Skripsi Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Sastra Program Studi Ilmu Sejarah

Gratis

0
0
103
4 months ago
Preview
Full text

  PAKEM Aliran Pengawas BAKOR Kepercayaan Indonesia :

Hubungan dengan Paguyuban-Paguyuban Kepercayaan

Tahun 1954-1978 di Yogyakarta

  

Skripsi

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

Memperoleh Gelar Sarjana Sastra

Program Studi Ilmu Sejarah

  

Disusun oleh :

L. Krisna Yulianta

014314007

  

JURUSAN ILMU SEJARAH

FAKULTAS SASTRA

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

2010

  

BAKOR PAKEM

Pengawas Aliran Kepercayaan Indonesia :

Hubungan dengan Paguyuban-Paguyuban Kepercayaan

Tahun 1954-1978 di Yogyakarta

  

Skripsi

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

Memperoleh Gelar Sarjana Sastra

Program Studi Ilmu Sejarah

  

Disusun oleh :

L. Krisna Yulianta

014314007

  

JURUSAN ILMU SEJARAH

FAKULTAS SASTRA

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

2010

  

Halaman Persembahan

Kupersembahkan kepada Gustiku, orang tuaku, guruku, saudaraku,

temanku, dan alam semesta ini.

  

MOTTO

  ¾ Pegang Prinsip dan kebenaran yang kau yakini dan jadikanlah secara

  yata segala ide dan cita citamu!

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

  Saya menyatakan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis adalah asli kreasi saya sendiri tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan atau daftar pustaka, sebagaimana karya ilmiah.

  Yogyakarta, 15 Januari 2010 Penulis L. Krisna Yulianta

  

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN

PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

  Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma : Nama : L. Krisna Yulianta Nomor Mahasiswa : 014314007

  Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul :

  

BAKOR PAKEM Pengawas Aliran Kepercayaan Indonesia: Hubungan

dengan Paguyuban Paguyuban Kepercayaan tahun 1954-1978 di Yogyakarta

  Beserta perangkat yang diperlukan (bila ada). Dengan demikian saya memberikan kepada perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengelola dalam bentuk pangkalan data, mendistribusikan secara terbatas, dan mempublikasikannya di Internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa meminta ijin dari saya maupun memberi royalti kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis.

  Demikian pernyataan ini saya susun dengan sebenarnya. Yogyakarta, 15 Januari 2010 Yang menyatakan L. Krisna Yulianta

KATA PENGANTAR

  Puji dan Syukur saya panjatkan kepada Gusti Ingkang Murbeng Dumadi atas petunjuk dan terangNya, sehingga saya bisa menyelesaikan penelitian ini. Dari sebuah persahabatan dengan kawan sebuah aliran kepercayaan, timbullah niat untuk meneliti mengenai kehidupan masyarakat kejawen. Dari berbagai perbincangan yang telah dilakukan, ada hal yang sangat menarik yaitu mengenai dinamika sejarah hubungan masyarakat kepercayaan dengan negara.

  Penggunaan term kepercayaan itu menggantikan istilah kebatinan yang lazim dipakai sebelum tahun 1970-1980an. Dari pendalaman istilah tersebut, ternyata kelompok kejawen itu masuk menjadi salah satu bagian dari istilah kepercayaan. Kejawen sendiri dipakai oleh masyarakat kepercayaan yang menggunakan ajaran dan tradisi Jawa.

  Dengan perjalanan yang amat panjang dan penuh liku, penulis sangat merasakan bantuan dan dukungan dari berbagai pihak, maka dari itu ucapan terima kasih yang sangat sebesar-besarnya diberikan kepada: 1.

  Kepada Dr. Praptomo Bayardi, M.Hum selaku Dekan Fakultas Sastra atas segala dispensasi dan bantuan yang diberikan

  2. Kepada dosen pembimbing saya, Drs. Hb.Hery Santosa, M.Hum atas dispensasinya, atas kritik dan saran, bantuan dan dukungan juga pengertian yang telah diberikan kepada saya.

3. Dosen-dosen Ilmu sejarah, Drs. Purwanta, MA. (atas ilmu pencerahannya)

  Drs.Sandiwan (atas bimbingan teorinya), Dr. BaskaraT. Wardaya SJ (atas segala semangat dan disiplinnya), Drs. Silverio R.L. Aji Sampurna M.Hum. (kebaikan dan ilmu penelitiannya), Alm. Drs Moedjanto (atas kebanggaan terhadap Jawanya), Alm. Prof. P.J. Suwarno M.Hum. (atas ilmu politiknya), Dr. Anton Haryono, M.Hum. (atas ilmu yang komperhensifnya), Dra. Juningsih (atas metode sejarahnya), Dr.

  Budiawan, Dr. St. Sunardi, Dr. G. Budi Subanar SJ, dan Drs. Manu Joyoatmojo (atas segala alternatif cara berfikirnya) 4. Kedua orang tua saya, Agustinus Marjinu dan B. Sri Pujiyati karena kesabaran, dorongan dan finansialnya sehingga saya bisa menyelesaikan studi saya.

  5. Keuskupan Agung Semarang yang telah membantu finansial pengerjaan penelitian ini.

  6. Bp. Anas, Wakil Ketua Intelejen Kejaksaan Tinggi DIY, dan staff yang telah membantu dalam pencarian data.

  7. Segenap staf kerja Perpustakaan Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

  8. Mas Try dan staf sekretariat Fakultas Sastra yang selalu melayani keperluan administrasi mahasiswa Ilmu Sejarah

  9. Bapak Walmuji dan mas Ngatiyar, aktivis Forum Persaudaraan Umat Beriman Yogyakarta.

  10. Keluarga Bapak Hadi yang telah bersedia membantu saya tanpa pamrih, Tuhan memberkati keluarga anda semua.

  11. Rekan dan sahabatku sejarah 2001, Gagak, Enok, Taji, Tato, Eka, Laza, Hendri, Khrisna, Eko, Edi, Lina, Ajeng, Riska, dan Erna, atas semangat semangatnya.

  12. Rekan-rekan Kanisius dan Impulse, mas Rangga, mbak Hani, mbak Rosa, mas Tomi, Mbak Vrida dan lain-lain atas teladan dan pencerahannya.

  13. Rekan-rekan Being Community, Parikesit Institute, Bungah Nata Institute, Wiridan Sarikraman semuanya, terimakasih atas keliaran ide-ide pikirannya

  14. Rekan-rekan Kampus Multikultur Realino (MCR), mbak Vibri, pak Totok,Pak Warno, Pak Toni, Ima, mas Andono, mas Eksan, terimakasih atas segala bantuan dan pengertiannya.

  15. Rekan-rekan jalanan perempatan UPN dan Condong Catur semuanya, terima kasih atas pelajaran survive-nya

  16. Sahabat-sahabatku, Agus Budi Purwanto, Greg Sindhana, Aloysius Sempal, Hananto Kusumo, Agung Budyawan, Ika Ruby, Bondan, Darwin, Dwi Cipta ”parikesit” dan kawan-kawan sejarah semua terima kasih atas semuanya

  17. Adik-adikku yang kritis dan semoga kuliahnya tidak terlalu lama seperti saya!

  18. Untuk dek Kent Wahyuni, terima kasih atas segala perhatian yang telah diberikan pada saya.

  19. Semua teman dan sahabat saya yang tidak mungkin disebutkan disini, terimakasih atas semua pembelajaran, bantuan, semangat, dan kegilaan- kegilaan yang telah menemani perjalanan hidup saya. Hasil dari penelitian ini disadari masih jauh dari sempurna, karena itu masukan dan kritik dari pembaca yang sifatnya membangun masih sangat diperlukan. Semoga skripsi ini berguna bagi siapa saja dan dapat membantu bahan studi selanjutnya.

  Yogyakarta, 15 Januari 2010

  ABSTRAK

  Judul dari tulisan ini yaitu; BAKOR PAKEM, Pengawas Aliran

  

Kepercayaan Indonesia: Hubungan dengan Paguyuban-Paguyuban

Kepercayaan tahun 1954-1978 di Yogyakarta. Tulisan ini mengajak kepada

  para pembaca untuk memahami dan mendalami mengenai hubungan Badan Koordinasi Pengawas Aliran Kepercayaan Masyarakat dengan kelompok Aliran Kepercayaan didaerah Yogyakarta. Dalam memahami sebuah hubungan, kita harus memahami terlebih dahulu mengenai karakter masyarakat aliran kepercayaan dan karakter Bakor Pakem itu sendiri, dan baru kemudian bisa melihat hubungan diantara keduanya.

  Data-data yang diperoleh menggunakan penelitian kualitatif, dengan metode pengumpulan data dari studi pustaka dan sumber wawancara dari orang orang yang relevan dan berkompeten dibidangnya

  Hasil dari penulisan penelitian ini menemukan banyak sekali konflik kepentingan antara kelompok kepercayaan dan kelompok agama “resmi”. Pemerintah dalam hal ini berperan atas penyelesaian konflik dengan membentuk lembaga keagamaan untuk mengatur dinamika masalah keyakinan tersebut. Lembaga yang dibentuk pemerintah tersebut ternyata tidak bisa menyelesaikan masalah keyakinan dan keagamaan secara netral dan tuntas. Banyak peraturan dan undang–undang “karet” yang disusun hanya menyisakan sebuah permasalahan terselubung yang mengarah kepada pendiskriminasian hak seseorang. Hal tersebut terlihat dari semua statement yang dikemukakan para penganut aliran kepercayaan

  

ABSTRACT

  The title of this writing is: “BAKOR PAKEM, The Supervisor of Indonesian Belief Sect: The Relationship to The Belief Association of 1954 – 1978 in Indonesia. This writing invited to the readers for comprehending and deepening on the relationship between the Supervisory Coordinative Institution of Social Belief Sect to the group of belief sect in particularly in Yogyakarta region.

  In comprehending a relationship, we should initially comprehend the character of belief sect society and character of Bakor Pakem it self, and then it can be seen the relationship amongst both of them.

  The data was gained by using qualitative research, by data collection method comprised of literary study and source of interview was from the relevant person and competent in his field.

  The result of this research writing founds great deal of interest conflict between the belief group and “official” religious group. The government in this matter has role on the conflict resolution by creating a religious institution for managing the problem dynamic of this belief. The institution established by the government in fact is incapable to resolve belief and religious problems neutrally and thoroughly. There are great deal of ‘flexible’ regulations and legislations of which are compiled merely to reside a covered problems of which is directed to the discrimination of personal right. It seems from all of statements conveyed by the believers of belief sect.

  

DAFTAR ISI

  HALAMAN JUDUL ......................................................................................... i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ................................................ ii HALAMAN PENGESAHAN ............................................................................. iii HALAMAN MOTTO .......................................................................................... iv HALAMAN PERSEMBAHAN ......................................................................... v PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ............................................................. vi LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN .................................................. vii KATA PENGANTAR ....................................................................................... viii ABSTRAK .......................................................................................................... xi ABSTRACT ........................................................................................................ xii DAFTAR ISI ...................................................................................................... xiii

  BAB

  I PENDAHULUAN

  A. Latar Belakang .......................................................................................... 1

  B. Rumusan Masalah ........................................................................................ 5 C Landasan teori dan batasan Permasalahan ................................................... 5

  1. Landasan Teori .................................................................................. 5

  1.1. Teori Konflik ..................................................................... 6

  1.2. Teori Fungsional Sturktural ................................................. 9

  2. Batasan Permasalahan ......................................................................... 11

  D. Tujuan dan Manfaat Penelitian ..................................................................... 12

  1. Tujuan Penelitian ................................................................................ 12

  2. Manfaat Penelitian ............................................................................. 12

  E. Tinjauan Pustaka ........................................................................................... 13

  F. Metode Penelitian ........................................................................................... 15

  1. Pengumpulan Data ............................................................................. 15

  1.1. Studi Pustaka ....................................................................... 15

  1.2. Wawancara ........................................................................... 16

  2. Analisis data ........................................................................................ 16

  3. Historiografi atau Penulisan ............................................................... 17 G Sistematika Penulisan ..................................................................................... 18

  Bab II MASYARAKAT DAN TRADISI JAWA DI YOGYAKARTA A. Masyarakat Jawa di Yogyakarta...................................................................... 20 B. Letak Geografi dan kependudukan.............. .................................................. 22 1. Bentang Alam ........................................................................................ 22 2. Geografi Yogyakarta .............................................................................. 22 3. Sosial Ekonomi ...................................................................................... 23 C. Karakter Masyarakat Jawa di Yogyakarta ..................................................... 23

  1. Sejarah Masyarakat Jawa ................................................................... 23

  2. Masyarakat Kepercayaan ................................................................. .. 25

  2.1. Dinamika Masalah Kepercayaan ...................................... .. 25

  2.2. Abangan dan Santri ............................................................. 33

  D. Yogyakarta sebagai Sentral Eksistensi Kelompok Kepercayaan ................. 36

  Bab III BAKOR PAKEM A. Latar Belakang Pendirian .............................................................................. 39

  1. Perdebatan di Departemen Agama ..................................................... 39

  2. Proses terbentuknya Bakor Pakem ..................................................... 44 B Struktur dan Birokrasi Bakor Pakem .............................................................. 46 1.

  Tujuan dan Fungsi Bakor Pakem ...................................................... 48 2. Tugas dan Wewenang ....................................................................... 49 3. Cakupan dan Prosedur Pengawasan ............................................... 49 4. Dasar Pembekuan dan Pembubaran terhadap Aliran Agama dan Kepercayaan ............................................................................... 53

  C. Bakor Pakem di Yogyakarta ............................................................................ 54

  Bab IV ANTARA BAKOR PAKEM DAN MASYARAKAT KEPERCAYAAN A. Gerakan Kebatinan ......................................................................................... 57

  1. Munculnya Gerakan Kebatinan ........................................................... 57

  2. Kebatinan versus Agama .................................................................... 62

  B. Bakor Pakem sebagai Garis Depan Pengawasan ............................................ 67

  C. Bakor dalam Kacamata Penghayat ................................................................. 71

  BAB V PENUTUP A. Kesimpulan ..................................................................................................... 74 B. Saran ................................................................................................................ 75

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................ 77

LAMPIRAN-LAMPIRAN ............................................................................... 81

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sejak dahulu Indonesia bersifat multikultur, sebuah bangsa yang

  mempunyai kemajemukan budaya, suku ras, suku, dan agama. Nusantara yang kita miliki ini sangat terkenal di seluruh penjuru dunia karena letaknya yang strategis dan rempah-rempahnya yang banyak diburu oleh para pedagang Eropa, Afrika, Australia maupun dari Asia sendiri.

  Nusantara memiliki sistem kepercayaan yang sangat beragam dan sudah mengenal konsep Tuhan Yang Maha Esa. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan nama-nama Tuhan dalam bahasa suku asli, seperti Puang Matoa (Toraja), Ladong

  

di Langi (Minahasa) Mori Kareang (Flores), Uis Afu (Timor), Yi Tau Wulu Tau

  1 (Sawu), Mula Satene (Seram) .

  Konsep Ketuhanan di Nusantara bersifat Deistik (Ketuhanan Murni ) dan dikenal manusia. Dalam tulisannya Jakob Sumardjo, mengatakan bahwa dualisme keberadaan yaitu Dunia Atas dan Dunia Manusia membutuhkan Dunia Tengah. Dunia tengah ini menghubungkan antara Dunia Atas (Tuhan) yang gaib dan Dunia Bawah (manusia) yang nyata.

  Dunia Tengah ini merupakan sesuatu yang transenden dan menghadirkan tenaga-tenaga gaib didunia manusia. Pelaku, upacara, wujud benda-benda, wujud

1 Jacob Sumardjo. 2002, Arkeologi Budaya Indonesia, Pelacakan

  Hermeunetis-Historis terhadap Artefak-Artefak kebudayaan Indonesia, Qalam, tarian, wujud doa dan tempat upacara selalu menjadi unsur dari bagian Dunia Tengah. Hal tersebut termanifestasikan kedalam simbol benda-benda ritual

  2 yang dipergunakan oleh masyarakat asli Indonesia .

  Pada fase berikutnya banyak para pedagang dan bangsawan yang datang ke nusantara dengan membawa agama-agama transnasional, seperti agama Hindhu, Budha, Islam, kristen, dan lain-lain. Pengaruh para misionaris dan pendakwah agama-lah yang menyebabkan agama–agama tersebut menjadi berkembang pesat dan banyak dianut oleh berbagai masyarakat diseluruh nusantara ini.

  Pada awalnya dimasa kemerdekaan tahun 1945, banyak kepercayaan lokal yang berdiri sendiri-sendiri dan berkembang dengan amat pesat. Dari itulah, muncul banyak berbagai aturan atau peraturan pemerintah yang membatasi ruang gerak aliran kepercayaan masyarakat tersebut.

  Keragaman kepercayaan ini menjadi terpilah dalam dalam dua kelompok, yaitu; agama resmi dan kepercayaan lokal (agama lokal). Hal tersebut terjadi karena sejak tahun 1965 kepercayaan asli dan lokal yang tidak diakui sebagai agama, tetapi hanya dianggap sebagai sebuah budaya.

  Hal tersebut terlihat dengan dibentuknya Departemen Agama (Depag) dan instansi lain yang mengatur dan mengawasi berbagai aliran itu. Puncaknya pada tahun 1961 diadakan konggres yang salah satu hasilnya adalah ketentuan- ketentuan tentang definisi serta syarat-syarat legalitas sebuah agama. Syarat itu adalah bahwa sebuah agama harus mempunyai Tuhan, Kitab Suci, Rasul, Nabi

  2 serta hukum sendiri bagi kehidupan para penganutnya yang berupa perintah dan petunjuk tertentu.

  Syarat yang ditentukan tersebut menimbulkan berbagai kontroversi dan tindakan diskriminasi terhadap kelompok kepercayaan dan berbagai sekte-sekte keagamaan. Pada hakikatnya antara agama dan kepercayaan mempunyai persamaan dan perbedaan, seperti yang dikemukakan oleh Mr Wongsonegoro dalam seminar kebatinan III di Semarang;

  : kedua-duanya mempunyai unsur

  Agama dan kebatinan (kepercayaan) yang sama yaitu panembah (kebaktian kepada Tuhan Yang Maha Esa) dan budi luhur. Perbedaanya adalah hanya terdapat pada stress atau tekanannya. Bagi agama stressnya diberikan kepada panembah (Tuhan) sedangkan pada kebatinan memberikan tekanan pada tercapainya budi

  3 yang mulia dan kesempurnaan hidup .

  Pada dasarnya agama dan kepercayaan dapat hidup bersama, tetapi dalam realitanya terjadi diskriminasi dan intervensi yang dilakukan oleh kelompok kelompok agama yang “diresmikan” itu. Banyak alasan yang cenderung sangat mendeskreditkan kepercayaan-kepercayaan yang terdapat dimasyarakat. Hal itu disebabkan karena ajaran kepercayaan adalah bentuk penyimpangan dari agama. Ajaran-ajaran yang bersifat sinkretis, pluralis dianggap sebagai bentuk ajaran sesat yang tidak sesuai dengan aqidah-aqidah agama.

  Perdebatan terhadap masalah itu seringkali dibahas dan didamaikan melalui macam macam konggres kebudayaan, seminar, simposium, atau diskusi- diskusi yang diadakan oleh pemerintah maupun masyarakat kebatinan sendiri.

3 Rahmat Subagya. 2002, Kepercayaan dan Agama Kebathinan

  Walaupun Demikian hal tersebut masih belum bisa mendamaikan juga karena banyak perbedaan prinsipil yang tidak bisa diterima oleh kelompok lain.

  Sebagai langkah untuk membendung gerakan kebatinan yang semakin meluas dan radikal, maka pada tahun 1955 dibentuklah Bakor Pakem (Badan Koordinasi Pengawas Aliran Masyarakat) yaitu badan koordinasi sebagai pengawas dan “penentu nasib” aliran-aliran kepercayaan masyarakat. Bakor inilah yang berwenang dalam mengawasi, membubarkan dan membekukan sebuah aliran keagamaan dan kepercayaan secara legal.

  Alasan pemilihan tema ini adalah, pertama, belum ada penelitian atau kaijan yang secara khusus membahas mengenai Bakor Pakem ini. Kedua, dari pengamatan yang dilakukan memberikan gambaran bahwa bakor ini mempunyai kontibusi penting dalam perkembangan sejarah politik, sosial dan budaya.

  Kronologi sejarah terbentuknya bakor ini sendiri terbukti menyimpan banyak sekali masalah yang kompleks antara kelompok agamawan dan kelompok kepercayaan. Menjadi sangat menarik, ketika negara mencoba menengahi perdebatan itu dengan pembentukan institusi seperti Depatermen Agama (Depag) dan Bakor Pakem sebagai solusi penengah diantara kelompok itu.

  Sedangkan alasan penelitian di Yogyakarta adalah karena daerah ini merupakan salah satu kota kerajaan yang masih eksis sampai saat ini. Tradisi dan budaya Yogyakarta yang dimiliki masih dijunjung tinggi dan dilaksanakan. Adat dan tradisi disini lebih menjadi trendsetter bagi masyarakat kepercayaan (kejawen) disekitar Yogyakarta, terlebih dengan adanya legitimasi mistis yang sangat kental dan dipercayai oleh masyarakat Yogyakarta.

  Dari catatan Bakor Pakem Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang ada, terdapat puluhan paguyuban kepercayaan dengan ribuan para penghayatnya yang masih eksis sampai saat ini. Oleh karena itu terdapat benang merah antara tema tulisan dengan lokasi penelitian.

  Pemilihan periodeisasi dilakukan berdasarkan awal terbentuknya Bakor Pakem ditahun 1954, sedangkan tahun 1978 dipilih sebagai momen perpindahan birokrasi. Pada awalnya bakor Pakem dibawah kekuasaan Departemen Agama, (Depag) kemudian berubah menjadi dibawah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Depdikbud). Dari masa 1954-1978 tersebut ada berbagai fakta-fakta yang menarik yaitu mengenai latar belakang pendirian Pakem, dinamika perpindahan dibawah Depag ke Depdikbud, dan dari Bakor Pakem periode Orde

4 Lama ke Orde Baru .

B. Rumusan Masalah

  Berangkat dari uraian diatas maka dapat dirumuskan beberapa pokok permasalahannya sebagai berikut:

  1. Bagaimana latar belakang pembentukan Bakor Pakem?

  2. Apa landasan kewenangan Bakor ini dalam membekukan dan membubarkan sebuah aliran?

  3. Bagaimana dinamika hubungan antara masyarakat kepercayaan, Bakor Pakem dan Pemerintah?

4 Ketika ditahun 1978 kepercayaan lokal secara resmi tidak diakui sebagai

  agama melainkan hanya diakui sebatas sebagai sebuah kebudayaan. Hal tersebut kian menguat saat kepercayaan lokal berada di bawah Departemen Pendidikan

C. Landasan Teori dan Batasan Permasalahan

1. Landasan Teori

  Sebagai landasan dalam meneliti dan menganalisa pokok bahasan ini serta menggunakan berbagai pertimbangan, maka penelitian ini menggunakan teori Konflik dan teori Fungsional Struktural.

  Teori Konflik

  Teori konflik sangat relevan dalam melihat berbagai permasalahan antara para penghayat dengan para agamawan. Sedangkan teori Fungsional Struktural menjadi sangat berguna ketika melihat fungsi Bakor Pakem sebagai sebuah bagian dari sistem.

  Alasan penggunaan teori ini, bahwa adanya relevansi berbagai fakta-fakta di awal pembentukan Bakor Pakem yang mempunyai berbagai masalah (konflik) yang kompleks. Menurut para pemuka teori seperti Ralf Dahendrof, Randal Collins, Georg Simmel dan Lewis Coser bahwa realitas dalam masyarakat akan selalu terjadi perubahan-perubahan yang bersifat dinamis. Perubahan itu tidak bisa lepas dari berbagai masalah dan kepentingan yang berpotensi menimbulkan sebuah konflik antar kelompok.

  Teori konflik ini sebenarnya timbul sebagai anti tesis dari kelompok fungsional yang cenderung mengabaikan berbagai perubahan yang terjadi. Para sosiolog berpendapat bahwa teori ini melihat konflik sebagai fenomena yang senantiasa ada dalam kehidupan sosial dan sebagai hasilnya, masyarakat berada dalam perubahan terus menerus. Perspektif konflik ini meliputi berbagai pertentangan dari banyak kepentingan dan kelompok dalam masyarakat. Konflik ini terjadi kerena adanya sesuatu yang dihargai dalam masyarakat, tidak terdistribusi secara merata dan tidak semua orang memperolehnya secara sama.

  Menurut Simmel, melalui pendekatanya (sosiologi formal) berusaha menyusun abstraksi dari unsur-unsur formal proses-proses dan peristiwa-peristiwa yang terjadi pada pelbagai konteks sosial. Simmel berpendapat bahwa terjadinya konflik tidak dapat dielakkan dalam masyarakat. Masyarakat dipandang sebagai struktur sosial yang mencakup proses-proses asosiatif dan disosiatif yang hanya dapat dibedakan secara analitis.

  Landasan pemikirannya ini adalah pemikirannya yang bersifat organistis terhadap dunia sosial. Dalam menjelaskan unsur-unsur formal, maka proses- proses sosial merupakan bukti sistematis. Pernyataan itu mengacu pada ajaran- ajaran organistis yang berpengaruh pada masa itu. Sehingga Simmel lebih mengutamakan akibat-akibat konflik dari pada perubahan sosial.

  Organisme dalam pandangan Simmel terdapat bagian-bagian atau dorongan untuk membenci dan berkelahi. Namun naluri itu bercampur dengan kasih sayang yang kemudian dibatasi oleh pelbagai kekuatan dalam hubungan sosial. Konflik dianggap sebagai sebuah pencerminan dari pertentangan kepentingan atau naluri bermusuhan.

  Untuk menetralisir asumsinya mengenai hakekat organisme dan naluri- naluri kebencian dan berkelahi itu adalah dengan menganalisis akibat positif dari konflik untuk memelihara kesatuan-kesatuan sosial maupun bagian-bagiannya. Dengan demikian dorongan yang mengakibatkan permusuhan tidak terlalu dilihat sebagai suatu hal yang bertentangan dalam organisme, namun bahkan sebagai

  5 pemelihara sistem sosial.

  Cosser sebagai pengembang dari teori Simmel, mengatakan bahwa

  penyebab terjadinya konflik adalah kondisi yang menyebabkan ditariknya legitimasi dari sistem distribusi yang ada dan intensifikasi tekanan terhadap kelompok-kelompok tertentu yang tidak dominan. Tekanan-tekanan yang semakin intensif dipengaruhi oleh konteks sosialisasi dan kendala struktural yang dipergunakan untuk menekan kelompok-kelompok yang ada.

  Teori konflik sendiri adalah sebuah cara pandang dalam melihat masalah yang tepat dalam mengamati berbagai perubahan sosial termasuk kedalam berbagai kausalitas peristiwa. Dari teori ini bukan dimaksudkan untuk melihat segala sesuatu secara negatif (menegasikan) sebuah realitas, tetapi sebuah perspektif untuk memperdalam dalam menganalisis sebuah perubahan. Relevansinya dengan penelitian skripsi ini adalah untuk mengupas berbagai pertentangan yang penuh kepentingan antar organisasi atau kelompok.

  Teori konflik ini sering juga dianggap sebagai hal yang penuh dengan situasi yang kacau dan penuh kekerasan, tetapi hal itu merupakan sebuah implikasi yang paling ekstrim. Secara nyata (real) keadaan masyarakat kita akan selalu mengalami perubahan yang belum tentu berjalan secara tenang dan damai, tidak semua sistem yang akan menyesuaikan sendiri untuk mencari keseimbangannya sendiri.

5 Soerjono Soekanto dkk, 1998, Fungsionalisme dan Teori Konflik

  Untuk mendukung pernyataan secara positif diatas maka dapat dilihat

  6

  mengenai fungsi konflik yang dikembangkan adalah :

  1. Sebagai alat menciptakan solidaritas

  2. Membantu menciptakan aliansi dengan kelompok lain

  3. Mengaktifkan peranan individu yang semula terisolasi

  4. Mempunyai fungsi komunikasi Fungsi-fungsi tersebut menjadi dampak positif yang dapat kita ambil nilai dan hikmahnya. Jika kita mencermati dinamika perkembangan kehidupan beragama dinegara kita, maka akan banyak menemukan berbagai konflik-konflik dengan berbagai kepentingan.

  Teori konflik diatas sangat relevan menjelaskan perubahan sosial yang ada dan tidak dapat dipungkiri bahwa dari konflik tersebut dapat menimbulkan integrasi sosial. Hal itu dapat dilihat dengan akan timbulnya rasa solidaritas yang tinggi, terbentuknya koalisi, dan terbukanya komunikasi dengan pihak yang bertikai.

  Didalam pertentangan masyarakat kepercayaan dengan kelompok keagamaan tersebut menimbulkan solidaritas diantara kelompok tersebut.

  Penyelesaian yang dilakukan juga mengarah kepada komunikasi timbal balik dan negosiasi yaitu dengan berbagai macam dialog-dialog.

  Teori Fungsional Struktural

  Pendekatan terhadap sebuah konflik dapat diterapkan dengan memperhatikan aspek stuktural dan fungsional dari kehidupan sosial setempat.

6 Soetomo, 2008, Masalah Sosial dan Upaya Pemecahannya. Pustaka

  Pendekatan stuktural fungsional ini sudah berkembang sejak lama dalam studi sosiologi dan antropologi. Tokoh-tokoh yang menggunakan pendekatan ini adalah Emile Durkheim, yang diteruskan oleh Radcliffe Brown.

  Durkheim memandang masyarakat modern sebagai keseluruhan organistis yang memiliki realitas-sendiri dan saling mempunyai ketergantungan.

  Keseluruhan tersebut mempunyai seperangkat kebutuhan dan fungsi-fungsi tertentu, yang harus dipenuhi oleh yang menjadi bagiannya supaya selalu dalam keadaan normal. Jika kebutuhan tersebut tidak terpenuhi maka akan menimbulkan ketimpangan, depresi sosial akan mempengaruhi perangkat sistem yang lainnya.

  Masyarakat pada hakikatnya adalah sebuah keteraturan sosial Menurut Brown pada dasarnya manusia dalam memenuhi kebutuhan tidak hanya secara individual saja, melainkan melalui kehidupan bersama secara terorganisasi atau tertata dalam hukum dan nilai-nilai tertentu. Hal tersebut diperoleh dengan kesepakatan bersama atau dalam bahasa Malinowski disebut

  Charter , yang diartikan sebagai suatu sistem yang terorganisasi tentang aktivitas- aktivitas sosial yang pernah ditujukan.

  Ketika berbicara mengenai bagaimana negara membentuk sebuah lembaga dalam menyelesaikan sebuah konflik, maka konteks ini lebih relevan jika dilihat dari teori fungsional struktural. Teori ini melihat berbagai gerakan sosial masyarakat sebagai sebuah pencarian keserasian dan keseimbangan sistem (equilibrium system).

  Dalam teori Fungsional struktural ini memang mengabaikan perubahan sosial tetapi tidak mengabaikan kondisi sosial yang sakit atau abnormal (diz- organized). Dalam konteks ini, pendekatan yang digunakan dikenal dengan adanya pendekatan sistem Balanced and Equilibrium, yaitu suatu keadaan dimana diutamakan terjadinya keseimbangan kekuatan sehingga tidak terjadi perubahan sosial yang mengarah ke penghancuran sistem yang ada.

  Bakor Pakem sebagai lembaga bentukan pemerintah yang difungsikan sebagai alat untuk menstabilkan berbagai perubahan dan pergolakan didalam masyarakat. Fungsi dan tujuan dari lembaga sangat berpeluang untuk menjaga kestabilan sistem yang sedang berjalan.

  Pemerintah Orde Baru dalam semua kebijakan pembangunan selalu berlandaskan kepada filosofi konsep keseimbangan dan keamanan atau security. Perubahan sosial sebagai fenomena mikro yang sering dijumpai oleh kalangan peneliti sosial di Indonesia adalah akibat dari menguatnya pengaru-pengaruh birokrasi dikalangan masyarakat. Program–program pembangunan yang diintrodusir pemerintah dilakukan oleh lembaga pemerintah yang diatur dengan sistem birokrasi yang kuat

  7 .

  2. Batasan permasalahan

  Pembahasan penelitian difokuskan mengenai hubungan Pengawas Aliran Kepercayaan dengan Masyarakat Kepercayaan. Untuk membatasi supaya penulisan ini tidak terlalu melebar maka diperlukan batasan masalah. Batasan ini terbagi dalam tiga hal yaitu; pertama, mengenai karakter singkat masyarakat kepercayaan di Yogyakarta, kedua, mengenai Bakor Pakem itu sendiri, dan ketiga membahas hubungannya diantara keduanya.

  Penelitian ini sendiri sedikit lebih banyak membahas tentang Bakor Pakem itu sendiri. Pada bahasan ini kita bisa melihat mengenai proses berdirinya,

  7 Agus Salim. 2002, Perubahan sosial, Sketsa Teori dan Metodologi bagaimana struktur dan fungsinya juga berbagai hasil yang telah dikerjakan oleh Bakor Pakem dari tahun 1955-1978. Disini juga dilengkapi dengan beberapa perspektif para penghayat dalam melihat sebuah Bakor tersebut.

D. Tujuan dan Manfaat penelitian 1). Tujuan penelitian

  Penelitian dan penyusunan skripsi berjudul Bakor Pakem, Pengawas Aliran Kepercayaan Masyarakat; Hubungan dengan Paguyuban-Paguyuban Kepercayaan pasca 1955-1978 di Yogyakarta ini, dilakukan untuk mengetahui bagaimana dinamika perkembangan dan hubungannya masyarakat kepercayaan dengan Bakor Pakem. Selain itu untuk melihat bagaimana eksistensi Bakor Pakem dan masyarakat kepercayaan. Dari hal tersebut kita dapat mengetahui apakah Bakor Pakem ini merupakan lembaga yang tepat untuk mengawasi dan mengatur organisasi-organisasi kepercayaan.

2. Manfaat Penelitian

  Berdasarkan tujuan yang dirumuskan itu, maka penelitian dan penulisan ini dimaksudkan agar mencapai sasaran:

  1. Memberikan gambaran dan pengertian mengenai Bakor Pakem dalam hubungannya dengan masyarakat kepercayaan Indonesia.

  2. Memberikan gambaran kecil tentang sebuah keragaman religi yang ada dan eksis sampai saat ini.

  3. Hasil penelitiaan ini diharapkan menjadi salah satu informasi atau sebagai referensi bagi para penghayat atau masyarakat penggemar kebatinan secara universal.

4. Sebagai bahan relektif bagi penulis sendiri.

E. Tinjauan Pustaka

  Penyusunan karya tulis ini lebih menitik beratkan kepada studi historis, sehingga sebagian besar porsi penelitian dilakukan melalui kajian kepustakaan.

  Beberapa buku yang dirasa relevan dengan objek penelitian untuk dijadikan acuan utama antara lain: buku yang berjudul Kepercayaan dan Agama Kebatinan

  

kerohanian kejiwaan yang ditulis oleh Rahmat Subagya. Buku ini berisikan

  tentang berbagai definisi tentang masalah kepercayaan dan keagamaan secara jelas dan kritis, sistematis dan tajam. Selain itu gambaran pokok masalah masalah kepercayaan dan agama dibuka dengan luas dan disertai kronik-kronik kebatinan sebagai pelengkapnya.

  Buku ini memberikan sebuah pemahaman dalam memandang dan menafsirkan tentang kehidupan spiritual dengan bebas dari kungkungan agama maupun aturan-aturan manusia yang cenderung membatasi kebebasan beragama. Secara gamblang Rahmat Subagya memberikan penjelasan mengenai masalah kebatinan, penggolongannya dan inti-inti pemikiran dari ajaran kebatinan.

  Hampir senada dengan bukunya Rahmat Subagya buku acuan lainnya adalah Agama Asli Indonesia yang di tulis oleh J.W.M.Bakker S.J yang mengulas tentang agama agama asli Indonesia yang bersifat lokal dan asli dan mempertemukan ide-ide agama asli nasional dengan supra nasional. Apabila agama asli diganti dengan agama asing maka akan terjadi sinkretisme atau

  

koeksistensi heterogen d ari kedua agama tersebut, kedua akan terjadi pertobatan

  semu dimana agama asli secara icognito (menyamar atau samar-samar) menyelundup dalam agama asing dengan reinterpretasi lokal, kompromis dan pemalsuan agama lain dan yang ketiga terjadi asimilasi homogia, inkorporasi dan pempribumian.

  Buku ini juga memberikan pengertian tentang kedudukan agama asli dalam teologi, agama dan kedudukannya dalam aturan negara. Selain itu dijelaskan mengenai aspek-aspek ritual beserta pengartiannya. Penulis buku ini memaparkan juga mengenai berbagai tantangan dalam eksistensi dan regenerasi agama asli dalam gerakan kebatinan, beserta kronik singkat kebatinan. Dalam halaman terakhir ia menekankan tentang pendekatan rohani dan penghargaan terhadap agama asli (local genius).

  Buku yang ketiga merupakan karangan Kuntowijoyo yang berjudul

  

Budaya dan Masyarakat , dibuku ini banyak diulas mengenai pengalaman

  masyarakat indonesia dalam masa transisi menuju masyarakat industri dengan mengganti berbagai atribut dari masyarakat tradisional agraris menuju suatu tatanan masyarakat yang baru sekali. Disini dipaparkan berbagai faktor pendukung dan kendala dan dalam batas-batas tertentu, dibicarakan pula pembandingan sejarah perkembangan masyarakat kini yang tergolong maju.

  Kuntowijoyo menggambarkan situasi masyarakat kita dalam masa transisi yang penuh aturan, tekanan ataupun masuknya budaya, ideologi dari luar yang amat mempengaruhi masyarakat kita. Karena itu terjadi kontradiksi antara budaya lama dengan budaya baru. Disini pula terlihat adanya usaha kembali kemasa masa mistik dengan banyaknya guru, paguyuban, agama-agama lokal maupun prilaku masyarakat yang mencari ”sesuatu” untuk diikuti.

  Adanya gerakan mistik ini menimbulkan berbagai pro dan kontra. Disisi para pelaku mistik yang tetap menghayati kehidupan kepercayaan yang setara dengan agama, disisi lain adanya pertentangan dari kaum agamawan yang bersikeras untuk menghilangkan kepercayaan selain dalam bentuk agama resmi.

  Buku-buku tersebut sangat sedikit dalam menyentuh mengenai seluk beluk dan strategi Bakor Pakem yang digunakan untuk meredam berbagai masalah keagamaan dan kepercayaan. Hal tersebut mendorong penulis untuk melakukan penelitian mengenai Bakor Pakem. Hasil penelitian ini diharapkan memberi sumbangsih wacana alternatif dan digunakan sebagai alat kroscek melalui perspektif historis.

F. Metode Penelitian

1. Pengumpulan Data

1.1. Studi Pustaka

  Penulisan ini mengandung perspektif historis, oleh karena itu data-data yang digunakan berupa fenomena-fenomena yang dibatasi oleh ruang dan waktu.

  Pengumpulan data ini diperoleh melalui studi pustaka merupakan suatu metode penulisan untuk menggali dan mengolah data menjadi sebuah historiografi. Selain melalui telaah pada buku pustaka,dilakukan pula telaah pada sumber tertulis lainnya seperti pada manuskrip, laporan penelitian, ataupun pada media media cetak lainnya.

1.2. Wawancara

  Wawancara dilakukan sebagai upaya dalam memperoleh data lisan yang diperlukan guna melengkapi data yang belum tercukupi melalui suber tertulis.

  Data ini diperoleh melalui pengadaan wawancara kepada beberapa sumber yang dianggap mampu memberikan data otentik dan akurat, sehingga diharapkan dapat mendukung validitas data.

  Adapun data data selanjutnya kemudian dikroscek melalui kritik sumber.

  8 Kritik ini bertujuan untuk sejauh mana kredibilitas sumber-sumber . Kritik ini

  dilakukan untuk menghindari adanya kepalsuan dan keberpihakan suatu sumber data, sehingga data yang didapat dapat dipertanggung jawabkan secara valid.

2. Analisis Data

  Data yang telah diseleksi dan diuji, kemudian dilanjutkan dengan analisa data. Tahap ini sangatlah penting dan menentukan dalam penulisan. Jenis analisis ditentukan oleh sifat data yang dikumpulkan. Apabila data yang dikumpulkan itu

  9 berwujud kasus maka yang akan dihasilkan adalah analisa bersifat kualitatif.

  8 Gottschalk, Louis. Mengerti Sejarah. Terj Nugroho Notosusanto.

  Jakarta: Universitas Indonesia Press. Hlm. 75.

  9 Koentjaraningrat. 1993, Metode metode Metode Penelitian Masyarakat, Jakarta,PT Gramedia pustaka utama. Hlm. 269.

  Hasil analisa akan menunjukkan tingkat keberhasilan suatu penulisan. Penulis berusaha menempatkan data secermat mungkin supaya hasil penulisan ini bisa mendekati keadaan yang sebenarnya. Pengolahan data secara cermat diharapkan mampu mengurangi subyektifitas yang biasanya muncul dalam historiografi, sebab sejarah dalam arti obyektif yang diamati dan dimasukkan dalam pikiran subyek tidak akan pernah murni tetapi akan lebih banyak diberi

  10 warna sesuai kaca mata subyek.

  Penulisan ini menggunakan model diskripsi analitis, sumber-sumber yang telah dikumpulkan kemudian dianalisis sehingga dapat memecahkan masalah yang sedang diteliti. Melalui model penulisan ini diharapkan dapat menghasilkan suatu tulisan yang dapat dipertanggung jawabkan moral dan material. Metode ini diterapkan dengan cara mendeskripsikan atau menjabarkan objek penelitian melalui penggunaan pisau analitis tertentu.

  Sedangkan pendekatan yang digunakan adalah pendekatan sosial dan politik. Pendekatan sosial ini digunakan sebagai alat menganalisis masalah yang ada dalam penulisan sejarah dengan memakai teori dan konsep dari ilmu sosial. Adapun pertimbangan dengan menggunakan pendekatan politik adalah karena berbagai konflik antara para agamawan dengan masyarakat kepercayaan telah mencapai ke ranah peraturan-peraturan legal (Undang-Undang/Peraturan Pemerintah) dan kepentingan-kepentingan politis.

10 Sartono Kartodirjo. 1992, Pendekatan Ilmu-Ilmu Sosial dalam

3. Historiografi atau penulisan

  Historiografi adalah proses mengisahkan atau merekonstruksi kembali peristiwa yang ada berdasarkan data-data yang ada. Dalam langkah ini terjadi interpretasi terhadap sumber-sumber yang ada dan diyakini kebenarannya, untuk memperoleh hasil yang maksimal dan mendekati kebenaran peristiwa itu. Proses ini menghindari subyektifitas yang berlebihan. Bentuk penulisan dalam penelitian ini adalah dengan model diskriptif analitis, tulisan ini tidak hanya berisi sebuah kronologi saja tetapi disertai dengan sebuah analisis interpretatif.

G. Sistematika penulisan

  Secara keseluruhan skripsi ini akan dibagi menjadi lima bab sebagai berikut: Bab I merupakan pendahuluan yang berisi latar belakang, permasalahan, tujuan penulisan dan manfaat penulisan, tinjauan pustaka, kerangka teori dan pendekatan, metode penelitian dan penggunaan sumber serta sistematika penulis.

  Bab II berjudul Masyarakat dan tradisi Jawa. Bab ini menjelaskan tentang karakter geografis dan situasi masyarakat Jawa pada umumnya. Untuk memahami mengenai gambaran keagamaan masyarakat Jawa, dibahaslah mengenai tradisi dan ajaran-ajaran kepercayaan di Yogyakarta .

  Pada bab III berisikan tentang seluk beluk dan kegiatan Bakor Pakem sebagai pengawas aliran kepercayaan, dan disini dijelaskan pula tentang kronologis berdirinya Bakor Pakem.

  Di bab IV merupakan bab inti dari permasalahan yang diangkat. Pada

  bagian ini menjelaskan dinamika hubungan Bakor Pakem dengan masyarakat kepercayaan. Bab yang berjudul Antara Bakor Pakem dan masyarakat Kepercayaan ini, mencoba untuk menggali lebih jauh mengenai hubungan yang terjalin diantara keduanya. Disini dapat dilihat dua perspektif, yaitu perspektif Bakor Pakem dalam melihat Masyarakat Kepercayaan dan perspektif Masyarakat Kepercayaan dalam memandang Bakor Pakem.

  Pada bab V mengenai penutup, didalamnya berisi mengenai kesimpulan hasil penelitian dan saran-saran.

BAB II MASYARAKAT DAN TRADISI JAWA DI YOGYAKARTA A. Masyarakat Jawa di Yogyakarta Dalam penulisan ini kita akan mencoba untuk menelusuri tentang

  perkembangan masyarakat kepercayaan di Yogyakarta. Supaya lebih jelas dan lebih sistematis maka diperlukan sebuah pembatasan masalah, dalam penelitian ini kita harus mengetahui tentang siapa yang disebut sebagai suku Jawa dan karakternya. Suku Jawa itu berbeda dengan Pulau Jawa, karena didalam Pulau Jawa itu menyangkut masalah letak geografis dan suku Jawa itu menyangkut sebuah komunitas bangsa.

  Yogyakarta dalam konteks ini masuk kedalam kategori suku Jawa, disamping masyarakat Jawa lain yang meliputi Jawa Tengah dan Jawa Timur.

  Pembagian ini sebenarnya hanya legalitas sebuah geografi saja, kalau ditelusur mengenai orang Jawa ini sebenarnya tidak hanya dikatakan bahwa orang Jawa tidak terdapat di Pulau Jawa saja tetapi sudah mencakup seluruh Indonesia.

  Masyarakat Jawa ini tersebar dan menyebar merambah ke suku lain, hal ini disebabkan oleh beberapa cara yaitu karena program transmigrasi, perkawinan campur atau dengan sengaja merantau kedaerah (atau negara) lain. Dari pengamatan empiris yang ada, rata-rata orang Jawa yang merantau akan tetap merasa sebagai bagian dari suku Jawa. Bahkan untuk mempertahankan identitas itu banyak seni budaya dan tradisi Jawa yang dilestarikan di daerah tempat tinggalnya.

  Kasus yang sempat menghebohkan sebagai contohnya ketika klaim Malaysia atas kesenian Reog Ponorogo, dan setelah diselidiki ternyata para pemainnya adalah masyarakat Jawa yang telah lama tinggal dan menjadi warga negara tersebut. Dalam konteks lokal sendiri ternyata ada ragam kesenian dan

  

ngelmu (ilmu) kejawen yang tetap dilestarikan seperti di Lampung, Riau,

  Palembang ataupun banyak daerah lain yang telah dimukimi oleh masyarakat Jawa.

  Disisi lain, istilah dengan “Jawa” atau kebudayaan Jawa sendiri saat ini juga perlu dipertanyakan dan direfleksikan, karena dimasa modern ini banyak orang Jawa yang memiliki style bukan seperti layaknya orang Jawa, atau istilah yang populer adalah “Jawa sing ilang jawane”. Sehingga perlu adanya semangat dan usaha-usaha kongkrit untuk melestarikan kebudayaan Jawa.

  Adapun batasan dari masyarakat Jawa adalah orang-orang yang masyarakat yang beretnis Jawa dan masih berkomitmen terhadap kebudayaan

  11 Jawa, entah tinggal dipulau Jawa atau pun daerah lain . Sedangkan menurut

  Frans Magnis Suseno menyebutkan bahwa orang Jawa adalah orang yang bahasa

  12 ibunya adalah bahasa Jawa .

  11 Muhhamad Damami. 2002, Makna Agama dalam Masyarakat Jawa, LESFI, Yogyakarta. Hlm.12.

  12 Magnis Suseno, Frans. 2003, Etika Jawa Sebuah Analisa Falsafi

tentang Kebijaksanaan Hidup Jawa, PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

  Hal.11. Jadi orang Jawa adalah penduduk asli bagian Timur dan tengah. Zaman sekarang kira-kira terdapat 68 juta orang Jawa.

B. Letak Geografis dan Kependudukan

  1. Bentang Alam

  Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta merupakan salah satu dari 30 Propinsi di Indonesia, yang terbagi ke dalam lima wilayah administrasi pemerintahan yaitu; kabupaten Sleman, Bantul, Gunung Kidul, Kulon Progo dan Kodya Yogyakarta. Wilayah ini di batasi oleh sebagian besar wilayah Jawa Tengah, kecuali sebelah selatannya yang dibatasi oleh Samudera Hindia. Dengan luas 3.186 km2.

  2. Geografi Yogyakarta

  Kondisi tanah di Yogyakarta cukup subur dan memungkinkan ditanami berbagai tanaman pertanian maupun perdagangan, disebabkan letaknya di dataran lereng gunung Merapi yang garis besarnya mengandung tanah vulkanis. Sejalan perkembangan kota dan permukiman yang pesat, lahan pertanian sangat menyusut. Dari data 1999 menunjukkan penyusutan 7,8% dari luas area Yogyakarta (3.249,75) karena beralih fungsi ( ke lahan Pekarangan)

  Pertambahan penduduk dari tahun ke tahun cukup tinggi, pada akhir 1999 jumlah penduduk kota sebanyak 490.433 jiwa dan sampai pada akhir Juni 2000 tercatat penduduk bertambah sebanyak 493.903 jiwa dengan tingkat kepadatan

  2

  rata rata 15.197/km . Jumlah ini terus bertambah dengan cepat dari tahun ke tahun, terlebih dengan pertambahan penduduk musiman yang tidak terdata secara pasti secara administratif. Angka harapan hidup penduduk ini menurut jenis

  13 kelamin laki-laki usia 72,25 tahun dan perempuan usia 76,31 tahun .

  13

4. Sosial Ekonomi

  Kehidupan sosial ekonomi mayarakat Yogyakarta sudah cukup baik di karenakan mobilitas perekonomian yang tinggi. Pertumbuhan ekonomi Yogyakarta selalu naik dengan adanya pusat-pusat perekonomian dari sentra- sentra industri kecil sampai besar, ditambah dengan majunya sistem pendidikan yang terus menerus menjadi daya tarik bagi pelajar di daerah lain. Disisi pariwisata Yogyakarta sendiri mempunyai daya tarik yang khas seperti kraton Yogyakarta, Malioboro, museum, monumen dan lain-lain. Secara garis besar wilayah DIY mempunyai banyak potensi dalam wilayah geografisnya sepaerti wisata gunung, wisata agrobisnis dan wisata sepanjang pantai selatan.

C. Karakter masyarakat Jawa di Yogyakarta

1. Sejarah Masyarakat Jawa

  Pada abad ke VIII dalam tahun 732 AD, di Jawa tengah diketahui adanya kerajaan yang disebut Kerajaan Mataram kuna, dari sebuah prasasti yang ditemukan di desa Wukir, Desa Canggal sebelah Tenggara Magelang. Sanjaya, Raja Mataram di wilayah Yogyakarta sekarang memperluas wilayahnya ke seluruh Jawa dan bahkan sampai Sumatra dan Bali. Dari situlah berasal monumen-monumen bangunan besar yang pertama yaitu candi-candi Siwais di dataran tinggi Dieng. Tak lama kemudian Jawa Tengah jatuh kedalam kekuaasaan dinasti Saylendra dari Sumatra yang mendirikan candi terbesar di dunia, yaitu candi Borobudur.

  Di abad ke X terjadi perindahan kerajaan Mataram Kuna ke daerah sungai Brantas di Jawa Timur karena berbagai alasan. Pertama karena adanya bencana alam yang banyak membahayakan kerajaan, kedua karena intervensi dari musuh dan sebagainya. Sesudah jaman Empu Sindok yang memakai gelar Raja Mataram, kerajaan di Jawa Timur ini di kuasai oleh Kediri yang di pimpin oleh Airlangga.

  Kerajaan ini mampu mengungguli kerajaan Sriwijaya dalam bidang perdagangan, sehingga kemajuan pesat terdapat dipantai utara Jawa.

  Di kerajaan Kediri ini mencapai puncaknya pada jaman Jayabaya (1135- 1157), dibawah pemerintahannya terdapat pujangga kraton yang menerjemahkan naskah Mahabarata, selain itu ia sendiri terkenal sebagai seorang peramal yang

  14

  termasyur . Raja Kediri terakhir adalah Kertanegara yang sangat berani menentang khaisar Mongol, Khublai Khan. Keratnegara menghina dan membunuh utusan Mongol yang menyuruhnya untuk tunduk kepada Mongol. Tindakan tersebut membuat Khubilai Khan menghukum Kertanegara, namun raja ini telah terbunuh lebih dahulu.

  Setelah itu kerajaan Majapahit pun (1293-1522) muncul dengan pendirinya Raden Wijaya. Kerajaan ini mencapai kejayaannya pada masa raja Hayam Wuruk dan patihnya yang terkenal dengan sumpah Amukti Palapa, Gajah Mada. Pada masa itu wilayah kekuasaanya jauh lebih luas dari wilayah Indonesia sekarang. Kerajaan ini runtuh ketika diserang oleh Demak dan menghilang pada abad XVI

14 Ramalan yang terkenal adalah mengenai Ratu Adil, ramalan ini

  berpengaruh terhadap kesadaran politik Jawa, sehingga banyak pemberontakan- pemberontakan yang sering mengklaim sebagai implementasi atau mengganggap

  Sebagai kerajaan Islam pertama di Jawa, Demak memegang peranan penting dalam pengislaman masyarakat Jawa, sehingga kerajaan sesudahnya banyak yang terpengaruh oleh Islam, seperti Pajang (1546-1582)dan Mataram Islam .

  Mataram Islam ini didirikan hasil dari kemenangan atas konflik di Pajang, sehingga Panembahan Senapati atau Sutawijaya menjadi raja Mataram. Semula Mataram adalah bagian dari Pajang yang berbentuk kadipaten, tetapi kemudian menjadi kerajaan besar yang bisa menyaingi kerajaan Demak.

  Kerajaan ini menjadi Cikal bakal dari kraton Yogyakarta dan Surakarta, dimana pembagian ini berdasarkan perjanjian Giyanti (1754). Perjanjian ini ada dikarenakan terjadi perpecahan antara pangeran Mangkubumi dengan Raden Mas Said, sehingga jalan tengahnya dengan melakukan pembagian wilayah kerajaan.

  Sampai sekarang kraton Yogyakarta masih mempunyai eksistensi dan kultural yang amat kuat bagi masyarakatnya.

2. Masyarakat Kepercayaan

2.1. Dinamika masalah Kepercayaan

  Secara harafiah kepercayaan berasal dari kata percaya yang berarti (menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia) mengakui atau yakin bahwa sesuatu itu benar atau nyata. Kata ini mengandung makna yang luas, karena kepercayaan itu universal dan amat asasi. Universal dalam arti bahwa kepercayaan dapat dimiliki oleh siapapun dan percaya terhadap apapun, sesuai dengan pengetahuan dan

  “kedalaman pikiran” seseorang. Hal itu bersifat asasi karena menyangkut sesuatu yang privat dan kepercayaan tidak boleh dipaksakan.

  Masyarakat Yogyakarta ini mempunyai keimanan yang dimanifestasikan ke dalam bentuk agama maupun kedalam ajaran-ajaran kepercayaan lain. Antara agama, kepercayaan, dan kebatinan sebenarnya mempunyai esensi yang sama, yaitu percaya terhadap Yang Ada, Gusti, Tuhan ataupun Allah, perbedaannya adalah bentuk, tata cara ritual dan proses laku menjalankan ajaran yang dianutnya.

  Dalam penelitian ini penulis menggunakan istilah Kepercayaan karena mengandung makna yang lebih luas, sebelum tahun 1978 lebih dikenal dengan nama kebatinan, sesudah itu lebih sering disebut sebagai aliran kepercayan terhadap Tuhan yang Maha Esa (TYME). Aliran kepercayaan ini menurut Mr.

  Wongsonegoro terbagi kedalam beberapa golongan, yaitu kebatinan, kejiwaan dan kerohanian.

  “Kebatinan mengandaikan adanya ruang hidup didalam diri manusia yang bersifat kekal. Disitulah terdapat kenyataan mutlak latar belakang terakhir dan definitif dari segala apa yang bersifat sementara, tidak tetap atau semu saja. Seluruh alam erat dengan segala daya tenaganya hadir secara imanent didalam batin itu dalam wujud kesatuan tanpa batas antara masing-masing bentuk. Bila manusia mengaktivir daya batinnya dengan olah rasa atau semadhi, dia membebaskan diri dari prsangka atas keanekaan bentuk-bentuk. Melalui kontak gaib manusia menyadari diri sebagai satu-dalam-semua dan semua-dalam-satu, selanjutnya dia menerima kekuasaan datas daya gaib dalam kosmos. Corak kebatinan adalah kosmesentris yang terupa dalam sakti, astrologi, olkutisme dan ramalan zaman depan.

  Kejiwaan mengajarkan semacam psychotehnik, melalui mana jiwa /mental abadi manusia menyadari diri sebagai Ada-Bebas-mutlak yang tidak tergantung pada apa saja yang ada diluarnya. Manusia dibimbing untuk mengatasi hukum alam dan logika untuk menuju realisasi jiwa sendiri, yang penuh rahasia, daya gaib dan parapsychik. Didalam kebebasan itu manusia mengalami kemuliaan dan kebahagiaan. Kejiwaan ini bersifat anthoposentris, netral terhadap nilai-nilai keagamaan dan sering disebut

  sebagai pshichoterapy atau penyembuhan daya jiwa. Kejiwaan juga diartikan sebagai usaha membebaskan diri dari belenggu keakuan dan keduniawian agar menjurus kepada dasar jiwa, dimana ditemukan ketuhanan. Kejiwaan itu berkembang dalam faham pantheis, maupun dalam keyakinan monotheis.

  Kerohanian memperhatikan jalan, melalui mana roh manusia sudah dalam jaman sekarang ini dapat menikmati kesatuan dengan roh mutlak, sumber asal dan tujuan roh insani. Terdapatlah kerohanian monistis, menurut mana roh insani yang dianggap mengalir identitasnya sendiri, tetapi dengan partisipasi daya gaib adi-insani. Terdapat pula kerohanian theosentris, dimana roh tercipta merasa dipersatukan dengan Tuhan pencipta tanpa kehilangan kepribadiannya sendiri, entah melalui jalan

  15 budi atau Gnosis, entah melaliu jalan bakti, cinta atau tawakul”.

  Tentu saja klasifikasi ini tidak mutlak untuk menjadi eksklusif, masing masing saling menpengaruhi ataupun terkait satu dengan yang lainnya, walaupun begitu penggolongan ini akan lebih bisa diterima dalam kelompok masyarakat modern. Sedangkan kejawen yang kita kenal sekarang adalah bentuk-bentuk kepercayaan kepercayaan masyarakat Jawa yang sekarang lebih familier dikalangan masyarakat kita. Kejawen sendiri juga mempunyai beragam bentuk (aliran-aliran) dan karakter sesuai dengan pengembangan dan perkembangannya..

  Aliran kepercayaan masyarakat Jawa (disebut sebagai Kejawen) di Yogyakarta dipengaruhi dua hal yaitu; kejawen yang terpengaruh kraton dan luar kraton. Aliran kejawen yang terpengaruh oleh kraton adalah kejawen yang merupakan ajaran atau tradisi yang berkembang dan secara turun menurun dilestarikan di lingkungan kraton atau dipimpin oleh kerabat/trah kraton. Kejawen ini mempunyai tradisi yang lebih banyak pengaruhnya karena sampai saat ini

15 Subagya, Rahmat. 2002. Kepercayaan dan Agama Kebatinan Kerohanian Kejiwaan. Kanisius, Yogyakarta. Hlm.43-44.

  penganut tradisi kraton yang masih banyak. Kraton Yogyakarta sendiri sampai sekarang masih mengembangkan tradisi kejawen-Islam yang sangat sinkretis dan pluralis.

  Kejawen yang ada diluar kraton adalah kejawen yang biasanya dipimpin oleh orang-orang awam (atau trah bangsawan yang hidup) diluar tembok kraton (Mancanegara), biasanya mereka adalah orang-orang “ngelmu’ yang menerima wahyu secara tersendiri. Pemimpinnya tidak selalu orang yang berdarah biru tetapi kebanyakan berasal dari rakyat biasa.

  Pembagian lain dari perspektif pelaku lelaku kejawen ini terdapat dalam

  16

  lelaku perorangan dan lelaku secara kelompok paguyuban . Hal itu dimaksudkan bahwa seseorang penghayat kepercayaan bisa melakukan kepercayaan itu secara pribadi dan tidak ikut melibatkan orang lain/kelompok Orang tersebut dengan sengaja memisahkan diri dari kelompok paguyubannya dan melaksanakan ajaran kejawen secara personal.

  Lelaku yang kedua dilakukan dalam sebuah kelompok paguyuban, kelompok ini biasanya mempunyai struktur dan anggaran dasar rumah tangga (AD/ART) yang jelas. Dari pembagian itu dapat dipastikan bahwa hanya yang tergabung dalam kelompok paguyubanlah yang bisa mendaftar dan tercatat secara administratif oleh lembaga-lembaga pengawasan pemerintah.

16 Menurut mbah Bakir (seorang penganut kajiwan di daerah pegunungan

  seribu) kebanyakan para penghayat keparcayaan masuk kedalam banyak padepokan atau paguyuban kejawen, namun bagi mereka para penganut kajiwan yang beraliran makrifat akan lebih cenderung berguru seorang diri (masuk dalam

  Sementara itu ada kesalahpahaman dan kesalahkaprahan pandangan didalam masyarakat umum terhadap para penghayat kepercayaan (kejawen). Hal tersebut terlihat dari munculnya stereotip-stereotip negatif mengenai jalan kehidupan masyarakat kepercayaan. Contoh yang dapat diambil adalah ketika orang berbicara tentang mistik akan diidentikkan dengan klenik, haram, “mistik”, bersekutu dengan setan dan sebagainya.

  Kesalahpahaman inilah yang harus diluruskan kembali, karena bansga Indonesia ini mempunyai kepercayaan lokal yang amat banyak jumlahnya (multi aliran dan multi ajaran). Sehingga ketika generalisasi stereotif negatif yang sangat absurd tersebut diarahkan kepada masyarakat keperayaan, tentulah menjadi sangat konyol dan tidak cocok sama sekali. Kita harus mengetahui dan memahami terlebih dahulu tentang sebuah aliran yeng bagaimana, aliran siapa, dimana dan bagaimana karakternya.

  Stereotif yang sudah terlanjur mengakar dalam paradigma masyarakat tersebut terjadi, karena banyak orang yang tidak mempunyai pengetahuan cukup mengenai terhadap seluk beluk aliran-aliran kepercayaan. Sehingga sangat diperlukan adanya sharing informasi dan kajian-kajian ilmiah secara konferhensif yang mengangkat tentang masyarakat kepercayaan (kejawen).

  Ketika kita berbicara mengenai masalah aliran Kepercayaan (kejawen) tentulah harus tahu tentang ajaran-ajaran kejawen terlebih dahulu. Ajaran kejawen ini mempunyai aspek-aspek yang sangat luas, seperti masalah ketuhanan, kosmologi, mitologi dan praktek praktek mistisisme lainnya.

  Secara esensial ajaran kejawen mempunyai tujuan yang sama yaitu untuk mengetahui sangkan paraning Dumadi (asal usul kehidupan) dan pencapaian kesempurnaan hidup. Secara garis besar hal itu terimplikasi kedalam dua konsep besar yaitu pertama dalam konsep menuju Manunggaling Kawulo Gusti (Hablun

  min Allah) dan konsep Memayu Hayuning Buwana (hablun min annas).

  Manunggaling Kawulo lan Gusti ini adalah hubungan yang bersifat

  vertikal yaitu hubungan manusia dan Tuhannya, dimana terjadi hubungan yang selaras dan dinamis diantara keduanya (Jumbuh, Curiga manjing Warangka dan

  

Warangka manunggal ing Curiga ). Persatuan (manunggal) antara manusia dan

  Tuhan adalah puncak dari sebuah kesempurnaan hidup (makrifat) manusia, karena pada posisi ini manusia bisa ngerti sedurung winarah (tahu sebelum diberi tahu), atau dapat menembus ke dimensi lain tak terbatas ruang dan waktu.

  Proses menuju keadaan keadaan makrifat itu tidak saja didapat dengan mudah, karena seseorang pada level tersebut tentu saja sudah sangat mendalami “laku prihatin” kejawen sesuai dengan alirannya. Petungan, meditasi (semedhi), puasa, wirid, adalah hal dasar yang mutlak dijalani bagi pelaku dalam rangka mendekatkan diri kepada Tuhan.

  Dalam pelaksanaannya banyak sekali secara teknis terjadi perbedaan ritual antar aliran kejawen. Hal ini tidak menjadi masalah, mengingat hasil dari ajaran- ajaran itu berasal dari ‘wahyu” seseorang yang bisa berbeda. Wahyu yang diterima itulah yang mendasari pegangan hidup dari para penganut aliran

  17 kepercayaan .

  Proses atau jalan menuju kemanunggalan itu banyak ditulis dalam bentuk sastra oleh pujangga seperti Yasadipura I, Pakubuwana IV, Ranggawarsita atau yang lain, yang berbentuk serat, suluk, macapat. Sastra yang amat terkenal dan terkait dalam hal ini adalah Serat Dewa Ruci, Serat Centhini, Serat Cabolek, Serat

18 Wirid Hidayat Jati dll.

  Kedua, konsep Memayu Hayuning Bawono adalah mengenai masalah hubungan manusia dengan alam sekitar. Ajaran ini lebih menitik beratkan kedalam prilaku sosial dan etika moral (filsafat sosial) manusia yang tercerminkan dalam kehidupan sehari-hari. Menurut Frans Magnis Suseno terdapat dua kaidah dasar orang Jawa yang tercermin kedalam prinsip hidup, yaitu prinsip kerukunan dan prinsip hormat.

  Prinsip kerukunan lebih mengarah kepada hubungan yang harmoni, guyub,

  

tepa slira dan sebagainya, sedangkan prinsip hormat lebih mengarah kepada sikap

  yang beretika seperti menghormati yang tua atau lebih tua, menyapa orang lain, menggunakan bahasa kromo dan sebagainya. Selain itu kelebihan orang jawa

  17 Harun Hadiwiyono. 1970, Java and Mystisicm,Yogyakarta. Hlm. 52-53.

  Datangnya wahyu tidak secara tiba-tiba tetapi secara berangsur angsur, wahyu ada dan tumbuh dalam jiwa manusia terpilih. Derajad kejiwaan ini dapat disebut wahyu, pepadang, suksma sejati, kesadaran hidup, dan sabda. Sedangkan jalan menemukan wahyu tersebut terdapat dalam serat Sasangka Jati.

  18 Abdulah Ciptoprawiro. 1986, Filsafat Jawa. Jakarta, Balai Pustaka.

  Hlm. 39-77. adalah dengan menggunakan bahasa pitutur (bahasa lisan) seperti paribasa,

  19

saloka, parikan, purwakanthi dll sebagai piwulang (pelajaran, pengajaran) etika.

  Dari hal diatas, menjadi lucu dan aneh ketika para penghayat kepercayaan dan sejenisnya dituduh, diidentikkan serta dihukum dengan penggeneralisasian mistik, klenik, perdukunan, dan sebagainya, dengan alasan yang tidak jelas. Antara mistik dan klenik mempunyai perbedaan yang mendasar. Menurut Suwardi Endraswara, mistik lebih bermakna sebagai cara hidup dan pola hidup kepercayaan, sedangkan klenik adalah sebuah laku (hasil) ditataran praksis.

  Secara mendasar mistik lebih menuju ke jalan hidup seseorang untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, sedangkan klenik dan perdukunan adalah salah satu efek-efek (praktek) dari pola hidup tersebut.

  Ketika pemahaman seorang penghayat mencapai tingkat yang tinggi (sejati/kasepuhan/makrifat), maka sebenarnya tidak menjadi sebuah masalah.

  Menjadi masalah ketika banyak orang yang hanya menjadi sebuah objek (konsumen klenik) dari mistik orang lain. Artinya orang itu hanya menjadi konsumen dari amalan, jimat–jimat, pusaka yang diperoleh secara instan dan minim pemahaman esensi spiritual.

  Perbedaan dasar antara orang yang lelaku dan pengguna ilmu instan sangatlah signifikan. Seorang pelaku lelaku itu sangatlah mengerti mengenai esensi laku spiritual yang dilakukan, sedangkan konsumen instan tadi tidaklah mengerti tentang esensi spiritual. Para konsumen tersebut yang tidak mempunyai

19 Daryanto, SS, 1999, Kawruh bahasa Jawa Pepak. Apollo.Surabaya.

  Hlm.19. Contoh parikan; 1) Kembang kencur, gandha sadhep sanding sumur, kudu jujur yen kowe kepingin makmur. 2)Manuk tuhu mencok pager, yen sinau landasan spiritual yang kuat tersebut, akhirnya menjadi minim nilai dan jauh dari jiwa spiritualitas.

  Menjadi tambah terpuruk ketika banyak oknum-oknum penghayat yang berbekal ilmu spiritual minim mengkomersialisasi sebuah ilmu-ilmu laku kejawen. Dampaknya adalah hilangnya nilai-nilai sakral dalam sebuah laku spiritual. Pada saat komersialisasi melanda didunia spiritual, maka spiritual yang ditawarkan adalah hampa, tak bermakna dan cenderung menyesatkan. Di ibaratkan seperti tanaman padi yang subur dan berbiji besar namun tidak berisi.

  Hal-hal inilah yang memacu kenapa istilah klenik dan perdukunan mendapat stereotif negatif dari berbagai pihak .

2.2. Abangan dan Santri

  Cliford Geerzt membagi struktur dalam tiga varian yaitu Abangan, Santri

  20

  dan Priyayi . Dalam penelitian ini lebih menggunakan pembanding antara

  21

  abangan dan santri . Abangan disini dipakai dalam mewakili orang-orang yang menggunakan sinkretisme agama dan kepercayaan lokal. Sedangkan santri mewakili orang orang yang taat dan patuh terhadap agama murni.

  20 Geerzt, Cliford. 1983, Abangan Santri Priyayi dalam Masyarakat

Jawa, Pustaka Jaya, Jakarta. Hlm.8. Abangan yang mewakili suatu titik berat pada

  aspek aniomistios dari sinkretisme jawa yang melingkupi semuanya, dan secara luas di hubungkan deengan elemen petani, sedangkan santri mewakilki suatu titik berat pada aspek islam dari sinkretisme itu dan umumnya dihubungkan dengan elemen dagang ( dan kepada elemen tertentu pada dikalangan tani) dan priyayi menekankan pada aspek aspek Hindu dan dihubungkan pada elemen birokratik.

  21 Pembagian Geerzt ini banyak dibantah oleh para ahli dikarenakan

  ketidak seimbangan atau pengambilan pembanding yang berbeda antara abangan dan santri dengan priyayi. Dimana abangan dan santri merujuk kepada sebuah ajaran islam sinkretis dan islam murni, sedangkan priyayi merujuk kepada status

  Abangan disini bisa dikategorikan sebagai nama lain dalam kejawen, artinya antara kejawen dan abangan mempunyai unsur unsur yang sama, hanya masalah bahasa yang membedakan (kejawen sangat berbau Jawa, sedangkan Abangan sangat berbau agama (Islam)). Sebagai contoh adalah si A itu menganut sebuah agama (resmi) tertentu tetapi ia juga mengakui bahwa ia juga seorang penganut aliran kejawen tertentu.

  Disamping itu banyak orang tua penganut kepercayaan yang mempunyai identitas agama di KTP nya, namun ia tidak pernah menjalani prosesi ritual agama tersebut. Sampai saat ini masih banyak orang yang menjalani “agama KTP” seperti itu tetapi jarang terungkap atau sengaja di ungkapkan di depan umum.

  Secara politis, kelompok abangan ini terbentuk ketika pemerintah melegalkan beberapa agama besar dan menghapuskan kepercayaan lokal dari definisi agama. Sehingga banyak yang mengikuti atau masuk ke berbagai agama namun hanya bermotif sekedar untuk syarat administratif saja. Dengan mengikuti syarat tersebut dapat berguna untuk mempermudah dalam mengurus berbagai keperluan seperti pembuatan KTP, akta kelahiran, akta nikah dan sebagainya.

  Kelompok yang kedua adalah dari kelompok santri, dalam kalangan santri lebih banyak berasal dari strata sosial menengah. Dalam masyarakat santri ini berlaku aturan-aturan yang lebih ketat dalam menjalankan yang dianut. Menurut Niels Mulder kelompok ini juga disebut sebagai kelompok putihan (kontradiksi dari abangan), dimana kelompok ini membatasi bahkan menjauhkan diri dari paham sinkretisme. Hal tersebut disebabkan karena kondisi masyarakat mayoritas

  22 menganut sebuah agama lebih secara doktriner .

  Doktrin dari kelompok santri adalah orang yang rata-rata terdidik baik secara formal maupun informal, itulah yang membedakan dengan kelompok abangan yang cenderung acuh teradap doktrin agama. Sistem yang terbentuk dikalangan santri lebih terstruktur dengan baik dalam bentuk kelembagaannya.

  Kelompok ini dimenefestasikan dalam pelaksanaan ritual atau ibadah agama yang cermat dan teratur, selain itu kegiatannya termanifestasikan dalam satu kompleks organisasi sosial dan politik.

  Menurut Geerzt sebenarnya selama ini telah terjadi ketegangan antara kelompok abangan dan santri secara halus atau implisit. Ketegangan ini bersumber pada para santri yang terlalu bersifat ideologis, universalisme dan

  23

salvasionisme , hal itulah yang menjadi sumber kritikan oleh kaum abangan

  yang cenderung pragmatis (berpegang teguh) dan relativitis (tidak ada kebenaran mutlak). Serangan nyata oleh kaum abangan lebih kearah moralitas kaum santri yang “lebih suci dari padamu”, tetapi dianggap malah melanggar “ kesuciannya” yang lebih suci padamu- itu sendiri. Sedangkan kaum santri sendiri menuduh kaum abangan sebagai penyembah berhala, syirik dan perlu disucikan lagi .

  22 Dalam ajaran Kristen (terutama katolik) pengakuan ada kebenaran

  diluar ajaran gereja baru diakui sekitar tahun 1960-an setelah adanya konsili Vatikan II.

  23 Salvasionoisme berasal dari kata salvasi yang berarti keselamatan,

  perdamaian, kesejahteraan. Term salvasionisme ini mempunyai konotasi sebagai aliran yang membawa keselamatan bagi semua orang yang mau untuk mengikutinya, sehingga sebagai dampaknya orang yang merasa mempunyai salvasi akan merasa lebih benar dan menganggap yang lain sebagai orang yang

  Dari sebuah narasi diatas dapat dibayangkan bahwa hal tersebut akan menjadi sebuah perselisihan paham yang sengit, berlangsung secara dingin dan secara implisit. Pertempuran ide(ologi) ini seringkali meruncing sehingga kelompok abangan yang tidak suka bermain dikancah politik akan cenderung terpojokkan dan sengaja terpojokkan dengan berbagai “aturan aturan pemerintah”.

D. Yogyakarta sebagai Sentral Eksistensi Kepercayaan

  Menurut data ststistik DIY tahun 1999, diperkirakan penganut agama Islam mencapai 91%, Katolik sebesar 4%, Kristen 3%, sedangkan Hindhu dan Budha sebesar 1%. Walau sebagaian besar tercatat sebagai pemeluk Islam, tetapi tidak dapat dipungkiri bahwa masih banyak orang yang masih mempercayai dan melakukan hal yang berupa mistik kejawen atau hal yang berbau sinkretisme baik Animisme, Dinamisme, Hinduisme, dan sebagainya. Banyak orang Jawa di Yogyakarta masih sangat bersifat kultural dan sangat menjunjung tinggi nilai dan

  24 adat jawa, lebih cenderung menganut ajaran yang disebut kejawen .

  Dalam perjalanan waktu para penghayat ini mengorganisasi diri kedalam bentuk paguyuban-paguyuban, namun ada juga sampai saat ini yang masih banyak menjadi penghayat kapribaden (untuk sendiri dan tidak terikat oleh paguyuban). Hingga sekarang ini menurut catatan kejaksaan Tinggi DIY, tercatat 90 aliran kejawen yang tersebar di lima kabupatennya. Aliran-aliran besar seperti Pangestu, Sapto Darmo, Sumarah, Subud dan sebagainya masih sangat eksis sampai saat ini. Ditambah sekarang ini muncul aliran-aliran baru yang menjadi

24 Soehadha, M. 2008. Orang Jawa Memaknai Agama, Kreasi Wacana,

  sangat populer, seperti Paguyuban Tri Tunggal, Kawula Ngayogyakarta dan lain sebagainya. Diperkirakan para penganut aliran kepercayaan di Yogyakarta mencapai puluhan ribu orang.

  Sapto darmo Hardo Pusoro Ngesti Roso Sejati Persatuan Eklasing Budi Murko (PEBM) Djimat Manungaling

  Susilo Budi Darmo Mardi Santosaning Budi

  Santosaning Budi Yayasan Kawasitan Psyikoterapi

  Kautaman (ASK) Ngesti Kasampurnan Mardi

  Kasampunaning kautaman Sad Pakerti Angudi sampurnaning

  Angesti Sampurnaning Kautaman Angudi

  Kaampunaning Kautaman (ASK) Sampurnaning Urip

  Rebo Wage Ngesti Kasampurnan Sumarah Purbo Traju Mas Angesti

  Hidup Betul S.B.P.45 Lepasing Budi Hidup Betul Pangestu Dawut Aryadi Suradi (DAS) Ngesti Roso

  Kawulo Gusti Donojati Kawruh Kodrating Pangeran (PPKP)

  Sapta Darma Perjalanan Minggu kliwon Donojati Paguyuban Theosofi Indonesi (perwatin)

  Berikut adalah daftar aliran-aliran kepercayaan yang tersebar di Yogyakarta

  Bondan Kejawen Sumarah Paguyban ngestitunggal Ngesti Roso Sejati

  Sumarah Purbo Ngudi Utomo Hak Sejati Perjalanan Kawruh Sejati Jati Luhur (Ki Wongso Inggeno) Hidup Betul

  Perhimpunan kemanusiaan Pag. Hardo Pusoro

  Sumarah Ngudi Utomo Perjalanan Mardi Santosaning Budi Budi Rahayu

  Hangudi Lakuning Urip (HLU) Sangkoro Mudo Hidup Betul Kasampurnan Jati

  Napsu Marsudi Santosaning Budi (MSB)

  Kodrating Pangeran Sumarah Anggayuh Panglereping

  Sapto darmo Sapto darmo Imbal Wecono Hardo Pusoro Pang. Sangkara Muda (Pusat) Kawruh

  Yogyakarta Sleman Bantul Gunung kidul Kulon Progo Pangestu Yayasan Surokartono

  Roso Batin Kaweco

  (YKP)

Wayah Kaki Tri Soka Setya Budi

Perjanjian 45 Bawono Toto Kaweyahan Bimo Suci Persatuan

  Sedendang Eklasing Budi Murko Susilo Budi Guru Sejati Hidup Betul Sumarah Dharmo (Subud)

Woro Kasih Purbaning jati (kasunyatan Ngudi Utomo

Bima Suci) Paguyuban Toto Sanggar (Pangestu) Ilmu sejati Tentrem (Patrem) Pamelengan Tri soka (Ngudi Utomo) (Traju Mas) Waris Mataram (Dono Jati) (Paguyuban Jati

  Luhur) Sadar Langsung Karohanian Yayasan Gereja Yesus Kristus dari orang orang suci Zaman akhir Sasrtrokartono Sastra jendra Pangruwating diyu (Paguyuban Sukreno)

  Tabel I Data dari Kejaksaan Tinggi Yogyakarta tahun 1978

  Jumlah paguyuban diatas bukanlah data yang pasti 100%, hal itu disebabkan tidak semua aliran-aliran kejawen yang mendaftarkan diri atau tidak terdaftar pada lembaga pengawas. Banyak contoh dari paguyuban-paguyuban yang belum tercatat, diantaranya adalah Paguyuban Tri Tunggal, Paguyuban Kawulo Ngayogyakarta, Agama Jawa Maliki, AJI (Aliran Jiwa Indonesia), Barisan Kampung Perot, Buda Budining Suci, Dawahing Allah Suci, Gabungan Musyawarah Kebatinan RI, Gletah Pethel, Himpunan Kebatinan dan lain sebagainya.

  Dari data diatas dapatlah kita katakan bahwa kehidupan para penghayat kepercayaan di Yogyakarta masih eksis dan terpelihara dengan baik. Selain karena merupakan basis intelektual, hal ini juga dikarenakan pengaruh fungsi kraton yang masih tetap mempertahankan wilayah kulturalnya. Kraton sebagai penjaga tradisi menjadi sebuah kekuatan besar dalam mengayomi berbagai seni dan tradisi kebudayaan masyarakat Jawa, sehingga tidak mudah tergerus oleh gelombang modernisitas.

BAB III BAKOR PAKEM A. Latar Belakang Pendirian

1. Perdebatan di Departemen Agama

  Departemen Agama muncul ditahun 1945 mengganti Shumubu, sebuah kantor Departemen Agama dijaman Jepang (pada masa jaman Kolonial, departemen ini masuk kedalam kantoor voor Inlandsche Zaken (kantor urusan pribumi). Pada saat Nippon berkuasa Shumubu ini di gunakan sebagai alat propaganda politik lewat jalan agama, yaitu dengan mendekati para agamawan dengan maksud supaya mau mendukung gerakan Jepang dalam mewujudkan Asia

25 Raya .

  Departemen ini muncul dalam suasana tegang dalam rapat Badan

  26 Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BKKI) . Selama dua minggu rapat itu

  membahas mengenai rancangan dasar dan sistem negara, termasuk wacana mengenai pwembentukan negara islam. Semua pendapat mengenai pembentukan negara Islam dilawan dengan gigih oleh para tokoh-tokoh nasionalis.

  25 Bazor. Moh. R. Departemen Agama. Hlm.7. Akhir 1942 pemerintahan

  Jepang mendekati umat Islam sebagai sasaran propaganda, Gunseikan menyapa para ulama dan kyai.

  26 Anas Saidi (ed.). 2004, Menekuk Agama Membangun Tahta, Kebijakan

Orde Baru , Desantara, Jakarta. Hlm. 55. Mungkin karena jejak kedua lembaga

  dimasa kolonial memperlihatkan jauhnya campur tangan pemerintah, ynag dianggap sebagai msalah pribadi serta karena Indonseia bukan dirimuskan sebagai negara agama (tertentu) maka beberapa dikalangan PPKI tidak setuju dengan adanya kementrian itu.

  Perdebatan mengenai kontroversi pendirian negara Islam diawali dengan

  27

  terbentuknya piagam Jakarta , tetapi piagam ini tetap saja banyak ditentang oleh berbagai pihak. Salah satu tokoh yang menentang adalah Mohhamad Hatta, beliau mempertahankan pendapat tentang Indonesia sebagai negara demokrasi bukan negara agama. Atas dasar itu ia memberikan ceramah tentang agama dan negara dimana isinya mengenai penolakan terhadap negara agama termasuk kedalam panitia persiapan kemerdekaan.

  Berbeda dengan kelompok Kartosuwiryo yang telah mempersiapkan gerakan sendiri untuk membuat negara agama merasa tidak puas, sehingga muncul gerakan Darul Islam di Tasikmalaya-Ciamis. Gerakan yang begitu radikal dan dianggap meresahkan masyarakat tersebut kemudian ditumpas oleh pemerintah.

  Pemerintah sebagai sebuah pengurus inti negara kemudian bersikap kompromis dalam menengahi dua perdebatan ideologis (antara negara nasional dan negara agama), maka Syahrir sebagai Perdana Menteri mendirikan sebuah

28 Departemen Agama.

  Pembentukan departemen itu juga difungsikan untuk mewadahi semua agama yang ada dengan adil dan tidak memihak pada sebuah agama, walaupun

27 Piagam Jakarta yang bertanggal 22 juni 1945 mendahului UUD 45 tidak

  mempunyai kekuatan hukum sipil, tetapi isi dari piagam itu sejiwa dengan Pancasila sebagai dasar negara seperti yang tertuang dalam UUD 45, kecuali dalam kata, berdasarkan ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syaria-

  syariat islam bagi pemeluk-pemeluknya.

  28 sebagai mayoritas sekalipun. Semua agama sejajar mempunyai hak dan kewajiban yang sama dalam negara Indonesia.

  Tugas atau kewajiban yang paling penting dari Departemen Agama ini adalah melaksanakan asas Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai pelaksana dari falsafah negara Pancasila. Tugas selanjutnya sesuai dengan peraturan Menteri no 10 tahun 1952 adalah sbb; a)

  Melaksanakan sila Ketuhanan YME dengan sebaik-baiknya dan agar supaya segenap warga negaranya dapat merdeka menjalankan agama masing-masing sesuai dengan ketentuan yang terkandung dalam UUD.

  b) Turut melaksanakan asas ketuhanan YME dan menjaga bahwa tiap- tiap penduduk mempunyai kemerdekaan dan memeluk agama masing- masing dan beribadat sesuai dengan agama dan kepercayaan masing- masing serta memelihara perkembangan aliran agama-agama yang

  29 sehat .

  Negara Indonesia sudah memiliki departemen yang mengurusi semua masalah agama dan kepercayaan masyarakat, tetapi pada akhirnya justru pembuatan departemen ini permasalahan yang dikemudian hari meniimbulkan berbagai kontroversi kehidupan beragama. Hal itu terjadi karena banyak yang

29 Untuk tugas dan peraturan departemen ini semakin berkembang, seperti

  PP menteri agama no 2 tahun 1958 yang memperluas lagi lapangan itu menjadi 34 tugas yang sebagian pararel dengan tugas negara. Kemudian pada tahun 1952 dengan PP Menteri Agama no 56 mempunyai tugas dan kewajiban secara lebih jelas yang berisi tentang perincian struktir organisasi, tugas dan wewenang yang berisi sebelas tugas pokok, struktur staf pribadi, sekjen, tugas tujuh biro dan menunggangi departemen (dan agama) tersebut dengan berbagai kepentingan yang bersifat politis.

  Ketika agama sudah dilembagakan secara struktural dibawah seorang menteri agama, dampaknya menteri tersebut mempunyai otoritas kekuasaan yang teramat besar. sehingga seringkali dalam membuat dan memutuskan sebuah aturan sepihak dengan begitu mudah.

  Pemilihan seorang menteri agama pun juga terbentuk dengan didominasi oleh kolompok mayoritas, sehingga kebijakan-kebijakan diambilpun lebih mementingkan kelompok mayoritas dan penguasa. Sebagai contoh adalah ketika pemilihan menteri-menteri itu berasal dari ulama-ulama yang beraliran konservatif asuhan pondok pesantren yang cenderung memberikan pengetahuan

  30

  terbatas dan sempit . Disitu sering terjadi dualisme istilah peraturan antara disatu tugasnya yang melindungi, membantu, menghubungkan, mengajukan, mengatur, menyelenggarakan, memperkembangkan, dst, sementara disisi lain lebih cenderung mengatur, mengawasi dan memimpin.

  Sampai pada tahun 1969 (atau mungkin sampai saat ini) Departemen Agama banyak menjadi sorotan karena terjadi krisis intern yang berimbas pada keputusan keputusan ekstern. Seperti yang dikemukaan H.A.R Fachrudin yang menulis megenai keadaan itu,

  Mengenai adanya koreksi Muhammadiyah terhadap Departemen Agama, dikatakan, bawa koreksi itu diberikan karena Muammadiyah melihat ada hal-hal yang negatif yang terdapat di Departemen Agama, berupa

30 Bazor. Moh. Ibid., Hlm.14. Terdapat 11 menteri agama antara tahun

  1945-1969 diantaranya Illyas dan Zuhri yang menempati kursi selama dua kali dan kyai Mansyur yang menempati selama empat kali.

  penyelewengan yang dilakukan oleh oknum-oknum pejabat Departemen Agama seperti penyuapan, pengeluaran ijasah dan belsit baru dll. Disamping itu dinyatakan juga terlibat tendensi adanya usaha usaha NU- isasi di Departemen Agama.

  Dari pernyatan itu paling tidak kira bisa mendapatkan gambaran mengenai

  31

  situasi saat itu , bahwa Departemen Agama itu sedang mengalami masalah yang serius terlebih lagi dikatakan bahwa departemen ini banyak melakukan tindak

  32

  pelanggaran korupsi finansial dan tata usaha yang tidak beres . Kritik yang paling pedas lagi di kemukakan oleh Ali Sadikin dan Muh. Bazor yang mengatakan bahwa Departemen Agama itu mempunyai sikap yang munafik dan serba kompromis. Sebagai contoh adalah bahwa sebuah departemen ini selalu membuat aturan, dan membebani diri untuk membina, mengembangkan jiwa keagamaan (sesuai dengan keputusan menteri no 56 tahun 1967) tetapi justru orang orang Departemen Agama sendirilah yang sering merusak aturan-aturan yang dibuatnya sendiri.

  Didalam perjalanannya, Departemen Agama ini sebenarnya bertugas menjadi mediator hubungan antar agama-agama dan administratifnya, seperti ijin pendirian tempat ibadah, bantuan asing untuk penyebaran agama, pengawasan terhadap sekte-sekte agama dan lain-lain. Disetiap pengawasan dan pengambilan keputusan, departemen ini berkerja sama/bersinergi dengan berbagai departemen lain seperti kejaksaan, kehakiman dan pendidikan.

31 Anas Saidi (ed.). ibid., Hlm. 56, Kementrian agama ini menjadi ajang

  pertarungan antar kelompok-kelompok didalam Islam itu sendiri selain itu rendahnya profesionalitas mereka menjadi kepriatinan.

  32

2. Proses terbentuknya Bakor Pakem

  Sesuai dengan namanya badan ini terbentuk dalam rangka sebagai pengawas terhadap aliran-aliran atau sekte-sekte kepercayaan masyarakat. Saat itu departemen-departemen pengawas menganggap adanya indikasi yang tidak baik dalam perkembangan aliran keparcayaan masyarakat. Sehingga merasa perlu mengadakan sebuah badan khusus yang mengawasi perkembangan berbagai aliran agama dan kepercayaan didalam masyarakat.

  Di masa-masa perang kemerdekaan Indonesia, gerakan kebatinan bergerak dan menyebar secara luas. Hal itu sangat dikhawatirkan oleh berbagai pihak terutama dari Departemen Agama. Setelah melakukan kajian-kajian mengenai hal tesebut, maka usulan untuk membuat badan koordinasi pengawas aliran kepercayaan tersebut diterima dan direstui oleh Syarir, sebagai Perdana Menteri Indonesia waktu itu.

  Sebelum menjadi Badan Koordinasi, Pakem ini dinamakan sebagai panitia interdepartemental Pakem sesuai dengan keputusan Perdana Menteri no

  33

  167/PM/1954 tanggal 1 Agustus 1954, yang diketuai oleh seorang pejabat dari unsur instansi kejaksaan dan anggotanya terdiri dari instansi-instansi lainya.

  Panitia ini bertugas untuk: 1. Menyelidiki dan mempelajari bentuk, corak dan tujuan dari masyarakat beserta dengan cara-cara perkawinananya yang terjadi dalam masyarakat.

33 Lindholm, Tore. dkk (ed). 2009, Kebebasan Beragama atau berkeyakinan: Seberapa Jauh, Kanisius, Yogyakarta. Hlm. 719.

  2. Memperhatikan, mengusulkan kepada pemerintah peraturan-peraturan/ undang–undang yang mengatur apa yang disebut butir 1 dan membatasinya untuk ketentraman, kesusilaan dan kesejateraan dalam suatu masyarakat yang demokratis sesuai ketentuan tersebut dalam pasal

  33 UUD Sementara RI Baru tahun 1959 dibentuklah Badan Koordinasi Pakem berdasarkan UU no 25/1959 di beberapa provinsi oleh Panglima Daerah Militer selaku penguasa perang setempat. Dimana Bakor ini bertanggung jawab terhadap Jaksa Agung Pusat, Kajati (Kepala Kejaksaan Tinggi) I dan II. Lembaga ini diperkuat oleh UU no 15 ditahun 1961 pasal 3 yang menegaskan bahwa wewenang dan tugas

  34 kejaksaan untuk mengawasi aliran kepercayaan .

  Berdasarkan Surat Edaran Departemen Kejaksaan Biro Pakem Pusat No 34/Pakem/S.E/61 tanggal 7 April 1961, Bakor Pakem didirikan disetiap propinsi dan kabupaten Semenjak tahun 1960-1966 telah terbentuk Bakor Pakem di DKI

  35 Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur dan Aceh .

34 ASa’ad el Hafidy. 1977, Aliran-Aliran Kepercayaan dan Kebatinan di Indonesia, Ghalia, Indonesia. Jakarta. Hlm. 90.

  35

  1984/91985, Pembinaan Penghayat Kepercayaan TYME dengan

  

Memperhatikan Dasar Hukum dan Perundangan Terkait. Depdikbud, Dirjen

  Kebudayaan Ditbinyat TYME, Proyek Invebtarisasi Kepercayaan Terhadap

  B. Struktur dan birokrasi Bakor Pakem Secara umum inti dari susunan tim Bakor Pakem terdiri dari seorang ketua yang merangkap anggota dari Kejaksaan Agung RI, seorang Wakil Ketua yang merangkap anggota dari kejaksaan Agung RI, dua orang sekretaris merangkap anggota dari Kejaksaan Agung dan anggota-anggota yang terdiri dari wakil-wakil instansi pemerintah lainnya yang tugas dan wewenang mencakup pengawasan masalah aliran kepercayaan masyarakat. Berikut ini adalah gambar bagan struktur Bakor Pakem:

  Gambar ilustrasi.1 Struktur Tim Pakem Pusat

  (Sumber: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Dasawarsa Ditbinyat) Disini Kejaksaan Agung memegang peran utama dalam tim Pakem, karena didalam struktur inti tim semuanya berasal dari kejaksaan. Tim inti tadi dibantu oleh perwakilan-perwakilan dari berbagai instansi yang terkait dengan masalah pengawasan terhadap aliran kepercayaan. Dalam struktur diatas dapat kita lihat bahwa sebuah instansi tidak dapat melakukan pengawasan secara sendiri-sendiri. Semua pekerjaan dilakukan berdasarkan garis koodinasi antar departemen. Bakor Pakem didaerah tingkat I dan II mengalami persamaan struktur, hanya saja kalau di Provinsi Bakor ini diketuai Kajati (Kepala Kejaksaan Tinggi) sedangkan di kabupaten/kotamadya di ketuai oleh Kajari (Kepala Kejaksaan Negeri), dan begitu seterusnya.

  Berikut ini adalah gambar struktur Bakor Pakem di Daerah tingkat I dan

  II:

  Gb.2 Bagan Struktur Pakem Daerah Tingkat I

  (Sumber: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Dasawarsa Ditbinyat)

  Gb. 3 Bagan Struktur Pakem di Daerah Tingkat II

  (Sumber: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Dasawarsa Ditbinyat) Struktur dalam bagan diatas merupakan gambaran koordinasi antar instansi yang bersangkutan. Setiap instansi yang berada dalam bagan diatas akan secara otomatis menjadi anggota dari Bakor Pakem.

  Bakor Pakem menyelenggarakan konsultasi dan melakukan pertukaran informasi dengan instansi-instansi dan badan-badan lainnya, baik dari pemerintah maupun non pemerintah termasuk badan-badan keagamaan/ kepercayaan TYME. Sinergitas tersebut menjadi poin penting dalam menjalankan tugas yang menjadi tanggung jawab Bakor tersebut.

  1. Tujuan dan Fungsi Bakor Pakem

  Sesuai dengan keputusan Kepala Kejaksaan Tinggi DIY no 01/0.4/01/2008, maka pengawasan tarhadap aliran kepercayaan masyarakat bertujuan untuk:

  1) Agar tidak mengarah pada pembentukan agama baru. 2)

  Untuk mengefektifkan pengambilan langkah yang perlu, agar pelaksanaan Kepercayaan terhadap TYME benar benar sesuai dengan dasar Ketuhanan yang Maha Esa, menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab.

  Bakor ini juga berfungsi untuk sebagai wadah konsultasi, pertukaran informasi dan kerjasama mengenai masalah pembinaan dan pengawasan aliran kepercayaan.

  2. Tugas dan wewenang

  Badan koordinasi Pakem mempunyai tugas dan wewenang sebagai berikut: 1)

  Menerima laporan dari masyarakat tentang permasalahan yang menyangkut Pakem.

  2) Menerima laporan dan memberi petunjuk kepada tim Pakem daerah. 3) Melakukan tugas-tugas pengawasan dan penindakan secara fungsional. 4)

  Menyelenggarakan kondultasi, rapat dan pertukaran informasi dengan instansi dan badan lainnya, baik pemerintah maupun non pemerintah termasuk badan-badan keagamaan dan kepercayaan terhadap TYME. 5)

  Meminta bantuan kepada semua instansi baik sipil maupun TNI untuk dapat melaksanakan sesuai dengan hirarki.

  Dalam surat edaran Departemen Kejaksaan Biro Pakem Pusat No 34/Pakem/S.E/61 tanggal 7 April 1961 dijelaskan bahwa tugas Bakor ini adalah mengikuti, memperhatikan, mengawasi gerak-gerik serta perkembangan dari semua gerakan agama, semua aliran kepercayaan atau kebatinan, memeriksa dan mempelajari brosur-brosur keagamaan/aliran kepercayaan baik yang berasal dari dalam dan luar negeri.

  3. Cakupan dan Prosedur Pengawasan

  Aliran kepercayaan menjadi sebuah objek pengawasan Bakor Pakem, adapun pengawasan itu dilakukan mempunyai cakupan-cakupan, yaitu:

1) Aliran-aliran keagamaan.

  2) Aliran-aliran kepercayaan atau kebatinan kejiwaan, kerohanian dan kepercayaan terhadap TYME.

  3) Mistik-mistik keagamaan, mistik-mistik kepercayaan budaya, perdukunan, pertabiban/ pengobatan, metafisika dan lain-lain.

  4) Pengawasan terhadap klenteng-klenteng yang merupakan bagian dari agama, keprcayaan dan adat cina (sesuai dengan INPRES no.14 tahun

  1967 tentang agama, kepercayaan, dan adat istiadat Cina). Apabila dalam melaksanakan tugasnya ada indikasi dalam berbagai pelanggaran maka langkah kerja yang dilakukan adalah,

  1) Terhadap aliran kepercayaan masyarakat yang dalam pelaksanaan ajarannya telah nampak adanya gejala membahayakan terhadap masyarakat dan negara, terlebih dulu dilakukan pendekatan secara persuasif dan edukatif, agar mau menghentikan ajarannya atau mau membekukan atau membubarkan diri.

  2) Terhadap aliran kepercayaan masyarakat yang dalam melaksanakan ajarannya telah benar-benar membahayakan bagi negara dan masyarakat, setelah tidak mempan dilakukan pendekatan secara persuasif dan edukatif, maka dengan keputusan Jaksa Agung atau Kepala Kejaksaan Tinggi/ Negeri, aliran tersebut dinyatakan dibekukan/dilarang menyebarkan ajaran agamanya. Sebelum dikeluarkan sebuah keputusan, segala hasil laporan dan temuan terlebih dulu dibahas dalam team koordinasi Pakem ditingkat pusat dan daerah.

  Dalam menangani sebuah kasus, bakor ini mempunyai cara kerja (Standart Operational Procedure) yang ditetapkan bersama. Secara umum bakor belum akan bertindak jika tidak mendapatkan laporan dari masyarakat. Adapun prosedur pelaksanaan Bakor Pakem adalah sebagai berikut:

  Gb. 4 Gambaran Standart Operational Procedure Bakor Pakem

  (sumber: Wawancara dengan Bapak Anas, Wakajati Yogyakarta) Bakor Pakem ini mempunyai sistem yang lebih banyak dalam mendengarkan dan mewadahi laporan-laporan dari masyarakat. Laporan tersebut kemudian tangani oleh tim investigasi bakor bersama dengan berbagai instansi yang bekerjasama dibawah Bakor Pakem. Hasil temuan investigasi tersebut kemudian dianalisa oleh institusi yang bersangkutan dan berkompeten. Hasil investigasi dibahas dalam berbagai rapat koordinasi dan keputusan tertingggi ada

  36 ditangan seorang kepala kejaksaan .

36 Hasil wawancara tanggal 7 Januari 2009 dengan Bapak Anas, Wakil Kepala Intelejen Kejaksaan Tinggi DIY.

d. Dasar Pembekuan dan Pembubaran terhadap Aliran Agama dan Kepercayaan

  Ada dasar hukum tersendiri dalam proses sebuah pembekuan atau pembubaran sebuah aliran yang dianggap menggangu ketertiban masyarakat.

  Dasar Hukum inilah yang menjadi kekuatan utama dari segala tindakan yang dilakukan. Dasar hukum tersebut tertuang dalam surat keputusan no stbl 1919 no

  37

  27 jo.stbl. no 85 dan 574 , yang berisi :

  a) Organisasi itu merupakan organisasi/aliran yang maksud dan tujuannya dirahasiakan.

  b) Usaha-usaha dari pemimpinannya akan menimbulkan keamanan dan ketentraman umum.

  Dasar yang lain adalah Penetapan Presiden no 01/ PNPS tahun 1965 mengenai pencegahan penyalahgunaan dan atau penodaan agama. UU ini berisi bahwa selain Islam, Kristen, Katolik, Hindhu, Budha (dan Konghuchu) tidak diperkenankan memakai istilah kata agama. Penetapan Presiden ini dikukuhkan menjadi undang-undang no 5 tahun 1969 tentang berbagai Penetapan Presiden dan Peraturan Presiden sebagai undang-undang.

  Delik yang digunakan meliputi delik penyelewengan agama dan delik anti agama. Delik penyelewengan agama adalah perbuatan menafsirkan atau melakukan kegiatan keagamaan yang menyimpang dari pokok-pokok agama yang bersangkutan. Penyeleweng kegiatan keagamaan meliputi pengambilan penamaan suatu aliran kepercayaan, penggunaan istilah-istilah atau ritual-ritual

37 As’as el Hafidy. 1977, Aliran-Aliran Kepercayaan dan Kebatinan di

  yang mirip dengan agama. Semua itu dianggap mengaburkan kemurnian dan menyeleweng dari ajaran agama yang resmi.

  Delik anti agama meliputi dua perkara yaitu delik penodaan /penghinaan agama dan delik supaya orang tidak menganut suatu agama. Delik pertama meliputi penyerangan agama yang bersangkutan dengan niat memusuhi, menghina atau menodai agama. Bentuknya seperti mengeluarkan perbuatan dan perasaan umat beragama lain baik secara lisan ataupun tertulis. Sedangkan delik yang kedua meliputi ajakan dengan sengaja untuk tidak memeluk suatu agama apapun, atau melakukan kegiatan supaya orang tidak memeluk agama apapun yang bersendikan Ketuhanan yang Maha Esa.

C. Bakor Pakem di Daerah Istimewa Yogyakarta

  Bakor Pakem di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) terbentuk disekitar tahun 1966 dan berada dibawah kepemimpinan Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati), jabatan ketua ini secara otomatis akan diemban oleh siapapun yang menjabat Kajati pada periode seterusnya.

  Kepala Bakor Pakem DIY berada di Tingkat Propinsi yang memiliki cakupan wilayah seluruh wilayah DIY dimana terdapat beberapa Kejaksaan Negeri yaitu: Kejaksaan Negeri Yogyakarta, Kejaksaan Negeri Sleman, Kejaksaan Negeri Bantul, Kejaksaan Negeri Wonosari (Gunung Kidul), Kejaksaan Negeri Wates ( Kulonprogo).

  Bakor Pakem DIY berkoordinasi dengan berbagai instansi pemerintahan dalam melaksanakan tugas pengawasan dan penindakan. Bakor ini selalu berkoordinasi dengan pihak kepolisian atau koramil dalam rangka pengamanan, dengan Depag/ lembaga agama dalam rangka mengkaji makna dan inti ajaran yang terkait, dan dengan Depdikbud mengenai masalah pembinaan aliran

  38 kepercayaan .

  Dalam penelitian ini, penulisan lebih difokuskan kedalam ranah pengawasan dan pembinaan yang dilakukan Bakor Pakem di Yogyakarta. Namun masalah yang paling menghambat dan pelik sampai kurun waktu 1978 adalah mengenai pendataan dan kearsipan. Hal tersebut terjadi karena memang banyak data-data yang kurang dirawat dan diarsipkan dengan baik.

  Permasalahan lain yang timbul adalah mengenai penafsiran tugas Bakor Pakem yang berbeda-beda. Hal itu terbukti adanya perwakilan-perwakilan bakor didaerah yang tidak bekerja secara seragam, ada yang membatasi diri sebagai pengawasas preventif, ada yang membatasi sebagai peninjauan aliran kepercayaan masyarakat dan ada juga yang merubah sebagai penelitian dan pengembangan

  39 aliran masyarakat .

  Diantara instansi tersebut juga belum terjadi sinergitas secara baik dan masih bekerja secara sendiri-sendiri, yaitu mengenai masalah pencatatan aliran kepercayaan yang tupang tindih atau tidak seragam. Disamping itu banyak aliran kepercayaan yang tidak mendaftar langsung ke Bakor Pakem tetapi kesalah satu instansi yang lainnya, seperti Paguyban Traju Mas yang terdaftar pada Kodim 0731 Kulon Progo, atau Sapto Darmo yang mendaftar pada Kejaksaan Agung

  38 Hasil wawancara tanggal 20 Januari 2009 dengan bapak Anas, Wakil Kepala intelejen DIY.

  39 Rahmat Subagya, ibid., Hlm. 117. RI tetapi kemudian juga mendaftar kepada Presiden Kabinet Ampera (B-175/pres- Kab 7/1967). Paguyuban Anurogo yang mendaftar kepada Pengadilan Negeri Yogyakarta (97/ 73/Y).

  Ada juga yang terdaftar dalam tiga lembaga yaitu Kejaksaan Agung, Kementrian Kehakiman (no. J. A. 5/ 146/23 ) dan lembaran Negara RI (no 13/ 1965). Selain permasalahan diatas ternyata masih banyak yang belum tercantum

  40 mendaftar pada Bakor Pakem .

40 Disini terlihat dengan terkait dengan bidang kearsipan dan

  ketidakseragaman pendataan tersebut, membuktikan bahwa ditahun-tahun sebelum tahun 1978, pemerintah masih belum konsekwen mendirikan Bakor Pakem. Kemudian setelah pemerintah mengadakan proyek penelitian dan inventarisasi Kepercayaan terhadap TYME (ditahun 1978), maka kerasipan menjadi lebih baik dan lebih lengkap (walaupun sampai saat ini masih ada juga

BAB IV HUBUNGAN ANTARA BAKOR PAKEM DAN MASYARAKAT KEPERCAYAAN A. Gerakan Kebatinan

   1. Munculnya Gerakan Kebatinan

  Banyak masyarakat pedesaan tidak merasakan perbedaan pada jaman kemerdekaan dengan jaman kolonial Hindia Belanda, karena sama-sama membayar pajak kepada negara. Setelah proklamasi kemerdekaan pun juga belum berarti langsung hidup makmur dan tenang. Kehidupan mereka juga tidak berubah secara drastis, dapatlah kiranya diibaratkan lepas dari mulut buaya satu, masuk ke mulut buaya yang lain. Terlebih lagi dalam situasi perang yang berkepanjangan dengan pihak Belanda.

  Pada saat itu berbagai propaganda dan semangat-semangat nasionalisme begitu digencarkan, dalam rangka mempertahankan kemerdekaan yang baru terbentuk. Orang-orang bersatu dengan segala cara supaya bisa memenangkan perang dengan kolonial Belanda. Berbagai laskar-laskar rakyat dibentuk untuk membantu angkatan bersenjata. Hal itu menumbuh suburkan perguruan atau paguyuban aliran kejawen dalam rangka ikut andil dalam perang

  41

  kemerdekaan .Ratusan kaum laki-laki dan para pemuda berduyun-duyun mencari

  42 kesaktian atau kekebalan tubuh untuk mencari keselamatan. .

  41 Kuntowijoyo. ibid., Hlm. 61. Pemberontakan kepada pemerintah Hindia

  pada abad ke 19 juga diilhami olkeh guru guru ilmu itu. Sebagai tempat mengajarkan berbagai ilmu-ilmu kekebalan, semacam teknik primitif, sebenarnya tidak perlu dimasukkan sebagai pusat pendidikan humaniora. Namun dalam setiap

  Dari hal tersebut diperkirakan segala bentuk-bentuk mistik yang telah terkubur selama ratusan tahun atau hanya orang-orang tertentu yang mengetahui hal itu, menjadi terbuka lebar bagi kalangan umum. Pada masa itu orang begitu disibukkan dengan istilah kemerdekaan, untuk itu untuk mendukung kemerdekaan tersebut banyak masyarakat yang ikut berjuang secara fisik yaitu berperang melawan musuh. Semangat itu membuat mereka harus ikut andil entah bagai manapun caranya termasuk dengan berbagai kegiatan mistik.

  Tumbuhnya berbagai aliran kepercayaan itu juga sebagai dampak dari masa krisis dan masa transisi masyarakat. Masa krisis disebabkan karena berbagai permasalahan dan resesi ekonomi yang mendera. Krisis yang terjadi ini merupakan sebuah bencana luar biasa bagi masyarakat kita, karena berbagai bahan makanan yang sulit ditemui, tidak ada minyak tanah dan bahkan pakaian pun sulit didapat. Keadaan tersebut sungguh sangat menyengsarakan rakyat indonesia.

  Perpindahan kekuasaan dari jaman Belanda ke jaman Jepang, kemudian menjadi jaman kemerdekaan, membuat sebuah kebingungan tersendiri bagi masyarakat umum. Hal itu terjadi karena kebijakan sistem pemerintahan yang diterapkan sangat berbeda, sehingga mengombang-ambingkan psikis masyarakat kecil. Bagi kelompok intelektual, bangsawan atau semua yang mempunyai struktur ekonomi yang mapan hal itu tidak begitu mempengaruhi kondisi kejiwaan

42 Rahmat Subagya. ibid., Hlm. 115. Misalnya Kyai Haji Subechi dari

  kauman (Parakan) yang berusia 100 tahun dan berjulukan Jendral Bambu Runcing memberkati ratusan rombongan laskar dan barisan Sabbillilah agar kebal terhadap peluru,banyak guru-guru kebatinan yang memimpin murid-muridnya ke medan mereka. Hal itu sungguh berbeda bagi rakyat kecil yang berkesusahan mencari bahan makan mereka juga ikut diombang ambingkan dalam berbagai pertarungan ideologi politik.

  Kebingungan secara fisik dan psikologi itu membuat mereka harus terus

  

survive dengan berbagai cara bersama keluarganya. Faktor itulah yang

  43 mendukung dan menimbulkan berbagai gerakan kebatinan atau menurut Bakker.

  SJ. masuk dalam kategori gerakan Gnostik yaitu gerakan sosio-agama yang sekali kali timbul dalam zaman kegoncangan besar.

  Gerakan ini terjadi bila dalam sistem masyarakatnya terjadi perubahan sosial secara cepat atau bila nilai nilai moral dan keagamaan mendadak menjadi pudar sehingga nilai nilai yang di pegang menjadi lenyap, bila tekanan lahir mengasingkan manusia dari identitasnya maka mendadak pula muncul dengan

  

harkat gnostik . Harkat itu mendorong manusia untuk memikirkan kembali

  tempatnya dalam arus jaman, selain itu manusia semakin di dorong kedalam refleksi dan permenungan kedalam segala pemecahan masalah-masalah yang sedang memporak-porandakan sistem mereka.

  Menurut Sartono Kartodirjo, maju mundurnya gerakan mistik selaras dengan keadaan sosial dan banyak contoh mengenai gerakan-gerakan mistik

43 Secara epistemologi kebatinan berasal dari kata ”batin” yang berarti

  “didalam manusia itu sendiri” (Rahmat Subagya), sesuatu yang berkenaan dengan hati, yang berkaitan dengan jiwa, hakihat dsb (Kamus bahasa Indonesia), batin dalam (lafal arab) berarti dalam, didalam hati, tersembunyi dan penuh rahasia, sedangkan Clifford Geerzt menginterpesentasikan sebagai “wilayah dalam pengalaman manusia”.

  44 Khiliastik (yang sangat menantikan Ratu Adil dan sejenisnya) yang dipimpin

  oleh guru-guru mistik yang kharismatis sebagai protes terhadap penindasan. Sama halnya dengan pendapat Niels Mulder, yang menganggap bahwa perkembangan ramai dari berbagai aliran mistik yang harus dimengerti sebagai usaha mengungkapkan diri dan mencari makna ditengah-tengah suatu jaman yang kacau. Bahkan hal itu terkadang sebagai suatu bentuk organisasi modern untuk mengidupkan kembali warisan kebudayaan Jawa.

  Sementara solusi yang ditawarkan oleh kelompok agamawan tidak serta merta mampu menyejukkan jiwa masyarakat yang sedang kekeringan, pengetahuan yang biasa menjadi sangat menjemukan dan memuakkan bagi sebagian masyarakat. Apalagi ajaran-ajaran agama yang terlalu bersifat doktriner teologis, bahkan secara radikal agama dianggap gagal dan dianggap sudah tidak mampu menjiwai manusia.

  Kegagalan hirarki dan struktur agama-agama besar di Indonesia untuk memberikan pemecahan bagi persoalan-persoalan sosial yang pokok dari kehidupan masyarakat dewasa ini. (A. Wahid).

  Dimasa seperti itu orang butuh sesuatu yang mampu menjawab berbagai tantangan hidup dan perubahan jaman. Maka tak heran kalau ditengah kejenuhan hidup tumbuhlah berbagai aliran-aliran agama yang menjanjikan sebuah pencerahan dan sebuah kepastian. Dari latar belakang keresahan seperti itulah yang mendorong segala jenis gerakan-gerakan kebatinan, secara sosiologis gerakan itu menantikan datangnya Ratu Adil Herucakra/Satriya Piningit atau

44 Seperti pada gerakan Ratu Adil yang banyak berujung pada

  pertumpahan darah, misalnya peristiwa Mangkuwijaya di klaten (1865), Srikaton di Tawangmangu, Ahmad Suhada di Ponorogo (1888), Dermajaya di Nganjuk

  

Imam Mahdi yakni sosok yang bisa melepaskan mereka dari ketertindasan dan

  45 kesejahteraan baru .

  Saat itu banyak pilihan atau alternatif pilihan yaitu berupa paguyuban atau komunitas, dimana orang bisa mencari dan mendapatkan sebuah keselamatan, kedamaian dan kecukupan, yaitu seperti Sapto Dharmo, Pangestu, Adam Makrifat, Kawruh Bejo, Budha Jawi, Pran-Suh, Waris Mataram dan sebagainya.

  Dalam data Departemen Agama tahun 1953 melaporkan adanya 360-an “agama

  46 baru” di Indonesia .

  Munculnya agama-agama baru tersebut menimbulkan berbagai “keresahan” baik bagi pemerintah maupun bagi sesama para pengayat itu sendiri.

  Sementara dikalangan pemerintah membentuk Pakem, dikalangan para penghayat itu sendiri membentuk membentuk Badan Konggres Kebatinan Indonesia (BKKI) pada tanggal 19 Agustus 1955 di Semarang.

  Pembentukan BKKI itu dihdiri oleh 70 wakil aliran kepercayaan dan memilih Mr Wongsonegoro sebagai ketua kongres tersebut. Latar belakang pembentukan ini adalah sebagai wujud preventif terhadap anggapan dan prasangka buruk yang diarahkan kepada kelompok keprcayaan ini. BKKI inilah yang memperjuangkan hak-hak kelompok aliran kepercayaan untuk disetarakan dengan ”agama resmi”.

  45 Dwi Putranto. 2002. Kontroversi Konsep Ratu Adil dan Satriya Piningit, Saya Percaya, Saya Dapat, Grasindo, Jakarta. Hlm.9.

  46 Sampai saat ini kita mengalami kesulitaan dalam memastikan berapa

  jumlah aliran keprcayaan yang ada di Indonesia ini, hal ini disebabkan adanya invebtarisasi yang kaca,. Terbukti bahwa sampai saat Pakem ditahun 1954

  2. Kebatinan versus Agama

  Hubungan antara kebatinan dan agama adalah hal yang sangat rawan konflik dan merujuk pada ketegangan, bahkan tidak mungkin pertentangan itu merambah pada pertentangan fisik. Menurut Bakker, ketegangan itu mengarah kenilai mutlak, hendak menerka dan menjawab rahasia terakhir dari hidup, berasaskan pada keyakinan masing-masing, diibaratkan sebagai dua jalan yang tidak bisa bertemu.

  Kebatinan dianggap sebagai agama baru yang mencoba menggeser posisi agama agama besar, yang dianggap sebagai bida’ah atau semacam bentuk kafir-

  

isasi atau murtad-isasi, penyelewengan aqidah dan sebagainya. Sedangkan

  kebatinan sendiri datang dengan sebuah pendalaman dari penghayatan agama, dimana agama sebagai tuntunan hidup gagal dalam mendamaikan dan menyejahterakan manusia. Agama-agama yang ada dirasa sudah tidak mampu memahami dan menjiwai kebutuhan manusia.

  Kegagalan Hirarki dan struktur agama-agama besar di Indonesia untuk memberikan pemecahan bagi personalan persoalan sosial yang pokok 47 dari kehidupan masyarakat dewasa ini ( A. Wahid) .

  Lebih ekstrim lagi adalah adalah agama besar sudah dianggap sebagai ajaran ajaran yang berkedok tugas mulia atau jalam menuju surga, tetapi nyatanya banyak ditunggangi kepentingan sehingga orang bisa berbuat apa saja dengan mengatasnamakan agama.

  Sebenarnya antara agama dan kebatinan sama-sama menghayati iman ke hakekat tertinggi, membina batin untuk bersatu dengan-Nya dan mengalami

  47 Rahmat Subagya. Ibid., Hlm. 67. kesatuan dengan dirinya. Namun masalah yang paling sensitif adalah karena alasan politis, sehingga dari kalangan kebatinan sangat berhati hati dalam merumuskan hubungannya dengan kelompok agama.

  Gerakan kebatinan bukanlah merupakan sutu agama baru yang akan mendesak agama-agama yang sudah ada, tetapi kebatinan bahkan akan memperdalamnya atau sublimeren agama-agama yang sudah ada. Ditegaskan pula bahwa para pengikut kebatinan bukanlah para penganut atheis, karena mereka semua percaya pada Tuhan (Mr. Wongsonegoro dalam Konggres Kebatinan II, Solo 1956).

  Kebatinan datang ketika krisis melanda dan modernisitas membuat orang terasing dengan dirinya. Gerakan ini mencoba untuk melindungi diri dari gerakan gerakan sekulerisme, materialisme dan rasionalismedengan menggali nilai-nilai harta terpendam dari kebudayaan asli. Bahkan gerakan kebatinan ini ingin menyelamatkan unsur dari tradisi yang sangat kaya. kebatinan menyediakan baik peningkatan rasa agama dan kepribadian asli maupun pemulangan harga diri melawan rasa minder terhadap teknologi asing

  48 .

  Sementara dari beberapa kelompok agama menegasikan maksud dan tujuan diatas, seperti pendapat dari As’ad El Hafidy mengenai penyebab timbulnya aliran-aliran baru dalam kepercayaan, mistik dan kebatinan adalah;

  a) Karena salah terima, salah faham diwaktu menerima pelajaran daari guru agama yang mengambil kiasan dan pralambang. Berdasarkan kebatinan yang mendalam dan falsafah yang multi tafsir.

  b) Mancampur-adukkan faktor-faktor penting yang diambil dari sumber- sumber pelajaran agama, mengambil salah satu lafadz dan kalimat dari ayat atau bahasa arab dengan diberi arti dan makna dengan sesuka hatinya,

  48 sehingga terjadi kekeliruan murod dan maksudnya sehingga hilanglah tujuan Lafadz kalimat yang asli (sehingga timbullah golongan Islam Putihan dan Islam Abangan).

  c) Sengaja mengadakan aliran-aliran baru dalam kepercayaan mistik atau kebatinan dengan dalih “mengembalikan jiwa asli” karena Hindhu dan Budha berasal dari India, agama Yahudi dari Israel, agama Masehi dari Eropa dan Islam dari Arab.

  d) Ingin memashurkan namanya, dengan cara membuka praktek perdukunan, meramalkan kebaagiaan, ilmu rajah, perbintangan, bahkan terdapat yang mengharapkan kedatangan Ratu Adil, Imam Mahdi, Jayabaya, dll.

  e) Bukan tidak mungkin dalam suasana yang serba kacau, pencipta aliran- aliran baru memadang gejala-gejala untuk kekayaan pribadi. Jaringan dikembangkan dengan propaganda aliran-aliran tersebut. Malah ada yang sampai hati menggunakan gelar-gelar Kanjeng Kyai, Bendoro, Ki Ageng,

  resi, Syech, bahkan menobatkan diri sebagai nabi yang menerima wahyu

  langsung dari Tuhan, dan yang sangat terlalu menganggap dirinya sederajat dengan Tuhan.

  f) Beranggapan bahwa “bunyi UUD 1945 pasal 29” adalah kesempatan untuk menjelmakan aliran-aliran baru dalam kepercayaan. Setiap orang berhak atas kebebasan agama keinsyafan batin dan fikiran, dijadikan alasan pokok untuk mencipta agama baru yang dianggapnya sesuai dengan kepentingannya sendiri.

  Dari paparan faktor diatas, sekiranya dapat kita lihat dengan jelas berbagai pertentangan, prasangka dan ”pelabelan” pada kelompok masyarakat kepercayaan. Maka tak pelak hal tersebut menjadikan “perang dingin” yang berkepanjangan dan tak kunjung padam sampai hari ini. Berbagai klarifikasi yang diberikan oleh keduanya hanya sebatas bisa diterima oleh kelompoknya sendiri.

  Nuansa politis benar-benar terasa ketika Depag sebagai pengemban UUD 1945 pasal 29 berusaha untuk memberi definisi agama. Sebagai tindak lanjutnya maka dibentuklah panitia pemberian definisi dibawah pimpinan Menteri Agama K.H. Wahid Wahab yang mengusulkan sebagai syarat-syarat agama yaitu, Wahyu

  49 Allah, Rasul, Nabi, Kitab Suci, kaidah hidup bagi para penganut . Dari usulan

  Menteri Agama ini yang kemudian menjadi cikal bakal UU/Nomor 01/ PNPS tahun 1965 (penodaan agama). Pada akhirnya negara ini hanya mengakui agama Islam, Kristen, Katolik, Hindhu, Budha dan Konhuchu, selain dari 6 agama ini dinyatakan bukan sebagai agama.

  Puncaknya disekitar tahun 1963-1965 ketika gerakan kebatinan semakin meluas dan meliar, selain itu diindikasikan banyak infiltrasi komunis yang masuk kedalam kelompok-kelompok kebatinan. Pada masa itu anggapan bahwa komunis itu identik dengan ateis (tidak bertuhan), kafir, murtad dsb, sangatlah kuat.

  Konflik dan perdebatan diantara masyarakat kebatinan dengan kelompok agamawan sudah sampai mencapai ke gejala menebar fitnah. Sehingga tak heran ketika terjadi Gerakan 30 September di tahun 1965 maka banyak aliran-aliran yang dituduh terinfiltrasi oleh PKI langsung dibekukan dan dibubarkan.

  49

  Seperti pada kasus pada agama Adam Makrifat atau dikenal sebagai aliran Pran Soeh (perkumpulan umat agama Adam Makrifat) yang berkembang semenjak 1921 di Muntilan dan Yogyakarta. Pada mulanya agama bimbingan dari romo Pran-Soeh Sastrosoewignyo (seorang putra dari Kyai wiropati yang senang dengan ajaran Islam makrifat) itu bernama Oemat Moehamad Manunggal (OMM), karena diprotes oleh umat Islam disekitarnya. Kemudian berganti menjadi Oemat Moehamad Muntilan dan kemudian diganti lagi Pran-soeh.

  Hal yang paling tragis adalah ketika sesudah terjadi Gerakan 30

50 September 1965 , pimpinan ajaran Pran-Soeh yang bernama Sirwoko hilang

  tanpa diketahui rimbanya. Kemudian tanggal 6 agustus 1966 agama ini resmi dibekukan dan dibubarkan melalui keputusan kejaksaan tinggi dikarenakan terlibat dengan gerakan komunis.

51 Mulai ditahun 1965-an orang menjadi takut untuk “tidak beragama”

  mereka berbondong-bondong untuk masuk salah satu agama. Hal itu terjadi hanya untuk menghindari dicap komunis, atheis, dan supaya mereka bisa mengurus urusan administratif. Karena pelayanan yang bersifat admisnistratif hanya diberikan adalah kepada orang-orang yang beragama resmi saja.

  Dari berbagai bentuk kejadian itulah disini fungsi dan peranan dari Badan Koordinasi Pakem menjadi penting, yaitu untuk mengatur dan menjalankan

  50 Suluh, edisi 26/tahun VI/ Maret-April,2006. Hlm. 8.

  51 Hal yang paling nampak dan membekas adalah dengan Surat Edaran

  Menteri Dalam Negeri yang tertuang dalam Perpu no 477/7405 tahun 1978, mengenai kewajiban untuk memeluk 5 agama yang diakui. Walaupun di tahun 1991 surat edaran ini dicabut tetapi dampaknya masih sangat kental, tetapi masyarakat luas masih saja sulit untuk menerima aliran-aliran kepercayaan amanat perundang-undangan yang berlaku secara bertanggung jawab, netral dan adil.

B. Bakor Pakem sebagai Garis Depan Pengawasan

  Secara struktural, Pakem berada di garis depan dalam melakukan berbagai pengawasan, dimana dalam tugasnya membawahi berbagai instansi yang sebuah kekuatan dalam menjalankan kewajibannya. Kekuatan sinergitas dan kekuatan legal inilah yang menjadi sebuah legitimasi dalam mengambil keputusan dalam membekukan sebuah aliran kepercayaan.

  Semenjak awal pendiriannya, kejaksaan selalu berada dalam jajaran pengambil keputusan tertinggi. Prosedur pengambilan keputusan ini ini melalui berbagai prosedur yang ada, salah satunya adalah dengan melakukan koordinasi dengan keanggotaan Bakor Pakem dan lembaga keagamaan yang bersangkutan.

  Misalnya, jika yang dilaporkan melakukan penodaan agama adalah sebuah aliran yang berbau agama islam maka MUI-lah yang menjadi partner koordinasi tersebut, sedangkan jika yang dianggap melanggar memakai sitilah atau berbau

  52 Katolik maka Pakem akan berkoordinasi dengan KWI dan seterusnya .

  Dari awal pendirian Bakor ini, adalah dalam rangka untuk mengawasi dan mengamati perkembangan agama dan kepercayaan masyarakat. Namun ternyata otoritas yang diperoleh itu diwarnai celah-celah penyimpangan didalam pelaksanaan tugas-tugasnya, hal itu karena, pertama, tumpang tindihnya pelaksanaan antar instansi yang disebabkan koordinasi yang tidak matang. Kedua,

52 Wawancara Bulan 20 Januari 2009 dengan bapak Anas, Wakil Kepala

  kearsipan yang kurang baik hal ini dibuktikan pada saat penelitian di Dinas Kejaksaan Tinggi DIY (yang manjadi naungan utama dari bakor pakem), karena saat pencarian data-data disekitar tahun 1955-1978 tidak mempunyai data dengan lengkap.

  Data-data dalam arsip yang tidak lengkap tersebut sejarah Bakor Pakem menjadi terpotong-potong dan hilang. Sistem kearsipan yang tidak terdokumentasikan dengan baik tersebut sangatlah merugikan banyak pihak, baik untuk kalangan masyarakat kepercayaan ataupun untuk kaum akademisi yang akan melakukan penelitian. Keadaan itu tentu saja memperihatinkan, jika sebuah badan yang paling rawan konflik tidak membekali diri dengan data dan fakta yang valid dan komperhensif.

  Dari hal itu, maka tak heran jika banyak pandangan dan keluhan dari berbagai pihak yang menginginkan untuk membubarkan Bakor Pakem. Legitimasi Pakem pada UU No.1/PNPS/1965 tentang penodaan agama dianggap bertentangan dengan pasal 29 UUD 1945 tentang kebebasan beragama dan berkepercayaan. Selain itu masalah kepercayaan dan kebenaran iman tidak dapat diukur dan diadili oleh sebuah lembaga negara.

  Belum lagi dari berbagai keputusan yang diambil sering kali ditunggangi oleh kepentingan-kepentingan tertentu dari kelompok-kelompok “agama resmi”.

  Bakor Pakem sering digunakan sebagai sebuah stempel dalam melegalkan fatwa-fatwa dari golongan-golongan agama, hal itu terbukti dari alur dan proses pengaduan dari “masyarakat”. Prosedur yang dilakukan ketika ada sebuah pengaduan dari sekelompok masyarakat atau institusi keagamaan tertentu, maka pengkajian dan investigasi dilakukan dalam koordinasi Pakem dan institusi keagamaan tersebut. Namun hal itu menjadi lemah dan tidak berdasar ketika sebuah aliran agama atau kepercayaan yang diadukan tersebut, tidak pernah dipanggil dan duduk dalam sebuah pengkajian dan koordinasi bersama.

  Jika seandainya pihak aliran yang diadukan duduk bersama dengan pihak yang mengadukan, maka Bakor Pakem sendiri juga tidak dapat melarang dan membubarkan iman kepercayaan sekelompok manusia. Masalah kebenaran atas iman dan kebenaran yang bersifat abstrak tersebut tidak dapat diadili oleh sebuah lembaga negara.

  Secara kongkrit bakor ini bisa membubarkan sebuah aliran keagamaan dan kepercayaan jika tindakan para penganut sebuah aliran tersebut benar-benar meresahkan dan mengancam, ketertiban dan keselamatan negara.

  Kelemahan lain adalah ketika pengkajian soal inti sebuah ajaran selalu didominasi dan diatur oleh Departemen Agama atau lembaga-lembaga keagamaan yang notabene hanya terdiri orang orang yang sudah sepaham dan dari aliran yang sama. Dari hal tersebut Bakor Pakem terlihat tidak mempunyai landasan atau kompetensi masalah keagamaan secara luas dan mendalam (dari berbagai perspektif) dalam sebuah keputusan.

  Dalam menjalankan tugasnya dan membentuk instrumen, Bakor Pakem selalu meminta pandangan ahli dari lembaga-lembaga resmi seperti MUI KWI dan PGI karena menganggap dirinya tidak mempunyai kompetensi teologi. Tafsir agama ini menjadi rujukan badan dalam

  53 menilai kemurnian suatu aliran kepercayaan” .

53 Lindholm, Tore. dkk (ed). Ibid., Hlm. 720.

  Menurut data yang diperoleh, dari tahun 1959 sampai 1979 ada 78 buah aliran agama dan kepercayaan diseluruh Indonesia yang dibekukan dan dibubarkan secara legal (ada beberapa aliran yang dibubarkan secara tidak legal). Menjadi aneh ketika hanya ada 6 yang dibekukan atau dibubarkan dengan instansi atau surat edaran atas nama Bakor Pakem, yang lainnya dibawah atas nama Kejaksaan, Peperda, Walikota, atau Kepres. Dari tempat pengeluraan keputusan tersebut dapat kita lihat bahwa otoritas Bakor Pakem dilangkahi, karena menurut keputusan Perdana Menteri no 67/PM/1954 atau UU no 25/1959, hanya Bakor

  54 Pakem-lah yang bisa membekukan atau membubarkan sebuah aliran .

  Dengan melihat fakta-fakta diatas berarti dapatlah kita berasumsi lagi bahwa ada kebingungan fungsi dalam pembagian kerja antara keduanya, ataukah posisi Bakor Pakem di kejaksaan hanyalah sebagai badan ”fiktif ”belaka. Dalam arti bahwa bakor ini adalah proyek ”tergesa-gesa” pemerintah pada waktu itu.

  Selama ini pengawasan hanyalah sebatas pada pendataan dan penerimaan laporan dari masyarakat saja. Padahal Bakor Pakem ini berperan sangat penting dalam sebuah pengawasan dan pelayanan terhadap masyarakat, yaitu dengan menjadi ujung tombak dari pemerintah dalam menjunjung tinggi keadilan sosial.

  Sebagai institusi yang berhadapan langsung dengan msyarakat luas, maka tingkat kompetensi dan profesionalitas haruslah dijunjung tinggi, supaya hasilnya tidak mengecewakan pihak lain.

54 Kejaksaan sendiri sebagai penyelenggara utama dari bakor ini malah

  tidak menggatasnamakan Bakor Pakem sebagai badan sah dalam memberikan

C. Bakor Pakem dalam kacamata para penghayat

  Ketika pertanyaan tentang pentingnya keberadaan Bakor Pakem dilemparkan kepada para penghayat kepercayaan, hal tersebut mendapatkan banyak reaksi dan jawaban. Dalam pandangan mereka, keberadaan bakor ini sangat mengada-ada (absurd) dan sangat diskriminatif. Ketika Bakor Pakem sudah terlalu masuk dan terlalu mengatur sesuatu hal yang privat dalam hubungan manusia dan Tuhannya, maka negara telah “menjajah kebebasan“ seseorang untuk memeluk dan meyakini kepercayaan seseorang.

55 Menurut bapak Walmuji , bakor ini tidak perlu diadakan karena benar-

  benar tidak mempunyai landasan undang-undang yang kuat. Negara boleh mengawasi masyarakatnya dengan konteks kepada organisasi kemasyarakatan bukan kepada sebuah iman kepercayaan seseorang. Iman seseorang itu bersifat sakral dan privat yang tidak dapat diatur dan dibatasi oleh orang lain, sejauh dalam pelaksanaannya tidak menyimpang dan mengganggu ketertiban masyarakat

  Pengawasan sebagai bentuk tugas menjaga stabilitas keamanan adalah salah satu bentuk tanggung jawab negara. Pengawasan tersebut jika dilakukan dengan berlebihan maka akan mengekang kebebasan seseorang, dan hal tersebut menjadi sangat bertentangan dengan UU 1945 pasal 29 ayat 1 dan 2. Pada pasal tersebut dengan tegas dan jelas dalam melindungi juga membebaskan setiap warga negaranya untuk memeluk agama dan kepercayaannnya masing-masing.

55 Wawancara pada bulan 7 Februari 2009 dengan bapak Walmuji di

  Konstruksi alam pikiran masyarakat yang berkembang sangat mempengaruhi hubungan antara masyarakat kepercayaan dengan negara. Dari sejarah dapat kita ketahui bahwa dominasi Islam sangat mempengaruhi berbagai kebijaksanaan dari negara. Dominasi agama resmi (terlebih dari mayoritas) tersebut sangat terlalu sering ”memaksakan” kehendak dengan membuat aturan- aturan yang cenderung mendiskriditkan para penghayat kepercayaan.

56 Menurut Trisno S. Sutanto yang lebih menyoroti mengenai landasan

  yang digunakan Bakor Pakem yaitu UU no 1/PNPS/1965. Menurutnya produk- produk yang mempunyai ”pasal-pasal karet”, terbukti selama ini digunakan dengan mudah untuk membelenggu kebebasan berkeyakinan dan sudah tidak relevan dengan perkembangan jaman. Undang-undang tersebut menjadi pasal yang melegitimasi untuk memberangus pemikiran yang kreatif dan kritis apalagi pemahaman agama yang kritis dan lebih ”kreatif”.

  Munculnya undang undang UU PNPS tahun 1965 dan beberapa peraturan pemerintah bukan sebuah landasan yang kuat untuk membubarkan dan membekukan sebuah agama dan kepercayaan. Sesuatu yang kongkritlah yang dapat dibubarkan tetapi tidak ada yang bisa membubarkan hal-hal yang abstrak (seperti iman dan kepercayaan). Hal tersebut menjadi catatan pihak Bakor Pakem beserta jajarannya, karena proses-proses pembubaran dan pembekuan sebuah aliran agama memerlukan kajian secara khusus dan medalam.

56 Direktur Madia (Masyarakat Dialog Antar Agama) dalam tuliannya di

  buku ”Diskriminasi disekeliling Kita, Negara, Politik dan Multikulturalisme” terbitan Interfidei, Hlm. 102.

  57 Hampir senada dengan diatas, bapak Bakir mengatakan bahwa agama

  dan kepercayaan itu adalah mengenai sebuah penghayatan iman kepada Gusti,

  

Tuhan, Allah, Yang Widhi, Jubata, dan lain-lain. Selama penghayatan ini tidak

  mengganggu ketertiban umum, maka setiap orang bebas untuk memeluk kepercayaannya masing-masing.

  Negara berhak mengatur setiap warga negaranya dengan tetapi jangan sampai sebuah aturan yang disusun tersebut membuat sekelompok orang menjadi terdiskriminasikan. Keberadaan Bakor Pakem sendiri juga masih banyak diwarnai dengan berbagai macam kepentingan-kepentingan tertentu. Dari hal itu perlu pembenahan struktur dan cara kerja bakor yang benar-benar netral dan efisien.

57 Wawancara tanggal 8 Agustus 2007 dengan bapak Bakir, seorang penganut Pangerten (kejiwan) dipegunungan Menoreh.

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Bakor Pakem didirikan pada tahun 1954 sebagai salah satu upaya

  pemerintah untuk mengontrol perkembangan aliran kepercayaan yang begitu pesat. Badan ini merupakan badan resmi pemerintah dibawah Kejaksaan dan berada diseluruh wilayah Indonesia.

  Dasar kewenangan tindakan Bakor Pakem tertuang dalam surat keputusan no stbl 1919 no 27 jo.stbl. no 85 dan 574 dan Undang-undang no 1 PNPS tahun 1965. Bakor ini mempunyai hak dan kewajiban untuk mengawasi, mengatur dan menindak aliran-aliran kepercayaan yang dianggap sesat dan mengganggu ketertiban umum.

  Dari penelitian yang dilakukan menemukan bahwa, sejak tahun 1954 sampai sekarang kedudukan dan kinerja Bakor Pakem ini agak terlihat rancu dan rawan. Hal tersebut dikarenakan, pertama karena banyaknya Peraturan dan Undang-undang sebagai landasan bakor yang tumpang tindih. Kedua, tugas Bakor Pakem yang seringkali sama dan serupa dengan Departemen Agama sehingga menyebabkan gagalnya sinergitas yang diharapkan.

  Ketiga, masalah pengurusan kearsipan Bakor Pakem terutama di Bakor Pakem Yogyakarta yang sangat tidak lengkap dan tersusun rapi. Hal tersebut mempunyai peranan yang sangat penting sebagai data base kearsipan dan sebagai bukti kinerja bakor ini. Ketika kearsipan ini hilang atau tidak ada, maka kinerja yang telah dilakukan menjadi dipertanyakan.

  Dari hal diatas, dapat kita lihat bahwa hubungan antara Bakor Pakem dan masyarakat kepercayaan sepenuhnya tidak berjalan mulus. Hal tersebut dikarenakan masih banyak kesimpangsiuran dan ketidak obyektifan para aparat negara dalam menjalankan fungsi Bakor Pakem. Oleh karena itu banyak pihak yang merasa bahwa Bakor Pakem sangat tidak penting terlalu mengada-ada, sehingga revolusi kinerja bakor sangat diperlukan untuk memperbaiki citra bakor Pakem itu sendiri.

B. Saran

  Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh negara, lebih khususnya Bakor Pakem dalam rangka meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat.

  1. Perlunya redefinisi mengenai masalah agama dan kepercayaan, itu dimaksudkan untuk memaknai sebuah agama dan kepercayaan secara lebih mendalam, meminimalisir subjektifitas, dan pemaknaan disusun secara ilmiah. Diharapkan masalah pendefinisian ini tidak menjadi sebuah perdebatan yang yang panjang dan tidak kunjung habis msampai saat ini.

  2. Bakor Pakem memerlukan sistem kearsipan dan prosedural yang baik dan harus berdasar pada landasan hukum yang kuat sebagai alat pengatur dan pengawas keparcayaan masyarakat. Hal tersebut diperlukan peraturan atau undang undang yang khusus sebagai landasannya.

  3. Perlunya sinergitas yang lebih komunikatif dan koordinasi yang jelas dalam Bakor Pakem. Hal tersebut dimaksudkan supaya antar lembaga dibawah koordinasi bakor tidak saling tumpang tindih dan bekerja sendiri sendiri bahkan keluar dari prosedur yang telah ditetapkan.

  4. Perlunya dasar kompetensi yang kuat dalam melakukan kajian–kajian khusus dalam mengkaji dan memutuskan mengenai pembekuan dan pembubaran sebuah aliran/sekte kepercayaan tertentu. Dalam sebuah koordinasi dan investigasi diperlukan orang-orang yang berkompeten dan diharapkan juga untuk lebih banyak melibatkan para akademisi, baik para teolog atau ahli-ahli dibidang sosial dan humaniora.

  Dari masukan diatas diharapkan kinerja Bakor Pakem menjadi lebih baik dan lebih bisa dipercaya oleh masyarakat, khususnya masyarakat penganut kepercayaan. Kiranya ketika negara membuat pasal 29 UUD 1945, maka pasal tersebut harus dilaksanakan dengan tepat, kongkrit dan konsisten.

  

DAFTAR PUSTAKA

Buku

  Abdulah Ciptoprawiro.1986. Filsafat Jawa , Balai Pustaka, Jakarta. Anas Saidi (edt). 2004, Menekuk Agama Membangun Tahta Kebijakan Agama Orde Baru, Desantara Utama, Jakarta.

  ASa’ad el Hafidy. 1977, Aliran Aliran Kepercayaan dan kebatinan di Indonesia, Ghalia, Indonesia, Jakarta. Bazor. Moh. R. Departemen Agama,_____Jakarta. Dahler, Frans,DR. Masalah Agama,______ Jakarta. Daryanto, SS. 1999. Kawruh bahasa Jawa Pepak, Apollo, Surabaya. Dwi Putranto. 2002, Kontroversi Konsep Ratu Adil dan Satrio Piningit Saya Percaya Saya Dapat, PT Grassindo, Jakarta. Geerzt, Cliford. 1983, Abangan Santri Priyayi dalam Masyarakat Jawa,

  Pustaka Jaya, Jakarta, George Ritzer-Douglas J. Goodman. 2008, Teori Sosiologi Modern, Kencana, Jakarta.

  Gottschalk, Louis.____, Mengerti Sejarah. Terj nugroho Notosusanto, Universitas Indonesia press, Jakarta. Harun Hadiwiyono. 1970, Java and Mystisism ,Yogyakarta.

  Interfidei. 2007, Agama dan Negara, Perspektif Islam, Katolik, Budha,

  Hindhu, Konghuchu, Protestan, Institute Dian/Interfidei, Yogyakarta.

  Interfidei. 2007, Diskriminasi di Sekeliling Kita, Negara, Politik

  Diskriminasi dan Multikulturalisme, Institute Dian/Interfidei, Yogyakarta.

  Jacob Sumardjo. 2002, Arkeologi Budaya Indonesia, Pelacakan Hermeunetis-Historis terhadap Artefak-Artefak kebudayaan Indonesia, Qalam, Yogyakarta

  Kuntowijoyo. 2006, Budaya dan Masyarakat, Tiara Wacana Yogya, Yogyakarta. Koentjaraningrat. 1993, Metode-Metode Metode Penelitian Masyarakat, PT Gramedia pustaka utama, Jakarta. Lindholm, Tore dkk (ed). 2009, Kebebasan Beragama atau berkeyakinan:

  Seberapa Jauh?, Kanisius, Yogyakarta

  Muhammad Damami. 2 002, Makna Agama dalam Masyarakat Jawa, LESFI, Yogyakarta. Magnis Suseno, Frans. 2003, Etika Jawa Sebuah Analisa Falsafah tentang

  Kebijaksanaan Hidup Jawa, PT Gramedia Pustaka Utama,

  Jakarta Moedjanto, G. 1998, Konsep Kekuasaan Jawa Penerapannya oleh Raja Raja Mataram, Kanisius, Yogyakarta.

  Mulder, Niels. 2001, Mistisisme Jawa Ideologi di Indonesia, LKIS, Yogyakarta. Mulder, Niels.1983, Jawa Thailand Beberapa Perbandingan Sosial Budaya, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta. Nahar Narwawi, Muh. 2003, Memahami Konghuchu sebagai Agama, PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta. Sartono Kartodirjo. 1992, Pendekatan Ilmu Sosial dalam Metodologi Sejarah, PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta. Soehadha, M. 2008, Orang Jawa Memaknai Agama, Kreasi Wacana, Yogyakarta. Soetomo. 2008, Masalah Sosial dan Upaya pemecahannya, Pustaka Pelajar, Yogyakarta. Soerjono Soekanto. 1998, Fungsionalisme dan Teori Konflik dalam Perkembangan Sosiologi, Sinar Grafika, Jakarta. Suwardi Endraswara. 2003, Mistik Kejawen Sinkretisme, Simbolisme dan

  Sufisme dalam Budaya Spiritual Jawa, Penerbit Narasi, Yogyakarta.

  Rahmat Subagya. 2002, Kepercayaan Kebatinan-Kerohanian-Kejiwaan dan Agama, Kanisius, Yogyakarta.

  Wawan Susetya. 2007, Kontroversi Ajaran Kebatinan. Penerbit Narasi, Yogyakarta. Wisnu Minasarwati. 2002, Mitos Merapi dan Kearifan Ekologi menguak

  Bahasa Mitos dalam Kehidupan Masyarakat Jawa Pegunungan, Kreasi Wacana, Yogyakarta

  ______. 2002, Jogja Never Ending Asia menggelar Potensi Jogja, PEMDA- DIY dan PT Bagassindo Media Persada, Yogyakarta. _____. 1984/1985, Pembinaan Penghayat Kepercayaan TYME dengan

  Memperhatikan Dasar Hukum dan Perundangan Terkait,

  Depdikbud, Dirjen Kebudayaan Ditbinyat TYME, Proyek Invebtarisasi Kepercayaan Terhadap TYME, Jakarta.

  Makalah Konflik Sosial ditinjau dari Struktur dan Fungsi, oleh Mulyadi, Jurusan

  Antropologi Fakultas Ilmu Budaya UGM, dipaparkan dalam Seminar Nasional, bulan Juli 2004.

  Koran dan majalah

  Suluh. 2006. edisi 26/tahun VI/ Maret-April,

  Informan

  Wawancara tanggal 20 Januari 2009 dengan Bapak Anas, Wakil Kepala Intelejen Kajati DIY

  Wawancara tanggal 7 Februari 2009, dengan Bapak Walmuji, seorang aktivis FPUB (Forum Persaudaraan Umat Beriman) dan penghayat aliran Kawula Ngayogyakarta.

  Wawancara tanggal 7 Februari 2009, dengan Sdr. Ngatiyar, seorang aktivis FPUB

  Wawancara tanggal 8 Agustus 2007 dengan bapak Bakir, seorang penganut Pangerten (kejiwan) dipegunungan Menoreh

  Website

  http://jakarta.usembassy.gov/bhs/Laporan/Laporan_Kebebasan_Beragama_20 07.html http://jarikmataram.wordpress.com/2007/12/22/kebebasan-beragama-dan- ham-di-indonesia/ http://jurnalhukum.blogspot.com/2007/10/konstitusi-poligami-dan- kebebasan.html http://www.jogja.go.id/ http://www.pemda-diy.go.id/ http://www.mailarchive.com/budaya_tionghua@yahoogroups.com/msg00795. html http://TokohIndonesia.Com/Sri Sultan HB IX

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi Program Studi Akuntansi
0
0
129
Skripsi Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
117
Skripsi Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
145
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana
0
0
97
Skripsi Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi Program Studi Akuntansi
0
0
81
SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Sejarah
0
0
205
SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Sains Program Studi Ilmu Komputer
0
0
111
Skripsi Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
130
SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Sastra Program Studi Ilmu Sejarah
0
0
191
SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Sastra Indonesia Program Studi Sastra Indonesia
0
0
139
Skripsi Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Sastra Program Studi Sastra Indonesia
0
0
97
Skripsi Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
123
Skripsi Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Sains Program Studi Ilmu Komputer
0
0
234
Skripsi Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
100
SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Sastra Program Studi Sastra Indonesia
0
0
153
Show more