geologi regional kulon progo, kabupaten kulon progo, yogyakarta

 0  0  9  2018-10-02 22:16:22 Report infringing document

GEOLOGI REGIONAL KULON PROGO

  Dataran Yogyakarta terbentuk oleh adanya proses pengangkatan dua pegunungan, yaitu pegunungan Selatan dan pegunungan Kulon Progo yang berlangsung pada Kala Plistosen awal (0,01 – 0,7 jtl). Setelah pegunungan Selatan terangkat, terbentuk dataran yang sedikit melengkung sehinggan aliran air permukaan di sepanjang kaki pegunungan tertutup dan membentuk genangan air (danau) di sepanjang kaki pegunungan hingga Gantiwarno dan Baturetno. Diketahui bahwa Gunung Merapi tealh muncul pada 42.000 tahun yang lalu. Hal ini di kemukakan berdasarkan data umur penarikan 14C pada endapan sinder yang tersingkap di Cepogo , namun berdasarkan data K/Ar lava andesit di Gunung Bibi, Berthomier (1990) mnentukan aktivitas Gunung Merapi telah berlangsung sejak 0,67 tahun yang lalu. Cekungan Yogyakarta terbentuk pada Kala Plistosen Awal oleh pengangkatan Pegunungan Selatan. Tinggian yang berada di sebelah selatan dan munculnya kubah Gunung Merapi disebelah utara, menghasilkan sebuah bentukan lembah yang datar. Pada bagian selatan lembah tersebut berbatasab dengan Pegunungan Selatan dan berbatasan dengan Pegunungan Kulon Progo di sebelah baratnya. Kini, ditemukan endapan lempung hitam pada tempat-tempat yang diduga pernah terbentuk lembah datar tersebut. Lempung hitam ini menjadi batas kontak antara batuan dasar dan endapan gunung api Merapi. Atas dasar penarikan 14C yang telah dilakukan pada endapan lempung hitam di Sungai Progo daerah Kasihan, umur lembah adalah ±16.590 hingga 470 tahun, dan di Sungai Opak (Watuadeg) berumur 6.210 tahun. Dari data tersebut diinterpretasikan sebagai awal pengaruh pengendapan material Merapi di wilayah ini, karena Endapan lempung hitam di Sungai Opak berselingan dengan endapan Gunung Merapi. Di Sungai Winongo (Kalibayem) tersingkap juga endapan lempung hitam yang berselingan dengan lahar berumur 310 tahun. Dari dat diatas dapat disimpulkan, aktivitas Gunung Merapi telah mempengaruhi kondisi geologi daerah ini pada ±6210 hingga ±310 tl.

FISIOGRAFI DAN GEOMORFOLOGFI REGIONAL

  Fisiografi dan geomorfologi regional dataran Yogyakarta termasuk dalam Pegunungan Kulon. Pegunungan Kulon di bagian utara dan timur dibatasi oleh lembah Progo, dan di bagian selatan dan barat dibatasi oleh dataran pantai Jawa Tengah. Dan pada bagian barat-laut pegunungan ini memiliki hubungan dengan Pegunungan Serayu. Menurut Van Bemmelen ( 1949, hal. 596), Pegunungan Kulon ditafsirkan sebagai dome (kubah) besar dengan bagian puncak datar dan sayap-sayap curam, dikenal sebagai “Oblong Dome”. Dome ini mempunyai arah utara timur laut – selatan barat daya, dan diameter pendek 15-20 Km, dengan arah barat laut-timur tenggara. Inti dome terdiri dari 3 gunung api Andesit tua yang pada sekarang ini telah tererosi cukup dalam, dan mengakibatkan beberapa bagian bekas dapur magmanya telah tersingkap. Bagian tengah dari dome ini adalah Gunung Gajah yang merupakan gunung api tertua yang menghasilkan kandungan Andesit hiperstein augit basaltic. Gunung api Ijo adalah gunung api yang terbentuk setelahnya yang berada dibagian selatan. Dari hasil aktivitasnya Gunung Ijo menghasilkan Andesit piroksen basaltic, kemudian Andesit augit hornblende, kemudian pada tahap akhir adalah intrusi Dasit di bagian intinya. Setelah aktivitas gunung Gajah berhenti dan mengalami denudasi, gunung Menoreh terbentuk dibagian utara. Gunung Menoreh merupakan gunung terakhir yang terbentuk di komplek pegunungan Kulon Progo. Hasil dari aktivitas gunung Menoreh awalnya menghasilkan Andesit augit hornblen, kemudian dihasilkan Dasit dan yang terakhir yaitu Andesit. Dome Kulon Progo memiliki bagian puncak yang datar yang dikenal dengan “Jonggrangan Platoe”. Bagian puncak dome tertutup oleh batugamping koral dan napal dengan kenampakan topografi kars. Topografi kars ini dapat dijumpai di sekitar desa Jonggrangan, yang kemudian penamaan litologi pada daerah ini dikenal dengan Formasi Jonggrangan. Sisi utara dari pegunungan Kulon Progo telah teropotong oleh gawir-gawir sehingga pada bagian ini banyak yang telah hancur dan tertimbun di bawah alluvial Magelang (Pannekoek (1939), vide (Van Bammelen, 1949, hal 601)).

  Menurut penelitian Van Bemmelen (1948), secara fisiografis Jawa Tengah dibagi menjadi 3 zona, yaitu :

  1. Zona Jawa Tengah bagian utara yang merupakan Zona Lipatan

  2. Zona Jawa Tengah bagian tengah yang merupakan Zona Depresi

  3. Zona Jawa Tengah bagian selatan yang merupakan Zona Plato Berdasarkan letaknya, Kulon Progo merupakan bagian dari zona Jawa

  Tengah bagian selatan maka daerah Kulon Progo merupakan salah satu plato yang sangat luas yang terkenal dengan nama Plato Jonggrangan (Van Bemellen, 1948). Daerah ini merupakan daerah uplift yang memebentuk dome yang luas. Dome tersebut relatif berbentuk persegi panjang dengan panjang sekitar 32 km yang melintang dari arah utara - selatan, sedangkan lebarnya sekitar 20 km pada arah barat - timur. Oleh Van Bemellen Dome tersebut diberi nama Oblong Dome.

  Berdasarkan relief dan genesanya, wilayah kabupaten Kulon Progo dibagi menjadi beberapa satuan geomorfologi antara lain, yaitu : A. Satuan Pegunungan Kulon Progo Satuan pegunungan Kulon Progo mempunyai ketinggian berkisar antara 100 – 1200 meter diatas permukaan laut dengan kemiringan lereng sebesar 15 – 16 . Satuan Pegunungan Kulon Progo penyebarannya memanjang dari utara ke selatan dan menempati bagian barat wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta, meliputi kecamatan Kokap, Girimulyo dan Samigaluh. Daerah pegunungan Kulon Progo ini sebagian besar digunakan sebagai kebun campuran, permukiman, sawah dan tegalan.

  B. Satuan Perbukitan Sentolo Satuan perbukitan Sentolo ini mempunyai penyebaran yang sempit dan terpotong oleh kali Progo yang memisahkan wilayah Kabupaten Kulon Progo dan

  Kabupaten Bantul. Ketinggiannya berkisar antara 50 – 150 meter diatas permukaan air laut dengan besar kelerengan rata – rata 15 . Di wilayah ini, satuan perbukitan Sentolo meliputi daerah Kecamatan Pengasih dan Sentolo.

  C. Satuan Teras Progo Satuan teras Progo terletak disebelah utara satuan perbukitan Sentolo dan disebelah timur satuan Pegunungan Kulon Progo, meliputi kecamatan Nanggulan dan Kali Bawang, terutama di wilayah tepi Kulon Progo

  D. Satuan Dataran Alluvial Satuan dataran alluvial penyebarannya memanjang dari barat ke timur, daerahnya meliputi kecamatan Temon, Wates, Panjatan, Galur dan sebagian

  Lendah. Daerahnya relatif landai sehingga sebagian besar diperuntukkan untuk pemukiman dan lahan persawahan.

  E. Satuan Dataran Pantai  Subsatuan Gumuk Pasir Subsatuan gumuk pasir ini memiliki penyebaran di sepanjang pantai selatan

  Yogyakarta, yaitu pantai Glagah dan Congot. Sungai yang bermuara di pantai selatan ini adalah kali Serang dan kali Progo yang membawa material berukuran besar dari hulu. Akibat dari proses pengangkutan dan pengikisan, batuan tersebut menjadi batuan berukuran pasir. Akibat dari gelombang laut dan aktivitas angin, material tersebut diendapkan di dataran pantai dan membentuk gumuk – gumuk pasir.

   Subsatuan Dataran Alluvial Pantai Subsatuan dataran alluvial pantai terletak di sebelah utara subsatuan gumuk pasir yang tersusun oleh material berukuran pasir halus yang berasal dari subsatuan gumuk pasir oleh kegiatan angin. Pada subsatuan ini tidak dijumpai gumuk - gumuk pasir sehingga digunakan untuk persawahan dan pemukiman penduduk.

STRATIGRAFI REGIONAL

  Berdasarkan stratigrafi regional rangkaian Pegunungan Kulon Progo, dimulai dari yang paling tua sampai yang paling muda. Menurut Van Bemmelen adalah sebagai berikut :

  1. Formasi Nanggulan Formasi Nanggulan menempati daerah dengan morfologi perbukitan bergelombang rendah hingga menengah dengan tersebar merata di daerah

  Nanggulan (bagian timur Pegunungan Kulon Progo). Secara setempat formasi ini juga dijumpai di daerah Sermo, Gandul, dan Kokap yang berupa lensa-lensa atau blok xenolit dalam batuan beku andesit.

  Formasi Nanggulan mempunyai tipe lokasi di daerah Kalisongo, Nanggulan. Van Bemmelen menjelaskan bahwa formasi ini merupakan batuan tertua di Pegunungan Kulon Progo dengan lingkungan pengendapannya adalah litoral pada fase genang laut. Litologi penyusunnya terdiri-dari batupasir dengan sisipan lignit, napal pasiran, batulempung dengan konkresi limonit, sisipan napal dan batugamping, batupasir, tuf kaya akan foraminifera dan moluska, diperkirakan ketebalannya 350 m. Wilayah tipe formasi ini tersusun oleh endapan laut dangkal, batupasir, serpih, dan perselingan napal dan lignit. Berdasarkan atas studi Foraminifera planktonik, maka Formasi Nanggulan ini mempunyai kisaran umur antara Eosen Tengah sampai Oligosen.

  Formasi ini tersingkap di bagian timur Kulon Progo, di daerah Sungai Progo dan Sungai Puru. Formasi ini terbagi menjadi 3, yaitu :

  a. Axinea Beds

Axinea beds, yaitu formasi yang terletak paling bawah dengan ketebalan 40 meter,

  merupakan tipe endapan laut dangkal yang terdiri-dari batupasir, serpih dengan perselingan napal dan lignit yang semuanya berfasies litoral. Axinea beds ini banyak mengandung fosil Pelecypoda.

  b. Yogyakarta Beds

Yogyakarta beds, yaitu formasi yang terendapkan secara selaras di atas Axinea

beds dengan ketebalan 60 meter. Formasi ini terdiri-dari napal pasiran berselang-

  seling dengan batupasir dan batulempung yang mengandung Nummulites djogjakartae.

  c. Discocyclina Beds

Discocyclina Beds, yaitu formasi yang diendapkan secara selaras di atas

Yogyakarta beds dengan ketebalan 200 meter. Formasi ini terdiri-dari napal dan batugamping berselingan dengan batupasir dan serpih. Semakin ke atas bagian ini berkembang kandungan Foraminifera planktonik yang melimpah (Suryanto dan Roskamil, 1975)

  2. Formasi Andesit Tua Formasi ini diendapkan secara tidak selaras di atas Formasi Nanggulan.

  Litologinya berupa breksi volkanik dengan fragmen andesit, lapilli tuf, tuf, lapili breksi, sisipan aliran lava andesit, aglomerat, serta batupasir volkanik yang tersingkap di daerah Kulon Progo.

  Formasi ini tersingkap baik di bagian tengah, utara, dan barat daya daerah Kulon Progo yang membentuk morfologi pegunungan bergelombang sedang hingga terjal. Ketebalan formasi ini kira-kira mencapai 600 m. Berdasarkan fosil Foraminifera planktonik yang dijumpai dalam napal dapat ditentukan umur Formasi Andesit Tua yaitu Oligosen Atas.

  3. Formasi Jonggrangan Di atas Formasi Andesit Tua diendapkan Formasi Jonggrangan secara tidak selaras. Formasi ini secara umum, bagian bawah terdiri-dari konglomerat, napal tufan, dan batupasir gampingan dengan kandungan moluska serta batulempung dengan sisipan lignit. Di bagian atas, komposisi formasi ini berupa batugamping berlapis dan batugamping koral. Morfologi yang terbentuk dari batuan penyusun formasi ini berupa pegunungan dan perbukitan kerucut dan tersebar di bagian utara Pegunungan Kulon Progo. Ketebalan batuan penyusun formasi ini 250 -400 meter dan berumur Miosen Bawah – Miosen Tengah.

  Formasi ini dianggap berumur Miosen Bawah dan di bagian bawah berjemari-jemari dengan bagian bawah Formasi Sentolo (Pringgo Praworo, 1968:7).

  4. Formasi Sentolo

  Di atas Formasi Andesit Tua, selain Formasi Jonggrangan, diendapkan juga secara tidak selaras Formasi Sentolo. Hubungan Formasi Sentolo dengan Formasi Jonggrangan adalah menjari. Foramasi Sentolo terdiri-dari batugamping dan batupasir napalan. Bagian bawah terdiri-dari konglomerat yang ditumpuki oleh napal tufan dengan sisipan tuf kaca. Batuan ini ke arah atas berangsur-angsur berubah menjadi batugamping berlapis bagus yang kaya akan Foraminifera. Ketebalan formasi ini sekitar 950 m.

  5. Endapan Aluvial dan Gugus Pasir Endapan Aluvial ini terdiri-dari kerakal, pasir, lanau, dan lempung sepanjang sungai yang besar dan dataran pantai. Aluvial sungai berdampingan dengan aluvial rombakan batuan vuokanik. Gugus Pasir sepanjang pantai telah dipelajari sebagai sumber besi.

STRUKTUR GEOLOGI REGIONAL

  Struktur ini dapat dikenali dengan adanya kenampakan pegunungan yang dikelilingi oleh dataran alluvial. Secara umum struktur geologi yang bekerja adalah sebagai berikut:

  1. Struktur Dome Menurut Van Bemellen (1948), pegunungan Kulon Progo secara keseluruhan merupakan kubah lonjong yang mempunyai diameter 32 km mengarah NE – SW dan 20 km mengarah SE – NW. Puncak kubah lonjong ini berupa satu dataran yang luas disebut jonggrangan plateu. Kubah ini memanjang dari utara ke selatan dan terpotong dibagian utaranya oleh sesar yang berarah tenggara – barat laut dan tertimbun oleh dataran magelang, sehingga sering disebut oblong dome.

  Pemotongan ini menandai karakter tektonik dari zona selatan jawa menuju zona tengah jawa. Bentuk kubah tersebut adalah akibat selama pleistosen, di daerah mempunyai puncak yang relative datar dan sayap – sayap yang miring dan terjal. Dalam kompleks pegunungan Kulon Progo khususnya pada lower burdigalian terjadai penurunan cekungan sampai di bawah permukaan laut yang menyebabkan terbentuknya sinklin pada kaki selatan pegunungan Menoreh dan sesar dengan arah timur – barat yang memisahkan gunung Menoreh denagn vulkan gunung

  Gadjah. Pada akhir miosen daerah Kulon Progo merupakan dataran rendah dan pada puncak Menoreh membentang pegunungan sisa dengan ketinggian sekitar 400 m. secara keseluruhan kompleks pegunungan Kulon Progo terkubahkan selama pleistosen yang menyebabkan terbentuknya sesar radial yang memotong breksi gunung ijo dan Formasi Sentolo, serta sesar yang memotong batu gamping Jonggrangan. Pada bagian tenggara kubah terbentuk graben rendah.

  2. Unconformity Di daerah Kulon Progo terdapat kenampakan ketidakselarasan (disconformity) antar formasi penyusun Kulon Progo. Kenampakan telah dijelaskan dalam stratigrafi regional berupa formasi andesit tua yang diendapkan tidak selaras di atas formasi Nanggulan, formasi Jonggrangan diendapkan secara tidak selaras diatas formasi Andesit Tua, dan formasi Sentolo yang diendapkan secara tidak selaras diatas formasi Jonggrangan.

SEJARAH GEOLOGI REGIONAL

  Sejarah geologi daerah penelitian yaitu daerah Pegunungan Kulon Progo menurut Van Bemmelen (1949) yaitu dengan dimulainya sejak kala Oligosen Akhir - Miosen Awal ditunjukkan oleh kegiatan magma andesitik yang menghasilkan endapan lahar, lava dan intrusi andesit pada lingkungan laut. Kemudian diikuti oleh proses tektonik Miosen yang menghasilkan struktur sesar, dan kekar pada lingkungan daratan. Pada lingkungan daratan ini terjadi alterasi dan mineralisasi yang berupa urat - urat kuarsa dan ubahan batuan. Proses berikutnya terjadi genang laut dari lingkungan darat menjadi laut dangkal pada kala Pliosen. Kondisi genang laut tersebut menyebabkan diendapkannya batugamping beriapis. Kala Pleistosen terjadi perlipatan pada batugamping berlapis dengan ditunjukkan oleh kemiringan satuan batuan tersebut. Pada kala Holosen terjadi pelapukan, erosi, transportasi dan deposisi endapan alluvial disepanjang sungai dan dataran banjir.

DAFTAR PUSTAKA

  Dosen dan Asisten Praktikum Geomorfologi, 2016,FIELDTRIP

  GEOMORFOLOGI: ULASAN GEOMORFOLOGI REGIONAL KULON PROGO, Yogyakarta; Departemen Teknik Geologi, Fakultas Teknik,

  Universitas Gadjah Mada G

  

(Diakses Pada Senin, 26 Maret 2018; 15.10 WIB)

Van Bemmelen, R.W..1970. The Geology of Indonesia, volume 1. A.Haque.

  Netherlands.

Dokumen baru
Aktifitas terbaru
Penulis
123dok avatar

Berpartisipasi : 2018-10-02

Dokumen yang terkait

geologi regional kulon progo, kabupaten kulon..

Gratis

Feedback