RIZKY PRATAMA PUTRA MAKALAH PENDIDIKAN K

 0  1  22  2018-09-16 23:29:31 Report infringing document

  

MAKALAH PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN

RULE OF LAW & HAM

  Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan Dosen Pengajar: Anwar Aulia, M.Pd

  

Disusun oleh :

  Disusun Oleh: RIZKY PRATAMA PUTRA

  NIM: P27903117091 TINGKAT 1B

  

JURUSAN TEKNOLOGI LABORATORIUM MEDIK

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTRIAN KESEHATAN BANTEN

2018

KATA PENGANTAR

  Puji dan Syukur kami ucapkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini. Tidak lupa kami haturkan shalawat serta salam kepada junjungan nabi besar Muhammad SAW yang telah mengantarkan kita dari zaman kegelapan hingga zaman yang terang benderang seperti sekarang ini.

  Makalah ini memuat tentang “Rule Of Law & HAM”. Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang secara langsung maupun tidak langsung telah membantu dalam penyusunan makalah ini. Berkat bantuan serta dorongan mereka kami dapat menyelesaikan makalah ini.

  Saya sadar bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna, dan banyak sekali kekurangan dan kesalahan didalamnya. Maka dari itu, kritik maupun saran yang sifatnya membangun dari berbagai pihak sangat diperlukan demi menyempurnakan makalah ini. Saya berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca.

  Tangerang, 21 Maret 2018 Penyusun,

  

DAFTAR ISI

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

BAB I PENDAHULUAN

  1.1 LATAR BELAKANG

  Dalam kehidupan sehari-hari kita tidak terlepas dari hukum, mulai dari norma, nilai, tata krama, hingga hukum perundang-undangan dalam peradilan. Sayangnya hukum di Negara Indonesia masih kurang dalam proses penegakkannya, terutama penegakkan hukum di kalangan pejabat-pejabat dibandingkan dengan penegakkan hukum dikalangan menengah ke bawah. Hal ini terjadi karena di Negara kita, hukum dapat dibeli dengan uang. Siapa yang memiliki kekuasaan, dia yang memenangkan peradilan.

  Rule of Law adalah suatu doktrin yang mulai muncul pada abad ke 19, bersamaan dengan kelahiran Negara konstitusi dan demokrasi. Rule of Law merupakan konsep tentang common law dimana segenap lapisan masyarakat dan Negara beserta seluruh kelembagaannya menjungjung tinggi supremasi hukum yang dibangun diatas prinsip keadilan dan egalitarian. Ada tidaknya Rule of Law dalam suatu Negara ditentukan oleh kenyataan apakah rakyatnya benar-benar menikmati keadilan, dalam arti perlakuan yang adil baik sesama warga Negara maupun pemerintah

  1.2 RUMUSAN MASALAH 1.

  Apa pengertian Rule of Law? 2. Apa saja prinsip-prinsip Rule of law? 3. Apa pengertian HAM? 4. Bagaimana sejarah perkembangan HAM? 5. Bagaimana pengelompokkan HAM? 6. Bagaimana HAM di Indonesia?

  1.3 TUJUAN 1.

  Mengetahui pengertian Rule of Law 2. Mengetahui prinsip-prinsip Rule of Law 3. Mengetahui pengertian HAM 4. Mengetahui sejarah perkembangan HAM 5. Mengetahui pengelompokkan HAM 6. Mengetahui HAM di Indonesia

BAB II PEMBAHASAN

2.1 PENGERTIAN RULE OF LAW

  Rule of law dapat diartikan ke dalam bahasa Indonesia dengan “aturan” (Rule) dan “hukum” (law). Jadi konsep ini dikaitkan dengan Negara adalah Negara yang dalam tata pemerintahannya menggunakan aturan hukum untuk menjaga ketertiban masyarakat yang tertuang dalam konstitusinya. Friedman (1959) membedakan pengertian rule of law menjadi 2, yaitu pengertian secara formal (in the formal sense) dan pengertian secara hakiki/materil (ideological sense). Secara formal, Rule of Law diartikan sebagai kekuasaan umum yang terorganisasi (organized public power), misalnya Negara. Sedangkan secara hakiki Rule of Law,karena menyangkut ukuran hukum yang baik dan buruk (just and unjust law).

  Rule of Law merupakan doktrin dalam hukum yang mulai muncul pada abad ke-19, bersamaan dengan kelarihan negara konstitusi dan demokrasi. Kehadirannya boleh disebut sebagai reaksi dan koreksi terhadap terhadap Negara absolute yang telah berkembang sebelumnya. Negara Absolut sebagai perkembangan Negara di eropa, yaitu Negara yang terdiri dari wilayah-wilayah otonom. Negara absolute (sebagai Negara modern) menyerap kekuasaan yang semula ada pada wilayah-wilayah ke dalam satu tangan, yaitu tangan raja. Muncullah negara modern dengan atribut-atributnya, yaitu kedaulatan dan berdaulat (Soegito, 2006).

  Rule of Law merupakan konsep tentang common law, dimana segenap lapisan masyarakat dan negara beserta seluruh kelembagaannya menjunjung tinggi supremasi hukum yang dibangun diatas prinsip keadilan dan egalitarian. Rule of Law adalah rule by the way dan bukan rule by the men. Ia lahir mengambil alih dominasi yang dimiliki kaum gereja, ningrat, dan kerajaan, menggeser negara kerajaan dan memunculkan negara konstitusi dari mana doktrin rule of law ini lahir. Ada tidaknya rule of law dalam suatu Negara ditentukan oleh kenyataan apakah rakyatnya benar-benar menikmati keadilan dalam arti perlakuan yang adil, baik sesame warga negara, maupun pemerintah. Oleh karena itu, pelaksanaan kaidah-kaidah hukum yang berlaku di suatu hukum Negara merupakan suatu premise, bahwa kaidah-kaidah yang dilaksanakan itu merupakan hukum yang adi, artinya kaidah hukum yang menjamin perlakuan yang adil bagi masyarakat.

  Istilah Negara hukum secara terminologis terjemahan dari kata rechtsstaat, sementara tradisi Angol osaxon menggunakan istilah rule of law. Di Indonesia, istilah rechtsstaat dan rule of law biasa diterjemahka n dengan istilah “Negara hukum” (Winarno, 2007). Akan tetapi ada perbedaannya, dimana Negara hukum lahir dari suatu perjuangan menentang absolutism, yaitu dari kekuasaan raja yang sewenang-wenangnya. Artinya, Negara hukum dicapai melalui proses revolusi, seperti gerakan revolusi prancis dan pejuangan rakyat inggris yang menghasilkan Magna Charta. Sementara Negara dengan system rule of law diperoleh melalui proses evolusi (perubahan) yang bertahap,tanpa adanya kekerasaan. Negara hukum bersumber dari pengalaman demokrasi konstitusional di eropa abad ke 19 dan abad ke 20. Negara demokrasi pada dasarnya adalah aplikasi dari Negara hukum.

  Gerakan masyarakat yang menghendaki bahwa kekuasaan raja maupun penyelenggaraan negara harus dibatasi dan diatur melalui suatu peraturan perundang-undangan dan pelaksanaan dalam hubungannya dengan segala peraturan perundang-undangan itulah yang sering diistilahkan dengan Rule of Law. Misalnya gerakan revolusi Perancis serta gerakan melawan absolutisme di Eropa lainnya, baik dalam melawan kekuasaan raja, bangsawan maupun golongan teologis. Oleh karena itu menurut Friedman, antara pengertian negara hukum atau rechtsstaat dan Rule of Law sebenarnya saling mengisi (Friedman, 1960: 546). Berdasarkan bentuknya sebenarnya Rule of Law adalah kekuasaan publik yang diatur secara legal.

  Negara Indonesia pada hakikatnya menganut prinsip “Rule of Law, and not of Man”, yang sejalan dengan pengertian nomocratie, yaitu kekuasaan yang dijalankan oleh hukum atau nomos. Dalam negara hukum yang demikian ini, harus diadakan jaminan bahwa hukum itu sendiri dibangun dan ditegakkan menurut prinsip-prinsip demokrasi. Karena prinsip supremasi hukum dan kedaulatan hukum itu sendiri pada hakikatnya berasal dari kedaulatan rakyat. Oleh karena itu prinsip negara hukum hendaklah dibangun dan dikembangkan menurut prinsip-prinsip demokrasi atau kedaulatan rakyat atau democratische rechstssaat. Hukum tidak boleh dibuat, ditetapkan, ditafsirkan dan ditegakkan dengan tangan besi berdasarkan kekuasaan belaka atau machtsstaat. Karena itu perlu ditegaskan pula bahwa kedaulatan berada di tangan rakyat yang dilakukan menurut Undang-Undang Dasar atau constitutional democracy yang diimbangi dengan penegasan bahwa negara Indonesia adalah negara hukum yang berkedaulatan rakyat atau demokratis (democratische rechtsstaat) Asshid diqie, 2005: 69-70). Syarat-syarat dasar untuk terselenggaranya pemerintahan yang demokrasi menurut rule of law adalah :

  1. Adanya perlindungan konstitusional 2. Badan kehakiman yang bebas dan tidak memihak.

  3. Pemilihan umum yang bebas.

  4. Kebebasan untuk menyatakan pendapat

  5. Kebebasan untuk berserikat/berorganisasi dan beroposisi

  6. Pendidikan kewarganegaraan Ada tidaknya rule of law pada suatu negara ditentukan oleh “kenyataan”, apakah rakyat menikmati keadilan, dalam arti perlakuan adil, baik sesama warga Negara maupun pemerintah. Untuk membangun kesadaran di masyarakat maka perlu memasukkan materi instruksional Rule of Law sebagai salah satu materi di dalam mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan (PKn).

2.2 PRINSIP-PRINSIP RULE OF LAW

  Prinsip-prinsip rule of law secara formal tertera dalam pembukaan UUD 1945 yang menyatakan: a. Bahwa kemerdekaan itu adalah hak segala bangsa,…karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan ”peri keadilan”; b.

  …kemerdekaan Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, ”adil” dan makmur; c. …untuk memajukan ”kesejahteraan umum”,…dan ”keadilan social”;

  d. …disusunlah kemerdekaan kebangsaan Indoensia itu dalam suatu ”Undang-Undang Dasar Negara Indonesia”; e.

  ”…kemanusiaan yang adil dan beradab”; f.

  …serta dengan mewujudkan suatu ”keadilan sosial” bagi seluruh rakyat Indonesia. Dengan demikian inti rule of law adalah jaminan adanya keadilan bagi masyarakat terutama keadilan sosial.

  Menurut Dicey (dalam Kaelan dan achmad zubaidi, 2007:97),terdapat tiga unsure yang fundamental dalam rule of law, yaitu: a.

  Supremasi aturan-aturan hukum,tidak adanya kekuasaan sewenang-wenangnya, dalam artis seorang hanya boleh dihukum jika memang melanggar hukum.

  b.

  Kedudukan yang sama di hadapan hukum. Hal ini berlaku baik bagi masyarakat biasa c. Terjaminnya hak-hak asasi manusia oleh undang-undang dan keputusan-keputusan pengadilan.

  Berdasarkan prinsip di atas, terlihat bahwa Negara dengan system rule of law terbatas dalam arti pengertian Negara hukum formal, yaitu pengertian Negara hukum dalam arti sempit. Dalam konsep ini, yaitu Negara yang dikonsepsikan sebagai system penyelenggaraan kekuasaan pemeerintahan Negara yang didasarkan atas hukum.

  Tidak bisa dipungkiri bahwa dalam decade abad ke-20,konsep Negara dengan system rule of law mengarah pada pengembangan Negara hukum dalam arti material. Arah tujuannya memperluas peran pemerintah terkait dengan tuntunan dan dinamika perkembangan zaman. Konsep Negara dengan system rule of law yang dikembangkan di abad ini sedikitnya memiliki sejumlah cirri yang melekat pada Negara hukum atau rechtsstaat, Yaitu sebagai berikut: a. Peradilan yang bebas dari pengaruh kekuasaan atau kekuatan lain dan tidak memihak.

  b. Supremasi hukum(menjunjung tinggi hukum).

  c. Pemilihan umum yang bebas.

2.3 PENGERTIAN HAM

  HAM merupakan terjemahan dari “human right” (hak manusia) dan dalam Bahasa

  Belanda disebut dengan mensen rechten. Secara definitif “hak” merupakan unsur normatif yang berfungsi sebagai pedoman berperilaku , melindungi kebebasan , kekebalan, serta menjamin adanya peluang bagi manusia dalam menjaga harkat dan martabatnya. Sementara asasi diambil dari istilah “leges fundamentalis” ( hukum dasar ) di mana dalam bahasa Belanda disebut dengan “gron recthen”, bahasa jerman disebut dengan “grundrechte”, dan dalam bahasa inggris disebut dengan “basic right”.

  Antara human right dan basic right terdapat perbedaan yang cukup mendasar. Human right merupakan perlindungan terhadap seseorang dari penindasan oleh negara atau bukan negara. Sementara basic right merupakan perlindungan terhadap seseorang warga Negara/penduduk dari penindasan negara. Artinya , konsep human right lebih luas cakupannya jika dibandingkan dengan basic right.

  Beberapa ahli mendefinisikan HAM dari berbagi sudut pandang masing-masing, seperti John Locke yang memberikan pengertian bahwa HAM adalah hak yang dibawa sejak lahir yang kodrati melekat pada setiap manusia dan tidak dapat diganggu gugat atau bersifat mutlak (Budiyanto, 2002: 66). Selain itu, Darji Darmodiharjo (2006) mengatakan, bahwa hak-hak asasi manusia adalah hak dasar atau hak-hak pokok yang dibawa manusia sejak lahir sebagai anugrah Tuhan Maha Esa. Koentjoro poerbapranoto (1976, dalam Darji Damodiharjo, 2006) menyatakan, b ahwa hak asasi manusia adalah hak yang bersifat asasi. Artinya, hak-hak yang dimiliki manusia menurut kodratbahnya yang tidak dapat dipisahkan dari hakikatnya sehingga sifatnya suci. Semantara UU No. 39 Tahun 1999 tentang HAM menyatakan , bahwa HAM merupakan seperangkat hak yang melekat pada hakikat dan keberadaan manusia sebagai makhluk Tuhan Y.M.E dan merupakan anugerah-Nya yang wajib dihormati, dijunjung tinggi dan dilindungi oleh Negara , pemrintah, dan setiap orang demi kehormatan serta perlindungan harkat dan martabat manusia.

  Berdasarkan definisi dan uraian tentang HAM diatas, dapat ditarik suatu kesimpulan mengenai beberapa ciri pokok HAM,antara lain sebagai berikut: a.

  Inheren atau kodrati artinya HAM tidak perlu diberikan, dibeli atau diwarisi. HAM adalah bagian dari manusia secara otomatis yang diberikan oleh Tuhan Y.M.E ( yang telah dianugerahkan sejak manusia masih dalam kandungan). b.

  Bersifat universal , artinya HAM berlaku untuk semua orang tanpa memandang jenis kelamin, ras, agama, etnis, pandangan politik atau usul-usul social dan bangsa.

  c.

  Bersifat particular di mana setiap warga negara memiliki hak yang sama dalam kehidupan bernegara.

  d.

  Tidak dapat diingkari dan dilanggar atau bersifat supralegal.

  e.

  Tidak dapat dibagi. Semua orang berhak mendapatkan semua hak, apakah iyu hak sipil, politik, ekonomi, dan social budaya.

  f.

  Saling tergantung. Artinya , penikmatan satu hak dipengaruhi oleh penikmatan hak-hak lainnya.

  g.

  Transcendental, dimana hak itu merupakan sesuatu yang teramat sangat penting, sehingga tidak untuk disepelekan

2.4 SEJARAH PERKEMBANGAN HAM

  HAM muncul karena insiatif manusia terhadap harga diri dan martabatnya sebagai akibat tindakan sewenang-wenangnya dari penguasaan, penjajahan, perbudakan, ketidakadilan, dan kezaliman ( tirani ). HAM sebagai gagasan, paradigm, serta kerangka konseptual tidak lahir secara tiba-tiba langsung tercantum dalam Universal Declaration Of Human Rights tanggal 10 Desember 1948. Akan tetapi, HAM lahir dalam suatu proses yang teramat sangat panjang dalam sejarah peradapan manusia yang mncapai puncaknya melalui deklarasi HAM PBB tersebut.

  Perkembangan pengakuan HAM ini berjalan secara perlahan dan beraneka ragam, yang dapat kita lihat secara berurutan sebagai berikut:

  • Perkembangan HAM pada masa lampau.
  • Perkembangan HAM di Inggris.
  • Perkembangan HAM di Amerika Serikat.
  • Perkembangan HAM di Prancis.
  • Atlantic charter Tahun 1941.pengakuan HAM oleh PBB ( dengan dicetuskan Universal Declaration Of Hman Rights) • Hasil-hasil siding majelis Umum PBB Tahun 1966 tentang HAM.
A.

  Perkembangan Ham Pada Masa Lampau Perkembangan HAM pada masa lampau sebagai berikut: 1. Perjuangan Nabi Musa dalam membebasakan umat yahudi dari perbudakan pada masa pemerintahan Fir’aun di Mesirn( Tahun 6000 SM).

  2. Piagam Hammurabi di Babylonia yang memberi jaminan keadilan bagi warga negaranya ( tahun 2100 SM).

  3. Socrates (469-399 SM), plato (429-347) dan Aristoteles ( 384-322 SM) sebagai filsufi 4.

  Perjungan Nabi Muhammad Saw. Yang awalnya untuk membebaskan para bayi wanita dari penindasan bangsa Quraisy serta banyak hak lagi yang di atur di dalam Al-Quran dan Haddist ( Tahun 600 Maseni).

  B.

  Perkembangan HAM di Inggris Lahirnya HAM di kawasa Eropa dimulai dengan Magna Charta atau Piagam Agung di Inggris pada tahun 1215, pada masa pemerintahan Raja John Lackland yang bertindak sewenang-wenangnya terhadap rakyat dan kelompok bangsawan. Tindakan Raja John ini mengakibatkan rasa tidak puas rakyat dan kaum bangsawan yang kemudian mengadakan pemberontakan. Pemberontakan ini berhasil memaksa Raja John untuk mendatangani suatau perjanjian yang disebut Magna Charta. Terdapat dua prinsip yang sangat mendasar dalam Magna Charta yaitu (1) adanya pembantasan kekuasaan raja dan (2) HAM lebih memilih penting daripada kedaulatan raja. Pada tahun 1628, di Inggris keluar piagam “petition of rights” yang ditandatangani oleh Raja Charles I. Dokumen ini berisi pernyataan hak-hak rakyat beserta jaminannya. Hak-hak tersebut adalah: (1) Pajak dan pungutan istimewa harus disertai persetujuan, (2) Warga Negara tidak boleh dipaksakan menerima tentara di rumahnya, (3) Tentara tidak boleh menggunakan hokum perang dalam keadaan damai. Tahun 1679, muncul “Habeas Corpus Act”. Dokumen ini merupakan UU bang mengatur tentang penahanan seseorang. Isinya adalah :

  1. Seseorang yang ditahan segera diperiksa dalam waktu 2 hari setelah penahanan.

  2. Alasan penahanan seseorang harus disertai bukti yang sah menurut hukum.

  Tahun 1689, keluar “Bill of rights” yang merupakan UU diterima parlemen Inggris dan ditandatangani oleh raja willem III, sebagian hasil dari pergolakan politik yang sangat dahsyat yang disebut the Gloriusos Revolution. Peristiwa ini bukan saja sebagai symbol kemenangan parlemen atas raja, melainkan juga kemenangan rakyat dalam pergolakan selama 60 tahun. Bill of Rights berisi antara lain sebagai berikut:

  1. Kebebasan dalam pemilihan anggota parlemen.

  Kebebasan berbicara dan mengeluarkan pendapat.

  3. Pajak, UU, dan pembentukan tentara tetap harus seizin parlemen.

  4. Hak warga Negara untuk memeluk agama dan kepercayaan masing-masing.

  5. Parlemen berhak untuk mengubah keputusan raja.

  C.

  Perkembangan HAM di Amerika Serikat Perjuangan penegakan HAM di Amerika Serikat didasari pemikiran John lock tentang hak-hak alam seperti: hak hidup (life), kebebasan (liberty), dan hak milik

  (property). John Locke berpendapat bahwa manusia tidaklah secara absolut menyerahkan hak-hak individu kepada penguasa. Hak yang diserahkan pada penguasa adalah hak yang berkaitan dengan perjanjian tentang Negara, sementara hak lainnya tetap berada pada individu masing-masing.

  Dasar pemikiran John Locke inilah yang kemudian dijadikan landasan bagi pengakuan HAM yan terlihat dalam Declaratio of Independence of The united States pada tanggal 4 Juli 1776. Perjuangan HAM di Amerika serikat disebabkan karena rakyat AS (emigran eropa) merasa tertindas oleh pemerintah Inggris sebagai Negara penjajah. Akhirnya rakyat Amerika Serikat dan di bawah pimpinan George Washington, Amerika.

  Deklarasi kemerdekaan Amerika menumbangkan kolonialisme dengan prinsip: 1) Manusia itu dilahirkan sama, dan 2) Tuhan pencinta alam semesta menganugerahkan kepada maunsia beberapa hak yang tidak dapat dirampas daripadanya, yaitu hak hidup, hak merdeka, dan hak mengejar kebahagian. Untuk menjamin hak-hak tersebut maka pemerintahan dibentuk dengan kekuasaan berdasarkan konsensus rakyat. Dengan demikian mulai dipertegas, bahwa manusia merdeka sejak di dalam perut ibunya, sehingga tidaklah logis bila sesudah lahir ia dibelenggu.

  D.

  Perkembangan HAM di Prancis Perjuangan HAM di Prancis sudah dimulai sejak zaman Rousseau, dan perjuangannya memuncak dalam Revolusi Prancis yang berhasi menetapkan hak-hak asasi manusia yang dirumuskan dalam suatu naskah

  Declaration des Droits L’homme et du citoyen ( pernyataan mengenai hak-hak asasi manusia dan warga Negara) yang ditetapkan

  Naskah ini keluar sebagai reaksi atas ketidakpuasan kaum borjuis dan rakyat terhadap kesewenang-wenangan Raja Louis XIV ada awal Revolusi Prancis tahun 1789.

  E.

  Atlantic Charter Tahun 1941 Atlantic Charter adalah sebuah deklarasi bersama yang dikeluarkan oleh Perdana

  Menteri Inggris yang bernama Winston Churchill dan Presiden Amerika Serikat yang bernama Franklin D Roosevelt pada tanggal 14 Agustus 1941 di atas kapal perang Kerajaan Inggris dengan merk HMS Prince of Wales di perairan Samudera Atlantik, tepatnya di Teluk Plancentia, Argentina. Dalam Piagam Atlantik terdapat delapan poin penting mengenai:

1. Tidak ada lagi wilayah yang dicari oleh Amerika Serikat atau Inggris 2.

  Pengaturan sebuah wilayah harus sesuai dengan kehendak masyarakat bersangkutan 3. Hak untuk menentukan nasib sendiri; 4. Pengurangan rintangan perdagangan; 5. Memajukan kerja sama ekonomi dunia dan peningkatan kesejahteraan social; 6. Kebebasan berkehendak dan bebas dari kekhawatiran ; 7. Menciptakan kebebasan di laut lepas; dan 8. Pelucutan senjata di seluruh dunia pasca perang.

  Sebelumnya, Frankin D Roosevelt dalam amanat tahunannya kepada Kongres AS pada tanggal 6 Januari 1941 telah mencetuskan sebuah doktrin yang dikenal dengan The

  four freedom (4 kebebasan), yaitu:

  1) Hak kebebasan untuk berbicara dan menyatakan pendapat (freedom of speech)

  2) Hak kebebasan untuk memeluk agama dan beribadah sesuai dengan ajaran agama yang dipeluknya (freedom of religion)

  3) Hak kebebasan dari kemiskinan dalam pengertian setiap bangsa berusaha mencapai tingkat kehidupan yang damai dan sejahtera bagi penduduknya

  (freedom from want) 4)

  Hak kebebasan dari ketakutan, yang meliputi usaha, pengurangan persenjataan, sehingga tidak satupun bangsa (negara) berada dalam posisi berkeinginan untuk melakukan serangan terhadap Negara lain (freedom from fear)

  Doktrin inilah yang kemudian menjadi inspirasi dari Universal Declaration of human Right tahun 1948.

  F.

  Pengakuan Ham Oleh PBB Pada tanggal 10 Desember 1948, PBB telah berhasil merumuskan naskah yang dikenal dengan The Universal Declaration of Human Right (pernyataan se-dunia tentang

  HAM). Pasal 1 piagam ini berbunyi: “sekalian orang dilahirkan mereka dan memounyai martabat dan hak-hak yang sama. Mereka dikaruniai akal dan budi, dan hendaknya bergaul satu sama lain dalam persaudaraan”. Deklarasi itu melambangkan komitmen moral dunia internasional pada HAM serta merupakan pedoman dan standar Negara-negara anggota organisasi PBB untuk dituangkan dalam konstitusi masing-masing

  Universal Declaration of Human Right diumumkan sebagai

  “suatu standar pencapaian yang berlaku umum untuk semua rakyat dan semua Negara”. Hak-hak yang disuarakannya disebarkan lewat “pengajaran dan pendidikan” serta lewat “langkah- langkah progresif, secara nasional dan internasional, guna menjamin pengakuan, dan kepatuhan yang bersifat universal dan efektif terhadapnya”. Hal yang terlihat menonjol dalam Deklarasi Universal HAM ini antara lain adalah: 1. Hak asasi manusia adalah hak.

  2. Hak-hak ini disebut universal, yang dimiliki oleh manusia semata-mata karena ia adalah manusia.

  3. HAM dipandang sebagai norma-norma yang penting. Meski tidak seluruhnya bersifat mutlak.

  4. Hak-hak ini mengimplikasikan kewajiban bagi individu maupun pemerintah.

  Hasil Sidang Majelis Umum PBB Tahun 1996

  Hasil Sidang Majelis Umum PBB Tahun 1996 menghasilkan beberapa piagam yang berkaitan dengan HAM, antara lain:

  1. The International on Civil and Political Right, yaitu tentang hak sipil dan politik.

  2. The International Covenant on Economic, Social and Cultural Right, yaitu berisi syarat- syarat dan nilai-nilai bagi system demokrasi ekonomi, social dan budaya.

  3. Optional Protocol, yang berisi adanya kemungkinan seorang warga Negara yang mengadukan pelanggaran HAM kepada The Human Right Committee PBB setelah melalui upaya pengadilan di negaranya.

2.5 PENGELOMPOKKAN HAM a.

  Hak – hak asasi pribadi (personal rights) meliputi kebebasan menyatakan pendapat, kebebasan memeluk agama, dan kebebasan bergerak.

  Hak – hak asasi ekonomi (property rights) meliputi hak untuk memiliki sesuatu, hak untuk membeli dan menjual serta memanfaatkannya.

  c.

  Hak – hak asasi politik (political rights) hak untuk ikut serta dalam pemerintahan, hak pilih (dipilih dan memilih dalam pemilu) dan hak untuk mendirikan partai politik.

  d.

  Hak asasi untuk mendapatkan perlakuan yang sama dalam hukum dan pemerintahan (rights of legal equality).

  e.

  Hak – hak asasi social dan kebudayaan (social and culture rights). Misalnya hak untuk memilih pendidikan dan hak untuk mengembangkan kebudayaan.

  b. f.

  Hak asasi untuk mendapatkan perlakuan tata cara peradilan dan perlindungan (procedural rights). Misalnya peraturan dalam hal penahanan, penangkapan, penggeledahan, dan peradilan.

2.6 HAM DI INDONESIA

  Untuk mencapai tujuan melindungi HAM setiap warga negara, negara Indonesia telah memiliki produk hukum yang mengatur tentang HAM, yakni sebagai berikut : a.

  Pembukaan UUD 1945, tentang hak untuk merdeka, hak untuk hidup sejahtera, hingga hak memperoleh pendidikan.

  b.

  UU RI Nomor 26 Tahun 2000 tentang pengadilan HAM c. UU Nomor 39 Tahun 1999 tentang HAM yang juga mengatur tentang berbagai macam hak yang harus dimiliki oleh warga Negara Indonesia.

  Khusus membahas tentang UU no.39 tahun 1999, terdapat macam-macam HAM yang diatur dalam peraturan perundang-undangan ini, antara lain:

  1. Hak berkeluarga dan melanjutkan keturunan, yaitu hak untuk membentuk suatu keluarga melalui perkawinan yang sah.

  2. Hak untuk hidup, yang meliputi : (1) hak untuk hidup dan meningkatkan taraf kehidupan (2) hak untuk hidup tentram, aman dan damai, dan (3) lingkungan hidup yang layak.

  3. Hak mengembangkan diri yang meliputi: hak untuk pemenuhan kebutuhan dasar,(2) hak pengembangan pribadi, (3) ha katas manfaat IPTEKS, dan (4) ha katas komunikasi dan informasi 4. Hak memperoleh keadilan, meliputi : (1) hak perlindungan hukum, (2) hak atas keadilan dalam proses hukum, dan (3) hak katas hukuman yang adil.

  5. Hak kebebasan pribadi, meiputi : (1) hak untuk bebas dari perbudakan, (2) ha katas keutuhan pribadi, (3) kebebasan memeluk agama dan keyakinan politik, (4) kebebasan untuk berserikat dan berkumpul, (5) kebebasan untuk menyampaikan pendapat, (6) ha katas status kewarganegaraan, dan (7) hak kebebasan untuk bergerak.

  6. Hak atas rasa aman, meliputi: (1) hak untuk mencari suaka, dan (2) hak perlindungan diri pribadi.

  7. Hak atas kesejahteraan, meliputi: (1) hak milik, (2) hak atas pekerjaan, (3) hak untuk bertempat tinggal secara layak, (4) hak jaminan sosial, (5) perlindungan bagi kelompok rentan.

  8. Hak turut serta dalam pemerintahan, meliputi: (1) hak pilih dalam pemilu, (2) hak untuk berpendapat

  9. Hak wanita, meliputi: (1) hak pengembangan pribadi dan persamaan dalam hukkum, dan (2) hak perlindungan reproduksi.

  10. Hak anak, meliputi: (1) hak hidup anak, (2) status warga Negara anak, (3) hak anak yang rentan, (4) hak pengembangan pribadi dan perlindungan hokum, dan (5) hak jaminan sosial anak. Selanjutnya UU RI No.26 Tahun 2000 tentang pengadilan HAM menyatakan, bahwa “Pengadilan HAM merupakan pengadilan khusus yang berada di lingkungan peradilan umum di daerah kabupaten atau daerah kota yang daerah hukumnya meliputi pengadilan negeri yang bersangkutan”. Pengadilan HAM bertugas dan berwenang memeriksa dan memutus perkara pelanggaran HAM yang berat, yang meliputi: a.

  Kejahatan genosida yaitu setiap perbuatan yang dilakukan dengan maksud untuk menghancurkan atau memusnahkan seluruh atau sebagian kelompok bangsa, ras, kelompok etnis, dan kelompok agama.

  b.

  Kejahatan terhadap kemanusiaan yaitu salah satu perbuatan yang dilakukan sebagai bagian dari serangan yang meluas atau sistematik yang siketahuinya bahwa serangan tersebut ditujukan secara langsung terhadap penduduk sipil.

2.7 CONTOH PELANGGARAN HAM a.

  Pelanggaran HAM yang dilakukan oleh musollini di Itali

  Pelanggaran HAM di Negara italia tahun 1924 ergolong pelanggaran HAM terberat di dunia. Aktor utamanya adalah benito Mussolini, yang memimpin paham fasisme di italia. Mussolini memerintah di italia dalam periode 1943. Selama 19 tahun masa pemerintahannya, ia dikenal sebagai seorang pemimpin yang otoriter, dan tidak segan membunuh orang-orang yang tidak sepaham dengannya. Benito Mussolini juga termasuk salah satu pencetus Perang Dunia II. Ia turut berkoalisi dengan Adolf Hitler dari Jerman untuk elawan sekutu pada Perang Dunia II.

  b.

  Pelanggaran HAM yang dilakukan oleh Adolf Hitler di Jerman melakukan banyak kejahatan kemanusiaan, sepertimenangkap tokoh-tokoh politik yang menentangnya dan melakukan pembasmian ada orang-orang Yahudi. Hitler sendiri memang dikenal sebagai anti-Yahudi. Hitler sendiri memang dikenal sebagai anti- Yahudi. Ia juga menjadi salah satu penyebab utama terjadinya Perang Dunia II.

  c.

  Pelanggaran HAM yang dilakukan Israel terhadap Palestina Masalah sengketa antara Israel dan Palestina menjadi salah satu contoh pelanggaran

  HAM internasional yang lainnya. Hal ini bermula ketika Israel memperluas wilayahnya dengan menguasai sebagian besar wilayah Palestina. Hasilnya, kini wilayah Palestina hanya tersisa sedikit saja.

  Dalam perspektif regional, perjuangan HAM di Indonesia dimulai dari siding BPUPKI dan PPKI pada saat menyusun UUD 1945 yang membicarakan tentang hak dasar manusia sehingga menetapkan 37 pasal dalam UUD1945. Walaupun demikian, dalam perkembangannya kasus pelanggaran HAM tetap terjadi di Indonesia, seperti: 1.

   Pelanggaran HAM yang dilakukan oleh Gerakan 30 September/PKI

  Diantara kasus-kasus pelanggaran berat HAM, perkara seputar peristiwa G30 S/PKI patut dikemukakan. Peristiwa ini dikenang sebagai peristiwa pembantaian terhadap umat islam dan pembantaian terhadap 7 orang jenderal di Indonesia.

  2. Kasus Pembunuhan Munir

  Munir Said Thalib adalah aktivis HAM yang pernah menangani kasus- kasus pelanggaran HAM. Munir pernah menangani kasus pelanggaran HAM di Indonesia seperti kasus pembunuhan Marsinah, kasus Timor-Timur dan masih banyak lagi. Munir meninggal pada tanggal 7 September 2004 di dalam pesawat Garuda Indonesia ketika ia sedang melakukan perjalanan menuju Amsterdam, Belanda.

  3. Peristiwa pembunuhan Aktivis Buruh Wanita, Marsinah

  Marsinah merupakan salah satu buruh yang bekerja di PT.Catur Putra Surya (CPS) yang terletak di Porong, Sidoarjo, Jawa Timur. Masalah muncul ketika Marsinah bersama dengan teman-teman sesama buruh dari PT.CPS menggelar unjuk rasa, mereka menuntut untuk menaikkan upah buruh pada tanggal 3 dan

  4 Mei 1933. Masalah memuncak ketika Marsinah menghilang dan tidak diketahui oleh rekannya, dan sampai akhirnya pada tanggal 8 Mei 1933 Marsinah ditemukan meninggal dunia. Mayatnya ditemukan di sebuah hutan di Dusun Jegong, Kecamatan Wilangan, Nganjuk, Jawa Timur dengan tanda- tanda bekas penyiksaan berat. Menurut hasil otopsi, diketahui, bahwa Marsinah meninggal karena penganiayaan berat.

  4. Kasus Penembakan Mahasiswa Trisakti

  Kasus Trisakti merupakan salah satu kasus penembakan kepada para mahasiswa Trisakti yang sedang berdemonstrasi oleh para anggota polisi dan militer. Bermula ketika mahasiswa-mahasiswa Universitas Trisakti sedang melakukan demonstrasi setelah Indonesia mengalami Krisis Finansial Asia pada tahun 1997 menuntut Presiden Soeharto mundur dari jabatannya. Peristiwa ini di kenal dengan Tragedi Trisakti.

  Semenjak reformasi telah ada peraturan perundang - undangan yang memberikan jaminan dan petunjuk dalam penyelesaian masalah yang sehubungan dengan HAM di antaranya adalah Undang - undang No.39 tahun 1999 Hak Asasi Manusia, UU No.9 Tahun 1998 tentang Kemerdekaan Menyampaikan Pendapat di Muka Umum.

  Pada prinsipnya, baik secara global maupun regional, dalam rangka menegakkan dan melindungi HAM sesuai dengan prinsip Negara. Jadi, dalam menjalankan hak dan kebebasannya, setiap orang wajib tunduk terhadap ; (a) pembatasan yang ditetapkan oleh UU, dan (b) pengakuan dan kebebasan orang lain dan nilai

  • – nilai agama, ketertiban dan keamanan umum dalam masyarakat yang demokratis.

  Selain itu, satu lagi upaya yang sangat menentukan perlindungan terhadap pelanggaran HAM adalah melalui peradilan. Peradilan yang kuat akan memberikan perlindungan yang terbaik terhadap HAM dan berdampak positif terhadap tindakan- tindakan yang menjurus kepada pelanggaran HAM.

BAB III PENUTUP

  3.1 KESIMPULAN

  Ada tidaknya Rule of Law pada suatu Negara ditentukan oleh “Kenyataan”. Apakah rakyat dapat menikmati keadilan, dalam arti perlakuan yang adil didalam hukum, baik sesama warga Negara maupun pemerintah. Prinsip-prinsip rule of law secara formal tertera dalam pembukaan UUD 1945. Penjabaran prinsip-prinsip rule of law secara formal termuat di dalam pasal-pasal UUD 1945. Agar kita dapat menikmati keadilan maka seluruh aspek Negara harus bersih, jujur, mentaati undang-undang, juga bertanggung jawab, dan menjalankan UU 1945 dengan baik.

  3.2 SARAN

  Sebagai seorang warga negara yang baik memiliki kewajiban untuk menjunjung tinggi hukum serta kaidah-kadiah agar tercipta keamanan, ketentraman, dan kenyamanan. Mempelajari Undang-Undang 1945 berserta butir-butir nilainya dan menjalankan apa yang menjadi tuntutannya agar terjadi kehidupan yang stabil dan taat hukum. Dalam suatu penegakkan hukum di suatu Negara seperti Indonesia, maka seluruh aspek kehidupan harus dapat merasakan dan diharapkan aspek-aspek tersebut dapat mentaati hukum, maka akan terciptalah pemerintahan dan kehidupan Negara yang harmonis, selaras, makmur, damai, serta taat hukum.

DAFTAR PUSTAKA

  • Kaelan. 2007. Pendidikan Kewarganegaraan.Yogyakarta. Paradigma -

  Zaelani, Endang Sukaya. 2010. Pendidikan Kewarganegaraan.Yogyakarta. Paradigma

  • Herdiawanto, Hery. 2010. Pendidikan Kewarganegaraan. Jakarta. Erlangga

Dokumen baru
Aktifitas terbaru
123dok avatar
Medownload saja
Penulis
123dok avatar

Berpartisipasi : 2018-08-08

Dokumen yang terkait

RIZKY PRATAMA PUTRA MAKALAH PENDIDIKAN K

Gratis

Feedback