Analisis Kasus Lumpur Lapindo dari Persp

 0  0  48  2018-08-10 11:36:31 Report infringing document
Informasi dokumen

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Peristiwa Lumpur Lapindo merupakan peristiwa menyemburnya lumpur

  Karena para tergugattidak menjalankan fungsinya dengan baik, terutama tergugat I yang tidak melakukan pengelolaan hutan sebagaimana mestinya sehingga hutanMandalawangi ini mengalami kemiringan lahan dan tidak mampu lagi menahan curah hujan yang ada. Karena kondisi tersebut pada akhirnya terjadi kelongsoran Makalah ini akan membahas mengenai gugatan perdata yang diajukan oleh para para penggugat, dengan menitikberatkan apakah dalil-dalil yang diungkapkanoleh penggugat ini sudah sesuai dengan teori dan peraturan perundang-undangan yang ada ataukah belum sesuai.

B. Perumusan Masalah

  Sudah tepatkah dalil dan pembuktian yang diajukan oleh penggugat ketika menggunakan PMH dan strict liability? Penafsiran dan pertimbangan hakim dalam kasus apa yang lebih tepat/baik?

BAB II ISI A. Kasus Posisi Putusan Kasus Lapindo Brantas. Banjir Lumpur Panas Sidoarjo atau Lumpur Lapindo atau Lumpur Sidoarjo

  Kasus Mandalawangi Pada perkara yang terdapat di putusan No.1794K/Pdt/2004 adalah perkara yang menyangkut lingkungan hidup dimana penggugat mengajukan gugatan kepadatergugat atas peristiwa yang terjadi pada daerah sekitar kawasan hutan produksi dan hutan lindung di Jawa barat. Pihak tergugat, yaitu Direksi Perum Perhutani, Pemda Tingkat I Provinsi Penggugat mengajukan gugatan kepada tergugat dengan gugatan sebagai berikut:a) Tergugat I merupakan pihak yang bertanggung jawab untuk menyelenggarakan kegiatan-kegiatan perencanaan, penanaman, pemeliharaan, pemungutan hasil,pengolahan dan pemasaran serta perlindungan dan pengamanan hutan tetapi justru melalaikan kewajibannya dalam mengelola dan memelihara kelestarianhutan.

B. Pembahasan

1. Penafsiran penggugat, tergugat, dan hakim atas precautionary principle

  Bahwa dari pernyataan gugatan korban longsor Mandalawangi angka 16 justru sebaliknya sama sekali tidak ada data-data dan fakta-fakta yang menunjukanbahwa Perum Perhutani telah melakukan perbuatan baik secara langsung maupun tidak langsung yang mengakibatkan lingkungan tidak berfungsi sebagaimanamestinya karena kejadian bencana alam di Gunung Mandalawangi adalah murni bencana alam. Bahwa karena kejadian longsor itu adalah murni bencana alam, maka PerumPerhutani tidak seharusnya dibebani tanggung jawab materiil dan imateriil, tidak perlu mengadakan mekanisme pendistribusian ganti rugi, tidak perlu melakukan strict liability, karena kerugian yang diderita oleh korban longsor Mandalawangi bukan karena diakibatkan oleh kegiatan yang dilakukan oleh Perum Perhutani.

2) Likelihood that the harm that results from it will be great;

  2 3) Inability to eliminate the risk;Dikutip dari tulisan Prof. M 4) Extent to which the activity is not a matter of common usage; 5) Inappropriateness of the activity to the place where it is carried on;and.

6) Extent to which its value to the community is outweighed by its dangerous attributes

  Kelestarian lingkungan telah diabaikan oleh pihak Perum Perhutani, hal tersebut terlihat daridiabaikannya pengelolaan hutan dan telah menyimpangnya dari maksud dan tujuan perusahaan , yang mana mengakibatkan hutan di Jawa Barat menjadi tinggal 8%dari sebelumnya 20% sebelum dikelola oleh Tergugat I, hal itulah yang menyebabkan banjir dan longsornya tanah di kawasan Gunung Mandalawangi. Bahwa penggugat mengajukan gugatan perbuatan melawan hukum terkait dengan kerusakan yang memiliki dampak yang besar dan penting terhadaplingkungan hidup yang menimbulkan kerugian pada orang lain atau lingkungan hidup akibat dari semburan lumpur panas yang terjadi di area lokasi sumurpengeboran Tergugat I, Sumur Banjar Panji 1 kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo, Provinsi Jawa Timur.

4. Sudah tepatkah hakim menafsirkan PMH dan Strict Liability?

  Sejalan dengan Hofmann, Mariam Darus Badrulzaman mengatakan bahwa syarat-syarat yang harus ada untuk menentukan suatu perbuatan sebagai perbuatanmelawan hukum adalah: 1) harus ada perbuatan, yang dimaksud dengan perbuatan ini baik bersifat positif maupun yang bersifat negatif, artinya setiap tingkah laku berbuatatau tidak berbuat.2) perbuatan itu harus melawan hukum.3) ada kerugian.4) ada hubungan sebab-akibat antara perbuatan melawan hukum itu dengan kerugian. 4 5) ada kesalahan (schuld)Konsep atau syarat Kesalahan dalam PMH yang dicantumkan dalam Pasal 1365 KUH Perdata, menghendaki untuk menekankan bahwa pelaku PMH hanyabertanggungjawab atas kerugian yang ditimbulkannya apabila perbuatan tersebut 5 dapat dipersalahkan padanya, yang mana mengenai kesalahan itu mencakup dua pengertian, secara luas (terdapat kealpaan dan kesengajaan) maupun secara sempit(kesengajaan).

5. Penafsiran dan pertimbangan hakim terkait penggunaan dalih bencana alam dalam kasus Mandalawangi

  Act of God didefinisikan oleh Congress (badan legislatif di Amerika Serikat) sebagai suatu hal yang yang disebabkan oleh bencana alam yang serius ( grave natural disaster ). Akan tetapi tidak cukup hanya dengan mengemukakan alasan tersebut lantas ia dapat lepas dari tanggung jawab; ia juga harus menyertakan bukti-bukti yang cukup dan mendukung bahwaperistiwa tersebut tidak mungkin diprediksi atau dihindari dan act of God adalah satu-satunya penyebabnya (sole cause).

a. Suatu act of God harus tidak dapat diantisipasi

  Dalam kasus Sabine Towing and Transportation Company melawan pemerintah Amerika Serikat, Sabine menggugat pemerintah Amerika Serikatuntuk membayarkan kompensasi pembersihan sungai Hudson atas peristiwa tumpahnya minyak dari kapalnya yang retak karena menghantam suatu objekyang tidak diketahui di bawah air, yang belakangan diketahui sebagai freshet alias aliran salju yang mencair. Liberian berpendapat bahwa pusat cuaca nasional tidakmenyampaikan Severe Thunderstorm Watch (peringatan terhadap ancaman petir dan kilat) dengan baik dan ancaman tersebut tidak dapat diprediksi oleh awakkapal, oleh karena itu peristiwa itu merupakan act of God.

b. Suatu act of God haruslah bencana alam yang serius (grave natural disaster)

  Apex yang menarik kapal dari Sungai Mississippi ke Chicago dengan mengetahui curah hujan yang terjadi saat itu, aliran sungai yang kuat dan deras,dan efek yang mungkin timbul. Akan tetapi pengadilan menolak alasan ini karena ada penyebab lainnya yang turut mempengaruhi, yakni kemauan Apec untuk tetap menjalankan kapalmeskipun sudah tahu ada risiko-risiko yang mungkin terjadi serta awareness dari kapten kapal akan bahaya yang mungkin muncul tetapi ia berani mengambilrisiko.

e. Bencana tidak dapat dicegah meskipun sudah ada tindakan pencegahan atau prediksi sebelumnya

  Penggugat mendalilkan bahwa doktrin pertanggungjawaban mutlakberlaku bagi permasalahan pencearan lingkungan hidup yang terjadi akibat semburan lumpur panas dengan jumlah luar biasa besar dan enting bagi lingkunganhidup dan masyarakat yang dirugikan, Dampak yang besar ini telah jelas-jelas mengancam kehidupan manusia dan kebeelangsungan lingkungan hidup. Hal inilah yang mendasari hakimuntuk menyatakan bahwa telah tidak terjadi Perbuatan Melawan Hukum yang dilakukan Tergugat I, yang secara otomatis tidak adanya Perbuatan MelawanHukum dari Tergugat lainnya, bahwa semburan lumpur terjadi adalah akibat peristiwa alam, bukan akibat perbuatan Tergugat I.

7. Penafsiran dan pertimbangan hakim yang lebih baik

  Secara sederhana, dapat diuraikan sebagai berikut: Tergugat I: telah melakukan eksplorasi di sumur BJP 1, yang menyebabkan terjadinya semburan lumpur panas dan mengakibatkan kerusakan lingkungan hidup yang menimbulkan dampak yang besar dan penting terhadap lingkungan hidup.10 Indonesia, Undang-undang tentang Pengelolaan Hidup, UU No. Tergugat II,III,&IV: Tergugat III dan Tergugat IV adalah pemegang saham dari Tergugat I dan Tergugat III dan Tergugat IV telah diakuisisi oleh Tergugat II, sehingga telah ada kepentingan Tergugat II,II,&IV dalam perbuatan Tergugat I, yangmengakibatkan Tergugat II,II,&IV bertanggung jawab atas perbuatan yang dilakukan Tergugat I (dalam kasus ini adalah eksplorasi tambang di Porong, Sidoarjo).

8. Kemungkinan putusan yang dijatuhkan oleh hakim jika dalam kasus Walhi v

1) Mengenai ketentuan yang mengatur penggugat (Hak Gugat)

  2) Mengenai mengenai perbuatan melawan hukum Berdasarkan KUHPerdata, istilah perbuatan melawan hukum tercantum dalam pasal 1365, yang di dalamnya terkandung unsur-unsur sebagai berikut:a) Tiap perbuatan yang melanggar hukum; dan b) Tiap perbuatan yang membawa kerugian bagi orang lain; c) Bagi pihak yang karena salahnya menerbitkan kesalahan tersebut untuk mengganti kerugian yang dihasilkan. 23 Tahun 1997 TentangPengelolaan Lingkungan Hidup maka yang dapat dikategorikan sebagai kegiatan yang termasuk strict liability adalah : Kegiatan dan/atau kegiatan yang menimbulkan dampak besar dan - penting terhadap lingkungan hidup;Kegiatan dan/atau Usaha yang menggunakan bahan berbahaya dan - beracun; dan/atau Dalam pasal tersebut yang menjadi bagian yang kurang terang adalah pada bagian mengenai kegiatan yang menimbilkan dampak besardan penting terhadap lingkungan hidup.

4) AMDAL

5) Pemulihan Pencemaran/Kerusakan Lingkungan

  Sebelumnya dalam UU No.23 Tahun 1997 dijelaskan mengenai unsur- unsur yang masuk dalam tanggung jawab mutlak/strict liability dalam pasal 35,dimana dalam salah satu unsurnya disebutkan mengenai kegiatan yang menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup. Tetapi apabila merujuk pada ketetuan pasal 88 UU No.32 Tahun 2009 (UUPPLH) makaperbuatan tersebut dapat dikenakan tanggung jawab mutlak, karena tidak Pada pasal 54 UU No.32 Tahun 2009 disebutkan bahwa terdapat tanggung jawab untuk melakukan pemulihan terhadap fungsi lingkungan hidup apabilaseseorang melakukan perusakan lingkungan hidup.

BAB II I PENUTUP Kesimpulan Berdasarkan uraian di atas, terhadap berbagai permasalahan mengenai kasus Walhi

  Sedangkang majelis hakim dalam memutus perkara ini merujuk prinsip ke-15 dalam Deklarasi Rio (precautionary principle) sebagaidasar untuk pemecahan masalah tentang “kurangnya ilmu pengetahuan” yang diperlihatkan dengan keterangan-keterangan para saksi ahli dari kedua belahpihak yang saling bertentangan sehingga keterangan mereka tidak dapat liability karena kerugian telah nyata ditimbulkan akibat semburan lumpur di sekitar lokasi pengeboran PT. Akan tetapimenurut penulis bahwa justru lebih tepat jika Penggugat menuntut PMH atas kasus ini karena perbuatan melawan hukum oleh para Tergugat lebih mudahdibuktikan.5) Penggugat gagal membuktikan bahwa Tergugat I telah melakukan Perbuatan Melawan Hukum, karena keterangan ahli yang menyatakan semburan lumpur adalah akibat dari kesalahan pengeboran hanya dilontarkan oleh satu orang ahlidan itupun tidak dikuatkan oleh alat bukti lain.

Analisis Kasus Lumpur Lapindo dari Persp
Dokumen baru

Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait

Analisis Kasus Lumpur Lapindo dari Persp

Gratis

Feedback