Strategi Pengembangan Hutan Pinus Rakyat Di Kabupaten Tana Toraja

Gratis

0
19
132
2 years ago
Preview
Full text
STRATEGI PENGEMBANGAN HUTAN PINUS RAKYAT DI KABUPATEN TANA TORAJA MELEWANTO PATABANG SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2007 PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN SUMBER INFORMASI Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis Strategi Pengembangan Hutan Pinus Rakyat di Kabupaten Tana Toraja adalah karya saya dengan arahan dosen pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir tesis ini. Bogor, Maret 2007 Melewanto Patabang NIM E051050021 ABSTRAK MELEWANTO PATABANG. Strategi Pengembangan Hutan Pinus Rakayat di Kabupaten Tana Toraja. Dibimbing oleh NURHENI WIJAYANTO dan HARDJANTO. Pemanfaatan kayu pinus hasil tanaman rakyat di Tana Toraja secara intensif mulai dilakukan sejak dibukanya industri pengolahan kayu pinus pada Tahun 2002. Perusahaan diberi izin dengan sejumlah pembatasan dan persyaratan untuk membeli hasilnya baik dari segi jumlah potensi yang harus dibeli maupun sumber atau asal kayu pinus. Tahun 2006 Pemerintah Kabupaten Tana Toraja kembali mengijinkan pemanfaatan kayu pinus rakyat dan menawarkan bagi para investor yang berminat untuk menanamkan modalnya dalam pemanfaatan hutan pinus rakyat di Kabupaten Tana Toraja melalui pembukaan industri pengolahan hasil hutan pinus. Upaya pemanfaatan termaksud di atas tentunya membutuhkan suatu strategi dalam menyusun perencanaan pemanfaatan yang didasarkan atas data yang akurat dan komprehensif. Penelitian ini dilaksanakan dengan maksud untuk menyusun suatu strategi pengembangan hutan pinus milik rakyat yang dapat menjamin manfaat ekonomi disamping manfaat ekologi. Analisis SWOT digunakan sebagai langkah awal untuk menyusun strategi dengan bantuan metode AHP, sedangkan analisis ISM digunakan untuk menemukan model strukturalnya dalam penyusunan strategi pengembangan. Hasil analisis SWOT menunjukkan posisi hutan pinus rakyat berada pada sel 2 yang menunjukkan bahwa strategi yang harus diterapkan adalah ST (strength – threat) dengan cara: (1) membentuk dan meningkatkan peran kelompok/kelembagaan petani, (2) mengembangkan pola agroforestri untuk peningkatan produktifitas lahan dan melakukan penyadapan getah untuk peningkatan nilai ekonomi pinus, (3) melakukan penataan areal untuk mengatur produksi/tebangan dan penanaman dalam rangka menjamin kontinuitas hasil, dan (4) menjamin kepastian pemanfaatan lahan tongkonan. Hasil analisis struktural pengembangan hutan pinus rakyat menunjukkan bahwa setiap elemen dalam pengembangan hutan pinus rakyat memiliki subelemen kunci. Akan tetapi tiap elemen ini ada yang menghasilkan model struktur yang berbeda. Dari hasil analisis ini dapat diketahui bahwa strategi yang diterapkan dalam pengembangan hutan rakyat adalah melakukan kerjasama antara petani dengan lembaga pemerintah, lembaga adat, perusahaan dan LSM serta lembaga pendidikan dalam penyusunan rencana dan pelaksanaan kegiatan. Kata kunci : Hutan pinus rakyat, strategi pengembangan, kekuatan, ancaman ABSTRACT MELEWANTO PATABANG. The Strategy of Farm Pine Forest Development in Tana Toraja Regency. Under the direction of NURHENI WIJAYANTO and HARDJANTO. The exploitation of pine wood owned in Tana Toraja has just begun since pine wood manufacturing industry opened in 2002. In 2004, the activity of this manufacture was stopped because there where some people to protest the activity in which they assumed that the exploitation and manufacturing of those pine trees would causes negative effect which the value itself could be much more than the financial result got from it, therefore, they claimed the manufacture to stop operating. In 2006, Tana Toraja Regency Government allowed the exploitation of the pine wood and offered the investors who where interested in invest their capital in the pine wood exploitation. The above exploitation effort certainly needed a strategy based on accurate and comprehensif data. The aim of the this research was to arrange a strategy of farm pine forest exploitation belonging to the people which could give both economy and ecology benefits. This research used SWOT analysis, Analytical Hierarchy Process, and Interpretative Structural Modelling. The result of the analysis indicated that the strategy that could be best applied was strength-threat (ST) increased the role of farmer organization, agroforestry pattern development in order to increase land productivity, to do regulating area for planting and harvest, and assured the exploitation of tongkonan land. The structural analysis result pointed to out that every element in masses pine forest development had key sub element. It could be indicated that the applied strategy in this masses forest development was strategy that based on the corporation among the farmers, government, company, and non government organization in the plan arrangement and implementation of the activity. Key words : Farm pine forest, development strategy, strength, threat © Hak cipta milik Institut Pertanian Bogor, tahun 2007 Hak cipta dilindungi Dilarang mengutip dan memperbanyak tanpa izin tertulis dari Institut Pertanian Bogor, sebagian atau seluruhnya dalam bentuk apapun, baik cetak, fotokopi, mikrofilm, dan sebagainya. STRATEGI PENGEMBANGAN HUTAN PINUS RAKYAT DI KABUPATEN TANA TORAJA MELEWANTO PATABANG Tesis sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains pada Program Studi Ilmu Pengetahuan Kehutanan SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2007 Judul Tesis : Strategi Pengembangan Hutan Pinus Rakyat di Kabupaten Tana Toraja Nama : Melewanto Patabang NIM : E 051050021 Disetujui Komisi Pembimbing Dr. Ir. Hardjanto, MS Anggota Dr. Ir. Nurheni Wijayanto, MS Ketua Diketahui Ketua Program Studi Ilmu Pengetahuan Kehutanan Dr. Ir. Rinekso Soekmadi, M.Sc Tanggal Ujian : 28 Maret 2007 Dekan Sekolah Pascasarjana Prof. Dr. Ir. Khairil Anwar Notodiputro, MS Tanggal Lulus : KATA PENGANTAR Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa karena hanya atas perkenaan-Nya sajalah sehingga penulis dapat menyelesaikan segala tugas dan kewajiban selama kuliah serta dapat menyelesaikan tulisan ini. Judul tesis ini adalah “Strategi Pengembangan Hutan Pinus Rakyat di Kabupaten Tana Toraja”. Tesis ini diharapkan dapat bermanfaat bagi semua pihak yang terkait dengan pengelolaan hutan rakyat (khususnya hutan pinus) di Kabupaten Tana Toraja dalam upaya pengembangan pemanfaatan sumberdaya hutan secara berkesinambungan. Rampungnya tulisan ini berkat adanya bimbingan, masukan, bantuan dan dukungan dari berbagai pihak. Sehubungan dengan hal termaksud maka penulis ucapkan terima kasih dan penghargaan kepada : 1. Dr. Ir. Nurheni Wijayanto, MS dan Dr. Ir. Hardjanto, MS selaku komisi pembimbing yang telah meluangkan waktunya memberikan bimbingan dan masukan untuk penyelesaian tesis ini. 2. Dekan Sekolah Pascasarjana dan Ketua Program Studi Ilmu Pengetahuan Kehutanan IPB beserta staf pengajar dan staf pegawai yang telah memberikan sumbangsih yang sangat besar bagi penulis dalam menyelesaikan studi di Sekolah Pascasarjana IPB. 3. Pemerintah Kabupaten Tana Toraja beserta stafnya, Kepala BP DAS Saddang beserta stafnya, Tokoh Masyarakat Toraja, Kepala Pusat P3DAS Unhas, LSM di Tana Toraja, PT. Nelly Jayapratama dan segenap masyarakat atas bantuan dan kerjasamanya dalam memberikan data dan masukan dalam penelitian ini. 4. Prof. Dr. Ir. Jusuf Salusu, MA selaku rektor UKI Paulus Makassar beserta seluruh teman-teman dosen dan staf pegawai di lingkup UKI Paulus yang telah memberikan bantuan moril bagi penulis dalam penyelesaian studi. 5. Prof. Dr. Ir. Daud Malamassam, M.Agr yang telah memberikan informasi data-data yang dibutuhkan dalam penelitian ini dan juga atas bantuan dana serta dorongan moril yang sangat berharga bagi penulis. 6. Keluarga Ir. Yusuf L. Limbongan, MP; keluarga Harsman Tandilittin, ST; keluarga dr. Tince Tandirerung; keluarga Ir. Aris Tanan, MM; Jurianto Bintan, SE; Bambang Apriono, S.Hut; Mika Samperompon, M.Si dan Wiro Arrunglangi, M.Si yang telah memberikan bantuan moril selama penulis mengikuti studi. 7. Segenap teman-teman mahasiswa Sekolah Pacasarna IPB khususnya mahasiswa Program Studi Ilmu Pengetahuan Kehutanan dan anggota Ikatan Pemuda Toraja Bogor (Yosepi, Ina, Nining, Dian dan kawan-kawan) yang telah membantu penulis selama mengikuti pendidikan. 8. Segenap teman-teman di Pondok Agathis dan keluarga Mang Uki atas bantuannya yang begitu berharga bagi penulis. 9. Segenap keluarga Patabang dan Paseru atas segala bantuannya berupa doa, bantuan dana dan dorongan moril bagi penulis. 10. Ayahanda M.H. Patabang dan ibunda A. Paseru, sudaraku tercinta : Santy, Lina dan Herdi serta sahabatku Rina Ratma atas doa, kasih sayang, cinta dan dukungannya sehingga penulis dapat mengikuti pendidikan. Penulis berharap tesis ini dapat bermanfaat dan dapat digunakan bagi segala keperluan yang sifatnya membangun dan penulis mohon maaf atas segala kekurangannya. Apa yang penulis sampaikan dalam tesis ini mungkin tidaklah berarti apa-apa dan hanya seperti sebuah benih pohon di tengah rimba raya. Namun setidaknya benih itu dapat tumbuh menjadi sebatang pohon yang akan turut menciptakan tegakan hutan dan kemudian tegakan ini akan turut membentuk hutan yang merupakan paru-paru bagi dunia. Bogor, Maret 2007 Melewanto Patabang RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Rantepao Tana Toraja pada tanggal 9 September 1973 dari ayah M.H. Patabang dan ibu A. Paseru. Penulis merupakan anak ketiga dari empat bersaudara. Tahun 1992 penulis lulus dari SMA Negeri 1 Rantepao. Penulis kemudian melanjutkan studi program sarjana pada Program Studi Manajemen Hutan Universitas Hasanuddin dan lulus pada Tahun 1998. Setelah lulus dari program sarjana penulis bekerja sebagai dosen tidak tetap pada Jurusan Kehutanan Universitas Hasanuddin dari tahun 1998 sampai tahun 2005. Pada tahun 2001 sampai sekarang penulis bekerja sebagai dosen tetap pada Fakultas Pertanian Universitas Kristen Indonesia Paulus Makassar. Tahun 2005 penulis diterima sebagai mahasiswa Pascasarjana Institut Pertanian Bogor pada Program Magister dengan Program Studi Ilmu Pengetahuan Kehutanan. Selama mengikuti pendidikan pascasarjana penulis juga menjadi pengurus Forum Wacana Mahasiswa Pascasarjana IPB. DAFTAR ISI Halaman DAFTAR TABEL ............................................................................................... v DAFTAR GAMBAR ........................................................................................... vii DAFTAR LAMPIRAN........................................................................................ ix PENDAHULUAN................................................................................................ 1 Latar Belakang ............................................................................................... Perumusan Masalah ....................................................................................... Tujuan ............................................................................................................ Manfaat Penelitian ......................................................................................... Alur Pikir Penelitian ...................................................................................... 1 4 5 6 6 TINJAUAN PUSTAKA ...................................................................................... 7 Hutan Rakyat di Indonesia ............................................................................ Perkembangan Hutan Pinus Rakyat di Tana Toraja ...................................... Pengelolaan dan Pengembangan Hutan Rakyat ............................................. Penyebaran dan Potensi Pinus (Pinus merkusii) di Indonesia ....................... Otonomi Daerah ............................................................................................ Analisis SWOT ............................................................................................. Proses Hirarki Analisis .................................................................................. Teknik Pemodelan Interpretasi Struktural ………..……………………….. Analisis Finansial ........................................................................................... 7 8 13 15 17 18 23 25 31 METODE PENELITIAN..................................................................................... 33 Waktu dan Lokasi .......................................................................................... Jenis Data yang Dikumpulkan........................................................................ Metode Pengambilan Contoh ....................................................................... Alat Analisis ................................................................................................. 33 33 34 34 HASIL DAN PEMBAHASAN .......................................................................... 37 Analisis Strategis ........................................................................................... 37 Analisis Struktural ......................................................................................... 69 Strategi Pengembangan Hutan Pinus Rakyat ................................................106 SIMPULAN DAN SARAN .................................................................................112 Simpulan ........................................................................................................112 Saran ..............................................................................................................113 DAFTAR PUSTAKA ..........................................................................................113 LAMPIRAN ........................................................................................................117 DAFTAR TABEL Halaman 1. Penyebaran dan luas hutan rakyat di Kabupaten Tana Toraja .................. 10 2. Perkembangan pemanfaatan hutan pinus rakyat di Kabupaten Tana Toraja …................…….......…………………………….......................... 12 3. Evaluasi variabel internal kekuatan ............................................................ 37 4. Hasil analisis finansial untuk masing-masing satuan pengelolaan .............. 38 5. Potensi hutan pinus rakyat di Kabupaten Tana Toraja ............................... 40 6. Luas lahan garapan keluarga pemilik hutan rakyat di Kabupaten Tana Toraja ............................................................................................... 44 7. Kontribusi pendapatan per tahun dari hutan rakyat pada wilayah studi ........................................................................................................... 44 8. Beberapa contoh aturan/hukum adat dalam aktivitas masyarakat Toraja ......................................................................................................... 47 9. Evaluasi variabel internal kelemahan ......................................................... 48 10. Luas penanaman yang dilakukan pada hutan rakyat di Kabupaten Tana Toraja Selama 15 Tahun Terakhir ................................................ 51 3 11. Harga jual pinus (Rp/m ) di Kabupaten Tana Toraja. ................................ 52 12. Evaluasi variabel eksternal peluang ............................................................ 57 13. Evaluasi variabel eksternal ancaman ......................................................... 61 14. Sektor masyarakat yang terpengaruhi. ........................................................ 70 15. Elemen kebutuhan program. ........................................................................ 74 16. Elemen kendala utama. ............................................................................... 78 17. Perubahan yang dimungkinkan ................................................................... 82 18. Elemen tujuan dari program ....................................................................... 86 19. Elemen tolok ukur untuk menilai setiap program ..................................... 90 20. Elemen aktivitas yang dibutuhkan guna perencanaan tindakan ................. 94 21. Ukuran aktivitas guna mengevaluasi hasil yang dicapai ............................ 98 22. Elemen lembaga yang terlibat dalam pelaksanaan program ...................... 102 DAFTAR GAMBAR Halaman 1. Alur pikir penelitian …….….……...……………………........................... 6 2. Proses pengambilan keputusan strategis ..................................................... 19 3. Diagram SWOT .......................................................................................... 20 4. Diagram teknik ISM ………......………………………...……………… 28 5. Hutan pinus rakyat di Kabupaten Tana Toraja yang subur dan luas ............................................................................................................. 40 6. Tanaman pinus rakyat di Kecamatan Mengkendek ................................... 42 7. Hasil kayu pinus yang digunakan sebagai bahan bangunan dan kayu bakar .................................................................................................... 43 8. Intersepsi, evaporasi dan transpirasi tanaman pinus (Pinus merkusii)......... 45 9. Sawah di Kabupaten Tana Toraja yang tidak kering di musim kemarau dan berada di dekat lokasi tanaman pinus .................................... 46 10. Lokasi bekas penebangan di Kecamatan Mengkendek .............................. 51 11. Bentuk hasil kayu pinus yang dijual ke industri ......................................... 52 12. Kondisi topografi hutan pinus rakyat ........................................................ 55 13. Tempat pengumpulan log industri ............................................................. 55 14. Balok kayu pinus yang ditempatkan di pinggir jalan ................................ 59 15. Diagram SWOT strategi pengembangan hutan pinus rakyat di Kabupaten Tana Toraja ........................................................................ 65 16. Diagram analisis matrik SWOT strategi pengembangan hutan pinus rakyat di Kabupaten Tana Toraja ................................................... 67 17. Matriks driver power – dependence elemen sektor masyarakat yang terpengaruhi ...................................................................................... 72 18. Diagram model struktural untuk elemen sektor masyarakat yang terpengaruhi ....................................................................................... 73 19. Matriks driver power – dependence kebutuhan dari program ................ 76 20. Diagram model struktural untuk elemen kebutuhan dari program ...................................................................................................... 76 21. Matriks driver power – dependence elemen kendala utama ...................... 80 22. Diagram model struktural untuk elemen kendala utama ............................ 81 23. Matriks driver power – dependence elemen perubahan yang dimungkinkan ............................................................................................. 84 24. Diagram model struktural untuk elemen perubahan yang dimungkinkan ............................................................................................. 85 25. Matriks driver power – dependence elemen tujuan dari program ....................................................................................................... 88 26. Diagram model struktural untuk elemen tujuan dari program ................... 89 27. Matriks driver power – dependence elemen tolok ukur untuk menilai setiap program ............................................................................... 92 28. Diagram model struktural untuk elemen tolok ukur untuk menilai setiap program ............................................................................... 93 29. Matriks driver power – dependence elemen aktivitas yang dibutuhkan guna perencanaan tindakan ..................................................... 96 30. Diagram model struktural untuk elemen aktivitas yang dibutuhkan guna perencanaan tindakan ..................................................... 97 31. Matriks driver power – dependence elemen ukuran aktivitas guna mengevaluasi hasil yang dicapai ...................................................... 100 32. Diagram model struktural untuk elemen ukuran aktivitas guna mengevaluasi hasil yang dicapai ................................................................ 101 33. Matriks driver power – dependence elemen lembaga yang terlibat dalam pelaksanaan program .......................................................... 104 34. Diagram model struktural untuk elemen lembaga yang terlibat dalam pelaksanaan program ....................................................................... 105 35. Alur acuan pengembangan hutan pinus rakyat di Kabupaten Tana Toraja ................................................................................................ 111 DAFTAR LAMPIRAN Halaman 1. Rekapitulasi data hasil wawancara dengan responden ........................... 117 2. Keadaan hutan rakyat Kabupaten Tana Toraja 3. Jenis tanah hutan rakyat di Kabupaten Tana Toraja .............................. 134 4. Keadaan toporafi hutan rakyat di Kabupaten Tana Toraja ..................... 134 5. Jumlah curah hujan dirinci per bulan di Kabupaten Tana Toraja (mm) ......................................................................................................... 135 6. Banyaknya hari hujan dirinci per bulan di Kabupaten Tana Toraja (dalam hari) .................................................................................. 135 7. Analisis finansial hutan pinus rakyat satuan pengelolaan I...................... 136 8. Analisis finansial hutan pinus rakyat satuan pengelolaan II .................... 137 9. Analisis finansial hutan pinus rakyat satuan pengelolaan III .................. 138 10. Analisis finansial hutan pinus rakyat satuan pengelolaan IV .................. 139 11. Analisis finansial hutan pinus rakyat satuan pengelolaan V ................... 140 .................................... 133 12. Hasil pembobotan faktor internal kekuatan dengan metode AHP ........... 141 13. Hasil pembobotan faktor internal kelemahan dengan metode AHP ........................................................................................................ 141 14. Hasil pembobotan faktor eksternal peluang dengan metode AHP........... 142 15. Hasil pembobotan faktor eksternal ancaman dengan metode AHP ......... 142 16. Reachibility matrix (RM) final dan interpretasinya untuk elemen sektor masyarakat yang terpengaruhi .................................................... 143 17. Reachibility matrix (RM) final dan interpretasinya untuk elemen kebutuhan dari program ……………………………………………… 144 18. Reachibility matrix (RM) final dan interpretasinya untuk elemen kendala utama ………………………………………………………….. 145 19. Reachibility matrix (RM) final dan interpretasinya untuk elemen perubahan yang dimungkinkan ………………………………………… 146 20. Reachibility matrix (RM) final dan interpretasinya untuk elemen tujuan dari program ……………………………………………………. 147 21. Reachibility matrix (RM) final dan interpretasinya untuk elemen tolok ukur untuk menilai setiap tujuan …………….………..…………. 148 22. Reachibility matrix (RM) final dan interpretasinya untuk elemen aktifitas yang dibutuhkan guna perencanaan tindakan…………………. 149 23. Reachibility matrix (RM) final dan interpretasinya untuk elemen ukuran aktifitas guna mengevaluasi hasil yang dicapai setiap tujuan …………………………………………………………………. 150 24. Reachibility matrix (RM) final dan interpretasinya untuk elemen lembaga yang terlibat dalam pelaksanaan program ………….………. 151 25. Peta Penyebaran Hutan Rakyat di Kabupaten Tana Toraja ..................... 152 PENDAHULUAN Latar Belakang Paradigma pembangunan kehutanan yang selama ini lebih menekankan aspek ekonomi dalam rangka mendukung pertumbuhan perekonomian nasional ternyata telah menyebabkan kerusakan sumberdaya hutan yang sangat parah. Melalui dalih mendukung pertumbuhan perekonomian nasional, berbagai pihak seakan berlomba, baik secara legal maupun secara illegal, untuk meningkatkan upaya-upaya eksploitasi sumberdaya alam tanpa mengindahkan kaidah-kaidah yang berkaitan dengan keberlanjutan atau kelestarian sumberdaya alam itu sendiri (Malamassam 2006) Berakhirnya masa pemerintahan orde baru yang diikuti dengan bergulirnya era reformasi menyebabkan paradigma tersebut di atas telah mengalami pergeseran dengan lebih memberi penekanan pada aspek pelestarian lingkungan dan aspek sosial. Khusus untuk Kabupaten Tana Toraja Pemerintah Daerah melalui Propeda 2001-2005, telah mencanangkan penataan pola pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan sebagai salah satu program utama pembangunan daerah yang sekaligus juga diharapkan dapat mendukung peningkatan ekonomi wilayah secara berkesinambungan (Pemerintah Kabupaten Tana Toraja 2001). Pemberlakukan Undang-undang Otonomi Daerah di Kabupaten Tana Toraja telah memunculkan kekhawatiran baik dari dalam daerah itu sendiri maupun dari daerah di sekitarnya yaitu bahwa daerah cenderung untuk mengeksploitasi sumberdaya hutannya secara berlebihan khususnya hutan pinus rakyat dalam rangka mendapatkan sumber dana untuk mendukung penyelenggaraan pembangunan pada berbagai bidang. Sudradjat (2002) menyebutkan bahwa otonomi daerah telah menjadikan hutan sebagai ladang pendapatan (PAD) asli daerah sehingga laju kerusakan hutan saat ini telah mencapai tingkat yang sangat mengkhawatirkan dan sulit untuk dikendalikan lagi. Hutan pinus rakyat di Kabupaten Tana Toraja yang merupakan hasil Program Penghijauan Tahun 1976, pemanfaatannya baru mulai dicanangkan beberapa tahun terakhir yaitu sekitar Tahun 2002. Sejak saat itu sampai tahun 2004 Pemerintah Kabupaten Tana Toraja, telah mengeluarkan izin pengolahan hasil hutan pinus rakyat kepada tiga perusahaan yaitu PT. Nelly Jaya Pratama 2 Tahun 2002 dan Tahun 2004, PT. Irmasulindo tahun 2002 dan PT. Global Forestindo Tahun 2003 untuk mengolah hasil hutan rakyat. Luas areal pinus rakyat yang sudah ditebang dan dijual kepada 3 perusahaan ini sejak Tahun 2002 – 2004 adalah sekitar 733 Ha dengan potensi sebesar 69.235 m3, dengan adanya perusahaan ini tanaman pinus yang selama puluhan tahun ini dianggap bernilai ekonomi rendah sudah mulai dilirik dan ditebang karena dianggap memiliki nilai ekonomi yang tinggi (Pemerintah Kabupaten Tana Toraja 2006) Perubahan nilai dan pemahaman tentang tanaman pinus tersebut di atas, jika tidak dikelola dengan baik, potensil akan menyebabkan ludesnya tanaman pinus dalam waktu yang tidak terlalu lama. Para pemilik dan juga pihak-pihak yang terkait dengan pemanfaatan tanaman pinus cenderung akan mengejar kepentingan jangka pendek. Mereka cenderung tidak lagi mau memikirkan bahwa kondisi hutan tanaman pinus yang ada saat ini tercipta melalui proses ekologis selama puluhan tahun (Malamassam 2005) Pemerintah Kabupaten Tana Toraja sejak tahun 2002 telah memberi izin kepada tiga perusahaan dengan sejumlah pembatasan dan persyaratan untuk mengolah hasil hutan pinus milik rakyat baik dari segi potensi yang harus dibeli maupun sumber atau asal kayu pinus, dimana kayu yang bisa dibeli hanya berasal dari hutan rakyat saja, namun sejumlah pihak khususnya Lembaga Swadaya Masyarakat dan Pemerhati Lingkungan menyangsikan kesanggupan dan kesungguhan perusahaan pemegang izin untuk memenuhi pembatasan dan persyaratan tersebut. Mereka menyatakan keyakinannya bahwa pengelolaan dan pemanfaatan tanaman pinus tersebut akan menimbulkan dampak negatif yang nilainya mungkin lebih besar dari manfaat finansial yang diperoleh dari usaha pemanfaatan termaksud, sehingga mereka menuntut agar usaha pemanfaatan tersebut dihentikan. Bertolak dari tuntutan ini pulalah maka pemerintah kabupaten pada awal Tahun 2005 telah menghentikan kegiatan perusahaan pengolahan tanaman pinus rakyat karena dianggap menyimpang dari aturan yang dibuat dimana perusahaan tidak melakukan seleksi yang baik terhadap kayu pinus yang dibelinya. Kayu pinus yang dibeli pabrik/industri pengolahan kayu pinus yang ada di Tana Toraja dianggap tidak semuanya berasal dari hutan rakyat tetapi sebagian berasal dari Hutan Produksi Terbatas atau Hutan Lindung. 3 Penghentian kegiatan pengolahan tersebut di atas untuk jangka waktu lama bermakna memperlakukan hutan tanaman pinus di Tana Toraja sebagai aset yang tidak dapat memberikan manfaat ekonomi bagi pemiliknya karena mereka tidak akan mempunyai tempat pemasaran kayu pinusnya meskipun mereka masih memiliki potensi pohon pinus yang cukup besar. Menurut data Pemerintah Kabupaten Tana Toraja Tahun 2006 luas hutan pinus milik rakyat di Kabupaten Tana Toraja adalah 12.510,40 ha dengan potensi sekitar 1.679.711,89 m3 atau sekitar 134 m3/ha, dengan luas terbesar berada di 3 kecamatan yaitu Kecamatan Mengkendek seluas 2.702 Ha, Kecamatan Rindingallo seluas 2.010 ha dan Kecamatan Rantetayo seluas 1.617 ha. Penghentian izin pengolahan hasil hutan pinus rakyat yang masih memiliki potensi yang cukup besar ini mengindikasikan suatu ketidakadilan, oleh karena tanaman pinus yang telah dipelihara selama puluhan tahun justru tidak dapat dimanfaatkan oleh pihak yang memeliharanya Hal yang semestinya diberlakukan adalah memberi kemungkinan kepada pihak pemilik dan pemerintah kabupaten untuk memanfaatkan tanaman tersebut, berdasarkan prinsip kelestarian hasil dan manfaat. Tahun 2006 Pemerintah Kabupaten Tana Toraja kembali mengijinkan pemanfaatan kayu pinus rakyat dan menawarkan bagi para investor yang berminat untuk menanamkan modalnya dalam pemanfaatan hutan pinus rakyat di Kabupaten Tana Toraja melalui pembukaan industri pengolahan hasil hutan pinus. Upaya ini dilakukan untuk membantu rakyat agar supaya dapat menjual kayunya dengan mudah dan dapat melakukan penebangan. Upaya pemanfaatan termaksud di atas tentunya membutuhkan suatu perencanaan jangka panjang dan jangka menengah yang didasarkan atas data yang akurat dan komprehensif. Sehubungan dengan itulah maka diperlukan suatu analisis dalam rangka menemukenali peubah-peubah yang mempengaruhi pengembangan hutan rakyat beserta sistemnya khususnya hutan pinus rakyat yang selanjutnya akan mendasari perumusan strategi pengembangan hutan rakyat untuk mendukung pengelolaan hutan secara berkesinambungan. 4 Perumusan Masalah Pemanfaatan hutan pinus rakyat di Kabupaten Tana Toraja selama ini menimbulkan dampak positif maupun dampak negatif. Secara umum, dampak positifnya adalah dapat meningkatkan taraf hidup sebagian masyarakat sekitar hutan rakyat dan sebagai sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari retribusi produksi hutan rakyat. Namun demikian pemanfaatan hutan pinus selama ini juga mempunyai kelemahan-kelemahan. Menurut Pemda Kabupaten Tana Toraja pemanfaatan hutan pinus rakyat selama ini belum sesuai dengan yang diharapkan antara lain karena : 1. Kayu pinus yang disuplai ke pabrik/industri pengolahan kayu pinus yang ada di Tana Toraja tidak semuanya berasal dari hutan rakyat tetapi sebagian berasal dari Hutan Produksi Terbatas atau Hutan Lindung. Hal ini disebabkan oleh karena perusahaan hanya sebagai pihak pembeli kayu dan tidak mendeteksi asal kayu pinus yang dibelinya. 2. Penataan areal tebangan yang tidak jelas dan rotasi penebangannya tidak teratur sehingga dapat berdampak kepada kelestarian produksi. 3. Terjadinya tumpang tindih kepemilikan hutan rakyat antara kepemilikan pribadi dan rumpun keluarga pada sebagian pemilik hutan rakyat sehingga dapat menimbulkan keresahan sosial. 4. Sangat kurangnya kegiatan penanam kembali/pembinaan hutan rakyat pasca penebangan sehingga dapat berdampak negatif terhadap kelestarian hutan rakyat dan terhadap lingkungan sekitar maupun regional. Pemerintah Kabupaten Tana Toraja (2006) lebih lanjut mengemukakan bahwa produksi kayu pinus dari hutan rakyat selain dimanfaatkan sendiri sebagai bahan baku bangunan dan perabotan rumah tangga, juga sebagian besar dapat dijual ke industri untuk diolah dan dimanfaatkan sebagai bahan baku industri kayu lapis. Bahkan apabila dapat dikelola dengan baik pinus rakyat di Toraja dapat menghasilkan getah yang sampai sekarang belum dimanfaatkan dan produksi kayu sebesar 80.479 m3/tahun dengan rotasi 20 tahun. Namun berdasarkan beberapa hasil penelitian yang telah dilakukan, para pemilik hutan pinus rakyat di Kabupaten Tana Toraja yang memanfaatkan sendiri relatif masih lebih banyak dari pada mereka yang menjual hasil hutan rakyatnya. Hal ini dapat bermakna 5 bahwa sampai saat ini para pemilik hutan rakyat di Tana Toraja, secara umum belum dapat menikmati manfaat ekonomi dari sumberdaya hutan yang dimilikinya secara optimum, sehingga masih sulit diharapkan bahwa para pemilik hutan rakyat ini dapat melakukan pengelolaan hutan milik mereka secara optimum. Dikemukakan pula bahwa aktivitas pengelolaan hutan rakyat di Kabupaten Tana Toraja tidak berjalan dengan baik, dalam arti bahwa tidak ada keseimbangan antara penebangan dengan penanaman. Kegiatan penanaman cenderung menurun, sedang kegiatan penebangan cenderung meningkat dari waktu ke waktu. Selain itu dapat diketahui pula beberapa hal yang merupakan kendala dalam pengelolaan huatan rakyat antara lain : terjadinya kebakaran, batas kawasan yang kurang jelas, pendapatan dari hutan rakyat masih tergolong rendah karena lokasi pemasaran kurang dan bantuan bibit/sumber bibit sangat minim. Berdasarkan uraian di atas maka dapat dirumuskan masalah penelitian dalam bentuk pertanyaan penelitian sebagai berikut : 1. Peubah-peubah strategis apa saja yang mempengaruhi pengembangan hutan pinus rakyat di Kabupaten Tana Toraja 2. Bagaimana struktur sistem pengembangan hutan pinus rakyat di Kabupaten Tana Toraja yang dapat mendukung keberhasilan pembangunan hutan rakyat 3. Strategi yang bagaimana yang dapat diterapkan dalam pengembangan hutan pinus rakyat yang dapat meningkatkan pendapatan petani pemilik hutan rakyat dan mendukung pengelolaan sumberdaya hutan secara berkesinambungan di Kabupaten Tana Toraja. Tujuan Penelitian ini dilaksanakan dengan maksud untuk menyusun suatu strategi pemanfaatan hutan pinus milik rakyat yang dapat menjamin manfaat ekonomi disamping manfaat ekologi, baik bagi para pemilik hutan rakyat maupun bagi daerah. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk : 1. Mengidentifikasi peubah-peubah strategis unsur internal dan eksternal serta pengaruhnya terhadap pengembangan hutan pinus rakyat 2. Menemukan model struktural sistem pengembangan hutan pinus rakyat 6 3. Merumuskan suatu strategi pengembangan hutan rakyat yang mendukung pengelolaan sumberdaya hutan secara berkesinambungan di Kabupaten Tana Toraja. Manfaat Penelitian Rumusan strategi pengembangan hutan rakyat yang didasarkan atas hasil penelitian ini diharapkan : 1. Dapat bermanfaat sebagai acuan bagi semua pihak yang terkait dengan pengelolaan hutan rakyat di Kabupaten Tana Toraja khususnya hutan pinus. 2. Dapat mendorong semua pihak terkait untuk berperanserta secara aktif dan positif dalam mendukung kelancaran dan keberhasilan penyelenggaraan aktivitas pengelolaan hutan rakyat khususnya hutan pinus di Kabupaten Tana Toraja. Alur Pikir Penelitian Alur pikir penelitian, yang secara diagramatis menggambarkan hubungan antara latar belakang masalah penelitian, tujuan penelitian, serta metode analisis yang digunakan disajikan pada Gambar 1. Identifikasi Variabel Unsur SWOT Analisis Strategis (SWOT & AHP) Identifikasi Variabel Unsur Struktur Pengelolaan Hutan Pinus Rakyat Belum Optimal Analisis Finansial Perumusan Strategi Pengembangan Hutan Rakyat Analisis Struktural (ISM) Perumusan Model Struktural Pengembangan Hutan Rakyat Arahan Strategi Pengembangan Hutan Pinus Rakyat ( Hutan rakyat berhasil) Gambar 1. Alur pikir penelitian TINJAUAN PUSTAKA Hutan Rakyat di Indonesia Sejarah hutan rakyat di Indonesia telah dimulai sejak zaman VOC (Vrseenigde Oost Indische Compagnignie), berupa hutan-hutan yang dihadiahkan VOC kepada pengikutnya yang dianggap berjasa. Kemudian pada Tahun 1952 di Jawa lahir gerakan ”karang kitri” , yaitu gerakan yang dipelopori oleh Dinas Pertanian Rakyat untuk menanami tanah-tanah kosong dengan jenis-jenis pohonpohonan yang melibatkan rakyat atau pemilik lahan yang bertujuan untuk melindungi tanah dari bahaya erosi. Sebagai hasil dari gerakan ini timbullah hutan-hutan rakyat seperti yang banyak terdapat di Jawa saat ini (IPB 1990, diacu dalam Yusran 2005). Lebih lanjut Suhardjito (2000) mengemukakan bahwa hutan rakyat di Indonesia khususnya di pulau Jawa, telah dibangun dalam skala yang besar sejak zaman kolonial belanda baik melalui swadaya masyarakat maupun melalui Program Bantuan Penghijauan. Produksi hutan rakyat tersebut selama ini telah berperan secara nyata dalam pemenuhan berbagai kebutuhan kayu; mulai dari kayu bakar, bahan untuk kelengkapan sarana upacara-upacara keagamaan / adat dan bahan bangunan. Produksi kayu dari hutan rakyat ini semakin menjadi andalan dalam upaya pemenuhan kebutuhan kayu masyarakat, sejalan dengan semakin menurunnya produksi kayu rimba dari hutan alam. Untuk pulau Jawa budidaya hutan rakyat dengan hasil utama kayu berkembang karena adanya pasar (termasuk yang mengatur perilaku efisiensi maupun gengsi) : untuk peralatan rumah tangga, peti kemas, pulp, dan lain-lain penggunaan Hutan rakyat menurut UU No 5 tahun 1967 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Kehutanan disebutkan sebagai hutan milik yaitu hutan yang tumbuh atau ditanam di atas tanah milik, yang lazimnya disebut hutan rakyat dan dapat dimiliki oleh orang, baik sendiri maupun bersama-sama orang lain atau badan hukum. Hutan yang ditanam atas usaha sendiri di atas tanah yang dibebani hak lainnya, merupakan pula hutan milik dari orang/badan hukum yang bersangkutan. Sedangkan menurut UU No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan (pengganti UU No. 5 Tahun 1967) pasal 5 ayat 1(b) istilah hutan milik diganti dengan istilah hutan hak yang dalam bab penjelasannya disebut hutan rakyat. Menurut Hardjosudiro (1999), diacu dalam Hendarto (2003) hutan rakyat adalah hutan 8 yang tidak berada di atas lahan yang dikuasai oleh pemerintah, jadi hutan rakyat merupakan hutan yang dimiliki oleh rakyat. Menurut IPB (1990), diacu dalam Yusran (2005) hutan rakyat dibedakan menjadi 2 jenis yaitu : 1. Hutan rakyat tradisional, yaitu hutan rakyat yang ditanam diatas tanah milik dan atas inisiatif pemiliknya sendiri tanpa adanya subsidi atau bantuan dari pemerintah. 2. Hutan rakyat inpres, yaitu hutan rakyat yang dibangun melalui kegiatan atau program bantuan penghijauan. Lebih lanjut Hayono (1996) mengemukakan bahwa berdasarkan jenis dan pola penanamannya hutan rakyat dapat digolongkan kedalam tiga bentuk yaitu : 1. Hutan rakyat murni, yaitu hutan rakyat yang terdiri dari satu jenis tanaman pokok yang ditanam dan diusahakan secara homogen atau monokultur. 2. Hutan rakyat campuran yaitu hutan rakyat yang terdiri dari berbagai jenis pohon-pohonan yang ditanam secara campuran 3. Hutan rakyat sistem agroforestri atau tumpangsari, yaitu hutan rakyat yang mempunyai bentuk usaha kombinasi antara kehutanan dengan usaha tani lainnya, seperti pertanian, perkebunan, peternakan dan lain-lain secara terpadu pada satu lokasi. Perkembangan Hutan Pinus Rakyat di Tana Toraja Kehidupan masyarakat Toraja sejak dahulu diatur dalam sejumlah norma atau aturan. Aturan-aturan tersebut antara lain adalah mana’ yang merupakan suatu sistem yang mengatur kepemilikan harta warisan. Dalam konsep masyarakat Toraja mana’ merupakan harta benda yang diwariskan dan sering dianggap sakral dan perlu disimpan dan dipelihara dengan baik. Prinsip yang sama juga berlaku untuk mana’ dalam bentuk sawah atau lahan dan hutan yang menjadi tanggungjawab tongkonan (rumah adat) yang bersangkutan, dimana tongkonan adalah merupakan pusat pemerintahan dalam masyarakat adat Toraja. Dalam Sistem mana’ di Toraja sebidang tanah dapat diwariskan kepada anak cucu yang bisanya dibagikan sesudah berpartisipasi dalam upacara tertentu. Selain warisan yang dibagikan ada juga tanah atau lahan yang tidak dibagikan tetapi tetap menjadi milik tongkonan. Menurut Matandung (2003), tongkonan memiliki hutan 9 adat yang selain sebagai sumber kayu untuk bahan bangunan juga merupakan sumber bahan obat-obatan bagi anggota tongkonan. Menurut Unhas (2001), tanah berupa mana’ oleh masyarakat Toraja banyak ditanami jenis bambu, kasuarina dan uru yang banyak digunakan dalam membangun rumah tongkonan dan untuk membuat pondok pada upacara adat. Mana’ inilah yang digunakan sebagai dasar dalam pemilikan lahan yang ada saat ini di Kabupaten Tana Toraja. Sejak dikeluarkannya UU No. 5 tahun 1967 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Kehutanan, hutan berdasarkan status kepemilikannya diklasifikasikan menjadi hutan negara dan hutan milik. Hutan negara diartikan sebagai hutan yang tumbuh di atas tanah yang tidak dibebani hak milik, sedangkan hutan milik adalah hutan yang tumbuh atau ditanam di atas tanah milik, yang lazimnya disebut hutan rakyat dan dapat dimiliki oleh orang, baik sendiri maupun bersama-sama orang lain atau badan hukum. Hutan yang ditanam atas usaha sendiri di atas tanah yang dibebani hak lainnya, merupakan pula hutan milik dari orang/badan hukum yang bersangkutan. Sejak dikeluarkannya UU No. 5 Tahun 1967 inilah maka lahan yang merupakan milik tongkonan dan milik pribadi hasil warisan di Kabupaten Tana Toraja dikenal dengan nama Hutan Rakyat. Yusran (2005) mengemukakan bahwa Tana Toraja merupakan satu-satunya Kabupaten di Provinsi Sulawesi Selatan yang memiliki hutan rakyat berupa tanaman pinus. Ini diketahui dari hasil inventarisasi hutan rakyat yang dilakukan oleh Dinas Kehutanan Provinsi Sulawesi Selatan pada tahun 1996/1997. Berdasarkan hasil inventarisasi ini diketahui bahwa komoditi hutan rakyat yang ada di Tana Toraja adalah jenis pinus, kasuarina, bambu, uru dan suren. Pembangunan hutan-hutan bambu dan hutan kebun campuran ini kecuali tanaman pinus telah dilakukan oleh masyarakat Tana Toraja jauh sebelum Program Penghijauan dicanangkan oleh Pemerintah, dan keberadaannya tidak bisa dipisahkan dari sejarah keberadaan masyarakat Toraja. Hutan-hutan ini telah menjadi pemasok berbagai kebutuhan kayu setempat, termasuk untuk memenuhi kebutuhan pembangunan rumah adat, yang bahannya 100% terdiri dari kayu dan bambu (Malamassam 2005). Khusus untuk tanaman pinus Paembonan dan Malamassam (2000) mengemukakan bahwa pinus di Tana Toraja mulai ditanam sejak akhir tahun 10 1960-an. Lebih lanjut Malamassam (2005) mengemukakan bahwa pinus mulai di tanam di Tana Toraja dalam skala yang besar sejak tahun 1976 baik melalui swadaya masyarakat maupun melalui program bantuan penghijauan. Dalam rangka pemanfaatan tanaman pinus di Kabupaten Tana Toraja ini, Gubernur Provinsi Sulawesi Selatan pada Tahun 1994 telah mengeluarkan suatu Surat Keputusan No. 71/II/1994 tertanggal 12 Oktober 1994 tentang petunjuk Teknis Kegiatan Pemeliharaan Kayu dan Resin hasil Hutan Pinus Rakyat di Kabupaten Tana Toraja. Kegiatan pemeliharaan yang dimaksudkan adalah penjarangan dan penyadapan, namun tidak ada penjelasan lebih lanjut mengenai bagaimana penjarangan dan penyadapan dilakukan. Khusus di Kabupaten Tana Toraja, berdasarkan catatan Dinas Kehutanan Kabupaten Tana Toraja, pada tahun 2005, terdapat areal hutan rakyat seluas 77.154,22 ha, yang terdiri atas hutan bambu murni dan hutan bambu campuran masing-masing seluas 5.897,15 ha dan 10.890,40 ha, hutan kebun campuran seluas 47.154,22 ha dan hutan pinus murni seluas 12.510,40 ha dengan rincian luasan dan lokasi disajikan pada Tabel 1 (Pemerintah Kabupaten Tana Toraja 2006). Tabel 1. Penyebaran dan luas hutan rakyat di Kabupaten Tana Toraja Luas Hutan Rakyat (ha) No. Kecamatan 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. Mengkendek Sangalla Makale Buntao’ Rantebua Tondon Naggala Sanggalangi Rantepao Rantetayo Saluputti Bittuang Rindingallo Sa’dan Balusu Sesean Bonggakaradeng Simbuang Jumlah Bambu Murni Bambu Campuran 143,00 1.059,50 662,50 507,50 104,75 515,00 85,00 714,00 744,40 81,00 337,00 829,00 48,00 14,50 52,00 5.897,15 246,75 380,00 1.156,10 35,60 369,55 1.535,00 218,60 811,50 3.863,55 58,50 456,50 1.358,00 238,50 66,25 96,00 10.890,40 Hutan Pinus Murni 2.702,55 1.595,00 26,25 1.216,00 142,55 141,00 8,75 1.617,50 321,80 418,00 2.010,00 169,00 105,00 973,00 1.064,00 12.510,40 Sumber : Pemerintah Kabupaten Tana Toraja tahun 2006. Kebun Campuran 4.630,50 1.485,00 745,00 658,00 856,00 1.247,00 272,77 5.667,50 11.151,00 10.110,00 3.851,00 2.023,00 589,50 1.560,00 3.010,00 47.856,27 Total Luas (ha) 7.722,80 4.519,50 2.589,85 2.417,10 1.472,85 3.438,00 585,12 8.810,50 16.080,75 10.667,50 6.654,50 4.379,00 981,00 2.613,75 4.222,00 77.154,22 11 Dinas Kehutanan Kabupaten Tana Toraja Tahun 2006 menyatakan bahwa tanaman pinus rakyat di Kabupaten Tana Toraja mempunyai potensi sekitar 1.702.366,17 m3 dengan diameter rata-rata sebesar 29 cm. Selain potensi kayu ini berdasarkan penelitian Paembonan dan Malamassam (2000) dikemukakan bahwa pinus dapat dimanfaatkan getahnya dengan nilai produksi sekitar 10 g per pohon per hari dengan nilai jual sekitar Rp. 2.500 per kg. Apabila nilai ini dikonversi ke tahun 2005 maka harga jual getahnya sekitar 3.500 per kg. Khusus untuk hutan pinus rakyat di Tana Toraja sampai saat ini belum dilakukan penyadapan getahnya sehingga nilai ekonomi tegakan pinus tersebut masih dianggap rendah (Pemerintah Kabupaten Tana Toraja, 2006) Menurut Malamassam (2005), pemanfaatan tanaman pinus di Tana Toraja antara lain didorong oleh dua hal sebagai berikut : 1. Semakin terbatasnya bahan baku kayu dari hutan alam pada satu pihak, dan adanya kemajuan di bidang teknologi kayu yang dapat meningkatkan nilai ekonomi dan nilai guna dari kayu-kayu lunak (termasuk pinus), dilain pihak hal ini telah menyebabkan para pengelola indusri perkayuan melirik kayukayu dari hutan tanaman, termasuk tanaman pinus yang ada di Tana Toraja, untuk memenuhi kebutuhan bahan baku industrinya. 2. Hal yang dimaksudkan di atas merupakan peluang bagi masyarakat pemilik hutan rakyat, khususnya hutan pinus. Hutan pinus yang selama ini dianggap tidak dapat memberikan manfaat ekonomi yang cukup bermakna kepada pemiliknya, berubah menjadi sumber dana untuk memenuhi berbagai kepentingan. Pemanfaatan hutan pinus di Kabupaten Tana Toraja tersebut di atas, baru mulai dicanangkan beberapa tahun terakhir, oleh masyarakat dan Pemerintah Kabupaten Tana Toraja. Selama puluhan tahun tanaman ini dianggap bernilai ekonomi rendah, namun peruntukannya bagi kepentingan hidro-orologis harus tetap dipertahankan karena tanaman tersebut tumbuh dan berada pada lahan-lahan yang tergolong kedalam kawasan lindung dan kawasan penyangga. Perubahan nilai dan pemahaman tentang tanaman pinus tersebut di atas, jika tidak dikelola dengan baik, potensial akan menyebabkan ludesnya tanaman pinus dalam waktu yang tidak terlalu lama. Para pemilik dan juga pihak-pihak yang 12 terkait dengan pemanfaatan tanaman pinus cenderung akan mengejar kepentingan jangka pendek. Mereka cenderung tidak lagi mau memikirkan bahwa kondisi hutan tanaman pinus yang ada saat ini tercipta melalui proses adaptabilitas selama puluhan tahun (Malamassam 2005). Dalam rangka pengelolaan hutan rakyat dan pemanfaatan kayu pinus hasil tanaman rakyat di Tana Toraja, Pemerintah Kabupaten pada Tahun 2002 telah memberi izin kepada beberapa perusahaan seperti yang disajikan pada Tabel 2, untuk mengelola hasil hutan pinus rakyat dengan sejumlah pembatasan dan persyaratan baik dari segi jumlah potensi yang harus dibeli maupun sumber atau asal kayu pinus dimana kayu yang dibeli harus yang hanya berasal dari hutan rakyat saja. Tabel 2. Perkembangan pemanfaatan hutan pinus rakyat di Kabupaten Tana Toraja Perusahaan Pengelola Izin Pengelolaan PT. N e l l y Jaya Pratama SK Bupati : No.481/IV/2002 PT. I r m a Sulindo SK Bupati : No.1526/XI/2002 PT. Global Forestindo SK Bupati : No.436/ IV/2003 PT. N e l l y Jaya Pratama SK Bupati : No. 466/IV/2004 Jumlah Sumber : Pemerintah Kabupaten Tana Toraja tahun 2006. Luas (ha) 250,0 83,4 265,0 135,2 733,6 Volume (m3) 17.425 7.214 30.062 14.534 69.235 Menurut Pemerintah Kabupaten Tana Toraja (2006), pemberian izin ini oleh sejumlah pihak, khususnya Lembaga Swadaya Masyarakat dan Pemerhati Lingkungan, masih disangsikan dalam hal kesanggupan dan kesungguhan perusahaan pemegang izin untuk memenuhi pembatasan dan persyaratan tersebut. Mereka menyatakan keyakinannya bahwa pengelolaan dan pemanfaatan tanaman pinus tersebut akan menimbulkan dampak negatif yang nilainya mungkin lebih besar dari manfaat finansial yang diperoleh dari usaha pemanfaatan termaksud, sehingga mereka menuntut agar usaha pemanfaatan tersebut dihentikan. Bertolak dari tuntutan ini pulalah maka pemerintah kabupaten telah menghentikan kegiatan penebangan tanaman pinus pada awal tahun 2005. Tahun 2006 Pemerintah Kabupaten Tana Toraja kembali mengizinkan pemanfaatan kayu pinus rakyat dan menawarkan bagi para investor yang berminat untuk menanamkan modalnya dalam pengelolaan hutan pinus rakyat di Toraja melalui pembukaan industri pengolahan hasil hutan pinus. Upaya ini dilakukan 13 untuk membantu rakyat agar dapat menjual kayunya dengan mudah dan dapat melakukan penebangan, dimana kayu pinus yang dimiliki rakyat masih dianggap cukup banyak yaitu sekitar 12.510 ha dengan taksiran potensi sekitar 1.679.

Dokumen baru