Strategi Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) dalam Pengembangan Promosi Kegiatan Ekowisata

Gratis

2
23
117
2 years ago
Preview
Full text
STRATEGI TAMAN NASIONAL GUNUNG GEDE PANGRANGO (TNGGP) DALAM PENGEMBANGAN PROMOSI KEGIATAN EKOWISATA ERNAWATI EKO HARTONO SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2008 PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN SUMBER INFORMASI Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis Strategi Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) dalam Pengembangan Promosi Kegiatan Ekowisata adalah karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir tesis ini. Bogor, Agustus 2008 Ernawati Eko Hartono NRP. E051060441 ABSTRACT ERNAWATI EKO HARTONO. The Strategy of Mount Gede Pangrango National Park in Developing Ecotourism Promotion Under direction of RINEKSO SOEKMADI dan E.K.S. HARINI MUNTASIB. Mount Gede Pangrango National Park has a high potential ecotourism site to be promoted. In this case, promotion of ecotourism in Mount Gede Pangrango aims to attract both tourists and partners to devote in ecotourism activities. The purposes of this research are to evaluate recent strategies of ecotourism promotion and to map new strategies of Mount Gede Pangrango National Park in promoting ecotourism. The mapping of these promotion strategies is based on SWOT analysis. Ecotourism promotion in Mount Gede Pangrango National Park has acquired four components of promotion mix which are advertising, personal selling, public relation, and promotion selling, but has not used all promotion media and has not done promotions gradually. Promotion has not been effectively accepted by public. Data shows 71% visitors get information word of mouth, 14% from printed media, 11% from school/work place, and 4% from internet. The result of this SWOT analysis puts promotion in second quadrant, namely stability strategy. Stability strategy is consolidation strategy for reducing weaknesses and maintaining recent market. Stability aims to maintain such condition by using opportunities and restore weaknesses. This strategy leads to a project opening opportunities for private sectors to work on ecotourism, doing cooperation with airports and airlines services, tourism bureaus, mass media, hotels, and also uses an appropriate promotion media for introducing Mount Gede Pangrango National Park. Based on the exposed analysis, strategic ecotourism promotions can be conducted are : using the website of TNGGP by preparing interesting information, cooperation with tourism bureaus by setting or planning tourism packages, cooperation with airport, cooperation with mass media, doing direct mailing promotions, maintaining infrastructures which provides information on ecotourism, raising ticket’s prize, giving courses to human resources, developing new potential tourism sites. Keywords: Mount Gede Pangrango National Park, promotion strategy, ecotourism, object and natural tourism potential attraction RINGKASAN ERNAWATI EKO HARTONO. Strategi Taman Nasional Gunung Gede Pangrango dalam Pengembangan Promosi Kegiatan Ekowisata. Dibimbing oleh RINEKSO SOEKMADI dan E.K.S. HARINI MUNTASIB. TNGGP mempunyai potensi ekowisata yang cukup tinggi yaitu keindahan alam (gunung, panorama alam); gejala alam (kawah, air panas, air terjun); keutuhan (udara sejuk, kenyamanan); keanekaragaman hayati (tumbuhan dan satwa); keunikan alam (danau, rawa pegunungan, padang rumput edelweis), dan situs budaya. Potensi ekowisata yang dimiliki TNGGP harus dikenalkan kepada publik melalui kegiatan promosi. Promosi kegiatan ekowisata di TNGGP dilakukan selain untuk menarik pengunjung yang akan menikmati keindahan alam TNGGP juga menarik mitra berinvestasi dalam kegiatan ekowisata Penelitian ini bertujuan untuk melakukan evaluasi terhadap kegiatan promosi yang telah dilakukan dan menyusun strategi Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) untuk pengembangan promosi kegiatan ekowisata. Penelitian dilaksanakan pada bulan Februari-Mei 2008 bertempat di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Jawa Barat, dengan menggunakan metode non experimental yaitu deskriptif eksploratif, observasi dan studi pustaka. Pengambilan sampel pengunjung dan mitra menggunakan teknik purposive sampling. Jumlah pengunjung aktual 100 orang (diasumsikan sebagai ekoturis), yang diambil dari Pintu masuk Cibodas 60 orang, Gunung Puteri 15 orang dan Bodogol 25 orang. Selain pengunjung aktual dilakukan juga wawancara terhadap pengunjung potensial sebanyak 30 orang. Analisis dilakukan dengan analisis deskriptif dan analisis SWOT (Strengths, Weaknesesses, Opportunities, Threats). Promosi kegiatan ekowisata di TNGGP secara keseluruhan sudah mencakup keempat komponen bauran promosi, yaitu periklanan, penjualan secara pribadi, hubungan masyarakat dan promosi penjualan, tetapi belum semua media promosi digunakan dan belum secara rutin promosi dilakukan. Sebanyak 75% keatas pengunjung tidak pernah melihat/mendengar media promosi yang digunakan TNGGP untuk mempromosikan wisata. Promosi yang belum dilakukan adalah melalui email, siaran pers, presentasi penjualan, pemasangan billboard dan promosi mengenai program-program wisata. Promosi masih dirasakan kurang oleh masyarakat umum, karena sebesar 71% pengunjung memperoleh informasi ekowisata TNGGP dari cerita teman/saudara, 14% memperoleh informasi melaui media cetak, 11% dari sekolah/tempat kerja dan 4% dari media elektronik Berdasarkan Metode SWOT yang digunakan, diketahui bahwa posisi strategi TNGGP dalam promosi ekowisata berada pada sel/quadran ke-2 (-0.19 ; 0.58) dalam Matriks Grand Strategy. Hal ini berarti strategi yang dapat dikembangkan adalah strategi stabilitas (stability strategy). Strategi stabilitas adalah strategi konsolidasi untuk mengurangi kelemahan yang ada, dan mempertahankan pangsa pasar yang sudah dicapai. Bentuk strategi yang diterapkan dalam konteks promosi adalah meningkatkan kerjasama dengan mitra-mitra TNGGP (bandara dan maskapai penerbangan, biro perjalanan wisata, media massa, hotel, dll) dan memilih media promosi yang tepat untuk mempromosikan ekowisata di TNGGP baik kepada pengunjung maupun mitra-mitra. Berdasarkan hasil analisis yang telah dipaparkan maka rencana strategis kegiatan promosi ekowisata yang dapat dilakukan adalah : 1. Menggunakan website TNGGP dengan menyiapkan informasi yang menarik 2. Kerjasama dengan Biro Perjalanan Wisata dengan membuat paket-paket wisata 3. Kerjasama dengan bandara, kerjasama dengan media massa 4. Melakukan promosi secara direct mailing yang intensif 5. Peningkatan pemeliharaan sarana dan prasarana 6. Mengadakan pelatihan kepada SDM terkait promosi 7. Mengembangkan potensi wisata yang belum dikembangkan Kata kunci: Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, strategi promosi, ekowisata, obyek dan daya tarik wisata alam. © Hak cipta milik IPB, tahun 2008 Hak cipta dilindungi 1. Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebut sumber. a. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik atau tinjauan suatu masalah. b. Pengutipan tidak merugikan kepentingan yang wajar IPB. 2. Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya tulis dalam bentuk apapun tanpa izin IPB. STRATEGI TAMAN NASIONAL GUNUNG GEDE PANGRANGO (TNGGP) DALAM PENGEMBANGAN PROMOSI KEGIATAN EKOWISATA ERNAWATI EKO HARTONO Tesis sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains pada Program Studi Ilmu Pengetahuan Kehutanan SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2008 Penguji Luar Komisi pada Ujian Tesis: Prof. Dr. Ir. Hardjanto, MS Judul Tesis : Strategi Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) dalam Pengembangan Promosi Kegiatan Ekowisata. Nama : Ernawati Eko Hartono NRP : E051060441 Program Studi : Ilmu Pengetahuan Kehutanan Disetujui, Komisi Pembimbing Dr. Ir. Rinekso Soekmadi, MSc.F Ketua Prof. Dr. E.K.S. Harini Muntasib, MS Anggota Diketahui, Ketua Program Studi Ilmu Pengetahuan Kehutanan Dekan Sekolah Pascasarjana Prof. Dr. Ir. Imam Wahyudi, MS Prof. Dr. Ir. Khairil A. Notodiputro, M.S. Tanggal Ujian : 19 Agustus 2008 Tanggal Lulus : PRAKATA Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT atas ridho dan anugerah Nya sehingga tesis ini berhasil diselesaikan. Judul penelitian ini adalah Strategi Taman Nasional Gunung Gede Pangrango dalam Pengembangan Promosi Kegiatan Ekowisata. Ungkapan terima kasih dan penghargaan yang paling tulus penulis sampaikan kepada: 1. Departemen Kehutanan, yang telah memberikan izin dan kesempatan melanjutkan pendidikan S2 di Institut Pertanian Bogor 2. Kepala Pusat Informasi Kehutanan beserta staff yang mendukung penulis sehingga dapat menyelesaikan pendidikan dengan lancar 3. Dr. Ir. Rinekso Soekmadi, MSc.F (ketua komisi pembimbing) dan Prof. Dr. E.K.S. Harini Muntasib, MS (anggota komisi) atas curahan pemikiran, waktu, kesabaran dalam memberikan arahan, bimbingan hingga selesainya penulisan tesis ini 4. Prof. Dr. Ir. Hardjanto, MS selaku penguji luar komisi pada ujian sidang tesis yang telah menyediakan waktunya, memberikan koreksi, masukan dan saran untuk penyempurnaan tesis ini 5. Prof. Dr. Imam wahyudi, MS selaku Ketua Program Studi IPK 6. Kepala Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango beserta staff atas dukungan selama melaksanakan penelitian 7. Ayahanda dan Ibunda, Om Nano, Tante Nova, Dik Radith, Dian, Dik Desy dan Enna atas segala doa dan pengorbanannya, secara khusus buat suami tercinta Yudi Ariyanto, SH, MT. yang dengan sabar dan penuh pengertian mendampingi dan mendukung penuh dalam penyelesaian studi ini, serta putraku tersayang Irham Erdiyanto Ramadhan yang memberikan semangat dan inspirasi pada setiap kejenuhan yang datang menghampiri. 8. Teman-teman IPK angkatan 2006 : Eka, Susi, Arida, Apri, Henti, Ratih, Anti, Zaida, Ida, Tekad, Agus Kholik, Yano, Ceng, Ika, Darwis, Ari, Meis, Buyan, Hans, Santi, Dadan, Nunung, Kushartati, Edwin, Andi, Pak Budi, Pak Saptadi terima kasih atas, kebersamaan, kekompakan dan kerjasama dalam suka dan duka selama studi dan semoga ini terus berlanjut kedepannya 9. Laboratorium Rekreasi Alam dan Ekowisata IPB, Mba Eva, Mba Resti, Mba Yun, Mba Tri. Akhir kata mudah-mudahan tesis ini dapat memberikan manfaat bagi siapa saja yang memerlukan. Bogor, Agustus 2008 Ernawati Eko Hartono RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di kota Sragen, Jawa Tengah pada tanggal 7 Januari 1980 sebagai putri pertama dari tiga bersaudara dari ayah Edy Suhartono dan ibu Sulasmi. Menamatkan pendidikan sekolah dasar di SDN Bendungan I Sragen tahun 1992, kemudian menyelesaikan pendidikan di SMP Negeri 1 Sragen tahun 1995 dan lulus dari SMA Negeri 1 Sragen tahun 1998, hingga pada tahun yang sama penulis diterima di IPB melalui undangan PMDK dan akhirnya lulus sebagai Sarjana Kehutanan pada tahun 2002. Pada tahun 2002 penulis diterima sebagai Pegawai Negeri Sipil Departemen Kehutanan sebagai Staf Penyaji dan Pengolah Data Pusat Informasi Kehutanan, Sekretariat Departemen Kehutanan, Jakarta sampai sekarang. Penulis menempuh studi S2 pada Sekolah Pascasarjana IPB program studi Ilmu Pengetahuan Kehutanan melalui sponsor dari Departemen Kehutanan. Sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Magister pada Program Studi Ilmu Pengetahuan Kehutanan (IPK) pada Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor (IPB), penulis melakukan penelitian tentang “Strategi Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) dalam Pengembangan Promosi Kegiatan Ekowisata“ dibawah bimbingan Dr. Ir. Rinekso Soekmadi, MSc.F sebagai Ketua Komisi Pembimbing dan Prof. Dr. E.K.S. Harini Muntasib, MS sebagai Anggota Komisi Pembimbing. DAFTAR ISI DAFTAR ISI ................................................................................................ xi DAFTAR TABEL ........................................................................................ xiii DAFTAR GAMBAR .................................................................................... xiv DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................. xv I. PENDAHULUAN .................................................................................... 1 1.1. Latar Belakang ................................................................................. 1 1.2. Perumusan Masalah .......................................................................... 3 1.3. Tujuan Penelitian ............................................................................. 4 1.4. Manfaat Penelitian ............................................................................ 4 1.5. Kerangka Pemikiran ......................................................................... 4 II. TINJAUAN PUSTAKA .......................................................................... 7 2.1. Ekowisata ......................................................................................... 7 2.2. Taman Nasional ............................................................................... 9 2.3. Strategi ............................................................................................. 10 2.4. Promosi ............................................................................................ 11 2.5. Segmentasi Pasar .............................................................................. 18 2.6. Produk Wisata .................................................................................. 19 2.7. Wisatawan........................................................................................ 20 III. METODE PENELITIAN ........................................................................ 22 3.1. Lokasi dan Waktu Penelitian ............................................................ 22 3.2. Batasan Penelitian ............................................................................ 22 3.3. Metode Pengumpulan Data............................................................... 22 3.4. Tahapan Penelitian ........................................................................... 24 3.5. Analisis Data .................................................................................... 26 IV. KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN ............................................ 32 4.1. Sejarah dan Status Kawasan ............................................................. 32 4.2. Kondisi Fisik Kawasan ..................................................................... 32 4.3. Kondisi Biologis............................................................................... 35 4.4. Potensi Wisata .................................................................................. 37 4.5. Kondisi Masyarakat Sekitar .............................................................. 38 4.6. Pusat Pendidikan Konservasi Alam Bodogol (PPKAB) .................... 38 4.7. Sarana dan Prasarana Wisata ............................................................ 39 4.8. Struktur Organisasi ........................................................................... 39 4.9. Pengunjung TNGGP ......................................................................... 40 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ............................................................... 46 5.1. Promosi yang Telah Dilaksanakan .................................................... 46 5.2. Evaluasi Terhadap Promosi Yang Sudah Dilaksanakan .................... 59 5.3. Segmentasi Pasar .............................................................................. 62 5.5. Peran Mitra-mitra TNGGP dalam Promosi..........................................65 5.6. Kebijakan Pengembangan Ekowisata ............................................... 66 5.7. Potensi Wisata yang perlu Dipromosikan.......................................... 68 5.6. Strategi TNGGP dalam Promosi Ekowisata ...................................... 77 VI. SIMPULAN DAN SARAN .................................................................... 87 6.1. Simpulan............................................................................................ 87 6.2. Saran................................................................................................... 87 VII. DAFTAR PUSTAKA ............................................................................ 88 DAFTAR TABEL 1. Bentuk media dari setiap komponen bauran promosi ............................... 15 2. Jenis data primer yang digunakan dalam penelitian ................................. 22 3. Jenis data sekunder yang diperlukan dalam penelitian ............................. 23 4. Matriks SWOT ........................................................................................ 27 5. Rangkuman matriks internal .................................................................... 29 6. Rangkuman matriks eksternal.................................................................. 29 7. Informasi pintu masuk wisata ke kawasan TNGGP ................................. 34 8. Jumlah pengunjung dan jenis kunjungan (tahun 2000-Juni 2008) ............ 41 9. Bahan promosi cetakan mengenai TNGGP .............................................. 45 10. Potongan harga di wisma tamu, asrama dan tiket rombongan ke air terjun ............................................................................................. 49 11. Beberapa situs di internet mengenai TNGGP ........................................... 51 12. Jumlah wisatawan dan retribusi tempat rekreasi di tiga kabupaten ........... 54 13. Penilaian pengunjung terhadap komponen bauran promosi...................... 57 14. Penilaian pengunjung terhadap sarana dan prasarana TNGGP ................. 58 15. Segmentasi pasar TNGGP berdasarkan aspek demografis ....................... 63 16. Segmentasi pasar TNGGP berdasarkan aspek geografis .......................... 64 17. Segmentasi pasar TNGGP berdasarkan aspek psikografi ......................... 64 18. Formulasi strategi promosi ekowisata di TNGGP .................................... 80 19. Faktor strategis internal terhadap promosi ekowisata di TNGGP ............. 82 20. Faktor strategis eksternal terhadap promosi ekowisata di TNGGP ........... 83 21. Urutan prioritas strategi ........................................................................... 84 DAFTAR GAMBAR 1. Konseptual pengembangan ekowisata ..................................................... 5 2. Kerangka pemikiran ............................................................................... 6 3. Bauran pemasaran ................................................................................... 11 4. Kedudukan promosi terhadap permintaan ................................................ 12 5. Pengaruh promosi terhadap permintaan ................................................... 13 6. Efektivitas dari setiap komponen bauran promosi .................................... 16 7. Model matriks Grand Strategy ................................................................ 29 8. Peta lokasi penelitian............................................................................... 33 9. Persentase jumlah pengunjung TNGGP berdasarkan pintu masuk ........... 42 10. Komposisi pengunjung TNGGP berdasarkan tujuan kedatangannya ........ 43 11. Struktur organisasi balai TNGGP ............................................................ 44 12. Beberapa sampul buku mengenai kegiatan ekowisata di TNGGP ............ 47 13. Beberapa leaflet tentang TNGGP ............................................................ 47 14. Persentase komposisi topik tulisan mengenai TNGGP ............................. 50 15. Website TNGGP ..................................................................................... 52 16. Bahan promosi Kab. Cianjur, Bogor, Sukabumi ...................................... 53 17. Beberapa biro perjalanan wisata .............................................................. 55 18. Persentase sumber informasi obyek wisata di TNGGP ............................ 57 19. Posisi strategis untuk promosi ekowisata di TNGGP dalam matriks Grand Strategy ........................................................................... 85 DAFTAR LAMPIRAN 1. Panduan wawancara pengunjung aktual .................................................... 92 2. Panduan wawancara pengunjung potensial ................................................ 93 3. Panduan wawancara dengan pengelola TNGGP ........................................ 94 4. Daftar judul pemberitaan TNGGP di media massa .................................... 95 5. Guntingan beberapa media cetak mengenai TNGGP ................................. 96 6. Beberapa printout mengenai TNGGP di internet ....................................... 106 I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) merupakan salah satu dari lima Taman Nasional yang pertama kali diumumkan di Indonesia pada tahun 1980 oleh Menteri Pertanian dan ditetapkan dengan SK Menteri Pertanian No. 736/Mentan/X/1982 meliputi luas 15.196 ha. Pada tahun 2003 melalui SK Menteri Kehutanan No. 174/KPTS-II/2003 dilakukan perluasan dari 15.196 ha menjadi 21.975 ha. Perluasan dilakukan mengingat kawasan disekitar TNGGP merupakan habitat dan daerah jelajah beberapa jenis satwa langka dan dilindungi seperti Surili, Owajawa, Macan Tutul dan beberapa jenis burung yang perlu dilindungi dan dilestarikan. Departemen Kehutanan telah menunjuk 21 Taman Nasional sebagai Taman Nasional Model, dan salah satunya adalah Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP). Sebagai Taman Nasional Model, diharapkan suatu saat TNGGP menjadi taman nasional yang mandiri, yang mampu mengelola secara langsung Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) dan pemasukan yang sah, sehingga dapat dikelola secara lestari, efektif dan efisien. Berbagai kegiatan telah dilakukan oleh Balai TNGGP dalam upaya menuju kemandiriannya. Terdapat tiga hal penting yang merupakan fokus perencanaan berkaitan dengan keberadaan TNGGP sebagai taman nasional model yaitu ekowisata, pendidikan konservasi dan penelitian. Ekowisata telah berkembang sebagai salah satu pariwisata yang potensial untuk kepentingan pembangunan pariwisata yang berkelanjutan, terutama pada dasawarsa terakhir ini. Sebagai bentuk wisata yang sedang trend, ekowisata mempunyai kekhususan tersendiri yaitu mengedepankan konservasi lingkungan, pendidikan lingkungan, kesejahteraan penduduk lokal dan menghargai budaya lokal. Taman nasional sebagai kawasan pelestarian alam yang memiliki potensi sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya yang melimpah menjadi salah satu bagian pengembangan ekowisata. Taman nasional yang menawarkan wisata ekologis banyak diminati wisatawan, hal ini karena adanya pergeseran paradigma kepariwisataan internasional dari bentuk pariwisata massal (mass tourism) ke wisata minat khusus (alternative tourism). Pada wisatawan minat khusus, wisatawan menginginkan perjalanan yang lebih bermakna, berkualitas dan menambah pengalaman hidupnya serta memperoleh pengetahuan baru. TNGGP mempunyai potensi ekowisata yang tinggi antara lain keindahan alam (gunung, panorama alam, dll); gejala alam (kawah, air panas, air terjun, dll); keutuhan (udara sejuk, kenyamanan, dll); keanekaragaman hayati (tumbuhan dan satwa); keunikan alam (danau, rawa pegunungan, padang rumput edelweis, dll), situs budaya. Potensi ekowisata yang dimiliki TNGGP harus dikenalkan kepada publik melalui kegiatan promosi. Promosi merupakan bagian dari bauran pemasaran (Marketing Mix). Menurut Kotler (1997) promosi merupakan usaha pengkomunikasian informasi dari produsen kepada konsumen sedemikian rupa agar menarik minat konsumen untuk membeli barang/jasa yang ditawarkan produsen. Promosi kegiatan ekowisata di TNGGP dilakukan selain untuk menarik pengunjung yang akan menikmati keindahan alam TNGGP juga menarik mitra berinvestasi dalam kegiatan ekowisata. Pertumbuhan ekowisata yang diduga lebih pesat dari wisata lainnya, terutama selama beberapa tahun terakhir ini membuat promosi ekowisata menjadi penting, karena negara yang tidak mempromosikan atraksi alamnya kemungkinan besar akan kehilangan kesempatan dalam pasar ekowisata yang terus tumbuh (Durst&Ingram 1998 diacu dalam Fennel 1999). Berdasarkan laporan World Travel Tourism Council (WTTC) tahun 2004, pertumbuhan rata-rata ekowisata sebesar 10% per tahun. Angka tersebut lebih tinggi dibanding pertumbuhan ratarata per tahun untuk pariwisata pada umumnya yaitu sebesar 4,6% per tahun. Obyek dan Daya Tarik Wisata Alam (ODTWA) yang dimiliki TNGGP menjadi modal untuk promosi. Saat ini kegiatan wisata yang sudah berjalan di TNGGP dapat dikategorikan menjadi dua yaitu wisata massal dan wisata minat khusus. Walaupun terdapat wisata massal tetapi pengelolaannya tetap memperhatikan kelestarian dan keberlanjutan kawasan. Kegiatan wisata yang sudah berjalan saat ini yaitu wisata pendakian, birdwatching, outbond, rekreasi ke air terjun, penelitian, berkemah, dll. ODTWA yang dimiliki TNGGP mempunyai segmen pasar yang berbeda sehingga diperlukan strategi promosi yang spesifik. 2 1.2. Perumusan Masalah Taman Nasional Gunung Gede Pangrango merupakan kawasan pelestarian alam yang kaya dengan obyek wisata baik itu flora, fauna, ekosistem, budaya, dan sudah lama dikunjungi wisatawan. TNGGP memiliki berbagai fungsi yaitu fungsi perlindungan dan pelestarian, fungsi pendidikan, pengetahuan dan kebudayaan, serta fungsi rekreasi dan pariwisata, dengan demikian jenis wisata yang paling sesuai untuk dikembangkan di taman nasional adalah ekowisata. Ekowisata merupakan bentuk pariwisata yang dilakukan di daerah/kawasan alami yang menitikberatkan pada lingkungan, pemberdayaan ekonomi masyarakat lokal dan adanya penghargaan terhadap budaya masyarakat lokal. Kawasan TNGGP yang memiliki potensi sumberdaya alam yang menjanjikan diharapkan dapat diusahakan kegiatan ekowisata sehingga mengatasi berbagai permasalahan kawasan yang dihadapi pengelola. Pengembangan ekowisata di TNGGP bukan merupakan hal yang baru tetapi sampai saat ini masih mengalami banyak masalah, dari aspek pengelolaan, SDM, sarana dan prasarana, keterlibatan masyarakat lokal, maupun pengunjung. Berbagai kegiatan telah dilakukan oleh TNGGP untuk mengembangkan kegiatan ekowisata, salah satunya adalah melalui kegiatan promosi. Keberhasilan pengembangan ekowisata pada kawasan taman nasional sangat bergantung pada upaya promosi yang dilakukan oleh pengelola, karena dengan promosi orang akan tahu dan akhirnya akan datang untuk mengujungi. Menurut Charty (1981) konsumen tidak akan membeli suatu produk/jasa apabila mereka tidak pernah mendengar atau mengalami produk/jasa tersebut. Sehingga informasi mengenai Taman Nasional Gunung Gede Pangrango dengan segala potensinya harus sampai kepada orang-orang yang memang berminat dengan wisata yang bersifat khusus ini. Kegiatan promosi yang telah dilakukan oleh pengelola Taman Nasional Gunung Gede Pangrango selama ini adalah dengan penyebaran bahan-bahan cetakan seperti brosur, leaflet, majalah, mengikuti pameran-pameran pariwisata serta secara berkala mengadakan kegiatan seminar/lokakarya. Melalui cara ini usaha untuk memperkenalkan kegiatan ekowisata di TNGGP hanya sampai pada 3 sebagian kecil masyarakat dan belum mencapai kelompok dalam masyarakat yang diharapkan menjadi konsumen dari kegiatan ekowisata di TNGGP. Selain itu pelaksanaan promosi yang telah dilakukan selama ini belum didukung oleh mitra-mitra yang diharapkan dapat berinvestasi dalam pengembangan kegiatan ekowisata. Selama ini kegiatan promosi yang dilaksanakan masih sangat kurang dan belum mempertimbangkan strategi bauran promosi sehingga masih kurang mengenai sasaran, maka diperlukan strategi promosi yang tepat. 1.3. Tujuan Tujuan dari penelitian ini adalah 1. Melakukan evaluasi terhadap kegiatan promosi yang telah dilakukan 2. Menyusun strategi Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) dalam pengembangan promosi kegiatan ekowisata. 1.4. Manfaat Penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan bagi pengelola Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango dalam melaksanakan promosi kegiatan ekowisata. 1.5. Kerangka Pemikiran Taman Nasional Gunung Gede Pangrango sebagai Taman Nasional Model yang diharapkan menjadi TN Mandiri, dituntut untuk dapat mengembangkan sumber-sumber penyelenggaraan ekonomi yang pengelolaan dapat secara memberikan mandiri. masukan dana Pengembangan bagi ekowisata dipandang sebagai langkah tepat untuk mencapai tujuan tersebut. Kerangka pemikiran yang mendasari penelitian ini adalah upaya untuk mengoptimalkan kegiatan ekowisata di TNGGP melalui penyusunan strategi promosi yang tepat. Strategi promosi yang sekarang sudah dilakukan perlu dievaluasi dengan mempertimbangkan fungsi TNGGP sebagai suatu kawasan konservasi, prinsip-prinsip dasar ekowisata, visi ekowisata di TNGGP serta dengan menggunakan strategi bauran promosi yang tepat. 4 Potensi ekowisata di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango berupa keindahan alam, gejala alam, keanekaragaman hayati, keunikan alam dan situs budaya merupakan daya tarik yang dapat ditawarkan kepada masyarakat. Upaya untuk mengenalkan ekowisata harus didukung dengan ketersediaan informasi yang akurat, komunikatif dan mudah didapat. Berbagai informasi dan atraksi ekowisata perlu ditampilkan dengan visualisasi yang menarik dalam kemasan yang sederhana dan mudah dimengerti. Promosi merupakan jalan keluar untuk masalah diatas, karena dengan promosi dapat menyampaikan informasi tentang kegiatan wisata yang ditawarkan. Untuk mengetahui strategi promosi yang tepat digunakan analisis pendekatan SWOT. Secara detail kerangka pemikiran penelitian disajikan pada Gambar 2. SUPRA&INFRA STRUKTUR PENGEMBANGAN EKOWISATA SUPPLY DEMAND Gambar 1 Konseptual pengembangan ekowisata. 5 TN MODEL-TN MANDIRI “Supply” “Demand” POTENSI EKOWISATA di TNGGP Pengunjung Aktual Mitra-mitra Taman Nasional Potensial “Supra&Infra Struktur” Promosi Sarpras Kebijakan evaluasi Analisis SWOT Strategi Promosi Ekowisata Gambar 2 Kerangka pemikiran. 6 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Ekowisata Kegiatan wisata alam mencakup banyak kegiatan, dari kegiatan menikmati pemandangan dan kehidupan liar yang relatif pasif hingga kegiatan fisik yang menguras tenaga seperti wisata petualangan yang mengandung resiko. Kegiatan wisata alam ini dapat bersifat konsumtif atau non-konsumtif serta dapat bersifat berkelanjutan maupun tidak berkelanjutan. Hanya sedikit jenis kegiatan wisata yang memberikan sumbangan posistif terhadap upaya pelestarian alam. Jenis wisata yang sedikit inilah yang kemudian membentuk ekowisata (Goodwin, 1996). Ekowisata diperkenalkan pertama kali oleh Ceballos-Lascurain (1983) yang mendefinisikan bahwa ekowisata sebagai kunjungan ke daerah-daerah yang masih bersifat alami yang relatif masih belum terganggu dan terpolusi dengan tujuan spesifik untuk belajar, mengagumi dan menikmati pemandangan alam dengan tumbuhan satwa liarnya serta budaya (baik masa lalu maupun sekarang) yang ada ditempat tersebut. Sepuluh tahun kemudian Ceballos-Lascurain (1993) meninjau ulang batasan yang dirumuskan dengan menambahkan ”untuk mempromosikan konservasi, dampak negatif yang diakibatkan oleh pengunjung rendah dan masyarakat terlibat secara ekonomi dalam penyelenggaraannya”. Hingga tahun 1999, Fennel (2001) mengkaji bahwa terdapat 85 batasan pengertian ekowisata yang menghasilkan definisi ekowisata dengan 6 unsur, yaitu : konservasi, edukasi, etika, pembangunan berkelanjutan, dampak dan local benefit. Pengertian baru ekowisata hasil olahan yang dikaji dari 45 pakar, terdiri dari 31 pakar mancanegara dan 14 pakar nasional, mengindikasikan bahwa ada tiga kelompok konsep ekowisata, yaitu : 1. Tahun 1987-1990 menitikberatkan pada : mengurangi dampak negatif lingkungan, destinasi dan motivasi wisatawan. 2. Tahun 1991-2000 menekankan pada : mengurangi dampak negatif lingkungan, penghasilan masyarakat lokal, perjalanan kerja yang bertanggung jawab dan budaya. 3. Tahun 2001-2005 menitikberatkan pada : mengurangi dampak negatif lingkungan, sustainable development, dan penghasilan masyarakat lokal. (Hengky, 2006) Menurut Linberg (1993) definisi ekowisata adalah perjalanan bertanggungjawab ke wilayah-wilayah alami yang melindungi lingkungan dan meningkatkan kesejahteraan penduduk setempat. Boo (1990) mendefinisikan ekowisata sebagai perjalanan wisata alam yang mendorong usaha pelestarian dan pembangunan berkelanjutan, memadukan pelestarian dengan pembangunan ekonomi dan memberikan dana yang lebih banyak untuk taman-taman, membuka lapangan kerja baru bagi penduduk setempat dan pendidikan lingkungan bagi para pengunjung. Ekowisata dapat dipandang sebagai suatu strategi baru untuk menjaga keseimbangan antara pembangunan ekonomi dan yang mendorong pemeliharaan dan pemanfaatan sumberdaya alam yang sekaligus bermanfaat bagi masyarakat setempat. Dengan demikian ekowisata adalah bentuk wisata yang gejalanya terlihat dalam bentuk perjalanan yang tidak mengganggu lingkungan alam sebagai sumber apresiasi dan kekaguman (Mardjuka, 1995). Perhatian terhadap ekowisata yang semakin berkembang disebabkan karena adanya perubahan permintaan dan pilihan wisatawan dalam berwisata. Menurut Kusler (1991) fenomena ini timbul karena beberapa hal sebagai berikut : Peningkatan ketertarikan terhadap lingkungan, spesies-spesies flora dan fauna yang unik dan langka serta ciri-ciri alam lainnya Ketidakpuasan terhadap keramaian yang terjadi di pusat-pusat wisata tradisional Keinginan untuk mendapatkan pengetahuan dan pengalaman baru Adanya kepercayaan bahwa beberapa lingkungan alami yang unik di dunia akan segera mengalami kepunahan dan mereka ingin mengunjunginya bila memungkinkan 8 Obyek ekowisata yang diinginkan oleh ekowisatawan sangat bervariasi, dari keadaan alam yang masih sangat asli sampai yang sudah mendapat sedikit campurtangan manusia dalam bentuk pembangunan yang sederhana selaras dengan alam. Saat ini, tempat seperti ini di Indonesia hanya dapat ditemui di kawasan yang dilindungi milik negara/pemerintah. Di luar negeri kawasan seperti ini ada yang merupakan milik perorangan/swasta. Kusler (1991) menyatakan bahwa untuk pengembangan ekowisata perlu didukung oleh peningkatan sarana dan prasarana seperti jalan, penginapan, transportasi kerjasama pemerintah dengan pihak swasta serta promosi dan publikasi oleh berbagai instansi terkait. 2.2. Taman Nasional Undang-undang Nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya mendefinisikan Taman Nasional sebagai kawasan pelestarian alam yang mempunyai ekosistem asli, dikelola dengan sistem zonasi yang dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan menunjang budidaya, pariwisata dan rekreasi. Ditjen PHPA (1986) mengemukakan bahwa prinsip-prinsip pokok pengertian taman nasional menurut IUCN adalah : 1. Kawasan taman nasional harus relatif cukup luas 2. Taman nasional harus memiliki sumberdaya alam yang khas dan unik baik berupa jenis tumbuhan atau binatang, ekosistem maupun gejala alam yang masih utuh dan alami 3. Satu atau beberapa ekosistem yang terdapat didalamnya secara materi/fisik tidak diubah oleh eksploitasi dan pendudukan manusia 4. Kebijaksanaan dan pengelolaan taman nasional berada pada badan pemerintah yang mempunyai kompetensi sepenuhnya dan bertanggungjawab atas keutuhan dan keaslian baik ekologis, geomorfologis, dan kondisi-kondisi yang bernilai estetis lainnya secara alami merupakan modal utama pembentukan taman nasional 9 5. Adanya kemungkinan pengembangan pariwisata sehingga dapat terbuka untuk umum dengan persyaratan khusus untuk tujuan inspirasi, edukasi, kultural dan rekreasi. MacKinnon et al. (1983) mendefinisikan taman nasional sebagai kawasan yang diperuntukkan bagi perlindungan kawasan alami dan pemandangan indah serta memiliki nilai bagi pemanfaatan ilmiah, pendidikan dan rekreasi. Fungsi utama taman nasional adalah : 1. Menjaga keseimbangan ekosistem dan melindungi sistem penyangga kehidupan 2. Melindungi keanekaragaman jenis dan mengupayakan manfaat sebagai sumber plasma nutfah 3. Menyediakan sarana penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan, pendidikan dan latihan 4. Memenuhi kebutuhan sarana wisata alam dan melestarikan budaya setempat 5. Merupakan bagian dari pengembangan daerah setempat Pengembangan pariwisata di taman nasional saat ini lebih dimaksudkan sebagai upaya mendukung misi konservasi hutan berikut keanekaragaman hayatinya. Pengembangan pariwisata hutan juga bertujuan untuk meningkatkan kemampuan ekonomi masyarakat lokal yang berdiam di dalam dan sekitar kawasan. Dalam Pedoman Pengembangan Pariwisata Alam di Taman Nasional (Departemen Kehutanan, 2001) disebutkan bahwa pengembangan wisata alam di taman nasional terkait dengan sektor lainnya sehingga untuk menjamin kesinambungan pemanfaatan taman nasional untuk pariwisata para pengelola taman nasional diharapkan dapat membangun jejaring kerja maupun mempromosikan obyek daerah tujuan wisata alam. Pihak-pihak terkait tersebut adalah biro perjalanan wisata, tour operator, perhotelan dan sebagainya. Selain itu perlu juga mengidentifikasi peran dari pihak terkait dalam pelaksanaan pemanfaatan obyek wisata alam. 2.3. Strategi Strategi merupakan alat untuk mencapai tujuan. Definisi strategi pertama kali dikemukakan oleh Chandler pada tahun 1996, menyebutkan bahwa strategi 10 merupakan alat untuk mencapai tujuan perusahaan dalam kaitannya dengan tujuan jangka panjang, program tindak lanjut, serta prioritas alokasi sumberdaya. Learned et al. (1965) dalam Rangkuti (2006) mendefinisikan strategi merupakan alat untuk menciptakan keunggulan bersaing. Dengan demikian salah satu fokus strategi adalah memutuskan apakah bisnis tersebut harus ada atau tidak ada. Argyris (1985), Mintzberg (1979), Steiner dan Miner (1997) dalam Rangkuti (2006) menyatakan bahwa strategi adalah respon secara terus menerus maupun adaptif terhadap peluang dan ancaman eksternal serta kekuatan dan kelemahan internal yang dapat mempengaruhi organisasi. 2.4. Promosi Promosi merupakan bagian dari bauran pemasaran (Marketing Mix). Menurut Kotler (1997) bauran pemasaran merupakan serangkaian tindakan yang dilakukan untuk mencapai sasaran pemasaran. Alat-alat pemasaran dalam bauran pemasaran dikenal sebagai 4P, yaitu promosi (promotion), produk (product), harga (price) dan tempat (place). Pada Gambar 3 dapat dilihat struktur bauran pemasaran menurut Cooper et al. (1990). Produk Harga Promosi Tempat Bauran Pemasaran Gambar 3 Bauran pemasaran. Produk adalah segala sesuatu yang dapat ditawarkan ke pasar untuk mendapat perhatian, dimiliki atau digunakan yang dapat memuaskan keinginan atau kebutuhan. Reime & Hawkins (1997) dalam Heath et al. (1992) menyatakan bahwa dalam bidang wisata yang dimaksud produk adalah total spektrum dari berbagai 11 pengalaman, akomodasi, sumberdaya alam dan sumber daya lainnya, pertunjukkan, transportasi, makanan dan minuman, rekreasi serta daya tarik lainnya. Baud-Bovy (1982) dalam Heath (1992) menyatakan bahwa produk wisata adalah keseluruhan dari berbagai fasilitas dan pelayanan wisata disuatu daerah tertentu yang dimanfaatkan oleh wisatawan. Komponennya adalah sumberdaya daerah tujuan, fasilitas dan transport dari rumah ke tempat tujuan. Komponen lain dari bauran pemasaran adalah harga. Tapi dalam bidang wisata tidak selalu harga yang lebih tinggi akan mengurangi jumlah permintaan karena ada wisatawan yang lebih mempertimbangkan aspek lain dari bauran pemasaran selain harga. Banyak wisatawan yang mau membayar lebih untuk wisata yang berkualitas. Unsur tempat dalam promosi bahwa tempat yang disediaan oleh penjual akan dipandang sebagai kemudahan memperoleh produk yang dibutuhkan pembeli. Komponen lain dalam bauran pemasaran adalah promosi. Kotler (1997) menjelaskan bahwa promosi merupakan usaha pengkomunikasian informasi dari produsen kepada konsumen sedemukian rupa agar menarik minat konsumen untuk membeli barang atau jasa yang ditawarkan produsen atau penjual. Konsumen tidak akan membeli suatu produk/jasa apabila mereka tidak pernah mendengar atau mengalami tertang produk/jasa tersebut (Carthy, 1981). Adapun kedudukan promosi dalam sistem pemasaran dapat dilihat pada Gambar 4. Riset Pemasaran Konsumen Konsumen Tanggapan (waktu/usaha) Tanggapan Produsen Produk Bauran pemasaran yang ditawarkan Komunikasi Promosi Harga Distribusi Gambar 4 Kedudukan promosi dalam sistem pemasaran. 12 Fungsi promosi dalam strategi pemasaran terutama untuk mendorong transaksi. Menurut Luck dan Ferrel (1985) dalam Heath (1992) promosi mendorong pembeli dalam hal ini wisatawan pada suatu keputusan dengan memberikan aliran informasi yang dapat mempengaruhi pembeli. Dalam bidang pariwisata promosi juga berfungsi untuk membina hubungan yang efektif dengan para konsumen agar mereka memiliki kesadaran dan pengetahuan tentang keberadaan suatu produk wisata. Promosi dapat mengembangkan nilai positif dari suatu produk wisata sehingga harga menjadi inelastis yang berarti produk lebih dapat bertahan terhadap kenaikan harga dan tidak perlu khawatir untuk menaikkan harga. Cooper et al. (1999) menggambarkan pengaruh promosi terhadap permintaan seperti tampak pada Gambar 5. harga harga P1 P1 Q1 Q2 Q2 kuantitas Permintaan meningkat dengan semakin banyaknya perhatian Q3 kuantitas Permintaan menjadi semakin inelastis karena perbaikan imej Gambar 5 Pengaruh promosi terhadap permintaan Menurut Heath (1992) tujuan promosi wisata adalah : 1. Menarik turis ke kawasan wisata 2. Menjaga nilai kawasan sebagai daerah tujuan wisata 3. Menyampaikan informasi tentang kegiatan wisata yang ditawarkan 4. Membangun unit bisnis wisata yang saling mendukung 5. Memperbaiki informasi tidak tepat/tidak lengkap tentang kegiatan wisata yang ditawarkan 13 Istilah strategi bauran yang dikenal dalam promosi merupakan metode kegiatan komunikasi yang digunakan perusahaan agar seseorang mau melakukan kegiatan pembelian atau pertukaran dalam pemasaran. Cooper et al. (1999) menyatakan terdapat empat komponen dalam bauran promosi yaitu : a. Periklanan Periklanan merupakan suatu cara yang tepat untuk memberitakan hasil produk kepada konsumen yang sama sekali belum mereka kenal, dengan tujuan menginformasikan, membujuk atau mengingatkan. Menurut Yoeti (1996), periklanan adalah setiap bentuk penyajian yang sifatnya tidak pribadi dan promosi daripada barang-barang dan jasa yang dipungut bayaran oleh sponsor. Tujuan periklanan dalam pemasaran jasa adalah untuk membangun kesadaran terhadap keberadaan jasa yang ditawarkan, untuk menambah pengetahuan konsumen tentang jasa yang ditawarkan, untuk membujuk calon customer untuk membeli atau menggunakan jasa tersebut, dan untuk membedakan diri perusahaan satu dengan perusahaan lain yang mendukung posisi jasa (Kotler, 1997). b. Promosi Penjualan Menurut Kotler (1997), promosi penjualan terdiri dari kumpulan kiat intensif yang beragam, kebanyakan berjangka pendek, yang dirancang untuk mendorong pembelian suatu produk/jasa tertentu yang lebih cepat dan lebih besar oleh konsumen. Promosi penjualan merupakan semua kegiatan yang dimaksudkan untuk meningkatkan arus barang atau jasa dari produsen sampai pada penjualan akhirnya. Kiat promosi penjualan bagi konsumen dimaksudkan untuk mendorong pembelian yang lebih besar, sedang bagi tenaga penjualan untuk mendorong dukungan terhadap produk/jasa yang baru, dan mendorong lebih banyak lagi calon pelanggan. c. Penjualan Pribadi Penjualan pribadi adalah interaksi antar individu, saling bertemu muka yang ditujukan untuk menciptakan, memperbaiki, menguasai atau mempertahankan hubungan pertukaran yang saling menguntungkan dengan pihak lain (Swastha, 1981). Sifat penjualan pribadi dapat dikatakan lebih luwes karena tenaga penjual 14 dapat secara langsung menyesuaikan penawaran penjualan dengan kebutuhan dan perilaku masing-masing calon pembeli. Selain itu, tenaga penjual juga dapat segera mengetahui reaksi calon pembeli terhadap penawaran penjualan, sehingga dapat mengadakan penyesuaian-penyesuaian di tempat pada saat itu juga. Penjualan pribadi mengharapkan terciptanya suatu kedekatan antara perusahaan dengan pembeli sehingga perusahaan akan lebih mudah untuk menawarkan produk/jasa. d. Hubungan masyarakat Perusahaan tidak hanya harus berhubungan secara konstruktif dengan pelanggan, pemasok dan penyalur, tetapi juga harus berhubungan dengan kumpulan kepentingan masyarakat yang besar. Hubungan masyarakat adalah berbagai program yang dirancang untuk mempromosikan dan atau melindungi citra perusahaan atau produk individualnya, berhubungan dengan komunikasi massa, tanpa dipungut biaya atau diidentifikasikan sebagai bagian dari sponsor tertentu (Ray, 1982). Tabel 1 menyajikan bentuk media dari setiap komponen bauran promosi. Tabel 1 Bentuk media dari setiap komponen bauran promosi Periklanan 1. Iklan cetak dan penyiaran 2. Brosur dan buku kecil 3. Poster dan selebaran 4. Billboard 5. Materi Audio Visual Promosi Penjualan 1. Pameran 2. Potongan harga 3. Hiburan 1. 2. 3. 4. 5. 6. Hubungan Penjualan Secara Masyarakat Pribadi Seminar Ceramah Siaran Pers Laporan Tahunan Publikasi Media Indonesia 1. Presentasi Penjualan 2. Katalog 3. Pemasaran lewat telepon 4. E-mail 5. Internet Sumber : Cooper et al., 1999 Masing-masing komponen memiliki kelebihan dan kekurangan, sehingga untuk keberhasilan pemasaran produk harus dicari kombinasi yang tepat dari keempat komponen tersebut. Hal tersebut digambarkan oleh Cooper et al. (1999) pada Gambar 6. 15 Penjualan secara pribadi iklan Efektivitas Promosi penjualan Hubungan masyarakat tahu faham yakin tindakan Gambar 6 Efektivitas dari setiap komponen bauran promosi Penyusunan strategi promosi atau bentuk bauran promosi yang tepat harus memperhatikan faktor-faktor yang dapat berpengaruh dalam pemilihan strategi atau bentuk bauran tersebut. Menurut Stanton (1993) dan Kotler (1997) beberapa faktor yang mempengaruhi strategi bauran promosi adalah sebagai berikut : 1. Jumlah dana yang tersedia Perusahaan yang memiliki dana besar kegiatan promosinya dapat lebih efektif dibanding perusahaan yang sumber dananya terbatas 2. Karakteristik produk Produk wisata adalah segala sesuatu yang diperlukan oleh wisatawan sejak meninggalkan tempat tinggalnya untuk berwisata sampai kembali ke tempat tinggalnya. Unsur-unsur produk wisata dapat berupa barang maupun jasa. 3. Karakteristik pasar Karakteristik pasar sangat berpengaruh dalam penyusunan bauran promosi melalui empat hal, yaitu luas geografi pasar, konsentrasi pasar, jumlah jenis pembeli potensial dan jenis pelanggan. 4. Pelanggan Terdapat dua hal yang harus diperhatikan, yaitu : 16 a. Strategi yang ingin digunakan merupakan strategi mendorong atau menarik. Strategi mendorong menggunakan wiraniaga dan promosi penjualan untuk melewati saluran-saluran, sedang strategi menarik menggunakan banyak dana untuk periklanan dan promosi kepada konsumen. b. Tahap kesiapan membeli. Strategi promosi bervariasi dalam efektivitas biaya pada tahap-tahap kesiapan pembelian yang berbeda. Pada tahap kesadaran atau tahap awal proses keputusan, periklanan dan publisitas memegang peranan penting. Pada tahap pemesanan/pembelian, penjualan pribadi dan promosi penjualan lebih penting daripada periklanan dan publisitas. 5. Pesaing Strategi promosi ditentukan dengan mempertimbangkan kegiatan promosi yang dilakukan pesaing juga menyesuaikan dengan tingkat persaingan yang ada dalam industri tersebut. 6. Tahap daur hidup produk Pada tahap perkenalan, iklan dan publisitas memiliki efektivitas biaya yang tinggi, diikuti promosi perkenalan dan promosi langsung. Pada tahap pertumbuhan, semua komponen bauran promosi dapat diperlambat karena promosi akan berjalan dari mulut ke mulut. Pada tahap dewasa, promosi pengenalan, periklanan dan promosi langsung menjadi semakin bertambah penting secara berturut-turut. Sedang pada tahap kemunduran, promosi pengenalan harus diperkuat sedang iklan dan publisitas dikurangi. 7. Bauran pemasaran Produk/jasa dengan harga yang tinggi pada umumnya dapat diidentikkan dengan pelayanan yang baik, dengan demikian promosi yang tepat adalah melalui periklanan. Dalam sistem pendistribusian langsung maka penggunaan promosi langsung merupakan hal yang tepat. Apabila saluran distribusinya panjang maka dalam berpromosi diperlukan iklan. Heath (1992) mengemukakan bahwa dalam mengembangkan strategi promosi wisata langkah-langkahnya adalah sebagai berikut : 1. Mengenali sasaran yang menjadi target 17 2. Mengenali tujuan promosi 3. Memperkirakan dana yang diperlukan untuk promosi 4. Memperkirakan bauran promosi dengan mempertimbangkan beberapa faktor yaitu faktor produk, faktor pasar, faktor wisatawan, faktor biaya, faktor bauran pemasaran. 2.5. Segmentasi Pasar Pemasaran produk wisata sangat didasarkan pada pemahaman bahwa secara keseluruhan pangsa pasar adalah tersegmentasi. Segmentasi pasar merupakan konsep pokok yang mendasari strategi pemasaran suatu produk dan alokasi sumberdaya yang harus dilakukan dalam rangka mengimplementasikan program dan strategi pemasaran (Chandra, 2000). Sebuah produk wisata akan memiliki keunggulan kompetitif jika produk wisata tersebut menawarkan atribut-atribut determinan (yang penting dan dinilai unik oleh pasar/pengunjung). Untuk itu langkah pertama yang harus dilakukan adalah melakukan analisis segmentasi pasar. Menurut Irawan (1996), segmentasi pasar adalah tindakan membagi pasar menjadi lebih homogen hingga relatif mempunyai kebutuhan dan keinginan yang sama, dan mengelompokkan menjadi beberapa bagian yaitu : 1. Segmentasi pasar berdasarkan aspek demografis yaitu membagi pasar ke dalam kelompok-kelompok yang didasarkan pada variabel-variabel demografis seperti umur, jenis kelamin, pendidikan, penghasilan, pekerjaan dan agama. 2. Segmentasi pasar berdasarkan aspek geografis yaitu membagi pasar menjadi unit-unit geografis, misalnya negara, propinsi, kabupaten, kota, dsb. 3. Segmentasi pasar berdasarkan as

Dokumen baru

Dokumen yang terkait

Interaksi dan Pemanfaatan Hasil Hutan Oleh Masyarakat Sekitar Taman Nasional Gunung Leuser (Study Kasus : Kawasan Taman Nasional Gunung Leuser Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah V Bahorok
1
65
94
Upaya Pengembangan Taman Nasional Batang Gadis Sebagai Daerah Tujuan Ekowisata
3
62
63
Pemetaan Potensi Wisata Alam Di Kawasan Ekowisata Tangkahan Taman Nasional Gunung Leuser BTN Wilayah III Langkat
21
126
98
Analisis Kerusakan Hutan Di Kawasan Hutan Taman Nasional Gunung Leuser Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah VI Besitang
8
81
139
Kajian Pengembangan Ekowisata Di Kawasan Taman Wisata Alam Sibolangit
10
105
76
Inventarisasi Jamur Makroskopis Di Ekowisata Tangkahan Taman Nasional Gunung Leuser Kabupaten Langkat Sumatera Utara
14
175
116
Kekayaan Jenis Makroepifit Di Hutan Telaga Taman Nasional Gunung Leuser (Tngl) Kabupaten Langkat
2
67
5
Perilaku Harian Ibu Dan Anak Orangutan (Pongo abelii) Di Ekowisata Bukit Lawang Taman Nasional Gunung Leuser Kabupaten Langkat
2
32
71
Keanekaragaman tumbuhan obat di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango dan di hutan terfragmentasi Kebun Raya Cibodas serta pemanfaatannya oleh masyarakat lokal
3
9
106
Strategi pengembangan wisata alam taman nasional Gunung Gede Pangrango Cibodas - Cianjur Jawa Barat
4
65
106
Peranan convervation international (CI) dalam pelestarian hutan konservasi di Provinsi Jawa Barat (studi kasus Taman Nasional Gunung Gede Pangrango)
0
28
120
Peranan convervation international (CI) dalam pelestarian hutan konservasi di Provinsi Jawa Barat (studi kasus Taman Nasional Gunung Gede Pangrango)
2
11
120
Interaksi dan Pemanfaatan Hasil Hutan Oleh Masyarakat Sekitar Taman Nasional Gunung Leuser (Study Kasus : Kawasan Taman Nasional Gunung Leuser Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah V Bahorok
1
2
14
Interaksi dan Pemanfaatan Hasil Hutan Oleh Masyarakat Sekitar Taman Nasional Gunung Leuser (Study Kasus : Kawasan Taman Nasional Gunung Leuser Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah V Bahorok
1
1
11
BAB II URAIAN TEORITIS DAN KONSEP EKOWISATA 2.1 Asal Mula dan Perkembangan Wisata - Upaya Pengembangan Taman Nasional Batang Gadis Sebagai Daerah Tujuan Ekowisata
0
0
24
Show more