Film sebagai media propaganda politik di Jawa pada masa pendudukan Jepang 1942-1945

Gratis

2
6
242
1 year ago
Preview
Full text

KATA PENGANTAR

  Hum selaku Ketua Jurusan Ilmu SejarahFakultas Sastra dan Seni Rupa Universitas Sebelas Maret, serta selaku pembimbing akademik yang telah memberikan saran, pengarahan,motivasi dari awal perkuliahan sampai akhir studi dan yang telah memberikan izin dan kemudahan dalam penyusunan skripsi ini. Staf bagian Arsip Nasional Republik Indonesia Jakarta, Staf PerpustakaanNasional, Staf Japan Foundation, Staf Pusat Perfilman Nasional, dan PusatPerfilman, Dokumentasi Usmar Ismail, dan Perum Pusat Film Nasional yang telah memberikan ijin dan kemudahan dalam melakukan penelitian.

BAB IV MEDIA PROPAGANDA JEPANG MELALUI FILM…………. 116 A. Film Sebagai Alat Perang Tanpa Senjata……………………………. 116 1. Kebijakan Jepang Mengenai Perfilman………………………….. 116 2. Munculnya Lembaga Film Buatan Jepang………………………. 119 B. Para Propagandis di Balik Layar…………………………………….. 122 1. Rancangan Propaganda Media Film…………………………….. 122 2. Propagandis di Balik Layar……………………………………… 123

  Pemutaran di Bioskop…………………………………………… 145 2. Pemutaran Film di Boui Engo Kai…………………………… 155 E.

DAFTAR KOSAKATA DAN NAMA ORANG JEPANG

  Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode historis, sehingga langkah-langkah yang dilakukan dalam penelitian ini meliputi heuristik, kritik sumber baik intern maupun ekstern, interprestasi, dan historiografi. Sedangkan untuk kalangan terpelajar hal ini tidakberpengaruh karena sudah terbiasa akrab dengan berbagai jenis hiburan dan kaum terpelajar umumnya lebih mengenal peristiwa dunia dan memiliki rentangpengetahuan yang luas karena akses informasi dan bisa memberikan landasan penilaian lebih rasional dan akurat mengenai isi pesan film.

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Setelah berakhirnya pemerintahan Belanda di Indonesia, maka dimulailah

  Dengan kekuasaan kependudukan Jepang ini, mereka segeramenyusun pemerintahan di daerah yang harus membantu keinginan dan misi Jepang, yakni tercapainya kemenanganperang bagi Jepang. Secara garis besar, kebijakan yang dibuat pemerintahan militer Jepang meliputi tiga tahap, yaitu:tahap pertama (1942-1943) adalah tahap persuasif, pada tahap ini jepang membuat dan memberikan janji-janji yang1 samar-samar mengenai konsesi-konsesi politik agar bangsa Onghokham, 1989, Runtuhnya kekuasaan Di Hindia Belanda, Jakarta: PT.

3 Indonesia

Secara operasional pemerintahan pendudukan Jepang dilaksanakan oleh kepala staf yang disebut Guenseikan. Guenseikan ini membawahidepartemen-departemen (bu) yang terdiri atas somubu(Departemen Urusan Umum), Naimubu (DepartemenDalam Negeri), Sangyobu (Departemen Perekonomian), (Departemen Keuangan), Shidobu (Departemen Zaimubu Kehakiman), Keimubu (Departemen Kepolisian), Kotsubu(Departemen Lalu Lintas), Sendenbu (Departemen

4 Propaganda)

  Semboyan ini sangat mempengaruhi orang- orang Indonesia, baik tua maupun muda di kala itu, karena tidak banyak orangIndonesia yang mengenal dan mengetahui seluk beluk pemerintah pendudukanJepang mendarat di pulau Jawa, mereka juga sering menyebut persamaan Nippon Hal yang paling utama dan paling giat yang dilakukan Jepang selama mereka menduduki apa yang mereka namakan daerah selatan, ialahmen”Jepang”kan penduduk, terutama angkatan mudanya. Untuk lebih memudahkan infiltrasi terhadap mereka dan untuk melaksanakan skema propaganda itu ke dalamoperasi dilakukan dengan berbagai bantuan alat-alat 7 Media audio visual ini dianggap paling efektif untuk mempengaruhi penduduk yang tidak berpendidikan dan buta huruf sertahaus hiburan.

7 Aiko Kurasawa, 1993, Mobilisasi dan Kontrol: Studi Tentang Perubahan Sosial di

  Untuk menyebarluaskan film-film propaganda tersebut kepada masyarakat, di samping diputar di bioskop-bioskop, Jepang jugamenyelenggarakan pemutaran film secara keliling yang kemudian dikenal dengan 15 sebutan “layer tancep” (bioskop keliling) yang dimulai pada bulan Agustus1942, khususnya untuk di Jawa. Jenis-jenis film yang dipertontonkanadalah film-film yang mengandung ajaran-ajaran moral dan indoktrinasi politik, seperti “Ke Seberang” yang diputar pada tahun 1944, atau film “12 Djam SebelumBerangkat ke Medan Perang” yang dikehendaki pemerintah untuk ditransmisikan 18 kepada penduduk Jawa.

1. Mengapa Jepang menggunakan media film sebagai alat propaganda politik? 2

  Bagaimana pelaksanaan propaganda Jepang melalui media film di Jawa? Bagaimana respon masyarakat terhadap aksi propaganda Jepang melalui media film?

C. Tujuan Penelitian

  Tujuan penelitian ini, sesuai dengan masalah tersebut di atas adalah sebagai berikut: 1. Untuk mengetahui penyebab Jepang menggunakan media film sebagai alat propaganda politik.

D. Manfaat Penelitian

  Aiko Kurasawa dalam sebuah buku yang berjudul Mobilisasi dan Kontrol: Studi Tentang Perubahan di Pedesaan di Jawa 1942-1945 membahas mengenai kebijakan-kebijakan Jepang dan perubahan dibidang sosialo-ekonomi serta dampakpsikologi yang terjadi dalam masyarakat di wilayah pedesaan Jawa. Dalam menyebarluaskan propaganda politiknya, Jepang memanfaatkan film yang dianggap ampuh mencapai penduduk, yangumumnya masih buta huruf, dan film adalah alat yang sangat efektif untuk mempengaruhi jiwa masyarakat agar Jepang mempunyai badan dan pembantu-pembantu tersendiri dalam penanganan film yang akan dijadikan sebagai media propaganda.

F. Metode Penelitian

  Surat resmi yang dikelurkan oleh pemerintahan Jepang berkaitan dengan kondisi dan situasi sekitar keadaan politik pada masa itu yangdiperoleh di Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) di antaranya: Undang-undang No. Agar lebih kredibel dan valid makawawancara dilakukan terhadap para pelaku sebagai cara untuk menginformasikan fakta yang telah ditemukan sebelumnya dantentunya mengklarifikasi serta mencari informasi baru yang Tahap kedua adalah Kritik terhadap bahan atau sumber yang telah ditemukan.

BAB II KEDATANGAN TENTARA PENDUDUKAN JEPANG A. Emigran Jepang ke Hindia Belanda Kedatangan orang-orang Jepang ke Hindia Belanda sebenarnya sudah

  Kelompok ini semakin menjadi khusus dengan adanya kebijakan politik pintu 28 tertutup Jepang dari hubungan luar negerinya yang dilakukan oleh ShogunTokugawa pada tahun 1632 yang berakibat bahwa komunitas Jepang tersebut tidak lagi mempunyai kaitan dengan tanah airnya. Selain itu, tidak banyak yangdiketahui tentang komunitas Jepang di Batavia dan Jawa pada abad ke-18 sampai paruh kedua abad ke-19.

29 Emigran Jepang ke Hindia Belanda sendiri mulai kembali marak pada

  Perubahan yang dialami Jepang setelah Restorasi Meiji yang didasarkan oleh kebijakan nasional yang kuat dengan27 Mona Lohanda, “Penetrasi Jepang di Perairan Hindia Belanda” prasarana yang disampaikan dalam seminar sehari Membangun Kembali Peradaban Bahari di Jurusan Sejarah FSUI, Depok, 24 April 1997.28 Politik Pintu Tertutup (Sakoku) Jepang ini sudah berlangsung pada masa pemerintahan Shogun Tokugawa mulai tahun 1603 sampai tahun 1862. Politik Pintu Tertutup ini pada awalnyadilaksanakan hanyalah berisi peraturan yang melarang orang asing dating ke Jepang, akan tetapi, pada tahun 1632, aturannya menjadi lebih ketat, melarang juga orang-orang Jepang berada di luarnegeri untuk kembali ke Jepang.29 Emigran adalah orang yang meninggalkan tanah tumpah darahnya dan pergi ke negeri lain untuk tinggal menetap disana.

2. Awal tahun 1910-an sampai akhir tahun 1930-an. Pemilik toko bebas dan

  Jumlah emigran yang meningkat terutama sesudah tahun 1920 lalu menimbulkan perdebatan di kalangan pejabat Hindia Belanda jika melihat pada3334 Goto, “Sejarah Hubungan Jepang dengan Indonesia”, op.cit., hlm 21. Saya Shiraishi dan Takashi Shiraishi, Orang Jepang di Kota Koloni Asia Tenggara, (Jakarta: Obor Indonesia, 1998), hlm 4.35 Hal ini dapat dilihat dari catatan pekerjaan para emigrant Jepang tersebut pada tahun 1910-an yang berjumlah 463 orang, 48% diantaranya atau 219 adalah karayukisan (wanita yangpergi ke Cina tetapi kemudian berkonotasi dengan pekerjaan sebagai prostitusi).

38 Belanda baru berjumlah 4.351

  141 Arsip 41 Dibukanya konsulat Jepang di Batavia dan di Surabaya tahun 1919 merupakan institusi perwakilan resmi pemerintah Jepang di Hindia Belanda terutama di Jawa. Hal ini dapat dipahami bahwa kehadiran mereka di sini seperti dijelaskan sebelumnya adalah orang-orang yang tidak terkordinasi olehNegara dan pada umumnya mencari nafkah untuk memperbaiki perekonomian mereka.

B. Masa Akhir Pemerintahan Hindia Belanda Sejak 12 September 1931 Jhr. C. de Jonge, pengganti Jhr. Mr. A. C. D

  de Graeff, telah menduduki jabatannya sebagai Gubernur Jenderal yang baru diHindia Belanda. Ia dihadapkan pada situasi ekonomi dunia yang buruk.

43 Indonesia dimana dalam keadaan seperti itu yang lebih dipentingkannya adalah

  Tetapi yang memberatkan para guru sekolah swasta adalah untuk mendapatkan surat izin itumereka terlebih dahulu harus mempunyai sertifikat dari sekolah negeri atau dari sekolah yang bersubsidi. Tindakan pemerintah yang menekan ini memaksa IM dalam konghresnya yang ke-6 pada akhir tahun itu diSurabaya, memutuskan untuk memperlunak sikapnya dimasa mendatang.

45 Tahun sumpah Pemuda ,1974, Jakarta, Yayasan Gedung-gedung Bersejarah Jakarta, hlm 96

  Pada tahun 1936 Sutardjo, wakil pegawai pemerintah di Volksraad, mengajukan sebuah petisi yang berisi mengenai perlunya dibentuk suatu dewankerajaan yang anggotanya terdiri dari wakil-wakil bangsa Indonesia dan Belanda. Meskipun petisi ini tidak melanggar undang-undang dan telah setujui oleh 55 mayoritas anggota dewan, pada bulan November 1938 pemerintah menolaknya dengan alasan bangsa Indonesia belum matang untuk memikul tanggung jawab 56 dalam memerintah diri sendiri.

58 Visman. Oleh Abikusno Tjokrosujoso, rancangan Gapi tadi dibahas bersama

  Namun, usaha ini tidak membawa hasil karena tuntutan Gapi oleh pemerintah dianggap hanya sebagaikeinginan sebagian kecil orang Indonesia dan tidak didukung oleh mayoritas 59 pemimpin intelektual dan rakyat. Gerakan tentara Jepang yang semakin mendekati kepulauan Indonesia disambut dengan harapan dapatmembawa perubahan-perubahan baru.

C. Bergantinya Penguasa

  Jepang berhasil mengakhiri pertempuran-pertempuran dilaut Jawa dengan kemenangan setelah berhasil mendaratkan Tentara Ekspedisi ke-16 di tiga tempat sekaligus, yaitu di TelukBanten, Eretan Wetan, keduanya di Jawa Barat, dan di Kragan, 61 Jawa Tengah, pada tanggal 1 Maret 1942. Semua orang penting yang ada di kota ini mengungsi ke Bandung dengan meninggalkan anak istrimereka, sesuai permintaan gubernur Jenderal Hindia Belanda untuk menghindari penuh sesaknya kota Bandung dan untuk 62 mempertahankannya dengan lebih gigih lagi.

1. Balatentara Nippon melangsungkan pemerintahan militer sementara waktu di daerah-daerah yang telah ditempati agar supaya mendatangkan keamanan yang sentosa dengan segera

  Pembesar Balatentara memegang kekuasaan pemerintahan militer tertinggi dan juga segala kekuasaan yang dahulu berada di tangan gubernur Jenderal Hindia Belanda. Semua badan-badan pemerintah dan kekuasaan hukum dan undang-undang pemerintahan dahulu tetap diakui sah untuk sementara waktu, asal saja tidak bertentangan dengan aturan pemerintah militer.

4. Bahwa Balatentara Jepang akan menghormati kedudukan dan kekuasaan pegawai-pegawai

  65 yang setia pada Jepang. Kembali pada situasi kota Bandung, pada petang haritanggal 7 Maret 1942, tak lama sesudah posisi tentara KNIL di Lembang berhasil diduduki, pasukan Belanda di sekitar Bandungmengajukan penyerahan lokal.

65 Dai Nippon Gunseibu, Oendang-oendang Dari Pembesar Balatentara Dai Nippon No

  Sementara itu sambutan masyarakat terhadap kedatangan tentara Jepang, yang penuh harapan tentangpembebasan, tidak hanya terjadi di Jawa, tetapi di seluruh pelosok kepulauan Indonesia, bahkan di Sumatera Barat,Sumatera Timur, Sulawesi Utara dan Maluku, dibentuk panitia penyambutan lokal yang disponsori oleh orang-orang pro-66 Nugroho Notosusanto dan Mawarti Djoenoed Poesponegoro (ed), Nasional Indonesia Jilid VI, Op. Beberapa hari kemudian, pemerintah militer Jepang segeramembentuk Chian Lji Kai atau Badan Pemelihara Perdamaian, yang langsung berada di bawah supervisi Jepang, yang ditanganiAngkatan Darat yang telah berpengalaman dalam pendudukan Cina.

72 Maret 1942. Dengan undang-undang tersebut, penguasa militer

  Memasuki bulan April, roda pemerintahan militer Jepangsudah berjalan dengan normal, maka dengan situasi seperti ini pemerintah militer Jepang mulai memantapkan konsolidasi ke dalam dengan jalan mengadakan pendaftaran bagi orang-orangasing, kecuali bangsa Indonesia dan penduduk Jepang, yang 74 diatur dalam Undang-undang No. yang menetapkan bahwa pada tanggal 29 April 1942 dijadikan sebagai hari besar “Tenchosetsu” atau harilahirnya Kaisar Jepang, yang patut dirayakan oleh seluruh penduduk yang tinggal di Indonesia dengan mengibarkanbendera “Kokki” atau bendera Matahari Terbit, selama tiga hari, pada tanggal 28,29,30 April.

5 Agustus 1942 dikeluarkan Undang-undang No.27 tentang

  27 seluruh pulau Jawa dan Madura, kecuali kedua kochi, Jogyakarta dan Surakarta, (residen) yang padaprinsipnya sama dengan kekuasaan seperti Shi (walikota) sama dengan Stadsgemente, Ken (kabupaten) sama denganRegentschap, Gun (kecamatan) sama dengan Onder District, serta Ku (desa) sama dengan desa, pada masa pemerintahankolonial Hindia Belanda. Dengan demikian lengkaplah susunan pemerintahanPendudukan Militer Jepang di Jawa, yang datang mengaku sebagai saudara tua yang akan membebaskan saudara muda nya,namun pada kenyataannya adalah sama dengan penguasa Belanda sebelumnya yang telah menguasai bumi Indonesia penguasa seumur jagung menguasai Indonesia sampai jagung itu berbuah sendiri dimana bangsa Indonesia akhirnya sampai padajembatan emas kemerdekaan.

E. Motif Pendudukan Jepang dan Mengambil Simpati

  Pada masa awal pendudukan Jepang, tidak begitu sukar untuk mendapat simpati rakyat Indonesia, karena propaganda Jepang sudah dimulai sebelum tahun1942, yaitu dengan kedatangan propagandisnya seperti Ishika Shingo pada tahun1938. Seperti diundangnya para tokoh pergerakan, baik pergerakan nasional maupun pergerakan Islam ke Jepang, untuk melihat-lihat keberhasilan yang telahdicapai oleh Jepang.

88 Belanda

  Jika pada tahun 1943 yang menjadi titik perhatianadalah pertahanan nasional, maka pada tahun 1944 yang menjadi titik perhatian pelaksanaan propaganda adalah menanamkankepercayaan penduduk Jawa dan Madura terhadap apa yang hendak dicapai dalam memenangkan perang dan terutamakemudian mengenai janji Perdana menteri Koiso, serta mengadakan promosi untuk meningkatkan produksi barang- 98 barang dan mengadakan penghematan di segala bidang. Tahun 1944 adalah masa krisis yang di alami penguasahaJepang di Jawa, karena selain tuntutan dari kalangan nasionalis terhadap kemerdekaan semakin gencar, di medan pertempuranposisi tentara Jepang semakin tersendat, sehingga kerja propaganda pada tahun ini pun perlu dipergiat.

BAB II I MEDIA-MEDIA PROPAGANDA JEPANG Asal usul kata propaganda sulit ditentukan secara pasti, tetapi ada suatu

  Berdasarkan tujuannya, propaganda juga diartikan sebagai komunikasi yang ditujukan untukmenyebarluaskan tujuan yang diinginkan (sering bersifat tak terlihat secara langsung dan jahat) terhadap pemirsa, dan dilakukan dengan cara-cara yang 111 berpengaruh. Berdasarkan keyakinan bahwa bangsa Indonesia harus dibawa kepada pola tingkah laku dan berfikir Jepang, propaganda ditujukan untukmengindoktrinasi bangsa ini agar dapat menjadi mitra yang dapat dipercaya dalam 113Lingkunagn Kemakmuran Bersama Asia Timur Raya .

A. Sendenhan di Jawa

1. Ke Selatan

  Pada bulan Oktober 1941, Letnan Kolonel Machida dipanggil keDepartemen AD dan diberi tahu oleh Mayor Jendral Seizaburo Okazaki bahwa ia ditunjuk sebagai pemimpin sendenhan Pasukan ke-16 yang kan diberangkatkan kemedan perang di Hindia Belanda jika terputus perundingan diplomasi yang dilakukan diantara Jepang dan Amerika. Ia adalah salah seorang dari sedikit orang Jepang yang prihatin pada bahasa Indonesia dan berkukuh menggunakan sebutan“Indonesia-go (bahasa Indonesia)” Pada masa itu, sebagian besar orang Jepang menggunakan sebutan “Marai-go (bahasa melayu)” dan pada 29 April 1945 135 Jepang baru “mengganti” sebutan Marai-Go menjadi Indonesia-go).

2. Lahirnya Sendenhan

  Di dalamnya, Sendenhan di Pasukan ke-16 disebut sebagai “pasukan perang ideologi-budaya skala besar yang tidak pernahada sepanjang sejarah peperangan dunia.” Selanjutnya, sebagai alat utama pasukan tersebut dicontohkan gelombang udara (radio dan kawat), film (foto,proyektor, dan bioskop), kertas (poster dan selebaran), suara (pengeras suara dan 162 piringan hitam), dan balon untuk reklame. Sendenbu menarik personilnya dari cabang-cabang di daerahan pada bulan Februari 1944mereka menyusun dan mengirim Unit Operasi Daerah (Chiho Kosakutai) keJakarta, Bandung, Yogyakarta, Semarang, Malang dan Surabaya yang masing- 180 masing terdiri dari orang Jepang dan orang Indonesia.

3. Pembentukan Departemen Propaganda (Sendenbu)

  Departemen Propaganda bertugas menyelenggarakan propaganda dan penerangan yang berkaitan dengan administrasi sipil, dan merupakan organterpisah dari Seksi Penerangan Angkatan darat ke-16 yang bertugas menyelenggarakan propaganda dan penerangan yang berkenaan dengan operasi-operasi militer. Sekurang- kurangnya satu anggota staf dalam seksi ini adalah orang Jepang yang dikirim dari Jepang yang bernama Ichiki Tatsuo, karena merasa tidak puas atas harapan yang digantungkan kepada pemerintah pendudukan Jepang di Indonesia, ia akhirnya ikut berjuang mempertahankankemerdekaan Indonesia dan gugur sebagai “pahlawan”.

89 Bandung. Pada 5 maret 1942 mereka berhasil menduduki Batavia, yang sudah

  Pada malam harinya, mereka mengambil alih stasion RadioNIROM dan menyiarkan “oendang-oendang Nomor 1 dari Pembesar BalatentaraDai Nippon” dalam tiga bahasa, yaitu bahasa Jepang, bahasa Indonesia, dan 90 bahasa Belanda.8990 Ibid.,hlm. Mengenai kegiatan awal Sendenhan itu, nomor perdana Sekido Ho [BeritaKhatulistiwa] yang terbit pada 9 Maret 1942 memuatkan sebuah artikel yang berjudul “Aozora Ni Egaku Ajia Banzai: Sendenhan No Katsuyuka [melukiskan‘hidup Asia’di langit Biru : Aktivitas Sendenhan]” : [..] Setelah mengambil alih konsulat jendral inggris sebagai pusat ,Sendenhan langsung memulai berbagai kegiatan propaganda.

B. Propaganda Jepang di Jawa 1942-1945

1. Propaganda Jepang sebelum Invasi ke Indonesia

  Jepang harus memegang peranan pimpinan untuk memimpin dan mengarahkan mereka ke jalan kerja sama yang benar dank kea rahkemakmurn bersama, karena negeri-negeri ini telah diperlakukan oleh bangsa-bangsa asing secara tidak adil” (terjemahan oleh Penulis). Dengandemikian, propaganda memang sangat diperlukan oleh kaum fasis untuk mencapai tujuannya, karena dengan itu mereka dapat mempengaruhi orang lain denganslogan-slogan indah yang sesungguhnya adalah indoktrinasi demi pencapaian tujuan yang telah mereka tetapkan.

2. Alat Perang Propaganda Jepang

a. Dari Pasukan Pena ke Barisan Propaganda

  Komite-komite yang disebut di atas masih bersifat menghubungkan seksi-seksi penerangan yang ada di Departemen Luar Negeri, Departemen Dalam Negeri, Departemen AD, dan Departemen AL. Pada masa kabinet Fumimaro Konoe kedua (Juli 1940-Juni 1941), diubah lagi menjadi Dinas Penerangan Kabinet (Naikaku Naikaku Johobu Johokyoku ; selanjutnya disingkat Johokyoku) yang menyatukan tugas-tugas yang menyangkut penerangan serta porpaganda yang selama ini diurus keemapat departemen tadi.

b. Almanak Asia-Raya 2603

  Dalam kata pengantarnya, dijelaskan bahwa almanak ini diharapkan Sendenbu untuk dijadikan “pedoman dan toentoetan jang oetama” bagi “oemoem, baik kaoem toea maoepoen moeda, poetera atau poeteri.” Sebelumnya diterangkanmengenai dua kewajiban, yaitu kewajiban surat kabar dan kewajiban rakyat, pertama berbunyi sebagai berikut. Sepintas lalu dapat diketahui bahwa yang paling ditekankan adalah Sendenhan gagasan “Lingkungan Kemakmuran Bersama Asia Timur Raya.” Dalam hal ini dititikberatkan juga unsur kekeluargaan dan kebersamaan.

c. Kebijakan Jepang dalam Puisi Indonesia

  Di samping itu, mengenai subtema (h) dalam sajak “Sembojan”, belajar secara rajin di sini dapat dianggap belajar bahasa Indonesia maupun bahasaJepang, karena pada waktu itu bahasa Indonesia dijadikan sebagai bahasa nasional dan masyarakat Indonesia juga didorong untuk mempelajari bahasa Jepang. Semboyan-semboyan yang terkandung dalam sajak “Sembojan” di atas mengingatkan Penulis pada semboyan-semboyan di TVRI, yaitu “Jalin persatuandan kesatuan”, “Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh”, dan sebagainya yang sering dimunculkan di sela-sela program.

d. Foto di Surat kabar

  Penyesuaian secara lisan adalah cara propaganda yang paling baik di Jawa.” Nmun,sebagai media visual, foto memiliki daya tarik tersendiri: kongret, impresif, dan intuitif, dan jelas lebih efektif dari pada “strategi bisikan.” 130 “Sangkar” foto dan “senapan mesin” film. Namun, yang harus diingat adalah bahwa biasanya orang menonton sandiwara terutama karenaingin menikmati seni dengan tidak mengindahkan ada tidaknya propaganda di dalam sandiwara yang dinikmati itu.

3. Berjanji bersama-sama: Semoedera loeas mengikat kita, Bangoen

  Lirik lagu yang dibuat pada permulaan masa pendudukan Jepang yang akan banyakdihasilkan pada masa itu. magnetic rupa sehingga menimbulkan suatu dorongan dan desakan yang menyebabkan 152 komunikan tertarik dan mengikuti jejak dari komunikator.

f. Siaran yang Berperang Selain lagu/nyanyian, dapat dikemukakan radio sebagai “media suara”

  Di bawah ini saya akan mengutip pendapat Soetomo yang nadanya sama dengan artikel-artikel lain semasa itu, yaitu setelah mengejek Barat(Belanda), menekankan jasa Jepang dalam upaya “menyelamatkan” Indonesia. Program radio dalam negeri yang dibuat di bawah pengawasan Hoso Kanrikyoku pada umumnyadibagi dalam dua bagian: siaran pertama untuk orang Indonesia (menggunakan 164 bahasa Indonesia, Jawa, Sunda); siaran kedua untuk orang Jepang.

g. Film Bercerita Merupakan Raja Alat Propaganda Film merupakan salah satu media propaganda penting pada masa peran

  Dengan demikina, cara yang paling seringdigunakan adalah mengirim kelompok-kelompok propagandis yang terdiri dari proyeksi film, aktor, operator kamishibai, dan musisi yang berpindah dari satu 172 desa ke desa lain sambil mengadakan pertunjukan. Konon, untuk membantu pemahaman mereka yang tidak berpendidikan, sering sekali disediakan seorangpenerjemah yang berdiri di samping layar dan menjelaskan isi film ke bahasa 173 setempat.

BAB IV MEDIA PROPAGANDA JEPANG MELALUI FILM A. Film Sebagai Alat Perang Tanpa Senjata

1. Kebijakan Jepang Mengenai Perfilman

  Padamasa kemerdekaan (10 September 1946) pemerintah RI dan Pusat Peredaran PilmIndonesia (PPPI) di Yogyakarta membentuk Komisi Pemeriksaan Film dan menegaskan bahwa film merupakan satu alat politik maka film harus bersifat 208 mendidik. Pada bulan Juli 1938 Kementerian Dalam Negeri Pemerintahan Jepang dalam rapat dengan wakil-wakil penulis scenario mengeluarkan perintahmengenai indoktrinasi termuat dalam isi film yang dikehendaki.

1. Gagasan individualistis pengaruh Barat harus dihapuskan

  Jawa Eiga Kosha ini dibubarkan bersama dengan pendirian cabang Nichiei, perusahaan yangmemonopoli produksi film, dan cabang Eihai yang bertugas untuk mendistribusikan film Jepang ke Indonesia pada 1 April 1943. Menurut Takashi Takaba yang bekerja sebagai kameramen di cabang Jawa226 yang betul-betul memproduksi film di daerah Selatan hanya Jakarta Nichiei, dan Manila.

1. Rancangan Propaganda Media Film

  Salah satu ciri utama propaganda Jepang di masa perang ialahpenggunaan media seperti itu secara positif, terutama yang akan mempengaruhi alat indra manusia “pendengaran dan penglihatan” (audiovisual). Dengan demikian, metode yang paling sering mereka gunakan ialah mengirim kelompok-kelompok propagandisdengan proyektor film, aktor, dan musisi yang berpindah-pindah dari satudesa ke desa yang lainnya di masyarakat jawa, sambil melakukan pertunjukan terlebihdahulu.

Dokumen baru

Dokumen yang terkait

Perancangan papan landasan untuk aktivitas di kolong mobil (studi kasus : bengkel mobil cn world Banjarnegara) Skripsi
1
1
116
PEMASARAN POLITIK (POLITICAL MARKETING) PARTAI GOLONGAN KARYA DAN PARTAI DEMOKRAT (Studi Tentang Perbandingan Pemasaran Politik Partai Golkar dan Partai Demokrat Dalam Rangka Menarik Massa Pada Pemilihan Umum Legislatif Tahun 2009 di Daerah Pilihan II Kab
0
0
150
1 KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN Sekolah Menengah Internasional di Jakarta Dengan Penekanan Pada Green Architecture TUGAS AKHIR - Konsep perencanaan dan perancangan Sekolah Menengah Internasional di Jakarta dengan penekanan pada green architecture
4
17
55
KONSEP PENGANTAR TUGAS AKHIR - Website sebagai strategi perancangan promosi PT. Musikita Record
0
0
99
Rumah susun dengan struktur hypar di Bantaran kali Pepe sebagai solusi hunian yang ekonomis bagi masyarakat lokal
0
2
35
BAB III TINJAUAN LOKASI - Rest area sebagai fasilitas transit bagi pengguna jalan raya saradan kawasan hutan jati sektor II Madiun
0
1
48
ANALISIS TANGGUNG JAWAB PENGUSAHA HOTEL TERHADAP BARANG MILIK PENYEWA ARCADE ( Studi di Hotel Sahid Kusuma Surakarta)
0
1
66
ANALISIS PEMODELAN TARIKAN PERGERAKAN DEPARTMENT STORE (Studi Kasus di Wilayah Surakarta) Trip Attraction Model Analysis for Department Strore (Case Study in Area Surakarta) SKRIPSI
1
4
118
Pelaksanaan payment point online bank (ppob) di PT. PLN (persero) area pelayanan dan jaringan Surakarta
1
1
112
Program acara lek-lekan solo di solo radio
0
2
118
Peranan Inggris dalam pembentukan negara Israel di tanah Palestina tahun 1920-1948
0
1
135
Implementasi keselamatan dan kesehatan kerja di PT Bukit Makmur Mandiri Utama Jakarta
1
1
77
Kesesuaian pola kuman pada luka pasca tindakan bedah dengan sumber infeksi di rumah sakit Islam amal sehat Sragen
1
1
77
Analisis faktor marketing mix terhadap keputusan pembelian susu formula balita pada pasar swalayan di Kota Yogyakarta
0
1
78
ANALISIS PROBABILITAS BALITA BERGIZI BAIK (Studi kasus kecamatan Taman, kota Madiun, Jawa Timur, Indonesia Tahun 2009)
0
0
123
Show more