ANALISIS TINGKAT PENCAHAYAAN ALAMI STUDI

 0  0  7  2018-09-28 17:27:48 Report infringing document

  

ANALISIS TINGKAT PENCAHAYAAN ALAMI

[ STUDI KASUS RUANG KELAS SMA NEGERI 9 MAKASSAR ]

Aan Kurniawan

  

Jurusan Pend. Teknik Sipil dan Perencanaan, Fakultas Teknik

Universitas Negeri Makassar

e-mail: 09.arsitek@gmail.com

  

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah tingkat pencahayaan alami yang ditimbulkan oleh

cahaya matahari pada ruang kelas SMA Negeri 9 Makassar sudah sesuai standar dalam rangka menciptakan

kenyamanan (thermal dan visual comfort) bagi penghuninya dalam suasana belajar dan untuk kesehatan

karena menciptakan mood yang menyenangkan bagi pengguna ruang. Objek dalam penelitian ini adalah

ruang kelas SMA Negeri 9 Makassar, dengan sampel dua buah ruang kelas yang memiliki orientasi

berbeda. Metode yang digunakan untuk pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu dengan observasi

langsung mengenai ukuran ruang kelas dan arah bangunan, serta melakukan pengukuran langsung pada 16

titik yang telah ditentukan dengan menggunakan alat ukur lux meter LX-101. Data yang diperoleh dari

pengukuran kemudian dihitung nilai rata-rata tingkat pencahayaannya. Berdasarkan hasil analisis data yang

telah dilakukan menunjukkan bahwa pencahayaan alami pada pagi, siang dan sore hari di ruang kelas SMA

Negeri 9 Makassar berada dibawah standar pencahayaan ruang kelas yaitu sebesar 250 lux sehingga

dibutuhkan pencahayaan buatan.

  Kata kunci: Tingkat pencahayaan, kenyamanan, lux meter, ruang kelas.

  ABSTRACT

  This study aims to find out what level of natural lighting posed by sunlight in space SMA Negeri 9

Makassar class is appropriate standards in order to make comfort (thermal and visual comfort) for

residents in a study and to health as create a pleasant mood for the user space . Objects in this study is the

space SMA Negeri 9 Makassar class, with a sample of two classrooms that have different orientations.

Methods used for data collection in this study that is the direct observation of classroom size and direction

of the building, and do direct measurement at 16 points were determined using a measuring instrument

LX-101 lux meter. Data obtained from measurements then calculated the average lighting level. Based on

the results of data analysis that has been done shows that natural light in the morning, afternoon and

evening in the classroom SMA Negeri 9 Makassar is under standard room illumination of 250 lux class

that is so needed artificial lighting.

  Keywords: Natural lighting, comfort, lux meter, classroom.

LATAR BELAKANG

  b. Pencahayaan Alami (Matahari) Cahaya alami adalah cahaya yang berasal

  Pencahayaan merupakan salah satu dari alam yang tidak terbatas dan dapat faktor penting dan sangat dibutuhkan oleh dimanfaatkan untuk mendukung aktivitas pengguna ruang dalam bangunan gedung. manusia. Kehadiran cahaya dapat membantu pengguna dalam melakukan aktivitasnya c. Mata Manusia dengan baik dan terasa nyaman. Selain itu, Mata manusia merupakan alat indra yang cahaya juga menyinari berbagai objek yang dapat melihat, mengenali dan menangkap ada pada ruang sehingga menjadi teramati detail objek serta warna dari spektrum dengan jelas suasana visualnya (visual cahaya.

  sense).

  Dalam pemenuhan kenyamanan

  d. Faktor Yang Berpengaruh Terhadap pengguna ruang dibutuhkan sumber cahaya Tingkat Pencahayaan Alami yang sesuai dengan fungsi ruang. Sumber

  • Kondisi Langit cahaya ada dua yaitu cahaya alami yang
  • Posisi Matahari bersumber dari alam dan cahaya buatan yang
  • Orientasi Bangunan bersumber dari alat yang diciptakan oleh
  • Selubung Bangunan manusia. Pencahayaan alami berasal dari matahari masuk ke dalam bangunan melalui

  e. Istilah Dalam Pencahayaan bukaan pada fasade bangunan dan dapat

  • Cahaya adalah gejala gelombang dimanfaatkan untuk penerangan pada elektromagnetik yang dapat ditangkap ruangan dalam bangunan gedung. oleh mata.

  Ruang kelas dalam Lembaga Pendidikan

  • Titik ukur adalah titik di dalam ruangan memiliki standar intensitas pencahayaan yang keadaan penerangannya dipilih minimum. Berdasarkan SNI No.03-6575- sebagai indikator untuk keadaan 2001 kriteria tingkat terang cahaya alami penerangan di seluruh ruangan.

  untuk ruang kelas adalah sebesar 250 lux.

  • Lubang cahaya efektif untuk suatu titik Fenomena yang terjadi pada ruang kelas ukur adalah bagian dari bidang lubang SMA Negeri 9 Makassar yaitu bahwa cahaya efektif lewat mana titik ukur itu perlunya distribusi cahaya alami untuk melihat langit. memenuhi kebutuhan pengguna ruang akan
  • Tingkat pencahayaan adalah sinar kenyamanan suasana belajar dalam ruang cahaya yang jatuh pada bidang kerja.

  kelas. Berdasarkan latar belakang diatas, ide pembahasan pencahayaan alami dituangkan f. Standar Pencahayaan Minimum Pada ke dalam judul penelitian yaitu: Analisis Lembaga Pendidikan

  Tingkat Pencahayaan Alami pada Ruang

  Berdasarkan SNI No.03-6575-2001 Kelas SMA Negeri 9 Makassar. untuk ruang kelas adalah 250 lux.

  g. Ruang Kelas

TINJAUAN PUSTAKA

  Rendensi Fungsi ruangan Lux warna Ruang kelas 250 1 atau 2

a. Pengertian Cahaya

  Cahaya adalah energi berbentuk

  Perpustakaan 300 1 atau 2

  gelombang elektromagnetik dan merupakan

  Laboratorium 500

  1

  faktor terpenting dalam segala aktifitas

  Kantin 200

  1 pengguna ruang dalam bangunan gedung. Tempat berlangsungnya interaksi antara pendidik dengan peserta didik dalam proses kegiatan belajar mengajar, dengan kuat penerangan minimum 250 lux yang mendukung aktivitas baca dan tulis.

h. Alat Ukur Cahaya

  Lux meter LX-101 merupakan alat ukur yang digunakan untuk mengukur kuat penerangan (tingkat penerangan) pada suatu area atau zona tertentu. Lux meter terdiri dari rangka, sebuah sensor dengan sel foto dan layar panel.

  Gambar 1. Hasil Pengukuran Pencahayaan

i. Kerangka Pikir

  e. Desain Penelitian Desain penelitian dibuat sebagai pedoman dalam penelitian. Desain penelitian terdiri dari:

  5. Tingkat pencahayaan adalah besarnya cahaya atau kekuatan cahaya yang jatuh pada bidang kerja,

  4. Orientasi bangunan adalah orientasi dalam kaitannya dengan posisi bukaan bangunan dimana posisi dan luar bukaan akan mempengaruhi jumlah radiasi sinar matahari yang masuk ke dalam bangunan.,

  3. Dimensi bukaan adalah ukuran lebar dan panjang jendela, pintu dan ventilasi,

  2. Dimensi ruang adalah ukuran lebar dan panjang ruang kelas,

  1. Bukaan pencahayaan adalah tempat masuknya cahaya dapat berupa jendela, pintu dan ventilasi,

  d. Definisi Operasional Variabel

  c. Variabel Penelitian Variabel dalam penelitian ini adalah bukaan pencahayaan, dimensi ruang, dimensi bukaan, orientasi bangunan serta tingkat pencahayaan alami pada pagi hari, siang dan sore hari.

  b. Populasi dan Sampel Penelitian Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ruang kelas yang digunakan dalam proses belajar mengajar di SMA Negeri 9 Makassar. Adapun sampel dalam penelitian ini dilakukan secara acak dengan mempertimbangkan orientasi bangunannya. Sampel yang diperoleh tersebut berjumlah tiga buah ruang kelas yang memiliki orientasi bangunan yang berbeda.

  9 Makassar yang terletak di Jl. Karunrung Raya No.37 Makassar. Penelitian ini direncanakan antara bulan Februari 2013 sampai bulan Maret 2013.

  Penelitian Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis penelitian deskriptif. Adapun yang menjadi objek dalam penelitian ini adalah tingkat pencahayaan alami ruang kelas SMA Negeri

  Gambar 2. Kerangka Pikir

METODE PENELITIAN

a. Jenis Penelitian, Waktu dan Tempat

  1. Penentuan titik ukur

HASIL DAN PEMBAHASAN

  Gambar 3. Penentuan Titik Ukur Pada Ruang Kelas

  2. Waktu pengukuran Waktu pengukuran dilakukan pada pukul

  09.00 pagi, pukul 12.00 siang, dan pukul 15.00 sore. Pengukuran dilakukan diatas bidang kerja seperti meja atau kursi dengan ketinggian +65 cm diatas lantai.

  3. Orientasi bangunan

  4. Warna dan tekstur

  5. Faktor penghalang

  6. Ada tidaknya pengguna ruang

  f. Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data yang akan digunakan dalam penelitian ini yaitu dengan observasi langsung untuk mengambil data orientasi bangunan dan melakukan pengukuran langsung terhadap dimensi bukaan. Sedangkan untuk mengukur tingkat pencahayaan dilakukan dengan menggunakan alat ukur lux meter pada beberapa titik yang telah ditentukan dalam ruang kelas. Sehingga data primer dan data sekunder yang diperoleh dari tempat penelitian merupakan masukan untuk perhitungan analisis tingkat pencahayaan.

  g. Teknik Analisis Data Teknik analisis data pada penelitian ini adalah analisis deskriptif di mana data yang diperoleh dianalisis dengan cara menghitung tingkat kekuatan pencahayaan alami pada pagi, siang dan sore hari dalam ruang kelas hubungannya dengan orientasi bangunan dan dimensi bukaan, setelah itu disesuaikan dengan standar pencahayaan yang disyaratkan dalam SNI No. 03-6575-2001 sebesar 250 lux.

  1. Observasi Langsung SMA Negeri 9 Makassar terdiri dari beberapa bangunan dan fasilitas antara lain ruang kelas sebanyak 21 buah untuk kelas X,

  XI, XII, laboratorium sebanyak 5 buah yaitu lab. bahasa, lab fisika, lab biologi, lab komputer, lab kimia. Serta ruang kantor dan beberapa ruang penunjang atau fasilitas lainnya.

  Gambar 4. Site Plan SMA Negeri 9 Makassar

  Kedua ruang kelas yang akan digunakan adalah kelas X1 yang mewakili kelas yang arah bangunan menghadap utara-selatan, dan kelas XI IPS 2 yang mewakili kelas yang arah bangunan menghadap timur-barat.

  a. Ruang Kelas X.1 Ruang kelas X.1 memiliki spesifikasi ruang (p x l x t): 9 x 8 x 3 m, dinding berupa dinding plaster cat putih. Mewakili kelas yang menghadap ke taman tengah sekolah dengan arah bangunan menghadap utara- selatan. Gambar 5. Denah Ruang Kelas X.1 Gambar 6. Potongan Interior Ruang Kelas X.1

  Ruang kelas XI IPS 2 memiliki spesifikasi ruang (p x l x t): 9 x 8 x 3,5 m, dinding berupa dinding plaster cat biru. Mewakili kelas yang menghadap ke lapangan upacara dengan arah bangunan menghadap timur-barat.

  Gambar 7. Denah Ruang Kelas XI IPS 2 Gambar 8. Potongan Interior Ruang Kelas XI IPS 2

  2. Hasil Pengukuran Berikut adalah hasil pengukuran yang dilaksanakan saat kondisi langit cerah (clear

  sky) pada pagi, siang dan sore hari :

  a) Pada Pagi Hari Hasil pengukuran tingkat pencahayaan alami ruang kelas X.1 dan XI IPS 2 pada pagi hari pukul 09.00 Wita dapat dilihat pada tabel berikut:

  Titik Ukur Ruang Kelas

b. Ruang Kelas XI IPS 2

  X.1 XI IPS 2 A1 103 053 A2 104 058 A3 094 056 A4 079 062 B1 088 042 B2 113 051 B3 095 058 B4 089 050 C1 124 061 C2 125 066 C3 124 068 C4 123 057 D1 297 075 D2 211 087 D3 208 077 D4 172 066

  Rata-rata 134 61,7 b) Pada Siang Hari Hasil pengukuran tingkat pencahayaan alami ruang kelas X.1 dan XI IPS 2 pada siang hari pukul 12.00 Wita dapat dilihat pada tabel berikut:

  Titik Ukur

  Ruang Kelas

  X1 XI IPS 2 A1 063 036 A2 069 039 A3 070 037 A4 072 040 B1 056 037 B2 059 038 B3 061 040 B4 063 038 C1 055 047 C2 058 048 C3 063 046 C4 070 045 D1 084 053 D2 066 058 D3 079 057 D4 073 050 Rata-rata 66,3 44,3

  c) Pada Sore Hari Hasil pengukuran tingkat pencahayaan alami ruang kelas X.1 dan XI IPS 2 pada sore hari pukul 15.00 Wita dapat dilihat pada gambar berikut:

  Titik Ukur

  Ruang Kelas

  X1 XI IPS 2 A1 108 024 A2 114 025 A3 125 022 A4 132 025 B1 075 024 B2 085 027 B3 094 026 B4 105 026 C1 065 032 C2 071 033 C3 074 032 C4 077 031 D1 078 041 D2 065 040 D3 073 038 D4 080 036 Rata-rata 88,8 30,1

  Tingkat pencahayaaan ruang kelas X.1, pada pukul 09.00 sebesar 134 lux kemudian pada pukul 12.00 sebesar 66,3 lux dan pada pukul 15.00 tingkat pencahayaan yang masuk ke ruang kuliah sebesar 88,8 lux sedangkan ruang kelas XI. IPS 2, pada pukul 09.00 sebesar 61,7 lux kemudian pada pukul 12.00 sebesar 44,3 lux dan pada pukul 15.00 tingkat pencahayaan yang masuk ke ruang kuliah sebesar 30,1 lux.

  Gambar 9. Grafik Tingkat Pencahayaan Alami

  Berdasarkan pembahasan di atas dapat diketahui bahwa perubahan tingkat pencahayaan alami pada ruang kelas di SMA Negeri 9 Makassar dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti kondisi langit, posisi matahari, orientasi bangunan dan pembayangan karena adanya aktivitas saat pengukuran, posisi dan luas bukaan, penataan/perletakan mebel dalam ruangan, adanya penghalang baik berupa overstek pada bangunan, pohon dan bangunan lain di sekitar ruangan yang menjadi objek penelitian.

  KESIMPULAN

  Meijs, Van Der. tanpa tahun. Membangun | Fisika bangunan. Terjemahan oleh E.

  Hendro Sankoyo. 1989. Jakarta: Erlangga. Soetiadji, Setyo S., 1986. Anatomi Utilitas.

  Pengantar Arsitektur. Terjemahan oleh

  Snyder James and Catanese. Tanpa tahun.

  SNI No. 03-6575-2001: Tata Cara Perancangan Sistem Pencahayaan Buatan Pada Bangunan Gedung.

  Yogyakarta: Andi.

  Rohani dan Ahmadi. 1991 “pengelolaan Pengajaran”. Jakarta: Rineka Cipta. Satwiko Prasasto. 2009. Fisika Bangunan.

  Jilid 1. Terjemahan oleh Sunarto Tjahjadi. 1996. Jakarta: Erlangga.

  Neufert, Ernest. Tanpa tahun. Data Arsitek

  Diraatmadja. 1983 Jakarta: Erlangga. Mithen. 2009. Buku Ajar Fisika Bangunan (Seri: Pencahayaan). Makassar.

  Bangunan. Jakarta: Djambatan

  Dari hasil penelitian tentang analisis tingkat pencahayaan alami pada ruang kelas SMA Negeri 9 Makassar dapat disimpulkan bahwa tingkat pencahayaan alami ruang kelas X.1 pada jam 09.00 pagi sebesar 135 lux, pada jam 12.00 siang sebesar 66,31 lux, dan pada jam 15.00 sore sebesar 88,81 lux. Sedangkan tingkat pencahayaan alami ruang kelas XI IPS 2 pada jam 09.00 pagi sebesar 61,88 lux, pada jam 12.00 siang sebesar 34,56 lux, dan pada jam 15.00 sore sebesar 30,13 lux. Dimana arah bangunan utara- selatan memiliki pencahayaan yang lebih baik dari arah bangunan timur-barat, dan tingkat pencahayaan alami yang masuk ke dalam ruang kelas SMA Negeri 9 Makassar berada dibawah standar yang direkomendasikan yaitu 250 lux.

  Mangunwijaya, YB.,1997. Pengantar Fisika

  (1991). Teknik Pencahayaan dan Tata Letak Lampu. Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia.

  REFERENSI Darmasetiawan C. & Puspakesuma L.

  b. Reflektansi dan pemilihan material interior seperti warna dinding, jenis lantai, plafon, pintu dan finishing pada mebel kayu, serta ketinggian bidang kerja untuk memaksimalkan pencahayaan alami dalam menciptakan kondisi ruang yang nyaman dan sehat saat beraktifitas dalam ruangan.

  50% agar cahaya yang diterima bisa masuk lebih merata.

  a. Orientasi bangunan terhadap arah sumber cahaya sinar matahari, letak dan luasan bukaan minimal 20%, jika berada pada pemukiman padat sebaiknya luasan bukaan mencapai

  2. Dalam perancangan dan perencanaan bangunan seperti lembaga pendidikan, khususnya pencahayaan alami dalam sebuah ruangan. Agar memperhatikan beberapa hal yaitu :

  1. Dalam pemenuhan kebutuhan cahaya alami yang sesuai dengan fungsi ruang, seperti ruang kelas SMA Negeri 9 Makassar, diperlukan bantuan pencahayaan buatan karena kurangnya intensitas cahaya alami yang masuk ke dalam ruangan, dan menata kembali perabot/meubel dalam ruang kelas. Jika memungkinkan menambah luas bukaan.

  Berdasarkan kesimpulan penelitian diatas, maka penulis dapat memberikan saran-saran sebagai berikut :

  SARAN

  Jakarta: Djambatan Tanggoro, Dwi. 1999. Utilitas Bangunan. Jakarta: Universitas Indonesia.

Dokumen baru
Aktifitas terbaru
Penulis
123dok avatar

Berpartisipasi : 2018-08-08

Dokumen yang terkait

ANALISIS TINGKAT PENCAHAYAAN ALAMI STUDI

Gratis

Feedback