Makalah 1 Profesi Pendidikan (1)

 0  1  23  2018-09-16 23:03:18 Report infringing document

KATA PENGANTAR

  Puji dan syukur kehadirat Allah SWT, Tuhan semesta alam yang

senantiasa memberikan kemudahan, kelancaran beserta limpahan

Rahmat dan Karunia-Nya yang tiada terhingga. Shalawat serta salam

semoga tetap tercurahkan kepada Rasulullah SAW yang telah

memberikan suri tauladan bagi kita semua. Alhamdulillah berkat

kehendak dan ridha-Nya, saya dapat menyelesaikan makalah ini yang

berjudul “Profesionalisme Guru dalam Globalisasi (Karakter Guru

Profesional di Era Global).” Makalah ini disusun untuk memenuhi salah

satu tugas Mata Kuliah Profesi Pendidikan.

  Dalam penyusunan makalah ini, disusun berdasarkan informasi yang

diketahui dan pengetahuan yang didapatkan . Saya berharap semoga makalah ini

dapat bermanfaat bagi semuanya terutama bagi saya sendiri. Begitu

pula makalah ini tidak luput dari kekurangan dan kesalahan, untuk itu

saya mengharapkan kritik dan sarannya yang bersifat membangun.

  Banjarmasin, April 2015 Penyusun Herni Ratna Sari

  

DAFTAR ISI

Kata Pengantar............................................................. i Daftar Isi......................................................................... ii

  BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah........................................................

  1

  1.2 Rumusan Masalah.................................................. 2

  1.3 Tujuan Penulisan.................................................... 2

  BAB II PEMBAHASAN

  2.1 Profesionalisme Guru............................................. 3

  2.2 Globalisasi........................................................... 11

  2.3 Guru dalam Perspektif Globalisasi......................15

  2.4 Karakter Guru dalam Menghadapi Arus Globalisasi......................

  ……………………………………….....................16

  BAB III PENUTUP

  3.1 Kesimpulan ..........................................................20

  DAFTAR

PUSTAKA ......................................................................................

......21

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

  Pendidikan yang profesional akan dapat mengembangkan dan membentuk watak serta peradaban bangsa. Guru adalah bagian dari kesadaran sejarah pendidikan di dunia. Sebagai orang yang harus digugu dan ditiru seorang guru dengan sendirinya memiliki peran yang luar biasa dominannya bagi peserta didik. Dalam sebuah proses pendidikan guru merupakan satu komponen yang sangat penting, selain komponen lainnya seperti tujuan, kurikulum, metode, sarana dan prasarana lingkungan, dan evaluasi. Untuk mendatangkan hasil pendidikan yang berkualitas diperlukan sumber daya manusia (guru) yang berkualitas pula. Maka dalam konteks ini sangat dibutuhkan profesionalisme guru. Kebijakan pemerintah pun menjawab tuntutan tersebut denganmUndang-Undang tentang Guru dan Dosen, kemudian realisasi program sertifkasi guru. Seiring dengan laju perkembangan pemikiran manusia yang melahirkan peradaban yangm sangat cepat pertumbuhannya ditandai dengan kemajuan teknologi informasi yang kemudian dikenal dengan era global dengan konsekuensi globalisasi. Globalisasi menawarkan paradigma baru dalam pendidikan. Tentunya juga merupakan tantangan baru bagi guru professional yang kian hari kian meningkat. Munculnya situasi global tersebut di samping menimbulkan dampak positif terutama bagi pengembangan profesionalitas guru, juga berdampak negatif yang sudah sangat sulit dikontrol. Berbagai peralatan teknologi kian membuka peluang atau menambah subur bagi terciptanya moral yang buruk. Hal yang demikian dirasakan lebih menarik lagi bagi kalangan generasi muda yang serba ingin tahu. Maka persoalaan yang timbul kemudian adalah: Bagaimana profesionalisme guru menghadapi arus globalisasi, atau bagaimana guru berperan di tengah arus globalisasi dengan profesionalismenya.

  1.2 Rumusan Masalah

  1. Apa pengertian Profesionalisme Guru?

  2. Apa pengertian Globalisasi?

  3. Bagaimana Guru dalam Perspektif Globalisasi?

  4. Bagaimana Karakter Guru dalam Menghadapi Arus Globalisasi?

  1.3 Tujuan Penulisan Makalah

  1. Untuk mengetahui pengertian Profesionalisme Guru

  2. Untuk mengetahui pengertian Globalisasi

  3. Untuk mengetahui bagaimana Guru dalam Perspektif Globalisasi

  4. Untuk mengetahui bagaimana Karakter Guru dalam Menghadapi Arus Globalisasi

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Profesionalime Guru

  Profesi merupakan pekerjaan yang dilandasi oleh pengetahuan atau pendidikan tertentu, sehingga dikatakan profesi guru adalah keahlian guru dalam melaksanakan tugas-tugas kependidikan diperoleh setelah menempuh pendidikan keguruan tertentu, dan kemampuan tersebut tidak dimiliki oleh warga masyarakat pada umumnya yang tidak pernah mengikuti pendidikan keguruan. Menurut Y. Nasanius, profesi guru yaitu kemampuan yang tidak dimiliki oleh warga masyarakat pada umumnya yang tidak pernah mengikuti pendidikan keguruan. Atau secara sederhana dapat dinyatakan bahwa professi guru adalah pekerjaan/tugas yang hanya dapat dilakukan oleh orang mempunyai jabatan/kedudukan sebagai guru karena kompetensi yang di peroleh melalui pendidikan tertentu.

2.1.1 Profesi Guru

  Profesi guru pada mulanya dikonsep sebagai kemampuan memberi dan mengembangkan pengetahuan peserta didik, tetapi, beberapa dasawarsa terakhir konsep, persepsi, dan penilaian terhadap profesi guru mulai bergeser. Hal itu terjadi selain karena perubahan pandangan manusia-masyarakat terhadap integritas seseorang yang berkaitan dengan produktivitas ekonomisnya, juga karena perkembangan yang cukup radikal di bidang pengetahuan dan teknologi, terutama bidang informasi dan komunikasi, yang kemudian mendorong pengembangan media belajar dan paradigma teknologi pendidikan. Dalam perkembangan berikutnya, sekaligus sebagai biasnya, guru mulai mengalami dilema eksistensial. Slogan “Pahlawan tanpa tanda jasa” senantiasa melekat pada profesi guru. Hal ini didasarkan pada pengabdiannya yang sangat tinggi dan tulus dalam dunia pendidikan. Selain itu, keterampilan, sikap kearifan, kedisiplinan, kejujuran, ketulusan, kesopanan, dan penampilan sebagai sosok panutan menjadikan profesi satu ini berbeda dengan yang lain, ditambah dengan tanggung jawab dari profesi guru tidak pernah berhenti pada saat selesai mengajar, tetapi keberhasilan siswa dalam menangkap, memahami, mempraktikkan, dan mengamalkan ilmu yang diterima dalam kehidupan sehari-hari, baik langsung maupun tidak langsung, melekat pada dirinya.

  Sedangkan profesional berkenaan dengan pekerjaan, berkenaan dengan keahlian, memerlukan kepandaian khusus untuk melaksanakannya, mengharuskan citra adanya pembayaran untuk melakukannya.

2.1.2 Guru Profesional

  Dalam kamus bahasa Indonesia guru diartikan sebagai “orang yang

  

kerjanya mengajar”. Menurut Djamarah, “Guru adalah semua orang yang

berwenang dan bertanggung jawab terhadap pendidikan murid-murid, baik

secara individual maupun secara klasikal, baik di sekolah maupun di luar

sekolah”. Pada kesempatan lain Djamarah berpendapat bahwa “Guru

adalah semua orang yang berwenang dan bertanggung jawab untuk

membimbing dan membina anak didik, baik secara individual maupun

klasikal di sekolah maupun di luar sekolah”. Sementara menurut

Sardiman, “Guru adalah salah satu komponen manusiawi dalam proses

belajar mengajar, yang ikut berperan serta dalam usaha pembentukan

sumber daya manusia yang potensial di bidang pembangunan”. Profesi

  guru sebagaimana telah dijelaskan di atas adalah keahlian guru dalam melaksanakan tugas-tugas kependidikan diperoleh setelah menempuh pendidikan keguruan tertentu, dan kemampuan tersebut tidak dimiliki oleh warga masyarakat pada umumnya yang tidak pernah mengikuti pendidikan keguruan. Dengan demikian guru profesional adalah seseorang yang memiliki latar belakang pendidikan keguruan yang memadai, mempunyai kompetensi dan keterampilan di bidangnya, hingga mampu melaksanakan tugasnya dengan baik dan bertanggung jawab.

  Jadi, yang dimaksud dengan guru profesional adalah guru yang mampu menerapkan hubungan yang berbentuk multidimensional. Guru yang demikian adalah guru yang secara internal memenuhi kriteria administratif, akademis, dan kepribadian. Guru adalah bagian dari kesadaran sejarah pendidikan di dunia. Guru yang profesional sangat dibutuhkan dalam dunia pendidikan karena guru menjadi ujung tombak dan memegang peranan penting dalam menentukan orientasi, tujuan, dan corak pendidikan yang diterima oleh peserta didiknya. Dalam persepsi masyarakat pedesaan profesi guru umumnya dinilai sebagai profesi orang suci (saint profession) yang mampu memberi pencerahan dan dapat mengembangkan potensi yang tersimpan di dalam diri siswa. Sebagian besar masyarakat tradisional memiliki mitos yang kuat bahwa guru adalah profesi yang tidak pernah mengeluh dengan gaji rendah, profesi yang dapat dilakukan oleh siapa saja yang mau, dan profesi yang bangga dengan gelar “pahlawan tanpa tanda jasa”. Dalam pandangan masyarakat tradisional, guru dianggap profesional jika peserta didik sudah dapat membaca, menulis, dan berhitung, atau anak memperoleh nilai tinggi secara kuantitatif, dapat naik kelas, dan lulus ujian, tanpa melihat segi kualitatifnya.

  Sementara masyarakat modern menganggap kompetensi guru belum lengkap jika hanya dilihat dari keahlian dan keterampilan yang dimiliki, maka guru professional juga dilihat dari segi orientasi guru terhadap perubahan dan inovasi. Bagi masyarakat modern, eksistensi guru yang mandiri, kreatif, dan inovatif merupakan salah satu aspek penting untuk membangun kehidupan bangsa. Salah satu bangsa modern yang menghargai profesi guru adalah bangsa Jepang. Mereka menyadari bahwa guru yang bermutu merupakan kunci keberhasilan pembangunan negaranya seperti tercermin dalam ungkapan penghargaan bangsa Jepang terhadap profesi guru “She no on wa yama yori mo ta, lai umiyorimo fu”

  

(yang berarti jasa guru lebih tinggi dari gunung yang paling tinggi, lebih

dalam dari laut paling dalam).

2.1.3 Profesionalisme Guru

  Setelah diketahui uraian tentang profesi dan profesional maka dapat dipahami bahwa

  

profesionalisme menunjukkan makna kualitas, mutu, dan tindak tanduk

  yang merupakan sifat melekat pada suatu profesi. Jika profesi guru dalah pekerjaan dan tugas guru, dan guru

  

profesional adalah guru yang mampu dan mau menjalankan tugasnya

  karena kompetensi dan keterampilan yang dimilikinya, maka dapat dipahami dalam konteks keguruan bahwa profesionalisme merupakan kualitas dan mutu kinerja, serta perilaku yang menunjukkan suatu profesi guru. Guru ditinjau dari aspek bahasa Jawa mempunyai makna orang yang harus digugu dan ditiru oleh orang lain (termasuk muridnya). Makna tersebut dapat dipahami bahwa segala sesuatu yang disampaikan atau yang dikerjakan olehnya senantiasa dipercaya, diyakini sebagai kebenaran atau sesuatu yang penting oleh orang lain, dan ditiru. Maka semua informasi dan ilmu pengetahuan yang datang dari guru dinilai sebagai sebuah kebenaran yang sering tidak perlu dibuktikan atau diteliti lagi. Sementara makna harus ditiru adalah bahwa seorang guru menjadi teladan bagi semua orang di lingkungannya, mulai dari cara berfkir (fkr dan qalb), cara bebicara (lisan), hingga cara berperilaku (arkan) sehai- hari. Sebagai seorang yang harus digugu dan ditiru seorang dengan sendirinya memiliki peran yang luar biasa dominannya bagi murid. Dalam sebuah proses pendidikan guru merupakan satu komponen yang sangat penting, selain komponen lainnya seperti tujuan, kurikulum, metode, sarana dan prasarana lingkungan, dan evaluasi.

  Guru pada sejumlah negara maju sangat dihargai karena secara spesifik guru memiliki:

   pendidikan; Ketajaman pemahaman dan kecakapan intektual, cerdas emosional

  Kecakapan dan kemampuan untuk memimpin dan mengelola

   dan sosial untuk membangun pendidikan yang bermutu; dan  Perencanaan yang matang, bijaksana, kontekstual dan efektif untuk membangun humanware yang unggul, bermartabat, dan memiliki daya saing.

  Keunggulan mereka adalah terus maju untuk mencapai yang terbaik dan memperbaiki yang terpuruk. Mereka secara berkelanjutan

  

(sustainable) terus menigkatkan mutu diri dari guru biasa ke guru yang

  baik dan terus berupaya meningkat ke guru yang Iebih baik dan akhirnya menjadi guru yang terbaik, yang mampu memberi inspirasi, ahli dalam materi, memiliki moral yang tinggi dan menjadi teladan yang baik bagi siswa.

  Di Indonesia guru yang memiliki keahlian, spesialisasi yang harus diakui masih sedikit jumlahnya jika dibandingkan dengan jumlah penduduk, atau bahkan langka. Walaupun sudah sejak puluhan tahun dipersiapkan, namun hasilnya masih belum nampak secara nyata. Hal tersebut lebih disebabkan oleh masih cukup banyak guru yang belum memiliki konsep diri yang baik, tidak tepatan menyandang predikat sebagai guru, dan mengajar mata pelajaran yang tidak sesuai dengan keahliannya (mismatch). Semuanya terjadi karena kemandirian guru belum nampak secara nyata, yaitu sebagian guru belum mampu melihat konsep dirinya (selfconsept), ide dirinya (self idea), dan realita dirinya (self reality). Tipe guru seperti ini mustahil dapat menciptakan suasana akademik pembelajaran yang aktif, innovative, kreatif, efektif, dan menyenangkan.

  Namun, beberapa dasawarsa terakhir konsep, persepsi, dan penilaian terhadap profesi guru mulai bergeser. Hal itu selain karena perubahan pandangan manusia dan masyarakat terhadap integritas seseorang yang berkaitan dengan produktivitas ekonomisnya, juga karena perkembangan yang cukup radikal di bidang pengetahuan dan teknologi, terutama bidang informasi dan komunikasi, yang kemudian mendorong pengembangan media belajar dan paradigma teknologi pendidikan.

2.1.4 Pengembangan Profesionalisme Guru

  Adanya penilaian tentang belum profesionalnya guru harus diakui dan hendaknya ditanggapi secara bijak baik oleh guru itu sendiri, institusi penghasil guru (LPTK) pemerintah maupun pengguna. Penilaian atau kritik itu hendaknya dapat dijadikan sebagai bahan refleksi serta dijadikan tantangan untuk memecut semangat dalam mewujudkan profesionalisme guru. Profesionalisme guru merupakan suatu keharusan sebab tanpa profesionalisasi perwujudan guru profesional sulit dicapai. Guru yang profesional adalah guru yang bekerja secara otonom (bebas tetapi sesuai keahlian dan mandiri). Untuk mengabdikan diri pada pengguna jasa (negara dan masyarakat) dengan disertai tanggung jawab atas kemampuan profesionalismenya sebagai penyandang suatu profesi. Untuk itu dibutuhkan profesionalisasi, yaitu proses peningkatan kualifikasi atau kompetensi bagi penyandang suatu profesi untuk mencapai kriteria standar ideal yang ditetapkan profesinya. Sudarwan Danim (2002 :25-32) menjelaskan tiga pendekatan profesionalisasi profesi meliputi: a. Pendekatan karakteristik (the treat approach) yang memfokuskan pada profesi memiliki seperangkat elemen antara lain : kemampuan intelektual diperoleh dari pendidikan tinggi, memiliki pengetahuan spesialisasi, memiliki pengetahuan dan teknis yang dapat di komunikasikan, kemandirian, kode etik dan sistem upah serta budaya profesional.

  b. Pendekatan institusional (the institusional approach). Memandang profesi dari sudut pandang proses institusional atau perkembangan asosiasional.

  c. Pendekatan legalistik (the legalistik approach) menekankan adanya pengakuan atas suatu profesi oleh negara atau pemerintah.

  Pengakuan terhadap profesi dapat ditempuh melalui tahapan registrasi, sertifikasi dan lisensi. Profesionalisme tenaga pendidik (guru) pada dasarnya dapat dilaksanakan dalam dua jenis pendidikan. Pertama, Pendidikan prajabatan yang menjadi tugas LPTK untuk mempersiapkan mahasiswanya dalam meniti karier di bidang pendidikan. Kedua, pendidikan dalam jabatan yang terwujud dalam bentuk pelatihan-pelatihan dan pengembangan yang dapat dilakukan oleh institusi pemerintah maupun organisasi profesi. Menurut

  

Ibrahim Bafadal (2004 :41-63), secara teknis profesionalisasi guru dapat

  dilaksanakan melalui beberapa cara. Pertama, Supervisi, yaitu layanan bantuan profesional kepada guru untuk meningkatkan kemampuan dalam melaksanakan tugas mengelola proses pembelajaran secara efektif dan efisien. Kedua, Sertifikasi guru merupakan layanan penyesuaian kualifikasi pendidikan guru agar relevan dengan bidang tugas yang digelutinya.

  

Ketiga, Tugas belajar diberikan kepada guru untuk menyesuaikan

  kualifikasi pendidikan yang diisyaratkan dan meningkatkan kualifikasi pendidikan. Keempat, pemberdayaan forum gugus, MGMP berupa peningkatan profesionalisasi melalui curah pendapat (brain storming) maupun monitoring berkala. Sementara itu, dalam upaya memberdayakan guru di Indonesia untuk meningkatkan kualitas profesional, Bappenas-

  Depdiknas merekomendasikan hal-hal sebagai berikut:

  a. Dalam pembinaan mutu guru melalui pendidikan dalam jabatan, penekanan diberikan pada kemampuan guru agar dapat meningkatkan efektivitas mengajarnya, mengatasi persoalan praktis dalam pengelolaam PBM, dan meningkatkan kepekaan terhadap perbedaan individual siswa.

  b. Pelatihan kepekaan para guru terhadap latar belakang peserta didik yang beragam terutama pada tingkat pendidikan dasar sebagai konsekuensi terbukanya akses peserta didik terhadap sekolah.

2.2 Globalisasi

2.2.1 Global dan Globalisasi

  Kata "globalisasi" berasal dari kata “global”. Secara harfiah, kata “global” berarti sedunia atau sejagat, menyeluruh (mujmal), universal. Kata tersebut selanjutnya menjadi istilah yang merujuk kepada suatu kedaan di mana suatu negara dengan negara lain sudah menyatu. Batas-batas teritorial, kultural, dan sebagainya sudah bukan merupakan hambatan lagi untuk melakukan penyatuan tersebut.

  Dengan demikian secara harfiah, globalisasi berarti menyatunya berbagai negara yang ada di globe ini menjadi satu entitas. Globalisasi adalah suatu proses menjadikan sesuatu (benda atau perilaku) sebagai ciri dari setiap individu di dunia ini tanpa dibatasi oleh wilayah. Menurut Azyumardi Azra

  

& Jamhari, globalisasi adalah "perubahan-perubahan struktural dalam

seluruh kehidupan Negara dan bangsa yang mempengaruhi fundamen-

fundamen dasar pengaturan hubungan antar manusia, organisasi-

organisasi sosial, dan pandangan-pandangan dunia". Situasi ini tercipta

  berkat adanya dukungan teknologi canggih di bidang komunikasi seperti radio, televisi, telepon, faxsimile, internet, dan sebagainya. Melalui berbagai peralatan tersebut berbagai peristiwa atau kejadian yang terjadi di belahan dunia yang lain dapat dengan mudah diketahui bahkan diakses secara cepat. Semakin banyak manusia menggunakan peralatan tersebut semakin banyak informasi yang dapat diketahui. Globalisasi dipergunakan pertama kali oleh Theodore Levitte pada tahun 1985. Definisi tentang globalisasi belum didapati yang mapan kecuali sekadar berupa definisi kerja (working definition), sehingga bergantung dari sisi mana orang melihatnya. Ada yang memandangnya sebagai suatu proses sosial, atau proses sejarah, atau proses alamiah yang akan membawa seluruh bangsa dan negara di dunia makin terikat satu sama lain, mewujudkan satu tatanan kehidupan baru atau kesatuan ko-eksistensi dengan menyingkirkan batas-batas geografis, ekonomi, dan budaya masyarakat. Di sisi lain, ada yang melihat globalisasi sebagai sebuah proyek yang diusung oleh negara- negara adikuasa, sehingga bisa saja orang memiliki pandangan negatif atau curiga terhadapnya. Dari sudut pandang ini, globalisasi tidak lain adalah kapitalisme dalam bentuk yang paling mutakhir. Negara-negara yang kuat dan kaya praktis akan mengendalikan ekonomi dunia dan negara-negara kecil makin tidak berdaya karena tidak mampu bersaing. Sebab, globalisasi cenderung berpengaruh besar terhadap perekonomian dunia, bahkan berpengaruh terhadap bidang-bidang lain seperti budaya dan agama.

  Sebagai sebuah konsep globalisasi yang pada awalnya lahir dan bermula dari bidang ekonomi dan teknologi, dalam perkembangannya kemudian merasuk hampir keseluruh sendi-sendi kehidupan, mulai dari politik, sosial, budaya, gaya hidup dan lain sebaginya. Sebagai bagian dari masyarakat dunia, sebagai individu maupun bangsa, mau tidak mau kita harus berhadapan dengan berbagai pengaruh positif maupun negatif yang dibawa oleh globalisasi yang nota bene berasal dari Barat. Kemajuan dan kecanggihnya teknologi telekomunikasi dan transportasi telah dan semakin menciutkan jarak dan waktu yang kemudian berimbas pada semakin kuatnya penetrasi budaya dan nilai-nilai Barat ke seluruh sendi kehidupan masyarakat di seluruh penjuru dunia, tidak terkecuali bidang pendidikan di Indonesia.

  Para era tahun 1990-an di Indonesia kemudian bergulir wacana

  "paradigma baru"

  pendidikan nasional selaras dengan semangat reformasi yang sedang bergelora di seluruh negeri. Seolah menemukan momemtumnya, para pakar, praktisi maupun birokrat pendidikan kemudian merumuskan berbagai acuan sebagai respons dan antisipasi penyiapan SDM untuk percaturan global. Paradigma baru tersebut kemudian dirumuskan dalam prinsip-prinsip yang terkandung dalam arah baru pengembangan pendidikan nasional, secara garis besar mencakup hal-hal sebagai berikut:

  a. Kesetaraan perlakuan sektor pendidikan dengan sektor lainnya, b. Pendidikan berorientasi rekonstruksi sosial,

  c. Pendidikan dalam rangka pem-berdayaan bangsa,

  d. Pemberdayaan infrastruktur sosial untuk kemajuan pendidikan nasional, e. Pembentukan kemandirian dan keberdayaan untuk mencapai keunggulan, f. Penciptaan iklim yang kondusif untuk tumbuhnya toleransi dan konsensus dalam kemajemukan,

  g. Perencanaan terpadu secara horizontal (antar sektor) dan vertikal (antar jenjang),

  h. Pendidikan berorientasi peserta didik, i. Pendidikan multikultural, j. Pendidikan dengan perspektif global.

2.2.2 Implikasi Globalisasi

  Globalisasi dinilai berpengaruh terhadap hampir semua aspek yang ada di masyarakat, termasuk aspek budaya. Kebudayaan dapat diartikan sebagai nilai-nilai

  (values) yang dianut olehmasyarakat ataupun persepsi yang dimiliki oleh

  warga masyarakat terhadap berbagai hal, baiknilai-nilai maupun persepsi berkaitan dengan aspek-aspek kejiwaan/psikologis, yaitu apa yangterdapat dalam alam pikiran. Aspek-aspek kejiwaan ini menjadi penting artinya apabila disadari bahwa tingkah laku seseorang sangat dipengaruhi oleh apa yang ada dalam alam pikiran orang yang bersangkutan. Salah satu hasil pemikiran dan penemuan seseorang adalah kesenian sebagai subsistem kebudayaan. Globalisasi sebagai sebuah gejala tersebarnya nilai-nilai dan budaya tertentu ke seluruh dunia, sehingga menjadi budaya dunia (world culture), telah terlihat sejak lama. Cikal bakal dari persebaran budaya dunia ini dapat ditelusuri dari perjalanan para penjelajah Eropa Barat ke berbagai tempat di dunia ini (Lucian W. Pye, 1966). Namun, perkembangan globalisasi kebudayaan secara intensif terjadi pada awal abad ke-20 dengan berkembangnya teknologi komunikasi. Kontak melalui media menggantikan kontak fsik sebagai sarana utama komunikasi antar bangsa. Perubahan tersebut menjadikan komunikasi antar bangsa lebih mudah dilakukan. Hal ini menyebabkan semakin cepatnya perkembangan globalisasi kebudayaan, baik di bidang pakaian, bahasa, perilaku, maupun lainnya.

  Globalisasi di bidang kebudayaan ditandai dengan beberapa indikator:

  a. Berkembangnya pertukaran kebudayaan internasional;

  b. Penyebaran prinsip multikebudayaan (multiculturalisme), dan kemudahan akses suatu individu terhadap kebudayaan lain di luar kebudayaannya;

  c. Berkembangnya turisme dan pariwisata;

  d. Semakin banyaknya imigrasi dari suatu negara ke negara lain;

  e. Berkembangnya mode yang berskala global, seperti pakaian, flm, dan lain lain; f. Bertambahnya event-event berskala global, seperti Piala Dunia FIFA.

  g. Persaingan bebas dalam bidang ekonomi; dan

  h. Meningkakan interaksi budaya antar negara melalui perkembangan media massa.

  Setidaknya semenjak awal tahun 2003 teknologi dan informasi (IT) sebagai ikon globalisasi berkembang sangat pesat (tidak ketinggalan) di Indonesia hingga membuat pemerintah jadi kerepotan dan mengambil sikap reaktif mengubah kurikulum pendidikan untuk disesuaikan dengan tuntutan globalisasi.

  Secara garis besar globalisasi berimplikasi pada dua hal, yaitu:

a. Implikasi positif; antara lain:

  1) Makin mudah memperoleh informasi dan ilmu pengetahuan dalam waktu yang singkat; 2) Mudah melakukan komunikasi; 3) Cepat dalam bepergian (mobilitas tinggi); 4) Menumbuhkan sikap kosmopolitan dan toleran;

  5) Memacu untuk meningkatkan kualitas diri; dan 6) Mudah memenuhi kebutuhan

b. Implikasi negatif; di antaranya:

  1) Munculnya informasi yang tidak/sulit tersaring; 2) Maraknya perilaku konsumtif; 3) Membuat sikap menutup diri, berpikir sempit; 4) Pemborosan pengeluaran dan meniru perilaku yang buruk; 5) Mudah terpengaruh oleh hal yang tidak sesuai dengan kebiasaan atau kebudayaan suatu negara; 6) Terbukanya peluang hubungan serba bebas antara lawan jenis; 7) Model pakaian yang tidak mengindahkan batas-batas aurat, 8) Tingkah laku kekerasan, gambar-gambar porno, dan sebagainya dapat dengan mudah dijumpai, 9) Menurunnya tingkat moralitas pada peserta didik, dan lain-lain.

2.3 Guru dalam Perspektif Globalisasi

  Guru di era global adalah guru dengan profesionalitas tinggi mempunyai tugas yang tidak akan semakin ringan, maka harus berkualitas.

  Wardiman Djojonegoro dalam konteks ini pernah menyatakan dalam

  makalahnya, 7 bahwa bangsa kita menyiapkan diri untuk memiliki sumberdaya manusia (SDM) yang berkualitas. Ciri SDM yang berkualitas tersebut adalah memiliki kemampuan dalam menguasai keahlian dalam suatu bidang yang berkaitan dengan iptek, mampu bekerja secara profesional dengan orientasi mutu dan keunggulan, dan dapat menghasilkan karya-karya unggul yang mampu bersaing secara global sebagai hasil dari keahlian dan profesionalitasnya. Sebagai tenaga pendidikan, guru profesional tidak lepas dari pencitraan yang diberikan dari orang lain. Dalam kaitan ini Dasam Syamsudin menggambarkan tanggapan sikap masyarakat terhadap citra guru ketika menghadapi masalah terkait dengan guru, melalui catatannya bahwa “Ketidaksukaan

  masyarakat pada guru bisa kita saksikan tiap akhir tahun ajaran. Tidak sedikit orang tua murid yang merasa kecewa pada guru karena anaknya

  tidak lulus. Mereka menuding guru tidak bisa mengajar dan mendidik. Dari masyarakat pendidikan sendiri, tidak sedikit siswa yang marah dan kecewa terhadap guru karena ia tidak berhasil lulus pada test ujian Nasional. Pemandangan seperti ini, tiap tahun kelulusan sekolah-sekolah selalu kita saksikan baik secara langsung atau melalui media massa.”

  Dalam kehidupan bermasyarakat di era ini guru di satu sisi diharapkan lebih bermoral dan berakhlak daripada masyarakat umum, tetapi di sisi lain muncul problem baru sebagai tantangan manakala guru tidak memiliki kemampuan materi untuk memiliki segala akses dan jaringan informasi sepeti TV, buku-buku, majalah, koran, dan internet, karena guru memiliki gaji dan tunjangan yang jauh dari cukup untuk meningkatkan profesinya sekaligus memperkaya informasi mengenai perkembangan pengetahuan dan berbagai dinamika kehidupan global, sehingga sangat sulit dibayangkan guru dapat tampil lebih profesional dan memiliki tanggung jawab moral profesi sebagai konsekuensi etisnya di era global ini. Pemerintah pun berupaya mengatasi problem tersebut dalam rangka meningkatkan profesionalitas guru dengan mengadakan sertifikasi guru. Perhatian pemerintah tersebut diharapkan dapat memberi solusi terhadap persoalan dunia pendidikan khsusunya guru, diimplementasikannya dengan sertifikasai guru dan meningkatkan kesejahteraanya. Dengan demikian, kulaitias mutu pendidikan harus sangat diperhatikan bagi para guru untuk menyelamatkan profesinya, lebih-lebih di era global seperti sekarang.

2.4 Karakter Guru Menghadapi Arus Globalisasi

  Era global identik dengan pernyataan Tilaar (1998) bahwa masyarakat millenium ketiga nanti mempunyai karakteristik masyarakat teknologi, masyarakat terbuka dan masyarakat madani yang secara keseluruhan akan berpengaruh pada visi, misi dan tujuan pendidikan. Pertumbuhan teknologi akan mengubah bentuk dan cara hidup manusia yang sama sekali akan berlainan dengan kehidupan manusia dewasa ini. Teknologi dapat memajukan kehidupan manusia tetapi juga dia akan mampu menghancurkan kebudayaan manusia itu sendiri. Kemajuan teknologi pula yang akan membuka dunia sekaan tanpa batas, baik geografis, sosial maupun budaya. Saling keterpengaruhan antara bangsa yang satu dengan bangsa yang Iain akan menjadi ciri utama masyarakat terbuka. Secara optimistik, masyarakat yang terbuka tersebut akan bermuara pada lahirya masyarakat madani, masyarakat yang berkembang, baik kemampuan intelektualnya maupun aspek-aspek kehidupan lainnya. Globalisasi dengan dominasi teknologi dan informasi yang sangat kuat datang bagaikan gelombang yang akan menerjang “benda-benda” di depannya tanpa kompromi. Arus globalisasi siap mendobrak semua aspek kehidupan termasuk pendidikan. Dengan dalih globalisasi orangtua dan peserta didik menghendaki lembaga pendidikan bertaraf internasional, peroleh ijazah dan sertifikat yang dapat diakui oleh dunia luar. Walhasil, globalisasi menuntut pendidikan sanggup mempersiapkan diri. Jika lembaga pendidikan (sekolah) tidak mampu memenuhi harapan itu, maka sangat tidak mungkin akan ditinggalkan oleh siswa/masyarakat, dan tidak ada lagi yang mau belajar di sekolah konvensional.

  Jika lembaga formal tidak bisa lagi menjadi tumpuan harapan masyarakat maka beberapa trend baru akan bermunculan, seperti:

  1. Home schooling yang dianggap bisa melayani siswa dan memenuhi harapan mereka dan orang tua karena tuntutan global

  2. Virtual School dan Virtual University Agar sekolah tetap eksis dan hendak mempertahankan eksistensinya lembaga pendidikan perlu melakukan hal-hal sebagai berikut:

  1. Meningkatkan mutu SDM (terutama Guru) dalam penguasaan bahasa asing (Bahasa Inggris, dan lainnya)

  2. Meningkatkan mutu guru dalam penguasaan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK)

  3. Meningkatkan mutu managemen pendidikan

  4. Meningkatkan mutu sarana dan prasarana pendidikan

  5. Melakukan Sertifikasi Internasional untuk guru Globalisasi akan menjadi tantangan tersendiri bagi para guru, terlebih yang telah memperoleh legalitas pengakuan akan profesionalitas keguruannya, yaitu sertifikat guru. Apabila guru tidak siap menghadapinya maka akan diterjang, dan jika tidak mampu menyesuaikan diri maka akan menjadi orang tidak berguna dan hanya akan menjadi penonton. Menghadapi tantangan demikian, diperlukan guru yang benar-benar profesional. Dalam konteks ini Makagiansar menawarkan empat kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang guru guna menghadapi era global, yaitu kemampuan antisipasi (kemampuan mengenali dan mengatasi masalah); kemampuan mengakomodasi; dan kemampuan melakukan

  

reorientasi. Kecuali seorang guru harus mempunyai kompetensi generic

(generic competences); keterampilan mengatur diri (managing self skill);

  keterampilan berkomunikasi (communicating skills); kemampuan mengelola orang dan tugas (ability of managing people and tasks); kemampuan mobilisasi pengembangan dan perubahan (mobilizing

  

innovation and change). Penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi serta

  semangat kompetitif juga merupakan hal penting bagi guru-guru yang profesional karena diharapkan mereka dapat membawa atau mengantarkan peserta didiknya mengarungi dunia ilmu pengetahuan dan teknologi untuk memasuki era global yang melek ilmu pengetahuan dan teknolog, dan sangat kompetitif. Penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi oleh guru yang profesional bukanlah pengetahuan yang setengah-tengah tetapi merupakan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi yang tuntas, karena ilmu pengetahuan dan teknologi itu sendiri berkembang dengan cepat. Guru yang tidak mempunyai ilmu pengetahuan yang kuat, tuntas dan setengah-setengah akan tercecer dan tidak mampu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Ia akan berada jauh di belakang, dan akhirnya akan tertinggal dari profesinya. Dalam upaya meningkatkan kualiatas pengajaran, guru dengan profisionalitasnya harus bisa mengembangkan tiga intelejensi dasar peserta didik, yaitu, intelektual, emosional, dan moral. Tiga unsur tersebut harus ditanamkan pada diri peserta didik sekuat-kuatnya agar terpatri di dalam dirinya. Kecuali itu guru harus memperhatikan dimensi spiritual siswa. Guru yang bermutu ialah mereka yang dapat membelajarkan siswa secara tuntas, benar dan berhasil. Untuk itu guru harus menguasai keahliannya, baik dalam disiplin ilmu pengetahuan maupun metodologi mengajarnya.

  Menurut Samani, ada empat prasyarat bagi seorang guru agar dapat bekerja profesional, yaitu: 1. kemampuan guru mengolah/mensiasati kurikulum, 2. kemampuan guru mengkaitkan materi kurikulum dengan Iingkungan, 3. kemampuan guru memotivasi siswa untuk belajar sendiri, dan 4. kemampuan guru untuk mengintegrasikan berbagai mata pelajaran menjadi kesatuan konsep yang utuh. Di era global karakteristik guru harus jelas dan tegas dipertahankan antara lain adalah:

  1. Memiliki ilmu pengetahuan dan teknologi yang kuat, tuntas dan tidak setengah-setengah,

  2. Memiliki kepribadian yang prima, dan

  3. Memiliki keterampilan untuk membangkitkan minat peserta didik kepada ilmu pengetahuan dan teknologi.

  Sementara Tilaar (1998) memberikan empat ciri utama agar seorang guru masuk dalam kategori guru yang profesional, yaitu:

  1. Memiliki kepribadian yang matang dan berkembang,

  2. Memiliki keterampilan untuk membangkitkan minat peserta didik,

  3. Memiliki penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi yang kuat, dan 4. Sikap profesionalnya berkembang secara berkesinambungan.

  Uraian singkat di atas mengantarkan penulis pada sebuah harapan bahwa dengan profesionalisme guru senantiasa konsisten dalam mengemban tugas professional di era global dan di tengah arus derasnya gelombang globalisasi ini agar peserta didik dalam mengarungi luatan ilmu tidak hanya mengetahui ilmu dan pengetahuan dan agama. Kecuali itu, diharapkan agar para peserta didik memiliki keterampilan, keahlian (lifeskill) khususnya dalam bidang-bidang sains dan teknologi yang menjadi karakter dan ciri globalisasi yang pada gilirannya menjadikan mereka memiliki dasar-dasar competitive advantage dalam lapangan kerja, sebagaimana dituntut di era globalisasi.

BAB III PENUTUP

3.1 KESIMPULAN

  Profesi merupakan pekerjaan yang dilandasi oleh pengetahuan atau pendidikan tertentu, sehingga dikatakan profesi guru adalah keahlian guru dalam melaksanakan tugas-tugas kependidikan diperoleh setelah menempuh pendidikan keguruan tertentu, dan kemampuan tersebut tidak dimiliki oleh warga masyarakat pada umumnya yang tidak pernah mengikuti pendidikan keguruan. Menurut Y. Nasanius, profesi guru yaitu kemampuan yang tidak dimiliki oleh warga masyarakat pada umumnya yang tidak pernah mengikuti pendidikan keguruan. Dalam kamus bahasa Indonesia guru diartikan sebagai “orang yang kerjanya mengajar”. guru

  

profesional adalah guru yang mampu menerapkan hubungan yang

  berbentuk multidimensional. Profesionalisme merupakan kualitas dan mutu kinerja, serta perilaku yang menunjukkan suatu profesi guru.

  Kata "globalisasi" berasal dari kata “global”. Secara harfiah, kata “global” berarti sedunia tau sejagat, menyeluruh (mujmal), universal. Kata tersebut selanjutnya menjadi istilah yang merujuk kepada suatu kedaan di mana suatu negara dengan negara lain sudah menyatu. Secara garis besar globalisasi berimplikasi pada dua hal, yaitu: a. Implimentasi positif, b.

  Implimetasi negatif. Ciri SDM yang berkualitas tersebut adalah memiliki kemampuan dalam menguasai keahlian dalam suatu bidang yang berkaitan dengan iptek, mampu bekerja secara profesional dengan orientasi mutu dan keunggulan, dan dapat menghasilkan karya-karya unggul yang mampu bersaing secara global sebagai hasil dari keahlian dan profesionalitasnya. Sebagai tenaga pendidikan, guru profesional tidak lepas dari pencitraan yang diberikan dari orang lain. Era global identik dengan pernyataan Tilaar (1998) bahwa masyarakat millenium ketiga nanti mempunyai karakteristik masyarakat teknologi, masyarakat terbuka dan masyarakat madani yang secara keseluruhan akan berpengaruh pada visi, misi dan tujuan pendidikan.

DAFTAR PUSTAKA

  

  

  

Dokumen baru
Dokumen yang terkait
Tags
Makalah Pendidikan Lingkungan 1 Docx

Makalah Profesi Pendidikan Guru Docx

Makalah Etika Profesi Pendidikan Indonesia

Makalah Psikologi Pendidikan 1 Lupa Tran

Makalah Filsafat Pendidikan Makalah 485 1799 1 Pb

Kode Etik Profesi 1 Etik Hakim

1 Makalah Timah Putih 1 Analisis Situasi Makalah Makalah Salam 1 Malaysia

Makalah Kasus 1 Cnp

Makalah 1 Profesi Pendidikan (1)

Gratis

Feedback