Ketidaksantunan linguistik dan pragmatik berbahasa antara guru dan siswa di SMA Stella Duce 2 Yogyakarta tahun ajaran 2012/2013.

Gratis

0
1
257
2 years ago
Preview
Full text

KATA PENGANTAR

  Puji dan syukur dihaturkan kepada Yesus Kristus atas segala rahmat dan penyelenggaraan, serta karya-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul Ketidaksantunan Linguistik dan Pragmatik Berbahasa antara Guru dan Siswa di SMA Stella Duce 2 Yogyakarta Tahun Ajaran 2012/2013 dengan baik dan lancar. sebagai dosen pembimbing I yang dengan sabar dan penuh perhatian selalu membimbing, memotivasi, dan memberikan masukan yang sangat berhargabagi penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik.

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

  Pengertian tersebut menunjukkan bahwa untuk memahami makna bahasa seseorang, seorang penutur dituntut untuk tidak saja mengetahui makna kata dan hubungan gramatikalantarkata tersebut tetapi juga menarik kesimpulan yang akan menghubungkan apa yang dikatakan dengan apa yang diasumsikan, atau apa yang telah dikatakansebelumnya. Pragmatik adalah studi ilmu bahasa yang mendasarkan pijakan analisisnya pada konteks situasi tuturan yang ada di dalam masyarakatdan wahana kebudayaan yang mewadahinya (Rahardi, 2007:18).

1.1 Rumusan Masalah

  Mendeskripsikan penanda ketidaksantunan linguistik dan pragmatik berbahasa yang digunakan oleh siswa kepada guru dan guru kepada siswa diSMA Stella Duce 2 Yogyakarta. Penelitian ini dapat dikatakan memiliki kegunaan teoretis karena dengan memahami teori-teori yang dikemukakan oleh paraahli, penelitian ini dapat digunakan sebagai referensi dalam berkomunikasi untuk menghindari penggunaan bahasa yang kurang santun.

1.4 Batasan Istilah a

  Jadi, perilaku berbahasa akan dikatakan tidak santun bilamana mitra tutur (addressee) merasakan ancaman terhadap kehilangan muka (face threaten), dan penutur (speaker) tidak mendapatkan maksud ancaman muka itu dari mitra tuturnya. KonteksKonteks tuturan dapat diartikan sebagai semua latar belakang pengetahuan(background knowledge) yang diasumsikan sama-sama dimiliki dan dipahami bersama oleh penutur dan mitra tutur serta yang mendukunginterpretasi mitra tutur atas apa yang dimaksudkan oleh si penutur itu di dalam keseluruhan proses bertutur (Rahardi, 2006:20).

1.5 Sistematika Penyajian

  Bab II ialah bab mengenai landasan teori yang akan digunakan untuk menganalisis masalah-masalah yang diteliti. Bab III berisi metode penelitian yang memuat cara dan prosedur yang akan digunakan untuk menganalisis penelitian ini.

BAB II KAJIAN TEORI

2.1 Penelitian yang Relevan

  Jeniskesantunan pragmatik imperatif dalam tuturan deklaratif terdiri dari berbagai macam tuturan yaitu (1) tuturan deklaratif yang menyatakan makna pragmatikimperatif larangan, (2) tuturan deklaratif yang menyatakan makna pragmatik imperatif permohonan, (3) tuturan deklaratif yang menyatakan makna pragmatikimperatif ajakan, dan (4) tuturan deklaratif yang menyatakan makna pragmatik imperatif suruhan. Hasil penelitian ini ditemukanlima kelompok tuturan santun pembawa acara televisi, yakni (1) tuturan yang menunjukkan sikap menghargai mitra tutur, (2) tuturan yang mengandung upayamenarik minat pemirsa, (3) tuturan yang berisi nasihat, (4) tuturan yang menunjukkan prioritas terhadap mitra tutur berjarak sosial paling jauh, dan (5)tuturan yang menunjukkan sikap rendah hati.

2.1 Teori Ketidaksantunan Berbahasa

  Jika kesantunan berbahasa berkaitan denganpenggunaan bahasa yang baik dan sesuai dengan tatakrama, ketidaksantunan berbahasa berkaitan dengan penggunaan bahasa yang tidak baik dan tidaksesuai dengan tatakrama. Ketidaksantunan berbahasa banyak ditemukan dalam kehidupan sehari, baik secara lisan maupun tulisan.

2.1.1 Teori Ketidaksantunan Berbahasa dalam pandangan Locher

  Berdasarkan tuturan tersebutdi atas, dapat kita lihat seorang siswa yang sedang belajar di kelas dan diperingatkan oleh gurunya untuk memperhatikan penjelasan berbalikmemberikan kata-kata balasan untuk ‘melecehkan’ mahasiswa PPL yang notabene calon guru melalui tuturan (4). Kalimat tambahan ini merupakan bentuk ketidaksantunan berbahasa karena siswa tersebut sama halnya mengajak teman yang lain untuk mendukung pemikirannya yang notabene belummemahami pelajaran yang disampaikan gurunya.

2.1.2 Teori Ketidaksantunan Berbahasa dalam Pandangan Bousfield

  Sebagai contohnya, berikut ini disampaikan tuturan yang mengandung ketidaksantunan berbahasa yang diucapkan oleh siswa kepada guru di kantinpada saat jam istirahat. Lagi apa?” (8) “Siang.”Guru : (9)Siswa : “Buk, kok tumben ibuk gak pake lagi cincinnya lagi?” (10)Guru : “Apa-apaan kamu ini.” (11)Siswa : “Hayo ibuk, udah putus apa buk?” (12)Guru : “Sudah sana, kamu makan dulu.” Berdasarkan tuturan (9) dan (11) tersebut di atas, dapat kita lihat adanya tuturan siswa yang ‘sembrono’ terhadap gurunya.

2.1.3 Teori Ketidaksantunan Berbahasa dalam Pandangan Terkourafi

  Sebagai contohnya, berikut ini disampaikan tuturan yang mengandung ketidaksantunan berbahasa yang diucapkan oleh siswakepada guru di kelas. Nggak ngerti.” (15)Guru : “Kamu ini bagaimana, sudah sekolah di tengah kota ………… kok macromedia flash saja tidak bisa.” (16)Siswa : “Saya nggak pernah pak buat begituan.” (17)Guru : “Berusaha cari tahu dan kamu pelajari.” Berdasarkan tuturan tersebut di atas, dapat kita lihat bahwa guru tersebut menggunakan tuturan yang tidak santun (15) kepada siswa.

2.1.4 Teori Ketidaksantunan Berbahasa dalam Pandangan Locher and Watts

  Watts (2008:4) berpandangan bahwa perilaku tidak santun dalam berbahasa adalah perilaku yang secara normatifdianggap negatif (negatively marked behavior), lantaran melanggar norma- norma sosial yang berlaku dalam masyarakat. Sebagai contohnya disampaikan tuturan yang mengandung ketidaksantunan berbahasa yang disampaikan oleh siswa kepadguru di laboratorium bahasa.

2.2.5 Teori Ketidaksantunan Berbahasa dalam Pandangan Culpeper

  Sebagai rangkuman dari sejumlah teori ketidaksantunan yang disampaikan di bagian depan, dapat ditegaskan bahwa ketidaksantunanberbahasa itu menunjuk pada perilaku ‘melecehkan’ muka (face-aggravate) dan memain-mainkan muka sebagai wujud dari interpretasi lain dari faktamelecehkan muka yang telah disebutkan. Ketiga, ketidaksantunan berbahasa menunjuk pada sesuatu hal di mana mitra tutur (addressee) merasakan ancaman terhadap kehilangan muka (face threaten) dan penutur (speaker) tidak mendapatkan maksud ancaman behavior), lantaran melanggar norma-norma sosial yang berlaku dalam masyarakat.

2.2 Tindak Tutur

  Yule (1996:81) menjelaskan bahwa dalam usaha untuk mengungkapkan dirinya, penutur tidak hanya menghasilkan tuturan yangmengandung kata-kata dan struktur-struktur gramatikal saja, tetapi penutur juga memperlihatkan tindakan-tindakan melalui tuturan-tuturan itu. Tindak tutur menurut Richard, Platt, dan Platt (melalui Abrurrahman,2006:127) ialah suatu tuturan atau ujaran yang merupakan satuan fungsional dalam komunikasi.

2.3.1. Tindak Lokusi

  Kalimat di sini dimengertisebagai suatu satuan yang terdiri dari dua unsur, yakni subjek/topik dan predikat/comment (Nababan, 1987:4 dalam Wijana:22). Jadi, tindaktutur lokusioner adalah tindak tutur dengan kata, frasa, dan kalimat sesuai dengan makna yang dikandung oleh kata, frasa, dan kalimat itu sendiri(Rahardi, 2009:17) atau menurut Yule (1996:83) tindak dasar tuturan atau yang menghasilkan suatu ungkapan linguistik yang bermakna.

2.3.2 Tindak Ilokusi

  Akan tetapi, bila diutarakan oleh seorang ibu kepada anaklelakinya, atau seorang isteri kepada suaminya, kalimat ini dimaksudkan Gambaran contoh-contoh di atas menunjukkan bahwa tindak ilokusi sangat sukar diidentifikasi karena terlebih dahulu harus mempertimbangkansiapa penutur dan lawan tutur, kapan dan di mana tindak tutur itu terjadi, dan sebagainya. Searle (1983, dalam Rahardi: Ibid. danRahardi: 2005:36-37) menggolongkan tindak tutur ilokusi dalam lima macam bentuk tuturan, yakni(1) Asertif (assertives) atau representatif, yaitu bentuk tutur yang mengikat penutur pada kebenaran proposisi yang diungkapkan, misalnyamenyatakan (stating), menyarankan (suggeting), membual (boasting), mengeluh (complaining), dan mengklaim (claiming).

2.3.3 Tindak Perlokusi

  Bila kalimat (8) diutarakan oleh seseorang yang tidak dapat menghadiri undangan rapat kepada orang yang mengundangnya, kalimat inimerupakan tindak ilokusi untuk memohon maaf, dan perlokusi (efeknya) yang Tindak tutur perlokusioner mengandung daya pengaruh bagi lawan tutur. Contoh lain yang dikemukakan Wijana (2011:25) adalah (10) Baru-baru ini Walikota telah membuka Kurnia Department Store yang terletak di pusat perbelanjaan dengan tempatparkir yang cukup luas.

2.4 Konteks Tuturan

  Leech (1993:20), konteks sebagai suatu Sejalan dengan itu, Mey (dalam Nugroho, 2009:121) mendefinisikan konteks sebagai konsep dinamis dan bukan konsep statis, yang harusdipahami sebagai lingkungan yang senantiasa berubah, dalam arti luas yang memungkinkan partisipan berinteraksi dalam proses komunikasi dan ekspresilinguistik dari interaksi mereka yang dapat dimengerti. Yule (melalui Nugroho, 2009: 120) membahas konteks dalam kaitannya Konteks situasi tuturan yang dimaksud menunjuk pada aneka macam kemungkinan latar belakang pengetahuan yang muncul dan dimiliki bersama-sama baik oleh si penutur maupun oleh mitra tutur, serta aspek-aspek non- kebahasaan lainnya yang menyertai, mewadahi, serta melatarbelakangihadirnya sebuah pertuturan tertentu (Rahardi, 2007:18).

2.4.1 Penutur dan Mitra Tutur

  Leech memberikan simbol bahwa orang yang menyapa atau ‘penutur’ dengan n dan orang yang disapa atau ‘petutur’ dengan t. Wijana (melalui Rahardi,2007:19) menekankan bahwa aspek-aspek yang mesti dicermati pada diri penutur maupun mitra tutur diantaranya ialah jenis kelamin, umur, daerahasal, dan latar belakang keluarga serta latar belakang sosial-budaya lainnya yang dimungkinkan akan menjadi penentu hadirnya makna sebuah pertuturan.

2.4.1.1 Pembicara dan lawan bicara, penutur dan mitra tutur, atau ‘the utterer’ and ‘the interpreter’ adalah dimensi paling signifikan dalam pragmatik

  Selanjutnya ‘participant’ dalam pandangan Verschueren dibedakan menjadi ‘adressee’ dan ‘side-participant’,sedangkan untuk ‘non-participant’ masih dapat dibedakan menjadi ‘bystander’ , yakni orang yang semata-mata hadir, dan tidak mengambil peran apapun, dan yang terakhir sebagai ‘overhearer’. Dimensi-dimensi lain yang berkaitan erat dan tidak mungkin lepas dari penutur dan mitra tutur, seperti jenis kelamin, adat-kebiasaan, dansemacamnya, adalah perihal ‘the influence of numbers’ alias ‘pengaruh dari jumlah’ orang yang hadir dalam sebuah pertutursapaan.

2.4.1.2 Aspek-aspek Mental ‘Language Users’

  Seseorang yang kepribadiannya tidakcukup matang, sehingga terhadap segala sesuatu yang hadir baru cenderung ‘menentang’ dan ‘melawan’, sekalipun tidak selalu memiliki dasar alasan yang jelas dan tegas, akan sangat mewarnai bentuk kebahasaan yang digunakan di dalam setiap pertutursapaan. Demikian pula seseorang yangsudah sangat matang dan dewasa, akan dengan serta-merta berbicara sopan dan halus kepada setiap orang yang ditemuinya, karena dia mengerti bahwasetiap orang itu memang harus selalu dihargai dan dijunjung tinggi harkat dan martabatnya.

2.4.1.3 Aspek-aspek Sosial dan Budaya Pengguna Bahasa ‘Language Users’

  Kajian pragmatik pada dasarnya tidak dapat memalingkan diri dari fakta-fakta sosio-kultural karena penutur dan mitra tutur merupakan bagiandari sebuah masyarakat sehingga dimensi-dimensi yang berkaitan dengan keberadaannya sebagai warga masyarakat dan budaya tertentu harusdilibatkan di dalamnya. Pelibatan ini karena penutur dan mitra tutur melibatkan orang lain yang tidak sedikit jenis dan jumlahnya.

2.4.1.4 Aspek-aspek Fisik ‘Language Users’

  Deiksis persona, menunjuk pada penggunaan kataganti orang, misalnya saja dalam bahasa Indonesia kurang ada kejelasan kapan harus digunakan kata ‘kita’ dan ‘kami’ dalam bahasa Jawa, deksispersona ‘kula’ artinya ‘saya’ dan ‘kula sedaya’ atau ‘aku kabeh’ alias ‘kami’ atau ‘kita’ dalam bahasa Indonesia. Selanjutnya masih berkaitan dengan persoalan deiksis pula, tetapi yang sifatnya temporal atau yang disebut deiksis waktu harus diperhatikanmisalnya saja, kapan harus digunakan ucapan ‘selamat pagi’ atau ‘pagi’ saja dalam bahasa Indonesia.

2.4.2 Konteks Sebuah Tuturan

  Konteks sebuah tuturan terdapat tiga macam, yakni yang mencakup dimensi-dimensi linguistik atau yang sifatnya tekstual (koteks), konteks yangsifatnya sosio-kultural, dan konteks pragmatik. Aspek waktu dan tempat di dalam seting itu tentu saja tidak dapat dilepaskan dari aspek-aspek fisik dan aspek sosial-kulturallainnya, yang menjadi penentu makna bagi sebuah tuturan.

2.4.3 Tujuan sebuah tuturan

  Jadi, Tuturan dapat dikatakan sebagai produk dari tindak verbal di dalam aktivitas bertutur sapa karena pada dasarnya tuturan yang muncul di dalamsebuah proses pertuturan itu adalah hasil atau produk dari tindakan verbal dari para pelibat tuturnya, dengan segala macam pertimbangan konteks situasisosio-kultural dan aneka macam kendala konteks yang melingkupi dan mewadahinya. Pengertian konteks dapat didefinisikansebagai berikut, konteks merupakan segala sesuatu yang berkaitan dengan situasi dan kondisi penutur dan mitra tutur yang mempunyai latar belakangpemahaman dan asumsi yang sama terhadap suatu hal dalam berkomunikasi.

2.5 Bunyi Suprasegmental

  Ketika penutur menyampaikan maksud kepada mitra tuturdengan menggunakan intonasi keras, padahal mitra tutur berada pada jarak yang sangat dekat dengan penutur, sementara mitra tutur tidak tuli, penuturakan dinilai tidak santun. Pada tataran kalimat, variasi-variasi nada pembeda maksud disebut intonasi yang ditandai dengan intonasi datar turun yang biasa terdapat dalamkalimat berita, intonasi datar naik yang biasa terdapat dalam kalimat tanya, dan intonasi datar tinggi yang biasa terdapat dalam kalimat perintah.

2.6 Pilihan Kata

  Walaupun ada unsur-unusrbaru yang selalu muncul dan ada unsur-unsur yang lenyap, selalu akan terdapat bagian dari kosa kata yang dikenal bersama dan dipakai oleh semuapenutur bahasa. Kata-kata tersebut Sebab itu ada beberapa hal yang perlu dipergunakan tidak akan mengganggu suasana dan tidak menimbulkan ketegangan antara penulis ataupenutur dengan mitra tutur.

2.6.1 Bahasa Standar dan Nonstandar

  Kata-kata bukan saja menunjukkan barang-barang atau sikap orang tetapi merefleksikan juga tingkah laku sosial dari orang-orang yang Bahasa standar adalah dialek kelas dan dibatasi sebagai tutur dari mereka yang mengenyam kehidupan ekonomis atau menduduki status sosialyang cukup dalam suatu masyarakat. Bahasa nonstandar adalah bahasa dipergunakan oleh mereka yang tidak memperoleh kedudukan ataupendidikan yang tinggi.

2.6.2 Kata Ilmiah dan Kata-Kata Populer

  Tidak semua orang yang menduduki status sosial yang tinggi mempergunakan gaya yang sama dalam aktivitas bahasanya. Kata-kata populer adalah kata yang dipakai dalam komunikasi sehari- hari baik mereka yang berada di lapisan atas maupun antara mereka yang dilapisan bawah atau antara lapisan atas dan lapisan masyarakat maka kata-kata ini dikenal oleh seluruh lapisan masyarakat.

2.6.5 Kata Slang

  Kata slang adalah kata-kata nonstandar yang informal yang disusunsecara khas; atau kata-kata biasa yang diubah secara arbitrer; atau kata-kata kiasan yang khas, bertenaga dan jenaka yang dipakai dalam percakapan. Setiap lapisan masyarakat dapat menciptakan istilah yang khususatau mempergunakan kata-kata umum dan pengertian-pengertian yang khusus Kata-kata slang mengandung dua kekurangan yaitu pertama, hanya sedikit yang dapat hidup dan yang kedua pada umumnya kata-kata slangselalu menimbulkan ketidaksesuaian.

2.6.6 Idiom

  2.6.8 Kata Seru Kata-kata yang digunakan untuk mengungkapkan perasaan batin, misalnya kaget, terharu, marah, atau sedih disebut kata seru (Chaer, 2011:194)Dilihat strukturnya ada dua macam kata seru yaitu(1) Kata seru yang berupa kata-kata singkat, seperti wah, cih, hai, o, oh, nah, ha, hah (2) Kata seru yang berupa kata-kata biasa, seperti aduh, celaka, gila, kasihan, bangsat, ya ampun . Ketika seseorang sedang bertutur, kata-kata yang digunakan dipilih sesuai dengan topik yang dibicarakan, konteks pembicaraan, suasana mitra tutur,pesan yang disampaikan, dan sebagainya (Pranowo, 2009: 77).

2.7 Kera

TUNAN K N: DESKRIPTI NGUMPULAN K DAN METO SIS DATA: KO L PENELITIAN PENANDA ETIDAKSANT DAN PRAGM DI SEKOLAH BERBAHASA F KUALITATIF N DATA:  ODE CAKAP NTEKSTUAL N A  TEORI  KETIDAK ‐ TEORI  KETIDAK ‐ANTUNAN   SANTUNAN LOCHER AN WATTS (2008) MATIK BERBA H A F MAKN KETIDAKSAN N   D   TEO KETID SANTU CULPE(200 AHASA  A  NTUNAN ORI  DAK ‐ UNAN  EPER 08) ERKOURAFI (2008) 2  S TEOR KETIDA SANTUN BOUSFIE(2008 W LI angka Berp FENOMEN TEORI  KETIDAK ‐ SANTUNAN  LOCHER (2008) WUJUD KETID NGUISTIK DA pikir NA KETIDAKS ANT TEO JENIS  DAN SISWA  M MET METO DAKSANTUN AN PRAGMA SANTUNAN  TARA GURU  ORI KETIDAKS I  AK ‐NAN   ELD 8)K SA TE PENELITIAN METODE PEN TODE SIMAK ODE ANALIS HASIL NAN  ATIK KE LINGUISTIK  SANTUNAN 

BAB II I METODE PENELITIAN

  Kemudian disebut sebagai penelitian kualitatif karena penelitian ini bermaksud memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitianmisalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dan lain-lain, secara holistik, dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu kontekskhusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah (Moleong, 2006: 6). 3.2 Subjek Penelitian Subjek penelitian ini adalah guru dan siswa di SMA Stella Duce 2 Yogyakarta tahun ajaran 2012/2013 karena SMA Stella Duce 2 Yogyakarta dirasa dapatmewakili tuturan siswa dari berbagai daerah.

3.3 Metode dan Teknik Pengumpulan Data

  Metode padanitu dapat dibedakan menjadi dua, yaitu metode padan yang sifatnya intralingual Metode analisis data secara linguistik menggunakan metode padan intralingual yaitu metode analisis dengan cara menghubung-bandingkan unsur-unsur yang bersifat lingual, baik yang terdapat dalam satu bahasa maupun dalam beberapa bahasa yang berbeda (Mahsun, 2005: 118). Analisis data penelitian kualitatif dilakukan dengan mengorganisasikan data, menjabarkannya ke dalam unit-unit, melakukan sintesa, menyusun ke dalam pola,memilih mana yang penting dan mana yang akan dikaji dimulai sejak sebelum peneliti memasuki lapangan, dilanjutkan pada saat peneliti berada di lapangansecara interaktif dan berlangsung terus menerus sampai tuntas sehingga datanya jenuh.

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Deskripsi Data

  Tuturan-tuturanyang didapatkan berupa jenis ketidaksantunan yang melecehkan muka mitra tutur, memain-mainkan muka mitra tutur, kesembronoan yang disengaja,menghilangkan muka mitra tutur, dan mengancam muka secara sepihak. C9 Tuturan-tuturan di bawah ini merupakan tuturan yang termasuk ke dalam jenis ketidaksantunan yang mengancam muka mitra tuturnya.

4.2 Hasil Analisis Data

  Wujud ketidaksantunan linguistik berupa tuturan lisan yang tidak santun antara guru dan siswa yang berupa tuturan yang melecehkan muka mitra tuturnya. Tuturan A3 : nada sedang, tekanan sedang, intonasi tanya dengan suara agak ditekan, dan diksi yang digunakan ialah nonstandar yang berupa kata seru astaga, penggunaan kata tidak baku emang, lo, dan gitu, Tuturan A4 : nada sedang, tekanan sedang, intonasi berita, dan diksi yang digunakan ialah kata populer yaitu kata kuis.

4.2.1.5 Makna Ketidaksantunan Berbahasa yang Melecehkan Muka

  Tuturan A4 : hinaan dari penutur kepada mitra tutur yang dirasa akan mendapatkan nilai yang kurang bagus ketika kuis kalau mitra tutur tidak mencatat materi presentasi dari teman yang maju. Tuturan B4: tuturan tersebut dituturkan pada saat mitra tutur meminta penutur untuk Tuturan B5: tuturan tersebut dituturkan pada saat mitra tutur memberikan kisi-kisi jumlah soal UAS pilihan ganda yang berjumlah 40 soal kepada penutur.

4.2.2.5 Makna Ketidaksantunan Berbahasa yang Memain-mainkan Muka

  Tuturan B2 : informasi dari penutur kepada mitra tutur yang merasa belum siap untuk presentasi dan dengan sikap yang tidak biasanya sehingga menimbulkan kejengkelan bagi mitra tutur. Tuturan B7: sindiran yang menjengkelkan dari penutur kepada mitra tutur yang merasa bahwa nilai pelajaran mitra tutur menurun.

4.2.3 Kesembronoan yang disengaja

  4.2.3.1 Wujud Ketidaksantunan Linguistik Wujud ketidaksantunan linguistik berupa tuturan lisan yang tidak santun antara guru dan siswa yang berupa tuturan yang sembrono. Penutur seharusnya mengetahui posisinya sebagai siswa yang harus menghormati mitra tutur sebagai guru sehingga penutur seharusnya menyapa mitra tutur dengan cara yang lebih sopan dan menggunakan bahasa yang baik.

4.2.3.5 Makna Ketidaksantunan Berbahasa yang Berupa Kesembronoan

  Wujud ketidaksantunan linguistik berupa tuturan lisan yang tidak santun antara guru dan siswa yang berupa tuturan yang mengancam muka. Selain itu, tuturan (D9)memiliki tindak verbal direktif yang meminta mitra tutur untuk lebih pelan dalam Tuturan D14 Konteks tuturan (D14) terjadi di lapangan olahraga tanggal 14 November 2012 ketika penutur sedang menjelaskan materi pelajaran.

4.2.4.5 Makna Ketidaksantunan Berbahasa yang Mengancam Muka

  Tuturan D1: peringatan dan terkesan memberikan juga ancaman bagi mitra tutur Tuturan D2: peringatan yang memojokkan mitra tutur terkait alat komunikasinya yang berbunyi saat remedial berlangsung di kelas dan memintanya untuk segera mematikan. Tuturan D14: teguran yang bersifat mengancam kepada mitra tutur karena sibuk berbicara dengan teman dan tidak memerhatikan penjelasan materi dari penutur.

4.2.5 Menghilangkan Muka

  Wujud ketidaksantunan linguistik berupa tuturan lisan yang tidak santun antara guru dan siswa yang berupa tuturan yang menghilangkan muka. Tuturan E1: nada tinggi, tekanan keras, intonasi tanya, dan diksi yang digunakan ialah bahasa nonstandar yang ditunjukkan dengan penggunaan kata seru eh, penggunaan kata tidak baku gimana, dan penggunaan interferensi ke dalam bahasaJawa malah.

4.2.5.5 Makna Ketidaksantunan Berbahasa yang Menghilangkan Muka

  Tuturan E1: teguran yang dapat mempermalukan mitra tutur di depan kelas untuk tidak keluar kelas terlebih dahulu saat ada teman yang sedang maju supaya mitra tutur tetap bisa memberikan penilaian. Tuturan E9: keluhan yang bersifat mempermalukan mitra tutur terkait dengan perhatian yang diberikan mitra tutur kepada penutur berbeda dengan siswa yang lain.

4.3 Pembahasan

  Hasil dari kajian yang dilakukan terhadap tuturan yang ada di dalam interaksi antara guru dan siswa SMA Stella Duce 2 Yogyakarta tahun ajaran 2012/2013ditemukan beberapa tuturan yang mengandung ketidaksantunan. Data tuturan yang diperoleh menunjukkanbahwa ada penanda ketidaksantunan linguistik dan pragmatik yang digunakan sebagai acuan untuk menentukan ke dalam jenis ketidaksantunan jenis tertentu.

4.3.1 Melecehkan muka

  Tuturan (A4) merupakan tindak verbal asertif karena penutur benar-benar melihat mitra tutur yang tidak mencatat bahanpresentasi sehingga menimbulkan respons dari penutur yang menghasilkan tuturan(A4) dan tuturan tersebut menimbulkan luka hati bagi mitra tutur yang tidak mencatat tersebut. Siswa merasa Tuturan yang disampaikan guru kepada siswanya tersebut dianggap tidak santun karena guru yang seharusnya memiliki aspek kepribadian yang matangternyata bertutur kepada siswanya kurang sopan yang membuat mitra tutur jengkel akibat tuturan sindirannya tersebut.

4.3.3 Kesembronoan yang Disengaja

  Tuturan yang disampaikan penutur (C15) dirasa tidak santun karena penutur terkesan menyudutkan mitra tutur sebagai guru, terlebih pertanyaan yang dilontarkan ialah Aspek mental yang berupa dimensi kepribadian penutur dalam tuturan (C15) ialah penutur belum memiliki kepribadian yang cukup matang, hal tersebutditunjukkan dengan tuturan penutur yang secara polos bertanya sesuatu yang pribadi kepada gurunya. Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa tuturan (C4), (C9),(C11), (C12), dan (C15) termasuk ke dalam jenis ketidaksantunan berbahasa yang berupa kesembronoan yang disengaja karena tuturan yang disampaikan dengansekenanya dan dapat menimbulkan konflik apabila ada tuturan yang dapat menyinggung perasaan mitra tutur.

4.3.5 Menghilangkan muka

  Tuturan (E1) memiliki makna teguran bagi mitra tutur untuk tidak keluar kelas terlebih dahulu saat ada teman yangsedang maju supaya mitra tutur tetap bisa memberikan penilaian, tetapi tuturan yang disampaikan penutur terkesan mempermalukan mitra tutur di hadapan teman yanglain. Kerugian mitra tutur tersebut ialahmenjadi pusat perhatian seluruh siswa dan membuat mitra tutur menjadi malu karena Tuturan (E1), (E2), (E3), dan (E10) merupakan tuturan yang cenderung tidak santun karena tuturan tersebut dituturkan oleh seorang guru kepada siswanya untukmempermalukan siswanya di hadapan teman-temannya yang lain.

BAB V PENUTUP

5.1 Simpulan

  Ketidaksantunan Berbahasa yang Memain-mainkan Muka Mitra Tuturnya1) Nada sedang dan nada rendah, 2) tekanan sedang dan tekanan lemah, 3) intonasi berita dan intonasi tanya, serta 4) diksi yang digunakan berupa bahasanonstandar dan kata slang. Ketidaksantunan Berbahasa yang berupa Kesembronoan yang Disengaja1) Nada sedang dan nada rendah, 2) tekanan sedang dan tekanan lemah, 3) intonasi berita dan intonasi tanya, serta 4) diksi yang digunakan berupa bahasanonstandar.

1. Penanda ketidaksantunan pragmatik berbahasa

  Ketidaksantunan Berbahasa yang Mengancam Muka Mitra Tuturnya1) Tindak verbal direktif, 2) tindak perlokusi tuturan tersebut ialah mitra tutur melakukan sesuatu yang diminta penutur dengan terpaksa karena merasaterancam, 3) situasi yang terjadi dapat di dalam maupun luar kelas, serta 4) suasana dalam tuturan tersebut ialah tegang dan serius. Ketidaksantunan Berbahasa yang Menghilangkan Muka Mitra Tuturnya1) Tindak verbal ekspresif, tindak verbal direktif, dan tindak verbal asertif, 2) tindak perlokusi tuturan tersebut ialah mitra tutur merespon dan segeramelakukan sesuatu, 3) situasi yang terjadi di dalam maupun luar kelas, serta 4) suasana dalam tuturan tersebut ialah tegang dan serius.

2. Makna ketidaksantunan berbahasa a

  Makna ketidaksantunan berbahasa yang memain-mainkan muka mitra tuturnya berupa tuturan yang membuat bingung mitra tutur sehingga mitratutur menjadi jengkel karena sikap penutur yang tidak seperti biasanya. Makna ketidaksantunan berbahasa yang berupa kesembronoan yang disengaja ialah penutur bercanda kepada mitra tutur sehingga mitra tutur terhibur, tetapicandaan tersebut dapat menimbulkan konflik.

5.2 Saran

  Guru sebagai masyarakat terdidik dan memiliki status sosial yang tinggi di dalam bidang pendidikan sebaiknya tidak hanya memberikan masukankepada siswa untuk berbicara yang sopan kepada orang lain, namun guru tersebut harus memberikan contoh yang benar pada pengajaran yangsebenarnya. Guru sebaiknya dapat menambahkan adanya pendidikan karakter yang berupa ‘sopan santun’ di dalam silabus maupun RPP (RencanaPelaksanaan Pembelajaran) yang akan digunakan untuk mengajar.

3. Penelitian Lanjutan a

  Penelitian mengenai ketidaksantunan sebaiknya tidak hanya mengkaji penanda ketidaksantunan dari faktor kebahasaan saja, tetapi juga dapatdilihat dari penanda ketidaksantunan yang berupa faktor nonkebahasaan. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini dirasa masih kaku sehingga untuk penelitian selanjutnya supaya menggunakan instrumenyang lebih luwes misalnya kuisioner, angket, dan lain-lain.

DAFTAR PUSTAKA

  Tempat duduk siswa berada di lantai dan sangat kacauMt meminta Pt untuk duduk dengan rapiPt diminta untuk bergeser tempat duduknya Siswa-siswa baru saja pindah dari ruang kelas menuju laboratoriumbahasa Penggunaan bahasa tidak baku: buk, dudukeSuasana terjadi pada saat pengambilan nilai pembacaanberita di laboratorium bahasa piye B1Nada sedangTekanan sedangIntonasi tanya dengan suara agak menyentakPartikel: ePenggunaan interferensi ke dalam bahasa Jawa: buk? Penutur: siswa kelas XII, umur 18 tahunMitra tutur: guru perempuan berumur 30 tahunTujuan tutur: Pt menginformasikan kepada MtTindak verbal: ekspresifTindak perlokusi: Mt memberi nasihat terkait kedewasaan Pt Pt ribut sendiri dan berteriak- teriak di dalam kelasMt menanyakan kepada Pt terkait kelas berapa sekarangkarena masih ribut sendiri dan dianggap belum dewasa Suasana terjadi ketika Mt meminta Pt memerhatikanpelajaran saat itu Nada sedangTekanan sedangIntonasi berita : 3 SMAAAAA….

10. A. : ….. sehingga kalian harus belajar karena UAS bentar lagi

  Penutur: siswa kelas XII, berumur 19 tahunMitra tutur: guru laki-laki berumur 25 tahunTujuan tutur: Pt bertanya kepada Pt merasa dirinya sedang mengantuk dan tidak dapatmenjelaskan kembali Penggunaan kata tidak baku:Mt meminta Pt yang tidak pernah memerhatikanpelajaran untuk menjelaskan kembali materi yang telahdijelaskan carane, ngantuk C13Nada rendahTekanan lemahIntonasi tanyaKata seru: weh alahKata seru: ki, yoPenggunaan interferensi ke dalam bahasa Jawa: piye, ngilangin ngantuk? 218 dalam bahasa Inggris: how Mt di meja piket menanyakan mengapa Pt bisa mengetahuihal tersebut Pt bertemu dengan Mt di meja piket dan mengatakanbahwa Pt seperti melihat salah satu guru yang sangatdikenal dari jarak jauh C12Nada sedangTekanan sedangIntonasi beritaPenggunaan bahasa tidak baku: buk, bangetPenggunaan interferensi ke dalam bahasa Jawa: gedhe betisnya gedheeee bangeeeeeettttt… : Itu buk, soalnya kelihatan : Emangnya kenapa?

B: Lupa buk…

  Penutur: guru perempuan berumur 30 tahun Pt sedang menjelaskan materiMt ribut sendiri di belakang dan tidak memerhatikanPt memberikan pertanyaan D7Nada tinggiTekanan kerasIntonasi perintahPenggunaan kata tidak baku: urusannya sendiri dan berusaha membuka buku setelah penutur B: (mitra tutur masih sibuk dengan 7. Penutur: siswa kelas XII, berumur 19 tahunMitra tutur: guru perempuan berumur 30 tahunTujuan tutur: Pt berusaha menguji Pt tidak mengenakan sepatu di dalam kelasMt berkali-kali menanyakan keberadaan sepatu Pt tersebutPt merasa bahwa Mt ingin mengetahui tentang Mtsehingga Pt jengkel buk, nggak, aja, ibuk, gitu 222 5.

A: Sekarang jawab! Nggak usah baca! B: Ya buuukkk….

  Mt biasanya santai dalam mengikuti dan memahami materimemberikan materi pelajaran yang dianggap penting bagi Ptkepada Pt, tetapi saat itu Mt dan siswa lainmengikuti kebiasaan guru lain yang sangat serius dalammemberikan penekanan materi-materi yang penting 13. (penutur melihat mitra tutur sibuk sendiri Penutur: siswa kelas XII, berumur 17 tahunMitra tutur: guru perempuan berumur 30 tahunTujuan tutur: Pt merasa kesal dengan MtTindak verbal: direktifTindak perlokusi: Mt menjelaskan bagian yang salah dalam tugas Pt Mt terkait bagian yang salahMt tidak menjawab supaya Pt berusaha berpikirMt kesal dikumpulkan berkali-kali diminta untuk revisiPt selalu menanyakan kepada makanya, buk B: Makanya bilang dong buk!

A: Saya ambil yaaa? Asiikk

B: Biasa buukk…

  Tujuanpenelitian ini adalah (1) mendeskripsikan wujud ketidaksantunan linguistik dan pragmatik berbahasa antara guru dan siswa (2) mendeskripsikan penanda ketidaksantunan linguistik danpragmatik berbahasa yang digunakan antara guru dan siswa, dan (3) mendeskripsikan makna ketidaksantunan berbahasa yang digunakan oleh guru maupun siswa di SMA Stella Duce 2Yogyakarta. Simpulan dari hasil penelitian ini ialah: Pertama, wujud ketidaksantunan linguistik dapat dilihat berdasarkan tuturan lisan yang tidak santun antara guru dan siswa yang berupa tuturanmelecehkan muka, memain-mainkan muka, kesembronoan, mengancam muka, dan menghilangkan muka, sedangkan wujud ketidaksantunan pragmatik dapat dilihat berdasarkanuraian konteks berupa penutur, mitra tutur, tujuan tutur, situasi, suasana, tindak verbal, dan tindak perlokusi yang menyertai tuturan tersebut.

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Efektifitas penggunaan media audio visual (VCD) dan media charta terhadap hasil belajar biologi konsep sirkulasi pada hewan dan manusia siswa kelas II semester II di SMU Negeri 2 Jember tahun ajaran 2003/2004
0
20
114
Hubungan antara persepsi dan motivasi belajar fisika dengan hasil belajar fisika pokok bahasan energi siswa kelas 1 cawu III SLTP Negeri 3 Jember tahun ajaran 2001/2002
0
4
69
Komunikasi antara guru dan siswa dalam mengurangi tingkat kenakalan siswa di SMAN 74 Jakarta
2
9
91
Hubungan antara persepsi siswa tentang kineja guru dengan prestasi belajar siswa : survai di SMP Negeri I Bojongpicung-Cianjur
0
8
84
Hubungan antara keteladanan guru dengan disiplin belajar siswa di MI Attaufiq Megamendung - Bogor
2
67
88
Hubungan antara kompetensi profesional guru dengan ptrestasi belajar siswa : studi korelasi di Sekolah Menengah Pertama Negeri 2 Legok-Tangerang
0
13
80
Hubungan antara kompetensi pedagogik guru IPS dengan prestasi belajar siswa di SMA PGRI 56 Ciputat
1
4
95
Kepuasan guru dan siswa terhadap kualitas pelayanan ketatausahaan di SMK Pustek Serpong
3
43
134
Perbedaan motivasi berwirausaha antara siswa SMA dan SMK di Jakarta Timur
0
3
90
Hubungan antara persepsi guru tentang KBK dan motivasi kerja guru di SDN percontohan se-Jakarta Timur
0
8
77
Piawai berbahasa cakap bersastra indonesia SMA XII Bahasa Sunardi dan Suharto
0
0
326
Peristiwa 2 Maret 1969 di Yogyakarta (konflik antara taruna angkatan udara dan mahasiswa Universitas Gadjah Mada)
0
0
85
Efektivitas manajemen pendidikan karakter dalam upaya meningkatkan prestasi akademik siswa di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 2 Yogyakarta tahun ajaran 2014/2015
0
1
9
Identifikasi miskonsepsi dalam pembelajaran IPA ruang lingkup materi dan sifatnya di SMP Joannes Bosco Yogyakarta kelas VIII tahun ajaran 2014-2015
1
5
9
Hubungan motivasi belajar dan gaya belajar siswa dengan prestasi belajar matematika siswa mts Islamiyah Medan tahun ajaran 2017/2018 - Repository UIN Sumatera Utara
4
26
150
Show more