Kohesi dan koherensi dalam tajuk rencana surat kabar harian Kedaulatan Rakyat edisi Juli 2009 - USD Repository

Gratis

0
0
202
3 months ago
Preview
Full text

  

KOHESI DAN KOHERENSI

DALAM TAJUK RENCANA SURAT KABAR HARIAN

KEDAULATAN RAKYAT EDISI JULI 2009

  SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

  Memperoleh Gelar Sarjana Sastra Program Studi Sastra Indonesia

  Oleh Rini Setyaningsih

  NIM: 05 4114 013 PROGRAM STUDI SASTRA INDONESIA JURUSAN SASTRA INDONESIA FAKULTAS SASTRA UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA

  2010

  

KOHESI DAN KOHERENSI

DALAM TAJUK RENCANA SURAT KABAR HARIAN

KEDAULATAN RAKYAT EDISI JULI 2009

  SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

  Memperoleh Gelar Sarjana Sastra Program Studi Sastra Indonesia

  Oleh Rini Setyaningsih

  NIM: 05 4114 013 PROGRAM STUDI SASTRA INDONESIA JURUSAN SASTRA INDONESIA FAKULTAS SASTRA UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA

  2010

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

  Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka sebagaimana layaknya karya ilmiah.

  

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH

UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

  Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma: Nama : Rini Setyaningsih Nomor Mahasiswa : 05 4114 013 Dengan pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma Yogyakarta karya ilmiah saya yang berjudul: KOHESI DAN KOHERENSI DALAM TAJUK RENCANA SURAT KABAR HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI JULI 2009. Dengan demikian saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk lain, mengolahnya dalam bentuk pangkalan data, mendistribusikan secara terbatas, dan mempublikasikannya di internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta ijin dari saya maupun memberikan royalty kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis. Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya. Di buat di Yogyakarta Pada tanggal 6 Maret 2010 Yang menyatakan Rini Setyaningsih

  

MOTTO

Tuhan menjadikan segala sesuatu indah pada waktunya

Karena itu kuserahkan hidupku

  

Ke dalam tangan-Nya

Sungguh indah rencana-Mu Tuhan

Dalam hidupku…

  

Ada saat-saat istimewa dalam kehidupan kita

Dan sebagian besar datang dari dorongan orang lain

(George Adams) PERSEMBAHAN Dengan setulus hati dan untaian kasih yang terindah Ku persembahkan skripsi ini kepada…

  Bapak Robertus Supajar dan Ibu Rubinah My sista Christina Rubiyanti Almamaterku

KATA PENGANTAR

  Segala hormat, pujian, dan syukur bagi kemuliaan Allah Bapa di surga yang telah memberikan kekuatan, kemudahan, limpahan berkat, dan kasih-Nya bagi penulis untuk dapat menyelesaikan skripsi ini.

  Tujuan penulisan ini adalah untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Sastra pada Program Studi Sastra Indonesia, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

  Penulisan skripsi ini tidak lepas dari dukungan, bantuan, bimbingan, dan dorongan dari berbagai pihak yang sangat berguna bagi penulis. Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung dan memotivasi penulis hingga skripsi ini bisa terselesaikan. Secara khusus penulis mengucapkan terima kasih kepada:

  1. Drs. Hery Antono, M.Hum. selaku dosen pembimbing I yang dengan sabar dan perhatian memberikan dorongan serta membimbing selama penulisan skripsi ini.

  2. Dr. I. Praptomo Baryadi, M,Hum. selaku dosen pembimbing II yang telah membimbing dan memberikan masukan selama penulisan skripsi ini.

  3. Dosen-dosen Sastra Indonesia: Dra. Francisca Tjandrasih Adji, M.Hum, S.E.

  Peni Adji, S.S., M.Hum., Drs. B. Rahmanto, M.Hum., Drs. P. Ari Subagyo, M.Hum., Drs. Yoseph Yapi Taum, M.Hum., Drs. F.X. Santosa, M.S. atas bimbingannya selama penulis belajar di Program Studi Sastra Indonesia.

  4. Segenap karyawan sekretariat Fakultas Sastra atas pelayanan dan bantuannya.

  5. Segenap staff Perpustakaan Universitas Sanata Dharma atas bantuannya selama penulis mencari referensi.

  6. Bapak R. Supajar dan Ibu Rubinah selaku orang tua yang telah memberikan kasih sayang dalam membesarkan penulis hingga dapat menyelesaikan studi dengan baik.

  7. Kakakku Christina Rubiyanti yang selalu memberikan dorongan kepada penulis untuk cepat menyelesaikan skripsi ini. Terima kasih juga buat Mas Sampurno Setidji atas doanya.

  8. Sahabat dan teman-teman yang selalu mendukung dan memberikan semangat.

  Penulis menyadari bahwa masih banyak kesalahan dalam penulisan skripsi ini. Oleh karena itu, semua masukan, saran, dan kritik untuk perbaikan skripsi ini, penulis terima dengan senang hati.

  Penulis ABSTRAK Setyaningsih, Rini. 2010. “Kohesi dan Koherensi dalam Surat Kabar Harian

  Kedaulatan Rakyat Edisi Juli 2009”. Skripsi. Program Studi Sastra

  Indonesia, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Sanata Dharma. Dalam skripsi ini dibahas tentang kohesi dan koherensi dalam tajuk rencana surat kabar harian Kedaulatan Rakyat edisi Juli 2009. Ada dua pemasalahan yang dibahas dalam penelitian ini. Pertama, kohesi apa saja yang terdapat dalam tajuk rencana surat kabar harian Kedaulatan Rakyat edisi Juli 2009? Kedua, koherensi apa saja yang terdapat pada tajuk rencana surat kabar harian Kedaulatan Rakyat edisi Juli 2009?

  Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan kohesi apa saja yang terdapat dalam tajuk rencana surat kabar harian Kedaulatan Rakyat edisi Juli 2009 dan mendeskripsikan koherensi apa saja yang terdapat dalam tajuk rencana surat kabar harian Kedaulatan Rakyat edisi Juli 2009.

  Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif, yaitu penelitian yang mendeskripsikan objek penelitian berdasarkan fakta yang ada. Penelitian ini dilakukan melalui tiga tahap, yaitu (i) tahap pengumpulan data, (ii) tahap analisis data, dan (iii) tahap penyajian hasil analisis data. Metode yang digunakan dalam pengumpulan data adalah metode simak, yaitu menyimak tajuk rencana dengan membaca, menelaah, dan memahami tajuk rencana surat kabar harian Kedaulatan Rakyat edisi Juli 2009. Teknik yang digunakan adalah teknik catat, yaitu mencatat data yang diperoleh dari sumber tertulis yang terdapat pada surat kabar harian Kedaulatan Rakyat kemudian dicatat sember datanya yang meliputi nama surat kabar, tanggal, bulan, dan tahun terbit. Metode yang digunakan dalam analisis data adalah metode agih, yaitu metode penelitian yang menggunakan bahasa itu sendiri sebagai alat penentunya. Teknik yang digunakan dalam analisis data adalah teknik bagi unsur langsung, kemudian dilanjutkan dengan teknik lanjutan, yaitu teknik ganti, teknik sisip, teknik perluas, dan teknik parafrase. Dalam penyajian hasil analisis data digunakan metode informal, yaitu dengan menggunakan kata-kata biasa, dengan kata lain tidak menggunakan rumus.

  Hasil penelitian ini adalah sebagai berikut. Pertama, struktur tajuk rencana pada surat kabar harian Kedaulatan Rakyat edisi Juli 2009 memiliki kohesi gramatikal dan kohesi leksikal. Kemudian kohesi gramatikal dapat dirinci lagi menjadi empat, yaitu (i) kohesi penujukan, kohesi ini dibedakan menjadi dua yaitu penunjukan anaforis dan panunjukan kataforis dengan penanda kata itu, ini, dan tersebut, (ii) kohesi penggantian, dengan penanda kata mereka, -nya, dan ia, (iii) kohesi pelesapan, konstituen yang sudah disebutkan pada kalimat sebelumnya disebutkan kembali pada kalimat berikutnya dalam bentuk morfem zero, (iv) kohesi perangkaian, dengan penanda kata sebab yang bermakna ‘sebab’, kata

  

bahkan yang bermakna ‘lebih’, kata namun yang bermakna ‘perlawanan’, kata

sehingga yang bermakna ‘akibat’, kata karena yang bermakna ‘sebab’. Kohesi leksikal dirinci menjadi enam, yaitu kohesi pengulangan, kohesi hiponimi, kohesi sinonimi, kohesi antonimi, kohesi kolokasi, dan kependekan. Kedua, tajuk rencana dalam surat kabar harian Kedaulatan Rakyat edisi Juli 2009 memiliki koherensi berpenanda. Koherensi berpenanada dibedakan menjadi tujuh jenis, yaitu (i) koherensi kausalitas, dengan penanda oleh karena itu, oleh sebab itu,

  

karena, dan akibatnya, (ii) koherensi kontras, dengan penanda kata namun,

sebaliknya, padahal, dan tapi, (iii) koherensi aditif, dengan penanda selain itu,

  (iv) koherensi temporal, dengan penanda ketika, (v) koherensi kronologis, dengan penanda kata kemudian, (vi) koherensi rincian, dengan penanada kata pertama dan kedua, (vii) koherensi intensitas, dengan penanda kata bahkan. Koherensi tidak berpenanda dirinci menjadi koherensi perian dan koherensi perincian.

  

ABSTRACK

  Setyaningsih, Rini. 2010. “Cohesion and Coherence in the Editorial of Daily Newspaper Kedaulatan Rakyat July 2009 Edition”. An Undergraduate Thesis. Yogyakarta: Indonesian Letters Study Programme, Department of Indonesian Letters, Faculty of Letters, Sanata Dharma University.

  This thesis discusses cohesion and coherence in the editorial of daily newspaper Kedaulatan Rakyat, July 2009 edition. There are two problems discussed in this study. First, what cohesions are contained in the editorial of daily newspaper Kedaulatan Rakyat, July 2009 edition? Second, what coherences are contained in the editorial of daily newspaper Kedaulatan Rakyat, July 2009 edition?

  The aim of this study is to describe any cohesions found in the editorial of daily newspaper Kedaulatan Rakyat, July 2009 edition, and any coherences found in the editorial of daily newspaper Kedaulatan Rakyat, July 2009 edition.

  The kind of research used in this study is descriptive research. That is the research which describes the object of the study based on the facts. This study is conducted in three stages, (i) data collection phase, (ii) the data analysis phase, and (iii) the presentation phase of data analysis results. The method used to collect the data is the observing method, it is to observe the editorial by reading, reviewing, and understanding the editorial of daily newspaper Kedaulatan Rakyat, July 2009 edition. The technique applied in this study is the recording technique, it is to record the data obtained from written sources in the daily newspaper

  

Kedaulatan Rakyat, and then the data sources, which cover the newspaper name,

  date, month and year of publication, are recorded too. The method used in the data analysis is distributional method; it is the research method that uses the language itself as the determining means. Technique used in data analysis is the technique of direct element division, then it is continued by the advanced techniques, those are replacement technique, parenthesis technique, extending technique, and paraphrase technique. Informal method is used in presenting the results of data analysis, it is by using ordinary words, or in other words, it does not use formula.

  The results of this study are as follows. First, the structure of the editorial in the daily newspaper Kedaulatan Rakyat, July 2009 edition, has grammatical cohesion and lexical cohesion. Then, grammatical cohesion can be elaborated again into four, namely (i) referring cohesion. This cohesion is divided into two, they are the anaphoric reference and cataphoric reference with the word markers,

  

itu, ini, and tersebut; (ii) replacement cohesion, with the word markers, mereka, -

nya, and ia; (iii) deletion cohesion, a constituent that was mentioned in the

  previous sentence is mentioned again in the next sentence in the form of a zero morpheme; (iv) connection cohesion, the word marker sebab which means ‘cause’, the word bahkan which means 'more', the word namun which means 'resistance', the word so sehingga which means 'effect', and the word karena which means 'cause'. Lexical cohesion is elaborated into five; they are repetition cohesion, hyponymy cohesion, synonymy cohesion, antonym cohesion, and collocation cohesion. Second, the editorial in daily newspaper Kedaulatan Rakyat, July 2009 edition, has marker. Marker coherence is differentiated into seven types, namely (i) causality coherence, with the marker oleh karena itu, oleh sebab

  

itu, karena, and akibatnya; (ii) contrast coherence, with the word markers namun,

sebaliknya, padahal, and tapi; (iii) additive coherence, with the marker selain itu;

  (iv) temporal coherence, with the marker ketika; (v) chronological coherence, with the word marker kemudian; (vi) detail coherence, with the word markers pertama and kedua; (vii) intensity coherence, with the word markers bahkan.

DAFTAR ISI

  Halaman HALAMAN JUDUL i HALAMAN PENGESAHAN PEMBIMBING ii HALAMAN PENGESAHAN PENGUJI iii PERNYATAAN KEASLIAN KARYA iv LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA

  ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS v HALAMAN MOTTO vi

  HALAMAN PERSEMBAHAN vii

  KATA PENGANTAR viii

  ABSTRAK x

  ABSTRACK xii

  DAFTAR ISI xiv

  BAB I PENDAHULUAN

  1

  1.1 Latar Belakang Masalah

  2

  1.2 Rumusan Masalah

  3

  1.3 Tujuan Penelitian

  3

  1.4 Manfaat Penelitian

  3

  1.5 Tinjauan Pustaka

  4

  1.6 Landasan Teori

  5

  1.6.1 Pengertian Wacana

  5

  1.6.2 Pengertian Kohesi

  6

  1.6.2.1 Kohesi Gramatikal

  6

  1.6.2.2 Kohesi Leksikal

  7

  1.6.3 Pengertian Koherensi

  8

  1.7 Metode Penelitian

  8

  1.7.1 Tahap Pengumpulan Data

  8

  1.7.2 Tahap Analisis Data

  9

  1.7.3 Tahap Penyajian Hasil Analisis Data

  11

  1.8 Sistematika Penyajian

  11 BAB II KOHESI DALAM TAJUK RENCANA SURAT KABAR HARIAN KADAULATAN RAKYAT EDISI JULI 2009

  12

  12

  2.1 Kohesi Gramatikal

  12

  2.1.1 Penunjukan

  13

  2.1.1.1 Penunjukan dengan Penanda Kata Itu

  17

  2.1.1.2 Penunjukan dengan Penanda Kata Ini

  19

  2.1.1.3 Penunjukan dengan Penanda Kata

  Tersebut

  22

  2.1.2 Penggantian

  22

  25

  2.1.2.1 Penggantian dengan Penanda Kata Mereka

  27

  2.1.2.2 Penggantian dengan Penanda –Nya

  30

  2.1.2.3 Penggantian dengan Penanda Kata Ia

  32

  2.1.3 Pelesapan

  32

  2.1.4 Perangkaian

  2.1.4.1 Perangkaian Bermakna ‘sebab’ dengan

  35 Penanda Kata Sebab dan Karena

  2.1.4.2 Perangkaian Bermakna ‘lebih’ dengan

  36 Penanda Kata Bahkan

  2.1.4.3 Perangkaian Bermakna ‘perlawanan’

  37 dengan Penanda Kata Namun

  39

  2.1.4.4 Perangkaian Bermakna ‘akibat’ dengan Penanda Kata Sehingga

  39

  43

  2.2 Kohesi Leksikal

  49

  2.2.1 Pengulangan

  54

  2.2.2 Hiponimi

  56

  2.2.3 Sinonimi

  60

  2.2.4 Antonimi

  60

  2.2.5 Kolokasi

  63

  2.2.6 Kependekan

  2.2.6.1 Singkatan

  2.2.6.2 Akronim BAB

  III KOHERENSI DALAM TAJUK RENCANA SURAT KABAR HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI JULI 2009

  65

  3.1 Hasil Analisis Koherensi

  66

  3.1.1 Koherensi Berpenanda

  66

  3.1.1.1 Koherensi Kausalitas

  67

  3.1.1.2 Koherensi Kontras

  71

  3.1.1.3 Koherensi Aditif

  77

  3.1.1.4 Koherensi Temporal

  80

  3.1.1.5 Koherensi Kronologis

  81

  3.1.1.6 Koherensi Perincian

  82

  3.1.1.7 Koherensi Intensitas

  83 BAB IV PENUTUP

  86

  4.1 Kesimpulan

  86

  4.2 Saran

  88 DAFTAR PUSTAKA

  89 LAMPIRAN 91

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

  Objek penelitian ini adalah kohesi dan koherensi yang terdapat dalam tajuk rencana surat kabar harian Kedulatan Rakyat edisi Juli 2009. Penulis yang ada dalam sebuah surat kabar menggunakan bahasa sebagai sarana untuk berkomunikasi dengan pembacanya. Misalnya dalam tajuk rencana, penulis tajuk rencana menggunakan bahasa tulis untuk menuangkan ide yang ada dalam pikirannya sehingga akan menciptakan sebuah wacana yang dapat dinikmati oleh masyarakat.

  Dalam sebuah wacana terdapat keterkaitan antarbagian dan hubungan makna antara bagian-bagian wacana tersebut. Berikut adalah data yang akan dianalisis.

  (1) (a) Walaupun polisi telah memastikan pelaku bom bunuh diri bukan

  Nur Said dan Ibrohim, namun sampai sekarang Densus 88 masih

  mencari keberadaan mereka. (b) Keluarga kedua orang tersebut juga mengaku tidak tahu keberadaan mereka. (c) Keluarga sangat yakin Nur Said dan Ibrohim tak terlibat jaringan teroris.

   (Kedaulatan Rakyat, 28 Juli 2009) Pada contoh (1) terdapat tiga kalimat, yaitu kalimat (1a), (1b), dan (1c).

  

Mereka pada kalimat (1b) merupakan penggantian kata Nur Said dan Ibrohim.

  Dari contoh tersebut tampak adanya hubungan antarbagian pada kalimat-kalimat tersebut.

  (2) (a) Ketiga calon presiden sama-sama mengusung ekonomi kerakyatan yang akan membuka lapangan kerja baru. (b) Namun program ekonomi ketiga capres untuk mengurangi penggangguran tidak menawarkan suatu konsep yang jelas, dan lebih bersifat wacana. (c) Seharusnya dipaparkan apa yang akan dikerjakan untuk memperbaiki aset, melakukan perubahan paradigma pendidikan, perubahan dalam mendapatkan kredit dan sebagainya.

  (Kedaulatan Rakyat, 4 Juli 2009)

  Pada contoh (2) terdapat tiga kalimat, yaitu (2a), (2b), dan (2c). Kalimat (2a) mempunyai hubungan makna kontras (pertentangan) dengan kalimat (2b) dan (2c) yang ditandai dengan konjungsi namun. Antara kalimat-kalimat tersebut terdapat hubungan makna pertentangan.

  Alasan peneliti memilih kohesi dan koherensi dalam tajuk rencana surat kabar harian Kedaulatan Rakyat edisi Juli 2009 sebagai objek penelitian karena dalam sebuah wacana terdapat hubungan bentuk dan hubungan makna antara bagian-bagian wacana yang bermacam-macam. Oleh karena itu, penulis ingin mengetahui macam-macam hubungan bentuk dan hubungan makna yang terdapat dalam tajuk rencana SHK Kedaulatan Rakyat. Selain itu, peneliti juga berharap dapat menemukan variasi baru kohesi dan koherensi dalam wacana. Pemilihan sumber data dilakukan dengan cara acak atau undian. Hasil undian tersebut jatuh pada surat kabar harian Kedaulatan Rakyat edisi Juli 2009. Surat kabar harian

  

Kedaulatan Rakyat merupakan salah surat kabar yang terdapat di kota Yogyakarta

yang dapat dinikmati oleh masyarakat Yogyakarta dan sekitarnya.

  1.2 Rumusan Masalah

  Berdasarkan latar belakang di atas, peneliti merumuskan permasalahan sebagai berikut:

  1.2.1 Kohesi apa saja yang terdapat dalam tajuk rencana surat kabar harian

  Kedaulatan Rakyat edisi Juli 2009?

  1.2.2 Koherensi apa saja yang terdapat dalam tajuk rencana surat kabar harian Kedaulatan Rakyat edisi Juli 2009?

  1.3 Tujuan Penelitian

  1.3.1 Mendeskripsikan kohesi yang terdapat dalam tajuk rencana surat kabar harian Kedaulatan Rakyat edisi Juli 2009.

  1.3.2 Mendeskripsikan koherensi yang terdapat dalam tajuk rencana surat kabar harian Kedaulatan Rakyat edisi Juli 2009.

  1.4 Manfaat Hasil Penelitian

  Hasil penelitian ini adalah deskripsi kohesi dan koherensi yang terdapat pada tajuk rencana surat kabar harian Kedaulatan Rakyat edisi Juli 2009. Hasil penelitian tersebut mempunyai dua manfaat, yaitu manfaat teoretis dan manfaat praktis. Manfaat teoretis dari penelitian ini adalah berguna bagi perkembangan ilmu linguistik, khususnya dalam bidang analisis wacana. Manfaat praktisnya, memberikan gambaran dan contoh yang jelas mengenai kohesi dan koherensi dalam sebuah wacana.

1.5 Tinjauan Pustaka

  Kusumantara (2004) dalam skripsinya berjudul Analisis Wacana

  

Advertorial pada Surat Kabar Kompas Bulan Januari-Juni 2004 menghasilkan

  beberapa kesimpulan. Pertama, struktur wacana yang terdiri dari lima bagian, yaitu bagian rubrik, bagian awal, bagian tubuh, dan bagian penutup. Kedua, jenis- jenis tuturan dibagi menjadi tuturan deskripsi, dan narasi. Ketiga, macam-macam kohesi dan koherensi pada wacana adventorial pada surat kabar Kompas bulan Januari-Juli 2004.

  Puspitasari (2004) dalam skripsinya yang berjudul Analisis Wacana

  

Rubrik “Psikoterapi” dalam Surat Kabar Minggu Pagi juga menghasilkan

  beberapa kesimpulan, yaitu pertama wacana rubrik “psikoterapi” memiliki wacana lengkap, yang terdiri dari bagian awal, bagian tubuh, dan bagian penutup. Kedua, kohesi wacana rubrik “psikoterapi” yang berupa pertalian unsur semantik diwujudkan menjadi bentuk kohesi leksikal dan kohesi gramatikal. Ketiga, koherensi yang ditemukan dalam rubrik “psikoterapi” dibedakan menurut penanda anatarkalimat, yaitu koherensi berpenanda dan koherensi tidak berpenanda.

  Ernawati (2007) dalam skripsinya yang berjudul Kohesi dan Koherensi

  

Antarparagraf dalam Wacana Opini Surat Kabar Kompas Edisi Nasional Bulan

April 2005 menghasilkan beberapa kesimpulan, yaitu pertama, dilihat dari segi

  kohesi, keutuhan suatu wacana dibentuk oleh beberapa aspek, aspek itu diantaranya adalah kohesi. Kedua, kohesi dapat membentuk keutuhan suatu wacana dalam kaitannya dengan perpaduan bentuk antarparagraf maupun antarklausa yang membangun suatu wacana yang utuh. Ketiga, koherensi dalam peranannya sebagai keutuhan wacana berkaitan denga keterpautan makna kalimat- kalimat yang mambangun suatu wacana.

  Setelah dilakukan tinjauan pustaka dari skripsi Kusumantara (2004), Puspitasari (2004), dan Ernawati (2007) dapat dicatat bahwa sudah pernah dilakukan kajian tentang kohesi dan koherensi. Hal tersebut berupa kohesi dan koherensi antarkalimat dan antarparagraf yang terdapat dalam rubrik advertorial, wacana narasi dan opini. Namum, apa yang telah diteliti oleh Kusumantara (2004), Puspitasari (2004), dan Ernawati (2007) sebatas apa yang telah dipaparkan dalam buku. Oleh sebab itu, penelitian tentang kohesi dan koherensi antarkalimat dalam tajuk rencana surat kabar harian Kedaulatan Rakyat edisi Juli 2009 ini layak untuk dilakukan.

1.6 Landasan Teori

1.6.1 Pengerian Wacana

  Wacana dalam linguistik dimengerti sebagai satuan lingual yang berada di atas tataran kalimat (Stubbs dan Mc-Houl via Baryadi, 2002:1-2).

  Menurut Tarigan (1987:179), wacana adalah satuan bahasa terlengkap dan tertinggi atau terbesar di atas klausa dengan koherensi dan kohesi tinggi yang berkesinambungan yang mempunyai awal dan akhir, nyata disampaikan secara lisan dan tertulis.

  Menurut Kridalaksana (1993:179), wacana adalah satuan bahasa terlengkap, dalam hierarki gramatikal merupakan satuan gramatikal tertinggi atau terbesar. Wacana ini direalisasikan dalam bentuk karangan yang utuh (novel, buku, seri ensiklopedi, dsb), paragraf, kalimat atau kata yang membawa amanat yang lengkap.

1.6.2 Kohesi

  Kohesi merupakan hubungan bentuk antara bagian-bagian dalam suatu wacana. Berdasarkan perwujudan lingualnya, kohesi dibagi menjadi dua, yaitu kohesi gramatikal dan kohesi leksikal.

1.6.2.1 Kohesi gramatikal

  Kohesi gramatikal adalah keterkaitan gramatikal antara bagian-bagian kalimat (Baryadi, 2002:17). Kohesi gramatikal dapat dirinci lagi menjadi penunjukan, penggantian, pelesapan dan perangkaian (Baryadi, 1990:39-50; Ramlan, 1993).

  Penunjukan merupakan salah satu jenis kohesi gramatikal yang berupa satuan lingual tertentu yang menunjuk satuan lingual yang mendahuluinya atau mengikutinya. Berdasarkan arahnya, penunjukan dibedakan menjadi dua jenis, yaitu penunjukan anaforis dan penunjukan kataforis. Penunjukan anaforis ditandai dengan adanya konstituen yang menunjuk konstituen lainnya yang ada di sebelah kiri. Adapun penunjukan kataforis ditandai dengan adanya konstituen yang menunjuk konstituen yang ada di sebelah kanan.

  Menurut Ramlan (1993) penggantian adalah kohesi gramatikal yang berupa penggantian konstituen tertentu dengan konstituen lain. Dalam kohesi ini ada dua unsur yang terlibat di dalamnya, yaitu unsur pengganti dan unsur terganti. Pelesapan atau penghilangan adalah kohesi gramatikal yang berupa pelesapan konstituen yang telah disebutkan sebelumnya. Perangkaian adalah kohesi gramatikal yang berwujud kata hubung atau konjungsi. Perangkaian berupa konjungsi yang menyatakan relasi makna tertentu.

1.6.2.2 Kohesi leksikal

  Kohesi leksikal adalah keterkaitan leksikal antara bagian-bagian dalam suatu wacana. Ada lima jenis kohesi leksikal, yaitu (i) pengulangan, (ii) hiponimi, (iii) sinonimi, (iv) antonimi, dan (v) kolokasi. Pengulangan adalah kohesi yang berupa pengulangan konstituen yang telah disebutkan sebelumnya.

  Hiponimi adalah kohesi yang berupa relasi makna leksikal yang bersifat hierarkis antara konstituen yang satu dengan yang lainnya. Relasi makna terlihat dari konstituen yang memiliki hubungan makna umum (superordinat) dan yang memiliki hubungan makna khusus (hiponim).

  Kohesi sinonimi adalah kohesi yang berupa relasi makna leksikal yang mirip antara konstituen yang satu dengan yang lain. Sinonimi juga sering disebut sebagai ekuivalensi leksikal.

  Antonimi merupakan kohesi yang berupa relasi makna leksikal yang bersifat kontras atau berlawanan. Sedangkan kohesi kolokasi adalah kohesi leksikal yang berupa relasi makna yang berdekatan antara konstituen yang satu dengan yang lain.

1.6.3 Koherensi Koherensi adalah keterkaitan semantis antara bagian-bagian wacana.

  Koherensi dibedakan menjadi dua, yaitu koherensi berpenanda dan koherensi tidak berpenanda. Koherensi berpenada diungkapkan dengan konjungsi, sedangakan tidak berpenanda sebaliknya (Baryadi, 2002:29). Koherensi ada berpenanda ada enam jenis, yaitu (i) kausalitas, (ii) kontras, (iii) aditif, (iv) rincian, (v) temporal, dan (vi) perturutan. Koherensi tidak berpenanda ada dua jenis, yaitu perincian dan perian (Baryadi, 2002)

1.7 Metode Penelitian

  Dalam setiap penelitian bahasa memiliki tiga tahapan strategis, yaitu tahap pengumpulan data, tahap analisis data, dan tahap penyajian hasil analisis data (Sudaryanto, 1988: 57). Tahapan itu dikatakan strategis karena terkumpulnya data dan terolahnya data serta disajikannya hasil analisis data itu berturut-turut merupakan strategi yang kedua dan ketiga.

1.7.1 Tahap Pengumpulan Data

  Cara yang dipergunakan untuk mengumpulkan data adalah teknik simak, yaitu menyimak penggunaan bahasa (Sudaryanto, 1993:132). Teknik simak atau penyimakan yaitu cara yang digunakan untuk memperoleh data yang dilakukan dengan menyimak penggunaan bahasa secara lisan, tetapi juga penggunaan bahasa secara tertulis. Dalam penelitian ini yang disimak dan dicatat adalah paragraf yang terdapat dalam wacana tajuk rancana.

  Untuk melaksanakan metode simak digunakan metode tertentu, yaitu teknik catat. Teknik catat dilakukan pada kartu datayang segera dilanjutkan dengan klasifikasi (Sudaryanto:1993:135).

1.7.2 Tahap Analisis Data

  Metode analisis data yang digunakan adalah metode agih. Metode agih adalah metode analisis yang alat penentunya ada di dalam dan merupakan bagian dari bahasa yang diteliti (Sudaryanto via Kesuma, 2007:54). Dalam metode agih masih terdapat pula teknik untuk menganalisis data, yaitu teknik bagi unsur langsung (BUL). Teknik bagi unsur langsung adalah teknik analisis data dengan cara membagi suatu konstruksi menjadi beberapa bagian atau unsur dan bagian- bagian atau unsur-unsur itu dipandang sebagai bagian atau unsur yang langsung membentuk konstruksi yang dimaksud (Kesuma, 2007:55). Untuk teknik lanjutan digunakan teknik ganti, sisip, perluas, dan parafrase.

  Teknik ganti adalah teknik analisa data dengan cara mengganti satuan kebahahasaan tertentu didalam suatu konstruksi dengan satuan kebahasaan yang lain di luar konstruksi yang bersangkutan. Teknik ini berguna untuk mengetahui kadar kesamaan kelas atau kategori satuan kebahasan seperti dengan penggantinya (Kesuma, 2007:58). Teknik ini dapat digunakan, misalnya, untuk menguji kesamaan antara Partai Golkar dan Partai berlambang pohon beringin dalam kalimat berikut.

  (3) (a) Pasca Pilpres 8 Juli 2009, muncul wacana baru berkait koalisi partai-partai. (b) Secara tegas Partai Gerindra menyatakan akan tetap setia bergabung dengan PDIP, sebagaimana koalisi yang telah terbangun dalam pilpres. (c) Sedang Partai Golkar diwacanakan meninggalkan Partai Hanura yang menjadi mitra koalisinya seperti tercermin dalam duet Jusuf Kalla-Wiranto. (d) Partai berlambang

  pohon beringin itu dikabarkan tengah berusaha mendekat ke Partai Demolrat.

  (Kedaulatan Rakyat, 17 Juli 2009) Dengan menerapkan teknik ganti, dapat diketahui bahwa Partai Golkar dan partai berlambang pohon beringin mempunyai kesamaan karena dalam pemakaiannya dapat saling menggantikan seperti tampak dalam contoh (3A) berikut ini.

  (3A) Pasca Pilpres 8 Juli 2009, muncul wacana baru berkait koalisi partai- partai. Secara tegas Partai Gerindra menyatakan akan tetap setia bergabung dengan PDIP, sebagaimana koalisi yang telah terbangun dalam pilpres. Sedang partai berlambang pohon beringin diwacanakan maninggalkan Partai Hanura yang menjadi mitra koalisinya seperti tercermin dalam duet Jusuf Kalla-Wiranto. Partai

  Golkar itu dikabarkan tengah berusaaha mendekat ke Partai Demokrat.

  Teknik perluas adalah teknik analisis data dengan cara memperluas satuan kebahasaan yang dianalisis dengan menggunakan satuan kebahasaan tertentu.

  Teknik perluas digunakan untuk menentukan segi-segi kemaknaan satuan kebahasaan tertentu. Misalnya, teknik perluasan dapat digunakan untuk membuktikan hubungan makna antar-klausa yang tidak berkata penghubung (Kesuma, 2007:59).

  Teknik sisip adalah teknik dengan cara menyisipkan satuan kebahasaan lain di antara konstruksi yang dianalisis (Kesuma, 2007: 60). Teknik ini digunakan untuk membuktikan kohesi pelesapan.

1.7.3 Tahap Penyajian Hasil Analisis Data Hasil analisis data pada penelitian ini disajikan secara formal dan informal.

  Penyajian hasila analisis data secara formal adalah peenyajian hasil analisis data dengan menggunakan kaidah. Kaidah itu dapat berupa rumus, bagan/diagram, tabel, dan gambar (Kesuma, 2007: 73). Menurut Sudaryanto (1993: 145), penyajian data secara informal adalah metode penyajian atau perumusan hasil analisis data dengan kata-kata biasa.

1.8 Sistematika Penyajian

  Sistematika penyajian dapat dipaparkan sebagai berikut: Bab I pendahuluan, bab ini berisi tentang latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, landasan teori, metode penelitian, dan sistematika penyajian. Bab II kohesi yang terdapat dalam wacana tajuk rencana SHK

  

Kedaulatan Rakyat, bab ini berisi kohesi apa saja yang terdapat dalam wacana

  tajuk rencana SHK Kedaulatan Rakyat edisi Juli 2009. Bab III koherensi yang terdapat dalam wacana tajuk rencana SHK Kedaulatan Rakyat, bab ini berisi uraian tentang koherensi apa saja yang terdapat dalam wacana tajuk rencana SHK

  

Kedulatan Rakyat edisi Juli 2009. Bab IV kesimpulan dan saran, bab ini berisi

kesimpulan dan saran dari pembahasan yang telah dijabarkan oleh penulis.

BAB II KOHESI DALAM TAJUK RENCANA SURAT KABAR HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI JULI 2009 Pada bab ini diuraikan jenis-jenis kohesi yang terdapat pada tajuk rencana

  surat kabar harian Kedaulatan Rakyat edisi Juli 2009. Kohesi merupakan hubungan perkaitan antarpreposisi yang dinyatakan secara eksplisit oleh unsur- unsur gramatikal dan semantik dalam kalimat-kalimat yang membentuk wacana (Alwi, 2998:427). Berdasarkan perwujudan lingualnya, kohesi dibagi menjadi dua, yaitu kohesi gramatikal dan kohesi leksikal.

2.1 Kohesi Gramatikal

  Kohesi gramatikal adalah keterkaitan gramatikal antara bagian-bagian wacana (Baryadi, 2002: 18). Kohesi gramatikal dapat dirinci menjadi kohesi penunjukan, kohesi penggantian, kohesi pelesapan, dan kohesi perangkaian. Dalam penelitian ini ditemukan dan dibahas unsur-unsur yang menyangkut kohesi gramatikal beserta contohnya.

2.1.1 Penunjukan

   Kohesi penunjukan adalah salah satu jenis kohesi gramatikal yang berupa

  satuan lingual tertentu yang menunjuk satuan lingual yang mendahului atau mengikutinya (Baryadi, 2002:18). Kohesi penunjukan dibedakan menjadi dua, yaitu penunjukan anaforis dan penunjukan kataforis. Penunjukan anaforis ditunjukan dengan adanya konstituen yang menunjuk konstituen yang berada di sebelah kirinya.

2.1.1.1 Penunjukan dengan Penanda Kata Itu

  Dari hasil penelitian ditemukan dua macam penunjukan dengan penanda kata itu, yaitu menunjuk hanya kata itu dan menunjuk x + itu. Perhatikan contoh berikut.

  (4) (a) Bahkan, dalam acara yang diisi dengan wawancara dengan

  Redaktur Senior Jurnal Manajemen Penerbangan ‘Air Transport World’, Geoffrey Thomas itu, terungkap bahwa tingkat

  keselamatan berbagai maskapai penerbangan Indonesia, termasuk Garuda, masih dipandang jelek. (b) Lebih menohok lagi, dalam dialog itu juga sempat dipertanyakan mengapa pemerintah Australia tidak mengikuti langkah Uni Eropa yang sudah terlebih dahulu melarang maskapai penerbangan dari 18 negara, termasuk Indonesia.

  (Kedaulatan Rakyat, 1 Juli 2009) Contoh (4) terdiri dari dua kalimat, yaitu kalimat (4a) dan kalimat (4b).

  Kata itu pada kalimat (4b) menunjuk ke sebelah kiri, yaitu wawancara dengan

  

redaktur senior jurnal manajemen penerbangan ‘Air Transport World’ yang

  terdapat pada kalimat (4a). Dari contoh tersebut tampak adanya kohesi penunjukan anaforis. Contoh (4A) berikut menjelaskan hal tersebut. Hubungan tersebut terjadi antara dialog itu dan wawancara dengan redaktur senior jurnal

  manajemen penerbangan ‘Air Transport World’, Geoffrey Thomas. Frase dialog

itu berfungsi sebagai penunjuk bagian kalimat sebelumnya, yaitu wawancara dengan redaktur senior jurnal manajemen penerbangan ‘Air Transport World’, Geoffrey Thomas.

  Frase dialog itu merupakan alat penunjukan. Frase dialog itu pada contoh (4) merupakan frase nomina yang menunjuk pada kalimat sebelumnya.

  Unsur yang terpenting dari frase dialog itu adalah kata dialog. Kata dialog menunjuk pada wawancara dengan redaktur senior jurnal manajemen

  penerbagan ‘Air Transport World’.

  (4A) (a) Bahkan, dalam acara yang diisi dengan wawancara dengan Redaktur Senior Jurnal Manajemen Penerbangan ‘Air Transport Worls’, Geoffrey Thomas itu, terungkap bahwa tingkat keselamatan berbagai maskapai penerbangan Indonesia, termasuk Garuda, masih dipandang jelek. (b) Lebih menohok lagi, dalam wawancara dengan redaktur senior jurnal

  manajemen penerbangan ‘Air Transport World’ itu juga sempat

  dipertanyakan mengapa pemerintah Australia tidak mengikuti langkah Uni Eropa yang sudah lebih dahulu melarang maskapai penerbangan dari 18 negara, termasuk Indonesia.

  (5) (a) Mau tidak mau, momentum pemilihan presiden akan datang juga. (b) Jika kita menunggu momentum tersebut, maka pada

  Rabu, 8 Juli 2009, itulah saatnya tiba. (c) Pada saat itu kita harus

  menentukan pilihan dengan tegas setelah mencermati, memperhatikan, mengamati dan mengikuti kampanye yang dilakukan tiga calon presiden dan calon wakil presiden. (d) Karena formatnya adalah kampanye, maka isinya adalah memperkenalkan program-program, mungkin juga termasuk janji-janji yang akan dilaksanakan, dan meyakinkan rakyat agar menentukan pilihan pada dirinya.

  (Kedaulatan Rakyat, 2 Juli 2009)

  Contoh (5) terdiri dari empat kalimat, yaitu kalimat (5a), (5b), (5c), dan (5d). Pada kalimat (5c) terdapat kata penanda saat itu yang menunjuk ke arah sebelah kiri, yaitu Rabu, 8 Juli 2009 yang terdapat pada kalimat (5b). Dari contoh tersebut tampak adanya kohesi penunjukan anaforis. Hubungan kohesi terjadi antara pada saat itu dan Rabu, 8 Juli 2009. Unsur terpenting dari frase saat itu adalah kata itu, kata itu yang menunjuk pada Rabu, 8 Juli 2009.

  (6) (a) Beberapa kalangan mengusulkan agar kabinet mendatang

  diisi kalangan profesional atau ahli di bidangnya. (b) Usulan semacam itu memang terasa masuk akal. (c) Namun, kiranya

  perlu diingat, dalam setiap penyusunan kabinet, selalu melibatkan kepentingan parpol pendukung. (d) Bila benar SBY- Boediono terpilih menjadi presiden-wakil presiden periode 2009- 2014, tentu tak bisa mengesampingkan koalisi parpol yang mendukungnya.

  (Kedaulatan Rakyat, 14 Juli 2009)

  Contoh (6) terdiri dari empat kalimat, yaitu kalimat (6a), (6b), (6c), dan (6d). Frase semacam itu pada kalimat (6b) mengacu pada kabinet mendatang diisi

kalangan profesional atau ahli di bidangnya, yang terdapat pada kalimat (6a).

  Dari contoh tersebut tampak adanya kohesi penunjukan anaforis. Hubungan kohesi terjadi antara frase semacam itu dan kabinet mendatang diisi kalangan

  

profesional atau ahli di bidangnya. Kata itu pada frase semacam itu merupakan

  unsur yang menagarah pada kabinet mendatang diisi kalangan profesional atau ahli di bidangnya.

  (7) (a) Muncul opini, demokratisasi seharusnya menjadikan

  teknokrat menjadi politisi. (b) Tapi perkembangan sekarang

  sudah cendarung kearah itu, tapi merupakan keharusan untuk mengharmoniskan ekonomi dengan politik. (c) Jika tidak, kesalahan, kegagalan, dan sejarah orde baru bisa terulang.

  (Kedaulatan Rakyat, 11 Juli 2009) Contoh (7) terdiri dari tiga kalimat, yaitu kalimat (7a), (7b), dan (7c).

  Kata itu pada kalimat (7b) menunjuk ke sebelah kiri, yaitu demokratisasi

  

seharusnya menjadikan teknokrat menjadi politisi yang terdapat pada kalimat

  (7a). Hubungan kohesi yang ada pada contoh (7) terjadi antara kata kata itu dan demokratisasi seharusnya menjadikan teknokrat menjadi politisi.

  (8) (a) Bahkan, dalam acara yang diisi dengan wawancara dengan Redaktur Senior Jurnal Manajemen Penerbangan ‘Air Transport World’, Geoffrey Thomas itu, Geoffrey Thomas itu, terungkap bahwa tingkat keselamatan berbagai maskapai penerbangan

  Indonesia, termasuk Garuda, masih dipandang jelek. (b) Lebih

  menohok lagi, dalam dialog itu juga sempat dipertanyakan mengapa pemerintah Australia tidak mengikuti langkah Uni Eropa yang terlebih dahulu melarang maskapai penerbangan dari 18 negara, termasuk Indonesia. (c) Perlu diketahui, sejauh ini, Garuda merupakan satu-satunya maskapai penerbangan Indonesia yang terbang ke Australia untuk melayani rute penerbangan Denpasar-Sydney, Denpasar- Perth, dan Denpasar-Melbourne.

  (d) Memang bisa saja kita menepis semua asumsi itu dan mengabaikan tanyangan televisi di Australia tersebut. (e) Namun perlu juga dipahami bahwa sekecil apa pun pengaruh media tak bisa dianggap enteng. (f) Sehingga, pemberitaan terkait dengan citra penerbangan Indonesia tersebut mau tidak mau juga menjadi referensi publik dunia, sekecil apa pun imbasnya.

  (Kedaulatan Rakyat, 1 Juli 2009) Contoh (8) terdiri tiga paragraf, paragraf pertama terdiri dari dua kalimat, yaitu kalimat (8a) dan (8b). Paragraf kedua terdiri dari satu kalimat, yaitu kalimat (8c). Paragraf ketiga terdiri dari tiga kalimat, yaitu kalimat (8d), (8e), dan (8f). Frase asumsi itu pada kalimat (8d) mengacu pada tingkat keselamatan

  

berbagai maskapai penerbangan Indonesia, termasuk Garuda, masih dipandang

jelek yang ada pada kalimat (8a). Dari contoh tersebut tampak adanya kohesi

  penunjukan anaforis. Hubungan kohesi terjadi antara frase asumsi itu dan tingkat

  

keselamatan berbagai maskapai penerbangan Indonesia, termasuk Garuda,

masih dipandang jelek.

2.1.1.2 Penunjukan dengan Penanda Kata Ini

  Dari hasil penelitian ditemukan dua macam, yaitu menunjuk hanya pada kata ini dan menunjuk pada x + ini. Perhatikan contoh berikut.

  (9) (a) Pada debat terbuka di TV, ketiga calon presiden menegaskan akan mengurangi angka penganggura lewat pemerataan

  pembangunan dan peningkatan kegiatan usaha. (b) Langkah-

  langkah ini menurut Susilo Bambang Yodhoyono, Megawati Soekarnoputri, dan Jusuf Kalla dapat mengurangi jumlah pengangguran di Indoensia yang mencapai 10 juta orang.

  (Kedaulatan Rakyat, 4 Juli 2009)

  Contoh (9) terdiri dari dua kalimat, yaitu kalimat (9a) dan (9b). Kata ini pada kalimat (9b) mengacu pada pemerataan pembangunan dan peningkatan

  

kegiatan usaha yang ada pada kalimat (9a). Dari contoh tersebut tampak adanya

kohesi penunjukan anaforis. Contoh (9A) berikut menjelaskan hal tersebut.

  Hubungan kohesi terjadi antara ini dan mengurangi angka pengangguran lewat

  

pemerataan pembangunan dan peningkatan kegiatan usaha. Kata ini berfungsi

  sebagai penunjuk dari bagian kalimat sebelumnya, yaitu mengurangi angka pengangguran lewat pemerataan pembangunan dan peningkatan kegiatan usaha.

  (9A) (a) Pada debat terbuka di TV, ketiga calon presiden menegaskan akan mengurangi angka pengangguran lewat pemerataan pembangunan dan peningkatan kegiatan usaha. (b) Langkah- langkah pemerataan pembangunan dan peningkatan kegiatan

  usaha menurut Susilo Bambang Yodhoyono, Megawati

  Soekarnoputri, dan Jusuf Kalla dapat mengurangi jumlah pengangguran di Indonesia yang mencapai 10 juta orang.

  (10) (a) Sehingga, semua pihak dituntut menata diri, menyatukan visi untuk benar-benar mewujudkan citra penerbangan yang

  kredibel, dipercaya, aman dan nyaman. (b) Hal ini hanya bisa

  terwujud dengan aksi konkret. (c) Komitmen untuk melakukan integrated marketing plan dan integrated marketing action harus benar-benar diwujudkan dan menjadi hymne bersama, baik pemerintah. Maupun pelaku bisnis penerbangan dan industri pariwisata.

  (Kedaulatan Rakyat, 1 Juli 2009)

  Contoh (10) terdiri dari tiga kalimat, yaitu kalimat (10a), (10b), dan (10c). Frase hal ini pada kalimat (10b) mengacu pada citra penerbangan yang

  

kredibel, dipercaya, aman dan nyaman pada kalimat (10a). Oleh karena itu pada

  contoh (10) terdapat kohesi penunjukan anaforis. Hubungan kohesi terjadi antara frase hal itu dan citra penerbangan yang kredibel, dipercaya, aman dan nyaman.

  Frase hal ini merupakan frase nomina yang terdiri dari kata hal yang merupakan unsur pusat yang diikuti kata ini sebagai unsur pelengkap.

2.1.1.3 Penunjukan dengan Penanda Kata Tersebut Berikut contoh yang terdapat penanda kata tersebut.

  (11) (a) Lagi, kredibilitas dan netralitas KPU dipertanyakan. (b) Seminggu menjelang pelaksanaan Pilpres 8 Juli 2009, paling tidak terdapat dua masalah melilit komisi penyelenggara pemilu

  tersebut. (c) Masalah pertama berkait dengan daftar pemilih tetap

  (DPT) yang belum juga dibuka sehingga terkesan masih menjadi dokumen rahasia negara yang misterius. (d) Masalah kedua berhubungan dengan spanduk sosialisasi pilpres yang mengindikasikan dukungan (KPU) kepada pasangan capres- cawapres tertentu.

  (Kedaulatan Rakyat, 3 Juli 2009)

  Contoh (11) terdiri dari empat kalimat, yaitu kalimat (11a), (11b), (11c), dan (11d). Frase komisi penyelenggaraan pemilu tersebut pada kalimat (11b) mengacu pada kata yang ada di sebelah kirinya, yaitu kata KPU yang terdapat pada kalimat (11a). Dari contoh tersebut tampak adanya kohesi penunjukan anaforis. Contoh (11A) menjelaskan hal tersebut. Hubungan kohesi terjadi antara

  

komisi penyelenggara pemilu tersebut dan KPU. Komisi penyelenggara pemilu

tersebut berfungsi sebagai penunjuk bagian kalimat sebelumnya, yaitu KPU pada

  kalimat (11a).

  Contoh di atas terdapat frase komisi penyelenggara pemilu tersebut. Frase komisi penyelenggara pemilu tersebut terdiri dari dua unsur, yaitu komisi

  

penyelenggara pemilu dan tersebut. Unsur komisi penyelenggara pemilu

  merupakan frase nomina, sedangkan unsur tersebut merupakan atribut yang menyatakan hubungan makna penunjukan.

  (11A) (a) Lagi, kredibilitas dan netralitas KPU dipertanyakan. (b) Seminggu menjelang pelaksanaan Pilpres 8 Juli 2009, paling tidak terdapat dua masalah melilit KPU. (c) Masalah pertama berkait dengan daftar pemilih tetap (DPT) yang belum juga dibuka sehingga terkesan masih menjadi dokumen rahasia Negara yang misterius. (d) Masalah kedua berhubungan dengan spanduk sosialisasi pilpers yang menindikasikan dukungan (KPU) kepada pasangan capres-cawapres tertentu.

  (12) (a) Dalam ka`sus kecelakaan KA di Klaten, pihak PT KA menyatakan laju kereta api telah sesuai jalur. (b) Bahkan masinis telah berusaha mengerem dan mengurangi kecepatan ketika melihat minibus berada di perlintasan. (c) Berdasarkan keterangan saksi mata, mesin minibus macet pada saat berada di perlintasan. (d) Dari peristiwa tersebut terkesan gampang untuk menyalahkan sopir. (e) Bahkan, polisi menduga, kecelakaan itu terjadi karena kelalaian sopir. (f) Padahal, seandainya perlintasan KA itu berpalang pintu, mungkin kecelakaan bias dihindari.

  (Kedaulatan Rakyat, 7 Juli 2009)

  Contoh (12) terdiri dari dua paragraf, yaitu paragraf pertama terdiri dari kalimat (12a), (12b), dan (12c). Paragraf kedua terdiri dari kalimat (12d), (12e), dan (12f). Kata tersebut yang terdapat pada kalimat (12d) mengarah kesebelah kirinya yaitu kecelakaan KA di Klaten, yang terdapat pada kalimat (12a). Dari contoh tersebut tampak adanya kohesi penunjukan anaforis. Hubungan kohesi terjadi antara kata tersebut dan kecelakaan KA di Klaten.

  (13) (a) Kita sungguh menyayangkan masih banyaknya perlintasan

  KA, terutama di Jateng yang tidak berpalang pintu. (b) Fakta

  menunjukkan kondisi tersebut menjadi salah satu penyebab terjadinya kecelakaan.

  (Kedaulatan Rakyat, 7 Juli 2009)

  Contoh (13) terdiri dari dua kalimat, yaitu kalimat (13a) dan (13b). Kata

  

tersebut pada kalimat (13b) mengacu ke sebelah kiri, yaitu banyaknya perlintasan

KA, terutama di Jateng yang tidak berpalang pintu pada kalimat (13a). Oleh

  sebab itu, pada contoh (13) terdapat kohesi penunjukan anaforis. Hubungan kohesinya terjadi antara kata tersebut dan banyaknya perlintasan KA, terutama di

  Jateng yang tidak berpalang pintu.

  (14) (a) Flu babi masuk Yogyakarta. (b) Demikian judul berita koran kita hari Sabtu (11/7) yang lalu. (c) Diberitakan, seorang pelajar pria berinisial AR, 18 tahun, warga Sleman diduga suspek flu babi dirawat di ruang isolasi Kartika RS Dr Sardjito Yogyakarta. (d) Menurut Ketua Tim Satuan Penanggulangan Flu Burung dan Flu Babi rumah sakit tersebut, dr Sumardi SpPD-KP, AR baru saja datang dari daerah yang terjangkit H1N1 yakni California Amerika Serikat.

  (Kedaulatan Rakyat, 13 Juli 2009)

  Contoh (14) terdiri dari empat kalimat, yaitu kalimat (14a), (14b), (14c), dan (14d). Kata tersebut pada kalimat (14d) mengarah ke sebelah kiri, yaitu RS Dr

  

Sardjito Yogyakarta yang terdapat pada kalimat (14c). Dari contoh tersebut

  tampak adanya kohesi penunjukan anaforis. Hubungan kohesinya terjadi antara kata tersebut dan RS Dr Sardjito.

2.1.2 Penggantian

  Penggantian adalah kohesi gramatikal yang berupa penggantian konstituen tertentu dengan konstituen lain. Dalam kohesi ini ada dua unsur yang terlibat di dalamnya, yaitu unsur pengganti dan unsur terganti (Ramlan, 2003; 17)

2.1.2.1 Penggantian dengan Penanda Kata Mereka Berikut contoh dengan penanda kata mereka.

  (15) (a) Apakah penghitungan cepat melakukan kebenaran? (b) Menurut rencana, hasil rekapitulasi pemilihan presiden 2009 diumumkan pada 22-24 Juli 2009. (c) Meski ada pasangan yang menolak ketetapan KPU, hasil itu akan tegas ditetapkan (Kedaulatan Rakyat, 22/7/2009). (d) Seperti ramai diberitakan, dua pasangan capres dan cawapres, yakni Megawati-Prabowo

  dan Jusuf Kalla-Wiranto, belum akan menentukan sikap atas

  rencana ini. (e) Mereka melihat ada banyak kecurangn terjadi. (f) Bentuk atas penolakan hasil keputusan KPU tentang jumlah suara yang diperoleh, mereka tak akan menandatangani.

  (Kedaulatan Rakyat, 23 Juli 2009)

  Contoh (15) terdiri dari enam kalimat, yaitu kalimat (15a), (15b), (15c), (15d), (15e), dan (15f). Kata mereka pada kalimat (15e) dan (15f) merupakan pengganti kata Megawati-Prabowo dan Jusuf Kalla-Wiranto pada kalimat (15d).

  Dari contoh tersebut tampak adanya kohesi penggantian. Dalam kohesi ini terlibat dua unsur, yaitu unsur terganti dan unsur pengganti. Unsur terganti pada contoh di atas ditunjukkan pada unsur yang menyatakan orang, yaitu Megawati-Prabowo

  

dan Jusuf Kalla-Wiranto, sedangkan unsur penggantinya berupa pronomina

  persona ketiga jamak, yaitu mereka. Contoh (15A) berikut menujukan hal tersebut.

  (15A) (a) Apakah penghitungan cepat melakukan kebenaran? (b) Menurut rencana, hasil rekapitulasi pemilihan presiden 2009 diumumkan pada 22-24 Juli 2009. (c) Meski ada pasangan yang menolak ketetapan KPU, hasil itu akan tegas ditetapkan (Kedaulatan Rakyat, 22/7/2009). (d) Seperti ramai diberitakan, dua pasangan capres dan cawapres, yakni Megawati-Prabowo

  dan Jusuf Kalla-Wiranto, belum akan menentukan sikap atas

  rencana ini. (e) Megawati-Prabowo dan Jusuf Kalla-Wiranto melihat ada banyak kecurangn terjadi. (f) Bentuk atas penolakan hasil keputusan KPU tentang jumlah suara yang diperoleh,

  Megawati-Prabowo dan Jusuf Kalla-Wiranto tak akan menandatangani.

  (16) (a) Walaupun polisi telah memastikan pelaku bom bunuh diri bukan Nur Said dan Ibrohim, namun sampai sekarang Densus 88 masih mencari keberadaan mereka. (b) Keluarga kedua orang tersebut juga mengaku tidak tahu keberadaan mereka. (c) Keluarga sangat yakin Nur Said dan Ibrohi, tak terlibat jaringan teroris.

  (Kedaulatan Rakyat, 28 Juli 2009)

  Contoh (16) terdiri dari tiga kalimat, yaitu kalimat (16a), (16b), dan (16c). Kata mereka pada kalimat (16b) menggantikan Nur Said dan Ibrohim pada kalimat (16a). Oleh karena itu pada contoh (16) terdapat kohesi penggantian.

  Hubungan kohesi terjadi antara mereka dan Nur Said dan Ibrohim. Dalam kohesi ini terlibat dua unsur, yaitu unsur terganti dan unsur pengganti. Unsur pengganti pada contoh diatas ditunjukan oleh unsur yang menyatakan orang, yaitu mereka, sedang unsur penggantinya berupa pronominal persona ketiga jamak, yaitu Nur

  Said dan Ibrohim.

  (17) (a) ‘Keputusan’ yang dikemukakan Kabid Penyelenggaraan Haji, Zakat, dan Wakaf Kanwil Depag DIY Drs H Muhammad itu dipastikan melegakan calhaj berusia 65 tahun lebih. (b) Mereka merasa plong karena tidak ada kendala yang perlu dirisaukan untuk menunaikan rukun islam yang kelima.

  (Kedaulatan Rakyat, 31 Juli 2009) Contoh (17) terdiri dari dua kalimat, yaitu kalimat (17a) dan (17b). Kata

  

mereka pada kalimat (17b) merupakan pengganti calhaj. Dari contoh tersebut

  tampak adanya kohesi penggantian. Hubungan kohesi terjadi antara mereka dan calhaj.

  (18) (a) sejauh ini pula, Pemerintah Kerajaan Arab Saudi secara resmi tidak pernah membatasi usia para calhaj. (b) Hanya saja, berdasar surat Dubes Arab Saudi di Jakarta Nomor 83/5/30/1218 tanggal 21 Juni 1984, setiap calhaj haruslah bebas dari penyakit menular dan kronis. (c) Dinyatakan dalam surat itu, “jemaah haji haruslah yajin bahwa ia terbebas dari penyakit menular dan kronis yang mungkin membahayakan rekan-rekannya Muslimin bila ia dating beribadah haji – dan bahwa mereka akan diperiksa oeh kementrian Kesehatan Arab Saudi sebelum mereka masuk ke tempat ibadah haji”.

  (Kedaulatan Rakyat, 31 Juli 2009)

  Contoh (18) terdiri dari tiga kalimat, yaitu kalimat (18a), (18b), dan (18c). Kata mereka pada kalimat (18c) merupakan pengganti dari calhaj pada kalimat (18b). Oleh karena itu contoh (18) merupakan kohesi penggantian.

  Hubungan kohesi terjadi antara mereka dan calhaj.

2.1.2.2 Penggantian dengan -Nya Berikut contoh dengan penanda –nya.

  (19) (a) Rasa syukur yang sama tentunya juga dialami Sucihani, warga Kuningan, Jawa Barat. (b) Sebab suaminya yang bernama Ibrahim ternyata juga tidak terkait dengan kasus bom yang mengguncang Jakarta Jumat pekan lalu itu. (c) Kadiv Humas Polri Irjen Pol Nanan Sukarna memastikan dua potongan kepala yang ditemukan di lokasi, tidak ada kecocokan dengan wajah Nur Said dan Ibrahim. (d) Hasil tes DNA kian mempertegas tidak adanya kemiripan keduanya dengan pelaku pemboman.

  (Kedaulatan Rakyat, 24 Juli 2009)

  Contoh (19) terdiri dari empat kalimat, yaitu kaimat (19a), (19b), (19c), dan (19d). -Nya pada kalimat (19b) merupakan pengganti kata Sucihani pada kalimat (19a), sehingga pada contoh (19) terdapat kohesi penggantian. Contoh (19A) berikut menjelaskan hal tersebut. Kohesi terjadi antara -nya dan Sucihani.

  Hubungan kohesi terjadi antara -nya dan Sucihani.

  (19A) Rasa Syukur yang sama tentunya juga dialami Sucihani, warga Kuningan, Jawa Barat. Sebab suami Sucihani yang bernama Ibrahim ternyata juga tidak terkait dengan kasus bom yang mengguncang Jakarta Jumat lalau itu. Kadiv Humas Polri Irjen Pol Nanan Sukarna memastikan dua potongan kepala yang ditemukan di lokasi, tidak ada kecocokan dengan wajah Nur Said dan Ibrahim. Hasil tes DNA kian mempertegas tidak adanya kemiripan keduanya dengan pelaku pemboman.

  (20) (a) Cawapres Prabowo Subianto menilai DPT menjadi catatan cacat Pemilu 2009. (b) Ia memperkirakan terdapat 2 juta suara tidak beres di Jawa Timur. (c) Menurutnya, kalau masalah itu dibiarkan berarti terdapat 2 juta suara potensial yang tidak sah.

  (Kedaulatan Rakyat, 3 Juli 2009) Contoh (20) terdiri dari tiga kalimat, yaitu kalimat (20a), (20b), dan (20c). -Nya pada kalimat (20c) merupakan pengganti Prabowo Subianto pada kalimat (20a). Dari contoh tersebut tampak adanya kohesi penggantian. Hubungan kohesi terjadi antara -nya dan Prabowo Subianto.

  (21) (a) Keterlibatan instansi lain seperti Dephub sangat diperlukan, seperti tercermin dalam kasus dugaan susek flu babi yang menimpa AR, pemuda asal Sleman tersebut. (b) Dua bandara yang dilaluinya sepulang dari California, Soekarno-Hatta Jakarta dan Adisutjipto Yogyakarta tidak mendeteksi adanya tanda-tanda yang bersangkutan terjangkit suspek flu babi.

  (Kedaulatan Rakyat, 13 Juli 2009)

  Contoh (21) terdiri dari dua kalimat, yaitu kalimat (21a) dan (21b). -Nya pada kalimat (21b) merupakan penggantian dari AR yang ada pada kalimat (21a).

  Oleh karena itu pada contoh (21) terdapat kohesi penggantian. Hubungan kohesi terjadi antara -nya dan AR.

  (22) (a) Sedang sikap Partai Golkar sampai saat ini masih belum jelas apakah akan merapat ke SBY-Boediono atau tidak. (b) Secara resmi hal itu akan ditentukan Munas – walaupun banyak kalangan meragukan Golkar memilih oposisi. (c) Koalisi besar yang dibangun dengan PDIP, Hanura, dan Gerindra pun terancam pecah. (d) Meski secara resmi Golkar tidak masuk dalam koalisi pendukung SBY-Boediono – karena menjagokan jusuf Kalla- Wiranto (Hanura) – namun suaranya di parlemen cukup signifikan. (e) Partai besar lainnya, seperti PDIP misalnya, sikapnya lebih jelas untuk memilih oposisi. (f) Sikap partai Gerindra juga cukup jelas terbaca untuk beroposisi. (g) Dalam pilpres partai ini berkoalisi dengan PDIP dengan mengusung

  Prabowo Subianto sebagai cawapres mendampingi capres Megawati.

  (Kedaulatan Rakyat, 14 Juli 2009)

  Contoh (22) terdiri dari dua paragraf, paragraf pertama terdiri dari tiga kalimat, yaitu kalimat (22a), (22b), (22c). Paragraf kedua terdiri dari empat kalimat, yaitu (22d), (22e), (22f), dan (22g). -nya pada kalimat (22d) merupakan pengganti dari Partai Golkar pada kalimat (22a). Oleh karena itu pada contoh (22) terdapat kohesi penggantian. Hubungan kohesi terjadi antara -nya dan Partai Golkar.

  (23) (a) Siti Lestari memang layak bersyukur. 9b) Melakukan sujud Syukur saat mendapat kepastian bahwa anak menantunya, Nur Said, bukan sebagai pelaku bom bunuh diri di Hotel JW Marriott.

  (c) Selama 3 malam perempuan yang tinggal di Klaten ini sempat tidak tidur dan tidak makan – menyusul adanya berita bahwa Nur Hasbi yang diidentifikasi sebagai Nur Said merupakan pelaku bom bunuh diri di hotel internasional tersebut.

  (Kedaulatan Rakyat, 24 Juli 200)

  Contoh (23) terdiri dari tiga kalimat, yaitu kalimat (23a), (23b), dan (23c). Klitika nya pada kalimat (23b) merupakan pengganti Siti Lestari pada kalimat (23a). Pada contoh tersebut tampak adanya kohesi penggantian.

  Hubungan kohesi terjadi antara nya dan Siti Lestari.

2.1.2.3 Penggantian dengan Penanda Kata Ia Berikut merupakan contoh yang menggunakan penanda kata ia.

  (24) (a) Kita juga menengarai betapa sangat terpukulnya keluarga besar Nur Said maupun Ibrahim saat keduanya diberitakan secara intensif terlibat dalam pemboman kedua hotel tersebut. (b) Secara spesifik, pukulan itu tercermin dari pernyataan Siti Lestari yang selama 3 malam tidak tidur dan tidak makan. (c) Ia menjadi tersiksa secara lahiriah dan batiniah. (d) Menanggung malu yang tak terperikan karena harkat dan martabat keluarga menjadi tercabik secara tiba-tiba. (e) Untung Mabes Polri melakukan klarifikasi tepat pada waktunya. (f) Sebelum keluarga dekat Nur Said maupun Ibrahim mendaat sanksi sosial. (g) Misalnya, masyarakat sekitar mengucilkan dari pergaulan lingkungan.

  (Kedaulatan Rakyat, 24 Juli 2009)

  Contoh (24) terdiri dari tujuh kalimat, yaitu kalimat (24a), (24b), (24c), (24d), (24e), (24f), dan (24g). Kata ia pada kalimat (24c) merupakan pengganti

  

Siti Lestari yang ada pada kalimat (24b). Dari contoh tersebut tampak adanya

kohesi penggantian. Contoh (24A) berikut akan menjelaskan hal tersebut.

  Hubungan kohesi terjadi antara ia dan Siti Lestari.

  (24A) Kita juga menenggarai betapa sangat terpukulnya keluarga besar Nur Said maupun Ibrahim saat keduannya diberitakan secara intensif terlibat dalam pemboman kedua hotel tersebut. Secara spesifik, pukulan itu tercermin dari pernyataan Siti Lestari yang selama 3 malam tidak tidur. Siti Lestari menjadi tersiksa secara lahirian dan batiniah. Menanggung malu yang tak terperikan karena harkat dan martabat keluarga menjadi tercabik secara tiba- tiba. Untung Mabes Polri melakukan klarifikasi tepat pada waktunya. Sebelum keluarga dekat Nur Said maupun Ibrahim mendapat sanksi social. Misalnya, masyarakat sekitar mengucilkan dari pergaulan lingkungan.

  (25) (a) Cawapres Prabowo Subianto menilai DPT menjadi catatan cacat Pemilu 2009. (b) Ia memperkirakan terdapat sekitar 2 juta suara yang tidak beres di Jawa Timur. (c) Menurutnya, kalau masalah itu dibiarkan berarti terdapat 2 juta suara potensial yang tidak sah.

  (Kedaulatan Rakyat, 3 Juli 2009)

  Contoh (25) terdiri dari tiga kalimat, yaitu kalimat (25a), (25b), dan (25c). Kata ia pada kalimat (25b) merupakan pengganti Cawapres Prabowo

  

Subianto pada kalimat (25a). Oleh karena itu pada contoh (25) terdapat kohesi

  pernggantian. Contoh (25A) berikut menjelaskan hal tersebut. Hubungan kohesi terjadi antara ia dan Cawapres Prabowo Subianto. Kata ia berfungsi sebagai pengganti dari bagian kalimat (25a), yaitu Cawapres Prabowo Subianto.

  (25A) Cawapres Prabowo Subianto menilai DPT menjadi catatan cacat Pemilu 2009. Cawapres Prabowo Subianto memperkirakan terdapat sekitar 2 juta suara yang tidak beres di Jawa Timur.

  Menurutnya kalau masalah itu dibiarkan berarti terdapat 2 juta suara potensial tidak sah.

  (26) (a) Personel Densus 88 juga telah disebar ke berbagai tempat. (b) Densus 88 menyisir berbagai lokasi yang diduga sebagai tempat persembunyian Noordin M Top dan anak buahnya, baik di Jateng, DIY maupun luar Jawa. (c) Dalam beberapa penggerebekan yang dilakukan Densus 88, Noordin M Top selalu lolos. (d) Ia dikanal licin seperti belut. (e) Lantas, dimana sesungguhnya Noordin M Top bersembunyi? (f) Tak ada yang bisa menjawabnya. (g) Karena itu, polisi terus menyebar foto gembong teroris itu dengan berbagai versi.

  (Kedaulatan Rakyat, 28 Juli 2009)

  Contoh (26) terdiri dari tujuh kalimat, yaitu kalimat (26a), (26b), (26c), (26d), (26e), (26f), dan (26g). Ia pada kalimat (26d) merupakan pengganti

  

Noordin M Top pada kalimat (26c). Dari contoh tersebut tampak adanya kohesi

penggantian. Hubungan kohesi terjadi antara ia dan Noordin M Top.

2.1.3 Pelesapan

  Pelesapan adalah kohesi gramatikal yang merupakan penghilangan konstituen yang sudah disebutkan sebelumnya pada kalimat berikutnya.

  Perhatikan contoh berikut.

  (27) (a) Pemilihan presiden sudah di ambang. (b) Ø Tinggal hitungan hari saja. (c) Marilah kita memanfaatkan momentum Ø tersebut sebaik-bakinya untuk memilih masa depan bangsa. (d) Datanglah ke bilik-bilik yang telah disediakan, untuk mencontreng. (e) Jangan salah pilih, oleh sebab itu kita perlu merenungkan siapa yang pantas dicontreng dari ketiga calon tersebut. (f) Di sisi lain, siapa pun presidennya nanti, itulah pilihan rakyat. (g) Kita berharap ke depan bisa membawa perahu bangsa ini belayar lebih stabil menuju cita-cita. (h) Sungguh, kita mendambakan pemimpin yang baik, yang sesuai, yang bisa membaca keinginan rakyat dan mampu membawa bangsa ini lebih bermartabat.

  Kedaulatan Rakyat, 2 Juli 2009

  Contoh (27) terdiri dari delapan kalimat, yaitu kalimat (27a), (27b), (27c), (27d), (27e), (27f), (27g), dan (27h). Konstituen Ø pada kalimat (27b) dan (27c) memiliki referensi yang sama dengan kata pemilihan presiden yang telah disebutkan pada kalimat (27a). Kata pemilihan presiden pada kalimat (27a) diulang pada kalimat (27b) dan (27c) dalam bentuk zero (Ø). Jadi, contoh (27) merupakan kohesi pelesapan. Contoh (27A) menjelaskan hal tersebut. Hubungan kohesi terjadi antara zero (Ø) dan pemilihan presiden.

  (27A) (a) Pemilihan presiden sudah diambang. (b) Pemilihan presiden tinggal hitungan hari saja. (c) Marilah kita manfaatkan momentum pemilihan presiden tersebut sebaik-baiknya untuk memilih masa depan bangsa. (d) Datanglah ke bilik-bilik yang telah disediakan, untuk mencontreng. (e) Jangan salah pilih, oleh sebab itu kita perlu merenungkan siapa yang pantas dicontreng dari ketiga calon tersebut. (f) Disisi lain, siapa pun presidennya nanti, itulah pilihan rakyat. (g) Kita berharap kedepan bisa membawa perahu bangsa ini berlayar lebih stabil menuju cita- cita. (h) Sungguh kita memimpikan pemimpin yang baik, yang sesuai, yang bisa membaca keinginan rakyat dan mampu membawa bangsa ini lebih bermartabat.

  (28) (a) Selama masa kampanye, ketiga pasangan capres-cawapres beserta tim suksesnya menyosialisasikan visi misinya. (b) Ø Menawarkan program kerja yang akan dilakukan bila dipercayai memegang kemudi pemerintahan masa bakti 2009-2014. (c) Dalam bahasa awam, mereka berkesempatan mengobral janji.

  (d) Kita mencermati janji-janji Ø itu, ada yang membumi. (e) Ada yang sekedar rayuan gombal atau retorika belaka. (f) Membumi, karena menyangkut problem dan kebutuhan masyarakat bangsa. (g) Sekedar rayuan gombal atau retorika, karena berisi janji yang muluk-muluk – tanpa mendasarkan diri pada situasi serta kondisi kehidupan bangsa dan Negara.

  (Kedaulatan Rakyat, 6 Juli 2009) Contoh (28) terdiri dari dua paragraf, yaitu paragraf (28a) dan (28d).

  Paragraf pertama terdiri dari tiga kalimat, yaitu kalimat (28a), (28b), dan (28c). Paragraf kedua terdiri dari empat kalimat, yaitu kalimat (28d), (28e), (28f), dan (28g). Kata ketiga pasangan capres-cawapres pada kalimat (28a) diulang kembali pada kalimat (28b) dan (28d) dalam bentuk zero (Ø). Dari contoh tersebut, tampak adanya kohesi pelesapan. Hubungan kohesi terjadi antara zero dan ketiga capres-cawapres.

  (29) (a) Dalam konteks itu, kita mengharapkan Partai Golkar lebih berani untuk beroposisi, karena suaranya cukup signifikan di parlemen. (b) Sebaliknya, bila Ø Golkar merapat ke SBY- Boediono, sulit rasanya mengahrapkan kekuatan yang seimbang di eksekutif dan parlemen. (c) Lagi pula, secara etika politik, rasanya tidak pantas bila Ø Golkar meminta ‘jatah’ kursi kabinet, sementara partai tersebut telah mengajukan calon sendiri ketika pilpres.

  (Kedaulatan Rakyat, 14 Juli 2009)

  Contoh (29) terdiri dari tiga kalimat, yaitu kalimat (29a), (29b), dan (29c). Kata partai pada kalimat (29a) diulang kembali penyebutannya pada kalimat (29b) dan (29c) dalam bentuk zero (Ø). Jadi, contoh (29) terdapat kohesi pelesapan. Hubungan kohesi terjadi antara zero dan partai.

2.1.4 Perangkaian Perangakaian adalah kohesi gramatikal yang beerwujud konjungsi.

  Perangkaian berbeda dengan kohesi gramatikal lainnya. Perangkaian yang berupa konjungsi menyatakan relasi makna tertentu. Perhatikan contoh berikut.

  2.1.4.1 Perangkaian Bermakna ‘sebab’ dengan Penanda Kata Sebab dan Karena

  Berikut merupakan contoh paragraf yang mempunyai makna ‘sebab’ dengan penanda kata sebab.

  (30) (a) Kita berharap dengan amat sangat. (b) Tidak siapapun dan pihak manapun berkehendak merusak suasana vakum pada masa tenang. (c) Tidak ada yang bergerilya dari rumah ke rumah dalam bentuk apapun juga. (d) Tidak ada yang melakukan ‘serangan malam’ atau ‘serangan fajar’ menjelang hari H pilpres. (e) Sebab bila hal itu sampai terjadi dapat menodai pesta demokrasi bernama pilpres – yang dalam beberapa kasus sempat dipertanyakan kredibilitas maupun netralitas pelaksanaannya.

  (Kedaulatan Rakyat, 6 Juli 2009)

  Contoh (30) terdiri dari lima kalimat, yaitu kalimat (30a), (30b), (30c), (30d) dan (30e). Kata sebab berfungsi menghubungkan kalimat (30e) dengan kalimat sebelumnya, yaitu (30a), (30b), (30c), dan (30d). Konjungsi tersebut menyatakan relasi makna ‘sebab’. Oleh karena itu pada contoh (30) terdapat kohesi perangkaian.

  (31) (a) Berbeda dengan pemilihan calon anggota legislatif kemarin, untuk pemilihan presiden tampaknya berbagai pihak punya kepentingan. (b) Sebab, kalau pemilihan presiden hanya diikuti pemilih dengan apa adanya, sebenarnya banyak yang dirugikan. (c) Bahkan banyak kejanggalan terjadi, selain banyak juga suara tidak terakomodasi. (d) Kemana mereka? (e) Selain itu ada sejumlah kejanggalan, umpamanya orang yang sudah meninggal masih terdaftar. (f) Anak dibawah umur, tercatat salam daftar pemilih. (g) Sebaliknya, nama yang berhak memilih tapi justru tidak tercatat.

  (Kedaulatan Rakyat, 9 Juli 2009)

  Contoh (31) terdiri dari tujuh kalimat, yaitu kalimat (31a), (31b), (31c), (31d), (31e), (31f), dan (31g). Kata sebab pada kalimat (31b) menghubungkan kalimat pertama dengan kalimat berikutnya. Konjungsi tersebut menyatakan hubungan makna ‘sebab’. Oleh karena itu, contoh tersebut terdapat kohesi perangkaian

  Berikut merupakan contoh yang memiliki makna ‘sebab’ dengan penanda kata karena.

  (32) (a) Terlepas dari itu semua, apa pun hasil survei, ketika dipublikasikan, tentu harus disikapi. (b) Dunia penerbangan kita, termasuk dalam hal ini pelaku pariwisata diharapkan melakukan introspeksi dengan kepala dingin. (c) Karena, imbas pariwisata akan sangat terasa ketika dunia penerbangan kita terpukul dan terus terpuruk.

  (Kedaulatan Rakyat, 1 Juli 2009)

  Contoh (32) terdiri dari tiga kalimat, yaitu kalimat (32a), (32b), dan (32c). Kata karena pada kalimat (32c) berfungsi untuk merangkai kalimat (32b) dan (32c). Kata karena mempunyai hubungan makna ‘sebab’. Kallimat (32c), yaitu karena, imbas pariwisata akan sangat terasa ketika dunia penerbangan kita

  

terpukul dan terus terpuruk, merupakan penyebab dari kalimat (32b), yaitu dunia

penerbangan kita termasuk dalam hal ini pelaku pariwisata diharapkan

melakukan introspeksi dengan kepala dingin. Dari contoh tersebut tampak adanya

kohesi perangkaian.

  (33) (a) Tentunya, kita semua, baik pemerintah, maupun komunitas maskapai penerbangan di tanah air tak perlu kebakaran jenggot dan terburu-buru memberikan respon emosional yang dikhawatirkan justru jadi langkah yang kontra-produktif. (b)

  Karena, masyarakat dunia pun sekarang juga sudah makin

  cerdas dan kritis dengan pemberitaan maupun imbauan dari otoritas yang berkompeten pada dunia penerbangan.

  (Kedaulatan Rakyat, 1 Juli 2009) Contoh (33) terdiri dari dua kalimat, yaitu kalimat (33a) dan (33b). Kata

  

karena ada kalimat (33b) merupakan sebab dari kalimat (33a). Oleh karena itu

pada contoh (33) terdapat kohesi perangkaian.

  Kata karena merupakan kata penghubung dalam kalimat, sehingga tidak dapat digunakan diawal kalimat. Tetapi dalam kasus ini kata karena digunakan diawal kalimat.

2.1.4.2 Perangkaian Bermakna ‘lebih’ dengan Penanda Kata Bahkan

  Berikut merupakan contoh yang mempunyai makna ‘lebih’ dengan penanda kata bahkan.

  (34) (a) Dalam kasus kecelakaan KA di Klaten, pihak PT KA menyatakan laju kereta api telah sesuai jalur. (b) Bahkan masinis telah berusaha mengerem dan mengurangi kecepatan ketika melihat minibus berada di perlintasan. (c) Berdasarkan saksi mata, mesin minibus macet saat berada di perlintasan.

  (Kedaulatan Rakyat, 7 Juli 2009)

  Contoh (34) terdiri dari tiga kalimat, yaitu kalimat (34a), (34b), dan (34c). Kata bahkan pada kalimat (34b) menghubungkan kalimat (34a) dengan kalimat (34b). Kalimat (34a) menjelaskan bahwa kecepatan kereta api sudah sesuai dengan jalur. Kalimat (34b) dijelaskan bahwa masinis juga sudah berusaha mengerem dan mengurangi kecepatan kereta api. Jadi apa yang disebutkan pada kalimat (34b) melebihi dari kalimat (34a). Contoh (34) terdapat kohesi perangkaian.

2.1.4.3 Perangkaian Bermakna ‘perlawanan’ dengan Penanda Kata Namun

  Berikut ini contoh yang memiliki makna ‘perlawanan’ dengan penanda kata namun.

  (35) (a) Langkah penutupan rekening liar ini juga terkesan tidak pandang bulu. (b) Buktinya, dari data bulan Juni 2009, dari sebanyak 72 rekening liar yang sudah ditutup oleh Departemen Keuangan, termasuk di dalamnya adalah rekening Depkeu sendiri. (c) Namun besarnya Hekinus tidak banyak, sekitar Rp 2 sampai 3 miliar.

  (Kedaulatan Rakyat, 8 Juli 2009)

  Contoh (35) terdiri dari tiga kalimat, yaitu kalimat (35a), (35b), dan (35c). Kata namun berfungsi sebagai penghubung antara kalimat (35b) dengan kalimat (35c). Konjungsi tersebut menyatakan hubungan makna ‘perlawanan’ atau pertentangan’. Contoh (35b) ini hal yang dipertentangkan adalah antara kalimat (35b) dan (35c). Pada kalimat (35b) dikatkan bahwa rekening Depkeu termasuk salah satu dari 72 rekening liar yang ditutup, tapi pada kalimat (35c) dikatakan bahwa besarnya hekinus tidak banyak. Hal inilah yang saling bertentangan. Oleh karena itu pada contoh (35) terdapat kohesi perangkaian. Hubungan kohesi terjadi antara kalimat (35b), yaitu Buktinya, dari data bulan

  

Juni 2009, dari sebanyak 72 rekening liar yang sudah ditutup oleh Departemen

Keuangan, termasuk di dalamnya adalah rekening Depkeu sendiri dan besarnya

Hekinus tidak banyak, sekitar Rp 2 samapi 3 miliar pada kalimat (35c).

  (36) (a) Kita tentu tidak menginginkan flu babi mewabah seperti halnya flu burung. (b) Menimbulkan kekhawatiran dimana- mana. (c) Memunculkan kepanikan karena tingkat keganasannya, sehingga merenggut banyak nyawa manusia. (d) Dalam kaitan ini, tanggung jawab untuk mengantisipasinya tidak hanya terbeban di pundak Depkes beserta jajarannya di daerah-daerah. (e) Namun juga perlu keterlibatan instansi dan institusi lain, seperti Dephub yang mengelola transportasi lalu lintas manusia.

  (Kedaulatan Rakyat, 13 Juli 2009)

  Contoh (36) terdiri dari lima kalimat, yaitu kalimat (36a), (36b), (36c), (36d), dan (36e). Dalam contoh ini tampak bahwa kata namun berfungsi sebagai penghubung antara kalimat (36e) dengan kalimat-kalimat sebelumnya. Kata

  namun merupakan konjungsi yang menyatakan hubungan makna ‘pertentangan’ atau ‘perlawanan’. Tampak pada contoh tersebut terdapat kohesi perangkaian.

  Hubungan kohesi terjadi antara kalimat (36), yaitu dalam kaitan ini, tanggung

  jawab untuk mengantisipasinya tidak hanya terbeban di pundak Depkes beserta jajarannya di daerah-daerah dan juga perlu keterlibatan instansi dan institusi lain, seperti Dephub yang mengelola transportasi lalu lintas manusia, pada kalimat (36e).

2.1.4.4 Perangkaian Bermakna ‘akibat’ dengan Penanda Kata Sehingga

  Berikut contoh yang terdapat makna ‘akibat’ dengan penanda kata sehingga.

  (37) (a) Terlepas dari itu semua, apa pun hasil survei, ketika dipublikasikan, tentu harus disikapi. (b) Dunia penerbangan kita, termasuk dalam hal ini pelaku pariwisata diharapkan melakukan introspeksi dengan kepala dingin. (c) Karena, imbas pariwisata akan sangat terasa ketika dunia penerbangan kita terpukul dan terus terpuruk. (d) Sehingga, semua pihak dituntut menata diri, menyatukan visi untuk benar-benar mewujudkan citra penerbangan yang kredibel, dipercaya dan nyaman. (e) Hal ini hanya bisa terwujud sengan aksi konkret. (f) Komitmen untuk melakukan integrated

  marketing plan dan integrated marketing action harus benar-

  benar diwujudkan dan menjadi hymne bersama, baik pemerintah, maupun pelaku bisnis penerbangan dan industri pariwisata.

  (Kedaulatan Rakyat, 1 Juli 2009)

  Contoh (37) terdiri dari dua paragraf, paragraf pertama terdiri dari tiga kalimat, yaitu kalimat (37a), (37b), dan (37c). Paragraf kedua terdiri dari tiga kalimat, yaitu (37d), (37e), dan (37f). Kata sehingga pada kalimat (37d) menghubungkan kalimat (37c) dengan (37d). Kata penghubung sehingga menandai hubungan makna ‘akibat’. Kalimat (37d), yaitu sehingga semua pihak dituntut menata diri, menyatukan visi untuk benar-benar mewujudakn citra penerbangan yang kredibel, dipercaya, dan nyaman, merupakan akibar dari kalimat (39c), yaitu karena imbas pariwisata akan sangat terasa ketika dunia penerbangan kita terpukul dan terus terpuruk. Dari contoh tersebut tampak adanya kohesi perangkaian.

  Perlu diketahui bahwa kata sehingga merupakan kata penghubung dalam kalimat. Kata sehingga tidak dapat diletakan di awal kalimat.

2.2 Kohesi Leksikal

2.2.1 Pengulangan

  Pengulangan adalah kohesi yang berupa pengulangan konstituen yang telah disebutkan sebelumnya. Perhatikan contoh berikut.

  (38) (a) Citra dunia penerbangan Indonesia kembali terpukul. (b) Belum lagi selesai pemulihan citra penerbangan kita di mata Uni Eropa, kini muncul ‘vonis’yang cukup menyakitkan, yakni predikat sebagai salah satu maskapai penerbangan yang masih kategori ‘paling tidak aman’ di dunia. (c) Dalam siaran Stasiun TV ‘Saluran Tujuh’ Australia, disebutkan bahwa Indonesia, Angola, Liberia, Sudan, dan korea Utara dinilai sebagai lima negara dengan maskapai penerbangan ‘paling tidak aman’ di dunia (KR, 30/6).

  (d) Bahkan, dalam acara yang diisi dengan wawancara dengan Redaktur Senior Jurnal Manajemen Penerbangan “Air Transport World’, Geoffrey Thomas itu, terungkap bahwa tingkat keselamatan berbagai maskapai penerbangan Indonesia, termasuk Garuda, masih dipandang jelek. (e)Lebih menohok lagi, dalam dialog itu juga sempat dipertanyakan mengapa pemerintah Australia tidak mengikuti langkah Uni Eropa yang sudah terlebih dahulu melarang maskapai penerbangan dari 18 negara, termasuk Indonesia.

  (Kedaulatan Rakyat, 1 Juli 2009)

  Contoh (38) terdiri dari dua paragraf, yaitu paragraf pertama yang terdiri dari (38a), (38b), dan (38c), dan paragraf kedua yang terdiri dari (38d), (38e).

  Frase maskapai penerbangan pada kalimat (38b) diulang kembali penyebutannya pada kalimat (38c), (38d) dan (38e). Frase maskapai penerbangan pada kalimat (38b), (38c), (38d), dan (38e) mempunyai referen yang sama, yaitu perusahaan yang bergerak dalam penerbangan (KBBI, 2008:884). Dari contoh tersebut tampak adanya kohesi pengulangan. Contoh (38A) menjelaskan hal tersebut.

  Hubungan kohesi terjadi antara maskapai penerbangan dan maskapai penerbangan.

  (38A) (a) Citra dunia penerbangan Indonesia kembali terpuruk. (b) Belum lagi selesai pemulihan citra penerbangan kita di mata Uni Eropa, kini uncul ‘vonis’ yang cukup menyakitkan, yakni predikat sebagai salah satu perusahaan yang bergerak dalam

  penerbangan yang masih kategori ‘paling tidak aman’ di dunia.

  (c) Dalam siaran Stasiun TV ‘Saluran Tujuh’ Australia, disebutkan bahwa Indonesia, Angola, Liberia, Sudan, dan Korea Utara dinilai sebagai lima Negara dengan perusahaan yang

  bergerak dalam penerbangan ‘paling tidak aman’ di dunia (KR, 30/6).

  (d) Bahkan, dalam acara yang diisi dengan wawancara dengan Redaktur Senior Jurnal Manajemen Penerbangan ‘Air Transport World’, Geoffrey Thomas itu, terungkap bahwa tingkat keselamatan berbagai perusahaan yang bergerak dalam

  penerbangan Indonesia, termasuk Garuda, masih dipandang

  jelek. (e) Lebih menohok lagi, dalam dialog itu juga sempat dipertanyakan mengapa pemerintah Australia tidak mengikuti langkah Uni Eropa yang sudah terlebih dahulu melarang

  perusahaan yang bergerak dalam penerbangan dari 18 negara, termasuk Indonesia.

  (39) (a) Mau tidak mau, momentum pemilihan presiden akan datang juga. (b) Jika kita menunggu momentum tersebut, maka pada Rabu, 8 Juli 2009, itulah saatnya tiba. (c) Pada saat itu kita harus menentukan pilihan dengan tegas setelah mencermati, memperhatikan, mengamati dan mengikuti kampanye yang dilakukan tiga calon presiden dan calon wakil presiden. (d) Karena formatnya adalah kampanye, maka isinya adalah memperkenalkan program-program, mungkin juga termasuk janji-janji yang akan dilaksanakan, dan meyakinkan rakyat agar menentukan pilihan pada dirinya.

  ( Kedaulatan Rakyat, 2 Juli 2009) Contok (39) terdiri dari empat kalimat, yaitu kalimat (39a), (39b), (39c), dan (39d). Kata momentum pada kalimat (39a) diulang kembali pada kalimat (39b). Kata momentum pada kalimat (39a) dan (39b) mempunyai referen yang sama, yaitu saat yang tepat (KBBI, 2008:926). Oleh karena itu, contoh (39) terdapat kohesi pengulangan. Hubungan kohesi terjadi antara kata momentum dan momentum. Contoh (39A) menjelaskan hal tersebut.

  (39A) (a) Mau tidak mau, saat yang tepat pemilihan presiden akan datang juga. (b) Jika kita menunggu saat yang tepat tersebut, maka pada Rabu, 8 Juli 2009, itulah saatnya tiba. (c) Pada saat itu kita harus menentukan pilihan dengan tegas setelah mencermati, memperhatikan, mengamati dan mengikuti kampanye yang dilakukan tiga calon presiden dan calon wakil presiden. (d) Karena, formatnya adalah kampanye, maka isinya adalah memperkenalkan program-program, mungkin juga termasuk janji-janji yang akan dilaksanakan, dan meyakinkan rakyat agar menentukan pilihan pada dirinya.

  (40) (a) Ledakan di Hotel JW Marriott Jakarta bukan saja mengoyak kepercayaan dunia internasional terhadap Indonesia, tapi juga mempurukan sistem keamanan-intelijen di Tanah Air. (b) Mengapa terjadi kecolongan yang sama? (c) Seperti kita ketahui, pada tanggal 5 Agustus 2003 bom meledak di Hotel JW

  Marriott dan menewaskan 12 orang dan 150 luka-luka. (d)

  Pasca ledakan, pengamanan di seluruh hotel diperketat. (e) Pengamanan di Hotel JW Marriott pun super ketat. (f) Namun, pada Jumat 17 Juli 2009 tragedi kemanusiaan kembali terulang.

  (g) Hotel JW Marriott dibom dan selang beberapa menit giliran Ritz Carlton. (h) Sedikitnya Sembilan orang meninggal dan 53 luka-luka.

  (Kedaulatan Rakyat, 21 Juli 2009) Contoh (40) terdiri dari delapan kalimat, yaitu kalimat (40a), (40b), (40c), (40d), (40e), (40f), (40g), dan (40h). Kata Hotel JW Marriott yang terdapat pada kalimat (40a) diulang kembali pada kalimat (40c), (40e), dan (40g). Frase

  

Hotel JW Marriott pada kalimat (40a), (40c), (40e), dan (40g) merupakan nama

  hotel. Jadi pada contoh (40) terdapat kohesi pengulangan. Hubungan kohesi terjadi antara frase Hotel JW Marriott dan frase Hotel JW Marriott.

  (41) (a) Personel Densus 88 juga telah disebar ke berbagai tempat.

  (b) Densus 88 menyisir berbagai lokasi yang diduga sebagai tempat persembunyian Noordin M Top dan anak buahnya, baik Jateng, DIY maupun luar Jawa. (d) Dalam beberapa penggerebekan yang dilakukan Densus 88, Noordin M Top selalu lolos. (d) Ia dikenal licin seperti belut. (e) Lantas, dimana sesungguhnya Noordin M Top bersembunyi? (f) Tak ada yang bisa menjawabnya. (g) Karena itu, polisi terus menyebar foto gembong teroris itu dengan berbagai versi.

  (Kedaulatan Rakyat, 28 Juli 2009)

  Contoh (41) terdiri dari tujuh kalimat, yaitu kalimat (41a), (41b), (41c), (41d), (41e), (41f), dan (41g). Kata densus 88 yang terdapat pada kalimat (41a) diulang kembali pada kalimat (41b) dan (41d), sehingga pada contoh (41) merupakan kohesi pengulangan. Densus 88 pada kalimat (41a), (41b), dan (41d) merupakan nama dari tim kepolisian yang bertugas menangani masalah terorisme.

  Hubungan kohesi terjadi antara densus 88 dan densus 88.

2.2.2 Hiponimi

  Hiponimi adalah kohesi yang berupa relasi makna leksikal yang bersifat hierarkis antara konstituen yang satu dengan yang lainnya. Relasi makna terlihat dari konstituen yang memiliki hubungan makna umum (superordinat) dan yang memiliki hubungan makna khusus (hiponim).

  (42) (a) Pada debat terbuka di TV, ketiga calon presiden menegaskan akan mengurangi angka pengangguran lewat pemerataan pembangunana dan peningkatan kegiatan usaha. (b) Langkah- langkah ini menurut Susilo Bambang Yodhoyono, Megawati

  Soekarnoputri, dan Jusuf Kalla dapat mengurangi jumlah pengangguran di Indonesia yang mencapai 10 juta orang.

  (Kedaulatan Rakyat. 4 Juli 2009)

  Contoh (42) terdiri dari dua kalimat, yaitu kalimat (42a) dan (42b). Kata

  ketiga calon presiden pada kalimat (42a) dan Susilo Bambang Yudhoyono, Megawati Soekarnoputri, dan Jusuf Kalla pada kalimat (42b) mempunyai

  hubungan hiponimi. Kata ketiga calon presiden merupakan superordinat karena merangkul kata Susilo Bambang Yudhoyono, Megawati Soekarnoputri, dan Jusuf Kalla. Hubungan hiponimi terjadi antara tiga calon presiden dan Suilo Bambang

  Yodhoyono, Megawati Soekarnoputri, dan Jusuf Kalla. Dari contoh tersebut tampak adanya kohesi hiponimi. Contoh (42A) menjelaskan hal tersebut.

  Hubungan hiponimi ini dapat dilihat pada bagan 1.

  (42A) (a) Pada debat terbuka di TV, Susilo Bambang Yudhoyono,

  Megawati Soekarnoputri, dan Jusuf Kalla menegaskan akan

  mengurangi angka pengangguran lewat pemerataan pembangunan dan peningkatan kegiatan usaha. (b) Langka- langkah ini menurut ketiga calon presiden dapat mengurangi jumlah pengangguran di Indonesia yang mencapai 10 juta orang.

  Bagan 1: Bagan Relasi Hiponimi Ketiga Calon Presiden

  (Superordinat) Hiponim

  Susilo Bambang Jusuf Kalla

  Megawati Yudhoyono

  Soekarnoputri Kohiponim

  (43) (a) Jumlah rekaning tersebut, berasal dari seluruh instansi

  pemerintah dan berada di bank-bank nasional. (b) Tentu, dalam

  melakukan gerakan ini, Departemen Keuangan tidak bekerja sendiri, namun melibatkan Komisi Pemberantasan Korupsi dan Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan. (c) Tak heran kalau kemudian dilaporkan pula ada beberapa rekening yang terindikasi korupsi, yang ada di beberapa departemen, seperti di Departemen Sosial dan Departemen Tenaga Kerja.

  (Kedaulatan Rakyat, 8 Juli 2009) Contoh (43) terdirii dari tiga kalimat, yaitu kalimat (43a), (43b), dan

  (43c). Kata instansi pemerintahan pada kalimat (43a) dan Departemen Keuangan,

  

Komisi Pemberantasan Korupsi, Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan

  pada kalimat (43b), Departeman Sosial, dan Departemen Tenaga Kerja pada kalimat (43c) mempunyai hubungan hiponimi. Kata instansi pemerintahan merupakan superordinat karena merangkul Departemen Keuangan, Komisi

  

Pemberantasan Korupsi, Badan Pengawas Keuangan dan Pemabangunan,

Departemen Sosial, dan Departemen Tenaga Kerja. Hubungan hiponimi ini dapat

  dilihat pada bagan 2.

  Bagan 2: Hubungan Relasi Hiponimi Instansi

  Pemerintahan (Superordinat)

  Hiponimi Departemen Komisi Badan Pengawas Departemen Departemen

  Keuangan Pemberantasan Keuangan dan Sosial Tenaga Korupsi Pembangunan Kerja

  Kohiponim (44) (a) Dalam hitung-hitungan politik, wajar bila nanti parpol pendukung pasangan SBY-Boediono, minta ‘jatah’ di kursi kabinet. (b) Beberapa nama telah dimunculkan, misalnya dari PKS ada Tifatul Sembiring, dari PAN Hatta Rajasa, PPP Suryadharma Ali dan sebagainya. (c) Namun, itu semua masih dalam tataran isu. (d) Sedang sikap Partai Golkar, sampai saat ini masih belum jelas apakah akan merapat ke SBY-Boediono atau tidak. (e) Secara resmi hal itu akan ditentukan Munas – walaupun banyak kalangan meragukan Golkar memilih oposisi. (f) Koalisi besar yang dibangun dengan PDIP, Hanura, dan Gerindra pun terancam pecah. (g) Meski secara resmi Golkar tidak masuk dalam koalisi pendukung SBY-Boediono – karena menjagokan Jusuf Kalla- Wiranto (Hanura) – namun suaranya di parleman dukup signifikan. (h) Partai besar lainnya, seperti PDIP misalnya, sikapnya lebih jelas untuk memilih oposisi. (i) Sikap Partai

  Gerindra juga cukup jelas terbaca untuk beroposisi. (j) Dalam

  pilpres partai ini berkoalisi dengan PDIP dengan mengusung Prabowo Subianto sebagai cawapres mendampingi Megawati. (k) Melihat komposisi kursi di parlemen, dimana Partai

  Demokrat mandominasi, ditambah dengan partai pendukung

  koalisi, semestinya ada kekuatan lain untuk mengimbangi pemerintahan SBY-Boediono (bila memang terpilih sebagai presiden-wakil presiden.

  (Kedaulatan Rakyat, 14 Juli 2009)

  Contoh (44) terdiri dari empat paragraf. Paragraf pertama terdiri dari kalimat (44a), (44b), dan (44c). Paragraf kedua terdiri dari kalimat (44d), (44e), dan (44f). Paragraf ketiga terdiri dari kalimat (44g), (44h), dan (44j). Sedangkan paragraf keempat terdiri dari satu kalimat, yaitu kalimat (44k). Kata parpol pada kalimat (44a) merupakan superordinat (kata umum) yang mengacu pada kata khusus yang terdapat pada kalimat (44d), (44f), (44h), dan (44k), yaitu kata

  

Partai Golkar, PDIP, Hanura, Partai Gerindra, dan Partai Demokrat. Oleh

  karena itu, pada contoh (44) terdapat kohesi hiponimi. Hubungan hiponiminya dapat dilihat pada bagan 3.

  Bagan 3: Hubungan Relasi Hiponimi Parpol

  (Superordinat) Hiponimi

  Partai PDIP Hanura Partai Partai Golkar Gerindra Demokrat

  Kohiponim (45) (a) Karena, dalam beberapa waktu, masyarakat sempat dibuat sesak napas lantaran kenaikan BBM yang beruntun, walau kemudian juga dilanjutkan dengan langkah atau kebijakan penurunan harga BBM adalah benar-benar karena logika perhitungan rasional yang bisa dipahami dan diterima sebagian besar masyarakat. (b) Kalau pun ada motif politis dari kebijakan tersebut, biarlah menjadi tanggungjawab yang bersangkutan saja. (c) Satu hal perlu dicatat, sekecil apa pun kenaikan BBM, dampaknay akan sangat luas danberantai. (d) Sedangkan ketikan harga BBM diturunkan, dampak lanjutnya tak seketika mengikutinya. (e) Sebagaimana diketahui, harga Bensin Premium saat ini sebesar Rp 4.500 per liter, Minyak Solar (Gas Oil) Rp 4.500 per liter dan Minyak Tanah (Kerosene) sebesar Rp 2.500 per liter. (f) Ditegaskan pemerintah, terhitung mulai pukul 00.00 waktu setempat tanggal 15 Juli 2009 ditetapkan bahwa harga jual eceran BBM tertentu, yaitu Bensin Premium, Minyak Solar (Gas Oil) dan Minyak Tanah (Kerosene) dinyatakan tidak berubah.

  (Kedaulatan Rakyat, 15 Juli 2009) Contoh (45) terdiri dari dua paragraf, paragraf pertama terdiri dari kalimat (45a), (45b), (45c), dan (45d). Sedangkan paragraf kedua terdiri dari kalimat (45e), dan (45f). Kata BBM pada kalimat (47a) dan Bensin Premium,

  

Minyak Solar (Gas Oil), dan Minyak Tanah (Kerosene) pada kalimat (45e)

  mempunyai hubungan hiponimi. Kata BBM merupakan kata umum (superordinat) yang mengacu pada kata khusus yang terdapat pada kalimat (45e), yaitu Bensin

  

Premium, Minyak Solar (Gas Oil), dan Minyak Tanah (Kerosene). Dari contoh

  tersebut tampak adanya kohesi hiponimi. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat hubungan hiponimnya pada bagan 4.

  Bagan 4: Hubungan Relasi Hiponimi BBM

  (Superordinat) Hiponimi

  Bensin Minyak Solar Minyak Tanah Premium (Gas Oil) (Kerosene)

  Kohiponim

  (46) (a) Terkait dengan pergerakan mata uang, khususnya yang jadi acuan bisnis dan perdagangan internasional, seperti dolar AS maupun euro, tentu akan sangat peka terhadap setiap peristiwa yang terjadi. (b) Sebagaimana dilaporkan, pasca bom di Jakarta, euro melemah menjadi 1,4096 dolar pukul 21.00 GMT dari 1,4150 di New York pada kamis. (c) Sementara dolar naik menjadi 94,17 yen dari 93,89 yen.

  (Kedaulatan Rakyat, 22 Juli 2009)

  Contoh (46) terdiri dari tiga kalimat, yaitu kalimat (46a), (46b), dan (46c). Kata mata uang pada kalimat (46a) dan euro (46b) dan dolar (46c) merupakan hubungan hiponimi. Kata mata uang merupakan superordinat karena merangkul euro dan dolar. Hubungan hiponimnya dapat dilihat pada bagan 5.

  Bagan 5: Hubungan Relasi Hiponimi Hiponimi

  Kohesi sinonimi adalah kohesi yang berupa relasi makna leksikal yang mirip antara konstituen yang satu dengan yang lain. Sinonimi juga sering disebut sebagai ekuivalensi leksikal.

  Mata Uang (Superordinat)

  Dolar Euro Hiponimi

2.2.3 Sinonimi

  (47) (a) Sengaja kita kutipkan pernuataan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Prof Dr HM Mahfud MD SH di atas sebagai acuan dalam menyikapi hasil Pilpres 8 Juli 2009. (b) Alasan yang dikemukkan Guru Besar Hukum Politik UII itu, kalau keabsahan Pemilu (pilpres-red) tergantung dengan tanda tangan disa dipastikan hasil pemilu di Indonesia tidak ada yang tidak tanda tangan.

  (c) Kita meyakini pernyataan Mahfud itu tentunya didasarkan pada peraturan perundangan yang berlaku. (d) Sebagai awam kita mempercayai saja. (e) Sebab mungkin pada kesempatan lain Prof

  Mahfud akan berkesempatan menulis di harian lain, dasar dan landasan hukum yang menyertai pernyataan.

  (Kedaulatan Rakyat, 27 Juli 2009)

  Contoh (47) terdiri dari dua paragraf. Paragraf pertama terdiri dari kalimat (47a) dan (47b), sedangkan paragraf kedua terdiri dari kalimat (47c), (47d), dan (47e). Contoh (47) tampak bahwa konstituen Prof Dr HM Mahfud MD SH memiliki makna yang sama dengan Mahfud, dan Prof Mahfud. Pada kalimat (47a) nama Prof Dr HM Mahfud MD SH ditulis secara lengkap, pada kalimat (47d) penulisan nama hanya ditulis Mahfud, dan pada kalimat (47e) dituliskan Prof

  

Mahfud, tetapi ketiganya memiliki makna yangsama. Oleh karena itu pada contoh

  (47) terdapat kohesi sinonimi. Contoh (47A) menjelaskan hal tersebut. Hubungan kohesi terjadi anrata Prof Dr HM Mahfud MD SH, Mahfud, dan Prof Mahfud.

  (47A) (a) Sengaja kita kutipkan pernyataan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Prof Dr HM Mahfud MD SH di atas sebagai acuan dalam menyikapi hasil Pilpres 8 Juli 2009. (b) Alasan yang dikemukakan Guru Besar Hukum Politik UII itu, kalau keabsahan Pemilu (pilpres-red) tergantung dengan tanda tangan bisa dipadtikan hasil pemilu di Indonesia tidak ada yang tidak tanda tangan.

  (c) Kita meyakini pernyataan Prof Dr HM Mahfud MD SH itu tetunya didasarkan pada peraturan perundangan yang berlaku. (d) Sebagai awam kita mempercayai daja. (e) Sebab mungkin pada kesempatan lain Prof Dr HM Mahfud MH SH akan berkesempatan menulis di harian lain, dasar dan landasan hokum yang menyertai pernyataan.

    (48) (a) Tidak bisa tidak. (b) Kita harus mewaspadai serta mengabil langkah cepat dan tepat dalam mengantisipasi penyebaran flu babi.

  (c) Menyosialisasikan gejala-gejalanya, penyebab dan sumber penularannya. (d) Berikut tindakan pertama yang perlu dilakukan bila samapai mengetahui atau menemukan warga yang diduga suspek flu babi.

  (e) Kita tentu tidak menginginkan flu babi mewabah seperti halnya flu burung. (f) Menimbulkan kekhawatiran dimana-mana. (g) Memunculkan kepanikan karena tingkat keganasannya, sehingga merengut banyak nyawa manusia. (h) Dalam kaitan ini, tanggung jawab untuk mengantisipasi tidak hanya terbeban di pundak Depkes beserta jajarannya di daerah-daerah. (i) Namun, juga perlu keterlibatan instansi dan institusi lain seperti Dephub yang mengelola transportasi lalu lintas manusia. (j) Keterlibatan instansi lain seperti Dephub sangat diperlukan, seperti tercermin dalam kasus dugaan suspek flu babi yang menimpa AR, pemuda asal Sleman tersebut. (k) Dua bandara yang dilaluinya sepulang dari California, Soekarno-Hatta Jakarta dan Adisutjipto Yogyakarta tidak mendeteksi adanya tanda-tanda yang bersangkutan terjangkit suspek flu babi.

  ( Kedaulatan Rakyat, 13 Juli 2009)

  (49) (a) Kini nampak semakin banyak wisatawan datang di Yogya. (b) Hal ini menandakan citra aman di Yogya khususnya dan Indonesia umumnya sudah punya gaung di luar negeri. (c) Pemilu dan Pilpres yang berjalan tanpa gejolak juga menambah citra aman di

  mancanegara. (d) Tapi terjadinya bom di Ritz Carlton dan JW

  Marriott yang di pastikan akan tersiara ke seluruh dunia bisa membuyarkan industri pariwisata yang mulai beranjak naik.

  (Kedaulatan Rakyat,18 Juli 2009) Contoh (48) terdiri dari tiga paragraf, yaitu paragraf (48a), (48e), dan (48j). Paragraf pertama terdiri dari empat kalimat, yaitu (48a), (48b), (48c), dan (48d). Paragraf kedua terdiri dari lima kalimat, yaitu kalimat (48e), (48f), (48g), (48h), dan (48i). Paragraf ketiga terdiri dari dua kalimat yaitu kalimat (48j) dan (48k). Kata tanda-tanda pada kalimat (48c) memiliki makna yang sama dengan kata gejala-gejala yang terdapat pada kalimat (48k). Dari contoh (48) tersebut tampak adanya konesi sinonimi. Hubungan kohesi terjadi antara tanda-tanda dan gejala-gejala. Contoh (48A) menjelaskan hal tersebut.

  (48A) Tidak bisa tidak. Kita harus mewaspadai serta mengabil langkah cepat dan tepat dalam mengantisipasi penyebaran flu babi.

  Menyosialisasikan tanda-tandanya, penyebab dan sumber penularannya. Berikut tindakan pertama yang perlu dilakukan bila samapai mengetahui atau menemukan warga yang diduga suspek flu babi.

  Kita tentu tidak menginginkan flu babi mewabah seperti halnya flu burung. Menimbulkan kekhawatiran dimana-mana. Memunculkan kepanikan karena tingkat keganasannya, sehingga merengut banyak nyawa manusia. Dalam kaitan ini, tanggung jawab untuk mengantisipasi tidak hanya terbeban di pundak Depkes beserta jajarannya di daerah-daerah. Namun, juga perlu keterlibatan instansi dan institusi lain seperti Dephub yang mengelola transportasi lalu lintas manusia.

  Keterlibatan instansi lain seperti Dephub sangat diperlukan, seperti tercermin dalam kasus dugaan suspek flu babi yang menimpa AR, pemuda asal Sleman tersebut. Dua bandara yang dilaluinya sepulang dari California, Soekarno-Hatta Jakarta dan Adisutjipto Yogyakarta tidak mendeteksi adanya gejala-gejala yang bersangkutan terjangkit suspek flu babi.

  Contoh (49) terdiri dari empat kalimat, yaitu kalimat (49a), (49b), (49c), dan (49d). Kata luar negeri pada kalimat (49b) memiliki makna yang sama dengan kata mancanegara yang terdapat pada kalimat (49c). Oleh karena itu contoh (49) terdapat kohesi sinonimi. Contoh (49A) menjelaskan hal tersebut.

  Hubungan kohesi terjadi antara luar negeri dan macanegara.

  (49A) (a) Kini nampak semakin banyak wisatawan datang di Yogya. (b) Hal ini menandakan citra aman di Yogya khususnya dan Indonesia umumya sudah punya gaung di mancanegara. (c) Pemilu dan pilpres yang berjalan tampa gejolak juga menambah citra aman di

  luar negeri. (d) Tapi terjadinya bom di Hotel Ritz Carlton dan JW

  Marriott yang dipastikan akan tersiar ke seluruh dunia bisa membuyarkab industri pariwisata yang mulai beranjak naik.

  (50) (a) Flu babi masuk Yogyakarta. (b) Demikian judul berita koran kita hari Sabtu (11/7) yang lalu. (c) Diberitakan, seorang pelajar pria berinisial AR, 18 tahun, warga Sleman diduga suspek flu babi dirawat di ruang isolasi Kartika RS Dr Sardjito Yogyakarta. (d) Menurut Ketua Tim Satuan Penanggulangan Flu Burung dan Flu Babi rumah dakit tersebut, dr Sumardi SpPD-KP, AR baru saja pulang dari daerah yang terjangkit H1N1 yakni California Amerika Serikat.

  (Kedaulatan Rakyat, 13 Juli 2009) Contoh (50) terdiri dari empat kalimat, yaitu kalimat (50a), (50b), (50c), dan (50d). Kata Flu babi pada kalimat (50a) memiliki makna yang sama dengan kata H1N1 pada kalimat (50d). Dari contoh tersebut tampak adanya kohesi sinonimi. Hubungan kohesi terjadi antara flu babi dan H1N1. Contoh (50A) akan menjelaskan hal tersebut.

  (50A) (a) H1N1 masuk Yogyakarta. (b) Demikian judul berita Koran kita hari Sabtu (11/7) yang lalu. (c) Diberitakan, seorang pelajar pria berinitial AR, 18 tahun, warga Sleman diduga suspek flu babi dirawat di ruang isolasi Kartika RS Dr Sardjiti Yogyakarta, (d)

  Menurut Ketua Tim satuan Penanggulangan Flu Burung dan Flu Babi rumah sakit tersebut dr Sumardi SpPD-KP, AR baru saja pulang dari daerah yang terjangkit flu babi yakni California Amerika Serikat.

  (Kedaulatan Rakyat, 13 Juli 2009)

2.2.4 Antonimi

  Antonimi merupakan kohesi yang berupa relasi makna leksikal yang bersifat kontras atau berlawanan. Perhatikan contoh berikut.

  (51) (a) Dalam kampanye pemilihan kepala daerah bahkan sampai pada kepala Negara, isu pendidikan memang mudah ditiupkan. (b) Ada sejumlah janji yang disampaikan kepada calon-calon pemilihnya atau konstituennya, berkaitan dengan pendidikan ini. (c) Salah satunya, isu pendidikan gratis. (d) Mereka yang menempuh pendidikan di sekolah negeri bisa gratis alias tidak ada pungutan, (e) Padahal, daya tampungnya terbatas, mereka akhirnya memilih

  sekolah swasta. (f) Ternyata sekolah swasta tidak sama dengan

  sekolah negeri. (g) Sebab kalau dikatakan pendidikan itu gratis, hanya berlaku untuk pendidikan di sekolah negeri.

  (Kedaulatan Rakyat, 30 Juli 2009)

  Contoh (51) terdiri dari tujuh kalimat, yaitu kalimat (51a), (51b), (51c), (51d), (51e), (51f), dan (51g). Pada contoh (51) ini terdapat satu pasang kata yang memiliki makna yang saling bertentangan, yaitu sekolah negeri dengan sekolah

  

swasta. Dari contoh tersebut tampak adanya kohesi antonimi. Hubungan kohesi

  terjadi antara sekolah negeri dan sekolah swasta. Contoh (51A) menjelaskan hal tersebut.

  (51A) Dalam kampanye pemilihan kepala daerah bahkan sampai pada kepala negara, isu pendidikan memang mudah ditiupkan. Ada sejumlah janji yang disampaikan kepada calon-calon pemilihnya atau konstituennya, berkaitan dengan pendidikan gratis. Salah satunya, isu pendidikan gratis. Mereka yang menempuh pendidikan di sekolah pemerintah bisa gratis alias tidak ada pungutan. Padahal, daya tampungnya terbatas, mereka akhirnya memilih sekolah

  bukan milih pemerintah. Ternyata sekolah swasta tidak sama

  dengan sekolah negeri. Sebab kalau dikatakan pendidikan itu gratis, hanya belaku untuk pendidikan di sekolah negeri.

  (52) (a) Memasuki pemilihan presiden tahun 2009 ini, semua pihak sepakat untuk menyelenggarakannya dengan damai. (b) tidak untuk saling menyerang, menyebarkan kampanye hitam, tapi bersaing dengan sehat dihadapn rakyat. (c) Tidak sekedar obral janji, akan tetapi menyampaikan program konkret yang bisa diwujudkan bila terpilih nanti. (d) Bukan hanya teringat pada rakyat ketika membutuhkan dukungan, kemudian melupakannya setelah terpilih. (e) Bagaimanapun rakyat adalah kekuatan. (f) Kalau bukan kekuatan yang menentukan, maka tak ada ungkapan bahwa suara rakyat adalah suara Tuhan.

  (Kedaulatan Rakyat, 2 Juli 2009)

  Contoh (52) terdiri dari enam kalimat, yaitu kalimat (52a), (52b), (52c), (52d), (52e), dan (52f). pada contoh (52) terdapat satu pasang kata yang memiliki makna yang saling berlawanan, yaitu kata damai dengan menyerang. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, damai memiliki tiga arti, yaitu 1) tidak ada perang; tidak ada kerusuhan; aman; 2) tentram; tenang; 3) keadaan tidak bermusuhan; rukun, sedangkan menyerang adalah 1) mendatangi untuk melawan (melukai, memerangi, dsb); menyerbu; 2) menimpa (tt bencana, penyakit, dsb); melanda; melanggar; 3) menentang (spt melancarkan kritik). Oleh karena itu, pada contoh (54) terdapat kohesi antonimi. Hubungan kohesi terjadi antara kata damai dan menyerang.

2.2.5 Kolokasi

  Kohesi kolokasi adalah kohesi leksikal yang berupa relasi makna yang berdekatan dalam lingkungan yang sama antara konstituen yang satu dengan konstituen yang lain. Berikut ini dikemukakan contohnya.

  (53) (a) Mau tidak mau, momentum pemilihan presiden akan datang juga. (b) Jika kita menunggu momentum tersebut, maka pada Rabu,

  8 Juli 2009, itulah saatnya tiba. (c) Pada saat itu kita harus menentukan pilihan dengan tegas setelah mencermati, memperhatikan, mengamati dan mengikuti kampanye yang dilakukan tiga calon presiden dan calon wakil presiden. (d) Karena formatnya adalah kampanye, maka isinya adalah memperkenalkan

  program-program, mungkin juga termasuk janji-janji yang akan dilaksanakan, dan meyakinkan rakyat agar menentukan pilihan pada dirinya.

  (Kedaulatan Rakyat, 2 Juli 2009)

  Contoh (53) terdiri dari empat kalimat, yaitu kalimat (53a), (53b), (53c), dan (53d). Kata kampanye pada kalimat (53c) berkolokasi dengan

  

memperkenalkan program-program, janji-janji yang akan dilaksanakan, dan

meyakinkan rakyat agar menentukan pilihan pada dirinya, karena keduannya

  memiliki makna yang saling berdekatan yaitu memperkenalkan program-

  

program, janji-janji yang akan dilakukan, dan meyakinkan rakyat agar

menentukan pilihan pada dirinya merupakan kegiatan yang dilakukan pada saat kampanye. Dari contoh tersebut tampak adanya kohesi kolokasi. Hubungan kohesi

  terjadi antara kampanye dan memperkenalkan program-program, janji-janji yang akan dilakukan, dan meyakinkan rakyat agar menentukan pilihan pada dirinya.

  Menurut KBBI, kampanye mempunyai dua pengertian, pertama, yaitu gerakan (tindakan) serentak (untuk melawan, mengadu aksi, dsb). Kedua, yaitu kegiatan yang dilakukan oleh organisasi politik atau calon yang bersaing memperebutkan kedudukan di parlemen dsb untuk mendapatkan dukungan massa pemilih dalam suatu pemungutan suara. Kampanye yang dimaksudkan pada contoh (53) adalah kampanye dengan pengertian nomor dua. Dalam contoh ini

  

memperkenalkan program-program, janji-janji yang akan dilaksanakan, dan

meyakinkan rakyat agar menentukan pilihan pada dirinya memiliki kedekatan

  dengan kampanye, keduanya memiliki hubungan yang erat. Perhatikan bagan 6 berikut.

  Bagan 6.

  

Kampanye:

  Adalah kegiatan yang dilakukan oleh organisasi politik atau calon yang bersaing memperebutkan kedudukan dalam parlemen dan sebagainya untukmendapat dukungan massa pemilih dalam suatu pemungutan suara.

  Memperkenalkan Janji-janji yang Meyakinkan rakyat agar program-program akan dilaksanakan menentukan pilihan pada dirinya.

  (54) (a) Lagi, kredibilitas dan netralitas KPU dipertanyakan. (b) Seminggu sebelum menjelang pelaksanaan Pilpres 8 Juli 2009, paling tidak terdapat dua masalah melilit komisi penyelenggara

  pemilu tersebut. (c) Masalah pertama berkait dengan daftar pemilih tetap (DPT) yang belum juga dibuka sehingga masih terkesan

  menjadi dokumen rahasia Negara yang misterius. (d) Masalah kedua berhubungan dengan spanduk sosialisasi pilpres yang mengindikasikan dukungan (KPU) kepada pasangan capres-

  cawapres tertentu.

  (e) Belum dibukanya DPT, lagi-lagi menerasi kredibilitas KPU. (f) Berbagai pihak, termasuk tim-tim sukses pasangan capres- cawapres mempertanyakan perbaikan DPT pilpres yang juga bermasalah saat berlangsung pileg 9 April 2009. (g) Daftar pemilih ganda masih ditemukan di sejumlah daerah. (h) Realitas ini akan dikhawatirkan dapat menguntungkan pasangan tertentu.

  (Kedaulatan Rakyat, 3 Juli 2009) Contoh (54) terdiri dari dua paragraf, yaitu paragraph (54a) dan (54e).

  Paragraf pertama terdiri dari empat kalimat, yaitu kalimat (54a), (54b), (54c), dan (54d). Paragraf kedua terdiri dari empat kalimat, yaitu kalimat (54e), (54f), (54g), dan (54h). Pada contoh (54) terlihat bahwa kata pemilu berkolokasi dengan KPU,

  

daftar pemilih tetap (DPT), pilpres, capres-cawapres, dan pileg, karena kata-kata

  tersebut memiliki makna yang saling berdekatan, yaitu KPU, daftar pemilih tetap (DPT), pilpres, capres-cawapres, pileg ada pada saat pemilu. Oleh karena itu contoh (54) terdapat kohesi kolokasi. Perhatikan bagan 7 berikut.

  Bagan 7 Pemilu

  Daftar Pemilih Pilpres KPU

  Capres- Pileg Tetap (DPT) cawapres

  (55) (a) Kini para wisatawan mancanegara semakin ketat terhadap rasa takut akibat aksi terorisme. (b) Masyarakat pun tidak takut terhadap aksi pengecut semacamitu. (c) Bahkan pemboman di Jakarta pecan lalau meninggalkan solidaritas melawan aksi teror. (d) Terbukti pula aksi teroris tak mempan dalam menenamkan ketakutan kepada masyarakat. (e) Para teroris hanya dapat menghancurkan gedung-gedung, tapi tak mematikan semangat bangsa Indonesia untuk menciptakan suasana aman sejahtera dalam alam demokrasi. (f) Para teroris tak bisa mendikte bangsa Indonesia untuk menuruti kemauannya dengan pemboman.

  (Kedaulatan Rakyat, 25 Juli 2009)

  Contoh (55) terdiri dari enam kalimat, yaitu kalimat (55a), (55b), (55c), (55d), (55e), dan (55f). Kata terorisme, teror dan pemboman pada contoh diatas masih dalam satu lingkungan yang sama yang salang berdekatan satu sama lain.

  Dari contoh tersebut tampak adanya kohesi kolokasi. Bagan 8 berikut akan menjelaskan hal tersebut.

  Bagan 8 Terorisme

  Penggunaan kekerasan untuk menimbulkan menimbulkan ketakutan dalam usaha mencapai tujuan politik

  Teroris Pemboman

  Orang yang menggunakan Tindakan yang dilakukan kekerasan untuk menimbulkan oleh teroris rasa takut, biasanya untuk tujuan politik.

2.2.6 Kependekan

  Kependekan adalah kohesi yang merupakan penanggalan satu atau beberapa bagian leksem atau kombinasi leksem sehingga jadilah bentuk baru yang bersetatus kata.

2.2.6.1 Singkatan

  Singkatan adalah kohesi yang merupakan salah satu hasil proses pemendekan yang berupa huruf atau gabungan kata, yang dieja huruf demi huruf.

  Perhatikan contoh berikut.

  (56) (a) Lagi, kredibilitas dan netralitas KPU dipertanyakan. (b) Seminggu menjelang pelaksanaan Pilpres 8 Juli 2009, paling tidak tersapat dua masalah melilit komisi penyelenggaraan pemilu tersebut. (c) Masalah pertama berkait dengan daftar pemilih tetap (DPT) yang belum juga dibuka sehingga terkesan masih menjadi dokumen rahasia negara yang misterius. (d) Masalah kedua berhubungan dengan spanduk sosialisasi pilpres yang mengindikasikan dukungan (KPU) kepada pasangan capres- cawapres tertentu. (e) Belum dibukanya DPT, lagi-lagi mengerosi kredibilitas KPU. (f) Berbagai pihak, termasuk tim-tim sukses pasangan capres-cawapres mempertanyakan perbaikan DPT pilpres yang juga bermasalah saat berlangsung pileg 9 April 2009. (g) Daftar pemilih ganda masih ditemukan di sejumlah daerah. (h) Realitas ini dikhawatirkan dapat menguntungkan pasangan tertentu.

  (Kedaulatan Rakyat, 3 Juli 2009) Pada contoh (56) terdapat dua paragraf. Paragraf pertama terdiri dari empat kalimat, yaitu kalimat (56a), (56b), (56c), dan (56d). Paragraf kedua terdiri dari empat kalimat, yaitu kalimat (56e), (56f), (56g), dan (56h). Kata DPT pada

  (56e) dan (56f) merupakan singkatan dari daftar pemilih tetap (56c). Dari contoh tersebut tampak adanya kohesi kependekan.

  (57) (a) Walaupun Komisi Pemilihan Umum (KPU) belum secara resmi mengumumkan pemenang Pilpres 2009, namun hampir bisa dipastikan pasangan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)-Boediono, bakal memenangkan pertarungan. (b) Kini perbincangan telah mengarah ke penyusunan kabinet. (c) Isu seputar siapa saja yang bakal duduk di kursi kabinet pun terus bergulir. (d) Beberapa kalangan mengusulkan agar kabinet mendatang diisi kalangan profesional atau ahli dalam bidangnya. (e) Usulan semacam itu memang terasa masuk akal. (f) Namun, kiranya perlu diingat, dalam setiap penyusunan kabinet, selalu melibatkan kepentingan parpol pendukung. (g) Bila benar SBY-Boediono terpilih menjadi presiden-wakil presiden periode 2009-2014, tentu tidak bisa mengesampingkan koalisi parpol yang mendukungnya.

  (Kedaulatan Rakyat, 14 Juli 2009) Pada contoh (57) terdapat dua paragraf. Paragraf pertama terdiri dari tiga kalimat, yaitu (57a), (57b), dan (57c). Paragraf kedua terdiri empat kalimat, yaitu kalimat (57d), (57e), (57f), dan (57g). Kata SBY pada kalimat (57g) merupakan singkatan dari Susilo Bambang Yidhoyono (57a). Oleh karena itu, pada contoh (57) merupakan kohesi kependekan.

  (58) (a) Ada komitmen pemerintah yang cukup menyejukan. (b) Meskipun harga minyak mentah dunia cenderung mengalami peningkatan, namun pemerintah memutuskan tidak akan menaikan harga bakan bakar minyak (BBM) di dalam negeri. (b) Tak kurang dari Kepala Biro Hukum dan Humas Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sutisna Prawira, yang menegaskan di Jakarta, terhitung 15 Juli 2009 harga BBM tidak mengalami perubahan (KR, 14/7).

  (Kedaulatan Rakyat, 15 Juli 2009) Contoh (58) terdiri dari dua kalimat, yaitu kalimat (58a) dan (58b). Pada kalimat (58b) terdapat kata BBM yang merupakan singkatan dari bahan bakar

  

minyak pada kalimat (58a). Dari contoh tersebut tampak adanya kohesi

kependekan.

  (59) (a) Setelah kita semua melakukan pencontrengan, hajat demokrasi lima tahunan di negeri kita, yang ditunggu masyarakat tentu hasilnya. (b) Hasil resmi yang akan dikeluarkan oleh Komisi

  Pemilihan Umum (KPU). (c) Begitu pulalah dengan hasil

  rekapitulasi pemilihan presiden, yang berlangsung 8 Juli 2009. (d) Barangkali jika Susilo Bambang Yudhoyono dan Boediono yang unggul, kita sudah tidak heran. (e) Sebab, melalui penghitungan cepat, lembaga-lembaga yang punya metode untuk menghitung secara cepat itu sudah mengeluarkan hasilnya. (f) Susilo Bambang Yodhoyono yang menggandeng Boediono, unggul di antara pasangan Mega-Prabowo dan Jusuf Kalla-Wiranto.

  (g) Apakah benar penghitungan cepat melakukan kebenaran? (h) Menurut rencana, hasil rekapitulasi pemilihan presiden 2009 diumumkan pada 22-24 Juli 2009. (i) Meski ada pasangan yang menolak ketetapan KPU, hasil itu akan tegas ditetapkan (Kedulatan Rakyat, 22/7/2009). (j) Seperti ramai diberitakan, dua pasangan capres dan cawapres, yakni Megawati-Prabowo dan Jusuf Kalla- Wiranto, belum akan menentukan sikap atau rencana KPU ini. (k) Mereka melihat ada banyak kecurangan terjadi. (l) Bentuk atas penolakan hasil keputusan KPU tentang jumlah suara yang diperoleh, mereka tidak akan menandatangani.

  (Kedaulatan Rakyat, 23 Juli 2009) Pada contoh (59) terdapat dua paragraf. Paragraf pertama terdri dari eman kalimat, yaitu kalimat (59a), (59b), (59c), (59d), (59e), dan (59f). Paragraf kedua terdiri dari enam kalimat, yaitu kalimat (59g), (59h), (59i), (59j), (59k), dan (59l). Kata KPU pada kalimat (59i), (59j), dan (59l) merupakan singkatan dari

  

komisi pemilihan umum pada kaliamt (59b). Dari contoh tersebut tampak adanya

kohesi kependekan.

2.2.6.2 Akronim

  Akronim merupakan proses pemendekan yang menggabungkan huruf- huruf atau suku kata atau bagian lain yang ditulis dan dilafalkan sebagai sebuah kata. Perhatikan contoh berikut.

  (60) (a) Tuntutan reformasi atau revitaslitas di tubuh Badan Intelijen

  Negara (BIN) agaknya sudah sangat mendesak. (b) Beberapa kali BIN kecolongan, atau setidak-tidaknya terlambat mengantisipasi

  keadaan. (c) Akibatnya pun fatal. (d) Dalam peristiwa ledakan bom di Hotel JW Marriott dan The Ritz Carlton, Mega Kuningan Jakarta, BIN juga mengakui kecolongan. (e) Akibatnya, kepercayaan dunia terhadap kondisi keamanan Indonesia yang mulai pulih menjadi berantakan.

  (Kedaulatan Rakyat, 21 Juli 2009) Contoh (60) terdiri dari lima kalimat, yaitu kalimat (60a), (60b), (60c),

  (60d), (dan (60e). Kata BIN pada kalimat (60b) dan (60d) merupakan akronim dari badan intelijen negara. Dari contoh tersebut tampak adanya kohesi kependekan.

  (61) (a) Ketiga calon presiden sama-sama mengusung ekonomi kerakyatan yang akan membuka lapangan kerja baru. (b) Namun program ekonomi ketiga capres untuk mengurangi pengangguran tidak menawarkan suatu konsep yang jelas, dan lebih bersifat wacana. (c) seharusnya dipaparkan ada yang akan dikerjakan untuk memperbaiki aset, melakukan perubahan paradigma pendidikan, perubahan dalam mendapatkan kredit dan sebagainya.

  (Kedaulatan Rakyat, 4 Juli 2009) Contoh (61) terdiri dari tiga kalimat, yaitu kalimat (61a), (61b), dan (61c). kata capres pada kalimat (61b) merupakan akronim dari calon presiden.

  Dari contoh tersebut tampak adanya kohesi kependekan.

  BAB III KOHERENSI DALAM TAJUK RENCANA

SURAT KABAR HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI JULI 2009

Pada bab II telah dibahas kohesi yang terdapat pada tajuk rencana surat

  kabar harian Kedaulatan Rakyat edisi Juli 2009. Pada bab III penulis akan membahas koherensi yang terdapat dalam tajuk rencana surat kabar harian

  

Kedaulatan Rakyat edisi Juli 2009. Koherensi adalah hubungan perkaitan

  antarproposisi tetapi perkaitan tersebut tidak secara eksplisit atau nyata dapat dilihat pada kalimat-kalimat yang mengungkapkannya (Alwi, 1008: 428) Koherensi merupakan hubungan semantis (makna) antar bagian-bagian wacana. Hubungan koherensi dapat terjadi antara kalimat yang satu dengan kalimat yang lain atau antara paragraf.

  (62) (a) Tuntutan reformasi atau revitalitas ditubuh Badan negara (BIN) agaknya sudah sangat mendesak. (b) Beberapa kali BIN kecolongan, atau setidak-tidaknya terlambat mengantisipasi keadaan. (c) Akibatnya pun fatal. (d) Dalam peristiwa ledakan bom di Hotel JW Marriott dan The Ritz Carlton, Mega Kuningan Jakarta, BIN juga mengakui kecolongan. (e) Akibatnya, kepercayaan dunia terhadap kondisi keamanan Indonesia yang mulai pulih menjadi berantakan.

  (Kedaulatan Rakyat, 21 Juli 2009) Pada contoh (62) terdapat lima kalimat, yaitu kalimat (62a), (62b), (62c), (62d), dan (62e). Pada contoh tersebut terdapat hubungan makna sebab-akibat antara kalimat (62d) dan (62e). Makna sebab terdapat pada kalimat (62d), yaitu dalam peristiwa ledakan bom di Hotel JW Marriott dan The Ritz Carlton, Mega Kuningan Jakarta, BIN mengakui kecolongan. Makna akibat terdapat pada kalimat berikutnya, yaitu (62e). Hubungan koherensi itu ditandai dengan konjungsi akibatnya.

3.1 Hasil Analisis Koherensi

  Berdasarkan hasil penelitian ditemukan dua jenis koherensi, yaitu koherensi berpenanda dan koherensi tidak berpenanda. Pada koherensi berpenada ditemukan enam jenis koherensi, yaitu koherensi kausalitas, koherensi kontras, koherensi aditif, koherensi temporal, koherensi kronologis, dan koherensi perincian, di tambah satu lagi jenis koherensi yang diungkapkan Sumadi, yaitu koherensi intensitas.

3.1.1 Koherensi Berpenanda

  Penanda dapat menciptakan kekoherensian kalimat dalam sebuah wacana yang ditunjukan dengan konjungsi. Penanda tersebut masing-masing memiliki makna tertentu. Jenis-jenis koherensi berpenanda, yaitu (1) koherensi kausalitas, (2) koherensi kontras, (3) koherensi aditif, (4) koherensi temporal, (5) koherensi kronologis, (6) koherensi perincian, dan (7) koherensi intensitas.

3.1.1.1 Koherensi Kausalitas

  Koherensi kausalitas merupakan hubungan makna antara bagian-bagian wacana yang memiliki makna sebab-akibat. Dalam wacana yang memiliki koherensi sebab-akibat, bagian yang satu merupakan sebab dan bagian berikutnya merupakan akibatnya. Koherensi sebab-akibat dapat ditandai dengan konjungsi

  

oleh karena itu, karena itu, karenanya, oleh sebab itu, maka, dan akibatnya.

  Berikut adalah contoh wacana yang mengandung makna sebab-akibat.

  (63) (a) Berapa pun besarnya, tak bisa dijadikan tolok ukur dan perbandingan. (b) Karena, kasus korupsi muncul, biasanya dimulai dari jumlah yang kecil. (c) Adanya niat dan kesempatan dan didukung sarana akan berpeluang untuk terjadinya tindakan tak terpuji yang merugiakan uang Negara tersebut. (d) Oleh karena itu, kita semua dituntut mendukung tekad dari Departemen Keuangan untuk terus melakukan pembersihan rekening-rekening liar bekerja sama dengan KPK dan BPK.

  (Kedaulatan Rakyat, 8 Juli 2009)

  Contoh (63) terdiri dari dua paragraf. Paragraf pertama terdiri dari tiga kalimat, yaitu (63a), (63b), dan (63c). Sedangkan paragraf kedua terdiri satu kalimat, yaitu kalimat (63d). Paragraf pertama memiliki hubungan makna sebab- akibat dengan paragraf kedua, yang ditandai dengan konjungsi oleh karena itu.

  Pada kalimat (63c) dinyatakan bahwa adanya niat dan kesempatan serta sarana yang mendukung akan membuka peluang melakukan tindakan yang tidak terpuji yang merugikan keuangan Negara. Kalimat (63c) merupakan sebab dari apa yang dinyatakan pada kalimat (63d) yang merupakan akibatnya, yaitu kita semua dituntut mendukung tekad dari Departemen Keuangan untuk terus melakukan pembersihan rekening-rekening liar berkerja sama dengan KPK dan BPK. Dari contoh tersebut tampak adanya koherensi kausalitas.

  (64) (a) Setelah rakyat mencontreng presiden, kita berharap negeri kita bakal memiliki pemerintahan yang legitimated. (b) Siapa pun presidennya, satu pasang diantara tiga padang yang berkompetisi dengan ketat, itulah hasil yang maksimal yang bisa diperoleh. (c) Kecuali jika tak ada upaya sama sekali. (d) Sedang upaya untuk menyempurnakan sudah dilakukan menjelang hari-hari akhir pemilihan, itulah kemajuan. (e) Oleh sebab itu, marilah apa yang ada ini dijadikan modal untuk tetap menjaga kedamaian. (f) Jangan bikin kisruh, hanya karena persoalan yang sepele.

  (Kedaulatan Rakyat, 9 Juli 2009)

  Contoh (64) terdiri dari eman kalimat, yaitu kalimat (64a), (64b), (64c), (64d), (64e), dan (64f). Kalimat (64d) merupakan sebab dari apa yang dinyatakan pada kalimat (64e) yang merupakan akibat dari kalimat (64d). Dari contoh tersebut tampak adanya koherensi kausalitas. Hubungan koherensi terjadi antara kalimat (64d) dan (64e). Kohesi kausalitas pada contoh (64) ditandai dengan konjungsi oleh sebab itu.

  (65) (a) Bisa dipercaya bahwa tak ada kegiatan yang bersifat mengintimidasi siswa? (b) Benarkah akan ada sanksi bagi sekolah- sekolah yang melakukan pelanggaran? (c) Pertanyaan ini memang sangat kritis, dan bisa saja muncul melihat kenyataan yang berbeda. (d) Kita setuju bila kegitan masa orientasi siswa ini bebas dari perploncoan. (e) Ada sanksi yang diterapkan. (f) Sanksi itu hendaknya bukan sekedar asesoris atau pelengkap peraturan. (g) Untuk apa harus dengan melakukan intimidasi siswa, yang mengarah pada perploncoan, misalnya, ketika iklim pendidikan sudah tak lagi memberi toleransi? (h) Oleh sebab itu, berbagai sekolah yang menerapkan kegiatan dengan melakukan outbond, misalnya sebagaimana diterapkan sejumlah sekolah (Kedaulatan Rakyat, 14 Juli 2009), tidak perlu ada penggojlogan sebab masa orientasi siswa itu bukan perploncoan. (i) Sekolah bisa dikenai sanksi jika dilanggar. (j) Sekolah lain ada yang mengundang professor masuk sekolah. (k) Itulah kegiatan-kegiatan cerdas yang harus dikembangkan. (l) Tapi, kenapa masih ada warna-warna perploncoan dengan pembebanan pada siswa, suara-suara keras dari seniornya, dan aturan yang ketat?

  (Kedaulatan Rakyat, 16 Juli 2009)

  Contoh (65) terdiri dari dua paragraf, paragraf pertama terdiri dari tujuh kalimat, yaitu kalimat (65a), (65b), (65c), (65d), (65e), (65f). dan (65g). Paragraf kedua terdiri dari lima kalimat, yaitu kalimat (65h), (65i), (65j), (65k), dan (65l). Paragraf pertama dan kedua memiliki hubungan makna sebab-akibat yang ditandai dengan konjungsi oleh sebab itu. Hubungan sebab ditunjukan pada paragraf pertama, sedangkan paragraf kedua merupakan hubungan makna akibat dari paragraf pertama. Dari contoh tersebut tampak adanya koherensi kausalitas.

  (66) (a) Kemarin rakyat Indonesia berbondong-bondong pergi ke tempat pemungutan suara terdekat, untuk memilih siapa presiden dan wakil presiden untuk lima tahun mendatang. (b) Kesadaran ini memang dipicu oleh kesungguhan rakyat sendiri untuk memilih pemimpinnya. (c) Nasib bangsa ini memang ditentukan oleh bangsa kita sendiri. (d) Bukan oleh bangsa lain. (e) Oleh sebab itu, tanggal 8 Juli 2009 itulah nasib bangsa kita ditentukan.

  (Kedaulatan Rakyat, 9 Juli 2009) Contoh (66) terdiri dari lima kalimat, yaitu kalimat (66a), (66b), (66c),

  (66d), dan (66e). Kalimat (66c) dan (66d) dijelaskan bahwa nasib bangsa kita ditentukan oleh bangsa kita sendiri, bukan bangsa lain. Kalimat (66e) dijelaskan bahwa tanggal 8 Juli 2009 nasib bangsa kita akan ditentukan. Kalimat (66c) dan (66d) merupakan sebab dari apa uang dinyatakan pada kalimat (66e) yang merupakan akibatnya. Dari contoh tersebut tampak bahwa pada contoh (66) terdapat koherensi kausalitas. Contoh (66) digunakan penanda hubungan oleh sebab itu.

  (67) (a) Rintangan dan tantangan menghadang capres-cawapres yang memenangkan mandat mayoritas rakyat. (b) Karenanya, pascapilpres masyarakat bangsa harus kembali menyatu. (c) Kembali bersatu, dengan membuang jauh kubu-kubuan yang pernah terjadi pada hari-hari prapilpres.

  (Kedaulatan Rakyat, 10 Juli 2009) Contoh (67) terdiri dari tiga kalimat, yaitu kalimat (67a), (67b), dan (67c).

  Kalimat (67a) merupakan sebab dari apa yang dinyatakan pada kalimat (67b) yang merupakan akibat, yaitu setelah pilpres masyarakat harus menyatu kembali.

  Dari contoh tersebut tampak adanya koherensi kausalitas dengan penanda penghubung karenanya.

3.1.1.2 Koherensi Kontras

  Koherensi kontras merupakan hubungan makna perlawanan antara kalimat yang satu dengan kalimat yang lain (Sumadi, 1998:66). Dalam koherensi kontras bagian kalimat atau paragraf yang satu dengan yang lain saling bertentangan. Konjungsi yang digunakan dalam koherensi ini berupa sebaliknya, akan tetapi,

  

tetapi, namun, padahal, walaupun begitu, walaupun demikian, meskipun begitu,

meskipun demikian, dsb. Berikut adalah contoh yang mengandung makna

  perlawanan.

  (68) (a) Ketiga calon presiden sama-sama mengusung ekonomi kerakyatan yang akan membuka lapangan kerja baru. (b) Namun program ekonomi ketiga capres untuk mengurngi pengangguran tidak menawarkan suatu konsep yang jelas, dan lebih bersifat wacana. (c) Seharusnya dipaparkan apa yang akan dikerjakan untuk memperbaiki aset, melakukan perubahan paradigma pendidikan, perubahan dalam mendapatkan kredit dan sebagainya.

  (Kedaulatan Rakyat, 4 Juli 2009) Contoh (68) terdiri dari tiga kalimat, yaitu kalimat (68a), (68b), dan (68c).

  Makna yang diperlawankan yaitu pada kalimat pertama dengan kalimat berikutnya. Kalimat (68a) berlawanan dengan kalimat (68b) dan (68c). Jadi contoh (68) merupakan koherensi kontras atau pertentangan yang ditandai dengan konjungsi namun. Oleh sebab itu pada contoh (68) terdapat koherensi kontras. Hubungan koherensi terjadi antara ketiga calon presiden sama-sama mengusung

  

ekonomi kerakyatan yang sakan membuka lapangan kerja baru dan program

ekonomi ketiga capres untuk mengurngi pengangguran tidak menawarkan suatu

konsep yang jelas, dan lebih bersifat wacana.

  (69) (a) Kita menggunakan kata ‘lagi-lagi’ karena peristiwa serupa sudah berulang kali terjadi. (b) Dalam berbagai kesempatan, pihak PT KA juga menyatakan telah berusaha membenahi fasilitas pengamanan, terutama di jalur-jalur rawan kecelakaan. (c) Namun, mengapa kecelakaan maut terus terjadi? (d) Mengapa begitu mudah nyawa melayang?

  (Kedaulatan Rakyat, 7 Juli 2009)

  Contoh (69) terdiri dari empat kalimat, yaitu kalimat (69a), (69b), (69c), dan (69d). Kalimat (69b) dinyatakan bahwa PT KA telah berusaha membenahi fasilitas pengamanan, terutama di jalur-jalur rawan kecelakaan. Kalimat (69c) menyatakan bahwa mengapa kecelakaan maut terus terjadi, maksudnya kalau PT KA telah berusaha membenahi fasilitas pengamanan di jalur-jalur rawan kecelakaan tapi kenapa kecelakaan maut masih saja terjadi. Kedua kalimat itu saling bertentangan yang dinyatakan dengan penanda namun. Dari contoh tersebut tampak bahwa pada contoh (69) terdapat koherensi kontras.

  (70) (a) Langkah penutupan rekening liar ini juga terkesan tidak pandang bulu. (b) Buktinya, dari data bulan Juni 2009, dari sebanyak 72 rekening liar yang sudah ditutup oleh Departemen Keuangan termasuk di dalamnya adalah rekening Departemen Keuangan sendiri. (c) Namun, besarnya Heinus tidak banyak, sekitar Rp 2 sampai 3 miliar.

  (Kedaulatan Rakyat, 8 Juli 2009) Contoh (70) terdiri dari tiga kalimat, yaitu kalimat (70a), (70b), dan (70c).

  Kalimat (70b) dinyatakan bahwa buktinya, maksudnya penutupan rekening liar yang tidak pandang bulu, menjelaskan pada bulan Juni 2009 dari 72 rekening liar yang sudah ditutup oleh Depertemen Keuangan termasuk didalamnya adalah rekening Keuangan Depertemen Keuangan sendiri. Kalimat (70c) menyatakan bahwa besarnya Heinus tidak banyak hanya sekitar Rp 2 sampai 3 miliar saja. Kedua hal tersebut saling bertentangan yang dinyatakan dua kalimat itu dihubungakan dengan penenda namun. Dari contoh tersebut tampak adanya koherensi kontras.

  (71) (a) Kita tentu tidak menginginkan flu babi mewabah seperti halnya flu burung. (b) Menimbulkan kekhawatiran di makna-mana. (c) Memunculkan kepanikan karena tingkat keganasannya, sehingga merenggut bayak nyawa manusia. (c) Dalam kaitan ini, tanggung jawab untuk mengantisipasinya tidak hanya terbeban di pundak Depkes beserta jajarannya di daerah-daerah. (d) Namun juga perlu keterlibatan instansi dan institusi lain, seperti Dephub yang mengelola transportasi lalu lintas manusia.

  (Kedaulatan Rakyat, 13 Juli 2009)

  Contoh (71) terdiri dari empat kalimat, yaitu kalimat (71a), (71b), (71c), dan (71d). Kalimat (71c) dijelaskan bahwa dalam kaitan ini, maksudnya tingkat keganasan flu babi untuk mengantisipasinya bukan hanya tanggung jawab dari Depkes beserta jajarannya. Kalimat (71d) dikataan bahwa instansi dan institusi lain juga harus ikut terlibat. Kalimat (71c) bertentangan dengan kalimat (71d), jadi pada contoh ini terdapat koherensi pertentangan atau koherensi kontras, yang ditandai dengan konjungsi namun.

  (72) (a) Sebelumnya disebut-sebut BIN telah mendapat peringatan dari Australia tentang kemungkinan adanya aksi teroris. (b) Namun hal itu dibantah Kepala BIN Syamsir Siregar yang tegas manyatakan hal itu tidak benar. (c) Terlepas isi semacam itu, kita melihat BIN harus direformasi.

  (Kedaulatan Rakyat, 21 Juli 2009) Contoh (72) terdiri dari tiga kalimat, yaitu kalimat (72a), (72b), dan (72c).

  Kalimat (72a) menyatakan bahwa sebelumnya, maksudnya sebelum peristiwa terjadi BIN telah mendapatkan peringatan dari Australia tentang kemungkinan adanya aksi teroris. Kalimat (72b) dijelaskan bahwa hal itu, maksudnya BIN telah mendapatkan peringatan dari Australia tentang kemungkinan aksi teroris dibantah oleh Kepala BIN Syamsir Siregar yang menyatakan hal itu tidak benar. Dua hal yang bertentangan dinyatakan dalam dua kalimat tersebut yang dihubungakan dengan penanda namun. Dari contoh tersebut tampak adanya koherensi kontras.

  (73) (a) Berbeda dengan pemilihan calon anggota legislatif kemarin, untuk pemilihan presiden tampaknya berbagai pihak punya kepentingan. (b) Sebab, kalau pemilihan presiden hanya diikuti pemilih dengan apa adanya, sebenarnya banyak yang dirugikan. (c) Bahkan banyak kejanggalan terjadi, selain banyak juga suara tidak terakomodasi. (d) Ke mana mereka? (e) Selain itu ada sejumlah kejanggalan, umpamanya orang yang sudah meninggal masih terdaftar, (f) Anak di bawah umur, tercatat dalam daftar pemilih. (g) Sebaliknya, nama yang berhak memilih justru tidak tercatat.

  (Kedaulatan Rakyat, 9 Juli 2009)

  Contoh (73) terdiri dari enam kalimat, yaitu kalimat (73a), (73b),(73c), (73d), (73e), (73f), dan (73g). Kalimat (73f) dikatakan bahwa anak di bawah umur tercatat dalam daftar pemilih, sedangkan kalimat (73g) dikatakan bahwa nama yang berhak memilih justru tidak tercatat dalam daftar pemilih. Kedua kalimat tersebut saling bertentangan. Oleh sebab itu pada contoh (73) terdapat koherensi kontras. Hubungan koherensi ditandai dengan kata penghubung sebaliknya.

  (74) (a) Dalam konteks itu, kita mengharapkan Partai Golkar lebih berani untuk beroposisi, karena suaranya cukup signifikan di parlemen. (b) Sebaliknya, bila Golkar merapat ke SBY-Boediono, sulit rasanya mengharapkan kekuasaan yang seimbang di eksekutif dan parlemen. (c) Lagi pula, secara etika politik, rasanya tidak pantas bila Golkar meminta ‘jatah’ kursi di kabinet, sementara partai tersebut telah mengajukan calon sendiri ketika pilpres.

  (Kedaulatan Rakyat, 14 Juli 2009) Contoh (74) terdiri dari tiga kalimat, yaitu kalimat (74a), (74b), dan (74c).

  Kalimat (74a) dinyatakan kita berharap Partai Golkar dapat lebih berani untuk beroposisi karena Golkar mempunyai suara yang cukup signifikan di parlemen.

  Kalimat (74b) dinyatakan bahwa apabila Golkar merapat ke SBY-Boediono, maka akan sulit untuk mengharapkan kekuasaan yang seimbang di eksekutif dan parlemen. Dua hal yang berbeda dinyatakan dalam dua kalimat tersebut yang dihubungkan dengan penanda hubungan sebaliknya. Oleh sebab itu pada contoh (74) terdapat koherensi kontras.

  (75) (a) Rekening liar yang akan ditutup juga termasuk rekening Atase Pertahanan RI yang terdapat di luar negeri, karena tidak sesuai dengan aturan dan dianggap liar. (b) Itu semua dinilai tidak sesuai dengan upaya penyederhanaan. (c) Bahkan Depkeu menyebutkan, Atase Pertahanan RI yang membuka rekening seperti itu ada kurang lebih di 23 negara. (d) Padahal, pembukaan rekening oleh Atase Pertahanan ini tidak disetujui oleh Menteri Luar Negeri. (e) Marilah kita lihat komitmen dan itikad semua pihak untuk mendukung gerakan Depkeu ini.

  (Kedaulatan Rakyat, 6 Juli 2009)

  Contoh (75) terdiri dari lima kalimat, yaitu kalimat (75a), (75b), (75c), (75d), dan (75e). Kalimat (75c) dinyatakan bahwa Atase Pertahanan RI membuka rekening kurang lebih di 23 negara. Kalimat (75d) menjelaskan bahwa pembukaan rekening oleh Atase Pertahanan tersebut tidak disetujui oleh Menteri Luar Negeri. Kedua hal tersebut saling bertentangan yang dinyatakan dengan penanda hubungan padahal. Dari contoh tersebut tampak adanya koherensi kontras.

  (76) (a) Pariwisata bisa menambah devisa. (b) Bahkan sempat diunggulkan sebagai aset yang melebihi ekspor minyak. (c) Tapi dunia pariwisata Indonesia yang belum pulih dari kehancuran akibat bom Bali dan aksi terorisme lainnya, akan bisa bangkit jika rasa aman benar-benar dirasakan wisatawan mancanegara. (d) Tapi harapan ini runyam akibat aksi bom di dua hotel Jakarta.

  (Kedaulatan Rakyat, 18 Juli 2009) Contoh (76) terdiri dari empat kalimat, yaitu (76a), (76b), (76c), dan (76d).

  Kalimat (76a-b) dijelaskan bahwa pariwisata bisa menambah devisa, bahkan pernah melebihi ekspor minyak. Kalimat (76c) menyatakan bahwa dunia pariwisata belum pulih dari kehancuran karena bom Bali dan aksi terorisme, pariwisata akan bangkit apabila wisatawan mancanegara bisa merasakan aman.

  Kalimat (76a-b) bertentangan dengan apa yang dikatakan pada kalimat (76c) yang dihubungkan dengan penanda tapi. Oleh karena itu pada contoh (76) terdapat koherensi kontras.

3.1.1.3 Koherensi Aditif

  Koherensi aditif merupakan hubungan makna penambahan antara kalimat yang satu dengan kalimat yang lain, yang biasanya ditandai dengan konjungsi tertentu, seperti disamping itu, selain itu, selain dari pada itu, kecuali itu, lagi

  

pula, dan lagi, (Sumadi, 1998:66). Pada koherensi aditif kalimat atau paragraf

yang satu melebihi kalimat kedua. Berikut contoh koherensi aditif.

  (77) (a) Sebagaimana diketahui, harga bensin Premium saat ini sebesar Rp 4.500 per liter, Minyak Solar (Gas Oil) Rp 4.500 per liter dan Minyak Tanah (Kerosene) sebesar Rp 2.500 per liter. (b) Ditegaskan pemerintah, terhitung mulai pukul 00.00 waktu setempat tanggal 15Juli 2009 ditetapkan bahwa harga jual eceran BBM tertentu, yaitu Bensin Premium, Minyak Solar (Gas Oil) dan Minyak Tanah (Kerosene) dinyatakan tidak berubah.

  (c) Selain itu, tetap mengacu kepada Peraturan Menteri ESDM Nomor 1 tahun 2009, tanggal 12 Januari 2009 tenatng Harga Jual Eceran Bahan Bakar Minyak Jenis Minyak Tanah (Kerosene), Bensin Premium dan Minyak Solar (Gas Oil) untuk Keperluan Rumah Tangga, Usaha Kecil, Usaha Perikanan, Transportasi dan Pelayanan Umum, yaitu untuk bensin premium sebesar Rp 4.500 per liter, minyak solar Rp 4.500 per liter, dan minyak tanah Rp.

  2.500 per liter.

  (Kedaulatan Rakyat, 15 Juli 2009)

  Contoh (77) terdiri dari dua paragraf, paragraf pertama terdapat dua kalimat, yaitu (77a) dan (77b). Paragraf kedua terdiri dari satu kalimat, yaitu (77c). Pada kalimat (77a) menyatakan bahwa harga bensin Premium saat ini sebesar Rp 4.500 per liter, Minyak Solar (Gas Oil) Rp 4.500 per liter dan Minyak Tanah (Kerosene) sebesar Rp 2.500 per liter. Kalimat (77b) menyatakan bahwa mulai pukul 00.00 waktu setempat tanggal 15 Juli 2009, pemerintah menetapkan harga jual eceran BBM tertentu, yaitu bensin premium, minyak solar, dan minyak tanah dinyatakan tidak berubah. Pada kalimat (77c) dijelaskan bahwa pemerintah tetap menagacu pada peraturan Menteri ESDM Nomor 1 tahun 2009, tanggal 12 Januari 2009 tenatng Harga Jual Eceran Bahan Bakar Minyak Jenis Minyak Tanah (Kerosene), Bensin Premium dan Minyak Solar (Gas Oil) untuk Keperluan Rumah Tangga, Usaha Kecil, Usaha Perikanan, Transportasi dan Pelayanan Umum, yaitu untuk bensin premium sebesar Rp 4.500 per liter, minyak solar Rp 4.500 per liter, dan minyak tanah Rp. 2.500 per liter. Antara paragraf petama dan kedua dihubungakan dengan penanda hubungan perangkaian selain itu yang menyatakan pertalian penjumlahan, maksudnya penulis menambahkan dua hal yang ada dalam kedua paragraph tersebut. oleh karena itu, pada contoh (77) terdapat koherensi aditif.

  (78) (a) Faktanya, sekolah itu tidak ada yang gratis dalam penegertian sebenarnya. (b) Dana BOS atau Bosda terkesan sangat basa-basi, yang bisa menimbulkan rasa iri bagi sekolah di luar konteks negeri. (c) Selain itu, justru seringkali tidak bisa memberi solusi atas persoalan yang dialami sekolah yang bersangkutan. (d) Bahkan, terjadi perbedaan penerimaan antara sekolah di wilayah kota dan di wilayah kabupaten. (e) Selain dari pada itu, apakah tidak bisa bantuan pemerintah itu juga diberlakukan untuk sekolah swasta? (f) Sebab, bantuan yang diterima pun tidak berarti segala sesuatunya bisa dikatakan gratis. (g) Dalam konteks lain, barang kali sekolah dengan biaya murah akan lebih bijak daripada disebut gratis.

  (Kedaulatan Rakyat, 30 Juli 2009) Contoh (78) terdiri dari tujuh kalimat, yaitu kalimat (78a), (78b), (78c), (78d), (78e), (78f), dan (78g). Pada kalimat (78b) dinyatakan dana BOS dan Bosda terkesan basa-basi dan menimbulkan rasa iri bagi sekolah yang bukan negeri. Kalimat (78c) dinyatakan dana BOS dan Bosda sering kali tidak bisa memberikan solusi akan persoalan yang dialami oleh sekolah. Kedua kalimat itu dihubungkan dengan penanda hubungan selain itu sebagai penanda koherensi aditif, maksudnya apa yang sudah disebutkan di atas ditambah lagi dengan kalimat berikutnya. Oleh karena itu, pada contoh (78) terdapat koherensi aditif.

  (79) (b) Berbeda dengan pemilihan calon anggota legislatif kemarin, untuk pemilihan presiden tampaknya berbagai pihak punya kepentingan. (b) Sebab, kalau pemilihan presiden hanya diikuti pemilih dengan apa adanya, sebenarnya banyak yang dirugikan. (c) Bahkan banyak kejanggalan yang terjadi, selain banyak juga suara tidak terakomodasi. (d) Ke mana mereka? (e) Selain itu ada sejumlah kejanggalan, umpamanya orang yang sudah meninggal masih terdaftar. (f) Anak di bawah umur, tercatat dalam daftar pemilih. (g) Sebaliknya, nama yang berhak memilih justru tidak tercatat.

  (Kedaulatan Rakyat, 9 Juli 2009)  

  Contoh (79) terdiri dari eman kalimat, yaitu kalimat (79a), (79b), (79c), (79d), (79e), (79f), dan (79g). Kalimat (79c) dikatakan banyak kejanggalan yang terjadi, selain banyak juga suara yang tidak terakomodasi, kalimat (79d) menanyakan keberasaan suara yang tidak terakomodasi. Selain dua hal diatas pada kalimat (79e) juga ditambahkan kejanggalan yang terjadi seperti orang yang sudah meninggl masih terdaftar. Kalimat-kalimat tersebut dihubungkan dengan penanda hubungan selain itu sebagai penanda koherensi aditif, maksudnya apa yang sudah disebutkan di atas ditambah lagi dengan kalimat berikutnya. Oleh karena itu, pada contoh (79) terdapat koherensi aditif.

3.1.1.4 Koherensi Temporal

  Koherensi temporal atau waktu adalah koherensi yang memiliki hubungan makan waktu antara kalimat yang satu dengan kalimat yang lain (Sumadi, 1998: 82). Adanya hubungan waktu apabila kalimat yang satu menyatakan waktu terjadinya peristiwa atau dilaksanakannya suatu perbuatan yang tersebut pada kalimat lain. Konjungsi yang biasa dipakai berupa setelah itu, ketika itu, waktu

  

itu, sesudah itu, sementara itu, sehabis itu, sebelum itu, sesudahnya, sebelumnya,

sejak itu. Perhatiakan contoh Berikut.

  (80) (a) Tiga mantan Jendral yang bersaing dalam Pilpres 2009, yakni Susilo Bambang Yudhoyono, Wiranti, dan Prabowo Subianto, tampil dengan sikap populis dan mampu membangun citra sipil. (b) Kalau mereka mshir berpolitik, orang tidak heran karena sejak Orde Baru berkuasa memang banyak jendral berpolitik. (c) Tapi saat tamapil di panggung politik dalam berbagai percaturan, terutama Pemilihan Umum, para jendral selalu merangkul kaum teknokrat. (d) Saat berkuasa di tingkat nasional maupun local, jendral lebih sibuk berpolitik dan teknokrat mengurusi ekonomi.

  (e) Ketika Indonesia dilanda krisis ekonomi kemudian Orde Baru tumbang, politik dan ekonomi kacau, rakyat pun memandang para jendral yang maon politik sebagai dalang segala bencana. (f) Sehingga sejak rformasi menggelinding, para jendral yang berpolitik harus melepaskan diri dari dinas militer aktif kemudian bikin partai politik atau hanya menjadi anggota partai politik.

  (Kedaulatan Rakyat, 11 Juli 2009) Contoh (80) terdiri dari dua paragraf, paragraf pertama terdapat empat kalimat, yaitu (80a), (80b), (80c), dan (80d). Paragraf kedua terdiri dari dua kalimat, yaitu kalimat (80e) dan (80f). Kata ketika pada kalimat (80e) menghubungkan antara paragraf pertama dan paragraf kedua yang menunjukan hubungan waktu. Dari contoh tersebut, tampak bahwa contoh (80) terdapat koherensi temporal.

3.1.1.5 Koherensi Kronologis

  Koherensi kronologis adalah koherensi yang menunjukan hubungan rangkaian waktu, maksudnya ialah hubungan yang menyatakan bahwa peristiwa, keadaan, atau perbuatan dilakukan atau terjadi secara berturut-turut. Koherensi ini sering ditunjukan oleh konjungsi yang menyatakan hubungan temporal (lalu,

  

kemudian, sesudah itu), penanda kala (dulu, sekarang), dan penanda aspek (akan,

belum, sudah). Perhatikan contoh berikut.

  (81) (a) Akhirnya, memang kita tunggu saja bagaimana hasil rekapitulasi KPU untuk pemilihan presiden 2009. (b) Banyak pihak sudah memberi masukan, memberi kemudahan, seperti Kartu Tanda Penduduk pun bisa untuk mencontreng. (c) Apakah pasanagan Susilo Bambang Yudhoyono dan Boediono akan keluar sebagai pasangan yang memperoleh suara terbanyak, kita tunggu saja. (d) Kemudian, kita juga akan menunggu keputusan, apakah satu putaran atau dua putaran. (e) Kita percayakan pada KPU, sebab itulah institusi yang bertanggung jawab menyelenggarakan pemilihan umyum yang adil, jujur, bebas, langsung, dan rahasia.

  (Kedaulatan Rakyat, 23 Juli 2009) Contoh (81) terdiri dari lima kalimat, yaitu kalimat (81a), (81b), (81c), (81d), dan (81e). Kalimat (81a-c) dijelaskan bahwa sekarang kita tinggal menunggu hasil rekapitulasi KPU, pasangan siapa yang akan memperoleh suara terbanyak, kemudian dilanjutkan untuk menunggu keputusan satu putaran atau tidak yang dinyatakan pada kalimat (81d). Tampak pada contoh (81) terdapat koherensi kronologis yang ditandai dengan penghubung kemudian.

3.1.1.6 Koherensi Perincian

  Koherensi perincian ialah hubungan yang menyatakan bahwa informasi yang ada pada kalimat yang satau memberikan penjelasan lebih lanjut bagi informasi yang dinyatakan pada kalimat lainnya. Berikut contoh koherensi perincian.

  (82) (a) Lagi, kredibilitas dan netralitas KPU dipertanyakan. (b) Seminggu menjelang pelaksanaan Pilpres 8 Juli 2009, paling tidak terdapat dua masalah melilit komisi penyelenggara pemilu tersebut.

  (c) Masalah pertama berkait dengan daftar pemilih tetap (DPT) yang belum juga dibuka sehingga masih terkesan menjadi dokumen rahasia Negara yang misterius. (d) Masalah kedua berhubungan dengan spanduk sosialisasi pilpres yang mengindikasi dukungan (KPU) kepada pasangan capres-cawapres tertentu.

  (Kedaulatan Rakyat, 3 Juli 2009) Contoh (82) terdiri dari empat kalimat, yaitu kalimat (82a), (82b), (82c), dan (82d). Contoh (82) merupakan koherensi perincian, karena pada kalimat (82b) terdapat kata dua masalah, masalah dalam konteks ini adalah masalah yang sedang dihadapi oleh KPU. Kemudian dua masalah tersebut dirinci pada kalimat (82c) dan kalimat (82d) dengan adanya kata pertama pada kalimat (82c) dan kedua pada kalimat (82d).

3.1.1.7 Koherensi Intensitas

  Koherensi intensitas adalah hubungan makna penyangatan dalam sebuah penanda dan fungsinya sebagai penghubung antarkalimat. Bagian kalimat yang satu melebihi makna dari bagian kalimat lainnya. Berikut contoh koherensi intensitas.

  (83) (a) Citra dunia penerbangan Indonesia kembali terpuruk. (b) Belum lagi selesai pemulihan citra penerbangan kita di mata Uni Eropa, kini muncul ‘vonis’ yang cukup manyakitkan, yakni perdikat sebagai salah satu maskapai penerbangan yang masih kategori ‘ paling tidak aman’ di dunia. (c) Dalam siaran Stasiun TV ‘Saluran Tujuh’ Australia, disebutkan bahwa Indonesia, Angola, Liberia, Sudan, dan Korea Utara dinilai sebagai lima Negara dengan maskapai penerbangan ‘paling tidak aman’ di dunia (KR, 30/6).

  (d) Bahkan, dalam acara yang diisi dengan wawancara dengan Redaktur Senior Jurnal Manajemen Penerbangan ‘Air Transport World’, Geoffrey Thomas itu, terungkap bahwa tingkat keselamatan berbagai maskapai penerbangan Indonesia, termasuk Garuda, masih dipandang jelak. (e) Lebih menohik lagi, dalam dialog itu juga sempat dipertanyakan mengapa pemerintah Australia tidak mengikuti langkah Uni Eropa yang sudah terlebih dahulu melarang maskapai penerbangan dari 18 negara, termasuk Indonesia.

  (Kedaulatan Rakyat, 1 Juli 2009)

  Contoh (83) terdiri dari dua paragraf, yaitu paragraf (83a) dan paragraf (83d). Paragraf pertama terdapat tiga kalimat, yaitu kalimat (83a), (83b), dan (83c). Paragraf kedua terdapat dua kalimat, yaitu kalimat (83d) dan (83c). Contoh (83) merupakan koherensi intensitas yang ditandai dengan konjungsi bahkan yang mempunyai makna lebih. Jadi apa yang telah disebutkan diparagraf kedua melebihi apa yang dikatakan pada paragraph pertama.

  (84) (a) Dalam kasus kecelakaan KA di Klaten, pihak PT KA menyatakan laju kereta api telah sesuai jalur. (b) Bahkan masinis telah berusaha mengerem dan mengurangi kecepatan ketika melihat minibus berada di perlintasn. (c) Berdasarkan keterangan saksi mata, mesin minibus macet saat berada di perlintasan.

  (Kedaulatan Rakyat, 7 Juli 2009) Contoh (84) terdiri dari tiga kalimat, yaitu kalimat (84a), (84b), dan (84c).

  Terlihat bahwa kalimat (84a) dengan kalimat (84b) dan (84c) berkoherensi intensitas yang ditandai dengan konjungsi bahkan.

  (85) (a) Dari peristiwa tersebut terkesan gampang untuk menyalahkan sopir. (b) Bahkan polisi menduga, kecelakaan itu terjadi karena kelalaian sopir. (c) Padahal seandainya perlintasan KA itu berpalang pintu, mungkin kecelakaan bisa dihindari.

  (Kedaulatan Rakyat, 7 Juli 2009) Contoh (85) terdiri dari tiga kalimat, yaitu kalimat (85a), (85b), dan (85c).

  Terlihat bahwa kalimat (85a) dengan kalimat sesudahnya berkoherensi intensitas yang ditandai dengan konjungsi bahkan.

  (86) (a) Rekening liar yang akan ditutup juga termasuk rekening Atase Pertahanan RI yang terdapat di luar negeri, karena tidak sesuai dengan aturan dan dianggap liar. (b) Itu semua dinilai tidak sesuai dengan upaya penyederhanaan. (c) Bahkan Depkeu menyebutkan, Atase Pertahanan RI yang membuka rekening seperti ada kurang lebih di 23 negara. (d) Padahal pembukaan rekening oleh Atase Pertahanan ini tidak disetujui oleh Mentri Luar Negeri. (e) Marilah kita lihat komitmen dan itikad semua pihak untuk mendukung gerakan Depkeu ini.

  (Kedaulatan Rakyat, 8 Juli 2009)

  Contoh (86) terdiri dari lima kalimat, yaitu kalimat (86a), (86b), (86c), (86d), dan (86e). Pada kalimat (86a) dikatakan bahwa rekening Atase Pertahanan RI yang ada di luar negeri juga akan ditutup karena tidak sesuai dengan aturan dan dianggap liar. Kalimat (86b) menyatakan bahwa apa yang dilakukan oleh Atase Pertahanan RI tidak sesuai dengan upaya penyederhanaan, dan pada kalimat (86c) dikatakan kalau Atase Pertahanan RI membuka rekening seperti itu di 23 negara.

  Demikianlah apa yang dinyatakan pada kalimat (86c), yaitu kalimat yang diawali dengan penanda hubungan bahkan melebihi apa yang dinyatakan pada kalimat sebelumnya, yaitu (86a) dan (86b). Oleh karena itu, Contoh (86) terdapat koherensi intensitas yang ditandai dengan konjungsi bahkan.

  

BAB IV

PENUTUP Bab ini merupakan kesimpulan bab II dan III dari hasil penelitian kohesi dan koherensi dalam tajuk rencana SKH Kedaulatan Rakyat edisi Juli 2009. Berbagai macam kohesi dan koherensi antarkalimat dan antarparagraf ditemukan dalam tajuk rencana. Selain kesimpulan penulis juga memberikan saran.

4.1 Kesimpulan

  Berdasarkan hasil penelitian dapat diambil kesimpulan bahwa dilihat dari segi kohesi, kohesi merupakan salah satu aspek terciptannya keutuhan suatu wacana. Kohesi dapat membentuk keutuhan wacana dalam kaitannya dengan perpaduan bentuk antarkalimat atau antarparagraf.

  Ada dua macam kohesi yang ditemukan dalam wacana tajuk rencana ini, yaitu kohesi gramatikal dan kohesi leksikal. Kohesi gramatikal masih dapat bagi menjadi empat jenis. Pertama, kohesi penunjukan, kohesi ini dibedakan menjadi dua, yaitu kohesi penunjukan anaforis dan kohesi penunjukan kataforis. Dari hasil penelitian kohesi penunjukan yang terdapat dalam wacana tajuk rencana dapat ditandai dengan penanda kata itu, ini, dan tersebut. Kedua, kohesi penggantian, dalam kohesi ini terdapat dua unsur yang terlibat didalamnya, yaitu unsur pengganti dan unsur terganti. Kohesi penunjukan dalam wacana tajuk rencana ini dtandai dengan penanda kata mereka, –nya, dan ia. Ketiga, kohesi pelesapan, dalam kohesi ini konstituen yang yang telah disebutkan pada kalimat sebelumnya disebutkan kembali pada kalimat berikutnya tapi dalam bentuk morfem zero (Ø).

  Keempat, kohesi perangkaian, kohesi ini berbeda dengan kohesi gramatikal lainnya. Perangkaian kohesi ini berupa konjungsi yang memiliki makna tertentu, seperti perangkaian bermakna ‘sebab’ dengan penanda kata sebab, bermakna ‘lebih’ dengan penanda kata bahkan, bermakana ‘perlawanan’ dengan penanda kata namun, bermakna ‘akibat’ dengan penanda kata sehingga, dan bermakna ‘sebab’ dengan penanda karena. Dalam wacana tajuk rencana SKH Kedaulatan Rakyat edisi Juli 2009 ditemukan enam jenis kohesi leksikal, yaitu pengulangan, hiponimi, sinonimi, antonimi, kolokasi, dan kependekan.

  Kohesi bisa terjadi dalam satu paragraf dan antarparagraf. Dari kohesi dapat dilihat seberapa tinggi dan renggangnya kesinambungan topik yang ada dalam sebuah wacana. Dalam kohesi leksikal terdapat nuansa-nuansa hubungan yang menciptakan kohesi.

  Peran koherensi dalam pembentukan keutuhan wacana berkaitan dengan pertalian makna antarkalimat atau antarparagraf dalam wacana. Koherensi dibedakan menjadi dua, yaitu koherensi berpenanda dan koherensi tidak berpenanda. Koherensi berpenada dapat dilihat dari konjungsi yang ada sebagai penandanya, sedangkan koherensi tidak berpenanda tidak ada konjungsi yang dapat menunjukkan hubungan makna sebagai penandanya.

  Dalam tajuk rencana pada SKH Kedaulatan Rakyat edisi Juli 2009 ditemukan tujuh jenis koherensi. Pertama, koherensi kausalitas, dengan penanda kata oleh karena itu, oleh sebab itu, karena, karena itu, dan akibatnya. Kedua, koherensi kontras, dengan penanda namun, sebaliknya, sedangkan, akan tetapi

  

padahal, dan tapi. Ketiga, koherensi aditif, dengan penanda selain itu dan selain

dari pada itu. Keempat, koherensi temporal, dengan penanda ketika. Kelima,

  koherensi kronologis, dengan penanda kemudian. Keenam, koherensi perincian, dengan penanda kata pertama dan kedua, misalnya, dan semisal. Ketujuh, koherensi intensitas, dengan penanda kata bahkan dan malah.

4.2 Saran

  Penelitian ini hanya dibahas kohesi dan koherensi yang terdapat dalam tajuk rencana surat kabar harian Kedaulatan Rakyat edisi Juli 2009. Oleh karena itu penelitian lebih lanjut perlu dilakukan, seperti bagaimana kadar kesinambungan topik, bagian-bagian wacana, informasi yang terdapat dalam sebuah wacana, dan lain sebagainya.

DAFTAR PUSTAKA

  Alwi, Hasan. 1993. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Departeman Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

  Baryadi, I. Praptomo. 2002. Dasar-dasar Analisis Wacana dalam Ilmu Bahasa.

  Yogyakarta: Pustaka Gondho Suli. Ernawati, Margretha Krismi. 2007. “Kohesi dan Koherensi Antarparagraf Dalam

  Wacana Opini Surat Kabar Kompas Edisi Nasional Bulan April 2005” Skripsi. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma.

  Kesuma, Tri Mastoyo Jati. 2007. Pengantar (Metode) Penelitian Bahasa.

  Yogyakarta: Carasvatibooks. Kridalaksana, Harimurti. 1992. Pembentukan Kata dalam Bahasa Indonesia.

  Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Kridalaksana, Harimurti. 1993. Kamus Linguistik. Jakarta: Gramedia. Kusumantara, A.A.G.A, 2004. “Analisis Wacana Advertorial dalam Surat Kabar

  Harian Kompas Edisi Bulan Januari s.d Juli 2004” Skripsi. Yogyakarta: Program Studi Sastra Indonesia, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Sanata Dharma.

  Moeliono, Anton M. 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa.

  Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Puspitasari, Agustina Ani. 2004. “Analisis Wacana Rubrik “Psikoterapi” Surat

  Kabar Mingguan Minggu Pagi Edisi Tahun 2003” Skripsi. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma.

  Ramlan, M. 1993. Pararaf, Alur Pikiran dan Kepaduannya dalam Bahasa Indonesia. Yogyakarta.

  Sudaryanto. 1988. Metode Linguistik Bagian Kedua: Metode dan Aneka Teknik

Pengumpulan Data. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

  Sudaryanto. 1993. Metode dan Aneka Teknik Analisis Bahasa. Yoyakarta: Duta Wacana University Press.

  Sumadi. 1998. Kohesi dan Koherensi dalam Wacana Naratif Bahasa Jawa.

  Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

  Tarigan, Henry Guntur. 1987. Pengajaran Wacana. Bandung: Angkasa.

   

  

KOHESI  

KOHESI  PENUNJUKAN 

  @PENUNJUKAN

   ANAFORIS@  1.

   (a) Bahkan, dalam acara yang diisi dengan wawancara dengan Redaktur Senior Jurnal 

  Manajemen   Penerbangan  ‘Air    Transport  World’,  Geoffrey  Thomas  itu,  Geoffrey  

  Thomas   itu,  terungkap  bahwa  tingkat  keselamatan  berbagai  maskapai  penerbangan 

  Indonesia,   termasuk  Garuda,  masih  dipandang  jelek.  (b)  Lebih  menohok  lagi,  dalam  dialog

    itu  juga  sempat  dipertanyakan  mengapa  pemerintah  Australia  tidak  mengikuti  langkah   Uni  Eropa  yang  terlebih  dahulu  melarang  maskapai  penerbangan  dari  18  negara,  termasuk Indonesia. (Kedaulatan Rakyat, 1 Juli 2009)   

  2. (a)   Bahkan,  dalam  acara  yang  diisi  dengan  wawancara  dengan  Redaktur  Senior  Jurnal 

  Manajemen   Penerbangan  ‘Air    Transport  World’,  Geoffrey  Thomas  itu,  Geoffrey  

  Thomas   itu,  terungkap  bahwa  tingkat  keselamatan  berbagai  maskapai  penerbangan 

  Indonesia,   termasuk  Garuda,  masih  dipandang  jelek.  (b)  Lebih  menohok  lagi,  dalam 

  dialog   itu  juga  sempat  dipertanyakan  mengapa  pemerintah  Australia  tidak  mengikuti  langkah   Uni  Eropa  yang  terlebih  dahulu  melarang  maskapai  penerbangan  dari  18  negara,

   termasuk Indonesia.  (c)

   Perlu diketahui, sejauh ini, Garuda merupakan satu‐satunya maskapai penerbangan  Indonesia

    yang  terbang  ke  Australia  untuk  melayani  rute  penerbangan  Denpasar‐ Sydney,

   Denpasar‐Perth, dan Denpasar‐Melbourne.  (d)

    Memang  bisa  saja  kita  menepis  semua  asumsi  itu  dan  mengabaikan  tanyangan  televisi   di  Australia  tersebut.  (e)  Namun  perlu  juga  dipahami  bahwa  sekecil  apa  pun  pengaruh   media  tak  bisa  dianggap  enteng.  (f)  Sehingga,  pemberitaan  terkait  dengan 

    citra   penerbangan  Indonesia  tersebut  mau  tidak  mau  juga  menjadi  referensi  publik  dunia,

   sekecil apa pun imbasnya. (Kedaulatan Rakyat, 1 Juli 2009)   

  3. (a)   Sehingga,  semua  pihak  dituntut  menata  diri,  menyatukan  visi  untuk  benar‐benar  mewujudkan

   citra penerbangan yang  kredibel, dipercaya,  aman dan nyaman.  (b) Hal 

  ini

   hanya bisa terwujud dengan aksi konkret. (c) Komitmen untuk melakukan integrated 

  marketing   plan  dan  integrated  marketing  action  harus  benar‐benar  diwujudkan  dan 

  menjadi   hymne  bersama,  baik  pemerintah,  maupun  pelaku  bisnis  penerbangan  dan  industri  pariwisata. (Kedaulatan Rakyat, 1 Juli 2009) 

    4. (a)

    Mau  tidak  mau,  momentum  pemilihan  presiden  akan  datang  juga.  (b)  Jika  kita  menunggu  momentum tersebut, maka pada Rabu, 8 Juli 2009, itulah saatnya tiba. (c) 

  Pada   saat  itu  kita  harus  menentukan  pilihan  dengan  tegas  setelah  mencermati,  memperhatikan,   mengamati  dan  mengikuti  kampanye  yang  dilakukan  tiga  calon  presiden  dan calon wakil presiden. (d) Karena formatnya adalah kampanye, maka isinya  adalah

   memperkenalkan program‐program, mungkin juga termasuk janji‐janji yang akan  dilaksanakan,   dan  meyakinkan  rakyat  adar  menentukan  pilihan  pada  dirinya. 

  (Kedaulatan

   Rakyat, 2 Juli 2009) 

    5. (a)

    Lagi,  kredibilitas  dan  netralitas  KPU  dipertanyakan.  (b)  Seminggu  menjelang  pelaksanaan   Pilpres  8  Juli  2009,  paling  tidak  terdapat  dua  masalah  melilit  komisi  penyelenggara   pemilu  tersebut.  (c)  Masalah  pertama  berkait  dengan  daftar  pemilih  tetap   (DPT)  yang  belum  juga  dibuka  sehingga  terkesan  masih  menjadi  rahasia  Negara  yang

   misterius. (d) Masalah kedua berhubungan dengan spanduk sosialisasi pilpres yang  mengindikasi  dukungan (KPU) kepada pasangan capres‐cawapres tertentu. (Kedaulatan 

  Rakyat,  3 Juli 2009)  

     

  6. (a)  Pada debat terbuka di TV, ketiga calon presiden menegaskan akan mengurangi angka  penganggura

    lewat  pemerataan  pembangunan  dan  peningkatan  kegiatan  usaha.  (b)  Langkah

  ‐langkah ini menurut Susilo Bambang Yodhoyono, Megawati Soekarnoputri, dan  Jusuf

   Kalla dapat mengurangi jumlah pengangguran di Indoensia yang mencapai 10 juta  orang.

   (Kedaulatan Rakyat, 4 Juli 2009)   

  7.  (a) Dalam kasus kecelakaan KA di Klaten, pihak PT KA menyatakan laju kereta api telah  sesuai  jalur. (b) Bahkan masinis telah berusaha mengerem dan mengurangi kecepatan  ketika

    melihat  minibus  berada  di  perlintasan.  (c)  Berdasarkan  keterangan  saksi  mata,  mesin  minibus macet pada saat berada di perlintasan.  

  (d)   Dari  peristiwa  tersebut  terkesan  gampang  untuk  menyalahkan  sopir.  (e)  Bahkan,  polisi

    menduga,  kecelakaan  itu  terjadi  karena  kelalaian  sopir.  (f)  Padahal,  seandainya  perlintasan   KA  itu  berpalang  pintu,  mungkin  kecelakaan  bisa  dihindari.  (Kedaulatan 

  Rakyat,  7 Juli 2009) 

      8.  (a) Muncul opini, demokratisasi seharusnya menjadikan teknokrat menjadi politisi. (b)  Tapi

   perkembangan sekarang sudah cenderung ke arah itu, tapi merupakan keharusan  untuk   mengharmoniskan  ekonomi  dengan  politik.  (c)  Jika  tidak,  kesalahan,  kegagalan  dan

   sejarah orde baru bisa terulang. (Kedaulatan Rakyat, 11 Juli 2009)  9.

  (

  a)  Flu babi masuk Yogyakarta. (b) Demikian judul berita koran kita hari Sabtu (11/7) yang  lalu.

   (c) Diberitakan, seorang pelajar pria berinisial AR, 18 tahun, warga Sleman diduga  suspek  flu babi dirawat di ruang isolasi Kartika RS Dr Sardjito Yogyakarta. (d) Menurut 

  Ketua   Tim  Satuan  Penanggulangan  Flu  Burung  dan  Flu  Babi  rumah  sakit  tersebut,  dr 

    Sumardi  SpPD‐KP, AR baru saja datang dari daerah yang terjangkit H1N1 yakni California  Amerika

   Serikat. (Kedaulatan Rakyat, 13 Juli 2009)    10.

  (

  a)  Beberapa kalangan mengusulkan agar kabinet mendatang diisi kalangan profesional 

  atau  ahli dibidangnya. (b) Usulan semacam itu memang terasa masuk akal. (c) Namun, 

  kiranya  perlu diingat, dalam setiap penyusunan kabinet, selalu melibatkan kepentingan  parpol  pendukung. (d) Bila benar SBY‐Boediono terpilih menjadi presiden‐wakil presiden  periode

    2009‐2014,  tentu  tak  bisa  mengesampingkan  koalisi  parpol  yang  mendukungnya.

   (Kedaulatan Rakyat, 14 Juli 2009)   

  11. (a)  Flu babi masuk Yogyakarta. (b) Demikian judul berita Koran kita hari Sabtu (11/7)  yang

    lalu.  (c)  Diberitakan,  seorang  pelajar  pria  berinisial  AR,  18  tahun,  warga  Sleman  diduga   suspek  flu  babi  dirawat  di  ruang  isolasi  Kartika  RS  Dr  Sardjito  Yogyakarta.  (d)  Menurut   Ketua  Tim  Satuan  Penanggulangan  Flu  Burung  dan  Flu  Babi  rumah  sakit  tersebut,   dr  Sumardi  SpPD‐KP,  AR  baru  saja  datang  dari  daerah  yang  terjangkit  H1N1  yakni

   California Amerika Serikat. (Kedaulatan Rakyat, 13 Juli 2009)                   

                     

  KOHESI  PENGGANTIAN 

  (1) (a)  Cawapres Prabowo Subianto menilai DPT menjadi catatan cacat Pemilu 2009. (b) Ia  memperkirakan

   terdapat 2 juta suara yang tidak beres di Jawa Timur. (c) Menurutnya,  kalau   masalah  itu  dibiarkan  berarti  terdapat  2  juta  suara  potensial  yang  tidak  sah.  (Kedaulatan  Rakyat, 3 Juli 2009)   

  (2) (a)   Keterlibatan  instansi  lain  seperti  Dephub  sangat  diperlukan,  seperti  tercermin  dalam

   kasus dugaan suspek flu babi yang menimpa AR, pemuda asal Sleman tersebut.  (b)

   Dua bandara yang dilaluinya sepulang dari California, Soekarno‐Hatta Jakarta dan  Adisutjipto

    Yogyakarta  tidak    mendeteksi  adanya  tanda‐tanda  yang  bersangkutan  terjangkit  suspek flu babi. (KEdaulatan Rakyat, 13 Juli 2009)   

  (3) (a)   Sedang  sikap  Partai  Golkar  samapai  saat  ini  masuh  belum  jelas  apakah  akan  merapat

   ke SBY‐Boediono atau tidak. (b) Secara resmi hal itu akan ditentukan MUnas – 

    walaupun   banyak  kalangan  meragukan  Golkar  memilih  oposisi.  (c)  Koalisi  besar  yang  dibangun

   dengan PDIP, Hanura, dan Gerindra pun terancam pecah.   (d)

    Meski  secara  resmi  Golkar  tidak  masuk  dalam  koalisi  pendukung  SBY‐Boediono  –  karena   menjagokan  Jusuf  Kalla‐  WIranto  (Hanura)  –  namun  suaranya  di  parleman  cukup

    signifikan.  (e)  Partai  besar  lainnya,  seperti  PDIP  misalnya,  sikapnya  lebih  jelas  untuk   memilih  oposisi.  (c)  Sikap  PArtai  Gerindra  juga  cukup  jelas  terbaca  untuk  beroposisi.   (f)  Dalam  pilpres  partai  ini  berkoalisi  dengan  PDIP  dengan  mengusung 

  Prabowo   Subianto  sebagai  cawapres  mendampingi  capres  Megawati.  (Kedaulatan 

  Rakyat,

   14 Juli 2009)  (4) (a)

    Agak  berbeda  bila  kemudian  ada  kader  Golkar  yangberpilih  sebagai  menteri  lantaran  keahliannya. (b)  Ia pun dipilih bukan atas nama partai, tapi secara pribadi  –  walau

    acap  sulit  dibedakan  antara  kapasitas  pribadi  dengan  atas  nama  partai.  (c)  Bagaimanapun,

   memilih menteri adalah hak prerogative presiden. (Kedaulatan Rakyat,  14  Juli 2009)   

  (5) (a)   Kita  juga  menginginkan  kabinet  mendatang  benar‐benar  diisi  oleh  kalangan  professional.

    (b)  Kalaupun  ia  kader  partai,  hendaknya  pertimbangan  profesionalisme  menjadi   pertimbangan  utama.  (c)  Sebab,  bila  kabinet  hanya  dibentuk  berdasar  kompromi

      politik  atau  sekedar  bagi‐bagi  jatah  kursi  untuk  pendukung  koalisi  partai,  dikhawatirkan   pemerintah  tidak  bisa  menjalankan  fungsinya  secara  optimal  untuk  melayani  rakyat. (Kedaulatan Rakyat, 14 Juli 2009) 

    (6) (a)  Apakah benar penghitungan cepat melakukan kebenaran ? Menurut rencana, hasil  rekapitulasi

   pemilihan presiden 2009 diumumkan pada 22‐24 Juli 2009. (b) Meski ada  pasangan   yang  menolak  ketetapan  KPU,  hasil  itu  akan  tegas  ditetapkan  (Kedaulatan 

  Rakyat,  22/7/2009). (c) Seperti ramai diberitakan, dua pasangan capres dancawapres, 

    yakni  Megawati‐Prabowo dan Jusuf Kalla‐Wiranto, belum akan menentukan sikap atas  rencana

    KPU  ini.  (d)  Mereka  melihat  ada  banyak  kecuragan  terjadi.  (e)  Bentuk  atas  penilakan  hasil rekapitulasi KPU tentang jumlah suara yang diperoleh, mereka tak akan  menandatangani.

   (Kedaulatan Rakyat, 23 Juli 2009)   

    (7) (a)   Siti  Lestari  memang  layak  bersyukur.  (b)  Melakukan  sujud  Syukur  saat  mendapat   kepastian  bahwa anak menantunya. (c) Nur Said, bukan sebagai pelaku bom bunuh diri  di

   Hotel JW Marriott. (d) SElama 3 malam perempuan yang di Klaten ini sempat tidak  tidur  dan tidak makan – menyusul adanya berita bahwa Nur Hasbi yang diidentifikasi  sebagai

    Nur  Said  merupakan  pelaku  bom  bunuh  diri  di  hotel  internasional  tersebut.  (Kedaulatan

   Rakyat, 24 Juli 2009) 

    (8) (a)  Rasa syukur yang sama tentunya juga dialami Sucihani, warga Kuningan Jabar. (b) 

  Sebab  suaminya uang bernama Ibrahim ternyata juga tidak terkait dengan kasusu bom  yang  mengguncang Jakarta Jumat pecan lalu itu. (c) Kadiv Humas Polri Irjen Pol Nanan 

  Sukarna  memastikan dua potong kepala yang ditemukan di lokasi, tidak ada kecocokan  dengan

    wajah  Nur  Said  dan  Ibrahim.  (d)  Hasil  tes  DNA  kian  mempertegas  tidak  ada  kemiripan  keduanya dengan dua pelaku pemboman. (Kedaulatan Rakyat, 24 Juli 2009) 

    (9) (a)  Kita juga menengarai betapa sangat terpukulnya keluaraga besar Nur Said meupun 

  Ibrahim   saat  keduannya  diberitakan  secara  intensif  terlibat  dalam  pemboman  kedua  hotel  tersebut. (b) Secara spesifik, pukulan itu tercewrmin dari pernyataan Siti Lestari  yang

    selama  3  malam  tidak  tidur  dan  tidak  makan.  (c)  Ia  menjadi  tersiksa  secara  lahiriah   dan  batiniah.  (d)  Menanggung  malu  yang  tak  terperikan  karena  harkat  dan  martabat

    keluarga  menjadi  tercabik  secara  tiba‐tiba.  (e)  Untung  Mabes  Polri  

    melakukan   klarifikasi  tepat  pada  waktunya.  (f)  Sebelum  keluarga  dekat  Nur  Said  maupun

    Ibrahim  mendapat  sanksi  sosial.  (g)  Misalnya,  masyarakat  sekitar  mengucilkannya  dari pergaulan lingkungan. (Kedaulatan Rakyat, 24 Juli 2009) 

    (10) (a)

    Walaupun  polisi  telah  memastikan  pelaku  bom  bunuh  diri  bukan  Nur  Said  dan 

  Ibrohim,

    namun  sampai  sekarang  Densus  88  masih  mencari  keberadaan  mereka.  (b)  Keluarga   kedua  orang  tersebut  juga  mengaku  tidak  tahu  keberadaan  mereka.  (c)  Keluarga   sangat  yakin  Nur  Said  dan  Ibrohim  tak  terlibat  jaringan  teroris.  (Kedaulatan 

  Rakyat,

   28 Juli 2009)   

  (11) (a)  Personel Densus 88 juga telah disebar ke berbagai tempat. (b) Densus 88 menyisir  berbagai

   lokasi yang diduga sebagai tempat persembunyian Noordin M Top dan anak  buahnya,   baik  di  Jateng,  DIY  maupun  luar  Jawa.  (c)  Dalam  beberapa  penggerebekan  yang  dilakukan Densus 88, Noordin M Top selalu lolos. (d) Ia dikanal licin seperti belut. 

  (e)  Lantas, dimana sesungguhnya Noordin M Top bersembunyi? (f) Tak ada yang bisa  menjawabnya.

   (g) Karena itu, polisi terus menyebar foto gembong teroris itu dengan  berbagai  versi. (Kedaulatan Rakyat, 28 Juli 2009) 

    (12) (a)

    ‘Keputusan’  yang  dikenukakan  Kabid  Penyelenggaraan  Haji,  Zakat,  dan  Wakaf  Kanwil

   Depag DIY Drs H Muhammad itu dipastikan melegakan calhaj berusia 65 tahun  lebih.  (b) Merka  merasa plong karena tidak ada  kendala yang  perlu dirisaukan untuk  menunaikan  rukun islam yang kelima. (Kedaulatan Rakyat, 31 Juli 2009)   

  (13) (a)   Sejauh  ini  pula,  Pemerintah  Kerajaan  Arab  Saudi  secara  resmi  tidak  pernah  membatasi

   usia para calhaj. (b) Hanya saja, berdasar surat Dubes Kerajaan Arab Saudi 

    di  Jakrta Nomor 83/5/30/1218 tanggal 21 Juni 1984, setiap calhaj haruslah bebas dari  penyakit

    menular  dan  kronis.  (c)  Dinyatakan  dalam  surat  itu,  “jemaah  haji  haruslah  yakin  bahwa ia bebas dari penyakit menular dan kronis yang mungkin membahayakan  rekan

  ‐rekannya  Muslimin  bila  ia  datang  beribadah  haji  –  dan  bahwa  mereka  akan  diperiksa   oleh  kementrian  Kesehatan  Arab  Sudi  sebelum  mereka  masuk  ke  tempat  ibadah

   haji”. (Kedaulatan Rakyat, 31 Juli 2009).   

  (14) (a)   Bahwa  pada  umumnya  teroris  bersikap  ramah  namun  tertutup,  acap  bikin  masyarakat   lengah  dan  kurang  waspada.  (b)  Mereka  baru  sadar  ketika  daerahnya  digrebek

    Densus  88,  namun  yang  dicari  kenuru  kabur.  (Kedaulatan  Rakyat,  28  Juli  2009)

                       

  KOHESI  PELESAPAN 

  1. (a)   Pemilihan  presiden  sudah  di  ambang.  (b)  Ø  Tinggal  hitungan  hari  saja.  (c)  Marilah  kita  memanfaatkan momentum Ø tersebut sebaik‐baiknya untuk memilih masa depan  bangsa.

    (d)  Datanglah  ke  bilik‐bilik  yang  telah  disediakan,  untuk  mencontreng.  (e) 

    Jangan  salah pilih, oleh sebab itu perlu merenungkan siapa yang pantas dicontreng dari  ketiga

   calon tersebut. (f) Di sisi lain, siapa pun presidennya nanti, itulah pilihan rakyat.  (g)   Kita  berharap  ke  depan  bisa  membawa  perahu  bangsa  ini  berlayar  lebih  stabil  menuju

    cita‐cita.  ((h)  Sungguh,  kita  mendambakan  pemimpin  yang  baik,  yang  sesuai,  yang   bisa  membaca  keinginan  rakyat  dan  mampu  membawa  bangsa  ini  lebih  bermartabat.

   (Kedaulatan Rakyat, 2 Juli 2009)  2. (a)

    Selama  masa  kampanye,  ketiga  pasangan  capres‐cawapres  beserta  tim  suksesnya  menyosialisasikan   visi  misinya.  (b)  Ø  Menawarkan  program  kerja  yang  akan  dilakukan  bila

    dipercayai  memegang  kemudi  pemerintahan  masa  bakti  2009‐2014.  (c)  Dalam  bahasa  awam, mereka berkesempatan mengobral janji.  (d)

   Kita mencermati janji‐janji Ø itu, ada yang membumi. (e) Ø Ada yang sekedar rayuan  gombal  atau retorika belaka. (f) Membumi, karena menyangkut problem dan kebutuhan  masyarakat

    bangsa.  (g)  Sekedar  rayuan  gombal  atau  retorika,  karena  berisi  janji  yang  muluk ‐muluk – tanpa mendasarkan diri pada situasi serta kondisi kehidupan bangsa dan  Negara.

    3.  (a)  Citra  dunia  penerbangan  Indonesia  kembali  terpuruk.  (b)  Belum  lagi  selesai  pemulihan  citra Ø penerbangan kita di mata Uni Eropa, kini muncul ‘vonis’ yang cukup  menyakitkan,

    yakni  predikat  sebagai  salah  satu  maskapai  penerbangan  yang  masih  kategori   ‘paling  tidak  aman’  di  dunia.  (c)  Dalam  siaran  Stasiun  TV  ‘Saluran  Tujuh’  Australia,

   disebutkan bahwa Indonesia, Angola, Liberia, Sudan, dan Korea Utara dinilai  sebagai   lima  Negara  dengan  maskapai  penerbangan  ‘paling  tidak  aman’  di  dunia  (KR,  30/6).

   (Kedaulatan Rakyat, 1 Juli 2009)   

  4. (a)  Bahkan, dalam acara yang diisi dengan wawancara dengan Redaktur Senior Jurnal 

  Manajemen   Penerbangan  ‘Air  Transport  World’,  Geoffrey  Thomas  itu,  terungkap 

  bahwa   tingkat  keselamatan  berbagai  maskapai  penerbangan  Indonesia,  termauk  Garuda,

   masih dipandang jelek. (b) Lebih menohok lagi, dalam dialog Ø itu juga sempat  dipertanyakan  mengapa pemerintah Australia tidak mengikuti langkah Uni Eropa yang  sudah

    terlebih  dahulu  melarang  maskapai  penerbangan  dari  18  negara,  termasuk  Indonesia.

   (Kedaulatan Rakyat, 1 Juli 2009)   

  5. (a)   Mau  tidak  mau,  momentum  pemilihan  presiden  akan  datang  juga.  (b)  Jika  kita  menunggu

   meomentum Ø tersebut, maka pada Rabu, 8 Juli 2009, itulah saatnya tiba.  Pada

    saat  Ø  itu  kita  harus  menentukan  pilihan  dengan  tegas  setelah  mencermati, 

    memperhatikan,   mengamati  dan  mengikuti  kampanye  yang  dilakukan  tiga  calon  presiden

   dan calon wakil presiden. (c) Karena formatnya adalah kampanye, maka isinya  adalah   memperkenalkan  program‐program,  mungkin  juga  janji‐janji  yang  akan  dilaksanakan,

    dan  menyakinkan  rakyat  agar  menentukan  pilihan  pada  dirinya.  (Kedaulatan

   Rakyat, 2 Juli 2009) 

  6. (a)   Belum  dibukanya  DPT,  lagi‐lagi  mengerosi  kredibilitas  KPU.  (b)  Berbagai  pihak,  termasuk

    tim‐tim  sukses  pasngan  capres‐cawapres  mempertanyakan  perbaikan  DPT  pilpres   yang  juga  bermasalah  saat  berlangsung  pileg  8  April  2009.  (c)  Daftar  pemilih  ganda

    masih  ditemukan  di  sejumlah  daerah.  (d)  Realitas  ini  dikhawatirkan  dapat  ,meguntungkan  pasanagan Ø tertentu. (Kedaulatan Rakyat, 3 Juli 2009)   

  7. (a)  Cawapres Prabowo Subianto menilai DPT menjadi catatan cacat Pemilu 2009. (b) Ia  memperkirakan   terdapat  sekitar  2  juta  suara  yang  tidak  beres  di  Jawa  Timur.  (c) 

  Menurutnya,  kalau masalah Ø itu dibiarkan berarti terdapat 2 juta suara potensial yang  tidak

   sah. (Kedaulatan Rakyat, 3 Juli 2009)   

  8. (a)   Kalau  dalam  kaitan  dengan  permasalahan  DPT  pileg  maupun  pilpres  KPU  bersikap  defensive   –  dengan  menyatakan  tidak  ada  masalah  –  tidak  demikian  halnya  dengan  spanduk  sosialisasi pilpres. (b) Secara jantan KPU mengakui spanduk Ø tersebut serta  meminta

   maaf. (c) Selaku Ketua Pokja  Sosialisasi KPU, Endang Sulastri  menyatakan KPU  tidak  memiliki rencana maupun keinginan untuk memihak salah satu pasangan capres‐ cawapres.

   (Kedaulatan Rakyat, 3 Juli 2009)   

  9. (a)   Namun  tentunya  permasalahan  tidak  harus  terhenti  pada  sekadar  penarikan  spanduk

    dan  permintaan  maaf.  (b)  Bawaslu  merasa  perlu  memanggil  KPU  untuk  dimintai   keterangan.  (c)  BUkan  hanya  karena  Ø  diduga  telah  melakukan  pelanggaran,  tetapi

    Ø  juga  secara  nyata  telah  memboroskan  keuangan  Negara  karena  memproduk  sejumlah  besar spanduk yang bermasalah. (Kedaulatan Rakyat, 3 Juli 2009)   

  10. (a)   Sungguh,  kita  menyayangkan  masih  terjadinya  permasalahan  fundamental  berkait  dengan  kinerja KPU. (b) Dua permasalahan yang kita ungkap tersebut dapat menambah 

    daftar   panjang  nilai  (minus)  kinerja  dan  kredibiltas  KPU.  (c)  Ø  Berpotensi  mengerosi  netraslitasnya

   sebagai penyelenggara Pemilu 2009 yang dituntut cermat, adil, jujur, dan  tidak  memihak. (Kedaulatan Rakyat, 3 Juli 2009)   

  11. (a)   Ketiga  calon  presiden  sama‐sama  mengusung  ekonomi  kerakyatan  yang  akan  membuka

    lapangan  kerja  baru.  (b)  Namun  program  ekonomi  Ø  ketiga  capres  untuk  mengurangi  pengangguran tidak mewarkan suatu konsep yang jelas, dan lebih bersifat  wacana.  (c) Seharusnya dipaparkan apa yang akan dikerjakan untuk memperbaiki aset,  melakukan

   perubahan paradigm pendidikan, perubahan dalam mendapatkan kredit dan  sebagainya.  (Kedaulatan Rakyat, 4 Juli 2009)   

  12. (a)   )  Ketiga  calon  presiden  sama‐sama  mengusung  ekonomi  kerakyatan  yang  akan  membuka   lapangan  kerja  baru.  (b)  Namun  program  ekonomi  Ø  ketiga  capres  untuk  mengurangi

   pengangguran tidak mewarkan suatu konsep yang jelas, dan lebih bersifat  wacana.   (c)  Seharusnya  dipaparkan  apa  yang  akan  dikerjakan  Ø  untuk  memperbaiki  aset,

    melakukan  perubahan  paradigm  pendidikan,  perubahan  dalam  mendapatkan  kredit  dan sebagainya. (Kedaulatan Rakyat, 4 Juli 2009)   

  13. (a)   Kita  mengharapak  Bawaslu  maupun  Panwaslu  mampu  mengawal  masa  tenang  secara  seksama. (b) Memasanag mata dan telinga – Ø mewaspadai setiap gejala yang  berpotensi   mengganggu  dan  merusaknya.  (c)  Ø  Menindak  tegas  para  pelaku  tanpa  pandang

    bulu.  (d)  Dengan  cara  begitu  pilpres  akan  dapat  berlangsung  dengan  tertib,  jujur,  adil, dan bemartabat. (Kedaulatan Rakyat, 6 Juli 2009) 

    14.  (a)  Bahwa  SBY‐Boediono  akan  mengungguli  pasangan  Megawati‐Prabowo  maupun  Jusuf   Kalla‐Wiranto,  sudah  diperkirakan.  (b)  Berbagai  lembaga  survei  nasional  sejak  awal

   menyajikan keunggulan itu secara berkala. (c)  Malah ada  lembaga Ø yang sudah  berani  meramal bahwa Pilpres 2009 akan berlangsung dalam satu putaran. (d) Memang,  lambaga

   Ø yang bersangkutan sempat menuai kecaman – karena dalam kenyataannya  menjadi  bagian dari tim sukses SBY‐Boediono. (Kedaulatan Rakyat, 10 Juli 2009)   

    15. (a)   Dengan  berpolitik  dalam  partai,  mantan  jendral  purnawirawan  bisa  diwaspadai,  dikendalikan

    dan  dikontrol.  (b)  Kalau  Ø  sesumbar    mampu  meraih  dukungan  rakyat  sekian  persen akan berhadapan dengan hasil Pemilu dan Pilpres. (Kedaulatan Rakyat, 11  Juli

   2009)   

  16. (a)  Pada debat capres‐cawapres di TV menjelang Pilpres 8 Juli lalu, persoalan ekonomi  sangat

    dominan.  (b)  Perdebatan  Ø  merupakan  bagian  dari  uji  kemampuan  berpolitik  dengan   tim  juri  terdiri  dari  rakyat  yang  menyaksikannya,  karena  rakyat  yang  berhak  menentukan

    pemenangnya.  (c)  Sekuruh  rakyat  Indonesia  yang  mencontreng  juga  menjadi  factor penentu aman dan damainya pelaksanaan Pilpres 2009 yang mendapat  pujian

   tinggi dari masyarakat internasional. (Kedaulatan Rakyat, 11 Juli 2009)   

  17. (a)   Flu  babi  masuk  Yogyakarta.  (b)  Demikian  judul  berita  Koran  kita  hari  Sabtu  (11/7)  yang

   lalu. (c) Diberitakan, seorang pelajar pria berinisaial AR, 18 tahun, warga Sleman  diduga   suspek  flu  babi  dirawat  di  ruang  isolasi  Kartika  RS  Dr  Sardjito  Yogyakarta.  (d) 

  Menurut   Ketua  Tim  Satuan  Penanggulangan  Flu  Burung  dan  Flu  Babi  rumah  sakit  tersebut,   dr  Sumardi  SpPD‐KP,  AR  baru  saja  datang  dari  dareah  yang  terjangkit  H1N1  yakni

   California Amerika Serikat.  (e)   Kasus  Ø  yang  menimpa  pemuda  berusia  18  tahun  warga  Sleman  itu  tentu  saja  menarik

    perhatian  kita.  (f)  Menarik,  karena  AR  merupakan  warga  pertama  DIY  yang  diduga  suspek flu babi. (g) Sekaligus kasus pertama flu babi yang ditemukan di DIY. (h)  Kasus

    ini  tentunya  pula  merupakan  warning  bagi  segenap  warga  Propinsi  DIY  pada  umumnya,   para  petugas  dan  instansi  kesehatan  pada  khususnya.  (Kedaulatan  Rakyat

  13  Juli 2009) 

    18. (a)  Dalam konteks itu, kita mengaharapkan Partai Golkar lebih berani untuk beroposisi,  karena

   suaranya cukup signifikan di parlemen. (b) Sebaliknya, bila Ø Golkar mera[at ke  SBY ‐Boediono,  sulit  rasanya  mengharapkan  kekuatan  yang  seimbang  di  eksekutif  dan  parlemen.

   (c) Lagi pula, secara etika politik, rasanya tidak pantas bila Ø Golkar meminta  ‘jatah’   kursi  kabinet,  sementara  partai  tersebut  telah  mengajukan  calon  sendiri  ketika  pilpres.

   (Kedaulatan Rakyat, 14 Juli 2009)   

    19. (a)   Kita  menenggarai  klarifikasi  Kadiv  Humas  Polri  itu  merupakan  pernyataan  yang  profesional.

   (b) Sebagai cermin dari kerja dan kinerja Polri yang juga profesional dalam  menangani  kasus pemboman di Hotel JW Marriott dan Hotel Ritz Carlton. (c) Pernyataan  kalrifikasi

    Ø  itu  dengan  demikian  membantah  serangkaian  berita  yang  sebelumnya  mengidentifikasi  Nur Said dan Ibrahim sebagai pelaku pemboman. (Kedaulatan Rakyat

  24  Juli 2009) 

    20. (a)  Keabsahan Pemilu Presiden (Pilpres) tidak akan tertanggu sekalipun tim dari 2 kubu,  yakni

   Mega‐Prabowo dam JK‐Wiranto, tidak menandatangani hasil keputusan KPU. (b)  Bahkan   tanpa  KPU  tanda  tangan  pun  hasil  Ø  yang  sudah  diumumkan  itu  tetap  sah.  (Kedaulatan

   Rakyat, 27 Juli 2009) 

    21. (a)

   Memburu teroris tak cukup hanya berbekal keberanian, tapi juga taktik atau strategi  yang   jitu.  (b)  Untuk  mendapatkan  bukti  permulaan  yang  cukup,  sebelum  melakukan  penangkapan,

    aparat  memang  dapat  menggunakan  laporan  intelijen.  (c)  Namun  penetapan   bukti  permulaan  yang  cukup  itu  harus  dilakukan  proses  pemeriksaan  oleh  ketua  dan wakil ketua Pengadilan Negeri. (d) Hanya saja, pemeriksaan itu dilaksanakan  secara

    tertutup  (dalam  waktu  paling  lama  tiga  hari).  (e)  Proses  Ø  ini  sesungguhnya  untuk  menghindari salah tangkap. (Kedaulatan Rakyat, 28 Juli 2009)   

  22. (a)   Berita  menggembirakan  kembali  muncul  dari  sektor  perdagangan.  (b)  Setelah  sempat   agak  kolaps  beberapa  waktu,  sebagai  dampak  krisis  finansial  global,  kinerja  ekspor

    menunjukan  perkembangan  yang  signifikan.  (c)  Tak  kurang  dari  Menteri  Perdagangan

   Mari Elka Pangestu sendiri yang mengatakan, bahwa pertumbuhan ekspor  Indonesia

   tahun 2009 ini meningkat dari minus 30 persen menjadi minus 15 persen. (d)  Hal   ini  dikarenakan  recovery  pertumbuhan  ekonomi  di  Asia  pasca  krisis  Ø  global,  terhitung

   paling cepat. (Kedaulatan Rakyat, 29 Juli 2009)   

  23. (a)   Ketika  gencar‐gencarnya  kampanye  presiden,  gencar  pula  iklan  mengenai 

  pendidikan  gratis. (b) Iklan Ø tersebut sekarang ini sudah tidak muncul lagi. (c) Namun, 

  iklan  tersebut Ø justru meninggalkan persoalan. (d) Benarkah pendidikan itu gratis alias  tidak

    dipunggut  biaya?  (e)  Iklan  Ø  tersebut  sangat  luar  biasa  daya  sentuhnya  bagi 

    masyarakat   yang  benar‐benar  tidak  punya.  (f)  Sebab  sesuatu  yang  gratis  itu  akan  membuat

    siapa  pun  tidak  akan  kerepotan  mengeluarkan  biaya.  (g)  Jika  benar  pendidikan   gratis,  mengapa  kenyataannya  masih  menuai  protes?  (h)  Inilah  persoalan  pelik

   bagi dunia pendidikan. (Kedaulatan Rakyat, 30 Juli 2009)   

  24. (a)   Panitia  pemberangkatan  ibadah  haji  Propinsi  DIY  tetap  akan  memberangkatkan  calhaj

   berusia 65 tahun ke atas. (b) Alasannya, ‘larangan’ yang dikeluarkan Pemerintah 

  Kerajaan   Arab  Saudi  itu  hanya  bersifat  imbauan  dalam  upaya  mengantisipasi  wabah 

  H1N1   yang  lebih  dikenal  dengan  flu  babi.  (c)  Apalagi  imbauan  Ø  terkesan  dikeluarkan  secara   mendadak,  di  saat  sebagian  calhaj  –  termasuk  yang  berusia  di  atas  65  tahun  –  telah

   melunasi Biaya Perjalanan Ibadah Haji (BPIH). (Kedaulatan Rakyat, 31 Juli 2009)   

  25. (a)   Pemerintah  Indonesia,  dalam  hal  ini  Depag  selaku  instansi  penyelenggara  ibadah  haji,

   sepantasnya bila mengabaikan imbauan dari Pemerintah Kerajaan Arab Saudi itu,  (b)

   Selain karena Ø dikeluarkan secara mendadak, pengabaian itu tentunya juga disertai  pertimbangan   psikologis  seandainya  calhaj  yang  telah  berusia  sepuh  itu  ‘dilarang’  berangkat.  (Kedaulatan Rakyat, 31 Juli 2009) 

       

  KOHESI  PERANGKAIAN  

  1. (a)   Kita  menengarai  ketiga  pasangan  malakuakan  kampanye  penuh  dinamika.  (b) 

  Terutama   saat  berhadap‐hadapan  –  melakukan  debat  antarcapres  maupun  antar  cawapres

    di  stasiun‐stasiun  televisi.  (c)  Terjadi  saling  adu  program,  adu  argumen,  diselingi   adegan  ‘saling  serang’.  (d)  Untuk  pertama  kalinya  selama  sejarah  perjalanan  bangsa   dan  negara  kita,  kita  menyaksikan  debat  antarkandidat  pres‐cawapres  yang  penuh

    keterbukaan.  (e)  Malah,  ada  kalanya  perdebatan  yang  bernuansa  menghibur.  (Kedaulatan

   Rakyat, 6 Juli 2009)  

    2.

  (

  a)   Kita  berharap  dengan  amat  sangat.  (b)  Tidak  siapapun  dan  pihak  manapun  berkehendak

   merusak suasana vakum pada masa tenang. (c) Tidak ada yang bergerilya  dari   rumah  ke  rumah  dalam  bentuk  apapun  juga.  (d)    Tidak  ada  yang  melakukan 

  ‘serangan  malam’ atau ‘serangan fajar’ menjelang hari H pilpres. (e) Sebab bila hal itu  sampai

   terjadi dapat menodai pesta demokrasi bernama pilpres – yang dalam beberapa  kasus   sempat  dipertanyakan  kredibilitas  maupun  netralitas  pelaksanaannya.  (Kedaulatan  Rakyat, 6 Juli 2009)    3.

  (

  a)  Dalam kasus kecelakaan KA di Klaten, pihak PT KA menyatakan laju kereta api telah  sesuai

   jalur. (b) Bahkan masinis telah berusaha mengerem dan mengurangi kecepatan  ketika  melihat minibus berada di perlintasan. (c) Berdasarkan saksi mata, mesin minibus  macet  saat berada di perlintasan. (Kedaulatan Rakyat, 7 Juli 2009) 

    4.

  (

  a)  Langkah penutupan rekening liar ini juga terkesan tidak pandang bulu. (b) Buktinya,  dari

    data  bulan  Juni  2009,  dari  sebanyak  72  rekening  liar  yang  sudah  ditutup  oleh  Departemen

    Keuangan,  termasuk  di  dalamnya  adalah  rekening  Depkeu  sendiri.  (c) 

  Namun

    besarnya  Hekinus  tidak  banyak,  sekitar  Rp  2  samapi  3  miliar.  (Kedaulatan 

  Rakyat,  8 Juli 2009) 

    5.

  (

  a)  Berbeda dengan pemilihan calon anggota legislatif kemarin, untuk pemilihan presiden  tampaknya

    berbagai  pihak  punya  kepentingan.  (b)  Sebab,  kalau  pemilihan  presiden  hanya  diikuti pemilih dengan apa adanya, sebenarnya banyak yang dirugikan. (c) Bahkan  banyak

    kejanggalan  terjadi,  selain  banyak  juga  suara  tidak  terakomodasi.  (d)  Kemana  mereka?   (e)  Selain  itu  ada  sejumlah  kejanggalan,  umpamanya  orang  yang  sudah  meninggal   masih  terdaftar.  (f)  Anak  dibawah  umur,  tercatat  salam  daftar  pemilih.  (g) 

    Sebaliknya,  nama yang berhak memilih tapi justru tidak tercatat. (Kedaulatan Rakyat, 9  Juli

   2009)   

  6. (a)  Tentunya, kita semua, baik pemerintah, maupun komunitas maskapai penerbangan  di

    tanah  air  tak  perlu  kebakaran  jenggot  dan  terburu‐buru  memberikan  respons  emosional   yang  dikhawatirkan  justru  jadi  langkah  yang  kontra‐produkrif.  (b)  Karena,  masyarakat   dunia  pun  sekarang  juga  sudah  makin  cerdas  dan  kritis  terkait  dengan  pemberitaan   maupun  imbauan  dari  otoritas  yang  berkompeten  pada  dunia  penerbangan.

   (Kedaulatan Rakyat, 1 Juli 2009)   

  7. (a)   Pernyataan  yang  dimunculkan  di  stasiun  televis  di  Australia  itu  pun  bisa  jadi  memunculkan

    polemik  tersendiri,  terkait  dengan  kredibilitasnya.  (b)  Misalnya  saja,  ketika  dikedepankan oleh ‘Channel Seven’, bahwa ada delapan maskapai yang dianggap 

  ‘paling   aman’  di  dunia,  yakni  Qantas,  South‐west  Airlines,  Air  New  Zealand,  Delta,  Cathay  Pacific, Asiana Airlines, Emirates, dan Lufhthansa. (c) Dalam hal ini objektivitas  penempatan

    posisi  pertama  Qantas  dalam  daftar  maskapai  penerbangan  teraman  di  dunia  itu juga layak dipertanyakan. (d) Karena, dalam sejarah penerbangan, Qantas juga  mengalami

   beberapa kali insiden penerbangan serius. (Kedaulatan Rakyat, 1 Juli 2009)   

  8. (a)   Terlepas  dari  itu  semua,  apa  pun  hasil  survei,  ketika  dipublikasikan,  tentu  harus  disikapi.   (b)  Dunia  penerbangan  kita,  termasuk  dalam  hal  ini  para  pelaku  pariwisata  diharapkan  melakukan introspeksi  dengan kepala dingin. (c) Karena, imbas pariwisata  akan

   sangat terasa ketika dunia penerbangan kita terpukul  dan terus ter[uruk citranya.  (Kedaulatan

   Rakyat, 1 Juli 2009) 

   

    9. (a)   Terlepas  dari  itu  semua,  apa  pun  hasil  survei,  ketika  dipublikasikan,  tentu  harus  disikapi.

    (b)  Dunia  penerbangan  kita,  termasuk  dalam  hal  ini  para  pelaku  pariwisata  diharapkan  melakukan introspeksi  dengan kepala dingin. (c) Karena, imbas pariwisata  akan

   sangat terasa ketika dunia penerbangan kita terpukul  dan terus terpuruk citranya.  (d)

    Sehingga,  semua  pihak  dituntut  menata  diri,  menyatukan  visi  untuk  benar‐benar  mewujudkan  citra penerbangan yang kredibel, dipercaya, aman dan nyaman. (e) Hal ini  hanya   bisa  terwujud  dengan  aksi  konkret.  (f)  Komitmen  untuk  melakukan  integrated 

  marketing   plan  dan  integrated  marketing  action  harus  benar‐benar  diwujudkan  dan 

  menjadi   hymne  bersama,  baik  pemerintah,  maupun  pelaku  bisnis  penerbangan  dan  industri

   pariwisata. (Kedaulatan Rakyat, 1 Juli 2009   

  10. (a)   Kita  percaya  Polri  akan  menangani  kasus  bom  Mega  Kuningan  secara  procedural  sekaligus

   profesional. (b) Tidak akan bertindak gegabah atau grusa‐grusu. (c) Tidak akan  obral  pernyataan atau steatmen, dan tidak akan pula main tangkap. (d) Sebab bila hal‐ hal  seperti itu sampai dikalukan, justru akan mengeruhkan air sehingga ikan yang diburu  menjadi  sulit ditangkap. (e) Akan mengundang reaksi yang tidak pada tempatnya, yang  bukan

   tidak mungkin akan dapat mempersulit atau menyulitkan kerja Polri. (Kedaulatan 

  Rakyat,  24 Juli 2009) 

    11. (a)

    Bahwa  Pemilu  2009  –  yang  terdiri  dari  Pileg  dan  Pilpres  –  dinilai  banyak  pihak  diwarnai  berbagai kekurangan, kita bisa menerimannya. (b) Terdapatnya nilai minus itu  terkait   dengan  Daftar  Pemilih  Tetap  (DPT)  yang  ditengarai    kurang  valid.,  sehingga  dimungkinkan

    menjadi  sa;ah  satu  materi  bahan  gugatan  ke  MK.  (c)  Tentu  kita  tidak  dapat   sepenuhnya  menimpakan  kekisruhan  DPT  itu  kepada  KPU.  (d)  Sebab  komisipenyelenggara

    pemilu  itu  menerima  bahan  mentahnya  dari  Depdagri.  (e)  Itulah  sebabnya  ada pihak yang menuntut pemerintah ikut bertanggung jawab atas terjadinya  kekisruhan

   DPT. (Kedaulatan Rakyat, 27 Juli 2009) 

     

  12. (a)  Personel Densus 88 juga telah disebar ke berbagai tempat. (b) Densus 88 menyisir  berbagai

    lokasi  yang  diduga  sebagai  tempat  persembunyian  Noordin  M  Top  dan  anak  buahnya,   baik  di  Jateng,  DIY  maupun  luar  Jawa.  (c)  Dalam  beberapa  penggerebekan  yang

   dilakukan Densus 88, Noordin M Top selalu lolos. (d) Ia dikanal licin seperti belut.  (e)

    Lantas,  dimana  sesungguhnya  Noordin  M  Top  bersembunyi?  (f)  Tak  ada  yang  bisa  menjawabnya.   (g)  Karena  itu,  polisi  terus  menyebar  foto  gembong  teroris  itu  dengan  berbagai  versi. (Kedaulatan Rakyat, 28 Juli 2009) 

                             

             

  KOHESI  PENGULANGAN 

  (1) (a)   Citra  dunia  penerbangan  Indonesia  kembali  terpuruk.  (b)  Belum  lagi  selesai  pemulihan

    citra  penerbangan  kita  di  mata  Uni  Eropa,  kini  muncul  ‘vonis’  yang  cukup  menyakitkan,   yakni  predikat  sebagai  salah  satu  maskapai  penerbangan  yang  masih  kategori

    ‘paling  tidak  aman’  di  dunia.  (c)  Dalam  siaran  Stasiun  TV  ‘Saluran  Tujuh’  Australia,  disebutkan bahwa Indonesia, Angola, Liberia, Sudan, dan Korea Utara dinilai  sebagai

   lima Negara dengan maskapai penerbangan ‘paling tidak aman’ di dunia (KR,  30/6).    (d)

   Bahkan, dalam acara yang diisi dengan wawancara dengan Redaktur Senior Jurnal  Manajemen

    Penerbangan  ‘Air  Transport  World’,  Geoffrey  Thomas  itu,  terungkap  bahwa   tingkat  keselamatan  berbagai  maskapai  penerbangan  Indonesia,  termasuk 

  Garuda,  masih dipandang jelek. (e)  Lebih menohok lagi, dalam dialog itu juga sempat  dipertanyakan  mengapa pemerintah Australia tidak mengikuti langkah Uni Eropa yang  sudah

    terlebih  dahulu  melarang  maskapai  penerbangan  dari  18  negara  ,  termasuk  Indonesia.   

   (Kedaulatan Rakyat, 1 Juli 2009)   

  (2) (a)  Bahkan, dalam acara yang diisi dengan wawancara dengan Redaktur Senior Jurnal 

  Manajemen   Penerbangan  ‘Air  Transport  World’,  Geoffrey  Thomas  itu,  terungkap  bahwa   tingkat  keselamatan  berbagai  maskapai  penerbangan  Indonesia,  termasuk 

  Garuda,

   masih dipandang jelek. (b)  Lebih menohok lagi, dalam dialog itu juga sempat  dipertanyakan  mengapa pemerintah Australia tidak mengikuti langkah Uni Eropa yang  sudah

    terlebih  dahulu  melarang  maskapai  penerbangan  dari  18  negara  ,  termasuk  Indonesia.  

    (c)  Perlu diketahui, sejauh ini, Garuda merupakan satu‐satunya maskapai penerbangan  Indonesia

    yang  terbang  ke  Australia  untuk  melayani  rute  penerbangan  Denpasar‐ Sydney,  Denpasar‐Perth, dan Denpasar‐Melbourne.  

  (Kedaulatan

   Rakyat, 1 Juli 2009) 

    (3) (a)

    Pernyataan  yang  dimunculkan  di  stasiun  televis  di  Australia  itu  pun  bisa  jadi  memunculkan   polemik  tersendiri,  terkait  dengan  kredibilitasnya.  (b)  Misalnya  saja,  ketika

    dikedepankan  oleh  ‘Channel  Seven’,  bahwa  ada  delapan  maskapai  yang  dianggap  ‘paling aman’ di dunia, yakni Qantas, South‐west Airlines, Air New Zealand, 

  Delta,   Cathay  Pacific,  Asiana  Airlines,  Emirates,  dan  Lufhthansa.  (c)  Dalam  hal  ini  objektivitas   penempatan  posisi  pertama  Qantas  dalam  daftar  maskapai  penerbangan  teraman  di dunia itu juga layak dipertanyakan. (d) Karena, dalam sejarah penerbangan, 

  Qantas

   juga mengalami beberapa kali insiden penerbangan serius.   (Kedaulatan Rakyat, 1 Juli 2009) 

    (4) (a)

    Terlepas  dari  itu  semua,  apa  pun  hasil  survey,  ketika  dipublikasikan,  tentu  harus  disikapi.   (b)  Dunia  penerbangan  kita,  termasuk  dalam  hal  ini  para  pelaku  pariwisata  diharapkan

   melakukan introspeksi dengan kepala dingin. (c) Karena, imbas pariwisata  akan  sangat terasa ketika dunia penerbangan kita terpukul dan terus terpuruk citranya.   (Kedaulatan

   Rakyat, 1 Juli 2009)   

  (5) (a)   Mau  tidak  mau,  momentum  pemilihan  presiden  akan  datang  juga.  (b)  Jika  kita  menunggu

   momentum tersebut, maka pada RAbu, 8 Juli 2009, itulah saatnya tiba. (c)  Pada

    saat  itu  kita  harus  menentukan  pilihan  dengan  tegas  setelah  mencermati,  memperhatikan,   mengamati,  dan  mengikuti  kampanye  yang  dilakukan  tiga  calon  presiden   dan  calon  wakil  presiden.  (d)  Karena,  formatnya  adalah  kampanye,  maka  isinya

    adalah  memperkenalkan  program‐program,  mungkin  juga  termasuk  janji‐janji  yang  akan dilaksanakan, dan meyakinkan rakyat agar menentukan pilihan pada dirinya.   (Kedaulatan Rakyat, 2 Juli 2009) 

   

    (6) (a)   Mau  tidak  mau,  momentum  pemilihan  presiden  akan  datang  juga.  (b)  Jika  kita  menunggu

   momentum tersebut, maka pada RAbu, 8 Juli 2009, itulah saatnya tiba. (c)  Pada   saat  itu  kita  harus  menentukan  pilihan  dengan  tegas  setelah  mencermati,  memperhatikan,

    mengamati,  dan  mengikuti  kampanye  yang  dilakukan  tiga  calon  presiden   dan  calon  wakil  presiden.  (d)  Karena,  formatnya  adalah  kampanye,  maka  isinya

    adalah  memperkenalkan  program‐program,  mungkin  juga  termasuk  janji‐janji  yang  akan dilaksanakan, dan meyakinkan rakyat agar menentukan pilihan pada dirinya.  

  (Kedaulatan  Rakyat, 2 Juli 2009)   

  (7) (a)  Inilah peristiwa penting, yang akan datang dalam sekali dalam lima tahun. (b) Kita  menyadari,  masih ada kekurangan sana‐sini. (c) Tapi, inilah pembelajaran kita tentang 

  demokrasi.  (d) Kiranya, baru pada saat rakyat memilih langsung presidennya itulah kita 

  merasakan   aroma  demokrasi.  (e)  Sejak  orde  baru  lengser,  perubahan‐perubahan  terjadi

    di  negeri  kita.  (f)  Perubahan  politik,  perubahan  presepsi,  dan  salah  satu  perubahan  yang penting adalah penyelenggaraan pemilihan umum. (g) Kita harapkan  pemilihan

   umum ini lebih demokratis, langsung, umum, bebas, dan rahasia.   (Kedaulatan  Rakyat, 2 Juli 2009) 

     

  (8) (a)   Belum  dibukanya  DPT,  lagi‐lagi  mengerosi  kredibilitas  KPU.  (b)  Berbagai  pihak,  termasuk   tim‐tim  sukses  pasangan  capres‐cawapres  mempertanyakan  perbaikan  DPT  pilpres

    yang  juga  bermasalah  saat  berlangsung  pileg  9  April  2009.  (c)  Daftar  pemilih  ganda   masih  ditemukan  di  sejumlah  daerah.  (d)  Realitas  ini  dikhawatirkan  dapat  menguntungkan

   pasangan tertentu.    (Kedaulatan

   Rakyat, 3 Juli 2009) 

    (9) (a)

   Rupanya KPU tidak menarik pelajaran dari berbagai kasus berkait dengan DPT pileg  9   April.  (b)  Bahwa  kasus  DPT  itu  memang  benar  terjadi,  terefleksikan  dari  putusan  Mahkamah

    Konstitusi  (MK)  yang  memerintahkan  penghitungkan  ulang  atau  malah  pemungutan  suara ulang di beberapa daerah. 

    (c)  Kalau dalam kaitan dengan permasalahan DPT pileg maupun pilpres KPU bersikap  defemsif

    –  dengan  menyatakan  tidak  ada  masalah  –  tidak  demikian  halnya  dengan  spanduk   sosialisasi  pilpres.  (d)  Secara  jantan  KPU    mengakui  terjadinya  kesalahan  sehingga

    menarik  spanduk  tersebut  serta  meminta  maaf.  (e)  Selaku  Ketua  Pokja  Sosialisasi

    KPU,  Endang  Sulastri  menyatakan  KPU  tidak  memiliki  rencana  maupun  keinginan  untuk memihak salah satu pasangan capres‐cawapres. 

  (f)   Namun  tentunya  permasalahan  tidak  harus  berhenti  pada  sekadar  penarikan  spanduk   dan  permintaan  maaf.  (g)  Bawaslu  merasa  perlu  memanggil  KPU  untuk  dimintai

    keterangan.  (h)  Bukan  hanya  karena  diduga  telah  melakukan  pelanggaran,  tetapi   juga  secara  nyata  telah  memboroskan  keuangan  Negara  karena  memproduk  sejumlah

   besar spanduk yang bermasalah.   (Kedaulatan  Rakyat, 3 Juli 2009) 

    (10) (a)

    Rakyat  yang  paham  pasti  tidak  salah  pilih.  (b)  Rakyat  sudah  jemu  mendengar  hujatan  kandidat yang mencari simpati. (c) Rakyat sudah bosan mendengar janji‐janji  pengandaian.

    (d)  Sehingga  demokrasi  memang  harus  berjalan  natural.  (e)  Demokrasi  bisa   direkayasa  untuk  kepentingan,  tapi  sebaiknya  tidak  terlalu  direkayasa,  dan  akan  lebih

    mantap  kalau  proses  demokrasi  berjalan  tanpa  tangan‐tangan  manusia,  karena  memang  manusia yang diberi amanah untuk menuliskan perjalanan sejarahnya sendiri.   (Kedaulatan

   Rakyat, 4 Juli 2009) 

    (11) (a)

    Kita  mencatat,  kampanye  pilpres  sedikit  banyak  juga  diwarnai  upaya  saling  menjatuhkan  lawan. (b) Disuasanai kampanye hitam, black campaingn. (c) Kampanye  jahat

    yang  (mencoba)  mengangkat  isu  bernuansa  etnis  maupub  SARA.  (d)  Kita  perlu  bersyukur,  kampanye destruktif itu tidak sampai termakan atau terjerumus ke dalam  situasi  sebagaimana diharapkan oleh pelempar isu.  

  (Kedaulatan

   Rakyat, 6 Juli 2009) 

    (12) (a)

    Berdasarkan  data  dari  Dinas  Perhubungan,  Komunikasi  dan  Informatika  Jawa  Tengah

    yang  dikutip  PT  Jasa  Raharja  melalui  situs  www.jasaraharja.co.id,  hingga  Mei  2009

    ada  489  perlintasan  KA  di  Jateng  tanpa  palang.  (b)  Sedang  perlintasan  yang 

    berpalang   pintu  hanya  90  buah.  (c)  Perlintasn  KA  tanpa  palang  inilah  yang  sering  merenggut

   korban jiwa.   (Kedaulatan  Rakyat, 7 Juli 2009). 

    (13) (a)

    Dari  peristiwa  tersebut  terkesan  gampang  untuk  menyalahkan  sopir.  (b)  Bahkan  polisi  menduga, kecelakaan itu terjadi karena kelalaian sopir. (c) Padahal, seandainya  perlintasan

   KA itu berpalang pintu, mungkin kecelakaan bisa dihindari.   (Kedaulatan  Rakyat, 7 Juli 2009) 

    (14) (a)   Pemerintah,  melalui  Departemen  Keuangan  kembali  menlakukan  langkah  taktis  dengan

    menutup  cukup  banyak  rekening‐rekening  liar.  (b)  Sebagaimana  dipaparkan  oleh   Inspektur  Jendral  Departemen  Keuangan,  Hejinus  Manau,  hingga  Juni  2009 

  Departemen  Keuangan telah menutup kurang lebih 4.000 rekening liar, senilai Rp 9,7 

  triliun  (KR, 7/7). 

  (c)   Jumlah  rekening  tersebut,  berasal  dari  seluruh  instansi  pemerintah  dan  berada  di  bank

  ‐bank  nasional.  (d)  Tentu,  dalam  melakukan  gerakan  ini,  Departemen  Keuangan  tidak   bekerja  sendiri,  namun  melibatkan  Komisi  Pemberantasan  Korupsi  dan  Badan  Pengawas

   Keuangan dan Pembangunan. (e) Tak heran kalau kemudian dilaporkan pula  ada   beberapa  rekening  yang  terindikasi  korupsi,  yang  ada  dibeberapa  departemen,  seperti

   di Departemen Sosial dan Departeman Tenaga Kerja.   (Kedaulatan  Rakyat, 8 Juli 2009) 

    (15) (a)

    Bahwa  SBY‐Boediono  akan  mengungguli  pasangan  Megawati‐Prabowo  maupun  Jusuf

    Kalla‐Wiranto,  sudah  diperkirakan.  (b)  Berbagai  lembaga  survei  nasional  sejak  awal   menyajikan  keunggulan  itu  secara  berkala.  (c)  Malah  ada  lembaga  yang  sudah  berani   meramal  bahwa  Pilpres  2009  akan  berlangsung  dalam  satu  kali  putaran.  (d) 

  Memang,   lembaga  yang  bersangkutan  sempat  menuai  kencaman  –  karena  dalam  kenyataannya  menjadi bagian dari tim sukses SBY‐Boediono

  (e) Ya,   keunggulan  SBY‐Boediono  belum  merupakan  kemenangan  resmi  sesuai  peraturan   perundangan  yang  berlaku.  (f)  Itulah  barangkali  sebabnya  mengapa  Jussuf 

  Kalla   belum  bersedia  memberikan  ucapan  selamat.  (g)  Hal  yang  sama  kiranya  juga 

    dilakukan   capres‐cawapres  lainnya.  (h)  Mereka  berpegang  teguh  pada  etika  politik  yang

   ada. (i) Bukan sebagai bentuk ekspresi sikap dan perasaan merasa ‘diungguli’ atau  ‘dikalahkan’.   

  (Kedaulatan

   Rakyat, 10 Juli 2009) 

    (16) (a)

    Dalam  suatu  kompetisi  memang  ada  pihak  yang  menang  dan  yang  kalah.  (b)  Demikian

   pula halnya dengan pilpres. (c) Sebuah kompetisi politik tingkat atas menuju  istana.   (d)  Pertarungan  politik  kelas  tinggi  untuk  meraih  kursi  presiden  dan  wakil  presiden

    RI.  (e)  Memperebutkan  jabatan  lembaga  eksekutif  tertinggi  pertama  dan  kedua  di negeri ini – yang tentunya mengorbankan banyak waktu, tenaga, dan dana.  (f) Sesungguhnya

    dibalik  kemenangan  suatu  kompetisi  politik  bernama  pilpres  itu  bersemayan   amanah.  (g)  Kepercayaan  mayoritas  warga  masyarakat  bangsa  yang  menginginkan

   terjadinya perubahan kehidupan kearah yang lebih baik dan mapan. (h)  Tersimpan

    pengharapan  agar  penerima  amanah  mampu  menyelesaikan  berbagai  permasalahan.

    (i)  Tersembunyi  pesan  luhur  untuk  menggunakan  kepercayaan  itu  dalam  upaya serta perjuanagan menyejahterakan rakyat dan meningkatkan martabat  bangsa  dan Negara di mata dunia.  

  (Kedaulatan

   Rakyat, 10 Juli 2009) 

    (17) (a)

    Dalam  suatu  kompetisi  memang  ada  pihak  yang  menang  dan  yang  kalah.  (b)  Demikian  pula halnya dengan pilpres. (c) Sebuah kompetisi politik tingkat atas menuju  istana.

    (d)  Pertarungan  politik  kelas  tinggi  untuk  meraih  kursi  presiden  dan  wakil  presiden   RI.  (e)  Memperebutkan  jabatan  lembaga  eksekutif  tertinggi  pertama  dan  kedua

   di negeri ini – yang tentunya mengorbankan banyak waktu, tenaga, dan dana.  (g) Sesungguhnya

    dibalik  kemenangan  suatu  kompetisi  politik  bernama  pilpres  itu  bersemayan   amanah.  (g)  Kepercayaan  mayoritas  warga  masyarakat  bangsa  yang  menginginkan

   terjadinya perubahan kehidupan kearah yang lebih baik dan mapan. (h)  Tersimpan   pengharapan  agar  penerima  amanah  mampu  menyelesaikan  berbagai  permasalahan.

    (i)  Tersembunyi  pesan  luhur  untuk  menggunakan  kepercayaan  itu  dalam  upaya serta perjuanagan menyejahterakan rakyat dan meningkatkan martabat  bangsa

   dan Negara di mata dunia.   (Kedaulatan

   Rakyat, 10 Juli 2009) 

     

  (18) (a)   Sebagian  besar  media  cetak  dan  elektronik  di  seluruh  dunia  takjub  dan  memuji  pelaksanaan   Pilpres  2009  di  Indonesia.  (b)  Pasalnya,  sejak  zaman  kemerdekaan, 

  Indonesia   baru  dua  kali  menggelar  Pilpres  langsung,  dan  Pilpres  2009  di  seluruh  penjuru

   tanah air berjalan tenang dan damai. (c) Padahal 11 tahun yang lalu Indonesia  dikuasai   pemerintahan  totaliter  yang  represif  dan  selalau      menggelar  demokrasi  kosmetika.

     (Kedaulatan  Rakyat, 11 Juli 2009) 

    (19) (a)   Semasa  Orde  Baru,  pemerintahan  didominasi  jendral  dan  teknokrat,  sehingga  ekonomi

    dan  politik  sulit  berdampingan  secara  harmonis,  karena  ekonomi  yang  tampak  baik  digelimbangi  politik yang otoriter. (b) Kini demokratisasi yang jauh lebih  baik

   belum didampingi ekonomi yang lebij baik. (c) Indikatornya antara lain nilai tukar  rupiah  terhadap dolar yang masih tinggi, masih banyaknya pengangguran dan jumlah  warga

   yang hidup di bawah garis kemiskinan.  (d)

   Muncul opini, demokratisasi seharusnya menjadikan teknokrat menjadi politisi. (e)  Tapi  perkembangan sekarang sudah cenderung kearah itu, tapi merupakan keharusan  untuk

   mengharmoniskan ekonomi dan politik. (f) Jika tidak, kesalahan, kegagalan dan  sejarah  Orde Baru bisa terulang.   (Kedaulatan

   Rakyat, 11 Juli 2009) 

     

  (20) (a)   Semasa  Orde  Baru,  pemerintahan  didominasi  jendral  dan  teknokrat,  sehingga  ekonomi

    dan  politik  sulit  berdampingan  secara  harmonis,  karena  ekonomi  yang  tampak  baik digelimbangi politik yang otoriter. (b) Kini demokratisasi yang jauh lebih  baik  belum didampingi ekonomi yang lebih baik. (c) Indikatornya antara lain nilai tukar  rupiah

   terhadap dolar yang masih tinggi, masih banyaknya pengangguran dan jumlah  warga  yang hidup di bawah garis kemiskinan.  (d)

   Muncul opini, demokratisasi seharusnya menjadikan teknokrat menjadi politisi. (e)  Tapi

   perkembangan sekarang sudah cenderung kearah itu, tapi merupakan keharusan  untuk  mengharmoniskan ekonomi dan politik. (f) Jika tidak, kesalahan, kegagalan dan  sejarah

   Orde Baru bisa terulang. 

     (Kedaulatan Rakyat, 11 Juli 2009) 

    (21) (a)  Flu babi masuk Yogyakarta. (b) Demikian judul berita Koran kita hari Sabtu (11/9)  yang

   lalu. (c) Diberitakan, seorang pelajar pria berinisial AR , 18 tahun, warga Sleman  diduga   suspek  flu  babi  dirawat  di  ruang  isolasi  Kartika  RS  Dr  Sardjito  Yogyakarta.  (d) 

  Menurut   Ketua  Tim  Satuan  Penanggulangan  Flu  Burung  dan  Flu  Babi  rumah  sakit  tersebut,

   dr Sumardi SpPD‐KP, AR baru saja datang dari daerah yang terjangkit H1kN1  yakni  California Amerika Serikat.  (e)

    Kasus  yang  menimpa  pemuda  berusia  18  tahun  warga  Sleman  itu  tentu  saja  menarik   perhatian  kita.  (f)  Menarik,  karena  AR  merupakan  warga  pertama  DIY  yang  diduga

   suspek flu babi yang ditemukan di DIY. (g) Kasus ini tentunya pula merupakan  warning   bagi  segenap  warga  Propinsi  DIY  pada  umumnya,  para  petugas  dan  instansi  kesehatan

   pada khususnya.  (h)

    Ya  kita  dituntut  untuk  waspada.  (i)  Mewaspadai  suspek  flu  babi  yang  penyebarannya  relative cepat di segenap penjuru dunia. (j) Orgnaisasi Kesehatan Dunia 

  WHO,   dalam  laporan  terbarunya  menyatakan  sekitar  100.000  orang  di  137  negara  telah  terinfeksi influenza H1N1. (k) Dari jumlah penderita itu, 440 orang di antaranya  meninggal

   dunia.  (Kedaulatan  Rakyat, 13 Juli 2009) 

    (22) (a)  Flu babi masuk Yogyakarta. (b) Demikian judul berita Koran kita hari Sabtu (11/9)  yang

   lalu. (c) Diberitakan, seorang pelajar pria berinisial AR , 18 tahun, warga Sleman  diduga   suspek  flu  babi  dirawat  di  ruang  isolasi  Kartika  RS  Dr  Sardjito  Yogyakarta.  (d) 

  Menurut   Ketua  Tim  Satuan  Penanggulangan  Flu  Burung  dan  Flu  Babi  rumah  sakit  tersebut,

   dr Sumardi SpPD‐KP, AR baru saja datang dari daerah yang terjangkit H1kN1  yakni  California Amerika Serikat.  (e)

    Kasus  yang  menimpa  pemuda  berusia  18  tahun  warga  Sleman  itu  tentu  saja  menarik   perhatian  kita.  (f)  Menarik,  karena  AR  merupakan  warga  pertama  DIY  yang  diduga

   suspek flu babi yang ditemukan di DIY. (g) Kasus ini tentunya pula merupakan  warning   bagi  segenap  warga  Propinsi  DIY  pada  umumnya,  para  petugas  dan  instansi  kesehatan

   pada khususnya.   (Kedaulatan

   Rakyat, 13 Juli 2009) 

     

  (23) (a)   Kita  tentu  tidak  menginginkan  flu  babi  mewabah  seperti  halnya  flu  burung.  (b) 

  Menimbulkan  kekhawatiran dimana‐mana. (c) Memunculkan kepanikan karena tingkat  keganasannya,   sehingga  merenggut  banyak  nyawa  manusia.  (d)  Dalam  kaitan  ini,  tanggung

    jawab  untuk  mengantisipasinya  tidak  hanya  terbeban  di  pundak  Depkes  beserta   jajarannya  di  daerah‐daerah,  (e)  Namun  juga  perlu  keterlibatan  instansi  dan  institusi

   lain, seperti Dephub yang menelola transportasi lalu lintas manusia.   (f)   Keterllibatan  instansi  lain  seperti  Dephub  sangat  diperlukan,  seperti  tercermin  dalam

   kasus dugaan suspek flu babi yang menimpa AR, pemuda asal Sleman terebut.  (g)   Dua  bandara  yang  dilaluinya  sepulang  dari  California,  Soekarno‐Hatta  Jakarta  dan  Adisutjipto

    Yogyakarta  tidak  mendeteksi  adanya  tanda‐tanda  yang  berbersangkutan  terjangkit  suspek flu babi.   (Kedaulatan

   Rakyat, 13 Juli 2009) 

    (24) (a)

   Beberapa kalangan mengusulkan agar kabinet mendatang dari kalangan [rofesional  atau   ahli  dalam  bidangnya.  (b)  Usulan  semacam  itu  memang  terasa  masuk  akal.  (c) 

  Namun,   kiranya  perlu  diingat,  dalam  setiap  penyusunan  kabinet,  selalu  melibatkan  kepentingan  parpol pendukung. (c) Bila benar SBY‐Boediono terpilih menjadi presiden  dan  wakil presiden periode 2009‐2014, tentu tak bisa mengesampingkan koalisi parpol  yang

   mendukungnya.   (Kedaulatan  Rakyat, 14 Juli 2009) 

    (25) (a)

   Sedang sikap Partai Golkar sampai saat ini masih belum jelas apakah akan merapat  ke   SBY‐Boediono  atau  tidak.  (b)  Secara  resmi  hal  itu  akan  ditentukan  Munas  –  walaupun

    banyak  kalangan  meragukan  Golkar  memilih  oposisi.  (c)  Koalisi  besar  yang  dibangun  dengan PDIP, Hanura dan Gerindra pun terancam pecah.  (d)

    Meaki  secara  resmi  Golkar  tidak  masuk  dalam  koalisi  pendukung  SBY‐Boediono  –  karena  menjagolan Jusuf Kalla‐Wiranto (Hanura) – namun suaranya di parlemen cukup  signifikan.

    (e)  Partai  besar  lainnya,  seperti  PDIP    misalnya,  sikapnya  lebih  jelas  untuk  memilih  oposisi. (f) Sikap partai Gerindra juga cukup jalas terbaca untuk beroposisi. (g)  Dalam

   pilpres partai ini berkoalisi dengan PDIP dengan mengusung Prabowo Subianto  sebagai  cawapres mendampingi capres Megawati.  

    (Kedaulatan  Rakyat, 14 Juli 2009) 

    (26) (a)   Kita  menginginkan  ada  pertimbangan  kekuatan  di  eksekutif  dan  parlemen‐ parlemen

   demi terlaksananya kontrol jalannya pemerintahan. (b) Eksekutif yang terlalu  kuat  tidaklah kondusif untuk menjaga iklim demokrasi.  

  (Kedaulatan

   Rakyat, 14 Juli 2009) 

    (27) (a)   Penegasan  ini  bisa  dikatakan  sebagai  angin  sejuk  karena  harga  minyak  mentah 

  dunia

    diberitakan  mulai  merambat  naik  lagi,  masyarakat  mulai  was‐was.  (b)  Seperti  diketahui,   wacana  kenaikan  harga  minyak  mentah  dunia  sekarang  tak  lagi  menjadi  dominasi

    kalangan  dunia  usaha,  pemerintah  maupun  masyarakat  menengah  atas,  namun   sudah  ‘memasyarakat’.  (c)  Terlepas  sejauh  mana  apresiasi  masyarakat  pada  dampak

    dan  logika  kenaikan  harga  minyak  mentah  dunia  tersebut,  namun  dalam  berbagai  peristiwa dan kebijakan, masyarakat menjadi paham konsekuensinya.  

  (Kedaulatan

   Rakyat, 15 Juli 2009) 

    (28) (a)   Karena,  dalam  beberapa  waktu,  masyarakat  sempat  dibuat  sesak  napas  lantaran  kenaikan

   harga BBM yang beruntun, walau kemudian juga dilanjutkan dengan langkah  atau   kebijkan  penurunan  harga  BBM  yang  beruntun  pula.  (b)  Kita  hanya  berharap,  kebijakan

    menaikan  dan  menurunkan  harga  BBM  adalah  benar‐benar  karena  logika  perhitungan  rasional yang bisa dipahami dan diterima sebagian beasar masyarakat, (c)  Kalau

    pun  ada  motif  politis  dari  kebijakan  tersebut,  biarlah  menjadi  tanggung  jawab  yang   bersangkutan  saja.  (d)  Satu  hal  perlu  dicatat,  sekecil  apa  pun  kenaikan  harga 

  BBM,

    dampaknya  akan  sangat  luas  dan  berantai.  (e)  Sedangkan  ketika  harga  BBM  diturunkan,  dampak lanjtnya tak seketika mengikutinya.  

  (Kedaulatan  Rakyat, 15 JUli 2009)   

    (29) (a)

   Orangtua mulai dihadapkan pada persoalan klasik. (b) Ini selalu terjadi pada setiap 

  tahun   ajaran  baru.  (c)  Betapa  pun  slogan  sekolah  gratis  sudah  ada  dimana‐mana, 

    namun  kebutuhan sekolah bagi anak tidak bisa diperoleh secara cuma‐cuma . (d) Ada  hal

  ‐hal yang harus dipenuhi dengan membayar. (e) Terutama, setiap kali tahun ajaran 

  baru   ada  saja  acara  rutin,  yaknii  orientasi  siswa.  (f)  Sesungguhnya,  sebagai  orangtua 

  yang   punya  anak‐anak  usia  sekolah,  tidak  perlu  kaget  dengan  kenyataan  ini.  (g) 

  Masyarakat  pun menyaksikan setiap tahun, setiap tahun ajaran baru, suasana itu akan  berulang.

     (Kedaulatan

   Rakyat, 16 Juli 2009) 

    (30) (a)

    Sebelumnya  disebut‐sebut  BIN  talah  mendapat  peringatan  dari  Australia  tentang  kemungkinan   adanya  aksi  teroris.  (b)  Namun  hal  itu  dibantah  Kepala  BIN  Syamsir  Siregar

   yang tegas menyatakan hal itu tidak benar. (c) Terlepas isu semacam itu, kita  melihat  BIN harus direformasi.   (Kedaulatan

   Rakyat, 21 Juli 2009) 

    (31) (a)

    Ledakan  di  Hotel  JW  Marriott  Jakarta  bukan  saja  mengoyak  kepercayaan  dunia  internasional  terhadap Indonesia, tapi juga mempurukan sistem keamanan‐intelijen di 

  Tanah   Air.  (b)  Mengapa  terjadi  kecolongan  yang  sama?  (c)  Seperti  kita  ketahui,  pada  tanggal  5 Agustus 2003 bom meledak di Hotel JW Marriott dan menewaskan 12 orang  dan   150  luka‐luka.  (d)  Pasca  ledakan,  pengamanan  di  seluruh  hotel  diperketat.  (e) 

  Pengamanan  di Hotel JW Marriott pun super ketat. (f) Namun, pada Jumat 17 Juli 2009  tragedi   kemanusiaan  kembali  terulang.  (g)  Hotel  JW  Marriott  dibom  dan  selang  eberapa

    menit  giliran  Ritz  Carlton.  (h)  Sedikitnya  Sembilan  orang  meninggal  dan  53  luka ‐luka. 

   (Kedaulatan Rakyat, 21 Juli 2009)   

  (32) (a)  Banyak spekulasi muncul terkait kasus peledakan bom di dua hotel berbintang itu.  (b)

    Kita  sungguh  menyayangkan  ketika  spekulasi  itu  justru  bergulir  setelah  presiden 

  SBY   mengungkapk  data  intelijjen  yang  menyebut  tentang  ada  upaya  penggagalan  pilpres.

   (c) Diungkap pula beberapa sekenario teroris untuk menolak hasil pilpres. (d)  Bahkan,   untuk  meyakinkan  politik,  SBY  menunjukan  beberapa  foto  kegiatan  menembak

   para teroris dengan target sasaran gambar wajah SBY.   (Kedaulatan

   Rakyat, 21 Juli 2009) 

     

  (33) (a)  Banyak spekulasi muncul terkait kasus peledakan bom di dua hotel berbintang itu. 

  (b)  Kita sungguh menyayangkan ketika spekulasi itu justru bergulir setelah presiden SBY  mengungkapk  data intelijjen yang menyebut tentang ada upaya penggagalan pilpres

  (c)  Diungkap pula beberapa sekenario teroris untuk menolak hasil pilpres. (d) Bahkan,  untuk

    meyakinkan  politik,  SBY  menunjukan  beberapa  foto  kegiatan  menembak  para  teroris  dengan target sasaran gambar wajah SBY. 

  (e)  Hemat kita, mengaitkan peledakan bom di Hotel JW Marriottt dan The Ritz Carlton  dengan   upaya  penggagalan  pilpres,  terlalu  gegabah  dan  tergesa‐gesa.    (f)  Apalagi,  kepala   BIN  Syamsir  Siregar  sendiri  menyatakan  pihaknya  tidak  menuduh  pelaku  peledakan

   bom punya motif politik terkait hasil pilpres. (g) Sedangkan Kapolri Jendral  Pol  Bambang Hendarso Danuri, pasca pidato presiden, menjelaskan kepada wartawan  bahwa

   pelaku yang sedang latihan menembak dengan target sasaran gambar SBY telah  tertangkap   dan  kini  tinggal  menunggu  proses  persidangan.  (h)  Itu  kasus  lama  yang  sudah

   ditangani polisi.   (Kedaulatan

   Rakyat, 21 Juli 2009) 

    (34) (a)

    Setiap  terjadi  bencana,  apalagi  bencana  yang  disebabkan  oleh  ulah  teroris,  pasti  akan  mempengaruhi situasi pasar dan berdampak pada kondisi perekonomian. (b) Hal  ini

    juga  kembali  terjadi  ketika  bom  mengguncang  Jakarta  beberapa  waktu  silam.  (c)  Diberitakan,   pasca  bom  di  Jakarta,  mata  uang  dolar  AS  pun  mulai  diburu.  (d)  Hal  ini  terjadi

   karena dolar AS menguat, pasca serangan bom mematikan di Indonesia.   (Kedaulatan

   Rakyat, 22 Juli 2009) 

    (35) (a)

    Apakah  benar  penghitungan  cepat  melakukan  kebenaran?  (b)  Menurut  rencana,  hasil  rekapitulasi pemilihan presiden 2009 diumumkan pada 22‐24 Juli 2009. (b) Meski  ada

    pasangan  yang  menolak  ketetapan  KPU,  hasil  itu  akan  tegas  ditetapkan  (Kedaulatan   Rakyat,  22/7/2009).  (c)  Seperti  ramai  diberitakan,  dua  pasangan  capres  dan

    cawapres,  yakni  Megawati‐Prabowo  dan  Jusuf  Kalla‐Wiranto,  belum  akan  menentukan   sikap  atau  rencana  KPU  ini.  (d)  Mereka  melihat  ada  banyak  kecurangan  terjadi.

    (e)  Bentuk  atas  penolakan  hasil  keputusan  KPU  tentang  jumlah  suara  yang  diperoleh,  mereka tak akan menandatangani.  

    (Kedaulatan  Rakyat, 23 Juli 2009) 

    (36) (a)   Ini  memang tantangan di era  demokrasi. (b)  Tantangan in berbeda dengan ketika 

  Orde   Baru  berkali‐kali  menggelar  pemilihan  umum.  (c)  Bahkan,  berkali‐kali  mengelar 

  pemilihan   umum  itu,  hasilnya  sama  saja.  (d)  Yakni,  Soeharto  yang  terpilih  dengan 

  suara  mayoritas. (e) Siapa yang bisa mengalahkan Soeharto pada saat itu? (f) Tak ada  yang

   berani. (g) Sekarang ini, situasinya sudah jauh berbeda. (h) Sistem penilihab unun  yang   dilakukan  sudah  melibatkan  rakyat  secara  langsung.  (i)  Namun,  keputusan  bisa  saja

   tidak bulat utuh dan diterima seratus persen oleh calon‐calon lainnya.   (Kedaulatan  Rakyat, 23 Juli 2009) 

    (37) (a)   Ini  memang tantangan di era  demokrasi. (b)  Tantangan in berbeda dengan ketika 

  Orde   Baru  berkali‐kali  menggelar  pemilihan  umum.  (c)  Bahkan,  berkali‐kali  mengelar  pemilihan

   umum itu, hasilnya sama saja. (d) Yakni, Soeharto yang terpilih dengan suara  mayoritas.

   (e) Siapa yang bisa mengalahkan Soeharto pada saat itu? (f) Tak ada yang  berani.  (g) Sekarang ini, situasinya sudah jauh berbeda. (h) Sistem penilihab unun yang  dilakukan   sudah  melibatkan  rakyat  secara  langsung.  (i)  Namun,  keputusan  bisa  saja  tidak

   bulat utuh dan diterima seratus persen oleh calon‐calon lainnya.   (Kedaulatan  Rakyat, 23 Juli 2009) 

    (38) (a)   Siti  Lestari  memang  layak  bersyukur.  (b)  Melakukan  sujud  Syukur  saat  mendapat   kepastian

   bahwa anak menantunya. (c) Nur Said, bukan sebagai pelaku bom bunuh diri  di  Hotel JW Marriott. (d) SElama 3 malam perempuan yang di Klaten ini sempat tidak  tidur

   dan tidak makan – menyusul adanya berita bahwa Nur Hasbi yang diidentifikasi  sebagai  Nur Said merupakan pelaku bom bunuh diri di hotel internasional tersebut.  

  (Kedaulatan  Rakyat, 24 Juli 2009)   

  (39) (a)   Kepercayaan  kita  itu  mengacu  pada  kerja  dan  kinerja  Polri  saat  mengusut  kasus  Bom

   Bali I dan II, Bom di Kedubes Australia, bom Hotel JW Marriott I, dan lain‐lain. (b)  Juga  keberhasilannya menggagalkan rencana keji berikut meringkus kelompok teroris  di

    berbagai  kota  sebelum  mereka  sempat  beraksi.  (c)  Sukses  demi  sukses  itu 

    menorehkan   catatan  emas  di  dalam  buku  besar  prestasi  Polri  yang  mendapat  pengakuan

   internasional.   (Kedaulatan  Rakyat, 24 Juli 2009) 

    (40) (a)

   Setiap kali terjadi teror bom, pihak yang paling dirugikan adalah dunia perhotelan‐ pariwisata.

   (b) Sedangkan kamtibmas secara keseluruhan tidak terpengaruh. (c) Kalau  diamati,   teror  bom  yang  terjadi  di  Indonesia  ketika  suasana  kamtibmas  baik,  perekonimian

   membaok dan turis mancanegara berdatangan.   (Kedaulatan

   Rakyat, 25 Juli 2009) 

    (41) (a)

   Setiap kali terjadi teror bom, pihak yang paling dirugikan adalah dunia perhotelan‐ pariwisata.  (b) Sedangkan kamtibmas secara keseluruhan tidak terpengaruh. (c) Kalau  diamati,

    terror  bom  yang  terjadi  di  Indonesia  ketika  suasana  kamtibmas  baik,  perekonimian  membaik dan turis mancanegara berdatangan.  

  (Kedaulatan

   Rakyat, 25 Juli 2009) 

    (42) (a)  Kini para wisatawan mancanegara semakin kebal terhadap rasa takut terhadap aksi  terorisme.

    (b)  Masyarakat  pun  tidak  takut  terhadap  aksi  pengecut  semacam  itu.  (c)  Bahkan   pengeboman  di  Jakarta  pecan  lalu  meningkatkan  solidaritas  melawan  aksi  teror.

   (d) Terbukti pula aksi teroris tak mempan dalam menanamkan ketakutan kepada  masyarakat.   (e)  Para  teroris  hanya  dapat  menghancurkan  gedung‐gedung,  tapi  tak  mematikan

    semangat  bangsa  Indonesia  untuk  menciptakan  suasana  aman  sejahtera  dalam   alam  demokrasi.  (f)  Para  teroris  tak  bisa  mendikte  bangsa  Indonesia  untuk  menuruti

   kemauannya dalam pemboman.   (Kedaulatan Rakyat, 25 Juli 2009) 

    (43) (a)

    Sengaja  kita  kutipkan  pernyataan  Ketua  Mahkamah  Konstitusi  (MK)  Prof  Dr  HM 

  Mahfud   MD  SH  di  atas  sebagai  acuan  dalam  menyikapi  hasil  Pilpres  8  Juli  2009.  (b) 

  Alasan  yang dikemukakan Guru Besar Hukum Politik UII itu., kalau keabsahan Pemilu 

    (Pilpres ‐red) tergantung dengan tanda tangan bisa dipastikan hasil pemilu di Indonesia  tidak

   ada yang tanda tangan .  (c)   Kita  meyakini  pernyataan  Mahfud  itu  tentunya  didasrkan  pada  peraturan  perundangan

    yang  berlaku.  (d)  Sebagai  awam  kita  mempercayai  saja.  (e)  Sebab  mungkin   pada  kesempatan  lain  Prof  Mahfud  akan  berkesempatan  menulis  di  harian  lain,

   dasar dan landasan hukum yang menyertai pernyataan.  (f)

   Kiranya kita bisa menarik kesimpulan dari pernyataan Prof  Mahfud itu.  (g) Bahwa  penetapan   hasil  rekapitulasi  suara  pilpres  yang  dilakukan  KPU,  Sabtu  (25/7),  adalah  sah.

    (h)  Artinya,  kemenangan  SBY‐Boediono  merupakan  kemenangan  yang  sah.  (i)  Kemenangan   yang  resmi,  legal  konstitusional  –  tidak  bakal  terpengaruh  ada  tidaknya  tanda

   tangan dari kubu‐kubu yang menjadi pesaing SBY‐Boediono.   (Kedaulatan  Rakyat, 27 Juli 2009) 

    (44) (a)

    Walaupun  polisi  telah  memastikan  pelaku  bom  bunuh  diri  bukan  Nur  Said  dan 

  Ibrohim,

    namun  sampai  sekarang  Densus  88  masih  mencari  keberadaan  mereka.  (b)  Keluarga

    kedua  orang  tersebut  juga  mengaku  tidak  tahu  keberadaan  mereka.  (c)  Keluarga  sangat yakin Nur Said dan Ibrohim tak terlibat jaringan teroris.  

  (Kedaulatan

   Rakyat, 28 Juli 2009) 

    (45) (a)

   Personel Densus 88 juga telah disebar ke berbagai tempat. (b) Densus 88 menyisir  berbagai  lokasi yang diduga sebagai tempat persembunyian Noordin M Top dan anak  buahnya,

    baik  di  Jateng,  DIY  maupun  luar  Jawa.  (c)  Dalam  beberapa  penggerebekan  yang  dilakukan Densus 88, Noordin M Top selalu lolos. (d) Ia dikanal licin seperti belut. 

  (e)  Lantas, dimana sesungguhnya Noordin M Top bersembunyi? (f) Tak ada yang bisa  menjawabnya.

   (g) Karena itu, polisi terus menyebar foto gembong teroris itu dengan  berbagai  versi.   (Kedaulatan

   Rakyat, 28 Juli 2009) 

    (46) (a)

   Personel Densus 88 juga telah disebar ke berbagai tempat. (b) Densus 88 menyisir  berbagai  lokasi yang diduga sebagai tempat persembunyian Noordin M Top dan anak  buahnya,

    baik  di  Jateng,  DIY  maupun  luar  Jawa.  (c)  Dalam  beberapa  penggerebekan 

    yang  dilakukan Densus 88, Noordin M Top selalu lolos. (d) Ia dikanal licin seperti belut.  (e)

   Lantas, dimana sesungguhnya Noordin M Top bersembunyi? (f) Tak ada yang bisa  menjawabnya.  (g) Karena itu, polisi terus menyebar foto gembong teroris itu dengan  berbagai

   versi.   (Kedaulatan

   Rakyat, 28 Juli 2009) 

    (47) (a)

   Boleh jadi, Noordin yang warga Negara Malaysia ini masih berada di Indonesia. (b)  Intelijen

    Malaysia  sendiri  sangat  meyakini  yang  bersangkutan  tidak  berada  di  negaranya.

   (c) Kita sungguh khawatir jika kelompok Noordin ini terus menyebar teror  di  Indonesia. (d) Mengapa Noordin tak menyebar terror di negaranya sendiri? (e) Sama  sulitnya

   menjawab pertanyaan mengapa Noordin memilih sasaran di Indonesia.   (Kedaulatan  Rakyat, 28 Juli 2009) 

    (48) (a)

   Boleh jadi, Noordin yang warga Negara Malaysia ini masih berada di Indonesia. (b)  Intelijen

    Malaysia  sendiri  sangat  meyakini  yang  bersangkutan  tidak  berada  di  negaranya.

   (c) Kita sungguh khawatir jika kelompok Noordin ini terus menyebar teror  di  Indonesia. (d) Mengapa Noordin tak menyebar teror di negaranya sendiri? (e) Sama  sulitnya

   menjawab pertanyaan mengapa Noordin memilih sasaran di Indonesia.   (Kedaulatan Rakyat, 28 Juli 2009) 

    (49) (a)

   Kita mendukung perburuan terhadap teroris. (b) Namun tetap harus mengindahkan  koridor   hukum,  tidak  asal  tangkap.  (c)  Seperti  ketika  mengamankan  Ahmadi,  warga 

  Cilacap   yang  diduga  anak  buah  Noordin  M  Top,  polisi  tak  menemukan  bukti  keterlibatannya.

    (d)  Akhirnya  Ahmadi  pun  dilepas.  (e)  Hampir  bisa  dipastikan,  polisi  belum  memiliki bukti awal yang cukup untuk melakukan penyelidikan.  

  (Kedaulatan  Rakyat, 28 Juli 2009)   

  (50) (a)  Dengan demikian, tentunya optimism bisa kita kedepankan pada tahun mendatang  ,

    ketika  pasar  ekspor  yang  baru  sudah  terwujud.  (b)  Artinya,  tak  berlebihan  kalau  kemudian   Menteri  Perdagangan  melontarkan  prediksinya,  untuk  tahun  2010

    pertimbuhan  ekspor akan kembali positif ke posisi 5 persen. (c) Hal ini mengandaikan  terjadinya

    perbaikan  kondisi  perekonomian  global  yang  akan  meningkatkan  permintaan   barang‐barang  dari  Indonesia.  (d)  Pada  tahun  2010  itu  pertumbuhan  ekspor

    sudah  5  persen  disbanding  dengan  tahun  2008,  namun  volume  ekspor  pada 

  tahun   2010  diperkirakan  masih  minus  20  persen  jika  dibandingkan  2008,  karena 

  recovery  masih sangat lemah.  

  (Kedaulatan

   Rakyat, 29 Juli 2009) 

    (51) (a)

   Ketika gencar‐gencarnya kampanye pemilihan presiden, gencar pula iklan mengenai  pendidikan  gratis. (b) Iklan tersebut sekarang sudah tidak muncul lagi. (c) Namun, iklan  tersebut

   justru meninggalkan persoalan. (d) Benarkah pendidikan itu gratis alias tidak  dipungut   biaya?  (e)  Iklan  tersebut  sangat  luar  biasa  daya  sentuhnya  bagi  masyarakat  yang

   banar‐benartidak  punya. (f) Sebab, sesuatu yang gratis itu  akan membuat siapa  pun   tidak  akan  kerepotan  mengeluarkan  biaya.  (g)  Jika  benar  pendidikan  gratis,  mengapa

    kenyataannya  masih  menuai  protes?  (h)  Inilah  persoalan  yang  pelik  bagi  dunia  pendidikan.  

  (Kedaulatan  Rakyat, 30 Juli 2009)   

  (52)  (a)  Citra  dunia  penerbangan  Indonesia  kembali  terpuruk.  (b)  Belum  lagi  selesai  pemulihan   citra  penerbangan  kita  di  mata  Uni  Eropa,  kini  muncul  ‘vonis’  yang  cukup  menyakitkan,   yakni  predikat  sebagai  salah  satu  maskapai  penerbangan  yang  masih  kategori

    ‘paling  tidak  aman’  di  dunia.  (c)  Dalam  siaran  Stasiun  TV  ‘Saluran  Tujuh’  Australia,

   disebutkan bahwa Indonesia, Angola, Liberia, Sudan, dan Korea Utara dinilai  sebagai  lima Negara dengan maskapai penerbangan ‘paling tidak aman’ di dunia (KR,  30/6).   

     

  (53) (a)  Cawapres Prabowo Subianto menilai DPT menjadi catatan cacat Pemilu 2009. (b) Ia  memperkirakan   terdapat  sekitar  2  juta  suara  yang  tidak  beres  di  Jawa  Timur.  (c) 

  Menurutnya,  kalau masalah itu dibiarkan berarti terdapat 2 juta suara potensial yang  tidak  sah.  

  (Kedaulatan

   Rakyat, 3 Juli 2009) 

       

       

  KOHESI  HIPONIMI 

  (1) (a)   Pernyataan  yang  dimunculkan  di  stasiun  televisi  di  Australia  itu  pun  bisa  jadi  memunculkan   polemik  tersendiri,  terkait  dengan  kredibilitasnya.  (b)  Misalnya  saja,  ketika

   dikedepankan oleh ‘Channel seven’, bahwa ada delapan maskapai yang dianggap  ‘paling

    aman’  di  dunia,  yakni  Qantas,  South‐west  Airlines,  Air  New  Zealand,  Delta, 

  Cathay  Pacific, Asiana Airlines, Emirates, dan Lufthansa. (c) Dalam hal ini objektivitas 

  penetapan   posisi  pertama  Qantas  dalam  daftar  maskapai  penerbangan  teraman  di  dunia

   itu juga layak dipertanyakan. (d) Karena, dalam sejarah penerbangan, Qantas juga  mengalami  beberapa kali insiden penerbangan serius. (Kedaulatan Rakyat, 1 Juli 2009)   

  (2) (a)   Jumlah  rekaning  tersebut,  berasal  dari  seluruh  instansi  pemerintah  dan  berada  di  bank

  ‐bank  nasional.  (b)  Tentu,  dalam  melakukan  gerakan  ini,  Departemen  Keuangan  tidak   bekerja  sendiri,  namun  melibatkan  Komisi  Pemberantasan  Korupsi  dan  Badan 

  Pengawas  Keuangan dan Pembangunan. (c) Tak heran kalau kemudian dilaporkan pula 

  ada   beberapa  rekening  yang  terindikasi  korupsi,  yang  ada  di  beberapa  departemen,  seperti  di Departemen Sosial dan Departemen Tenaga Kerja. (Kedaulatan Rakyat, 8 Juli 

  2009)    

  (3) (a)   Dalam  hitung‐hitungan  politik,  wajar  bila  nanti  parpol  pendukung  pasangan  SBY‐

  Boediono,   minta  ‘jatah’  di  kursi    kabinet.  (b)  Beberapa  nama  telah  dimunculkan, 

    misalnya   dari  PKS  ada  Tifatul  Sembiring,  dari  PAN  Hatta  Rajasa,  PPP  Suryadharma  Ali  dan

   sebagainya. (c) Namun, itu semua masih dalam tataran isu.   (d)

   Sedang sikap Partai Golkar, sampai saat ini masih belum jelas apakah akan merapat  ke  SBY‐Boediono atau tidak. (e) Secara resmi hal itu akan ditentukan Munas – walaupun  banyak

    kalangan  meragukan  Golkar  memilih  oposisi.  (f)  Koalisi  besar  yang  dibangun  dengan  PDIP, Hanura, dan Gerindra pun terancam pecah. 

  (g)   Meski  secara  resmi  Golkar  tidak  masuk  dalam  koalisi  pendukung  SBY‐Boediono  –  karena  menjagokan Jusuf Kalla‐Wiranto (Hanura) – namun suaranya di parleman dukup  signifikan.

    (h)  Partai  besar  lainnya,  seperti  PDIP  misalnya,  sikapnya  lebih  jelas  untuk  memilih  oposisi. (i) Sikap Partai Gerindra juga cukup jelas terbaca untuk beroposisi. (j) 

  Dalam  pilpres partai ini berkoalisi dengan PDIP dengan mengusung Prabowo Subianto  sebagai

   cawapres mendampingi Megawati.   (k)

    Melihat  komposisi  kursi  di  parlemen,  dimana  Partai  Demokrat  mandominasi,  ditambah   dengan  partai  pendukung  koalisi,  semestinya  ada  kekuatan  lain  untuk  mengimbangi  pemerintahan SBY‐Boediono (bila memang terpilih sebagai presiden‐wakil  presiden.  (Kedaulatan Rakyat, 14 Juli 2009)   

  (4) (a)   Karena,  dalam  beberapa  waktu,  masyarakat  sempat  dibuat  sesak  napas  lantaran  kenaikan

    BBM  yang  beruntun,  walau  kemudian  juga  dilanjutkan  dengan  langkah  atau  kebijakan  penurunan harga BBM adalah benar‐benar karena logika perhitungan rasional  yang   bisa  dipahami  dan  diterima  sebagian  besar  masyarakat.  (b)  Kalau  pun  ada  motif  politis  dari kebijakan tersebut, biarlah menjadi tanggungjawab yang bersangkutan saja.  (c)

   Satu hal perlu dicatat, sekecil apa pun kenaikan BBM, dampaknay akan sangat luas  danberantai.

    (d)  Sedangkan  ketikan  harga  BBM  diturunkan,  dampak  lanjutnya  tak  seketika  mengikutinya.  

    (e)   Sebagaimana  diketahui,  harga  bensin  Premium  saat  ini  sebesar  Rp  4.500  per  liter, 

  Minyak   Solar  (Gas  Oil)  Rp  4.500  per  liter  dan  Minyak  Tanah  (Kerosene)  sebesar  Rp 

  2.500  per liter. (f) Ditegaskan pemerintah, terhitung mulai pukul 00.00 waktu setempat  tanggal

    15  Juli  2009  ditetapkan  bahwa  harga  jual  eceran  BBM  tertentu,  yaitu  Bensin  Premium,

    Minyak  Solar  (Gas  Oil)  dan  Minyak  Tanah  (Kerosene)  dinyatakan  tidak  berubah.  (Kedaulatan Rakyat, 15 Juli 2009) 

    (5) (a)   Terkait  dengan  pergerakan  mata  uang,  khususnya  yang  jadi  acuan  bisnis  dan  perdagangan

    internasional,  seperti  dolar  AS    maupun  euro,  tentu  akan  sangat  peka  terhadap   setiap  peristiwa  yang  terjadi.  (b)  Sebagaimana  dilaporkan,  pasca  bom  di 

  Jakarta,  euro melemah manjadi 1,4096 dolar pukul 21.00 GMT  dari 1,4150 di New York  pada

    kamis.  (c)  Sementara  dolar  naik  menjadi  94,17  yen  dari  93,89  yen.  (Kedaulatan 

  Rakyat,  22 Juni 2009). 

    (6) (a)   Pada  debat  terbuka  di  TV,  ketiga  calon  presiden  menegaskan  akan  mengurangi  angka

   pengangguran lewat pemerataan pembangunan dan peningkatan kefiatan usaha.  (b)

    Langkah‐langkah  ini  menurut  Susilo  Bambang  Yudhoyono,  Megawati 

  Soekarnoputri,   dan  Jusuf  Kalla  dapat  mengurangi  jumlah  pengangguran  di  Indonesia 

  yang  mencapai 10 juta orang. (Kedaulatan Rakyat, 4 Juli 2009) 

             

                           

  KOHESI  SINONIMI 

  1.  (a) Sengaja kita kutipkan pernuataan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Prof 

  Dr  HM Mahfud MD SH di atas sebagai acuan dalam menyikapi hasil Pilpres 8 Juli 2009. 

  (b)  Alasan yang dikemukkan Guru Besar Hukum Politik UII itu, kalau keabsahan Pemilu  (pilpres

  ‐red) tergantung dengan tanda tangan disa dipastikan hasil pemilu di Indonesia  tidak  ada yang tidak tanda tangan. 

  (c)   Kita  meyakini  pernyataan  Mahfud  itu  tentunya  didasarkan  pada  peraturan  perundangan

    yang  berlaku.  (d)  Sebagai  awam  kita  mempercayai  saja.  (e)  Sebab  mungkin   pada  kesempatan  lain  Prof  Mahfud  akan  berkesempatan  menulis  di  harian  lain,

    dasar  dan  landasan  hukum  yang  menyertai  pernyataan.  (Kedaulatan  Rakyat,  27  Juli  2009) 

  2. (a)   Kini  nampak semakin  banyak wisatawan datang di Yogya. (b) Hal ini menandakan  citra

    aman  di  Yogya  khususnya  dan  Indonesia  umumnya  sudah  punya  gaung  di  luar  negeri.

   (c) P{emilu dan pilpres yang berjalan tanpa gejolak juga menambah citra aman  di   mancanegara.  (d)  Tapi  terjadinya  bom  di  Hotel  Ritz  Carlton  dan  JW  Marriott  yang  dipastikan

    akan  tersiar  ke  seluruh  dunia  bisa  menbuyarkan  industri  pariwisata  yang  mulai  beranjak naik. (Kedaulatan Rakyat, 18 Juli 2009) 

     

  3. (a)   Tentu  saja  yang  perlu  kita  pertanyakan  adalah  kepastian  rakyat  sudah  terdaftar  dalam   Daftar  Pemilihan  Tetap.  (b)  Dari  situlah  keikutsertaan  rakyat  dalam  pesta  demokrasi

   menjadi besar artinya. (c) Kita berharap jangan sampai ada rakyat yang tidak  mendapat  kesempatan untuk berpartisipasi. (d) Memilih calon pemimpin bangsa, pada  momentum

   pemilihan presiden, adalah hak setiap warga Negara, sehingga jika sampai  tak  memperoleh kesempatan itu maka akan menjadi kurang lengkap peran kita sebagai  rakyat.  (Kedaulatan Rakyat, 2 Juli 2009) 

    4. (a)  Flu babi masuk Yogyakarta. (b) Demikian judul berita Koran kita hari Sabtu (11/7)  yang

    lalu.  (c)  Diberitakan,  seorang  pelajar  pria  berinitial  AR,  18  tahun,  warga  Sleman  diduga   suspek  flu  babi  dirawat  di  ruang  isolasi  Kartika  RS  Dr  Sardjito  Yogyakarta.  (d)  Menurut

    Ketua  Tim  Satuan  Penanggulangan  Flu  Burung  dan  Flu  babi  rumah  sakit  tersebut,  dr Sumardi SpPD‐KP, AR baru saja pulang dari daerah yang terjangkit H1N1  yakni

   California Amerika Serikat. (Kedaulatan Rakyat, 13 Juli 2009)   

  5. (a)  Flu babi masuk Yogyakarta. (b) Demikian judul berita Koran kita hari Sabtu (11/7)  yang   lalu.  (c)  Diberitakan,  seorang  pelajar  pria  berinisial  AR,  18 tahun,  warga  Sleman  diduga   suspek  flu  babi  dirawat  di  ruang  isolasi  Kartika  RS  Dr  Sardjito  Yogyakarta.  (d) 

  Menurut   Ketua  Tim  Satuan  Penanggulangan  Flu  Burung  dan  Flu  babi  rumah  sakit  tersebut,  dr Sumardi SpPD‐KP, AR baru saja pulang dari daerah yang terjangkit H1N1  yakni

   California Amerika Serikat.  (e)

    Kasus  yang  menimpa  pemuda  berusia  18  tahun  warga  Sleman  itu  tentu  saja  menarik   perhatian  kita.  (f)  Menarik,  karena  AR  merupakan  warga  pertama  DIY  yang  diduga

   suspek flu babi. (g) Sekaligus kasus pertama flu babi yang ditemukan di DIY. (h)  Kasus   ini  tentunya  pula  merupakan  warning  bagi  segenap  warga  Propinsi  DIY  pada  umumnya,

   para petugas dan instansi kesehatan pada khususnya. (Kedaulatan Rakyat,  13  Juli 2009)   

  6. (a)   Tidak  bisa  tidak.  (b)  Kita  harus  mewaspadai  serta  mengambil  langkah  cepat  dan  tepat

    dalam  mengantisipasi  penyebaran  flu  babi.  (c)  Menyosialisasikan  gejala‐

  gejalanya,

    penyebab  dan  sumber  penularannya.  (d)  Berikut  tindakan  pertama  yang 

    perlu  dilakukan bila sampai mengetahui atau menemukan warga yang diduga suspek  flu

   babi.  (e)   Kita  tentu  tidak  menginginkan  flu  babi  mewabah  seperti  halnya  flu  burung.  (f)  Menimbulkan

   kekhawatiran dimana‐mana. (g) Memunculkan kepanikan karena tingkat  keganasannyaa,   sehingga  merengut  banyak  nyawa  manusia.  (h)  Dalam  kaitan  ini,  tanggung

    jawab  untuk  mengantisipasinya  tidak  hanya  terbeban  di  pundak  Depkes  beserta   jajarannya  di  daerah‐daerah.  (i)  Namun,  juga  perlu  keterlibatan  instansi  dan  institusi  lain, seperti Dephub yang mengelola transpotrasi lalu lintas manusia. 

  (j)  Keterlibatan instansi lain seperti Dephub sangat diperlukan, seperti tercermin dalam  kasus  dugaan suspek flu babi yang menimpa AR, pemuda asal Sleman tersebut. (b) Dua  bandara

    yang  dilaluinya  sepulang  dari  California,  Soekarno‐Hatta  Jakarta  dan  Adisutjipto   Yogyakarta  tidak  mendeteksi  adanya  tanda‐tanda  yang  bersangkutan  terjangkit

   suspek flu babi. (Kedaulatan Rakyat, 13 Juli 2009)    7.  (a)  Pasca  Pilpres  8  Juli  2009,  muncul  wacana  baru  berkait  koalisi  partai‐partai.  (b)  Secara

    tegas  Partai  Gerindra  menyatakan  akan  tetap  setia  bergabung  dengan  PDIP,  sebagaimana   koalisi  yang  telah  terbangun  dalam  pilpres.  (c)  Sedang  Partai  Golkar  diwacanakan

    meninggalkan  Partai  Hanura  yang  menjadi  mitra  koalisinya  seperti  tercermin   dalam  duet  Jusuf  Kalla‐Wiranto.  (d)  Partai  berlambang  pohon  beringin  itu  dikabarkan

   tengah berusaha mendekat ke Partai Demolrat. (Kedaulatan Rakyat, 17 Juli  2009)    

  8. (a)   Kepercayaan  kita  itu  mengacu  pada  kerja  dan  kinerja  Polri  saat  mengusut  kasus 

  Bom  Bali I dan II, bom di Kedubes Australia, bom Hotel JW Marriott I, dan lain‐lain. (b) 

  Juga  Keberhasilannya menggagalkan rencana keji Berikut meringkus kelompok teroris  di   berbagai  kota  sebelum  mereka  sebelum  mereka  semapat  beraksi.  (c)  Sukses  demi  sukses

   itu menorehkan catatan emas di dalam buku besar prestasi Polri yang mendapat  pengakuan  internasional. (Kedaulatan Rakyat, 24 Juli 2009)         

                                       

  KOHESI  ANTONIMI 

  1. (a)  Dalam kampanye pemilihan kepala daerah bahkan sampai pada kepala Negara, isu  pendidikan

    memang  mudah  ditiupkan.  (b)  Ada  sejumlah  janji  yang  disampaikan  kepada  calon‐calon pemilihnya atau konstituennya, berkaitan dengan pendidikan ini.  (c)   Salah  satunya,  isu  pendidikan  gratis.  (d)  Mereka  yang  menempuh  pendidikan  di 

  sekolah   negeri  bisa  gratis  alias  tidak  ada  pungutan,  (e)  Padahal,  daya  tampungnya 

    terbatas,  mereka akhirnya memilih sekolah swasta. (f) Ternyata sekolah swasta tidak  sama

    dengan  sekolah  negeri.  (g)  Sebab  kalau  dikatakan  pendidikan  itu  gratis,  hanya  berlaku  untuk pendidikan di sekolah negeri. (Kedaulatan Rakyat, 30 Juli 2009) 

    2. (a)

    Memasuki  pemilihan  presiden  tahun  2009  ini,  semua  pihak  sepakat  untuk  menyelenggarakannya   dengan  damai.  (b)  tidak  untuk  saling  menyerang,  menyebarkan  kampanye hitam, tapi bersaing dengan sehat dihadapn rakyat. (c) Tidak  sekedar  obral janji, akan tetapi menyampaikan program konkret yang bisa diwujudkan  bila

    terpilih  nanti.  (d)  Bukan  hanya  teringat  pada  rakyat  ketika  membutuhkan  dukungan,  kemudian melupakannya setelah terpilih. (e) Bagaimanapun rakyat adalah  kekuatan.  (f) Kalau bukan kekuatan yang menentukan, maka tak ada ungkapan bahwa  suara

   rakyat adalah suara Tuhan. (Kedaulatan Rakyat, 2 Juli 2009)   

  3. (a)   Karena,  dalam  beberapa  waktu,  masyarakat  sempat  dibuat  sesak  napas  lantaran  kenaikan  BBM yang beruntun, walau kemudian juga dilanjutkan dengan langkah atau  kebijakan   penurunan  harga  BBM  yang  beruntun  pula.  (b)  Kita  hanya  berharap  kebijakan

   menaikan dan menurunkan harga BBM  adalah benar‐benar karena logika  perhitungan  rasional yang bisa dipahami dan diterima sebagian besar masyarakat. (c) 

  Kalau   pun  ada  motif  politis  dari  kebijakan  tersebut,  biarlah  menjadi  tanggungjawab  yang

    bersangkutan  saja.  (d)  Satu  hal  perlu  dicatat,  sekecil  apa  pun  kenaikan  harga  BBM,   dampaknya  akan  sangan  luas  dan  berantai.  (e)  Sedangkan  ketika  harga  BBM  diturunkan,  dampak lanjutnya tak seketika mengikutinya. (Kedaulatan Rakyat, 15 Juli  2009)  

  KOHESI  KOLOKASI 

  1. (a)   Mau  tidak  mau,  momentum  pemilihan  presiden  akan  datang  juga.  (b)  Jika  kita  menunggu   momentum  tersebut,  maka  pada  Rabu,  8  Juli  2009,  itulah  saatnya  tiba.  (c)  Pada

    saat  itu  kita  harus  menentukan  pilihan  dengan  tegas  setelah  mencermati,  memperhatikan,   mengamati,  dan  mengikuti  kampanye  yang  dilakukan  tiga  calon  presiden

   dan calon wakil presiden. (d) Karena formatnya adalah kampanye, maka isinya 

    adalah   memperkenalkan  program‐program,  mungkin  juga  termasuk  janji‐janji  yang 

  akan   dilaksanakan,  dan  meyakinkan  rakyat  agar  menentukan  pilihan  pada  dirinya

  (Kedaulatan

   Rakyat, 2 Juli 2009) 

    2. (a)

    Lagi,  kredibilitas  dan  netralitas  KPU  dipertanyakan.  (b)  Seminggu  menjelang  pelaksanaan   Pilpres  8  Juli  2009,  paling  tidak  terdapat  dua  masalah  melilit  komisi  penyelenggaraan  pemilu tersebut. (c) Masalah pertama berkait dengan daftar pemilih 

  tetap  (DPT)  yang belum juga dibuka sehingga masih terkesan menjadi dokumen rahasia 

  Negara   yang  misterius.  (d)  Masalah  kedua  berhubungan  dengan  spanduk  sosialisasi  pilpres

   yang mengindikai dukungan (KPU) kepada pasangan capres‐cawapres tertentu.   (e)

   Belum dibukanya DPT, lagi‐lagi mengerasi kredibilitas KPU. Berbagai pihak, termasuk  tim ‐tim sukses pasangan capres‐cawapres mempertanyakan perbaikan DPT pilpres yang  juga

    bermasalah  saat  berlangsung  pileg  9  April  2009.  (f)  Daftar  pemilih  ganda  masih  ditemukan   di  sejumlah  daerah.  (g)  Realitas  ini  dikhawatirkan  dapat  menguntungkan  pasangan  tertentu. (Kedaulatan Rakyat, 3 Juli 2009)   

  3. (a)  Berdasarkan data dari Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika Jawa Tengah  yang

   dikutip PT Jasa Raharja melalui situs www.jasaraharja.co.id, hingga Mei 2009 ada  489

   perlintasan KA di Jateng tanpa palang. (b) Sedang perlintasan yang berpalang pintu  hanya   90  buah.  (c)  Perlintasan  KA  tanpa  palang  inilah  yang  sering  merenggut  korban  jiwa.  

  (d)  Dalam kasus kecelakaan KA di Klaten, pihak PT KA menyatakan laju kereta api telah  sesuai  jalur. (e) Bahkan masinis telah berusaha mengerem dan mengurangi kecepatan  ketika

    melihat  minibus  macet  saat  berada  di  perlintasan.  (Kedaulatan  Rakyat,  7  Juli  2009)

     

    4. (a)   Citra  dunia  penerbangan  Indonesia  kembali  terpuruk.  (b)  Belum  lagi  selesai  pemulihan

    citra  penerbangan  kita  di  mata  Uni  Eropa,  kini  muncul  ‘vonis’  yang  cukup  menyakitkan,   yakni  predikat  sebagai  salah  satu  maskapai  penerbangan  yang  masih  kategori

    ‘paling  tidak  aman’  di  dunia.  (c)  Dalam  siaran  Stasiun  TV  ‘Saluran  Tujuh’  Australia,

   disebutkan bahwa Indonesia, Angola, Liberia, Sudan, dan Korea Utara dinilai  sebagai   lima  Negara  dengan  maskapai  penerbangan  ‘paling  tidak  aman’  di  dunia  (KR, 

  30/6).  (Kedaulatan Rakyat, 1 Juli 2009)   

  5. (a)  Keterlibatan instansi lain seperti Dephub sangat diperlukan, seperti tercermin dalam  kasus

   dugaan suspek flu babi yang menimpa AR, pemuda asal Sleman tersebut. (b) Dua 

  bandara

   yang dilaluinya sepulang dari California, Soekarno‐Hatta Jakarta dan Adisutjipto  Yogyakarta

   tidak mendeteksi adanya tanda‐tanda yang bersangkutan terjangkit suspek  flu  babi. (Kedaulatan Rakyat, 13 Juli 2009) 

  6. (a)   Flu  babi  masuk  Yogyakarta.  (b)  Demikian  judul  berita  Koran  kita  hari  Sabtu  (11/7)  yang   lalu.  (c)  Diberitakan,  seorang  pelajar  pria  berinitial  AR,  18  tahun,  warga  Sleman  diduga   suspek  flu  babi  dirawat  di  ruang  isolasi  Kartika  RS  Dr  Sardjito  Yogyakarta.  (d)  Menurut

    Ketua  Tim  Satuan  Penanggulangan  Flu  Burung  dan  Flu  babi  rumah  sakit  tersebut,   dr  Sumardi  SpPD‐KP,  AR  baru  saja  pulang  dari  daerah  yang  terjangkit  H1N1  yakni at.  California Amerika Serik  (Kedaulatan Rakyat, 13 Juli 2009)  

    7. (a)

    Kini  para  wisatawan  mancanegara  semakin  ketat  terhadap  rasa  takut  akibat  aksi 

  terorisme.   (b)  Masyarakat  pun  tidak  takut  terhadap  aksi  pengecut  semacamitu.  (c) 

  Bahkan  pemboman di Jakarta pecan lalau meninggalkan solidaritas melawan aksi teror.  (d)   Terbukti  pula  aksi  teroris  tak  mempan  dalam  menenamkan  ketakutan  kepada  masyarakat.

    (e)  Para  teroris  hanya  dapat  menghancurkan  gedung‐gedung,  tapi  tak  mematikan   semangat  bangsa  Indonesia  untuk  menciptakan  suasana  aman  sejahtera 

    dalam   alam  demokrasi.  (f)  Para  teroris  tak  bisa  mendikte  bangsa  Indonesia  untuk  menuruti

   kemauannya dengan pemboman. (Kedaulatan Rakyat, 25 Juli 2009)   

  8. (a)  Densus 88 Mabes Polri kian gencar memburu pentolan teroris Noordin M Top pasca  peledakan

    dua  hotel  mewah  di  Mega  Kuningan    Jakarta,  JW  Marriott  dan  The  Ritz  Carlton.   (b)  Kini  polisi  harus  bekerja  lebih  keras  lagi  karena  potongan  kepala  yang  ditemukan   di  dua  hotel  tersebut  tidak  identik  dengan  DNA  keluarga  Nur  Said    dan 

  Ibrohim   yang  selama  ini  disebut‐sebut  polisi  terkait  dengan  jaringan  teroris.  (Kedaulatan

   Rakyat, 28 Juli 2009) 

     

                           

       

  

K OH EREN SI

KOHERENSI  KAUSALITAS  

  1. (a)   Berapapun  besarnya,  tak  bisa  dijadikan  tolok  ukur  dan  perbandingan.  (b)  Karena,  kasus   korupsi  muncul,  biasanya  dimulai  dari  jumlah  yang  kecil.  (c)  Adanya  niat  dan  kesempatan

   dan didukung sarana akan berpeluang untuk terjadinya tindakan tak terpuji  yang  merugikan uang negara tersebut. 

  (d)  Oleh karena itu, kita semua dituntut mendukung tekad dari Departeman Keuangan  untuk

    terus  melakukan  pembersihan  rekening‐rekening  liar  bekerjasama  dengan  KPK  dan  BPK. (Kedaulatan Rakyat, 8 Juli 2009) 

    2. (a)  Kemarin rakyat Indonesia berbondong‐bondong pergi ke tempat pemungutan suara  terdekat,

    untuk  memilih  siapa  presiden  dan  wakil  presiden  untuk  lima  tahun  mendatang.   (b)  Kesadaran  ini  memang  dipicu  oleh  kesungguhan  rakyat  sendiri  untuk  memilih

   pemimpinnya. (c) Nasib bangsa ini memang ditentukan oleh bangsa kita sendiri.  (d)  Bukan oleh bangsa lain. (e) Oleh sebab itu, tanggal 8 Juli 2009 itulah nasib bangsa  kita

   ditentukan. (Kedaulatan Rakyat, 9 Juli 2009)    3.  (a)  Setelah  rakyat  mencontreng  presiden,  kita  berharap  negeri  kita  bakal  memiliki  pemerintahan

    yang  legitimated.  (b)  Siapa  pun  presidennya,  satu  pansang  diantaratiga  pasang  yang berkompetisi dengan ketat, itulah hasil maksimal yang bisa diperoleh. (c)  Kecuali

   jika tak ada upaya sama sekali. (d) Sedang upaya untuk menyempurnakan sudah  dilakukan   menjelang  hari‐hari  akhir  pemilihan,  itulah  kemajuan.  (e)  Oleh  sebab  itu,  marilah

    apa  yang  ada  ini  dijadikan  modal  untuk  tetap  menjaga  kedamaian.  (f)  Jangan  bikin  kisruh, hanya karena persoalan yang spele. (Kedaulatan Rakyat, 9 Juli 2009) 

    4. (a)

   Bisakah dipercaya bahwa tak ada kegiatan yang yang bersifat mengintimidasi siswa?  (b)

    Benarkah  aka  nada  sanksi  bagi  sekolah‐sekolah  yang  melakukan  pelanggaran?  (c)  Pertanyaan

    ini  memang  sangat  kritis,  dan  bisa  saja  muncul  melihat  kenyataan  yang 

    berbeda.  (d) Kita setuju bila kegiatan masa orientasi siswa ini bebas dari perploncoan.  (e)

    Ada  sanksi  yang  diterapkan.  (f)  Sanksi  itu  hendaknya  bukan  sekedar  asesoris  atau  pelengkap   peraturan.  (g)  Untuk  apa  harus  dengan  melakukan  intimidasi  siswa,  yang  memgarah

   pada perploncoan, misalnya ketika iklim pendidikan sudah tak lagi memberi  toleransi?  

  (h)  Oleh sebab itu, berbagai sekolah yang mengharapkan kegiatan dengan  melakukan  outbond,

    misalnya  sebagaimana  diterapkan  sejumlah  sekolah  (Kedaulatan  Rakyat,  14  Juli   2009),  tidak  perlu  ada  penggijlogan  sebab  masa  orientasi  siswa  itu  bukan  perploncoan.

    (i)  Sekolah  bisa  dikenai  sanksi  jika  dilanggar.  (j)  Sekolah  lain  ada  yang  mengundang  professor masuk sekolah . (k) Iyulah kegiatan‐kegiatan cerdas yang harus  dikembangkan.

    (l)  Tapi,  kenapa  masih  ada  warna‐warna  perploncoan  dengan  pembebanan   pada  siswa,  suara‐suara  keras  dari  seniornya,  dan  aturan  yang  ketat?  (Kedaulatan

   Rakyat, 16 Juli 2009)    5.  (a)  Tuntutan  reformasi  atau  revitalitas  di  tubuh  Badan  Intelijen  Negara  (BIN)  agaknya  sudah

    sangat  mendesak.  (b)  Beberapa  kali  BIN  kecolongan,  atau  setidak‐tidaknya  terlambat  mengantisipasi keadaan.  (c) Akibatnya pun fatal. (d) Dalam peristiwa ledakan  bom

    di  Hotel  JW  Marriott  dan  The  Ritz  Carlton,  Mega  Kuningan  Jakarta,  BIN  juga  mengakui   kecolongan.  (e)  Akibatnya,  kepercayaan  dunia  terhadap  kondisi  keamanan  Indonesia

   yang mulai pulih menjadi berantakan. (Kedaulatan Rakyat, 21 Juli 2009)    6.  (a) Walau di sisi lain, direformasikan bahwa pasar saham sebagian besar mengabaikan  serangan

    itu,  namun  tentunya  sikap  hati‐hati  juga  terus  dikedepankan.  (b)  Hal  ini  tampak   dengan  perilaku  beberapa  pelaku  bisnis  yang  melepas  berbagai  pososo  yang  dinilai

    berisiko.  (c)  Apalagi  mereka  beranggapan  bahwa  euro  merupakan  mata  uang  berisiko  lebih tinggi dibandingkan dengan dolar dan yen. (d) Ini jelas akan berpengaruh  pula

   pada peta kekuatan persaingan mata uang  dolar AS dan euro di kancah global.  (e)   Oleh  karena  itu,  pemerintah  Indonesia,  termasuk  juga  dalam  hal  ini  otoritas  moneter

    dituntut  untuk  jeli  dan  peka,  serta  melakukan  antisipasi  untuk  menghadapi  disetiap   kemungkinan  yang  terjadi,  dengan  melihat  perkembangan  pasar.  (Kedaulatan  Rakyat,

   22 Juli 2009)   

    7. (a)   Memasuki  tahun  ajaran  baru,  para  kepala  sekolah  negeri  akan  berpikir  jauh.  (b) 

  Sebab,   apabila  ada  kepala  sekolah  yang  mengharapkan  kebujakan  memungut  biaya  dengan  dalih apa pun, bisa terancam pidana atau sanksi. (c) Artinya, sekolah tidak perlu  melakukan

    pungutan,  bila  ingin  selamat  dan  tidak  mendapat  teguran.  (d)  Oleh  sebab 

  itu,

   sekolah gratis pada kenyataannya bisa menguntungkan tapi bisa pula menimbulkan  persoalan  tersendiri. (Kedaulatan Rakyat, 30 Juli 2009) 

    8. (a)  Kita mencermati bahwa actor utamayang membuat kinerja ekspor membaik adalah  pulihnya

    harga  komoditas  dunia  yang  sempat  jatuh  akibat  krisis  ekonomi  global.  (b)  Faktor   lainnya,  adanya  stimulus  ekonomi  yang  dilakukan  pemerinyah  Cina  akan  mendongkrak

   permintaan ekspor Indonesia ke negara tersebut. (c) Oleh karena itulah,  kita  berharap pemerintah Indonesia, khususnya pemerintahan baru pimpinan presiden  dan

    wapres  terpilih  nanti  dapat  melakukan  regulasi  yang  benar‐benar  mendukung  kinerja  ekspor. (Kedaulatan Rakyat, 29 Juli 2009) 

      9. (a)   Kita  juga  menginginkan  kabinet  mendatang  benar‐benar  diisi  kalangan  profesional.   (b)  Kalaupun  ia  kader  partai,  hendaknya  pertimbangan  profesionlisme   manjadi  pertimbangan  utama.  (c)  Sebab  bila  kabinet  hanya  dibentuk   berdasar  kompromi  politik  atau  sekedar  bagi‐bagi  jatah  kursi  untuk  pendukung   koalisi  partai,  dikhawatirkan  pemerintahan  todak  bisa  menjalankan  fungsinya  secara optimal untuk melayani rakyat. (14 Juli 2009) 

    10. (a)   Personel  Densus  88  juga  telah  disebar  ke  berbagai  tempat.  (b)  densus  88  menyisir  berbagai lokasi yang diduga sebagai tempat persembunyian Noordin M 

  Top   dan  anak  buahnya,  baik  di  Jateng,  DIY  maupun  luar  Jawa.  (c)  Dalam  beberapa  penggrebegan yang dilakukan Densus 88, Noordin M Top selalu lolos.  (d)  Ia dikenal licin seperti belut. (e) Lantas, dimana sesungguhnya Noordin M Top  bersembunyi?

    Tak  ada  yang  bisa  menjawabnya.  (f)  Karena  itu,  polisi  terus 

    menyebarkan   foto  gembong  teroris  itu  dengan  berbagai  versi.  (Kedaulatan  Rakyat,  28 Juli 2009) 

  KOHERENSI  KONTRAS  

  1. (a)   Ketiga  calon  presiden  sama‐sama  mengusung  ekonomi  kerakyatan  yang  sakan  membuka   lapangan  kerja  baru.  (b)  Namun  program  ekonomi  ketiga  capres  untuk  mengurngi

    pengangguran  tidak  menawarkan  suatu  konsep  yang  jelas,  dan  lebih  bersifat   wacana.  (c)  Seharusnya  dipaparkan  apa  yang  akan  dikerjakan  untuk  memperbaiki

    aset,  melakukan  perubahan  paradigm  pendidikan,  perubahan  dalam  mendapatkan  kredit dan sebagainya. (Kedaulatan Rakyat, 4 Juli 2009)   

  2. (a)   Kita  menggunakan  kata  ‘lagi‐lagi’  karena  peristiwa  serupa  sudah  berulang  kali  terjadi.

   (b) Dalam berbagai kesempatan, pihak PT KA juga menyatakan telah berusaha  membenahi   fasilitas  pengamanan,  terutama  di  jalur‐jalur  rawan  kecelakaan.  (c) 

  Namun,

   mengapa kecelakaan maut terus terjadi? (d) Mengapa begitu mudah nayawa  melayang?  (Kedaulatan Rakyat, 7 Juli 2009) 

    3. (a)

   Langkah penutupan rekening liar ini juga terkesan tidak pandang bulu. (b) Buktinya,  dari   data  bulan  Juni  2009,  dari  sebanyak  72  rekening  liar  yang  sudah  ditutup  oleh  Departemen

   Keuangan termasuk di dalamnya adalah rekening Departemen Keuangan 

    sendiri.   (c)  Namun,  besarnya  Hekinus  tidak  banyak,  sekitar  Rp  2  sampai  3  miliar.  (Kedaulatan

   Rakyat, 8 Juli 2009)   

  4. (a)   Kita  tentu  tidak  menginginkan  flu  babi  mewabah  seperti  halnya  flu  burung.  (b) 

  Menimbulkan   kekhawatiran  di  makna‐mana.  (c)  Memunculkan  kepanikan  karena  tingkat

   keganasannya, sehingga merenggut bayak nyawa manusia. (c) Dalam kaitan ini,  tanggung   jawab  untuk  mengantisipasinya  tidak  hanya  terbeban  di  pundak  Depkes  beserta   jajarannya  di  daerah‐daerah.  (d)  Namun  juga  perlu  keterlibatan  instansi  dan  institusi

    lain,  seperti  Dephub  yang  mengelola  transportasi  lalu  lintas  manusia.  (Kedaulatan  Rakyat, 13 Juli 2009)   

  5. (a)   Sebelumnya  disebut‐sebut  BIN  telah  mendapat  peringatan  dari  Australia  tentang  kemungkinan   adanya  aksi  teroris.  (b)  Namun  hal  itu  dibantah  Kepala  BIN  Syamsir 

  Siregar   yang  tegas  manyatakan  hal  itu  tidak  benar.  (c)  Terlepas  isi  semacam  itu,  kita  melihat

   BIN harus direformasi. (Kedaulatan Rakyat, 21 Juli 2009)   

  6. (a)   Ledakan  di  Hotel  JW  Marriott  Jakarta  bukan  saja  mengoyak  kepercayaan  dunia  internasional   terhadap  Indonesia,  tapi  juga  mempuruk  sistem  keamanan  intelijen  di 

  Tanah  Air. (b) Mengapa terjadi kecolongan yang sama?  (c) Seperti kita ketahui, pada 5  Agustus

   2003 bom meledak di Hotel JW Marriott dan menewaskan 12 orang dan 250  luka ‐luka. (d) Pasca ledakan, pengamanan di seluruh hotel diperketat. (e) Pengamanan  di

    Hotel  JW  Marriott  pun  superketat.  (f)  Namun,  pada  Jumat  17  Juli  2009  tragedi  kemanusiaan  kembali terulang. (g) Hotel JW Marriott dibom dan selang beberapa meit  giliran

   Ritz Carlton. (h) Sedikiitnya Sembilan orang meninggal dan 53 luka‐luka.    

  7. (a)  Rakyat memang sudah siap untuk memilih ketika kesadaan untuk datang ketempat‐ tempat  pemungutan suara tak lagi dihalangi oleh alasan lain. (b) Akan tetapi ada juga  sekelompok   orang  yang  tidak  akan  memilih.  (c)  Betapapun  mereka  tahu,  8  Juli  2009  adalah

   hari pencontrengan. (d) Bahkan sudah dipermudah dengan menunjukan kartu  tanda  penduduk pun bisa. (e) Namun, meskipun sudah banyak orang datang ke tempat  pemungutan

   suara, hari ini belum bisa dilihat di antara tiga pasang calon presiden itu  siapa  yang bakal memperoleh suara terbanyak. (f) Sebab, proses penghitungan masih  berjalan.

   (Kedaulatan Rakyat, 9 Juli 2009) 

     

  8. (a)  Beberapa kalangan mengusulkan agar kabinet mendatang diisi kalangan profesional  atau   ahli  dalam  bidangnya.  (b)  Usulan  semacam  itu  memang  terasa    masuk  akal.  (c) 

  Namun,

    kiranya  perlu  diingat,  dalam  setiap  penyusunan  kabinet,  selalu  melibatkan  kepentingan  parpol pendukung. (d) Bila benar SBY‐Boediono terpilih menjadi presiden‐ wakil

    presiden  periode  2009‐2014,  tentu  tak  bisa  mengesampingkan  koalisi  parpol  yang  mendukungnya. (Kedaulatan Rakyat, 14 Juli 2009) 

    9. (a)

   Ini memang tantangan di era demokrasi. (b) Tantangan ini berbeda dengan ketika  Orde  Baru berkali‐kali menggelar pemilihan umum. (b) Bahkan, berkali‐kali menggelar  pemilihan

   umum itu, hasilnya sama saja. (c) Yakni, Soeharto yang terpilih dengan suara  mayoritas.  (d) Siapa yang bisa mengalahkan Soeharto pada saat itu? (e) Tak ada yang  berani.

    (f)  Sekarang  ini,  situasinya  sudah  jauh  berbeda.  (g)  Sistem  pemilihan  umum  yang  dilakukan sudah melibatkan rakyat secara langsung.  (h) Namun, keputusan bisa  saja

   tidak bulat utuh dan diterima seratus persen oleh calon‐calon lainnya. (Kedaulatan  Rakyat,

    23 Juli 2009)   

  10. (a)   Tiga  mantan  Jendral  yang  bersaing  dalam  Pilpres  2009,  yakni  Susilo  Bambang 

  Yodhoyono,  Wiranto dan Prabowo Subianto, tampil dengan sikap populis dan mampu  membangun   citra  sipil.  (b)  Kalau  mereka  mahir  berpolitik,  orang  tidak  heran  karena  sejak   Orde  Baru  berkuasa  memang  banyak  jendral  berpolitik.  (c)  Tapi  saat  tampil  di  panggung

   politik dalam berbagai percaturan, terutama Pemilihan Umum, para jendral  selalu  merangkul kaum teknokrat. (d) Saat berkuasa di tingkat nasional maupun lokal,  jendral

    lebih  sibuk  berpolitik  dan  para  teknokrat  mengurusi  ekonomi.  (Kedaulatan  Rakyat,

   11 Juli 2009)   

  11. (a)  Dalam konteks itu, kita mengharapakan Partai Golkar lebih berani untuk beroposisi,  karena   suaranya  cukup  signifikan  di  parlemen.  (b)  Sebaliknya,  bila  Golar  merapat  ke 

  SBY ‐Boediono, sulit rasanya mengharapkan kekuatan yang seimbang di eksekutif dan  parlemen.

   (c) Lagi pula, secara etika politik, rasanya tidak pantas bila Golkar meminta  ‘jatah’

    kursi  di  kabinet,  sementara  partai  tersebut  telah  mengajukan  calon  sendiri  ketika  pilpres. (Kedaulatan Rakyat, 14 Juli 2009) 

   

    12. (a)   Karena,  dalam  beberapa  waktu,  masyarakat  sempat  dibuat  sesak  napas  lantaran  kenaikan

   harga BBM yang beruntun, walau kemudian juga dilanjutkan dengan langkah  atau   kebijkan  penurunan  harga  BBM  yang  beruntun  pula.  (b)  Kita  hanya  berharap,  kebijakan

    menaikan  dan  menurunkan  harga  BBM  adalah  benar‐benar  karena  logika  perhitungan  rasional yang bisa dipahami dan diterima sebagian beasar masyarakat, (c) 

  Kalau   pun  ada  motif  politis  dari  kebijakan  tersebut,  biarlah  menjadi  tanggung  jawab  yang

   bersangkutan saja. (d) Satu hal perlu dicatat, sekecil apa pun kenaikan harga BBM,  dampaknya   akan  sangat  luas  dan  berantai.  (e)  Sedangkan  ketika  harga  BBM  diturunkan,   dampak  lanjtnya  tak  seketika  mengikutinya.  (Kedaulatan  Rakyat,  15  JUli 

  2009)    

  13. (a)  Oleh sebab itu, berbagai sekolah yang mengharapkan kegiatan dengan melakukan  outbond,   misalnya  sebagaimana  diterapkan  sejumlah  sekolah  (Kedaulatan  Rakyat,  14 

  Juli   2009),  tidak  perlu  ada  penggijlogan  sebab  masa  orientasi  siswa  itu  bukan  perploncoan.

    (i)  Sekolah  bisa  dikenai  sanksi  jika  dilanggar.  (j)  Sekolah  lain  ada  yang  mengundang  professor masuk sekolah . (k) Iyulah kegiatan‐kegiatan cerdas yang harus  dikembangkan.   (l)  Tapi,  kenapa  masih  ada  warna‐warna  perploncoan  dengan  pembebanan

    pada  siswa,  suara‐suara  keras  dari  seniornya,  dan  aturan  yang  ketat?  (Kedaulatan  Rakyat, 16 Juli 2009) 

    14. (a)   Pasca  Pilpres  8  Juli  2009,  muncul  wacana  baru  berkait  koalisi  partai‐partai.  (b) 

  Secara   tegas  Partai  Gerindra  menyatakan  akan  tetap  setia  bergabung  dengan  PDIP,  sebagaimana

    koalisi  yang  telah  terbangun  dalam  pilpres.  (c)  Sedang  Partai  Golkar  diwacanakan   meninggalkan  Partai  Hanura  yang  menjadi  mitra  koalisinya  seperti  tercermin

    dalam  duet  Jusuf  Kalla‐Wiranto.  (d)  Partai  berlambang  pohon  beringin  itu  dikabarkan  tengah berusaha mendekat ke Partai Demokrat. (Kedaulatan Rakyat, 17 Juli  2009)

     

  15. (a)  Ini memang tantangan di era demokrasi. (b) Tantangan ini berbeda dengan ketika 

  Orde  Baru berkali‐kali menggelar pemilihan umum. (c) Bahkan, berkali‐kali menggelar  pemilihan  umum itu, hasilnya sama saja. (d) Yakni, Soeharto yang terpilih dengan suara  mayoritas.

   (e) Siapa yang bisa mengalahkan Soeharto pada saat itu? (f) Tak ada yang  berani.   (g)  Sekarang  ini,  situasinya  sudah  jauh  berbeda.  (h)  Sistem  pemilihan  umum  yang

    dilakukan  sudah  melibatkan  rakyat  secara  langsung.  (i)  Namun,  keputusan  bisa 

    saja  tidak bulat utuh dan diterima seratus persen oleh calon‐calon lainnya. (Kedaulatan  Rakyat,

   22 Juli 2009)   

  16. (a)   )  Memburu  teroris  tak  cukup  hanya  berbekal  keberanian,  tapi  juga  taktik  atau  strategi

    yang  jitu.  (b)  Untuk  mendapatkan  bukti  permulaan  yang  cukup,  sebelum  melakukan   penangkapan,  aparat  memang  dapat  menggunakan  laporan  intelijen.  (c) 

  Namun

    penetapan  bukti  permulaan  yang  cukup  itu  harus  dilakukan  proses  pemeriksaan   oleh  ketua  dan  wakil  ketua  Pengadilan  Negeri.  (d)  Hanya  saja,  pemeriksaan

   itu dilaksanakan secara tertutup (dalam waktu paling lama tiga hari). (e)  Proses  ini sesungguhnya untuk menghindari salah tangkap. (Kedaulatan Rakyat, 28 Juli  2009)

     

  17. (a)   Kini nampak semakin banyak wisatawan datang di Yogya. (b) Hal ini menandakan  citra

    aman  di  Yogya  khususnya  dan  Indonesia  umumnya  sudah  punya  gaung  di  luar  negeri.

   (c) Pemilu dan pilpres yang berjalan tanpa gejolak juga menambah citra aman  di   mancanegara.  (d)  Tapi  terjadinya  bom  di  hotel  Ritz  Carlton  dan  JW  Marriott  yang  dipastikan   akan  tersiar  keseluruh  dunia  bisa  membuyarkan  industri  pariwisata  yang  mulai

   beranjak naik. (18 Juli 2009)   

  18. (a)   Dalam  kampanye  pemilihan  kepala  daerah  sampai  kepada  kepala  negara,  isu  pendidikan  memang mudah ditiupkan. (b) Ada sejumlah janji yang disampaikan kepada  calon

  ‐calon pemilihnya atau konstituennya, berkaitan dengan pendidikan ini. (c) Salah  satunya,  isu pendidikan geratis. (d) Mereka yang menempuh pendidikan di si sekolah  negeri

    bisa  gratis  atau  tidak  ada  pungutan.  (e)  Padahal,  daya  tampunya  terbatas,  mereka   akhirnya  memilih  sekolah  swasta.  (f)  Ternyata  sekolah  swasta  tidak  sama  dengan  sekolah negeri. (g) Sebab kalau dikatakan pendidikan itu gratis, hanya berlaku  untuk

   pendidikan di sekolah negeri. (Kedaulatan Rakyat, 30 Juli 2009)   

  19. (a)  Dalam peristiwa tersebut terkesan gamapng untuk menyalahkan sopir. (b) Bahkan,  polisi   menduga,  kecelakaan  itu  terjadi  karena  kelalaian  sopir.  (c)  Padahal  seandainya  perlintasan

    KA  itu  berpalang  pintu,  mungkin  kecelakaan  bisa  sihindari.  (Kedaulatan  Rakyat,

   7 Juli 2009) 

     

  20. (a)  Rekening liar yang akan ditutup juga termasuk rekening Atase Pertahanan RI yang  terdapat   di  luar  negeri,  karena  tidak  sesuai  dengan  aturan  dan  dianggap  liar.  (b)  Itu  semua

    dinilai  tidak  sesuai  dengan  upaya  penyederhanaan.  (c)  Bahkan  Depkeu  menyebutkan,   Atase  Pertahanan  RI  yang  membuka  rekening  seperti  itu  ada  kurang  lebih

    di  23  negara.  (d)  Padahal  pembukaan  rekening  oleh  Atase  Pertahanan  ini  tidak  disetujui   oleh  Menteri  Luar  Negeri.  (e)  Marilah  kita  lihat  komitmen  dan  itikad  senua  pihak  untuk mendukung gerakan Depkeu ini. (Kedaulatan Rakyat, 8 Juli 2009) 

    21. (a)   Berbeda  denga  pemilihan  calon  anggota  legislatif  kemarin,  untuk  pemilihan  presiden

    tampaknya  berbagai  pihak  punya  kepentingan.  (b)  Sebab,  kalau  pemilihan  residen  hanya diikuti pemilih dengan apa adanya, sebenarnya banyak yang dirugikan.  (c)

    Bahkan  banyak  kejanggalan  yang  terjadi,  selain  banyak  juga  suara  tidak  terakomodasi.

   (d) Ke mana mereka? Selain itu ada sejumlah kejanggalan, umpamanya  orng  yang sudah meninggal masih terdaftar. (e) Anak dibawah umur , tercantum dalam  daftar

    pemilih.  (f)  Sebaliknya,  nama  yang  berhak  memilih  tapi  justru  tidak  tercatat.  (Kedaulatan  Rakyat, 9 Juli 2009) 

    22. (a)  Sebagian terbesar media cetak dan elektronik di seluruh dunia takjub dan memuji  pelaksanaan

    Pilpres  2009  di  Indonesia.  (b)  Pasalnya,  sejak  zaman  kemerdekaan  Indonesia   baru  dua  kali  menggelar  Pilpres  langsung,  dan  Pilpres  2009  di  seluruh  penjuru

    tanah  air  berjalan  tenang  dan  damai.  (c)  Padahal  11  tahun  lalu  Indonesia  dikuasai   pemerintahan  totaliter  yang  represif  dan  selalu  menggelar  demokrasi  kosmetika.

   (Kedaulatan Rakyat, 11 Juli 2009) 

   

  KOHERENSI   ADITIF  

    1) (a)

   Faktanya, sekolah itu tidak ada yang gratis dalam pengertian sebenarnya. (b) Dana  BOS  dan Bosda terkesan sangat basa‐basi, yang bisa menimbulkan rasa iri bagi sekolah  di

    luar  konteks  negeri.  (b)  selain  itu,  justru  seringkali  tidak  bisa  member  solusi  atas  persoalan   yang  dialami  sekolah  bersangkutan.  (c)  Bahkan,  terjadi  perbedaan  penerimaan

   antara sekolah di wilayah kota dan di wilayah kabupaten. (d) Selain dari 

  pada  itu, apakah tidak bisa bantuan pemerintah itu juga diberlakukan untuk sekolah 

  swasta?   (e)  Sebab,  bantuan  yang  diterima  pun  tidak  berarti  segala  sesuatunya  bisa  dikatakan

   gratis. (f) Dalam konteks lain, barangkali sekolah dengan biaya murah akan  lebih  bijak daripada disebut gratis. (Kedaulatan Rakyat, 30 Juli 2009)   

  2) (a)  Sebagaimana diketahui, harga bensin Premium saat ini sebesar Rp 4.400 per liter,  Minyak

    Solar  (Gas  Oil)  Rp  4.500  per  liter  dan  Minyak  Tanah  (Kerosene)  sebesar  RP  2.500

    per  liter.  (b)  Ditegaskan  pemerintah,  terhitung  mulai  pukul  00.00  waktu  setempat   tanggal  15  Juli  2009  ditetapkan  bahwa  harga  jual  eceran  BBM  tertentu,  yaitu

    Bensin  Permium,  Minyak  Solar  (Gas  Oil)  dan  Minyak  Tanah  (Kerosene)  dinyatatakan  tidak berubah. 

    (c)  Selain itu, tetap mengacu kepada Peraturan Menteri ESDM Nomor 1 tahun 2009,  tanggal

   12 Januari 2009 tentang Harga Jual Eceran Bahan Bakar Minyak Jenis Minyak  Tanah   (Kerosene),  Bensin  Premium  dan  Minyak  Solar  (Gas  Oil)  untuk  Keperluan  Rumah

    Tangga,  Usaha  Kecil,  Usaha  Perikannan,  Transportasi  dan  Pelayanan  Umum,  yaitu   untuk  Bensin  Premium  sebesar  Rp  4.500  per  liter,  minyak    solar  Rp  4.500  per  liter,

   dan minyak tanah Rp 2.500 per liter.   

  3) (a)   Berbeda  dengan  pemilihan  calon  anggota  legislatif  kemarin,  untuk  pemilihan  presiden   tampaknya  berbagai  pihak  punya  kepentingan.  (b)  Sebab,,  kalau  pemilihan 

    presiden  hanya diikuti pemilih dengan apa adanya, sebenarnya banyak yang dirugikan.  (c)

   Bahkan banyak kejanggalan terjadi, selain banyak juga suara tidak terakomodasi.  (d)  Kemana mereka? (e) Selain itu ada sejjumlah kejanggalan, umpamanya orang yang  sudah

    meninggal  masih  terdaftar.  (f)  Anak  di  bawah  umur,  tercatat  dalam  daftar  pemilih.

    (g)  Sebaliknya,  nama  yang  berhak  memilih  tapi  justru  tidak  tercatat.  (Kedaulatan

   Rakyat, 9 Juli 2009) 

  KOHERENSI  TEMPORAL    

  1. (a)   Tiga  mantan  Jendral  yang  bersaing  dalam  Pilpres  2009,  yakni  Susilo  Bambang 

  Yudhoyono,  Wiranto, dan Prabowo Subianto, tampil dengan sikap populis dan mampu  membangun

   citra sipil. (b) Kalau mereka mahir berpolitik, orang tdak heran karena sejak  Orde  Baru berkuasa memang banyak jendral berpolitik. (c) Tapi, saat tampil di panggung  politik

    dalam  berbagai  percaturan,  terutama  pemilihan  Umum,  para  jendral  selalu  merangkul  kaum teknokrat. (d) Saat berkuasa di tingkat nasional maupun lokal, jendral  lebih

   sibuk berpolitik dan para teknokrat mengurusi ekonomi.  (e)Ketika

    Indonesia  dilanda  krisis  ekonomi  kemudian  Orde  Baru  tumbang,  politik  dan  ekonomi  kacau, rakyat pun memandang para jendral yang main politik sebagai dalang  segala

   bencan. (f) Sehingga sejak revormasi menggelinding, para jendral yang berpolitik  harus  melepaskan diri dari dinas militer aktif kemudian bikin  partai politik atau hanya  menjadi

   anggota partai politik. (Kedaulatan Rakyat, 11 Juli 2009) 

  KOHERENSI  KRONOLOGIS 

    1. (a)

    Akhirnya,  memang  kita  tunggu  saja  bagaimana  hasil  rekapitulasi  KPU  untuk  pemilihan   Presiden  2009.  (b)  Banyak  pihak  sudah  memberi  masukan,  memneri  kemudahan,

    seperti  Kartu  Tanda  Penduduk  pun  bisa  untuk  mencontreng.  (c)  Apakah  pasangan   Susilo  Bamabang  Yuhdoyono  dan  Boediono  akan  keluar  sebagai  pasangan  yang

    memperoleh  suara  terbanyak,  kita  tunggu  saja.  (d)  Kemudian,  kita  juga  akan  menunggu  keputusan, apakah satu putaran atau dua putaran. (e) Kita percayakan pada 

    KPU,   sebab  itulah  institusi  yang  bertanggung  jawab  menyelenggarakan  pemilihan  umum

   yang jujur, adil, bebas, langsung, dan rahasia. (Kedaulatan Rakyat, 23 Juli 2009) 

  KOHERENSI  RINCIAN 

  1. (a)   Lagi,  kredibilitas  dan  netralitas  KPU  dipertanyakan.  (b)  Seminggu  menjelang  pelaksanaan

    Pilpres  8  Juli  2009,  paling  tidak  terdapat  dua  masalah  melilit  komisi  penyelenggara  pemilu tersebut. (b) Pertama berkait dengan daftar pemilih tetap (DPT)  yang

    belum  juga  dibuka  sehingga  masih  terkesan  menjadi  dokumen  rahasia  Negara  yang   misterius.  (d)  Masalah  kedua  berhubungan  dengan  spanduk  sosialisasi  pilpres  yang   mrngindikasi  dukungan  (KPU)  kepada  pasanagan  capres‐cawapres  tertentu.  (Kedaulatan

   Rakyat, 3 Juli 2009)   

  2. (a)  Tanpa ada sistem penggojlogan atau sistem perploncoan yang bersifat membebani  para

   siswa baru, sesungguhnya ada yang bisa dipetik pengalaman menarik dari bergaul  dengan   kehidupan  sekolah  yang  baru.  (b)  Misalnya,  bagaimana  mengembangkan  kehidupan   intelektual,  dan  kehidupan  kompetitif.  (c)  Atau  bagaimana  menciptakan  sekolah  afar bersaing dalam kualitas produknya? Bukan bersaing dalam kebrutalan dan  kenakalan.

   (Kedaulatan Rakyat, 16 Juli 2009)   

   

    3. (a)  Kita juga menengarai betapa sanagt terpukulnya keluarga besar Nur Said  maupun 

  Ibrahim   saat  keduanya  diberitakan  secara  intensif  terlibat  dalam  pemboman  kedua  hotel

    tersebut.  (b)  Secara  spedifik,  pukulan  itu  tercermin  dari  pernyataan  Siti  Lestari  yang   selama  3  malam  tidak  tidur  dan  tidak  makan.  (c)  Ia  manjadi  tersiksa  secara  lahiriah

    dan  batiniah.  (d)  Menanggung  malu  yang  tak  terperikan  karena  harjat  dan  martabat   keluarga  menjadi  tercabik  secara  tiba‐tiba.  (e)  Untung  Mabes  Polri  melakukan  klarifikasi epat paa waktunya. (f) Sebelum keluarga dekat Nue Said maupun 

  Ibrahim  mendapat sanksi sosial. (g) Misalnya, masyarakat sekitar mengucilkannya dari  pergaulan  lingkungan. (Kdaulatan Rakyat, 24 Juli 2009) 

  4. (a)   Dalam  penanganan  terorisme,  polisi  menag  diberi  kewenangan  khusus  yang  berbeda

    dengan  penanganan  kasus  pidana  biasa.  (b)  Misalnya,  polisi  mempunyai  kewenangan   menangkap  seseorang  yang  diduga  keras  melakuakan  tindak  pidana  terorisme

   – berdasar bukti permulaan yang cukup – hingga paling lama 7x24 jam. (c)  Sedangkan  penahanan bisa dilakukan hingga enam bulan. (Kedaulatan Rakyat, 28 Juli  2009)    

  5. (a)   Pernyataan  yang  dimunculkan  di  stasiun  televisi  di  Australia  itu  pun  bisa  jadi  memunculkan

    polemik  tersendiri,  terkait  dengan  kredibilitasnya.  (b)  Misalnya  saja,  ketika  dikedepankan oleh ‘Channel Seven’ bahwa ada delapan maskapai yang dianggap 

  ‘paling   aman’  di  dunia,  yakni  Qantas,  South‐west  Airlines,  Air  New  Zealand,  Delta, 

  Cathay   Pacific,  Asiana  Airlines,  Emirates,  dan  Lufthansa.  (c)  Dalam  hal  ini  objektivitas  penempatan   maskapai  penerbangan  teranam  di  dunia  ittu  juga  layak  dipertanyakan.  (d)  Karena, dalam sejarah penerbangan, Qantas juga mengalami beberapa kali insiden  penerbangan

   serius. (Kedaulatan Rakyat, 1 Juli 2009)   

   

    6. (a)  Memang ada konsekuensi anggaran bila setiap perlintasan harus diberi palang, baik  manual

    maupun  mekanik.  (b)  Tapi,  mengingat  kepentingan  keselamatan  masyarakat  lebih  diutamakan, kita tetap mendesak agar semua perlintasan diberi palang pintu. (c) 

  Tinggal   sistem  pengelolaannya  yang  diatur  lebih  lanjut.  (d)  Misalnya,  untuk  daerah‐ daerah

    yang  jarang  dilalui  kendaraan,  mungkin  bisa  dengan  meminta  bantuan  masyarakat   setempat  untuk  menjaganya,  kalau  PT  KA  tak  punya  personel  penjaga. 

  (Kedaulatan  Rakyat, 7 Juli 2009)   

  7. (a)  Meski demikian, karena imbauan yang dikeluarkan Pemerintah Kerajaan Arab Saudi  itu   dimaksudkan  sebagai  antisipasi  terhadap  wabah  flu  babi,  Depag  dan  Depkes  RI  perlu

   merespon secara positif. (b) Semisal, mendeteksi secara cermat para calhaj yang  berpotensi  tertular H1N1 sekaligus memberikan solusinya. (Kedaulatan Rakyat, 31 Juli 

  2009)  

  KOHERENSI  INTENSITAS 

  4) (a)   Citra  dunia  penerbangan  Indonesia  kembali  terpuruk.  (b)  Belum  lagi  selesai  pemulihan

   citra penerbangan kita di mata Uni Eropa, kini muncul ‘vonis’ yang cukup  manyakitkan,   yakni  perdikat  sebagai  salah  satu  maskapai  penerbangan  yang  masih  kategori

    ‘  paling  tidak  aman’  di  dunia.  (c)  Dalam  siaran  Stasiun  TV  ‘Saluran  Tujuh’  Australia,

   disebutkan bahwa Indonesia, Angola, Liberia, Sudan, dan Korea Utara dinilai  sebagai  lima Negara dengan maskapai penerbangan ‘paling tidak aman’ di dunia (KR,  30/6).   (d)

   Bahkan, dalam acara yang diisi dengan wawancara dengan Redaktur Senior Jurnal  Manajemen

    Penerbangan  ‘Air  Transport  World’,  Geoffrey  Thomas  itu,  terungkap  bahwa   tingkat  keselamatan  berbagai  maskapai  penerbangan  Indonesia,  termasuk 

  Garuda,  masih dipandang jelak. (e) Lebih menohik lagi, dalam dialog itu juga sempat 

    dipertanyakan  mengapa pemerintah Australia tidak mengikuti langkah Uni Eropa yang  sudah

    terlebih  dahulu  melarang  maskapai  penerbangan  dari  18  negara,  termasuk  Indonesia.

   (Kedaulatan Rakyat, 1 Juli 2009)   

  5) (a)  Dalam kasus kecelakaan KA di Klaten, pihak PT KA menyatakan laju kereta api telah  sesuai

   jalur. (b) Bahkan masinis telah berusaha mengerem dan mengurangi kecepatan  ketika   melihat  minibus  berada  di  perlintasn.  (c)  Berdasarkan  keterangan  saksi  mata,  mesin  minibus macet saat berada di perlintasan. (Kedaulatan Rakyat, 7 Juli 2009) 

    6) (a)

    Dari  peristiwa  tersebut  terkesan  gampang  untuk  menyalahkan  sopir.  (b)  Bahkan  polisi  menduga, kecelakaan itu terjadi karena kelalaian sopir. (c) Padahal seandainya  perlintasan

    KA  itu  berpalang  pintu,  mungkin  kecelakaan  bisa  dihindari.  (Kedaulatan  Rakyat,

   7 Juli 2009)    7) (a)  Rekening liar yang akan ditutup juga termasuk rekening Atase Pertahanan RI yang  terdapat   di luar negeri, karena tidak sesuai dengan aturan dan  dianggap liar. (b) Itu  semua

    dinilai  tidak  sesuai  dengan  upaya  penyederhanaan.  (c)  Bahkan  Depkeu  menyebutkan,  Atase Pertahanan RI yang membuka rekening seperti ada kurang lebih  di

    23  negara.  (d)  Padahal  pembukaan  rekening  oleh  Atase  Pertahanan  ini  tidak  disetujui   oleh  Mentri  Luar  Negeri.  (e)  Marilah  kita  lihat  komitmen  dan  itikad  semua  pihak  untuk mendukung gerakan Depkeu ini. (Kedaulatan rakyat, 8 Juli 2009) 

    8) (a)

    Dengan  asumsi  pilpres  hanya  berlangsung  dalam  satu  putaran,  dalam  berbagai  kesempatan  wacana koalisi partai‐partai pasca pilpres itu telah digulirkan. (b) Bahkan  diskusi

   yang telah berlangsung – melalui beberapa stasiun televisi – telah melangkah 

    kea  rah yang lebih jauh. (c) Tidak sekedar mewacanakan posisi masing‐masing partai  di

    parlemen,  tetapi  juga  sudah  mulai  dibahas  pembagian  jatah  kursi  dalam  kabinet  mendatang.

   (d) Partai‐partai yang dalam pilpres bergabung dengan Partai Demokrat,  akan   mendapat  jatah  kursi  beberapa  Berikut  portofolio  apa.  (Kedaulatan  Rakyat,  17 

  Juli  2009) 

    9) (a)  Pariwisata bisa menambah devisa Negara. (b) Bahkan sempat diunggulkan sebagai  aset   yang  melebihi  ekspor  minyak.  (c)  Tapi  dunia  pariwisata  Indonesia  yang  belum  pulih

    dari  kehancuran  akibat  bom  Bali  dan  aksi  terorisme  lainnya,  akan  bisa bangkit  jika  rasa aman benar‐benar dirasakan para wisatawan mancanegara. (d) Tapi harapan  ini

   runyam akibat aksi bom di dua hotel di Jakarta. (Kedaulatan Rakyat, 18 Juli 2009)    10) (a)

    Fanatisme  sempit  dan  peremanisme  sangat  mengganggu  kemajuan  industry  pariwisata   yang  terbukti  mampu  menghidupi  rakyat  kecil  sebagai  pengasong,  hotel  sandal   jepit  hingga  hotel  berbintang.  (b)  Bahkan  kesenian  rakyat  atau  kesenian  tradisional

    lebih  hidup  jika  arus  wisatawan  mancanegara  mambanjir  ke  Indonesia.  (Kedaulatan

   Rakyat, 18 Juli 2009)    11) (a)

   Banyak spekulasi muncul terkait kasus peledakan bom di dua hotel berbintang itu.  (b)

    Kita  sungguh  menyayangkan  ketika  spekulasi  itu  justru  bergulir  setelah  presiden  SBY   mengungkap  data  intelijen  yang  menyebut  tentang  ada  upaya  penggagalan  pilpres.  (c) Diungkap pula beberapa sekenario teroris untuk menolak hasil pilpres. (d) 

  Bahkan,   untuk  meyakinkan  publik,  SBY  menunjukan  beberapa  foto  kegiatan 

  menembak  para teroris dengan target sasaran gambar wajah SBY. (Kedaulatan Rakyat, 

  21  Juli 2009) 

   

    12) (a)   Setiap  terjadi  bencana,  apalagi  bencana  yang  diakibatkan  oleh  ulah  teroris,  pasti  akan

    berdampak  pada  kondisi  perekonomian.  (b)  Hal  ini  juga  kembali  terjadi  ketika  bom  mengoyak Jakarta, beberapa waktu silam. (c) Diberitakan, pasca bom di Jakarta,  mata

    uang  dolar  AS  pun  mulai  diburu.  (d)  Hal  ini  terjadi  karena  dolar  AS  menguat,  pasca  serangan bom mematikan di Indonesia. 

  (e)

   Bahkan, beberapa analis berkomentar, dampak situasi ini, muncul para pedagang 

  penghindaran   risiko  atau  risk‐averse  yang  berlari  memburu  mata  uang  safe‐heven  atau   yang  dinilai  sebagai  ‘tempat  berlindung  yang  aman’  (KR,  21/7).  (Kedaulatan  Rakyat,

   22 Juli 2009)    13) (a)

   Ini memang tantangan di era demokrasi. (b) Tantangan ini berbeda dengan ketika  Orde

   Baru berkali‐kali menggelar pemilihan umum. (c) Bahkan, berkali‐kali menggelar  pemilihan   umum  itu,  hasilnya  sama  saja.  (d)  Yakni,  Soeharto  yang  terpilih  dengan  suara  mayoritas. (e) Siapa yang bisa mengalahkan Soeharto pada saat itu? (f) Tak ada  yang   berani.  (g)  Sekarang  ini,  situasinya  sudah  jauh  berbeda.  (h)  Sistem  pemilihan  umum  yang dilakukan sudah melibatkan rakyat secara langsung. (i) Namun, keputusan  bisa

    saja  tidak  bulat  utuh  dan  diterima  seratus  persen  oleh  calon‐calon  lainnya.  (Kedaulatan

   Rakyat, 22 Juli 2009)   

  14) (a)   Dengan  demikian,  akar  terror  bom  hanya  merusak  hotel  dan  tidak  merusak  perekonomian   maupun  kamtibmas.  (b)  Bahkan  semakin  menyulut  kebencian  masyarakat   terhadap  aksi  kekerasan,  karena  masyarakat  semakin  merindukan  suasana

   tenang temtram. (c) Bagi pihak manajemen hotel pun tidak kesulitan untuk  memperbaikinya.

   (Kedaulatan Rakyat, 15 Juli 2009)   

    15) (a)  Faktanya, sekolah itu tidak ada yang gratis dalam pengertian sebenarnya. (b) Dana 

  BOS  dan Bosda terkesan sangat basa‐basi, yang bisa menimbulkan rasa iri bagi sekolah  di

    luar  konteks  negeri.  (b)  selain  itu,  justru  seringkali  tidak  bisa  member  solusi  atas  persoalan   yang  dialami  sekolah  bersangkutan.  (c)  Bahkan,  terjadi  perbedaan  penerimaan

   antara sekolah di wilayah kota dan di wilayah kabupaten. (d) Selain dari  pada  itu, apakah tidak bisa bantuan pemerintah itu juga diberlakukan untuk sekolah  swasta?   (e)  Sebab,  bantuan  yang  diterima  pun  tidak  berarti  segala  sesuatunya  bisa  dikatakan  gratis. (f) Dalam konteks lain, barangkali sekolah dengan biaya murah akan  lebih

   bijak daripada disebut gratis. (Kedaulatan Rakyat, 30 Juli 2009)   

  16) (a)   Bahwa  SBY‐Boediono  akan  mengungguli  pasangan  Megawati‐Prabowo  maupun 

  Jusuf   Kalla‐Wiranto,  sudah  diperkirakan.  (b)  Berbagai  lembaga  survei  nasional  sejak  awal   menyajikan  keunggulan  itu  secara  berkala.  (c)  Malah  ada  lembaga  yang  sudah  berani

    meramal  bahwa  Pilpres  2009  akan  berlangsung  dalam  satu  kali  putaran.  (d)  Memang,

    lembaga  yang  bersangkutan  sempat  menuai  kecaman  –  karena  dalam  kenyataannya  menjadi bagian dari tim sukses SBY‐Boediono. (Kedaulatan Rakyat, 10 

  Juli  2009)  

                 

   

  K OH ESI K EPEN DEK AN SINGKATAN  

  1. (a)Lagi,   kredibilitas  dan  netralitas  KPU  dipertanyakan.  (b)  Seminggu  menjelang  pelaksanaan Pilpres 8 Juli 2009, paling tidak tersapat dua masalah  melilit  komisi penyelenggaraan pemilu tersebut. (c) Masalah pertama berkait  dengan

   daftar pemilih tetap (DPT) yang belum juga dibuka sehingga terkesan  masih   menjadi  dokumen  rahasia  negara  yang  misterius.  (d)  Masalah  kedua  berhubungan

    dengan  spanduk  sosialisasi  pilpres  yang  mengindikasikan  dukungan  (KPU) kepada pasangan capres‐cawapres tertentu.  

  Belum  dibukanya DPT, lagi‐lagi mengerosi kredibilitas KPU. (f) Berbagai pihak,  termasuk   tim‐tim  sukses  pasangan  capres‐cawapres  mempertanyakan  perbaikan

    DPT  pilpres  yang  juga  bermasalah  saat  berlangsung  pileg  9  April  2009.   (g)  Daftar  pemilih  ganda  masih  ditemukan  di  sejumlah  daerah.  (h)  Realitas ini dikhawatirkan dapat menguntungkan pasangan

              tertentu.(Kedaulatan  Rakyat, 3 Juli 2009)    2.   (a)  Walaupun  Komisi  Pemilihan  Umum  (KPU)  belum  secara  resmi  mengumumkan   pemenang  Pilpres  2009,  namun  hampir  bisa  dipastikan  pasangan   Susilo  Bambang  Yudhoyono  (SBY)‐Boediono,  bakal  memenangkan  pertarungan.

   (b) Kini perbincangan telah mengarah ke penyusunan kabinet.  (c)  Isu seputar siapa saja yang bakal duduk di kursi kabinet pun terus bergulir.   (d)

   Beberapa kalangan mengusulkan agar kabinet mendatang diisi kalangan  profesional   atau  ahli  dalam  bidangnya.  (e)  Usulan  semacam  itu  memang  terasa

    masuk  akal.  (f)  Namun,  kiranya  perlu  diingat,  dalam  setiap  penyusunan   kabinet,  selalu  melibatkan  kepentingan  parpol  pendukung.  (g) 

  Bila   benar  SBY‐Boediono  terpilih  menjadi  presiden‐wakil  presiden  periode  2009 ‐2014,  tentu  tidak  bisa  mengesampingkan  koalisi  parpol  yang  mendukungnya.  (Kedaulatan Rakyat, 14 Juli 2009)  3.  (a) Ada komitmen pemerintah yang cukup menyejukan. (b) Meskipun harga  minyak

    mentah  dunia  cenderung  mengalami  peningkatan,  namun  pemerintah   memutuskan  tidak  akan  menaikan  harga  bakan  bakar  minyak 

  (BBM)   di  dalam  negeri.  (b)  Tak  kurang  dari  Kepala  Biro  Hukum  dan  Humas  Departemen  Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sutisna Prawira, yang  menegaskan   di  Jakarta,  terhitung  15  Juli  2009  harga  BBM  tidak  mengalami  perubahan  (KR, 14/7). (Kedaulatan Rakyat, 15 Juli 2009) 

    4. a)   Setelah  kita  semua  melakukan  pencontrengan,  hajat  demokrasi  lima  tahunan   di  negeri  kita,  yang  ditunggu  masyarakat  tentu  hasilnya.  (b)  Hasil  resmi

   yang akan dikeluarkan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU). (c) Begitu  pulalah  dengan hasil rekapitulasi pemilihan presiden, yang berlangsung 8 Juli  2009.   (d)  Barangkali  jika  Susilo  Bambang  Yudhoyono  dan  Boediono  yang  unggul,

    kita  sudah  tidak  heran.  (e)  Sebab,  melalui  penghitungan  cepat,  lembaga ‐lembaga  yang  punya  metode  untuk  menghitung  secara  cepat  itu  sudah

    mengeluarkan  hasilnya.  (f)  Susilo  Bambang  Yodhoyono  yang  menggandeng   Boediono,  unggul  di  antara  pasangan  Mega‐Prabowo  dan 

  Jusuf  Kalla‐Wiranto.   (g)

    Apakah    benar  penghitungan  cepat  melakukan  kebenaran?  (h)  Menurut  rencana,  hasil rekapitulasi pemilihan presiden 2009 diumumkan pada 22‐24 

  Juli  2009. (i) Meski ada pasangan yang menolak ketetapan KPU, hasil itu akan  tegas   ditetapkan  (Kedulatan  Rakyat,  22/7/2009).  (j)  Seperti  ramai  diberitakan,   dua  pasangan  capres  dan  cawapres,  yakni  Megawati‐Prabowo  dan  Jusuf Kalla‐Wiranto, belum akan menentukan sikap atau rencana KPU ini.  (k)

   Mereka melihat ada banyak kecurangan terjadi. (l) Bentuk atas penolakan  hasil  keputusan KPU tentang jumlah suara yang diperoleh, mereka tidak akan  menandatangani.

   (Kedaulatan Rakyat, 23 Juli 2009)   

  AKRONIM  

  1. (a)  Tuntutan reformasi atau revitaslitas di tubuh Badan Intelijen Negara (BIN)  agaknya   sudah  sangat  mendesak.  (b)  Beberapa  kali  BIN  kecolongan,  atau  setidak ‐tidaknya terlambat mengantisipasi keadaan. (c) Akibatnya pun fatal. 

  (d)  Dalam peristiwa ledakan bom di Hotel JW Marriott dan The Ritz Carlton,  Mega

    Kuningan  Jakarta,  BIN  juga  mengakui  kecolongan.  (e)  Akibatnya,  kepercayaan   dunia  terhadap  kondisi  keamanan  Indonesia  yang  mulai  pulih  menjadi  berantakan. (Kedaulatan Rakyat, 21 Juli 2009)   

  2. (a)   Ketiga  calon  presiden  sama‐sama  mengusung  ekonomi  kerakyatan  yang  akan   membuka  lapangan  kerja  baru.  (b)  Namun  program  ekonomi  ketiga 

  capres

    untuk  mengurangi  pengangguran  tidak  menawarkan  suatu  konsep  yang   jelas,  dan  lebih  bersifat  wacana.  (c)  seharusnya  dipaparkan  ada  yang  akan

    dikerjakan  untuk  memperbaiki  aset,  melakukan  perubahan  paradigma  pendidikan,   perubahan  dalam  mendapatkan  kredit  dan  sebagainya. 

  (Kedaulatan  Rakyat, 4 Juli 2009) 

Dokumen baru

Download (202 Halaman)
Gratis

Tags

Dokumen yang terkait

Analisis isi tajuk rencana di surat kabar harian umum Pikrian Rakyat pada Bulan Mei ditinjau dari nilai berita
0
44
115
Deiksis pada rubrik tajuk rencana di harian Kompas edisi September-Desember 2015.
0
0
2
Pemakaian konjungsi pada kolom tajuk surat kabar Harian Jogja edisi November 2015.
1
1
133
Analisis ketepatan diksi pada kolom 'Analisis' surat kabar harian Kedaulatan Rakyat Edisi Maret 2014.
0
1
76
Pola pengembangan paragraf dan unsur-unsur paragraf dalam tajuk rencana surat kabar harian Kompas edisi November 2011.
1
9
158
Frekuensi, distribusi, dan fungsi kata modalitas bahasa Indonesia dalam tajuk rencana surat kabar harian Kompas edisi Maret 2012 dan implementasi penggunaannya dalam pembelajaran menulis karangan narasi di SMA.
1
10
107
Analisis ketepatan diksi pada kolom 'Analisis' surat kabar harian Kedaulatan Rakyat Edisi Maret 2014
0
0
74
Unsur paragraf, jenis paragraf, dan pola pengembangan paragraf pada tajuk rencana surat kabar Kompas edisi 1 15 Desember 2016
1
15
201
Alat kohesi gramatikal "elipsis" pada tajuk rencana surat kabar Kompas - Repositori Institusi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
0
0
15
Paragraf deduktif dalam tajuk rencana Harian Kompas - USD Repository
0
0
85
Kohesi dan koherensi antarparagraf dalam wacana opini surat kabar Kompas edisi nasional bulan April 2005 - USD Repository
0
0
85
Kesalahan ejaan pada berita utama surat kabar harian Kedaulatan Rakyat Juli-September 2008 - USD Repository
0
0
147
Informasi dan maksud dalam wacana pikiran pembaca pada surat kabar harian Kedaulatan Rakyat edisi bulan November 2007 - USD Repository
0
0
371
Satuan lingual pengisi fungsi predikat dalam wacana ``Adam Malik Tetap Pahlawan`` pada rubrik tajuk rencana harian Kompas edisi Senin 01 Desember 2008 - USD Repository
0
0
100
Nilai pendidikan moral pada puisi anak dalam surat kabar Kedaulatan Rakyat edisi Januari-Juni 2008 dan implementasinya dalam bentuk silabus dan RPP di SD kelas II semester 1 - USD Repository
0
0
116
Show more