Peranan kebiasaan religius orangtua bagi pendidikan iman anak dalam keluarga di lingkungan ST. Monika Paroki Wates - USD Repository

Gratis

0
0
145
4 months ago
Preview
Full text

  

PERANAN KEBIASAAN RELIGIUS ORANGTUA

BAGI PENDIDIKAN IMAN ANAK DALAM KELUARGA

DI LINGKUNGAN ST. MONIKA PAROKI WATES

S K R I P S I

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

  

Program Studi Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik

Oleh:

Sawijiratri

  

NIM: 061124046

PROGRAM STUDI ILMU PENDIDIKAN

KEKHUSUSAN PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK

JURUSAN ILMU PENDIDIKAN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

PERAN NAN KEBI

  IASAAN R RELIGIUS ORANGTU UA

BAGI PEN B NDIDIKAN N IMAN AN NAK DALA AM KELUA ARGA

DI LING GKUNGAN N ST. MON NIKA PAR ROKI WAT TES

S K R I P P S I

  

Diaj jukan untu uk Memenu uhi Salah S atu Syarat

Memperole M h Gelar Sa arjana Pend didikan

Program m Studi Ilm mu Pendidi ikan Kekhu ususan Pen ndidikan A gama Kato olik

  

Oleh :

Sawijira atri

NIM: 0611 124046 PR ROGRAM STUDI ILM MU PEND

  IDIKAN

KEKHU USUSAN P PENDIDIKA AN AGAM MA KATOL LIK

JURUSA AN ILMU P PENDIDIK KAN

FAKULT TAS KEGU URUAN DA AN ILMU PENDIDIK KAN

UNIVERS SITAS SAN NATA DHA ARMA

YOGYAKA Y ARTA

  

2012

  2

  PERSEMBAHAN Skripsi ini saya persembahkan kepada para orangtua yang senantiasa berusaha menghayati panggilan hidupnya di lingkungan St. Monika Paroki Wates

  MOTTO “Didiklah anakmu, maka ia akan memberikan ketentraman kepadamu, dan mendatangkan sukacita kepadamu” ( Ams 29: 17)

  

ABSTRAK

Skripsi ini berjudul PERANAN KEBIASAAN RELIGIUS ORANGTUA

  

BAGI PENDIDIKAN IMAN ANAK DALAM KELUARGA DI LINGKUNGAN

ST. MONIKA PAROKI WATES. Judul skripsi ini dipilih atas dasar keprihatinan

bahwa berhadapan dengan situasi arus zaman materialistik yaitu hidup yang

mementingkan materi (harta), ada bahaya orangtua katolik kurang menyadari akan

panggilan dan perutusannya sebagai orangtua Katolik, khususnya dalam hal

pendidikan iman anak dalam keluarga melalui penghayatan kebiasaan-kebiasaan

religius sehari-hari.

  

Ada 3 (tiga) permasalahan pokok yang hendak dikaji dalam skripsi ini, yaitu:

  

a. Kebiasaan-kebiasaan religius mana sajakah yang perlu diperjuangkan untuk

dihayati orangtua Katolik demi pendidikan iman anak dalam keluarga?mengapa atau atas dasar alasan fundamental mana?

  

b. Bagaimana senyatanya orangtua Katolik di lingkungan St. Monika Paroki Wates

menghayati kebiasaan-kebiasaan religius demi pendidikan iman anak dalam keluarga?

c. Katekese macam apa yang dapat membantu orangtua Katolik di lingkungan St.

Monika Paroki Wates untuk meningkatkan penghayatan kebiasaan religius demi pendidikan iman anak dalam keluarga?

  Untuk menjawab persoalan butir pertama, penulis menggunakan studi

pustaka. Dengan demikian dapat diperoleh pengertian bahwa kebiasaan religius

orangtua merupakan penghayatan hidup keagamaan yang biasa dikerjakan oleh

orangtua untuk mendorong kehidupan yang saleh, suci, dan selaras dengan perintah

Tuhan. Sedangkan pendidikan iman anak adalah suatu proses pengajaran, latihan dan

pengubahan sikap maupun prilaku menuju pendewasaan kepercayaan kepada Allah.

Kebiasaan religius tersebut merupakan pondasi untuk membangun keluarga sebagai

persekutuan kasih, sebagai pembela kehidupan, sebagai Gereja rumah tangga, dan

sebagai sel terkecil masyarakat.

  Untuk menjawab persoalan butir kedua, penulis mengadakan penelitian

lapangan. Dari hasil penelitian diperoleh fakta bahwa orangtua Katolik di

Lingkungan St. Monika Paroki Wates belum sepenuhnya menghayati kebiasaan

religius tersebut. Hal ini terlihat dari tidak ada kebiasaan berdoa bersama dalam

keluarga, tidak pernah ada kebiasaan membaca dan membahas Kitab Suci, dan hanya

kadang-kadang saja mengikuti perayaan Ekaristi.

  Untuk menanggapi persoalan butir ketiga, penulis mengusulkan program

katekese model SCP yang terdiri dari enam tema yaitu: Panggilan dan perutusan khas

orangtua Katolik, kebiasaan-kebiasaan religius orangtua Katolik dan artinya bagi

pendidikan iman anak dalam keluarga, keluarga Katolik berdoa bersama, keluarga

Katolik mendengarkan dan mewartakan Sabda Tuhan, keluarga Katolik membangun

persekutuan dan persaudaraan, dan keluarga Katolik beramal kasih.

  

ABSTRACT

This thesis is entitled THE ROLE OF CUSTOMS RELIGIOUS

  

EDUCATION FOR PARENTS OF FAITH CHILD IN THE FAMILY IN THE

ST. MONIKA PARISH WATES. The title of this essay is selected on the basis of

concerns that deal with the current situation that is living a materialistic age that

emphasizes the material (property), there are less aware of the danger of Catholic

parents would call and mission as a Catholic parent, especially in the case of a child

in a family of faith pendididkan through appreciation of the habits religiously

everyday.

  There are 3 (three) main problems is going to be studied in this thesis, namely:

a. Religious practices which do I need to fight for Catholic parents lived for the sake

of the faith education of children in the family? Why or on the basis of which the

fundamental reason?

  

b. What about actual Catholic parents in the neighborhood of St. Monika Parish

Wates appreciate the religious practices of faith education for children in the

family?

  

c. What kind of catechesis to assist parents in the neighborhood Catholic St. Monika

Parish Wates to increase appreciation of the religious habit of faith education for

children in the family? To answer the first point, the author uses literature. Thus it can be obtained by

the sense that the religious habits of the parents is living the religious life normally

done by the parents to encourage righteous living, holy, and in harmony with God's

command. While the child's faith education is a process of teaching, training and

changing attitudes and behavior toward mature faith in God. Religious habit is a

foundation to build a family as a communion of love, as a defender of life, as the

domestic Church, and the smallest cell of society.

  To answer the second point, the authors conducted field research. From the

research results obtained by the fact that Catholic parents in the Environment St.

Monika has not fully appreciate the Parish Wates the religious habit. This can be seen

there is no habit of praying with the family, there has never been the habit of reading

and discussing the Bible, and only occasionally follow the celebration of the

Eucharist.

  To respond to the question a third point, the authors propose a model SCP

catechetical program which consists of six themes, namely: Calls and distinctive

mission of Catholic parents, parents' religious practices and means for the education

of Catholic children in a family of faith, Catholic families to pray together, listen to a

Catholic family and proclaim the Word of God, Catholic family to build fellowship

and brotherhood, charity and love of the Catholic family.

KATA PENGANTAR

  Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan yang telah melimpahkan rahmat

dan kekuatan sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini yang berjudul

“PERANAN KEBIASAAN RELIGIUS ORANGTUA BAGI PENDIDIKAN

  

IMAN ANAK DALAM KELUARGA DI LINGKUNGAN ST. MONIKA

PAROKI WATES”.

  Selesainya Skripsi ini tidak terlepas dari bantuan banyak pihak yang dengan

segala upaya membantu penulis. Untuk itu penulis mengucapkan limpah terima kasih

kepada mereka semua, teristimewa kepada:

  

1. Dr. C. Putranto, SJ, selaku pembimbing utama yang telah memberikan perhatian,

meluangkan waktu, mendampingi penulis dengan penuh kesabaran dan cinta, dari

awal hingga akhir penulisan skripsi ini.

  

2. Drs. Ya. C.H. Mardiraharjo, selaku dosen pembimbing akademik yang sekaligus

sebagai dosen penguji II yang bersedia mendampingi penulis dalam mempertanggungjawabkan skripsi.

  

3. Y. Kristianto, SFK, M.Pd, selaku dosen penguji III yang dengan tulus memberi

dukungan dan membantu menyempurnakan skripsi ini.

  

4. Para dosen dan staf karyawan yang telah memberi dukungan dalam penyelesaian

skripsi ini.

  

5. Kedua orang tua dan kakak yang selalu mendukung dan memberikan semangat

dalam penyusunan skripsi ini.

  DAFTAR ISI

  HALAMAN JUDUL .................................................................................. i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ........................................ ii HALAMAN PENGESAHAN ..................................................................... iii HALAMAN PERSEMBAHAN ................................................................. iv MOTTO ...................................................................................................... v PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ..................................................... vi PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ........................................ vii ABSTRAK ................................................................................................... viii ABSTRACT ................................................................................................ ix KATA PENGANTAR ................................................................................ x DAFTAR ISI................................................................................................... xi DAFTAR SINGKATAN .............................................................................. xvi BAB I. PENDAHULUAN...........................................................................

  1 A. Latar Belakang ........................................................................................

  1 B. Rumusan Masalah ...................................................................................

  4 C. Tujuan Penulisan .....................................................................................

  5 D. Manfaat Penulisan ....................................................................................

  5 E. Metode Penulisan ....................................................................................

  6 F. Sistematika Penulisan..............................................................................

  6 BAB II. PERANAN KEBIASAAN RELIGIUS ORANGTUA BAGI PENDIDIKAN IMAN ANAK DALAM KELUARGA................

  8 A. Kebiasaan Religius Orangtua ..................................................................

  8 1. Pengertian Orangtua dan Keluarga.....................................................

  8 2. Tugas dan Tanggung Jawab Orangtua ...............................................

  9 3. Pengertian Kebiasaan Religius ...........................................................

  10

  4. Menumbuhkan Sikap Religius Anak dari Kebiasaan Religius Orangtua .............................................................................................

  11

  5. Macam-macam Kebiasaan Religius ...................................................

  12 a) Berdoa............................................................................................

  12 b) Mengikuti Perayaan Ekaristi..........................................................

  13 c) Membaca dan mendengarkan Kitab Suci ......................................

  14 B. Pendidikan Iman Anak dalam Keluarga..................................................

  14 1. Pengertian Pendidikan Iman Anak .....................................................

  14

  2. Orangtua Sebagai Pendidik Iman Anak yang Pertama dan Utama dalam keluarga....................................................................................

  15 a. Pandangan Gereja Terhadap Pendidikan Iman Anak ....................

  15

  b. Peran Orangtua Bagi Pendidikan Iman Anak dalam Keluarga ..............................................................................

  17 1) Kebiasaan mengajak anak untuk berdoa bersama ..................

  17 2) Kebiasaan mengajak anak untuk mengikuti Perayaan Liturgi

  18 3) Kebiasaan mengajak anak membaca dan mendengarkan Kitab Suci ...............................................................................

  19 c. Menanamkan Pendidikan Nilai-nilai Hakiki Pada Anak...............

  20 C. Peranan Kebiasaan Religius Orangtua ....................................................

  21 D. Tahap-Tahap Perkembangan Iman Anak ................................................

  22 1. Tahapan usia 0-2 tahun.......................................................................

  22 2. Tahapan usia 2-6 tahun.......................................................................

  22 3. Tahapan usia 6-11 tahun.....................................................................

  23 4. Tahapan usia 12 -20 tahun..................................................................

  24 5. Tahapan usia 20 tahun keatas .............................................................

  24 6. Tahapan usia 35 tahun keatas .............................................................

  25 7. Tahapan usia 45 tahun ke atas ............................................................

  25 E. Konteks Perkembangan iman Anak .......................................................

  26 1. Teladan tokoh-tokoh identifikasi........................................................

  26 2. Suasana dalam rumah .........................................................................

  26 3. Pengajaran ..........................................................................................

  27

  4. Komunikasi antara semua anggota keluarga ......................................

  28 BAB III. METODOLOGI DAN HASIL PENELITIAN TENTANG PERANAN KEBIASAAN RELIGIUS ORANGTUA BAGI

  IMAN ANAK DALAM KELUARGA DI LINGKUNGAN ST. MONIKA PAROKI WATES .................................................

  29 A. Metodologi Penelitian .............................................................................

  29 1. Jenis Penelitian ...................................................................................

  29 2. Tempat dan Waktu Penelitian ............................................................

  29 3. Responden ..........................................................................................

  30 4. Teknik Pengumpulan Data .................................................................

  30 a. Variabel..........................................................................................

  30 b. Definisi Operasional Variabel .......................................................

  30 c. Teknik Pengumpulan Data.............................................................

  31 d. Teknik Analisis Data .....................................................................

  32 B. Laporan Hasil Penelitian .........................................................................

  32 C. Pembahasan Hasil Penelitian ..................................................................

  46 D. Kesimpulan Hasil Penelitian ...................................................................

  60 BAB IV. UPAYA MENINGKATKAN KEBIASAAN RELIGIUS ORANGTUA DEMI PENDIDIKAN IMAN ANAK DALAM KELUARGA MELALUI KATEKESE.......................

  62 A. Pemikiran Dasar Program .......................................................................

  63 B. Usulan Program.......................................................................................

  68 1. Tema dan Tujuan Umum Program .....................................................

  68 2. Tema-tema dan Tujuan Masing-masing Pertemuan ...........................

  69 3. Penjabaran Program Katekese Untuk Orangtua .................................

  71 C. Contoh Persiapan Katekese .....................................................................

  75 1. Pertemuan I .......................................................................................

  75 2. Pertemuan II ......................................................................................

  88

  3. Pertemuan III..................................................................................... 100

  BAB V. PENUTUP ..................................................................................... 110

  A. Kesimpulan.............................................................................................. 110

  1. Arti kebiasaan religius dan perannya bagi pendidikan iman anak dalam keluarga...................................................................................

  110

  2. Pendidikan iman anak di lingkungan St. Monika Paroki Wates ........ 111

  3. Faktor pendukung dan penghambat para orangtua dalam mendidik Iman anak dalam keluarga di lingkungan St. Monika Paroki Wates.. 112

  4. Upaya meningkatkan kebiasaan religius orangtua demi pendidikan iman anak dalam keluarga di lingkungan St. Monika Paroki Wates....................................................................................... 113

  B. Saran........................................................................................................ 113 DAFTAR PUSTAKA .................................................................................. 115 LAMPIRAN................................................................................................. 117 Lampiran 1: Identitas Responden ................................................................ (1) Lampiran 2: Kuesioner ................................................................................ (3) Lampiran 3: Kisah Keluarga Pak Beny .......................................................

  (7) Lampiran 4: Teks Panggilan dan Perutusan Orangtua Katolik.................... (8)

DAFTAR SINGKATAN

  A. SINGKATAN KITAB SUCI

  Ams : Kitab Amsal Kej : Kitab Kejadian Kis : Kitab Kisah Para Rasul Luk : Injil Lukas Mat : Injil Mateus Tim : Surat KepadaTimotius Yoh : Injil Yohanes

  B. SINGKATAN DOKUMEN RESMI GEREJA

  CT : Catechesi Tradendae, Anjuran Apostolik Paus Yohanes Paulus II tentang Katekese Masa Kini, 16 Oktober 1979. DIM : Divini Illius Magistri, Ensiklik Pius XI tentang Pendidikan Kaum Muda, 15 Juni 1955. FC : Familiaris Consortio.Anjuran Apostolik Paus Yohanes Paulus II tentang Peranan Keluarga Kristen Dalam Dunia Modern, 22 November 1981. GE : Gravissium Educationis, Pernyataan Konsili Vatikan II tentang Pendidikan Kristen, 28 Oktober 1965. KHK : Kitab Hukum Kanonik (Codex iuris canonici) yang diundangkan oleh Yohanes Paulus II, 25 Januari 1983. LG : Lumen Gentium, Konstitusi Dogmatik Konsili Vatikan II tentang Gereja, 21 November 1964.

  C. SINGKATAN YANG LAIN

  Art : Artikel Bdk : Bandingkan

  KBBI : Kamus Besar Bahasa Indonesia KK : Kepala Keluarga KWI : Konferensi Waligereja Indonesia SCP : Shared Christian Praxis SD : Sekolah Dasar SMA : Sekolah Menengah Atas SMP : Sekolah Menengah Pertama ST : Santa

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan sangat penting bagi perkembangan hidup manusia, dimana manusia

  

hidup di tengah-tengah keluarga dan lingkungan. Dalam hal ini orangtua menjadi

pendidik pertama dan utama, sehingga orangtua memiliki tanggung jawab penuh atas

pendidikan anaknya. Namun pada kenyataannya orangtua kurang memperhatikan

akan hal ini. Banyak anak yang kurang mendapatkan pendidikan dari orangtua

mereka. Selain itu banyak ditemui orangtua yang sibuk dengan pekerjaannya, tanpa

memikirkan kebutuhan yang paling mendasar bagi anaknya. Mereka berpikir praktis,

lebih mengutamakan pekerjaannya, sebab mereka mempunyai anggapan bahwa

dengan bekerja mereka dapat memberikan nafkah yang cukup terhadap keluarganya

dan dapat memenuhi kebutuhan anak-anaknya termasuk pendidikan di sekolah.

Inilah yang menunjukkan bahwa orangtua yang “pasrah” menyerahkan anaknya

untuk dididik di sekolah tanpa mau terlibat aktif dalam proses pendidikan anak-anak

mereka sendiri.

  Hal yang serupa juga ditemui di Paroki Wates secara khusus di lingkungan St.

Monika Paroki Wates. Banyak orangtua yang kurang peduli terhadap pendidikan

iman bagi anaknya. Banyak anak yang jarang diajak ke gereja atau sekolah Minggu.

  

Untuk saat ini jarang ditemui juga anak yang berangkat doa lingkungan bahkan

orangtua juga kurang aktif dalam kegiatan lingkungan. Mereka beralasan capek karena aktivitas seharian.

  Ada beberapa fenomena yang tersembunyi di belakang permasalahan

pendidikan dasar bagi anak-anak dalam keluarga. Keadaan ekonomi keluarga adalah

fenomena yang paling banyak dijumpai. Keadaan ekonomi keluarga yang sering

memaksa orangtua untuk bekerja keras sehingga menyita banyak waktu dari keluarga,

dengan demikian waktu untuk berkumpul dan berkomunikasi dengan anak sangat

terbatas. Selain faktor ekonomi, kawin campur, kelalaian orangtua dan kurangnya

kesadaran akan pentingnya mendidik iman anak, juga kurangnya pengetahuan dan

pemahaman orangtua tentang iman. Hal tersebut yang menjadi latar belakang masalah

pendidikan iman anak.

  Pentinglah bagi orangtua untuk tetap memegang peranan sebagai pendidik,

pengasuh, dan pembimbing bagi anak-anak. Peran tersebut dapat dihidupi melalui

perhatian, cinta, dan kepercayaan yang terbina dalam keluarga, yang akhirnya tercipta

suasana keharmonisan dalam keluarga sehingga anggota keluarga dapat saling

terbuka dalam berkomunikasi.

  Orangtua hendaknya menjadi saksi dan teladan bagi anak-anak dalam segala

tindakan. Pendidikan iman dalam keluarga perlu dihidupi dengan kebiasaan religius

seperti kebiasaaan berdoa, mengikuti perayaan Ekaristi, sikap hormat kepada Allah

dan lain-lain. Namun di sisi lain pendidikan iman anak juga perlu dihidupi dengan

etika, sopan santun, tata susila, sikap hormat kepada orangtua dan masyarakat. Paus

Yohanes Paulus II dalam ajakan Apostolik Familiaris Consortio menegaskan bahwa

tugas dan peran orangtua berakar dari panggilan yang diperoleh melalui perkawinan:

  “Tugas mendidik berakar dalam panggilan utama suami istri untuk berperan serta dalam karya penciptaan Allah. Dengan membangkitkan dalam dan demi cinta kasih seorang pribadi yang baru, yang dalam dirinya mengemban panggilan untuk bertumbuh dan mengembangkan diri, orangtua sekaligus sanggup bertugas mendampinginya secara efektif untuk menghayati hidup manusiawi yang sesugguhnya” (FC, art 36).

  Pernyataan di atas secara jelas menegaskan garis besar pendidikan yang dapat

diperkembangkan menurut ciri-ciri dasarnya. Peranan orangtua sebagai pendidik

memiliki ciri khas yakni: cinta kasih mereka sebagai orangtua yang terwujud

sepenuhnya dalam tugas mendidik, sebab tugas ini menyempurnakan pengabdian

mereka pada kehidupan. Selain menjadi sumber cinta kasih orangtua merupakan

prinsip yang dijiwai, serta mengarahkan kegiatan konkrit mendidik dengan sikap

seperti: keramahan, kebaikan hati, pengabdian tanpa pamrih dan pengorbanan diri

yang merupakan buah hasil cinta kasih yang paling berharga. Orangtualah yang

pertama-tama menjadi pelaku pendampingan bagi anak-anaknya.

  Orangtua mempunyai peranan penting terhadap pertumbuhan dan

perkembangan anak terlebih perkembangan iman. Sehingga orangtua wajib

menumbuhkembangkan iman anak melalui pendidikan iman dalam keluarga.

Keluarga memiliki banyak waktu untuk mengembangkan. Perkembangan iman anak yang terjadi di masyarakat pada umumnya baik, dalam arti anak-anak aktif mengikuti

kegiatan gerejani misalnya sekolah Minggu, ke gereja, doa bersama di lingkungan

dan sebagainya. Selain itu anak juga memiliki sikap hormat, solider, adil dan lain-

lain. Namun ada sebagian anak dalam perkembangan imannya mengalami

kemunduran. Hal ini ditunjukkan dengan kurangnya minat anak pada kegiatan

  

gerejani dan merosotnya nilai-nilai hidup dalam diri anak. Kemunduran ini banyak

dipengaruhi oleh peran orangtuanya, yaitu orangtua yang kurang memberikan

perhatian khusus dalam hal perkembangan iman anak, misalnya saja seorang anak

yang tidak dibimbing dan diarahkan untuk mengikuti kegiatan gerejani, mereka hanya

dibiarkan saja. Hal lain yang mempengaruhi adalah kurangnya penanaman nilai-nilai

yang esensial dalam hidup.

  Bertolak dari uraian mengenai situasi yang ada di dalam masyarakat, dan

pandangan gereja terhadap pendidikan iman anak, serta peran orangtua, penulis

merumuskan judul skripsi sebagai berikut “PERANAN KEBIASAAN RELIGIUS

ORANGTUA BAGI PENDIDIKAN IMAN ANAK DALAM KELUARGA DI

LINGKUNGAN ST. MONIKA PAROKI WATES”.

B. Rumusan Permasalahan

  Bertitik tolak dari deskripsi latar belakang di atas, permasalahan yang muncul dapat dirumuskan sebagai berikut :

  

1. Apa pengertian kebiasaan religius dan perannya bagi pendidikan iman anak

dalam keluarga?

  

2. Sejauh mana pendidikan iman anak terlaksana dalam keluarga di lingkungan St.

  Monika Paroki Wates?

  

3. Faktor apa yang mendukung dan menghambat para orangtua dalam mendidik

iman anak dalam keluarga di lingkugan St. Monika Paroki Wates?

  

4. Bagaimana meningkatkan kebiasaan religius orangtua demi pendidikan iman anak dalam keluarga di lingkungan St. Monika Paroki Wates? C.

   Tujuan Penulisan Adapun tujuan dalam penulisan ini adalah:

  

1. Mendiskripsikan pengertian tentang kebiasaan religius dan peranya bagi

pendidikan iman anak.dalam keluarga.

  

2. Memberikan gambaran pendidikan iman anak yang diberikan orangtua terhadap

anak dalam keluarga di lingkungan St. Monika Paroki Wates.

  

3. Mengetahui faktor pendukung dan penghambat para orangtua dalam mendidik

iman anak dalam keluarga di lingkungan St. Monika Paroki Wates.

  

4. Meningkatkan kebiasaan religius orangtua demi pendidikan iman anak dalam

keluarga di lingkungan St. Monika Paroki Wates melalui katekese.

D. Manfaat Penulisan

  Penulisan ini diharapkan dapat memberikan manfaat:

  

1. Meningkatkan peran kebiasaan religius orangtua bagi pendidikan iman anak dalam

keluarga guna membantu anak mengembangkan diri dan imannya.

  

2. Memberikan masukan kepada orangtua agar mereka semakin menyadari tugas dan

tanggung jawabnya sebagai pendidik iman anak yang utama.

  

3. Mengembangkan kreativitas penulis sehingga penulis menghayati tugas dan

panggilannya sebagai katekis dalam tugas mendampingi keluarga.

  E. Metode Penulisan Pertama-tama penulis mengadakan riset pustaka yaitu dengan membaca buku-

buku. Dalam skripsi ini penulis menggunakan metode deskriptif-interpretatif, yaitu

menggambarkan dan menafsirkan permasalahan yang ada sehingga dapat diperoleh

data dan pengertian tentang peran kebiasaan religius orangtua bagi pendidikan iman

anak dalam keluarga. Data yang dibutuhkan, diperoleh dengan kuesioner terhadap

orangtua sebagai responden. Selain itu penulis juga mengadakan dan

mengembangkan kajian pustaka yang mendukung.

  F. Sistematika Penulisan Skripsi ini akan ditulis dalam lima bab. Penulisan dimulai dengan

pendahuluan akan dipaparkan secara jelas pada setiap babnya, kemudian diakhiri

dengan penutup berupa kesimpulan dan saran, yaitu sebagai berikut:

  Bab I berupa pendahuluan yang meliputi latar belakang, rumusan masalah, tujuan penulisan, manfaat penulisan, metode penulisan dan sistematika penulisan. Bab II membahas tentang peran kebiasaan religius orangtua bagi pendidikan

iman anak dalam keluarga yang akan dibagi dalam lima bagian di antaranya:

kebiasaan religius orangtua, pendidikan iman anak dalam keluarga, peran kebiasaan

religius orangtua, tahap-tahap perkembangan iman anak dan konteks perkembangan

iman anak.

  Bab III dibicarakan mengenai metodologi dan hasil penelitian mengenai

peranan kebiasaaan religius orangtua bagi pendidikan iman anak dalam keluarga di

  

lingkungan St. Monika Paroki Wates, yang di dalamnya tercakup metodologi

penelitian, laporan hasil penelitian, dan pembahasan hasil penelitian.

  Bab IV penulis memberikan sumbangan gagasan atau usulan kepada para

pendamping orangtua di lingkungan St. Monika Paroki Wates untuk membantu

mereka meningkatkan peranan kebiasaan religius orangtua bagi pendidikan iman

anak dalam keluarga. Bab ini meliputi pemikiran dasar program katekese dan

beberapa satuan persiapan katekese bagi orangtua di Lingkungan St. Monika Paroki

Wates.

Bab V berupa penutup yang berisi kesimpulan dan saran.

  

BAB II

PERANAN KEBIASAAN RELIGIUS ORANGTUA BAGI PENDIDIKAN

IMAN ANAK DALAM KELUARGA

Pada bab II ini akan dipaparkan mengenai kebiasaan religius orangtua,

  pendidikan iman anak dalam keluarga, peranan kebiasan religius orangtua dan tahap- tahap perkembangan iman anak, serta konteks perkembangan iman anak. Hal-hal tersebut yang menjadi landasan dasar dalam penelitian dan penyusunan program.

A. Kebiasaan Religius Orangtua

1. Pengertian Orangtua dan Keluarga

  Pengertian secara umum, orangtua adalah suami-istri atau yang sudah mempunyai anak, atau bapak ibu dari anak-anaknya. Nasution (1985:1) menjelaskan bahwa orangtua ialah setiap orang yang bertanggung jawab dalam satu keluarga, yang dalam penghidupan sehari-hari lazim disebut dengan bapak-ibu. Mereka inilah yang utama memegang peranan dalam kelangsungan hidup suatu rumah tangga atau keluarga. Biasa dikatakan bahwa rumah tangga merupakan sekolah pertama bagi anak oleh karena itu bapak dan ibu sebagai guru-gurunya dalam rumah tangga. Hal yang sama juga di sebutkan dalam KBBI (1990:629), orangtua adalah setiap orang yang bertanggung jawab dalam suatu keluarga atau rumah tangga yang dalam kehidupan sehari-hari disebut ayah dan ibu. arti yaitu ibu dan ayah dan saudara-saudara sekandung termasuk keluarga, dengan mereka kita hidup bersama-sama sehari-hari. Keluarga juga bisa menjadi besar karena hadirnya sanak saudara lain. Keluarga besar memberikan rasa aman karena di sana orang dapat memperoleh ruang gerak dan status sosial. Keluarga inti menjamin kepastian hidup, karena di sana tugas hidup sehari-hari yang makin rumit itu, dapat diselesaikan. Kedua bentuk keluarga itu berkaitan satu sama lain.

  Berangkat dari beberapa batasan tersebut dapat dinyatakan keluarga adalah sekelompok orang yang memiliki hubungan darah/orang yang seketurunan. Keluarga merupakan kelompok masyarakat terkecil baik untuk gereja maupun untuk masyarakat umum. Dari lingkungan keluarga inilah anak mulai mengenal pola pergaulan hidup sehari-hari, di mana anak bersosialisasi dan anak mulai menyadari bahwa dirinya merupakan bagian hidup dari masyarakat.

2. Tugas dan Tanggung Jawab Orangtua

  Orangtua mempunyai kedudukan yang penting dan memiliki tanggungjawab dalam hal mendidik anak. Dengan demikian hal yang perlu dituntut dari tanggungjawab orangtua dalam mendidik anak adalah suatu sikap dimana orangtua memandang anak sebagai manusia yang berkembang dan perlu berkembang. Anak diberi kebebasan dalam berpikir, bertindak, dan dalam memberikan keputusannya sesuai dengan perkembangannya. Di sini orangtua bertugas mengarahkan perkembangan anak pada hal-hal positif, seperti yang ditegaskan Nasution (1985:40), harus mampu untuk mengasuh dan membimbing anak-anaknya, mengawasi pendidikan anak-anaknya.

  Dalam mendidik anak orangtua berperan sebagai pembimbing. Dimana anak yang belum dewasa dibimbing dan diarahkan oleh orangtua untuk mencapai kedewasaan sehingga anak dapat berpikir, berbuat dan berkehendak. Hal ini ditegaskan dalam Kitab Hukum Kanonik sebagai berikut:

  Melebihi semua yang lain orangtua wajib untuk membina anak-anak mereka dalam iman dan dalam praktek kehidupan Kristiani baik lewat perkataan maupun teladan dalam hidup mereka, demikian pula terikat kewajiban yang sama yang menggantikan orangtua dan para wali-baptis.(KHK 774, art 2) Rumusan ini menegaskan bahwa orangtua karena telah memberi hidup kepada anak-anaknya, terikat kewajiban untuk mendidik mereka, oleh sebab itu adalah pertama-tama tugas orangtua Kristiani untuk mengusahakan pendidikan Kristiani bagi anak-anak menurut ajaran yang diwariskan Gereja.

  Orangtua wajib mendidik anak dengan pendidikan Kristiani dalam keluarga. Orangtua dipanggil untuk melaksanakna tugas perutusan yang dipercayakan Allah kepada mereka dalam keluarga, masyarakat, dan Gereja tanpa melupakan tugas yang pertama dan utama sebagai pendidik iman bagi anak-anaknya .

3. Pengertian Kebiasaan Religius

  Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kebiasaan adalah sesuatu yang biasa dikerjakan dan dilakukan secara berulang-ulang untuk hal yang sama.

  Sedangkan religius memiliki dua pengertian yakni pengertian dalam arti luas dan pengertian dalam arti sempit. Religius dalam arti luas berarti keagamaan atau kesalehan. Sedangkan religius dalam arti sempit memiliki arti anggota ordo atau konggregasi yang menunjuk pada para biarawan-biarawati.

  Berdasarkan dua pengertian di atas, kebiasaan religius dapat berarti penghayatan hidup keagamaan yang biasa dikerjakan untuk mendorong manusia hidup dalam kesalehan, kehidupan yang suci dan mengikuti perintah Tuhan. Dalam arti sempit kebiasaan religius berhubungan dengan ungkapan-ungkapan relasi antara manusia dengan Tuhan, misalnya doa, perayaan ibadat atau liturgi.

4. Menumbuhkan Sikap Religius Anak-anak dari Kebiasaan Religius Orangtua

  Setiap anak memiliki bakat religius, namun sikap religius tersebut tidak secara otomatis tumbuh begitu saja. Oleh karena itu bakat religius anak perlu dipandu (Mangunwijaya, 1986:1). Orangtua perlu mengusahakan suatu upaya atau pendidikan serta pendampingan yang akhirnya menumbuhkan sikap religius dalam diri anak.

  Pertumbuhan anak secara badaniah maupun mental sangat membutuhkan sentuhan- sentuhan dengan ibunya serta orang-orang sekeliling yang memberi kepastian yang serba menjamin dan berdialog. Lingkungan dimana anak tinggal dan hidup akan mempengaruhi watak, perilaku dan pemekaran diri anak. Hal ini tidak hanya meliputi perkembangan pertumbuhan kesehatan, kepandaian, selera namun terlebih dalam wilayah-wilayah yang lebih halus, kebudayaan, kemampuan dapat iba hati, suka menolong dan mudah memaafkan.

2. Macam-macam Kebiasan Religius

  Ada beragam kebiasaan religius yang mencakup segala macam ungkapan secara khusus hubungan manusia dengan Tuhan melalui doa, ibadat, perayaan liturgi.

  Berikut akan dipaparkan beberapa kebiasaan-kebiasaan religius:

a) Berdoa

  Doa merupakan salah satu kebiasaan religius dalam hidup orang beriman. Doa sebagai kebiasaan religius tidak berarti rutinitas religius karena yang terutama dalam doa adalah pernyataan iman di hadapan Allah. Oleh Karena itu yang pokok dalam doa adalah iman, pengharapan dan kasih. Maka ketekunan dalam doa sebagai kebiasaan religius bearrti bertekun dalam iman dan kasih.

  Doa juga merupakan pernyataan kepercayaan akan kasih sayang Allah (Konferensi Waligereja Indonesia, 1996:195). Berdoa berarti mengangkat hati, mengarahkan hati kepada Tuhan, menyatakan diri anak Allah dan mengakui Allah sebagai Bapa. Doa hanya mungkin dilakukan dalam dan oleh Roh Kudus, sebab kita adalah anak Allah tercinta oleh Roh Kudus.

  Doa adalah ungkapan kehidupan iman dan tidak dapat dilepaskan dari ungkapan serta perwujudan iman yang lain. Doa yang lahir dari iman akan melahirkan perwujudan sikap-sikap konkret baik bagi diri sendiri maupun sesama. Doa yang didasari iman juga membawa manusia pada sikap-sikap terhadap hidup seperti toleransi, empati, cinta kasih, dll, sehingga menyelamatkan orang. Sebuah keluarga yang memiliki kebiasaan berdoa biasanya akan mengajarkan kebiasaan kebiasaan religius yang berdampak pada pendidikan iman anak. Heuken (1979: 18), menyatakan bahwa orang kristiani mempunyai banyak kesempatan untuk berdoa, misal: doa malam, doa sebelum dan sesudah makan, serta doa sebelum tidur dan bangun tidur.

b) Mengikuti Perayaan Ekaristi

  Ekartisti berasal dari kata eucharistia yang berarti puji syukur (Martasudjita dkk, 2009:26). Perayaan Ekaristi merupakan warisan yang sangat berharga dari Tuhan Yesus Kristus. Dalam perayaan Ekaristi, kita merayakan syukur atas penebusan Tuhan sebagai karya penyalamatan Allah bagi manusia. Maka dengan Ekaristi, kita dapat merasakan dan mengalami tinggal dalam Tuhan.

  Dalam Buku Iman Katolik (1996:401) juga dikatakan bahwa Ekaristi merupakan sakramen utama. Pernyataan ini sesuai dengan ajaran Konsili Vatikan II yang menyebutkan bahwa Ekaristi merupakan sumber dan puncak seluruh hidup Kristiani yaitu misteri wafat dan kebangkitan Kristus.

  Ekaristi juga merupakan tanda dan sarana artinya “sakramen” persatuan dengan Allah dan kesatuan antar manusia. Ekaristi juga disebut sebagai perayaan umat yaitu perayaan yang mempertandakan kehadiran Tuhan dalam umat dan umat juga sungguh menghayati dalam iman. Sesuai dengan ajaran Gereja khususnya dalam lima perintah Gereja, bahwa orang Katolik wajib mengikuti perayaan Ekaristi pada hari Minggu dan hari raya yang diwajibkan.

c) Membaca dan Mendengarkan Kitab Suci

  Anne Marie Zanzucchi (1986:46) mengatakan bahwa Kitab Suci adalah buku pegangan bagi penganut agama Kristen Katolik, yang mana melalui buku ini orangtua dapat memperkenalkan anak-anaknya pada Allah dan Yesus. Dengan membaca dan mendengarkan Kitab Suci anak dapat memiliki pemahaman tentang Allah yang penuh kasih, Allah yang mengasihi dan menyelamatkan manusia. Dengan melalui sabda- Nya Tuhan akan menanamkan prinsip-prinsip dasar iman.

B. Pendidikan Iman Anak dalam Keluarga

1. Pengertian Pendidikan Iman anak Pendiddikan iman terdiri dari dua kata yaitu: “pendidikan“ dan “Iman”.

  Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata “mendidik” berarti memelihara dan memberi latihan (ajaran-pimpinan) mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran (Departeman Pendidikan dan Kebudayaan, 1988:204). Istilah “pendidikan” berarti proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan latihan (Departeman Pendidikan dan Kebudayaan, 1988:204). Seperti juga yang dikatakan oleh Sumadi Suryabrata (1984:317) bahwa pendidikan merupakan usaha manusia (pendidik) untuk membimbing anak-anak didik menuju pada kedewasaan dengan penuh tanggung jawab.

  Kata “iman” berarti kepercayaan (yang berkenaan dengan agama) dan beriman Kristiani mengartikan iman merupakan penyerahan diri secara total kepada Allah yang menyatakan diri tidak dengan terpaksa, melainkan dengan suka rela (KWI, 1996:128). Dalam kaitannya dengan pendidikan, pendidikan juga diidentikkan dengan bimbingan. Seperti yang dikemukakan oleh Suwarno. Ia mengatakan bahwa pendidikan adalah bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh si pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani si anak didik menuju terbentuknya kepribadian yang utama (Suwarno, 1992:3).

  Bertolak dari pengertian kata pendidikan dan iman seperti di atas, maka

pendidikan iman anak dimengerti sebagai suatu pendidikan menuju proses

pengubahan sikap, dan tata laku anak-anak dalam rangka mendewasakan

kepercayaannya pada Allah melalui proses pengajaran dan latihan. Proses pengajaran

dilakukan melalui keteladanan hidup, perkataan dan perbuatan orangtua. Sedangkan

latihan-latihan diberikan untuk mendidik anak melalui kebiasaan-kebiasaan yang

mendukung proses pendidikan iman anak (Cooke, 1972:9).

  

2. Orangtua Sebagai Pendidik Iman Anak yang Pertama dan Utama dalam

Keluarga

a. Pandangan Gereja Terhadap Pendidikan Iman Anak

  Berdasarkan pandangan dari Paus Pius XI dalam Divini Illius Magistri, ensiklik yang lebih banyak membicarakan secara langsung mengenai pendidikan iman anak menyatakan bahwa hakikat pendidikan ialah membentuk manusia dan membawanya mana ia diciptakan. Tujuan akhir yang mau dicapai dari pendidikan ialah Kristus sendiri, sebab Dia adalah jalan, kebenaran dan hidup (DIM art:9). Pada intinya pendidikan yang dilaksanakan oleh Gereja adalah untuk mengantar kaum muda sampai pada kebaikan tetinggi yaitu Allah dan mengantar msyarakat sampai pada kesejahteraan setinggi-tingginya yang dapat dicapai di dunia. Pendidikan yang di lakukan oleh Gereja ditujukan bagi segala bangsa karena Kristus memerintahkan pada para murid-Nya untuk mengajar semua bangsa (DIM art:31). Oleh karena itu semua umat manusia menjadi sasaran Gereja.

  Dasar tugas Gereja dalam pendidikan ialah perutusan yang diterima dari Tuhan (Mat 28:18-20). Gereja bertanggung jawab untuk membimbing dan membentuk umat manusia dalam pergaulan dan tindakan-tindakan ke arah cara hidup menurut ajaran yang telah diterima dari Yesus. Maka Gereja memiliki tugas dan tanggung jawab untuk mendidik dan mengasuh seluruh umat manusia (DIM, art:19-21).

  Allah menganugerahkan hak pada keluarga untuk mendidik anak, maka keluarga berhak atas pendidikan anak. Orangtua berhak dan berkewajiban menentukan pendidikan iman bagi anak-anaknya, karena merekalah yang melahirkan dan membesarkan. Dengan demikian orangtua dituntut untuk selalu berjuang agar tetap berkuasa sebagai pendidik utama bagi anak-anaknya yang selaras dengan nilai- nilai Kristiani.

  Bertolak dari pandangan Gereja dalam esiklik Divini Illius Magistri ini, pendidikan merupakan jalan yang membimbing dan mengarahkan manusia menuju usaha-uasaha untuk mengarahkan orang pada persatuan dengan Allah, dalam Yesus Kristus dan Roh Kudus melalui sakramen Baptis. Pendidikan Kristiani harus bersifat menyeluruh dan keluarga wajib mengajarkan semua segi kehidupan termasuk, keagamaan, kesusilaan dan kewarganegaraan, sebab semua saling berkaitan sehingga anak-anak akan mampu menata dan menyempurnakan hidup selaras dengan teladan dan ajaran Kristus. Dengan demikian anak diharapkan mampu mencintai kehidupan di dunia dengan segala aspeknya, menghormati, dan menghargai kehidupan duniawi yang bersifat jasmani. Anak juga diharapkan mampu bersikap terbuka terhadap perkembangan sejarah kebudayaan dan kemajuan-kemajuan lainnya sehingga dapat menadi seorang warga Gereja dan warga negara yang baik.

b. Peran Orangtua Bagi Pendidikan Iman Anak dalam Keluarga

  Gereja menempatkan orangtua sebagai pendidik iman anak yang pertama dan utama dalam keluarga karena orangtua telah menyalurkan kehidupan kepada anak- anaknya, maka terikat kewajiban amat berat untuk mendidik mereka. Orangtualah yang harus diakui sebagai pendidik mereka yang pertama dan utama (F C:61).

  Untuk membantu anak dalam menginternalisasi nilai religius dalam keluarga, orangtua perlu menanamkan kebiasaan-kebiasaan seperti mengajak anak berdoa bersama, mengajak anak mengikuti perayaan liturgi, membaca dan mendengarkan Kitab Suci.

1) Kebiasaan mengajak anak untuk berdoa bersama

  menanamkan kebiasaan berdoa dalam diri mereka sendiri melalui keteladanan orangtua. Orangtua juga perlu menjelaskan pada anaknya bahwa berdoa merupakan komunikasi dengan Tuhan, sehingga anak akan membangun gambaran tentang Tuhan dalam diri dan untuk mengambil sikap yang pantas pada saat berdoa. Dengan demikian anak akan melihat dan meniru apa yang diperbuat oleh orangtuanya, seperti yang ditulis oleh Anne Marie Zanzucchi (1999:49) berikut ini:

  “Pada suatu malam, ketika ia sudah agak besar, ia melihat saya dan bapaknya sedang berdoa, ia langsung berdiri dan mencoba memanjat kisi-kisi. Kami lalu mengangkatnya keluar dan ia langsung ikut berlutut di sebelah kami. Pada mulanya ia cuma berdiam diri. Ia cuma menirukan sikap kami. Kemudian ia mulai belajar beberapa kata doa “Bapa Kami” dan “Salam Maria”. Kami hanya membiarkannya, karena kami tidak ingin merepotkannya dengan doa orang dewasa. Perbuatan menirukan orangtua merupakan saat yang baik bagi anak untuk belajar berdoa karena anak mungkin baru belajar pada taraf menirukan apa yang dilihatnya.

2) Kebiasaan mengajak anak untuk mengikuti perayaan liturgi

  Sejak dini anak-anak perlu diajak untuk mengikuti perayaan liturgi. Perayaan liturgi Gereja merupakan medan untuk bagi orangtua untuk memperkenalkan pada anak-anak tata cara dan makna perayaan liturgi Gereja dalam iman Kristiani. Kebiasaan mengajak anak dalam perayaan seperti Natal, menjadi kesempatan kepada orangtua untuk menjelaskan makna kehadiran Yesus di dunia, demikian juga pada perayaan Paskah membantu anak memberikan makna iman akan Yesus yang bangkit halnya pada waktu pesta paskah, pentakosta, dan pesta-pesta Maria dapat merupakan kesempatan bagus untuk bercerita mengadakan percakapan rohani.” Pada hari minggu sebaiknya orangtua juga mengajak anak pergi ke gereja untuk mengikuti perayaan Ekaristi. Demikian juga, orangtua perlu memberikan pemahaman pada anak mengenai makna peryaaan Ekaristi sebagai perjamuan kasih Tuhan. Orangtua juga perlu menjelaskan bahwa perayaan Ekaristi adalah perayaan syukur atas karya keselamatan Allah yang terlaksana melalui Yesus Kristus.

3) Kebiasaan mengajak anak membaca dan mendengarkan Kitab Suci

  Banyak kisah menarik yang terdapat dalam Kitab Suci, yang dapat digunakan oleh orangtua untuk mengajak anak-anak membaca dan mendengarkannya. Melalui cerita-cerita dalam Kitab Suci orangtua dapat memperkenalkan kebaikan Tuhan kepada manusia (Zanzucchi 1999:43). Dengan membaca dan mendengarkan Kitab Suci membantu pemahaman anak tentang Allah yang penuh kasih, Allah yang mengasihi dan menyelamatkan manusia. Dengan demikian orangtua dapat menanamkan prinsip-prinsip dan nilai dasar iman Kristiani kepada anak.

  Apabila anak sudah dapat membaca, mereka dididik dan dibiasakan untuk membaca sendiri Kitab Suci dan buku-buku cerita rohani yang menarik. Dengna demikian anak akan terbiasa dan terdididik untuk belajar membaca, memahami, dan mendalami nilai-nilai dan makna dari cerita Kitab Suci. Dari nilai-nilai ini mereka dapat lebih terbantu untuk mewujudkannya dalam hidup sehari-hari.

c. Menanamkan Pendidikan Nilai-nilai Hakiki Pada Anak

  Keluarga adalah lingkungan pertama bagi anak untuk belaar menemukan, mewujudkan, menghayati dan memperkembangkan nilai-nilai, yakni segala sesuatu yang positif, yang baik, indah, benar dan yang berguna bagi kehidupan pribadi maupun orang lain. Wignyosumarto (2000:159-161) mengatakan bahwa nilai-nilai hakiki yang perlu ditanamkan sejak dini pada diri anak sebagai berikut:

  Anak hendaknya dibesarkan dengan sikap bebas yang tepat terhadap harta

   jasmani, diajak menjalani corak hidup ugahari tanpa kemanjaan, dan insaf sepenuhnya bahwa manusia lebih bernilai dari pada apa yang dimilikinya. Hal ini penting sebab dalam masyarakat modern ini, manusia dinilai hanya dari apa yang ia miliki dan ia pakai, bukan dari kenyataan bahwa ia adalah sesama manusia ciptaan Allah yang sederajat sebab sama-sama diciptakan menurut gambar dan rupa Allah (bdk. Kej 1: 26) Sikap adil (keadilan). Orangtua perlu menanamkan kesadaran dalam diri anak,

   nilai keadilan sejati, solider terhadap sesama dan pengabdian yang tanpa pamrih pada mereka yang miskin dan tersingkir. Jika sejak dini anak telah dibekali sikap belas kasih, adil dan jujur maka sesuai dengan hukum perkembangan hingga dewasa anak akan mewujudkan nilai-nilai itu didalam hidupnya sehari-hari. Karena semua telah menjadi miliknya dan menjadi bagian dari hidupnya sendiri. Nilai kemurnian dalam seksualitas. Orangtua perlu menanamkan nilai kemurnian

   dalam seksualitas pada anak-anaknya, seksualitas perlu dipahami secara keseluruhan pribadi seutuhnya, jiwa-badan, jasmani rohani, emosi, perasaan, cara berpikir dan cara bertindak bahkan menyangkut seluruh eksistensinya.

  Dalam keluarga orangtua perlu memperlakukan anak sesuai dengan jenis kelaminnya. Dengan demikian memungkinkan anak untuk menerima dirinya sendiri sebagai laki-laki atau perempuan yang pada gilirannya merekapun akan dapat menerima orang lain apa adanya.

C. Peranan Kebiasan Religius Orangtua

  Orangtua adalah orang pertama dan utama yang bertanggung jawab dalam mendidik anak. Hal ini ditegaskan dalam FC, art 39 yang menyatakan bahwa orangtualah yang pertama-tama menjadi pelaku pendampingan bagi anak-anaknya. Pendidikan iman bagi anak tidak hanya terlaksana dengan kata- kata instruksional saja melainkan melalui kesaksian hidup keagamaan, ibu dan ayahnya. Gereja menyatakan dengan tegas mengenai hak dan kewajiban orangtua, seperti yang tampak dalam kutipan berikut:

  “Karena orangtua telah menyalurkan kehidupan kepada anak-anak, terikat kewajiban amat berat untuk mendidik mereka. Maka orangtualah yang harus diakui sebagai pendidik mereka yang petama dan utama. Begitu pentinglah tugas mendidik itu, sehingga bila diabaikan, sangat sukar pula dapat dilengkapi. Sebab merupakan kewajiban orangtua: menciptakan lingkup keluarga, yang diliputi semangat bakti kepada Allah dan kasih sayang terhadap sesama sedemikian rupa, sehingga menunjang keutuhan pendidikan pribadi dan sosial anak-anak mereka” (GE, art 3)

  Orangtua hendaknya dapat menjadi saksi dan teladan bagi anak dalam segala seperti: kebiasaan berdoa, etika, sopan santun, tata susila dan sikap hormat kepada Allah, orangtua, serta lingkungan tempat tinggalnya. Oleh karena itu peranan kesaksian kehidupan Iman orangtua bagi perkembangan iman anak-anaknya sangat vital.

D. Tahap-tahap Perkembangan Iman Anak.

  Penting bagi orangtua mengetahui tahap-tahap perkembangan iman anak, agar orangtua dapat memeberikan pendidikan iman sesuai dengan tahap perkembangan anak. Seperti segi-segi lain dari kepribadian anak, iman anak juga berkembang dalam beberapa tahapan. Menurut James W. Fowler, (Cremers, 1995:95-243) tahapan- tahapan tersebut adalah sebagai berikut :

  1. Tahapan usia 0-2 tahun

  Tahapan ini disebut “tahapan primal”. Benih iman pada kurun hidup paling dini ini terbentuk oleh “rasa percaya si anak pada orang-orang yang mengasuhnya” dan oleh “rasa aman yang dialaminya di tengah lingkungannya”. Seluruh interaksi timbal- balik antara si anak dan orang-orang di sekitarnya merupakan titik tolak bagi perkembangan imannya. Interaksi yang mendukung perkembangan iman adalah interaksi yang menumbuhkan keyakinan pada dirinya, bahwa ia adalah insan yang dicintai dan dihargai.

  2. Tahapan usia 2-6 tahun ini ialah intuisi si anak, yang sifatnya belum rasional. Intuisi tersebut dipakainya untuk memaknai dunia di sekitarnya. Intuisi itu memungkinkannya menangkap nilai- nilai religius yang dipantulkan oleh para tokoh kunci (yakni ayah, ibu, pengasuh, paman, bibi, pastor, suster dan sebagainya). Maka, pada tahapan ini si anak memahami atau membayangkan Tuhan sebagai Sang Tokoh yang mirip dengan ayah, ibu, pengasuh, paman, bibi, pastor, suster atau tokoh berpengaruh yang lain. Pada tahapan ini, iman seorang anak diwarnai oleh rasa takut dan hormat pada tokoh-tokoh kunci itu. Usaha-usaha untuk mengembangkan iman seorang anak pada tahapan usia ini seyogyanya dilaksanakan dengan cara yang sederhana, tidak terlalu mengandalkan penalaran, dan menghindari ucapan-ucapan yang tidak sesuai dengan sikap-sikap dan tindakan-tindakan yang nyata.Usaha-usaha pendidikan iman pada tahapan ini hendaknya lebih mengandalkan keteladanan, melalui perilaku yang nyata dari para tokoh kunci.

3. Tahapan usia 6-11 tahun

  Tahapan ini disebut “tahapan mitis literal”. Pada tahapan ini yang paling berperan dalam perkembangan iman anak adalah kelompok atau institusi kemasyarakatan yang paling dekat dengannya, misalnya kelompok bina iman, sekolah, atau kelompok Sekolah Minggu. Kelompok atau institusi tersebut berfungsi sebagai sumber pengajaran iman. Pengajaran itu paling mengena kalau disampaikan dalam bentuk kisah-kisah yang bernuansa rekaan. Tuturan pengajaran lewat kisah iman anak pada tahapan ini seyogyanya tetap dilaksanakan dengan cara sederhana, tidak terlalu mengandalkan penalaran.

  4. Tahapan usia 12 -20 tahun

  Tahapan ini disebut “tahapan sintetis-konvensional”. Tahap ini muncul pada masa adolosen (usia 12-20 tahun). Di sini muncul kemampuan kognitif baru yaitu operasi-operasi formal, maka remaja mulai mengambil alih pandangan pribadi orang lain menurut pola pengambilan perspektif antar pribadi secara timbal balik. Di sini sudah ada kemampuan menyusun gambaran percaya pada person tertentu, termasuk person yang Ilahi.

  5. Tahapan usia 20 tahun ke atas

  Tahapan ini disebut “Individuatif-reflektif”. Pola ini ditandai oleh lahirnya refleksi kritis atas seluruh pendapat, keyakinan, dan nilai (religius) lama. Pribadi sudah mampu melihat diri sendiri dan orang lain sebagai bagian dari suatu sistem kemasyarakatan, tetapi juga yakin bahwa dia sendirilah yang memikul tanggung jawab atas penentuan pilihan ideologis dan gaya hidup yang membuka jalan baginya untuk mengikatkan diri dengan cara menunujukkan kesetiaan pada seluruh hubungan dan panggilan tugas. Disebut individuatif karena baru saat inilah manusia tidak semata-mata bergantung pada orang lain, tetapi dengan kesanggupannya sendiri mampu mengadakan dialog antara berbagai diri; sebagaimana dilihat dan dipantulkan sendiri. Manusia mengalami dirinya sebagai yang khas, unik, aktif, kritis, kreatif penuh daya.

  6. Tahapan usia 35 tahun ke atas

  Tahapan ini disebut “konjungtif”. Tahap ini ditandai oleh suatu keterbukaan dan perhatian baru terhadap adanya polaritas, ketegangan, paradoks, dan ambiguitas dalam kodrat kebenaran diri dan hidupnya. Kebenaran hanya akan dicapai melalui dialektika, karena sadar bahwa manusia memerlukan suatu tafsiran yang majemuk. Di sini beragama dan kepercayaan juga di bayang-bayangi oleh simbol, metafora, cerita, mitos, dll yang memerlukan penafsiran kembali.

  7. Tahapan usia 45 tahun ke atas

  Tahapan ini disebut “universalitas”. Pribadi melampaui tindakan paradoks dan polaritas, karena gaya hidupnya langsung berangkat pada kesatuan yang ultim , yaitu pusat nilai, kekuasaan dan keterlibatan yang terdalam. Pribadi sudah berhasil melepaskan diri (kenosis) dari egonya dan dari pandangan bahwa ego adalah pusat, titik acuan dan tolok ukur kehidupan yang mutlak. Perjuangan akan kebenaran, keadilan dan kesatuan sejati berdasarkan semangat cinta universal ini secara antisipatif menjelmakan daya dan dinamika Kerajan Allah sebagai persekutuan cinta dan kesetiakawanan antara segala sesuatu yang ada.

  Dari tujuh tahap perkembangan kepercayaan yang telah dikemukakan oleh James tahap usia 0-11 tahun.

E. Konteks Perkembangan Iman Anak

  Perkembangan iman anak biasanya berlangsung dalam konteks atau ruang lingkup yang diwarnai oleh beberapa hal berikut.

  1. Teladan tokoh-tokoh identifikasi

  Iman biasanya tumbuh pada anak, pada saat ia mengamati dan mengikuti tokoh- tokoh identifikasinya, secara spontan dan belum terlalu disadari. Tokoh-tokoh identifikasi tersebut adalah orang-orang dewasa yang terpenting dan terdekat bagi anak, yakni orangtuanya. Sikap dan perilakunya mengacu pada sikap atau perilaku dari orang-orang dewasa yang dihormatinya, tokoh-tokoh panutannya. Anak lebih mampu memahami sesuatu dengan melihat contoh-contoh yang konkrit dan cenderung mengikuti contoh-contoh tersebut. Karena itulah, pimpinan Gereja Katolik berharap bahwa anak-anak menemukan teladan hidup beriman pertama-tama dalam diri orangtua dan anggota-anggota keluarganya sendiri.

  Dalam CT art 68 ditegaskan bahwa sejak usia dini para anggota keluarga perlu saling membantu agar bertumbuh dalam iman.

  2. Suasana dalam rumah

  Bagi seorang anak, suasana merupakan keadaan yang menyenangkan atau tidak, membuatnya kerasan atau tidak. Pengaruh suasana rumah terhadap diri anak keluarga yang diresapi kasih dan hormat mempengaruhi anak seumur hidupnya (CT art 68).

  Suasana di rumah sebaiknya tidak terjadi karena kebetulan, melainkan karena “direkayasa” (dalam arti positif) sedemikan rupa sehingga ia memungkinkan perkembangan iman. Suasana seperti itu dapat diciptakan dengan: sikap dan perilaku semua anggota keluarga yang penuh kasih sayang dan keakraban; acara dan irama hidup yang sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan semua anggota keluarga dan sekaligus memungkinkan terciptanya selingan yang menyegarkan; ruang-ruang rumah dan kebun yang ditata sedemikian rupa sehingga menciptakan suasana yang manusiawi dan kristiani; dan tersedianya fasilitas yang memadai, terutama bagi anak.

3. Pengajaran

  Keteladanan kadang-kadang bersifat agak tersembunyi. Maka keteladanan itu sebaiknya juga diperkuat dengan pengajaran, yang disesuaikan dengan kebutuhan dan daya tangkap anak, sesuai dengan tahapan-tahapan perkembangan kepribadiannya. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam proses pendidikan iman: yaitu pengajaran harus sesuai dengan keadaan anak, kepekaan emosionalnya, aneka kesulitan dan masalahnya; pengajaran harus membantu anak mengolah pengalaman dan perasaannya; pengajaran harus bersifat komunikatif, tidak indoktriner, dan merangsang anak untuk berpikir secara aktif.

4. Komunikasi antara semua anggota keluarga

  Komunikasi antara semua anggota keluarga merupakan faktor pendukung perkembangan iman yang tak tergantikan. Memang, hal-hal yang di-komunikasikan tidak perlu selalu langsung mengenai iman. Meskipun demikian, isi komunikasi itu sebaiknya dapat memperluas wawasan iman dan menjadi sumber inspirasi iman.

  Sementara itu, bentuk-bentuk komunikasi sangat dipengaruhi oleh faktor budaya, misalnya: kebiasaan berterus-terang atau sembunyi-sembunyi, kebebasan berpikir atau ketaatan buta. Proses globalisasi sekarang ini membuka kemungkinan munculnya bentuk-bentuk komunikasi yang baru.

BAB III METODOLOGI DAN HASIL PENELITIAN TENTANG PERANAN KEBIASAAN RELIGIUS ORANGTUA BAGI PENDIDIKAN IMAN ANAK DALAM KELUARGA DI LINGKUNGAN ST MONIKA PAROKI WATES Pada Bab III ini penulis akan mengadakan sebuah penelitian untuk

  memperoleh data tentang peranan kebiasaan religius orangtua bagi pendidikan iman anak dalam keluarga di lingkungan St. Monika Paroki Wates. Pemaparan metodologi dan hasil penelitian sebagai berikut:

A. Metodologi Penelitian

  1. Jenis Penelitian

  Jenis penelitian yang digunakan dalam penulisan skripsi ini adalah penelitian deskriptif ex-post-facto artinya penelitian sesudah fakta. Pendekatan yang dipakai dalam penelitian ini yakni kualitatif, dan sarana yang dipakai dengan menggunakan koesioner. Koesioner ini untuk mengetahui sejauh mana peran kebiasaan religius orangtua bagi pendidikan iman anak dalam keluarga.

  2. Tempat dan Waktu Penelitian

  Penulis melaksanakan penelitian di Lingkungan St Monika Paroki Wates dan

  3. Responden

  Responden dalam penelitian ini adalah keluarga-keluarga Katolik khususnya para orangtua Katolik dalam macam-macam situasi yakni: normal, single parent dan kawin campur di lingkungan St. Monika Paroki Wates. Sehingga satu keluarga mendapat satu lembar koesioner. Responden yang akan diteliti berjumlah 28 KK, adapun jumlah tersebut termasuk normal yakni pasangan suami istri katolik, para

  

single parent yakni suami saja atau istri saja karena suami atau istrinya telah

  meninggal, dan pasangan kawin campur. Hal tersebut dapat dirinci sebagai berikut: normal (pasangan suami istri) berjumlah 24 KK, single parent berjumlah 3 KK dan kawin campur berjumlah 1 KK.

  4. Teknik Pengumpulan data

  a. Variabel

  Berdasarkan judul skripsi ini, yakni “Peranan Kebiasaan Religius Orangtua Bagi Pendidikan Iman Anak Dalam Keluarga di Lingkungan St. Monika Paroki Wates” terdapat dua variabel yang akan diteliti yaitu ”Kebiasaan Religius Orangtua” dan “Pendidikan Iman Anak Dalam Keluarga”.

  b. Definisi Operasional variabel

  Ada dua variabel dalam penelitian ini yakni: Variabel Bebas : Kebiasaan religius orangtua

  

  Variabel Terikat : Pendidikan iman anak dalam keluarga

   Variabel-variabel tersebut didefinisikan sebagai berikut: 1) Kebiasaan Religius Orangtua merupakan penghayatan hidup keagamaan yang biasa dikerjakan oleh orangtua untuk mendorong hidup dalam kesalehan, kehidupan yang suci dan mengikuti perintah Tuhan.

  2) Pendidikan iman anak merupakan suatu pendidikan yang menciptakan iklim untuk perubahan sikap, dan tata laku anak-anak dalam rangka mendewasakan kepercayaannya pada Allah melalui proses pengajaran dan latihan. Proses pengajaran dilakukan melalui keteladanan hidup, perkataan dan perbuatan orangtua. Sedangkan latihan-latihan diberikan untuk mendidik anak melalui kebiasaan-kebiasaan yang mendukung proses pendidikan iman anak (Cooke, 1972:9).

c. Teknik Pengumpulan Data

  Dalam memperoleh data penulis menggunakan teknik penelitian dengan koesioner. Koesioner adalah usaha mengumpulkan informasi dengan menyampaikan sejumlah pertanyaan tertulis yang harus dijawab atau diisi oleh responden (Hadari Nawawi, 1985:177). Jenis kuesioner yang digunakan bersifat semi tertutup (Sanafiah Faisal, 1981:4), dengan menyediakan tempat kosong untuk memberi kebebasan kepada responden menjawab pertanyaan seandainya alternatif jawaban yang telah tersedia tidak sesuai.

  Kisi-kisi Kuesioner

  24,25,26

  Dalam bagian ini penulis menyampaikan hasil penelitian tentang peran kebiasaan religius orangtua bagi pendidikan iman anak di lingkungan St Monika Paroki Wates.

  d. Teknik Analisis Data Analisis data dilakukan secara kualitatif. Data yang diperoleh dari kuesioner dianalisis, dideskripsikan secara kualitatif. Keterbatasan dalam penelitian ini yakni berkenaan dengan validitas, reliabilitas, dan obyektivitas tidak diuji cobakan.

  4

  30

  27,28,29,

  5 Faktor-faktor Pendukung Dalam Pelaksanaan Pendidikan Iman Anak

  3

  4 Kesulitan-kesulitan Yang Berkaitan Dalam Pelaksanaan Pendidikan Iman Anak

  No Variabel- variabel No item Jumlah

  6

  18,19,20,2 122,23

  3 Pengetahuan Orangtua Tentang Pendidikan Iman Anak

  11

  7,8,9,10,1 1,12,13,14 ,1516,17

  2 Kebiasaan-kebiasaan Yang Dilakukan Orangtua Dalam Rangka Mendidik Iman Anak

  6

  1 Identitas Responden 1,2,3,4,5,6

B. Laporan Hasil Penelitian

  Penulis memaparkan data hasil penelitian yang diperoleh dari hasil pengumpulan kuesioner yang disebar pada keluarga-keluarga Katolik. Pembahasan hasil penelitian ini diuraikan dalam bentuk tabel, data disajikan menurut urutan variabel.

  

Tabel I

Identitas Responden (N: 28)

No Aspek Yang Terungkap Jumlah %

  1. Jenis Kelamin

  a. Pria 16 57,14

  b. Wanita 12 42,85

  2. Usia

  a. 16-20 tahun

  b. 21-25 tahun 1 3,57

  c. 26-30 tahun 4 14,28

  d. 31 tahun keatas 23 82,14

  3. Pendidikan Terakhir

  a. SD 3 10,74

  b. SMP 5 17,85

  c. SMA 12 42,85

  d. Sarjana 8 28,57

  4. Pekerjaan

  a. Pegawai 9 32,14

  b. Petani 2 7,14

  c. Wiraswasta

  14

  50 d. Lain-lain………………….. 3 10,74

  5. Pendapatan perbulan

  a. ≤ Rp 500.000,00 8 28,57

  b. Rp 500.000,00 – Rp 1.000.000,00 9 32,14

  c. Rp 1.000.000,00 – Rp 1.500.000,00 5 17,85

  d. ≥Rp 1.500.000,00 6 21,42

  6. Status Perkawinan

  a. Masih lengkap, Kawin seagama 23 82,14

  b. Masih lengkap, Kawin campur 3 10,74

  c. Sudah janda/duda, Kawin seagama 1 3,57

  d. Sudah janda/duda, Kawin campur 1 3,57

  Pada tabel I, aspek yang terungkap adalah identitas responden yang terdiri dari jenis kelamin, usia, pendidikan terakhir, pekerjaan, pendapatan, dan status perkawinan. Peneliti menyebarkan kuesioner kepada 28 keluarga Katolik. Dari hasil penelitian, jenis kelamin responden menunjukkan bahwa 57,14% adalah pria dan 42,85% adalah wanita. Dari segi usia, orangtua di Lingkungan St Monika yang memiliki usia 21-25 tahun sebanyak 3,57%, orangtua yang memiliki usia 26-30 tahun sebanyak 14,28%, dan orangtua yang memiliki usia 31 tahun ke atas sebanyak 82,14%. Situasi orangtua dari segi tingkat pendidikan dapat dilihat bahwa 10,74% berpendidikan SD, 17,85% berpendidikan SMP, 42,85% berpendidikan SMA, dan 28,57% berpendidikan Sarjana.

  Dilihat dari jenis pekerjaan orangtua di lingkungan St Monika yang menyatakan bekerja sebagai pegawai negeri sebanyak 32,14%, petani sebanyak 7,14%, wiraswasta sebanyak 50%, karyawan swasta sebanyak 10,74%. Dilihat dari segi tingkat ekonomi/pendapatan perbulan orangtua,yang memiliki penghasilan kurang dari atau sama dengan Rp 500.000,00 sebanyak 28,57%, yang memiliki penghasilan berkisar Rp 500.000,00 – Rp 1.000.000,00 sebanyak 32,14%, yang memiliki penghasilan berkisar Rp 1.000.000,00 –Rp 1.500.000,00 sebanyak 17,85%, dan yang berpenghasilan lebih dari Rp 1.500.000,00 sebanyak 21,42%. Status perkawinan orang tua di lingkungan St Monika pada saat ini menunjukkan bahwa status perkawinan masih lengkap dan kawin seagama sebanyak 82,14%, masih lengkap tetapi kawin campur sebanyak 10,74%, duda kawin seagama sebanyak

  

Tabel II

Kebiasaan-kebiasaan yang Dilakukan Orangtua Dalam Pendidikan Iman Anak

(N: 28)

  1 7,14

  25

  10. Kebiasaan Bapak/ibu dalam kebersamaan dengan anak-anak bercerita tentang kisah orang-orang kudus

  a. Sering

  b. Kadang-kadang

  c. Tidak pernah d. Lain-lain……………….

  2

  11

  14

  39,28

  18

  50 3,57

  11. Keterlibatan bapak/ibu mengikuti kegiatan doa lingkungan a. Sering

  b. Kadang-kadang

  c. Tidak pernah d. Lain-lain………………..

  11

  8

  9 39,28 28,57 32,14

  12. Kegiatan mengisi waktu luang bersama anak-anak

  7 10,74 64,28

  3

  No Aspek Yang Terungkap Jumlah %

  8. Kebiasaan Bapak/ibu membaca Kitab Suci bersama anak a. Sering

  7. Kebiasaan Bapak/ibu mengajak anak ke Gereja untuk perayaan Ekaristi a. Sering

  b. Kadang-kadang

  c. Tidak pernah karena pergi sendiri bersama teman –temannya d. Lain-lain…………………

  11

  12

  3

  2 39,28 42,85 10,74

  7,14

  b. Tidak pernah

  c. Kadang-kadang d. Lain-lain………………….

  c. Kadang-kadang

  d. Lain-lain………………

  3

  15

  8

  2 10,74 53,57 28,57

  7,14

  9. Kebiasaan bapak/ibu mengajak anak berdoa bersama a. Sering

  b. Tidak pernah

  a. Memperkenalkan lambang-lambang seperti salib, gambar orang kudus, patung orang kudus, 4 14,28

  Rosario.

  b. Wisata rohani (Ziarah ke Gua Maria) 1 3,57

  c. Di rumah saja 23 82,14

  d. Lain-lain………………

  13. Keterlibatan bapak /ibu dalam doa di keluarga

  a. Selalu 3 10,74

  b. Sering 18 64,28

  c. Kadang-kadang 3 10,74

  d. Tidak pernah 4 14,28

  14. Pemanfaatan waktu khusus untuk membaca dan membahas Kitab Suci a. Selalu

  2 7,14

  b. Sering 1 3,57

  c. Kadang-kadang

  14

  50

  d. Tidak pernah 11 39,28

  15. Mengikuti perayaan Ekaristi setiap hari Minggu

  a. Selalu 10 35,71

  b. Sering 8 28,57

  c. Kadang-kadang 10 35,71

  d. Tidak pernah

  16. Keterlibatan bapak /ibu dalam kegiatan koor di lingkungan a. Selalu

  2 7,14

  b. Sering 5 17,85

  c. Kadang-kadang

  7

  25

  d. Tidak pernah

  14

  50

  17 Keterlibatan bapak/ibu dalam kegiatan kemasyarakatan a. Selalu

  3 10,74

  b. Sering 9 32,14

  c. Kadang-kadang 13 46,42

  d. Tidak pernah 3 10,74 Pada tabel II, jumlah responden yang menyatakan bahwa bapak/ibu sering memiliki kebiasaan mengajak anak ke gereja untuk merayakan Ekaristi sebanyak

  39,28%, yang menyatakan kadang-kadang memiliki kebiasaan mengajak anak ke gereja untuk merayakan Ekaristi ada 42,85%, sementara yang menyatakan tidak pernah memiliki kebiasaan mengajak anak ke gereja untuk merayakan Ekaristi karena pergi sendiri bersama teman-temannya ada 10,74%, dan yang menyatakan lain yaitu selalu mengajak dan menyatakan tidak perlu karena anak sudah dewasa sebanyak 7,14%. Jumlah responden yang menyatakan bahwa sering memiliki kebiasaan membaca kitab Suci bersama anak sebanyak 10,74%, yang menyatakan kadang- kadang memiliki kebiasaan membaca kitab Suci bersama anak sebanyak 28,57%, yang menyatakan tidak pernah memiliki kebiasaan membaca kitab Suci bersama anak sebanyak 53,57%, dan yang menyatakan lain yaitu membaca sendiri karena anak sudah besar sebanyak 7,14%.

  Jumlah responden yang menyatakan bahwa sering memiliki kebiasaan mengajak anak berdoa bersama sebanyak 10,74%, yang menyatakan kadang-kadang memiliki kebiasaan mengajak anak berdoa bersama sebanyak 25%, dan yang menyatakan tidak pernah memiliki kebiasaan mengajak anak berdoa bersama sebanyak 64,28%. Jumlah responden yang menyatakan bahwa sering memiliki kebiasaan bersama dengan anak bercerita tentang kisah orang kudus sebanyak 7,14%, yang menyatakan kadang-kadang memiliki kebiasaan bersama dengan anak bercerita tentang kisah orang kudus sebanyak 39,28%, yang menyatakan tidak pernah memiliki kebiasaan bersama dengan anak bercerita tentang kisah orang kudus sebanyak 50%, dan yang menyatakan lain yaitu tidak perlu karena anak sudah dewasa sebanyak 3,57%.

  Jumlah responden yang menyatakan bahwa sering mengikuti kegiatan doa lingkungan sebanyak 39,28%, yang menyatakan kadang-kadang mengikuti kegiatan kegiatan doa lingkungan sebanyak 32,14%. Jumlah responden yang menyatakan bahwa kegiatan mengisi waktu luang bersama anak adalah memperkenalkan lambang-lambang seperti salib, gambar orang kudus, patung orang kudus dan Rosario sebanyak 14,28%, yang menyatakan kegiatan mengisi waktu luang bersama anak adalah wisata rohani (ziarah ke gua Maria) sebanyak 3,57%, sementara yang menyatakan kegiatan mengisi waktu luang bersama anak adalah di rumah saja sebanyak 82,14%.

  Jumlah responden yang menyatakan bahwa selalu memiliki keterlibatan doa (menciptakan doa) dalam keluarga sebanyak 10,74%, yang menyatakan sering memiliki keterlibatan doa (menciptakan doa) dalam keluarga sebanyak 64,28%, dan yang menyatakan kdang-kadang memiliki keterlibatan doa (menciptakan doa) dalam keluarga sebanyak 10,74%, sementara yang menyatakan tidak pernah memiliki keterlibatan doa (menciptakan doa) dalam keluarga sebanyak 14,28%. Jumlah responden yang menyatakan bahwa selalu menyediakan waktu khusus untuk membaca dan membahas Kitab Suci sebanyak 7,14, yang menyatakan sering menyediakan waktu khusus untuk membaca dan membahas Kitab Suci sebanyak 3,57%, dan yang menyatakan kadang-kadang menyediakan waktu khusus untuk membaca dan membahas Kitab Suci sebanyak 50%, sementara yang menyatakan tidak pernah menyediakan waktu khusus untuk membaca dan membahas Kitab Suci sebanyak 39,28%

  Jumlah responden yang menyatakan bahwa selalu mengikuti perayaan perayaan Ekaristi setiap hari Minggu sebanyak 28,57%, yang menyatakan kadang- kadang mengikuti perayaan Ekaristi setiap hari Minggu sebanyak 35,71% dan yang menyatakan tidak pernah mengikuti perayaan Ekaristi setiap hari Minggu sebanyak 0%. Jumlah responden yang menyatakan bahwa selalu mengikuti kegiatan koor di lingkungan sebanyak 7,14%, yang menyatakan sering mengikuti kegiatan koor di lingkungan sebanyak 17,85% yang menyatakan kadang-kadang mengikuti kegiatan koor di lingkungan sebanyak 25%, sementara yang menyatakan tidak pernah mengikuti kegiatan koor di lingkungan sebanyak 50%. Jumlah responden yang menyatakan bahwa selalu ikut terlibat dalam kegiatan kemasyarakatan sebanyak 10,74%, yang menyatakan sering ikut terlibat dalam kegiatan kemasyarakatan sebanyak 32,14%, yang menyatakan kadang-kadang ikut terlibat dalam kegiatan kemasyarakatan sebanyak 46,42%, sementara yang menyatakan tidak pernah ikut terlibat dalam kegiatan kemasyarakatan sebanyak 10,74%.

  

Tabel III

Pengetahuan Orang tua Tentang Pendidikan Iman Anak (N: 28)

  No Aspek Yang Terungkap Jumlah %

  18. Penanggung jawab utama pendidikan iman anak

  a. Orang tua 25 89,28

  b. Guru/sekolah 1 3,57

  c. Gereja d. Lan-lain…………………. 2 7,14

  19. Tanggung jawab terpenting orangtua dalam keluarga a. Membesarkan anak 2 7,14

  b. Memberi makan dan kebutuhan hidup 2 7,14 c. Menanamkan nilai-nilai Kristiani 8 28,57

  d. Mendampingi anak-anak sampai mandiri 16 57,14

  20. Perhatian Orangtua terhadap tahap-tahap perkembangan Iman anak a. Kurang memperhatikan 6 21,42

  b. Memperhatikan 17 60,71

  c. Kadang-kadang 5 17,85 d. Lain-lain.....................

  21. Tujuan pendidikan iman anak

  a. Anak menjadi orang yang bertaqwa dan 11 39,28 beribadat b. Anak menjadi aktif dalam kegiatan hidup 4 14,28 menggereja c. Anak mampu mandiri serta dapat diteladani 11 39,28

  d. Lain-lain……………… 2 7,14

  22. Pendapat orang tua tentang maksud pendidikan iman anak a. Memperkenalkan Yesus pada anak menuju 5 17,85 persekutuan hidup bersamanya.

  b. Orang tua terlibat langsung dalam 2 7,14 perkembangan iman anak c. Agar anak teguh dalam iman dan meneladani 20 71,42 hidup Yesus.

  d. Lain-lain..................... 1 3,57

  23. Megajak anak ke gereja merupakan

  a. Kebutuhan 3 10,74

  b. Pendidikan iman anak 17 60,71

  c. Kewajiban sebagai orang tua 8 28,57

  d. Lain-lain………………… Pada tabel III, aspek yang terungkap adalah pengetahuan orangtua tentang pendidikan iman anak. Jumlah responden yang menyatakan bahwa pendidikan iman anak merupakan tanggung jawab orangtua sebanyak 89,28%, dan 3,57% menyatakan bahwa pendidikan iman anak merupakan tanggung jawab guru/sekolah, yang menyatakan bahwa pendidikan iman anak merupakan tanggung jawab Gereja sebanyak 0%, sementara ada 7,14 % menyatakan bahwa pendidikan iman anak merupakan tanggungjawab orangtua dan guru/sekolah. Jumlah responden yang menyatakan bahwa tugas dan tanggungjawab orangtua dalam keluarga adalah membesarkan anak sebanyak 7,14%, dan yang menyatakan bahwa tugas dan tanggungjawab orangtua dalam keluarga adalah memberi makan dan kebutuhan hidup sebanyak 7,14%, yang menyatakan bahwa tugas dan tanggungjawab orangtua dalam keluarga adalah menanamkan nilai-nilai Kristiani sebanyak 28,57%, dan yang menyatakan bahwa tugas dan tanggungjawab orangtua dalam keluarga adalah mendampingi anak-anak sampai mandiri sebanyak 57,14%.

  Jumlah responden yang menyatakan bahwa bapak/ibu kurang memperhatikan tahap-tahap perkembangan iman dalam memberikan pendidikan iman anak sebanyak 21,42%, sementara yang menyatakan bahwa bapak/ibu memperhatikan tahap-tahap perkembangan iman dalam memberikan pendidikan iman anak sebanyak 60,71%, dan 17,85% yang menyatakan bahwa bapak/ibu hanya kadang-kadang memperhatikan tahap-tahap perkembangan iman dalam memberikan pendidikan iman anak. Jumlah responden yang menyatakan bahwa tujuan pendidikan iman anak adalah menjadi orang yang bertagwa dan beribadat sebanyak 39,28%, dan yang menyatakan bahwa tujuan pendidikan iman anak adalah anak menjadi aktif dalam kegiatan hidup menggereja sebanyak 14,28%, sementara yang menyatakan bahwa tujuan pendidikan iman anak adalah anak mampu mandiri serta dapat diteladani sebanyak 39,28% dan yang menyatakan bahwa tujuan pendidikan iman anak mencakup ketiga-tiganya sebanyak 7,14%.

  Jumlah responden yang menyatakan bahwa maksud diadakannya pendidikan iman anak adalah memperkenalkan Yesus pada anak menuju persekutuan hidup bersamaNya sebanyak 17,85%, dan yang menyatakan bahwa maksud diadakannya pendidikan iman anak adalah orangtua terlibat langsung dalam perkembangan iman anak sebanyak 7,14%, yang menyatakan bahwa maksud diadakannya pendidikan iman anak adalah agar anak teguh dalam iman dan meneladani hidup Yesus sebanyak 71,42%, sementara yang menyatakan bahwa maksud diadakannya pendidikan iman anak menyangkut ketiga-tiganya sebanyak 3,57%. Jumlah responden yang menyatakan bahwa mengajak anak kegereja merupakan kebutuhan sebanyak 10,74%, yang menyatakan bahwa mengajak anak kegereja merupakan pendidikan iman anak sebanyak 60,71%, dan yang menyatakan bahwa mengajak anak kegereja merupakan kewajiban sebagai orangtua sebanyak 28,57%.

  

Tabel IV

Kesulitan-kesulitan yang berkaitan dalam pelaksanaan pendidikan iman Anak

(N: 28)

  No Aspek Yang Terungkap Jumlah %

  24. Permasalahan yang dihadapi orang tua dalam mendidik iman anak a. Terlalu sibuk bekerja 4 14,28

  b. Kurangnya waktu kebersamaan dengan anak 6 21,42

  c. Kurangnya pengetahuan iman 12 42,85 d. Lain-lain…………….. 6 21,42

  25. Penyebab macetnya komunikasi dalam keluarga

  a. Salah satu anggota ada yang meninggalkan 2 7,14 imannya b. Tidak ada keterbukaan dalam keluarga 17 60,71

  c. Hubungan antara bapak-ibu kurang harmonis 2 7,14 d. Lain-lain…………….

  7

  25

  26. Permasalahan anak yang biasa dihadapi bapak-ibu dalam mengaktifkan mereka a. Anak-anak nakal

  b. terlalu banyak bermain 11 39,28

  c. Anak merasa tidak ada teman 9 32,14

  d. Lain-lain…………… 8 28,57 Pada tabel IV membahas mengenai kesulitan-kesulitan yang berkaitan dalam pelaksanaan pendidikan iman anak. Jumlah responden yang menyatakan bahwa permasalahan yang dihadapi orangtua dalam mendidik iman anak karena terlalu sibuk bekerja sebanyak 14,28%, yang menyatakan bahwa permasalahan yang dihadapi orangtua dalam mendidik iman anak karena kurangnya waktu kebersamaan dengan anak sebanyak 21,42%, yang menyatakan bahwa permasalahan yang dihadapi orangtua dalam mendidik iman anak yaitu karena kurangnya pengetahuan iman sebanyak 42,85%, sementara ada 21,42% menyatakan bahwa orangtua tidak menghadapi kesulitan dalam mendidik iman anak.

  Jumlah responden yang menyatakan bahwa penyebab macetnya komunikasi dalam keluarga adalah salah satu anggota ada yang meninggalkan imannya sebanyak 7,14%, yang menyatakan bahwa penyebab macetnya komunikasi dalam keluarga adalah tidak ada keterbukaan dalam keluarga sebanyak 60,71%, dan yang menyatakan bahwa penyebab macetnya komunikasi dalam keluarga karena hubungan antara bapak-ibu kurang harmonis sebanyak 7,14%, sementara ada yang menyatakan tidak mengalami kemacetan komunikasi dalam keluarga sebanyak 25%. Jumlah responden yang menyatakan bahwa permasalahan anak yang biasa dihadapi bapak/ibu dalam mengaktifkan mereka adalah anak-anak nakal sebanyak 0%, yang menyatakan bahwa permasalahan anak yang biasa dihadapi bapak/ibu dalam mengaktifkan mereka adalah anak terlalu banyak bermain sebanyak 39,28%, yang menyatakan bahwa permasalahan anak yang biasa dihadapi bapak/ibu dalam mengaktifkan mereka adalah anak merasa tidak ada teman sebanyak 32,14%, sementara ada 28,57% yang menyatakan bahwa permasalahan anak yang biasa dihadapi bapak/ibu dalam mengaktifkan mereka adalah anak memiliki berbagai kesibukan, ada yang beralasan capek atau malas, tetapi ada juga yang ditemui tidak ada permasalahan

  

Tabel V

Faktor-faktor Pendukung dalam Pelaksanaan Pendidikan Iman Anak (N: 28)

  No Aspek Yang Terungkap Jumlah %

  27. Faktor yang paling mendukung dalam pelaksanaan pendidikan iman anak a. Tersedianya buku doa dan majalah katolik

  b. Adanya waktu untuk berkumpul bersama keluarga c. Adanya kunjungan pastor d. Lain-lain......................

  9

  17

  2 32,14 60,71

  7,14

  28. Faktor pendukung dalam pendidikan iman anak yang baik dan efektif oleh orang tua a. Wawasan yang luas

  b. Pengalaman yang banyak

  c. Sikap dan keteladan hidup orangtua yang sesuai dengan ajaran kristiani d. Lain-lain..................

  2

  26 7,14

  92,85

  29. Faktor yang mendorong orangtua dalam memberikan pendidikan iman bagi anak-anaknya.

  a. Menyadari peran sebagai orang tua kristiani

  14

  50

  b. Memberi kesempatan kepada anak untuk ikut 4 14,28 kegiatan rohani di gereja c. Keinginan orangtua agar anak setia terhadap 8 28,57 agama yang dianutnya d. Lain-lain……………… 2 7,14%

  30. Situasi keluarga yang sangat mendukung dalam mendampingi iman anak a. Ada kerjasama dalam anggota keluarga 5 17,85

  b. Saling menghormati satu sama lain 3 10,74

  c. Aman, tenang, damai dan tidak ada pertentangan

  14

  50 d. Saling mengingatkan satu sama lain. 6 21,42 Pada tabel V membahas mengenai faktor-faktor pendukung dalam pelaksanaan pendidikan iman anak. Jumlah responden yang menyatakan bahwa faktor yang paling mendukung dalam pelaksanaan pendidikan iman anak adalah tersedianya buku doa dan majalah katolik sebanyak 32,14%, dan yang menyatakan bahwa faktor yang paling mendukung dalam pelaksanaan pendidikan iman anak adalah adanya waktu untuk berkumpul bersama keluarga sebanyak 60,71%, sementara ada yang menyatakan bahwa faktor yang paling mendukung dalam pelaksanaan pendidikan iman anak adalah adanya kunjungan pastor sebanyak 7,14%.

  Jumlah responden yang menyatakan bahwa faktor pendukung pendidikan iman anak yang baik dan efektif adalah memiliki wawasan yang luas sebanyak 7,14%, yang menyatakan bahwa faktor pendukung pendidikan iman anak yang baik dan efektif adalah pengalaman yang banyak sebanyak 0% dan yang menyatakan bahwa faktor pendukung pendidikan iman anak yang baik dan efektif adalah sikap dan teladan hidup orangtua yang sesuai dengan ajaran kristiani sebanyak 92,85%.

  Jumlah responden yang menyatakan bahwa faktor yang mendorong orangtua dalam memberikan pendidikan iman bagi anak-anaknya adalah menyadari peran sebagai orangtua kristiani sebanyak 50%, yang menyatakan bahwa faktor yang mendorong orangtua dalam memberikan pendidikan iman bagi anak-anaknya adalah memberi kesempatan kepada anak untuk ikut kegiatan rohani di gereja sebanyak 14,28%, yang menyatakan bahwa faktor yang mendorong orangtua dalam memberikan pendidikan iman bagi anak-anaknya adalah keinginan orangtua agar anak setia terhadap agama yang dianutnya sebanyak 28,57%, sementara ada 7,14% yang menyatakan lain-lain yaitu ketiga-tiganya merupakan faktor pendorong, agar anak dapat hidup sesuai dengan teladan Yesus. Jumlah responden yang menyatakan bahwa situasi keluarga yang paling mendukung dalam mendampingi iman anak adalah ada kerjasama dalam anggota keluarga sebanyak 17,85%, yang menyatakan bahwa situasi keluarga yang paling mendukung dalam mendampingi iman anak adalah saling menghormati satu sama lain sebanyak 10,74%, yang menyatakan bahwa situasi keluarga yang paling mendukung dalam mendampingi iman anak adalah aman, tenang, damai dan tidak ada pertentangan sebanyak 50%, sementara yang menyatakan bahwa situasi keluarga yang paling mendukung dalam mendampingi iman anak adalah saling mengingatkan satu sama lain sebanyak 21,42%.

C. Pembahasan Hasil Penelitian

1. Identitas responden

  (82,14%) pada umumnya diatas 31 tahun. Sedangkan usia yang terendah (3,57%) adalah 21-25 tahun. Data ini menunjukkan bahwa para orangtua yang mengisi kuesioner bervariasi usianya dari keluarga muda sampai yang sudah lama hidup dalam perkawinan. Dilihat dari usia, para orangtua pada umumnya sudah matang dalam pengalaman hidup, sehingga mereka mampu mendidik dan memikirkan perkembangan anak-anak, berpeluang untuk melakukan pendidikan iman anak.

  Tingkat pendidikan orangtua di lingkungan St. Monika sebagian besar (42,85%) sudah menyelesaikan tingkat SMA, sedangkan sebagian kecil orangtua (10,74%) berpendidikan SD. Dari data yang ada menunjukkan bahwa mereka tergolong masyarakat yang berpendidikan, minimal sampai tingkat SD. Tingkat pendidikan, wawasan dan kemampuan orangtua dapat menjadi peluang bagi berlangsungnya pendidikan iman anak dalam keluarga.

  Dari segi mata pencaharian, kebanyakan responden sudah memiliki pekerjaan yang tetap sebagai wiraswaasta (50%) dan sebagian kecil bekerja sebagai petani yaitu 7,14%. Berdasarkan aspek yang terungkap dari hasil penelitian ini, penulis berpendapat bahwa orangtua Kristiani di lingkungan St Monika mayoritas bekerja sebagai wiraswasta. Dari jenis pekerjaan responden, penulis berpendapat bahwa pada umumnya mereka sudah dapat hidup secara layak. Sebab kesetabilan ekonomi keluarga menjadi salah satu faktor yang ikut menentukan kebahagiaan keluarga (Hadisubroto, 1990: 16).

  Tingkat ekonomi/pendapatan responden perbulan, hasil penelitian menjawab berkisar antara Rp 500.000,00 – Rp 1.000.000,00. Hal ini menunjukkan bahwa para orangtua di Lingkungan St Monika memiliki penghasilan yang tetap setiap bulannya karena ketekunan dan semangat kerja keras para orangtua. Kesibukan pekerjaan sungguh banyak menyita waktu, sehingga kurang ada kesempatan untuk berkumpul bersama dalam keluarga, sehingga berpengaruh pada kurangnya perhatian orangtua terhadap pendidikan iman bagi anak-anaknya.

  Dilihat dari data hasil penelitian menunjukkan bahwa status perkawinan di lingkungan St Monika bervariasi. Sebagian besar responden menyatakan status perkawinan mereka kawin seagama dan masih lengkap yaitu sebanyak 82,14%. Hal inilah yang sangat mendukung dalam pendidikan iman anak di keluarga.

  

2. Kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan orangtua dalam rangka mendidik iman

anak

  Dari tabel II, apa yang dilakukan orangtua terhadap anak ternyata kurang selaras dengan kesadaran mereka akan tanggung jawab dalam mendidik karena sebagian besar orangtua hanya kadang-kadang memiliki kebiasaan mengajak anak pergi ke gereja bersama untuk merayakan Ekaristi (42,85%). Pada hakekatnya kebiasaaan ini membuat anak terbantu untuk belajar mengungkapkan iman secara bersama dan sekaligus memperdalam iman pribadi. Dalam mengusahakan pendidikan iman anak selanjutnya, orangtua perlu menanamkan iman di tengah keluarga melalui kegiatan-kegiatan keagamaan dan sarana yang mendukung (Zanzucchi, 1995: 51-52). Suci, Hal ini perlu karena membantu anak –anak untuk semakin mengenal Allah Bapa terutama lewat kisah-kisah yang ada serta tokoh-tokohnya. Dengan demikian anak dapat menemukan Allah yang melalui Yesus menjumpai manusia, berjalan dengan manusia dan terlibat dengan sejarah manusia. Dengan kebiasaan membaca Kitab Suci anak dapat memahami karya Allah melalui peristiwa hidup mereka sehari- hari. Data memperlihatkan bahwa orangtua kurang terbiasa membaca Kitab Suci bersama-sama dengan anak, bahkan mereka tidak memiliki kebiasaan membaca Kitab Suci bersama anak (53,57%). Hal ini menunjukkan bahwa orangtua belum akrab dengan Kitab Suci. Padahal kebiasaan membaca Kitab Suci dapat mempermudah orangtua mendidik iman anak, sebab dengan membaca Kitab Suci berarti orangtua berusaha untuk merenungkan jawaban iman akan sabda Allah itu. Iman kita mempunyai hikmah dalam hidup di zaman sekarang (Heuken, 1979:25). Dengan demikian orangtua dapat mendidik anak sehingga mereka dapat hidup dalam perkembangan zaman saat ini berdasarkan nilai iman Kristiani.

  Masalah kebiasaan berdoa orangtua dapat memberi perhatian pada anak-anak dengan membiasakan mereka mengikuti doa bersama dalam keluarga guna membantu penanaman nilai-nilai iman dalam diri anak. Heuken (1979: 18), mengatakan bahwa orang Kristiani mempunyai banyak kesempatan untuk berdoa, misalnya doa pagi, doa malam, doa sebelum dan sesudah makan, merupakan kesempatan paling baik untuk berdoa bersama, walau hanya doa singkat dapat digunakan sewaktu seluruh keluarga berkumpul. Dalam doa bersama setiap anggota keluarga dapat saling mendoakan. anggota keluarga. Dari data yang diperoleh sekitar 64,28% dari mereka tidak pernah memiliki kebiasaan mengajak anak berdoa bersama.

  Seperti yang telah disebutkan di atas ada beberapa kebiasaan yang belum sepenuhnya dihidupi oleh orangtua dalam pendidikan iman anak, seperti membaca Kitab Suci bersama anak-anak, dan berdoa bersama. Hal lain yang juga belum sepenuhnya dihidupi oleh orangtua adalah bercerita tentang kisah orang-orang kudus.

  Dari data ini menunjukkan bahwa orangtua juga tidak pernah memiliki kebiasaan dalam kebersamaan dengan anak berceritera tentang kisah orang kudus (50%).

  Kebiasaan bercerita tentang kisah orang-orang kudus kepada anak-anak, akan sangat membantu orangtua dalam proses pendidikan iman anak. Dalam hidupnya anak-anak membutuhkan tokoh/teladan sebagai panutan untuk hidupnya (Zanzucchi, 1999: 46). Orangtua dapat menjadikan Santo-santa sebagai teladan bagi anak-anak.

  Sebagai orang beriman yang hidup di tengah-tengah masyarakat, selain membiasakan doa dalam keluarga juga perlu aktif dalam kegiatan doa di lingkungan.

  Dalam hal mengikuti kegiatan doa di lingkungan 39,28% orangtua menyatakan sering mengikuti kegiatan tersebut, sedangkan 10,74% orangtua hanya kadang-kadang mengikuti kegiatan doa di lingkungan. Berdasarkan data yang diperoleh menunjukkan bahwa orangtua cukup menyadari bahwa mereka merupakan bagian dari anggota Gereja yang tidak terlepas dari ikatan persatuan yang ada di lingkungan. Dengan demikian mereka turut bertanggung jawab untuk ikut ambil bagian dalam kegiatan sesuai apa yang telah mereka sepakati bersama. Mereka dapat berkembang perkembangan iman. Pentinglah anak-anak dapat berkembang dalam iman melalui kesaksian dan teladan hidup orangtua (Hadiwiratno, 1994: 50).

  Dalam mengisi waktu luang bersama anak-anak, orangtua biasanya (82,14%) tinggal di rumah saja untuk istirahat, karena tabel I menggambarkan orangtua pada umumnya sibuk bekerja sebagai wiraswasta, namun ada sebagian kecil dari mereka yang sempat mengajak anaknya pergi wisata rohani (3,57%). Data ini menunjukkan bahwa pada umumnya orangtua tidak mempunyai waktu untuk santai bersama dengan anak-anaknya. Orangtua lebih memilih tinggal dirumah jika ada waktu luang.

  Hal ini menunjukkan bahwa kebiasaan mengisi waktu luang, sebagian besar orangtua belum menyadari sebagai kesempatan untuk mendidik anak-anaknya, padahal waktu luang yang dimanfaatkan dengan baik dapat membantu anak untuk mengembangkan kepribadian dan iman mereka bersama keluarga. Kesaksian Anne Marie Zanzucchi (1999: 28-29) menjelaskan bahwa rekreasi bersama anak menciptakan kebahagiaan bersama, juga menanamkan perasaan syukur atas keagungan Tuhan. Kesan dalam perjalanan sewaktu rekreasi keluarga itu juga mempunyai nilai-nilai keutamaan dalam diri anak.

  Hidup doa sungguh menjadi suatu kebutuhan setiap orang, hal ini juga terlihat dari data hasil penelitian di Lingkungan St Monika yang menunjukkan 64,28% mayoritas para orangtua di lingkungan St monika sering menciptakan doa di keluarga masing-masing. Hal ini menunjukkan bahwa para orangtua sudah memiliki kesadaran arti pentingnya doa dalam keluarga. Pada hakikatnya doa merupakan perjumpaan dari cinta manusia kepada Allah yaitu bahwa manusia memiliki suatu kerinduan untuk hidup dalam hadirat Allah. Yang terpenting ialah melaksanakan dengan penuh cinta kehendak Allah. Mengenal, mencinta, dan melaksanakan kehendak Allah merupakan pokok hidup iman, harapan dan cinta.

  Selain menciptakan doa dalam keluarga, secara pribadi para orangtua perlu menyediakan waktu khusus untuk membaca dan membahas Kitab Suci karena peran orangtua sebagai pendidik iman tidak hanya sebatas pada pengajaran melalui kata- kata, tetapi juga melalui keteladanan hidup sehari-hari . Hasil penelitian menunjukkan bahwa orangtua di lingkungan St Monika sebagian besar hanya kadang-kadang menyediakan waktu khusus untuk membaca dan membahas Kitab Suci (50%), bahkan hanya sebagian kecil saja yang menyediakan waktu khusus untuk membaca dan membahas Kitab Suci (7,14%). Hal ini terjadi karena mereka terbentur oleh kesibukan pekerjaan dan kurangnya pengetahuan iman.

  Bagi jemaat beriman kristiani hari Minggu merupakan hari Tuhan, yang mana pokok ibadat hari Minggu adalah perayaan Ekaristi. Dalam Kan. 1247 dikatakan bahwa pada hari Minggu dan hari-hari wajib lainnya orang beriman wajib untuk ambil bagian dalam misa, selain itu hendaknya tidak melakukan pekerjaan dan urusan–urusan yang merintangi ibadat yang harus dipersembahkan kepada Allah atau merintangi kegembiraan hari Tuhan atau istirahat yang dibutuhkan bagi jiwa dan raga. Kewajiban menghormati hari Minggu merupakan kebiasaan dan kesadaran umat Katolik mengenai kehidupan bersama sebagai jemaat. Kebiasaan ini juga sudah menunjukkan bahwa sebagian besar umat khususnya para orangtua di lingkungan St. Monika selalu mengikuti perayaan Ekaristi setiap hari Minggu (35,71%). Perayaan Ekaristi merupakan perjamuan kasih Tuhan. Pembagian roti melambangkan Kristus yang rela membagikan diri-Nya demi keselamatan manusia dan memanggil manusia untuk rela pula membagikan dirinya demi keselamatan sesama manusia seperti diri- Nya. Dengan menyambut Tubuh Kristus (komuni), kita bersatu secara nyata dengan Tuhan sendiri. Perayaan Ekaristi adalah perayaan syukur atas karya keselamatan Allah yang terlaksana melalui Yesus Kristus. Kehadiran Kristus dalam Ekaristi tetap dan tidak hanya dibatasi selama perayaan berlangsung.

  Kegiatan koor di gereja merupakan tanggung jawab semua umat, namun para orangtua di lingkungan St Monika kurang memiliki kesadaran bahwa koor di Gereja merupakan kebutuhan dan tanggung jawab bersama hal ini terlihat dari kurang keterlibatan bahkan tidak pernah terlibat dalam koor di lingkungan (50%) dengan berbagai macam alasan misalnya tidak ada waktu karena sibuk bekerja, merasa kurang memiliki kemampuan dalam menyanyi, capek karena aktifitas selama sehari, dll.

  Keterlibatan orangtua dalam kegiatan di lingkungan juga mendukung dalam pendidikan iman anak. Orangtua juga perlu memperkembangkan imannya sendiri dengan ikut ambil bagian dalam kegiatan yang ada di lingkungan. Para orangtua di lingkungan St Monika sudah cukup memiliki kesadaran dalam mengikuti kegiatan lingkungan. Hal ini dapat dilihat dari data yang menunjukkan bahwa 46,42% responden yang belum secara aktif terlibat dalam kegiatan di lingkungan

3. Pengetahuan orangtua tentang pendidikan iman anak

  Berdasarkan hasil penelitian 89,28% responden menjawab bahwa pendidikan iman anak merupakan tanggung jawab orangtua, dan 3,57% responden mengatakan bahwa tugas mendidik dilimpahkan pada guru/sekolah. Dengan demikian orangtua di lingkungan St Monika telah menyadari bahwa mereka mempunyai peran utama dalam mendidik, melindungi, memberi dukungan dan perhatian khusus kepada anak- anak sejak dini sesuai dengan tugas menyelenggarakan pendidikan yang pertama- tama adalah tanggungjawab keluarga (GE, art.3). Hal ini juga ditegaskan dalam FC

  

art 36 yaitu bahwa pendidikan orangtua terhadap anak adalah hal yang asali dan

  utama serta tak tergantikan dan tak teralihkan. Keterbatasan kemampuan orangtua dalam mendidik iman anak membuat orangtua melibatkan lembaga lain seperti sekolah, untuk membantu melengkapi apa yang belum diterima oleh anak dari keluarga.

  Data hasil penelitian, 57,14% responden menjawab bahwa tanggung jawab terpenting orangtua dalam keluarga adalah mendampingi anak-anak sampai mandiri, sementara 7,14% responden menjawab bahwa tugas terpenting orangtua adalah membesarkan anak dan memberi makan dan kebutuhan hidup. Berdasarkan aspek yang terungkap dari hasil penelitian tersebut secara umum dapat dikatakan bahwa orangtua kurang menyadari akan tanggung jawabnya mendidik dan jawab orangtua terhadap anak dalam keluarga, sesuai dengan Kitab Hukum Kanonik “Orangtua mempunyai kewajiban sangat berat dan hak primer untuk sekuat tenaga mengusahakan pendidikan anak, baik fisik, sosial, dan kultural maupun moral dan religius” (KHK, kan. 1136).

  Dari hasil penelitian, orangtua yang memperhatikan tahap-tahap perkembangan iman anak dalam memberikan pendidikan iman anak sebanyak 60,71%, sementara yang menyatakan kadang-kadang sebanyak 21,42%. Hal ini menunjukkan bahwa orangtua di lingkungan St Monika sebagian besar memperhatikan tahap-tahap pekembangan iman anak. Perkembangan anak dalam keluarga sangat menentukan perkembangan selanjutnya, baik yang bersifat jasmani, maupun rohani, keluarga merupakan dasar bagi perkembangan seseorang. Orangtua yang baik akan selalu memperhatikan iman anak-anaknya, baik secara langsung maupun tidak langsung. Perhatian orangtua secara khusus dapat menunjang perkembangan iman anak. Wujud perhatian terhadap perkembangan iman anak, melalui kebiasaan-kebiasaan dalam keluarga misalnya kebiasaan mengajak anak ke gereja. Namun kebiasaan tersebut belum dihidupi sebagaimana mestinya oleh orangtua di lingkungan St Monika.

  Hasil penelitian menunjukkan bahwa tujuan pendidikan iman anak oleh orangtua adalah anak menjadi orang yang bertagwa dan beribadat, selain itu anak mampu mandiri serta dapat diteladani masing-masing sebanyak 39,28%. Namun ada sebagian orangtua berpandangan bahwa selain pendidikan iman anak bertujuan agar diteladani, orangtua juga berpandangan bahwa pendidikan iman anak memiliki tujuan agar anak menjadi aktif dalam kegiatan hidup menggereja (mencakup tiga tujuan yang di sebutkan tadi) sebanyak 7,14%. Dari hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa orangtua sudah memiliki pemahaman mengenai tujuan pendidikan iman anak. Dengan demikian orangtua dalam memberikan pendidikan iman akan sesuai dengan arah dan tujuan yang hendak dicapai.

  Hasil penelitian menunjukkan bahwa maksud diadakannya pendidikan iman anak adalah agar anak teguh dalam iman dan meneladani hidup Yesus (71,42%).

  Sedangkan 3,57% menyatakan bahwa maksud pendidikan iman anak selain agar anak teguh dalam iman dan meneladani hidup Yesus juga memperkenalkan Yesus pada anak menuju persekutuan hidup bersamaNya. Hal itu dapat dilakukan melalui doa bersama dalam keluarga, mengikuti perayaaan Ekaristi bersama, membaca, bercerita dan merenungkan kisah Kitab Suci secara bersama dalam keluarga. Dan orangtua terlibat langsung dalam perkembangan Iman anak. Orangtua yang baik akan selalu memperhatikan perkembangan iman anak-anaknya, baik secara langsung maupun tidak langsung. Kebiasaan- kebiasaan religius dalam keluarga dapat menjadi wujud perhatian orangtua terhadap perkembangan iman anak-anak.

  Kebiaasan mengajak anak ke gereja, bagi para orangtua di Lingkungan St Monika merupakan pendidikan iman anak (60,71%). Kebiasaan tersebut juga merupakan bentuk perhatian orangtua terhadap perkembangan iman anak.

  Sedangkan 10,74% menyatakan bahwa mengajak anak ke gereja merupakan pemahaman bahwa kebiasaan mengajak anak ke gereja merupakan bentuk pendidikan iman anak, tetapi orangtua kurang menyadari bahwa kebiasaan tersebut juga merupakan suatu kebutuhan.

4. Kesulitan-kesulitan berkaitan dalam pelaksanaan pendidikan iman anak

  Berdasarkan hasil penelitian, kesulitan dalam mendidik iman anak disebabkan karena kurangnya pengetahuan iman dari orangtua (42,85%) dan juga ada yang menyatakan terlalu sibuk bekerja (14,28%). Dengan demikian data ini menunjukkan bahwa masalah pendidikan iman anak berasal dari kurangnya pengetahuan iman dari orangtua sehingga kesadaran mereka untuk mendidik iman anak dalam keluarga masih dangkal.

  Komunikasi dalam keluarga sering mengalami kemacetan karena tidak ada keterbukaan dalam keluarga (60,71%). Hal lain yang menyebabkan macetnya komunikasi dalam keluarga karena ada salah satu anggota yang meninggalkan imannya dan hubungan antara bapak-ibu kurang harmonis (7,14%). Data ini menunjukkan bahwa orangtua memiliki kesulitan dalam hal berkomunikasi dengan anak. Iman yang dihayati dalam hidup sehari-hari dapat diteguhkan, diperdalam melalui komunikasi satu sama lain (Albertine, 1983:25). Menurut penulis komunikasi merupakan faktor penting dalam pendidikan iman anak, karena melalui komunikasi yang baik antara orangtua dan anak akan tercipta suasana yang kondusif, sehingga orangtua dapat dengan terbuka membimbing, mengarahkan dan mengantar anak pada

  Berhadapan dengan masalah yang sering dihadapi orangtua dalam mengaktifkan anak-anak dalam kegiatan gerejani, 39,28% orangtua menjawab anak- anak terlalu banyak bermain, sedangkan 28,57% orangtua menjawab anak memiliki berbagai kesibukan, ada yang memiliki alasan karena capek atau malas. Data ini menunjukkan, bahwa orangtua sudah berusaha memberikan perhatian dengan memberikan nasehat namun belum semua anak dapat menerima dengan baik karena anak-anak masih terlalu bebas. Orangtua tidak tahu bagaimana cara mendidik iman anak, mereka membutuhkan kreativitas dalam mengarahkan anak-anak pada salah satu kegiatan, yang memungkinkan anak-anak tidak banyak bermain dan terpengaruh dengan lingkungan yang ada.

5. Faktor-faktor pendukung dalam pelaksanaan pendidikan iman anak

  Faktor pendukung dalam pelaksanaan pendidikan iman anak menurut para orangtua di Lingkungan St Monika adalah adanya waktu berkumpul bersama keluarga (60,71%). Kebersamaan dalam keluarga akan mempererat hubungan dalam keluarga sehingga dapat dijadikan medan untuk pembinaan iman anak. Keteladanan hidup orangtua sesuai ajaran kristiani juga penting bagi pendidikan iman anak (92,85%). Pendidikan iman anak yang baik bukan hanya sekedar teori tetapi melalui keteladanan orangtua sehingga pendidikan itu menjadi lebih konkrit. Sementara yang menyatakan bahwa faktor pendukung dalam pelaksanaan pendidikan iman anak adalah adanya kunjungan pastor dan faktor pendukung yang baik dan efektif penelitian faktor pendukung dalam pendidikan iman anak adalah .keteladanan hidup orangtua dan waktu berkumpul bersama keluarga.

  Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor yang mendorong orangtua dalam memberikan pendidikan iman bagi anak-anaknya adalah bahwa menyadari peran sebagai orangtua kristiani (50%), sementara 7,14% menyatakan bahwa selain menyadari peran sebagai orangtua kristiani juga memberi kesempatan kepada anak untuk ikut kegiatan rohani di gereja dan keinginan orangtua agar anak setia terhadap agama yang dianutnya.

  Berdasarkan hasil penelitian tersebut penulis dapat mengatakan bahwa sebagian besar para orangtua kristiani di lingkungan St Monika cukup menghayati dan melaksanakan janji perkawinan mereka. Suami istri pada saat mengucapkan janji perkawinan secara tersirat mengatakan bahwa mereka bersedia memberikan pendidikan iman sedini mungkin kepada anak-anak yang dipercayakan Tuhan kepada mereka.

  Suasana keluarga yang aman, tenang, dan tidak ada pertentangan dan penuh rasa kekeluargaan (50%) yaitu adanya keterbukaan dan adanya kerjasama satu sama lain sangat menunjang terjadinya pendampingan iman anak. Sementara 10, 74% menyatakan bahwa suasana keluarga yang saling menghormati satu sama lain juga mendukung dalam pendampingan iman anak. Di samping itu teladan hidup beriman orangtua melalui sikap dan tingkah laku mereka sehari-hari dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan iman anak. (LG, art. 11)

D. Kesimpulan Hasil Penelitian

  Berdasarkan penelitian, laporan dan pembahasan hasil penelitian mengenai peran kebiasaan religius orangtua bagi pendidikan iman anak dalam keluarga di Lingkungan St Monika Paroki Wates, penulis menyampaikan kesimpulan dari proses yang telah dilalui. Kesimpulan ini sekaligus menjawab apa yang menjadi tujuan dari penelitian.

  Dari hasil penelitian dapat disampaikan bahwa peran kebiasaan religius oragtua merupakan tindakan yang dilakukan secara berulang-ulang yang menyangkut hidup rohani orangtua dalam rangka mendidik iman anak dalam keluarga. Pendidikan iman anak yang diberikan orangtua dalam keluarga dapat melalui kebiasaan- kebiasaan yang dilakukan orangtua seperti kebiasaan mengajak anak berdoa bersama, kebiasaan mengajak anak untuk mengikuti perayaan Ekaristi, kebiasaan membaca dan mendengarkan Kitab Suci. Namun pada kenyataannya orangtua di Lingkungan St Monika belum sepenuhnya menghidupi kebiasaan-kebiasaan tersebut. Hal ini terlihat dari kurang adanya kebiasaan berdoa bersama dalam keluarga, tidak pernah ada kebiasaaan membaca dan membahas Kitab Suci dalam keluarga, dan hanya kadang- kadang saja mengikuti perayaan Ekaristi.

  Para orangtua di lingkungan St Monika telah mengetahui bahwa pendidikan iman anak adalah tugas dan tanggung jawab mereka yang pertama dan utama.

  Pendidikan iman anak secara khusus diartikan sebagai usaha orangtua untuk menciptakan situasi dan kondisi hidup beriman bagi anak sedemikian rupa, serta menunjukkan bahwa orangtua sudah memiliki pengetahuan yang cukup tentang pendidikan iman anak, tetapi pengetahuan itu kurang dihayati dan diwujudnyatakan dalam tindakan hidup sehari-hari.

  Pendidikan iman anak di lingkungan St Monika dapat berjalan dengan baik, berkat dukungan beberapa faktor diantaranya adalah adanya keteladanan hidup orangtua sesuai ajaran Kristiani. Pendidikan yang efektif adalah pendidikan yang langsung mengarah pada tindakan nyata bukan hanya sekedar teori, sehingga pendidikan tersebut lebih mengena. Faktor lain adalah adanya waktu untuk berkumpul bersama keluarga, menyadari peran sebagai orangtua Kristiani, suasana keluarga yang aman,tenang, damai, tidak ada pertentangan.

  Faktor yang menghambat dalam pendidikan iman anak di lingkungan St Monika, yaitu banyak orangtua yang tidak pernah mengajak anak-anak bersama untuk pergi ke Gereja, membaca Kitab Suci atau kisah orang Kudus, berdoa bersama, atau mengajak anak-anak bersantai untuk mengisi waktu luang dengan kegiatan rohani. Hal ini disebabkan karena kurangnya pengetahuan dan pemahaman orangtua tentang iman. Hambatan ini membuat orangtua sulit mewujudkan tanggungjawabnya menanamkan nilai-nilai Kristiani kepada anak-anak. Orangtua seharusnya menyadari bahwa tugas dan tanggungjawabnya menanamkan nilai-nilai Kristiani kepada anak.

BAB IV UPAYA MENINGKATKAN KEBIASAAN RELIGIUS ORANG TUA DEMI PENDIDIKAN IMAN ANAK DALAM KELUARGA MELALUI KATEKESE Bagi anak-anak pendidikan iman dalam keluarga merupakan pendidikan iman

  yang pertama dan utama. Orangtua yang menyadari perannya sebagai pendidik iman anak yang utama akan menciptakan iklim untuk terjadinya pendidikan iman anak.

  Pendidikan iman anak dalam keluarga dapat dilakukan melalui kebiasaan-kebiasan religius orangtua. Dalam rangka pendidikan iman anak kebiasaan religius orangtua menjadi model atau pemberi teladan bagi anak-anak mereka.

  Pada bab tiga, penulis melaporkan hasil penelitian tentang kebiasaan religius orangtua di lingkungan St. Monika Paroki Wates. Dalam laporan tersebut penulis mengungkapkan data bahwa ternyata kebiasaan-kebiasaan religius orangtua belum sepenuhnya dihidupi oleh setiap keluarga di lingkungan St. Monika Paroki Wates.

  Oleh karena itu kebiasaan religius perlu ditumbuhkembangkan di kalangan orangtua di lingkungan St. Monika Paroki Wates demi pendidikan iman anak.

  Pada bab IV ini penulis membuat usulan program katekese untuk orangtua, khususnya di lingkungan St. Monika Paroki Wates. Penulis berharap usulan program ini dapat membantu seksi pewartaan lingkungan St. Monika Paroki Wates untuk membantu para orangtua menyadari dan memberdayakan diri dalam upaya

  Ada tiga aspek usulan program yang hendak dikemukakan dalam bab IV ini, yaitu: pemikiran dasar (A), program katekese bagi orangtua di lingkungan St. Monika Paroki Wates (B) dan contoh persiapan katekese (C).

A. Pemikiran Dasar Program

  Sebagaimana telah di uraikan dalam bab II pendidikan iman anak (usia 0-12 tahun) dalam keluarga merupakan suatu pendidikan yang menciptakan iklim untuk

  

perubahan sikap, dan tata laku anak-anak dalam rangka mendewasakan

kepercayaannya pada Allah. Proses pendidikan itu meliputi pemberian teladan,

pembiasaan, latihan dan pengajaran. Orangtua bukan saja memberitahu tetapi juga

memberi contoh hidup, melatih dan membiasakan anak-anak menjalani kebiasaan

religius. Kebiasaan-kebiasaan religius yang dilakukan oleh orangtua di dalam

keluarganya menciptakan iklim yang kondusif bagi pendidikan iman anak sekaligus

menjadi model hidup beriman bagi anak-anak mereka.

  Kebiasaan religius orangtua sangat penting bagi pendidikan iman anak dalam keluarga. Kebiasaan religius orangtua merupakan penghayatan hidup keagamaan yang biasa dikerjakan oleh orangtua untuk mendorong hidup dalam kesalehan, kehidupan yang suci dan mengikuti perintah Tuhan. Dalam arti sempit kebiasaan religius menunjuk pada kebiasaan-kebiasaan bertalian dengan ungkapan khusus dari hubungan orang beriman dengan Tuhan. Ungkapan khusus ini tampak dalam kebiasaan orang beriman berdoa secara pribadi, berdoa bersama dalam keluarga, sabda, berdevosi, perayaan sakramen, singkatnya menyangkut kebiasaan doa, ibadat dan liturgi. Dalam arti luas kebiasaan religius mencakup bukan saja kebiasaan- kebisaan di bidang doa dan liturgi, tetapi termasuk di dalamnya juga kebiasaan di bidang pewartaan (pendalaman iman), kebiasan-kebiasaan di bidang persekutuan umat, dan kebiasan –kebiasaan di bidang pelayanan amal kasih. Pengertian yang luas ini tercermin dalam paparan Heuken SJ dalam Ensiklopedi Gereja yang menyatakan bahwa:

  “Pendidikan keagamaan di lingkungan keluarga mencakup antara lain membiasakan anak sesuai umurnya untuk berdoa, untuk menyayang dan memaafkan, untuk mengerti hari-hari raya dan kebiasaan umat (ibadat, tanda salib, gambar, buku), untuk memperhatikan keperluan sesama manusia, dan untuk bertanggungjawab atas aneka karunia ilahi (bakat, waktu, sarana)”, (Heuken.2005:172).

  Dalam penyiapan program peningkatan kebiasaan religius orangtua demi pendidikan iman anak dalam keluarga penulis memahami “kebiasaan religius” dalam arti yang luas.

  Kebiasaan berdoa dalam keluarga dapat dilakukan secara pribadi ataupun bersama-sama sebagai satu keluarga. Kebiasaan-kebiasaan tersebut misalnya doa sebelum dan sesudah tidur, doa sebelum dan sesudah makan, doa malam. Kebiasaan berdoa bersama umat di lingkungan juga sangat penting. Kebiasaan tersebut meliputi doa Rosario, ziarah ke gua Maria, doa untuk keperluan keluarga (seperti: ulang tahun, pekawinan, arwah), dan doa jalan salib. Tak kalah penting mengikuti perayaan Ekaristi setiap hari Minggu dan menerima sakramen pengampunan secara teratur merupakan suatu kewajiban bagi orang beriman Kristiani. Selain kebiasaan doa dan liturgi orangtua juga perlu menanamkan bentuk pendidikan iman lainnya yang bisa membantu perkembangan dan pertumbuhan iman anak yang nantinya dapat membantu pribadi anak semakin dewasa, mandiri, dan bertanggungjawab. Pendidikan yang dimaksudkan di sini adalah pendidikan sosial.

  Pendidikan sosial mengajarkan bagaimana orangtua mengajari anak-anak mereka memiliki sikap seperti sikap melayani dengan penuh cinta, sikap terbuka dalam bergaul dengan semua orang, sikap menerima orang lain apa adanya, sikap menghargai dan sikap berempati atau tenggang rasa kepada orang lain yang menderita dan yang mengalami kesusahan.

  Untuk melaksanakan hal-hal di atas maka orangtua perlu menyediakan lahan yang subur sebagai tempat untuk menumbuhkan kebiasaan-kebiasaan religius.

  Adapun lahan yang subur tersebut meliputi: penciptaan suasana atau tata ruang yang mendukung bagi pendidikan iman anak (misalnya memasang salib, patung Bunda Maria, patung Tuhan Yesus dan gambar-gambar rohani), menciptakan kebiasaan saling mengampuni dalam diri suami-istri, menumbuhkan sikap pertobatan untuk menjadi manusia baru di tengah keluarga, serta menumbuhkan hubungan yang sehat antar anggota keluarga dan juga masyarakat. Apabila dalam keluarga orangtua sudah menanamkan pendidikan ini dan memberi kepercayaan penuh kepada anak-anaknya sejak masih kecil dalam keluarga, maka anak akan semakin bertanggungjawab dengan sikap hidupnya baik di dalam keluarga, sekolah, Gereja maupun masyarakat yang lebih luas. religius orangtua dapat memperolehnya melalui berbagai cara misalnya dengan membaca buku-buku rohani, mengikuti pendalaman iman, mendengarkan siaran radio, melihat tayangan televisi, dan lain sebagainya. Melalui berbagai hal itu, pengertian dan wawasan orangtua tentang kebiasaan religius akan berkembang sehingga pada akhirnya orangtua mampu meyakini dengan kokoh bahwa kebiasaan religius sungguh penting bukan saja bagi diri mereka sendiri tetapi juga bagi pendidikan iman anak.

  Untuk membangun kebiasaan religius atau memilih dengan sengaja suatu perilaku religius yang belum terbiasa dilakukan menjadi kebiasaan baru, dituntut adanya perpaduan antara pengertian, kehendak, dan ketrampilan melaksanakan (Stephen R. Covey, 1994:36-37). Hal ini dapat digambarkan demikian:

  Pengetahuan Keinginan

  Ketrampilan Kebiasaan Berdasarkan hasil penelitian, kebiasaan religius orangtua di lingkungan St. Monika belum sepenuhnya dihidupi oleh setiap keluarga. Data hasil penelitian menyatakan bahwa hanya segelintir keluarga yang melakukan kebiasaan berdoa bersama dalam keluarga. Juga kebiasaan membaca dan merenungkan Kitab Suci bersama, serta mengikuti perayaan Ekaristi belum menjadi kebutuhan setiap keluarga.

  Hal tersebut terjadi bukan saja karena kurangnya waktu untuk berkumpul bersama keluarga tetapi kiranya juga karena kekurangan orangtua dalam hal pemahaman, motivasi atau kehendak, dan ketrampilan berkaitan dengan kebiasaan religius Katolik yang belum dijalani.

  Mempertimbangkan gagasan Covey dan data dari lapangan penulis berpendapat bahwa orangtua di lingkungan St. Monika Paroki Wates membutuhkan pengertian atau kesadaran baru, kehendak atau motivasi baru, dan ketrampilan baru berkaitan dengan kebiasaan-kebiasaan religius Katolik yang belum dijalankan serta arti pentingnya bagi pendidikan iman anak dalam keluarga.

  Untuk mencapai sasaran itu, dibutuhkanlah langkah-langkah pengembangan yang kongkret. Cara yang penulis usulkan adalah dengan serangkaian katekese yang terprogram. Program katekese tersebut diharapkan dapat membantu orangtua dalam menumbuhkan pemahaman, sikap dan perbuatan baru berkaitan dengan kebiasaan religius yang selama ini belum dijalankan. Pemahaman baru misalnya orangtua awalnya memandang bahwa doa kurang penting, dengan katekese diharapkan muncul kesadaran bahwa berdoa sangatlah penting. Sikap baru berarti kemauan untuk menghidupi kebiasaan religius maka dengan ini, orangtua berusaha meluangkan waktu. Perbuatan baru artinya bila sebelumnya orangtua tidak terbiasa menerapkan doa bersama, kini mulai membiasakan doa bersama dalam keluarga.

  Serangkaian katekese yang penulis usulkan terdiri dari 6 pertemuan yakni:

  1. Panggilan dan perutusan khas orangtua Katolik

  2. Kebiasaan- kebiasaan religius orangtua Katolik dan artinya bagi pendidikan iman anak dalam keluarga

  3. Keluarga Katolik berdoa bersama

  4. Keluarga Katolik mendengarkan dan mewartakan Sabda Tuhan

  5. Keluarga Katolik membangun persekutuan dan persaudaraan

  6. Keluarga Katolik beramal kasih Model katekese yang penulis usulkan adalah model SCP (Shared Cristian

  

Praxis). Dasar pertimbangannya adalah model ini bersifat dialogis dan partisipatif,

  menekankan kemitraan dan dalam penyelenggaraannya menempatkan peserta sebagai subjek pergulatan, keprihatinan dan harapan hidupnya.

B. Usulan Program

1. Tema dan Tujuan Umum Program

  Tema dan tujuan umum yang penulis sajikan dalam program katekese ini adalah:

  a. Tema Umum : Menumbuhkembangkan kebiasaan Religius Orangtua demi Pendidikan Iman Anak dalam Keluarga menjadi sadar dan berdaya untuk meningkatkan kebiasaan religius mereka demi pendidikan iman anak dalam keluarga

2. Tema-tema dan Tujuan Masing-masing Pertemuan Tema dan tujuan umum tersebut di atas akan diolah dalam 6 kali pertemuan.

  Adapun tema-tema dan tujuan masing-masing pertemuan adalah:

  a. Pertemuan 1 Tema : Panggilan dan perutusan khas orangtua Katolik Tujuan : Orangtua Katolik di lingkungan St. Monika Paroki Wates menyadari kembali panggilannya sebagai orangtua katolik bagi anak-anaknya dan terdorong untuk menjalankan tugas dan perutusannya dengan baik.

  b. Pertemuan 2 Tema : Kebiasaan- kebiasaan religius orangtua Katolik dan artinya bagi pendidikan iman anak dalam keluarga Tujuan : Orangtua menjadi sadar akan praksis penghayatan kebiasaan-kebiasaan religius mereka hingga saat ini dan terdorong untuk mewujudkan praksis yang lebih baik demi pendidikn iman anak dalam keluarga.

  c. Pertemuan 3

  Tujuan : Orangtua menjadi sadar akan pentingnya doa bersama dalam keluarga sehingga dapat menjadikan doa bersama dalam keluarga sebagai sarana untuk mempersatukan semua anggota keluarga dan meneguhkan hidup beriman di dalamnya

  d. Pertemuan 4 Tema : Keluarga Katolik mendengarkan dan mewartakan Sabda

  Tuhan Tujuan : Orangtua menjadi sadar pentingnya mendengarkan, menimba inspirasi dan mewartakan sabda Tuhan demi meningkatkan pendidikan iman anak dalam keluarga

  e. Pertemuan 5 Tema : Keluarga Katolik membangun persekutuan dan persaudaraan Tujuan : Orangtua menjadi sadar pentingnya membangun persekutuan dan persaudaraan dalam keluarga guna mendukung perkembangan iman anak

  f. Pertemuan 6 Tema : Keluarga Katolik beramal kasih Tujuan : Orangtua menjadi sadar akan pentingnya kegiatan beramal kasih dan terdorong untuk melaksanakannya sebagai perwujudan iman.

C. Contoh Persiapan Katekese

1. Pertemuan I

  a. Judul pertemuan

  : Panggilan dan perutusan khas orangtua Katolik

  

b. Tujuan : Orangtua Katolik di lingkungan St. Monika Paroki

  Wates menyadari kembali panggilan dan perutusannya sebagai orangtua katolik bagi anak- anaknya dan terdorong untuk menjalankan panggilan dan perutusannya dengan baik.

  c. Peserta

  : Orangtua (Bapak-Ibu) Lingkungan St. Monika Paroki wates, berjumkah kurang lebih 28 orang.

  d. Model

  : SCP (Shared Christian Praxis)

e. Tempat : Rumah salah seorang warga di lingkungan St.

  Monika

  f. Metode

  : - Sharing

  • Tanya jawab
  • Diskusi - Informasi - Refleksi

  g. Sarana : - Teks lagu Madah Bakti No. 223 dan 533

  • Teks Kisah pengalaman “ Keluarga Pak Beny”
  • Teks “Panggilan dan Perutusan Orangtua Katolik”

  (2011), BAB I, hal 5-19

  • Slide power point “Panggilan dan Perutusan Orangtua Katolik” - Musik instrumental rohani.

h. Sumber bahan : -Wignyosumarta, Ign. MSF, dkk. (2000). Panduan rekoleksi keluarga. Yogyakarta : Kanisisus.

  • Yohanes Paulus II (1981). Familiaris Consortio, art. 36. Jakarta: Dokpen.
  • KWI, (2011). Pedoman Pastoral Keluarga. Jakarta: Obor. Bab I, hal 5-19.

i. Pemikiran Dasar

  Berdasar ajaran Katolik orangtua dipanggil dan diutus untuk: pertama, membangun keluarga sebagai persekutuan kasih. Orangtua dipanggil untuk membangun persekutuan pribadi-pribadi yang berdasar dan bersumber pada cinta kasih. Kedua, membangun keluarga sebagai pembela kehidupan. Sebagai mitra kerja Allah orangtua memiliki tanggungjawab untuk memelihara kehidupan juga memiliki kewajiban dan tugas untuk memenuhi kebutuhan dasar anak sehingga mereka dapat hidup dan berkembang secara manusiawi dan Katolik. Ketiga, membangun keluarga sebagai Gereja rumah tangga. Keluarga mengambil bagian dalam lima tugas Gereja yaitu koinonia (persekutuan), leiturgia (doa peribadatan), diakonia (pelayanan), martyria (kesaksian), dan kerygma (pewartaan). Keempat, masyarakat perlu membangun sikap terbuka, toleran dan menghargai pluralitas yang ada melalui kerukunan dan dialog kehidupan.

  Dalam kenyataannya sejumlah orangtua Katolik di lingkungan St Monika Paroki Wates merasa frustasi dalam usaha menghayati panggilan dan perutusan sebagai orangtua Katolik. Hal itu disebabkan karena terbentur pada sejumlah hambatan seperti arus jaman materialistik (hidup yang mementingkan harta). Hal yang juga tampak bahwa sejumlah orangtua Katolik yang tidak peduli lagi akan panggilan dan perutusannya sebagai orangtua Katolik. Maka peluang yang terbuka untuk memajukan panggilan dan perutusann orangtua Katolik terbuang sia-sia.

  Keluarga Katolik yang retak, mengalami “Broken Home”. Dalam hal ini Bapak/ibu tidak bertanggungjawab tehadap panggilan dan perutusann sebagai orangtua Katolik. Namun ada juga keluarga Katolik yang tumbuh dan berkembang dengan baik, hal itu disebabkan karena kesadaran akan panggilan dan perutusan orangtua Katolik cukup tinggi dan juga dukungan dari luar juga banyak.

  Berdasar ajaran Gereja mengenai panggilan dan perutusan khas orangtua Katolik maka peserta diajak untuk merefleksikan panggilan dan perutusannya sebagai orangtua katolik melalui sharing pengalaman, belajar dari Pedoman Pastoral Keluarga dan membangun niat-niat baru. Dengan demikian diharapkan peserta semakin memperkuat kesadaran akan panggilan dan perutusannya sebagai orangtua Katolik, dan meningkatkan kewaspadaan akan hambatan. Pada akhirnya peserta terdorong dan mampu menjalankan panggilan dan perutusannya sebagai orangtua

  j. Pengembangan Langkah-langkah 1) Pembuka

  a) Pengantar Bapak ibu yang terkasih dalam Yesus Kristus, kita berkumpul di tempat ini terdorong karena kasih Allah yang mempersatukan dan menyertai kita. Menjadi bapak/ibu atau memilih hidup berkeluarga merupakan suatu bentuk panggilan hidup. Pada kesempatan ini kita sebagai satu keluarga Allah berusaha untuk memahami arti panggilan hidup kita sebagai orangtua. Ditengah kesibukan memenuhi kebutuhan materi untuk keluarga, orangtua juga perlu menyadari panggilan dan perutusannya sebagai orangtua Katolik. Marilah kita awali pertemuan ini dengan menyanyikan lagu pembuka.

  b) Lagu Pembuka: Madah Bakti. No.223 ”Letakanlah Alas Rumahmu”

  c) Doa Pembuka Bapa yang Maha Kasih, kami bersyukur atas rahmat yang kami terima berkat kemurahan-Mu. Secara khusus, kami bersyukur karena kami boleh berkumpul disini bersama-sama dalam ikatan persaudaraan sebagai satu anggota keluarga umat Allah. Pada kesempatan ini kami akan mensharingkan dan merefleksikan pengalaman hidup tentang bagaimana kami menghayati panggilan hidup sebagai orangtua kristiani dalam hidup sehari-hari. Berkatilah dan bimbinglah diri kami Tuhan keluarga seturut kehendakMu. Demi Kristus Tuhan dan pengantara kami. Amin.

2) Langkah I: pengungkapan pengalaman Faktual

  Bapak-ibu kita akan bersama-bersama belajar mendalami panggilan kita sebagai orangtua Katolik melalui kisah pengalaman “Keluarga Pak Beny”.

  a. Pendamping membagikan teks kisah pengalaman “Keluarga Pak Beny” kepada peserta dan memberikan kesempatan kepada peserta untuk membaca dan mempelajari secara pribadi terlebih dahulu.

  b. Pendamping meminta salah satu peserta untuk menceritakan kembali isi kisah pengalaman “Keluarga Pak Beny”.

  c. Intisari kisah pengalaman “Keluarga Pak Beny Pak Beny dan Bu Sari adalah pasangan suami istri Katolik yang dianugerahi dua orang anak putra dan seorang anak putri. Pak Beny adalah direktur utama sebuah perusahaan swasta di kota Surabaya. Sedangkan Bu Sari mengelola sebuah restoran. Kesibukan pekerjaan pak Beny dan Bu Sari telah menyita hampir seluruh waktunya sepanjang hari. Oleh karena itu putra dan putrinya yang sudah mulai remaja dituntut untuk mandiri: mengatur waktu untuk belajar, sekolah dan bekerja di rumah. Kebutuhan materi anak-anak dipenuhi. Selain itu Pak Beny menuntut agar anak-anaknya disiplin menjalankan tugas-tugasnya, tertib peraturan yang ia ciptakan. Semua pembicaraan dan aturan yang dibuat Pak Beny, anak-anaknya tidak boleh membantah. Anak putranya merasa terkungkung di penjara rumahnya. Suatu hari kedua anak Pak Beny pergi menonton film dan pulangnya larut malam. Tanpa ampun mereka dikurung dalam kamar dan tidak diberi makan selama seharian.

  Anak gadis yang sulung diharuskan untuk kuliah di fakultas kedokteran meskipun tidak berminat dan berbakat menjadi dokter. Bu Sari tak berdaya melawan kemauan suaminya. Karena kesibukan Bu Sari mengurus restoran akibatnya ia tidak punya cukup waktu untuk mengurus anak-anak. Akibat dari hal itu anak-anak yang tampak taat itu ternyata sudah akrab dengan obat-obatan terlarang. Sekarang Pak Beny dan Bu Sari bingung mau memperbaiki keluarga dan anak-anaknya.

  d. Peserta diajak untuk mengungkapkan pengalamannya sendiri dengan bantuan pendalaman kisah ”Keluarga Pak Beny” tersebut dengan tuntunan pertanyaan, sebagai berikut:

  a) Kisah Keluarga Pak Beny:  Apa yang dilakukan oleh Pak Beny dan bu Sari dalam usaha mencari nafkah untuk kesejahteraan keluarga?  Bagaimana cara yang dilakukan keluarga Pak Beny dalam mendidik anak?  Bagaimana Pak Beny mengarahkan studi lanjut bagi anaknya?

   Apa dampak bagi anak dan hubungan anak dengan orangtua?

  b) Pengalaman peserta:  Bagaimana pengalaman bapak ibu dalam usaha mencari nafkah untuk kesejahteraan keluarga?  Bagaimana pengalaman bapak/ibu dalam kaitannya cara mendidik anak?  Bagaimana pengalaman bapak/ibu dalam mengarahkan studi lanjut bagi anak?  Apa dampak dari semua hal tersebut bagi perkembangan anak dalam hubungan mereka dengan bapak dan ibu selaku orangtua mereka?

  e. Rangkuman Dari kisah keluarga Pak Beny tersebut diceritakan bahwa dalam usaha mencari nafkah untuk kesejahteraan keluraga demi mencukupi kebutuhan materi anak-anaknya Pak Beny sibuk bekerja sebagai direktur di sebuah perusahaan, sedangkan Bu Sari sibuk mengelola sebuah restoran. Dengan melihat kesibukan Pak Beny dan Bu Sari tersebut sungguh menyita banyak waktu untuk kebersamaan dalam keluarga, sebab banyak waktu yang mereka habiskan untuk urusan masing-masing. Pak Beny adalah tipe orang yang otoriter yang mana mengartikan sikap disiplin sama dengan patuh dan taat. Pak Beny menetapkan peraturan yang memagari gerak anak dari pengaruh luar yang negative. Dalam hal study pak Beny mengharuskan anaknya ysng sulung untuk kuliah di fakultas kedokteran meskipun tidak memiliki minat dan tidak berbakat menjadi dokter.

  Situasi seperti itu menyebabkan hubungan atau relasi anak terhadap orangtua kurang harmonis. Dari kisah tersebut jelas bahwa keluarga Pak Beny belum merupakan cermin dari keluarga Katolik sebab keluarga tersebut belum membangun keluarga sebagai Gereja kecil.

  Akibat dari semua itu kurang adanya perhatian terhadap kebutuhan rohani anak dan tidak terwujudnya kondisi yang memungkinkan perkembangan yang baik bagi anak-anaknya, sehingga anak mudah terpengaruh negatif dari luar. Kalau kita melihat dari kisah tersebut Pak Beny dan Bu Sari belum menyadari akan panggilan dan perutusannya sebagai orangtua Katolik.sebab mereka cenderung lebih mengutamakan kebutuhan materi daripada kebutuhan dasar anak. Bagaimana pengalaman para peserta sendiri?

3) Langkah II: Refleksi Kritis Terhadap Pengalaman Faktual

  a) Peserta diajak untuk merrefleksikan pengalaman pada langkah I melalui dialog dengan bantuan beberapa pertanyaan sebagai berikut: i. Mengapa Pak Beny bersikap sewenang-wenang terhadap anak? iii. Apakah perilaku mereka mencerminkan perilaku keluarga Katolik? Mengapa dan bagaimana seharusnya? iv. Bagaimana dengan pengalaman Bapak-ibu sendiri?mengapa demikian?

  b) Rangkuman Pak Beny bersikap sewenang-wenang terhadap anaknya yaitu dengan menetapkan aturan-aturan kepada anaknya supaya ditaati dan bersifat kaku. Hal itu dilakukan Pak Beny karena, Pak Beny dan Bu Sari sibuk dengan pekerjaannya sehingga mereka tidak dapat mengawasi atau mengontrol sikap dan tindakan anak-anak setiap harinya. Namun dengan perlakuan seperti itu tidak mendapat respon yang positif tetapi malah justru sebaliknya terjadi perlawanan anak terhadap peraturan atau perintah orangtua. Dalam hal ini anak merasa terkekang dan kurang memiliki ruang gerak yang luas selain itu anak juga merasa kurang mendapat kepercayaan dari orangtua sehingga pada akhirnya mereka (anak-anak) mudah terpengaruh dari luar yang mengakibatkan mereka terlibat dengan narkoba.

  Dari sikap yang dilakukan Pak Beny dan Bu Sari dalam keluarga tersebut tidak mencerminkan perilaku keluarga Katolik karena sebagai orangtua perlu memberikan pendidikan yang baik yang dijiwai semangat cinta kasih yaitu dengan menjalin relasi yang baik antara hendaknya bersifat personal dan fungsional yang keduanya tidak dapat dipisahkan, karena hubungan fungsional dalam keluarga harus selalu personal artinya harus selalu dalam semangat menerima yang lain sebagai pribadi yang bermartabat sama karena memiliki hak asasi yang sama pula. Untuk menjadi keluarga katolik yang baik hendaknya keluarga didasarkan pada cinta kasih dan merupakan persekutuan pribadi-pribadi: suami, istri, orangtua, dan anak-anak. Sebab cinta kasihlah yang membentuk keluarga dan cinta kasih pula yang telah menghidupi keluarga dimana setiap anggota keluarga bertumbuh bersama di dalam cinta kasih.

4) Langkah III: Mengusahakan Supaya Tradisi Dan Visi Kristini Terjangkau

  a) Pengantar Bapak-ibu yang terkasih setelah kita mendalami pengalaman dari keluarga Pak Beny dan pengalamanan bapak-ibu, sekarang kita akan belajar bersama-sama dari ajaran Gereja mengenai Panggilan dan Perutusan Orangtua Katolik.

  Selanjutnya akan dibagikan teks yang merupakan sari dari buku Pedoman Pastoral Keluarga, KWI (2011), Bab I hal 5-19 mengenai Panggilan dan Perutusan Orangtua Katolik. c) Menerangkan bagian demi bagian dengan sarana slide power point dan teks diikuti tanggapan.

5) Langkah IV : Hermautik Antara Tradisi Dan Visi Kristiani Dengan Tradisi Dan Visi Peserta

  Pengantar Bapak/ibu yang terkasih, setelah kita sharing, kita hendak merenungkan Ajaran Gereja mengenai Panggilan dan Perutusan Orangtua

  Katolik agar dapat kita hayati dalam hidup sehari-hari. Pada kesempatan ini kita disadarkan kembali akan panggilan dan perutusan kita sebagai orangtua Katolik. Sebab sebagai orangtua kita memiliki kewajiban untuk mendidik anak dengan nilai-nilai kristiani.

  Melalui tayangan slide dari Pedoman Pastoral Keluarga kita semakin menghayati dan menyandarkan diri pada Allah sebagai satu-satunya pedoman bagi langkah hidup kita dalam membangun hidup keluarga Katolik sejati.

  Selanjutnya pendamping mengajak peserta untuk refleksi secara pribadi dengan panduan pertanyaan berikut: 1) Membangun keluarga sebagai persekutuan kasih:

   Sejauh mana bapak/ibu sudah mengusahakannya?  Apa yang hendak bapak/ibu lakukan supaya keluargaku menjadi persekutuan kasih? 2) Membangun keluarga sebagai pembela kehidupan:

   Sejauh mana bapak/ibu sudah mengusahakannya?  Apa yang hendak bapak/ibu lakukan supaya keluargaku menjadi pembela kehidupan?

  3) Membangun keluarga sebagai Gereja rumah tangga:  Sejauh mana bapak/ibu sudah mengusahakannya?  Apa yang hendak bapak/ibu lakukan supaya keluargaku menjadi gereja rumah tangga?

  4) Membangun keluarga sebagai masyarakat kecil:  Sejauh mana bapak/ibu sudah mengusahakannya?  Apa yang hendak bapak/ibu lakukan supaya keluargaku menjadi masyarakat kecil?

  (Peserta diberi kesempatan untuk merenungkan secara pribadi diiringi musik instrumental).

6) Lngkah V: Keterlibatan Baru Demi Makin Terwujudnya Kerajaan Allah

  Peserta diberi kesempatan untuk hening, lalu pendamping memberi pertanyaan penuntun untuk membuat niat-niat baru.

  a. Niat apa yang dapat bapak/ibu laksanakan untuk semakin menghayati panggilan dan perutusan sebagai orangtua Katolik?

  b. Hal-hal apa saja yang perlu diperhatikan, baik sebagai pribadi maupun kelompok dalam mewujudkan niat-niat baik tersebut? Peserta diminta mengungkapkan niat-niat tersebut dan menyatukannya dengan doa Bapa Kami.

7) Penutup

  a. Lagu Madah Bakti. No.533 “Tingkatkan Karya Serta Karsa”

  b. Doa Penutup Ya Bapa yang baik, kami bersyukur atas rahmat yang boleh kami alami pada kesempatan ini. Kami bersyukur pula atas sapaan dan teguran-

  Mu yang menyadarkan kami agar semakin menyadari dan menghayati panggilan dan perutusan sebagai orangtua Katolik. Ya Bapa yang murah hati, selama ini sebagai orangtua kami kurang bisa menjalankan tugas dan panggilan kami. Hal ini disebabkan karena kelalaian kami yang terlalu sibuk dengan pekerjaan dan juga karena ketidaktahuan kami dalam membangun keluarga seturut kehendakMu. Bimbinglah dan sertailah kami selalu agar niat-niat yang sudah kami buat dapat kami laksanakan melalui teladan hidup kami yang baik dalam mendidik anak-anak. Demi Kristus Tuhan dan pengantara kami, Amin.

2. Pertemuan II

  a. Judul pertemuan

  : Kebiasaan-kebiasaan religius orangtua Katolik dan artinya bagi pendidikan iman anak dalam keluarga.

  

b. Tujuan : Orangtua menjadi sadar akan praksis penghayatan

  kebiasaan-kebiasaan religius mereka hingga saat ini dan terdorong untuk mewujudkan praksis yang lebih baik demi pendidikan iman anak dalam keluarga.

  c. Peserta : Orangtua (Bapak-Ibu) Katolik di lingkungan St.

  Monika Paroki Wates,berjumlah kurang lebih 28 orang.

  d. Model

  : SCP (Shared Christian Praxis)

e. Tempat : Rumah salah seorang warga di lingkungan St.

  Monika

  f. Metode

  : - Sharing

  • Tanya jawab
  • Informasi

  g. Sarana

  : - Kitab Suci

  • Madah Bakti - Gambar-gambar tentang kebiasaan religius

  h. Sumber bahan

  : - Luk 2:41-52

  • Stefan Leks. (2003). Tafsir Injil Lukas (Tafsir
  • Wignyosumarta, Ign. MSF, dkk. (2000). Panduan rekoleksi keluarga. Yogyakarta : Kanisisus.
  • Yohanes Paulus II (1981). Familiaris Consortio, art. 36. Jakarta: Dokpen.

  KWI, (2011). Pedoman Pastoral Keluarga. - Jakarta: Obor.

i. Pemikiran Dasar

  Injil Luk 2:41-52 mengisahkan tentang keluarga Kudus di Nazaret. Dikatakan bahwa orangtua Yesus yaitu Maria dan Yosef setiap tahun pergi ke Yerusalem untuk merayakan Paskah. Hukum Yahudi mewajibkan semua pria dewasa untuk berziarah ke Yerusalem yaitu pada hari raya Paskah, Pentakosta, dan Pondok Daun, sedangkan untuk kaum perempuan dan anak-anak tidak diwajibkan, juga bagi mereka yang tinggal jauh dari Yeruslaem. Di situ digambarkan bahwa Maria dan Yosef sebagai orangtua sungguh memberikan teladan kepada anaknya dalam hal kesetiaan menjalankan ibadah agamanya yaitu dengan menjalankan kebiasan-kebiasaan keagamaan sesuai dengan hukum Yahudi. Sama halnya dengan orangtua Katolik hendaknya melakukan kebiasaan- kebiasaan religius dalam rangka menanamkan sikap-sikap religius pada anak. Dalam hal ini keteladanan orangtualah yang memiliki faktor dominan.

  Dalam kenyataannya sejumlah orangtua Katolik di lingkungan St Monika Paroki Wates merasa frustasi dalam usaha menghidupi kebiasaan-kebiasaan religius Kitab Suci dan lain-lain . Hal itu disebabkan karena terbentur pada sejumlah hambatan seperti arus jaman materialistik (hidup yang mementingkan harta). Hal yang juga tampak bahwa sejumlah orangtua Katolik yang tidak peduli lagi terhadap kebiasaan-kebiasan religius. Maka peluang yang terbuka untuk menghidupi kebiasan- kebiasaan religius terbuang sia-sia. Namun ada juga keluarga Katolik yang tumbuh dan berkembang dengan baik, hal itu disebabkan karena kesadaran akan pentingnya menghidupi kebiasaan-kebiasaan religius cukup tinggi dan juga dukungan dari luar juga banyak. Perlu diperhatikan bahwa pendidikan yang tepat bagi anak-anaknya adalah praksis hidup atau keteladanan orangtuanya sendiri bukan hanya sekedar teori.

  Dalam pertemuan ini pendamping bersama peserta ingin memupuk semangat untuk melakukan kebiasaan-kebiasaan religius berdasarkan teladan Maria dan Yosef.

  Melalui sharing pengalaman dan pendalaman Kitab Suci peserta terdorong mencontoh sikap Maria dan Yosef dalam mendidik Yesus. Dorongan itu diungkapkan dalam bentuk niat-niat kongkrit tentang kebiasaan religius yang akan dilaksanakan demi pendidikan iman anak dalam keluarga. Dengan demikian orangtua mampu melakukan praksis kebiasaan religius dalam keluarganya dengan lebih baik.

  j. Pengembangan Langkah-langkah

a. Pembuka

  1) Pengantar dapat berkumpul kembali dalam pertemuan ini. Di sini kita akan bersama-sama menggali tema mengenai kebiasaan-kebiasaan religius orngtua dan artinya bagi pendidikan iman anak dalam kelurga melalui sharing pegalaman. Sebagai orangtua Katolik perlulah kita menjalankan kebiasaan-kebiasaan religius dalam keluarga. Karena kebiasaan yang dilakukan oleh orangtua akan menjadi teladan bagi anak-anak kita.

  Dengan demikian anak-anak akan tumbuh menjadi pribadi yang dewasa dan Katolik. Untuk mengawali pertemuan ini merilah kita menyanyikan lagu pembuka. 2) Lagu Pembuka: Madah Bakti. No. 528 ”Bangun Dunia Baru” 3) Doa Pembuka

  Allah Bapa Yang Maha Kasih, kami bersyukur kepada-Mu atas berkat dan rahmat-Mu yang telah Kau berikan kepada kami, sehingga kami dapat berkumpul di tempat ini. Selama ini kami kurang menyadari pentingnya melaksanakan praksis kebiassaan religius seperti yang telah Engkau perintahkan kepada kami. Kami masih sering malas atupun lalai untuk melakukan kebiasaan-kebiasaan tersebut. Dalam kesempatan ini, kami diajak untuk mendalami tema yang memberi pencerahan dan dorongan kepada kami untuk setia kepadaMu melalui kebiasan-kebiasan religius dalam keluarga. Bantulah kami supaya dapat menjalankan perintah-Mu dengan melakukan kebiasaan-kebiasaan religius seperti yang Tuhan dan Pengantara kami. Amin.

b. Langkah I: Pengungkapan pengalaman hidup peserta

  1) Pendamping menampilkan gambar mengenai kegiatan kebiasaan- kebiasaan religius.

  2) Peserta diajak untuk mendalami gambar tersebut dengan bantuan beberapa pertanyaan sebagai berikut: a) Kegiatan apa yang ditampilkan dalam gambar tadi?

  b) Ceritakan kesulitan yang bapak ibu alami dalam melakukan kebiasaan-kebiasan religius! 3) Rangkuman

  Gambar tadi menampilkan bahwa kebiasaan-kebiasaan religius orang Katolik dapat dilakukan melalui berbagai macam cara atau kegiatan.

  Kegiatan tersebut misalnya mengikuti perayaan Ekaristi di Gereja, membaca Kitab Suci bersama anak dalam keluarga, makan dan berdoa bersama dalam meja makan, doa bersama umat di lingkungan, ziarah ke Gua Maria, doa bersama dalam satu keluarga. Namun kebiasaan- kebiasaan tersebut kadang susah untuk dilakukan oleh setiap anggota keluarga. Begitu juga pengalaman kita dalam keluarga, kegiatan-kegiatan seperti tadi belum menjadi sebuah kebiasaan dalam keluarga.

c. Langkah II: Mendalami pengalaman hidup peserta

  1) Peserta diajak untuk merefleksikan pengalaman pada langkah 1 dengan bantuan beberapa pertanyaan: i. Mengapa kebiasaan religius masih sulit dilaksanakan dalam kehidupan keluarga Anda? ii. Cara mana saja yang bapak ibu tempuh dalam menghadapi kesulitan untuk melakukan kebiasan-kebiasaan religius demi pendididkan iman anak?

  2) Komentar pendamping Kebiasaan religius masih sulit dilaksanakan, hal itu banyak disebabkan oleh beberapa faktor seperti kesibukan kerja yang menyita banyak waktu, rasa malas, dan kurangnya kesadaran akan pentingnya menghidupi kebiasaan religius demi pendidikan iman anak. Mungkin banyak orangtua katolik yang kurang melihat kaitan antara penghayatan kebiasaan religius dengan panggilan dan perutusan orangtua Katolik.

  Terutama dengan kemajuan zaman yang materialistik, tuntutan untuk memenuhi kebutuhan materi semakin besar sehingga menuntut orangtua untuk bekerja keras.

  Dalam menghadapi kesulitan terutama dalam diri sendiri, orangtua perlu memanfaatkan peluang atau kesempatan yang ada seperti doa bersama di lingkungan, pendalaman iman, perayaan Ekaristi, dll. menciptakan dan membangun sikap yang mendukung untuk melakukan kebiasaan-kebiasaan religius demi pendidikan iman anak.

d. Langkah III: Menggali pengalaman iman Kristiani

  a) Salah seorang peserta diminta membacakan Kitab Suci Luk 2:41-52 atau dari teks yang dibagikan.

  b) Peserta diberi waktu untuk hening sejenak secara pribadi merenungkan dan menanggapi pembacaan Kitab Suci dibantu beberapa pertanyaan: i. Apa yang dilakukan keluarga Nazaret? Mengapa mereka melakukan hal tersebut? ii. Waktu Yesus menghilang, apa yang dilakukan Maria dan Yosef?

  Mengapa?

  c) Peserta diajak untuk menemukan pesan inti perikope injil sehubungan dengan jawaban dua pertanyaan di atas.

  d) Pendamping memberi interpretasi terhadap Luk 2: 41-52, dan menghubungkan hasil renungan peserta dengan tema, dan tujuan, misalnya:

  Kisah tentang Yesus pada umur 12 tahun berada di Bait Allah merupakan salah satu bagian dari perjalanan hidup keluarga Nazaret.

  Kisah ini sangat khas dalam latar belakang Yahudi yang taat kepada hukum taurat. Hukum taurat mewajibkan semua orang khususnya laki-

  Pentakosta, dan Pondok Daun. Bagi mereka yang tinggal jauh dari Yerusalem, hukum taurat memberi keringanan kecuali pada hari raya Paskah. Kepergian Maria, Yosef dan Yesus dari Nazaret ke Yerusalem dalam rangka merayakan hari Paskah seperti yang diwajibkan oleh hukum taurat. Hal yang menarik dari perikope ini adalah pengarang Injil Lukas menguraikan tentang kesetiaan Maria dan Yosef dalam melaksanakan kebiasaan religius/keagamaan sebagai orangtua dalam usaha mendidik Yesus.

  Dalam buku tafsir Injil Lukas (Stefan leks, 2003: 87-88) dikatakan bahwa Lukas memberikan gambaran yang ideal tentang kehidupan keluarga kudus di Nazaret yang pesannya sangat relevan bagi kehidupan keluarga kristiani di zaman modern ini. Beberapa hal yang perlu kita perhatikan berkaitan dngan fungsi dan peranan Maria dan Yosef dalam usaha mendidik Yesus sebagai berikut:  Ketaatan dalam hidup beragama: tiap-tiap tahun mereka pergi ke

  Yerusalem untuk merayakan ibadat seperti yang diwajibkan oleh hukum taurat. Mereka mengajak dan membiasakan Yesus untuk hidup dalam aturan taurat.  Kesabaran, kesetiaan, pengorbanan: hal ini jelas ketika mencari

  Yesus yang masih tinggal di Yerusalem. Dengan sabar dan setia selama tiga hari berjalan untuk mencari Yesus. Akhirnya Maria dan

  Yosef menemukan Yesus sedang mengajar di dalam Bait Allah. Ada peristiwa yang menggembirakan dan mengecewakan. Mereka gembira sebab berhasil menemukan kembali anaknya. Namun mungkin mengecewakan mendengar jawaban dari anaknya Yesus, “mengapa kamu mencari Aku?” Bagaimana perasan Maria dan Yosef yang sudah beberapa hari berjalan kaki mencari-Nya, tetapi ketika bertemu, sang anak menjawab mengapa mencari aku? Maria dan Yosef menerima dengan sabar atas ucapan Yesus walaupun mereka tidak mengerti sesungguhnya apa maksud dibalik ucapan Yesus. Akhirnya dengan senang hati mereka kembali ke Nazaret, dan Yesus tetap hidup dalam asuhan Maria dan Yosef. Nilai-nilai hakiki dalam keluarga ditanamkan oleh Maria dan Yosef melalui keteladanan hidup sehari-hari. Sikap Maria dan Yosef yang terungkap dalam perikope ini menggambarkan sikap orangtua yang memperhatikan penuh kasih, tanggung jawab dalam mendidik anak dengan keteladanan hidup dalam mengasuh dan membesarkan Yesus.

  Cara menghayati panggilan hidup sebagai orangtua yang dilakukan Maria dan Yosef, mengajak kita sebagai orangtua Kristiani untuk mengembangkan dan membangun hidup tidak hanya mnegutamakan pemenuhan materi saja. Keteladaan dalam sikap dan tindakan hidup orangtua baik dalam hidup beragama, bersosialisasi dalam msyarakat dan pengorbanan penting untuk diperhatikan.

  Seperti yang telah digambarkan dalam Luk 2:41-52 kebiasaan religius dapat dipahami sebagai penghayatan hidup keagamaan yang biasa dikerjakan untuk mendorong manusia hidup dalam kesalehan, kehidupan yang suci dan mengikuti perintah Tuhan. Dalam arti sempit kebiasaan religius menunjuk pada kebiasaan-kebiasaan bertalian dengan ungkapan khusus dari hubungan orang beriman dengan Tuhan.

  Ungkapan khusus ini tampak dalam kebiasaan orang beriman berdoa secara pribadi, berdoa bersama dalam keluarga, membaca dan merenungkan Kitab Suci, berdoa bersama umat lingkungan, beribadat sabda, berdevosi, perayaan sakramen, singkatnya menyangkut kebiasaan doa, ibadat, dan liturgi. Dalam arti luas kebiasaan religius mencakup bukan saja kebiasaan-kebiasaan di bidang doa dan liturgi tetapi termasuk juga kebiasaan di bidang pewartaan (pendalaman iman), kebiasaan-kebiasaan di bidang persekutuan umat, dan kebiasaan- kebiasaan dibidang pelayanan amal kasih. Kebiasaan religius merupakan pondasi untuk membangun keluarga sebagai persekutuan kasih, sebagai pembela kehidupan, sebagai gereja rumah tangga, dan sebagai sel terkecil masyarakat. Namun kebiasaan-kebiasaan tersebut masih sulit dilaksanakan karena pengaruh kemajuan zaman materialistik sehingga tuntutan untuk memenuhi kebutuhan materi juga disebabkan karena kurangnya kesadaran akan pentingnya menghidupi kebiasaan religius demi pendidikan iman anak. Dengan demikian belajar dari keluarga Kudus di Nazaret, sebagai orangtua Katolik hendaknya menyadari bahwa kebiasaan-kebiasaan religius dalam keluarga memiliki arti penting bagi pendidikan iman anak.

  e. Langkah IV : Menerapkan iman Kristiani dalam situasi peserta konkrit

  a) Pendamping mengajak peserta untuk merefleksikan dan menyadari praksis kebiasaan religius yang selama ini telah dilakukan sehingga terdorong untuk mewujudkannya dengan lebih baik lagi demi pendidikan iman anak dengan dibantu beberapa pertanyaan: i. Apakah saya cukup taat dalam menjalankan kebiasaan keagamaan

  (kebiasaan religius)? Jika belum cukup taat, mengapa? ii. Apakah dalam mendidik anak-anak saya cukup sabar, setia dan mau berkorban seperti Yosef dan Maria?

  (Peserta diberi kesempatan untuk merenungkan secara pribadi akan pesan injil dengan situasi konkrit bapak/ibu sebagai pendidik iman dengan panduan dua (2) pertanyaan di atas diiringi musik instrumental).

  f. Lngkah V: Mengusahakan suatu aksi konkrit

  Pendamping mengajak peserta merenungkan kembali pertemuan yang pengalaman-pengalaman peserta serta mempertemukannya dengan pengalaman Yosef dan Maria dalam menjalankan kebiasaan-kebiasaan keagamaan/religius untuk mendidik Yesus, sehingga peserta mampu memperoleh wawasan, dan pengalaman baru untuk mengembangkan diri serta dapat meningkatkan kesadaran akan praksis kebiasaan-kebiasaan keagamaan/religius demi pendidikan iman anak sesuai dengan teladan Yosef dan Maria sehingga akhirnya mereka mampu mendidik iman anak dengan lebih baik.

  (Peserta diberi kesempatan untuk hening, lalu pendamping memberi pertanyaan penuntun untuk membuat niat-niat baru).

  1) Niat apa yang bapak/ibu bangun untuk semakin meningkatkan kesadaran akan praksis penghayatan kebiasaan-kebiasaan religius sebagai orangtua dalam mendidik iman anak. 2) Hal-hal apa saja yang perlu kita perhatikan dalam mewujudkan niat-niat tersebut? (Peserta diberi kesempatan dalam suasana hening untuk memikirkan sendiri- sendiri tentang niat-niat pribadi/bersama yang akan dilakukan, kemudian peserta diminta mengungkapkan niat-niat tersebut dan menyatukannya dengan doa Bapa Kami.)

g. Penutup

  1) Lagu Madah Bakti. No.553 “Santo Yosef Menjaga”

3. Pertemuan III

  e. Tempat : Lingkungan St monika

  : - Thomas H. Green, SJ. Bimbingan Doa. Hati Yang Terbuka Bagi Allah, A. Soenarja, SJ, Yogyakarta:

  h. Sumber bahan

  : - Kitab Suci

  g. Sarana

  : - Sharing

  f. Metode

  : SCP (Shared Christian Praxis)

  a. Judul pertemuan

  d. Model

  Monika Paroki Wates

  c. Peserta : Orangtua (Bapak-Ibu) Katolik di lingkungan St.

  bersama dalam keluarga sehingga dapat menjadikan doa bersama dalam keluarga sebagai sarana untuk mempersatukan semua anggota keluarga dan meneguhkan hidup beriman di dalamnya.

  b. Tujuan : Orangtua menjadi sadar akan pentingnya doa

  : Keluarga Katolik berdoa bersama

  • Tanya jawab
  • Diskusi kelompok
  • Informasi
  • Madah Bakti - Gambar doa bersama dalam keluarga
  • Komisi Pendampingan Keluarga KAS, Doa-doa

  Harian Keluarga Kristiani. Yogyakarta: Kanisius, 1992.

i. Pemikiran Dasar

  Kis 2:41-47 bercerita mengenai Cara Hidup Jemaat Pertama. Perikope ini menampakkan persaudaraan dan cinta kasih antar anggota jemaat. Jemaat tersebut terbiasa melakukan doa-doa sehingga meneguhkan hidup mereka. Di situ digambarkan bahwa jemaat pertama bertekun dalam pengajaran dan persekutuan.

  Dengan bertekun dan sehati mereka selalu berkumpul bersama untuk memecahkan roti dan berdoa. Doa merupakan ungkapan syukur atas cinta kasih Allah. Melalui doa mereka dapat berkomunikasi dengan Allah, mengungkapkan pengalamannya baik yang menyedihkan maupun yang menggembirakan sehingga semakin diteguhkan dan percaya kepadaNya. Seperti halnya dalam keluarga hendaknya kita sehati sejiwa berkumpul untuk berdoa bersama. Yang mana dalam doanya mengungkapkan pengalaman-pengalaman nyata yaitu pengalaman yang sungguh-sungguh dialami baik pengalaman suka maupun duka. Kita menyadari bahwa dalam hidup berkeluarga sering ditemui bermacam-macam masalah misalnya pendidikan anak, ekonomi dan konflik. Tapi disisi lain ada juga pengalaman yang membahagiakan misalnya keberhasilan anak, ulang tahun dan kelahiran anak. Pengalaman yang menyedihkan dan membahagiakan itu dapat disampaikan kepada Tuhan melalui doa bersama dalam jujur kepada Tuhan yang pada akhirnya akan membawa dampak dalam hubungan antar anggota keluarga.

  Pada kenyataannya di lingkungan St Monika Paroki Wates kebiasaan berdoa bersama dalam keluarga belum sepenuhnya dihidupi oleh setiap keluarga. Mereka belum menyadari tentang arti penting doa dalam hidupnya. Sebagai manusia kadang- kadang mereka malas untuk berdoa kepada Tuhan, karena tidak jujur, kurang terbuka, kurang motivasi, dan kurangnya waktu yang tersedia bagi Tuhan. Sehingga doa bersama dalam keluarga kurang mendapat perhatian penting padahal doa bersama dalam keluarga selain dapat meneguhkan iman juga dapat mempersatukan anggota keluarga.

  Oleh karena itu melalui katekese ini pendamping bersama peserta ingin memupuk semangat doa sebagai tanda syukur dan komunikasi dengan Allah. Doa itu dilakukan bersama-sama di dalam keluarga untuk mempererat persaudaraan dan memupuk kebersamaan antar anggota keluarga. Dengan demikian diharapkan anggota keluarga menjadi lebih akrab, terbuka, jujur, dan komunikatif, sehingga anggota keluarga semakin dapat bersyukur dan menjalin komunikasi dengan Allah melalui doa bersama.

  j. Pengembangan Langkah-langkah 1) Pembuka

  a) Pengantar kembali. Pada kesempatan ini kita bersama-sama akan membicarakan tentang doa bersama dalam keluarga. Kadang-kadang kita secara pribadi lalai dalam doa dengan bermacam-macam alasan. Pada kesempatan ini kita bersama-sama akan membaharui hidup doa dalam keluarga dengan meneladan cara hidup jemaat pertama (Kis 2: 41-47). Sebelum memulai kegiatan ini kita awali dengan menyanyikan lagu pembuka.

  b) Lagu Pembuka: Madah Bakti No. 167 ”Pujilah Tuhan”

  c) Doa Pembuka Bapa yang Maha Kasih, kami bersyukur atas rahmat yang kami terima berkat kemurahan-Mu. Secara khusus, kami bersyukur karena

  Engkau mengumpulkan kami di tempat ini sebagai satu keluarga. Pada kesempatan ini kami ingin mendalami doa bersama dalam keluarga untuk bersyukur dan menjalin komunikasi dengan-Mu. Terangilah kami agar semakin menyadari pentingnya doa dalam hidup berkeluarga.

  Sehingga kami mampu mewujudkanya dalam keluarga kami. Semuanya ini kami serahkan kepada-Mu melalui Yesus Kristus Juru Selamat kami.

  Amin.

2) Langkah I: Mengungkap pengalaman hidup peserta c) Pendamping menampilkan gambar-gambar tentang doa dalam keluarga.

  d) Peserta diajak untuk mendalami gambar-gambar tersebut dengan bantuan i. Kira-kira apa saja isi doa dalam gambar tersebut? ii. Bagaimana sikap mereka berdoa? iii. Mengapa mereka berdoa?

  e) Rangkuman Gambar-gambar yang ditampilkan menunjukkan gambar keluarga yang sedang berdoa bersama. Isi doanya bermacam-macam, bisa berisi doa syukur seperti ulang tahun, kelahiran, dll dapat juga berisi doa permohonan seperti mohon rahmat kesembuhan, mohon berhasil dalam ujian, dll. Berdoa berarti kita berkomunikasi dengan Tuhan maka dalam berdoa hendaknya kita bersikap sopan. Sikap yang dapat dilakukan dalam berdoa adalah berlutut, berdiri, dan duduk, yang paling penting mnurut mereka adalah sikap batin yang mengarah pada Tuhan. Doa juga merupakan ungkapan hati manusia kepada Tuhan. Maka biasanya kita berdoa karena ingin mengemukakan segala peristiwa, pengalaman hidup kepada Tuhan., baik yang menyedihkan maupun yang menggembirakan. Doa akan lebih mengena apabila berangkat dari kenyataan hidup yang konkrit yang dialami.

3) Langkah II: Mendalami pengalaman hidup peserta

  a. Peserta diajak untuk merefleksikan pengalaman pada langkah 1 dengan bantuan beberapa pertanyaan: ii. Apa saja isi doa anda? iii. Coba ceritakan doa-doa keluarga mana sajakah yang pernah terjadi dalam keluarg bapak ibu?

  b. Komentar pendamping Bentuk doa yang pernah dilakukan misalnya doa pribadi, dan doa bersama dalam keluarga. Doa-doa yang biasa didoakan adalah doa bapa Kami, Salam Maria, dan doa-doa spontan lainnya. Isi doa dapat bermacam-macam tergantung pengalaman dan penghayatan kita misalnya syukur, permohonan, keluhan, dll. Doa syukur misalnya sembuh dari sakit, memperoleh suatu keberhasilan, ulang tahun, dll. Doa permohonan misalnya mohon mendapatkan pekerjaan, mohon diberi kekuatan, mohon pengampunan. Doa keluhan misalnya doa ketika mengalami kesesakan. Pengalaman doa bersama dalam keluarga itu berbeda-beda. Pada kesempatan ini pembimbing memancing peserta untuk mengingat saat- saat bersama keluarga menghadap Tuhan. Saat-saat itu misalnya perayaan tahun baru imlek, kematian salah satu anggota keluarga, kelahiran, dan pernikahan.

  c. Sharing dalam kelompok Pembimbing meminta peserta membentuk kelompok untuk sharing dengan dipandu pertanyaan: ii. Bagaimana perasaan Anda ketika berdoa bersama dalam keluarga?

  d. Rangkuman: Doa merupakan ungkapan syukur kita kepada Allah. Doa yang dilakukan bersama-sama akan semakin meneguhkan kita dan percaya kepadaNya. Doa bersama juga semakin mempersatukan kita dengan anggota keluarga sehingga kita merasa lebih dekat dan memampukan kita. Melalui doa bersama dalam keluarga kita merasa damai penuh sukacita dan disatukan menjadi satu kesatuan yang utuh.

4) Langkah III: Menggali pengalaman iman Kristiani

  a) Salah seorang peserta diminta membacakan Kitab Suci Kis 2: 41-47 atau dari teks yang dibagikan.

  b) Peserta diberi waktu untuk hening sejenak secara pribadi merenungkan dan menanggapi pembacaan Kitab Suci dibantu beberapa pertanyaan: i. Untuk apa Jemaat Pertama itu berkumpul? ii. Mengapa mereka berdoa bersama? iii. Apa dampak doa bagi hidup mereka?

  c) Peserta diajak untuk menemukan pesan inti perikope injil sehubungan dengan jawaban dua pertanyaan di atas.

  d) Pendamping memberi interpretasi terhadap Kis 2:41-47, dan menghubungkan hasil renungan peserta dengan tema, dan tujuan,

  Mereka berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa. Mereka berdoa karena ingin saling mneguhkan, bersatu, membagi kekayaan, bertekun, sehati sejiwa, tulus hati, dan Tuhan menyelamatkan mereka. Doa bagi mereka merupakan ungkapan syukur kepada Allah dan menjalin persaudaraan dalam kelompok. Mereka bergembira, berkumpul bersama, dan semakin percaya kepada Tuhan. Mereka merasa sebagai suatu persekutuan yang dikumpulkan oleh Allah. Ibu bapak, jika kita meneliti lebih lanjut persekutuan jemaat perdana mirip dengan persekutuan kecil yang disebut keluarga. Kita dapat menimba banyak hal dari pengalaman mereka. Cara hidup mereka diberkati Allah dan mereka mengharapkan kita (pembaca) meneladan hidupnya.

5) Langkah IV : Menerapkan Iman Kristiani dalam situasi peserta konkrit

  a) Pendamping meminta peserta mengingat perbuatan kini dan pengalaman tradisi Kristen tentang doa dengan mengajukan pertanyaan: i. Apa makna teladan doa Jemaat Pertama bagi hidup doa dalam keluarga? ii. Sikap-sikap mana yang bisa kita perjuangkan agar dapat semakin menghayati doa bersama dalam keluarga? b) Rangkuman Doa merupakan ungkapan syukur manusia atas cinta kasih Allah. manusia mengungkapkan pengalamannya baik yang menyenangkan maupun yang menyedihkan. Doa dapat meneguhkan hidup manusia.

  Melalui doa, kita dapat mengoreksi hidup, misalnya kita kurang jujur, kurang terbuka terhadap anak. Doa dapat meneguhkan kita misalnya ketika kita mengalami kesulitan dalam mendidik anak. Dengan doa kita menyediakan diri dan mendengarkan kehendak Tuhan. Pengalaman hidup dalam keluarga dapat dapat diungkapkan juga kepada Tuhan. Di dalam keluarga ada bermacam-macam pengalaman misalnya konflik, kelahiran, kematian, kenaikan kelas, pernikahan,dll. Pengalaman itu dapat diungkapkan kepada Tuhan baik sebagai tanda syukur maupun permohonan. Doa-doa dalam keluarga menjadikan antar anggota keluarga semakin akrab, terbuka, jujur, komunikatif, dan beriman kepada Tuhan. Sikap yang dapat kita perjuangkan agar dapat semakin menghayati doa bersama dalam keluarga salah satunya dengan meluangkan waktu untuk berdoa dalam keluarga dan memberi contoh kepada anak-anak untuk rajin berdoa secara pribadi kepada Tuhan.

6) Lngkah V: Mengusahakan suatu aksi konkrit

  Setelah berproses dalam pertemuan ini, pendamping mengajak peserta merenungkan dan menggali kembali makna gambar dan pengalaman- pengalaman peserta serta mempertemukannya dengan pengalaman cara pengalaman baru untuk mengembangkan diri dan dapat meningkatkan kesadaran pentingnya doa bersama dan dapat mewujudkannya dalam keluarga. (Peserta diberi kesempatan untuk hening, kemudian pendamping memberi pertanyaan penuntun untuk membuat niat-niat baru).

  a. Niat apa yang dapat kita bangun untuk semakin meningkatkan kesadaran akan pentingnya doa bersama dalam keluarga? b. Bagaimana kita dapat mewujudkan niat-niat tersebut dalam keluarga?

7) Penutup

  a. Lagu Madah Bakti. No.378 “Tuhan Naungan Hidupku”

  b. Doa Penutup Bapa yang penuh kasih, kami bersyukur kepada-Mu atas sapaan dan teguran kasih yang kami terima saat ini. Kami menyadari bahwa sebagai orangtua kami sering jatuh bangun dalam melaksanakan tugas-tugas kami khususnya dalam memberi pendidikan kepada anak-anak kami. Hal ini sering disebabkan karena kalalaian kami, ketidaktahuan kami, serta kesibukan kami sebagai orangtua. Bapa, melalui teladan cara hidup jemaat pertama, kiranya kami semakin menyadari pentingnya doa bersama dalam keluiarga. Sehingga iman kami kau teguhkan dan dapat semakin mempererat hubungan antar anggota keluarga kami. Semua harapan dan niat-niat kami ini kami serahkan kepada-Mu dengan perantaraan Tuhan kami Yesus

BAB V PENUTUP Pada akhir penulisan skripsi ini, penulis memberikan kesimpulan dan saran

  yang diharapkan dapat bermanfaat bagi para katekis dan siapa saja yang terkait dalam pembinaan dan pengembangan iman umat khususnya para orangtua Kristiani yang ada di lingkungan St. Monika Paroki Wates agar semakin dewasa dalam iman. Kedewasaan iman para orangtua Kristiani di lingkungan St. Monika Paroki Wates dapat diwujudkan dalam tindakan hidup sehari-hari dengan menghayati perannya sebagai pendidik iman anak yang utama dalam keluarga. Oleh karena itu penulis memaparkan kesimpulan dari keseluruhan bab dalam skripsi ini dan saran demi peningkatan pembinaan iman untuk meningkatkan kebiasaan religius orangtua demi pendidikan iman anak dalam keluarga melalui katekese bagi para orangtua kristiani di lingkungan St. Monika Paroki Wates.

A. Kesimpulan

1. Arti kebiasaan religius dan perannya bagi pendidikan iman anak dalam keluarga.

  Kebiasaan religius dapat dipahami sebagai penghayatan hidup keagamaan yang biasa dikerjakan untuk mendorong manusia hidup dalam kesalehan, kehidupan yang suci dan mengikuti perintah Tuhan. utama bagi anak dalam keluarga, sehingga pendidikan iman anak merupakan hal yang sangat penting. Pendidikan iman anak merupakan usaha untuk mengantar umat khususnya anak menuju pada kedewasan iman dan mempunyai pribadi yang utuh.

  Keluarga merupakan tempat persemaian dimana anak memperoleh pendidikan iman. Anak dapat berkembang menjadi pribadi yang mandiri dan dewasa dalam arti aktif, kreatif dan mempunyai tanggung jawab bermula dari pendidikan dalam keluarga. Pendidikan iman anak dalam keluarga dapat dilakukan melalui teladan kebiasaan religius yang dilakukan orangtua dalam keluarga. Kebiasaan religius tersebut meliputi kebiasaan berdoa, beribadat dan berliturgi. Kebiasaan religius juga menyangkut kebiasaan untuk menyayang dan memaafkan, untuk mengerti hari-hari raya dan kebiasaan umat (ibadat, tanda salib, gambar, buku), untuk memperhatikan keperluan sesama manusia, dan untuk bertanggung jawab atas aneka karunia ilahi (bakat, waktu, sarana). Orangtua yang menghidupi kebiasaan religius dalam keluarga akan membantu proses pendidikan iman anak.

2. Pendidikan iman anak dalam keluarga di lingkungan St. Monika Paroki Wates.

  Dalam kaitannya dengan tugas orangtua dalam pendidikan iman anak para orangtua di lingkungan St. Monika cukup memberi perhatian meskipun belum maksimal. Mereka cukup memiliki kesadaran bahwa sebagai orangtua mempunyai kewajiban untuk mengantar anak-anak mereka pada kedewasaan iman kristiani, tetapi

  Dalam melaksanakan pendidikan iman anak dalam keluarga orangtua cenderung menekankan dari segi intelektual, hal itu terlihat dari data hasil penelitian yang menunjukkan, ada sebagian keluarga yang mengatakan bahwa tanggugjawab terpenting pendidikan iman anak berada di tangan sekolah. Hal ini menunjukkan bahwa orangtua kurang ikut terlibat dalam proses pendidikan iman anak dalam keluarga. Pendidikan iman anak dalam keluarga bukan hanya sebatas nasehat-nasehat tetapi lebih pada keteladanan atau praktek hidup dari orang tua, tetapi pada kenyataannya pendidikan iman anak yang terjadi dalam keluarga di lingkungan St.

  Monika Paroki Wates masih sebatas teoritis saja. Hal ini tampak dari kurang adanya keterlibatan dari orangtua untuk mendukung pendidikan iman anak dalam keluarga seperti kebiasaan-kebiasaan religius dalam keluarga. Mereka pada umumnya kurang menghidupi kebiasaan berdoa bersama, kebiasaan membaca Kitab Suci, dan masih jarang juga mengikuti perayaan Ekaristi setiap hari Minggu. Sehingga dapat dikatakan bahwa kebiasaan-kebiasaan religius dalam keluarga belum dipandang sebagai suatu kebutuhan.

3. Faktor pendukung dan penghambat para orangtua dalam mendidik iman anak dalam keluarga di lingkungan St. Monika Paroki Wates.

  Pendidikan iman anak dalam keluarga di lingkungan St. Monika Paroki Wates dapat berjalan dengan baik, berkat dukungan oleh beberapa faktor antara lain, adanya waktu untuk berkumpul bersama keluarga, keteladanan hidup orangtua sesuai ajaran faktor yang menghamabat antara lain karena kurangnya pengetahuan iman dari orangtua, tidak ada ketebukaan dalam keluarga sehingga komunikasi menjadi macet, anak terlalu banyak bermain sehingga sulit untuk mengaktifkan mereka dalam kegitan gerejani.

  

4. Upaya meningkatkan kebiasaan religius orangtua demi pendidikan iman

anak dalam keluarga di Lingkungan St. Monika Paroki Wates

  Dalam rangka pendidikan iman anak dalam keluarga orangtua perlu memiliki kesadaran akan tugas dan tanggungjawabnya sebagai orangtua Katolik dan juga menyadari begitu pentingnya menghidupi kebiasaan-kebiasaan religius. Selain itu juga perlu menumbuhkan pemahaman, sikap dan perbuatan yang berkaitan dengan kebiasaan religius. Proses penyadaran itu dapat dilakukan melalui katekese yang terprogram.

B. Saran

  Bertitttik tolak dari seluruh pembahasan yang telah disampaikan dalam skripsi ini akhirnya penulis mencoba menyampaikan beberapa saran yang mungkin dapat bermanfaat bagi usaha peningkatan peran kebiasaan religius orangtua demi pendidikan iman anak dalam keluarga di lingkumgan St. Monika Paroki Wates.

  Penulis memberikan saran sebagai berikut:

  1. Bagi para orangtua Kristiani yang ada di Lingkungan St. Monika Paroki Wates dalam keluarga sehingga orangtua perlu menciptakan iklim terwujudnya pendidikan iman anak melalui keteladanan hidup orangtua yaitu melalui kebiasaan religius dalam keluarga.

  2. Bagi setiap keluarga di lingkungan St. Monika Paroki Wates hendaknya menyediakan dan memanfaatkan benda-benda rohani seperti: Salib, madah bakti, patung Bunda Maria, patung Tuhan Yesus, Rosario, dll dalam rangka pendidikan iman anak.

  3. Bagi Romo Paroki dimohon menyediakan buku-buku di perpustakaan Paroki mengenai teori-teori pendidikan, buku-buku rohani dan majalah-majalah rohani serta berbagai literatur yang relevan guna meningkatkan pengetahuan umat.

  115

  

DAFTAR PUSTAKA

Albertine, Sr. Egong OSU. (1983). Katekese Keluarga, (Seri Pastoral No. 85).

  Yogyakarta: Pusat Pastoral. Cooke, Bernard. (1972). Iman dan Keluarga-keluarga Kristen. Yogyakarta: Puskat. Covey, Stephen R. (1994). Tujuh Kebiasaan Manusia Yang Sangat Efektif. Jakarta: Binarupa Aksara.

  Cremers, Agus. (1995).Tahap-Tahap Perkembangan Kepercayaan. Yogyakarta: Kanisius

  Green, Thomas H., SJ. (1988). Bimbingan Doa: Hati Terbuka Bagi Allah. Yoyakarta: Kanisius. Hadisubrata, (1990). Keluarga Dalam Dunia Modern Tantangan Dan Pembinaannya. Jakarta: BPK Gunung Mulia. Hadiwiratno, J. MSF. (1994). Menuju Keluarga Bertanggung Jawab. Yogyakarta: Kanisius. Heuken, Adolf SJ (1979). Bangunkanlah Kebahagiaan Keluargamu. Jakarta: Cipta

  Loka Caraka Kitab Hukum Kanonik (Codex Iurius Canonici). (2006). (V.Kartosiswoyo,(dkk), Penerjemah). Jakarta. KWI.

  Konferensi Waligereja Indonesia. (1996). Iman Katolik Buku Informasi dan Referensi. Jakarta : Obor. Konferensi Waligereja Indonesia. (2011). Pedoman Pastoral Keluarga. Hal 5-19.

  Jakarta: Obor Konsili Vatikan II.( 1993) Lumen Gentium. Konsili Dogmatis tentang Gereja. R. Hardawiryana.SJ., Jakarta :Obor. Mangunwijaya, Y.B. (1986). Menumbuhkan Sikap Religius Anak-anak. Jakarta:

  Gramedia Martasudjita,E.dkk.(2009). Bersama Kaum Muda Berdevosi Ekaristi dan Berbagi:

  Renungan Bulan Maria dan Bulan Katekese Liturgi. Semarang: Komisi Liturgi KAS.

  Nasution, Thamrin dan Nasution, Nurhalijah. (1985). Peranan Orangtua Dalam

Meningkatkan Prestasi Belajar Anak. Yogyakarta: Kanisius.

Nawawi, Hadari & M. Martini Hadari. (1992). Instrumen Penelitian Bidang Sosial .

  Yogyakarta: Gadjah Mada Press. Pius XI. (1955). Divini Illius Magistri tentang pendidikan Kaum Pemuda, Rohani, No 6, hal 9-45.

  Sanafiah, Faisal. (1981). Dasar Dan Tehnik Penyusunan Angket. Surabaya: Usaha Nasional. Suryabrata, Sumadi. (1993). Psikologi Pendidikan. Jakarta: Raja Grafindo Persada. Suwarno. (1992). Pengantar Umum Pendidikan. Jakarta : Rineka Cipta.

  116 Leks, Stefan. (2003). Tafsir Injil Lukas. Yogyakarta: Kanisius.

  Wignyosumarto, Ing.MSF, dkk (2000). Panduan Rekoleksi Keluarga Yogyakarta: Kanisisus. Yohanes Paulus II (1992). Catechesi Tradendae. (R. Hardawiryana, Penerjemah).

  Jakarta: Dokpen KWI. Yohanes Paulus II. (1993). Familiaris Consortio (Keluarga). Jakarta: Departemen Dokumentasi dan Penerangan KWI.

  _________. (22 November 1981). Familiaris Concortio. Terj. Widyamartana A, (1994). Keluarga Kristiani Dalam Dunia Modern. Yogyakarta: Kansisus.

  Zanzucchi, Anne Marie. (1999). Anakku dan Tuhan. Dalam Sr. M. sugiarti Goretti AK (Ed). Pendampingan Iman Anak (hal 27-69). Diktat Mata Kuliah PIA untuk mahasiswa semester III, FIPA-USD, Yogyakarta.

  117

  

LAMPIRAN

  Lampiran 1 Identitas Responden:

No Keluarga Status Perkawinan

Suami Istri

  13 Bp. Sudarman Sriyatun Utuh Katolik

  21 Bp. Sukijo Sumarni Utuh Katolik

  20 Bp. Y. Ardi Eny Ferawati Utuh Katolik

  19 Bp. Kliman Saryanti Utuh Katolik

  18 Bp. Kasilan Suminah Utuh Katolik

  17 Bp. Rusipangi --------Meninggal Duda Katolik

  16 Bp. JB Rumiakso Suwarti Utuh Katolik

  15 Bp. Alip Sujanto --------Meninggal Duda Katolik

  14 Bp. FX. Purwanto Winarsih Utuh Katolik

  12 Bp. Sudalmadi Jumiyati Utuh Katolik

  1 Bp. Y Barisman Sunarti Utuh Katolik

  11 Bp.Agus Supriyadi Tri Heni Putranti Utuh Katolik

  9 Bp.TH.Sugiyo Pranoto Sri Retno Utuh Katolik 10 ------------Meninggal Ibu. Ponijem Janda Katolik

  8 Bp. FX. Sugiarto Hertiningtyas Utuh Katolik

  7 Bp. B. Waryanto Muryani Utuh Katolik

  6 Bp. P. Ngadiri Rubikem Utuh Katolik

  5 Bp. Ngabdiroso Muryanti Utuh Katolik

  4 Bp. Paridi Kemiyem Utuh Katolik

  3 Bp. Sarkowi Sumiati Utuh Katolik

  2 Bp. Y. Sutarno Endar Utuh Katolik

  22 Bp. M. Saliyo Vero Utuh Katolik

  

24 Bp. Yanto Magiyati Utuh Katolik

  

25 Bp. Supriyo Rintati Utuh Katolik

  

26 Bp.Wimbo Nugroho Rusiayana Utuh Katolik

  

27 Agus Yulianto Sapto Lusi Wati Utuh Katolik

  

28 May Vana Ristanto Valentina reanita Utuh Katolik Lampiran 2 Nama:……………….

  

KUESIONER

Petunjuk Pengisian

Berilah tanda silang (x) pada salah satu alternatif jawaban yang sesuai dengan

kenyataan. Apabila pilihan yang ditawarkan tidak sesuai, bapak/ibu dapat mengisi

jawaban pada tempat yang telah disediakan berdasarkan keadaan dan pendapat

bapak/ibu.

  1. Jenis Kelamin

  a. Pria

  b. Wanita

  2. Usia saat ini

  a. 16-20 tahun

  c. 26-30 tahun

  b. 21-25 tahun

  d. 31 tahun keatas

  3. Pendidikan Terakhir

  a. SD

  c. SMA

  b. SMP

  d. Sarjana

  4. Pekerjaan sehari-hari

  a. Pegawai

  c. Wiraswasta

  b. Petani

  d. Lain-lain…………

  5. Pendapatan perbulan

  a. ≤ Rp 500.000,00

  b. Rp 500.000,00 – Rp 1.000.000,00

  c. Rp 1.000.000,00 – Rp 1.500.000,00

  d. .≥Rp 1.500.000,00

  6. Status Perkawinan

  a. Masih lengkap, Kawin seagama

  c. Sudah janda/duda, Kawin seagama

  b. Masih lengkap, Kawin campur

  d. Sudah janda/duda, Kawin campur

  

7. Apakah Bapak/Ibu memiliki kebiasaan mengajak anak ke Gereja untuk b. Kadang-kadang

  c. Tidak pernah karena pergi sendiri bersama teman –temannya

  d. Lain-lain…………

  8. Apakah Bapak/Ibu memiliki kebiasaan membaca Kitab Suci bersama anak?

  a. Sering

  c. Tidak pernah

  b. Kadang-kadang d. Lain-lain………….

  9. Apakah Bapak/Ibu memiliki kebiasaan mengajak anak berdoa bersama?

  a. Sering

  c. Tidak pernah

  b. Kadang-kadang d. Lain-lain………….

  

10. Apakah Bapak/Ibu memiliki kebiasaan bersama dengan anak-anak bercerita

tentang kisah orang-orang kudus? a. Sering

  c. Tidak pernah

  b. Kadang-kadang d. Lain-lain………….

  11. Apakah Bapak/Ibu mengikuti kegiatan doa lingkungan?

  a. Sering

  c. Tidak pernah

  b. Kadang-kadang d. Lain-lain………….

  

12. Apa yang dilakukan Bapak/Ibu bersama anak-anak untuk mengisi waktu

luang? a. Memperkenalkan lambang-lambang seperti salib, gambar orang kudus, patung orang kudus, Rosario.

  b. Wisata rohani (Ziarah ke Gua Maria)

  c. Di rumah saja

  d. Lain-lain…………

  13. Sejauh mana Bapak /Ibu menciptakan doa dalam keluarga?

  a. Selalu

  c. Kadang-kadang

  b. Sering

  d. Tidak pernah

  

14. Apakah Bapak/Ibu menyediakan waktu khusus untuk membaca dan

membahas Kitab Suci? a. Selalu

  c. Kadang-kadang

  b. Sering

  d. Tidak pernah

  15. Apakah Bapak /Ibu mengikuti perayaan Ekaristi setiap hari Minggu?

  a. Selalu

  c. Kadang-kadang

  b. Sering

  d. Tidak pernah

  16. Sejauh mana Bapak /Ibu mengikuti kegiatan koor di lingkungan?

  a. Selalu

  c. Kadang-kadang

  17. Sejauh mana Bapak/Ibu ikut terlibat dalam kegiatan kemasyarakatan?

  a. Selalu

  c. Kadang-kadang

  b. Sering

  d. Tidak pernah

  

18. Menurut Bapak/Ibu tugas pendidikan iman anak merupakan tanggung jawab:

  a. Orangtua

  c. Gereja

  b. Guru/sekolah d. Lain-lain……………….

  19. Tugas dan tanggung jawab orangtua dalam keluarga adalah:

  a. Membesarkan anak

  b. Memberi makan dan kebutuhan hidup

  c. Menanamkan nilai-nilai Kristiani

  d. Mendampingi anak-anak sampai mandiri

  

20. Apakah Bapak/Ibu memperhatikan tahap-tahap perkembangan iman dalam

memberikan pendidikan iman anak? a. Kurang memperhatikan

  c. Kadang-kadang

  b. Memperhatikan d. Lain-lain......................

  

21. Apa tujuan yang Bapak/Ibu inginkan dalam melakukan pendidikan iman anak

dalam keluarga? a. Anak menjadi orang yang bertaqwa dan beribadat

  b. Anak menjadi aktif dalam kegiatan hidup menggereja

  c. Anak mampu mandiri serta dapat diteladani d. Lain-lain………….

  22. Menurut Bapak/Ibu apa maksud diadakannya pendidikan iman anak? a. Memperkenalkan Yesus pada anak menuju persekutuan hidup bersamanya.

  b. Orangtua terlibat langsung dalam perkembangan iman anak

  c. Agar anak teguh dalam iman dan meneladani hidup Yesus d. Lain-lain.....................

  23. Kalau Bapak/Ibu mengajak anak ke gereja, hal itu merupakan:

  a. Kebutuhan

  c. Kewajiban sebagai orangtua

  b. Pendidikan iman anak d. Lain-lain…………..

  

24. Kesulitan-kesulitan apa saja yang sering Bapak/Ibu hadapi dalam mendidik

iman anak? a. Terlalu sibuk bekerja

  b. Kurangnya waktu kebersamaan dengan anak

  c. Kurangnya pengetahuan iman d. Lain-lain……………….

  25. Apa yang menyebabkan macetnya komunikasi dalam keluarga? c. Hubungan antara bapak-ibu kurang harmonis

  d. Lain-lain………………

  

26. Apa kesulitan Bapak/Ibu dalam mengaktifkan anak untuk mengikuti kegiatan

gerejani? a. Anak-anak nakal

  b. Terlalu banyak bermain

  c. Anak merasa tidak ada teman d. Lain-lain…………………..

  

27. Menurut Bapak/Ibu faktor yang paling mendukung dalam pelaksanaan

pendidikan iman anak adalah: a. Tersedianya buku doa dan majalah katolik

  b. Adanya waktu untuk berkumpul bersama keluarga

  c. Adanya kunjungan pastor d. Lain-lain..................

  

28. Menurut Bapak/Ibu faktor pendukung pendidikan iman anak yang baik dan

efektif adalah: a. Wawasan yang luas

  b. Pengalaman yang banyak

  

c. Sikap dan teladan hidup orangtua yang sesuai dengan ajaran kristiani

  d. Lain-lain………………

  

29. Menurut Bapak/Ibu faktor yang mendorong orangtua dalam memberikan

pendidikan iman bagi anak-anaknya adalah: a. Menyadari peran sebagai orangtua kristiani

  

b. Memberi kesempatan kepada anak untuk ikut kegiatan rohani di gereja

  c. Keinginan orangtua agar anak setia terhadap agama yang dianutnya d. Lain-lain…………..

  

30. Situasi keluarga seperti apa yang paling mendukung dalam mendampingi

iman anak? a. Ada kerjasama dalam anggota keluarga

  b. Saling menghormati satu sama lain

  c. Aman, tenang, damai dan tidak ada pertentangan d. Saling mengingatkan satu sama lain. Lampiran 3 Kisah Keluarga Pak Beny

Pak Beny dan Bu Sari adalah pasangan suami istri Katolik yang dianugerahi dua

orang anak putra dan seorang anak putri. Pak Beny adalah direktur utama sebuah

perusaahaan swasta di kota Surabaya. Sedangkan Bu Sari mengelola sebuah

restoran. Kesibukan Pak Beny dan Bu sari telah menyita hampir seluruh waktunya

sepanjang hari. Karena itu, putra-putrinya yang sudah mulai remaja dituntut untuk

mandiri mengatur waktu untuk belanja, sekolah, bekerja di rumah, dll. Kebutuhan

sekolah mereka terpenuhi. Selain itu Pak Beny menuntut agar anak-anaknya

disiplin menjalankan tugas-tugasnya dengan penuh kuasa akan menghukum

anaknya yang melanggar tata tertib peraturan yang ia ciptakan. Bila sudah bicara

dan membuat keputusan, Pak Beny tak boleh di bantah atau menjawab “tidak”.

Anaknya yang putra merasa terkungkung di penjara rumahnya. Pada suatu hari,

kedua anak Pak Beny pergi menonton film dan pulangnya sudah tengah malam.

Dengan tanpa ampun, kedua anaknya dihukum di kamar dan seharian tak diberi

makan. Anaknya yang sulung, gadis, diharuskan kuliah di Fakultas kedokteran,

meskipun tidak punya minat dan tak berbakat menjadi dokter. Bu Sari tidak

berdaya melawan kemauan suaminya. Tetapi karena kesibukannya mengurusi

restoran, iapun tak cukup waktu untuk memperhatikan putra-putrinya. Akibatnya,

anak-anak yang tampak taat-taat itu ternyata sudah akrab dengan obat bius, pil

koplo, morfin dan sejenisnya. Sekarang Pak beny dan Bu Sari bingung mau

memperbaiki keluarga dan anak-anaknya.

  Sumber Bahan

Wignyasumarta. Ign. MSF, dkk. (2000). Panduan Rekoleksi Keluarga.

  Yogyakarta: Kanisius.

  Lampiran 4 Panggilan dan Perutusan Orangtua Katolik

  a) Membangun keluarga sebagai persekutuan kasih

Keluarga adalah komunitas pertama dan asal mula keberadaan setiap manusia dan

merupakan persekutuan pribadi-pribadi yang hidupnya berdasarkan dan

bersumber pada cinta kasih. Suami istri dipanggil untuk membangun persekutuan

pribadi-pibadi. Kehadiran anak dalam keluarga merupakan anugrah dan sekaligus

mahkota cintakasih dalam perkawinan. Maka anak selayaknya dicintai, dihargai,

diterima sepenuhnya dan dikembangkan. Cinta kasih itu merupakan kekuatan

keluarga yang utama, karena tanpa cinta kasih keluarga tidak akan mengalami,

merasakan kerukunan dalam hidup dan tidak dapat berkembang serta

menyempurnakan diri sebagai persatuan pribadi-pribadi. Maka keluarga

mempunyai tugas yang utama yakni menghayati dirinya sebagai persekutuan

hidup yang dilandasi cinta kasih dan berusaha terus menerus untuk

mngembangkan hidup rukun antar anggotanya.

  b) Membangun keluarga sebagai pembela kehidupan

Secara istimewa suami istri mengambil bagian dalam karya peonciptaan Allah.

  

Allah sendirilah yang mengangkat mereka menjadi rekan kerja dalam karya

penciptaanNya.

  

Sebagai mitra kerja Allah dalam karya penciptaan suami isteri mempunyai

tanggungjawab menjaga dan membela kehidupan karena semakin hari semakin

tampak jelas upaya-upaya melawan kehidupan. Sebagai contoh pemakaian cara

  

mengendalikan ledakan jumlah penduduk. Maka perlu mengembangkan sikap

menghargai, menghormati dan mensyukuri kehidupan sebagai anugerah Allah

untuk mencegah tindakan pengguguran. Kita juga perlu menyadari bahwa

manusia adalah milik Allah sehingga Allahlah yang berkuasa atas setiap hidup

yang diciptakaan-Nya sehingga manusia memiliki kewajiban untuk

memeliharanya, bukan untuk mengakhirinya. Anak –anak adalah anugerah Allah

dan mahkota perkawianan yang paling luhur, maka anak-anak harus diterima

dengan penuh sukacita.sehingga orangtua mempunyai kewajiban untuk memenuhi

kebutuhan dasar anak-anak sehinga mereka hidup dan berkembang secara

manusiawi dan Katolik.

c) Membangun keluarga sebagai gereja rumah tangga

  

Keluarga yang berkembang imannya adalah keluarga kristiani yang dipanggil

untuk turut serta dalam tugas perutusan gereja. Keluarga sungguh-sungguh Gereja

rumah tangga, mengambil bagian dalam lima tugas gereja yaitu: pertama

persekutuan (koinonia) yaitu hidup bersama berdasarkan iman dan cinta kasih

serta kesediaan untuk saling mengembangkan pribadi satu sama lain; kedua liturgi

(Leiturgia) yaitu bahwa kepenuhan hidup katolik tercapai dalam sakramen dan

hidup doa. Melalui sakramen-sakramen dan hidup doa keluarga bertemu dan

berdilog dengan Allah; ketiga, pelayanan (diakonia) yaitu dengan semangat cinta

kasih dan pelayanan keluarga Katolik mengabdikan diri kepada sesama terutama

bagi mereka yang papa; keempat, kesaksian iman (Martyria) yaitu menjadi saksi

Kristus, berani memberikan kesaksian imannya dengan perkataan maupun melaksanakan dan mewartakan Sabda Allah

d) Membangun keluarga sebagai masyarakat kecil

  

Keluarga merupakan sel terkecil dalam masyarakat yang menjadi dasar dan faktor

penumbuh masyarakat, terutama melalui pelayanan yang berdasarkan cinta

kepada sesama. Dalam rangka pembangunan hidup bermasyarakat keluarga

Katolik hendaknya mempunyai sikap terbuka, toleran dan menghargai pluralitas

yang ada.Keluarga merupakan sekolah hidup bermasyarakat. Di situ ditumbuhkan

semangat berkorban dan dialog dimana manusia dimanusiawikan.

  Sumber bahan: KWI. (2011). Pedoman Pastoral Keluarga. Hal 5-19. Jakarta: Obor

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Katekese keluarga untuk meningkatkan kesadaran akan peran penting orang tua bagi pendidikan iman anak di lingkungan Santo Carolus Borromius Margomulyo Paroki Santo Yoseph Medari Yogyakarta.
1
19
209
Fungsi komunikasi orangtua terhadap pembentukan karakter dan iman anak dalam keluarga Katolik di Paroki Administratif Santo Paulus Pringgolayan Yogyakarta.
3
19
162
Peranan doa bersama dalam keluarga Katolik terhadap pendidikan iman anak di wilayah Juwono, Paroki Santa Maria Lourdes Sumber, Magelang Jawa Tengah.
0
30
140
Deskripsi pendidikan iman anak dalam keluarga bagi perkembangan iman anak di Stasi Maria Putri Murni Sejati Cisantana, Paroki Kristus Raja Cigugur, Keuskupan Bandung.
1
20
153
Pelaksanaan pendidikan iman bagi anak berumur 0-16 tahun dalam perkawinan orangtua beda agama dan beda gereja Paroki Hati Yesus Maha Kudus Purwodadi.
1
25
239
Sumbangan katekese keluarga terhadap peningkatan kesadaran akan peran penting orang tua bagi pendidikan iman anak di lingkungan Santo Yusuf Gemuh Paroki St. Martinus Weleri.
1
8
148
Katekese keluarga untuk meningkatkan kesadaran akan peran penting orang tua bagi pendidikan iman anak di lingkungan Santo Carolus Borromius Margomulyo Paroki Santo Yoseph Medari Yogyakarta
0
15
207
Fungsi komunikasi orangtua terhadap pembentukan karakter dan iman anak dalam keluarga Katolik di Paroki Administratif Santo Paulus Pringgolayan Yogyakarta
0
12
160
Bimbingan orang tua terhadap perkembangan iman anak dalam keluarga Katolik di Paroki St. Yusup Bintaran Yogyakarta - USD Repository
0
1
132
Peranan kunjungan keluarga dalam upaya untuk meningkatkan iman keluarga Katolik di Stasi St. Paulus Pringgolayan Paroki St. Yusup Bintaran Yogyakarta - USD Repository
0
0
157
Peranan pendampingan persiapan baptisan bayi/anak sebagai upaya membina kesadaran orang tua dalam pendidikan iman anak di Paroki St. Aloysius Gonzaga Mlati - USD Repository
0
0
122
Upaya meningkatkan komunikasi antara suami-istri dalam keluarga kristiani atas dasar iman di lingkungan Andreas Rasul, Paroki Kristus Raja Baciro, Yogyakarta - USD Repository
0
0
143
Peran pendampingan orang tua dalam sekolah minggu terhadap perilaku iman anak di Paroki St Fransiskus Assisi Berastagi - USD Repository
0
1
182
Upaya meningkatkan pelaksanaan peranan orang tua dalam pendidikan iman anak dalam keluarga di Kring Santo Yohanes Paroki Santo Mikael Gombong Keuskupan Purwokerto - USD Repository
0
0
134
Peranan pola naratif eksperiensial dalam proses pendampingan iman anak - USD Repository
0
0
96
Show more