BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Konsep Keluarga - INNA NADZIROTUL M BAB II

Gratis

0
0
41
3 months ago
Preview
Full text

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Konsep Keluarga 1. Pengertian Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas

  kepala keluarga dan beberapa orang yang berkumpul dan tinggal di suatu tempat dibawah satu atap dalam keadaan saling ketergantungan.

  (Departemen Kesehatan RI. 1998 ).

  Keluarga adalah sebagai unit kecil, terdiri dari dua orang atau lebih, akan tetapi tidak selalu diikat dalam suatu ikatan perkawinan dan pertalian darah, hidup dalam satu atap, berinteraksi satu sama lain, setiap anggota keluarga menjalankan peran dan fungsinya masing-masing serta menciptakan dan mempertahankan suatu kebudayaan. ( Duval dalam Agus Citra D. 2002 ).

  Keluarga adalah dua atau lebih individu yang hidup dalam satu rumah tangga karena adanya hubungan darah, perkawinan atau adopsi.

  Mereka saling berinteraksi satu dengan yang lainnya, mempunyai peran masing-masing dan menciptakan serta mempertahankan suatu budaya (Baylon dan Maglaya di kutip oleh Arita Murwani 2007).

  Dari kedua pengertian diatas penulis dapat menyimpulkan bahwa keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas dua orang atau lebih, dalam suatu ikatan perkawinan dan pertalian darah hidup dalam

  6 suatu rumah tangga, dibawah asuhan seorang anggota keluarga mempunyai peran masing-masing serta menciptakan dan juga mempertahankan suatu kebudayaan.

2. Tipe Keluarga

  Agar dapat mengupayakan peran serta keluarga dalam meningkatkan derajat kesehatan maka perawat perlu mengetahui berbagai tipe keluarga. Berikut ini akan disampaikan berbagai tipe keluarga: a.

  Tipe Keluarga Tradisisonal 1)

  Keluarga Inti, yaitu suatu rumah tangga yang terdiri dari suami, istri, dan anak (kandung atau angkat).

  2) Keluarga Besar, yaitu keluarga inti ditambah dengan keluarga lain yang mempunyai hubungan darah, misalnya kakek, nenek, keponakan, paman, bibi.

  3) Keluarga “Dyad”, yaitu suatu rumah tangga yang terdiri dari suami dan istri tanpa anak.

  4) “Single Parent”, yaitu rumah tangga yang terdiri dari satu orang tua

  (ayah/ibu) dengan anak (kandung/angkat). Kondisi ini dapat disebabkan oleh perceraian atau kematian.

  5) “Single Adult”, yaitu suatu rumah tangga yang hanya terdiri seorang dewasa (misalnya seorang yang telah dewasa kemudian tinggal kost untuk bekerja atau kuliah). b.

  Tipe Keluarga Non Tradisional 1)

  “Commune family”, yaitu lebih satu keluarga tanpa pertalian darah hidup serumah.

  2) Orang tua (suami-istri) yang tidak ada ikatan perkawinan dan anak hidup dalam satu rumah tangga.

  3) “Homoseksual”, yaitu dua individu yang sejenis (laki-laki) hidup satu rumah tangga.

3. Struktur keluarga

  Mempelajari struktur keluarga akan memberikan penjelasan dengan dominasi jalur hubungan darah, dominasi keberadaan tempat tinggal, dominasi pengambilan keputusan. Di Indonesia terdapat beragam struktur keluarga, penulis akan menjelaskan tentang struktur keluarga terdiri dari bermacam-macam, diantaranya adalah : a.

  Patrilineal, adalah keluarga sedarah yang terdiri dari sanak saudara sedarah dalam beberapa generasi dimana hubungan itu disusun melalui jalu garis ayah.

  b.

  Matrilineal, adalah keluarga sedarah yang terdiri dari sanak saudara sedarah dalam beberapa generasi dimana hubungan itu disusun melalui garis ibu.

  c.

  Patrilokal, adalah sepasang suami istri yang tinggal bersama keluarga sedarah dengan suami.

  d.

  Matrilokal, adalah sepasang suami istri yang tinggal bersama keluarga sedarah dengan ayah. e.

  Keluarga kawinan adalah hubungan suami istri sebagai dasar bagi pembinaan keluarga dan beberapa sanak saudara yang menjadi bagian keluarga karena adanya hubungan dengan suami atau istri.

4. Peran Keluarga

  Peran keluarga menggambarkan seperangkat perilaku intra personal sifat, kegiatan yang bersifat berhubungan dengan individu dalam keluarga didasari harapan dengan pola perilaku dari keluarga, kelompok dan masyarakat.

  Berbagai peranan yang terdapat didalam keluarga adalah sebagai berikut : a.

  Peran Ayah : Ayah sebagai suami dari istri dan ayah dari anak-anak, berperan sebagai pencari nafkah, pendidik, pelindung dan pemberi rasa aman serta sebagai kepala keluarga, ayah juga berperan sebagai anggota dari kelompok sosialnya dan sebagai anggota masyarakat dilingkungannya.

  b.

  Peran Ibu : Ibu berperan sebagai istri dari suami dan ibu dari anak- anaknya, mempunyai tugas untuk mengurus rumah tangga, pengasuh dan pendidik anak-anaknya, pelindung dan anggota masyarakat dari lingkungannya, disamping itu juga ibu berperan sebagai pencari nafkah tambahan dari keluarga.

  c.

  Peran Anak : Anak-anak melakukan peranan psikososial sesuai dengan tingkat perkembangannnya baik fisik, mental, social dan spiritual.

5. Fungsi Keluarga

  Ada beberapa fungsi yang dapat dijalankan keluarga antara lain : a. Fungsi Biologis

  Fungsi biologis keluarga bukan hanya ditujukan untuk meneruskan kelangsungasn keturunan, tetapi juga memelihara dan membesarkan anak, memenuhi kebutuhan gizi keluarga, memelihara dan merawat anggota keluarga juga bagian dari fungsi biologis keluarga.

  b.

  Fungsi Psikologis Keluarga menjalankan fungis psikologisnya antara lain untuk memberikan kasih sayang dan rasa aman, memberikan perhatian di antara anggota keluarga, membina pendewasaan kepribadian anggota keluarga dan memberikan indentitas keluarga.

  c.

  Fungsi Sosialisasi Fungsi sosialisasi tercermin untuk membina sosialisasi pada anak, membentuk nilai dan norma yang diyakini anak, memnberikan batasan perilaku yang boleh dan tidak boleh pada anak, dan meneruskan nilai- nilai budaya keluarga.

  d.

  Fungsi Ekonomi Keluarga menjalankan fungsi ekonominya untuk mencari sumber- sumber penghasilan keluarga untuk memenuhi kebutuhan keluarga, pengaturan penggunaan penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarga, menabung untuk memenuhi kebutuhan keluarga yang akan datang, misalnya pendidikan anak-anak, jaminan hari tua dan sebagainya.

  Fungsi ekonomi ini secara kultur di Negara-negara Asia dipegang teguh oleh kepala keluarga yaitu suami, tetapi lambat laun nilai itu memudar, banyak wanita sebagai single parent memenuhi fungsi ekonomi.

  e.

  Fungsi Pendidikan Keluarga menjalankan fungsi pendidikan untuk menyekolahkan anak dalam rangka memberikan pengetahuan, ketrampilan dan membentuk perilaku anak, mempersiapkan anak untuk kehidupan dewasa dan mendidik anak sesuai dengan tingkatan perkembangannya.

  Menyediakan kebutuhan fisik dan perawatan kesehatan. Fungsi-fungsi fisik keluarga dipenuhi oleh orang tua dengan menyediakan pangan, papan, sandang dan perlindungan terhadap bahaya. Perawatan kesehatan dan praktik-praktik sehat (yang mempengaruhi status kesehatan anggota keluarga secara individu) merupakan bagian yang paling relevan dari fungsi keluarga bagi perawatan keluarga.

  f.

  Fungsi Perawatan Kesehatan Keluarga juga berperan atau berfungsi untuk melaksanakan praktek asuhan kesehatan, yaitu untuk mencegah terjadinya gangguan kesehatan dan atau merawat anggota keluarga yang sakit. Kemampuan keluarga dalam memberikan asuhan kesehatan mempengaruhi status kesehatan keluarga. Kesanggupan keluarga melaksanakan pemeliharaan kesehatan dapat dilihat dari tugas kesehatan keluarga yang dilaksanakan. Keluarga yang dapat melaksanakan tugas kesehatan berarti sanggup menyelesaikan masalah kesehatan.

  Menurut Friedman(1998) tugas kesehatan keluarga adalah sebagai berikut: 1)

  Mengenal masalah kesehatan Untuk mengetahui kemampuan keluarga mengenal masalah kesehatan. kaji sejauh mana keluarga mengenal fakta-fakta dari masalah kesehatan yang meliputi pengertian, tanda dan gejala faktor penyebab dan faktor yang mempengaruhinya.

2) Membuat keputusan tindakan kesehatan yang tepat.

  Untuk mengetahui kemampuan keluarga mengambil keputusan mengenai tindakan keperawatan yang tepat, hal yang perlu dirasakan oleh keluarga sejauh mana kemampuan keluarga mengenai sifat dan luasnya masalah,apakah masalah masalah kesehatan dirasakan oleh keluarga merasa takut akan akibat dari penyakit, apakah keluarga mempunyai sifat negatif terhadap masalah kesehatan,apakah keluarga dapat menjangkau fasilitas kesehatan yang ada, apakah keluarga kurang percaya terhadap tenaga kesehatan dan apakah keluarga mendapat informasi yang salah terhadap tindakan dalam mengatasi masalah.

  3) Memberi perawatan pada anggota keluarga yang sakit

  Untuk mengetahui sejauhmana kemampuan keluarga merawat anggota keluarga yang sakit, yang perlu dikaji adalah sejauhmana keluarga mengetahui keadaan penyakitnya (sifat, penyebaran, komplikasi, prognosa dan cara perawatanya) sejauh mana keluarga mengetahui tentang sifat dan perkembangan perawatan yang dibutuhkan, sejauh mana keluarga mengetahui sumber-sumber yang ada dalam keluarga (anggota keluarga yang bertanggung jawab, sumber keuangan, fasilitas fisik, psikososial) dan bagaimana sifat keluarga terhadap yang sakit (khususnya sifat negatif). 4)

  Mempertahankan atau menciptakan suasana rumah yang sehat Untuk mengetahui sejauh mana kemampuan keluarga mempertahankan atau menciptakan suasana rumah yang sehat (dari segi fisik ,psikis, ekonomi) hal yang perlu dikaji adalah sejauh mana keluarga melihat keuntungan atau manfaat pemeliharaan lingkungan, sejauh mana keluarga melihat keuntungan/manfaat, sejauh mana mengetahui upaya pencegahan penyakit, sejauh mana sifat/pandangan keluarga terhadap hiegene dan sanitasi dan sejauh mana kekompakan antar anggota keluarga.

  5) Menggunakan fasilitas pelayanan kesehatan masyarakat

  Umtuk mengetahui sejauh mana kemampuan keluarga menggunakan fasilitas pelayanan kesehatan dimasyarakat, hal yang perlu dikaji adalah sejauhmana keluarga memahami keuntungan-keuntungan yang dapat diperoleh dari fasilitas kesehatan sejauh mana tingkat kepercayaan keluarga terhadap petugas dan fasilitas kesehatan.

6. Tahapan Perkembangan Keluarga

  Tahap perkembangan keluarga dibagi sesuai dengan kurun waktu tertentu yang dianggap stabil, misalnya keluarga dengan anak pertama berbeda dengan keluarga dengan remaja. Menurut Rodgers (Friedman, 1998, hal. 111), meskipun setiap keluarga melalui tahapan perkembangan secara unik, namun secara umum seluruh keluarga mengikuti pola yang sama.

  Tiap tahap perkembangan membutuhkan tugas atau fungsi keluarga agar dapat melalui tahap tersebut dengan sukses. Pada makalah ini akan diuraikan perkembangan keluarga berdasarkan konsep Duvall dan Miller (Friedman, 1998).

  Tahap I. Pasangan Baru (Keluarga Baru)

  Keluarga baru dimulai saat masing-masing individu laki-laki (suami) dan perempuan (istri) membentuk keluarga melalui perkawinan yang sah dan meninggalkan keluarga masing-masing. Karena masih banyak kita temui keluarga baru yang tinggal dengan orang tua, maka yang dimaksud dengan meninggalkan keluarga di sini bukanlah secara fisik.

  Namun secara psikologis, keluarga tersebut sudah memiliki pasangan baru.

  Dua orang yang membentuk keluarga perlu mempersiapkan kehidupan yang baru karena keduanya membutuhkan penyesuaian peran dan fungsi sehari-hari. Masing-masing belajar hidup bersama-sama serta beradaptasi dengan kebiasaan sendiri dan pasangannya, misalnya kebiasaan makan, tidur, bangun pagi. Dan sebagainya. Adapun tugas tahap perkembangan keluarga pasangan baru yaitu : a.

  Membina hubungan intim yang memuaskan b. Membina hubungan dengan keluarga lain, teman, kelompok sosial c. Mendiskusikan rencana anak

  Keluarga baru ini merupakan anggota dari tiga keluarga, yaitu keluarga suami, istri serta keluarga sendiri. Masing-masing pasangan menghadapi perpisahan dengan keluarga orang tuanya dan mulai membina hubungan baru dengan keluarga dan kelompok sosial pasangan masing- masing. Hal lain yang perlu diputuskan pada tahap ini adalah kapan waktu yang tepat untuk mendapatkan anak dan jumlah anak yang diharapkan.

  Tahap II. Keluarga “Child-bearing” (Kelahiran Anak Pertama)

  Keluarga yang menantikan kelahiran dimulai dari kehamilan sampai kelahiran anak pertama dan berlanjut sampai anak pertama berusia 30 bulan. Kehamilan dan kelahiran bayi perlu dipersiapkan oleh pasangan suami istri melalui beberapa tugas perkembangan yang penting.

  Tahap perkembangan Keluarga “Child-bearing” (Kelahiran Anak Pertama) : a.

  Persiapan menjadi orang tua.

  b.

  Adaptasi dengan perubahan anggota keluarga: peran, interaksi, hubungan seksual, dan kegiatan.

  c.

  Mempertahankan hubungan yang memuaskan dengan pasangan.

  Kelahiran bayi pertama memberi perubahan yang besar dalam keluarga, sehingga pasangan harus beradaptasi dengan perannya untuk memenuhi kebutuhan bayi. Sering terjadi dengan kelahiran bayi, pasangan merasa diabaikan karena fokus perhatian kedua pasangan tertuju pada bayi.

  Peran utama perawat keluarga adalah mengkaji peran orang tua; bagaimana orang tua berinteraksi dan merawat bayi serta bagaimana bayi berespon.

  Perawat perlu memfasilitasi hubungan orang tua dan bayi yang positif dan hangat sehingga jalinan kasih sayang antara bayi dan orang tua dapat tercapai.

  Tahap III. Keluarga dengan Anak Prasekolah

  Tahap ini dimulai saat kelahiran anak pertam berusia 2,5 tahun dan berakhir saat anak berusia 5 tahun.

  Tahap perkembangan keluarga dengan anak prasekolah, yaitu a. Memenuhi kebutuhan anggota keluarga seperti kebutuhan tempat tinggal , privasi dan rasa aman.

  b.

  Membantu anak untuk bersosialisasi.

  c.

  Beradaptasi dengan anak yang baru lahir sementara kebutuhan anak yang lain juga harus terpenuhi.

  d.

  Mempertahankan hubungan yang sehat baik di dalam maupun di luar keluarga (keluarga lain dan lingkungan sekitar).

  e.

  Pembagian waktu untuk individu, pasangan dan anak (tahap paling repot). f.

  Pembagian tanggung jawab anggota keluarga.

  g.

  Kegiatan dan waktu untuk stimulasi tumbuh kembang anak).

  Kehidupan keluarga pada tahap ini sibuk dan anak sangat tergantung pada orang tua. Kedua orang tua harus mengatur waktunya sedemikian rupa sehingga kebutuhan anak, suami, istri, dan pekerjaan (purna waktu/paruh waktu) dapat terpenuhi. Orang tua menjadi arsitek keluarga dalam merancang dan mengarahkan perkembangan keluarga agar kehidupan perkawinan tetap utuh dan langgeng denga cara menguatkan hubungan kerja sama antar suami istri. Orang tua mempunyai peran untuk menstimulasi perkembangan individual anak khususnya kemandirian anak agar tugas perkembangan anak pada fase ini tercapai.

  Tahap IV. Keluarga dengan Anak Sekolah

  Tahap ini dimulai saat anak masuk sekolah pada usia enam tahun dan berakhir pada usia 12 tahun. Pada fase ini umumnya keluarga mencapai jumlah naggota keluarga maksimal, sehinga keluarga sangat sibuk. Selain aktivitas di sekolah, masing-masing anak memiliki aktivitas dan minat sendiri. Demikian pula orang tua yang mempunyai aktivitas yang berbeda dengan anak. Untuk itu keluarga perlu bekerja sama untuk mencapai tugas perkembangan (lihat tabel 4).

  Tahap perkembangan keluarga dengan anak sekolah, yaitu a. Membantu soisalisasi anak, tetangga, sekolah, dan lingkungan b.

  Mempertahankan keintiman pasangan c.

  Memenuhi kebutuhan dan biaya kehidupan yang semakin meningkat, termasuk kebutuhan untuk meningkatkan kesehatan anggota keluarga Pada tahap ini orang tua perlu belajar berpisah dengan anak, memberi kesempatan pada anak untuk bersosialisasi baik aktivitas di sekolah maupun luar sekolah.

  Tahap V. Keluarga dengan Anak Remaja

  Tahap ini dimulai pada saat anak pertama berusia 13 tahun dan biasanya berakhir sampai 6-7 tahun kemudian, yaitu pada saat anak meninggalkan rumah orang tuanya. Tujuan keluarga ini adalah melepas anak remaja dan memberi tanggung jawab serta kebebasan yang lebih besar untuk mempersipkan diri menjadi lebih dewasa. Seperti pada tahap- tahap sebelumnya, pada tahap ini keluarga memilki tugas perkembanganya

  Tahap perkembangan Keluarga dengan Anak Remaja, yaitu a. Memberikan kebebasan yang seimbang dengan tanggung jawab mengingat remaja yang sudah bertambah dewasadan meningkatkan otonominya b. Mempertahankan hubungan yang intim dalam keluarga c.

  Mempertahankan komunikasi terbuka antara anak dan orang tua.

  Hindari perdebatan, kecurigaan dan permusuhan d. Perubahan sistem peran dan peraturan untuk tumbuh kembang keluarga.

  Ini merupakan tahapan yang paling sulit, karena orang tua melepas otoritasnya dan membimbing anak untuk bertanggung jawab (mempunyai otoritas terhadap dirinya sendiri yang berkaitan dengan peran dan fungsinya). Seringkali muncul konflik antara orang tua dan remaja karena anak menginginkan kebebasan untuk melakukan aktivitasnya sementara orang tua mempunyai hak untuk mengontrol aktivitas anak. Dalam hal ini orang tua perlu menciptakan komunikasi yang terbuka, menghindari kecurigaan dan permusuhan sehingga hubungan orang tua dan remaja tetap harmonis.

  Tahap VI. Keluarga dengan Anak Dewasa (pelepasan)

  Tahap ini dimulai pada saat anak yang terkhir meninggalkan rumah dan berakhir pada saat terkhir meninggalkan rumah. Lamanya tahap ini tergantung dari jumlah anak dalam keluarga atau jika ada anak yang belum berkeluarga dan tetap tinggal bersam orang tua. Tujuan utama pada tahap ini adalah mengorganisasi kembali keluarga untuk tetap berperan dalam melepas anak untuk hidup sendiri.

  Tahap perkembangan. Keluarga dengan Anak Dewasa, yaitu a. Memperluas keluarga inti menjadi keluarga besar b. Mempertahankan keintiman pasangan c.

  Membantu orang tua suami/istri yang sedang sakit dan memasuki masa tua d.

  Membantu anak untuk mandrir di masyarakat e.

  Pemantauan kembali peran dan kegiatan rumah tangga Keluarga mempersipkan anaknya yang tertua untuk membentuk keluarga sendiri dan tetap membantu anak terkahir untuk lebih mandiri.

  Pada saat semua anak meninggalkan rumah, pasangan perlu menata ulang dan membina hubungan suami istri seperti pada fase awal. Orang tua akan merasa kehilangan peran dalam merawat anak dan merasa ‘kosong’ karena nak-anak sudah tidak tinggal serumah lagi. Untuk mengatasi keadaan ini orang tua perlu melakukan aktivitas kerja, meningkatkan peran sebagai pasangan, dan tetap memelihara hubungan dengan anak.

  Tahap VII. Keluarga Usia Pertengahan

  Tahap ini dimulai pada saat anak yang terakhir meninggalkan rumah dan berakhir saat pensiun atau salah satu pasangan meninggal. Pada beberapa pasangan fase ini dirasakan sulit karena masalah lanjut usia, perpisahan dengan anak dan perasaan gagal sebagai orang tua. Untuk mengatasi hal tersebut keluarga perlu melakukan tugas-tugas perkembangan.

  Tahap perkembangan keluarga usia remaja, yaitu a. Mempertahankan kesehatan b. Mempertahankan hubungan yang memuaskan dengan teman sebaya dan anak-anak c.

  Meningkatkan keakraban pasangan

  Setelah semua anak meninggalkan rumah, maka pasangan berfokus untuk mempertahankan kesehatan dengan berbagai aktivitas: pola hidup yang sehat, diet seimbang, olah raga rutin, menikmati hidup dan pekerjaan, dan sebagainya. Pasangan juga mempertahankan hubungan dengan teman sebaya dan keluarga anaknya dengan cara mengadakan pertemuan keluarga antar generasi (anak dan cucu) sehingga pasangan dapat merasakan kebahagian sebagai kakek-nenek. Hubungan antar pasangan perlu semakin dieratkan dengan memperhatikan ketergantungan dan kemandirian masing- masing pasangan.

  Tahap VIII. Keluarga Usia Lanjut

  Tahap terkhir perkembangan keluarga ini dimulai saat salah satu pasangan pensiun, berlanjut salah satu pasangan meninggal sampai keduanya meninggal. Proses lanjut usia dan pensiun merupakan realitas yang tidak dapat dihindari karena berbagai stressor dan kehilangan yang harus dialami keluarga. Stressor tersebut adalah berkurangnya pendapatan, kehilangan berbagai hubungan sosial, kehilangan pekerjaan, serta perasaan menurunnya produktivitas dan fungsi kesehatan. Dengan memenuhi tugas- tugas perkembangan pada fase ini diharapkan orang tua mampu beradaptasi menghadapi stressor tersebut.

  Tahap perkembangan keluarga usia lanjut, yaitu a. Mempertahankan suasana rumah yang menyenangkan. b.

  Adaptasi dengan perubahan kehilangan pasangan, teman, kekuatan fisik, dan pendapatan.

  c.

  Mempertahankan keakraban suami istri dan saling merawat.

  d.

  Mempertahankan hubungan dengan anak dan sosial masyarakat.

  e.

  Melakukan ‘live review’.

  Mempertahankan penataan kehidupan yang memuaskan merupakan tugas utama keluarga pada tahap ini. Lanjut usia umumnya; lebih dapat beradaptasi tinggal di rumah sendiri daripada tinggal bersama anaknya. Wanita yang tinggal dengan pasangannya memperlihatkan adaptasi yang lebih positif dalam memasuki masa tuanya dibandingkan wanita yang tinggal dengan sebayanya. Orang tua juga perlu melakukan ‘life review’ dengan mengenang pengalaman hidup dan keberhasilan di masa lalu. Hal ini berguna agar orang tua merasakan bahwa hidupnya berkualitas dan berarti.

7. Peran perawat dalam pemberian asuhan keperawatan kesehatan keluarga

  Dalam memberikan asuhan keperawatan kesehatan keluarga, ada beberapa peran yang dapat dilakukan oleh perawat antara lain adalah : a.

  Pemberian asuhan keperawatan kepada anggota keluarga yang sakit.

  b.

  Pengenal atau pengamat masalah dan kebutuhan kesehatan keluarga .

  c.

  Koordinator pelayanan kesehatan dan keperawatan kesehatan keluarga d. Fasilitator ,menjadikan pelayanan kesehatan itu mudah dijangkau dan perawat dengan mudah menampung permasalahan yang dihadapi keluarga dan menampung permasalahan yang dihadapi keluarga dan memantau mencarikan jalan palan pemecahanya.

  e.

  Pendidik kesehatan, perawat dapat berperan sebagai pendidik untuk merubah perilaku keluarga dari perilaku tidak sehat menjadi perilaku sehat .

  f.

  Penyuluh dan konsultan, perawat dapat berperan dalam memberikan petunjuk tentang asuhan keperawatan dasar terhadap keluarga disamping menjadi penasehat dalam mengatasi masalah-masalah kesehatan keluarga .

B. Asuhan keperawatan keluarga dengan Asma Bronchiale.

1. Asuhan keperawatan keluarga

  Asuhan keperawatan keluarga adalah suatu rangkaian yang diberikan melalui praktek keperawatan kepada keluarga untuk membantu menyelesaikan masalah kesehatan keluarga tersebut dengan menggunakan pendekatan proses keperawatan (Baylon dan Maglaya, dikutip oleh , Arita Murwani, 2007) 2. Pengertian Asma Bronchiale

  Asma Bronchiale adalah penyakit jalan napas obstruktif intermiten, reversible dimana trakea dan bronki bererspon dalam secara hiperaktif terhadap stimuli tertentu. (Brunner & Suddarth, 2001)

  Asma Bronchiale adalah satu keadaan klinik yang ditandai oleh terjadinya penyempitan bronkus yang berulang namun reversible,dan diantara episode penyempitan bronkus tersebut terdapat keadaan ventilasi yang lebih normal. (Sylvia A.Price, 2005)

  Asma Bronchiale didefinisikan sebagai penurunan fungsi paru dan hiperresponsivitas jalan napas terhadap berbagai rangsang. (Lynda Juall Carpenito, 1999)

  Asma merupakan penyakit obstruksi saluran pernapasan yang intermiten daripada obstruksi yang terus menerus onsetnya mendadak, yang ditandai dengan meningktnyaa respon trakea dan bronki terhadap stimuli berupa sesak yang disebabkan oleh penyempitansaluran pernapasan. (Barbara C.Long, 1996)

3. Anatomi Dan Fisiologi

  Gambar I.Anatomi Paru-Paru Sumber : Syaifuddin, (2006)

  Menurut pendapat Syaifudin (2006), anatomi saluran pernafasan dibagi menjadi 2, yaitu : a.

  Saluran pernafasan atas, terdiri dari : 1)

  Hidung Hidung merupakan saluran udara yang pertama , mempunyai dua lubang (kavum nasi), dipisahkan oleh sekat hidung (septum nasi). Di dalamnya terdapat bulu-bulu yang berguna untuk menyaring udara, debu, dan kotoran yang masuk ke dalam lubang hidung.

  Bagian-bagian hidung terdiri atas: (a)

  Bagian luar hidung terdiri dari kulit (b)

  Lapisan tengah terdiri dari otot-otot dan tulang rawan (c)

  Lapisan dalam terdiri dari selaput lendir yang berlipat-lipat yang dinamakan karang hidung (konka nasalis) yang berjumlah 3 buah konka yaitu nasalis inferior (bawah), konka nasalis media (tengah), konka nasalis superior (atas)

  Fungsi hidung terdiri atas: (a)

  Bekerja sebagai saluran udara pernafasan (b)

  Sebagai penyaring udara pernafasan yang dilakukan oleh bulu- bulu hidung (c)

  Dapat menghangatkan udara pernafasan oleh mukosa (d)

  Membunuh kuman-kuman yang masuk bersama-sama udara pernafasan oleh leukosit yang terdapat dalam selaput lendir (mukosa) atau hidung. 2)

  Farinx (tekak) Tekak atau faring merupakan tempat persimpangan antara jalan pernafasan dan jalan makanan , terdapat di bawah dasar tengkorak, di belakang rongga hidung dan mulut sebelah depan ruas tulang leher.

  Rongga tekak dibagi dalam 3 bagian: (a) bagian sebelah atas yang sama tingginya dengan koana disebut nasofaring,

  (b) bagian tengah yang sama tingginya dengan istmus fausium disebut orofaring,

  (c) bagian bawah sekali disebut laringofaring. 3)

  Larinx (tenggorok) Laring atau pangkal tenggorokan merupakan saluran udara dan bertindak sebagai pembentukan suara, terletak didepan bagian faring sampai ketinggian vertebra servikalis dan masuk ke dalm trakea di bawahnya.

  Laring terdiri dari 5 tulang rawan: (a)

  Kartilago tiroid (1 buah), depan jakun sangat jelas pada pria (b)

  Kartilago aritenoid (2 buah), yang berbentuk beker (c)

  Kartilago krikoid (1 buah), yang berbentuk cincin (d)

  Kartilago epiglotis (1 buah) b. Saluran pernafasan bawah, terdiri dari :

  1) Trakhea (batang tenggorok)

  Trakea atau batang tenggorokan merupakan lanjtan dari laring yang dibentuk oleh 16 sampai 20 cincin yang terdiri dari tulang-tulang rawan yang berbentuk seperti kuku kuda (huruf C). Sebelah dalam diliputi oleh selaput lendir yang berbulu getar yang disebut sel bersilia, hanya bergerak ke arah luar. Panjang trakhea 9- 11 cm dan dibelakang terdiri dari jaringan ikat yang dilapisi oleh otot polos.

  2) Bronkhus (cabang tenggorok)

  Bronkhus atau cabang tenggorokan merupakan lanjutan dari trachea, ada 2 buah yang terdapat pada ketinggian vertebra torakalis

  IV dan V, mempunyai struktur serupa dengan trachea dan dilapisi oleh jenis set yang sama. Bronkhus itu berjalan ke bawah dan ke samping kearah tampuk paru-paru. (a)

  Bronkhus kanan lebih pendek dan lebih besar daripada bronkhus kiri terdiri dari 6-8 cincin, mempunyai 3 cabang.

  (b) Bronkhus kiri lebih panjang dan lebih ramping dari yang kanan, terdiri dari 9-12 cincin mempunyai 2 cabang.

  3) Paru- paru

  Paru-paru merupakan sebuah alat tubuh yang sebagian besar terdiri dari gelembung (gelembung hawa, alveoli). Gelembung alveoli ini terdiri dari sel-sel epitel dan endotel. Jika dibentangkan luas permukaannya ± 90 m². pada lapisan ini terjadi pertukaran udara, O

  2 masuk ke dalam darah dan CO 2 dikeluarkan dari darah.

  Paru-paru dibagi menjadi dua yaitu (a) paru-paru kanan, terdiri dari 3 lobus (belah paru), lobus pulmo dekstra superior, lobus media, dan lobus inferior. Tiap lobus tersusun oleh lobules

  (b) Paru-paru kiri, terdiri dari pulmo sinistra lobus superior dan lobus inferior.

  Letak paru-paru di rongga dada datarannya menghadap ke tengah rongga dada/cavum mediastum. Pada bagian tengah terdapat tampuk paru-paru atau hilus. Pada mediastinum depan terletak jantung. Paru-paru dibungkus oleh selaput yang bernama pleura.

  Pleura dibagi 2 pleura viseral (selaput dada pembungkus) yaitu selaput paru yang langsung membungkus paru-paru, pleura parietal yaitu selaput yang melapisi rongga dada sebelah luar.

  Antara kedua pleura ini terdapat rongga (kavum) yang disebut cavum pleura. Pada keadaan normal, cavum pleura ini vakum (hampa udara) sehingga paru-paru dapat berkembang kempis dan uga terdapat sedikit cairan yang berguna untuk meminyaki permukaannya, menghindari gesekan antara paru-paru dan dinding dada sewaktu ada gerakan bernafas. Menurut Syaifudin ( 2006 ) fisiologi pernapasan terbagi dalam 2 bagian yaitu inspirasi (menarik napas) dan ekspirasi (menghembuskan napas). Bernapas berarti melakukan inspirasi dan ekspirasi secara berganti, teratur, berirama, dan terus-menerus. Pernafasan dada. Pada waktu bernapas, rongga dada terbesar bergerak, pernapasan ini dinamakan pernapasan dada. Ini terdapat pada rangka dada yang lunak, yaitu pada orang-orang muda dan perempuan. Pernapasan perut. Jika pada waktu bernapas diafragma turun-naik maka ini dinamkaan pernapasan perut.

  Kebanyakan pada orang tua, karena tulang rawannya tidak begitu lembek yang disebabkan oleh banyak zat kapur yang mengendap di dalamnya.

  Fungsi pernapasan yaitu untuk bertahan hidup.

  Manusia sangat membutuhkan oksigen dalam hidupnya, kalau tidak mendapat oksigen selama 4 menit akan mengakibatkan kerusakan pada otak yang tidak dapat diperbaiki dan bisa menimbulkan kematian. Jika penyediaan oksigen berkurang akan menimbulkan kacau pikiran, misalnya orang bekerja dalam ruang yang sempit, tertutup, ruang kapal, dan lain- lain. Bila oksigen tidak mencukupi maka warna darah merahnya hilan bergati kebiru-biruan.

4. Etiologi

  Penyebab asma bronchiale belum diketahui secara pasti namun dari berbagai penelitian telah menunjukan bahwa penyakit asma bronchiale disebabkan oleh faktor-faktor sebagai berikut (Soeparman dkk, 1991) : a.

  Allergen(debu,udara kotor, bulu binatang) b.

  Iritasi seperti asap, bau-bauan, polutan.

  c.

  Infeksi saluran pernapasan terutama yang disebabkan oleh virus d. Perubahan cuaca yang ekstrim e. Kegiatan jasmani yang berlebihan f. Emosi 5. Patofisiologi

  Menurut Brunner & Suddarth (2001) Asma adalah obstruksi jalan napas difus reversible. Obstruksi disebabkan oleh satu atau lebih dari yang berikut ini : a.

  Kontraksi otot-otot yang menglilingi bronki,yang menyempitkan jalan napas b.

  Pembengkakan membran yang melapisi bronki c. Pengisian bronki dengan mukus yang kental .

  Selain itu otot-otot bronchiale dan kelenjar mukosa membesar, sputum yang kental banyak dihasilkan dan alveoli menjadi hiperinflasi dengan udara terperangkap didalam jaringan paru ini menyebabkan sputum yang berlebih. Mekanisme yang pasti dari perubahan ini tidak diketahui, tetapi apa yang paling diketahui adalah keterlibatkan system imunologis dan sistem saraf otonom.

  Beberapa indifidu dengan asma mengalami respons imun yang buruk terhadap lingkungan mereka. Anibodi yang dihasilkan (IgE) kemudian menyerang sel-sel mast dalam paru. Pemajanan ulang terhadap antigen mengakibatkan ikatan antigen dengan antibody, menyebabkan pelepasan produksi sel-sel mast (disebut mediator) seperti histamine,. Pelepasan mediator ini dalam jaringan paru mempengaruhi otot polos dan kelenjar jalan nafas, menyebabkan bronkospasme, pembengkakan membran mukosa, dan pembentukan mukosa yang sangat banyak.

  Sistem saraf otonom mempersarafi paru. Tonus otot bronchial diatur oleh impuls saraf vagal melalui system parasimpatik. Pada asma opatik atau nonalergi, Ketika ujung saraf pada jalan napas dirangsang oleh factor seperti infeksi, dingin, merokok, emosi dan polutan, jumlah asetilkolin yang dilepaskan meningkat. Pelepaan asetilkolin ini secara langsung menyebabkan bronkokonstriksi juga merangsang pembentukan mediayor kimiawi yang dibahas diatas. Individu dngan asma dapat mempunyai toleransi rendah terhadap respons parasimpatis.

  Respon allergen akan dipersepsikan sebagai benda asing oleh system kekebalan tubuh dalm hal ini adalah IgE yang memegang peran utama. Oleh karena itu IgE berkaitan dengan allergen membentuk suatu komponen yang menyebabkan degranulasi sel mati kondisi tersebut dapat merangsang pelepasan histamine. Pelepasan histamin dapat menimbulkan: 1.

  Rangsangan pembentukan produksi mucus 2. Peningkatan permeabilitas kapiler

  Keduanya menyebabkn kongesti dan pembengkakan ruang interstisiun paru sehingga terjadi obstruksi aliran udara karena broncospasma, selain itu pelepasan histamine dapat pula menyebabkan konstraksi otot polos bronkeolus demikian pula peningkatan rangsangan saraf saraf pusat parasimpatis dapat menyebabkan broncospasma akibatnya akan menimbulkan pola nafas tida efektif.

6. Tanda Dan Gejala

  Tiga gejala umum asma adalah batuk, dispnea, dan mengik. Pada beberapa keadaan, batuk mungkin merupakan satu-satunya gejala.

  Serangan asma sering kali terjadi pada malam hari. Penyebabnya tidak dimengerti dengan jelas, tetapi mungkin berhubungan dengan variasi sirkadian, yang mempengaruhi ambang resptor jalan napas.

  Serangan asma biasanya bermula mendadak dengan batuk dan rasa sesak dalam dada, disertai dengan pernapasan lambat, mengik, laborious.

  Ekspirasi selalu lebih susah dan panjang dibanding inspirasi, yang mendorong pasien untuk duduk tegak dan menggunakan setiap otot-otot aksesori pernapasan. Jalan napas yang tersumbat menyebabkan dispnea. Batuk pada awalnya susah dan kering tetapi segera menjadi lebih kuat. Sputum,yang terdiri atas sedikit mukus mengandung masa gelatinosa bulat, kecil yang dibatukan dengan susah ayah. Tanda selanjutnya termasuk sionosis sekunder terhadap hipoksia hebat, dan gejala-gejala retensi karbondioksida, termasuk berkeringat, takikardia, dan pelebaran tekanan nadi.

  Serangan asma dapat berlangsung dari 30 menit sampai beberapa jam dan dapat hilang secara spontan. Reaksi yang berhubungan kemungkinan reaksi alergik lainya yang dapat menyertai asma termasuk ekzemi, ruam, dan edema temporer. Serangan asmatik dapat terjadi secara periodic setelah pemajanan terhadap allergen spesifik, obat-obatan tertentu, latihan fisik, dan kegiatan emosional. (Brunner & Suddarth 2001)

7. Pemeriksaan Penunjang a.

  Foto dada Pada umumnya pemeriksaan foto dada penderita asma adalah normal.Pemeriksaan tersebut dilakukan bila ada kecurigaan terhadap proses patologik di paru atau komplikasi asma (Soeparman dkk, 1991) b. Sputum

  Pemeriksaan sputum dan darah dapat menunjukan eosinofilin (kenaikan kadar eosinofilin). Terjadi peningkatan kadar serum imunoglobin E (IgE) pada asma alergik. Sputum dapat jernih atau berbusa (alergik) atau kental dan putih (non alergik) dan berserabut (non alergik).

  c.

  Spirometri Cara yang paling cepat dan sederhana untuk menegakan diagnosis asma adalah melihat respons pengobatandengan bronkodilator. Pemeriksaan spirometri dilakukan sebelum dan sesudah pemberian bronkodilator hirup (Inhaler atau nebulizer) golongan adrenegik beta. (Soeparman dkk, 1991)

8. Penatalaksanaan a.

  Penatalaksanaan medis Menurut Brunner & Suddarth (2001) Terdapat lima kategori pengobatan yang digunakan dalam mengobati asma yaitu agonis beta, metilantin, antikolinergik, dan inhibitor sel mast. 1)

  Agonis Beta adalah medikasi awal yang digunakan dalam mengobati asma karena agen ini mendilatasi otot-otot polos bronkial. Agen adrenergic juga meningkatkan gerakan siliaris, menurunkan mediator kimiawi anafilaktik dan dapat menguatkan efek bronkodilalatasi dari kortikosteroid. Agens adrenergic yang paling umum digunakan adalah epinefrin, albuterol, metaproterenol, isoproteroid, isoetharine, dan terbutalin. Obat-obat tersebut biasanya diberikan secara parenteral atau melalui inhalasi.Jalur inhalasi adalah jalur pilihan karena cara ini mempengaruhi bronkiolus secara langsung dan mempunyai efek samping yang lebih sedikit.

  2) Metilsantin. Metilsantin, seperti aminofilin dan teofilin, digunakan karena mepunyai efek bronkodilatasi. Agen ini merilekskan otot-otot polos bronkus, meningkatkan gerakan mukus dalam jalan nafas dan meningkatkan kontraksi diafragma. Aminofilin (bentuk IV teofilin).

  Metilsantin tidak digunakan dalam serangan karena akut karena awitanya lebih lambat disbanding agonis beta.

  3) Antikolinergik seperti atropine,tidak pernah dalam riwayatnya digunakan untuk pengobatan rutin asma karena efek samping sistemiknya, seperti kekerngan pada mulut, penglihatan kabur, berkemih, anyang-anyangan, palpitasi dan flusig. Bagaimanapun derivative ammonium kuaternarisperti atropine metinitrat, dan ipratropium bromide (Atroven), telah menunjukan efek bronkodilator yang sangat bauk dengan efek samping sistemik miimal. Agens ini diberikan melalui inhalasi.

  4) Kortikosteroid

  Kortikosteroid penting dalam pengobatan asma. Medikasi ini mungkin diberikan secara intra vena (hidrokortison). Secara oral (prednisone, prednisolon) atau melalui inhalasi (beklometason, deksametason) medikasi ini mengurangi inflamasi dan bronkokontritor. Kortikosteroid yang dihirup efektif dalam mengobati pasien dengan asma tergantung steroid. Keuntungan utama dari metode pemberian ini adalah mengurangi efek kortikosteroid pada system tubuh lainya. Iritasi tengorokan, batuk, mulut kering, suara parau, dan ineksi jamur pada mulut dantenggorokan dapat terjadi. Pasien diinstrusikan untuk membilas mulut dan berkumur segera setelah menghirup kortikosteroid. 5)

  Inhibitor Sel Mast Natrium kromolinsuatu inhibitor sel mast adalah bagian integral dari pengobatan asma. Medikasi ini diberikan melalai inhalasi. Medikasi ini mencegah pelepasan mediator kimiawi anafilaktik, Natrium kromolin sangat bermanfaat diberikan antar serangan atau sementara asma dalam remisi. Obat ini dapat mengakibatkan pengurangan penggunaan medikasi lain dan perbaikan menyeluruh dalam gejala.

  b.

  Penatalaksanaan keperawatan Perawatan Asma dengan Inhalasi manual 1)

  Bahan-bahan yang digunakan

  • Air panas dalam tremos
  • Baskom plastikm tahan panas
  • Minyak kayu putih/kain penutup kepala
  • Handuk untuk mengalasi uap air 2)

  Menjelaskan cara membuat

  • Menyiapkan air panas
  • Menyediakan baskom
  • Menyediakan minyak kayu putih
  • Menyediakan kain penutup kepala
  • Menyediakan handuk 3)

  Cara pemberian

  • Air hangat yang telah dicampur dengan menthol masukan dalam baskom
  • Tutupi area baskom dan kepala dengan handuk/kain yang biarkan mentupi seluruh wajah supaya air tidak cepat hilang terbawa angin
  • Minta pasien untuk tarik nafas dalam

  • Lakukan sekitar 10-15 menit/sampai lega
  • Minta tarik nafas lewat hidung tahan sebentar kemudian hembuskan perlahan lewat mulut 9.

  Proses Keperawatan Keluarga a.

  Proses Pengkajian Proses pengkajian keperawatan merupakan pengumpulan informasi secara terus-menerus, dengan kata ini, proses pengkajian dilakukan secara sistematis (dengan menggunakan suatu alat pengkajian keluarga) dimana data yang telah didapat diklasifikasi dan dianalisa. Pengumpulan data merupakan syarat untuk pengidentifikasian masalah. Merupakan langkah pertama dalam proses keperawatan, data terus dikumpulkan selama pelayanan diberikan, yang mana hal ini menunjukan sifat dinamis, interaktif dan fleksibel dari proses ini.

  Pengumpulan data tentang keluarga didapatkan dari berbagai sumber: wawancara, observasi, informasi tertulis atau lisan, inspeksi, palpasi, auskultasi perawat dapat menyusun intervensi-intervensi definitive untuk mempertahankan status kesehatan atau untuk mengurangi, menghilangkan, atau mencegah perubahan.

  b.

  Diagnosa Keperawatan Dalam mengidentifikasi masalah untuk mencapai diagnosa keperawatan, partisipasi aktif keluarga merupakan hal yang penting, karena keluarga dan perawat secara bersama-sama bertanggung jawab dalam proses ini. Masalah-masalah yang diidentifikasi dalam perawatan keluarga sering berfokus pada kemampuan keluarga mengatasi masalah kesehatan dan lingkungan.

  Tipologi dan komponen diagnosa keperawatan ada 3, yaitu Masalah keperawatan aktual. Masalah ini memberikan gambaran berupa gejala dan tanda yang jelas dan mendukung bahwa masalah benar-benar terjadi. Masalah keperawatan resiko tinggi, masalah ini sudah ditunjang dengan data-data yang akan mengarah pada timbulnya masalah kesehatan bila tidak segera ditangani. Masalah keperawatan potensial/sejahtera, status kesehatan berada pada kondisi sehat dan ingin meningkatkan lebih optimal.

  c.

  Perencanaan Tahapan selanjutnya dalam proses keperawatan keluarga adalah penyusunan rencana perawatan yang terlebih dahulu dilakukan proses penapisan terhadap masalah keperawatan. Proses penapisan menggunakan 4 kriteria : sifat masalah (aktual, resiko, potensial), kemungkinan masalah untuk diubah (mudah, sebagian tidak dapat), potensial masalah untuk dapat dicegah (tinggi, cukup, rendah) dan menonjolnya masalah (segera diatasi, tidak segera diatasi, tidak dirasakan ada masalah). Dengan rumus skoring :

  Nilai

  × Bobot

  AngkaTerti nggi

  Dalam penyusunan tujuan harus berorientasi pada klien serta dapat memberikan pendekatan-pendekatan alternative untuk memenuhi tujuan-tujuan.

  Penyusunan tujuan bersama dengan keluarga menjadi penentu pemecahan yang efektif. Dalam penyusunan tujuan sangat diperlukan kerjasama dengan keluarga dalam membedakan masalah-masalah yang perlu diselesaikan dalam intervensi keperawatan, dan membedakan masalah-masalah yang perlu diserahkan kepada anggota tim perawatan kesehatan yang lain.

  Ada beberapa tingkatan tujuan. Tingkat pertama meliptui tujuan-tujuan jangka pendek yang sifatnya dapat diukur, langsung, dan spesifik. Ditengah kontinim adalah tujuan-tujuan yang sifatnya lebih umum, jangka panjang merupakan tujuan akhir yang menyatakan maksud-maksud luas yang diharapkan oleh keluarga dan perawatan agar dapat tercapai.

  Tujuan-tujuan jangka pendek penting untuk memotivasi bahwa kemajuan sedang dalam proses, dan membimbing keluarga kea rah tujuan yang lebih komprehensif.

  Tipologi intervensi keperawatan menurut Freegman (1970) : Suplemental, dimana perawat berperan sebagai pemberi pelayanan perawatan langsung; Fasilitatif, memfasilitasi keluarga seperti pelayanan medis, kesejahteraan sosial, transportasi dan pelayanan kesehatan dirumah. Perkembangan, membantu keluarga memanfaatkan sumber-sumber perawatan kesehatan pribadi seperti sistem dukungan sosial seperti sistem dukungan sosial internal maupun eksternal dalam suatu intervensi. Selain Freegman, ada juga klasifikasi intervensi menurut Wright dan Leahey yang diarahkan pada tiga tingkah fungsi keluarga, yaitu : Kognitif, dimana perawat memberikan informasi gagasan kepada keluarga, yang mana diharapkan pola piker keluarga berubah menuju tahap derajat kesehatan optimal. Afektif, tindakan keperawatan yang diberikan ditujukan untuk mengubah emosi keluarga, sehingga dalam memecahkan masalah lebih efektif. Perilaku, tindakann keperawatan yang diberikan diarahkan untuk mengubah pola tingkah laku keluarga mengetahui arti pentingnya kesehatan.

  Dalam menetapkn intervensi, terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan, yaitu : tindakan-tindakan yang disusun harus berorientasi pada pemecahan masalah. Rencana tindakan yang dibuat harus dapat dilakukan secara mandiri oleh keluarga. Rencana tindakan yang dibuat berdasarkan masalah kesehatan. Rencana perawatan sederhana dan mudah dilakukan. Rencana perawatan dapat dilakukan secara terus- menerus oleh keluarga.

  d.

  Implementasi Keperawatan Tahap berikutnya adalah tahap implementasi, dimana pada tahap ini merupakan tahap keempat dari proses keperawatan keluarga.

  Dalam pelaksanaan keperawatan keluarga sering kali permasalahan yang dijumpai adalah tingkat pendidikan yang rendah, penyesuaian waktu antara perawat dan keluarga, motivasi yang rendah, sumber dana yang kurang. Untuk itu perawat harus benar-benar melaksanakan berbagai peran seperti : pemberian perawatan langsung, fasilitator, konselor, advokat, dll. Keluarga diharapkan mampu berperan dengan memotivasi keluarga untuk lebih membangkitkan dan meningkatkan minat dalam melakukan tindakan yang telah direncanakan, serta perlu ditunjang dengan sumber-sumber yang ada baik dalam diri perawat sendiri, keluarga dan pelayanan kesehatan yang ada di lingkungan masyarakat.

  e.

  Evaluasi Evaluasi merupakan tahap akhir dari proses keperawatan, untuk menilai keberhasilan yang telah dicapai. Pada tahap ini dikenal 2 macam evaluasi yang meliputi evaluasi yang telah dilakukan setelah tindakan dilaksanakan dengan cara melihat respon yang terjadi, sedangkan evaluasi hasil merupakan evaluasi dari seluruh proses kegiatan yang dilaksanakan menurut perencanaan.

10. Pathway

  Kontraksi otot polos brokeolus Kongestisium paru dan oedem paru

  Debu, bulu binatang, asap, cuaca, emosi, kegiatan jasmani yang berlebihan

  IgE dan allergen komponen komponen Degranulasi sel mast

  Gambar II.2. pathway Respon Allergen

  • Pembentukan mucus
  • Peningkatan permeabilitas kapiler

  Bronkospasma Distress pernafasan

  Pola nafas tidak efektif

  Obstruksi aliran udara Bersihan jalan napas tidak efektif

  Mengenal masalah asma bronchial

  Pelepasan Histamin Asma bronchial

  Mengambil keputusan mengatasi masalah asma

  Tidak tahu Ketidakmamp uan keluarga mengambil keputusan mengatasi masalah asma

  Merawat asma bronchial Tidak tahu

  Ketidakmamp uan keluarga Merawat asma bronchial

  Pemanfaatan fasilitas kesehatan

  Tidak tahu Ketidakmamp uan keluarga memanfaatan fasilitas kesehatan

  Memodifikasi lingkungan dengan asma

  Tidak tahu Memodifikasi lingkungan dengan asma

  Tidak tahu Peningkatan Sputum

  Ketidakmamp uan keluarga mengenal masalah asma bronchial

11. Fokus Intervensi Menurut Doengous(2000) a.

  Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan peningkatan produksi secret Tujuan dan Kriteria Hasil :

  • Mempertahankan jalan napas paten dengan bunyi nafas bersih dan jelas
  • Mengeluarkan sekret sehingga memperbaiki jalan pernafasan

  Intervensi :

  • Auskultasi bunyi nafas, catat adanya bunyi nafas mengi
  • Kaji/pantau frekuensi pernafasan, catat rasio inspirasi/ekspirasi
  • Catat adanya derajat dispnea, ansietas, distress pernafasan, penggunaan obat
  • Tempatkan klien pada posisi yang nyaman meninggikan tempat tidur mempermudah fungsi pernafasan dengan menggunakan gravitasi.
  • Pertahankan polusi lingkungan minimum.
  • Tingkatkan masukan cairan sampai dengan 3000 ml /hari sesuai toleransi jantung, memberikan air hangat.
  • Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian obat sesuai indikasi.

  b.

  Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan gangguan suplai oksigen Tujuan dan Kriteria Hasil

  • Oksigenasi jaringan adekuat dan bebas gejala distress pernafasan
  • Menunjukan perbaikan ventilasi dan oksigenasi

  Intervensi :

  • Kaji/awasi secara rutin keadaan kulit klien dan membran mukosa
  • Awasi tanda vital dan irama jantung
  • Kolaborasi berikan oksigen tambahan sesuai dengan indikasi hasil

  AGDA dan toleransi klien

  • Palpasi fremitus Penurunan getaran vibrasi diduga adanya penggumpalan cairan/udara
  • Auskultasi bunyi nafas bunyi nafas redup karena penurunan aliran darah /area konsulidasi
  • Awasi tingkat kesadaran status mental gelisah dan ansietas adalah manifestasi pada hipoksia c.

  Intoleransi aktivitas berhubungan dengan penurunan suplay oksigen kejaringan Tujuan dan Kriteria Hasil

  • Peningkatan toleransi terhadap aktivitas yang dapat diukur dengan tidak adanya dispnea kelemahan
  • Suplay jaringan ke oksigen terpenuhi

  Intervensi :

  • Evaluasi respon pasien terhadap aktivitas
  • Berikan lingkungan tenang dan batasi pengunjung
  • Jelaskan pentingnya istirahat
  • Bantu pasien memiliki possis yang nyaman
Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan penurunan ekspansi paru selama serangan asma akut Tujuan dan Kriteria hasil

  d.

  • pola nafas efektif
  • Sesak nafas berkurang atau hilang, tidak ada retraksi otot pernafasan

  Intervensi :

  • Kaji tanda-tanda dan gejala ketidakefektifan pernapasan yaitudispnea, penggunaan otot bantu pernafasan
  • Baringkan pasien dalam posisi fowler tinggi untuk memaksimalkan ekspansi dada
  • Berikan terapi oksigen sesuai indikasi 12.

  Diagnosa Keperawatan a.

  Bersihan jalan napas tidak efektif pada keluarga Bpk.R khususnya Ibu T berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga dalam merawat anggota keluarganya yang menderita dengan penyakit asma bronchiale b.

  Pola napas tidak efektif pada keluarga Bpk.R khususnya Ibu T berhubungan dengan Ketidakmampuan keluarga merawat anggota keluarga dengan masalah asma bronchiale

Dokumen baru

Download (41 Halaman)
Gratis

Tags