Hubungan Faktor Resiko pada Wanita Hamil dengan Kejadian Infeksi Saluran Kemih pada Masa Kehamilan di Wilayah Kerja Puskesmas Kenangan , Kecamatan Percut Sei Tuan , Kabupaten Deli Serdang

 2  10  13  2017-12-23 03:12:51 Laporkan dokumen yang dilanggar

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1Anatomi dan Fisiologi Saluran Kemih

  Saluran kemih secara fisiologis berfungsi untuk menyaring darah dari zat- zat yang tidak diperlukan tubuh dan sekaligus menyerap zat-zat yang masih dibutuhkan. Aliran urin yang konstan dari saluran kemih bagian atas dan proses eliminasi oleh saluran kemih bagian bawah berperan penting dalam mencegah masuknya mikroba ke dalam saluran kemih (Hickling et al., 2015).

  Sistem perkemihan terdiri ginjal yang menyaring darah dan menghasilkan urin, ureter yang membawa urin dari ginjal ke vesika urinaria, vesika urinariasebagai tempat urin dikumpulkan sebelum dikeluarkan melalui uretra(Hickling et al., 2015).

  Ginjal terletak di kiri dan kanan pada dinding posterior di belakang peritoneum sisi vertebra torakalis ke-12 sampai vertebra lumbalis ke-3. Ginjal berperan untuk menyaring cairan plasma, memilah bahan-bahan yang diperlukan oleh tubuh, dan mengalirkan bahan-bahan yang akan dieliminasi ke dalam urin. Urin yang terbentuk akan mengalir dan disalurkan ke ureter (Hickling et al., 2015). Ureter merupakan saluran yang menyambungkan ginjal ke vesika urinaria dengan panjang 22-30 cm, terletak di rongga abdomen dan rongga pelvis. Urin yang mengalir dari ginjal akan terdorong masuk ke vesika urinaria melalui gerakan peristaltik dari otot-otot ureter. Ureter menembus dinding kandung secara oblik sebelum bermuara di kandung kemih. Hal ini mencegah aliran balik urin dari kandung kemih ke ginjal apabila terjadi peningkatan tekanan di kandung kemih(Hickling et al., 2015).

  Vesika urinaria (kandung kemih) yang berbentuk seperti kantung berongga terbentuk dari otot polos, kolagen, dan elastin. Vesika urinaria dapat mengembang dan mengempis sesuai volume urine yang ditampungnya. Letak vesika urinaria

  5 pada wanita di anterior dari vagina dan inferior dari uterus. Urin yang ditampung di dalam vesika urinaria akan dialirkan keluar tubuh melalui uretra yang diatur oleh kerja otot polos involunter di sfingter uretra interna. (Hickling et al., 2015).

  Uretra berupa saluran yang berpangkal pada vesika urinaria mengalirkan urin ke luar tubuh. Ukuran uretra berbeda antara pria dan wanita. Pada pria panjang uretra sekitar 13-20 cm, sedangkan panjang uretra pada wanita sekitar 4-5 cm (Hickling et al., 2015). Ukuran uretra pada wanita yang lebih pendek menyebabkan wanita lebih beresiko menderita ISK (Foxman, 2014).

  Produksi urin melibatkan proses filtrasi oleh glomerulus di ginjal dan reabsorbsi oleh tubulus ginjal. Kedua hal ini diatur oleh level hidrasi sistemik dan keseimbangan elektrolit; urin yang telah difiltrasi akan keluar dari ginjal menuju ureter, yang kemudian akan mengalir ke vesika urinaria untuk dimulai proses pengosongan kandung kemih (Hickling et al., 2015).

  Proses pengosongan kandung kemih (mikturisi) melibatkan dua mekanisme yaitu refleks berkemih akibat peningkatan tegangan pada dinding kandung, dan refleks saraf untuk mengosongkan kandung kemih. Refleks berkemih dicetuskan apabila reseptor-reseptor regang di dalam dinding kandung kemih terangsang akibat peningkatan tegangan di dindingnya oleh volume urin yang berada di dalam kandung kemih. Stimulasi pada reseptor regang ini akan merangsang saraf parasimpatis sehingga kandung kemih akan berkontraksi. Kontraksi kandung kemih akan menyebabkan sfingter interna terbuka dan sfingter eksterna melemas sehingga urin dapat terdorong keluar melalui uretra keluar tubuh(Hickling et al., 2015).

2.2Perubahan Fisiologis Saluran Kemih Pada Kehamilan

  Kehamilan menyebabkan beberapa perubahan fisiologis pada saluran kemih. Perubahan tersebut diantaranya terjadi pada:

  (1) Ginjal

  Ukuran ginjal akan membesar lebih kurang 1,5 cm dibandingkan saat tidak hamil. Laju filtrasi glomerular (GFR/ Glomerular Filtration Rate) dan aliran plasma ginjal (renal plasma flow) juga akan meningkat. Peningkatan GFR sebesar

  6

  25% terjadi 2 minggu setelah konsepsi dan sebesar 50% pada awal trimester II. Peningkatan GFR ini akan menyebabkan frekuensi berkemih yang lebih sering (Cunningham, 2014).

  (2) Ureter

  Ukuran uterus yang semakin membesar dan keluar dari rongga pelvis akan menyebabkan tekanan di dalam ureter semakin meningkat sehingga ureter akan berdilatasi. Dilatasi ureter ini dapat terjadi sebelum usia kehamilan 14 minggu, dan lebih sering terjadi pada bagian kanan (86%) dibandingkan bagian kiri (Cunningham, 2014). Hormon progesteron yang meningkat selama kehamilan akan menyebabkan relaksasi otot polos ureter sehingga peristaltik ureter akan berkurang (Dielubanza and Schaeffer, 2011, Cunningham, 2014, Schnarr and Smaill, 2008).

  (3) Kandung Kemih

  Perubahan yang terjadi pada kandung kemih lebih sering terjadi setelah kehamilan 12 minggu. Tekanan oleh kepala janin yang semakin membesar akan menghambat aliran darah dan limfe dari kandung kemih, sehingga menjadi edem dan rentan terhadap trauma (Cunningham, 2014, Ocviyanti and Fernando, 2012). Penekanan ini juga dapat menyebabkan terjadinya refluks vesikoureteral (Cunningham, 2014, Dielubanza and Schaeffer, 2011). Hormon progesteron menyebabkan relaksasi otot polos kandung kemih sehingga kontraksi melemah. Melemahnya kontraksi kandung kemih ini akan menyebabkan retensi urin yang memudahkan pertumbuhan bakteri (Dielubanza and Schaeffer, 2011, Schnarr and Smaill, 2008).

  Perubahan fisiologis pada saluran kemih selama kehamilan ini membawa konsekuensi yang cukup serius.Peningkatan GFR dan aliran plasma ginjal, dilatasi ureter dan pelvis ginjal, kelemahan otot polos ureter dan kandung kemih akibat hormon progesteron, adanya refluks vesikoureteral, dan terjadinya retensi urin menciptakan lingkungan yang memudahkan terjadinya pertumbuhan bakteri sepanjang saluran kemih. Perubahan fisiologis saluran kemih pada kehamilan ini menyebabkan wanita hamil lebih rentan terhadap ISK (Dielubanza and Schaeffer, 2011, Schnarr and Smaill, 2008).

2.3ISK dan Kehamilan

  2.3.1 Definisi

  Menurut IUGA/ICS, ISK adalah infeksi di sepanjang saluran kemih yang ditandai dengan ditemukannya bakteriuria signifikan pada kultur urin dan adanya piuria pada pemeriksaan mikroskopis urin. Bakteriuria signifikan merupakanadanya jumlah bakteri >100.000cfu/mL pada kultur urin, sedangkan dikatakan piuria apabila ditemukan jumlah leukosit >10/ lbp pada pemeriksaan mikroskopis urin. ISK dapat disertai dengan gejala terdesak berkemih, sering berkemih, dan/ atau nyeri di saluran kemih bagian bawah (Haylen et al., 2012). Suatu kondisi apabila ditemukan bakteriuria signifikan namun tidak terdapat gejala ISK dinamakan bakteriuria asimptomatik (Cunningham, 2014).

  2.3.2 Prevalensi

  Prevalensi ISK pada masa kehamilan bervariasi di berbagai wilayah dan waktu. Hasil dari beberapa studi menunjukkan prevalensi ISK pada masa kehamilan di berbagai negara antara lain sebesar 14% di Ethiopia (Derese et al., 2016), 20% di Arab Saudi (Faidah et al., 2013), 7,7% di India (Shazia et al., 2011). Di Indonesia, prevalensi ISK pada kehamilan sebesar 30-35%, dari beberapa studi yang pernah dilakukan antara lain sebesar 35,3% di Jakarta (Bukitwetan et al., 2004), 35% di Medan (Munthe, 2014), dan 30,2% di Malang (Zahroh et al., 2016)

  2.3.3 Faktor Resiko

  Perubahan morfologi saluran kemih selama kehamilan menyebabkan wanita hamil lebih rentan terhadap ISK (Cunningham, 2014). Namun terdapat beberapa faktor yang juga mempengaruhi terjadinya ISK pada masa kehamilan, antara lain usia muda (24-34 tahun), usia kehamilan (insiden tertinggi pada 30-32 minggu),tingkat pendidikan yang rendah, aktivitas seksual, multiparitas, dan kondisi sosio-ekonomi yang kurang (Emiru et al., 2013, Derese et al., 2016).

  Studi oleh Derese et al, di Ethiopia menyatakan kelompok usia 25-34 tahun beresiko 3 kali lipat menderita ISK. ISK lebih sering terjadi pada usia muda kemungkinan disebabkan pada usia tersebut penderita masih aktif secara seksual sehingga semakin sering terpapar dengan bakteri penyebab ISK (Derese et al., 2016).

  Tingkat pendidikan juga merupakan faktor resiko yang berhubungan dengan kejadian ISK selama masa kehamilan. Pada satu studi, ditemukan subjek dengan level pendidikan hanya mampu baca-tulis lebih beresiko menderita ISK 2 kali lipat daripada subjek dengan tingkat pendidikan lebih tinggi (Derese et al., 2016). Tingkat pendidikan menunjukkan tingkat pemahaman subjek tentang pengetahuan terutama yang berkaitan dengan kemampuan subjek untuk menjaga higiene diri. Subjek dengan tingkat pendidikan yang lebih tinggi diyakini terpapar lebih banyak informasi tentang perilaku hidup bersih dan sehat, terutama terkait dengan higiene diri yang berkaitan dengan kegiatan berkemih.

  Beberapa studi menunjukkan proporsi ISK lebih besar pada subjek dengan kondisi sosio-ekonomi yang rendah. Kondisi sosio-ekonomi terlihat dari besarnya jumlah penghasilan bulanan yang didapat dalam satu keluarga. Beberapa studi menemukan hubungan signifikan antara penghasilan bulanan dengan kejadian

  ISK pada masa kehamilan (Haider et al., 2010, Emiru et al., 2013, Derese et al., 2016). Pada satu studi, subjek yang memiliki penghasilan di bawah 1.000 birr (Rp 600.000,-) beresiko 15 kali lipat menderita ISK daripada subjek dengan penghasilan lebih tinggi (Derese et al., 2016). Kondisi sosio-ekonomi berhubungan dengan status nutrisi dan imunitas selama kehamilan. Beberapa studi meyakini bahwa kondisi sosio-ekonomi yang rendah menunjukkan rendahnya kemampuan wanita hamil untuk mendapatkan nutrisi yang baik selama kehamilan, dan dengan rendahnya imunitas selama masa kehamilan (Haider et al., 2010).

  Usia kehamilan merupakan salah satu faktor resiko terjadinya ISK pada masa kehamilan(Foxman, 2014). Ditemukan adanya peningkatan prevalensi ISK seiring dengan meningkatnya usia kehamilan. Hal ini disebabkan oleh tekanan kepala janin yang semakin membesar terhadap kandung kemih (Cunningham, 2014). Hormon progesteron juga berperan dalam melemahnya kontraksi kandung kemih sehingga sering terjadi retensi urin yang memudahkan pertumbuhan bakteri (Cunningham, 2014, Dielubanza, 2011). Studi oleh Bukitwetan menemukan proporsi terbesar ISK terjadi pada usia kehamilan > 28 minggu(Bukitwetan et al., 2004). Studi lain juga menyatakan bahwa insiden tertinggi ISK terjadi pada usia kehamilan 30-32 minggu (Emiru et al., 2013).

  Jumlah paritas mempengaruhi terjadinya ISK pada kehamilan. Beberapa studi menemukan hubungan signifikan antara multiparitas dengan kejadian ISK pada kehamilan (Bukitwetan et al., 2004, Haider et al., 2010, Nigam et al., 2016). Studi lain oleh Zahroh di Malang (2016) menemukan bahwa resiko terjadinya ISK meningkat sebanyak 3 kali lipat pada nulipara. Beberapa studi lain menyatakan tidak ada hubungan antara jumlah paritas dengan kejadian ISK pada masa kehamilan (Emiru et al., 2013, Hamdan et al., 2011).

  Aktivitas seksual juga merupakan faktor resiko yang berhubungan dengan kejadian ISK pada masa kehamilan. Suatu studi menyatakan aktivitas seksual setidaknya 1 kali dalam 2 minggu merupakan faktor resiko yang berhubungan signifikan dengan kejadian ISK pada masa kehamilan (Haider et al., 2010). Studi lain menyatakan terjadi peningkatan resiko sebesar 3 kali lipat untuk mengalami

  ISK pada subjek dengan aktifitas seksual lebih dari 3 kali dalam seminggu. Hal ini terjadi akibat meningkatnya resiko untuk terjadi iritasi pada muara uretra saat melakukan hubungan seksual sehingga meningkatkan resiko terjadinya ISK (Haider et al., 2010). Studi lain yang juga menyatakan aktivitas seksual berhubungan signifikan dengan kejadian ISK pada kehamilan (Foxman, 2014, Emiru et al., 2013, Haider et al., 2010, Bukitwetan et al., 2004). Studi lain di Indonesia oleh Bukitwetan (2004), menemukan peningkatan resiko sebesar 3 kali lipat untuk menderita ISK pada subjek dengan aktifitas seksual lebih dari 3 kali dalam seminggu.

2.3.4Patogenesis

  Patogen yang menginfeksi saluran kemih pada umumnya merupakan flora normal di usus besar dan mukosa vagina (Cunningham, 2014, Dielubanza and Schaeffer, 2011). Penyebaran infeksi terjadi secara ascendingakibat berpindahnya flora dubur menuju vagina dan mengganggu flora normal di vagina, kemudian masuk ke kandung kemih melalui uretra. Bakteri yang telah berkolonisasi di kandung kemih dapat bermultiplikasi, kemudian naik menuju ureter, dan apabila terjadi refluks vesikoureteral, bakteri dapat naik (ascending) menuju parenkim ginjal(Cunningham, 2014).

  E. coli merupakan salah satu flora normal yang dapat berkolonisasi di

  saluran kemih(Cunningham, 2014). E. coli memiliki kemampuan untuk berkoloni di saluran kemih dengan bantuan faktor adherens yang disebut adhesin. Adhesin merupakan protein permukaan sel (cell-surface protein) yang dapat berupa pili dan fimbriae (Jawetz, 2013). Adhesin akan meningkatkan kemampuan melekatnya E. coli ke mukosa saluran kemih dan juga meningkatkan virulensinya (Cunningham, 2014). Sebagian besar strain strain E. coli yang menginfeksi saluran kemih (uropathogenic E. coli/ UPEC) memiliki adhesin type-1 pili yang akan berinteraksi dengan reseptor di sel permukaan epitel kandung kemih (Dielubanza and Schaeffer, 2011, Schilling et al., 2001). Type-1 pilimerupakan adhesin yang paling berperan dalam mempertahankan kolonisasi dan infeksi dari UPEC (Dielubanza and Schaeffer, 2011).

  Type-1 pili berperan dalam adherensi UPEC dengan menginduksi

  terjadinya kaskade sistem imun host, diantaranya pembentukan kompleks protein antara focal adhesion kinase (FAK) dengan phosphatidylinositol 3-kinase (PI 3-

  kinase), a-actinin danvinculin. Kaskade ini menghasilkan pembentukan kembali

  sitoskeleton dan membentuk selubung terhadap bakteri yang masuk. Invasi terhadap sel epitel kandung kemih ini mencetuskan produksi sitokin/ kemokin pro inflamasi dan apoptosis sel epitel. Respon imun yang melibatkan sel-sel inflamasi berusaha mengeluarkan bakteri dari permukaan sel epitel kandung kemih, namun UPEC memiliki kemampuan untuk menginvasi mukosa kandung kemih, sehingga bakteri menjadi persisten di dalam sel mukosa kandung kemih (Jawetz, 2013, Schilling et al., 2001, Dielubanza and Schaeffer, 2011).

  Adhesin lain yang dimiliki oleh UPEC yaitu adhesin P- dan S- fimbriae yang menyebabkan pielonefritis (90% kasus), sistitis (19% kasus), dan bakteriuria asimptomatik (14% kasus) (Dielubanza and Schaeffer, 2011). Adhesin P- dan S-

  fimbriae juga berperan pada invasi UPEC ke sel epitel mukosa kandung kemih (Schilling et al., 2001, Cunningham, 2014, Ahmed, 2016, Hickling et al., 2015).

  2.3.5Profil Bakteri Penyebab ISK Pada Kehamilan

  Berbagai penelitian telah dilakukan untuk melihat profil bakteri penyebab

  ISK pada kehamilan.Penelitian retrospektif sepanjang tahun 2003-2012 yang dilakukan oleh Bankole, dkk di Benin, Etiopia menunjukkan bakteri paling sering yang menyebabkan ISK pada kehamilan adalah E. coli (36%), lalu diikuti oleh S.

  aureus (25%), Klebsiella spp (15%), dan Streptococcus D (14%) (Bankolé et al.,

  2016). Penelitian ini hampir mirip dengan penelitian Ahmed, dkk (2016) di Etiopia Selatan yang menemukan bahwa prevalensi ibu hamil yang menderita ISK sebesar 11,1 % dan bakteri terbanyak penyebab ISK adalah E. coli (45%).

  Penelitian lain di Etiopia Timur oleh Derese, dkk (2016) menyatakan bahwa bakteriuria signifikan ditemukan pada 14% urin ibu hamil, dengan bakteri terbanyak E.coli (35%), coagulase-negatif Staphylococci (19,2%),Pseudomonas aeruginosa (15,4%), dan Klebsiella spp. (11,5%).

  Hasil berbeda didapatkan dari penelitian di India oleh Ahmed, dkk (2016) yang menunjukkan bahwa patogen terbanyak penyebab ISK pada wanita hamil adalah Staphylococcus aureus (44%), diikuti oleh E. coli (36%), Klebsiella pneumonia (10%), Pseudomonas aeruginosa (8%), dan Proteus spp (3%).

  Di Indonesia, studi oleh Bukitwetan, dkk (2004) di Jakarta, menyatakan

  E.coli ditemukan pada 100% isolat urin pada studi tersebut. Studi di Pekanbaru

  oleh bagian Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Riau (2012) menunjukkan 76% ISK disebabkan oleh gram negatif, dengan prevalensi

  Escherichia coli (28%), Klebsiella sp (26%), Pseudomonas sp (18%) (Endriani et al., 2012).

  Berikut ini beberapa bakteri yang sering menyebabkan ISK pada masa kehamilan yaitu Escherichia coli, Pseudomonas aeruginosa, Staphylococcus

  aureus, Staphylococcus epidermidis, dan Klebsiella sp: (1) Escherichia coli (E. coli)

  E. coli merupakan bakteri gram negatif berbentuk batang pendek dengan

  panjang sekitar 2 µm, diameter 0,7 µm, lebar 0,4-0,7µm, motil, dan bersifat anaerob fakultatif(Jawetz, 2013). E. coli memfermentasikan laktosa dan memproduksi indol yang digunakan untuk mengidentifikasi bakteri pada kultur urin. Identifikasi E. coli pada media agar darahberbentuk besar (2-3 mm), sirkular, konveks dan koloni tidak berpigmen (Johnson, 1991).

  (2) Staphylococcus aureus (S. aureus) S. aureus merupakan bakteri gram positif berbentuk kokus, non motil,

  tidak membentuk spora, dan bersifat fakultatif anaerob.Koloni di agar darah akan berbentuk bulat, konveks, diameter 1-4 mm dan berbatas tegas membentuk zona beta-hemolisis (Jawetz, 2013).

  (3) Pseudomonas aeruginosa Pseudomonas aeruginosa merupakan bakteri batang Gram negatif, motil

  dengan flagella di kutubnya, menghasilkan pigmen larut air yang berdifusi pada media pertumbuhan. Uji katalase dan oksidase akan menunjukkan hasil positif bagi Pseudomonas aeruginosa(Jawetz, 2013).

  (4) Klebsiella sp

  Spesies yang sering menginfeksi saluran kemih adalah Klebsiella

  pneumonia. Klebsiella pneumonia merupakan bakteri batang gram negatif, non motil, berkapsul, memfermentasikan laktosa dan bersifat fakultatif anaerob.

  Klebsiella pneumonia merupakan bakteri flora normal yang dijumpai di mulut, kulit, usus dan sebagai penyebab ISK kedua terbanyak setelah E. coli (Jawetz, 2013).

  (5) Staphylococcus epidermidis Staphylococcus epidermidis merupakan bakteri kokus Gram positif,

  tersusun berkelompok seperti anggur. Koloni yang terbentuk pada agar darah berupa warna putih, kohesif, dan non hemolisis. Bersifat fakultatif anaerob, memberikan hasil uji katalase yang positif dan uji koagulase yang negatif (Jawetz, 2013).

2.3.6Diagnosis

  Diagnosis ISK ditegakkan dengan pemeriksaan mikrobiologi dengan kultur urin, yaitu adanya >100.000 cfu/ml koloni bakteri pada media pertumbuhan dan ditemukan jumlah leukosit >10/lpb pada pemeriksaan mikroskopis urin(Haylen et al., 2012). ISK juga sering disertai dengan gejala terdesak berkemih, sering berkemih, dan/ atau nyeri di saluran kemih bagian bawah (Haylen et al., 2012). Dikatakan bakteriuria asimptomatik apabila ditemukan bakteriuria signifikan namun tanpa gejala ISK (Cunningham, 2014).

  Pemeriksaan mikrobiologi yang dilakukan untuk menegakkan ISK antara lain(Haylen et al., 2012):

  (1) Mikroskopis urin

  Pemeriksaan urin di bawah mikroskop dilakukan segera setelah sampel urin dikumpulkan. Setelah disentrifugasi, setetes urin diteteskan di atas gelas objek lalu ditutup dengan coverglass. Preparat ini diperiksa di bawah mikroskop untuk melihat jumlah leukosit. Dikatakan piuria apabila ditemukan jumlah leukosit >10/lpb (Haylen et al., 2012).

  (2) Kultur Urin

  Kultur urin merupakan metode penegakan diagnosis terbaik untuk

  ISK. Sampel yang digunakan dalam pemeriksaan ini berasal dari urin pancar tengah (mid stream urine) yang diambil secara bersih (Ocviyanti and Fernando, 2012, Guido Schmiemann et al., 2010). Sampel urin sebanyak 0,001 mLditanam pada piring media blood agar, cysteine-lactose-electrolyte-

  deficient agar, dan MacConkey agardengan mengikuti prosedur standar

  laboratorium mikrobiologi. Piring media diinkubasi secara aerob pada suhu 37°C selama 24 jam dan dinilai terdapat pertumbuhan bakteri atau tidak.

  Jumlah koloni yang tumbuh pada blood agar dihitung. Dikatakan bakteriuria signifikan bila terdapat >100.000cfu/mL koloni pada media pertumbuhan (Haylen et al., 2012).Pada kultur urin yang menunjukkan hasil bakteriuria signifikan dilakukan penilaian karakteristik seperti morfologi koloni, bau, berkelompok atau tidak, dan terjadi hemolisis atau tidak pada media pertumbuhan. Reaksi biokimia akan diujikan pada kultur yang positif sesuai prosedur standar seperti uji triple sugar iron agar, indole, simmons citrate agar, oxidase,urease, dan motilitas (Derese et al., 2016).

  2.3.7 Tata Laksana

  Semua wanita hamil dengan ISK harus diterapi. Pemberian terapi pada wanita hamil denganISK dapat menurunkan insiden bakteriuria dari 86% menjadi 11%, dan menurunkan angka komplikasi hingga 80%. Pemberian terapi perlu diperhatikan efek samping berbagai antibiotik tersebut pada kehamilan. Efek samping yang dapat terjadi antara lain reaksi anafilaktik oleh penisilin dan sefalosporin, fetal hyperbilirunemia oleh sulfonamide, defisiensi glucose-6-

  phosphate dehydrogenase oleh nitrofurantoin, dan trimethroprim bersifat teratogenik.

  Terapi yang diberikan pada wanita hamil dengan ISK terlihat pada gambar di bawah ini:

Tabel 2.1 Tata laksana ISK Pada Kehamilan

  Antibiotik oral Amoksisilin 3 x 500mg Sefadroksil 2 x 500 mg Sefaleksin 3 x 250 mg Fosfomisin 3 gr dosis tunggal Nitrofurantoin 3 x 100 mg (tidak digunakan pada trimester ketiga) Kotrimoksazol 2 x 960 mg (hanya boleh digunakan pada trimester kedua)

  2.3.8 Penapisan Awal danPencegahan

  ISK yang tidak tertangani dapat menimbulkan komplikasi bagi ibu dan janin. Mengingat komplikasi akibat ISK pada kehamilan, maka pada pelayanan kesehatan yang sarananya terbatas untuk dapat melakukan kultur urin, diperlukan suatu metode penapisan awal sehingga ISK dapat lebih awal terdeteksi. Pada pelayanan kesehatan primer, uji nitrit dengan tes celup urin digunakan untuk penapisan awal ISK, namun tes celup urin tidak cukup sensitifuntuk deteksi bakteriuria pada ibu hamil (Ocviyanti and Fernando, 2012). Saat ini tidak terdapat satupun metode yang cukup sensitif dan spesifik untuk mendeteksi awal ISK pada kehamilan, sehingga kultur urin masih merupakan standar baku (Mundhada et al., 2016).

  Angka kekambuhan ISK juga cukup tinggi sehingga diperlukan suatu upaya pencegahan agar ISK tidak berulang. Pencegahan ISK agar tidak berulang dapat dilakukan dengan memberikan antimikroba profilaksis, terutama pada wanita sebelum hamil dengan riwayat ISK berulang, ibu hamil dengan riwayat

  ISK sebelumnya, ibu hamil dengan diabetes, penyakit ginjal polikistik, batu saluran kemih, nefropati refluks, atau sedang menggunakan obat steroid(Ocviyanti and Fernando, 2012).Antibiotik yang aman digunakan sebagai profilaksis ISK pada kehamilan antara lain sefaleksin 250 mg per oral satu kali sehari atau amoksisilin 250 mg per oral satu kali sehari (Hickling et al., 2015).

2.4 Kerangka Teori

  Dari uraian di atas, adapun kerangka teori pada penelitian ini terlihat pada bagan di bawah ini: Bakteri penyebab

  ISK Infeksi Saluran

  Kehamilan Kemih

  Faktor resiko:  Usia  Tingkat pendidikan  Penghasilan bulanan  Usia kehamilan  Paritas  Aktivitas seksual

Gambar 2.1 Kerangka Teori

2.5Kerangka Konsep Penelitian

  Kerangka konsep penelitian terlihat pada bagan di bawah ini:

  Variabel Bebas Variabel Tergantung

  Faktor resiko: Infeksi Saluran

  Kemih  Usia  Tingkat pendidikan  Penghasilan bulanan  Usia kehamilan  Paritas

  Bakteri penye  Aktivitas seksual

  ISK

Gambar 2.2 Kerangka Konsep Penelitian
Dokumen baru
Aktifitas terbaru
Penulis
123dok avatar

Berpartisipasi : 2016-09-17

Dokumen yang terkait
Tags

Hubungan Faktor Resiko pada Wanita Hamil deng..

Gratis

Feedback