Pengembangan perangkat dan modul pembelajaran materi menghemat air berdasarkan pendekatan paradigma pedagogi reflektif untuk siswa kelas IIIA SD Negeri Petinggen Yogyakarta.

Gratis

0
0
133
2 years ago
Preview
Full text

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIKATA PENGANTAR

  Puji syukur atas ke hadirat Allah SWT yang mana telah melimpahkan rahmat, hidayahNya sehingga peneliti dapat menyelesaikan tanggung jawabdalam menyusun tugas akhir atau skripsi dengan judul: Pengembangan Perangkat dan Modul Pembelajaran Materi Menghemat Air Berdasarkan PendekatanParadigma Pedagogi Reflektif untuk Siswa Kelas IIIA SD Negeri PetinggenYogyakarta. Peneliti juga mengucapkan terimakasih kepada guru, siswa, dan seluruh staf SD N Petinggen Yogyakarta, yang telah mendukung dan membantukelancaran dalam melakukan penelitian.

BAB I PENDAHULUAN Dalam bab ini diuraikan (1) Latar Belakang Masalah, (2) Rumusan Masalah, (3) Tujuan Penelitian, (4) Manfaat Penelitian, (5) Definisi Operasional, (6) Spesifikasi Produk yang Diharapkan

1.1. Latar Belakang Masalah

  Hal-hal tersebut dapat diwujudkan salah satunya dengan modul yang dikemas sesuai dengan pendekatan PPR agar siswa mampu belajar dengan cara merekasendiri dan mampu membuat siswa belajar sendiri. Dari pembelajaran yangmereka terima, siswa juga diharapkan mampu menentukan aksi yang mereka inginkan dalam berbagai kegiatan pembelajaran, sehingga mampu menciptakanangan-angan siswa menjadi nyata atau mengaplikasikannya di kehidupan sehari- hari dan bukan hanya mengetahui dan mengerti saja.

1.2. Rumusan Masalah

  Manfaat praktis 1) Peneliti Peneliti dapat memperoleh pengalaman dalam melakukan penelitian khususnya penggunaan pendekatan PPR dalam upaya mengembangkanperangkat dan modul pembelajaran dengan materi menghemat air.2) Siswa Siswa memiliki pengalaman baru dalam mempelajari materi menghemat air dengan menggunakan pendekatan PPR. Produk yang dikembangkan dalam penelitian ini berupa perangkat dan modul pembelajaran berdasarkan latar belakang siswa, visi misi sekolahdan kurikulum (KTSP), bahan ajar yang digunakan guru dan siswa, dan pencapaian siswa dalam SK dan KD.

1.5.6. Produk diimplementasikan di kelas III A SD Negeri Petinggen Yogyakarta

1.6. Definisi Operasional 1

  Modul Modul merupakan sarana pembelajaran sebagai salah satu sumber dalam menyampaikan materi yang dapat digunakan baik oleh siswa maupunguru. Perangkat pembelajaranPerangkat pembelajaran merupakan perangkat untuk melaksanakan proses pembelajaran yang memungkinkan guru dan siswa melakukan kegiatanpembelajaran.

BAB II LANDASAN TEORI Dalam bab ini akan diuraikan (1) Kajian Pustaka, (2) Penelitian yang Relevan, dan (3) Kerangka berpikir

2.1 Kajian Pustaka

2.1.1 Penelitian dan Pengembangan (Research and Development/ R&D)

  Pertama tujuan akhir R&Ddihasilkannya suatu produk tertentu yang dianggap handal karena telah melewati pengkajian terus menerus, kedua produk yang dihasilkan adalah produk yangsesuai dengan kebutuhan lapangan, ketiga adalah proses pengembangan produk jadi yang sudah divalidasi, dilakukan secara ilmiah dengan menganalisis datasecara empiris. Langkah yang dilakukan pertama adalah 1) Analisis kebutuhan dilakukan untuk mendapatkan data yang dibutuhkan siswa dan guru dimana dari hasilanalisis kebutuhan akan digunakan dalam mendesain produk.

2.1.2 Modul

  Sementara dalam pandanganlainnya, modul dimaknai sebagai perangkat ajar yang disusun secara sistematis sehingga penggunanya dapat belajar dengan atau tanpa fasilitator atau guru. Pengertian modul menurut Sukiman (2012: 131) adalah alat ukur yang lengkap yang merupakan satu kesatuan program yang dapat mengukur tujuan.

2.1.1.1 Perbedaan Buku Teks Biasa dengan Modul

  Perbedaan buku teks dengan Modul menurut Munadi (2010: 99) menyatakan cakupan bahasa materi dalam modul lebih fokus dan terukur, sertalebih mementingkan aktifitas belajar pembacanya, semua sajiannya disampaikan melalui bahasa yang komunikatif. Dengan kata lain bahwa jika dalam modul kegiatan atau aktifitas siswa akan lebih banyak dan materinya akan lebih terfokus melalui kegiatan yang akan dilakukan siswa.

2.1.1.2 Fungsi, Tujuan, dan Kegunaan Modul

  Fungsi modul menurut Prastowo (2013: 210) ada empat fungsi modul sebagai berikut: pertama, bahan ajar mandiri yaitu modul dapat digunakan dalamproses pembelajaran secara mandiri dan meningkatkan kemampuan siswa belajar sendiri tanpa bergantung orang lain. Keempat, modul bisa menjadi petunjukmengajar yang efektif bagi pendidik dan bahan untuk berlatih siswa dalam melakukan penilaian sendiri.

2.1.3 Perangkat Pembelajaran

2.1.2.1 Silabus

  Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa silabus adalah suatu perangkat perencanaan pembelajaran yang mencakup SK, KD dalam penjabaran indikator dan langkah-langkah pelaksanaan kegiatan belajar sesuai dengan tujuan yang akan dituju yang disesuaikan dengan materi pokok. f) Aktual dan kontekstual, bahwa cakupan indikator, materi pokok, pengalaman belajar, sumber belajar, dan sistem penilaian memperhatikanperkembangan ilmu, teknologi dan seni mutakhir dalam kehidupan nyata, dan pristiwa yang terjadi.

2.1.2.2 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)

  Dalam buku Model Pembelajaran Terpadu Trianto (2010: 108) menyatakan, rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) adalah rencana yangmenggambarkan prosedur dan manajemen pembelajaran untuk mencapai suatuKD yang ditetapkan dalam standar isi yang dijabarkan dalam silabus. Skenario kegiatan pembelajaran dikembangkan dari rumusan tujuanpembelajaran yang mengacu dari indikator untuk mencapai hasil belajar sesuai kurikulum berbasis kompetensi.

2.1.2.3 Lembar Kegiatan Siswa (LKS)

  LKS memuat sekumpulan kegiatan mendasar yang harus dilakukan untuk siswa dalammemaksimalkan pemahaman dan pengetahuan dalam upaya pembentukan kemampuan dasar sesuai dengan indikator. Dalam buku yang sama tersebut di atas LKS memiliki komponen- komponen meliputi judul eksperimen, teori singkat tentang materi, alat dan bahan,prosedur eksperimen, data pengamatan serta pertanyaan dan kesimpulan untuk bahan diskusi (Trianto, 2010: 112).

2.1.4 Air

  Air merupakan salah satu kebutuhan yang harus dipenuhi dalam kehidupan makhluk hidup seperti untuk minum dan untuk keberlangsunganhidup. Kebutuhan air lebih banyak digunakan oleh manusia selain untuk kebutuhan minum atau untuk makan, air juga digunakan untuk mencuciperlengkapan rumah, menyiram tanaman, mandi, pertanian, dll.

2 O. Berdasarkan sifat fisiknya terdapat tiga macam

  Yaitu air untuk keperluan irigasi, pembangkit energi, untuk keperluan industri dan air untuk kerluan publikAir untuk irigasi merupakan air yang digunakan untuk kebutuhan pertanian, seperti area persawahan atau perkebunan yang memerlukan air sesuaidengan kebutuhan, akan tetapi air tempat tumbuh kurang mencukupi sehingga diperlukan air dari pengirigasian. Air untuk keperluan pembangkit energi adalahair dibutuhkan untuk pembangkit energi seperti pembangkit tenaga listrik dengan menggunakan sumber daya air dengan menggunakan debit air yangbesar sehingga mampu menghasilkan energi listrik yang besar.

2 O. Air adalah kebutuhan pokok bagi makhluk

hidup dalam segala kegiatan rutinitas, maupun dalam berbagai bidang, air tidak hanya dibutuhkan manusia saja tetapi juga dibutuhkan makhluk hidup yang lainseperti hewan dan tumbuhan.

2.1.5 Hakikat IPA

  IPA adalah ilmu yang mempelajari tentang alam baik yang hidup maupun yang tak hidup, segala gejala-gejala yang terjadi. Dalam kehidupan ini,mempelajari IPA memanglah sangat penting agar mampu menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari karena yang terkandung dalam pelajaran IPA tidak terlepasdari kegiatan sehari-hari dan alam di sekitar.

22) Carin dan Sund (1993) mendefinisikan IPA sebagai “pengetahuan sistematis

  Berdasarkan paparan di atas peneliti menyimpulkan bahwa IPA merupakan ilmu yang mempelajari tentang segala sesuatu yang ada di alam dan sebab akibat yang terjadi. IPA juga merupakan pengetahuan yang sistematis dan membutuhkan prosedur yang sistematis melalui metode ilmiah pada prosespemecahan masalah yang terjadi.

2.1.6 Pendekatan Paradigma Pedagogi Reflektif

  PPR dalam membentuk kepribadian siswa yaitu dengan memberikan pengalaman akan suatu nilai kemanusian, kemudian siswa akan merefleksikanpengalaman yang terjadi atau telah terjadi dengan adanya pertanyaan-pertanyaan. Pengalaman merupakan situasi yang diciptakan untuk menumbuhkan persaudaraan, solidaritas sehingga terjadi interaksi dan komunikasi yang intensif, ramah dan sopan, penuh tenggang rasa, dan akrab.

2.1.7 Pendidikan Emansipatoris

  Pendidikan emansipatoris oleh Giroux (2001) dipandang sebagai pendidikan yang pergerakannya menekankan perwujudan masyarakat yang adildan demokratis (Winarti dan Anggadewi, 2015: 53). Pendidikan emansipatoris memiliki tiga kata kunci yaitu humanisasi, kesadaran kritis, dan mempertanyakansistem.

2.1.6.1 Humanis

  Pendidikan (Islam) humanistik adalah pendidikan yang mampu memperkenalkan apresiasinya yang tinggi kepada manusia sebagai makhluk Allah yang mulia dan bebas serta dalam batas-batas eksistensinya yang hakiki, dan juga sebagai khalifatullahPada buku yang diterjemahkan oleh Prihantoro dan Fudiyartanto dalam buku Politik Pendidikan Kebudayaan, kekuasaan dan pembebasan (1999: ix-xiii). Pedidikan yang pernah ada dan bertahan selama iniadalah pendidikan dengan gaya bank, dimana pelajar diberikan ilmu dan kelak dapat mendatangkan hasil yang melimpah.

2.1.6.2 Kesadaran Kritis

  Dalam buku Rohardjo yang berjudul Pendidikan Popular Pembangun Kesadaran Kritis (2005: 30) menyatakan paradigma kritis dalam pendidikanmelatih murid untuk mampu mengidentifikasi „ketidakadilan‟ dalam sistem dan struktur yang ada. Tugas pendidikan dalamparadigma kritis adalah menciptakan ruang dan kesempatan agar peserta didik terlibat dalam suatu proses penciptaan struktur yang secara fundamental baru danlebih baik.

2.1.6.3 Mempertanyakan Sistem

  Prinsipnya modelpembelajaran emansipatoris bersifat mengembangkan: pemahaman dan pengalaman tentang realitas, kesadaran emansipatoris, kesadaran politis,pemberdayaan, dan berlangsungnya dialog murni (Nouri dan Sajjadi, 2014 dalamWinarti dan Anggadewi 2015: 53). Berdasarkan uraian humanis, kritis dan mempertanyakan sistem dapat disimpulkan bahwa pendidikan emansipatoris merupakan pendidikan yangmemanusiakan manusia atau pendidikan yang menerima adanya perbedaan sosial atau ekonomi, pendidikan yang bebas, tidak melulu siswa menjadi pembelajartetapi guru dan siswa sama-sama menjadi pembelajar.

2.2 Penelitian yang Relevan

2.2.1 Penelitian yang sesuai dengan Modul

  Hasil dari penelitian tersebut berdasarkan analisis data diperoleh hasil bahwa uji coba validitas yang dilakukan kepada validator yaituahli media pembelajaran dan ahli materi adalah 4,07 dapat dikategorikan valid, uji coba praktikalitas yang dilakukan kepada mahasiswa yaitu 3,38% dapatdikategorikan praktis sedangkan analisis data efektifitas tentang aktivitas mahasiswa dalam perkuliahan meningkat dari 59% menjadi 81% yang dapatdikategorikan efektif. Penelitian tersebut bertujuan untuk (1) mendeskripsikan gambaran pembelajaran menulis cerpen di SMP serta mendiskripsikan penilaiansiswa dan guru terhadap materi cerpen pada buku teks pelajaran bahasa Indonesia,(2) mengembangkan modul pembelajaran menulis cerpen berbasis pengalaman(experiential learning) untuk siswa SMP/MTs, (3) mendeskripsikan kelayakan modul pembelajaran menulis cerpen berbasis pengalaman (experiential learning)untuk siswa SMP/MTs.

2.2.2 Penelitian yang sesuai dengan perangkat pembelajaran

  Hasil dari penelitian tersebut diperoleh perangkat pembelajaran (RPP,LKS dan tes) materi prisma dan limas berbasis kontekstual yang dapat dikategorikan valid dan praktis, serta memiliki potensial efek dalam mengukur kemampuan berpikir kritis matematis siswa SMP yang selama ini belum ditumbuhkan dan dibiasakan. Hasil dari penelitian tersebut berupa perangkat pembelajaran berupa buku guru dan buku siswa SMA yang dilengkapi dengan media pembelajaran bersuplemendigital.

2.2.3 Penelitian yang sesuai dengan Paradigma Pedagogi Reflektif (PPR)

  Penelitian tersebut bertujuan untuk menganalisis hasil implementasi model pembelajaran ParadigmaPedagogi Reflektif (PPR) dalam memfasilitasi penguasaan konsep IPA dan Competence-Conscience-Compassion (3C) siswa di SD Kanisius Wirobrajan 1 Yogyakarta dimana penelitian tersebut merupakan penelitian studi kasus. Penelitian tersebut bertujuan untuk mengetahui implementasi pendekatan PPR dalampembelajaran limas dengan menggunakan teori Van Hiele, mengetahui pencapaian kompetensi dalam implementasi pendekatan PPR pada pembelajaranlimas dengan menggunakan teori Van Hiele, mengetahui respon siswa dalam pembelajaran matematika melalui pendekatan PPR dengan menggunakan teoriVan Hiele pada siswa kelas VIII A SMP Kanisius Kalasan tahun ajaran2015/2016.

2.3 Kerangka Berpikir

  Sehingga sebagai makhluk hidup yang dianugrahi Tuhan dengan akal dan budi serta ditunjuk sebagai khalifah bumimaka manusia haruslah mampu menghemat sumberdaya alam di bumi ini baik yang dapat diperbaharui terlebih lagi yang tidak dapat di perbaharui. Peneliti memilih pendekatan PPR dalam mengembangkan modul dan perangkat pembelajaran untuk materi IPA karena peneliti merasa bahwapendekatan tersebut merupakan salah satu pendekatan yang efektif dalam mengembangkan kognitif, keterampilan, dan sikap siswa dalam menjagasuberdaya alam serta energi yang ada.

2.4 Pertanyaan penelitian

  Bagaimana langkah-langkah atau prosedur pengembangan perangkat dan modul pembelajaran materi menghemat air berdasarkan pendekatan PPRuntuk siswa kelas IIIA SD Negeri Petinggen, Yogyakarta? Bagaimana Pendekatan PPR yang digunakan untuk pengembangan perangkat dan modul pembelajaran materi menghemat air berdasarkan pendekatan PPR untuk siswa kelas IIIA SD Negeri Petinggen,Yogyakarta?

BAB II I METODE PENELITIAN Pada bab ini dibahas (1) jenis penelitian, (2) setting penelitian, (3)

prosedur pengembangan, (3) validasi, (5) teknik pengumpulan data, dan (6) teknik analisis data.

3.1 Jenis Penelitian

  Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian dan pengembangan atau biasa dikenal dengan Research and Development (R&D). Metode penelitian dan pengembangan merupakan penelitian yang digunakan untuk merancang produk atau prosedur baru, yang diuji secara sistematis dilapangan, dievaluasi, dan direvisi hingga diperoleh kriteria spesifik meliputi efektifitas, kualitas, atau standar yang sejenis (Gall & Borg, 2007: 589).

3.2 Setting Penelitian

  Siswa yang dipilih berjumlah tujuh siswa yang terdiri dari 4 siswa perempuan dan 3 siswa laki-laki. 3.2.3 Objek Penelitian Objek penelitian ini adalah pengembangan Modul dan PerangkatPembelajaran Materi Menghemat Air Berdasarkan Pendekatan Paradigma Pedagogi Reflektif untuk siswa kelas IIIA SDN Petinggen Yogyakarta.

3.2.4 Waktu Penelitian Penelitian dan pengembangan ini dilakukan pada bulan Juli 2016 s.d

  Secara keseluruahan, penelitian ini berlangsung kurang lebih selama tujuh bulan. Peneliti melakukan implementasi produk pada 17 Februari2017.

3.3 Produser Pengembangan Penelitian ini mengadopsi model dari Tomlinson yang sudah dimodifikasi

  Observasi yang dilakukan meliputi observasi sekolah dan pembelajaran di kelas untuk menemukan permasalahan yang ada disekolah dan di kelas III A saat pembelajaran IPA. Modul pembelajaran yang telah peneliti buat kemudian divalidasikan ke para ahli yaitu IPA, Bahasa, dan guru kelas III agar mendapatkan kritik dan saranserta penilaian modul yang telah dibuat dan peneliti kembangkan.

3.4 Teknik Pengumpulan Data

  Aspek yang diamati adalahpermasalahan-permasalahan yang terjadi di sekolah baik dalam kegiatan siswa diluar kelas maupun di dalam kelas dan permasalahan pada proses pembelajaranyang terjadi. 3.4.2 Wawancara Wawancara merupakan suatu proses tanya jawab atau dialog secara lisan antara pewawancara (interviewer) dengan orang yang yang diinterviu(interviewee) dengan tujuan untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan oleh peneliti (Widoyoko.

3.5 Instrumen Penelitian

3.5.1 Pedoman Observasi

  Observasi dilaksanakan di sekolah dan juga di kelas III A. Observasi di sekolahan meliputi pengamatan kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh siswa, danobservasi kelas meliputi pengamatan terhadap proses pembelajaran pada mata pelajaran IPA dan bahan ajar yang digunakan.

3.5.2 Pedoman Wawancara

  Widoyoko dalam buku Teknik Penyusunan Instrumen Penelitian(Widoyoko, 2016: 44) mengatakan bahwa wawancara Tidak terstruktur atau terbuka adalah wawancara bebas, dimana pewawancara tidak menggunakan pedoman wawancara yang telah tersusun sistematis dan lengkap untukpengumpulan datanya. Peneliti memilih wawancara dengan teknik tidak terstruktur karena wawancara yang digunakan hanya berupa garis besar dan pokokpermasalahan yang akan ditanyakan.

3.5.3.1 Kuesioner Analisis Kebutuhan

  Sedangkan untuk siswa peneliti memberikan kusioner yang bersifat tertutup karena agar mempermudah mengarahkan siswa dalam menganalisiskebutuhan dan tanpa merepotkan siswa agar mengurangi kecenderungan siswa dalam mengikuti jawaban teman yang lain. Tabel 3.3 Kisi-kisi Kuesioner Guru Terbuka Indikator Nomor ItemPengaruh penggunaan perangkat dan modul pembelajaran bagi siswa 1, 2, 5 dan 6 Pembelajaran yang dapat membentuk pribadi siswa 3, 9 dan 10Fungsi perangkat dan modul pembelajaran 7 Bahan ajar yang pernah digunakan dalam pelaksanaan pembelajaran 4 dan 8 Tabel 3.4 Instrumen Kisi-kisi Kuesioner Guru Terbuka No Pertanyaan Jawaban 1.

3.5.3.2 Kuesioner Validasi Produk oleh Ahli

  Instrumen validasi produk oleh ahli yang berupa kuesioner digunakan peniliti untuk mengetahui kualiatan produk yang berupa modul dan perangkatpembelajaran. 4 Modul pembelajaran mampu menumbuhkan kesadaran dan kepedulian siswa terhadap air 5 Modul pembelajaran merupakan sumber belajar yang baik bagi siswa dan guru.

3.5.3.3 Kuesioner Implementasi Produk

  Kuesioner implementasi produk yang digunakan peneliti bersifat tertutup dan menggunakan pedoman skala Likert dimana rentang skala yang disediakanyaitu 1, 2, 4, 5 dengan keterangan (1) sangat tidak baik, (2) tidak baik, (4) baik,(5) sangat baik. Tabel 3.11 Kisi-kisi Kuesioner Implementasi Produk Indikator Nomor ItemBahasa 1 dan 2 Tampilan 3, 4, 5 dan 6Konten/isi 7 Keuntungan penggunaan modul 8, 9, 10, 11, dan 12 Tabel 3.12 Instrumen dari Kisi-kisi Kuesioner Implementasi Produk Keterangan: 1: Sangat tidak baik, 2: tidak baik, 4: baik, 5: sangat baik No Pertanyaan Skor Komentar 1 2 4 5 1.

3.6 Teknik Analisis Data

  3.6.1 Data Kualitatif Data kualitatif adalah data yang menunjukkan kualitas mutu suatu yang ada, baik keadaan, proses, pristiwa/ kejadian dan lainnya yang dinyatakan dalambentuk pernyataan atau berupa kata-kata (Widoyoko, 2016: 18). Nilai 5 : Instrumen sangat baikNilai 4 : Instrumen baikNilai 2 : Instrumen kurang baikNilai 1 : Instrumen sangat kurang baik Hasil yang digunakan dari penilaian dengan menggunakan skala Likert 1-4 kemudian dihitung untuk memperoleh rerata penilaian.

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Penelitian dan Pembahasan

4.1.1 Proses Pengembangan Materi

  Modul yang dikembangkan oleh peneliti be rjudul “Menghemat Air”. Proses pengembangan modul pada penelitian ini menggunakan lima langkah pengembangan materi menurut Tomlinson, kelima langkah tersebut antara lainsebagai berikut.

4.1.1.1 Analisis Kebutuhan

  Dimana analisis kebutuhan dilakukan untuk mengetahui latar belakang siswa, visi dan misisekolah, penggunaan bahan ajar yang digunakan guru dan siswa, serta pencapaianSK & KD pada mata pelajaran IPA. Dalam analisis kebutuhan peneliti melakukan dengan teknik pengumpulan data berupa observasi sekolah dan kelas, wawancaraoleh guru dan siswa, dan penyebaran kuesioner.

4.1.1.1.1 Observasi

  Hal tersebut terlihat saatpeneliti melihat saat jam sholat tiba siswa berwudhu dengan air yang terlalu deras, mencuci tangan terlalu sering dan dengan aliran air yang deras, menggunakan airuntuk bermain seperti membasahi teman mereka lainnya dan memasukan ke dalam plastik untuk lempar-lemparan. Dalam penggunaan media pembelajaran guru lebih sering menggunakan buku dan LKS yang dibeli, guru tidak memakai modul padahal modul akanmembuat siswa lebih aktif dalam mengikuti pembelajaran.

4.1.1.1.2 Wawancara Peneliti melakukan kegiatan wawancara pada tanggal 13 Oktober 2016

  Karakter siswa secara umum yang guru ketahui adalah siswa terlibat aktif dalampembelajaran dan berdinamika walaupun tidak semua siswa aktif dalam kegiatan yang diciptakan guru di dalam pembelajaran yang dilakukan. melakukan kegiatan yang ada secara mandiri, alat dan bahannya mudah diperoleh, terdapat pertanyaan yang mendukung serta ringkasan materi agar siswa lebihpaham, dan kegiatannya dapat membuat siswa aktif, kreatif, dan kritis.

4.1.1.2 Desain

  Setelah peneliti melakukan analisis kebutuhan, hasil dari observasi, wawancara, kuesioner, dan menentukan SK, KD, Indikator, serta tujuan menjadipatokan peneliti dalam mendesain produk agar sesuai dengan kebutuhan dalam proses pembelajaran. Ada sepuluh prinsip pengembangan materi menurutTomlinson (2005) yang relevan dengan penelitian ini.

4.1.1.2.1 Desain Produk Sebelum Divalidasi

  Berdasarkan penentuan SK, KD, Indikator dan tujuan peneliti kemudian menentukan kegiatan-kegiatan yang sesuai dengan indikator dan tujuan kemudian menentukan alokasi waktu yang cukup untukpenyampaian materi, yang terakhir adalah menentukan sumber belajar yang menjadi acuan. Prinsip ini terletak pada bahasa-bahasa yang dikembangkanyang bersifat bertanya dan mengajak atau berkomunikasi dengan siswa, dan pada bagian bahasa untuk siswa yang melakukan praktikum.

4.1.1.2.2 Desain Produk Setelah Divalidasi

  Ada dua bagian penilaian dalam validasi yang pertama merupakan instrumen validasiuntuk perangkat pembelajaran mulai dari silabus dan RPP, yang kedua merupakan instrumen penilaian validasi untuk modul “Hemat Air”. Diantaranya adalah penulisan yang ada padaperangkat pembelajaran yang harus diperbaiki, penilaian indikator yang perlu diperhatikan, dan menambahkan keterangan nama media.

4.1.1.3 Implementasi

  Setelah itu siswa bergegasmengamati benda-benda dan makhluk hidup di sekitar mereka dan mengumpulkan data ke dalam tabel dengan menuliskan nama benda yangditemukan dan alasan mengapa benda yang mereka temui membutuhkan air. Gambar 4.18 Hasil pembuatan poster oleh siswa Setelah melakukan aksi kemudian dilanjutkan dengan mengisi lembar evaluasi yang digunakan untuk mengukur hasil belajar siswa dari apa yang telah merekaterima saat pembelajaran, dan hasilnya sempurna semua pertanyaan dijawab siswa dengan tepat.

4.1.1.4 Evaluasi

  Setelah melakukan pengamatan saat implementasi dan penyebaran kuesioner peneliti kemudian mengevaluasi prinsip-prinsip apa saja yang nampakdan yang belum nampak serta kelebihan dan kekurangan modul yang digunakan siswa. Dengan materi yang relevan sehingga materi dapan memenuhi prinsip kelima yaitu materi sesuai dengan yang diperlukan dan dapan memfasilitasi siswa, prinsip ini terlihat saat melaksanakan pembelajaran siswa berpedoman dalam melakukan seluruhkegiatan dengan modul dan dapat dilihat pada gambar 4.20.

4.1.2 Kualitas Produk

  Berdasarkan hasil validasi dari ahli IPA, Ahli Bahasa, dan Guru kelas berkaitan dengan modul pembelajaran maka, dapat diperoleh rata-rata dari seluruhpenilaian. Tabel 4.7 Rekapitulasi rata-rata hasil penilaian produk oleh para ahli Ahli Rerata Kategori IPA 3,53 Sangat Baik Bahasa 3,12 BaikGuru kelas III A 3,75 Sangat baikJumlah Rata-rata 3,47 Sangat baik Berdasarkan hasil rekapitulasi tersebut diperoleh rata-rata skor 3,47 dan masuk kedalam kategori “sangat baik”, sehingga modul layak diimplementasikan.

BAB V KESIMPULAN, KETERBATASAN DAN SARAN Pada bab ini akan dijelaskan kesimpulan dan kerbatasan penelitian, serta

saran bagi peneliti selanjutnya

5.1 Kesimpulan

  Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan pengembangan modul dan perangkat pembelajaran IPA untuk menghemat air maka, dapat disimpulkanbahwa: 5.1.1 Prosedur pengembangan modul dan perangkat pembelajaran materi menghemat air berdasarkan pendekatan pedagogi reflektif untuk siswakelas III A SD N Petinggen Yogyakarta, dilakukan sesuai dengan lima siklus PPR. 5.1.2 Kualitas modul dan perangkat pembelajaran materi menghemat air berdasarkan pendekatan pedagogi reflektif, Hasil penelitian inimenunjukkan bahwa kualitas produk berdasarkan hasil validasi dari tiga ahli yaitu ahli IPA, ahli Bahasa, dan guru memiliki rerata skor 3,47 dariskala 4,00 dan di kategorikan “sangat baik dan layak digunakan” Hasil validasi digunakan sebagai acuan untuk merevisi modul sebelum diimplementasikan.

5.2 Keterbatasan

  Produk yang peneliti kembangkan masih memiliki keterbatasan, yaitu sebagai berikut: 5.2.1 Produk yang dikembangkan masih ada beberapa hal dalam modul yang masih sulit untuk dipahami siswa. 5.2.2 Produk belum mampu memenuhi dengan sempurna prinsip modul yang harus membantu peserta didik mengembangkan kepercayaan diri siswa.

5.3 Saran

  Berikut ini beberapa saran peneliti berdasarkan hasil penelitian untuk peneliti selanjutnya, antara lain: 5.3.1 Sebaiknya pembuatan modul mampu lebih menyederhanakan bahasa dengan menggunakan bahasa yang digunakan siswa agar memudahkansiswa memahami kegiatan yang direncanakan. 5.3.2 Sebaiknya modul dikembangkan dengan lebih menarik lagi seperti memberikan reward pada kegiatan yang siswa lakukan agar dapatmembangkitkan rasa percaya diri siswa dengan lebih baik lagi.

Dokumen baru

Dokumen yang terkait

Pengembangan modul pelajaran IPA kelas III berbasis paradigma pedagogi reflektif di SD Kanisius Kalasan.
1
1
104
Pengembangan modul cintai lingkungan sekitarmu menggunakan pendekatan paradigma pedagogi reflektif untuk siswa kelas III B SD Negeri Petinggen Yogyakarta.
1
4
135
Pengembangan modul IPA ``Ayo Cinta Lingkungan`` untuk siswa kelas III SDN Babarsari Yogyakarta menggunakan pendekatan paradigma pedagogi reflektif.
0
0
2
Pengembangan modul pembelajaran IPA "Tumbuhan di Sekitarku" menggunakan pendekatan paradigma pedagogi refketif untuk siswa kelas III A SD N Jetis 1 Yogyakarta.
0
2
112
Pengembangan perangkat pembelajaran dan modul materi pelestarian sumber daya alam berdasarkan pendekatan paradigma pedagogi reflektif untuk siswa kelas IV A SD Negeri Jetis 1 Yogyakarta.
0
3
168
Pengembangan perangkat pembelajaran matematika menggunakan paradigma pedagogi reflektif yang mengakomodasi group investigation di kelas VIII SMP Negeri 1 Yogyakarta.
0
0
2
Pengembangan modul cintai lingkungan sekitarmu menggunakan pendekatan paradigma pedagogi reflektif untuk siswa kelas III B SD Negeri Petinggen Yogyakarta
0
1
133
Pengembangan modul IPA ``Ayo Cinta Lingkungan`` untuk siswa kelas III SDN Babarsari Yogyakarta menggunakan pendekatan paradigma pedagogi reflektif
1
1
129
Pengembangan modul pelajaran IPA kelas III berbasis paradigma pedagogi reflektif di SD Kanisius Kalasan
1
2
102
Pengembangan perangkat pembelajaran materi garis dan sudut dengan pendekatan paradigma pedagogi reflektif menggunakan model pembelajaran contextual teaching and learning di SMP Negeri 1 Yogyakart
0
21
639
Pengembangan modul pembelajaran IPA Tumbuhan di Sekitarku menggunakan pendekatan paradigma pedagogi refketif untuk siswa kelas III A SD N Jetis 1 Yogyakarta
0
1
110
Pengembangan perangkat dan modul pembelajaran materi menghemat air berdasarkan pendekatan paradigma pedagogi reflektif untuk siswa kelas IIIA SD Negeri Petinggen Yogyakarta
1
9
131
Pengembangan perangkat dan modul pembelajaran menghemat energi listrik berdasarkan pendekatan paradigma pedagogi reflektif untuk siswa kelas III A SDN Petinggen Yogyakarta
0
1
159
Pengembangan perangkat pembelajaran dan modul materi pelestarian sumber daya alam berdasarkan pendekatan paradigma pedagogi reflektif untuk siswa kelas IV A SD Negeri Jetis 1 Yogyakarta
0
9
166
Efektivitas pengembangan kompetensi siswa dalam pembelajaran matematika berbasis paradigma pedagogi reflektif di kelas IV SD Kanisius Wirobrajan Yogyakarta - USD Repository
0
0
122
Show more