MOHD. ALDO PRATAMA HIDROLOGI TEKNIK

Gratis

0
0
3
2 months ago
Preview
Full text

  

Dosen: Dr. Ir. H. Aswandi, M.Si

  Jawaban dikumpulkan paling lambat Tgl. 25 Mei 2019 (dan digitalnya diemailkan ke: aswandi.unja@gmail.com ) : Nama : Mohd. Aldo Pratama NIM : J1B116006 Kelas : R001

  

1. Upaya mengatasi masalah banjir selama ini lebih ditujukan untuk memperkecil

  kerugian/bencana yang ditimbulkan, tetapi bukan untuk mencegah proses kejadian, sehingga pemerintah (PU) lebih tertarik menangani dampaknya dari pada mencari sumber dampak, maka upaya yang bersifat struktur (in-stream) tersebut sudah seharusnya diarahkan kepada upaya nonstruktur (off-stream) terutama di daerah bagian hulu sebagai daerah sumber dampak banjir dengan membentuk upaya terpadu dan menyeluruh, atas dasar konsep hubungan interdependensi dalam wilayah DAS.

  Jawaban: Air yang berlebih dan tak mampu ditampung oleh sungai itu sering terjadi di berbagai daerah aliran sungai (DAS) yang ada di Indonesia. Daerah hulu sungai yang gundul, wilayah tengah yang penuh dengan lahan terbangun, pantai yang telah rusak, menjadi beberapa penyebab banjir.

  Upaya mengatasi banjir dibagian hulu dengan cara menjaga dan mengelola sistem ekologinya, misalnya penghijauan kembali, pembersihan hulu sungai dan memperbaiki tata guna lahan.

  

2. Jelaskan alur cerita bergambar berikut secara urut dari input hujan sampai

tergambarkannya hydrograph aliran/banjir.

  Jawaban:

  Suatu kurva yang menggambarkan fluktuasi debit aliran sungai terhadap waktu disebut Hidrograf. Input dimulai dari air hujan yang sampai kepermukaan tanah yang sebagian masuk kedalam tanah (infiltrasi), sebagian lagi mengisi cekungan, kubangan dan ada juga yang mengalir di permukaan. Aliran permukaan ini akan berkumpul pada saluran kecil (anak sungai) sehingga masuk ke sungai induk. Setelah berkumpul di sungai, apabila debit aliran sungai tersebut tinggi dalam waktu singkat atau (qp=tp) yaitu debit

  

Dosen: Dr. Ir. H. Aswandi, M.Si

  yang akan menghasilkan terjadinya banjir. Namun banjir akan berkurang seiring dengan lama waktu yang membuat debit aliran juga semakin menurun.

  

3. Jika lahan basah atau lahan gambut sudah didrinase/ dibuat kanal-kanal, maka

  fungsi hidrologisnya menjadi rusak, kenapa demikian, jelaskan apa dampak besar yang akan terjadi, terutama menghadapi musin kemarau.

  Jawaban:

  Jika lahan gambut telah di drainase maka akan mempengaruhi fungsi hidrologisnya, karena pembuatan kanal drainase pada lahan gambut menyebabkan penurunan ketebalan lahan, sehingga fluktuasi dari lahan gambut tersebut pada musim kemarau dan musim hujan akan meningkat disebabkan kapasitas penampung air menjadi menurun.

  Kanalisasi yang dibangun di lahan gambut telah menyebabkan keringnya muka air gambut sehingga menjadi mudah terbakar. Untuk itu perlu adanya manajemen kanal yang dilakukan perusahaan dengan sungguh- sungguh. Kanalisasi membuat gambut mudah terbakar, teroksidasi dan mengalami subsiden serta melepaskan emisi gas rumah kaca dalam jumlah sangat besar.

  

4. Jika anda ingin melakukan perhitungan debit aliran(Qw) dari suatu DAS, anda

  harus membuat persamaan regresi (disarankan power regression/regresi berpangkat) untuk dapat digunakan mengolah data TMA (m) yang tercatat secara time series menjadi data debit (m3/det). Jelaskan kenapa harus membuat persamaan regresi dan bagaimana membuatnya.

  Jawaban:

  

5. Unit DAS juga disebut unit hidrologi dan telah disepakati para ahli hidrologi

  dan lingkungan bahwa unit DAS sangat tepat untuk dijadikan alat (tool) dalam rangka monev untuk menganalisis dampak kerusakan lingkungan oleh pelaksanaan pembanganan di wilayah DAS tersebut. Jelaskan bgm system kerja unit DAS bias dianggap sebagai alat monev dan indikator apa saja yang bisa dijadikan bahan monev tersebut, silakan ambil kasus DAS Batanghari.

  Jawaban:.

  Indikator yang bisa dijadikan monitoring dan evaluasi (monev) suatu DAS, sebagai berikut:

  a) Indikator terkait kuantitas hasil air, yaitu debit air sungai (Q) dengan

  parameter nilai koefisien rejim sungai (KRS), indeks penggunaan air (IPA), dan koefisien limpasan (C).

  b) Indikator terkait kontinuitas hasil air berupa nilai variasi debit tahunan (CV).

  c) Indikator terkait kualitas hasil air yaitu tingkat muatan bahan yang

  terkandung dalam aliran air, baik yang terlarut maupuan tersuspensi, nilai SDR (nisbah hantar sedimen), dan kandungan pencemar (polutan).

  Berdasarkan DAS Batanghari disesuaikan dengan indikator monev diatas, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan seperti adanya persiapan yang

  Dosen: Dr. Ir. H. Aswandi, M.Si

  dimulai dari badan-badan pengelola DAS, sarana-sarana pendukung, adanya peta jaringan, stasiun tetap untuk pengambilan data tentang kondisi tata DAS.

Dokumen baru

Download (3 Halaman)
Gratis

Tags