Upaya meningkatkan keterlibatan kaum muda dalam hidup menggereja secara kontekstual di lingkungan Santo Yusuf Kadisobo Paroki Santo Yoseph Medari

Gratis

2
17
157
2 years ago
Preview
Full text

  

UPAYA MENINGKATKAN KETERLIBATAN KAUM MUDA DALAM

HIDUP MENGGEREJA SECARA KONTEKSTUAL DI LINGKUNGAN

SANTO YUSUF KADISOBO PAROKI SANTO YOSEPH MEDARI

SKRIPSI

  Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

  Program Studi Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik Oleh :

  Agustina Puji Astuti NIM: 081124027

  

PROGRAM STUDI ILMU PENDIDIKAN

KEKHUSUSAN PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK

JURUSAN ILMU PENDIDIKAN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

2013

  

PERSEMBAHAN

  Skripsi ini kupersembahkan kepada Ayahku (Ignatius Sukarto), Ibuku (Yustina Sri Rahayu),

  Dosen Pembimbingku (Y.Kristianto), Adikku (Maria Rety Fajar Ayu Fitriana), Kekasihku (Miyat Gayuh Prayitna),

  Teman-teman seangkatanku khususnya (Hermi Marbun), Almamaterku (Universitas Sanata Dharma),

  Kaum Muda di Lingkungan Santo Yusuf Kadisobo Paroki Santo Yoseph Medari dan,

  Semua orang yang berkehendak baik yang telah membantu melancarkan pembuatan skripsiku yang tak dapat ku sebutkan satu per satu

  MOTTO

  Hanya ini Tuhan persembahanku, terimalah Tuhan permohonanku, s’bab tak kumiliki harta kekayaan yang cukup berarti, tuk ku persembahkan, pakailah hidupku sebagai alat-Mu seumur hidupku.

  

ABSTRAK

  Judul skripsi ini adalah MENINGKATKAN

  “UPAYA

KETERLIBATAN KAUM MUDA DALAM HIDUP MENGGEREJA

SECARA KONTEKSTUAL DI LINGKUNGAN SANTO YUSUF

KADISOBO PAROKI SANTO YOSEPH MEDARI”. Penulis memilih judul

  tersebut berdasarkan keprihatinan penulis terhadap kurangnya minat kaum muda untuk ikut terlibat ambil bagian dalam hidup menggereja. Secara khusus penulis rasakan sewaktu Karya Bakti Paroki di lingkungan Santo Yusuf Kadisobo Paroki Santo Yoseph Medari. Kaum muda yang terlibat aktif kurang lebih hanya separuh dari jumlah keseluruhan. Melihat situasi tersebut, mendorong penulis untuk meneliti lebih lanjut mengenai penyebab kaum muda kurang aktif dan mengupayakan suatu kegiatan yang tentunya dapat menarik minat kaum muda untuk lebih terlibat dalam hidup menggereja.

  Tujuan dari penulisan skripsi ini adalah memperoleh data mengenai keterlibatan kaum muda dalam hidup menggereja, meninjau perkembangan dari kegiatan yang telah dilakukan oleh lingkungan Santo Yusuf Kadisobo untuk meningkatkan keterlibatan kaum muda dalam hidup menggereja, meninjau sejauh mana manfaat yang sudah mereka peroleh dengan terlibat dalam hidup menggereja, serta memberikan satu model kegiatan yang cocok untuk menarik kaum muda semakin aktif hidup menggereja.

  Bertolak dari tujuan penulisan, penulis memperoleh data-data mengenai keterlibatan kaum muda dalam hidup menggereja dengan melakukan penelitian yang didukung oleh studi pustaka. Penelitian dilakukan dalam bentuk kuesioner dan wawancara langsung kepada pihak-pihak yang terkait. Hasil dari penelitian terungkap bahwa kaum muda tidak memiliki tempat atau sarana untuk menampung aspirasi mereka, kegiatan yang dilakukan juga terlalu formal, monoton dan tidak bervariasi. Kaum muda jaman sekarang ini, menginginkan suatu kegiatan yang sesuai dengan karakter mereka. Kegiatan tersebut setidaknya bersifat rekreasi, santai, tetapi mengena dengan apa yang menjadi kebutuhan mereka saat ini. Untuk itulah penulis mengusulkan salah satu kegiatan sebagai upaya untuk meningkatkan keterlibatan kaum muda dalam hidup menggereja, kegiatan tersebut adalah ziarah. Ziarah yang akan dilakukan nantinya dapat mendorong kaum muda terlibat aktif dalam hidup menggereja secara kontekstual.

  

ABSTRACT

  The title of this thesis is

  “THE EFFORT TO INTENSIFY THE

YOUTH PARTICIPATION IN ECCLESIASTICAL ACTIVITIES IN

SAINT YUSUF AREA OF KADISOBO IN THE PARISH OF SAINT

YOSEPH MEDARI”. The title was chosen because of a concern about a

  decrease of youth participation in ecclesiastical activities. Particularly, I found the fact when I joined in the Parish ’s service program in the area of Saint Yusuf

  Kadisobo in the Parish of Saint Yoseph Medari. There were only a small number of young people who were active in the ecclesiastical activities. The fact urged me to conduct a research on it to know the reasons, and to make an effort to make more young people active in ecclesiastical activities.

  The objective of this research was to obtain as many data as possible about youth participation in the ecclesiastical activities, to know more about the progress of action performed in the area of Saint Yusuf Kadisobo to activate the youth participation, to view how far the youth may take advantage from their involvement in ecclesiastical activities, and of course to apply an applicable model of action to make the youth interested more in the ecclesiastical activities.

  To gather data about the youth ecclesiastical participation a field research was conducted by distributing some questionnaire and interviewing some people relevant to the objective of my research. The data from the research showed that the youth members have no place or facility to manifest their aspiration, and the available activities are just formally carried out and monotonous without any variety. Young people nowdays need some type of activities which go hand in hand with their characters. The activities can be some recreational and relaxing ones but relevant to their real aspiration. This is the reason for me to suggest an activity as an effort to intensify the youth participation in ecclesiastical activities. The action is that of pilgrimage journey which can be held to activate the youth in more contextual ecclesiastical life experiences.

KATA PENGANTAR

  Puji syukur kepada Allah Bapa yang penuh belaskasih karena kasih-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul UPAYA MENINGKATKAN

  

KETERLIBATAN KAUM MUDA DALAM HIDUP MENGGEREJA

SECARA KONTEKSTUAL DI LINGKUNGAN SANTO YUSUF

KADISOBO PAROKI SANTO YOSEPH MEDARI.

  Skripsi ini diilhami oleh keprihatinan penulis melihat realita yang terjadi di masyarakat dewasa ini, dimana kaum muda saat ini kurang terlibat dalam hidup menggereja. Oleh karena itu penulis mempunyai maksud untuk membantu kaum muda di lingkungan Santo Yusuf Kadisobo Paroki Santo Yoseph Medari untuk terlibat aktif dalam hidup menggereja dengan mengupayakan salah satu bentuk kegiatan yang dapat menjunjung tinggi rasa persaudaraan, dan menambah guyub antar kaum muda. Selain itu, skripsi ini disusun sebagai salah satu persyaratan untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma.

  Penulis menyadari bahwa skripsi ini dapat tersusun dengan baik karena campur tangan berbagai pihak baik secara langsung maupun tidak langsung. Oleh sebab itu perkenankanlah pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih dengan sepenuh hati kepada:

  1. Drs. F.X Heryatno W.W., SJ, M.Ed., sebagai Kaprodi IPPAK yang telah memberikan dukungan dan kesempatan kepada penulis untuk menyelesaikan skripsi ini.

  2. Bapak Y. Kristianto, SFK, M.Pd, sebagai dosen pembimbing utama yang telah memberikan perhatian dengan sabar dan setia, meluangkan waktu, memberikan masukan dan kritikan sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini pada waktunya.

  3. Dr. C. Putranta, SJ. sebagai dosen pembimbing akademik dan salah satu penguji yang telah memberikan masukan dan dukungan kepada penulis sehingga penulis semakin termotivasi dalam menyelesaikan skripsi ini.

  4. Bapak Drs. L.Bambang Hendarto Y., M. Hum. sebagai dosen penguji ke dua yang telah memberikan masukan dan dukungan kepada penulis sehingga penulis semakin termotivasi dalam menyelesaikan skripsi ini.

  5. Segenap Staf Dosen Prodi IPPAK-JIP, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma, yang telah mendidik dan membimbing penulis selama belajar hingga selesainya skripsi ini.

  6. Segenap Staf Sekretariat dan Perpustakaan Prodi IPPAK, dan seluruh karyawan yang telah ikut memberi dukungan kepada penulis selama belajar dan dalam penulisan skripsi ini.

  7. Kepada Ayah, Ibu, adik, dan seluruh keluarga yang telah memberikan dukungan baik moral maupun materiil yang tiada henti-hentinya sehingga saya dapat menyelesaikan studi di IPPAK dan skripsi ini.

  8. Kepada Umat di Lingkungan Santo Yusuf Kadisobo, terutama Saudara Yoseph Hermawan Eko Susilo selaku Ketua Lingkungan yang telah memberikan tempat dan waktu untuk saya guna mendapatkan data-data dan melaksanakan penelitian.

  DAFTAR ISI

  Halaman HALAMAN JUDUL ................................................................................................. i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING .. ..................................................... ii HALAMAN PENGESAHAN ................................................................................... iii HALAMAN PERSEMBAHAN ............................................................................... iv MOTTO . ................................................................................................................... v PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ................................................................... vi PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ..................................................... vii ABSTRAK ................................................................................................................ viii

  

ABSTRACT ................................................................................................................ ix

  KATA PENGANTAR .............................................................................................. x DAFTAR ISI .............................................................................................................. xiii DAFTAR SINGKATAN .......................................................................................... xviii

  BAB I. PENDAHULUAN ........................................................................................ 1 A.

  1 Latar Belakang ...........................................................................................

  B.

  7 Rumusan Masalah ......................................................................................

  C.

  7 Tujuan Penulisan ........................................................................................

  D.

  8 Manfaat Penulisan ......................................................................................

  E.

  9 Metode Penulisan .......................................................................................

  F.

  9 Sistematika Penulisan ................................................................................

  BAB II. KETERLIBATAN KAUM MUDA DAN HIDUP MENGGEREJA SECARA KONTEKSTUAL.... .................................................................

  11 A. Kaum Muda ................................................................................................. 11 1. Pengertian Kaum Muda Secara Umum ....................................................... 11 2. Ciri-ciri Kaum Muda .................................................................................. 14 3. Permasalahan Kaum Muda ......................................................................... 15 4. Situasi Kaum Muda .................................................................................... 16 5.

  Pertumbuhan Dan Perkembangan Kaum Muda .......................................... 17 a.

  Potensi ..................................................................................................... 17 b.

  Identitas ................................................................................................... 17 c. Peran Kaum Muda Masa Kini ................................................................. 17 6. Keterlibatan Kaum Muda Dalam Hidup Menggereja .................................. 18 a.

  Keterlibatan Kaum Muda ........................................................................ 18 b.

  Hidup Menggereja ................................................................................... 19 1)

  Koinonia ............................................................................................. 19 2)

  Kerygma ............................................................................................. 19 3)

  Liturgy ................................................................................................ 19 4)

  Diakonia ............................................................................................. 19 7. Spiritualitas Kaum Muda ............................................................................ 20 a. Peristiwa Dalam Kitab Suci ....................................................................

  20 b. Santo Paulus Berbicara Tentang Anugerah Roh Kudus.......................... 20 c.

  Masa SMA Merupakan Masa Kristalisasi ............................................... 20 d. Kutipan-kutipan Lain Dari Kitab Suci .................................................... 21 8. Religiositas Kaum Muda.............................................................................. 21 9. Peranan Kaum Muda.................................................................................... 24 a.

  Peranan Kaum Muda Dalam Gereja........................................................ 24 b.

  Pandangan Gereja Terhadap Kaum Muda .............................................. 26 c. Harapan Gereja Terhadap Kaum Muda .................................................. 27 10. Pelayanan Pastoral Bagi Kaum Muda ....................................................... 28

  B.

  Bentuk Hidup Menggereja Dan Pembinaannya ........................................... 29 1. Bentuk Hidup Menggereja Secara Kontekstual ........................................... 29 a.

  Hidup Menggereja Menurut Suratman .................................................... 29 1) Komunitas kecil gerejawi adalah komunitas yang sadar ....................

  29 2) Komunitas kecil gerejawi adalah komunitas terorganisir ...................

  29 3) Komunitas kecil gerejawi adalah komunitas berdoa dan merayakan.....................................................................................

  30 4) Komunitas kecil gerejawi adalah komunitas berpusat pada Kristus .........................................................................................

  30 5) Komunitas kecil gerejawi adalah komunitas yang terbuka .................

  30 6) Komunitas kecil gerejawi adalah komunitas yang berkaitan dengan hidup seutuhnya ..................................................................................

  30 b. Hidup Menggereja Menurut Hardaputranta ............................................

  31 2. Konsep Pembinaan Kaum Muda Dalam Keterlibatan Hidup Menggereja ..

  32 a. Pembinaan Sebagai Pelayanan .................................................................

  33 b. Pembinaan Sebagai Pendampingan .........................................................

  33 C. Hidup Menggereja Secara Kontekstual Sebagai Praksis Menghayati Iman Kristiani........................................................................................................

  36 1. Hidup Menggereja Secara Kontekstual .......................................................

  36

  2. Hidup Menggereja Kontekstual Sebagai Praksis Perwujudan Iman Kristiani........................................................................................................

  39 BAB III. PENELITIAN KETERLIBATAN KAUM MUDA DALAM HIDUP MENGGEREJA SECARA KONTEKSTUAL DI LINGKUNGAN SANTO YUSUF KADISOBO PAROKI SANTO YOSEPH MEDARI ...................................................................................

  41 A. Gambaran Umum Situasi Kaum Muda di Lingkungan Santo Yusuf Kadisobo Paroki Santo Yoseph Medari .......................................................

  41 1. Sejarah Berdirinya Paroki Santo Yoseph Medari ........................................ 41 2.

  Keadaan Geografis Serta Pembagian Jumlah Stasi, Wilayah, dan Lingkungan Paroki Santo Yoseph Medari ...................................................

  43 3. Perkembangan Kaum Muda di Lingkungan Santo Yusuf Kadisobo Paroki Santo Yoseph Medari ...................................................................................

  46 a. Perkembangan kaum muda di lingkungan Santo Yusuf Kadisobo ........ 46 b.

  Perkembangan umat secara keseluruhan di Paroki Santo Yoseph Medari ....................................................................................................

  47 c. Situasi sosial, ekonomi, budaya, dan pendidikan umat di lingkungan

  B.

  Metode Penelitian Keterlibatan Kaum Muda Dalam Hidup Menggereja Secara Kontekstual di lingkungan Santo Yusuf Kadisobo Paroki Santo Yoseph Medari .............................................................................................

  49 1. Latar Belakang Penelitian ............................................................................ 49 2.

  Rumusan Permasalahan Penelitian .............................................................. 50 3. Tujuan Penelitian ......................................................................................... 51 4. Manfaat Penelitian ....................................................................................... 51 5. Pendekatan Penelitian .................................................................................. 51 6. Waktu dan Tempat Penelitian ...................................................................... 52 7. Teknik dan Instrumen Penelitian ................................................................. 52 a.

  Wawancara ............................................................................................. 52 1)

  Wawancara dengan pertanyaan tak berstruktur atau terbuka atau bebas ................................................................................................

  53 2)

  Wawancara dengan pertanyaan berstruktur atau tertutup ................ 53 3)

  Wawancara dengan pertanyaan kombinasi ...................................... 53 b. Kuesioner ............................................................................................... 53 c. Studi Dokumen ...................................................................................... 55 8. Responden Penelitian ................................................................................... 55 9. Populasi ........................................................................................................ 55 10.

  Teknik Analisis Data ................................................................................. 56 11. Variabel Penelitian .................................................................................... 56 C.

  Laporan Hasil Penelitian Keterlibatan Kaum Muda Dalam Hidup Menggereja Secara Kontekstual di Lingkungan Santo Yusuf Kadisobo Paroki Santo Yoseph Medari .......................................................................

  58 1. Identitas Responden ..................................................................................... 59 2.

  Keberadaan Kaum Muda ............................................................................. 60 3. Peran Kaum Muda Dalam Hidup Menggereja ............................................. 64 4. Pemahaman Tentang Hidup Menggereja ..................................................... 66 5. Ragam Kegiatan Hidup Menggereja ............................................................ 69 6. Faktor Penghambat dan Pendukung Untuk Terlibat Dalam Hidup Menggereja ..................................................................................................

  71 7. Manfaat Terlibat Dalam Hidup Menggereja ................................................ 73 8.

  Bentuk, Isi, Sarana prasarana, dan Profil pendamping ................................ 76

  D.

  Pembahasan Hasil Penelitian Keterlibatan Kaum Muda Dalam Hidup Menggereja Secara Kontekstual di Lingkungan Santo Yusuf Kadisobo Paroki Santo Yoseph Medari .......................................................................

  81 1. Identitas Responden ..................................................................................... 82 2.

  Keberadaan Kaum Muda ............................................................................. 82 3. Peran Kaum Muda Dalam Hidup Menggereja ............................................. 84 4. Pemahaman Tentang Hidup Menggereja ..................................................... 84 5. Ragam Kegiatan Hidup Menggereja ............................................................ 85 6. Faktor Penghambat dan Pendukung Untuk Terlibat Dalam Hidup Menggereja ..................................................................................................

  86 7. Manfaat Terlibat Dalam Hidup Menggereja ................................................ 87 8.

  Bentuk, Isi, Sarana prasarana, dan Profil pendamping ................................ 88 BAB

  IV. USULAN KEGIATAN DALAM RANGKA UPAYA MENINGKATKAN KETERLIBATAN KAUM MUDA DALAM HIDUP MENGGEREJA SECARA KONTEKSTUAL DI LINGKUNGAN SANTO YUSUF KADISOBO PAROKI SANTO YOSEPH MEDARI .....................................................................................

  90 A. Latar Belakang Penyusunan Kegiatan Kaum Muda Dalam Rangka

  Meningkatkan keterlibatan kaum muda dalam hidup menggereja secara kontekstual di lingkungan Santo Yusuf Kadisobo .......................................

  90 B. Tujuan Kegiatan ........................................................................................... 91 C. Bentuk Kegiatan........................................................................................... 91 1. Rekoleksi...................................................................................................... 92 2. Jalan Salib .................................................................................................... 97

  BAB V. PENUTUP .................................................................................................... 113 A. Kesimpulan ................................................................................................... 112 B. Saran .............................................................................................................. 113 DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................... 115 LAMPIRAN ............................................................................................................... 117 Lampiran 1: Surat Permohonan Izin Penelitian ......................................................... (1) Lampiran 2: Lembar Kuesioner ................................................................................ (2)

DAFTAR SINGKATAN A.

   Singkatan Kitab Suci

  KS : Kitab Suci Seluruh singkatan Kitab Suci dalam skrispi ini mengikuti Kitab Suci Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru dalam terjemahan baru, yang diselenggarakan oleh Lembaga Alkitab Indonesia, Jakarta 2004.

  LG : Lumen Gentium, Konstitusi Dokmatik Konsili Vatikan II tentang Gereja. AA : Apostolicam Actuositatem, Konstitusi Dokmatik Konsili Vatikan II tentang Kerasulan Awam.

  GE : Gaudium Et Spes, Konstitusi Dokmatik Konsili Vatikan II tentang Gereja Dalam Dunia Modern.

  EN : Evangelii Nuntiandi, Anjuran Apostolik Paus Paulus VI tentang Karya Pewartaan Injil dalam Zaman Modern, 8 Desember 1975.

B. Singkatan Lain

  Art : Artikel Bdk : Bandingkan KK : Kepala Keluarga KAS : Keuskupan Agung Semarang

  KBG : Komunitas Basis Gerejawi KBK : Komunitas Basis Kristiani KBP : Karya Bakti Paroki KHK : Komunitas Hidup Kristen KKMK : Kesatuan Keluarga Mahasiswa Katolik KWI : Konferensi Waligereja Indonesia LCD : Liquid Crystal Display MB : Madah Bakti PDK : Pembaharuan Doa Kharismatik PIA : Pendampingan Iman Anak PIR : Pendampingan Iman Remaja PGK : Panitia Gereja Katolik PMKRI : Persatuan Muda-mudi Katolik Republik Indonesia SJ : Serikat Jesuit SMA : Sekolah Menengah Atas SMK : Sekolah Menengah Kejuruan

BAB I PENDAHULUAN Pada bab pendahuluan ini akan dibahas mengenai Latar Belakang, Rumusan Permasalahan, Tujuan Penulisan, Metode Penulisan, dan Sistematika Penulisan. Agar semakin memperjelas berikut ini adalah uraiannya. A. Latar Belakang Penulisan Skripsi Kaum muda adalah makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri tanpa

  bantuan dan dukungan dari orang lain. Sebagai makhluk sosial, kaum muda tidak lepas dari masyarakat yang berada di sekitarnya. Keterlibatan serta peran mereka sangat dibutuhkan dan diharapkan. Namun, terkadang keterlibatan mereka ada yang mendatangkan peluang sekaligus hambatan bagi pribadinya sendiri. Salah satu contoh hambatan yang telah mengakar di masyarakat adalah budaya instan. Budaya ini dapat mematikan daya dan semangat serta usaha untuk berjuang dalam hidup, karena kebanyakan orang termasuk kaum muda lebih memilih yang cepat tanpa membuang-buang banyak waktu dan tenaga.

  Di samping budaya instan masih banyak lagi gangguan lainnya yang dapat mengganggu dan berpengaruh pada pengembangan pribadi kaum muda sebagai generasi penerus bangsa, misalnya saja sikap individualistis, materialistis, persaingan yang tidak sehat, dan lain sebagainya. Terhadap masalah-masalah demikian, seharusnya kaum muda lebih banyak diberi perhatian dan diberikan tempat untuk menyalurkan dan mengembangkan bakat yang ada di dalam diri mereka, sehingga timbul sikap positif untuk menyongsong masa depan yang lebih baik.

  Begitu juga yang dialami kaum muda dalam Gereja. Dewasa ini Gereja juga mengalami krisis yang mengakibatkan berbagai macam permasalahan. Salah satu kekrisisan yang dihadapi kaum muda adalah soal pencarian jati diri mereka. Sebagai makhluk sosial yang tidak dapat hidup tanpa orang lain, kaum muda juga hidup di antara anggota Gereja lainnya dan berjuang untuk bersama-sama mewujudkan Kerajaan Allah. Komisi kepemudaan KWI menggolongkan kaum muda menurut usia mereka sebagai berikut: remaja usia antara 13-15 tahun, taruna usia 16-19 tahun, madya usia antara 20-25 tahun, dan karya usia antara 25-35 tahun. Akan tetapi Komisi kepemudaan KWI secara umum menyatakan bahwa usia 13-35 tahun atau belum menikah adalah kaum muda (Komisi Kepemudaan KWI, 1998:4).

  Melihat realita yang ada, banyak kaum muda yang kurang aktif atau pasif untuk terlibat dalam hidup menggereja. Hal tersebut dikarenakan banyaknya kaum muda yang beranggapan bahwa kebutuhan dan tempat untuk menampung aspirasi mereka tidak terpenuhi sehingga mereka cenderung untuk “berdiam” diri. Di samping itu banyak orang-orang tua yang mendominasi kaum muda dengan kata lain kaum muda belum diberikan tanggung jawab atau kepercayaan serta kesempatan untuk mengekspresikan dirinya sebagai orang muda.

  Sebagai bagian dari Gereja, kaum muda mempunyai peranan penting untuk ikut terlibat dan mengambil tempat dalam kegiatan-kegiatan yang ada di Gereja karena merekalah yang akan menjadi tulang punggung dalam Gereja. Konsili Vatikan II dalam dekrit (AA art 2), menegaskan bahwa kaum muda memiliki peranan penting dalam masyarakat sekarang. Pernyataan ini menekankan bahwa kaum mudalah yang mampu memperkembangkan Gereja untuk ke depannya.

  Gereja sebagai wadah atau tempat berkumpulnya semua umat Katolik memiliki peranan penting dalam membangun, membimbing dan menanamkan sikap persaudaraan dalam menanggapi realita yang terjadi dalam masyarakat modern saat ini.

  Gereja dituntut memperlihatkan sikap pelayanan Kristus. Hal itu terjadi bila Gereja secara publik tampil di tengah-tengah masyarakat. Gereja sebagai wadah atau tempat berkumpulnya orang-orang Katolik mempunyai peranan penting dalam membimbing jemaat dan menanamkan sikap solidaritas dalam melihat realita yang terjadi dalam masyarakat modern saat ini. Dan penampilan itu terjadi dalam dua bentuk, yaitu sebagai perwujudan iman dan pengungkapan iman (Iman Katolik, 1996:452).

  Beberapa upaya yang sudah dilakukan oleh lingkungan Santo Yusuf Kadisobo Paroki Santo Yoseph Medari untuk mengaktifkan kaum muda supaya mereka mau terlibat dalam hidup menggereja adalah dengan mengadakan suatu kegiatan pendampingan bagi para kaum muda. Pendampingan kaum muda diharapkan dapat membantu mereka menjawab segala kebutuhan dan permasalahan yang mereka hadapi, sehingga kaum muda dapat terbantu untuk menjaga semangat dan persaudaraan antar sesama mereka.

  Tujuan dari dibentuknya kegiatan ini adalah membantu kaum muda untuk menemukan jati diri, mengembangkan kemampuan dan kemauan mereka, agar suatu saat mereka mampu menanggapi persoalan-persoalannya sendiri serta tantangan yang ada di sekitar lingkungannya. Dan yang lebih penting mereka memiliki kerinduan untuk berkumpul dengan sesamanya, sehingga dari kerinduan itu membuat mereka ingin lebih terlibat dalam hidup menggereja serta semakin meningkatkan penghayatan iman mereka akan Yesus Kristus.

  Dari tujuan pendampingan tersebut diharapkan mereka dapat menempatkan diri sebagai manusia beriman dan sebagai anggota Gereja yang dijiwai oleh cita- cita, sikap dan semangat Kristus, sehingga mereka dapat memberi kesaksian dan pelayanan Kristen di tengah-tengah masyarakat saat ini (Tangdilintin, 1984:49).

  Kegiatan pendampingan bagi kaum muda merupakan suatu kebutuhan untuk dapat memacu semangat dan kreativitasnya. Kegiatan pendampingan tidak bersifat sementara untuk menanggapi satu keprihatinan saja, melainkan perlu terus-menerus dilakukan dan dikembangkan. Dengan demikian, kaum muda sebagai manusia yang masih berjuang untuk mencapai kehidupan yang lebih baik memang membutuhkan pendampingan.

  Hal ini selaras dengan kebutuhan manusia untuk saling memberi dan menerima secara sehat dalam hal perasaan, pikiran dan cita-cita. Dengan adanya pendampingan, kaum muda akan merasa mendapatkan kekuatan, pertolongan sehingga keterlibatan mereka dalam hidup menggereja akan semakin bermakna.

  Dengan demikian persaudaraan serta kebersamaan para kaum muda akan semakin terjalin dan mendorong mereka untuk memiliki semangat yang tinggi.

  Berbagai macam kegiatan pendampingan yang telah diupayakan oleh lingkungan Santo Yususf Kadisosbo Paroki Santo Yoseph Medari sebagai berikut:

  1. PIA Pendampingan ini merupakan wadah resmi yang selama ini ada juga dalam

  Paroki. Gagasan yang bisa diberikan adalah melaksanakan PIA sebagai bagian dari pendampingan untuk anak-anak, yang mendampingi kegiatan tersebut adalah kaum muda. Melalui pendampingan tersebut kaum muda diharapkan untuk aktif terlibat dalam hidup menggereja.

  2. Koor Kaum Muda Saat ini sudah ada kelompok koor kaum muda yang biasanya dilatih oleh saudari Mega dan Novi bertempat di Kapel Kadisobo. Kegiatan ini dilakukan bertepatan dengan tugas koor kaum muda. Diharapkan latihan koor ini tidak hanya pada saat kaum muda mendapat giliran untuk bertugas saja, tetapi ada waktu yang sudah dipilih untuk rutinitas latihan.

  3. Anjangsana Mudika Kegiatan semacam ini pernah dilakukan oleh kaum muda yang ada di lingkungan Santo Yusuf Kadisobo. Mereka berkunjung dari satu lingkungan ke lingkungan lain secara bergilir, tetapi karena kurangnya koordinasi dan seringnya waktu yang bertabrakan dengan kegiatan lainnya, sehingga kegiatan ini tidak berjalan lagi.

  Melalui upaya-upaya tersebut Gereja dapat meningkatkan keterlibatan kaum muda di dalam hidup menggereja secara kontekstual, yakni menggereja dalam hubungannya dengan situasi atau kejadian yang dialami. Semoga dengan upaya- upaya yang sudah disebutkan di atas dapat memicu rasa persaudaraan yang semakin kental di antara sesama khususnya kalangan kaum muda.

  Melalui berbagai macam kegiatan pendampingan tersebut mereka mampu mengenal dan menerima diri dengan segala kekurangan serta kelebihan yang mereka miliki, mampu menemukan identitas diri memiliki gambaran diri yang sehat dan mempunyai kepercayaan diri serta harga diri yang seimbang, mampu mengolah dan mengarahkan segala perasaan hati yang positif dan negatif yang muncul dalam hati mereka, mampu mengembangkan perilaku, cara dan gaya hidup yang produktif, serta mampu mengembangkan motivasi, potensi yang ada di dalam dirinya secara maksimal.

  Maka dari itu lewat upaya-upaya kegiatan tersebut, diharapkan perkembangan keterlibatan kaum muda dalam hidup menggerejanya semakin kental dan aktif. Dengan demikian diharapkan dapat meningkatkan tali persaudaraan sebagai perwujudan iman yang terlibat baik di dalam lingkup Gereja maupun di masyarakat, sehingga mereka pun dapat membantu sesamanya untuk hidup yang lebih maju dan berkembang. Berdasarkan keprihatinan tersebut penulis terdorong untuk mengangkat judul skripsi : “UPAYA MENINGKATKAN KETERLIBATAN KAUM MUDA DALAM HIDUP MENGGEREJA SECARA KONTEKSTUAL DI LINGKUNGAN SANTO YUSUF KADISOBO PAROKI SANTO YOSEPH MEDARI”.

  Semoga dengan berjalannya waktu dan semakin berkembangnya upaya- upaya yang telah dilakukan untuk melibatkan kaum muda dalam kehidupan menggereja secara kontekstual khususnya di lingkungan Santo Yusuf Kadisobo Paroki Santo Yoseph Medari mampu membawa kaum muda mencapai kedewasaan imannya melalui pengalaman dan pergumulan mereka dalam mencari dan menemukan Tuhan bersama rekan-rekan muda lainnya.

B. Rumusan Permasalahan

  Pada bagian rumusan permasalahan terdiri dari empat rumusan, berisi tentang permasalahan yang akan coba dijawab oleh penulis dalam skripsinya seperti yang tertulis di bawah ini: 1.

  Sejauh mana keterlibatan para kaum muda dalam hidup menggereja secara kontekstual di lingkungan Santo Yusuf Kadisobo?

  2. Apa saja upaya yang sudah dilakukan oleh lingkungan Santo Yusuf Kadisobo untuk meningkatkan keterlibatan kaum muda dalam hidup menggereja secara kontekstual? 3. Apa manfaat dari upaya-upaya tersebut untuk keterlibatan kaum muda dalam hidup menggereja terhadap pengembangan diri mereka?

  4. Bentuk kegiatan pendampingan seperti apa yang dirasa cocok bagi kaum muda di lingkungan Santo Yusuf Kadisobo agar mereka semakin terlibat dalam hidup menggereja? C.

   Tujuan Penulisan

  Pada bagian tujuan penulisan terdiri dari empat rumusan, berisi tentang tujuan dari penulisan yang akan coba dicapai oleh penulis dalam skripsinya seperti yang tertulis di bawah ini:

  1. Mengetahui sejauh mana keterlibatan kaum muda di lingkungan Santo Yusuf Kadisobo dalam hidup menggerejanya.

  2. Mengetahui bentuk kegiatan dan upaya yang sudah dilakukan lingkungan Santo Yusuf Kadisobo sudah sejauh mana berkembangnya.

  3. Agar kaum muda dapat menemukan manfaat dari upaya-upaya yang sudah di lakukan oleh lingkungan Santo Yusuf Kadisobo untuk meningkatkan keterlibatan mereka dalam hidup menggereja.

  4. Memberikan satu bentuk kegiatan yang sesuai untuk semakin meningkatkan keterlibatan kaum muda dalam hidup menggereja.

D. Manfaat Penulisan

  Pada bagian manfaat penulisan terdiri dari empat rumusan, berisi tentang manfaat dari penulisan yang akan coba dicapai oleh penulis, kaum muda, dan Gereja seperti yang tertulis di bawah ini: 1.

  Supaya kaum muda dapat mengembangkan diri, menambah rasa percaya diri dalam diri mereka untuk tampil di depan umum, dan samakin aktif serta ikut ambil bagian dalam kegiatan-kegiatan di Gereja.

  2. Memperoleh bentuk gambaran dari upaya untuk meningkatkan keterlibatan kaum muda yang telah dilakukan oleh lingkungan Santo Yusuf Kadisobo agar lebih banyak kaum muda yang aktif.

3. Diperoleh manfaat dari bentuk kegiatan yang telah diupayakan oleh lingkungan

  Santo Yusuf Kadisobo, serta situasi dan kondisi kaum muda dalam keterlibatan hidup menggereja di lingkungan Santo Yusuf Kadisobo.

  4. Tersedianya bentuk kegiatan yang sekiranya sesuai untuk meningkatkan keterlibatan kaum muda dalam hidup menggereja di lingkungan Santo Yusuf Kadisobo.

  E. Metode Penulisan

  Dalam penulisan skripsi ini penulis menggunakan metode deskriptif- analitis. Melalui metode ini penulis akan menggambarkan dan menganalisa permasalahan yang ada untuk dicarikan alternatif pemecahan yang tepat. Untuk mendapatkan data yang diperoleh, penulis mengadakan survei dengan menggunakan kuesioner, wawancara, dan untuk mendapatkan analisis yang baik penulis melengkapinya dengan membaca serta studi pustaka. Data-data yang diperoleh nantinya akan dianalisis guna mengetahui seberapa besar perkembangan keterlibatan para kaum muda dalam hidup menggereja secara kontekstual di lingkungan Santo Yusuf Kadisobo Paroki Santo Yoseph Medari.

  F. Sistematika Penulisan

  Pada bagian sistematika penulisan terdiri dari lima rumusan, berisi tentang sitematika penulisan dari tiap bab penulisan yang akan coba dicapai oleh penulis seperti yang tertulis di bawah ini:

  BAB I : Pada bab ini penulis akan memaparkan mengenai pendahuluan yang berisikan tentang: latar belakang penulisan skripsi, rumusan permasalahan, tujuan penulisan, manfaat penulisan, metode penulisan dan sistematika penulisan.

  BAB II : Pada bab ini penulis akan memaparkan pengertian-pengertian kaum muda, ciri-ciri kaum muda, permasalahan kaum muda, situasi kaum muda, peranan kaum muda, bentuk hidup menggereja, konsep keterlibatan kaum muda dalam hidup menggereja, dan hidup menggereja secara kontekstual sebagai praksis perwujudan Iman Kristiani.

  BAB III : Pada bab ini penulis akan memaparkan penelitian mengenai keterlibatan kaum muda dalam hidup menggereja secara kontekstual yang terdiri dari metode penelitian yang digunakan, memaparkan hasil penelitian yang sudah dilaksanakan, dilanjutkan pembahasan hasil penelitian dan mencermati data yang ada untuk ditindak lanjuti, dan yang terakhir adalah menarik kesimpulan dari penelitian tersebut.

  BAB IV : Pada bab ini terdiri dari tiga bagian. Bagian pertama berisi tentang latar belakang penyusunan kegiatan pendampingan kaum muda di lingkungan Santo Yusuf Kadisobo. Bagian ke dua berbicara mengenai tujuan kegiatan kaum muda. Bagian ke tiga bentuk kegiatan pendampingan yang cocok dan sesuai dengan karakter kaum muda di lingkungan Santo Yusuf Kadisobo.

  BAB V : Bab ini berisikan tentang kesimpulan dan saran dari penulis demi membangun keterlibatan kaum muda dalam hidup menggereja secara kontekstual.

BAB II KETERLIBATAN KAUM MUDA DAN HIDUP MENGGEREJA SECARA KONTEKSTUAL Pada bab ke dua ini akan dibahas tiga hal, yakni: Pengertian Kaum Muda, Bentuk Hidup Menggereja dan Pembinaanya, dan Hidup Menggereja Secara Kontekstual Sebagai Praksis Menghayati Iman Kristiani. Berikut adalah pembahasannya. A. Kaum Muda 1. Pengertian Kaum Muda Secara Umum Kata muda berarti belum sampai setengah umur. Namun, Shelton (1987:9)

  berpendapat bahwa kaum muda adalah mereka yang berusia antara 15-24 tahun dan sedang mengalami tahap pertumbuhan fisik dan perkembangan mental, emosional, sosial, moral, serta religius.

  Sedangkan tokoh lain yakni Mangunhardjana (1986:11-12) berpendapat bahwa kaum muda diperuntukkan untuk menunjuk kaum, golongan, atau kelompok orang yang masih muda usianya, yang berumur 15 sampai 21 tahun. Kaum muda dalam ilmu psikologi disebut remaja yang mencakup muda-mudi usia SMA dan usia studi Perguruan Tinggi semester I-IV.

  Dengan demikian kaum muda adalah seorang pribadi yang sedang berada dalam taraf perkembangan dengan segala perubahan emosional, sosial, dan psikologis yang dialami pada kerangka waktu tertentu. Pada masa perkembangan itu, kaum muda mampu menemukan hak-haknya, peranannya, kewajibannya serta kebutuhannya sebagai pribadi yang matang dan dewasa. Masa perkembangan dan masa persiapan dengan segala kekhasan yang ada pada diri kaum muda merupakan hal pokok yang akan dibahas pada bagian ini.

  Berkaitan dengan perkembangan dan persiapan tersebut Shelton mengatakan: “...dalam tahap ini kaum muda disibukkan dengan pilihan-pilihan masuk perguruan tinggi, studi tingkat sarjana, karir atau perkawinan. Perhatian kaum muda semakin terpusat pada peran-peran dan tugas-tugas yang menyiapkan mereka memasuki dunia kaum dewasa. Dalam tahap inilah masalah-masalah yang menyangkut identitas dan intimitas selalu gawat di kalangan kaum muda” (Shelton, 1988:12). Dari pernyataan Shelton ini, jelaslah bahwa kaum muda pada tahap akhir benar-benar mengalami masa transisi yang sangat menentukan hidupnya, maka tidak mudah bagi mereka dalam hidup ini menentukan sebuah “pilihan”. Banyak kaum muda beranggapan, bahwa masa depannya tidak jelas; ada banyak kecemasan-kecemasan, ketakutan-ketakutan akan apa yang dihadapi di masa yang akan datang.

  Pada situasi ini yang perlu diperhatikan adalah bagaimana kaum muda mempunyai kemampuan untuk mengolah dirinya, membiasakan diri untuk berefleksi terhadap pengalamannya sehingga mampu mengambil keputusan yang tepat. Ketidaktepatan di dalam memilih inilah yang pada akhirnya dapat mengakibatkan kekaburan, keragu-raguan, dan akhirnya frustasi. Tidak mengherankan bila kemudian obat bius, minuman keras, dan lain-lain cenderung menjadi “sahabat” dekat mereka.

  Realita kehidupan kaum muda di atas diharapkan mampu membuka mata kaum muda dewasa untuk lebih menyikapi makna hidup ini. Mereka mempunyai tugas dan tanggung jawab yang besar terhadap Gereja dalam melayani kebutuhan kaum muda. Tak seorang pun yang mempunyai iman dan mempunyai latar belakang pendidikan tertentu membiarkan keadaan ini berlarut-larut. Dalam perjalanan waktu dan perkembangan pemahaman mereka, kaum muda banyak menghadapi problem-problem, baik secara intern maupun ekstern.

  Konsili Vatikan II dalam dekritnya tentang AA art 2, menegaskan bahwa kaum muda merupakan kekuatan penting dalam masyarakat sekarang, dimana peran dan keterlibatannya sangat dibutuhkan dalam hidup bersama baik di lingkup Gereja maupun masyarakat luas.

  Philip Tangdilintin (2008:25) dengan mengutip pendapat DR J. Riberu menerangkan tentang keberadaan “kaum muda” dengan istilah “muda-mudi” sebagai berikut:

  “Muda-mudi dimaksudkan kelompok umur kurang lebih 12-24 tahun, bagi yang bersekolah usia ini sesuai dengan usia lanjutan dan Perguruan Tinggi. Ditinjau dari segi sosiologis sering kali usia di atas perlu dikoreksi sesuai dengan umur usia seseorang dalam masyarakat tertentu (=kedewasaan psikologis). Status sosial yang dimaksudkan ialah hak dan tugas orang dewasa yang diberikan kepada seseorang dalam masyarakat tertentu. Status sosial ini sering sejalan dengan status berdikari di bidang nafkah ataupun status keluarga. Unsur status sosial ini menyebabkan seseorang yang menurut usianya masih dalam jangkauan muda-mudi sudah bisa dianggap dewasa dan sebaliknya orang yang sudah melampaui usia tersebut toh masih dianggap muda- mudi”. Dalam ilmu psikologi dapat juga didiskripsikan kaum muda sebagai orang- orang yang secara fisik berada dalam taraf dimana daya tahan tubuh berada pada puncak perkembangannya. Demikian juga perkembangan ketajaman penglihatan dan pendengaran mencapai puncaknya. Sejalan dengan perkembangan fisik, fungsi intelektual orang muda pun berada pada suatu tingkat yang tinggi dan baik. Kaum muda dapat berfikir secara kritis, dan dapat melahirkan gagasan-gagasan atau ide- ide membentuk konsep-konsep mengenai suatu hal yang menambah kemampuan inteligensi. Maksudnya kemampuan yang meliputi kosa kata, informasi umum dan pemikiran untuk memperbaiki hidup secara menyeluruh, mengembangkan bakat dan minat yang makin terarah pada tujuan hidup yang telah ditentukan.

  Berdasarkan beberapa pendapat dari para tokoh di atas dapat disimpulkan bahwa yang disebut kaum muda adalah mereka yang tergolong energik dan kreatif yang berusia antara 15 sampai dengan 24 tahun, serta yang sedang mengalami pertumbuhan fisik dan perkembangan mental. Mereka juga yang sering disebut sebagai tulang punggung atau generasi penerus bangsa dan Gereja.

2. Ciri-ciri Kaum Muda

  Ciri-ciri kaum muda : Kaum muda berada dalam periode peralihan, Kaum muda sedang berada dalam masa mencari identitas, Kaum muda berada dalam masa yang tidak realistik, Kaum muda berada dalam usia bermasalah, dan Kaum muda berada dalam ambang masa dewasa.

  Ada pun sebagai manusia, pada tahap ini kaum muda sedang mengalami proses perkembangan fisik, mental, emosional, sosial, moral, dan religius.

  Perkembangan fisik meliputi perubahan ukuran tubuh, porporsi tubuh. Perkembangan mental dan intelektual yang dialami mendorong kaum muda untuk menjadi selektif dan kritis, mereka menentukan citra rasanya sendiri, jalan pikiran dan skala nilai sendiri.

  Perkembangan emosional, membuat hormon-hormon dalam tubuh mengalami peningkatan. Perkembangan sosial dan relasi dengan orang lain menjadikan kaum muda penuh dengan kesalingtergantungan dan kegairahan hidup. Perkembangan moral, pencarian patokan moral, dan ketegangan batin yang dialami kaum muda menjadikan kaum muda mempunyai sikap terbuka terhadap nilai-nilai baru dan haus akan perkembangan serta tidak senang pada keadaan statis. Perkembangan religius, yakni hubungan muda-mudi dengan Maha Kuasa, Sang Pencipta yang menjadikan kaum muda dapat memikirkan kemungkinan- kemungkinan secara abstrak (Mangunhardjana, 1986:12).

3. Permasalahan Kaum Muda

  Permasalahan kaum muda yang sangat mendasar yang diakui oleh muda- mudi adalah permasalahan dari dalam diri muda-mudi sendiri. Permasalahan yang banyak dialami adalah pengaktualisasian diri kurang menyadari potensi yang ada dan mengenal diri, rasa rendah diri serta sistem adat yang menghambat perkembangan diri.

  Menjadi kaum muda itu ternyata gampang-gampang susah, meski banyak orang mengatakan masa muda adalah masa-masa yang paling indah dalam hidup.

  Pada masa ini kaum muda juga dihadang berbagai masalah. Permasalahan yang sering kali dihadapi oleh kaum muda adalah: permasalahan dalam keluarga, khususnya: komunikasi dengan orangtua yang kurang baik. Permasalahan dalam kehidupan bermasyarakat, misalnya: pergaulan kaum muda yang tidak benar menjadikan kaum muda bersifat konsumtif. Permasalahan dalam agama, misalnya: krisis iman dalam diri kaum muda. Permasalahan dalam diri sendiri, misalnya: kaum muda mulai mengenal arti cinta (Mangunhardjana, 1986:16).

4. Situasi Kaum Muda Kaum muda adalah tulang punggung dan masa depan negara, dan Gereja.

  Kiprah kaum muda akan menentukan arah dan wajah masa depan. Untuk itu kaum muda diharapkan ikut terlibat dalam keprihatinan-keprihatinan yang dirasakan di lingkungan di sekitar dirinya. Semangat kaum muda yang menggelegar, potensi yang dimilikinya, ide pembaharuan yang lekat dengan dirinya adalah modal penting untuk pengembangan masa depan yang lebih baik.

  Masa muda adalah masa untuk penentuan hari depan, dan masa yang rawan karena masih labilnya kaum muda. Pada masa ini dapat dikatakan bahwa situasi hidup kaum muda bersifat mendua, artinya kaum muda menjadi harapan dan sekaligus mengkhawatirkan. Kaum muda dewasa ini sangat mudah terpengaruh oleh perubahan jaman, dan tidak jarang terbawa arus perubahan jaman, padahal tidak semua perubahan jaman itu merupakan hal yang positif. Kaum muda tidak semuanya dapat bersifat kritis, selektif, dapat menilai, dan dapat mempertimbangkan serta mengambil makna dari apa yang sedang berlangsung. Hal ini menyebabkan banyak kaum muda yang mudah terombang-ambing ikut arus karena mereka tidak memiliki pedoman dan nilai yang jelas.

5. Pertumbuhan Dan Perkembangan Kaum Muda

  Menurut Tangdilintin (2008:27-32) melihat keberadaan kaum muda dapat ditinjau dari berbagai aspek lain. Ada pun aspek yang dimaksud adalah sebagai berikut : a.

  Potensi Kaum muda mempunyai potensi untuk memikirkan kemungkinan- kemungkinan secara abstrak, dapat memandang diri dan persoalan hidup ini dari berbagai segi. Hal tersebut menyebabkan mereka memiliki sikap terbuka terhadap setiap pembaharuan dan perkembangan. Oleh sebab itu, generasi muda sering disebut generasi pembaharu yang tidak terikat pada tradisi-tradisi masa lampau, maka hidupnya penuh dinamika, penuh emosi, dan penuh semangat.

  b.

  Identitas Kaum muda yang sedang mencari identitas diri, dalam proses perkembangan mereka mengharapkan agar diperlakukan sebagai sahabat. Mereka ingin dihargai sebagai pribadi yang sedang dalam proses mencari identitas diri. Kemudian kalau kaum muda ingin menjadi ora ng yang “bebas” maksudnya adalah mereka tidak ingin terikat pada aturan-aturan ketat, baik dalam adat maupun norma-norma.

  Mereka ingin mendapat “pengakuan”, karena itu membutuhkan kesempatan untuk “menyatakan diri”, membuktikan diri, bahwa mereka dapat berbuat sesuatu, maka mereka tidak mau segalanya ditentukan orang lain.

  c.

  Peran Kaum Muda Masa Kini Kaum muda saat ini banyak yang menuntut agar mereka dapat dipercaya dan diberi kesempatan untuk berperan dalam masa kini, baik dalam hidup bermasyarakat maupun bernegara. Kaum muda ini berarti sudah sampai pada kesadara n bahwa mereka sebagai “harapan masa kini”. Mereka tidak ingin dianggap sebagai “pembantu” atau sebagai pelaksana program atau gagasan orang lain saja.

  Mereka ingin ikut berpartisipasi mulai dari gagasan, perencanaan, pelaksanaan, evaluasi.

6. Keterlibatan Kaum Muda Dalam Hidup Menggereja a.

  Keterlibatan Kaum Muda Menurut Prasetya (2006:109-110) terlibat adalah sebuah pengabdian yang dilaksanakan secara sukarela oleh pribadi-pribadi yang sesuai dengan tempat dan peranan seseorang serta harus mengarah pada peningkatan kesejahteraan umum. Keterlibatan kaum muda dalam hidup menggereja terdorong oleh semangat Yesus Kristus dan dijiwai sikap patuh dan cinta kasih kepada para Gembala Gereja, maka boleh diharapkan akan memperbuahkan hasil yang melimpah.

  Gereja senantiasa mengupayakan berbagai kegiatan dalam rangka pendidikan karakter. Hal ini menuntut keterlibatan kaum muda agar dapat membangun spiritualitas, watak, kepribadian, serta tanggung jawab dalam diri mereka sendiri.

  Banyaknya kegiatan tersebut akan menghasilkan buah yang berkelimpahan jika kegiatan ini disesuaikan dengan situasi, kepribadian, dan peran kaum mudanya, sehingga mereka akhirnya mampu menjadi rasul bagi kaum muda itu sendiri. Sifat- sifat alamiah mereka pun memang sesuai untuk menjalankan kegiatan itu.

  Sementara kesadaran atas kepribadian mereka bertambah matang, terdorong oleh gairah hidup dan semangat kerja yang meluap, mereka sanggup memikul tanggung jawab sendiri, dan ingin memainkan peran mereka dalam kehidupan sosial dan budaya.

  Kaum muda sendiri haruslah menjadi rasul-rasul pertama dan langsung bagi sesama kaum muda, dengan menjalankan sendiri kerasulan di kalangan mereka sambil mengindahkan lingkungan sosial kediaman mereka (AA art 12). Selain menjadi rasul bagi kaum muda itu sendiri, mereka hendaknya juga diberi kemungkinan dan kesempatan untuk mengembangkan kemampuan, kreatifitas yang dimiliknya, dengan cara terlibat mendampingi berbagai macam kegiatan PIA atau sekolah minggu, dan PIR.

  b.

  Hidup Menggereja Menurut Ardhisubagyo (1987:24), hidup menggereja dapat digolongkan dalam 4 dasariah gereja, sebagai berikut:

  1) Koinonia: cara hidup bersama yang terbuka dan nyata dalam menumbuhkan kepekaan terhadap kesusahan dan penderitaan.

  2) Kerygma: pewartaan dijalankan oleh setiap umat beriman agar dapat mengalami perjumpaan dengan Allah.

  3) Liturgy: mengikuti perayaan Ekaristi sebagai umat Allah yang selalu merindukan Allah yang hadir dalam hidupnya.

4) Diakonia: gerak dasar seluruh kegiatan Gereja.

7. Spiritualitas Kaum Muda

  Menurut Shelton (1987:100-104), terdapat beberapa kemungkinan landasan yang berguna untuk perkembangan hidup spiritual kaum muda, yakni: a.

  Peristiwa-peristiwa dalam Kitab Suci, panggilan Tuhan dalam (Matius 4:21), dapat digunakan untuk membantu mereka menyadari panggilan Tuhan. Para kaum muda hendaknya diajak untuk merenungkan diri mereka di masa mendatang, dan bagaimana panggilan Tuhan atas mereka itu dihayati. Meski masa depan tersebut belum pasti, mereka perlu melihat bahwa tindakan dan pilihan mereka pada saat itu akan mempengaruhi masa depan mereka.

  b.

  Santo Paulus berbicara tentang anugerah Roh Kudus kepada umat Korintus (1Kor 12:4-11). Pernyataan Paulus itu mengingatkan semua orang Kristen akan anugerah-anugerah pribadi yang diterimanya untuk membangun jemaat Allah.

  Sebagaimana telah kita lihat, pembicaraan anugerah ini sangat penting bagi orang muda. Orang muda (sebagaimana juga banyak orang dewasa), sering mengukur diri bedasarkan apa yang mereka miliki. Dengan demikian, pendamping perlu membantu orang muda mengerti anugerah pribadi mereka dan betapa penting anugerah itu bagi mereka, dan bagaimana anugerah itu membantu mereka untuk mengikuti panggilan Yesus.

  c.

  Masa-masa SMA merupakan masa kristalisasi pilihan panggilan hidup, hendaknya kita menanamkan nilai-nilai Injil, seperti perhatian, belas kasih, pengorbanan juga harus ditanamkan sejak dini. Pemahaman akan nilai-nilai seperti ini melatih mereka untuk merenungkan tingkah laku pribadi, nilai-nilai pribadi untuk mengarahkan mereka ke masa depan mereka. d.

  Kutipan-kutipan Kitab Suci lainnya seperti pada (Mrk 4:1-20) tentang “menabur benih” dapat dibacakan supaya mereka meninjau benih apa yang sudah mereka taburkan selama ini. Secara khusus mereka diajak untuk mempertimbangkan mana yang menghasilkan buah selama 5 tahun lewat pelayanan mereka kepada sesama.

8. Religiositas Kaum Muda: Perjumpaan Kaum Muda dengan Yesus

  Shelton (1988:109-110) mengatakan bahwa religiositas kaum muda didasarkan pada pengalaman perjumpaannya dengan Yesus dan tanggungjawabnya terhadap nilai-nilai Kristiani. Religiositas mereka ini didukung dan dipupuk dengan semakin tumbuhnya dan semakin dalamnya pengalaman hidup doa dari mereka sendiri. Dalam perjumpaan dengan Yesus melalui pengalaman hidup doa ini, kaum muda semakin hari semakin menemukan makna arti kehadiran Yesus Kristus dalam hidupnya. Perjumpaan kaum muda dengan Yesus Kristus yang penuh bersahabat melalui pengalaman hidup doa sebenarnya sejajar dengan fungsi persahabatan pribadi yang terungkap dalam kebutuhan dan keamanan selama masa mudanya.

  Melalui pengalaman hidup doa, kaum muda mengembangkan kemampuannya untuk berbagi rasa dengan Yesus mengenai pengalaman kegembiraan dan kesedihan hati yang paling dalam. Pertumbuhan dalam perjumpaan dengan Yesus itu disertai oleh perkembangan identitas yang semakin integral melalui sikap yang terbuka dan akrab dengan orang lain. Dalam perjumpaan dengan Yesus, kaum muda bukan hanya berbagi rasa, malainkan mereka juga mulai mendengarkan Dia. Dalam perkembangan selanjutnya kaum muda merenungkan apa yang dibisikkan Yesus kepadanya serta merenungkan kemana Yesus membimbingnya.

  Mengenai hidup doa yang cocok bagi kaum muda adalah doa yang didasarkan pada pertemuan manusiawi. Di dalam doa yang didasarkan pada pertemuan manusiawi itu terkandung unsur pengenalan, penerimaan, penghargaan, dan keakraban serta persatuan hati. Pertemuan yang terjadi dalam doa bukan pertemuan fisik, melainkan pertemuan dari hati ke hati atau pertemuan batin. Oleh karena itu diperlukan kemampuan untuk mendengarkan agar mereka dapat berdoa.

  Misalnya: pertemuan antara Matius dengan Yesus (Mat 9:9-13; Mrk 2:13-17; Luk 5:27-32; juga Mat 10:3; Mrk 3:18 dan Luk 6:14). Pertemuan antara Zakeus dengan Yesus (Luk 19:1-10). Di dalam pertemuan antara Matius dengan Yesus dan antara Zakeus dengan Yesus terungkap unsur pengampunan, pemenuhan kerinduan hati, dan kerendahan hati, baik dari pihak Yesus maupun pihak Matius dan Zakeus.

  Demikian juga dalam hidup doa yang terungkap sekaligus terjadi pemenuhan kerinduan hati, pengampunan dan kerendahan hati sehingga di sana terjadi perjumpaan dengan Yesus secara nyata.

  Mengenai hidup doa liturgis sekarang ini secara teoritis cukup memadai, tetapi dalam praksisnya dirasakan masih kurang. Sebab pada prakteknya membatasi kreatifitas masing-masing pribadi, khusunya kaum muda. Maka dari itu doa liturgis sebaiknya dijadikan suatu pegangan untuk memenuhi kerinduan hati yang dapat terungkap dengan doa-doa spontan.

  Namun demikian doa bukan hanya bersifat personal, tetapi juga bersifat komunal, sebab berhubungan dengan Yesus Kristus berarti juga berhubungan dengan orang lain. Bersatu bersama Yesus berarti berada dalam Tubuh-Nya dan Umat-Nya. Seringkali terjadi bahwa perkembangan yang menuju ke orientasi ini dirusak oleh suatu reaksi melawan aspek-aspek ibadat yang bersifat komunal cenderung melembaga dan baku. Pada tahap ini seringkali membawa kaum muda lari dari perayaan-perayaan yang bersifat sakramental. Perjumpaan mereka dengan Yesus Kristus dalam perayaan sakramental dirasakan kurang menjawab kebutuhan dan kerinduannya. Mereka lebih menyukai perjumpaan yang sifatnya informal.

  Misalnya: perjumpaan dalam doa Kharismatik, Choice, PMKRI, KHK, KKMK, dan sejenisnya.

  Kehadiran mereka dalam perayaan sakramental perayaan ekaristi kadang- kadang hanya sebagai pemenuhan kewajiban saja. Jadi kerinduan mereka akan perjamuan sakramental belum tumbuh secara mantap dalam diri kaum muda. Dalam keadaan yang demikian ini kaum muda perlu ditantang untuk menyadari bahwa dukungan bagi mereka dapat diperoleh baik melalui doa mau pun melalui keterlibatan mereka bersama orang lain di dalam hidup menggereja.

  Bagi kita orang Kristiani saat perjumpaan dengan Yesus secara definitif kita ungkapkan secara sakramental, seperti saat menerima pembaptisan, dalam perayaan ekaristi, dan dalam seluruh doa-doa kita. Dengan menerima pembaptisan, secara resmi kita menjadi orang Kristiani, yang ikut ambil bagian dalam tugas Kristus sebagai Imam, Raja dan Nabi.

9. Peranan Kaum Muda a.

  Peranan Kaum Muda Dalam Gereja Setiap jemaat beriman karena rahmat permandiannya memiliki panggilan untuk mengembangkan, mewujudkan, dan memberikan kesaksian iman mereka.

  Kaum muda sebagai anggota Gereja juga ikut memiliki peranan untuk bersaksi tentang imannya, dan setiap kaum muda dipanggil untuk menjadi pewarta kabar gembira (Prasetya 2006:103).

  KWI (1994:29) mengatakan bahwa masa depan Gereja terletak pada anak- anak, remaja, dan kaum muda sebagai bagian dari Gereja untuk meneruskan perjuangan Gereja. Salah satu perjuangan tersebut adalah meneladani Yesus Kristus sendiri. Peranan kaum muda sebagai pengikut Yesus salah satunya adalah ikut serta di dalam fungsi Kristus, yaitu sebagai Imam, Nabi, dan Raja (AA art 1). Pertama, peran sebagai Imam yakni menguduskan. Di dalam Perjanjian Lama dijelaskan fungsi dari Imam sendiri adalah mempersembahkan kurban misalnya seperti : binatang, hasil bumi, dan lain sebagainya. Kristus memutus imamat Perjanjian Lama karena yang mempersembahkan kurban dan yang dikurbankan sama yaitu diri-Nya sendiri. Oleh karena itu semua orang beriman oleh Baptisan dan Krisma harus ikut ambil bagian dalam Imamat Kristus. Mereka hendaknya bertekun di dalam doa dan memuji Allah, dan mempersembahkan dirinya sebagai kurban persembahan yang hidup, kudus dan berkenan kepada Allah (LG art 10 bdk AA art

  

6). Ke dua, peran sebagai Raja yakni menggembalakan. Pokok pewartaan Yesus

  adalah Kerajaan Allah. “Waktunya telah genap, Kerajaan Allah sudah dekat, bertobatlah dan percayalah kepada Injil” (Mrk 1:15). Kerajaan Allah adalah kerajaan damai yang dibawa Yesus ini berhukum cinta kasih, yang diwujudkan dalam sikap saling melayani. Yesus Kristus sendirilah yang menjadi raja, ketika Ia melaksanakan tugas-Nya sebagai hamba Yahwe yang setia dimana Dia selalu mengarahkan dan menuntun para umat-Nya untuk selalu dekat dengan Bapa. Oleh Baptis dan Krisma, kita dilahir kan kembali menjadi “umat baru, kerajaan dan imam- imam bagi Allah” (LG art 10 bdk AA art 7). Ke tiga, peran sebagai Nabi yakni sebagai pewarta Sabda Allah. Seorang nabi sejati tidak mendapatkan jaminan dalam tugasnya kecuali keterikatan pada kehendak Allah. Pewartaan seorang nabi sejati selalu bersumber pada sikap setianya sebagai pendengar Sabda Allah. Dalam diri Yesus Kristus tugas kenabian dilaksanakan secara sempurna. Dia adalah Sang Sabda yang menjadi manusia. Seluruh hidup Yesus Kristus merupakan kesaksian yang hidup akan kemuliaan Allah yang terwujud dalam keselamatan manusia, sampai Ia mati di kayu salib sebagai Martir Agung. Oleh Baptis dan Krisma, orang K ristiani dipanggil dan diutus untuk menjadi saksi “di dunia memberi kesaksian tentang Yesus Kristus dan memberikan pertanggungjawaban kepada yang menuntun nya, tentang harapan akan kehidupan abadi yang ada dalam diri mereka”

  

(LG art 10 bdk AA art 6). Di sinilah orang Kristiani mengemban tugas Kristus

  menjadi saksi Injil, sengsara dan kebangkitan Kristus. Hal ini hanya bisa terjadi dan terlaksana apabila orang Kristiani menjadi pendengar dan pewarta Sabda Allah.

  Oleh sebab itu dalam melaksanakan tugas-tugasnya di dunia ini kaum muda Katolik memainkan peranan yang sangat penting yakni membangun serta membawa perubahan baik di dalam masyarakat mau pun untuk Gereja sendiri. Sekaligus merekalah yang menciptakan, mengembangkan struktur kemasyarakatan yang baru seturut gairah mereka menuju kesempurnaan selaras dengan kehendak Allah.

  Setiap kaum muda Katolik, oleh sakramen permandiannya mempunyai tugas untuk menjadi rasul dalam lingkungannya, menurut kedudukan dan kemampuannya. Kaum muda juga mempunyai kesadaran untuk bertanggung jawab sebagai seorang Katolik, yakni mempunyai kewajiban untuk memajukan lingkungan di sekitarnya.

  b.

  Pandangan Gereja Terhadap Kaum Muda Gereja bertanggung jawab terhadap hidup beriman setiap orang, terlebih- lebih kaum mudanya. Anak-anak dan kaum muda berhak didukung untuk belajar menghargai dengan suara hati yang lurus, nilai-nilai moral, serta dengan tulus menghayatinya secara pribadi, juga untuk semakin sempurna mengenal serta mengasihi Allah (GE, art 1).

  KWI (1998:1) menyatakan kaum muda saat ini penuh dengan kreatifitas dan memiliki motivasi yang tinggi, sehingga potensi yang mereka miliki perlu diberdayakan dan selalu diberi kesempatan. Dalam Lks (7:11-17) di mana Yesus membangkitkan anak muda di Nain, begitu juga dalam tradisi Gereja. Konsili Vatikan II sebagai salah satu peristiwa penting dalam sejarah Gereja tidak sedikit menunjuk kepada kaum muda dan berbicara kepada kaum muda secara langsung khusunya dalam dokumen (AA art 12).

  Gereja mendukung peran serta kaum muda melalui berbagai bentuk kegiatan. Kegiatan tersebut tampak dalam berbagai keterlibatan di Komisi Kepemudaan, baik tingkat KWI, Keuskupan, Kevikepan atau Dekanat; di Youth

  

Center tingkat Keuskupan dan Kevikepan atau Dekanat; di Tim Kerja Kepemudaan

  atau Mudika tingkat Paroki; dan kegiatan-kegiatan lain yang mendukung keterlibatan dan perkembangan kaum muda (Prasetya, 2006:112).

  c.

  Harapan Gereja Terhadap Kaum Muda Paus Yohanes Paulus II dalam surat kepada kaum muda (1996:7) mengatakan bahwa Gereja melalui Konsili merumuskan kaum muda Katolik sebagai harapan Gereja, sebab secara istimewa Gereja memandang keberadaannya ada dalam diri kaum muda Katolik. Dari hal tersebut maka kaum muda Katolik merupakan aset yang luar biasa bagi masa depan Gereja. Gereja berharap pada kaum muda, karena merekalah penerus kehidupan Gereja.

  Gereja membuka dirinya untuk kaum muda agar mereka sejak dini mengenal dan mencintai Gereja. Kaum muda adalah orang yang dinamis, sedang bertumbuh dan berkembang, maka hendaknya mereka dapat bertumbuh secara seimbang dan maksimal. Mereka begitu berharga bagi masa depan, karena hidup matinya Gereja di pundak mereka.

  Kaum muda juga sebagai jantung hati Gereja, oleh karena itu Gereja berharap pada kaum muda untuk dapat mengembangkan Gereja. Gereja masa depan adalah Gereja yang berkembang sebagaimana dicita-citakan oleh banyak orang, dalam hal ini menjadi tanggung jawab kaum muda. Gereja mengharapkan kaum muda untuk bertindak mulai dari sekarang, dengan penuh semangat, cita-cita dan gelora kemudaan mereka. Gereja tidak ingin kaum muda menunda peran serta mereka setelah dewasa, karena saat itu sudah terlambat untuk memulai.

10. Pelayanan Pastoral Bagi Kaum Muda

  Pelayanan pastoral bagi kaum muda pada dasarnya adalah suatu bantuan kepada kaum muda untuk membentuk dan mengembangkan pertumbuhannya secara menyeluruh. Arah dan tekanan dalam pelayanan pastoral kaum muda adalah supaya kaum muda dapat menggunakan segala potensinya yang khas dalam dirinya.

  Potensi yang khas dalam diri kaum muda itu berguna untuk membangun dan mengembangkan kepribadiannya. Kepribadian yang harus dikembangkan itu mengacu kepada orientasi kepada Kristus. Kristus menjadi dasar utama pembangunan dan pengembangan kepribadiannya yang pasti dalam menapaki jalan hidupnya.

  Menurut Tapaha Petrus Tukan (1983:56-58) hal pokok yang paling penting untuk diperhatikan dalam pelayanan pastoral bagi kaum muda adalah penanaman nilai-nilai dalam dirinya. Kaum muda pada masa mudanya masih berada dalam suatu proses

  “mencari jati diri” pribadinya. Dalam struktur masyarakat yang dinamis terjadi pergeseran nilai-nilai yang sangat memungkinkan kaum muda mengalami krisis makna hidup bagi dirinya.

  Misalnya saja di jaman sekarang ini terjadi kemerosotan pada nilai moral. Banyak kaum muda yang mengikuti budaya barat, mereka tidak lagi malu untuk mengenakan pakaian minim saat pergi ke Gereja. Oleh sebab itu dalam situasi yang demikian kaum muda perlu dibina untuk bersikap kritis dan selektif dalam menentukan nilai-nilai bagi dirinya baik dari nilai moral, spiritual, sosial, dan lain sebagainya. Mereka perlu dibantu agar dapat mampu merealisasikan nilai-nilai tersebut dalam hidup mereka seturut prioritas yang sudah terbentuk dalam diri mereka sendiri.

B. Bentuk Hidup Menggereja dan Pembinaannya 1. Bentuk Hidup Menggereja Secara Kontekstual

  Hidup menggereja secara kontekstual tampak dalam bentuk hidup menggereja yang sering kita sebut dengan Komunitas Kecil Gerejawi dan Komunitas Basis Kristiani.

  a. Menurut Suratman (1999:34), komunitas kecil Gerejawi adalah suatu komunitas yang dapat memperlengkapi kebutuhan dasar para anggotanya untuk menghayati kehidupan kristen di tengah-tengah dunia modern. Suatu komunitas yang merupakan suatu unit penunjang diri yang terkecil dalam konteks kehidupan kristiani. Di dalamnya para anggotanya dapat memperoleh suatu basis yang tetap semua yang mereka butuhkan untuk penghayatan kehidupan Kristiani.

  Suratman (1999:35-37) memaparkan bahwa suatu komunitas yang benar- benar dapat memperlengkapi kebutuhan dasar para anggotanya itu. Komunitas tersebut memiliki karakteristik sebagai berikut: 1)

  Komunitas kecil gerejawi adalah suatu komunitas yang berusaha untuk sadar akan kondisi-kondisi kehidupan yang menyeluruh dari anggota-anggotanya serta harapan, ketakutan, perjuangan, kegembiraan, dan impian; serta kekuatan dan situasi yang membuat mereka tidak bebas dan diperbudak.

  2) Komunitas kecil gerejawi adalah suatu komunitas terorganisir. Di dalam komunitas itu dimanfaatkan segala kekuatan, karisma, dan anugerah yang berlain-lainan dari para anggotanya; serta mengarahkannya kepada pelayanan- pelayanan dan kegiatan-kegiatan yang pada gilirannya membebaskan bagi komunitas.

3) Komunitas kecil gerejawi adalah suatu komunitas yang berdoa dan merayakan.

  Kita menyadari bahwa keselamatan kita itu adalah rahmat Allah semata-mata. Dan rahmat Allah itu senantiasa bekerja di dunia ini. Maka dalam komunitas itulah kita perlu waktu untuk berdoa bersama merayakan bersama pengalaman- pengalaman rahmat yang membebaskan kita dari kekuatan-kekuatan dan dosa. 4)

  Komunitas kecil gerejawi adalah komunitas berpusat pada Kristus. Komunitas ini berakar dan menimba motivasi, inspirasi dari iman pada Kristus yang bangkit dan sekarang tetap hadir di tengah-tengah kita. Yesus Kristus jugalah yang mempersatukan setiap anggota menjadi suatu komunitas Kristiani.

  5) Komunitas kecil gerejawi adalah suatu komunitas yang terbuka bagi masyarakat luas dan dunia. Komunitas ini tidak berpusat pada anggota-anggota dan terisolir dari perjuangan-perjuangan masyarakat umum dan seluruh bangsa.

  Komunitas terbuka pada keprihatinan-keprihatinan yang lebih luas dan secara bebas bekerja sama dengan kelompok-kelompok lain dan komunitas-komunitas untuk mencari pemecahan atas problem umum dan keprihatinan-keprihatinan. 6)

  Komunitas kecil gerejawi adalah suatu komunitas yang berkaitan dengan hidup seutuhnya. Komunitas ini mau menyapa kehidupan manusia secara integral: menyangkut aspek spritual, ekonomis, sosial, dan kultural, tidak hanya salah satu aspek dari padanya. b. Menurut tokoh lain Hardaputranta (1993:6), bentuk hidup menggereja juga dikenal dengan sebutan Komunitas Basis Kristiani. Komunitas basis ini ingin mencerminkan buah kehadiran Roh Kudus, yang selalu memperbaiki dan menyempurnakan gereja sehingga umat manusia dapat melihatnya ssebagai media dan sakramen penyelamatan Allah dalam sejarah. Sejalan dengan cara Roh Kudus menghadirkan diri dalam sejarah manusia, Gereja sebagai wadah kehadiranNya pun diharapkan mampu memberikan jawaban yang tepat terhadap perubahan-perubahan yang ada di dunia.

  Tujuan dari komunitas basis adalah suatu cara untuk memperbaiki Gereja di kalangan masyarakat yang menjadi akar rumput, untuk kita menaruh kepercayaan terhadap setiap orang dalam iman akan dan melalui Yesus di dalam Roh KudusNya. KBK tetap mengkonsentrasikan dirinya pada keseluruhan elemen-elemen dasar menggereja: iman, peribadatan, komunio, kerasulan, pembebasan, dan penyelamatan (Hardaputranta, 1993:22)

  Salah satu contoh konkrit bentuk hidup menggereja yang terkecil dalam hidup sehari-hari adalah keluarga. Keluarga sebagai Komunitas Basis Gerejawi paling Basis. Menurut Margana (2003:106-110) strategi menggereja dengan fokus pemberdayaan kaum miskin dan tertindas, memang dipilih oleh setiap Gereja di Indonesia. Hanya saja, masing-masing keuskupan memiliki keleluasaan untuk memiliki penekanan yang lebih sesuai dengan tuntutan situasi setempat. Misalnya saja dalam KAS (Nur Widi, 2009:188-189) ditemukan bahwa untuk beriman, harus ada arah dan prioritas. Iman Gereja adalah komitmen hidup akan Allah yang menyejarah dan bergerak menyelamatkan melalui Yesus Kristus dalam Roh Kudus. Yesus adalah konstitutif-normatif bagi Gereja. Ia adalah jalan, kebenaran, dan hidup Gereja.

  Demi beriman, perlu dibangun persaudaraan dalam paguyuban-paguyuban yang menjadi pusat kehidupan menggereja. Paguyuban menjadi pusat kehidupan menggereja karena di sana dijalin anyaman persaudaraan dan jerih payah perjuangan akan hadirnya nilai-nilai Kerajaan Allah, yang menyatu dengan gerak sejarah dunia atau masyarakat. Karena beriman, semakin banyak pula orang yang direngkuh supaya ikut terlibat (partisipatif), saling mengembangkan (transformatif), dan memberdayakan (empowering) dalam gerak penyelamatan Allah dan ambil bagian dalam kegembiraan Allah.

  Dengan demikian, Gereja menjalankan dirinya dalam gerak komunikatif yakni sikap saling mengerti dan pembaharuan terus-menerus untuk menjadi kontekstual, relevan, dan signifikan. Gereja mengundang semua orang untuk duduk bersama, dan bergerak bersama untuk membangun tata dunia baru. Di sinilah Gereja menjadi komunitas iman yang berdaya interpretatif-profetis demi pengembangan kehidupan bersama. Kalau demikian, semakin terbukalah jalan-jalan Kerajaan Allah, dan Gereja bisa tampil relevan dan signifikan dalam kancah pergumulan masyarakat.

2. Konsep Pembinaan Kaum Muda Dalam Keterlibatan Hidup Menggereja

  Menurut Tangdilintin (1984:13) untuk membimbing dan membentuk kaum muda, diperlukan suatu konsep atau sikap dasar mengenai pembinaan kaum muda agar mereka mau terlibat dalam hidup menggereja. Ada pun berbagai macam konsep pembinaan yang dapat diterapkan adalah sebagai berikut: a.

  Pembinaan Sebagai Pelayanan Kaum muda pertama-tama harus dilihat sebagai pelayanan: suatu keprihatinan aktif yang menyata dalam tindakan yang menyadarkan dan membebaskan, memekarkan potensi dan iman Kristiani, menanggapi kebutuhan mereka, memampukan mereka bertanggung jawab dan berperan sosial-aktif. Paham dasar ini menempatkan kaum muda sebagai subyek dan pusat bina, bukan sebagai obyek atau alat. Apabila mereka mengalami kehadiran pembina sebagai pelayan dan abdi, kaum muda juga akan bertumbuh dalam semangat pengabdian yang sama terhadap sesama, Gereja, dan masyarakat.

  b.

  Pembinaan Sebagai Pendampingan Melihat pembinaan sebagai pendampingan mencegah kita untuk menggiring dan menjinakkan kaum muda, sehingga memandulkan potensi mereka. Pembina adalah seorang pendamping yang karenanya tidak boleh menggiring kaum muda ke arah yang sesuai selera dan kebutuhannya sendiri. Dengan belajar dari kisah Emaus (Luk 24:13-35), seorang pendamping berjalan seiring dengan kaum muda menggumuli masalah mereka dengan bertanya dan mendengarkan penuh perhatian dan kesabaran, menjelaskan dan membuka pikiran mereka pada saat yang tepat, dan akhirnya mempertemukan mereka dengan pribadi Kristus sendiri.

  Berdasarkan konsep- konsep dasar tersebut, istilah “pembinaan”dengan segala isi yang tersirat di dalamnya, tidak tepat lagi. Maka, akhir-akhir ini istilah populernya adalah pendampingan kaum muda (Tangdilintin, 1984:13-14).

  Menurut Prasetya (2006:105-110) ada beberapa hal yang perlu diperhatikan terkait dengan keterlibatan kaum muda dalam kehidupan menggereja. Pertama, Gereja perlu menyadari bahwa jumlah kaum muda mencapai separuh dari jumlah umat beriman Katolik, sehingga mereka merupakan potensi sekaligus tantangan bagi Gereja di masa depan. Kaum muda merupakan potensi yang luar biasa yang sekaligus menjadi tantangan yang besar untuk diberdayakan demi masa depan Gereja. Gereja melihat jalannya menuju masa depan dalam diri kaum muda, memandang dalam diri mereka cerminan dirinya sendiri dan panggilannya kepada keremajaan yang membahagiakan yang terus-menerus dinikmati sebagai buah hasil Roh Kristus. Kedua, Gereja hendaknya mengupayakan terwujudnya pendidikan formal bagi kaum muda, baik di sekolah Katolik mau pun perguruan tinggi Katolik, agar mereka mampu mengembangkan segala kemampuannya secara lebih memadai karena pada kenyataannya bahwa banyak kaum muda belum mengenyam pendidikan selayaknya atau menikmati pendidikan formal yang memadai, dengan berbagai macam alasan dan kendala yang ada. Ketiga, Gereja Katolik hendaknya mengupayakan terlaksananya pendidikan non-formal dan informal bagi kaum muda, yang terjadi baik di dalam keluarga mau pun di lingkungan Gereja guna memberikan keseimbangan terhadap pertumbuhan dan perkembangan kaum muda secara utuh dan menyeluruh. Berkaitan dengan pendidikan kaum muda di dalam keluarga, Gereja Katolik telah menegaskan bahwa orangtualah yang menjadi pendidik pertama dan utama, termasuk pendidikan iman bagi anak-anaknya, karena orangtua telah menyalurkan kehidupan kepada anak-anak terkait kewajiban amat berat untuk mendidik mereka. Hal ini berarti bahwa dalam keluarga Katolik, melalui diri dan hidup orangtua, hendaknya dapat ditumbuhkan aneka kebiasaan untuk mengembangsuburkan iman kaum muda.

  Kaum muda tidak hanya dituntut untuk belajar dan belajar terus guna mengembangkan kepandaian intelektual, tetapi juga diberi kemungkinan dan kesempatan untuk mengembangkan jati dirinya melalui kegiatan yang bersifat

  

humanis misalnya dalam kegiatan bakti sosial baik di lingkungan masyarakat mau

  pun Gereja, kunjungan ke Panti Asuhan, Lembaga Permasyarakatan, Panti Jompo, dan ikut serta dalam membantu korban bencana alam atau pun orang yang sedang membutuhkan bantuan. Sedangkan untuk kegiatan religius dapat dilakukan dalam bentuk latihan koor, pertemuan kaum muda di tingkat Paroki atau lingkungan, membaca dan mendalami Kitab Suci secara pribadi atau kelompok, mengembangkan kegiatan doa secara pribadi atau kelompok (Legio, Taize, PDK, dan sebagainya), rekoleksi, retret, dan sebagainya sehingga berkembangsuburlah keutamaan hidup dan iman dalam dirinya. Melalui kegiatan-kegiatan seperti ini kaum muda diharapkan mampu mengolah diri, hati, dan hidupnya sehingga tidak mudah jatuh ke dalam godaan yang dapat menyesatkan dan memudarkan masa depannya sendiri, misalnya minum-minuman keras, narkoba, dan seks bebas.

  Pendidikan kaum muda juga dapat dilakukan di lingkungan Gereja, dengan segala kegiatan yang melibatkan kaum muda dan berdaya-guna bagi mereka.

  Kegiatan ini dapat berupa pendidikan kader dari berbagai lembaga dan disiplin ilmu, pelatihan-pelatihan yang membangun karakter atas dasar pendidikan spiritualitas yang utuh, memberikan kepercayaan atau tanggung jawab dalam pengambilan keputusan. Kaum muda hendaknya juga diberi kesempatan untuk menampilkan kemampuan dan kreativitas yang dimilikinya, dengan cara mendampingi adik-adiknya dalam kegiatan PIR dan PIA.

C. Hidup Menggereja Secara Kontekstual Sebagai Praksis Menghayati Iman Kristiani 1. Hidup Menggereja Secara Kontekstual

  Hidup sebagai murid Yesus berarti hidup sebagai anggota Gereja yang sudah dikuduskan oleh Allah dengan segala konsekuensinya. Hidup menggereja berarti menampakkan iman akan Yesus Kristus, yang dalam arti luas adalah perwujudan iman dalam hidup sehari-hari, baik dalam keluarga maupun dalam masyarakat. Menggereja yang memasyarakat berarti pula berhubungan dengan masyarakat sebagai konteks.

  Menurut Banawiratma (2000:190) menjelaskan bahwa kontekstual berarti suatu usaha yang berhubungan dengan fungsi pelayanan terhadap kelompok yang hidup dalam konteks tertentu. Selain itu usaha kontekstual juga ingin menyapa seluruh kelompok manusia, tidak hanya berdasarkan orientasi eksternal, melainkan berpangkal pada otoritas internal dari kenyataan hidup sebagai konteks. Dijelaskan lebih lanjut bahwa dengan kontekstualisasi lebih bersifat komunikatif. Artinya kita diharuskan berkomunikasi atau berinteraksi dengan orang lain.

  Kontekstual secara eksplisit mempunyai cakupan yang luas, tidak hanya konteks dalam kultur kebudayaan, melainkan juga kultur ekonomi, kultur politik, dan seluruh pengalaman hidup umat beriman. Dengan demikian, hidup menggereja secara kontekstual berarti menggereja dalam hubungannya dengan situasi atau kejadian yang dialami. Sedangkan yang dimaksudkan situasi dalam hidup menggereja secara kontekstual adalah realitas hidup konkrit yang dialami di dalam hidup bermasyarakat. Realitas hidup konkrit itu sifatnya aktual dan mendesak untuk ditanggapi dengan segera mengambil sikap bertindak. Gereja masa kini sedang berada dalam situasi itu, dan diharapkan bersikap serta bertindak sebagaimana yang dilakukan dan diajarkan oleh Yesus Kristus.

  Hidup menggereja secara kontekstual dilakukan dalam jaringan berbagai macam komunitas basis kontekstual yang menurut bahasa Injil terdiri dari siapa saja yang melakukan kehendak Allah, sebagaimana yang dikatakan Yesus “Barangsiapa yang melakukan kehendak Allah, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku (Mrk 3:35).

  Keterbukaan Gereja bagi semua orang memiliki konsekuensi bahwa semua orang dalam kebersamaan bertanggung jawab terhadap Gereja (Suratman, 1999:24).

  Semua orang yang dipermandikan mempunyai tanggung jawab bersama untuk ikut membangun hidup Gereja, termasuk mereka yang miskin dan kecil. Berkaitan dengan hal itu, Suratman (1999:25) juga menjelaskan bahwa dalam komunitas itu orang saling mengenal, mendukung dan melayani satu sama lain, dan juga semakin dipersatukan dengan sesama, Tuhan dan seluruh Gereja.

  Cara hidup menggereja secara kontekstual memberikan penghargaan kepada setiap orang, cara hidup ini juga mengembangkan demokrasi dan keluhuran nilai- nilai hidup serta hak azazi manusia. Dalam hidup menggereja secara kontekstual diharapkan, semua kharisma baik yang dianugerahkan kepada laki-laki maupun perempuan dapat lebih diterima dan diperkembangkan demi pelayanan bersama (Banawiratma, 2000:195).

  Wibowo Ardhi (1993:13) memaparkan bahwa sebagai Umat Allah, Gereja memperlihatkan: pertama, Aspek komunio yaitu yang dibentuk dan dipersatukan oleh pembaptisan. Oleh sebab itu adanya kesamaan martabat para anggotanya dikarenakan satu dalam Kristus. Kedua, Aspek misioner yaitu Gereja yang selalu terus-menerus mewartakan Kabar Gembira guna menghimpun semua orang kepada Yesus Kristus. Ketiga, Aspek eskatologis yaitu Umat Allah yang berziarah dalam persatuan dengan Kristus dan dibimbing oleh Roh Kudus menuju Kerajaan Bapa.

  Demikian pula di dalam Perjanjian Baru terdapat unsur universalitas umat Allah yang sangat menonjol karena Perjanjian Baru tidak membatasi diri sebagaimana dalam Perjanjian Lama. Universalitas umat Allah mengungkapkan bahwa Gereja dimaksudkan untuk semua orang. Semua orang dipanggil untuk menjadi umat Allah. Gereja memberi tempat dan menerima semua yang baik, semua bakat, kekayaan budaya, atau adat istiadat sejauh tidak bertentangan dengan Injil. Sifat universalitas umat Allah mencakup dan menghapus perbedaan anggota, semua memiliki derajat sama dalam Gereja. Hal ini ditegaskan pula oleh Konsili Vatikan II dalam konstitusi dogmatis LG tentang Gereja sebagai berikut: Segala sesuatu yang telah dikatakan tentang umat Allah, sama-sama dimaksudkan bagi kaum awam, para religius, dan kaum rohaniawan (LG, art. 30).

  Dengan demikian di dalam Gereja Kristus, semua orang yang dibaptis dalam nama-Nya telah mengenakan Dia. Karena itu, tidak ada orang Yahudi atau Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena semua adalah satu dalam Kristus Yesus (Gal 3:27-28). Jadi baik awam, rohaniawan, mau pun para religius sama-sama mengemban tugas sebagai pewarta iman sesuai dengan fungsinya masing-masing.

2. Hidup Menggereja Kontekstual Sebagai Praksis Perwujudan Iman Kristiani

  Hidup beriman meliputi berbagai macam yaitu: wawasan, perayaan, dan perwujudan. Untuk dapat menghayati hidup menggereja secara kontekstual unsur perwujudan menjadi bagian yang paling penting. Dalam surat Ykb 2:14 dikatakan bahwa iman tanpa perbuatan itu pada hakekatnya adalah mati. Maksud dari surat Yakobus tersebut mengandung asumsi pokok bahwa orang yang mendengarkan firman harus melaksanakannya juga. Iman tidak boleh berhenti pada masalah liturgi atau terkurung di sekitar tembok Gereja, melainkan harus diwujudkan melalui kepedulian terhadap pelbagai situasi aktual dan lingkungan hidup.

  Dalam dunia yang semakin berkembang ini muncul gejala-gejala yang mengakibatkan krisis berbagai dimensi kehidupan yang menimbulkan masalah kemiskinan yang menyebabkan banyak orang terlantar, anonimitas, para pengungsi yang mendapat tekanan politik, dan sebagainya. Akibatnya orang akan lebih cenderung berusaha memenuhi kebutuhan jasmani daripada yang rohani termasuk yang berhubungan dengan iman itu sendiri, padahal iman juga menuntut perjuangan demi perdamaian, pembangunan dan pembebasan mereka yang berada dalam kesulitan.

  Kekayaan iman yang terkandung dalam Kitab Suci itu diwartakan kepada segala bangsa dengan pelbagai cara dan bahasa, serta melalui pelbagai kebudayaan.

  Meskipun situasinya selalu berubah dari waktu ke waktu, namun iman itu tidak berubah. Hal tersebut ditegaskan dalam EN art 65 tentang pewartaan Injil kepada bangsa-bangsa, yakni :

  “Meskipun diterjemahkan ke dalam semua ungkapan, isinya (iman) tidak boleh dilemahkan atau dikurangi. Kendati diselubungi oleh bentuk-bentuk lahiriah yang cocok dengan tiap bangsa, dieksplisitkan dengan ungkapan- ungkapan teologis yang memperhatikan perbedaan budaya, lingkungan sosial, dan suasana kesukuan, isinya harus tetap mengenai iman Katolik seperti yang diterima oleh magisterium Gereja dan disampaikan magisterium ”. Dengan demikian, hendaknya anggota Gereja menghayati imannya akan

  Yesus Kristus meski dalam situasi yang memprihatinkan. Umat hendaknya tidak mudah terbawa oleh arus yang gampang berubah, tetapi harus melihat situasi nyata dengan terang iman yang sejati pada Kristus. Hidup menurut Injil Yesus Kristus merupakan ungkapan orang beriman dalam menjawab kehendak Allah di dalam kehidupan pribadi maupun bersama. Mewujudkan iman itu bersifat mutlak karena iman tanpa perbuatan pada hakekatnya adalah mati (Ykb 2:14). Gereja menghendaki supaya anggotanya hidup menggereja secara kontekstual, yaitu menggereja dalam hubungannya dengan situasi aktual masyarakat yang begitu mendesak untuk ditanggapi dengan mengambil tindakan nyata.

  

BAB III

PENELITIAN KETERLIBATAN KAUM MUDA DALAM HIDUP

MENGGEREJA SECARA KONTEKSTUAL DI LINGKUNGAN SANTO

YUSUF KADISOBO PAROKI SANTO YOSEPH MEDARI

A. Gambaran Umum Situasi Kaum Muda di Lingkungan Santo Yusuf Kadisobo Paroki Santo Yoseph Medari 1. Sejarah Berdirinya Paroki Santo Yoseph Medari Menurut anggota Dewan Paroki Santo Yoseph Medari (2010), sejarah

  berdirinya Paroki Santo Yoseph Medari dimulai pada bulan Juni 1922 diselenggarakan Misa Kudus setiap dua minggu sekali di Gedung Societet Medari, yang lebih dikenal sebagai “Kamar Bola(h)”. Pada mulanya umat masih sedikit (sekitar 20 orang) yang sebagian besar adalah orang yang bekerja di Pabrik Gula Medari, hanya sebagian kecil dari pribumi. Yang sejak awal melayani, menangani, dan mengawasi Gereja Medari adalah Romo Van Driessche, SJ (1917-1925) dari Kotabaru, Yogyakarta.

  Pada tahun 1925 jumlah umat berkembang (lebih dari 250 orang) dan tidak hanya berasal dari Medari dan sekitarnya, tetapi juga berasal dari tempat yang jauh.

  Mereka berbondong-bondong hanya dengan berjalan kaki untuk mengikuti Misa Kudus di Medari. Karena dirasakan Kamar Bola tersebut tidak mencukupi lagi untuk menampung umat, maka dibangunlah gedung gereja di Dusun Murangan yang dimulai pada tahun 1925 dan selesai dibangun serta diresmikan dan diberkati pada tanggal 23 Oktober 1927 oleh Romo Van Velsen, SJ, Vikaris Apostolik

  Batavia. Umat yang datang untuk Misa, kalau ditanyai orang mau kemana, selalu menjawab:

  “Badhe kempalan dhateng Medari”, walau pun gereja sudah berada di

  Dusun Murangan. Karena sudah terbiasa menjawab demikian maka untuk seterusnya gereja tersebut lebih dikenal sebagai Gereja Medari, dengan Santo pelindung yang dipilih oleh Romo Fransiskus Sträter, SJ adalah Santo Yoseph.

  Bersamaan dengan masa-masa itu juga didirikan Sekolah Katolik yang juga menempati Kamar Bola tersebut. Pada mulanya guru-guru masih didatangkan dari Muntilan. Pengelola sekolah tersebut adalah Yayasan Kanisius, karena diperlukan ruangan khusus untuk sekolah yang disesuaikan dengan ruang kelas dan bertambahnya jumlah murid maka dibangunlah gedung sekolah di Dusun Murangan, yang diresmikan pada tahun 1925. Sekolah ini berkembang dengan sangat baik sampai pada tahun 1937.

  Pada tahun 1937 di Medari dibentuklah sebuah bada kepengurusan gereja yaitu PGK yang melibatkan beberapa tokoh umat yang bertugas mengurusi umat, mengembangkan ibadat, dan mengelola bangunan gereja. Untuk memperlancar tugas kepengurusan, menertibkan administrasi, dan membentuk kepengurusan gereja dibuatlah cap (stempel) dengan tulisan Dewan Paroki Medari. Sebutan

  

“Dewan Paroki” inilah yang menjadi asal mula disebutnya dewan-dewan paroki di

Keuskupan Agung Semarang dan di seluruh Indonesia.

2. Keadaan Geografis Serta Pembagian Jumlah Stasi, Wilayah, dan Lingkungan Paroki Santo Yoseph Medari

  2 Paroki Santo Yoseph Medari memiliki luas territorial sebesar 121 km

  berbentuk seperti belah ketupat dengan jarak terjauh dari utara-selatan : 23 km sedangkan jarak jauh dari barat-timur 11 km. Sebagian besar berupa dataran rata hanya sebagian kecil yang merupakan perbukitan (pegunungan, lembah, jurang, dsb) yang hamper semua lahan sudah diusahakan untuk mata pencaharian oleh masyarakat sekitar.

  Paroki Santo Yoseph Medari secara teritorial berada di tengah-tengah antara Paroki lain dalam Keuskupan Agung Semarang, di sebelah Barat adalah Paroki

  

Santa Theresia Salam, di Utara adalah Paroki Santo Yohanes Rasul Somohitan,

  di Timur adalah Paroki Santo Aloysius Gonzaga Mlati, dan di Selatan adalah Paroki Santo Petrus Paulus Klepu.

  Peta Paroki Santo Yoseph Medari sudah ada dengan menggambarkan pemekaran lingkungan-lingkungan yang ada sampai dengan tahun 2010. Peta dibuat untuk menunjukkan letak dan batas-batas teritorial, walaupun secara riil sulit sekali menentukan batas tersebut karena batas tersebut tidak ditandai dengan batas alam atau batas yang ditetapkan oleh Keuskupan atau pemerintah. Skala yang ada dalam peta ini tidak berdasarkan perhitungan foto satelit, hanya menggunakan peta Paroki yang lama sebagai pedoman untuk mengenali posisi lingkungan-lingkungan dan wilayah-wilayah yang ada di Paroki Santi Yoseph Medari.

  Berdasarkan jumlah umat dan letak geografi, Paroki Santo Yoseph Medari terbagi dalam 6 wilayah terdiri dari 26 lingkungan. Di dalam Paroki Santo Yoseph Medari ada satu stasi, yaitu Stasi Santo Thomas Seyegan, yang terbagi ke dalam 2 wilayah yang terdiri dari 8 lingkungan. Sedangkan berdasarkan wilayah administrasi Pemerintahan, Paroki Santo Yoseph Medari memiliki wilayah pelayanan di 3 kecamatan yaitu : Sleman, Tempel, dan Seyegan. Dari sisi penyebaran Wilayah, dari 6 wilayah 2 Wilayah (II dan III) berada di dalam perkotaan dan 4 wilayah (I, IV, V, dan VI) berada di pedesaan.

  Jumlah dan pembagian Lingkungan, Wilayah, dan Stasi dalam Paroki Santo Yoseph Medari:

  1) Lingkungan dan wilayah

  Wilayah I dan lingkungan yang ada di Paroki Santo Yoseph Medari adalah sebagai berikut: a)

  Wilayah I Santo Mateus, meliputi lingkungan : Santa Maria Pendeman Santo Yusuf Kadisobo Santo Yulianus Pepen Santo Tarsisius Sidomulyo

  b) Wilayah II Santo Yohanes Rasul, meliputi lingkungan :

  Santo Petrus Murangan Timur Santo Paulus Murangan Barat Santa Maria Assumpta Medari Santo Yohanes Pemandi Sleman Barat Santa Yohana Sleman Timur

  Santo Fransiskus Xaverius Kantongan Santo Yusuf Margorejo Santa Veronika Margorejo Asri Santo Matius Tempel

  d) Wilayah IV Santo Markus, meliputi lingkungan :

  Santo Antonius Mlesen Santo Yohanes Temanggung Santo Yohanes Rasul Batang Santo Agustinus Keceme Santo Paulus Malang

  e) Wilayah V Santo Thomas I Seyegan, meliputi lingkungan :

  Santo Agustinus Margomulyo Barat Santo Carolus Borromeus Margomulyo Timur Santo Don Bosco Margoagung Santo Hubertus Cibuk

  f) Wilayah VI Santo Thomas II Seyegan, meliputi lingkungan :

  Santa Theresia Avila Sonoharjo Santo Gregorius Bantulan Santo Benedictus Jlegogan Santo Ignatius Margodadi

  2) Stasi

  Paroki Santo Yoseph Medari hanya mempunyai 1 (satu) Stasi, yaitu Stasi

3. Perkembangan Kaum Muda Di Lingkungan Santo Yusuf Kadisobo Paroki Santo Yoseph Medari a.

  Perkembangan Kaum Muda Di Lingkungan Santo Yusuf Kadisobo Batasan lingkungan Santo Yusuf Kadisobo:

  • Utara : Paroki Somohitan -

  Barat : Lingkungan Pepen

  • Selatan : Lingkungan Pendeman -

  Timur : Paroki Mlati Jumlah umat: 195 jiwa (65 Kepala Keluarga).

  Luas teritorial: 2,1 km 2. Ketua lingkungan: Yoseph Hermawan Eko Susilo. Melihat jumlah KK dengan banyak umat, maka lingkungan ini seharusnya pantas dimekarkan. Kapel Santo Yusuf Kadisobo di lingkungan Kadisobo dipergunakan seluruh umat di wilayah I untuk mengadakan Perayaan Ekaristi secara rutin setiap hari sabtu pukul 19.00 WIB.

  Jumlah kaum mudanya sendiri terbilang cukup banyak dibandingkan dengan lingkungan lainnya. Di lingkungan Santo Yusuf Kadisobo ada ± 30orang kaum muda, tetapi sampai dengan saat ini yang cukup aktif hanya ± 20 orang. Hal ini dikarenakan banyaknya kesibukan atau rutinitas yang harus mereka kerjakan.

  Diantaranya masih ada yang masih bersekolah, kuliah, dan bekerja. Oleh sebab itu, perkembangan kaum muda di lingkungan Santo Yusuf Kadisobo bisa dikatakan cenderung menurun karena kurangnya kegiatan yang diadakan dan tidak adanya sarana untuk menampung aspirasi kaum muda. b.

  Perkembangan Umat Secara Keseluruhan Di Paroki Santo Yoseph Medari Pada waktu masih berbentuk Stasi Santo Yoseph Medari terjadi beberapa pemekaran; yaitu Santo Aloysius Gonzaga Mlati di bawah administrasi Yogyakarta pada tahun 1936, Paroki Administratif Santo Yohanes Rasul Somohitan yang semula di bawah administrasi Paroki Santo Yoseph Medari, pada tahun 2004 akhirnya meningkat menjadi Paroki Mandiri Santo Yohanes Rasul Somohitan.

  Karena beberapa pertimbangan, Stasi Thomas Seyegan bergabung di bawah pelayanan Paroki Santo Aloysius Gonzaga Mlati pada tahun 1955-1972.

  Selanjutnya karena berdekatan geografis maka stasi Santo Thomas Seyegan kembali lagi di dalam pelayanan Paroki Santo Yoseph Medari (1972-sekarang).

  Perkembangan jumlah umat di Paroki Medari secara keseluruhan (Paroki Induk dan Stasi):

  

2003 2004 2005 2006 2007 2008

3.011 3.045 3.044 3.061 3.145 2.961

  Paroki Santo Yoseph Medari meliputi beberapa kecamatan: Tempel, sebagian Sleman, Seyegan, sebagian Minggir, dan sebagian Turi yang kesemuanya termasuk Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Pada tahun 2010 Paroki Santo Yoseph Medari meliputi 6 wilayah (terdiri dari 26 lingkungan); di Paroki Pusat ada 4 wilayah yang terdiri dari 18 Lingkungan dan di Stasi Santo Thomas Seyegan ada 2 wilayah yang terdiri dari 8 Lingkungan. c.

  Situasi Sosial, Ekonomi, Budaya Dan Pendidikan Umat Di Lingkungan Santo Yusuf Kadisobo.

  Komposisi umat menurut usia adalah sebagai berikut: anak-anak (di bawah 5 tahun) ada 5%, remaja (5-13 tahun) ada 11%, kaum muda (13-35 tahun) ada 28%, usia aktif (35-60 tahun) ada 37%, dan lanjut usia (di atas 60 tahun) ada 19%.

  Tingkat pendidikannya rata-rata: 17% lulusan SD, 12% SMP, 36% SMA, 7% Diploma, dan 10% Perguruan Tinggi Strata, sedangkan 18% tidak sekolah atau belum memasuki usia sekolah. Apabila dilihat dari intensitas dan lokasi aktifitas hidup, 80% beraktifitas kerja di sekitar tempat tinggal antara pukul 08.00-16.00, sisa waktu lainnya digunakan untuk membangun relasi dalam keluarga, beristirahat, bersosialisasi dengan masyarakat disekitar, kegiatan liturgi dan peribadatan baik di lingkungan, wilayah, mau pun Paroki. Sedangkan 20% lainnya beraktifitas kerja di luar kota dengan interval waktu antara 3-4 hari dalam 1 minggu.

  Terkait dengan aktifitas liturgi dan peribadatan, di tingkat lingkungan yang diadakan rata-rata sekali sebulan sebagian besar digunakan untuk ibadat sabda, diikuti oleh sebagian orang tua karena waktu penyelenggaraannya pada malam hari, anak-anak dan remaja lebih memilih di rumah dengan alasan belajar, sedangkan untuk misa dilakukan seminggu sekali di Kapel Kadisobo.

  B.

  

Metode Penelitian Keterlibatan Kaum Muda Dalam Hidup Menggereja

Secara Kontekstual Di Lingkungan Santo Yusuf Kadisobo Paroki Santo Yoseph Medari 1. Latar Belakang Penelitian

  Kehidupan kaum muda saat ini senantiasa penuh dengan dinamika dan tantangan hidup yang cukup berliku. Untuk dapat terus berkembang dan menghadapi tantangan hidup di jaman sekarang, kaum muda membutuhkan tempat dan sarana yang tepat agar mereka dapat berbagi dan menemukan jalan keluar bagi permasalahan yang sedang mereka alami.

  Tidak jarang ditemukan beberapa kaum muda yang sudah menyimpang dari jalan hidup mereka misalnya tidak pernah aktif dengan kegiatan-kegiatan yang ada disekitarnya bahkan ada yang berpindah keyakinan. Mereka kurang berkomunikasi atau setidaknya berkumpul dengan teman sebayanya. Dari beberapa pengamatan yang pernah ditemui, banyak kaum muda yang tidak lagi terlibat secara penuh dalam kegiatan-kegiatan baik di lingkungan, wilayah, mau pun Gereja.

  Kebutuhan untuk saling mengenal, berkumpul, dan bercerita dengan sesama kaum muda sangat di alami oleh kaum muda dilingkungan Santo Yusuf Kadisobo.

  Kaum muda dari berbagai lingkungan sering dikumpulkan di dalam kegiatan Paroki, salah satunya adalah

  “wedhang parkiran”. Wedhang parkiran ini adalah

  salah satu kegiatan kaum muda di Paroki Santo Yoseph Medari yang pertemuannya bertempat di parkiran gereja. Selain tempat berkumpul dan bercerita, biasanya di tengah-tengah acara Romo Paroki menyisipkan renungan-renungan singkat yang dikutip dari Kitab Suci. Namun terkadang seringkali kegiatan ini terhenti dikarenakan ada beberapa kaum muda lain yang memiliki kesibukan sendiri, dengan kata lain kegiatan tersebut menjadi surut.

  Adanya upaya yang sudah dilakukan oleh lingkungan Santo Yusuf Kadisobo untuk mengumpulkan para kaum muda melalui berbagai kegiatan menggereja.

  Kegiatan tersebut diantaranya: PIA, Koor Kaum Muda, dan Anjangsana Mudika. Tetapi menurut penulis kegiatan seperti itu tetap belum dapat menggerakkan keterlibatan kaum muda dalam hidup menggereja. Untuk itu penulis merasa bahwa faktor pemahaman, pelaksanaan, dan hambatan yang dialami kaum muda perlu ditinjau kembali untuk menentukan kegiatan pendampingan seperti apa yang diharapkan sesuai dengan keinginan mereka.

  Penelitian ini diharapkan mampu menjadi acuan untuk menyusun kegiatan pendampingan yang baru yang sekiranya lebih sesuai dengan konteks kaum muda jaman sekarang pada umumnya dan khususnya bagi kaum muda di lingkungan Santo Yusuf Kadisobo Paroki Santo Yoseph Medari. Dalam penelitian ini penulis menggunakan alat kuesioner dan wawancara secara langsung dengan kaum muda serta pihak-pihak yang terlibat secara penuh yang ikut mengambil bagian dalam keaktifan kaum muda di lingkungan Santo Yusuf Kadisobo.

2. Rumusan Permasalahan Penelitian

  Bertolak dari latar belakang penelitian, penulis mencoba merumuskan permasalahan sekitar keterlibatan kaum muda dalam hidup menggereja di lingkungan Santo Yusuf Kadisobo sebagai berikut: a.

  Bentuk kegiatan seperti apa yang diharapkan dapat membangkitkan semangat kaum muda agar mereka lebih terlibat aktif dalam hidup menggerejanya? 3.

   Tujuan Penelitian

  Penelitian yang dilakukan terhadap kaum muda di lingkungan Santo Yusuf Kadisobo mempunyai tujuan untuk menemukan jawaban dari permasalahan.

  Rumusan tujuan penelitian ini adalah: Penelitian ini diharapkan memberikan gambaran tentang sejauh mana kaum muda sudah tergerak untuk terlibat dalam hidup menggereja dan memberikan suatu bentuk kegiatan yang dapat meningkatkan semangat keterlibatan kaum muda dalam hidup menggereja.

  4. Manfaat Penelitian

  Penelitian yang dilakukan oleh penulis terhadap kaum muda di lingkungan Santo Yusuf Kadisobo diharapkan bermanfaat untuk:

  Memperkembangkan keterlibatan kaum muda dalam hidup menggereja dan mengajak kaum muda untuk semakin meningkatkan penghayatan iman mereka akan Yesus Kristus.

  5. Pendekatan Penelitian

  Menurut Moleong (2009:5) penelitian kualitatif adalah penelitian yang menggunakan latar ilmiah, dengan maksud menafsirkan fenomena yang terjadi dan dilakukan dengan menggunakan berbagai metode yang ada. Dalam penelitian kualitatif metode yang bisa dimanfaatkan adalah wawancara, pengamatan, dan pemanfaatan dokumen, serta metode survey yang akan dilakukan kepada kaum muda di lingkungan Santo Yusuf Kadisobo Paroki Santo Yoseph Medari. Survey bertujuan untuk memperoleh data-data yang diperlukan oleh penulis. Survey lapangan dilakukan dengan menggunakan kuesioner.

  6. Waktu dan Tempat Penelitian

  Penelitian akan dilaksanakan mulai tanggal 10 November 2012 sampai dengan tanggal 17 November 2012. Tempat untuk melakukan penelitian adalah di lingkungan Santo Yusuf Kadisobo Paroki Santo Yoseph Medari.

  7. Teknik dan Instrumen Penelitian

  Instrumen penelitian adalah suatu alat untuk mengumpulkan data. Pada penelitian ini alat pengumpulan data dengan pedoman wawancara dan kuesioner.

a. Wawancara

  Wawancara adalah suatu proses tanya jawab sepihak antara pewawancara dengan yang diwawancarai, dilaksanakan bertatap muka secara langsung maupun tidak langsung untuk memperoleh jawaban dari orang yang diwawancarai (Masidjo, 1995:72-76). Adapun jenis-jenis wawancara sebagai berikut:

  1) Wawancara dengan pertanyaan tak berstruktur atau terbuka atau bebas

  Wawancara dengan pertanyaan tak berstruktur atau terbuka atau bebas adalah suatu wawancara dimana pertanyaan-pertanyaan yang disediakan memberi kebebasan interviewee untuk menjawabnya atau mengemukakan pendapatnya.

  2) Wawancara dengan pertanyaan berstruktur atau tertutup

  Wawancara dengan pertanyaan berstruktur atau tertutup adalah suatu wawancara dimana pertanyaan-pertanyaan dan kemungkinan jawaban-jawabannya telah disediakan oleh interviewer, sehingga jawaban dari interviewee tinggal dikelompokkan kepada kemungkinan jawaban yang telah tersedia.

  3) Wawancara dengan pertanyaan bentuk kombinasi

  Wawancara dengan pertanyaan bentuk kombinasi adalah suatu wawancara dimana pertanyaan-pertanyaan yang disediakan merupakan kombinasi antara pertanyaan berstruktur dengan pertanyaan yang tak berstruktur.

  Dalam penelitian ini penulis memilih wawancara dengan pertanyaan bentuk kombinasi. Adapun pemilihan wawancara dengan pertanyaan bentuk kombinasi karena penulis melihat dalam wawancara dengan pertanyaan kombinasi responden bisa bebas dalam menjawab pertanyaan, namun tetap terarah pada jawaban yang akan disampaikan.

b. Kuesioner

  Kuesioner merupakan daftar pertanyaan tertulis yang disusun dan disebarkan untuk mendapatkan informasi atau keterangan dari sumber data yaitu responden. Jenis kuesioner ada yang bersifat semi tertutup dan terbuka. Semi tertutup artinya dalam pertanyaan-pertanyaan yang diajukan tetap menyediakan tempat kosong untuk memberi kebebasan kepada responden menjawab pertanyaan, seandainya alternatif jawaban yang disediakan tidak sesuai. Bersifat terbuka artinya pertanyaan-pertanyaan yang diajukan tanpa disediakan kemungkinan jawaban sehingga responden dapat menuliskan jawabannya sendiri sesuai dengan pendapatnya (Sanafiah Faisal, 1981:3). Di samping itu, sifat kuesioner ini adalah kuesioner langsung, yaitu “Daftar pertanyaan dikirimkan langsung kepada orang yang ingin dimintai pendapat, keyakinannya, atau diminta untuk menceritakan tentang dirinya sendiri” (Sutrisno Hadi, 1973:186).

  Dalam penelitian ini penulis memilih kuesioner semi tertutup, dimana responden hanya tinggal memilih alternatif jawaban dari pertanyaan-pertanyan yang sudah disediakan, bila dirasa tidak cocok maka responden bisa memberikan alternatif jawaban lainnya.

  Untuk mengolah data-data yang sudah terkumpul, guna mengetahui dan menentukan jumlah prosentase dari setiap variabel, dipergunakanlah rumus di bawah ini (Riduwan, 2004:87):

  A= Jumlah yang menjawab

  A X 100%=

  N= Jumlah responden

  N

  Contoh: Macam kegiatan apa yang sering anda ikuti di lingkungan? Ziarah=18 orang, outbond=1 orang, rekoleksi= 3 orang, teater=0, lainnya=1.

  18 x 100%= 78%

  23

c. Studi Dokumen

  Dokumen-dokumen yang dipelajari sampai saat ini adalah buku Reksa Dasawindu Gereja Katolik Santo Yusuf Medari.

8. Responden Penelitian

  Responden adalah orang yang memberi jawaban terhadap pertanyaan atau permintaan dalam kuesioner, boleh dan dapat memberikan jawabannya secara bebas terhadap item (Sutrisno Hadi, 1973:187), atau orang yang dapat merespon dan memberikan informasi tentang data penelitian (Suharsimi Arikunto, 1990:116).

  Berkaitan dengan penelitian yang akan dilakukan, penulis memilih responden kaum muda di lingkungan Santo Yusuf Kadisobo Paroki Santo Yoseph Medari. Untuk menentukan responden tersebut, haruslah dibedakan dahulu antara populasi dan sampel. Populasi adalah keseluruhan obyek penelitian sebagai sumber data yang memiliki karakteristik tertentu di dalam suatu penelitian, sedangkan sampel adalah sebagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut (Hadari Nawawi, 1985:141-144). Responden dalam penelitian ini adalah kaum muda di lingkungan Santo Yusuf Kadisobo yang berjumlah 30 responden dan yang mengembalikan berjumlah 23 responden. Sedangkan untuk memperkuat data-data di lapangan, peneliti menggunakan wawancara yang dilakukan kepada 4 orang yakni ketua lingkungan, kaum muda, dan sesepuh yang mengetahui perkembangan kaum muda dari jaman dahulu hingga sekarang.

  9. Populasi

  Populasi merupakan objek atau objek yang berada pada suatu wilayah dan memenuhi syarat-syarat tertentu berkaitan dengan masalah penelitian (Riduwan, 2004:54). Populasi dalam penelitian ini adalah kaum muda di lingkungan Santo Yusuf Kadisobo yang berjumlah kurang lebih 30 orang dari jumlah secara keseluruhan kaum muda di Paroki Santo Yoseph Medari yang berjumlah 550 orang termasuk Stasi Seyegan.

  10. Teknis Analisis Data

  Penulis mengumpulkan data yang sudah ada dan dibuat secara tertulis dalam bentuk pernyataan dan pertanyaan. Langkah selanjutnya penulis menarik kesimpulan dari data-data yang ada. Dalam pengumpulan data penulis memilih untuk mencari data dengan wawancara jenis kombinasi antara wawancara bebas dan terpimpin serta dalam bentuk menyebarkan kuesioner. Dalam wawancara ini pewawancara akan merekam langsung dengan dan alat rekam suara (MP4). Hasil dari wawancara ditranskip dalam bentuk catatan tertulis tanpa mengubah isi yang ada dalam wawancara. Sedangkan dalam kuesioner akan diambil beberapa data untuk melihat prosentase sejauh mana kaum muda sudah terlibat dalam hidup menggereja dan apa yang sebenarnya mereka butuhkan.

  11. Variabel Penelitian

  Variabel merupakan segala sesuatu atau hal-hal yang menjadi obyek penelitian (Suharsimi Arikunto, 1988:12). Menurut Sutrisno Hadi (1974:224), variabel merupakan suatu gejala atau peristiwa yang bervariasi menurut jenis dan tingkatnya. Gejala itulah yang menjadi obyek penelitian. Dengan demikian variabel adalah obyek penelitian atau apa yang menjadi titik perhatian suatu penelitian. Yang menjadi fokus perhatian dalam penelitian ini adalah keterlibatan kaum muda dalam hidup menggereja di lingkungan Santo Yusuf Kadisobo. Ada pun variabel yang diungkap dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: a.

  Identitas responden b.

  Keberadaan kaum muda c. Peran kaum muda dalam hidup menggereja d.

  Pemahaman tentang hidup menggereja e. Ragam kegiatan hidup menggereja f. Faktor penghambat dan pendukung untuk terlibat dalam hidup menggereja g.

  Manfaat keterlibatan dalam hidup menggereja h. Bentuk, isi, sarana prasarana, pendampingan dan pihak pendukung kegiatan.

  

Table 1. Variabel Penelitian

  Variabel penelitian yang akan diungkapkan tertera dalam tabel berikut :

  No Variabel Item Jumlah

  1

  1

  1 Identitas responden 2 2 s/d 6

  5 Keberadaan kaum muda 3 7 s/d 8

  2 Peran kaum muda dalam hidup

  menggereja

  4 9 s/d 11

  3 Pemahaman tentang hidup

  menggereja

  5 12 s/d 14

  3 Ragam kegiatan hidup

  menggereja

  6 15, 16, dan 19

  3 Faktor penghambat dan

  pendukung untuk terlibat dalam hidup menggereja

  7 17, 18, dan 20

  3 Manfaat terlibat dalam hidup

  menggereja

  8 21 s/d 28

  8 Bentuk, isi, sarana prasarana,

  pendamping dan pihak pendukung kegiatan

  9 29 s/d 30

  2 Pertanyaan refleksi: mengenai

  keaktifan kaum muda dan kesulitan yang sering dihadapi.

  30

  30 Jumlah C.

   Laporan Hasil Penelitian Keterlibatan Kaum Muda Dalam Hidup Menggereja Secara Kontekstual di Lingkungan Santo Yusuf Kadisobo Paroki Santo Yoseph Medari

  Pada bagian ini akan dibahas laporan hasil penelitian yang dilaksanakan pada tanggal 10 November 2012 sampai 17 November 2012 di lingkungan Santo jumlah tersebut, 23 orang (77%) mengembalikan kuesioner yang disebarkan. Laporan penelitian disajikan sesuai urutan variabel penelitian yang tertera dalam Tabel 1 yang terdiri dari: Identitas responden, keberadaan kaum muda, peran kaum muda dalam hidup menggereja, pemahaman tentang hidup menggereja, ragam kegiatan hidup menggereja, faktor penghambat dan pendukung untuk terlibat dalam hidup menggereja, manfaat terlibat dalam hidup menggereja, bentuk, isi, sarana prasarana, pendamping dan pihak pendukung kegiatan, pertanyaan refleksi: mengenai keaktifan kaum muda dan kesulitan yang sering dihadapi.

1. Identitas Responden

  Pada tabel di bawah ini dipaparkan identitas responden penelitian yang meliputi nama, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, dan lingkungan, yang terungkap dalam tabel 2 sebagai berikut:

  Tabel 2. Identitas Responden (N=23)

  No Pernyataan Alternatif jawaban Jumlah % soal

  (1) (2) (3) (4) (5) 44%

  2 Jenis a.

  10 Laki-laki

  56%

  kelamin b.

  13 Perempuan

  65%

  3 Pendidikan a.

  15 SMA/SMK

  26% b.

  6 Kuliah

  9% c.

  2 SMP

  70%

  4 Pekerjaan a.

  16 Pelajar/mahasiswa

  22% b.

  5 Karyawan swasta

  4% c.

  1 Wiraswasta d.

  1 Guru

  4%

  Dalam Tabel 2 di atas dapat dilihat bahwa responden yang berjenis kelamin perempuan maupun laki-laki, pendidikan SMA/SMK, dan pekerjaannya. Dari 23 responden, responden yang paling banyak adalah berjenis kelamin perempuan ada 13 responden (56%), pendidikan yang sudah ditempuh paling banyak SMA/SMK sebanyak 15 responden (65%), dan pekerjaan yang paling sedikit digeluti adalah wiraswasta dan guru sebanyak 1 responden (4%).

2. Keberadaan kaum muda

  Variabel ini berfungsi untuk mengetahui tentang keberadaan kaum muda di lingkungan Santo Yusuf Kadisobo diakui keberadaannya. Hal ini dijelaskan dalam Tabel 3 sebagai berikut:

  Tabel 3. Keberadaan Kaum Muda (N=23)

  No Pernyataan Alternatif jawaban Jumlah % soal

  (1) (2) (3) (4) (5)

  2 Menurut a.

  15-19 tahun

  13%

  anda yang b.

  3 15-21 tahun

  13%

  dikategorikan c.

  3 15-24 tahun

  52%

  kaum muda d.

  12 15-belum menikah

  22%

  adalah

  e. lainnya

  5 mereka yang berusia...

3 Di a.

  10 44% Sangat setuju lingkungan b. 9 39%

  Setuju Santo Yusuf c. 3 13%

  Tidak setuju kehadiran d.

  Sangat tidak setuju kaum muda e. 1 4%

  Lainnya sangat berperan aktif!

  4 4 17%

  Peran kaum

  a. program Pelaksana muda dalam Gereja

  13%

  3 kehidupan b. kabar

  Pewarta Gereja gembira adalah c. sabda

  Pendengar sebagai Allah d.

  Penerus Gereja di

  61%

  14

  masa depan e. Lainnya

  9%

  2

5 Bagaimana a.

  Ada persaingan yang hubungan tidak sehat antar kaum b.

  Ada kerjasama dan

  15 65%

  muda baik di kekompakan tinggi lingkungan c.

  Ada persaingan yang Santo Yusuf sehat dan positif

  1 4%

  dan kaum

  d. saling Tidak muda di mengenal dan peduli

  5 22%

  Paroki Santo antara satu dengan Yoseph yang lain Medari e.

  Lainnya

  2 9%

  6 1 4%

  Penyebab

  a. berebut Sering kaum muda kekuasaan antar sesama kurang b.

  Tidak ada dana untuk berminat berkegiatan untuk c.

  Tidak ada pendamping

  1 4%

  berkumpul yang mumpuni bersama d.

  Kegiatan yang ada di

  16 70%

  dikarenakan Paroki terlalu monoton, kurang bervariasi e.

  Lainnya

  5 22% Tabel di atas menunjukkan bahwa dari 23 responden yang ikut mengisi kuesioner menyatakan kategori kaum muda berkisar antara usia 15-30 tahun ada 12 responden (52%), 10 responden (43%) menyatakan sangat setuju bahwa keberadaan kaum muda memang sangat di harapkan kehadirannya. Ada 14 responden (61%) yang berpendapat keberadaan kaum muda yakni sebagai penerus Gereja dimasa depan. Sehingga hubungan antar kaum muda di lingkungan mau pun di Paroki terlihat adanya kerjasama dan kekompakan yang tinggi. Hal tersebut dikuatkan oleh 15 responden (65%) yang berpendapat demikian. Sedangkan 16 responden (70%) beralasan kaum muda kurang berminat untuk berkumpul bersama dikarenakan kegiatan di Paroki terlalu monoton dan kurang bervariasi, sehingga menimbulkan kebosanan tersendiri bagi kaum muda.

  Dari alternatif jawaban-jawaban yang telah disediakan ada beberapa responden yang berpendapat lainnya. Misalnya saja pada soal nomor 2, ada 5 responden (22%) yang berpendapat kategori usia kaum muda menurut mereka adalah orang-orang yang masih single atau belum terikat perkawinan. Pada soal nomor 4, 2 responden (9%) menyatakan benar semua dari alternatif jawaban yang telah disediakan bahwa peran kaum muda dalam kehidupan Gereja adalah sebagai pelaksana program Gereja, pewarta kabar gembira, pendengar sabda Allah, penerus Gereja di masa depan. Pada soal nomor 5, 2 responden (9%) berpendapat bahwa hubungan antar kaum muda di lingkungan Santo Yusuf Kadisobo dengan kaum muda di Paroki kurang adanya koordinasi. Sedangkan pada soal nomor 6, 5 responden (22%) berpendapat bahwa penyebab kaum muda kurang berminat untuk berkumpul bersama dikarenakan waktu yang dirasa kurang tepat karena kaum muda di lingkungan Santo Yusuf Kadisobo rata-rata masih pelajar atau mahasiswa.

3. Peran kaum muda dalam hidup menggereja

  Variabel ini bermanfaat untuk mengetahui sejauh mana peran kaum muda dalam hidup menggereja. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat di tabel 4 sebagai berikut:

  

Tabel 4. Peran kaum muda dalam hidup menggereja

(N=23)

  No Pernyataan Alternatif jawaban Jumlah % soal

  (1) (2) (3) (4) (5)

  7 Usaha yang a.

  Meminta dari dewan dilakukan oleh paroki sepenuhnya kaum muda b.

  Mencari donatur dan

  11 48%

  untuk mencari jaga parkir di gereja dana, bila c. barang-

  Melelang

  8 35%

  mengadakan barang bekas suatu kegiatan d.

  Iuran dari masing- adalah dengan masing anggota cara

  e. Lainnya

  4 17%

  8 Peran kaum a.

  Pemimpin, Nabi, dan muda dalam Raja

  10 43%

  fungsi

  b. Imam, dan Raja, penggembalaan Pewarta

  8 35%

  Gereja adalah c.

  Imam, Nabi, dan Raja

  3 13%

  sebagai

  d. Pengkhotbah, Nabi, dan Penginjil.

  e.

  Lainnya...

  2 9%

  Tabel di atas menunjukkan dari 23 responden yang mengisi kuesioner, 11 responden (48%) diantaranya menyatakan bahwa jika mengadakan suatu kegiatan mereka mencari dana dengan cara mencari donatur dan jaga parkir di Gereja. Sedangkan ada 4 responden (17%) lainnya yang menyatakan benar semua pada soal nomor 7, rata-rata usaha yang dilakukan oleh kaum muda untuk mencari dana bila mengadakan suatu kegiatan dengan cara meminta dana dari dewan sepenuhnya, mencari donatur dan jaga parkir di gereja, melelang barang bekas, serta iuran dari masing-masing anggota.

  Berkaitan dengan peran kaum muda dalam fungsi penggembalaan Gereja ada 10 responden (43%) menyatakan bahwa peran kaum muda dalam fungsi penggembalaan gereja adalah sebagai raja, imam, dan pewarta, sedangkan 2 responden (9%) lainnya menjawab peran kaum muda dalam fungsi penggembalaan Gereja adalah sebagai pemimpin, nabi, dan raja.

4. Pemahaman tentang hidup menggereja

  Variabel ini berfungsi untuk mengetahui sejauh mana pemahaman kaum muda mengenai hidup menggerejanya. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat di tabel 5 sebagai berikut:

  Tabel 5. Pemahaman tentang hidup menggereja (N=23)

  No Pernyataan Alternatif jawaban Jumlah % soal

  (1) (2) (3) (4) (5)

9 Apakah a.

  Bangunan yang anda b.

  Romo, prodiakon, umat, pahami misdinar, coster mengenai c.

  Sekelompok orang yang Gereja? berkumpul bersama 14 60% untuk mengimani Yesus

  Kristus d. Tempat untuk bertemu dengan Yesus

  6 27% e. Lainnya 3 13%

10 Sikap yang a.

  Pasif dan tidak peka seharusnya terhadap kegiatan- ditunjukkan kegiatan yang ada, baik oleh kaum muda dalam hidup menggereja adalah di tingkat lingkungan, wilayah, mau pun Paroki.

  b.

  1

  Berdiam diri sampai ada yang menyuruh.

  b.

  Memberikan seluruh tenaga, pikiran dan berperan aktif untuk memajukan kegiatan- kegiatan yang ada di sekitar.

  11 Apa artinya terlibat dalam hidup menggereja menurut anda? a.

  4% 4%

  1 92%

  21

  Berpartisipasi, aktif, dan peka terhadap kegiatan apa pun yang ada disekitarnya .

  Lainnya

  e.

  Menutup diri atau cuek dengan kegiatan- kegiatan menggereja dengan alasan sibuk.

  d.

  Ikut aktif terlibat dalam semua kegiatan jika diundang.

  c.

  22 96% c. meramaikan Ikut kegiatan yang ada di gereja d. 1 4%

  Tuntutan sebagai kaum muda e.

  Lainnya Tabel di atas ingin mengungkap pemahaman kaum muda mengenai Gereja, sikap dalam hidup mengereja, dan arti keterlibatannya dalam hidup menggerejanya.

  Pemahaman kaum muda mengenai Gereja ada 14 responden (60%) diantaranya memahami Gereja sebagai sekelompok orang yang berkumpul bersama untuk mengimani Yesus Kristus, sedangkan 3 (13%) responden lainnya yang memahami mengenai Gereja sebagai tempat untuk bertemu dengan Yesus. Mengenai sikap dalam hidup menggereja, 21 responden (92%) mengerti sikap yang seharusnya ditunjukkan oleh kaum muda dalam hidup menggerejanya adalah dengan ikut berpartisipasi, aktif, dan peka terhadap kegiatan apa pun yang ada disekitarnya. Dalam hal pemahaman arti keterlibatan dalam hidup menggereja, sejumlah 22 responden (96%) memahami arti terlibat dalam hidup menggereja yakni memberikan seluruh tenaga, pikiran, dan berperan aktif untuk memajukan kegiatan- kegiatan yang ada di sekitar.

5. Ragam kegiatan hidup menggereja.

  4%

  4% 17%

  4 22% 57%

  1

  13

  5

  Taize e. Lainnya

  Adorasi c. Kelompok Kitab Suci d.

  Legio Maria b.

  13 Kelompok basis yang pernah anda ikuti di lingkungan adalah a.

  Variabel ini berfungsi untuk melihat ragam kegiatan apa saja yang sudah ada di Gereja dan menarik untuk diikuti oleh kaum muda, sehingga mereka dapat terlibat dalam hidup menggereja secara penuh. Hal ini dijelaskan pada tabel 6 sebagai berikut:

  Tabel 6. Ragam kegiatan hidup menggereja (N=23)

  1 79%

  3

  1

  18

  Teater e. Lainnya

  Out bond c. Rekoleksi d.

  Ziarah b.

  12 Macam kegiatan yang sering anda ikuti di lingkungan adalah a.

  (1) (2) (3) (4) (5)

  No soal Pernyataan Alternatif jawaban Jumlah %

  4% 13%

  14 Berapa a. 1 4% 10-15 orang jumlah ideal b. 9 39%

  15-20 orang anggota c. 1 4%

  20-25 orang yang d. 10 44%

  Lebih dari 25 orang mengikuti e. 2 9%

  Lainnya suatu kegiatan gereja?

  Tabel di atas menunjukkan tentang ragam kegiatan menggereja. Ada 18 responden (79%) menyatakan bahwa ragam kegiatan menggereja yang paling menarik dan sering diikuti adalah ziarah. Sementara 13 responden (57%) lainnya memilih adorasi sebagai kelompok basis yang sering diikuti, sedangkan ada 4 responden (17%) lainnya memilih alternatif jawaban lain yakni dua kegiatan yang sering diikuti legio Maria, dan adorasi. Mengenai jumlah ideal anggota yang mengikuti suatu kegiatan 10 responden (44%) berpendapat jumlah yang paling ideal berjumlah lebih dari 25 orang, 9 responden (39%) berpendapat jumlah yang ideal adalah 15-20 orang, sedangkan ada 2 responden (9%) yang memilih untuk tidak menjawab berapa jumlah idealnya anggota, jika mereka mengikuti suatu kegiatan.

  Dari jawaban atas pertanyaan refleksi pada nomor 1 mengenai keterlibatan hidup menggereja pada kaum muda lebih cenderungan terlibat dalam lingkup lingkungan karena di lingkup lingkungan kaum muda sudah saling mengenal atau akrab antara satu dengan yang lain dibandingkan di lingkup Paroki. Dengan begitu mereka lebih bisa fokus memberikan pemikiran atau pun tenaga. Demikian juga waktu serta jenis kegiatan bisa menyesuaikan dan dapat di bicarakan secara bersama-sama.

6. Faktor penghambat dan pendukung untuk terlibat dalam hidup menggereja.

  Variabel ini bermanfaat untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang selama ini menjadi penghambat dan pendukung untuk terlibat dalam hidup menggereja. Hal ini dijelaskan dalam Tabel 7 sebagai berikut:

7. Faktor penghambat dan pendukung untuk terlibat dalam hidup

  

menggereja

(N=23)

  No Pernyataan Alternatif jawaban Jumlah % soal

  (1) (2) (3) (4) (5)

15 Sejauh ini a.

  17 74% Mendukung bagaimana b. 4 17%

  Sangat mendukung tanggapan c. 2 9%

  Biasa saja orang tua d.

  Tidak mendukung anda e.

  Lainnya sehubungan dengan keterlibatan anda dalam kegiatan hidup menggereja?

  16 Hal-hal apa a.

  16 70% Kesibukan study/kerja yang b.

  Orang tua menghambat c.

  Kurangnya minat dan kaum muda kesadaran kaum muda 6 26% untuk terlibat d.

  Pastor Paroki dalam e. 1 4%

  Lainnya kegiatan hidup menggereja?

  19 Berbagai a.

  12 52% Pastor Paroki kegiatan yang b.

  Orang tua diprogramkan, c.

  Ketua lingkungan diharapkan d.

  Ketua Mudika mendapatkan e. 11 48%

  Lainnya dukungan dari Tabel di atas menunjukkan mengenai faktor penghambat dan pendukung dalam keterlibatan kaum muda dalam hidup menggereja. Menurut 17 responden

  (74%) faktor yang paling mendukung adalah orang tua. Sedangkan faktor yang dinyatakan oleh 16 responden (70%) dan dikuatkan oleh 23 responden (77%) berdasarkan jawaban kuesioner terbuka. Sedangkan 6 responden (26%) menyatakan bahwa kurangnya minat dan kesadaran dari kaum muda menjadi penghambat mereka untuk terlibat dalam kegiatan hidup menggereja. Sementara 12 responden (52%) lainnya mengaharapkan semua kegiatan yang sudah diprogramkan mendapat dukungan dari pastor paroki setempat, sehingga mendorong mereka untuk terus berkreasi membuat kegiatan-kegiatan yang tentunya lebih bermanfaat dan menarik untuk kaum muda sedangkan 11 responden (48%) lainnya mengharapkan dukungan dari semua pihak.

  Dari pertanyaan refleksi nomor 2 mengenai kesulitan yang sering dihadapi oleh kaum muda saat terlibat di lingkungan adalah rata-rata menjawab kesulitan mengatur waktu untuk berkumpul karena kesibukan dari kegiatan mereka sendiri, ada yang bekerja, dan ada pula yang masih bersekolah atau kuliah. Sehingga tidak jarang dari mereka tidak ikut terlibat sepenuhnya dalam kegiatan di lingkungan.

7. Manfaat terlibat dalam hidup menggereja.

  Variabel ini berfungsi untuk melihat sejauh mana kaum muda dapat menarik manfaat-manfaat dari keterlibatannya dalam hidup menggereja. Hal ini dijelaskan pada Tabel 8 sebagai berikut:

  

Tabel 8. Manfaat terlibat dalam hidup menggereja

(N=23) No Pernyataan Alternatif jawaban Jumlah % soal

  (1) (2) (3) (4) (5)

  17 Manfaat apa a. 1 4% Mengembangkan bakat yang anda dan potensi peroleh dari b.

  Membangkitkan kegiatan kepercayaan diri 3 13% menggereja? c. tali

  Mempererat persaudaraan antar kaum 11 48% muda d.

  Terjalinnya komunikasi dan kerjasama dalam 7 31% kelompok e. 1 4%

  Lainnya

  18 Dengan

  a. memperluas 11 48% Dapat terlibat pengalaman dalam

  b. terkenal dan Bisa kegiatan disegani hidup c.

  Dapat berperan dan menggereja, memberi pengaruh 11 48% harapan saya dalam kelompok adalah d. 1 4%

  Mendapat kepercayaan e. Lainnya

  20 Saya merasa a. 21 91% Memperluas wawasan senang dan pengalaman mengikuti b.

  Malu dengan teman yang kegiatan sering aktif lingkungan c.

  Ada pacar yang juga ikut karena berkegiatan d.

  Dorongan dari keluarga e. 2 9% Lainnya

  Tabel di atas menunjukkan mengenai manfaat-manfaat dari keterlibatan kaum muda dalam hidup menggereja, harapan dari kaum muda, dan alasan kaum muda terlibat dalam hidup menggereja. Ada 11 responden (48%) memperoleh manfaat dari kegiatan menggereja yakni dapat mempererat tali persaudaraan antar kaum muda, 7 responden (31%) mendapat manfaat lain yakni dapat menjalin komunikasi dan kerjasama dalam kelompok. Mengenai harapan yang diinginkan oleh kaum muda dalam terlibat kegiatan menggereja, 11 responden (48%) mengharapkan dapat memperluas pengalaman serta 11 responden (48%) lainnya dapat berperan dan memberi pengaruh dalam kelompok. Alasan kaum muda sendiri ikut terlibat dalam kegiatan menggereja terutama kegiatan di lingkungan karena dapat memperluas wawasan dan pengalaman. Hal tersebut dinyatakan oleh 21 responden (91%). Selain itu ada 2 responden (9%) lainnya yang menerangkan alasan lain yakni dapat memperluas wawasan dan pengalaman serta dorongan dari pihak keluarga.

8. Bentuk, isi, sarana prasarana, dan profil pendamping.

  Variabel ini berfungsi untuk mengetahui: bentuk, isi, sarana prasarana, pendampingan yang diinginkan, dan pihak-pihak pendukung kegiatan. Dari hal-hal tersebut diharapkan agar kaum muda semakin aktif terlibat dalam hidup menggereja seperti yang diinginkan. Hal ini dijelaskan pada Tabel 9 sebagai berikut:

  

Tabel 9. Bentuk, isi, sarana prasarana, dan profil pendamping

(N=23)

  No Pernyataan Alternatif jawaban Jumlah % soal (1) (2) (3) (4) (5)

21 Bentuk a.

  9 39% Outbond kegiatan b. 7 30%

  Ziarah pendampingan c. 2 9%

  Pendalaman Iman kaum muda d. 3 13%

  Sarasehan seperti apa e. 2 9%

  Lainnya yang menarik untuk diikuti oleh para kaum muda agar mereka lebih aktif mengikuti kegiatan menggereja?

22 Apa yang a.

  16 70% Dapat mengembangkan anda harapkan wawasan hidup rohani terkait dengan b. 3 13%

  Dapat memberdayakan isi dan tujuan potensi diri kegiatan? c. 1 4%

  Dapat meneguhkan jati diri d.

  Dapat mengembangkan wawasan moral e. 3 13%

  Lainnya

  23 Menurut anda, a. 4 17% Sangat setuju apakah isi dan b. 19 83%

  Setuju tujuan dari c.

  Tidak setuju kegiatan d.

  Sangat tidak setuju menggereja e.

  Lainnya sangat menentukan pembentukan karakter kaum muda saat ini?

  24 Tema seperti a. 4 17% Sosial dan politik apa yang anda b. 6 26%

  Budaya harapkan jika c.

  Ekonomi mengikuti d. 7 31% Religi kegiatan e. 6 26%

  Lainnya menggereja?

  25 Suasana a.

  Hening seperti apa b. 3 13%

  Dinamis yang anda c.

  Santai tapi mengena harapkan dengan apa yang 17 74% sebagai kaum menjadi tujuan muda, jika

  d. terus- 1 4% Permainan anda menerus mengikuti e. 2 9%

  Lainnya suatu kegiatan?

  26 30%

  Apakah a.

  7 Iya

  70%

  sarana dan b.

  16 Belum prasarana yang sudah ada saat ini dapat menunjang kegiatan yang diadakan di Paroki Santo Yoseph Medari?

  27 Sarana dan

  a. ruangan 15 66% Disediakan prasarana khusus beserta yang kelengkapannya dibutuhkan b. sarana

  Tersedianya untuk audio visual (LCD, 3 13% menunjang laptop, kegiatan speakeractive,dll) adalah c. dana 1 4%

  Tersedianya pendukung kegiatan d. 4 17%

  Lainnya

  28 Kriteria a.

  Sabar, pendiam, dan pendamping bersahabat seperti apa

  b. muda, 5 21% Masih yang kaum ganteng/cantik, dan muda bersahabat inginkan agar c.

  Berwibawa, kegiatan yang berwawasan luas, dan 16 70% ada semakin mudah bergaul menarik untuk d.

  Rapi, pendiam, dan bisa membawakan materi dengan menarik diikuti? e. Lainnya 2 9%

  Tabel di atas menunjukkan dari segi bentuk, sarana prasarana, pendampingan dan pihak pendukung. Mengenai bentuk kegiatan: ada 9 responden (39%) memilih outbond sebagai program pendampingan yang paling menarik, 7 responden (30%) memilih ziarah, dan 2 responden (9%) lainnya memilih kedua- duanya yakni outbond dan ziarah.

  Dari segi isi dan tujuan: ada 16 responden (70%) mengharapkan isi dan tujuan kegiatan yang dilaksanakan dapat mengembangkan wawasan hidup rohani, 3 responden (13%) dapat memberdayakan potensi diri, dan ada 3 responden (13%) menjawab lainnya. Menurut 3 responden lainnya jawaban mengembangkan wawasan hidup rohani dan memberdayakan potensi diri sebaiknya menjadi patokan tujuan jika ingin mengadakan suatu kegiatan. Ada 19 responden (83%) setuju apabila isi dan tujuan kegiatan menggereja dapat menentukan pembentukan karakter kaum muda saat ini. Mengenai tema yang diharapkan ada 7 responden (31%) memilih tema religi, 6 responden (26%) memilih tema budaya, serta 6 responden (26%) lainnya menjawab apa pun tema yang disajikan jika dikemas secara menarik mereka pasti hadir. Sedangkan mengenai suasana 17 responden (74%) mengharapkan suasana yang santai tapi mengena dengan apa yang menjadi tujuan kegiatan tersebut, 3 responden (13%) memilih suasana yang dinamis, sedangkan 2 responden (2%) lainnya menjawab santai tapi mengena dengan apa yang menjadi tujuan dan dinamis.

  Dari segi kelengkapan sarana prasarana penunjang kegiatan, ada 16 responden (70%) menyatakan belum lengkap sedangkan 7 responden (30%) menyatakan sudah cukup lengkap. Untuk melancarkan kegiatan dibutuhkan sarana prasaran penunjang berupa ruangan khusus beserta kelengkapnya, hal ini dinyataka oleh 15 responden (16%). Sementara 3 responden (13%) mengharapkan tersedianya sarana audio visual (LCD, laptop).

  Dari segi profil pendamping, ada 16 responden (70%) menginginkan kriteria pendamping yang berwibawa, berwawasan luas, dan mudah bergaul agar kegiatan yang diadakan semakin menarik untuk diikuti. Disamping itu ada 5 responden (21%) menginginkan kriteria pendamping yang masih muda, ganteng/cantik, dan bersahabat, serta 2 responden (9%) lainnya menginginkan pendamping yang penyabar, pendiam, dan bersahabat serta berwibawa, berwawasan luas dan mudah bergaul.

D. Pembahasan Hasil Penelitian Keterlibatan Kaum Muda Dalam Hidup Menggereja Secara Kontekstual di Lingkungan Santo Yusuf Kadisobo Paroki Santo Yoseph Medari.

  Pada bagian ini disampaikan pembahasan hasil penelitian yang bertitik tolak pada laporan hasil penelitian mengenai upaya meningkatkan keterlibatan kaum muda dalam hidup menggereja secara kontekstual. Pembahasan ini disampaikan menurut urutan variabel dengan didukung berbagai sumber serta pemahaman penulis sendiri. Ada pun urutan pembahasannya sebagai berikut:

  1. Identitas Responden

  Dari 23 responden, responden yang paling banyak adalah berjenis kelamin perempuan ada 13 responden (56%), pendidikan yang ditempuh paling banyak SMA/SMK sebanyak 15 responden (65%), dan pekerjaan yang paling sedikit digeluti adalah wiraswasta dan guru sebanyak 1 responden (4%).

  Dengan kenyataan seperti ini tampak jelas bahwa rata-rata kaum muda yang ada di lingkungan Santo Yusuf Kadisobo didominasi oleh banyaknya kaum perempuan yang lebih berminat dalam mengembangkan hidup gerejawi dibandingkan kaum laki-laki. Pendidikan yang paling banyak ditempuh adalah SMA/SMK sehingga rata-rata dari mereka juga sudah ada yang bekerja, sekolah, atau pun kuliah. Untuk menentukan waktu berkumpul agak sedikit sulit, berhubung mereka memiliki kegiatan yang lainnya. Hal inilah yang menjadi kendala, walau pun demikian kaum muda di lingkungan Santo Yusuf Kadisobo tetap solid. Seperti yang diungkapkan oleh Saudara Wawan :

  Kaum muda saat ini sudah sangat berperan aktif dalam kegiatan Gereja, walaupun secara pribadi masih sangat kurang, tetapi dibandingkan dengan kaum muda di lingkungan lain. Lingkungan Santo Yusuf Kadisobolah yang paling banyak jumlah personilnya dan yang paling guyub.

  2. Keberadaan Kaum Muda

  Dilihat dari segi usia, kategori kaum muda yang paling umum adalah berkisar dari 15-30 tahun. Ada sekitar 12 responden (52%) yang menjawab.

  Keberadaan kaum muda saat ini juga sudah banyak berperan aktif, hal ini dilihat dari 10 responden (44%) yang menjawab sangat setuju. Pernyataan ini diperkuat

  Dimana kaum muda saat ini sudah cukup aktif, walau pun masih ada beberapa diantaranya yang belum memiliki kesempatan untuk ikut terlibat aktif dalam kegiatan menggereja khususnya di lingkungan. Tetapi paling tidak mereka sudah mau ikut ambil bagian misalnya saja bila ada kegiatan koor, dan natalan bersama. Kaum muda sendiri memiliki peran yang luar biasa sebagai penerus gereja di masa yang akan datang, kenyataan ini dibuktikan dengan 14 responden (61%) yang memilih jawaban tersebut. Hal ini diperkuat dengan pernyataan dari Pak Wur:

  Kaum muda sekarang walau pun harus disuruh-suruh terlebih dahulu, tetapi mereka tetap menyadari tanggung jawabnya sebagai generasi penerus Gereja. Contohnya saja jika ada kegiatan misalnya ziarah, mereka bahu membahu dalam mencari dan mengumpulkan dana. Ada tugas koor, kaum muda juga mau ikut terlibat. Ikut ambil bagian dalam kepanitiaan baik di tingkat lingkungan mau pun Paroki. Sedangkan 15 responden (65%) melihat hubungan yang terjalin antar kaum muda baik di tingkat lingkungan Santo Yusuf Kadisobo mau pun di tingkat Paroki ada kerjasama dan kekompakan yang tinggi untuk saling mendukung. Ada 16 responden (70%) berpendapat banyaknya kaum muda yang tidak ikut terlibat aktif dikarenakan kegiatan di Lingkungan mau pun Paroki terlalu monoton, dan kurang bervariasi, pernyataan ini diperkuat dengan pendapat dari Saudara Wawan:

  Kebanyakan kaum muda saat ini sering bergaul dengan yang muslim, sehingga mereka agak sedikit sungkan bila ikut telibat di lingkungan. Mereka terkadang harus diingatkan, dipaksa, dan di jemput, karena kalau tidak begitu kaum muda akan malas datang. Terkadang juga kegiatan yang monoton dan kurang bervariasi yang membuat mereka tidak ingin bergabung. Maka dari itulah dibutuhkan wadah yang dapat menampung aspirasi untuk kaum muda. Dari data dan pernyataan di atas, terlihat jelas bahwa kaum muda mengharapkan kegiatan yang bervariasi dan mereka juga menginginkan adanya forum untuk menampung segala aspirasi agar segala ide-ide yang ingin mereka salurkan dapat diperhatikan dan diolah bahkan menjadi acuan untuk kegiatan- kegiatan yang akan direncanakan ke depannya.

  3. Peran Kaum Muda Dalam Hidup Menggereja

  Melihat peran yang sudah di lakukan oleh kaum muda menanggapi keterlibatannya dalam hidup menggereja misalnya untuk mengadakan suatu kegiatan, mereka mencari donatur dan jaga parkir untuk tambahan dana. Hal ini disetujui oleh 11 responden (48%). Pernyataan ini diperkuat oleh Saudara Wawan:

  Contohnya saat pelaksanaan ziarah ke Gua Tritis bulan Oktober kemarin, kaum muda mencari dana dengan menjual barang-barang bekas, jaga parkir, dan iuran dari masing-masing anggota. Tetapi iuran tersebut tidak begitu memberatkan, bagi yang tidak mampu membayar mereka membebaskan tanpa ada biaya yang ditarik sedikit pun. Sedangkan ada 10 responden (43%) menjawab peran kaum muda dalam fungsi penggembalaan gereja sebagai raja, imam, dan pewarta. Hal ini diperkuat dengan pernyataan dari Pak Wur:

  Kaum muda saat ini sebagai pewarta Sabda Allah, sebagai tonggak yang mempersatukan antar satu kaum muda yang satu dengan lainnya serta sebagai penerus generasi masa depan Gereja. Untuk itu diharapkan seluruh kaum muda baik di seluruh Paroki, khususnya di lingkungan Santo Yusuf Kadisobo agar tetap guyub dan saling bekerjasama.

  4. Pemahaman Tentang Hidup Menggereja

  Saat ini pemahaman mengenai hidup menggereja sangat minim. Tetapi ada 14 responden (60%) yang memahami Gereja adalah sekumpulan orang-orang yang secara bersama-sama mengimani Yesus Kristus. Berbeda dengan Saudara Wawan yang menyatakan Gereja adalah:

  Hidup saya sendiri merupakan Gereja, karena saya dapat bersaksi mengenai kesaksian iman atau pengalaman bersama Yesus Kristus. Dengan cara itulah saya dapat menularkan apa yang telah saya alami kepada orang lain. Dan semoga apa yang menjadi kesaksian iman ini dapat menjadi inspirasi bagi orang lain. Seperti yang sudah dikemukakan mengenai pengertian Gereja, 21 responden

  (92%) kaum muda setuju dengan sikap yang seharusnya ditunjukkan oleh kaum muda sendiri dalam hidup menggereja adalah ikut berpartisipasi, aktif, dan peka terhadap kegiatan apa pun yang ada disekitarnya tanpa ada paksaan untuk mengikuti kegiatan tersebut. Sependapat dengan pernyataan tersebut, Saudari Mega mengatakan:

  Seharusnya kaum muda menunjukkan sikap yang aktif dan mau mengajak seluruh kaum muda ikut terlibat tanpa memandang status, dan pekerjaan. Agar dapat membangkitkan lagi semangat kaum muda yang akhir-akhir ini tidak bersemangat.

  Untuk terlibat dalam hidup menggereja ada 22 responden (96%) yang setuju untuk memberikan seluruh tenaga, pikiran, dan berperan aktif untuk memajukan kegiatan-kegiatan yang ada di sekitarnya.

5. Ragam Kegiatan Hidup Menggereja

  Dalam membentuk suatu kegiatan yang beranggotakan dari beberapa orang, kaum muda lebih cenderung memilih lebih dari 25 orang dalam satu kelompok.

  Sejumlah 10 responden (44%) menyatakan demikian, agar kaum muda semakin banyak yang terlibat untuk berperan aktif dalam hidup menggereja. Ada berbagai macam kegiatan yang diikuti oleh kaum muda. Tetapi dari bermacam-macam kegiatan tersebut, ziarah adalah kegiatan yang paling menarik dan diminati.

  Kenyataan ini diperkuat oleh 18 responden (79%) yang setuju dengan kegiatan tersebut. Hal tersebut ditegaskan oleh saudari Mega yang mengatakan: Saat ini kaum muda lebih menyukai kegiatan-kegiatan yang tidak terlalu monoton, santai, tetapi juga serius. Kegiatan seperti ziarah menurut saya sangat cocok dengan karakter kaum muda saat ini. Selain kita dapat bekal untuk kebutuhan rohani, kita juga dapat melihat-lihat pemandangan yang ada disekitar tempat ziarah tersebut dan baik untuk kebutuhan jasmani (menyegarkan pikiran). Selain ziarah, ada pula kegiatan lain yang berbentuk kelompok basis seperti adorasi. Adorasi yang dilakukan setiap minggu sore mendapat perhatian dari 13 responden (57%) kaum muda yang pernah mengikuti kegiatan tersebut.

6. Faktor Penghambat Dan Pendukung Untuk Terlibat Dalam Hidup Menggereja

  Untuk terlibat dalam hidup menggereja, kaum muda membutuhkan dorongan selain dari dirinya sendiri, yakni orang tua. Ada 17 responden (74%) dimana orang tua mendukung keterlibatan anak-anaknya dalam hidup menggereja. Seperti yang dikemukakan oleh Saudara Wawan dan Saudari Mega:

  Selain orang tua, mereka juga membutuhkan motivasi yang kuat dari dirinya sendiri untuk terlibat dalam hidup menggereja. Pengalaman yang dapat dipetik adalah pengalaman untuk berorganisasi, bergaul dengan orang lain. Sedangkan yang menghambat bagi kaum muda untuk terlibat aktif dalam hidup menggereja adalah kesibukan study atau kerja. Ada 16 responden (70%) yang menjawab demikian. Rata-rata kaum muda di lingkungan Santo Yusuf Kadisobo adalah pelajar dan pekerja, jadi untuk menentukan waktu untuk bertemu terkadang sangat sulit. Terkadang waktu yang terkesan mendadak/spontan justru banyak kaum

  Misalnya setelah selesai misa, kaum muda yang biasanya bermain gitar atau yang bisa menyanyi berkumpul untuk menarik perhatian dari kaum muda lain agar mereka ikut bergabung. Dengan cara seperti itu justru kaum muda lebih senang dikumpulkan. Sembari bermain gitar dan bernyanyi, terkadang mereka juga membicarakan kegiatan-kegiatan apa yang akan dilakukan untuk ke depannya sambil bakar-bakar jagung dan duduk santai.

  Dari hambatan tersebut, mengisyaratkan bahwa kegiatan yang perlu direncanakan adalah kegiatan diluar aktivitas belajar atau bekerja. Hal inilah yang mendorong kaum muda di lingkungan Santo Yusuf Kadisobo untuk merencanakan suatu kegiatan seperti ziarah yang tidak terasa formal tetapi bisa membangkitkan semangat kebersamaan dan mempererat persaudaraan antar kaum muda. Ziarah ini paling tepat biasanya dilakukan pada waktu yang bertepatan dengan bulan Maria, Rosario atau pun sebelum Natal.

  Biasanya kaum muda sangat berharap program yang telah mereka buat mendapat dukungan dari Pastor Paroki, agar setidaknya kaum muda merasa bahwa keberadaan mereka mendapat pengakuan, ada sekitar 12 responden (52%) yang menjawab demikian.

7. Manfaat Terlibat Dalam Hidup Menggereja

  Banyak diantara kaum muda yang sedikit mengetahui manfaat yang dapat mereka peroleh jika terlibat dalam hidup menggereja. Sejumlah 11 responden (48%) menjawab salah satu manfaat yang diperoleh adalah dapat mempererat tali persaudaraan antar kaum muda. Di samping itu dengan terlibat mereka mengharapkan dapat memperluas pengalaman, dan memberi pengaruh kepada orang lain agar ikut terlibat. Senada dengan hal tersebut Saudara Wawan

  Di dalam hal organisasi kepemudaan mereka lebih dapat membangun kebersamaan /berhubungan dengan orang lain, karena dasar dari semuanya adalah mereka dapat membangun hubungan dengan orang lain. Mengolah ego juga sangat penting, tidak malu, jika ada kerjaan berusaha untuk melakukan walau pun tidak sempurna tapi sudah ada itikad baik untuk melakukannya.

  Berbeda dengan pendapat tersebut, Saudari Mega yang menyatakan manfaat terlibat dalam hidup menggereja adalah: ”Menambah pengalaman iman, teman, wawasan kegiatan bertambah luas”. Semoga dengan pendapat yang telah dikemukakan membuat kaum muda semakin dapat menambah wawasannya agar dapat terlibat dalam hidup menggereja. Pendapat ini disetujui oleh 21 responden (91%).

8. Bentuk, Isi, Sarana Prasarana, Dan Kriteria Pendamping

  Dilihat dari segi bentuk pendampingan, yang paling menarik adalah outbond sekitar ada 9 responden (39%) yang memilih. Sedangkan 7 responden (30%) lebih memilih ziarah sebagai pendampingan yang dirasa cukup menarik untuk menggerakkan kaum muda untuk terlibat aktif. Seperti yang dikemukakan oleh Saudari Mega:

  Ziarah adalah kegiatan yang paling menarik, karena sesuai dengan karakter kaum muda jaman sekarang. Tetapi, butuh waktu yang sesuai untuk mengumpulkan kaum mudanya. Banyaknya kaum muda yang memilih ziarah sebagai salah satu alternatif kegiatan hidup menggereja, membuat saya sebagai penulis memikirkan apa yang diharapkan kaum muda selain kegiatan yang menarik. Dari segi isi, 16 responden (70%) berpendapat isi dari kegiatan haruslah mengembangkan wawasan hidup rohani dari kaum muda itu, 19 responden (83%) setuju bila tujuan dari kegiatan sangat menentukan pembentukan karakter kaum muda saat ini.

  Ada 17 responden (74%) mengharapkan suasana santai dalam setiap pertemuan namun tetap berpegang pada tujuan. Hal tersebut senada dengan Saudari Novi:

  Banyaknya kegiatan yang terkadang diadakan tidak sesuai dengan tujuan, dan selalu monoton tidak ada variasinya. Sehingga terkadang menimbulkan kejenuhan untuk hadir dalam suatu kegiatan. Dari segi sarana dan prasarana belum memadai, tersedianya ruangan khusus beserta kelengkapannya juga belum dapat terpenuhi. Hal tersebut menjadi salah satu faktor penghambat untuk kaum muda dapat berkumpul. Kenyataan ini diperoleh dari 16 responden (70%) yang berpendapat demikian, yang dikuatkan juga oleh Saudara Wawan yang berpendapat:

  Sarana dan prasarana yang tersedia baik di paroki mau pun di lingkungan belum tersedia sepenuhnya. Tetapi, dimulai dari hal yang kecil misalnya kaum muda di lingkungan Kadisobo bekerjasama dengan lingkungan Pepen berencana untuk membeli meja pingpong dan membangun lapangan basket, agar kaum muda setidaknya ada kemauan untuk berkumpul itu yang paling utama.

  Kriteria pendamping yang dinginkan oleh kaum muda agar kegiatan tersebut semakin menarik adalah berwibawa, berwawasan luas, dan mudah bergaul.

  Kenyataan ini didukung oleh 16 responden (70%), dan diperkuat oleh pendapat Saudari Novi:

  Saat ini pendamping yang dibutuhkan oleh kaum muda adalah pendamping yang dapat mengerti kebutuhan kaum muda, dan dapat membaca situasi kaum muda pada umumnya. Pendamping diharapkan berperan tidak terlalu monoton, memaksa diri, dan taunya hanya ceramah saja.

  

BAB IV

USULAN KEGIATAN DALAM RANGKA UPAYA MENINGKATKAN

KETERLIBATAN KAUM MUDA DALAM HIDUP MENGGEREJA

SECARA KONTEKSTUAL DI LINGKUNGAN SANTO YUSUF KADISOBO

PAROKI SANTO YOSEPH MEDARI

Berdasarkan dari hasil penelitian yang sudah dibahas pada bab III, kiranya

  banyak hal yang menjadi perhatian untuk dapat semakin meningkatkan keterlibatan kaum muda dalam hidup menggereja. Maka, dalam bab IV ini penulis akan menyampaikan usulan kegiatan yang menarik bagi kaum muda sebagai upaya meningkatkan keterlibatan kaum muda dalam hidup menggereja secara kontekstual, sehingga mampu menjawab apa yang menjadi kebutuhan kaum muda saat ini.

A. Latar Belakang Penyusunan Kegiatan Pendampingan Kaum Muda Dalam Rangka Meningkatkan Keterlibatan Kaum Muda Dalam Hidup Menggereja Secara Kontekstual di Lingkungan Santo Yusuf Kadisobo.

  Telah diuraikan di atas mengenai situasi yang dihadapi oleh kaum muda saat ini, khususnya keterlibatan mereka dalam hidup menggereja di lingkungan Santo Yusuf Kadisobo Paroki Santo Yoseph Medari. Usulan kegiatan ini dimaksudkan agar keterlibatan kaum muda dalam hidup menggereja semakin meningkat dan dapat membantu mereka dalam penghayatan imannya.

  Berdasarkan harapan kaum muda saat ini, mereka menginginkan kegiatan yang tidak monoton, tidak formal, dan bervariasi agar dapat menarik minat kaum muda untuk terlibat dalam kegiatan tersebut. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan di lingkungan Santo Yusuf Kadisobo, kaum muda di lingkungan tersebut memilih kegiatan yang paling diminati, yang salah satunya adalah ziarah. Ziarah sebagai salah satu bentuk kegiatan hidup menggereja diharapkan memberi peluang untuk meneguhkan dan menumbuhkembangkan iman kepercayaan kaum muda kepada Yesus Kristus. Untuk menindaklanjuti usulan tersebut, diusulkan dalam bentuk ziarah.

  B. Tujuan Kegiatan

  Tujuan diadakan kegiatan tersebut adalah untuk meningkatkan kesadaran kaum muda dalam keterlibatan hidup menggereja. Melalui kegiatan tersebut, kaum muda dapat memupuk rasa persaudaraan, membina hubungan yang lebih baik antar mereka, dan memunculkan kerinduan untuk berkumpul agar tercipta kegiatan- kegiatan yang lebih menarik lagi dikemudian hari.

  C. Bentuk Kegiatan

  Kegiatan ziarah tersebut dikemas secara kreatif dan bervariasi. Yang dimaksud ziarah kreatif adalah merancang kegiatan ziarah dengan diawali rekoleksi dan puncak dari kegiatan ziarah tersebut ditutup dengan jalan salib.

  Pemilihan kegiatan ini diharapkan dapat melibatkan kaum muda untuk ikut aktif dalam kegiatan hidup menggereja. Berikut ini dirancang rangkaian kegiatan ziarah yang kreatif bagi kaum muda di lingkungan Santo Yusuf Kadisobo dengan: Susunan Acara Ziarah:

  

Pukul Acara Keterangan

  

06.30 Kumpul + cek perlengkapan masing-masing anggota Di Kapel

Kadisobo

  

07.00 Berangkat ke tempat ziarah Perjalanan dari

  

08.30 Sampai di tempat tujuan Kadisobo-Sri

Ningsih 08.30- Rangkaian kegiatan rekoleksi

  13.00 Acara Rekoleksi: Rekoleksi

08.30-08.50: Doa Pembukaan dan pengantar diadakan di

  08.50-09.00: Dinamika kelompok Kapel

09.00-09.15: Tugas kelompok kecil dan refleksi Marganingsih

09.15-10.00: Sharing kelompok 10.00-10.15: Snack 10.15-10.45: Doa pribadi dan personalisasi 10.45-11.30: Refleksi-interiorisasi 11.30-12.00: Doa penutup 12.00-13.00: Makan siang

  13.00. Jalan Salib Menuju ke

  15.00 Gua Maria Sri Ningsih 15.00- Doa pribadi

  15.30

  15.30 Sayonara Pulang ke rumah

1. Kegiatan Rekoleksi Kaum Muda Santo Yusuf Kadisobo Paroki Santo Yoseph Medari.

  Tema rekoleksi :

  “TUJUAN DAN KETERLIBATAN KAUM MUDA DALAM HIDUP MENGGEREJA”.

  Tujuan :

  1) Menyadarkan kaum muda akan pentingnya terlibat dalam hidup menggereja.

2) Kaum muda semakin diteguhkan melalui kegiatan bersama.

  3) Memupuk hubungan kasih persaudaraan antar kaum muda dalam hidup berkomunitas.

  Peserta : Kaum Muda Santo Yusuf Kadisobo Metode : Dinamika kelompok, diskusi kelompok, sharing, refleksi.

  Sarana : Kertas flap, spidol, naskah cerita, pertanyaan refleksi. Langkah-langkah kegiatan : Langkah 1: Pembukaan (10')

  Lagu: Hari ini kurasa bahagia Doa pembukaan rekoleksi (pembimbing) Perkenalan umum

  Langkah 2: Dinamika kelompok (10')

  Berjalan tanpa tujuan Peserta diminta berjalan-jalan sendiri tanpa tujuan sekitar 4 menit.

  Membatasi daerah atau tempat mereka berjalan, sebaiknya jangan terlalu luas, suasana tetap hening. Selama berjalan-jalan, peserta diminta untuk memperhatikan perasaannya.

  Berjalan dengan tujuan Setelah beristirahat 2 menit, peserta kemudian diajak kembali untuk berjalan-jalan dengan teman-temannya yang lain (2-3 orang) dalam satu kelompok, dengan suatu tujuan tertentu selama 4 menit. Mereka harus menentukan terlebih melihat-lihat taman yang ada disekitarnya). Sambil tetap menjaga perasaannya masing-masing.

  Langkah 3: Tugas kelompok kecil dan refleksi (15')

  Setelah permainan dinamika selesai, kemudian mereka berkumpul dalam kelompok. Masing-masing kelompok terdiri dari 3-4 orang. Kepada mereka diberikan pertanyaan refleksi. Mereka dapat merefleksikan dalam ketenangan sekitar 10-15 menit.

  Pertanyaan Refleksi: 1)

  Judul apakah yang dapat kita berikan pada masing-masing permainan? 2)

  Apakah manfaat yang dapat anda ambil dari permainan pada bagian pertama dan kedua? 3)

  Apakah akibatnya jika anda berjalan sendiri tanpa ada orang lain disekitar anda? 4)

  Apakah yang anda rasakan bila anda berjalan bersama orang lain dengan tujuan yang jelas? dan apa yang dapat anda peroleh? 5)

  Bagaimana pengalaman anda, jika dikaitkan dengan keterlibatan anda dalam hidup menggereja (sesuai dengan permainan pada bagian pertama dan kedua). Apa yang ada dalam pikiran anda? dan apa yang ingin anda lakukan? Kalau refleksi sudah selesai, peserta dapat mulai memilih ketua dan sekretaris untuk memimpin sharing/diskusi. Peserta dapat menarik point- point penting yang patut diperhatikan secara khusus dari hasil sharing.

  Langkah 4: Sharing bersama dari masing-masing kelompok (30')

  Pendamping memimpin sharing umum, dan mensintesakan pendapat dari masing-masing kelompok, lalu mengambil kesimpulan praktis. Setiap kelompok memberikan pandangannya secara bergilir berdasarkan pertanyaan-pertanyaan di atas. Setelah masing-masing kelompok memberikan pandangannya. Pendamping memberikan kesempatan bagi kelompok lain menanyakan hal-hal yang dirasa kurang jelas. Terakhir, pendamping memberikan kesimpulan dan peneguhkan tentang pentingnya hidup menggereja.

  Langkah 5: Doa pribadi dan personalisasi

  1) Doa pribadi dan refleksi (15')

  Bila ada kesempatan untuk memeriksa batin, hal-hal di bawah ini dapat digunakan:

  Apakah saya memiliki tujuan yang jelas dalam hidup ini? Apakah saya lebih senang memilih hidup sendiri atau bersama-sama?

  Bagaimana hal itu mempengaruhi saya? Dengan terlibat dalam hidup menggereja, apakah saya cenderung aktif sendiri atau saya selalu bergabung dengan kaum muda lainnya? dan apa gunanya untuk hidup saya ke depannya?

  2) Personalisasi (15') Pertanyaan-pertanyaan di bawah ini dapat membantu proses personalisasi.

  Tujuan dan keterlibatan kaum muda dalam hidup menggereja Apa motivasimu dalam terlibat hidup menggereja?

  Rintangan-rintangan apa yang akan saya hadapi dalam mewujudkan keterlibatan hidup menggereja? Hal-hal apa yang akan saya kerjakan untuk ke depannya dalam meningkatkan keterlibatan saya dalam hidup menggereja?

  Langkah 6: Refleksi (45')

1) Peserta diminta untuk memilih teman secara berpasang-pasangan.

  2) Peserta diberikan waktu untuk mensharingkan pertanyaan-pertanyaan refleksi di atas.

  Langkah 7: Peneguhan dan penutup (10')

  Bacaan dari Kis 2:41-47 (Cara hidup jemaat yang pertama)

  • Peneguhan - Doa spontan dan penutup.
  • 2.

   Jalan Salib

  Doa Pembukaan : Bapa, kami berdiri dihadapanMu, untuk mengikuti PutraMu yang sedang memanggul salib menuju Golgota. Tuhan Yesus izinkanlah kami, membawa salib kami masing-masing, dan berjalan di belakangMu menuju bukit Golgota.

  Roh Kudus, hadirlah ditengah-tengah kami, dan buatlah kami mampu memahami makna salib di dunia ini. Semoga jalan salib ini mendatangkan berkat bagi kami khususnya kaum muda, keluarga kami, dan seluruh masyarakat kami.

  Ini semua kami doakan, dalam nama Tritunggal Mahakudus, Tuhan yang Esa, sekarang dan selama-lamanya. Amin. Aku percaya......

  Nyanyian Antara

  Marilah kita renungkan Yesus yang menjadi korban Karna cinta kasihNya

  PERHENTIAN 1 YESUS DIHUKUM MATI P : Kami menyembah Dikau ya Tuhan, dan bersyukur kepadaMu. U : Sebab dengan salib suci.

  Engkau telah menebus dunia.

  

P : Para anggota Mahkamah Agama Yahudi sepakat menjatuhkan hukuman

  mati kepada Yesus Putra Allah sejati dengan tuduhan menghujar BapaNya sendiri. Pontius Pilatus pun berhasil mereka paksa, mengizinkan Yesus mereka dibawa ke Golgota, untuk mengakhiri pewartaan Kabar Gembira yang menghadirkan Kerajaan Surga.

  Pembacaan refleksi dilakukan oleh kaum muda dengan puisi: Apakah selama ini aku sadar sebagai kaum muda, yang menjadi penerus masa depan Gereja mau untuk megikuti Tuhan demi memuliakan namaNya? Apakah aku selalu enggan mendengar dan cenderung menjauh dari panggilanNya? ..................................(Saat hening ± 1 menit)....................................

  

P : Tuhan Yesus yang menderita dan memikul salib, kami menyadari

bahwa sebagai kaum muda sering jauh dari panggilanMu. K . M : Kasihanilah kami ya Tuhan P : Kami tidak ingin berputus asa, sebab selalu percaya bahwa Engkau

  tetap berkarya di dalam diri kami, sehingga kasih Allah senantiasa

  K. M : Ya Allah, kasihanilah kami orang berdosa. Nyanyian Antara

  Ya Yesus Penebus kami, Dijatuhi hukuman mati, Tanpa membela diri.

  PERHENTIAN 2

YESUS MEMANGGUL SALIB

P : Kami menyembah Dikau ya Tuhan,

  dan bersyukur kepadaMu.

  U : Sebab dengan salib suci.

  Engkau telah menebus dunia.

  

P : Dari Yerusalem menuju Golgota, memanggul salib di atas punggung

penuh luka karena Ia disiksa dan dianiaya.

  Namun wajahNya bukan wajah duka, melainkan wajah yang tetap mulia, karena yakin akan pernyataanNya bahwa Ia Juruselamat dunia.

  Pembacaan refleksi dilakukan oleh kaum muda dengan puisi: Bersediakah aku sebagai kaum muda memikul salib bersama-sama Yesus? Beranikah aku menampilakan diri sebagai tonggak masa depan Gereja di depan seluruh umat Allah, walau terkadang banyak cobaan yang datang menghampiri? Beranikah aku tetap percaya bahwa Yesus adalah Juruselamat, yang selalu menyertai setiap langkahku? .................................(Saat hening ± 1menit)........................................

  

P : Ya Yesus, walau jelas tidak bersalah, Engkau memanggul salib dengan

tabah, tanpa pernah mengeluh mengesah. K. M : Kasihanilah kami ya Tuhan

  

P : Kami sebagai kaum muda sering merasa malu, sebab kami mudah

  menyerah dan mengeluh dengan beban yang kami jalani serta menderita karena iman kami kepadaMu. Ya Tuhan, tolonglah kami, agar kami Engkau beri kekuatan untuk memikul salib ini demi kemuliaanMu.

  K. M : Ya Allah, kasihanilah kami orang berdosa. Nyanyian Antara

  Salib berat dipanggulNya, Agar kita mengikutiNya, Memikul salib kita.

  PERHENTIAN 3

YESUS JATUH PERTAMA KALI

P : Kami menyembah Dikau ya Tuhan,

  dan bersyukur kepadaMu.

  U : Sebab dengan salib suci.

  Engkau telah menebus dunia.

  

P : Karena kelelahan dan berkurangnya tenaga, Tuhan Yesus jatuh tertimpa

  salib. Namun Ia pun bangun segera, meneruskan perjalananNya menuju bukit Golgota. Dengan cara itulah Ia mengajar kita, bagaimana bersikap menghadapi derita, yakni dengan tabah, dan tak berputus asa.

  Pembacaan refleksi dilakukan oleh kaum muda dengan puisi: Bagaimanakah sikapku selama ini sebagai kaum muda?

Bagaiamana aku selama ini menghadapi rintangan, kesulitan, kegagalan dalam

hidupku? Apakah aku sudah menjadi kaum muda yang tak pernah berputus asa dan tidak berpengharapan? Beranikah aku untuk bangkit kembali saat mengalami kegagalan?

  .........................................(Saat hening ± 1 menit).................................

  

P : Ya Yesus yang tabah menderita, buatlah kami bangkit segera pada saat

kami dirundung duka. K. M : Kasihanilah kami ya Tuhan

P : Kami sebagai kaum muda ingin meneladan sikapMu, menimba

semangatMu, agar kami mampu menunjukkan sikap yang sama sepertiMu. K. M : Ya Allah, kasihanilah kami orang berdosa. Nyanyian Antara

  Ya Yesus tolonglah kami, Bila kami jatuh lagi, Salib menindih kami.

  PERHENTIAN 4

YESUS BERJUMPA DENGAN IBUNYA

P : Kami menyembah Dikau ya Tuhan,

  dan bersyukur kepadaMu.

  U : Sebab dengan salib suci.

  Engkau telah menebus dunia.

  

P : Betapa sedih hati Maria, melihat putra tunggalnya menderita, tanpa

  kesalahan dan tanpa dosa, kini berjalan memanggul salibNya. Tetapi Tuhan Yesus pun tahu, bahwa Sang Bunda hanyalah terharu, namun tetap percaya bahwa Putranya tidak pantas disiksa dan dianiaya.

  Pembacaan refleksi dilakukan oleh kaum muda dengan puisi: Bagaimanakah dengan diriku, Apakah aku tetap setia kepada Yesus yang sengsara sama seperti Maria yang tetap setia berada disamping Yesus? Apakah aku tetap setia dan bangga sebagai pengikut Yesus, meskipun kita sebagai kaum minoritas? .........................................(Saat hening ± 1 menit).......................................

  

P : Ya Yesus yang menderita, buatlah kami seperti bunda yang tetap setia

  berada di sampingMu dalam situasi apa pun. Mampukan kami untuk selalu berada di jalanMu.

  K. M : Kasihanilah kami ya Tuhan

P : Kami ingin menjadikan dukaMu ingatan yang tersimpan di dalam kalbu,

dan menjadi pelajaran yang berharga untuk hidupku.

  K. M : Ya Allah, kasihanilah kami orang yang berdosa. Nyanyian Antara

  Maria selalu setia, Pada Sang Kristus PutraNya, Dalam suka dan duka.

  PERHENTIAN 5

YESUS DITOLONG SIMON KIRENE

P : Kami menyembah Dikau ya Tuhan,

  dan bersyukur kepadaMu.

  U : Sebab dengan salib suci.

  Engkau telah menebus dunia.

  

P : Melihat Yesus telah kelelahan, para serdadu tampak kelabakan, kawatir

  kalau Yesus wafat di jalan sebelum Ia berhasil disalibkan. Maka dipanggilah Simon yang hadir disana, mewakili Yesus memanggul salibNya meneruskan perjalanan menuju Golgota, tempat menyelesaikan karyaNya.

  Pembacaan refleksi dilakukan oleh kaum muda dengan puisi: Beranikah aku memiliki kepeduliaan, membantu orang yang dikucilkan, dan dianggap salah oleh masyarakat, seperti sikap Simon yang mau menolong Yesus? .........................................(Saat hening ± 1 menit).......................................

  

P : Ya Yesus Juruselamat sejati, Engkau Putra Allah yang rendah hati, yang

  tak pernah meninggikan diri. Engkau selalu menolong kami disaat kami

  K. M : Kasihanilah kami ya Tuhan

P : Ajarlah kami, supaya kami mampu menerima Mu di dalam hati kami yang

penuh dengan dosa ini.

  K. M : Ya Allah, kasihanilah kami orang yang berdosa. Nyanyian Antara

  Cinta bakti pada Tuhan, Hanya dapat dibuktikan, Di dalam pengabdian.

  PERHENTIAN 6

  

VERONIKA MENGUSAP WAJAH YESUS

P : Kami menyembah Dikau ya Tuhan,

  dan bersyukur kepadaMu.

  U : Sebab dengan salib suci.

  Engkau telah menebus dunia.

  

P : Veronika meju ke depan dengan berani untuk mengusap wajah Putra Ilahi

  tanpa kawatir kehilangan harga diri. Ia wanita yang tak ingin dikasihani, Ia wanita yang tetap lembut hati, namun berani mengambil sikap proaktif, bila ia memang harus maju ke muka.

  Pembacaan refleksi dilakukan oleh kaum muda dengan puisi: Apakah aku memiliki sikap proaktif? untuk melakukan perbuatan baik bagi orang lain? Ataukah justru menghidar dari peluang untuk melakukan perbuatan mulia di tengah masyarakat?

  .................................(Saat hening ± 1 menit).......................................

  

P : Ya Yesus yang lembut hati, ingatlah selalu kepada kami yang sering tidak

  mempunyai kepekaan hati. Buatlah mata hati kami agar mampu melihat, buatlah telinga kami agar kami mampu mendengar.

  K. M : Kasihanilah kami ya Tuhan

P : Kami bertobat atas kebutaan kami selama ini, kami menyesal atas tulinya

  K. M : Ya Allah, kasihanilah kami orang yang berdosa ini. Nyanyian Antara

  Bantuan bagi sesama, Orang yang dirundung duka, Menghibur Yesus juga.

  PERHENTIAN 7

YESUS JATUH KE DUA KALINYA

P : Kami menyembah Dikau ya Tuhan,

  dan bersyukur kepadaMu.

  U : Sebab dengan salib suci.

  Engkau telah menebus dunia.

  

P : Tuhan Yesus semakin tersiksa, maka Ia jatuh untuk kedua kalinya. Ia tidak

  tergoda menampakkan keilahianNya, sebab hal itu tidak sesuai dengan niatNya, untuk menjadi manusia seperti kita. Ia taat pada hukum ciptaan, dan tetap bergantung kepada Tuhan.

  Pembacaan refleksi dilakukan oleh kaum muda dengan puisi: Pernahkah kita mengalami luka batin atas perlakuan orang lain? Bagaimanakah sikapku menghadapi kenyataan itu, Apakah aku masih memiliki kesabaran jika aku dihadapkan kembali perbuatan yang sama?

  ..................................(Saat Hening ± 1menit)..................................

  

P : Ya Yesus yang tabah menanggung penderitaan, dengan salib Engkau ingin

menunjukkan jalan yang benar menuju keselamatan. K. M : Kasihanilah kami ya Tuhan

P : Ajarilah kami untuk selalu mengikuti jalanMu. Buatlah kami mampu

menahan emosi, memiliki kesabaran yang sama sepertiMu. K. M : Ya Allah, kasihanilah kami orang berdosa.

   Nyanyian Antara

  Bilamana kami lemah, Jatuh tercampak di tanah, Kami takkan menyerah.

  PERHENTIAN 8

YESUS MENASIHATI PEREMPUAN-PEREMPUAN

YANG MENANGIS

  P : Kami menyembah Dikau ya Tuhan, dan bersyukur kepadaMu. U : Sebab dengan salib suci.

  Engkau telah menebus dunia.

  

P : Melihat Tuhan Yesus begitu menderita, banyak wanita menangis di

  sekelilingNya, karena merasa kasihan kepada Tuhan mereka. Maka Tuhan Yesus menyadarkan mereka, agar mereka menangisi dunia beserta isinya, karena semakin jauh dari Sang Pencipta. Ciptaan sudah menjauh dari Penciptanya, domba-domba telah lupa kepada Sang Gembala.

  Pembacaan refleksi dilakukan oleh kaum muda dengan puisi: Mampukah kehadiranku memberi penghiburan, semangat dan sukacita bagi

orang yang ada disekitarku meskipun terkadang kita sendiri sedang mengadapi

masalah? .........................................(Saat hening ± 1 menit).......................................

  

P : Ya Yesus Gembala yang bijaksana, lepaskanlah kami dari dunia yang fana,

agar kami mampu mencapai yang baka. K. M : Kasihanilah kami ya Tuhan

P : Dengan pantang kami ingin berhemat, dengan puasa kami memohon

  rahmat, agar kami pantas menerima berkat dengan begitu kami dapat menjadi penghiburan bagi sesama.

  K. M : Ya Allah, kasihanilah kami orang berdosa.

  Nyanyian Antara Tobatkanlah jiwa kami,

  Arahkanlah sikap kami, Pada cinta sejati.

  PERHENTIAN 9

YESUS JATUH KE TIGA KALINYA

P : Kami menyembah Dikau ya Tuhan,

  dan bersyukur kepadaMu.

  U : Sebab dengan salib suci.

  Engkau telah menebus dunia.

  

P : Tuhan Yesus jatuh untuk ke tiga kalinya, bukan karena Ia mau bersikap

  manja, melainkan kehabisan tenaga. Hal ini terbukti dari usahaNya untuk bangkit dan meneruskan jalanNya menuju bukit Golgota. Ia sadar bahwa Ia harus sampai ke sana, untuk menyelesaikan seluruh karyaNya yang Ia terima dari Bapa di surga.

  Pembacaan refleksi dilakukan oleh kaum muda dengan puisi: Akankah aku menjauh dariMu, bilamana aku dijanjikan kenikmatan duniawi, dan ketidakpercayaanku yang semakin besar terhadapMu justru membawaku ke dalam dosa yang besar, mampukah aku untuk bangkit dan meneruskan perjalanan hidupku?

  ........................................(Saat hening ± 1menit)...........................

  

P : Ya Yesus yang tekun di dalam karya, bantulah kami agar mampu bersikap

sama mengemban tugas-tugas kami di dunia. K. M : Kasihanilah kami ya Tuhan

P : Bangkitkanlah kami dari kejatuhan, keluarkanlah kami dari kegelapan, dan

  jauhkanlah kami dari permusuhan. Setiap kali ada silang selisih, bantulah kami menghadapinya dengan kasih, agar tidak ada pihak yang tersisih.

  K. M : Ya Allah, kasihanilah kami orang berdosa.

   Nyanyian Antara

  Bila hatiku gelisah, Karna dosa atau sudah, Buatlah kami pasrah.

  PERHENTIAN 10

PAKAIAN YESUS DITANGGALKAN

P : Kami menyembah Dikau ya Tuhan,

  dan bersyukur kepadaMu.

  U : Sebab dengan salib suci.

  Engkau telah menebus dunia.

  

P : Sesampainya di bukit Golgota, Tuhan Yesus dilucuti pakaianNya,

  direndahkan martabatNya sebagai manusia. PakaianNya dengan paksa ditanggalkan, jubahNya pun dijadikan undian, seolah-olah Ia barang dagangan. Tetapi Tuhan Yesus tidak menentang, Ia memilih bersikap tenang, sebelum wafat di kayu salib.

  Pembacaan refleksi dilakukan oleh kaum muda dengan puisi: Yesus yang tidak bersalah harus ditelanjangi di depan umum, Ia tidak marah justru bersikap tenang.

  Sudahkah aku memiliki rasa hormat dan memberi penghargaan kepada setiap orang yang aku temui?

Apakah aku mudah menghina dan tidak menghargai oranglain karena kesalahan

dan keterbatasannya?

  .....................................(Saat hening ± 1 menit)..........................

  

P : Ya Yesus Sang Juru damai, kami semua cukup mengenal dunia ramai,

  yang kejahatannya tak kunjung usai. Tidak jarang kami menemui orang yang tidak suka dengan kami, bukan karena kami mendahului memaki, melainkan hanya karena iman kami.

  K. M : Kasihanilah kami ya Tuhan

P : Berilah kami hati yang sabar, buatlah kami selalu menggunakan nalar,

supaya gerejaMu di dunia semakin mekar.

  Nyanyian Antara Pakaianmu dibagikan,

  Jubah utuh diundikan, NamaMu direndahkan.

  PERHENTIAN 11

YESUS DIPAKU DI KAYU SALIB

P : Kami menyembah Dikau ya Tuhan,

  dan bersyukur kepadaMu.

  U : Sebab dengan salib suci.

  Engkau telah menebus dunia.

  

P : Akhirnya Yesus sampai di Golgota, tempat Ia menyelesaikan karyaNya

  yang diterimaNya dari Bapa di surga. Di sana kedua tanganNya direntangkan, kedua kakiNya disatukan, di sana Sang Penebus dijadikan tontonan. Akhirnya, Tuhan kita disalibkan, demi dosa-dosa yang memalukan.

  Pembacaan refleksi dilakukan oleh kaum muda dengan puisi: Lihatlah Yesus di paku di kayu salib untuk menanggung dosa-dosa kita.

  Maukah kita sebagai kaum muda meneruskan cita-citaNya untuk mewartakan Kerajaan Allah? Atau kita merasa beban itu terlalu berat untuk kita pikul? .........................(Saat hening ±1 menit)...............................

  

P : Ya Yesus yang taat kepada Bapa, dengan salib Kau tunjukkan kepada

  dunia jalan yang benar menuju surga. Jalan itu adalah jalan ketaatan, persaudaraan, yang jauh dari kekerasan.

  K. M : Kasihanilah kami ya Tuhan

P : Buatlah kami agar tetap mampu mewartakan kerajaanMu ke seluruh

penjuru dunia.

  K. M : Ya Allah, kasihanilah kami orang berdosa.

  Nyanyian Antara

  Dari salibMu, tak terbilang yang menghujat, tanpa merasa sesat.

  PERHENTIAN 12

YESUS WAFAT DI SALIB

P : Kami menyembah Dikau ya Tuhan,

  dan bersyukur kepadaMu.

  U : Sebab dengan salib suci.

  Engkau telah menebus dunia.

  

P : Sebagai seorang manusia, Yesus harus mengakhiri hidupNya

  meninggalkan dunia fana. Namun sebagai Allah Putra, Ia tetap hadir di tengah-tengah kita mendampingi kita meneruskan karyaNya.

  Pembacaan refleksi dilakukan oleh kaum muda dengan puisi: Berkorban dan mengalah adalah sikap Yesus.

  Ia siap dikorbankan dan dikalahkan demi keselamatan manusia. Siapkah kita sebagai kamu muda mengorbankan kepentingan-kepentingan pribadi demi kepentingan bersama? Beranikah kita mengikuti jejak Yesus sampai titik darah penghabisan? ...............................(Saat Hening ± 1menit)......................................

  

P : Ya Yesus yang telah wafat bagi kami, kami sesali semua dosa kami yang

  muncul dari kekacauan hati. Kami ingin menjadikan salibMu, menjadi lambang kepahlawananMu yang kami pandang tak pernah jemu.

  K. M : Kasihanilah kami ya Tuhan

P : Buatlah kami mampu menderita, terutama bila perlu bagi sesama, agar

mereka semakin sejahtera dan terdorong untuk memuliakan Bapa.

  K. M : Ya Allah, kasihanilah kami orang berdosa. Nyanyian Antara

  Benih mati menghasilkan,

  PERHENTIAN 13

YESUS DITURUNKAN DARI SALIB

  Kami menyembah Dikau ya Tuhan,

  P : dan bersyukur kepadaMu. U : Sebab dengan salib suci.

  Engkau telah menebus dunia.

  

P : Dengan izin gubernur Pontius Pilatus , para murid menurunkan jenazah

  Yesus untuk menghormatiNya sebagai Penebus. Para musuhNya merasa berhasil menang, setelah menghukumNya dengan curang dan melihat wafatNya dengan senang. Sementara itu para murid merasa sedih, namun mulut tak lagi mampu merintih, karena kekuatan mereka belum lagi pulih.

  Pembacaan refleksi dilakukan oleh kaum muda dengan puisi: Pernahkah aku melihat Yesus dalam diri orang yang menderita?

Apakah aku puas bila melihat orang yang ada disekitarku menderita karena dosa

yang ku perbuat? ............................................(Saat Hening ± 1 menit)............................

  

P : Ya Yesus yang mengasihi kamu, dengan jalan salib kami mengakui,

Engkaulah Allah yang Mahatinggi. K. M : Kasihanilah kami ya Tuhan

P : Salib bukanlah hal yang memalukan, melainkan bukti jelas dari

  pengorbanan. Kami bersedia memanggul salib kami, yang muncul dalam kehidupan sehari-hari, terutama dari hati cemburu dan dengki.

  K. M : Ya Allah, kasihanilah kami orang berdosa. Nyanyian Antara

  Salib sebagai hukuman, Jadi lambang kemenangan, Sumber keselamatan.

  PERHENTIAN 14

YESUS DIMAKAMKAN

  Kami menyembah Dikau ya Tuhan,

  P : dan bersyukur kepadaMu. U : Sebab dengan salib suci.

  Engkau telah menebus dunia.

  

P : Jenazah Yesus dimakamkan, dengan khidmat tanpa kemewahan, yang

  layak bagi Raja segala ciptaan. Para murid Yesus masih membisu karena hati mereka penuh haru melihat tubuh Sang Guru terbujur kaku. Mereka belum mampu mengerti, mengapa semua itu terjadi pada Yesus yang mereka kagumi.

  Pembacaan refleksi dilakukan oleh kaum muda dengan puisi: Apakah aku bersedia mengorbankan segala apa pun yang aku miliki di dunia ini

untuk mengikuti Yesus, agar kelak aku dapat bangkit bersama Dia dalam

kemuliaan? .................................(Saat Hening ± 1 menit)................................

  

P : Ya Yesus yang Mahamurah, kami seringkali merasa lumrah, bila kami

  membalas dendam dengan marah. Tetapi dari salibMu kami belajar, bagaimana kami harus berlayar dalam arus dunia yang penuh konflik diwarnai permusuhan dan taktik licik.

  K. M : Kasihanilah kami ya Tuhan

P : Kami ingin belajar memaafkan dan terus berusaha melawan kekerasan agar

masyarakat kami penuh damai.

  K. M :Ya Allah, kasihanilah kami orang berdosa. Nyanyian Antara

  JenasahNya dimakamkan, Rebah dalam penantian, Menyongsong kebangkitan.

  Doa Penutup

  Bapa di surga, sumber segala ciptaan. Kami bersyukur karena kami boleh merenungkan misteri sengsara, dan wafat putraMu Yesus. Kini kami semakin Kau sadarkan dengan misteri jalan salib Tuhan. Melalui salib PutraMu yang menebus dunia, kami ingin menjalani hidup di dunia fana dan menghadirkan Kerajaan Surga. Bangkitkanlah semangat dalam diri kaum muda, supaya dengan menyadari tanggung jawab dalam memikul salib membuat kaum muda untuk lebih terlibat aktif dalam hidup menggereja. Terima Kasih ya Bapa, Hanya rahmat dan penyertaan dariMulah yang kami minta. Amin.

  Bapa kami...

  • Salam Maria ..
  • Kemuliaan...
  • Terpujilah...
  • Nyanyian Penutup

  Yesus kami muliakan, Salibmu kami kenangkan, Menanti kebangkitan.

BAB V PENUTUP Pada bagian ini disampaikan kesimpulan dan saran berkaitan dengan

  penelitian mengenai “Upaya Meningkatkan Keterlibatan Kaum Muda Dalam Hidup Menggereja Secara Kontekstual”.

A. Kesimpulan

  Pada bagian ini disampaikan beberapa pokok pikiran dari uraian sebelumnya, serta menegaskan kembali hal-hal penting apa saja sehubungan dengan upaya meningkatkan keterlibatan kaum muda dalam hidup menggereja secara kontekstual.

  Keterlibatan kaum muda khususnya di lingkungan Santo Yusuf Kadisobo sangat memprihatinkan. Jumlah kaum muda yang ada di Paroki Santo Yoseph Medari ±550 orang. Dari jumlah tersebut lingkungan Santo Yusuf Kadisobo terdapat ±30 kaum muda, dan hanya sebagian saja yang mau terlibat aktif dalam hidup menggereja. Hal ini disebabkan: karena kurangnya kegiatan yang bervariasi sesuai dengan karakter kaum muda jaman sekarang, tidak tersedianya sarana untuk menampung aspirasi mereka, serta rendahnya minat dan kemauan dari kaum muda. Disamping itu mereka tidak mau aktif dengan alasan waktu yang kurang tepat menjadi penghambat untuk mereka terlibat, bahkan karena kurang mendapat dukungan dari orang tua, ketua mudika, dan ketua lingkungan.

  Ketidakaktifan kaum muda dalam hidup menggereja membuat mereka sedikit sekali mengetahui manfaat yang dapat mereka peroleh jika terlibat dalam hidup menggereja. Sebelumnya, lingkungan ini sudah beberapa kali merancang suatu kegiatan yang dapat menarik minat kaum muda untuk terlibat dalam hidup menggereja misalnya: latihan koor, pendampingan PIA, pertemuan mudika, dan anjangsana antar mudika. Tetapi upaya ini juga tidak menunjukkan hasil bahkan tidak ada perkembangan yang signifikan.

  Ketika diadakan kegiatan yang sifatnya rekreasi, tidak terlalu monoton, dan santai banyak kaum muda yang hadir ikut ambil bagian. Sebagai contoh saat ziarah ke Gua Tritis, diperkirakan hanya sekitar 30 orang yang hadir, ternyata di luar dugaan yang hadir dua kali lipat yakni berjumlah 60 orang. Dari sinilah bisa dilihat bahwa kegiatan yang seperti ini mendorong kaum muda untuk sedikit demi sedikit menyadari pentingnya berkumpul, membina relasi yang baik antar kaum muda, dan memupuk persaudaraan.

  Berdasarkan hasil penelitian dan wawancara di lingkungan Santo Yusuf Kadisobo, dipilihlah ziarah sebagai salah satu kegiatan untuk meningkatkan dan menggerakkan keterlibatan kaum muda dalam hidup menggereja. Dari kegiatan ziarah itu diharapkan mencul ide-ide untuk membuat kegiatan lain yang tentunya semakin manarik minat kaum muda untuk terlibat.

B. Saran

  Pada bagian ini penulis menganjurkan beberapa saran sebagai upaya untuk meningkatkan keterlibatan kaum muda dalam hidup menggereja secara kontektual di lingkungan Santo Yusuf Kadisobo Paroki Santo Yoseph Medari. Saran-saran tersebut diantaranya adalah:

  1. Perlu adanya wadah atau sarana yang dapat menampung aspirasi kaum muda untuk mengembangkan ide-ide kreatif agar kegiatan yang nantinya tercipta dapat menarik kaum muda lain untuk terlibat aktif dalam hidup menggereja.

  2. Perlu direncanakan pertemuan paling tidak seminggu sekali untuk kaum muda berkumpul membicarakan rencana kegiatan yang akan dilakukan ke depan.

  3. Baik dari Romo Paroki, Dewan Paroki, Ketua Lingkungan, Ketua Mudika, Orang tua semakin meningkatkan dukungan kepada kaum muda agar mereka tetap semangat untuk semakin terlibat dalam hidup menggereja.

  4. Meningkatkan kerjasama dengan semua pihak baik Gereja, wilayah, mau pun lingkungan, sehingga mereka tidak merasa asing serta hal ini dapat menumbuhkan rasa saling memiliki, guyub, dan mempererat persaudaraan.

  Demikian kesimpulan dan saran yang dapat penulis sampaikan. Sebagai tindak lanjut dari saran diatas, penulis akan ikut mendampingi kegiatan ziarah yang nantinya akan dilakukan di lingkungan Santo Yusuf Kadisobo Paroki Santo Yoseph Medari. Semoga kesimpulan dan saran tersebut menjadi sesuatu yang bisa membantu mengupayakan keterlibatan kaum muda dalam hidup menggereja secara kontekstual.

DAFTAR PUSTAKA

  Anggota Dewan Paroki Santo Yoseph Medari. (2010). Kenangan Dasawindu Gereja Katolik Santo Yoseph Medari. Yogyakarta. Arikunto S. (1990). Manajemen Penelitian. Jakarta: Rubeja Cipta. Banawiratma, J.B. (Ed). (2000). Gereja Indonesia, Quo Vadis? Hidup Menggereja Kontekstual. Yogyakarta: Kanisius. Hadari Nawawi. (1985). Metode Penelitian Bidang Sosial. Yogyakarta: Universitas Gajah Mada. Hardaputranta, R. (1993). Komunitas Basis Kristiani: Gereja Masyarakat Akar Rumput. Jakarta: LPPS. Komisi Kepemudaan KWI. (1998). Pedoman Karya Pastoral Kaum Muda.

  PKMPK: Jakarta. Konferensi Waligereja Indonesia. (1996). Iman Katolik: Buku Informasi dan Referensi. Yogyakarta: Kanisius.

  __________. (1995). Pedoman Gereja Katolik Indonesia. Jakarta: Mardi Yuana Bogor. __________. (1992). Puji Syukur. Jakarta: Obor. Konsili Vatikan II. (1993). Dokumen Konsili Vatikan II penerjemah R.

  Hardawiryana, SJ. Jakarta: Obor. Lembaga Biblika Indonesia. (2004). Alkitab. Jakarta: Lembaga Biblika. Majalah Hidup no 7 tahun L. (1996). Surat Kepada Kaum Muda. (1996).

  Yogyakarta: Kanisius. Mangunhardjana, A.M. (1989). Pendampingan Kaum Muda : Sebuah Pengantar.

  Yogyakarta: Kanisius. __________. (1986). Pembinaan: Arti dan Metodenya. Yogyakarta: Kanisius. Margana, A. (2004). Komunitas Basis: Gerak Menggereja Kontekstual.

  Yogyakarta: Kanisius. Masidjo, Ign. (1995). Pencapaian Hasil Belajar Siswa di Sekolah. Yogyakarta: Kanisius.

  Moleong, Lexy J. (2009). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya. Nur Widi, M. (2008). Eklesiologi ARDAS Keuskupan Agung Semarang.

  Yogyakarta: Kanisius. Prasetya, L. (2006). Keterlibatan Kaum Awam Sebagai Anggota Gereja. Malang: Dioma.

  Riduwan. (2004). Belajar Mudah Penelitian untuk Guru-Karyawan dan Peneliti Pemula. Bandung: ALFABETA. Sanafiah Faisal. (1981). Dasar dan Teknik Penyusunan Angket. Surabaya: Usaha Nasional. Shelton, M.C. (1987). Spiritualitas Kaum Muda. Yogyakarta: Kanisius. __________ . (1988). Menuju Kedewasaan Kristen. Yogyakarta: Kanisius. Suratman, Y. (1999). Membangun Komunitas Basis Gerejawi. Jakarta: Celesty Hieronika. Sutrisno Hadi. (1973). Metodologi Research Jilid II. Yogyakarta: Universitas Gajah

  Tangdilintin, Philip. (2008). Pembinaan Generasi Muda Visi dengan Proses Manajerial Vosram. Yogyakarta : Kanisius. __________.(1984). Pembinaan Generasi Muda Visi dan Latihan. Jakarta : Obor. Tapaha P.T, Dionisius. (1983). Beberapa Gagasan Sekitar Pastoral Bagi Kaum Muda (hal 56-58 sebuah artikel Ekawarta, no. 5, tahun III). Wibowo Ardhi, F.X. (1993). Arti Gereja. Yogyakarta: Kanisius.

  Kuesioner penelitian PETUNJUK PENGISIAN KUESIONER 1.

  Bacalah dulu setiap pertanyaan dengan teliti dan jawablah pertanyaan- pertanyaan di bawah ini dengan jujur serta apa adanya sesuai dengan situasi dan kondisi Anda.

  2. Jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini dengan cara memberi tanda (X) pada huruf yang paling Anda pilih atau memberi jawaban sesuai dengan kondisi Anda sekarang ini pada tempat yang tersedia. Jika ada alternatif jawaban lain dapat mengisi pada kolom (e).

3. Tulislah jawaban Anda pada tempat yang telah disediakan.

  Keterangan kepentingan penelitian: Penelitian ini berbentuk kuesioner. Tujuan diadakan penelitian adalah dalam rangka meninjau kembali keterlibatan kaum muda dalam hidup menggereja, untuk itu saya bermaksud mendata sejauh mana mereka sudah terlibat dalam hidup menggereja. Saya sangat mengharapkan kerjasama dengan responden. Kejujuran dari responden sangat menentukan akurasi data. Terima kasih atas kesediaan dan kerjasamanya.

  1. Identitas Responden

  a. : Nama

  b. : Jenis Kelamin

  c. : Pendidikan

  d. : Pekerjaan

  e. : Lingkungan 2.

  Menurut anda yang dikategorikan kaum muda adalah mereka yang berusia sekitar....

  a) 15-19 tahun

  b) 15-24 tahun

  c) 15-21 tahun

  d) 15-30 tahun

  e) lainnya...

  3. Di lingkungan Santo Yusuf kehadiran kaum muda sangat berperan aktif!

  a) Sangat setuju

  b) Setuju

  c) Tidak setuju

  d) Sangat tidak setuju

  e) lainnya...

  4. Peran kaum muda dalam kehidupan Gereja adalah sebagai...

  a) Pelaksana program Gereja

  b) Pewarta kabar gembira

  c) Pendengar sabda Allah

  d) Penerus Gereja di masa depan

  c) Tidak ada pendamping yang mempuni

  d) Iuran dari masing-masing anggota

  c) Melelang barang-barang bekas

  b) Mencari donatur dan jaga parkir di gereja

  a) Meminta dari dewan paroki sepenuhnya

  7. Usaha yang dilakukan oleh kaum muda untuk mencari dana, bila mengadakan suatu kegiatan adalah dengan cara...

  e) lainnya...

  d) Kegiatan yang ada di Paroki terlalu monoton, kurang bervariasi

  b) Tidak ada dana untuk berkegiatan

  e) lainnya...

  a) Sering berebut kekuasaan antar sesama

  6. Penyebab kaum muda kurang berminat untuk berkumpul bersama dikarenakan...

  e) lainnya...

  d) Tidak saling mengenal dan peduli antara satu dengan yang lain

  c) Ada persaingan yang sehat dan positif

  b) Ada kerjasama dan kekompakkan tinggi

  a) Ada persaingan yang tidak sehat

  5. Bagaimana hubungan antar kaum muda baik di lingkungan Santo Yusuf dan kaum muda di Paroki Santo Yoseph Medari...

  e) lainnya...

  8. Peran kaum muda dalam fungsi penggembalaan Gereja adalah sebagai...

  d) Tempat untuk bertemu dengan Yesus

  d) Menutup diri atau cuek dengan kegiatan-kegiatan menggereja dengan alasan sibuk.

  c) Ikut aktif terlibat dalam semua kegiatan jika diundang.

  Berpartisipasi, aktif, dan peka terhadap kegiatan apa pun yang ada disekitarnya.

  a) Pasif dan tidak peka terhadap kegiatan-kegiatan yang ada, baik di tingkat lingkungan, wilayah, mau pun Paroki b)

  10. Sikap yang seharusnya ditunjukkan oleh kaum muda dalam hidup menggereja adalah...

  e) lainnya...

  c) Sekelompok orang yang berkumpul bersama untuk mengimani Yesus Kristus

  a) Pemimpin, Nabi, dan Raja

  b) Romo, prodiakon, umat, misdinar, coster

  a) Bangunan

  9. Apakah yang anda pahami mengenai Gereja?

  e) lainnya...

  d) Nabi, Pengkhotbah, dan Penginjil.

  c) Imam, Nabi, dan Raja

  b) Raja, Imam, dan Pewarta

  e) lainnya...

  11. Apa artinya terlibat dalam hidup menggereja menurut anda?

  13. Kelompok basis yang pernah anda ikuti adalah...

  b) 15-20 orang

  a) 10-15 orang

  14. Berapa jumlah ideal anggota yang mengikuti suatu kegiatan gereja?

  e) lainnya...

  d) Taize

  c) Kelompok Kitab Suci

  b) Adorasi

  a) Legio Maria

  e) lainnya...

  a) Memberikan seluruh tenaga, pikiran dan berperan aktif untuk memajukan kegiatan-kegiatan yang ada di sekitar.

  d) Teater

  c) Rekoleksi

  b) Out bond

  a) Ziarah

  12. Macam kegiatan yang sering anda ikuti di lingkungan adalah ...

  e) lainnya...

  d) Tuntutan sebagai kaum muda

  c) Ikut meramaikan kegiatan yang ada di gereja

  b) Berdiam diri sampai ada yang menyuruh

  c) 20-25 orang

  d) Lebih dari 25 orang

  c) Kurangnya minat dan kesadaran kaum muda

  e) lainnya...

  d) Terjalinnya komunikasi dan kerjasama dalam kelompok

  c) Mempererat tali persaudaraan antar kaum muda

  b) Membangkitkan kepercayaan diri

  a) Mengembangkan bakat dan potensi

  17. Manfaat apa yang anda peroleh dari kegiatan menggereja?

  e) lainnya...

  d) Pastor Paroki

  b) Orang tua

  e) lainnya...

  Kesibukan study/kerja

  16. Hal-hal apa yang menghambat kaum muda untuk terlibat dalam kegiatan hidup menggereja? a)

  e) lainnya...

  d) Tidak mendukung

  c) Biasa saja

  b) Sangat mendukung

  Mendukung

  15. Sejauh ini bagaimana tanggapan orang tua anda sehubungan dengan keterlibatan anda dalam kegiatan hidup menggereja? a)

  18. Dengan terlibat dalam kegiatan hidup menggereja, harapan saya adalah..

  a) Dapat memperluas pengalaman

  20. Saya merasa senang mengikuti kegiatan di lingkungan karena...

  a) Outbond

  21. Bentuk kegiatan pendampingan kaum muda seperti apa yang menarik untuk diikuti oleh para kaum muda agar mereka lebih aktif mengikuti kegiatan menggereja?

  e) lainnya...

  d) Dorongan dari keluarga

  c) Ada pacar yang juga ikut berkegiatan

  b) Malu dengan teman yang sering aktif

  a) Memperluas wawasan dan pengalaman

  e) lainnya...

  b) Bisa terkenal dan disegani

  d) Ketua Mudika

  c) Ketua lingkungan

  b) Orang tua

  a) Pastor Paroki

  19. Berbagai kegiatan yang diprogramkan, diharapkan mendapatkan dukungan dari...

  e) lainnya...

  d) Mendapat kepercayaan

  c) Dapat berperan dan memberi pengaruh dalam kelompok

  b) Ziarah

  c) Pendalaman Iman

  b) Setuju

  d) Religi

  c) Ekonomi

  b) Budaya

  a) Sosial dan politik

  24. Tema seperti apa yang anda harapkan jika mengikuti kegiatan menggereja?

  e) lainnya...

  d) Sangat tidak setuju

  c) Tidak setuju

  Sangat setuju

  d) Sarasehan

  23. Menurut anda, apakah isi dan tujuan dari kegiatan menggereja sangat menentukan pembentukan karakter kaum muda saat ini? a)

  e) lainnya...

  d) Dapat mengembangkan wawasan moral

  c) Dapat meneguhkan jati diri

  b) Dapat memberdayakan potensi diri

  a) Dapat mengembangkan wawasan hidup rohani

  22. Apa yang anda harapkan terkait dengan isi dan tujuan kegiatan?

  e) lainnya...

  e) lainnya...

  25. Suasana seperti apa yang anda harapkan sebagai kaum muda, jika anda mengikuti suatu kegiatan? a)

  Hening

  b) Dinamis

  c) Santai tapi mengena dengan apa yang menjadi tujuan

  d) Permainan terus-menerus

  e) lainnya...

  26. Apakah sarana dan prasarana yang sudah ada saat ini dapat menunjang kegiatan yang diadakan di Paroki Santo Yoseph Medari? Jika iya/belum, jelaskan alasannya! 27. Sarana dan prasarana yang dibutuhkan untuk menunjang kegiatan adalah...

  a) Disediakan ruangan khusus beserta kelengkapannya

  b) Tersedianya sarana audio visual (LCD, laptop, speakeractive,dll)

  c) Tersedianya dana pendukung kegiatan

  d) lainnya...

  28. Kriteria pendamping seperti apa yang kaum muda inginkan agar kegiatan yang ada semakin menarik untuk diikuti? a)

  Sabar, pendiam, dan bersahabat

  b) Masih muda, ganteng/cantik, dan bersahabat

  c) Berwibawa, berwawasan luas, dan mudah bergaul

  d) Rapi, pendiam, dan bisa membawakan materi dengan menarik

  e) lainnya...

  Pertanyaan Refleksi: 1.

  Dalam hal keterlibatan hidup menggereja, anda cenderung lebih memilih untuk terlibat di tingkat lingkungan atau paroki? Alasannya? (variabel no 5)

  2. Kesulitan seperti apa yang anda hadapi atau alami saat terlibat di lingkungan atau paroki? (variabel no 6)

  Hasil Wawancara

  a. : Yoseph Hermawan Eko Susilo Nama

  Umur : 34 tahun Status/Profesi : Ketua lingkungan/Wiraswasta

  interviewer

  : Apakah kaum muda di lingkungan St Yusuf Kadisobo sudah ikut berperan aktif?

  R 1 : Sudah ikut berperan aktif, walau pun saya secara pribadi

  mungkin masih kurang, tapi dibandingkan kaum muda lain saya rasa kaum muda di lingkungan kadisobo paling guyub dan dari jumlah personilnya paling banyak dibandingkan lingkungan lain. Menyambut tahun baru kemarin pun, kita sudah bisa membuat misa sendiri tanpa bergabung dengan kaum muda di paroki. Mengenai keterlibatan sendiri, saya cenderung mengikuti kegiatan ”kaum tua” dibandingkan kaum muda, tapi jika seperti pendalaman iman kurang berminat, tetapi jika kegiatan yang bersifat umum mereka ikut terlibat.

  Saat ini kaum muda susah sekali untuk dikumpulkan, berbeda dengan jaman saya dulu dimana berkumpul bersama merupakan suatu kegembiraan tersendiri karena dapat berkumpul dan bertemu dengan teman-teman yang lain. interviewer : Jika kaum muda tersebut sudah dilihat berperan aktif, lalu kira-kira alasan apa yang membuat kurang aktif itu apa?

  R 1 : Karena kaum muda saat ini kebanyakkan bergaul dengan

  yang muslim, jadi untuk masuk ke lingkup kaum muda agak sungkan dan asing. Mereka terkadang harus dipaksa, diingatkan, bahkan tidak jarang harus di jemput karena kalau tidak begitu mereka merasa sungkan, padahal sebenarnya mereka ingin terlibat. Terkadang kaum muda sudah membuat jarak atau membentengi diri, apakah nanti mereka diterima, apa kegiatan yang nanti akan dibuat di sana. Tapi contohnya saja seperti kemarin, waktu acara bakar- bakar bersama di depan gereja yang sifatnya umum, tanpa membawa tema yang liturgis nyatanya kaum muda banyak juga yang hadir.

  interviewer

  : Setelah melihat peran aktif kaum muda, sekarang kita

  R 1

  : Saya sedikit membicarakan secara subyektif. Gereja itu ya disitulah hidup saya. Karena banyak pengalaman iman pribadi yang saya temukan di gereja. Say a pernah hidup diluaran ”hidup duniawi”, tetapi pada akhirnya saya tidak mendapatkan kepuasan hidup Ilahi. Walau pun di depan gereja hanya mencabuti rumput atau pun duduk2, tetapi saya mendapatkan ketenangan yang tidak dapat dibeli dengan apa pun. Banyaknya kesaksian iman yang dapat saya tularkan sehingga mungkin dapat menjadi inspirasi bagi orang lain, walaupun orang tersebut hanya mendengarkannya saja.

  interviewer

  : Apa saja bentuk-bentuk kegiatan yang ada di lingkungan St Yusuf Kadisobo?

  R 1

  : Kalau mengenai mudika saya tidak bisa bicara terlalu banyak karena jujur yang saya urusi hanya kegiatan lingkungan. Banyak sekali kegiatan di luar kegiatan kaum muda yang harus saya tangani karena mudika kan memiliki organisasi sendiri. Setau saya kegiatan mudika sifatnya monumental, misalnya mudika di serahkan untuk latihan koor, tidak rutin hanya saja pada saat mau bertugas, atau disuruh menjadi panitia natal seperti tahun kemarin juga masih guyub. Walau pun sekarang waktu mudika tidak hanya untuk mengurusi kegiatan kaum muda tetapi ada yang mambagi waktunya untuk sekolah, atau bekerja.

  interviewer

  : Ada beberapa kegiatan kaum muda seperti outbond, ziarah, pendalaman iman, sarasehan. Kegiatan mana yang paling banyak diikuti oleh kaum muda di lingkungan ini?

  R 1

  : Menurut saya kegiatan yang paling banyak menarik minat kaum muda yaitu yang sifatnya masih diselingi jalan-jalan atau hiburan, tidak terlalu monoton harus berdoa. Apalagi outbond dan ziarah, kaum muda dimanapun pasti berminat untuk mengikutinya. Contoh saja ziarah yang dilakukan pada bulan oktober kemarin ke Gua Tritis kurang lebih ada 60 orang kaum muda yang ikut, se wilayah II termasuk mudika St Yusuf Kadisobo.

  interviewer

  : Faktor-faktor apa saja yang menjadi penghambat dan pendukung dari keterlibatan kaum muda?

  R 1

  : Penghambatnya: mungkin mereka belum merasa kenal berkumpul bersama kaum muda yang lain, terbentur kegiatan kaum muda yang sifatnya pribadi misalnya sekolah. Kalau soal biaya menurut saya tidak terlalu di pusingkan/dipikirkan. Karena sebelum ziarah mereka terlebih dahulu mencari dana entah itu dengan parkir ataupun menjual barang-barang bekas. Medukung: memiliki motovasi sendiri, sebenarnya mereka ingin masuk ke dalam perkumpulan kaum muda baik secara tingkat lingkungan mau pun paroki, tetapi mereka belum memiliki wadah yang dapat menampung aspirasi mereka sesuai dengan karakteristik kaum muda saat ini. Dari orangtua juga mendukung, tetapi dari dalam diri kaum muda sendirilah yang paling mendukung.

  interviewer

  : Cara yang sudah dilakukan untuk mengatasi faktor penghambat?

  R 1

  : Megadakan kegiatan yang sifatnya dadakan tanpa direncanakan, itu dirasa lebih efektif dibandingkan dengan kegiatan yang sudah disusun secara struktur tapi jarang dilaksanakan.

  interviewer

  : Apa manfaat bagi kaum muda jika mereka terlibat dalam hidup menggereja?

  R 1

  : Untuk hal organisasi mereka lebih dapat membangun kebersamaan / berhubungan dengan orang lain, karena dasar dari semuanya adalah mereka dapat membangun hubungan dengan orang lain. Mengolah ego juga sangat penting, tidak malu, jika ada kerjaan berusaha untuk melakukan walau pun tidak sempurna tapi sudah ada itikad baik untuk melakukannya.

  interviewer

  : Usulan program yang dirasa baik untuk kaum muda terlibat aktif dalam hidup menggereja?

  R 1

  : Membuat perkumpulan semacam olahraga bersama. Kaum muda sudah merencanakan membeli meja pingpong. Kalau semacam outbond, ziarah atau kegiatan lainnya mungkin hanya beberapa bulan sekali dilakukan tetapi kalau ziarah hanya dilakukan pada saat bulan-bulan Maria, atau pada saat natal-paskah. Tetapi kalau ziarah pastinya mereka mau. b. : Pak M.C Wuryanto Nama

  Usia : 71 tahun Status/profesi :Sesepuh yang mengetahui seluk beluk lingk

  Kadisobo/Pensiunan

  interviewer

  : Apakah kaum muda di lingkungan St Yusuf Kadisobo sudah ikut berperan aktif?

  R 2 : Ya beberapa persen sudah, tapi khusus untuk pertemuan

  rutin dengan orang tua masih sedikit. Misalnya pendalaman iman, sembahyangan, dll.

  interviewer

  : Jika kaum muda tersebut sudah dilihat berperan aktif, lalu kira-kira alasan apa yang membuat kurang aktif itu apa?

  R 2 `

  : Jaman sekarang ini sulit sekali menentukan kegiatan mudika karena ada kemajuan jaman yang modern, ada gangguan dari dirinya sendiri. Susah membedakan mana kepentingan yang mendesak dan tidak.

  interviewer

  : Setelah melihat peran aktif kaum muda, sekarang kita beralih ke pemahaman mengenai arti ”Gereja”!

  R 2 : Gereja adalah kekuatan iman yang saya pegang dan imani selama ini. interviewer

  : Apa saja bentuk-bentuk kegiatan yang ada di lingkungan St Yusuf Kadisobo?

  R 2

  : Kegiatan hanya kumpul-kumpul misalnya : koor, bakar- bakar jagung. Kalau program kaum muda saat ini saya kurang tau. Kalau jaman dulu kaum muda banyak mengambil peran baik di lingkungannya sendiri mau pun bila dibutuhkan, kaum muda selalu siap kapan pun.

  interviewer

  : Ada beberapa kegiatan kaum muda seperti outbond, ziarah, pendalaman iman, sarasehan. Kegiatan mana yang paling banyak diikuti oleh

  R 2

  : Ziarah, tapi kurang jelas berapa jumlah kaum muda yang ikut.

  interviewer

  : Faktor-faktor apa saja yang menjadi penghambat dan pendukung dari keterlibatan kaum muda?

  R 2

  : Penghambat: ada kemajuan teknologi, pendukung: dorongan dari orangtua.

  interviewer

  : Apa manfaat bagi kaum muda jika mereka terlibat dalam hidup menggereja?

  R 2

  : Manfaatnya menjadi guyub dan kaum muda masih diberi kepercayaan untuk mengurusi suatu kegiatan walaupun tidak jarang ada orangtua yang belum percaya pada kemampuan kaum muda.

  interviewer

  : Usulan program yang dirasa baik untuk kaum muda terlibat aktif dalam hidup menggereja?

  R 2

  : Pertama-tama terlebih dahulu dikumpulkan untuk sekedar omong-omong. Mungkin lebih baik diadakan sarasehan (pendalaman iman) kaum muda atau retret kaum muda.

  c. : H. Novi Kristiyanti Nama

  Usia : 25 tahun Status/profesi : Koor kaum muda di lingkungan Kadisobo/Guru

  interviewer

  : Apakah kaum muda di lingkungan St Yusuf Kadisobo sudah ikut berperan aktif?

  R 3 :Sejauh saya lihat sudah, walau pun masih sedikit. interviewer

  : Jika kaum muda tersebut sudah dilihat berperan aktif, lalu kira-kira alasan apa yang membuat kurang aktif itu apa?

  R 3 `

  : Banyak kesibukan, waktu yang tidak pernah cocok dan kurang koordinasi. Kegiatan yang disajikan juga kurang menarik, terlalu monoton, tidak ada variasi. Pendampingnya juga tidak ada.

  interviewer

  : Setelah melihat peran aktif kaum muda, sekarang kita beralih ke pemahaman mengenai arti ”Gereja”!

  R 3

  : Gereja adalah tempat kita secara bersama-sama mengimani Yesus Kristus.

  interviewer

  : Sikap apa yang harus ditunjukkan oleh kaum muda jika mereka sudah aktif dalam kegiatan menggereja?

  R

  Sikap mau membantu, dan memberi dukungan kepada

  3 : mereka yang belum aktif, sehingga kaum muda lainnya ikut aktif. interviewer

  : Apa saja bentuk-bentuk kegiatan yang ada di lingkungan St Yusuf Kadisobo?

  R 3 : Ada koor, anjangsana mudika, pia, sepertinya itu saja yang saya tau. interviewer

  : Ada beberapa kegiatan kaum muda seperti outbond, ziarah, pendalaman iman, sarasehan. Kegiatan mana yang paling banyak diikuti oleh kaum muda di lingkungan ini?

  R 3

  : Ziarah, karena menghibur dan tidak terlalu monoton, disamping itu bisa jalan-jalan.

  interviewer

  : Faktor-faktor apa saja yang menjadi penghambat dan pendukung dari keterlibatan kaum muda?

  R 3

  : Penghambat: waktu, kesibukkan, dan kegiatan yang terlalu monoton terlalu formal. Pendukung: dari diri sendiri serta keluarga.

  interviewer

  : Apa manfaat bagi kaum muda jika mereka terlibat dalam

  R 3

  : Menambah wawasan kegiatan bertambah luas, semakin pintar berorganisasi, dan dapat berkumpul dengan teman-teman seiman.

  interviewer

  : Usulan program yang dirasa baik untuk kaum muda terlibat aktif dalam hidup menggereja?

  R 3

  : Mengadakan kegiatan yang menyenangkan seperti ziarah agar pertama-tama kaum muda tergerak untuk berkumpul terlebih dahulu.

  d. : Rosaria Mega Nama

  Usia : 22 tahun Status/profesi : Koor kaum muda di lingkungan Kadisobo/Karyawan Swasta

  interviewer

  : Apakah kaum muda di lingkungan St Yusuf Kadisobo sudah ikut berperan aktif?

  R

4 : Belum begitu, hanya sebagian saja yang terlibat aktif.

interviewer

  : Jika kaum muda tersebut sudah dilihat berperan aktif, lalu kira-kira alasan apa yang membuat kurang aktif itu apa?

  R 4 ` : Banyak kesibukan, waktu, dan masih banyak kekurangan

  lainnya. Inisiatif saya mengajak kaum muda supaya aktif dalam kegiatan menggereja karena itu sangat perlu untuk memperluas iman kaum muda itu sendiri.

  interviewer

  : Setelah melihat peran aktif kaum muda, sekarang kita beralih ke pemahaman mengenai arti ”Gereja”!

  R 4

  : Gereja adalah tempat berkumpul umat Katolik dalam memuji Tuhan.

  interviewer

  : Sikap apa yang harus ditunjukkan oleh kaum muda jika

  R 4 : Mengajak seluruh kaum muda agar dapat berperan aktif dalam kegiatan gereja khususnya di lingkungan St Yusuf. interviewer

  : Apa saja bentuk-bentuk kegiatan yang ada di lingkungan St Yusuf Kadisobo?

  R 4 : Ada ziarah dan natalan bersama. Outbond atau sarasehan belum pernah ada. interviewer

  : Ada beberapa kegiatan kaum muda seperti outbond, ziarah, pendalaman iman, sarasehan. Kegiatan mana yang paling banyak diikuti oleh kaum muda di lingkungan ini?

  R 4 : Ziarah, karena kegiatannya banyak disenangi oleh kaum muda, lebih santai dan sesuai dengan karakter kaum muda. interviewer

  : Faktor-faktor apa saja yang menjadi penghambat dan pendukung dari keterlibatan kaum muda?

  R 4

  : Penghambat: waktu, kesibukkan, dan kegiatan yang monoton, serta kurangnya kesadaran dari kaum muda itu sendiri. Pendukung: orangtua itu nomor satu, dari segi menambah pengalaman berorganisasi.

  interviewer

  : Apa manfaat bagi kaum muda jika mereka terlibat dalam hidup menggereja?

  R 4

  : Menambah pengalaman iman, teman, wawasan kegiatan bertambah luas.

  interviewer

  : Usulan program yang dirasa baik untuk kaum muda terlibat aktif dalam hidup menggereja?

  R 4

  : Mengadakan kegiatan yang menyenangkan seperti ziarah atau outbond. Dengan begitu kaum muda dapat terlibat aktif.

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

ANALISIS KOMPARATIF PENDAPATAN DAN EFISIENSI ANTARA BERAS POLES MEDIUM DENGAN BERAS POLES SUPER DI UD. PUTRA TEMU REJEKI (Studi Kasus di Desa Belung Kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang)
22
219
16
FREKUENSI KEMUNCULAN TOKOH KARAKTER ANTAGONIS DAN PROTAGONIS PADA SINETRON (Analisis Isi Pada Sinetron Munajah Cinta di RCTI dan Sinetron Cinta Fitri di SCTV)
27
215
2
DEKONSTRUKSI HOST DALAM TALK SHOW DI TELEVISI (Analisis Semiotik Talk Show Empat Mata di Trans 7)
21
197
1
MANAJEMEN PEMROGRAMAN PADA STASIUN RADIO SWASTA (Studi Deskriptif Program Acara Garus di Radio VIS FM Banyuwangi)
29
203
2
MOTIF MAHASISWA BANYUMASAN MENYAKSIKAN TAYANGAN POJOK KAMPUNG DI JAWA POS TELEVISI (JTV)Studi Pada Anggota Paguyuban Mahasiswa Banyumasan di Malang
20
178
2
PERANAN ELIT INFORMAL DALAM PENGEMBANGAN HOME INDUSTRI TAPE (Studi di Desa Sumber Kalong Kecamatan Wonosari Kabupaten Bondowoso)
38
234
2
FK-UMM Dalam Pertemuan Occupational Health di Philippines
0
55
1
Kuliah di PTN Kini Lebih Mahal
0
87
1
Analisis Pertumbuhan Antar Sektor di Wilayah Kabupaten Magetan dan Sekitarnya Tahun 1996-2005
3
55
17
Analisis tentang saksi sebagai pertimbangan hakim dalam penjatuhan putusan dan tindak pidana pembunuhan berencana (Studi kasus Perkara No. 40/Pid/B/1988/PN.SAMPANG)
8
84
57
Analisis terhadap hapusnya hak usaha akibat terlantarnya lahan untuk ditetapkan menjadi obyek landreform (studi kasus di desa Mojomulyo kecamatan Puger Kabupaten Jember
1
84
63
DAMPAK INVESTASI ASET TEKNOLOGI INFORMASI TERHADAP INOVASI DENGAN LINGKUNGAN INDUSTRI SEBAGAI VARIABEL PEMODERASI (Studi Empiris pada perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) Tahun 2006-2012)
11
127
22
Diskriminasi Perempuan Muslim dalam Implementasi Civil Right Act 1964 di Amerika Serikat
3
37
15
FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB ORANG TUA MENIKAHKAN ANAK PEREMPUANYA PADA USIA DINI ( Studi Deskriptif di Desa Tempurejo, Kecamatan Tempurejo, Kabupaten Jember)
12
99
72
Hubungan Antara Kompetensi Pendidik Dengan Kecerdasan Jamak Anak Usia Dini di PAUD As Shobier Kecamatan Jenggawah Kabupaten Jember
4
92
4
Show more