Terapi Menulis Ekspresif untuk Menurunkan Kecemasan pada Anak Korban Bullying

Gratis

26
105
168
2 years ago
Preview
Full text
TERAPI MENULIS EKSPRESIF UNTUK MENURUNKAN KECEMASAN PADA ANAK KORBAN BULLYING (Expressive Writing Therapy in Reducing Anxiety Among Bullied Victim Children) Tesis Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Mencapai Derajat Magister Psikologi Profesi Program Studi Magister Psikologi Profesi Minat Utama Psikologi Klinis Anak Diajukan oleh Salmiyati 127029013 PROGRAM STUDI MAGISTER PSIKOLOGI PROFESI FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2017 Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara LEMBAR PERNYATAAN Saya yang bertanda tangan di bawah ini menyatakan dengan sesungguhnya bahwa tesis saya yang berjudul “Terapi Menulis Ekspresif untuk Menurunkan Kecemasan pada Anak Korban Bullying” merupakan hasil karya saya sendiri dan belum pernah diajukan ke perguruan tinggi manapun, sebagai syarat untuk memperoleh gelar Magister Psikologi Profesi Kekhususan Psikologi Klinis Anak di Universitas Sumatera Utara. Adapun bagian-bagian tertentu dalam penulisan tesis ini yang saya kutip dari hasil karya orang lain telah dituliskan sumbernya secara jelas sesuai dengan norma, kaidah, dan etika penulisan ilmiah. Jika terdapat hal-hal yang tidak sesuai dengan pernyataan ini maka saya bersedia menerima sanksi sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Medan, 28 Februari 2017 Salmiyati NIM. 127029013 Universitas Sumatera Utara Terapi Menulis Ekspresif untuk Menurunkan Kecemasan pada Anak Korban Bullying Salmiyati, Wiwik Sulistyaningsih, Eka Ervika ABSTRAK Penelitian ini bertujuan menguji efektivitas terapi menulis ekspresif untuk menurunkan kecemasan pada anak korban bullying. Metode yang digunakan adalah metode eksperimen dengan desain penelitian pretest posttest control group design yaitu merupakan desain eksperimen dengan melakukan pengukuran atau observasi sebelum dan setelah perlakuan diberikan pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Alat ukur yang digunakan adalah skala kecemasan yang diadaptasi dan dimodifikasi dari Spence Children’s Anxiety Scale (SCAS). Skala kecemasan ini mencerminkan simptom kecemasan dari enam area kecemasan yaitu separation anxiety, general anxiety, social anxiety, panic/agoraphobia, obsessive compulsive dan fear of physical injury. Sebanyak 8 orang anak korban bullying (6 perempuan dan 2 laki-laki), berusia 9-12 tahun dilibatkan sebagai subjek penelitian. Subjek dibagi menjadi 2 kelompok yaitu kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Masing-masing kelompok terdiri dari 4 orang anak (1 lakilaki dan 3 perempuan). Terapi menulis ekspresif dilakukan dalam 4 tahap yaitu tahap recognition, examination, juxtapisition dan application to the self. Data yang diperoleh selanjutnya dianalisa dengan menggunakan uji Mann Whitney sehingga diperoleh hasil bahwa tidak terdapat perbedaan kecemasan antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol (r = -0,72 dengan signifikan 0.564 (p > 0.05)). Selain itu juga dilakukan uji Wilcoxon pada kelompok kontrol, sehingga diperoleh hasil r = -0.13 dengan sig = 0.715 (p > 0.05), yang berarti bahwa terapi menulis ekspresif tidak efektif untuk menurunkan kecemasan pada anak korban bullying. Hal ini terjadi karena beberapa faktor diantaranya pencapaian insight pada subjek tidak berjalan lancar, karakteristik menulis ekspresif tidak terpenuhi, subjek masih mengalami bullying, jarak dan waktu menulis serta perbedaan dan karakteristik individu. Meskipun demikian, menulis ekspresif dapat digunakan sebagai media katarsis. . Kata kunci: terapi menulis ekspresif, kecemasan, anak korban bullying Universitas Sumatera Utara Expressive Writing Therapy in Reducing Anxiety Among Bullied Victim Children Salmiyati, Wiwik Sulistyaningsing, Eka Ervika ABSTRACT This research is aimed to investigate the effectiveness of expressive writing therapy in order to reduce anxiety bullied victim children. The method used is experimental method with pretest posttest control group design is an experimental design to make measurements or observations before and after treatment in the experimental group and control group. Data were collected using anxiety scale that was adapted and modified from Spence Children’s Anxiety Scale (SCAS) reflecting symptoms of anxiety in six area of anxiety: separation anxiety, general anxiety, social anxiety, panic/agoraphobia, obsessive compulsive and fear of physical injury. Subjects are 8 bullied victim children (6 girls and 2 boys) aged 912 years old. They are dividing into two groups: experimental group and control group. Each groups consisting of 4 children (3 girls and 1 boy). Expressive writing therapy done in 4 steps: recognition, examination, juxtaposition and application to the self. Data were analyzed using Mann Whitney test, the result showed that there were no differences anxiety between experimental group and control group ( r = - 0,72, sig 0.564 (p > 0.05)). Data also were analyzed using Wilcoxon test on experimental group ( r = -0.13 sig = 0.715 (p > 0.05)), the result showed that expressive writing therapy were not effective to reduce anxiety on bullied victim children. There are same factors that cause this to happen are achievement of insight on subject does not go smoothly, characteristics of expressive writing are not met, subjects still bullied, distance and time to write expressive, differences and characteristics individual. Nevertheless, expressive writing can be used to cathartic media. Keyword: expressive writing therapy, anxiety, bullied victim children Universitas Sumatera Utara KATA PENGANTAR Alhamdulillahirrabbil‘alamiin. Puji dan syukur peneliti panjatkan kehadiran Allah SWT atas rahmat dan hidayah-Nya sehingga peneliti dapat menyelesaikan tesis ini dengan baik. Penyusunan tesis yang berjudul “Terapi Menulis Ekspresif untuk Menurunkan Kecemasan pada Anak Korban Bullying” ini diajukan dalam rangka memenuhi persyaratan untuk memperoleh gelar Magister Psikologi Profesi pada Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara. Peneliti mengucapkan banyak terimakasih kepada papa Drs. H. Ahmad Syah, M.A dan mama Irmayati, BA atas do’a, kasih sayang, perhatian, kesabaran dan motivasi yang selalu diberikan kepada peneliti agar tetap semangat sehingga peneliti dapat melewati semua tantangan dan rintangan dalam menyelesaikan pendidikan ini. Tidak lupa peneliti mengucapkan terimakasih kepada abang Irdiyan Syah, ST, uda Afrizal Syah, SE dan kakak Irdayanti, S.IP. MA, Rahma Yuliza, S.Pd, Yulizar Kiki Wardahny, S.Pd untuk do’a dan motivasi yang diberikan kepada peneliti. Penyusunan tesis ini tidak terlepas dari bimbingan, bantuan dan dukungan berbagai pihak. Oleh karena itu peneliti juga mengucapkan terimakasih kepada: 1. Bapak Zulkarnain, Ph.D, Psikolog selaku Dekan Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara. 2. Ibu Dr. Wiwik Sulistyaningsih, M.Si, Psikolog selaku pembimbing I dan Koordinator Program Magister Psikologi Profesi Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara yang telah banyak memberikan bimbingan, arahan dan masukan untuk penyelesaian tesis ini. 3. Ibu Eka Ervika, M.Si, Psikolog selaku pembimbing II dan Koordinator Kekhususan Psikologi Klinis Anak yang telah memberikan bimbingan, masukan dan dukungan dalam penyelesaian tesis ini. 4. Ibu Debby Anggraini Daulay, M.Psi, Psikolog selaku dosen penguji yang telah banyak memberikan saran dan kritikan demi kesempurnaan penulisan tesis ini. 5. Seluruh dosen Magister Psikologi Profesi yang telah memberikan ilmu dan pendidikan kepada peneliti selama peneliti mengikuti pendidikan Magister Psikologi Profesi. 6. Seluruh pegawai Sekretariat Magister Psikologi Profesi yang telah banyak memberikan bantuan dan dukungan kepada peneliti selama mengikuti pendidikan Magister Psikologi Profesi. 7. Kepala sekolah beserta seluruh guru yang telah memberikan izin dan kesempatan kepada peneliti untuk melakukan penelitian di sekolah bapak dan ibu. 8. Siswa-siswi yang telah bersedia meluangkan waktu untuk membantu peneliti selama melakukan penelitian. 9. Kak Reni, Wina, kak Evi, Helva, Arti, Ira dan Ami atas dukungan yang diberikan kepada peneliti selama ini. 10. Teman-teman MP2 angkatan VII kak ummi, bang ebit, kak Dita, kak Eka, kak Yeni, bu Quartini, kak Susi, Yustian, Dea, Techa, Linda, tante Mestika, Universitas Sumatera Utara Desta, kak Ika dan Alin untuk kebersamaan, suka dan duka yang kita lewati bersama selama mengikuti pendidikan Magister Psikologi Profesi. 11. Teman-teman kekhususan klinis anak angkatan 2013 bang Surya, kak Stevi, Sarah, Muna, Putri, Reti dan kak Siska atas bantuan dan informasi yang diberikan selama peneliti menyelesaian tesis ini. 12. Pihak-pihak lain yang tidak dapat peneliti sebutkan satu persatu, yang telah memberikan bantuan dalam penyelesaian tesis ini. Akhir kata, peneliti berharap Allah SWT berkenan membalas segala kebaikan dan bantuan yang telah peneliti terima. Peneliti menyadari keterbatasan diri, ilmu dan pengalaman sehingga tesis ini masih jauh dari sempurna. Untuk itu peneliti mengharapkan saran dan kritik yang sifatnya membangun dari semua pihak demi kesempurnaannya. Harapan peneliti semoga karya ini bermanfaat bagi para pembaca. Medan, 28 Februari 2017 Peneliti Universitas Sumatera Utara DAFTAR ISI Hal. HALAMAN JUDUL ........................................................................................ i LEMBAR PENGESAHAN .............................................................................. ii LEMBAR PERNYATAAN .............................................................................. iii ABSTRAK ........................................................................................................ iv KATA PENGANTAR ...................................................................................... vi DAFTAR ISI ..................................................................................................... ix DAFTAR TABEL ............................................................................................. xii DAFTAR GAMBAR ........................................................................................ xiv DAFTAR LAMPIRAN ..................................................................................... xv BAB I PENDAHULUAN 1 A. Latar Belakang Masalah ............................................................ 1 B. Perumusan Masalah .................................................................. 8 C. Tujuan Penelitian ...................................................................... 8 D. Manfaat Penelitian .................................................................... 9 E. Sistematika Penelitian ............................................................... 9 BAB II LANDASAN TEORI 11 A. Bullying ..................................................................................... 11 A.1. Definisi Bullying ............................................................... 11 A.2. Bentuk-Bentuk Bullying .................................................... 12 A.3. Faktor Penyebab Terjadinya Bullying ............................... 14 A.4 Dampak Bullying ................................................................ 15 Universitas Sumatera Utara B. Kecemasan ................................................................................ 17 B.1. Definisi Kecemasan ........................................................... 17 B.2. Bentuk-Bentuk Kecemasan ............................................... 19 B.3. Penyebab Kecemasan ........................................................ 28 B.4. Gejala Kecemasan ............................................................. 30 C. Terapi Menulis Ekspresif .......................................................... 31 C.1. Definisi Terapi Menulis Ekspresif .................................... 31 C.2. Karakteristi Terapi Menulis Ekspresif .............................. 33 C.3. Faktor yang Mempengaruhi Menulis Ekspresif ................ 35 C.4. Proses Terapi Menulis Ekspresif ....................................... 37 D. Masa Kanak-Kanak Akhir ........................................................ 41 D.1. Definisi Masa Kanak-Kanak Akhir ................................... 41 D.2. Aspek Perkembangan Kanak-Kanak Akhir ...................... 41 E. Anak Korban Bullying .............................................................. 46 F. Kecemasana pada Anak Korban Bullying ................................. 47 G. Terapi Menulis Ekspresif untuk Menurunkan Kecemasan pada Anak Korban Bullying .............................................................. 48 H. Hipotesa Penelitian .................................................................... 53 BAB III METODE PENELITIAN 54 A. Variabel Penelitian .................................................................... 54 B. Definisi Operasional ................................................................. 54 C. Desain Penelitian ...................................................................... 55 D. Subjek Penelitian ...................................................................... 56 Universitas Sumatera Utara E. Metode Penelitian ..................................................................... 56 F. Prosedur Penelitian ................................................................... 58 G Analisa Data .............................................................................. 70 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 71 A. Deskripsi Subjek Penelitian ...................................................... 71 B. Pelaksanaan Penelitian .............................................................. 71 C. Hasil Analisa Data .................................................................... 79 D. Pembahasan ............................................................................... 98 E. Keterbatasan Penelitian ............................................................. 104 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 105 A. Kesimpulan ............................................................................... 105 B. Saran ......................................................................................... 106 DAFTAR PUSTAKA 107 LAMPIRAN Universitas Sumatera Utara DAFTAR TABEL Tabel 2.1 Profil perkembangan keterampilan motorik ............................... 42 Tabel 2.2 Profil perkembangan keterampilan kognitif ............................... 43 Tabel 2.3 Profil perkembangan bahasa ....................................................... 44 Tabel 2.4 Level pemahaman emosi ............................................................ 46 Tabel 3.1 Skema desain penelitian ............................................................. 56 Tabel 3.2 Blue print skala kecemasan ....................................................... 59 Tabel 3.3 Distribusi aitem setelah uji daya beda aitem .............................. 61 Tabel 3.4 Topik terapi menulis ekspresif ................................................... 62 Tabel 3.5 Blue print modul terapi menulis ekspresif .................................. 63 Tabel 3.6 Gambaran skor kecemasan anak korban bullying berdasarkan skor empirik ................................................................................ 67 Tabel 3.7 Gambaran skor kecemasan anak korban bullying berdasarkan skor hipotetik .............................................................................. 67 Tabel 3.8 Norma Kategori kecemasan ....................................................... 68 Tabel 3.9 Kategori skor kecemasan ............................................................ 68 Tabel 4.1 Karakteristik subjek penelitian ................................................... 71 Tabel 4.2 Proses pelaksanaan pertemuan pertama ..................................... 72 Tabel 4.3 Proses pelaksanaan pertemuan kedua ......................................... 73 Tabel 4.4 Proses pelaksanaan pertemuan ketiga ........................................ 75 Tabel 4.5 Proses pelaksanaan pertemuan keempat ..................................... 77 Tabel 4.6 Proses pelaksanaan pertemuan kelima ....................................... 78 Tabel 4.7 Distribusi skor kecemasan kelompok eksperimen dan kelompok kontrol ......................................................................................... 80 Universitas Sumatera Utara Tabel 4.8 Statistik deskriptif kelompok eksperimen dan kelompok kontrol ......................................................................................... 80 Tabel 4.9 Hasil uji komparatif skor kecemasan kelompok eksperimen dan kelompok kontrol ................................................................. 81 Tabel 4.10 Skor kecemasan berdasarkan tipe kecemasan ............................ 83 Universitas Sumatera Utara DAFTAR GAMBAR Gambar 2.1` Paradigma penelitian .................................................................. 52 Gambar 3.1 Skema screening dan pemilihan subjek penelitian ..................... 69 Gambar 4.1 Perbandingan skor kecemasan subjek dengan skor rata-rata kelompok .................................................................................... 82 Gambar 4.2 Perbandingan skor kecemasan subjek A berdasarkan tipe kecemasan pada kondisi pretest dan posttest ............................ 85 Gambar 4.3 Perbandingan skor kecemasan subjek B berdasarkan tipe kecemasan pada kondisi pretest dan posttest ............................ 89 Gambar 4.4 Perbandingan skor kecemasan subjek C berdasarkan tipe kecemasan pada kondisi pretest dan posttest ............................ 93 Gambar 4.5 Perbandingan skor kecemasan subjek D berdasarkan tipe kecemasan pada kondisi pretest dan posttest ............................ 96 Universitas Sumatera Utara DAFTAR LAMPIRAN LAMPIRAN A 1. Surat permohonan izin penelitian 2. Surat keterangan telah melaksanakan penelitian 3. Inform concern LAMPIRAN B 1. Alat ukur penelitian 2. Data uji coba skala kecemasan 3. Hasil uji coba skala kecemasan LAMPIRAN C 1. Data penelitian 2. Hasil pengolahan data penelitian Universitas Sumatera Utara BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kasus kekerasan yang terjadi dilingkungan sekolah, akhir-akhir ini terus mengalami peningkatan. Salah satu satunya yaitu kasus bullying. Bullying merupakan salah satu bentuk perilaku agresif, selama perilaku tersebut terjadi di lingkungan sekolah, maka bullying merupakan salah satu bentuk kekerasan di sekolah (Olweus, 1999; Leung & To, 2009). Menurut Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), kasus bullying menduduki peringkat teratas berdasarkan kasus pengaduan masyarakat yang masuk ke KPAI. Dari tahun 2011 hingga 2014 tercatat sebanyak 369 pengaduan terkait kasus bullying. Jumlah ini sekitar 25% dari total pengaduan dibidang pendidikan (1480 kasus), mengalahkan kasus tauran pelajar, diskriminasi pendidikan ataupun aduan kasus pungutan liar (republika edisi Rabu 15 Oktober 2014). Diantara kasus bullying yang terjadi diantaranya kasus menghilangnya seorang siswi kelas III Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Jakarta Timur setelah mengikuti kegiatan les pendalaman materi Ujian Nasional (UN), karena merasa tertekan dengan perlakuan yang tidak menyenangkan yaitu diinjak, diludahi dan dijambak dari beberapa teman perempuan (newsokeone, edisi 12 Mei 2015). Saat ini bullying juga terjadi di tingkat Sekolah Dasar (SD), seperti beredarnya video kekerasan yang dilakukan oleh siswa SD di Bukittinggi, Sumatera Barat pada tahun 2014. Pada video tersebut terlihat beberapa siswa dan Universitas Sumatera Utara siswi secara bergantian melakukan pemukulan terhadap seorang siswi (kpai edisi 16 Oktober 2014). Berdasarkan pengakuan salah seorang siswi yang juga pernah menjadi korban di SD tersebut bahwa aksi kekerasan yang dilakukan kepada korban dalam video telah berlangsung setiap hari sejak tahun lalu (metronews edisi 13 Oktober 2014). Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Amy pada tahun 2006, bahwa diperkirakan sekitar 10% - 16% pelajar Sekolah Dasar (SD) kelas IV-VI di Indonesia mengalami bullying sebanyak satu kali perminggu (Soedjatmiko, Nuramzah, Mauren & Wiguna, 2013). Kasus bullying merupakan permasalahan yang tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di negara lain seperti Jepang, dimana bullying lebih dikenal dengan istilah ijime. Berdasarkan hasil survei yang dilakukan oleh Kementerian Pendidikan Jepang bahwa terjadi peningkatan jumlah kasus bullying di sekolah. Tercatat sekitar 198.108 kasus bullying terjadi di tahun akademik 2013 atau mengalami peningkatan tiga kali lebih tinggi dibandingkan dengan tahun sebelumnya (tribunnwes edisi 10 Desember 2013). Hasil survei tersebut kemudian menemukan bahwa 117.383 kasus bullying terjadi di Sekolah Dasar, 63.634 terjadi di Sekolah Menengah dan 16.274 terjadi di Sekolah Tinggi (berisatu edisi 30 Desember 2013). Selain itu berdasarkan hasil survei global yang dilakukan oleh latitude News, bahwa Jepang berada pada posisi pertama dengan kasus bullying tertinggi dan Indonesia sendiri pada berada pada posisi kedua (uniqpost edisi 20 Oktober 2012). Bullying terjadi karena adanya perbedaan kekuatan antara pelaku dan korban, adanya kesengajaan yang dilakukan oleh pelaku untuk menyakiti korban Universitas Sumatera Utara dan terjadi secara berulang (Gillette & Danniels, 2009). Bullying yang terjadi dapat dalam bentuk fisik ataupun verbal (Ates & Yagmurlu 2010). Menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh Hertinjung (2013) bahwa bentuk bullying yang sering dialami oleh korban di sekolah yaitu bullying verbal, fisik dan relasi. Menurut Murphy & Banas (2009) bahwa anak-anak yang menjadi target bullying biasanya memiliki karakteristik eksternal seperti secara fisik lebih kecil, lebih besar atau paling tinggi diantara anak yang lain, perbedaan etnik, religi, latar belakang budaya atau kemampuan yang dimiliki berbeda dari anak yang lain. Serta karakteristik internal seperti bersikap pasif terhadap bullying, tidak mampu berinteraksi dengan lingkungan atau merupakan individu yang provokatif, sehingga membuat anak tersebut menjadi rentan untuk mengalami bullying. Bullying tidak hanya menyebabkan munculnya masalah perilaku tetapi juga masalah emosi (Soedjatmiko, Nurhamzah, Mauren & Wiguna, 2013). Pada anak yang menjadi pelaku bullying lebih terlibat dalam perilaku eksternalizing seperti conduct problem dan terlibat deliquen behaviour , sedangkan pada anak yang menjadi korban bullying cenderung melaporkan perilaku yang lebih internalisasi seperti kecemasan dan depresi (Espelage & Holt, 2001; Haynie, Nansel & Eitel, 2001; Swear, Espelage & Napolatino, 2009) dan dapat menyebabkan anak takut untuk pergi ke sekolah (Murphy & Banas, 2009). Selain itu dampak bullying juga dapat menyebabkan masalah ketika anak menjadi dewasa. Sebuah penelitian menemukan bahwa menjadi korban bullying pada masa anak-anak atau remaja berkaitan dengan peningkatan kecemasan sosial pada masa dewasa. Partisipan dengan tingkat bullying yang tingg selama masa remaja atau Universitas Sumatera Utara anak-anak mengalami kecemasan yang lebih saat berada di situasi sosial, selama masa anak-anak atau remaja (McCabe, Antony, Summerfeldt, List Swinson, 2003; Corney, Hazler, OH. Hibel. Granger. 2010). Kecemasan adalah perasaan yang tidak menyenangkan dari rasa takut dan khawatir yang disertai dengan rangsangan fisiologis (Davison, 2004). Kecemasan pada masa kanak-kanak sering terlihat sebagai rasa takut, pembangkangan atau ledakan tangisan dalam situasi stres (Mian & Carter. 2013). Kecemasan dapat menjadi perasaan tidak menyenangkan yang meningkat tanpa alasan jelas, terdiri dari gabungan gejala fisik, seperti telapak tangan basah, sakit perut, gejala perilaku, seperti menghindar dan gejala komponen kognitif, seperti saya akan gagal atau orang-orang akan tertawa (Dadds & Barret, 2001). Kecemasan pada masa anak-anak merupakan hal yang biasa terjadi, dan dapat menjadi alarm yang diaktifkan saat mereka menerima situasi berbahaya, memalukan atau penuh tekanan. Pada situasi tersebut kecemasan dapat bermanfaat dan membantu anak untuk mengatur situasi menjadi lebih baik, Jika kecemasan berada pada tingkat yang rendah dan dapat dikontrol, namun jika kecemasan yang dirasakan berada pada tingkat tinggi, maka dapat berdampak negatif pada hubungan sosial atau personal anak dan juga mengakibatkan munculnya masalah fisik dan emosi (Herrero, Sandi & Venero, 2006). Anak-anak dengan masalah kecemasan mengalami beberapa kondisi yaitu tidak realistik dan memiliki kekhawatiran berlebihan tentang peristiwa yang telah terjadi dan akan terjadi, penampilan, membutuhkan rasa aman, mengeluhkan sakit perut tanpa adanya penyebab fisik, kegelisahan, merasa tegang, kelelahan, Universitas Sumatera Utara kesulitan berkonstrasi, mudah marah, panik, menghindari situasi, stres dalam situasi sosial, fobia dan obsesi kompulsif (Dadds & Barret, 2001). Selain itu, kecemasan yang berlebihan atau tinggi juga dapat berdampak pada proses belajar anak. Hal ini dikarenakan ketika seseorang mengalami kecemasan yang tinggi, ia akan menjadi kurang mampu untuk mengelompokkan informasi dan kurang efektif dalam memproses keadaan yang terjadi, sebab mereka kehilangan energi dan menghabiskan perhatian untuk mengatur kecemasan dan menjadi lebih mudah untuk mengingat sedikit saja pentunjuk mengenai situasi yang dialami, sehingga keadaan ini membimbing mereka untuk kehilangan kapasitas kerja dan memori (Heimberg, 1993; Hashempour & Mehrad, 2014). Kecemasan pada dasarnya merupakan emosi yang normal, namun ketika kecemasan tersebut berlebihan, tidak lagi tepat dengan stimulus yang ada atau mulai mengganggu kualitas hidup anak, kenyamanan emosi atau aktivitas seharihari, maka kecemasan tersebut dapat dianggap sebagai gangguan (Allen, Leonard, Swedo, 1995; Asbahr, 2004). Keadaan mengancam yang secara terus menerus memunculkan ketakutan dan kecemasan, beresiko menyebabkan efek jangka panjang pada setiap anak yang tidak dibantu untuk mengatasi kecemasan tersebut. Menulis ekspresif merupakan salah satu media yang dapat membantu individu untuk mengungkapkan perasaan yang dirasakan dan yang sulit untuk diungkapkan atau diceritakan secara lisan, sehingga dapat mengurangi kecemasan yang dialami. Ketika seseorang merahasiakan atau menutupi perubahan emosi yang dirasakan terhadap peristiwa yang dialami secara signifikan lebih Universitas Sumatera Utara memberikan efek yang merugikan terhadap kesehatan dari pada seseorang yang secara terbuka mengungkapkan yang dirasakannya (Pannabaker & Chung, 2007). Melalui menulis ekspresif individu bebas menulis untuk mengeksplor pikiran dan perasaan yang sulit diungkapkan tanpa perlu khawatir disalahkan (Balton, 1999 & Balton, 2011), dapat dilakukan dalam berbagai bentuk tulisan, seperti puisi, menulis cerita, jurnal, karangan bebas dan lirik lagu (Malchiodi, 2007). Menulis ekspresif juga memiliki efek terapeutik yang dapat menyembuhkan (Balton, 1999), merupakan bentuk ekspresi katarsis dan self-help (Riordan, 1996; Qonitatin, Widyawati & Asih, 2011). Sebagaimana yang diungkapkan oleh Pannebaker (1999) bahwa nilai utama dari menulis ekspresif adalah kemampuannya mengurangi pengekangan. Selain itu, terapi menulis ekspresif membantu individu untuk memahami dirinya dengan lebih baik dan membantu individu dalam menghadapi depresi, distress, kecemasan, adiksi, ketakutan terhadap penyakit, kehilangan dan perubahan dalam kehidupan (Balton, 2011). Hal ini juga didukung dari beberapa hasil penelitian yang menemukan bahwa melalui menulis ekspresif dapat membantu mengatasi permasalahan-permasalahan psikologis. Diantaranya yaitu menulis ekspresif efektif mengurangi kecemasan berbicara di depan umum (Susanti & Supriyanti, 2013), menulis ekspresif memiliki pengaruh signifikan terhadap depresi ringan (Qonitatin, Widyawati dan Asih, 2011) dan menulis ekspresif efektif mengurangi emosi marah pada remaja. Menulis ekspresif tidak hanya dilakukan untuk orang dewasa ataupun remaja, tetapi juga dilakukan pada anak-anak. Pada masa anak-anak, mereka Universitas Sumatera Utara mulai mencoba mengungkapkan ide, pemikiran dan perasaan yang mereka miliki melalui kata-kata (Papalia, 2010). Selain itu, anak juga sudah lebih mampu untuk bergerak maju mundur dalam mengurutkan dan menjelaskan bagaimana suatu peristiwa saling berhubungan (Hudson & Shapiro, 1991; Friedman, 2003; Fivush, Marin, Croford, Reynolds & Brewin, 2007). Anak juga sudah lebih mampu untuk memberikan penjelasan sebab akibat bagaimana dan mengapa suatu tindakan terjadi (Trabasso & Rodkin, 1994; Van der Broek, 1997; Fivush dkk, 2007) dan telah mampu menempatkan suatu kejadian dalam hubungannya dengan kejadian lainnya (Fivush & Haden, 1997; Friedman, 2003; Fivush, dkk, 2007). Menulis ekspresi dapat menjadi tidak efektif pada beberapa anak. Hal ini dapat terjadi jika anak belum mengembangkan keterampilan kognitif untuk membingkai ulang situasi traumatis yang dialaminya, (Fivush, dkk. 2007). Selain itu, Perbedaan individu seperti jenis kelamin dapat pula mempengaruhi kemampuan anak untuk menulis ekspresif. Pada anak perempuan, mereka dapat menulis lebih banyak informasi, lebih detail, lebih emosional dan lebih banyak menceritakan tentang situasi interpersonal tentang pengalaman pribadinya jika dibandingkan dengan anak laki-laki di awal masa kanak-kanak hingga masa dewasa (Fivush & Buckner, 2003; Fivush, dkk. 2007). Pannebaker & Chung (2007) menyebutkan beberapa kondisi yang dapat mempengaruhi efek dari menulis ekspresif, diantranya topik yang diungkap ketia menulis seperti menulis tentang topik yang emosional memiliki efek positif terhadap kesehatan seseorang. Lamanya jarak antara menulis ekspresif dengan terjadinya peristiwa emosional yang dialami. Menulis ekspresif mungkin tidak tepat digunakan ketika individu Universitas Sumatera Utara baru mengalami peristiwa emosional, namun dapat digunakan beberapa minggu atau bulan setelah peristiwa emosional tersebut terjadi. Meskipun demikian, pada beberapa penelitian menemukan bahwa menulis ekspresif yang dilakukan pada anak-anak memberikan efek positif terhadap anak. Sebagaimana penelitian yang dilakukan oleh Thabet (2006) pada anak yang mengalami trauma di Ghaza. Dari penelitian tersebut diperoleh hasil bahwa setelah sesi expressive writing berakhir, anak merasa sangat bahagia dan optimis, setelah 2 bulan kemudian dilaporkan bahwa anak mengalami tidur yang lebih baik dan mengurangi simtom kecemasan. Begitu pula pada penelitian Utami dan Kumara (2003) bahwa menulis ekspresif sebagai media terapi membantu anak memahami emosi positif dan negatif serta mampu mengekspresikannya kepada orang lain. Berdasarkan uraian di atas, peneliti tertarik untuk mengetahui efektivitas terapi menulis ekspresif untuk menurunkan kecemasan pada anak korban bullying. B. Perumusan Masalah Berdasarkan uraian di atas, maka permasalahan yang dapat dirumuskan dalam penelitian ini adalah bagaimana efektivitas terapi menulis ekspresif untuk menurunkan kecemasan pada anak korban bullying. C. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas terapi menulis ekspresif untuk menurunkan kecemasan pada anak korban bullying. Universitas Sumatera Utara D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis a. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan data empiris bagi disiplin ilmu psikologi klinis anak, terutama berkaitan dengan terapi menulis ekspresif dan kecemasan pada anak kususnya anak korban bullying. b. Hasil penelitian ini dapat dijadikan bahan referensi sebagai penunjang penelitian selanjutnya yang berkaitan dengan terapi menulis ekspresif dan kecemasan pada anak khususnya anak korban bullying. 2. Manfaat Praktis a. Hasil penelitian ini diharapkan dapat membantu anak yang menjadi korban bullying dalam mengatasi kecemasan yang dialaminya. b. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan penjelasan bagi berbagai pihak yang berhubungan dengan anak, seperti para orangtua mengenai efektivitas terapi menulis ekspresif untuk menurunkan kecemasan pada anak korban bullying. E. Sistematika Penelitian Adapun sistematika penulisan dari penelitian ini adalah: Bab I : Pendahuluan Dalam bab ini berisikan uraian mengenai latar belakang permasalahan, perumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian dan sistematika penulisan. Universitas Sumatera Utara Bab II : Tinjauan Pustaka Dalam bab ini diuraikan beberapa teori yang digunakan dalam penelitian yaitu terapi menulis ekspresif, kecemasan dan bullying. Bab III : Metode penelitian Dalam bab ini diuraikan tentang pendekatan yang digunakan dalam penelitian, metode pengumpulan data, subjek penelitian, prosedur penelitian, tahap pelaksanaan penelitian dan metode analisa data. Bab IV: Hasil Penelitian dan Pembahasan Dalam bab ini akan diuraikan hasil yang diperoleh dari penelitian, diuraikan secara kelompok dan individual serta pembahasan terkait dengan hasil yang diperoleh. Bab V: Kesimpulan dan Saran Dalam bab ini akkan diuraikan tentang kesimpulan penelitian dan saransaran baik saran metodelogis maupun saran praktis. Universitas Sumatera Utara BAB II LANDASAN TEORI A. Bullying A.1. Definisi Bullying Menurut Sampson (2002) bullying memiliki dua komponen yaitu kejahatan yang berulang dan kekuatan yang tidak seimbang. Ong (2003) mengatakan bahwa bullying menjadi perhatian ketika kejahatan atau perilaku agresif terhadap individu atau kelompok muncul menjadi sesuatu yang tidak beralasan, disengaja dan biasanya terjadi secara berulang, adanya ketidakseimbangan kekuatan antara pelaku dan korban. Olweus (dalam Cowie & Jennifer, 2008) mendefinisikan bullying sekolah sebagai bagian dari perilaku agresif dengan karakteristik utama yaitu seseorang yang menjadi korban bullying mengalami perilaku agresif dari satu orang atau lebih yang terjadi berulang kali dari waktu ke waktu. Sedangkan Rigby (dalam Ong, 2003) mendefinisikan bullying yaitu adanya suatu keinginan untuk menyakiti yang diikuti dengan tindakan, terdapat ketidaksimbangan kekuatan dan terjadi secara berulang, dimana pelaku menikmati penyerangan yang dilakukannya dan target merasa tertindas dengan penyerangan tersebut. Menurut American Psychological Association bullying adalah ancaman dan perilaku agresif yang terus menerus (menetap) langsung terhadap orang lain, khususnya seseorang yang lebih kecil atau lemah (Vanden, 2007; Swearer, Espelage & Napolitani, 2009). Universitas Sumatera Utara 12 Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa bullying merupakan bagian dari perilaku agresif yang dilakukan karena adanya kesengajaan untuk menyakiti dari satu orang atau kelompok yang lebih kuat kepada seseorang yang lemah dan terjadi secara berulang dari waktu ke waktu. A.2. Bentuk-Bentuk Bullying Bullying dapat terjadi dalam berbagai bentuk. Beane (2008) membagi bullying ke dalam tiga bentuk, yaitu: a. Bullying fisik Diantaranya memukul, menampar, menyikut, membanting, mendorong, menyandung, menendang, mengambil atau mencuri, merusak, dan mengotori miliki orang lain. b. Bullying verbal Bullying verbal terkadang lebih menyakitkan daripada bullying fisik. Beberapa contoh bullying verbal diantaranya: memanggil dengan nama panggilanyang tidak disukai, komentar menghina dan ejekan, menggoda terus menerus, komentar rasis dan pelecehan, ancaman dan intimidasi, membicarakan orang lain tanpa sepengetahuannya. c. Bullying sosial atau relasi Diantaranya menghancurkan atau memanipulasi hubungan (contoh: membuat teman terbaik seseorang untuk melawannya), menghancurkan reputasi (contoh: gosip, menyebarkan rumor jahat dan berbohong tentang seseorang), mengeluarkan seseorang dari kelompok (contoh: penolakan Universitas Sumatera Utara 13 sosial, mengucilkan), mempermalukan, gerak tubuh yang negatif, dan mengancam. Sedangkan Murphy & Banas (2009) membedakan bullying menjadi 3 tipe, yaitu: a. Bullying secara langsung Bullying secara langsung dapat berupa verbal, seperti memanggil dengan nama panggilan yang tidak disukai, menghina, menggoda, mengancam. Serta dapat pula dilakukan secara fisik, seperti mendorong, menyandung, memukul atau mencoba melukai fisik korban. b. Bullying secara tidak langsung Bullying tipe ini tidak terlihat tetapi menyakiti korban. Disebut juga “relasional” atau bullying sosial, seperti mengeluarkan seseorang dari kelompok atau menyebarkan rumor tentang seseorang c. Cyberbullying Merupakan salah satu bentuk bullying sosial dengan menggunakan internet. Cyberbullying terjadi ketika seseorang diganggu, dipermalukan diancam atau disiksa oleh orang lain menggunakan internet dan teknologi komunikasi seperti cellphone. Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa bullying dapat terjadi dalam 3 bentuk, yaitu bullying fisik, bullying verbal dan bullying sosial atau relasi. Ketiga bentuk bullying tersebut dapat terjadi secara langsung seperti bullying fisik dan verbal, secara tidak langsung seperti bullying relasional dan menggunakan media internet atau cyberbullying. Universitas Sumatera Utara 14 A.3. Faktor Penyebab Terjadinya Bullying Ong (2003) menyebutkan bahwa tidak terdapat faktor tunggal yang mempengaruhi terjadinya bullying. Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi terjadi bullying diantaranya: a. Dinamika keluarga Berhubungan dengan bagaimana anggota keluarga saling berinteraksi satu dengan yang lainnya. Keluarga yang menggunakan bullying sebagai cara berinteraksi mengajarkan anak bahwa bullying merupakan cara yang tepat untuk berinteraksi dengan orang lain dan cara untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. b. Media Gambar dan pesan yang terdapat di media mempengaruhi penilaian terhadap perilaku bullying. Gambar kekerasan yang terdapat di media mungkin dinilai sebagai sebuah pembenaran terhadap perilaku kekerasan dalam kehidupan sehari-hari. c. Norma kelompok teman sebaya Aturan dalam kelompok teman sebaya dapat memunculkan gagasan bahwa bullying “bukan suatu masalah yang besar”. Terkadang dalam hubungan pertemanan, pelaku bullying percaya bahwa bullying dapat mengajarkan target bagaimana mereka harus bersikap dalam kelompok. d. Teknologi Penggunaan teknologi memungkin pelaku bullying untuk melakukan bullying melalui dunia maya. Melalui internet pelaku dapat mengirimkan Universitas Sumatera Utara 15 pesan gambar, atau kata-kata yang menyakitkan dan dalam waktu yang bersamaan mendapat perhatian dari orang lain yang bukan target bullying. e. Budaya sekolah Budaya sekolah dapat memberikan konstribusi terhadap perilaku bullying, jika sekolah memilih untuk mengabaikan tanda-tanda bullying yang terjadi di lingkungan sekolah. Bedasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa bullying terjadi karena dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya dinimika keluarga, media, norma kelompok teman sebaya, teknologi dan budaya sekolah. A.4. Dampak Bullying Bullying menyebabkan kehidupan seseorang yang menjadi korban menjadi tidak menyenangkan. Mereka mengalami luka-luka, menjadi tidak senang untuk datang ke sekolah, mempengaruhi konsentrasi dan belajar dan sebagian anak mengalami stres dengan simtom sakit perut, sakit kepala, mimpi buruk atau kecemasan (Sharp & Smith, 2003). Ong (2003) mengatakan bahwa anak yang menjadi korban bullying mengalami berbagai emosi negatif diantaranya ketakutan, kecemasan, kemarahan, frustrasi, tidak berdaya, penghinaan, merasa sendiri dan dijahui oleh orang lain. Dampak bullying tidak hanya dirasakan oleh korban tetapi juga oleh pelaku bullying. Berikut adalah beberapa dampak dari peristiwa bullying (Gilliet & Daniels, 2009): Universitas Sumatera Utara 16 a. Korban bullying beresiko untuk mengalami kecemasan, kesepian, selfesteem rendah, social self-competence rendah, depresi, simtom psikosomatis, menarik diri dari lingkungan sosial, mengalami masalah kesehatan fisik, lari dari rumah, menggunakan obat-obat terlarang dan alkohol, bunuh diri, performansi akademik menjadi rendah. b. Pelaku bullying beresiko untuk terlibat perkelahian, mengalami luka karena berkelahi, merusak atau mencuri properti, meminum alkohol, merokok, membolos dari sekolah, dan dikeluarkan dari sekolah Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa bullying tidak hanya memiliki dampak bagi korban tetapi juga bagi pelaku bullying. Bagi korban, bullying dapat menyebabkan stres, mengalami berbagai emosi negatif seperti ketakutan, kecemasan, kemarahan, frustrasi, tidak berdaya, penghinaan, merasa sendiri dan dijahui oleh orang lain. Sedangkan bagi pelaku , bullying menyebabkan luka fisik dan terlibat perilaku merusak, hingga di keluarkan dari sekolah. B. KECEMASAN B.1. Definisi Kecemasan Kecemasan merupakan hal yang biasa terjadi pada setiap individu dan merupakan pengalaman yang normatif serta memiliki fungsi dalam perkembangan (Wenar, 2007). Keadaan tegang yang ditimbulkan karena kecemasan memberikan motivasi untuk berbuat sesuatu dan berfungsi sebagai alarm untuk memberikan peringatan akan adanya ancaman bahaya (Corey, 2009). Namun kecemasan dapat menjadi abnormal jika tingkat kecemasan yang dirasakan tidak sesuai dengan Universitas Sumatera Utara 17 proporsi ancaman yang ada atau muncul tanpa alasan yang jelas yaitu bukan merupakan respon terhadap perubahan lingkungan ( Nevid, Rathus & Greene, 2005). Kecemasan memiliki dua komponen yaitu kesadaran terhadap sensasi fisiologis dan kesadaran bahwa individu merasakan perasaan gugup dan ketakutan (Sadock & Sadock, 2010). Froggatt (2003 dalam Supriyantini, 2010) juga menyebutan bahwa istilah kecemasan mengacu pada perasaan tidak nyaman dan ketakutan, ditambah dengan gejala fisik yang tidak menyenangkan termasuk ketegangan otot, denyut jantung yang bertambah cepat, mulut kering, badan berkeringat dan gemetar. Hal yang sama juga dikemukana Davison (2004) bahwa kecemasan adalah perasaan yang tidak menyenangkan dari rasa takut dan khawatir yang disertai dengan rangsangan fisiologis. Sedangkan Slameto (2003 dalam Rahayu, 2014) mengemukakan bahwa kecemasan adalah kecenderungan seseorang untuk merasa terancam oleh sejumlah kondisi yang sebenarnya tidak berbahaya. Kecemasan tidak hanya berpengaruh terhadap motorik, tetapi juga mempengaruhi pikiran, menimbulkan kebingungan persepsi dan distorsi persepsi. Seseorang yang mengalami kecemasan cenderung memperhatikan hal tertentu dalam lingkungannya dan mengabaikan hal lain untuk membuktikan bahwa mereka dibenarkan untuk menganggap situasi tersebut menakutkan. Jika keliru dalam membenarkan rasa takutnya, mereka akan meningkatkan kecemasan dengan respon selektif dan membentuk lingkaran setan kecemasan persepsi yang mengalami distorsi dan kecemasn yang meningkat (Sadock & Sadock, 20103). Universitas Sumatera Utara 18 Susan & Hoksema (2007) menggambarkan perbedaan antara respon adaptif terhadap ancaman, yang kemudian dibedakan menjadi respon takut yang adaptif dan kecemasan yang maladaptif, yaitu: 1. Pada takut yang adaptif, perhatian seseorang terhadap suatu keadaan adalah realistik, sedangkan pada kecemasan yang maladaptif perhatian seseorang tidak realistik. 2. Pada takut yang adaptif jumlah rasa takut yang dialami sebanding dengan ancaman yang ada, sedangkan pada kecemasan yang maladaptif jumlah rasa takut yang dialami tidak sebanding dengan ancaman. 3. Pada takut yang adaptif, rasa takut akan berkurang ketika ancaman berakhir, tetapi pada kecemasan yang maladaptif rasa takut atau perhatian individu masih tetap ada meskipun ancaman telah berlalu dan mungkin memiliki banyak kecemasan untuk mengantisipasi keadaan yang akan datang. Kecemasan merupakan istilah yang digunakan untuk menjelaskan beberapa kondisi, yaitu menjelaskan kondisi dari suatu periode perasaan, pola umum dari perasaan dan untuk menjelaskan gangguan klinis yang signifikan (Foa et al, 2005; Huaggard, 2008). Pendapat lain menyatakan bahwa kecemasan merupakan manifestasi dari berbagai emosi yang terjadi ketika seseorang mengalami tekanan perasan, sehingga meimbulkan gejolak perasaan yang tidak menyenangkan dalam bentuk gelisah, takut atau merasa bersalah (Drajat, 1998 dalam Supriyantini, 2010). Barlow (2002) mengatakan bahwa kecemasan dapat dianggap sebagai perpaduan dasar dari emosi bawaan yang masing-masing Universitas Sumatera Utara 19 dimodifikasi oleh pembelajaran dan pengalaman. Individu dapat belajar untuk mengasosiasikan emosi takut dengan sejumlah besar faktor kognitif dan situasional, termasuk munculnya emosi-emosi lain yang terkait. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kecemasan adalah manifestasi emosi dalam bentuk perasaan takut, khawatir atau gelisah yang disebabkan oleh situasi mengancam atau berbahaya. B.2. Bentuk-bentuk Kecemasan Freud (Corey, 2010) membedakan kecemasan menjadi 3 hal yaitu: 1. Kecemasan realistik Merupakan kecemasan yang muncul karena rasa takut terhadap bahaya yang berasal dari dunia luar. Taraf kecemasan sesuai dengan tingkat ancaman yang ada dan akan mereda jika sumber-sumber kecemasan yang mengancam hilang. 2. Kecemasan neorotik Merupakan kecemasan yang muncul akibat rasa takut terhadap tidak terkendalinya tindakan naluri-naluri yang menyebabkan seseorang melakukan suatu tindakan yang dapat mendatangkan hukuman bagi dirinya. 3. Kecemasan moral Merupakan kecemasan yang muncul karena rasa takut terhadap hati nurani sendiri. Seseorang yang hati nuraninya berkembang dengan baik Universitas Sumatera Utara 20 cenderung merasa berdosa apabila melakukan sesuatu yang berlawanan dengan kode moral yang dimilikinya. Sundari (Rahayu, 2014) juga mengemlompokkan kecemasan menjadi 3 yaitu: 1. Kecemasan merasa berdosa atau bersalah. Misalnya ketika seseorang melakukan sesuatu yang bertentangan dengan hati nuraninya atau keyakinannya. 2. Kecemasan yang diakibatkan karena melihat atau mengetahui bahaya yang mengancam dirinya. 3. Kecemasan dalam bentuk yang kurang jelas, apa yang ditakuti tidak seimbang. Rasa takut sebenarnya suatu perbuatan yang biasa atau wajar jika ada sesuatu yang ditakuti dan seimbang. Spence (1997) merujuk kepada DSM IV mengelompokkan bentuk simptom kecemasan yang diperlihatkan anak ke dalam enam area kecemasan, yaitu: 1. Panic and agoraphobia Panic yaitu periode dari ketakutan yang intens atau ketidaknyamanan yang disertai dengan simptom somatik dan kognitif. Berdasarkan DSM IV, kriteria panic diantaranya: a. (1). Terdapat pengulangan panic attack yang tidak terduga (2) Minimal satu dari attacks disertai dengan periode satu bulan kondisi berikut: a) Adanya serangan tambahan b) Khawatir mengenai implikasi dari serangan dan dampaknya Universitas Sumatera Utara 21 c) Adanya perubahan perilaku yang signifikan berkaitan dengan serangan b. Panic attacks tidak berkaitan dengan efek fisiologis langsung suatu zat atau kondisi medis umum c. Gangguan panik tidak berkaitan dengan gangguan mental lainnya seperti sosial phobia, specific phobia,, obsessive-compulsive disorder, PTSD, Separation anxiety disorder . Agoraphobia yaitu kecemasan berada di tempat atau situasi yang sulit untuk melarikan diri. Berdasarkan DSM IV, kriteria Agoraphobia, yaitu: a. Hadirnya Agoraphobia yang berkaitan dengan rasa takut yang berkembang sejalan dengan symptom panik. b. Kriteria gangguan ini tidak sejalan dengan panic disorder . c. Gangguan ini tidak berkaitan dengan efek fisiologis suatu zat atau kondisi medis umum. d. Jika terdapat hubungan dengan kondisi medis umum, maka rasa takut yang digambarkan dalam kriteria A secara jelas akan dihubungkan dengan kondisi tersebut. 2. Social phobia Ketakutan yang menetap dan bertahan dari situasi sosial yang dapat menimbulkan perasaan malu. Berdasarkan DSM IV, kriteria social phobia , yaitu: Universitas Sumatera Utara 22 a. Adanya rasa takut akan satu atau lebih situasi atau performa sosial dimana individu tersebut berhadapan dengan orang lain yang belum akrab terhadapnya. b. Berhadapan dengan situasi sosial yang ditakuti bervariasi dapat berupa situtionally bound, atau situationally predisposed panic attacks. c. Individu mengenali bahwa rasa takutnya berlebihan dan tidak rasional. d. Situasi atau performa sosial dihindari. e. Penghindaran, kecemasan, atau distress mengganggu rutinitas normal, pekerjaan, aktivitas sosial. f. Usia individu dibawah 18 tahun dan durasi gangguan minimal 6 bulan g. Rasa takut atau avoidance tidak berkaitan dengan efek fisiologis suatu zat atau kondisi medis umum h. Jika kondisi medis umum hadir atau gangguan mental lain hadir maka rasa takut pada kriteria A tidak berkaitan dengannya. 3. General anxiety kecemasan dan kekhawatiran yang berlebihan tentang sejumlah situasi atau aktivitas, dimana individu sulit untuk mengontrol kekhawatiran tersebut. Berdasarkan DSM IV, kriteria general anxiety, yaitu: a. Kecemasan dan kekhawatiran yang muncul minimal 6 bulan mengenai beberapa aktivitas seperti pekerjaan atau performa sekolah. b. Individu mengalami kesulitan dalam mengontrol kekhawatiran. Universitas Sumatera Utara 23 c. Kecemasan dan kekhawatiran dihubungkan dengan 3 atau lebih simptom berikut: 1) Gelisah 2) Mudah merasa lelah 3) Sulit konsntrasi 4) Irritability 5) Ketegangan otot 6) Gangguan tidur d. Fokus kecemasan ini tidak berkaitan dengan gangguan pada AXIS I e. Kecemasan, kekhawatiran, atau simptom fisik yang dialami menimbulkan distress yang signifikan secara klinis dan mengganggu sosial, pekerjaan dan area fungsional lainnya. f. Gangguan ini tidak berkaitan dengan efek fisiologis langsung suatu zat atau kondisi medis umum. 4. Separation anxiety Kecemasan yang berlebihan terhadap perpisahan dari orang-orang yang memiliki kedekatan emosional. Berdasarkan DSM IV, kriteria separation anxiety yaitu: a. Perkembangan yang tidak wajar dan kecemasan yang berlebihan mengenai pemisahan dari rumah atau figur lekat, sebagaimana dibuktikan oleh tiga (atau lebih) dari hal-hal berikut: (1). Tekanan berlebihan berulang saat perpisahan dari rumah atau obyek lekat terjadi atau diantisipasi. Universitas Sumatera Utara 24 (2). Kekhawatiran yang terus-menerus dan berlebihan tentang kehilangan, atau tentang kerusakan yang mungkin menimpa, tokoh objek lekat. (3). Khawatir yang terus menerus dan berlebihan dimana suatu peristiwa yang tak diin

Dokumen baru