BAB II PROPIL UMUM KABUPATEN SANGGAU 2.1. WILAYAH ADMINISTRASI 2.1.1.Gambaran Administrasi Wilayah - DOCRPIJM 1cc8515db3 BAB II04.BAB II ok

Full text

(1)

Page 5 BAB II

PROPIL UMUM KABUPATEN SANGGAU

2.1. WILAYAH ADMINISTRASI

2.1.1.Gambaran Administrasi Wilayah

Kabupaten Sanggau adalah Kabupaten yang secara geografis berada di

tengah-tengah Provinsi Kalimantan Barat dengan Ibu Kota Sanggau, terletak diantara

koordinat 1°10’ Lintang Utara - 0°3’ Lintang Selatan dan 109°45’ - 111°11’ Bujur Timur

dengan luas 12.857,70 Km2 atau 8,76% dari luas daerah Propinsi Kalimantan Barat.

Dengan jarak dari Ibukota Provinsi 267 Km. Selain itu Kabupaten Sanggau terletak

pada jalur lalu lintas sektor Timur menuju Kabupaten Sekadau, Melawi, Sintang dan

Kapuas Hulu. Terletak pada jalur Sungai Kapuas yang merupakan sungai terpanjang

di Indonesia. Terletak pada jalur trans Kalimantan (Kalteng, Kalsel, Kaltim). Terletak

pada jalur trans Borneo (Serawak dan Brunai Darussalam). Berbatasan langsung

dengan negara bagian Serawak (Malaysia Timur). Sehingga dapat dikatakan bahwa

Kabupaten Sanggau memiliki faktor geografis yang strategis. Kepadatan penduduk

rata-rata 30 jiwa per km2 dengan tipologi wilayah terdiri atas tanah tergenang, tanah

kering, hutan perkebunan dan lain-lain.

Batas-batas wilayah sebagai berikut:

• Sebelah Utara dengan Malaysia Timur (Sarawak) dan Kabupaten Bengkayang • Sebelah Selatan dangan Kabupaten Ketapang

• Sebelah Timur dengan Kabupaten Sekadau dan Sintang • Sebelah Barat dengan Kabupaten Landak dan Kubu Raya

Kabupaten Sanggau terdiri atas 15 (lima belas) kecamatan, yaitu: Toba, Meliau,

Kapuas, Mukok, Jangkang, Bonti, Parindu, Tayan Hilir, Balai, Tayan Hulu, Kembayan,

Beduwai, Noyan, Sekayam dan Entikong. Jika dilihat dari luas kecamatan, maka

kecamatan terluas adalah Kecamatan Jangkang dengan luas 1.589,20 Km2, kemudian

Kecamatan Meliau yaitu 1.495,70 Km2. Sedangkan kecamatan terkecil adalah

Kecamatan Balai dengan luas 395,60 Km2 kemudian Kecamatan Beduwai dengan

luas 435,00 Km2. Kecamatan Entikong dan Sekayam merupakan kecamatan yang

berbatasan langsung dengan Serawak (Malaysia Timur). Kebupaten Sanggau memiliki

(2)

Page 6 Kabupaten Sanggau secara umum beriklim tropis. Pada tahun 2006 rata-rata hujan

sebulan tertinggi 20 hari yang terjadi di bulan April. Sedangkan hari hujan terendah

terjadi pada bulan Juli yaitu selama 4 hari. Rata-rata tinggi curah hujan sebesar 320

mm yang terjadi pada bulan Desember dan terendah sebesar 54 mm pada bulan Juli.

Jenis tanah yang terdapat di Kabupaten Sanggau, sebagian besar adalah jenis tanah

podsolik merah kuning batuan dan padat yang hampir merata di seluruh kecamatan,

dengan luas mencapai sekitar 576,910 Ha (44,80 %). Sedangkan latosol merupakan

jenis tanah dengan luas terkecil yang terdapat di Kabupaten Sanggau yaitu 19,375 Ha

(1,06%) yang hanya terdapat di Kecamatan Toba dan Meliau.

Formasi Geologi yang terdapat di daerah Kabupaten Sanggau, antara lain adalah

Formasi Kwartir, Kapur, Trias, Pistosen, Instruktif dan Plutonik Basa Menengah,

Intruksif Plutonik Asam, Sekis Hablur, Intruksif dan Plutonik Basa, Lapisan Batu, dan

Permo Karbon. Pada umumnya lapisan tanah Pistosen hampir terdapat di seluruh

kecamatan kecuali di Kecamatan Toba dan Beduai. Lapisan tanah Efusif Basa hanya

(3)
(4)

Page 8 2.2 Potensi Wilayah Kabupaten Sanggau

2.2.1 Pertanian

Fokus pertanian di Kabupaten Sanggau menurut KDA Tahun 2012 yaitu sawah. Pada

tahun 2012 luas lahan sawah sebesar 41.791 hektar, naik dibanding tahun 2011

dengan luas 40.252 hektar. Sedangkan untuk lahan kering pada tahun 2011 yaitu

1.245, 518 hektar, pada tahun 2012 menurun menjadi 1.243, 979 hektar. Luas panen

padi (sawah dan ladang) pada tahun 2012 seluas 30.898 hektar dengan total produksi

mencapai 75.806 ton. Dari hasil tersebut, padi sawah yang luas panennya mencapai

11.922 hektar atau sekitar 38,58% dan menghasilkan produksi sebanyak 41.882 ton.

Sedangkan padi ladang memiliki luas panen mencapai 18.976 hektar dengan total

produksi sebesar 33.924 ton.

2.2.2 Perkebunan

Kabupaten Sanggau merupakan salah satu Kabupaten di Kalimantan Barat yang

cukup banyak bergerak dalam bidang perkebunan. Produk unggulan perkebunan

Kabupaten Sanggau terbesar yaitu sawit dan karet. Berdasarkan data dari Bappeda

Kabupaten Sanggau, tanaman yang dihasilkan dari perkebunan besar adalah kelapa

sawit yang sudah berproduksi secara konsisten. Untuk produksi karet pada tahun 2011

sebanyak 49.987, 09 ton, sedangkan pada tahun 2012 meningkat menjadi 53.289, 97

ton. Untuk luas tanaman produktif meningkat dari 57.483 hektar menjadi 57.833

hektar. Dengan demikian rata-rata produksi karet per hektar adalah 9,21 kuintal per

hektar, lebih besar dari tahun sebelumnya yang berkisar 8,69 kuintal per hektar.

Beberapa komoditi yang mengalami peningkatan antara lain: kelapa sawit, kakao,

kelapa hibrida, dan lada. Sedangkan yang mengalami penurunan kelapa dalam dan

kopi. (Sumber data: Bappeda Kab. Sanggau Tahun 2012)

2.2.3 Budaya

Kabupaten Sanggau merupakan daerah yang terdiri dari keragaman suku dan budaya.

Suku asli yang mendiami Kabupaten Sanggau adalah suku Dayak dan suku Melayu.

Tetapi sejak beberapa dekade belakangan ini sudah berbagai suku lainnya yang

mendiami Kabupaten Sanggau seperti suku Tionghoa, Jawa, Batak, dan lainnya.

Objek Budaya di Kabupaten Sanggau antara lain: Mesjid Jami di Sanggau, Rumah

Betang Kopar di Parindu, Makam Raja dan Keraton di Sanggau, Rumah Panca

Pengadang di Kecamatan Sekayam, Rumah Betang Adat Mawang Muda di

(5)

Page 9 Peninggalan Rumah Keraton dan Makam Raja-Raja di Tayan, Rumah Betang Nek

Bindang di Kecamatan Toba, Benda Pusaka Keris Majapahit di Kecamatan Toba,

Makam Raja Gusti Lekar di Meliau, Makam Panglima Pangsuma di Kecamatan Meliau,

Bekas Markas Pejuang, benteng NICA dan rumah bekas Controleur Belanda yang

saat ini digunakan sebagai mess Pemda Sanggau. (Sumber data: Bappeda Kab.

Sanggau Tahun 2012)

2.2.4 Pariwisata

Beberapa potensi pariwisata di Kabupaten Sanggau antara lain: Pancur Aji, terletak ±

6 km dari Kota Sanggau. Untuk mencapai lokasi ini dapat ditempuh dengan

menggunakan kendaraan roda dua ataupun roda empat. Pancur Aji memilik nilai

historis, dimana dulu lokasi ini merupakan tempat persembunyian raja Bujang Malaka

untuk membentengi dari kejaran musuh, hingga sekarang Pancur Aji masih memiliki

benteng tersebut.

SIPATN LOTUP, merupakan sumber air panas yang terdapat di dipersimpangan

Kecamatan Kembayan kita akan melalui Kecamatan Jangkang yang memiliki keunikan

alam dan merupakan ciri khas yang berbeda dengan Kecamatan lainnya. Disini akan

ditemukan sumber air panas yang oleh penduduk setempat disebut dengan SIPATN

LOTUP yang jika diartikan adalah air yang mendidih (meletup-letup), disebut keanehan

di Kecamatan Jangkang maupun Kabupaten Sanggau karena di Kabupaten Sanggau

sendiri tidak memiliki gunung berapi yang biasanya banyak mengandung sulphur atau

belerang sebagai salah satu unsur yang dapat menciptakan sumber air panas. Sipatn

LOTUP sudah banyak dikenal oleh masyarakat luas dan sumber air panasnya konon

dapat menyembuhkan berbagai penyakit kulit.

Danau Lait, berlokasi di Tayan Hilir sekitar 2 jam dengan menggunakan mobil dari kota

Sanggau, selain memberikan panorama alam yang indah, danau Lait merupakan

tempat yang nyaman untuk bersantai, memancing, bersampan maupun kemping.

Goa Thang Raya memiliki batu-batu yang membentuk relief-relief, terletak di

Kecamatan Beduwai memiliki panjang 100m.

Tiong Kandang adalah bukit tertinggi yang ada di Kabupaten Sanggau berlokasi di

Kecamatan Balai yang berjarak sekitar 64 km dari Kota Sanggau. Tiong Kandang

dapat dijadikan sebagai lokasi olahraga wisata seperti pendakian dan penjelajahan.

Air Terjun Sirin Punti, berlokasi di Kecamatan Entikong merupakan tempat wisata yang

memiliki panorama yang indah, udara bersih yang dikelilingi oleh pepohonan. (Sumber

(6)

Page 10

2.2.5 Perdagangan

Kondisi Kabupaten Sanggau yang berbatasan dengan langsung dengan negara

tetangga menyebabkan banyak ilegal perdagangan di kawasan perbatasan, banyak

produk pertanian yang dijual ke negara tetangga yang tidak dicatatkan dalam

penjualan ekspor, hal tersebut terjadi karena jual beli dilakukan secara tradisional

walaupun dilakukan dengan negara lain. Hal tersebut perlu mendapat perhatian

pemerintah Kabupaten Sanggau, karena pengembangan sektor perdagangan

merupakan salah satu faktor strategis dalam pembangunan daerah. Kabupaten

Sanggau memiliki akses langsung keluar negeri (Malaysia) melalui gerbang lintas

Batas Entikong (PPLB Entikong). Akibatnya, arus barang dan jasa dari Indonesia

(Khususnya Kab. Sanggau) ke Malaysia (khususnya Kuching) semakin cepat dan

lancar, begitu juga sebaliknya.

2.2.6 Pertambangan

Potensi pertambangan yang dimiliki Kabupaten Sanggau sampai saat ini masih belum

optimal dalam pengembangan dan pemanfaatannya, antara lain: Beranekaragam

potensi mineral dan bahan galian yang meliputi kwartel, kapur, trias, pritogen, intrusif,

plutonix, efosit serta permo karbon. Emas yang terdapat di Kecamatan Noyan dan

Sekayam, air raksa terdapat di Kecamatan Noyan, Sekayam dan Bonti, Fieldspar di

Kecamatan Sekayam dan Bonti, Granit terdapat di Kecamatan Tayan Hulu, Kaolin dan

mika di Kecamatan Mukok, Bonti dan Kapuas, Lusan terdapat di Kecamatan Sekayam,

Perak di Kecamatan Noyan dan Toba, Aluminium di Kecamatan Sekayam, Jangkang

dan Kapuas serta Bijih besi di Kecamatan Bonti. Bauksit tersebar di Kecamatan Tayan

Hilir, Toba dan Meliau. Eksploitasi Bauksit sudah banyak dilakukan oleh beberapa

perusahaan, Zirkon yang terdapat di Desa Sei Muntik Kecamatan Kapuas dan Granit

tedapat di Kecamatan Tayan Hulu.

Potensi pertambangan terbesar di Kabupaten Sanggau adalah Bauksit, potensi

pertambangan kedua terbesar setelah bauksit adalah emas.

2.3 Profil Demografi 2.3.1 Penduduk

Penduduk Kabupaten Sanggau yang luas wilayahnya 12.857,70 Km2 (8,76%) dari luas

(7)

Page 11 berjumlah 444.596 jiwa, dengan rincian penduduk laki-laki 229.799 jiwa dan penduduk

perempuan sebanyak 214.797 jiwa yang menyebar di 15 kecamatan dengan

kepadatan penduduk 32 jiwa per Km2. Penyebaran ini tidak merata antara kecamatan

satu dengan lainnya. Dengan kepadatan penduduk 35 jiwa per Km2 , kecamatan yang

memiliki jumlah penduduk terpadat adalah Kecamatan Kapuas yaitu 62 jiwa per Km2.

Sedangkan kecamatan yang jarang penduduknya adalah Kecamatan Toba yaitu

dengan 11 jiwa per Km2 .

Laju pertumbuhan penduduk tahun 2015 mengalami peningkatan, menjadi 1,78%

dibanding tahun 2014. Perbandingan penduduk laki-laki terhadap perempuan (sex

ratio) sebesar 107. Nilai berarti bahwa setiap 107 jiwa laki-laki terdapat 100 jiwa

perempuan.

Dilihat dari penyebaran penduduk di Kabupaten Sanggau, Kecamatan Kapuas yang

terletak di Ibukota Kabupaten Sanggau menduduki urutan pertama terbanyak dengan

jumlah penduduk 85.250 jiwa. Sedangkan Kecamatan Noyan adalah kecamatan yang

jumlah penduduknya paling sedikit, yaitu sebanyak 10.329 jiwa.

Berdasarkan hasil Sensus Penduduk tahun 2015, laju pertumbuhan penduduk

Kabupaten Sanggau dekade terakhir rata-rata 1,78 % per tahun lebih tinggi

dibandingkan decade sebelumnya yang berkisar 1,73 % per tahun.

2.3.1 Angkatan Kerja

Secara garis besar penduduk dalam hubungan dengan kegiatan ekonomi dapat

digolongkan dua macam, yaitu:

• Usia kurang dari limabelas tahun • Usia limabelas tahun ke atas.

Penduduk yang berusia limabelas tahun ke atas adalah usia kerja, dimana pada usia

ini dianggap sebagai tenaga potensial yang produktif untuk dimanfaatkan di semua

sektor ekonomi untuk menggerakkan sumber-sumber produksi yang ada dalam

menghasilkan barang dan jasa.

Penduduk usia limabelas tahun ke atas dibedakan atas angkatan kerja dan bukan

angkatan kerja.

• Angkatan kerja adalah penduduk yang bekerja dan mencari pekerjaan

(8)

Page 12 Dari jumlah penduduk pada akhir tahun 2015 Kabupaten Sanggau sebesar 444.596

jiwa, terdapat 224.367 jiwa atau sekitar 50,93 % yang merupakan angkatan kerja

berumur limabelas tahun ke atas yang bekerja dengan rincian 138.230 jiwa laki-laki

dan 78.055 jiwa perempuan. Status angkatan kerja 215.847 orang dan 86.137 dalam

status angkatan kerja.

Dari hasil survey Angkatan Kerja Nasional 2015, jumlah penduduk berumur limabelas

tahun ke atas yang bekerja pada beberapa lapangan usaha sebanyak 236.492 jiwa.

Lapangan usaha yang paling banyak digeluti masih pada sektor pertanian yang

mencapai 73,49 %, kemudian sektor perdagangan sebesar 9,05 %, sedangkan sektor

industri pengolahan hanya sekitar 2,23 %.

Sedangkan yang bukan angkatan kerja, sekolah 22.796 jiwa , mengurus rumah tangga

50.482 jiwa (16%); katagori lainnya 9.213 jiwa.

TABEL 2.1

PENDUDUK MENURUT KECAMATAN, JENIS KELAMIN DAN RATIO JENIS KELAMIN DI KABUPATEN SANGGAU TAHUN 2015

Kecamatan Laki - laki Perempuan Rasio Jenis Kelamin

(1) (2) (3) (4)

01. Kapuas 42.772 42.478 101

02. Mukok 9.916 9.430 105

03. Parindu 19.133 18.012 106

04. Bonti 11.384 10.552 108

05. Meliau 25.568 23.248 110

06. Tayan Hilir 17.276 15.920 109

07. Tayan Hulu 18.212 16.866 108

08. Balai 12.140 11.181 109

09. Toba 6.616 5.940 111

10. Sekayam 17.317 15.838 109

11. Entikong 9.001 8.121 111

12. Beduwai 5.783 5.539 106

13. Kembayan 14.217 13.432 106

14. Jangkang 15.006 13.469 111

15. Noyan 5.458 4.871 112

Jumlah Total 229.799 214.797 107

(9)

Page 13

Jumlah Total 12.857.70 444.596 35,00 Sumber: Badan Pusat Statistik Kabupaten Sanggau

406.488 419.190 431.893 444.596

a. Laki-laki 210.659 216.855 223.233 229.799

(10)

Page 14 2.4 Isu Strategis Ekonomi, Sosial Budaya, dan Lingkungan

2.4.1 Pertumbuhan ekonomi

Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Sanggau tahun 2015 sebesar 3,15 %, dengan nilai

Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga konstan berlaku tahun

2015 sebesar 13.969,23 miliar rupiah, kondisi perekonomian Kabupaten Sanggau

pada tahun 2015 mengalami perlambatan dibanding tahun 2014 yang mencapai 3,26

%.

Meningkatnya pernurunan ekonomi Kabupaten Sanggau tahun 2015 lebih disebabkan

oleh menurunnya pertumbuhan sektor pertanian, kehutanan dan perikanan, yakni

sebesar 30,88%, Urutan kedua dan ketiga yang memberikan kontribusi terbesar

adalah lapangan usaha industri pengolahan dan lapangan usaha perdagangan besar

dan eceran, reparasi mobil dan sepeda motor, masing-masing sebesar 19,55 persen

dan 12,27 persen.

Dalam periode 2011-2015, pertumbuhan ekonomi tertinggi Kabupaten Sanggau

terjadi pada tahun 2011, yaitu sebesar 5,08%, dimana pada saat itu harga komoditi

pertanian, kehutanan dan perikanan di Kabupaten Sanggau cukup tinggi. Namun,

pada tahun 2012 mengalami percepatan pertumbuhan yang signifikan mencapai

6,03% dan terus menurun di tahun 2013, bahkan hingga 5,98%. tahun 2014 kembali

mengalami perlambatan pertumbuhan menjadi 3,26%. dan terus menurun di tahun

2015, bahkan hingga 3,15%.

Secara umum pertumbuhan ekonomi Kabupaten Sanggau berada dibawah

pertumbuhan ekonomi Kalimantan Barat, kecuali pada tahun 2011-2012 yang

pertumbuhan ekonominya lebih tinggi. Pola yang berbeda ditunjukkan pada tahun

2015, dimana pertumbuhan ekonomi Kalimantan Barat mengalami percepatan

pertumbuhan, sedangkan Kabupaten Sanggau mengalami kondisi sebaliknya. Hal ini

disebabkan adanya kenaikan pertumbuhan yang dialami oleh beberapa kabupaten

Provinsi Kalimantan Barat yang memberikan share yang cukup besar terhadap

pertumbuhan Kalimantan Barat.

Gambaran fluktuasi dari PDRB adalah salah satu indikator untuk umum perekonomian

suatu daerah. Selain itu, nilai PDRB juga dapat dipakai untuk mengetahui tingkat daya

(11)

Page 15 Perekonomian suatu daerah yang baik ditunjukkan dengan nilai inflasi yang rendah

dan apabila dikaitkan dengan perkembangan PDRB maka daerah yang baik adalah

daerah yang mempunyai nilai inflasi yang rendah akan tetapi pertumbuhan PDRB-nya

yang tinggi.

Pada tahun 2015 Indeks Harga Implisit PDRB Kabupaten Sanggau sebesar 127,11

meningkat dari tahun sebelumnya yang sebesar 121,18 atau mengalami inflasi harga

produsen sebesar 4,89 persen. Inflasi tertinggi terjadi pada lapangan usaha

pengadaan listrik dan gas sebesar 24,88 persen, diikuti oleh lapangan usaha

pertambangan dan penggalian sebesar 11,64 persen dan lapangan usaha jasa

kesehatan dan kegiatan sosial sebesar 10,38 persen. Sedangkan lapangan usaha

yang mengalami inflasi paling rendah adalah lapangan usaha informasi dan

komunikasi sebesar 0,79 persen, kemudian lapangan usaha jasa keuangan dan

asuransi sebesar 1,61 persen.

2.4.1.1 Pertumbuhan Ekonomi Sektoral dan Peranannya

Selama kurun waktu 2011-2015 struktur perekonomian di Kabupaten Sanggau tidak

mengalami pergeseran. Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan tetap mengalami

penopang utama perekonomian, dengan dominasi 30,88% terhadap total PDRB

Kabupaten Sanggau. Tingginya dominasi sector pertanian berasal dari subsector

perkebunan yang memberikan kontribusi berkisar 24-26% pertahunnya. Hal ini

mengakibatkan gejolak di sector pertanian akan sangat berpengaruh terhadap

perekonomian Kabupaten Sanggau secara keseluruhan.

Selain sector pertanian, sector lain yang memberikan kontribusi besar terhadap

perekonomian adalah sector industry pengolahan yang share-nya 19,55%, dan sector

perdagangan, hotel, dan restoran 12,27%. Sedangkan sector yang masih memiliki

peranan kecil dalam perekonomian Kabupaten Sanggau adalah sector listrik, gas,

0,02% dan air bersih 0,03% dan sector pertambangan dan penggalian sebesar 7,91%.

Pada tahun 2015 sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan sebagai leading sector di

Kabupaten Sanggau menyumbang 30,88% terhadap perekonomian, menurun

dibanding tahun 2009 yang mencapai 37,12%. Sedangkan sector industry pengolahan

(12)

Page 16 19,55% tahun 2015, kontribusi masing-masing sector mengalami kenaikan maupun

penurunan yang tidak terlalu signifikan dibandingkan tahun sebelumnya.

Pada tahun 2011 pertumbuhan PDRB Kabupaten Sanggau meningkat cukup signifikan

pada sektor-sektor primer dibandingkan dengan tahun 2015. Hanya Sektor Pertanian,

Perkebunan, Perikanan dan Sektor Industri yang mengalami penurunan pertumbuhan,

yaitu masing-masing pertumbuhannya sebesar 32,43% dan 20,18% pada tahun 2014

menjadi 30,88% dan 19,55% pada tahun 2015. Artinya Kabupaten Sanggau masih

bercirikan masyarakat agraris, dimana sumbangan terbesar perekonomiannya dari

sektor primer, yaitu Sektor Pertanian.

2.4.1.2 Laju Inflasi

Inflasi menjadi salah satu indikator untuk melihat stabilitas ekonomi suatu daerah,

karena dapat menggambarkan naik turunnya harga pada tingkat produsen. Suatu

daerah dikatakan memiliki kondisi ekonomi lebih stabil jika tingkat inflasinya lebih

rendah dibandingkan daerah lain dalam satu kurun waktu tertentu. Inflasi yang tinggi

berarti terjadinya lonjakan harga tajam, dan kondisi ini dapat mengakibatkan

penurunan daya beli masyarakat.

Besarnya nilai inflasi ditunjukkan oleh indeks harga implisit PDRB. Pada tahun 2015,

indeks harga implisit PDRB Kabupaten Sanggau sebesar 127,11 meningkat dari tahun

sebelumnya yang sebesar 121,18. Nilai ini menunjukkan terjadinya inflasi harga

produsen sebesar 4,89%, meningkat dibandingkan tahun 2010 yang sebesar 4,80%.

Bila dilihat untuk masing-masing sektor, inflasi tertinggi terjadi pada sektor lapangan

usahapengadaan listrik dan gas, yaitu sebesar 24,88%, diikuti oleh sektor

pertambangan dan penggalian sebesar 11,64% dan sektor lapangan usaha jasa

kesehatan dan kegiatan sosial sebesar 10,38%. Sedangkan sektor yang mengalami

inflasi paling rendah adalah sektor informasi dan komunikasi sebesar 0,79% dan

sektor lapangan usaha jasa keuangan dan asuransi sebesar 1,61%.

Sumber: Badan Pusat Statistik Kabupaten Sanggau

TABEL 2.4.

(13)

Page 17

2014 121,18 4,01

2015 127,11 4,89

2.4.2 Profil Sosial Budaya

2.4.2.1 Pendidikan

Pembangunan nasional di bidang pendidikan bertujuan untuk mencerdaskan

kehidupan bangsa. Salah satu usaha pemerintah untuk menunjang pembangunan

tersebut adalah dengan menyediakan berbagai sarana maupun prasarana fisik yang

memadai, seperti pengadaan gedung sekolah serta guru sebagai tenaga pengajarnya.

Menurut data dari Dinas Pendidikan Kabupaten Sanggau diperoleh informasi pada

tahun 2014 jumlah Sekolah Taman Kanak-Kanak (TK) 57 unit , SD 478 unit, SMP 114

unit, SMU 24 unit dan SMK 15 unit. Keadaan ini bila dibandingkan dengan tahun 2013

mengalami peningkatan untuk beberapa jenjang pendidikan.

Jumlah murid sekolah pada tahun 2014 mengalami peningkatan , namun bila dilihat

per jenjang pendidikan maka hanya jumlah murid SD yang mengalami penurunan

sebesar 1,17 %. Sedangkan jumlah murid yang mengalami kenaikan tertinggi adalah

pada tingkat SMU, yang naik hingga 6,53 %.

Keberhasilan dibidang pendidikan juga ditentukan oleh benyaknya tenaga

pengajar/guru yang tersedia.Jumlah guru TK baik negeri maupun swasta sebanyak

209 orang, guru SD sebanyak 3.930 orang, guru SMP sebanyak 1.150 orang dan guru

tingkat SMU ada 462 orang. Secara umum jumlah guru tahun 2014 meningkat

dibandingkan tahun 2013.

2.4.2.2 Kesehatan

Pemerintah mengupayakan agar pelayanan kesehatan dapat dijangkau oleh semua

lapisan masyarakat secara merata dan mudah, serta dapat menyediakan berbagai

sarana dan prasarana fisik yang memadai.

Berdasarkan sumber dari data Dinas Kesehatan Kabupaten Sanggau, dapat diketahui

bahwa pada tahun 2015 jumlah tenaga kesehatan di Kabupaten Sanggau sebanyak

(14)

Page 18 sebanyak 8 orang (0,65%) dan dokter gigi 10 orang (0,81%). Sedangkan para medis

lainnyadan non medis ada 1.165 orang (94,86%)

Pada program imunisasi, realisasi yang dicapai adalah untuk BCG 95,05 persen dari

jumlah yang ditargetkan, DPT 1 96,15 persen, Polio-4 93,57 persen, dan campak

93,20 persen. Sedangkan cakupan TT.2 pada hamil mencapai 97,89 persen dari yang

ditargetkan, lebih tinggi dibandingkan realisasi tahun 2014.

Gerakan Keluarga Berencana (KB) merupakan salah satu kesehatan untuk

mewujudkan keluarga sejahtera melalui upaya penurunan angka kelahiran. Untuk

mencapai keseimbangan pertumbuhan penduduk dengan pertumbuhan ekonomi

dalam rangka mewujudkan keluarga sejahtera lahir dan batin.

Pada tahun 2015 jumlah peserta KB aktif di Kabupaten Sanggau sebanyak 72.241

akseptor meningkat dari tahun 2014 yang sejumlah 68.366 akseptor. Menurut metode

kontrasepsi akseptor peserta KB aktif yang paling banyak pada tahun 2015 adalah

menggunakan suntikan, sebesar 36.697 peserta. Menyusul pil, sebesar 27.079

peserta.

2.4.2.3 Kesejahteraan Sosial

Jumlah keluarga di Kabupaten Sanggau tahun 2014 adalah 115.586 keluarga. Jika

dirinci menurut klasifikasinya, maka yang terbanyak adalah Keluarga Sejahtera II yaitu

46.854 keluarga (40,54 persen), kemudian Keluarga sejahtera III sebanyak 27.536

keluarga (23,82 persen), Keluarga Sejahtera I sebanyak 27.540 keluarga (23,83

persen), Keluarga Sejahtera III Plus sebanyak 11.519 keluarga (9,97 persen) dan

Keluarga Pra Sejahtera berjumlah 2.137 keluarga (1.85 persen).

Garis kemiskinan di Kabupaten Sanggau tahun 2014 adalah 235.298 rupiah per kapita

per bulan. Garis kemiskinan tersebut di bawah garis kemiskinan Provinsi Kalimantan

Barat yang sebesar 243.637 rupiah per kapita per bulan. Pada tahun 2014, jumlah

penduduk miskin Kabupaten Sanggau berjumlah 19,69 ribu jiwa atau sekitar 4,47

persen dari jumlah penduduk pada tahun yang sama. Persentase Jumlah penduduk

miskin pada tahun 2014 adalah 0,24 persen lebih rendah dibanding tahun 2013 yang

sebesar 4,71 persen.

(15)

Page 19 Sebagai sarana dan prasarana untuk menunjang peribadatan dalam beragama sesuai

dengan kepercayaan dan agamanya di Kabupaten Sanggau terdapat rumah ibadah,

dengan rincian sebagai berikut: Masjid 254 buah, surau 190 buah, gereja katolik 272

buah, gereja protestan 242 buah, pura 7 buah, dan wihara 5 buah. Data rinci

mengenai agama dapat dilihat pada tabel 4.4.1 s/d 4.4.8.

2.4.3 KONDISI PRASARANA BIDANG PU/CIPTAKARYA 4.2.1. Sub Bidang Air Minum

Air minum merupakan salah satu kebutuhan pokok bagi penduduk baik untuk

memasak, minum maupun mencuci atau mandi. Bagi Kabupaten Sanggau, khususnya

di pedalaman, secara tradisional penggunaan air minum masih bersumber dari

sungai/danau dan air hujan. Atau di sebagian kecamatan, air minum dikelola sebagai

komoditas industri oleh PDAM. Total air bersih/ minum yang disalurkan pada tahun

2015 mencapai 2.004.826 m3 dengan nilai Rp. 6.549.890.900,00. Tahun 2014

penyaluran air sebesar 1.952.866m3 dengan nilai Rp. 3.469.587.450,00. Dengan

demikian, maka tahun 2015 terjadi kenaikan produksi air minum yang disalurkan pada

data tahun sebelumnya.

Sebagian besar konsumen PDAM di Kabupaten Sanggau tahun 2015 rumah tangga

dengan jumlah air minum yang disalurkan mencapai 10.672 ribu atau 35%.

Sedangkan pemakaian terkecil air minum pada hotel/objek wisata hanya mencapai

10.000 m3. Untuk lebih jelas dapat dilihat pda tabel 2.10.

TABEL 2.5

BANYAKNYA AIR YANG DISALURKAN DAN NILAI MENURUT KECAMATAN DI KABUPATEN SANGGAU

TAHUN 2015

Kecamatan Pelanggan Air Disalurkan

(16)

Page 20

Jumlah 11.048 2.004.826 7.509.127.710 Sumber : PDAM Kabupaten Sanggau

TABEL 2.6

BANYAKNYA AIR MINUM YANG DISALURKAN MENURUT

KELOMPOK PELANGGAN TAHUN 2012 – 2015 (M³)

Kelompok Pelanggan

1.262.749 1.280.758 1.347.287 1.508.372

02. Hotel /Objek Wisata 7.015 8.694 7.817 11.199

235.439 241.214 252.797 268.091

07. Instansi Pemerintah 42.537 38.904 33.354 39.091

08. Lain-lain 1.773.220 895.905 610.812 739.894

Jumlah / Total 3.424.103 2.654.363 2.355.988 2.690.524 Sumber: Kabupaten Sanggau Dalam Angka 2015

Air bersih merupakan salah satu kebutuhan pokok bagi penduduk baik untuk

memasak, minum, maupun mencuci atau mandi. Bagi daerah Kabupaten Sanggau,

khususnya di pedalaman, penggunaan air bersih masih secara tradisional bersumber

dari sungai/danau dan air hujan. Atau di sebagian kecamatan air bersih dikelola

(17)

Page 21 Total air bersih/air minum yang disalurkan pada tahun 2010 mencapai 2.691 ribu M3

dengan 10.206 pelanggan. Sebagian besar konsumen PDAM di Kabupaten Sanggau

tahun 2010 adalah rumah tangga dengan jumlah air minum yang disalurkan mencapai

1.508 ribu M3. Sedangkan pemakaian terkecil air minum adalah hotel/objek wisata

yang hanya mencapai 11 ribu M3.

TABEL 2.7

NILAI AIR MINUM YANG DISALURKAN MENURUT KELOMPOK PELANGGAN TAHUN 2012 – 2015 (Rp.000)

Kelompok Pelanggan

3.138.637 2.916.091 3.081.737 2.947.800

02. Hotel Objek Wisata 99.606 93.802 82.816 112.135

03. Badan-Badan Sosial

1.139.067 1.216.704 1.238.820 1.223.922

07. Instansi Pemerintah 539.983 471.984 380.997 479.815

08. Lain-lain - - - -

Jumlah / Total 5.030.935 4.004.100 4.897.979 4.885.786 Sumber: Kabupaten Sanggau Dalam Angka 2015

4.2.2. Sub Bidang Persampahan

Kondisi prasarana dan sarana persampahan di Kabupaten Sanggau hingga saat ini

belum tersedia secara baik dan lengkap. Hal ini dilihat dari ketersediaan prasarana

pengumpul sampah yang belum memadai seperti: • Mobil pengangkut sampah

(18)

Page 22 • TPS (transfer depo)

• TPA (tempat pembuangan akhir)

Sistem pembuangan sampah yang dilakukan oleh masyarakat, di Kabupaten Sanggau

masih dilakukan secara alamiah yaitu dengan membakar sendiri sampah yang ada,

dan sebagian lagi dibuang di tempat-tempat tertentu seperti sungai, kebun dan

lain-lain. Untuk itu sistem pengolahan persampahan perlu dilakukan secara cepat dan

tepat yaitu dari:

• Aspek kelembagaan • Aspek teknik operasional • Aspek pembiayaan • Aspek pengaturan

• Aspek peran serta masyarakat

Jumlah dan komposisi sampah yang dihasilkan suatu wilayah ditentukan oleh

beberapa faktor, seperti:

1. Jumlah penduduk dan tingkat pertumbuhan

5. Tingkat pendapatan dan pola konsumsi masyarakat

6. Pola penyediaan kebutuhan hidup penduduknya

7. Iklim dan musim yang mempengaruhi

Atas dasar faktor-faktor tersebut di atas, maka dapat ditentukan prediksi angka

timbulan sampah untuk Kabupaten Sanggau pada tahun 2006. Dengan asumsi angka

timbulan sampah kota berkisar antara 2-3 liter perorang perhari dengan densitas

200-300 kg/m3 dan komposisi sampah organik 70-80%, maka dapat diperkirakan timbulan

sampah domestik untuk wilayah Kabupaten Sanggau sebesar: 1.131.597 liter/hari atau

1.131,6 m3/hari atau 339,48 ton/hari. Dari timbulan tersebut diperkirakan 8% kertas,

2% gelas, 2% logam, 6% plastik dan 82% organik. Jumlah timbulan yang besar ini di

wilayah studi secara teknis untuk kota-kota kecamatan dan daerah terpencil

pengelolaan dilakukan secara swadaya oleh masyarakat dengan melibatkan aparat

tingkat kecamatan sedangkan untuk Kota Sanggau yang termasuk dalam Kecamatan

Kapuas, pengelolaan dilakukan dengan melibatkan instansi terkait (sekarang) yaitu

Badan Lingkungan Hidup Kebersihan dan Pemadam Kebakaran. Sistem ini meliputi

kegiatan pengumpulan-pengangkutan-pembuangan oleh petugas dari instansi

tersebut. Urutan pembuangan sampah tahap pertama dilakukan oleh sumber timbulan

(19)

Page 23 permukiman oleh organisasi RT/RW). Tahap kedua diangkut ke TPA oleh truk sampah

milik Pemda.

Dalam perencanaan sistem pengelolaan persampahan Kota Sanggau sistem

pengumpulan sampah yang diterapkan adalah menggunakan dua pola, yaitu:

• Pola individual: pengumpulan sampah dari rumah ke rumah dengan alat jarak pendek seperti gerobak untuk diangkut ke penampungan sementara. Pola ini

diterapkan untuk daerah permukiman di sekitar Kota.

• Pola komunal: pengumpulan sampah dari beberapa rumah dilakukan pada satu titik pengumpulan langsung oleh penghasil sampah, untuk kemudian diangkut ke tempat

pembuangan. Pola ini diterapkan untuk daerah-daerah komersial dan perkantoran

di sekitar Kota.

➢ Tong sampah yang mempunyai daya tampung 50 liter untuk tempat

penyimpanan sampah di sekitar rumah, toko, jalan dan perkantoran

➢ Gerobak yang mempunyai daya tampung 1 m3 untuk pengumpulan sampah dari

rumah ke rumah dengan alat angkut jarak pendek untuk diangkut ke satsiun

transfer terdekat

➢ Transfer dipo berupa bak pasangan dengan luas 200 m2 dengan fungsi untuk

tempat penampungan sementara dan titik perpindahan sampah dari gerobak ke

truk pengangkut untuk selanjutnya di bawa ke TPA.

Pada tahun 2006 penduduk Kota Sanggau (Kecamatan Kapuas) mencapai 77.100

jiwa, yang masih dikatagorikan kota kecil. Berdasarkan hasil penelitian US-AID Report,

1994 untuk kota kecil biaya operasi minimal 180 Rupiah/KK/hari. Artinya harus ada

retribusi rata-rata sebesar Rp. 5.400 setiap bulannya untuk setiap KK di Kota Sanggau

dan sekitarnya.

4.2.3. Sub Bidang Air Limbah

Jenis air limbah yang banyak terdapat di Kabupaten Sanggau adalah jenis limbah

domestik yang merupakan air bekas yang tidak dipergunakan lagi dan mengandung

kotoran manusia (tinja) atau dari aktivitas dapur, kamar mandi dan cuci. Adapun

kuantitas dari air limbah tersebut berkisar antara 70-80% dari rata-rata pemakaian air

bersih.

Sedangkan sistem pembuangan air limbah domestik yang ada di Kabupaten Sanggau

masih menggunakan sistem pembuangan air limbah setempat (on site system), yaitu

(20)

Page 24 Sanggau dan di pusat kota kecamatan umumnya setiap rumah telah memiliki WC yang

merupakan satu kesatuan dengan rumah. Namun bagi masyarakat yang tinggal di tepi

sungai umumnya setiap rumah memiliki jamban yang berada di tepi sungai. Di

Kabupaten Sanggau seperti halnya di daerah lain di Kalimantan Barat belum adanya

sistem pembuangan air limbah dengan sistem terpusat (off site), yaitu sistem dimana

air limbah dari seluruh daerah pelayanan dikumpulkan dalam saluran riol pengumpul,

kemudian dialirkan ke dalam riol kota menuju ke tempat pembuangannya yang aman,

baik dengan Bangunan Pengolahan Air Buangan (BPAB), dan/atau dengan

pengenceran tertentu (intercepting sewer), memenuhi standar mutu, dapat dibuang ke

badan air penerima.

4.2.4. Sub Bidang Drainase

Berdasarkan hasil pengamatan langsung selama survey dilakukan, dranase yang ada

di masing-masing kecamatan cukup baik. Untuk drainase yang ada di ibukota

kecamatan rata-rata sudah terbuat dari semen dengan penampang yang dibuat

berbentuk trapesium atau persegi. Sedangkan untuk drainase yang ada di pedalaman

pedesaan masih berbentuk saluran alami yang dibuat dari hasil swadaya masyarakat

setempat. Untuk sistem drainase dari masing-masing kecamatan juga cukup baik. Hal

ini dapat dilihat dari keadaan musim penghujan dimana tiap-tiap kecamatan belum

pernah mengalami banjir yang sangat parah.

Di lihat dari segi konstruksi sistem drainase atau saluran yang ada di Kabupaten

Sanggau menggunakan saluran terbuka. Secara umum di Kabupaten Sanggau telah

memiliki sistem drainase atau saluran, namun perlu dilakukan pemeliharaan

mengingat tingkat tingkat sedimentasi yang ada di daerah ini cukup tinggi.

Saluran yang ada merupakan saluran terbuka yaitu saluran yang mengalirkan air

dibatasi dengan permukaan bebas. Baik saluran alam maupun saluran buatan. Di Kota

Sanggau sendiri konsep drainase yang ada sebenarnya merupakan konsep drainase

perkotaan/cluster dimana hubungan antar drainase selalu berhubungan dengan tetap memperhatikan fungsi dan manfaatnya, yaitu ”air harus mengalir dari daerah tinggi ke daerah rendah”. Dalam setiap cluster terdapat drainase yang berfungsi sebagai

drainase sekunder dan fungsi tersier. Drainase sekunder berada di samping sepanjang

jalan lokal sekunder. Drainase berfungsi sebagai drainase tersier berada pada jalan

arteri sekunder, kolektor sekunder dan lingkungan permukiman. Untuk drainese

(21)

Page 25 air ke dalam genangan. Jika saluran drainase memotong jalan atau jalan berada

melintang di atas saluran drainase, maka akan terdapat gorong-gorong dengan

kemiringan yang cukup anatara 0,5% s/d 2%. Di beberapa kecamatan di Kabupaten

Sanggau hanya terdapat saluran terbuka alamiah yang mengalirkan air ke sungai dan

daerah genangan/lembah. Sedangkan saluran drainase buatan belum ada.

4.2.5. Sub Bidang Tata Bangunan dan Lingkungan

Fungsi dan klasifikasi bangunan merupakan acuan untuk persyaratan teknis bangunan

gedung untuk Kota dan Kabupaten Sanggau. Ditinjau dari segi intensitas bangunan,

arsitektur dan lingkungan keselamatan dan keamanan telah dilaksanakan dengan

adanya IMB.

Dinas PU Kabupaten Sanggau telah melaksanakan pengendalian pembangunan

gedung di Kota dan Kabupaten Sanggau. Untuk daerah-daerah yang rawan bencana,

daerah banjir, aliran sungai dan lokasi yang kondisi fisik dasarnya berkontur

tajam/terjal tidak diberikan ijin untuk membangun, pada lokasi yang berkontur sedang

diberikan persyaratan teknis untuk membangun, dan untuk kawasan-kawasan yang

pengembangannya ke depan diatur oleh rencana kota diberikan ijin yang sifatnya

sementara.

4.2.6. Sub Bidang Pengembangan Permukiman

Perumahan dan permukiman di daerah pedesaan pada umumnya menghadapi

permasalahan yang berbeda dengan daerah perkotaan. Perumahan dan pemukiman

di daerah pedesaan umumnya masih kekurangan prasarana seperti listrik, air bersih,

MCK dan jalan. Selain itu, perumahan tersebut kebanyakan kurang memenuhi syarat

untuk dapat dikatakan sebagai rumah sehat. Di daerah perkotaan pun sarana

perumahan dan pemukiman belum menjangkau semua lapisan masyarakat. Hanya

masyarakat berpenghasilan menengah ke atas yang berada di sekitar kota saja yang

dapat menikmati fasilitas umum yang disediakan oleh pemerintah. Hal ini antara lain

disebabkan jangkauan dari fasilitas umum tersebut dan mahalnya biaya operasional

penggunaan fasilitas umum ini.

Dari segi konstruksi, kondisi perumahan di Kabupaten Sanggau masih didominasi oleh

perumahan dengan jenis konstruksi non permanen dan semi permanen terutama

Gambar

Gambar 2.1. Peta Administrasi Kabupaten Sanggau
Gambar 2 1 Peta Administrasi Kabupaten Sanggau . View in document p.3
TABEL 2.1 PENDUDUK MENURUT KECAMATAN, JENIS KELAMIN DAN
TABEL 2 1 PENDUDUK MENURUT KECAMATAN JENIS KELAMIN DAN . View in document p.8
TABEL 2.2 KEPADATAN PENDUDUK MENURUT KECAMATAN
TABEL 2 2 KEPADATAN PENDUDUK MENURUT KECAMATAN . View in document p.9
TABEL 2.3 CIRI-CIRI PENDUDUK KABUPATEN SANGGAU
TABEL 2 3 CIRI CIRI PENDUDUK KABUPATEN SANGGAU . View in document p.9
TABEL  2.5 BANYAKNYA AIR YANG DISALURKAN DAN NILAI
TABEL 2 5 BANYAKNYA AIR YANG DISALURKAN DAN NILAI . View in document p.15
TABEL 2.6 BANYAKNYA AIR MINUM YANG DISALURKAN MENURUT
TABEL 2 6 BANYAKNYA AIR MINUM YANG DISALURKAN MENURUT . View in document p.16
TABEL 2.7 NILAI AIR MINUM YANG DISALURKAN MENURUT
TABEL 2 7 NILAI AIR MINUM YANG DISALURKAN MENURUT . View in document p.17

Referensi

Memperbarui...

Download now (21 pages)