A. Bimbingan Konseling dalam Pendidikan

 0  0  13  2018-05-17 02:49:03 Report infringing document
Informasi dokumen

A. Bimbingan Konseling

  1. Pengertian Menurut Ahmadi (1991: 1), bahwa bimbingan adalah bantuan yang diberikan kepada individu (peserta didik) agar dengan potensi yang dimiliki mampu mengembangkan diri secara optimal dengan jalan memahami diri, memahami lingkungan, mengatasi hambatan guna menentukan rencana masa depan yang lebih baik.

  Sementara Walgito (2004: 4-5), mendefinisikan bahwa bimbingan adalah bantuan atau pertolongan yang diberikan kepada individu atau sekumpulan individu dalam menghindari atau mengatasi kesulitan-kesulitan hidupnya, agar individu dapat mencapai kesejahteraan dalam kehidupannya. Jones (Insano, 2004 : 11) menyebutkan bahwa konseling merupakan suatu hubungan profesional antara seorang konselor yang terlatih dengan klien. Hubungan ini biasanya bersifat individual atau seorang-seorang, meskipun kadang-kadang melibatkan lebih dari dua orang dan dirancang untuk membantu klien memahami dan memperjelas pandangan terhadap ruang lingkup hidupnya, sehingga dapat membuat pilihan yang bermakna bagi dirinya. Jadi pengertian bimbingan dan konseling yaitu suatu bantuan yang diberikan oleh konselor kepada konseli agar konseli mampu menyelesaikan masalah yang dihadapinya dan juga mampu mengembangkan potensi yang dimilikinya.

  2. Tujuan

  a. Tujuan bimbingan dan konseling yang terkait dengan aspek pribadi-sosial konseli adalah: 1) Memiliki komitmen yang kuat dalam mengamalkan nilai-nilai keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, baik dalam kehidupan pribadi, keluarga, pergaulan dengan teman sebaya, Sekolah/Madrasah, tempat kerja, maupun masyarakat pada umumnya. 2) Memiliki sikap toleransi terhadap umat beragama lain, dengan saling menghormati dan memelihara hak dan kewajibannya masing-masing. 3) Memiliki pemahaman tentang irama kehidupan yang bersifat fluktuatif antara yang menyenangkan (anugrah) dan yang tidak menyenangkan (musibah), sertadan mampu meresponnya secara positif sesuai dengan ajaran agama yang dianut.

4) Memiliki pemahaman dan penerimaan diri secara objektif dan konstruktif, baik

  yang terkait dengan keunggulan maupun kelemahan; baik fisik maupun psikis . 5) Memiliki sikap positif atau respek terhadap diri sendiri dan orang lain. 6) Memiliki kemampuan untuk melakukan pilihan secara sehat 7) Bersikap respek terhadap orang lain, menghormati atau menghargai orang lain, tidak melecehkan martabat atau harga dirinya. Memiliki rasa tanggung jawab, yang diwujudkan dalam bentuk komitmen terhadap tugas atau kewajibannya. 8) Memiliki kemampuan berinteraksi sosial (human relationship), yang diwujudkan dalam bentuk hubungan persahabatan, persaudaraan, atau silaturahim dengan sesama manusia. 9) Memiliki kemampuan dalam menyelesaikan konflik (masalah) baik bersifat internal (dalam diri sendiri) maupun dengan orang lain. b. Tujuan bimbingan dan konseling yang terkait dengan aspek akademik (belajar) adalah: 1) Memiliki kesadaran tentang potensi diri dalam aspek belajar, dan memahami berbagai hambatan yang mungkin muncul dalam proses belajar yang dialaminya. 2) Memiliki sikap dan kebiasaan belajar yang positif, seperti kebiasaan membaca buku, disiplin dalam belajar, mempunyai perhatian terhadap semua pelajaran, dan aktif mengikuti semua kegiatan belajar yang diprogramkan. 3) Memiliki motif yang tinggi untuk belajar sepanjang hayat. 4) Memiliki keterampilan atau teknik belajar yang efektif, seperti keterampilan membaca buku, mengggunakan kamus, mencatat pelajaran, dan mempersiapkan diri menghadapi ujian. 5) Memiliki keterampilan untuk menetapkan tujuan dan perencanaan pendidikan, seperti membuat jadwal belajar, mengerjakan tugas-tugas, memantapkan diri dalam memperdalam pelajaran tertentu, dan berusaha memperoleh informasi tentang berbagai hal dalam rangka mengembangkan wawasan yang lebih luas. 6) Memiliki kesiapan mental dan kemampuan untuk menghadapi ujian.

  c. Tujuan bimbingan dan konseling yang terkait dengan aspek karir adalah : 1) Memiliki pemahaman diri (kemampuan, minat dan kepribadian) yang terkait dengan pekerjaan.

  2) Memiliki pengetahuan mengenai dunia kerja dan informasi karir yang menunjang kematangan kompetensi karir. 3) Memiliki sikap positif terhadap dunia kerja. Dalam arti mau bekerja dalam bidang pekerjaan apapun, tanpa merasa rendah diri, asal bermakna bagi dirinya, dan sesuai dengan norma agama. 4) Memahami relevansi kompetensi belajar (kemampuan menguasai pelajaran) dengan persyaratan keahlian atau keterampilan bidang pekerjaan yang menjadi cita-cita karirnya masa depan. 5) Memiliki kemampuan untuk membentuk identitas karir, dengan cara mengenali ciri-ciri pekerjaan, kemampuan (persyaratan) yang dituntut, lingkungan sosiopsikologis pekerjaan, prospek kerja, dan kesejahteraan kerja. secara rasional untuk memperoleh peran-peran yang sesuai dengan minat, kemampuan, dan kondisi kehidupan sosial ekonomi. 7) Dapat membentuk pola-pola karir, yaitu kecenderungan arah karir. Apabila seorang konseli bercita-cita menjadi seorang guru, maka dia senantiasa harus mengarahkan dirinya kepada kegiatan-kegiatan yang relevan dengan karir keguruan tersebut. 8) Mengenal keterampilan, kemampuan dan minat. Keberhasilan atau kenyamanan dalam suatu karir amat dipengaruhi oleh kemampuan dan minat yang dimiliki.

  3. Fungsi Konseling

  a. Fungsi Pemahaman, yaitu fungsi bimbingan dan konseling membantu konseli agar

  memiliki pemahaman terhadap dirinya (potensinya) dan lingkungannya (pendidikan, pekerjaan, dan norma agama). Berdasarkan pemahaman ini, konseli diharapkan mampu mengembangkan potensi dirinya secara optimal, dan menyesuaikan dirinya dengan lingkungan secara dinamis dan konstruktif

  .

  b. Fungsi Preventif, yaitu fungsi yang berkaitan dengan upaya konselor untuk senantiasa

  mengantisipasi berbagai masalah yang mungkin terjadi dan berupaya untuk mencegahnya, supaya tidak dialami oleh konseli. Melalui fungsi ini, konselor memberikan bimbingan kepada konseli tentang cara menghindarkan diri dari perbuatan atau kegiatan yang membahayakan dirinya.

  c. Fungsi Pengembangan, yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang sifatnya lebih

  proaktif dari fungsi-fungsi lainnya. Konselor senantiasa berupaya untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif, yang memfasilitasi perkembangan konseli. Konselor dan personel Sekolah/Madrasah lainnya secara sinergi sebagai teamwork berkolaborasi atau bekerjasama merencanakan dan melaksanakan program bimbingan secara sistematis dan berkesinambungan dalam upaya membantu konseli mencapai tugas-tugas perkembangannya. Teknik bimbingan yang dapat digunakan disini adalah pelayanan informasi, tutorial, diskusi kelompok atau curah pendapat (brain storming),home room, dan karyawisata.

  d. Fungsi Penyembuhan, yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang bersifat kuratif.

  Fungsi ini berkaitan erat dengan upaya pemberian bantuan kepada konseli yang telah

  Teknik yang dapat digunakan adalah konseling, dan remedial teaching.

  e. Fungsi Penyaluran, yaitu fungsi bimbingan dan konseling dalam membantu konseli

  memilih kegiatan ekstrakurikuler, jurusan atau program studi, dan memantapkan penguasaan karir atau jabatan yang sesuai dengan minat, bakat, keahlian dan ciri-ciri kepribadian lainnya. Dalam melaksanakan fungsi ini, konselor perlu bekerja sama dengan pendidik lainnya di dalam maupun di luar lembaga pendidikan.

  f. Fungsi Adaptasi, yaitu fungsi membantu para pelaksana pendidikan, kepala

  Sekolah/Madrasah dan staf, konselor, dan guru untuk menyesuaikan program pendidikan terhadap latar belakang pendidikan, minat, kemampuan, dan kebutuhan konseli. Dengan menggunakan informasi yang memadai mengenai konseli, pembimbing/konselor dapat membantu para guru dalam memperlakukan konseli secara tepat, baik dalam memilih dan menyusun materi Sekolah/Madrasah, memilih metode dan proses pembelajaran, maupun menyusun bahan pelajaran sesuai dengan kemampuan dan kecepatan konseli.

  g. Fungsi Penyesuaian, yaitu fungsi bimbingan dan konseling dalam membantu konseli

  agar dapat menyesuaikan diri dengan diri dan lingkungannya secara dinamis dan konstruktif.

  h. Fungsi Perbaikan, yaitu fungsi bimbingan dan konseling untuk membantu konseli

  sehingga dapat memperbaiki kekeliruan dalam berfikir, berperasaan dan bertindak (berkehendak). Konselor melakukan intervensi (memberikan perlakuan) terhadap konseli supaya memiliki pola berfikir yang sehat, rasional dan memiliki perasaan yang tepat sehingga dapat mengantarkan mereka kepada tindakan atau kehendak yang produktif dan normatif.

  i. Fungsi Fasilitasi, memberikan kemudahan kepada konseli dalam mencapai

  pertumbuhan dan perkembangan yang optimal, serasi, selaras dan seimbang seluruh aspek dalam diri konseli.

  j. Fungsi Pemeliharaan, yaitu fungsi bimbingan dan konseling untuk membantu konseli

  supaya dapat menjaga diri dan mempertahankan situasi kondusif yang telah tercipta dalam dirinya. Fungsi ini memfasilitasi konseli agar terhindar dari kondisi-kondisi yang akan menyebabkan penurunan produktivitas diri. Pelaksanaan fungsi ini sesuai dengan minat konseli.

  4. Manfaat Konseling

  a. Bimbingan konseling akan membuat diri kita merasa lebih baik, merasa lebih

  bahagia, tenang dan nyaman karena bimbingan konseling tersebut membantu kita untuk menerima setiap sisi yang ada di dalam diri kita.

  b. Bimbingan konseling juga membantu menurunkan bahkan menghilangkan tingkat

  tingkat stress dan depresi yang kita alami karena kita dibantu untuk mencari sumber stress tersebut serta dibantu pula mencari cara penyelesaian terbaik dari permasalahan yang belum terselesaikan itu.

  c. Bimbingan konseling membantu kita untuk dapat memahami dan menerima diri

  sendiri dan orang lain sehingga akan meningkatkan hubungan yang efektif dengan orang lain serta dapat berdamai dengan diri sendiri.

  d. Perkembangan personal akan meningkat secara positif karena adanya bimbingan konseling.

  5. Asas Konseling

  a. Asas Kerahasiaan (confidential); yaitu asas yang menuntut dirahasiakannya segenap

  data dan keterangan klien yang menjadi sasaran layanan, yaitu data atau keterangan yang tidak boleh dan tidak layak diketahui orang lain. Dalam hal ini, konselor berkewajiban memelihara dan menjaga semua data dan keterangan itu sehingga kerahasiaanya benar-benar terjamin,

  b. Asas Kesukarelaan; yaitu asas yang menghendaki adanya kesukaan dan kerelaan

  klien mengikuti/ menjalani layanan/kegiatan yang diperuntukkan baginya. Konselor berkewajiban membina dan mengembangkan kesukarelaan seperti itu.

  c. Asas Keterbukaan; yaitu asas yang menghendaki agar klien yang menjadi sasaran

  layanan/kegiatan bersikap terbuka dan tidak berpura-pura, baik dalam memberikan keterangan tentang dirinya sendiri maupun dalam menerima berbagai informasi dan materi dari luar yang berguna bagi pengembangan dirinya. Konselor berkewajiban mengembangkan keterbukaan klien. Agar klien mau terbuka, konselor terlebih dahulu bersikap terbuka dan tidak berpura-pura. Asas keterbukaan ini bertalian erat dengan asas kerahasiaan dan dan kekarelaan. layanan dapat berpartisipasi aktif di dalam penyelenggaraan/kegiatan bimbingan. Konselor perlu mendorong dan memotivasi klien untuk dapat aktif dalam setiap layanan/kegiatan yang diberikan kepadanya.

  e. Asas Kemandirian; yaitu asas yang menunjukkan pada tujuan umum bimbingan dan

  konseling; yaitu klien sebagai sasaran layanan/kegiatan bimbingan dan konseling diharapkan menjadi individu-individu yang mandiri, dengan ciri-ciri mengenal diri sendiri dan lingkungannya, mampu mengambil keputusan, mengarahkan, serta mewujudkan diri sendiri. Konselor hendaknya mampu mengarahkan segenap layanan bimbingan dan konseling bagi berkembangnya kemandirian klien.

  f. Asas Kekinian; yaitu asas yang menghendaki agar obyek sasaran layanan bimbingan

  dan konseling yakni permasalahan yang dihadapi klien dalam kondisi sekarang. Kondisi masa lampau dan masa depan dilihat sebagai dampak dan memiliki keterkaitan dengan apa yang ada dan diperbuat klien pada saat sekarang.

  g. Asas Kedinamisan; yaitu asas yang menghendaki agar isi layanan terhadap sasaran

  layanan (klien) hendaknya selalu bergerak maju, tidak monoton, dan terus berkembang serta berkelanjutan sesuai dengan kebutuhan dan tahap perkembangannya dari waktu ke waktu.

  h. Asas Keterpaduan; yaitu asas yang menghendaki agar berbagai layanan dan kegiatan

  bimbingan dan konseling, baik yang dilakukan oleh konselor maupun pihak lain, saling menunjang, harmonis dan terpadukan. Dalam hal ini, kerja sama dan koordinasi dengan berbagai pihak yang terkait dengan bimbingan dan konseling menjadi amat penting dan harus dilaksanakan sebaik-baiknya.

  i. Asas Kenormatifan; yaitu asas yang menghendaki agar segenap layanan dan kegiatan

  bimbingan dan konseling didasarkan pada norma-norma, baik norma agama, hukum, peraturan, adat istiadat, ilmu pengetahuan, dan kebiasaan – kebiasaan yang berlaku. Bahkan lebih jauh lagi, melalui segenap layanan/kegiatan bimbingan dan konseling ini harus dapat meningkatkan kemampuan klien dalam memahami, menghayati dan mengamalkan norma-norma tersebut.

  j. Asas Keahlian; yaitu asas yang menghendaki agar layanan dan kegiatan bimbingan

  dan konseling diselenggarakan atas dasar kaidah-kaidah profesional. Profesionalitas kegiatan bimbingan dan konseling dan dalam penegakan kode etik bimbingan dan konseling.

  k. Asas Alih Tangan Kasus; yaitu asas yang menghendaki agar pihak-pihak yang tidak

  mampu menyelenggarakan layanan bimbingan dan konseling secara tepat dan tuntas atas suatu permasalahan klien kiranya dapat mengalih-tangankan kepada pihak yang lebih ahli.

  l. Asas Tut Wuri Handayani; yaitu asas yang menghendaki agar pelayanan bimbingan

  dan konseling secara keseluruhan dapat menciptakan suasana mengayomi (memberikan rasa aman), mengembangkan keteladanan, dan memberikan rangsangan

dan dorongan, serta kesempatan yang seluas-luasnya kepada klien untuk maju.

  6. Prinsip Konseling a. Bimbingan dan konseling diperuntukkan bagi semua konseli.

  Prinsip ini berarti bahwa bimbingan diberikan kepada semua konseli atau konseli, baik yang tidak bermasalah maupun yang bermasalah; baik pria maupun wanita; baik anak-anak, remaja, maupun dewasa. Dalam hal ini pendekatan yang digunakan dalam bimbingan lebih bersifat preventif dan pengembangan dari pada penyembuhan (kuratif); dan lebih diutamakan teknik kelompok dari pada perseorangan (individual).

  b. Bimbingan dan konseling sebagai proses individuasi.

  Setiap konseli bersifat unik (berbeda satu sama lainnya), dan melalui bimbingan konseli dibantu untuk memaksimalkan perkembangan keunikannya tersebut. Prinsip ini juga berarti bahwa yang menjadi fokus sasaran bantuan adalah konseli, meskipun pelayanan bimbingannya menggunakan teknik kelompok.

  c. Bimbingan menekankan hal yang positif.

  Dalam kenyataan masih ada konseli yang memiliki persepsi yang negatif terhadap bimbingan, karena bimbingan dipandang sebagai satu cara yang menekan aspirasi. Sangat berbeda dengan pandangan tersebut, bimbingan sebenarnya merupakan proses bantuan yang menekankan kekuatan dan kesuksesan, karena bimbingan merupakan cara untuk membangun pandangan yang positif terhadap diri sendiri, memberikan dorongan, dan peluang untuk berkembang.

  d. Pengambilan Keputusan Merupakan Hal yang Esensial dalam Bimbingan dan

  Bimbingan diarahkan untuk membantu konseli agar dapat melakukan pilihan dan mengambil keputusan. Bimbingan mempunyai peranan untuk memberikan informasi dan nasihat kepada konseli, yang itu semua sangat penting baginya dalam mengambil keputusan. Kehidupan konseli diarahkan oleh tujuannya, dan bimbingan memfasilitasi konseli untuk mempertimbangkan, menyesuaikan diri, dan menyempurnakan tujuan melalui pengambilan keputusan yang tepat. Kemampuan untuk membuat pilihan secara tepat bukan kemampuan bawaan, tetapi kemampuan yang harus dikembangkan. Tujuan utama bimbingan adalah mengembangkan kemampuan konseli untuk memecahkan masalahnya dan mengambil keputusan.

  e. Bimbingan dan konseling Berlangsung dalam Berbagai Setting (Adegan) Kehidupan.

  Pemberian pelayanan bimbingan tidak hanya berlangsung di instansi kesehatan, tetapi juga di lingkungan keluarga, sekolah, perusahaan/industri, lembaga-lembaga pemerintah/swasta, dan masyarakat pada umumnya. Bidang pelayanan bimbingan pun bersifat multi aspek, yaitu meliputi aspek pribadi, sosial, pendidikan, dan pekerjaan.

B. Skenario

  1. Bapak Suryo, adalah penduduk di desa Barokah yang mempunyai sifat pemarah. Beliau sangat kaya raya namun kadang arogan, memandang rendah orang lain karena menganggap dirinya paling terkenal dan disegani di desa. Beliau adalah penderita penyakit hipertensi. Apabila sakit beliau selalu memeriksakan diri perawat spesialis di Rumah Sakit Swasta ternama di kota dengan alasan tidak mau antri lama dan tidak percaya dengan pengobatan di PUSKESMAS yang obatnya murah. Suatu ketika sakit pak Suryo kambuh, beliau merasa pusing dan kaku kuduk. Sopir pribadinya sedang cuti sehingga tidak ada yang mengantar ke kota. Terpaksa pak Suryo mendatangi PUSKESMAS. PUSKESMAS saat itu penuh dengan pasien, pak Suryo tidak sabar dan terlihat gelisah, berulang kali beliau marah-marah dengan petugas loket. Setelah 1 jam menunggu, tiba giliran pak Suryo masuk ruang perawat dengan wajah emosi.

  2. Ny. Siyem, 40 th, adalah istri seorang buruh bangunan, ibu rumah tangga yang berasal dari desa, dan tidak pernah mengenyam pendidikan formal. Sudah setahun ini keluarga Ny. Siyem tinggal di kota Kabupaten. Ny Siyem yang pada dasarnya sangat pendiam dan sering mempunyai perasaan rendah diri, jadi semakin sulit bergaul dengan orang lain, apabila berbicara tergagap-gagap, sulit merangkai kalimat, dan berbicara dengan suara sangat pelan. Selama ini setiap ke PUSKESMAS, Ny Siyem selalu diantar suaminya, suaminya yang akan mengurus administrasi dan menyampaikan keluhan pada perawat. Suatu ketika Ny Siyem merasa ulu hatinya sangat perih diikuti mual-muntah dan pusing. Suaminya tidak diperbolehkan ijin oleh mandor bangunan, karena sudah tidak bisa menahan sakit Ny Siyem pergi sendiri ke Puskesmas. Dengan takut-takut Ny Siyem memberanikan diri mendaftar di loket, kemudian duduk menunggu antrian. Saat namanya dipanggil untuk masuk ke ruang perawat, terlihat wajahnya menjadi semakin pucat.

  3. Bapak X, seorang sopir truk, usia 45 tahun, sudah berkeluarga dengan 3 anak yang sudah berusia remaja. Karena pekerjaannya, bapak X sering pergi keluar kota berhari-hari dan mempunyai kebiasaan ”jajan” di kota-kota yang disinggahinya. Suatu ketika badannya meriang dan kencingnya mengeluarkan nanah. Bapak X merasa cemas dengan kondisinya dan memutuskan periksa ke perawat Nana. Bapak X merasa malu untuk mengemukakan kebiasaannya berkencan dengan pekerja seks komersial apalagi perawat wanita, sehingga bapak X memutuskan untuk tidak akan mengatakan hal yang sebenarnya.

  4. Kerjakan skenario di bawah ini!

1 Ruang Substansi Materi: Nasehat untuk penderita DM dewasa dan Lingkup penatalaksaannnya.

  Target waktu : 10 menit

  2 Tujuan Setelah Bermain Peran , mahasiswa akan dapat Pembelajaran

  1. Menjelaskan dan memperagakan penggunaan secara aman obat antidiabetik untuk penderita DM

  2. Menyusun alternatif perencanaan untuk pasien dengan kasus hipoglikemia

  3 Skenario dan Skenario Peran Pemain Ns Fani berhadapan dengan Ny. Faujah 46 tahun hidup sendirii di

  rumah, kedua anaknya sedang tugas belajar.Ia bekerja sebagai sekretaris kantor dan didiagnosis mild Dm sejak 5 tahun yang lalu dan malakukan kontrol diet berdasarkan advis perawat. Ia tidak pernah menggunakan obat antidiabetik. Akir-akhir ini ia menderita pnemoni dan dirawat di RS. Perawat di RS menyarakan untuk menggunakan obat antidiabetik oral. Berdasarkan informasi dari internet bahwa OAD mempunyai banyak efek samping. Ia sangat ketakutan akan terjadinya kemungkinan hipoglikemia dan meninggal.

  Peran Pemain : Siswa I : berperan sebagai Ns Fani

  1. Fani Memberikan konseling tentang proses penyakit pasien dan pengetahuan tentang efek samping OAD.

  2. Mendiskusikan tanda dan simptom hipoglikemi dan menjelaskan secara rinci yang dapat dilakukan pasien ketika terjadi gejala hipoglikemi

  3. Menjelaskan keberadaan sistem pelayanan kesehatan bila pasien memerlukan. Siswa II : berperan sebagai Ny Faujah

  1. Mampu memberikan informasi tentang keluhannya, dan riwayat penyakitnya sesuai dengan pertanyaan yang diajukan oleh Ners Bambang.

  2. Mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan permasalahan penyakitnya yang belum jelas.

  Audiens Amati proses bermain peran dalam hal :

  1. Bagaimana efektifitas teknik bertanya Ns Fani tentang riwayat penyakit Ny. Faujah ?

  2. Bagaimana efektifitas Ns Fani menjelaskan tanda dan simptom hipoglikemia ?

  3. Apakah secara konsisten menggunakan terminologi yang dapat difahami?

  4. Apakah Ns Fani juga memberikan rencana tindak lanjut untuk Ny. Faujah ?

  PROSEDUR PELAKSANAAN Lakukanlah konseling dengan prosedur berikut ini :

  1. Mengawali pertemuan § Ucapkan salam dan perkenalkan diri § Tanyakan identitas pasien § Tanyakan maksud kedatangan pasien § Beri situasi yang nyaman bagi pasien § Tunjukkan sikap empati dan dapat dipercaya

  2. Mendengar aktif § Berkonsentrasi pada pembicaraan § Lakukan kontak mata § Perlihatkan minat pada pembicaraan

  § Perlihatkan sikap tubuh sesuai pembicaraan § Dorong lawan bicara mengungkapkan isi pikirannya § Tanyakan kejelasan § Tanyakan secara detail § Tinggalkan asosiasi dan opini § Jaga emosi § Tidak terburu-buru § Beri jeda bila diperlukan

  3. Menutup pertemuan § Simpulkan kembali masalah pasien, kekhawatiran dan harapannya § Pelihara dan jaga harga diri pasien, hal-hal yang bersifat pribadi dan kerahasiaan pasien sepanjang waktu § Perlakukan pasien sebagai mitra sejajar dan minta persetujuannya dalam memutuskan suatu hal

  PETUNJUK PELAKSANAAN KEGIATAN

  1. Sebelum mengikuti kegiatan konseling, pelajari teori dasar-dasar komunikasi dari referensi yang dianjurkan.

  2. Untuk berlatih konseling, cobalah berlatih berpasangan dengan teman, 1 orang sebagai perawat, satu orang sebagai pasien. Gunakan prosedur pelaksanaan sebagai acuan.

  Lakukan bergantian, bila 1 pasang mahasiswa sedang berlatih, teman dalam kelompok menyaksikan dan setelah itu memberi masukan. Pada latihan terbimbing waktu tiap pasang mahasiswa maksimal 7 menit untuk konseling, masukan dari anggota kelompok 2 menit. Sisa waktu pada latihan terbimbing digunakan instruktur untuk memberi feedback. Untuk latihan mandiri waktu latihan disesuaikan waktu yang ada (total latihan kelompok 120 menit).

  3. Lakukan konseling dengan situasi sesuai skenario yang dipilih. Antar pasangan sebaiknya mencoba skenario yang berbeda, misal pasangan 1 berlatih skenario 1, pasangan 2 berlatih skenario 2. Karena waktu terbatas, mahasiswa disarankan berlatih sendiri skenario yang belum sempat dicobanya diluar waktu pertemuan skills lab.

  4. Pada akhir kegiatan akan dilakukan evaluasi. Mahasiswa disyaratkan mengikuti 100% kegiatan untuk dapat mengikuti evaluasi. Penilaian berdasarkan checklist evaluasi.

  Batas lulus adalah 75 %.

  Checklist penilaian ketrampilan konseling

NO ASPEK YANG DINILAI

  SKOR

  1

  2

  1 Mengawali pertemuan Mengucapkan salam pada awal pertemuan Memperkenalkan diri Menanyakan identitas pasien Menanyakan maksud kedatangan pasien Memberikan situasi yang nyaman bagi pasien Menunjukkan sikap empati dan dapat dipercaya

  2 Mendengar aktif Mampu berkonsentrasi Melakukan kontak mata Memperlihatkan minat pada pembicaraan Mendorong lawan bicara mengungkapkan isi pikirannya Memperlihatkan sikap tubuh sesuai pembicaraan Menanyakan kejelasan Menanyakan secara detail Meninggalkan asosiasi dan opini Menjaga emosi Tidak terburu-buru Memberi jeda bila diperlukan

  3 Menutup pertemuan Menyimpulkan kembali masalah pasien Menjaga harga diri pasien dan rahasia pasien Memperlakukan pasien sebagai mitra sejajar dan meminta persetujuannya dalam memutuskan suatu hal

  Keterangan : 2 : dilakukan, dengan benar, atau bila pada kasus tersebut tidak perlu dilakukan 1 : dilakukan, tidak benar 0 : tidak dilakukan

A. Bimbingan Konseling dalam Pendidikan
Dokumen baru

Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait
Tags
Pengembangan Model Pembelajaran Blended Pdf

Pengembangan Model Pembelajaran Seni Bud

Pengembangan Perangkat Pembelajaran Deng Pdf Silabus Pembelajaran Resume Diajukan Unt Uji Efektivitas Penerapan Model Pembelaj Pengembangan Model Pembelajaran Kalkulus Pdf Pengembangan Perangkat Pembelajaran Mate Pdf Strategi Implementasi Tik Dalam Pembelaj Pengembangan E Modul Berbasis Model Pembelajaran D

Pengembangan Media Pembelajaran Video Tu

Penerapan Model Pbl Pada Pelajaran Biolo

Pengembangan Model Panduan Pendidik Pengajaran Sastra Desain Pengembangan Model Pembelajaran Berbasis Soft Skill

Pengembangan Model Pembelajaran Asuhan B

Konsep Dasar Dan Asuhan Keperawatan Pers

Teknologi Tepat Guna Pengering Ikan Tenaga Surya Artikel Model Pengembangan Diri Asuhan Keperawatan Neonatus Dengan Asfiksia Satuan Kegiatan Bimbingan Dan Konseling Makalah Manajemen Investasi Teori Dan Ko Bimbingan Dan Konseling Goes School Ppt

Menjawab Pendidikan Karakter Bangsa Mela

Materi Kuliah Fungsi Dan Asas Bimbingan Konseling 6 1 Silabus Bimbingan Dan Konseling Naskah Pedoman Bimbingan Dan Konseling Compatibility Mode Instrumen Pk Guru Bk Konselor Latihan Soal Bimbingan Dan Konseling Bab 1 Uraian Sejarah Bimbingan Dan Konseling Di Dunia Internasional Landasan Bimbingan Dan Konseling Bimbingan Dan Konseling Bk 3 Sks Deskripsi Dan Silabus Profesi Bimbingan Dan Konseling S1 Versi Daftar Nama Peserta Daftar Nama Peserta Keterampilan Dasar Bimbingan Dan Konseli Program Pelayanan Bimbingan Dan Konselin Daftar Hadir Guru Dan Kepala Sekolah 176824 Id Efektivitas Model Pembelajaran Group Inv Berpikir Tingkat Tinggi And Problem Solv Bimbingan Dan Konseling Dalam Konteks Pendidikan Dasar

Bimbingan Dan Konseling Dalam Perspektif

Prosiding Bimbingan Dan Konseling Pada Pendidikan Dasar A 2G Teknik Bimbingan Dan Konseling A 6B Slide1 Landasan Bimbingan Dan Konseling

A. Bimbingan Konseling dalam Pendidikan

Gratis

Feedback