Diterbitkan atas Kerjasama STPN PRESS dan Sajogyo Institute 2012

Gratis

0
0
943
1 year ago
Preview
Full text

PEMBENTUKAN KEBIJAKAN PEMBENTUKAN KEBIJAKAN PEMBENTUKAN KEBIJAKAN PEMBENTUKAN KEBIJAKAN PEMBENTUKAN KEBIJAKAN

  Hak Cipta merupakan hak eksklusif bagi Pencipta atau Pemegang Hak Cipta untuk mengumumkan atau pembatasan menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku. 1 (satu) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp 1.000.000,00 (satu juta rupiah), atau pidana penjara paling ayat (1) atau Pasal 49 ayat (1) dan ayat (2) dipidana dengan pidana penjara masing-masing paling singkat Penyunting: Mohamad ShohibuddinM.

PERTANAHAN NASIONAL

  Endriatmo Soetarto, MA Bila membaca buku ini, sebagai dokumen yang mere- kam perjalanan Simposium Agraria Nasional untuk Pem-bentukan Kebijakan Pembaruan Agraria sebagaimana dimuat di dalamnya, maka ada simpul penting yang segera dapatkita tangkap yaitu gambaran apa dan siapa ‘daya penen- tangnya’ dan apa dan siapa ‘daya yang mendambakan peru-bahan’ atas gagasan Pembaruan Agraria itu. Generasi ini adalah produk dari politik Orde Baru yang melaranganak-anak sekolah, pelajar, dan mahasiswa mempelajari masalah agraria dan bahkan oleh rezim ini pun kita tahuUUPA juga dipeti-eskan.

DAFTAR ISI

  Kelembagaan untuk Delivery System dalamPelaksanaan Program Pembaruan Agraria Nasional:Peran Departemen PertanianOleh Ahmad Suryana dan Erizal Jamal (Badan Penelitian dan Pengembangan, Departemen Pertanian) ~ 543 35. Reforma Agraria untuk Keadilan Sosial dan Pembentukan Kebijakan Reforma Agraria Kesejahteraan Rakyat: Pelaksanaannya di Masa Lalu dan Revitalisasinya Pada Saat IniOleh Moh.

AGRARIA NASIONAL?

Oleh Noer Fauzi Rachman (Direktur Eksekutif Sajogyo Institute) ~ 895 Tentang Penyunting ~ 901 Pengantar Penyunting PEMBENTUKAN KEBIJAKAN

REFORMA AGRARIA, 2006-2007

  Sumber yang kedua adalah bahan-bahan yang dipresen- tasikan, diedarkan dan didiskusikan dalam dua forum pem- bahasan dan perumusan hasil-hasil seri Simposium Agraria dalam arena proses kebijakan reforma agraria dan pelaksanaannya, lihat Borras (2007) Pembentukan Kebijakan Reforma Agraria Nasional. Sumber keempat , dan yang terakhir, adalah tulisan-tulisan di luar tiga simposium dan dua forum yang disebutkanterdahulu, namun ditulis pada periode yang sama (2006-2007), dan berasal dari mereka yang secara sadar memilih berbagai cara, pendekatan dan metode yang berlainan untukturut mempengaruhi kebijakan reforma agraria yang sedang disiapkan oleh pemerintah.

Bagian II , yang berasal dari simposium agraria kedua

  Apa yang terjadi adalah BPN yangterkucil dalam lingkungan ego-sektoral dari badan-badan pemerintah lain; reforma agraria yang menjadi urusan teknisBPN semata, alih-alih menjadi sebuah agenda nasional; proses legislasi PP Reforma Agraria yang berjalan di tempat;dan pelaksanaan redistribusi tanah terjebak pada legalisasi asset semata. Penghargaan dan rasa terima kasih yang sebesar-besar- nya juga disampaikan kepada para penulis yang karyanyadihimpun dalam buku ini, baik yang berhasil dihubungi dan diminta ijinnya secara langsung maupun yang tidak berhasildihubungi (disertai permohonan maaf untuk yang terakhir).

TANTANGAN REFORMA AGRARIA

  Kebijakan sema-cam ini tidak hanya merubah drastis struktur penguasaan, pemilikan, penggunaan dan pemanfaatan tanah (land-reform) yang kemudian berujung pada proses eksklusi, marjinalisasi dan kemiskinan masyarakat desa; tetapi secarasistematis dan perlahan juga menghapus pengetahuan/dis- kursus agraria dari bangku perguruan tinggi seperti yangpenulis saksikan di akhir 1977. Dalam penglihatan yang sebaliknya,maka tingginya tingkat kemiskinan dan pengangguran (ter- utama di pedesaan dan pertanian), belum adilnya tatanankehidupan bersama, serta sengketa dan konflik pertanahan yang bak benang kusut di seluruh tanah air tidak terlepasdari persoalan ketidakadilan struktural yang berkait dengan hubungan antara manusia/masyarakat dengan tanah yangbersifat timpang (Winoto 2006).

B. Komitmen Baru Pemerintah dan Pentingnya Simposium

  Komplikasi ini dan aneka dampaknya dewasa ini sema- kin disadari telah menciptakan ancaman yang mendasar bagikeberlanjutan sistem kemasyarakatan, kebangsaan dan kenegaraan kita sehingga upaya penanganan dan penye-lesaiannya secara komprehensif menjadi sebuah imperatif tersendiri. Dengan digulirkannya kebijakan semacam ini, maka tantangannya kemudian adalah bagaimana mendesain PPANini sehingga bisa dilaksanakan secara terpadu dan diorien- Pembentukan Kebijakan Reforma Agraria 2006-2007 tasikan pada penataan ulang struktur penguasaan agraria dan penyediaan pro-gram-program pendukungnya yang lebihluas (baca: reformasi aset dan akses).

C. Tujuan Penyelenggaraan Simposium

  Melahirkan pemikiran dan terobosan kebijakan untuk memecahkan berbagai persoalan keagrariaan yang diha-dapi bangsa Indonesia. Memperjuangkan kepentingan rakyat banyak dalam memperoleh akses pada tanah sebagai sumber kesejah-teraan dan keadilan.

D. Pelaksana Kegiatan

  Kedua, kesenjangan antara impe- ratif pelaksanaan pembaruan agraria (baik yang berasal darituntutan cita-cita kemerdekaan, nilai-nilai luhur kebangsaan dan konstitusi maupun tuntutan dari kenyataan di lapangan)dengan perangkat hukum, kebijakan dan kelembagaan yang ada untuk pelaksanaannya. Bahkan pucuk pimpinan nasional telah menggariskan agenda pembaruan agrariadalam visi dan misi pemerintahannya yang disebutkan dalam dua konteks, yakni dalam agenda: “perbaikan dan pencip-taan kesempatan kerja” dan “revitalisasi pertanian dan akti- vitas pedesaan”.

B. Kerangka Acuan Khusus untuk Simposium Pertama

  Melalui Simposium ini diharapkan dapat dilahirkan berbagai pemikiran kritis, terobosan kebijakan, dan konsen-sus luas untuk mendukung upaya pemerintah di dalam Pembentukan Kebijakan Reforma Agraria 2006-2007 memberikan jawaban terhadap komplikasi persoalan agraria yang telah diuraikan di atas. Simposium ini sendiri merupakan bagian dari tiga seriSimposium Agraria Nasional yang dilaksanakan di tiga tem- pat terpisah, yaitu berturut-turut di Medan, Makasar danJakarta, yang masing-masing membahas tiga topik besar yang berbeda namun saling berkaitan.

15 November 2006

  Oleh karena itu, kita harus mem- bangun konsensus bersama bagaimana menyelenggarakanreforma agraria ini secara baik di Indonesia; tentu dengan beberapa catatan yaitu memanfaatkan akumulasi penge-tahuan yang telah berkembang di tanah air dan akumulasi pengetahuan dan pengalaman reforma agraria di negara-negara lain. Ada harapan saya yang saya sampaikan, yakni di ujung perjalanan dari simposium dan seminar nasional berangkaiini kita bisa merumuskan secara jelas apa program reforma agraria yang kita maksudkan tersebut, bagaimana kitamenjalankannya, dan bagaimana dari delivery system-nya untuk memastikan ketika reforma agraria itu sudah selesaikita lakukan, pengelolaan ke depannya itu sudah dapat kita Pembentukan Kebijakan Reforma Agraria 2006-2007 pikirkan sejak sekarang ini.

10 March>

  Masalah keagrariaan di Indonesia M. Shohibuddin & M.

I. Argumen para Penolak Agraria

  Nazir S (Penyunting) pemerintah negara berkembang menyandarkan diri kepada pemilik modal kuat atas dua alasan: bantuandana dan dukungan politik (suara dalam pemilu) (b) Perlu biaya besar(c)Perlu organisasi yang rapi, dan kesanggupan mengendalikan gejolak (konflik) yang menyertaiperombakan struktur yang mendasar II. Karena itu perlu diciptakankondisi tersebut melalui redistribusi penguasaan tanah.(b) Para penganut ekonomi neo-klasik pada umumnya mengambil jalur argumen sebagai berikut: Walaupunpetani kecil lebih efisien dalam hal memanfaatkan tanah dan modal, dan lebih intensif menggunakantenaga kerja, dibanding petani kaya, namun petani M.

III. Kontra-Argumen Terhadap Argumen para Penolak

  Karena RA itu modelnyaada bermacam-macam, maka kalaupun kepadatan penduduk menjadi kendala, dapat dipilih modal yangsesuai.(2) Walaupun mungkin benar bahwa dengan kemahjuan teknologi, potensi sumberdaya non-tanah dapat diman-faatkan sebagai sumber bahan makanan, namun selama manusia belum sama sekali bebas dari bahan makananyang berasal dari bumi, maka selama itu masalah tanah tetap penting artinya. Jika hanya segelintir orang, inilah sumber keresahan dan ketidakadilan (4) Keberatan yang keempat merupakan alasan yang dibuat-buat, sedemikian rupa sehingga terbentuk citrabahwa karena begitu sulitnya maka RA tidak perlu dilak- sanakan.

KONFLIK KEAGRARIAAN DI TANAH-AIR

  Sebaliknya pelaku-pelaku ekonomi di Indonesia sepanjang masa Orde Baru dan juga dalam kadar lebih rendah kini, terdiridari pada pelaku-pelaku yang memiliki hubungan bisnis dan interest erat dengan birokrasi, exekutif dan militer. Keempat, data konflik agraria yang ada memperlihatkan bahwa sebagian besar konflik ada pada sektor-sektor –seperti perkebunan, kehutanan, kawasan industri - yang mengindikasikan konflik-konflik yang menyangkut orangbanyak, komunitas sebagai keseluruhan dan menyangkut instansi-instansi pemerintah.

1. Sentralisasi SDA oleh Negara dan Sengketa Agraria

  Terutama di Jawa, peme-rintahan de desa berkembang menjadi bagian integral dari pemerintah pusat (kolonial), mengabdi dan loyal pada ke-2 pentingan pemerintahan pusat (kolonial) dan modal besar.2 Beberapa studi mengenai transformasi sistim colonial ini lihat: Pembentukan Kebijakan Reforma Agraria 2006-2007 Masa pemerintahan Sukarno memperlihatkan gabungan unik dari manajemen sumberdaya alam yang konvensionaldan usaha reforma agraria pertama (dan sampai kini terakhir) pasca kemerdekaan. Nazir S (Penyunting) sumberdaya pemerintah, swasta dan teknologi yang ada – mungkin juga ditambah oleh boikot negara-negara industriBarat terhadap Indonesia yang mengambil sikap pro-keman- dirian Dunia ke III – belum mampu memanfaatkan sumber-daya alam tersebut secara modern dan besar-besaran.

3 Untuk pembahasan detail kontroversi klaim Dep. Kehutanan terhadap

  ICRAF.4 Masyarakat adat di luar Jawa, mengembangkan sistim penghidupan teradaptasi dengan tanah yang kurang subur, penduduk yang kecil sertateknologi sederhana – mengembangkan pertanian extensive, dengan sistim agroforestry dikombinasikan dengan pemanfaatan hail hutan,terutama hasil hutan non-kayu (getah, rotan). Dengan cepat masyarakat ini menyesuaikan sistim agroforestri mereka dengan meningkatnyakebutuha pasar internasional akan bahan mentah seperti karet, produk- produk getah lain, kopi, rotan, tengkawang, dll.

2. Ragam Konflik

  Sengketa kategori ini terjadijuga antara petani dengan instansi angkatan bersenjata, atas tanah-tanah yang diduduki petani pada masa revolusi fisik,atau atas tanah yang diambil alih dari petani secara paksa oleh pemerintah kolonial untuk kepentingan militer. Nazir S (Penyunting) Tindakan Kekerasan Terhadap Petani dan Aktifi PembelaPetani Yang Berjuang Merebut dan Mempertahankan Tanah Pada Era ReformasiSumber: KPA, 2000 Usaha menguraikan komplesitas sengketa agraria kedalam faktor-faktor yang melatarinya membuat jelasbahwa kita tidak berhadapan dengan sengketa biasa yang dapat diselesaikan melalui jalur-jalur konvensional.

3. Urgensi Reforma Agraria

  Konflik-konflik agraria yang muncul akibat perbedaan persepsi dan kepentingan yang menyangkut sumberdaya alam dan tanahini, dengan sendirinya hanya dapat diselesaikan dengan mengadakan perubahan yang cukup mendasar pada pendekatan,manajemen dan pemanfaatan sumberdaya alam dan tanah tersebut: Dalam kata lain Reforma Agraria. Sengketa agraria modernsengketa agraria yang meletakkan masyarakat lokal sengketa agraria yang meletakkan masyarakat lokal berhadapan dengan negara (kolonial) dalam rangkapengintegrasian ekonomi lokal dan sumberdaya lokal kedalam ekonomi dunia melalui kelembagaan ekonomidan teknologi baru.

CIRI STRUKTURAL DARI SENGKETA AGRARIA

  Data konflik agraria yang ada memperlihatkanbahwa sebagian besar konflik ada pada sektor- sektor – seperti perkebunan, kehutanan,kawasan industri - yang mengindikasikan kawasan industri yang mengindikasikankonflik-konflik yang ¼ menyangkut orang banyak ¼ komunitas sebagai keseluruhandan ¼ menyangkut instansi-instansi pemerintah 5. i l di i i k t Pemberlakuan Agrarische Wet 1870 – dengan intiDomein Verklaring – pelembagaan tanah negara yang mengabdi pada kepentingan modal besar.

TIGA KOMPLEKS-FAKTOR MELATARI SENGKETA AGRARIA

  kategori sengketa agraria yang dipicu oleh 3 kategori sengketa agraria yang dipicu oleh ¼pendefinisian secara sepihak oleh negara kawasanhutan dan tanah negara, disertai oleh ¼ pengabaianhak-hak adat masyarakat lokal. Konflik-konflik agraria yang muncul akibat perbedaan persepsi dan kepentingan yang menyangkutsumberdaya alam dan tanah ini: y ¼ hanya dapat diselesaikan dengan mengadakanperubahan yang cukup mendasar pada pendekatan, manajemen dan pemanfaatan sumberdaya alam dantanah tersebut: Dalam kata lain Reforma Agraria.

KELEMBAGAAN PENYELESAIAN SENGKETA

¾ Adalah esensial membangun kelembagaan resolusi konflik pada berbagai tingkat.¾ Salah satu prinsip penting adalah membangun kelembagaan resolusi konflik pada tingkat paling rendah.¾ Pendekatan legal pluralism Î membantumempertinggi sensitifitas orang akan : ƒ perbedaan-perbedaan norma, ƒ perbedaan aturan dan perbedaan aturan dannilai-nilai yang melandasi manajemen pemanfaatan ƒ sumberdaya alam dan tanah. MEMPERTANYAKAN POSISI SISTEM TENURIAL LOKAL DALAM PEMBARUAN AGRARIA DI INDONESIAMyrna Safitri*

I. Pendahuluan

  Dengan mengartikan pembaruan agraria sebagai suatu proses yang berkesinambungan berkenaan dengan penataankembali penguasaan, pemilikan, penggunaan dan peman- faatan sumber daya agraria, dilaksanakan dalam rangkatercapainya kepastian dan perlindungan hukum serta keadilan dan kemakmuran bagi seluruh rakyat Indonesia,TAP MPR No. Apakah ada perubahan yang progresif dalam hal pengakuan dan perlindungan sistem-sistem tersebut di tengah terus ber-gantinya kebijakan dan munculnya inisiatif dan program- program yang dialamatkan pada terlaksananya pembaruanagraria?

II. Salah Kaprah terhadap Sistem Tenurial Lokal

  Pada kelom-pok yang secara kategoris dipandang sebagai masyarakat adat, sistem tenurial ini muncul dalam berbagai sebutanseperti halnya ‘ulayat’ di Sumatera Barat, ‘petuanan’ diMaluku, ‘marga’ di Lampung, ‘simpukng’ pada masyarakatBenuaq di Kalimantan Timur, dan lain sebagainya. Pada banyak komunitas, keterkaitan antara tanah dan identitas kultural ini sangat kuat sebagaimana muncul melalui pernyataan dan mito-logi lokal yang menggambarkan bagaimana tanah dipersepsikan sebagai ‘ibu’ yang menjadi cikal bakal sertamelahirkan kehidupan pada komunitas tersebut.

III. Pembaruan Agraria dan Sistem Tenurial Lokal:

  Hak-hak yang muncul dari relasi sosial dalam teritori tersebut menda-patkan legitimasi dan dilindungi serta ditegakkan oleh komunitas yang bersangkutan, bukan oleh kekuatanpolitik dan ekonomi yang berasal dari luar komunitas, seperti halnya negara. Nazir S (Penyunting) negara melainkan tanah rakyat yang dikuasai dengan hak yang jelas yang diakui dan dilindungi oleh negara.o Untuk mendukung perlindungan terhadap tanah komunal itu maka komunitas lokal perlu diperlakukan sebagaisubyek hukum sama halnya dengan perorangan atau badan hukum.

IV. Catatan Penutup: Menggagas Hak Pengelolaan Komunitas sebagai sebuah opsi

  Sebagaimana galibnya pemegang hak pengelolaan publik, maka pemegang hak pengelolaan komunitas mem-punyai kewenangan untuk mengaloksikan dan mengatur peruntukan dan penggunaan tanah dan sumber daya ter-masuk memberikan hak-hak pemanfaatan tanah kepada anggota komunitas sesuai dengan pranata lokalnya. Dengan kata lain, pengembangan konsep hak pengelo- laan komunitas juga bisa menjadi titik masuk yang baikbagi terwujudnya pembaruan agraria yang mampu men- dorong pembagian kekuasaan yang adil antara negara danrakyat serta mendukung penguatan pengaturan lokal dalam ranah penguasaan tanah dan sumber daya alam.

PENGALAMAN LINTAS NEGARA

  Ketiga bagian penting ini tak lain adalah untuk mendukung investasi, kemudahan prosestransaksi jual beli dan sewa tanah dengan mewujudkan pasar tanah yang mudah dan ekuitabel, dan meningkatkan efisiensitanah (sebagai jaminan kredit misalnya), sehingga peran M. Di masa kerajaan hingga jaman negara (nation-state),sebenarnya ide-ide tentang suatu upaya korektif untuk Pembentukan Kebijakan Reforma Agraria 2006-2007 menata ulang struktur agraria yang timpang, yang memung- kinkan eksploitasi manusia atas manusia, menuju tatananbaru dengan struktur yang bersendi kepada keadilan agraria sudah dimulai.

a. Asia: Dari kesuksesan Jepang hingga mandeg di Filipina

  Hal ini diikuti oleh Taiwan yang membagikan 44 persen lahan yang ada,dan yang sangat mengagumkan adalah bahwa Prosteman(2003, seperti yang dikutip Saiful Bahari, 2004) mengklaim bahwa dari seluruh lahan yang dibagikan itu ternyata sampaike seluruh lapisan petani kecil dan tak bertanah yang ada di Taiwan (atau terserap sempurna 100 persen). Adanya UU Land Reform membuatkerangka konstitusi gerakan pembaruan agraria menjadi Pembentukan Kebijakan Reforma Agraria 2006-2007 semakin maju, dan digunakan oleh gerakan petani macamUNORKA (Koordinasi Nasional Organisasi MasyarakatPedesaan yang Otonom) untuk melegitimasi okupasi lahan perkebunan dari satu area ke area lainnya.

b. Afrika: Market-assisted land reform di Afrika Selatan dan Mesir

  Perbedaan antara pembaruan agraria sejati (genuine agrarian reform) dan pembaruan agraria palsu (market-assisted land reform) Syarat-syarat berhasilnya gerakan pembaruan agraria Harus dimengerti, bahwa gerakan pembaruan agraria sebenarnya adalah gerakan yang bersifat sosial, yakni yangdikatakan Gunawan Wiradi (2004) lebih sebagai program Pembentukan Kebijakan Reforma Agraria 2006-2007 pemerataan. Sebagian lagiada yang melakukannya setengah-setengah atau terputus, seperti pengalaman Filipina dan Indonesia yang hanyamelakukan gerakan pembaruan agraria yang direncanakan secara masif pada era 1960-an.

b. Suara yang mulai terdengar: pengaruh gerakan petani dalam forum dunia

  Seperti yang telah disebutkan di atas, bahwa ormas tani dalam gerakan pembaruan agraria harus juga berperan seba-gai bagian integral gerakan sosial yang lebih luas di dalam dan luar negeri—hal ini menjadi fenomena yang tidak ter-bantahkan dewasa ini. Neoliberalisme mewujud dalam kebijakan-kebijakan yang dipaksakan oleh World Bank dan IMF dalam bidang agrariadan pertanian—seperti yang terjadi dalam kasus Land Ad- ministration Project (LAP) I dan II di Indonesia pada kurunwaktu 1995-1999 dan 2001-2004, dan implementasi LPRR(Land Policy Research Report) dan Land Policies for Growth and Poverty Reduction di berbagai belahan dunia lain.

Dokumen baru

Tags

Press Release Kerjasama Ksei Dukcapil Kemendagri Daftar Sk Inpassing Tahun 2012 Yang Telah Diterbitkan Dan Kerjasama Training Institute Kemitraan Dan Kerjasama Memorial Institute Freedom Institute Diterbitkan Oleh Asisten Deputi Olahraga Telah Diterbitkan Dalam Manajemen Pemban Diterbitkan Oleh Penyajian Laporan Keuan
Show more

Dokumen yang terkait

Pokok-pokok pikiran "integrasi" SDKI, SKRT dan SUSENAS dalam mendukung kebutuhan Informasi Program Pembangunan
0
0
5
Tugas Panitia Etik Perawatan dan Penggunaan Hewan Percobaan Untuk Penelitian Biomedis
0
0
5
Epidemiologi AIDS dan Strategi Pemberantasan di Indonesia
0
0
5
PERBANDINGAN KEMATIAN NYAMUK Aedes aegypti dan Culex quinquefasdatus PADA PENGASAPAN (THERMAL FOGGING) DAN PENGKABUTAN (ULV) DENGAN INSEKTISIDA GOKILAHT-S 50 EC (d-d-trans-cyphenothrin 50 g1)
0
0
9
SELUK BELUK MENOPAUSE | Ghani | Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
0
0
5
Laporan Tahunan Balai Penelitian dan Pengembangan Biomedis Papua Tahun 2017|
0
0
46
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang - LAK PTTKEK Tahun 2012
0
2
22
2. Memahami prinsip-prinsip pengelompokan makhluk hidup. 2.4 Mendeskripsikan ciri-ciri dan jenis-jenis jamur berdasarkan hasil pengamatan,percobaan,dan kajian literatur serta peranannya bagi kehidupan - LP 1
0
2
10
Benedict Anderson – Nasionalisme Indonesia Kini dan di Masa Depan
0
0
42
Telaah Normatif dan Historis Perjuangan Islam dalam Merombak Ketidakadilan Agraria
0
0
99
Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan Commission for The Disappeared and Victims of Violence
0
0
285
Pemetaan Perempuan dan Pemiskinan dalam Kerangka HAM
0
0
112
Pengembangan Kebijakan Agraria untuk Keadilan Sosial, Kesejahteraan Masyarakat, dan Keberlanjutan Ekologis
1
1
233
Plekhanov – Seni dan kehidupan Sosial
0
0
87
Rachman dan Savitri – Kapitalisme, Perampasan Tanah Global, dan Agenda Studi Gerakan Agraria
0
0
52
Show more