Menggali simbol simbol perkawinan adat suku Dayak Tunjung sebagai ungkapan dalam perkawinan Gereja Katolik di Kec. Linggang Bigung, Kab. Kutai Barat, Kalimantan Timur

Gratis

2
32
142
2 years ago
Preview
Full text

  

MENGGALI SIMBOL-SIMBOL PERKAWINAN ADAT

SUKU DAYAK TUNJUNG

SEBAGAI UNGKAPAN NILAI KESETIAAN

DALAM PERKAWINAN GEREJA KATOLIK

  

DI KEC. LINGGANG BIGUNG, KAB. KUTAI BARAT,

KALIMANTAN TIMUR

S K R I P S I

  Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

  Program Studi Pendidikan Agama Katolik

  

Oleh:

Natalia Yustika

NIM: 121124030

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK

  

JURUSAN ILMU PENDIDIKAN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

  

PERSEMBAHAN

  Skripsi ini saya persembahkan untuk: Tuhan Yesus yang selalu menjaga, membimbing dan menerangi hati dan pikiran, kedua orangtua dan kekasih yang selalu mendukung dalam berbagai keadaan yang saya alami.

  

MOTTO

“Kesetiaan itu datang dari hati dan niat bukan dari kata-kata.

  Belajarlah untuk setia kepada apa yang kamu yakini sebagai apa yang benar dan hiduplah sesuai dengannya”

  

ABSTRAK

  Judul skripsi ini adalah MENGGALI SIMBOL-SIMBOL

  

PERKAWINAN ADAT SUKU DAYAK TUNJUNG SEBAGAI UNGKAPAN

NILAI KESETIAAN DALAM PERKAWINAN GEREJA KATOLIK DI

KEC. LINGGANG BIGUNG, KAB. KUTAI BARAT, KALIMANTAN

TIMUR . Judul ini dipilih berdasarkan pada kenyataan bahwa pengetahuan

  masyarakat Dayak Tunjung akan makna perkawinan sangat minim dan menurunnya penghayatan terhadap nilai kesetiaan. Kenyataan menunjukkan bahwa ada begitu banyak hal yang menyebabkan minimnya pemahaman masyarakat Dayak Tunjung dan menurunnya penghayatan terhadap nilai kesetiaan dalam perkawinan. Pemahaman tentang luhurnya nilai perkawinan sangat kabur, rancu, dan barangkali juga keliru. Menurunnya hal tersebut nampak dalam praktek kawin cerai yang terjadi dalam lingkup masyarakat.

  Penulis mencoba menggali makna dari simbol-simbol perkawinan adat suku Dayak Tunjung untuk mencari nilai-nilai kesetiaan yang terkandung dalam setiap simbol yang dipakai. Dari hasil penelitian, simbol-simbol yang dipakai dalam upacara melambangkan nilai kesetiaan. Walaupun tidak secara eksplisit dikatakan bahwa setiap simbol-simbol mengandung makna kesetiaan akan tetapi dari setiap proses upacara adat, tata cara dan simbol yang digunakan dalam perkawinan adat mengandung nilai kesetiaan seperti halnya dalam perkawinan Katolik yang juga mengutamakan unsur kesetiaan. Dalam seluruh proses upacara tersirat makna mengenai kesetiaan yaitu mengajarkan pasangan untuk bersikap saling setia, hidup bersama saling memberi dan menerima, serta kesediaan untuk sehidup semati hingga maut memisahkan. Untuk itu, makna simbol-simbol perkawinan adat suku Dayak Tunjung sangat relevan dengan nilai kesetiaan perkawinan Katolik.

  Menanggapi fakta-fakta yang penulis dapat yaitu berdasarkan hasil penelitian, penulis mengusulkan kegiatan berupa rekoleksi sebagai upaya membangun kembali keutuhan hidup keluarga Katolik suku Dayak Tunjung. Dengan harapan, semakin banyak pasangan suami istri yang berani menjalankan salib kesetiaan dan ikatan tak terputuskannya perkawinan.

  

ABSTRACT

  The title of this undergraduate thesis is DELVING THE

  

TRADITIONAL MARRIAGE SYMBOLS OF DAYAK TUNJUNG TRIBE

AS EXPRESSIONS OF FIDELITY VALUE IN CATHOLIC CHURCH

MARRIAGE AT LINGGANG BIGUNG SUBDISTRICT, WEST KUTAI

REGENCY, EAST KALIMANTAN . This title was chosen based on facts that

  knowledge of Dayak Tunjung people toward the meaning of marriage is deficient and appreciation toward fidelity value in marriage is decreasing. Understanding about marriage as a noble value are obscure, confused, and it can be wrong. Decreasing of people understanding is shown in practice of marriage

  • – divorce which is happened in society.

  The author delved meaning of traditional marriage symbols of Dayak Tunjung tribe in order to find the fidelity values in every symbol which is being used in the traditional marriage. However, it was not explicitly mentioned that every symbol contains fidelity purpose but in each process of traditional marriage, procedure and symbols that used in traditional marriage contain fidelity value as well as Catholic marriage which is also prioritize the fidelity. In every process of a ceremony contains a meaning about fidelity which teaches the couple to be faithful, live in togetherness to give and to accept, also willingness to live together until death separates. The meaning of symbols in Dayak Tunjung tribe traditional marriage is relevant with fidelity value of Catholic marriage.

  Responding to the facts that the author obtained based on research results, the author proposes a recollection activity as an effort to rebuild an integrity in Catholic families’ life of Dayak Tunjung tribe. In purpose, there are many spouses who are brave to perform the fidelity cross and unbreakable marriage bond.

KATA PENGANTAR

  Allah adalah setia dan Ia tak pernah menyangkal kesetiaan-Nya. Dalam kelemahan dan kekurangan, penulis semakin menyadari kehadiran Allah yang setia itu. Ia tidak pernah meninggalkan, ia selalu setia menuntun, dan karena kesetiaan-Nya itu penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul:

  

MENGGALI SIMBOL-SIMBOL PERKAWINAN ADAT SUKU DAYAK

TUNJUNG SEBAGAI UNGKAPAN NILAI KESETIAAN DALAM

PERKAWINAN GEREJA KATOLIK DI KEC. LINGGANG BIGUNG,

KAB. KUTAI BARAT, KALIMANTAN TIMUR.

  Penulisan skripsi ini berangkat dari ketertarikan penulis dengan kebudayaan dan juga keprihatinan akan minimnya pemahaman masyarakat Dayak Tunjung tentang makna perkawinan baik perkawinan adat maupun Gereja. Penulis mempunyai maksud untuk membantu para pasangan untuk menghayati nilai kesetiaan perkawinan tidaknya hanya dari perkawinan Gereja akan tetapi dari perkawinan adat dengan menilik simbol-simbol yang dipakai dalam proses perkawinan.

  Dalam rangka penulisan skripsi ini, banyak pihak dengan setia telah membantu penulis, baik tenaga maupun pikiran. Mereka semua telah memberikan kondisi-kondisi yang positif kepada penulis. Oleh sebab itu, dalam kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terimakasih kepada:

1. Dr. B. A. Rukiyanto, S.J., selaku Kaprodi PAK dan dosen pembimbing

  waktu serta memberikan bantuan kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

  2. Yoseph Kristianto, SFK, M.Pd selaku Wakaprodi PAK, dosen pembimbing akademik dan dosen penguji kedua yang telah memberikan dukungan dan masukan kepada penulis sehingga semakin termotivasi dalam menyelesaikan skripsi ini.

  3. P. Banyu Dewa, H.S. S.Ag., M.Si., Selaku dosen penguji ketiga yang telah memberikan dukungan kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

  4. Segenap staf dosen Prodi PAK-JIP, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma, yang telah mendidik dan membimbing penulis selama belajar hingga selesainya skripsi ini.

  5. Segenap staf karyawan Prodi PAK-USD yang telah membantu dalam mengarahkan pengurusan administrasi dan memberikan semangat hingga skripsi ini dapat terselesaikan.

  6. Segenap staf BAPPEDA dan Lembaga Adat Kab. Kutai Barat yang telah membantu dalam mengumpulkan referensi dan kelengkapan penulisan skripsi ini.

  7. Kepada Ayah, Ibu, adik dan seluruh keluarga yang telah memberikan dukungan baik moral maupun materiil yang tiada hentinya sehingga penulis dapat menyelesaikan studi di PAK dan skripsi ini.

  

DAFTAR ISI

  JUDUL ............................................................................................................. i PERSETUJUAN PEMBIMBING .................................................................... ii PENGESAHAN ............................................................................................... iii PERSEMBAHAN ............................................................................................ iv MOTTO ........................................................................................................... v PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ......................................................... vi PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ............................................ vii ABSTRAK ....................................................................................................... viii

  

ABSTRACT ...................................................................................................... ix

  KATA PENGANTAR ..................................................................................... x DAFTAR ISI .................................................................................................... xiii DAFTAR SINGKATAN DAN ISTILAH ...................................................... xvii BAB I. PENDAHULUAN ...............................................................................

  1 A. Latar Belakang ................................................................................

  1 B. Rumusan Masalah ...........................................................................

  5 C. Tujuan Penulisan .............................................................................

  6 D. Manfaat Penulisan ...........................................................................

  7 E. Metode Penulisan ............................................................................

  7 F. Sistematika Penulisan ......................................................................

  8 BAB II. SIMBOL PERKAWINAN ADAT SUKU DAYAK TUNJUNG .....

  10 A. Masyarakat Dayak secara Umum ....................................................

  11 1. Asal-usul Suku Dayak ..............................................................

  11 2. Klasifikasi Suku Dayak ............................................................

  12 a. Suku Dayak Benuaq . ...........................................................

  13 b. Suku Dayak Kenyah .............................................................

  13 c. Suku Dayak Aoheng .............................................................

  14

  e. Suku Dayak Tunjung / Tonyooi. ..........................................

  16 B. Suku Dayak Tunjung .......................................................................

  16 1. Asal-usul Suku Dayak Tunjung................................................

  16 2. Keadaan Geografis ...................................................................

  17 3. Peranan Adat dalam Kehidupan Suku Dayak Tunjung. ...........

  18

  4. Kategori Hukum Adat dalam Masyarakat Suku Dayak Tunjung.....................................................................................

  19 a. Hukum Adat Pertanahan dan Tanam Tumbuh. ....................

  20 b. Hukum Adat Kelahiran.........................................................

  21 c. Hukum Adat Perkawinan. .....................................................

  22 C. Perkawinan Adat Suku Dayak Tunjung ..........................................

  23 1. Latar Belakang Perkawinan Adat Suku Dayak Tunjung ..........

  24 2. Tujuan Perkawinan Adat Suku Dayak Tunjung .......................

  24 3. Sifat Perkawinan Adat Suku Dayak Tunjung ...........................

  25 4. Syarat-syarat Perkawinan Adat Suku Dayak Tunjung .............

  25 5. Prosedur Perkawinan Adat Suku Dayak Tunjung ....................

  27 a. Perkawinan atas Kemauan Sendiri (agak). ...........................

  27 b. Perkawinan atas Permintaan Orangtua. ................................

  28 D. Proses Upacara Perkawinan Adat Suku Dayak Tunjung ................

  28 1. Persiapan Upacara Adat Perkawinan ........................................

  28 2. Kegiatan Pada Pagi Hari Berikutnya ........................................

  29 a. Pembacaan Mantra dan Pemberkatan. ..................................

  30 b. Mempelai Masuk ke dalam Rumah. .....................................

  33 3. Nasehat Perkawinan ................................................................

  35 E. Simbol-simbol dalam Perkawinan Adat Suku Dayak Tunjung. ......

  36 F. Rangkuman ......................................................................................

  39 BAB III. AJARAN GEREJA TENTANG KESETIAAN DALAM PERKAWINAN KATOLIK ..................................................................

  41 A. Perkawinan katolik ............................................................................

  42

  2. Tujuan Perkawinan Katolik ......................................................

  45 3. Ciri-ciri Hakiki Perkawinan Katolik ........................................

  46 a. Unitas (kesatuan). .................................................................

  46 b. Indissolubilitas (tak-dapat-diputuskan). ...............................

  47 c. Sakramental. .........................................................................

  48 B. Landasan Biblis tentang Kesetiaan Perkawinan ..............................

  49 1. Yahwe Yang Setia kepada Bangsa Israel .................................

  49 2. Kristus Yang Setia kepada Gereja-Nya ....................................

  52 C. Kesetiaan Perkawinan dalam Magisterum ......................................

  54 1. Kesetiaan Perkawinan menurut Konsili Vatikan II ..................

  54

  2. Kesetiaan Perkawinan menurut Ensiklik Familiaris Consortio

  55 D. Beberapa Nilai Dasar Penggerak Kesetiaan dalam Perkawinan Katolik .............................................................................................

  57 1. Membina Keadilan dan Cinta Kasih.........................................

  57 2. Bijaksana dalam Keputusan dan Tindakan ...............................

  57 3. Kesabaran sebagai Buah Iman ..................................................

  58 4. Kesetiaan Seumur Hidup. .........................................................

  59 E. Rangkuman ......................................................................................

  59 BAB IV. PENELITIAN, HASIL PENELITIAN DAN USULAN ..................

  63 A. Penelitian .........................................................................................

  63 1. Latar Belakang..........................................................................

  63 2. Rumusan Masalah ....................................................................

  64 3. Tujuan Penelitian ......................................................................

  64 4. Jenis Penelitian .........................................................................

  65 5. Teknik Pengumpulan Data. ......................................................

  65 6. Tempat dan Waktu. ..................................................................

  66 a. Tempat. .................................................................................

  66 b. Waktu. ..................................................................................

  67 7. Responen. .................................................................................

  67

  9. Instrumen Penelitian. ................................................................

  68 B. Hasil Penelitian ................................................................................

  69 C. Rangkuman Hasil Penelitian dan Permasalahan yang Ditemukan ..

  83 D. Usulan Program ...............................................................................

  86 BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN ..........................................................

  90 A. Kesimpulan ......................................................................................

  90 B. Saran. ...............................................................................................

  93 1. Bagi Keuskupan dan Paroki. ....................................................

  93 2. Bagi Lembaga adat. ..................................................................

  93 3. Bagi Kampus. ...........................................................................

  94 DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................

  95 LAMPIRAN. ....................................................................................................

  97 Lampiran 1: Surat Permohonan Ijin Penelitian ...................................... (1) Lampiran 2: Pedoman Wawancara ......................................................... (2) Lampiran 3: Transkrip Hasil Penelitian .................................................. (3) Lampiran 4: Doa dan Mantra Perkawinan Adat ..................................... (10) Lampiran 5: Satuan Pendampingan Rekoleksi ....................................... (17) Lampiran 6: Teks Cerita ......................................................................... (28)

DAFTAR SINGKATAN A.

   Singkatan Kitab Suci

  Seluruh singkatan Kitab Suci dalam skripsi ini mengikuti Alkitab

  

Deuterokanonika (2005), Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia dan Lembaga

Biblika Indonesia.

  B. Singkatan Dokumen Resmi Gereja

  FC : Familiaris Consortio, Ensiklik Paus Yohanes Paulus tentang Peranan Keluarga Kristen dalam Dunia Modern, diterbitkan pada 22 November 1981.

  GS : Gaudium et Spes, Konstitusi Pastoral Konsili Vatikan II tentang Gereja di Dunia Dewasa Ini, diterbitkan pada 07 Desember 1965.

  KGK : Katekismus Gereja Katolik, Paus Yohanes Paulus II, diterbitkan lewat Konstitusi Apostolik Fidei Depositum, pada 11 Oktober 1992. KHK : Kitab Hukum Kanonik (Codex Iuris Canonici), dipromulgasikan oleh Paus Yohanes Paulus II pada 25 Januari 1983.

  LG : Lumen Gentium, Konstitusi Dogmatik Konsili Vatikan II tentang Gereja pada 21 November 1964.

  C. Singkatan Lain

  PAK : Pendidikan Agama Katolik USD : Universitas Sanata Dharma

  RPJMD : Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Bdk : Bandingkan Kan : Kanon KWI : Konferensi Waligereja Indonesia Lih : Lihat

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH Pengertian perkawinan menurut ajaran agama Katolik adalah “persekutuan

  hidup antara seorang pria dan seorang wanita yang terjadi karena persetujuan pribadi, yang tidak dapat ditarik kembali dan harus diarahkan kepada saling mencintai sebagai suami isteri dan kepada pembangunan keluarga, sehingga oleh karenanya menuntut kesetiaan yang sempurna dan tidak mungkin dibatalkan lagi oleh siapapun, kecuali oleh kematian. Sedangkan dalam Kitab Hukum Kanonik 1983, Kanon 1055 ditegaskan bahwa “perjanjian perkawinan, dengannya seorang laki-laki dan seorang perempuan membentuk antara mereka persekutuan seluruh hidup, yang menurut ciri kodratinya terarah pada kesejahteraan suami-istri serta kelahiran dan pendidikan anak, antara orang-orang yang dibaptis, oleh Kristus Tuhan diangkat ke martabat sakramen.

  Tujuan dan sifat dasar perkawinan adalah saling membahagiakan dan mencapai kesejahteraan suami-istri, di mana kedua pihak memiliki tanggung jawab dan memberi kontribusi mewujudkan kesejahteraan dan kebahagiaan. Selain itu, tujuan perkawinan terarah pada keturunan, karena kesatuan sebagai pasangan suami istri (pasutri) dianugerahi rahmat kesuburan untuk memperoleh buah cinta berupa keturunan yang akan menjadi mahkota perkawinan. Anak yang dipercayakan Tuhan harus dicintai, dirawat, dipelihara, dilindungi, dididik secara

  2 Kristus menjadi dasar perkawinan Katolik, sehingga yang menjadi dasar dalam membangun hidup berkeluarga adalah cinta Yesus Kristus kepada Gereja-Nya.

  Suami dan istri dipanggil untuk saling mencintai secara timbal balik, dan menyeluruh, saling memberi dan menerima yang diungkapkan dalam kasih nyata dalam kehidupan sehari-hari.

  Kesetiaan dalam perkawinan Katolik merupakan unsur penting dalam upaya mempertahankan keutuhan perkawinan. Dalam menjalani kehidupan rumah tangga acapkali terdapat beberapa masalah yang dapat mengganggu keharmonisan dalam keluarga. Meski demikian, kebahagiaan dalam perkawinan merupakan sesuatu yang seharusnya diusahakan terus menerus dalam perjalanan hidup bersama pasangan suami istri. Setiap pasangan suami istri memiliki cita-cita untuk membangun keluarga yang bahagia, secara lahir maupun batin. Namun faktanya, banyak pasutri berpendapat bahwa membentuk keluarga ideal yang mampu saling membahagiakan bukanlah perkara mudah. Berkenaan dengan hal itu, Gereja Katolik sangat prihatin dengan meningkatnya angka perceraian dan pernikahan kedua, juga perkawinan melalui catatan sipil, perkawinan adat, perkawinan sakramental tanpa iman dan penolakan moral seksual Kristiani.

  Fakta perceraian di masyarakat amat memprihatikan. Data jumlah perceraian yang terjadi di Pengadilan Negeri Kutai Barat pada tahun 2013 mencapai 16 kasus perceraian, padahal pada tahun 2014 hanya 8 kasus dan pada tahun 2015 dari Januari hingga pertengahan Mei tercatat 8 kasus perceraian.

  Penyebab utama gugatan cerai adalah perkawinan usia muda, tekanan sosial,

  3 Berkenaan dengan kasus perceraian tersebut, ironisnya ruang privasi suami istri yang sesungguhnya menjadi milik pribadi, justru dipertontonkan di hadapan publik. Bahkan hal itu dianggap sebagai suatu yang biasa dan sebagai gaya hidup modern. Maraknya tayangan di televisi dan publikasi di media cetak tentang kecenderungan perceraian dan juga perselingkuhan di kalangan selebritis, semakin menunjukkan bahwa lembaga perkawinan mengalami kemerosotan nilai.

  Makna perkawinan dalam kehidupam saat ini semakin mengalami degradasi nilai seiring dengan munculnya anggapan, bahwa perkawinan dengan satu pasangan untuk selama hidup terlalu sukar dilaksanakan, sehingga perceraian menjadi semacam alternatif apabila masa sukar dalam hidup bersama itu muncul.

  Menurut L.C. Wrenn, seorang hakim di Rota Romana (Pengadilan Tingkat Kepausan di Roma), berpendapat mayoritas orang yang menikah di negara-negara modern hampir semuanya mengakui kemungkinan perceraian sipil, mereka akan menikah namun akan melakukan perceraian apabila perkawinannya tidak bahagia (Wrenn, 1972:87).

  Fenomena perceraian hanyalah salah satu dari ragam masalah yang mengancam nilai-nilai luhur perkawinan dan dapat menyebabkan munculnya krisis dalam kehidupan rumah tangga. Maka kehidupan keluarga di zaman modern menghadapi tantangan yang lebih besar, yakni terjadinya kemerosotan nilai-nilai kehidupan keluarga, menipisnya suasana religius dalam keluarga, maraknya perselingkuhan, perceraian, dan hal-hal lain yang dapat mengancam keutuhan cinta dalam keluarga.

  4 Keluarga kristiani sesungguhnya juga sedang menghadapi fenomena universal ini, yaitu merosotnya nilai-nilai kesetiaan dalam perkawinan. Padahal sejatinya kesetiaan merupakan hal yang paling hakiki dalam relasi suami dan istri. Kesetiaan sesungguhnya mempunyai arti yang luas dan tidak terbatas hanya pada masalah seks dan cinta semata. Kesetiaan adalah suatu keputusan untuk tetap memegang komitmen dan tangggung jawab dalam membangun keutuhan perkawinan. Maka dalam keluarga kristiani, kesetiaan merupakan tolok ukur bagi keutuhan sebuah perkawinan.

  Fenomena kemerosotan nilai-nilai luhur perkawinan menunjukkan bahwa makna kesetiaan belum dihayati secara utuh dalam kehidupan keluarga-keluarga kristiani yang terancam keutuhannya. Maka kesadaran terhadap penghayatan mengenai nilai-nilai kesetiaan adalah mutlak perlu sebagai syarat bagi keutuhan ikatan perkawinan.

  Sistem perkawinan pada suku Dayak Tunjung di Kec. Linggang Bigung menggambarkan mengenai hakekat perkawinan yang diungkapkan melalui berbagai simbol material yang digunakan dalam tatacara perkawinan adat. Perlengkapan perkawinan adat, diantaranya adalah mandau sebagai lambang keteguhan hati kedua mempelai; gong untuk tempat duduk kedua mempelai yang melambangkan kesatuan cinta tak terpisahkan; piring putih sebagai lambang kesucian cinta; dan seperangkat pakaian sebagai lambang pengikat janji setia dalam untung dan malang. Selain itu, dalam tatacara perkawinan Dayak Tunjung juga disertai dengan ritual untuk memohon restu kepada Sang Pencipta, para

  5 disampaikan oleh para tetua sebagai bekal kehidupan bagi kedua mempelai yang selanjutnya diakhiri dengan perjamuan makan sebagai lambang ucapan syukur.

  Namun simbol-simbol yang terdapat dalam perkawinan adat suku Dayak Tunjung, acapkali hanya dipahami secara artifisial dan bersifat seremonial semata sehingga tidak dihayati dalam kehidupan sehari-hari. Padahal sesungguhnya simbol-simbol yang terdapat dalam perkawinan adat Dayak Tunjung memiliki korelasi dengan makna simbol dalam perkawinan menurut ajaran Gereja Katolik, terutama berkaitan dengan nilai-nilai kesetiaan dalam kehidupan berkeluarga.

  Menurut ajaran Gereja Katolik dan perkawinan adat Dayak Tunjung, nilai- nilai kesetiaan amat penting dalam kehidupan berkeluarga, untuk itu Penulis memilih tema kesetiaan dalam pembahasan skripsi ini ditinjau dari simbol-simbol perkawinan adat suku Dayak Tunjung. Maka dalam skripsi ini, Penulis akan memfokuskan pembahasan tema kesetiaan dengan menggali simbol-simbol perkawinan adat suku Dayak Tunjung di Kec. Linggang Bigung, Kab. Kutai Barat, Kalimantan Timur dalam upaya untuk menghayati nilai kesetiaan dalam perkawinan Katolik.

B. RUMUSAN PERMASALAHAN

  Perubahan dan perkembangan di bidang relasi internal keluarga, sosial, ekonomi, beda iman/agama, dan budaya menjadi faktor yang mempengaruhi

  6 bahwa pemahaman umat tentang nilai-nilai perkawinan kristiani masih kurang atau dangkal. Dalam usaha untuk mencari solusi atas problem-problem di atas, penulis berhadapan dengan beberapa persoalan dasar, yaitu:

  1. Apa saja simbol-simbol yang ada di dalam kehidupan suku Dayak Tunjung? 2.

  Bagaimana praksis perkawinan yang terjadi di dalam kehidupan masyarakat suku Dayak Tunjung?

  3. Bagaimana kondisi keluarga Katolik suku Dayak Tunjung? 4.

  Apa makna simbol-simbol dalam perkawinan adat suku Dayak Tunjung terhadap kesetiaan dalam hidup berkeluarga?

C. TUJUAN PENULISAN

  Tujuan dari penulisan ini untuk memberikan masukan kepada para pendamping keluarga-keluarga Katolik agar dapat membantu keluarga-keluarga itu untuk: 1.

  Mengetahui aneka simbol dalam perkawinan adat suku Dayak Tunjung.

  2. Mengetahui sejauh mana pemahaman umat tentang simbol-simbol perkawinan adat suku Dayak Tunjung.

  3. Mengetahui permasalahan hidup perkawinan suku Dayak Tunjung sehubungan dengan kesetiaan.

  7 4.

  Mengetahui relevansi makna simbol-simbol perkawinan adat suku Dayak Tunjung dengan nilai kesetiaan dalam perkawinan Katolik.

D. MANFAAT PENULISAN 1.

  Bagi katekis, menjadi pengetahuan dan masukan baru untuk menggali nilai- nilai perkawinan dalam simbol-simbol perkawinan adat suku Dayak Tunjung sehingga ketika kursus persiapan perkawinan hal-hal ini lebih dihayati oleh calon pasutri.

  2. Menjadi masukan untuk gereja-gereja paroki dan katekis paroki di Kabupaten Kutai Barat.

  3. Menjadi masukan untuk keluarga Katolik supaya lebih menghayati kesetiaan dalam perkawinan.

E. METODE PENULISAN

  Penulisan skripsi ini menggunakan metode deskriptif analitis. Melalui metode ini penulis menggambarkan permasalahan dan menganalisis data yang diperoleh melalui wawancara di lapangan dan studi pustaka dari buku-buku yang menunjang dalam penulisan.

  Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami

  8 holistik, dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah (Moleong, 2014: 6).

F. SISTEMATIKA PENULISAN

Bab I : Pendahuluan Bab ini berisi latar belakang masalah, rumusan masalah, dan

  tujuan penulisan yang mendasari penulis menulis skripsi ini, serta metode penulisan yang digunakan dalam menyelesaikan skripsi ini dan sistematika yang tersusun.

  Bab II : Simbol-simbol perkawinan adat suku Dayak Tunjung Bab ini berisi gambaran umum masyarakat dayak, mengenal

  perkawinan adat, proses upacara perkawinan adat dan simbol- simbol dalam perkawinan adat Dayak Tunjung

  Bab III : Ajaran Gereja tentang Kesetiaan dalam perkawinan Bab ini berisi penjelasan mengenai perkawinan katolik, kesetiaan

  sebagai konsekuensi logis dari hakikat perkawinan katolik dan landasan biblis tentang kesetiaan suami istri. Dalam bab ini juga penulis masuk kedalam penelitian lapangan.

  9 Dalam bab ini penulis masuk kedalam pemaparan mengenai simbol-simbol yang masih relevan dan sesuai dengan ajaran Gereja.

Bab V : Penutup Dalam bab ini penulis membuat kesimpulan berdasarkan seluruh

  pembahasan tentang menggali simbol-simbol perkawinan adat suku Dayak Tunjung sebagai ungkapan nilai kesetiaan dalam perkawinan kristani, serta beberapa saran praktis untuk menghayati nilai kesetiaan tersebut.

BAB II SIMBOL PERKAWINAN ADAT SUKU DAYAK TUNJUNG Tradisi perkawinan adat suku Dayak Tunjung merupakan salah satu wujud

  kearifan lokal yang diwariskan secara turun temurun. Kearifan lokal dalam bahasa asing sering dikonsepsikan sebagai kebijakan setempat (local wisdom), pengetahuan setempat (local knowledge) dan kecerdasan setempat (local genious). Kearifan lokal juga dapat dimaknai sebuah pemikiran tentang hidup yang dilandasi nalar jernih, budi yang baik, dan memuat hal-hal positif. Maka kearifan lokal dapat diterjemahkan sebagai karya akal budi, perasaan mendalam, tabiat, bentuk perangai, dan anjuran untuk kemuliaan manusia.

  Menurut Rahyono (2009:7) kearifan lokal merupakan kecerdasan manusia yang dimiliki kelompok etnis tertentu yang diperoleh melalui pengalaman hidup.

  Maka kearifan lokal adalah hasil dari masyarakat tertentu melalui pengalaman mereka dan belum tentu dialami oleh masyarakat yang lain. Nilai-nilai tersebut akan melekat sangat kuat pada masyarakat tertentu dan nilai itu sudah melalui perjalanan waktu yang panjang, sepanjang keberadaan masyarakat tersebut.

  Berkenaan dengan praktik kearifan lokal, penulis akan memaparkan salah satu kekayaan budaya dan adat istiadat yang dimiliki suku Dayak. Komunitas suku Dayak di Kalimantan terbagi dalam beberapa komunitas, maka Penulis akan membawas kearifan lokal dalam sistem perkawinan duku Dayak Tunjung di

A. Masyarakat Dayak secara Umum

  Suku Dayak di Kalimantan (Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam), ditengarai sekitar 7 juta jiwa. Situasi geografis dan demografis mengakibatkan mereka terisolasi dan “tercerai-berai”. Meski semula mereka merupakan satu rumpun, namun setelah proses kehidupan berlangsung ribuan tahun mereka seolah tak mempunyai relasi satu sama lain. Itulah sebabnya, suku Dayak menjadi semacam “mozaik kultural” meski masih terdapat raut dasar yang menunjukkan identitas kesemulaan.

1. Asal-usul Suku Dayak

  Pribumi Kalimantan adalah imigran dari Yunan, Cina Selatan. Dalam pelbagai literatur, terdapat keragaman penyebutan, yakni Daya`, Dyak, Daya, dan Dayak. Padahal semula mereka menyebutnya dalam konteks lokalitas seperti Benuaq, Kenyah, Punan, Bahau, Aoheng, Lun Daye, Kenayatn, Ngaju, Lewangan, Ma’anyan dan lainnya, suatu penyebutan etnisitas berdasarkan stammenras atau tempat tinggal dari masing-masing komunitas.

  Istilah Dayak sesungguhnya merupakan identitas kolektif untuk berbagai pribumi Kalimantan yang tidak memeluk agama Islam. Namun dari berbagai penelitian, terutama Ave dan King serta Sellato terungkap, mayoritas orang Melayu di Kalimantan adalah keturunan Dayak yang kemudian memeluk agama Islam (Roedy Haryo Widjono, 2016: 6).

  Pribumi Kalimantan berasal dari kelompok-kelompok yang bermigrasi Sebelum Masehi. Para imigran yang terdiri dari kelompok kecil mengembara ke Tumasik dan Semenanjung Melayu sebagai batu loncatan ke pulau-pulau di Nusantara. Sedangkan kelompok lain memilih "pintu masuk" melalui Hainan, Taiwan, dan Filipina. Maka suku Murut dan Lun Daye di wilayah Kalimantan Utara diduga pernah bermukim di Filipina dan sebagai buktinya, mereka menguasai sistem pertanian sedenter yang tidak dikenal oleh suku-suku lainnya (Roedy Haryo Widjono, 2016:7) .

  Para migran "gelombang pertama" yang memasuki Kalimantan adalah kelompok Negrid dan Weddid dan lazim disebut Proto Melayu. Sedangkan migran "gelombang kedua" dalam jumlah lebih besar disebut Deutro Melayu, yang kemudian menghuni wilayah pesisir Kalimantan dan dikenal sebagai suku Melayu. Kelompok Proto Melayu dan Deutro Melayu sejatinya bermula dari negeri yang sama. Perbedaan yang ada merupakan akibat dari akulturasi kedua belah pihak dan etnik lain di Nusantara selain dipengaruhi oleh agama. Maka kemudian muncul istilah Dayak dan Haloq yakni sebutan untuk suku lain yang beragama Islam dan merupakan penegasan istilah bermakna sosio-religius.

2. Klasifikasi Suku Dayak

  Dalam pikiran orang awam, suku Dayak hanya ada satu. Padahal sebenarnya mereka terbagi ke dalam banyak sub-sub suku. J.U. Lontaan, dikutip dalam Madrah (2001: 2) terdapat sekitar 405 sub suku Dayak yang memiliki kesamaan sosiologi kemasyarakatan namun berbeda dalam adat-istiadat, budaya masyarakat Dayak menjadi kelompok-kelompok kecil dengan pengaruh masuknya kebudayaan luar.

  Dalam pembahasan ini penulis hanya akan menyebutkan beberapa sub suku dan tidak menjelaskan semua karena bukan fokus penulis menyebutkan semua sub suku yang ada di Provinsi Kalimantan Timur. Klasifikasi sub suku tersebut antara lain sebagai berikut:

  a. Suku Dayak Benuaq

  Dayak Benuaq adalah Suku Dayak dari Kutai Barat (Kalimantan Timur). Berdasarkan pendapat beberapa ahli, Suku Dayak Benuaq dipercaya berasal dari Dayak Lawangan sub Suku Ot Danum dari Kalimantan Tengah (Madrah, 2001:2). Benuaq sendiri berasal dari kata

  Benua yang dalam arti luasnya adalah suatu wilayah atau daerah teritori tertentu.

  Menurut leluhur orang Benuaq dan berdasarkan dialek bahasa

  Benuaq, diyakini bahwa orang Benuaq justru tidak berasal dari

  Kalimantan Tengah, kecuali dari kelompok Seniang Jatu (dewa-dewi yang turun ke bumi). Masing-masing mempunyai cerita/sejarah bahwa leluhur keberadaan mereka di bumi langsung di tempat mereka sekarang dan tidak bermigrasi seperti yang dikatakan para ahli.

  b. Suku Dayak Kenyah

  Suku Kenyah adalah Suku Dayak yang termasuk rumpun Kenyah- Kayan-Bahau yang berasal dari dataran tinggi Usun Apau, daerah Baram, beberapa sub suku yaitu Kenyah Bakung, Kenyah Lepok Bam, Kenyah Lepok Jalan, Kenyah Lepok Tau, Kenyah Lepok Tepu, Kenyah Lepok Ke, Kenyah Umag Tukung dan lainnya.

  Dalam Suku Dayak Kenyah terdapat beberapa aktifitas adat yang berkaitan dengan lingkaran kehidupan dan menjadi suatu hal yang mutlak dan wajib untuk dikerjakan setiap Suku Dayak Kenyah, walaupun dewasa ini sudah mulai banyak pergeseran-pergeseran yang terjadi. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor terutama sangat dipengaruhi oleh faktor dari luar seperti terjadi proses akulturasi budaya atau pergeseran karena pengaruh nilai-nilai keyakinan yang dianut (Lahajir, 2013:397).

c. Suku Dayak Aoheng

  Suku Dayak Aoheng/Penihing merupakan 2% dari penduduk Kabupaten Kutai Barat. Data ini penulis dapat dari Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Tahun 2011-2016. Suku Dayak Aoheng sebagian besar mendiami wilayah Mahakam Ulu.

  Berkenaan dengan sejarah perpindahan atau pengembaraan Suku Dayak Aoheng cukup panjang. Perpindahan suku Dayak Aoheng dimulai sebelum tahun 1700 dari Apo Kayan dan menetap di Kalimantan Barat di tepi sungai Penihing (Lahajir, 2013:364). Maka dari itu selain Dayak Aoheng yang berarti Kapuas suku Dayak ini juga dikenal dengan nama suku Dayak Penihing karena tinggal di tepi sungai Penihing. Sebutan nama Aoheng diperkuat dengan adanya peta yang dibuat oleh Pegawai Koheng. Kemudian bagaimana nama Koheng bisa menjadi Aoheng atau Oheng? Tidak ada data mengenai hal itu.

  Setelah pindah daerah dan menetap di daerah paling Ulu/muara dari sungai Mahakam suku Dayak Aoheng mengalami banyak perubahan.

  Perjalanan mereka menuju ke ulu sungai Mahakam berbeda dengan sub- suku lain. Ditambah lagi karena wilayah tempat mereka tinggal sangat terisolir, maka sub suku ini semakin muncul sebagai suku tersendiri. Tujuan utama dari perpindahan atau pengembaraan mereka adalah mencari tanah ladang yang lebih baik dan lebih luas.

d. Suku Dayak Bahau

  Suku Dayak Bahau merupakan salah satu komunitas sub-suku Dayak yang besar di Kalimantan Timur. Populasi suku Dayak Bahau kurang lebih 9% berdasarkan data yang penulis dapat dari Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Kutai Barat pada Tahun 2011-2016.

  Warga Dayak Bahau umumnya berdiam di daerah hulu sungai Mahakam. Selain mendiami tepian sungai Mahakam, sebagian orang Dayak Bahau bermukim di kampung Matalibaq atau Uma Telivaq, di tepi sungai Pariq (anak sungai Mahakam). Dari penuturan lisan, orang Dayak Bahau di Uma Telivaq berasal dari Apo Kayan. Mereka pindah karena kawasan Apo Kayan tidak subur. Kini Apo Kayan dihuni oleh suku Dayak Kenyah, Kabupaten Bulungan di hulu sungai Kayan yang berbatasan

e. Suku Dayak Tunjung / Tonyooi

  Tidak ada data tertulis mengenai sejarah dan asal usul suku Dayak Tunjung. Kita dapat mengetahui asal usul mereka hanya dari cerita-cerita rakyat dari orang tua. Dalam RPJMD suku Dayak Tunjung adalah suku yang menduduki posisi pertama dalam persentase penduduk berdasarkan suku yaitu mencapai 25%.

B. Suku Dayak Tunjung

  Pada bagian ini penulis akan menjelaskan secara terperinci mengenai suku Dayak Tunjung mulai dari asal-usul, keadaan geografis sampai pada jenis-jenis hukum adat dalam masyarakat suku Dayak Tunjung.

1. Asal-usul Suku Dayak Tunjung

  Seperti dalam penjelasan penulis di atas bahwa tidak ada data tertulis mengenai asal-usul suku Dayak Tunjung. Kita dapat mengetahui asal-usul mereka hanya dari cerita-cerita orang tua (Depdikbud, 1977:18). Menurut Dr. J. Mallinckrodt, menyimpulkan dari penelitiannya bahwa suku Dayak yang ada di Kalimantan Timur, khususnya suku Dayak Tunjung dan Benuaq termasuk dalam suku Lawangan yang berasal dari Kalimantan Tengah (Madrah, 2001:2).

  Pola pemukiman suku Dayak Tunjung terkonsentrasi pada rumah panjang (Luq) yang sekaligus menjadi pusat budaya, pusat ekonomi, dan pusat pertahanan pada jaman itu. Namun, sekarang rumah panjang hanya dipakai untuk acara adat

  Nama asli suku Dayak Tunjung adalah Tonyooi. Sedangkan kata Tunjung sendiri dalam bahasa Dayak Tunjung adalah “mudik” atau menuju arah hulu sungai. Berdasarkan cerita yang secara turun temurun diceritakan bahwa pada suatu hari seorang Tonyooi mudik dan bertemu dengan orang Haloq (sebutan Suku Dayak kepada seseorang yang bukan Dayak dan beragama Islam). Haloq tersebut bertanya kepada orang Tonyooi : Ingin pergi kemana? Kemudian Tonyooi menjawab “Tuncukng”, yang artinya mudik. Orang Haloq lalu terbiasa melihat orang yang seperti ditanyainya tadi disebut “Tunjung” dan hingga sekarang nama tersebut masih dipergunakan.

2. Keadaan Geografis

  Berdasarkan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah tahun 2011-2016 Kabupaten Kutai Barat dengan Ibukota Sendawar merupakan pemekaran dari wilayah Kabupaten Kutai yang telah ditetapkan berdasarkan UU.

  Nomor 47 Tahun 1999. Secara simbolis kabupaten ini telah diresmikan oleh Menteri Dalam Negeri R.I. pada tanggal 12 Oktober 1999 di Jakarta dan secara operasional diresmikan oleh Gubernur Kalimantan Timur pada tanggal 05

  2 Nopember 1999 di Sendawar. Luas Wilayah Kutai Barat sekitar 31.628,70 km atau 15% dari luas Provinsi Kalimantan Timur dan berpenduduk 165.934 jiwa.

  Secara Geografis Kabupaten Kutai Barat terletak antara 113º 48’49’’ sampai dengan 116º

  32’43’’ Bujur Timur serta diantara 1º31’05’’ Lintang Utara dan 1º Wilayah Kabupaten Kutai Barat berbatasan 09’33’’ Lintang Selatan. Timur) di sebelah Utara, di sebelah Timur,

  Kabupaten Kutai Barat terbagi menjadi 21 Kecamatan dan 238 Desa. Kecamatan yang terdapat di Kabupaten Kutai Barat meliputi Kecamatan Bongan, Kecamatan Jempang, Kecamatan Siluq Ngurai, Kecamatan Bentian Besar, Kecamatan Penyinggahan, Kecamatan Muara Pahu, Kecamatan Muara Lawa, Kecamatan Damai, Kecamatan Barong Tongkok, Kecamatan Nyuatan, Kecamatan Mook Manor Bulatn, Kecamatan Sekolaq Darat, Kecamatan Melak, Kecamatan Linggang Bigung, Kecamatan Long Iram dan Kecamatan Tering.

  Berdasarkan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2013, Kabupaten Kutai Barat dimekarkan dengan dibentuknya

  Letak desa-desa di wilayah Kabupaten Kutai Barat pada umumnya berada di daerah tepian sungai (119 desa), di daerah dataran (86 desa) dan di lereng bukit (18 desa). Mayoritas Penduduk Kabupaten Kutai Barat adalah masyarakat adat yang terdiri dari bermacam sukhasa, adat-istiadat serta budaya.

3. Peranan Adat Dalam Kehidupan Suku Dayak Tunjung

  Hukum adat merupakan nilai-nilai yang hidup dan berkembang di dalam masyarakat suatu daerah. Walaupun sebagian besar hukum adat tidak tertulis, namun ia mempunyai daya ikat yang kuat dalam masyarakat (Wijayanto, keputusan) mengungkapkan bahwa hukum adat mencakup seluruh peraturan- peraturan yang menjelma didalam keputusan-keputusan para pejabat hukum yang mempunyai kewibawaan dan pengaruh, serta didalam pelaksanaannya berlaku secara serta merta dan dipatuhi dengan sepenuh hati oleh mereka yang diatur oleh keputusan tersebut. Keputusan tersebut dapat berupa sebuah persengketaan, akan tetapi juga diambil berdasarkan musyawarah.

  Dalam masyarakat suku Dayak Tunjung, hukum adat dipahami sebagai suatu norma, kaidah, ketentuan, dan kebiasaan dalam masyarakat secara turun temurun (Madrah, 2001:14). Dalam masyarakat Dayak Tunjung lebih dikenal dengan kata sukat yang berarti hukum. Kata sukat menggambarkan bahwa dalam mengambil keputusan yang berkaitan dengan adat, seorang tetua adat (mantiiq) memiliki pertimbangan, ukuran, ketentuan serta kebijakan tertentu sehingga masyarakat benar-benar mendapat kepastian dan perlindungan hukum.

  Hukum adat suku Dayak Tunjung sebagai bagian dari kearifan lokal, realitanya saat ini kurang diminati oleh generasi muda karena dianggap sudah tidak relevan dengan perkembangan zaman. Maka dalam perkembangan situasi saat ini, telah terjadi proses penyesuaikan nilai-nilai hukum adat dengan perkembangan zaman.

4. Kategori Hukum Adat Dalam Masyarakat Suku Dayak Tunjung

  Hukum Adat adalah wujud gagasan kebudayaan yang terdiri dari nilai- nilai budaya, norma, hukum, dan aturan-aturan yang satu dengan lainnya Dalam kehidupan masyarakat suku Dayak Tunjung terdapat berbagai kategori hukum adat yang bersumber dari tradisi warisan leluhur.

a. Hukum Adat Pertanahan dan Tanam Tumbuh

  Hukum adat pertanahan dan tanam tumbuh memiliki peranan yang penting bagi masyarakat suku Dayak Tunjung, terutama berkaitan dengan tradisi perladangan (Madrah, 2001:43). Pada masa lalu, batas antara desa hanya ditentukan atas dasar kesepakatan antara tetua adat yang bertetangga, tanpa peta desa dan dokumen tertulis sebagai bukti legalitas kepemilikan. Sedangkan batas desa, lazimnya menggunakan tanda alam, misalnya sungai, danau, dan pohon tanyut, yakni pohon yang biasanya dihinggapi lebah madu.

  Pada dasarnya, wilayah suatu desa dinamakan tanah adat, yang diklasifikasi berdasarkan kepemilikian desa, pribadi, dan kepemilikan keluarga.

  Tanah adat milik desa merupakan bagian dari kawasan suatu desa dan status kepemilikannya adalah milik bersama semua warga desa yang pengelolaannya diatur oleh tetua adat setempat (Madrah, 2001:44). Sedangkan tanah adat milik pribadi didapat dengan cara meminta kepada tetua adat atau pemilik pertama (Madrah, 2001:53).

  Tetua adat Dayak Tunjung niscaya mengetahui dengan pasti silsilah kepemilikan tanah serta kawasan hutan di desanya. Bahkan seorang tetua adat tidak cukup hanya menguasai hukum adat, tetapi juga harus sepenuhnya menguasai riwayat asal usul (asaar usuur) kepemilikan tanah adat dan kawasan seorang tetua adat dalam menyelesaikan perselisihan yang timbul berkaitan dengan kepemilikan tanah.

  Seorang tetua adat tidak akan mempersulit proses pemberian tanah untuk warganya, baik tanah untuk perladangan maupun hutan bebas. Luas tanah yang diberikan sesuai dengan perjanjian yang sudah disepakati antara warga yang meminta dengan tetua adat. Pengelolaan tanah untuk perladangan maupun untuk keperluan lainnya, harus senantiasa merujuk pada aturan hukum adat yang berlaku.

  Sedangkan tanah adat milik keluarga dalam istilah Dayak Tunjung disebut

  

tana talutn. Tanah milik keluarga biasanya berawal dari tanah milik pribadi yang

  diwariskan oleh pemiliknya kepada anak cucunya atau generasi penerusnya sehingga tanah itu menjadi milik keluarga besar, sedangkan pengaturan pengelolaannya diatur oleh tetua dalam keluarga berdasarkan ketentuan hukum adat yang berlaku (Madrah, 2001:53).

b. Hukum Adat Kelahiran

  Proses perkembangan kehamilan dan kelahiran, senantiasa mendapat perhatian istimewa dalam tradisi masyarakat Dayak Tunjung, terutama kerena hal ini diniscayai sebagai anugerah bagi pasangan suami-istri yang telah lama menantikan kehadiran sang anak. Hal itu tercermin dalam berbagai upaya yang ditempuh agar kelahiran berjalan dengan lancar, antara lain dengan cara ngerasiq- ngeradak yang berarti pemeliharaan kesehatan dan keselamatan ibu hamil serta

  Tradisi ngerasiq-ngeradak secara simbolis dilakukan melalui ritual adat yang bertujuan agar sang ibu tetap sehat sehingga bayi lahir dalam kondisi yang sehat pula. Jika dikaitkan dalam perspektif medis, ritual ini seperti pemberian imunisasi pada saat ibu hamil. Selain pemeliharaan kesehatan, suami dan istri wajib berpantang (merikng) selama masa kehamilan. Salah satu pantangan yang dilakukan oleh istri adalah tidak boleh melilitkan kain (handuk, sarung, baju, dll) pada bahu atau leher agar tali pusar bayi tidak membentuk lingkaran sehingga mempersulit proses persalinan (Madrah, 2001:58).

  Sedangkan pantangan bagi suami lebih berat dibandingkan pantang sang istri. Salah satu pantangannya adalah tidak boleh memasang paku supaya dalam proses persalinan sang istri dapat melahirkan dengan selamat dan tidak ada hambatan. Selain pantangan, juga dipergunakan benda bertuah dan pembacaan mantra yang dilakukan secara rutin untuk menjauhkan pengaruh roh-roh jahat.

c. Hukum Adat Perkawinan

  Menurut hikayat yang diwariskan secara turun temurun

  (tempu’utn) tradisi

  perkawinan sejatinya merupakan warisan dari tatacara perkawinan dewa Imang Mangkalayakng dengan Bawe Lolakng Kindrakng di negeri Batuq Dingdingkik.

  Sebelum perkawinan dilaksanakan, calon mempelai harus memenuhi beberapa persyaratan, dimana persyaratan itu akan menjadi rujukan pertimbangan bagi orangtua untuk menentukan calon menantu. Persyaratan bagi seorang lelaki, harus mampu membuat darew (kipas), uluk ekeq (sarung parang), nempoyat wase perempuan harus dapat menumbuk padi, memelihara ternak dan tidak memiliki sifat jaukng jongok, yaitu berlama-lama bila mandi atau mencuci di tepian sungai.

  Apabila seseorang hendak melangsungkan perkawinannya, maka ia bersama keluarga (ayah/ibu) menyiapkan segala sesuatu agar perkawinan tersebut sesuai dengan ketentuan aturan adat. Secara umum perkawinan adat yang diperbolehkan dalam lingkup internal suku Dayak Tunjung adalah perkawinan antara orang-orang seangkatan. Adapun yang dimaksud saudara seangkatan adalah antara saudara sepupu sederajat pertama, saudara sepupu sederajat ketiga dan seterusnya (Depdikbud, 1977:123). Dalam pembahasan selanjut penulis akan menjelaskan secara terperinci mengenai perkawinan adat suku Dayak Tunjung.

C. Perkawinan Adat Suku Dayak Tunjung

  Menurut hukum adat, perkawinan bukan saja berarti sebagai perikatan perdata tetapi juga merupakan “perikatan adat” dan sekaligus merupakan perikatan kekerabatan dan kekeluargaan. Maka terjadinya suatu ikatan perkawinan bukan semata-mata membawa akibat terhadap hubungan keperdataan, seperti hak dan kewajiban suami isteri, harta bersama kedudukan anak, hak dan kewajiban orangtua, tetapi juga menyangkut hubungan adat istiadat, kewarisan kekeluargaan, kekerabatan dan menyangkut upacara-upacara adat (Imam Sudiyati: 1991:17).

  Dalam perkawinan adat suku Dayak Tunjung, terdapat beberapa aturan hukum adat yang sangat ketat (Pamung, 2003:4). Bahkan terdapat beberapa kriteria persyaratan yang harus dipenuhi oleh kedua belah pihak. Kriteria tersebut lazimnya dipergunakan sebagai rujukan pertimbangan untuk menetapkan calon menantu sesuai nilai-nilai luhur perkawinan adat.

  1. Latar Belakang Perkawinan Adat Suku Dayak Tunjung

  Pada zaman dulu sebelum adanya pendatang di Kabupaten Kutai barat, lazimnya perkawinan yang berlangsung diantara masyarakat Dayak Tunjung hanya sebatas purus atau yang masih memiliki hubungan keluarga. Namun dalam perkembangannya, perkawinan adat suku Dayak Tunjung pun mengalami transformasi (perubahan). Perkawinan adat dapat terjadi secara endogam dan eksogam (Lahajir, 2013:27). Perkawinan endogam adalah perkawinan antara satu suku yang bertujuan mempererat hubungan keluarga. Sedangkan perkawinan eksogam adalah perkawinan dengan etnis atau suku yang berbeda (Madrah, 2001:62).

  2. Tujuan Perkawinan Adat Suku Dayak Tunjung

  Tujuan perkawinan adat suku Dayak Tunjung, secara umum mengandung unsur untuk mendapatkan keturunan dan mendapatkan tenaga kerja tambahan dalam keluarga. Sedangkan secara khusus bertujuan untuk memelihara hubungan baik dengan keluarga yang sudah jauh serta memelihara harta warisan agar tetap berada dalam lingkungan keluarga (Pamung, 2001:2). Namun hal tersebut berlaku bila kedua belah pihak masih seketurunan (satu suku), dalam konteks ini diistilahkan dengan perkawinan endogam.

  Sedangkan dalam konteks perkawinan eksogam, menurut Coomans (1987) memperluas kekeluargaan sehingga terjalin hubungan kekerabatan dengan suku atau desa lain (Pamung, 2001: 2).

  3. Sifat Perkawinan Adat Suku Dayak Tunjung Pada dasarnya sifat perkawinan suku Dayak Tunjung adalah monogami.

  Prinsip perkawinan monogami dipegang teguh oleh para Kepala Adat dan diberlakukan sebagai salah satu unsur hukum adat perkawinan suku Dayak Tunjung. Prinsip monogami sebagai aturan hukum adat diperkuat dengan unsur hakiki perkawinan yang tak terceraikan. Hal itu dinyatakan dalam ragam simbol yang dipergunakan pada upacara adat perkawinan (Pamung, 2010:46)

  Kelanggengan perkawinan merupakan nilai luhur dalam kehidupan berkeluarga, namun dalam adat hal itu tidak dipandang sebagai suatu prinsip.

  Dalam praktiknya sering terjadi kasus perceraian, terutama jika memang ditemui hal-hal berat yang mengancam keutuhan hidup berkeluarga, seperti perzinahan, kekerasan dalam rumah tangga dan sebagainya. Namun, perceraian tersebut harus melalui proses penyelesaian secara adat yang selalu diawali dengan proses musyawarah untuk mengupayakan tidak terjadinya perceraian.

  4. Syarat-syarat Perkawinan Suku Dayak Tunjung

  Persyaratan perkawinan adat suku Dayak Tunjung pada zaman dahulu sangatlah ketat, terutama berkaitan dengan beberapa kriteria yang harus dipenuhi oleh kedua calon mempelai (Pamung, 2001:4). Namun dalam perkembangannya persyaratan tersebut telah disesuaikan dengan kondisi saat ini.

  Persyaratan bagi pria adalah dapat membuat tangkai dan sarung parang, berangka, dapat membuat ladang, dan cekatan membantu pekerjaan orangtua.

  Selain itu harus harus berani berburu sendiri dan mencari madu. Namun pada zaman sekarang, persyaratan minimal harus sudah mempunyai pekerjaan dan tidak tergantung pada orangtua. Sedangkan persyaratan bagi wanita dari zaman dahulu hingga sekarang masih sama, yaitu minimal dapat melakukan tugas rumah tangga, seperti pekerjaan di dapur, dapat menumbuk padi dan dapat membuat barang anyaman.

  Persyaratan lain yang menjadi pertimbangan adalah mengenai garis keturunan, yakni kedua calon mempelai tidak boleh memiliki pertalian darah secara vertikal (kakek, nenek, bapak, ibu, paman, bibi, keponakan), karena hal itu dianggap sebagai perkawinan dengan garis keturunan sumbang. Menurut kepercayaan masyarakat Dayak Tunjung perkawinan semacam itu akan membuahkan keturunan yang cacat mental-fisik dan dapat menyebabkan terjadinya malapetaka (kiliit) dalam keluarga.

  Hubungan sumbang (Inggris: incest) adalah hubungan saling mencintai yang bersifat seksual yang dilakukan oleh pasangan yang memiliki ikatan kekerabatan yang dekat, biasanya antara ayah dengan anak perempuannya, ibu dengan anak laki-lakinya, atau antar sesama saudara kandung atau saudara tiri.

  Pengertian istilah ini lebih bersifat sosio antropologis daripada biologis meskipun sebagian penjelasannya bersifat biologis.

  Hubungan sumbang secara medis berpotensi tinggi menghasilkan keturunan yang secara biologis lemah, baik fisik maupun mental (cacat), atau bahkan letal (mematikan). Fenomena ini juga umum dikenal dalam dunia hewan dan tumbuhan karena meningkatnya koefisien kerabat pada anak-anaknya.

  Akumulasi gen-gen pembawa 'sifat lemah' dari kedua orangtua pada satu individu (anak) terekspresikan karena genotipe-nya berada dalam kondisi homozigot.

5. Prosedur Perkawinan Suku Dayak Tunjung

  Dalam pembahasan sebelumnya telah dijelaskan bagaimana terjadinya perkawinan adat menurut suku Dayak Tunjung, pada bagian ini diuraikan mengenai prosedur perkawinan pada suku Dayak Tunjung.

a. Perkawinan atas Kemauan Sendiri (agak)

  Perkawinan seperti ini berdasarkan kemauan dari pria dan wanita dengan tanpa paksaan dari pihak keluarga. Pada zaman dahulu masih terdapat perkawinan atas dasar perjodohan yang dipaksakan oleh pihak orangtua dengan alasan tertentu (Pamung, 2010:47).

  Ketika sudah menemukan pasangan yang cocok, pihak pria membuat acara lamaran kepada pihak orangtua wanita. Lamaran dilaksanakan dengan cara mengirim utusan atau langusng mendatangi pihak keluarga wanita dengan membawa barang adat sebagai tanda bukti lamaran, berupa mandau, mangkuk putih, pirih putih dan seperangkat pakaian pria dan wanita.

  Bila lamaran diterima, maka pihak yang menerima juga memberikan tatacara lamaran selesai dilaksanakan, selanjutnya diadakan musyawarah (berinuk) keluarga untuk menentukan waktu dan persiapan pelaksanaan perkawinan adat (pelulukng).

b. Perkawinan atas Permintaan Orangtua (atooh)

  Perkawinan ini terjadi karena kemauan dari orangtua, bisa dari orangtua pria maupun wanita. Dalam tradisi masyarakat Dayak Tunjung pria dan wanita mempunyai hak yang sama untuk melamar dan dilamar. Sedangkan tatacaranya dan barang adat yang dipergunakan, sama dengan prosedur perkawinan berdasarkan kemauan sendiri.

  Ketika terjadi penolakan, maka pihak yang menolak harus memberi tanda penolakan yang disebut awitn, yang nilainya dua kali lipat barang adat yang dipergunakan sebagai persyaratan melamar (Pamung, 2010:50). Misalnya ketika pelamar membawa tanda dan persyaratan seperti parang satu buah, pakaian, dan piring putih maka pihak yang menolak harus memberi penolakan dalam bentuk yang serupa yang nilainya dua kali lipat dari nilai barang adat tersebut. Namun lazimnya tidak harus diberikan dalam bentuk barang yang sama, melainkan dapat diberikan dalam bentuk uang.

D. Proses Upacara Perkawinan Adat Suku Dayak Tunjung 1. Persiapan Upacara Adat Perkawinan

  Pada malam sebelum pengesahan perkawinan (pelulukng), diadakan Pertemuan tersebut dihadiri oleh para ahli waris keluarga, pengurus kampung, kepala adat, dan tokoh-tokoh masyarakat. Sedangkan sebagai persyaratan bermusyawarah harus disediakan hidangan adat (ruratn) yang akan disantap dalam perjamuan bersama. Hidangan adat (ruratn) terdiri dari berbagai jenis makanan yang diletakkan dalam nampan kuningan yang terbuat dari logam kuningan (par) berjumlah genap, 4 hingga 8 buah. Namun bila perkawinan dilakukan dengan orang dari luar kampung atau hubungan keluarga sudah jauh, bahkan sudah tidak ada hubungan keluarga lazimnya menggunakan 8 par.

  Dalam acara musyawarah tersebut, pihak keluarga wanita menjelaskan maksud pertemuan serta menegaskan menganai rencana perkawinan (negas

  

nentuq). Kemudian pihak keluarga wanita menyerahkan rencana pekerjaan dan

  kegiatan dalam rangka pengesahan perkawinan kepada pihak keluarga mempelai pria, pengurus kampung, kepala adat, dan tokoh-tokoh masyarakat untuk berkenan membantu menangani seluruh proses upacara perkawinan.

  Acara ini diakhiri dengan penyerahan satu buah piring putih dengan uang senilai 1 buah antakng (tempayan) yang jika diuangkan senilai Rp, 500.000,- yang diserahkan kepada Kepala Adat dan Petinggi (Kepala Desa). Setelah semua pihak menerima penyerahan antakng tersebut, yang dalam bahasa Dayak Tunjung disebut gawai, kemudian pihak tuan rumah menutup acara tersebut.

2. Kegiatan pada Pagi Hari Berikutnya

  Pagi-pagi benar tuan rumah menyiapkan perlengkapan seperti babi, ayam,

  

pengo, peaai, touq tawai) dan jie (sejenis guci nilainya setengah dari antakng atau

  sering disebut antakng kecil). Disiapkan juga 1 buah mangkuk tempat tepung tawar, sentiriq (nasi diberi warna hitam, merah dan kuning biasanya ditaruh diatas daun pisang), 1 buah patung dari batang pisang, 2 buah patung dari kayu deraya, dan baskom tempat air (Pamung, 2010:51).

a. Pembacaan Mantra dan Pemberkatan

  Dalam ritual ini, kedua mempelai bersama Kepala Adat menuju serambi rumah panjang (lou), yang di tempat itu telah disediakan berbagai perlengkapan ritual. Kemudian Kepala Adat membacakan mantra yang bertujuan untuk memberkati kedua mempelai. Mantra tersebut berupa syair dengan bahasa sastra yang dinyanyikan (mantra terlampir).

  Selanjutnya Kepala adat mendupai beras segenggam, lalu menghambur beras itu ke atas sebagai sarana untuk mengundang para dewa kuasa di Negeri Langit. Menurut kepercayaan masyarakat Dayak Tunjung beras yang dihambur tersebut dapat berubah wujudnya menjadi perantara (lalakng) menyerupai manusia, sehingga dapat diminta untuk menyampaikan berita dan undangan kepada para dewa di Negeri Langit (Pamung, 2010:52).

  Dalam ritual ini, lalakng beserta para dewa kuasa dipercaya hadir di tempat dilaksanakannya upacara perkawinan, lalu Kepala Adat memohon agar mereka berkenan memberi berkat kepada kedua mempelai dan seluruh anggota keluarga. Sedangkan tugas lalakng adalah memohon kepada para dewa kuasa memberi nasehat perkawinan, sehingga mereka mampu memberikan petuah perkawinan kepada kedua mempelai.

  Selanjutnya Kepala Adat memegang seikat daun (dawetn apeer) dengan tangan kiri sambil berdoa agar para dewa kuasa, dewa sahabat mengusir pengaruh jahat, pikiran yang jahat dari dalam diri kedua mempelai, membuang nasib sial, menjauhkan malapetaka, membuang segala naas dan semua yang jahat dibuang ke sungai bersama patung silih dan sesaji. Kemudian kedua mempelai meludahi patung dan sesaji (sentiriq) yang akan dihanyutkan ke sungai. Lalu Kepala Adat memerciki patung dan sesaji tadi sebagai pertanda bahwa semua telah pulang bersama para dewa pembawa kejahatan, pengacau rumah tangga yakni dewa Lolakng Ringkekng, Lolakng Kewekng, dan Sookng Lalukng Lumai (Pamung, 2010: 53).

  Setelah itu Kepala Adat kembali memegang daun apeer, namun dipegang dengan tngan kanan seraya mengucapkan mantra “saya pegang seikat daun menggunakan tangan kanan, tangan yang bersih, pembawa kemenangan, tangan pembawa rejeki, tangan penyalur kuasa para dewa, dengan tangan ini orang dapat minum dan makan sampai puas....” Mantra selengkapnya terdapat pada lampiran.

  Ritual selanjutnya, Kepala Adat kembali membacakan mantra doa khusus untuk kedua mempelai, “semoga para dewa kuasa memberkati kalian berdua, agar wanita dapat menjadi ibu teladan, pria dapat menjadi panutan orang banyak, dan berwibawa. Agar seperti dinginnya air di sela-sela batu di sungai, demikian pula aral melintang, tidak ada pertikaian dan selisih paham, seperti akar dapat menahan pohon dan tidak mudah roboh, demikian pula kehidupan kalian berdua tak tergoyahkan oleh pengaruh-pengaruh buruk di mana kalian berada. Agar rejeki mudah didapat, uang berlimpah, sejak sekarang seia sekata, tidak jatuh ke dalam perceraian.” Sedangkan sebagai kata penutup dari pembacaan mantra, Kepala Adat menghitung 1 hingga 10 dengan maksud agar doa itu dapat dikabulkan (Pamung, 2010:54).

  Ritual selanjutnya, Kepala Adat mengambil seikat daun apeer kemudian memerciki kedua mempelai dan memohon kepada para dewa dari lautan untuk menyucikan kedua mempelai, agar jiwa raganya suci, bersih dari segala yang jahat. Selanjutnya Kepala Adat mengoleskan tepung tawar pada hewan kurban seraya mem bacakan mantra, “Kini saya mengoleskan tepung tawar ini pada hewan kurban, babi, ayam, sebagai tanda terima kasih bersama kedua mempelai ini dan kepada para dewa pemberi berkat pada acara perkawinan ini.”

  Setelah tepung tawar dioleskan pada hewan kurban, Kepala Adat memegang kaki kiri mempelai pria dan meletakkannya di atas hewan kurban sambil berucap, “Sekarang saya meletakkan kaki kiri mempelai pria ini, kaki yang jelek, tidak sopan dan pembawa nasib buruk, dan pembawa perceraian.” Kemudian Kepala Adat memegang kaki kanan dan meletakkannya di atas hewan kurban lalu berucap, “Kini saya letakkan kaki kanan mempelai pria ini, kaki yang baik, kaki pembawa rejeki, kaki yang pantas untuk mengusir roh-roh jahat dari kedua mempelai ini, agar kalian roh-roh baik, para dewa kuasa menerima hewan kurban kedua mempelai ini, atas kebaikan hati kalian memberkati perkawinan mereka hari ini.” Tatacara yang sama juga berlaku bagi mempelai wanita, dengan meletakkan kakinya secara bergantian di atas hewan kurban dengan cara dan doa yang sama. Setelah itu hewan kurban disembelih dan dimasak, sedangkan sebagian lagi diberikan sebagai “upah” untuk Kepala Adat yang telah memimpin prosesi upacara pemberkatan perkawinan.

b. Mempelai Masuk Ke dalam Rumah

  Dalam ritual ini, kedua mempelai duduk di atas sebuah gong menghadap hidangan makanan (ruratn) yang diletakkan di atas tempat khusus yang disebut par. Setiap par diisi dengan piring, bungkusan nasi, nasi ketan dimasak dalam bambu (lemang), kue tradisional yang terbuat dari tepung ketan (tumpiq), lauk- pauk (daging ayam dan babi) dan sejumlah makanan lainnya. Sedangkan di depan kaki kedua mempelai disediakan sepotong batang pisang, sebuah batu, mangkuk berisi tepung tawar. Selain itu disediakan pula seikat daun apeer, baskom tempat air, dupa, serta sejumlah peralatan (ruyaaq) adat seperti mandau, pisau, pakaian kedua mempelai (Pamung, 2010:55).

  Setelah semuanya perlengkapan ritual adat tersedia, Kepala Adat memegang seikat daun apeer dengan tangan kiri seraya menghitung 1 sampai 7 kemudia n memercikan dengan tangan kiri seraya berkata, “Saya percikan air dengan tangan kiri, tangan jahat, tidak sopan, tetapi pantas untuk membuang bertujuan membuang segala yang jahat, pikiran buruk, mengusir roh jahat yang hendak mengganggu kehidupan kedua mempelai. Kemudian Kepala Adat memegang seikat daun apeer dengan menggunakan tangan kanan seraya berkata. “Saya ganti memegang dengan tangan kanan, tangan yang baik, pembawa kebaikan dan rejeki, tangan penyalur kuasa dan berkat para dewa-dewi atas langit...” Pembacaan mantra ini ditutup dengan menghitung 1 sampai 10 sebagai ungkapan permohonan agar dikabulkan (Pamung, 2010:56).

  Selanjutnya dilaksanakan pemasangan tepung tawar untuk kedua mempelai, yakni pada telapak kaki agar segala yang jahat selalu lewat bawah kaki, tidak sampai mengenai dan menyakitkan mempelai ini. Pada jari kelingking, untuk menghalau segala penyakit dan menghalau kejahatan dari diri mempelai.

  Pada belakang telapak kaki, supaya mempelai selalu membelakangi yang jahat, terhindar dari malapetaka. Pada dada, agar mereka selalu berhadapan dengan kebaikan, mendapat kerukunan, kebahagiaan selama hidupnya. Pada dahi, supaya mereka selalu mengedepankan kebersamaan, kebaikan, kejujuran, keadilan dalam keluarga dan masyarakat. Pada pelipis, semoga mereka bagai bunga, berbau harum, matahari dan bulan memancarkan cahaya, demikian pula hidup mereka menjadi harum dan berguna bagi sesama, dan sanak saudaranya (Pamung, 2010:57).

  Ritual terakhir dari upacara ini ditandai dengan kedua mempelai menginjakkan kakinya pada batu dan sepotong batang pisang, lalu Kepala Adat membacakan doa, “Kini kedua mempelai ini meletakkan kakinya pada batu dan mengundang air, demikian pula kedua mempelai ini, sejak hari ini mendapat berkat dari para dewa-dewi kuasa, perkawinan mereka sungguh-sungguh kuat dan saling membahagiakan.” Maka dengan berkahirnya ritual ini perkawinan kedua mempelai dinyatakan telah sah.

3. Nasehat Perkawinan

  Nasehat perkawinan disampaikan oleh Kepala Adat, perwakilan dari pihak kedua mempelai dan tokoh masyarakat yang dipandang layak untuk menyampaikan nasehat bagi bekal kehidupan kedua mempelai. Dalam penyampaian nasehat, lazimnya mengutip syair (sentaro) yang menggunakan bahasa sastra yang mengandung makna mengenai nilai-nilai luhur perkawinan. Biasanya makna inti dari sentaro yang lazim dituturkan mengenai beberapa hal sebagai berikut: a.

  Penegasaan mengenai keabsahan perkawinan menurut adat dan status pasangan suami-istri (Tu tumatutu belalang nipeq borot, pelulukng peruku

  berlemo remang remot); b.

  Sikap saling setia pada saat untung dan malang (Encak jeloq erai anoq,

  selakengkakng erai gawakng. Tuat beau sengkangkoroq, jakat beau sengkalengkakng);

  c.

  Sikap kebersamaan untuk saling memberi dan menerima (Tak ungkeq engket puncum kibanuo, alan elui beau wewet, wat akat bekakelo); d.

  Kesediaan untuk sehidup semati hingga maut memisahkan (Rempumpuq

  rempempai, rendukan erai nyok, erai unut erai apai erai kesong turas

  Setelah nasehat perkawinan kemudian dilaksanakan penyerahan empat piring putih sebagai lambang pemakluman keluarga baru. Akhir dari ritual ini adalah memandikan mempelai di tepi sungai. Kedua mempelai mengangkat kaki kiri dengan wajah menghadap ke barat, kemudian Kepala Adat membacakan mantra dan menghitung sampai tujuh dan pada hitungan ketujuh kaki kedua mempelai dicelupkan ke air. Kemudian dilanjutkan mengangkat kaki kanan dengan wajah menghadap ke timur, dan tepat hitungan kesepuluh kedua mempelai mencelupkan kakinya ke dalam air.

E. Simbol-simbol dalam Perkawinan Adat Suku Dayak Tunjung

  Istilah “simbol” secara etimologis diserap dari kata symbol dalam bahasa Inggris yang berakar pada kata symbolicum dalam bahasa Latin. Sedangkan dalam bahasa Yunani kata symbolon dan symballo, yang juga menjadi akar kata symbol, memiliki beberapa makna, yakni “memberi kesan”, “berarti”, dan “menarik”. Dalam pemikiran dan praktik keagamaan, simbol lazim dianggap sebagai pancaran realitas transenden. Sedangkan dalam sistem pemikiran logika dan ilmiah, lazimnya istilah simbol dipakai dalam arti tanda abstrak .

  Simbol dapat berupa gambar, bentuk, atau benda yang mewakili suatu gagasan, benda, ataupun jumlah sesuatu. Meskipun simbol bukanlah nilai itu sendiri, namun simbol sangatlah dibutuhkan untuk kepentingan penghayatan akan nilai-nilai yang diwakilinya. Namun bentuk simbol tak hanya berupa benda kasat mata, namun juga melalui gerakan dan ucapan.

  Dalam proses perkawinan adat suku Dayak Tunjung terdapat simbol yang memiliki tujuan dan maksud tertentu. Simbol-simbol yang dipergunakan dalam perkawinan adat Dayak Tunjung diantaranya sebagai berikut: 1.

   Mandau (Manau)

  Mandau yang ter buat dari besi merupakan simbol keteguhan hati mempelai pria, bahwa ia sungguh mencintai pasangannya dengan sepenuh hati.

  2. Pisau (Ladikng)

  Pisau yang terbuat dari logam besi, melambangkan keteguhan hati mempelai wanita yang dengan tulus menerima cinta mempelai pria.

  3. Piring (Pingatn Putiiq)

  Piring putih yang dipergunakan sebagai tanda restu bersama (tanaq rama) melambangkan bahwa perkawinan telah mendapat restu dari pihak keluarga dan dinyatakan sah secara adat. Tanda restu bersama tersebut diberikan kepada Kepala Adat, Kepala Desa, perwakilan kedua keluarga dan tokoh adat dengan tujuan jika dikemudian hari terjadi perselisihan dan tidak dapat diselesaikan oleh keduanya, maka mereka dapat meminta nasihat kepada salah satu atau beberapa orang penerima tanda bersama tersebut agar tidak menjadi perkara yang mengakibatkan perceraian. Selain itu piring putih juga melambangkan kesucian dari sebuah perkawinan.

  4. Tempayan Besar (Antakng Hajaq)

  Tempayan atau guci kecil melambangkan tanda hati dari kedua orangtua

  (tanaq tuhaq). Selain itu juga melambangkan kesungguhan hati kedua

  orangtua untuk mendukung dan membimbing kedua mempelai dalam menempuh kehidupan berkeluarga.

  5. Tempayan Kecil (Antakng Itiit)

  Tempayan kecil sebagai tanda hati dari kedua mempelai (tanaq tiaq) melambangkan sikap hormat kepada orangtua dan mertua. Selain itu juga melambangkan kesediaan mereka untuk ditegur dan diberi nasihat dalam hidup berumah tangga.

  6. Tempayan atau Piring (Antakng - Pingatn)

  Tempayan atau piring dengan jumlah tertentu yang dipergunakan sebagai tanda pengikat (siret berkes), melambangkan bahwa perkawinan harus dipelihara dan diikat dengan kuat seperti mengikat sapu lidi hingga menjadi satu dan tidak bercerai-berai.

  7. Tempayan (Antakng)

  Tempayan juga bermakna sebagai lambang memberi pagar dalam kehidupan berkeluarga (alau kanakng). Perkawinan diibaratkan sebagai ladang yang harus dipagari supaya tidak dirusak oleh binatang, demikian halnya dengan perkawinan harus dijaga bersama agar tidak mudah rusak oleh pengaruh- pengaruh luar.

F. Rangkuman

  Tradisi perkawinan adat suku Dayak Tunjung merupakan salah satu wujud kearifan lokal yang masih dipraktikan hingga saat ini. Dalam tradisi perkawinan adat Dayak Tunjung mengandung unsur kebijakan (local wisdom), pengetahuan (local knowledge) dan kecerdasan (local genious), yang diwariskan secara turun temurun dan mengalami penyesuaian seiring dengan perkembangan zaman.

  Dalam nasihat perkawinan yang disampaikan oleh Kepala Adat, perwakilan dari pihak kedua mempelai dan tokoh masyarakat niscaya mengandung unsur simbolis berkaitan dengan nilai-nilai luhur perkawinan. Inti dari nasihat tersebut lazim mengenai keabsahan perkawinan menurut adat dan status pasangan suami-istri; sikap saling setia pada saat untung dan malang; sikap kebersamaan untuk saling memberi dan menerima; serta kesediaan untuk sehidup semati hingga maut memisahkan.

  Dalam proses perkawinan adat suku Dayak Tunjung terdapat banyak simbol berupa benda (perlengkapan ritual adat) gambar, kata-kata/ucapan (mantra dan doa) serta gerak tubuh (praktik ritual adat) yang memiliki makna tertentu. Beberapa simbol berupa benda-benda yang dipergunakan dalam perkawinan adat Dayak Tunjung adalah mandau yang melambangkan keteguhan hati mempelai pria untuk mencintai pasangannya dengan sepenuh hati, dan pisau yang melambangkan keteguhan hati mempelai wanita yang dengan tulus menerima cinta mempelai pria.

  Sedangkan piring putih yang dipergunakan sebagai tanda bersama (tanaq

  

rama) melambangkan bahwa perkawinan telah mendapat restu dari pihak keluarga

  dan dinyatakan sah secara adat. Adapun tempayan melambangkan tanda hati dari kedua orangtua (tanaq tuhaq) dan juga melambangkan kesungguhan hati kedua orangtua untuk bersedia membimbing kedua mempelai dalam menempuh kehidupan berkeluarga.

  Sedangkan tempayan kecil sebagai tanda hati dari kedua mempelai (tanaq

  

tiaq) melambangkan sikap hormat kepada orangtua dan mertua, serta kesediaan

  untuk ditegur dan diberi nasihat dalam hidup berumah tangga. Tempayan atau piring putih selain berfunsgi sebagai tanda pengikat (siret berkes), juga melambangkan bahwa perkawinan harus dipelihara dan diikat dengan kuat seperti mengikat sapu lidi hingga menjadi satu dan tidak bercerai-berai. Selain itu, tempayan juga bermakna sebagai lambang memberi pagar dalam kehidupan berkeluarga (alau kanakng) sehingga perkawinan harus dijaga bersama agar tidak mudah rusak oleh pengaruh buruk yang dapat merusak keutuhan rumah tangga.

  Dalam bab selanjutnya kita akan diperkuat dengan melihat pentingnya nilai kesetiaan dalam perkawinan Katolik. Dasar kesetiaan dalam perkawinan Katolik itu kita temukan dalam ajaran Gereja.

BAB III AJARAN GEREJA TENTANG KESETIAAN DALAM PERKAWINAN KATOLIK Pengertian umum ajaran Gereja adalah praxis iman Kristiani dalam

  kehidupan sehari-hari yang menegaskan bahwa hubungan vertikal dengan Tuhan tidak hanya bersifat individual, tetapi juga bersifat sosial sehingga semestinya memengaruhi hubungan horizontal dengan sesama. Sedangkan dalam pengertian yang khusus, Ajaran Gereja merujuk pada sejumlah dokumen yang disampaikan oleh para gembala Gereja Katolik mengenai sikap iman dan prinsip etis Kristiani dalam menanggapi situasi dan tantangan kehidupan modern dalam segala aspek.

  Ajaran gereja tersebut termuat dalam ensiklik, dokumen Konsili, maupun surat- surat yang dikeluarkan oleh Konperensi Para Uskup.

  Sedangkan magisterium adalah pihak berwenang dalam hal pengajaran daKata ini berasal dari kata bahasa Latin magisterium yang bermakna ajaran, instruksi atau nasihat. Data "Magisterium" merujuk pada pihak berwenang Gereja urusan pengajaran ajaran Gereja.

  Kewenangan ini diwujudkan dalam episkopasi, yakni kumpulan semua yang dipimpin oleh Paus yang memiliki kekuasaan di atas para uskup lainnya, baik secara pribadi maupun secara institusi, juga memiliki kekuasaan atas diri setiap umat Katolik secara langsung.

  Pada bab sebelumnya, telah diuraikan mengenai perkawinan adat suku Dayak Tunjung di kabupaten Kutai Barat. Sedangkan pada bab ini, akan dibahas tentang ajaran Gereja tentang kesetiaan dalam perkawinan Katolik.

A. Perkawinan Katolik 1. Hakikat Perkawinan Katolik

  Hidup berkeluarga adalah rutinitas manusiawi. Melalui perkawinan seorang pria dan wanita membentuk hidup berkeluarga. Realitas manusia yang disebut perkawinan itu direalisasikan dalam bentuk yang beragam. Mengingat beragamnya wujud perkawinan itu maka, C. Groenen mengusulkan definisi yang sangat umum tentang perkawinan sebagai berikut:

  Perkawinan adalah hubungan yang kurang lebih mantap dan stabil antara pria dan wanita (entah seseorang atau beberapa orang) justru sebagai pria dan wanita, jadi hubungan seksual, yang oleh masyarakat yang bersangkutan (kurang lebih luas) sedikit banyak diatur, diakui dan dilegalisasikan (Groenen, 1993: 19).

  Definisi perkawinan tersebut sangat umum dan dimaksudkan untuk memberi tempat bagi berbagai macam kemungkinan bentuk hidup berkeluarga dalam berbagai budaya terutama negara Indonesia yang multikultur.

  Menurut Bernard Cooke, dalam bentuk-bentuk lahiriah dan penampilan sosialnya, perkawinan orang-orang kristen tidak terlalu mencolok berbeda dengan perkawinan-perkawinan lain dalam masyarakat. Orang kristen kawin menurut poola-pola budaya di mana mereka hidup. Hanya saja yang membedakan adalah pemahaman orang risten tentang apa artinya dihubungkan satu sama lain “di

  Landasan persekutuan hidup suami istri kita jumpai pertama dalam Kitab Suci. Dalam Perjanjian Lama, terutama dalam kitab Kejadian 2:24 disebutkan bahwa wanita diciptakan karena pria, namun pria harus meninggalkan ibu bapanya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya menjadi satu daging (Konigsmann, 1987: 20). Segi persekutuan ini ditekankan kembali dalam Perjanjian Baru, terutama dalam Matius 19:1-12 dan Markus 10:1-12. Dalam Matius 19:1-12, Yesus menegaskan bahwa dalam rencana Allah yang asli, penciptaan perkawinan bersifat tidak terceraikan dan tidak ada instansi manusia manapun yang dapat mengakhiri persatuan (Bergant & Karis, 2002:62).

  Dalam Markus 10:1-12, inti pesan Yesus adalah tuntutan kepada suami istri untuk hidup dalam kesetiaan serta persatuan selamanya sampai mati (Bergant & Karis, 2002:100). Maka dengan demikian dapat disimpulkan pandangan Yesus mengenai hakikat perkawinan sebagai berikut: perkawinan ialah kesatuan erat antara seorang pria dan seorang wanita, yang dipersatukan oleh Allah sendiri, sedemikian erat sehingga keduanya bukan lagi dua melainkan satu (Hadiwardoyo, 1988: 22).

  Persekutuan hidup pria dan wanita di dalam perkawinan itu kemudian direfleksikan lebih lanjut dalam ajaran Gereja. Pra Konsili Vatikan II, Gereja masih memandang dimensi persekutuan hidup pria dan wanita dalam perkawinan lebih sebagai kontrak. Pandangan ini dapat di temukan dalam Kitab Hukum Kanonik 1917, kanon 1012 (Rubiyatmoko, 2011:18). Dengan kontrak dimaksudkan persetujuan antara dua atau beberapa orang yang saling mewajibkan merupakan kontrak karena didirikan dengan adanya persetujuan bilateral antara seorang pria dan seorang wanita (Rubiyatmoko, 2011:18).

  Pandangan Kitab Hukum Kanonik 1917 yang terkesan statis ini mengalami perkembangan dengan munculnya berbagai refleksi teologis-sistematis tentang perkawinan antara tahun 1950-1960 (Rubiyatmoko, 2011:18). Ada pergeseran tekanan, di mana dimensi personal perkawinan mendapat tekanan lebih dibandingkan dimensi institusional. Itulah sebabnya Gaudium et Spes no. 48 mengesampingkan istilah kontrak (contractus) dan mengangkat istilah perjanjian atau kesepakatan (feodus) untuk mendefinisikan perkawinan:

  Persekutuan hidup suami istri yang mesra, yang diadakan oleh Sang Pencipta dan dikukuhkan dengan hukum-hukumnya, dibangun oleh janji pernikahan atau persetujuan pribadi yang tak dapat ditarik kembali.

  Demikian karena tindakan manusiawi, yakni saling menyerahkan diri dan saling menerima antara suami dan istri, timbullah suatu lembaga yang mendapat keteguhannya, juga bagi masyarakat, berdasarkan ketetapan ilahi (Gaudium et Spes 48).

  Meskipun Konsili Vatikan II tidak menggunakan istilah kontrak, tetapi tidak menolak hakikat perkawinan sebagai suatu kontrak, karena di dalam perjanjian perkawinan itu terdapat unsur-unsur kontraknya, yaitu forma (kesepakatan pribadi antara seorang pria dan seorang wanita), objek (kebersamaan seumur hidup), dan akibat (hak atas persetubuhan dan atas kebersamaan seumur hidup). Dalam Kitab Hukum Kanonik 1983 edisi revisi kanon 1055 kedua istilah tersebut justru digunakan untuk menunjuk kedua pokok dari perkawinan, yaitu

  feodus dan sekaligus contractus (Rubiyatmoko, 2011:19).

  Elemen paling esensial yang membentuk perkawinan katolik adalah cinta suami istri (Groenen, 1993: 321-325). Karena dasarnya adalah cinta suami istri, maka hakikat perkawinan katolik adalah persekutuan antara dua pribadi, pria dan wanita, untuk saling mencintai dan saling menerima seumur hidup dengan kewajiban-kewajiban dan hak-hak yang khas (Gilarso, 2003:88). Dengan kata lain, perkawinan menunjuk relasi suami istri, yaitu persekutuan hidup dan cinta yang mereka pilih secara bebas dan pemberian diri secara timbal balik. Persekutuan hidup itu berlangsung seumur hidup, sampai maut memisahkan.

2. Tujuan Perkawinan Katolik

  Suami istri tidak hanya sekedar membentuk sebuah persekutuan hidup dalam ikatan perkawinan. Dalam Kitab Hukum Kanonik 1983 kanon 1055 disebutkan ada tiga tujuan utama perkawinan yaitu kebahagiaan atau kesejahteraan suami istri (bonum coniugum) serta keterbukaan pada kelahiran (bonum prolis) dan pendidikan anak (Rubiyatmoko, 2011:19). Secara singkat tujuan perkawinan katolik dapat dijelaskan sebagai berikut: a.

  Kebahagiaan atau kesejahteraan suami istri (bonum coniugum) Pasangan suami istri yang hendak menikah harus memiliki suatu kehendak bahwa mereka nantinya akan saling membahagiakan dan menyejahterakan pasangannya. Kesejahteraan dan kebahagiaan suami istri menyangkut relasi interpersonal antara suami istri, persekutuan jiwa dan hati untuk saling menolong dan membantu. Disini diandaikan ada cinta yang bersifat romantis. Kasih suami istri merupakan cinta kasih dasariah untuk mengupayakan apa yang baik bagi pasangannya (Susianto Budi, 2015:8).

  b.

  Keterbukaan pada kelahiran (bonum prolis) Kelahiran anak sebagai tujuan perkawinan tidak bermaksud bahwa keluarga tersebut nantinya harus memiliki anak. Tetapi, yang dimaksud adalah suami istri tersebut memiliki keinginan atau intensi memiliki anak. Jika nanti mereka tidak dikaruniai seorang anak, perkawinan mereka tetap sah (Susianto Budi, 2015: 8). Yang terpenting adalah mereka mempunyai keinginan untuk memiliki anak. Maka, jika pasangan suami istri secara jelas menolak kehadiran anak dalam perkawinannya, tentu saja ini bertentangan dengan hakikat dan tujuan dari perkawinan katolik.

  c.

  Pendidikan anak Pendidikan anak secara Katolik pertama-tama berarti bahwa anak tersebut harus dibaptis secara Katolik. Kapan orangtua membaptis anaknya? Hukum Gereja mengatakan pada minggu-minggu pertama setelah kelahiran. Setelah anak ini dibaptis, anak didampingi dan dididik sesuai dengan iman dan ajaran Katolik (Susianto Budi, 2015: 9).

3. Ciri-ciri Hakiki Perkawinan Katolik

  Dalam Kitab Hukum Kanonik 1983 kanon 1056 ciri-ciri hakiki (proprietates) perkawinan ialah unitas (kesatuan) dan indissolubilitas (sifat tak- dapat-diputuskan), yang dalam perkawinan Katolik memperoleh kekukuhan

  a. Unitas (kesatuan)

  Menjadi suami dan istri berarti suatu perubahan total dalam kehidupan seseorang. Dalam Kej 2:24 dikatakan: “Seorang laki-laki meninggalkan ayah ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya menjadi satu daging”. Hidup yang demikian bukan berarti hidup

  dua orang bersama, tetapi hidup menjadi satu orang (satu daging).

  Kesatuan atau unitas ini menunjuk unsur unitif dan monogam perkawinan. Dengan unsur unitif dimaksudkan sebagai unsur yang menyatukan suami dan istri secara lahir dan batin. Sedangkankan, unsur monogam menyatakan bahwa perkawinan hanya sah jika dilaksanakan antara seorang laki-laki dan seorang perempuan (Rubiyatmoko, 2011: 21).

  Kesatuan dalam perkawinan bukan hanya soal “kontrak” atau janji saja. Kesatuan (unitas) dalam perkawinan menunjuk suatu kebaharuan dalam hidup suami istri; mereka telah menjadi satu manusia baru. Suami hidup di dalam istrinya, dan istri hidup dalam suaminya. Kesatuan mereka bukan hanya kesatuan badan, melainkan meliputi hidup seluruh hidup, jiwa dan raga. Oleh karena itu kesatuan suami istri juga menyangkut iman mereka (KWI, 1996:436).

  b. Indissolubilitas (tak-dapat-diputuskan)

  Cinta suami istri menuntut kesetiaan sejati dari keduanya. Ini merupakan konsekuensi dari pemberian diri yang dilakukan oleh suami istri. Cinta menuntut kepastian, dan kepastian berarti memberikan jaminan percobaan belaka (KGK 1646).

  Maka Kristus menegaskan, “Apa yang telah dipersatukan A llah, janganlah diceraikan oleh manusia” (Mrk 10:9).

  Di sinilah letak ajaran Gereja, bahwa sifat tak-dapat-diputuskan perkawinan (indissolubilitas) mempunyai dasar dan kekuatannya dalamKristus. Yesus Kristus sendiri menghendaki ikatan perkawinan yang bersifat tak-dapat-diputuskan itu (Mat 19:6; Mrk 10:9).

c. Sakramental

  Sakramen adalah lambang atau simbol kelihatan yang menghadirkan karya keselamatan Allah. Perkawinan Katolik adalah sakramen (Susianto Budi, 2015:9). Artinya, perkawinan Katolik melambangkan serta menghadirkan Allah yang menyelamatkan. Paham perkawinan sebagai sakramen berasal dari ajaran Santo Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Efesus 5:11-33. Dalam surat Efesus tersebut dijelaskan bahwa hubungan cinta kasih suami istri bukan hanya luhur dan mulia tetapi bersifat ilahi, karena di kehendaki oleh Allah dan menunjuk kepada kesatuan Kristus dengan Gereja-Nya (Susianto Budi, 2015:9).

  Kristus adalah sumber rahmat yang istimewa. Ia tinggal bersama suami istri dan memberi mereka kekuatan untuk memanggul salibnya dan mengikuti-Nya, untuk bangun lagi setelah jatuh, untuk saling mengampuni dan menanggung beban, untuk merendahkan diri seorang kepada yang lain ‘di dalam takut akan Kristus’ (Ef 5:21) dan saling mengasihi dalam cinta yang mesra, subur dan adikodrati (KWI, 2011: 9-10; KGK 1642).

  Berkat rahmat Sakramen Perkawinan, suami istri menerima rahmat istimewa yang membuat mereka lebih mampu menjadi suci dan mendidik anak-anak secara Katolik (Lumen Gentium 11). Berkat Sakramen Perkawinan, karakter kesatuan (unitas) dan tak terputuskan (Indissolubilitas) ikatan perkawinan mereka diperkuat dengan rahmat istimewa (Kitab Hukum Kanonik 1983 kanon 1056; KGK 1641).

  Dasar terdalam dari kesetiaan seumur hidup ini terletak pada kesetiaan Allah sendiri pada perjanjian-Nya, khususnya seperti nampak dalam kesetiaan Kristus yang tak pernah pudar terhadap Gereja. Kesetiaan Kristus inilah yang diungkapkan melalui kesatuan hidup suami istri yang diikat dalam sakramen perkawinan. Dengan kata lain, lewat sakramen perkawinan kesetiaan yang tak terceraikan antara suami istri mendapat makna baru dan lebih mendalam.

B. Landasan Biblis tentang Kesetiaan Perkawinan Katolik 1. Yahwe Yang Setia kepada Bangsa Israel

  Kasih setia Allah kepada umat pilihan-Nya selalu menjadi titik pangkal refleksi iman bangsa Israel. Berbagai peristiwa yang dialami oleh bangsa Israel, terutama peristiwa keluar dari perbudakan dan penindasan di Mesir selalu menjadi tanda kehadiran Allah yang menyelamatkan. Walaupun berulangkali Israel jatuh dalam dosa, namun Allah tetap setia dan karena kesetiaan-Nya Israel diselamatkan. melalui para nabi dan para bijak, bangsa Israel yang berlaku tidak

  Para nabi dan para bijak berulangkali menggambarkan hubungan kasih setia Allah dan Israel dengan menggunakan gambaran hubungan kasih setia suami istri. Seperti Yehezkiel, tampil dengan menceritakan permulaan Israel yang dipungut oleh Allah menjadi menjadi istri-Nya (Yeh 16:1-63). Teks Yeh 16:1-63 yang merupakan bab terpanjang dari kitab ini dan dipilih karena merefleksikan secara mendalam hubungan Allah dan Israel yang intim yaitu dalam bentuk hubungan suami istri (Bergant & Karris, 2002: 599).

  Dalam Yeh 16:1-63 Allah digambarkan sebagai suami dan Israel (Yerusalem) adalah istri-Nya. Yehezkiel melukiskan Israel (Yerusalem) sebagai anak yatim yang ditelantarkan oleh orangtua dan sanak saudaranya. Allah menemukan Israel (Yerusalem) yang terlantar itu dan memeliharanya. Seluruh kebutuhan dipenuhi. Kemudian Allah pergi. Ketika Israel (Yerusalem) tumbuh menjadi dewasa, Allah kembali lagi dan menikahi kota itu, membanjirinya dengan hadiah dan mengambilnya sebagai istri (Bergant & Karris, 2002: 599).

  Israel (Yerusalem) termahsyur di antara bangsa-bangsa karena kecantikannya yang luar biasa. Wibawanya bagaikan seorang putri raja. Namun, kecantikan dan kemahsyurannya justru telah menyesatkan kota itu. Israel (Yerusalem) bersundal dengan orang-orang yang lewat (ayat 15). Ia merenggangkan pahanya bagi siapa saja, termasuk orang Mesir (ayat 26), Asyur (ayat 27-28), dan Babel (ayat 29). Ia merayu dan membayar para pecinta untuk dapat kepadanya (ayat 30-34). Demikianlah Israel (Yerusalem) memelacurkan dirinya dan berlaku tidak setia kepada Allah, suaminya (Bergant & Karris, 2002:

  Walaupun Israel (sang istri) berlaku tidak setia dengan memelacurkan dirinya, namun Allah (Suami Israel) tetap setia kepada Israel. Allah mengadakan kembali perjanjian-Nya dengan Israel (Yeh 16:62-63). Dengan kemurahan yang melimpah, Allah memaafkan Israel. Demikian Allah tetap berlaku setia kepada Israel (Yerusalem) dan tetap mencintainya dengan cinta penuh (Bergant & Karris, 2002: 600).

  Gambaran seperti tersebut di atas juga secara eksplisit dapat kita temukan dalam kitab Nabi Hosea, yang mempunyai bukti asli tentang realitas tersebut dalam keluarga sendiri (Hos 1:2-9; 3:1-5). Istri Hosea, Gomer, meninggalkannya dan melakukan perzinahan. Hosea diperintahkan Yahwe untuk membujuknya dan membawa kembali Gomer. Hal yang diperintahkan Yahwe dilakukan oleh Hosea. Ia memaafkan Gomer dan membangun kembali ikatan perkawinannya yang telah hancur (Eminyan, 2001:69).

  Realitas perkawinan seperti yang dialami Hosea menjadi simbol relasi kasih setia Allah kepada umatt-Nya. Kasih setia Allah ini sekali lagi menjadi titik pangkal refleksi iman tentang kesetiaan suami istri, tentang nilai kesetiaan hidup dalam perkawinan. Sedangkan kesetiaan Allah kepada Israel adalah landasan kesetiaan bagi suami istri. Mengapa? Karena Allah setia mengasihi umat-Nya, maka komitmen untuk membangun kesetiaan dalam perkawinan antara suami istri merupakan dasar perjanjian cinta mereka dan sekaligus menjadi lambang betapa eratnya hubungan persatuan Allah dengan umat-Nya. Kemurniaan dan kesetiaan itu tidak dapat dinodai oleh motivasi saling melacurkan diri di bawah perkawinan mewujudkan kasih Allah itu dengan tetap saling mengasihi dan mempertahankan kesetiaan mereka (Hos 3).

  Dengan landasan kasih setia Allah, suami istri dipanggil untuk saling membahagiakan, kemudian bersama-sama berusaha membagikan kebahagiaan untuk seluruh keluarga dan seluruh masyarakat. Dengan demikian, keduanya sungguh-sungguh menjadi gambaran dari Allah yang sempurna.

2. Kristus Yang Setia kepada Gereja-Nya

  Selama Perjanjian Lama Allah mencintai umat Israel sebagai kekasih-Nya, Putri Sion yang disayangi dan dipelihara-Nya. Lambang cinta kasih Allah dan umat-Nya diteruskan dalam relasi Yesus Kristus, mempelai Pria dengan Gereja- Nya sebagai mempelai perempuan (KWI, 1994:11). Bagaikan pokok anggur dengan ranting-rantingnya, demikian juga relasi Kristus dengan umat-Nya tak terpisahkan (Yoh 15:1-8). Relasi kasih setia antara Kristus dengan Gereja-Nya direfleksikan secara mendalam oleh St. Paulus dalam Efesus 5:22-33. Bagi Paulus, relasi kasih Kristus dengan Gereja-Nya merupakan dasar bagi relasi suami istri dalam hidup perkawinannya. St. Paulus menerangkan misteri perkawinan itu sebagai lambang cinta kasih Kristus kepada Gereja-Nya.

  Relasi setia suami istri harus mengacu pada gambaran kasih setia Kristus kepada Gereja-Nya. Karena itu, ada dua pola yang selalu digunakan oleh Paulus untuk menggambarkan pola relasi tersebut (Ef 5:22-25). Pola pertama digunakan untuk menunjuk apa yang seharusnya dibuat oleh seorang istri: “sebagaimana tugas dan peranan seorang suami: “seperti Kristus ...., demikian pula suami ...” (Bergant & Karris, 2002: 349).

  Seperti Kristus adalah kepala Gereja, demikian pula suami adalah kepala dari istrinya, dan seperti tubuhnya, Gereja adalah taat kepada Kristus, demikian juga seorang istri harus taat sepenuhnya kepada suami. Seperti Kristus mengasihi Gereja dan memberikan diri-Nya sepenuhnya kepadanya, demikian pula seorang suami harus mengasihi istrinya sepenuhnya seperti ia mengasihi dirinya sendiri (Ef 5:33; Mat 22:39; Mrk 12:31; Luk 10:27). Selanjutnya Paulus juga menambahkan dukungan dari Kitab Suci dengan mengutip Kej 2:24 untuk menunjukkan persatuan suami istri dalam satu tubuh Kristus yang adalah Gereja (Mat 19:25; Mrk 10:7). Maka, setiap suami didorong untuk mengasihi istrinya dan istri dinasehati untuk menghormati suaminya (Bergant & Karris, 2002: 349).

  Realitas perkawinan seperti digambarkan oleh St. Paulus dalam Efesus 5:22-33 menerangkan kekayaan relasi pria dan wanita dalam perkawinan sebagai simbol relasi Kristus dengan Gereja-Nya. Kristus menyebut cinta kasih antara Gereja dan Yesus Kristus sebagai suatu misteri yang dalam dan mulia (Ef 5:32). Suatu ikatan cinta kasih yang sempurna dan kekal, yang tak pernah akan dapat diputuskan. Kasih Kristus itu adalah suatu Perjanjian Baru dan kekal, yang dimeteraikan dengan darah-Nya sendiri. Maka, seperti Kristus dan Gereja tak bisa diceraikan lagi, begitu juga janji perkawinan antara pria dan wanita (murid Kristus) tak bisa diceraikan lagi.

C. Kesetiaan Perkawinan dalam Magisterium 1. Kesetiaan perkawinan menurut Konsili Vatikan II

  Untuk waktu yang lama umat Katolik hidup di bawah bayang-bayang paham abad pertengahan tentang perkawinan sebagai kontrak. Konsili Vatikan II (1962-1965) dengan mengemukakan pemahaman modern tentang perkawinan telah menghantar kembali umat kepada pemahaman tentang perkawinan berdasarkan Kitab Suci, yaitu sebagai persekutuan (Hadiwardoyo, 1988: 112- 113).

  Konsili mengartikan perkawinan sebagai “suatu persekutuan hidup dan k esatuan cinta” (Gaudium et Spes 48). Dalam artian itu, Konsili menekankan pemberian atau penyerahan diri seutuhnya. Karena itu, perkawinan tidak dilihat sebagai suatu kesatuan antara dua badan (tubuh), melainkan suatu kesatuan antara dua pribadi.

  Cinta kasih itu adalah sesuatu yang sangat manusiawi karena berasal dari seorang pribadi krpada pribadi yang lain melalui dorongan kehendak.

  Kesejahteraan seluruh pribadi tercakup di dalam pengungkapan cinta kasih itu (Gaudium et Spes 49). Di sini martabat perkawinan menempati posisi yang utama dalam pemahaman Konsili.

  Konsili menyadari sepenuhnya bahwa dewasa ini martabat luhur perkawinan itu dikaburkan oleh poligami, perceraian, cinta bebas, dan penyelewengan lainnya. Cinta pernikahan diperkosa oleh cinta diri, hedonisme, dan praktek kontrasepsi (Gaudium et Spes 47). Di samping itu, pengguguran

  51) dan berdampak pada menurunnya nilai perkawinan. Terhadap berbagai “cacat-cedera” yang merusak martabat perkawinan itu, Konsili meneguhkan kembali pandangan umat Katolik mengenai keluhuran dan kesucian nilai perkawinan. Umat dihimbau untuk memperbaharui semangat Kristiani dalam bidang perkawinan dan hidup berkeluarga (Gaudium et Spes 52) (lih.

  Hadiwardoyo, 1988: 111-114).

2. Kesetiaan perkawinan menurut dokumen Pasca Konsili Vatikan II (Paus Yohanes Paulus II): Sebuah Kebersamaan dalam Hidup (Ensiklik

  Familiaris Consortio)

  Paus Yohanes Paulus II terpilih menggantikan Paus Yohanes Paulus I, yang hanya memimpin Gereja selama sebulan setelah wafat Paus Paulus VI, pada tahun 1978 (Hadiwardoyo, 1988: 122). Sebelum terpilih menjadi Paus, Yohanes Paulus II sudah menerbitkan buku mengenai teologi dan filsafat perkawinan yang berjudul “Cinta dan Tanggung jawab”. Surat apostoliknya mengenai perkawinan yang berjudul Familiaris Consortio diterbitkan pada tanggal 22 November 1981. Di dalamnya ia menegaskan kembali teologi perkawinan Katolik dan juga disiplin Gereja sebelumnya (Hadiwardoyo, 1988: 123-124).

  Menurut Yohanes Paulus II, suami istri dipanggil ke dalam persekutuan hidup yang penuh dan menyeluruh berkat perkawinannya dalam arti kodrati dan bahkan lebih lagi, berkat perkawinannya yang ditingkatkan menjadi sakramen. Dalam persekutuan hidup itu, suami istri saling memberi diri atas dasar cinta dengan penuh cinta dan dengan seluruh keberadaanya turut serta membangun komunitas pribadi-pribadi yang saling mencinta (Familiaris Consortio 17-18).

  Yohanes Paulus II menegaskan bahwa manusia diciptakan karena cinta dan diutus untuk mencinta. Mereka yang menikah, dalam kebersamaan seluruh hidupnya, harus saling mencintai secara penuh, baik secara jasmani maupun rohani (Familiaris Consortio 11). Cinta suami istri merupakan ungkapan dan perwujudan cinta antara Allah dan umat-Nya, perjanjian kasih yang setia. Maka ketidaksetiaan suami istri tidak cocok dengan hakikatnya sebagai simbol kesetiaan cinta Allah (Hadiwardoyo, 1988: 125; FC 12).

  Dalam ensiklik Familiaris Consortio, Yohanes Paulus II juga menerangkan dengan baik tentang Yesus Kristus, Mempelai Gereja dan Sakramen Perkawinan. Yohanes Paulus II menjelaskan bahwa persatuan antara Allah dan umat-Nya dipenuhi secara lengkap dalam Yesus Kristus. Sebab Yesus Kristus adalah Mempelai pria yang mengasihi Gereja-Nya dengan cinta dan kesetiaan yang tiada taranya. Cinta kasih Kristus itu dicurahkan sampai wafat di kayu salin (FC 13). Oleh karena itu, dalam kebersamaan seluruh hidupnya, suami istri dipanggil untuk hidup dalam cinta kasih Kristus, taat dan setia kepada pasangan seumur hidup seperti Kristus yang setia kepada Gereja-Nya. Atas cara itu, suami istri menjadi kenangan hidup akan cinta Kristus kepada Gereja-Nya yang begitu besar, sampai Ia rela mati di kayu salib.

  D.

  

Beberapa Nilai Dasar Penggerak Kesetiaan dalam Perkawinan Katolik

1. Membina Keadilan dan Cinta Kasih

  Dalam lingkup perkawinan, cinta kasih suami istri adalah poros kehidupan keluarga (Gilarso, 2003: 89). Hakekat cinta sejati suami istri adalah pengakuan akan eksistensi masing-masing, baik suami maupun istri. Suami istri yang saling mencintai akan menerima pasangannya dengan apa adanya baik itu kelemahan dan juga kekurangannya. Maka, suami istri yang baik dan yang saling mencintai tidak akan menuntut pasangannya hanya untuk dirinya sendiri saja, melainkan untuk membantu dan mendampingi pasangannya (Gilarso, 2003: 97).

  Suami istri yang saling mencintai berlaku adil bila masing-masing tidak menuntut sesuatu yang melebihi batas kemampuan pasangannya, berlaku benar baginya, dan tidak melakukan hal-hal yang semena-mena terhadap pasangannya. Kedua nilai ini, cinta dan keadilan, menjadi penggerak dasar nilai kesetiaan dalam hidup perkawinan. Suami istri berlaku setia satu sama lain atas dasar persatuan cinta kasih mereka dan rasa keadilan satu terhadap yang lain. Karena itu, cinta sejati dan sikap adil suami istri itu perlu dipelihara dan dikembangkan menuju persatuan yang makin lama makin kuat dan erat (Gilarso, 2003: 89).

2. Bijaksana dalam Keputusan dan Tindakan

  Suami istri yang membangun kebersamaan hidup dalam ikatan perkawinan dipanggil menjadi orang yang bijaksana. Kebijaksanaan hidup suami istri itu dibangun atas dasar pengalaman hidup, di mana ditemukan kebijaksanaan Allah ilahi yang juga disebut ‘takut akan Allah’. Allah itu mahabijaksana. Suami istri Katolik justru dipanggil untuk mengambil bagian dalam kebijaksanaan Allah itu.

  Dalam realitas hidup perkawinan, sikap bijaksana suami istri terungkap dalam setiap keputusan dan tindakan mereka. Kesulitan dan tantangan yang paling umum dihadapi oleh setiap pasangan suami istri adalah bagaimana menyeimbangkan prioritas dalam setiap keputusan yang diambil. Keputusan yang gegabah bisa berdampak pada sikap ketidakpercayaan dari pihak lain. Dan hal itu justru menjadi ancaman dalam sebuah perkawinan. Oleh karena itu, sikap bijaksana dalam keputusan turut menjadi faktor yang menentukan dalam kehidupan berkeluarga.

3. Kesabaran sebagai Buah Iman

  Kata “sabar” berarti tahan menghadapi cobaan (tidak cepat marah, tidak mudah putus asa, tidak mudah patah hati); tabah, tenang, tidak tergesa-gesa. Kata “sabar” juga memiliki makna secara teologis. Kesabaran adalah ciri khas dari Allah yang tidak melupakan orang-orang pilihan-Nya yang menderita. Dalam diri Kristus, kesabaran Allah itu menjadi nyata. Kristus dengan sabar menanggung dosa manusia dan menyelamatkan manusia melalui wafat dan kebangkitan-Nya.

  Pada gilirannya, oleh kuasa Roh manusia harus lebih sabar terhadap sesamanya, harus berlapang hati dalam kasih; sabar menghadapi cobaan dalam hidupnya.

  Rasul Paulus merumuskan “kesabaran” itu sebagai esensi dari cinta kasih. Ia menegaskan, “kasih itu sabar, ......, Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala

  13:3-7). Dalam lingkup perkawinan, kesabaran merupakan esensi dari pengungkapan cinta suami istri. Suami istri yang saling mencintai harus bersikap sabar terhadap pasangannya dalam segala situasi.

4. Kesetiaan Seumur Hidup Di dunia ini tidak ada kesetiaan yang sempurna seperti kesetiaan Kristus.

  Dalam seluruh hidup-Nya, Kristus selalu setia pada panggilan dan perutusan-Nya yaitu menyelamatkan umat manusia. Kesetiaan-Nya terbukti pada kesediaan-Nya untuk menderita dan wafat di kayu salib demi keselamatan dunia.

  Kesatuan suami istri sebenarnya harus diarahkan menjadi seperti kesatuan antara Kristus dan Gereja-Nya. Dia tetap setia, meskipun manusia tidak setia kepada-Nya (2 Tim 2:13). Kesetiaan seperti itu memungkinkan suami istri untuk saling menyerahkan diri secara total sampai mati, seperti Kristus telah menyerahkan diri-Nya sampai mati bagi Gereja-Nya (Fil 2:8).

E. Rangkuman

  Hakikat perkawinan katolik ditegaskan dalam Kitab Hukum Kanonik 1983, Kan. 1055 -

  § 1, bahwa “Perjanjian (foedus) perkawinan, dengannya seorang laki-laki dan seorang perempuan membentuk antara mereka persekutuan (consortium) seluruh hidup, yang menurut ciri kodratinya terarah pada kesejahteraan suami-istri (bonum coniugum) serta kelahiran dan pendidikan anak, antara orang-orang yang dibaptis, oleh Kristus Tuhan diangkat ke martabat dibaptis, tidak dapat ada kontrak perkawinan sah yang tidak dengan sendirinya sakramen.

  Sedangkan ciri hakiki perkawinan Katolik adalah unitas (kesatuan) dan indissolubilitas (sifat tak-dapat-diputuskan), yang dalam perkawinan kristiani memperoleh kekukuhan khusus atas dasar sakramen (Kitab Hukum kanonik 1983 Kanon 1056). Maka dengan demikian, kesepakatan pihak-pihak yang dinyatakan secara legitim antara orang-orang yang menurut hukum mampu, membuat perkawinan; kesepakatan itu tidak dapat diganti oleh kuasa manusiawi manapun (Kan. 1057 - § 1). Selain itu, kesepakatan perkawinan adalah tindakan kehendak dengannya seorang laki-laki dan seorang perempuan saling menyerahkan diri dan saling menerima untuk membentuk perkawinan dengan perjanjian yang tak dapat ditarik kembali (Kan. 1057 - § 2).

  Yohanes Paulus II dalam ensiklik Familiaris Consortio menegaskan ajaran tentang kesetiaan bahwa persatuan antara Allah dan umat-Nya dipenuhi secara lengkap dalam Yesus Kristus yang adalah mempelai pria yang mengasihi Gereja- Nya dengan cinta dan kesetiaan yang tiada taranya. Cinta kasih Kristus dicurahkan hingga wafat di kayu salib. Maka dalam kebersamaan seluruh hidupnya, suami istri dipanggil hidup dalam cinta kasih Kristus, taat dan setia kepada pasangan seumur hidup seperti Kristus yang setia kepada Gereja-Nya.

  Gereja Katolik mengenal Sakramen Perkawinan sebagai salah satu dari tujuh Sakramen. Hal ini menunjukkan bahwa perkawinan adalah suatu hal yang menyatakan bahwa Allah hadir dalam kehidupan perkawinan dan Allah menjadi saksi cinta kasih sang suami dan istri (bdk Mal 2:14).

  Hidup berkeluarga adalah persoalan penting dan mendasar dan karena itu Gereja berkewajiban memberikan pembinaan bagi calon pasangan dengan alasan karena realitanya beberapa keluarga mengalami kesulitan yang disebabkan kurangnya persiapan dalam perkawinan dan juga banyak calon pengantin tergesa- gesa menikah tanpa bimbingan yang memadai. Sedangkan alasan pastoralnya karena keluarga yang baik perlu dipersiapkan lama, sebab keluarga yang baik menjadi faktor utama bagi kesejahteraan pribadi, masyarakat dan Gereja. Selain itu, pengertian mengenai martabat perkawinan dan hidup berkeluarga harus jelas bagi muda-mudi, terlebih di era globalisasi yang diwarnai oleh kemajuan teknologi, terutama media masa yang dapat berpengaruh terhadap merosotnya nilai-nilai luhur dalam perkawinan.

  Berdasarkan uraian bab dua penulis telah membahas secara panjang lebar mengenai perkawinan dilihat dari sisi adat pada suku Dayak Tunjung, sedangkan pada bab tiga penulis membahas bahwa kesetiaan perkawinan dasarnya bisa ditemukan dalam ajaran Gereja. Penulis menarik hipotesis bahwa dalam tata cara dan juga simbol yang digunakan dalam perkawinan suku Dayak Tunjung mengandung nilai kesetiaan seperti halnya dalam perkawinan Katolik yang juga mengutamakan unsur kesetiaan. Berdasarkan buku yang penulis gunakan sebagai bahan dan juga sumber menjelaskan bahwa perkawinan adat suku Dayak Tunjung mirip dengan perkawinan Katolik. Dapat dilihat dari tujuan dan sifat penulis akan mengadakan penelitian di Kec. Linggang Bigung, Kab. Kutai Barat, Kalimantan Timur.

BAB IV PENELITIAN, HASIL PENELITIAN DAN USULAN A. Penelitian 1. Latar Belakang Dalam perkawinan adat suku Dayak Tunjung ada berbagai macam simbol

  yang digunakan untuk melengkapi proses perkawinan. Seperti yang telah penulis jelaskan pada Bab II, simbol-simbol yang digunakan yaitu par (nampan yang terbuat dari logam kuningan) berfungsi sebagai tempat untuk menaruh makanan yang di letakan dihadapan mempelai ketika melakukan prosesi adat, antakng (tempayan yang terbuat dari tanah liat yang mempunyai nilai 500.000 jika diuangkan) dalam perkawinan adat antakng disimbolkan sebagai "Tana turus sirat

  

berkas" atau dapat disebut juga sebagai penanda adat, gong, ladikng (pisau)

  berfungsi sebagai tanda hati dari mempelai wanita bahwa ia telah sungguh- sungguh mencintai pasangannya, mandau adalah tanda hati dari mempelai pria dengan maksud yang sama, dan lain sebagainya (lih. Bab II).

  Nilai yang terkandung di dalam simbol-simbol juga mempengaruhi hidup perkawinan. Hanya saja pada saat sekarang nilai-nilai tersebut seolah-olah luntur oleh perkembangan jaman dan teknologi yang semakin pesat dan canggih. Seperti halnya gadget yang seharusnya digunakan untuk memperlancar komunikasi antara keluarga dan pasangan disalahgunakan (digunakan untuk selingkuh) dan keutuhan hidup berkeluarga menjadi goyah karena salah satu pasangan berlaku tidak setia.

  Dalam hal ini penulis akan melakukan penelitian, untuk mengetahui apakah simbol-simbol perkawinan adat suku Dayak Tunjung relevan dengan nilai- nilai kesetiaan dalam perkawinan Katolik dan nilai-nilai kesetian perkawinan di Kecamatan Linggang Bigung sudah dihayati secara mendalam atau belum, penulis mengadakan penelitian sederhana tentang hidup perkawinan suku Dayak Tunjung yang tersebar di beberapa desa Kecamatan Linggang Bigung, Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur.

  Sebelum melakukan penelitian penulis mempersiapkan beberapa hal yang berhubungan dengan penelitian. Persiapan itu adalah sebagai berikut: membuat rumusan masalah, tujuan penelitian dan manfaat penelitian yang sudah ditulis dalam Bab I. Penelitian meliputi jenis penelitian, teknik pengumpulan data, tempat dan waktu, responden, kisi-kisi dan instrumen penelitian.

  2. Rumusan Masalah a.

  Apa saja simbol-simbol yang ada di dalam kehidupan suku Dayak Tunjung? b. Bagaimana praksis perkawinan yang terjadi di dalam kehidupan masyarakat suku Dayak Tunjung? c.

  Bagaimana kondisi keluarga masyarakat suku Dayak Tunjung? d. Apa makna simbol-simbol dalam perkawinan adat suku Dayak Tunjung terhadap kesetiaan dalam hidup berkeluarga?

  3. Tujuan Penelitian

  Berdasarkan rumusan tujuan penulisan yang ada dalam Bab I, tujuan penelitian ini tidak jauh berbeda karena melengkapi yang telah penulis tulis dalam

Bab II dan Bab III maka penulis merumuskan tujuan penelitian sebagai berikut : a. Mengetahui aneka simbol dalam perkawinan adat suku Dayak Tunjung.

  b.

  Mengetahui sejauh mana pemahaman umat tentang simbol-simbol perkawinan adat suku Dayak Tunjung c.

  Mengetahui permasalahan hidup perkawinan suku Dayak Tunjung sehubungan dengan kesetiaan.

  d.

  Mengetahui relevansi makna simbol-simbol perkawinan adat suku Dayak Tunjung dengan nilai kesetian dalam perkawinan Katolik.

  4. Jenis Penelitian

  Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dll., secara holistik, dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah (Moleong, 2014: 6).

  5. Teknik Pengumpulan Data

  Teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling utama dalam penelitian, karena tujuan utama dari penelitian adalah mendapatkan data. Tanpa mengetahui teknik pengumpulan data, maka peneliti tidak akan mendapatkan data

  Dalam penelitian ini penulis menggunakan teknik pengumpulan data dengan wawancara/interview. Wawancara adalah merupakan pertemuan dua orang untuk bertukar informasi dan ide melalui tanya jawab, sehingga dapat dikonstruksikan makna dalam suatu topik tertentu (Sugiyono, 2010: 317). Penulis memilih teknik wawancara bermaksud agar mendapat informasi tentang makna- makna subjektif yang dipahami individu sesuai dengan topik yang diteliti.

  Jenis wawancara yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah wawancara tak berstruktur (unstructured interview). Wawancara tak berstruktur adalah wawancara yang bebas di mana peneliti tidak menggunakan pedoman wawancara yang telah tersusun secara sistematis dan lengkap untuk pengumpulan datanya (Sugiyono, 2010:320). Adapun pemilihan wawancara tak berstruktur, responden bisa bebas menjawab pertanyaan tanpa ada tekanan dan juga takut salah dalam menjawab karena bersifat ilmiah, namun tetap terarah pada jawaban responden sesuai dengan pertanyaan yang peneliti ajukan.

  6. Tempat dan Waktu a. Tempat

  Penelitian ini akan dilaksanakan di Kecamatan Linggang Bigung, Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur. Melihat persebaran pedududuk suku Dayak Tunjung yang banyak di Kecamatan Linggang Bigung.

  1) Letak Geografis Kecamatan Linggang Bigung

  Letak Geografis Kecamatan Linggang Bigung di antara 0º - 2º Lintang Utara dan 114º - 116º Bujur Timur dan lebih kurang 200m di atas permukaan laut. Jarak dari Ibukota Kabupaten kutai Barat ± 15 Km (Lahajir, 2007:447).

  2) Data Penduduk thn. 2006

  Menurut data di Kecamatan Linggang Bigung tahun 2006 jumlah

  2

  penduduk adalah 14.622 jiwa dan memiliki luas wilayah 702 Km , sedangkan data Badan Pusat Statistik Kabupaten Kutai Barat dalam angka tahun 2006

  2

  jumlah penduduk adalah 14.109 jiwa dan memiliki luas wilayah 699,30 Km (Lahajir, 2007: 448).

  3) Etnik Dominan

  Etnik dominan yang mendiami Kecamatan Linggang Bigung adalah Dayak Tunjung (Rentenukng) sejumlah 7.048 jiwa, Jawa 2.902 jiwa, Bugis 1.284 jiwa dan Banjar sebanyak 1.026 jiwa, dan etnik yang lainnya adalah Benuaq, Bahau, Toraja, Timor, Manado. Etnik Dayak Tunjung (rentenukng) merupakan penduduk asli dapat dianggap bahwa yang lainnya adalah penduduk pendatang (Lahajir, 2007:449).

b. Waktu Penelitian ini akan dilaksanakan pada September 2016.

7. Responden

  Responden dalam penelitian ini adalah suku Dayak Tunjung yang beragama Katolik dan sudah menikah dengan usia perkawinan 5 tahun keatas. Katolik. Dari data Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah thn. 2011- 2016 Kabupaten Kutai Barat, persentase jumlah pemeluk agama Katolik mendapat jumlah 29,45% sedangkan Kristen Protestan 27,80% (RPJMD Bab II, 2011-2016: 12). Dalam penelitian ini yang dipilih menjadi responden ada 10 orang dengan pertimbangan tertentu yang dipandang dapat memberi data secara maksimal dan beragam.

  8. Kisi-kisi No Soal NO Variabel

  1. Praksis perkawinan yang terjadi di dalam masyarakat suku

  1 Dayak Tunjung. 2 2. Dinamika dan permasalahan hidup perkawinan. 3, 4, 5, 6, 7 3. Simbol-simbol perkawinan adat suku Dayak Tunjung. 8, 9, 10 4. Kesetiaan dalam perkawinan Katolik. Makna simbol-simbol perkawinan adat suku Dayak

  11, 12

  5. Tunjung terhadap kesetiaan dalam hidup perkawinan keluarga Katolik.

  9. Instrumen Penelitian

  Istrumen penelitian adalah alat untuk mengumpulkan data. Pada penelitian ini alat pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara (terlampir pada lampiran 2).

B. Laporan Hasil Penelitian

  Penulis melakukan penelitian dengan wawancara dimulai pada tanggal 30 Agustus

  • – 14 September 2016. Keragaman latar belakang dan tugas dari responden membuat penulis kesulitan untuk mencari waktu dan juga mendapatkan keragaman informasi dan data yang sesuai seperti yang diharapkan terkait dengan variabel yang diteliti.

  Wawancara dilakukan secara acak karena mengingat Kecamatan Linggang Bigung cukup luas dan juga suku Dayak Tunjung menyebar di beberapa desa yang ada di Kecamatan Linggang Bigung. Waktu pelaksanaan sangat bervariasi, tergantung kesediaan dari responden. Dalam bagian ini penulis akan memaparkan hasil penelitian berdasarkan variabel yang diteliti, yang terdiri dari: praksis perkawinan yang terjadi di dalam masyarakat suku Dayak Tunjung, dinamika dan permasalahan hidup, symbol-simbol perkawinan suku Dayak Tunjung, kesetiaan dalam perkawinan Katolik dan makna symbol-simbol perkawinan adat suku Dayak Tunjung terhadap kesetiaan dalam perkawinan Katolik.

  1. Hasil Penelitian dengan wawancara dan Pembahasan a.

  

Praksis perkawinan yang terjadi di dalam masyarakat suku Dayak

Tunjung 1) Hasil Penelitian

  Melalui wawancara dengan tokoh adat dan juga hasil pengamatan, praksis perkawinan yang adat di kalangan masyarakat suku Dayak Tunjung ada dua yaitu praktik perkawinan adat dan juga perkawinan Gereja. R8 mengatakan bahwa hal merupakan tradisi yang telah diwariskan oleh leluhur kemudian perkawinan adat diperteguh kembali oleh perkawinan gereja, membuat perkawinan yang dilaksanakan tersebut menjadi semakin sakral dan suci. Penjelasan oleh R8 dapat dibaca pada kutipan di bawah ini:

  Perkawinan atau pernikahan yang terjadi di masyarakat suku Dayak Tunjung tidak terlepas dari perkawinan adat dan juga Gereja. Bagi masyarakat Dayak jika tidak melangsungkan perkawinan adat atau perkawinan Gereja, perkawinan yang dilaksanakan belumlah lengkap [Lampiran 3: (23)].

  Banyak petuah-petuah yang didapatkan ketika proses perkawinan adat. Berdasarkan pengamatan yang dilakukan oleh peneliti, didapatkan fakta-fakta yang sesuai dengan yang dipaparkan oleh responden. Di Kecamatan Linggang Bigung pada waktu penelitian, peneliti melihat sendiri proses perkawinan yang tengah berlangsung, selesai dari Gereja dilanjutkan dengan prosesi perkawinan adat. Bagi suku Dayak Tunjung hal tersebut sudah menjadi kewajiban yang harus dilakukan ketika menikah.

  Pada awalnya pihak adat dan pihak Gereja saling berselilih dan tidak ada yang akan mengalah. Pihak adat mengatakan jikalau perkawinan adat yang harus diutamakan karena merupakan warisan leluhur yang telah ada secara turun temurun sedangkan dari pihak Gereja juga mengatakan bahwa perkawinan menurut Gereja harus diutamakan [Lampiran 3: (23)]. Namun, seiring berjalannya waktu pertentangan tersebut tidak lagi terjadi. Kedua pihak menyerahkan kepada keluarga dan menerima apa keputusan dari keluarga yang akan melangsungkan adat dan perkawinan Gereja keduanya sama baik dan sama-sama mengajarkan mengenai nilai kebaikan.

2) Pembahasan

  Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai luhur dari perkawinan adat masih begitu dihargai oleh suku Dayak Tunjung. Meskipun terasa sangat merepotkan karena harus melaksanakan dua kali proses perkawinan yaitu secara adat dan Gereja namun hal tersebut tidak menjadi kendala, dilaksanakan secara sukarela karena merupakan warisan leluhur. Jangan sampai budaya modern mempengaruhi pikiran kemudian meninggalkan warisan budaya yang luhur.

  Masyarakat sekarang cenderung mengabaikan nilai-nilai luhur dari perkawinan adat karena dianggap telah kuno dan ketinggalan jaman. Akan tetapi, ketika diamati perkawinan adat bukanlah sesuatu yang kuno dan ketinggalan jaman justru dapat memperkuat dan memperkokoh pondasi kehidupan. Dalam setiap proses perkawinan adat terutama dalam simbol-simbol yang digunakan mengandung makna dan arti yang sangat mendalam. Tinggal bagaimana cara untuk mempertahankan dan mempraktekkan petuah-petuah yang didapat selama proses perkawinan adat. Dari jawaban yang diberikan oleh responden dapat disimpulkan bahwa responden mengetahui praksis kehidupan yang ada di dalam masyarakat Dayak Tunjung.

b. Dinamika dan permasalahan hidup perkawinan 1) Hasil Penelitian

  Melalui wawancara yang dilakukan dengan responden didapatkan hasil mengenai “dinamika dan permasalahan hidup perkawinan” yang dialami oleh umat Katolik khususnya suku Dayak Tunjung. Dalam variabel ini peneliti hanya mewawancarai satu responden yang sama seperti pada variabel pertama. Adapun hasil wawancara yang dipaparkan oleh responden sebagai berikut:

  Sampai pada saat ini sudah beragam persoalan yang saya dengar dan lihat mengenai hidup perkawinan. Masalahnya dari kalangan muda dan mudi yang menikah pada usia muda atau lebih tepatnya pasangan yang belum siap menikah namun karena kecelakaan kemudian dinikahkan. Akhir-akhir ini saya mengatakan bahwa trend selingkuh dengan pasangan lain yang memiliki rumah tangga sendiri sedang hangat-hangatnya. Dalam satu minggu terakhir dalam bulan Agustus saya mendapat 4 kasus pengaduan yang permasalahannya mirip yaitu pasangannya selingkuh. Saya mulai berpikir bahwa moral perkawinan di dalam keluarga tersebut sudah tidak ada lagi [Lampiran 3: (23)].

  R8 mengungkapkan bermacam-macam persoalan mengenai dinamika dan permasalahan yang terjadi dalam hidup perkawinan suku Dayak Tunjung. Mulai dari yang tua sampai anak-anak muda [Lampiran 3: (23)]. Nilai-nilai luhur yang terkandung dalam perkawinan menjadi hilang, tidak dihayati secara mendalam.

  Anak-anak muda yang seharusnya masih sibuk dengan dunia belajar dan bermain sudah harus mengurus anak dan mencari rejeki untuk menafkahi keluarga barunya. Ditambah lagi orang-orang dewasa yang seharusnya memberi contoh yang baik kepada anak-anaknya justru memberikan contoh yang tidak baik dengan selingkuh kemudian hubungan yang telah retak tidak dapat diperbaiki dan memilih untuk berpisah (bercerai).

  Permasalahan di atas menjadi hal yang biasa dikalangan masyarakat Dayak Pada bulan agustus yang lalu Dewan Adat telah mendapat 4 kasus perselingkuhan dan yang bersangkutan ingin menindaklanjutinya kejenjang yang lebih serius [Lampiran 3: (23)]. Dalam artian perkawinan tersebut dapat diperbaiki atau justru sebaliknya. Pihak adat tidak menginginkan warganya memilih bercerai sebagai salah satu jalan keluar, jika dapat dibicarakan secara kekeluargaan dan memperbaiki apa yang telah rusak walaupun tidak dapat utuh seperti sedia kala mengapa tidak dicoba.

  R8 mengungkapkan bahwa perkawinan dibawah umur marak terjadi akhir- akhir ini. Pergaulan remaja yang sangat bebas dan orangtua yang tidak begitu memperdulikan kehidupan anak-anaknya karena anak dianggap sudah mampu untuk berpikir dengan sendiri dan bukan lagi bayi. Anak-anak dengan bebas melakukan apa yang ingin dilakukan karena orangtua tidak begitu menghiraukan kehidupan anaknya. Orangtua sibuk mencari rupiah guna menunjang kehidupannya ke depan. Sebagian orangtua menganggap bahwa proses mendidik anak selesai pada saat anak sudah memasuki usia sekolah.

  Menurut R8 segala macam proses dan dinamika yang terjadi dalam kehidupan perkawinan dapat dibentuk sejak awal seperti sebelum melangsungkan perkawinan, baik secara adat maupun secara Gereja. Dalam perkawinan Katolik tentunya terdapat Kursus Persiapan Perkawinan. Dalam kurus perkawinan yang dilaksanakan harus ditegaskan bahwa dalam perkawinan Katolik tidak diperbolehkan untuk bercerai [Lampiran 3: (23)]. Pendidikan moral dalam keluarga harus terus dipupuk dan dipertahankan. Demikian juga pendidikan iman orangtua untuk mendidik anaknya sampai pada kematangan jasmani, rohani dan psikologis.

2) Pembahasan

  Hasil penelitian dan pengamatan menunjukkan bahwa dinamika dan permasalahan yang terjadi dalam hidup perkawinan masyarakat suku Dayak Tunjung timbul karena rasa cinta diri yang berlebihan (egois), melupakan kewajiban baik sebagai istri ataupun sebagai suami sehingga yang menjadi korban adalah anak. Hal semacam ini menjadi sangat biasa dan tidak lagi menjadi berita yang mengherankan bagi masyarakat Dayak Tunjung yang ada di sekitaran Kecamatan Linggang Bigung. Persoalan tersebut diantaranya adalah perkawinan dibawah umur karena hamil di luar nikah dan perceraian keluarga karena kasus perselingkuhan.

  Dalam hal ini, siapa yang dapat disalahkan? Sebelum melangsungkan perkawinan, sebagai seorang Katolik dan juga suku Dayak Tunjung yang masih memegang erat adat istiadat tidak menjadikan perkawinan sebagai sebuah permainan dalam hidup. Perkawinan yang suci dan luhur seharusnya dimaknai dengan sepenuh hati. Ketika pasangan pria wanita telah sah menjadi pasangan suami istri baik secara adat dan gereja, janji perkawinan dan petuah-petuah yang telah mereka dapat seharusnya dapat menjadi bekal. Tidak ada alasan untuk mengabaikan tanggungjawab sebagai suami istri ataupun sebagai orangtua yang harus mendidik dan membimbing anak sampai pada kedewasaan.

  1) Hasil Penelitian

  Melalui wawancara dengan responden diperoleh pengetahuan mengenai simbol-simbol perkawinan adat suku Dayak Tunjung sebagai berikut: Berdasarkan hasil pengamatan dan wawancara dengan responden di dapat informasi berbagai macam simbol yang dipakai dalam proses upacara perkawinan adat. Informasi tersebut dapat disimak dari pernyataan responden sebagai berikut:

  Simbol-simbol tersebut berupa par, tanaa turus, gong, mandau, pisau, piring putih dan mangkuk putih, daun apeer, sentiriq, tombak [Lampiran 3: (4), (7), (10), (12), (15), (18), (21)]. Walaupun tidak secara lengkap namun beberapa dari responden dapat menyebutkan hampir semua simbol-simbol yang dipakai.

  2) Pembahasan

  Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden dapat menyebutkan simbol apa saja yang digunakan dalam upacara adat. Dalam menjawab pertanyaan responden terkadang berpikir dan mengingat-ingat apa saja kelengkapan proses upacara perkawinan adat. Tidak semua dapat menyebutkan secara lengkap, terkadang responden tidak tahu nama benda yang dipakai dan hanya menyebutkan ciri-cirinya saja. Secara umum responden dapat menyebutkan simbol-simbol seperti antakng (tempayan), gong, mandau, pisau, piring putih, mangkuk putih,

  

par (nampan), namun sebagian yang lain hanya menyebutkan ciri-ciri simbol

tersebut.

  Perkawinan adat merupakan warisan budaya dari leluhur yang harus dijaga adat serta tradisi yang telah ada secara turun temurun. Simbol-simbol yang dipakai dalam perkawinan adat memang bermacam-macam, akan tetapi masing- masing simbol yang dipakai untuk melengkapi upacara tersebut mengandung makna yang baik.

d. Kesetiaan dalam Perkawinan Katolik 1) Hasil Penelitian

  Berdasarkan wawancara dengan responden diperoleh tanggapan mengenai kesetiaan dalam hidup perkawinan sebagai berikut : Kesetian dalam sebuah perkawinan tergantung bagaimana pasangan tersebut menjalaninya [Lampiran 3: (4)]. Jika dari awal pasangan tersebut membuat komitmen dan juga ketika menerima sakramen perkawinan dikatakan bahwa perkawinan Katolik itu bersifat monogami dan tak terceraikan, setia dalam untung dan malang dihayati dengan benar maka perkawinan itu akan bertahan. Dalam Kitab suci sendiri tertulis bahwa “apa yang dipersatukan Allah tidak boleh diceraikan oleh manusia”. Hal ini sesuai dengan apa yang termuat dalam Injil Mat 19:6. Dari kutipan ini kita sudah mengetahui bahwa Allah sendiri tidak menghendaki perceraian dalam pernikahan melainkan harus setia seumur hidup [Lampiran 3: (8)].

  R6 mengatakan, bahwa Perkawinan Katolik bersifat monogami dan tak terceraikan. Ketika pasangan suami istri sudah mengikrarkan janji perkawinan dihadapan Allah yaitu setia dalam untung dan malang maka mereka akan menjadi

  [Lampiran 3: (18)]. R4 mengungkapkan bahwa elemen paling dasar pembentuk keluarga Katolik itu adalah cinta. Hidup perkawinan tanpa cinta bagaikan sayur tanpa garam, terasa

  “hambar”. Bagaimana bisa bertahan dengan penuh kesetiaan dalam hidup berkeluarga jika pernikahan tidak didasari oleh cinta. [Lampiran 3: (13)]. R5 dan R7 menambahkan bahwa elemen dasar pembentuk keluarga Katolik adalah cinta kasih, rasa percaya dan saling mengasihi. Jika semua itu tidak ada maka tidak akan bisa membentuk sebuah keluarga yang hidup berlandaskan cinta, karena dasar dari pembentuk keluarga adalah cinta kasih yang murni antara suami istri [Lampiran 3: (15), (21)].

  Betapa pentingnya kesetiaan pasangan suami istri lebih-lebih ketika bahtera rumah tangga itu dilanda permasalahan. Atas pertanyaan dapatkah responden mengampuni pasangannya ketika dikhianati. R1 mengemukakan jawabannya sebagai berikut:

  Untuk ukuran manusia yang jauh dari sempurna yang namanya mengampuni belum tentu bisa. Mengapa? Karena ia sudah menghilangkan bumbu kepercayaan yang selama ini membumbui hidup rumah tangga kita. Bagi saya, ketika pasangan saya berlaku tidak setia, saya tidak akan menghakiminya, tetapi saya akan mengajaknya berdialog, apa yang menyebabkan ia sampai berlaku tidak setia. Banyak pasangan yang saya lihat selama ini langsung meminta cerai dan menuntut hak ini itu ketika mengajukan perceraian. Saya tidak tahu akan seperti apa jadinya jika hal itu terjadi namun saya akan mengingat komitmen awal sebelum menikah [Lampiran 3: (5)]. Responden lain (R6) mengungkapkan bahwa pasti mengampuni. Tuhan saja mau mengampuni umat-Nya yang berbuat dosa dan jauh menyimpang dari jalan-Nya, mengapa kita sebagai manusia ciptaan yang serupa dan segambar dengan-Nya

2) Pembahasan

  Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap pasangan yang telah menikah harus terus memupuk hubungan yang mereka bina dengan melakukan refleksi diri dan pembaharuan janji perkawinan. Fungsinya untuk mengingat kembali bagaimana awal pasangan tersebut memilih untuk hidup bersama, membangun komitmen dan kepercayaan. Jangan hanya karena masalah kecil yang mestinya dapat dibicarakan dengan kepala dingin malah menjadi bumerang yang membuat keretakan dalam hidup berumah tangga. Cinta kasih, kesetiaan dan kejujuran seharusnya menjadi pondasi utama dalam membangun keluarga yang harmonis.

  Perkawinan dalam tradisi Katolik dibangun atas janji setia antar pasangan untuk membangun persekutuan hidup di dasarkan pada cinta kasih. Gereja mengajarkan bahwa perkawinan itu merupakan panggilan, artinya pria wanita yang mengikatkan diri menjadi suami istri akan menjalankan peran untuk menngambil bagian dalam karya Allah. Problematika kehidupan perkawinan sering dipicu oleh ketidaksetiaan suami istri karena keegoisan satu terhadap yang lain. Di kalangan masyarakat suku Dayak Tunjung khususnya umat Katolik yang telah menikah, banyak kasus ketidaksetiaan antara pasangan suami istri.

  Berdasarkan hasil informasi yang diperoleh baik secara langsung maupun tidak langsung, perceraian yang dulunya diangggap tabu di dalam gereja kita, kini sudah tidak tabu lagi. Sumpah setia yang pernah diucapkan saat pemberkatan perkawinan telah begitu mudahnya untuk diingkari oleh sebagian kecil suami istri. mengartikan makna kesetiaan dalam hidup perkawinan. Mereka beranggapan bahwa yang terpenting tidak bercerai, apapun yang dilakukan masih dianggap setia meskipun dengan perselingkuhannya itu sudah menunjukkan sikap ketidaksetiaannya terhadap pasangan hidupnya.

  Setiap responden yang peneliti wawancarai, mengatakan bahwa perkawinan Katolik adalah perkawinan yang tak dapat diceraikan, perkawinan yang dipersatukan oleh Allah, mengucapkan janji dihadapan Allah, dan setia seumur hidup, dalam suka dan duka, dalam untung dan malang. Maka dari itu, sebagai pasangan yang telah menikah, demi menjaga keutuhan tersebut haruslah setia dengan komitmen yang telah diucapkan.

  e.

  

Makna simbol-simbol perkawinan adat suku Dayak Tunjung terhadap

kesetiaan dalam hidup perkawinan keluarga Katolik

1) Hasil Penelitian

  Berdasarkan wawancara dengan responden mengenai makna simbol- simbol perkawinan adat suku Dayak Tunjung terhadap nilai kesetian dalam hidup perkawinan keluarga Katolik diperoleh hasil sebagai berikut:

  Dalam bab II penulis telah memaparkan dengan jelas makna dari masing- masing simbol yang dipakai dalam perkawinan adat suku Dayak Tunjung (lih.

  Bab II hal. 35). Mandau merupakan simbol keteguhan hati mempelai pria, bahwa ia sungguh mencintai pasangannya dengan sepenuh hati, pisau melambangkan keteguhan hati mempelai wanita yang dengan tulus menerima cinta mempelai melambangkan bahwa perkawinan telah mendapat restu dari pihak keluarga dan dinyatakan sah secara adat. Selain itu piring putih juga melambangkan sebuah kemurnian dan kesucian dari sebuah perkawinan. Antakng (tempayan) bermakna sebagai penanda adat yaitu sebagai lambang memberi pagar dalam kehidupan berkeluarga supaya tidak ada yang merusak kesucian dari perkawinan tersebut. Sedangkan fungsi lainnya sebagai perhitungan nilai adat, jika diuangkan sebesar Rp. 500.000 per 1 buah antakng.

  Faktanya hasil wawancara menunjukkan bahwa pemahaman suku Dayak Tunjung tentang makna simbol-simbol dalam perkawinan adat sangat minim.

  Responden dapat menyebutkan simbol apa saja yang dipakai namun tidak dapat menyebutkan dengan pasti makna dari simbol-simbol tersebut. Responden hanya dapat menyebutkan beberapa makna simbol-simbol yang mereka ketahui. Seperti R2 hanya menyebutkan makna duduk diatas gong. R2 mengemukakan jawabannya sebagai berikut :

  Saya tidak tahu semua makna dari alat-alat tersebut, yang saya tahu bahwa duduk diatas gong mengartikan bahwa hidup berumah tangga tidak mudah. Duduk diatas yang sempit, merasakan pegal dan sakit. Dalam menjalani berumah tangga juga demikian, tidak ada yang nyaman dan enak. Kalau yang lain saya tidak tahu [Lampiran 3: (7)]. Responden lain (R6) mengatakan bahwa par adalah tempat menaruh piring kecil (tengkeriiq) yang berisikan nasi dan wajiq, piring putih polos melambangkan hati yang suci dan mau menyerahkan diri untuk pasangannya berbeda dengan R4 yang tidak tahu makna dari simbol-simbol tersebut [Lampiran 3: (18), (12)].

  Dalam perkawinan adat suku Dayak Tunjung simbol-simbol yang dipakai simbol-simbol tersebut mengandung makna kesetiaan namun keseluruhan proses saling berhubungan. Jika dihubungan dengan perkawinan Katolik, keseluruhan proses dan simbol yang dipakai mengajarkan setiap pasangan untuk hidup saling setia. R2 mengemukakan hal yang sama, yaitu simbol-simbol yang dipakai dalam perkawinan adat mengandung nilai kesetiaan. Jawaban tersebut dapat dibaca pada kutipan di bawah ini:

  Menurut saya simbol-simbol perkawinan yang di pergunakan dalam perkawinan adat mengandung nilai kesetiaan. Saya tidak dapat menyebutkan simbol-simbol mana saja, akan tetapi jika dikaitkan dengan perkawinan Katolik setiap simbol itu mengajarkan kita untuk hidup saling setia dengan pasangan diperkuat lagi dengan pengesahan perkawinan secara Katolik. Bertambahlah keutuhan keluarga tersebut, bahwa hidup dalam perkawinan tidak hanya soal nafsu duniawi akan tetapi kita harus menghayati setiap perjalanan hidup dari awal kita berjanji untuk menikah sampai pada akhir hidup kita [Lampiran 3: (8)].

  Responden lain (R5), menyebutkan perkawinan Katolik mengajarkan untuk hidup saling setia berladaskan cinta kasih antara pasangan suami istri. Sama halnya dengan simbol-simbol yang dipakai dalam perkawinan adat mengajarkan pasangan suami istri untuk saling setia. Dapat disebutkan bahwamakna simbol- simbol perkawinan adat senada dengan nilai kesetiaan dalam perkawinan Katolik [Lampiran 3: (15)].

2) Pembahasan

  Berdasarkan hasil wawancara yang penulis lakukan, didapatkan fakta yang mengejutkan dari responden. Pemahaman, pengetahuan tentang perkawinan adat dan simbol-simbol yang digunakan dalam proses upacara sangat minim. muda. Dari lingkup Gereja pun demikian. Perlu adanya kegiatan bagi keluarga- keluarga Katolik seperti penghayatan terhadap makna kesetiaan perkawinan Katolik ditinjau dari simbol-simbol perkawinan adat.

  Simbol-simbol yang dipakai dalam proses perkawinan adat juga melambangkan kesetiaan yang tidak kalah kuatnya dengan perkawinan Katolik.

  Walaupun tidak secara eksplisit di jelaskan bahwa salah satu simbol melambangkan kesetiaan namun dari makna yang terkandung dapat diambil kesimpulan bahwa simbol-simbol mengajarkan bahwa pasangan suami istri bersikap saling setia, hidup bersama untuk saling memberi dan menerima, serta kesediaan untuk sehidup semati hingga maut memisahkan.

  Oleh sebab itu, dalam perkawinan adat maupun Gereja, kesetiaan bukan soal tidak bercerai saja, disana ada unsur-unsur dan tanggungjawab lain yang harus masing-masing pasangan penuhi untuk bisa mewujudkan kesetiaan yang diidam-idamkan oleh pasangan suami istri. Untuk itu, kesetiaan tidak bisa dipisahkan dari hidup beriman yang berarti percaya. Sama seperti Allah yang percaya kepada Bangsa Israel, merengkuh kembali Bangsa Israel walaupun berlaku tidak setia terhadap-Nya.

C. Rangkuman Hasil Penelitian dan Permasalahan yang Ditemukan

  Berdasarkan hasil penelitian dan pengamatan tentang “simbol-simbol perkawinan adat suku Dayak Tunjung sebagai ungkapan nilai kesetiaan dalam

  1. Melalui penelitian yang dilakukan, praksis perkawinan yang terdapat dalam suku Dayak Tunjung ada dua yaitu perkawinan adat dan perkawinan gereja.

  Hal ini biasa dilakukan oleh suku Dayak Tunjung karena perkawinan adat merupakan tradisi dan perkawinan Gereja sebagai pengokoh dari prosesi perkawinan adat. Hal ini menunjukkan bahwa nilai luhur dari perkawinan adat masih begitu dihargai oleh suku Dayak Tunjung. Namun, perkembangan jaman membuat sebagian masyarakat suku Dayak Tunjung mengabaikan nilai-nilai luhur dari perkawinan adat. Perkawinan adat dianggap kuno dan ketinggalan jaman.

  2. Dinamika dan permasalahan dalam perkawinan terjadi karena perkawinan tersebut kurang dihayati secara mendalam oleh pasangan suami istri.

  Berbagai macam persoalan yang terjadi mulai dari masalah ekonomi sampai ketidakpuasan dengan pasangan membuat pasangan berlaku tidak setia.

  Perkawinan menjadi biasa saja dan tidak lagi sakral. Nilai luhur yang terkandung dalam perkawinan menghilang karena ketidakmampuan pasangan suami istri untuk menekan keegoisan, menjaga komitmen dan janji perkawinan yang diucapkan pada saat perkawinan. Pada akhir-akhir ini juga perkawinan remaja dibawah umur marak terjadi karena pergaulan yang begitu bebas menuntut mereka untuk menikah usia dini. Pendidikan moral dalam keluarga yang merosot. Anak terbengkalai karena kesibukan dan pekerjaan.

  3. Pemahaman suku Dayak Tunjung khususnya umat Katolik yang telah menikah terkait perkawinan adat dan simbol-simbol yang dipakai dalam menyebutkan makna dari simbol-simbol yang dipakai dalam proses upacara adat. Perkawinan adat hanya sebatas kewajiban. Nilai luhur yang ada dalam perkawinan adat tidak begitu dihayati sebagai sesuatu yang baik.

4. Dalam Gereja Katolik, perkawinan dibangun atas dasar cinta kasih dari suami dan istri. Cinta kasih merupakan elemen dasar pembentuk keluarga Katolik.

  Dalam pengikraran janji/sumpah setia yakni untuk menjadi seperti yang diharapkan pasangan dan juga menjadi seperti yang Allah kehendaki. Namun, hambatan terbesar kesetiaan suami istri adalah tidak mampu menekan keegoisan, bukan lagi atas kehendak Allah dan pasangan. Hal ini, banyak terjadi dikalangan umat Katolik suku Dayak Tunjung. Perceraian yang dulunya dianggap tabu, kini sudah tidak tabu lagi dan menjadi hal yang biasa.

  Sebagian kecil pasangan suami istri bannyak yang salah mengerti tentang makna kesetiaan dalam perkawinan Katolik, yang terpenting tidak bercerai dan masih memberi nafkah lahir dan batin kepada pasangan.

  5. Simbol-simbol perkawinan yang digunakan dalam perkawinan adat mengandung nilai kesetiaan. Walaupun tidak secara eksplisit disebutkan bahwa simbol-simbol tersebut mengandung nilai kesetian namun dari setiap proses upacara simbol-simbol yang dipakai mempunyai keterikatan satu dengan yang lainnya. Jika disimpulkan maka makna dari perkawinan adat akan merujuk kepada pasangan untuk hidup saling menghormati dan saling setia serta bertanggungjawab untuk saling membahagiakan. Untuk itu, baik perkawinan adat maupun gereja, mengajarkan setiap pasangan untuk selalu mensejahterakan pasangan dan juga mensejahterakan anak hasil cinta suami istri. Faktanya dari hasil wawancara, ditemukan bahwa pemahaman mengenai makna dari perkawinan adat dan simbol-simbol yang digunakan dalam proses upacara adat sangat minim. Kurangnya sosialisasi dari lembaga adat terutama bagi kaum muda.

D. Usulan Program

  Pada bagian ini penulis akan membuat usulan program rekoleksi bagi keluarga-keluarga yang ada di Kecamatan Linggang Bigung, khususnya keluarga Katolik. Kegiatan rekoleksi ini bertujuan untuk menyadarkan peserta akan peran Tuhan dalam hidup berkeluarga, diingatkan kembali akan perannya sebagai pendidik iman yang utama dalam keluarga dan hakikat perkawinan Kristiani.

  Usulan kegiatan yang dikemukakan oleh penulis adalah kegiatan rekoleksi yang ditujukan kepada keluarga Katolik yang telah menikah secara adat maupun Gereja. Usulan program ini penulis proyeksikan bagi keluarga Katolik yang ada di Kecamatan Linggang Bigung, Paroki St. Yohanes Penginjil Linggang Melapeh.

  Paroki St. Yohanes Penginjil terletak di Kecamatan Linggang Bigung karena setiap Kecamatan terdapat satu Paroki di dalamnya. Sebagai gambaran di Paroki St. Yohanes Penginjil Linggang Melapeh jarang dilakukan rekoleksi yang

  Linggang Melapeh fokus pada kursus persiapan perkawinan namun tidak ada tindak lanjut setelah calon pasutri menikah. Misalnya seperti rekoleksi penyegaran janji perkawinan dsb. Secara garis besar kegiatan rekoleksi keluarga Katolik jarang dilakukan kecuali kursus persiapan perkawinan.

  Isi dari usulan kegiatan ini akan dibagi menjadi dua bagian yakni matrix kegiatan dan satuan pelaksanaan kegiatan. Penulis akan menggunakan metode refleksi, diskusi kelompok dan tanya jawab yang memungkinkan peserta untuk terlibat aktif di dalam pertemuan sehingga peserta dapat bekerja sama dalam kelompok dan memberikan pengalaman langsung dalam hidup berkeluarga. Satuan pelaksanaan akan berisi pemikiran dasar, tujuan kegiatan, waktu pelaksanaan, dan matrix kegiatan.

  Penulis mengandaikan program kegiatan dengan pertemuan satu hari penuh dengan waktu setiap sesi 60-90 menit. Setiap sesi akan membahas satu materi sehingga satu hari dirasa cukup untuk menyelesaikan lima materi yang akan dibawa. Hal ini dengan pertimbangan kesibukan dari peserta yang sebagian besar adalah petani dan pegawai. Berikut adalah matriks kegiatan dan satuan pelaksanaan kegiatan (terlampir):

  

MATRIKS REKOLEKSI KELUARGA KATOLIK

PAROKI ST. YOHANES PENGINJIL LINGGANG MELAPEH,

LINGGANG BIGUNG, KUTAI BARAT

  Tema : Merasakan Kehadiran Allah dalam Keluarga Tujuan : Peserta semakin menyadari peran Tuhan dalam perjalanan hidup berkeluarga sehingga keluarga semakin menjadi saksi Tuhan

  • Latar belakang pendampingan
  • Tujuan pendampingan
  • Proses pendampingan ceramah Laptop, Viewer, speaker
  • Arti Perkawinan - Tujuan Perkawinan - Ciri-ciri perkawinan
  • Moral perkawinan
  • Hukum perkawinan
  • Cerama h
  • Laptop - Speaker - Viewer AI. Purwa Hadiwardoyo, MSF “Ajaran Gereja Katolik
  • Diskusi - Hand out
  • Membaca cerita “Ungkapan Jujur Seorang Anak” Tanya- Jawab, peneguha n
  • Hand out
  • Laptop - Speaker - Viewer Kitab Suci Dok. Gereja Familiaris Consortio tentang Keluarga Kristiani di Dunia Modern

  tentang Perkawinan”. Kitab Suci.

  6

  30 Istirahat makan siang

  5

  Rekoleksi Keluarga”

  4 90 menit Sesi III: Komunikasi dalam Keluarga

  3 60 menit Sesi II: Menjadi Pendidik dalam Keluarga

  Hakikat Perkawinan Kristiani

  2 90 menit Sesi I:

  Pembukaan/ Pengantar

  1 15 menit

  No Waktu Judul Pertemuan Uraian Materi Metode Sarana Sumber

  pendidik dan memberikan kesaksian bagi iman anak dalam keluarga.

  • Peranan Komunikasi dalam keluarga
  • Sifat komunikasi dalam keluarga
  • Unsur-unsur komunikasi
  • Ceram ah
  • Laptop - Viewer - Speaker Ign. Wignyasumarta , MSF “Panduan
  • Janji untuk mendidik anak
  • Cerama h
  • Laptop - Ign. Wignyasumarta , MSF

  60 Sesi IV: Pendidikan Iman dalam

  • Hand out
religius dan moral

  • Aspek moral
  • Pendidikan iman
  • Pengenalan kehidupan menggereja Keluarga”
  • Proses Upacara - Simbol- simbol
  • cerama h
  • Laptop - Viewer - Speaker Lembaga Adat

  7

  60 Sesi V: Pemahaman umum tentang perkawinan adat suku Dayak Tunjung

  8

  30 Penutup Menutup rangkaian kegiatan dengan Misa yang di pimpin oleh Pastor Paroki.

  Pastor Paroki Pelaksana

BAB V PENUTUP Pada bagian ini penulis akan menyampaikan kesimpulan dan saran

  berkaitan dengan usaha “Menggali Simbol-simbol Perkawinan Adat Suku Dayak Tunjung sebagai Ungkapan Nilai Kesetiaan Dalam Perkawinan Katolik Di Kecamatan Linggang Bigung, Kab. Kutai Barat, Kalimantan Timur.” Bagian ini akan dibagi menjadi dua bagian utama yakni bagian kesimpulan yang berisi kesimpulan dari Bab I sampai Bab IV dan bagian saran yang berisi saran untuk katekis dan orang-orang yang terlibat dalam menyiapkan Kursus Persiapan Perkawinan bagi calon pasutri.

A. Kesimpulan

  Pada bagian ini penulis akan menyampaikan beberapa pokok pikiran dari uraian sebelumnya serta menegaskan hal-hal penting sehubungan dengan usaha menggali simbol-simbol perkawinan adat suku Dayak Tunjung sebagai ungkapan nilai kesetiaan dalam perkawinan Katolik di Kec. Linggang Bigung, Kab. Kutai Barat, Kalimantan Timur dan usaha pasangan suami istri untuk membangun keutuhan ikatan perkawinan.

  Dewasa ini pasangan suami istri mengalami kesulitan untuk memaknai dan menghayati nilai kesetiaan dalam perkawinannya. Keluarga-keluarga Katolik juga menghadapi situasi yang serupa. Skripsi ini ditulis dengan tujuan mengetahui permasalahan hidup keluarga Katolik suku Dayak Tunjung sehubungan dengan nilai kesetiaan, serta memberikan sumbangan pemikiran bagi suami istri Katolik dalam usaha mereka untuk membangun keutuhan ikatan perkawinan.

  Di atas telah ditegaskan mengenai kesulitan suami istri dalam memaknai dan menghayati nilai kesetiaan. Berdasarkan hasil penelitian, ada beberapa faktor yang dapat penulis simpulkan mengenai penyebab menurunnya pemaknaan dan penghayatan nilai kesetiaan tersebut. Pertama, menurunnya penghargaan terhadap martabat seseorang dalam konteks perkawinan tentunya akan berdampak pada perkawinan itu sendiri. Suami istri yang mengikat diri dalam perkawinan tidak lagi menghormati martabat pasangannya sebagai pribadi. Kondisi seperti itu tentu membawa perjalanan perkawinan suami istri ke ambang disintegrasi atau perpecahan.

  Kedua, faktor-faktor lain seperti faktor internal keluarga (menyangkut relasi personal antara suami, istri, dan anak-anak), faktor sosial, ekonomi, faktor budaya, faktor beda iman/agama, dan faktor kepribadian juga turut membawa dampak terhadap keutuhan sebuah perkawinan. Faktor-faktor tersebut dapat menimbulkan krisis yang mendalam dalam kehidupan suami istri.

  Kenyataan ini tak dapat dihindari, bahwa pasangan-pasangan suami istri saat ini tengah menghadapi badai krisis yang mengancam kesetiaan mereka. Di tengah situasi seperti itu, penulis berusaha untuk mencari titik pijak dan sumber hidup perkawinannya. Titik pijak dan sumber inspirasi itu dapat ditemukan dalam ajaran Gereja tentang kesetiaan dalam perkawinan dan makna kesetiaan yang terdapat dalam simbol-simbol perkawinana adat. Hal ini menjadi khas bagi masyarakat Dayak Tunjung karena praktek perkawinan tidak hanya dilihat dari satu sisi melainkan dari dua sisi yaitu perkawinan Gereja dan perkawinan adat.

  Selain menurunnya pemaknaan dan penghayatan akan nilai kesetian, pemahaman tentang perkawinan itu sendiri masih kabur, baik perkawinan adat maupun perkawinan Gereja. Menanggapi hal tersebut, penulis mengusulkan kegiatan rekoleksi sebagai upaya membangun kembali keutuhan hidup keluarga Katolik. Melalui kegiatan ini, para pasutri dapat meluangkan waktu untuk merenungkan dan melihat kembali pengalaman selama hidup terlebih ketika menjalani hidup bersama. Para pasutri dapat mengolah dirinya melalui berbagai sesi yang telah disiapkan dan refleksi diri. Dengan harapan, semakin banyak pasangan suami istri yang berani menjalani jalan salib kesetiaan dan ikatan tak terputuskannya perkawinan. Dengan demikian, makin banyak pasangan suami istri Katolik terbantu untuk menyadari bahwa perkawinannya mengandung harta dan mutiara berharga bagi mereka berdua, bagi kesejahteraan anak, bagi kebaikan Gereja dan seluruh bangsa manusia.

B. Saran

  Pada bagian ini penulis akan mengajukan beberapa saran sebagai upaya

  1. Bagi Keuskupan dan Paroki a.

  Keuskupan dan Paroki dapat membuat program-program pembinaan bagi katekis agar katekis semakin memiliki keyakinan dalam menjalankan tugas perutusannya dan memiliki kualitas pribadi yang mumpuni untuk melaksanakan tugas-tugasnya.

  b.

  Paroki dapat membuat program-program kegiatan bagi keluarga-keluarga Katolik agar pemaknaan, penghayatan dan ikatan keluarga dapat bertumbuh.

  2. Bagi Lembaga Adat

  Lembaga adat dapat membuat penyuluhan atau sosialisasi bagi masyarakat Dayak Tunjung mengenai luhurnya nilai perkawinan adat. Misalnya diadakan seminar tentang nilai luhur perkawinan adat suku Dayak Tunjung. Tujuannya agar masyarakat terutama generasi muda saat ini paham maksud dari setiap proses yang ada dalam perkawinan adat tersebut.

  3. Bagi Kampus

  Penambahan tenaga kerja (dosen tetap PAK) khususnya pada mata kuliah mengenai moral perkawinan dan hukum perkawinan. Sehingga pada penulisan tugas akhir yang ingin mengambil judul menyangkut hal tersebut tidak kesulitan dosen. Dalam hal ini materi yang disampaikan lumayan berat sehingga waktu satu semester dirasa sangat singkat untuk memahami materi-materi mengenai perkawinan. Mengingat dalam lingkup umat katekislah yang banyak ditanya waktu lebih lama dalam memberikan materi, sehingga katekis mempunyai banyak bekal untuk masuk dalam dunia pewartaan.

  

DAFTAR PUSTAKA

Abu Ahmadi. (1986). Antropologi Budaya. Surabaya: CV. Pelangi.

  Bergant, Dianne & Karris, Robert J. Editor. (2002). Tafsir Alkitab Perjanjian Baru.

  Diterjemahkan oleh A. S. Hadiwiyata. Yogyakarta: Kanisius. Catur Raharso, Alf. (2006). Paham Perkawinan dalam Hukum Gereja Katolik.

  Malang: Dioma. Cooke, Bernard. (1991). Perkawinan Kristen, Alternatif Untuk Ibadat Masa Mendatang 5. Yogyakarta: Kanisius.

  Darminta, J. (2006). Peziarahan Keluarga. Yogyakarta: Kanisius. Eminyan, Maurice. (2001). Teologi Keluarga. Yogyakarta: Kanisius. Gilarso, T. (2003). Kamulah Garam Dunia: Tugas Umat Allah Dalam Masyarakat.

  Yogyakarta: Kanisius. Go, Piet. (2003) Hukum Perkawinan Gereja Katolik. Teks dan Komentar. Malang: Dioma.

  Groenen, C. (1993). Perkawinan Sakramental. Yogyakarta: Kanisius.

  H. Arkanudin. (2012). Keanekaraman dan Kategori Orang Dayak blogspot.co.id/2012/04/ keanekaragaman-dan-kategori-orang-dayak.html. Diakses pada 04 Mei 2016.

  Katekismus Gereja Katolik. (1995). Ende : Arnoldus.

  Konigsmann, Josef. (1989). Pedoman Hukum Perkawinan Katolik. Ende: Nusa Indah. Koentjaraningrat. (1981). Manusia dan Kebudayaan Di Indonesia. Jakarta: Djamban. Korrie Layun Rampan. (2014). Kamus Lima Bahasa: Benuaq, Indonesia, Tonyooi, Kutai, Inggris. Yogyakarta: Araska.

  KWI. (1996). Iman Katolik: Buku Informasi dan Referensi. Yogyakarta: Kanisius. KWI. (2006). Kitab Hukum Kanonik (Codex Iuris Canonici). Diundangkan oleh Paus Yohanes Paulus II. Bogor: Grafika Mardi Yuana.

  KWI. (2011). Pedoman Pastoral Keluarga. Jakarta: Obor. KWI. (1993). Dokumen Konsili Vatikan II. Terjemahan R. Hardawiryana. Jakarta: Obor.

  Lahajir, Yuvenalis. (2013). Penulisan Hukum Adat Dayak (Tonyooi, Benuaq dan Bahau). Samarinda: CV. Ordo Teknik Konsultan. Madrah T., Dalmasius. (2001). Adat Sukat Dayak Benuaq dan Tonyooi. Jakarta: Puspa Swara. Mussafar Rasyid. (2013). Sejarah Migrasi Suku Dayak Bahau. http:// dayakofborneo.blogspot.co.id/2013/06 sejarah-migrasi-suku-dayak- bahau.html. diakses pada tanggal 27 April 2016. Moleong, Lexy J. (2014). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. NN. (2014). Pengertian Simbol. http:// / 2014/04 pengertian-simbol-apa-itu-simbol.html. Diakses pada 28 April 2016.

  Pamung, Yuvenalis. (2013). Penelitian Etnografi Komunitas Kampung Di Kabupaten Kutai Barat. Samarinda: CV. Citra Kalimantan. Pamung, Yuvenalis. (2012). Penelitian Hukum Adat dan Acara Adat 5 Sub Etnis Dayak (Tonyooi, Benuaq, Bahau, Aoheng dan Kenyah). Samarinda: CV.

  CitraKalimantan. Pamung, Yuvenalis. (2003). Pelulukng: Tata Cara Pengesahan Perkawinan Orang Dayak Benuaq. Surabaya: Airlangga University Press.

  Panduan Akademik. (2010). Yogyakarta: Program Studi Pendidikan Agama Katolik.

Pedoman Penulisan Skripsi. (2012). Yogyakarta: Program Studi Pendidikan Agama

Katolik.

  Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. (1977). Adat dan Upacara Perkawinan Daerah kalimantan Timur. Jakarta: Balai Pustaka.

  Purwa Hadiwardoyo, Al. (1988). Perkawinan Dalam Tradisi Katolik. Yogyakarta: Kanisius. Rahyono, F.X. (2009). Kearifan Budaya Dalam Kata. Jakarta: Wedatama Widya Sastra. Roedy Haryo Widjono. (2016). Dilema Transformasi Budaya Dayak. Jakarta: Lembaga Literasi Dayak dan Nomaden Institute. Rubiyatmoko, Robertus. (2011). Perkawinan Katolik menurut Kitab Hukum Kanonik.

  Yogyakarta: Kanisius. Sugiyono. (2010). Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif dan Kualitatif. Bandung: Alfabeta.

  Susianto Budi, Silvester. (2015). Kupas Tuntas Perkawinan Katolik. Yogyakarta: Kanisius. Tjilik Riwut. (2007). Kalimantan Membangun Alam dan Kebudayaan. Yogyakarta: Tiara Wacana. Tri Wijayanto. (2003). Upacara Perkawinan Adat Dayak Pasaguan Ditinjau dari Perkawinan menurut Tradisi Kristiani. Skripsi Fakultas Theologi Kentungan. Yohanes Paulus II. (2011). Familiaris Consortio: Peranan Keluarga Kristen dalam Dunia Modern. Jakarta: Departemen Dokumentasi dan Penerangan KWI.

  Dok. Asli diterbitkan pada 22 November 1981. Wrenn, L. C. (1972). Annulments. Hartford.

Dokumen baru

Dokumen yang terkait

KOMUNIKASI MASYARAKAT DAYAK NGAJU DALAM UPACARA PERKAWINAN Studi Kasus Proses Komunikasi Budaya dalam Upacara Perkawinan Adat Dayak Ngaju di Kotamadya Palangkaraya Provinsi Kalimantan Tengah
0
4
42
KERAWANG GAYO SEBAGAI SIMBOL DAN IDENTITAS SUKU GAYO PADA UPACARA PERKAWINAN DI KEBAYAKAN KABUPATEN ACEH TENGAH.
2
9
19
INTERPRETASI MAKNA DAN SIMBOL PERHIASAN PENGANTIN SUKU ANGKOLA PADA PESTA PERKAWINAN DI KOTA PADANGSIDIMPUAN.
1
10
24
Menggali simbol-simbol perkawinan adat suku Dayak Tunjung sebagai ungkapan dalam perkawinan Gereja Katolik di Kec. Linggang Bigung, Kab. Kutai Barat, Kalimantan Timur.
3
51
144
Studi etnobotani pemanfaatan tumbuhan upacara adat Suku Dayak Tunjung di Kabupaten Kutai Barat Provinsi Kalimantan Timur.
0
17
275
Studi etnoekologi pemanfaatan tumbuhan obat oleh masyarakat suku Dayak Tunjung Linggang di Kabupaten Kutai Barat provinsi Kalimantan Timur.
1
3
174
Studi etnoekologi pemanfaatan tumbuhan obat oleh masyarakat suku Dayak Tunjung Linggang di Kabupaten Kutai Barat provinsi Kalimantan Timur.
3
26
174
Studi etnobotani pemanfaatan tumbuhan upacara adat Suku Dayak Tunjung di Kabupaten Kutai Barat Provinsi Kalimantan Timur
0
2
273
10. Loro Blonyo Sebagai Ideologi Berpikir Positif Dalam Perkawinan Jawa,dimuat dalam Buku Simbol-Simbol Kebudayaan Jawa: Loro Bl
1
10
19
Suku dayak dan madura 1
0
0
1
SUKU DAYAK selako kalimantan barat
0
2
8
ETNOFARMAKOLOGI DAN PEMAKAIAN TANAMAN OB AT SUKU DAYAK TUNJUNG DI KALIMANTAN TIMUR
0
1
9
Studi etnoekologi pemanfaatan tumbuhan obat oleh masyarakat suku Dayak Tunjung Linggang di Kabupaten Kutai Barat provinsi Kalimantan Timur - USD Repository
0
0
172
Studi etnoekologi pemanfaatan tumbuhan obat oleh masyarakat suku Dayak Tunjung Linggang di Kabupaten Kutai Barat provinsi Kalimantan Timur - USD Repository
0
0
172
Pengaruh agama protestan terhadap adat istiadat perkawinan suku Dayak Kendawangan Desa Sukakarya Kecamatan Marau Kalimantan Barat 1970-2012 - USD Repository
0
1
94
Show more