T1__Full text Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Menurunkan Kecemasan Sosial Melalui Konseling Kelompok Rational Emotive Behavior pada Siswa Kelas VIII SMP Negeri 2 Susukan Tahun Ajaran 20162017 T1 Full text

 0  0  14  2018-04-16 23:52:16 Report infringing document
Informasi dokumen
MENURUNKAN KECEMASAN SOSIAL MELALUI KONSELING KELOMPOK RATIONAL EMOTIVE BEHAVIOR PADA SISWA KELAS VIII SMP NEGERI 2 SUSUKAN TAHUN AJARAN 2016/2017 ARTIKEL TUGAS AKHIR Oleh Restu Maha Dyanzari 132013029 PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS KRISTEN SATYA WACANA SALATIGA 2017 MENURUNKAN KECEMASAN SOSIAL MELALUI KONSELING KELOMPOK RATIONAL EMOTIVE BEHAVIOR PADA SISWA KELAS VIII SMP NEGERI 2 SUSUKAN TAHUN AJARAN 2016/2017 Restu Maha Dyanzari Dr. Yari Dwikurnaningsih, M.Pd dan Setyorini, M.Pd Program Studi Bimbingan dan Konseling-FKIP-UKSW ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui signifikansi penurunan kecemasan sosial siswa menggunakan konseling kelompok pendekatan rational emotive behavior .Subjek penelitian ini adalah 14 siswa kelas VIII A dan VIII F SMP Negeri 2 Susukan yang termasuk dalam kategori kecemasan sosial sangat tinggi dan tinggi yang dibagi dalam dua kelompok yaitu kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Penelitian ini termasuk dalam jenis penelitian eksperimen semu dengan desain penelitian Pre-test -Post-test Control Group Design .Teknik analisis data yang digunakan adalah Mann Whitney U menunjukkan hasil Asymp. Sig. 2-tailed) 0,700>0,05 yang artinya tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara kelompok eksperimen dengan kelompok kontrol sehingga penelitian ini dapat dilanjutkan. Hasil post-test kedua kelompok diuji menggunakan Mann Whitney U menunjukkan hasil Asymp. Sig. 2-tailed) 0,002<0,05 yang artinya terdapat perbedaan yang signfikan antara kelompok eksperimen dengan kelompok kontrol. Berdasarkan analisis data diperoleh hasil dari mean rank pre-test kelompok eksperimen sebesar 7,93 dan mean rank post-test kelompok eksperimen sebesar 4,00, sedangkan untuk post-test kelompok kontrolsebesar 11,00. Hal ini dapat disimpulkan bahwa konseling kelompok pedekatan rational emotive behavior secara signifikan dapat menurunkan kecemasan sosial. Penurunan kecemasan sosial sebesar 3,93. Kata kunci :Kecemasan Sosial, Konseling Kelompok Rational Emotive Behavior, Siswa Kelas VIII SMP PENDAHULUAN Kecemasan sosial adalah istilah untuk ketakutan, rasa gugup dan kecemasan yang dirasakan seseorang saat melakukan interaksi sosial dengan orang lain. Kecemasan sosial “menyerang” saat seseorang berpikir jika dia melakukan sesuatu, mereka akan diberi label negatif oleh orang lain atau berpikir dirinya akan melakukan sesuatu yang memalukan dihadapan orang lain (Butler, 1999).Berdasarkan hasil studi awal menggunakan skala kecemasan sosial (pre test) di SMP N 2 Susukan kelas VIII A dan F dengan jumlah murid 57 menunjukkan bahwa ada 2 (3.51%)siswa termasuk dalam katergori kecemasan sosial sangat tinggi, 12 (21.05%)siswa kategori tinggi, 23 (40.35%)kategori rendah dan 20 (35.09%)siswa termasuk kategori sangat rendah. Dalam konseling kelompok rational emotive behavior, konselor berupaya untuk mendorong perubahan perilaku, kognitif dan rasional klien. Pada konseling kelompok REB ini, mengajarkan mereka bertanggungjawab atas gangguan yang dialami dan membantu mereka mengidentifikasi serta meninggalkan proses indoktrinasi diri, menghilangkan persepektif klien yang irasional tentang kehidupan dan menggantinya dengan persepektif yang rasional (Gibson &Mitchell, 2011).Ellis berpendapat (Ellis, 2007) bahwa perasaan cemas, kekhawatiran kehati hatian kewaspadaan dan apa yang disebut kecemasan ringan adalah normal dan sehat. Akan tetapi, kecemasan yang parah, kegelisahan, ketakutan yang berat, dan panik adalah normal (atau sering terjadi tetapi tidak sehat).Kecemasan yang parah menyebabkan kekhawatiran berlebihan yang merugikan, perasaan mengalami teror dan rasa takut yang sangat besar, hal tersebut dapat membekukan dan membuat seseorang bersikap secara tidak kompeten dan tidak sosial. Karena itu, perasaan hati-hati dan waspada yang dimiliki perlu dipertahankan, akan tetapi seseorang tidak perlu memiliki kekhawatiran yang berlebihan karena kekhawatiran yang berlebihan akan menimbulkan kecemasan sosial. Berdasarkan uraian latar belakang diatas dapat dirumuskan masalah dalam penelitian ini: Apakah konseling kelompok dengan pendekatan rational emotif behavior secara signifikan dapat menurunkan kecemasan sosial diri siswa kelas VIII SMP N 2 Susukan?”Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan:“untuk mengetahui signifikansi penurunan kecemasan sosial siswa kelas VIII SMP N 2 Susukan dengan konseling kelompok pendekatan rational emotifbehavior.”LANDASAN TEORI Kecemasan Sosial Menurut American Psychiatric Association (APA) kecemasan sosial adalah ketakutan yang menetap terhadap sebuah atau lebih situasi sosial yang terkait berhubungan dengan performa, yang membuat individu harus berhadapan dengan orang-orang yang tidak dikenalnya atau menghadapi kemungkinan diamati oleh orang lain, takut bahwa dirinya akan dipermalukan atau dihina (dalamLa Greca, et al, 1998).La Greca dan Lopez (Olivarez, 2005) mengemukakan ada tiga aspek kecemasan sosial: 1. Ketakutan akan evaluasi negatif. 2. Penghindaran sosial dan rasa tertekan dalam situasi yang baru/berhubungan dengan orang asing/baru. 3. Penghindaran sosial dan rasa tertekan yang dialami secara umum atau dengan orang yang dikenal. Konseling Kelompok Gadza memberikan pengertian tentang konseling kelompok dalam bukunya Group Counseling :A Developmental Approach (Nursalim dan Hariastuti, 2007):Konseling kelompok adalah suatu proses interpersonal yang dinamis yang memusatkan pada kesadaran berpikir,tingkahlaku serta melibatkan fungsi-fungsi terapi yang dimungkinkan serta berorientasi pada kenyataan-kenyataan, membersihkan jiwa, saling percaya dan mempercayai pemeliharaan, pengertian, penerimaan dan bantuan. Fungsi-fungsi terapi itu diciptakan dan dipelihara dalam wadah kelompok kecil melalui sumbangan (saling berbagi) dari setiap anggota kelompok dan konselor.”Konseling Rational Emotive Behavior Menurut Ellis dalam Gladding (dalam Nursalim &Hariastuti, 2007) Untuk mencapai tujuan konseling Rational Emotif Behavior (REB) konselor dapat melakukan tahap-tahap konseling diantaranya sebagai berikut: 1. Pemimpin kelompok memperkenalkan teori rational emotive behavior kepada anggota kelompok. 2. Pemimpin kelompok mengajak anggota kelompok untuk saling berbagi kesulitan atau masalah pribadi. 3. Menganalisis suatu situasi kesulitan yang telah dinyatakan anggota dengan menggunakan intervensi terapiutik ABCDE. 4. Pemimpin dan anggota kelompok memberikan umpan balik dan anjuran kepada konseli yang bermasalah. Umpan balik diberikan dalam bentuk argumentasi (kognitif, afektif atau perilaku).5. Pemimpin kelompok mendorong para anggota untuk lebih memberikan perhatian pada peristiwa disini dan sekarang dan bukan pada masa lampau. 6. Pemimpin kelompok menerapkan teknik yang ada dalam pendekatan REBT, diantaranya: a. Menyangkal pikiran konseli yang bersifat irasional yang meliputi kognitif, afektif dan behavior. b. Membantu konseli meyakini bahwa pikiran yang irasional dapat ditantang dan diubah. c. Membantu konseli memahami bagaimana dan mengapa bisa menjadi demikian, serta menunjukkan hubungan gangguan hubungan yang irasional itu dengan ketidak bahagiaan dan gangguan emosional yang dialami. PENELITIAN YANG RELEVAN Penelitian yang dikemukakan oleh peneliti ini didukung oleh penelitian-penelitian sebelumnya. Adapun penelitian yang pernah dilakukan sebelumnya, sebagai berikut: Penelitian Widyani (2011) tentang penurunan kecemasan komunikasi interpersonal dengan layanan konseling kelompok pendekatan rational emotive behavior pada siswa kelas VIIIE SMP N 09 Salatiga, menunjukkan hasil bahwa konseling kelompok pendekatan REB dapat menurunkan kecemasan komunikasi interpersonal siswa dengan hasil post test kelompok kontrol (yang tidak diberi layanan) 53,04 %dan kelompok eksperimen (yang diberikan layanan) sekitar 46,96%.METODE PENELITIAN Penelitian ini termasuk eksperimen semu. Dalam desain penelitian ini, kelompok yang digunakan tidak dapat dipilih secara random (Sugiyono, 2009).Sebelum diberi perlakuan, kelompok diberikan pre-test dengan maksud untuk mengetahui keadaan awal kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Penelitian ini kedua kelompok diperlakukan secara berbeda, untuk kelompok eksperimen diberikan treatment dengan konseling kelompok melalui pendekatan rational emotive behavior ,kemudian dilakukan posttest untuk mengetahui tingkat keberhasilan dari treatment yang diberikan. Kelompok kontrol hanya diberikan pre-test dan post-test saja.Penelitian ini menggunakan desain Pretest –Posttest Control Design. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas VIII SMP N 2 Susukan. Penentuan Subjek penelitian ini dilakukan setelah memperoleh hasil skor penyebaran skala kecemasan sosial dengan kategori sangat tinggi dan kategori tinggi yang dilakukan di kelas VIII A dan kelas VIII F. Sebanyak 2 siswa termasuk kategori sangat tinggi dan 12 siswa kategori tinggi. Berdasarkan uraian tersebut, 7 siswa yang memiliki kategori kecemasan sosial yang sangat tinggi dijadikan sebagai kelompok eksperimen atau kelompok yang diberikan treatment, untuk kelompok kontrol adalah 7 siswa yang termasuk kategori kecemasan sosial yang tinggi. Pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini menggunakan skala kecemasan sosial yang diadaptasi dan memodifikasi dari penelitian Solihat (2011) berdasarkan pengembangan dari teori La Greca Lopez (Olivarez, 2005),dimana dalam kecemasan sosial terdapat tiga aspek yaitu Ketakutan akan evaluasi negatif, Penghindaran sosial dan rasa tertekan dalam situasi yang baru/berhubungan dengan orang asing/baru dan Penghindaran sosial dan rasa tertekan yang dialami secara umum atau dengan orang yang dikenal. Ketiga aspek ini dijadikan dasar untuk menyusun item-item kecemasan sosial yang terdiri dari 35 item pernyataan. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji Man Whitneyyang diperoleh dengan menggunakan SPSS 20.0 yaitu untuk melihat perbedaan nilai tes akhir (post-test) pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Uji Man Whitney mensyaratkan skala data ordinal dalam pengujiannya (Sugiyono, 2010) dan skala yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala data ordinal. HASIL PENELITIAN Berdasarkan prosedur penelitian ini setelah kelompok eksperimen diberikan perlakuan dengan konseling kelompok pendekatan rational emotive behavior ,dilakukan pre-test kelompok eksperimen dengan kelompok kontrol diperoleh data sebagai berikut: Tabel 4.3 Mean Rank Pre-Test Kecemasan Sosial Pada Kelompok Eksperimen Dan Kontrol Ranks KELOMPOK N Mean Rank PRE EKPERIME 7 7,93 N PRE 7 7,07 KONTROL 1 Total 4 Sum of Ranks 55,50 49,50 Pada tabel 4.3 jumlah subjek untuk kelompok eksperimen dan kelompok kontrol sebanyak 14 siswa dengan masing-masing kelompok terdiri dari 7 siswa. Skor mean rank pada kelompok eksperimen 7.93 dan mean rank untuk kelompok kontrol 7.07. Kemudian sum of rank pada kelompok eksperimen 55.50 dan sum of rank pada kelompok kontrol 49.50. Tabel 4.4 Hasil Uji Mann Whitney U Pre-Test Kecemasan Sosial Pada Kelompok Eksperimen Dan Kontrol Test Statisticsa Mann-Whitney U Wilcoxon W Z Asymp. Sig. 2-tailed) NILAI 21,500 49,500 -386 ,700 Exact Sig. 2*(1-tailed ,710b Sig.)a. Grouping Variable: KELOMPOK b. Not corrected for ties. Pada tabel 4.4 diatas dapat diketahui hasil uji Mann-Whitney U =21,500 dengan koefisien Asyim.Sig.(2-tailed) 0,700>0,05, maka dapat disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antara kecemasan sosial kelompok eksperimen dan kelompok kontrol, sehingga penelitian dapat dilanjutkan dengan pemberian treatment atau perlakuan dengan konseling kelompokrational emotive behavior .Berdasarkan prosedur penelitian ini setelah kelompok eksperimen diberikan perlakuan dengan konseling kelompok pendekatan rational emotive behavior ,dilakukan post-test kelompok eksperimen dengan kelompok kontrol diperoleh data sebagai berikut: Tabel 4.9 Mean Rank Hasil PostTest Kecemasan Sosial Kelompok Eksperimen Dan Kelompok Kontrol Ranks Kelompok N Eksperimen Kontrol Total 7 7 14 Mean Rank 4,00 11,00 Sum of Rank 28,00 77,00 Pada tabel diatas jumlah subjek untuk kelompok eksperimen sebanyak 7 siswa dan subjek dalam kelompok kontrol sebanyak 7 siswa. Skor mean rank post-test yang diperoleh untuk kelompok eksperimen adalah 4.00 dan mean rank post-test kelompok kontrol adalah 11.00. Sum of rank untuk kelompok eksperimen 28,00 dan Sum of rank kelompok kontrol adalah 77,00. Tabel 4.10 Uji Mann Whitney PostTest Kecemasan Sosial Kelompok Eksperimen Dan Kelompok Kontrol Test Statisticsa NILAI ,000 28,000 -3,151 ,002 Mann-Whitney U Wilcoxon W Z Asymp. Sig. 2-tailed) Exact Sig. 2*(1-tailed ,001b Sig.)a. Grouping Variable: KELOMPOK b. Not corrected for ties. Dari tabel diatas dapat diketahui nilai hitung Mann Whitney U =0.00 dan koefisien Asymp. Sig (2tailed) 0,002<0,05. Perhitungan statistik tersebut menunjukan bahwa ada perbedaan yang signifikan kecemasan sosial antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Perbedaan tersebut menunjukan adanya perbedaan kelompok eksperimen dan kontrol setelah kelompok eksperimen diberikan treatment (perlakuan) dengan konseling kelompok pendekatan rational emotive behavior .Tabel 4.11 Penurunan Skor Kecemasan Sosial Kategori Range Sangat Tinggi Tinggi Rendah Sangat rendah 99113 84-98 69-83 54-68 Jumlah siswa Pre test Post test Eks Kon Eks Kon 2 5 -7 -6 5 1 2 Jumlah siswa 14 siswa 14 siswa Dari tabel diatas diatas menunjukkan bahwa ada 14 siswa dari kelompok eksperimen dan kontrol. Pada saat pre test kedua kelompok sama-sama berada dalam kategori sangat tinggi dan tinggi. Dari kelompok eksperimen pada saat pre test terdapat 2 siswa dalam kategori sangat tinggi dan 5 siswa dalam kategori tinggi. Terjadi perubahan pada saat post test menjadi 6 siswa yang masuk dalam kategori rendah dan 1 siswa masuk dalam kategori sangat rendah. Artinya ada penurunan kecemasan sosial pada kelompok eksperimen secara signifikan. Hal ini menunjukkan bahwa konseling kelompok pendekata rational emotive behavior dapat digunakan untuk menurunkan kecemasan sosial siswa kelas VIIII SMP N 2 Susukan. Pada kelompok kontrol pada saat pre test terdapat 7 siswa masuk dalam kategori tinggi. Meskipun ada perubahan ketika post test yaitu 5 siswa masuk dalam kategori tinggi dan 2 siswa masuk dalam kategori rendah, tidak ada siswa yang masuk kategori sangat rendah. Berdasarkan hasil analisis Uji Mann Whitney Upost- test yang dapat dilihat pada tabel 4.9 menunjukkan koefisien Asymp. Sig. 2-tailed) 0,002<0,05, Skor mean rank post-test yang diperoleh untuk kelompok eksperimen adalah 4.00 dan mean rank post-test kelompok kontrol adalah 11,00. Kemudian sum of rank untuk kelompok eksperimen 28,00 dan sum of rank kelompok kontrol adalah 77,00. PEMBAHASAN Berdasarkan hasil uji beda yang telah dilaksanakan pada saat pre-test, tidak ada perbedaan kecemasan sosial yang signifikan antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Hal ini ditunjukkan dengan Asymp Sig. 2Tailed) 0,700>0,05. Dalam penelitian ini, sebelum diberikan treatment, kelompok eksperimen memiliki kecemasan sosial yang tinggi sama dengan siswa dalam kelompok kontrol. Setelah kelompok eksperimen diberikan konseling kelompok sebanyak 8 sesi, siswa dirasa sudah memiliki kesadaran akan kecemasan yang mereka miliki.Pada setiap sesinya, kegiatan konseling ini membahas permasalahan siswa yang sama seperti dalam aspek-aspek kecemasan sosial ssesuai kesepakatan. Menurut Gazda, konseling kelompok adalah suatu proses interpersonal yang dinamis yang memusatkan pada kesadaran berpikir, tinggkahlaku serta melibatkan fungsi-fungsi terapi yang dimungkinkan serta berorientasi pada kenyataan-kenyataan, membersihkan jiwa, saling percaya dan mempercayai, pemeliharaan dalam wadah kelompok kecil melalui sumbangan (saling berbagi) dari setiap anggota kelompok dan konselor. Pendekatan rational emotive behavior menekankan bahwa perilaku menyalahkan adalah merupakan inti dari sebagian besar gangguan emosional. Menurut Corey (2010),orang perlu belajar menerima dirinya sendiri dengan segala kekurangan yang dimiliki. Oleh karena itu, untuk menyembuhkannya orang harus didorong untuk memiliki pemikiran-pemikiran yang objektif dan rasional terhadap perasaanperasaan yang berkembang pada dirinya. Setelah pemberian treatment selesai kemudian peneliti menyebarkan kembali skala kecemasan sosial pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol sebagai post-test.Hasilnya menunjukkan Asymp. Sig. 2-tailed) 0,002< 0,05, ini berarti bahwa ada perbedaan yang signifikan antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol setelah kelompok eksperimen diberi perlakuan dengan konseling kelompok rational emotive behavior. Jadi hasil post-test menunjukkan bahwa konseling kelompok rational emotive behavior dapat digunakan untuk menurunkan kecemasan sosial siswa. Keberhasilan konseling kelompok pendekatan rational emotive behavior untuk menurunkan kecemasan sosial didukung respon anggota kelompok yang baik selama delapan sesi konseling terutama pada sesi ke 5 dan 6 yang membahas permasalahan tentang gugup. Pada sesi ini, anggota kelompok dapat mengikuti kegiatan konseling dengan baik, mereka aktif dalam mengemukakan pendapat tanpa perlu diarahkan oleh pemimpin kelompok. Pada mulanya, ketika sesi awal konseling anggota kelompok lebih banyak merespon segala sesuatu seperlunya. Akan tetapi seiring berjalannya waktu mereka dapat menyesuaikan diri untuk mengikuti kegiatan konseling kelompok. Anggota kelompok memberikan tanggapan mengenai permasalahan yang dibahas, sehingga konseling kelompok berjalan sebagaimana mestinya. Selama pemberian treatment anggota kelompok mulai menyadari bahwa rasa cemas yang mereka alami adalah hal yang berlebihan dan merugikan diri sehingga mereka mulai mengendalikannya. Dengan demikian penelitian ini mendukung penelitian yang dilakukan oleh Widyani (2011) yang pada akhir penelitian menyimpulkan bahwa layanan konseling kelompok rational emotive behavior efektif dapat digunakan untuk menurunkan kecemasan sosial siswa. Corey, Gerald. 2010. Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi. Terjemahan E. Koeswara .Theory and Practice of Counseling and Psychotherapy. 1997. Bandung: Refika Aditama. PENUTUP La Greca, A. M, Lopez, N (1998).Social anxiety among adolescent: Linkages with peer relation and friendships .Journal of abnormal Child Psychology. www.academicjournals.org. April) Berdasarkan hasil analisis data penelitian dapat disimpulkan bahwa konseling kelompok rational emotive behavior secara signifikandapatmenurunkan kecemasan sosial pada diri siswa kelas VIII SMP N 2 Susukan tahun ajaran 2016/2017 ini dibuktikan dengan hasil analisis menggunakan uji Mann Whitney U diperoleh skor signifikansi Asymp.Sig.(2-tailed) 0,002<0,05, perbedaanskor mean rank pre-test yang diperoleh untuk kelompok eksperimen adalah 7,93 dan mean rank post-test kelompok eksperimen 4.00 sertamean rank post-test kelompok kontrol adalah 11,00. Hal ini menunjukkan hasil yang signifikan berupa penurunan skor kecemasan sosial pada kelompok eksperimen sebesar 3,93. DAFTAR RUJUKAN Butler, Gillian. 1999. Overcoming Social Anxiety and Shyness .London. diakses pada Februari 2017) Ellis, Albert. 2007. Terapi R.E.B :Agar Hidup Bebas Derita .Bandung :Mizan Media Utama. Gibson. Robert L.,Marianne H. Mitchell. 2011. Bimbingan dan Konseling. Yogyakarta :Pustaka Pelajar. Nursalim, Mochamad &Retno Tri Hariastuti. 2007. Konseling Kelompok. Surabaya: Unesa University Press. Olivares, Jose. 2005. Social Anxiety Scale for Adolescents (SASA):Psychometric Properties in a spanishspeaking population. International Journal of Clinical and Health Psychology, Vol 5, No. 1. diakses pada Februari 2017) Solihat, Iin Siti. 2011.Efektivitas Teknik Restrukturisasi Kognitif untuk Mereduksi Kecemasan Sosial Remaja (Studi Quasi-Eksperimen terhadap Siswa Kelas X SMA YAS Bandung Tahun Ajaran 2011/2012).Skripsi. Universitas Pendidikan Indonesia. Sugiyono. 2009. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualititatif dan R&D .Bandung :Alfabeta Bandung. 2010. Statistik untuk Penelitian. Bandung :Alfabeta Bandung. Widyani, Septiana Panca. 2011).Penurunan Kecemasan Komunikasi Interpersonal Dengan Layanan Konseling Kelompok Pendekatan Rational Emotive Behaviour Pada Siswa Kelas VIIE SMP N 09 Salatiga .Skipsi: Universitas Kristen Satya Wacana. tidak diterbitkan)
T1__Full text Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Menurunkan Kecemasan Sosial Melalui Konseling Kelompok Rational Emotive Behavior pada Siswa Kelas VIII SMP Negeri 2 Susukan Tahun Ajaran 20162017 T1 Full text
Dokumen baru
Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait
Tags
Upload teratas

T1__Full text Institutional Repository | Saty..

Gratis

Feedback