Analisis unsur fisik dan unsur batin puisi `Seonggok Jagung` karya W.S. Rendra dan implementasinya dalam pembelajaran sastra di SMA

116 

Full text

(1)

ANALISIS UNSUR FISIK DAN UNSUR BATIN PUISI “SEONGGOK JAGUNG” KARYA W. S. RENDRA DAN IMPLEMENTASINYA DALAM

PEMBELAJARAN SASTRA DI SMA

SKRIPSI

Disusun oleh:

Magdalena Astini Deke

081224010

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA, SASTRA INDONESIA, DAN DAERAH

JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA

(2)

i

ANALISIS UNSUR FISIK DAN UNSUR BATIN PUISI “SEONGGOK JAGUNG” KARYA W. S. RENDRA DAN IMPLEMENTASINYA DALAM

PEMBELAJARAN SASTRA DI SMA

SKRIPSI

Disusun oleh:

Magdalena Astini Deke

081224010

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA, SASTRA INDONESIA, DAN DAERAH

JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA

(3)
(4)
(5)

iv

Motto

Aku percaya Dia membuat segala sesuatu indah pada

waktunya.... (Pengkhotbah 3:11)

Teruslah maju, berbuatlah sebanyak mungkin. Anda akan

menemukan kesuksesan dipenghujung kegagalan.

(Thomas Watson)

Jika ingin sukses dan menjadi yang terbaik, harus siap

(6)

v

Halaman Persembahan

Karya kecilku ini kupersembahkan untuk:

Tuhan Yesus Kristus

Ayahku Paulus W. Deke dan Ibuku S. P. Malo,

“Kupersembahkan skripsi ini sebagai tanda cinta dan rasa sayangku

kepada ayah ibuku yang telah memberi kasih sayang tanpa syarat

(7)

vi

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak

memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam

kutipan dan daftar pustaka, sebagaimana layaknya karya ilmiah.

Yogyakarta, 21 Februari 2013 Yang membuat pernyataan,

(8)

vii

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN

PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

Yang bertanda tangan dibawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma : nama : Magdalena Astini Deke,

NIM : 081224010,

dengan pengembangan ilmu pengetahuan, saya berikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma Yogyakarta karya ilmiah saya yang berjudul

ANALISIS UNSUR FISIK DAN UNSUR BATIN PUISI SEONGGOK

JAGUNG KARYA WS RENDRA DAN IMPLEMENTASINYA DALAM

PEMBELAJARAN SASTRA DI SMA

beserta perangkat yang diperlukan. Dengan demikian, saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengelolanya dalam bentuk pangkalan data, mendistribusikan secara terbatas, dan mempublikasikannya di internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta izin dari saya maupun memberikan royalti kepada saya sebagai penulis.

Demikian pernyataan ini, saya buat dengan sebenarnya.

Yogyakarta, 21 Februari 2013 Yang menyatakan,

(9)

viii

Deke, Magdalena Astini. 2013. Analisis Unsur F isik dan Unsur Batin Puisi “Seonggok Jagung” karya W. S. Rendra dan Implementasinya dalam Pembelajaran Sastra di SMA. Skripsi. PBSID. Universitas Sanata Dharma. Yogyakarta.

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan unsur fisik dan unsur batin puisi “Seonggok Jagung” karya W. S. Rendra serta implementasinya dalam pembelajaran sastra di SMA. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan struktural yaitu suatu cara pencarian terhadap suatu fakta yang sasarannya tidak hanya satu unsur sebagai individu yang berdiri sendiri di luar kesatuannya, melainkan ditujukan pula kepada hubungan antar unsurnya

Metode yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif analisis yaitu prosedur pemecahan masalah dengan menggambarkan objek penelitian berdasarkan fakta-fakta. Objek penelitian ini adalah puisi “Seonggok Jagung”. Dari analisis unsur fisik ditemukan: (1) diksi, berupa pemilihan kata -kata oleh penyair yang dipergunakan sehari-hari sehingga mudah dipahami oleh pembaca, (2) pengimajian, barupa citraan penglihatan, citraan pendengaran, citraan penciuman, dan citraan gerak, (3) bahasa figuratif, yaitu metafora dan ironi, (4) kata konkret, dalam puisi tersebut penyair tidak hanya membeberkan adanya ketidakrelevan pendidikan, namun ia memperkuatnya dengan data-data yang menciptakan kata konkret, (5) versifikasi, yang berupa aliterasi, asonansi, rima awal, tengah, dan rima akhir, (6) tipografi, yaitu tidak menyimpang dari tipografi puisi pada umumnya.

Dari analisis unsur batin dalam puisi ini ditemukan: (1) tema, secara umum puisi tersebut membicarakan dunia pendidikan yang isinya mengkritik ketidakadilan dunia pendidikan, (2) nada, puisi ini bernada tegas, (3) perasaan, rasa prihatin penyair terhadap situasi pendidikan yang terjadi, (4) amanat, yaitu pemerintah diharapkan menyediakan lapangan pekerjaan yang memadai untuk mengurangi adanya pengangguran dan memperhatikan masyarakat yang kurang mampu.

(10)

ix

ABSTRACT

Deke, Magdalena Astini. 2013. An Analysis on Physical and Internal Elements in “Seonggok Jagung”, A Poem Written by W. S Rendra and The Implementation in Literature Learning in Senior High Schools. Thesis. PBSID. Sanata Dharma University. Yogyakarta.

This research was aimed to describe the physical and internal elements in “Seonggok Jagung”, a poem written by W. S. Rendra and the implementation in literature learning in Senior High Schools. The approach used in this research was structural approach. Structural approach is the way to find facts with the target not only one element as an individual person, but also the relationship among the elements.

The method used in this research was descriptive analysis. It was a procedure to solve problems by describing a research object based on the facts. The research object was a poem “Seonggok Jagung”. There were some physical elements found: (1) dictions, words choice by the poet used in daily life that could be understood easily by readers, (2) imagination, in the form of seeing, hearing, smelling, and movements, (3) figurative language, in the form of metaphor and irony, (4) concrete words, in the poem the poet did not only use the irrelevance in education but also emphasized it by the data that created concrete words, (5) verification, in the form of alliteration, assonance, beginning, middle, and final rhymes, (6) typography, that was in the common typography.

There were some internal elements found in the poem: (1) theme, in general, the poem talked about education world that criticized the injustice in education world, (2) intonation, this poem was firm, (3) feeling, the poet concerned about the education, (4) message, the government was hoped to provide appropriate job opportunities to decrease the unemployment and paid attention to poor people.

(11)

x

KATA PENGANTAR

Puji dan Syukur penulis haturkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas

berkat dan rahmat yang berlimpah yang penulis peroleh sehingga mampu

menyelesaikan skripsi ini dengan baik. Skripsi yang berjudul Analisi Unsur Fisik

dan Unsur batin Puisi Seonggok Jagung Karya WS Rendra dan Implementasinya

Dalam Pembelajaran Sastra di SMA ini ditulis untuk memenuhi salah satu syarat

untuk memperoleh gelar sarjana Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia, dan

Daerah.

Penulis menyadari bahwa terselesaikannya skripsi ini berkat dukungan,

semangat, bimbingan, kerja sama, nasihat, dan doa dari berbagai pihak. Oleh

karena itu, dalam kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada:

1. Drs. B. Rahmanto., selaku dosen pembimbing I yang dengan penuh

kesabaran, ketelitian, dan perhatian dalam membimbing dan mendamping

penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

2. Dr. Y. Karmin, M.Pd., selaku dosen pembimbing II yang dengan penuh

kesabaran, ketelitian, dan perhatian dalam membimbing dan mendamping

penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

3. Rohandi, Ph.D., selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Universitas Sanata Dharma.

4. Dr. Yuliana Setiyaningsih, selaku Ketua Prodi PBSID yang selalu

(12)

xi

5. Seluruh Dosen PBSID, khususnya dosen penguji, yang telah membimbing

penulis selama menempuh perkuliahan di PBSID.

6. Karyawan perpustakaan Universitas Sanata Dharma yang telah banyak

membantu penulis dalam peminjaman buku selama menempuh

perkuliahan dan pemyelesaian skripsi ini.

7. Bapak Robertus Marsidiq, sekretaris program studi PBSID yang telah

membantu penulis dalam mengurus administrasi di program studi PBSID.

8. Kedua orang tuaku yang selalu mendoakan dan memotivasi aku untuk

selalu kuat, terus belajar, dan bisa meraih masa depan dikemudian hari.

9. Kakak-kakakku, Seprianus Ama Deke, Sek, Frans Firanus Deke, Sek, dan

Agustina Ina Deke yang selalu mendoakan dan menyemangati penulis.

10.Teman-teman PBSID angkatan 2008, khususnya kelas A atas kebersamaan

dan kekompakan kita semua.

11.Sahabat-sahabatku terkasih: Ayu Wiranti, Ratih Ajeng, Nike Afrah, Rena,

Emil, dan Evi yang sudah menjadi teman berbagi suka dan duka selama di

Jogja. Terima kasih atas dukungan dan perteman kita.

12.Bapak dan Ibu kos serta teman-teman kos Narpache, Apu, Ani, Osi terima

kasih sudah menjadi keluarga dan teman selama di Jogja.

13.Keluarga Komunitas di Jogja: Kumpulan Anak Sumba Sadhar (KASS),

atas dukungan dan semangat komunitas yang terjalin.

14.Nadus Karedi, yang selalu memberi masukan kepada penulis dalam

mengerjakan skripsi. Inno Mutti, yang selalu mendukung dengan memberi

(13)

xii

dukungan kalian sangat berarti bagi penulis dalam menyelesaikan skripsi

ini.

15.Pihak-pihak lain yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu namun

telah membantu dalam penyelesaian skripsi ini.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna. Walaupun

demikian, semoga skripsi ini dapat berguna bagi pembaca.

Yogyakarta, 21 Februari 2013

Penulis,

(14)

xiii

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

MOTTO ... iv

HALAMAN PERSEMBAHAN ... v

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... vi

PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH ... vii

ABSTRAK ... viii

BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Penelitian Terdahulu ... 8

2.2.2.1.2 Pengimajinasian ... 12

2.2.2.1.3 Kata Konkret ... 13

2.2.2.1.4 Bahasa Figuratif ... 13

(15)

xiv

2.2.3 Pembelajaran Sastra di SMA ... 21

2.2.3.1 KTSP ... 22

2.2.3.2 Silabus dan RPP ... 23

2.2.3.3 SK dan KD Kurikulum Apresiasi Puisi ... 28

2.2.3.4 Pemilihan Bahan Ajar ... 31

BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian ... 33

3.2 Data dan Sumber Data Penelitian ... 34

3.3 Metode Penelitian... 34

3.4 Teknik Pengumpulan Data ... 34

3.5 Teknik Analisis Data ... 35

BAB IV ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Umum Puisi “Seonggok Jagung” ... 36

4.2 Analisis Unsur Fisik Puisi “Seonggok Jagung” ... 38

4.2.1 Diksi (pemilihan kata) ... 38

4.2.2 Pengimajinasian ... 41

(16)

xv

4.4 keterkaitan Antar Unsur ... 69

4.4.1 Keterkaitan Antar Unsur Fisik Puisi Seonggok Jagung ... 69

4.4.2 Keterkaitan Antar Unsur Batin Puisi Seonggok Jagung ... 70

4.4.3 Keterkaitan Antar Unsur Fisik dan Unsur Batin Puisi Seonggok Jagung ... 70

4.5 Implementasi Hasil Analisis Unsur Fisik dan Unsur Batin Puisi “Seonggok Jagung” dalam Pembelajaran Sastra di SMA ... 71

4.4.1 Silabus ... 73

4.4.2 RPP ... 75

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan ... 94

5.2 Implikasi ... 96

5.3 Saran ... 97

DAFTAR PUSTAKA ... 98

(17)

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Karya sastra merupakan sebuah seni yang indah, yang bisa menyentuh

perasaan dan nurani manusia. Karya sastra yang baik mengajak pembaca melihat

karya sastra tersebut melihat sebagai cermin dirinya sendiri. Dalam karya sastra

diungkapkan berbagai pengalaman hidup manusia agar manusia lain dapat

memetik pelajaran yang baik darinya (Sumardjo, 1991:14).

Karya sastra mempunyai isi dan bentuk. Isinya adalah tentang pengalaman

hidup manusia, sedangkan bentuknya adalah cara sastrawan memanfaatkan bahasa

yang indah untuk mewadahi isinya (Semi, 1988:8). Sastra adalah suatu kegiatan

kreatif, sebuah karya seni (Wellek dan Warren, 1990:3). Sumardjo & Saini K. M.

(via Sarjidu, 2004:2), menyatakan bahwa karya sastra merupakan hasil ciptaan

manusia yang diekspresikan dalam bentuk tulisan dan menggunakan bahasa

sebagai medianya. Oleh sebab itu, sebuah karya sastra berisi tentang

permasalahan yang melingkupi kehidupan manusia. Sastra lahir dilatarbelakangi

oleh adanya dorongan dasar manusia untuk mengungkapkan eksistensi dirinya.

Banyak karya sastra dihasilkan melalui tangan-tangan sastrawan yang berbakat,

yaitu puisi, novel, cerpen, dan drama.

Setiap orang bebas menulis yang ada dalam pikiran dan hatinya. Tulisan

itu bisa berupa puisi karena dalam menulis puisi dapat digunakan untuk

(18)

dapat memahami puisi secara sepenuhnya tanpa mengetahui dan menyadari

bahwa puisi itu karya estetis yang bermakna, yang mempunyai arti, bukan hanya

sesuatu yang kosong tanpa makna (Pradopo, 2000: 3).

Puisi merupakan karya sastra yang mengungkapkan pikiran dan perasaan

penyair secara imajinatif (Waluyo, 1987:25). Puisi mengandung sesuatu yang

sangat penting sebab puisi diciptakan atas dasar pengalaman. Karena itu, puisi

mengemukakan sesuatu yang bersangkut paut dengan semangat manusia. Puisi

merupakan kekuatan yang menyebabkan orang lebih sadar akan dirinya sendiri

dan dunianya, atau dengan singkat dapat dikatakan, menjadikan seseorang

menjadi lebih lengkap sebagai manusia (Situmorang, 1981:12).

Puisi terdiri atas dua unsur pokok, yakni unsur fisik dan unsur batin.

Unsur-unsur puisi itu tidaklah berdiri sendiri, tetapi merupakan sebuah struktur.

Seluruh unsur merupakan kesatuan antara unsur yang satu dengan unsur yang

lainnya. Unsur-unsur itu juga menunjukkan diri secara fungsional, artinya

unsur-unsur itu berfungsi bersama unsur-unsur lain dan di dalam kesatuan dengan totalitasnya

(Waluyo, 1987:28). Oleh karena itu, menganalisis puisi bukanlah suatu hal yang

mudah karena dalam puisi menyimpan makna yang tersembunyi, yang harus

diungkapkan oleh pembaca.

Dalam penelitian ini karya sastra yang dipilih adalah puisi “Seonggok

Jagung” karya W.S. Rendra. Penulis mempunyai tiga alasan dalam pemilihan

puisi ini. Pertama, puisi ini menggambarkan manusia dengan berbagai

masalahnya. Kedua, gaya penggambarannya menarik dan mudah dipahami, dan

(19)

bermanfaat bagi siswa agar mereka tidak menyia-nyiakan pendidikan yang

mereka miliki, karena tidak semua orang bisa bersekolah seperti mereka.

Hasil analisis puisi “Seonggok Jagung” karya W. S. Rendra akan

diimplementasikan dalam pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia di sekolah.

Kelas yang dipilih peneliti adalah SMA kelas X semester 1 dan 2. Alasannya,

dalam KTSP 2006 SMA kelas X semester 1 dan 2 terdapat Standar Kompetensi

dan Kompetensi Dasar yang berkaitan dengan unsur fisik dan unsur batin puisi.

Adapun Standar Kompetensi pada kelas X semester 1 yaitu memahami puisi yang

disampaikan secara langsung atau tidak langsung dengan Kompetensi Dasar

mengidentifikasi unsur-unsur bentuk suatu puisi yang disampaikan secara

langsung ataupun melalui rekaman. Standar Kompetensi untuk kelas X semester 2

yaitu mengungkapkan pendapat terhadap puisi melalui diskusi dengan

Kompetensi Dasar membahas isi puisi berkanaan dengan gambaran penginderaan,

perasaan, pikiran, dan imajinasi melalui diskusi.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan di atas, masalah yang

akan dibahas dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.

1. Bagaimana unsur fisik dan unsur batin puisi “Seonggok Jagung” Karya

W.S. Rendra?

2. Bagaimanakah implementasi unsur fisik dan unsur batin puisi “Seonggok

Jagung” Karya W.S. Rendra sebagai bahan pembelajaran sastra di

(20)

1.3 Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan pokok penelitian ini

adalah sebagai berikut.

1. Mendeskripsikan unsur fisik (diksi, kata konkret, pencitraan, bahasa

figurasi, verifikasi, dan tipografi) unsur batin (tema, rasa, nada, dan

amanat) puisi “Seonggok Jagung” Karya W. S. Rendra.

2. Mendeskripsikan implementasinya tema, amanat, perasaa, dan pencitraan

puisi “Seonggok Jagung” Karya W. S. Rendra sebagai bahan

pembelajaran sastra di SMA.

1.4 Manfaat Penelitian

1. Manfaat Teoritis

Untuk mengembangkan ilmu pengetahuan pada apresiasi sastra khususnya

pada materi apresiasi puisi. Hal ini dikarenakan penerapan dan

pengembangan bahan ajar dengan mengunakan puisi, sangat dibutuhkan

dalam proses belajar mengajar yang efektif. Manfaat lain yaitu

memperkuat teori bahwa penerapan dan pengembangan bahan ajar dapat

memicu kreatifitas siswa khususnya dalam menulis puisi.

2. Manfaat Praktis

Dengan adanya penerapan dan bahan ajar yang menggunakan puisi, dapat

mewujudkan proses belajar mengajar yang efektif, produktif serta dapat

(21)

siswa. Bagi mahasiswa jurusan pendidikan sastra Indonesia, penelitian ini

dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dan acuan untuk memotivasi

ide atau gagasan baru yang lebih kreatif dan inovatif dalam kemajuan diri.

Selain itu juga, penelitian ini diharapkan mampu digunakan oleh pengajar

dan pendidik, khususnya guru Bahasa dan Sastra Indonesia di berbagai

sekolah sebagai materi ajar yaitu materi sastra.

1.5 Batasan Istilah

Dalam penelitian ini terdapat batasan-batasan istilah yang dapat

memudahkan pembaca. Batasan-batasan tersebut adalah

1. Puisi

Puisi adalah bentuk karya sastra yang mengungkapkan pikiran dan

perasaan penyair secara imajinatif dan disusun dengan

mengkonsentrasikan semua kekuatan bahasa dengan pengkonsentrasian

struktur fisik dan struktur batinnya (Waluyo, 1987:25).

2. Unsur fisik

Unsur fisik puisi yaitu unsur estetik yang membangun luar puisi. Unsur

estetik dapat ditelaah satu per satu dan merupakan kesatuan yang utuh.

Unsur-unsur struktur fisik puisi terdiri atas: diksi, pengimajian, kata

konkret, majas, versifikasi, dan tipografi puisi (Waluyo, 1987: 71).

(22)

Unsur batin adalah unsur dalam puisi yang mengungkapkan perasaan dan

suasana jiwanya penyair. Unsur batin puisi terdiri atas tema, perasaan,

nada, dan amanat (Waluyo, 1987:106).

4. Pembelajaran sastra

Pembelajaran sastra adalah proses pembelajaran yang meningkatkan

wawasan kehidupan, kemampuan berbahasa, dan pengetahuan siswa, serta

untuk mengembangkan kepribadian siswa dengan menikmati dan

memanfaatkan karya sastra (BSNP. 2006 via Sunarti, 2007: 30).

5. Implementasi

Implementasi adalah penerapan dari suatu kegiatan yang sudah

dilaksanakan sebelumnya (Depdikbud, 1991:377).

6. Silabus

Silabus adalah rencana pembelajaran pada suatu kelompok mata pelajaran

dengan tema tertentu, yang mencakup standar kompetensi, kompetensi

dasar, materi pembelajaran, indikator, penilaian, alokasi waktu, dan

sumber belajar yang dikembangkan oleh setiap satuan pendidikan

(Mulyasa, 2007: 190).

7. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)

RPP merupakan upaya untuk memperkirakan tindakan yang akan

(23)

1.6 Sistematika Penyajian

Penelitian kualitatif ini terdiri atas lima bab. Bab pertama berisi

pendahuluan yang memuat latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan

penelitian, manfaat penelitian, batasan istilah, dan sistematika penyajian. Bab

kedua berisi landasan teoritis yang memuat penelitian yang relevan dan tinjauan

pustaka. Bab ketiga berisi metodologi penelitian yang memuat jenis penelitian,

sumber data dan data penelitian, metode penelitian, teknik pengumpulan data, dan

analisis data. Bab keempat berisi pembahasan, yang terdiri dari analisi unsur fisik

dan unsur batin puisi, dan implementasi dalam pembelajaran. bab kelima berisi

(24)

8

BAB II

LANDASAN TEORI

1.1 Penelitian Terdahulu

Penelitian terdahulu yang relevan dengan penelitian ini, yaitu penelitian yang

dilakukan oleh Yustina Dwi (2006), Veronica Meliana (2006), dan Gaudensia

Fitryani (2007). Penelitian yang dilakukan Dwi (2006), berjudul “Perbedaan

Unsur Fisik dan Unsur Batin Karya Siswa Laki-laki dan Perempuan Kelas X

SMA Dominikus Wonosari, Gunung kidul Tahun Ajaran 2008/2009”. Metode

yang digunakan adalah metode deskriptif. Dari hasil penelitian disimpulkan, unsur

batin puisi karya siswa laki-laki kebanyakan yang digunakan adalah perasaan atau

suasana. Unsur batin puisi yang digunakan oleh siswa perempuan adalah perasaan

atau suasana. Penelitian yang dilakukan oleh Meliana (2006), berjudul “Struktur

Puisi “Pacarkecilku” karya Joko Pinurbo, dan Implementasinya dalam

Pembelajaran Sastra di SMA”. Hasil analisis yang diperoleh dari penelitian

tersebut adalah, struktur batin dalam puisi “Pacarkecilku” penyair menggunakan

tema cinta kasih yang dipadu dengan budi pekerti, nada yang dapat dirasakan

bersifat lugas, suasana yang tampak adalah bahagia dan penuh rasa kekeluargaan,

dan amanat yang terdapat dalam puisi tersebut yaitu mengandung butir-butir

moral yang berguna untuk peningkatan budi pekerti manusia.

Penelitian yang dilakukan oleh Fitryani (2007), berjudul “Struktur Puisi

“Miskin Desa, Miskin Kota” Karya Taufiq Ismail dan Implementasinya dalam

(25)

dalam puisi menggunakan tema kemiskinan, nada puisi tersebut adalah secara

lugas menyampaikan kepada pembaca, bahwa kemiskinan kini semakin lama

semakin berat. Amanat yang hendak diunggkapkan adalah jangan berpasrah pada

keadaan, tetapi teruslah berjuang.

Berdasarkan ketiga acuan tersebut, diharapkan dapat membantu penulis

dalam melakukan penelitian dengan judul “Analisis Unsur Fisik dan Unsur Batin

Puisi Seonggok Jagung Karya WS Rendra dan Implementasinya Dalam

Pembelajaran Sastra di SMA”.

1.1 Landasa Teori

1.1.1 Pengertian Puisi

Secara etimologis istilah puisi berasal dari bahasa Yunani poites, yang

berarti, pembentuk dan pembuat. Dalam perkembangan selanjutnya, makna kata

tersebut menyempit menjadi hasil seni sastra yang kata-katanya disusun dengan

menggunakan irama, sajak, dan kadang-kadang kata kiasan (Situmorang,

1980:10). Menurut Waluyo (1987:25), puisi adalah karya sastra yang

mengungkapkan pikiran dan perasaan penyair secara imajinatif yang disusun

dengan pengungkapan semua kekuatan bahasa dengan mengkonsentrasikan

struktur fisik dan struktur batin.

(26)

bahwa puisi merupakan ungkapan pikiran yang bersifat musikal (Waluyo, 1987:22-23).

Berbeda lagi dengan Pradopo (2009:7) yang mengatakan bahwa puisi itu

mengekspresikan pemikiran yang membangkitkan perasaan. Puisi itu merupakan

rekaman dan interprestasi pengalaman manusia yang penting, digubah dalam

wujud yang paling berkesan.

Dari pendapat para sastrawan di atas, jelas penyair adalah orang yang

menciptakan suatu karya, yang dituangkan dalam bentuk suatu bahasa

berdasarkan pengalaman. Oleh karena itu, puisi merupakan ekspresi dari

pengalaman imajinasi manusia, yang dirasakan begitu indah dan terungkap dari

dalam diri penyair.

Samuel Taylor Coleridge (via Pradopo 1990: 6), mengemukakan puisi

adalah kata-kata yang terindah dalam susunan terindah. Penyair memilih kata-kata

yang setepatnya dan disusun secara sebaik-baiknya, misalnya seimbang, simetris,

antara satu unsur dengan unsur lain sangat erat hubungannya. Menurut

Slametmuljana (via Waluyo, 1987: 23), puisi merupakan bentuk kesusasteraan

yang menggunakan pengulangan suara sebagai ciri khasnya. Pengulangan kata itu

menghasilkan rima, ritma, dan musikalitas.

Berdasarkan kedua pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa puisi

adalah hasil ekspresi pikiran penyair. Ekspresi pikiran tersebut dapat

membangkitkan perasaan yang bersifat emosional dalam susunan yang berirama

(27)

1.1.2 Struktur Puisi

Secara umum, struktur puisi terbagi menjadi dua, yaitu struktur fisik dan

struktur batin puisi. Struktur fisik dan struktur batin terdiri dari unsur-unsur yang

saling mengikat dan semua unsur itu membentuk totalitas makna yang utuh.

Unsur-unsur menunjukkan diri secara fungsional, artinya unsur-unsur itu

berfungsi bersama unsur lain dan di dalam kesatuan dengan totalitasnya (Waluyo,

1987: 27−29). Berikut ini akan dijelaskan struktur fisik dan struktur batin puisi,

beserta unsur-unsur yang membangun kedua unsur tersebut.

1.1.2.1 Unsur Fisik Puisi

Unsur fisik puisi yaitu unsur estetik yang membangun luar puisi. Unsur

estetik dapat ditelaah satu per satu dan merupakan kesatuan yang utuh.

Unsur-unsur struktur fisik puisi terdiri atas: diksi, pengimajian, kata konkret, majas,

versifikasi, dan tipografi puisi (Waluyo, 1987: 72−97).

(1) Diksi/Pemilihan Kata

Dalam KBBI (2007:264), diksi adalah pelihan kata yang tepat dan selaras

untuk mengungkapkan gagasan. Menurut Barfield (via Prodopo, 2009:54), bila

kata-kata dipilih dan disusun dengan cara sedemikian rupa hingga artinya

menimbulkan imajinasi estetik, maka hasilnya disebut diksi. Waluyo (1987:84)

mengatakan bahwa diksi adalah pemilihan kata yang tepat, dan kaya akan nuansa

makna dan suasana sehingga mampu mengembangkan dan mempengaruhi daya

imajinasi pembaca.

Berdasarkan pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa diksi adalah

(28)

puisi. Pemilihan kata inilah yang membuat puisi berbeda dengan karya sastra

lainnya.

(2) Pengimajian/Pencitraan

Pengimajian atau pencitraan adalah pengungkapan pengalaman sensoris

penyair kedalam kata dan ungkapan, sehingga terjelma gambaran suasana yang

lebih konkret. Ungkapan itu menyebabkan pembaca seolah-olah melihat sesuatu,

mendengar sesuatu atau turut merasakan sesuatu (Waluyo, 1987:78). Menurut

Sudjiman (2006:17), citraan adalah cara membentuk cita mental, pribadi atau

gambaran sesuatu. Biasanya citraan menyarankan gambar yang tampak oleh mata

(batin) kita, tetapi dapat juga menyarankan hal-hal yang merangsang pancaindera

yang lain seperti penciuma dan pendengaran.

Situmorang (1981:20) membagi imaginasi sebagai berikut : (1) imaginasi

visual (penglihatan), (2) imaginasi auditory (pendengaran), (3) imaginasi

artriculatory (pengucapan), (4) imaginasi alfactory (penciuman), (5) imaginasi

gustatory (pencicipan), (6) imaginasi tactual (perasaan), (7) imaginasi kinaestetik

(gerak), dan (8) imaginasi organik (badan).

Dengan demikian, pengimajinasian atau pencitraan, mengingatkan

kembali kepada kita tentang pengalam yang pernah terjadi karena kemahiran

penyair dalam menggambarkan peristiwa. Jadi kita seolah-olah berada pada

(29)

(3) Kata Konkret

Untuk memperkonkret imaji pembaca, maka kata-kata harus diperkonkret.

Maksudnya ialah bahwa kata-kata itu dapat menyarankan kepada arti yang

menyeluruh. Kata konkret erat hubungannya dengan penggunaan kiasan dan

lambang (Waluyo, 1987:81). Menurut Pradopo (1991:55), kata konkret adalah

penggunaan kiasan dan lambang dalam sebuah puisi untuk menggambarkan

secara konkret apa yang dilukiskan penyair.

(4) Bahasa Figuratif/Majas

Waluyo (1987:83), mengatakan bahasa figuratif ialah bahasa yang

digunakan penyair untuk mengatakan sesuatu dengan cara yang tidak biasa, yakni

secara tidak langsung mengungkapkan makna. kata atau bahasanya bermakna kias

atau makna lambang. Menurut Perrine (via Waluyo, 1987:83), bahasa figuratif

dipandang lebih efektif untuk menyatakan apa yang dimaksudkan penyair, karena:

(1) bahasa figuratif mampu menghasilkan kesenangan imajinatif, (2) bahasa

figuratif adalah cara untuk menghasilkan imaji tambahan dalam puisi, sehingga

yang abstrak jadi konkret dan menjadikan puisi lebih nikmat dibaca, (3) bahasa

figuratif adalah cara menambahkan intensitas perasaan penyair untuk puisinya dan

menyampaikan sikap penyair, (4) bahasa figuratif adalah cara untuk

mengkonsentrasikan makna yang hendak disampaikan dan cara menyampaikan

sesuatu yang banyak dan luas dengan bahasa yang singkat.

Menurut Waluyo (1987:84-86), bahasa figuratif terdiri atas pengiasan

(30)

lambang. Kiasan yang dimaksud meliputi: metafora, perbandingan, personifikasi,

hiperbola, sinekdoce, dan ironi.

a) Metafora

Metafora adalah majas yang mengandung perbandingan yang tersirat

sebagai pengganti kata atu ungkapan lain untuk melukiskan kesamaan atau

kesejajaran makna diantaranya (Sudjiman, 2006:43). Menurut Waluyo (1987:84),

metafora adalah sebuah kiasan langsung, artinya benda yang dikiaskan itu tidak

disebutkan. Jadi ungkapan itu langsung berupa kiasan.

b) Perbandingan

Perbandingan adalah kiasan yang tidak disebut langsung. Benda yang

dikiaskan kedua-duanya ada bersama pengiasnya dan digunakan kata-kata seperti,

laksana, bagaikan, dan sebagainya (Waluyo, 1987:84). Menurut Pradopo

(2009:62), perbandingan ialah bahasa kias yang menyamakan satu hal dengan hal

lain dengan mempergunakan kata-kata pembanding seperti: bagai, sebagai, bak,

seperti, seumpama, laksana, dan kata-kata pembanding yang lain.

c) Personifikasi

Personifikasi adalah benda mati dianggap sepserti manusia. Hal ini guna

memperjelas penggambaran peristiwa dan keadaan itu (Waluyo, 1987:85).

Pradopo

(2009:75) mengatakan personifikasi adalah jenis bahasa kias yang

mempersamakan benda dengan manusia, benda-benda mati dibuat dapat berbuat,

(31)

d) Hiperbola

Hiperbola adalah kiasan yang berlebih-lebihan. Penyair merasa perlu

melebih-lebihkan hal yang dibandingkan itu agar mendapatkan perhatian yang

lebih seksama dari pembaca (Waluyo, 1987:85). Menurut Pradopo (2009:98),

hiperbola yaitu sarana yang melebih-lebihkan suatu hal atau keadaan.

e) Sinekdoce

Sinekdoce adalah menyebutkan sebagian untuk maksud keseluruhan,

atau menyebutkan keseluruhan untuk maksud sebagian (Waluyo, 1987:85).

Menurut Altenbernd (via Pradopo, 2009:78), sinekdoce adalah bahasa kiasan yang

menyebutkan suatu bagian yang penting suatu benda (hal) untuk benda atau hal

itu sendiri.

f) Ironi

Ironi adalah kata-katanya bersifat berlawanan untuk memberikan

sindiran. Ironi dapat berubah menjadi sinisme dan sarkasme, yakni penggunaan

kata-kata keras dan kasar untuk menyindir atau mengkritik (Waluyo, 1987:86).

(5) Versifikasi (Rima dan Ritma)

Menurut Wellek dan Warren (via Djojosuroto, 2005:22), peranan bunyi

mendapat perhatian penting dalam menentukan makna yang dihasilkan puisi (jika

puisi tersebut dibaca). Pembahasan bunyi di dalam puisi menyangkut masalah

rima dan ritma. Rima berarti persamaan atau pengulangan bunyi.

Waluyo (1987:94) mengatakan, bunyi dalam puisi menghasilkan rima

(32)

musikalitas atau orkestrasi. Adanya pengulangan bunyi, puisi menjadi merdu jika

dibaca. Ritma sangat berhubungan dengan bunyi, kata, frasa, dan kalimat.

Marjorie boulton (via Waluyo, 1987:90) menyebut rima sebagai phonetic

form. Jika bentuk fonetik itu berpadu dengan ritma, maka akan mampu

mempertegas makna puisi. Dalam rima terdapat onomatope, bentuk intern pola

bunyi, dan pengulangan kata/ungkapan.

a) Onomatope

Onomatope berarti tiruan terhadap bunyi-bunyi yang ada. Efek yang

dihasilkan akibat onomatope akan kuat terutama jika puisi tersebut dibacakan

secara keras (Waluyo, 1987:90). Wellek dan Warren (1995:200) menyimpulkan

bahwa onomatope yakni kelompok kata yang agak menyimpang dari sistem bunyi

bahasa pada umumnya. Onomatope disebut juga dengan peniruan bunyi. Peniru

bunyi dalam puisi kebanyakan hanya memberikan saran tentang suara sebenarnya.

Onomatope menimbulkan tanggapan yang jelas dari kata-kata yang tidak

menunjukkan adanya hubungan dengan hal yang ditunjuk, sebab dalam puisi

diperlukan kejelasan.

b) Bentuk intern pola bunyi

Menurut Boulton (via Waluyo, 1987:92), yang dimaksud bentuk internal

ini, adalah: aliterasi, asonansi, dan persamaan bunyi. Aleterasi merupakan

persamaan bunyi pada pada suku kata pertama (Waluyo, 1987:92).Cummings &

Simmons (1986:10) mengatakan, aliterasi adalah repetisi bunyi awal pada

(33)

Asonansi adalah gaya bahasa repetisi yang berjudul perulangan vokal

pada suatu kata atau beberapa kata, biasanya dipergunakan dalam puisi untuk

mendapatkan efek penekanan (Suroto, 1993:130). Sementara itu, Waluyo

(1991:92) menyatakan asonansi adalah ulangan bunyi vokal pada kata-kata tanpa

selingan persamaan bunyi-bunyi konsonan.

Zaidan (1989:41- 42) membedakan persamaan bunyi antara lain, a) rima

awal, yaitu persamaan bunyi yang terdapat pada awal baris pada tiap bait puisi, b)

rima tengah, yaitu persamaan bunyi yang terdapat di tengah baris pada bait puisi,

dan c) rima akhir, yaitu persamaan bunyi yang terdapat di akhir baris pada tiap

bait puisi. Menurut Waluyo (1989:93), pada rima akhir terdapat tiga pola, yaitu

persamaan bunyi dengan pola /aa, bb, cc, dd/ disebut juga saak berangkai,

persamaan bunyi dengan pola /ab, ab, cd, ef, ef/ disebut juga sajak bersilang, dan

persamaan bunyi dengan pola /abba, cddc, baab/disebut juga sajak berpeluk.

c) Pengulangan kata/ungkapan

Boulton (via Waluyo, 1987:93) menyatakan, pengulangan bunyi, kata,

frasa memberi efek intelektual dan efek magis yang murni. Pengulangan tidak

hanya terbatas pada bunyi, namun mungkin kata-kata, atau ungkapan.

Rima memiliki nilai estetik. Rima menghasilkan efek-efek yang

menyejukkan dan efek-efek yang dapat menyenangkan (pleasurable) dalam

sebuah puisi (Reaske,1966:21). Walaupun demikian, tidak berarti rima terlepas

dari makna puisi secara keseluruhan karena pada hakikatnya karya sastra adalah

(34)

Sementara itu, ritma berasal dari bahasa Yunani rheo yang berarti

gerakan-gerakan air yang teratur, terus-menerus, dan tidak putus-putus (mengalir

terus). Slametmuljana menyatakan bahwa ritma merupakan pertentangan bunyi:

tinggi/rendah, panjang/pendek, keras/lemah, yang mengalun dengan teratur

dan berulang-ulang sehingga membentuk keindahan (Waluyo, 1987:91).

Menurut Pradopo (2009:40), ritme adalah irama yang disebabkan pertentangan

atau pergantian bunyi tinggi rendah secara teratur, tetapi tidak merupakan jumlah

suku kata yang tetap, melainkan hanya menjadi gema dendang sukma penyairnya.

Dalam konteks karya sastra, ritma berarti gerakan yang teratur dari kata-kata atau

frasa-frasa dalam bait-bait puisi atau prosa (Cuddon, 1977:247).

(6) Tata Wajah/Tipografi

Menurut Waluyo (1987:97), tipografi merupakan pembeda yang penting

antara puisi dengan prosa dan drama. Perbedaan itu tampak pada susunan kalimat

atau kata-katanya yang biasanya membentuk bait. Larik-larik puisi tidak

membangun periodisitet yang disebut paragraf, namun membentuk bait.

1.1.2.2 Unsur Batin Puisi

Sebagaimana telah disebut di atas, unsur batin puisi merupakan wujud

kesatuan makna puisi yang terdiri atas tema, perasaan, nada, dan amanat yang

disampaikan penyair. Untuk memahami unsur batin puisi, pembaca harus

berusaha melibatkan diri dengan nuansa puisi, sehingga perasaan dan nada

(35)

Struktur batin puisi mengungkapkan apa yang hendak dikemukakan oleh

penyair dengan perasaan dan suasana jiwanya. Unsur batin puisi terdiri atas tema,

perasaan, nada, dan amanat (Waluyo, 1987: 102−106). Berikut ini akan dijelaskan

struktur batin puisi, beserta unsur-unsur yang membangun unsur tersebut.

(1) Tema (Sense)

Tema merupakan gagasan pokok yang dikemukakan oleh penyair. Pokok

pikiran atau pokok persoalan itu begitu kuat mendesak dalam jiwa penyair,

sehingga menjadi landasan utama pengucapannya. Tema puisi bersifat lugas,

objektif, dan khusus. Penafsiran-penafsiran puisi akan memberikan tafsiran tema

yang sama bagi seluruh puisi. Tema puisi harus dihubungkan dengan penyairnya

dan dengan konsep-konsepnya yang terimajinasikan (Waluyo, 1987: 106−107).

Jika desakan yang kuat itu berupa hubungan antara penyair dengan Tuhan maka

puisinya bertema ketuhanan.

Menurut Sudjiman (2006:79), tema adalah gagasan, ide, ataupun, pikiran

utama didalam karya sastra yang terungkap atau tidak. Djojosuroto (2005:24)

mengatakan, gagasan pokok yang dikemukakn penyair dalam puisi.

Berdasarkan pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa tema adalah

gagasan pokok yang dikemukakan oleh penyair. Pokok pikiran begitu kuat dalam

diri penyair sehingga menjadi landasan utama pengucapannya.

(2) Perasaan (Feeling)

Perasaan adalah rasa yang disampaikan penyair melalui puisinya. Puisi

mengungkap perasaan yang beraneka ragam . Perasaan yang menjiwai puisi bisa

(36)

menciptakan puisi, suasana perasaan penyair ikut diekspresikan dan harus dapat

dihayati oleh pembaca. Untuk mengungkapkan tema yang sama, penyair yang

satu dengan perasaan yang berbeda dari penyair lainnya, sehingga hasil puisi yang

diciptakan berbeda pula (Waluyo, 1987: 121).

(3) Nada (Tone) dan Suasana

Effendi (via Djojosuroto, 2005:25) mengatakan, nada sering dikaitkan

dengan suasana. Nada berarti sikap penyair terhadap pokok persoalan dan sikap

penyair terhadap pembaca. Suasana berarti keadaan perasaan yang ditimbulkan

oleh pengungkapan nada dan lingkungan yang ditangkap oleh pancaindera. Dalam

menulis puisi, penyair mempunyai sikap tertentu terhadap pembaca, apakah dia

ingin bersikap menggurui, menasihati, mengejek, atau bersikap lugas hanya

menceritakan sesuatu kepada pembaca. Sikap penyair kepada pembaca ini disebut

nada puisi. Dari sikap itulah terciptalah suasana puisi (Waluyo, 2003: 37). Nada

dan suasana puisi saling berhubungan karena nada puisi menimbulkan suasana

terhadap pembacanya.

(4) Amanat (Intention)

Amanat adalah maksud yang hendak disampaikan, imbauan, pesan atau

tujuan yang hendak disampaikan penyair. Amanat yang hendak disampaikan

penyair dapat ditelaah setelah kita memahami tema, rasa, dan nada puisi itu.

Amanat merupakan hal yang mendorong penyair untuk menciptakan puisinya.

Amanat tersirat di balik kata-kata yang disusun, dan juga berada di balik tema

(37)

berada dalam pikiran penyair, namun lebih banyak penyair tidak sadar akan

amanat yang diberikan (Waluyo, 1987: 134).

Amanat atau pesan merupakan kesan yang ditangkap pembaca setelah

membaca puisi. Amanat dirumuskan sendiri oleh pembaca puisi. Cara

menyimpulkan amanat puisi sangat berkaitan dengan cara pandang pembaca

terhadap suatu hal (Waluyo, 2003: 40). Walaupun ditentukan berdasarkan cara

pandang pembaca, amanat tidak dapat lepas dari tema dan isi puisi yang

dikemukakan penyair.

1.1.3 Pembelajaran Sastra (Puisi) di SMA

Pengajaran sastra merupakan suatu kegiatan yang sangat penting dan

sepatutnya tempat yang layak dalam dunia pendidikan. Pembelajaran sastra dapat

memberikan sumbangan yang maksimal untuk pendidikan secara utuh. Pengajaran

sastra dapat membantu pendidikan secara utuh apabila cakupannya meliputi empat

manfaat, yaitu: membantu keterampilan berbahasa, meningkatkan pengetahuan

budaya, mengembangkan cipta dan rasa, dan menunjang pembentukan watak

(Moody via Rahmanto, 1988: 16).

Tujuan pembelajaran sastra di SMA berdasarkan Kurikulum Tingkat

Satuan Pendidikan adalah untuk meningkatkan wawasan kehidupan, kemampuan

berbahasa, dan pengetahuan siswa, serta untuk mengembangkan kepribadian

siswa dengan menikmati dan memanfaatkan karya sastra (BSNP. 2006, via

Sunarti, 2007: 30). Menurut Gani (1988: 50), tujuan pembelajaran sastra menurut

(38)

a. Memfokuskan siswa pada pemilikan gagasan-gagasan dan perhatian yang lebih

besar terhadap masalah kemanusiaan dalam bentuk ekspresi yang

mencerminkan prilaku kemanusiaan.

b. Membawa siswa pada kesadaran dan peneguhan sikap yang lebih terbuka

terhadap moral, keyakinan, nilai-nilai, pemilikan perasaan bersalah, dan

ketaksaan dari masyarakat atau pribadi siswa.

c. Mengajak siswa mempertanyakan isyu yang sangat berkaitan denga prilaku

personal.

d. Memberikan kesempatan pada siswa untuk memperjelas dan memperdalam

pengertian-pengertiannya tentang keyakinan-keyakinan, perasaan-perasaan,

dan prilaku kemanusiaan.

e. Membantu siswa lebih mengenal dirinya yang memungkinkannya bersikap

lebih arif terhadap dirinya dan orang lain secara lebih cerdas, penuh

pertimbangan, dan kehangatan yang penuh simpatik).

Dalam pembelajaran sastra ada empat hal yang diuraikan, yaitu (1)

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), (2) Silabus dan RPP, dan (3)

Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Kurikulum Apresiasi Puisi, dan (4)

Pemilihan Bahan Ajar.

2.2.3.1 Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)

Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi,

dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan

kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu (Widharyanto:

(39)

Dalam Standar Nasional Pendidikan (SNP Pasal 1, Ayat 15), dijelaskan

bahwa Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) adalah kurikulum

operasional yang disusun dan dilaksanakan oleh tiap-tiap satuan pendidikan.

Penyusunan KTSP dilakukan oleh satuan pendidikan dengan memerhatikan dan

berdasarkan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang dikembangkan oleh

Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) (Wina Sanjaya, 2008: 128).

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) merupakan kurikulum

terbaru di Indonesia yang disarankan untuk dijadikan rujukan oleh para

pengembang kurikulum di tingkat satuan pendidikan. KTSP merupakan

kurikulum yang berorientasi pada pencapaian kompetensi. Kurikulum ini

merupakan penyempurnaan dari Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) (Wina

Sanjaya, 2008: 127). Dengan KTSP, siswa dituntut untuk lebih aktif dan guru

sebagai fasilitator sehingga suasana belajar mengajar yang sesungguhnya

menuntut adanya perhatian dan kemampuan siswa dalam memecahkan persoalan

yang dihadapi di kelas. Situasi yang diharapkan di sini adalah siswa lebih

berperan aktif dalam belajar.

Berdasarkan pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pendidikan

adalah alat atau saran untuk meningkatkan kesejahteraan manusia, baik jasmani

maupun rohani yang diterima secara formal serta berlangsung seumur hidup.

1.2.3.2Silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)

(1) Silabus

Dalam mempelajari sastra diperlukan suatu rencana pembelajaran yaitu

(40)

di dalam materi pokok, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian

kompetensi untuk penilaian (Depdiknas, 2006:7). Menurut Muslich (2007:23),

silabus adalah rencana pembelajaran pada kelompok mata pelajaran atau tema

tertentu, yang mencakup standar kompetensi, kompetensi dasar, materi pokok,

kegiatan pembelajaran, indikator, penilaian, alokasi waktu, dan bahan ajar.

Menurut Mulyasa (2007:190), silabus adalah rencana pembelajaran pada

suatu kelompok mata pelajaran dengan tema tertentu. yang mencakup standar

kompetensi, kompetensi dasar, materi pembelajaran, indikator, penilaian, alokasi

waktu, dan sumber belajar yang dikembangkan oleh setiap satuan pendidikan.

Selain itu, silabus merupakan penjabaran standar kompetensi dan kompetensi

dasar ke dalam materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, dan indikator

pencapaian kompetensi untuk penilaian hasil belajar.

Suatu silabus minimal memuat enam komponen utama, yakni: 1) standar

kompetensi, 2) kompetensi dasar, 3) indikator, 4) materi standar, 5) standar proses

(kegiatan belajar mengajar), dan 6) standar nilai. Pengembangan

komponen-komponen tersebut merupakan kewenangan mutlak guru, termasuk

pengembangan format silabus, dan penambahan komponen-komponen lain dalam

silabus di luar komponen minimal. Semakin rinci silabus, semakin memudahkan

guru dalam menjabarkannya ke dalam rencana pelaksanaan pembelajaran

(Mulyasa, 2007: 191).

Muslich (2007:28-30) mengungkapkan langkah-langkah pengembangan

silabus sebagai berikut:

(41)

2) Mengindentifikasi materi pokok

3) Mengembangkan pengalaman belajar

4) Merumuskan indikator keberhasilan belajar

5) Penentuan jenis penilaian

6) Menentukan alokasi waktu

7) Menentukan sumber belajar

Format silabus berbasis KTSP menurut Mulyasa (2007:208) minimal

mencakup: (1) standar kompetensi, (2) kompetensi dasar, (3) indikator, (4) materi

pembelajaran, (5) standar proses (kegiatan belajar-mengajar), dan (6) standar

penilaian.

(2) Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)

Dalam menyusun RPP, seorang guru hendaknya mencantumkan standar

kompetensi yang memayungi kompetensi dasar yang akan disusun dalam RPPnya.

RPP secara rinci harus memuat tujuan pembelajaran, materi pembelajaran, metode

pembelajaran, langkah-langkah kegiatan pembelajaran, sumber belajar, dan

penilaian (Rehulina, 2008:53).

Mulyasa (2007:213) mengatakan RPP merupakan upaya untuk

memperkirakan tindakan yang akan dilakukan dalam kegiatan pembelajaran. RPP

perlu dikembangkan untuk mengkoordinasikan komponen pembelajaran, yakni:

kompetensi dasar, materi standar, indikator hasil belajar, dan penilaian.

Muslich dalam bukunya Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan

(2007:46), mengungkapkan langkah-langkah yang dilakukan guru dalam

(42)

1) Ambillah satu unit pembelajaran yang diterapkan dalam pembelajaran.

2) Tulis standar kompetensi dan kompetensi dasar yang terdapat dalam

unit tersebut

3) Tentukan indikator untuk mencapai kompetensi dasar.

4) Tentukan alokasi waktu yang diperlukan untuk mencapai indikator

5) Rumuskan tujuan pembelajaran yang akan dicapai dalam pembelajaran

itu

6) Tentukan materi pembelajaran yang akan diberikan

7) Pilih metode pembelajaran yang dapat mendukung sifat materi dan

tujuan pembelajaran

8) Susunlah langkah-langkah kegiatan pembelajaran pada setiap rumusan

tujuan pembelajaran, yang bisa dikelompokkan menjadi kegiatan awal,

kegiatan inti, dan penutup.

9) Jika alokasi waktu untuk mencapai satu kompetensi dasar lebih dari

dua jam pelajaran, bagilah langkah-langkah pembelajaran menjadi

lebih dari satu pertemuan. Pembagian setiap jam pertemuan bisa

didasarkan pada satuan tujuan pembelajaran/jenis materi pembelajaran.

10)Sebutkan sumber/media belajar yang akan digunakan dalam

pembelajaran secara konkret dan untuk setiap unit pertemuan

11)Tentukan teknik penilaian, bentuk, dan contoh instrumen penilaian

yang akan digunakan untuk mengukur ketercapaian kompetensi dasar

(43)

Menurut Mulyasa (2007: 218), terdapat dua fungsi RPP dalam KTSP.

Kedua fungsi tersebut adalah fungsi perencanaan dan fungsi pelaksanaan.

a. Fungsi perencanaan

Fungsi RPP dalam KTSP adalah bahwa rencana pelaksanaan pembelajaran

hendaknya dapat mendorong guru lebih siap melakukan kegiatan pembelajaran

dengan perencanaa yang matang. Komponen-komponen yang harus dipahami

guru dalam pengembangan KTSP antara lain: kompetensi dasar, materi standar,

hasil belajar, indikator hasil belajar, penilaian, dan prosedur pembelajaran.

b. Fungsi pelaksanaan

Dalam pengembangan KTSP, rencana pelaksaan pembelajaran harus

disusun secara sistematik dan sistematis, utuh dan menyeluruh, dengan beberapa

kemungkinan penyesuaian dalam situasi pembelajaran yang aktual. Dengan

demikian, rencana pelaksanaan pembelajaran berfungsi untuk mengefektifkan

proses pembelajaran sesuai dengan apa yang direncanakan. Dalam hal ini, materi

standar yang dikembangkan dan dijadikan bahan kajian oleh peserta didik harus

disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuannya, mengandung nilai fungsional,

praktis, serta sesuai dengan kondisi dan kebutuhan lingkungan, sekolah, dan

daerah.

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran pada dasarnya adalah pengembangan

dari silabus. Apa yang dirumuskan dalam silabus menjadi dasar dalam

penyusunan RPP (Sanjaya, 2008:173). Selanjutnya, Sanjaya mengatakan

pembelajaran merupakan suatu sistem, yang terdiri atas komponen-komponen

(44)

pembelajaran adalah merencanakan setiap komponen yang saling berkaitan.

Dalam RPP minimal ada 5 komponen pokok, yaitu komponen tujuan, materi

pembelajaran, metode, media dan sumber pembelajaran, serta komponen evaluasi.

1.2.3.3Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Kurikulum Apresiasi

Puisi

Menurut Syarif, dkk (2009: 24) kompetensi dasar adalah sejumlah

kemampuan yang harus dikuasai peserta didik dalam mata pelajaran tertentu

sebagai rujukan penyusunan indikator kompetensi suatu pelajaran.

Dalam silabus pelajaran bahasa Indonesia pada tingkat pendidikan SMA,

terdapat empat aspek yang diajarkan dan dipelajari oleh guru dan siswa, yaitu

membaca, mendengarkan, berbicara, dan menulis. Berikut ini standar kompetensi

dan kompetensi dasar pelajaran Bahasa Indonesia yang terdiri dari kelas X

(45)

Tabel 2.1

Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar

Sekolah Menengah Atas Kelas X Semester 1dan 2, Kelas XI semester 1,

dan Kelas XII semester 2

Kelas X bentuk suatu puisi yang disampaikan secara langsung atau melalui

rekaman.

5.2 Mengungkapkan isi suatu puisi yang disampaikan secara langsung atau

7.1Membacakan puisi dengan lafal, nada, tekanan, dan intonasi yang benar

3 8. Mengungkapkan pikiran dan perasaan melalui kegiatan menulis puisi

8.1Menulis puisi lama dengan

memperhatikan bait, irama, dan rima 8.2Menulis puisi baru dengan

memperhatikan bait, irama, dan rima

Semester 2

4 14. Mengungkapkan

pendapat terhadap puisi melalui diskusi realitas alam, sosial budaya, dan masyarakat melalui diskusi

Kelas XI

No Standar kompetensi Kompetensi Dasar

1 4 Mengungkapkan

pengalaman dalam puisi, cerita pendek, dan drama

(46)

Kelas XII

No Standar kompetensi Kompetensi Dasar

Semester 1

1

1. Memahami pembacaan puisi terjemahan

1.1 Menentukan tema serta amanat puisi terjemahan yang dibacakan

1.2 Mengevaluasi puisi terjemahan yang dibacakan penggunaan bahasa dan nilai-nilai estetika yang dianut

3.2 Menganalisis puisi yang dianggap penting pada setiap periode untuk

8.1 Menganalisis sikap penyair terhadap sesuatu hal yang terdapat dalam puisi terjemahan yang dilisankan

(47)

1.2.3.4Pemilihan Bahan Ajar

Bahan ajar dalam pengajaran bahasa Indonesia ialah segala bahan yang

dapat digunakan oleh guru dan siswa untuk mencapai tujuan-tujuan yang

diinginkan. Agar pengajaran sastra dapat lebih berhasil, guru kiranya perlu

mengembangkan keterampilan khusus untuk memilih bahan pengajaran sastra

yang bahasanya sesuai dengan tingkat penguassaan bahasa siswanya. Menurut

Rahmanto (1988: 27-31), agar dapat memilih bahan pengajaran sastra dengan

tepat, beberapa aspek perlu dipertimbangkan. Aspek-aspek tersebut adalah:

Pertama bahasa, aspek kebahasaan dalam sastra tidak hanya ditentukan

oleh masalah-masalah yang dibahas, tapi faktor-faktor lain seperti: cara penulisan

yang dipakai si pengarang, ciri-ciri karya sastra pada waktu penulisan karya itu,

dan kelompok pembaca yang ingin dijangkau pengarang. Oleh karena itu, agar

pengajaran sastra dapat lebih berhasil, guru kiranya perlu mengembangkan

keterampilan khusus untuk memilih bahan pengajaran sastra yang bahasanya

sesuai dengan tingkat penguassaan bahasa siswanya.

Kedua psikologi, dalam memilih bahan pengajaran sastra harus

memperhatikan tahap-tahap perkembangan psikologi, karena tahap-tahap ini

berpengaruh terhadap minat dan keengganan anak didik dalam banyak hal. Tahap

perkembangan psikologis yang dimaksud sebagai berikut: tahap pengkhayal (8

sampai 9 tahun), imajinasi anak belum banyak diisi ha-hal yang nyata tetapi masih

penuh dengan berbagai macam fantasi; tahap romantik (10 sampai 12 tahun), anak

mulai meninggalkan fantasi dan mengarah ke realitas; tahap realistik (13 sampai

(48)

pada realitas. Mereka terus berusaha meneliti fakta-fakta untuk memahami

masalah-masalah dalam kehidupan nyata. Tahap terakhir adalah tahap generalisasi

(16 tahun dan selanjutnya). Pada tahap ini anak sudah tidak berminat lagi pada

hal-hal praktis saja tetapi berminat untuk menemukan konsep-konsep abstrak

dengan menganalisis suatu fenomena yang kadang-kadang mengarah ke

pemikiran filsafati untuk menentukan keputusan-keputusan moral.

Ketiga latar belakang budaya, biasanya siswa akan mudah tertarik pada

karya-karya dengan latar belakang kehidupan mereka. Guru hendaknya

memahami apa yang diminati oleh siswa, sehingga dapat menyajikan suatu karya

sastra yang tidak terlalu menuntut gambaran di luar jangkauan kemampuan

pembayangan yang dimiliki oleh para siswa.

Bahan pengajaran sangat penting bagi siswa. Agar siswa dapat belajar

dengan baik maka bahan yang disajikan haruslah tepat. Menurut Imron (via

Rinastuty, 2006:18) kriteria pengajaran yang baik haruslah mempertimbangkan

faktor-faktor berikut:

a. Cukup menarik. Apabila bahan pengajaran menarik hal ini akan dapat

menggugah rasa ingin tahu siswa dan menimbulkan hasrat belajar.

b. Isinya relevan dengan tujuan belajar sehingga tujuan belajar dapat

tercapai.

c. Mempunyai sekuensi atau urutan penyajian dari yang sederhana hingga

yang kompleks.

(49)

33

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian

Penelitian yang berjudul “Analisis Unsur Fisik dan Unsur Batin dalam

Puisi Seonggok Jagung Karya W. S. Rendra dan Implementasinya Dalam

Pembelajarn Sastra di SMA” termasuk jenis penelitian kualitatif. Menurut

Moleong (2007: 6), penelitian kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk

memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian, misalnya

perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dan lain-lain, secara holistik, dan dengan

cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus

yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah. Penelitian ini

termasuk penelitian kualitatif karena peneliti menguraikan data berupa kata-kata,

kalimat, dan paragraf, bukan berupa angka-angka.

Pendekatan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah pendekatan

struktural. Kata struktural mempunyai arti kesatuan yang terdiri atas

bagian-bagian yang saling berkaitan dalam memberi makna (Waluyo, 1992: 93).

Pendekatan struktural dilakukan sebagai dasar pengkajian unsur dalam karya

sastra. Unsur yang dianalisis dalam puisi “Seonggok Jagung” adalah unsur batin

(50)

3.1 Data dan Sumber Data Penelitian

Data penelitian ini diambil dari kumpulan puisi Rendra yang berjudul

“Potret Pembangunan dalam Puisi”. Kumpulan puisi tersebut diterbitkan pada

Tahun 1980 oleh Penerbit Lembaga Studi Pembangunan.

Sumber data dalam penelitian ini berupa puisi karya W. S. Rendra yang

berjudul “Seonggok Jagung”.

3.2 Metode Penelitian

Menurut Yudiono (1988: 14) metode dapat diartikan sebagai cara kerja

untuk memahami suatu objek yang menjadi sasaran penelitian. Metode dalam

penelitian ini adalah metode deskriptif analisis. Metode deskriptif adalah

prosedur pemecahan masalah yang diselidiki dengan menggambarkan atau

melukiskan objek penelitian berdasarkan fakta-fakta yang tampak sebagaimana

adanya (Nawawi, 1990: 73). Dalam penelitian ini puisi “Seonggok Jagung”

merupakan sumber faktanya. Dengan metode ini peneliti ingin mengalisis data

yang berupa unsur fisik dan unsur batin yang terkandung dalam puisi tersebut,

yang diimplementasikan dalam pembelajaran di sekolah.

3.3 Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling strategis dalam

penelitian, karena tujuan utama dalam penelitian adalah mendapatkan data.

Teknik pengumpulan data yang peneliti gunakan dalam penelitian ini adalah:

(51)

a. Membaca secara berulang-ulang dengan seksama bahan yang hendak

diteliti. Hal ini dimaksudkan untuk dapat lebih memahami isi dan maksud

dari puisi tersebut.

b. Menelaah dan membahas seluruh data yang hendak diteliti, kemudian

menerapkannya dalam pembahasan masalah.

2. Menafsirkan Teks

Melaksanakan tafsiran terhadap unsur fisik dan unsur batin puisi yang

terdapat didalam puisi.

3. Studi Pustaka

Teknik ini digunakan untuk menggali teori yang relevan dengan hal-hal yang

akan dikaji dalam penelitian ini.

3.5 Teknik Analisis Data

Menurut Bogdan dan Biklen (dalam Moleong, 2007: 248) analisis data

kualitatif adalah upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data,

mengorganisasikan data, memilah-milahnya menjadi satuan yang dapat dikelola,

mensintesiskannya, mencari dan menemukan pola, menentukan yang penting.

Penelitian ini dilakukan melalui beberapa tahapan, sebagai berikut:

1. Membaca Puisi “Seonggok Jagung” karya W.S. Rendra,

2. Mengidentifikasi unsur fisik dan unsur batin puisi,

3. Mengklasifikasikan unsur fisik dan unsur bati puisi,

4. Menampilkan contoh Rencana Program Pembelajaran berupa silabus dan

RPP, terhadap hasil analisis puisi Rendra tersebut, dan

(52)

36

BAB IV

ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN

4.1 Gambaran Umum Puisi “Seonggok Jagung”

Pada bagian ini akan disajikan kutipan puisi yang berjudul “Seonggok

Jagung” yang merupakan karya W. S. Rendra. Beberapa kritikus sastra menyebut

W. S. Rendra sebagai penyair terbesar setelah Chairil Anwar. Rendra adalah

penyair penting sejak tahun 50-an hingga akhir hayatnya.

Berikut merupakan kutipan puisi “Seonggok Jagung” (Sumber : Potret

Pembangunan dalam Puisi, 1980, hlm. 42−44).

Seonggok jagung di kamar dan seorang pemuda yang kurang sekolahan

Memandang jagung itu, sang pemuda melihat ladang ia melihat petani;

ia melihat panen; dan suatu hari subuh,

para wanita dengan gendongan pergi ke pasar ... Dan ia juga melihat

suatu pagi hari di dekat sumur gadis-gadis bercanda sambil menumbuk jagung menjadi maisena.

(53)

Seonggok jagung di kamar

dan seorang pemuda tammat S.L.A.

Tak ada uang, tak bisa menjadi mahasiswa. Hanya ada seonggok jagung di kamarnya.

Ia memandang jagung itu

dan melihat dirinya terlunta-lunta.

Ia melihat dirinya ditendang dari discotique. Ia melihat sepasang sepatu kenes di balik etalage. Ia melihat saingannya naik sepeda motor.

Ia melihat nomor-nomor lotre.

Ia melihat dirinya sendiri miskin dan gagal. Seonggok jagung di kamar

tidak menyangkut pada akal, tidak akan menolong.

Seonggok jagung di kamar

tak akan menolong seorang pemuda

yang pandangan hidupnya berasal dari buku, dan tidak dari kehidupan.

Yang tidak terlatih dalam metode, dan hanya penuh hafalan kesimpulan. Yang hanya terlatih sebagai pemakai, tetapi kurang latihan bebas berkarya.

Pendidikan telah memisahkannya dari kehidupan.

Aku bertanya:

Apakah gunanya pendidikan

bila hanya akan membuat seseorang menjadi asing di tengah kenyataan persoalannya ?

(54)

bila hanya mendorong seseorang menjadi layang-layang di ibu kota kikuk pulang ke daerahnya ? Apakah gunanya seseorang

belajar filsafat, sastra, teknologi, ilmu kedokteran, atau apa saja,

bila pada akhirnya,

ketika ia pulang ke daerahnya, lalu berkata: “Di sini aku merasa asing dan sepi !”

Sebagaimana telah dipaparkan di depan bahwa struktur puisi secara umum

terdiri atas dua bagian besar yakni struktur fisik dan struktur batin. Struktur fisik

puisi secara tradisional biasa disebut elemen bahasa, sedangkan struktur batin

puisi secara tradisional disebut makna puisi (Djojosuroto, 2004:15). Berikut

analisis unsur fisik dan unsur batin puisi “Seonggok Jagung”.

4.2 Analisis Unsur Fisik Puisi “Seonggok Jagung”

4.2.1 Diksi (pemilihan kata)

Pada puisi “Seonggok Jagung”, diksi kata-katanya tidak lembut dan

romantis. Pemilihan kata-kata yang diciptakan Rendra adalah khas puisi protes.

Hal tersebut dapat dilihat pada bait kedelapan, “Aku bertanya:/Apakah gunanya

pendidikan/ bila hanya akan membuat seseorang menjadi asing/di tengah

kenyataan persoalannya?....”. Kata-kata yang digunakan penyair tersebut

mengungkapkan rasa tidak puasnya kepada pemerintah atas kurangnya lapangan

pekerjaan.

Pada bait satu puisi Seonggok Jagung, penyair menggunakan kata “kurang

sekolah”. Kata yang digunakan penyair tersebut menggambarkan seseorang yang

(55)

kata-kata yang digunakan penyair adalah /ia melihat petani/, /ia melihat panen/,

/suatu hari subuh/, /para wanita dengan gendongan pergi ke pasar/, /gadis-gadis

menumbuk jagung/. Kata-kata tersebut merupakan kata yang menggambarkan

kegiatan masyarakat di suatu desa pada pagi hari. Secara tak langsung penyair

ingin memberitahu bahwa pada pagi hari tidak ada masyarakat yang ke kantor,

gadis-gadis yang berangkat kesekolah.

Pilihan kata yang digunakan penyair pada bait ke tiga yaitu, /otak dan

tangan/, /siap bekerja/. Kata-kata yang digunakan penyair tersebut menjelaskan

bahwa seorang pemuda yang akan bekerja dengan menggunakan pikiran dan

tenaganya. Pada bait ke empat tidak terdapat diksi, karena penyair hanya menulis

dua kata pada bait tersebut, dan kata tersebut mudah dipahami oleh pembaca.

Untuk menggambarkan cita-cita yang tidak dapat tercapai karena keadaan

terdapat pada bait ke lima, penyair mengambarkan dengan kata-kata “Tak ada

uang/ tak bisa menjadi mahasiswa”. Pemilihan kata-kata tersebut digunakan

penyair untuk melukiskan bahwa hanya orang-orang kaya yang bisa bersekolah.

Pada bait ke enam diksi yang gunakan penyair /ia melihat dirinya terlunta-lunta/.

Kata terlunta-lunta pada bait tersebut menggambarkan keadaan seorang pemuda

yang tidak bisa melanjutkan sekolah, tidak memiliki pekerjaan, dan hanya bisa

melihat keberhasilan teman-temannya.

Untuk melukiskan keprihatinan penyair dapat dilihat pada bait ke tujuh.

Penyair menggunakan kata-kata “Seonggok jagung di kamar/ tak akan menolong

seorang pemuda”. Pemilihan kata-kata tersebut menggambarkan keprihatinan

(56)

bahwa pemuda tersebut membutuhkan perhatian dan kepedulian. Kemudian untuk

mengungkapkan protesnya terhadap ketidakrelevan dunia pendidikan, penyair

menggunakan kata-kata seperti pada bait berikut.

Bait ke delapan:

Aku bertanya:

Apakah gunanya pendidikan

bila hanya akan membuat seseorang menjadi asing di tengah kenyataan persoalannya ?

Apakah gunanya pendidikan bila hanya mendorong seseorang menjadi layang-layang di ibu kota kikuk pulang ke daerahnya ? Apakah gunanya seseorang

belajar filsafat, sastra, teknologi, ilmu kedokteran, atau apa saja,

bila pada akhirnya,

ketika ia pulang ke daerahnya, lalu berkata: “Di sini aku merasa asing dan sepi!”

Rendra merasa bahwa pendidikan tidak ada artinya sama sekali. Apalah

artinya ilmu yang kita dapat, kalau hanya sebatas ilmu yang kita dapat pada saat

berada di bangku sekolah. Hal tersebut dipertegas oleh penyair dengan kata-kata

“apa gunanya pendidikan”.

Uraian di atas dapat kita lihat, penyair sengaja memilih kata-kata pada tiap

bait yang dapat memberikan daya sugesti untuk mengungkapkan maksudnya.

Dengan demikian, pembaca dapat membayangkan secara jelas apa yang terjadi

pada puisi tersebut. Ketika puisi tersebut dibaca, pembaca seakan-akan ikut

Gambar

Tabel 2.1 Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar
Tabel 2 1 Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar . View in document p.45

Referensi

Memperbarui...

Download now (116 pages)
Related subjects : struktur batin