Hubungan antara intensitas mengakses facebook dengan prokrastinasi akademik pada mahasiswa - USD Repository

Gratis

0
0
135
3 months ago
Preview
Full text

  

HUBUNGAN ANTARA INTENSITAS MENGAKSES

FACEBOOK DENGAN PROKRASTINASI AKADEMIK PADA

MAHASISWA

Skripsi

  

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi

Program Studi Psikologi

  Disusun oleh: Masnita Elvida Sinaga

  NIM : 069114082

  

PROGRAM STUDI PSIKOLOGI JURUSAN PSIKOLOGI

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

2010

  

HUBUNGAN ANTARA INTENSITAS MENGAKSES

FACEBOOK DENGAN PROKRASTINASI AKADEMIK PADA

MAHASISWA

Skripsi

  

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi

Program Studi Psikologi

  Disusun oleh: Masnita Elvida Sinaga

  NIM : 069114082

  

PROGRAM STUDI PSIKOLOGI JURUSAN PSIKOLOGI

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

2010

  

MOTTO :

Your talent is God's gift to you. What you do with it is your gift back to God

  • Leo Buscaglia-

  

“Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang

memberi kekuatan kepadaku”

Filipi 4:13

Do what you say and say what you can do, no lebay yaa….

  

  

Dengan penuh kasih, kupersembahkan karya

ini untuk : My beloved God, Jesus Christ.. skripsi ini sebagai salah satu bukti cinta kasih Tuhan untuk ku.. thank you Lord  my

  Kedua orang tua terdahsayatku.. You are motivation to do all the things right .. terkhusus untuk papi, skripsi ini hadiah dari kami sebelum papi pensiun.. we love u both :*

  Abang dan ade-ade ku tersayang yang mengajarkanku untuk bersikap dewasa sebagai kakak tapi tetep boleh manja sebagai ade, hohoho ^^,

  Semua orang yang mengasihiku dan yang aku kasihi.. terima kasih untuk semua cinta kasih yang boleh aku terima selama ini..

  

HUBUNGAN ANTARA INTENSITAS MENGAKSES

FACEBOOK DENGAN PROKRASTINASI AKADEMIK PADA

MAHASISWA

Masnita Elvida Sinaga

  

ABSTRAK

Masnita Elvida Sinaga (2010). Hubungan antara Intensitas Mengakses Facebook dengan

Prokrastinasi Akademik pada Mahasiswa. Yogyakarta: Fakultas Psikologi Universitas Sanata

  

Dharma. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antara intensitas

mengakses Facebook dengan prokrastinasi akademik pada mahasiswa. Hipotesis yang diajukan

dalam penelitian ini adalah ada hubungan positif antara intensitas mengakses Facebook dengan

prokrastinasi akademik pada mahasiswa. Subjek penelitian ini adalah 100 orang mahasiswa

Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma yang memiliki account di Facebook dan tidak

sedang mengalami masa penundaan kegiatan akademik. Alat pengumpulan data yang digunakan

terdiri angket intensitas mengkases Facebook dan skala prokrastinasi akademik. Reliabilitas skala

prokrastinasi akademik diuji dengan menggunakan metode koefisien reliabiltas Alpha Cronbach

dan diperoleh hasil sebesar 0,952. Data penelitian ini dianalisis dengan teknik korelasi Product

Moment dari Pearson. Koefisien korelasi yang diperoleh 0,843 dengan probabilitas 0,000 (p<

0,01). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa hipotesis diterima. Ini berarti ada hubungan positif

yang signifikan antara intensitas mengakses Facebook dengan prokrastinasi akademik pada

mahasiswa.

  Kata kunci : intensitas mengakses Facebook, prokrastinasi akademik

  

THE RELATION BETWEEN INTENSITY TO ACCESS

FACEBOOK AND STUDENT’S ACADEMIC

  

PROCRASTINATION

Masnita Elvida Sinaga

  

ABSTRACT

Sinaga, Masnita Elvida (2010). The Relation between Intensity to Access Facebook and

Student’s academic Procrastination. Yogyakarta: Faculty of Psychology Sanata Dharma

  

University. This research is aimed to determine the relation between intensity to access Facebook

and student’s academic procrastination. The hypothesis proposed in this research was that there is

a positive relation between intensity to access Facebook and student’s academic procrastination.

The subject of this research were 100 students of Psychology Faculty, Sanata Dharma University,

Yogyakarta which have account on Facebook, is an active student, and never leave before.

Collection of data used in this research was academic procrastination scales and Facebook

intensity questionnaire. Reliability of academic procrastination scales tested by using reliability

coefficient alpha cronbach and obtained results is 0.952. The research data were analyzed using

Pearson product moment correlation techniques. The results showed the value of correlation

coefficient (r) at 0.843 and significant value at 0.000 (p< 0,01). According to this results, the

hypothesis is accepted. It means that there was a significant positive relation between intensity to

access Facebook and student’s academic procrastination.

  Keywords : intensity to access Facebook, academic procrastination

KATA PENGANTAR

  Puji syukur kepada Tuhan Yesus Kristus atas segala penyertaan dan kasih setiaNya yang tidak pernah berubah sehingga penulisan skripsi ini dapat terselesaikan dengan baik dan indah pada waktunya. Skripsi dengan judul “Hubungan antara Intensitas Mengakses Facebook dengan Prokrastinasi Akademik Pada Mah asiswa” ini merupakan salah satu prasyarat dalam mencapai tingkat Strata Satu (S1) pada Program Studi Psikologi Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

  Proses pengerjaan skripsi ini melibatkan bantuan dan dukungan dari banyak pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada: 1.

  Ibu Dr. Siwi Handayani selaku dekan Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma yang telah mempermudah serta memperlancar segala proses yang terkait dengan permohonan ijin pengambilan data penelitian.

  2. Ibu Tjipto Susana, M.Si. selaku dosen pembimbing yang telah membimbing penulis dari awal hingga akhir penulisan skripsi ini. Terima kasih atas masukan dan kesabaran ibu selama ini.

  3. Bapak Minto Istono, S. Psi. selaku dosen pembimbing akademik. Terima kasih sudah menceramahi kami setiap semester sehingga bisa menyelesaikan kuliah teori tepat waktu.

4. Bapak Y. Agung Santoso, S.Psi., dan Bapak V. Didik Suryo H., S.Psi., M.Si yang telah bersedia berbagi pengetahuan mengenai statistik.

  5. Segenap dosen Fakultas Pikologi yang telah mendidik dan mengajar penulis selama menempuh bangku perkuliahan.

  6. Para staff Fakultas Psikologi. Mas Gandung dan Mbak Nanik yang setia melayani urusan adminstrasi mahasiswa, Duet maut Mas Doni dan Mas Muji yang bikin Psikologi makin hidup, haha.. makasih lowh mas buat candaannya di Lab, dan terlebih khusus untuk Pak Gi, yang menginspirasi penulis untuk mencontoh kerendahan hati dan keramahannya, makasih ya Pak, I Lapp u pull, haha..

  7. Seluruh karyawan yang telah memperlancar proses belajar-mengajar di Fakultas Psikologi.

  8. Mahasiswa dan mahasiswi Psikologi yang mengisi angket, terimakasih atas kesediaan kalian dalam membantu proses pengambilan data.

  9. My sweetest family and the funky crew inside. Papi dan mami terkasih terima kasih buat doa dan kasih sayang yang sudah diberikan. I Love u both, boru kalian ini udah jadi sarjana lowh, hahaha... Thanks to my big bro, bang Rud yang selalu nanyain kapan aku pendadaran dan wisuda, ini ni harinya udah tiba, hoho.. thanks for your support bro. Untuk dua ade centilku, Qeneyy dan Ancenn, terima kasih karena sudah mengajariku arti tanggung jawab.

  Menjaga kalian itu susah yaaa ternyata, hahaha… Thank you buat keceriaan dan keramaiannya di rumah. You all are my motivation to do all the things

  right .

  10. Keluarga besar Sinaga Jogja, khususnya IMM. Wahh, kalian emang canggih.

  Terima kasih sudah menemaniku selama 4 tahun di Jogja. Kalian bisa memenuhkan porsi kasih sayang selama aku jauh dari orang tua. Yang paling penting, terima kasih abang, kaka, apz, ade, ito dan iban saiaaaaa buat jalan- jalannya selama ini. Inget motto kita ya “Untuk semua hal yang positif, Maju sude!! Ribbakkk” hahaha…

  11. Keluarga besar SS yang walaupun baru aku kenal 1 tahun belakangan ini tapi sudah berhasil memberikan kesan di hatiku, hoho. Terima kasih untuk kejailan kalian selama ini.

  

I’ll be missing u all.

  12. Spice girls alias kepompong. Guys, you are my best friend. Keluarga kecil ini bener-bener lengkap kaya gado-gado. Ada mami n dady, terima kasih untuk kemesraan kalian yang perlu dicontoh, haha. Bundaaaa tak kanduang terimakasih karena sudah mendengarkan keluh kesah ku, jangan nakal yah bundaa nanti ta’remove lowh, haha. Buat Kentirr, saudara tiri ku, thanks ya beibh buat kenarsisanmu yang mengacaukan hariku, haha :p. Dua cece ku tersayang, Didi dan Mee, makasih sudah menganggapku ade sekaligus anak kalian. Yang terakhir untuk asisten tergokil sedunia, bebek dan inem, spicy jadi berwarna dan ceria karena kalian. Makasih yang sahabat-sahabat ku. Jangan diingat kalau untuk dilupakan semua kenangan genk centil kita ini, hahaha…

  13. Duo centil, ka Ingga n Cungkring. Thanks ya sudah mencontohkan arti persahabatan. Buat kaka centil ku, makasih bantuannya setiap kali aku main ke perpus UGM. Paling heboh ni yaa, terimakasih buat kalian berdua karna sudah berhasil manas-manasin aku dengan TA kalian, tapi sekarang aku juga udah punya TA lowh. Jadiiiiiii, gendong sihhhh, hahaha..

  DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL

  ……………………………………………………………. i

  HALAMAN PERSETUJUAN DOSEN PEMBIMBING

  ……………………. ii

  HALAMAN PENGESAHAN PENGUJI

  …………………………………….. iii

  HALAMAN MOTTO

  ………………………………………………………..... iv

  HALAMAN PERSEMBAHAN

  ……………………………………………...... v

  HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

  ……………………....... vi

  ABSTRAK

  …………………………………………………………………...…vii

  ABSTRACT

  …………………………………………………………………...viii

  HALAMAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH

  …………… ix

  KATA PENGANTAR

  ………………………………………………………….. x

  DAFTAR ISI

  ………………………………………………………………..... .xiv

  DAFTAR TABEL

  ………………………………………...……………..…. .xviii

  BAB I. PENDAHULUAN

  …………………………………………………….. .1 A. Latar Belakang Masalah ………………………………………………….1 B. Rumusan Masalah ………………………………………………………...9 C. Tujuan Penelitian ………………………………………………………..10 D.

  Manfaat Penelitian ………………………………………………………10

  BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

  …………………………………………….. 11 A. Prokrastinasi Akademik……………...…………………………………. 11 1.

  Pengertian Umum …………………………………………………...11 2. Ciri-ciri Prokrastinasi Akademik …………………………………....17

3. Teori Penyebab Prokrastinasi ……….……………………………….19 a.

  Teori Magnetik …………………………………………………..19 b. Teori Ketakutan Dasar …………………………………………..20 c. Teori Psikodinamika …………………………………………….23 d. TeoriBehavioristik ………………………………………………24 e. Teori Cognitive Behavioral ..........................................................25 f. Teori Steel ………………………………………………………27 B. Intensitas Mengakses Facebook ……………………………………….. 31 1.

  Intensitas Mengakses ……….. …………………………………….. 31 2. Definisi Jejaring Sosial Maya ……………………………………… 31 3. Definisi Facebook ………………………………………………….. 33 4. Faktor Penyebab Seseorang Mengakses Facebook ………………… 35 C. Hubungan antara Intensitas Mengakses Facebook dengan Prokrastinasi

  Akademik pada Mahasiswa ……………………………………………. 36 D.

  Hipotesa Penelitian …………………………………………………….. 41

BAB III. METODE PENELITIAN

  ……...………………………………….. 42 A. Jenis Penelitian …………………………………………………………. 42 B. Identifikasi Variabel Penelitian .……………………………………….. 43 C. Definisi Konseptual …………………………………………………….. 43 D.

  Definisi Operasional ……………………………………………………. 44 E. Subjek Penelitian ……………………………………………………….. 45 F. Metode Pengambilan Sampel …………………………………………... 46 G.

  Jumlah Sampel Penelitian ……………………………………………… 47 H.

  Metode Pengumpulan Data Penelitian …………………………………. 50 1.

  Skala Prokrastinasi Disfungsional Akademik ……………………… 51 2. Angket Intensitas Mengakses Facebook …………………………… 53 I. Uji Coba Alat Ukur …………………………………………………….. 54 J.

  Validitas dan Reliabilitas ………………………………………………. 54 1.

  Validitas ………………………………...………………………….. 55 2. Reliabilitas …………………………………………………………. 56 K. Seleksi Item ……………………………………………………………. 57 L. Metode Analisis Data ………………………………………………….. 59

BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

  …………………… 61 A. Pelaksanaan Penelitian …………………….…………………………… 61 B. Deskripsi Subjek Penelitian ……………………………………………. 63 C. Hasil Penelitian ………………………………………………………… 63 1.

  Deskripsi Data Penelitian …………………………………………... 63 2. Kategorisasi Skor Skala ……………………………………………. 64 D. Analisis Data Penelitian ………………………………………………... 69 1.

  Uji Asumsi …………………………………………………………. 69 a.

  Uji Normalitas …………………………………………………. 69 b. Uji Linearitas …………………………………………………... 70 2. Uji Hipotesis ………………………………………………………. 70 E. Pembahasan ……………………………………………………………. 72

BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN

  …………………………………….... 76 A. Kesimpulan ……………………………………………………………...76 B. Saran ……………………………………………………………………..77

DAFTAR PUSTAKA

  …………………………………………………………. 79

  LAMPIRAN-LAMPIRAN

  

DAFTAR TABEL

  Tabel 1 : Data Jumlah Mahasiswa yang Belum Lulus di Tahun Akademik 2009/2010/Genap

  ………………………………………………….. 4 Tabel 2 : Data Jumlah Mahasiswa Psikologi Sanata Dharma

  ……………… 49 Tabel 3 : Blue Print Skala Prokrastinasi Akademik Sebelum Uji Coba

  …… 53 Tabel 4 : Distribusi Aitem Sahih dan Gugur Pada Skala Prokrastinasi

  Akademik ………………………………………………………… 58

  Tabel 5 : Blue Print Skala Prokrastinasi Akademik Setelah Uji Coba …….. 59

  Tabel 6 : Distribusi Subjek Penelitian ……………………………………… 63

  Tabel 7 : Deskripsi Data Penelitian ………………………………………… 64

  Tabel 8 : Kategori dan Distribusi Skor Skala Prokrastinasi Akademik ……. 67

  Tabel 9 : Pengelompokkan Intensitas Mengakses Facebook ………………. 68

  Tabel 10 : Hasil Uji Normalitas Sebaran ……………………………………. 69

  Tabel 11 : Hasil Uji Linearitas Hubungan Antar Variabel ………………….. 70

  Tabel 12 : Hasil Uji Hipotesis ……………………………………………….. 71

BAB I PENDAHULUAN Sebelum membahas lebih jauh mengenai penelitian ini, akan diterangkan

  terlebih dahulu hal-hal yang berkaitan dengan latar belakang permasalahan, rumusan permasalahan, tujuan penelitian, dan manfaat penelitian.

A. Latar Belakang Permasalahan

  Mahasiswa mempunyai pola kehidupan yang berbeda dengan pelajar ataupun mereka yang sudah bekerja. Dalam hal ini, mahasiswa memiliki tuntutan-tuntutan tersendiri dalam menyelesaikan tugas dan tanggung jawabnya di dunia perkuliahan. Menurut Ignas (2002), masyarakat abad 21 adalah masyarakat yang terus mengejar kualitas dan keunggulan. Hal ini secara tidak langsung menuntut mahasiswa untuk mandiri, dewasa, berprestasi, dan dapat menyelesaikan kuliah tepat waktu. Namun, kenyataan yang ada menunjukkan bahwa tidak sedikit mahasiswa yang menyelesaikan kuliah melebihi batas waktu yang telah ditentukan. Hal ini terbukti dengan masih adanya mahasiswa yang belum juga menyelesaikan penulisan skripsinya meskipun telah mencapai semester belasan.

  Ketidakmampuan mahasiswa dalam menyelesaikan tugas dan tanggung jawabnya secara tepat waktu dapat disebabkan oleh kebiasaan menunda pekerjaan. Kebiasaan ini lebih dikenal dengan istilah prokrastinasi. Berdasarkan alasan-alasan tertentu, Ferrari, Johnson, dan McCown (1995) membagi prokrastinasi menjadi dua bagian, yaitu prokrastinasi yang fungsional dan disfungsional. Sementara itu berdasarkan jenis tugasnya, prokrastinasi dibagi menjadi dua, yaitu prokrastinasi akademik dan non- akademik. Dalam studi ini, jenis prokrastinasi yang akan diteliti adalah prokrastinasi akademik yang disfungsional. Menurut Solomon dan Rothblum (1984), prokrastinasi akademik yang disfungsional adalah kecenderungan yang ditunjukkan individu hampir selalu dan selalu dalam menunda tugas akademik dengan tidak bertujuan sehingga berakibat tidak baik dan menimbulkan masalah. Sementara itu, seseorang yang mempunyai kecenderungan untuk menunda, atau tidak dengan segera memulai suatu pekerjaan ketika menghadapi suatu kerja atau tugas disebut sebagai prokrastinator.

  Menurut Deean (dalam Anna, 2009), ciri utama prokrastinator ialah kelambanannya dalam melakukan suatu tugas. Para prokrastinator membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan orang pada umumnya dalam mengerjakan suatu tugas. Mereka menghabiskan waktu untuk melakukan hal-hal yang tidak dibutuhkan guna menyelesaikan suatu tugas, tanpa memperhitungkan keterbatasan waktu yang dimilikinya. Hal ini mengakibatkan para prokrastinator sering mengalami keterlambatan dalam memenuhi deadline yang telah ditentukan, baik oleh diri sendiri maupun oleh orang lain. Tanpa disadari, prokrastinator telah merusak dirinya sendiri dengan memilih pola yang justru merusak kemampuan mereka sendiri dan melewatkan kesempatan-kesempatan yang mungkin tidak akan terulang (Burka & Yuen, 1983).

  Ferrari, profesor psikologi dari De Paul University di Chicago, dan Pychyl, professor psikologi dari Carleton University Ottawa menyebutkan bahwa sekitar 20 % masyarakat Amerika mengidentifikasikan dirinya sebagai pengidap kronis prokrastinasi. Sementara itu, Ellis dan Knaus (dalam Ferrari, dkk, 1995) menemukan bahwa 25% -75 % pelajar di seluruh dunia melakukan prokrastinasi. Ahli lain, yaitu Solomon dan Rothblum (1986) melalui penelitian mereka menemukan bahwa 95 % pelajar yang diteliti merupakan prokrastinator. Tidak kalah mengejutkan juga ketika Rivzi (1996) melakukan penelitian pada mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada dan menemukan 69 % subjek melakukan prokrastinasi, 11 % diantaranya digolongkan sebagai prokrastinator pada taraf berat.

  Di Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma, ditemukan beberapa indikasi adanya perilaku prokrastinasi akademik pada kalangan mahasiswa. Berdasarkan data statistik masa kuliah mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma (tabel 1), dapat dilihat bahwa sebagian besar mahasiswa membutuhkan waktu yang melebihi batas normal untuk menyelesaikan studinya.

  Tabel 1

Jumlah Mahasiswa yang Belum Lulus di Tahun Akademik

2009/2010/Genap

  Jumlah Angkatan Mahasiswa

  2001

  8 2002

  23 2003

  35 2004

  42 2005

  57 2006

  91 Catatan

  . Diambil dari “Sekretariat Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma, 2010

  

  Ada beberapa faktor yang menyebabkan individu melakukan penundaan, salah satunya ialah hadirnya revolusi di bidang informasi. Internet sebagai wadah pertukaran informasi antar masyarakat dapat menjadi salah satu bukti adanya revolusi informasi. Menurut Drucker (1999), jaringan internet merupakan pokok utama bagi distribusi saluran barang, jasa, dan secara mengejutkan juga pekerjaan-pekerjaan manajerial dan professional.

  Tetapi dampak yang diakibatkan akan secara lebih besar terjadi pada masyarakat, dalam kaitannya terhadap bagaimana kita melihat dunia dan diri kita di dalamnya. Menurut Drucker, salah satu akibat yang dapat ditimbulkan ialah semakin menjalarnya kebiasaan menunda-nunda pekerjaan akibat ketagihan menggunakan layanan internet.

  Indonesia sebagai salah satu negara yang menjadi bagian dari hadirnya internet tentunya tidak terlepas dari berbagai akibat yang ditimbulkan oleh maraknya penggunaan internet tanpa kontrol tersebut. Secara mendasar, Greenfield (dalam Elia, 2009) menjelaskan bahwa internet suara, ketidakterbatasan informasi, dan kesegaraan respons yang membuat individu tertarik untuk membukanya. Godaan daya tarik internet akan terus berlangsung bahkan saat seseorang tidak sedang terhubung dengan internet. Hal inilah yang membuat internet secara negatif dapat berujung pada penundaan dalam mengerjakan tugas. Senada dengan hal tersebut, Ardana (2009) mengemukakan bahwa orang yang ketagihan menggunakan internet akan memilih untuk melarikan diri dari masalah dan depresinya ke internet.

  Hasil pengamatan yang dilakukan oleh peneliti di Work Station Kampus 3 Universitas Sanata Dharma pada tanggal 10 Maret 2010 menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa yang mengakses internet di

  

Work Station membuka situs-situs jejaring sosial. Ironisnya keadaan ini

  terjadi justru di jam-jam aktif perkuliahan sehingga membuat pihak Work

  

Station mengeluarkan peraturan yang membatasi waktu penggunaan situs-

  situs jejaring sosial ini dengan cara memblokirnya di jam-jam tertentu. Situs- situs jejaring sosial ini baru dapat diakses di kampus setelah pukul empat sore. Hal ini dilakukan mengingat pada jam-jam tersebut mahasiswa dinilai efektif untuk mengerjakan tugas dan tanggung jawab perkuliahannya.

  Chas (2008) menggambarkan penggunaan akses internet tanpa kontrol melalui hasil riset global yang dilakukan oleh Universal McCann di 29 negara hingga Maret 2008 lalu. Riset ini menunjukkan bahwa 73% pengguna internet global membaca blog yang saat ini berjumlah 184 juta blog. Sebanyak 57% pengguna internet juga bergabung dengan berbagai jaringan online sosial untuk berbagi informasi, bersosialisasi, dan membentuk komunitas. Jika ditinjau lagi, 55% dari mereka meng-upload foto dan 22% meng-upload video pada jaringan-jaringan online sosial tersebut. Sementara itu, lama penggunaan per hari mencapai 1,1 miliar menit dengan pengguna empat juta jiwa pada tahun 2008. Di tahun 2009 terjadi perubahan drastis dalam penggunaan situs jejaring sosial, yaitu telah mencapai lebih dari 3 miliar menit dengan pengguna 18 juta jiwa.

  Daya hipnotis internet semakin diperkuat dengan hadirnya beragam interaksi pada media ini, baik itu antar individu maupun antar komunitas dengan berbagai kepentingan tertentu. Salah satu media pertukaran informasi di dunia maya adalah melalui situs-situs jejaring sosial seperti Friendster,

  

Twitter ataupun Facebook. Hadirnya situs jejaring sosial menambah

  keunggulan media internet dibanding media komunikasi lainnya sekaligus juga membuat para penggunanya seolah tidak ingin jauh dari situs jejaring sosial yang dimilikinya. Menurut Douglas (dalam Elia, 2009), hal ini didukung pula oleh semakin murah dan mudahnya koneksi internet, tersebarnya jaringan, serta semakin tersedianya peralatan komputer,

  

handphone , iPhone, maupun BlackBerry. Maraknya penjualan media

  komunikasi seperti ini semakin memudahkan masyarakat untuk mengakses internet kapan saja dan di mana saja.

  Salah satu situs jejaring sosial yang tengah diminati oleh masyarakat Indonesia saat ini adalah Facebook. Ardana (2009) bahkan mencatat

  

Facebook sebagai social network service peringkat teratas yang paling

  banyak diakses oleh masyarakat Indonesia dengan jumlah pemakaian sekitar tiga miliar menit per hari. Senada dengan hal tersebut, surat kabar harian Kompas

  (dalam “Revolusi Informasi”, 2009) juga mencatat bahwa pada tahun 2008, Indonesia masuk sebagai negara yang mengalami pertumbuhan

  

Facebook tertinggi di dunia, yaitu mencapai 40 %. Pertumbuhan pengguna

Facebook di Indonesia per Maret 2009 mencapai 1,4 juta jiwa sehingga

  menjadikan Indonesia sebagai negara yang memiliki anggota Facebook terbanyak se-Asia dan terbanyak kelima di dunia.

  Menurut Ardana (2009), Facebook atau lebih dikenal dengan istilah FB merupakan salah satu situs jejaring sosial yang dibuat oleh Mark Zuckerberg, seorang mahasiswa di Harvard University dan diluncurkan pada

  4 Februari 2004. Tiga bulan setelah diluncurkan, lebih dari setengah jumlah mahasiswa Harvard telah bergabung menjadi anggota FB. Kurang dari empat bulan, 30 kampus telah ikut bergabung dan saat ini FB sudah diterjemahkan dalam 40 bahasa dengan pengguna aktif lebih dari 175 juta jiwa di seluruh dunia. Hampir semua pengguna internet telah mengenal bahkan memiliki

  

account di FB. Fenomena ini membuat FB dinilai mampu membuat sejarah

baru dalam perkembangan situs jejaring sosial.

  Aktivitas para pengguna bersama FB telah dimulai sejak bangun tidur, ketika sampai di kantor atau kampus, sambil bekerja atau kuliah bahkan hingga pulang dari kantor atau kampus. Dapat dikatakan bahwa aktivitas sehari - hari kini tidak bisa lepas dari FB. Hal senada muncul melalui pengakuan dari beberapa reponden yang dimuat di surat kabar harian Kompas. Para responden tersebut mengaku setiap hari online di FB walaupun hanya untuk melihat pesan, komentar atau status terbaru dari teman - teman mereka di jejaring FB. Mereka mengaku tidak ingin kehilangan informasi mengenai kondisi terkini di dunia FB walaupun sedang bekerja atau kuliah (dalam “Kecanduan Internet”, 2009). Hal lain yang juga tampak di Makassar dimana sejumlah warung internet (warnet) di Makassar dipadati oleh siswa SMP dan SMA yang asyik ber-FB ria. Selain itu para pelajar sekolah menengah di Makassar juga terlihat memenuhi kafe yang memiliki fasilitas

  

wi-fi agar dapat membuka FB sambil menikmati hidangan makan siang

mereka (dalam “Warnet Dipenuhi”, 2009).

  Fakta ini seolah memperkuat pendapat seorang ahli bernama Schouwenburg (dalam Ferrari, dkk, 1995) yang menyatakan bahwa individu memiliki kecenderungan untuk melakukan aktivitas lain yang lebih menyenangkan daripada melakukan tugas yang harus dikerjakan. Selain itu, Pychyl (2001) juga menilai bahwa individu akan memilih untuk melarikan diri dari masalah ke internet. Hal inilah yang kemudian dapat memunculkan penundaan dalam menyelesaikan tugas. Senada dengan hal tersebut, Anna (2009) berpendapat bahwa sebagian besar masyarakat memiliki kecenderungan untuk menunda-nunda menyelesaikan pekerjaan, dan hanya sedikit dari mereka yang khawatir ketika menunda pekerjaan yang seharusnya segera diselesaikan. Seorang prokrastinator dengan sengaja tidak segera melakukan tugasnya, tetapi justru menggunakan waktu yang dimiliki untuk melakukan aktivitas lain yang dipandang lebih menyenangkan dan mendatangkan hiburan seperti menonton TV, membaca majalah yang tidak berhubungan dengan kegiatan yang sedang dikerjakan, ngobrol, ber-online ria ataupun jalan-jalan.

  Uraian sebelumnya menunjukkan bahwa jejaring internet tidak hanya bersifat menghubungkan, melainkan juga dapat menjadi perangkap bagi penggunanya. Hampir 20% pengguna internet terlibat dengan satu atau lebih masalah pengabaian diri, perilaku mengecek dan mengklik terus-menerus, terisolasi secara sosial dan menghindari orang lain, hilangnya produktivitas, depresi, problem pernikahan, penyalahgunaan internet di tempat kerja, dan kegagalan studi (dalam “Statistik Asosiasi”, 2007). Internet telah menjadi persoalan yang serius bagi banyak orang. Jika dikaitkan dengan prokrastinasi, sifat menunda-nunda ini sudah ada sejak awal kebudayaan manusia yang apabila dibiarkan dapat menimbulkan masalah yang tidak kalah serius. Para prokrastinator lebih rentan terkena stres dan masalah kesehatan akut dibandingkan mereka yang mampu menyelesaikan pekerjaan tepat waktu. Ini merupakan permasalahan yang harus dicermati secara serius guna menghindari dampak negatif dari penggunaan Facebook, khususnya pada munculnya perilaku prokrastinasi akademik mahasiswa.

B. Rumusan Permasalahan

  Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan sebelumnya, maka rumusan permasalahan dalam penelitian ini adala sebagai berikut: “Apakah ada hubungan yang positif antara intensitas mengakses Facebook dengan prokrastinasi akademik pada mahasiswa?

  ”

  C. Tujuan Penelitian

  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya hubungan positif antara Intensitas Mengakses Facebook dengan Prokrastinasi Akademik pada mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma.

  D. Manfaat Penelitian

  Diharapkan penelitian ini dapat memberikan manfaat, baik secara teoretis maupun praktis : Secara teoretis, penelitian ini diharapkan mampu melihat hubungan antara intensitas mengakses Facebook dengan prokrastinasi akademik.

  Selanjutnya bukti empiris dari penelitian ini diharapkan dapat menggugah semangat para peneliti lain untuk meneliti lebih lanjut mengenai masalah- masalah yang berkaitan dengan penggunaan situs jejaring sosial dan prokrastinasi akademik pada pelajar. Bagi ilmu psikologi, penelitian ini dapat memberikan kontribusi dalam mempelajari kajian yang berkaitan dengan psikologi pendidikan.

  Secara praktis, penelitian ini dapat memberikan pemahaman mengenai prokrastinasi dalam kaitannya dengan dunia pendidikan, sehingga pada masa mendatang dapat diusahakan program-program yang bertujuan untuk mencegah ataupun mengurangi perilaku ini pada mahasiswa.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA Dalam bab ini dibahas tinjauan kepustakaan yang berkaitan dengan

  intensitas mengakses Facebook dan prokrastinasi akademik. Kemudian dipaparkan juga beberapa teori untuk menunjukkan hubungan antara keduanya.

A. Prokrastinasi Akademik 1. Pengertian Umum

  Secara harafiah berasal dari kata “procrastinare” dalam bahasa latin yang berarti menunda sampai hari berikutnya. Ferrari, dkk (1995) menerjemahkannya sebagai perilaku penundaan sampai hari nanti, yang identik dengan bentuk kemalasan dalam masyarakat. Berbeda dengan Ferrari yang menyebutkan prokrastinasi sebagai perilaku negatif, The Oxford

  English Dictionary (dalam Ferrari, dkk, 1995) mengartikan prokrastinasi

  secara positif, yakni penundaan yang dipilih secara bijaksana untuk menunggu saat yang tepat. Disini pengertian prokrastinasi lebih merujuk pada tuntutan untuk kesempurnaan tugas dengan optimal.

  Prokrastinasi pada dasarnya dapat terjadi di setiap aktivitas kehidupan manusia. Beberapa individu menganggap prokrastinasi sebagai salah satu masalah yang sulit dihilangkan, namun bagi individu yang lain prokrastinasi dapat digunakan sebagai suatu cara untuk mengerjakan sesuatu dengan lebih baik. Untuk memahami prokrastinasi secara umum, berikut terdapat beberapa definisi prokrastinasi dari para ahli, antara lain : Solomon & Rothblum (1984)

  Prokrastinasi adalah fakta mengenai penundaan tugas secara tidak bertujuan guna menghindari ketidaknyamanan individu Lay (1986)

  Prokrastinasi adalah kecenderungan irasional dalam menunda sesuatu yang seharusnya dikerjakan Stell (2005)

  Prokrastinasi adalah menunda dengan sukarela pengerjaan tugas meskipun tahu hasilnya akan lebih buruk Dari definisi yang dijabarkan oleh para ahli tersebut, dapat diambil kesimpulan bahwa prokrastinasi secara umum merupakan tingkah laku menunda yang dilakukan oleh individu terhadap suatu aktivitas yang harus dilakukannya. Tingkah laku menunda tersebut dapat berupa penundaan dalam memulai atau untuk menyelesaikan aktivitas. Pada umumnya para ahli lebih sepakat mengartikan prokrastinasi dalam konotasi negatif, dengan menyebutnya sebagai penundaan yang tidak berguna (needless) dalam penyelesaian tugas. Para prokrastinator sering melakukan penundaan dan menggantinya dengan melakukan hal-hal yang tidak berguna, misalnya keluyuran, menonton televisi, mengobrol, dan kegiatan lain yang bersifat santai.

  Penundaan yang dilakukan sebenarnya tidak perlu terjadi. Melalui hal tersebut, mereka mencoba mengatakan bahwa prokrastinasi adalah tingkah laku yang dilakukan untuk menghindari sesuatu, dan bukan tingkah laku yang terjadi dikarenakan tidak tersedianya waktu. Penundaan ini telah menjadi suatu kebiasaan yang dilakukan oleh individu tersebut. Kebiasaan menunda- nunda pekerjaan terjadi karena ada faktor-faktor dalam diri individu yang mendorongnya untuk melakukan prokrastinasi. Hal ini menunjukkan adanya konsistensi dari individu untuk melakukan prokrastinasi dengan alasan tertentu.

  Berdasarkan alasan-alasan tertentu tersebut, Ferrari, dkk (1995) membagi prokrastinasi menjadi dua bagian, yaitu: a) functional procrastination, yaitu penundaan mengerjakan tugas yang bertujuan untuk memperoleh informasi yang lebih lengkap dan akurat.

  b) dysfunctional procrastination, yaitu penundaan yang tidak bertujuan, berakibat tidak baik dan menimbulkan masalah.

  Dari dysfunctional procrastination, Ferrari, dkk (1995) membagi kembali menjadi dua bentuk prokrastinasi berdasarkan tujuan individu melakukan prokrastinasi, yaitu decisional procrastination dan avoidance .

  procrastination

  a) Decisional procrastination adalah suatu penundaan dalam mengambil keputusan. Jenis prokrastinasi ini terjadi akibat kegagalan dalam mengidentifikasikan tugas yang menyebabkan konflik dalam diri individu, sehingga akhirnya seseorang memutuskan untuk menunda menyelesaikan masalah. Decisional procrastination berhubungan dengan kelupaan, kegagalan proses kognitif. Akan tetapi, tidak berkaitan dengan kurangnya tingkat intelegensi seseorang.

  b) Avoidance procrastination atau Behavioral procrastination adalah suatu penundaan dalam perilaku yang tampak. Penundaan dilakukan sebagai suatu cara untuk menghindari tugas yang dirasa kurang menyenangkan dan sulit untuk dilakukan. Hal ini dilakukan untuk menghindari kegagalan yang akan memberikan penilaian negatif kepada dirinya.

  Avoidance procrastination berhubungan dengan tipe self presentation,

  keinginan untuk menjauhkan diri dari tugas yang menantang, dan impulsiveness .

  Berdasarkan pendapat para ahli tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa prokrastinasi didefinisikan sebagai suatu penundaan yang dilakukan secara sengaja dan berulang-ulang, dengan melakukan aktivitas lain yang tidak diperlukan dalam pengerjaan tugas. Prokrastinasi dapat dibedakan menjadi dua jenis berdasarkan alasan dari penundaan, yaitu prokrastinasi yang fungsional dan disfungsional. Prokrastinasi fungsional merupakan penundaan yang disertai alasan yang kuat, mempunyai tujuan yang pasti sehingga tidak merugikan, bahkan berguna untuk melakukan suatu upaya konstruktif agar suatu tugas dapat diselesaikan dengan baik. Sedangkan prokrastinasi disfungsional merupakan penundaan yang tidak bertujuan dan merugikan. Pada akhirnya dalam penelitian ini, pengertian prokrastinasi dibatasi sebagai suatu penundaan yang dilakukan secara sengaja dan berulang-ulang, dengan melakukan aktivitas lain yang tidak diperlukan dalam pengerjaan tugas, dengan jenis disfunctional procrastination, yaitu penundaan yang dilakukan pada tugas yang penting dengan tidak bertujuan, dan bisa menimbulkan akibat yang negatif, baik dalam kategori decisional procrastination atau avoidance procrastination.

  Dalam ruang lingkup akademis, menurut Lee (2005) prokrastinasi adalah salah satu perilaku yang sering muncul pada era akademis, dan mungkin berhubungan dengan masalah yang dihadapi oleh banyak mahasiswa. Solomon dan Rothblum (1984) menunjukkan bahwa mahasiswa yang sering melakukan prokrastinasi percaya bahwa kecenderungan mereka untuk prokrastinasi secara signifikan berdampak pada akademis mereka, kemampuan untuk menguasai materi kuliah, dan kualitas hidup mereka. Solomon, Rothblum, dan Murakami (dalam Ferrari, dkk, 1995) juga mengusulkan bahwa prokrastinasi mungkin merugikan untuk kerja akademis, kemungkinan mengarah pada pengunduran diri dan rendahnya nilai akademis. Wesley (dalam Ferrari, dkk, 1995) mendukung penemuan ini dengan mengatakan bahwa prokrastinasi merupakan prediktor negatif dari nilai rata- rata mahasiswa.

  Oleh karena banyaknya masalah prokrastinasi yang timbul dalam lingkungan akademis, maka dalam penelitian ini akan lebih berfokus pada prokrastinasi yang terjadi dalam lingkungan akademis, atau dapat disebut dengan prokrastinasi akademik. McCown, dan Roberts (dalam Ferrari, dkk, 1995) berpendapat bahwa lingkungan akademis merupakan salah satu area kehidupan manusia yang menjadi fokus penelitian prokrastinasi, selain di lingkungan kerja. Pemahaman mengenai prokrastinasi akademik secara garis besar tidak berbeda jauh dengan pemahaman prokrastinasi yang telah disampaikan sebelumnya. Berikut adalah beberapa definisi prokrastinasi akademik yang dijabarkan oleh beberapa ahli, antara lain: Ferrari & Scher (2000)

  Prokrastinasi akademik adalah penundaan dalam memulai pengerjaan tugas dan/atau kegagalan dalam menyelesaikan suatu tugas yang ada pada individu

  Milgram, Batori & Mowrer (2001) Prokrastinasi akademik adalah kecenderungan untuk menunda atau menghindar dari tugas sekolah dan kegiatan belajar

  Rothblum (1986) Prokrastinasi akademik adalah penundaan tugas yang berhubungan dengan studi, kerja atau penyelesaian tugas akademik Berdasarkan definisi tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa prokrastinasi akademik menitikberatkan pada penundaan tugas-tugas akademis termasuk kegiatan belajar. Adapun pengertian dari prokrastinasi itu sendiri tetap sebagai tingkah laku untuk menunda atau menghindar yang telah berkembang dan menjadi kebiasaan. Sehingga dengan kata lain, prokrastinasi akademik merupakan tingkah laku menunda untuk memulai atau menyelesaikan suatu tugas akademik. Oleh karena itu, definisi prokrastinasi disfungsional akademik yang digunakan dalam penelitian ini adalah tingkah laku menunda yang dilakukan oleh mahasiswa dalam mengerjakan ataupun menyelesaikan tugas-tugas akademik dengan tidak bertujuan sehingga berakibat tidak baik dan menimbulkan masalah.

2. Ciri-ciri Prokrastinasi Akademik

  Ferrari, dkk (1995) mengatakan bahwa sebagai suatu perilaku penundaan, prokrastinasi akademik dapat termanifestasikan dalam indikator tertentu yang dapat diukur dan diamati ciri-cirinya sehingga dapat membedakannya dengan perilaku lain. Ciri-ciri tersebut antara lain berupa: a)

  Penundaan untuk memulai maupun menyelesaikan kerja pada tugas yang dihadapi. Seseorang yang melakukan prokrastinasi tahu bahwa tugas yang dihadapinya harus segera diselesaikan dan berguna bagi dirinya. Akan tetapi, ia menunda-nunda untuk mulai mengerjakannya atau menunda-nunda untuk menyelesaikannya sampai tuntas, jika sudah mulai mengerjakan sebelumnya.

  b) Keterlambatan dalam mengerjakan tugas. Individu yang melakukan prokrastinasi, memerlukan waktu yang lebih lama daripada waktu yang dibutuhkan pada umumnya dalam mengerjakan suatu tugas. Seorang prokrastinator menghabiskan waktu yang dimilikinya untuk mempersiapkan diri secara berlebihan, maupun melakukan hal-hal yang tidak dibutuhkan dalam penyelesaian suatu tugas, tanpa memperhitungkan keterbatasan waktu yang dimilikinya. Terkadang tindakan tersebut mengakibatkan seseorang tidak berhasil dalam menyelesaikan tugasnya secara memadai. Kelambanan, dalam arti lambannya kerja seseorang dalam melakukan suatu tugas dapat menjadi ciri yang utama dalam prokrastinasi akademik.

  c) Kesenjangan waktu antara rencana dan kinerja aktual. Seorang prokrastinator mempunyai kesulitan untuk melakukan sesuatu sesuai dengan batas waktu yang telah ditentukan sebelumnya. Seorang prokrastinator sering mengalami keterlambatan dalam memenuhi

  deadline yang telah ditentukan, baik oleh orang lain maupun rencan-

  rencana yang telah dibuatnya sendiri. Seseorang mungkin telah merencanakan untuk memulai mengerjakan tugas pada waktu yang telah ia tentukan sendiri, akan tetapi ketika saatnya tiba dia tidak juga segera melakukannya sesuai dengan apa yang direncanakan, sehingga menyebabkan keterlambatan maupun kegagalan untuk menyelesaikan tugas secara memadai.

  d) Melakukan aktivitas lain yang lebih menyenangkan daripada melakukan tugas yang harus dikerjakan. Seorang prokrastinator dengan sengaja tidak segera melakukan tugasnya, akan tetapi menggunakan waktu yang dimiliki untuk melakukan aktivitas lain yang dipandang lebih menyenangkan dan mendatangkan hiburan, seperti membuka Facebook, menonton TV, membaca (majalah, koran, atau buku cerita lainnya) yang tidak berhubungan dengan kegiatan yang sedang dikerjakannnya, ngobrol, jalan, mendengarkan musik dan sebagainya, sehingga menyita waktu yang dimiliki untuk mengerjakan tugas yang harus diselesaikannya.

  Jadi dapat disimpulkan bahwa prokrastinasi disfungsional akademik adalah suatu perilaku penundaan yang dapat diukur dan diamati ciri-cirinya, antara lain penundaan untuk memulai maupun menyelesaikan kerja pada tugas yang dihadapi, keterlambatan dalam mengerjakan tugas, kesenjangan waktu antara rencana dan kinerja aktual, serta melakukan aktivitas lain yang lebih menyenangkan daripada melakukan tugas yang dikerjakan.

3. Teori Penyebab Prokrastinasi

  Dalam bagian ini akan dibahas mengenai perspektif teoretis mengenai prokrastinasi yang dikemukakan oleh beberapa ahli, antara lain :

a. Teori Magnetik

  Bernard (dalam Ema, 2007) menggunakan istilah magnetik untuk menandakan adanya suatu ciri yang khas dari tingkah laku prokrastinasi.

  Hal ini dapat diilustrasikan sebagai gaya tarik menarik antar magnet. Individu yang seharusnya mengerjakan tugas, tiba-tiba mendapat daya tarik dari magnet tertentu (dalam hal ini aktivitas lain) sehingga ia menjauhi tugas yang seharusnya dikerjakan dan justru mengikuti aktivitas lain yang tidak berhubungan sehingga pada akhirnya tugas utamanya tidak terselesaikan.

  Bernard (dalam Ema, 2007) mengemukakan sepuluh faktor yang bertindak sebagai magnet yang mempengaruhi munculnya prokrastinasi.

  Faktor-faktor tersebut adalah (1) kecemasan, (2) mencela diri sendiri (self-

  depriciation ), (3) toleransi yang rendah terhadap tugas (low discomfort tolerance ), (4) mencari kesenangan (pleasure seeking), (5) disorganisasi

  waktu, (6) disorganisasi lingkungan, (7) pendekatan yang kurang baik terhadap tugas (poor task approach), (8) perilaku asertif yang rendah, (9) antipati terhadap individu lain, serta (10) stres dan kelelahan.

  Faktor-faktor yang mempengaruhi munculnya prokrastinasi berbeda-beda pada tiap individu. Individu dapat melakukan prokrastinasi akibat satu faktor saja ataupun lebih dari satu faktor. Faktor manapun yang dimiliki individu, faktor tersebut menariknya untuk menjauhi tugas yang dituju dan disaat bersamaan mendatangi tugas lain yang lebih menyenangkan. Hal ini membuat tugas yang hendak dikerjakan pada awalnya menjadi tertunda dan terjadilah prokrastinasi.

b. Teori Ketakutan Dasar

  Burka dan Yuen (1983) mengatakan bahwa prokrastinasi digunakan sebagai strategi untuk melindungi diri dari ketakutan-ketakutan yang mendasar atau dari ancaman-ancaman. Adapun ketakutan dasar (basic fears) tersebut terdiri dari lima jenis, yaitu ketakutan akan kegagalan (fear of failure), ketakutan akan keberhasilan (fear of success), ketakutan akan kehilangan kontrol atas diri (fear of losing the battle), ketakutan akan keterkungkungan (fear of attachment), dan ketakutan akan keterasingan (fear of separation). Apapun jenis ketakutan dasar yang dimiliki individu, akan membuatnya merasa “aman” ketika menunda untuk memulai ataupun menyelesaikan tugasnya. Prokrastinasi menjadi salah satu cara yang dianggap individu tersebut cukup ampuh untuk menjaga harga dirinya. Berikut ini adalah penjelasan singkat mengenai katakutan dasar tersebut.

  1) Ketakutan akan kegagalan (fear of failure) Fear of failure dapat diartikan sebagai adanya kekhawatiran yang

  berlebihan terhadap kemungkinan terjadinya kegagalan. Faktor ini melibatkan adanya faktor kognitif seperti berpikir bahwa tidak melakukan sesuatu adalah lebih baik (lebih tidak menyakitkan) daripada melakukan dan gagal; adanya harapan yang terlalu tinggi pada dirinya sehingga khawatir akan kemungkinan tidak dapat memenuhi harapan tersebut, dan lebih baik tidak melakukan daripada membiarkan individu lain tahu akan kekurangan dirinya.

  2) Ketakutan akan keberhasilan (fear of success)

  Berlawanan dengan faktor sebelumnya, fear of success adalah adanya ketakutan akan akibat yang mungkin didapat dari keberhasilan yang dicapai. Faktor ini melibatkan hal-hal seperti khawatir bahwa sukses akan mendatangkan tuntutan yang lebih besar, khawatir akan dijauhi teman-teman apabila berhasil ataupun akan menyakiti individu lain, merasa tidak pantas mendapatkan keberhasilan, atau menganggap dirinya sempurna namun merasa bersalah akan hal itu.

  3)

Ketakutan akan kehilangan kontrol atas diri (fear of losing the

battle) Fear of losing the battle dapat diartikan sebagai adanya suatu

  kekhawatiran yang berlebihan akan kehilangan kontrol terhadap dirinya. Hal-hal yang ditentukan oleh individu lain (seperti batas waktu, aturan-aturan) dilihat sebagai suatu usaha menghilangkan kontrol individu terhadap dirinya.

  4) Ketakutan akan keterkungkungan (fear of attachment)

  Untuk kedua faktor yang terakhir ini lebih berkaitan dengan comfort

  zone . Fear of attachment menunjukkan adanya kekhawatiran akan

  menjadi terkungkung atau terbatasi kedekatannya dengan orang lain akibat mengerjakan tugas.

  5) Ketakutan akan keterasingan (fear of separation) Fear of separation adalah dimana individu merasa terlalu khawatir akan

  menjadi sendirian. Prokrastinasi memberikan indikasi pada individu lain bahwa individu membutuhkan bantuan. Mahasiswa misalnya, menunda kelulusan karena tidak ingin meninggalkan statusnya dan mempertahankan “perlindungan” dari fakultas dan dosen, atau karena sulit membuat keputusan walaupun sudah mendapatkan banyak saran dan informasi.

c. Teori Psikodinamika

  Teori Psikodinamika yang dikemukakan Ferrari (dalam Ratna, 1999) menyebutkan bahwa munculnya prokrastinasi tidak terlepas dari trauma masa kanak-kanak dan kesalahan dalam pengasuhan anak.

  Pengalaman masa kanak-kanak akan mempengaruhi perkembangan proses kognitif individu ketika dewasa, terutama trauma. Individu yang pernah mengalami trauma akan suatu tugas tertentu, misalnya gagal menyelesaikan tugas sekolahnya, akan cenderung melakukan prokrastinasi ketika dihadapkan pada suatu tugas yang sama. Individu tersebut akan teringat pada pengalaman kegagalan maupun perasaan tidak menyenangkan yang pernah dialami di masa lalu sehingga membuatnya menunda mengerjakan tugas sekolah, yang dipersepsikannya akan mendatangkan perasaan seperti yang dialaminya di masa lalu. Sementara itu, orangtua yang terlalu menuntut prestasi (dalam bidang apapun) dari anak akan memunculkan kecemasan, kekhawatiran dan ketidakberartian anak manakala tidak bisa memenuhi harapan mereka. Hal ini pada akhirnya akan memicu anak untuk menunda-nunda dalam melakukan pekerjaan.

  Berkaitan dengan konsep tentang penghindaran dalam tugas, Freud (dalam Ferrari, dkk, 1995) mengatakan bahwa seseorang yang dihadapkan pada tugas yang mengancam ego pada alam bawah sadarnya akan menimbulkan ketakutan dan kecemasan. Perilaku penundaan atau prokrastinasi merupakan akibat dari penghindaran tugas dan sebagai mekanisme pertahanan diri. Bahwa individu secara tidak sadar melakukan penundaan, untuk menghindari penilaian yang dirasakan akan mengancam keberadaan ego atau harga dirinya. Akibatnya, tugas yang cenderung dihindari atau yang tidak diselesaikan adalah jenis tugas yang mengancam ego seseorang, misalnya tugas-tugas di sekolah, seperti tercermin dalam perilaku prokrastinasi akademik, sehingga bukan semata karena ego yang membuat individu melakukan prokrastinasi akademik.

d. Teori Behavioristik

  Teori behavioristik menyatakan bahwa prokrastinasi muncul akibat proses pembelajaran. Menurut Ferrari (dalam Ratna, 1999), individu melakukan prokrastinasi akademik karena ketiadaan sangsi atau hukuman (punishment) untuk pelaku, yang terjadi secara berulang-ulang. Selain itu, Bijou (dalam Ferrari, dkk, 1995) mengemukakan bahwa individu yang pernah merasakan kesuksesan dalam melakukan tugas dengan penundaan, akan cenderung mengulangi lagi perbuatannya. Sukses ini dijadikan

reward untuk mengulangi perilaku yang sama di masa yang akan datang.

  Menurut McCown dan Johnson (dalam Ferrari, dkk, 1995), adanya obyek lain yang memberikan reward lebih menyenangkan daripada objek yang diprokrastinasi dapat memunculkan perilaku prokrastinasi akademik. Individu yang memandang bermain video game lebih menyenangkan daripada mengerjakan tugas akan lebih sering memprokrastinasi tugas daripada bermain video game. Di samping reward yang diperoleh, prokrastinasi akademik juga cenderung dilakukan pada jenis tugas yang mempunyai punishment atau konsekuensi dalam jangka waktu yang lebih lama daripada tugas yang tidak ditunda. Hal ini terjadi karena punishment yang akan dihadapi kurang begitu kuat untuk menghentikan perilaku prokrastinasi, misalnya ketika individu diminta untuk memilih menunda belajar ujian semester atau menunda untuk mengerjakan pekerjaan rumah mingguan, maka kecenderungan untuk menunda belajar dalam menghadapi ujian semeseter lebih besar daripada menunda mengerjakan pekerjaan rumah mingguan. Hal ini terjadi karena resiko nyata yang dihadapi saat menunda mengerjakan pekerjaan rumah lebih pendek daripada belajar untuk ujian.

e. Teori Cognitive Behavioral

  Teori Cognitive Behavioral lebih detil dalam menjelaskan prokrastinasi. Teori ini menyebutkan bahwa munculnya prokrastinasi dikarenakan adanya kesalahan dalam berpikir atau adanya pikiran-pikiran yang irasional terhadap tugas, seperti takut gagal dalam penyelesaian (Solomon & Rothblum, 1984). Lebih lanjut teori ini menjelaskan alasan- alasan logis mengapa prokrastinasi muncul, yaitu: 1)

  Kepercayaan irrasional. Prokrastinator menilai bahwa standar yang ada terlalu tinggi sedangkan kemampuannya tidak sebanding dengan standar yang ditetapkan, sehingga kegagalan itu sesuatu yang tidak dapat dihindari. Hal ini menimbulkan ketakutan dalam diri individu untuk menghadapi kegagalan sehingga ia mengambil jalan untuk menunda menyelesaikan tugas. Ferrari, dkk (1995) menguatkan hal ini dengan hasil penelitiannya pada mahasiswa di Amerika bahwa penyebab munculnya prokrastinasi di kalangan mahasiswa adalah takut gagal (fear of failure). 2)

  Locus of control. Individu yang memiliki kendali diri internal cenderung tidak melakukan prokrastinasi atau prokrastinasinya rendah. Sebaliknya, individu yang memiliki kendali diri eksternal cenderung melakukan prokrastinasi (Rivzi, 1998).

  3) Learned helplessness. Seseorang yang merasa tidak berdaya dengan tugas-tugas yang dihadapi karena sering kecewa dengan hasil yang diperoleh sebelumnya akan mudah melakukan prokrastinasi karena baginya hal itu lebih aman.

  4) Perfeksionisme yang irrasional. Prokrastinator selalu berdalih bahwa ia butuh banyak waktu untuk melengkapi tugas sehingga dapat menyajikan tugas dengan lebih sempurna. Irrasionalitas itu tampak dari standar yang ditetapkan oleh individu sendiri, yang notabene melampaui kemampuan yang dimilikinya.

f. Teori Steel

  Penyebab prokrastinasi cukup kompleks dan teori yang dikembangkan oleh Steel (2005) mencoba menerangkan beberapa faktor penyebab prokrastinasi yaitu : 1)

  Seberapa pentingnya tugas tersebut bagi individu 2)

  Keinginan atau ketertarikan tugas tersebut bagi individu 3)

  Keinginan seseorang untuk menunda 4)

  Waktu yang tersedia dalam mengerjakan tugas Berikut adalah ilustrasi dari penyebab prokrastinasi.

  Gambar 1 Penyebab Prokrastinasi Tinggi Rendah

  Pentingnya tugas Keinginan untuk Kecenderungan bagi individu menunda prokrastinasi rendah Ketertarikan tugas Waktu yang tersedia bagi individu

  Rendah Tinggi Pentingnya tugas Keinginan untuk Kecenderungan bagi individu menunda prokrastinasi tinggi Ketertarikan tugas Waktu yang tersedia bagi individu

  Dari keempat faktor tersebut, menurut Steel (2005) yang paling berperan dalam mempengaruhi perilaku prokrastinasi adalah faktor keinginan seseorang untuk menunda. Faktor ini dijabarkan oleh Steel sebagai berikut :

  

Gambar 2 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Keinginan untuk

  Melakukan Prokrastinasi

  Aversion to the Worry about Depression or

task failure mood related

PROKRASTINASI

  Rebellion Impulsiveness Enjoy working Time mana- Environmental under gement issue factors pressure

  Berikut adalah penjelasan dari setiap faktor : 1)

  Aversion to the task Beberapa prokrastinasi akademik berhubungan dengan penghindaran diri terhadap tugas yang tidak menyenangkan. Mahasiswa bisa saja memiliki kemampuan untuk mengerjakan, namun tidak berkeinginan untuk segera memulai atau menyelesaikan tugas akademik yang dimilikinya. Karena mahasiswa tersebut menyadari akan adanya ancaman dari tugas (seperti akan menyita waktu, mengeluarkan beaya yang besar untuk mencari data, dll). 2)

  Worry about failure Beberapa mahasiswa merasa cemas dengan hasil yang akan diperoleh setelah mengerjakan tugas akademik. Mereka ingin mendapatkan nilai yang sempurna dan tidak menginginkan adanya kecacatan dari tugas yang dikerjakan. Sehingga pada akhirnya mereka menunda untuk menyelesaikan karena selalu muncul kekhawatiran akan kesempurnaan tugasnya.

  3) Depression or mood related

  Faktor ini berhubungan dengan mood, atau dalam beberapa kasus berkaitan dengan depresi yang dialami pelaku prokrastinasi. Dalam kaitannya dengan mood, individu akan menunda mengerjakan atau menyelesaikan tugas jika mood-nya belum positif. Jadi selama mood- nya negatif, mereka akan melakukan prokrastinasi. 4)

  Rebellion Merupakan perlawanan atau respon terhadap suatu tugas karena tugas tersebut dirasa tidak adil dalam proporsi, tidak penting, dan terlalu banyak diberikan di suatu waktu. Sehingga individu akan melakukan prokrastinasi sebagai bentuk perlawanan terhadap tugas yang diterimanya. 5)

  Impulsiveness Blatt dan Quinn (1967) mengatakan bahwa individu yang impulsif akan berkecenderungan untuk melakukan prokrastinasi, selama mereka sibuk dengan suatu kejadian pada saat ini, dibandingkan apa yang terjadi di masa depan. Sehingga perhatian mereka mudah beralih pada apa yang mereka lihat daripada tugas yang dikerjakan. Dengan kata lain, individu yang impulsif mudah sekali ter-distract. Mereka akan sulit untuk memfokuskan diri, yang pada akhirnya berimbas pada tidak selesainya tugas yang dikerjakan.

  6) Time management issue

  Faktor ini sangat sesuai pada konteks akdemik. Misalnya, seorang mahasiswa yang baru saja memulai aktivitas akademik setelah liburan panjang. Mereka akan terbiasa dengan aturan waktu yang lebih longgar (tidak ada deadline tugas) sehingga mempersepsikan waktu dengan santai. Masalah muncul ketika mereka mendapat suatu tugas akademik, dan mengalami kesulitan dalam mengerjakan tugas tersebut (menunda menyelesaikan) karena konteks waktu mereka yang lebih longgar, sedangkan tugas tersebut memiliki tenggang waktu untuk dikumpulkan. 7)

  Environmental factors Penelitian Onwuegbuzie dan Jiao (2000) menunjukkan bahwa individu yang berada pada suatu lingkungan tertentu akan mempengaruhi kecenderungan prokrastinasinya. Misalnya, ketika berada di dalam perpustakaan beberapa individu cenderung tidak fokus dengan tugasnya (mencari teori), namun justru tertarik dengan buku-buku lain yang tidak berkaitan dengan tugasnya tersebut.

  8) Enjoy working under pressure

  Beberapa penelitian menunjukkan bahwa terdapat individu yang merasa senang dan tertantang ketika bekerja dalam tekanan. Dalam hal ini adalah bekerja menjelang batas akhir pengumpulan tugas. Mereka merasa mendapatkan ide-ide kreatif jika berada dalam tekanan (Tice & Baumister dalam Steel, 2005).

B. Intensitas Mengakses Facebook 1. Intensitas Mengakses

  Menurut Tim Penyusun Kamus (1988), arti kata intensitas adalah keadaan (tingkatan, ukuran) intensnya (kuatnya, beratnya). Wikipedia menerjemahkan intensitas sebagayang diberikan. Sementara itu, Drever (1986) menyebutkan intensitas sebagai aspek kuantitatif perasaan (atau pelengkap perasaan), atau berapa banyak kualitas arti khusus, tidak boleh dikacaukan dengan besar atau ukuran tempat, atau dengan intensitas atau kuantitas ransangan fisik.

  Menurut P. Salim dan Y. Salim (1991), kata mengakses berasal dari kata akses yang berarti jalan untuk memasuki suatu tempat atau jalan masuk satu-satunya.

  Berdasarkan dua pengertian tersebut, intensitas mengakses yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah lamanya mengakses (Facebook) dalam kurun waktu satu minggu dengan satuan ukur jam.

2. Definisi Jejaring Sosial Maya

  Boyd dan Ellison (2007) mendefinisikan jejaring sosial maya sebagai situs layanan yang memperbolehkan penggunanya untuk membangun profil publik atau profil semi publik dalam sistem yang mengikat dan dapat menyambungkan pengguna dengan jaringannya serta dapat melihat daftar jaringan yang telah dibuat oleh pengguna lain dalam sistem. Kelsey (2007) mendefinisikan jejaring sosial maya sebagai situs yang mendorong penggunanya untuk berinteraksi serta membangun jaringan dengan pengguna lain. Interaksi yang dilakukan dapat melalui berbagai bentuk, yaitu: a.

  Email : mengirim pesan elektronik ke pengguna lain b.

  Blog (web lob) posting : pengisian jurnal secara online c. Comment posting : pengiriman respon terhadap gambar, layout halaman, atau video musik yang telah dipilih oleh sesama pengguna layanan d.

  Instant messaging : percakapan secara real time antara dua orang yang berhubungan (percakapan dengan banyak orang yang terjadi dalam satu waktu) e. Picture, video dan music sharing : menggunggah serta mengirimkan lagu, video klip, serta gambar melalui email f.

  Gaming : bertemu dengan pemain lain secara online dan berkompetisi secara virtual g.

  Survey dan quiz talking : mengisi informasi personal yang menciptakan topik yang menarik atau menjawab pertanyaan pada majalah remaja untuk mencari tahu mengenai sesuatu h. Bulletin posting : pengiriman pesan secara massal i. Personalized content : pengisian materi situs secara personal meliputi gambar latar belakang, animasi, foto, dan semacamnya

  Menurut Dwyer dan Widmeyer (2008), untuk mampu mendukung interaksi sosial, jejaring sosial maya mempunyai komponen-komponen yang sesuai dengan fungsi tersebut, yaitu: a.

  Gambaran diri secara digital melalui profil b.

  Alat berkomunikasi melalui kontak yang synchronous dan asynchronous c. Terhubung

  Dari uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa jejaring sosial maya adalah layanan situs secara online yang menyediakan fitur-fitur yang berfungsi untuk memenuhi kebutuhan berkomunikasi sehingga dapat menyerupai komunikasi secara bertatap muka.

3. Definisi Facebook

  Menurut Ardhana (2009) Facebook adalah suatu website yang bergerak di bidang social network service yang memungkinkan seseorang untuk menemukan teman lama, teman baru, menjalin pertemanan, bergabung dalam komunitas seperti kota, pekerjaan, sekolah, dan daerah untuk melakukan koneksi dan berinteraksi dengan orang lain, mengirimkan pesan ataupun komentar. Website merupakan suatu software atau program yang dibangun di atas dokumen-dokumen maupun perintah-perintah Hyper Text atau disingkat HTML, gambar-gambar, dan script

  Markup Language

  pemrogramannya yang dapat divisualisasikan melalui internet. Umumnya

  website memiliki alamat yang ditulis dalam bentuk seperti:

  Ardhana (2009) dalam bukunya menyebutkan bahwa Facebook atau lebih dikenal dengan istilah FB dibuat oleh Mark Zuckerberg, seorang mahasiswa di Harvard University dan diluncurkan pada 4 Februari 2004. Awalnya FB digunakan untuk komunikasi antar mahasiswa Universitas Harvard. Pada waktu itu FB masih menggunakan nama TheFacebook dan bukan Facebook. TheFacebook diambil dari nama lembar dokumen yang diberikan ke setiap mahasiswa baru di Harvard University yang menampilkan profil civitas akademika. Kemudian baru pada bulan Agustus 2005 berganti nama menjadi Facebook. Setelah beberapa waktu, target pengguna FB adalah seluruh mahasiswa dan masyarakat umum.

  Tiga bulan setelah diluncurkan, lebih dari setengah jumlah mahasiswa Harvard telah bergabung menjadi anggota FB. Kurang dari empat bulan, 30 kampus telah ikut bergabung Pada bulan Januari 2005, FB mulai menambahkan jaringan-jaringan sekolah internasional. Menjelang akhir 2006, FB mencapai hampir 2 juta orang pemakai di Kanada dan 1 juta orang pemakai di Inggris. Memasuki bulan Oktober 2007, pemakai aktif FB mencapai 50 juta orang di seluruh dunia. Hingga pertengahan tahun 2008, FB telah diterjemahkan dalam bahasa Spanyol, Perancis dan Jerman. Di bulan Juli 2008 FB telah mencapai 90 juta orang pemakai aktif secara global dan mereka sudah menterjemahkan FB ke dalam puluhan bahasa. Pertumbuhan FB ini meledak di Amerika Selatan. Pada awal 2009, pengguna aktif FB sudah mencapai 150 juta orang dan saat ini FB sudah diterjemahkan dalam 40 bahasa dengan pengguna aktif lebih dari 175 juta jiwa di seluruh dunia.

4. Faktor Penyebab Frekuensi Mengakses Facebook

  Penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Ermida (2008) menyebutkan bahwa ada beberapa faktor yang menyebabkan seseorang mengakses Facebook, yaitu: a.

  Kebutuhan untuk Berafiliasi Maslow menyatakan bahwa manusia memiliki kebutuhan untuk dicintai atau berafiliasi terhadap orang lain (Schultz, 1991). Social network

  service ini mampu memberikan kesempatan pada seseorang untuk

  berafiliasi dengan orang lain. Dengan adanya wadah ini maka terbentuklah perilaku seseorang untuk berafiliasi secara cyber. Hal ini membentuk suatu fenomena baru, yaitu pergeseran gaya hidup dari afiliasi di dalam dunia nyata menjadi afiliasi dunia cyber.

  b.

  Ketertolakan Daya Tarik Fisik Di dalam layanan jaringan sosial maya, faktor daya tarik fisik dan perilaku dapat diminimalkan pengaruhnya sehingga orang-orang akan lebih mudah diterima maupun memperoleh dukungan dari orang lain, sebab pertemuan mereka secara tidak langsung.

  c.

  Fasilitas pada Facebook

  Facebook memiliki banyak pengguna di seluruh dunia, khususnya

  Indonesia. Oleh karena itu, Facebook pun berkembang menjadi web

  social network service yang memungkinkan para penggunanya

  memasang foto, mengomentarinya, mengubah status, mengomentari status orang lain, menulis artikel, dan chatting dengan sesama teman di

  Facebook. Dengan banyaknya fasilitas yang disediakan maka bertambah pula lah jumlah peminatnya.

C. Hubungan Antara Intensitas Mengakses Facebook dengan Prokrastinasi Akademik

  Kehidupan kampus selalu diwarnai dengan berbagai pandangan mengenai kewajiban yang harus diambil dan dijalankan oleh mahasiswa. Hal ini terkait dengan pandangan yang ada dalam kehidupan sosial, yaitu bahwa seorang mahasiswa harus menjalankan kewajibannya untuk menuntut ilmu.

  Selain itu menurut pandangan masyarakat pada umumnya, mahasiswa adalah sekelompok individu yang berpendidikan tinggi dengan sikap kritis dan cara berpikir yang ilmiah, sehingga secara tidak langsung dinilai mampu bersaing di era globalisasi.

  Kenyataan yang ada justru menunjukkan bahwa banyak mahasiswa yang terhambat untuk lulus karena buruknya penyesuaian diri dan tidak adanya disiplin dalam diri mereka. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya mahasiswa tingkat akhir yang tidak kunjung menyelesaikan tugas dan tanggung jawab perkuliahaannya dengan baik. Salah satu penyebabnya ialah adanya kebiasaan menunda pekerjaan atau yang lebih dikenal dengan istilah prokrastinasi akademik.

  Prokrastinasi akademik menitikberatkan pada penundaan tugas-tugas akademis termasuk di dalamnya kegiatan belajar. Pada mahasiswa, prokrastinasi akademik diasosiasikan dengan rendahnya nilai akademik dan

  

drop out , penundaan belajar, dan penundaan dalam menyelesaikan tugas

  kuliah (Beswick, Rothblum, & Mann, 1988; Lay & Burns, 1991; Rothblum et

  

al ., 1986). Prokrastinasi disfungsional akademik dapat didefinisikan sebagai

  kecenderungan irasional untuk menunda dengan tidak bertujuan dalam memulai atau menyelesaik an suatu tugas akademik (Sene’cal, Julien & Guay, 2003).

  Di sisi lain, internet hadir sebagai bukti adanya revolusi di bidang informasi. Kehadiran internet memberikan layanan virtual social network

  

service yang membantu seseorang untuk menjalin relasi dan berbagi dengan

  orang lain tanpa perlu berbicara atau tatap muka secara langsung. Salah satu bentuk virtual social network service adalah hadirnya Facebook sebagai situs jejaring sosial yang semakin menambah kuatnya daya hipnotis dari internet. Menurut Douglas (dalam Elia, 2009), hal ini didukung pula oleh semakin murah dan mudahnya koneksi internet dengan tersebarnya jaringan, dan semakin tersedianya peralatan komputer, handphone, iPhone, maupun

  

BlackBerry yang menyediakan fasilitas berinternet. Maraknya penjualan

  media komunikasi seperti ini semakin memudahkan masyarakat untuk mengakses internet kapan saja dan di mana saja sekaligus juga membuat para penggunanya seolah tidak ingin jauh dari situs jejaring sosial yang dimilikinya.

  Sebuah penelitian yang dilakukan oleh seorang ahli syaraf, Greenfield dari Oxford University menunjukkan bahwa situs pertemanan seperti

  

Facebook dapat menciutkan otak dewasa menjadi otak bayi. Menurut

  Greenfield, interaksi terus-menerus dengan Facebook dapat memperpendek konsentrasi dan memberikan kesenangan instan yang mirip dengan kondisi otak manusia ketika masih bayi (dalam Elia, 2009).

  Hilangnya konsentrasi akan membuat individu sulit memusatkan perhatian dalam menyelesaikan tugas akademik yang dimilikinya. Hal inilah yang kemudian diungkapkan oleh Miller (dalam Nyoman, 2003) bahwa prokrastinasi dimulai ketika seseorang sulit dalam memulai maupun menyelesaikan tugas atau pekerjaan yang dihadapinya. Selain itu, melakukan aktivitas lain yang lebih menyenangkan daripada melakukan tugas yang harus dikerjakan juga dapat menyebabkan teralihkannya pusat perhatian terhadap tugas yang dapat berujung pada perilaku prokrastinasi (Utama, 2000).

  Selain itu, efek mencandu dari Facebook juga semakin mendorong munculnya perilaku prokrastinasi disfungsional akademik. Facebook yang melalui fasilitasnya mencoba menghadirkan kenikmatan bagi para pengguna tetapi sekaligus menjadi magnet yang menarik individu untuk selalu mendekat padanya. Oleh karena itu, kenikmatan ini akan secara otomatis membuat individu menjauh dari tugas akademik yang seharusnya dikerjakan.

  Hal ini sesuai dengan pendapat Greenfield (dalam Elia, 2009) yang menjelaskan bahwa Facebook juga memiliki daya menghipnotis. Hal ini dikarenakan Facebook memuat warna, gerakan, suara, ketidakterbatasan informasi, dan kesegaran respons yang membuat individu tertarik untuk membukanya. Hal inilah yang membuat internet secara negatif dapat berujung pada penundaan dalam mengerjakan tugas.

  Magnet lain juga datang dari sepuluh faktor seperti yang disebutkan oleh Bernard (dalam Ema, 2007), antara lain: (1) kecemasan, (2) mencela diri sendiri (self-depriciation), (3) toleransi yang rendah terhadap tugas (low

  

discomfort tolerance ), (4) mencari kesenangan (pleasure seeking), (5)

  disorganisasi waktu, (6) disorganisasi lingkungan, (7) pendekatan yang kurang baik terhadap tugas (poor task approach), (8) perilaku asertif yang rendah, (9) antipati terhadap individu lain, serta (10) stres dan kelelahan. Satu atau lebih faktor tersebut dapat menarik individu untuk menjauhi tugas yang dituju (aversion to the task) dan disaat bersamaan mendatangi tugas lain yang lebih menyenangkan. Hal ini membuat tugas yang hendak dikerjakan menjadi tertunda dan terjadilah prokrastinasi.

  Kecemasan sebagai salah satu magnet yang mendorong individu menjauhi tugas akademik semakin diperkuat dengan adanya ketakutan- ketakutan dasar individu. Burka dan Yuen (1983) mengatakan bahwa prokrastinasi digunakan sebagai strategi untuk melindungi diri dari ketakutan- ketakutan yang mendasar atau dari ancaman-ancaman yang mendatangkan kecemasan. Adapun ketakutan dasar (basic fears) tersebut terdiri dari lima jenis, yaitu ketakutan akan kegagalan (fear of failure), ketakutan akan keberhasilan (fear of success), ketakutan akan kehilangan kontrol atas diri (fear of losing the battle), ketakutan akan keterkungkungan (fear of

  

attachment ), dan ketakutan akan keterasingan (fear of separation). Apapun

  jenis ketakutan dasar yang dimiliki individu, akan membuatnya merasa “aman” ketika menunda untuk memulai ataupun menyelesaikan tugasnya.

  Prokrastinasi menjadi salah satu cara yang dianggap individu tersebut cukup ampuh untuk menjaga harga dirinya.

  Teori behavioristik mencoba merangkul keseluruhan teori tarik menarik antara tugas akademik dengan hal-hal lain di luar tugas, yaitu bahwa prokrastinasi muncul akibat proses pembelajaran. Menurut Ferrari (dalam Ratna, 1999), individu melakukan prokrastinasi akademik karena ketiadaan sangsi atau hukuman (punishment) untuk pelaku, yang terjadi secara berulang-ulang. Selain itu, individu yang pernah merasakan kesuksesan dalam melakukan tugas dengan penundaan, akan cenderung mengulangi lagi perbuatannya. Sukses ini dijadikan reward untuk mengulangi perilaku yang sama di masa yang akan datang (Bijou, Morris, & Parsons dalam Ferrari, 1995).

  Prokrastinasi telah menjadi fenomena yang umum di masyarakat luas, yang secara kronis terjadi pada sebagian besar orang dewasa begitu pula pada para mahasiswa (Blunt & Pychyl, 1998; Hariot & Ferrari, 1996). Sehingga dapat dikatakan bahwa prokrastinasi merupakan konsekuensi yang cukup serius bagi mahasiswa, dimana dalam kehidupannya mahasiswa dikarakteristikan dengan banyaknya tugas yang dikerjakan pada tenggang waktu.

D. Hipotesa Penelitian

  Berdasarkan landasan teori sebelumnya mengenai Facebook dan prokrastinasi akademik, maka pene litian ini mengajukan hipotesis: “Terdapat

  Hubungan yang Positif antara Intensitas Mengakses Facebook dengan Prokrastinasi Akademik pada Mahasiswa

  ”. Semakin tinggi intensitas mengakses Facebook akan semakin membuat mahasiswa melakukan prokrastinasi akademik. Sebaliknya, semakin rendah intensitas mengakses

  Facebook maka akan semakin memperkecil kemungkinan mahasiswa melakukan prokrastinasi akademik.

BAB III METODE PENELITIAN Setelah menguraikan teori-teori yang digunakan pada penelitian ini,

  selanjutnya peneliti akan menjelaskan hal-hal yang berkaitan dengan metode penelitian. Bab ini ditujukan untuk memberikan penjelasan mengenai metode penelitian. Pembahasan dalam metode penelitian mencakup identifikasi variabel penelitian, subjek penelitian, populasi dan sampel, teknik pengambilan sampel, metode pengumpulan data, alat ukur yang digunakan, dan juga metode analisis data.

A. Jenis Penelitian

  Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif, yaitu mengumpulkan data yang dapat dianalisis dan disimpulkan dengan perhitungan statistik (Azwar, 2007). Jenis penelitian yang digunakan adalah korelasional, yaitu penelitian yang memiliki karakteristik berupa hubungan antara dua variabel atau lebih (Supratiknya, 1998). Berdasarkan karakteristik tersebut, maka penelitian ini bertujuan untuk menentukan ada tidaknya hubungan antara dua variabel, yaitu intensitas mengakses Facebook dengan prokrastinasi akademik.

B. Identifikasi Variabel Penelitian

  Variabel dalam penelitian ini terdiri dari variabel bebas dan variabel tergantung. Variabel bebas merupakan variabel yang menjadi sebab berubahnya atau timbulnya variabel terikat (Idrus, 2009). Sementara variabel tergantung merupakan variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat karena adanya variabel bebas (Idrus, 2009). Adapun variabel bebas dan variabel tergantung dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. : Intensitas mengakses Facebook

  Variabel bebas 2. Variabel tergantung : Prokrastinasi akademik C.

   Definisi Konseptual 1. Intensitas Mengakses Facebook

  Intensitas adalah besar atau kekuatan suatu tingkah laku (Drever, 1986). Mengakses berasal dari kata akses yang berarti jalan untuk memasuki suatu tempat. Jadi, intensitas mengakses Facebook adalah besar atau kuatnya suatu tingkah laku mengakses Facebook.

2. Prokrastinasi Akademik

  Prokrastinasi akademik merupakan kecenderungan individu untuk menunda dalam memulai atau menyelesaikan tugas-tugas akademik dengan tidak bertujuan sehingga berakibat tidak baik dan menimbulkan masalah (Milgram dkk, dalam Phychyl, 2001).

D. Definisi Operasional 1. Intensitas Mengakses Facebook

  Intensitas mengakses Facebook adalah besar atau kuatnya suatu tingkah laku mengakses Facebook yang diukur berdasarkan lamanya individu mengakses (Facebook) dalam kurun waktu satu minggu dengan satuan ukur jam. Untuk melihat intensitas dalam mengakses Facebook, subjek diminta mengisi setiap pertanyaan dalam lembar angket pada Intensitas Penggunaan Facebook.

2. Prokrastinasi Akademik

  Prokrastinasi akademik adalah kecenderungan individu dalam merespon tugas yang dihadapi dengan mengulur-ulur waktu untuk memulai maupun menyelesaikan kinerja secara sengaja untuk melakukan aktivitas lain yang tidak dibutuhkan dalam penyelesaian tugas sehingga dapat berakibat tidak baik. Prokrastinasi akademik diukur menggunakan skala Prokrastinasi Akademik dengan indikator sebagai berikut: (1) adanya penundaan dalam memulai menyelesaikan kinerja dalam menghadapi tugas, (2) adanya kelambanan dalam mengerjakan tugas dibandingkan mahasiswa pada umumnya, (3) adanya kesenjangan waktu antara rencana dengan kinerja aktual dalam mengerjakan tugas, (4) adanya kecenderungan untuk melakukan aktivitas lain yang dipandang lebih mendatangkan hiburan dan kesenangan.

  Tingkat prokrastinasi akademik dilihat dari besarnya skor yang diperoleh pada skala prokrastinasi akademik. Semakin tinggi skor total yang diperoleh, semakin tinggi pula kecenderungan prokrastinasi akademiknya. Begitu pula sebaliknya, semakin rendah skor yang diperoleh menunjukkan semakin rendah pula kecenderungan untuk melakukan prokrastinasi akademik.

E. Subjek Penelitian

  Populasi adalah sejumlah individu yang paling sedikit memiliki sifat yang sama (Hadi, 2000). Populasi dari penelitian ini adalah mahasiswa.

  Populasi mahasiswa sedemikian besar sehingga tidak mungkin untuk diamati secara keseluruhan, sehingga suatu subset dari keseluruhan populasi yang akan diamati harus ditarik untuk diteliti.

  Sampel merupakan subset atau bagian dari populasi yang akan diamati, sehingga kesimpulan mengenai populasi diambil dari kesimpulan yang diperoleh dari sampel (Hadi, 2000). Menurut Hadi (2000), sampling merupakan pengambilan sebagian dari populasi atau semesta untuk mewakili populasi tersebut. Dengan melakukan sampling peneliti melakukan efisiensi dalam penggunaan waktu, biaya, dan tenaga. Sampel dalam penelitian ini adalah mahasiswa Psikologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta terkait dengan permasalahan penelitian.

F. Metode Pengambilan Sampel

  Metode pengambilan sampel adalah cara yang digunakan untuk mengambil sampel dari populasi dengan menggunakan prosedur tertentu, dalam jumlah yang sesuai dengan memperhatikan sifat-sifat dan penyebaran populasi agar diperoleh sampel yang benar-benar dapat mewakili populasi (Hadi, 2000). Metode pengambilan sampel untuk penelitian kuantitatif ini tergolong dalam penarikan sampel non probabilitas (non probability

  sampling ) dengan metode purposif (purposive sampling). Metode penarikan

  sampel non probabilitas yaitu teknik pengambilan sampel dengan tidak memberi peluang atau kesempatan yang sama bagi setiap unsur atau anggota populasi untuk dipilih menjadi sampel (Sugiyono, 2007). Metode ini digunakan atas dasar, tidak semua subjek mendapat kesempatan menjadi responden dan ketiadaan sarana untuk menentukan kemungkinan setiap subjek terlibat (Sugiyono, 2007). Sementara itu, penggunaan teknik purposive

  sampling didasarkan pada adanya pertimbangan-pertimbangan tertentu dari

  peneliti terkait dengan permasalahan penelitian (Idrus, 2009). Pertimbangan- pertimbangan tersebut tampak dalam ciri-ciri atau karakteristik tertentu yang dipandang memiliki sangkut paut yang erat dengan tujuan penelitian. Karakteristik sampel penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1)

  Merupakan mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma 2)

  Tidak sedang dalam masa Penundaan Kegiatan Akademik (PKA) 3)

  Memiliki account di Facebook

G. Jumlah Sampel Penelitian

  Jumlah sampel penelitian minimal yang diperlukan dalam suatu distribusi normal adalah 30 orang. Jumlah sampel 30 orang merupakan jumlah minimal data untuk dapat diolah secara statistik (Guilford & Futcher, 1987). Berdasarkan penjelasan tersebut maka jumlah sampel yang akan disertakan dalam penelitian ini sejumlah 100 orang. Jumlah ini diharapkan lebih memberikan gambaran populasi secara umum. Selain itu, jumlah sampel yang lebih besar juga dapat memberikan perhitungan statistik yang lebih akurat (Kerlinger, 2000). Kerlinger (1985) mengatakan bahwa terdapat hubungan antara jumlah sampel dan kesalahan. Kesalahan disini berarti penyimpangan dari nilai-nilai yang sebenarnya pada populasi. Semakin besar sampel, semakin sedikit kesalahan. Penelitian ini akan menggunakan subjek sebanyak 65 orang untuk uji coba alat ukur dan 100 orang dalam pelaksanaan penelitian, dengan asumsi semakin banyak data yang diperoleh, maka akan semakin akurat hasil penelitian yang diperoleh.

  Pada penelitian ini, peneliti menggunakan teknik pengambilan sampel berstrata. Teknik ini digunakan atas dasar adanya kelompok-kelompok tingkatan dalam populasi (Azwar, 2009). Dalam penelitian ini, kelompok tingkatan yang dimaksud adalah tahun angkatan mahasiswa. Pengambilan sampel berstrata dapat dilakukan dengan dua pendekatan, yaitu cara proporsional dan disproporsional sampling. Penelitian ini menggunakan teknik proporsional, yaitu sampel yang diteliti terdiri dari sub-sub sampel yang perimbangannya mengikuti perimbangan sub-sub populasi (Hadi, 2004). Menurut Azwar (1997), untuk menggunakan pendekatan ini peneliti harus mengetahui terlebih dahulu perbandingan jumlah subjek dalam tiap subkelompok atau strata. Dalam hal ini, subkelopok atau strata yang dimaksudkan adalah tahun angkatan mahasiswa. Kemudian, ditentukan persentase besarnya sampel dari keseluruhan populasi. Persentase atau proporsi ini lalu diterapkan dalam pengambilan sampel bagi setiap subkelompok atau stratanya. Pada penelitian ini, perbandingan jumlah mahasiswa dari tiap angkatan diubah dalam bentuk persen berdasarkan keseluruhan mahasiswa Psikologi Sanata Dharma. Kemudian persentase ini akan digunakan untuk menentukan jumlah sampel penelitian dari masing- masing angkatan. Hal ini dilakukan dengan harapan hasil penelitian dapat bersifat representatif dari populasi. Narbuko dan Achmadi memandang cara ini sebagai cara yang dapat memberikan landasan generalisasi yang lebih dapat dipertanggungjawabkan daripada menggunakan cara lain yang tanpa memperhitungkan besar-kecilnya jumlah subpopulasi.

  Berikut data yang diperoleh dari Sekretariat Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma (2010) :

  Tabel 2 Data Jumlah Mahasiswa Psikologi Sanata Dharma

  Tahun Jumlah Persentase Angkatan Mahasiswa (%)

  2001 8 1,17 2002 23 3,39 2003 35 5,16 2004 42 6,19 2005 57 8,40 2006 91 13,42 2007 139 20,50 2008 148 21,82 2009 135 19,91

  TOTAL 678 100

  Data yang diperoleh dari Sekretariat Fakultas Psikologi menyebutkan bahwa terdapat 678 orang mahasiswa yang aktif kuliah mulai dari tahun angkatan 2001 hingga tahun angkatan 2009 dengan jumlah mahasiswa yang berbeda-beda di tiap angkatannya. Jumlah ini kemudian dipersentasekan untuk menentukan banyaknya subjek yang diperlukan dalam penelitian. Berikut cara perhitungan dengan metode proporsif menurut Sugiyono (2000) : Besarnya subjek penelitian = persentase × jumlah subjek penelitian Tahun angkatan 2001

  = 1,17 % × 100 = 1,17 (1 orang)

  Tahun angkatan 2002 = 3,39 % × 100 = 3,39 (3 orang)

  Tahun angkatan 2003 = 5,16 % × 100 = 5,16 (5 orang)

  Tahun angkatan 2004 = 6,19 % × 100

  Tahun angkatan 2005 = 8,40 % × 100 = 8,40 (8 orang)

  Tahun angkatan 2006 = 13,42 % × 100 = 13,42 (14 orang)

  Tahun angkatan 2007 = 20,50 % × 100 = 20,50 (21 orang)

  Tahun angkatan 2008 = 21,82 % × 100 = 21,82 (22 orang)

  Tahun angkatan 2009 = 19,91 % × 100 = 19,91 (20 orang) H.

   Metode Pengumpulan Data Penelitian

  Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan skala dan angket. Skala digunakan untuk mengumpulkan data mengenai perilaku prokrastinasi akademik, sementara angket digunakan untuk mengetahui sejauh mana subjek mengenal internet dan mengakses Facebook. Skala prokrastinasi akademik yang digunakan adalah skala yang dikonstruk sendiri oleh peneliti sesuai dengan indikator yang ada. Sedangkan angket intensitas penggunaan Facebook berisi pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab oleh subjek guna mengungkap seberapa lama perilaku mengakses Facebook dilakukan oleh subjek.

1. Skala Prokrastinasi Akademik

  Untuk mengkategorikan subjek menjadi individu dengan prokrastinasi akademik tinggi dan individu dengan prokrastinasi akademik rendah maka peneliti menggunakan alat ukur berupa Skala Prokrastinasi Akademik. Metode skala digunakan mengingat data yang ingin diukur berupa konsep psikologis yang dapat diungkap secara tidak langsung melalui indikator- indikator perilaku yang diterjemahkan dalam bentuk aitem-aitem pernyataan (Azwar, 2000). Skala ini terdiri dari satu bagian yang mencakup beberapa karakteristik individu yang melakukan prokrastinasi disfungsional akademik.

  Karakteristik tersebut antara lain: (1) adanya penundaan dalam memulai atau menyelesaikan kinerja dalam menghadapi tugas, (2) adanya kelambanan dalam mengerjakan tugas dibandingkan mahasiswa pada umumnya, (3) adanya kesenjangan waktu antara rencana dengan kinerja aktual dalam mengerjakan tugas, (4) adanya kecenderungan untuk melakukan aktivitas lain yang dipandang lebih mendatangkan hiburan dan kesenangan.

  Berdasarkan 4 karakteristik tersebut, maka item skala prokrastinasi akademik dibuat sebanyak 44 item yang terdiri dari 22 item favorable (pernyataan yang mendukung) dan 22 item unfavorable (pernyataan yang tidak mendukung). Jumlah aitem pada dua dari empat karakteristik tidaklah sama. Hal ini disebabkan oleh adanya komponen yang lebih penting sehingga mendapat bobot yang lebih banyak dalam menentukan jumlah aitem (Azwar, 2000). Dalam skala prokrastinasi akademik, karakteristik yang menonjol adalah aspek pertama, yaitu penundaan untuk memulai ataupun menyelesaikan kerja pada tugas yang dihadapi. Hal tersebut disebabkan karena pengukuran kebiasaan belajar adalah dalam memulai maupun menyelesaikan tugas atau pekerjaan (Miller dalam Nyoman, 2003). Aspek selanjutnya yang juga menonjol adalah aspek keempat, yaitu melakukan aktivitas lain yang lebih menyenangkan daraipada melakukan tugas yang harus dikerjakan. Hal ini disebabkan karena hambatan yang biasa dialami mahasiswa adalah adanya kegiatan di luar tugas akademik yang dapat mengalihkan fokus penyelesaian tugas (Utama, 2000).

  Skala prokrastinasi akademik ini berbentuk skala Likert dengan 4 tingkat, mulai dari STS (sangat tidak sesuai), TS (tidak sesuai), S (sesuai), hingga SS (sangat sesuai). Penggunaan 4 tingkat ini dimaksudkan untuk menghindari adanya tendency central dari responden sehingga dapat lebih memilih jawaban yang memihak. Menurut Azwar (2004), tidak diberikannya alternatif jawaban tengah atau netral dengan tujuan untuk menghindari adanya responden yang ragu-ragu dalam menjawab sehingga kemudian memilih jawaban tengah atau netral, serta agar responden dapat lebih tegas dalam memilih dan menentukan jawaban tanpa menggiringnya ke arah jawaban tengah. Perrnyataan dalam skala ini terdiri dari pernyataan favorable dan unfavorable. Pemberian skor pada item favorable bergerak dari 4 (SS), 3 (S), 2 (TS), sampai dengan 1 (STS). Sedangkan pada item unfavorable skor bergerak dari 1 (SS), 2 (S), 3 (TS), hingga 4 (STS)

  Blue print dari skala prokrastinasi akademik pada mahasiswa dapat

  dilihat pada tabel berikut ini:

  Tabel 3 Blue Print Skala Prokrastinasi Akademik Sebelum Uji Coba

  Aitem Aspek Jumlah No Aitem No. Aitem

  Favorable Unfavorable

  1. Penundaan terhadap tugas 1, 8, 12, 33, 41, 11, 16, 21, 31,

  12 43 37, 40

  2. Kelambatan dalam tugas 2, 24, 29, 30, 9, 10, 13, 15,

  10

  35

  22

  3. Kesenjangan waktu 3, 5, 20, 25, 44 7, 18, 26, 28,

  10

  38

  4. Melakukan aktivitas lain 4, 6, 23, 27, 34, 14, 17, 19, 32,

  12 36 39, 42

  TOTAL

  44 Skala ini termasuk skala langsung dimana subjek penelitian mengisi

  sendiri jawaban-jawaban dari pernyataan dalam skala. Selain itu, skala ini merupakan skala tertutup karena jawabannya dibatasi dan ditentukan oleh peneliti. Subjek penelitian tidak diberi kesempatan untuk menentukan jawaban lain, selain dari jawaban yang tersedia (Nawawi, 2001).

2. Angket Intensitas Penggunaan Facebook Untuk mengetahui intensitas penggunaan Facebook digunakan angket.

  Data yang diungkap oleh angket berupa faktual atau dianggap fakta dan kebenarannya diketahui oleh subjek. Di dalam angket tersebut disertakan pertanyaan mengenai lamanya subjek dalam mengakses Facebook.

  Angket Intensitas Mengakses Facebook

  Apakah Anda pengguna Facebook : Ya / Tidak (*) Alamat Facebook Anda : Telah bergabung dalam Facebook selama

  : ………….. Tahun Rata-rata menggunakan Facebook dalam satu hari selama

  : …………... Jam : …………... x dalam seminggu I.

   Uji Coba Alat Ukur

  Peneliti melakukan pengambilan data dalam rangka uji coba skala pada sampel mahasiswa/mahasiswi yang terkait. Tujuan dari uji coba adalah untuk melihat kualitas aitem-aitem dalam skala yang akan digunakan dalam penelitian. Uji coba alat penelitian dilakukan pada tanggal 5 hingga 22 Juli 2010 di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Peneliti menyebar 75 eksemplar alat ukur, akan tetapi 11 diantaranya tidak memenuhi syarat karena ada beberapa pernyataan yang terlewatkan. Oleh karena itu, total alat ukur yang kembali dan memenuhi syarat untuk dianalisis adalah sejumlah 64 eksemplar.

  J. Validitas dan Reliabilitas

  Untuk mendapatkan alat ukur yang baik, dalam arti alat ukur tersebut dapat dipercaya dan tepat, maka data yang diperoleh dan hendak dianalisis haruslah data yang sahih dan merupakan data sebenarnya. Data tersebut tentunya berasal dari instrumen atau skala yang valid dan reliabel. Untuk itu, dilakukan pengujian terhadap reliabilitas dan validitas terhadap alat ukur tersebut (Idrus, 2009).

1. Validitas

  Validitas mempunyai arti kemampuan butir aitem dalam mendukung konstruk dalam instrumen. Hal ini memberikan pengertian bahwa instrumen yang digunakan mampu memberikan nilai yang sesungguhnya dalam melakukan fungsi ukurnya. Suatu instrumen dikatakan valid (sahih) apabila instrumen tersebut benar-benar mengukur apa yang seharusnya diukur (Idrus, 2009).

  Dalam penelitian ini, validitas yang digunakan adalah validitas isi. Validitas isi adalah validitas yang dipandang dari segi isi skala, yaitu sejauh mana isi dari skala tersebut telah dianggap dapat mengukur hal-hal yang mewakili keseluruhan tentang apa yang hendak diukur (Azwar, 2004). Validitas ini ditentukan dengan membandingkan isi aitem dengan blue print yang telah ditentukan melalui pendapat dosen pembimbing selaku

  professional judgment yang bersifat subjektif dan disebut validitas non-

  empirik. Pada penelitian ini, dosen pembimbing melakukan analisis rasional terhadap aitem-aitem yang telah disusun. Pengujian validitas ini bertujuan untuk melihat sejauh mana pernyataan dalam skala telah mewakili komponen variabel yang hendak diukur (Azwar, 2004).

2. Reliabilitas

  Menurut Idrus (2009), reliabilitas mempunyai arti konsistensi suatu alat ukur dalam memberikan hasil yang sama atau tidak jauh berbeda apabila dilakukan penelitian kembali terhadap suatu gejala pada waktu yang berbeda dengan menggunakan alat ukur yang sama. Alat ukur / instrumen dikatakan reliabel jika mempunyai sifat yang dapat dipercaya karena memberikan hasil yang tetap apabila diujicobakan berkali-kali.

  Untuk menghitung koefisien reliabilitas, peneliti menggunakan metode Coefficient Alpha Cronbach dalam program SPSS for windows versi

  18.00 . Metode ini digunakan karena setiap item dalam alat ukur penelitian ini

  merupakan multiple-scored item, sehingga subjek penelitian dapat memperoleh skor yang berbeda untuk tiap item (Anastasia & Urbina, 1997).

  Nilai alpha bervariasi dalam rentang 0 hingga 1,00. Semakin tinggi koefisien reliabilitas mendekati angka 1,00 berarti semakin tinggi reliabilitas alat ukur.

  Begitu pula sebaliknya, koefisien yang semakin rendah mendekati 0 berarti semakin rendah reliabilitas alat ukurnya.

  Reliabilitas telah dianggap memuaskan apabila koefisien alpha-nya mencapai 0,900. Dengan koefisien reliabilitas 0,900 berarti perbedaan (variasi) yang tampak pada skor skala tersebut mampu mencerminkan 90 % dari variasi yang terjadi pada skor murni kelompok subjek yang bersangkutan. Atau dengan kata lain bahwa hanya 10 % dari perbedaan skor yang tampak disebabkan oleh variasi atau kesalahan pengukuran tersebut (Azwar, 1999). Reliabilitas pada skala prokrastinasi akademik sebesar 0,952.

  K. Seleksi Aitem

  Pelaksanaan seleksi aitem bertujuan untuk memilih aitem-aitem yang baik dan berkualitas. Aitem yang disusun dalam suatu skala yang tidak memperlihatkan kualitas yang baik harus disingkirkan atau dievisi terlebih dahulu sebelum menjadi bagian dari skala penelitian yang sesungguhnya.

  Hanya aitem yang mempunyai kualitas baik yang boleh digunakan dalam skala. Seleksi aitem dilakukan dengan cara ujicoba alat ukur atau biasa disebut tryout. Parameter yang akan digunakan dalam seleksi aitem adalah daya diskriminasi aitem, yang menunjukkan sejauh mana aitem mampu membedakan antara individu atau kelompok individu yang memiliki atribut yang diukur (Azwar, 2006).

  Seleksi aitem dalam penelitian ini menggunakan teknik koefisien korelasi dengan mengkorelasikan keselarasan konsistensi antara fungsi aitem dengan fungsi skala secara keseluruhan atau sering disebut dengan konsistensi aitem total. Menurut Azwar (2006), prosedur pengujian konsistensi aitem dilakukan dengan komputasi koefisien korelasi antara distribusi skor pada setiap aitem dengan distribusi skor total sebagai kriteria.

  Komputasi ini akan menghasilkan koefisien korelasi aitem total (r ) yang

  ix umumnya dikenal dengan indeks daya beda aitem.

  Sebagai kriteria pemilihan aitem berdasarkan korelasi aitem total, digunakan batasan (r ix ) ≥ 0,300. Semua aitem yang mencapai koefisien minimal 0,300 dianggap memiliki daya beda yang memuaskan dan aitem dapat digunakan. Sebaliknya, aitem yang memiliki koefisien korelasi kurang dari 0,300 dinyatakan gugur (Azwar, 2004).

  Selain itu, peneliti juga melakukan analisis aitem berdasarkan koefisien alpha yang digunakan untuk menetapkan konsistensi internal skala secara keseluruhan. Prosesnya dengan melakukan analisis reliabilitas dengan program SPSS for windows versi 18.00. Aitem-aitem dipilih dengan melihat kolom pada output “alpha if item deleted”. Jika koefisien aitem pada kolom ini lebih besar daripada koefisien alpha secara keseluruhan, berarti apabila aitem tersebut digugurkan maka nilai koefisien alpha secara keseluruhan akan meningkat. Hal ini dikarenakan oleh kurangnya konsistensi subjek dalam memberikan jawaban pada aitem tersebut.

  Berdasarkan seleksi aitem pada skala Prokrastinasi Akademik dengan menggunakan teknik koefisien korelasi dan koefisien alpha, didapat 40 aitem yang sahih dengan nilai r ix berkisar antara 0,361 hingga 0,801. Distribusi aitem-aitem yang sahih dan gugur disajikan pada tabel 4 berikut:

  Tabel 4 Distribusi Aitem Sahih dan Gugur Pada Skala Prokrastinasi Akademik

  Nomor Aitem Aspek Gugur Jumlah Sahih Jumlah 1.

  21 1 1,8,11,12,16

  11 Penundaan terhadap tugas ,31,33,37,40 ,41,43 2.

  24 1 2,9,10,13,15

  9 Kelambatan dalam tugas ,22,29,30,35 3.

  28 1 3,5,7,18,20,

  9 Kesenjangan waktu 25,26,38,44 4.

  36 1 4,6,14,17,19

  11 Melakukan aktivitas lain ,23,27,32,34 ,39,42

  TOTAL

  4

  40

  Tabel 5 Blue Print Skala Prokrastinasi Akademik Setelah Uji Coba

  4. Melakukan aktivitas lain 4(4), 6(6), 23(22), 27(25), 34(31)

  (Sugiono, 2008). Uji normalitas dengan metode Kolmogrov-Smirnov dalam program SPSS for windows versi 18.00 dapat dilakukan dengan

  Uji Normalitas Uji normalitas data digunakan untuk mengetahui apakah data yang akan dianalisis dalam penelitian ini berdistribusi normal atau tidak

  Analisis data yang digunkan dalam penelitian ini adalah analisis data dengan metode kuantitatif yang dilakukan dengan penghitungan statistik. Hal ini dilakukan karena dapat mewujudkan kesimpulan penelitian dengan memperhitungkan faktor kesalahan generalisasi (Hadi, 1997).

  L. Metode Analisis Data

  sebelum uji coba dan nomor aitem yang ada di dalam kurung ( ) adalah nomor aitem setelah uji coba yang akan digunkan dalam penelitian.

  40 Catatan. Nomor aitem yang tidak di dalam kurung ( ) adalah nomor aitem

  11 TOTAL

  14(14), 17(17), 19(19), 32(29), 39(35), 42(38)

  9

  Aspek Aitem Jumlah No Aitem Favorable

  7(7), 18(18), 26(24), 38(34)

  3. Kesenjangan waktu 3(3), 5(5), 20(20), 25(23), 44(40)

  9

  9(9), 10(10), 13(13), 15(15), 22(21)

  2. Kelambatan dalam tugas 2(2), 29(26), 30(27), 35(32)

  11

  11(11), 16(16), 31(28), 37(33), 40(36)

  1. Penundaan terhadap tugas 1(1), 8(8), 12(12), 33(30), 41(37), 43(39)

  No. Aitem Unfavorable

1. Uji Asumsi Data Penelitian a.

  melihat signifikansi. Apabila nilai sig > 0,05 maka data dalam penelitian berdistribusi normal (Trihendradi, 2005).

  b.

  Uji Linearitas Uji linearitas dilakukan untuk mengetahui apakah hubungan antara variabel bebas dengan variabel tergantung membentuk garis lurus atau tidak (Sugiyono, 2008). Pengujian ini dilakukan dengan menggunakan test for linearity dalam program SPSS for windows versi

  18.00 . Apabila nilai p untuk test for linearity < 0,05 maka terdapat

  hubungan yang linear antara variabel bebas dengan variabel tergantung (Trihendradi, 2005).

2. Uji Hipotesis Penelitian

  Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini diuji dengan menggunkan teknik korelasi product moment dari Pearson dalam program

  SPSS for windows versi 18.00 . Alasan penggunaan teknik analisis statistik ini

  adalah karena penelitian ini mencoba menguji hubungan antara variabel bebas dengan variabel tergantung tanpa variabel sertaan lain.teknik korelasi product

  moment dapat dilakukan bila hubungan antara variabel bebas dan variabel

  tergantung adalah linear dan data dari variabel bebas dan variabel tergantung mempunyai distribusi normal (Hadi, 1996).

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Pada bagian ini, diuraikan proses pelaksanaan penelitian, hasil penelitian

  yang diperoleh serta analisis yang dilakukan. Bagian pertama mencakup proses jalannya penelitian dan pemaparan mengenai gambaran umum subjek penelitian berdasarkan beberapa variabel demografis. Sedangkan bagian kedua berisi analisis hasil penelitian yang bertujuan untuk menjawab permasalahan yang diajukan dalam penelitian ini.

A. Pelaksanaan Penelitian

  Penelitian dilaksanakan pada tanggal 11-18 Agustus 2010 di Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma. Tanggal ini dipilih karena mahasiswa dari semua angkatan sedang mengikuti bimbingan klasikal sehingga lebih mudah untuk ditemui. Penelitian dilakukan dengan menyebar skala pada subjek penelitian secara langsung dan mengambil kembali skala di hari yang sama.

  Dalam melakukan penelitian diperlukan surat perijinan. Perijinan ini dilakukan sebagai salah satu prosedur pengambilan data guna memohon kesediaan pihak yang terkait untuk ikut serta dalam penelitian. Dalam hal ini, peneliti meminta ijin kepada dosen pembimbing akademik maupun dosen pengajar mata kuliah yang bertugas di kelas pada saat itu.

  Selain meminta ijin kepada dosen, peneliti juga memohon kesediaan mahasiswa untuk ikut serta dalam penelitian melalui inform consent dan nota kesepahaman yang terlampir dalam skala penelitian. Inform consent berisi hak dan kewajiban yang dimiliki oleh peneliti maupun subjek penelitian.

  Setelah memahami hak dan kewajiban masing-masing, serta menyatakan setuju dan dengan sukarela bersedia menjadi subjek dalam penelitian ini, maka mahasiswa yang bersangkutan diminta untuk menandatangani nota kesepahaman.

  Sebelum mulai mengerjakan, subjek diminta untuk mengisi identitas diri sembari peneliti menjelaskan mengenai petunjuk pengerjaan skala.

  Setelah semuanya dirasa jelas, barulah subjek dipersilakan mengisi jawaban atas pernyataan-pernyataan dalam skala. Proses pengisian skala ini tidak diberi batasan waktu. Peneliti tidak lupa mengucapkan terimakasih kepada subjek atas partisipasinya dalam penelitian.

  Skala yang disebarkan berjumlah 108 eksemplar, namun setelah melalui verifikasi terpilih 100 skala untuk dianalisis. Sisanya tidak dipergunakan karena tidak memenuhi syarat dimana 5 diantaranya bukan merupakan pengguna Facebook sementara 3 lainnya tidak mengisi skala dengan lengkap.

B. Deskripsi Subjek Penelitian

  6

  2

  12

  14 2007

  4

  17

  21 2008

  16

  5

  22 2009

  4

  16

  20 TOTAL 100 C.

   Hasil Penelitian 1. Deskripsi Data Penelitian

  Deskripsi data digunakan untuk mengetahui informasi yang berkaitan dengan data penelitian yang akan menggambarkan tanggapan subjek terhadap variabel penelitian. Berdasarkan hasil analisis deskriptif, diperoleh nilai mean teoretis dan mean empiris. Mean teoretis adalah rata-rata skor alat penelitian yang diperoleh dari angka yang menjadi titik tengah alat ukur. Sedangkan

  8 2006

  Subjek dalam penelitian ini adalah mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta tahun angkatan 2001 hingga 2009.

  Total keseluruhan subjek berjumlah 100 orang mahasiswa yang aktif kuliah dan tidak sedang dalam masa Penundaan Kegiatan Akademik (PKA).

  1

  Berdasarkan hasil penyebaran skala didapatkan data diri subjek sebagai berikut:

  Tabel 6 Distribusi Subjek Penelitian

  Angkatan Jenis Kelamin Jumlah Laki-laki Perempuan

  2001 -

  1

  1 2002

  2

  6 2005

  3 2003

  2

  3

  5 2004

  1

  5

  3

  mean empiris adalah rata-rata skor data penelitian yang hasilnya diperoleh

  dari angka yang merupakan rata-rata skor hasil penelitian. Hasil analisis data tersebut disajikan dalam tabel berikut ini:

  Tabel 7 Deskripsi Data Penelitian Mean Std.

  Variabel N Min Max Empiris Deviation

  Prokrastinasi Akademik 100 91,65 13,903 53 128 Intensitas Mengakses FB 100 12,79 6,522

  1

  27 Selanjutnya dilakukan perbandingan antara mean empiris dengan

  mean teoretis pada skala prokrastinasi akademik. Sedangkan, pada intensitas

  mengakses Facebook tidak dilakukan perbandingan karena nilai mean teoretis pada angket ini tidak bisa dihitung akibat tidak adanya batasan nilai minimum dan maksimumnya. Perbandingan ini dilakukan untuk mengetahui tanggapan subjek terhadap variabel penelitian.

  Mean

  teoretis prokrastinasi = titik tengah skor skala × jumlah aitem = 2,5 × 40 = 100 2.

   Kategorisasi Skor Skala

  Azwar (1999) mengemukakan bahwa untuk mengetahui skor penelitian pada subjek termasuk tinggi atau rendah, dapat dilakukan dengan menetapkan kriteria-kriteria kategorisasi. Tujuan kategorisasi ini adalah menempatkan subjek penelitian ke dalam kelompok-kelompok yang terpisah secara berjenjang menurut suatu kontinum berdasar atribut yang diukur. Kategori ini didasarkan pada asumsi bahwa skor populasi terdistribusi normal. Kriteria kategorisasi yang digunakan dalam penelitian ini dibagi dalam tiga kategori yaitu rendah, sedang, dan tinggi. Kategorisasi ini dapat diperoleh melalui uji signifikansi perbedaan antara mean skor empiris dan

  mean teoretis.

  a.

  Kategorisasi Intensitas Mengakses Facebook Kategorisasi skor pada variabel ini tidak dapat dilakukan karena tidak diperolehnya nilai mean teoretis. Selain itu, peneliti juga tidak menemukan bahan acuan untuk mengkategorisasikan intensitas mengakses Facebook, baik dari buku maupun jurnal. Meskipun demikian, berdasarkan pendapat Goldberg (dalam Kommit, 2004) mengenai kriteria diagnostik Internet Addiction Disorder (IAD) dapat diketahui apakah subjek penelitian cenderung mengarah pada IAD atau tidak.

  Menurut Goldberg, kriteria diagnostik untuk individu yang mengalami IAD adalah sebagai berikut: 1)

  Toleransi, didefinisikan oleh salah satu dari hal-hal berikut: a). Demi mencapai kepuasan, jumlah waktu penggunaan internet meningkat secara mencolok. b). Kepuasan yang diperoleh dalam menggunakan internet secara terus-menerus dalam jumlah waktu yang sama akan menurun secara mencolok, dan untuk memperoleh pengaruh yang sama kuatnya seperti yang sebelumnya, maka pemakai secara berangsur-angsur harus meningkatkan jumlah pemakaian agar tidak terjadi toleransi.

2) Penarikan diri (withdrawal) yang khas.

  3) Internet sering digunakan lebih sering atau lebih lama dari yang direncanakan.

  4) Terdapat keinginan yang tak mau hilang atau usaha yang gagal dalam mengendalikan penggunaan internet.

  5) Menghabiskan banyak waktu dalam kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan penggunaan internet.

  6) Kegiatan-kegiatan yang penting dari bidang sosial, pekerjaan, atau rekreasional dihentikan karena penggunaan internet.

  7) Penggunaan internet tetap dilakukan walaupun mengetahui adanya masalah-masalah (fisik, sosial, pekerjaan, atau psikologis) yang kerap timbul dan kemungkinan besar disebabkan atau diperburuk oleh penggunaan internet.

  Pada penelitian ini, data mengenai kecenderungan IAD subjek tidak dapat diperoleh. Hal ini terjadi karena peneliti tidak memperhitungkan kriteria diagnostik IAD saat pengambilan data sehingga menjadi kelemahan dalam penelitian.

  b.

  Kategorisasi Prokrastinasi Akademik Skala prokrastinasi akademik terdiri dari 40 aitem dengan empat pilihan jawaban yang bergerak dari skor 1 sampai 4. Nilai skor minimal yang diperoleh subjek pada skala ini adalah sebesar 40 (1 x 40), dan skor maksimal sebesar 160 (4 x 40). Jarak sebaran teoretiknya adalah 160

  • – 40 = 120. Perhitungan standar deviasi (SD), pada data yang berdistribusi normal memiliki 6 satuan standar dengan 3 bagian di sebelah kiri dan 3 bagian lainnya di sebelah kanan, maka nilai SD bernilai 120 : 6 = 20.

  Rangkuman data penelitian tersebut selanjutnya digunakan oleh peneliti untuk mengkategorisasikan prokrastinasi akademik pada mahasiswa Fakultas Psikologi USD dalam tingkatan-tingkatan untuk kemudian disusun norma. Subjek dikategorikan menjadi tiga kategori dengan rumus:

  Rendah = X < Mean

  • – 1 (SD) Sedang = Mean – 1 (SD) ≤ X < Mean + 1 (SD)

  Tinggi = Mean + 1 (SD) ≤ X

  Kategori dan distribusi skor dapat pada tabel berikut ini:

  Tabel 8 Kategori dan Distribusi Skor Skala Prokrastinasi Akademik

  

Pedoman Skor Kategori Frek. (%)

  X < M X < 80 Rendah

  12

  12

  • – 1 (SD) M

  85

  85

  • – 1 (SD) ≤ X < M + 1 (SD) 80 ≤ X < 120 Sedang M + 1 (SD) 120 Tinggi

  3

  3 ≤ X ≤ X

  Keterangan : X : Skor pola pikir negatif M : Mean teoretik SD : Standar deviasi N : 100

  Hasil kategori skor skala prokrastinasi akademik menunjukkan bahwa subjek yang memiliki tingkat prokrastinasi akademik pada kategorisasi rendah sebanyak 12 orang (12%), yang berada pada kategori sedang sebanyak 85 orang (85%), dan yang berada pada kategori tinggi sebanyak 3 orang (3%). Berdasarkan kategorisasi skala ini, dapat disimpulkan bahwa sebagian besar subjek memiliki tingkat prokrastinasi akademik dalam kategori sedang.

  Berdasarkan hasil kategorisasi pada tabel 8, intensitas subjek dalam mengakses Facebook dapat dikelompokkan sesuai dengan kategorisasi yang ada, yaitu rendah, sedang, dan tinggi. Hasil pengelompokkannya dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

  Tabel 9 Pengelompokkan Intensitas Mengakses Facebook

  Pedoman Kategori pada Skor Rerata Intensitas Skala Prokrastinasi Akademik Mengakses Facebook

  Kategori Rendah 4,33 jam / minggu Kategori Sedang 13, 51 jam / minggu Kategori Tinggi 26 jam / minggu

  Rerata intensitas mengakses Facebook diperoleh dengan cara menjumlahkan angka jam subjek dalam satu kategori tertentu dibagi jumlah subjek dalam kategori tersebut. Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh bahwa rerata intensitas mengakses Facebook pada subjek dalam kategori prokrastinasi akademik rendah sebesar 4,33 jam per minggu, dalam kategori prokrastinasi akademik sedang sebesar 13,51 jam per minggu, dan dalam kategori prokrastinasi akademik tinggi

D. Analisis Data Penelitian 1. Uji Asumsi

  Sebelum melakukan uji hipotesis, terlebih dahulu dilakukan uji asumsi untuk melihat apakah data yang diperoleh memenuhi syarat untuk dianalisis.

  Uji asumsi dalam penelitian meliputi uji normalitas dan uji linearitas.

  a.

  Uji Normalitas Uji normalitas dilakukan dengan menggunakan teknik Kolmogorov-Smirnov Test dalam program SPSS for windows versi 18.00.

  Uji ini dimaksudkan untuk mengetahui data variabel penelitian berdistribusi normal atau tidak. Hasilnya dapat dilihat dalam tabel berikut : Tabel 10

  Hasil Uji Normalitas Sebaran Kolmogorov- Asymp. Sig.

  Variabel Keterangan Smirnov Z (2-tailed)

  Prokrastinasi Akademik 0,810 1,356 Normal Intensitas Mengakses FB 0,528 0,051 Normal

  Sebaran data pada variabel prokrastinasi akademik dan intensitas mengakses Facebook mempunyai nilai signifikansi atau probabilitas (p) lebih besar dari 0,05 (p > 0,05). Hal ini menunjukkan bahwa variabel prokrastinasi akademik dan intensitas mengakses Facebook berdistribusi normal. b.

  Uji Linearitas Uji Linearitas digunakan untuk menguji apakah hubungan antara variabel bebas dengan variabel tergantung mempunyai hubungan yang linear atau tidak. Uji linearitas dilakukan dengan menggunakan Test for

  Linearity dalam program SPSS for windows versi 18.00. Hasil uji

  linearitas ditunjukkan pada tabel berikut ini :

  Tabel 11 Hasil Uji Linearitas Hubungan Antar Variabel Uji Linearitas F Sig.

  Prokrastinasi * (Combined) 13,152 0,000 Intensitas_FB

  Linearity 242,940 0,000 Deviation from Linearity 1,058 0,409

  Berdasarkan hasil uji linearitas tersebut, diperoleh nilai F hitung sebesar 242,940 dengan signifikansi atau probalilitas (p) sebesar 0,000.

  Nilai signifikasi yang kurang dari 0,05 (0,00 < 0,05) ini menunjukkan bahwa hubungan antara intensitas mengakses Facebook dengan prokrastinasi akademik adalah linear. Hal ini berarti setiap kenaikan pada variabel intensitas mengakses Facebook juga diikuti oleh kenaikan variabel prokrastinasi akademik.

2. Uji Hipotesis

  Setelah mengetahui bahwa data penelitian berdistribusi normal dan berkorelasi linear, maka dapat dilakukan uji koefisien korelasi Product

  Moment . Hipotesis yang diuji dalam penelitian ini adalah ada hubungan prokrastinasi akademik. Teknik uji hipotesis Pearson Product Moment ini dilakukan dengan bantuan program SPSS for windows versi 18.00. Hasil pengujian hipotesis dapat dilihat pada tabel berikut ini:

  Tabel 12 Hasil Uji Hipotesis

  Prokrastinasi Intensitas_FB

  • Prokrastinasi Pearson Correlation

  1 0,843 Sig. (1-tailed) 0,000 N 100 100

  • Intensitas_FB Pearson Correlation 0,843

  1 Sig. (1-tailed) 0,000 N 100 100

  Hasil analisis menunjukkan bahwa koefisien korelasi untuk variabel prokrastinasi akademik dan intensitas mengakses Facebook adalah 0,843 dengan taraf signifikansi (p) = 0,000. Perhitungan ini dilakukan pada taraf signifikansi p < 0,01 dan memakai uji satu ekor (1-tailed). Pemakaian uji satu ekor dalam penelitian ini didasarkan karena hipotesis yang diajukan sudah memiliki arah yaitu adanya hubungan positif antara intensitas mengakses

  

Facebook dengan prokrastinasi akademik. Hasil analisis data yang diperoleh

  membuktikan bahwa hipotesis penelitian ini diterima. Artinya semakin tinggi intensitas mengakses Facebook, maka semakin tinggi pula prokrastinasi akademiknya.

  Untuk dapat memberikan besar kecilnya penafsiran terhadap koefisien korelasi yang ditemukan, maka dapat dilihat dalam analisis korelasi dimana terdapat koefisien determinasi yang besarnya adalah kuadrat dari koefisien

  2

  korelasi ( ). Sumbangan intensitas mengakses Facebook terhadap determinasinya, yaitu sebesar 0,710. Hal ini menunjukkan adanya sumbangan efektif variabel intensitas mengakses Facebook sebesar 71 % terhadap prokrastinasi akademik pada mahasiswa. Hal ini berarti ada sumbangan sebesar 29 % yang berasal dari variabel lain.

E. Pembahasan

  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada-tidaknya hubungan positif antara intensitas mengakses Facebook dengan prokrastinasi akademik pada mahasiswa. Berdasarkan hasil analisis data pada tabel 11, diperoleh nilai koefisien korelasi sebesar 0,843 dengan p < 0,01. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif yang signifikan antara intensitas mengakses

  Facebook dengan prokrastinasi akademik pada mahasiswa. Artinya, semakin

  tinggi intensitas mengakses Facebook, maka semakin tinggi pula prokrastinasi akademik mahasiswa dalam mengerjakan tugas kuliah.

  Utama (2000) menyebutkan bahwa hambatan yang sering dihadapi mahasiswa dalam mengerjakan tugas adalah kesulitannya dalam membagi waktu dan mencurahkan perhatian yang cukup terhadap tugas karena adanya aktivitas lain di luar tugas yang dirasa lebih menyenangkan. Hal ini mengakibatkan timbulnya penghindaran terhadap tugas yang berujung pada prokrastinasi akademik. Penelitian yang dilakukan oleh Albert Ellis (dalam Peterson, 1996) menyebutkan bahwa 95 % mahasiswa melakukan prokrastinasi. Penelitian ini didukung oleh penelitian lain yang menyebutkan bahwa prokrastinasi telah mempengaruhi 50 % sampai 90 % mahasiswa dalam bidang akademis (Janssen & Cartoon; Kachgal, Hansen, & Nutter; Pychyl, Morin, & Salmon dalam Akcerman & Gross, 2005).

  Sementara itu, Elia (2009) mengemukakan bahwa internet dapat menjadi faktor penyebab seseorang melakukan penundaan. Ada tiga hal utama yang menjadi pintu masuk keterlibatan seseorang dalam penundaan tugas akibat internet, yaitu pornografi, game online, dan jejaring sosial. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Elia (2009) yang menyebutkan bahwa hampir 20 % pengguna internet terlibat dengan satu atau lebih masalah pengabaian diri, penundaan tugas, hilangnya produktivitas, kecanduan internet, dan kegagalan studi.

  Corner (dalam Elia, 2009) menyatakan ada dua hal yang membuat internet menarik dan sekaligus menimbulkan masalah, yakni membuat seseorang merasa nyaman dan tidak menyadari adanya masalah. Seseorang dalam dunia maya dapat menemukan kenyamanan karena bebas mengunjungi situs apa saja, melihat apa saja, menemukan apa saja, berbuat apa saja, dan menjadi siapapun yang ia kehendaki sehingga dapat membuatnya terbuai dan tidak menyadari adanya masalah.

  Lebih khusus lagi, Greenfield (dalam Elia, 2009) mencoba menerangkan bagaimana Facebook dapat berujung pada penundaan tugas.

  Greenfield berpendapat bahwa Facebook memiliki daya menghipnotis sehingga godaan daya tariknya masih terus berlangsung bahkan saat seseorang tidak sedang terhubung dengan internet. Greenfield juga menemukan bahwa rasa intim yang berlebih membuat seseorang sulit melepaskan diri dari Facebook. Penemuan ini sekaligus memperlihatkan bahwa hubungan yang terjalin melalui internet merupakan relasi yang tidak nyata, namun cenderung dianggap sebagai kenyataan bagi mereka yang terlibat dalam di dalamnya sehingga dapat membuat seseorang melupakan tugas dan tanggung jawabnya di dunia nyata.

  Kategorisasi skor skala yang dilakukan dalam penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat 12 % subjek yang memiliki tingkat prokrastinasi akademik pada kategorisasi rendah, 85% berada pada kategori sedang, dan 3% berada pada kategori tinggi sebanyak. Berdasarkan kategorisasi skala ini, dapat disimpulkan bahwa sebagian besar subjek memiliki tingkat prokrastinasi akademik dalam kategori sedang. Selanjutnya, hasil kategorisasi ini digunakan untuk mengelompokkan intensitas subjek dalam mengakses Facebook. Data yang diperoleh menunjukkan bahwa rerata intensitas mengakses Facebook pada subjek dalam kategori prokrastinasi akademik rendah sebesar 4,33 jam per minggu, dalam kategori prokrastinasi akademik sedang sebesar 13,51 jam per minggu, dan dalam kategori prokrastinasi akademik tinggi sebesar 26 jam per minggu.

  Dalam penelitian ini ditemukan bahwa sumbangan yang diberikan oleh intensitas mengakses Facebook terhadap prokrastinasi disfungsional akademik adalah sebesar 71 %. Hal ini berarti ada sekitar 29 % sumbangan yang diberikan variabel lain terhadap prokrastinasi disfungsional akademik pada mahasiswa. Menurut Milgram (1999) Perkembangan prokrastinasi disfungsional akademik dapat pula dipengaruhi oleh interaksi dan kedekatan dengan orang tua (ayah atau ibu atau keduanya) sebagai model, pengajar, dan

  

reinforcer pada beberapa perilaku tertentu. Penelitian ini diperkuat oleh

  Ferrari dan Olivette (1993,1994) yang menunjukkan bahwa pola asuh otoriter dapat menimbulkan peningkatan perilaku prokrastinasi pada mahasiswa, dan pola asuh otoritatif menimbulkan perilaku sebaliknya.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN Pada bab terakhir ini, terdapat rangkuman hasil analisis data yang ada pada bab terdahulu, yang sekaligus juga merupakan jawaban dari masalah penelitian. Setelah itu, diakhiri dengan saran-saran agar penelitian serupa mengenai hal ini dapat dilakukan dengan lebih baik di kemudian hari. A. Kesimpulan Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa : 1. Ada hubungan positif yang signifikan antara intensitas mengakses Facebook dengan prokrastinasi akademik. Hal ini menunjukkan bahwa

  semakin tinggi intensitas mengakses Facebook, maka semakin tinggi pula prokrastinasi akademik mahasiswa dalam mengerjakan tugas kuliah.

  2. Sumbangan efektif variabel intensitas mengakses Facebook terhadap prokrastinasi akademik adalah sebesar 71 %. Hal ini berarti bahwa variasi prokrastinasi akademik dapat dijelaskan dari variasi intensitas mengakses

  Facebook dengan sumbangan efektif sebesar 71 % dan 29 % berasal dari variabel lain.

  3. Berdasarkan analisis kategori, terlihat bahwa subjek secara umum memiliki tingkat kecenderungan melakukan prokrastinasi disfungsional akademik dalam kategori sedang, yaitu sebanyak 85 %. Sedangkan pada variabel intensitas mengakses Facebook tidak dapat dilakukan pengkategorisasian. Meskipun demikian, dapat diketahui rerata intensitas mengakses Facebook dalam kategori prokrastinasi akademik sedang yaitu sebesar 13,51 jam perminggu.

B. Saran

  Berdasarkan hasil penelitian ini, ada beberapa saran yang dapat peneliti ajukan, yaitu:

  1. Bagi para mahasiswa agar senantiasa mampu menentukan prioritas dalam mengerjakan segala aktivitas, baik itu akademik maupun yang lainnya sehingga segala tugas dan tanggung jawab yang dimiliki dapat terlaksana dengan optimal. Dalam penelitian ini, ditemukan adanya hubungan yang signifikan secara positif antara intensitas mengakses Facebook dengan prokrastinasi akademik, sehingga perlu diperhatikan bagi para mahasiswa yang tugas utamanya adalah menyelesaikan kuliah agar dapat memanfaatkan perkembangan situs jejaring sosial sebagaimana mestinya sehingga terhindar dari perilaku prokrastinasi disfungsional akademik.

  2. Dalam penelitian ini ditemukan adanya hubungan yang signifikan secara positif antara intensitas mengakses Facebook dengan prokrastinasi akademik, sehingga bagi para praktisi di bidang pendidikan diharapkan mampu menciptakan model-model pelatihan untuk menangani para pelajar yang terkena dampak menggunakan situs jejaring sosial secara berlebihan. Hal ini dimaksudkan agar para pelajar dapat menikmati perkembangan teknologi dengan tetap mengutamakan pendidikan.

  3. Bagi para peneliti selanjutnya agar memperhatikan faktor-faktor lain yang berpengaruh terhadap prokrastinasi akademik mengingat masih ada 29 % sumbangan efektif dari variabel lain diluar intensitas mengakses

  Facebook . Selain itu, kelemahan dari penelitian ini agar dapat diperhatikan

  sehingga tidak terulang pada penelitian selanjutnya dimana peneliti tidak memperhitungkan aspek IAD saat pengambilan data yang mangakibatkan tidak dapat dilakukannya pengkategorisasian pada variabel intensitas mengakses Facebook. Selain itu, disarankan perlunya penelitian lebih lanjut dengan menggunakan subjek yang lebih luas, misalnya pada Fakultas Psikologi di universitas lain, atau membandingkan karakteristik mahasiswa di Fakultas Psikologi dengan fakultas lainnya agar dapat memperoleh variasi subjek yang lebih beragam.

DAFTAR PUSTAKA

  Anna, D. (2009, Februari). Kebiasaan siswa menunda. Diakses dari Ardana, K.Y.M., & Dita, D.V. (2009). Mengungkap misteri facebook.Yogyakarta: Apel Media.

  Azwar, S. (1999). Penyusunan Skala Psikologi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

  Azwar, S. (2001). Reliabilitas dan Validitas. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Azwar, S. (2009). Metode penelitian. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Blatt, S. J., & Quinn, P. (1967). Punctual and procrastination students: A study of

temporal parameters. Journal of Consulting Psychology, 31, 169-174.

  Buari, D.P. (2003). Hubungan antara kecenderungan melakukan prokrastinasi

  akademik dengan tingkat stres pada mahasiswa skripsi di fakultas psikologi universitas sanata dharma (Skripsi). Fakultas Psikologi

  Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Burka, J. B., & Yuen, L. M. (1983). Procrastination: Why you do it and what to do about it. Reading, PA : Addison-Wesley.

  Boyd, D. M., & Ellison, N. B. (2007). Social network sites: Definition, history, and scholarship. Journal of Computer

  • – Mediated Communication.

  C, A. (2008, September). Awas terjerat prokrastinasi. Diakses dari Chas. (2008, Desember). Swa Sembada Magazines. Diakses dari

  Drever, J. (1986). Kamus psikologi. Jakarta: PT. Bina Aksara. Drucker. (1999, Oktober). Beyond the Information Revolution. The Atlantic Monthly.

  Dweyer, C., Hiltt, S. R., & Widmeyer, G. (2008). Understanding development

  and usage of social networking sites: The social software performance model.

  Diakses da Elia, H. (2009). Kecanduan berinternet dan prinsip-prinsip untuk menolong pecandu internet. Veritas: Jurnal Teologi dan Pelayanan, 10/2, 285- 299. Ema, P. (2007). Hubungan antara prokrastinasi akademis dengan motivasi

  berprestasi pada mahasiswa fakultas psikologi universitas Indonesia (Skripsi). Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Jakarta.

  Erima, Oneta, Sugiarto, & Yosep. (2009). Antigaptek internet. Jakarta: PT. Kawan Pustaka. Ferrari, J.R., Johnson, J.L., & McCown, W.G. (1995). Procrastination and task avoidance: Theory, research, and treatment . New York : Plenum Press. Idrus, M. (2009). Metode penelitian ilmu social (ed. ke-2). Yogyakarta: Erlangga. Ignas. (2002, 21 November). Dunia pendididikan sekarang. Kompas. Jufri, M. (2005). Intensitas mengakses situs seks dan permisivitas perilaku seksual remaja. Jurnal Intelektual, Volume 3 No. 2, 107-120. Kecanduan internet? Ikut rehabilitasi saja. (2009, Juni). Diakses dari Narbuko, C., & Achmadi, A. (2007). Metodologi penelitian. Jakarta: PT. Bumi Aksara. Onwuegbuzie, A.J., & Qun G. Jiao. (2000).

  I’ll go to the library later: The relationship between academic procrastination and library anxiety.

  College and Research Libraries, Jan. 2000, vol.61, no. 1. Chicago: Association of College and Research Libraries.

  Ratna, S. (1999). Perilaku prokrastinasi akademik pada mahasiswa. Psikodimensia Volume 2, No. 3, 132-137.

  Kajian Ilmiah Psikologi,

  Revolusi informasi dan teknologi: Abad jaringan berdampak transformasi masyarakat. (2001, Juli). Diakses dari

  Rivzi. (1998). Pusat kendali dan efikasi diri sebagai prediktor terhadap

  prokrastinasi akademik mahasiswa (Skripsi). Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. st

  Salim, P., & Salim, Y. (1991). Kamus bahasa Indonesia kontemporer (1 ed.) Jakarta: Modern English Pers.

  Solomon, L. J., & Rothblum, E. D. (1984). Academic procrastination: frequency and cognitive behavioral correlates. Journal of Counseling Psychology, 31, 503-509. Statistik Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia. (2007, Desember).

  Diakses dari Steel, Piers (2005). The nature of procrastination: A meta-analytic and theoretical review of self-regulatory failure. Canada : University of Calgary.

  Sugiyono. (2008). Statistika untuk penelitian. Bandung: CV. Alfabeta. Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. (1988).

  Kamus besar bahasa Indonesia . Jakarta: Balai Pustaka.

  Warnet dipenuhi pelajar yang ber-facebook. (2009, April). Diakses dari

  

LAMPIRAN A

Angket Intensitas Mengakses Facebook dan

Skala Uji Coba

Variabel Prokrastinasi Akademik

  

IDENTITAS

Nama / Inisial : Jenis Kelamin : Laki-laki / Perempuan (*) Usia : tahun Apakah Anda pengguna

  Facebook : Ya / Tidak (*) Alamat Facebook Anda : Telah bergabung dalam Facebook selama : tahun Rata-rata menggunakan Facebook dalam satu hari selama : …………... Jam : …………... x dalam seminggu

  (*) Coret yang tidak perlu

  

INFORMED-CONSENT

  Yang terhormat, Rekan-rekan Mahasiswa Dalam rangka menyelesaikan tugas akhir / skripsi, kami ingin meneliti mengenai perilaku akademik mahasiswa dalam mengerjakan tugas. Oleh karena itu, dalam penelitian ini kami akan mengajukan pernyataan-pernyataan kepada Anda dalam bentuk angket dan skala.

  Untuk menjamin ketepatan informasi yang telah diperoleh, maka kami akan meminta bantuan Anda untuk memeriksa kembali jawaban Anda agar tidak ada satu pun pernyataan yang terlewatkan. Kami menjamin kerahasiaan informasi yang Anda berikan. Kami tidak akan mengungkap identitas Anda kepada siapa pun. Informasi yang kami peroleh dari angket dan skala ini akan kami laporkan dalam bentuk deskripsi dan kesimpulan dalam format skripsi dan/ atau jurnal ilmiah tanpa mengungkap identitas Anda. Apabila nantinya kami akan mempublikasikannya dalam bentuk buku, maka sebelumnya kami akan meminta persetujuan dari Anda.

  Setelah Anda menandatangani kesepakatan ini, maka artinya Anda telah memahami segala informasi yang diberikan dan memutuskan untuk berpartisipasi dalam penelitian ini. Anda bebas untuk menanyakan hal-hal yang berkaitan dengan penelitian ini sebelum berpartisipasi. Anda juga bebas untuk tidak berpartisipasi dan mengundurkan diri dari penelitian ini. Keputusan Anda untuk tidak berpartisipasi tidak akan mempengaruhi apa pun dalam kehidupan Anda.

  Kami, Masnita Elvida Sinaga sebagai peneliti berada di bawah supervisi Dr. Tjipto Susana, M. Si. selaku dosen pembimbing skripsi, akan bertanggung jawab dalam proses dan kelancaran penelitian ini sesuai dengan kesepakatan yang telah dibuat.

  Bantuan Anda dalam menjawab setiap pernyataan akan sangat berarti bagi keberhasilan penelitian ini. Atas kerjasama dan kesediaan Anda, kami mengucapkan terima kasih.

  Peneliti, Masnita Elvida Sinaga

  

  08125398553

  

NOTA KESEPAHAMAN

PIHAK I : PENELITI

  Saya yang bertandatangan di bawah ini: Nama : Masnita Elvida Sinaga Status : Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

  Angkatan 2006 NIM : 069114082 Menyatakan bahwa saya akan menjamin kerahasiaan identitas Anda sebagai responden penelitian. Saya bertanggung jawab atas proses dan kelancaran penelitian ini, termasuk menjaga kenyamanan Anda. Apabila dalam proses penelitian ini Anda mengalami suatu ketidaknyamanan, saya bersedia untuk bertanggung jawab membantu memulihkan ketidaknyamanan Anda.

  PIHAK II : RESPONDEN

  Saya yang bertandatangan di bawah ini: Nama : Umur : Tahun Angkatan : Setelah memahami semua informasi yang disampaikan oleh peneliti mengenai hak, kewajiban, dan prosedur penelitian, maka saya menyatakan bersedia untuk terlibat dalam penelitian ini. Saya juga menyatakan bahwa keterlibatan saya bersifat sukarela tanpa paksaan dari pihak manapun.

  Yogyakarta, 2010 Pihak I, Pihak II,

  ( Masnita Elvida Sinaga ) ( )

PETUNJUK PENGERJAAN

  Pada bagian ini terdapat sejumlah pernyataan yang berhubungan dengan perilaku akademik Anda saat mengerjakan tugas. Bacalah setiap pernyataan dan Anda diminta untuk memilih jawaban yang paling sesuai atau mendekati kehidupan Anda sehari-hari dengan cara memberi tanda silang (X) pada kolom pilihan sebagai berikut:

  SS : bila pernyataan tersebut Sangat Sesuai dengan keadaan Anda S : bila pernyataan tersebut Sesuai dengan keadaan Anda TS : bila pernyataan tersebut Tidak Sesuai dengan keadaan Anda STS : bila pernyataan tersebut Sangat Tidak Sesuai dengan keadaan Anda

  Pada pengisian kuesioner ini tidak ada jawaban yang salah, setiap orang dapat memiliki jawaban yang berbeda. Oleh karena itu, pilihlah jawaban yang paling sesuai dengan keadaan Anda yang sebenarnya. Contoh :

  NO PERNYATAAN SS S TS STS

  1. Saya menunda mengerjakan tugas

  X

  kuliah Dalam hal ini, tugas kuliah yang dimaksudkan meliputi: a.

  Tugas mengarang, seperti menulis makalah, skripsi dan paper b. Belajar dalam menghadapi ujian c. Membaca buku penunjang d. Tugas administratif, seperti mengembalikan buku ke perpustakaan, membayar

  SPP, melakukan daftar ulang (herregristrasi), dan lain-lain e. Menghadiri pertemuan akademik, seperti menghadiri kuliah, praktikum, ataupun pertemuan yang terkait dalam bidang akademik f.

  Kinerja akademik secara keseluruhan, mencakup mengerjakan atau usaha menyelesaikan tugas akademik secara keseluruhan

  

Selamat Mengerjakan

  

ISILAH PERNYATAAN YANG SESUAI DENGAN DIRI ANDA DAN

USAHAKAN AGAR TIDAK ADA SATU PUN PERNYATAAN YANG

TERLEWATKAN

NO PERNYATAAN SS S TS STS

  1. Saya mengalami kesulitan dalam memulai ataupun mengerjakan tugas kuliah yang diberikan oleh dosen

  2. Saya mengerjakan tugas kuliah pada minggu terakhir pengumpulan tugas

  3. Jadwal kegiatan yang sudah saya buat, tidak saya laksanakan tepat waktu

  4. Pengerjaan tugas kuliah jadi tertunda karena saya sibuk untuk mengurus kegiatan lain yang lebih menyenangkan

  5. Saya gagal dalam menyelesaikan tugas kuliah sesuai jadwal yang telah saya susun

  • 6. Mengikuti kegiatan kegiatan yang menyenangkan membuat saya lupa akan tugas kuliah yang diberikan dosen pada saya

  7. Jadwal yang telah saya buat, saya laksanakan sesuai dengan rencana

  8. Saya terbiasa menunda mengerjakan tugas kuliah

  9. Waktu yang diberikan dosen untuk mengerjakan tugas kuliah sudah cukup sehingga saya tidak terlambat dalam mengumpulkannya

  10. Saya mampu mengerjakan tugas kuliah tepat

  11. Bagi saya, mengerjakan tugas kuliah itu menyenangkan sehingga saya tidak mau menunda untuk mengerjakannya

  12. Tugas kuliah yang banyak, membuat saya malas untuk memulai mengerjakannya

  13. Saya terbiasa mengerjakan tugas kuliah tepat waktu

  14. Saya memilih menyelesaikan tugas kuliah terlebih dahulu baru menyelesaikan kegiatan lain

  15. Saya puas dengan hasil kerja yang saya lakukan karena saya dapat mengerjakan tugas kuliah tepat waktu

  16. Saya langsung menyelesaikan tugas kuliah yang sudah saya kerjakan sebelumnya

  17. Walaupun saya mengikuti kegiatan lain di luar mata kuliah, saya tetap bisa menyelesaikan tugas kuliah dengan baik

  18. Saya menyelesaikan tugas kuliah sebelum jadwal pengumpulan tiba

  19. Saya lebih mengutamakan untuk menyelesaikan tugas kuliah daripada melakukan aktivitas lain yang lebih menyenangkan

  20. Saya kesulitan untuk memenuhi jadwal yang sudah saya dan/ atau orang lain tetapkan

  21. Saya memiliki banyak waktu luang untuk menyelesaikan tugas kuliah sehingga dengan segera saya dapat mengerjakan tugas yang diberikan

  22. Saya langsung mengerjakan tugas kuliah yang diberikan oleh dosen agar tidak terlambat mengumpulkannya

  23. Saya lebih suka mengerjakan kegiatan lain yang lebih menyenangkan meskipun batas akhir pengumpulan tugas kuliah sudah dekat

  24. Saya berusaha meneyelesaikan tugas kuliah sesempurna mungkin sehingga sering terlambat dalam mengumpulkannya

  25. Saya seringkali merasa dikejar-kejar oleh waktu saat menyelesaikan tugas kuliah karena tidak mengikuti jadwal yang telah saya buat

  26. Saya mengerjakan tugas kuliah lebih cepat dari rencana yang telah saya tentukan sehingga tidak terlambat dalam mengumpulkannya

  27. Mengerjakan tugas kuliah itu membosankan sehingga saya mendahulukan kegiatan lain yang lebih menyenangkan

  28. Waktu yang diberikan dosen untuk mengerjakan tugas kuliah itu cukup

  29. Saya lebih lama dalam menyelesaikan tugas kuliah dibanding teman-teman saya sehingga membuat saya terlambat dalam mengumpulkannya

  30. Saya malas mengerjakan tugas kuliah terlalu cepat

  31. Saya menyelesaikan tugas kuliah, jauh sebelum batas akhir pengumpulan tugas

  32. Meskipun kegiatan lain cukup menggoda, saya tetap mengutamakan mengerjakan tugas kuliah

  33. Ide-ide saya baru muncul ketika batas akhir pengumpulan tugas sudah dekat sehingga saya baru akan mulai mengerjakannya

  34. Saya baru bisa mengerjakan tugas kuliah setelah melakukan kegiatan lain yang menyenangkan

  35. Saya terlambat dalam menyelesaikan tugas kuliah akibat selalu menunda mengerjakannya

  36. Hal-hal di luar tugas selalu terlintas di benak saya saat sedang mengerjakan tugas kuliah

  37. Saya segera mengerjakan tugas kuliah yang diberikan oleh dosen selagi merasa masih banyak waktu

  38. Tugas kuliah yang ada, saya selesaikan tepat waktu sesuai dengan rencana yang sudah saya buat

  39. Saya dapat mengendalikan diri untuk tidak melakukan hal-hal yang tidak perlu saat sedang mengerjakan tugas kuliah

  40. Saya mampu melanjutkan kembali pengerjaan tugas kuliah yang sempat tehenti karena hal lain

  41. Menunda mengerjakan tugas kuliah seringkali saya lakukan

  42. Penyelesaian tugas kuliah tidak terhambat sekalipun ada hal-hal lain yang saya kerjakan

  43. Saya baru akan mengerjakan tugas kuliah saat mendekati batas akhir pengumpulan tugas

  44. Saya sulit melaksanakan target / jadwal pengerjaan tugas yang telah saya tentukan sendiri

  

PERIKSA KEMBALI JAWABAN ANDA AGAR TIDAK ADA SATUPUN

PERNYATAAN YANG TERLEWATKAN

Terima Kasih

Dokumen baru

Download (135 Halaman)
Gratis

Tags

Dokumen yang terkait

Hubungan intensitas pengakses facebook dengan motivasi belajar pada siswa Man 13 Jakarta
0
3
116
Hubungan antara pola asuh demokratis orang tua dengan prokrastinasi akademik mahasiswa psikologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.
1
19
128
Hubungan antara hardiness dengan prokrastinasi akademik pada mahasiswa tingkat akhir.
3
27
170
Perbedaan tingkat prokrastinasi akademik pada mahasiswa laki-laki dan perempuan.
5
13
147
Hubungan antara kematangan emosi dengan prokrastinasi akademik pada mahasiswa.
1
9
142
Hubungan antara kemandirian dengan prokrastinasi mahasiswa.
0
1
85
Hubungan antara kemandirian dengan prokrastinasi mahasiswa
0
2
83
Hubungan antara kontrol diri dengan prestasi akademik pada mahasiswa
0
1
100
Hubungan antara stres akademik dan kecenderungan impulsive buying pada mahasiswa
1
4
125
Hubungan fear of failure dengan prokrastinasi akademik pada mahasiswa kedokteran tahun pertama Universitas Sebelas Maret abstrak
0
1
12
Hubungan stres akademik dan prokrastinasi akademik pada mahasiswa tahun pertama di Fakultas Psikologi UKWMS - Widya Mandala Catholic University Surabaya Repository
0
0
19
Hubungan antara efikasi diri dan prestasi akademik - USD Repository
0
1
115
Penambangan aturan asosiasi pada dataset nilai akademik mahasiswa dengan algoritma apriori - USD Repository
0
0
137
Hubungan antara Self Regulated Learning dengan prestasi akademis mahasiswa - USD Repository
0
0
120
Hubungan antara prokrastinasi akademik dan kecemasan terhadap matematika dengan prestasi belajar siswa SMA Pius Tegal kelas XI Ilmu Sosial tahun ajaran 2008/2009 - USD Repository
0
0
299
Show more