Pelaksanaan Hak Restitusi Terhadap Korban Tindak Pidana Perdagangan Orang Berdasarkan Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2007 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang

35 

Full text

(1)

Posion Paper Advokasi RU BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Perdagangan orang atau istilah Human Trafficking1

Perkembangan dan kemajuan teknologi, informasi, komunikasi dan

transportasi mempengaruhi semakin berkembangnya modus kejahatan perdagangan

orang yang dalam beroperasinya sering dilakukan secara tertutup dan bergerak di luar

hukum. Pelaku perdagangan orang (trafficker) dengan cepat berkembang menjadi

sindikasi lintas batas negara dengan cara kerja yang mematikan.

merupakan sebuah

kejahatan yang sangat sulit diberantas dan disebut-sebut oleh masyarakat

internasional sebagai bentuk perbudakan modern dan pelanggaran terhadap hak asasi

manusia. Kejahatan ini terus menerus berkembang secara nasional maupun

internasional.

2

1

Human trafficking mempunyai arti yang berbeda bagi setiap orang. Awalnya pengertian perdagangan manusia terutama perempuan dan anak, selalu dikaitkan secara eklusif dengan prostitusi, dengan sejumlah konvensi terdahulu mengenai perdagangan hanya memfokuskan pada aspek ini. Namun kemudian perdagangan didefenisikan sebagai perpindahan manusia (khususnya perempuan dan anak), dengan atau tanpa persetujuan orang bersangkutan, di dalam suatu negara atau ke luar negeri, untuk semua bentuk perburuhan yang ekploitatif, tidak hanya prostitusi dan perbudakan yang berkedok pernikahan, sehingga mempunyai defenisi itu untuk mencakup lebih banyak isu dan jenis kekerasan. Lihat Ruth Rosenberg, Perdagangan Perempuan dan Anak di Indonesia,( Jakarta: ICMC& ACILS,2003), hal 11.

2

(2)

Protokol PBB untuk Mencegah, Memberantas dan Menghukum Perdagangan

orang khususnya Perempuan dan Anak,3 suplemen Konvensi PBB untuk Melawan Organisasi Kejahatan Lintas Batas, Perdagangan orang didefenisikan sebagai

Perekrutan, pengiriman, pemindahan, penampungan, atau penerimaan seseorang,

dengan ancaman, atau penggunaan kekerasan, atau bentuk-bentuk seseorang, dengan

ancaman, atau penggunaan kekerasan, atau bentuk-bentuk pemaksaan lain,

penculikan, penipuan, kecurangan, penyalahgunaan kekuasaan atau posisi rentan,

atau memberi atau menerima bayaran atau mamfaat untuk memperoleh ijin dari orang

yang mempunyai wewenang atas orang lain, untuk tujuan eksploitasi.4 Eksploitasi mencakup, paling tidak, eksploitasi pelacuran dari orang lain, atau bentuk lain dari

eksploitasi seksual, kerja atau pelayanan paksa, perbudakan, atau praktek-praktek

yang mirip dengan perbudakan, atau pengambilan organ tubuh.5

Perdagangan orang saat ini telah meluas, baik dalam bentuk jaringan

kejahatan yang terorganisir, maupun tidak terorganisir, dengan lokus di dalam dan

luar negeri. Kegiatan ini mampu memberikan keuntungan finansial yang sangat

besar bagi pelakunya. Kejahatan perdagangan manusia sudah menjadi ancaman bagi

3

Protokol ini merupakan suplemen dari Konvensi PBB mengenai Kejahatan Lintas Batas yang menguraikan banyak ketentuan untuk memerangi organisasi kriminal. Protokol tersebut menyatakan bahwa perdagangan orang merupakan tindak kejahatan, membahas bantuan dan perlindungan bagi orang yang diperdagangkan, pemberian status penduduk tetap atau sementara di negara tujuan dalam kasus-kasus yang semestinya, dan langkah-langkah untuk mencegah dan memberantas perdagangan orang serta melindungi korban agar jangan sampai menjadi korban lagi. Lihat ICMC dan ACILS, Mendokumentasikan Perdagangan Perempuan dan Anak di Indonesia

Manual Penelitian, (Jakarta :ICMC & ACILS ,2003), hal 3.

4

American Center for International Labor Solidarity, Kompilasi Program dan Layanan Untuk

Menyikapi Perdagangan Manusia di Enam Provinsi ( Yogyakarta:ICMC, 2004), hal 2.

5

Sulistyowati Irianto, Perempuan dan Hukum Menuju Hukum yang Bersfektif Kesetaraan

(3)

masyarakat, bangsa dan negara, terjadi karena adanya berbagai faktor pendorong,

yaitu faktor kemiskinan, tingkat pendidikan rendah, terjebak pola hidup serba instan

dan konsumtif dan juga tradisi kawin di usia dini bahkan bisa juga dalam kondisi

konflik bersenjata, dan bencana alam sampai ke persoalan lemahnya penegakan

hukum. Gejalanya bukan lagi hanya merupakan fenomena sosial biasa yang

diakibatkan oleh faktor kemiskinan dan ketertinggalan di bidang pendidikan semata,

tapi sudah menjadi fenomena pelanggaran hukum dan pelanggaran terhadap hak asasi

manusia sebagai akibat dari adanya praktek tindak kejahatan yang dilakukan baik

secara perorangan maupun jejaring sindikat dengan maksud mengeksploitasi korban

demi keuntungan pelaku dan jaringannya.6

Permasalahan perdagangan orang sulit untuk diperkirakan besarnya. Bukan

hanya sifat dasarnya yang terselubung, tetapi juga karena ketidakseragaman dalam

metode pengumpulan data.

7

Berdasarkan data United Nations Emergency Children’s

Fund (UNICEF), angka global anak yang diperdagangkan tiap tahunnya ada sekitar

1,2 juta dan sekitar 2 juta anak di seluruh dunia dieksploitasi secara seksual tiap

tahunnya.8

6

Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia,

Bahan pada Rapat Kerja Komite III DPD RI , ( Jakarta :18 Mei 2010), hal 7.

Industri perdagangan anak ini menangguk untung USD 12 milliar

pertahunnya (ILO).

7

ICMC dan ACILS, Ketika Mereka Dijual Perdagangan Perempuan dan Anak di 15 Propinsi

di Indonesia, (Jakarta:USAID,2006), hal 21.

8

(4)

Setiap tahunnya diperkirakan 600.000-800.000 laki-laki, perempuan dan

anak-anak diperdagangkan menyeberangi perbatasan-perbatasan internasional.9 Laporan dari pemerintahan AS memperkirakan bahwa lebih dari separuh dari para

korban yang diperdagangkan secara internasional diperjualbelikan untuk eksploitasi

seksual. Menurut PBB, perdagangan orang ini adalah sebuah perusahaan kriminal

terbesar ketiga tingkat dunia yang menghasilkan sekitar 9,5 juta USD dalam pajak

tahunan menurut intelijen AS. Perdagangan orang juga merupakan salah satu

perusahaan kriminal yang paling menguntungkan dan sangat terkait dengan

pencucian uang (money laundring) perdagangan narkoba, pemalsuan dokumen dan

penyeludupan manusia.10

Perdagangan orang di Indonesia seringkali digunakan untuk tujuan

eksploitasi seksual ( pelacuran dan paedophilia) dipakai serta bekerja pada

tempat-tempat kasar yang memberikan gaji rendah seperti buruh perkebunan, di jermal,

pembantu rumah tangga, pekerja restoran, tenaga penghibur, perkawinan kontrak,

buruh anak, pengemis jalanan, selain peran sebagai pelacur. Penelitian setempat

menunjukan bahwa korban diambil dari keluarga miskin dari pedesaan, masyarakat

yang patriarchal (sistem kemasyarakatan yang menentukan ayah sebagai kepala

keluarga) dengan status pendidikan yang rendah. Perempuan dan anak yang menjadi

buruh migran dan/ atau dari suku minoritas dan kelompok masyarakat pinggiran lain

9

(5)

mempunyai resiko yang lebih besar. Korban perdagangan orang pada umumnya

dialami oleh anak dan perempuan belia muda dan belum menikah, atau korban

perceraian serta mereka yang pernah bekerja di pusat kota atau luar negeri. Umumnya

sebagian penghasilannya diberikan kepada keluarga.11

Menurut laporan yang sama, internel trafficking (trafficking dalam negeri)

merupakan masalah yang signifikan juga di Indonesia. Banyak perempuan dan anak

perempuan dieksploitasi di dalam perbudakan domestik (sebagai pembantu rumah

tangga), eksploitasi seksual komersial, pertanian pedesaan, pertambangan, dan

perikanan. Korban awalnya direkrut dengan menawarkan pekerjaan di restoran,

pabrik, atau sebagai pekerja rumah tangga sebelum dipaksa menjadi pelacur.

Pariwisata seks anak merupakan sesuatu yang lazim di daerah perkotaan dan daerah

tujuan wisata, seperti pulau Bali dan Riau. Bahkan disinyalir ada trafficker yang

menjalin kemitraan dengan para pejabat sekolah untuk merekrut laki-laki dan

perempuan muda dalam program-program kejuruan untuk dipaksa menjadi tenaga

kerja di kapal nelayan melalui kerja sama magang yang menipu.12

International Organitation of Migran (IOM) telah mencatat korban

perdagangan orang pada berbagai negara tetangga yang disinyalir negara-negara

tersebut menjadi tujuan perdagangan orang dari Indonesia. Sekitar 19 negara tetangga

yang menjadi tujuan perdagangan orang dari Indonesia sejak Maret 2005 s.d

September 2009 yang paling terbesar negara tujuananya adalah Malaysia dengan

11

Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Rencana Aksi

Nasional Penghapusan Trafiking Perempuan dan Anak,- Draft 4 , (Jakarta: 2002), hal 1.

(6)

total 2.689 orang dengan rincian anak laki-laki 87, anak perempuan 385, dan laki-laki

dewasa dewasa 197 dan perempuan dewasa 2.020 orang dengan jumlah persentase

75,94 % dan nomor dua terbesar sebagai negara tujuan adalah Saudi Arabia dengan

jumlah 63 orang dengan rincian anak perempuan 14 orang dan perempuan dewasa 49

orang. 13

Tahun 2009 jumlah perdagangan orang berdasarkan jenis kelamin dan umur

terhitung bulan Maret 2005 – September 2009 tercatat 856 anak- anak yang menjadi

korban dan 2,269 usia dewasa, mayoritas korban tersebut adalah perempuan dan

jumlah tersebut merupakan jumlah dari total korban yang ditangani IOM pada kurun

waktu tersebut.14

Berdasarkan data Badan Reserse Kriminal Polri, jumlah perdagangan manusia

di Indonesia mencapai 607 kasus, pada tahun 2010, yang melibatkan sebanyak 857

orang pelakunya. Korbannya orang dewasa sebanyak 1.570 orang (76,4%) dan 485

anak-anak (23,6%). Korban yang diperdagangkan, dieksploitasi secara seksual

maupun kerja paksa. Setiap tahunnya ada kenaikan 450.000 orang Indonesia yang

diperdagangkan dengan modus sebagai tenaga kerja ke luar negeri. Dari jumlah itu,

sekitar 46% terindikasi kuat menjadi korban. 15

Perdagangan orang yang diidentifikasi oleh polisi baru- baru ini adalah

perekrutan buruh migran Indonesia di Malaysia untuk umrah ke Mekah, setelah

13

Biro Pemberdayaan Perempuan Anak dan KB Provsu. Disadur penulis dari hasil analisis

yuridis implementasi Perda No 6 Tahun 2004. ( Medan : Biro PPA dan KB, 2011), hal 8.

14 Ibid. 15

(7)

sampai di Saudi mereka diperdagangkan ke titik lain di Timur Tengah. Tahun 2010

trafficker juga menggunakan internet terutama social networking seperti facebook

untuk merekrut korban, terutama anak-anak untuk perdagangan seks. Beberapa

perempuan asing dari daratan Cina, Thailand, Asia Tengah, dan Eropa Timur menjadi

korban perdagangan seks di Indonesia.16

Melihat fenomena yang terjadi tersebut pemerintah Indonesia serta

masyarakat internasional pada umumnya telah berupaya membangun instrument guna

melawan kejahatan lintas negara terkait perdagangan perempuan dan anak didasari

pada pengakuan bahwa masalah ini telah menjadi ancaman serius yang memerlukan

kerjasama internasional untuk mengatasinya. Kasus perdagangan orang menjadi

kejahatan lintas negara yang terorganisasi karena tidak hanya terjadi di dalam negara

saja tetapi telah melintasi batas negara.17

Pemerintah Indonesia telah membuat kemajuan signifikan untuk memberantas

perdagangan orang dengan memperkenalkan aturan baru dan perbaikan kebijakan

dengan meningkatkan perhatian serta energi yang dibutuhkan untuk diberikan kepada

penggerak inisitatif anti perdagangan orang dimana pemerintah Indonesia telah

melahirkan Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak

Pidana Perdagangan Orang selanjutnya disebut UU No 21 Tahun 2007 tentang

PTPPO, yang mengadopsi pendekatan komprehensif untuk mengatasi perdagangan

16

Maret 2012, pukul 12.04 WIB. 17

(8)

manusia. Pemerintah juga telah menetapkan kementerian koordinator kesejahteraan

rakyat yang melegalkan rencana nasional untuk pemberantasan perdagangan manusia

dan eksploitasi seksual anak pada tahun 2009-2014, menambah aturan dalam negeri

serta merencanakan aksi yang telah dikembangkan dan di adopsi oleh provinsi dan

daerah di Indonesia untuk mengatasi eksploitasi seksual dan perdagangan anak

melalui tim gugus tugas yang dibentuk untuk mengimplementasikan

program-program untuk pemberantasan perdagangan manusia dan eksploitasi seksual pada

anak.18

Lahirnya UU No 21 tentang PTPPO disambut gembira oleh masyarakat di

Indonesia dan komunitas Internasional yang peduli masalah perdagangan orang.

Lahirnya undang-undang ini diharapkan akan menjadi payung hukum dalam

memberikan penanganan dan perlindungan terhadap korban Tindak Pidana

Perdagangan Orang selanjutnya disebut TPPO.

UU No 21 Tahun 2007 tentang PTPPO, membawa harapan baru dan

tantangan khususnya bagi para aparatur hukum untuk kembali memperhatikan dan

mempelajari unsur-unsur dan sistem perlindungan hukum dalam TPPO.19

Hal ini disebabkan tindak pidana selalu menitik beratkan pada pelaku

kejahatan/ pelaku tindak pidana, sedangkan korban kejahatan seakan terlupakan

bahkan kurang mendapatkan tempat. Kadangkala korban menjadi korban kedua

(9)

kalinya setelah kejadian itu, korban mengalami penderitaan misalnya fisik, fisikis,

seksual, ekonomis, sosial. Selain itu korban mendapatkan stigma buruk di keluarga

dan masyarakat serta mengalami trauma seumur hidup , beban mental atas kejadian

tindak pidana yang terjadi pada dirinya tanpa adanya ganti kerugian baik materil

maupun immaterial.

UU No 21 Tahun 2007 tentang PTPPO telah memberikan jaminan

pemenuhan hak bagi korban TPPO diantaranya :

1. Hak kerahasiaan identitas korban tindak pidana perdagangan orang dan

keluarganya sampai derajat kedua. (Pasal 44)

2. Hak untuk mendapat perlindungan dari ancaman yang membahayakan diri,

jiwa dan/atau hartanya (Pasal 47)

3. Hak untuk mendapat restitusi (Pasal 48)

4. Hak untuk memperoleh rehabilitasi kesehatan, rehabilitasi sosial, pemulangan

dan reintegrasi sosial dari pemerintah (Pasal 51)

5. Korban yang berada di luar negeri berhak dilindungi dan dipulangkan ke

Indonesia atas biaya negara (Pasal 54).

Pemenuhan hak atas korban yang diatur dalam UU PTPPO tersebut diatas

memberikan kontribusi pada perlindungan hak atas korban bahwa hak-hak korban

penting dalam proses pemidanaan dan bukan menghukum pelaku saja. Orang yang

menjadi korban TPPO sebagaimana yang tercantum pada pasal 48 ayat 1 UU No 21

Tahun 2007 memiliki hak untuk mendapatkan restitusi. Kenyataan di lapangan jarang

(10)

Restitusi yang dimaksudkan adalah ganti kerugian atas kehilangan kekayaan

atau penghasilan, penderitaan, biaya untuk tindakan perawatan medis dan/atau

psikologis dan/atau kerugian lain yang diderita korban sebagai akibat perdagangan

orang. Restitusi tersebut diberikan dan dicantumkan sekaligus dalam amar putusan

pengadilan tentang perkara TPPO. Restitusi adalah pembayaran ganti kerugian yang

dibebankan kepada pelaku berdasarkan putusan pengadilan yang berkekuatan hukum

tetap atas kerugian materil dan atau immaterial yang diderita korban atau ahli

warisnya.

Sebelum terbitnya UU PTPPO, ganti rugi immaterial kurang mendapat

perhatian. Selama ini korban TPPO tidak saja menanggung sendiri kerugian materil

yang dapat dihitung berdasarkan bukti-bukti dengan kasat mata, tapi juga kerugian

immaterial. Penderitaan batin korban tidak berhenti pada saat pelaku selesai

melakukan tindak pidananya, karena korban akan terus merasakan penderitaan lahir

dan batin seumur hidupnya.

Undang-undang ini lahir untuk melindungi hak korban atas penderitaan dan

kerugian baik materil dan/ atau immaterial sebagai akibat perbuatan yang dilakukan

pelaku. Perlindungan ini diberikan pelaku kepada korban dalam bentuk restitusi

sebagai ganti rugi atas penderitaan yang dialami korban dalam bentuk uang untuk

pemulihan korban guna mengurangi penderitaannya .

Peraturan perundang-undangan di Indonesia mengakui bahwa korban dan atau

ahli waris dapat memperoleh restitusi, hak korban dan atau ahli warisnya tersebut

(11)

sebelum mereka mendapatkan haknya mekanisme pengadilan salah satunya dimana

pengadilan baru dapat memberikan ganti rugi bila pelaku sudah dinyatakan bersalah

dan dijatuhi pidana. Bagi seorang pelaku TPPO setelah perkaranya diadili dan

mendapatkan pidana sesuai dengan perbuatannya kemudian dijalaninya, akan tetapi

lain dengan korban TPPO selain ia harus mengalami trauma atau beban mental ia

tidak mungkin bisa kembali seperti sedia kala karena beban mental dan trauma yang

dia alami juga aib bagi diri korban dan keluarganya.

Setiap terjadinya kejahatan maka dapat dipastikan akan menimbulkan

kerugian, korban harus menanggung kerugian baik materil dan immaterial. Sayang

sekali sampai dengan saat ini korban TPPO sering kali terabaikan hak-haknya

khususnya dalam memperoleh restitusi. Restitusi sebenarnya bukanlah hal yang baru,

sebelum UU PTPPO lahir sudah ada beberapa peraturan di Indonesia yang mengatur

pemberian ganti kerugian misalnya pada KUHP (Kitab Undang- Undang Hukum

Pidana), KUHAP (Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana), KUH Perdata dan

UU No. 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia yang kemudian

melahirkan Peraturan Pemerintah No. 3 Tahun 2002 tentang Kompensasi, Restitusi

dan Rehabilitasi Terhadap Korban Pelanggaran HAM Yang Berat dan UU Nomor 13

Tahun 2006 Tentang Perlindungan Saksi dan Korban namun tidak berjalan

sebagaimana yang diharapkan.

Ketiadaan peraturan dan prosedur yang jelas bagi korban TPPO untuk

(12)

dianggap menjadi kelemahan sehingga hak-hak atas restitusi bagi korban selama ini

tidak berjalan dengan baik.

Lima tahun sudah UU PTPPO lahir di Indonesia peran penegak hukum dalam

upaya pengajuan permohonan restitusi bersama perkara pidana di Indonesia belum

berjalan sebagaimana yang diharapkan. Hakim Agung Rehngena Purba mengakui

memang tidak banyak vonis tindak pidana perdagangan orang yang mencantumkan

ganti rugi kepada korbannya. Hal ini disebabkan penyidik kepolisian atau jaksa

penuntut umum alpa memasukkan aspek restitusi atau ganti rugi ke dalam berkas

acara pemeriksaan dan tuntutan.20

Tidak diberikannya hak-hak korban secara tegas telah dinyatakan dalam

peraturan perundang-undangan dapat menimbulkan ketidakpercayaan korban bahwa

hak mereka akan dilindungi bahkan diberikan ketika mereka berpartisipasi dalam

proses peradilan untuk mendukung penegakan hukum. Hal ini menunjukkan, bukan

saja dapat dikatakan bahwa negara gagal mewujudkan sistem kesejahteraan dari

warga negaranya yang menjadi korban kejahatan kemanusiaan, karena hak korban

akan ganti rugi pada dasarnya merupakan bagian integral dari hak asasi bidang

kesejahteraan/jaminan sosial.

Berdasarkan hasil penelusuran yang dilakukan penulis baru ada beberapa

putusan di Indonesia yang memberikan restitusi terhadap korban TPPO. Salah satu

wilayah propinsi di Indonesia yang mengadili dan menetapkan terdakwa membayar

(13)

restitusi kepada korban TPPO pertama sekali yaitu Putusan Pengadilan Negeri

Tanjung Karang Lampung yang sudah berkekuatan hukum yaitu putusan No: 1633/

Pid/ B/ 2008/ PN TK, hasil putusannya memerintahkan terpidana untuk membayar

restitusi kepada korban.21 Apa yang dilakukan ini merupakan suatu terobosan yang positif dalam hal penegakan hukum dan pemberian keadilan bagi korban

sebagaimana yang diatur dalam UU No 21 tahun 2007, pasal 48 sampai 50 tentang

PTPPO.22

Bertitik tolak dari uraian dan permasalahan tersebut di atas, penulis akan

menggali, mengkaji, kemudian akan mengadakan penelitian untuk mendapatkan

informasi, data dan kesimpulan mengenai implementasi pelaksanaan hak restitusi

bagi korban TPPO, guna memperoleh gambaran apakah peraturan hukum yang ada

sudah baik bila tidak mampukah menampung kekosongan hukum atau permasalahan

hukum yang ada sehingga pelaksanaan hak restitusi dapat terlaksana sesuai dengan

apa yang diharapkan. Kajian yang dilakukan penulis ini dimaksudkan guna

memberikan masukan dalam pemenuhan hak atas korban TPPO agar dapat terjamin

pelaksanaannya dengan mengambil judul “ PELAKSANAAN HAK RESTITUSI

TERHADAP KORBAN TINDAK PIDANA PERDAGANGAN ORANG

21

Ahmad Sofian, Direktur Eksekutif PKPA,Wawancara tanggal 27 Februari 2012, pukul 17,15 WIB.

22

(14)

BERDASARKAN UNDANG UNDANG NOMOR 21 TAHUN 2007 TENTANG

PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA PERDAGANGAN ORANG.

B.Permasalahan

Berdasarkan latar belakang permasalahan yang telah dikemukaan di atas,

maka dapat dirumuskan beberapa masalah, sebagai berikut :

1. Bagaimana pengaturan konsep hak restitusi terhadap korban Tindak Pidana

Perdagangan Orang ?

2. Bagaimana penerapan konsep hak restitusi atas korban Tindak Pidana

Perdagangan Orang dalam sistem peradilan pidana di Indonesia?

C. Tujuan Penelitian

Konsisten dengan rumusan permasalahan di atas, maka tujuan yang hendak

dicapai dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui dan menganalisis tentang pengaturan konsep hak restitusi

terhadap korban Tindak Pidana Perdagangan Orang di Indonesia .

2. Untuk mengetahui penerapan konsep dalam pelaksanaan hak restitusi korban

Tindak Pidana Perdagangan Orang dalam sistem peradilan pidana di

Indonesia.

(15)

Setiap penelitian pasti mendatangkan manfaat sebagai tindak lanjut dari apa

yang telah dirumuskan dalam tujuan peneltian. Penulis mengharapkan dengan adanya

penelitian ini membawa manfaat positif bagi penulis atau pembaca secara langsung

maupun tidak langsung. Penelitian ini juga sangat berpengaruh bagi perkembangan

individu atau objek dari penelitian ini. Oleh karena itu, penelitian ini diharapkan

dapat memberikan manfaat sebagai berikut:

1. Secara teoritis hasil penelitian ini dapat bermanfaat bagi penulis dalam

melatih diri dan mengembangkan pemahaman dan kemampuan berpikir

melalui penulisan karya ilmiah serta menambah khasanah pengetahuan,

wawasan khususnya yang berkaitan dengan penelitian di bidang hukum

dengan menerapkan pengetahuan dan pengalaman praktis yang diperoleh

selama ini.

2. Secara praktis hasil penelitian ini dapat menjadi bahan masukan bagi individu

maupun pihak-pihak lain yang berkepentingan khususnya aparat penegak

hukum, pemerintah, pemerhati masalah perdagangan orang , serta masyarakat

dalam pemenuhan hak korban khususnya dalam pemberian restitusi berupa

ganti kerugian kepada korban TPPO.

E. Keaslian Penelitian

Berdasarkan informasi, pemeriksaan dan penelusuran yang telah dilakukan

terhadap hasil-hasil penelitian yang telah dilakukan sebelumnya terkait dengan

(16)

Perdagangan Orang Berdasarkan UU No 21 Tahun 2007 Tentang Pemberantasan

Tindak Pidana Perdagangan Orang belum pernah dilakukan dalam topik dan

permasalahan yang sama. Jadi penelitian ini dapat disebut “ asli” sesuai dengan

asas-asas keilmuan yaitu jujur, rasional, dan objektif serta terbuka. Penelitian ini dapat

dipertanggungjawabkan kebenarannya secara ilmiah.

Guna menghindari terjadinya duplikasi penelitian terhadap masalah yang

sama, maka peneliti melakukan pengumpulan data dan juga pemeriksaan terhadap

hasil-hasil penelitian yang ada mengenai hal-hal di atas. Dari hasil observasi yang

telah dilakukan, ada beberapa penelitian yang memiliki topik yang sama, namun

dalam hal permasalahan dan pembahasannya jelas berbeda dengan isi penelitian ini,

yakni:

1. G. Rosmaida Feriana/ 087005067, Mahasiswa Pasca Sarjana Universitas

Sumatera Utara, Tesis tentang “ Upaya Kepolisian Daerah Sumatera Utara

Dalam Penanganan Tindak Pidana Perdagangan Orang ( Trafficking)”

2. Bambang Samosir / 107005018, Mahasiswa Pasca Sarjana Universitas

Sumatera Utara, Tesis tentang “ Penegakan Hukum Pidana terhadap

Tindak Pidana Perdagangan Orang Setelah Keluarnya UU No 21 Tahun

2007 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang (Studi di

Pengadilan Negeri Medan)”

Tesis ini memfokuskan pada hak restitusi bagi korban TPPO yang pembahasan dan

permasalahan yang dilakukan jauh berbeda dari apa yang telah dilakukan peneliti

(17)

F. Kerangka Teori dan Konsepsi.

1. Kerangka Teori

Kerangka teori dalam penelitian hukum sangat diperlukan untuk membuat

jelas nilai-nilai oleh postulat-postulat hukum sampai kepada landasan filosofisnya

yang tertinggi.23 Kerangka teori dapat diartikan sebagai kerangka pemikiran atau butir-butir pendapat, teori tesis mengenai sesuatu kasus atau permasalahan yang

menjadi bahan perbandingan, pegangan yang mungkin disetujui atau tidak disetujui

yang merupakan masukan bersifat eksternal dalam penelitian ini.24

Teori yang digunakan dalam menganalisa permasalahan pelaksanaan hak

restitusi dalam penanganan TPPO adalah kerangka teori keadilan, teori legal system

dan teori tanggung jawab negara.

Keadilan hanya bisa dipahami jika ia diposisikan sebagai keadaan yang

hendak diwujudkan oleh hukum. Upaya untuk mewujudkan keadilan dalam hukum

tersebut merupakan proses yang dinamis yang memakan banyak waktu. Upaya ini

seringkali juga didominasi oleh kekuatan-kekuatan yang bertarung dalam kerangka

umum tatanan politik untuk mengaktualisasikannya.25

Teori Keadilan menurut John Stuar Mill dalam bukunya Utilitarianism

“Keadilan bukan hanya berisi apa yang benar untuk dilakukan atau tidak benar untuk

23

Satjipto Rahardjo,Ilmu Hukum, (Bandung: PT.Citra Aditya Bakti,1991), hal 254. 24

M.Solly Lubis, Filsafat Ilmu dan Penelitian, (Bandung: CV.Mandar Maju,1994), hal 80. 25

(18)

dilakukan, namun juga sesuatu yang memperbolehkan orang lain mengklaim dari kita

sesuatu sebagai hak moralnya.26 Apa yang membedakan keadilan adalah konsep mengenai hak atau klaim itu sendiri. Menurut Mill,”sentiment keadilan” adalah”

hasrat hewani untuk menolak atau membalas sebuah rasa sakit atau kerusakan: yang

menimpa dirinya atau orang lain.27

Teori keadilan menurut Mill ini menurut penulis dapat dikaitkan dengan teori

ganti kerugian sebagai perwujudan tanggung jawab pelaku karena kesalahan yang

dilakukan pelaku untuk memberikan ganti kerugian pada korban atau ahli warisnya

atas tindak kejahatan yang telah dilakukan.

Hans Kelsen dalam bukunya general theory of law and state, juga berpandangan

bahwa hukum sebagai tatanan sosial yang dapat dinyatakan adil apabila dapat

mengatur perbuatan manusia dengan cara yang memuaskan sehingga dapat

menemukan kebahagian didalamnya.28

Pandangan Hans Kelsen ini pandangan yang bersifat positifisme, nilai-nilai

keadilan individu dapat diketahui dengan aturan-aturan hukum yang mengakomodir

nilai-nilai umum, namun tetap pemenuhan rasa keadilan dan kebahagian

diperuntukan tiap individu.

Dua hal konsep keadilan yang dikemukakan oleh Hans Kelsen : pertama tentang

keadilan dan perdamaian. Keadilan yang bersumber dari cita-cita irasional. Keadilan

26

Mill,Utilitarianism dalam Karen Lebacqz, Teori-Teori Keadilan, (Bandung: Nusa Media,1986), hal 21.

27 Ibid. 28

(19)

dirasionalkan melalui pengetahuan yang dapat berwujud suatu

kepentingan-kepentingan yang pada akhirnya menimbulkan suatu konflik kepentingan-kepentingan.

Penyelesaian atas konflik kepentingan tersebut dapat dicapai melalui suatu tatatanan

yang memuaskan salah satu kepentingan dengan mengorbankan kepentingan yang

lain atau dengan berusaha mencapai suatu kompromi menuju suatu perdamaian bagi

semua kepentingan.29

Kedua, konsep keadilan dan legalitas. Untuk menegakkan diatas dasar suatu

yang kokoh dari suatu tananan sosial tertentu, menurut Hans Kelsen pengertian

“Keadilan” bermaknakan legalitas. Suatu peraturan umum adalah “adil” jika ia

benar-benar diterapkan, sementara itu suatu peraturan umum adalah “tidak adil” jika

diterapkan pada suatu kasus dan tidak diterapkan pada kasus lain yang serupa.

Konsep keadilan dan legalitas inilah yang diterapkan dalam hukum nasional bangsa

Indonesia, yang memaknai bahwa peraturan hukum nasional dapat dijadikan sebagai

payung hukum (law unbrella) bagi peraturan peraturan hukum nasional lainnya

sesuai tingkat dan derajatnya dan peraturan hukum itu memiliki daya ikat terhadap

materi-materi yang dimuat (materi muatan) dalam peraturan hukum tersebut.30

Jeremy Bentham adalah pencetus teori Utilitis teori ini menitikberatkan pada

kemanfaatan yang terbesar bagi jumlah yang terbesar. Konsep pemberian

perlindungan pada korban kejahatan dapat diterapkan sepanjang memberikan

kemanfaatan yang lebih besar dibandingkan dengan tidak diterapkannya konsep

29

Ibid, hal 16. 30

(20)

tersebut, tidak saja bagi korban kejahatan, tetapi bagi sistem penegakan hukum

pidana secara keseluruhan.

Masalah keadilan dan hak asasi manusia dalam kaitannya dengan penegakan

hukum pidana memang bukan merupakan pekerjaan yang sederhana untuk

direalisasikan. Peristiwa dalam kehidupan masyarakat menunjukan bahwa kedua hal

tersebut kurang memperoleh perhatian yang serius.31

UUD 1945 menjamin masyarakat pencari keadilan untuk mendapatkan

kepastian hukum berdasarkan pasal 28 D ayat (1) “ Setiap orang berhak atas

pengakuan, jaminan, perlindungan, dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan

yang sama dihadapan hukum”.

Korban kejahatan yang pada dasarnya merupakan pihak yang paling menderita

dalam suatu tindak pidana, justru tidak memperoleh perlindungan sebanyak yang

diberikan oleh undang-undang kepada pelaku kejahatan, akibatnya pada saat pelaku

kejahatan telah dijatuhkan sanksi pidana oleh pengadilan, kondisi korban kejahatan

seperti tidak dipedulikan sama sekali. Padahal masalah keadilan dan penghormatan

hak asasi manusia tidak hanya berlaku pada pelaku kejahatan saja, tetapi juga korban

kejahatan.32

Penyelesaian perkara pidana, banyak ditemui korban kejahatan kurang

memperoleh perlindungan hukum yang memadai, baik perlindungan yang sifatnya

materil maupun immaterial, sebagaimana Geis berpendapat:” to much attention has

31

Dikdik M. Arief Mansur dan Elisatris Gultom , Urgensi Perlindungan Korban Kejahatan, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2007), hal 24.

(21)

been paid to offenders and their rights, to neglect of the victims”. Korban kejahatan

ditempatkan sebagai alat bukti yang memberikan keterangan yaitu hanya sebagai

saksi sehingga kemungkinan bagi korban untuk memperoleh keleluasan dalam

memperjuangkan hak atas keadilan adalah kecil.33

Lawrence M.Friedman, dalam bukunya yang berjudul “ The Legal System A

Social Sciense Perspective”, menyebutkan bahwa sistem hukum terdiri atas

perangkat struktur hukum, substansi hukum (perundang-undangan) dan kultur hukum

atau budaya hukum. Sistem hukum harus memuat Substantive Law, Legal Structure,

dan Legal Culture. Tegaknya hukum tergantung kepada budaya hukum di

masyarakat, sementara itu budaya hukum masyarakat tergantung kepada budaya

hukum anggota-anggotanya yang dipengaruhi oleh latar belakang pendidikan,

lingkungan, budaya, posisi atau kedudukan dan kepentingan-kepentingan.34

Struktur hukum (legal struktur) merupakan kerangka berfikir yang

memberikan defenisi dan bentuk bagi bekerjanya sistem yang ada dengan batasan

yang telah ditentukan, jadi struktur hukum dapat dikatakan sebagai institusi yang

menjalankan penegakan hukum dengan segala proses yang ada didalamnya.35

Substansi hukum (legal substance) merupakan aturan, norma dan pola

perilaku manusia yang berada di dalam sistem hukum. Substansi hukum ( legal

33

Chaerudin, Syarif Fadillah, Korban Kejahatan dalam Persfektif Viktimologi dan Hukum

Pidana Islam ( Jakarta:Ghalia Press, Juli 2004) ,hal 47.

34

Bismar Nasution, Ekonomi Mengkaji Ulang Hukum sebagai Landasan Pembangunan

Ekonomi, Disampaikan pada” Pidato Pengukuhan Guru Besar dalam Ilmu Hukum Ekonomi

Universitas Sumatera Utara”, (Medan: Dosen Pascasarjana Ilmu Hukum Ekonomi USU, 17 April 2004), hal 21.

35

(22)

Substance) berarti produk yang dihasilkan oleh orang yang berada di dalam sistem

hukum itu, baik berupa keputusan yang telah dikeluarkan maupun aturan-aturan baru

mau disusun. Substansi hukum ( legal substance) tidak hanya pada hukum yang

tertulis ( law in the book), tetapi juga mencakup hukum yang hidup di masyarakat

( the living law).36

Budaya hukum ( legal culture) merupakan sikap manusia terhadap hukum dan

sistem hukum. Sikap masyarakat ini meliputi kepercayaan, nilai-nilai, ide-ide serta

harapan masyarakat terhadap hukum dan sistem hukum.37 Budaya hukum juga merupakan kekuatan sosial yang menentukan bagaimana hukum dilaksanakan,

dihindari atau bahkan bagaimana hukum disalahgunakan. Budaya hukum ( legal

culture) mempunyai peranan yang besar dalam sistem hukum. Tanpa budaya hukum

(legal culture) maka sistem hukum (legal system) akan kehilangan kekuatannya,

seperti ikan mati yang terdampar di keranjangnya, bukan ikan hidup yang berenang di

lautan.38

Ketiga unsur sistem hukum tersebut berhubungan satu sama lain, dan

mempunyai peranan yang tidak dapat dipisahkan satu persatu. Ketiga unsur ini

merupakan satu kesatuan yang menggerakkan sistem hukum yang ada agar berjalan

dengan lancar. Sebagai perumpamaan, struktur hukum ( Legal struktur) merupakan

mesin yang menghasilkan sesuatu, substansi hukum ( legal substance) merupakan

36

Lawrence M, Friedman dalam Marlina, Peradilan Pidana Anak di Indonesia, ( Bandung: PT Rafika Aditama, 2009), hal 14.

37 Ibid. 38

(23)

orang yang memutuskan untuk menjalankam mesin serta membatasi penggunaan

mesin. Apabila satu dari ke tiga unsur sistem hukum ini tidak berfungsi,

menyebabkan sub sistem lainnya terganggu.39

Suatu negara bertanggung jawab bilamana suatu perbuatan atau kelalaian

yang dapat dipertautkan kepadanya melahirkan pelanggaran terhadap suatu

kewajiban. Baik yang lahir dari suatu perjanjian maupun sumber hukum lainnya.

Secara umum unsur tanggung jawab negara adalah adanya perbuatan atau kelalaian

yang dipertautkan kepada suatu negara dan perbuatan atau kelalain itu merupakan

pelanggaran terhadap suatu kewajiban. Hingga akhir abad ke- 20 masih dipegang

pendapat bahwa untuk lahirnya tanggung jawab negara tidak cukup dengan adanya

dua unsur di atas melainkan harus ada unsur kerusakan atau kerugian ( damage or

loss) pada pihak atau negara lain.40

Teori pertanggungjawaban negara pada dasarnya ada dua macam yaitu

pertama teori resiko ( Risk Theory) yang kemudian melahirkan prinsip tanggung

jawab mutlak (absolute liability atau strict liability) atau tanggung jawab objektif

(objective responsibility), yaitu bahwa suatu negara mutlak bertanggungjawab atas

setiap kegiatan yang menimbulkan akibat yang sangat membahayakan ( Harmful

effects of untra- hazardous activities) walaupun kegiatan itu sendiri adalah kegiatan

yang sah menurut hukum. Kedua teori kesalahan (Fault Theory) yang melahirkan

prinsip tanggung jawab subjektif ( Subjective responsibility) atau tanggung jawab atas

39 Ibid. 40

(24)

dasar kesalahan ( liability based on fault), yaitu bahwa tanggung jawab negara atas

perbuatannya baru dapat dikatakan ada jika dapat dibuktikan adanya unsur kesalahan

pada perbuatan itu.41

TPPO merupakan bentuk kejahatan kemanusiaan masuk dalam kategori

pelanggaran HAM sebagaimana diatur dalam UU No 21 Tahun 2007 tentang PTPPO

merupakan bentuk kejahatan yang masuk kategori transnational organized crime,

unsur utama dari transnational crime selain adanya kegiatan melintasi batas negara,

kegiatan tersebut dilakukan oleh kelompok yang terorganisir. Menurut Hukum

Internasional kewajiban bagi negara untuk memberikan pemulihan terhadap korban

yang dilakukan oleh negara sebagai bentuk pengakuan atas pelanggaran hak korban,

kehilangan penderitaan yang dialami dan menjadi tanggung jawab negara baik

berbentuk materi maupun non materi.42

Teori tanggung jawab juga dilakukan setiap subjek hukum orang maupun

kelompok atas segala perbuatan hukum yang dilakukannya sehingga apabila

seseorang melakukan suatu tindak pidana yang mengakibatkan orang lain menderita

kerugian (dalam arti luas), orang tersebut harus bertanggung jawab atas kerugian

yang ditimbulkannya.

41

Ibid, hal 2. 42

ICW,IJCR,Koalisi Perlindungan Saksi, Naskah Akademis dan Rancangan Peraturan

(25)

2. Konsepsi

Konsepsi merupakan bagian yang menjelaskan hal-hal yang berkaitan dengan

konsep yang digunakan penulis. Konsep bisa juga diartikan sebagai” salah satu

bagian terpenting dari teori. Peranan konsep dalam penelitian adalah untuk

menghubungkan dunia teori dan observasi, antara abstraksi dan realitas.43

Kerangka konsepsional dalam merumuskan atau membentuk

pengertian-pengertian hukum, kegunaannya tidak hanya terbatas pada penyusunan kerangka

konseptional saja, akan tetapi bahkan pada usaha merumuskan definisi-defenisi

operasional di luar peraturan perundang-undangan. Dengan demikian, konsep

merupakan unsur pokok dari suatu penelitian.44

Penelitian ini didefenisikan beberapa konsep dasar supaya secara operasional

diperoleh hasil penelitian yang sesuai dengan tujuan yang ditentukan yaitu:

Pelaksanaan Hak Restitusi Terhadap Korban Tindak Pidana Perdagangan Orang

Berdasarkan UU No 21 Tahun 2007 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana

Perdagangan Orang.

a. Pelaksanaan adalah: Proses, cara, perbuatan melaksanakan ( rancangan,

keputusan , dan sebagainya).45

Berdasarkan pengertian diatas yang dimaksud penulis dengan pelaksanaan

adalah tindakan yang dilakukan oleh Aparat Penegak Hukum yaitu Polisi,

43

Masri Singarimbun dan Sofian Effendi, Metode Penelitian Survei, (Jakarta:LP3ES,1989), hal 34.

44

Koentjaraningrat, Metode Penelitian Masyarakat ( Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1997), hal 24.

45

(26)

Jaksa dan Hakim dalam upaya pemberian restitusi yang wajib diberikan

pelaku kepada korban TPPO , dengan kata lain bagaimana Aparat Penegak

Hukum dapat menerapkan aturan yang ada sebagaimana yang diatur dalam

pasal 48 sampai 50 UU No 21 tahun 2007 dalam peristiwa hukum yang

konkrit.

b. Hak adalah: sesuatu hal yang benar, milik, kepunyaan, kewenangan,

kekuasaan untuk berbuat sesuatu karena telah ditentukan oleh

undang-undang.46

K. Bertens dalam bukunya yang berjudul Etika memaparkan bahwa dalam

pemikiran Romawi Kuno, hak berasal dari kata latin yaitu ius-iurus , yang

menunjukkan hukum dalam arti objektif. Artinya adalah hak dilihat sebagai

keseluruhan undang-undang, aturan-aturan dan lembaga-lembaga yang

mengatur kehidupan masyarakat demi kepentingan umum (hukum dalam arti

Law, bukan right). Sementara John Locke mendefinisikan hak sebagai hak

asasi yang melekat secara kodrati pada setiap manusia.47

c. Restitusi adalah: ganti kerugian atas kehilangan kekayaaan atau penghasilan,

penderitaan, biaya untuk tindakan perawatan medis dan/atau psikologis

46

Ibid, hal 382. 47

(27)

dan/atau kerugian lain yang diderita korban sebagai akibat perdagangan

orang.48

Restitusi juga didefenisikan sebagai ganti kerugian yang diberikan kepada

korban atau keluarganya oleh pelaku atau pihak ketiga, dapat berupa

pengembalian harta milik, pembayaran ganti kerugian untuk kehilangan atau

penderitaan, atau penggantian biaya untuk tindakan tertentu.49

Menurut UU No 21 Tahun 2007 tentang PTPPO Restitusi adalah: pembayaran

ganti kerugian yang dibebankan kepada pelaku berdasarkan putusan

pengadilan yang berkekuatan hukum tetap atas kerugian materiil dan/ atau

immaterial yang di derita korban atau ahli warisnya.

d. Korban adalah: orang yang menderita, luka, atau mati karena suatu kejadian

atau peristiwa, perbuatan jahat.50

Arief Gosita memberi pengertian korban adalah mereka yang menderita

jasmaniah dan rohaniah sebagai akibat tindakan orang lain yang bertentangan

dengan kepentingan diri sendiri atau orang lain yang mencari pemenuhan

kepentingan diri sendiri atau orang lain yang bertentangan dengan

kepentingan hak asasi yang menderita.51

Mereka yang dimaksud oleh Arif Gosita adalah:

1. Korban orang perorangan atau korban individual ( Viktimisasi Primair).

48

Pasal 48 ayat 2 UU No 21 Tahun 2007 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang.

49

Peraturan Pemerintah No 3 tahun 2002 tentang kompensasi, restitusi dan rehabilitasi terhadap korban pelanggaran HAM yang berat.

50

Departemen Pendidikan Nasional, Op,Cit, hal 595. 51

(28)

2. Korban yang bukan perorangan, misalnya, suatu badan,organisasi,

lembaga. Pihak korban adalah impersonal, komersial, kolektif

(Viktimisasi sekunder) adalah keterlibatan umum, keserasian sosial dan

pelaksanaan perintah, misalnya pada pelanggaran peraturan dan

ketentuan-ketentuan negara (viktimisasi tersier).52

Korban juga didefenisikan oleh Van Boven yang merujuk kepada Deklarasi

Prinsip-prinsip Dasar Keadilan bagi Korban Kejahatan dan Penyalahgunaan

Kekuasaan sebagai berikut: Orang yang secara individual maupun kelompok

telah menderita kerugian, termasuk cedera fisik maupun mental, penderitaan

emosional, kerugian ekonomi atau perampasan yang nyata terhadap hak-hak

dasarnya, baik karena tindakan (by act) maupun karena kelalaian ( by

omission).53

Pengertian di atas tampak bahwa istilah korban tidak hanya mengacu kepada

perseorangan saja melainkan mencakup juga kelompok dan masyarakat.

Pengertian di atas juga merangkum hampir semua jenis penderitaan yang

diderita oleh korban, penderitaan di sini tidak hanya terbatas pada kerugian

ekonomi, cedera fisik maupun mental juga mencakup pula derita-derita yang

dialami secara emosional oleh para korban, seperti mengalami trauma.

52

Ibid, hal 140. 53

(29)

Mengenai penyebabnya ditunjukkan bukan hanya terbatas pada perbuatan

yang sengaja dilakukan tetapi juga meliputi kelalaian.54

UU No 21 Tahun 2007 tentang PTPPO mendefenisikan korban adalah

seseorang yang mengalami penderitaan psikis, mental, fisik, seksual,

ekonomi, dan/ atau sosial, yang diakibatkan TPPO.

e. Pelaku adalah: orang perseorangan atau korporasi yang melakukan TPPO.55 Pelaku perdagangan orang (trafficker) tidak saja melibatkan organisasi

kejahatan lintas batas tetapi juga melibatkan lembaga, perseorangan dan

bahkan tokoh masyarakat yang seringkali tidak menyadari keterlibatannya

dalam kegiatan perdagangan orang (Rosenberg, 2003) 56

1. Perusahaan perekrut tenaga kerja dengan jaringan agen/calo-calonya di daerah adalah trafficker manakala mereka memfasilitasi pemalsuan KTP dan paspor serta secara ilegal menyekap calon pekerja migran di penampungan, dan menempatkan mereka dalam pekerjaan yang berbeda atau secara paksa memasukkannya ke industri seks.

:

2. Agen atau calo-calo bisa orang luar tetapi bisa juga seorang tetangga, teman, atau bahkan kepala desa, yang dianggap trafficker manakala dalam perekrutan mereka menggunakan kebohongan, penipuan, atau pemalsuan dokumen.

3. Aparat pemerintah adalah trafficker manakala terlibat dalam pemalsuan dokumen, membiarkan terjadinya pelanggaran dan memfasilitasi penyeberangan melintasi perbatasan secara ilegal.

4. Majikan adalah trafficker manakala menempatkan pekerjanya dalam kondisi eksploitatif seperti: tidak membayar gaji, menyekap pekerja, melakukan kekerasan fisik atau seksual, memaksa untuk terus bekerja, atau menjerat pekerja dalam lilitan utang.

54

Ibid , hal xiv. 55

Pasal 1 ayat 4 UU No 21 tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang.

56

(30)

5. Pemilik atau pengelola rumah bordil, dapat dianggap melanggar hukum terlebih jika mereka memaksa perempuan bekerja di luar kemauannya, menjeratnya dalam libatan utang, menyekap dan membatasi kebebasannya bergerak, tidak membayar gajinya, atau merekrut dan mempekerjakan anak (di bawah 18 tahun).

6. Calo pernikahan adalah trafficker manakala pernikahan yang diaturnya telah mengakibatkan pihak isteri terjerumus dalam kondisi serupa perbudakan dan eksploitatif walaupun mungkin calo yang bersangkutan tidak menyadari sifat eksploitatif pernikahan yang akan dilangsungkan. 7. Orang tua dan sanak saudara adalah trafficker manakala mereka secara

sadar menjual anak atau saudaranya baik langsung atau melalui calo kepada majikan di sektor industri seks atau lainnya, atau jika mereka menerima pembayaran di muka untuk penghasilan yang akan diterima oleh anak mereka nantinya. Demikian pula jika orang tua menawarkan layanan dari anak mereka guna melunasi utangnya dan menjerat anaknya dalam libatan utang.

f. Tindak Pidana adalah

Istilah tindak pidana berasal dari istilah yang dikenal dalam hukum pidana

Belanda yaitu strafbaar feit. Beberapa definisi strafbaarfeit menurut ahli-ahli

hukum di Indonesia, yaitu :

a. Wiryono Prodjodikoro mendefinisikan tindak pidana sebagai suatu

perbuatan yang pelakunya dapat dikenakan hukuman pidana dan pelaku

itu dapat dikatakan merupakan “subjek” tindak pidana.57

b. E. Utrecht menerjemahkan strafbaar feit dengan istilah peristiwa pidana

yang sering juga ia sebut dengan delik, karena peristiwa itu suatu

perbuatan handelen, atau doen-positif atau suatu melalaikan

nalaten-negatif, maupun akibatnya (keadaan yang ditimbulkan karena perbuatan

atau melalaikan itu). Peristiwa pidana merupakan suatu peristiwa hukum

57

(31)

(rechtsfeit), yaitu peristiwa kemasyarakatan yang membawa akibat yang

diatur oleh hukum.58

Jadi suatu perbuatan dapat dikatakan sebagai tindak pidana apabila

memenuhi unsur-unsur sebagai berikut:59 1. Harus merupakan suatu perbuatan manusia;

2. Perbuatan tersebut dilarang dan diberi ancaman hukuman baik oleh

undang-undang maupun peraturan perundang-undangan lainnya;

3. Perbuatan tersebut dilakukan oleh orang yang dapat bertanggung

jawab artinya dapat dipersalahkan karena melakukan perbuatan

tersebut.

g. Perdagangan Orang adalah: Tindakan perekrutan, pengangkutan,

penampungan, pengiriman, pemindahan, atau penerimaan seseorang dengan

ancaman kekerasan, penggunaan, kekerasan, penculikan, penyekapan,

pemalsuan, penipuan, penyalahgunaan, kekuasaan atau posisi rentan,

penjeratan utang, atau memberi bayaran atau manfaat, sehingga memperoleh

persetujuan dari orang yang memegang kendali atas orang lain tersebut, baik

yang dilakukan di dalam negara maupun antar negara, untuk tujuan eksploitasi

atau mengakibatkan orang tereksploitasi.60

58

Utrecht, Rangkaian Kuliah Hukum Pidana I, ( Surabaya: Pustaka Mas), 2000, hal 251. 59

Satochid.K, Hukum Pidana Bagian Kesatu, Balai Lektur Mahasiswa. 60

(32)

G. Metode Penelitian

1. Jenis dan Sifat Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian hukum ini adalah yuridis

normatif, dengan sifat penelitian adalah preskriptis analitis . Yuridis normatif, yang

diartikan sebagai penelitian mengacu pada norma-norma hukum yang terdapat dalam

peraturan perundang-undangan dan putusan pengadilan.61 Menurut Ronald Dworkin, penelitian hukum normatif disebut juga sebagai penelitian doctrinal (Doctrinal

Research), yaitu suatu penelitian yang menganalisis hukum baik sebagaimana yang

tertulis di dalam Kitab Undang Undang (Law As It Written In Book), maupun hukum

adalah keputusan hakim melalui putusan pengadilan ( Law As It Dicided By The

Judge Through Judicial Process).62

Penelitian Preskriptif analitis adalah penelitian yang bertujuan untuk

mempelajari tujuan hukum, nilai-nilai keadilan, validitas aturan hukum,

konsep-konsep hukum dan norma-norma hukum.63

2. Sumber Data Penelitian

Dalam penelitian hukum normatif data yang dipergunakan adalah data

sekunder. Untuk memecahkan isu hukum dan sekaligus memberikan preskripsi

61

Soerjono Sekanto dan Sri Mamudji, Penelitian Hukum Normatif Suatu Tinjauan Singkat , (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1995), hal 23.

62

Bismar Nasution, Metode Penelitian Hukum Normatif dan Perbandingan Hukum, disampaikan pada dialog interaktif tentang penelitian hukum dan hasil penulisan penelitian hukum pada majalah akreditasi, fakultas hukum USU, tanggal 18 Februari 2003,hal 1.

63

(33)

mengenai apa yang seyogianya, diperlukan sumber-sumber penelitian yang berupa

bahan hukum primer , bahan hukum sekunder dan bahan hukum tertier.64 a. Bahan hukum Primer

Bahan hukum primer adalah bahan hukum yang bersifat autoratif artinya

mempunyai otoritas. Bahan hukum primer terdiri dari peraturan

perundang-undangan yang diurut berdasarkan hierarki.65 Bahan hukum primer berupa perundang-undangan yang berkaitan dengan pemberian restitusi terhadap

korban TPPO.

b. Bahan Hukum Sekunder

Bahan hukum sekunder adalah bahan hukum yang terdiri atas buku-buku teks

yang ditulis oleh ahli hukum yang berpengaruh, jurnal-jurnal hukum,

pendapat para sarjana, kasus-kasus hukum, yurisprudensi , dan hasil-hasil

symposium mutakhir yang berkaitan dengan topik penelitian. 66 c. Bahan Hukum Tertier

Bahan hukum tertier adalah bahan hukum yang memberikan petunjuk atau

penjelasan terhadap bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder berupa

kamus umum, kamus bahasa, surat kabar, artikel, internet. 67

64

Ibid,hal 141. 65

Ibid. 66

Jhony Ibrahim, Teori dan metodologi peneltian hukum normatif, ( Surabaya: Banyumedia, 2006), hal 296.

(34)

3. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang akan digunakan dalam penelitian ini

dilakukan dengan cara studi kepustakaan. Studi kepustakaan dilakukan untuk

mengumpulkan data sekunder melalui pengkajian terhadap peraturan

perundang-undangan, literatur- literatur, tulisan- tulisan para pakar hukum, bahan kuliah, dan

putusan- putusan pengadilan yang berkaitan dengan penelitian ini.68 Teknik pengumpulan data juga dilakukan melalui wawancara terhadap pihak-pihak yang

terkait dengan penelitian ini yaitu korban TPPO, Polisi, Jaksa , Hakim dan Lembaga

Perlindungan Anak sebagai informan. Hasil wawancara di sadur dan dicatat dan

menjadi data pendukung dalam penelitian ini.

4. Analisis Data

Analisa data yang digunakan dalam penelitian ini adalah secara kualitatif.

Secara Kualitatif dimaksudkan bahwa analisa ini bertolak dari usaha untuk meneliti

terhadap azas hukum yang diatur dalam bahan hukum primer dan yang berkembang

melalui pembahasan dalam bahan hukum sekunder, serta yang dapat ditemukan

dalam bahan hukum tersier.

Penelitian kualitatif menurut Strauss dan Corbin (1997: 11-13), yang

dimaksud dengan penelitian kualitatif adalah jenis penelitian yang menghasilkan

penemuan-penemuan yang tidak dapat dicapai (diperoleh) dengan menggunakan

prosedur-prosedur statistik atau cara-cara lain dari kuantifikasi

68

Riduan , Metode & Teknik Menyusun Tesis, (Bandung: Bina Cipta, 2004), hal 97.

(35)

Penelitian kualitatif secara umum dapat digunakan untuk penelitian tentang

kehidupan masyarakat, sejarah, tingkah laku, fungsionalisasi organisasi, aktivitas

sosial, dan

Data yang diperoleh akan dipilah-pilah guna memperoleh kaedah-kaedah

hukum yang kemudian dihubungkan dengan isu hukum dan kemudian

disistematisasikan sehingga menghasilkan klasifikasi yang selaras dengan isu hukum.

Selanjutnya data yang yang diperoleh tersebut dianalisis secara induktif kualitatif

untuk sampai pada penarikan kesimpulan, sehingga pokok permasalahan yang

dibahas dalam penelitian ini dapat dijawab.

lain-lain. Salah satu alasan menggunakan pendekatan kualitatif adalah

pengalaman para peneliti dimana metode ini dapat digunakan untuk menemukan dan

memahami apa yang tersembunyi dibalik fenomena yang kadangkala merupakan

Gambar

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Download now (35 pages)