EFEK KECEPATAN PENGELASAN TERHADAP SIFAT MEKANIK HASIL PENGELASAN FCAW PADA PLAT BAJA A36

Gratis

0
2
6
1 year ago
Preview
Full text

  Seminar Nasional Teknologi dan Rekayasa (SENTRA) 2017

  ISSN (Cetak) 2527-6042 eISSN (Online) 2527-6050

EFEK KECEPATAN PENGELASAN TERHADAP SIFAT MEKANIK

HASIL PENGELASAN FCAW PADA PLAT BAJA A36

*1 2 3 1,2,3

Moh. Jufri , Nur subeki , Arizal Asfat

  Teknik Universitas Muhammadiyah Malang Kontak person:

  Moh. Jufri Email : Jufri63@yahoo.com

  

Abstrak

Teknik pengelasan paling banyak digunakan untuk penyambungan logam, terutama di konstruksi

jaringan perpipaan. Kualitas hasil pengelasan yang dilakukan manual salah satunya ditentukan oleh

operator sehingga para ahli pengelasan meningkatkan kualitas produksi yaitu dengan desain alat bantu

pengelasan ini selain bertujuan menggantikan fungsi dari bagian tubuh manusia (operator) juga dapat

menanggulangi distorsi bukling, rambatan retak,tegangan sisa dan dapat mengurangi tambahan

pekerjaan tambahan yaitu perlakuan panas setelah pengelasan (PWHT). Metode yang sangat bagus

untuk menanggulangi distorsi bukling dari plat tipis dengan cara dengancara preheating dan thermal

tensioning. Thermal tensioning adalah karakterisasi oleh aplikasi dari bantuan panas selama proses

pengelasan. Transient thermal tensioning merupakan alat bantu disekitar daerah pengelasan yang

diberikan panas secara periodik mengikuti gerakan busur las. Metode penelitian ini merupakan

penelitian eksperimen meliputi pengujian performace alat bantu pengelasan dilakukan dengan variasi

o

kecepatan 6,7 dan 8 mm/s pada temperatur transient 200 C dengan touct pemanas 8 cm. Sampel

hasil pengelasan kemudian dilakukan pengujian distorsi, tarik dan kekerasan. Hasil penelitian

menunjukkan nilai distorsi terendah 0,01 mm di dapat pada kecepatan 7 mm/s dengan temperatur

pemanas 200 C dan posisi jarak flame 8cm dengan kelengkungan tertinggi 3,8 mm. Nilai kekerasan

tertinggi pada kecepatan pengelasan 6 mm/s dengan temperatur pemanas 200 C dan jarak flame 8cm

2

sebesar 259,271 kg/mm dan tegangan tarik kecepatan pengelasan 6 mm/s dengan temperatur 200 C

dan jarak flame 8cm, dengan nilai tegangan tarik luluh (yield) sebesar 360,761 Mpa dan nilai tegangan

tarik maksimum sebesar 463,286 Mpa.

  Kata kunci: Preheat, distorsi, tarik, kekerasan

1. Pendahuluan

  Proses pengelasan adalah proses penyambungan dua bagian logam atau lebih dengan menggunakanenergi panas. Energi panas pada pengelasan tersebut akan menimbulkan terjadinya siklus termal. Adanyasiklus termal tersebut akan mengakibatkan terjadinya tegangan sisa, distorsi serta laju pendinginan padalogam las dan daerah sekitarnya. Struktur mikro logam las sangat dipengaruhi oleh laju pendinginan dankomposisi kimia bahan (logam induk dan elektroda). Pada akhirnya tegangan sisa dan struktur mikrologam las tersebut akan mempengaruhi sifat mekanis dari logam lasan.Sambungan las banyak digunakan dengan pertimbangan bahwa konstruksi ringan, murah dan pengerjaan cepat. Perancangan las dan cara pengelasan harus betul-betul memperhatikan kesesuaianantara sifat-sifat las dengan kegunaan konstruksi serta keadaan disekitarnya. Kekuatan sambungan lassecara umum dipengaruhi oleh komposisi dan sifat logam yang dilas, komposisi dan sifat logam pengisi(elektroda), proses pengelasan, daerah pemanasan langsung, daerah yang terkena pengaruh panas danadanya tegangan sisa[2,3,11]

  Pada penelitian ini pengelasan yang di gunakan las listrik FCAW (Flux Corect Arc Welding) dengan pengelasan otomatis. Hal ini sangat erat hubunganya dengan arus listrik, ketangguhan, cacat las, struktur mikro serta retak yang pada umumnya mempunyai pengaruh yang fatal terhadap keamanan dan kontruksi yang dilas tetapi tenang saja proses pengelasan FCAW ini mempunyai keunggulan yaitu penetrasinya lebih dalam dan laju pengisian lebih tinggi dibanding dengan proses SMAW. Banyak berbagai macam pengelasan, salah satunya adallah pengelasan FCAW. FCAW (Flax Cored Arc

  

Welding ) adalah salah satu jenis las listrik yang memasok filter elektroda yang memasok filter elektroda

  secara mekanis terus ke dalam busur listrik yang terbentuk di antara ujung filter elektroda dan metal induk. gas pelindungnya juga sama-sama menggunakan karbon CO2. sumber energi dari pengelasan ini adallah listrik AC atau DC dari pembangkit listrik atau trafo dan rectifier[3],[9]

  Seminar Nasional Teknologi dan Rekayasa (SENTRA) 2017

  ISSN (Cetak) 2527-6042 eISSN (Online) 2527-6050

  Kecepatan pengelasan sangat bergantung pada besar kuat arus yang digunakan.jenis elektroda, diameter inti elektroda, bahan yang akan dilas, geometri sambungan dan lain sebagainya. Dalam pengelasan, kecepatan yang tinggi dapat menyebabkan kurangnya penetrasi, berkurangnya kekuatan sambungan dan mengakibatkan masukan panas yang diterima persatuan panjang akan menjadi lebih kecil. Hal ini dapat berdampak pada pendinginan yang cepat sehingga dapat memperkeras daerah terpengaruh panas. Keceptan las yang terlalu tinggi akan berpengaruh pada bentuk manik las yang menyempit dan penguatan manik yang rendah. Selain itu dapat merubah sifat mekanik daerah lasan yang berupa naiknya kekuatan tarik dan perpanjangan yang rendah [1,7,9,10]

  Distorsi ialah perubahan bentuk atau penyimpangan bentuk yang diakibatkan oleh panas, yang diantaranya adalah akibat proses pengelasan. Akibat pemanasan ini akan terjadi pertumbuhan butir, peregangan dan penyusutan logam yang berlangsung dengan cepat dan tidak seragam, sehingga mengakibatkan perubahan bentuk dan ukuran (distorsi). Terjadinya distorsi ini mengakibatakan permukaan pelat menjadi melengkung atau bergelombang, sehingga terjadi penyimpangan dimensi dari yang direncanakan sehingga dapat mempersulit proses pengerjaan selanjutnya. Pada tahap distorsi ini tidak diketahui apakah pemilihan persiapan penyambungan menimbulkan efek besar terhadap distorsi pengelasan[7]

  Sifat mekanik adallah kemampuan dan perilaku dari suatu bahan ketika menerima suatu pola pembebanan tertentu. Sifat material yang termasuk dalam sifat mekanik adallah kekuatan tarik, kekuatan luluh, kekerasan, keuletan, ketangguhan, ketahanan aus, ketahanan creep, ketahanan terhadap rambat retak, ketahanan pada temperatur tinggi. Dalam aplikasinya sifat yang dimiliki oleh bahan tidaklah harus unggul seluruhnya. Namun cukup beberapa sifat saja dan sifat tersebut memang relevan dengan persyaratan aplikasinya. Sifat yang harus dipenuhi tentu saja didasarkan pada optimasi sifat-sifat yang dimiliki dan kondisi aplikasinya. Beberapa sifat mekanik bahan menunjukan adanya kecenderungan dengan perilaku yang sering berlawanan. Ketika suatu bahan harus memiliki keuletan tingggi, maka bahan tersebut cenderung memiliki keuletan tinggi, maka bahan tersebut cenderung memiliki kekuatan yang relative rendah, dengan demikian pemilihan suatu bahan akan menjadi optimasi antara beberapa sifat yang dimiliki dengan pola pembebananya . [7,8]

2. Metode Penelitian

  Metode penelitian adalah metode eksperimen, adapun hahan yang dipakai pada penelitian ini adalah baja karbon rendah A36, menggunakan elektroda jenis E71T-1 dan gas pelindung yang digunakan adalah gas carbodiosida (CO2).

  Proses pengelasan menggunakan las FCAW dengan variasi kecepatan pengelasan 6,7 dan 8 o mm/s dengan jarak toutch pemanas 8 cm dan temperatur pemanas 200 C yang dijalankan secara otomatis. Sambungan las dengan lintasan 1 lapis dengan tebal pelat yang digunakan adalah 5mm, o kampuh dibuat bentuk V ganda dengan sudut 70 seperti gambar 1. Dimensi pelat yang dilas adalah 120 mm X 400 mm X 5 mm

  

Gambar 1. Kampuh but join 70

  Dalam penelitian ini dilakukan pengukuran terahadap kekuatan tarik,kekerasan dan distorsi sesuai standard. Adapun pengukuran distorsi dilakukan dengan meja rata pada spesimen yang telah diproses pengelasan FCAW dengan menggunakan alat ukur dial gauge indikator, dan menyajikannya dalam bentuk tabel yang telah disediakan. Adapun cara pengukurannya adalah dengan mengukur pada titik-titik yang telah ditentukan seperti yang ditunjukkan pada gambar 2. Dengan ruas sebesar 57 mm dengan panjang 400 mm, sehingga diperoleh 8 titik pada posisi memanjang sedangkan lebarnya 120 mm dengan ruas 50 mm menghasilkan 3 titik jadi semua titik jumlahnya 24 titik dalam 1 pelat.

  Seminar Nasional Teknologi dan Rekayasa (SENTRA) 2017

  ISSN (Cetak) 2527-6042 eISSN (Online) 2527-6050

Gambar 2. Titik Pengambilan/pengukuran Distorsi

3. Hasil dan Pembahasan

  Gambar 3. Grafik distorsi hasil pengelasan pada plat baja A36 dengan kecepatan

  10

  1

  2

  3

  4

  5

  6

  7

  8

  9

  4

  8 Le b a r (m m ) D is to rs i (m m ) Panjang (mm)

  8

  1

  2

  1

  6

  2

  2

  4

  2

  8 Le b a r (m m ) D is to rs i (m m ) Panjang (mm)

  60 150

  2

  pengelasan 6 mm/s

  7

  Gambar 4. Grafik distorsi hasil pengelasan pada plat baja A36 dengan kecepatan

  pengelasan 7 mm/s

  60 150

  1

  2

  3

  4

  5

  6

  8

  Hasil pengukuran distorsi terhadap hasil sambungan las pada gambar 3, 4 dan 5 masing-masing dilakukan pada kecepatan 6,7 dan 8 mm/s dengan temperatur transien 200 o C dengan jarak totch 8 cm

  9

  10

  4

  8

  1

  2

  1

  6

  2

  

2

  

4

  Seminar Nasional Teknologi dan Rekayasa (SENTRA) 2017

  ISSN (Cetak) 2527-6042 eISSN (Online) 2527-6050

  10

  9

  )

  8

  m

  7

  6

  (m

  5 i 4 rs

  3

  to )

  2 is

  m D 150

  1

  (m r

  60

  a b

  0 40 80 120 Le 160 200 240 280

  Panjang (mm) Gambar 5. Grafik distorsi hasil pengelasan pada plat baja A36 dengan kecepatan

  pengelasan 8 mm/s Dilihat dari ketiga grafik diatas menunjukkan bahwa terjadi perbedaan nilai distorsi, Dimana pada grafik distorsi hasil pengelasan plat A36 dengan kecepatan 6 mm/s pada temperatur 200 C dan jarak falme 8cm nilai distorsinya sebesar 3.80 mm, pada grafik distorsi hasil pengelasan plat A36 o dengan kecepatan pengelasan 7 mm/s pada temperature 200 C dan jarak flame 8cm nilai distorsinya sebesar 3,60 mm, pada grafik distorsi hasil pengelasan plat A36 dengan kecepatan 8 mm/s pada o temperature 200 C dan jarak flame 8cm nilai distorsinya sebesar 2,60 mm untuk jarak maksimum lengkung tertingginya pada palt baja carbon A36 (7,8] dan untuk pembanding Dimana pada grafik distorsi hasil pengelasan plat A36 dengan kecepatan 6 mm/s pada temperatur 200 C dan jarak falme 8cm nilai distorsinya sebesar 0,04 mm, pada grafik distorsi hasil pengelasan plat A36 dengan kecepatan o pengelasan 7 mm/s pada temperature 200 C dan jarak flame 8cm nilai distorsinya sebesar 0,01 mm, o pada grafik distorsi hasil pengelasan plat A36 dengan kecepatan 8 mm/s pada temperature 200 C dan jarak flame 8cm nilai distorsinya sebesar 0,43 mm untuk jarak lengkung terendahnya jika dilihat dari sisi plat yang diukur menggunakan dial gauge di meja khusus yaitu meja datar. Menurut [3][6][7] semakin lambat kecepatan pengelasan yang di berikan akan semakin besar heat input yang di berikan pada plat baja carbon A36 yang membuat pemansan merata dan lebih lama yang mengakibatkan pemuaian dan lengkungan atau distorsi yang begitu nampak dan bisa kita lihat pada grafik di atas dengan kecepatan 6 mm/s distorsi tertinggi di hasilkan begitupun sebaliknya dengan kecepatan pengelasan yang cukup atau optimal akan mengurangi distorsi pada plat dengan penelitian di sini menggunakan kecepatan 6,7,8 mm/s menurut peneliti ideal menggunakan kecepatan pengelasan 8 mm/s. MenurutKecepatanpengelasan yang semakintinggiataucepat akan mengakibatkan terjadinya distorsi yang semakin kecil kecuali dengan temperatur panas yang di tambah karena dalam penelitian ini temperatur tetap 200 C dan jarak flame juga tetap 8 cm maka dengan semakin cepatnya pengelasan maka waktu pengelasan semakin singkat berarti masukan panas pengelasan heat input yang diterima logam las dan sekitarnya lebih kecil, dengan demikian penyusutan termal yang terjadi lebih kecil sehingga distorsi yang terjadi juga kecil.

  290 270 250 230 kec 6mm/s

  210 kec 7mm/s

  190 170 kec 8mm/s

  150

  1

  2

  3

  4

  1

  2

  3

  4

  1

  2

  3

  4 BM HAZ W

  

Gambar 6. Grafik Hasil kekerasan pada daerah las, haz dan logam induk(base meteal) hasil

  pengelasan pada plat baja A36 dengan kecepatan pengelasan 6.7 dan 8 mm/s

  Seminar Nasional Teknologi dan Rekayasa (SENTRA) 2017

  ISSN (Cetak) 2527-6042 eISSN (Online) 2527-6050

  Pada gambar 5 menunjukkan nilai kekerasan pada hasil pengelasan FCAW baja carbon A36 o dengan kecepatan 8 mm/s temperature transient 200 C dan jarak pemanas 8 cm. Didapatkan hasil kekerasan rata- rata pada daerah LAS lebih tinggi dari pada nilai kekerasan rata-rata pada daerah HAZ dan pada best metal.. Hasil diatas sesuai dengan penelitian terdahulu [5] nilai kekerasan paling tinggi terletak di logam las (WZ) dan menurut[1,4] juga menunjukan bahwa nilai kekerasan cenderung semakin bertambah besar ketika titik uji kekerasan vickers berada di daerah las (WZ) dan sebaliknya akan semakin kecil ketika mendekati logam induk karena semakin rendah kecepatan pengelasan yang dilakukan, maka akan berakibat semakin melebarnya daerah HAZ pada setiap spesimen, Ini dikarenakan oleh energi masukan panas (heat input) yang di terima masing-masing spesimen akan semakin besar jika kecepatan pengelasan semakin rendah, sehingga energi masukan panas (heat input) tersebut akan mengalir ke logam induk dan menyebarkan panas ke daerah HAZ dan las (WZ) semakin besar, begitu juga VHN akan semakin bertambah besar jika kecepatan pengelasan semakin cepat. Begitu juga dengan penelitian yang berhubungan dengan kecepatan pengelasan dan heat input menunjukan bahwa semakin lambatnya kecepatan pengelasan akan memperbesar heat input dan akan membuat logam semakin lunak dan HVN semakin kecil akibat heat input yang di terima semakin besar begitupun sebaliknya [7,8]. Nilai kekerasan rata- rata untukkecepatan 6 mm/s daerah LAS 259,271 2 2 2 kg/mm , daerah HAZ 232,412 kg/mm , daerahlogaminduk 210,991 kg/mm . Nilai kekerasan rata- rata 2 2 untukkecepatan 7 mm/s daerah LAS 270,193 kg/mm , daerah HAZ 228,596 kg/mm , daerahlogaminduk 2 2

  205,277 kg/mm . Nilai kekerasan rata- rata untukkecepatan 8 mm/s daerah LAS 262,783 kg/mm , 2 2 daerah HAZ 233,351 kg/mm , daerahlogaminduk 196,569 kg/mm [3] daerahlogaminduknilai kekerasannya relative merata dan paling rendah dibandingkan dengan daerah lainnya. Menurunnya nilai kekerasan pada daerah HAZ disebabkan oleh panas yang terjadi pada saat pengelasan merubah struktur mikro pada plat baja carbon A36. Daerah Logam Induk memiliki nilai kekerasan rata-rata yang terendah jika dibandingkan dengan daerah LAS dan HAZ.

  500.000 450.000 400.000 350.000 300.000 250.000 200.000 150.000 100.000

  50.000 0.000 6 mm/s 7 mm/s 8 mm/s

  σ max 463.286 461.392 450.403 σ yield 360.761 359.285 350.728

  

Gambar 7. Grafik Hasil kekuatan tarik pada daerah las, haz dan logam induk(base meteal) hasil

  pengelasan pada plat baja A36 dengan kecepatan pengelasan 6.7 dan 8 mm/s Pada gambar 6 menunjukkan nilai kekuatan tarik hasil pengelasan pada temperatur 200 C dan jarak flame 8 cm dengan dilakukan 2 kali percobaan dengan variabel kecepatan pengelasan yang berbeda-beda 6, 7, 8 mm/s. Tegangan Tarik pada kecepatan 6 mm/s, temperatur 200

  C, jarak flame 8 cm di dapat nilai tegangan tarik luluh adallah 360,761 Mpa dan pada nilai tegangan tarik maksimum adallah 463,286 Mpa. Tegangan Tarik pada kecepatan 7 mm/s, temperatur 200

  C, jarak flame 8 cm di dapat nilai tegangan tarik luluh adallah 359,285 Mpa dan pada nilai tegangan tarik maksimum adallah 461,392 Mpa, serta Tegangan Tarik pada kecepatan 8 mm/s, temperatur 200

  C, jarak flame 8 cm di dapat nilai tegangan tarik luluh adallah 350,728Mpa dan pada nilai tegangan tarik maksimum adallah 450,403 Mpa. Sehingga dapat di bandingkan nilai tertinggi tegangan tarik terdapat pada kecepatan pengelasan 8 mm/s yang mana mampu menaikan tegangan tarik. Peningkatan kekuatan tarik ini biasanya terjadi akibat head input atau masukan panas yang kecil karena kecepatan pengelasan yang

  Seminar Nasional Teknologi dan Rekayasa (SENTRA) 2017

  ISSN (Cetak) 2527-6042 eISSN (Online) 2527-6050

  besar sehingga panas yang di terima oleh plat tidak besar yang mengakibatkan tegangan yang relativ sama(7,8] Hasil penelitian terdahulu menggunakan variasi kecepatan untuk membuat bahan uji tarik dan ada dua spesimen bahan yang sama pertama menggunakan waktu 2 menit dan spesimen yang kedua menggunakan 3 menit hasilnya adallah spesimen yang menggunakan waktu lebih lambat menerima heat input atau masukan panas yang lebih besar mengakibatkan spesimen getas di bandingkan dengan yang menggunakan waktu 2 menit [6] . Kecepatan pengelasan dan besar kuat arus yang di pakai saat pengelasan sangat berpengaruh dalam pengujian tarik semakin besar kecepatan pengelasan maka semakin kecil heat input dan kekuatan tariknya akan semakin besar [1,5] Pada penelitian yang dilakukan[9] mengatakan bahwa semakin besar kecepatan pengelasan maka nilai kekuatan tarik yang di peroleh akan semakin meningkat, hal ini di karenakan semakin besar kecepatan pengelasan maka heat input yang di peroleh akan semakin rendah.

4. Kesimpulan

  Dari hasil penelitian ini dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :

  1. Distorsi las dapat diminimasi secara efektif dengan memberikan perlakuan perlakuan temperatur transient selama proses pengelasan berlangsung dengan kecepatan pengelasan 7 mm/s dengan nilai distorsi terandah 00,1 mm

  2. Nilai kekerasan tertinggi pada kecepatan pengelasan 6 mm/s dengan temperatur pemanas 200 C 2 dan jarak flame 8cm sebesar 259,271 kg/mm dan tegangan tarik kecepatan pengelasan 6 mm/s dengan temperatur 200 C dan jarak flame 8cm, dengan nilai tegangan tarik luluh (yield) sebesar 360,761 Mpa dan nilai tegangan tarik maksimum sebesar 463,286 Mpa.

  Referensi [1 ]A.S.Mohruni, B.H.Kembaren (2015), Pengaruh Variasi Kecepatan dan Kua Arus Terhadap

  Kekerasan, Tegangan Tarik, StrukturMikro Baja Karbon Rendah dengan Elektroda E6013

  [2] Agus Duniawan, Sutrimo,(2014), Pengaruh Kecepatan Arus Pengelasan dan Panas Masuk

  Terhadap Sifat Mekanis Logam Las Pada Pengelasan SAW Baja Karbon ASTM 29

  [3] Alfin Aprilianto,(2015), Pengaruh perubahan temperatur transient di sekitar pengelasan dengan Las FCAW terhadap sifat mekanik pada bahan baja carbon A36. [4] Harlian Kadir, Gunawan Dwi Haryadi, Sri Nugroho, Kim Jeon (2014), Pengaruh Variasi Kecepatan

  Pengelasan GMAW Baja Tahan Karat Austenitik AISI 316L Terhadap Struktur Mikro dan Sifat Mekanik

  [5] HeriWibowo, M.NoerIlman, Priyo Tri Iswanto (2016), analisa heat input pengelasan terhadap distorsi,

  struktu rmikro dan kekuatan mekanis baja A36

  [6] Naryono, FaridRakhman (2014), Pengaruh Kecepatan Pengelasan Pada Penyambungan Plat Baja

  SA36 Menggunakan Elektroda E6013 dan E7016 Terhadap Kekerasan, Struktur Mikro dan Kekuatan Tariknya.

  [7] Nur Subeki, (2011), Optimalisasi komposisi kandungan mn pada filler untuk mendapatkan ketangguhan dan kekerasan. [8] NurSubeki,(2013), Pengaruh pengelasan FCAW tanpa dan dengan penambahan panas terhadap perubahan sifat mekanik dari struktur mikro sambungan las. [9] Rendy Setio P, Tjuk Oerbandono,Purnami,(2015), Pengaruh Kecepatan Pengelasan dan Jenis

  Elektroda Terhadap Kekuatan Tarik Hasil Pengelasan SMAW Baja ST 60

  [10] Weldy Sonaria Winarko, 2011, Stress Relief Annealing untuk uji kekerasan dan mikrostruktur pada

  hasil pengelasan (SAW) Piapa Baja Api 5L-X65.JIS,1973,"Non Ferous Metal", Japanise International Standart.

  [11]Wiruyosumarto, H. dan Okumura, T, 2000, Teknologi pengelasan logam, PT. Pradya Paramita, Jakarta.

Dokumen baru

Tags

Analisis Sifat Mekanis Pengaruh Proses Pengelasan Baja Tahan Karat Teknik Pengelasan Kapal Modul Teori Pengelasan Reaksi Kimia Pada Proses Pengelasan Industri Kecil Pengelasan 1227 Teknik Pengelasan 9 Welding Pengelasan
Show more

Dokumen yang terkait

ANALISIS USABILITY TERHADAP SISTEM LECTIVE GEGULANG BERBASIS USE QUESTIONNAIRE
0
0
8
HUMAN MACHINE INTERFACE PADA PEMANTAUAN DAN KENDALI PERANGKAT RUANGAN MELALUI JARINGAN SENSOR NIRKABEL
0
0
10
IMPLEMENTASI ALGORITMA STEGANOGRAFI WHITESPACE DAN ENKRIPSI RC6 UNTUK KEAMANAN PADA TEKS
0
1
8
REDUNDANCY EMAIL SERVER DENGAN CLUSTER LOAD BALANCING UNTUK MEKANISME DISASTER RECOVERY PADA STUDI KASUS PT. JAWA POS KORAN.
0
1
9
PENGEMBANGAN SISTEM INFORMASI SEKOLAH BERBASIS WEB PADA SD QUR’AN AR-RISALAH PADAN
0
0
13
APLIKASI BLUETOOTH SEBAGAI INTERFACING KENDALI MULTI- OUTPUT PADA SMART HOME
0
2
8
PENILAIAN POSTUR KERJA PADA PEKERJA PEMBUAT BATAKO DI GORONTALO
0
0
6
ANALISA POSTUR KERJA TERHADAP AKTIVITAS MANUAL MATERIAL HANDLING MENGGUNAKAN METODE OWAS
0
0
8
PEMANFAATAN LIMBAH PECAHAN KERAMIK TERHADAP BERAT JENIS DAN KUAT TEKAN PADA BETON RINGAN RAMAH LINGKUNGAN
0
0
6
PENGARUH PEMAKAIAN FLY-ASH TERHADAP KARAKTERISTIK BETON BUSA (TINJAUAN PADA KONDUKTIVITAS TERMAL DAN SOUND ABSORPTION BETON)
0
0
8
PEMANFAATAN ABU AMPAS TEBU (BAGASSE ASH OF SUGAR CANE) SEBAGAI BAHAN PENGISI (FILLER) DENGAN VARIASI TUMBUKAN PADA CAMPURAN ASPAL PANAS ATB (ASPHALT TREATD BASE)
0
0
10
ANALISIS PERANCANGAN JADWAL PREVENTIVE DAN PREDICTIVE MAINTENANCE PADA MESIN KAPAL DI DAERAH LIMBANGAN INDRAMAYU
0
1
7
ANALISA HASIL PENGELASAN SMAW 3G MENGGUNAKAN NDT METODE ULTRASONIC TEST BERDASARKAN STANDAR ASME
0
0
9
PENGARUH MODIFIKASI LUBANG UDARA PRIMER PADA KOMPOR BIOMASSA
0
0
5
UNJUK KERJA REAKTOR GASIFIKASI SEKAM PADI SEBAGAI ALAT PEMBUATAN GAS PENGGANTI ELPIJI PADA RUMAH TANGGA
0
0
8
Show more