Pengembangan alat peraga perkalian ala Montessori untuk siswa kelas II SD Krekah Yogyakarta - USD Repository

Gratis

1
6
133
9 months ago
Preview
Full text

  

PENGEMBANGAN ALAT PERAGA PERKALIAN ALA MONTESSORI

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

  

Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar

  Oleh:

  

Dian Aprelia Rukmi

NIM: 091134085

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR

JURUSAN ILMU PENDIDIKAN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

  

2013

  

PENGEMBANGAN ALAT PERAGA PERKALIAN ALA MONTESSORI

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

  

Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar

  Oleh:

  

Dian Aprelia Rukmi

NIM: 091134085

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR

JURUSAN ILMU PENDIDIKAN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

  

2013

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING

HALAMAN PERSEMBAHAN 1.

  Allah SWT yang selalu memberikan rahmat dan hidayah-Nya kepada saya.

  2. Kedua orang tua saya, Supriyadi dan Sri Suraningsih yang telah setia mendampingi dan tidak pernah berhenti memberikan dukungan kepada saya sampai saat ini.

  3. Kakak saya, Lisa Utaminingsih yang telah mendukung saya selama ini.

  4. Semua saudara saya yang telah mendukung saya selama ini.

  5. Sahabat dan teman yang telah memberikan dukungan dan doa selama ini.

  6. Almamater Universitas Sanata Dharma.

HALAMAN MOTTO

  “Allah tidak membebani seseorang melainkan dengan kesanggupannya”

  • -Al-Baqarah:286-

  “Sesuatu mungkin mendatangi mereka yang mau menunggu, namun hanya didapatkan oleh mereka yang bersemangat mengejarnya”

  • -Abraham Lincoln-

  “Walking with a friend in the dark is better than walking alone in te light”

  • -Helen Keller-

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

  memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka, sebagaimana layaknya karya ilmiah.

  Yogyakarta, 30 Mei 2013 Peneliti, Dian Aprelia Rukmi

  

PERNYATAAN PERSETUJUAN

PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

  Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswi Universitas Sanata Dharma: Nama : Dian Aprelia Rukmi Nomor Mahasiswa : 091134085 Demi kepentingan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah yang berjudul:

  

Pengembangan Alat Peraga Perkalian Ala Montessori untuk Siswa Kelas II

SD Krekah Yogyakarta.

  Beserta perangkat yang diperlukan. Dengan demikian saya memberikan kepada perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengelolanya dalam bentuk apa saja, mendistribusikan secara terbatas, dan mempublikasikannya di internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta ijin dari saya sebagai penulis. Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.

  Yogyakarta, 30 Mei 2013 Yang menyatakan, Dian Aprelia Rukmi

  

ABSTRAK

  Rukmi, Dian Aprelia. (2013). Pengembangan alat peraga perkalian ala Yogyakarta: Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Sanata Dharma.

  

Kata kunci: metode penelitian pengembangan, alat peraga Montessori, perkalian,

Matematika.

  Penggunaan alat peraga dalam pembelajaran di Sekolah Dasar (SD) dapat membantu siswa memahami materi pembelajaran. Kenyataannya, guru SD belum banyak yang menggunakan alat peraga. Penelitian ini difokuskan untuk mengisi kekurangan akan pentingnya penggunaan alat peraga dalam pembelajaran di SD, khususnya pembelajaran matematika. Tujuan penelitian ini adalah menghasilkan prototipe produk berupa alat peraga perkalian ala Montessori untuk siswa kelas II SD semester genap.

  Penelitian ini menggunakan metode penelitian dan pengembangan (R&D). Metode ini digunakan untuk mengetahui prosedur pengembangan dan kualitas pengembangan alat peraga perkalian untuk siswa kelas II SD semester genap.

  Produk yang dikembangkan dalam penelitian ini mengadopsi alat peraga perkalian Montessori bernama papan skittle. Alat peraga dikembangkan berdasarkan empat karakteristik alat peraga Montessori, yaitu menarik, bergradasi, auto-education, dan auto-correction. Selain itu, peneliti juga menambahkan karakteristik kontesktual. Penelitian ini dilakukan terhadap sekelompok siswa kelas II SD Krekah Yogyakarta semester genap tahun ajaran 2012/2013.

  Prosedur pengembangkan ini melalui empat tahap, yakni, 1) kajian standar kompetensi dan materi pembelajaran, 2) analisis kebutuhan dan pengembangan perangkat pembelajaran, 3) produksi alat peraga Montessori untuk perkalian, 4) validasi dan revisi produk. Hasil penelitian menunjukkan bahwa alat peraga perkalian yang dikembangkan mengandung lima ciri alat peraga dan mempunyai kualitas “sangat baik” setelah divalidasi oleh pakar pembelajaran matematika, pakar alat peraga, guru kelas II, dan siswa kelas II SD Krekah. Alat peraga yang dikembangkan terbukti dapat mengatasi kesulitan belajar siswa dalam perkalian dengan peningkatan skor posttest sebesar 86,44%.

  

ABSTRACT

  Rukmi, Dian Aprelia . (2013). The developing of multiplication Montessori’s

  nd

  Thesis. Yogyakarta: Elementary School Teacher Education Study Program, University of Sanata Dharma.

  Keywords:

  Research and development method, Montessori’s material, multiplication, and mathematics. The use of learning media in primary school classes is often found very limited, despite of the fact that learning media have been proved to be fruitful to help the students’ understanding. This research was aimed at developing a set of

  nd Montessori multiplication materials for the 2 grade students.

  This research employed the Research and Development method (R&D) to answer two questions; the first was on the procedure used to design and develop the material and the second was on the quality of the materials developed. The set of materials developed in this study adopted Montessori’s multiplication material called the skittle board. The prototype was designed based on four main characteristics of Montessori’s materials namely attractive, gradual, auto-

  

education , and auto-correction. In addition, the researcher included contextual as

nd

  another criterion. This research was conducted on a group of 2 grade students in Krekah Primary School, Yogyakarta during the second term in the academic year of 2012/2013.

  The materials development was conducted in four major steps: 1) examining the competency standard and the math concept, 2) analyzing the students’ needs,

  3) producing the first prototype of Montessori’s multiplication material, and 4) validating and revising the prototype. The findings of the research showed that the developed multiplication material satisfied the five criteria and was measured as “very good” after a validation involving the group of students, the class teacher and a couple of experts in Math education. The set of materials also was also found to be effective in helping the struggling students in understanding the concept of multiplication with the posttest scores of students increased by 86,44%.

  

PRAKATA

  hidayah-Nya, sehingga skripsi yang berjudul Pengembangan Alat Peraga

  

Perkalian Ala Montessori untuk Siswa Kelas II SD Krekah Yogyakarta dapat

  peneliti selesaikan dengan baik. Skripsi ini disusun sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

  Peneliti menyadari sepenuhnya bahwa tanpa bimbingan, bantuan, dan dukungan dari berbagai pihak maka skripsi ini tidak akan terwujud seperti adanya sekarang ini. Karena itu, dengan hati yang tulus perkenankanlah peneliti mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan bimbingan, bantuan, dan dukungan baik secara langsung maupun tidak langsung dalam proses penelitian dan penyusunan skripsi ini.

  Ucapan terima kasih ini peneliti sampaikan kepada: 1. Rohandi, Ph.D. selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan.

  2. G. Ari Nugrahanta, S.J., S.S., BST., M.A. selaku Kaprodi PGSD sekaligus pembimbing I yang telah membimbing peneliti dengan penuh kesabaran dan kebijaksanaan dari awal penulisan skripsi hingga selesai.

  3. E. Catur Rismiati, S.Pd., M.A., Ed.D. selaku Wakaprodi PGSD.

  4. Ag. Kustulasari 81, S.Pd., M.A. selaku pembimbing II yang telah membimbing dan membantu peneliti dengan penuh kesabaran dan kebijaksanaan.

  5. Wiyanta, S.Pd. selaku Kepala SD Krekah yang telah memberikan ijin penelitian kepada peneliti untuk mengadakan penelitian di sekolah.

  6. Ibu Parjiyem selaku guru kelas II SD Krekah yang telah memberikan banyak partisipasi dan bantuan selama peneliti melakukan penelitian di sekolah.

  7. Veronica Fitri Rianasari, M.Si. selaku pakar pembelajaran matematika yang telah memberikan kontribusi dan bantuan dalam penelitian pengembangan ini.

  8. Andri Anugrahana, M.Pd. selaku pakar alat peraga yang telah memberikan kontribusi dan bantuan dalam penelitian pengembangan ini.

  9. Seluruh siswa kelas II SD Krekah tahun ajaran 2012/2013 yang telah memberikan waktu kepada peneliti untuk bekerja sama selama penelitian

  10. Kedua orang tua saya, Supriyadi dan Sri Suraningsih yang telah memberikan dukungan materi maupun moril kepada peneliti.

  11. Kakak saya Lisa Utaminingsih yang telah memberikan semangat dalam menyelesaikan skripsi ini.

  12. Teman-teman saya satu perjuangan skripsi payung Montessori, Theresia Kristi Panca Wijayanti, Mukti Sari Putri, dan Esterlita Pratiwi. Sebuah kebanggaan bisa berjuang bersama kalian.

  13. Sahabat-sahabat saya, Cahya Dwi Guna, Theresia Kristi Panca Wijayanti, Maria Yuanita Kurniasih, Yuni Darojatiningtyas, Titi Wahyuni, Dwi Astuti, dan Tri Lestari. Sebuah berkah dapat mengenal dan berbagi cerita bersama kalian.

  14. Teman-teman PGSD angkatan 2009 kelas A, Gorius Geor, Deny Adventy Sary, Anggarwati Risca P., Heronimus Yudi K., Rischa Kristiana dan semuanya yang selalu memberi saya motivasi untuk terus berkembang.

  Selamanya kita tetap bersaudara.

  15. Keluarga kecil di kost Papringan, Terry Ayu, Wenny, Mahayu, dan Meyta.

  16. Dan semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu, terima kasih untuk bantuan dan doanya selama ini.

  Penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari berbagai pihak untuk perbaikan menuju lebih sempurnanya skripsi ini. Akhirnya semoga skripsi ini bermanfaat untuk dunia pendidikan. Terima kasih.

  Penulis, Dian Aprelia Rukmi

  

DAFTAR ISI

  

  

..................................................................................... HALAMAN PENGESAHAN

  iii

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

DAFTAR BAGAN

Bagan 3.1 Langkah-langkah penelitian R&D menurut Sugiyono ...................... 24Bagan 3.2 Langkah-langkah R&D menurut Walter D., Lous C., dan

  James C. ............................................................................................ 25

Bagan 3.3 Prosedur penelitian pengembangan mengadopsi model Sugiyono dan Borg & Gall ................................................................................ 27

  

DAFTAR TABEL

  menurut Sukardjo .............................................................................. 36

Tabel 4.1 Konversi Nilai Skala Lima ................................................................. 48Tabel 4.2 Kriteria Skor Skala Lima ................................................................... 49Tabel 4.7 Komentar Ahli terhadap Produk dalam Uji Validasi ......................... 51Tabel 4.8 Rekapitulasi Hasil Pretest dan Posttest .............................................. 56Tabel 4.10 Resume Penilaian Perkalian ............................................................... 57

DAFTAR DIAGRAM

  

DAFTAR LAMPIRAN

  Lampiran 1.1 Kisi-kisi Wawancara ...................................................................... 65 Lampiran 1.2 Kisi-kisi Kuesioner ........................................................................ 65 Lampiran 1.3 Kuesioner Analisis Kebutuhan terhadap Guru .............................. 66 Lampiran 1.4 Kuesioner Analisis Kebutuhan terhadap Siswa ............................. 70 Lampiran 1.5 Rekapitulasi Hasil Kuesioner Analisis Kebutuhan Siswa ............. 73

  

Lampiran 2. Instrumen Validasi Ahli ............................................................. 76

  Lampiran 2.1 Kisi-kisi Kuesioner Penilaian Alat Peraga oleh Pakar Pembelajaran Matematika ................................................................................... 76

  Lampiran 2.2 Rekapitulasi Hasil Kuesioner Penilaian Alat Peraga oleh Pakar Pembelajaran Matematika ............................................................ 77

  Lampiran 2.3 Rekapitulasi Hasil Kuesioner Penilaian Alat Peraga oleh Pakar Alat Peraga ........................................................................................... 77

  Lampiran 2.4 Rekapitulasi Hasil Kuesioner Penilaian Alat Peraga oleh Guru Kelas

  II ................................................................................................... 78 Lampiran 2.5 Resume Penilaian Alat Peraga oleh Para Ahli .............................. 78

  

Lampiran 3. Uji Coba Lapangan Terbatas ..................................................... 79

  Lampiran 3.1 Kisi-kisi Pretest dan Posttest ......................................................... 79 Lampiran 3.2 Sample Pretest ............................................................................... 80 Lampiran 3.3 Sample Posttest ............................................................................. 81

  

Lampiran 4. Kuesioner Uji Coba Lapangan Terbatas ................................... 82

  Lampiran 4.1 Kisi-kisi Kuesioner Penilaian Alat Peraga oleh Siswa ................. 82 Lampiran 4.2 Sample Kuesioner Penilaian Alat Peraga oleh Siswa .................... 83 Lampiran 4.3 Rekapitulasi Hasil Kuesioner Penilaian Kualitas Alat Peraga oleh

  Siswa ............................................................................................... 85

  

Lampiran 5. Surat Permohonan Ijin Penelitian di SD ................................... 86

Lampiran 6. Surat Keterangan telah Melaksanakan Penelitian dari SD ..... 87

Lampiran 7. Dokumentasi ................................................................................. 88

  Lampiran 7.1 Desain Alat Peraga ........................................................................ 88 Lampiran 7.2 Papan Perkalian ............................................................................. 92 Lampiran 7.3 Uji Coba Lapangan Terbatas ......................................................... 93

  

Lampiran 8. Album Alat Peraga ..................................................................... 97

BAB I PENDAHULUAN Dalam bab ini diuraikan (1) latar belakang, (2) rumusan masalah, (3)

  tujuan penelitian, (4) manfaat penelitian, (5) spesifikasi produk yang dikembangkan, dan (6) definisi operasional.

1.1 Latar Belakang

  Dalam pasal 20 Bab I Undang-Undang (UU) Pendidikan nomor 20 tahun 2003 disebutkan bahwa pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Berdasarkan pasal tersebut dapat diartikan bahwa dalam pembelajaran perlu adanya komunikasi dua arah. Komunikasi tersebut dapat berlangsung antara siswa dengan guru, guru dengan siswa, dan siswa dengan siswa. Salah satu upaya yang dapat dilakukan guru untuk mewujudkan hal tersebut adalah dengan mengadakan dan memanfaatkan media yang berupa alat peraga.

  Alat peraga merupakan salah satu komponen dalam pembelajaran yang bermanfaat untuk mencapai tujuan pembelajaran (Suyono, 2011:17). Hal tersebut dapat dilihat dari karakteristik anak Sekolah Dasar (SD) yang pada umumnya berusia 7-12 tahun. Menurut Jean Piaget dalam Suparno (2001:70) anak usia 7-12 tahun merupakan anak yang berada pada tahap operasional konkret. Pada tahap ini anak memiliki karakteristik tersendiri yang dapat dilihat dari segi kognitif, afektif, dan psikomotorik. Anak sudah mampu berpikir berdasarkan logika atau aturan logis tertentu. Konsep anak terhadap bilangan, waktu, dan ruang juga semakin lengkap terbentuk. Perkembangan afektif anak ditandai dengan hubungannya dengan teman dan orang lain yang ada di sekitarnya. Anak pada usia tersebut memiliki perkembangan bahasa yang lebih komunikatif dan suka melakukan berbagai aktivitas motorik. Meskipun demikian, pada tahap ini anak masih menerapkan logika berpikir pada barang-barang yang konkret. Berdasarkan hal tersebut, perlu adanya pembelajaran yang menarik dan menggunaan alat peraga yang sesuai dengan perkembangan anak.

  Salah satu metode pembelajaran yang menerapkan penggunaan alat peraga dalam pembelajaran adalah metode Montessori. Metode ini merupakan sebuah wanita Italia yang bernama Maria Montessori (1870-1952). Filosofi Montessori terhadap anak adalah bahwa setiap anak unik dan individual mereka harus dihormati secara penuh dalam proses pendidikan (Seldin, 2006:12). Metode Montessori berawal dari hasil observasi yang dilakukannya terhadap anak-anak kurang beruntung yang ada di pinggiran Italia. Beliau mendidik anak-anak tersebut di sekolah yang didirikannya dan diberi nama Casa Dei Bambini (Rumah Anak-anak). Montessori terus mengembangkan metodenya dengan observasi yang dilakukan terhadap anak didiknya. Berdasarkan filosofi dan observasi yang dilakukan oleh Montessori, akhirnya beliau berhasil membawa anak-anak didiknya lulus dalam ujian yang diselenggarakan bagi anak-anak di sekolah umum (Montessori, 2002:38).

  Metode Montessori bukanlah menjadi hal yang baru dalam pendidikan di Indonesia. Beberapa sekolah di Indonesia mulai menerapkan metode Montessori seiring dengan banyaknya penelitian yang membuktikan keberhasilan metode tersebut. Hal tersebut juga didukung dengan didirikannya beberapa sekolah Montessori di Indonesia. Sekolah Montessori yang pertama berdiri pada tahun 1986 adalah Jakarta Montessori School. Sekolah Montessori saat ini juga berkembang di beberapa daerah, yaitu Bali Montessori School, Sekolah Montessori di Bandung, Batam, dan di Yogyakarta sendiri. Sekolah-sekolah Montessori menawarkan sebuah pendidikan alternatif yang berkualitas.

  Meskipun demikian, tidak semua anak dapat mengikuti pembelajaran yang ada di sekolah Montessori. Sekolah tersebut hanya terbatas pada anak-anak yang berasal dari keluarga berkecukupan. Hal tersebut merupakan sebuah fenomena yang wajar mengingat alat-alat Montessori belum diproduksi di Indonesia dan masih menggunakan bahan terstandar khusus. Apabila dilihat dari sejarah, Montessori mengawali pendampingan pendidikan di Casa dei Bambini menggunakan media seadanya. Montessori juga mengembangkan sendiri media pembelajaran yang dibutuhkan sesuai dengan kesulitan belajar yang dialami oleh anak-anak tersebut (Montessori, 2002:36). Hal ini menunjukkan bahwa sebenarnya media pembelajaran Montessori dapat dikembangkan sendiri sesuai dengan kemampuan yang dimiliki oleh penyelenggara pendidikan.

  Krekah, Gilangharjo, Kecamatan Pandak, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Sekolah tersebut berada di pedesaan dan terletak sekitar 25 km dari kota dengan didominasi wilayah pertanian. Latar belakang ekonomi keluarga siswa adalah menengah ke bawah dengan rata-rata profesi orang tua sebagai petani dan buruh. Letak sekolah yang berada di pedesaan membuat sekolah ini memiliki beberapa potensi lokal yang dapat dimanfaatkan untuk pembelajaran. Beberapa potensi lokal yang dapat dimanfaatkan adalah hasil-hasil alam yang ada di daerah tersebut, contohnya batu, pasir, hasil pertanian, rumput ilalang, tempurung kelapa, dan sabut kelapa.

  Berdasarkan hasil wawancara terhadap kepala sekolah pada hari Sabtu, tanggal 24 November 2012 diperoleh informasi bahwa sekolah masih memiliki alat peraga yang terbatas dan penggunaannya juga belum maksimal. Selain itu, berdasarkan wawancara dan observasi terhadap guru kelas dan enam siswa kelas

  II pada hari Senin, tanggal 14 Januari 2013 didapatkan hasil bahwa siswa masih mengalami kesulitan pada materi perkalian. Hal tersebut nampak pada saat siswa menyelesaikan soal perkalian. Siswa masih belum dapat membedakan bilangan pengali dan bilangan yang dikali. Pada saat siswa diminta untuk menguraikan soal perkalian ke dalam bentuk penjumlahan berulang, siswa masih terbalik dalam menuliskan bilangan pengali dan bilangan yang dikali. Guru mengungkapkan bahwa siswa masih belum memahami konsep perkalian dan salah satu faktor penyebab hal tersebut adalah terbatasnya alat peraga yang ada di sekolah. Peneliti mengamati bahwa alat peraga yang ada di kelas kebanyakan masih terbatas pada gambar-gambar, kartu bilangan, dan dekak-dekak yang tidak setiap saat dapat digunakan dalam pembelajaran. Guru juga menyampaikan secara langsung bahwa beliau pernah membuat alat peraga sendiri dengan menggunakan kalender bekas untuk mengenalkan kembali letak bilangan kepada siswa, namun hasilnya kurang memuaskan. Alat peraga tersebut tidak dapat bertahan lama dan siswa juga kurang tertarik untuk menggunakannya.

  Antara kesempatan dan keterbatasan di atas, peneliti berinisiatif untuk membuka akses yang lebih luas terhadap pendidikan yang berkualitas melalui mengembangkan alat peraga perkalian Montessori. Pengembangan alat peraga tersebut nantinya akan mengadopsi alat peraga perkalian yang biasa digunakan di sekolah Montessori dengan memanfaatkan berbagai potensi lokal yang ada di daerah penelitian.

  Penelitian ini dibatasi pada pengembangan alat peraga Montessori untuk melatih kemampuan perkalian pada mata pelajaran Matematika bagi siswa kelas II semester genap tahun ajaran 2012/2013 di SD Krekah Yogyakarta dengan Standar Kompetensi (SK) “Melakukan perkalian dan pembagian bilangan sampai dua angka” dan Kompetensi Dasar (KD) “Melakukan perkalian bilangan yang hasilnya bilangan dua angka”. Langkah-langkah yang digunakan dalam penelitian ini dibatasi sampai pada menghasilkan prototipe produk berupa alat peraga untuk melatih kemampuan perkalian.

  1.2 Rumusan Masalah

  1.2.1 Bagaimana ciri-ciri alat peraga Montessori yang dikembangkan untuk melatih kemampuan perkalian pada siswa kelas II semester genap di SD Krekah Yogyakarta tahun ajaran 2012/2013?

  1.2.2 Bagaimana kualitas alat peraga Montessori yang dikembangkan untuk melatih kemampuan perkalian pada siswa kelas II semester genap di SD Krekah Yogyakarta tahun ajaran 2012/2013?

  1.3 Tujuan Penelitian

  1.3.1 Mengembangkan alat peraga Montessori sesuai ciri-ciri yang telah ditetapkan untuk melatih kemampuan perkalian pada siswa kelas II semester genap di SD Krekah Yogyakarta tahun ajaran 2012/2013.

  1.3.2 Mengembangkan alat peraga Montessori yang berkualitas untuk melatih kemampuan perkalian pada siswa kelas II semester genap di SD Krekah Yogyakarta tahun ajaran 2012/2013.

1.4 Manfaat Penelitian

  1.4.1 Bagi siswa 2012/2013 terbantu dalam belajar perkalian menggunakan alat peraga perkalian ala Montessori.

  1.4.2 Bagi guru Menambah referensi dalam penggunaan alat peraga perkalian dengan memanfaatkan potensi lokal yang ada di sekitar sekolah.

  1.4.3 Bagi sekolah Menambah referensi penelitian pengembangan alat peraga perkalian untuk kelas II semester genap.

  1.4.4 Bagi perkembangan ilmu pengetahuan Memberikan kontribusi terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dalam bidang pendidikan SD khususnya pengembangan alat peraga perkalian kelas II semester genap dengan memanfaatkan potensi lokal.

  1.4.5 Bagi Peneliti Mendapatkan pengalaman baru dalam mengembangkan alat peraga perkalian ala Montessori sebagai upaya pengaplikasian ilmu pengetahuan tentang metode Montessori.

1.5 Spesifikasi Produk yang Dikembangkan

  Produk yang dikembangkan dalam penelitian ini adalah papan perkalian yang terdiri dari sebuah papan perkalian, kancing perkalian, dua buah tanda panah yang digunakan untuk menandai bilangan pengali dan bilangan yang dikali. Alat peraga ini dilengkapi dengan kartu bilangan, kartu soal dan album alat peraga. Kartu bilangan terdiri dari bilangan satuan, puluhan, dan ratusan. Kartu soal terdiri dari 16 soal perkalian. Album alat peraga berisi tentang tujuan pembelajaran, deskripsi alat peraga, dan cara penggunaannya. Alat peraga papan perkalian dikembangkan dengan mengadopsi alat peraga Montessori yang disebut papan skittle.

  Pada alat peraga perkalian Montessori terdapat beberapa alat peraga yang terdiri dari manik-manik satuan, manik-manik emas, papan skittle, papan perkalian dengan beberapa tingkatan (papan perkalian 1°, 2°, 3°, 4°, 5°) dan

  

checker board . Dalam penelitian ini, peneliti membatasi pengembangan produk

  dengan perkembangan siswa kelas II SD dan juga disesuaikan dengan SK serta KD kelas II. Papan perkalian digunakan sebagai alat peraga pembelajaran matematika kelas II SD Krekah Yogyakarta semester genap tahun ajaran 2012/2013 dengan SK “Melakukan perkalian dan pembagian bilangan sampai dua angka” dan KD “Melakukan perkalian bilangan yang hasilnya bilangan dua angka”.

  Papan skittle yang terdapat pada alat peraga Montessori terdiri dari papan perkalian, kartu bilangan pengali, lingkaran merah untuk menandai bilangan yang dikali, dan manik-manik merah. Papan perkalian berbentuk persegi dengan ukuran 25 cm x 25 cm. Pada sisi atas papan terdapat bilangan 1 sampai 10 yang letaknya berurutan secara horisontal. Terdapat 100 lubang berbentuk setengah lingkaran yang terletak di antara bilangan di sisi atas dan sisi kiri. Lubang-lubang tersebut digunakan untuk meletakkan setiap manik-manik merah yang digunakan untuk menghitung hasil perkalian dua bilangan. Kartu bilangan pengali terbuat dari kayu yang berbentuk persegi panjang dengan ukuran 2 cm x 1 cm dan terdiri dari kartu bilangan 1 sampai 10. Seperti namanya, kartu bilangan ini berfungsi sebagai bilangan pengali. Lingkaran merah yang digunakan untuk menandai bilangan yang dikali terbuat dari kayu yang dibentuk lingkaran dengan diameter kurang lebih 1,5 cm. Manik-manik merah digunakan untuk menghitung hasil perkalian dengan meletakkan satu per satu manik-manik merah di setiap lubang yang ada pada papan. Satu set alat peraga tersebut dilengkapi dengan kartu soal yang berisi soal-soal perkalian.

  Produk dalam penelitian ini dikembangkan dengan menggunakan potensi lokal yang ada di sekitar lokasi penelitian berupa papan kayu dan tempurung kelapa. Papan kayu yang digunakan sebagai bahan dasar pembuatan papan perkalian dipilih berdasarkan kualitas dan beratnya. Kayu yang dipilih merupakan kayu yang berkualitas baik agar alat peraga yang dibuat nantinya dapat tahan lama. Berat kayu dipilih dengan mempertimbangkan perkembangan anak agar nantinya anak dengan mudah dapat membawa alat peraga tersebut. Papan perkalian berbentuk persegi panjang dengan ukuran kurang lebih 40 cm x 25 cm yang kemudian diplitur. Pada papan tersebut ditentukan garis tepinya, batas tepi dan tepi atas pada papan nantinya digunakan untuk meletakkan tanda panah. Terdapat dua tanda panah yang dibuat dari kayu dengan ukuran kurang lebih 1,5 cm x 1 cm dan berwarna merah. Pada produk ini, tanda panah yang pertama sebagai pengganti kartu bilangan yang digunakan untuk menandai bilangan pengali. Tanda panah yang kedua sebagai pengganti lingkaran merah yang digunakan untuk menandai bilangan yang dikali.

  Angka 1 sampai 10 yang berfungsi sebagai bilangan pengali dituliskan secara vertikal pada papan sebelah kiri. Bilangan yang berfungsi sebagai bilangan yang dikali juga terdiri dari angka 1 sampai 10 dan dituliskan secara horizontal pada papan bagian atas. Bilangan-bilangan tersebut dituliskan menggunakan cat warna putih. Setelah itu dibuat lubang berbentuk persegi panjang dengan ukuran kurang lebih 2,5 cm x 0,7 cm sejumlah 100 buah di samping kanan bilangan pengali dan di bawah bilangan yang dikali. Ukuran lubang tersebut disesuaikan dengan ukuran kancing merah yang digunakan untuk menghitung operasi perkaliannya.

  Tempurung kelapa digunakan sebagai bahan dasar pembuatan kancing perkalian. Peneliti memilih tempurung kelapa yang masih muda dengan tujuan agar mudah dalam proses mewarnai. Bentuk dari tempurung kelapa nantinya berupa kancing baju dengan bentuk lingkaran yang berdiameter kurang lebih 2,5 cm. Kancing baju tersebut kemudian diberi warna sesuai dengan warna manik- manik pada alat peraga perkalian Montessori, yaitu warna merah. Pada alat peraga ini terdapat 100 kancing. Satu kancing merah nantinya terdiri dari sepasang kancing karena lebar satu buah kancing hanya 2 mm dan ukuran tersebut terlalu tipis saat digunakan anak. Kancing merah pada produk ini manfaatnya sama dengan manik-manik merah pada papan skittle, yaitu untuk menghitung operasi perkalian. Seluruh kancing perkalian, kartu bilangan, dan dua tanda panah nantinya ditempatkan pada tempat yang berbentuk balok dengan berbahan dasar kayu.

1.6 Definisi Operasional

  1.6.1 Alat peraga Montessori adalah media pembelajaran yang menerapkan karakteristik, yaitu menarik, bergradasi, auto-education, dan auto-

  correction .

  1.6.1 Album alat peraga perkalian Montessori adalah buku panduan yang berisi materi pembelajaran, tema pembelajaran, tujuan pembelajaran, usia, syarat, langkah-langkah presentasi penggunaan alat peraga dan pengendali kesalahan dalam penggunaan alat peraga perkalian Montessori.

  1.6.2 Perkalian adalah materi pada mata pelajaran Matematika di SD yang mempelajari penjumlahan bilangan yang dilakukan secara berulang dan menggunakan simbol kali (x) dalam operasi tersebut.

  1.6.3 Kontekstual adalah segala sesuatu yang berada di suatu tempat atau daerah dan memiliki potensi untuk dimanfaatkan menjadi benda yang memiliki kegunaan.

  1.6.4 Alat peraga perkalian ala Montessori adalah alat peraga perkalian yang mengadopsi alat peraga Montessori dan dibuat serta dikembangkan menggunakan segala sesuatu di sekitar tempat penelitian yang memiliki potensi untuk dimanfaatkan.

  1.6.5 Siswa SD adalah siswa kelas II semester genap SD Krekah Yogyakarta tahun ajaran 2012/2013 dengan jumlah siswa 35 siswa yang terdiri dari 16 siswa perempuan dan 19 siswa laki-laki.

BAB II LANDASAN TEORI Dalam bab ini, pembahasan tentang landasan teori dibagi menjadi empat

  bagian, yaitu (1) kajian pustaka, (2) penelitian yang relevan, (3) kerangka berpikir, dan (4) hipotesis.

2.1 Kajian Pustaka

2.1.1 Metode Montessori

2.1.1.1 Sejarah Metode Montessori

  Metode Montessori merupakan sebuah metode pembelajaran yang diperkenalkan dan dikembangkan oleh Maria Montessori. Beliau adalah seorang dokter wanita pertama di Italia yang lahir pada tanggal 31 Agustus 1870 dan wafat pada tanggal 6 Mei 1952. Saat Montessori bekerja di klinik psikiatri, beliau mendapat tugas untuk melayani anak-anak yang mengalami debiel, imbeciel,

  

idioot , dsb. Hal tersebut membuat Montessori tertarik pada dunia pendidikan

  anak-anak, khususnya anak-anak yang ditanganinya. Ketertarikan Montessori tersebut membuatnya mempelajari berbagai penemuan dari Jean Marc Gaspard Itard (1775-1838) dan Edward Seguin (1812-1880). Montessori mencoba mengembangkan metode temuan Itard dan Seguin untuk mengajar membaca dan menulis anak-anak dengan mental terbelakang di distrik kumuh di Roma. Seluruh metode Seguin diringkaskan oleh Montessori sebagai metode yang menggunakan sistem otot, sistem syaraf, dan panca indera (Montessori, 2002:28-42).

  Pada tahun 1907, Montessori menerima tawaran dari Edoardo Talamo, Direktur Jenderal Asosiasi Roma untuk mengambil alih organisasi sekolah- sekolah untuk anak-anak usia 3-7 tahun di distrik San Lorenzo. Sekolah pertama didirikan pada tanggal 6 Januari 1907 di distrik San Lorenzo yang diberi nama Casa dei Bambini atau Rumah Anak-anak (Montessori, 2002:30).

  Montessori menemukan metode belajar yang sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan anak didiknya melalui berbagai percobaan dan observasi yang dilakukannya di Casa dei Bambini. Montessori berhasil membawa anak-anak pinggiran membaca dan menulis pada usia dini dan menunjukkan kemampuan untuk peduli terhadap diri mereka sendiri (Hainstock, 1997:58). Keberhasilan lainnya adalah Montessori dapat membawa anak-anak yang kurang beruntung

2.1.1.2 Karakteristik Metode Montessori

  Secara garis besar terdapat tiga hal yang menjadi prinsip dasar dari metode Montessori yaitu filosofi yang digunakan, tugas pendidik dalam pembelajaran dan adanya alat peraga (Hainstock, 1997). Ketiga prinsip dasar tersebut menunjukkan bahwa metode Montessori merupakan metode pembelajaran yang berlandaskan pada perkembangan anak dan pembelajaran berbasis panca indera. Keberhasilan dari pelaksanaan metode ini dapat dilihat saat anak mampu melakukan suatu tugas perkembangan sesuai dengan kemampuan dan kesiapan anak.

  Esensi metode Montessori terletak pada filosofinya terhadap anak, yaitu

  

“Teach Me to Do It Myself”. Filosofi tersebut mengandung makna bahwa

  Montessori mempercayai kemampuan seorang anak untuk bekerja dan menemukan cara belajarnya sendiri (Seldin, 2006:12). Seorang anak akan belajar ketika anak tersebut sudah memiliki kesiapan dan kemauan untuk belajar. Berlandaskan filosofi tersebut Montessori menghormati kemerdekaan atau kebebasan setiap individu untuk belajar sesuai dengan tingkat kesiapan masing- masing individu sehingga hasil belajar yang dicapai setiap anak adalah berbeda dan tidak diukur bentuk nilai melainkan secara kualitatif kemajuan yang dibuat oleh anak setiap harinya. Montessori menggunakan kebebasan setiap anak untuk beraktivitas sebagai basis untuk membentuk sikap disiplin dalam diri anak (Montessori, 2002:86). Bagi Montessori, disiplin bertujuan untuk membuat anak aktif dan melakukan sesuatu untuk berbuat baik, bukan untuk diam, tidak bergerak, taat dan pasif. Kedisiplinan anak dapat terwujud melalui dukungan guru dengan memperbolehkan mereka memilih aktivitas yang ada di lingkungan belajarnya dan teman bekerja (Koh dan Frick, 2010:1). Montessori juga mempercayai adanya potensi kreativitas anak-anak dan hak anak-anak untuk dihargai sebagai dirinya dan tidak harus hanya mengikuti guru atau temannya saja. Anak-anak dibiarkan berkembang sendiri menurut bakat dan minat masing- masing, sementara guru hanya berdiri di belakang. Dasar metode Montessori mengilhami salah satu tokoh pendidikan Indonesia, yaitu Ki Hajar Dewantara

  (1889- 1959). Hal tersebut tercermin pada semboyan “Tut Wuri Handayani” yang berarti bahwa guru sebagai pendidik yang berdiri di belakang tetapi memengaruhi mengembangkan kreativitas dan kemampuannya (Rahardjo, 2009:61-62).

  Berdasarkan karakteristik metode Montessori terdapat tiga kriteria mengenai bagaiman pembelajaran semestinya diberikan kepada anak, yaitu (1) singkat, (2) sederhana, dan (3) objektif (Montessori, 2002:108). Pelajaran sebaiknya diberikan dengan singkat. Singkat yang dimaksudkan adalah menghilangkan kata-kata yang tidak berguna dalam pembelajaran. Ketika seorang pendidik mempersiapkan pelajaran yang akan diberikannya, pendidik mesti sungguh-sungguh mempertimbangkan bobot kata-kata yang akan diucapkannya untuk menilai perlu tidaknya kata-kata tersebut. Pelajaran sebaiknya sederhana. Sederhana yang dimaksudkan adalah pemilihan kata-kata yang akan digunakan haruslah merupakan kata yang paling sederhana dan mengacu pada kebenaran. Pelajaran sebaiknya objektif. Dalam hal ini, pelajaran diberikan kepada anak dengan semestinya, guru tidak boleh menarik perhatian anak kepada dirinya melainkan hanya kepada objek yang ingin guru terangkan. Penjelasan singkat dalam pembelajaran haruslah merupakan penjelasan mengenai objek yang akan dipelajari oleh anak.

  Karakteristik lain dari metode Montessori adalah adanya alat peraga yang memiliki pengendali kesalahan dengan tujuan anak dapat mengoreksi kesalahan dan memperbaikinya sendiri. Alat peraga tersebut diproduksi oleh Montessori sendiri dengan mengacu pada teori Itard dan Seguin (Hainstock, 1997:13). Montessori menciptakan alat peraga sesuai dengan keterampilan yang ada dalam tahap perkembangan anak, yaitu keterampilan hidup sehari-hari, bahasa, matematika, geografi, kesenian, pengetahuan alam, dan budaya. Beberapa alat peraga yang diciptakan Montessori untuk pembelajaran matematika dan bahasa adalah papan pasir, kartu huruf, kartu angka, tongkat asta merah-biru, menara pink, manik-manik (satuan, puluhan, ratusan, dan ribuan), dan kartu gambar.

2.1.2 Karakteristik Alat Peraga

  Alat peraga Montessori merupakan alat peraga yang diciptakan dan dikembangkan oleh Montessori melalui berbagai observasi yang dilakukannya terhadap anak-anak didiknya di Casa Dei Bambini. Seluruh alat peraga yang ada berfungsi sebagai sumber belajar sekaligus guru bagi anak (Montessori, 2002:36 alat peraga, yaitu (1) menarik, (2) bergradasi, (3) auto-education, dan (4) auto-

  

correction (Montessori, 2002:169-175). Keempat karakteristik alat peraga

  Montessori diterapkan oleh peneliti dalam mengembangkan alat peraga berupa papan perkalian. Peneliti juga menambahkan karakteristik kontesktual pada alat peraga yang dikembangkan. Kontekstual yang dimaksud dalam penelitian ini merupakan segala sesuatu yang berada di sekitar daerah penelitian dan memiliki potensi untuk dimanfaatkan dalam pembuatan serta pengembangan alat peraga. Dengan demikian terdapat lima karakteristik yang digunakan oleh peneliti dalam mengembangkan papan perkalian.

  1. Menarik

  Setiap alat peraga Montessori diciptakan menarik perhatian anak dengan tujuan agar anak memiliki keinginan untuk memegang dan merasakan alat tersebut (Montessori, 2002:174-175). Alat peraga yang menarik memiliki nilai keindahan dari warna dan kecerahannya. Warna-warna yang digunakan pada alat peraga Montessori merupakan warna terang dan lembut.

  2. Bergradasi

  Gradasi dalam alat peraga Montessori merupakan rasional gradasi dari suatu rangsangan (Montessori, 2002:175). Penekanan gradasi dalam pembelajaran Montessori terletak pada rasional anak yang terbentuk secara bertahap ketika bekerja menggunakan alat peraga. Dalam pembentukan rasional tersebut, anak dapat melibatkan warna pada alat peraga dan lebih dari satu alat indera.

  Sebagai contohnya pada permainan menggunakan alat peraga “pink

  tower

  ”. Alat peraga tersebut terdiri dari 10 kubus dengan ukuran yang bergradasi. Kubus pertama berukuran 10 cm untuk setiap sisinya. Kubus kedua berukuran 1 cm lebih kecil dari kubus pertama. Kubus ketiga berukuran 1 cm lebih kecil dari kubus kedua dan begitu seterusnya sampai kubus kesepuluh. Pada awal permainan, anak akan menurunkan satu per satu balok-balok tersebut pada karpet. Selanjutnya anak berlatih membuat sebuah menara pink dengan menyusun kubus-kubus tersebut dari yang merupakan permainan yang paling menyenangkan bagi anak yang mulai berusia 2 tahun. Melalui permainan “pink tower”, rasionalitas anak mengenai ukuran terbentuk secara bertahap.

  3. Auto-education (Pembelajaran Mandiri)

  Alat peraga Montessori diciptakan sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan anak dengan memperhatikan ukuran dan bentuk alat peraga. Hal tersebut bertujuan agar anak dapat mengambil, membawa, dan bekerja dengan alat peraga tanpa bantuan dari orang lain. Anak dapat memahami sendiri suatu pengetahuan melalui penggunaan alat peraga. Sebagai salah satu contohn ya adalah satu set blok “incastri solidi” yang disebut dengan inkastri. Alat peraga ini terdiri dari sepuluh kayu berbentuk silinder dengan ukuran bergradasi sekitar 2 mm (Montessori, 2002:169). Permainan yang dilakukan dengan alat peraga ini adalah anak memasangkan setiap silinder dengan lubang yang sesuai. Selama melakukan permainan tersebut, anak akan menyelesaikan permainannya tanpa ada intervensi dari orang lain. Anak-anak merasa sangat senang dengan permainan tersebut. Melalui permainan ini, anak dapat memahami hubungan antara inkastri dengan lubang pada blok. Anak mempelajari bahwa setiap inkastri hanya akan bisa masuk pada lubang yang sesuai dengan ukuran inkastri. Hal terpenting yang dipelajari anak dari permainan tersebut adalah mengenai dimensi ukuran (Montessori, 2002:169).

  4. Auto-correction (Memiliki Pengendali Kesalahan)

  Setiap alat peraga Montessori memiliki pengendali kesalahan yang bertujuan agar anak dapat mengetahui kebenaran dan ketepatan dalam aktivitas yang dilakakukannya bersama suatu alat peraga dengan sendirinya tanpa adanya intervensi dari orang lain. Contohnya pada saat anak melakukan permainan “incastri solidi”, ketika anak melakukan kesalahan dalam memasangkan inkastri dengan lubangnya, anak akan mengeluarkan inkastri tersebut kemudian melakukan percobaan berulang- ulang hingga dia dapat memasukkan inkastri pada lubang yang tepat dan merasa puas (Montessori, 2002:170-171). terdapat pada setiap alat peraga, namun juga terdapat pada lingkungan pembelajaran. Lingkungan pembelajaran yang dipersiapkan dengan adanya pengendali kesalahan, misalnya meja dan kursi yang digunakan oleh anak-anak (Montessori, 2002:83). Jika anak melakukan gerakan yang tidak tepat ketika duduk atau berdiri, meja yang ada di dekatnya atau kursi yang digunakannya akan memunculkan suara. Melalui suara tersebut anak mengetahui bahwa gerakan yang dilakukannya tidak tepat. Pada penelitian ini, peneliti menggunakan kelima karakteristik tersebut sebagai dasar pengembangan papan perkalian. Penerapan karakteristik menarik pada papan perkalian terletak pada warna kancing perkalian. Alat peraga yang dikembangkan juga menarik anak untuk memegang dan menggunakannya. Karakteristik bergradasi terletak pada warna kancing perkalian dan penggunaan indera perabaan anak. Pada saat anak memejamkan mata, anak tetap dapat mengetahui bahwa setiap lubang pada papan dalam kondisi kosong atau terisi kancing dengan menggunakan indera perabanya. Karakteristik auto-education ditunjukkan dengan kemandirian anak dalam belajar perkalian tanpa adanya bantuan dari teman atau guru. Karakteristik auto-correction terdapat pada papan perkalian yang ditunjukkan pada lubang-lubang di papan perkalian, kartu bilangan, dan jawaban yang ada di sebalik kartu soal. Setiap lubang pada papan perkalian hanya dapat digunakan untuk meletakkan satu kancing perkalian. Karakteristik terakhir yang dikembangkan pada alat peraga adalah kontekstual. Peneliti memanfaatkan kayu dan tempurung kelapa sebagai bahan dasar pembuatan alat peraga. Kedua bahan dasar tersebut merupakan potensi lokal yang terdapat di lingkungan sekolah.

2.1.3 Alat Peraga Perkalian Montessori

  Keterampilan yang dipelajari anak dalam pembelajaran Montessori pada materi perkalian diawali dengan pengantar konsep perkalian. Kemudian dilanjutkan dengan 11 latihan, yaitu (1) latihan menggunakan papan perkalian satuan, latihan perkalian dengan nilai puluhan, ratusan, dan ribuan, (2) latihan perkalian menggunakan papan perkalian 1°, (3) latihan perkalian menggunakan latihan perkalian menggunakan papan perkalian 4°, (6) latihan perkalian menggunakan papan perkalian 5°, (7) latihan perkalian statis dengan permainan stamp, (8) latihan perkalian dinamis dengan permainan stamp, (9) latihan perkalian statis dengan manik-manik emas, (10) latihan perkalian statis dengan manik-manik emas, dan (11) latihan menggunakan checker board.

  Berbagai alat peraga digunakan dalam latihan pada materi perkalian. Secara umum alat peraga yang digunakan untuk latihan-latihan tersebut adalah manik-manik satuan warna-warni (manik satu satuan berwarna merah, manik dua satuan berwarna hijau, manik tiga satuan berwarna pink, manik empat satuan berwarna kuning, manik lima satuan berwarna ungu, manik enam satuan berwarna biru muda, manik tujuh satuan berwarna putih, manik delapan satuan berwarna coklat, dan manik sembilan satuan berwarna biru muda), manik emas satuan, manik emas puluhan, manik emas ratusan, manik emas ribuan, papan perkalian satu, manik-manik merah, papan pengali, papan perkalian 1°, papan perkalian 2°, papan perkalian 3°, papan perkalian 4°, papan perkalian 5°, stamp berwarna (stamp satuan dan ribuan berwarna hijau, stamp puluhan berwarna biru, stamp ratusan berwarna merah), kartu angka (kartu angka berwarna hijau untuk satuan dan ribuan, kartu angka berwarna biru untuk puluhan, kartu angka berwarna merah untuk ratusan), checker board, dan papan angka.

2.1.4 Materi Perkalian pada Siswa Kelas II SD

  Matematika merupakan salah satu mata pelajaran pokok yang wajib dipelajari oleh siswa SD. Sesuai dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2006 tujuan matematika adalah membangun kemampuan siswa untuk berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, kreatif, serta kemampuan bekerjasama. Kompetensi tersebut diperlukan agar siswa dapat memiliki kemampuan memperoleh, mengelola, dan memanfaatkan informasi untuk bertahan hidup pada keadaan yang selalu berubah, tidak pasti, dan kompetitif.

  Perkalian merupakan penjumlahan berulang (Heruman, 2007:17). Materi perkalian pada siswa kelas II SD meliputi perkalian sebagai penjumlahan berulang, mengalikan dua bilangan satu angka, mengalikan bilangan dua angka dengan bilangan satu angka, mengenal sifat pertukaran pada perkalian, sifat dengan bilangan 0, mengalikan tiga bilangan berturut-turut, pasangan bilangan dengan hasil kali tertentu, dan menyelesaikan soal cerita. SK yang digunakan adalah “Melakukan perkalian dan pembagian bilangan sampai dua angka” dengan KD “Melakukan perkalian bilangan yang hasilnya bilangan dua angka”.

2.1.5 Karakteristik Perkembangan Siswa SD

  Siswa SD adalah siswa yang pada umumnya berumur 7-12 tahun. Pada usia tersebut anak mengalami perkembangan fisik-motorik, intelektual, bahasa, emosi, sosial, dan kesadaran beragama yang pesat. Perkembangan fisik-motorik pada anak ditandai dengan gerak atau aktivitas motorik yang lincah. Menurut Piaget, anak usia tersebut merupakan anak yang berada pada tahap operasi konkret. Dalam tahap tersebut anak mampu berpikir secara logis mengenai peristiwa-peristiwa yang konkret dan dapat mengklasifikasikan benda-benda ke dalam bentuk-bentuk yang berbeda (Samsunuwiyati, 2007:47). Anak sudah mampu mereaksi rangsangan intelektual atau melaksanakan tugas-tugas belajar yang menuntut kemampuan intelektual atau kemampuan kognitif.

  Perkembangan bahasa pada anak usia SD diperkuat dengan diperolehnya materi tentang bahasa ibu dan bahasa Indonesia dalam pembelajaran. Melalui materi tersebut anak terus berlatih untuk meningkatkan kemampuan komunikasinya. Perkembangan emosi pada anak juga berkembang seiring dengan perkembangan usia dalam diri. Saat memasuki usia kelas tinggi (kelas 4, 5 dan 6) anak akan mulai belajar untuk lebih mengendalikan emosi melalui peniruan dan latihan (Yusuf, 2011:63). Interaksi sosial anak berkembang dengan ditandai adanya perluasan hubungan antara anak dengan teman sebaya, masyarakat, dan lingkungan yang ada di sekitarnya. Hal tersebut menjadikan anak lebih dapat menyesuaikan diri dengan keadaan masyarakat dan lingkungan di sekitar.

  Karakteristik perkembangan anak usia 7-11 tahun tersebut apabila dikaitkan dengan tahap perkembangan Montessori merupakan tahap fanciulezza (6-12 tahun). Menurut Montessori anak usia 6-12 tahun mengalami perkembangan untuk logika dan penalaran, perkembangan imaginasi, mengalami perkembangan yang cukup luas pada moral serta mentalnya. Dalam masa tersebut anak juga belajar untuk mengenal budaya, dan menampilkan kekuatan fisik dalam dirinya. menjadi lebih berkelompok dengan teman sebayanya. Dalam kelompok tersebut anak lebih mengeksplor hal-hal yang konkret menjadi lebih abstrak melalui interaksi yang ada (Lillard, 1996:44).

2.1.5.1 Karakteristik Perkembangan Siswa Kelas II SD (8-9 Tahun)

  Siswa kelas II SD merupakan siswa yang berada di kelas bawah dalam pendidikan SD. Rata-rata usia siswa kelas II SD adalah 8-9 tahun. Anak pada usia tersebut pada umumnya masih senang untuk bermain-main bersama teman sebaya, bergerak, bekerja dalam kelompok, dan senang merasakan sesuatu secara langsung (Desmita, 2009:35). Anak masih merasa senang dengan kebebasan bermain dan berkumpul dengan teman sebayanya.

  Menurut Jean Piaget anak usia 8-9 tahun termasuk dalam tahap operasi konkret. Pada tahap ini dicirikan dengan perkembangan sistem pemikiran yang didasarkan pada aturan-aturan tertentu yang logis. Anak sudah mampu memecahkan masalah yang menggunakan pemikiran yang logis namun masih terbata pada hal-hal yang konkret (Suparno, 2001:71). Pemikiran anak dalam banyak hal sudah lebih teratur karena anak sudah mampu berpikir serial dan mampu mengklasifikasi dengan lebih baik.

2.2 Penelitian yang Relevan

2.2.1 Pengembangan Alat Peraga Perkalian

  Beberapa penelitian yang berkaitan dengan pengembangan alat peraga perkalian di SD adalah penelitian oleh Rahmawati (2009), Fariha (2010), dan Sugiarni (2012).

  Rahmawati (2009) meneliti pengaruh penggunaan alat peraga perkalian model matriks terhadap kemampuan menghitung hasil kali pada siswa kelas III B SD N Balun 3 Cepu. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa prestasi belajar matematika dengan pembelajaran menggunakan alat peraga perkalian model matriks lebih baik daipada prestasi belajar matematika dengan menggunakan alat peraga pada pokok bahasan perkalian.

  Fariha (2010) meneliti efektivitas alat peraga model matriks dengan metode pembelajaran kooperatif tipe TGT siswa kelas II SD N Sukorejo 02 efektivitas hasil 80 menjadi 100 dan nilai rata-rata evaluasi kelas menjadi 95,6 dari yang semula 72,8 dan dapat meningkatkan efektivitas proses pembelajaran siswa dari kriteria efektivitas proses 61,82 menjadi 93,33. Pada persentase keefektivitasan belajar siswa sebelum tindakan sebesar 61,82 dan meningkat pada akhir tindakan sebesar 93,33.

  Sugiarni (2012) meneliti hasil peningkatan proses dan hasil belajar matematika dengan memanfaatkan media dan alat peraga materi operasi hitung campuran pada siswa kelas II semester 2 di SDN Suniarsih, Kecamatan Bojong, Kabupaten Tegal. Penelitian ini merupakan penelitian yang memanfaatkan media dan alat peraga dalam pembelajaran matematika pada materi operasi hitung campuran. Hasil penelitian ini ditunjukkan dengan adanya peningkatan terhadap pemahaman dan prestasi belajar siswa pada materi operasi hitung campuran melalui aktivitas-aktivitas pemberian apersepsi yang menarik melalui tanya jawab interaktif, perlibatan siswa dalam demonstrasi, pengaktifan siswa dalam tanya jawab, pengaktifan siswa dalam latihan pengerjaan soal, dan pemanfaatan alat peraga.

  Secara garis besar ketiga penelitian tersebut meneliti tentang manfaat penggunaan alat peraga untuk meningkatkan pemahaman siswa mengenai materi yang dipelajari. Hasil dari ketiga penelitian tersebut menunjukkan adanya peningkatan keaktifan siswa selama mengikuti pelajaran, peningkatan terhadap pemahaman siswa, dan prestasi belajar pada materi perkalian. Berdasarkan studi literatur penelitian di Indonesia mengenai pengembangan alat peraga perkalian, peneliti belum menemukan adanya penelitian yang meneliti dan mengembangkan alat peraga perkalian.

2.2.2 Penelitian tentang Metode Montessori

  Penelitian yang berkaitan dengan metode Montessori dilakukan oleh Rathunde (2003), Lillard & Else-Quest (2006), dan Koh & Frick (2010). Rathunde (2003) meneliti perbandingan motivasi, kualitas pengalaman, dan konteks sosial pada sekolah Montessori dengan sekolah menengah tradisional. Penelitian ini dilakukan terhadap 150 siswa kelas VI dan VIII (60% perempuan dan 40% laki-laki) dari lima sekolah Montessori yang berada di empat negara menengah tradisional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) siswa Montessori lebih memiliki pengaruh yang tinggi, potensi (semangat dan giat), motivasi instrinsik (kesenangan dan ketertarikan), dan pengalaman berkonsentrasi penuh (flow experience) terhadap tugas akademik di sekolah dan (2) siswa Montessori memiliki kesan yang lebih baik terhadap sekolah dan guru, memiliki persepsi yang positif terhadap teman sekelas (menerima mereka lebih dari sekedar teman atau teman sekelas). Secara umum, siswa Montessori lebih sedikit menghabiskan waktu di kelas mendengarkan untuk pengajaran dan melihat media. Siswa Montessori lebih banyak menghabiskan waktu untuk bekerja dengan alat peraga dan penguasaan diri.

  Lillard & Else-Quest (2006) meneliti perbandingan skor nilai akademik dan sosial siswa sekolah Montessori dan program pendidikan Sekolah Dasar lainnya. Penelitian ini dilakukan terhadap siswa Montessori usia 3-6 tahun dan 6- 12 tahun di Milwaukee, Wilsconsin. Sekolah tersebut sudah beroperasi selama sembilan tahun dan melayani anak-anak yang termaginalkan serta sudah diakui oleh cabang Assosiacion Montessori Internationale (AMI/USA) di Amerika Serikat atas pengimplementasian prinsip Montessori yang bagus. Kelompok kontrol dalam penelitian ini adalah 40 siswa dari 27 sekolah publik dan 13 siswa dari 12 suburban public, private/voucher, atau charter school. Sebagian besar dari sekolah publik tersebut sudah menerapkan program pendidikan khusus seperti kurikulum untuk anak gifted dan talented, language immersions, seni dan pembelajaran berbasis discovery (2006:1893). Hasil penelitian terdiri atas dua hal, yaitu (1) siswa Montessori usia 3-6 tahun menunjukkan hasil yang lebih baik dalam tes mebaca dan matematika, memiliki dorongan yang positif dalam berinteraksi dengan orang lain, menunjukkan kemajuan dalam kesadaran sosial, dan peduli terhadap kejujuran serta keadilan, dan (2) siswa Montessori usia 6-12 tahun lebih kreatif dalam membuat essay dengan susunan kalimat yang lebih kompleks, selektif dalam memberikan respon positif tehadap masalah-masalah sosial dan menunjukkan perasaan yang peka terhadap komunitasnya di sekolah. Secara garis besar, kedua hasil tersebut menunjukkan pencapaian skor akademik dan sosial siswa Montessori lebih tinggi dari kelompok kontrol. individu (autonomy support) dalam kelas Montessori. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik guru yang memiliki autonomy support dalam kelas Montessori dan bagaimana hal tersebut berpengaruh terhadap motivasi intrinsik siswa dalam bekerja. Penelitian ini dilakukan terhadap guru dan asistennya pada sekolah Montessori serta kelas Montessori yang terdiri dari 28 siswa yang berusia 9-11 tahun, sejajar dengan kelas 4-6 pada sekolah dasar tradisional. Penelitian ini dilakukan di salah satu sekolah Montessori yang terletak di Indiana, USA. Hasil penelitian ini terdiri atas dua hal, yaitu (1) guru dan asistennya memiliki strategi yang sesuai dengan filosofi Montessori dalam mendukung kemandirian siswa dan (2) siswa Montessori memiliki motivasi instrinsik dalam mengerjakan tugasnya. Berkaitan dengan hasil yang pertama, guru dan asistennya mendukung kemandirian siswa melalui memberikan kesempatan pada siswa untuk memilih sendiri jenis aktivitas yang akan dilakukannya dan teman bekerjanya. Guru mengembangkan kemandirian berpikir siswa melalui pemberian dorongan terhadap kebebasan berpikir siswa, inisiatif diri, dan menghormati pendapat siswa. Dalam menerapkan kontrol, guru dan asistennya mengakui dan menghargai perasaan siswa, mendukung rasional untuk tingkah laku yang diharapkan, dan menekan kecaman. Berkaitan dengan hasil yang kedua, siswa Montessori memiliki kecenderungan untuk mengerjakan setiap tugas belajarnya dikarenakan siswa menyadari pentingnya aktivitas tersebut untuk dirinya dan tujuan yang dicapai dari aktivitas tersebut.

  Ketiga penelitian terhadap metode Montessori tersebut menunjukkan bahwa metode Montessori berpengaruh positif terhadap perkembangan diri seorang anak secara menyeluruh. Hal tersebut ditunjukkan dengan tingginya motivasi intrinsik, kemandirian, pencapaian nilai akademik, dan tingkah laku (sosial) anak ketika belajar di sekolah Montessori. Seorang anak mengalami perkembangan secara alami baik dalam kemampuan maupun kepribadiannya.

  Berdasarkan studi literatur penelitian yang ada di Indonesia mengenai pengembangan alat peraga perkalian dan metode Montessori, peneliti belum menemukan adanya penelitian mengenai pengembangan alat peraga perkalian yang berlandaskan pada filosofi pembelajaran Montessori. Kerangka penelitian akan memberikan pengetahuan baru dalam dunia penelitian mengenai pengembangan alat peraga perkalian.

Bagan 2.1 Literature map dari penelitian-penelitian sebelumnya Metode Montessori Alat peraga perkalian

  Rathunde (2003) Perbandingan motivasi, kualitas pengalaman, dan Rahmawati (2009) dan sosial pada sekolah Fariha (2010)

  Montessori dan sekolah Alat peraga perkalian model matriks. Lillard & Else-Quest (2006) Pencapaian nilai akademik dan sosial siswa Montessori dibandingkan siswa sekolah

  Sugiarni (2012) publik, privat, dan charter. Media dan alat peraga Koh & Frick (2010)

  Penerapan kemandirian dan dampaknya terhadap motivasi Yang perlu diteliti: Metode Montessori dan pengembangan alat peraga perkalian untuk siswa SD.

2.3 Kerangka Berpikir

  Siswa usia SD (7-11 tahun) umumnya masih senang untuk bermain, bergerak, dan bekerja di dalam kelompok. Anak pada usia tersebut menurut Jean Piaget (dalam Suparno, 2001:70) merupakan anak yang berada pada tahap operasional konkret. Pada tahap ini anak mulai mencari validitas dengan temannya melalui penggunaan bahasa yang lebih komunikatif. Pemikiran anak serasi, klasifikasi dengan lebih baik, bahkan mengambil secara probabilitas. Anak sudah mampu mengembangkan berpikir logisnya namun masih terbatas pada hal- hal atau benda konkret. Dari hal tersebut, perlu adanya penggunaan benda konkret yang dapat ditangkap dengan panca indera anak sehingga anak lebih mudah memahami suatu hal.

  Alat peraga merupakan salah satu komponen dalam pembelajaran yang bermanfaaat untuk mencapai tujuan pembelajaran. Penggunaan alat peraga dalam pembelajaran dapat memudahkan siswa untuk memahami materi. Interaksi antara guru dengan siswa maupun siswa dengan siswa juga dapat terwujud dengan penggunaan alat peraga.

  Metode Montessori merupakan salah satu metode pembelajaran yang menerapkan penggunaan alat peraga dalam pembelajaran. Metode ini merupakan sebuah metode pembelajaran yang diperkenalkan dan dikembangkan oleh seorang dokter wanita Italia yang bernama Maria Montessori. Montessori terus mengembangkan metodenya dengan adanya observasi yang dilakukan terhadap anak didiknya di Casa Dei Bambini. Observasi yang dilakukan oleh Montessori menjadikan beliau untuk terus mengoreksi dan memperbaiki alat peraga yang ada. Berdasarkan berbagai observasi yang dilakukan oleh Montessori, akhirnya beliau dapat mengembangkan alat peraga yang kekhasan tersendiri dan sesuai dengan karakteristik perkembangan anak.

  Berdasarkan wawancara dan observasi terhadap guru kelas II dan enam siswa SD Krekah Yogyakarta pada hari Senin, tanggal 14 Januari 2013 diperoleh hasil bahwa masih ada kesulitan dalam kemampuan perkalian pada siswa kelas II. Guru mengungkapkan bahwa siswa masih belum memahami konsep perkalian. Salah satu faktor penyebab dari hal tersebut adalah terbatasnya alat peraga yang ada di sekolah. Alat peraga yang ada kebanyakan masih terbatas pada gambar yang tidak setiap saat dapat digunakan dalam pembelajaran. Guru juga menyadari bahwa belum maksimal dalam membuat dan mengembangkan alat peraga karena belum adanya alokasi dana yang dapat digunakan dalam pembuatan dan pengembangan alat peraga. mengembangkan metode pembelajaran Montessori melalui pengembangkan media pembelajaran ala Montessori yang ekonomis. Peneliti akan mengembangkan alat peraga perkalian ala Montessori untuk siswa kelas II SD Krekah Yogyakarta. Pengembangan alat peraga tersebut nantinya akan mengadopsi alat peraga perkalian yang biasa digunakan di sekolah Montessori dengan memanfaatkan berbagai potensi lokal yang ada di sekitar daerah.

2.4 Hipotesis

  2.4.1 Alat peraga Montessori yang dikembangkan untuk melatih kemampuan perkalian pada siswa kelas II semester genap di SD Krekah Yogyakarta tahun ajaran 2012/2013 mengandung lima ciri alat peraga, yaitu (1) menarik, (2) bergradasi, (3) auto-education, (4) auto-correction, dan (5) kontekstual.

  2.4.2 Alat peraga Montessori yang dikembangkan untuk melatih kemampuan perkalian pada siswa kelas II semester genap di SD Krekah Yogyakarta tahun ajaran 2012/2013 mempunyai kualitas “baik”.

BAB III METODE PENELITIAN Dalam bab ini diuraikan (1) jenis penelitian, (2) setting penelitian, (3)

  prosedur pengembangan, (4) uji validasi produk, (5) instrumen penelitian, (6) teknik pengumpulan data, (7) teknik analisis data, dan (8) jadwal penelitian.

3.1 Jenis Penelitian

  Penelitian yang digunakan adalah penelitian Research and Development

  

(R&D). Penelitian R&D merupakan proses atau langkah-langkah untuk

  mengembangkan suatu produk baru atau menyempurnakan produk yang telah ada dan dapat dipertanggungjawabkan (Sukmadinata, 2011:164). Penelitian ini merupakan penelitian yang berbasis pada model pengembangan industri yang menggunakan penelitian untuk menemukan suatu desain produk dan prosedur yang baru (Borg & Gall, 2007:589). Penelitian ini berawal dari sebuah kebutuhan akan sebuah produk untuk memecahkan suatu permasalahan. Produk yang dihasilkan dapat berupa hardware atau software.

  Menurut Sugiyono (2011:409) penelitian R&D memiliki 10 langkah yang terdiri dari (1) analisis potensi dan masalah, (2) pengumpulan data, (3) desain produk, (4) validasi desain, (5) revisi desain, (6) uji coba produk, (7) revisi produk, (8) uji coba pemakaian, (9) revisi produk, dan (10) produksi masal. Kesepuluh langkah tersebut ditunjukkan pada bagan 3.1. Secara garis besar kesepuluh langkah tersebut dapat dibagi menjadi tiga tahap yaitu analisis kebutuhan, pengembangan produk, dan uji coba produk.

  1. Potensi

  2.Pengum-

  3. Desain

  4. Validasi dan pulan data produk Desain masalah

  8. Uji Coba

  7. Revisi

  6. Uji Coba

  5. Revisi

Pemakaian Produk Produk Desain

  10.

  9. Revisi Produksi Produk Masal

Bagan 3.1 Langkah-langkah penelitian R&D menurut Sugiyono Walter Dick, Lou Carey, dan James Carey (dalam Borg & Gall, 2007:589) menyebutkan bahwa penelitian R&D dalam bidang pendidikan memiliki 10 (2) analisis keterampilan-keterampilan khusus, prosedur, dan tugas-tugas belajar yang terlibat dalam pencapaian tujuan, (3) identifikasi tingkat kemampuan dan perilaku siswa, karakteristik pembelajaran yang ada, dan materi serta keterampilan yang akan dikembangkan, (4) menuliskan rencana pengembangan program atau produk berdasarkan hasl analisis pada langkah 1, 2, dan 3, (5) pengembangan instrumen penilaian, (6) pengembangan strategi, (7) pengembangan materi, (8) membuat desain evaluasi formatif, (9) melakukan revisi, dan (10) membuat desain evaluasi sumatif. Alur dari kesepuluh langkah tersebut ditunjukkan pada bagan

  3.2. Step 1

  Identify intstructional goal (s) Step 2

  Step 3 Conduct instructional analysis Analyze learners and context

  Step 4 Write performance objectives

  Step 5 Develop assessment instruments

  Step 6 Step 9 Develop instructional strategy Revise instruction

  Step 7 Develop and select instructional

  Step 8 Design and conduct formative

  Step 10 Design and conduct summative

Bagan 3.2 Langkah-langkah R&D menurut Walter Dick, Lou Carey, dan James Carey

3.2 Setting Penelitian

  3.2.1 Objek Penelitian berupa papan perkalian.

  3.2.2 Subjek Penelitian

  Subjek dalam penelitian ini terdiri dari dua subjek, yaitu sekelompok siswa kelas II semester genap tahun ajaran 2012/2013 dan seorang guru kelas II SD Krekah Yogyakarta yang bernama Ibu Parjiyem. Peneliti memilih sekelompok siswa yang mendapatkan nilai matematika di bawah Kriteria Kentuntasan Minimal (KKM) pada KD

  “Melakukan perkalian bilangan yang hasilnya bilangan dua angka”.

  3.2.3 Lokasi Penelitian

  Tempat penelitian yang digunakan oleh peneliti adalah SD Krekah, Bantul Yogyakarta. Sekolah tersebut terletak di Ds. Krekah, Gilangharjo, Kec. Pandak, Kab. Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

3.3 Prosedur Pengembangan

  Berdasarkan tahapan langkah yang digunakan dalam penelitian R&D menurut Sugiyono (2010) dan Borg & Gall (2007), peneliti memodifikasi langkah-langkah tersebut menjadi empat tahap. Keempat tahap tersebut terdiri dari (1) kajian SK dan materi pembelajaran, (2) analisis kebutuhan pengembangan program pembelajaran, (3) produksi alat peraga Montessori untuk perkalian, (4) validasi dan revisi produk. Alur dari keempat tahap penelitian tersebut dapat dilihat pada bagan 3.3. Pada setiap tahap terdapat beberapa langkah yang akan dilakukan oleh peneliti.

Bagan 3.3 Prosedur Penelitian Pengembangan Mengadaptasi Model Sugiyono dan Borg & Gall

  

Tahap III

Produksi Alat Peraga Montessori untuk Perkalian

Desain Alat Peraga

  Album Alat Peraga Pengumpulan Bahan Pembuatan

  

Prototipe Produk Alat Peraga Montessori untuk Perkalian Kelas II Semester Genap

Tahap II

Analisis Kebutuhan dan Pengembangan Perangkat Pembelajaran

  Analisis Kebutuhan dan Pengembangan Produk Analisis Sumber Belajar

  Penetapan Kompetensi Dasar dan Materi Analisis Karakteristik Siswa Pengembangan Perangkat

  Pembelajaran

Tahap I

Kajian Standar Kompetensi dan Materi Pembelajaran

  

Tahap IV

Validasi dan Revisi Produk

Validasi Pakar Pembelajaran Matematika

  Pakar Alat Peraga Analisis I Guru Kelas II

Revisi Produk

  Uji Coba Lapangan Terbatas Analisis II Berdasarkan bagan 3.3, tahap pertama yang dilakukan oleh peneliti adalah mengkaji SK dan materi pembelajaran matematika kelas II pada semester genap. mengenai materi pembelajaran matematika.

  Tahap kedua yang dilakukan oleh peneliti adalah melakukan analisis kebutuhan dan pengembangan program pembelajaran. Pada tahap ini peneliti melakukan tiga hal yang terdiri atas analisis sumber belajar, penetapan KD, dan materi serta analisis karakteristik siswa. Ketiga hal tersebut dapat dilakukan oleh peneliti dalam waktu yang bersamaan melalui wawancara dan observasi. Peneliti melakukan wawancara terhadap guru dan siswa kelas II SD Krekah Yogyakarta mengenai kesulitan belajar siswa, usaha yang sudah dilakukan oleh guru dan penggunaan alat peraga dalam pembelajaran. Selain wawancara, peneliti juga melakukan observasi terhadap dua hal, yaitu pembelajaran matematika yang dilakukan oleh guru kelas II dan ketersediaan alat peraga di sekolah. Hal lain yang dapat diperoleh melalui observasi adalah karakteristik siswa kelas II. Peneliti juga melakukan penetapan KD dan materi matematika yang akan digunakan dalam penelitian. Berdasarkan ketiga hal yang dilakukan pada tahap kedua, peneliti mendapatkan hasil mengenai jenis alat peraga yang akan dikembangkan sesuai dengan kebutuhan yang ada di kelas II. Alat peraga yang akan dikembangkan adalah alat peraga perkalian.

  Tahap ketiga yang dilakukan oleh peneliti adalah memproduksi alat peraga Montessori untuk perkalian. Pada tahap ini peneliti membuat desain alat peraga perkalian dan album alat peraga. Langkah selanjutnya yang dilakukan oleh peneliti adalah menentukan dan mengumpulkan bahan yang akan digunakan untuk memproduksi alat peraga. Bahan tersebut merupakan bahan yang ada di lingkungan sekitar lokasi penelitian. Langkah terakhir pada tahap ini adalah memproduksi alat peraga perkalian dengan memanfaatkan potensi yang berada di sekitar daerah penelitian.

  Tahap keempat yang dilakukan oleh peneliti adalah validasi dan revisi produk. Validasi produk dilakukan oleh pakar pembelajaran matematika, pakar alat peraga, dan guru kelas II. Berdasarkan hasil validasi, peneliti melakukan revisi terhadap produk yang dikembangkan. Langkah selanjutnya yang dilakukan oleh peneliti adalah melakukan uji coba lapangan terbatas kepada sekelompok siswa kelas II yang sudah dipilih berdasarkan nilai ulangan pada materi perkalian. hasil berupa prototipe produk alat peraga matematika Montessori untuk kemampuan perkalian kelas II semester genap.

3.4 Uji Validasi Produk

  Uji validasi produk dilakukan untuk mendapatkan tanggapan, komentar, saran, kritik, dan penilaian terhadap kelayakan dan kualitas produk yang dikembangkan. Uji validasi produk dilakukan dalam dua tahap, yaitu uji validasi produk oleh para ahli dan uji validasi produk melalui uji coba lapangan terbatas.

  3.4.1 Uji Validasi Produk oleh Para Ahli

  Tahap pertama dalam uji validasi produk adalah uji validasi produk oleh para ahli. Uji validasi dilakukan untuk meminta penilaian dan tanggapan dari pakar pembelajaran matematika, pakar alat peraga, dan guru kelas II SD Krekah Yogyakarta. Penilaian dan tanggapan yang diperoleh dari beberapa ahli tersebut digunakan peneliti untuk mengadakan revisi terhadap alat peraga perkalian Montessori yang dikembangkan oleh peneliti.

  3.4.2 Uji Validasi Produk melalui Uji Coba Lapangan Terbatas

  Setelah peneliti mengadakan revisi terhadap produk pengembangan alat peraga perkalian, tahap selanjutnya adalah melakukan uji validasi produk dengan uji coba lapangan terbatas. Uji coba lapangan terbatas dilakukan terhadap sekelompok siswa kelas II SD Krekah Yogyakarta yang mendapatkan nilai matematika di bawah KKM untuk KD

  “Melakukan perkalian bilangan yang hasilnya bilangan dua angka” pada tahun ajaran 2012/2013. Hal tersebut dilakukan dengan pertimbangan nilai matematika siswa yang belum mencapai KKM. Selain itu, mengingat bahwa alat peraga yang dikembangkan oleh peneliti merupakan prototipe yang nantinya baru bisa diperbanyak jumlahnya setelah diketahui hasil dari penelitian ini.

  Uji validasi produk dengan uji lapangan terbatas dilakukan untuk memperoleh penilaian dan tanggapan dari siswa. Penilaian dan tanggapan dari siswa digunakan sebagai umpan balik terhadap alat peraga perkalian Montessori yang dikembangkan oleh peneliti. Umpan balik tersebut bermanfaat untuk mengetahui kelayakan penggunaan alat peraga dalam pembelajaran perkalian engan KD “Melakukan perkalian bilangan yang hasilnya bilangan dua angka”.

3.5 Instrumen Penelitian

3.5.1 Jenis Data

  Jenis data yang digunakan oleh peneliti dalam penelitian pengembangan ini adalah data kualitatif dan kuantitatif yang diperoleh dari data analisis kebutuhan, uji validasi produk oleh para ahli, dan hasil validasi produk dengan uji coba lapangan terbatas. Penjelasan tentang jenis data yang digunakan dalam penelitian dijabarkan dalam sub-sub judul di bawah ini.

3.5.1.1 Analisis Kebutuhan

  Jenis data yang diperoleh dalam analisis kebutuhan adalah data kualitatif dan kuantitatif. Data kualitatif berbentuk deskripsi mengenai proses pembelajaran yang berlangsung di kelas II, ketersediaan alat peraga di sekolah, khususnya alat peraga yang ada di kelas II, dan penggunaannya dalam pembelajaran. Data tersebut diperoleh melalui wawancara dan observasi. Data kuantitatif berbentuk angka atau skor yang menunjukkan kebutuhan alat peraga perkalian pada siswa kelas II. Data tersebut diperoleh melalui kuesioner yang dilakukan oleh peneliti terhadap siswa kelas II.

  Subjek yang menjadi narasumber dalam wawancara adalah kepala sekolah, guru kelas II, dan enam siswa kelas II. Wawancara kepada kepala sekolah bertujuan untuk mendapatkan informasi mengenai ketersediaan alat peraga di sekolah. Wawancara kepada guru kelas bertujuan untuk mendapatkan informasi mengenai ketersediaan alat peraga di kelas II, penggunaan alat peraga dalam pembelajaran, pengembangan alat peraga oleh guru, dan kesulitan belajar yang dihadapi siswa. Wawancara kepada enam siswa kelas II bertujuan untuk mendapatkan informasi mengenai kesulitan belajar yang dialami siswa, penggunaan alat peraga oleh guru dalam pembelajaran, dan model pembelajaran yang berlangsung di kelas.

  Observasi dilakukan oleh peneliti di kelas II dan perpustakaan sekolah. Peneliti melakukan observasi terhadap pembelajaran matematika yang berlangsung di kelas II dan ketersediaan alat peraga yang ada di kelas. Selain itu, peneliti juga melakukan observasi di perpustakaan yang menjadi tempat Jenis kuesioner yang digunakan adalah kuesioner terbuka yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk memberikan jawaban lebih dari satu. Tujuan dari penggunaan kuesioner tersebut adalah memperoleh informasi mengenai karakteristik pembelajaran yang berlangsung di kelas dan kebutuhan siswa terhadap alat peraga.

  3.5.1.2 Validasi Produk oleh para Ahli Data yang diperoleh dari uji validasi adalah data kualitatif dan kuantitatif.

  Data kualitatif berupa komentar dan saran dari pakar pembelajaran matematika, pakar alat peraga, dan guru kelas II SD Krekah Yogyakarta. Data kuantitatif berupa skor yang diberikan oleh para ahli untuk setiap indikator penilaian atas alat peraga yang sudah dikembangkan.

  3.5.1.3 Validasi Produk melalui Uji Coba Lapangan Terbatas

  Jenis data yang diperoleh dari uji coba lapangan terbatas adalah data kuantitatif. Data kuantitatif berupa nilai atau skor dari pretest, posttest, dan kuesioner yang diperoleh dari sekelompok siswa kelas II yang tidak lulus KKM pada materi perkalian bilangan yang menghasilkan bilangan dua angka.

3.5.2 Instrumen Pengumpulan Data

3.5.2.1 Analisis Kebutuhan

  Jenis instrumen yang digunakan dalam analisis kebutuhan adalah wawancara, observasi, dan kuesioner. Wawancara adalah suatu proses tanya jawab sepihak antara pewawancara dan yang diwawancarai yang dilaksanakan sambil bertatap muka baik secara langsung atau pun tidak langsung dengan maksud memperoleh jawaban dari pihak yang diwawancara (Masidjo, 1995:72). Wawancara dilaksanakan terhadap kepala sekolah, guru kelas II, dan enam siswa kelas II SD Krekah. Teknik wawancara yang digunakan oleh peneliti adalah wawancara semi terstruktur. Wawancara semi terstruktur merupakan wawancara yang menggunakan kombinasi antara teknik terstruktur dan teknik tidak terstruktur. Pada pelaksanaannya, peneliti telah membuat topik-topik pertanyaan yang terdapat pada tabel 3.1, tabel 3.2, dan tabel 3.3 (lihat lampiran 1.1 halaman

  65). Saat wawancara berlangsung, peneliti dapat mengembangkan setiap topik yang telah dibuat menjadi pertanyaan-pertanyaan yang lebih spesifik.

  Menurut Arikunto (2005:145), “pengamatan merupakan kegiatan yang meliputi pemusatan perhatian terhadap suatu objek dengan menggunakan seluruh alat indera”. Pada penelitian ini peneliti melaksanakan observasi terhadap proses pembelajaran matematika yang dilakukan oleh guru kelas II dan ketersediaan alat peraga di sekolah. Pada pelaksanaan pembelajaran, peneliti mengamati cara mengajar guru dan penggunaan alat peraga. Peneliti membuat catatan anekdot dalam pelaksanaan observasi untuk mencatat hal-hal yang berlangsung secara detail. Observasi terhadap ketersediaan alat peraga di sekolah, dilakukan peneliti di ruang perpustakaan untuk mengetahui macam-macam alat peraga yang sudah dimiliki oleh sekolah.

  Kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan tertulis kepada responden untuk dijawabnya (Sugiyono, 2011:142). Jenis kuesioner yang digunakan adalah kuesioner terbuka yang memberikan kesempatan kepada responden untuk memberikan jawaban lebih dari satu. Kuesioner diberikan kepada guru kelas II dan seluruh siswa kelas

  II. Kuesioner terdiri dari 10 butir pertanyaan yang mencakup indikator-indikator yang akan dinilai oleh pakar pembelajaran matematika dan pakar alat peraga. Indikator-indikator tersebut terangkum dalam tabel 3.4 yang dapat dilihat pada lampiran 1.2 halaman 65. Hasil penilaian ini selanjutnya digunakan untuk memberikan pertimbangan dalam merancang alat peraga yang akan dikembangkan oleh peneliti.

3.5.2.2 Validasi Produk oleh Para Ahli

  Jenis instrumen yang digunakan dalam uji validasi oleh para ahli adalah kuesioner. Rentang nilai pada kuesioner tersebut adalah 1, 2, 4, dan 5 yang mengadopsi pada model skala Likert. Kuesioner diisi oleh para ahli setelah peneliti melakukan presentasi mengenai alat peraga yang sudah dikembangkan. Kuesioner tersebut disusun berdasarkan lima karakteristik alat peraga yang akan digunakan oleh peneliti dalam pengembangan produk. Kelima karakteristik tersebut terdiri atas empat karakteristik alat peraga Montessori dan satu karakteristik yang ditambahkan oleh peneliti. Kelima karakteristik tersebut adalah

  (1) menarik, (2) bergradasi, (3) auto-education, (4) auto-correction, dan (5) kontekstual. Kisi-kisi kuesioner validasi produk oleh para ahli dapat dilihat pada

3.5.2.3 Validasi Produk melalui Uji Coba Lapangan Terbatas

  Jenis instrumen yang digunakan oleh peneliti dalam uji coba lapangan terbatas adalah tes dan non tes.

  1. Tes

  Jenis tes yang digunakan oleh peneliti adalah menyusun tes bentuk objektif dengan jenis jawaban singkat (short answer). Tes tersebut digunakan sebagai pretest dan posttest. Jumlah soal yang disusun oleh peneliti sebanyak 20 soal berdasarkan kisi-kisi yang telah disusun sebelumnya. Kedua puluh soal tersebut disusun berdasarkan kisi-kisi soal yang telah disusun sebelumnya. Kisi-kisi tersebut terdapat pada tabel 3.6 (lampiran 3.1 halaman 79).

  2. Non Tes

  Jenis instrumen yang digunakan oleh peneliti pada uji validasi produk melalui uji coba lapangan terbatas adalah kuesioner. Kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan tertulis kepada responden untuk dijawab (Sugiyono, 2011:142). Jenis kuesioner yang digunakan adalah kuesioner tertutup. Penyusunan kuesioner berdasarkan kisi-kisi berdasarkan empat karakteristik alat peraga Montessori dan karakteristik kontekstual. Kisi-kisi tersebut teruraikan dalam tabel 3.7 (lampiran 4.1 halaman 82). Tujuan penggunaan kuesioner adalah untuk mengetahui keefektifan alat peraga yang dikembangkan dalam upaya menjawab kebutuhan dan kepuasan siswa terhadap alat peraga tersebut.

3.6 Teknik Pengumpulan Data

3.6.1 Analisis Kebutuhan

  Pada pengumpulan data mengenai analisis kebutuhan, peneliti menggunakan wawancara, observasi, dan kuesioner. Jenis wawancara yang digunakan oleh peneliti adalah wawancara semi terstruktur. Wawancara tersebut menggunakan pertanyaan yang menuntut jawaban campuran, ada yang berstruktur ada pula yang bebas (Arifin, 2009:158). Wawancara tersebut dilakukan terhadap dilakukan oleh peneliti sebelum melakukan wawancara adalah merumuskan tujuan, membuat kisi-kisi, dan menyusun daftar pertanyaan pokok yang akan digunakan dalam wawancara.

  Observasi dilakukan peneliti di ruang kelas II dan perpustakaan sekolah untuk memperoleh informasi mengenai pembelajaran matematika dan alat peraga yang ada. Kuesioner ditujukan kepada seluruh siswa kelas II yang berjumlah 35 siswa dan guru kelas II.

  3.6.2 Validasi Produk oleh Para Ahli

  Pada tahap validasi oleh para ahli, peneliti mengundang para ahli kemudian melakukan presentasi dengan menjelaskan latar belakang pembuatan alat peraga, proses pembuatan alat peraga dan simulasi penggunaan alat peraga papan perkalian yang dikembangkan oleh peneliti di hadapan para ahli. Tujuan dari presentasi dan simulasi tersebut untuk mendapatkan penilaian dan tanggapan dari para ahli. Para ahli memberikan penilaian, saran, dan tanggapan pada kuesioner alat peraga yang disusun berdasarkan kisi-kisi. Para ahli dapat memberikan tanggapannya dan memberikan skor yang terdapat pada kuesioner. Rentang skor tersebut antara 1, 2, 4, dan 5. Hasil penilaian tersebut nantinya digunakan oleh peneliti untuk melakukan revisi terhadap alat peraga papan perkalian yang dikembangkan.

  3.6.3 Validasi Produk melalui Uji Coba Lapangan Terbatas

3.6.3.1 Tes

  Tes merupakan suatu teknik atau cara yang digunakan dalam rangka melaksanakan kegiatan pengukuran yang di dalamnya terdapat berbagai pertanyaan, pernyataan, atau serangkaian tugas yang harus dikerjakan atau dijawab oleh peserta didik untuk mengulur aspek perilaku peserta didik (Arifin, 2009:120). Bentuk tes yang digunakan dalam penelitian ini adalah bentuk tes objektif dengan jawaban singkat (short answer). Tes tersebut disusun berdasarkan kisi-kisi yang telah dibuat oleh peneliti. Jumlah soal yang digunakan dalam tes sebanyak 20 soal. Tes dilaksanakan sebanyak dua kali, yaitu pretest dan posttest.

  

Pretest dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui kemampuan awal yang

  dimiliki oleh siswa. Posttest bertujuan untuk mengetahui kemampuan siswa tersebut bertujuan untuk mengetahui efektivitas alat peraga perkalian yang dikembangkan oleh peneliti.

3.6.3.2 Kuesioner

  Kuesioner diberikan kepada sekelompok siswa yang menjadi subjek penelitian. Sekelompok siswa tersebut diminta untuk mengisi kuesioner setelah seluruh proses pendampingan belajar materi perkalian menggunakan alat peraga papan perkalian yang dikembangkan oleh peneliti. Bentuk kuesioner yang digunakan pada tahap ini adalah kuesioner tertutup. Hasil kuesioner ini selanjutnya akan diolah dalam bentuk turus dengan tujuan mengetahui keberhasilan alat peraga yang dikembangkan dalam menjawab kebutuhan siswa.

3.7 Teknik Analisis Data

  3.7.1 Analisis Kebutuhan

  Teknik analisis data yang digunakan dalam analisis kebutuhan adalah interpretasi data dan penghitungan nilai dalam bentuk persen. Interpretasi data dilakukan terhadap hasil wawancara dan observasi. Pada pelaksanaannya, peneliti menyusun interpretasi hasil wawancara dan observasi dengan mengkonsultasikan langsung dengan narasumber. Penghitungan nilai dalam bentuk persen dilakukan terhadap data yang diperoleh dari kuesioner analisis kebutuhan. Penghitungan tersebut bertujuan untuk mengetahui persentase setiap item pada kuesioner.

   Rumus persentase jawaban pada kuesioner

  ℎ

  Persentase jawaban =

  100 % ℎ

  3.7.2 Validasi Produk oleh Para Ahli

  Data yang diperoleh dari hasil validasi produk oleh para ahli berupa data kuantitatif dan data kualitatif. Data kuantitatif berbentuk skor atau nilai untuk setiap pernyataan pada kuesioner penilaian alat. Skor atau nilai tersebut dianalisis dikonversikan menjadi data kualitatif skala lima dengan acuan menurut Sukardjo (2008:101) yang tampak pada tabel 3.8.

Tabel 3.8 Tabel Konversi Data Kuantitatif ke Data Kualitatif Skala Lima menurut Sukardjo Interval Skor Kategori

  X > + 1,80 Sb Sangat baik i i Baik i i ≤ i i + 0,60 SB < X + 1,80 Sb Cukup 0,60 SB < X + 0,60 Sb ≤ i i i i

  1,80 SB < X - 0,60 Sb Kurang i i i i

  • – Sangat Kurang X i – 1,80 Sb i ≤

  Keterangan:

  1 Rerata idea ( ) : (skor maksimal ideal + skor minimal ideal) i

  2

  1 Simpangan baku ideal (SB i ) : (skor maksimal ideal

  • – skor minimal ideal)

  6 X : Skor aktual

  Peneliti hanya menggunakan empat kriteria penilaian alat peraga, yaitu (1) kurang baik, (2) kurang baik, (4) baik, dan (5) sangat baik. Berdasarkan empat kriteria tersebut, peneliti membuat tiga jenis kesimpulan, yaitu 1 yang berarti layak digunakan/uji coba lapangan tanpa revisi, 2 yang berarti layak digunakan/uji coba lapangan dengan revisi sesuai saran, dan 3 yang berarti tidak layak digunakan/uji coba lapangan.

3.7.3 Validasi Produk melalui Uji Coba Lapangan Terbatas

3.7.3.1 Tes Jawaban Singkat (Short Answer)

  Pada tahap ini, analisis yang dilakukan adalah perhitungan skor yang diperoleh oleh sekelompok siswa kelas II yang dipilih sebagai subjek penelitian. Skor tersebut diperoleh dari hasil pretest dan posttest yang diberikan dengan materi perkalian yang menghasilkan bilangan dua angka. Nilai untuk setiap soal adalah satu. Penghitungan nilai pretest dan posttest menggunakan rumus berikut ini:

   Rumus untuk mendapatkan nilai tes: Nilai =

  ℎ

  x 100 Hasil nilai pretest dan posttest siswa digunakan peneliti untuk menghitung nilai rata-rata pretest dan posttest. Dari nilai rata-rata tersebut peneliti dapat mengetahui persentase peningkatan nilai pretest ke posttest.

   Rumus untuk mendapatkan nilai rata-rata akhir: Rata-rata nilai akhir =

  ℎ

   Rumus untuk mendapatkan nilai rata-rata akhir: Persentase peningkatan nilai =

  ( − ) 100%

  Keterangan:

  : rata-rata nilai posttest : rata-rata nilai pretest

3.7.3.2 Kuesioner

  Data kuesioner diperoleh dengan menghitung rata-rata skor kuesioner setiap siswa. Rata-rata tersebut diperoleh dari total skor yang diperoleh dibagi dengan jumlah item pernyataan. Setelah rata-rata skor kuesioner diperoleh, peneliti menghitung rata-rata skor kuesioner untuk seluruh siswa. Rata-rata tersebut disebut dengan nilai rata-rata akhir. Nilai rata-rata akhir kemudian dikonversikan menjadi data kualitatif menggunakan skala lima menurut Sukardjo (2008:101).

  Peneliti hanya menggunakan empat kriteria penilaian alat peraga pada kuesioner yang digunakan. Empat kriteria penilaian tersebut terdiri dari (1) sangat  Rumus untuk mendapatkan nilai rata-rata setiap siswa:

  ℎ

  Nilai rata-rata =

  ℎ

   Rumus untuk mendapatkan nilai rata-rata akhir:

  

  Rata-rata akhir =

  

3.8 Jadwal Penelitian

  Waktu penelitian berlangsung selama sembilan bulan mulai dari bulan November tahun 2012 sampai bulan Juli tahun 2013.

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Dalam bab ini berisi uraian tentang (1) kajian standar kompetensi dan

  materi pembelajaran, (2) analisis kebutuhan dan pengembangan pembelajaran, (3) produksi alat peraga Montessori untuk pembelajaran perkalian, dan (4) validasi dan revisi produk.

  4.1 Kajian Standar Kompetensi dan Materi Pembelajaran

  Pada tahap ini, peneliti mengkaji SK dan KD serta materi pembelajaran matematika kelas II semester genap. Hal tersebut bermanfaat untuk memberikan gambaran secara umum mengenai materi pembelajaran matematika yang dipelajari siswa kelas II semester genap.

  4.2 Analisis Kebutuhan dan Pengembangan Perangkat Pembelajaran

  Analisis kebutuhan dilakukan melalui tiga tahap, yaitu (1) wawancara terhadap kepala sekolah, guru kelas II serta enam siswa kelas II, (2) observasi pembelajaran matematika dan ketersediaan alat peraga di sekolah, dan (3) kuesioner analisis kebutuhan terhadap seluruh siswa kelas II dan guru kelas II.

4.2.1 Wawancara terhadap Kepala Sekolah, Guru Kelas II, dan Enam Siswa Kelas II

  Wawancara terhadap Bapak Wiyanta, S.Pd. selaku kepala sekolah SD Krekah Yogyakarta dilaksanakan pada hari Sabtu, tanggal 24 November 2012. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa sekolah masih memiliki keterbatasan dalam penyediaan alat peraga dan penggunaannya oleh guru belum maksimal. Wawancara terhadap Ibu Parjiyem selaku guru kelas II dan enam siswa kelas II yang berinisial Ir, An, Tm, No, Nu, dan Al dilaksanakan pada hari Senin, tanggal

  14 Januari 2013. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa minimnya ketersediaan alat peraga di kelas II dan kesulitan belajar yang dialami siswa pada materi perkalian bilangan yang menghasilkan bilangan dua angka pada SK “Melakukan perkalian dan pembagian bilangan sampai sua angka” dan KD “Melakukan perkalian bilangan yang hasilnya bilangan dua angka”.

  4.2.2 Observasi terhadap Pembelajaran Matematika di Kelas II

  Observasi terhadap pembelajaran matematika di kelas II dan ketersediaan Berdasarkan observasi terhadap pembelajaran matematika di kelas II diperoleh hasil bahwa pembelajaran masih bersifat konvensional. Belum tampak adanya metode inovatif dalam pelaksanaan pembelajaran. Media yang digunakan sebatas gambar yang ada di papan tulis dan digunakan oleh guru untuk menjelaskan konsep perkalian bilangan yang menghasilkan bilangan dua angka. Kegiatan yang dilakukan berupa penjelasan tentang materi yang dilanjutkan dengan pemberian latihan soal kepada siswa dan pembahasan hasil pekerjaan siswa bersama guru. Hasil dari observasi terhadap ketersediaan alat peraga di sekolah menunjukkan bahwa jumlah dan jenis alat peraga yang dimiliki sekolah masih terbatas dan tingkat penggunaanya oleh guru yang masih rendah.

  4.2.3 Kuesioner Analisis Kebutuhan

4.2.3.1 Kuesioner Analisis Kebutuhan oleh Guru

  Kuesioner analisis kebutuhan diberikan kepada guru kelas II pada hari Rabu, tanggal 13 Februari 2013. Kuesioner tersebut terdiri dari sepuluh pertanyaan dengan jawaban beberapa pilihan jawaban yang sudah disediakan.

  Berdasarkan hasil kuesioner (lihat lampiran 1.3 halaman 66), dapat diketahui bahwa guru pernah menggunakan alat peraga dalam pembelajaran matematika, namun hanya terbatas pada benda-benda yang ada di kelas dan di halaman sekolah, yaitu gambar, meja, kursi, dan daun. Penggunaan alat peraga membantu siswa untuk memahami konsep dari materi pelajaran sehingga berdampak pada situasi kelas yang kondusif. Pada item pertanyaan mengenai prioritas kriteria alat peraga yang akan dikembangkan, guru mengungkapkan bahwa warna menjadi prioritas utama karena menurut guru warna akan menjadi daya tarik bagi siswa untuk menggunakan alat peraga tersebut. Prioritas kedua adalah bentuk, menurut guru bentuk yang bervariasi akan membuat siswa merasa tertarik untuk memperhatikan alat peraga tersebut. Prioritas ketiga adalah ukuran, menurut guru ukuran alat peraga disesuaikan dengan tingkat perkembangan anak dan situasi ruang kelas. Prioritas keempat adalah bahan, menurut guru anak-anak tidak begitu memperhatikan bahan-bahan yang digunakan dalam membuat alat peraga, namun perlu dipilih bahan yang tidak berbahaya bagi siswa. Hal tersebut diperjelas oleh guru melalui wawancara yang dilaksanakan oleh peneliti pada hari Jumat, tanggal memperjelas jawaban guru yang dituliskan dalam kuesioner analisis kebutuhan. Prioritas yang terakhir adalah berat, menurut guru berat alat peraga disesuaikan dengan perkembangan siswa. Pada item pertanyaan mengenai rentangan biaya yang terjangkau oleh sekolah dalam pengadaan alat peraga, guru memilih rentang biaya Rp 100.000,00

  • – Rp 300.000,00. Berdasarkan penjabaran analisis kebutuhan oleh guru dapat disimpulkan bahwa guru berpendapat adanya alat peraga lebih membantu siswa memahami suatu konsep dari materi pelajaran. Guru mengungkapkan perlu adanya pengembangan alat peraga matematika yang berdasar pada kebutuhan siswa dengan memanfaatkan potensi lokal yang ada.

4.2.3.2 Analisis Kebutuhan oleh Siswa

  Pemberian kuesioner analisis kebutuhan oleh siswa dilaksanakan selama tiga hari yaitu pada tanggal 28-30 Januari 2013. Hal tersebut dikarenakan perlu adanya bimbingan untuk siswa kelas bawah dalam mengisi kuesioner tersebut sehingga dalam pelaksanaannya peneliti membagi seluruh siswa kelas II menjadi tiga kelompok kecil. Pada pelaksanaannya peneliti membimbing satu kelompok yang terdiri dari kurang lebih 11 siswa untuk mengisi kuesioner tersebut.

  Kuesioner terdiri dari 10 pertanyaan dengan pilihan jawaban yang sudah disediakan. Rekapitulasi hasil kuesioner analisis kebutuhan oleh siswa dapat dilihat pada lampiran 1.5 halaman 73. Berdasarkan hasil pengisian kuesioner oleh siswa, 34,29% siswa kelas II menjawab bahwa guru tidak pernah menggunakan alat peraga ketika mengajar matematika. Sementara itu, 65,71% siswa menyatakan bahwa guru pernah menggunakan alat peraga ketika mengajar matematika. Alat peraga yang dimaksud oleh siswa adalah lidi dan “ketekan”. Setelah wawancara dengan siswa ternyata siswa membawa alat tersebut sesuai dengan inisiatifnya sendiri dan guru tidak menggunakan alat peraga tersebut untuk mengajar matematika.

  Selanjutnya 74,29% siswa menyatakan bahwa mereka lebih suka belajar matematika menggunakan alat peraga dan 25,71% siswa menyatakan lebih senang belajar matematika tanpa menggunakan alat peraga. Kemudian 45,71% siswa menyatakan bahwa mereka tidak pernah menggunakan benda-benda di sekitar benda di sekitar berupa lidi untuk belajar matematika. Pada item pertanyaan mengenai benda-benda di sekitar yang dapat digunakan untuk belajar matematika 94,29% siswa menyatakan bahwa kayu dapat digunakan untuk belajar matematika, 94,29% memilih tempurung kelapa, dan 22,86% menyebutkan benda lainnya, yaitu lidi dan batu.

  Pada item mengenai urutan ciri-ciri alat peraga yang menarik bagi siswa, sebanyak 80% siswa memilih warna sebagai urutan pertama, 71,43% siswa memilih bentuk sebagai urutan yang kedua, dam sebanyak 91,43% siswa memilih bahan sebagai urutan yang ketiga. Selanjutnya 100% siswa memilih alat peraga yang mudah dibawa. Berikutnya 100% siswa menyatakan bahwa alat peraga memudahkan siswa untuk belajar matematika. Untuk item yang berkaitan dengan kesalahan yang dilakukan siswa saat belajar, sebanyak 80% lebih suka mengetahui kesalahannya sendiri dari alat peraga saat belajar matematika dan sisanya sebanyak 20% lebih suka mengetahui kesalahannya karena diberi tahu oleh guru atau teman ketika belajar matematika menggunakan alat peraga.

  Item pertanyaan nomor sembilan mengenai kemandirian siswa dalam belajar, sebanyak 91,42% siswa menyatakan dapat menggunakan alat peraga tanpa bantuan guru atau teman untuk belajar matematika dan 8,58% siswa menyatakan tidak dapat menggunakan alat peraga tanpa bantuan guru atau teman untuk belajar matematika. Selanjutnya pada item terakhir, sebanyak 91,42% siswa memilih lebih suka menggunakan alat peraga secara individu untuk belajar matematika dan 8,58% memilih menggunakan alat peraga secara berkelompok untuk belajar matematika.

  Berdasarkan kuesioner tersebut, dapat disimpulkan bahwa siswa membutuhkan alat peraga yang menarik (berdasarkan urutan kriteria ciri-ciri alat peraga oleh siswa), dapat melatih siswa secara mandiri belajar matematika, dapat digunakan secara individu, dan memberikan kesempatan pada siswa untuk mengetahui dan mengoreksi kesalahan yang dilakukan oleh siswa.

4.3 Produksi Alat Peraga Montessori untuk Perkalian

4.3.1 Desain Alat Peraga

  Alat peraga yang dikembangkan dalam penelitian ini adalah papan perkalian. Desain alat peraga terdiri dari papan perkalian, kancing perkalian, tanda panah, kartu bilangan, kartu soal, kartu simbol (x) dan (=), kotak penyimpanan alat peraga, dan kotak kartu soal.

  Papan perkalian terbuat dari kayu pinus yang berbentuk persegi panjang dengan ukuran 37 cm x 24 cm. Papan tersebut terdiri dari dua lapis yang terdiri dari papan bagian bawah dan papan bagian atas. Papan bagian bawah merupakan papan utuh dengan ketebalan 0,5 cm dan lapisan atas merupakan papan berlubang dengan ketebalan 1 cm. Ketebalan papan bagian atas disesuaikan dengan setengah diameter kancing perkalian. Lubang pada papan bagian atas berbentuk persegi panjang dengan ukuran 2 cm x 0,75 cm. Lubang pada papan tersebut bermanfaat sebagai tempat kancing perkalian. Pada papan bagian atas dibuat garis tepi kiri 5 cm, garis tepi atas 5 cm, garis tepi kanan 3 cm, dan garis tepi bawah 3 cm. Garis tepi kiri berfungsi sebagai pemberian nomor bilangan pengali dan garis tepi atas berfungsi sebagai pemberian nomor bilangan yang dikali. Papan perkalian nantinya akan diplitur. Gambar desain papan perkalian dapat dilihat pada lampiran 7.1 halaman 88.

  Kancing perkalian terbuat dari tempurung kelapa yang berbentuk lingkaran dengan diameter 2 cm. Warna kancing perkalian tersebut adalah merah. Jumlah kancing perkalian yang dibutuhkan sebanyak 100 buah. Gambar desain kancing perkalian dapat dilihat pada lampiran 7.1 halaman 89.

  Tanda panah dibuat dari kayu pinus dengan ukuan panjang 2,5 cm dan lebar 3 cm. Jumlah tanda panah yang dibutuhkan sebanyak 2 buah yang nantinya akan digunakan sebagai penanda bilangan pengali dan penanda bilangan yang dikali. Pemberian warna pada tanda panah tersebut disesuaikan dengan warna kancing perkalian, yaitu merah. Gambar desain tanda panah dapat dilihat pada lampiran 7.1 halaman 89.

  Kartu bilangan terdiri dari kartu satuan, puluhan, dan ratusan. Kartu bilangan satuan terdiri dari kartu bilangan 1-9 dengan ukuran 5 cm x 5 cm dan berwarna hijau. Kartu bilangan puluhan terdiri dari bilangan 10-90 dengan ukuran 10 cm x 5 cm dan berwarna kuning. Kartu bilangan ratusan hanya terdiri dari ratusan pada kartu bilangan disesuaikan dengan KD pada materi perkalian di kelas II. Kartu bilangan tersebut nantinya dicetak menggunakan jenis kertas yang tebal.

  Kartu soal terdiri dari 16 soal perkalian bilangan yang menghasilkan bilangan dua angka. Keenam belas sosal tersebut dikelompokkan ke dalam dua kategori, yaitu perkalian bilangan menggunakan bilangan pengali 1-5 dan pekalian bilangan menggunakan bilangan pengali 6-10. Setiap kartu soal berukuran 9 cm x 7 cm. Penomoran soal diletakkan pada pojok kiri atas kartu soal. Setiap kartu soal dilengkapi dengan kunci jawaban yang terletak pada halaman sebalik kartu soal. Selain itu, kartu soal juga dilengkapi dengan indeks penanda setiap kategori soal.

  Kartu simbol (x) dan (=) berukuran 5 cm x 5 cm yang nantinya dicetak menggunakan jenis kertas yang tebal. Kartu simbol tersebut digunakan bersamaan dengan kartu bilangan.

  Kotak penyimpanan alat peraga terbuat dari kayu jati dengan ukuran panjang 27 cm, lebar 20 cm, tinggi 5 cm, dan ketebalan kayu 1 cm. Kotak tersebut dilengkapi dengan tutup dan dalam kotak terbagi menjadi lima bagian yang nantinya akan digunakan untuk tempat kancing perkalian, kartu bilangan, tanda panah, simbol (x) dan (=). Kotak penyimpanan alat peraga nantinya akan diplitur. Gambar desain kotak penyimpanan alat peraga dapat dilihat pada lampiran 7.1 halaman 90-91.

  Kotak kartu soal juga terbuat dari kayu pinus dengan ukuran panjang 10 cm, lebar 5 cm, tinggi 5 cm dan ketebalan 1 cm. Kotak tersebut nantinya juga akan diplitur. Gambar desain kotak kartu soal dapat dilihat pada lampiran 7.1 halaman 92.

4.3.1.2 Album Alat Peraga

  Album alat peraga merupakan panduan dalam menggunakan papan perkalian. Album tersebut berisi materi pembelajaran, tema pembelajaran, tujuan pembelajaran, dan langkah-langkah presentasi penggunaan alat peraga serta pengendali kesalahan dalam menggunakan alat peraga. Selain itu, album alat peraga juga dilengkapi dengan foto-foto penggunaan alat peraga. Hal tersebut bertujuan untuk lebih memperjelas dalam menggunakan alat peraga. Album alat buku.

4.3.2 Pembuatan Alat Peraga

  Alat peraga papan perkalian yang dikembangkan dalam penelitian ini terdiri dari papan perkalian, kancing perkalian, tanda panah, kelengkapan alat peraga, kotak penyimpanan alat peraga, kotak kartu soal, dan album alat peraga. Pada proses pembuatan alat peraga tersebut, terdapat beberapa alat yang dikerjakan oleh tukang dan pengrajin kayu karena kerumitan dalam pembuatan alat peraga tersebut.

  Papan perkalian dibuat sesuai dengan bentuk dan ukuran pada desain. Secara umum pembuatan papan perkalian terdiri dari enam tahap, yaitu (1) pemotongan papan dan penempelan pola, (2) pelubangan pada papan bagian atas sesuai dengan pola, (3) penggabungan papan bagian atas dengan papan bagian bawah, (4) penghalusan papan, (5) pemlituran, dan (6) pengeringan di bawah sinar matahari. Jenis kayu yang digunakan adalah kayu ketepeng. Penggunaan jenis kayu tersebut tidak sesuai dengan yang ada dalam desain karena kelangkaan kayu pinus dan harganya yang mahal. Pembuatan papan perkalian dikerjakan oleh seorang tukang kayu yang berada di daerah Pandak, Bantul, Yogyakarta.

  Pengrajin tersebut membuat papan perkalian sesuai dengan desain yang dibuat oleh peneliti.

  Kancing perkalian dibuat dengan menggunakan bahan dasar tempurung kelapa muda. Secara umum pembuatan kancing perkalian terdiri dari delapan tahap, yaitu (1) pembersihan tempurung kelapa, (2) pengeringan tempurung kelapa di bawah sinar matahari dengan tujuan agar tidak berjamur atau membusuk, (3) pencetakan tempurung kelapa dalam bentuk lingkaran menggunakan mesin pencetak, (4) penyempurnaan bentuk lingkaran dan membersihkan sabut-sabut kelapa menggunakan mesin bubut, (5) penggabungan dua buah kancing menjadi satu kancing menggunakan lem, (6) pembuatan lubang kancing dan penghalusan kembali menggunakan mesin, (7) pewarnaan kancing perkalian dengan cat kayu berwarna merah, dan (8) pengeringan di bawah sinar matahari. Kancing perkalian berukuran diameter 2,5 cm dengan ketebalan 0,2 cm. Ukuran diameter kancing tidak sesuai dengan yang ada pada desain karena ukuran kancing menjadi satu kancing yang tebal juga dilakukan dengan tujuan agar siswa mudah untuk memegangnya. Pemilihan warna kancing perkalian dilakukan melalui wawancara yang dilakukan peneliti terhadap 11 siswa kelas II. Peneliti memberikan pilihan yang terdiri dari sebuah kancing yang belum dicat, kancing yang sudah dicat dengan warna merah, kuning, dan hijau. Berdasarkan pilihan dari 11 siswa tersebut diperoleh hasil bahwa warna merah menjadi warna yang dominan dipilih. Kancing perkalian dikerjakan oleh pengrajin kancing tempurung kelapa di daerah Nitikan, Bantul, Yogyakarta. Pengecatan kancing perkalian dilakukan oleh tukang cat yang berada di daerah Pandak, Bantul, Yogyakarta.

  Tanda panah terbuat dari kayu durian dengan ukuran dan warna yang sesuai dengan yang ada pada desain. Jenis kayu tersebut menjadi alternatif pilihan kedua setelah kayu pinus karena beratnya yang cukup ringan dan mudah untuk dibentuk menjadi tanda panah. Secara umum proses pembuatan tanda panah terdiri dari lima tahap, yaitu (1) pemasangan pola tanda panah pada papan, (2) pemotongan kayu sesuai dengan pola, (3) penghalusan tanda panah, (4) pewarnaan menggunakan cat kayu warna merah yang sama dengan warna kancing perkalian, dan (5) pengeringan melalui penjemuran di bawah sinar matahari. Jumlah tanda panah yang dibuat sebanyak 4 buah, 2 buah yang digunakan dalam papan perkalian dan 2 buah untuk cadangan. Pembuatan tanda panah bersamaan dengan pembuatan kotak penyimpanan alat peraga yang dikerjakan oleh salah satu pengrajin kayu yang berada di daerah Sleman, Yogyakarta.

  Kelengkapan alat peraga terdiri dari kartu bilangan, kartu simbol (x) dan (=), serta kartu soal. Seluruh kelengkapan alat peraga tersebut dibuat oleh peneliti menggunakan program Microsoft Word dengan ukuran dan warna yang sesuai pada desain. Jenis huruf yang digunakan untuk kartu bilangan adalah Raavi dengan ukuran 36. Soal-soal yang terdapat pada kartu soal dibuat dengan menggunakan jenis huruf Times New Roman dengan ukuran huruf 16. Jenis kertas yang digunakan untuk mencetak kelengkapan alat peraga adalah kertas ivory yang paling tebal. Kartu bilangan satuan dan bilangan 100 dicetak sebanyak

  2 set yang disesuaikan dengan kebutuhan. Jumlah kartu simbol (x) dan (=) yang dicetak masing-masing sebanyak dua simbol dengan adanya cadangan satu kartu. bentuk dan ukuran pada desain yang dirancang oleh peneliti. Jenis kayu yang digunakan untuk membuat kotak-kotak tersebut sama dengan jenis kayu yang dibuat untuk membuat tanda panah, yaitu kayu durian. Kayu durian dipilih karena kualitasnya yang baik, berat kayu yang cukup ringan bagi anak, dan mudah untuk diproses. Secara umum proses pembuatan kotak-kotak tersebut terdiri dari empat tahap, yaitu (1) pemotongan papan sesuai dengan ukuran, (2) pemasangan potongan-potongan papan menjadi kotak, (3) pemlituran kotak, dan (4) pengeringan kotak yang sudah diplitur di bawah sinar matahari.

  Album alat peraga dibuat sesuai dengan desain yang ada dan dapat dilihat pada lampiran 8 halaman 97. Materi yang terdapat dalam album tersebut terdiri dari pengenalan alat peraga, pengenalan konsep perkalian, latihan perkalian menggunakan bilangan pengali 1-5 tanpa menggunakan kartu soal (1 soal), latihan perkalian menggunakan bilangan pengali 6-10 tanpa menggunakan kartu soal (1 soal), latihan perkalian menggunakan bilangan pengali 1-5 menggunakan kartu soal (1 soal), dan latihan perkalian menggunakan bilangan pengali 6-10 menggunakan kartu soal (1 soal). Album alat peraga dicetak dalam kertas HVS 80 gr kemudian dijilid dalam bentuk buku.

4.4 Validasi dan Revisi Produk

  Validasi produk dilakukan oleh pakar pembelajaran matematika, pakar alat peraga, dan guru kelas II SD Krekah Yogyakarta. Validasi dilakukan dengan adanya presentasi dan simulasi alat peraga di hadapan para ahli. Validasi produk dilakukan untuk mengetahui kualitas produk yang dikembangkan. Validasi ini menggunakan pedoman penyekoran skala lima menurut Sukardjo (2008:101) peneliti menghilangkan dalam seperti dalam tabel 4.1. Pada pelaksanaannya, peneliti menghilangkan skor 3 dengan tujuan untuk mendapatkan penilaian yang objektif. Para ahli dapat memberikan skor 1 atau 2 apabila kualitas alat peraga yang dikembangkan oleh peneliti kurang baik dan skor 4 atau 5 apabila kualitas alat yang dikembangkan oleh peneliti baik.

Tabel 4.1 Konversi Nilai Skala Lima Interval Skor Kategori

  X > + 1,80 Sb Sangat baik i i i i i i + 0,60 SB <

X + 1,80 Sb Baik

≤ 0,60 SB < X + 0,60 Sb Cukup i i ≤ i i – 1,80 SB < X - 0,60 Sb Kurang i i ≤ i i

  X Sangat Kurang i – 1,80 Sb iKeterangan:

  1 Rerata idea ( i ) : (skor maksimal ideal + skor minimal ideal)

  2

  1 Simpangan baku ideal (SB ) : (skor maksimal ideal i

  • – skor minimal ideal)

  6 X : Skor aktual

  Berdasarkan rumus konversi di atas perhitungan data-data kuantitatif dilakukan untuk memperoleh data kualitatif dengan menerapkan rumus konversi tersebut. Adapun penentuan rumus kualitatif pengembangan ini diterapkan dengan konversi sebagai berikut.

  Diketahui: Skor maksimal ideal : 5 Skor minimal ideal : 1

  1 Rerata ideal ( i ) : (5 + 1) = 3

  2

  1 Simpangan baku ideal (Sbi) : (5

  • – 1) = 0,67

  6 Ditanyakan: Interval skor kategori sangat baik, baik, cukup baik, kurang baik, dan sangat baik.

  Jawaban: Kategori sangat baik = X > i + 1,80 SB i

  = X > 3 + (1,80 . 0,67) = X > 3 + (1,21) = X > 4,21 Kategori baik = + 0,60 SB + 1,80 SB

  I i < X ≤ i i

  = 3 + (0,60 . 0,67) < X ≤ 3 + (1,80 . 0,67) = 3 + (0,40) < X ≤ 3 + (1,21) = 3,40 < X ≤ 4,21

  Kategori cukup baik = - 0,60 SB + 0,60 SB

  I i i i

  < X ≤ = 3 -

  (0,60 . 0,67) < X ≤ 3 + (0,60 . 0,67) = 3 -

  (0,40) < X ≤ 3 + (0,40) = 2,60 < X ≤ 3,40

  Kategori kurang baik =

  I - 1,80 SB i i + 0,60 SB i

  < X ≤ = 3 -

  (1,80 . 0,67) < X ≤ 3 + (0,60 . 0,67) = 3 -

  (1,21) < X ≤ 3 + (0,40) = 1,79 < X ≤ 2,60

  Kategori sangat kurang baik i - 1,80 SB i = X ≤ = X ≤ 3 - (1,80 . 0,67) = X ≤ 3 - (1,21) = X ≤ 1,79

  Berdasarkan perhitungan tersebut, diperoleh konversi data kuantitatif menjadi data kualitatif skala lima seperti pada tabel 4.2.

Tabel 4.2 Kriteria Skor Skala Lima Interval Skor Kategori

  X > + 1,80 Sb Sangat baik i i i i i i + 0,60 SB <

X + 1,80 Sb Baik

≤ Cukup 0,60 SB < X + 0,60 Sb i ≤ i i i

  • – 1,80 SB < X - 0,60 Sb Kurang i i ≤ i i
  • – X Sangat Kurang i – 1,80 Sb i

4.4.1 Hasil Validasi

  4.4.1.1 Pakar Pembelajaran Matematika

  adalah Veronika Fitri Rianasari, M.Si. Beliau merupakan salah satu dosen matematika di Program Studi Pendidikan Matematika, Universitas Sanata Dharma (USD) Yogyakarta. Validasi dilakukan pada hari Senin, tanggal 18 Maret 2013. Aspek penilaian pada kuesioner penilaian oleh ahli mencakup empat karakteristik alat peraga Montessori dan satu karakteristik yang ditambahkan oleh peneliti. Kelima aspek tersebut terdiri atas (1) menarik, (2) bergradasi, (3) auto-education, (4) auto-correction, dan (5) kontekstual.

  Berdasarkan hasil validasi, skor rata-rata yang diperoleh adalah 4,4 dengan kategori “sangat baik”. Hal tersebut menunjukkan bahwa alat peraga yang dilkembangkan oleh peneliti memenuhi empat karakteristik alat peraga Montessori dan pemanfaatan potensi lokal. Meskipun demikian, pakar pembelajaran matematika juga memberikan beberapa komentar dan saran perbaikan untuk memberikan keterangan mengenai bilangan pengali dan bilangan yang dikali pada papan perkalian. Selain itu, dalam simulasi yang dilakukan oleh peneliti perlu menyertakan beberapa masalah yang berhubungan dengan perkalian pada awal pembelajaran. Rekapitulasi hasil validasi pakar pembelajaran matematika dapat dilihat pada lampiran 4.3 halaman 77.

  4.4.1.2 Pakar Alat Peraga

  Pakar alat peraga yang menjadi validator produk dalam penelitian ini adalah Andri Anugrahana, M.Pd. Beliau merupakan salah satu dosen matematika di Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), USD Yogyakarta. Validasi dilakukan pada hari Jumat, tanggal 22 Maret 2013.

  Berdasarkan hasil validasi dengan pakar alat pembelajaran, skor yang didapatkan adalah 4,3 dengan kategori “sangat baik”. Penilaian tersebut juga menunjukkan bahwa alat peraga yang dikembangkan oleh peneliti memenuhi lima karakteristik, yaitu empat karakteristik alat peraga Montessori dan kontekstual. Komentar yang diberikan oleh pakar alat peraga adalah alat peraga yang dikembangkan sudah baik dan alat peraga dapat dikembangkan lagi jika digunakan untuk kelas atas. Dari hasil validasi tersebut, pakar alat peraga menyatakan bahwa alat peraga layak untuk digunakan/uji coba lapangan tanpa revisi. Rekapitulasi hasil validasi pakar alat peraga dapat dilihat pada lampiran 2.3

4.4.1.3 Guru Kelas II

  Guru kelas II yang menjadi validator produk dalam penelitian ini adalah Ibu Parjiyem. Beliau merupakan guru kelas II di SD Krekah Yogyakarta. Validasi dilakukan pada hari Rabu, tanggal 20 Maret 2013.

  Skor rata-rata yang diperoleh dalam validasi tersebut adalah 3,9 dengan kategori “baik”. Guru memberikan skor 2 pada item pernyataan nomor 5 dan 6 yang berkaitan dengan aspek auto-correction. Dalam hal ini, guru mencemaskan bahwa siswa tidak dapat mengetahui dan mengoreksi kesalahannya saat menggunakan alat peraga tanpa di beritahu guru atau teman. Selain itu, guru juga memberikan komentar bahwa alat peraga yang dikembangkan lebih tepat jika digunakan untuk kelas rendah dan kurang efektif jika digunkan untuk kelas tinggi. Hal tersebut dikarenakan anak pada kelas atas cenderung hanya melihat cara praktisnya saja dalam menyelesaikan tugas. Dari hasil validasi tersebut, guru kelas menyatakan bahwa alat peraga layak untuk digunakan/uji coba lapangan tanpa revisi. Rekapitulasi hasil validasi guru kelas dapat dilihat pada lampiran 4.5 halaman 78.

4.4.2 Analisis I Skor yang diperoleh dari uji validasi produk kepada para ahli adalah 4,2.

  Resume skor tersebut dapat dilihat pada lampiran 2.5 halaman 78. Skor tersebut menunjukkan bahwa alat peraga yang dikembangkan sudah tergolong dalam kategori “baik”. Meskipun demikian, terdapat komentar dan saran dari para ahli terhadap alat peraga yang dikembangkan oleh peneliti. Komentar dan saran tersebut dapat dilihat pada tabel 4.7.

Tabel 4.7 Komentar Ahli terhadap Produk dalam Uji Validasi Komentar

  No. Pakar Pembelajaran Pakar Alat Peraga Guru Kelas II Matematika Alat peraga yang Alat peraga yang 1. Peneliti harus menyertakan beberapa permasalahan dikembangkan sudah baik dikembangkan mungkin perkalian yang kontekstual lebih tepat jika digunakan di awal pembelajaran. untuk kelas rendah.

  Penggunaan alat peraga di kelas tinggi kurang efektif karena anak pada kelas tinggi cenderung hanya melihat cara yang praktis.

  2.

  • - Alat peraga perlu

   Pada papan perkalian dapat diberi keterangan mengenai dikembangkan lagi jika bilangan pengali dan ingin digunakan di kelas bilangan yang dikali. atas.

4.4.3 Revisi Produk

  Berdasarkan komentar dan saran yang diberikan oleh para ahli, peneliti tidak melakukan revisi terhadap alat peraga yang dikembangkan karena peneliti menduga bahwa saran tersebut tidak selaras dengan prinsip Montessori. Oleh karena itu, peneliti melakukan kajian ulang terhadap metode Montessori. Berdasarkan kajian ulang pertama yang dilakukan oleh peneliti diketahui bahwa terdapat tiga kriteria yang harus digunakan pendidik dalam pembelajaran, yaitu singkat, sederhana, dan objektif (Montessori, 2002:108). Secara garis besar ketiga aspek tersebut menjelaskan bahwa pelajaran yang berlangsung merupakan pelajaran sederhana dengan menggunakan kata-kata yang telah dipilih oleh pendidik. Hendaknya pendidik menghilangkan kata-kata yang tidak berguna ketika pelajaran berlangsung. Selain itu, pendidik tidak boleh menarik perhatian anak pada dirinya sendiri sebagai guru, melainkan hanya pada objek yang diterangkannya. Dalam menjelaskan suatu hal, guru juga tidak perlu membandingkannya dengan objek yang lain.

  Peneliti menggunakan kajian ulang mengenai teori tersebut untuk mempertimbangkan komentar dan saran yang pertama dari pakar pembelajaran matematika. Melalui kajian ulang tersebut, peneliti tidak melakukan revisi sesuai dengan komentar dan saran yang diberikan. Hal tersebut dikarenakan dalam pembelajaran Montessori, pendidik atau direktris hendaknya menggunakan tiga kriteria, yaitu singkat, sederhana, dan objektif. Pada saat menjelaskan, pendidik juga tidak perlu membandingkan suatu hal dengan objek lain yang nantinya malah membuat anak bingung. yang diadopsi oleh peneliti. Pada papan tersebut peneliti tidak mendapati adanya keterangan pada bilangan pengali dan bilangan yang dikali pada papan. Pemahaman anak terhadap letak bilangan pengali dan bilangan yang dikali dapat tertanam melalui pengenalan bagian-bagian papan perkalian kepada anak dan berbagai latihan yang dilakukan anak dalam menggunakan papan perkalian. Latihan yang dilakukan anak secara berulang-ulang membantu anak menangkap arti latihan tersebut bagi pengembangan kemampuannya (Montessori, 2002:358). Anak akan mengetahui kesalahan dan dapat mengoreksi kesalahannya sendiri saat menggunakan papan perkalian. Melalui hal tersebut, anak dapat terbiasa dengan letak bilangan pengali dan bilangan yang dikali pada papan perkalian serta memahami arti dari kedua bilangan tersebut.

  Dari hasil kajian ulang kedua yang dilakukan oleh peneliti, peneliti tidak melakukan revisi sesuai dengan saran kedua yang diberikan oleh pakar pembelajaran matematika. Peneliti lebih menekankan pada berbagai latihan yang dilakukan oleh anak sehingga anak dapat membedakan letak bilangan pengali dan bilangan yang dikali. Selain itu, anak juga dapat memahami arti dari kedua bilangan tersebut pada operasi perkalian.

  Hasil kajian ulang terhadap metode Montessori menunjukkan adanya dua hal, yaitu (1) dalam mendampingi anak hendaknya pendidik atau direktris menerapkan tiga kriteria yang terdiri dari singkat, sederhana, dan objektif, serta (2) latihan yang dilakukan anak secara berulang-ulang dapat membantu anak mengembangkan kemampuannya. Berdasarkan hal tersebut, peneliti tidak melakukan revisi terhadap alat peraga yang dikembangkan sesuai dengan komentar dan saran dari pakar pembelajaran matematika.

4.4.4 Uji Coba Lapangan Terbatas

  Uji coba lapangan terbatas dilakukan dalam bentuk pendampingan belajar menggunakan papan perkalian. Kegiatan tersebut dilakukan terhadap enam siswa kelas II SD Krekah Yogyakarta yang mendapatkan nilai matematika di bawah KKM pada KD

  “Melakukan perkalian bilangan yang hasilnya bilangan dua angka”. Sebelum melaksanakan pendampingan belajar, peneliti mengadakan

  

pretest terhadap keenam siswa tersebut. Tujuan pengadaan pretest adalah untuk

Rentang waktu pelaksanaan pendampingan belajar adalah dua minggu.

  Keenam siswa tersebut dibagi menjadi tiga kelompok. Setiap kelompok memiliki waktu empat kali pertemuan untuk mengikuti pendampingan tersebut. Satu kali pertemuan berlangsung selama 90 menit. Pembagian materi pendampingan belajar untuk empat kali pertemuan, yaitu (1) pengenalan alat peraga dan konsep perkalian dengan bilangan pengali 1-5, (2) pengenalan konsep perkalian dengan bilangan pengali 6-10, (3) latihan soal menggunakan kartu soal dengan bilangan pengali 1-5, dan (4) latihan soal menggunakan kartu soal dengan bilangan pengali 6-10. Setelah pelaksanaan pendampingan belajar, peneliti mengadakan posttest dan pemberian kuesioner terhadap keenam siswa tersebut. Kedua hal tersebut bertujuan untuk mengetahui kualitas papan perkalian oleh siswa.

  Pada pelaksanaannya, peneliti mengamati bahwa keenam siswa tersebut mengalami perkembangan dalam kemampuan belajar. Siswa mampu memahami konsep perkalian ketika belajar menggunakan papan perkalian. Hal tersebut selaras dengan karakteristik alat peraga Montessori, yaitu auto-education. Melalui penggunaan papan perkalian, siswa mampu membedakan antara bilangan pengali dan bilangan yang dikali. Hal tersebut diamati oleh peneliti saat siswa mengerjakan soal-soal latihan dan diminta untuk menuliskan bentuk penjumlahan berulang dari soal perkalian.

  Hal lain yang ditemukan oleh peneliti dalam pendampingan belajar adalah siswa memiliki keinginan yang kuat dan konsentrasi yang tinggi ketika belajar menggunakan papan perkalian. Saat pendampingan belajar, peneliti mengamati bahwa siswa terlihat serius ketika bekerja menggunakan papan perkalian. Hal tersebut ditunjukkan ketika siswa dampingan tampak serius mengerjakan latihan soal perkalian menggunakan papan perkalian. Anak tersebut tidak terpengaruh dengan keadaan di sekitarnya. Pada saat itu salah satu temannya asik bermain di kelas dan keadaan di luar kelas ramai karena banyak siswa kelas atas yang melihat kegiatan yang berlangsung dari jendela. Meskipun demikian, siswa tersebut terlihat seolah-olah tidak mendengar maupun melihat keramaian yang ada di sekitarnya dan tetap bekerja menggunakan papan perkalian. Siswa juga mampu mengetahui dan mengoreksi sendiri kesalahan yang dilakukan saat belajar dengan hal tersebut adalah auto-correction. Ketika siswa mendapati bahwa jawabannya tidak sesuai dengan kunci jawaban, siswa berhenti sejenak kemudian cenderung mengulangi kembali pekerjaannya. Saat siswa tersebut selesai dengan pekerjaannya dan mengetahui bahwa jawabannya sesuai dengan kunci jawaban, siswa tersebut tersenyum dan mengatakan kepada peneliti bahwa dia berhasil menyelesaikannya dengan benar. Peristiwa tersebut menunjukkan siswa yang berada dalam tingkat konsentrasi yang tinggi atau disebut dengan flow.

  Menurut Csikszentmihalyi (2003) flow adalah motivasi instrinsik, fokus terhadap tugas yang ditunjukkan dengan konsentrasi yang penuh, tidak peduli terhadap perubahan waktu (waktu berjalan dengan cepat), perasaan jelas dan kontrol terhadap tugas atau aktivitas yang dikerjakan, dan rendahnya kesadaran terhadap diri (ego) ketika melakukan aktivitas (Rathunde, 2003:19). Siswa yang tidak terpengaruh dengan keadaan sekitar yang ramai ketika belajar menggunakan papan perkalian menunjukkan bahwa siswa tersebut berada dalan tingkat konsentrasi yang penuh. Siswa mencurahkan semua perhatian, konsentrasi dan energinya terhadap pekerjaan yang dilakukannya. Secara tidak langsung hal tersebut menunjukkan bahwa siswa tertarik dengan yang sedang dikerjakannya. Hal tersebut selaras dengan karakteristik alat peraga Montessori, yaitu menarik.

4.4.4.1 Tes

  Hasil pretest menunjukkan bahwa rata-rata nilai keenam siswa adalah 49,17. Keenam siswa tersebut mendapatkan nilai di bawah KKM, yaitu 75 karena siswa mengalami kesulitan untuk mengitung operasi perkalian dengan bilangan di atas 10. Beberapa siswa juga masih mengalami kesulitan dalam membedakan bilangan pengali dan bilangan yang dikali. Rekapitulasi hasil pretest dapat dilihat pada tabel 4.8 dan sample hasil pekerjaan pretest siswa dapat dilihat pada lampiran 3.2 halaman 80.

  Hasil posttest menunjukkan adanya peningkatan terhadap rata-rata nilai keenam siswa. Peningkatan yang terjadi sebesar 86,44% dari nilai rata-rata

  

pretest . Peningkatan tersebut dapat dilihat pada diagram batang 4.1. Rata-rata nilai keenam siswa tersebut dalam posttest adalah 91,67. Dari keenam siswa terdapat dua siswa yang mendapatkan nilai 100, sedangkan empat siswa yang lainnya siswa tersebut cenderung terburu-buru dan kurang teliti dalam mengerjakan soal

  

posttest sehingga berdampak terhadap nilai yang mereka dapatkan. Peningkatan

  85

  Posttest

  80 100 Da Ri Nu Yus Am Re Pretest

  60

  40

  20

  Rata-rata skor yang diperoleh pada kuesioner penilaian kualitas alat peraga oleh siswa I adalah 4,8 dengan kategori “sangat baik”. Rata-rata skor siswa II

  91.67 Persentase kenaikan rata-rata nilai siswa 86,44%

Diagram 4.1 Perbandingan Hasil Pretest dan Posttest

  49.17

  6 Re 50 100 Rerata Skor

  95

  55

  5 Am C

  40

  tersebut dapat dilihat pada diagram batang 4.1. Rekapitulasi hasil posttest dapat dilihat pada tabel 4.8.

  4 Yu

  3 Nu B 50 100

  90

  45

  2 Ri

  80

  55

  1 Da A

  22 April 2013

  5 April 2013

  Nilai Pretest Posttest

Tabel 4.8 Rekapitulasi Hasil Pretest dan Posttest No. Nama Siswa Kelompok

4.4.4.2 Kuesioner

  adalah 4,9 dengan kategori “sangat baik”. Rata-rata skor siswa III adalah 4,7 dengan kategori “sangat baik”. Rata-rata skor siswa IV adalah 4,7 dengan kategori “sangat baik”. Rata-rata skor siswa V adalah 4,6 dengan kategori “sangat baik”. Rata- rata skor siswa VI adalah 4,6 dengan kategori “sangat baik”. Hasil rata-rata dari keenam siswa tersebut adalah 4 ,71 dengan kategori “sangat baik”. Rekapitulasi hasil kuesioner penilaian alat peraga oleh siswa dapat dilihat pada lampiran 4.3 halaman 85 dan sample hasil kuesioner tersebut dapat dilihat pada lampiran 4.2 halaman 83.

4.4.5 Analisis II

  Berdasarkan hasil uji coba lapangan terbatas, diperoleh hasil bahwa (1) papan perkalian membantu siswa untuk memahami konsep perkalian dan (2) kualitas papan perkalian termasuk dalam kategori “sangat baik”. Hal tersebut ditunjukkan dengan adanya peningkatan rata-rata nilai yang diperoleh siswa pada

  

pretest dan posttest. Peningkatan rata-rata nilai siswa pada posttest sebesar

  86,44%. Selain itu, skor rata-rata yang diperoleh dalam kuesioner penilaian alat peraga oleh keenam siswa adalah 4,71. Skor tersebut menunjukkan bahwa kualitas papan perkalian tergolong dalam kategori “sangat baik” sehingga sudah memenuhi empat kriteria alat peraga Montessori dan kontekstual.

  Melalui kuesioner penilaian kualitas papan perkalian oleh pakar pembelajaran matematika, pakar alat peraga, guru kelas II, dan siswa kelas II diperoleh rerata skor 4,33. Skor tersebut menunjukkan bahwa kualitas papan perkalian tergolong dalam kategori “sangat baik”. Resume hasil penilaian tersebut dapat dilihat pada tabel 4.10.

Tabel 4.10 Resume Penilaian Papan Perkalian No. Penilaian Skor Kategori

  1 Pakar pembelajaran matematika 4,4 Sangat Baik

  2 Pakar alat peraga 4,3 Sangat Baik

  3 Guru kelas II 3,9 Baik

  4 Siswa kelas II 4,7 Sangat Baik Rerata Skor 4,33 Kategori Sangat Baik

4.4.6 Penilaian Akhir

  Penilaian akhir dilakukan dengan teknik triangulasi pendapat yang berasal perolehan skor validasi produk yang termasuk dalam kategori “sangat baik”.

  Rangkuman pendapat guru kelas II, siswa kelas II, dan peneliti setelah uji coba lapangan terbatas menggunakan alat peraga akan dipaparkan sebagai berikut.

4.4.6.1 Guru Kelas II

  Guru melakukan pendampingan selama pelaksanaan pendampingan belajar terhadap sekelompok siswa menggunakan papan perkalian. Setelah mengikuti pendampingan belajar sebanyak tiga kali pertemuan, guru memberikan komentar mengenai konsentrasi siswa selama belajar menggunakan papan perkalian. Beliau menyampaikan bahwa siswa memiliki tingkat konsentrasi yang tinggi ketika belajar menggunakan papan perkalian. Hal tersebut terbukti ketika anak yang sedang belajar menggunakan papan perkalian seolah-olah tidak melihat dan mendengar keramaian yang dilakukan oleh siswa kelas tinggi karena keingintahuan mereka terhadap aktivitas yang sedang dilakukan oleh anak dan peneliti di kelas. Anak tidak menghiraukan siswa lain yang berada di sekitarnya dan tetap fokus dengan aktivitasnya menggunakan papan perkalian. Keadaan tersebut tampak berbeda ketika anak mengikuti pembelajaran selama jam sekolah berlangsung. Saat anak mengikuti pembelajaran selama jam sekolah, anak memiliki tingkat konsentari yang rendah. Anak cenderung mudah terpengaruh dengan situasi yang tidak kondusif. Hal tersebut ditunjukkan anak saat mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru. Anak hanya mampu berkonsentrasi dalam waktu yang relatif singkat dan selanjutnya lebih tertarik untuk mengobrol dan bermain dengan teman-temannya.

  Setelah pelaksanaan posttest, guru juga mengungkapkan rasa herannya terhadap hasil yang dicapai oleh siswa. Semua siswa tersebut mendapatkan nilai di atas KKM dan dua siswa diantaranya juga mendapatkan nilai 100. Selain itu, guru mengungkapkan bahwa keenam siswa yang mengikuti pendampingan belajar menggunakan papan perkalian mengalami kemajuan pada kemampuan perkalian. Siswa sudah mampu menuliskan bentuk penjumlahan berulang dari soal perkalian. Hal tersebut menunjukkan bahwa siswa sudah menguasai konsep perkalian dan mampu membedakan antara bilangan pengali dan bilangan yang dikali.

   Siswa Kelas II

  Peneliti melakukan wawancara terhadap keenam siswa yang mengikuti pendampingan belajar menggunakan papan perkalian setelah pelaksanaan posttest dan kuesioner penilaian kualitas papan perkalian. Melalui wawancara tersebut, siswa mengungkapkan bahwa mereka merasa senang selama belajar perkalian menggunakan papan perkalian. Saat pendampingan belajar siswa merasa senang karena papan perkalian menarik perhatian mereka untuk menggunakannya. Belajar menggunakan papan perkalian merupakan hal baru bagi mereka dan membuat mereka memahami konsep perkalian. Siswa mampu memahami bilangan pengali dan bilangan yang dikali. Selain itu, siswa merasa senang karena mereka juga dapat memberikan contoh yang benar dalam menggunakan papan perkalian kepada temannya.

4.4.6.3 Peneliti

  Peneliti menilai bahwa produk yang dikembangkan memiliki kualitas yang sangat baik, terbukti dari pendapat yang diungkapkan oleh guru kelas II dan siswa kelas II. Lalu, meski baru diuji secara terbatas produk ini bukan hanya memiliki kualitas yang sangat baik tapi juga sangat efektif untuk pembelajaran yang terbukti dari hasil peningkatan nilai posttest. Hasil penilaian tersebut menunjukkan bahwa papan perkalian berpotensi untuk dikembangkan lebih lanjut melalui uji coba yang lebih luas.

BAB V PENUTUP Dalam bab ini diuraikan (1) kesimpulan, (2) keterbatasan penelitian, dan (3) saran.

  5.1 Kesimpulan

  Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, dapat disimpulkan sebagai berikut:

  5.1.1 Alat peraga Montessori yang dikembangkan untuk melatih kemampuan perkalian pada siswa kelas II semester genap di SD Krekah Yogyakarta tahun ajaran 2012/2013 mengandung lima ciri alat peraga, yaitu (1) menarik, (2) bergradasi, (3) auto-education, (4) auto-correction, dan (5) kontekstual.

  5.1.2 Alat peraga Montessori yang dikembangkan untuk melatih kemampuan perkalian pada siswa kelas II semester genap di SD Krekah Yogyakarta tahun ajaran 2012/2013 mempunyai kualitas “sangat baik”. Hal tersebut ditunjukkan dengan skor rerata validasi produk dari pakar pembelajaran matematika, pakar alat peraga, guru kelas II, dan siswa kelas II SD Krekah Yogyakarta. Alat peraga berupa papan perkalian memperoleh skor rerata 4,33 dan termasuk kategori “sangat baik” ditinjau dari lima kriteria alat peraga, yaitu (1) menarik, (2) bergradasi, (3) auto-education, (4) auto-

  correction , dan (5) kontekstual. Alat peraga yang dikembangkan terbukti

  dapat mengatasi kesulitan belajar siswa dalam perkalian. Hal tersebut ditunjukkan dengan peningkatan skor posttest siswa sebesar 86,44%.

  5.2 Keterbatasan Penelitian

  Produk yang dikembangkan memiliki beberapa keterbatasan, yaitu:

  5.2.1 Produk yang dikembangkan hanya melalui satu kali tahapan uji validasi produk oleh para ahli.

  5.2.2 Pada uji validasi produk oleh para ahli, belum adanya ahli Montessori.

5.2.3 Uji coba lapangan terhadap produk baru dilakukan dalam skala yang terbatas.

  Soal pretest dan posttest yang digunakan pada uji coba lapangan terbatas belum diuji validitas dan reliabilitasnya secara empiris.

  5.2.5 Produk yang dikembangkan diujicobakan terhadap sekelompok siswa yang tidak lolos KKM dalam bentuk pendampingan belajar yang bukan merupakan pembelajaran remidial bagi sekelompok siswa tersebut.

5.3 Saran

  Saran untuk peneliti selanjutnya yang akan mengembangkan alat peraga Montessori adalah sebagai berikut:

  5.3.1 Validasi produk oleh para ahli dilakukan lebih dari satu kali.

  5.3.2 Adanya ahli Montessori dalam uji validasi terhadap alat peraga yang dikembangkan.

  5.3.3 Uji coba lapangan dilakukan dalam skala yang lebih luas dengan adanya kelompok kontrol.

  5.3.4 Soal pretest dan posttest diuji validitas dan reliabilitasnya secara empiris sebelum diberikan kepada siswa.

  5.3.5 Produk yang dikembangkan diujicobakan terhadap sekelompok siswa yang tidak lolos KKM dalam bentuk pembelajaran remidial bagi sekelompok siswa tersebut.

  

DAFTAR REFERENSI

Jakarta: Erlangga.

  Arifin, Z. (2009). Evaluasi pembelajaran. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Arikunto, S. (2006). Prosedur penelitian suatu pendekatan praktik. Jakarta: Rineka Cipta.

  Desminta. (2009). Psikologi perkembangan anak. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Fariha, U. N. (2010). Efektivitas alat peraga model matrik dengan metode pembelajaran kooperatif tipe tgt siswa kelas II SDN Sukorejo 02 Tunjungan

  Blora, Sains dan Teknologi, Skripsi. Tidak dipublikasikan. Yogyakarta: Uin Sunan Kalijaga. Hainstock, E. G. (1997). The essential Montessori an introduction to the woman, the writings, the method, and the movement . New York:Penguin Books. Heruman. (2007). Model pembelajaran matematika di Sekolah Dasar (SD).

  Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Kahn, D. (2003). Montessori and optimal experience research: Toward building a comprehensive education reform, The NAMTA Journal, 28(3). 1-10. dilihat pada

  27 Oktober 2012, dari Koh, J. H. L., & Frick T. W. (2010). Implementing autonomy support: insights from a Montessori classroom. International Journal of Education, Vol. 2,

  No. 2: E3, 1-15. Diunduh tanggal

  11 April 2013, dari

  

  Lillard, A. & Else-Quest N. (2006). Evaluating Montessori education. SCIENCE Vol. 313. Liliard, P. P. (1996). Montessori today. New York: Schocken Books. Masidjo. (1995). Penilaian pencapaian hasil belajar siswa di sekolah.

  Yogyakarta: Kanisius. Montessori, M. (2002). The Montessori method. Dover Publication: New York. Raharjo, Suparto. (2009). Ki Hajar Dewantara: Biografi Singkat 1889-1959.

  Yogyakarta: Garasi. Rahmawati, L. (2009). Kemampuan menghitung hasil kali pada siswa kelas III SDN 3 Cepu, Keguruan dan Ilmu Pengetahuan, Skripsi. Tidak dipublikasikan. Surakarta: Universitas Muhammadiyah Surakarta.

  Rathunde, K. (2003). A Comparison of Montessori and trditional middle schools: Motivation, Quality of Experience, and Sosial context.The NAMTA Journal, 28(3), 13-46. Diunduh tanggal 1 Mei 2013, dari

  

  Sugiarni, S. (2012). Peningkatan proses dan hasil belajar matematika dengan memanfaatkan media dan alat peraga materi operasi hitung campuran.

  Dinamika,

  Jurnal Praktik Penelitian Tindakan Kelas Pendidikan Sekolah

  Dasar dan Menengah Vol. 3 ISSN: 0854-2172:57-58. Diunduh tanggal 19

  Desember 2012, dari Sugiyono. (2010). Metode penelitian pendidikan (pendekatan kuantitatif,

  kualitatif, dan R&D) . Bandung: Alfabeta.

  Sukardjo. (2008). Kumpulan materi evaluasi pembelajaran .

  Yogyakarta:Universitas Negeri Yogyakarta. Sukmadinata, N. S. (2011). Metode penelitian pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya.

  Suparno, P. (2001). Teori perkembangan kognitif Jean Piaget. Yogyakarta: Kanisius. Tim, S. (2006). How to raise an amazing child the Montessori way. New York:DK. Undang-Undang (UU) Pendidikan RI no. 20 Tahun 2003. Diunduh tanggal 12

  Desember 2012, dari

  

  Yusuf, S., & Sugandhi, N. M. (2011). Perkembangan peserta didik: Mata kuliah

  dasar profesi (MKDP) Bagi para mahasiswa calon guru di lembaga

pendidikan tenaga kependidikan (LPTK) . Jakarta: Rajawali Press.

  LAMP

  Lampiran 1. Instrumen Analisis Kebutuhan Lampiran 1.1 Kisi-kisi Wawancara

  Pengadaan alat peraga oleh guru.

  Menunjukkan adanya penggunaaan alat peraga pembelajaran selama ini. 1, 2, 3, 4 Adanya karakteristik alat perga yang digunakan. 5, 6 Menunjukkan adanyan hubungan antara penggunaan alat peraga dengan konsep Matematika.

Tabel 3.4 Kisi-kisi kuesioner analisis kebutuhan terhadap siswa dan guru Indikator Nomor Item

  Lampiran 1.2 Kisi-kisi Kuesioner

  2. Kesulitan belajar yang dialami oleh siswa.

  1. Penggunaan alat peraga dalam pembelajaran.

Tabel 3.3 Kisi-kisi topik pertanyaan wawancara terhadap siswa kelas II No. Topik Pertanyaan

  3. Usaha yang sudah dilakukan guru.

  2. Kesulitan belajar yang dialami oleh siswa.

  Penggunaan alat peraga dalam pembelajaran.

  c.

  b.

Tabel 3.1 Kisi-kisi topik pertanyaan wawancara terhadap kepala sekolah No. Topik Pertanyaan

  Alat peraga yang dimiliki di kelas II.

  1. Ketersediaan alat peraga yang ada di kelas II, meliputi: a.

Tabel 3.2 Kisi-kisi topik pertanyaan wawancara terhadap guru kelas II No. Topik Pertanyaan

  3. Penelitian yang sudah dilaksanakan di sekolah.

  Penggunaan alat peraga dalam pembelajaran.

  c.

  Pengadaan alat peraga.

  b.

  Alat peraga yang ada di sekolah.

  2. Ketersediaan alat peraga yang ada di sekolah, meliputi: a.

  1. Identitas dan informasi yang berkaitan dengan sekolah meliputi sejarah dan perkembangannya.

  7, 8, 9, 10

  Lampiran 1.3 Kuesioner Analisis Kebutuhan terhadap Guru

  Lampiran 1.4 Kuesioner Analisis Kebutuhan terhadap Siswa

REKAPITULASI HASIL ANALISIS KEBUTUHAN

2. Manakah yang lebih kamu suka? a.

  1.1 Lidi b. Tidak pernah

  5.1 Urutkan ciri-ciri alat peraga dari yang paling menarik sesuai dengan kesukaanmu! Berilah nomor 1 sampai 3 pada

  1.2 Batu

  1.1 Lidi

  Lainnya, sebutkan … 8 22,86%

  Tempurung kelapa 33 94,29% c.

  Kayu 33 94,29% b.

  4. Menurutmu, manakah benda di sekitar yang dapat digunakan untuk belajar matematika? a.

  17 45,71%

  Pernah, sebutkan 18 54,29%

  Lampiran 1.5 Rekapitulasi Hasil Kuesioner Analisis Kebutuhan Siswa

  3. Apakah kamu pernah menggunakan benda-benda yang ada di sekitarmu untuk belajar matematika? a.

  Belajar matematika tanpa menggunakan alat peraga 6 25,71%

  Belajar matematika menggunakan alat peraga 29 74,29% b.

  12 34,29%

  b. Tidak pernah

  1.1 Lidi 1.2 “Ketekan

  23 65,71%

  a. Pernah, sebutkan

  1. Apakah gurumu pernah menggunakan alat peraga ketika mengajar matematika?

  

35 SISWA KELAS II SD KREKAH BANTUL

Waktu Pelaksanaan : 28-30 Januari 2013 No. Butir Pertanyaan Jumlah Responden Persentase

  • *) Jawaban boleh lebih dari satu
tempat yang disediakan, 1 untuk ciri yang paling kamu sukai. (Urutan pertama) a.

  28 80% Warna b.

  7 20% Bentuk c.

  Bahan

  5.2 Urutkan ciri-ciri alat peraga dari yang paling menarik sesuai dengan kesukaanmu! Berilah nomor 1 sampai 3 pada tempat yang disediakan, 1 untuk ciri yang paling kamu sukai. (Urutan kedua) a.

  9 25,71% Warna b.

  25 71,43% Bentuk c.

  1 2,86% Bahan

  5.3 Urutkan ciri-ciri alat peraga dari yang paling menarik sesuai dengan kesukaanmu! Berilah nomor 1 sampai 3 pada tempat yang disediakan, 1 untuk ciri yang paling kamu sukai. (Urutan ketiga) a.

  Warna b.

  3 8,57% Bentuk c.

  32 91,43% Bahan

  6 Apakah kamu memerlukan alat peraga yang mudah dibawa? a.

  35 100% Perlu b.

  Tidak perlu

  7 Menurutmu, apakah alat peraga memudahkanmu belajar matematika? a.

  35 100% Ya b.

  Tidak

8 Manakah yang lebih kamu suka saat belajar matematika? a.

  28 80% Mengetahui kesalahanmu sendiri dari alat peraga saat belajar matematika b.

  7 20% Mengetahui kesalahanmu karena diberitahu guru atau teman ketika belajar matematika menggunakan alat peraga

  9 Apakah kamu dapat menggunakan alat peraga tanpa bantuan guru atau teman untuk belajar matematika? a.

  32 91,42% Dapat b.

  3 8,58% Tidak dapat

10 Manakah yang lebih kamu suka? a.

  32 91,42% Menggunakan alat peraga secara individu untuk belajar matematika b.

  3 8,58% Menggunakan alat peraga secara berkelompok untuk belajar matematika c. Menggunakan alat peraga secara klasikal untuk belajar matematika

  Lampiran 2. Instrumen Validasi Ahli Lampiran 2.1 Kisi-kisi Kuesioner Penilaian Alat Peraga oleh Para Ahli

  Auto-correction a.

  9 b. Alat peraga dapat diproduksi oleh masyarakat sekitar.

  Bahan mudah ditemukan di lingkungan sekitar.

  8 5. Kontekstual a.

  7 b. Memahami konsep secara mandiri.

  Berlatih secara mandiri.

  6 4. Auto-education a.

  5 b.

Mengoreksi kesalahan sendiri.

  

Megetahui kesalahan sendiri.

  4 3.

Tabel 3.5 Kisi-kisi Kuesioner Papan Perkalian oleh Para Ahli No.

  3 b. Menunjukkan bahwa penggunaan alat. peraga dapat digunakan pada jenjang kelas yang berbeda.

  Memiliki rangsangan terhadap beberapa indera.

  2. Bergradasi a.

  2

  1 b. Menunjukkan warna yang menarik.

  Menunjukkan warna yang menarik.

  1. Menarik a.

  Karakteristik Alat Peraga Indikator No. Item

  10

  

Lampiran 2.2 Rekapitulasi Hasil Kuesioner Penilaian Alat Peraga oleh Pakar

Pembelajaran Matematika

  5

  1

  5

  2

  4

  3

  4

  4

  4

  4

  

Lampiran 2.3 Rekapitulasi Hasil Kuesioner Penilaian Alat Peraga oleh

Pakar Alat Peraga

  6

  4

  7

  4

  8

  4

  9

  5

  10

Tabel 4.4 Rekapitulasi Hasil Kuesioner Penilaian Alat Peraga oleh Pakar Alat Peraga No. Pernyataan Skor

  5 Rerata Skor 4,4 Kategori Sangat baik

Tabel 4.3 Rekapitulasi Hasil Kuesioner Penilaian Alat Peraga oleh Pakar Pembelajaran Matematika

  4

  No. Pernyataan Skor

  1

  5

  2

  5

  3

  5

  4

  5

  10

  4

  6

  4

  7

  4

  8

  4

  9

  4

  5 Rerata Skor 4,3

Kategori Sangat baik

  

Lampiran 2.4 Rekapitulasi Hasil Kuesioner Penilaian Alat Peraga oleh Guru

Kelas II SD Krekah Yogyakarta

  6

Tabel 4.6 Resume Hasil Penilaian Alat Peraga oleh Para Ahli Ahli Skor Kategori

  4 Rerata Skor 3,9 Kategori Baik Lampiran 2.5 Resume Hasil Penilaian Alat Peraga oleh Para Ahli

  10

  5

  9

  5

  8

  5

  7

  2

  2

Tabel 4.5 Rekapitulasi Hasil Kuesioner Penilaian Alat Peraga oleh Guru Kelas II SD Krekah Yogyakarta

  5

  4

  4

  4

  3

  4

  2

  4

  1

  No. Pernyataan Skor

  Ahli pembelajaran matematika 4,4 Sangat baik Ahli alat peraga 4,3 Sangat baik Guru kelas II SD Krekah 3,9 Baik Rerata Skor 4,2 Kategori Baik

  Lampiran 3. Uji Coba Lapangan Terbatas dengan Tes Lampiran 3.1 Kisi-kisi Pretest dan Posttest

Tabel 3.6 Kisi-kisi Soal Pretest dan Posttest Perkalian Kategori Indikator Nomor Soal

  Perkalian yang Hasilnya Bilangan Dua Angka

  Perkalian dengan bilangan pengali 1 7, 16 Perkalian dengan bilangan pengali 2 4, 11 Perkalian dengan bilangan pengali 3 1, 14 Perkalian dengan bilangan pengali 4 6, 19 Perkalian dengan bilangan pengali 5 3, 12 Perkalian dengan bilangan pengali 6 2, 17 Perkalian dengan bilangan pengali 7 9, 18 Perkalian dengan bilangan pengali 8 10, 13 Perkalian dengan bilangan pengali 9 5, 20 Perkalian dengan bilangan pengali 10 8, 15

  Lampiran 3.2 Sample Pretest

  Lampiran 3.3 Sample Posttest

  Lampiran 4. Kuesioner Uji Coba Lapangan Terbatas Lampiran 4.1 Kisi-kisi Kuesioner Penilaian Alat Peraga oleh Siswa

  Megetahui kesalahan sendiri.

  9 b. Alat peraga dapat diproduksi oleh masyarakat sekitar.

  Bahan mudah ditemukan di lingkungan sekitar.

  5. Kontekstual a.

  8

  7 b. Memahami konsep secara mandiri.

  Berlatih secara mandiri.

  4. Auto-education a.

  6

  5 b. Mengoreksi kesalahan sendiri.

  Auto-correction a.

Tabel 3.7 Kisi-kisi Kuesioner Penilaian Alat Peraga oleh Siswa

  4 3.

  3 b. Menunjukkan bahwa penggunaan alat. peraga dapat digunakan pada jenjang kelas yang berbeda.

  Memiliki rangsangan terhadap beberapa indera.

  2. Bergradasi a.

  2

  1 b. Menunjukkan warna yang menarik.

  Menunjukkan warna yang menarik.

  Menarik a.

  

No. Karakteristik Alat Peraga Indikator No. Item

1.

  10

  Lampiran 4.2 Sample Kuesioner Penilaian Alat Peraga oleh Siswa

  

Lampiran 4.3 Rekapitulasi Hasil Kuesioner Penilaian Kualitas Alat Peraga

oleh Siswa

Tabel 4.9 Rekapitulasi Kuesioner Penilaian Kualitas Alat Peraga oleh Siswa No. Siswa Skor Kriteria

  

1 Da 4,8 Sangat baik

  

2 Ri 4,9 Sangat baik

  

3 Nu 4,7 Sangat baik

  

4 Yu 4,6 Sangat baik

  

5 Am 4,6 Sangat baik

  

6 Re 4,6 Sangat baik

Rerata Skor 4,7 Kriteria Sangat baik

  Lampiran 5. Surat Permohonan Ijin Penelitian di SD

  Lampiran 6. Surat Keterangan Telah Melaksanakan Penelitian dari SD

  Lampiran 7. Dokumentasi Lampiran 7.1 Desain Alat Peraga

Gambar 1. Desain papan perkalian

  

Gambar 2. Desain kancing perkalian

Gambar 3. Desain tanda panah

  

Gambar 4. Desain kotak penyimpanan alat peraga

  

Gambar 5. Desain tutup kotak penyimpanan alat peraga

  

Gambar 6. Desain kotak kartu soal

Lampiran 7.2 Papan Perkalian

  Lampiran 7.3 Uji Coba Lapangan Terbatas

  Foto 1. Siswa mengerjakan soal pretest materi perkalian bilangan yang hasilnya bilangan dua angka (Jumat, 5 April 2013) Foto 2. Modeling penggunaan papan perkalian oleh peneliti (Senin, 8 April 2013)

  Foto 3. Modeling penggunaan papan perkalian oleh siswa kepada temannya (Jumat, 12 April 2013)

  Foto 4. Siswa berkonsentrasi saat menggunakan papan perkalian (Senin, 16 April 2013)

  Foto 5. Siswa berkonsentrasi saat menggunakan papan perkalian (Jumat, 20 April 2013)

  Foto 6. Siswa memberekan alat peraga setelah selesai digunakan (Sabtu, 21 April 2013) Foto 7. Siswa mengerjakan soal posttest materi perkalian bilangan yang hasilnya bilangan dua angka (Senin, 22 April 2013) Foto 8. Peneliti membimbing siswa mengisi kuesioner kualitas alat peraga

  (Senin, 22 April 2013)

  Lampiran 8. Album Alat Peraga

KONSEP PERKALIAN MENGGUNAKAN PAPAN PERKALIAN 1.

   Tema Pembelajaran: Pengantar

  :

1.1 Alat Peraga

  1.1.1 Papan perkalian

  1.1.2 Kotak penyimpanan alat peraga yang berisi:

  1.1.2.1 Kancing perkalian

  1.1.2.2 Kartu bilangan yang terdiri dari:  Kartu bilangan satuan berwarna hijau  Kartu bilangan puluhan berwarna kuning  Kartu bilangan ratusan (100) yang berwarna merah

  1.1.2.3 Dua buah tanda panah yang digunakan sebagai penanda bilangan pengali dan bilangan yang dikali

  1.1.2.4 Simbol kali (×) dan sama dengan (=)

  1.2 Tujuan langsung : Anak dapat mengetahui papan perkalian dan alat peraga lain yang akan digunakan untuk berlatih perkalian

  1.3 Usia : dari usia 6/7 tahun

  1.4 Syarat : Anak dapat membilang

  1.5 Presentasi :

  1.5.1 Direktris menyiapkan lokasi kerja.

  1.5.2 Anak diajak untuk bermain mengenal konsep perkalian.

  Direktris berkata, “Mari, kita bermain konsep perkalian!”

  1.5.3 Anak diminta untuk membantu direktris menyiapkan alat peraga.

  1.5.4 Anak diminta untuk duduk di sebelah kanan direktris.

  1.5.5 Direktris meletakkan papan perkalian di depan anak.

  1.5.6 Direktris mengenalkan papan perkalian kepada anak. “Ini papan perkalian”.

  1.5.7 Direktris mengenalkan bagian-bagian yang ada pada papan perkalian sambil menunjuk bilangan 1 sampai 10 yang dimaksud. “Bilangan 1 sampai 10 yang bersusun dari atas ke bawah ini merupakan bilangan pengali dan bilangan 1 sampai 10 yang bersusun dari kiri ke kanan ini merupakan bilangan yang dikali”.

  1.5.8 Anak mulai dikenalkan konsep perkalian dengan contoh soal yang dituliskan oleh direktris, 3 x 1.

  1.5.9 Direktris menunjuk soal tersebut sambil berkata, “Tiga kali satu.

  Berarti tiga kalinya satu. Tiga sebagai bilangan pengali dan satu sebagai bilangan yang dikali”.

  1.5.10 Direktris menggunakan kartu bilangan untuk menunjukkan operasi perkalian tersebut.

  1.5.11 Direktris mengambil sebuah tanda panah yang digunakan sebagai penanda bilangan pengali kemudian meletakkannya di atas (menutupi) bilangan 3.

  1.5.12 Direktris mengambil kembali sebuah tanda panah yang digunakan sebagai penanda bilangan yang dikali kemudian meletakkannya di atas (menutupi) bilangan 1.

  1.5.13 Direktris memasukkan satu per satu kancing perkalian ke dalam lubang papan perkalian sampai batas tanda panah bilangan pengali dan bilangan yang dikali.

1.5.14 Anak diminta untuk menghitung seluruh kancing perkalian yang ada pada papan.

  1.5.15 Anak diminta meletakkan kartu bilangan yang sesuai dengan jumlah kancing yang dihitung anak di sebelah kanan simbol sama dengan (=).

  :  Lubang pada papan perkalian: satu lubang hanya bisa ditempati satu kancing.

1.6 Pengendali kesalahan

2. Tema Pembelajaran: Perkalian Menggunakan Bilangan Pengali 1-5

  2.1 Alat Peraga : Papan perkalian

  2.1.2.2 Kotak yang berisi :

  2.1.2.1 Kancing perkalian

  2.1.2.2 Kartu bilangan yang terdiri dari:  Kartu bilangan satuan berwarna hijau  Kartu bilangan puluhan berwarna kuning  Kartu bilangan ratusan (100) yang berwarna merah

  2.1.2.3 Dua buah tanda panah yang digunakan sebagai penanda bilangan pengali dan bilangan yang dikali

2.1.2.4 Simbol kali (×) dan sama dengan (=)

2.1.2.5 Kartu soal

  2.2 Tujuan langsung : Anak dapat memahami konsep perkalian menggunakan bilangan pengali 1-5

  2.3 Usia : dari usia 7 tahun

  2.4 Syarat : Anak dapat membilang

  2.5 Presentasi :

  2.5.1 Direktris menyiapkan lokasi kerja.

  2.5.2 Anak diajak untuk bermain perkalian menggunakan bilangan pengali 1-5.

  2.5.3 Anak diminta untuk membantu direktris menyiapkan alat peraga “Mari membantu Ibu mengambil papan perkalian!”

  2.5.4 Anak diminta untuk duduk di sebelah kanan direktris.

  2.5.5 Direktris meletakkan alat peraga di depan anak.

  2.5.6 Direktris mengambil salah satu kartu soal perkalian yang menggunakan bilangan pengali 1-5, misal kartu soal nomor 2, yaitu 2 x 3. Kartu soal tersebut diletakkan di depan anak. Sambil menunjuk kartu soal tersebut, direktris berkata, “Dua kali tiga”. Direktris meminta anak untuk mengikuti ucapan direktris.

  2.5.7 Direktris berkata, “Dua adalah bilangan pengali dan tiga adalah bilangan yang dikali”.

2.5.8 Direktris menggunakan kartu bilangan untuk menunjukkan operasi perkalian tersebut.

  2.5.9 Direktris menunjukkan langkah-langkah untuk menyelesaikan soal tersebut menggunakan papan perkalian. Direktris mengambil sebuah tanda panah yang digunakan sebagai penanda bilangan pengali kemudian meletakkannya di atas (menutupi) bilangan 2.

  2.5.10 Direktris mengambil kembali sebuah tanda panah yang digunakan sebagai penanda bilangan yang dikali kemudian meletakkannya di atas (menutupi) bilangan 3.

  2.5.11 Direktris memasukkan satu per satu kancing perkalian ke dalam lubang papan perkalian sampai batas tanda panah bilangan pengali dan bilangan yang dikali.

  2.5.12 Anak diminta untuk menghitung seluruh kancing perkalian yang ada pada papan.

  2.5.13 Anak diminta meletakkan kartu bilangan yang sesuai dengan jumlah kancing yang dihitung anak di sebelah kanan simbol sama dengan (=).

  2.5.14 Direktris bertanya kepada anak, “Jadi, berapa hasil dari 2 x 3?”

  2.5.15 Anak menjawab pertanyaan tersebut kemudian direktris mengecek jawaban anak menggunakan kunci jawaban yang ada

2.5.16 Anak melanjutkan latihannya sendiri menggunakan kartu soal lain yang menggunakan bilangan pengali 1-5.

  2.6 : Pengendali kesalahan

   Lubang pada papan perkalian: satu lubang hanya bisa ditempati satu kancing  Kunci jawaban yang ada di sebalik kartu soal.

3. Tema Pembelajaran: Perkalian Menggunakan Bilangan Pengali 6-10

  3.1 Alat Peraga : Papan perkalian

3.1.2 Kotak yang berisi :

  3.1.2.1 Kancing perkalian

  3.1.2.2 Kartu bilangan yang terdiri dari:  Kartu bilangan satuan berwarna hijau  Kartu bilangan puluhan berwarna kuning  Kartu bilangan ratusan (100) yang berwarna merah

  3.1.2.3 Dua buah tanda panah yang digunakan sebagai penanda bilangan pengali dan bilangan yang dikali

  3.1.2.4 Simbol kali (×) dan sama dengan (=)

3.1.3 Kartu soal

  3.2 Tujuan langsung : Anak dapat memahami konsep perkalian menggunakan bilangan pengali 6-10.

  3.3 Usia : dari usia 7 tahun

  3.4 Syarat : Anak dapat membilang

  3.5 Presentasi :

  3.5.1 Direktris menyiapkan lokasi kerja dengan membuka karpet.

  3.5.2 Anak diajak untuk bermain perkalian menggunakan bilangan pengali 6-10.

  3.5.3 Anak diminta untuk membantu direktris menyiapkan alat peraga di atas karpet.

  “Mari membantu Ibu mengambil papan perkalian!”

  3.5.4 Anak diminta untuk duduk di sebelah kanan direktris.

  3.5.5 Direktris meletakkan alat peraga di depan anak.

  3.5.6 Direktris mengambil salah satu kartu soal perkalian yang menggunakan bilangan pengali 6-10, misal kartu soal nomor 14, yaitu 9 x 6. Kartu soal tersebut diletakkan di depan anak. Sambil menunjuk kartu soal tersebut, direktris berkata, “Sembilan kali enam

  ”. Direktris meminta anak untuk mengikuti ucapan direktris.

  3.5.7 Direktris berkata, “Sembilan adalah bilangan pengali dan enam adalah bilangan yang dikali”.

  3.5.8 Anak diminta menunjukkan operasi perkalian tersebut menggunakan kartu bilangan.

  3.5.9 Direktris mengambil sebuah tanda panah yang digunakan sebagai penanda bilangan pengali kemudian meletakkannya di atas (menutupi) bilangan 9.

  3.5.10 Direktris mengambil kembali sebuah tanda panah yang digunakan sebagai penanda bilangan pengali kemudian meletakkannya di atas (menutupi) bilangan 6.

  3.5.11 Anak diminta untuk memasukkan satu per satu kancing perkalian ke dalam lubang papan perkalian sampai batas tanda

  3.5.12 Direktris meminta anak untuk menghitung seluruh kancing perkalian yang ada pada papan perkalian.

  3.5.13 Anak diminta meletakkan kartu bilangan yang sesuai dengan jumlah kancing yang dihitung anak di sebelah kanan simbol sama dengan (=).

  3.5.14 Direktris bertanya kepada anak, “Jadi, berapa hasil dari 9 x 6?”

  3.5.15 Anak menjawab pertanyaan tersebut kemudian direktris mengecek jawaban anak menggunakan kunci jawaban yang ada di sebalik kartu soal.

3.5.16 Anak melanjutkan latihannya sendiri menggunakan kartu soal lain yang menggunakan bilangan pengali 6-10.

  3.6 Pengendali kesalahan :  Lubang pada papan perkalian: satu lubang hanya bisa ditempati satu kancing.

  .

   Kunci jawaban yang ada di sebalik kartu soal

CURRICULUM VITAE

  1991. Pendidikan dasar diperoleh di SD N Bronggang, tamat pada tahun 2003. Pendidikan menengah pertama diperoleh di SMP N 1 Pakem, tamat pada tahun 2006. Pendidikan menengah atas diperoleh di SMA N 1 Cangkringan, tamat pada tahun 2009.

  Pada tahun 2009, peneliti tercatat sebagai mahasiswa Universitas Sanata Dharma Yogyakarta pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Selama menempuh pendidikan di PGSD, peneliti mengikuti berbagai macam kegiatan di luar perkuliahan. Pada tahun 2010, peneliti mengikuti workshop Montessori usia 3-6 tahun dan aktif dalam organisasi HMPS PGSD periode 2010/2011. Pada tahun 2011-2012, peneliti lolos PKM-M dan memperoleh juara III dalam PIMNAS

  XXV. Pada tahun 2012, peneliti mengikuti workshop Montessori usia 9-12 tahun dan menjadi sekretaris dalam kegiatan Malam Kreativitas PGSD. Masa pendidikan di Universitas Sanata Dharma diakhiri dengan menulis skripsi sebagai tugas akhir yang berjudul “Pengembangan Alat Peraga Perkalian Ala Montessori untuk Siswa Kelas II SD Krekah Yogyakarta ”.

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Pengaruh penggunaan alat peraga batang napier terhadap pemahaman konsep perkalian siswa kelas III SD Muhammadiyah 12 Pamulang
11
82
255
Pengembangan alat peraga montessori materi perkalian untuk siswa kelas II SD.
0
38
299
Pengembangan alat peraga matematika materi perkalian untuk siswa dengan lambat belajar di SD Muhammadiyah Sagan Yogyakarta.
0
0
202
Pengembangan alat peraga pembelajaran Matematika untuk siswa kelas III SD materi perkalian berbasis metode Montessori.
2
18
357
Implementasi alat peraga pembagian berbasis metode Montessori pada pembelajaran matematika materi pembagian kelas II SD Kanisius Kenalan Magelang.
4
14
253
Pengembangan alat peraga pembelajaran matematika SD materi perkalian berbasis Metode Montessori.
3
29
323
Pengembangan alat peraga pembelajaran matematika SD materi perkalian berbasis metode Montessori.
1
3
262
Pengembangan alat peraga Montessori untuk keterampilan berhitung matematika kelas IV SDN Tamanan 1 Yogyakarta.
1
22
138
Pengembangan alat peraga perkalian ala Montessori untuk siswa kelas II SD Krekah Yogyakarta.
1
30
135
Pengembangan alat peraga penjumlahan dan pengurangan ala Montessori untuk siswa kelas I SD Krekah Yogyakarta.
3
40
152
Pengembangan alat peraga matematika materi perkalian untuk siswa dengan lambat belajar di SD Muhammadiyah Sagan Yogyakarta
0
3
200
Pengembangan alat peraga montessori materi perkalian untuk siswa kelas II SD
0
6
297
Penggunaan alat peraga mika pecahan pada pembelajaran topik operasi hitung pecahan untuk meningkatkan pemahaman konsep siswa : studi kasus siswa kelas V SD Negeri Malangrejo, Sleman - USD Repository
0
1
435
Pengembangan bahan ajar PKn yang digunakan dalam model pembelajaran berbasis masalah untuk siswa kelas IV SD N Ungaran II Yogyakarta - USD Repository
0
1
219
Pengembangan alat peraga penjumlahan dan pengurangan ala Montessori untuk siswa kelas I SD Krekah Yogyakarta - USD Repository
0
2
150
Show more