SURVEI PERMASALAHAN PENYESUAIAN DIRI SISWI ASRAMA STELLA DUCE SUPADI YOGYAKARTA TAHUN AJARAN 20092010 DAN IMPLIKASINYA TERHADAP USULAN TOPIK-TOPIK BIMBINGAN KLASIKAL

Gratis

0
1
141
11 months ago
Preview
Full text

  

SURVEI PERMASALAHAN PENYESUAIAN DIRI SISWI ASRAMA

STELLA DUCE SUPADI YOGYAKARTA TAHUN AJARAN 2009/2010

DAN IMPLIKASINYA TERHADAP USULAN TOPIK-TOPIK

BIMBINGAN KLASIKAL

  SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Bimbingan dan Konseling      

  Oleh: Albertina Agapa 061114016 PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING JURUSAN ILMU PENDIDIKAN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA

  

SURVEI PERMASALAHAN PENYESUAIAN DIRI SISWI ASRAMA

STELLA DUCE SUPADI YOGYAKARTA TAHUN AJARAN 2009/2010

DAN IMPLIKASINYA TERHADAP USULAN TOPIK-TOPIK

BIMBINGAN KLASIKAL

  SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Bimbingan dan Konseling      

  Oleh: Albertina Agapa 061114016 PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING JURUSAN ILMU PENDIDIKAN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA

  MOTTO 1.

  Belajar tidak hanya demi pengetahuan, melainkan demi kehidupan.

  2. With God all things are possible.

  3. Tuhan jadikan indah tepat pada waktu-Nya.

  (1 Kor 10:13 & Pengkotbah 3:11A)

  PERSEMBAHAN

  Skripsi ini kupersembahkan untuk: Bapa dan Mama tercinta di Nabire dan di Ugapuga

  Adik-adik tersayang Sahabat-sahabat terdekat

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

  Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka, sebagaimana layaknya karya ilmiah.

  Yogyakarta, 6 Oktober 2010 Penulis

  Albertina Agapa

  

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN

PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

  Yang bertandatangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma: Nama : Albertina Agapa

  Nomor Mahasiswa : 061114016 Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul:

SURVEI PERMASALAHAN PENYESUAIAN DIRI SISWI ASRAMA STELLA DUCE SUPADI YOGYAKARTA TAHUN AJARAN 2009/2010 DAN IMPLIKASINYA TERHADAP USULAN TOPIK-TOPIK BIMBINGAN KLASIKAL

  beserta perangkat yang diperlukan. Dengan demikian saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengelolanya dalam bentuk pangkalan data, mendistribusikan secara terbatas, dan mempublikasikannya di Internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta ijin dari saya maupun memberikan royalti kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis.

  Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya. Dibuat di Yogyakarta Pada tanggal, 6 Oktober 2010 Yang menyatakan Albertina Agapa

ABSTRAK SURVEI PERMASALAHAN PENYESUAIAN DIRI SISWI ASRAMA

  

STELLA DUCE SUPADI YOGYAKARTA TAHUN AJARAN 2009/2010

DAN IMPLIKASINYA TERHADAP USULAN TOPIK-TOPIK BIMBINGAN KLASIKAL Albertina Agapa Universitas Sanata Dharma 2010

  Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran tentang permasalahan penyesuaian diri yang sangat intens dialami siswi asrama Stella Duce Supadi Yogyakarta tahun ajaran 2009/2010 dan implikasinya terhadap usulan topik-topik bimbingan klasikal.

  Jenis penelitian ini adalah penelitian deskripsi dengan metode survei. Subjek penelitian adalah populasi siswi asrama Stella Duce Supadi Yogyakarta tahun ajaran 2009/2010. Mereka terdiri dari SMA 42 orang. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner yang disusun oleh penulis berdasarkan buku Psikologi

  

perkembangan (Fatimah, 2006 dan Desmita, 2009). Skala terdiri dari 80

  pertanyaan yang mencakup empat aspek penyesuaian diri yaitu: (1) aspek pribadi, (2) aspek sosial, (3) aspek belajar, (4) aspek karir. Skala telah diuji validitasnya menggunakan teknik penilaian profesional dan reliabilitas menggunakan teknik

  pearson product moment . Teknik analisis data yang digunakan adalah perhitungan

  frekwensi dengan pendistribusiannya berdasarkan rumus Penilaian Acuan Patokan tipe I. Intensitas permasalahan penyesuain diri para siswi asrama Stella Duce Supadi Yogyakarta digolongkan menjadi 5 yaitu sangat kurang intens, kurang intens, cukup intens, Intens dan sangat intens.

  Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat permasalahan penyesuaian diri siswi asrama Stella Duce Supadi tahun ajaran 2009/2010 berada pada taraf intens dan cukup intens sehingga perlu ada perhatian yang baik dan efektif dari pembina asrama dan orang tua. Sedangkan Permasalahan penyesuaian diri yang sangat intens dan intens dialami siswi berdasarkan item meliputi: Sangat intens terdapat pada (1) aspek belajar dengan item 47 (92,8%), item 49 (94,0%), item 58 (90,4%) dan (2) aspek sosial dengan item 38 (92,8%). Sedangkan intens terdapat pada (1) aspek pribadi: item 13 (83,3%), item 10 (85,7%), item 4 (82,1%), item 14 (81,5%), item 18 (85,7%). (2) aspek sosial berada pada item 27 (88,6%) dan item 29 (85,1%), (3) aspek belajar berada pada item 51 (83,9%), (4) aspek karir berada pada item 61 (83,9%), item 67 (87,5%), item 69 (80,3%), item 71 (82,7%), item 62 (84,5%), item 66 (80,3%), item 68 (87,5%) dan item 75 (88,0%). Berdasarkan hasil penelitian disusunlah topik-topik bimbingan klasikal bagi para siswi asrama Stella Duce Supadi Yogyakarta guna menyelesaikan permasalahan penyesuain

  

ABSTRACT

A CASE SURVEY ON THE ADJUSTMENT OF STUDENTS LIVING IN

STELLA DUCE SUPADI YOGYAKARTA DORMITORY YEAR 2009/2010

AND ITS IMPLICATION ON THE TOPICS’ PROPOSAL FOR

  

THE CLASSICAL ASSISTANCE

Albertina Agapa

Sanata Dharma University

2010

  The aim of this research is to collect any description about the adjustment problems intensely experienced by the students living in Stella Duce Supadi Yogyakarta dormitory year 2009/2010 and its implication on the topics’ proposal for the classical assistance.

  This is a descriptive study with survey methodology. The subject of this study covers a population of 42 students living in Stella Duce Supadi Yogyakarta dormitory year 2009/2010. The instrument used is questionnaires arranged based on the book Psikologi Perkembangan (Fatimah, 2006 and Desmita, 2009). The scale consists of 80 questions which include four aspects of self adaptation, namely: (1) personal aspect, (2) social aspect, (3) learning aspect, (4) career aspect. The validity and the reliability of the scale have been tested by using the technique of professional evaluation for the former and the technique of Pearson product moment for the latter. The data analysis technique used is calculating the frequency with its distribution based on the formula of Reference Evaluation type

  I. The self adaptation problems’ intensity of the students living in Stella Duce Supadi Yogyakarta dormitory year 2009/2010 can be categorized into 5 stages, namely: the least intense, less intense, fairly intense, intense, and the most intense.

  The result shows that the self adaptation problems of the students living in Stella Duce Supadi Yogyakarta dormitory year 2009/2010 are in the fairly intense and intense stage so that it is necessary for the chief of the dormitory and the parents to give a better and more effective attention. Meanwhile, the most intense self adaptation problems experienced by the students, based on the item, are in (1) learning aspects on item 47 (92.8%), item 49 (94.0%), and item 58 (90.4%); and (2) social aspect on item 38 (92.8%). As for the intense ones are in (1) personal aspects on item 13 (83.3%), item 10 (85.7%), item 4 (82.1%), item 14 (81.5%), and item 18 (85.7%); (2) social aspects on item 27 (88.6%) and item 29 (85.1%); (3) learning aspect on item 51 (83.9%); (4) career aspects on item 61 (83.9%), item 67 (87.5%), item 69 (80.3%), item 71 (82.7%), item 62 (84.5%), item 66 (80.3%), item 68 (87.5%) and item 75 (88.0%).

  Based on the result above, the researcher arranges some topics of classical assistance in order to answer the adjustment problems on self adaptation experienced by the students living in Stella Duce Supadi Yogyakarta dormitory year 2009/2010. The topics, thus, are arranged based on the item of questions

KATA PENGANTAR

  Puji dan syukur kepada Tuhan yang Mahakasih, atas segala rahmat dan pendampingan-Nya sehingga skripsi ini dapat diselesaikan. Berkat penyertaan dan bimbingan-Nya, peneliti mendapatkan kekuatan, dan semangat untuk tekun dalam penyusunan skripsi ini. Skripsi ini disusun untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar sarjana Pendidikan dari Program Studi Bimbingan dan Konseling.

  Peneliti menyadari bahwa skripsi ini dapat tersusun berkat bantuan, perhatian, dukungan, dan bimbingan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, diucapkan terimakasih kepada: 1.

  Br. Yustinus Triyana, S.J. S.S., M.Sc. selaku Dosen Pembimbing yang dengan penuh kesabaran, keramahan, ketulusan hati, pengertian, telah memberikan bimbingan, petunjuk, masukan, saran, pikiran, waktu, tenaga, pengalaman, dukungan, dan dorongan kepada peneliti hingga tersusunnya skripsi ini.

  2. Dr.M.M. Sri Hastuti, M.Si., selaku ketua Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, yang telah memberikan ijin untuk penulisan skripsi ini.

  3. Dr. Gendon Barus, M.Si., dan Dra. M.J. Retno Priyani, M.Si., selaku Dosen penguji yang telah memberikan masukan, pikiran, saran, waktu dan kritikan yang berguna sehingga skripsi ini dapat tersusun dengan baik.

  4. Para dosen Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata membimbing dan mendidik serta membagikan kekayaan ilmunya kepada peneliti.

  5. Para dosen MKDU, dan MKDK yang telah membagikan ilmunya kepada peneliti.

  6. Para karyawan sekretariat FKIP, BK, MKDU, MKDK, dan BAAK, yang dengan sabar memberikan kemudahan dalam pengurusan administrasi.

  7. Para karyawan Perpustakaan Universitas Sanata Dharma Yogyakarta yang dengan keramahan dan kesederhanannya membantu peneliti dalam hal peminjaman buku.

  8. Para karyawan Rumah Tangga Universitas Sanata Dharma Yogyakarta yang selalu setia membersihkan lingkungan belajar, sehingga peneliti merasa krasan, dan nyaman dalam belajar.

  9. Sr. Trisiani Sulastri, CB., dan Sr. Anunsita, CB., selaku pembina asrama Stella Duce I, Jl.Supadi no.5 yang telah mengijinkan peneliti untuk melakukan penelitian.

  10. Bapak, Mama, Adik-adik yang ada baik di Nabire dan di Ugapuga atas dukungan doa, motivasinya.

  11. Teman-teman Program Studi Bimbingan dan Konseling angkatan 2006, meliputi: Lina, Ela, Candra, Sr.Anunsita, Sr.Udis, Sr. Beatrix, Dhita, Rias, Sr.

  Thres, Modes, Bul-bul, Sr.Rita, dan semua yang telah memberikan dukungan, motivasi, dan kerjasama dalam belajar.

  Akhirnya peneliti berharap, semoga skripsi ini bermanfaat bagi pembaca khususnya bagi pemerhati bidang pengembangan bimbingan di luar sekolah khususnya di asrama.

  Yogyakarta,

  6 Oktober 2010 Penulis

  Albertina Agapa

  DAFTAR ISI

  Halaman HALAMAN JUDUL .................................................................................... i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ......................................... ii HALAMAN PENGESAHAN ..................................................................... iii HALAMAN MOTTO DAN PERSEMBAHAN ......................................... iv PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ..................................................... v LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA

  ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS.................................... vi ABSTRAK ................................................................................................... vii

  

ABSTRACT ................................................................................................... viii

  KATA PENGANTAR .................................................................................. ix DAFTAR ISI ................................................................................................ xii DAFTAR TABEL ........................................................................................ xiv DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................ xv

  BAB I : PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah …………......……..............………… 1 B. Perumusan Masalah ………………………….......…............…… 5 C. Tujuan Penelitian …………………….............…........………….. 5 D. Manfaat Penelitian …………………………........…............….... 6 E. …………………………………..…. 7 Definisi Operasional BAB II: KAJIAN PUSTAKA A. Penyesuaian Diri ……………………………….………… 9 1. Pengertian Penyesuaian Diri ….……………………...……. 9 2. Macam-macam Penyesuaian Diri ………………….………. 10 3. Aspek-aspek Penyesuaian Diri ……..…………..………..... 13 4. Peran Penyesuaian Diri bagi Peserta Didik …………………. 17 5. Peran Penyesuaian Diri dalam Membantu Proses Penyesuaian Diri ……………………………….….... 18 B. Permasalahan ………...................................................................19 1. Arti Permasalah ............ ………………….....................…... 19 2. Permasalahan Penyesuaian Diri Remaja …………..............20 3. Pembagian Masalah Menurut Intensitasnya ……………….23 C. Bimbingan Klasikal ................................................................... 25 1. Pengertian Bimbingan Klasikal ............................................... 25 2. Ragam Bimbingan Klasikal .................................................... 27 D. Keterkaitan antara Bimbingan Klasikal dan Penyelesaian Permasalahan Penyesuaian Diri ........................ 28 E. Pentingnya Pelayanan Bimbingan di Asrama.................................. 29

  BAB III: METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis Penelitian …………………………...…................…...... 31 B. Populasi Penelitian …………………………...........…......…. 31 C. Alat Pengumpul Data …………………...................…......…..... 32 D. Uji Alat Ukur 1. Uji Validitas Isi .................................................................. 34 2. ................................................................. 35

  Seleksi Item 3. Uji Reliabilitas ................................................................. 35 4. Koefisien Korelasi ................................................................ 37 E. Prosedur Pengumpulan Data ........................................................ 38 F. Tehnik Analisis Data ………….............................................. 43

  BAB IV: HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Permasalahan Penyesuaian Diri yang Intens dialami Siswa Penghuni Asrama Supadi....................................... 45 B.

  Pembahasan ................................................................................... 50

  BAB V : USULAN TOPIK BIMBINGAN KLASIKAL DAN CONTOH SATUAN PELAYANAN BIMBINGAN DI ASRAMA SUPADI SEBAGAI IMPLIKASI HASIL PENELITIAN A. Usulan Topik Bimbingan Klasikal untuk Para Siswi penghuni Asrama Supadi ……………………………………….. 72 B.

  Contoh Satuan Pelayanan Bimbingan …………………...…….. 73

  BAB VI : KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan ................................................................................... 84 B. Saran-saran dan Keterbatasan ....................................................... 85 DAFTAR PUSTAKA .................................................................................87 LAMPIRAN .................................................................................................90

  

DAFTAR TABEL

Halaman

  Tabel 1 : Kisi-kisi Skala Permasalahan Penyesuaian Diri ..............

  32 Tabel 2 : Kisi-kisi Item yang Gugur Berdasarkan Aspek Penyesuaian Diri ............................................... 40

  Tabel 3 : Kisi-kisi Item yang Valid Berdasarkan Aspek Penyesuaian Diri ............................................... 41

  Tabel 4 : Penggolongan Permasalahan Penyesuaian yang Sangat Intens Dialami Siswi Asrama Stella Duce Supadi..........................................

  44 Tabel 6 : Sebaran Subjek Berdasarkan Kategori Permasalahan dalam Setiap Aspek Penyesuaian Diri Para siswi Asrama Stella Duce Supadi Yogyakarta Tahun Ajaran 2009/2010..............................

  46 Tabel 7 : Sebaran Item Berdasarkan Kategori Permasalahan dalam Setiap Aspek Penyesuaian Diri Para siswi Asrama Stella Duce Supadi Yogyakarta Tahun Ajaran 2009/2010.............................

  47 Tabel 8 : Item Berdasarkan Kategori Permasalahan Penyesuaian Diri Siswi Asrama Stella Duce Supadi Yogyakarta Tahun Ajaran 2009/2010............................

  48 Tabel 9 : Usulan Topik Bimbingan Klasikal ................................ 73

  

DAFTAR LAMPIRAN

  Lampiran 1 : Skala Permasalahan Penyesuaian Diri .............................. 90 Lampiran 2 : Data Skor Nomor item....................................................... 92 Lampiran 3 : Data Seleksi Item .............................................................. 102 Lampiran 4 : Tabel Skor untuk Menghitung Reliabilitas

  Koefisien Korelasi............................................................. 106 Lampiran 5 : Data Sebaran Subjek Berdasarkan Kategori

  Permasalahan dalam Setiap Aspek Penyesuaian Diri Para siswi Asrama Stella Duce Supadi Yogyakarta Tahun Ajaran 2009/2010.............................. 109

  Lampiran 6 : Data Sebaran Item Berdasarkan Kategori Permasalahan dalam Setiap Aspek Penyesuaian Diri Para siswi Asrama Stella Duce Supadi Yogyakarta Tahun Ajaran 2009/2010............................... 117

  Lampiran 7 : Suran Ijin Penelitian.......................................................... 121 Lampiran 8 : Surat Penilaian Profesional Judgment............................... 122

BAB I PENDAHULUAN Pada bab ini akan dibahas latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian dan definisi operasional. A. Latar Belakang Masalah Menurut Calhoun dan Acocella (dalam Sobur, 2003:526)

  penyesuaian diri merupakan interaksi yang kontinu antara diri sendiri, lingkungan sosial dan lingkungan fisik. Diri sendiri berkaitan dengan segala sesuatu yang ada pada diri individu tersebut. Lingkungan sosial berkaitan dengan orang lain yang ada disekitarnya. Lingkungan fisik berkaitan dengan segala sesuatu yang dapat dilihat, dirasa, disentuh, dicium dan didengar.

  Setiap individu perlu memperhatikan penyesuaian diri dalam kehidupannya, sebab individu hidup di lingkungan dan mereka dituntut untuk saling berinteraksi. Individu yang hidup di lingkungan baru perlu menyesuaikan diri dengan keadaan di lingkungan tersebut. Ada berbagai macam dinamika dalam proses penyesuaian diri yang dialami individu. Ada individu yang cepat tetapi ada pula yang menyesuaikan diri dengan lambat. Ada individu yang berhasil dengan baik dalam proses penyesuaian diri, tetapi ada pula yang gagal. Menurut Hurlock (2004:239) kesulitan satu penyebab ketidakbahagiaan remaja adalah kegagalan dalam menyesuaikan diri. Akibat positif dari keberhasilan penyesuaian diri adalah berkembangnya rasa percaya diri, rasa yakin terhadap kemampuan dan optimis dalam menyelesaikan permasalahan.

  Setiap individu perlu mengadakan penyesuaian dengan pribadi, sosial, belajar dan karir. Penyesuaian pribadi berkaitan dengan membangun dan mengembangkan kemampuan diri sendiri. Penyesuaian sosial merupakan kemampuan untuk membangun dan mengembangkan interaksi yang baik dan efektif dengan orang lain. Penyesuaian belajar merupakan kemampuan memahami dan melakukan tugas atas dasar kesadaran serta tanggung jawabnya sebagai siswi. Penyesuaian karir berkaitan dengan kemampuan individu untuk mengambil keputusan mengenai karir yang dipilih, sehingga mampu mengembangkan cara belajar dan bekerja sesuai tuntutan karir yang dipilih. Semua aspek penyesuaian tersebut saling terkait satu dengan yang lainnya. Apabila, mengalami hambatan dalam mengembangkan penyesuaian pribadi maka individu akan mengalami kesulitan dalam mengembangkan penyesuaian sosial, belajar dan karir. Hambatan dalam penyesuaian sosial akan mempersulit penyesuaian pribadi, karir dan belajar. Demikian juga halnya dengan penyesuaian belajar dan karir bila mengalami hambatan maka berdampak negatif pada aspek pribadi dan sosial.

  Maka dari itu, kelancaran dalam menjalani proses studi penyesuaian diri yang baik, maka siswi dapat mengembangkan diri secara optimal, mengembangkan relasi yang baik dengan orang lain dan dapat mengembangkan bakat serta meningkatkan prestasi belajar.

  Para siswi asrama Stella Duce Supadi membutuhkan penyesuaian diri dalam aspek pribadi, sosial, belajar dan karir. Para siswi tersebut memperoleh kesempatan untuk mengembangkan diri baik melalui proses belajar maupun pendampingan di asrama.

  Asrama Putri “Stella Duce”adalah asrama pelajar SMA Stella Duce Yogyakarta, yang dikelolah oleh Yayasan Syantikara, yang didirikan oleh Suster-suster Cinta Kasih St.Carolus Barromeus (CB), dengan dasar pendidikan agama katolik. Salah satu tujuan dari berdirikan asrama ini adalah mendampingi para warga untuk mencapai kepribadian utuh, mampu menghayati iman kristiani, cinta dan menghargai martabat pribadi manusia, mandiri serta tanggap terhadap kebutuhan sesama dan lingkungan masyarakat.

  Para siswa penghuni asrama Supadi berumur 15-18 tahun. Mereka berasal dari berbagai daerah dan latar belakang keluarga yang berbeda.

  Salah satu tugas perkembangan masa remaja (usia 13-17 tahun) yang tersulit adalah penyesuaian terhadap diri dan sosialnya. Hurlock (2004:213) menyatakan sebagai berikut: untuk mencapai tujuan dari pola sosialisasi dewasa, remaja harus membuat banyak penyesuaian diri yang baru. Bagi remaja yang tersulit adalah penyesuaian diri dengan teman sebaya, perilaku sosial, pengelompokan sosial, nilai-nilai baru dalam seleksi prihatin banyak pihak, terutama di lingkungan pendidikan dan luar pendidikan. Menurut Hall (Santrock, 2003:10) remaja yang berusia 12 sampai 23 tahun sering mengalami masalah. Mereka akan melakukan berbagai perilaku baru yang ingin diketahuinya. Pada masa remaja, individu dituntut untuk menyesuaikan diri dengan pribadi, sosial, akademik dan karir.

  Ada kemungkinan bahwa siswa belum mampu menyesuaikan diri dengan baik. Dugaan ini muncul ketika peneliti berinteraksi dengan beberapa siswi di asrama. Beberapa masalah penyesuaian yang dialami, antara lain: mengabaikan tugas doa, tidak mentaati tata tertib, tidak menjalankan tugas di asrama, pindah ke asrama lain, memilih kembali ke rumah, perasaan menyerah, berbohong pada pembina, kurang pergaulan dengan teman sebaya di asrama, minder, cemas.

  Dari uraian di atas kelihatan jelas bahwa penyesuaian diri sangat penting dalam proses perkembangan individu. Tugas Bimbingan dan Konseling adalah memperlancar perkembangan individu dalam tiap aspeknya. Karena proses penyesuaian diri sangat menentukan proses perkembangan individu maka Bimbingan dan Konseling harus memperhatikan permasalahan penyesuaian diri tersebut. Sebagai mahasiswa Bimbingan dan Konseling, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian mengenai masalah-masalah penyesuaian diri yang dialami siswi asrama Stella Duce Supadi. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh data supaya dapat menyusun topik bimbingan klasikal yang relevan dan efektif.

  B. Rumusan Masalah 1.

  Sejauh mana tingkat permasalahan penyesuaian diri para siswi yang tinggal di asrama Stella Duce Supadi tahun ajaran 2009/2010? 2. Permasalahan penyesuaian diri apakah yang sangat intens dialami siswi asrama Stella Duce Supadi tahun ajaran 2009/2010 dalam rangka penyusunan topik-topik bimbingan klasikal? C.

   Tujuan Penelitian

  Penelitian ini bertujuan untuk: 1.

  Memperoleh data permasalahan penyesuaian diri yang dialami siswi asrama Stella Duce Supadi tahun ajaran 2009/2010.

  2. Menemukan topik bimbingan klasikal yang bisa menjawab permasalahan penyesuaian diri yang dialami siswi asrama Stella Duce Supadi tahun ajaran 2009/2010.

  D. Manfaat Penelitian 1.

  Teoritik a.

  Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah kajian teorotik dibidang bimbingan dan konseling, khususnya mengenai b.

  Penelitian ini dapat merangsang penelitian selanjutnya yang hendak mengkaji topik yang berkaitan dengan permasalahan penyesuaian diri yang dialami individu.

2. Praktis a.

  Para Siswi Dapat memperoleh gambaran mengenai permasalahan penyesuaian yang paling dominan dialaminya sehingga mereka dapat memecahkan permasalahan penyesuaian diri tersebut dengan pendampingan pembina asrama Stella Duce Supadi.

  b.

  Para Tutor Dapat menggunakan hasil penelitian ini sebagai bahan acuan untuk memberikan bimbingan yang sesuai dan efektif bagi siswi sehingga mereka dapat menyesuaikan diri dengan baik di asrama Stella Duce Supadi.

  c.

  Para Tutor Dapat memahami dan menciptakan situasi yang menyenangkan bagi siswi sehingga mereka dapat menyesuaikan diri dengan baik dan efektif dalam bidang akademik, sosial, pribadi dan karirnya.

  d.

  Peneliti Peneliti memperoleh pengalaman dalam mengungkap permasalahan penyesuaian diri yang dialami siswi. Peneliti juga dapat menemukan topik bimbingan klasikal yang sesuai dan efektif untuk diberikan pada siswi.

  e.

  Peneliti Lain Peneliti lain dapat menambah pengetahuan baru serta dapat menjadikan penelitian ini sebagai bahan acuan untuk melakukan penelitian yang baru.

E. Definisi Operasional 1.

  Permasalahan merupakan sesuatu yang menghambat, merintangi, atau mempersulit orang mencapai maksud dan tujuan tertentu.

  2. Penyesuaian Diri adalah interaksi yang kontinyu antara diri sendiri, lingkungan sosial dan lingkungan fisik yang memungkinkan individu membina diri sedemikian rupa sehingga dapat berfungsi secara efektif dalam lingkungan hidupnya.

  3. Permasalahan penyesuaian diri merupakan sesuatu yang menghambat, merintangi dan mempersulit orang untuk berinteraksi baik dengan pribadi, lingkungan sosial maupun dengan lingkungan fisik.

4. Siswi Asrama Stella Duce Supadi adalah para siswi remaja yang pada tahun ajaran 2009-2010 tinggal di asrama Stella Duce Jl.

  Supadi no.5 Yogyakarta.

  5. Topik bimbingan klasikal merupakan pokok bahasan tertentu yang direncanakan dan akan diberikan kepada siswi secara berkelompok dalam waktu tertentu untuk membantu mengatasi permasalahan penyesuaian diri yang dialami siswi.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA Pada bab ini akan dibahas mengenai penyesuaian diri,

  permasalahan, bimbingan klasikal, keterkaitan antar bimbingan dan pemecahan permasalahan penyesuaian dir, pentingnya pelayanan bimbingan di asrama khususnya dalam pemecahan permasahan penyesuaian diri.

A. Penyesuaian Diri 1. Arti Penyesuaian Diri.

  Menurut Calhoun dan Acocella (dalam Sobur, 2003:526) penyesuaian diri merupakan interaksi yang kontinu antara diri sendiri, lingkungan sosial dan lingkungan fisik. Selain itu, Schneiders (Gunarsa, 1989) mengatakan bahwa penyesuaian diri merupakan suatu proses perilaku yang mendorong seseorang untuk menyesuaikan diri sesuai keinginannya dan dapat diterima oleh lingkungan.

  Menurut Davidoff (Fatimah, 2006:194) penyesuaian diri merupakan titik temu antara kondisi diri dan tuntutan lingkungan.

  Individu dituntut untuk menyesuaikan diri dengan pribadi, lingkungan sosial dan lingkungan fisiknya. Sehingga individu penyesuaian diri merupakan suatu usaha dan kemampuan individu dalam mengikuti tuntutan perubahan sosial di sekitarnya.

  Pettijohn (Geru, 2002:6) penyesuaian diri berarti cara kita bereaksi terhadap tuntutan stress dalam diri kita. penyesuaian diri merupakan reaksi terhadap tuntutan yang ditujukan kepada dirinya baik tuntutan internal maupun ekternal (Vembriarto, 1990).

  Berdasarkan pengertian-pengertian di atas maka penyesuaian diri merupakan serangkaian usaha individu untuk mencapai keseimbangan dengan diri sendiri, lingkungan sosial dan lingkungan fisiknya. Apabila dilihat dari permasalahan penyesuaian diri yang dialami oleh siswa, maka dapat dikatakan bahwa remaja yang berhasil dalam menyesuaikan diri adalah mereka yang dapat mengintegrasikan dengan baik dalam aspek pribadi, belajar, sosial dan karirnya dengan baik dan efektif.

2. Macam-macam Penyesuaian Diri

  Sundari (2005:40) menyebutkan enam macam penyesuaian diri, yaitu penyesuaian diri terhadap keluarga (family

  adjusment) , penyesuaian diri terhadap sosial (social adjusment),

  penyesuaian diri terhadap sekolah (school adjusment), penyesuaian diri terhadap perguruan tinggi (college adjusment), penyesuaian diri terhadap jabatan (vocational adjusment), penyesuaian diri terhadap perkawinan (marriage adjusment). pembahasan penyesuaian diri hanya terbatas pada penyesuaian sosial, sekolah, dan jabatan.

  a.

  Penyesuaian Diri terhadap Lingkungan Sosial Sosial berkaitan dengan orang lain yang ada di sekitarnya. Apabila individu ingin menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial maka ia harus memiliki kesadaran untuk hidup dengan orang lain. Ada enam hal yang perlu diperhatikan dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial, yakni:

  1) Individu sanggup mengadakan relasi yang baik dengan masyarakat

  2) Individu sanggup bersikap secara efektif terhadap kenyataan sosial

  3) Individu sanggup menghargai dan menjalankan baik hukum tertulis maupun hukum tidak tertulis

  4) Individu sanggup bergaul dengan orang lain dan tetap menghargai hak-hak pribadinya

  5) Individu mampu simpati terhadap kesejahteraan orang lain, dengan cara: memberi pertolongan kepada orang lain, bersikap jujur, cinta kebenaran, rendah hati. b.

  Penyesuaian Diri terhadap Sekolah Sekolah merupakan sarana bagi peserta didik dalam mengembangkan potensinya, terutama perkembangan akademik maupun non akademik. Individu diharapkan dapat menyesuaikan diri dengan baik di sekolah. Dengan demikian terwujud:

  1) Kedisiplinan terhadap peraturan yang ada di sekolah

  2) Menyukai mata pelajaran di sekolah

  3) Situasi yang kondusif sehingga tujuan sekolah dapat tercapai c.

  Penyesuaian terhadap Jabatan Jabatan berkaitan dengan kemampuan individu untuk mengambil keputusan mengenai karir yang dipilih, sehingga mampu mengembangkan cara belajar dan bekerja sesuai tuntutan karir yang dipilih. Dirinya harus mempunyai kriteria dalam memilih karir, yaitu:

  1) Matang dalam memegang jabatan

  2) Senang dan mencintai pekerjaannya

  3) Berusaha mencapai kemajuan secara bertahap.

  3. Aspek-aspek Penyesuaian Diri.

  Desmita (2009:195) mengemukakan empat aspek kematangan intelektual, (c) kematangan sosial, (d) kematangan tanggung jawab. Keempat aspek-aspek penyesuaian diri yang sehat tersebut memiliki indikator, sebagai berikut: a.

  Kematangan emosional 1) Kematangan dalam suasana kehidupan emosional. 2)

  Sikap toleransi 5) Keakraban dalam pergaulan.

  Selain itu, Fatimah (2006:207) mengemukakan aspek-aspek penyesuaian diri, meliputi: a.

  Sikap altruism, empati. Bersahabat dalam hubungan interpersonal. 4) Kesadaran akan etika dan hidup jujur. 5) Selalu konsekwensi dengan rencana yang dibuat. 6) Kemampuan bertindak dengan bebas.

  Melakukan perencanaan dan melaksanakannya secara fleksibel. 3)

  1) Sikap produktif dalam mengembangkan diri. 2)

  Tanggung jawab.

  d.

  Kemampuan kepemimpinan 4)

  Kemantapan dalam suasana hidup dengan orang lain 3)

  Kematangan sosial 1) Keterlibatan dalam partisipasi social. 2) Kesediaan kerja sama. 3)

  c.

  Kematangan intelektual 1) Kemampuan mencapai wawasan diri sendiri. 2) Kemampuan memahami kemampuan dan keragaman. 3) Kemampan mengambil keputusan. 4) Keterbukaan dalam mengenal lingkungan.

  b.

  Sikap dan perasaan terhadap kemampuan dan kenyataan sendiri.

  Kemampuan untuk santai, gembira dan menyatakan kejengkelan. 4)

  Penyesuaian Pribadi Penyesuaian pribadi merupakan kemampuan agar tercipta hubungan yang harmonis dalam kehidupan. Agar tercipta hubungan yang harmonis dengan lingkungannya maka remaja harus memiliki kemampuan untuk mengenal kelebihan dan kekurangannya, bertindak secara efektif sesuai dengan potensi dan kondisinya, tidak adanya rasa benci, bertanggung jawab terhadap tugas dan tanggung jawab, percaya pada kemampuan, mengenal bakat, mempersiapkan diri untuk masuk di dunia kerja, mengembangkan diri sesuai dengan tuntutan lingkunganya dan tidak mengeluh terhadap nasib.

  b.

  Penyesuaian Sosial Setiap individu perlu memperhatikan penyesuaian diri dalam kehidupannya. Sebab individu hidup di lingkungan dan mereka dituntut untuk saling berinteraksi. Individu yang hidup di lingkungan baru perlu menyesuaikan diri dengan keadaan di lingkungan tersebut.

  Karena di lingkungan sosial tersebut, individu akan menjalin hubungan yang baik, bekerja sama, berinteraksi, bergaul, saling membantu dengan anggota keluarga, teman di sekolah, teman bermain, dan anggota masyarakat secara umum. Selain itu, di lingkungan masyarakat tersebut terdapat proses saling mempengaruhi satu sama lain. Dalam tingkah laku yang sesuai dengan aturan, hukum adat istiadat, nilai, dan norma yang berlaku dalam masyarakat.

  Apabila dilihat dari penjelasan di atas, maka aspek penyesuaian diri pada remaja dapat di kelompokkan menjadi 4 aspek, meliputi: (a) penyesuaian pribadi, (b) penyesuaian sosial, (c) penyesuaian belajar dan (d) penyesuaian karir.

  a.

  Penyesuaian pribadi. Penyesuaian pribadi memiliki beberapa aspek, meliputi:

  1) Mengenal kelebihan dan kekurangan. 2)

  Bertindak secara efektif sesuai dengan kemampuan dan kondisi.

  3) Mengelola rasa benci dan menyatakan kejengkelan. 4) Bertanggung jawab terhadap tugas . 5) Percaya pada kemampuan.

  b.

  Penyesuaian sosial. Penyesuaian sosial memiliki beberapa aspek, meliputi:

  1) Keterlibatan dalam partisipasi sosial. 2) Kesediaan kerja sama. 3) Kemampuan kepemimpinan. 4) Sikap toleransi. 5) Keakraban dalam pergaulan.

  c.

  Penyesuaian belajar

  1) Kemampuan mencapai pengetahuan yang luas. 2) Kemampuan memahami pelajaran di sekolah. 3) Kemampuan mengambil keputusan. 4) Keterbukaan bila mengalami kesulitan. 5) Mampu mengatur waktu.

  d.

  Penyesuaian karir. Penyesuaian karir memiliki beberapa aspek, meliputi:

  1) Kesadaran akan etika dan hidup jujur. 2) Selalu konsekwensi dengan rencana yang dibuat. 3) Mempunyai cita-cita. 4) Mengenal berbagai macam pekerjaan. 5) Mempersiapkan diri memasuki dunia kerja. Jadi, orang akan mengalami kebahagiaan bila berhasil menyesuaikan diri dengan baik. Individu memperoleh kebahagiaan bila dapat mengenal diri, sosial, belajar dan kemampuannya. Sebaliknya, individu yang kurang baik dalam penyesuaian diri akan mengalami ketidakbahagiaan dalam hidupnya.

4. Peran Penyesuaian Diri bagi Peserta Didik

  Peserta didik perlu memperhatikan penyesuaian diri dalam kehidupannya. Sebab mereka hidup di lingkungan dan dituntut perlu menyesuaikan diri dengan keadaan di lingkungan tersebut. Ada berbagai macam dinamika dalam proses penyesuaian diri yang dialami individu. Ada individu yang cepat tetapi adapula yang menyesuaikan diri dengan lambat. Ada individu yang berhasil dengan baik dalam proses penyesuian diri, tetapi adapula yang gagal.

  Menurut Hurlock (2004:239) kesulitan menyesuaikan diri bisa mengakibatkan hidup yang tidak bahagia. Salah satu penyebab ketidakbahagiaan remaja adalah kegagalan dalam menyesuaikan diri. Hurlock (2004:239) menyebutkan bahwa tanda bahaya yang umum dari ketidakmampuan menyesuaikan diri dengan baik, antara lain: tidak bertanggung jawab, perasaan cemas, mudah menyerah, terlalu banyak mengkhayal. Akibat positif dari keberhasilan penyesuaian diri adalah berkembangnya rasa percaya diri, rasa yakin terhadap kemampuan, optimis dalam menyelesaikan permasalahan. Selain itu, Hurlock (2005: 258) mengatakan bahwa remaja yang menyesuaikan diri dengan baik akan merasa puas dengan dirinya, menjalankan tugas sesuai kemampuannya, mampu berinteraksi dengan orang lain.

  Peserta didik perlu menyesuaikan diri dengan baik dalam bidang pribadi, sosial, karir dan belajarnya. Sehingga mereka dapat berkembang secara optimal dan mencapai kebahagiaan

5. Peran Bimbingan dan Konseling dalam Membantu Proses Penyesuaian Diri Siswa.

  Penyesuaian diri sangat penting dalam proses perkembangan individu. Tugas Bimbingan dan Konseling adalah memperlancar perkembangan individu dalam bidang pribadi, belajar, sosial dan karir. Karena proses penyesuaian diri sangat menentukan proses perkembangan individu maka Bimbingan dan Konseling harus memperhatikan permasalahan penyesuaian diri tersebut. Apabila mengetahui masalah penyesuaian diri yang dialami siswa maka Bimbingan dan Konseling dapat menyusun program yang relevan dan efektif.

  Fatimah (2006:209) mengatakan bahwa setiap sekolah menengah memiliki guru Bimbingan dan Konseling yang berfungsi untuk membantu siswa dalam memecahkan masalah penyesuaian diri yang dihadapinya. Selain itu, Mulyatiningsih, dkk (2004) mengatakan bahwa layanan Bimbingan dan Konseling di sekolah bertujuan untuk membantu siswa agar dapat menyesuaikan diri dengan aspek pribadi, sosial, belajar dan karirnya. Winkel dan Hastuti (2004:66) mengatakan bahwa salah satu fungsi pokok dari pelayanan bimbingan di sekolah adalah fungsi penyesuaian. Fungsi penyesuaian dapat membantu siswa menemukan cara menempatkan diri secara tepat dalam berbagai keadaan dan situasi

  Bimbingan dan Konseling sangat berperan penting dalam membantu proses penyesuaian diri siswa. Bimbingan dan Konseling membantu siswa dengan memberikan bimbingan yang sesuai dan efektif agar mereka dapat menyesuaikan diri dengan baik. Dengan bimbingan yang relevan, siswa diharapkan dapat berkembang secara optimal.

B. Permasalahan

  Beberapa ahli psikologi mengatakan bahwa permasalahan yang dialami remaja disebabkan oleh berbagai faktor. Baik faktor dari dalam diri maupun dari lingkungannya.

1. Arti permasalahan

  Kata permasalahan diambil dari kata dasar “masalah” lalu ditambah dengan awalan per- dan akhiran –an. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1995) masalah berarti sesuatu yang harus diselesaikan (dipecahkan). Menurut Hastuti (dalam Winkel 1992:12) masalah merupakan sesuatu yang menghambat, merintangi, atau mempersulit seseorang mencapai maksud dan tujuan tertentu. Selain itu, Mappiare (1982:111) mengatakan bahwa tugas perkembangan yang tidak terselesaikan dengan baik pada periode tertentu dan kebutuhan yang tidak terpenuhi dapat menimbulkan masalah bagi remaja. Willis (dalam Geru, 2002) mengatakan bahwa masalah yang dialami remaja selalu terkait dengan penyesuaian dengan kelompok dan lingkungan tempat dia berkembang.

  Dengan demikian, masalah merupakan sesuatu yang menghambat individu mencapai tujuan tertentu. Selain itu, individu mengalami masalah apabila kebutuhannya tidak terpenuhi dengan baik.

2. Permasalahan Penyesuaian Diri Remaja.

  Remaja akan mengalami permasalahan dalam hidupnya apabila mereka tidak dapat menyesuaikan diri dengan baik dan efektif. Menurut Fatimah (2006:212) permasalahan penyesuaian diri remaja akan timbul ketika mereka mulai memasuki Sekolah Menengah Atas (SMA). Karena remaja akan mengalami masalah penyesuaian diri dengan guru, teman dan mata pelajaran. Sebagai akibatnya, mereka mengalami masalah dalam aspek belajar, karir, sosial dan pribadi. Selain itu, Zakiah (dalam Lelanawati, 2004) mengatakan bahwa permasalahan yang umum dialami oleh remaja biasanya berhubungan dengan pelajaran di sekolah, teman sebaya, masalah pribadi dan pertumbuhan jasmaninya.

  Menurut Fatimah (2006:210) orang dewasa yang otoriter dapat menghambat penyesuaian diri remaja. Sikap orang dewasa yang cenderung otoriter dapat membuat remaja mengalami masalah emosional seperti: suka menyendiri, marah-marah, tuanya, menjadi tidak bebas dalam mengekpresikan keinginannya. Secara tidak langsung sikap otoriter orang tua akan dibawa dalam lingkungan pergaulannya. Sebagai pelampiasan, individu akan cenderung bebas untuk otoriter terhadap teman-temannya baik di sekolah maupun di luar.

  Remaja mengalami permasalahan dalam penyesuaian diri diakibatkan karena suasana tempat tinggal yang tidak nyaman.

  Fatimah (2006:211) menuliskan bahwa hasil penelitian psikologis membuktikan bahwa remaja yang hidup dalam rumah yang tidak nyaman lebih banyak mengalami permasalahan dalam penyesuaian dirinya. Hal ini tampak pada, remaja sering marah, suka menyendiri, kurang kepekaan terhadap sosial, suka gelisah. Selain itu, kebanyakan remaja dikeluarkan dari sekolah atau asrama karena mereka tidak dapat menyesuaikan diri dengan baik.

  Remaja mengalami permasalahan dalam menyesuaikan diri dengan teman sebaya. Individu yang hidup di lingkungan baru perlu menyesuaikan diri dengan teman sebaya di lingkungan tersebut. Di lingkungan baru, individu berinteraksi dan mencari teman baru. Banyak remaja yang mengalami kesulitan dalam mencari teman yang baru. Karena mereka harus menyesuaikan dengan keinginan, pendapat, minat yang baru.

  Remaja mengalami kesulitan dalam penyesuaian diri mungkin akan timbul ketika remaja mulai memasuki jenjang sekolah yang baru, baik sekolah lanjutan pertama maupun sekolah lanjutan atas. Mereka mengalami permasalahan penyesuaian diri dengan guru yang kurang memberikan perhatian, guru galak, penolakan saat bertanya di kelas. Penyesuaian dengan teman baru karena merasa minder, pernah dicuekin, sulit untuk bekerja sama.

  Sedangkan penyesuaian dengan mata pelajaran yang kurang disukai, sering mendapat nilai yang kurang baik, materi yang banyak dan hafalan. Sebagai akibat prestasi belajar menjadi menurun dibanding dengan prestasi disekolah sebelumnya.

  Permasalahan lain yang mungkin timbul adalah penyesuaian diri terhadap kebiasaan belajar. Siswa yang baru masuk Sekolah Menengah Atas akan mengalami kesulitan dalam membagi waktu belajar, malu untuk bertanya, malas belajar, sering membolos sehingga ketinggalan pelajaran.

  Dari uraian dapat disimpulkan bahwa permasalahan penyesuaian diri yang dialami remaja berkaitan dengan: sikap orang dewasa yang otoriter, suasana tempat tinggal yang kurang nyaman, kesulitan bergaul dengan teman sebaya, kehidupan sekolah yang tidak mendukung, dan kebiasaan belajar kurang efektif.

3. Pembagian Permasalahan Remaja Menurut Intensitasnya

  Mappiare (1982:184) menyebutkan tiga macam pembagian masalah remaja, yaitu: (1) masalah yang wajar, (2) masalah dengan intensitas menengah, (3) masalah agresif atau taraf kuat. Masalah yang wajar merupakan tingkah laku remaja yang masih dalam perubahan fisik dan psikis dan tidak mengarah pada bahaya penyimpangan. Masalah dengan intensitas menengah merupakan tingkah laku remaja yang secara psikologis masih dalam perubahan fisik dan psikis tetapi mengarah pada tanda-tanda bahaya atau penyimpangan. Sedangkan, masalah agresif atau taraf kuat merupakan tingkah laku yang disebabkan oleh adanya rasa tidak enak, tertekan, tercekam sehingga membuat remaja melakukan tindakan yang berlebihan.

  Secara umum remaja mengalami masalah dengan intensitas menengah. Masalah menengah remaja mengarah pada tanda-tanda yang dapat merugikan diri sendiri dan orang lain. Menurut Mappiare (1982:189) permasalahan menengah remaja yang mengarah pada tanda-tanda penyimpangan ini disebabkan oleh: a.

  Ketidakmampuan dalam menyesuaikan diri dengan pertumbuhan dan perkembangan serta tidak dapat menerima apa yang dicapai.

  b.

  Adanya tekanan-tekanan dari lingkungan misalnya dari orang tua, teman sebaya dan masyarakat yang lebih luas.

  c.

  Ketidakmampuan menyesuaikan diri terhadap tekanan-tekanan yang ada. Berkaitan dengan tanda-tanda penyimpangan remaja, ada masalah yang menunjukan bahaya pasif dan ada juga yang netral. Selanjutnya, Mappiare (1982:190) mengatakan bahwa permasalahan yang memiliki tanda bahaya pasif meliputi: a.

  Merasa tidak aman sehingga remaja bersangkutan bersikap merendahkan diri dan rela ”dijajah” oleh siapa saja baik di dalam rumah maupun di luar rumah.

  b.

  Selalu melamun sebagai konpensasi bagi rasa kurang puas dalam kehidupan sehari-hari.

  c.

  Berusaha menarik perhatian dengan berbuat kekanak-kanakan. Sedangkan, permasalahan remaja yang memiliki tanda bahaya netral: a.

  Remaja mengabaikan tugas-tugasnya hanya untuk bersenang-senang saja karena tidak ada tanggung jawab.

  b.

  Remaja yang mempunyai rasa rindu yang sangat dalam ketika ia berada jauh dari rumahnya.

  Semua permasalahan menengah remaja yang mengarah pada tanda bahaya tersebut membutuhkan perhatian yang serius dari guru pembimbing. Pengabaian terhadap hal tersebut, akan mengakibatkan terjadinya bahaya yang mengarah pada penyesuaian diri yang kurang baik terhadap diri sendiri, orang tua, teman sebaya, guru dan masyarakat secara luas (Mappiare 1982: 190).

C. Bimbingan Klasikal 1. Pengertian

  Bimbingan mengandung arti bantuan atau pelayanan, artinya bimbingan itu terjadi karena adanya kesukarelaan dari pembimbing dan yang dibimbing. Shertzen dan Stone (Winkel, 1997: 66) mengatakan bahwa bimbingan adalah proses membantu orang-orang untuk memahami dirinya dan dunianya. Senada dengan Shertzen dan Stone, Prayitno dkk (1997: 23) mendefinisikan bimbingan di sekolah sebagai bantuan yang diberikan kepada siswa dalam rangka upaya menemukan diri pribadi, mengenal lingkungan dan merencanakan masa depan.

  Rachman Natawidjaja (Winkel, 1997: 67) mengartikan bimbingan sebagai proses pemberian bantuan kepada individu yang dilakukan secara berkesinambungan, supaya individu tersebut dapat memahami dirinya, sehingga ia sanggup mengarahkan diri dan dapat bertindak wajar, sesuai dengan tuntutan dan keadaan keluarga serta masyarakat. Ini berarti bahwa bimbingan itu dilaksanakan dalam rentang waktu yang relatif panjang, tidak hanya sepintas, sewaktu-waktu, tetapi dilakukan secara sistematis, terencana dan memiliki program. Pemberian bimbingan kelompok mempunyai manfaat bagi individu yang dibimbing (Winkel, 1997: 520) yaitu: a. Menjadi lebih sadar akan tantangan yang dihadapi

  b. Lebih rela menerima dirinya sendiri

  c. Lebih berani mengemukakan pandangannya sendiri bila berada dalam kelompok yang berbeda.

  d. Lebih bersedia menerima suatu pandangan atau pendapat yang dikemukakan oleh teman.

  e. Tertolong untuk mengatasi suatu masalah yang dirasa sulit untuk dibicarakan.

  Berdasarkan uraian di atas dapat diberikan contoh usulan topik bimbingan klasikal misalnya tentang : Penerimaan diri, Tanggung jawab, Kejujuran, Belajar mengelola konflik, Persahabatan, Kepercayaan diri, Kedisiplinan dan sebagainya disesuaikan dengan kebutuhan siswi asrama. Siswi asrama akan dapat terbantu dalam menyelesaikan permasalahan penyesuaian diri yang dialaminya melalui topik-topik bimbingan yang diberikan oleh para pembimbing di asrama.

2. Ragam Bimbingan

  Ragam bimbingan merupakan berbagai macam bidang bimbingan yang diberikan kepada siswa. Ragam bimbingan menunjuk aspek perkembangan tertentu yang menjadi fokus perhatian pelayanan bimbingan. Ragam bimbingan adalah salah satu bentuk pelayanan bimbingan klasikal yang diberikan pada siswa. Winkel dan Hastuti (2004:114) mengatakan ada empat macam ragam bimbingan, yaitu: a.

  Bimbingan karir Bimbingan karir adalah bimbingan dalam mempersiapkan diri menghadapi dunia pekerjaan/jabatan tertentu serta memberikan diri supaya siap memangku jabatan itu, dan dalam menyesuaikan diri dengan berbagai tuntutan dari lapangan pekerjaan yang akan dimasukinya.

  b.

  Bimbingan akademik Bimbingan akademik adalah bimbingan dalam hal menemukan cara belajar yang tepat, mengatasi kesukaran belajar yang muncul berkaitan dengan tuntutan belajar di suatu institusi pendidikan.

  c.

  Bimbingan pribadi Bimbingan pribadi adalah bimbingan dalam menghadapi keadaan batinnya sendiri, mengatur diri sendiri, perawatan jasmani, pengisian waktu luang, penyaluran nafsu seksual dan sebagainya.

  d.

  Bimbingan sosial Bimbingan sosial adalah bimbingan dalam membina hubungan kemanusiaan dengan sesama diberbagai lingkungan (pergaulan sosial).

  Sedangkan Nurihsan dan Sudianto (2005:12) mengatakan bahwa ada empat macam jenis bimbingan, yaitu: bimbingan belajar, bimbingan sosial, bimbingan pribadi, bimbingan karir dan bimbingan keluarga.

  Tenaga pembimbing memberikan ragam bimbingan dengan pengetahuan dan pemahaman yang mendalam. Pembimbing harus memiliki kesabaran dalam memberikan layanan bimbingan tersebut. Menurut Winkel dan Hastuti (2004:119) pemberian ragam bimbingan ini menuntut kepekaan di pihak pembimbing yang dikembangkan melalui membaca dan pengalaman bergaul dengan orang muda. Dengan demikian, peserta didik dapat menyesuaikan diri dengan pribadi, sosial, belajar dan karirnya secara optimal.

  D.

  

Keterkaitan Antara Bimbingan Klasikal dan Penyelesaian

Permasalahan Penyesuaian Diri.

  Pelayanan bimbingan klasikal baik di sekolah maupun di luar sekolah dapat terlaksana dengan mengadakan sejumlah kegiatan.

  Kegiatan yang dilaksanakan tersebut bertujuan untuk membantu memecahkan permasalahan penyesuaian diri yang dialami siswa.

  Kegiatan tersebut dilaksanakan dalam bentuk bimbingan klasikal sehingga setiap siswa dapat dibimbing untuk mengembangkan potensinya dalam menyesuaikan diri. Menurut Winkel dan Hastuti (2004:91) bimbingan klasikal merupakan suatu rangkaian kegiatan yang terencana, terorganisasi dan diberikan kepada lebih dari satu orang selama periode waktu tertentu. Masalah Penyesuaian diri sangat penting dalam proses perkembangan individu. Karena, proses penyesuaian diri sangat menentukan proses perkembangan individu selanjutnya. Maka layanan bimbingan klasikal yang diberikan disesuaikan dengan permasalahan penyesuaian diri yang dialami siswa. Apabila siswa mengalami masalah dalam menyesuaikan diri pada bidang belajar, karir, pribadi dan sosialnya.

  Maka siswa tersebut perlu dibantu melalui bimbingan klasikal yang sesuai dalam waktu tertentu. Sehingga individu dapat menyesuaikan yang diberikan tersebut dengan baik maka dirinya akan menyesuaikan diri dengan baik pada setiap aspek kehidupan.

  E.

  

Pentingnya Pelayanan Bimbingan di Asrama Khususnya

Pemecahan Permasalahan Penyesuaian Diri.

  Pelayanan bimbingan di asrama sangat penting untuk membantu setiap siswi asrama menjadi pribadi yang dewasa dan mampu mengatur hidupnya sendiri. Pelayanan bimbingan di asrama perlu dikembangkan mengingat bahwa yang tinggal di asrama adalah kaum remaja yang masih membutuhkan pendampingan dalam perkembangannya.

  Seorang pembimbing di asrama dapat memanfaatkan setiap kesempatan yang ada untuk memberikan layanan bimbingan, misalnya untuk membantu menyelesaikan permasalahan penyesuaian diri yang dialami siswa.

  Salah satu cara yang dapat mendukung terciptanya kerukunan, keharmonisan dalam asrama adalah sikap empati.

  Empati adalah kemampuan untuk menyadari, memahami, dan menghargai perasaan dan pikiran orang lain (Stein dan Book, 2002). Orang yang empati adalah orang yang mampu membaca sudut pandang dan emosi orang lain. Orang yang demikian akan peduli pada orang lain dan memperlihatkan minat dan perhatiannya pada orang lain. Sikap empati diharapkan tumbuh pada setiap pribadi yang tinggal di asrama.

BAB III METODOLOGI PENELITIAN Pada bagian ini, peneliti memaparkan tentang jenis penelitian, populasi penelitian, metode dan alat pengumpul data dan uji alat ukur. A. Jenis Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif. Penelitian ini

  menggunakan metode survei karena penelitian ini ingin mengumpulkan informasi mengenai permasalahan penyesuaian diri siswi asrama Stella Duce Supadi Yogyakarta tahun ajaran 2009/2010.

B. Populasi Penelitian

  Populasi dalam penelitian ini adalah semua siswi asrama Stella Duce Supadi Yogyakarta tahun ajaran 2009/2010 yang tinggal di asrama Supadi yang berjumlah 42 siswa. Teknik pengambilan subjek menggunakan metode populasi terbatas yaitu populasi yang memiliki batas kuantitatif secara jelas karena memiliki karakteristik yang terbatas (Zuriah, 2007:116). Adapun karakteristik pemilihan populasi, yaitu: masa sekolah tiga tahun, usia 16-17 tahun, tingkat pendidikan yang sama.

C. Alat Pengumpul Data

  Alat yang digunakan untuk dalam pengumpulan data adalah skala permasalahan penyesuaian diri. Item skala terbagi menjadi item positif (favorable) dan item negatif (unfavorable). Skala permasalahan penyesuaian diri terdiri dari 80 item yang terdiri dari 40 item positif dan 40 item negatif.

  Skala ini disusun dan dikelompokkan berdasarkan aspek-aspek penyesuaian diri, yaitu: aspek pribadi, aspek sosial, aspek belajar dan aspek karir, Fatimah (2006:207) dan Desmita (2009:195).

  Tabel 1

  Tabel Kisi-Kisi Skala Permasalahan Penyesuaian Diri

  No Aspek Penyesuaian Diri Indikator Item Negatif

  Item Positif

1. Pribadi a.

  Kurang dapat mengetahui kelebihan

dan kekurangannya.

  1, 9 4, 14 b. Tidak dapat bertindak sesuai potensi dan situasinya.

  5, 7 18, 20 c. Kurang dapat mengelola ras benci dan kejengkelannya.

  15, 11 12, 16 d. Kurang bertanggung jawab terhadap tugas.

  17, 3 8, 10 e. Kurang percaya pada

kemampuannya.

  13, 19 6, 2 Sosial a. Kurang terlibat dalam 21, 31 40, 38 b.

  Tidak mau bekerja sama dengan orang.

  43, 41 46, 50 Karir a. Tidak konsekwensi dengan rencana.

  (dapat dilihat pada lampiran 1) Skala permasalahan penyesuaian diri terdiri dari pernyataan yang favorable dan unfavorable dengan empat alternatif jawaban, yaitu:

  80

  65, 63 70, 76

Jumlah Item Favorable dan Unfavorable 40 40

TOTAL ITEM

  66 e. Kurang mempersiapkan diri masuk dunia kerja .

  Kurang mengenal macam pekerjaan 71,79 68,

  77, 61 74, 72 c. Tidak memiliki cita-cita. 67, 73 62, 64 d.

  69, 75 80, 78 b. Kurang ada kesadaran akan hidup jujur.

  51, 41 58, 44 d. Sulit mengatur waktu.

  35, 23 28, 30 c. Malu menjadi pemimpin.

  48 c. Malu bertanya bila mengalami kesulitan.

  45,55 60,

  49, 53 56,42 b. Sulit mengambil keputusan.

  b.Belum dapat memahami setiap mata pelajaran di sekolah.

  59, 57 52, 54

  36 Belajar a. Kurang memiliki pengetahuan yang luas

  29, 39 26, 24 e. Menyendiri 27, 33 32,

  25, 37 22, 34 d.

Kurang memiliki sikap

toleransi.

  Sangat Sesuai (SS), Sesuai (S), Tidak Sesuai (TS), Sangat Tidak Sesuai (STS). Pemberian skor skala permasalahan penyesuaian diri dimulai dari angka 4 sampai 1 untuk item favorable, sedangkan untuk item unfavorable pemberian skor dimulai dari angka 1 sampai 4.

D. Uji Alat Ukur 1. Uji Validitas Isi Pada penelitian ini, validitas yang diuji adalah validitas isi.

  Validitas isi dapat diartikan sebagai ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur dalam melakukan fungsi ukurnya. Suatu alat ukur dapat dikatakan mempunyai validitas yang tinggi apabila alat tersebut mampu memberikan hasil ukur yang sesuai dengan maksud dilakukannya pengukuran tersebut (Azwar, 2008).

  Validitas isi dari skala ini telah mendapat penilaian professional (professional judgement) dari dosen ahli, yaitu: Ibu A.Setyandari, S.Pd.,Psi.,M.A. Dosen memberikan penilaian berkaitan dengan kesesuaian antara variabel penelitian, indikator penelitian. Selain itu, Dosen juga memberikan beberapa perbaikan berkaitan dengan kalimat pernyataan dari 80 item skala permasalahan penyesuaian diri yang telah disusun oleh peneliti.

2. Seleksi Item

  Seleksi item pada skala ini dilakukan dengan menggunakan program SPSS for Windows 11.0. Penelitian ini juga menerapkan patokan koefisien validitas minimal untuk melihat valid tidaknya nomor-nomor item skala. Cronbach (melalui Azwar, 2008:103) menuliskan bahwa untuk patokan koefisien validitas menggunakan dinyatakan gugur sedangkan yang koefisien validitasnya ≥ 0,30 dianggap valid.

3. Uji Reliabilitas

  Setelah seleksi item, selanjutnya pengujian reliabilitas,

  r dilakukan dengan menggunakan teknik korelasi Product-Moment .

  ( )

  Reliabilitas merupakan keterpercayaan terhadap hasil ukur, pengukuran yang reliabel akan menghasilkan skor yang dapat dipercaya ( Azwar, 2008:83). dengan cara pembelahan item ganjil-genap (odd-even splits) dalam cara ini, seluruh item yang bernomor urut gasal dijadikan satu kelompok menjadi belahan pertama (

  X ) dan seluruh item yang

  bernomor urut genap dijadikan satu kelompok menjadi belahan kedua ( Y ), dengan membelah secara gasal dan genap diharapkan akan diperoleh dua bagian yang setara (Azwar, 2008:66).

  Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan system try

  

out terpakai karena keterbatasan jumlah populasi, populasi tidak ada

  yang sama, keterbatasan waktu, maka penelitian ini hanya melakukan satu kali penyebaran angket sehingga penelitian ini menggunakan populasi yang sama dengan populasi yang digunakan untuk menguji reliabilitas, koefisien korelasi. D

  ata yang diperoleh

kemudian dihitung secara statistik dengan menggunakan teknik korelasi

  (Adesla :2007). Product-

  dari pearson product moment Rumus korelasi Moment r , yaitu:

  ( ) n n n n

  X Y

i i i i

  X Y ∑ ∑ ∑ i = 1 i = 1 i = 1 r = xy n n n n 2 2

  ⎧ ⎫ ⎧ ⎫ ⎪ 2 ⎛ ⎞ ⎪ ⎪ 2 ⎛ ⎞ ⎪ n XX n YY

i i i i

⎜ ⎟ ⎜ ⎟

  ⎨ ⎬ ⎨ ⎬ ∑ ∑ ∑ ∑ i 1 i 1 i 1 i 1

  = = = = ⎝ ⎠ ⎝ ⎠ ⎪⎩ ⎪⎭ ⎪⎩ ⎪⎭

  Keterangan : r xy = koefisien korelasi ganjil (X) dan genap (Y) X = Skor item ganjil Y = Skor item genap N = jumlah subjek.

  Perhitungan dapat dilihat pada lampiran 4.

4. Uji Koefisien Korelasi

  Uji koefisien korelasi dilakukan untuk mengukur keajegan hasil pengukuran antara item nomor genap dan ganjil. Dengan kata lain reliabilitas diperlukan untuk melihat sejauh mana pengukuran itu dapat memberikan hasil yang relatif sama jika dilakukan pengukuran kembali dengan alat ukur yang sama.

  Perhitungan reliabilitas skala item nomor genap dan ganjil menggunakan rumus Spearman-Brown, yaitu:

  xrgg

  2 rtt

  = 1 −

  • 1 rgg
Keterangan:

  r tt = koefisien reliabilitas r gg

  = koefisien korelasi item gasal-genap Reliabilitas dinyatakan oleh koefisien korelasi (

  r xx ) yang

  angkanya berada dalam rentang 0-1,00. Koefisien korelasi berada pada ≥ 0,91-1,00 berarti sangat tinggi reliabilitasnya, koefisien korelasi berada pada angka 0,71-0,90 berarti reliabilitasnya tinggi, koefisien korelasi berada pada angka 0,41-0,70 berarti reliabilitasnya cukup sedangkan semakin rendah reliabilitasnya berada pada angka < 0,40 ( Masidjo, 2006). Perhitungan dapat dilihat pada lampiran 4.

E. Prosedur Pengumpulan Data 1.

  Tahap persiapan Pada tahap persiapan dilakukan berbagai kegiatan yaitu: a.

  Penyusunan kuesioner Hal-hal yang dilakukan dalam menyusun instrumen adalah: 1)

  Menentukan variabel 2)

  Menentukan aspek-aspek penyesuaian diri 3)

  Menentukan indikator-indikator dari penyesuaian diri 4)

  Merumuskan indikator-indikator tersebut dalam butir-butir item 5)

  Mengkonsultasikan instrumen yang telah dibuat kepada

2. Tahap pelaksanaan pengumpulan data.

  Setelah mendapat persetujuan dari dosen pembimbing untuk melakukan penelitian, selanjutnya adalah proses pengurusan surat ijin penelitian kepada Ketua Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Surat ijin diberikan dengan nomor: 036/Pen/BK/JIP/V/2010

  Sebelum pengumpulan data dilakukan, peneliti menghubungi pimpinan asrama Stella Duce Supadi Yogyakarta untuk menentukan waktu yang tepat. Setelah terjadi kesepakatan, maka   Penelitian dilaksanakan secara bertahap karena peneliti menyesuaikan dengan kegiatan para siswi yang padat. Maka penelitian dilaksanakan selama seminggu, pada hari Sabtu tanggal

  15 Mei 2010 sampai hari Jumat tanggal 21 Mei 2010. Populasi dalam penelitian ini adalah semua siswa SMA Stella Duce 1 Yogyakarta tahun ajaran 2009/2010 yang tinggal di asrama Supadi yang berjumlah 42 orang. Pelaksanaan penelitian diawali dengan penjelasan dari suster pembina asrama tentang maksud diadakan pengisian angket (penelitian). Kemudian peneliti membagikan lembar skala serta menjelaskan petunjuk pengisian skala dan memberikan kesempatan kepada para siswi untuk mengisi skala. Para siswa diperkenankan bertanya kepada pembina asrama atau pada peneliti bila mengalami kesulitan

1. Pribadi a.

  Kurang dapat

mengelola ras benci

dan kejengkelannya.

  Menyendiri

  Kurang memiliki sikap toleransi.

  Malu menjadi pemimpin.

  

Tidak mau bekerja sama

dengan orang.

  19 - Sosial a.

Kurang terlibat dalam

kegiatan sosial.

  

Kurang percaya pada

kemampuannya.

  15, 11 - d.

Kurang bertanggung

jawab terhadap tugas.

  1, 9 - b.

Tidak dapat bertindak

sesuai potensi dan situasinya.

  Kurang dapat

mengetahui kelebihan

dan kekurangannya.

  Item Positif

  No Aspek Penyesuaian Diri Indikator Item Negatif

  Tabel Kisi-Kisi Item yang Gugur

  Tabel 2

  Setelah dilakukan pengujian dari 80 item terdapat 18 item yang gugur, berikuti ini merupakan tabel butir yang tidak valid dan tabel butir yang valid.

  Duce Supadi Yogyakarta selesai mengisi skala maka peneliti mengucapkan terimakasih.

  • 20 c.

  • e.
  • 40 b.
  • c.
  • 34 d.
  • 26 e.
  • 32

b. Belum dapat

  • e.
  • 80 b.
  • 74 c.
  • d.

  Kurang dapat mengelola ras

  3 c.

  18

  5, 7

  Tidak dapat bertindak sesuai potensi dan situasinya.

  Kurang dapat mengetahui kelebihan dan kekurangannya.

  Favorable Unfavorable

  No Aspek Penyesuaian Diri Indikator Nomor Item Jumlah

  Tabel Kisi-Kisi Item yang Valid sebagai Item Final

  18   Tabel 3

  TOTAL ITEM

  Kurang mempersiapkan diri masuk dunia kerja .

  Jumlah Item Favorable dan Unfavorable 10 8

  Kurang mengenal macam pekerjaan 79 - e.

  Tidak memiliki cita-cita. -

  Kurang ada kesadaran akan hidup jujur.

  43 - Karir a. Tidak konsekwensi dengan rencana.

  Sulit mengatur waktu.

  45 - d. Malu bertanya bila mengalami kesulitan.

  Sulit mengambil keputusan.

  42 c.

  memahami setiap mata pelajaran di sekolah .

  Kurang memiliki pengetahuan yang luas 59, 57 -

  Belajar a.

1. Pribadi a.

  • 4, 14 2 b.
  • 12, 16 2
kejengkelannya

  d. 17, 3 8, 10

  4 Kurang bertanggung jawab terhadap tugas.

  e. 13 6, 2 3 Kurang percaya pada kemampuannya.

  Sosial a. 21, 31

  38

  3 Kurang terlibat dalam kegiatan sosial.

  b. 35,23 28, 30 4 Tidak mau bekerja sama dengan orang.

  c. 25, 37

  22

  3 Malu menjadi pemimpin.

  d. 29, 39

  24

  3 Kurang memiliki sikap toleransi.

  e.

  36

  3 Menyendiri 27,33 Belajar a. - 52, 54 2 Kurang memiliki pengetahuan yang luas 49, 53

  56

  3 b.

  Belum dapat memahami setiap mata pelajaran di

  .

  sekolah.

  c. 55 60, 48 3 Sulit mengambil keputusan.

  d. 51, 47 58, 44

  4 Malu bertanya bila mengalami kesulitan.

  e. 41 46,50 3 Sulit mengatur waktu. Karir a. 69, 75

  78

  3 Tidak konsekwensi dengan rencana.

  b. 77, 61

  72

  3 Kurang ada kesadaran akan hidup jujur. cita-cita.

  d. 71 68, 66 3 Kurang mengenal macam pekerjaan

e. 65, 63 70, 76

  4 Kurang mempersiapkan diri masuk dunia kerja.

  30

  32

  62

  (dapat dilihat pada lampiran 3) F.

   Teknik Analisis Data

  Langkah-langkah analisis yang ditempuh yaitu: 1.

  Menentukan skor dari setiap alternatif jawaban. Alternatif jawaban favorable yaitu: SS diberi skor 4, S diberi skor 3, TS diberi skor 2, STS diberi skor 1, sedangkan untuk alternatif jawaban unfavorable: SS diberi skor 1, S diberi skor 2, TS diberi skor 3, STS diberi skor 4.

  2. Menghitung jumlah skor dari masing-masing subjek 3.

  Membuat tabulasi data.

  4. Menghitung frekuensi berdasarkan skor untuk setiap item.

  5. Menghitung persentase berdasarkan frekuensi yang telah diperoleh untuk setiap item.

  6. Menentukan penggolongan tingkat masing-masing aspek permasalahan penyesuaian diri siswi asrama Stella Duce Supadi Yogyakarat tahun ajaran 2009/2010 berdasarkan Penilaian Acuan Patokan tipe I. Penilaian Acuan Patokan adalah suatu penilaian yang memperbandingkan skor riil

  1995). Penggolongan pencapaian permasalahan penyesuaian diri para siswi asrama Stella Duce Supadi Yogyakarta digolongkan menjadi lima, yaitu sangat intens, intens, cukup intens, kurang intens, sangat kurang intens, dengan patokan seperti dalam tabel 4.

  Tabel 4 Penggolongan Permasalahan Penyesuaian Diri yang Intens dialami siswi Asrama Stella Duce Supadi Yogyakarta

  Tahun Ajaran 2009/2010

  Kategori Patokan

  Sangat Intens 90 % - 100 % Intens 80 % - 89 %

  Cukup Intens 65 % - 79 % Kurang Intens 55 % - 64 %

  Sangat Kurang Intens < 55 %

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Bab ini akan memaparkan jawaban atas rumusan masalah, yaitu: Sejauh mana tingkat permasalahan penyesuaian diri para siswi yang

  tinggal di asrama Stella Duce Supadi tahun ajaran 2009/2010? dan permasalahan penyesuaian diri apakah yang sangat intens dialami siswi asrama Stella Duce Supadi tahun ajaran 2009/2010 dalam rangka penyusunan topik-topik bimbingan klasikal?

A. Hasil Penelitian 1. Sejauh Mana Tingkat Permasalahan Penyesuaian Diri para Siswi yang Tinggal di Asrama Stella Duce Supadi Tahun Ajaran 2009/2010?

  Untuk menentukan permasalahan penyesuaian diri yang dialami para siswi asrama Stella Duce Supadi tahun ajaran 2009/2010 berdasarkan tingkatan subjek maka dihitung dengan menggunakan perhitungan Penilaian Acuan Patokan. Penilaian Acuan Patokan (PAP) tipe I digunakan dengan memperbandingkan skor riil dengan skor yang seharusnya (Masidjo, 1995). Patokan yang dipergunakan dalam penelitian ini dapat dilihat dalam tabel 4.

  Tabel 6 Sebaran Subjek Berdasarkan Kategori Permasalahan dalam Setiap Aspek Penyesuaian Diri Para siswi Asrama Stella Duce Supadi Yogyakarta

  Tahun Ajaran 2009/2010

  Kategori Aspek-aspek Permasalahan Penyesuaian Diri Pribadi Sosial Belajar Karir Sangat Intens 4 (9,52%) 1 (2,38%) 5 (11,9) 6 (14,28%)

Intens 17 (40,47%) 17 (40,47 %) 16 (38,09%) 18 (42,85%)

Cukup Intens 16 (38,09%) 18 (42,85%) 16 (38,09%) 12 (28,57%) Kurang Intens 2 (4, 76 %) 2 (4,76 %) 1 (2,38%) 3 (7,14 %)

  Sangat Kurang 3 (7,14%) 4 (9,52%) 4 (9, 52%) 3 (7,14 %) Intens

Jumlah 42 (100%) 42 (100%) 42 (100%) 42 (100%)

  (dapat dilihat dilampiran 5) Berdasarkan tabel di atas, dapat dilihat bahwa sebagian besar siswi yang tinggal di asrama Stella Duce Supadi tahun ajaran 2009/2010 berada pada kawasan intens dan cukup intens. Dengan demikian, banyak siswi yang mengalami permasalahan penyesuaian diri sehingga mereka membutuhkan perhatian dan pendampingan yang baik dan efektif dari suster pembina dan orang tua.

2. Permasalahan Penyesuaian Diri Apakah yang Sangat Intens Dialami Siswi Asrama Stella Duce Supadi Tahun Ajaran 2009/2010 dalam Rangka Penyusunan Topik-topik Bimbingan Klasikal?

  71, 62, 66, 68, 75

  

Kurang Intens 7 35 53 -

Sangat Kurang Intens

  63, 64, 65, 70, 72, 73, 76, 77, 78

  41, 44,46, 48, 50, 52, 54, 55, 56, 60

  17 21, 22, 23, 24, 25, 28, 30, 31, 33, 36, 37, 39

  8, 12, 16,

  Cukup Intens 2, 3, 5, 6,

  14, 18 27, 29 51 61, 67, 69,

  Untuk menentukan permasalahan penyesuaian diri yang dialami para siswi asrama Stella Duce Supadi tahun ajaran 2009/2010 berdasarkan item pernyataan maka dihitung dengan menggunakan perhitungan Penilaian Acuan Patokan. Penilaian Acuan Patokan (PAP) tipe I digunakan dengan memperbandingkan skor riil dengan skor yang seharusnya (Masidjo, 1995). Patokan yang dipergunakan dalam penelitian ini dapat dilihat dalam tabel 4.

  Intens 13, 10, 4,

  58 -

  Sangat Intens - 38 47,49,

  

Aspek

Sosial

Aspek Belajar Aspek Karir

  

Kategori Permasalahan penyesuaian diri berdasarkan Item

Aspek Pribadi

  Penyesuaian Diri Para siswi Asrama Stella Duce Supadi Yogyakarta Tahun Ajaran 2009/2010

  Tabel 7 Sebaran Item Berdasarkan Kategori Permasalahan dalam Setiap Aspek

  Tabel 8 Berdasarkan Kategori Permasalahan dalam Setiap Aspek Penyesuaian

  Diri Para siswi Asrama Stella Duce Supadi Yogyakarta Tahun Ajaran 2009/2010

  

No Kategori Aspek No Pernyataan Masalah %

Item Penyesuaian Diri

  1 Sangat Belajar

  47 Saya tidak mau bertanya karena 92,8% Intens takut dianggap bodoh.

  49 Saya belum dapat memahami 94,0% setiap mata pelajaran yang dilaksanakan di sekolah dengan baik.

  58 Saya kurang dapat mencari 90,4% jalan keluar dengan bertanya pada teman atau pembina asrama bila mengalami kesulitan. Sosial

  38 Saya kurang ambil bagian 92,8% dalam kegiatan sosial yang dilaksanakan di lingkungan asrama maupun gereja.

  2 Intens Pribadi

  13 Saya tidak yakin terhadap 83,3% kemampuan saya dalam melakukan aktivitas.

  10 Saya jarang menjalankan piket 85,7% di asrama.

  4 Saya kurang mengetahui 82,1% kelebihan-kelebihan yang saya miliki.

  14 Saya kurang dapat mengetahui 81,5% kekurangan saya sehingga saya dapat bertindak dengan benar.

  18 Saya jarang melaksanakan 85,7% kegiatan dengan baik karena kurang sesuai dengan kemampuan yang saya miliki. Sosial

  27 Saya lebih nyaman tinggal 88,6% sendiri dari pada bersama orang lain.

  29 Saya selalu mengomentari 85,1% teman saya yang tidak Belajar

  51 Saya malu bertanya pada teman 83,9% bila saya mengalami kesulitan dalam mengerjakan tugas. Karir 61 Saya menutupi kesalahan yang 83,9% saya buat agar suster pembina dan teman-teman tidak memarahi saya.

  67 Saya belum memiliki cita-cita 87,5% yang jelas.

  69 Saya kurang dapat menjalankan 80,3% rencana yang telah saya buat dengan baik.

  71 Saya belum mengenal berbagai 82,7% macam pekerjaan yang ada di luar saya.

  62 Saya belum mempunyai cita- 84,5% cita yang ingin saya capai dari belajar.

  66 Saya jarang mencari informasi 80,3% mengenai berbagai macam pekerjaan lewat internet.

  68 Saya kurang mengenal berbagai 87,5% macam pekerjaan yang ada karena saya tidak bertanya pada suster pembina atau guru BK di sekolah.

  75 Saya menjalankan kegiatan 88,0% diluar dari rencana yang telah saya buat. (dapat dilihat dilampiran 6) 3.

   Pembahasan Berikut ini akan dilakukan pembahasan terhadap hasil penelitian.

  Pada dasarnya pembahasan berfokus pada tiga hal yaitu: penyebab, akibat yang terjadi, dan usaha dari beberapa pihak dalam rangka mengatasi masalah yang bersangkutan. Beberapa pihak tersebut ialah: pendamping di asrama, orangtua, dan siswi. Untuk menghindari pengulangan yang tidak perlu, maka dalam pembahasan masing-masing item permasalahan pilihan terbanyak seperti pada tabel 8 selain itu apabila ada item yang pernyataan hampir sama maka akan dibahas menjadi satu uraian. Item-item di tabel 8 dijadikan pembahasan karena dipandang masih belum ideal dalam penyesuaian diri.

  a.

  Kategori Sangat Intens 1)

  Aspek Belajar

  a) Saya tidak mau bertanya karena takut dianggap bodoh (item 47 skor 92,8%) dan saya malu bertanya pada teman bila saya mengalami kesulitan dalam mengerjakan tugas (item 51 skor 83,9%).

  Permasalahan siswi tidak mau bertanya karena takut dianggap bodoh dan malu bertanya pada teman bila mengalami kesulitan dapat disebabkan oleh beberapa hal, antara lain: kurang percaya diri, siswi sulit mengkomunikasikan keinginannya, malu dengan teman, kurang menyadari pentingnya bertanya, merasa minder,   mereka juga beranggapan bahwa orang yang selalu bertanya adalah orang yang bodoh, siswi kurang percaya pada teman. Permasalahan tersebut dapat mengakibatkan siswi mengalami kesulitan dalam proses belajar, terutama saat mengerjakan tugas-tugas yang diberikan guru, mengalami kesulitan dalam mengambil keputusan, siswi

  Kumara dan Andayani (1997) mengatakan bahwa siswa merasa malu bertanya dan kurang percaya diri untuk bertanya karena mereka sendiri mempunyai kesulitan dalam berkomunikasi, mengekspresikan diri secara verbal dan takut dianggap bodoh. Selain itu, para siswa tidak melihat teman sebagai sumber kesulitan karena mereka menyadari bahwa ada teman yang juga mengalami kesulitan untuk bertanya. Tetapi mereka melihat situasi kelas, tempat saat itu lebih berpengaruh terhadap keberanian siswa untuk bertanya.

  Untuk mengatasi permasalahan tersebut perlu adanya usaha dari berbagai pihak, seperti: konselor sekolah, pembina di asrama, orang tua dan terlebih siswi sendiri. Usaha-usaha yang dapat dilakukan, antara lain: memberikan pelayanan bimbingan klasikal yang berkaitan dengan membangun kepercayaan diri, cara berkomunikasi yang efektif dan baik, mengatasi rasa malu, menyadari pentingnya bertanya, orang yang selalu bertanya tidak selamanya dianggap bodoh. Dengan bimbingan tersebut, diharapkan siswi tidak malu untuk bertanya pada teman, guru dan pembina asrama bila mengalami kesulitan, pemikiran bahwa orang bertanya bukan berarti bodoh b) Saya belum dapat memahami setiap mata pelajaran yang dilaksanakan di sekolah dengan baik (item 49 skor 94,0%).

  Permasalahan siswi belum dapat memahami setiap mata pelajaran yang dilaksanakan di sekolah dapat disebabkan oleh beberapa hal, antara lain: mata pelajaran yang terlalu banyak membuat konsentrasi terbagi sehingga terkadang kurang maksimal memahami semua mata pelajaran, belum dapat menentukan waktu belajar dengan baik, jarang mengulangi mata pelajaran yang diperoleh, tidak konsentrasi bila guru menerangkan, mata pelajaran yang sulit dapat membuat siswa belum dapat memahami mata pelajaran dengan baik. Permasalahan tersebut dapat mengakibatkan kesulitan dalam proses belajar, pencapaian prestasi belajar dan perkembangan bidang akademik selanjutnya.

  Menurut Winkel dan Hastuti (2006:142) beban yang harus dipikul oleh siswi di sekolah adalah mendalami setiap mata pelajaran dan pengajaran. Selain itu, Winkel dan Hastuti (2006:142) mengatakan bahwa pelaksanaan dan pengelolaan kurikulum di sekolah sudah menimbulkan pemikiran siswi karena mereka mulai menyadari bahwa mutu pemahaman terhadap mata pelajaran akan tercermin dalam nilai (nilai rapor) yang diperoleh. Hal ini membuat siswa menjadi gelisah bila belum memahami setiap mata pelajaran yang dilaksanakan.

  Untuk mengatasi permasalahan tersebut perlu adanya usaha dari berbagai pihak, seperti: pembina di asrama, orang tua dan terlebih siswi sendiri. Usaha-usaha yang dapat dilakukan, antara lain: memberikan pelayanan bimbingan klasikal yang berkaitan dengan cara-cara memahami setiap mata pelajaran, apa saja yang perlu dihindari agar dapat konsentrasi, keuntungan dari memahami berbagai mata pelajaran, pemahaman diri, cara mengatur waktu, menentukan prioritas mata pelajaran yang gampang dan sulit, memotivasi siswi dalam membuat jadwal, memberikan tips mengikuti pelajaran di kelas, menjalankan tugas sesuai jadwal, motivasi belajar, cara-cara belajar. Dengan bimbingan tersebut, diharapkan siswi dapat mengikuti kegiatan belajar, konsentasi, siswi dapat menemukan cara tersendiri untuk memaham setiap mata pelajaran, selain mereka dapat memahami pelajaran dengan kemampuannya masing-masing dengan baik sehingga mereka memperoleh prestasi yang baik.

  Siswa sendiri perlu berusaha untuk mengatasi permasalahannya. Usaha-usaha yang dapat dilakukan, antara yang dianggap penting, menyusun pertanyaan untuk materi yang belum jelas dan mengerjakan tugas tepat waktu.

  c) Saya kurang dapat mencari jalan keluar dengan bertanya pada teman atau pembina asrama bila mengalami kesulitan (item

  58 skor 90,4%).

  Permasalahan siswi kurang dapat mencari jalan keluar

  

dengan bertanya pada teman atau pembina asrama bila mengalami

kesulitan dapat disebabkan oleh beberapa hal, antara lain:

  siswi malu untuk bertanya, belum memahami pentingnya bertanya, kurang percaya diri untuk bertanya. Permasalahan tersebut dapat mengakibatkan kesulitan baik dalam proses belajar di kelas maupun di luar kelas.

  Untuk mengatasi permasalahan tersebut perlu adanya usaha dari berbagai pihak, seperti: pembina di asrama, orang tua dan terlebih siswi sendiri. Usaha-usaha yang dapat dilakukan, antara lain: memberikan pelayanan bimbingan klasikal yang berkaitan dengan pentingnya bertanya, manfaat-manfaat bertanya, dampak positif dan negatif bila bertanya, memberikan tips bertanya efektif. Dengan bimbingan tersebut, diharapkan siswi semakin bisa untuk bertanya bila mengalami kesulitan.

  Siswa sendiri perlu berusaha untuk mengatasi permasalahannya. Usaha-usaha yang dapat dilakukan, antara lain: berusaha untuk bertanya bila mengalami kesulitan, berani untuk mengungkapkan kesulitan, tidak malu untuk bertanya. 2) Aspek Sosial

  a) Saya kurang ambil bagian dalam kegiatan sosial yang dilaksanakan di lingkungan asrama maupun gereja (item 38 skor 92,8%).

  Permasalahan siswi kurang ambil bagian dalam kegiatan sosial yang dilaksanakan di lingkungan asrama maupun gereja dapat disebabkan oleh beberapa hal, antara lain: siswi lebih memilih belajar daripada mengikuti kegiatan, kurang tertarik mengikuti kegiatan sosial yang dilaksanakan, kurang percaya diri, belum memahami pentingnya mengikuti kegiatan sosial. Permasalahan tersebut dapat mengakibatkan siswi kurang peka terhadap orang lain, kurang memperoleh pengetahuan mengenai kegiatan sosial, siswi cenderung memikirkan diri sendiri.

  Untuk mengatasi permasalahan tersebut perlu adanya usaha dari berbagai pihak, seperti: pembina di asrama, orang tua dan terlebih siswi sendiri. Usaha-usaha yang dapat klasikal yang berkaitan dengan pentingnya terlibat aktif dalam kegiatan sosial, manfaat-manfaat mengikuti kegiatan sosial, dampak positif dan negatif bila mengikuti kegiatan sosial. Dengan bimbingan tersebut, diharapkan siswi semakin memahami dan melaksanakan kegiatan sosial yang dilaksanakan baik di lingkungan asrama maupun di lingkungan gereja.

  Siswa sendiri perlu berusaha untuk mengatasi permasalahannya. Usaha-usaha yang dapat dilakukan, antara lain: berusaha untuk terlibat aktif dalam kegiatan sosial, meluangkan waktu untuk terlibat dalam kegiatan sosial yang dilaksanakan di asrama dan di gereja.

  b.

  Kategori Intens 1)

  Aspek Pribadi

  a) Saya tidak yakin terhadap kemampuan saya dalam melakukan aktivitas (item 13 skor 83,3%).

  Permasalahan siswi tidak yakin terhadap kemampuan saya dalam melakukan aktivitas dapat disebabkan oleh beberapa hal, antara lain: kurang percaya diri dengan kemampuan yang dimiliki, merasa minder, siswi mudah menyerah sebelum mencoba, kurang percaya diri. Permasalahan tersebut dapat mengakibatkan siswa tidak berhasil mengembangkan kemampuan, mudah menyerah, menjadi tidak mandiri.

  Untuk mengatasi permasalahan tersebut perlu adanya usaha dari berbagai pihak, seperti: pembina di asrama, orang tua dan terlebih siswa sendiri. Usaha-usaha yang dapat dilakukan, antara lain: memberikan pelayanan bimbingan klasikal yang berkaitan dengan pemahaman diri, percaya diri, pentingnya yakin pada kemampuan, motivasi, mendukung siswi dalam setiap aktivitas. Dengan bimbingan tersebut, siswi diharapkan dapat mengembangkan kemampuannya, percaya pada kemampuan, percaya diri dalam melaksanakan aktivitas.

  Siswa sendiri perlu berusaha untuk mengatasi permasalahannya. Usaha-usaha yang dapat dilakukan, antara lain: siswa berusaha untuk selalu mencoba, memotivasi diri, siswi berusaha untuk tidak pernah menyerah, siswi belajar dari kesalahan.

  b) Saya jarang menjalankan piket di asrama (item 10 skor 85,7%).

  Permasalahan siswi jarang menjalankan piket di asrama dapat disebabkan oleh beberapa hal, antara lain: siswi siswi lebih memprioritaskan belajar, merasa malas untuk menjalankan piket, siswi bergantung pada teman atau karyawan. Permasalahan tersebut dapat mengakibatkan siswa mudah menyerah, menjadi tidak mandiri, lebih tergantung pada orang lain.

  Untuk mengatasi permasalahan tersebut perlu adanya usaha dari berbagai pihak, seperti: pembina di asrama, orang tua dan terlebih siswa sendiri. Usaha-usaha yang dapat dilakukan, antara lain: memberikan pelayanan bimbingan klasikal yang berkaitan dengan pemahaman diri, tanggung jawab, kemandirian, pentingnya melaksanakan piket, dampak negatif bila jarang mengerjakan tugas. Dengan bimbingan tersebut, siswi diharapkan dapat berusaha untuk menjalankan piket, percaya pada kemampuan, percaya diri dalam melaksanakan aktivitas, dapat dipercaya oleh orang lain.

  Siswa sendiri perlu berusaha untuk mengatasi permasalahannya. Usaha-usaha yang dapat dilakukan, antara lain: siswa berusaha untuk menjalankan piket, tidak memilih- milih pekerjaan, menyelesaikan tugas yang dipercayakan kepadanya.

  c) Saya kurang mengetahui kelebihan-kelebihan yang saya

  Permasalahan siswi kurang mengetahui kelebihan- kelebihan yang saya miliki dapat disebabkan oleh beberapa hal, antara lain: kurang percaya diri, kurangnya pemahaman diri, pengenalan diri, kurangnya informasi mengenai pengenalan kelebihan-kelebihan pribadi. Permasalahan tersebut dapat mengakibatkan siswa tidak berhasil dalam mengembangkan bakat, menjadi kurang percaya diri, pesimis.

  Untuk mengatasi permasalahan tersebut perlu adanya usaha dari berbagai pihak, seperti: pembina di asrama, orang tua dan terlebih siswa sendiri. Usaha-usaha yang dapat dilakukan, antara lain: memberikan pelayanan bimbingan klasikal yang berkaitan dengan pemahaman diri, pentingnya mengetahui kelebihan, pengenalan diri. Dengan bimbingan tersebut, diharapkan siswa dapat mengenal dan mengembangkan kelebihan-kelebihannya.

  Siswa sendiri perlu berusaha untuk mengatasi permasalahannya. Usaha-usaha yang dapat dilakukan, antara lain: siswa berusaha mengenal diri, memahami kelebihan dan berusaha untuk mengembangkannya.

  d) Saya kurang mengetahui kekurangan saya sehingga saya kurang dapat bertindak dengan benar (item 14 skor 81,5%).

  Permasalahan siswi kurang mengetahui kekurangan sehingga dapat kurang bertindak dengan benar dapat disebabkan oleh beberapa hal, antara lain: kurang mengenal diri, kurangnya kesadaran diri untuk mengenal kekurangan, siswi belum menyadari pentingnya mengetahui kekurangan. Permasalahan tersebut dapat mengakibatkan siswi tidak berhasil dalam hubungan sosial, mementingkan diri sendiri, selalu menganggap benar apa yang dilakukan dan dikatakannya.

  Untuk mengatasi permasalahan tersebut perlu adanya usaha dari berbagai pihak, seperti: pembina di asrama, orang tua dan terlebih siswa sendiri. Usaha-usaha yang dapat dilakukan, antara lain: memberikan pelayanan bimbingan klasikal yang berkaitan dengan pentingnya mengetahui kekurangan, dampak positif dan negatif mengetahui kekurangan, pengenalan diri. Dengan bimbingan tersebut, diharapkan siswa dapat mengenal dan berusaha memperbaiki kekurangannya.

  Siswa sendiri perlu berusaha untuk mengatasi permasalahannya. Usaha-usaha yang dapat dilakukan, antara lain: siswa berusaha mengenal diri, memahami kekurangannya, dan berusaha untuk menemukan cara agar menghilangkan kelemahan, memotivasi diri untuk menjadikan kelemahan sebagai proses untuk belajar.

  e) Saya jarang melaksanakan kegiatan dengan baik karena kurang sesuai dengan kemampuan yang saya miliki (item 18 skor 85,7%).

  Permasalahan siswi jarang melaksanakan kegiatan dengan baik karena kurang sesuai dengan kemampuan yang dimiliki dapat disebabkan oleh beberapa hal, antara lain: kurang mengenal diri, kurangnya informasi, siswi belum menyadari pentingnya melaksanakan kegiatan tanpa memilih- milih kegiatan. Permasalahan tersebut dapat mengakibatkan siswi kurang mengembangkan diri dengan baik, mementingkan kegiatan yang dilakukannya sendiri, menjadi tidak mandiri, pesimis.

  Untuk mengatasi permasalahan tersebut perlu adanya usaha dari berbagai pihak, seperti: pembina di asrama, orang tua dan terlebih siswa sendiri. Usaha-usaha yang dapat dilakukan, antara lain: memberikan pelayanan bimbingan klasikal yang berkaitan dengan pentingnya optimis, motivasi sebagai pencapaian kesuksesan, pengenalan diri. Dengan bimbingan tersebut, diharapkan siswa dapat mengenal dan berusaha melaksanakan kegiatan walaupun kurang sesuai dengan kemampuan.

  Siswa sendiri perlu berusaha untuk mengatasi permasalahannya. Usaha-usaha yang dapat dilakukan, antara lain: siswa berusaha untuk selalu mencoba hal baru, optimis terhadap kegiatan yang dilaksanakan, siswi sendiri mencari jalan keluar agar berhasil dalam menjalankan tugas, bertanya bila mengalami kesulitan, tidak memilih-milih pekerjaan, selalu memotivasi diri. 2)

  Aspek Sosial

  a) Saya lebih nyaman tinggal sendiri dari pada bersama orang lain (item 27 skor 88,6%).

  Permasalahan siswa lebih nyaman tinggal sendiri dari pada bersama orang lain dapat disebabkan oleh beberapa hal, antara lain: kurang percaya diri, terbiasa hidup sendiri sejak kecil, sulit berkomunikasi, merasa tersaingi bila bersama orang lain, siswi terlampau nyaman tinggal sendiri. Masalah tersebut dapat mengakibatkan siswa tidak berhasil dalam membangun hubungan yang baik dengan orang lain, kurang memahami pentingnnya bersama orang lain, tidak memiliki teman.

  Menurut Fatimah (2006:26) pada umumnya setiap sebaya yang sama jenis kelamin, mereka akan membentuk kelompok sebaya untuk mengenal dunia yang lebih luas.

  Selain itu, Fatimah (2006:26) menuliskan bahwa dalam perkembangan, siswa semakin mengetahui akan pentingnya hidup bersama, saling membantu dan memberi.

  Untuk mengatasi permasalahan tersebut perlu adanya usaha dari berbagai pihak, seperti: pembina di asrama, orang tua dan terlebih siswa sendiri. Usaha-usaha yang dapat dilakukan, antara lain: memberikan pelayanan bimbingan klasikal yang berkaitan dengan pemahaman diri, pentingnya hidup bersama orang lain, indahnya persahabatan, komunikasi yang efektif. Dengan bimbingan tersebut, diharapkan siswa dapat mengembangkan hubungan sosial, mau menerima orang lain apa adanya, tidak egois.

  Siswa sendiri perlu berusaha untuk mengatasi permasalahannya. Usaha-usaha yang dapat dilakukan, antara lain: siswa berusaha menerima teman baik di asrama maupun di sekolah dengan apa adanya, berusaha untuk membantu orang lain, terbuka terhadap orang lain.

  b) Saya selalu mengomentari teman saya yang tidak sependapat dengan saya (item 29 skor 85,1%)

  Permasalahan siswi selalu mengomentari teman beberapa hal, antara lain: menganggap pendapat teman kurang baik, pendapat teman tidak sesuai dengan fokus pembicaraan, kurang mempercayai teman yang bersangkutan, dapat juga karena siswi hanya ingin mempertahankan pendapatnya. Permasalahan tersebut dapat mengakibatkan siswi tidak memiliki teman, tidak dapat menghargai menerima pendapat orang, sulit diterima dalam berbagai kegiatan atau organisasi, tidak dapat menjadi pemimpin yang baik.

  Untuk mengatasi permasalahan tersebut perlu adanya usaha dari berbagai pihak, seperti: pembina di asrama, orang tua dan terlebih siswa sendiri. Usaha-usaha yang dapat dilakukan, antara lain: memberikan pelayanan bimbingan klasikal yang berkaitan dengan pengenalan diri, pentingnya menerima pendapat orang lain, dampak negatif mengomentari pendapat teman, menyadarkan siswi bahwa setiap orang mempunyai hak untuk berpendapat walaupun salah, komunikasi yang efektif. Dengan bimbingan tersebut, diharapkan siswa dapat mengembangkan hubungan sosial lewat berbesar hati menerima pendapat teman, memberika kesempatan pada teman untuk mengungkapkan pendapat.

  Siswa sendiri perlu berusaha untuk mengatasi lain: siswi berusaha menerima pendapat teman walaupun tidak sependapat, menghargai apapun yang diucapkan teman, berbesar hati menerima kekurangan dan kelebihan teman.

  3) Aspek Karir

  a) Saya menutupi kesalahan yang saya buat agar suster pembina dan teman-teman tidak memarahi saya (item 61 skor 83,9%).

  Permasalahan siswi sering berbohong dapat disebabkan oleh beberapa hal, antara lain: takut tidak diijinkan oleh pembina atau orang tua, tidak ingin diketahui bila bepergian, terburu-buru bepergian, untuk menghindari orang tua atau pembina asrama marah, agar diakui di lingkungan pergaulan, menutupi kebenarana akan suatu perilaku. Permasalahan tersebut dapat mengakibatkan siswa tidak berhasil baik pergaulan maupun dalam kehidupannya di kemudian hari.

  Mappiare (1982:132) mengatakan bahwa sering berbohong dapat dilakukan individu agar dapat diterima oleh orang lain dalam interaksi sosial dan perilaku ini dapat mendatangkan kepuasaan tertentu bagi individu tersebut.

  Untuk mengatasi permasalahan tersebut perlu adanya usaha dari berbagai pihak, seperti: konselor sekolah, Usaha-usaha yang dapat dilakukan, antara lain: memberikan bimbingan klasikal tentang pentingnya hidup jujur, hal-hal negatif dari orang berbohong, pengaruh berbohong bagi dalam kehidupan, akibat-akibat berbohong. Dengan bimbingan tersebut, diharapkan siswi dapat menyadari bahwa berbohong merupakan perilaku yang kurang menguntungkan, mereka semakin belajar untuk jujur, semakin bisa mengatakan sesuai kenyataan, siswi juga semakin belajar untuk berusah lebih baik dari sebelumnya.

  Siswi sendiri perlu berusaha untuk mengatasi permasalahannya. Usaha-usaha yang dapat dilakukan, antara lain: menyatakan dengan jujur keinginan pada orang tua, pembina asrama atau pun pada teman, belajar jujur mulai dari hal-hal kecil.

  b) Saya belum memiliki cita-cita yang jelas (item 67 skor 87,5) dan saya belum mempunyai cita-cita yang ingin saya capai dari belajar (item 62 skor 84, 5%).

  Permasalahan siswi belum memiliki cita-cita yang jelas dan belum mempunyai cita-cita yang ingin saya capai dari belajar dapat disebabkan oleh beberapa hal, antara lain: siswi belum fokus dengan satu cita-cita, siswi masih orang tua, masih belum yakin dengan kemampuan yang dimilikinya. Permasalahan tersebut dapat mengakibatkan siswa kurang maksimal dalam mempersiapkan diri dalam menjalani proses belajar, menjadi pesimis, tidak mandiri, kurang percaya diri dan kurang memotivasi diri.

  Untuk mengatasi permasalahan tersebut perlu adanya usaha dari berbagai pihak, seperti: konselor sekolah, pembina di asrama, orang tua dan terlebih siswi sendiri. Usaha-usaha yang dapat dilakukan, antara lain: memberikan bimbingan klasikal tentang pentingnya memiliki cita-cita yang ingin diraih dalam hidup, dampak dari belum memiliki cita-cita yang jelas, cara memilih cita-cita, dampak positif bila memiliki cita-cita yang jelas. Dengan bimbingan tersebut, diharapkan siswi dapat menyadari bahwa dengan memiliki cita-cita siswi semakin termotivasi untuk belajar, mengembangkan diri, tetap optimis, parcaya diri, siswi semakin belajar untuk berusaha lebih baik dari sebelumnya.

  Siswi sendiri perlu berusaha untuk mengatasi permasalahannya. Usaha-usaha yang dapat dilakukan, antara lain: siswi harus mandiri untuk memilih yang terbaik dari dirinya tetapi siswi menerima masukan dari orang tua, pembina asrama, guru dan teman terdekat, mempelajari berbagai cita-cita dari berbagai sumber, memilih cita-cita sesuai kemampuan.

  c) Saya kurang dapat menjalankan rencana yang telah saya susun dengan baik (item 69 skor 80,3%) dan saya menjalankan kegiatan diluar dari rencana yang telah saya buat (item 75 skor 88,0%).

  Permasalahan siswi kurang dapat menjalankan rencana yang telah disusun dan saya menjalankan kegiatan diluar dari rencana yang telah saya buat dapat disebabkan oleh beberapa hal, antara lain: tidak dapat mengatur waktu dengan baik, mudah terpengaruh dengan teman, sering lupa dengan rencana, tugas yang terlalu banyak. Permasalahan tersebut dapat mengakibatkan siswa tidak berhasil dalam mencapai cita-cita, lebih cepat terpengaruh dengan perilaku teman lain, mudah menyerah.

  Untuk mengatasi permasalahan tersebut perlu adanya usaha dari berbagai pihak, seperti: pembina di asrama, orang tua dan terlebih siswi sendiri. Usaha-usaha yang dapat dilakukan, antara lain: memberikan bimbingan klasikal tentang pentingnya hidup dalam perencanaan, hal-hal negatif dari tidak menjalankan rencana yang telah disusun, dampak positif bila menjalankan rencana. Dengan bimbingan konsekwensi dengan rencana membuat hidup menjadi terarah, mereka semakin belajar untuk membiasakan hidup sesuai jadwal, semakin bisa mengatakan menjadi diri sendiri, siswi juga semakin belajar untuk berusaha lebih baik dari sebelumnya.

  Siswi sendiri perlu berusaha untuk mengatasi permasalahannya. Usaha-usaha yang dapat dilakukan, antara lain: mentaati aturan atau rencana yang telah disusun, berani mengatakan pada teman bila melaksanakan kegiatan diluar rencana yang telah disusun, belajar konsekwen dimulai dari hal-hal kecil.

  d) Saya belum mengenal berbagai macam pekerjaan yang ada di luar saya (item 71 skor 82,7%), Saya kurang mengenal berbagai macam pekerjaan yang ada karena saya tidak bertanya pada suster pembina atau guru BK di sekolah ( item 68 skor 87,5). Dan saya jarang mencari informasi mengenai berbagai macam pekerjaan lewat internet (item 66 skor 80,3%).

  Permasalahan siswi belum mengenal berbagai macam pekerjaan, kurang mengenal berbagai macam pekerjaan yang ada karena saya tidak bertanya pada suster pembina atau guru BK di sekolah dan jarang mencari dapat disebabkan oleh beberapa hal, antara lain: siswi kurang membaca buku yang berkaitan berbagai macam pekerjaan, guru mata pelajaran dan guru BK kurang memberi informasi mengenai macam-macam pekerjaan, siswi sendiri merasa belum perlu untuk mengenal karena masih dibangku SMA, siswi memiliki pemikiran bahwa orang lain akan memberikan informasi sehingga mereka tidak perlu membaca mengenai berbagai macam pekerjaan. Permasalahan tersebut dapat mengakibatkan siswi kurang maksimal dalam mempersiapkan diri dalam menjalani proses belajar, mengalami kesulitan dalam memilih pekerjaan, hanya mengikuti ajakan teman dalam memilih pekerjaan, menjadi pesimis, tidak mandiri.

  Untuk mengatasi permasalahan tersebut perlu adanya usaha dari berbagai pihak, seperti: pembina di asrama, orang tua dan terlebih siswi sendiri. Usaha-usaha yang dapat dilakukan, antara lain: memberikan bimbingan klasikal tentang pengenalan mengenai macam-macam pekerjaan, menyediakan informasi mengenai keuntungan dan kerugian dari masing-masing pekerjaan, mengarahkan siswi pada pekerjaan yang sesuai dengan kemampuanya. Dengan bimbingan tersebut, diharapkan siswi mengetahui keuntungan memotivasi diri untuk memasuki dunia pekerjaan yang diinginkan, belajar dengan tekun untuk mencapai cita-cita lewat pekerjaan yang kelak dipilihnya.

  Siswi sendiri perlu berusaha untuk mengatasi permasalahannya. Usaha-usaha yang dapat dilakukan, antara lain: mandiri dalam mengambil keputusan yang berkaitan dengan pekerjaan, terus belajar mengembangkan diri, semakin mampu menyesuaikan dengan pekerjaan tersebut mulai dari sekarang, mempelajari macam-macam pekerjaan berbagai sumber, siswa mampu memilih sesuai kemampuan.

BAB V USULAN TOPIK-TOPIK BIMBINGAN KELOMPOK DAN CONTOH SATUAN LAYANAN BIMBINGAN DI ASRAMA STELLA DUCE SUPADI YOGYAKARTA SEBAGAI IMPLIKASI HASIL PENELITIAN Dalam bab ini disajikan usulan topik-topik bimbingan klasikal dan contoh Satuan Pelayanan Bimbingan untuk membantu menyelesaikan permasalahan

  penyesuaian diri siswi asrama Stella Duce Supadi tahun ajaran 2009/2010 sebagai implikasi hasil penelitian. Topik-topik yang diusulkan mengacu pada permasalahan yang sangat intens dan intens dialami siswi berdasarkan perolehan pemilihan skor terbanyak.

  A.

  Usulan Topik-topik Bimbingan Kelompok untuk Para Siswi Asrama

  Stella Duce Supadi Yogyakarta S etelah mempelajari hasil penelitian, disusun usulan topik-topik

  bimbingan kelompok yang sesuai untuk menyelesaikan permasalahan penyesuaian diri para siswi asrama Stella Duce Supadi Yogyakarta. Usulan topik-topik bimbingan kelompok tidak disusun berdasarkan tingkatan kelas, melainkan secara bersama karena di asrama tidak ada penggolongan tingkat atau kelas.

  Usulan topik-topik bimbingan kelompok yang disusun berdasarkan item- item permasalahan penyesuaian diri yang memperoleh skor paling tinggi meliputi: aspek belajar dan karir. Dapat dilihat dalam tabel 9.

  72 Tabel 9

  d.

  Psikologi Umum.

  Bandung: Pustaka Setia.

  3 Siswi semakin memahami dan melaksanakan kegiatan sosial yang dilaksanakan di lingkungan asrama dan gereja. (item 38)

  Melaksanakan kegiatan sosial.

  a.

  Apa itu terlibat aktif b.

  Pengertian kegiatan sosial c. Akibat-akibat bila tidak terlibat aktif dalam kegiatan sosial.

  Cara-cara agar dapat terlibat aktif dalam kegiatan sosial.

  45 menit Belajar Experien-tial learning, Tanya jawab,Refleksi a.

  e.

  Dampak positif ikut ambil bagian dalam kegiatan sosial.

  45 menit Sosial Permainan Sharing, Tanya jawab, Pemberian tugas a.

  Widarso, W. 1997.

  Kiat sukses bergaul. Kanisius: Yogyakarta.

  b.

  Khoo Adam, 2007. I Am Gifted So Are You!; Saya Berbakat.

  Rukiyanto Agus, SJ, Pendidikan Karakter, 2009, Yogyakarta: Kanisius b. Sobur, Alex. 2003.

  Cara-cara untuk memahami mata pelajaran.

  Usulan Topik-topik Bimbingan Klasikal Bagi Siswi Asrama Stella Duce Supadi Yogyakarta No Tujuan Pelayanan Topik Sub Topik Alokasi Bidang Bimbingan Metode Sumber Waktu

  Dampak positif bertanya.

  1 Siswi semakin mampu memahami dan menyadari pentingnya bertanya. (item 47 dan 58)

  Pentingnya Bertanya a.

  Pengertian bertanya b.

  Pentingnya bertanya c. Cara-cara untuk bertanya.

  d.

  Dampat negatif dari tidak bertanya.

  e.

  2 x 45 menit Belajar Latihan menyusun pertanyaan, Latihan mengajukan pertanyaan, Sharing Permainan.

  Pentingnya memahami setiap mata pelajaran c.

  a. file:///D:/PPL_SD/bag

  aimana-cara-untuk-- bertanya.html

  b.

  Centi, J Paul. 2008.

  Mengapa Rendah Diri. Yogyakarta: Kanisius.

  2 Siswi semakin mampu memahami dan mengerti setiap mata pelajaran. (item 49)

  Cara tepat memahami setiap mata pelajaran a.

  Pengertian memahami mata pelajaran b.

  Anda Juga!. Elex Media Komputindo. Jakarta

  Alokasi Bidang

No Tujuan Pelayanan Topik Sub Topik Waktu Metode Sumber

Bimbingan

  4 Siswa semakin Yakin pada diri

  a. 45 menit Pribadi Latihan a.

  Makna keyakinan dan Wharton, S. How to feel yakin terhadap sendiri kemampuan. menyusun great about yourself: kemampuan yang b. pertanyaan, jadikan diri anda luar

  Dampak negative bila dimilikinya. tidak yakin dengan Latihan biasa.Kanisius: (item 13) kemampuan sendiri. mengajukan Yogyakarta.

  c. pertanyaan di b. Cara tepat yakin pada R. Mulyatiningsih, dkk. kemampuan yang depan umum, 2004. Bimbingan pribadi, dimiliki.

  Refleksi, sosial, belajar dan karir.

  d. evaluasi Jakarta: Grasindo. Mengenal berbagai macam kemampuan pada diri pribadi.

  5 Siswi dapat Melaksanakan

  a. 45 menit pribadi Permainan a.

  Apa itu piket? R. Mulyatiningsih, dkk. memahami dan piket b.

  Sharing, 2004. Bimbingan pribadi, Pentingnya membiasakan diri melaksanakan piket di Pemberian sosial, belajar dan karir. untuk menjalankan asrama. tugas, Jakarta: Grasindo. piket atau tugas di c. refleksi, b. Akibat negative bila tidak

  Khoo Adam, 2007. I Am asrama. melaksanakan piket di evaluasi Gifted So Are You!; Saya (item 10) asrama.

  Berbakat. Anda Juga!. Elex Media Komputindo. Jakarta

  6 Siswi semakin Mengenal

  a. 45 menit pribadi Diskusi, Khoo Adam, 2007. I Am Pentingnya mengenal mengetahui dan kelebihan kelebihan. Tanya jawab, Gifted So Are You!; Saya mengembangkan b.

  Experien-tial Berbakat. Anda Juga!. Elex Akibat negatif tidak kelebihan-kelebihan mengenal kelebihan learning, Media Komputindo. yang dimiliki.

  c.

  Refleksi, Jakarta Tips agar mengenal (item 4) kelebihan. evaluasi

  73

  74 No Tujuan Pelayanan Topik Sub Topik

  a.

  8 Kebiasaan yang efektif.

  b.

  Rukiyanto Agus, SJ, Pendidikan Karakter, 2009, Yogyakarta: Kanisius.

  c.

  Wharton, S. How to feel great about yourself: jadikan diri anda luar biasa.Kanisius: Yogyakarta.

  9 Siswa dapat memahami dan membiasakan hidup nyaman bersama orang lain. (item 27)

  Membangun hubungan yang nyaman dengan orang lain.

  Pentingnya hidup nyaman bersama orang lain.

  45 menit Pribadi Sharing, Tanya jawab, Permainan Refleksi, evaluasi a.

  b.

  Akibat negatif bila tidak hidup nyaman bersama orang lain.

  c.

  Siswa menemukan sendiri cara-cara untuk membangun hubungan yang nyaman dengan orang lain.

  45 menit Sosial Sharing, Tanya jawab, Experien- tial learning, Refleksi, evaluasi a.

  Renita & Yusup,2006 Bimbingan dan Konseling di SMA. Jakarta:

  Erlangga.

  b.

  Covey, SR.1994.

  Kiat-kiat menjalankan kegiatan sesuai kemampuan.

  Alokasi Bidang Bimbingan Metode Sumber Waktu

  Sharing, Tanya jawab, Permainan Refleksi, evaluasi a.

  7 Siswi semakin mengetahui dan mengembangkan kelebihan-kelebihan yang dimiliki. (item 14)

  Mengenal kekurangan a.

  Pentingnya mengenal kekurangan.

  b.

  Akibat negatif tidak mengenal kekurangan c.

  Tips agar mengembangkan kekurangan menjadi kelebihan.

  45 menit Pribadi

  Covey, SR.1994.

  c.

  7 Kebiasaan yang efektif.

  b.

  Wharton, S. How to feel great about yourself: jadikan diri anda luar biasa.Kanisius: Yogyakarta.

  8 Siswi semakin mampu memahami dan melaksanakan kegiatan sesuai dengan kemampuannya. (item 18)

  Melaksanakan kegiatan sesuai kemampuan a.

  Pentingnya melaksanakan kegiatan sesuai kemampuan.

  b.

  Akibat-akibat bila melaksanakan kegiatan diluar kemampuan.

  Wharton, S. How to have gread relationship: menjadi teman yang luar biasa. Kanisius: Yogyakarta.

  

Tujuan Pelayanan Topik Sub Topik Bidang Metode Sumber

No

  Alokasi Bimbingan Waktu

  10 Siswi semakin mampu Menerima

  a. 45 menit Sosial Sharing, a.

  Pentingnya menerima R. Mulyatiningsih, dkk. memahami dan pendapat pendapat orang lain. Tanya 2004. Bimbingan pribadi, menerima pendapat orang lain b.Dampak positif jawab, sosial, belajar dan karir. orang lain. menerima pandapat Experien- Jakarta: Grasindo. (item 29) orang lain. tial learning,

  b. G. Batasina. 2009. Curhat c. Refleksi, yuk!. Jakarta: BIP. Cara mudah menerima pendapat orang lain. evaluasi

  11 Siswa dapat memahami Bertanya

  a. 45 menit Belajar Sharing, a.

  Menyadari pentingnya R. Mulyatiningsih, dkk. dan mengajukan siapa takut! bertanya. Tanya 2004. Bimbingan pribadi, pertanyaan mengenai b. jawab, sosial, belajar dan karir. Akibat negative bila hal-hal yang belum orang malu bertanya. Experien- Jakarta: Grasindo. jelas dalam c. tial learning,

  b. Shipler, F,J. 2006. Rasa Siswa menyusun dan menjalankan tugas. mengajukan Refleksi, malu sebagai hambatan

  (item 51) pertanyaan. evaluasi kemajuan. Kanisius: Yogyakarta.

  12 Siswi semakin mampu Jujur dengan

  a. 2 x 45 Karir Sharing, b.

  Makna hidup jujur R. Mulyatiningsih, dkk. mengembangkan dan kesalahan

  b. menit Tanya 2004. Bimbingan pribadi, Pentingnya hidup jujur melaksanakan hidup c. jawab, sosial, belajar dan karir. Akibat-akibat bila jujur. tidak jujur Experien- Jakarta: Grasindo.

  (item 61) d. tial learning,

  b. G. Batasina. 2009. Curhat Kiat-kiat mengembangkan Refleksi, yuk!. Jakarta: BIP. hidup jujur. evaluasi

  75

  76 No Tujuan Pelayanan Topik Sub Topik

  c.

  Curhat yuk!. Jakarta: BIP.

  b.

  R. Mulyatiningsih, dkk.

  2004. Bimbingan pribadi, sosial, belajar dan karir. Jakarta: Grasindo.

  15 Siswi semakin mampu memahami dan mengenal berbagai macam pekerjaan. (item 71, 66 dan 68)

  Macam- macam pekerjaan a.

  Apa itu pekerjaan b.

  Dampak positif mengenal berbagai macam pekerjaan.

  Berbagai macam pekerjaan yang ada di dunia.

  Tanya jawab, Experiential learning Refleksi, evaluasi a.

  d.

  Cara menemukan pekerjaan sesuai kemampuan.

  2 x 45 menit Karir Sharing,

  Tanya jawab, Experiential learning Refleksi, Evaluasi a.

  VCD: Movie Tentang contoh bakat- bakat.

  b.

  R. Mulyatiningsih, dkk.

  2004. Bimbingan pribadi, sosial, belajar dan karir. Jakarta: Grasindo.

  G. Batasina. 2009.

  2 x 45 menit Karir Sharing,

  Alokasi Bidang Bimbingan Metode Sumber Waktu

  Tanya jawab, Experiential learning Refleksi, permainan, evaluasi a.

  13 Siswi semakin mampu menentukan dan mengembangkan cita- cita sesuai kemampuannya. (item 67 dan 62) Cita-citaku a.

  Pengertian cita-cita.

  b.

  Macam-macam cita-cita c. Manfaat cita-cita d.

  Usaha untuk menggapai cita-cita.

  e.

  Menemukan cita-cita sesuai kemampuan.

  2 x 45 menit Karir Sharing,

  R. Mulyatiningsih, dkk.

  Kiat-kiat agar dapat menjalankan aktivitas sesuai rencana.

  2004. Bimbingan pribadi, sosial, belajar dan karir. Jakarta: Grasindo.

  b. G. Batasina. 2009.

  Curhat yuk!. Jakarta: BIP.

  14 Siswi semakin mampu menyusun dan mempraktekkan rencana yang telah disusun. (item 69 dan 75)

  Menjalankan aktivitas sesuai rencana a.

  Makna rencana b.

  Pentingnya hidup dalam perencanaan c.

  Akibat-akibat bila tidak menjalankan aktivitas sesuai rencana.

  d.

  c. Khoo Adam, 2007. I Am Gifted So Are You!; Saya Berbakat. Anda Juga!. Elex Media Komputindo: Jakarta.

B. Contoh Satuan Pelayanan Bimbingan

  Berikut ini disajikan contoh satuan pelayanan bimbingan untuk membantu siswi mengatasi permasalahan penyesuaian diri dalam belajar yang dialaminya.

  

Pengaturan Waktu

  A. Pokok Bahasan : Pengaturan Waktu

  B. Bidang Bimbingan : Belajar

  C. Jenis Layanan : Bimbingan Klasikal

  D. Fungsi Layanan : Pemahaman dan Pengenalan

  E. Tujuan Umum : Siswi dapat memahami dan membiasakan mengatur waktu dalam mengerjakan tugas.

  F. Tujuan Khusus: Setelah mengikuti kegiatan ini peserta diharapkan dapat: 1.

  Spesifik: Mengatur waktu mereka dengan baik.

2. Global: Mengisi waktu yang ada sebaik-baiknya.

  G. Sasaran Pelayanan: -

  H. Materi Pelayanan:

  1. Maksud pengaturan Waktu

  2. Cara-cara pengaturan waktu

  I. Metode, Kegiatan dan Langkah-langkah: 1.

  Metode: Ceramah singkat, diskusi kelompok 2. Kegiatan: Permainan, mennyusun jadwal, refleksi

  J. Tempat Penyelenggaraan : Kelas K. Waktu Penyelenggaraan : 1x45 menit L. Penyelenggara Pelayanan : Praktikan M. Pihak-pihak yang Disertakan dalam Penyelenggaraan Pelayanan dan Peranannya Masing-masing : - N. Alat : Selembar kertas HVS O. Evaluasi:

1. Spesifik: a.

  Apa yang kamu dapatkan setelah mengikuti kegiatan ini ? b.

  Apa yang akan kamu lakukan setelah mengikuti kegiatan ini ?

  2. Global: Tuliskanlah/identifikasikanlah manfaat yang Anda peroleh dengan mengikuti kegiatan yang dilakukan! P. Rencana Tidak Lanjut:

  Peserta diminta memiliki jadwal sehari-hari sehingga aktivitas dapat berjalan dengan seimbang. Q. Catatan Khusus: - R. Sumber (Daftar Pustaka):

  Batasina Kristine,2009.CURHAT YUK:Caritahu segala hal tentang dirimu !.Bhuana Ilmu Polpuler Kelompok Gramedia.Jakarta www.kapanlagi/waktu/.com. Kamis, 2 Juli 2009 16:39

  Yogyakarta, 6 Oktober 2010 Mengetahui, Pembina Asrama Peneliti (______________________) (____________________)

  

LECTURE

Betapa seringnya kita mendengar pepatah yang mengatakan 'Waktu Adalah Uang. Tapi sebenarnya berapa banyak diantara kita yang benar-benar dapat memanfaatkan waktu yang kita miliki dengan sebaik-baiknya? Sebenarnya, jika kita ingin mengatur kehidupan kita dan membuatnya menyenangkan, sebagai permulaan yang kita butuhkan adalah mengatur waktu. Tak perlu dipertanyakan lagi, pengaturan waktu yang efektif merupakan hal mendasar untuk lingkup berbagai wilayah kehidupan.

  Kebanyakan ahli sepakat bahwa sukses merupakan hasil dari kebiasaan. Oleh sebab itu, langkah pertama yang harus dilakukan adalah memperlancar bagaimana Anda menggunakan waktu, yakni dimulai dengan kebiasaan Anda (kontrol diri). Dan kebiasaan ini dimulai sebagai pembuatan keputusan secara sadar.

  Bagaimana kamu menghabiskan waktumu? ………………………………………………………………………………… Sadari kapan kamu menghabiskan waktumu dengan sia-sia? ………………………………………………………………………………… Ketahuilah kapan kamu produktif?

  Manajemen Waktu, Kunci Utama Mencapai Sukses

  Ing a t: Sekali Anda bisa mengatur waktu, seterusnya kebiasaan bagus ini jadi hal alami. Dalam

banyak kasus, sukses bukan dihasilkan dari hal yang tak biasa, tapi lebih sebagai hasil dari

kemampuan seseorang untuk 'menguasai keduniawian'. Dengan konsisten menampilkan seluruh tugas

penting yang belum sempurna, sejalan dengan waktu aktivitas ini akan berubah jadi pencapaian

besar.

  Berikut beberapa cara sederhana yang dapat diikuti untuk melakukan pengaturan waktu yang lebih baik: a. Jangan Menundah Tugas.

Lakukan saat ini juga. Saat kita menunda sesuatu, itu berarti membunuh daya gerak pencapaian pada

tujuan saat ini dan menghalangi kesempatan melakukan kegiatan yang lain lantaran waktu yang tidak teratur.

  Cara untuk mencegah penundaan adalah………….

     Dengan merancang jadwal untuk tujuan yang harus dicapai.   Menghindari jadwal terakhir membawa penundaan yang   diatur tujuan sebagai perantara untuk mencapai setingkat   demi setingkat menuju tujuan.

      Dengan  merancang  jadwal  untuk  tujuan  yang  harus  dicapai.  Menghindari  jadwal  terakhir  membawa  penundaan  yang  diatur  tujuan  sebagai  perantara  untuk mencapai setingkat demi setingkat menuju tujuan.

  b. Lacak Aktivitas Anda. Cara terbaik untuk merekam aktivitas Anda sepanjang hari adalah dengan mendata apa yang Anda lakukan.

  Kurangi waktu yang Anda gunakan untuk bertelepon, membolak-balik majalah atau surfing di web yang tak

  c. Berkonsentrasi Pada Hasil. Banyak orang melewatkan waktu mereka sepanjang hari dengan aktivitas yang hiruk-pikuk, tapi hanya sedikit membuahkan hasil. Itu semua terjadi karena mereka tak berkonsentrasi pada hal yang benar. Jangan terkecoh antara bekerja secara efisien dan bekerja secara efektif. Aktivitas dapat memang kadang dapat membebaskan dari tekanan tapi itu tak mencapai tujuan Anda. Dengan lebih berkonsentrasi pada sedikit preoritas 'utama' secara teratur. Anda dapat mencapai lebih banyak hal dalam waktu singkat.

  d. Gunakan Waktu Perjalanan Dengan Bijaksana.

  Sangat mudah untuk mengabaikan waktu yang dilakukan untuk menempuh perjalanan dalam penafsiran manajeman waktu.

  e. Bersikap Tegas.

  Belajarlah berkata tidak pada orang lain. Waktu Anda sangat berharga. Jadi jangan biarkan orang lain menentukan   atau memanfaatkan Anda untuk kepentingan rencana mereka.

  

Batasi gangguan sebisa mungkin. Tutup pintu Anda, matikan nada dering telepon atau minta

dengan terus terang agar Anda tidak diganggu.

  f. Jadwalkan Waktu Untuk Bersantai. Saat kita mengatur waktu dan belajar Anda, pastikan untuk menyisihkan saat untuk bersantai. Tugas pertama Anda untuk dapat mengatur waktu dengan lebih baik adalah….

  Membuat mendaftar seberapa banyak waktu yang Anda buang sia-sia selama sehari, dari

sana atur ulang aktivitas Anda untuk melakukan yang lebih maksimal dalam setiap menit. Lebih

  

dengan benar hanya jika Anda keukeh dengan itu. Nah, dengan mengikuti tips ini kami harap Anda

akan memiliki lebih banyak ruang untuk melakukan hal-hal yang ingin Anda capai dalam hidup

Anda.

  

Tugas: Setiap siswi menyusun jadwal masing-masing, setelah itu setiap siswa membacakan. Lalu

teman-teman memberikan masukan, saran yang bermanfaat bagi penyusun.

  Good luck

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN Bab ini memuat ringkasan, kesimpulan, dan saran-saran. A. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, dapat disimpulkan

  bahwa: 1.

  Tingkat permasalahan penyesuaian diri siswi asrama Stella Duce Supadi tahun ajaran 2009/2010 berada pada taraf intens dan cukup intens sehingga perlu ada perhatian dan bimbingan yang baik dan efektif dari pembina asrama dan orang tua.

  2. Permasalahan penyesuaian diri yang sangat intens dan intens dialami siswi berdasarkan item permasalahan penyesuaian diri siswi asrama Stella Duce Supadi tahun ajaran 2009/2010 meliputi: Sangat intens terdapat pada (1) aspek belajar dengan item 47 (92,8%), item 49 (94,0%), item 58 (90,4%) dan (2) aspek sosial dengan item 38 (92,8%). Sedangkan intens terdapat pada (1) aspek pribadi: item 13 (83,3%), item 10 (85,7%), item 4 (82,1%), item 14 (81,5%), item 18 (85,7%). (2) aspek sosial berada pada item 27 (88,6%) dan item 29 (85,1%), (3) aspek belajar berada pada item 51 (83,9%), (4) aspek karir berada pada item 61 (83,9%), item 67 (87,5%), item 69 (80,3%), item 71 item 75 (88,0%). Berdasarkan hasil perolehan skor item tertinggi tersebut maka disusunlah topik-topik bimbingan klasikal bagi para siswi asrama Stella Duce Supadi Yogyakarta guna menyelesaikan permasalahan penyesuain diri yang dialaminya.

B. Saran-saran dan Keterbatasan

  Penelitian ini masih jauh dari sempurna dan memiliki beberapa kelemahan yang ada, maka peneliti mengajukan beberapa saran yang dapat dijadikan evaluasi dan perbaikan: 1.

  Saran- saran a.

  Bagi Pembina Asrama Supadi Pembina asrama Stella Duce Supadi Yogyakarta tahun ajaran 2009/2010 kiranya perlu memberikan pendampingan yang semakin baik lagi, terutama dalam bidang belajar dan bidang sosial baik yang bersifat pribadi dan kelompok sesuai dengan usulan topik bimbingan klasikal yang telah disusun.

  b.

  Bagi Pengajar di Asrama Pengajar sebaiknya meningkatkan pendekatan diri kepada para siswa dan menyampaikan materi dengan menarik sehingga siswa semakin mengembangkan diri dalam belajar dan menjalin relasi dengan sesama.

  c.

  Saran bagi peneliti lain

  1) Peneliti disarankan untuk mempertimbangkan perumusan aspek-aspek penyesuaian diri serta dalam menentukan item positif dan negatif agar didapatkan informasi yang lebih detail mengenai persoalan yang diteliti.

  2) Dapat menggunakan penelitian ini untuk lebih memastikan lagi, mengapa masalah-masalah penyesuaian diri di bidang belajar dan sosial dapat terjadi.

  3) Hendaknya teliti dalam membuat skala penelitian, peneliti disarankan mengembangkan indikator-indikator setiap aspek penyesuaian diri, agar item-item dari setiap aspek tetap sejalan.

2. Keterbatasan Penelitian a.

  Item pernyataan yang dibuat dalam penelitian ini, tidak mengungkap kehidupan di asrama.

  b.

  Item pernyataan yang dibuat dalam penelitian ini, tidak mengungkap situasi psikologis siswa penghuni asrama Supadi.

DAFTAR PUSTAKA

  Adesla, Veronica. (2007). Uji Analisi Psikometri Tes 3MS (Modified Mini-Mental State Test) Pada Lansia di Indonesia. Tesis. Jakarta: Unika Atma Jaya. Ali, M. dan Asrori, M. (2005). Psikologi remaja; Perkembangan Peserta Didik.

  Jakarta: Bumi Askara. Azwar, S. (2008). Penyusunan Skala Psikologis. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Azwar, S. (2008). Reliabilitas dan Validitas. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Depdikbud. (1995). Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Tim Penyusun Kamus.

  Desmita. (2009). Psikologi Perkembangan Peserta Didik; Panduan Bagi Orang .

  Tua dan Guru Dalam Memahami Psikologi Anak SD, SMP dan SMA Bandung: Rosda Karya.

  Fatimah, Enung. (2006). Psikologi Perkembangan; Perkembangan Peserta Didik.

  Bandung: Pustaka Setia. Geru, Farida. (2002). Penyesuaian Diri Siswa Asrama Puteri Kelas I SMU Skripsi.

  Pengudi Luhur Van Lith Muntilan Tahun Pelajaran 2001/2002.

  Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma. Gunarsa, D. Singgih. (2007). Psikologi Perkembangan. Jakarta: Gunung Mulia. Hurlock, B. Elizabeth. (2004). Perkembangan Anak (Terjemahan). Jakarta: Erlangga.

  Hurlock, B. Elizabeth. (2005). Psikologi Perkembangan; Suatu Pendekatan Rentang Kehidupan (Terjemahan). Jakarta: Erlangga. Hastuti, S. Maria. (2007). Masalah-masalah yang secara Intens Dialami oleh

  Siswa-siswi kelas VII SMP Santa Maria Banjarmasin Tahun Ajaran 2007/2008 dan Suatu Usulan Topik-topik Bimbingan Klasikal . Skripsi.

  Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma. Kartono, Kartini. (2000). Psikologi Remaja. Bandung: Mandar Maju. Kumara, A & Andayani, B. (1997). Ketrampilan Mengarang Siswa: Suatu Studi Ekplorasi . Jurnal Psikologi. Yogyakarta: Universitas Gajah Madah. Lelanawati, Y.E. (2004). Bidang Masalah yang secara Intens Dialami para Siswa

  kelas I dan II SLTP Kanisius Temanggung Tahun Pelajaran 2003/2004 dan Implikasinnya bagi Program Bimbingan Klasikal .

  Skripsi. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma. Masidjo, Ign. (2006). Materi Ajar: Statitik Pendidikan. Yogyakarta. Bina Dharma

  Mulia Mappiare, Andi. (1982). Psikologi Remaja. Surabaya: Usaha Nasional.

  Mulyatiningsih, R & dkk. (2004). Bimbingan Pribadi-Sosial, Belajar dan Karir; Petunjuk Praktis Diri Sendiri untuk Siswa SMP dan SMA .

  Jakarta: Grasindo. Nurihsan, J.A.,H, & Sudianto Akur. (2005). Manajemen Bimbingan Dan Konseling di SMA . Jakarta: Grasindo.

  Pedoman Penulisan Skripsi . (2004). Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma.

  Prayitno. 1997. Dasar-dasar Bimbingan dan Konseling. Jakarta: PT Rineka Cipta. Santrock, John, W. (2003). Live Span Develepment; Perkembangan Masa Hidup.

  Edisi ketiga. Alih bahasa : Achmad Chusairi. Jakarta. Sobur, Alex. (2003). Psikologi Umum. Bandung: Pustaka Setia Sundari, Siti. (2005). Kesehatan Mental;Dalam Kehidupan. Jakarta: Rineka Cipta.

  Suparmi & Hastuti, L.W. Perbedaan Presepsi Anak pada Mata Pelajaran Matematika Ditinjau dari Keikutsertaan dalam Kursus Sempoa; Psikodimensia , 2002, 22.-23.

  Vembriarto, S.T. (1990). Sosiologi Pendidikan. Yogyakarta: Andi Offset. Winkel, S. W & Hastuti, S.M.,M. (2006). Bimbingan dan Konseling; Di Institusi Pendidikan . Yogyakarta: Media Abadi.

  Zuriah, Nurul. (2007). Metodologi Penelitian Sosial dan Pendidikan; Teori dan Aplikasi. Jakarta: Bumi Askara.

  91

   

No Pernyataan Alternatif Jawaban

SS S TS STS

  Saya belum dapat mengenal kelebihan-kelebihan yang saya miliki.

  1      

  Saya percaya diri dalam menyelesaikan soal-soal yang di berikan oleh guru di kelas.

  2          

  3           Saya jarang mengerjakan tugas-tugas yang ada di asrama.

  4           Saya mengetahui kelebihan-kelebihan yang saya miliki.

  5   Saya kesulitan dalam melakukan aktivitas karena saya tidak tahu        

  potensi saya.

  6       Saya mampu menjalankan tugas doa di asrama.

  Tanpa disuruh orang lain, saya belum dapat menjalankan setiap tugas yang ada di sekolah atau di asrama.

  7      

  8   Saya selalu mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh guru        

  tepat waktu.

  9           Saya tidak mau mengakui kekurangan saya.

  10           Saya menjalankan piket di asrama.

  11           Saya menyimpan kejengkelan saya dalam hati.

  Saya selalu mengelola perasaan benci yang saya alami walaupun mengecewakan.

  12          

  Saya tidak yakin terhadap kemampuan saya dalam melakukan aktivitas.

  13          

  14   Saya mengetahui kekurangan saya sehingga saya dapat bertindak    

  dengan benar.

  15           Saya menutupi rasa benci yang saya alami terhadap teman.

  Saya dapat mengungkapkan kejengkelan saya pada teman yang menyakiti saya.

  16          

  17           Saya menunda-nunda tugas yang diberikan oleh guru di sekolah.

  No   Altenatif  jawaban  Pernyataan SS S TS STS    

  18   Saya selalu melaksanakan kegiatan dengan baik sesuai dengan        

  92

    kemampuan yang saya miliki.

  Saya kurang percaya diri dalam menjalankan tugas yang disuruh oleh guru di sekolah.

  19      

  20

  Saya selalu mengisi waktu luang untuk melakukan kegiatan yang        

  sesuai dengan kemampuan saya.

  Saya malas untuk terlibat dalam menjalankan kegiatan sosial di

  21          

    asrama.

  Saya siap memimpin teman-teman dalam menjalankan tugas doa di asrama.

  22          

  23   Saya hanya senang mengerjakan tugas sendiri.     24   Saya dapat menerima teman yang berbeda agama dengan saya di    

    sekolah.

  25           Saya tidak mau jadi pemimpin karena malu dengan teman-teman.

  26   Saya dapat mentoleransi teman-teman yang merusak barang saya.     27

  Saya lebih nyaman tinggal sendiri dari pada bersama orang lain.        

28  

          Saya bersedia bekerja sama dengan siapa saja.

  Saya selalu mengomentari teman saya yang tidak sependapat dengan saya.

  29          

  30   Saya yakin dengan bekerja sama semua pekerjaan dapat    

  terselesaikan dengan cepat.

  Saya jarang mengikuti kegiataan-kegiatan sosial yang di laksanakan di sekolah.

  31          

  32

  Saya bergaul akrab dengan teman-teman dan suster pembina di        

  asrama.

      No

  Alternatif

  Pernyataan  jawaban

SS   S   TS   STS  

  33

  Saya hanya bergaul dengan teman-teman tertentu saja baik di        

  asrama maupun di sekolah.

  Saya sering menjadi pemimpin dalam kegiatan tertentu yang di

  34          

   

  93

  saya sering mengalami kebingungan karena tidak dapat mengambil keputusan dengan baik.

  42  

  Saya bertanya pada guru bila saya belum memahami materi yang di sampaikan oleh guru dengan baik.

         

  43   Saya sering kesulitan mengikuti aturan yang ada di asrama.     44   Saya percaya bahwa dengan bertanya saya dapat menemukan

  jawaban dari kesulitan saya.

         

  45  

               

  Saya bingung mengatur waktu karena tugas yang terlalu banyak.

  No   Pernyataan Alternatif  jawaban  SS   S   TS   STS  

  46  

  Saya dapat menjalankan aturan yang ada di asrama dengan baik.

        47

  Saya tidak mau bertanya karena takut dianggap bodoh.        

   

  48   Saya selalu memikirkan keuntungan dan kerugian dalam

  mengambil keputusan.

             

         

  41  

     

         

  35  

  Saya merasa minder bila bekerja sama dengan teman tertentu di asrama.

         

  36   Saya tidak memilih-milih teman dalam membangun persahabatan

  dengan seseorang.

     

  37  

  Saya malu jadi pemimpin karena takut salah berbicara di depan teman-teman.

             

         

  38  

  Saya ambil bagian dalam kegiatan sosial yang dilaksanakan di lingkungan asrama maupun gereja.

         

  39   Saya cuek dengan teman yang berbeda agama dengan saya

  disekolah.

     

  40  

  Saya terlibat aktif dalam kegiatan sosial yang dilaksanakan di asrama.

  49 Saya belum dapat memahami setiap mata pelajaran yang

  94

         

  Saya kurang memiliki pengetahuan mengenai berbagai informasi baru.

             

    No   Pernyataan Alternatif  jawaban  SS   S   TS   STS  

  60   Saya mampu menjalankan tugas-tugas yang ada di asrama karena

  saya dapat mengambil keputusan dengan baik.

         

  61  

  Saya menutupi kesalahan yang saya buat agar suster pembina dan teman-teman tidak memarahi saya.

       

     

  62  

  Saya mempunyai cita-cita yang ingin saya capai dari belajar.

     

  63  

  Saya hanya pasrah pada nasib saja.

         

       

  64  

  Saya berusaha untuk belajar dengan baik agar mencapai tujuan

  59  

  Saya selalu mencari jalan keluar dengan bertanya pada teman atau pembina asrama bila mengalami kesulitan.

   

  53  

  50  

  Saya selalu mengatur waktu yang ada dengan baik agar saya tidak membuang waktu begitu saja.

     

  51  

  Saya malu bertanya pada teman bila saya mengalami kesulitan dalam mengerjakan tugas.

     

  52  

  Saya berusaha untuk belajar agar pengetahuan saya semakin banyak.

         

  Saya cuek dengan materi yang disampaikan oleh guru walaupun saya kurang memahaminya.

  58  

         

  54  

  Saya mempelajari berbagai macam hal agar pengetahuan saya bertambah.

       

  55

  Saya mengambil keputusan tanpa berpikir terlebih dahulu.        

56  

  Saya dapat mengerti dengan baik setiap materi yang disampaikan oleh guru di kelas.

         

  57   Saya tidak mempelajari berbagai pengetahuan yang umum.

         

         

  95

   

  Saya tidak mau memikirkan persiapan untuk masuk di dunia kerja karena waktunya tidak tepat.

  65      

  Saya mencari informasi mengenai berbagai macam pekerjaan lewat internet.

  66          

  67       Saya belum memiliki cita-cita yang jelas.

  Saya mengenal berbagai macam pekerjaan yang ada karena saya selalu bertanya pada suster Pembina atau guru BK di sekolah.

  68      

  Saya kurang dapat menjalankan rencana yang telah saya buat dengan baik.

  69          

  Saya belajar dengan giat agar saya dapat memasuki dunia pekerjaan sesuai dengan bakat saya.

  70          

  71

  Saya belum mengenal berbagai macam pekerjaan yang ada di luar        

  saya.

  Saya menolak teman dengan baik bila saya diajak bepergian tanpa

  72      

    ada rencana yang jelas.  

  No Alternatif

  

  Pernyataan  jawaban 

SS S TS STS        

  73   Saya berpikir bahwa tidak perlu memiliki cita-cita karena orang    

  tua sudah mempersiapkan masa depan saya.

  Saya menjalankan setiap rencana yang telah saya buat dengan

  74          

    baik.    

  Saya menjalankan kegiatan diluar dari rencana yang telah saya buat.

  75          

  76   Saya mempersiapkan diri dengan baik agar saya tidak mengalami    

  kesulitan saat memasuki dunia pekerjaan.

  Saya sering berbohong pada suster pembina dengan berbagai alasan agar suster dapat mengijinkan saya berpergian dengan teman.

  77          

  78       Saya jarang membohongi teman-teman yang ada di asrama.

  96

   

  Saya tidak mau tahu banyak mengenai berbagai macam pekerjaan yang ada.

  79      

  80

  Saya selalu jujur kepada suster pembina bila saya melanggar        

  peraturan di asrama.

   

 

 

  98

  99

  100

  101

  102

  104

  105

  106

  108

  109

  110

  111

  112

  113

  114

  115

  116

  117

  118

  119

  120

  121

  122

  123

  124

  125

  126

  127

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

DESKRIPSI KECERDASAN EMOSIONAL SISWI SMA PENGHUNI ASRAMA PUTRI SANTA MARIA MALANG TAHUN AJARAN 20032004 DAN IMPLIKASINYA TERHADAP USULAN TOPIK-TOPIK BIMBINGAN KELOMPOK
0
0
114
TINGKAT PERILAKU AGRESI F SISWA KELAS VIII SMP STELLA DUCE 2 YOGYA KARTA TAHUN AJARAN 20062007 DAN IMPLIKASINYA TERHADAP USULAN TOPIK-TOPIK BIM BINGAN KLASIKAL SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Sa tu Syarat Mempero leh Gela r Sa rjana Pendid ikan P ro
0
0
91
RESPON TERHADAP STRES SISWA-SISWI KELAS II SLTP STELLA DUCE 2 YOGYAKARTA TAHUN AJARAN 20052006
0
1
133
DESKRIPSI KECERDASAN INTRAPERSONAL PARA SISWI YANG TINGGAL DI ASRAMA PUTRI STELLA DUCE SAMIRONO TAHUN AJARAN 20072008 DAN IMPLIKASINYA TERHADAP USULAN PROGRAM BIMBINGAN PRIBADI
0
0
180
DESKRIPSI TINGKAT KEPERCAYAAN DIRI SISWA-SISWI KELAS VIII SMP NEGERI I TEPUS GUNUNG KIDUL YOGYAKARTA TAHUN AJARAN 20072008 DAN IMPLIKASINYA TERHADAP USULAN TOPIK-TOPIK BIMBINGAN KLASIKAL SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar S
0
0
134
DESKRIPSI MOTIVASI BELAJAR SISWA KELAS VII SMP BOPKRI 2 YOGYAKARTA TAHUN AJARAN 20062007 DAN IMPLIKASINYA TERHADAP USULAN TOPIK-TOPIK BIMBINGAN SKRIPSI
0
0
115
DESKRIPSI KONSEP DIRI PARA SISWA KELAS XI SMA PANGUDI LUHUR SEDAYU YOGYAKARTA TAHUN AJARAN 20082009 DAN IMPLIKASINYA TERHADAP USULAN TOPIK-TOPIK BIMBINGAN
0
0
170
DESKRIPSI FAKTOR-FAKTOR YANG MENGHAMBAT BELAJAR SISWI -SISWI KELAS X SMA STELLA DUCE 2 YOGYAKARTA TAHUN AJARAN 2008 2009 DAN USULAN TERHADAP TOPIK-TOPIK BIMBINGAN KLASIKAL SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidik
0
0
120
HUBUNGAN ANTARA KONSEP DIRI DAN PERILAKU KONSUMTIF TERHADAP PAKAIAN PADA SISWI SMU STELLA DUCE 2 YOGYAKARTA
0
0
132
KONSEP DIRI PARA SISWA KELAS XI SMA STELLA DUCE 1 YOGYAKARTA TAHUN AJARAN 20082009 DAN IMPLIKASINYA TERHADAP USULAN TOPIK-TOPIK BIMBINGAN KLASIKAL SKRIPSI
0
0
98
STUDI TENTANG KEBIASAAN BELAJAR PARA SISWA KELAS XI SMA STELLA DUCE BANTUL YOGYAKARTA TAHUN PELAJARAN 20082009 DAN IMPLIKASINYA TERHADAP USULAN TOPIK-TOPIK BIMBINGAN BELAJAR
0
0
107
PERSEPSI TERHADAP PENERIMAAN SOSIAL PADA SISWA KELAS XI IPS SMA BRUDERAN PURWOREJO TAHUN PELAJARAN 20092010 DAN IMPLIKASINYA TERHADAP USULAN TOPIK-TOPIK BIMBINGAN
0
0
140
DESKRIPSI AKTUALISASI DIRI SISWA-SISWA KELAS XI SMK MIKAEL SOLO TAHUN PELAJARAN 20092010 DAN IMPLIKASINYA TERHADAP USULAN TOPIK TOPIK BIMBINGAN KLASIKAL
0
1
105
DESKRIPSI TINGKAT TANGGUNG JAWAB PARA SISWI KELAS X SMA SANTA MARIA YOGYAKARTA TAHUN PELAJARAN 20092010 DAN IMPLIKASINYA PADA USULAN TOPIK -TOPIK BIMBINGAN KELOMPOK Skripsi
0
1
117
DESKRIPSI TINGKAT PENERIMAAN DIRI SISWA-SISWI KELAS X DAN XI SMAK SANG TIMUR YOGYAKARTA TAHUN PELAJARAN 20092010 DAN IMPLIKASINYA TERHADAP USULAN TOPIK-TOPIK BIMBINGAN KLASIKAL Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan
0
0
93
Show more