Akan tetapi tidak semua anak yang bertindak berlebihan menjadi anak nakal.

  d. Jenis kelamin Anak laki-laki banyak terlibat dalam perilaku antisosial daripada anak perempuan, walaupun anak-anak perempuan lebih cenderung melarikan diri dari rumah. Anak laki-laki banyak terlibat dalam tindakan-tindakan kejahatan.

  e. Harapan dalam pendidikan dan nilai rapot sekolah Remaja yang menjadi nakal seringkali memiliki harapan-harapan pendidikan yang rendah dan nilai rapot yang rendah. Kemampuan- f. Pengaruh orangtua Remaja nakal seringkali berasal dari keluarga-keluarga dimana orangtua jarang memantau anak-anak mereka, memberi sedikit dukungan, dan mendisiplinkan mereka secara tidak efektif.

  g. Pengaruh teman sebaya Bergaul dengan teman-teman sebaya yang nakal menambah besar resiko menjadi nakal.

  h. Status sosioekonomi Pelanggaran-pelanggaran yang serius lebih sering dilakukan oleh kaum laki-laki kelas rendah. i. Kualitas lingkungan

  Masyarakat seringkali membiakkan kejahatan. Tinggal di suatu daerah yang tingkat kejahatannya tinggi, yang juga dicirikan oleh kondisi- kondisi kemiskinan dan kehidupan yang padat, menambah kemungkinan bahwa seorang anak akan menjadi nakal. Masyarakat ini seringkali memiliki sekolah-sekolah yang sangat tidak memadai.

5. Latarbelakang Penyebab Terjadinya Kenakalan Remaja

  Berdasarkan penelitian disertasi yang telah dilakukan oleh Puspitawati di tahun 2006 lalu dan dituliskan ke dalam bentuk buku mengenai keterkaitan sistem keluarga dan sekolah terhadap kenakalan perilaku kenakalan remaja yang menunjukkan bahwa (Puspitawati, 2009 : 90) :

  a. Karakteristik remaja atau pelajar yang cenderung berperilaku nakal adalah pelajar yang berkepribadian terlalu maskulin dan ekstrovert (baik laki-Iaki maupun perempuan), keadaan psikologinya kurang baik (kurangnya esteem dan kecerdasan emosi), mengalami stres, bersikap dan berperilaku agresif, terlalu solider dan terikat dengan teman-teman yang bermasalah, bersekolah di SMK-TI terutama swasta, tinggal di Kabupaten Bogor dan bergabung dengan kelompok Basis (barisan siswa).

  b. Karakteristik keluarga yang cenderung punya remaja nakal adalah ekonomi menengah ke bawah yang mempunyai tekanan ekonomi tinggi, keluarga yang bertempat tinggal di kabupaten, keluarga yang orangtuanya mempraktekkan pengasuhan dengan kecenderungan kasar dan keras, keluarga yang hubungan antar anggotanya tidak harmonis (tidak bahagia dan tidak puas), keluarga yang mempunyai hubungan antara orangtua dan anak yang cenderung kasar dan keluarga yang mempunyai komunikasi yang tidak terbuka dengan frekuensi yang mempunyai komunikasi dengan pihak sekolah sangat terbatas.

  c. Karakteristik sekolah yang cenderung mempunyai pelajar nakal adalah sekolah SMK-TI, terutama sekolah swasta, sekolah yang jumlah fasilitasnya terbatas dan tidak memadai terutama sarana dan prasarana olahraga, sekolah yang guru-gurunya tidak melakukan pembinaan dan pengawasan dengan baik serta jarang sekali melakukan home visit dan sekolah yang disiplinnya rendah.

  Maka dari itu, dapat ditarik kesimpulan bahwa temuan-temuan analisis yang telah dilakukan oleh Puspitawati menunjukkan adanya suatu kesalahan pada sistem-sistem yang ada, baik pada sistem keluarga, sistem lingkungan sekolah, dan sistem lingkungan di masyarakat. Sistem lingkungan keluarga, sistem lingkungan masyarakat dan sistem lingkungan sekolah menimbulkan munculnya tindak kenakalan pelajar. Hal ini membuktikan bahwa terdapat kontrol sosial (social control) yang lemah termasuk kontrol dari pihak pemerintah, sekolah, keluarga, dan masyarakat.

  Kontrol sosial yang diharapkan mampu berjalan dengan baik, juga diatur melalui adanya aturan hukum yang lebih dikenal dalam masyarakat dengan istilah pranata sosial. Setiap pranata maupun aturan hukum pastinya memiliki keistimewaan dan haknya masing-masing dalam mengatur serta menentukan setiap hal yang berada di dalam cakupan aturan tersebut. Maka akan dijelaskan lebih lanjut mengenai sistem pranata sosial yang diatur secara umum, maupun pranata yang dikenal khusus dengan istilah awig-awig desa adat dimana penelitian ini berlangsung yaitu di salah satu kecamatan di Bali.

B. KONTROL SOSIAL

1. Pranata Sosial

  Dalam suatu lingkungan sosial masyarakat, tiap individu maupun suatu lembaga akan diatur oleh berbagai aturan yang secara tidak langsung ikut mengatur tatanan kehidupan. Aturan-aturan maupun norma-norma yang ada di masyarakat akan secara sadar dipatuhi karena merupakan wujud kesepakatan antar warga untuk menjaga kerukunan dan kenyamanan. Aturan maupun norma yang ada tidak hanya yang resmi tertulis dan diatur oleh undang-undang, namun juga ada yang tidak tertulis tetapi sudah menjadi kesepakatan yang dijalankan oleh masing-masing individu secara turun-temurun. Maka dari itu, lokasi yang dijadikan tempat penelitian yaitu salah satu wilayah kecamatan yang ada di Bali juga memiliki tatanan aturan yang berhubungan dengan adanya desa adat di masing-masing wilayah.

  Aturan tersebut dikenal dengan istilah awig-awig desa adat yang memiliki tujuan untuk mewujudkan kedamaian dalam masyarakat yaitu suasana yang tertib secara fisik dan tentram secara batin (Windia, 2010 : 31).

  Sedangkan dalam kehidupan bermasyakat secara umum, istilah awig-awig yang ada Bali, lebih dikenal dengan istilah pranata sosial.

  Menurut Koentjaraningrat dalam (Herimanto & Winarno, 2010 : 190), Pranata sosial (dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah institution) menunjuk pada sistem pola-pola resmi yang dianut suatu warga masyarakat menyangkut aktivitas masyarakat yang bersifat khusus. Kehidupan masyarakat memiliki beragam pranata, semakin besar dan kompleks kehidupan masyarakat maka makin banyak jumlah pranata yang ada. Penggolongan pranata berdasarkan fungsinya untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia dibagi dalam beberapa ragam antara lain : a. Pranata-pranata untuk memenuhi kebutuhan kehidupan kekerabatan, misal perkawinan, pengasuhan anak, pergaulan antar kerabat dan sistem istilah kekerabatan.

  b. Pranata-pranata ekomoni antara lain pertanian, peternakan, barter, industri dan perbankan.

  c. Pranata-pranata pendidikan misal model pendidikan, jenjang pendidikan, pers, pemberantasan buta aksara, dan perpustakaan.

  d. Pranata-pranata ilmiah antara lain metodologi ilmiah, penelitian, dan pengukuran.

  e. Pranata-pranata untuk memenuhi kebutuhan akan keindahan dan seni seperti olahraga, berbagai kesenian dan kesusastraan.

  f. Pranata-pranata keagamaan sebagai kebutuhan manusia untuk berhubungan dengan Tuhan atau alam gaib. Misal upacara, semedi, bertapa, penyiaran agama, dan ilmu gaib.

  g. Pranata-pranata untuk menjaga dan megatur kekuasaan di masyarakat, misal kepolisian, kehakiman, pemerintahan, demokrasi, tentara, dan h. Pranata-pranata untuk memenuhi kebutuhan akan kenyamanan hidup seperti pemeliharaan kecantikan, kebugaran, kesehatan, dan kedokteran.

2. Problema Sosial

  Adanya aturan atau pranata sosial di dalam masyarakat, tidak pula menjamin bahwa kehidupan dapat berjalan dengan teratur dan tertib sebab pada kenyataannya masing-masing individu memiliki pemikiran serta batas tanggungjawab yang berbeda-beda. Oleh sebab itu, di dalam masyarakat sosial pastinya akan muncul permasalahan dan problema sosial yang harus menjadi fokus pemikiran bersama.

  Problema sosial merupakan persoalan karena menyangkut tata kelakuan yang abnormal, amoral, berlawanan dengan hukum, dan bersifat merusak. Problema sosial menyangkut nilai-nilai sosial dan moral yang menyimpang sehingga perlu diteliti, ditelaah, diperbaiki, bahkan mungkin untuk dihilangkan. Problema-problema sosial timbul dari kekurangan dalam diri manusia atau kelompok manusia yang bersumber dari faktor ekonomi, biologis, biopsikologis, dan kebudayaan. Setiap masyarakat memiliki sejumlah norma-norma yang menyangkut kesejahteraan, kebendaan, kesehatan, dan penyesuaian terhadap lingkungan sosial. Sesuai dengan faktor-faktor penyebabnya, maka problema sosial diklasifikasikan oleh Soerjono Sekanto sebagai berikut (dalam Herimanto & Winarno, 2010 : a. Problema sosial karena faktor ekonomi seperti kemiskinan, kelaparan dan pengangguran.

  b. Problema sosial karena faktor biologis seperti wabah penyakit.

  c. Problema sosial karena faktor psikologis seperti bunuh diri, sakit jiwa dan disorganisasi.

  d. Problema sosial karena faktor kebudayaan seperti perceraian, kejahatan, kenakalan anak, konflik ras, dan konflik keagamaan.

C. REMAJA

1. Pengertian remaja

  Remaja atau dikenal dengan istilah adolescence berasal dari kata Latin adolescere (kata bendanya adolescentia yang berarti remaja) yang berarti “tumbuh” atau “tumbuh menjadi dewasa”. Istilah adolescence yang sering digunakan saat ini mempunyai arti yang lebih luas mencakup kematangan mental, emosional, sosial, dan fisik (Hurlock 1997 : 206).

  Piaget (dalam Hurlock, 1997 : 206) mengatakan bahwa secara psikologis masa remaja adalah usia dimana individu berintegrasi dengan masyarakat dewasa, usia dimana anak tidak lagi merasa di bawah tingkat orang-orang yang lebih tua melainkan berada dalam tingkatan yang sama, sekurang-kurangnya dalam masalah hak.

  Masa remaja itu sendiri adalah masa transisi atau peralihan dari masa perubahan-perubahan yang sangat cepat, baik dari segi fisik, psikis dan psikososial. Perkembangan remaja yang sering disebut sebagai masa “topan dan badai” memang kerapkali menimbulkan ketidakstabilan dari waktu ke waktu sebagai suatu konsekuensi dari penyesuaian diri pada pola perilaku serta harapan sosial yang baru. Hal ini berkaitan dengan tugas perkembangan remaja yang harus dilaluinya dan merupakan masa tersulit sebab remaja harus bisa bahkan dituntut untuk dapat menyesuaikan diri dengan orang-orang dewasa di luar lingkungan rumah serta lingkungan sekolahnya.

  Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa masa remaja adalah masa peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa dengan adanya perubahan-perubahan yang sangat cepat dari segi fisik, psikis dan psikososial.

2. Perkembangan Remaja

  a. Aspek Fisik Menurut Santrock (2002 : 9) perubahan fisik yang terjadi pada remaja terlihat nampak ketika masa pubertas yaitu meningkatnya tinggi dan berat badan serta kematangan sosial. Diantara perubahan fisik itu, yang terbesar pengaruhnya pada perkembangan jiwa remaja adalah pertumbuhan tubuh (badan menjadi semakin panjang dan tinggi). haid pada wanita dan mimpi basah pada laki-laki) dan tanda-tanda seksual sekunder yang tumbuh.

  b. Aspek Kognitif Menurut Piaget (dalam Santrock, 2002 : 10) pemikiran operasional formal berlangsung antara usia 11 sampai 15 tahun.

  Pemikiran operasional formal lebih abstrak, idealis, dan logis daripada pemikiran operasional konkret. Piaget menekankan bahwa remaja terdorong untuk memahami dunianya karena tindakan yang dilakukannya termasuk penyesuaian diri biologis. Secara lebih nyata mereka mengaitkan suatu gagasan dengan gagasan lain. Mereka bukan hanya mengorganisasikan pengamatan dan pengalaman akan tetapi juga menyesuaikan cara berfikir mereka untuk menyertakan gagasan baru karena informasi tambahan membuat pemahaman lebih mendalam.

  Remaja berpikir lebih abstrak dibandingkan dengan anak-anak misalnya remaja dapat menyelesaikan persamaan aljabar abstrak.

  Remaja juga lebih idealistis dalam berpikir seperti dalam hal memikirkan karakteristik ideal dari diri sendiri, orang lain dan dunia.

  Remaja berfikir secara logis dengan mulai berpikir seperti ilmuwan, menyusun berbagai rencana untuk memecahkan masalah dan secara sistematis menguji cara pemecahan yang terpikirkan. Oleh karena itu dalam perkembangan kognitif, remaja tidak terlepas dari lingkungan sosial. Hal ini menekankan pentingnya interaksi sosial dan budaya dalam perkembangan kognitif remaja.

  c. Aspek Sosial Santrock (2002) mengungkapkan bahwa pada transisi sosial, remaja mengalami perubahan dalam hubungan individu dengan manusia lain yaitu dalam emosi, dalam kepribadian, dan dalam peran dari konteks sosial dalam perkembangan. Membantah orangtua, serangan agresif terhadap teman sebaya, perkembangan sikap asertif, kebahagiaan remaja dalam peristiwa tertentu serta peran gender dalam masyarakat merefleksikan peran proses sosial-emosional dalam perkembangan remaja. John Flavell (dalam Santrock, 2002) juga menyebutkan bahwa kemampuan remaja untuk memantau kognisi sosial mereka secara efektif merupakan petunjuk penting mengenai adanya kematangan dan kompetensi sosial mereka.

  Steinberg (dalam Santrock, 2002 : 42) mengemukakan bahwa masa remaja awal adalah suatu periode ketika konflik dengan orangtua meningkat melampaui tingkat masa anak-anak. Peningkatan ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor yaitu perubahan biologis pubertas, perubahan kognitif yang meliputi peningkatan idealism dan penalaran logis, perubahan sosial yang berfokus pada kemandirian dan identitas, perubahan kebijaksanaan pada orang tua, dan harapan-harapan yang

  Collins (dalam Santrock, 2002 : 42) menyimpulkan bahwa banyak orangtua melihat remaja mereka berubah dari seorang anak yang selalu menurut menjadi seseorang yang tidak mau menurut, melawan, dan menantang standar-standar orangtua. Bila ini terjadi, orangtua cenderung berusaha mengendalikan dengan keras dan memberi lebih banyak tekanan kepada remaja agar mentaati standar-standar orangtua.

  Berdasarkan uraian tersebut, maka peneliti menyimpulkan bahwa proses perkembangan remaja meliputi masa transisi biologis yaitu pertumbuhan dan perkembangan fisik. Transisi kognitif yaitu perkembangan kognitif remaja pada lingkungan sosial dan juga proses sosio-emosional dan yang terakhir adalah masa transisi sosial yang meliputi hubungan dengan orangtua, teman sebaya, serta masyarakat sekitar.

3. Tugas-tugas Perkembangan Remaja

  Havinghurst membagi tugas-tugas perkembangan remaja menjadi lima, yaitu (Zulkifli, 1992 : 76) : a. Bergaul dengan teman sebaya dari kedua jenis kelamin

  b. Mencapai peranan sosial sebagai pria dan wanita

  c. Menerima keadaan fisik sendiri

  d. Memilih dan mempersiapkan lapangan pekerjaan

D. SISTEM SEKOLAH

1. Pengertian Sistem

  Pengertian sistem dalam kamus besar bahasa Indonesia (1995 : 950) adalah susunan perangkat yang secara teratur saling berkaitan sehingga membentuk suatu totalitas. Dalam dunia pendidikan, sistem menjadi satu kesatuan komponen yang saling berkaitan dan saling berinteraksi untuk mencapai suatu hasil yang diharapkan secara optimal sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan, seperti halnya siswa, guru, kepala sekolah, gedung, sarana dan prasarana merupakan bagian dari sistem sekolah.

  Seperti salah satu tulisan dalam kolom opini pendidikan (Ichan, 2010) disebutkan bahwa pada praktek pendidikan sering ditafsirkan secara kurang bertanggungjawab oleh banyak sekolah. Melalui perbincangan dengan beberapa kolega, mereka mengakui bahwa praktik tim sukses guru dalam ujian kelulusan siswanya adalah sebagai sebuah ketidakberdayaan karena sistem yang ada, meskipun terkadang tidak sesuai dengan hati nurani. Sedangkan untuk problem kekerasan dan perilaku menyimpang siswa yang selalu terjadi dan hangat diperbincangkan setiap saat di tengah masyakarat adalah salah satu contoh perlunya mendaur ulang sistem pengajaran di sekolah.

  2. Karakteristik Sistem

  Terdapat tiga hal penting yang menjadi karakteristik suatu sistem,

  pertama setiap sistem pasti memiliki tujuan. Tujuan merupakan ciri utama

  dari suatu sistem karena tidak ada sistem tanpa tujuan. Tujuan merupakan arah yang harus dicapai oleh suatu pergerakan sistem. Semakin jelas tujuan maka semakin mudah menentukan pergerakan sistem. Kedua, sistem selalu mengandung suatu proses. Proses adalah rangkaian kegiatan yang diarahkan untuk mencapai tujuan. Semakin kompleks tujuan, maka semakin rumit juga proses kegiatan. Ketiga, proses kegiatan dalam suatu sistem selalu melibatkan dan memanfaatkan berbagai komponen atau unsur-unsur tertentu. Oleh sebab itu, suatu sistem tidak mungkin hanya memiliki satu komponen saja. Sistem memerlukan dukungan berbagai komponen yang satu sama lain saling berkaitan (Pengertian dan kegunaan sistem pendidikan, 2011).

  3. Pengertian Sekolah

  Sekolah merupakan suatu lembaga yang memiliki tujuan dan minat yang sama untuk memajukan pendidikan (Kamus lengkap psikologi, 2005 : 447). Sedangkan dalam kamus besar bahasa Indonesia (1995 : 892), sekolah adalah bangunan atau lembaga untuk belajar dan mengajar serta tempat menerima dan memberi pelajaran dasar, lanjutan serta tingkat tinggi menerima dan memberi pelajaran dalam hal dagang, guru, teknik, pertanian, dan sebagainya. Beberapa kalangan juga mengartikan bahwa sekolah merupakan tempat menuntut ilmu pengetahuan dan pengajaran untuk memperoleh kepandaian atau tujuan tertentu.

4. Karakteristik Sekolah

  Karakteristik sekolah yang cenderung mempunyai pelajar nakal adalah sekolah yang jumlah muridnya banyak dengan rasio guru / murid yang rendah, sekolah yang fasilitasnya terbatas dan tidak memadai terutama sarana dan prasarana olahraga, sekolah yang guru-gurunya tidak melakukan pembinaan dan pengawasan dengan baik serta jarang sekali melakukan home visit, dan sekolah yang disiplin siswanya rendah (Puspitawati, 2009 : 91).

  Dengan demikian berdasarkan uraian di atas, maka diperoleh kesimpulan bahwa definisi sistem sekolah adalah sejumlah susunan perangkat yang secara teratur saling berkaitan sehingga membentuk totalitas dalam rangka memajukan serta mewujudkan tujuan dan minat yang sama pada suatu lembaga pendidikan.

5. Kepala Sekolah Sebagai Bagian dari Sistem

  Kepala sekolah merupakan pimpinan tertinggi di sebuah lembaga pendidikan yang dipilih oleh dinas terkait. Sebagai seorang pemimpin, peran kepala sekolah secara tidak langsung berpengaruh pada pertumbuhan prestasi belajar siswa. Hal ini berhubungan dengan adanya kepuasan guru terhadap pelaksanaan peranan profesional seorang kepala sekolah sehingga berdampak pula pada kinerja guru dalam mengajar. Dengan melakukan perbaikan sistem sekolah serta melalui penataan dan praktek pembelajaran, kepemimpinan seorang kepala sekolah lebih bersifat transaksional yang dicirikan dengan adanya pemenuhan kebutuhan guru dan murid berdasarkan tujuan sekolah yang telah disepakati bersama (Sulistyorini, 2009).

  Selain itu kepala sekolah adalah guru yang diberikan tambahan tugas struktural, dengan demikian jika masa tugas selesai maka dengan sendirinya akan kembali sebagai guru sepenuhnya. Seorang kepala sekolah juga merupakan birokrat, atasan, kepanjangan tangan departemen pendidikan atau yayasan sehingga perlu disadari bahwa kepala sekolah juga menjadi

  leader

  , bukan sekedar manager. Seorang manager yang baik cukup doing

  things right yang dapat diartikan sekedar melaksanakan petunjuk

  pelaksanaan dan petunjuk teknis secara cermat. Sebaliknya sebagai leader, kepala sekolah dituntut mampu doing the right things, artinya mampu dan berani mengambil prakarsa atau keputusan dalam rangka implementasi kurikulum dan aneka kebijakan secara tepat serta kreatif-inovatif sesuai situasi dan kondisi setempat (Kartono, 2009 : 20).

  Kewajiban serta tanggungjawab seorang kepala sekolah sebagaimana yang telah dipaparkan di atas sangatlah tidak mudah. Banyak beban dan harapan yang secara tidak langsung ditujukan padanya melalui pihak sekolah. Kepemimpinan seorang kepala sekolah yang juga merangkap sebagai guru pada dasarnya memiliki kesamaan dengan tugas seorang manajer di suatu perusahaan yang bertugas menjadi pemimpin dan mengatur anak buahnya. Maka dari itu, kepala sekolah sepatutnya memperhatikan tugas-tugasnya sebagai berikut (Yukl, 2005 : 34) : a. Sebagai Supervisi

  Kepala sekolah wajib memperbaiki kinerja bawahannya dengan bekerjasama untuk menganalisis kekuatan dan kelemahan mereka, memberikan pelatihan, mengembangkan keterampilan, merencanakan pekerjaan, dan menetapkan sasaran prestasi.

  b. Sebagai Perencana Kepala sekolah wajib merumuskan rencana jangka pendek, melaksanakan proyek dan menyusun anggaran, mengevaluasi struktur organisasi untuk menentukan alokasi dan penggunaan sumber daya secara optimal, menerjemahkan rencana jangka panjang ke dalam sasaran oprasional jangka pendek, mendukung dan mengembangkan c. Sebagai Pembuat Keputusan / Kebijakan Kepala sekolah membuat suatu keputusan tanpa ragu dalam situasi yang tidak terstruktur, memberi kewenangan untuk membuat penyimpangan kecil maupun besar terhadap prosedur yang telah ditetapkan untuk memenuhi keadaan baru dan tidak biasa.

  d. Sebagai Pemantau Kepala sekolah memantau kekuatan internal dan eksternal yang dapat mempengaruhi termasuk indikator tentang kinerja, keuangan dan aset sekolah serta suasana budaya dan sosial di sekitar sekolah.

  e. Sebagai Pengendali Kepala sekolah mengembangkan rencana kerja dan perkiraan biaya serta waktu untuk menyampaikan suatu produk jasa pendidikan, menelusuri produktivitas, memastikan kinerja serta menganalisis efektivitas operasional sekolah.

  f. Sebagai Pemberi Penjelasan Kepala sekolah wajib menjawab pertanyaan dan menanggapi keluhan dari pihak luar, berkomunikasi dengan pihak luar untuk memajukan hubungan, bernegosiasi dengan pihak luar, menjaga citra lembaga sehingga tetap mendapatkan kepercayaan.

  g. Sebagai Koordinator Kepala sekolah menjalin komunikasi dengan lembaga lain guna saling sebelumnya, menyelesaikan persoalan dan mencapai tujuan, mempertahankan hubungan baik dengan lembaga lain serta menengahi kesalahpahaman dan konflik yang muncul diantara individu.

  h. Sebagai Konsultan Kepala sekolah selalu mengikuti perkembangan teknologi yang sedang terjadi dalam bidang tertentu, memperkenalkan teknik-teknik atau teknologi baru ke dalam sekolah dan bertindak sebagai penasehat, konsultan bagi bawahan. i. Sebagai Administrasi

  Kepala sekolah melakukan aktivitas administrasi dasar seperti mencari informasi mengenai praktek serta prosedur sekolah, menganalisis informasi rutin atau menyelenggarakan arsip dan dokumen yang terperinci serta akurat.

  E. Gambaran Sekolah X

  Sekolah ini merupakan sekolah menengah pertama negeri yang berada di lingkungan kecamatan / desa. Sekolah ini merupakan sekolah favorit yang berada di peringkat ke empat setelah 3 SMP lain yang berada di kabupaten / kota. Akan tetapi, SMP ini merupakan sekolah terfavorit pertama di lingkungan kecamatan dengan peminat terbanyak berasal dari kalangan masyarakat ekonomi menengah ke bawah.

  Untuk standar sekolah yang berada di kecamatan / desa, sekolah X termasuk sekolah yang memiliki sarana dan prasarana yang tidak kalah lengkapnya dengan sekolah menengah pertama yang berada di kabupaten. Para orangtua yang notabene banyak berasal dari tingkat ekonomi menengah ke bawah dapat terbantu dengan adanya program BOS (Biaya Operasional Sekolah) sehingga uang sekolah anak-anaknya pun ditanggung oleh pemerintah pusat. Selain keringanan tersebut, sekolah pun menawarkan kegiatan ekstrakurikuler yang didukung pula dengan adanya ketersediaan sarana sekolah yang cukup memadai seperti laboraturium fisika dan biologi, lapangan basket, UKS, koperasi sekolah, kantin, ruang belajar, perpustakaan yang cukup lengkap serta dilengkapi dengan adanya internet yang sekaligus menjadi ruang multimedia, dan tempat persembahyangan yang disebut dengan “padmasana” karena mayoritas warga sekolahnya adalah umat Hindu. Akan tetapi kelengkapan sarana tersebut tidak disertai dengan pemeliharaan yang baik sebab ruang multimedia dan internet yang disediakan selama ini dalam kondisi rusak sehingga tidak dapat dipergunakan untuk belajar.

  Sekolah X memiliki peraturan serta tata tertib siswa yang dapat dikatakan cukup ketat dan menjelaskan hal rinci mengenai kewajiban serta hak- hak siswa selama berada di lingkungan sekolah. Peraturan tersebut berfungsi sebagaimana mestinya dalam hal pemberlakuan hukuman sesuai dengan jenis pelanggaran yang telah dilakukan. Namun pada kenyataannya, terkadang penjagaan yang ada di depan pintu gerbang sekolah sudah cukup membantu. Akan tetapi hal tersebut tidak begitu saja mampu dijalankan dengan baik sebab beberapa siswa yang suka membolos masih bisa meloncati tembok sekolah yang jauh dari pengawasan guru dan pos penjagaan satpam.

  Sebenarnya dengan adanya tata tertib tersebut, semua pihak mengharapkan seluruh warga sekolah dapat saling mengingatkan dan menuntun perilaku antar individu melalui pemberian sanksi-sanksi yang berlaku dan cukup mengikat. Akan tetapi dalam pelaksananaannya masih mengalami beberapa hambatan sehingga sekolah X yang bertujuan ingin meningkatkan mutu pendidikan membuat program berupa visi, misi serta kode etik siswa yang diharapkan dapat memunculkan semangat kebersamaan antara lain : Visi : Sekolah X selalu berpacu dalam prestasi.

  Misi : Unggul dalam perolehan “NEM”

  Unggul dalam lomba-lomba akademik dan non akademik Unggul dalam kegiatan spiritual

  Kode Etik Siswa :

  Standar etika siswa adalah standar perilaku yang baik yang mencerminkan ketinggian akhlak dan ketaatan terhadap norma-norma etik yang hidup dalam masyarakat meliputi :

  1. Bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa sesuai agama dan kepercayaan yang dianut.

  3. Menjunjung tinggi kebudayaan nasional.

  4. Menjaga kewibawaan dan nama baik sekolah.

  5. Secara aktif ikut memelihara sarana dan prasarana sekolah serta menjaga kebersihan, ketertiban dan keamanan.

  6. Menjaga integritas pribadi sebagai warga sekolah.

  7. Mentaati peraturan dan tata tertib sekolah.

  8. Berpenampilan rapi dan sopan.

  9. Berperilaku ramah dan menjaga sopan santun terhadap orang lain.

  10. Menghormati orang lain tanpa membedakan suku, agama, ras dan status sosial.

  11. Taat terhadap norma hukum dan norma lainnya yang hidup di tengah masyarakat.

  12. Menghargai pendapat orang lain.

  13. Bertanggungjawab dalam perbuatannya.

  14. Menghindari perbuatan yang tidak bermanfaat dan atau bertentangan dengan norma hukum dan norma lainnya yang hidup di tengah masyarakat.

  15. Berupaya dengan sungguh-sungguh menambah ilmu pengetahuan.

  Kekhasan dari peraturan sekolah yang ada di Bali adalah dalam hal melakukan persembahyangan atau tri sandya bersama di dalam kelas sebelum jam pelajaran berlangsung. Kegiatan persembahyangan tersebut diatur dalam salah satu butir tata tertib sekolah yang mengatur tentang perilaku siswa di dalam lingkungan sekolah. Isi dari peraturan ini dengan jelas menyebutkan bahwa sebelum pelajaran dimulai, semua siswa harus berdoa atau sembahyang sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing. Bagi siswa yang beragama Hindu akan dipimpin oleh salah satu teman di depan kelas untuk sembahyang bersama, sedangkan bagi yang beragama lain pun mengikuti sikap berdiri selama sembahyang sambil berdoa sesuai kepercayaannya. Apabila siswa yang beragama lain sudah selesai berdoa, diharapkan tidak mengganggu teman-teman yang lain maupun teman-teman yang masih membaca doa di dalam kelas.

  Secara keseluruhan menurut pendapat guru BK dan guru honorer yang menjadi narasumber mengatakan bahwa pihak sekolah terutama kepala sekolah kurang mendukung program sekolah dan terkesan hanya mencari banyak dukungan serta simpati orangtua sehingga setiap tahun kepala sekolah terkesan banyak menerima murid tanpa memperhatikan kuota maksimal yang ada di sekolah. Hal ini berdampak pada meledaknya jumlah siswa di sekolah X sedangkan sekolah negeri serupa yang berada di kecamatan yang sama sampai kekurangan siswa. Sedangkan masalah meledaknya jumlah siswa di sekolah X menyebabkan harus diberlakukannya pembagian jam masuk sekolah di pagi dan siang hari.

  Jumlah murid sebanyak 1055 orang dan 16 ruang kelas yang tidak seimbang menjadi masalah lain yang ada di sekolah X sebab pada kenyataannya jumlah guru keseluruhan 79 orang juga tidak seimbang dengan jumlah murid yang berakibat beberapa guru memiliki jam mengajar yang penuh, sedangkan guru-guru yang sudah sertifikasi justru tidak memenuhi jam mengajar yang seharusnya. Permasalahan ini kurang mendapat perhatian dari kepala sekolah sebagai seorang pemimpin sebab kepala sekolah terkesan lebih mencari keuntungan finansial dengan menerima banyak siswa tanpa memperhatikan aturan serta kesepakatan dengan sekolah lain untuk membagi kuota penerimaan siswa baru.

F. Pengaruh Sistem Sekolah terhadap Perilaku Kenakalan Siswa di Sekolah

  Perilaku kenakalan siswa pada umumnya menjadi suatu masalah sosial di masyarakat sebab terkadang merugikan pula bagi banyak pihak. Kenakalan yang dilakukan oleh para remaja umumnya dikategorikan pula dalam perilaku yang menyimpang sebab perilaku tersebut menyimpang dari aturan-aturan masyarakat. Fenomena ini menjadi fokus pemikiran terutama bagi pemerhati dunia pendidikan sebab belakangan ini perilaku kenakalan semakin mengkhawatirkan. Perilaku kenakalan tidak hanya berupa tindakan yang namun beberapa diantaranya menjurus ke dalam perilaku kriminalitas misal tawuran antar pelajar yang menelan korban jiwa dan bahkan tindak pembunuhan serta seks bebas.

  Peristiwa tersebut menjadi sangat memprihatinkan sebab terkadang orangtua maupun sekolah tidak mengetahui apabila siswanya mencoba melakukan tindak kenakalan, baik di dalam lingkungan rumah maupun sekolah ataupun di luar lingkungan tersebut. Hal ini bisa terjadi karena kedua sistem yang saling terkait tersebut terkadang kurang mampu menjalin komunikasi dengan baik sebab merasa bahwa sistem pendidikan yang telah mereka ajarkan kepada anak telah sesuai dengan aturan dan merasa sudah dijalankan dengan baik. Sekolah yang juga dapat berpotensi menjadi salah satu penyebab terjadinya perilaku kenakalan remaja, bagi sebagian orang menjadi tempat pendidikan sekunder yang setiap hari didatangi oleh remaja selain lingkungan rumah. Oleh sebab itu pengaruh sekolah diharapkan mampu membawa nilai positif bagi perkembangan jiwa remaja melalui pendidikan formal (Sarwono, 1994 : 121). Dengan demikian kerjasama antara orangtua dengan sekolah diharapkan dapat lebih baik dan saling terbuka dalam menyampaikan informasi dua arah yang berkaitan mengenai diri remaja yang ada di bawah pengawasan mereka.

  Karakteridtik keluarga maupun sekolah yang dapat mendukung terjadinya tindak kenakalan biasanya adalah yang terlalu kaku atau bahkan lingkungan tersebut. Selain itu terkadang lingkungan keluarga dan sekolah mempraktekkan pola asuh atau pola pengajaran yang keras terhadap remaja sehingga akhirnya muncul penolakan dan perlawanan dari para remaja yang memiliki kecenderungan lebih agresif, lebih berani, dan tidak takut akan adanya pemberlakuan hukuman. Akan tetapi terkadang lingkungan sosial maupun pola pergaulan juga dapat saling mempengaruhi sebab remaja merasa mendapatkan kenyamanan yang tidak mereka peroleh di lingkungan rumah dan sekolah. Lingkungan sosial masyarakat yang menjadi tempat perlindungan bagi diri remaja akan selalu dapat mencuri perhatian sebab memiliki kemampuan untuk lebih memahami perkembangan remaja yang notabene berada pada masa transisi.

  Perlu disadari bahwa pelaku kenakalan pada umumnya adalah para remaja yang belum matang secara emosional dan berada pada masa pencarian identitas sehingga menyebabkan remaja cenderung sulit untuk dikontrol dan terkesan liar (Santrock, 2002). Akan tetapi karakteristik dari diri remaja yang mudah terpengaruh oleh pola pergaulan yang kurang baik pun menjadi penyebab lain terjadinya kenakalan remaja. Adapun karakteristik diri remaja yang suka melakukan tindak kenakalan diantaranya adalah memiliki fisik yang lebih kuat, memiliki emosi yang lebih labil, kurang memiliki kontrol diri serta rasa tanggunjawab terhadap diri sendiri, pada umumnya menyukai tantangan, memikirkan kesenangan sesaat dan lain sebagainya (Kartono, 2003).

  Lingkungan sekolah pastinya memiliki suatu sistem yang berlaku umum dan bertujuan untuk mengatur banyak kepentingan di dalamnya. Apabila sistem dapat dijalankan dengan baik maka akan diperoleh ketertiban serta keteraturan di dalam lingkungan sekolah. Termasuk dalam hal ini tindak kenakalan remaja dapat diminimalkan dengan adanya peraturan yang jelas. Namun apabila suatu sistem tidak dapat dijalankan dengan baik oleh sekolah, maka hal tersebut dapat menjadi salah satu penyebab munculnya tindakan kenakalan remaja yang terjadi di lingkungan sekolah antara lain membolos, mengganggu teman, tidak mendengarkan pelajaran, mencontek, memalak, dan lain sebagainya karena siswa merasa dapat bersikap seenaknya tanpa takut akan mendapatkan teguran yang tegas.

  Dengan demikian dapat diperoleh gambaran bahwa sistem sekolah yang tidak berjalan dengan baik, secara tidak langsung menjadi salah satu faktor penyebab terjadinya tindak kenakalan siswa di sekolah. Maka dalam hal ini diperlukan kerjasama dari banyak pihak, tidak hanya perhatian dari orangtua saja namun juga keikutsertaan masyarakat akan dapat membantu mengurangi timbulnya perilaku kenakalan remaja terutama di lingkungan yang bersangkutan.

  

Gambar 1

Skema Teoritis

  Latarbelakang Karakter Kenakalan penyebab remaja remaja kenakalan

  Karakter keluarga Karakter Kontrol lingkungan sosial

  Tugas Remaja

  Pranata dan perkembangan problema remaja

  Kepala sekolah Sistem sebagai bagian sekolah dari sistem

BAB III METODE PENELITIAN A. PENDEKATAN PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan

  desain penelitian studi kasus. Studi kasus merupakan sebuah eksplorasi dari suatu sistem yang terikat dari waktu ke waktu melalui pengumpulan data yang mendalam serta melibatkan berbagai sumber informasi yang kaya dalam suatu konteks. Sistem terikat yang dimaksudkan yaitu diikat oleh waktu dan tempat sedangkan kasus dapat dikaji dari suatu program, peristiwa, dan aktivitas dari suatu individu. Dengan kata lain peneliti menggali suatu kasus dalam waktu tertentu serta mengumpulkan informasi terinci dan mendalam dengan menggunakan berbagai prosedur pengumpulan data (Creswell, 1998).

  Creswell mengungkapkan bahwa konteks kasus dapat “mensituasikan” kasus di dalam settingnya yang terdiri dari setting fisik maupun setting sosial, sejarah atau setting ekonomi. Sedangkan fokus di dalam suatu kasus dapat dilihat dari keunikannya sehingga memerlukan studi intrinsik (intrinsic case

  study ) sebab hal-hal yang menarik untuk dipelajari berasal dari kasus itu sendiri

  atau dapat dikatakan mengandung minat intrinsik (intrinsic interest). Pada dasarnya, studi kasus yang sifatnya unik dan kualitatif tidak dapat diukur dengan parameter yang digunakan dalam penelitian kuantitatif yang bertujuan

B. BATASAN KASUS

  Dalam sebuah penelitian diperlukan batasan kasus agar tidak mengaburkan fokus penelitian yang akan diteliti. Batasan kasus dapat dilihat dari aspek waktu, proses dan peristiwa (Creswell, 1998) sehingga dalam penelitian ini kemudian dibatasi hanya untuk memahami kasus kenakalan remaja berdasarkan situasi yang alamiah dan sesuai dengan konteks dimana peristiwa itu terjadi sehingga dapat diperoleh gambaran menyeluruh mengenai pengaruh sistem sekolah terhadap perilaku kenakalan siswa di sekolah X. Adapun narasumber yang terlibat dalam proses wawancara adalah bagian dari sistem sekolah yang tidak dapat terlepas satu dengan lainnya yaitu guru, murid, kepala sekolah dan sarana serta prasarana sekolah yang dapat terlihat melalui proses observasi lapangan.

  Untuk menjaga kerahasiaan serta kode etik selama penelitian berlangsung, bagi para narasumber yang terlibat akan diberikan informed

  concern

  sehingga diharapkan dapat meminimalkan implikasi dampak yang dapat ditimbulkan dari keikutsertaan narasumber dalam penelitian. Selain itu peneliti akan menjamin semua data yang telah diperoleh dari masing-masing narasumber untuk memberikan kenyamanan serta rasa aman sehingga narasumber dapat memberikan informasi yang sebenar-benarnya tanpa mendapat tekanan dari pihak manapun. Semua data yang telah diperoleh oleh peneliti selama proses penelitian berlangsung akan digunakan untuk kepentingan studi saja dan tidak akan disebarkan dengan cara menuliskan data pribadi hanya dalam bentuk inisial nama serta inisial sekolah.

C. SUBJEK PENELITIAN

  Untuk memperoleh informasi yang diperlukan, maka narasumber penelitian dipilih sesuai tujuan yang hendak dicapai. Tujuan dari penelitian ini adalah ingin memahami kasus kenakalan remaja berdasarkan situasi yang alamiah dan sesuai dengan konteks dimana peristiwa itu terjadi sehingga dapat diperoleh gambaran menyeluruh mengenai pengaruh sistem sekolah terhadap perilaku kenakalan siswa di sekolah X. Unsur-unsur yang menjadi bagian dari sistem sekolah diantaranya adalah siswa, guru, kepala sekolah, gedung, sarana dan prasarana (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1995 : 950). Tidak ada aturan pasti dalam jumlah subjek yang harus diambil dalam penelitian kualitatif dan sangat bergantung pada apa yang ingin diketahui oleh peneliti, tujuan penelitian, konteks saat itu, apa yang dianggap bermanfaat serta apa yang dapat dilakukan dengan waktu dan sumberdaya yang tersedia (Patton dalam Poerwandari 2001).

  Siswa yang menjadi narasumber adalah salah satu siswa yang pernah bermasalah di sekolah, sedangkan kepala sekolah menolak untuk diwawancarai langsung oleh peneliti namun memberikan ijin untuk melakukan wawancara kepada guru BK, murid serta guru-guru lain yang diperlukan. Kepala sekolah memberikan potongan berita yang ada dalam salah satu koran pendidikan lokal mengenai prestasi yang pernah diukir serta masa jabatan beliau di sekolah X sebagai tambahan argumentasi dari pihak kepala sekolah.

D. METODE PENGUMPULAN DATA

  Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi, wawancara, dan dokumen / hasil catatan perilaku salah satu siswa yang menjadi narasumber sebagai data tambahan penelitian.

1. Teknik Wawancara

  Wawancara adalah percakapan dengan bertatap muka dengan tujuan untuk memperoleh informasi aktual, untuk menilai dan menarik kesimpulan kepribadian individu, untuk tujuan konseling atau penyuluhan dan tujuan terapeutis. Dalam proses wawancara ada dua pihak yang menempati kedudukan yang berbeda yaitu pewawancara (interviewer) sebagai pengejar informasi atau yang mengajukan pertanyaan dan pihak yang diwawancarai (interviewee) sebagai pemberi informasi atau yang memberikan jawaban atas pertanyaan yang diajukan tersebut (Kartono, 1996 : 187).

  Metode wawancara adalah suatu metode pengumpulan data dengan jalan wawancara yaitu mendapatkan informasi dengan cara bertanya langsung dengan responden. Wawancara yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara terstruktur. Wawancara terstruktur merupakan wawancara yang pewawancaranya menetapkan sendiri masalah dan pertanyaan yang akan kegiatan wawancara dan jawaban dari seluruh informasi dibuat dalam catatan lapangan. Supaya data yang diperoleh dalam penelitian ini sesuai dengan harapan maka langkah yang ditempuh dalam mengadakan wawancara (interview) adalah :

  a. Mempersiapkan hal-hal yang akan diungkap. Peneliti mencari informasi dari berbagai sumber mengenai motif dan latar belakang melakukan tindak bullying yang akhirnya terbentuklah suatu daftar pertanyaan sebagai pedoman dalam mengumpulkan dan mencari data dari subyek penelitian.

  b. Menciptakan hubungan yang baik dengan subyek penelitian yang akan diwawancarai, melakukan pendekatan personal, serta menciptakan rasa nyaman dengan menerima apapun keadaan yang ada pada diri subyek penelitian.

  c. Peneliti menyampaikan maksud adanya wawancara dan membentuk kepercayaan bahwa apapun yang peneliti lakukan terhadap subyek tidak akan disebarluaskan.

  d. Peneliti menyiapkan alat berupa tape recorder / HP untuk menyimpan hasil wawancara peneliti terhadap responden.

  e. Mencatat dengan segera hasil yang diperoleh. Setiap hal yang ditanyakan langsung dicatat di lembaran kertas-kertas menghindari kelupaan.

  Proses wawancara difokuskan pada empat hal utama antara lain bentuk kenakalan-kenakalan siswa, data kenakalan di sekolah (meningkat / menurun), sistem kebudayaan setempat yang secara tidak langsung berpengaruh kepada sekolah, serta mengenai cara penanganan pihak sekolah terhadap perilaku kenakalan siswa di sekolah.

  Tabel 1. Wawancara

Aspek Narasumber

   Bentuk kenakalan siswa  Data perilaku kenakalan di sekolah  Sistem kebudayaan setempat

   Cara penanganan sekolah terhadap perilaku kenakalan  Guru BK, salah satu siswa bermasalah, korban dari tindak kenakalan teman.

   Guru BK, salah satu guru honor.

   Salah satu guru tetap seklaigus anggota komite sekolah.

   Guru BK, salah satu guru honor.

2. Teknik Observasi

  Kartono (1996 : 157) mengatakan bahwa observasi merupakan studi yang disengaja dan sistematis tentang fenomena sosial dan gejala-gejala alam dengan jalan pengamatan dan pencatatan. Metode observasi ini digunakan untuk mengamati penampilan dan perilaku subyek yang meliputi ciri fisik, sifat, penampilan dan pembawaan juga perilaku ketika wawancara. Observasi ini menggunakan pedoman observasi yang berisi daftar kegiatan yang mungkin timbul dan akan diamati.

  Penelitian ini menggunakan observasi non partisipan (peneliti sebagai observer) dengan pertimbangan peneliti dapat mencatat dengan segera informasi penting yang muncul di lapangan. Hal-hal yang diobservasi adalah mengenai perilaku siswa yang menjadi salah satu nara sumber serta kondisi siswa secara umum di dalam kelas maupun di sekolah, termasuk hubungan siswa dengan teman, keluarga dan masyarakat serta kegiatannya di rumah. Selain itu peneliti juga melakukan observasi mengenai lingkungan sekolah X termasuk di dalamnya mengenai sarana dan prasarana sekolah, visi misi dan tata tertib sebagai salah satu bagian dari program yang dicetuskan oleh kepala sekolah sebagai penanggungjawab lembaga pendidikan di sekolah X.

  

Tabel 2. Observasi

Aspek yang diungkap Deskripsi

   Lingkungan sekolah  Gambaran mengenai lingkungan sekolah, kegiatan, sarana, siswa dan guru.

   Keluarga narasumber siswa dengan orangtua dan  Relasi bermasalah saudara.

   Pola pergaulan  Relasi dengan teman-teman di sekolah.

3. Dokumentasi Data

  Analisis dokumen dilakukan untuk mengumpulkan data yang bersumber dari arsip dan dokumen yang berada di sekolah maupun di luar sekolah yang berhubungan dengan penelitian. Menurut Arikunto (2010 : 201) teknik dokumentasi adalah mencari data mengenai hal-hal yang berupa catatan, transkrip, buku, dan lain sebagainya.

  Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan catatan proses konseling dari guru BK yang berlangsung dari tahun 2007 sampai 2009. Proses konseling tersebut merupakan catatan perilaku narasumber penelitian yang berlangsung dari kelas 1 sampai akhir kelas 2. Sedangkan proses konseling pada saat

  2010 belum tercatat sebab guru BK belum memberikan proses konseling lanjutan. Oleh karena alasan tersebut, maka catatan konseling yang bisa diperoleh oleh peneliti adalah dokumentasi di tahun sebelumnya.

  Selain itu, peneliti menggunakan nilai rapot narasumber dari kelas 1 sampai kelas 2 untuk melihat perkembangan selama proses konseling berlangsung. Berdasarkan pengamatan, rata-rata nilai dalam rapot didominasi dengan nilai 6 dan nilai kepribadian “C” yang artinya cukup. Tak banyak prestasi atau nilai yang menonjol dari rapot narasumber sehingga menurut guru BK, narasumber masih memerlukan bimbingan dalam proses belajar.

E. TEKNIK ANALISIS DATA Dalam penelitian ini, analisis yang digunakan adalah analisis tematik.

  Analisis tematik merupakan proses mengkode yang beranjak dari data konkrit kemudian semakin lama akan semakin mengarah pada pengembangan konsep yaitu dari data konkrit akan memperoleh kata kunci, tema, kategori, hubungan antar kategori (pola) serta mengembangkan teori (Poerwandari, 2005 : 137).

  Analisis data dalam penelitian ini dilakukan melalui kegiatan sebagai berikut :

1. Reduksi Data

  Pada tahap ini peneliti melakukan pemilihan, pemusatan perhatian pada penyederhanaan dari hasil wawancara, abstraksi dan transformasi data kasar yang diperoleh di lapangan, kemudian memilih data yang relevan dan kurang

  2. Penyajian Data

  Setelah data-data itu terkumpul kemudian peneliti menyajikan data-data yang sudah dikelompokkan tadi melalui penyajian dalam bentuk narasi dengan tujuan atau harapan setiap data tidak lepas dari kondisi permasalahan yang ada dan peneliti bisa lebih mudah dalam melakukan pengambilan kesimpulan.

  3. Menarik Kesimpulan

  Sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai dalam hasil penelitian ini, maka analisis dan penarikan kesimpulan dilakukan dengan jalan membandingkan data yang diperoleh. Data-data yang sudah didapatkan sebelumnya, kemudian dibandingkan dengan data-data hasil wawancara seluruh nara sumber yang bertujuan untuk menarik kesimpulan.

  Tabel 3. Kode Organisasi Data Data Kode

   Wawancara guru BK 1, 8 -1- 2010  Wawancara korban dari narasumber siswa, 11 -1- 2010  Wawancara narasumber siswa bermasalah, 18 -1- 2010  Wawancara orangtua narasumber, 20 -

  1- 2010  Wawancara latarbelakang keluarga narasumber, 28 -1- 2010  Wawancara guru BK 2, 21-4-2011  Wawancara anggota komite sekolah,

  25-4-2011  Wawancara guru, 25-4-2011  Catatan proses konseling  Observasi lapangan  Deskripsi observasi sekolah

   WWCR BK 1, 8-1-2010  WWCR Krb, 11-1-2010  WWCR Sis, 18-1-2010  WWCR Org, 20-1-2010  WWCR Lbk, 28-1-2010  WWCR BK 2, 21-4-2011  WWCR Ks, 25-4-2011  WWCR Gr, 25-4-2011  CPK  OL  DO

F. KREDIBILITAS DATA

  Kredibilitas adalah istilah yang sering digunakan dalam penelitian kualitatif untuk mengganti konsep validitas dengan tujuan untuk merangkum bahasan mengenai kualitas penelitian kualitatif. Kredibilitas tercapai bila penelitian berhasil mewujudkan maksud untuk mengeksplorasi masalah atau mendeskripsikan setting, proses, dan pola interaksi yang kompleks.

  Moleong (2004 : 320) mengatakan bahwa keabsahan data adalah setiap keadaan harus memenuhi demonstrasi nilai yang benar, menyediakan dasar agar hal itu dapat diterapkan dan memperbolehkan keputusan luar yang dapat dibuat tentang konsistensi dari prosedurnya dan kenetralan dari temuan dan keputusan- keputusannya.

  Keabsahan data dalam penelitian ini dilakukan guna membuktikan temuan hasil penelitian dengan kenyataan di lapangan. Adapun teknik yang digunakan untuk membuktikan kebenaran data dapat dilakukan melalui ketekunan pengamatan di lapangan, triangulasi, pengecekan dengan kondisi sekitar, kajian terhadap kasus-kasus negatif dan referensi yang memadai. Dalam penelitian ini teknik yang digunakan terbatas pada teknik pengamatan di lapangan maksudnya adalah untuk melihat keberadaan data yang diberikan tiap- tiap narasumber penelitian pada saat diwawancarai.

  Dalam penelitian ini untuk melihat keabsahan data yang didapat di lapangan, peneliti melakukan perbandingan data dengan teknik triangulasi sehingga dapat membandingkan hasil wawancara yang diperoleh dari satu narasumber dengan narasumber lain yang ada disekitar. Langkah berikutnya adalah peneliti melihat kembali hasil kebenaran dari data wawancara kemudian mencocokkan dengan teori-teori yang terkait dalam penelitian.

  

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN Bab ini akan dipaparkan dalam tiga bagian yaitu gambaran setting penelitian, hasil penelitian dan pembahasan. A. Gambaran Setting Penelitian Keseluruhan subjek yang terlibat dalam proses pengambilan data adalah

  7 orang yang terdiri dari guru BK sebagai pendamping selama di lokasi, kepala sekolah sebagai pemberi ijin penelitian, siswa bermasalah sebagai salah satu narasumber, korban yang pernah menjadi target kejahilan narasumber siswa bermasalah, orangtua siswa yang bermasalah, salah satu anggota komite sekolah sekaligus guru tetap dan anggota warga sekitar sekolah yang memiliki kerabat bersekolah di sekolah X, serta guru honor yang telah mengabdi selama 2 tahun di sekolah X.

  Letak sekolah X adalah di kecamatan yang kebanyakan siswanya berasal dari desa setempat dan berlatarbelakang ekonomi menengah ke bawah sehingga rata-rata orangtua murid bekerja sebagai buruh, petani, pedagang, dan lain sebagainya. Sebagai salah satu sekolah yang terletak di desa, sekolah X memiliki bangunan sekolah yang cukup baik dan memadai dengan adanya sarana serta prasarana berupa laboraturium fisika dan biologi, laboraturium ruang kelas serta tempat persembahyangan. Akan tetapi beberapa diantaranya tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya sebab sedang mengalami kerusakan dan belum diperbaiki seperti halnya ruang multimedia. Ruang kelas sebanyak 16 ruangan pun secara keseluruhan tidak dapat menampung semua jumlah murid di sekolah X sehingga jadwal sekolahnya dibagi menjadi 2 yaitu di pagi hari dan siang hari.

  Berdasarkan data yang diperoleh dari guru BK, jumlah guru tetap sebanyak 64 orang dan guru honor 15 orang tidak seimbang dengan jumlah murid keseluruhan yaitu 1055. Akibat kelebihan jumlah murid, beberapa guru memiliki jam mengajar yang penuh, sedangkan guru-guru yang sudah sertifikasi justru tidak memenuhi jam mengajar yang seharusnya. Pembagian jam mengajar antara guru tetap dan guru honorer pun tidak seimbang sehingga ketimpangan jam mengajar ini terkadang membuat guru-guru senior hanya datang ke sekolah untuk sekedar absen hadir, berbincang di ruang guru, atau hanya sekedar mengambil uang honor mengajar.

  Pada saat peneliti berkeliling ke seluruh bagian sekolah, beberapa guru juga terlihat asyik makan sambil ngobrol di kantin saat jam pelajaran, di perpustakaan menjual barang dagangan, atau menerima telpon di luar ruang kelas. Pemandangan ini menjadi tidak sesuai dengan jam mengajar para guru honorer dan guru tetap yang sudah sertifikasi sebab terkadang guru-guru yang sudah sertifikasi justru lebih banyak meninggalkan ruang kelas sebelum waktu kepada murid-muridnya. Sedangkan guru honorer dituntut untuk melakukan tugasnya dengan baik supaya mendapatkan rekomendasi dari kepala sekolah dan segera diangkat menjadi guru tetap.

  Selama penelitian berlangsung, peneliti disediakan ruangan bersama dengan ruang BK yang di dalamnya terdapat fasilitas TV dan air minum sendiri (tidak digabung dengan air minum umum yang ada di ruang TU). Terkadang ruang BK beralih fungsi dari ruang konseling menjadi ruang nonton bersama para guru yang sedang tidak mengajar. Maka tidak mengherankan apabila sering terjadi pengusiran oleh guru BK ketika ada siswa yang harus di konseling pada saat yang sama. Selain itu kantin di dalam sekolah termasuk dalam kategori terlalu banyak sebab kurang lebih ada 8 kantin dengan perbandingan lokasi sekolah yang tidak terlalu luas sehingga secara tidak langsung, keberadaan kantin-kantin tersebut menyebabkan keributan pada saat jam pelajaran berlangsung.

  Pos satpam yang ada di dekat pintu gerbang sekolah juga sering terlihat kosong pada jam-jam tertentu. Biasanya pak satpam terlihat di awal jam masuk sekolah, jam istirahat dan jam pulang sekolah, selebihnya pos penjagaan dibiarkan kosong serta pintu gerbang yang tidak dikunci sehingga ada beberapa murid yang terlihat keluar tanpa ijin. Sebenarnya lingkungan sekolah X seluas 1350 meter persegi sangatlah mudah untuk diawasi tiap sudutnya namun beberapa pihak mengatakan bahwa lingkungan sekolah relatif aman dan para murid tidak memiliki kesempatan untuk membolos atau keluar dari sekolah secara diam-diam.

  Beberapa kali peneliti juga diajak untuk mengunjungi ruang guru karena sedang diadakan demo dari beberapa penjual produk kosmetik, perhiasan, perlengkapan rumah tangga dan pedagang jamu. Yang membuat peneliti bingung adalah kenapa bisa para pedagang dan sales tersebut masuk ke dalam lingkungan sekolah disaat jam pelajaran berlangsung. Anehnya lagi beberapa guru akan lebih memilih tidak masuk kelas untuk mengajar dan lebih memilih untuk melihat barang dagangan tersebut. Peneliti juga sempat mengunjungi kelas-kelas yang ditinggalkan oleh guru pengajar, saat ditanya pun, para murid mengatakan bahwa guru tidak memberikan tugas sehingga mereka leluasa untuk membuat keributan dan menganggu teman-temannya di kelas.

  Ketika menjelang jam pulang sekolah, sebagian guru sudah meninggalkan kelas 30 menit sebelum jam pelajaran usai. Alhasil para siswa menjadi tidak terkontrol di kelas dan terkadang guru-guru tersebut sudah bersiap pulang duluan sebelum bel pulang sekolah berbunyi dengan alasan buru-buru ingin menjemput anaknya pulang sekolah atau ada urusan mendesak. Kepala sekolah pun terkesan tidak peduli karena biasanya di jam mendekati pulang sekolah, bapak kepala sekolah akan mengunjungi istrinya yang berjualan di salah satu kantin sekolah sambil membantu membereskan jualan yang sudah habis.

  Selama proses pengambilan data, peneliti juga mengadakan pengamatan terhadap narasumber siswa yang bermasalah secara langsung saat mengikuti guru BK memberikan materi di kelas dan pada saat kunjungan rumah. Peneliti menggunakan observasi non partisipan (peneliti sebagai observer) dengan pertimbangan peneliti dapat mencatat dengan segera informasi penting yang muncul di lapangan. Hal-hal yang diobservasi adalah mengenai perilaku narasumber serta kondisi secara umum di dalam kelas maupun di sekolah saat jam istirahat berlangsung, hubungan narasumber dengan teman-temannya, keluarga dan masyarakat serta kegiatan di rumah.

  Peneliti berada di lingkungan sekolah selama 10 hari yaitu pada tanggal 5, 8, 11, 13, 18, 20, 26, 27, 28 dan 29 Januari 2010. Bulan Januari adalah awal masuk sekolah sehingga proses belajar dan mengajar belum berjalan efektif sebab pada bulan yang sama juga terdapat hari raya umat Hindu yaitu “Siwa Latri”, oleh sebab itu para murid dan warga sekolah pun libur pada tanggal 14 sampai 17 Januari 2010. Dikarenakan hal teknis tersebut maka peneliti memilih tanggal-tanggal tersebut di atas untuk melaksanakan proses pengambilan data penelitian.

  Proses wawancara lanjutan dilaksanakan pada tanggal 21-25 April 2011 di lingkungan sekolah terhadap tiga narasumber yaitu anggota komite sekolah, guru honor dan guru BK di sekolah X. Proses wawancara difokuskan pada empat hal utama antara lain bentuk kenakalan-kenakalan siswa, data kenakalan secara tidak langsung berpengaruh kepada sekolah, serta mengenai cara penanganan pihak sekolah terhadap perilaku kenakalan siswa di sekolah.

B. Hasil Penelitian

  Berdasarkan proses penelitian yang telah dilakukan, diperoleh hasil berupa temuan tema-tema penting dari analisis masalah berupa gambaran menyeluruh mengenai pengaruh sistem sekolah terhadap perilaku kenakalan siswa di sekolah X. Adanya peluang beberapa siswa bermasalah untuk melakukan tindakan yang tidak disiplin didukung oleh hal-hal di bawah ini :

1. Adanya Peluang Ketidakdisiplinan

  Kurang disiplinnya petugas keamanan sekolah dalam menjaga area- area vital yaitu pos penjagaan yang berdekatan dengan pintu gerbang sekolah menyebabkan lolosnya pengawasan terhadap anak-anak yang keluar dari lingkungan sekolah disaat jam istirahat berlangsung. Anggapan beberapa guru bahwa lingkungan sekolah sudah relatif aman dan para murid tidak memiliki peluang untuk membolos, menyebabkan rentannya pengawasan sehingga siswa yang bermasalah cenderung telah memahami sistem pengawasan yang diberlakukan di sekolah.

  Biasanya pak satpam terlihat di awal jam masuk sekolah, jam istirahat dan jam pulang sekolah, selebihnya pos penjagaan dibiarkan kosong serta pintu gerbang yang tidak dikunci sehingga ada beberapa murid yang terlihat keluar tanpa ijin. (DO, 5) …..beberapa pihak mengatakan bahwa lingkungan sekolah relatif aman dan para murid tidak memiliki kesempatan untuk membolos atau keluar dari sekolah secara diam- diam. (DO, 5)

  2. Guru Memberi Contoh Kurang Baik

  Perilaku beberapa guru yang memberikan contoh kurang baik diantaranya terlihat asyik makan sambil ngobrol di kantin saat jam pelajaran dan nonton TV di ruang konseling ketika jam mengajar sedang berlangsung secara tidak langsung ikut mempengaruhi perilaku siswa di sekolah karena tidak mendapatkan arahan yang baik. Para siswa menganggap bahwa berdasarkan pengalaman mereka selama ini, para guru tidak terlalu mengawasi perilaku mereka karena sudah disibukkan dengan kegiatan yang lain.

  …..beberapa guru juga terlihat asyik makan sambil ngobrol di kantin saat jam pelajaran….. (DO, 3) Terkadang ruang BK beralih fungsi dari ruang konseling menjadi ruang nonton bersama para guru yang sedang tidak mengajar. (DO, 4)

  3. Sistem Kepemimpinan Kepala Sekolah

  Peran pemimpin yang kurang peduli terhadap ketidakdisiplinan para guru menyebabkan semakin suburnya pelanggaran yang terjadi di sekolah misal sebagian guru sudah meninggalkan kelas 30 menit sebelum jam pelajaran usai dan justru kepala sekolah ketika mendekati jam kerja usai akan mendatangi salah satu kantin milik istrinya untuk membantu beres- beres barang jualan. Hal ini merupakan salah satu kebijakan pemimpin yang kurang tepat karena istri kepala sekolah pun berjualan di sekolah sehingga perhatian seorang kepala sekolah ikut terbagi. Ketika menjelang jam pulang sekolah, sebagian guru sudah meninggalkan kelas 30 menit sebelum jam pelajaran usai. (DO, 7) Kepala sekolah pun terkesan tidak peduli karena biasanya di jam mendekati pulang sekolah, bapak kepala sekolah akan mengunjungi istrinya yang berjualan di salah satu

kantin sekolah sambil membantu membereskan jualan yang sudah habis. (DO, 7)

  4. Dampak Sistem Sekolah yang Kurang Maksimal

  Sikap kurang tegas dari pemimpin menyebabkan munculnya pemikiran yang pragmatis para guru dalam memandang permasalahan anak- anak yang bermasalah di sekolah.

  Upaya terbaik yang dilakukan sekolah adalah selalu mempertahankan semua muridnya yang bermasalah walau sudah mendapat kartu merah. (WWCR Gr, 25-4-2011, 34) ….kepala sekolah yang acuh menyebabkan beberapa guru ikut arus saja seperti saya sekarang. Sebenarnya bapak kepala orang yang baik kalau udah kenal tapi memang beliau tidak terlalu ambil pusing dengan anak-anak. Bapak merasa sudah ada guru BK yang bertugas mengawasi anak-anak sehingga segalanya dipercayakan kepada pihak yang bersangkutan. (WWCR Gr, 25-4-2011, 24) ….kebanyakan dari mereka (para guru) yang menjawab “biarkan saja bu, anggap saja anak itu enggak ada di kelas yang penting daftar hadirnya ada”. (WWCR Gr, 25-4- 2011, 22)

  Kebanyakan para guru menganggap bahwa kurangnya ketegasan pemimpin menghadapi ketidakdisiplinan akhirnya memunculkan sikap tidak peduli dan membiarkan para siswa bersikap seenaknya di sekolah.

  5. Faktor Penyebab Kenakalan di Sekolah

  Walaupun demikian tidak dapat dipungkiri bahwa kenakalan anak- anak muncul hanya sebagai akibat dari pengaruh peran sekolah saja, namun didukung pula oleh adanya bentuk pengasuhan orangtua serta karakteristik siswa yang bermasalah itu sendiri yang beberapa diantaranya berasal dari lingkungan adat setempat sehingga merasa dapat bersikap seenaknya di sekolah.

  Rata-rata dari mereka adalah anak yang memang di lingkungan rumahnya pun cenderung dibiarkan karena permasalahan ekonomi sehingga orangtuanya sibuk mencari nafkah sedangkan mereka dibiarkan bergaul sendiri dengan lingkungannya. (WWCR Ks, 25-4-2011, 14) ….tipe anak yang bermasalah pada umumnya hampir sama, biasanya mereka berasal dari banjar sini sehingga merasa bisa berkuasa atau anak-anak yang memang memiliki masalah di rumahnya sehingga orangtuanya pun sulit untuk diajak berkoordinasi. (WWCR Gr, 25-4-2011, 44) …anak-anak yang berasal dari banjar sini cenderung arogan dan merasa bisa berbuat seenaknya. Ya kalau pas saya lihat anak yang seperti itu, pasti sudah saya tegur duluan tapi sayangnya mereka tidak berani berulah di depan saya sehingga saya perlu memantau lebih giat lagi. (WWCR Ks, 25-4-2011, 10)

  Karakteristik tersebut didukung pula kurang pedulinya pemimpin terhadap perilaku anak-anak bermasalah, terutama anak-anak yang berasal dari desa adat setempat. Mereka merasa bahwa sikap sok berkuasa di sekolah tidak mendapat teguran dari pemimpin sehingga berdampak pada semakin beraninya anak-anak bermasalah melawan para guru terutama menyepelekan guru perempuan.

  …ada aduan dari beberapa guru yang lain apalagi dari guru wanita apabila anak-anak yang berasal dari banjar sini cenderung arogan dan merasa bisa berbuat seenaknya. (WWCR Ks, 25-4-2011, 10)

6. Perwujudan Sistem Sekolah

  Peran sekolah dalam menghadapi perilaku kenakalan siswa tidak hanya dilakukan melalui satu pendekatan saja namun diusahakan melalui berbagai program yang diharapkan mampu menyelesaikan pokok permasalahan. Ya sebelumnya pihak sekolah memberikan pembinaan dan pengawasan, apabila masih melakukan pelanggaran ya pihak sekolah mengadakan rapat untuk mengembalikan subjek pada orangtua. Tapi udah beberapa kali surat peringatan dikasih, akhirnya pihak sekolah mengadakan kunjungan rumah untuk bertemu orangtuanya. (WWCR BK 1, 8- 1-2010, 8) Banyak sekali mbak, dari mulai teguran, dipanggil ke ruang BK, dinasehati, surat

panggilan orangtua, di skors dan kunjungan rumah…( WWCR BK 1, 8-1-2010, 12)

Ya pertama dapet surat peringatan sampai 3 kali, abis tuh di skors seminggu. Orangtua juga pernah dipanggil ke sekolah, dikasih surat pernyataan ama kunjungan rumah dari guru BK. (WWCR Sis, 18-1-2010, 52) Ya ibu guru BK dah pernah datang ke rumah. (WWCR Org, 20-1-2010, 4) Pihak sekolah terutama kepala sekolah pada dasarnya merumuskan kebijakan berupa penanganan yang kekeluargaan. (WWCR BK 2, 21-4-2011, 2) …setiap ada masalah yang dilakukan oleh yang bersangkutan dan kemudian diadakan pemanggilan orangtua, ayahnya tidak pernah datang karena yang datang biasanya paman atau ibunya saja. (WWCR BK 2, 21-4-2011, 6)

  Program-program tersebut dijalankan oleh guru BK sebagai pembimbing anak-anak terutama anak yang bermasalah. Namun pada prakteknya selama ini, program menjadi kurang efektif dan cenderung hanya sebagai formalitas karena tuntutan pekerjaan saja tanpa didukung oleh adanya tindakan nyata dari kepala sekolah sebagai pemimpin.

  Oleh sebab itu, kemudian konflik muncul ketika program yang sudah dijalankan tidak direalisasikan sebagai pendukung langkah-langkah akhir yang telah dilaksanakan sesuai prosedur misal pelanggaran pertama diadakan pendampingan, prosedur kedua pemberian peringatan, prosedur ketiga adalah menskor beberapa waktu dari kegiatan sekolah, prosedur selanjutnya kunjungan rumah dan prosedur paling akhir adalah mengeluarkan atau mengembalikan anak kepada orangtua.

  7. Adanya Tuntutan Pekerjaan dalam Sistem

  Akan tetapi sikap kurang tegas pemimpin dalam upaya mewujudkan kedisiplinan berdampak pula pada tidak meratanya pembagian tugas para guru sehingga ketimpangan jam mengajar ini terkadang membuat guru-guru senior hanya datang ke sekolah untuk sekedar absen hadir, berbincang di ruang guru, atau hanya sekedar mengambil uang honor mengajar. Sedangkan guru honorer dituntut untuk bekerja dengan maksimal supaya mendapatkan surat rekomendasi dari kepala sekolah sehingga bisa segera diangkat menjadi guru tetap. Tuntutan pekerjaan yang berat dan tidak sehat menyebabkan timbulnya jam kerja yang tidak seimbang. Pembagian tugas yang dibebankan kepada masing-masing guru menjadi kurang jelas karena adanya perbedaan kepentingan yang melatarbelakangi. Oleh sebab itu perlu diberikan kejelasan sehingga diperoleh kenyamanan dalam bekerjasama.

  Pembagian jam mengajar antara guru tetap dan guru honorer pun tidak seimbang sehingga ketimpangan jam mengajar ini terkadang membuat guru-guru senior hanya datang ke sekolah untuk sekedar absen hadir, berbincang di ruang guru, atau hanya sekedar mengambil uang honor mengajar. (DO, 2)

  8. Ketidakdisiplinan dalam Sistem Sekolah

  Permasalahan ini menjadi sangat kompleks karena perhatian kepala sekolah yang telah terbagi pun akhirnya tidak mengontrol beberapa hal penting terutama kegiatan-kegiatan yang ada di sekolah, misal ketika ada penjual atau sales suatu produk menawarkan barang dagangannya ke dalam diajak untuk mengunjungi ruang guru karena sedang diadakan demo dari beberapa penjual produk kosmetik, perhiasan, perlengkapan rumah tangga dan pedagang jamu. Peneliti menangkap sebuah kebiasaan yang sudah terlanjur terbentuk sehingga akan sangat sulit ketika harus menata ulang sikap ketidakdisiplinan di sekolah yang telah berdampak kepada banyak hal.

  Beberapa kali peneliti juga diajak untuk mengunjungi ruang guru karena sedang diadakan demo dari beberapa penjual produk kosmetik, perhiasan, perlengkapan rumah tangga dan pedagang jamu. (DO, 6)

  Ketidakpedulian para guru terhadap penjual yang masuk ke lingkungan sekolah menjadi tidak relevan dengan kegiatan belajar di sekolah karena dapat menimbulkan ketidakdisiplinan. Selain itu beberapa guru akan lebih memilih melihat barang dagangan yang ditawarkan para

  sales daripada mengajar di kelas.

  Anehnya lagi beberapa guru akan lebih memilih tidak masuk kelas untuk mengajar dan lebih memilih untuk melihat barang dagangan tersebut. (DO, 6)

  Perilaku ini semakin memperlihatkan contoh yang tidak baik kepada para murid karena merasa guru-gurunya pun menunjukkan perilaku yang kurang bertanggungjawab. Ketidakseriusan banyak pihak terhadap suatu pelanggaran menyebabkan munculnya perilaku kenakalan siswa yang kurang terkontrol di sekolah sehingga penanganannya pun terkesan belum berhasil dan tidak maksimal.

C. Pembahasan

  Melalui hasil penelitian yang telah peneliti dapatkan, baik secara observasi maupun wawancara dengan beberapa narasumber, diperoleh gambaran bahwa terdapat pengaruh sistem sekolah yang kurang maksimal sehingga munculnya perilaku kenakalan siswa di sekolah. Berbagai macam perilaku pelanggaran yang dilakukan oleh siswa di sekolah pada dasarnya tidak berdiri sendiri sebab banyak pihak ikut memiliki andil untuk mempengaruhinya.

  Sesuai dengan hasil temuan yang ada, terlihat bahwa pihak sekolah membuka peluang untuk melakukan tindak pelanggaran. Pelanggaran- pelanggaran yang ada selama ini tidak hanya dilakukan oleh para siswa saja, namun beberapa guru serta staf pekerja yang bertugas menjaga keamanan sekolah pun kurang maksimal ketika menegakkan sikap disiplin. Dalam hal ini, beberapa guru justru memberikan contoh yang kurang bertanggungjawab kepada peserta didik sebab mereka terlihat sedang ngobrol di kantin bersama guru-guru yang lain saat jam belajar sedang berlangsung.

  Sikap ketidakdisiplinan di sekolah X ada berbagai macam, mulai dari kenakalan siswa yang membolos saat jam pelajaran, mengintimidasi siswa lain, ribut di kelas bahkan memalak untuk mendapatkan kesenangan. Sedangkan penjaga keamanan sekolah jarang terlihat di jam-jam tertentu yang mendukung pelanggaran siswa karena pintu gerbang tidak diawasi. Para guru juga asyik dengan kesibukannya masing-masing misal menerima telpon saat jam pelajaran memilih untuk melihat sales yang datang ke sekolah dibandingkan harus mengajar ke kelas dan mengakhiri pelajaran di jam terakhir lebih awal sebelum bel pulang sekolah berbunyi.

  Selain itu, sistem kepemimpinan kepala sekolah yang kurang memperhatikan pelanggaran di sekolah semakin mendukung terjadinya ketidakdisiplinan terutama bagi munculnya perilaku kenakalan siswa yang cenderung berani melawan peraturan. Dalam suatu lingkungan sosial masyarakat, tiap individu maupun suatu lembaga akan diatur oleh berbagai aturan yang secara tidak langsung ikut mengatur tatanan kehidupan. Tatanan kehidupan yang mengatur masyarakat umumnya dikenal dengan sebutan pranata sosial, namun khusus di daerah yang khas dengan nilai kebudayaan, maka di Bali istilah pranata lebih dikenal dengan sebutan awig-awig desa adat. Menurut Koentjaraningrat dalam (Herimanto & Winarno, 2010 : 190), pranata sosial menunjuk pada sistem pola-pola resmi yang dianut suatu warga masyarakat dalam berinteraksi. Maka peran kepala sekolah sebagai seorang pemimpin yang menjadi bagian dari sistem adalah bertugas untuk mengatur tata tertib sekolah sehingga dapat mewujudkan kedisiplinan.

  Bagi sebagian tenaga pengajar, sikap ketidaktegasan kepala sekolah akhirnya menimbulkan kejenuhan dan pembiaran terhadap pelanggaran yang dilakukan oleh siswa. Misal suatu ketika seorang siswa tidak mengikuti pelajaran karena membolos, salah satu guru menanyakan kepada guru lain dan tersebut yang penting absen di kelas yang bersangkutan tetap berjalan. Maka walaupun sudah ada peraturan atau pranata sosial di dalam masyarakat, tidak pula menjamin bahwa kehidupan dapat berjalan dengan teratur dan tertib sebab pada kenyataannya masing-masing individu memiliki pemikiran serta batas tanggungjawab yang berbeda-beda. Setiap masyarakat memiliki sejumlah norma-norma yang menyangkut kesejahteraan, kebendaan, kesehatan, dan penyesuaian terhadap lingkungan sosial. Sehingga berdasarkan faktor penyebabnya, perilaku kenakalan remaja muncul sebagai akibat dari problema sosial karena adanya kebudayaan yang mengikat di dalam keluarga, masyarakat dan sekolah.

  Perilaku siswa yang melakukan tindak kenakalan bukan hanya dilatarbelakangi oleh sistem sekolah yang kurang maksimal, akan tetapi pola pengasuhan dari orangtua serta karakteristik dari siswa tersebut yang memiliki identitas, pengendalian diri, usia, jenis kelamin, harapan dalam pendidikan, pengaruh orangtua, pengaruh teman sebaya, status sosioekonomi serta kualitas lingkungan yang berbeda-beda pun semakin mendukung terjadinya tindak kenakalan siswa di sekolah (Santrock, 2002 : 24). Dalam hal ini, pihak sekolah telah memberlakukan berbagai macam tindak penanganan yang diantaranya adalah pembinaan, memberi teguran, pemanggilan orangtua, home visit, skorsing serta pengembalian siswa kepada orangtua pun telah dilakukan. Akan tetapi pada prakteknya, sistem sekolah yang diharapkan mampu mewujudkan kepala sekolah. Salah satu penyebabnya adalah adanya keterbatasan kepala sekolah dalam mengatur keseimbangan antara jumlah murid dan guru yang ada di sekolah X.

  Adanya tuntutan pekerjaan yang tidak sama antara guru tetap dengan guru honorer pun dapat menimbulkan kesenjangan dalam bekerja. Kesenjangan ini membuat sistem tidak berjalan dengan baik karena adanya indikasi bahwa kepala sekolah lebih memihak kepada salah satu pihak saja. Dengan demikian rasa cemburu dan kesal dari pihak tertentu, terkadang secara tidak sadar bisa menjadi penyebab semakin suburnya tindak pelanggaran di sekolah, baik berupa pelanggaran ringan seperti ketidakdispilinan maupun pelanggaran berat seperti halnya kenakalan siswa yang menjurus kepada tindakan kriminalitas. Sekolah yang adalah suatu sistem pendidikan yang seluruh elemen atau unsur di dalamnya menjadi satu kesatuan utuh dan tidak dapat terpisahkan, seperti halnya kepala sekolah, guru, siswa, sarana dan prasarana (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1995 : 950) akhirnya membuat lembaga pendidikan memiliki perannya masing-masing sehingga akan saling terkait satu dengan lainnya.

  Perlu disadari bahwa sekolah yang adalah lingkungan pendidikan sekunder, bagi sebagian orang menjadi lingkungan yang setiap hari dimasuki selain lingkungan rumah. Oleh sebab itu pengaruh sekolah juga mampu membawa nilai positif maupun nilai negatif bagi perkembangan jiwa remaja melalui pendidikan formal. Sebagai lembaga pendidikan, salah satu fungsi di masyarakat sebagaimana yang diajarkan di lingkungan keluarga. Akan tetapi pada prakteknya sekolah mengalami banyak tantangan sebab remaja tidak hanya bergaul dalam lingkungan kecil saja, namun meluas ke seluruh lapisan masyarakat (Sarwono, 1994 : 121).

  Sebagai seorang pemimpin, peran kepala sekolah secara tidak langsung berpengaruh pada pertumbuhan prestasi belajar siswa. Hal ini berhubungan dengan adanya kepuasan guru terhadap pelaksanaan peranan profesional seorang kepala sekolah sehingga berdampak pula pada kinerja guru dalam mengajar. Melalui upaya perbaikan sistem yang ada di sekolah serta penataan dan praktek pembelajaran, kepemimpinan seorang kepala sekolah lebih bersifat transaksional yang dicirikan dengan adanya pemenuhan kebutuhan guru dan murid berdasarkan tujuan sekolah yang telah disepakati bersama (Sulistyorini, 2009). Oleh karena itu peran kepala sekolah tidak hanya melingkupi satu aspek saja namun harus mampu menciptakan keseimbangan diantara keseluruhan sistem yang terdapat di lingkungan sekolah.

  Tidak dapat dipungkiri bahwa fokus perhatian kepala sekolah terbagi dalam banyak hal sehingga terkesan kurang maksimal dalam bekerja namun jumlah murid sebanyak 1055 orang dengan 16 ruang kelas yang tidak seimbang menjadi masalah lain yang ada di sekolah X sebab pada kenyataannya jumlah guru keseluruhan 79 orang juga tidak seimbang dengan jumlah siswa sehingga berakibat beberapa guru memiliki jam mengajar yang penuh, sedangkan guru- seharusnya. Akibat permasalahan ini, kepala sekolah terkesan lebih mengutamakan keuntungan finansial dengan menerima banyak siswa tanpa memperhatikan kesepakatan dengan sekolah lain untuk membagi kuota penerimaan siswa baru.

  Dari berbagai macam permasalahan yang telah disebutkan di atas, diperoleh gambaran bahwa sistem sekolah yang kurang maksimal perwujudannya berpengaruh pada munculnya perilaku kenakalan siswa terutama di lingkungan sekolah. Para siswa yang notabene adalah remaja dengan emosi yang masih labil, pada dasarnya belum mampu berpikir secara matang sehingga merasa semakin diberi kesempatan dan peluang untuk melakukan tindak kenakalan. Selain itu indikasi dari kurang tegasnya kepemimpinan kepala sekolah, membuat beberapa guru merasa kecewa dan jenuh menghadapi perilaku kenakalan siswa sehingga tidak mengherankan apabila muncul sikap tidak peduli serta kurang disiplin dalam bekerja. Dengan demikian, hal tersebut di atas secara tidak langsung berdampak pula pada munculnya perilaku kenakalan siswa yang dilatarbelakangi oleh adanya pengaruh pola pengasuhan serta karakteristik siswa itu sendiri yang beberapa diantaranya berasal dari lingkungan adat setempat sehingga merasa dapat bersikap seenaknya di sekolah.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Dari hasil penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti, diperoleh

  gambaran bahwa sistem sekolah yang kurang maksimal dalam perwujudannya menyebabkan munculnya perilaku kenakalan siswa di sekolah. Banyak hal yang mempengaruhi antara lain adanya peluang melakukan tindakan yang tidak disiplin, guru yang memberikan contoh tidak baik, sistem kepemimpinan kepala sekolah yang masih kurang, adanya dampak dari sistem sekolah yang belum maksimal, faktor penyebab kenakalan siswa, perwujudan sistem sekolah yang kurang mendapat dukungan, adanya tuntutan pekerjaan dan ketidakdisiplinan dalam menjalankan sistem di sekolah sehingga membuat perilaku kenakalan belum terkontrol dengan baik.

  Adanya pranata sosial yang mengontrol tatanan kehidupan diharapkan mampu mewujudkan kedamaian dalam masyarakat yaitu suasana yang tertib secara fisik dan tentram secara batin. Pada prakteknya, adanya aturan atau pranata sosial di dalam masyarakat, tidak pula menjamin bahwa kehidupan dapat berjalan dengan teratur dan tertib sebab pada kenyataannya masing- masing individu memiliki pemikiran serta batas tanggungjawab yang berbeda- beda.

  Latarbelakang orangtua siswa yang melakukan tindak kenakalan pada umumnya berasal dari keluarga tingkat ekonomi menengah ke bawah sehingga kurang memperhatikan perkembangan anak-anaknya karena sibuk mencari nafkah dan bekerja. Selain itu beberapa diantaranya berasal dari lingkungan desa adat setempat sehingga merasa bisa bersikap seenaknya terhadap guru dan teman-temannya di sekolah. Karakteristik dari remaja yang melakukan tindak kenakalan pun pada umumnya memiliki badan yang besar, emosional, mudah tersinggung dan tidak takut menghadapi hukuman.

B. Keterbatasan Penelitian

  Peneliti terbuka terhadap berbagai macam kritik maupun informasi guna menyempurnakan hasil penelitian sehingga dapat menjadi lebih baik.

  Pelaksanaan penelitian ini pun dibatasi oleh adanya waktu, narasumber dan kemampuan peneliti secara khusus dalam mengeksplorasi data yang diperlukan, oleh sebab itu hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan informasi bagi peneliti selanjutnya yang akan melakukan penelitian sejenis.

C. Saran

  1. Bagi Sekolah Mengevaluasi kembali sistem sekolah yang selama ini dijalankan sehingga dapat melakukan perbaikan terutama bagi seluruh pihak yang secara khusus bergerak di bidang pendidikan.

  2. Bagi Peneliti Selanjutnya Menggali lebih banyak informasi mengenai gambaran sistem sekolah yang sesuai dengan konteks dan situasi dari lembaga yang ingin diteliti sehingga dapat tercapai hasil yang maksimal dan mendalam saat mengeksplorasi data penelitian sesuai tujuan awal yang telah dirumuskan.

DAFTAR PUSTAKA

  American Psychological Association (2010). Publication Manual of the American

  Psychological Association (ed. Ke-6). Washington, DC

  Arikunto, S. (2006). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: PT Rineka Cipta. Afifudin H. & Saebani A. (2009). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: CV Pustaka Setia. Creswell, J.W. (1998). Qualitative Inquiry and Research Design: Choosing Among Five Traditions . London: SAGE Publications. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. (1995). Kamus Besar Bahasa Indonesia

  Edisi Kedua . Jakarta: Balai Pustaka.

  Hurlock, E. B. (1997). Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan Sepanjang

  Rentang Kehidupan

  (ed. ke-5). (Terj. Istiwidayanti & Soedjarwo) Jakarta: Erlangga. Ichan, S. (25 Oktober 2010). Sekolah, Belajar, dan Perubahan Karakter. Media Indonesia hal. 13. Kartono, K. (1996). Pengantar Metodologi Riset Sosial.(ed. ke-3). Jakarta: Mandar Maju. Kartono, K. (2003). Patologi Sosial 2. Kenakalan Remaja. Jakarta : Rajawali Pers. Moleong, L. J. (2004). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. Pengertian dan kegunaan sistem pendidikan. Diunduh

  8 Mei 2011 dari

  http://diandhyra.blogspot.com/2010/11/pengertian-sistem-pendidikan-dan- faktor.html .

  Poerwandari, E. K. (2005). Pendekatan Kualitatif Untuk Penelitian Perilaku

  Manusia

  . Jakarta: Lembaga Pengembangan Sarana Pengukuran dan Pendidikan Psikologi UI. Puspitawati, H. (2009). Keterkaitan Sistem Keluarga dan Sekolah Terhadap Rachmatika (Ed.). (2010). Ilmu Sosial dan Budaya Dasar (Ed. Ke-1). Jakarta: PT Bumi Aksara. Santrock, J. W. (2002). Life Span Development Perkembangan Masa Hidup (ed. ke- 1) Jakarta: Erlangga. Santrock, J. W. (2002). Life Span Development Perkembangan Masa Hidup (ed. ke- 2). Jakarta: Erlangga. Sarwono, S. W. (1994). Psikologi Remaja. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. Sejiwa. (2008). Bullying: Mengatasi Kekerasan di Sekolah dan Lingkungan Sekitar Anak . Jakarta: Grasindo. Siswati & Widyawati (2009). Fenomena Bullying di Sekolah Dasar Negeri di Semarang: Sebuah Studi Deskriptif. Jurnal Psikologi Undip Vol. 5 No. 2. Soekanto, S. (1993). Remaja dan Masalah-masalahnya. Yogyakarta: Kanisius. Sulistyorini. (2009). Peranan kepala sekolah sebagai pemimpin pembelajaran.

  Ta’allum, Vol. 19 No. 1

  , 45-55 Turmudi. (2009).

  Mengenali Kekerasan Dalam Pendidikan dan Upaya Meniadakannya atau Memperkecil Resiko Tindak Kekerasan

  . Makalah disajikan dalam Seminar Nasional Kekerasan dalam Pendidikan di Universitas Tanjung Pura. Windia, W. (2010). Bali Mawacara Kesatuan Awig-awig, Hukum dan Pemerintahan

  di Bali . Denpasar: Udayana University Press.

  Wharton S. (2009). How to Stop That Bully; Menghentikan si Tukang Teror.

  Yogyakarta: Kanisisus. Yukl, G. (2005). Kepemimpinan dalam Organisasi (Ed. ke-5)(Budi Suprianto, Penerj.). Jakarta: Indeks.

  Zulkifli. (2005). Psikologi Perkembangan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya Offset.

  LAMPIRAN

  LAMPIRAN 1 Wawancara Guru BK 1, 8 -1- 2010 No Verbatim Analisis Bagaimana perilaku subjek dari

  1 kelas 1-3? Sejauh ini subjek udah ngalami

  Bentuk perilaku yang banyak kemajuan dibanding dulu. dilakukan subjek: tidak

  Awal kelas 1, subjek sering malas mengerjakan tugas, belajar, tidak membawa alat tulis,

  memaksa teman

  suka ganggu temannya di kelas

  mengerjakan tugas/ujian,

  dan nggak mau dengerin mengancam teman. pelajaran. Banyak guru mengeluh karena perilaku subjek yang

  2 nggak mau mengerjakan tugas, malah pas ulangan, temannya disuruh ngerjain. Temannya jelas nggak berani nolak soalnya subjek ngancam kalau nggak mau pas pulang sekolah mau dipukul.

  Apakah selama dibina pun subjek

  3 masih membuat masalah? Tentu karena di kelas 2 justru Di kelas 2 muncul perilaku muncul perilaku baru minta uang

  baru yaitu memalak, bahkan

  sama temannya untuk beli pulsa

  subyek tidak merasa takut

  terus ditambah lagi dapat temen

  sekalipun pada kepala

  yang malak juga. Bahkan menurut

  sekolah karena subjek

  laporan dari ibu kantin, subjek adalah anak banjar. menyuruh temannya untuk

  4 membayar makanan sampai temannya gak nggak punya uang lagi. Yang sangat disayangkan karena subjek nggak takut soalnya dia merasa anak banjar jadi bisa seenaknya.

  Memang tidak bisa ditegur bu?

5 Ya pihak sekolah sudah negur tapi

  Merasa anak banjar / desa

  kan tetap saja karena dia merasa

  setempat sehingga bersikap

  6 bisa berkuasa di sekolah mbak.

  seenaknya.

  Sangat dilema ya Bu, tapi apakah sejauh ini pihak orangtua subjek

  7 mengetahui tentang masalah ini? Ya sebelumnya pihak sekolah

  Lingkungan keluarga dan

  memberikan pembinaan dan

  tempat tinggal subjek yang

  pengawasan, apabila masih kurang kondusif. melakukan pelanggaran ya pihak sekolah mengadakan rapat untuk mengembalikan subjek pada orangtua. Tapi udah beberapa kali surat peringatan dikasih, akhirnya pihak sekolah mengadakan 8 kunjungan rumah untuk bertemu orangtuanya. Ya sejauh ini orangtua menerima masukan dari pihak sekolah tapi kembali lagi pada lingkungan subjek yang notabene ayah tidak bekerja, ibu berdagang dan pamannya ada yang jadi preman, kelihatan subjek sebenarnya kurang perhatian di rumah.

  Sudah berapa kali subjek

  9 bermasalah di sekolah? Ya sudah terlalu sering mbak, dari kelas 1 sampai sekarang saya selalu membina dan mengawasi.

10 Mungkin lebih dari 10 kali tapi saya juga lupa berapa tepatnya.

  Sanksi apa saja yang sudah

  11 diberikan kepada subjek?

  Banyak sekali mbak, dari mulai

  Kepala sekolah tidak bisa

  teguran, dipanggil ke ruang BK, mengambil keputusan. dinasehati, surat panggilan orangtua, di skors dan kunjungan rumah, tapi semuanya ya tetap

  12 jadi kewenangan kepala sekolah untuk mengambil keputusan, tapi masalahnya sekarang sekolahpun tidak bisa melakukan apa-apa.

  Adakah kemajuan yang berarti dari

  13 subjek selama 3 tahun ini? Ya untuk sekarang ini bisa Pengaruh teman sebaya dibilang subjek mulai jarang

  sangat kuat pada diri subjek.

  melakukan tindakan yang mengganggu teman-temannya.

  14 Dulu sebelum teman baiknya dipecat, subjek lebih membangkang soalnya merasa diri kuat dan kalau nggak mau ikut malak dikatain pengecut.

  Berarti selama tiga tahun ini subjek masih terus dalam pengawasan ya

  15 Bu? Memang seperti itu mbak, subjek Pengaruh teman sebaya sebenarnya anak yang mudah

  yang kuat pada diri dibina karena permasalahannya subjek.

  adalah kurang perhatian dari

  Tindakan guru terhadap

  keluarga jadi dia sedikit lebih perilaku subjek. menonjol dari teman-temannya yang lain. Tetapi setelah nggak

  16 punya teman untuk malak ya makanya subjek bisa terkontrol sekarang. Apalagi subjek dipindahkan dari kelasnya yang semula, ya dengan harapan subjek bisa merasakan suasana baru dan teman-teman baru.

  

LAMPIRAN 2

Wawancara Korban 11 -1- 2010

Verbatim Analisis No

  Berapa kali kamu pernah menjadi sasaran pemalakan oleh pelaku? 1 2 kali mbak.

  2 Biasanya berapa yang diminta oleh

  3 pelaku? Biasanya 1000 rupiah mbak tapi kadang dia minta dibayarin makan yang udah dibeli di kantin, jadi bisa

  4 lebih juga dari 1000.

  Biasanya disaat apa pelaku

  5 melakukan pemalakan? Seringnya saat jam istirahat sekolah

  6 ama temennya.

  Temennya sapa?

  7 Ya temennya yang sering diajak

  8 mintain duit tuh.

  Apa saja yang dipalak oleh pelaku?

  9 Kalau sama saya uang, tapi ada juga Bentuk perilaku pemaksaan dan yang disuruh ngerjain tugas atau mengancam. ulangannya, kalau nggak mau

  10 diancam pulang sekolah mau dipukul.

  Dimana biasanya terjadi tindak

  11 pemalakan tersebut? Di luar kelas sih mbak, kan pas jam Lokasi pemalakan yang dianggap istirahat, jadi dia nyamperin temen- aman.

  12

  Tindakan apa yang kamu tempuh

  13 setelah dipalak oleh pelaku? Ya awalnya nggak berani bilang tapi Pelaku mengintimidasi korban. karena banyak yang dipalak jadinya

  14 ada yang bilang duluan ke guru.

  Apakah sekarang masih dipalak oleh

  15 pelaku? Udah nggak mbak, dia dah nggak berani soalnya dah mau ujian

  16 jadinya dia takut kalau dikeluarin dari sekolah.

  LAMPIRAN 3 Wawancara Narasumber Siswa Bermasalah, 18 -1- 2010 No Verbatim Analisis Apa yang membuat kamu

  1 melakukan pemalakan?

  Alasan melakukan tindak

  Ya biar punya duit mbak. Biar pemalakan.

  2 duitnya banyak, padahal sama ibu dah dilarang sih.

  Emang gak dikasih uang sama

  3 orangtua?

  4 Dikasih tiap hari mbak tapi ya

  Alasan melakukan biar punya duit banyak aja. pemalakan.

  Biasanya berapa dikasih uang

  5 jajan tiap hari? 5000 mbak buat beli makan atau

  6 jajan.

  7 Selalu habis uangnya atau sisa? Ya utuh mbak, kan rumahku deket sekolah, cuma di gang

  8 sebelah jadi dah makan di rumah.

  9 Nah terus duitnya buat apa dong? 10 Alasan pemalakan. Ya buat beli pulsa aja.

  Emangnya pulsa HP selalu abis

  11 buat sms’an atau nelpon ya? Alasan pemalakan.

12 Gak mbak, ya biar banyak aja pulsanya. Aku jarang sms’an

  atau nelpon kok.

  Oh gitu, emang sebelumnya kamu

  13 udah malak sendiri atau ikutan teman?

  Melakukan pemalakan

  Dulu aku diajak temen malak

  karena dorongan atau ajakan tapi aku cuma ikut-ikut aja. teman sebaya.

  Tapi sekarang temenku itu dah

  14 dikeluarin dari sekolah, sekarang dia gak sekolah lagi, dia kerja jadi buruh bikin genteng.

  Emang sebelumnya kamu pernah

  15 jadi korbannya juga?

  Melakukan pemalakan

  Dulu pertama kali kelas satu,

  karena ajakan atau pengaruh

  aku suka diminta-mintain uang

  teman sebaya dan pernah

  ama dia tapi lama-lama dia 16 menjadi korban. ajak-ajakin aku juga mbak. Temen-temen di rumah juga dulu sering mintain uang tapi sekarang dah enggak.

  Kenapa sekarang dah gak

  17 dipalakin juga ama temen-temen yang di rumah?

  Melakukan pemalakan

  Ya dulu kan aku masih kecil,

  karena adanya pengaruh

  mereka besar-besar tapi

  tidak langsung dari

  18 sekarang aku dah temenan ama lingkungan sosial. mereka jadinya dah nggak dipalakin lagi.

  Terus kenapa temen sekolahmu

  19 yang udah dipecat tuh ngajak- ngajakin kamu malak juga?

20 MPD karena dalam catatan Ya gak tahu tapi dia tuh

  konseling subjek melakukan

  sebenarnya takut sama aku. pemalakan karena takut diberi label pengecut.

  Nah kalau dia takut sama kamu,

  21 kenapa kamu nggak nolak aja ajakan dia?

  MPD karena dalam catatan

  Ya iseng aja sih mbak ikut-ikut

  konseling subjek melakukan 22 malak. pemalakan karena takut diberi label pengecut dan untuk kesenangan pribadi.

  Apa sebenarnya kamu yang takut

  23 sama dia makanya nggak berani nolak?

  MPD karena dalam catatan Aku nggak takut sama dia. konseling subjek melakukan

  24 Kalau aku marah atau mukul,

  pemalakan karena takut dia nggak berani balas kok. diberi label pengecut.

  Terus siapa yang sering jadi

  25 sasaran pemalakanmu?

  Korban pemalakan/ target

  Ya banyak teman sekelas aja, 26 sasaran. kalau teman lain kelas biasanya nggak mau ngasih uang.

  Kalau temen-temenmu nggak

  27 ngasih uang terus gimana? Kalau dulu aku pasti marah tapi

  28 sekarang dah takut minta-minta uang ama temennya.

  29 Takut apa?

  30 Ya takut dipecat dari sekolah! Berarti sekarang dah nggak

  31 pernah malak lagi?

  Nggak soalnya sekarang kasian

  32 ama temennya kalau dimintain uang terus.

  33 Kasian kenapa? Penyesalan. Ya kan dia dikasih uang sedikit ama orangtuanya, masa lagi aku

  34 mintain. Ya agak nyesel sekarang, lagian udah puas malak temen-temen dari dulu.

  Kebanyakan yang kamu palakin

  35 teman sebaya atau adik kelas?

  Korban pemalakan / sasaran

  Ya biasanya teman sekelas aja 36 target. tapi pernah juga teman lain kelas.

  Nah terus yang jadi sasaran

  37 pemalakanmu lebih banyak laki- laki atau perempuan?

  Gender yang dipilih sebagai

  Kalau aku temen cowok aja tapi korban pemalakan. kalau dulu ama temenku, dia

  38 sering malak anak-anak ceweknya juga.

  Emang sekali malak minta duit

  39 berapa? Ya kadang 1000 tapi ada juga

  40 yang 2000.

  Terus apa tujuanmu melakukan

  41 pemalakan?

  Melakukan pemalakan untuk

  42 Ya biar seneng aja soalnya kesenangan pribadi. seneng kalau punya banyak

  uang.

  Apa yang kamu rasain setelah

  43 melakukan pemalakan? Penyesalan.

  Ya kadang nyesel juga belakangan ini, kalau dulu sih

  44 nggak kepikiran, cuma seneng aja.

  Biasanya dimana kamu malak

  45 temen-temenmu dan disaat apa? Lokasi pemalakan.

  Malaknya ya di luar kelas pas jam istirahat, kadang juga pas di

  46 kantin abis makan terus temennya suruh bayar, aku langsung balik ke kelas.

  Terus temen-temenmu nggak

  47 ngadu ke guru karena kamu palakin? Ya kadang mereka bilang ama

  48 guru BK, terus entar saya dipanggil dah.

  Emang dah berapa kali dipanggil

  49 ke ruang BK gara-gara perilaku malak? Dah 10 kali lebih kayaknya

  50 mbak.

  Terus hukuman apa aja yang dah

  51 kamu dapat dari sekolah?

  Tindakan guru terhadap

  Ya pertama dapet surat perilaku subjek.

  52 peringatan sampai 3 kali, abis tuh di skors seminggu. Orangtua juga pernah dipanggil ke

  sekolah, dikasih surat pernyataan ama kunjungan rumah dari guru BK.

  Wah banyak banget, terus kamu

  53 nggak dimarahin sama orangtua? Ya dimarahin sama bapak ama ibu juga. Terus disuruh

  54 ngembaliin duit temennya yang pernah aku palak.

  Tapi sekarang masih sering

  55 dipanggil ke ruang BK? Nggak sih mbak, dah takut dipecat, bentar lagi ujian. Ibu BK juga dah bilangin kalau lagi

  56 bermasalah, bakal nggak dikasih ijin ikut ujian, makanya harus rajin masuk sekolah. Saya dah nggak bolos-bolos lagi.

  

LAMPIRAN 4

Wawancara Orangtua Narasumber, 20 -1- 2010

Verbatim Analisis No

  Bagaimana keseharian subjek

  1 apabila di rumah? Komang biasanya kasih makan Lingkungan keluarga yang kurang ayam kalau sore, kadang juga dia perhatian pada subjek. suka bantu beresin rumah. Di

  2 rumah ndak ada sapa soalnya ibu juga dagang canang di “peken” (pasar) tiap hari.

  Pernah dapat pengaduan apa saja

  3 dari sekolah buk? Ya ibu guru BK dah pernah datang Keluarga yang terlihat kurang ke rumah. Si Komang emang perhatian pada subjek.

  bengkung sing bisa orahin” (susah dikasih tahu). Bu guru bilang kalau Komang suka mintain uang ke

  4 temen-temennya padahal ibu dah kasih “bekel” (uang saku) tiap hari. Katanya pernah bolos juga terus ndak ikut sembahyang di sekolah.

  Apakah subjek bermasalah kalau di

  5 rumah? Ndak sih “gek” (panggilan anak

  Keluarga yang kurang perhatian, perempuan di Bali), kalau di rumah sehingga subjek lebih sering 6 Komang tuh diem aja. Biasanya dia bergaul dengan teman sebaya. keluar ya cuma main ama temennya di rumah.

  Terus kalau di rumah bagaimana

  7 bentuk pengawasannya?

  Ya ibu ndak banyak larang-larang Kurangnya kontrol dari keluarga. dia, kan “suba bajang” (sudah remaja). Yang penting dia tau aja apa tugasnya di rumah dan di

  8 sekolah. “Ajiknya” (bapak) juga ndak sering ngeliatin Komang, makanya ibu percaya aja ama dia.

  Apakah orangtua selalu tahu

  9 kegiatan subjek di luar rumah? Komang sih biasanya ikut “truna-

  Subjek sering bergaul dengan truni” (muda-mudi) di “banjar teman-teman sebaya.

  (desa). Ya namanya banyak temen

  10 gitu, pasti sering kumpul ama yang bajang-bajang” (anak-anak remaja) juga di “banjar” (desa).

  Bagaimana cara orangtua menghadapi segala aduan mengenai

  11 subjek selama ini? Kalau orangtua cuma bisa

  Harapan besar orang tua namun menasehati dan membimbing, tidak disertai dengan perhatian. kalau Komang tetep kyk gitu, ibu ndak ada capek-capeknya bilangin dia “gek” (panggilan anak

  12 perempuan di Bali). Ndak ada orangtua yang mau anaknya jadi jelek, ya smoga Komang tuh bisa berubah. LAMPIRAN 5 Wawancara Latarbelakang Keluarga Narasumber Siswa, 28 -1- 2010

  No Verbatim Relasimu ama saudara-saudaramu kayak apa?

  1 Ya biasa aja, nggak pernah bertengkar, nggak musuhan, tapi

  2 ya nggak deket-deket banget.

  Kalau ama orangtua?

  3 Ya deket ama orangtua, ya gitu jak, ya saya sayang banget ama

  4 mereka.

  Coba gambarin sosok bapak?

  5 Ya kadang lucu, kadang-kadang marah, ya pokoknya sering

  6 bikin ketawa aja.

  7 Kalau ibu gimana?

Pendiam trus jarang ngomong, ya ngobrol seperlunya aja.

  8

  

9 Terus gimana cara menyelesaikan masalah dalam kalau keluarga?

Ya ngumpul semua keluarga terus diomongin bareng-bareng, 10 tapi keputusan tetep lebih banyak sama bapak.

  11 Kalau pergaulanmu di lingkungan sekolah dan rumah kayak apa? Ya biasa aja, nggak pilih-pilih teman. Ya biar ada aja yang 12 diajak, kalau nggak punya teman, sapa lagi mau diajak!

  13 Ada masalah gak kalau dalam berteman? Ya kalau dulu sering marah kalau minta uang terus nggak 14 dikasih ama temennya.

  Terus kalau berteman ama temen cewek kayak apa?

  15 Ya baik tapi ceweknya nggak mau soalnya aku nakal makanya

16 cuma berteman aja. Cewek tuh asyik makanya nyambung tapi

ya seneng berteman ama sapa aja, cewek dan cowok sama jak.

  Masalah apa yang sedang kamu hadapi saat ini?

  17 Nggak ada tapi saya pernah nggak naik kelas 2 kali pas SD kelas 1 sama SD kelas 3. Terus kalau sekarang dah malu mau

  18 minta uang sama orangtua soalnya dah gede.

  LAMPIRAN 6 CATATAN PROSES KONSELING Tanggal Proses konseling Catatan

  8-9-2007 Klien dipanggil saat jam kosong Dari hasil wawancara, untuk diberi interview dan diberi pembimbing melihat bimbingan. Klien datang dengan bahwa klien kurang sopan dan memberi salam pada perhatian dari kedua konselor. Pada tahap awal, orangtuanya bahkan dia konselor menanyakan kabar, melihat sosok ayah kesehatan dan setelah itu baru yang malas, tidak mulai masuk ke perkembangan pernah punya rasa dan kesulitan belajarnya. Klien tanggungjawab mengatakan bahwa kalau belajar terhadap keluarga. langsung ngantuk dan malas Klien diberi bimbingan mengerjakan soal-soal yang agar mau merubah diberikan oleh guru karena sikap dan cara hidup, kebiasaan di rumah, orangtua janganlah meniru apa tidak pernah bertanya atau kurang yang dilihat di komunikasi dengan klien. Ayah lingkunga rumah, bekerja tiap hari hanya duduk- usahakan memulai duduk di pos kamling sedangkan komunikasi dengan ibu berjualan canang di pasar. keluarga terutama ayah Rata-rata keluarga yang tinggal di dan ibu. satu merajan ada yang jadi preman dan ada yang jadi balean. Klien mengaku kebiasaan yang sejak kecil dia lihat akhirnya terbawa hingga dia duduk di bangku SMP. Konselor menanyakan apakah klien masih ingin bersekolah dan klien menjawab masih. Klien berjanji akan berusaha berubah, tidak malas dan akan mengikuti pelajaran dengan baik dan akan ikut bertrisandya setiap siang. 13-9-2007 Pada pertemuan kali ini, klien kelihatan kalau ada perasaan takut, waktu dipanggil langsung dan mengajak berbincang-bincang di luar permasalahan sambil mencari saat yang tepat dan agar konselor mendapat kepercayaan dari klien sehingga klien merasa nyaman, bukan perasaan takut. Setelah konselor mulai masuk ke permasalahan yaitu laporan dari guru matematika bahwa klien

  tidak pernah mendengarkan bila diterangkan dan lebih sering mengganggu temannya, klien menjawab bahwa tidak suka pelajaran matematika, sulit dan buat ngantuk.

  Konselor memberikan pandangan bahwa kalau kita belajar sepertinya tidak ada sesuatu yang sulit. Klien mengatakan “benar

  sih bu, tapi kalau tidak suka bagaimana? dari rumah saya sudah malas manalagi gurunya galak”.

  Konselor mengatakan untuk klien mencoba membayangkan kalau kamu tidak suka matematika bagaimana bisa menghitung, bila suatu saat kamu jadi bos, kamu punya perusahaan, mana bisa kamu mengelola perusahaan? nanti kalau kamu dibohongi dan dikerjai sama karyawanmu! Klien terdiam dan tidak berkata apa-apa, hanya menarik napas panjang. Konselor mengajak klien untuk menyukai matematika. Ayo kita coba belajar sama-sama, mana yang kamu tidak mengerti, boleh bertanya sama ibu, nanti kalau ibu tidak mengerti, kita bertanya pada guru yang mengajar. Klien mengangguk mengiyakan dan belajar dan menyukai pelajaran matematika. Ya bu, saya akan

  berusaha biar bisa mengerti dan saya berjanji untuk mendengarkan bila guru menerangkan dan tidak akan menyuruh teman mengerjakan soal-soal atau pekerjaan saya.

  Konselor menjawab “ya kalau

  kamu tidak berusaha maju, siapa yang akan berhasil pasti kamu sendiri”.

  3-12-2007 Pada jam kosong, konselor Klien cukup bisa diajak memanggil klien untuk diajak komunikasi dan dari berbincang-bincang sambil sikap klien, konselor memantau kemajuan belajarnya. berkesimpulan bahwa Klien datang dan menyapa klien masih bisa “selamat siang bu” sapanya. diarahkan ke hal-hal Selamat siang, ayo masuk, yang positif. konselor menjawab dan sambil mempersilahkan duduk, lalu konselor bertanya pada klien. Bagaimana kabarmu, sehat? Sehat bu, terimakasih. Sekarang jam kosong ya? Iya bu, gurunya sakit tapi ada tugas. Baik kalau begitu, boleh ibu bertanya? Boleh bu, ada apa? Ibu dengar kamu sering

  nyuruh temanmu mengerjakan ulangan, apa benar?

  Klien terdiam tidak menjawab. Konselor menunggu jawaban dari klien sambil terus mengamati perilaku klien. Akhirnya setelah sekitar lima menit, klien berani menjawab “benar bu, saya tidak

  bisa matematika jadi saya suruh teman mengerjakan”.

  Terus kamu ngapain sementara temanmu mengerjakan? Duduk main. Dengan kamu menyuruh

  teman mengerjakan, kamu merugikan dirimu sendiri dan temanmu, tahu maksud ibu? Coba kalau kamu tahu, jelaskan maksudnya! Iya, saya semakin tidak mengerti matematika dan teman saya kehabisan waktu untuk mengerjakan pekerjaannya. Kalau caramu terus seperti itu, ya kapan kamu bisa maju, kamu akan tetap tidak mengerti dan semakin ketinggalan pelajaran karena usahamu tidak ada dan temanmu menjadi korban. Ya bu, saya salah tapi tolong bu jangan hukum saya. Saya mohon satu kesempatan lagi, saya berjanji tidak akan mengulangi perbuatan saya. Baik, ibu tidak akan menghukum asala kamu janji kamu berubah. Ya bu, saya janji, saya akan berubah. 12-10-2008 Klien dipanggil ke ruang BK pada jam istirahat. Klien datang menghadap. Selamat siang bu, sapanya. Selamat siang, bagaimana kabarmu? Baik bu. Tahu kenapa ibu panggil? Tidak bu, apa masalah nilai saya lagi? Bukan, kali ini mungkin masalah yang cukup serius menurut ibu. Apa itu bu? saya jadi takut. Tidak perlu takut, ibu hanya ingin konfirmasi kebenarannya saja. Iya bu, saya siap. Baiklah kita mulai ya. Ibu dapat laporan kamu malak

  teman-temanmu, benar itu?

  Klien diam tidak menjawab, raut mukanya pucat menahan rasa takut. Tidak apa, jawab saja apa benar yang ibu dengar. Benar bu,

  saya diajak sama Ketut Eka Sutana minta-minta uang sama teman-teman. Berapa kamu

  Sudah berapa lama kamu malak? Baru 3 kali bu. Apalagi sudah tiga kali, apa kamu tidak dikasih bekal sama orangtua? Dikasih bu. Berapa bekalmu setiap hari? Rp.5000 bu. Itukan udah banyak, orang lain belum tentu dapat bekal segitu apalagi kamu cuma tinggal di sebelah sekolah harusnya tidak perlu bekal lagi.

  Ya bu, saya minta maaf, saya janji tidak akan mengulangi. Tidak perlu janji tapi tunjukkan dengan perilakumu. Sekarang kamu mengumbar janji tetapi perilakumu tidak berubahkan, tidak ada gunanya. Ya bu, saya akan berubah. Ya jangan masuk ruangan ibu dengan membawa masalah tapi datang kesini bawa prestasi, tunjukkan sama ibu, itu baru perubahan. Berubah dari cara belajar, diperilaku dan dicara berpakaian, kamu sudah kelas

  VIII, kamu itu cakep, body

  bagus tapi kalau perlakunya tidak bagus, hilang cakepnya, cewek akan malas mendekati kamu. Ya bu, saya akan berusaha, habis si Sutana yang ngajak, kalau tidak mau, saya dibilang pengecut. Terus kalau

  kamu malak lagi, lama-lama kamu bisa dikeluarkan dari sekolah, mau? karena ini sudah tindakan kriminal dan kamu bisa di sel di kantor polisi. Ya bu, saya tidak akan mengulangi perbuatan saya. Baik, ini peringatan pertama dan ibu harap ini juga yang terakhir.

  Laporan temanmu katanya lagi kamu minta uang untuk beli pulsa,

  saya pinjam bu, saya akan kembalikan uangnya.

  Kapan kamu mau ngembalikan uangnya? Besok bu. Baik, besok kamu kembalikan disini, di ruangan ibu. Ya bu, besok saya akan ajak ke ruangan ibu. Baik kalau begitu. 27-10-2008 Mengadakan kunjungan rumah.

  1-4-2009 Selamat siang bu, katanya saya dipanggil, ada apa bu? Selamat siang, ayo masuk, silahkan duduk. Terimakasih bu. Bagimana keadaanmu, kurang lebih empat bulan ya kita tidak ketemu. Iya bu. Bagaimana ada kabar terbaru? Maksud ibu? Ya mungkin kamu mau menyampaikan kabar baru buat ibu. Tidak bu, saya tidak punya kabar yang baru, semua masih seperti kemarin. Benar? Iya bu, tidak ada berita yang baru, memang ada apa bu? Ya ibu kan ingin kejujuran dari kamu, ibu mau dengar langsung kebenaran berita / isu itu dari kamu sebelum ibu yang ngomong, ibu sih dengar kamu buat masalah lagi.

  

LAMPIRAN 7

CATATAN KEJADIAN KONSELING

Tanggal Kejadian Penanganan

  8-9-2007 Siswa tidak membawa alat tulis Memanggil, dan buku mengarahkan dan tidak mengulangi perbuatannya serta mengetahui tugasnya sebagai murid. 13-10-2007 Mengulangi lagi, masih ada kelengkapan belajar / sekolah yang tidak dibawa dan mengganggu temannya di kelas, suka ngobrol pada saat guru menerangkan.

  Memanggil kembali dan menasehati serta mengajak bicara dari hati ke hati apa sebenarnya yang ada di benak siswa. Tidak ada keinginan untuk sekolah karena tidak ada dukungan dari keluarga. Orangtua acuh tak acuh terhadap pendidikan anak. 3-12-2007 Laporan dari guru matematika, pada waktu diterangkan, siswa tidak mendengarkan tapi malah menggambar dan mengganggu teman. Diberi tugas dan setiap ulangan, temannya disuruh mengerjakan.

  Memanggil dan memberi konseling, mengingatkan bahwa minggu depan sudah ulangan umum, apa sudah siap menghadapi ulangan. Meminta catatan diperiksa, memberikan surat panggilan untuk orangtua dengan harapan ada kerjasama antara sekolah dan orangtua untuk pembinaan siswa. Merupakan surat panggilan pertama. 4-3-2008 Tidak ada kejadian apa-apa, hanya memantau perubahan perilaku.

  Membimbing agar tetap dalam belajar di sekolah semakin meningkat. 10-10-2008 Laporan dari ibu kantin sering memalak minta uang / menyuruh teman membayar jajanan yang sudah dimakan. Terkadang temannya sampai tidak bisa jajan karena tidak punya uang lagi. Ada satu anak perempuan yang paling sering dimintai uang.

  Mencari informasi dari teman sekelas atas laporan dari ibu kantin dan apakah informasi itu benar bahwa hampir tiap hari Komang meminta uang Rp.1000 pada Husaina. 12-10-2008 Memanggil siswa atas laporan Bertanya apa benar temannya, siswa meminta uang laporan dari ibu kantin untuk beli pulsa, kalau tidak mau dan teman yang dimintai kasih, pulang sekolah akan uang. Siswa dipukul. membenarkan semua perbuatannya. Guru BK memberikan konseling dan memberi surat peringatan pertama dan membuat surat perjanjian. 27-10-2008 Mengadakan kunjungan rumah. Mengadakan pendekatan pada orangtua siswa agar bisa bekerjasama dalam membimbing siswa. 1-4-2009 Memalak delapan orang dari Memanggil dan teman sekelas dan teman lain memberikan konseling kelas. serta memberikan surat peringatan kedua dan membuat surat perjanjian. Mengadakan konferensi kasus dengan wali kelas dan kaur kesiswaan karena kasus pemalakan sudah sudah termasuk kasus kriminal, maka pihak sekolah bekerjasama dengan polsek setempat untuk memberikan pengarahan dan menerangkan apa sanksi hukum dan berapa lama hukumannya bagi orang yang suka malak. Kmebali mengadakan kunjungan rumah dan menyampaikan pada orangtua bahwa perbuatan anaknya sudah termasuk perbuatan kriminal. Siswa pun sudah membuat dua lai surat perjanjian, jika

ada sanksi dari pihak sekolah. 13-6-2009 Memalak lagi pada lima orang Kembali mengadakan lain kelas dan sudah merembet konferensi kasus, kali ini malak ke kelas VIII. melibatkan kepala sekolah dan dewan guru.

  Keputusan rapat, siswa diberi masa percobaan 3 bulan, jika mengulangi maka akan dikeluarkan.

  LAMPIRAN 8 RANGKUMAN KONSELING

Deskripsi perilaku Pertemuan Tindakan

  Siswa malas belajar, ke Pertemuan I, Senin

  8 Dipantau sekolah hanya membawa September 2007. satu buku tulis dan tidak Dinasehati dan mengarahkan agar bisa semakin rapi dan membawa alat tulis ke sekolah. Pertemuan II, Jumat 13 Oktober 2007. Masih malas tetapi sudah mulai membawa peralatan sekolah tapi belum maksimal dalam belajar dan suka ngobrol di dalam kelas, masih suka mengganggu temannya yang sedang mengikuti pelajaran.

  Masih pantauan Pertemuan

  III, Rabu

  3 Desember 2007. Ada sedikit perubahan, siswa sudah mulai mencatat dan membawa alat tulis namun masih senang mengganggu murid lain terutama teman perempuan dengan mengambil pensil dan pena. Guru BK mengingatkan bahwa sudah mau ulangan.

  Ada perubahan walaupun belum maksimal tetapi masih dalam pantauan. membawa peralatan tulis. Semua catatan dijadikan satu dan suka mengganggu teman perempuan. Tidak pernah mau mendengarkan apabila guru sedang menerangkan, diberi tugas tidak dikerjakan, kalau ulangan menyuruh temannya untuk mengerjakan, kalau tidak mau, temannya diancam akan dipukul saat pulang sekolah.

  Pertemuan IV, Sabtu 4 Maret 2008. Semakin menungkat perubahannya.

  Sudah mau mengerjakan ulangan sendiri, catatan sudah mulai rapi walaupun masih suka mengganggu teman-teman dalam kelas.

  Tercapai sesuai harapan walau belum 100% berubah namun siswa mempunyai niat untuk berubah.

  Muncul perilaku baru yaitu mengganggu teman dengan cara meminta uang untuk jajan, kalau teman tidak mau memberi maka diancam akan dipukul pada waktu

  Pertemuan I, 12 Oktober 2008. Mempertemukan kedua belah pihak antara Tri Wijaya dan Husaina (siswa yang paling sering dimintai uang). Tri Wijaya mengakui bahwa benar

  Dalam pembinaan dan pantauan. dirinya sering meminta uang dan sering mengancam apabila tidak diberikan uang. Siswa berjanji tidak akan mengulangi perbuatan dan dia berjanji akan mengembalikan uang Husaina. pulang sekolah. Awalnya hanya minta uang untuk beli pulsa dan anak yang dimintai uang tidak pernah berani melapor pada wali kelas maupun guru BK. Anak tersebut sering tidak masuk sekolah tanpa alasan dan setelah diadakan pendekatan terhadap siswa tersebut ternyata orangtua siswa baru mengatakan bahwa sering di palak sama Tri Wijaya.

  Pertemuan II, 13 Oktober 2008 siswa datang ke ruang BK dan membawa uang Rp. 8000 untuk mengembalikan pada teman yang dimintai uang.

  Tetap mengawasi perilaku siswa.

  Kembali mengulangi perbuatannya bersama teman akrabnya, klien memalak 8 orang dari teman sekelas maupun teman lain kelas.

  Rabu 1 April 2009. Kembali memalak bersama teman akrabnya Eka Sutama. Mereka berdua memaksa teman- temannya untuk membelikan pulsa. Tidak berubah bahkan semakin berani karena merasa tidak sendirian melakukan perbuatan itu. Siswa membuat surat perjanjian yang kedua kalinya.

  Tidak menunjukkan perubahan perilaku samaskali bahkan merasa menguasai teman- temannya karena dia penghuni lingkungan sekolah dan sekolah adalah milik “banjar” sehingga merasa orang di luar “banjar” lingkungan sekolah, mereka harus takluk pada anak-anak di lingkungan “banjar”

  Belum tercapai dengan harapan dan pada akhirnya harus tetap mengadakan pengawasan terhadap perilaku siswa tersebut sampai saat ini. Siswa duduk di kelas

  IX dan dipindah kelasnya dengan harapan bagi lingkungan sekolah perubahan. kekuatan terletak pada adat “banjar” bukan pada kekuasaan sekolah.

  LAMPIRAN 9 OBSERVASI LAPANGAN Tanggal : 13 Januari 2010

  Lokasi : ruang BK Setting : saat jam pelajaran kosong Jam : 11.00 – 11.30 wita

  Subjek datang ke ruang BK karena dilaporkan oleh temannya. Subjek bercanda dengan temannya dan tidak sengaja menarik baju bagian depan sehingga robek dan kancingnya lepas semua. Guru BK menanggapi pengaduan tersebut dan menasehati subjek supaya tidak mengulanginya lagi. Awalnya subjek berusaha memberikan sanggahan bahwa mereka tidak bermain di dalam kelas, namun temannya membantah dan mengatakan bahwa subjek mengganggunya karena jam pelajaran sedang kosong. Guru BK menanyakan alasan subjek mengapa mengganggu temannya disaat tidak ada guru dan subjek mengatakan bahwa dia “iseng” karena temannya tersebut diam saja di kelas sehingga dilempar bongkahan kertas yang sudah dibuat oleh subjek sebelumnya. Guru BK tertawa dan menanyakan kembali kenapa subjek harus mengganggu temannya yang diam di kelas. Subjek menyanggah dengan mengatakan bahwa dia penasaran dengan temannya tersebut. Teman yang diganggu oleh subjek awalnya menangis karena bingung tidak punya seragam lagi sehingga akhirnya guru BK menyuruh subjek untuk mengganti pakaian temannya tersebut keesokan harinya. Subjek menyanggupi dengan memberikan penawaran kepada temannya apakah boleh diganti dengan seragam milik subjek yang lain karena bila harus membeli yang baru, subjek mengaku tidak memiliki uang dan takut merepotkan mengusap air mata, temannya tersebut tidak keberatan dengan penawaran subjek dan mereka berdua berjabat tangan saling meminta maaf.

  Tanggal : 20 Januari 2010 Lokasi : rumah subjek Setting : rutinitas subjek Jam : 13.00 – 14.30 wita

  Peneliti dan guru BK tiba di rumah subjek beberapa menit sebelum subjek sampai di rumah. Subjek memberi salam dan meminta ijin untuk berganti pakaian terlebih dahulu. Guru BK mempersilahkan dan menyuruh subjek untuk makan siang terlebih dahulu. Awal pembicaraan dimulai oleh guru BK, pada kesempatan ini hanya ibu yang berada di rumah karena kedua kakak subjek telah menikah dan tinggal bersama keluarga suami sehingga mampir ke rumah hanya di pagi hari ketika mengantarkan barang dagangan sebelum ibunya ke pasar berjualan. Sedangkan ayah subjek pada saat itu sedang pergi bersama paman subjek yang rumahnya berada di satu natah (satu lingkungan pekarangan rumah) namun beda rumah. Rumah pamannya tersebut berada di belakang rumah subjek berdekatan dengan rumah yang ditempati oleh nenek subjek. Ibunya mengatakan bahwa ayah subjek kerja serabutan sehingga jarang berada di rumah. Siang hari biasanya subjek berada di rumah bersama ibu dan neneknya sambil membantu mengurus beberapa ayam yang ada di belakang siang dan istirahat sejenak sebelum sorenya membantu menyapu halaman dan cuci piring. Terkadang kalau tidak tidur siang, subjek mencuci baju dan menyetrika pakaiannya sendiri. Lingkungan rumah terlihat agak berantakan karena pekerjaan ibu sebagai penjual canang sehingga di lantai rumahnya berserakan janur-janur yang belum dirangkai. Tidak beberapa lama, subjek datang bergabung dan duduk di sebelah ibunya. Subjek terlihat cukup akrab karena beberapa kali berusaha menggoda ibu dengan candaan dan sentuhan tangan. Ibunya menanggapi dengan tertawa dan terkadang mengatakan subjek anak yang kolok (sedikit manja). Ibu menceritakan bahwa subjek sangat dekat dengan neneknya karena kalau tidak ada ibu di rumah, subjek sering datang ke rumah neneknya yang berada di belakang rumah mereka. Rumah mereka terdiri dari beberapa rumah lain yang berada di dalam satu halaman karena begitulah rata-rata bentuk rumah di Bali. Saat memasuki pagar rumah, biasanya melewati dapur terlebih dahulu kemudian dilanjutkan dengan rumah-rumah dan sanggah (tempat sembahyang) serta diakhiri kamar mandi yang berada di bagian paling belakang rumah. Menurut cerita, letak dapur yang fungsinya untuk menjamu orang harus diletakkan paling depan sedangkan WC yang berhubungan dengan hal kotor harus diletakkan di bagian paling belakang supaya tidak mencemari dapur, rumah tinggal dan tempat sembahyang. Setelah mendengarkan penjelasan tersebut, tak lama kemudian nenek subjek datang sambil membawa janur dan menyapa peneliti. Nenek subjek tidak bisa berbicara bahasa Indonesia

  Subjek terlihat mengajak bicara neneknya dan memberikan minum. Terlihat relasi subjek dengan ibu dan neneknya lumayan akrab karena subjek selalu berdekatan dengan keduanya. Berbeda sekali ketika berada di sekolah yang selalu mengganggu teman dan cenderung menyendiri. Setelah guru BK membuka pembicaraan dengan ibu subjek, peneliti diperkenalkan dan mulai mewawancarai beliau. Ibu subjek cukup terbuka dan bisa diajak berbicara mengenai subjek. Dari proses wawancara yang berlangsung, ibu terkesan menganggap subjek sebagai anak yang sudah remaja atau sudah besar sehingga tidak terlalu dipermasalahkan mengenai kegiatannya di luar rumah, yang penting semua tugas dan kerjaan rumah telah diselesaikan terlebih dahulu. Ibu mengatakan bahwa tidak banyak waktu yang bisa diluangkan bersama subjek sehingga keberadaan neneknya diakui sangat membantu karena subjek cukup dekat dengan neneknya itu. Ayah yang seorang buruh serabutan pun biasanya ada di rumah setelah menjelang sore sekitar jam 6. Ibunya pun sibuk membuat canang untuk dijual esok harinya sehingga tidak sempat mengerjakan kerjaan rumah kecuali memasak sehingga subjek diberi tugas untuk membersihkan rumah dengan harapan mampu belajar bertanggungjawab. Menurut ibu subjek, subjek berada di rumah setelah pulang sekolah dan membereskan pekerjaan di rumah sebelum terkadang dicari oleh teman-teman mainnya yang tinggal di dekat rumah mereka. Kadang subjek bermain bersama temannya tersebut dan pulang ketika sore bersama kedatangan ayahnya. Subjek jarang bertemu dengan mengantarkan dagangan, subjek sudah berangkat ke sekolah. Lingkungan rumah yang dihuni oleh beberapa orang yaitu kedua keluarga pamannya yang merupakan adik-adik dari ayah subjek beserta neneknya membuat subjek tidak kesepian karena setiap saat selalu ada yang beraktifitas dan menemani subjek.

  Kedua paman beserta istri dan anak-anaknya sering dijumpai oleh subjek sehingga relasi mereka bisa dikatakan cukup dekat satu dengan yang lainnya karena setiap sore, mereka pun saling berinteraksi saat sembahyang di sanggah.

  Tanggal : 28 Januari 2010 Lokasi : kelas subjek Setting : pelajaran budi pekerti di kelas subjek Jam : 11.30 – 13.00 wita

  Subjek terlihat kurang bersemangat karena beberapa kali menguap dan menidurkan kepalanya di atas meja. Pakaian subjek juga tidak rapi karena dikeluarkan dan terlihat sangat sempit pada bagian bajunya. Subjek tidak terlihat mengganggu temannya dan cenderung kalem karena diam saja sambil menggambar-gambar di bukunya. Subjek terlihat bosan karena sering ijin ke kamar mandi dan sampai mendapat teguran dari guru BK yang sedang mengajar saat itu. Subjek beralasan sedang sakit dan ingin buang air kecil terus menerus sehingga akhirnya diberikan ijin oleh guru untuk ke WC. Subjek juga sempat ditegur oleh guru BK karena pakaiannya yang tidak rapi dan cenderung sempit.

  

LAMPIRAN 10

DESKRIPSI OBSERVASI SEKOLAH

  1. Letak sekolah X adalah di kecamatan yang kebanyakan siswanya berasal dari desa setempat dan berlatarbelakang ekonomi menengah ke bawah sehingga rata-rata orangtua murid bekerja sebagai buruh, petani, pedagang, dan lain sebagainya. Sebagai salah satu sekolah yang terletak di desa, sekolah X memiliki bangunan sekolah yang cukup baik dan memadai dengan adanya sarana serta prasarana berupa laboraturium fisika dan biologi, laboraturium komputer / ruang multimedia, perpustakaan, lapangan basket, kantin, toilet, ruang kelas serta tempat persembahyangan. Akan tetapi beberapa diantaranya tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya sebab sedang mengalami kerusakan dan belum diperbaiki seperti halnya ruang multimedia. Ruang kelas sebanyak 16 ruangan pun secara keseluruhan tidak dapat menampung semua jumlah murid di sekolah X sehingga jadwal sekolahnya dibagi menjadi 2 yaitu di pagi hari dan siang hari.

  2. Berdasarkan data yang diperoleh dari guru BK, jumlah guru tetap sebanyak 64 orang dan guru honor 15 orang tidak seimbang dengan jumlah murid keseluruhan yaitu 1055. Akibat kelebihan jumlah murid, beberapa guru memiliki jam mengajar yang penuh, sedangkan guru-guru yang sudah sertifikasi justru tidak memenuhi jam mengajar yang seharusnya. Pembagian jam mengajar antara guru tetap dan guru honorer pun tidak seimbang sehingga ketimpangan jam mengajar ini terkadang membuat guru- guru senior hanya datang ke sekolah untuk sekedar absen hadir, berbincang di ruang guru, atau hanya sekedar mengambil uang honor mengajar.

  3. Pada saat peneliti berkeliling ke seluruh bagian sekolah, beberapa guru juga terlihat asyik makan sambil ngobrol di kantin saat jam pelajaran, di perpustakaan menjual barang dagangan, atau menerima telpon di luar ruang kelas. Pemandangan ini menjadi tidak sesuai dengan jam mengajar para guru honorer dan guru tetap yang sudah sertifikasi sebab terkadang guru- guru yang sudah sertifikasi justru lebih banyak meninggalkan ruang kelas sebelum waktu mengajar habis atau bahkan tidak masuk sekolah dan hanya memberikan tugas kepada murid-muridnya. Sedangkan guru honorer dituntut untuk melakukan tugasnya dengan baik supaya mendapatkan rekomendasi dari kepala sekolah dan segera diangkat menjadi guru tetap.

  4. Selama penelitian berlangsung, peneliti disediakan ruangan bersama dengan ruang BK yang di dalamnya terdapat fasilitas TV dan air minum sendiri (tidak digabung dengan air minum umum yang ada di ruang TU). Terkadang ruang BK beralih fungsi dari ruang konseling menjadi ruang nonton bersama para guru yang sedang tidak mengajar. Maka tidak mengherankan apabila sering terjadi pengusiran oleh guru BK ketika ada siswa yang harus termasuk dalam kategori terlalu banyak sebab kurang lebih ada 8 kantin dengan perbandingan lokasi sekolah yang tidak terlalu luas sehingga secara tidak langsung, keberadaan kantin-kantin tersebut menyebabkan keributan pada saat jam pelajaran berlangsung.

  5. Pos satpam yang ada di dekat pintu gerbang sekolah juga sering terlihat kosong pada jam-jam tertentu. Biasanya pak satpam terlihat di awal jam masuk sekolah, jam istirahat dan jam pulang sekolah, selebihnya pos penjagaan dibiarkan kosong serta pintu gerbang yang tidak dikunci sehingga ada beberapa murid yang terlihat keluar tanpa ijin. Sebenarnya lingkungan sekolah X seluas 1350 meter persegi sangatlah mudah untuk diawasi tiap sudutnya namun beberapa pihak mengatakan bahwa lingkungan sekolah relatif aman dan para murid tidak memiliki kesempatan untuk membolos atau keluar dari sekolah secara diam-diam.

  6. Beberapa kali peneliti juga diajak untuk mengunjungi ruang guru karena sedang diadakan demo dari beberapa penjual produk kosmetik, perhiasan, perlengkapan rumah tangga dan pedagang jamu. Yang membuat peneliti bingung adalah kenapa bisa para pedagang dan sales tersebut masuk ke dalam lingkungan sekolah disaat jam pelajaran berlangsung. Anehnya lagi beberapa guru akan lebih memilih tidak masuk kelas untuk mengajar dan lebih memilih untuk melihat barang dagangan tersebut. Peneliti juga sempat mengunjungi kelas-kelas yang ditinggalkan oleh guru pengajar, saat ditanya mereka leluasa untuk membuat keributan dan menganggu teman-temannya di kelas.

  7. Ketika menjelang jam pulang sekolah, sebagian guru sudah meninggalkan kelas 30 menit sebelum jam pelajaran usai. Alhasil para siswa menjadi tidak terkontrol di kelas dan terkadang guru-guru tersebut sudah bersiap pulang duluan sebelum bel pulang sekolah berbunyi dengan alasan buru-buru ingin menjemput anaknya pulang sekolah atau ada urusan mendesak. Kepala sekolah pun terkesan tidak peduli karena biasanya di jam mendekati pulang sekolah, bapak kepala sekolah akan mengunjungi istrinya yang berjualan di salah satu kantin sekolah sambil membantu membereskan jualan yang sudah habis.

  8. Selama proses pengambilan data, peneliti juga mengadakan pengamatan terhadap narasumber siswa yang bermasalah secara langsung saat mengikuti guru BK memberikan materi di kelas dan pada saat kunjungan rumah. Peneliti menggunakan observasi non partisipan (peneliti sebagai observer) dengan pertimbangan peneliti dapat mencatat dengan segera informasi penting yang muncul di lapangan. Hal-hal yang diobservasi adalah mengenai perilaku narasumber serta kondisi secara umum di dalam kelas maupun di sekolah saat jam istirahat berlangsung, hubungan narasumber dengan teman-temannya, keluarga dan masyarakat serta kegiatan di rumah.

  9. Peneliti berada di lingkungan sekolah selama 10 hari yaitu pada tanggal 5, 8, masuk sekolah sehingga proses belajar dan mengajar belum berjalan efektif sebab pada bulan yang sama juga terdapat hari raya umat Hindu yaitu “Siwa Latri”, oleh sebab itu para murid dan warga sekolah pun libur pada tanggal 14 sampai 17 Januari 2010. Dikarenakan hal teknis tersebut maka peneliti memilih tanggal-tanggal tersebut di atas untuk melaksanakan proses pengambilan data penelitian.

  LAMPIRAN 11 Wawancara Guru BK 2, 21-4-2011 Pada kesempatan ini saya ingin mewawancarai ibu mengenai peran

  1 Peneliti

  sekolah dalam menangani kenakalan yang cukup memahami permasalahan anak-anak, kebijakan apa saja yang dirumuskan oleh pihak sekolah? Pihak sekolah terutama kepala Kebijakan kepala sekolah pada dasarnya merumuskan sekolah yang tidak kebijakan berupa penanganan yang tegas karena kekeluargaan. Setiap anak mendapat tekanan. ditekankan untuk memperoleh kesamaan hak sebagai seorang pelajar untuk memperoleh pendidikan. Namun pada prakteknya, ketidakadilan muncul karena kepala sekolah tidak tegas ketika seorang murid yang telah dikeluarkan kemudian datang ke sekolah

  Guru BK bersama pamannya yang seorang

  2

  anggota DPRD secara tidak langsung menekan dan meminta supaya keponakannya diberikan ijin masuk sekolah lagi. Ketidakadilan terlihat karena pada saat anak ini dikeluarkan, terdapat 3 anak lain yang bermasalah dan ikut dikeluarkan, namun anak yang datang dengan pamannya ini diterima kembali bersekolah sedangkan 3 lainnya tidak diterima dengan alasan rahasia sekolah. Apakah anak tersebut masih ada saat

  3 Peneliti

  ini? Tidak karena sudah lulus tahun lalu. Adanya pengaruh wali Dia adalah anak yang mbak jadikan murid yang punya

subyek penelitian sebelumnya. jabatan.

Sebenarnya dia pernah dikeluarkan Guru BK

  4

  oleh pihak sekolah namun akhirnya diterima kembali karena pengaruh pamannya yang adalah seorang anggota DPRD. Oh, berarti secara tidak langsung Peneliti anak tersebut mendapat

  5

  perlindungan dari kepala sekolah? Ya memang seperti itu karena setiap Orangtua yang kurang yang bersangkutan dan kemudian diadakan pemanggilan orangtua, ayahnya tidak pernah datang karena yang datang biasanya paman atau ibunya saja. Apakah kepala sekolah selalu tidak Peneliti dapat bersikap tegas terhadap

  7

  pelanggaran yang ada? Kepala sekolah sudah disetir oleh Kepala sekolah banyak kepentingan sehingga untuk menghindari konflik. Guru BK menghindari konflik dan supaya

  8

  posisinya tetap aman, ya memang cara-cara itu yang harus diikuti. Lalu bagaimana kedudukan guru BK Peneliti

  9

  sendiri di sekolah? Awalnya segala kebijakan diserahkan Kepala sekolah tidak oleh kepala sekolah kepada masing- mendukung program masing guru BK, namun sering BK. munculnya kepentingan-kepentingan Guru BK

  10

  tertentu inilah yang membuat kepala sekolah akhirnya mengambil jalan pintas dan mematahkan program yang sudah dijalankan oleh BK. Untuk saat ini bagaimana masing- masing guru BK mengatasi para anak

  Peneliti

  11

  didik di sekolah terutama yang melakukan pelanggaran? Dulu ketika masih menjunjung Keputusasaan kedisiplinan, saya menjalankan terhadap sistem dan segala proses pekerjaan sesuai kebijakan kepala

tahapan-tahapannya. Misal dulu ada sekolah.

anak yang sering melakukan pelanggaran, saya datangi ke rumahnya walau jauh ke desa-desa demi dedikasi tapi kalau sekarang

  Guru BK daripada bersusah-susah harus

  12

  sampai ke pedalaman desa dan hasilnya tetap diputuskan oleh kepala sekolah untuk dipertahankan, ya mending saya santai-santai di sekolah sambil ngerumpi di ruang guru. Ya seperti itu kasarannya, karena kebanyakan guru di sekolah memilih untuk mengikuti arus yang ada di sekolah. Hasilnya pekerjaan terasa lebih enteng dan tidak makan hati. Yang penting setiap bulan ada laporan perkembangan mengenai anak-anak. Tetapi apakah pihak sekolah memiliki catatan khusus mengenai laporan

  Peneliti

  13

  perkembangan yang terjadi di setiap tahunnya? Kalau laporan berupa prosentase Tidak ada laporan atau dalam bentuk grafik yang prosentase. digambarkan setiap tahunnya untuk melihat apakah ada penurunan atau

  Guru BK bahkan peningkatan tentunya tidak

  14

  ada. Yang ada hanya berupa catatan perlakuan konseling masing-masing anak dan catatan perilaku anak selama di kelas VII sampai kelas IX. Kalau secara umum, sebenarnya trend di sekolah sendiri seperti apa

  15 Peneliti

  untuk tindak kenakalan atau pelanggaran yang terjadi selama ini? trend

  Pada dasarnya trend di sekolah Perubahan beberapa tahun belakangan ini bisa kenakalan. dikatakan tetap tidak mengalami peningkatan karena anak-anak yang bermasalah pada umumnya sejenis Guru BK

  16

  latar belakangnya. Namun trend kenakalannya yang sedikit berbeda karena beberapa diantaranya telah masuk dalam area kriminalitas dan diserahkan pada pihak kepolisian. Tindak kriminalitas seperti apa yang Peneliti

  17

  ibu maksud? Sempat ada seorang murid yang Anak yang bermasalah waktu masih duduk di kelas 2 SMP, kriminal. anak ini memang tidak pernah masuk sekolah, beberapa temannya

  Guru BK mengatakan bahwa sering melihat

  18

  anak itu nongkrong di tempat main billiard bola bersama anak-anak SMA. Terakhir kalinya pihak sekolah rumah, ternyata anak tersebut telah ditangkap polisi karena menjadi pencuri kelas kakap. Dia mengaku telah mencuri berbagai macam barang elektronik tanpa ketahuan, misal mencuri hp, laptop, dll. Dari 30 kasus pencurian yang dilakukannya, kasus terakhir yang akhirnya tertangkap adalah ketika mencuri laptop dan uang di rumah komandan ABRI yang tidak lain adalah atasan dari bapaknya sendiri sehingga sempat menghebohkan pihak sekolah. Apakah anak tersebut selama duduk Peneliti di kelas VII tidak bermasalah di

  19

  sekolah? Anak tersebut juga tercatat sebagai

  • Anak bermasalah. anak yang perlu dipantau namun
  • Orangtua yang sulit sebelum sampai memanggil berkoordinasi dengan orangtuanya ke sekolah, anak pihak sekolah. tersebut jarang muncul ke sekolah -Kepala sekolah yang dan orangtua pun sulit untuk diajak mempertahankan berkoordinasi karena merasa murid bermasalah.

  Guru BK

  20 anaknya selalu berangkat ke sekolah.

  Kepala sekolah pun hanya memberikan solusi untuk mempertahankan anak tersebut dan terus dibina, maka dari itu sering terdapat ketidakcocokan antara BK dengan atasan. Apabila terjadi ketidaksepakatan, Peneliti apakah ada cara lain yang

  21

  diusahakan? Biasanya akan dibicarakan saat rapat Pengambilan dewan guru namun metode rapatnya keputusan oleh kepala

saja seperti mendikte dan anggota sekolah.

rapat hanya menulis ulang apa yang diucapkan oleh kepala sekolah, ya

  Guru BK

  22

  secara tidak langsung pemikiran kepala sekolah yang akan dilaksanakan tanpa harus membicarakannya saat rapat. sistem ngulang rapat dan metodenya sama, mendikte dan mencatat ulang hasil rapat pada pertemuan sebelumnya. Berarti sebenarnya menjadi tidak efektif samasekali ya bu. Lalu sejuah ini apakah pihak sekolah tidak Peneliti melakukan evaluasi kerja apabila

  23

  tidak memiliki catatan perkembangan sekurang-kurangnya 5 tahun terakhir? Ya anggap saja evaluasi kerja berupa Program merupakan penulisan ulang hasil rapat karena keputusan kepala

semua program yang ada merupakan sekolah.

Guru BK gagasan utama dari hasil pemikiran

  24

  kepala sekolah semata dengan dilatarbelakangi kepentingan- kepentingannya. Baiklah, semua informasi yang diperlukan sudah cukup dan saya

  Peneliti ucapkan terimakasih atas

  25

  partisipasinya sebagai nara sumber dalam penelitian saya.

Dokumen baru

Download (158 Halaman)
Gratis

Tags

Dokumen yang terkait

Hubungan sosialisasi dalam keluarga dan lingkungan sekolah dengan tingkat kenakalan siswa sekolah (Studi kasus di SMUN 7 dan SMU PGRI4, Kotamadya Bogor, Propinsi Jawa Barat)
0
9
152
Persepsi siswa sekolah menengah atas terhadap perilaku bullying di sekolah : studi kasus di SMA Kolese De Britto dan SMA Stella Duce 2 Yogyakarta.
1
1
113
Persepsi siswa sekolah menengah atas terhadap perilaku bullying di sekolah : studi kasus di SMA Kolese De Britto dan SMA Stella Duce 2 Yogyakarta - USD Repository
0
0
111
Fungsi komite sekolah dalam pengembangan sekolah di SMU/K se-Kabupaten Sleman - USD Repository
0
1
177
Persepsi siswa terhadap kompetensi mengajar guru akuntansi sekolah menengah kejuruan : studi kasus pada siswa SMK se-Kabupaten Bantul - USD Repository
0
0
136
Persepsi siswa terhadap kompetensi mengajar guru akuntansi sekolah menengah kejuruan : studi kasus pada siswa SMK se-Kabupaten Bantul - USD Repository
0
0
136
Perbedaan antara pengaruh ceramah dengan ceramah-testimoni tentang kanker serviks dan papsmear terhadap pengetahuan, sikap dan perilaku guru wanita sekolah dasar di kota Yogyakarta - USD Repository
0
0
193
Hubungan supervisi kepala sekolah dengan kinerja guru : studi kasus guru-guru sekolah menengah atas di Kota Yogyakarta - USD Repository
0
1
147
Kompetensi interpersonal siswa sekolah rumah dan siswa sekolah umum - USD Repository
0
1
150
Perbedaan pengaruh ceramah dan ceramah testimoni tentang kanker serviks dan papsmear terhadap perilaku guru wanita sekolah dasar di kota Yogyakarta - USD Repository
0
0
147
Perbedaan kecenderungan perilaku bullying antara sekolah menengah atas homogen dan heterogen di Yogyakarta - USD Repository
0
0
103
Hubungan kultur keluarga dan kultur sekolah dengan minat siswa berwirausaha : studi kasus pada siswa kelas X SMK Negeri I Depok, Sleman - USD Repository
0
0
159
Perbedaan religiositas antara siswa Katolik di sekolah umum dengan sekolah Katolik - USD Repository
0
0
87
Perbedaan body image antara remaja putri di sekolah homogen dengan sekolah heterogen - USD Repository
0
0
104
Peran pendampingan orang tua dalam sekolah minggu terhadap perilaku iman anak di Paroki St Fransiskus Assisi Berastagi - USD Repository
0
0
182
Show more