Muhammad Rifai Politik Pendidikan Nasion

 0  0  6  2018-09-16 23:06:20 Report infringing document

  Nama : Ricko Valentino NIM : 1220410225 Kelas : MKPI-B Topik : Pe merataan dan Mutu Pendidikan Nasional

Review 7

  Muhammad Rifai, Politik Pendidikan Nasional, Jakarta: Ar-Ruz Media, 2011; hal. 131-164

BAB VI PEMERATAAN PENDIDIKAN NASIONAL BELUM TERCAPAI Dilihat dari tujuan pendidikan nasional terkait pencerdasan seluruh rakyat Indonesia terutama pemeratan pendidikan. Apakah pendidikan nasional sudah bisa

  diakses oleh semua golongan dan kelas dari msyarakat Indonesia? Kalau belum, golongan dan kelompok mnakah yang belum menerima atau mengakses tersebut? Mengapa hal itu bisa terjadi?

  Rina Ngesty Anggraini memberikan pemetaan tentang persoalan pemerataan pendidikan yang tidak merata, yaitu; (1) Perbedaan tingkat sosial ekonomi masyarakat, (2) perbedaan fasilitas pendidikan, (3) sebarn sekolah tidak merata, (4) nilai masuk sebuah sekolah dengan standar tinggi, dan (5) Rayonisasi. Dari pemetaan tersebut Rina mengajak kita untuk lebih realistis dalam melihat bagaimana keberhasilan sebuah program pemerataan pendidikan oleh pemerintah terkait lima faktor di atas, tidak hanya sekedar merumuskan program tanpa sebuah

  Di dalam buku Reformasi Pendidikan dalam Kontek Otonomi Daerah oleh Fasli Jalal dan Dedi Supriadi tahun 2001, terdapat tiga indiktor keberhasilan pemerintah dalam program wajib belajarnya:

  1. Mayoritas penduduk berpendidikan minimal SLTP dan partisipasi pendidikan meningkat yang ditujukan dengan APK-SD 115%; APK-SLTP 80%; APK SLTA 47% dan APK-PT 12,5% dengan perluasan terkendali untuk bidang- bidang unggulan dan teknologi.

2. Meningkatnya budaya belajar di kalangan masyarakat yang ditunjukan dengan

  program pendidikan masyarakat, dan meningkatnya penduduk yng melek huruf hingga 88% pad tahun 2005.

3. Meningkatnya proporsi penduduk kurang beruntung yang memperoleh kesempatan pendidikan di semua jenis dan jenjang pendidikan.

  Untuk itu, usul yang dikemukakan untuk kebijakan program tersebut adalah; (1) Memperluas kesempatan pendidikan dengan prioritas pada pendidikan dasar, (2) Meningkatkan layanan pendidikan kepada kelompok kurang beruntung, termasuk kaum perempuan, (3) Mengembangkan layanan pendidikan alternatif tanpa mengorbankan mutu program, (4) Menetapkan standar kompetensi minimal keluaran pendidikan, (5) Melanjutkan program PMTAS secara terseleksi dan terkendali bagi yang benar-benar memerlukan, (6) Melanjutkan program beasiswa bagi kalangan anak-anak miskin, (7) Meningkatkan anggaran pemerintah untuk pendidikan secara bertahap dan terencana, (8) Meningkatkan partisipasi keluarga dan masyarakat dalam membiayai pendidikan.

  Agus Suwignyo mengapresiasi niatan dan implementasi pemegang kebijakan mengenai pemerataan pendidikan ini. Namun ia menilai pernyataan tersebut hanyalah retorika ketika kita harus menghadapi kenyataan yang ada. Dalam praktiknya, perwujudan perataan pendidikan tidak hanya memerlukan undang-undang dan dana.

  Miskonsepsi juga terjadi pada pelaksanaan pemerataan pendidikan ini. Konsep “pendidikan gratis” justru menggerus kemandirian dan melambungkan kemerdekaan, pemerintah belum bersedia menanggung cuma-cuma seluruh biaya pendidikan rakyat. Penegasan perundang- undangan oleh elite negara atas pendidikan rakyat membuai mimpi warga akan pendidikan tanpa biaya yang perwujudannya jauh dari jangkaun. Karena, meskipun pemerataan pendidikan adalah kebijakan negara, implementasinya amatlah tergantung pada kepentingan politik mereka.

  Pemerataan pendidikan mencakup dua aspek penting, equality dan equity.

  

Equality berarti persamaan kesempatan memperoleh pendidikan, dan equity bukunya Equality of Educational Opportunity membagi pemerataan secara konsepsional menjadi pasif dan aktif. Dengan kata lain implikasinya siswa tidak hanya memperoleh kesempatan pendidikan, tapi juga harus diperlakukan sama guna memperoleh pendidikan dan mengembangkan potensinya secara optimal. Dengan demikian, dimensi pemerataan pendidikan mencakup; (a) Equality of access , (b) equality of survival, (c) equality of output, (d) equality of outcome.

  Menurut Taufikurrachman Saleh, harus ada kemauan politik yang sangat keras untuk membuat kebijakan pemerataan pendidikan yang berpihak pada rakyat. Kemudian harus ada kebijakan di tingkat makro dengan strategi subsidi silang di semua jalur dan jenjang pendidikan Indonesia. Keluarga kaya diwajibkan memberikan biaya pendidikan dan subsidi terhadap siswa dari keluarga miskin. Sehingga perlu ada political will dari semua pihak terutama pemerintah dan legislatif untuk melaksanakan program ini.

BAB VII KUALITAS/MUTU PENDIDIKAN NASIONAL BELUM BISA DIBANGGAKAN Di dalam buku Reformasi Pendidikan dalam Kontek Otonomi Daerah oleh Fasli Jalal dan Dedi Supriadi menjelaskan kebijakan pemerintah untuk

  meningkatkan mutu dan relevansi pendidikan yang meliputi empat aspek; kurikulum, tenaga kependidikan, sarana pendidikan, dan kepemimpinan satuan

  Pertama, pengembangan kurikulum berkelanjutan di semua jenjang dan

  jenis pendidikan yang meliputi: (a) pengembangan kurikulum pendidikan dasar yang dapat memberikan kemampuan dasar secara merata yang disertai dengan pengutan muatan lokal, (b) mengintegrasikan keterampilan generik dalam kurikulum yang memberikan kemampuan adaptif yang meliputi empat kelompok keterampilan; pengelolaan diri, komunikasi, mengelola orang dan tugas, serta inovasi dan perubahan, (c) mengembangkan program studi, jurusan, dan fakultas di perguruan tinggi yang didasarkan atas studi kelayakan, (d) meningkatkan sekolah dengan kebutuhan dunia kerja, (e) mengembangkan keteladanan dalam hal pendidikan.

  Kedua, pembinaan profesionalisme dan peningkatan kesejahteraan guru;

  (a) menata kembali sistem jenjang karier guru dan tenaga kependidikan lainnya, (b) meningkatkan kesejahteraan guru baik secara material mupun psikologis, (c) memberikan perlindungan hukum dan rasa aman kepada guru dalam menjalankan tugasnya, (d) memberikan kesempatan yang luas kepada guru untuk meningkatkan profesionalismenya melalui berbagai pelatihan dan studi lanjut.

  Ketiga, pengadaan dan pendayagunaan sarana dan prasarana pendidikan:

  (a) menjamin tersedianya buku pelajaran

  • – satu buku untuk setiap peserta didik, (b) melengkapi kebutuhan ruang dan peralatan laboratorium, bengkel kerja, dan perpustakaan, termasuk laboratorium hidup, (c) mengefektifkan pengelolaan dan pendyagunaan sarana dan prasarana pendidikan yang disangkutkan dengan sistem intensif dalam rangka efektifitas proses belajar mengajar, (d) menyediakan dana pemeliharaan yang memadai pada satuan pendidikan, (e) mengembangkan lingkungan sekolah sebagai pusat pembudayaan dan pembinaan peserta didik.

  Keseluruhan konsepsi peningkatan mutu di atas memang baik, namun sudah menjadi rahasia umum bahwa kesesuaian konsep denga n praktik dalam budaya politik kebijakan di Indonesia selalu tidak sebaik fakta di lapangan yang kita temui. Prof. Nizam mengakui bahwa kualitas SDM masih menjadi persoalan utama dalam pendidikan di segala jenjang. Dari 160.000 dosen hampir 54% masih belum bergelar S1.

  Nizam sebagai salah satu penentu kebijakan yang jujur mengakui kegagalan pemerintah cenderung memilah antara sistem dan SDM, bahkan lebih jauh mengatakan SDM lebih penting ketimbang sistem. Tentu pemilahan tersebut belum tepat mengingat peningkatan kualitas SDM mutlak memerlukan dukungan sistem yang menciptakan hal tersebut.

  Sujono Sumba kemudian juga menambahkan data kualitas pendidikan di Indonesia terkait dengan kondisi guru yang memprihatinkan. Mayoritas guru

  20/2003, yaitu merencanakan, melaksanakan, menilai, membimbing, melatih, meneliti dan mengabdi pada masyarakat. Selain itu, jika dilihat dari pendidikan guru yang bersangkutan, sebagian guru di Indonesia bisa dikatakan

  “tidak layak mengajar ”.

  Dilihat dari kualitas peserta didiknya, banyak data penelitian yang menunjukan rendahnya kualitas peserta d idik kita dibanding negara lain. Bank Dunia (Greaney, 1992) studi International Association for the Evaluation of

  (IEA) di Asia Timur melaporkan bahwa keterampilan

  Educational Achievement

  membaca siswa kelas IV SD Indonesia berada di peringkat terendah di bawah Thailand dan Filipina. Kemampuan membaca siswa SD kita menduduki urutan ke-38 dari 39 negara peserta studi, sedangkan matemtika urutan ke-39 dari 42 negara, dan IPA urutan ke-40 dari 42 negara.

  Lembaga pendidikan yang buruk pula berdampak pada kualitas lulusan. Dimulai dari angka pengangguran yang tinggi, sekitar tiga juta (2006). Lembaga pendidikan yang mengutamakan kepintaran teoritis verbalis berakibat pada lulusan yang kurang kreatif dan inovatif, yang tidak mampu mandiri di era yang sarat dengan kebutuhan akan daya inisiatif, kreatif, inovatif dan jiwa

  

entrepreneur. Sarjana di Indonesia hanya 12% atau sekitar 2% dari total jumlah

  penduduk. Fakta lain membahasakan “semakin tinggi tingkat pendidikan, semakin tinggi tingkat kebergantungannya.

  ” Di dalam Forum Kompasiana menyebutkan ada tujuh persoalan mengenai buku paket (kurikulum buku paket), (2) model pembelajrn ceramah, (3) kurangnya daya dukung sarana prasarana dari regulator, (4) peraturan yang membelenggu, (5) guru tidak mengajari keterampilan bertanya, murid tidak berani bertanya (kompetensi setengah), (6) guru tidak berni mengajukan pertanyaan terbuka (kurang kreatif), dan (7) siswa menyontek, guru pun juga (budaya mencontek).

  Sedangkan di bawah ini adalah hal- hal elemen dasar bagaimana kita meningkatkan mutu pendidikn di Indonesia; (1) insan pendidikan patut profesionalisme guru dan pendidik, (3) sebisa mungkin kurangi dan berantas korupsi. (4) berikan sarana dan prasarana yang layak.

  Asian Development Bank (ADB) sampai-sampai memberikan rekomendasi kepada pemerintah Indonesia untuk lebih memperhatikan kualitas pendidikan. Prinsipil Economist ADB, Muhammad Ekhsan Khan menyatakan kualitas pendidikan di Indonesia terhambat oleh kondisi fasilitas sekolah, penyediaan alat sekolah, dan kualitas SDM berupa guru yang tidak merata di tempat terpencil. Menurutnya, pemerintah Indonesia harus meningkatkan standar kurikulum setara dengan negara-negara yang lebih maju di kawasan Asia Tenggara. Data di atas tentunya menampar wajah pendidikan nasional kita. Bagaimana lembaga internasional keuangan Asia sampai memberikan rekomendasi kepada pengelola kebijakan pendidikan nasional kita gar memperbaiki kinerja dan kualitas pendidikan.

  Andriadi Achmad memberikan beberapa solusi untuk meningkatkan

  • – kualitas pendidikan nasional; (1) menerapkan sistem praktik dalam skala besar bisa jadi 20% teori dan materi di kelas, 80% dipraktikan, (2) mendukung sekolah alternatif sebagai bentuk lain upaya pencerdasan anak bangsa, sebagai pengembangan bakat, minat dan keterampilan, (3) mendukung pemerintah dalam mengembangkan program double degree untuk jenjang pendidikan sarjana, magister, dan doktoral.

Dokumen baru
Aktifitas terbaru
Penulis
123dok avatar

Berpartisipasi : 2018-08-08

Dokumen yang terkait

Muhammad Rifai Politik Pendidikan Nasion

Gratis

Feedback