Abdul Barry Worontika, Made Wijana, A.A. Alit Triadi Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik Universitas Mataram Jl. Majapahit No. 62 Mataram NTB Telp. (0370) 636126 ext.128, (0370) 636087 Email : worontikagmail.com ABSTRAK - ANALISA BREAK EVEN POINT (BEP)

Gratis

0
0
8
1 month ago
Preview
Full text

  

ANALISA BREAK EVEN POINT (BEP) PERUSAHAAN AIR MINUM

DALAM KEMASAN CV. LAM

  • – LAM DESA NDANO KECEMATAN

MADAPANGGA KABUPATEN BIMA

  

ANALYSIS OF BREAK EVEN POINT (BEP) BOTTLED WATER COMPANY

CV. LAM-LAM NDANO VILLAGE MADAPANGGA SUBDISTRICT BIMA

REGENCY

  Abdul Barry Worontika, Made Wijana, A.A. Alit Triadi Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik Universitas Mataram

  Jl. Majapahit No. 62 Mataram NTB Telp. (0370) 636126 ext.128, (0370) 636087 Email :

  

ABSTRAK

  Industri Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) masih agresif dalam menyuntikkan modal di dalam negeri. Pasar industri AMDK di Indonesia beberapa tahun terakhir ini semakin berkembang seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat. Peningkatan kebutuhan akan konsumsi air minum dalam kemasan (AMDK) dilatar belakangi oleh pertumbuhan jumlah penduduk dan peningkatan kualitas ekonomi. Banyak perusahaan di indonesia yang memproduksi air mineral untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan air mineral, yang dimana salah satunya yaitu “CV. LAM - LAM” produsen usaha air minum dalam kemasan yang tumbuh dan berkembang di desa Ndano Kecematan Madapangga Kabupaten Bima. CV. Lam-Lam memproduksi air minum dalam kemasan (AMDK) dalam berbagai ukuran, seperti : kemasan cup 220 ml, kemasan botol 600 ml, kemasan botol 1.500 ml dan dalam bentuk kemasan galon 19.000 ml. Sebagai industri yang sedang berkembang, untuk itu diperlukan analisa Break Even Point untuk mengetahui apakah selama ini industri telah mencapai keuntungan atau belum.

  Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode kuantitatif dimana penulis akan melakukan pengumpulan data berupa angka yang di butuhkan sehubungan dengan masalah yang akan di teliti, sehingga hasil penelitiannya dapat lebih dipercaya dan diandalkan kebenarannya. Disamping itu juga penelitian ini menggunakan studi literatur untuk mendapatkan teori, data-data serta gambar yang diperlukan.

  Berdasarkan hasil penelitian pada perusahaan air minum dalam kemasan (AMDK) CV.Lam-Lam didapatkan nilai Break Even Point (BEP) dalam unit yaitu 38.608.733 liter atau pada bulan ke 16 untuk harga jual Rp 1.144,29 / liter, dengan Fixed Cost (FC) sebesar Rp.

  3.021.905.500,00 dan Variabel Cost (VC) sebesar Rp. 41.157.681.118,05 pada Total Cost (TC) sama dengan Total Revenue (TR) sebesar Rp.44.179.586.618,05 sehingga perusahaan ini dinyatakan layak beroperasi. Kata Kunci : Air Minum Dalam Kemasan (AMDK), Break Even Point (BEP), Fixed Cost (FC).

  

ABSTRACT

The Bottled Water Industry (AMDK) is still aggressive in injecting capital domestically.

  The market for bottled water in Indonesia for the last few years has been grew along with the increased needs of the community. The increased in the need for consumption of bottled drinking water (AMDK) is motivated by the growth of population and improvement in economic quality. Many companies in Indonesia produced mineral water to met people's needs for mineral water, one of which is "CV. LAM - LAM" producers of bottled water businesses that grew and develop in the Ndano village, Madapangga Subdistrict, Bima Regency. Lam-Lam CV produced bottled of drinking water (AMDK) in various sizes, such as: 220 ml cup packaged, 600 ml bottle packaged, 1.500 ml bottle packaged, and in 19.000 ml gallon packaged. As a developed industry, Break Even Point analyzed are needed to find out whether the industry has achieved profits or not.

  The method used in this research is quantitative method where the author did data collection in the form of numbers that are needed in connection with the problem to be researched, so that research results are trusted and relied upon the truth. Besides, this research also used literature to get theory, data and images needed.

  Based on the results of research on bottled drinking water companies (AMDK) Lam-Lam CV obtained the value of Break Even Point (BEP) in units of 38.608.733 liters or in the month of 16 for the selling price of Rp 1.144,29 / liter, with Fixed Cost (FC) of Rp. 3.021.905.500,00 and Variable Cost (VC) of Rp.41.157.681.118,05 in Total Cost (TC) equal to Total Revenue (TR) of Rp. 44.179.586.618,05 so by those, this company was declared eligible to operate.

  Keywords: Bottled Drinking Water (AMDK), Break Even Point (BEP), Fixed Cost (FC).

I. PENDAHULUAN

  Berdasarkan hasil Sensus Ekonomi 2016, jumlah usaha non-pertanian di Provinsi Nusa Tenggara Barat sebanyak 598,5 ribu usaha, atau meningkat sebesar 10,14 persen jika dibandingkan jumlah usaha hasil Sensus Ekonomi 2006 yang tercatat sebanyak 543,4 ribu usaha.

  Dari sebanyak 598,5 ribu usaha hasil Sensus Ekonomi 2016, Kota Bima memiliki jumlah usaha sebanyak 21,8 ribu. Dari sebanyak 598,5 ribu usaha tercatat sebanyak 144,8 ribu usaha yang menempati bangunan khusus untuk tempat usaha. Dengan demikian, sebanyak 453,7 ribu usaha tidak menempati bangunan khusus usaha, seperti pedagang keliling, usaha di dalam rumah tempat tinggal, usaha kaki lima, dan lain sebagainya (Badan Pusat Statistik Provisnsi NTB, 2016).

  Industri Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) masih agresif dalam menyuntikkan modal di dalam negeri. Pasar industri AMDK di Indonesia beberapa tahun terakhir ini semakin berkembang seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat. Peningkatan kebutuhan akan konsumsi air minum dalam kemasan (AMDK) dilatar belakangi oleh pertumbuhan jumlah penduduk dan peningkatan jumlah masyarakat berpendapatan menengah ke atas. Peningkatan kebutuhan akan air bersih juga dipicu oleh semakin terbatasnya akses air bersih layak minum akibat penurunan kualitas air yang disebabkan oleh kerusakan dan pencemaran lingkungan.

  Alasan kepraktisan dalam mengkonsumsi air mineral mendorong konsumsi AMDK bertumbuh rata-rata sebesar 12,5% per tahun selama 2009-2014 (Bank Mandiri, 2015). Kepraktisan dan kehigienisan AMDK menjadi sesuatu yang penting bagi masyarakat dengan gaya hidup serta mobilitas yang tinggi dalam mencukupi kebutuhan konsumsi air minum sehari-hari.

  II. LATAR BELAKANG

  Pendapat dari beberapa pakar kesehatan mengenai cairan yang dibutuhkan untuk tubuh manusia yang aktif beraktivitas diperlukan konsumsi air minum dalam satu hari sebanyak 2 ( dua ) liter, bahkan dianjurkan sampai 5 liter. Hal ini mengingat tubuh manusia yang terdiri dari cairan dan yang setiap saat dapat terbuang sehingga perlu mendapat pengganti.

  Perkembangan teknologi dan tuntutan pekerjaan dalam era globalisasi membuat tingkat mobilisasi masyarakat dalam segala aktivitas semakin tinggi, sehingga segala kebutuhan akan komponen nilai hidup menuntut serba praktis dan instant. Tuntutan yang didasari pengetahuan untuk selalu dapat hidup sehat menjadikan masyarakat sangat selektif dalam mengkonsumsi produk minuman.

  Industri air minum di indonesi yang dimulai tahun 1975, yang memperkenalkan produk air minum dalam kemasan yang higenis dan sangat praktis, mudah didapat dan dapat dikonsumsi dimana saja dan kapan saja.

  Dari masa itu sampai dengan saat ini telah banyak industri yang dibangun, bahkan menurut data ASPADIN (Asosiasi Produsen Air Minum Indonesia) tercatat lebih dari 300 pabrik yang tersebar di wilayah indonesia yang masih terus berproduksi, sehingga produk ini menjadi trend seller karena mempunyai segment dari semua golongan konsumen. Bahkan akan terus menjadi industri strategis yang menguntungkan jika di kelola dengan tepat dan benar.

  Menurut Alwi (1990) bahwa analisa break even point dapat membantu pimpinan dalam mengambil keputusan antara lain : 1) Jumlah penjualan minimum yang harus dipertahankan agar perusahaan tidak mengalami kerugian. 2) Jumlah penjualan yang harus dicapai untuk memperoleh keuntungan tertentu. 3) Seberapa jauhkah berkurangnya penjualan agar perusahaan tidak menderita rugi. 4) Untuk mengetahui bagaimana efek perubahan harga jual, biaya dan volume penjualan terhadap keuntungan yang akan diperoleh. Menurut Harahap (2008) dalam analisis laporan keuangan kita dapat menggunakan rumus break even point untuk mengetahui : 1) Hubungan antara penjualan, biaya, dan laba. 2) Struktur biaya tetap dan biaya variabel. 3) Kemampuan perusahaan dalam menekan biaya dan batas dimana perusahaan tidak mengalami laba dan rugi. 4) Hubungan antara cost, volume, harga dan laba.

  B. Manfaat Break Even Point

A. Pengertian Break Even Point

  break even point adalah “ perhitungan rugi-

  laba dari suatu periode kerja atau dari suatu kegiatan usaha tertentu, perusahaan itu tidak memperoleh laba, tetapi juga tidak menderita kerugian”.

  Menurut Samryn (2002) dalam bukunya yang berjudul “Akuntansi Manajerial

  Menurut Sigit (1990) dalam bukunya yang berjudul “Analisa Break Even“ Analisa

  mana total pendapatan sama dengan total biaya atau sebagai titik dimana total marjin kontribusi sama ddengan total biaya tetap.

  Dari beberapa uraian di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa analisa break teknik yang digunakan untuk mengetahui volume kegiatan produksi (usaha) dimana dari volume produksi tersebut perusahaan tidak meperoleh laba dan juga tidak menderita rugi.

  Menurut Pujawan (2004) dalam bukunya yang berjudul “Ekonomi Teknik“ Analisa break even point adalah salah satu analisa dalam ekonomi teknik yang sangat popular digunakan terutama pada sektor- sektor industri yang padat karya. Analisa ini akan berguna apabila seorang akan mengambil keputusan pemilihan alternatif yang cukup sensitif terhadap parameter atau variabel dan bila variabel-variabel tersebut sulit diestimasi nilainya.

  Break Even Point (BEP) adalah suatu keadaan perusahaan dimana dengan keadaan tersebut perusahaan tidak mengalami kerugian juga perusahaan tidak mendapatkan laba sehingga terjadi keseimbangan atau impas. hal ini bisa terjadi bila perusahaan dalam pengoperasiannya menggunakan biaya tetap dan volume penjualannya hanya cukup untuk menutup biaya tetap dan biaya variabel (Alwi, 1990).

  Industri pada dasarnya mencari laba selain itu juga mempunyai tujuan untuk perkembangan industri, industri berusaha semaksimal mungkin menghindari kerugian atau kebangkrutan atau industri berusaha untuk tidak rugi walaupun tidak mendapat keuntungan, dalam keadaan break even point .

  C. Analisa Break Even Point

  Analisis impas atau analisis hubungan biaya, volume, dan laba merupakan teknik untuk menggabungkan, mengkoordinasikan dan menafsirkan data produksi dan distribusi untuk membantu manajemen dalam mengambil keputusan. Impas sendiri diartikan keadaan suatu usaha yang tidak memperoleh laba dan tidak

   break even point adalah titik di menderita rugi. Dapat pula dengan kata lain suatu usaha dikatakan impas jika pendapatan sama dengan jumlah biaya. Dengan demikian analisis impas (break even) adalah suatu alat yang digunakan untuk mempelajari hubungan antara biaya tetap, biaya variabel keuntungan, dan volume penjualan (Riyanto, 1995).

  Menurut Samryn (2002), dalam Gambar 1. Grafik Ongkos Produksi, terdiri bukunya yang berjudul “Akuntansi dari (a) ongkos tetap (FC) (b) ongkos

  Manajerial” Analisa break even adalah: variabel (VC), ongkos total (TC). “titik dimana total pendapatan sama dengan

  (Sumber : Pujawan,2004) total biaya atau sebagai titik dimana total marjin kontribusi sama dengan total biaya

  Bila dimisalkan X adalah volume tetap. produksi yang dibuat, dan c adalah ongkos

  Aplikasi analisa titik impas pada variabel yang terlibat dalam pembuatan satu permasalahan produksi biasanya digunakan buah produk maka ongkos variabel untuk untuk menentukan tingkat produksi yang membuat X buah produk adalah: bisa mengakibatkan perusahaan berada pada

  VC = cX kondisi impas. Untuk mendapatkan titik Karena ongkos total adalah jumlah impas ini maka harus dicari fungsi-fungsi dari ongkos-ongkos tetap dan ongkos- biaya maupun pendapatannya. Pada saat ongkos variabel maka berlaku hubungan: kedua fungsi tersebut bertemu maka total

  TC = FC + VC biaya sama dengan total total pendapatan.

  = FC + cX Dalam melakukan analisa titik impas, sering

  Dengan : kali fungsi biaya maupun fungsi pendapatan TC = ongkos total untuk diasumsikan linier terhadap volume membuat X produk (Rp) produksi. Ada tiga komponen biaya yang FC = ongkos tetap (Rp) dipertimbangkan dalam analisa BEP yaitu :

  VC = ongkos variabel untuk 1) Biaya-biaya tetap (fixed cost) yaitu membuat X produk (Rp) biaya-biaya yang besarnya tidak c = ongkos variabel untuk dipengaruhi oleh volume produksi. membuat satu produk (Rp)

  Beberapa yang termasuk biaya tetap adalah biaya gedung, biaya tanah, Dalam analisa titik impas selalu biaya mesin dan peralatan, dan diasumsikan bahwa total pendapatan (total sebagainya. revenue ) diperoleh dari penjualan semua

  2) Biaya-biaya variabel (variabel cost) produk yang diproduksi. Bila satu buah yaitu biaya-biaya yang besarnya produk adalah p maka harga X buah produk tergantung (biasanya secara linier) akan menjadi total pendapatan, atau : terhadap volume produksi. Biaya- TR = pX biaya yang tergolong biaya variabel Dengan : diantaranya adalah biaya bahan baku TR = Total pendapatan dari dan biaya tenaga kerja langsung. penjualan X buah produk. 3) Biaya total (total cost) adalah jumlah p = Harga jual per satuan produk. dari biaya-biaya tetap dan biaya-

  Titik impas akan diperoleh apabila biaya variabel. total ongkos-ongkos yang terlibat persis

  Bila digambar dalam grafik maka sama dengan total pendapatan, atau : biaya-biaya tersebut terlihat seperti gambar

  TR = TC 1.

  Atau pX = FC + cX Dimana X dalam hal ini adalah volume produksi yang menyebabkan perusahaan pada titik impas (BEP). Tentu apabila bisa perproduksi diatas

  X (melampaui titik impas). Hal ini akan ditunjukan seperti gambar 2.

  masa datang dan perolehan laba. Selain itu analisa break even point dapat dijadikan tolak ukur untuk menaikkan laba atau untuk mengetahui penurunan laba yang tidak mengakibatkan kerugian pada industri.

  (Sumber : Pujawan,2004)

  Gambar 2. Grafik BEP (Break Even Point).

  Menurut Matzh (1997) perencanaan laba atau penganggaran sangat bermanfaat karena : 1) Memberikan pendekatan yang terarah dalam pemecahan permasalahan. 2) Memaksa pihak manajemen untuk secara dini mengadakan penelaahan terhadap masalah yang dihadapinya. 3) Menciptakan suasana organisasi yang mengarah pada pencapaian laba, mengarahkan penggunaan modal. 4) Mendorong standar prestasi yang tinggi dengan merangsang kegairahan untuk bersaing. Untuk mengambil keputusan tentang perencanaan laba maka rumus yang dapat digunakan adalah : Dengan : BEP = Break even point FC = Biaya Tetap (Rp) / (Fixed Cost) p = Harga jual per unit (Rp/Unit) /

D. Aplikasi Break Even Point Untuk Menghitung Laba Yang Diinginkan

  even point untuk perkembangan ke arah

  Analisa break even point dengan perencanaan laba mempunyai hubungan kuat sebab analisa break even point dan perencanaan laba sama-sama berbicara dalam hal anggaran atau di dalamnya mencakup anggaran yang meliputi biaya, harga produk, dan volume penjualan, yang kesemua itu mengarah ke perolehan laba. Untuk itu dalam perencanaan perlu penerapan atau menggunakan analisa break

  Setiap industri mempunyai tujuan untuk mencari keuntungan atau memperoleh laba. Untuk memperoleh laba tersebut sebelumnya harus diadakan perencanaan sehingga sesuai yang ditargetkan oleh pihak industri dan perencanaan tersebut disebut perencanaan laba. Pada perencanaan laba maka pihak manajer industri akan mudah dalam pengambilan keputusan, dapat memperkirakan anggaran yang dibutuhkan, mengetahui kesalahan yang mungkin muncul. Hal itu dapat dilihat dari pengalaman masa lalu serta dengan perencanaan laba yang dapat merangsang atau memacu menuju persaingan yang lebih ketat melalui efektivitas dan efisiensi.

  Perencanaan merupakan proses awal sebelum melakukan kegiatan usaha, tanpa perencanaan maka kegiatan usaha tidak berjalan terarah dan tidak mempunyai tujuan yang pasti. Untuk itu perencanaan merupakan hal penting dalam mengambil keputusan. Perencanaan merupakan fungsi manajemen dalam aktivitas organisasi untuk merumuskan aktivitas-aktivitas serta asumsi-asumsi mengenai masa depan atau dalam jangka waktu yang panjang dalam mencapai tujuan.

  c = Biaya variable untuk membuat satu unit produk (Rp/Unit) /(Cost)

  III. METODE PENELITIAN

  Adapun tahapan dan proses yang dilakukan dalam penelitian ini adalah :

  A. Jenis Penelitian

  Penelitian ini menggunakan data kuantitatif dimana penulis akan melakukan pengumpulan data berupa angka yang dibutuhkan sehubungan dengan masalah yang akan diteliti, sehingga hasil penelitiannya dapat lebih dipercaya dan diandalkan kebenarannya.

  B. Penelusuran Pustaka

  Penulusuran pustaka di lakukan untuk mendapatkan gambaran klasifikasi biaya-

  (Price)

  biaya dan cara-cara menganalisis dalam Tabel 1. Jumlah produk air minum dalam penelitian yang akan dilakukan. kemasan (AMDK) yang dihasilkan setiap bulannya pada periode (2015-2016)

  C. Survey Awal

  Survey awal di lakukan untuk mendapatkan data awal seperti penjualan air minum dalam kemasan (AMDK), biaya tetap dan biaya tidak tetap sebagai gambaran penelitian yang akan dilakukan.

  D. Lokasi Penelitian

  Setelah survey awal dilakukan dan mendapatkan data-data yang dibutuhkan, barulah lokasi penelitian tersebut dapat

  Dari data diatas, menunjukan jumlah ditentukan. Penelitian ini di lakukan di CV. produksi dus dan galon per bulan. Adapun

  LAM-LAM di wilayah Desa Ndano, data produksi per harinya sebagai berikut : Kecamatan Madapangga, Kabupaten Bima, a.

  Untuk kemasan cup 220 ml NTB. jumlah rata-rata produksi per hari 5000 dus.

  D. Pengambilan Data b.

  Untuk kemasan botol 600 ml Melakukan Pengambilan data jumlah rata-rata produksi per hari komponen biaya-biaya yang dibutuhkan 30 dus. dalam pembuatan air minum dalam kemasan c.

  Untuk kemasan botol 1.500 ml (AMDK) di CV. LAM-LAM di wilayah jumlah rata-rata produksi per hari Desa Ndano yaitu : 20 dus.

  1. Biaya tetap (fixed cost) d.

  Untuk kemasan galon 19.000 ml

  a. Biaya peralatan jumlah rata-rata produksi per hari b. Biaya sewa bangunan 2000 galon.

  c. Biaya perawatan Dari data tabel 1, jumlah rata-rata produksi

  d. Biaya gaji pegawai tetap per bulan dari ukuran cup 220 ml, botol 600

  e. Biaya operasional kendaraan ml, botol 1.500 ml, dan galon 19.000 ml, akan dijumlahkan kedalam satuan liter ( ℓ)

  2. Biaya tidak tetap (variabel cost) dan dimasukan kedalam tabel 2.

  a. Biaya bahan baku

  b. Biaya bahan penolong Tabel 2.Jumlah produk dalam satuan liter ( ℓ)

  c. Biaya pengoperasian alat

  d. Biaya gaji pegawai produksi

IV. PEMBAHASAN

A. Jumlah Produk Air Minum Dalam Kemasan Yang Dihasilkan Per Bulan Pada Tahun 2015

  Jumlah produk air minum dalam kemasan yang dihasilkan tiap bulannya berbeda-beda disebabkan oleh hari libur dan hari-hari besar.

  

B. Jumlah Produksi dan Harga Jual Rp. Berdasarkan hasil perhitungan

1.144,29 / liter analisis break even point pada pembuatan air

  minum dalam kemasan (AMDK) CV.Lam- Jumlah produk yang dihasilkan oleh

  Lam didapatkan jumlah yang harus perusahaan tiap bulannya dipengaruhi oleh diproduksi untuk mencapai nilai titik impas jumlah hari kerja tiap bulan. Berdasarkan

  (Break Even Point) dengan biaya tetap

  penelitian, jumlah produk AMDK yang

  (Fixed Cost) (FC) Rp. 3.021.905.500,00 dan

  dihasilkan rata-rata 2.427.287,00 liter per biaya tidak tetap (Variable Cost) (VC) bulan. Dengan harga jual produk yang telah

  Rp.41.157.681.118,05 pada jumlah produksi siap dipasarkan yaitu : yang dihasilkan adalah 38.608.733 liter pada bulan ke 16 dengan biaya total (Total Cost)

  Harga Jual Per Liter (p) = Rp. 1.144,29 / (TC) Rp. 44.179.586.618,05. Pada titik ini liter perusahaan air minum dalam kemasan

  Besarnya pendapatan per bulan yang (AMDK) CV.Lam-Lam tidak mengalami diterima oleh perusahaan adalah merupakan kerugian dan tidak pula mengalami hasil kali antara jumlah rata-rata produk keuntungan, sehingga perusahaan ini

  AMDK yang dihasilkan per bulan dengan dinyatakan layak beroperasi. harga jual per liter.

  V. KESIMPULAN

  1. CV.Lam-Lam akan mengalami

  Break Even Point saat

  memproduksi 38.608.733 liter air minum dalam kemasan (AMDK) dengan biaya tetap (Fixed Cost)

  Tabel 3. Total pendapatan air minum dalam (FC) sebesar Rp. kemasan (AMDK) pada CV.Lam-Lam

  3.021.905.500,00 dan biaya tidak tetap (Variable Cost) (VC) Rp. 41.157.681.118,05.

  2. CV.Lam-Lam akan mengalami

  Break Even Point dalam waktu 16

  bulan dengan menggunakan harga jual saat ini yaitu Rp. 1.144,29 / liter dan total biaya pengeluaran (TC) sama dengan total pendapatan (TR) yaitu Rp.44.179.586.618,05.

  3. Pada saat memproduksi 38.608.733 liter atau dalam waktu 16 bulan, perusahaan air minum dalam kemasan (AMDK) CV.Lam-Lam dapat mencapai

  Break Even Point (BEP) ,

  sehingga perusahaan ini Berdasarkan tabel 3 dapat dibuat dinyatakan layak beroperasi. grafik break even point seperti pada gambar 3.

  Gambar 3 Grafik Break Even Point

DAFTAR PUSTAKA

  Admin, 2011, Pengertian, Definisi, Macam,

  Jenis, dan Penggolongan Industri di Indonesia , http : // pusatukm. com /

  pengertian

  Matzh, A., 1997, Akuntansi Biaya, Jilid Kedua, PT Erlangga, Jakarta. Peraturan Mentri Kesehatan Republik

  • – definisi – macam – jenis
    • dan - penggolongan - industri - di - indonesia / (diakses 7 Februari 2018).

  Alwi, S., 1990, Alat-Alat Dalam

  Akbar, P.H., 2015, Prototype Pengolahan

  Suatu Pengantar, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta. Sigit, S., 1990, Analisa Break Even, Edisi Ketiga, BPFE, Yogyakarta.

  B., 1995, Dasar-dasar Pembelanjaan Perusahaan , BPFE, UGM. Samryn, L.M.,2002, Akuntansi Manajerial,

  Mesin Fakultas Teknik Universitas Mataram. Riyanto

  (BEP) Pada Pembuatan Roti Studi Kasus : Usaha Kecil Menengah (UKM) Roti (Rotiku Rotimu) Desa Babakan, Program Studi Teknik

  Departemen Hasil Hutan Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor. Kholiq, M., 2015, Aplikasi Break Even Point

  Air Minum Dalam Kemasan Dan Minuman Madu Di Perum Perhutani Unit III Jawa Barat Dan Banten,

  Pujawan,I.N., 2004, Ekonomi Teknik, Guna Widya, Surabaya. Respati, D.D., 2013 Analisis Biaya Produksi

  Break Even Point, (diakses 19 Maret 2018)

  Poerwanto, H., 2011, Manfaat Analisis

  Persyaratan Kualitas Air Minum, (diakses 28 Maret 2018)

  Indonesia, 2010, Tentang

  dan Bisnis Universitas Brawijaya Malang.

  Pembelanjaan. Andi Offset, Yogyakarta

  Point Sebagai Alat Perencanaan Laba Pada Perusahaan Pabrik Gula Ngadiredjo Kediri , Fakultas Ekonomi

  Kurnianti, W.S., 2013, Analisis Break Even

  Air Laut Menjadi Air Minum Dengan Pretreatment Variasi Multimedia Filter Pada Proses Desalinasi Dengan Analisa (Konduktivitas, TDS, Salinitasi dan pH), Politeknik Negeri Sriwijaya Palembang.

  Syarat dan Pengawasan Kualitas Air Minum,

  Indonesia, 2002, Tentang Syarat-

  Harahap, S.S., 2008, Teori Akutansi, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta. Keputusan Mentri Kesehatan Republik

  Dalam Kemasan , (diakkses 20 Maret 2018).

  Maret 2018) Dumai, B., 2012, Proposal Air Minum

  volume 11, (diakses 19

  Desember 2017). Bank Mandiri, 2015, Industry Update

  Pendaftaran Usaha Sensus Ekonomi 2016 Tahap Awal di Provinsi NTB , (diakses 11

  Badan Pusat Statistik Provinsi NTB, 2016,

  (diakses 28 Maret 2018).

Dokumen baru

Aktifitas terkini

Download (8 Halaman)
Gratis

Tags

Dokumen yang terkait

ANALISIS BREAK EVEN POINT (BEP) PADA PABRIK TEMPE PAK RYAN PALEMBANG
0
0
14
PERHITUNGAN BREAK EVEN POINT (BEP) TERHADAP PRODUK-PRODUK KAYU PADA USAHA PERTUKANGAN KAYU RIAN
0
0
17
PERHITUNGAN BREAK EVEN POINT (BEP) PEMPEK KAPAL SELAM PADA PEMPEK SENTOSA PALEMBANG - POLSRI REPOSITORY
0
0
13
PERHITUNGAN BREAK EVEN POINT (BEP) TERHADAP PRODUK PEMPEK PADA TOKO AAN PALEMBANG - POLSRI REPOSITORY
0
0
15
PERHITUNGAN BREAK EVEN POINT (BEP) PADA USAHA KECIL MENENGAH (UKM) “JAYA ROTAN” PALEMBANG
0
0
17
ANALISIS PERHITUNGAN BREAK EVEN POINT (BEP) PADA BAKSO GRANAT MAS AZIS DI PALEMBANG
0
0
15
ANALISIS PERHITUNGAN BREAK EVEN POINT (BEP) PADA USAHA KERUPUK KEMPLANG RIZKY PALEMBANG
0
0
15
ANALISIS BREAK EVEN POINT (BEP) PADA ALUMINIUM MUSI II PALEMBANG
0
0
29
ANALISIS PERHITUNGAN BREAK EVEN POINT (BEP) PADA USAHA KERUPUK RAMBAK AL GHANIY PALEMBANG - POLSRI REPOSITORY
0
0
14
PERHITUNGAN BREAK EVEN POINT (BEP) PADA BAKSO OPA GODEG 1 TANGGA BUNTUNG
0
0
15
PENGARUH VARIASI PROFIL SUDU DAN BESAR SUDUT PITCH SUDU TERHADAP KINERJA TURBIN ANGIN POROS HORISONTAL M. Nawawi Imron Jaelani, I Kade Wiratama, I Made Mara Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Mataram Jl. Majapahit No. 62 Mataram, Nusa Tengga
0
0
7
PENGARUH VARIASI SUDUT PITCH DAN VARIASI TAPER BLADE TERHADAP PERFORMANSI TURBIN ANGIN POROS HORISONTAL Sujarman Hardiansyah, I Kade Wiratama, I Made Mara Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Mataram Jl. Majapahit No. 62 Mataram, Nusa Tengga
0
0
8
PERANCANGAN BED FORMER TRAKTOR QUICK G 3000 ZEVA UNTUK MEMBUAT BEDENGAN PADA BUDIDAYA SAYURAN *Adiniahmad, **Tri Rachmanto, ** Agus Dwi Catur Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Mataram Jl. Majapahit no 62, Mataram, NTB, kode pos 83122, Tel
0
0
13
Pengaruh Variasi Sudut Terjunan Terhadap Unjuk Kerja Pompa Hydram (Hydraulic Ram Pum) *Syamsul Haris Nasution, **Rudy Sutanto, **Made Wirawan *Mahasiswa Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Mataram ** Dosen Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Tek
0
0
9
ANALISIS UNJUK KERJA VoIP (Voice Over Internet Protocol) PADA INFRASTRUKTUR JARINGAN UNRAM HOTZONE Yanti Listi Septiarini1, Syamsjiar Rachman2, Lalu A. Irfan Akbar3 Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik Universitas Mataram Email : yantilisitiarini@gmail
0
0
10
Show more