Daya bahasa dalam gaya bahasa pada novel Arok Dedes karya Pramoedya Ananta Toer.

Gratis

10
79
264
2 years ago
Preview
Full text

  

DAYA BAHASA DALAM GAYA BAHASA

PADA NOVEL AROK DEDES

KARYA PRAMOEDYA ANANTA TOER

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

  

Program Studi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia, dan Daerah

  Disusun oleh: Angelina Mellissa Yuliyanto

  091224014

  

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA, SASTRA INDONESIA, DAN DAERAH

JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING

  

HALAMAN PENGESAHAN

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  

Persembahan

Skripsi ini kupersembahkan kepada:

 Tuhan Yesus Kristus yang selalu setia menjadi sahabat setiaku.  Kedua orangtuaku: Yuliana Haryati dan Paulus Soejanto atas segala doa, semangat, dan kasih sayang yang tiada henti- hentinya.  Kedua adikku: Kevin dan Metta yang selalu memberi semangat dan keceriaan.

 Fajar Nugroho yang setia menemani dan memberiku motivasi.

 Seluruh keluarga besar dan teman-teman yang turut serta memberikan doa dan semangatdalam menyelesaikan skripsi ini.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  

MOTTO

Sebab itu janganlah kamu khawatir akan hari besok karena hari

besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah

untuk sehari.(Matius 6: 34)

Hidupku adalah perjuanganku

  Hidupku untuk hidup yang lebih baik Dan hidup yang menghidupkan (Penulis)

  _ .> .ll .1 , "

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

LEMBAR PERSETUJUAN PUBLIKASI

  . .

  ,

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Puji dan syukur penulis haturkan kepada Tuhan Yesus Kristus atas rahmat kehidupan, penyertaan serta cinta kasihNya yang begitu besar sehingga penulis

  

dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik. Skripsi yang berjudul “Daya Bahasa

  dalam Gaya Bahasa pada Novel Arok Dedes karya Pramoedya Ananta Toer” yang telah selesai disusun untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia, dan Daerah.

  Dalam penyusunan skripsi ini, penulis banyak mendapat dukungan, nasihat, bimbingan, dan bantuan baik secara moril dan materi dari berbagai pihak. Oleh karena itu, dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada:

  1. Bapak Rohandi, Ph.D., selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma.

  2. Ibu Dr. Yuliana Setiyaningsih, selaku Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia, dan Daerah Sanata Dharma Yogyakarta.

  3. Bapak Prof. Dr. Pranowo, M.Pd., selaku Dosen Pembimbing yang sangat sabar membimbing dan mengarahkan penulis selama menyusun skripsi ini hingga selesai.

  4. Tim penguji yang telah memberi kritik dan saran demi penyempurnaan skripsi ini.

  5. Seluruh dosen program studi PBSID yang telah mendidik dan mendampingi penulis selama belajar di program studi PBSID.

  6. Bapak Robertus Marsidiq, karyawan sekretariat program studi PBSID yang memberikan pelayanan selama penulis berproses belajar di program studi PBSID.

  7. Karyawan perpustakaan USD yang telah banyak membantu dalam memberikan pinjaman buku bagi penulis.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  

ABSTRAK

  Yuliyanto, Angelina Mellissa. 2013. Daya Bahasa dalam Gaya Bahasa pada

  Novel Arok Dedes Karya Pramoedya Ananta Toer. Skripsi. Yogyakarta:

  Program Studi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia, dan Daerah, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma. Tujuan dari penelitian ini adalah mendeskripsikan daya bahasa yang terungkap melalui gaya bahasa dalam novel Arok Dedes karya Pramoedya Ananta

  Toer. Penelitian ini termasuk penelitian kepustakaan yang berusaha mendeskripsikan data yang berupa kata-kata dalam suatu dokumen. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik baca dan catat. Sumber data penelitian adalah novel

  

Arok Dedes karya Pramoedya Ananta Toer. Sedangkan data penelitian ini adalah

  kalimat dan tuturan yang terdapat dalam novel yang menggunakan gaya bahasa yang diduga mengandung daya bahasa.

  Penelitian ini menggunakan dasar teori Pragmatik yang menekankan pada fungsi komunikatif bahasa, terutama daya bahasa yang terungkap melalui gaya bahasa. Hasil penelitian ini adalah (1) daya bahasa yang terdapat dalam novel

  

Arok Dedes yaitu daya bahasa yang terungkap dari data berupa kalimat meliputi

  daya jelas, daya rangsang, daya simbol, daya seremoni. Sedangkan, daya bahasa yang terungkap dari data yang berupa tuturan meliputi daya puji, daya optimis, daya ancam, daya protes, daya cemooh, daya nasihat, daya saran, daya klaim, daya deklarasi, daya sesal, daya keluh, daya pinta, daya harap, daya perintah, daya dogma, daya magi, daya provokasi, daya persuasi,daya sumpah, daya janji; (2) majas yang terdapat dalam novel kebanyakan adalah majas pertentangan yang terungkap melalui berbagai bentuk gaya bahasa, seperti gaya bahasa hiperbola, litotes, ironi, oksimoron, zeugma, silepsis, paradoks, klimaks, antiklimaks, apostrof, apofasis, sarkasme, dan sinisme; majas perbandingan meliputi gaya bahasa simile, metafora, personifikasi, alegori, antitesis, dan perifrasis; majas pertautan meliputi gaya bahasa metonimia, sinekdok, alusi, eufemisme, eponim, epitet, erotesis, asidenton, dan polisidenton; majas perulangan meliputi gaya bahasa asonansi, kiasmus, epizeukis, anafora, epistofora, epanalepsis, dan anadiplosis.

  Berdasarkan temuan hasil penelitian di atas dapat disimpulkan bahwa daya bahasa dapat muncul dalam berbagai jenis gaya bahasa. Hal ini karena pengarang ingin mengungkapkan imajinasi agar seakan-akan dunia fiksi itu benar-benar nyata.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  

ABSTRACT

  Yuliyanto, Angelina Mellissa. 2013. The Power of Languages Seen from Figurative Languages in Pramoedya Ananta T oer’s Arok Dedes.

  Undergraduate Thesis. Yogyakarta: Education of Indonesian Language and Literature Study Programme, Faculty of Education, Sanata Dharma University. The purpose of this study is to describe the power of language that is revealed through t

  he figurative languages in Pramoedya Ananta Toer’s Arok

Dedes. This study is a library research that describes the data in the form of words

in one document. The collection of the data is done by read and write technique.

  The source of the data is the novel of Arok Dedes written by Pramoedya Ananta Toer. While the data itself consists of the sentences and utterances containing the power of language found in the novel.

  This study applies the basic theory of Pragmatics that is stressed on the communicative function of language, especially the power of language that is revealed through figurative language. The result of the study are (1) the power of languages that can be found in Arok Dedes are the power of language that are conveyed through the data in the form of setences consist of the power of explanation, the power of stimulation, the power of symbol, the power of ceremony. Meanwhile, the power of language that are conveyed through the data in the form of speech consist of the power of complimentary, the power of optimism, the power of threat, the power of protest, the power of mockery, the power of advice, the power of suggestion, the power of claiming, the power of declaration, the power of regret, the power of complain, the power of vowing, the power of request, the power of hope, the power of command, the power of dogma, the power of magi, the power of provocative, the power of persuasion, and the power of promis; (2) the figurative languages that are contained in the novel are contradictory figurative language that is represented by various kind of figurative languages such as hyperbole, litotes, irony, oxymoron, zeugma, syllepsis, paradox, climax, anticlimax, apostrophe, apophasis, sarcasm, and cynicism; comparing figurative languages such as simile, metaphor, personification, allegory, antithesis, pleonasm, and periphrasis; attaching figurative language covers metonymy, synecdoche, allusion, euphemism, eponymy, antonymy, eroticism, asyndeton, and polysyndeton; reiterative figurative languages such as assonance, chiasmus, epizeuxis, anaphora, episthopora, epanalepsis, and anadiplosis.

  Based on the findings of the research above, it can be concluded that the power of language can be found in various figurative languages. This happens because the author wants to deliver the imaginations so that the world of fiction will be seems like a real world.

  

DAFTAR ISI

  

  

  

  

  

  

  

  

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Sastra merupakan wadah komunikasi kreatif dan imajinatif. Sastra

  bukan hanya cerita khayal semata tetapi salah satu media menjembatani hubungan realita dan fiksi, hal ini mendukung kecenderungan manusia yang menyukai realita dan fiksi. Dalam kenyataannya, karya sastra bukan hanya berdasarkan imajinasi saja. Karya sastra terinspirasi dari kenyataan dan imajinasi. Sebagai sebuah karya imajiner, fiksi menawarkan berbagai permasalahan manusia dan kemanusiaan, hidup dan kehidupan. Pengarang menghayati berbagai permasalahan tersebut dengan penuh kesungguhan yang kemudian diungkapkan kembali melalui sarana fiksi menurut pandangannya.

  Fiksi menceritakan berbagai masalah kehidupan manusia dalam interaksinya dengan lingkungan dan sesama interaksinya dengan diri sendiri dan Tuhan.

  Fiksi merupakan hasil dialog, kontemplasi, dan reaksi pengarang terhadap lingkungan dan kehidupan. Selain itu, fiksi juga merupakan karya imajinatif yang dilandasi kesadaran dan tanggung jawab dari segi kreativitas sebagai karya seni (Nurgiyantoro, 2007: 2-3).

  Novel sebagai salah satu bentuk karya fiksi yang memegang peranan penting dalam memberikan pandangan untuk menyikapi hidup secara artistik dan imajinatif. Persoalan yang dibicarakan dalam novel ialah persoalan tentang manusia. Hal ini sejalan dengan pendapat Sayuti (2000: 6) jika novel biasanya

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  memungkinkan adanya penyajian secara meluas tentang tempat atau ruang, sehingga tidak mengherankan jika keberadaan manusia dalam masyarakat selalu menjadi topik utama.

  Bukti dari pendapat di atas ada dalam novel Arok Dedes karya Pramoedya Ananta Toer. Novel Arok Dedes karya Pramoedya Ananta Toer ini, ia buat selama di penjara di Pulau Buru dan selesai pada tanggal 24 Desember 1976. Novel ini menceritakan kisah kudeta pertama ala Jawa dalam sejarah Indonesia. Dalam novel ini, ia tidak memotret fakta sejarah melainkan berkeinginan menghidupkan sejarah dengan pendapat dan pengalaman pribadi yang ia alami. Selain itu, Pram hendak mempersoalkan keabsahan perpindahan kekuasaan pemerintahan dari Orde Soekarno ke Orde Soeharto selepas peristiwa yang terjadi tahun 1965. Ia menceritakan kudeta Arok yang berbelit- belit terhadap Akuwu Tumapel (Hun, 2011: 304).

  Selain itu, Kisah Arok Dedes yang merupakan sejarah abad 13 ini yang diceritakan Pramoedya jauh dari versi asli yang diceritakan dalam Kitab Pararaton ataupun Nagarakertagama karena menolak seluruh dongeng, aroma mistik, dan hal yang irasional. Joesoef Ishak melalui Hun (2011: 304) mengatakan ba

  hwa “tidak mengherankan bila pembaca setelah mengikuti kisah

Arok Dedes walau tidak disuruh asosiasi mereka dengan sendirinya pindah dari

abad 13 langsung ke abad 20 di tahun 1965-an.

  Untuk menyampaikan seluruh ide dalam novel, pengarang juga tidak bisa lepas dari penggunaan dan pengolahan bahasa untuk menghasilkan novel yang bagus. Bahasa merupakan salah satu unsur terpenting dalam sebuah karya

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  sastra. Bahasa dalam karya mengandung unsur keindahan. Keindahan dalam novel dibangun oleh pengarang melalui seni kata. Seni bahasa berupa kata-kata yang indah terwujud dalam ekspresi jiwa. Hal tersebut senada dengan pendapat Nurgiyantoro (2005: 272), yaitu bahasa dalam seni sastra dapat disamakan dengan cat warna. Keduanya merupakan unsur bahan, alat, dan sarana yang mengandung nilai lebih baik untuk dijadikan sebuah karya. Sebagai salah satu unsur terpenting, maka bahasa berperan sebagai sarana pengungkapan dan penyampaian pesan dalam sastra. Dengan demikian, sebuah novel dikatakan menarik apabila informasi yang diungkapkan, disajikan, dengan bahasa yang menarik dan mengandung nilai estetik.

  Begitu pula dengan gaya bahasa yang merupakan salah satu unsur menarik dalam sebuah bacaan. Pengarang memiliki gaya yang berbeda-beda dalam menuangkan setiap ide tulisannya. Setiap tulisan yang dihasilkan nantinya mempunyai gaya yang dipengaruhi oleh penulisnya, sehingga dapat dikatakan, watak seorang penulis sangat mempengaruhi sebuah karya yang dihasilkan. Bahasa sastra memiliki pesan keindahan dan sekaligus pembawa makna. Tanpa keindahan bahasa, karya sastra menjadi hambar. Keindahan karya sastra, hampir sebagian besar dipengaruhi oleh pengarang dalam memainkan bahasa.

  Gaya berbahasa dan cara pandang pengarang satu dengan pengarang lainnya berbeda. Sebab gaya bahasa merupakan bagian dari ciri khas seorang pengarang. Sesuai dengan pendapat Keraf (2010: 113) yang menyatakan gaya

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  bahasa sebagai cara mengungkapkan pikiran melalui bahasa secara khas yang memperlihatkan jiwa dan kepribadian penulis atau pemakai bahasa.

  Begitu pula dengan Pramoedya Toer salah satu sastrawan terbaik Indonesia yang berhasil mengisahkan keadaan Indonesia yang berlatar belakang sejarah dalam bentuk fiksi. Pram termasuk sastrawan yang menganut paham realisme sosialis di mana pada setiap kreativitas karya berdasar kenyataan (Riffai, 2010). Ia tetap menggunakan media bahasa sebagai kekuatan dengan tetap berada di wilayah sastra, meski kisah yang dibawakannya sarat muatan politik. Dari cara pandang dan paham yang ia anut, pastinya setiap karya yang ia hasilkan menunjukkan jiwa dan kepribadiannya. Tentu saja hal tersebut berpengaruh terhadap pemilihan kata dan penggunaan gaya bahasa dalam setiap karyanya.

  Setiap penggunaan gaya bahasa tak bisa lepas dari makna apa yang terkandung di dalamnya karena makna yang terkandung di dalam gaya bahasa memiliki kekuatan atau daya tersendiri yang mampu menghipnotis pembacanya. Ciri khas yang dimiliki Pramodya Ananta Toer dalam setiap karyanya melalui untaian kata yang ia rangkai memiliki daya pikat tersendiri bagi penikmat karyanya sehingga dapat mempengaruhi dan menginspirasi bagi pembacanya. Kekuatan seorang pengarang ada di dalam bahasa yang digunakan. Setiap bahasa yang digunakan pengarang memiliki daya tersendiri.

  Daya yang dimiliki oleh bahasa atau yang biasa disebut dengan daya bahasa merupakan bagian dari ilmu pragmatik. Pragmatik merupakan studi tentang makna yang disampaikan oleh penutur (atau penulis) dan ditafsirkan oleh

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  pendengar (atau pembaca) (Yule, 2006: 3). Dalam hal ini pragmatik mengkaji mengenai bagaimana bahasa dipakai untuk berkomunikasi, terutama hubungan antara kalimat dengan konteks dan situasi pemakaiannya.

  Menurut Rahardi (2006: 20) konteks tuturan dapat pula diartikan sebagai semua latar belakang pengetahuan (background knowledge) yang diasumsikan sama-sama dimiliki dan dipahami bersama oleh penutur dan mitra tutur, serta yang mendukung interpretasi mitra tutur atas apa yang dimaksudkan oleh si penutur itu di dalam keseluruhan proses bertutur. Konteks memiliki fungsi yang penting dan memang harus ada untuk membuat sebuah tuturan benar-benar bermakna. Lebih dari itu, salah satu kajian pragmatik adalah mengupas mengenai daya bahasa. Oleh karena itu, daya bahasa itu sendiri merupakan kekuatan bagi sastrawan untuk menyampaikan makna, informasi, maksud melalui fungsi komunikatif bahasa sehingga pendengar atau pembaca mampu menangkap segala informasi yang ingin disampaikan (Yuni, 2009).

  Dengan memanfaatkan segala daya atau kekuatan yang dimiliki oleh bahasa serta mengambil sesuatu atau nilai yang dapat dipetik dari kekuatan yang terdapat di dalam bahasa yang digunakan oleh para pengarang maupun sastrawan khususnya novel pasti terkandung kekuatan di dalamnya di mana kekuatan daya bahasa itu bisa mempengaruhi pembacanya. Dengan adanya penggunaan gaya bahasa, diharapkan dapat memperkuat daya bahasa dalam sastra, serta memperindah sastra itu sendiri.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Penelitian mengenai daya bahasa ini tergolong jenis penelitian baru di bidang pragmatik. Peneliti memilih jenis penelitian tentang daya bahasa yang terungkap melalui gaya bahasa pada novel karena penelitian mengenai daya bahasa yang sudah ada sampai sejauh ini baru meneliti tentang daya bahasa yang terungkap pada seni retorika di panggung politik. Seperti penelitian yang telah dilakukan oleh Anderson (1990), Quanita (2009), Baryadi (2012) tentang

  Bahasa, Kekuasaan, dan Kekerasan, serta Ari Subagyo (2012) tentang Bahasa dan Kepempimpinan Soegija Pranata dan Abdulrahman Wahid. Di dalam

  penelitian ini, peneliti ingin mendeskripsikan daya bahasa apa saja yang terungkap melalui gaya bahasa dalam novel Arok Dedes karya Pramoedya Ananta Toer. Peneliti memilih novel ini karena novel ini sangat menarik dan gaya bahasa yang dituliskan Pram lebih kurang sesuai dengan keadaan masyarakat zaman tersebut dan novel ini sangat kental dengan budaya Hindu. Dengan demikian, dengan adanya penelitian ini akan dapat diketahui daya bahasa apa saja yang terdapat dalam novel tersebut melalui gaya bahasa.

B. Rumusan Masalah

  Berdasarkan uraian latar belakang masalah di atas, rumusan masalah penelitian ini

  adalah “Daya bahasa apa sajakah yang terungkap melalui gaya

  bahasa dalam novel Arok Dedes karya Pramoedya Ananta Toer?”

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  C. Tujuan Penelitian

  Tujuan penelitian ini adalah ingin mendeskripsikan daya bahasa apa saja yang terungkap melalui gaya bahasa dalam novel Arok Dedes karya Pramoedya Ananta Toer.

  D. Manfaat Penelitian

  1. Secara teoritis, penelitian ini bermanfaat untuk memberi masukan pada kajian pragmatik terutama mengenai pengaruh daya bahasa dalam gaya bahasa khususnya pada bidang kesastraan (novel).

  2. Secara praktis, penelitian ini bermanfaat untuk memberi pengetahuan kepada pembaca karya sastra khususnya tentang pengaruh kekuatan daya bahasa sebuah novel untuk mempengaruhi pembacanya.

  E. Ruang Lingkup Penelitian

  Ruang lingkup penelitian ini adalah penggunaan daya bahasa dalam gaya bahasa pada novel Arok Dedes karya Pramoedya Ananta Toer.

  F. Sistematika Penyajian

  Sistematika penyajian penelitian ini terdiri dari lima bab. Bab I merupakan pendahuluan. Dalam bab ini dipaparkan enam hal , yaitu: (1) latar belakang masalah, (2) rumusan masalah, (3) tujuan penelitian, (4) manfaat penelitian, (5) ruang lingkup penelitian, (6) sistematika penyajian. Bab II studi kepustakaan berisi: (1) tinjauan pustaka dan kajian teori. Bab III adalah

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  metodologi penelitian berisi (1) jenis penelitian, (2) sumber data, (3) teknik pengumpulan data, (4) instrumen penelitian, (5) teknik analisis data, (6) Trianggulasi hasil analisis data. Pada bab IV berisi (1) hasil analisis data, (2) pembahasan. Bab V berisi (1) kesimpulan, (2) implikasi, dan (3) saran untuk peneliti selanjutnya.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

BAB II STUDI KEPUSTAKAAN A. Kajian Teori 1. Fungsi Komunikatif Bahasa Manusia adalah makhluk sosial yang memerlukan kehadiran orang

  lain. Dengan adanya kehadiran orang lain timbullah sebuah komunikasi. Di mana komunikasi adalah wujud dari penggunaan bahasa. Dari interaksi inilah, muncul berbagai fungsi komunikatif bahasa. Menurut Austin dan Searle (Pranowo, 1996: 92) mengklasifikasikan fungsi bahasa menjadi lima, yaitu (1) fungsi direktif (bahasa digunakan untuk memerintah secara halus,

  misalnya menggunakan kata tolong ketika memerintah seseorang “Tolong buatkan kopi untuk saya!”), (2) fungsi komisif (bahasa digunakan untuk membuat janji atau penolakan untuk berbuat sesuatu, misalnya “Saya

  berjanji setia padamu sampa

  i akhir hidupku”, “Maaf, saya tidak membantumu kali ini”), (3) fungsi representasional (bahasa digunakan untuk menyatakan kebenaran, misalnya “Menunjuk dia sebagai ketua panitia ada benarnya juga”), (4) fungsi deklaratif atau performatif (bahasa

  digunakan untuk mendeklarasikan atau menyatakan sesuatu, misalnya

  “Dengan ini saya nyatakan Raffi Ahmad tidak bersalah dan bebas dari

  penyalahgunaan

  narkoba”), (5) fungsi ekspresif (bahasa digunakan untuk

  mengungkapkan perasaan kecewa, senang, sedih, puas, dan lain-lain secara

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Klasifikasi fungsi bahasa menurut Leech (Pranowo, 2012: 8) ada lima, yaitu (1) fungsi informasional (bahasa digunakan untuk mengungkapkan informasi berupa makna konseptual), (2) fungsi ekspresif (bahasa digunakan untuk mengungkapkan perasaan dan sikap penutur terhadap suatu objek), (3) fungsi direktif (bahasa dipergunakan untuk mempengaruhi perilaku penutur), (4) fungsi estetik (bahasa digunakan untuk mengungkapkan rasa keindahan seperti dalam karya sastra), (5) fungsi fatis (bahasa digunakan untuk menjaga komunikasi tetap terbuka dan menjalin relasi sosial secara baik).

  Menurut Halliday (dalam Pranowo, 1996: 93), membagi fungsi komunikatif bahasa menjadi tujuh, yaitu (1) fungsi instrumental (bahasa digunakan untuk memanipulasi lingkungan sehingga menimbulkan keadaan tertentu, misalnya seorang bayi menangis meminta makan, susu, atau mainan kesukaannya), (2) fungsi regulatori (bahasa digunakan untuk mengontrol sebuah peristiwa, memberikan persetujuan, penolakan,

  menyuruh, dan sebagainya, contohnya “Keluar dari kelas sekarang!”), (3) fungsi representasional (bahasa digunakan untuk membuat pernyataan, menyajikan fakta, misalnya “Bumi itu bulat, itulah faktanya”), (4) fungsi interaksional (bahasa digunakan untuk menjaga hubungan agar komunikasi

  tetap berjalan lancar, seperti menggunakan lelucon, idiom khusus, jargon), (5) fungsi heuristik (bahasa digunakan untuk memperoleh pengetahuan agar dapat mengenal lingkungan, seperti bertanya tentang sesuatu), (6) fungsi

  personal (bahasa digunakan untuk menyatakan perasaan, emosi,

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  kepribadian, dll.), (7) fungsi imajinatif (bahasa digunakan untuk menciptakan sistem atau ide yang bersifat imajinatif, menulis puisi, atau karya sastra yang lain).

  Guy Cook (Pranowo, 2012: 7) mengklasifikasikan fungsi bahasa menjadi 2, yaitu fungsi mikro dan fungsi makro. Fungsi makro dibagi menjadi tujuh, yaitu (1) fungsi emotif (bahasa digunakan untuk menyatakan

  perasaan secara spontan, misalnya “Asem ik!”), (2) fungsi direktif (untuk memerintah, seperti “Maju jalan!”), (3) fungsi phatic (bahasa digunakan untuk memulai pembicaraan, misalnya “Selamat pagi!”), (4) fungsi referensial (bahasa digunakan untuk menyampaikan informasi, misalnya “Warung ayam gepuk Bu Made enak lho.”), (5) fungsi metalinguitik (bahasa

  digunakan untuk memfokuskan diri pada kode itu sendiri. Sayangnya fungsi ini tidak memiliki penjelasan beserta contohnya), (6) fungsi poetik (bahasa digunakan untuk mengungkapkan esensi pesan, misalnya:

  Tino :

  “Bu, kenapa rokok tidak baik untuk kesehatan?”

  Ibu : “Karena rokok bisa menyebabkan banyak penyakit.

  Misalnya kanker paru-

  paru.”

  (7) fungsi kontekstual (bahasa digunakan untuk menciptakan konteks

  pembicaraan, misalnya “Sepertinya hujan akan turun, mari kita bergegas

  pulang). Sedangkan fungsi mikro sendiri merupakan rincian dari kategori fungsi makro, seperti fungsi direktif memiliki subfungsi (a) untuk mengajukan pertanyaan, (b) untuk menanyakan urutan, (c) untuk berdoa, (d) untuk mempersilakan, (e) untuk mengajukan permintaan, dan sebagainya.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Dari berbagai pendapat beberapa ahli yang telah dipaparkan di atas tentang klasifikasi fungsi-fungsi komunikatif bahasa dapat disimpulkan ada persamaan fungsi komunikatif, yaitu sama-sama untuk mengungkapkan perasaan dan memberi perintah. Fungsi-fungsi yang lain , yaitu untuk mengagumi keindahan, menyatakan kebenaran, memulai sebuah pembicaraan, menciptakan konteks pembicaraan, mengusahakan komunikasi tetap terbuka, menolak, menyampaikan informasi, dan memperoleh pengetahuan.

2. Konteks Tuturan

  Pada dasarnya di dalam penggunaan bahasa sehari-hari terdapat unsur penting yang memengaruhi pemakaian bahasa itu. Unsur penting yang dimaksud adalah konteks. Konteks sangat memengaruhi bentuk bahasa yang digunakan oleh seorang penutur. Adanya teori mengenai konteks merupakan angin segar bagi para peneliti bahasa karena konteks dapat menjawab sebuah fenomena yang berhubungan dengan mengapa dan bagaimana sebuah tuturan atau kalimat itu muncul. Seperti yang diketahui, dahulu konteks belum terlalu diperhatikan oleh ahli bahasa sehingga penelitian mereka hanya mengkaji bahasa dari segi fonologi, morfologi, sintaksis, dan semantik. Hasil penelitian tersebut lazimnya berupa sistem bahasa yang bentuknya gramatikal saja. Oleh karena itu, sejak permulaan tahun 1970-an para ahli linguistik menyadari pentingnya konteks dalam penafsirkan kalimat atau tuturan itu.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Konteks situasi tuturan menunjuk pada aneka macam kemungkinan latar belakang pengetahuan (background knowledge) yang muncul dan dimiliki bersama-sama baik oleh si penutur maupun mitra tutur, serta aspek non-kebahasaan lainnya yang menyertai, mewadahi, serta melatarbelakangi hadirnya sebuah tuturan. Maka dengan mendasarkan pada gagasan Leech tersebut, Wijana (1996) dengan tegas menyatakan bahwa konteks yang semacam itu dapat disebut juga konteks situasi pertuturan (speech situasional context) (Rahardi, 2003: 18).

  Pemaparan berikutnya terkait konteks, dipaparkan secara lebih mendalam oleh Leech (1983). Leech menyebut konteks tuturan dengan sebutan aspek-aspek situasi ujar. Berikut pemaparan Leech (1993:19) mengenai aspek-aspek situasi ujar yang meliputi lima hal.

2.1 Penutur dan Lawan Tutur

  Leech memberikan simbol bahwa orang yang menyapa atau ‘penutur’ dengan n dan orang yang disapa atau ‘petutur’ dengan t.

  Simbol-

  simbol ini merupakan singkatan untuk ‘penutur/penulis’ dan ‘petutur/pembaca’. Jadi, penggunaan n dan t tidak membatasi

  pragmatik pada bahasa lisan saja, melainkan juga dapat mencakup ragam bahasa tulis. Wijana (melalui Rahardi, 2007: 19) menekankan bahwa aspek-aspek yang mesti dicermati pada diri penutur maupun mitra tutur di antaranya ialah jenis kelamin, umur, daerah asal, dan latar belakang keluarga serta latar belakang sosial-budaya lainnya

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  yang dimungkinkan akan menjadi penentu hadirnya makna sebuah pertuturan.

  Aspek situasi ujar yang dipaparkan Leech (1983) mengenai penutur dan lawan tutur sejalan dengan pendapat Verschueren yang

  disebut dengan ‘speaker’ and hearer’ atau ada yang menyebutnya ‘speaker and interlocutor’, atau dalam istilah Verschueren (dalam Kunjana 1998) disebutkan ‘utterer and interpreter’, akan sangat

  berdekatan pula dengan dimensi usia, jenis kelamin, latar belakang pendidikan, latar belakang kultur, latar belakang sosial, latar belakang ekonomi, dan juga latar belakang fisik, psikis atau mentalnya, atau

  yang juga diistilahkan dalam Verschueren (1998) sebagai ‘physical world’, ‘social world’, dan ‘mental world’. Selain hadirnya ‘penutur’ dan ‘mitra tutur’ atau ‘lawan tutur’ dalam aspek konteks,

  sesungguhnya masih dimungkinkan hadirnya sebuah pertuturan itu bisa lebih dari semuanya itu.

  Selanjutnya Verschueren (1998: 85) menggambarkan secara

  skematik sebagai ‘interpreter’, atau yang banyak dipahami sebagai ‘hearer’ atau ‘interlocutor’ atau ‘mitra tutur’ atau ‘lawan tutur’. Dalam pandangannya, ‘hearer’ atau ‘interlocutor’ masih dapat dibedakan menjadi ‘interpreter’ yang berperan sebagai ‘participant’ dan ‘non- participant’. Selanjutnya ‘participant’ dalam pandangan Verschueren dibedakan menjadi ‘adressee’ dan ‘side-participant’, sedangkan untuk ‘non-participant’ masih dapat dibedakan menjadi ‘bystander’, yakni

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  orang yang semata-mata hadir, dan tidak mengambil peran apapun,

  dan yang terakhir sebagai ‘overhearer’. Peran ‘overhearer’ masih dapat dibedakan lagi menjadi ‘listener-in’ dan‘eavesdropper’. Dengan

  demikian, apabila semuanya itu diperhitungkan sebagai salah satu

  dimensi dalam konteks situasi, tentu saja dimensi ‘hearer’ itu akan menjadi kompleks karena jatidiri ‘hearer’ sesungguhnya tidaklah

  sesederhana yang selama ini banyak dipahami oleh sejumlah kalangan.

  Lebih lanjut dijelaskan di dalam Verschueren (1998: 76) bahwa

  bagi sebuah pesan (message), untuk dapat sampai kepada ‘interpreter’ (I) dari seorang ‘utterer’ (U), selain akan ditentukan oleh keberadaan

  konteks linguistiknya (linguistic context), juga oleh konteks dalam pengertian yang sangat luas, yang mencakup latar belakang fisik tuturan (physical world of the utterance), latar belakang sosial dari tuturan (social world of the utterance), dan latar belakang mental penuturnya (mental world of the utterance). Jadi setidaknya, Verschueren menyebut empat dimensi konteks yang sangat mendasar dalam memahami makna sebuah tuturan. Berikut akan dijelaskan secara lebih rinci.

2.2 Konteks Sebuah Tuturan

  Sejauh ini, setidaknya telah terdapat tiga macam konteks yang telah dibahas yaitu mencakup dimensi-dimensi linguistik atau yang sifatnya tekstual, atau yang sering pula disebut sebagai co-text,

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  konteks yang sifatnya sosial-kultural, dan konteks pragmatik. Konteks linguistik lazimnya berdimensi fisik, sedangkan konteks sosiolinguistik lazimnya berupa seting sebuah sosio-kultural yang mewadahi kehadiran sebuah tuturan. Adapun konteks dalam pragmatic dijelaskan oleh Leech.

  Leech (1993: 20) mengatakan bahwa konteks sebagai suatu pengetahuan latar belakang yang sama-sama dimiliki oleh n (penutur) dan t (mitra tutur) yang membantu t menafsirkan makna tuturan. Penjelasan yang agak panjang terkait dengan konteks dikemukakan

  Leech adalah mengenai‘setting’, yang dapat mencakup setting waktu

  dan setting tempat (spatio-temporal settings) bagi terjadinya sebuah pertuturan. Aspek waktu dan tempat di dalam setting itu tentu saja tidak dapat dilepaskan dari aspek-aspek fisik dan aspek sosial-kultural lainnya, yang menjadi penentu makna bagi sebuah tuturan.

  Pada prinsipnya, di dalam pragmatik sesungguhnya titik berat dari konteks itu lebih mengarah pada fakta adanya kesamaan latar belakang pengetahuan (the same background knowledge) yang dipahami bersama penutur dan lawan tutur. Hal tersebut dapat dikatakan demikian karena sebuah proses komunikasi akan berhasil apabila hal-hal yang dibicarakan sama-sama dipahami oleh penutur dan mitra tutur, begitu pula sebaliknya. Pemikiran ini sejalan dengan pendapat Pranowo (2009: 12) bahwa komunikasi akan berhasil apabila

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  didukung oleh beberapa faktor seperti ada kesepahaman topik yang dibicarakan antara penutur dengan mitra tutur.

2.3 Tujuan Sebuah Tuturan

  Leech memiliki preferensi untuk menggunakan istilah tujuan tutur, bukan istilah maksud tutur. Tujuan tutur lebih netral dan lebih umum sifatnya, tidak berkait dengan kemauan atau motivasi tertentu yang sering kali dicuatkan secara sadar oleh penuturnya. Tujuan itu memang lebih konkret, lebih nyata, karena memang keluar berbarengan dengan tuturan yang dilafalkan atau diungkapkannya itu.

  Akan tetapi, maksud, tidak serta merta sama dengan tujuan karena cenderung hadir sebelum tujuan itu dinyatakan. Artinya maksud itu belum berupa tindakan, masih berada dalam pikiran dan angan-angan, sedangkan tujuan itu sudah berupa tindakan, karena memang tujuan hadir bersama-sama dengan keluarnya sebuah tuturan dari mulut seseorang.

  Tujuan tutur berkaitan erat dengan bentuk-bentuk tuturan yang digunakan seseorang. Pada dasarnya, tuturan dari seseorang akan dapat muncul karena dilatarbelakangi oleh maksud dan tujuan tutur yang sudah jelas dan amat tertentu sifatnya. Oleh karena itu, harus ditegaskan bahwa dalam pragmatik, bertutur itu selalu berorientasi

  pada tujuan, pada maksud, maka dikatakan sebagai ‘goal-oriented activity’. Bentuk kebahasaan itu, secara pragmatik selalu didasarkan

  pada fungsi (function), bukan semata-mata bentuk (forms), karena

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  setiap bentuk kebahasaan sesungguhnya sekaligus merupakan bentuk tindak verbal, yang secara fungsional selalu memiliki maksud dan tujuan. Jadi, dalam pragmatik pandangan yang dijadikan dasar selalu

  berfokus pada ‘fungsi’ pada ‘kegunaan’ atau ‘use’, dan semuanya selalu harus didasarkan pada maksud atau tujuan.

  Contohnya, ketika kita masuk gang-gang tertentu di Yogyakarta atau mungkin daerah lainnya di Jawa, Anda akan mendapati

  peringatan seperti, ‘NGEBUT, BENJUT. Secara fungsional pula, bentuk kebahasaan ‘NGEBUT, BENJUT’ digunakan untuk

  memberikan peringatan pada semua saja, khususnya para pengendara motor yang melewati gang atau lorong tertentu tersebut untuk

  ‘ekstrahati-hati’, kalau misalnya saja sampai terjadi kecelakaan dan

  semacamnya di tempat itu. Dengan demikian, jelas bahwa setiap tuturan

  —bukan kalimat karena kalau sebutannya kalimat pasti

  berdimensi nonpragmatik

  —pasti berorientasi pada fungsi, bukan pada

  bentuk. Oleh karena itu, terlihat sekali pragmatik itu menggunakan paradigma fungsionalisme yang menitikberatkan pada fungsi, bukan paradigma formalisme seperti yang lazimnya dianut dalam gramatika. Hal tersebut sejalan dengan pendapat beberapa ahli seperti Mathesius (1975), Danes (1974), Halliday (1994), dan Givon (1995) yang mengemukakan bahwa pragmatik berorientasi pada teori linguistik fungsional (Baryadi, 2007:61).

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  2.4 Tuturan Sebagai Bentuk Tindakan atau Kegiatan: Tindak Ujar

  Tuturan sebagai bentuk tindakan atau wujud dari sebuah aktivitas linguistik, merupakan bidang pokok yang dikaji di dalam pragmatik karena pragmatik mempelajari tindak verbal yang sungguh- sungguh terdapat dalam situasi dan suasana pertuturan tertentu. Lebih lanjut, tuturan sebagai bentuk tindakan ialah maujud-maujud atau entitas-entitas kebahasaan yang sifatnya tidak dinamis dan selalu tetap saja keberadaannya. Leech (1983) menegaskan bahwa tuturan itu harus selalu dianggap sebagai tindak verbal. Tindak-tindak verbal (verbal acts) inilah yang menjadi titik fokus kajian pragmatik. Hal ini juga yang membedakan antara pragmatik yang memfokuskan kajiannya pada tindak-tindak verbal (verbal acts) dengan semantik

  yang berorientasi pokok pada proposisi atau ‘proposisition’, dan

  entitas-entitas kebahasaan, khususnya frasa dan kalimat dalam sintaksis.

  2.5 Tuturan Sebagai Produk Tindak Verbal

  Tuturan dapat dikatakan sebagai produk dari tindak verbal di dalam aktivitas bertutur sapa karena pada dasarnya tuturan yang muncul di dalam sebuah proses pertuturan itu adalah hasil atau produk dari tindakan verbal dari para pelibat tuturnya, dengan segala macam pertimbangan konteks situasi sosio-kultural dan aneka macam kendala konteks yang melingkupi dan mewadahinya. Jadi jelas, bahwa sebenarnya tuturan atau ujaran itu tidak dapat disamakan dengan

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  kalimat. Kalimat pada hakikatnya adalah entitas produk struktural atau produk gramatikal, sedangkan tuturan atau ujaran itu merupakan hasil atau produk dari tindakan verbal yang hadir dalam proses pertuturan. Berkaitan dengan kenyataan ini maka sesungguhnya sebuah tuturan dapat dianggap sebagai maujud tindak tutur, atau sebagai manifestasi dari tindak ujar, tetapi pada sisi lain dapat juga dianggap sebagai produk dari tindak ujar itu sendiri (Rahardi, 2007: 22).

  Sebagai contoh saja sebagai seorang dosen di dalam kelas Anda

  mengatakan, ‘Papan tulisnya kotor!’ kepada para mahasiswa, maka

  sesungguhnya produk tindak verbal yang diharapkan dari tuturan itu adalah supaya ada tindakan membersihkan papan tulis itu oleh salah seorang mahasiswa. Sebenarnya itulah sesungguhnya tuturan yang berdimensi produk tindak verbal.

3. Teori Tindak Tutur

  Dari sudut pandang pragmatik, bahasa merupakan tindakan, yang disebut tindakan verbal (Wijana 1996: 12). Tindakan verbal adalah tindakan yang khas menggunakan bahasa. Searle (1969) menyebut tindakan verbal dengan istilah tindak tutur atau tindak ujar (speech act). Tuturan dapat berupa tuturan lisan dan tuturan tulis. Dalam tuturan lisan, kita dapat menemukannya dalam kehidupan sehari-hari saat kita berkomunikasi dengan orang lain. Sedangkan tuturan tulis adalah tuturan yang berupa tulisan. Khusus dalam penelitian ini, tuturan yang akan dianalisis adalah

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  tuturan tulisan. Teori ini berfungsi untuk menunjukkan apakah tuturan tulisan yang berupa dialog antar tokoh yang terdapat dalam novel Arok

  Dedes mengandung unsur tindakan bahasa atau tidak.

  Tindak tutur menurut Yule (2006: 82) adalah tindakan-tindakan yang ditampilkan lewat tuturan. Istilah deskriptif untuk tindak tutur yang berlainan digunakan untuk maksud komunikatif penutur dalam menghasilkan tuturan. Penutur berharap maksud komunikatifnya dimengerti oleh pendengarnya. Keadaan semacam ini disebut dengan peristiwa tutur.

  Teori tindak tutur atau speech act yang dikemukakan oleh Austin (1978 dalam Pranowo, 2009:

  34) dalam bukunya yang berjudul “How to do things with words” melihat setiap ujaran dalam tindak komunikasi selalu

  mengandung tiga unsur, yaitu (1) tindak lokusi (berupa ujaran yang dihasilkan oleh seorang penutur, (2) tindak ilokusi (berupa maksud yang terkandung dalam ujaran, (3) tindak perlokusi (efek yang ditimbulkan oleh ujaran). Tindak tutur ilokusi sering menjadi kajian utama dalam bidang pragmatik (Rahardi, 2009: 17). Searle (1983, dalam Rahardi: Ibid. dan Rahardi: 2005: 36-37) menggolongkan tindak tutur ilokusi dalam lima macam bentuk tuturan, yakni

  (1) Asertif (assertives) atau representatif, yaitu bentuk tutur yang mengikat penutur pada kebenaran proposisi yang diungkapkan, misalnya menyatakan (stating), menyarankan (suggeting), membual (boasting), mengeluh (complaining), dan mengklaim (claiming).

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  (2) Direktif (direcitives) yakni bentuk tutur yang dimaksudkan penuturnya untuk membuat pengaruh agar si mitra tutur melakukan tindakan, misalnya memesan (ordering), memerintah (commanding), memohon (requesting), menasihati (advising), dan merokomendasi (recommeding). (3) Ekspresif (expressives) yakni bentuk tutur yang berfungsi untuk menyatakan atau menunjukkan sikap psikologis penutur terhadap suatu keadaan, misalnya berterima kasih (thinking), memberi selamat (congrangtulating), meminta maaf (pardoning), menyalahkan (blaming), memuji (praising), dan berbelasungkawa (condoling).

  (4) Komisif (cummissives) yaitu bentuk tutur yang berfungsi untuk menyatakan janji atau penawaran, misalnya berjanji (promosing), bersumpah (vowing), dan menawarkan sesuatu (offering).

  (5) Deklarasi (declarations) yaitu bentuk tutur yang menghubungkan isi tuturan dengan kenyataannya, misalnya berpasrah (resigning), memecat (dismissing), membaptis (christening), memberi nama (naming), mengangkat (appointing), mengucilkan (excommuningcating), dan menghukum (sentencing).

  Kelima fungsi umum tindak tutur beserta sifat-sifat kuncinya ini terangkum dalam tabel berikut.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Tabel : Lima Fungsi umum tindak tutur (menurut Searle, dalam Yule, 2006: 95)

  

Tipe tindak tutur Arah penyesuaian P = penutur; X = situasi

  Deklarasi Kata mengubah dunia P menyebabkan X Representatif Kata disesuaikan dengan dunia P meyakini X Ekspresif Kata disesuaikan dengan dunia P merasakan X Direktif Dunia disesuaikan dengan kata P menginginkan X Komisif Dunia disesuaikan dengan kata P memaksudkan X

  Contoh: “Bu, uang saya sudah menipis, kemarin uangnya saya

  pakai untuk membeli buku” merupakan tuturan lokusi. Tujuan dari kalimat

  tersebut adalah si penutur ingin menyampaikan kepada ibunya kalau uangnya menipis dan meminta kiriman uang. Pengaruh dari kalimat tersebut adalah si Ibu penutur akan mengirimkan uang untuk anaknya.

  Sejalan dengan pendapat Austin, Searle (1979 dalam Pranowo, 2009: 35) menyatakan dalam satu tindak tutur terkandung tiga macam tindakan, yaitu (1) pengujaran yang berupa kata atau kalimat, (2) tindak proposisional yang berupa acuan dan prediksi, (3) tindak ilokusi dapat berupa pernyataan, janji, dan sebagainya. Efek komunikatif (perlokusi atau tindak proposisional) yang terkadang memiliki dampak terhadap perilaku masyarakat. Hal-hal yang bersifat perlokutif inilah biasanya muncul dari maksud yang berada di balik tuturan atau implikatur. Implikatur bisa dikatakan makna tersirat ya ng berada di dalam tuturan. Misalnya, “Dek,

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  minum secangkir cokelat lebih enak ya” maksud dari tuturan tersebut adalah si pacar minta dibuatkan secangkir cokelat.

  Dalam berkomunikasi juga diperlukan sebuah kesantunan dalam berbahasa. Bahasa yang santun adalah bahasa yang diterima mitra tutur dengan baik. Ada tujuh prinsip kesantunan yang dikemukakan oleh Leech (1983 dalam Pranowo, 2009: 35) yang dikenal dengan istilah maksim, yaitu (1) maksim kebijaksanaan (memberi keuntungan bagi mitra tutur), (2) maksim kedermawanan (memaksimalkan kerugian bagi diri sendiri), (3) maksim pujian (memaksimalkan pujian kepada mitra tutur), (4) maksim kerendahan hati (meminimalkan pujian terhadap diri sendiri), (5) maksim kesetujuan (memaksimalkan kesetujuan terhadap mitra tutur), (6) maksim simpati (memaksimalkan ungkapan simpati kepada mitra tutur) , (7) maksim pertimbangan (meminimalkan rasa tidak senang pada mitra tutur dan memaksimalkan rasa senang pada mitra tutur).

  Dari uraian di atas menunjukkan bahwa suatu tindak tutur memiliki makna lokusi, ilokusi, dan perlokusi. Berdasarkan substansi linguistik, tindak tutur memiliki komponen dasar, yaitu

  a. tindak bertutur: penutur mengutarakan tuturan dari bahasa kepada mitra tutur di dalam konteks, b. tindak lokusi: penutur mengatakan kepada mitra tutur adanya informasi, c. tindak ilokusi: penutur berbuat fungsi tertentu dalam konteks,

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  d. tindak perlokusi: penutur mempengaruhi mitra tutur dalam cara tertentu sesuai konteks.

4. Daya Bahasa

  Meminjam istilah Van Peursen (1998, melalui Baryadi 2012: 17), dapat dikatakan bahwa tuturan itu seperti manusia, yaitu memiliki tubuh, jiwa, dan roh. Tubuh tuturan adalah bentuk, jiwa tuturan adalah makna dan informasi, sedangkan roh tuturan adalah maksud. Di samping itu, tuturan juga memiliki roh. Roh yang dimaksud adalah roh budaya, roh budaya, roh politik, roh jahat, roh halus, roh kebenaran, dan sebagainya. Karena mengandung roh, tuturan memiliki daya sehingga mampu berperan dalam berbagai bidang dan berbagai konteks. Dengan demikian, tuturan adalah bahasa yang tidak hanya hidup karena memiliki tubuh dan jiwa, tetapi juga berkarya karena memiliki roh atau daya.

  Perjumpaan antara manusia dalam komunikasi dapat menimbulkan efek positif seperti kerja sama, suasana penuh cinta kasih, kerja sama, saling tenggang rasa dan dapat mengakibatkan efek negatif, seperti konflik psikologis maupun fisik seperti salah paham, bertengkar, mengumpat, dll.

  Jika perjumpaan melalui bahasa dapat tersampaikan secara santun, maka dapat meminimalisir dampak negatif dan apabila terjadi gesekan psikologis masing-masing penutur akan mengendalikan diri dan tidak emosional sehingga suasana tetap kondusif. Munculnya berbagai efek komunikatif yang bersifat positif ataupun negatif bukan sekedar karena pemakaian

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  bahasa biasa melainkan disebabkan oleh kekuatan yang terkandung di dalam bahasa. Inilah yang disebut daya bahasa (Pranowo, 2009: 128).

  Daya bahasa dalam Pranowo (2009: 128) adalah kekuatan yang dimiliki bahasa untuk mengefektifkan pesan yang disampaikan kepada mitra tutur. Penyampaian pesan dengan menggunakan daya bahasa dapat meningkatkan efektivitas komunikasi. Efektivitas komunikasi dapat bersifat positif maupun negatif. Jika daya bahasa dimanfaatkan secara positif komunikasi dapat berjalan secara santun. Sebaliknya, jika daya bahasa dimanfaatkan secara negatif, komunikasi dapat menimbulkan ketidaksantunan.

  Adapun penelitian yang berhubungan dengan daya bahasa yang dilakukan oleh Quanita Fitri Yuni (2009) yang berjudul Pemanfaatan Daya

  Bahasa pada Diksi Pidato Politik. Tujuan dari penelitian ini adalah

  memaparkan jenis-jenis, manfaat, dan ciri-ciri jenis daya bahasa dari segi diksi sebagai alat untuk menyampaikan ide atau gagasan dalam berpidato politik, memaparkan jenis daya bahasa yang ditemukan pada pidato politik ketiga politisi, dan mendeskripsikan ciri-ciri diksi yang berdaya bahasa.

  Penelitian ini termasuk penelitian deskriptif kualitatif yang mendeskripsikan secara sistematis fakta-fakta berupa daya bahasa dalam pidato para tokoh politik Megawati S.P., Amien Rais, dan Abdurrahman Wahid.

  Hasil penelitian ini adalah ditemukannya daya bahasa dalam pidato politik ketiga politisi, jenis daya bahasa yang ditemukan, yaitu daya bujuk, daya kritik meliputi daya kritik destruktif, daya kritik konstruktif, dan kritik

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  gempur, daya egosentrisme meliputi egosentrisme membela diri dan

  menonjolkan diri, daya ‘jelas’ informatif, daya bangkit bagi diri sendiri

  maupun orang lain, daya perintah meliputi perintah larangan, bersyarat, permintaan, dan ajakan, dan daya provokasi secara eksplisit maupun implisit. Selain itu, memanfaatkan daya bahasa dapat membantu mengungkapkan maksud yang terkadang tak dapat dikatakan.

  Ada pula penelitian yang dilakukan oleh Baryadi (2012: 28) dalam bukunya yang berjudul Bahasa, Kekuasaan, dan Kekerasan. Dalam penelitian tersebut meneliti tentang aspek-aspek bahasa yang dapat dimanfaatkan sebagai sarana untuk mewujudkan kekuasaan antara lain adalah unsur bahasa, ragam bahasa, tindak tutur, dan gaya bahasa. Dalam pembahasan ini hanya akan dipaparkan mengenai representasi kekuasaan dalam gaya bahasa. Gaya bahasa yang dimanfaatkan untuk mewujudkan salah satu aspek kekuasaan, yaitu membangun kekuasaan. Empat gaya bahasa yang pernah dibahas oleh Baryadi (2005: 21-22), yaitu gaya bahasa orientasi dua nilai, gaya bahasa eufemisme, gaya bahasa hiperbola, gaya bahasa represif. Misalnya, pada penggunaan gaya bahasa eufemisme adalah gaya bahasa penghalusan atau gaya yang melembutkan sesuatu yang kasar atau jelek. Dalam hal ini ungkapan yang halus atau lembut digunakan untuk menutupi hal yang sebenarnya kasar. Sebagai contoh kenyataan yang

  sebenarnya adalah “ditangkap” atau “dipenjarakan”, tetapi diungkapkan dengan kata “diamankan”. Contoh lainnya adalah penduduk suatu daerah kelaparan tetapi hanya dikatakan “kekurangan gizi”. Gaya eufemisme ini,

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  terutama, untuk menyembunyikan kesalahan atau ketidakmampuan penguasa atau menyembunyikan keadaan jelek yang tidak terjangkau atau tidak mampu ditangani oleh penguasa.

  Daya bahasa adalah kadar kekuatan yang dimiliki oleh bahasa untuk menyampaikan makna, informasi, atau maksud melalui fungsi komunikatif sehingga pendengar atau pembaca mampu memahami dan menangkap segala makna, informasi, atau maksud yang disampaikan penutur atau penulis (Quanita Fitri Yuni, 2009). Penggunaan bahasa dalam berkomunikasi adalah menyampaikan pesan berupa menyampaikan informasi, menolak, membujuk, mengkritik, memberi tanggapan, menyindir, negosiasi, membantah, dll. Oleh karena itu, agar pesan dapat disampaikan secara efektif, penulis dapat memanfaatkan daya bahasa seefektif mungkin. Namun, penggunaan daya bahasa tidaklah mudah, daya bahasa hanya dapat muncul jika pemakainya dapat menggali dan memanfaatkan dalam konteks pemakaian secara tepat.

  Sudaryanto (1989, dalam Pranowo, 2009: 132) telah menggali daya bahasa dari aspek linguistik. Hasilnya, hampir seluruh tataran bahasa mampu memunculkan daya bahasa. Daya bahasa secara linguistik, dapat diidentifikasi melalui berbagai aspek kebahasaan, , yaitu (1) tataran bunyi (pada tataran bunyi, bunyi bahasa dapat menunjukkan daya bahasa yang berbeda-beda. Kata yang mengandung bunyi /o/ mengandung daya bahasa yang berkadar makna kata relatif besar, seperti kata dalam bahasa Jawa

  pothol, ambrol, mbrojol,dsb.), (2) bentuk kata (meliputi kata berafiks, kata

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  majemuk, dan sinonim kata. Kata yang tidak berafiks kadang memiliki daya

  bahasa yang kuat, contohnya kata “babat” lebih kuat daya bahasanya

  dibandingkan kata

  “membabat” dalam konteks kalimat “Perambah hutan itu babat habis semua pohon yang berdiameter 10 cm ke atas”. Daya

  bahasa yang digali melalui sinonim kata juga memiliki daya yang berbeda,

  seperti kata ‘mantan’ dan ‘bekas’. Kata mantan memiliki daya bahasa yang

  bersifat netral, sedangkan kata bekas memiliki daya bahasa yang negatif karena cenderung merendahkan seseorang. Misalnya, seorang dosen sudah berhenti dari mengajar, orang akan menyebutnya mantan dosen karena status sosialnya lebih tinggi, sedangkan tanpa dosa dan tanpa beban kita dapat dengan mudah menyebut bekas tukang sampah, bekas becak, bekas maling karena status sosialnya rendah, (3) struktur kalimat atau tuturan (daya bahasa memiliki kadar pesan yang berbeda antara struktur kalimat satu dengan struktur kalimat yang lain. Perhatikan contoh berikut ini.

  a.

   Aku memberi sepotong kue untuk pengemis yang kelaparan.

  b.

   Sepotong kue aku berikan untuk pengemis yang kelaparan.

  Daya bahasa pada kalimat di atas terletak pada penempatan klausa

  pada awal kalimat. Kalimat (a) dengan menempatkan klausa “aku memberi”

  memiliki daya bahasa yang berbeda dengan struktur kalimat (b) yang menempatkan frasa

  “sepotong kue” pada awal kalimat. Kalimat (a) daya bahasa muncul pada kata “pemberian”, kalimat (b) muncul pada frasa “sepotong kue”), (4) leksikon, (5) pemakaian majas (daya bahasa juga dapat diungkapkan melalui penggunaan majas, contohnya.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  c.

   Tunggul Ametung bermandi keringat, meringis dan merongos, mengerutkan gigi dan kening, dan kemudian

jatuh pingsan. (Arok Dedes, 2006: 156)

d.

   Angin meniup dan kainnya tersingkap memperlihatkan pahanya yang seperti pualam. (Arok Dedes, 2006: 330)

  Contoh (a) daya jelas yang muncul karena pemakaian gaya bahasa

  klimaks pada kata “bermandi keringat, meringis dan merongos, mengerutkan gigi dan kening, dan kemudian jatuh pingsan.

  ” yang

  menggambarkan runtutan kronologis yang ekspresi yang dirasakan Tunggul Ametung ketika Dalung mengobati Akuwu karena kakinya patah. Contoh (b) daya jelas muncul karena gaya bahasa simile dengan menggunakan kata

  “seperti” yang menggambarkan pengarang mencoba menggambarkan paha

  Ken Dedes seperti batu pualam putih, bersih, dan halus.), (6) wacana (daya bahasa pada wacana muncul ketika kesatuan makna mengungkapkan kesatuan pesan. Pesan yang terungkap dari kesatuan makna tersebut muncul dalam bentuk wacana. Perhatikan kutipan di bawah ini.

  e.

   Yen isih gelem apik karo aku, mbok coba kowe ameng- ameng nyang ngomahe diajak omong-omong kanthi alus.

  Nek pancen isih angel coba amang-amangen ben duwe rasa wedi. Dene nek wis disabarke nganggo cara ngono isih tetep mbeguguk, kondhoa nek aku (ng)amuk bisa tak tumpes kelor. (Pranowo, 2009: 137)

  Wacana di atas memiliki daya yang sangat kuat untuk menyampaikan pesan. Wacana di atas dengan pilihan kata yang tepat di

  setiap kalimatnya, seperti “ameng-ameng”, disusul “omong-omong”, “amang-amang ”, dan “(ng)amuk ” memiliki daya bahasa yang sangat kuat

  bagi pendengarnya. Daya bahasa muncul karena perbedaan vokal dalam

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  makna yang berbeda dan memperlihatkan gradasi dari kata yang sangat biasa ke kata yang memiliki afeksi yang sangat kuat, yaitu (ng)amuk).

  Secara pragmatik, daya bahasa dapat diidentifikasi melalui pemakaian bahasa yang sengaja dikonstruk oleh penutur atau penulis untuk tujuan tertentu seperti praanggapan, tindak tutur, dieksis, dan implikatur (Pranowo, 2008 dalam Quanita Fitri Yuni, 2009) selain itu juga bisa digali melalui maksim-maksim kesantunan berbahasa Leech (1983 dalam Pranowo, 2009: 141). Dari aspek nonlinguistik, daya bahasa dapat digali berupa nilai-nilai budaya suatu bangsa yang diyakini sebagai nilai luhur, seperti nilai rendah hati, mampu menjaga perasaan mitra tutur, hormat kepada orang lain, dsb.

  Dalam praktiknya, kekuasaan lewat bahasa tidak hanya terjadi dalam ruang publik saja, tetapi dalam lingkup keluarga, misalnya cara orang tua berbicara kepada anak menunjukkan secara jelas hubungan kekuasaan antara orang tua dengan anak. Cara orang tua berbicara kepada anak menciptakan dinamika kekuasaan di antara mereka sehingga menguatkan perbedaan kekuasaan lain dan anak akan patuh dan nurut melaksanakan semua perintah orang tua.

  Kekuatan atau daya yang dibuat oleh bahasa juga dimanfaatkan oleh kelompok sosial yang dominan, hal ini terjadi karena orang dalam kelompok sosial itu memegang kendali terhadap dunia politik dan hukum serta memiliki perusahaan media berskala internasional atau yang memiliki pengaruh besar lainnya. Sering kita melihat iklan yang mengasumsikan

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  sejumlah nilai tertentu yang menurut kita adalah mengandung nilai negatif, misalnya seperti iklan kondom, tetapi produk yang diiklankan sukses terjual di seluruh dunia (Wearing, 2007).

  Dalam buku Kuasa Kata: Jelajah Budaya-Budaya Politik di

  Indonesia (Language and Power) pada salah satu artikel hasil penelitian

  Anderson (1990: 298), dikatakan fungsi publik utama bahasa Indonesia terletak pada dalam perannya sebagai bahasa pemersatu. Pada masa pendudukan Jepang, bahasa Indonesia secara formal menjadi bahasa negara untuk diajarkan di sekolah-sekolah dan di kantor digunakan sebagai bahasa resmi. Selama revolusi 1945-1949 bahasa Indonesia berfungsi sebagai bahasa perlawanan untuk menolak kehadiran Belanda dan juga bahasa pengharapan akan masa depan. Revolusi juga mempercepat pengisian bahasa Indonesia dengan kata-kata yang menggetarkan secara emosional yang memberikan identitas kultural dan aura pada suatu bangsa, dan mengekspresikan pengalaman paling penting. Kata-kata seperti rakyat,

  merdeka, perjuangan, pergerakan, semangat, merdeka, dan revolusi

  semuanya tumbuh pada saat kesadaran terdalam sebagai ungkapan solidaritas dan enterprise baru yang penuh harapan. Hampir semua kata-kata yang mengandung makna perjuangan, kekerasan fisik revolusi, yang memiliki makna heroik politis, hidup dan dan bergetar karena bagian dari kenangan historis generasi yang masih hidup yang terbentuk dalam pengalaman terpenting kehidupan Indonesia modern.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Bahasa Indonesia tidak melulu mendapat kosakata baru sehingga kata- kata tua yang mendapat makna “jahat” menjadi kebalikannya yang mencerminkan transisi dari tahun revolusi penuh harapan ke tahun-tahun keras yang mengikutinya. Contoh yang paling terkenal dari pembalikan

  tersebut adalah penggunaan kata “bung” (saudara). Selama revolusi, kata

  tersebut mengekspresikan rasa persaudaraan sejati perjuangan nasional dan bebas dipakai oleh semua aktivis perjuangan. Kini, dengan pengecualian segelintir tokoh nasional seperti Sukarno, Hatta, dan Sutomo (dalam kasus mereka bung ditulis Bung) bisa dikatakan tak satu orang pentingpun yang disebut dengan cara itu. Sementara Bung ditempatkan di atas dan sebagai sebutan kehormatan, bung didudukkan semakin rendah dan umumnya sudah pasti diterapkan sebagai sebutan rendahan untuk memanggil tukang becak, pelayan, pedagang rokok asongan pinggir jalan.

  Dalam wadah panik peleburan metropolitan Jakarta, bahasa Indonesia berkembang dan menunjukkan kreativitasnya selama bertahun- tahun pasca revolusi. Tenaga perkembangan ini berasal dari kelimpahan orang mencari peruntungan di Jawa tetapi juga membanjiri ibukota tempat yang begitu banyak kekuasaan dan kekayaan terhimpun. Bahasa Indonesia kontemporer juga mencerminkan keunikan kepribadian Jakarta, rasa solidaritasnya dalam berhadapan dengan daerah, karakter kehidupan sehari- harinya yang brutal, komersial, berorientasi pada kekuasaan dan sinis. Aspek yang paling menonjol dari pengaruh Jakarta terhadap Indonesia adalah pinjaman-pinjaman dari bahasa Jakarta. Bahasa Jakarta atau Betawi

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  dianggap bahasa kasar, bahasa urban kelas rendah. Namun, dalam perjalanan sejarahnya, bahasa yang terbelakang ini menjadi bahasa yang

  “in” dan populer di kalangan elite muda Jakarta, politisi, wartawan, pelajar.

  Kepopulerannya berasal dari karakternya yang intim, hidup dan bebas, sinis, yang menjadi tandingan memuaskan berhadapan dengan bahasa Indonesia formal dan resmi dalam komunikasi publik. Bahasa Jakarta mengekspresikan kegentingan, kegairahan, humor, dan kekasaran Jakarta pasca revolusi yang tidak dapat dilakukan bahasa lain. Misalnya, pada Koran metropolitan pada kolom pojok. Pojok adalah tulisan yang menggigit, komentar anonim atau menggambarkan situasi politik ekonomi secara umum yang mengacu kepada peristiwa yang menjadi rahasia umum, contohnya Hasilnye ade juga. Ikan gede ketangkap. Alhamdullilah! Dari ungkapan di atas pembaca akan tanggap bahwa seorang tokoh politik penting telah ditangkap karena korupsi meskipun kasusnya tidak pernah dipublikasikan.

  Dengan begitu dapat disimpulkan, daya bahasa yang ditampilkan antara bahasa Indonesia dengan bahasa Jakarta memiliki kekuatan yang kontras. Di mana bagian ketika menggunakan bahasa Indonesia tampil sok tinggi, serius, dan mengkotbahi, berisi wejangan presiden, menteri, jenderal, atau editornya. Semua diarahkan pada hierarki sosial-politik dari yang besar kepada yang kecil, dari pemimpin atau tokoh kepada rakyat, wong cilik, atau massa. Berbeda dengan bahasa Jakarta atau Betawi, memiliki daya bahasa yang terkesan jahil, demokratis, jenaka, akrab.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Berkaitan dengan daya bahasa, sebenarnya setiap orang berkomunikasi dapat menggali dan memanfaatkan daya bahasa. Daya bahasa dapat berguna untuk (a) meningkatkan efek komunikasi, (b) mengurangi kesenjangan antara apa yang dipikirkan dengan apa yang diungkapkan, (c) memperindah pemakaian bahasa, dsb.

  Dalam konteks kesantunan berbahasa, daya bahasa yang bernada negatif hendaknya hendaknya tidak digali semaksimal mungkin agar tidak melukai hati mitra tutur. Sebaliknya, daya bahasa bahasa yang bernada positif hendaknya digali semaksimal mungkin agar menjadikan tuturan semakin santun. Dengan demikian, daya bahasa hanya akan muncul jika pemakainya dapat menggali dan memanfaatkan dalam konteks pemakaian secara tepat.

  Banyak orang mampu berbahasa Indonesia, namun ketika berkomunikasi kadang-

  kadang “apa yang dikatakan atau dituliskan” jauh lebih sedikit daripada ”apa yang dipikirkan”. Kadang-kadang apa yang akan dikatakan berbeda dengan “apa yang ingin dikomunikasikan” (Levison,

  1985 dalam Pranowo, 2009: 131). Daya bahasa merupakan salah satu cara

  untuk memperkecil kesenjangan antara “apa yang dipikirkan” dengan “apa yang diungkapkan” dalam berkomunikasi. Namun, kadang-kadang ketika

  seseorang telah mahir menggunakan daya bahasa, ketika berkomunikasi apa

  yang dikatakan belum tentu sama dengan apa yang dikomunikasikan karena apa yang dikomunikasikan sering “disembunyikan” di balik apa yang

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  dikatakan untuk menjaga kesopanan (Grice, 1987 dalam Pranowo, 2009: 131).

5. Gaya Bahasa

  Dalam membuat sebuah karya, seorang pengarang pasti memiliki gaya bahasa sendiri-sendiri. Gaya bahasa yang dikenal dalam retorika dengan istilah style. Style berasal dari bahasa latin , yaitu stillus yang berarti semacam alat untuk menulis pada lempengan lilin. Seiring berjalannya waktu, style yang dimaksudkan di atas berubah pengertian menjadi kemampuan dan keahlian untuk menulis. Dengan perubahan pengertian, istilah style atau gaya bahasa menjadi bagian dari diksi yang mempersoalkan cocok tidaknya pemakaian kata, frasa, atau klausa tertentu untuk menghadapi situasi tertentu. Oleh karena itu, persoalan gaya bahasa meliputi semua hierarki kebahasaan, yaitu pilihan kata, frasa, klausa, kalimat, wacana, nada yang tersirat di balik wacana. Jadi, jangkauan gaya bahasa sangat luas, tidak hanya mencakup unsur-unsur kalimat yang mengandung corak tertentu (Keraf, 2010: 112).

  Menurut Keraf (2012: 113), gaya bahasa adalah cara mengungkapkan pikiran melalui bahasa secara khas yang memperlihatkan jiwa dan kepribadian penulis. Dengan penggunaan gaya bahasa yang baik dan tepat memungkinkan kita sebagai pembaca untuk menilai pribadi, watak, dan kemampuan pribadi penulis yang menggunakan bahasa tersebut.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Semakin baik gaya bahasa yang digunakan penulis, semakin baik pula penilaian dari pembaca.

  Anton M. Moeliono dalam siaran Pembinaan Bahasa Indonesia melalui TVRI mengatakan bahwa istilah gaya bahasa yang secara salah kaprah itu berasal dari kata dalam bahasa Belanda stylfiguur. Di dalam kata

  stylfiguur terdapat kata styl yang berarti gaya bahasa, tetapi kata figuur

  terlupakan. Oleh karena itu, stylfiguur atau figure of speech ini dinamakan majas dan figurative language disebut bahasa yang bermajas.

  Di sisi lain, masih banyak orang mengidentikkan gaya bahasa dan majas sama saja. Tentu saja hal itu salah kaprah. Majas bukanlah gaya bahasa, melainkan bagian dari gaya bahasa. Dalam buku praktis bahasa Indonesia menjelaskan majas adalah bahasa yang maknanya melampaui batas yang lazim. Hal itu karena penggunaan bahasa yang menyimpang dari rumusannya yang jelas. Pemilihan dan penggunaan diksi yang tepat akan memperkuat gaya bahasa. Jadi, majas juga merupakan alat untuk menunjang gaya. Semakin jelas bahwa majas seperti simile, personifikasi, litotes, dll bukan gaya bahasa melainkan unsur gaya bahasa (Sugono, 2011: 174).

  Sedangkan gaya bahasa hanya ada empat, , yaitu gaya bahasa pertentangan, perbandingan, pertautan, dan perulangan.

  Untuk memperkuat teori mengenai gaya bahasa, ada penelitian yang dilakukan oleh Mukhamat Khusnin dalam Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia yang berjudul Gaya Bahasa Novel Ayat-Ayat Cinta Karya

  Habiburrahman El Shirazy dan Implementasinya terhadap Pengajaran

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Sastra di SMA. Penelitian tersebut mengkaji gaya bahasa yang terdapat

  dalam novel AAC karya Habiburrahman El shirazy dan gaya bahasa yang mendominasi serta implementasinya dalam pengajaran sastra di SMA.

  Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan pendekatan stilistika yang menganalisis penggunaan sistem tanda yang mengandung ide, gagasan, dan nilai estetis tertentu sekaligus untuk memahami makna yang terkandung di dalamnya. Data penelitian berupa penggalan teks dalam novel AAC yang diduga berisi kalimat-kalimat bergaya bahasa tertentu. Hasil dari penelitian ini ialah ditemukan jenis-jenis gaya bahasa dalam novel AAC meliputi gaya bahasa klimaks, antiklimaks, paralelisme, antitesis, repetisi, hiperbola, silepsis, aliterasi, litotes, asonansi, eufemisme, pleonasme, paradoks, retoris, personifikasi, ironi, sarkasme, metafora, simile, dan metonimia. Gaya bahasa yang dominan dalam novel AAC , yaitu gaya bahasa hiperbola. Implikasi gaya bahasa dalam novel AAC terhadap pengajaran sastra di SMA menitikberatkan pada sumber bahan ajar.

5.1. Jenis-Jenis Gaya Bahasa

  Menurut Tarigan (1985: 6) gaya bahasa dibagi menjadi empat, yaitu (1) gaya bahasa perbandingan, (2) gaya bahasa perulangan, (3) gaya bahasa pertautan, (4) gaya bahasa pertentangan. Berikut akan dipaparkan jenis-jenis majas yang terdapat dalam gaya bahasa.

1. Gaya bahasa perbandingan

  Gaya bahasa perbandingan membandingkan sesuatu dengan sesuatu hal yang lain dan mencoba menemukan ciri-ciri yang

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  menunjukkan kesamaan antara kedua hal tersebut. Beberapa contoh gaya bahasa yang termasuk majas perbandingan adalah sebagai berikut.

  a. Perumpamaan atau simile Perumpamaan adalah gaya bahasa yang membandingan dua hal yang pada hakikatnya berlainan dan sengaja dianggap sama.

  Contoh:

  Pasukan Tumapel itu berbaris laju ke selatan seakan hendak menggempur Kediri (Arok Dedes, 2006: 391).

  b. Metafora Metafora semacam analogi yang membandingkan dua hal secara langsung, tetapi dalam bentuk singkat: bunga bangsa,

  buaya darat, dll. Metafora sebagai perbandingan langsung

  tidak menggunakan kata seperti, bak, bagai, dan sebagainya sehingga pokok pertama langsung dihubungkan dengan pokok kedua. Misalnya:

   Ia menjadi kecil hati tanpa Belakangka, apalagi catak dan saga sudah mendekati habisnya (Arok Dedes, 2006: 504).

  c. Alegori Alegori adalah cerita yang dikisahkan dalam lambang-lambang.

  Biasanya mengandung sifat moral atau spiritual manusia. Contoh: kisah Hyang Pancagina (Arok Dedes, 2006: 384).

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  d. Personifikasi Gaya bahasa yang melekatkan sifat manusia kepada barang atau benda yang tidak bernyawa. Contoh:

  Mereka maju lagi dan matari pun hilang ditelan oleh pegunungan dan puncak rimba (Arok Dedes, 2006: 517).

  e. Pleonasme dan tautologi Pleonasme adalah gaya bahasa yang pemakaian katanya berlebihan. Tautologi adalah gaya bahasa yang mengandung kata yang berlebihan yang pada dasarnya mengandung perulangan dari sebuah kata yang lain. Misalnya:

  “Husy. Tak aku benarkan kau ulangi pendapat busuk seperti itu. Salah. Keliru. Tidak benar.

  Menyesatkan (Arok Dedes, 2006: 175).

  f. Depersonifikasi Gaya bahasa depersonifikasi atau pembendaan, adalah kebalikan dari gaya bahasa personifikasi atau penginsanan.

  Misalnya:

  Kalau dikau menjadi samodra, maka daku menjadi bahtera (Tarigan, 1985: 22).

  g. Antitesis Antitesis adalah sejenis gaya bahasa yang mengadakan komparasi atau perbandingan antara dua antonim. Misalnya:

  Kemudian datanglah bencana itu-bencana yang berisi karunia para dewa (Arok Dedes, 2006:94).

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  h. Perifrasis Perifrasis adalah sejenis gaya bahasa yang agak mirip dengan pleonasme, yaitu mempergunakan kata-kata lebih banyak daripada yang dibutuhkan. Misalnya:

  Ia sendiri meningkat ke atas melalui cara yang demikian juga. (Arok Dedes, 2006: 41).

2. Gaya bahasa perulangan

  Gaya bahasa perulangan adalah gaya bahasa yang mengandung perulangan bunyi, suku kata, kata, frase, atau bagian kalimat yang dianggap penting untuk memberikan sebuah tekanan dalam sebuah konteks. Berikut beberapa contoh majas yang termasuk dalam gaya bahasa perulangan.

  a. Asonansi Asonansi adalah gaya bahasa yang berwujud pengulangan vokal yang sama. Contoh:

  Dua orang pengawal, mendengar gerincing giring- giring, ...( Arok Dedes, 2006:4).

  b. Antanaklasis Antanaklasis adalah gaya bahasa yang mengandung ulangan kata yang sama tetapi berbeda makna. Contoh:

  Buah bajunya terlepas membuat buah dadanya hampir kelihatan (Tarigan, 1985: 185).

  c. Tautotes Tautotes adalah gaya bahasa yang berupa perulangan atas

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Kakanda mencintai adinda, adinda mencintai

  kakanda, kakanda dan adinda saling mencintai

(Tarigan, 1985: 190).

  d. Kiasmus Kiasmus adalah gaya bahasa yang berisikan perulangan.

  Misalnya: Yang kaya merasa dirinya miskin, yang miskin merasa dirinya kaya (Tarigan, 1985: 187).

  e. Aliterasi Aliterasi adalah sejenis gaya bahasa yang memanfaatkan purwakanti atau pemakaian kata-kata yang permulaannya sama bunyinya. Misalnya:

  Dara damba daku, datang dari danau. Duga dua duka, diam di diriku (Tarigan, 1985: 181).

  f. Epizeukis Epizeukis adalah gaya bahasa perulangan yang bersifat langsung, , yaitu kata yang ditekankan atau yang dipentingkan diulang beberapa kali berturut-turut. Misalnya:

  “Seluas pandang ditebarkan, hanya sawah, sawah, dan sawah-sawah hanya untuk musim kering seperti sekarang ini.

  ”( Arok Dedes, 2006: 61).

  g. Anafora Anafora adalah gaya bahasa repetisi yang berupa perulangan kata pertama pada setiap baris atau setiap kalimat. Misalnya:

  Ia mengherani adanya raksasa dan ia tak dapat membayangkannya. Ia mengherani adanya satria yang mendapatkan kelebihan-kelebihan dan para

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  h. Epistrofa Epistrofa adalah semacam gaya bahasa repetisi yang berupa perulangan kata atau frase pada akhir baris atau kalimat berurutan. Misalnya:

  Dedes tak tahu harus berbuat apa. Melawan ia tak mampu. Lari ia pun tak mampu. (Arok Dedes, 2006:13)

  i. Simploke Simploke adalah sejenis gaya bahasa repetisi yang berupa perulangan pada awal dan akhir beberapa baris atau kalimat berturut-turut. Misalnya:

  Ibu bilang saya pemalas. Saya bilang biar saja. Ibu bilang saya lamban. Saya bilang biar saja. Ibu bilang saya lengah. Saya bilang biar saja. Ibu bilang saya manja. Saya bilang biar saja. (Tarigan, 1985: 196).

  j. Mesodiplopsis Mesodiplopsis adalah sejenis gaya bahasa repetisi yang berwujud perulangan kata atau frase di tengah-tengah baris atau beberapa kalimat berurutan. Misalnya:

  Para pendidik harus meningkatkan kecerdasan bangsa. Para dokter harus meningkatkan kesehatan masyarakat. Para petani harus meningkatkan hasil sawah-ladang. (Tarigan, 1985: 198)

  k. Epanalepsis Epanalepsis adalah semacam gaya bahasa repetisi yang berupa perulangan kata pertama dari baris, klausa atau kali menjadi

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  “Mati, Arok, Sang Akuwu mati,”. (Arok Dedes, 2006: 525)

  l. Anadilopsis Anadilopsis adalah sejenis gaya bahasa repetisi di mana kata atau frase terakhir dari suatu klausa atau kalimat menjadi kata atau frase pertama dari klausa atau kalimat berikutnya. Misalnya: “Tanpa keberanian hidup adalah tanpa irama.

  Hidup tanpa irama adalah samadhi tanpa pusat.

  

(Arok Dedes, 2006: 63)

3.

   Gaya bahasa pertautan

  Beberapa contoh macam-macam majas yang terdapat dalam gaya bahasa pertautan adalah.

  a. Metonimia Metonimia adalah gaya bahasa yang memakai nama ciri yang ditautkan dengan nama orang, barang, benda. Misalnya:

  Orang itu datang dari Tuban, pergi ke Gresik, memudiki Brantas melalui porong Erlangga. (Arok Dedes, 2006: 84)

  b. Alusi Alusi adalah gaya bahasa yang menunjuk secara tidak langsung ke suatu peristiwa atau tokoh berdasarkan peranggapan adanya pengetahuan bersama yang dimiliki oleh pengarang dan pembaca. Misalnya:

  Saya ngeri membayangkan peristiwa meletusnya Merapi dua tahun lalu. (Tarigan, 1985: 126)

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  c. Gradasi Gradasi adalah gaya bahasa yang mengandung suatu rangkaian kata. Misalnya:

  Aku persembahkan cintaku padamu, cinta yang tulus, cinta yang berasal dari lubuk hatiku yang paling dalam. (Tarigan, 1985: 140)

  d. Sinekdoke Sinekdoke adalah gaya bahasa yang menyebutkan nama sebagian sebagai pengganti keseluruhan atau sebaliknya.

  Misalnya:

  “Tolonglah leher sahaya ini, Yang Mulia Ratu.”

(Arok Dedes, 2006: 230)

  e. Ellipsis Ellipsis adalah gaya bahasa yang di dalamnya dilaksanakan penghilangan kata. Misalnya:

  Mereka ke Jakarta minggu lalu (menghilangkan predikat pergi). (Tarigan, 1985: 138)

  f. Metonimia Metonimia adalah sejenis gaya bahasa yang mempergunakan nama suatu barang bagi sesuatu yang lain berkaitan erat dengannya. Misalnya:

  Kelud meletus. (Arok Dedes, 2006: 216)

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  g. Eufemisme Eufemisme ialah ungkapan yang lebih halus sebagai ungkapan yang dirasakan kasar yang dianggap merugikan atau yang tidak menyenangkan. Misalnya:

  “Kepalamu akan jatuh karena peristiwa ini.” (Arok Dedes, 2006: 133)

  h. Eponim Eponim adalah semacam gaya bahasa yang mengandung nama seseorang yang begitu sering dihubungkan dengan sifat tertentu sehingga nama itu dipakai untuk menyatakan sifat itu. Misalnya:

  Waktu Hyang Surya terbit, Yang Suci Belakangka di pendopo mengumumkan pada sekalian pembesar pekuwuan, bahwa Ken Dedes adalah seorang perawan suci yang mematuhi ajaran nenek moyang, para dewa, dan para guru. Pengumuman itu merembesi seluruh pekuwuan dan ibukota Tumapel.

(Arok Dedes, 2006: 25)

  i. Epitet Epitet adalah semacam gaya bahasa yang mengandung acuan yang menyatakan suatu sifat atau ciri khas dari seseorang atau sesuatu hal. Misalnya:

  “Bicara, kau, garuda kaum brahmana, dengan berat dan ketajaman parasyu Hyang Ganesya, dengan ketajaman kilat Sang Muncukunda ....“ (Arok Dedes, 2006: 210) (garuda kaum brahmana: Arok).

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  j. Antonomasia Antonomasia adalah semacam gaya bahasa yang merupakan bentuk khusus dari sinekdoke yang berupa pemakaian sebuah epitet untuk menggantikan nama diri atau gelar resmi, atau jabatan untuk menggantikan nama diri. Misalnya:

  Pangeran menandatangani surat penghargaan tersebut. (Tarigan, 1985: 132).

  k. Erotesis Erotesis adalah sejenis gaya bahasa yang berupa pertanyaan yang dipergunakan dalam tulisan atau pidato yang bertujuan untuk mencapai efek yang lebih mendalam dan penekanan yang wajar, dan sama sekali tidak menuntut jawaban.

  Misalnya:

  Jadi apakah aku ini, yang bernafsu untuk jadi pandita negeri, seorang brahmana pemuja Sang Hyang Mahadewa Syiwa, yang gagal melaksanakan keinginan untuk jadi pandita akuwu Wisynu? Sudah sedemikan hinakah arya Hindu di bawah Wisynu Jawa ini? (Arok Dedes, 2006: 39)

  l. Paralelisme Paralelisme adalah semacam gaya bahasa yang berusaha mencapai kesejajaran dalam pemakaian kata-kata atau frase- frase yang menduduki fungsi yang sama dalam bentuk gramatikal yang sama. Misalnya:

  Bukan saja korupsi itu harus dikutuk, tetapi juga harus diberantas di Negara Pancasila ini. (Tarigan, 1985: 136)

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  m. Asidenton Asidenton adalah semacam gaya bahasa yang berupa acuan padat dan mampat di mana beberapa kata, frase atau klausa yang sederajat tidak dihubungkan dengan kata sambung. Misalnya:

  Dan Tunggul Ametung hanya seorang jantan yang tahu memaksa, merusak, memerintah, membinasakan, merampas. (Arok Dedes, 2006: 13)

  n. Polisindenton Polisindenton adalah suatu gaya bahasa yang merupakan kebalikan dari asindenton. Misalnya:

  Hanya babi dan anjing dan kucing berkeliaran di jalan-jalan. (Arok Dedes, 2006: 469)

4. Gaya bahasa pertentangan

  Contoh macam-macam majas yang terdapat dalam gaya bahasa pertentangan adalah.

  a. Hiperbola Hiperbola adalah gaya bahasa yang mengandung pernyataan yang berlebih-lebihan. Misalnya:

  Dengan otot semacam ini duniapun dapat dipanggulnya untuk hidupnya. (Arok Dedes, 2006: 53)

  b. Litotes Litotes adalah gaya bahasa yang pengungkapannya menyatakan sesuatu yang positif dengan bentuk yang negatif. Misalnya:

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  “Ampun, Yang Mulia, sahaya hanyalah sudra hina.” (Arok Dedes, 2006: 385)

  c. Ironi Ironi adalah gaya bahasa yang menyatakan makna yang bertentangan dengan maksud mengolok-olok. Misalnya:

  “Hanya Tunggul Ametung yang berani lakukan itu. Berani karena bodohnya.” (Arok Dedes, 2006: 450)

  d. Paradoks Paradoks adalah suatu pernyataan yang diartikan selalu berakhir dengan pertentangan. Misalnya:

  Ia merasa sebatang kara di tengah keriuhan ini, seorang yatim piatu di tengah-tengah padang batu.

(Arok Dedes, 2006: 546)

  e. Sinisme Sinisme adalah gaya bahasa yang berupa sindiran yang berbentuk kesangsian yang mengandung ejekan terhadap keikhlasan dan ketulusan hati. Contohnya:

  “Masih bocah tahu apa kau tentang urusan dewa?”

(Arok Dedes, 2006: 21)

  f. Oksimoron Oksimoron adalah sejenis gaya bahasa yang mengandung penegakan atau pendirian suatu hubungan sintaksis antara dua antonim. Misalnya:

  Para perusuh itu takut atau sebaliknya patuh padanya. (Arok Dedes, 2006: 389)

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  g. Paronomasia Paronomasia adalah sejenis gaya bahasa yang berisi penjajaran kata-kata yang berbunyi sama tetapi bermakna lain. Misalnya:

  Oh adinda sayang, akan kutanam bunga tanjung di pantai tanjung hatimu. (Tarigan, 1985: 64)

  h. Paralipsis Paralipsis adalah gaya bahasa yang merupakan suatu formula yang dipergunakan sebagai sarana untuk menerangkan bahwa seseorang tidak mengatakan apa yang tersirat dalam kalimat itu sendiri. Misalnya:

  Semoga Tuhan Yang Mahakuasa menolak doa kita ini, (maaf) bukan, maksud saya mengabulkannya. (Tarigan, 1985: 66)

  i. Zeugma dan Silepsis Zeugma dan silepsis adalah gaya bahasa yang mempergunakan dua konstruksi rapatan dengan cara menghubungkan sebuah kata dengan dua atau lebih kata lain yang pada hakikatnya hanya sebuah saja yang mempunyai hubungan dengan kata pertama. Misalnya:

  Ia tahu: hari ini adalah awal kemenangannya dan awal keruntuhan Tunggul Ametung. (Arok Dedes, 2006: 339)

  j. Satire Satire merupakan sejenis bentuk argumen yang beraksi secara tidak langsung, terkadang secara aneh bahkan ada kalanya

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  dengan cara yang cukup lucu yang menimbulkan tertawaan. Misalnya:

  kadang-kadang bernada ramah-tamah, kadang- kadang bernada pahit dan kuat, kadang-kadang bernada menusuk dan memilukan. (Tarigan, 1985: 69)

  k. Inuendo Inuendo adalah sejenis gaya bahasa yang berupa sindiran dengan mengecilkan kenyataan yang sebenarnya. Misalnya:

  Abangku sedikit gemuk karena terlalu kebanyakan makan daging berlemak. (Tarigan, 1985: 73)

  l. Antifrasis Antifrasis adalah gaya bahasa yang berupa penggunaan sebuah kata dengan makna kebalikannya. Misalnya:

  Memang engkau orang pintar! (Tarigan, 1985: 75)

  m. Klimaks Klimaks adalah gaya bahasa yang berupa susunan ungkapan yang makin lama makin mengandung penekanan. Misalnya:

  Ia turunkan lengannya, memalingkan muka, menarik kendali kuda dan berjalan lambat-lambat meninggalkan tempat itu. (Arok Dedes, 2006: 46)

  n. Antiklimaks Antiklimaks adalah kebalikan gaya bahasa klimaks. Misalnya:

  “Ketiga, engkau mencoba mengadu domba antara Sang Akuwu, Sang Paramesywari dan aku melalui pesuruhmu yang menamakan dirinya Kebo Ijo, …”

(Arok Dedes, 2006: 466)

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  o. Apostrof Apostrof adalah gaya bahasa yang berupa pengalihan amanat dari yang hadir kepada yang tidak hadir. Misalnya:

  “Betul, ya, bapa, tidak percuma Hyang Ganesya menghias tangan yang satu dengan parasyu dan tangan lain dengan aksamala ketajaman dan irama hidup...”. (Arok Dedes, 2006: 63)

  p. Anastrof Anastrof adalah semacam gaya retoris yang diperoleh dengan pembalikan susunan kata yang biasa dalam kalimat. Misalnya:

  Diceraikannya istrinya tanpa setahu sanak- saudaranya. (Tarigan, 1985: 84)

  q. Apofasis Apofasis merupakan gaya bahasa yang dipergunakan oleh penulis, pengarang, atau pembicara untuk menegaskan sesuatu tetapi tampaknya menyangkalnya. Misalnya:

  Destarnya tak terawat dan matanya kuyu memandang jauh tanpa melihat. (Arok Dedes, 2006: 497)

  r. Histeron Proteron Histeron proteron adalah semacam gaya bahasa yang merupakan kebalikan dari sesuatu yang logis. Misalnya:

  Pidato yang berapi-api pun keluarlah dari mulut orang yang berbicara terbata-bata itu. (Tarigan, 1985: 87)

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  s. Hipalase Hipalase adalah gaya bahasa yang merupakan kebalikan dari suatu hubungan alamiah antar dua komponen gagasan.

  Misalnya:

  Aku menaiki sebuah kendaraan yang resah (yang

  resah adalah aku, bukan kendaraan). (Tarigan,

  1985: 89)

  t. Sarkasme Sarkasme adalah gaya bahasa yang mengandung olok-olok atau sindiran pedas dan menyakiti hati. Misalnya:

  “Kerbau betina pun takkan berbahagia dengan orang dungu seperti itu, Tanca.” (Arok Dedes, 2006: 282)

  u. Anafrasis Antitesis adalah sejenis gaya bahasa yang mengadakan komparasi atau perbandingan antara dua antonim. Misalnya:

  Gadis yang secantik si Ida diperistri oleh si Dedi yang jelek itu. (Tarigan, 1985: 75)

  v. Perifrasis Perifrasis adalah sejenis gaya bahasa yang agak mirip dengan pleonasme, yaitu mempergunakan kata-kata lebih banyak daripada yang dibutuhkan. Misalnya:

  Arya Artya duduk pada sebongkah batu besar, kehilangan lidahnya. (Arok Dedes, 2006: 399)

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

6. Novel

  Sebuah karya sastra merupakan suatu karya yang dihasilkan melalui proses kreatif oleh pengarang. Kreativitas bersumber dari hasil imajinasi pengarang atau hasil observasi pengarang terhadap realitas yang dihadapinya. Hal ini dijelaskan oleh Sumardjo (1975:65) yang mengatakan bahwa karya sastra merupakan hasil pengamatan sastrawan terhadap kehidupan sekitarnya.

  Novel merupakan salah satu bentuk karya sastra prosa. Novel merupakan salah satu cerita rekaan. Dalam arti yang luas, novel adalah cerita berbentuk prosa dalam ukuran yang luas. Menurut Kamus Istilah Sastra, novel berarti prosa rekaan yang panjang yang menyuguhkan tokoh- tokoh dan menampilkan serangkaian peristiwa dan latar secara tersusun.

  Novel yang dalam bahasa Inggris disebut novel merupakan bentuk karya sastra yang memiliki ciri khas tersendiri dibandingkan karya sastra lain. Novel dapat diartikan juga sebagai prosa naratif yang bersifat imajiner, namun masuk akal dan mengandung kebenaran yang mendramatisasikan hubungan antara manusia (Altenbern dan Lewis dalam Nurgiyantoro, 2007: 2-3).

  Novel merupakan karya sastra yang menceritakan tentang kehidupan seseorang. Novel bukan sekedar bacaan, melainkan mengandung nilai-nilai yang bermanfaat bagi kehidupan masyarakat bawah atau menengah. Di antara genre utama karya sastra, yaitu puisi, prosa, dan drama, genre prosa

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  khususnya novel yang dianggap paling dominan dalam menampilkan unsur- unsur sosial (Ratna, 2006:335) Menurut Nurgiyantoro (2007: 18-19) dalam dunia kesusastraan novel dibedakan menjadi dua novel populer dan novel serius. Novel populer adalah novel yang populer pada masanya dan banyak penggemarnya, khususnya pembaca di kalangan remaja. Novel populer tidak menampilkan permasalahan kehidupan secara intern, tidak berusaha meresapi hakikat kehidupan. Novel serius merupakan novel yang mengambil pengalaman dan permasalahan kehidupan yang ditampilkan dalam novel jenis ini disoroti dan diungkapkan sampai ke inti hakikat kehidupan yang bersifat universal.

  Novel serius di samping memberikan hiburan, juga terimplisit tujuan memberikan pengalaman yang berharga kepada pembaca atau paling tidak mengajaknya untuk meresapi dan merenungkan secara lebih sungguh- sungguh tentang permasalahan yang dikemukakan.

  Novel sebagaimana bentuk karya sastra lainnya terdiri atas unsur- unsur pembentuk yaitu unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik. Unsur intrinsik adalah unsur-unsur yang membangun karya sastra itu sendiri. Yaitu unsur yang secara faktual akan dijumpai jika seseorang membaca karya sastra.

  Unsur intrinsik sebuah novel adalah unsur-unsur yang secara langsung turut serta membangun cerita. Unsur ekstrinsik adalah unsur yang berada di luar karya sastra itu, tetapi secara tidak langsung mempengaruhi bangunan atau sistem organisme karya sastra. Walau demikian, unsur ekstrinsik cukup berpengaruh terhadap totalitas bangun cerita yang dihasilkan. Pemahaman

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  unsur suatu karya akan membangun dalam pemahaman makna karya sastra tidak muncul dari situasi kekosongan budaya (Nurgiyantoro, 2007: 23-34) Struktur suatu karya sastra khususnya novel terdiri dari atas yaitu tema, fakta, cerita, dan sarana cerita. Fakta cerita meliputi unsur penokohan, alur, dan latar. Sarana cerita mencakup sarana yang dimanfaatkan pengarang dan menentukan detail-detail cerita sehingga tercipta pola yang bermakna.

  Unsur-unsur tersebut antara lain sudut pandang, gaya dan suasana, judul, simbolisme, dan ironi (Nurgiyantoro, 2007:25).

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

BAB III METODOLOGI PENELITIAN Pada bab ini, peneliti memaparkan mengenai: (1) jenis penelitian, (2)

  sumber data, (3) teknik pengumpulan data, (4) instrumen penelitian, (5) teknik analisis data, (6) trianggulasi hasil analisis data. Kelima hal tersebut diuraikan berikut ini.

  A. Jenis Penelitian

  Penelitian ini termasuk jenis penelitian kepustakaan. Menurut M. Nazir (1988: 111) dalam bukunya yang berjudul Metode Penelitian mengemukakan bahwa studi kepustakaan adalah teknik pengumpulan data dengan mengadakan studi penelaahan terhadap buku-buku, litertur-literatur, catatan-catatan, dan laporan-laporan yang ada hubungannya dengan masalah yang dipecahkan.

  Penelitian dimaksudkan untuk mendeskripsikan secara sistematis fakta-fakta berupa daya bahasa yang terungkap melalui pemakaian gaya bahasa yang terdapat dalam novel Arok Dedes karya Pramoedya Ananta Toer.

  B. Sumber Data dan Data Penelitian

  Sumber data penelitian adalah novel Arok Dedes karya Pramoedya Ananta Toer. Data penelitian ini adalah kalimat atau tuturan para tokoh yang terdapat dalam novel yang menggunakan gaya bahasa yang diduga mengandung daya bahasa.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  C. Teknik Pengumpulan Data

  Teknik merupakan penjabaran dari metode dalam sebuah penelitian, yang disesuaikan dengan alat dan sifat (Sudaryanto, 1993: 9). Teknik yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik baca dan teknik catat. Teknik baca digunakan untuk memperoleh data-data yang terdapat dalam novel.

  Teknik catat digunakan untuk mencatat kalimat atau dialog yang diduga mengandung daya bahasa dalam gaya bahasa pada novel. Data yang diperoleh dari teknik baca selanjutnya dicatat dan diklasifikasikan dengan format sebagai berikut.

  No. Data Konteks Gaya Bahasa Daya Bahasa D. Instrumen Penelitian

  Instrumen penelitian ini adalah peneliti sendiri yang berbekal pengetahuan pragmatik dan semantik. Penelitian ini menggunakan dasar teori Pragmatik yang menekankan pada fungsi komunikatif bahasa, terutama daya bahasa yang terungkap melalui gaya bahasa.

  E. Teknik Analisis Data

  Menurut Bogdan dan Biklen, teknik analisis data kualitatif adalah upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data, mengorganisasi data, memilahnya menjadi satuan yang dapat dikelola, mensintesisnya, mencari dan menemukan pola, menemukan apa yang penting dan apa yang dipelajari, dan

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  memutuskan apa yang dapat diceriterakan kepada orang lain (Bogdan dan Biklen 1982, melalui Moleong, 2006: 248). Adapun analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif. Analisis penelitian deskriptif melakukan analisis hanya sampai pada taraf deskripsi, yakni menganalisis dan menyajikan fakta secara sistematik sehingga dapat lebih mudah untuk difahami dan disimpulkan (Azwar, 2009: 6).

  Teknik analisis data dalam penelitian ini bertolak dari teknis analisis bahasa yang ditemukan Sudaryanto (1993:55). Teknik ini kemudian dikembangkan sesuai dengan objek penelitian. Pengembangan dan penyesuaian dilakukan karena objek penelitian terdapat dalam data penelitian yang berupa teks.

  Setelah data diinventarisasi, kemudian dianalisis dengan langkah- langkah berikut, (1) mengidentifikasi kalimat atau dialog yang dinilai memanfaatkan daya bahasa dalam gaya bahasa, (2) mengidentifikasi ciri-ciri kalimat yang berdaya bahasa, (3) mengklasifikasikan data yang berdaya bahasa, (4) memberikan interpretasi pada data.

F. Trianggulasi Hasil Analisis Data

  Trianggulasi teori adalah keterpercayaan terhadap teori yang digunakan dalam penelitian (PBSID, 2004). Dalam penelitian ini, peneliti memeriksa keabsahan atau keterpercayaan temuan dengan trianggulasi terori. Trianggulasi teori dilakukan dengan mengonfirmasi hasil analisis data dengan beberapa teori yang terkait dalam kajian teori. Hal ini dimaksudkan supaya mendapatkan

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  pengukuhan akan kredibilitas temuan penelitian. Selain itu, peneliti kemudian mengonsultasikan dan mendiskusikan hasil temuan dengan Prof. Dr. Pranowo, M. Pd. selaku dosen pembimbing.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Dalam bab ini dipaparkan mengenai: (1) deskripsi data penelitian, (2)

  analisis daya bahasa dalam gaya bahasa pada novel Arok Dedes karya Pramoedya, dan (3) pembahasan. Kedua hal tersebut diuraikan seperti pada subbab berikut ini.

A. Deskripsi Data Penelitian

  Data yang dianalisis dalam penelitian ini berupa kalimat langsung dan tidak langsung yang terdapat dalam novel Arok Dedes yang mengandung gaya bahasa dan memiliki daya bahasa bagi pembacanya. Salah satu contohnya,

  “Tunggul Ametung memperhatikan tubuh istrinya yang indah telentang seperti kala dilahirkan.” (I.40) Contoh data seperti di atas yang akan dianalisis dan

  dideskripsikan dalam penelitian ini untuk mengetahui gaya bahasa apa yang terkandung di dalamnya dan daya bahasa apa saja yang terkandung dalam gaya bahasa tersebut. Jenis daya yang ditemukan dalam novel Arok Dedes karya Pramoedya Ananta Toer, yaitu daya bahasa yang terdapat dalam novel Arok Dedes, yaitu daya terungkap dari data berupa kalimat meliputi daya jelas, daya rangsang, daya simbol, daya seremoni. Sedangkan, daya bahasa yang terungkap dari data yang berupa tuturan meliputi daya puji, daya optimis, daya ancam, daya protes, daya cemooh, daya nasihat, daya saran, daya klaim, daya deklarasi, daya sesal, daya keluh, daya pinta, daya harap, daya perintah, daya dogma, daya magi, daya provokasi, daya persuasi, daya sumpah, daya janji.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Berikut akan dipaparkan masing-masing daya yang terungkap melalui gaya bahasa.

B. Analisis Data

  Berikut peneliti sajikan analisis data bagaimana penggunaan daya bahasa dalam gaya bahasa pada novel Arok Dedes karya Pramoedya Ananta Toer.

1. Deskripsi Gaya Bahasa yang Berdaya Bahasa a. Daya ‘Jelas’ Informasi, Daya Rangsang, Daya Simbol, Daya Seremoni

  Daya yang terdapat dalam narasi non tutur lebih bersifat prememori yang berfungsi mengantar dan meletakkan khayal pembaca di tempat yang diinginkan penulis, sehingga pembaca ikut terbawa dalam alur dan intrik di dalam novel. Daya jelas berfungsi salah satunya untuk mendeskripsikan orang, mendeskripsikan apa yang dilakukan oleh tokoh, mendeskripsikan sebuah tempat. Berikut akan dipaparkan gaya bahasa yang mengandung daya ‘jelas’ informasi, seremoni, simbol dan rahasia.

  (I.8) Dada telanjangnya mulai ditutup dengan sutera terawang

  tenunan Mesir tipis laksana selaput kabut menyapu gunung kembar. (3) Konteks:

  Ken Dedes sedang dirias oleh Gede Mirah (I.17) Janur kuning dan daun beringin menyambut kedatangan

  mereka. (6) Konteks:

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  (I.2) Gede Mirah menyediakan untuknya air, tempat membuang

  Suasana hati Ken Dedes yang tidak menentu terhadap

  kegembiraan batin, kadang sendu. (323) Konteks:

  (VII.1) Kadang ia merasa takut, kadang kuatir, kadang mengalami

  Konteks: Dedes terkenang pada ayahnya.

  ia tahu Tunggul Ametung hanya seorang penjahat dan pendekar yang diangkat untuk jabatan itu oleh Sri Kretajaya untuk menjamin arus upeti ke Kediri. (3)

  (I.6) Dan sebagai gadis yang terdidik untuk menjadi brahmani,

  kotoran dan makanan. (1) Konteks: Dedes berada di dalam bilik besar.

  (I.13) Semua pekerja dapur keluar, bermandi sinar matari pagi

  yang sedang mengusir kabut. Puncak pegunungan di kejauhan pun mulai berjengukan berebut dulu untuk melihat pengantin yang baru keluar dari pura. (29)

  Konteks:

  didatangkan dari kota dan desa dan diturunkan dari gunung- gunung Arjuna, Welirang, Kawi dan Hanung, berbaris seorang-seorang dengan jubah aneka warnadan destar sesuai dengan warna jubahnya. (6)

  Kebo Ijo tidak mendapat tempat di belakang barisan dan ia berada di bawah pimpinan Kidang Telarung. (I.18) Berpuluh pandita dan seluruh negeri Tumapel, yang

  Konteks:

  mengikuti tikungan sungai, dari kantongnya ia keluarkan sumpitan kecil dan melepaskan anak sumpit beracun pada pemimpinnya. Telarung memekik kemudian roboh tanpa bersuara lagi. (391)

  Semua pekerja dapur keluar untuk menyaksikan pengantin baru penguasa Tumapel. (VIII.13) Waktu pasukan Kidang Telarung membelok ke kanan

  Konteks:

  Seluruh pandita dari Tumapel datang dari berbagai penjuru Tumapel sambil membawa umbul-umbul, semuanya berjumlah empat puluh.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Ia merindukan salah seorang di antara mereka bakal melamarnya. Ia merindukan seorang bayi yang dapat digendong dan ditimangnya. (32)

  Arok mempelajari siasat dan pemikiran Empu Gandring untuk menguasai Tumapel.

  dan cukup rontal yang telah dipelajarinya. (461) Konteks:

  Belakangka mendapat laporan jika tidak ada mayat orang ditemukan di pendulangan dan padang batu. (IX.20) Ia menduga ahli senjata itu sudah banyak makan garam

  ada? (391) Konteks:

  Setelah menyaksikan pernikahan Tunggul Ametung dan Ken Dedes, tiba-tiba Oti merindukan sesuatu. (VIII.11) Apakah itu cukup menjadi bukti, pertempuran tidak pernah

  Konteks:

  (IX.27) Hanya babi dan anjing dan kucing berkeliaran di jalan-

  jalan. (469) Konteks: Keadaan Tumapel yang sepi.

  Konteks:

  Orang pun memasang racun untuk membunuhnya. Amisani

akhirnya mati termakan racun itu. .... ” (12)

  “Pada suatu kali di tahun 1107 Saka Sri Ratu Srengga Jayabasa dari Kediri mangkat. Pertentangan dalam istana siapa yang harus dinobatkan. Raden Dandang Gendis melarikan diri dari istana ke Gunung Wilis. … Di istana Amisani, si anak desa, tidak disukai oleh para putri istana.

  Ken Dedes kehilangan kedamaiannya saat menuju pura bersama ken Arok, Ken Umang, Bana, dan Ki Bango Samparan. (I.27)

  Konteks:

  dicintainya, kehilangan balatentara yang dapat diperintahnya, kehilangan kepercayaan dari orangtua yang dicintai dan dipujanya setulus hati. (553)

  (X.48) Hanya ia sendiri kehilangan tempat di samping suami yang

  Dedes teringat. dulu ayahnya menceritakan kisah tentang Amisani dan ia baru mengerti arti cerita itu. (IX.42) Ia merindukan karang batu bata dan di pembelahan batu.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  (VIII.19) Arya Artya duduk pada sebongkah batu besar, kehilangan

  lidahnya. (399) Konteks: Arya Artya lemas mengetahui jumlah emas yang sebenarnya.

  (III.46) Menjelang terbit, Hyang Surya, kuda itu memasuki

  pekuwuan… (121) Konteks: Tunggul Ametung sampailah ia di pekuwuan.

  (VIII.25) Ia berhenti di hadapan Arok dengan dendam menyala-

  nyala pada matanya. (401) Konteks: Hayam bebas dari kepungan anak buahnya.

  (VII.13) Dan ia merasa senang karena tidak termasuk sudra

  berdarah Hindu dan juga tidak senang karena akan melahirkan seorang bayi dengan semakin kurang darah mulia itu dalam tubuhnya. (327)

  Konteks: Ken Dedes berusaha menghibur dirinya sendiri.

  (II.50) Tempat penggembalaannya ialah medan ia bermain

  dengan teman-temannya. Kegesitan, kekuatan, kecerdasan, dan kekukuhan menyebabkan ia hampir selalu keluar sebagai pemenang dalam permainan dan perkelahian. (93)

  Kontek: Arok mengingat kembali masa lalunya.

  (I.26) Airmatanya telah kering. Tapi dalam hatinya masih juga

  mengucur tiada henti. (10) Konteks:

  Dedes berlutut menghadapi peraduan dan masih menyesali pernikahannya dengan Ametung. (IX.21) Maka persekutuan dua orang itu ia anggap sebagai

  permainan dua ekor cangcorang yang berkasih-kasihan untuk saling memangsa. (461) Konteks:

  Arok mempelajari siasat dan pemikiran Empu Gandring untuk menguasai Tumapel. (IV.68) Kelud meletus. (216)

  Konteks: Gunung Kelud meletus.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Pada data (I.8) menggunakan gaya bahasa simile, dapat dilihat dari kata

  “.. laksana selaput kabut” , tetapi secara keseluruhan daya

  yang diserap dari kalimat utuh adalah daya bahasa rangsang, yang mempengaruhi indera di dalam kenyataannya Pada data (I.17) menggunakan gaya bahasa personifikasi, dimana simbol adat melakukan kegiatan manusia, sedangkan daya yang terambil dari data (I.17) adalah daya simbol, dimana itu lebih dari sekedar informasi karena membawa pembaca mengerti dan menghormati adat, budaya dan kepercayaan yang tersirat di novel tersebut.

  Pada data (I.13) menggunakan gaya bahasa personifikasi karena ditemukan kata yang acuannya bukan manusia yang diberi ciri

  insani. Ditunjukkan dengan kata “sinar matari pagi yang sedang mengusir kabut.” Mengusir merupakan perbuatan yang dilakukan oleh

  manusia. Makna dari kalimat di atas ialah sinar matari pagi yang mulai bersinar berusaha mengusir kabut yang menghalanginya untuk menampakkan sinarnya.

  Gaya bahasa klimaks pada data (VIII.13) merupakan gaya bahasa yang menunjukkan urut-urutan pemikiran yang semakin meningkat kepentingannya dari gagasan sebelumnya. Ditunjukkan dengan kata

  “…membelok ke kanan …dari kantongnya ia keluarkan sumpitan kecil dan melepaskan anak sumpit beracun pada pemimpinnya. Telarung memekik kemudian roboh tanpa bersuara

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  lagi.

  ” Makna yang terkandung dari data (VIII.13) ialah menunjukkan

  proses kejadian yang dilakukan Kebo Ijo saat berada di belakang Kidang Telarung sampai Kidang Telarung tewas.

  Pada data (I.18) penggunaan gaya bahasa antiklimaks, lawan dari gaya bahasa klimaks. Kelompok kata yang menunjukkan gaya bahasa antiklimaks yaitu kota dan desa dan diturunkan dari gunung-

  gunung. Makna yang terkandung dari data (I.18) ialah hadirnya para

  pandita pada pesta pernikahan Tunggul Ametung dari kota yang merupakan pandita yang diakui oleh Kediri dan ditempatkan di kota, pandita dari desa, dan pandita dari gunung yang keberadaannya tidak diakui oleh Kediri. Daya bahasa yang terkandung adalah seremoni, sama seperti simbol, hanya saja data lebih menunjukan prosesi atau upacara adat, untuk membedakan dengan upcara

  • – upacara yang lain.

  Gaya bahasa eufemisme hadir pada data (I.2). Kata yang mengandung gaya bahasa eufemisme ialah tempat untuk membuang

  kotoran. Kotoran yang dimaksudkan pada data di atas adalah tempat untuk buang air kecil dan buang air besar.

  Data (I.6) menggunakan gaya bahasa zeugma karena mempertentangkan dua hal yang berbeda yaitu pendekar dan penjahat yang mengandung ciri semantik yang bertentangan. Makna yang terkandung pada data (I.6) ialah Tunggul Ametung sebenarnya hanyalah seorang penjahat kelas kakap yang kemudian oleh Kediri

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  menjadi pendekar (penyelamat) untuk menjamin arus upeti dari Tumapel menuju Kediri.

  Data (VII.1) menggunakan gaya bahasa asidenton sebab kata

  takut, kuatir, kegembiraan batin, sendu merupakan kata-kata yang

  memiliki posisi sederajat tentang macam-macam perasaan yang seharusnya dihubungkan dengan kata sambung atau konjungsi.

  Namun, pada kalimat di atas tidak dihubungkan dengan kata sambung. Kata-kata tersebut hanya dipisahkan dengan tanda koma. Makna dari kalimat tersebut adalah menggambarkan suasana hati Ken Dedes yang tidak menentu yang terkadang merasa takut, kuatir, sendu, gembira.

  Data (IX.27) menggunakan gaya bahasa polisidenton yang merupakan lawan dari gaya bahasa asidenton yakni beberapa kata, frasa, atau klausa yang berurutan dihubungkan satu sama lain dengan kata sambung. Kelompok kata babi, anjing, kucing disambung dengan konjungsi dan. Seharusnya tidak perlu digunakan konjungsi dan karena merupakan kelompok kata yang posisi setara yaitu binatang.

  Gaya bahasa epizeukis muncul pada data (X.48) yaitu berupa pengulangan pada kata kehilangan sekaligus memberi penegasan pada kata tersebut. Makna yang terkandung dari data (X.48) ialah menunjukkan jika Ken Dedes kehilangan banyak hal yang penting dalam hidupnya yaitu kehilangan tempat di samping suami yang dicintainya, balatentara yang dapat diperintahnya, dan kepercayaan dari orangtua yang dicintai dan dipujanya setulus hati.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Pada data (I.27) menggunakan gaya bahasa alegori karena menceritakan sebuah kisah yang berisi pesan, amanat. Amanat yang disampaikan pada data (I.27) Ken Dedes lebih berhati-hati dan tidak mengulangi peristiwa seperti Dewi Amisani yang tewas karena diracun.

  Data (IX.42) menggunakan gaya bahasa anofora yaitu berupa pengulangan kata di awal kalimat dengan pengulangan kata ia

  merindukan. Maknanya ialah Oti merindukan karang batu, seseorang

  yang akan melamarnya, merindukan seorang bayi. Daya dari data di atas adalah daya emosi rindu karena menunjukkan kerinduan yang amat terdalam bagi Oti. Dan pengulangan kata rindu sebanyak tiga kali cukup meyakinkan perasaan apa yang membuncah di dalam dirinya. Ia merindukan tempat yang berkarang batu, merindukan seorang lelaki yang akan melamarnya, dan merindukan seorang bayi yang akan digendongnya kelak.

  Data (VIII.11) menggunakan gaya bahasa erotesis yang artinya sama saja dengan pertanyaan retoris. Pada data (VIII.11) menanyakan apakah ada bukti jika pertempuran di tempat pendulangan emas tidak pernah ada. Karena tidak ditemukan bekas perkelahian maupun bangkai mayat dan keadaan di pendulangan sepi, tanpa ada manusia.

  Gaya bahasa metafora digunakan pada data (IX.20). Ditunjukkan dengan kata banyak makan garam yang berarti memiliki pengalaman yang sudah cukup banyak. Makna yang terkandung yaitu

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  dugaan Arok kepada Empu Gandring yang sudah memiliki banyak pengalaman dan membaca banyak rontal untuk menyiapkan taktik menguasai Tumapel.

  Data (VIII.19) menggunakan gaya bahasa perifrasis yang terungkap dari penggalan kalimat kehilangan lidahnya. Seharusnya penggalan kalimat kehilangan lidahnya bisa diganti dengan kata membisu. Makna yang terkandung pada data (VIII.19) yaitu Arya Artya membisu setelah mengetahui jumlah emas yang sebenarnya.

  Pada data (III.46) menggunakan gaya bahasa eponim yang nampak pada kalimat

  “…Hyang Surya Terbit…” Hyang Surya yang

  dimaksudkan adalah matahari. Makna yang terkandung pada data (III.46) ialah kuda yang ditumpangi oleh Tunggul Ametung dan Ken Dedes memasuki pekuwuan ketika matahari terbit.

  Gaya bahasa hiperbola pada data (VIII.25) ditunjukkan pada kata dendam menyala-nyala. Maksud dari kata di atas ialah Hayam sangat dendam yang sangat mendalam kepada Arok. Daya yang muncul yaitu daya emosi dendam karena menunjukkan betapa dendamnya Hayam kepada Arok yang terpancar dari tatapan matanya.

  Gaya bahasa oksimoron digunakan pada data (VII.13) yang nampak pada penggunaan kata senang dan tidak senang yang berada pada satu kalimat. Makna yang terkandung pada data (VII.13) ialah Dedes merasa senang karena keturunan brahmani dan ia merasa tidak

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  senang karena anak yang akan ia lahirkan kelas tidak murni keturunan brahmana.

  Data (II.50) menggunakan gaya bahasa silepsis yang secara gramatikal benar namun secara semantik salah. Gaya bahasa silepsis berusaha untuk mempertentangkan dua hal yang berbeda. Tercermin pada kata permainan dan perkelahian. Makna yang terkandung pada data (II.50) ialah penulis menggambarkan Arok sebagai tokoh yang selalu menang ketika bermain dan menang ketika berkelahi.

  Pada data (I.26) menggunakan gaya bahasa paradoks sebab mempertentangkan airmata yang telah kering dengan dalam hatinya

  masih juga mengucur tiada henti. Makna yang terkandung dalam

  konteks ini yaitu Dedes berhenti menangis karena airmatanya telah kering mungkin terlalu lama menangis dalam jangka waktu yang panjang. Meskipun airmatanya telah kering, Dedes masih merasa sangat sedih dan untuk mengungkapkannya Dedes hanya bisa menangis dalam hati.

  Data (IX.21) menggunakan gaya bahasa sarkasme karena berisi hinaan. Terungkap pada penggalan kalimat

  “…permainan dua ekor cangcorang...” Data (IX.21) ditunjukkan kepada Empu Gandring

  dan Kebo Ijo yang sedang berusaha untuk menguasai Tumapel. Makna yang terkandung pada data (IX.21) ialah persekutuan antara Empu Gandring dan Kebo Ijo seperti cangcorang yang saling berkasih-kasihan untuk mencapai keinginan masing-masing.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Pada data (IV.68) menggunakan gaya bahasa metonimia yang tampak pada kata Kelud. Yang dimaksudkan pada kata Kelud ialah Gunung Kelud. Makna yang terkandung dari data (IX.68) ialah gunung Kelud meletus.

  Dari keseluruhan data diatas menunjukkan daya informasi, seremoni, simbol dan rangsang karena hanya menjelaskan situasi, deskripsi tokoh, tempat, suasana yang ada di dalam novel Arok Dedes. Daya jelas seperti yang telah diuraikan di atas mengandung kekuatan bahasa yang terungkap dari gaya bahasa metonimia. Pada data (104)

  Kelud meletus secara langsung menggambarkan keadaan saat itu

  kepada pembaca. Pada data (I.18) Berpuluh pandita dan seluruh

  negeri Tumapel, yang didatangkan dari kota dan desa dan diturunkan dari gunung-gunung Arjuna, Welirang, Kawi dan Hanung, berbaris seorang-seorang dengan jubah aneka warnadan destar sesuai dengan warna jubahnya. mengandung daya seremoni karena menunjukkan

  prosesi upacara pernikahan adat Hindu. Sedangkan pada daya rangsang nampak pada data (I.8) Dada telanjangnya mulai ditutup

  dengan sutera terawang tenunan Mesir tipis laksana selaput kabut menyapu gunung kembar. Mengandung daya rangsang karena ada

  rangsang yang membuat pembaca merasakan suatu rangsangan sendiri atau bisa dikatakan sex feel. Daya simbol muncul pada data (I.17)

  Janur kuning dan daun beringin menyambut kedatangan mereka.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Mengandung daya simbol karena menunjukkan lambang-lambang yang digunakan dalam upacara pernikahan adat Jawa.

b. Daya Puji

  Puji adalah pernyataan rasa pengakuan dan penghargaan yang tulus akan kebaikan, keindahan (KBBIoffline). Bentuk ungkapan pujian bisa ditunjukkan kepada sesama, alam, dan Tuhan. Berikut daya puji yang terungkap melalui pemakaian gaya bahasa.

  (I.3)

  “Perawan terayu di seluruh negeri,” bisik Gede Mirah. (2) Konteks: Dituturkan oleh Gede Mirah ketika ia sedang merias Dedes.

  (II.3)

  “Sudah lama aku timbang-timbang. Kau seorang muda yang cerdas, giat, gesit, ingatanmu sangat baik, berani, tabah menghadapi segalanya. (60)

  Konteks:

  Dituturkan oleh Lohgawe kepada Temu ketika semua murid sedang berkumpul. (II.41)

  “… Dan kau, Temu, kau bisa jadi satria karena kemampuanmu. Tingkah lakumu bukan lazim pada seorang sudra, tetapi satria. Matamu bukan mata satria, tetapi brahmana…” (85)

  Konteks: Tantripala memuji kecerdasan Temu.

  (III.19)

  “Mulialah Sri Erlangga Bathara Wisynu, dengan titahnya semua orang bisa jadi satria atau brahmana demi dharmanya.” (112)

  Konteks:

  Dituturkan Tunggul Ametung ketika ia berhasil membawa Dedes, tetapi ia meronta terus. (III.45)

  “Bahkan rambutmu kurasai seperti belaian sorga.” (121) Konteks:

  Dituturkan oleh Tunggul Ametung kepada Dedes ketika dalam

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  (IV.17)

  “… Garuda! Untuk kau hanya korban terbaik, hidup terbaik, dan kalaupun punah, punah yang terbaik pula.” (176) Konteks:

  Dituturkan oleh Lohgawe yang menyuruh Arok untuk tidak berpendapat mengenai Maithuna (upacara persetubuhan untuk memuja kesuburan). (IV.57)

  “Bicara, kau, garuda kaum brahmana, dengan berat dan ketajaman parasyu Hyang Ganesya, dengan ketajaman kilat Sang Muncukunda ....“ (210)

  Konteks:

  Dituturkan oleh Lohgawe untuk menyuruh Arok melanjutkan kisah Salyaparwa dalam bahasa Sansekerta. (VI.5)

  “Kau seorang anak pandai emas yang tajam hidung. Tahu saja kau di mana tempatnya.” (269) Konteks: Dituturkan oleh Arok kepada Hayam ketika ia sedang tertidur.

  Gaya bahasa hiperbola nampak pada tuturan (I.3) karena mengandung suatu pernyataan yang melebih-lebihkan keadaan sebenarnya. Kata terayu memberi efek melebih-lebihkan kecantikan Dedes sehingga terkesan hanya Ken Dedeslah wanita yang paling cantik di seluruh Tumapel. Daya puji nampak pada kalimat

  “Perawan terayu…” Pujian yang diungkapkan Gede Mirah karena ia mengagumi

  kecantikan yang dimiliki oleh Dedes.

  Pada data (II.3) menggunakan gaya bahasa asidenton yang ditunjukkan dengan kelompok kata cerdas, giat, gesit, ingatanmu

  sangat baik, berani, tabah menghadapi segalanya yang memiliki posisi sederajat yaitu menyatakan sifat baik yang dimiliki Arok.

  Makna yang terkandung dari data (II.3) ialah Lohgawe memaparkan

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  gaya bahasa ini dipilih penulis untuk mengatakan sesuatu maksud secara jelas, singkat, dan padat. Meskipun tidak dihubungkan dengan kata sambung, makna kalimat tersebut dapat diterima. Pada data (II.3) mengandung daya puji dari kumpulan kata cerdas, giat, gesit,

  ingatanmu sangat baik, berani, tabah menghadapi segalanya sangat jelas mengandung pujian karena tidak mengandung celaan.

  Tuturan (II.41) mengandung gaya bahasa klimaks karena urut- urutan pikiran yang semakin meningkat kepentingannya. Nampak pada kelompok kata “Kau bisa jadi satria karena kemampuanmu.

  Tingkah lakumu bukan lazim pada seorang sudra, tetapi satria. Matamu bukan mata satria, tetapi brahmana.

   Makna yang

  terkandung dari tuturan (II.41) ialah Arok bisa naik kasta menjadi brahmana karena dharmanya. Daya puji nampak pada penggalan kalimat di atas. Pujian yang disampaikan kepada Arok sangatlah istimewa karena tidak semua orang memiliki kemampuan seperti Arok yaitu memiliki tingkah seorang satria, mata brahmana meskipun pada kenyataannya Arok hanyalah keturunan sudra.

  Data (III.19) menggunakan gaya bahasa apostrof karena menghadirkan Sri Erlangga Bathara Wisynu dalam percakapan antara Tunggul Ametung dengan Dedes. Makna yang terkandung dalam tuturan (III.19) yaitu Tunggul Ametung mengungkapkan rasa terima kasih kepada Sri Erlangga Bathara Wisynu karena titah yang diberikan olehnya bisa membuat orang naik kasta karena dharma yang

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  diberikan. Daya yang dihasilkan pada tuturan (III.19) ialah daya puji karena mengandung pujian kepada Sri Erlangga Bathara Wisynu yang terungkap dari kata

  “Mulialah Sri Erlangga Bathara Wisynu,…” Kata mulia merupakan salah satu bentuk ungkapan pujian.

  Pada data (III.45) gaya bahasa simile digunakan untuk membandingkan dua hal yang berbeda. Yang dibandingkan pada tuturan (III.45) ialah rambut Dedes dan belaian surga. Makna yang terkandung pada tuturan (III.45) ialah rambut Dedes benar-benar halus sehingga jika ada orang yang menyentuhnya seperti merasakan belaian surga. Daya yang muncul yaitu daya puji. Pujian dituturkan oleh Tunggul Ametung saat membelai rambut Ken Dedes dan yang dirasakan Tunggul Ametung ialah rambut Dedes sangat halus dan wangi.

  Pada tuturan (IV.17) menggunakan gaya bahasa epizeukis yaitu pengulangan pada kata terbaik. Maksud pada tuturan (IV.17) semua yang terbaik selama hidup dan sampai punah pun yang terbaik diberikan kepada Arok. Data (IV.17) Mengandung daya puji yang dituturkan oleh Lohgawe kepada Arok karena bagi Lohgawe, Arok adalah sosok yang sangat istimewa.

  Pada tuturan (IV.57) menggunakan gaya bahasa epitet yang ditunjukkan dengan kalimat garuda kaum brahmana yang sudah jelas julukan itu diberikan kepada Arok. Maksud yang terkandung pada data (IV.57) Arok sebagai wakil kaum brahmana mendapat berkat

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  berlimpah dari Hyang Ganesha dengan kilat Muncukundra. Daya (IV.57) mengandung daya puji karena Arok mendapat koehormatan menjadi bagian dari kaum brahmana meskipun ia sendiri berkasata sudra.

  Pada tuturan (VI.5) menggunakan gaya bahasa metafora yang ditunjukkan kepada Hayam. Kalimat yang menunjukkan pemakaian gaya bahasa metafora ialah tajam hidung yang berarti memiliki penciuman yang kuat. Maksud yang terkandung pada tuturan (VI.5) ialah Hayam memiliki indera penciuman yang kuat untuk mencari sumber emas karena jarang sekali orang yang memiliki kemampuan seperti Hayam. Tuturan (VI.50 mengandung daya puji karena dalam pembicaraan, Arok memuji Hayam yang memiliki indera penciuman yang tajam.

  Daya puji seperti yang telah diuraikan di atas adalah kekuatan bahasa yang terungkap melalui gaya bahasa metafora yang mengandung pesan menunjukkan kesungguhan hati penutur untuk memuji mitra tutur. Perhatikan contoh tuturan

  “Kau seorang anak pandai emas yang tajam hidung. Tahu sa ja kau di mana tempatnya.”

  Tuturan tersebut secara langsung menunjukkan pujian Arok kepada Hayam atas kemampuan penciuman tajam yang dimiliki oleh Hayam.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

c. Daya Optimis

  Optimis adalah paham atas segala sesuatu dari segi yang baik dan menyenangkan, sikap yang selalu memiliki harapan baik dalam segala hal (KBBIoffline). Penggunaan gaya bahasa pada novel yang berhasil ditemukan untuk mengungkap daya optimisme ialah sebagai berikut.

  (III.39)

  … Tumpahkan airmatamu, Permata, karena setelah ini takkan dia titik lagi, seluruh kebahagiaan makhluk di atas bumi hanya milikmu.” (119) Konteks:

  Dituturkan oleh Akuwu ketika ia merasa air mata Ken Dedes jatuh menetesi lengannya. (IV.3)

  “Kau akan kembalikan cakrawati Bathara Guru Sang Mahadewa Syiwa.” (165) Konteks:

  Dituturkan Dang Hyang Lohgawe Lohgawe saat upacara pemberian nama. (VI.54)

  “… Semua brahmana di Tumapel, Kediri, di seluruh pulau Jawa, akan menyokongmu. Dengan Tumapel di tanganmu kau akan bisa hadapi Kediri. (317)

  Konteks:

  Dituturkan oleh Lohgawe ketika ia mengajak Arok untuk menemui Tunggul Ametung. (VI.55)

  “Dengan Tumapel di tanganmu kau akan bisa hadapi Kediri. … “ (317)

  Konteks: Dituturkan oleh Lohgawe ketika ia mengajak Arok untuk menemui Tunggul Ametung.

  Gaya bahasa hiperbola ada pada data (III.39) yang nampak pada

  penggalan kalimat “…seluruh kebahagiaan makhluk di atas bumi hanya milikmu …” maksud dari kalimat (III.39) ialah Dedes akan

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  kekuasan mutlak untuk memiliki apapun yang ia inginkan. Daya optimis muncul karena apa yang dikatakan Tunggul Ametung akan memberi pengetian tersendiri bagi Ken Dedes dan apa yang dikatakannya ialah berdasarkan keyakinannya.

  Gaya bahasa apostrof ada pada data (IV.3) muncul pada

  kalimat “..cakrawati Bathara Guru Sang Mahadewa Syiwa.” maksud

  yang terkandung dari tuturan (IV.3) ialah keyakinan akan kembalinya lagi cakrawati Hyang Mahadewa Syiwa. Daya optimis muncul karena memiliki keyakinan yang tinggi akan kembalinya cakra Hyang Syiwa dengan hadirnya Arok di tengah-tengah mereka kerena kelebihan yang dimilikinya.

  Gaya bahasa Klimaks ada pada data (VI.54) yang nampak pada kelompok kata di Tumapel, Kediri, di seluruh pulau Jawa.

  Awalnya yang mendukung hanya dari wilayah Tumapel, lama-lama seluruh brahmana Kediri dan akhirnya brahaman seluruh pulau Jawa akan berkumpul jadi satu untuk mendukung Arok. Daya optimis muncul karena dengan munculnya bantuan dari seluruh pulau Jawa, keinginan yang akan dicapai akan terwujud.

  Gaya bahasa sinekdoke ada pada data (VI.55) nampak pada kalimat “Dengan Tumapel di tanganmu kau akan bisa hadapi Kediri” maksud dari tuturan (VI.55) ialah dengan menguasai Tumapel, maka Arok akan bisa hadapi dan menahklukkan Kediri. Daya yang terungkap yaitu daya optimis karena memiliki padangan baik akan

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  masa depan. Tumapel hanya bagian dari wilayah kekuasaan Kediri yang bisa dikatakan sumber emas bagi Kediri.

  Daya optimis seperti yang sudah diuraikan di atas adalah kekuatan bahasa yang terungkap melalui gaya bahasa apostrof mengandung pesan yang menunjukkan jika penutur memiliki daya optimis kepada mitra tutur terhadap penyelesaian suatu masalah.

  Seperti pada contoh

  “Kau akan kembalikan cakrawati Bathara Guru Sang Mahadewa Syiwa.” (165) Maksud dari tuturan tersebut ialah

  berisi sebuah keyakinan akan pengharapan yang lebih baik karena hadirnya Arok akan membatu kaum brahmana mengembalikan cakrawati Hyang Syiwa. tuturan tersebut secara langsung menyatakan rasa optimis penutur kepada mitra tutur akan suatu hal.

d. Daya Ancam

  Ancaman adalah salah satu usaha seseorang untuk menyelamatkan diri dari sebuah masalah. Ancaman sendiri memiliki arti sesuatu yang diancam, perbuatan yang mengancam (KBBI

  offline). Jika seorang mengeluarkan kalimat yang bernada mengancam

  tentu saja dapat membuat takut lawan bicaranya. Ungkapan yang digunakan seseorang dalam mengeluarkan ancaman juga beragam.

  Ada yang mengungkapkan secara halus, tersirat, blak-blakan, kasar, to

  the point, dan sebagainya. Dari ungkapan-ungkapan itu, terbentuklah sebuah daya bahasa yang mengandung ancaman.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  (I.83)

  “Kalau aku tak berhasil menundukkan cakrawati Hyang Syiwa di Tumapel, terkutuklah kalian Wangsa Erlangga! Terkutuk! Juga seluruh adipati, bupati, dan akuwunya! Terkutuk!” (39) Konteks:

  Dituturkan oleh Arya Arta karena tidak dapat menanggung cemburunya kepada Wangsa Erlangga yang tidak mengindahkan Syiwa.

  (III.50)

  “Kepalamu akan jatuh karena peristiwa ini.” (133) Konteks:

  Dituturkan oleh Belakangka kepada Rimang yang menyalahkan Rimang karena kepergian Ken Dedes saat Gunung Kelud meletus.

  (VI.47)

  “Kalau yang sepuluhribu itu tidak ada kepalamu tergantung- gantung di ujung pedang,”... (306)

  Konteks:

  Dituturkan oleh Hayam saat menanyakan Rimang tentang emas yang ia sembunyikan bersama Gusti Putra. (VIII.16)

  “Dengan satu gelombang serangan kalian akan hancur- binasa. …!” (394) Konteks: Dituturkan oleh Arok saat mengepung perkubuan Hayam.

  (IX.21)

  “Baik. Kalau kau bohong, tubuhmu tidak akan dibakar, akan kami serahkan pada anjing-anjing pekuwuan. Dan Tim anjingmu yang telah mati itu, akan datang ikut menyantap tubuhmu.” (469)

  Konteks:

  Dituturkan oleh Arok ketika menyidang Empu Gandring dan meminta keterangannya tentang penyerbuan ke pekuwuan.

  Pada tuturan (I.83) menggunakan gaya bahasa apostrof yaitu gaya bahasa berupa pengalihan amanat dari yang hadir menjadi tidak

  hadir. Kalimat “…cakrawati Hyang Syiwa… “ menunjukkan adanya

  daya apoostrof. Maksud yang terkandung pada data (I.83) ialah kutukan yang diberikan oleh Arya Artya jika ia tidak bisa kembalikan

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  (I.83) terdapat pada kata kutuk. Kata kutuk yang dituturkan Arya Artya berupa ancaman karena belum terjadi kejadian yang tidak diharapkan.

  Pada tuturan (III.50) menggunakan gaya bahasa eufemisme.

  “Kepalamu akan jatuh…” merupakan penghalusan dari arti mati.

  Dalam konteks ini, makna yang terkandung ialah Belakangka menyalahkan Rimang dengan perginya Ken Dedes yang keluar dari pekuwuan saat Kelud meletus untuk melihat keadaan rakyatnya tanpa seizinnya dan akan memberikan hukuman mati kepada Rimang dengan adanya peristiwa tersebut.

  Pada tuturan (VI.47) menggunakan gaya bahasa perifrasis

  yang ditunjukkan dengan kalimat “…kepalamu tergantung-gantung di ujung pedang,

  …” yang seharusnya bisa diganti dengan mati. maksud

  yang terkandung pada data (VI.47) ialah Rimang akan mati jika emas yang jumlah sepuluh ribu saga tidak ada. Data (VI.47) mengandung daya ancam karena secara terang-terangan mengancam Rimang jika ia tidak beritahukan di mana letak emas itu.

  Pada tuturan (VIII.16) menggunakan gaya bahasa hiperbola yang melebih-

  lebihkan ditunjukkan pada kalimat “…hancur-binasa. ..” makna yang terkandung pada (VIII.16) ialah serangan satu

  gelombang pasukan Arok bisa menghancurkan tempat persembunyian Hayam. Termasuk daya ancam karena serangan itu belum terjadi dan dipertegas lagi dengan kata akan.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Pada tuturan (IX.21) gaya bahasa yang terkandung adalah gaya bahasa sarkasme yang ditunjukkan dengan kalimat

  “...tubuhmu tidak akan dibakar, akan kami serahkan pada anjing- anjing pekuwuan…”

  Maksud dari data tuturan (IX.21) ialah Arok tidak menganggap Empu Gandring sebagai seorang yang tidak terhormat jika ia meninggal karena tidak mau mengakui semua kesalahan yang telah ia perbuat karena melakukan perlawanan terhadap Tunggul Ametung. Di masanya, Empu Gandring adalah orang yang terpandang, ia ahli membuat senjata yang sakti dan mendapat gelar Empu atas kemampuannya. Di sini, Arok menganggap Empu Gandring sangat hina. Jika ada orang yang meninggal, mayatnya harus dibakar untuk mencapai nirwana. Bisa disimpulkan jika Arok sangat memandang rendah Empu Gandring dan menganggapnya tidak berharga karena ia menyetarakan Empu Gandring dengan makanan anjing dan Tim anjing kesayangan Empu Gandring yang ia pelihara sejak kecil juga turut serta memakan daging tuannya. Efek perlokusinya ialah Empu Gandring mengakui kesalahannya dengan bukti-bukti yang ada.

  Daya ancam seperti yang sudah diuraikan di atas adalah kekuatan bahasa yang muncul melalui gaya bahasa sarkasme yang mengandung pesan memberi ancaman kepada lawan tutur. Perhatikan data (IX.21)

  “Baik. Kalau kau bohong, tubuhmu tidak akan dibakar, akan kami serahkan pada anjing-anjing pekuwuan. Dan Tim anjingmu yang telah mati itu, akan datang ik ut menyantap tubuhmu”.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Tuturan tersebut secara langsung mengancam mitra tutur agar mengakui kesalahannya dan berkata jujur.

e. Daya Protes

  Protes, menurut KBBIoffline adalah pernyataan tidak menyetujui, menentang. Untuk mengungkapkan rasa protes banyak cara yang bisa dilakukan baik secara individual maupun kelompok, misalnya mogok makan, demo, membakar ban, dll. Dalam novel Arok

  Dedes karya Pramoedya, juga ditemukan daya bahasa protes yang dilakukan oleh individual maupun kelompok.

  (II.16)

  “… Juga sahaya tidak patut membisukan suatu hal: para brahmana siapa saja yang pernah saya temui, hanya mengecam-ngecam, menyumpahi, dan mengutuk. Tak seorangpun berniat menghadap Sri Baginda Kretajaya untuk mempersembahkan pendapatnya...” (66)

  Konteks: Dituturkan oleh Temu ketika membahas Sri Baginda Erlangga.

  (IV.13)

  “Husy. Tak aku benarkan kau ulangi pendapat busuk seperti itu. Salah. Keliru. Tidak benar. Menyesatkan.” (175) Konteks:

  Dituturkan oleh Lohgawe yang melarang Arok untuk tidak berpendapat mengenai Maithuna (upacara persetubuhan untuk memuja kesuburan). (IV.38)

  “Makin lama makin banyak rontal menyesap ajaran lain dan mendirikan dewa-dewa baru dari kaum Buddha, seakan titiah ini sengaja hendak dicairkan jadi bubur, campur aduk tidak menentu.” (186)

  Konteks:

  Dituturkan seorang brahmana dari mataram, Resi Andaru, menyoroti kemerosotan penyembahan kepada Hyang Mahadewa.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Gaya bahasa klimaks ada pada data (II.17) ditunjukkan dengan kelompok kalimat mengecam-ngecam, menyumpahi, dan mengutuk karena kepentingannya makin meningkat. Maksud dari data (II.17) ialah sikap kaum brahmana yang hanya berani mengecam, menyumpahi, mengutuk selama pemerintahan Sri Erlangga. Daya protes muncul dari Arok karena sikap kaum brahmana yang seperti katak dalam tempurung, tak berani menunjukkan pendapatnya.

  Gaya bahasa tautologi berupa pengulangan kata yang sama secara berturut-turut ada pada data (IV.13) nampak pada kalimat Tak

  aku benarkan kau ulangi pendapat busuk seperti itu. Salah. Keliru. Tidak benar. Maksud dari tuturan (IV.13) ialah pendapat yang

  dikemukakan Arok pada intinya adalah salah. Daya protes muncul karena Lohgawe tidak suka terhadap pendapat Arok mengenai maithuna.

  Gaya bahasa simile ada pada data (IV.38) nampak pada kalimat kaum Buddha, seakan titiah ini sengaja yang dihubungkan dengan konjungsi seperti. Maksud dari tuturan (IV.38) ialah kaum Budha yang mendirikan dewa baru dari ajaran lain seolah seolah ajaran tersebut campur aduk. Daya protes muncul karena Resi Andaru menunjukkan rasa tidak suka banyak rontal yang salah ajarannya.

  Daya protes seperti yang telah dipaparkan di atas adalah kekuaatan bahasa yang terungkap melalui gaya bahasa klimaks yang mengandung pesan rasa protes penutur kepada mitra tutur atas suatu

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  hal yang kurang mengenakkan. Nampak pada kalimat

  “… Juga sahaya tidak patut membisukan suatu hal: para brahmana siapa saja yang pernah saya temui, hanya mengecam-ngecam, menyumpahi, dan mengutuk. Tak seorangpun berniat menghadap Sri Baginda Kretajaya untuk mempersembahkan pendapatnya...” maksud dari tuturan

  tersebut ialah secara langsung penutur menyampaikan pendapatnya kepada mitra tutur tentang hal yang tidak ia sukai. Tuturan tersebut secara langsung memprotes mitra tutur oleh penutur karena suatu hal yang kurang berkenan.

f. Daya Cemooh

  Cemooh juga salah satu bentuk ejekan tetapi lebih kasar dari pada sindiran. KBBIoffline mengatakan jika cemooh sebuah ejekan, hinaan. Cemooh untuk menghina orang yang kedudukannya lebih rendah. Di bawah ini contoh daya perintah yang terungkap.

  (III.29)

  “Kalian kaum brahmana lebih pongah dalam pikiran, tapi menunduk-nuduk merangkak- rangkak di hadapanku. …” (114)

  Konteks:

  Dituturkan Tunggul Ametung ketika ia berhasil membawa Dedes, tetapi ia meronta, mengumpat terus. (VI.8)

  “Penangis di depanmu itu, Arok, adalah gadis terganas dari seluruh rombongannya. Tak ada di antara mereka yang dikasihnya ampun. Haus darah dia Arok. Hampir-hampir tak

pernah bicara. Lebih sering melamun.” (275)

  Konteks:

  Dituturkan Tanca kepada Arok ketika Arok bertemu kembali dengan Umang setelah sekian lama tak berjumpa.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  (VI.58)

  “… Tidak pernah bisa menghormati orang. Juga tidak bisa menghormati dirinya sendiri. Tak ada sesuatu pun yang perlu dihormatinya.” (319)

  Konteks:

  Dituturkan oleh Lohgawe ketika ia dan Arok sampai ke pekuwuan dan menghadap Tunggul Ametung. (VII.15)

  “Sama dengan semua anak buahnya: gesit, kurus, dengan mata menyala- nyala seperti si kelaparan melihat makanan.”

  Konteks:

  Dituturkan oleh Tunggul Ametung ketika Ken Dedes meminta izin untuk bertemu dengan jago Lohgawe. (VII.16)

  “Ada diajarkan oleh kaum Brahmana: orang kaya terkesan pongah di mata si miskin, orang bijaksana terkesan angkuh di mata si dungu, orang gagah berani terkesan dewa di mata si pengecut, juga sebaliknya, Kakanda: orang miskin tak berkesan apa-apa pada si kaya, orang dungu terkesan mengibakan pada si bijaksana, orang pengecut terkesan hina pada si gagah

berani. …” (328)

  Konteks:

  Dituturkan oleh Ken Dedes ketika suaminya bertanya apa itu kesan. (IX.7)

  “Kebo Ijo memang terlalu dungu, dan nama sahaya sudah terlanjur terbawa- bawa oleh si goblok itu.” (445)

  Konteks:

  Dituturkan oleh Empu Gandring saat tengah malam ada seorang tamtama yang datang mengunjunginya. (IX.13)

  “Hanya Tunggul Ametung yang berani lakukan itu. Berani karena bodohnya.” (450) Konteks:

  Dituturkan oleh Belakangka saat mengunjungi Kebo Ijo dan mengajaknya naik ke kereta.

  Data (III.29) menggunakan gaya bahasa antiklimaks yang ditunjukkan dengan kata merunduk-runduk, merangkak-rangkak.

  Gaya bahasa antiklimasks merupakan lawan dari gaya bahas klimaks di mana urut-urutan pemikirannya semakin menurun dari gagasan sebelumnya. Makna yang terkandung dari tuturan (III.29) ialah

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  menunjukkan sikap kaum brahmana jika bertemu Tunggul Ametung awalnya merunduk-runduk yang lama-lama menjadi merangkak- rangkak sebagai tanda hormat terpaksa karena takut dibunuh. Daya cemooh hadir pada tuturan (III.29) yang ditunjukkan pada penggalan kalimat tapi menunduk-nuduk merangkak-rangkak di hadapanku. Efek dari tuturan (III.29) iyalah Dedes merasa tersinggung dengan ucapan Tunggul Ametung dan semakin membencinya. Dalam tuturan (III.29) daya cemooh yang dituturkan oleh Tunggul Ametung ditunjukkan kepada Dedes yang merupakan keturunan brahmani atas sikap kaum brahmana sombong di belakang Tunggul Ametung, tetapi di depannya tidak berani berbuat apa-apa. Tunggul Ametung menghina kaum brahmana karena mereka takut kepada Tunggul Ametung yang terkenal kejam dan tidak bisa berkutik di hadapannya.

  Gaya bahasa simile muncul pada tuturan (VII.15) karena membandingkan dua hal sekaligus dan dihubungkan dengan kata seperti. Yang dibandingkan dalam tuturan ini ialah anak buah Arok

  yang gesit, kurus dengan mata menyala-nyala dengan orang yang kelaparan ketika melihat makanan. Dalam konteks ini Tunggul

  Ametung sebenarnya ingin mengatakan bahwa sikap anak buah Arok sama saja dengan pengemis. Makna dari tuturan (VII.15) ialah Tunggul Ametung menghina pasukan Arok yang secara fisik dilihat seperti pengemis. Efek dari tuturan (VII.15) ialah Ken Dedes semakin semakin membenci Tunggul Ametung karena sifatnya yang tidak bisa

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  menghormati orang lain. Daya yang muncul yaitu daya cemooh karena tujuan Tunggul Ametung memang menghina pasukan Arok yang terlihat seperti pengemis.

  Pada tuturan (IX.7) menggunakan gaya bahasa sarkasme karena mengandung celaan atau hinaan kepada mitra tuturnya. Pada data (IX.7) penggunaan gaya bahasa sarkasme ditunjukkan dengan penggunaan kalimat

  “…terlalu dungu, terbawa-bawa oleh si goblok itu.” Makna kalimat tersebut menyatakan hinaan kepada Kebo Ijo

  karena kebodohannya yang sudah membawa nama Empu Gandring dalam perkara pembunuhan Kidang Telarung ketika menghadap Ken Dedes. Daya cemooh muncul pada data (IX.7) karena menunjukkan hinaan, celaan kepada orang lain. Pada tuturan (IX.7) daya hina muncul dengan penggunaan kata dungu dan bodoh. Tergolong daya hina karena menghina seseorang dan langsung memberi cap bahwa Kebo Ijo sangat bodoh. Dengan adanya daya hina tersebut yang dituturkan Empu Gandring kepada orang lain maka akan mempengaruhi pemikiran orang tersebut mengenai Kebo Ijo.

  Daya cemooh seperti yang sudah diuraikan di atas adalah kekuatan bahasa yang terungkap melalui gaya bahasa sarkasme yang mengandung pesan hinaan kepada mitra tutur. Seperti pada tuturan

  “Kebo Ijo memang terlalu dungu, dan nama sahaya sudah terlanjur terbawa- bawa oleh si goblok itu.” (445). Maksud dari tuturan tersebut

  ialah Empu Gandring marah kepada Kebo Ijo karena telah membawa

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  namanya di hadapan Ken Dedes selaku paramesywari. Secara langsung tuturan tersebut menunjukkan celaan penutur kepada mitra tutur karena rasa tidak suka.

g. Daya Nasihat

  Setiap orang pasti melakukan kesalahan. Ketika seseorang melakukan kesalahan, tentunya akan mendapat nasihat. Dengan diberi nasihat, diharapkan orang tersebut menyadari kesalahannya dan berusaha tidak mengulanginya lagi karena nasihat itu sendiri berisi anjuran, ajaran yang baik. Di bawah ini dipaparkan contoh gaya bahasa yang di dalamnya mengandung daya nasihat.

  (I.4) “Jangan menangis. Berterima kasihlah kepada para dewa.

  Tak ada seorang wanita yang ditempatkan pada satu kedudukan oleh Yang Mulia Tunggul Ametung. …” (2)

  Konteks:

  Dituturkan oleh Gede Mirah ketika itu ia sedang merias, mengagumi kecantikan Dedes, dan memberinya nasihat. Saat itu Dedes tertekan dengan pernikahannya dan tidak menyetujui pernikahannya dengan Tunggul Ametung.

  (III.8)

  “Tak ada seorang pun di pekuwuan ini dapat dipercaya,

Yang Mulia. Hati- hati, waspadalah.” (102)

  Konteks:

  Dituturkan oleh Rimang kepada Ken Dedes untuk menghiburnya. (III.82) “Barangsiapa tidak terlalu muda untuk jadi Paramesywari,

  diapun cukup tua untuk mengetahui urusan negeri.” (158) Konteks:

  Dituturkan oleh oleh Ken Dedes ketika ia meminta kepada Tunggul Ametung untuk mengetahui urusan negeri. (VII.40)

  “Dia memerlukan keadilan, dia harus belajar mengenalnya

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  untuk bunga bibir dan bunga hati juga untukmu sendiri. …” (352)

  Konteks:

  Dituturkan oleh Arok kepada pengawalnya yang bertanya tentang keputusan Arok kepada Bana.

  (X.15)

  “Belajar percaya, Kakanda, belajar mempercayai.” (502) Konteks:

  Dituturkan oleh Ken Dedes yang berusaha membujuk suaminya untuk percaya kepada Arok.

  Sedangkan pada data (I.4) mengandung gaya bahasa apostrof karena menghadirkan dewa pada dialog tersebut. Ditunjukkan dengan kalimat

  …berterima kasihlah kepada para dewa... Maksud dari

  tuturan (I.4) ialah supaya Ken Dedes bisa menerima pernikahannya dengan Tunggul Ametung karena hanya ia satu-satunya wanita yang bisa menempati singgasana paramesywari Tumapel dan itu semua terjadi karena kehendak para dewa. Daya nasihat juga muncul pada tuturan (I.4) tercermin dari kalimat

  …jangan menangis. Berterima kasihlah kepada para dewa… Di sini, Gede Mirah menasihat Dedes

  supaya jangan menangis dan bersyukur pada dewa atas karunia pernikahannya dengan Tunggul Ametung.

  Gaya bahasa tautologi nampak pada tuturan (III.8) pada kata

  hati-hati, waspadalah. Penggunaan kata hati-hati, waspadalah bisa

  dikatakan berlebihan karena mengandung pengulangan dari kata yang memiliki arti yang sama. Makna yang terkandung dari tuturan (III.8) mengandung penekanan agar Ken Dedes hati-hati terhadap orang di pekuwuan. Tuturan (III.8) mengandung daya nasihat isinya

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  memberikan nasihat kepada mitra tutur. Pada data (III.8) kata hati- hati, waspadalah mengandung daya nasihat dengan harapan Ken Dedes dapat lebih berhati-hati dan waspada kepada orang-orang di dalam pekuwuan karena semuanya tidak dapat dipercaya.

  Gaya bahasa oksimoron ada pada data (III.82) tampak pada kalimat

  “…tidak terlalu muda … cukup tua” yang mempertentangkan

  usia yang masih muda untuk menjadi paramesywari tetapi tidak terlalu tua untuk mengetahui urusan negeri. Data (III.82) mengandung daya nasihat karena Ken Dedes berusaha menasihati Tunggul Ametung saat ia mulai belajar mengetahui urusan negeri.

  Gaya bahasa metafora ada pada data (VII.40) pada frasa bunga

  bibir dan bunga hati. Bunga bibir ialah bahan pembicaraan,

  sedangkan bunga hati ialah kekasih. Maksud yang terkadung dari tuturan (VII.40) ialah pengawal Arok harus belajar untuk mengenal seluruh tubuh dan jiwanya sendiri sehingga tubuh dan jiwa tidak hanya menjadi pembicaraan dan pujaan hati. Data (VIII.40) mengandung daya nasihat karena berisi nasihat supaya lebih belajar mengenal diri sendiri sampai sekecil-kecilnya.

  Gaya bahasa epizeukis juga muncul pada data (X.15) ditunjukkan dengan pengulangan kata belajar percaya untuk mempertegas apa yang dimaksudkan. Maksud dari tuturan (X.15) ialah Ken Dedes menasihati Tunggul Ametung agar belajar percaya kepada orang lain. Data (X.15) mengandung daya nasihat tercermin

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  melalui kalimat belajar percaya, Kakanda, belajar mempercayai. Dalam konteks ini, Ken Dedes menasihati suaminya agar percaya kepada orang lain dalam situasi yang sedang sulit.

  Dan gaya bahasa oksimoron juga nampak pada data (III.82). Yang menunjukkan gaya bahasa oksimoron ialah kata tua dan muda pada satu kalimat yang sama. Makna yang terkandung dari tuturan (III.82) ialah meskipun Ken Dedes tidak terlalu muda untuk menjadi seorang paramesywari tetapi kemampuan yang ia punya cukup banyak untuk mengetahui urusan negeri. Daya nasihat pada tuturan (III.82) yakni Ken Dedes diberi kesempatan untuk turut serta mengurus Tumapel bersama Tunggul Ametung.

  Daya nasihat seperti yang terlah diungkapkan di atas adalah kekuatan bahasa yang terungkap melalui gaya bahasa tautologi yang mengandung pesan memberi nasihat kepada mitra tutur. Nampak pada data (III.8)

  “Tak ada seorang pun di pekuwuan ini dapat dipercaya, Yang Mulia. Hati- hati, waspadalah.” Maksud dari tuturan tersebut

  ialah memberi nasihat kepada Ken Dedes selaku Paramesywari supaya berhati-hati karena di seluruh Tumapel tidak ada seorang yang bisa dipercaya. Tuturan tersebut secara langsung menasihati mitra tutur supaya mitra tutur menjadi lebih tenang.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

h. Daya Saran

  Saran, menurut KBBIoffline adalah pendapat (usul, anjuran, cita-cita) yg dikemukakan untuk dipertimbangkan. Di dalam saran walaupun dikatakan secara langsung untuk mempengaruhi mitra tutur, tetapi tidak ada paksaan di dalamnya. Dalam novel Arok Dedes karya Pramoedya, juga ditemukan daya bahasa saran yang dilakukan dalam satu gaya bahasa.

  (V.31)

  “… Dia harus didekati, dibaiki, diambil hatinya.” (240) Konteks:

  Dituturkan oleh Belakangka ketika mencoba menasihati Tunggul Ametung yang murka mendengar Lohgawe menolak datang ke pekuwuan.

  Dalam kalimat

  “… Dia harus didekati, dibaiki, diambil hatinya.” (V.31) sangat jelas langkah gaya bahasa klimaks yang

  dipakai yang ditunjukkan dengan kelompok kata didekati, dibaiki,

  diambil hatinya di mana kepentingannya makin lama makin

  meningkat. Data tersebut mengandung daya saran karena Ametung tidak menerima kata perintah apapun, hanya langkah klimaks untuk mencapai tujuan. Dan boleh dipilih oleh Ametung akan dipakai apa tidak cara tersebut.

  Daya saran seperti yang sudah diuraikan di atas adalah kekuatan bahasa yang muncul melalui gaya bahasa klimaks yang mengandung pesan memberi saran kepada mitra tutur. Perhatikan data

  “… Dia harus didekati, dibaiki, diambil hatinya.” Tuturan tersebut

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  secara langsung menyarankan mitra tutur untuk melakukan sesuatu yang disarankan oleh penutur.

i. Daya Klaim

  Klaim, menurut KBBIoffline adalah tuntutan pengakuan atas suatu fakta bahwa seseorang berhak (memiliki atau mempunyai) atas sesuatu dan pengertian yang lain adalah pernyataan tentang suatu fakta atau kebenaran sesuatu. Untuk mengungkapkan klaim banyak teknik yang bisa dipakai, dengan cara kasar, maupun halus. Dalam novel

  Arok Dedes karya Pramoedya, juga ditemukan daya bahasa klaim yang dilakukan dalam berbagai macam gaya bahasa.

  (I.48)

  “Kekuasaan Akuwu Tumapel yang diberkahi oleh Hyang Wisynu telah membikin kalian mengidap kemiskinan tidak terkira.” (19) Konteks:

  Dituturkan oleh Borang kepada seluruh penduduk desa Bantar dan mengumpulkan mereka ke tengah lapangan Bantar. (I.49) “Dengan segala yang diambil dari kalian Akuwu Tumapel

  mendapat biaya untuk bercumbu dengan perawan-perawan

kalian sampai lupa pada Hyang Wisynu.” (19)

  Konteks:

  Dituturkan oleh Borang kepada seluruh penduduk desa Bantar dan mengumpulkan mereka ke tengah lapangan Bantar. (II.11)

  “... Tanpa keberanian hidup adalah tanpa irama. Hidup tanpa irama adalah samadhi tanpa pusat…” (63) Konteks:

  Dituturkan oleh Temu kepada Lohgawe. Temu mengagumi Hyang Ganesha. (III.20)

  “Ayolah, kutuk aku, seperti semua brahmana mengutuk semua orang di luar kastanya. …” (113)

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Dituturkan Tunggul Ametung ketika ia berhasil membawa Dedes, tetapi ia meronta, mengumpat terus.

  Gaya bahasa antitesis ada pada data (I.48) ditunjukkan dengan kalimat

  “Kekuasaan Akuwu Tumapel yang diberkahi oleh Hyang Wisynu

  … mengidap kemiskinan…” maksud yang terkandung pada

  tuturan (I.48) ialah kekuasaan Tunggul Ametung yang medapat berkat dari Hyang Wisynu tetapi rakyat yang dipimpinnya mengalami kemiskinan. Daya klaim muncul karena yang dituturkan oleh Borang adalah pernyataan dari sebuah kenyataan.

  Gaya bahasa apostrof ada pada data (I.49) nampak pada kata

  Hyang Wisynu. Maksud dari tuturan (I.49) ialah Hyang Wisynu

  dilupakan oleh Tunggul Ametung karena keegoisannya yang menikmati nikmat duniawi saja. Daya klaim muncul karena yang dikatakan Borang adalah sebuah pernyataan dari kenyataan yaitu Tunggul Ametung mengambil semua milii rakyat hanya untuk bercumbu dengan para perawan dan lupa pada Hyang Wisynu.

  Gaya bahasa anadiplosis ada pada data (II.11) adalah gaya bahasa perulangan kalimat pada akhir baris digunakan lagi pada awal baris. Muncul pada kalimat hidup adalah tanpa irama. Hidup tanpa

  irama. Maksud dari tuturan (II.11) ialah hidup tanpa irama seperti

  samadhi tanpa pusat. Daya klaim muncul dari data (II.11) karena merupakan suatu pernyataan kebenaran.

  Gaya bahasa simile ada pada data (III.20) yang muncul pada

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  tuturan tersebut ialah kutukan yang dilontarkan Dedes semuanya sama seperti para brahmana yang mengutuk Tunggul Ametung. Daya klaim muncul karena apa yang dituturkan Tunggul Ametung adalah sebuah kebenaran yaitu para brahmana sering mengutukinya.

  Daya klaim seperti yang telah diuraikan di atas kekuatan bahasa yang muncul dari penggunaan gaya bahasa simile yang mengandung pesan jika penutur berhak untuk menyatakan dirinya diklaim karena apa yang dikatakan penutur kepada mitra tutur berdasarkan fakta yang ada. Tampak seperti pada tuturan

  “Ayolah, kutuk aku, seperti semua brahmana mengutuk semua orang di luar kastanya. …” Tuturan tersebut secara langsung menyatakan kepada

  mitra tutur jika penutur sudah sering dikutuk oleh banyak orang termasuk kaum brahmana.

  j. Daya Deklarasi

  Deklarasi, menurut KBBIoffline adalah pernyataan ringkas dan

  s

  jela . Di dalam deklarasi terdapat pernyataan tentang fakta yang mengubah suata keadaan atau fakta lain dan diakui di khalayak ramai.

  Dalam novel Arok Dedes karya Pramoedya, juga ditemukan daya bahasa deklarasi yang dilakukan dalam berbagai macam gaya bahasa.

  (I.21)

  “Dewa Sang Akuwu sekarang juga dewamu.” (8) Konteks:

  Dituturkan oleh Yang Suci Belakangka ketika memimpin upacara pernikahan.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  (IV.1)

  “Dengan namamu yang baru, Arok, Sang Pembangun, kau adalah garuda harapan kaum brahmana.” (165) Konteks:

  Dituturkan oleh Dang Hyang Lohgawe saat upacara pemberian nama.

  Pada tuturan (I.21) menggunakan gaya bahasa epanalepsis yaitu pengulangan kata yang sama pada awal dan akhir baris yang ditunjukkan pada kata dewa. Maksud yang terkandung dari ujaran tersebut ialah Belakangka menegaskan jika dewa yang dianut oleh Tunggul Ametung juga dewanya. Termasuk daya dekalarasi karena memberikan pernyataan ringan bahwa dewa akuwu juga menjadi dewa Ken Dedes juga.

  Pada tuturan (IV.1) menggunakan gaya bahasa epitet ditunjukkan dengan kata Sang Pembangun. Sang Pembangun ialah Arok sendiri. Maksud yang terkandung pada tuturan (IV.1) ialah Arok dinobatkan oleh Lohgawe dengan simbol Sang Pembangun yang artinya pembangun kembali Hyang Mahadewa Syiwa bagi kaum brahmana.

  Daya deklarasi seperti yang sudah diungkapkan di atas adalah kekuatan bahasa yang terungkap melalui gaya bahasa epanalepsis yang mengandung pesan menyatakan sesuatu secara jelas dan singkat, yang nampak pada tuturan “Dewa Sang Akuwu sekarang juga

  dewamu.” Tuturan tersebut secara langsung memberikan pernyataan kecil kepada mitra tutur tentang sebuah penegasan terhadap suatu hal.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  k. Daya Sesal

  Sesal menurut KBBIoffline adalah perasaan tidak senang (susah, kecewa, dsb) karena telah berbuat kurang baik (dosa, kesalahan, dsb). Kurang baik yang dimaksudkan di sini relatif terhadap obyek mitra tutur. Dalam novel Arok Dedes karya Pramoedya, juga ditemukan daya bahasa sesal yang ditunjukan dalam berbagai gaya bahasa.

  (II.6)

  “Ya, Bapa Mahaguru, sahaya telah menimbulkan prihatin Bapa mahaguru Lohgawe sesuatu yang semestinya tidak terjadi, dan tidak perlu terjadi.” (61) Konteks:

  Dituturkan Temu kepada Lohgawe ketika menjawab pertanyaan dari gurunya. (IV.14)

  “… Ampuni kami, ya, Mahadewa, keagungan Prambanan tidak mampu menolak pengaruh sesat itu. …” (176) Konteks:

  Dituturkan oleh Lohgawe ketika mengetahui di depan ada upacara Maithuna. (V.37)

  “Betapa dungu aku telah kawini perempuan sial ini.” (248) Konteks:

  Dituturkan oleh Tunggul Ametung ketika ia berbincang dengan suaminya di kebun buah. (VII.46)

  “Ampun, Yang Mulia Ayahanda, sejengkalpun dari Tumapel tidak seyogianya gumpil.” (365) Konteks:

  Dituturkan oleh Putra termuda Tunggul Ametung ketika dipanggil menghadap dan membahas tentang wilayah kekuasaan Tumapel. (IX.3)

  “Sekiranya rencana pribadi terkutuk itu sudah saya ketahui sebelumny

  a. … Semua rencana kita gagal dalam tangan tuan. Tuan terusir dari pekuwuan seperti bukan keturunan satria. …” (441) Konteks:

  Dituturkan oleh Kebo Ijo saat mengunjungi kediaman Empu

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  (X.34)

  “Mati, Arok, Sang Akuwu mati,” tangis Dedes. (525) Konteks:

  Dituturkan oleh Ken Dedes yang menyadari jika suaminya telah mati.

  Gaya bahasa yang terdapat pada (II.6) adalah epizeukis. Epizeukis adalah gaya bahasa berupa pengulangan pada kata-kata yang dianggap penting. Pada data (II.16) pengulangan terjadi pada kata tidak terjadi. Maksud dari tuturan tersebut ialah sikap yang telah dilakukan Arok membuat gurunya, Lohgawe menjadi sedih hati. Daya sesal muncul karena Arok telah membuat gurunya bersedih hati.

  Pada data (IV14) menggunakan gaya bahasa apostrof yang ditunjukkan pada kata Mahadewa. Maksud dari dari data (IV.14) ialah ungkapan permohonan ampun Lohgawe kepada Mahadewa karena keagungan Prambanan tidak mampu menolak pengaruh sesat. Daya sesal muncul karena Lohgawe dan seluruh kaum brahmana tidak mampu berkutik saat keagungan Prambanan tidak mampu menolak pengaruh sesat dari aliran Budha.

  Pada data (V.37) menggunakan gaya bahasa sarkasme mucul

  yang ditunjukkan dengan kalimat “…perempuan sial ini.” Maksud

  dari tuturan (V.37) ialah setelah menjadi istri Tunggul Ametung, Ken Dedes menjadi perempuan pembawa petaka, bukan keberuntungan.

  Daya sesal muncul karena Tunggul Ametung telah menikahi Ken Dedes.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Pada data (VII.46) menggunakan gaya bahasa hiperbola yang nampak pada sejengkalpun. Maksud dari tuturan (VII.46) wilayah Tumapel sudah berkurang. Daya sesal muncul karena menurut Putra termuda Tunggul Ametung pecahnya Tumapel tidak perlu terjadi dan seharusnya ia mampu mempertahankan wilayah tersebut.

  Pada data (IX.3) menggunakan gaya bahasa simile yang karena ada kata pembanding seperti. Maksud dari tuturan (IX.3) ialah Kebo Ijo terusir dari pekuwuan dengan tidak hormat seperti layaknya keturunan satria. Daya sesal muncul karena Kebo Ijo melakukan kesalahan dan membuat Empu Gandring kecewa sehingga rencana yang sudah mereka susun gagal total.

  Pada data (X.34) menggunakan gaya bahasa epanalepsis yaitu pengulangan kata mati pada awal dan akhir kalimat. Maksud dari tuturan (X.34) ialah memberi penegasan jika Tunggul Ametung sudah mati. Daya sesal muncul karena Tunggul Ametung mati karena dibunuh oleh Kebo Ijo.

  Daya sesal seperti yang sudah diuraikan di atas ialah kekuatan bahasa yang mengandung pesan pengungkapan hati penutur kepada mitra tutur atas kejadian yang telah terjadi dan terungkap melalui gaya bahasa epizeukis yang nampak pada tuturan “Mati, Arok, Sang Akuwu

  mati,”Tuturan tersebut secara langsung menunjukkan rasa sesal penutur kepada mitra tutur atas peristiwa yang telah terjadi.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  l. Daya Keluh

  Keluh, meunurut KBBIoffline adalah ungkapan yang keluar karena perasaan susah (karena menderita sesuatu yang berat, kesakitan, dsb). Dalam novel Arok Dedes karya Pramoedya, juga ditemukan daya bahasa keluh yang ditunjukan dalam berbagai gaya bahasa.

  (I.44)

  “Apakah kalian kurang menyembah dan berkorban pada Hyang Wisynu, maka kurang keberanian dalam hati kalian?” (18) Konteks:

  Dituturkan oleh Borang kepada seluruh penduduk desa Bantar dan mengumpulkan mereka ke tengah lapangan Bantar. (I.47)

  ” Tumapel terus-menerus menyalahkan kami.” (19) Konteks:

  Dituturkan oleh penduduk Bantar kepada Borang ketika mengumpulkan mereka ke tengah lapangan Bantar. (I.106)

  “… Kau pandangi kakimu seperti kakimu berubah menjadi biji mata untukku?”(53) Konteks:

  Dituturkan oleh Mundra saat Oti menemuinya dan kaget setelah mengetahui lelaki muda itu bermata satu. Dan lelaki itu mengetahui sikap Oti yang terkejut.

  (IV.61)

  “…, pada waktu kaum brahmana dalam duaratus tahun hanya bersilat lidah?” (213) Konteks:

  Dituturkan oleh Lohgawe yang kaget melihat dharma yang dilakukan lalu membandingkan dengan kaum brahmana. (V.33)

  “… Yang Mulia, dalam sepuluh tahun lagi tak ada anak muda bisa baca tulis, tak ada lagi yang mengerti bagaimana memuliakan para dewa, manusia kembali menjadi hewan rimba belantara. (241) Konteks:

  Dituturkan oleh Belakangka ketika mencoba menasihati Tunggul Ametung yang murka mendengar Lohgawe menolak datang ke pekuwuan.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  (V.40)

  “Ketidakmampuan itu berasal dari diri semua yang memerintah, Dedes, ketidakmampuan mengerti kawulanya sendiri, kebutuhannya, dan kepentingannya.” (254) Konteks:

  Dituturkan oleh Lohgawe kepada Ken Dedes ketika rombongan mereka tiba di padepokan Lohgawe. (IX.5)

  “Anak buah saya yang delapan? Mereka bisa berkicau di bawah lecutan cambuknya.” (444) Konteks:

  Dituturkan oleh Kebo Ijo saat mengunjungi kediaman Empu Gandring membahas pasukan Kebo Ijo yang ditahan Arok.

  Pada data (I.44) menggunakan gaya bahasa apostrof yang ditunjukkan dengan Hyang Wisynu. Maksud dari tuturan (I.44) Borang menanyakan pada penduduk Bantar tentang sesambahan dan pengorbanan penduduk pada Hyang Wisynu. Mengandung daya keluh karena penduduk Bantar tidak berani Pada data (I.47) menggunakan gaya bahasa sinekdok.

  Ditunjukkan dari kalimat

  ”Tumapel terus-menerus menyalahkan kami.” Maksud dari tuturan (I.47) penduduk Bantar terus menerus

  disalahkan oleh Tumapel karena telat membayarkan upeti atau jumlah upeti yang kurang. Daya keluh muncul karena penduduk Bantar merasa tersiksa dengan kewajiban yang harus diserahkan ke Tumapel berupa upeti dan jika terlambat akan disiksa oleh para prajurit dan disalahkan oleh pemerintah Tumapel.

  Pada data (I.106) menggunakan gaya bahasa simile yang

  muncul dari kalimat “…pandangi kakimu seperti kakimu berubah menjadi biji mata

  …” maksud dari tuturan (I.106) ialah kaki Oti bisa

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  menggantikan bola mata untuk Mundra yang akan menemani setiap saat. Mengandung daya keluh karena Mundra hanya memiliki satu buah bola mata dan cara Oti memandang Mundra membuat Mundra merasa agak tidak enak hati.

  Pada data (IV.61) menggunakan gaya bahasa metafora yang ditunjukkan dengan frasa bersilat lidah. Bersilat lidah memiliki arti pintar bermain kata. Maksud yang terkandung pada data (IV. 61) ialah kaum brahmana hanya berani bermain kata tanpa melakukan tindakan selama dua ratus tahun. Daya keluh mucul karena selama dua ratus hanya bisa bersilat lidah dan kaget melakukan hal yang dilakukan oleh Arok dan kawan-kawannya.

  Pada data (V.33) menggunakan gaya bahasa antiklimaks yang ditunjukkan dengan kelompok kata tidak bisa baca tulis, tidak tahu

  bagaimana cara memuliakan dewa, dan menjadi hewan rimba belantara. Maksud dari tuturan (V.33) jika tidak ada anak muda yang

  tidak bisa baca dan tulis, tidak tahu bagaimana cara memuliakan para dewa dan manusia menjadi seperti binatang lagi. Daya keluh muncul karena menunjukkan kekhawatiran Belakangka jika Tunggul Ametung membunuh semua brahmana sehingga pada akhirnya manusia menjadi seperti hewan lagi.

  Pada data (V.40) menggunakan gaya bahasa epizeukis berupa pengulangan kata ketidakmampuan. Maksud dari tuturan (V.40) ialah ketidakmampuan memerintah Tunggul Ametung berasal

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  ketidakmampuan mengerti rakyatnya, mengerti kepentingannya, mengerti apa yang dibutuhkan. Daya keluh muncul pada tuturan (V.40) karena Lohgawe merasa menderita dengan kepempimpinan sejak Sri Erlangga sampai Tunggul Ametung karena tidak mampu dalam banyak hal seperti tidak mampu mengerti kawulanya, tidak mengerti apa yang dibutuhkan, tidak mengerti akan kepentingannya.

  Pada data (IX.5) menggunakan gaya bahasa ironi. Maksud dari tuturan (IX.5) ialah anak buah Kebo Ijo yang ditahan oleh Arok bisa membuka rahasia Kebo Ijo. Daya keluh muncul karena Kebo Ijo merasa khawatir jika rahasia terbongkar oleh anak buahnya yang ditahan oleh Arok.

  Daya keluh seperti yang telah diuraikan di atas adalah kekuatan bahasa yang terungkap melalui gaya bahasa sinekdok seperti pada tuturan

  ”Tumapel terus-menerus menyalahkan kami.” Tuturan

  tersebut secara langsung menunjukkan ungkapan rasa yang keluar dari penduduk desa Bantar karena perasaan menderita selama duapuluh tahun.

  m. Daya Pinta

  Pinta, menurut KBBIoffline ialah permintaan. Biasanya mitra tutur meminta sesuatu kepada lawan tutur untuk melakukan atau memberikan apa yang mitra tutur butuhkan atau inginkan.

  (V.19)

  “Tolonglah leher sahaya ini, Yang Mulia Ratu.” (230)

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Dituturkan oleh Tunggul Ametung ketika Ratu Angabaya menahannya karena memiliki persoalan dan harus diselesaikan mengenai pembunuhan yang ia lakukan kepada kawula Tumapel di wilayah Kediri.

  (VI.23)

  “Ya Mahadewa, beri aku kekuatan.” (294) Konteks:

  Dituturkan oleh Rimang ketika ia dan Gusti Putra melawan para jajaro yang sedang memperkosa seorang wanita. (VII.23)

  “Coba katakan padaku yang masih bodoh ini” (334) Konteks:

  Dituturkan oleh Ken Dedes ketika diberi kesempatan dari Tunggul Ametung untuk berbincang dengan Arok. (VII.35)

  “Duh, anakku, jangan kaget telah aku serahkan hidup dan mati ayahmu pada musuh- musuhnya.” (345)

  Konteks:

  Dituturkan kepada Ken Dedes kepada anak di dalam rahimnya sesampainya tiba di Bilik Agung. (X.35)

  “Nyatakan sesuatu pada kami, Arok! “Nyatakan!Nyatakan!” (543) Konteks:

  Dituturkan oleh pasukan dari luar kota kepada Arok memintanya menyatakan sesuatu.

  Gaya bahasa sinekdok ada pada data (V.19) muncul pada kalimat

  “Tolonglah leher sahaya…” maksud dari data (V.19) ialah

  Tunggul Ametung meminta kepada Sri Ratu Angabaya untuk tidak menghukumnya dengan hukuman pancung atas kesalahan yang telah ia lakukan. Daya pinta muncul karena Tunggul Ametung meminta kepada ratu Angabaya untuk menyelematkan nyawanya.

  Gaya bahasa apostrof nampak pada tuturan (VI.33) yang ditunjukkan dengan kata Mahadewa. Makna yang terkandung dari tuturan (VI.33) ialah Rimang memohon kepada Hyang Mahadewa supaya memberinya kekuatan untuk melawan jajaro. Daya yang

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  muncul dari data (VI.33) ialah daya pinta ditunjukkan dengan kata beri. Dalam konteks ini, Rimang meminta kekuatan kepada Hyang Mahadewa supaya memberikannya kekuatan. Kekuatan di sini muncul dari keyakinannya kepada Hyang Mahadewa selaku dewa sesembahan yang kedudukannya paling tinggi. Efek dari tuturan (VI.33) ialah penutur merasa mendapat kekuatan baru karena kepercayaannya pada Tuhan yang disembah.

  Data (VII.23) menggunakan gaya bahasa litotes. Gaya bahasa litotes digunakan untuk merendahkan diri sendiri. Kata yang menunjukkan adanya penggunaan gaya bahasa litotes ialah pada

  penggalan kalimat “…yang masih bodoh ini...” Maksud dari tuturan

  ini ialah Ken Dedes meminta Arok menjelaskan padanya mengenai wanita. Pada zamannya, Ken Dedes kategori sebagai wanita yang pandai, cerdas, dan terpelajar. Di sini Ken Dedes merendahkan diri di hadapan Arok yang dianggapnya pandai walaupun baru pertama kali bertemu. Data (VII.23) mengandung daya pinta karena meminta lawan tutur melakukan sesuatu yang diminta oleh mitra tutur. Ditunjukkan

  dengan kalimat “coba katakan padaku..” Di sini Ken Dedes meminta Arok untuk menjelaskan pengertian tentang wanita.

  Gaya bahasa epizeukis ada pada data (X.41) ditunjukkan dengan mengulang kata nyatakan. Maksud dari tuturan tersebut ialah pasukan Arok dari luar kota meminta Arok untuk menyatakan seuatu

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  kepada mereka entah apapun itu. Daya pinta muncul karena pasukan Arok memintanya untuk berbicara.

  Daya pinta seperti yang sudah diuraikan di atas adalah kekuatan bahasa yang terungkap melalui penggunaan gaya bahasa litotes, yang mengandung pesan supaya lawan tutur melakukan sesuatu yang dikehendaki mitra tutur. Perhatikan contoh (VII.23)

  “Coba katakan padaku yang masih bodoh ini”. Tuturan tersebut secara

  langsung meminta mitra tutur agar menjelaskan padanya mengenai hal yang belum diketahui oleh penutur.

  n. Daya Harap

  Dalam novel Arok Dedes karya Pramoedya Ananta Toer, peneliti menemukan beberapa tuturan baik lisan maupun tulis yang mengandung daya bahasa harapan. Menurut KBBIoffline, harap adalah sesuatu yang yang diharapkan, suatu keinginan supaya menjadi kenyataan.

  (III.83)

  “Anak desa yang nakal itu, sebentar lagi akan lenyap bersama dengan debu Kelud. ..”(159)

  Konteks:

  Dituturkan oleh Tunggul Ametung ketika istrinya menanyakan soal perusuh. (IV.1) “Dengan namamu yang baru, Arok, Sang Pembangun, kau

  adalah garuda harapan kaum brahmana.” (165) Konteks: Dituturkan oleh Lohgawe saat upacara pemberian nama.

  (IV.33) “Dirgahayu, dirgahayu, dirgahayu, ya Mahaguru.” (182)

  Konteks:

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Dituturkan oleh berpuluh-puluh orang para brahmana yang menyambut kedatangan Lohgawe. (VII.17)

  “Kau tidak akan sedungu ayahmu. Kau takkan bikin malu ibumu. Kalau kau wanita, kau adalah dewi, kalau kau pria kau adalah dewa. Dengar, kau jabang bayi? Kau berdarah Hindu, ayahmu sudra hina.” (329)/19

  Konteks: Dituturkan oleh Ken Dedes kepada anak dalam kandungannya.

  (VIII.3)

  “Semoga para dewa melimpahkan kemurahan tiada terhingga pada Yang Mulia Paramesywari.” (382)/18 Konteks:

  Dituturkan oleh Empu Gandring ketika dipanggil oleh Ken Dedes untuk ke pendopo.

  Gaya bahasa sinisme ada pada data (III.83) yang ditunjukkan dengan kalimat anak desa yang nakal. Maksud yang terkadung meremehkan seorang anak desa yang identik dengan anak desa nakal. Daya harap muncul pada data (VIII.3) karena Tunggul Ametung mengharapkan si anak desa itu lenyap bersama debu Kelud.

  Gaya bahasa epitet ada pada data (IV.1) yang ditunjukkan dengan

  kalimat “…Arok, Sang Pembangun…” Maksud dari data

  (IV.1) ialah Arok menjadi mendapat kepercayaan dari kaum brahmana untuk menjadi pelengkap pembangun kaum brahmana yang telah lama terpuruk. Data (IV.1) mengandung daya harap karena kaum brahmana menaruh harapan besar kepada Arok yang akan memperbaiki nasib seluruh kaum brahmana yang terpuruk salama duaratus tahun ini.

  Pada tuturan (IV.33) menggunakan gaya bahasa epizeukis yang ditunjukkan dengan pengulangan kata dirgahayu. Dirgahayu sendiri memiliki arti semoga panjang umur. Maksud yang tekandung

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  pada tuturan (IV.33) ialah semoga Lohgawe selalu panjang umur. Mengandung daya harap karena berisi harapan kepada Lohgawe supaya panjang umur, sehat selalu seperti saat orang merayakan ulang tahun.

  Pada tuturan (VII.17) memiliki gaya bahasa hiperbola karena melebih-

  lebih suatu objek yang ditunjukkan dengan kalimat “…kau wanita, kau adalah dewi, kalau kau pria kau adalah dewa

  …” maksud

  yang terkandung dari data (VII.17) yakni ketika anak Dedes lahir, ia seperti seorang dewi, jika laki-laki ia seperti seorang dewa. Daya harap muncul pada data (VIII.17) karena mengandung harapan supaya anak yang dilahirkannya kelak memiliki sifat seperti dewa atau dewi.

  Kutipan tuturan (VIII.3) memiliki gaya bahasa apostrof karena menghadirkan sesuatu yang tidak ada menjadi ada terwakilkan dalam kata dewa. Dewa adalah roh yang diangan-angankan sebagai manusia halus yang berkuasa atas alam dan manusia (KBBIoffline). Dewa sosok yang kasat mata tapi bisa dirasakan kehadirannya. Pada tuturan di atas, Empu Grandring berharap supaya Ken Dedes selalu mendapat kemurahan yang tak terhingga dari para dewa. Pramoedya menggunakan istilah dewa karena pada saat itu (masa kerajaan Kediri) agama Hindu yang menjadi kepercayaan penduduk Tumapel. Daya ilokusi yang terkandung yaitu supaya Ken Dedes mendapat banyak berkat dari para dewa. Efek yang dihasilkan dari ujaran di atas adalah ucapan terimakasih yang dituturkan oleh Ken Dedes.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Daya harap seperti yang sudah diuraikan di atas adalah kekuatan bahasa yang terungkap melalui gaya bahasa epizeukis seperti pada data

  “Dirgahayu, dirgahayu, dirgahayu, ya Mahaguru.” (182)

  yang mengandung pesan menunjukkan sebuah harapan kepada seluruh kaum brahamana kepada Lohgawe saat menyambutnya datang yang sudah lama ditunggu kehadirannya. Tuturan tersebut secara langsung menyampaikan harapan penutur kepada mitra tutur.

  o. Daya Perintah

  Perintah merupakan salah satu perkataan yang mempunyai tujuan supaya seseorang yang diperintah melakukan sesuatu. Kalimat perintah adalah kalimat yang mengandung perintah atau permintaan agar orang lain melakukan suatu hal yang diinginkan oleh orang yang memerintah. Oleh karena itu, perintah meliputi suruhan yang keras hingga ke permintaan yang sangat halus. Di bawah ini, contoh cuplikan data dalam novel Arok Dedes yang menggunakan gaya bahasa yang berdaya perintah.

  (I.57)

  ”… Demi Hyang Wisynu, angkut semua upeti ke Kediri. ...” (22)

  Konteks:

  Dituturkan oleh Borang kepada seluruh penduduk desa Bantar dan mengumpulkan mereka ke tengah lapangan Bantar. (II.23)

  “… Kumpulkan semua brahmana di atas bumi ini. …” (113)

  Konteks:

  Dituturkan Tunggul Ametung ketika ia berhasil membawa Dedes, tetapi ia meronta, mengumpat terus.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  (VI.43)

  “Inilah Ki Bango Samparan, bapakku. Hormati dia seperti kalian menghormati aku,…” (302) Konteks:

  Dituturkan oleh Arok ketika ia mengumpulkan seluruh budak di ladang batu. (VII.22)

  “Kalau berhasil, kau akan lanjutkan pekerjaan ke barat daya, Kawi dan Kelud.” (333) Konteks: Dituturkan oleh Tunggul Ametung ketika Arok menghadapnya.

  (VII.27) Binasakan semua prajurit Tumapel yang tidak takluk

  padamu. (338) Konteks:

  Dituturkan oleh Arok kepada pasukannya (X.16)

  “Yang keras! Keras! Lebih keras!” pekiknya. (502) Konteks:

  Dituturkan oleh Tunggul Ametung ketpada Ken Dedes yang meminta dipijit kepalanya.

  Gaya bahasa apostrof ada pada data (I.57) karena menghadirkan Hyang Wisynu. Maksud yang terkandung pada data (I.57) ialah perintah yang diperintahkan Borang kepada penduduk Bantar seolah-olah perintah dari Hyang Wisynu sendiri. Mengadung daya perintah karena meminta penduduk Bantar mengakut upeti ke Kediri.

  Gaya bahasa hiperbola ada pada data (II.23) yang ditunjukkan pada cuplikan kalimat

  “…di atas bumi ini…” seolah-olah bumi itu

  sempit dan bisa mengumpulkan semua brahamana. Mengandung daya perintah karena Tunggul Ametung memberi perintah untuk mengumpulkan semua brahmana yang ada di bumi ini.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Pada data (VI.43) menggunakan gaya bahasa simile yang ditunjukkan dengan cuplikan kalimat

  “…hormati dia seperti kalian menghormati aku…” Makna yang terkandung di dalam tuturan

  (VI.43) ialah Arok meminta seluruh budak untuk menghormati ayahnya sama seperti mereka menghormati Arok sebagai pemimpin mereka. Daya perintah yang muncul dituturkan oleh Arok kepada seluruh budak yang berada di daerah pendulangan supaya menghormati bapaknya Arok sama seperti mereka menghormati Arok.

  Gaya bahasa metonimia ada pada data (VII.22) yaitu dengan penggunaan kata Kawi dan Kelud. Yang dimaksudkan yaitu melanjutkan perjalanan menuju ke Gunung Kawi dan Gunung Kelud. Mengandung daya perintah karena memerintahkan Arok jika ia telah selesai menyelesaikan pekerjaannya, ia akan menuju ke arah Gunung Kawi dan Gunung Kelud untuk melaksanakan hal yang sama.

  Gaya bahasa sarkasme ada pada data (VII.27) tampak pada kata binasakan. Maksud yang tekandung pada tuturan (VII.27) ialah perintah Arok kepada seluruh anak buahnya untuk membunuh tanpa ampun semua prajurit Tumapel. Daya yang muncul yaitu daya perintah karena mengandung perintah untuk melakukan sesuatu yaitu menumpas seluruh prajurit Tumapel.

  Gaya bahasa epizeupkis terungkap melalui data (X.16) dengan pengulangan kata keras yang memberi penegasan. Maksud yang dikandung dari tuturan (X.16) ialah supaya Ken Dedes lebih keras lagi

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  untuk memijit kepada Tunggul Ametung. Efek dari tuturan (X.16) ialah Ken Dedes memijat kepala Tunggul Ametung lebih keras daripada sebelumnya. Pada tuturan (X.16) daya perintah muncul dengan penggunaan kalimat Yang keras! Keras! Lebih keras! dengan harapan Ken Dedes memijati kepala Tunggul Ametung lebih keras lagi.

  Daya perintah seperti yang telah diuraikan di atas adalah kekuatan bahasa yang terungkap melalui gaya bahasa epizeukis yang nampak pada data (X. 16)

  “Yang keras! Keras! Lebih keras!” Dalam

  tuturan tersebut mengandung daya perintah karena penutur meminta mitra tutur untuk melakukan apa yang dikendakinya. Tuturan tersebut secara langsung memberi perintah kepada mitra tutur.

  p. Daya Dogma

  Dogma menurut KBBIoffline pokok ajaran (tt kepercayaan dsb) yg harus diterima segagai hal yg benar dan baik, tidak boleh dibantah dan diragukan. Berbeda dengan deklarasi, dogma lebih hanya bersifat ajaran, sedangkan deklarasi menitik beratkan pada pengakuan, walaupun pengakuan tersebut berasal dari ajaran. Dalam novel Arok

  Dedes karya Pramoedya, juga ditemukan daya bahasa dogma yang dilakukan dalam berbagai gaya bahasa.

  (I.34) “Yang Mulia, bawalah perempuan ini naik ke peraduan.

  Para dewa membenarkan. ...” (14) Konteks:

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Dituturkan oleh Belakangka kepada Ametung ketika itu memasuki upacara menaiki peraduan pengantin yang dipimpin oleh Yang Suci Belakangka.

  Gaya bahasa yang terdapat pada (I.34) adalah apostrof diawali dengan kata

  “… Para dewa…” dan diakhiri dengan kata membenarkan. ...” (14), menjelaskan bahwa ‘Para dewa’ mempunyai standar khusus untuk ‘membenarkan’, maka jelas bahwa ada sifat

  ajaran yang disampaikan, tidak dapat disangkal, dibantah maupun diragukan. Daya dogma muncul pada data (I.34) upacara pernikahan Ken Dedes dan Tunggul Ametung sudah menjadi kehendak para dewa.

  Daya dogma seperti yang telah diuraikan di atas ialah kekuatan bahasa yang terungkap melalui gaya bahasa apostrof yang ditunjukkan dengan tuturan

  “Yang Mulia, bawalah perempuan ini naik ke peraduan. Para dewa membenarkan.

  ...” Tuturan tersebut secara

  langsung menunjukkan pokok ajaran tentang kepercayaan yang harus diterima sebagai hal baik dan benar.

  q. Daya Magi

  Magi menurut KBBIoffline adalah sesuatu atau cara tertentu yg diyakini dapat menimbulkan kekuatan gaib dan dapat menguasai alam sekitar, termasuk alam pikiran dan tingkah laku manusia. Dalam novel

  Arok Dedes karya Pramoedya, juga ditemukan daya bahasa magi yang

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  (II.23)

  ”Setidak-tidaknya dari Hyang Bathara Guru aku tahu, dua hari lagi kalian akan mendapat perintah untuk mengangkut upeti ke Kediri. Dari Hyang Wisynu aku tahu, kalian akan lakukan itu dengan patuh.” (21)

  Konteks:

  Dituturkan oleh Borang kepada seluruh penduduk desa Bantar dan mengumpulkan mereka ke tengah lapangan Bantar. (II.2)

  “… Biarpun ingatanmu mendapatkan pancaran dari Hyang Ganesya.”(60) Konteks:

  Dituturkan oleh salah seorang teman Temu yang memperingatkannya karena sudah lama tidak belajar. (II.43)

  “Temu”, serunya, “dengan kemampuan seperti ini, pandangmu akan menguasai manusia dan benda.” (85) Konteks:

  Dituturkan oleh Tantripala yang kagum akan kecerdasan Temu saat belajar ilmu ekagrata.

  Pada data (I.55) menggunakan gaya bahasa apostrof karena menghadirkan Hyang Wisynu dan Hyang Batara Guru. Maksud dari kalimat (I.55) ialah Borang mendapat infomasi dari para dewa tentang penyerahan upeti yang akan dilaksanakan dua hari lagi. Daya magi muncul karena Borang mendapat kekuatan dari Hyang Wisynu dan Hyang Batara Guru mengenai penyerahan upeti ke Kediri.

  Pada data (II.2) menggunakan gaya bahasa eponim yang ditunjukkan dengan Hyang Ganesha yang artinya dewa ilmu pengetahuan. Maksud dari data (II.2) ialah Arok memiliki daya ingat yang sangat baik. Daya magi muncul karena kemampuan mengingat Arok yang sangat luar biasa, ia dapat mengingat semua mata pelajaran yang diberikan oleh Lohgawe dengan cepat karena ia mendapat berkat

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Pada data (II.43) menggunakan gaya bahasa hiperbola yang nampak pada kali mat “…pandangmu akan menguasai manusia dan

  benda.” Maksud dari data (II.43) ialah kemampuan melihat yang

  dimiliki Arok sangat hebat. Termasuk daya magi karena penglihatan mata Arok bisa menguasai alam sekitar karena ia memiliki kekuatan ekagrata.

  Daya magi seperti yang telah diuraikan di atas adalah kekuatan bahasa yang terungkap melalui gaya bahasa epitet yang seperti pada tuturan

  “… Biarpun ingatanmu mendapatkan pancaran dari Hyang Ganesya.” Tuturan tersebut secara langsung menunjukkan kepada

  mitra tutur bahwa ada sesuatu yang diyakini penutur sehingga dapat menimbulkan hal gaib.

  r. Daya Provokasi

  Provokasi adalah perbuatan untuk membangkitkan kemarahan; tindakan menghasut; pancingan. Sedangkan provokatif adalah bersifat provokasi, merangsang untuk bertindak; bersifat menghasut (KBBIoffline). Perbedaan antara perintah dan provokasi terletak pada sifat yang dilakukan. Jika provokasi menimbulkan seseorang melakukan perbuatan yang berdampak negatif, sedangkan perintah bisanya bersifat positif. Peneliti menemukan daya provokasi pada dialog antar tokoh dalam novel Arok Dedes.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  (I.92)

  “Tak ada brahmana seperti itu. Dia hanya penipu, Yang Mulia, sepatutnya dihancurkan badannya dengan garukan kerang.” (47)

  Konteks:

  Dituturkan oleh Arya Artya ketika Tunggul Ametung meminta keterangan tentang Brahmana dari utara dan dalam rontal tidak ada data mengenai brahmana dari utara itu. (X.38) “Itulah Yang Suci Belakangka, mengaku wakil dari Kediri.

  Sebelum kedatangannya, Tunggul Ametung hanya penjahat biasa, perampok, perampas, penculik dan pembunuh. Setelah kedatangannya orang Syiwa mulai dianiaya. ...” (537)

  Kontaks:

  Dituturkan oleh Belakangka kepada Lohgawe saat ia bertanya apakah pantas menuduh wakil Kediri seperti itu.

  Pada tuturan (I.92) menggunakan gaya bahasa sarkasme. Ditunjukkan dengan penggalan kalimat

  “…sepatutnya dihancurkan badannya dengan garukan kerang.” Hinaan tersebut ditujukan kepada

  seseorang yang mengaku sebagai brahmana muda dari utara. Makna kalimat tersebut ialah tidak ada orang seperti yang diceritakan oleh Tunggul Ametung yaitu brahmana muda dari utara dan ia hanya seorang penipu yang patut dihancurkan badannya dengan garukan kerang. Daya bahasa yang terkandung dari tuturan (I.92) ialah provokatif. Di sini Arya Artya mengompori Tunggul Ametung jika menemukan brahmana itu langsung dibunuh secara kejam. Efek dari tuturan Arya Artya ialah Tunggul Ametung mencari pemuda yang mengaku Brahmana dari utara itu dan menumpasnya.

  Daya provokasi seperti yang sudah diuraikan di atas adalah kekuatan bahasa yang terungkap dari penggunaan gaya bahasa

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Perhatikan tuturan (I.92)

  “Tak ada brahmana seperti itu. Dia hanya penipu, Yang Mulia, sepatutnya dihancurkan badannya dengan garukan kerang”. Tuturan tersebut secara langsung memprovokasi

  mitra tutur agar melakukan yang diminta penutur dan itu perbuatan buruk.

  s. Daya Persuasi

  Menurut KBBIoffline, persuasi ialah ajakan dengan cara memberikan alasan dan prospek baik yang meyakinkan. Daya persuasi muncul dari novel Arok Dedes ialah sebagai berikut ini.

  (III.12)

  “... Nanti sebentar lagi kalau Hyang Surya telah terbenam, sahaya akan iringkan Yang Mulia ke pura.” (103) Konteks:

  Dituturkan oleh Rimang kepada Ken Dedes untuk menghiburnya. (X.45) “Bahwa kemenangan bukan satu-satunya buah usaha.

  Maka jangan ulangi kejahatan Tunggul Ametung dan balatentaranya. Jangan ada seorangpun yang merampok, mencuri, merampas, menganiaya, memperkosa seperti mereka. Dalam hal ini aturan dari Sri Baginda Erlangga masih tetap berlaku: hukuman mati terhadap mereka itu. …” (546)

  Konteks:

  Dituturkan Arok setelah diangkat menjadi orang pertama di Tumapel di hadapan seluruh rakyatnya.

  Gaya bahasa eponim ada pada data (III.12) ditunjukkan dengan kata Hyang Surya. Hyang Surya memiliki arti dewa matahari.

  Maksud dari tuturan tersebut ialah setelah senja atau setelah matahari tenggelam, Rimang akan mengajak Ken Dedes menuju ke pura. Daya

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  persuasi muncul pada tuturan (III.12) dengan kata iringkan yang berarti Rimang mengajak Ken Dedes menuju ke pura.

  Gaya bahasa klimaks ada pada data (X.45) ditunjukkan dengan kelompok kalimat merampok, mencuri, merampas, menganiaya,

  memperkosa. Daya klimaks muncul karena kepentingannya makin

  meningkat. Maksud yang terkandung pada tuturan (X.45) yaitu menjelaskan tingkat kejahatan yang makin lama makin meningkat.

  Daya persuasi muncul karena Arok mengajak seluruh rakyat Tumapel untuk tidak melakukan hal buruk yang dilakukan oleh Tunggul Ametung.

  Daya persuasi seperti yang sudah diuaraikan di atas adalah kekuatan bahasa yang terungkap melalui gaya bahasa klimaks seperti pada data “Bahwa kemenangan bukan satu-satunya buah usaha.

  Maka jangan ulangi kejahatan Tunggul Ametung dan balatentaranya. Jangan ada seorangpun yang merampok, mencuri, merampas, menganiaya, memperkosa seperti mereka. Dalam hal ini aturan dari Sri Baginda Erlangga masih tetap berlaku: hukuman mati terhadap mereka itu. …”. Tuturan tersebut secara langsung penutur mengajak mitra tutur untuk merubah kebiasaan lama yang buruk.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  t. Daya Sumpah

  Sumpah adalah pernyataan yang diucapkan secara resmi dengan bersaksi kepada Tuhan atau kepada sesuatu yang dianggap suci (KBBIoffline). (I.57)

  “Demi Hyang Wisynu, sahaya akan kembalikan lima kali lipat setelah berhasil.” (456) Konteks:

  Dituturkan oleh Kebo Ijo saat mengunjungi Belakangka di kediamannya. Kebo ijo menerima kantong berisi limapuluh ribu catak dan duaribu saga emas dari Belakangka. (I.58)

  “Demi kau, Hyang Agni, inilah Lingsang yang akan merawat, melebur, dan menyimpan emas, perak, dan suasa ini…” (266) Konteks:

  Dituturkan oleh Lingsang saat Arok memintanya bersumpah kepada Hyang Agni untuk menjaga emas hasil rampasan karena Lingsang memiliki keahlian menghitung emas.

  Pada tuturan (I.57) menggunakan gaya bahasa apostrof dan dibuktikan dengan penggalan kalimat

  “…demi Hyang Wisynu...”

  Maksud yang terkandung dari tuturan ini ialah Kebo Ijo menunjukkan janjinya dengan menyebut Hyang Wisynu, yang merupakan dewa sesembahan Kebo Ijo kepada Yang Suci Belakangka jika ia berhasil melaksanakan tugasnya akan mengembalikan uang Yang Suci Belakangka sebanyak lima kali lipat. Pada data (I.57) daya sumpah ditunjukkan dengan menggunakan nama Hyang Wisynu dan ditunjukkan dengan cuplikan kalimat “demi Hyang Wisynu, sahaya

  akan kembalikan…” Daya sumpah muncul karena Kebo Ijo

  menggunakan nama dewa sesembahannya yang menunjukkan kesungguhan hatinya untuk mengganti uang Belakangka jika ia sudah

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  berhasil. Efek dari tuturan (I.57) ialah Belakangka percaya jika Kebo Ijo tidak akan ingkar terhadap janjinya dan akan memenuhi janjinya jika berhasil.

  Pada tuturan (I.58) juga menggunakan gaya bahasa apostrof ditunjukkan dengan cuplikan kalimat

  “demi kau, Hyang Agni…”

  karena menghadirkan sesuatu yang tidak hadir menjadi hadir. Makna dari tuturan (I.58) ialah Lingsang bersumpah atas nama dewa sesembahannya Hyang Agni untuk melaksanakan tugas yang sudah dipercayakan kepadanya untuk merawat, melebur, dan menyimpan emas, perak, dan suasa. Daya sumpah muncul dengan dituturkannya kata Hyang Agni yang merupakan dewa sesembahan dari Lingsang.

  Efek dari tuturan (I.58) ialah mitra tutur percaya akan kesungguhan hati penutur jika ia akan melaksanakan tugasnya sebaik-baiknya.

  Daya sumpah seperti yang sudah diuraikan di atas adalah kekuatan bahasa yang terungkap melalui gaya bahasa apostrof yang mengandung pesan menunjukkan kesungguhan hati seseorang untuk bersungguh-sungguh melaksanakan sumpah yang ia ucapkan kepada mitra tutur. Perhatikan contoh dialog (I.57)

  “Demi Hyang Wisynu, sahaya akan kembalikan lima kali lipat setelah berhasil”. Tuturan

  tersebut secara langsung menunjukkan kesanggupan penutur kepada lawan bicaranya untuk menunjukkan kesanggupannya memenuhi janjinya dengan menyebut nama dewa sesembahan agar mitra tutur

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  percaya kepada penutur jika ia bersungguh-sungguh akan menepati janjinya.

  u. Daya Janji

  Janji menunjukkan kesanggupan seseorang untuk melakukan sesuatu yang berupa amanat untuk dilaksanakan. Menurut KBBIoffline, janji adalah sebuah tuturan yang menyatakan kesediaan dan kesanggupan untuk berbuat sesuatu seperti memberi, menolong, bertemu, dan lain sebagainya.

  (III.21)

  “…Akan aku perlihatkan pada dunia: kaum brahmana takkan bisa bikin apa-apa pada waktu seorang brahmani bernama Dedes aku dudukkan di atas singgasana Tumapel.

  ...” (113) Konteks:

  Dituturkan Tunggul Ametung ketika ia berhasil membawa Dedes, tetapi ia meronta, mengumpat terus. (V.9)

  “Hidup dan mati sahaya adalah milik Sri Baginda.” (225) Konteks:

  Dituturkan oleh Tunggul Ametung ketika menghadap Sri Baginda Kretajaya melaporkan keadaan Tumapel. (V.59)

  “Sahaya berjanji akan bersetia dan menjaga keselamatan sang Akuwu dan Paramesywari dan Tumapel.” (321) Konteks:

  Dituturkan oleh Arok ketika ia dihadapkan kepada Akuwu oleh Lohgawe untuk membantu menumpas pemberontakan di Tumapel.

  (X.20)

  “...Dengan cakra Hyang Wisynu, dengarkan Kebo Ijo bicara, akan kupelihara Gerakan Empu Gandring ini tanpa Empu Gandring.” (508)

  Konteks:

  Dituturkan oleh Kebo Ijo di hadapan para tamtama yang menanyakan keberadaan Empu Gandring dan Yang Suci

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Gaya bahasa zeugma ada pada data (V.9) muncul pada kata

  hidup dan mati. Maksud yang terkandung pada tuturan (V.9) ialah

  menunjukkan kepasrahan seorang bawahan kepada rajanya jika hidup dan matinya adalah miliki baginda. Daya muncul adalah janji karena Tunggul Ametung menyerahkan nyawanya sendiri pada Sri Kretajaya di mana Sri Kretajaya adalah seorang raja.

  Pada tuturan (V.59) menggunakan gaya bahasa polisidenton yang dihubungkan dengan konjungsi. Kata Akuwu, Paramesywari,

  Tumapel dihubungkan dengan menggunakan kata dan. Akuwu,

  Paramesywari, Tumapel memiliki kata yang berurutan yang menunjukkan unsur-unsur dalam pemerintahan. Maksud yang terkandung dari tuturan tersebut ialah Arok berjanji akan menjaga keselamatan akuwu, Paramesywari, dan Tumapel. Efek dari tuturan tersebut ialah lawan tutur mempercayai janji yang diucapkan oleh mitra tutur.

  Daya janji seperti yang sudah diuraikan di atas adalah kekuatan bahasa yang terungkap melalui gaya bahasa polisidenton yang mengandung pesan menyatakan janji. Seperti pada tuturan

  “Sahaya berjanji akan bersetia dan menjaga keselamatan sang Akuwu dan

  Paramesywari dan Tumapel.”maksud dari tuturan tersebut

  ialah Arok berjanji akan menjada keselamatan Tunggul Ametung, Ken Dedes, dan Tumapel. Secara langsung tuturan tersebut menyatakan

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  janji penutur kepada mitra tutur akan suatu hal yang harus dilaksanakan di lain waktu.

C. Pembahasan

  Dari hasil analisis di atas, gaya bahasa yang ditemukan dari masing- masing majas, yaitu pada majas pertentangan meliputi gaya bahasa hiperbola, litotes, ironi, oksimoron, zeugma, silepsis, paradoks, klimaks, antiklimaks, apostrof, apofasis, sarkasme, dan sinisme; majas perbandingan meliputi gaya bahasa simile, metafora, personifikasi, alegori, antitesis, dan perifrasis; majas pertautan meliputi gaya bahasa metonimia, sinekdok, alusi, eufemisme, eponim, epitet, erotesis, asidenton, dan polisidenton; majas perulangan meliputi gaya bahasa asonansi, kiasmus, epizeukis, anafora, epistofora, epanalepsis, dan anadiplosis. Dari penggunaan gaya bahasa bahasa yang telah dipaparkan di atas berhasil mengungkap bermacam-macam daya bahasa. Daya bahasa yang berhasil terungkap dalam novel Arok Dedes yaitu daya jelas, daya rangsang, daya simbol, daya seremoni, daya puji, daya nasihat, daya klaim, daya sesal, daya keluh, daya pinta, daya ancam, daya perintah, daya dogma, daya cemooh, daya harap, daya protes, daya magi, daya deklarasi, daya optimis, daya provokasi, daya sumpah, daya janji, dan daya saran. Daya bahasa yang terungkap melalui penggunaan gaya bahasa seperti yang sudah dipaparkan di atas sejalan dengan pendapat Sudaryanto (1989, dalam Pranowo, 2009:132) telah menggali daya bahasa dari aspek linguistik, yaitu penggunaan gaya bahasa.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Dari semua data tuturan dialog antar tokoh dalam novel, masing-masing ucapan mengandung tindak ilokusi, yaitu berupa maksud yang ada di dalam ujaran. Dalam kajian pragmatik, tindak tutur ilokusi sering menjadi kajian utama (Rahardi, 2009:17). Searle (1983 Rahardi: 2005:36-37) menggolongkan tindak tutur ilokusi dalam lima macam bentuk, teori tersebut menjadi pijakan bagi peneliti untuk menentukan daya apa saja yang terungkap. Pada (1) fungsi asertif, daya bahasa yang berhasil ditemukan yakni daya saran, daya klaim, daya dogma, dan daya magi. Daya saran, daya klaim, daya dogma, dan daya magi tergolong ke dalam fungsi asertif karena tuturan yang diucapkan oleh penutur mengikat mitra tutur untuk percaya pada sebuah pernyataan atau fakta (kebenaran) yang telah diungkapkan.

  Pada daya saran terungkap dari penggunaan gaya bahasa klimaks. Daya saran ialah kekuatan yang dimiliki bahasa untuk menyampaikan pendapat yang diungkapkan untuk dipertimbangkan. Daya saran biasanya meminta mitra tutur untuk segera melakukan tindakan yang disarankan oleh penutur. Saran dengan nasihat memiliki perbedaan yaitu di mana nasihat biasanya berisi tentang anjuran dan berhubungan dengan nilai moral. Saran biasanya berisi anjuran untuk dilaksanakan pada saat itu juga dan saran cenderung harus dilaksanakan dalam waktu yang cepat karena waktu yang dibutuhkan sangat mendesak.

  Daya klaim terungkap dari penggunaan gaya bahasa antitesis, apostrof, anadiplosis, epizeukis, klimaks, zeugma, hiperbola, simile, antiklimaks, metonimia, tautology, alusi, oksimoron, sinisme, sinekdoke, metafora, anafora, dan litotes. Klaim sendiri memiliki arti tuntutan pengakuan atas fakta bahwa

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  seseorang berhak memiliki sesuatu, pernyataan suatu fakta. Daya klaim cukup banyak ditemukan karena menunjukkan pengakuan bahwa seseorang mempunyai keyakinan bahwa ia memiliki sebuah kebenaran atas dirinya yang diyakininya benar. Pada novel Arok Dedes daya klaim muncul untuk menujukkan eksistensi diri terutama dari para tokoh petinggi agama Hindu seperti Lohgawe, Belakangka jika apa yang dikatakannya adalah sebuah kebenaran. Jadi, daya klaim adalah kekuatan yang dimiliki bahasa untuk menujukkan pengakuan, hak yang diyakini seseorang atas dirinya adalah sebuah kebenaran.

  Daya magi adalah kekuatan yang dimiliki oleh bahasa untuk menunjukkan bahwa sebuah tuturan bisa menunjukkan adanya kekuatan gaib.

  Gaib yaitu sesuatu yang tidak kelihatan. Keajaiban yang terjadi pada tokoh dan yang diutarakan kepada lawan tuturnya merupakan keyakinan dari masing- masing tokoh berdasarkan kekuatan dari yang Mahakuasa. Daya magi muncul di dalam novel ini untuk menunjukkan jika ada kekuatan lain yang hadir di luar kemampuan dan akal manusia. Kekuatan yang berasal dari Sang Ilahi. Daya magi muncul dari penggunaan gaya bahasa apostrof, eponim, hiperbola, dan simile.

  Daya dogma terungkap melalui gaya bahas apostrof dan epanalepsis. Dogma adalah sebuah ajaran agama atau kepercayaan tertentu yang harus diterima sebagai hal yang baik dan benar. Daya dogma yang muncul pada novel Arok Dedes menunjukkan keyakinan ajaran agama Hindu di mana semua peristiwa kehidupan yang terjadi menurut aturan para dewa yang disembah.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Kekuatan yang dimiliki bahasa untuk menyatakan pokok suatu ajaran atau agam tertentu ialah daya dogma.

  Fungsi tindak tutur yang ke (2) ialah direktif. Direktif ialah tindak tutur yang dipakai oleh penutur untuk menyuruh orang lain melakukan sesuatu.

  Daya bahasa yang tergolong pada fungsi direktif yakni daya perintah, daya pinta, daya nasihat, dan daya provokasi. Tergolong dalam fungsi direktif karena tuturan yang dikatakan oleh penutur meminta mitra tutur untuk melakukan suatu tindakan.

  Daya persuasi terungkap dari gaya bahasa eponim dan klimaks. Daya persuasi di sini mengandung ajakan untuk melakukan sesuatu. Ajakan yang dilakukan cenderung untuk berbuat baik. Daya persuasi ialah kekuatan yang dimiliki bahasa untuk mengajak seseorang dengan cara memberikan alasan dan prospek yang meyakinkan.

  Pada daya perintah, terungkap melalui penggunaan gaya bahasa apostrof, hiperbola, anafora, simile, metonimia, sarkasme, dan epizeukis. Daya perintah adalah kekuatan yang dimiliki oleh bahasa untuk memerintah lawan tutur supaya melakukan apa yang dikehendaki oleh penutur. Daya perintah bisa efektif berfungsi jika yang menututurkan ialah orang yang memiliki kuasa atau memiliki status lebih tinggi. Daya perintah yang muncul dari hasil analisis di atas bisa dibagi menjadi dua, daya perintah secara halus dan daya perintah secara kasar. Daya perintah secara kasar terungkap melalui penggunaan gaya bahasa sakasme dan epizeukis. Tuturan yang muncul dalam daya perintah,

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  melanggar maksim kedermawanan karena tidak memaksimalkan kerugian pada diri sendiri.

  Sedangkan pada daya pinta terkuak dari penggunaan gaya bahasa apostrof, litotes, sinekdok, zeugma, dan epizeukis. Daya pinta ialah kekuatan yang dimiliki bahasa untuk meminta lawan tutur melalukan sesuatu yang diminta oleh penutur. Daya pinta menjadi dua, yaitu pinta kepada manusia dan kepada gaib. Daya pinta memiliki maksud secara langsung kepada mitra tutur (termasuk gaib) supaya tujuannya terlaksana. Efek dari daya pinta ialah mitra tutur yang diminta oleh penutur akan melakukan sesuatu yang dikendaki oleh penutur.

  Perbedaan pinta dan perintah ialah perintah harus segera dilaksanakan dan tidak boleh ditolak oleh mitra tutur apa yang dikehendaki oleh penutur.

  Perintah cenderung lebih kasar daripada pinta. Sedangkan pinta juga harus dilaksanakan jika mitra tutur mengiyakan apa yang diminta penutur dan mitra tutur bisa saja menolak untuk melakukan apa yang diminta penutur.

  Gaya bahasa apostrof, tautologi, antitesis, metafora, epizeukis mengungkap penggunaan daya bahasa nasihat. Daya nasihat ialah kekuatan yang dimiliki oleh bahasa untuk memberikan masukan, saran, nasihat yang bersifat positif kepada mitra tutur. Daya nasihat muncul jika seseorang sedang berada dalam masalah dan membutuhkan masukan dari orang terdekatnya.

  Daya provokasi terungkap dari penggunaan gaya bahasa sarkasme dan klimaks. Daya provokasi ialah kekuatan yang dimiliki bahasa untuk mempengaruhi mitra tutur berbuat sesuatu yang kurang baik. Kekuatan yang

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  dimiliki oleh daya provokasi sangatlah besar jika si mitra tutur dalam keadaan yang kurang baik. Provokasi biasanya berisi ajakan untuk berbuat tidak baik.

  Daya provokasi dan daya persuasi bisa dikatakan sama-sama memiliki persamaan yaitu sama-sama berupa ajakan. Tetapi yang membedakan antara dua daya tersebut ialah kalau persusasi berupa ajakan untuk berbuat sesuatu yang baik, provokasi berupa ajakan untuk berbuat sesuatu yang kurang baik.

  Fungsi yang (3) ialah fungsi ekspresif. Ekspresif ialah bentuk tuturan yang berfungsi untuk menyatakan atau menunjukkan sikap psikologis penutur terhadap suatu keadaan. Daya puji, daya cemooh, daya optimis, daya keluh, daya harap, daya sesal, daya protes tergolong pada fungsi ekspresif karena untuk mengungkapkan perasaan yang yang dialami penutur kepada mitra tutur.

  Daya puji hadir dari penggunaan gaya bahasa hiperbola, apostrof, asidenton, klimaks, simile, epizeukis, epitet, dan metafora. Daya puji adalah kekuatan yang dimiliki oleh bahasa untuk mengungkapkan perasaaan senang, gembira, bahagia. Selain sebagai ungkapan gembira, daya puji juga bisa meungkapkan rasa syukur kepada Tuhan. Daya puji yang ditemukan pada hasil analisis di atas berupa bentuk pujian kepada Tuhan dan kepada sesama manusia. Penggunaan gaya bahasa apostrof sudah sangat jelas menunjukkan bentuk pujian kepada Tuhan sebagai ucapan syukur. Daya puji jika bisa digunakan secara maksimal dapat menimbulkan efek komunikasi positif. Sejalan dengan teori kesantunan berbahasa yang dikemukakan oleh Leech (1983 dalam Pranowo, 2009: 35), penggunaan kata pujian memenuhi salah satu

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  prinsip kesantunan berbahasa ialah maksim pujian yang memaksimalkan pujian kepada mitra tutur.

  Daya sesal muncul dari penggunaan gaya bahasa epizeukis, apostrof, sarkasme, apostrof, hiperbola, sinisme, simile, dan epanalepsis. Sesal ialah perasaan tidak senang karena telah berbuat tidak baik. Daya sesal ialah kekuatan yang dimiliki bahasa untuk menungkapkan perasaan tidak senang, kecewa, karena melakukan yang tidak baik. Daya sesal muncul karena sebuah penyesalan pada diri penutur yang disampaikan kepada mitra tutur karena ia telah melakukan perbuatan yang tidak baik. Bisa dikatakan perasaan menyesal atau kecewa.

  Daya keluh muncul dari penggunaan gaya bahasa apostrof, sinekdok, simile, zeugma, epizeukis, metafora, dan antiklimaks. Daya keluh muncul untuk mengungkapkan perasaan susah karena menderita sesuatu yang berat. Kekuatan yang dimiliki bahasa untuk mengungkapkan perasaan susah karena sakit, sedang menderita. Daya keluh muncul karena penutur mengalami sebuah penderitaan yang disampaikan kepada mitra tutur. Penutur mengungkapkan keluhannya karena ia tidak tahan terhadap suatu masalah atau kondisi tidak menyenangkan yang sedang dihadapi.

  Gaya bahasa sarkasme, sinisme, ironi, simile, antiklimaks, hiperbola, epizeukis, kiasmus mengungkap penggunaan daya bahasa cemooh. Daya cemooh memiliki kekuatan bahasa untuk merendahkan pribadi seseorang. Cemooh muncul karena rasa tidak suka tau rasa tidak puas terhadap sesuatu. Jadi, daya cemooh adalah kekuatan yang ada di dalam bahasa untuk

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  mengungkapkan ejekan atau hinaan kepada seseorang. Sejalan dengan teori kesantunan berbahasa yang dikemukakan oleh Leech (1983 dalam Pranowo, 2009: 35), penggunaan kata sindir melanggar salah satu prinsip kesantunan berbahasa ialah maksim pujian karena tidak memaksimalkan pujian kepada mitra tutur.

  Daya harap muncul dari penggunaan gaya bahasa apostrof, sinisme, epizeukis, dan hiperbola. Daya harap ialah kekuatan yang dimiliki oleh bahasa untuk mengungkapkan keinginan pribadi supaya sesuatu terjadi. Daya harap dalam novel Arok Dedes yang dituturkan oleh para tokoh untuk mengharapkan karunia dari para dewa.

  Daya protes ialah kekuatan bahasa yang dimiliki bahasa yang muncul untuk menujukkan ungkapan perasaan tidak menyetujui, menentang perihal yang tidak disukai. Daya protes pada novel Arok Dedes terungkap pada penggunaan gaya bahasa apostrof, epizeukis, silepsis, oksimoron, klimaks, sinisme, tautologi, simile erotesis, zeugma, metafora, dan hiperbola.

  Daya optimisme terungkap melalui gaya bahasa apostrof, hiperbola, polisidenton, klimak, dan sinekdok. Daya optimisme adalah kekuatan yang dimiliki bahasa untuk untuk selalu memiliki harapan yang baik dalam segala hal. Daya optimisme ini membuat seseorang akan selalu berusaha memberikan yang terbaik.

  Fungsi yang ke (4), yaitu komisif. Komisif ialah bentuk tutur yang berfungsi untuk mengikatkan diri penutur kepada mitra tutur terhadap tindakan di masa yang akan datang, misalnya berjanji. Daya janji, daya sumpah, daya

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  ancam tergolong pada fungsi komisif karena tuturan yang dikatakan oleh penutur kepada mitra tutur secara langsung maupun tidak langsung mengikat untuk waktu yang akan datang.

  Daya janji ialah kekuatan yang dimiliki bahasa untuk menyatakan kesanggupan penutur kepada mitra tutur untuk melakukan sesuatu di waktu yang akan datang. Daya janji muncul karena penggunaan gaya bahasa hiperbola, zeugma, dan polisidenton. Daya janji diucapkan penutur kepada mitra tutur untuk berjanji akan suatu hal yang harus dilaksanakan pada waktu yang mendatang. Janji merupakan sebuah pernyataan yang mengikat tetapi terhadap sesama.

  Daya sumpah terungkap melalui gaya bahasa apostrof, zeugma, dan silepsis. Daya sumpah ialah kekuatan yang dimiliki bahasa untuk menunjukkan kesediaan dan kesanggupan untuk melakukan sesuatu tetapi di hadapan Tuhan. Daya sumpah memiliki kekuatan magi karena langsung berhubungan dengan Sang Maha Pencipta dan menunjukkan kesungguhan hati untuk secara tulus ikhlas melaksanakannya. Daya sumpah diucapkan dihadapan mitra tutur oelh penutur dengan menyebut nama Tuhan.

  Daya ancam juga terungkap melalui gaya bahasa sarkasme, apostrof, eufemisme, metonimia, dan perifrasis. Daya ancam ialah kekuatan yang dimiliki oleh bahasa untuk memberikan ancaman kepada seseorang. Bentuk ancaman yang terungkap dari penggunaan gaya bahasa ialah ancaman secara terang-terang dan ancaman secara halus. Bentuk ancaman secara halus atau tersirat nampak pada penggunaan gaya bahasa eufemisme, metonimia, dan

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  perifrasis. Bentuk ancaman secara halus, si penutur tidak secara langsung mengancam dengan kata-kata yang jelas dan tegas. Sedangkan bentuk ancaman secara terang-terangan muncul pada gaya bahasa apostrof dan sarkasme. Bentuk daya ancam bisa dikatakan melanggar maksim kebijaksanaan karena tidak memberikan keuntungan kepada mitra tutur (Leech, 1983 dalam Pranowo, 2009: 35).

  Fungsi yang ke (5) , yaitu fungsi deklaratif. Dekalratif ialah bentuk tutur yang menghubungkan isi tuturan dengan kenyataan. Daya deklarasi termasuk pada fungsi deklaratif karena tuturan yang diucapakan oleh penutur kepada mitra tutur menyatakan sebuah kebenaran. Daya deklarasi muncul dari penggunaan gaya bahasa epanalepsis, apostrof, epizeupkis, sinekdok, anafora, dan epitet. Daya deklarasi ialah kekuatan yang dimiliki oleh bahasa untuk memberi sebuah pernyataan ringkas.

  Selain halnya data tuturan dialog antar tokoh, data narasipun juga memiliki sebuah daya. Daya yang dihasilkan ada empat, y

  aitu (1) daya ‘jelas’

  informatif, (2) daya rangsang, (3) daya simbol, (4) daya seremoni. Untuk menemukan daya yang muncul pada data narasi, peneliti menggunakan cara dengan melihat penekanan yang ada pada tiap kalimat.

  Pada daya ‘jelas’ informatif terungkap melalui penggunaan gaya bahasa

  klimaks, eufemisme, perifrasis, zeugma, asidenton, simile, personifikasi, hiperbola, asidenton, epistofora, erotesis, klimaks, eponim, antitesis, anafora, metafora, paradoks, epizeukis, silepsis, apofasis, antiklimaks, alegori, antitesis, oksimoron, metonimia, sinekdok, dan polisidenton. Penggunaan gaya bahasa

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  yang digunakan untuk mengungkap daya jelas ditemukan dalam novel Arok Dedes lebih beragam dan lebih banyak karena menggambarkan situasi dan kondisi dalam cerita tersebut, serta untuk mendeskripsikan bentuk benda dan ciri orang sehingga memudahkan pembaca mengimajinasikan bagaimana situasi dan kondisi yang sedang terjadi dan bagimana bentuk benda, orang yang dikisahkan dalam novel Arok Dedes.

  Daya rangsang muncul pada penggunaan gaya bahasa simile, personifikasi, metafora, asonansi, hiperbola, dan klimaks. Daya rangsang yang dimaksudkan di sini ialah daya yang mempengaruhi panca indera pembaca dan membangkitkan perasaan ketika membaca. Indera yang bekerja meliputi indera penciuman, pendengaran, penglihatan, perabaan, dan penciuman.

  Daya simbol terungkap dari penggunaan gaya bahasa asidenton, personifikasi, simile, dan apofasis. Penggunaan daya simbol pada analisis novel Arok Dedes menunjukkan pralambang adat. Sedangkan pada daya seremoni atau upacara hadir dengan penggunaan gaya bahasa simile, klimaks, antiklimaks, epizeukis, dan apostrof. Daya seremoni di sini melambangkan prosesi upacara keagamaan atau adat.

  Dari keseluruhan daya bahasa yang berhasil terungkap melalui gaya bahasa, gaya bahasa apostrof paling bang nyak ditemukan pada setiap daya, yaitu pada daya kritik, daya ancam, daya puji, daya harap, daya nasihat, daya perintah, daya optimisme, daya pinta, daya sumpah, daya emosi, daya kutuk, dan daya syukur. Gaya bahasa apostrof menurut Tarigan (1985:83) ialah gaya bahasa yang isinya pengalihan amanat dari yang hadir kepada yang tidak hadir

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  muncul dalam berbagai situasi. Hal ini dikarenakan latar belakang novel ini sarat dengan ajaran agama Hindu. Kepercayaan yang sangat kuat kepada dewa- dewi yang mereka sembah seperti Hyang Wisynu, Hyang Mahadewa Syiwa, membuat para tokoh yang ada di dalam novel merasa jika dewa-dewi yang mereka sembah selalu berada di dekat mereka. Setiap tuturan yang dituturkan oleh penutur dengan menyebut nama dewa mempunyai kekuatan tersendiri bagi lawan tutur.

  Dari hasil pembahasan di atas, daya-daya yang ditemukan memiliki efek positf dan negatif jika dipraktikkan dalam sebuah komunikasi. Daya yang mengandung efek positif dalam komunikasi ialah daya puji, daya harap, daya nasihat, daya optimis, daya janji, daya sumpah, daya persuasi, daya deklarasi dan daya syukur. Sedangkan daya yang mengandung efek negatif jika dipraktikan dalam sebuah komunikasi, yaitu daya kritik, daya sindir, daya cemooh, daya kutuk, daya ancam, daya provokasi, dan daya protes. Ada pula daya yang muncul bisa menimbulkan efek positif atau negatif tergantung dari konteks yang dibicarakan antara penutur dan mitar tutur ialah daya emosi dan daya pinta. Sesuai dengan pendapat van Peursen (1998, melalui Baryadi 2012: 17), dapat dikatakan bahwa tuturan itu seperti manusia, yaitu memiliki tubuh, jiwa, dan roh. Tubuh tuturan adalah bentuk, jiwa tuturan adalah makna dan informasi, sedangkan roh tuturan adalah maksud. Di samping itu, tuturan juga memiliki roh. Roh yang dimaksud adalah roh budaya, roh budaya, roh politik, roh jahat, roh halus, roh kebenaran, dan sebagainya. Karena mengandung roh, tuturan memiliki daya sehingga mampu berperan dalam berbagai bidang dan

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  berbagai konteks. Dengan demikian, tuturan adalah bahasa yang tidak hanya hidup karena memiliki tubuh dan jiwa, tetapi juga berkarya karena memiliki roh atau daya.

  Sesuai dengan teori fungsi komunikasi bahasa menurut Austin dan Searle (dalam Pranowo, 1996: 92), tuturan yang diucapkan para tokoh dalam novel Arok Dedes juga tidak bisa lepas dari fungsi-fungsi komunikatif bahasa yang dibagi menjadi lima, yakni (1) fungsi direktif, yaitu bahasa digunakan

  

untuk memerintah secara halus, nampak dari tuturan “Coba katakan padaku

  yang ma

  sih bodoh ini” yang dituturkan oleh Ken Dedes kepada Arok

  memintanya untuk menjelaskan arti wanita, (2) fungsi komisif, yaitu bahasa digunakan untuk membuat janji atau penolakan untuk berbuat sesuatu, nampak

  

pada tuturan “Sahaya berjanji akan bersetia dan menjaga keselamatan sang

Akuwu dan Paramesywari dan Tumapel.” yang diucapkan oleh Arok yang

  berjanji menjada keselamatan Tunggul Ametung, Ken Dedes, dan Tumapel, (3) fungsi representasional yaitu bahasa digunakan untuk menyatakan kebenaran, yang nampak pad

  a tuturan “Mati, Arok, Sang Akuwu mati.” yang diucapkan

  oleh Ken Dedes dan memberi tahu jika Tunggul Ametung sudah mati, (4) fungsi deklaratif atau performatif, yaitu bahasa digunakan untuk

  

mendeklarasikan atau menyatakan sesuatu, misalnya “… Dia mendapat

  pancaran sepenuhnya dari Hyang Bathara Guru. Dia adalah orang terbaik di antara kalian. Dia adalah titisan Hyang Wisynu, karena dialah yang memelihara kalian dari bencana Tunggul Ametung dan bala tentaranya. Dia adalah Akuwu-

  mu, Akuwu Tumapel!” diucapkan oleh Dang Hyang Lohgawe

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  di hadapan seluruh rakyat Tumapel dan menyatakan jika Arok adalah pemimpin mereka yang baru, (5) fungsi ekspresif, yaitu bahasa digunakan untuk mengungkapkan perasaan kecewa, senang, sedih, puas, dan lain-lain secara spontan, misalny

  a pada tuturan “Terkutuk dia oleh semua dewa!” yang dituturkan oleh Ken Dedes yang merupakan ungkapan perasaan sangat marah.

  Penggunaan gaya bahasa yang digoreskan Pramoedya dalam setiap karyanya termasuk novel Arok Dedes memiliki ciri khas tersendiri dan berbeda dengan pengarang yang lain serta memberi efek estetis pada setiap karyanya. Hal itu sejalan dengan pendapat Keraf (2010: 113) yang menyatakan gaya bahasa sebagai cara mengungkapkan pikiran melalui bahasa secara khas yang memperlihatkan jiwa dan kepribadian penulis. Penggunaan gaya bahasa juga tidak dapat lepas dari makna yang terkandung di dalamnya karena makna yang terkadung di dalam gaya bahasa memiliki kekuatan atau daya tersendiri yang mampu menghipnotis pembacanya. Oleh karena itu, daya yang terkandung di dalam gaya bahasa merupakan kekuatan bagi sastrawan untuk menyampaikan makna, informasi, maksud melalui fungsi komunikatif bahasa sehingga pembaca mampu menangkap segala informasi yang ingin disampaikan (Yuni, 2009).

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Pemanfaatan gaya bahasa yang digunakan pengarang dalam berkarya

  pada masing-masing gaya bahasa memiliki makna dan fungsi berbeda dalam mendukung keberhasilan suatu karya. Manfaat gaya bahasa tersebut beragam antara lain mampu menciptakan efek estetis dalam sebuah kalimat, memberikan efek penegasan, memberikan kekhasan atau mengikuti trend tertentu pada sebuah tulisan, memberikan penguatan pada isi cerita, mengkonkretkan hal-hal yang bersifat abstrak, memperjelas maksud, menciptakan citraan yang nyata dalam jalinan cerita, serta membantu daya imajinasi pembaca.

  Hadirnya gaya bahasa dalam sebuah novel bisa menimbulkan daya bahasa. Daya bahasa yang muncul dari penggunaan gaya bahasa yang ada dalam novel Arok Dedes yaitu daya bahasa yang terdapat dalam novel Arok

  Dedes yaitu daya bahasa yang terungkap dari data berupa kalimat meliputi

  daya jelas, daya rangsang, daya simbol, daya seremoni. Sedangkan, daya bahasa yang terungkap dari data yang berupa tuturan meliputi daya puji, daya optimis, daya ancam, daya protes, daya cemooh, daya nasihat, daya saran, daya klaim, daya deklarasi, daya sesal, daya keluh, daya pinta, daya harap, daya perintah, daya dogma, daya magi, daya provokasi, daya persuasi,daya sumpah, daya janji. Pada dasarnya semua gaya bahasa menghasilkan daya bahasa tetapi

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  tidak semua gaya bahasa menghasilkan daya bahasa yang sama. Munculnya daya bahasa yang terungkap melalui gaya bahasa tergantung dari tuturan antara penutur dan mitra tutur, serta konteks situasi. Pada gaya bahasa sarkasme secara konsisten menghasilkan daya cemooh dan daya sumpah secara konsisten menggunakan gaya bahasa apostrof. Selain itu, daya bahasa yang muncul dari penggunaan gaya bahasa bahasa karena pengarang ingin mengungkapkan imajinasi agar seakan-akan dunia fiksi itu benar-benar menjadi nyata.

B. Saran

  Novel Arok Dedes yang dianalisis dalam penelitian ini adalah sebuah novel sejarah, karena itu peneliti memberikan saran kepada pihak-pihak yang akan melakukan penelitian sejenis untuk mencoba menggunakan novel remaja, novel dewasa, cerita anak, atau bentuk karya sastra lain seperti drama, puisi, dan lain-lain. Selain itu, karena dalam penelitian ini yang dikaji dan dianalisis adalah daya bahasa yang terkandung dalam gaya bahasa yang terkandung dalam novel, untuk penelitian selanjutnya peneliti menyarankan kepada pihak- pihak lain untuk mengkaji dan meneliti daya bahasa apa saja yang bisa terungkap dengan penggunaan diksi, tuturan para tokoh, unsur intrinsik dan ekstrinsik novel, aspek nonlinguistik, seperti nilai sosial dan budaya yang terkandung dalam sebuah novel. Peneliti menyarankan pula kepada pihak yang melakukan penelitian sejenis untuk meneliti bidang pragmatik lainnya yang terdapat dalam sebuah novel, seperti nilai rasa, jenis-jenis tindak tutur,

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  praanggapan, tingkat kesantunan kesantunan dan ketidaksantunan dalam tuturan antar tokoh.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

DAFTAR PUSTAKA

  Anderson, Benedict. 1990. “Bahasa-Bahasa Politik Indonesia”. Kuasa-Kata:

  Jelajah Budaya-Budaya Politik di Indonesia. Diterjemahkan oleh Revianto Budi Santosa dari Language and Power. Yogyakarta: Mata Bangsa.

  Azwar, Saifuddin. 2009. Metode Penelitian. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Baryadi, I. Praptomo. 2012. Bahasa, Kekuasaan, dan Kekerasan. Yogyakarta: Penerbit Universitas Sanata Dharma.

  Damono, Sapardi Djoko. 2010. Artikel Kita dan Sastra Dunia. Diakses pada laman bahasa pada tanggal 9 Maret 2013 pukul 22.30 WIB. Hun, Koh Young. 2011. Pramoedya Menggugat Melacak Jejak Indonesia.

  Jakarta: Kompas Gramedia. Keraf, Gorys. 2010. Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. ______________.1991. Argumentasi dan Narasi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

  ______________.1982. Eksposisi dan Deskripsi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Khusnin, Mukhamad. 2012. Artikel Gaya Bahasa Novel Ayat-Ayat Cinta Karya

  Habibirrahman El Shirazy dan Implementasinya Terhadap Pengajaran Sastra di SMA. Diakses pada laman bahasa pada tanggal 5 Maret 2013 pukul 11.00 WIB.

  KBBI offline versi 1.5.1. Latif, Yudi dan Idi Subandy Ibrahim. 1966. Bahasa dan Kekuasaan: Politik Wacana di Panggung Orde Baru. Bandung: Mizan.

  Leech, Geoffrey. 1993. Prinsip-prinsip Pragmatik. Jakarta: Universitas Indonesia. _____________. 1983. Principles of Pragmatics. London and New York: Longman.

  Moleong, Lexy J. 2006. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya. Nandar, F.X. 2009. Pragmatik dan Penelitian Pragmatik. Yogyakarta: Graha Ilmu.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Nurgiyantoro, Burhan. 2007. Teori Pengkajian Fiksi. Gadjah Mada University Press. PBSID. 2004. Pedoman Program Studi Pendidikan Bahasa, Sastra, Indonesia, dan Daerah. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma. Pranowo. 1996. Analisis Pengajaran Bahasa. Gadjah Mada University Press ______________. 2009. Berbahasa secara Santun. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

  ______________. 2012. Proposal Penelitian: Daya Bahasa dan Nilai Rasa Bahasa dalam Iklan. Universitas Sanata Dharma. Rahardi, Kunjana. 2005. Pragmatik: Kesantunan Imperatif Bahasa Indonesia.

  Jakarta: Erlangga. ______________. 2007. Berkenalan dengan Ilmu Bahasa Pragmatik. Malang: Dioma.

  ______________. 2009. Sosiopragmatik. Jakarta: Erlangga. Rifai, Muhammad. 2010. Biografi Singkat 1925-2006 Pramoedya Ananta Toer.

  Yogyakarta: Garasi House Of Books. Subagyo, Ari P. 2012. Bahasa dan Kepempimpinan: Menggali Inspirasi Discursive Leadership Soegijapranata dan Abdurrahman Wahid.

  Yogyakarya: Penerbit Universitas Sanata Dharma. Sudaryanto. 1993. Metode dan Teknik Analisis Bahasa : Pengajaran Wahana Kebudayaan secara Linguistik. Yogyakarta: Duta Wacana Universitas Press.

  Sudjiman, Panuti. 1990. Kamus Istilah Sastra. Jakarta: Universitas Indonesia Sugono, Dendy. 2011. Buku Praktis Bahasa Indonesia I. Jakarta: Badan

  Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. Tarigan, Henry Guntur. 1985. Pengajaran Gaya Bahasa. Bandung: Angkasa. Toer, Pramoedya Ananta. 2006. Arok Dedes. Jakarta: Lentera Dipantara.

  

Wareing, Shan. 2007. “Apa Bahasa Itu dan Apa Perannya?” Dalam Linda Thomas

  dan Shan Wareing. Bahasa, Masyarakat, dan Kekuasaan. Diterjemahkan oleh Sunoto dkk. dari Language, Society and Power. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Wijana, I. Dewa Putu. 1996. Dasar-dasar Pragmatik. Yogyakarta: Penerbit ANDI.

  Yule, George. 2006. Pragmatik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Yuni, Qonita Fitra. 2009. Pemanfaatan Daya Bahasa pada Diksi Pidato Politik. .

  Skripsi S1. PBSID. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  LAMPIRAN

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  

Biografi Pramoedya Ananta Toer

  Pramoedya Ananta Toer lahir pada 6 Februari 1925 di Kampung Jetis, Blora, Jawa Tengah sebagai anak pertama dari sembilan bersaudara. Ayahnya bernama Mastoer. Ia seorang guru, pernah menjadi kepala sekolah Institut Boedi Utama dan aktivis PNI cabang Blora, serta seorang penulis. Barangkali dari sinilah Pram memiliki bakat menulis. Sedangkan ibunya bernama Oemi Saidah yang bekerja sebagai ibu rumah tangga dan penjual nasi. Salah satu pesan dari sang Ibu kepada Pram adalah mendorongnya agar menjadi orang yang mandiri

  

dan kuat. “Ingat-ingat selalu kataku: jadi orang bebas, Muk, jadi tuan atas diri

  sendiri, allround, bisa segala, tidak jadi budak orang lain, juga tidak

  

memperbudak…. Jangan sampai jadi beban orang lain. Juga jangan menerima

beban tanpa guna.”

  Ki Panji Konang, teman Pram sewaktu kecil di sekolah tiga bertutur bahwa Pram sewaktu selesai pelajaran sekolah sering mengajak teman-temannya bermain di halte pasar Blora. Di sana, mereka diajak Pram untuk mencari bungkus rokok. Bungkus-bungkus rokok itu kemudian dibuat mainan, mulai dari rokok buatan Nitisemita yang bermerek ball tiga, cap anggur, cap jambu, cap jeruk, cap mlinjo, dan lain sebagainya. Bekas bungkus rokok itu ditata rapi dan dibuat mainan, tetapi kebanyakan oleh Pram dibuat alas untuk menulis. Jika sore hari, Pram mengajak temannya untuk bermain di sungai, bermain ketapel untuk berburu burung di sawah.

  Sewaktu kecil Pram sudah menunjukkan kepintarannya mengumpulkan teman-temannya, banyak akal dan berani mencoba apapun dalam segala hal. Pram

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  

punya semboyan, “Jika kamu tidak obah polah tidak akan bisa makan.” Masa

  kecil Pram juga sangat tertindas, terutama oleh perlakuan ayahnya yang terlalu keras dan berdisiplin tinggi. Pram pernah dikatakan sebagai anak goblok karena pernah tidak naik kelas tiga kali sewaktu masih di sekolah dasar. Bahkan ketika lulus dari sekolah dasar dan ingin melanjutkan ke MULO, ia ditentang oleh ayahnya dan mengatakan dirinya anak bodoh, tidak pantas melanjutkan sekolah, dan lebih baik mengulang di sekolah dasar.

  Kondisi tertekan yang terus-menerus karena perlakuan ayahnya mengakibatkan psikologis Pram labil di masa kecil. Hal ini menjadi persoalan rasa minder akut, merasa terkucilkan, tertindas, tertekan, dan merasa tidak diperlukan hidupnya di dunia semenjak kecil. Tentu saja hal ini menyebabkan pergaulan Pram semasa kecil bukan dari kalangan menengah ke atas, melainkan kelangan masyarakat ke bawah, seperti anak petani dan anak buruh di desanya. Karena perasaan minder yang begitu besar dan tertekan menyebabkan dirinya susah berkomunikasi dengan orang lain secara baik dan benar. Keadaan demikian mendorongnya untuk menulis. Pram menjadikan tulisan sebagai media untuk menumpahkan segala rasa, keprihatinan, ketertekanan, dan segala yang ada di pikirannya.

  Pram juga mengenyam pendidikan formalnya di SD Blora, berlanjut ke Radio Volkschool Surabaya tahun 1940-1941 tetapi tidak mendapat ijazah karena Jepang keburu datang ke Indonesia. Lalu melanjutkan ke Taman Dewasa, ke Kelas dan Seminar Perekonomian dan Sosiologi oleh Drs. Moh. Hatta, Maruto Nitimihardjo, dan terakhir sekolah Stenografi.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Di masa muda Pram juga berjuang demi negara dan keluarganya. Ketika kondisi negara sedang dijajah, Pram mengikuti kelompok militer di Jawa dan di tempatkan di Jakarta pada akhir perang kemerdekaan. Hasil perjuangannya tersebut, ia ditahan oleh penjajah selama dua tahun.

  Perjuangan Pram di keluarga juga sangat berat. Ayahnya yang kecewa dengan gerakan nasionalis jatuh ke dalam dunia judi, sementara ibunya jatuh sakit. Keadaan ini memaksa Pram mencari nafkah untuk menghidupi keluarga dan kedelapan adiknya. Dia terpaksa naik sepeda ke Cepu untuk mencari dagangan rokok dan tembakau, berjualan benang tenun. Sesudah pulang, ia merawat ibunya yang sedang sakit.

  Pada akhirnya, nyawa ibunya tidak dapat ditolong. Ibunya meninggal dunia pada usia muda, yaitu sekitar 34 tahun, sementara dirinya saat itu masih berusia 17 tahun. Ujian hidupnya bertambah ketika adiknya Soesanti yang berumur 7 tujuh bulan tidak selang lama meninggal dunia. Pada saat usia itu, ia harus menanggung beban menghidupi adik-adiknya yang berjumlah tujuh orang.

  Akhirnya Pram dan keluarganya hijrah ke Jakarta. Di Jakarta, Pram sambil berusaha meneruskan sekolah, ia juga bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan adik-adiknya. Awalnya ia bekerja sebagai wartawan di kantor berita Jepang. Kemudian ia belajar mengetik cepat untuk menjadi stenograf, lantas menjadi jurnalis yang andal. Pram juga pernah bekerja di sebuah radio dan menerbitkan majalah berbahasa Indonesia sebelum ditahan oleh Belanda selama 2 sampai 3 tahun. Selain itu, Pram juga pernah bekerja pada The Voice of Free

  

Indonesia, di mana roman Di Tepi Kali Bekasi mulai disusun dan diterbitkan. Ia

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  juga mendapat order dari atasan untuk mencetak serta menyebarkan pamflet dan majalah perlawanan. Semua terjadi ketika Belanda melakukan Agresi Militer I, 21 Juli 1947. Dua hari kemudian ia tertangkap marinir Belanda dan dimasukkan ke dalam tahanan tangsi di Gunung Sahari dan tangsi polisi di Jagomonyet. Akhirnya dipenjara di Bukit Duri tanpa proses wajar dan selanjutnya di Pulau Edam.

  Untuk pertama kalinya, Pramoedya berkenalan dengan sisi gelap kekuasaan: penjara. Di sini ia mendapat banyak pengalaman hidup dari sesama kawan di penajra. Selama dalam penjara, ia melakukan refleksi, membuat karya- karya sastra, belajar bahasa asing Inggris, Belanda, Jerman, dan ia belajar filsafat, ekomomi, dan sosiologi. Tanggal 3 Desember 1949, Pram dibebaskan dari penjara.

  Pindah ke kisah asmara Pram. Pram menikah sebanyak dua kali. Pernikahan pertama Pram gagal karena pekerjaan untuk menghidupi sebuah keluarga dari menulis tidak dapat diandalkan dan ia diusir dari rumah mertuanya.

  Selain itu, Pram juga masih membiayai adik-adiknya. Istri keduanya bernama Maemunah. Konon ceritanya, Pram pernah bersaing dengan Soekarno untuk memperebutkan hati Maemunah. Dan akhirnya, Maemunah memilih Pram yang menjadi istrinya sampai akhir hayat.

  Karier dan karya Pram terus meningkat. Dibuktikan pada awal tahun 1950- an, Pram melawat ke Belanda dan tinggal di sana selama beberapa tahun sebagai bagain dari program pertukaran budaya. Setelah pulang dari Belanda, Pram masuk ke dalam organisasi sastra sayap kiri LEKRA (Lembaga Kesenian Rakyat). Selain itu banyak karya sastra yang ia hasilkan.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Sejak kepergiannya ke Uni Soviet dan ia menjadi anggota pimpinan pleno LEKRA tulisan-tulisan Pram, terutama nonfiksi, makin menyiratkan pemikirannya yang sehaluan dengan ideologi politik Lekra yaitu realisme sosialis yang mengakarkan kreativitas pada kenyataan. Pram mendasarkan kenyataan pada sejarah yang berpihak pada rakyat kecil. Perjuangan Pramoedya Ananta Toer terhadap orang-orang tertindas kembali dibuktikan melalui karyanya yang

  

Hoakiau Indonesia. Ini adalah sebuah karya sebagai bentuk simpati Pram terhadap

  etnis minoritas Cina yang tertindas oleh bangsa Indonesia. Tahun 1960, karena terbitnya buku Hoakiau di Indonesia, Pram kembali berteman dengan penjara.

  Tahun 1962-1965, Pram menjadi pengajar Fakultas Sastra Indonesia Res Publica atas permintaan Profesor Tjan Tjun Sin. Pram kembali mendapat kehormatan menjadi pengajar di Akademi Jurnalistik Dr. Abdul Rivai tahun 1964- 1965.

  Untuk kesekian kalinya Pramoedya merasakan tidur di dalam penjara. Pada masa orde baru, Pram dipenjara selama 14-15 tahun. Selama di penjara Pram menghasilkan banyak karya. Tidak sedikit karyanya yang disita, dirampas, dan dilarang. Di sinilah karya Pram sebagai karya sastra progesif, membela kepentingan rakyat, dan melawan penguasa zalim.

  Di dalam penjara Pram kembali menunjukkan jika ia tidak dapat ditekan. Justru di dalam penjara, Pram semakin produktif berkarya dan menghasilkan karya yang masterpiece. Ia menghasilkan bukan saja tritalogi melainkan tetralogi empat karya yaitu Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan

  

Rumah Kaca. Kemudian Arus Balik, Arok Dedes, dan Sang Pemula. Menariknya,

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  semua karya tersebut tidak terbit dan dilarang oleh pihak penguasa dengan alasan dikaitkan dengan peristiwa G 30 S 1965. Pada masa pemerintahan orde baru inilah perhatian dunia internasional menguat.

  Tahun 1979, Pram resmi dibebaskan dari penjara tetapi ia masih kena tahanan rumah sampai tahun 1992. Setelah dibebaskan dari tahahan rumah, ia masih menjadi tahanan kota dan tahanan negara sampai tahun 1999. Selain itu ia masih dikenakan wajib lapor satu kali seminggu ke Kodim Jakarta Timur selama 2 tahun.

  Selama orde baru, semua buku dan karyanya diluncurkan, dilarang beredar, dan menjadi barang haram. Tidak heran jika kemudian Pram semasa hidupnya merasa paling kesepian dan dikelilingi musuh bukan saja dari kalangan pemerintah, militer, tetapi juga dari sastrawan dan masyarakat. Selama masa orde baru pula inilah nama Pram di luar negeri begitu harum, namun di dalam negerinya dikucilkan. Nama Pram juga sering dicalonkan menjadi kandidit terkuat mendapat hadiah nobel sastra. Walaupun pada akhirnya ia tidak pernah menadapat nobel sastra hingga akhir hayatnya. Pram sendiri mengatakan bahwa ia berkarya bukan untuk mendapatkan penghargaan nobel, melainkan untuk kemanusiaan.

  Pada era Soekarno, Pram mendapat tiga kali penghargaan dari negaranya dan pada era Soeharto, Pram mendapat 11 penghargaan dan semuanya dari luar negeri. Pada tahun 2000-an buku-buku Pram mulai banyak beredar di pasaran.

  Pada masa akhirnya, Pram memang tidak produktif lagi menulis seperti pada masa mudanya. Selain karena secara fisik mulai menurun, pendengarannya

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  kurang akibat kekerasan militer, Pram lebih banyak menjadi pembicara di kampus dan seminar baik di tingkat nasional dan internasional.

  Pada akhirnya, setelah sekian lama hidup dan berjuang, Pram menghembuskan nafas terakhirnya pada 30 April 2006 pukul 08.55 WIB karena sakit. Pramoedya Ananta Toer wafat dalam usia 81 tahun dan meningalkan seorang istri, delapan anak, dan lima belas cucu. Meskipun raganya telah tiada, Pram meninggalkan warisan kepada seluruh umat manusia. Warisan itu adalah perjuangan akan nilai-nilai kemanusian tanpa pernah lelah dan terus bergerak.

  (Riffai, 2010: 34-79).

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

BAB I TUMAPEL No. Data Konteks Gaya Bahasa Daya Bahasa

  Apostrof Nasihat

  informasi

  ‘Jelas’

  Ken Dedes terkenang pada ayahnya. Zeugma

  menjadi brahmani, ia tahu Tunggul Ametung hanya seorang penjahat dan pendekar yang diangkat untuk jabatan itu oleh Sri Kretajaya untuk menjamin arus upeti ke Kediri. (3)

  6 Dan sebagai gadis yang terdidik untuk

  informasi

  ‘Jelas’

  Perifrasis

  Ken Dedes tidak berbicara selama empat puluh hari setelah ia diculik dan dibawa ke pekuwuan.

  dalam empatpuluh hari ini. (3)

  5 Dedes masih juga belum membuka mulut

  153

  1 Tubuhnya dibopong diturunkan dari kuda,

  “Jangan menangis. Berterima kasihlah kepada para dewa. …” (2)

  4

  Hiperbola Puji

  Dituturkan oleh Gede Mirah ketika ia sedang merias Ken Dedes.

  “Perawan terayu di seluruh negeri,” bisik Gede Mirah. (2)

  3

  Ken Dedes berada di dalam bilik besar. Eufemisme ‘Jelas’ informasi

  tempat membuang kotoran dan makanan. (1)

  2 Gede Mirah menyediakan untuknya air,

  Informasi

  ‘Jelas’

  Ken Dedes sadar dari pingsan. Klimaks

  dibawa masuk ke ruangan besar ini juga. (1)

  Dituturkan oleh Gede Mirah ketika itu ia sedang merias, mengagumi kecantikan Ken Dedes, dan memberinya nasihat. Saat itu Ken Dedes tertekan dengan pernikahannya dan tidak menyetujui pernikahannya dengan Tunggul Ametung.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  7 Dua puluh tahun sebagai Tunggul Ametung Ken Dedes terkenang pada ayahnya. Asidenton

  ‘Jelas’ pekerjaan pokoknya adalah melakukan

  informasi

  perampasan terhadap semua yang terbaik milik rakyat Tumapel: kuda terbaik, burung terbaik, perawan tercantik. (3)

  8 Dada telanjangnya mulai ditutup dengan Ken Dedes sedang dirias oleh Gede Simile Rangsang sutera terawang tenunan Mesir tipis laksana Mirah.

  selaput kabut menyapu gunung kembar. (3)

  9 Dituturkan oleh Tunggul Ametung ketika Asidenton Simbol

  “Mari, Dara,” katanya lagi dan dipimpinnya Dedes sang cantik, sang ayu, sang segala akan meninggalkan bilik bersama Ken pujian itu hendak meninggalkan bilik. (4) Dedes.

  10 Kini gedung-gedung bermunculan seperti Keadaan Tumapel yang dipimpin oleh Simile

  ‘Jelas’ dari perut bumi. (4) Tunggul Ametung selama dua puluh informasi tahun.

  11 Dua orang pengawal, mendengar gerincing Prosesi perarakan iringan pengantin. Asonansi Rangsang

  giring-giring, ...(4)

  12 Dua orang pengawal, mendengar gerincing Prosesi perarakan iringan pengantin. Klimaks

  ‘Jelas’ giring-giring, membuka tabir berat dan

  informasi

  potongan ranting bambu petung, menghentakkan pangkal tangkai tombak sebagai penghormatan, membungkuk tanpa memandang pada Dedes. (4)

  13 Kulit tubuhnya yang dimangir kuning muncul Menceritakan kecantikan Ken Dedes Simile Rangsang dari balik terawang sutera Mesir dengan ketika diarak dalam iringan pengantin.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  sepasang buah dada seperti hendak bertanding dengan matari. (5)

  14 Semua berkilat-kilat memuntahkan pantulan Mendeskripsikan pakaian Belakangka Personifikasi Simbol

  api dari dalamnya. (5) yang mengenakan jubah hitam, berkalung

  lempengan emas dengan lambang Hyang Wisynu, dan diberati patung garuda dari emas.

  15 Iringan itu berjalan selangkah dan selangkah Rombongan pengantin wanita keluar dari Simile Seremoni seperti takut bumi jadi rengkah terinjak. (5) keputrian menuju ke pendopo istana.

  16 Sangkakala berhenti berseru-seru. Akuwu Pengantin wanita tiba di pendopo. Klimaks Seremoni

  Tumapel turun dan pendopo menyambut pengantinnya, menggandengnya. (5)

  17 Janur kuning dan daun beringin menyambut Rombongan pengantin baru menuju ke Personifikasi Simbol kedatangan mereka. (6) alun-alun.

  18 Berpuluh pandita dan seluruh negeri Seluruh pandita dari Tumapel datang dari Antiklimaks Seremoni

  Tumapel, yang didatangkan dari kota dan berbagai penjuru Tumapel sambil desa dan diturunkan dari gunung-gunung membawa umbul-umbul, semuanya Arjuna, Welirang, Kawi dan Hanung, berjumlah empat puluh. berbaris seorang-seorang dengan jubah aneka warna dan destar sesuai dengan warna jubahnya. (6)

  19 Semua berjumlah empatpuluh, empatpuluh Seluruh pandita dari Tumapel datang dari Epizeukis Seremoni

  pandita, empatpuluh hari pengantin telah berbagai penjuru Tumapel sambil

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  mematuhi wadad perkawinan agung tatacara membawa umbul-umbul, semuanya para raja dari jauh di masa silam yang berjumlah empat puluh. sudah tak dapat diingat lagi kapan. (7)

  20 Tunggul Ametung berdiri, menggandeng Rombongan pengantin tiba di depan Klimaks Seremoni pengantinnya, dan memimpinnya berlutut, panggung.

  kemudian mengangkat sembah. (7)

  21

  “Dewa Sang Akuwu sekarang juga Dituturkan oleh Yang Suci Belakangka Epanalepsis Deklarasi ketika memimpin upacara pernikahan. dewamu.” (8)

  22 Angin pancaroba meniup keras, berpusing di Suasana di alun-alun ketika Yang Suci Personifikasi ‘Jelas’

  tengah lapangan, membawa debu, Belakangka memimpin upacara. informasi membumbung tinggi, kemudian membuyar, melarut, dalam udara sore. (8)

  23 Angin pancaroba meniup keras, berpusing di Suasana di alun-alun ketika Yang Suci Klimaks ‘Jelas’

  tengah lapangan, membawa debu, Belakangka memimpin upacara informasi membumbung tinggi, kemudian membuyar, melarut, dalam udara sore. (8)

  24 Dituturkan oleh Tunggul Ametung di Apostrof Dogma

  “Demi Hyang Wisynu, pada hari penutupan brahmacarya ini, kami umumkan pada semua hadapan seluruh rakyatnya. yang mendengar, pengantin kami ini, Dedes, kami angkat jadi Paramesywari, untuk menurunkan anak yang kelak menggantikan kami.” (9)

  25 Dedes tak juga bangkit dan berlutut. Kembali Setelah Ken Dedes mencuci kaki Tunggul Klimaks Seremoni Yang Suci juga yang memimpinnya berdiri, Ametung.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  membisikkan pada ubun-ubunnya, memberkahinya dengan restu kebahagiaan serta seorang putra calon pemangku Tumapel hendaknya segera dilahirkannya. (10)

  26 Tapi dalam hatinya masih juga mengucur Ken Dedes berlutut di dalam Bilik Agung Hiperbola

  ‘Jelas’ tiada henti. (10) menghadapi peraduan.

  informasi

  27 Ken Dedes teringat dulu ayahnya Alegori

  (1) “Pada suatu kali di tahun 1107 Saka Sri ‘Jelas’

  Ratu Srengga Jayabasa dari Kediri mangkat. menceritakan suatu cerita pokok tentang informasi Pertentangan dalam istana siapa yang harus perkawinan antara wanita kasta brahmana dinobatkan. Raden Dandang Gendis dengan seorang pria kasta satria dalam melarikan diri dari istana ke Gunung Wilis. suatu pelajaran tentang tata tertib

  triwangsa.

  … Di istana Amisani, si anak desa, tidak disukai oleh para putri istana. Orang pun memasang racun untuk membunuhnya.

  Amisani akhirnya mati termakan racun itu.

  .... ” (12)

  29 Ia mengerti di Tumapel tersedia banyak Ken Dedes terbangun dari renungannya Hiperbola ‘Jelas’

  racun untuk melenyapkannya dari muka dan menyadari sedang mengulangi kisah informasi bumi. (13) hidup Dewi Amisani.

  30 Hatinya sendiri semakin sempit terhimpit. Suasana hati Ken Dedes semakin tak Hiperbola ‘Jelas’

  (13) menentu.

  informasi

  31 Dituturkan oleh Ken Dedes kepada Apostrof Puji

  “... Agunglah kau, puncak Triwangsa, kaum brahmana. Agunglah Hyang Mahadewa dirinya sendiri. Ia berjanji dalam hati

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  ”Keayuan yang keramat ini para dewa semoga takkan merusaknya. Jangan jadi susut keayuan ini.” (16)

  Simile Rangsang

  Ketika mendengar denting binggal bersentuhan tak wajar, Gede Mirah masuk ke peraduan dan membantu melepas

  membuka ikat pinggang emas Ken Dedes, meletakkan dengan rapi pada bagian kaki

  37 Tanpa menunggu perintah Gede Mirah

  Apostrof Deklarasi

  Pujian yang dituturkan oleh Tunggul Ametung Ken Dedes kepada yang memuji kecantikan Ken Dedes saat di dalam peraduan, meluluhkan hati Ken Dedes, serta pemberian gelar Ken.

  “Dengar, Dedes, aku panggilkan keabadian untuk kecantikanmu demi Wisynu Sang Pemelihara aku patriakan keayuanmu dalam keabadian dalam sebutan Ken.” (16)

  36

  Apostrof Harap

  Pujian yang dituturkan oleh Tunggul Ametung Ken Dedes kepada yang memuji kecantikan Ken Dedes saat di dalam peraduan, meluluhkan hati Ken Dedes, serta pemberian gelar Ken.

  Syiwa!”(13)

  untuk menebus kesalahannya pada ayahnya.

  Apostrof Dogma

  Dituturkan oleh Belakangka kepada Ametung ketika itu memasuki upacara menaiki peraduan pengantin yang dipimpin oleh Yang Suci Belakangka.

  “… Para dewa membenarkan. ...” (14)

  34

  Ketidakberdayaan Ken Dedes. Epistofora ‘Jelas’ informasi

  mampu. (13)

  33 Melawan ia tak mampu. Lari ia pun tak

  Pemaparan sifat Tunggul Ametung. Asidenton ‘Jelas’ informasi

  yang tahu memaksa, merusak, memerintah, membinasakan, merampas. (13)

  32 Dan Tunggul Ametung hanya seorang jantan

  35

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  dingin pancaroba. (17)

  Asidenton ‘Jelas’ informasi

  Tersebarnya berita hebat di seluruh Kutaraja tentang Borang.

  pemuda berperawakan kukuh, berani atau nekad, tanpa kegentaran. (17)

  43 Berita itu adalah tentang Borang, seorang

  informasi

  ‘Jelas’

  Erotesis

  Barang siapa pada malam itu belum tidur, dia bertanya-tanya, apa sebabnya perkawinan itu dirahasiakan dan mengapa Tunggul Ametung justru hanya mengambil gadis desa.

  cantik yang patut diparamesywarikan? (17)

  42 Bukankah di Kutaraja sendiri banyak gadis

  Personifikasi ‘Jelas’ informasi

  Menggambarkan suasana ibukota Tumapel saat musim pancaroba.

  peraduan, kemudian menarik tali pinggang, lolos semua pakaian pengantin itu, telanjang bulat seperti boneka. (16) pakaian Ken Dedes.

  38 Ken Dedes menutup matanya dengan tangan

  Simile Rangsang

  Tunggul Ametung memperhatikan tubuh indah Ken Dedes.

  istrinya yang indah telentang seperti kala dilahirkan. (17)

  40 Tunggul Ametung memperhatikan tubuh

  Apostrof Harap

  Dituturkan Gede Mirah dengan berbisik ketika memindahkan tangan penutup mata itu ke samping dan memperbaiki rias, mengeringkan air mata Ken Dedes.

  “Bila Hyang Surya besok mengirimkan restunya, tubuh dan jiwa pengantin ini sudah jadi sepenuh wanita.”(16)

  39

  informasi

  ‘Jelas’

  Simile

  Ken Dedes berada di peraduan dengan keadaan telanjang.

  dan menangis tersenggal-senggal, laksana boneka emas di atas lembaran perak. (16)

  41 Kutaraja, ibukota Tumapel, tenggelam dalam

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Sinekdok Keluh

  Personifikasi ‘Jelas’ informasi

  Suasana di tengah tanah lapang Bantar saat Borang dan penduduk berkumpul.

  tanpa mengindahkan puncak pepohonan yang membangkang. (19)

  50 Angin pancaroba yang dingin itu meniup

  Apostrof Klaim

  Dituturkan oleh Borang kepada seluruh penduduk desa Bantar dan mengumpulkan mereka ke tengah lapangan Bantar.

  “Dengan segala yang diambil dari kalian Akuwu Tumapel mendapat biaya untuk bercumbu dengan perawan-perawan kalian sampai lupa pada Hyang Wisynu.” (19)

  49

  Antitesis Klaim

  Dituturkan oleh Borang kepada seluruh penduduk desa Bantar dan mengumpulkan mereka ke tengah lapangan Bantar.

  “Kekuasaan Akuwu Tumapel yang diberkahi oleh Hyang Wisynu telah membikin kalian mengidap kemiskinan tidak terkira.” (19)

  48

  44

  “Apakah kalian kurang menyembah dan berkorban pada Hyang Wisynu, maka kurang keberanian dalam hati kali an?” (18)

  ” Tumapel terus-menerus menyalahkan kami.” (19)

  47

  Apostrof Protes

  Dituturkan oleh salah satu penduduk Bantar kepada Borang ketika mengumpulkan mereka ke tengah lapangan Bantar.

  ”Barangkali kau hanya seorang pemuja Hyang Syiwa, Borang.” (19)

  46

  Apostrof Dogma

  Dituturkan oleh Borang kepada seluruh penduduk desa Bantar dan mengumpulkan mereka ke tengah lapangan Bantar.

  “Pemujaan dan korban kalian tiada arti bila kalian tak dapatkan keberanian itu dari Hyang Wisynu.” (19)

  45

  Apostrof Keluh

  Dituturkan oleh Borang kepada seluruh penduduk desa Bantar dan mengumpulkan mereka ke tengah lapangan Bantar.

  Dituturkan oleh salah satu penduduk Bantar kepada Borang ketika mengumpulkan mereka ke tengah lapangan Bantar.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Sinisme Cemooh

  Apostrof Perintah

  ”… Demi Hyang Wisynu, angkut semua upeti Dituturkan oleh Borang kepada seluruh

  57

  Apostrof Nasihat

  Adu mulut antara Borang dan Si tinggi- besar semakin memanas. Borang menyuruh penduduk desa untuk mengangkut semua upeti ke Kediri.

  “ Dengarkan bisikan Hyang Syiwa.” (22)

  56

  Apostrof Magi

  Dituturkan oleh Borang kepada seluruh penduduk desa Bantar ketika mengumpulkan mereka ke tengah lapangan Bantar.

  Dari Hyang Wisynu aku tahu, kalian akan l akukan itu dengan patuh.” (21)

  ”Setidak-tidaknya dari Hyang Bathara Guru aku tahu, dua hari lagi kalian akan mendapat perintah untuk mengangkut upeti ke Kediri.

  55

  51

  “… Maka itu, dengar, hanya mereka yang tidak mengenal Hyang Mahadewa Syiwa selalu dalam cengkeraman kebodohan dan ketidaktahuan. …” (20)

  “Masih bocah tahu apa kau tentang urusan dewa?” (21)

  54

  Apostrof Dogma

  Dituturkan oleh Borang kepada seluruh penduduk desa Bantar dan mengumpulkan mereka ke tengah lapangan Bantar.

  (21)

  ”Tidak. Kalian membutuhkan pancaran Hyang Mahadewa u ntuk dapat mengerti…”

  53

  Apostrof Puji

  Dituturkan oleh Borang kepada seluruh penduduk desa Bantar dan mengumpulkan mereka ke tengah lapangan Bantar.

  Hyang Mahadewa, juga Hyang Bathara Guru, Maha Pencipta. …”(20)

  52 “… Hyang Bathara Guru tahu segalanya.

  Apostrof Dogma

  Dituturkan oleh Borang kepada seluruh penduduk desa Bantar dan mengumpulkan mereka ke tengah lapangan Bantar.

  Dituturkan oleh salah satu penduduk Bantar kepada Borang ketika mengumpulkan mereka ke tengah lapangan Bantar.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  penduduk desa Bantar dan mengumpulkan

  ke Kediri. ...” (22) mereka ke tengah lapangan Bantar.

  58 Dituturkan oleh Borang kepada seluruh Apostrof Ancam

  “…Demi Hyang Durga, hancur kau bila tak

  penduduk desa Bantar dan mengumpulkan

  mundur lima langkah …. Hancur kalian, bukan karena narapraja Tumapel, tapi demi mereka ke tengah lapangan Bantar.

  Hyang Durga sendiri

  ” (22)

  59

  

“Kalian penyembah Hyang Wisynu yang Dituturkan oleh Borang kepada seluruh Apostrof Klaim

kurang baik. Kesetiaan telah kalian penduduk desa Bantar dan mengumpulkan persembahkan pada Tunggul Ametung, mereka ke tengah lapangan Bantar. bukan pada Hyang Wisynu. Yang kalian sembah bukan dewa cinta-kasih, bukan Sri Dewi, bukan Hyang Wisynu, tapi gandarwa ketakutan…” (23)

  60 Matanya menyala seperti menyemburkan api Seorang kakek yang telah bongkok dan Simile

  ‘Jelas’ menandingi unggun. (24) bertongkat meminta Borang untuk informasi menunjukkan dirinya.

  61 Waktu Gede Mirah memasuki Bilik Agung, Setelah darah perawan Ken Dedes Klimaks

  ‘Jelas’ Akuwu dan Ken Dedes sudah tiada. Kapas menetes pada lembaran kapas. informasi itu digulungnya setelah ditaburinya dengan daun bunga, diletakkan di atas talam, dan dengan iringan Rimang dibawa pergi ke Bilik Larangan untuk disimpan. (25)

  62 Waktu Hyang Surya terbit, Yang Suci Yang Suci mengumumkan jika Ken Dedes Eponim

  ‘Jelas’ Belakangka di pendopo mengumumkan pada adalah seorang perawan suci dan informasi

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Dituturkan oleh teman Oti ketika berbincang tentang darah perawan Ken Dedes.

  informasi

  ‘Jelas’

  Personifikasi

  Semua pekerja dapur keluar untuk menyaksikan pengantin baru penguasa Tumapel.

  Puncak pegunungan di kejauhan pun mulai berjengukan berebut dulu untuk melihat

  67 Semua pekerja dapur keluar, bermandi sinar matari pagi yang sedang mengusir kabut.

  Hiperbola Puji

  Pujian yang diberikan kepada Lurah dapur, Sina ketika Oti dan temannya meninta izin untuk melihat Ken Dedes.

  “Tak ada yang lebih ayu daripada Ken Dedes. …” (28)

  66

  Apostrof Nasihat

  sekalian pembesar pekuwuan, bahwa Ken Dedes adalah seorang perawan suci yang mematuhi ajaran nenek moyang, para dewa, dan para guru. (25)

  mengirimkan berita ke seluruh Kutaraja agar bersama memanjatkan terima kasih dan puja.

  65

  informasi

  ‘Jelas’

  Simile

  Menceritakan kisah hidup Oti sebelum sampai di pekuwuan. Dahulu Oti seorang budak yang diperjual-belikan.

  dengan terlalu banyak bapak, pernah seorang wanita senasib sependeritaan mengatakan kepadanya, juga para leluhur tidak; kalau tidak, anak dengan terlalu banyak bapak akan lahir seperti lipan, dengan kaki seratus. (27)

  64 Para dewa tak membenarkan lahirnya bocah

  Sinisme Cemooh

  Dituturkan oleh teman Oti ketika berbincang tentang darah perawan Ken Dedes.

  “Tentu, karena kau sendiri tak pernah suci sejak bayi.” (26)

  63

  “Kau perlu pengampunan, Oti, demi Hyang Wisynu,” bisik temannya. (27)

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Oti teringat beberapa tahun yang lalu ia belajar membaca rontal Arjuna Wiwaha karya Mpu Parwa dari temannya si Polang.

  Erotesis ‘Jelas’ informasi

  Setelah menyaksikan Tunggul Ametung dan Ken Dedes, tiba-tiba Oti merindukan sesuatu.

  Mungkinkah itu? Maukah dan mampukah

  73 Ia akan nyanyikan untuknya lagu-lagu dan kampungnya dulu di muara sungai.

  informasi

  ‘Jelas’

  Anafora

  Setelah menyaksikan Tunggul Ametung dan Ken Dedes, tiba-tiba Oti merindukan sesuatu.

  pembelahan batu. Ia merindukan salah seorang di antara mereka bakal melamarnya. Ia merindukan seorang bayi yang dapat digendong dan ditimangnya. (32)

  72 Ia merindukan karang batu bata dan di

  Anafora ‘Jelas’ informasi

  pengantin yang baru keluar dari pura. (29)

  68 Mereka berjalan lambat seakan takut

  71 Ia mengherani adanya raksasa dan ia tak

  Simile ‘Jelas’ informasi

  Ketika Oti menyaksikan pengantin baru itu keluar dari pura, ia memiliki pendapat sendiri mengenai Tunggul Ametung dan Ken Dedes.

  mengangkat dagu seperti sedang memimpin perang. (30)

  70 Dedes menunduk sedang Tunggul Ametung

  Antitesis ‘Jelas’ informasi

  Ketika Oti menyaksikan pengantin baru itu keluar dari pura, ia memiliki pendapat sendiri mengenai Tunggul Ametung dan Ken Dedes.

  kesuraman yang meliputi wajah Ken Dedes dan kebahagiaan yang terpancar pada mata Sang Akuwu. (29)

  69 Dari bawah keningnya Oti dapat melihat

  Simile Seremoni

  Menceritakan Tunggul Ametung dan Ken Dedes sebagai pengantin baru keluar dari pura.

  membangunkan cengkerik tidur. (29)

  dapat membayangkannya. Ia mengherani adanya satria yang mendapatkan kelebihan- kelebihan dan para dewa. (31)

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  orang itu menebusnya dan pekuwuan ini sedang mereka tak mampu menebus dirinya sendiri? (32)

  74 Badan mereka kukuh seperti lelaki, mengkilat Menggambarkan para budak wanita yang Simile

  ‘Jelas’ karena panas dan keringat. (32) memikul belanga berisi air panas. informasi

  75 Jalur merah segera melintang pada Tapas di kepala Oti jatuh tepat di bawah Metafora Rangsang

  mukanya. (33) kaki Lurah Sina dan pukulan rotan menghantam pipinya.

  76 Lurah Sina duduk lagi di ambin, membantu Setelah memukul Oti, Lurah Sina Simile ‘Jelas’

  merajang bawang merah, seakan tiada melanjutkan pekerjaannya. informasi terjadi suatu atas diri siapa pun. (33)

  77 Seperti kaum brahmana lain selama duaratus Arya Artya sedang duduk merenung di Simile

  ‘Jelas’ tahun belakangan ini ia pun menyesali tepian kolam pemandian. informasi Erlangga, orang yang serba bisa itu juga bisa membikin terdesaknya kaum brahmana. (34)

  78 Untuk mengambil hati kaum brahmana Sri Ketika sedang duduk di pinggir kolam Metafora

  ‘Jelas’ Baginda Kretajaya menghidupkan kembali pemandian, Arya Artya ingat zaman informasi perbudakan untuk merawat bangunan- pemerintahan Erlangga. bangunan suci. (34)

  79 Dituturkan oleh Arya Artya yang Sarkasme Cemooh

  “Sekumpulan orang bermuka dua,” sebut Arya Artya. (35) mengumpat karena tidak suka kepada

  pemerintahan Sri Baginda Kretajaya dan wakil Tumapel Yang Suci Belakangka.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  83

  informasi

  ‘Jelas’

  Ketika Arya Artya sampai di rumah, ia bertanya pada dirinya sendiri untuk Erotesis

  jadi pandita negeri, seorang brahmana

  85 Jadi apakah aku ini, yang bernafsu untuk

  informasi

  ‘Jelas’

  Setelah Arya Artya selesai merenung. Klimaks

  renang dalam air hangat itu, mondar-mandir beberapa kali, kembali duduk di atas batu di pinggir kolam dan menggosok badan. Turun lagi ke air kemudian ia berendam. (39)

  84 Ia turun ke pemandian dan mulai berenang-

  Apostrof Ancam

  Dituturkan oleh Arya Arta karena tidak dapat menanggung cemburunya kepada Wangsa Erlangga yang tidak mengindahkan Syiwa.

  “Kalau aku tak berhasil menundukkan cakrawati Hyang Syiwa di Tumapel, terkutuklah kalian Wangsa Erlangga! Terkutuk! Juga seluruh adipati, bupati, dan akuwunya! Terkutuk!” (39)

  80 Orang sebodoh itu, tapi gesit, tangkas, dan

  cerdik seperti tikus pada umumnya. (36)

  Arya Artya teringat saat ikut rombongan pengiring Tunggul Ametung ke candi Belahan. Ia tidak dapat menghapus gambar Erlangga sebagai dewa Wisynu dan ia membandingkan dengan dirinya.

  seperti dirinya, bukan hidung warisan Hindu, hanya warisan sudra terkutuk. (38)

  82 Dan patung potret itu tidak berhidung bangir

  informasi

  ‘Jelas’

  Personifikasi

  Arya Artya berusaha memusatkan pikiran dan berjalan mengelilingi kolam pemandian.

  pancuran yang tak henti-hentinya memuntahkan air segar, tepat seperti pancuran candi Belahan. (36)

  81 Sebentar ia berhenti mengawasi bambu

  informasi

  ‘Jelas’

  Simile

  Arya Artya sudah tak punya jalan lagi untuk bercengkerama dengan penguasa Tumapel.

  Simile Simbol

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Metafora

  Apostrof Ancam

  Dituturkan oleh brahmana dari utara yang memberi peringatan kepada rombongan prajurit Tunggul Ametung.

  “... Dengarkan nasehatku sebelum murka Hyang Mahadewa jatuh di atas kepalamu.” (45)

  90

  Apostrof Ancam

  Dituturkan oleh sosok berkumis sekepal, berdesar dan berpenutup dada hitam yang mengaku sebagai brahmana dari utara yang memberi peringatan kepada rombongan prajurit Tunggul Ametung.

  “... Sekali aku angkat kilat Sang Mahakala akan sambar kalian dengan seratus limapuluh mata tombak.” (45)

  89

  informasi

  ‘Jelas’

  pemuja Sang Hyang Mahadewa Syiwa, yang gagal melaksanakan keinginan untuk jadi pandita akuwu Wisynu? Sudah sedemikian hinakah arya Hindu di bawah Wisynu Jawa ini? (39) kesekian kalinya.

  86

  kedudukannya dan bagaimana ia mengadu- domba antara gerombolan pemuda yang satu dengan yang lain. (41)

  88 Soalnya bagaimana cara ia mempertahankan

  informasi

  ‘Jelas’

  Perifrasis

  Cara yang digunakan oleh Tunggul Ametung untuk mendapatkan kedudukan di Tumapel.

  yang demikian juga. (41)

  87 Ia sendiri meningkat ke atas melalui cara

  Sarkasme Cemooh

  Dituturkan oleh Tunggul Ametung ketika memerintahkan kepada pasukannya untuk menangkap perusuh setelah mendapat laporan dari salah seorang kepala desa.

  “Siapkan pasukan kuda, aku sendiri yang akan tangkap bajingan muda itu.” (41)

  Cara yang digunakan oleh Tunggul Ametung untuk mendapatkan kedudukan di Tumapel.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  91 Ia turunkan lengannya, memalingkan muka, Rombongan pasukan Tunggul Ametung Klimaks

  ‘Jelas’ menarik kendali kuda dan berjalan lambat- meninggalkan lereng terjal. informasi lambat meninggalkan tempat itu. (46)

  92 Dituturkan oleh Arya Artya ketika Sarkasme Provokasi

  “Tak ada brahmana seperti itu. Dia hanya penipu, Yang Mulia, sepatutnya dihancurkan Tunggul Ametung meminta keterangan tentang Brahmana dari utara itu. badannya dengan garukan kerang.” (47)

  93

  “Patut disobek-sobek kulitnya diumpankan Dituturkan oleh Arya Artya ketika Sarkasme Provokasi pada anjing hutan, peni Tunggul Ametung meminta keterangan pu itu,” Arya Artya membenarkan. (48) tentang Brahmana dari utara itu.

  94 Ia berjalan dan berjalan memunggungi Perjalanan Oti menuju ke tempat Epizeukis ‘Jelas’

  Gunung Arjuna, Welirang dan Hanung. (49) perbudakan pendulangan emas kali Kanta. informasi

  95 Pada apa pun pendengaran dipusatkan, yang Perjalanan Oti menuju ke tempat Personifikasi Rangsang terdengar hanya desing margasatwa dan perbudakan pendulangan emas kali Kanta.

  dengung bersahut-sahutan mengagungkan kebesaran hidup. (49)

  96 Jalan negeri telah ditinggalkan, membelok ke Perjalanan Oti menuju ke tempat Personifikasi

  ‘Jelas’ kanan, memasuki jalanan hutan lebar sedepa perbudakan pendulangan emas kali Kanta. informasi hampir seluruhnya telah tertutup oleh rumput aneka jenis, berebut hijau. Hanya bagian yang sering terinjak kaki nampak merana. (49)

  97 Di tepian sungai, di antara batu-batu Perjalanan Oti menuju ke tempat Simile ‘Jelas’

  gunung, hitam kelabu dalam segala bentuk perbudakan pendulangan emas kali Kanta. informasi dan besar, seperti cendawan, tersebar

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  gubuk-gubuk dedaunan. (49)

  98 Gercik dan desir air yang menerjangi batu Perjalanan Oti menuju ke tempat Personifikasi Rangsang terdengar menyanyi memanggil-manggil. perbudakan pendulangan emas kali Kanta.

  (50)

  99 Matanya tidak melihat pada emas itu, tapi Perjalanan Oti menuju ke tempat Personifikasi Rangsang pada gemerlap air yang bermain-main perbudakan pendulangan emas kali Kanta.

  dengan matari. (50)

  100 Pengawal itu menyerahkannya pada lurah Setibanya di kampung budak, pengawal Simile Rangsang

  pendulangan, seorang perempuan tua yang langsung menyerahkan kepada lurah telah kisut, dengan buah dada seperti pendulangan. kantong kempes tergeong-geong hampir pada pusar. (50)

  101 Seorang budak dengan bayi dalam selendang Setibanya Oti di tempat perbudakan Klimaks ‘Jelas’ sambil meneteki naik ke darat dengan pendulangan emas. informasi

  dulangnya, kemudian duduk di tanah, menyanyi sebentar, mengumpulkan dedaunan dan menidurkan anaknya di atasnya, di bawah sebatang pokok kayu. Ia turun lagi dan meneruskan pekerjaannya.

  102 Orang itu meletakkan baji baja dan penohok, Oti bertemu dengan seorang lelaki di Simile

  ‘Jelas’ memandanginya dengan mata berapi-api pendulangan emas.

  informasi

  seperti hendak menelan seluruh kehadirannya. (51)

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  103 Dan rambut itu sendiri jatuh terurai pada Oti bertemu dengan seorang lelaki di Simile

  ‘Jelas’ punggungnya yang lebar. Sekaligus ia pendulangan emas.

  informasi

  tertarik pada bahunya yang bidang dan tubuhnya yang tinggi besar seperti raksasa. (53)

  104 Dengan otot semacam ini duniapun dapat Oti bertemu dengan seorang lelaki di Hiperbola

  ‘Jelas’ dipanggulnya untuk hidupnya. (53) pendulangan emas.

  informasi 105

  Dituturkan oleh Mundra saat Oti Apostrof Keluh

  “Para dewa pun tak mampu beri aku

  menemuinya dan kaget setelah

  pengganti mata. …”(53) mengetahui lelaki muda itu bermata satu.

  Dan lelaki itu mengetahui sikap Oti yang terkejut. 106

  Dituturkan oleh Mundra saat Oti Simile Keluh

  “… Kau pandangi kakimu seperti kakimu be

  menemuinya dan kaget setelah

  rubah menjadi biji mata untukku?”(53) mengetahui lelaki muda itu bermata satu.

  Dan lelaki itu mengetahui sikap Oti yang terkejut. 107 Dan tubuh Oti gemetar mendengar suaranya, Tubuh Oti gemetar ketika berbincang Polisidenton

  ‘Jelas’ dan nandanya, dan keteguhannya, dan dengan Mundra.

  informasi

  kekerasan hatinya. (54)

  108 Kekasaran suaminya dirasainya seperti Oti dan Mundra sah menjadi suami istri. Simile

  ‘Jelas’ belaian kasih sayang. (57)

  informasi 109 Berbaris sekian banyak pria yang selama ini Oti masih heran karena mendapatkan Simile

  ‘Jelas’ pernah memperlakukannya seperti sebatang seorang suami.

  informasi

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  pisang, tanpa perlu mengajak bicara. (57)

  110 Suatu anggapan bahwa pria adalah makhluk Oti masih heran karena mendapatkan Hiperbola ‘Jelas’ paling menjijikkan di dunia ini, sekaligus seorang suami. informasi

  juga menakutkan, untuk waktu lama pernah membunuh impiannya tentang indahnya hubungan laki-laki dan perempuan. (57)

  111 Giginya kuning gading berkilat-kilat seperti Ketika oti bersama Mundra, ia melihat Simile ‘Jelas’ terbuat dari suasa. (58) laki-laki itu tersenyum. informasi

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

BAB II AROK No. Data Konteks Gaya Bahasa Daya Bahasa

  “… Apa yang kau perbuat di luar pengetahuanku selama ini keluar dari hati yang sakit ataukah hati yang dapat menampung karunia para dewa, ...”(61) Dituturkan oleh Lohgawe kepada Temu.

  Epizeukis Sesal

  Dituturkan Temu kepada Lohgawe ketika menjawab pertanyaan dari gurunya.

  “Ya, Bapa Mahaguru, sahaya telah menimbulkan prihatin Bapa mahaguru Lohgawe sesuatu yang semestinya tidak

  6

  Zeugma Keluh

  Saat itu juga Lohgawe hendak menyelesaikan semua perkaranya dengan Temu.

  “… Setelah ini aku tidak lagi mengharapkan kedatanganmu, sekalipun kau bebas datang dan pergi. ...” (61) Dituturkan oleh Lohgawe kepada Temu.

  5

  Apostrof Keluh

  Saat itu juga Lohgawe hendak menyelesaikan semua perkaranya dengan Temu.

  172

  1

  Asidenton Puji

  Dituturkan oleh Lohgawe kepada Temu ketika semua murid sedang berkumpul.

  “Sudah lama aku timbang-timbang. Kau seorang muda yang cerdas, giat, gesit, ingatanmu sangat baik, berani, tabah menghadapi segalanya.” (60)

  3

  Eponim Magi

  Dituturkan oleh salah seorang teman Temu yang memperingatkannya karena sudah lama tidak belajar.

  “… Biarpun ingatanmu mendapatkan pancaran dari Hyang Ganesya.”(60)

  2

  Sinisme Cemooh

  Dituturkan oleh salah seorang teman Temu yang memperingatkannya karena sudah lama tidak belajar.

  “… Mukamu sudah hitam biru begitu. Sudah lama kau tak belajar.(59)

  4

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  terjadi, dan tidak perlu terjadi.” (61)

7 Dituturkan oleh Lohgawe kepada semua Epizeukis Protes “Ada sebuah daerah luas di selatan Gresik.

  Seluas pandang ditebarkan, hanya sawah, muridnya dan menceritakan tentang sawah, dan sawah-sawah hanya untuk musim daerah di Gresik. kering seperti sekarang ini…”(61)

  8 Ia terdiam, menutup matanya seperti hendak Arok Simile ‘Jelas’

  memulai samadhi. (63)

  informasi

  9 Dituturkan oleh Temu kepada gurunya Sarkasme Cemooh

  “Di dekat Tunggul Ametung anjingpun takut

  karena ada larangan untuk membahas Sri

  menggonggong. …”(63) Baginda Kretajaya.

  10 Dituturkan oleh Temu kepada Lohgawe. Apostrof Dogma

  “Betul, ya, bapa, tidak percuma Hyang Ganesya menghias tangan yang satu dengan Temu mengagumi Hyang Ganesha. parasyu dan tangan lain dengan aksamala ketajaman dan irama hidup. ...” (63)

  11 Dituturkan oleh Temu kepada Lohgawe. Anadiplosis Klaim

  “... Tanpa keberanian hidup adalah tanpa irama. Hidup tanpa irama adalah samadhi Temu mengagumi Hyang Ganesha. tanpa pusat.

  …” (63)

  12 Dituturkan oleh Temu kepada gurunya. Apostrof Optimis

  “… Bapa Mahaguru Dang Hyang Lohgawe menimbang kami semua telah dewasa untuk Temu menyatakan dengan tegas bergabung dalam persekutuan para pendapatnya jika Lohgawe tidak suka brahmana, mendudukkan kembali Hyang kepada Sri Baginda Kretajaya apalagi Mahadewa Syiwa pada cakrawatinya. kepada Tunggul Ametung yang menindas

  …” (64) kaum brahmana.

  13 Silepsis Protes

  “…Sri Baginda Erlangga melecehkan Dikatakan oleh Temu kepada guru dan

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  ajaran, menjungkir-balikkan para dewa teman-temannya. Ia melengkapi apa yang Hindu yang kita semua puja, hormati, dan belum dikatakan Lohgawe tentang Sri takuti, kita semua harapkan karunianya dan Baginda Erlangga yaitu Sri Baginda melecehkan ajaran dan para dewa. takuti murkanya. …” (65)

  14 Dikatakan oleh Temu kepada guru dan Apostrof Magi

  ”… Diagungkannya Hyang Wisynu sebagai dewa tertinggi dewa kaum petani itu, Dewa teman-temannya. Ia melengkapi apa yang Pemelihara itu dan karena Hyang Wisynu belum dikatakan Lohgawe tentang Sri saja menitis pada manusia terbaik di seluruh Baginda Erlangga yaitu Sri Baginda negeri, manusia terbijaksana di jagad melecehkan ajaran dan para dewa. pramudita dan dengan demikian ia sendiri dapat menyatakan diri titisan Hyang Wisynu.

  15 Dikatakan oleh Temu kepada guru dan Apostrof Deklarasi

  “… Ya, Bapa Mahaguru, dengan demikian dia sendiri telah dapat mengangkat diri teman-temannya. Ia melengkapi apa yang sebagai seorang dewa dengan segala belum dikatakan Lohgawe tentang Sri kebesarannya, dan mengangkat nenek Baginda Erlangga yaitu Sri Baginda moyangnya yang disukainya, raja-raja melecehkan ajaran dan para dewa. terdahulu, juga sebagai dewa dengan nama- nama Hindu.” (65)

  16

  

“Bapa Mahaguru menghormati Sri Erlangga Dituturkan oleh Temu ketika membahas Oksimoron Protes

sebagai pembangun agung bagi kemakmuran Sri Baginda Erlangga. dan kesejahteraan negeri dan kawula, tetapi dirugikannya kaum brahmana…” (66)

  17 Dituturkan oleh Temu ketika membahas Klimaks Protes

  “… Juga sahaya tidak patut membisukan suatu hal: para brahmana siapa saja yang Sri Baginda Erlangga.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  pernah saya temui, hanya mengecam- ngecam, menyumpahi, dan mengutuk. Tak seorangpun berniat menghadap Sri Baginda Kretajaya untuk mempersembahkan pendapatnya.

  ...” (66)

  18 Dituturkan oleh Temu ketika membahas Epizeukis Klaim

  “... Kaum brahmana itu sendiri sebenarnya tak punya keberanian, mereka ketakutan, Sri Baginda Erlangga. dan justru ketakutan sebelum berbuat, ketakutan untuk berbuat itu menyebabkan para brahmana kehilangan kedudukannya selama duaratus tahun ini.

  …” (66)

  19 Dituturkan oleh Temu ketika ia dan Sinisme Protes

  “Dia terlalu tinggi di atas singgasana tidak pernah melihat telapak kakinya. Dia tidak gurunya dan teman-temannya membahas pernah ingat, pada tubuhnya ada bagian Sri Baginda Erlangga. yang bernama telapak kaki. Pendengarannya tidak untuk menangkap suara dewa, juga tidak suara segala yang di bawah telapak kaki…Untuknya yang paling tepat hanya dijolok.” (67)

  20 Dituturkan oleh Lohgawe ketika ia dan Klimaks Klaim

  “… Itu lebih patut diucapkan oleh seorang calon raja, di medan perang, di medan tikai, muridnya membahas Sri Baginda Erlangga. kemudian di atas singgasana.” (68)

  21 Semua diam seakan takut bergerak. Damar Dituturkan oleh Lohgawe ketika ia dan Personifikasi

  ‘Jelas’ itu menyala dengan api tak henti menari-nari muridnya membahas Sri Baginda informasi

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  terkena puputan angin menerobosi dinding Erlangga. bambu. (68)

  22 Dituturkan oleh Lohgawe ketika ia dan Apostrof Magi

  ”… Dengan api Hyang Bathara Guru dalam dadamu, dengan ketajaman parasyu Hyang muridnya membahas Sri Baginda Ganesya, dengan keperkasaan Hyang Durga Erlangga.

  Mahisasuramardini, kaulah Arok, kaulah pembangun ajaran, pembangun negeri sekaligus. …” (69)

  23 Dituturkan oleh Lohgawe ketika ia dan Apostrof Sumpah

  “Dengarkan kalian semua, sejak detik ini, dalam kesaksian Hyang Batara Guru, yang muridnya membahas Sri Baginda berpadu dalam Brahma, Syiwa, dan Wisynu Erlangga. dengan semua syaktinya, aku turunkan pada anak ini nama yang akan membawanya pada kenyataan sebagai bagian dari cakrawati. Kenyataan itu kini masih membara dalam dirimu. Arok namamu.

  

  24 Saat lulus yang tak diduga-duga itu seakan Arok lulus dari perguruan Lohgawe Simile ‘Jelas’ membikinnya kehilangan mata arah. (70) dengan cepat. informasi

  25 Pada suatu sore yang suram dengan gerimis Arok membaca rontal isi catatan yang Personifikasi

  ‘Jelas’ tipis datang ke perguruan Tantripala dua dituliskan oleh Tantripala kepada informasi orang bocah temu dan Tanca. (70) Lohgawe yang isinya menceritakan

  tentang kisah hidup Arok sewaktu kecil. Tantripala mendapatkan informasi masa kecil Arok dari ayah angkatnya, Ki Bango

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Samparan.

  26 Siapa tak kenal Bango Samparan? Seorang Arok membaca rontal isi catatan yang Erotesis ‘Jelas’

  penjudi yang lebih sering ditemukan di dituliskan oleh Tantripala kepada informasi tempat perjudian daripada rumah? Seorang Lohgawe yang isinya menceritakan penjudi yang mengirimkan bocah-bocah tentang kisah hidup Arok sewaktu kecil. untuk belajar! (70) Tantripala mendapatkan informasi masa

  kecil Arok dari ayah angkatnya, Ki Bango Samparan.

  27 Ia seorang yang lincah, cerdas, matanya Arok membaca rontal isi catatan yang Asidenton

  ‘Jelas’ jernih, memancar, hanya tak bisa tenang. dituliskan oleh Tantripala kepada informasi Temannya, Tanca, sebaliknya, seorang yang Lohgawe yang isinya menceritakan tenang, juga cerdas, hanya tidak lincah, tentang kisah hidup Arok sewaktu kecil. lebih tepat dikatakan lamban. (71) Tantripala mendapatkan informasi masa

  kecil Arok dari ayah angkatnya, Ki Bango Samparan.

  28 Ia seorang yang lincah, cerdas, matanya Arok membaca rontal isi catatan yang Apofasis

  ‘Jelas’ jernih, memancar, hanya tak bisa tenang. dituliskan oleh Tantripala kepada informasi Temannya, Tanca, sebaliknya, seorang yang Lohgawe yang isinya menceritakan tenang, juga cerdas, hanya tidak lincah, tentang kisah hidup Arok sewaktu kecil. lebih tepat dikatakan lamban. (71) Tantripala mendapatkan informasi masa

  kecil Arok dari ayah angkatnya, Ki Bango Samparan.

  29 Napasnya sudah hampir putus waktu ia tiba Arok membaca rontal isi catatan yang Hiperbola

  ‘Jelas’ di sebuah ladang (72) dituliskan oleh Tantripala kepada informasi

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Lohgawe yang isinya menceritakan tentang kisah hidup Arok sewaktu kecil. Tantripala mendapatkan informasi masa kecil Arok dari ayah angkatnya, Ki Bango Samparan.

  30 Arok membaca rontal isi catatan yang Hiperbola Puji

  “Jagad Pramudita! Anak secakap ini, dengan mata bersinar seperti ini. dituliskan oleh Tantripala kepada

  Lohgawe yang isinya menceritakan tentang kisah hidup Arok sewaktu kecil. Tantripala mendapatkan informasi masa kecil Arok dari ayah angkatnya, Ki Bango Samparan.

  31 Arok membaca rontal isi catatan yang Apostrof Klaim

  “… Jagad Pramudita! Para dewa telah mengirimkan anak ini kepada kita, Nyi,” dituliskan oleh Tantripala kepada katanya pada istrinya. (75) Lohgawe yang isinya menceritakan tentang kisah hidup Arok sewaktu kecil.

  Tantripala mendapatkan informasi masa kecil Arok dari ayah angkatnya, Ki Bango Samparan.

  32 Arok membaca rontal isi catatan yang Apostrof Harap

  “Siapa tahu dia putra tunggal Hyang Brahma se dituliskan oleh Tantripala kepada ndiri?” (75)

  Lohgawe yang isinya menceritakan tentang kisah hidup Arok sewaktu kecil. Tantripala mendapatkan informasi masa

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  kecil Arok dari ayah angkatnya, Ki Bango Samparan.

  33 Arok membaca rontal isi catatan yang Apostrof Harap

  “Semoga kau memang putra tunggal Hyang

  dituliskan oleh Tantripala kepada

  Brahma.” (76)

  Lohgawe yang isinya menceritakan tentang kisah hidup Arok sewaktu kecil. Tantripala mendapatkan informasi masa kecil Arok dari ayah angkatnya, Ki Bango Samparan.

  34 Bertahun-tahun? Berapa tahun? Tidak lebih Arok membaca rontal isi catatan yang Epizeukis

  ‘Jelas’ dari tiga. Dan cemburu saudara-saudara dituliskan oleh Tantripala kepada informasi meningkat tiga kali. (77) Lohgawe yang isinya menceritakan

  tentang kisah hidup Arok sewaktu kecil. Tantripala mendapatkan informasi masa kecil Arok dari ayah angkatnya, Ki Bango Samparan.

  35 Arok membaca rontal isi catatan yang Apostrof Harap

  “Barangkali para dewa telah menentukan kau harus pergi dari sini. ” (79) dituliskan oleh Tantripala kepada

  Lohgawe yang isinya menceritakan tentang kisah hidup Arok sewaktu kecil. Tantripala mendapatkan informasi masa kecil Arok dari ayah angkatnya, Ki Bango Samparan.

  36 Klimaks Puji

  “… Kau seorang anak yang cerdas, lincah, Arok membaca rontal isi catatan yang

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  dituliskan oleh Tantripala kepada

  pandai, dan ingatanmu sempurna.” (79)

  Lohgawe yang isinya menceritakan tentang kisah hidup Arok sewaktu kecil. Tantripala mendapatkan informasi masa kecil Arok dari ayah angkatnya, Ki Bango Samparan.

  37 Temu menggandeng membawanya pulang, Arok membaca rontal isi catatan yang Klimaks

  ‘Jelas’ menyerahkan pada orangtuanya, kemudian dituliskan oleh Tantripala kepada informasi ia pergi, diiringkan oleh tangis pilu gadis Lohgawe yang isinya menceritakan Umang. (80) tentang kisah hidup Arok sewaktu kecil.

  Tantripala mendapatkan informasi masa kecil Arok dari ayah angkatnya, Ki Bango Samparan.

  38

  

“… Kita sering kalahkan mereka. Hanya Percakapan antara Tanca dan Temu Zeugma Klaim

mereka terlalu banyak dan kita terlalu sebelum mereka belajar kepada sedikit. Kekuatan mereka tak habis-habisnya, Tantripala. dan kita terbatas. …” (83).

  39 Orang itu datang dari Tuban, pergi ke Temu mendapatkan cermin perak yang Metonimia ‘Jelas’

  Gresik, memudiki Brantas melalui porong didapatnya dari penyerbuan seorang informasi Erlangga. (84) saudagar kaya.

  40 Tantripala memuji kecerdasan Temu. Apostrof Deklarasi

  “Erlangga pernah menjatuhkan titah: triwangsa bukan hanya ditentukan oleh para dewa, juga manusia bisa melakukan perpindahan kasta karena dharmanya, sudra

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  bisa jadi satria, sudra bisa jadi brahmana.

  …” (85)

  41 Tantripala memuji kecerdasan Temu. Klimaks Puji

  “… Dan kau, Temu, kau bisa jadi satria karena kemampuanmu. Tingkah lakumu bukan lazim pada seorang sudra, tetapi satria. Matamu bukan mata satria, tetapi brahmana…” (85)

  42 Hari pertama itu ia diajari melakukan Selesai selesai belajar, Tantripala Simile

  ‘Jelas’ darana dengan pandang matanya, sampai mengejarkan beberapa ilmunya secara informasi pada pratyahara berlatih sekaligus pribadi kepada Temu. pranayama untuk mencapai ekagrata pandang, seperti dalam cerita sewaktu Arjuna membidik dengan anak panahnya. (85)

  43 Dituturkan oleh Tantripala yang kagum Hiperbola Magi

  “Temu”, serunya, “dengan kemampuan seperti ini, pandangmu akan menguasai akan kecerdasan Temu. manusia dan benda.” (85)

  44 Dituturkan oleh Tantripala kepada Arok. Hiperbola Klaim

  “Jagad dewa!... dia akan jadi penjahat yang memunahkan kemanusiaan.” (86)

  45 Tantripala menceritakan kepada Arok Alegori

  “Dahulu kala sebelum ada Erlangga, ‘Jelas’ tentang Dewi Tara.

  informasi

  sebelum ada Sri Dharmawangsa…pada awal abad ke tujuh Saka, karena tak kuat menahan serangan Sriwijaya, Sailendra melarikan diri ke Jawa dan melindungkan diri pada Sri

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Baginda Sunnaha dari Mataram. Sunnaha digantikan oleh Sanjaya, dan Sanjaya oleh Pancapana Rakai Penangkaran. Pada waktu itu Mataram telah dikuasai Sailendra. Pancapana Rakai Panangkaran sekarang menjadi taklukan, dan oleh Sri Baginda Indra dari wangsa Sailendra, yang beragama Budha itu, diperintahkan membangun candi- candi Buddha. Di antaranya adalah candi Kalasan untuk memuliakan Hyang Dewi Tara.

  …” (87)

  46 Di antaranya adalah candi Kalasan untuk Tantripala menceritakan kepada Arok apostrof

  ‘Jelas’ memuliakan Hyang Dewi Tara. (87) tentang Dewi Tara.

  informasi

  47 Sudah lama ia menyangsikan, kini kata-kata Tantripala menceritakan kepada Temu Apofasis Simbol penutup itu meyakinkannya: Tantripala tentang Dewi Tara.

  adalah seorang Buddha yang tak memperlihatkan kebudhaannya. (88)

  48

  

“Para dewa telah mengirimkan pada kita Dituturkan oleh Ki Lembung. Saat itu Apostrof Magi

bayi lelaki seorang ini.” (92) Arok mengingat kembali masa lalunya.

  49 Merekalah yang membesarkannya tanpa Arok mengingat kembali masa lalunya. provokasi

  ‘Jelas’ pamrih. Menginjak umur enam tahun ia

  informasi

  sudah terbiasa bergaul dengan kerbau, memandikan, dan menggembalakan, menggiringnya ke sawah dengan Ki lembung

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  memikul garu atau luku di belakangnya. (92)

  50 Tempat penggembalaannya ialah medan ia Arok mengingat kembali masa lalunya. Silepsis ‘Jelas’

  bermain dengan teman-temannya. Kegesitan,

  informasi

  kekuatan, kecerdasan, dan kekukuhan menyebabkan ia hampir selalu keluar sebagai pemenang dalam permainan dan perkelahian. (93)

  51 Kemudian datanglah bencana itu-bencana Arok mengingat kembali masa lalunya. Antitesis

  ‘Jelas’ yang berisi karunia para dewa. (94)

  informasi

  52 Arok mengingat kembali masa lalunya. Epizeukis Deklarasi

  “Kurang satu,” katanya. Ki Lembung masuk ke dalam kandang dan menghitungnya sekali lagi. “Kurang satu,” katanya lebih keras. Ia menghitung lagi. “Kurang satu!” pekiknya.

  (95)

  53 Sekejap ia dapat melihat wajah Ki Lembung Arok mengingat kembali masa lalunya. Hiperbola

  ‘Jelas’ yang marah membara. Ia tak dengar lagi apa

  informasi

  yang disemb urkan padanya” (95)

  54 Dan bermulalah kehidupan yang membusa- Arok mengingat kembali masa lalunya. Asidenton ‘Jelas’

  busa: perkelahian, penyerbuan, pencurian,

  informasi

  perampokan, pencegatan sendiri atau dengan teman-teman yang mengikutinya. Melukai dan dilukai, kalah dan menang. Ia keluar-masuk desa-desa baru, bergabung dengan penjahat besar dan tanggung untuk

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  kemudian ditaklukkan dan menaklukkan, dan meninggalkannya. (96)

  55 Catak yang kau berikan pada Umang telah Arok mengingat kembali masa lalunya. Metafora ‘Jelas’

  habis di medan judi. (97)

  informasi

  56 Dituturkan Tanca ketika ia bermimpi Hiperbola Klaim

  “Aku impikan dia kurus kering…” Arok menyuruhnya ke Kutaraja.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

BAB III DEDES No. Data Konteks Gaya Bahasa Daya Bahasa

  1 Dituturkan oleh Rimang kepada Ken Klimaks Puji

  “Betapa bahagia Yang Mulia, cantik rupawan, berilmu, wanita pertama dan Dedes yang mencoba memancing utama di seluruh Tumapel. …” (100) percakapan dengan Ken Dedes.

  2 Dituturkan oleh Rimang. Apostrof Optimis

  “… Kasih para dewa nampaknya hanya untuk Yang Mulia seorang. …” (100)

  3 Dituturkan oleh Rimang. Epizeukis Klaim

  “… Sangat, sangat banyak yang bahkan mendapat satu macam pun tidak pernah untuk sepanjang hidupnya.” (100)

  4 la berdiri dan berjalan lambat-lambat Dituturkan oleh Rimang. Klimaks

  ‘Jelas’ meninggalkan tempat duduk.

  informasi

  5 Ia telah berikan dirinya kepada pada Dedes berada di taman larangan bersama Erotesis

  ‘Jelas’ Tunggul Ametung. Bukankah Akuwu Rimang. Ia merasa malu dan tersindir. informasi Tumapel tidak lebih baik daripada raksasa Rahwana? Seorang yang tak jauh dari ajaran, hidup dalam ketidaktahuan dan penghinaan terhadap Sang Yama?

  6 Dituturkan oleh Rimang kepada Ken Epizeukis Keluh

  “Ah, Yang Mulia, Yang Mulia, betapa Yang Dedes untuk menghiburnya. Mulia menganiaya diri seperti ini,” (101)

  7 Dituturkan oleh Rimang kepada Ken Apostrof Optimis

  “… Demi Hyang Parwati, katakanlah apa yang sahaya bisa lakukan untuk Dedes untuk menghiburnya. meringankan dukacita Yang Mulia?” (102)

  8 Dituturkan oleh Rimang kepada Ken Tautologi Nasihat

  “Tak ada seorang pun di pekuwuan ini dapat dipercaya, Yang Mulia. Hati-hati, Dedes saat berada di taman larangan. waspadalah.” (102)

  185

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  17 Ia meronta dan meronta. (110) Dedes ditangkap oleh Tunggul Ametung untuk dijadikan Ken Dedes.

  untuk dikenal, sekalipun kekayaannya menyentuh langit dan kekuasaannya disokong dan dibenarkan semua dubriksa sepenuh Jagad Pramudita. (106)

  Dedes teringat akan ajaran ayahnya sejak kecil.

  Hiperbola

  ‘Jelas’

  informasi

  16 Ia gigit dada itu, dan ia rasai keras seperti

  batu. (110)

  Dedes ditangkap oleh Tunggul Ametung untuk dijadikan Ken Dedes.

  Simile ‘Jelas’ informasi

  Epizeukis

  Apostrof Klaim

  ‘Jelas’

  informasi

  18

  “Anak macam juga anak macan.” (111)

  Dituturkan Tunggul Ametung ketika ia berhasil membawa Dedes, tetapi ia meronta terus.

  Sarkasme Cemooh

  19

  “Mulialah Sri Erlangga Bathara Wisynu, Dituturkan Tunggul Ametung ketika ia

  Apostrof Puji

  15 Orang

  Dituturkan oleh Rimang kepada Ken Dedes untuk menghiburnya.

  9

  Dituturkan oleh Ken Dedes kepada Rimang yang mencoba menghiburnya.

  “Demi Hyang Dewi Parwati. Tidakkah cukup sumpah sahaya?” (102)

  Dituturkan oleh Rimang kepada Ken Dedes untuk menghiburnya.

  Apostrof Keluh

  10

  “Jangan cemarkan Hyang Parwati di hadapanku.” (103)

  Dituturkan oleh Ken Dedes kepada Rimang yang mencoba menghiburnya.

  Apostrof Protes

  11

  “Berapa kali dalam hidupmu kau pernah bersumpah demi Hyang Parwati?” (103)

  Apostrof Pinta

  ….” (105)

  12

  “... Nanti sebentar lagi kalau Hyang Surya telah terbenam, sahaya akan iringkan Yang Mulia ke pura.” (103)

  Dituturkan oleh Rimang kepada Ken Dedes untuk menghiburnya.

  Eponim Persuasi

  13

  “… Sebaliknya mereka akan berjingkrak gila karena sukacita. ...” (105)

  Dituturkan oleh Rimang kepada Ken Dedes untuk menghiburnya.

  Hiperbola Optimis 14 “Betapa pengasih Dewi Parwati. Apa yang

  sahaya pohon selama ini menjadi kenyataan: Yang Mulia sudi bicara dengan sahaya ini.

  • –orang seperti dia tidak ada harganya

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Barangkali kau lebih tahu Sansekerta bahasa khayangan itu daripada bahasa orang Tumapel.” (114)

  Hiperbola Klaim

  Dituturkan Tunggul Ametung ketika ia berhasil membawa Dedes, tetapi ia meronta, mengumpat terus.

  hidup dalam mimpi, hidup mereka pun dari kemurahanku.

  27 Dengarkan, Dedes, hanya kaum brahmana

  Apostrof Dogma

  Dituturkan Tunggul Ametung ketika ia berhasil membawa Dedes, tetapi ia meronta, mengumpat terus.

  “... Mereka menyembah Hyang Wisynu yang pengasih dan pemurah. …

  26

  Simile Cemooh

  Dituturkan oleh Dedes ketika ia diculik oleh Tunggul Ametung.

  “Betapa pongahnya kau seakan pemenang di atas jagad para dewa ini.” (114)

  25

  Sinisme Cemooh

  Dituturkan Tunggul Ametung ketika ia berhasil membawa Dedes, tetapi ia meronta, mengumpat terus.

  dengan titahnya semua orang bisa jadi satria atau brahmana demi dharmanya .” (112)

  berhasil membawa Dedes, tetapi ia meronta terus.

  Dituturkan Tunggul Ametung ketika ia berhasil membawa Dedes, tetapi ia meronta, mengumpat terus.

  bumi ini. …” (113)

  Apostrof Klaim 23 “… Kumpulkan semua brahmana di atas

  Dituturkan Tunggul Ametung ketika ia berhasil membawa Dedes, tetapi ia meronta, mengumpat terus.

  “… Dengar, Dedes, Permataku tidak percuma Sri Erlangga mengutuk triwangsa bikinan kaum brahmana. …” (113)

  22

  Hiperbola Janji

  Dituturkan Tunggul Ametung ketika ia berhasil membawa Dedes, tetapi ia meronta, mengumpat terus.

  “…Akan aku perlihatkan pada dunia: kaum brahmana takkan bisa bikin apa-apa pada waktu seorang brahmani bernama Dedes aku dudukkan di atas singgasana Tumapel. ...” (113)

  21

  Simile Klaim

  Dituturkan Tunggul Ametung ketika ia berhasil membawa Dedes, tetapi ia meronta, mengumpat terus.

  “Ayolah, kutuk aku, seperti semua brahmana mengutuk semua orang di luar kastanya. …” (113)

  20

  Hiperbola Perintah 24 “Barangkali kau tak mengerti ucapanku.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  36

  Hutan di kiri kanan jalan berlarian menghilang seperti malu menjadi saksi. (117)

  Ken Dedes sadar dari pingsannya dan berusaha mengingat. Kemudian kuda itu melanjutkan perjalanannya menuju ke Kutaraja.

  Simile

  ‘Jelas’

  informasi

  35 Angin malam itu tak lagi menggigit kulit dan

  membekukan darahnya. (118)

  Untuk kesekian kalinya Dedes pingsan lagi karena kekacauannya.

  Personifikasi Rangsang

  “ Para dewa telah berikan dirimu padaku.” Dituturkan oleh Akuwu ketika ia merasa

  informasi

  air mata Ken Dedes jatuh menetesi lengannya.

  Apostrof Nasihat

  37

  “…Tak pernah ada wanita menantang, melawan, dan menolak Tunggul Ametung

  … “

  Dituturkan oleh Akuwu ketika ia merasa air mata Ken Dedes jatuh menetesi lengannya.

  Antiklimaks Klaim

  38

  “... Karena itu kau dipilih lebih daripada Dituturkan oleh Akuwu ketika ia merasa

  Hiperbola Puji

  34 Waktu bulan tua itu muncul, kuda itu mulai lari lagi, langkahnya menderap berirama.

  28 Mereka hanya dongengan untuk bocah-

  bocah yang tak pernah dewasa.” (114)

  Simile

  Dituturkan Tunggul Ametung ketika ia berhasil membawa Dedes, tetapi ia meronta, mengumpat terus.

  Sinisme Cemooh

  29

  “Kalian kaum brahmana lebih pongah dalam pikiran, tapi menunduk-nuduk merangkak- rangkak di hadapanku. …” (114)

  Dituturkan Tunggul Ametung ketika ia berhasil membawa Dedes, tetapi ia meronta, mengumpat terus.

  Antiklimaks Cemooh

  30 Ia lepaskan Dedes dan seperti ditiupkan

  kekuatan pada dirinya ia lari. (115)

  Dedes berhasil kabur dari cengkraman Tunggul Ametung.

  ‘Jelas’

  Hiperbola

  informasi

  31

  “Lepas, demi Hyang Mahadewa, terkutuklah kau.” (115)

  Dituturkan Dedes ketika ia tertangkap lagi oleh Tunggul Ametung.

  Apostrof Ancam

  32

  “… Hyang Wisynu telah menentukan aku jadi suamimu. …” (116)

  Dituturkan oleh Tunggul Ametung ketika mendapatkan Ken Dedes kembali di pelukannya setelah sempat kabur.

  Apostrof Magi

  33 Hari itu memang gelap pekat. (117) Menggambarkan suasana saat Ken Dedes sadar dari pingsannya.

  ‘Jelas’

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  putri-putri Tumapel, Kediri, dan seluruh air mata Ken Dedes jatuh menetesi buana, satu-satunya perawan yang berani lengannya. menggigit dan mencakar Tunggul Ametung sungguh-sungguh perawan pilih an. …”

  39 Dituturkan oleh Akuwu ketika ia merasa Hiperbola Optimis

  “… Tumpahkan airmatamu, Permata, karena setelah ini takkan dia titik lagi, seluruh air mata Ken Dedes jatuh menetesi kebahagiaan makhluk di atas bumi hanya lengannya. milikmu.” (119)

  40 “Di luar kau semua hanya sampah di Dituturkan oleh Akuwu ketika ia merasa Sarkasme Cemooh air mata Dedes jatuh menetesi lengannya.

  hadapan matamu. …” (119)

  41 Ia bukan seorang yang dungu, tahu berlemah Dalam hatinya Dedes berpikir tentang Erotesis ‘Jelas’

  lembut. Ataukah memang demikian semua Tunggul Ametung, tidak sesuai dengan informasi penjahat dalam usahanya? Dan mengapa apa yang dikatakan ayahnya selama ini. para brahmana, yang menganggap dirinya benar karena sejalan dengan ajaran tunduk takhluk pada Hyang Yama, tidak mampu berbuat sesuatu terhadapnya? Adakah Akuwu Tumapel yang memeluknya benar- benar lebih kuat dari semua dewa sekaligus? Dia telah bicara tentang Muncukunda, cerita dan tafsiran yang diberikan hanya kepada siswa-siswi tingkat cikil dan wasi. Benarkah ia buta huruf dan mengetahui segala hanya dari tangan kedua? (119)

  42 Dituturkan oleh Tunggul Ametung kepada Polisidenton Optimis

  “… Segalanya akan dipersembahkan pada Dedes dan kesuciannya dan kemuliaannya. Dedes ketika perjalanan menuju

  pekuwuan. Saat itu Dedes diculik Tunggul

  …” (120) Ametung dari desanya di Panawijil.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Apostrof Sumpah

  pedandi itu memata-matainya tanpa jera, membanjirinya dengan nasehat tetekbengek. (122)

  Sejak penculikan itu, ia tidak pernah mendengar kabar dari desanya.

  Personifikasi ‘Jelas’ informasi

  49

  “Di sinilah, Yang Mulia, demi Dewi Parwati, demi Hyang Candra, sahaya bersumpah untuk membantu dan bersetia kepada Yang Mulia, hidup sampaipun mati,” (125)

  Dituturkan oleh Rimang yang menunjukkan letak Hyang Parwati kepada Ken Dedes.

  50

  Simile ‘Jelas’ informasi

  “Kepalamu akan jatuh karena peristiwa ini.” (133)

  Dituturkan oleh Belakangka kepada Rimang yang menyalahkan Rimang karena Ken Dedes pergi.

  Eufemisme Ancam

  51

  “Hyang Parwati telah lindungi Yang Mulia,” bisik Rimang,

  Dituturkan oleh Rimang kepada Ken Dedes, yang berhasil membuka mata Ken

  Apostrof Klaim

  48 Ia diserahkan pada segala yang asing, dan

  43

  “… Kau perawan dengan hati memeram Muncukunda!

  sorga.” (121)

  ” (120)

  Dituturkan oleh Tunggul Ametung kepada Dedes ketika perjalanan menuju pekuwuan. Saat itu Dedes diculik Tunggul Ametung dari desanya di Panawijil.

  Apostrof Klaim

  44

  “… Tidak percuma para dewa bisikkan padaku setiap kali bersamadhi.” (121)

  Dituturkan oleh Tunggul Ametung kepada Dedes ketika perjalanan menuju pekuwuan. Saat itu Dedes diculik Tunggul Ametung dari desanya di Panawijil.

  Apostrof Magi 45 “Bahkan rambutmu kurasai seperti belaian

  Dituturkan oleh Tunggul Ametung kepada Dedes ketika dalam perjalanan menuju ke pekuwuan.

  47 Antara dirinya dengan masa lalunya seakan telah tergunting putus.

  Simile Puji

  46 Menjelang terbit, Hyang Surya, kuda itu

  memasuki pekuwuan… (121)

  Tunggul Ametung sampailah ia di pekuwuan.

  Eponim

  ‘Jelas’

  informasi

  Sejak penculikan itu, ia tidak pernah mendengar kabar dari desanya.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Dedes bahwa ia penguasa Tumapel.

  52 Dituturkan oleh Rimang kepada Ken Apostrof Klaim

  “Hyang Mahadewa telah anugerahkan kekuasaan tertinggi di tangan Yang Mulia. Dedes, yang berhasil membuka mata Ken Dedes bahwa ia penguasa Tumapel.

  53 Dituturkan oleh Rimang kepada Ken Litotes Pinta

  “Pandanglah Rimang yang hina ini. …” (134)

  Dedes, yang berhasil membuka mata Ken Dedes bahwa ia penguasa Tumapel.

  54 Kekuasaan tanpa batas itu terbayang Ken Dedes dan Rimang bersama-sama Simile

  ‘Jelas’ olehnya seperti cakra Hyang Wisynu yang menyembah Hyang Parwati. informasi mampu menembus segala. (134)

  55 Ia tak menyadari buah dadanya sendiri Ken Dedes sedang menyembah Hyang Simile Rangsang mengerjap seperti buah dada Sang Durga. Durga.

  (135)

  56 Dalam kepalanya muncul Banowati, istri Ken Dedes sedang menyembah Hyang Alegori

  ‘Jelas’ Suyudhana, raja Kaurawa. Bekas pacar Durga. Dalam sembahnya ia teringat akan informasi Arjuna itu pada suatu kali didatangi oleh tafsiran yang diberikan kepadanya tentang kekasihnya yang menyuruhnya menerima Banowati. pinangan Suyudhana. Dia harus jadi Paramesywari raja Kaurawa, untuk kelak dapat membantunya mengalahkan Kaurawa sendiri di medan perang Bhatarayuddha.

  (136)

  57 Dituturkan Ken Dedes ketika ia sedang Zeugma Sumpah

  “Inilah sahaya, ya, Durga, inilah Banowatimu, datang menyerahkan hidup dan sembahyang di dalam pura. mati suamiku padamu.” (136)

  58 Dituturkan Ken Dedes ketika ia sedang Simile Cemooh

  “Itulah satria suamiku, ya, Bathari, yang tidak jera-jera memburu wanita, melepas sembahyang di dalam pura. segala kama yang ada dalam dadanya,

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  seperti anjing yang tak kenal bapa lagi.” (138)

  59 Ia rasai tangan Akuwu pindah memeluk Suaminya datang untuk menjemput Ken Simile Rangsang pinggangnya yang ramping seperti pinggang Dedes dari pura.

  lebah. (140)

  60 Ia lihat gelegak darah panas memerahi Ken Dedes menagih janji Ametung untuk Metafora

  ‘Jelas’ wajah suaminya. (142) menemukan ayahnya, Mpu Parwa. informasi

  61 Pada wajahnya tersunting senyum-senyum Rimang melihat Ken Dedes tidur lelap Hiperbola Rangsang abadi, senyum Ken Dedes. (143) bahagia.

  62 Tubuh seindah ini, dengan senyum yang Rimang memperhatikan kecantikan Ken Simile Rangsang sesuci itu, harus diabadikan. Seakan wanita Dedes ketika ia tidur.

  ini bukan seorang Paramesywari tetapi Hyang Laksmi sendiri. (143)

  63 Bumi terasa kehilangan kekokohannya, Gunung Kelud meletus. Personifikasi

  ‘Jelas’ mengombak dalam cahaya bulan tua. Sebuah

  informasi

  tiang api melesit dari perut bumi, mengalahkan bulan dan bintang-mintang, sekejap, jauh di barat sana, di balik lereng utara Gunung Kawi. Perut bumi terdengar menggeletar. (144)

  64 Seakan telah menjadi seorang brahmani Gunung Kelud meletus. Simile

  ‘Jelas’ penuh ia mengangkat tangan ke arah mulud

  informasi

  Kelud yang menyemburkan kepundan. Ia tahu bumi goncang begini hanya karena marah Bathari Durga yang dipindahkan dari pura. (145)

  65 “Hilangkan leluhur itu dari pikiran, dari Dituturkan oleh Ken Dedes di hadapan Apostrof Perintah

  hati, dari pura, dan dari candi seluruh penduduk setelah selesai berdoa, . …” (146)

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Setelah meletusnya gunung Kelud, Ken Dedes beserta Rimang dan Dadung Sungging berkeliling ke desa-desa untuk melihat keadaannya.

  Personifikasi ‘Jelas’ informasi

  Menggambarkan situasi Tumapel keesokan harinya setelah meletusnya gunung Kelud.

  Matari pun tak mampu memunculkan murka. Bahkan nyala damardan kebakaran yang

  Sarkasme Cemooh 72 Segala benda angkasa hilang ditelannya.

  Dituturkan oleh Dalung ketika Ken Dedes sedang berkeliling desa untuk melihat keadaan desa. Saat itu Dalung sedang mengobati seorang anak yang luka tanpa dibius.

  “Diam kau perempuan celaka.” (148)

  71

  Simile ‘Jelas’ informasi

  Setelah meletusnya gunung Kelud, Ken Dedes beserta Rimang dan Dadung Sungging berkeliling ke desa-desa untuk melihat keadaannya.

  mengindahkan rambutnya yang buyar berantakan. (148)

  70 Ia melangkah cepat seperti wanita petani, tak

  informasi

  ‘Jelas’

  Simile

  memohon ampun pada dewata.

  66

  69 Dalam iringan Rimang dan Dadung

  informasi

  ‘Jelas’

  Gunung Kelud meletus. Simile

  kemudian menetap tingginya seperti api yang keluar dari tanur pandai besi. Bumi semakin kurnag meronta. (146)

  68 Tiang-tiang itu kemudian semakin rendah,

  Apostrof Ancam

  Dituturkan oleh Ken Dedes di hadapan seluruh penduduk setelah selesai berdoa, memohon ampun pada dewata.

  …” (146)

  67 “… Celakalah yang mendewakan leluhur.

  Apostrof Deklarasi

  Dituturkan oleh Ken Dedes di hadapan seluruh penduduk setelah selesai berdoa, memohon ampun pada dewata.

  ”(146)

  “… Para dewalah yang sesungguhnya berkuasa, bukan leluhur siapapun.

  Sungging berkerudung kain penutup dingin ia berjalan seperti perawan anak Mpu Parwa dulu di desa sendiri, memeriksa semua bagian pekuwuan. “ (148)

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  belum redup, seakan Hyang Agni sudah jadi rabun tua, dan itu pun kemudian hilang dalam kekelabuan. (150)

  73 Dan jalan pulang itu terasa sangat, sangat Ken Dedes kembali pulang ke pekuwuan. Epizeukis

  ‘Jelas’ jauh. (150)

  informasi

  74 Selama tiga hari kabut debu merajalela. Situasi di Tumapel pasca Kelud meletus 3 Personifikasi

  ‘Jelas’ Semua yang tergelar di atas bumi terselaputi hari yang lalu.

  informasi

  olehnya. Waktu matari mulai kelihatan lagi, hanya pasir lembut itu juga yang nampak kelabu. Murak sang Kelud telah reda. Angin silir meniup ke dalam hati semua kawula Tumapel. (151)

  75 Dituturkan oleh Belakangka saat Sarkasme Cemooh

  “Ampun, brahmana terkutuk itu tidak ada di

  melaporkan keberadaan Lohgawe kepada

  tempat.” (153) Ametung.

  76 Tungggul Ametung melambaikan tangan Tunggul Ametung sedang dalam Polisidenton

  ‘Jelas’ menyuruh semua pergi kecuali dokter dan perawatan Dalung akibat cedera yang informasi pembantunya dan Paramesywari. (155) dialami.

  77 Tunggul Ametung bermandi keringat, Tunggul Ametung kesakitan ketika Klimaks Rangsang meringis dan merongos, mengerutkan gigi diobati oleh Dalung. Kakinya patah.

  dan kening, dan kemudian jatuh pingsan. (156)

  78 Sarkasme Cemooh

  “Pergilah kau, anjing pembikin sakit!” (156) Dituturkan Ametung kepada Dalung ketika sadar dari pingsannya.

  79 Dituturkan oleh Ken Dedes kepada Apostrof Harap

  “Terimakasih banyak, ya, Dalung, semoga dikaruniai kau kesejahteraan oleh Hyang Dalung seusai mengobati Akuwu. Kuwera.” (156)

  80 Dituturkan oleh Tunggul Ametung ketika Metonimia Klaim

  “Kelud menghalangi, Permataku.” (157)

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Ken Dedes menanyakan soal keberadaan ayahnya, Empu Parwa.

  81 Dituturkan oleh Tunggul Ametung ketika Apostrof Klaim

  “Para dewa belum membenarkan.” (157)

  Ken Dedes menanyakan soal keberadaan ayahnya, Empu Parwa.

  82 Dituturkan oleh oleh Ken Dedes ketika ia Antitesis Nasihat

  “Barangsiapa tidak terlalu muda untuk jadi Paramesywari, diapun cukup tua untuk meminta kepada Tunggul Ametung untuk mengetahui urusan negeri. mengetahui urusan negeri.” (158)

  83 Dituturkan oleh Tunggul Ametung ketika Sinisme Harap

  “Anak desa yang nakal itu. Sebentar lagi akan lenyap bersama dengan debu Kelud. istrinya menanyakan soal perusuh. ..”(159)

  84 Pandita negeri itu tak boleh lebih lama Ken Dedes bersumpah demi Trisula Simile

  ‘Jelas’ berusaha menindas, memaksa, seakan ia Bathara Guru dan cakrawatinya, informasi hanya hambanya belaka. (162) Belakangka harus takhluk kepadanya.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

BAB IV TEKAD KAUM BRAHMANA No. Data Konteks Gaya Bahasa Daya Bahasa

  pepohonan. (170)

  Metonimia Tanya

  6

  “… Dibandingkan dengan karunia yang pernah diberikan Sri Erlangga, uh, itu bukan karunia, sama dengan tulang dilemparkan pada anjing kelaparan. …” (168)

  Dituturkan oleh Dang Hyang Lohgawe ketika mereka melakukan perjalanan ke Kawi. Lohgawe menyampaikan untuk kesekian kalinya ketidaksukaannya pada Sri Erlangga.

  Sarkasme Cemooh

  7 Jalan itu turun-naik, gelap oleh payungan

  Keadaan dan suasana di dalam hutan selama perjalanan menuju ke gunung Kawi.

  “... Mungkinkah ke Kawi?” (168)

  Zeugma ‘Jelas’ informasi

  8 Naskah itu meriwayatkan kebesaran Buddha

  Mahayana, seluruhnya dalam Sansakerta

  Saat beristirahat di dalam gua, Arok menemukan naskah yang meriwayatkan Alegori

  ‘Jelas’

  informasi

  Dituturkan oleh Arok setelah ditanya oleh gurunya hendak pergi kemana mereka.

  196

  1

  3

  “Dengan namamu yang baru, Arok, Sang Pembangun, kau adalah garuda harapan kaum brahmana.” (165)

  Dituturkan oleh Dang Hyang Lohgawe saat upacara pemberian nama.

  Epitet Deklarasi

  2

  “Para dewa tidak tunjukkan padamu untuk jadi talapuan.” (165)

  Dituturkan Dang Hyang Lohgawe saat upacara pemberian nama.

  Apostrof Klaim

  “Kau akan kembalikan cakrawati Bathara Guru Sang Mahadewa Syiwa.” (165)

  informasi

  Dituturkan Dang Hyang Lohgawe Lohgawe saat upacara pemberian nama.

  Apostrof Optimis

  4 Perhatiannya lebih tertarik pada kelilingnya-

  gunung-gemunung yang serasa tiada kan habis-habisnya, berlapis-lapis menyentuh langit. (166)

  Arok dan Dang Hyang Lohgawe melakukan perjalanan jauh.

  Simile

  ‘Jelas’

  5

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  tanpa ada sepatah kata Jawa pun. la kebesaran Buddha Mahayana. terpesona oleh penggambaran tentang mahaguru Dharmakirti dan Suarnadwipa, yang menjadi jiwa kebesaran Sriwijaya, tentang Wajrabodhi yang menyebarkan Tantrayana di Sriwijaya dan Cina, tentang mahaguru Dharmapala dan Perguruan Tinggi Nalanda, murid dan mahaguru Dignaga dan Perguruan Tinggi Kansyi, tentang Nagarjuna, tentang Aryadewa, tentang Dipangkara, yang setelah belajar di Sriwijaya kembali ke Tibet dan melakukan pembaharuan kepercayaan Buddha di negerinya. (170-173)

  9 Langit dan bulan tidak nampak oleh mereka. Keadaan dan suasana di dalam hutan Simile

  ‘Jelas’ Hanya pokok, cabang, ranting dan dedaunan selama perjalanan menuju ke gunung informasi seperti tembok memagari sinar obor damar Kawi. itu. (173)

  10 Seperti monyet ia berpindah-pindah dari Keadaan dan suasana di dalam hutan Simile ‘Jelas’

  pokok ke pokok lain yang lebih besar dan selama perjalanan menuju ke gunung informasi lebih tinggi. Kawi.

  11 Dilihatnya langit di atas dengan bulan penuh Saat Arok berada di atas pohon untuk Simile Rangsang

  tersenyum pada dunia. (174) mencari tahu apa yang terjadi di sekitar hutan.

  12 Kini ia mulai dapat menangkap, samar, Saat Arok berada di atas pohon untuk Simile Rangsang

  seperti desir angin lalu: mantra. (174) mencari tahu apa yang terjadi di sekitar hutan.

  13 Tautologi Protes

  “Husy. Tak aku benarkan kau ulangi Dituturkan oleh Lohgawe yang melarang

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  pendapat busuk seperti itu. Salah. Keliru. Arok untuk tidak berpendapat mengenai

  Maithuna (upacara persetubuhan untuk

  Tidak benar. Menyesatkan.” (175) memuja kesuburan).

  14 Dituturkan oleh Lohgawe ketika Apostrof Sesal

  “… Ampuni kami, ya, Mahadewa, keagungan Prambanan tidak mampu menolak pengaruh mengetahui di depan ada upacara Maithuna. sesat itu. …” (176)

  15 Dituturkan oleh Lohgawe ketika Alegori

  “… Kalasan telah memberikan pengayoman ‘Jelas’ pada mereka. Mataram dipindahkan dan mengetahui di depan ada upacara informasi pengaruh itu lebih ke timur oleh Sri Baginda Maithuna.

  Dyah Balitung, kemudian ke timur lagi oleh Mpu Sindok. Waktu itu di timur sini masih bersih, belum ada pengaruh seperti itu. Hyang Agastya tetap dimuliakan. Sri Teguh Dharmawangsa malah telah mengirimkan armada untuk menumpas induk gerakan itu Sriwijaya. Selanjutnya kau tahu sendiri: kalah. Mendang kalah, ganti kena serbu, Sri Dharmawangsa sendiri gugur. Nanti kau akan juga dengar dan banyak guru yang patut kau muliakan.” (176)

  16 Dituturkan oleh Lohgawe yang menyuruh Hiperbola Klaim

  “… Bahkan abu dari pemandangan tadi tak

  Arok untuk tidak berpendapat mengenai

  patut kau singgung dengan jari kakimu. …” (176)

  Maithuna (upacara persetubuhan untuk memuja kesuburan).

  17 Dituturkan oleh Lohgawe yang menyuruh Epizeukis puji

  “… Garuda! Untuk kau hanya korban terbaik, hidup terbaik, dan kalaupun punah, Arok untuk tidak berpendapat mengenai

  Maithuna (upacara persetubuhan untuk

  punah yang terbaik pula.” (176) memuja kesuburan).

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Arok belum pernah melewati daerah yang dilalui dengan mahagurunya.

  Simile

  ‘Jelas’

  informasi

  24

  “Dua ratus tahun, mereka sudah meruyaki dunia seperti kudis. …” (180)

  Dituturkan oleh Lohgawe. Ia mulai melanjutkan ketidaksukaannya pada Sri Erlangga.

  Simile Cemooh 25 Ia teliti daerah seluas mata memandang.

  (180)

  Hiperbola

  kucing, tanpa membangkitkan bunyi. (180)

  ‘Jelas’

  informasi

  26 Mereka melangkah maju beriringan, hati-

  hati seperti takut menerbitkan bunyi. (181)

  Setibanya perjalanan mereka berhenti di sebuah candi.

  Simile

  ‘Jelas’

  informasi

  Dalam perjalanan mereka melihat sosok tubuh duduk seorang diri di bawah sebatang pohon raksasa.

  18

  “Punah adalah tugas satria, dengan peninggalan terbaik adalah sebaik-baik punah.” (176)

  Dituturkan oleh Lohgawe kepada Arok ketika ia bertanya apakah manusia kejam sudah pada dasarnya.

  Dituturkan oleh Lohgawe ketika mereka membahas tentang Maithuna.

  Epanalepsis Deklarasi

  19

  “Kesalahan tindakan tak pernah terampuni, kecuali hanya oleh Hyang Mahadewa. Untuk itu ada Hyang Mahadewa, karena manusia tidak bersifat pengampun.” (178)

  Dituturkan oleh Lohgawe saat Arok menanyakan penyembah Budha dari Nikayo Mahayana.

  Apostrof Dogma

  20

  “Makin jauh dari Mahadewa dia semakin kejam. …” (179)

  Apostrof Dogma

  informasi

  21

  “Ya, Bapa, oleh Tunggul Ametung dan Sri Baginda, ditumpas segala yang cenderung pada kemegahan Hyang Mahadewa Syiwa.” (179)

  Dituturkan oleh Arok saat Lohgawe memintanya mengatakan sesuatu tentang manusia.

  Apostrof Keluh

  22 Dalam rembang cahaya bulan menerobosi

  dedaunan mereka melihat sesosok tubuh sedang duduk seorang diri di bawah sebatang pohon raksasa. (180)

  Lohgawe dan Arok meneruskan perjalanan ke Gunung Kawi.

  Personifikasi

  ‘Jelas’

  23 Mereka berjalan berjingkat, cepat, seperti

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  27 Mereka berjalan menuju torana, melewati Setibanya perjalanan mereka berhenti di Simile

  ‘Jelas’ patung-patung penjaga dengan wajah sebuah candi.

  informasi

  bergerak-gerak terkena goyangan api obor- obor damar, seperti hidup dan memperhatikan kedatangan mereka. (181)

  28 Kalamakara di atasnya muncul dari batu, Setibanya perjalanan mereka berhenti di Simile ‘Jelas’ seperti hendak mengucapkan selamat datang sebuah candi. informasi

  dan menyelirkan lidah pengasihnya. (181)

  29 Di sebelah utara mereka berhenti dan Lohgawe memberi sembah kepada patung Klimaks Seremoni mengangkat sembah kepada Hyang Durga Hyang Batari Durga.

  yang bersemayam pada sebuah relung samar, hanya nampak jelas puncak hidungnya yang menari-nari dengan sinar api. (181)

  30 Dituturkan Lohgawe setibanya di depan Apostrof Pinta

  “… Berilah anak ini kecerdasan yang patung Hyang Ganesha. mencukupi, ya, Hyang Ganesya.” (182)

  31 Sinar obor bermain-main pada perutnya Lohgawe sedang memberi sembah kepada Personifikasi

  ‘Jelas’ yang buncit dan jenggitnya yang terasa Hyang Bathara Guru.

  informasi

  kurang panjang. (182)

  32 Pintu pun terbuka dan sinar damar Setibanya perjalanan mereka berhenti di Personifikasi

  ‘Jelas’ membungah menyambut mereka. (182) sebuah candi.

  informasi

  33 Dituturkan oleh berpuluh-puluh orang Epizeukis Harap

  “Dirgahayu, dirgahayu, dirgahayu, ya

  para brahmana yang menyambut

  Mahaguru.” (182) kedatangan Lohgawe.

  34 Semua keluar untuk melakukan hajad Semua peserta pertemuan tinggi brahmana Epitet

  ‘Jelas’ masing-masing, kemudian menyongsong telah selesai melakukan upacara informasi Hyang Surya. (183) pembukaan sidang kaum brahmana.

  35 Di mana pun mereka bertemu selalu Arok membayangkan tingkah kaum Asidenton

  ‘Jelas’

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  perasaan tak puas terhadap raja-raja brahmana ketika bertemu. informasi keturunan Erlangga juga yang diperbincangkan: Jayantaka, Jayawarsa, Sekartaji, Kamesywara-I, Kamesywara-I I, Jayabaya, Jayasaba, Kretajaya. (184)

  36 Dituturkan oleh Kuntridenta yang mulai Apostrof Dogma

  “Kami di Bali semua mengerti, mengapa pada akhirnya Putri Dewi Mahendradatta menyinggung Erlangga lagi dalam sidang berpaling pada Hyang Durga. Artinya tahunan kaum Brahmana. setelah suaminya, Sri Udayana mangkat. Mahadewa Syiwa kehilangan cakrawatinya di Bali. Sampai sekarang pun pemelihara pura Kutri, selalu seorang brahmana Syiwa, tidak disukai oleh masyarakat Wisynu.

  Sejauh mengenai diri pribadi, itu tidak mengapa, karena semua itu berpangkal pada masa jauh silam ….” (185)

  37 Suaranya lambat tapi tinggi seperti bunyi Kutridenta mulai menyinggung Erlangga Simile Rangsang

  genta kuningan. (185) lagi dengan menggunakan bahasa Sansekerta.

  38 Dituturkan seorang brahmana dari Simile Protes

  “Makin lama makin banyak rontal menyesap ajaran lain dan mendirikan dewa-dewa baru mataram, Resi Andaru, menyoroti dari kaum Buddha, seakan titiah ini sengaja kemerosotan penyembahan kepada Hyang hendak dicairkan jadi bubur, campur aduk Mahadewa. tidak menentu.” (186)

  39 Dituturkan seorang Brahmana dari Apostrof klaim

  “… Mereka kehilangan makna dan tanggungjawab pada sesama manusia dan mataram, Resi Andaru, menyoroti para dewa, memuja kebebasan mutlak dan kemerosotan penyembahan kepada Hyang pelepasan kama dengan rumus falsafi, Mahadewa.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  kemudian memadukan diri sendiri pada para dewa dan berseakan sang dewa itu sendiri.” (187)

  40 Penutup dan semua laporan adalah Acara sidang seluruh brahmana telah usai Alegori

  ‘Jelas’ pembacaan tulisan Mpu Parwa terbaru, dan ditutup dengan tulisan Empu Parwa informasi dalam Jawa, yang berkisah tentang para yang berkisah tentang para petani yang petani yang dalam rombongan besar menyerang kahyangan. bersenjata penggada kayu telah menyerang kahyangan untuk mengusir Hyang Mahadewa Syiwa. Mereka itu dipimpin oleh seorang pemuda yang tidak ketahuan asalnya, bersenjata cakra, tak henti-hentinya meniup sangkakala dan dapat berjalan tanpa menginjakkan kaki pada bumi. … (187-189)

  41 Dituturkan oleh Lohgawe ketika acara Tautologi Klaim

  “Sepenuhnya tepat, benar, tiada cacat,” (188)

  terakhir pertemuan seluruh kaum brahmana ditutup oleh pembacaan tulisan Empu Parwa terbaru yang mengisahkan tentang para petani yang menyerang kahyangan.

  42 Dituturkan oleh Dang Hyang Lohgawe Alegori ‘Jelas’

  “Pada tahun Saka 909 itu,” ia meneruskan,

  saat melengkapi bagian yang terlupa dari informasi

  “sedang diadakan pesta perkawinan antara dua putri Sri Dharmawangsa dengan kisah yang dibuat Empu Parwa.

  Pangeran Erlangga, putra Udayana Dharmadayana. Pangeran Erlangga waktu itu masih seorang bocah berumur tujuhbelas, belum cukup ilmu, kurang pengetahuan, baik dan guru maupun ibunya, Putri

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Mahendradatta. Sri Dharmawangsa berusaha melaksanakan amanat ayahandanya, Sri Makutawangsa, untuk mendirikan Hyang Syiwa di Bali. Kenyataannya jadi berlainan. Erlangga bukan saja tidak menjadi penyembah Hyang Syiwa, dia malah menyebarkan kejahilan Bali, memberanikan petani-petani itu untuk memuliakan Hyang Wisynu saja, dewa mereka, dewa dan kaum tani yang takkan pernah mendatangkan kebesaran itu.” (189)

  43 Dituturkan oleh Dang Hyang Lohgawe Alegori

  “Raja-raja kita selanjutnya, Rakai Warak, ‘Jelas’

  Rakai Garung, meneruskan pembangunan saat melengkapi bagian yang terlupa dari informasi candi-candi Buddha untuk dengan demikian kisah yang dibuat Empu Parwa. mengarahkan seluruh rakyat Mataram, agar binasa di bawah kaki Sang Buddha, dan lebih menyedihkan: untuk dilupakan oleh Hyang Mahadewa. Patung dewa-dewa Buddha apa saja yang tidak dibikin oleh pemahat terbaik Mataram? Suatu jaman memalukan yang seakan tiada kan habis- habisnya. Kita baru bisa bernafas lega setelah Rakai Pikatan mengakhiri semua hinaan ini. Raja besar dan bijaksana ini mengembalikan kepercayaan diri kita menutup jaman sengsara itu hampir-hampir tanpa meneteskan darah, mengawini anak raja Sailendra Samaratungga itu, bernama

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Pramudawardhani, dan menghalau pengganti mertuanya, Sri Balaputradewa, keluar Jawa.”(190)

  44 Dituturkan oleh Dang Hyang Lohgawe Apostrof Keluh

  “Pengembalian cakrawati Hyang Syiwa dengan terbangunnya Prambanan saat melengkapi bagian yang terlupa dari nampaknya tidak cukup meyakinkan untuk kisah yang dibuat Empu Parwa. menyuramkan kebesaran Sang Buddha.” (190)

  45 “Nah, Yang Terhormat Mpu Parwa, inilah Dituturkan oleh Dang Hyang Lohgawe Apostrof Deklarasi

  titik kekurangan dalam Kundalaya: ancaman saat melengkapi bagian yang terlupa dari menetap dan Buddha dan kepemurahan Sang kisah yang dibuat Empu Parwa. Hyang Mahadewa Syiwa.

  …” (191)

  46 Dituturkan oleh Dang Hyang Lohgawe Apostrof Dogma

  “... Adalah sudah tepat bila berasal dan segenggam tanah ladang petani-petani itu saat melengkapi bagian yang terlupa dari sendiri dan ditiupkan hidup di dalamnya oleh kisah yang dibuat Empu Parwa.

  Hyang Mahadewa. Humalang adalah Bathara Wisynu dalam tata cakrawarti Syiwa, bukan terpisah daripadanya seperti anggapan dan pandangan kaum Wisynu dan wangsa Isana ini.” “Ketahuilah, para Yang Terhormat, bahwa adalah jadi dharma kita untuk menemukan Bathara Wisynu yang ditiupkan oleh Mahadewa itu dalam hidup kita sekarang. Demi Hyang Mahadewa, Humalang itu akan muncul. Benarlah ramalan Yang Terhormat Mpu Parwa. Kita harus tutup jaman kehinaan ini dengan Kundalaya.” (191)

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  47 Dituturkan oleh brahmani Taripada dari Apostrof Dogma

  “Hariwangsa, karya Mpu Panuluh, karya raksasa dengan 16.ooo sanjak itu, Kalingga dalam uraiannya selama sehari seluruhnya mengagungkan Wisynu yang penuh menyoroti buku suci penganut menitis dalam din Kresna. Dan bukankah Mahayana. Kresna dengan kebijaksanaannya itu tidak lin daripada Sri Baginda Jayabaya sendiri? Untuk memasyhurkan namanya sebagai Hyang Wisynu pada dunia, diperintahkannya melakonkan pada wayang permainan leluhur para petani yang menolak para dewa kita itu.

  Untuk mengagungkan kemenangannya atas Jambi dan Selat Semenanjung diperintahkannya Mpu Sedah menjawabkan bagian perang dan Mahabharata, dan Dutaparwa sampai Sauptikaparwa. Barangkali karena semangat perangnya juga kepala Mpu Sedah dijatuhkannya dan lehe rnya sebelum karyanya selesai ....“ (193)

  48 Dituturkan oleh Empu Parwa karena tidak Apostrof Harap

  “Terkutuk dia oleh semua dewa!” (196)

  bisa mengendalikan amarahnya setelah mengetahui anaknya Dedes diculik oleh Tunggul Ametung.

  49 Dituturkan oleh Arok saat diminta oleh Alegori Jelas

  “Prabu Salya bersiap-siap akan berangkat ke medan-perang, menjadi senapati gurunya mengucapkan Salyaparwa Kaurawa. Ia temui Paramesywari Dewi dengan bahasa Sansekerta.

  Setyawati, yang masyhur akan kecantikannya .... seorang anak perempuan dan Resi Bagaspati, bernama Pujawati.” (197)

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  50 Dituturkan oleh Arok di hadapan seluruh Alusi Klaim

  “Siapakah yang tidak mengenal riwayat Putri Mahkota Dewi Sanggramawijaya, putri kaum brahmana yang berbicara tentang

  Salyaparwa dan hubungannya dengan

  Sri Erlangga? …” (199) Mpu Sedah.

  51 Arok berkisah tentang Kamesywara II di Alegori Jelas

  “Kekasih Hyang Wisynu: seorang sudra, petani yang baik; kekasih Hyang Mahadewa: hadapan seluruh brahmana. ahli dalam persoalan para dewa; kekasih Hyang Kamajaya: seorang perjaka, muda, duapuluh tiga tahun, ganteng rupawan, berbudi bahasa, penakluk hati wanita.

  …”(202)

  52 Arok berkisah tentang Kamesywara II di Erotesis Jelas

  “… Siapakah yang bisa salahkan apabila ada seorang gadis, anak seorang brahmana, hadapan seluruh brahmana. yang tinggal di desa tetangga jatuh cinta padanya? Siapakah yang bisa salahkan, .kalau sebaliknya pemuda kekasih para dewa itu jatuh cinta pada Prabarini? Siapakah yang dapat salahkan, bila Sedah dan Prabarini saling mengikat janji sehidup- semati, di alam kini maupun nanti?

  ” (202)

  53 Bergumul dalam lumpur dan tanah tanpa Arok berkisah tentang Kamesywara II di Simile Jelas pujaan hati seakan ia telah ditinggalkan oleh hadapan seluruh brahmana.

  para dewa. (203)

  54 Dengan bertompah tapas, bertongkat kayu Arok berkisah tentang Kamesywara II di Simile Jelas penolak ular, berjubah pendek, dan hadapan seluruh brahmana.

  berdestar serba hitam, laksana Bathara Kamajaya, ia berangkat ke Kediri. (204)

  55 Apostrof Klaim

  “Siapa gurumu, maka berani persembahkan Arok berkisah tentang Kamesywara II di

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  hadapan seluruh brahmana.

  lehermu?” “Hyang Ganesha sendiri.” (204)

  56 Dituturkan oleh Lohgawe karena sidang Simile Klaim

  “… Lihatlah, berapa banyak di antara kita sendiri yang sudah menyeberang pada menjadi kacau. kedudukan, wanita dan harta, seakan hendak mengikuti Yang Suci Belakangka? …” (209)

  57 Dituturkan oleh Lohgawe untuk Epitet Puji

  “Bicara, kau, garuda kaum brahmana, dengan berat dan ketajaman parasyu Hyang menyuruh Arok melanjutkan kisah Ganesya, dengan ketajaman kilat Sang Salyaparwa dalam bahasa Sansekerta.

  Muncukunda ....“ (210)

  58 Dituturkan oleh Lohgawe untuk Apostrof Puji

  “Bicara, kau, garuda kaum brahmana, dengan berat dan ketajaman parasyu Hyang menyuruh Arok melanjutkan kisah Ganesya, dengan ketajaman kilat Sang Salyaparwa dalam bahasa Sansekerta.

  Muncukunda ....“ (210)

  59 Dituturkan oleh Kutridenta kepada Arok Simile Puji

  “Suaramu lantang, Arok, seakan semua menanyakan siapa guru sansekertanya. dewa Khayangan memimpinmu.” (211)

  60 “Barangsiapa tidak tahu kekuatan dirinya, Dituturkan oleh Arok setelah Lohgawe Oksimoron Klaim memberi perintah untuk meneruskan

  dia tidak tahu kelemahan dirinya. …” (212) pendapatnya tentang kaum brahmana.

  61 Dituturkan oleh Lohgawe yang kaget Metafora Keluh

  “…, pada waktu kaum brahmana dalam

  melihat dharma yang dilakukan lalu

  duaratus tahun hanya bersilat lidah?” (213) membandingkan dengan kaum brahmana.

  62 Mereka kemudian berbaris di malam hari Menjelang penutupan acara, terucapkan Personifikasi

  ‘Jelas’ menuju ke candi Agastya yang bermandikan janji peristiwa Dedes tidak akan terulang informasi sinar obor damar, di bawah gema puji- lagi. Masuklah pada upacara penutupan. pujian yang dibubungkan ke kahyangan. (215)

  63 Apostrof Harap

  “Ya, Mahadewa Bathara Guru, kalau kami Dituturkan oleh Empu Parwa ketika

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  duaratus tahun yang lalu dapat meletakkan memimpin upacara penutupan. mahkota di atas kepala Erlangga, tentulah kami tidak lebih keliru bila memberikan kepercayaan pada brahmana muda ini sebagai penutup dari ketiadadayaan dan kelalaian dan pertikaian antara kami sendiri selama ini.” (215)

  64 Mereka kemudian berbaris berpradaksina Salah satu prosesi penutupan acara temu Simile Seremoni mengelilingi candi, berhenti di depan brahmana.

  Nandiswara dan Mahakala, seperti ular hendak memasuki liang. (215)

  65 Dituturkan oleh Empu Parwa ketika Apostrof Harap

  “Penutup pertemuan kami, ya Mahadewa, artikanlah itu sebagai awal selesainya memimpin upacara penutupan. kezaliman Wangsa Isana.” (215)

  66 Nyanyi puji-pujian membumbung menghalau Salah satu prosesi penutupan acara temu Personifikasi

  ‘Jelas’ burung-burung malam. (215) brahmana.

  informasi

  67 Kemudian di sebelah barat tiang api Ketika prosesi penutupan itu berlangsung, Simile

  ‘Jelas’ melompat dari perut bumi, menusuk langit, gunung Kelud meletus.

  informasi

  kemudian pecah seperti payung dan turun lagi ke bumi. Mereka semua merasakan geletaran bumi, goncangan, perut bumi sendiri terasa mengelak. (216)

  68 Kelud meletus. (216) Gunung Kelud meletus. Metonima

  ‘Jelas’

  informasi

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

BAB V TUNGGUL AMETUNG No. Data Konteks Gaya Bahasa Daya Bahasa

  informasi

  informasi

  5 Kuda-kuda telah kehabisan nafas dan

  keringat. (219)

  Pasukan kuda Tunggul Ametung berangkat menyusul untuk melumpuhkan utusan Belakangka ke Kediri.

  Hiperbola

  ‘Jelas’

  “Bangsat! (220)

  6

  Antiklimaks

  Di tepi sungai Brantas, Tunggul Ametung dan pasukannya mendapatkan kuda milik pekuwuan yang tercancang lalu memerintahkan untuk menyisiri hutan sekeliling.

  Sarkasme Cemooh

  7 Kediri telah mengirimkan padanya untuk

  memimpinnya di bidang keigamaan, karena

  Alasan mengapa Kediri meminta Belakangka menemani Tunggul Ametung

  Sarkasme ‘Jelas’ informasi

  ‘Jelas’

  1 Jiwanya tergoncang: orang seberani itu

  tidak bisa tidak pasti seorang mahasiddha, seorang setengah dewa, seorang bathara, bukan lawan baginya dan bagi pasukannya. (217)

  Hiperbola

  Ada seseorang yang mengaku brahmana menghadapi Tunggul Ametung dan pasukannya seorang diri.

  Klimaks

  ‘Jelas’

  informasi

  2 Orang-orang terpelajar yang tahu segala-

  galanya, … (218)

  Keterangan Arya Artya dan Belakangka tentang brahmana muda itu mencurigakan.

  ‘Jelas’

  sungai dilalui tanpa perhatian. (219)

  informasi

  3 Pasukan kuda itu berpacu tanpa

  mengindahkan aturan lagi, seakan tidak ada Tunggul Ametung di antara mereka. (218)

  Pasukan kuda Tunggul Ametung berangkat menyusul untuk melumpuhkan utusan Belakangka ke Kediri.

  Simile

  ‘Jelas’

  informasi

  4 Hutan, jurang, selokan, dan anak-anak

  Pasukan kuda Tunggul Ametung berangkat menyusul untuk melumpuhkan utusan Belakangka ke Kediri.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Dituturkan oleh Sri Baginda ketika menginterogasi Tunggul Ametung.

  13 Selama itu pula hatinya gelap pekat digumul

  oleh kerinduannya pada Ken Dedes. (227)

  Ametung ditahan di istana Ratu Angabaya selama beberapa hari.

  Hiperbola ‘Jelas’ informasi

  14

  “Orang dungu seperti kau ini, lebih suka melihat semua orang sedungu kau, maka kau ingin binasakan mereka…” (228)

  Sarkasme Cemooh

  Ametung ditahan di istana Ratu Angabaya, mencoba mendapatkan gambaran tentang Arya Artya.

  15 Dan itu berarti ia bisa kehilangan segala-

  galanya: wilayah kekuasaan, singgasana, dan Dedes. (228)

  Selesai diinterogasi, Akuwu Tumapel kembali ke tempat penahanan dan menjadi ketakutan.

  Antiklimaks ‘Jelas’ informasi

  16 Dedes, ya Dedes. Mengapakah setelah

  mengawininya, melalui jalan yang

  Selesai diinterogasi, Akuwu Tumapel kembali ke tempat penahanan dan menjadi Erotesis ‘Jelas’ informasi

  Hiperbola ‘Jelas’ informasi

  ia dianggap terlalu dungu-tidak berilmu. (223) memimpin Tumapel.

  8

  Zeugma Janji

  “Kau, anak sudra tanpa harga, tak mengerti bagaimana berterima kasih pada Kediri yang mengangkatmu begitu tinggi, sejajar dengan para narapraja dan para pangeran …”(224)

  Dituturkan oleh Sri Baginda Kretajaya ketika Tunggul Ametung menghadap untuk melaporkan keadaan Tumapel.

  Sarkasme Cemooh

  9

  “Hidup dan mati sahaya adalah milik Sri Baginda.” (225)

  Dituturkan oleh Tunggul Ametung ketika menghadap Sri Baginda Kretajaya melaporkan keadaan Tumapel.

  10 Kini bencana demi bencana bencana jadi

  12 Sekarang ia akan dapat mempersembahkan:

  hadiah kawinnya dan kebesarannya terangkat naik ke atas ujung duri. (266)

  Ketika disidang oleh Sri Baginda Kretajaya, Ametung terbayang ramalan penjaga candi Sri Erlangga.

  Metafora

  ‘Jelas’

  informasi

  11 Dedes adalah segala-galanya. (226) Ametung ditahan di istana Ratu Angabaya, mencoba mendapatkan gambaran tentang Arya Artya.

  Hiperbola ‘Jelas’ informasi

  Arya Artya patut disingkirkan dari muka bumi. (227)

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  19

  Sarkasme Cemooh

  Dituturkan oleh Tunggul Ametung ketika Ratu Angabaya menahannya karena

  “Aku? Menolong buaya seperti kau? Pantas Yang Tersuci pun tidak sudi melihat mukamu

  20

  Sinekdok Pinta

  Dituturkan oleh Tunggul Ametung ketika Ratu Angabaya menahannya karena memiliki persoalan dan harus diselesaikan mengenai pembunuhan yang ia lakukan kepada kawula Tumapel di wilayah Kediri.

  “Tolonglah leher sahaya ini, Yang Mulia Ratu.” (230)

  dibenarkan oleh para dewa, ia tertimpa begini banyak kesialan? Seorang akuwu, yang di negeri sendiri menggenggam jiwa semua orang, di Kediri tak ubahnya seperti anjing tanpa harga. Apakah Dedes yang memiliki kebesaran itu, dikasihi para dewa, dan Tunggul Ametung hanya menopang pada kebesarannya? (229)

  ketakutan.

  Dituturkan oleh Ratu Angabaya. Saat itu Ratu Angabaya masih memiliki persoalan dan harus menyelesaikan dengan Ametung mengenai pembunuhan yang ia lakukan kepada utusan Belakangka di wilayah Kediri.

  “…Lehermu akan putus.” (230)

  18

  Simile Klaim

  Dituturkan oleh Ratu Angabaya. Saat itu Ratu Angabaya masih memiliki persoalan dan harus menyelesaikan dengan Ametung mengenai pembunuhan yang ia lakukan kepada utusan Belakangka di wilayah Kediri.

  “Sri Baginda sendiri yang akan membuka pengadilan seperti setiap raja Kediri melakukannya dalam semua peristiwa pembunuhan atas diri kawula di atas wilayah kerajaan. …” (230)

  17

  Eufemisme Ancam

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Tunggul Ametung meninggalkan Kediri. Hiperbola

  informasi

  ‘Jelas’

  Simile

  Ketika melakukan perjalanan pulang ke Kutaraja, di tengah hutan pasukan Tunggul Ametung diserang dan dirampok

  udara. (236)

  26 Yang lain hilang seperti meruap dalam

  informasi

  ‘Jelas’

  Simile

  Dalam perjalanan pulang menuju Kutaraja, Tunggul Ametung mampir ke pendulangan emas.

  seperti sedang berparade. (235)

  25 Dan pasukan kuda itu berjalan seirama

  informasi

  ‘Jelas’

  lagi.” (230)

  memiliki persoalan dan harus diselesaikan mengenai pembunuhan yang ia lakukan kepada kawula Tumapel di wilayah Kediri.

  24 Ketakutannya pada Hyang Durga berubah

  informasi

  ‘Jelas’

  Tunggul Ametung meninggalkan Kediri. Metafora

  dalam perjalanannya ia serbu dan rampas semua logam mulia yang nampak dan tersembunyi. (232)

  23 Semua biara Syiwa dalam kekuasaan Kediri

  Sarkasme Ancam

  Dituturkan oleh Tunggul Ametung ketika Ratu Angabaya menahannya karena memiliki persoalan dan harus diselesaikan mengenai pembunuhan yang ia lakukan kepada kawula Tumapel di wilayah Kediri.

  “Aku sendiri yang akan pimpin pasukan membikin Tumapel jadi bubur: pertama, kalau mulut buayamu hanya baik untuk dilempari jangkar, kedua kalau Yang Suci Belakangka sampai cedera, biarpun hanya lecet karena kau.” (231)

  22

  Sinisme Cemooh

  Dituturkan oleh Tunggul Ametung ketika Ratu Angabaya menahannya karena memiliki persoalan dan harus diselesaikan mengenai pembunuhan yang ia lakukan kepada kawula Tumapel di wilayah Kediri.

  “Seorang brahmani seperti itu tentu jauh lebih berharga daripada hanya seorang buaya. …” (231)

  21

  jadi dendam kesumat. (232)

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  oleh para perusuh.

  27 Sejak muda ia hidup dalam alam Ketika melakukan perjalanan pulang ke Epizeukis

  ‘Jelas’ perampasan, merampas, atau dirampas. Kutaraja, di tengah hutan pasukan informasi (237)

  Tunggul Ametung diserang dan dirampok oleh para perusuh.

  28 Yang ditemukan hanya letusan Kelud. (238) Ken Dedes meminta suaminya untuk Metonimia

  ‘Jelas’

  mencari ayahnya, Empu Parwa. informasi

29 Dituturkan oleh Tunggul Ametung ketika Anafora Klaim “Semua harus datang karena panggilanku.

  mendapat kabar jika Lohgawe menolak

  Semua harus pergi karena usiranku.” Raungnya. (239) datang ke pekuwuan.

  30 Dituturkan oleh Belakangka ketika Apostrof Magi

  “Dia bersenjatakan kata, setiap patah

  mencoba menasihati Tunggul Ametung

  diboboti sidhi dari para dewa.” (240)

  yang murka mendengar Lohgawe menolak datang ke pekuwuan.

  31 Dituturkan oleh Belakangka ketika Klimaks Saran

  “… Dia harus didekati, dibaiki, diambil

  mencoba menasihati Tunggul Ametung

  hatinya.” (240)

  yang murka mendengar Lohgawe menolak datang ke pekuwuan.

  32 Dituturkan oleh Tunggul Ametung ketika Sarkasme Cemooh

  “Orang tua keparat!” (240) Belakangka mencoba menasihatinya.

  33 Dituturkan oleh Belakangka ketika Antiklimaks Keluh

  “… Yang Mulia, dalam sepuluh tahun lagi tak ada anak muda bisa baca tulis, tak ada mencoba menasihati Tunggul Ametung lagi yang mengerti bagaimana memuliakan yang murka mendengar Lohgawe para dewa, manusia kembali menjadi hewan menolak datang ke pekuwuan. rimba belantara.

  ” (241)

  34 Dituturkan oleh Tunggul Ametung. Saat Silepsis Sumpah

  “Demi bumi dan langit, aku tak sudi

  itu, ia sedang berbincang dengan istrinya

  kehilangan kau.” (244) di kebun buah.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Simile

  Sarkasme Cemooh

  Dituturkan oleh Tunggul Ametung kepada Belakangka ketika rombongan mereka meninggalkan pendopo.

  “Tua bangka yang banyak mulut!” (264)

  41

  Epizeukis Keluh

  Dituturkan oleh Lohgawe kepada Ken Dedes ketika rombongan mereka tiba di padepokan Lohgawe.

  (254)

  “Ketidakmampuan itu berasal dari diri semua yang memerintah, Dedes, ketidakmampuan mengerti kawulanya sendiri, kebutu hannya, dan kepentingannya.”

  40

  39 Pangkur bermandikan damar. (251) Suasana di desa Pangkur. Personifikasi ‘Jelas’ informasi

  informasi

  ‘Jelas’

  35

  “… Hanya yang bijaksana dengarkan petunjuk para dewa, mendengarkan Hyang Yama.” (245)

  mengikuti tarikan itu seperti golek tanpa jiwa. (249)

  38 Ia tarik istrinya berdiri. Ken Dedes

  Sarkasme Sesal

  Dituturkan oleh Tunggul Ametung ketika ia berbincang dengan suaminya di kebun buah.

  “Betapa dungu aku telah kawini perempuan sial ini.” (248)

  37

  Sinisme Klaim

  Dituturkan oleh Ken Dedes ketika ia berbincang dengan suaminya di kebun buah.

  “Mereka ditakuti karena semua satria adalah pembunuh, penganiaya, karena kerakusan pada kebesaran dunia.” (245)

  36

  Apostrof Nasihat

  Dituturkan oleh Ken Dedes ketika ia berbincang dengan suaminya di kebun buah.

  Tunggul Ametung merias istrinya lalu membopongnya ke atas tandu hendak menjumpai Lohgawe.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

BAB VI PERLAWANAN TERHADAP TUNGGUL AMETUNG No. Data Konteks Gaya Bahasa Daya Bahasa

  Dituturkan oleh kepada Empu Gandring untuk membuatkan senjata, tetapi pada saat itu Gandring menolak.

  informasi

  ‘Jelas’

  Hiperbola

  Hayam dan Arok melanjutkan perjalanan menuju ke rumah Ki Bango Samparan.

  kering kerontang. (270)

  6 Ia lihat lubang penimbun kotoran ternak itu

  Metafora Puji

  Dituturkan oleh Arok kepada Hayam ketika ia sedang tertidur.

  “Kau seorang anak pandai emas yang tajam hidung. Tahu saja kau di mana tempatnya.” (269)

  5

  Sarkasme Cemooh

  1 Api itu gemeratak memakan tumpukan

  ranting dan dahan. Asap mengepul langsung ke udara kadang dibungai oleh percikan… Batang, dahan, ranting, dan dedaunan hutan di sekeliling mereka melongokkan diri ikut menemani. (265)

  Apostrof Ancam 4 “Bodoh! Kalau angkutan besi ke pabrikmu

  Dituturkan oleh kepada Empu Gandring untuk membuatkan senjata, tetapi pada saat itu Gandring menolak.

  “Kau dengar? Hyang Pancagina akan tinggalkan kau.” (268)

  3

  Lingsang memiliki keahlian menghitung emas, Apostrof Sumpah

  Dituturkan oleh Lingsang saat diminta Arok bersumpah kepada Hyang Agni untuk menjaga emas hasil rampasan.

  “Demi kau, Hyang Agni, inilah Lingsang yang akan merawat, melebur, dan menyimpan emas, perak, dan suasa ini…” (266)

  2

  informasi

  ‘Jelas’

  Personifikasi

  Sekelompok pemuda yang sedang duduk melingkari api sambil bersenda gurau.

  aku hancurkan, tak bakal lagi kau mempersembahkan sesaji pada Hyang Pancagina.” (268)

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  terjadi sesuatu. (279)

  waktu mencapai rombongan. Tanpa ada yang bicara lagi rombongan itu berjalan terus semakin memasuki kandungan belantara. (279)

  Arok dan Umang menyusul Tanca dan pasukannya.

  Hiperbola

  ‘Jelas’

  informasi

  12 Dan mereka berjalan terus seakan tiada

  Ketika berjalan di hutan, rombongan pasukan Arok diikuti oleh seekor macan loreng kuning hitam dan menuju ke sebuah gubug.

  Alegori ‘Jelas’ informasi

  Simile

  ‘Jelas’

  informasi

  13 Sebuah gubuk panjang dari kulit kayu

  beratapkan daun-daunan yang belum

  Ketika berjalan di hutan, rombongan pasukan Arok diikuti oleh seekor macan Personifikasi ‘Jelas’ informasi

  11 Mereka berdua telah bermandi keringat

  Sesampainya di sana, tak ditemukan apapun di dalam rumah itu.

  7 Dari kejauhan seperti sabit. (272) Arok menarik parang dan orang itu lari, tanpa berteriak.

  Dituturkan Tanca kepada Arok ketika Arok bertemu kembali dengan Umang setelah sekian lama tak berjumpa.

  Simile

  ‘Jelas’

  informasi

  8

  “Penangis di depanmu itu, Arok, adalah gadis terganas dari seluruh rombongannya.

  Tak ada di antara mereka yang dikasihnya ampun. Haus darah dia Arok. Hampir- hampir tak pernah bicara. Lebih sering melamun.” (275)

  Hiperbola Cemooh

  Dituturkan oleh Arok ketika menyusul Umang ke dalam hutan lalu menceritakan pada Umang kisah seekor babi bongkok.

  9 Umang lari mendahului dan nangis

  meraung-raung. (276)

  Umang berlari menuju hutan dan menangis.

  Hiperbola ‘Jelas’ informasi

  10

  “Dia bilang: ‘aduh, aduh Sri Ratu Lengkungsari, betapa indah bongkokmu ini, sampai semua babi hormat padamu, tak berani mendekat tak berani menegur.

  …” (277)

  Untuk menghibur.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  sepenuhnya kering menari-nari dalam sinar loreng kuning hitam dan menuju ke unggun yang tidak itu. (279) sebuah gubug.

  14 Perkara mereka macam-macam. Antarnya Ketika berjalan di hutan, rombongan Asidenton

  ‘Jelas’ karena tak mampu membayar iuran negeri, pasukan Arok diikuti oleh seekor macan informasi pertengkaran dengan pejabat, tak mampu loreng kuning hitam dan menuju ke membayar hutang, pendatang baru yang sebuah gubug. menolak menyerahkan istrinya pada seorang prajurit, gagal menyerahkan hewan pada pembesar setempat, karena hewan itu ternyata terserang penyakit dan mati. (280)

  15 Mereka terdiri dari laki dan perempuan, Ketika berjalan di hutan, rombongan Zeugma

  ‘Jelas’ dewasa dan kanak-kanak. (280) pasukan Arok diikuti oleh seekor macan informasi

  loreng kuning hitam dan menuju ke sebuah gubug.

  16 Di bawah pimpinan Arok dan Tanca mereka Ketika berjalan di hutan, rombongan Klimaks

  ‘Jelas’ melakukan penyergapan-penyergapan, pasukan Arok diikuti oleh seekor macan informasi penyerangan, dan perampasan barang- loreng kuning hitam dan menuju ke barang Akuwu Tumapel. (280) sebuah gubug.

  17 Dua kali mereka telah menyergap Ketika berjalan di hutan, rombongan Asidenton ‘Jelas’

  pengangkutan besi dari Hujung Galuh, pasukan Arok diikuti oleh seekor macan informasi menghancurkan lima koyang garam, loreng kuning hitam dan menuju ke limapuluh satu pikul beras, duaratus takar sebuah gubug. minyak-minyakan, beratus hasta kain tenun. (280)

  18 Dituturkan oleh Arok kepada Tanca ketika Sarkasme Cemooh

  “Kerbau betina pun takkan berbahagia memperhatikan rombongan Akuwu lewat. dengan orang dungu seperti itu, Tanca.” (282)

  19 Simile Cemooh

  “Lantas kita mau apa kalau berhasil? Kau Dituturkan oleh Arok kepada Tanca ketika

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Tunggul Ametung, menjadi sibuk. (287)

  Simile ‘Jelas’ informasi

  25 Gerakan itu kemudian berpadu dengan

  gerakan Arok, kekuasaan setempat dan kaum petani penganut Syiwa. (287)

  Dituturkan oleh Nyi Lembung kepada Arok setelah lama tak bertemu.

  Metonimia ‘Jelas’ informasi

  26 Kediri yang murka karena perbuatan

  Pemberontakan yang terjadi di Tumapel membuat Kediri campur tangan dan memutuskan supaya Tunggul Amateng menyelesaikan pemberontakan itu.

  wanita itu merangkulnya seakan takkan dilepaskan untuk selama-lamanya. (285)

  Sinekdok ‘Jelas’ informasi

  27 Tanpa mengindahkan ... ia daki tangga,

  mendobrak pintu loteng dan menjatuhkan diri di hadapan silpasastrawan yang sedang

  Pemberontakan yang terjadi di Tumapel membuat Kediri campur tangan dan memutuskan supaya Tunggul Amateng

  Klimaks

  ‘Jelas’

  informasi

  Dituturkan oleh Nyi Lembung kepada Arok setelah lama tak bertemu.

  pun tak tahu jalan lagi seperti orang buta bergerayangan mencari jalan, jadi tertawaan.” (283) memperhatikan rombongan Akuwu lewat.

  20

  ‘Jelas’

  “Barangkali benar pendapatmu: kita begini saja sampai para dewa berkenan memberi petunjuk jalan.” (283)

  Dituturkan oleh Arok kepada Tanca ketika memperhatikan rombongan Akuwu lewat.

  Apostrof Nasihat

  21 Dari sinar damar ia lihat wanita itu bukan

  seorang ibu muda yang dulu, tetapi telah tua dengan muka telah dirusak oleh usia. (285)

  Arok menuju rumah Ki Lembung, orangtua angkatnya dulu. Di rumah itu hanya ditemui seekor anak kerbau dan emaknya.

  Oksimoron

  informasi

  Apostrof Keluh

  22

  “... Ya dewa, mengapa kau tak keluarkan air dari dadaku untuk anak ini? (285)

  Dituturkan oleh Nyi Lembung kepada Arok setelah lama tak bertemu.

  Apostrof Keluh

  23

  “… Biar pun begitu kaulah satu-satunya anakku, ah, Brahmaputra, Brahmaputra….” (285)

  Dituturkan oleh Nyi Lembung kepada Arok setelah lama tak bertemu.

  24 Ia letakkan Nyi Lembung di atas ambin dan

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  mendesak kemutlakan kegelapan. Mereka mulai dapat melihat bayang-bayang bergentayangan di padang batu, di depan gubug-gubug, juga suara-suara manusia.

  Dituturkan oleh Rimang ketika Gusti Putra menemukannya sedang bersembunyi di ladang batu.

  Hiperbola Optimis

  33

  “Ya Mahadewa, beri aku kekuatan.” (294)

  Dituturkan oleh Rimang saat ia membantu Gusti Putra melawan para jajaro.

  Apostrof Pinta

  34 Bulan tua mulai muncul dari atas hutan,

  Bulan itu naik sejengkal lagi… (295)

  32

  Arok dan pasukan biarawan-biarawati sudah sampai di ladang batu, tempat pendulangan emas.

  Personifikasi ‘Jelas’ informasi

  35 Panah cepat dari barisan biarawan-

  biarawati mulai menghujani dengan jarum

  Rombongan jajaro itu menyerang pasukan Arok dan meraung-raung untuk

  Personifikasi

  ‘Jelas’

  informasi

  “Setiap malam sahaya bersembunyi di ladang batu, Gusti, ah, Gusti Putra, beribu terimakasih Gusti sudi datang begini” (292)

  membikin perhitungan di atas selembar rontal. (290)

  menyelesaikan pemberontakan itu.

  Pemberontakan yang terjadi di Tumapel membuat Kediri campur tangan dan memutuskan supaya Tunggul Amateng menyelesaikan pemberontakan itu.

  28 Mereka mematikan damar, menuruni tangga

  dan lari melintasi padang batu. (290)

  Pemberontakan yang terjadi di Tumapel membuat Kediri campur tangan dan memutuskan supaya Tunggul Amateng menyelesaikan pemberontakan itu.

  Klimaks

  ‘Jelas’

  informasi

  29 Pada malam itu juga pasukan Arok,

  diperkuat oleh barisan biarawan dan biarawati dan para petani Syiwa, menyisiri hutan selingkaran pendulangan. (290)

  Polesidenton

  Umang dan Tanca menemukan seorang jajaro, lalu menikamnya.

  ‘Jelas’

  informasi

  30 Dan pasukan itu bergerak dalam kegelapan

  seperti gelombang kucing malam. (291)

  Arok dan pasukannya memasuki hutan untuk mencari daerah sumber emas Tunggul Ametung.

  Simile ‘Jelas’ informasi

  31 Orang itu mencoba meraung. Mulutnya

  Nampak besar dan gelap seperti gua. (291)

  Simile ‘Jelas’ informasi

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  bambu mautnya. (296) memanggil jajaro yang lain. Terjadilah pertempuran.

  36 Sekarang pasukan jajaro meraung Rombongan jajaro itu menyerang pasukan Simile

  ‘Jelas’

  Arok dan meraung-raung untuk informasi

  berbarengan. … Mereka masih tetap meraung-raung dengan suara bolong dan memanggil jajaro yang lain. Terjadilah terdengar aneh, seperti keluar dari rongga pertempuran.

  Jajaro tidak mengetahui cara berperang,

  mulut macan. … (296)

  mereka tidak bisa menangkis panah- panah. Beberapa dari mereka membuang senjata dan lari memasuki hutan.

  37 Empatratus orang jajaro buyar memecah diri Rombongan jajaro itu menyerang pasukan Simile

  ‘Jelas’ seperti kelompok lebah dilempar batu. Arok dan meraung-raung untuk informasi

  memanggil jajaro yang lain. Terjadilah pertempuran. Jajaro tidak mengetahui cara berperang, mereka tidak bisa menangkis panah- panah. Beberapa dari mereka membuang senjata dan lari memasuki hutan.

  38 Panah-panah berterbangan. (296) Rombongan jajaro itu menyerang pasukan Personifikasi

  ‘Jelas’

  Arok dan meraung-raung untuk informasi memanggil jajaro yang lain. Terjadilah pertempuran. Jajaro tidak mengetahui cara berperang, mereka tidak bisa menangkis panah- panah. Beberapa dari mereka membuang senjata dan lari memasuki hutan.

  39 Dituturkan oleh Gusti Putra ketika itu Sarkasme Cemooh

  “Binatang-binatang itu. Kau benar juga.” (297)

  mereka sedang bersembunyi dari para

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  47

  kilat punggawa itu telah terpelintir tangannya ke belakang badan. (304)

  Hayam melihat seorang punggawa keluar dari hutan di belakang rumah.

  Hiperbola

  ‘Jelas’

  informasi

  46 Sebelum Gusti Putra menyelesaikan kata-

  katanya mulutnya telah kena hujan tinju, dan terbisukan. (305)

  Dituturkan oleh Gusti putra ketika punggawa keluar dari hutan dan datang regu Hayam.

  Hiperbola Rangsang

  “Kalau yang sepuluhribu itu tidak ada kepalamu tergantung-gantung di ujung pedang,”... (306)

  Klimaks Persuasi

  Dituturkan oleh Hayam kepada Rimang saat ditanyai sisa emas yang ada.

  Perifrasis Ancam

  48

  “Aku berasal dari sudra, berlaku satria, berhati b rahmana. Panggil sesuka hatimu.”

  (308)

  Dituturkan oleh Arok ketika Hayam membawa Gusti Putra dan Rimang ke hadapannya.

  Klimaks Klaim

  49 Jadi satu-satunya yang terbuka baginya Kepercayaan Tunggul Ametung yang Klimaks

  ‘Jelas’

  45 Tombak diacukan pada dadanya. Secepat

  jajaro.

  40 Sinar matari pagi telah mulai menusuki

  42 Arok naik ke atas sebongkah batu, berlutut dan mengucap syukur kepada Mahadewa.

  mendung di sebelah timur. (300)

  Menggambarkan cuaca di ladang batu saat itu.

  Personifikasi

  ‘Jelas’

  informasi

  41 Semua budak, laki-perempuan, tua-muda,

  dan kanak kanak bersorak-sorai menyambut kedatangan pasukan pembebas itu. (301)

  Semua budak yang bekerja di ladang batu dikumpulkan oleh pasukan Arok.

  Antiklimaks ‘Jelas’ informasi

  (301)

  “… Untuk selanjutnya tak boleh lagi, baik karena judi, hutang, maupun tak kuat membayar upeti. …” (303)

  Semua budak yang bekerja di ladang batu dikumpulkan oleh pasukan Arok.

  Klimaks

  ‘Jelas’

  informasi

  43 “Inilah Ki Bango Samparan, bapakku.

  Hormati dia seperti kalian menghormati aku,…” (302)

  Dituturkan oleh Arok ketika ia mengumpulkan seluruh budak di ladang batu.

  Simile Perintah

  44

  Dituturkan oleh Arok ketika ia mengumpulkan seluruh budak di ladang batu.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  “Demi Hyang Mahadewa, kau pasti bisa.” (317)

  Dituturkan oleh Lohgawe ketika ia mengajak Arok untuk menemui Tunggul Ametung.

  Klimaks Optimis

  55

  “Dengan Tumapel di tanganmu kau akan bisa hadapi Kediri. … “

  Dituturkan oleh Lohgawe ketika ia mengajak Arok untuk menemui Tunggul Ametung.

  Sinekdok Optimis

  56

  Dituturkan oleh Lohgawe ketika ia mengajak Arok untuk menemui Tunggul Ametung.

  “… Semua brahmana di Tumapel, Kediri, di seluruh pulau Jawa, akan menyokongmu.

  Apostrof Klaim

  57

  “Begitulah tingkah seorang sudra yang tak tahu diuntung,” kata Lohgawe. (319)

  Dituturkan oleh Lohgawe ketika ia dan Arok sampai ke pekuwuan dan menghadap Tunggul Ametung.

  Sarkasme Cemooh 58 “… Tidak pernah bisa menghormati orang.

  Juga tidak bisa menghormati dirinya sendiri.

  Dituturkan oleh Lohgawe ketika ia dan Arok sampai ke pekuwuan dan

  Epizeukis Cemooh

  (317)

  hanya berbaikan dengan kaum brahmana, meminta bantuan mereka, berdamai dengan seluruh umat Syiwa. (311)

  mulai goyah kepada para prajuritnya. informasi

  Apakah kau kira kami tak bisa beli kepalamu? …” (313)

  50 Jenggot hitamnya yang panjang melambai- lambai dan matanya yang sipit mengejek.

  (312)

  Tanca dan Arok mengunjungi pabrik senjata Empu Gandring.

  Personifikasi

  ‘Jelas’

  informasi

  51 “Kau terlalu pongah, Empu Gandring.

  Tanca dan Arok mengunjungi pabrik senjata Empu Gandring.

  Apostrof Sesal

  Sarkasme Ancam

  52

  “Penipu!” (315)

  Tanca dan Arok mengunjungi pabrik senjata Empu Gandring.

  Sarkasme Cemooh

  53

  “Kau belum lagi mengangkat janji pada Hyang Pancagina.” (315)

  Dituturkan olehArok saat mengunjungi kediaman Empu Gandring untuk dibuatkan senjata.

  54

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Tak ada sesuatu pun yang perlu dihormatinya.” (319) menghadap Tunggul Ametung.

  59

  “Sahaya berjanji akan bersetia dan menjaga keselamatan sang Akuwu dan Paramesywari dan Tumapel.” (321)

  Dituturkan oleh Arok ketika ia dihadapkan kepada Akuwu oleh Lohgawe untuk membantu menumpas pemberontakan di Tumapel.

  Polisidenton Janji

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

BAB VII AROK DAN DEDES No. Data Konteks Gaya Bahasa Daya Bahasa

  Dedes menyadari dirinya mulai mengandung.

  5 Yang Mulia cukup minum air seduhan

  bunganya, dan anak itu akan larut meninggalkan kandungan. (324)

  Dedes menyadari dirinya mulai mengandung.

  Eufemisme ‘Jelas’ informasi

  6 Haruskah anak ini anak yang makin sedikit

  darah Hindu dalam dirinya dibiarkan hidup dan dengan demikian memberikan pada Tunggul Ametung seorang pewaris Tumapel? (324)

  Erotesis

  Suasana hati Ken Dedes yang tidak menentu terhadap suaminya Tunggul Ametung.

  ‘Jelas’

  informasi

  7

  “Yang Suci Dang Hyang Lohgawe berlidah dan bermata dewa, ia tidak mungkin keliru.” (324)

  Dituturkan oleh Ken Dedes ketika Tunggul Ametung meminta nasihat tentang Arok utusan Lohgawe yang membantu meredakan pemberontakan di

  Simile Klaim

  Simile ‘Jelas’ informasi

  1 Kadang ia merasa takut, kadang kuatir,

  kadang mengalami kegembiraan batin, kadang sendu. (323)

  Suasana hati Ken Dedes yang tidak menentu terhadap suaminya Tunggul Ametung.

  Suasana hati Ken Dedes yang tidak menentu terhadap suaminya Tunggul Ametung.

  Asidenton

  ‘Jelas’

  informasi

  2 Suasana hati tidak tetap, naik-turun biarpun

  tanpa sebab yang nyata. (323)

  Zeugma

  informasi 4 ...., dan beginilah daunnya; bunganya putih

  ‘Jelas’

  informasi

  3 Dengan diam-diam ia amati wajah suaminya

  yang jelas tak mengandung seujung jarumpun darah hindu, … (323)

  Suasana hati Ken Dedes yang tidak menentu terhadap suaminya Tunggul Ametung.

  Hiperbola

  ‘Jelas’

  berkembang datar seperti payung,... (323)

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Tumapel.

  8 Untuk pertama kali ia lihat suaminya Ken Dedes sedang berbincang dengan Klimaks

  ‘Jelas’ memejamkan tapuk matanya yang mulai Tunggul Ametung.

  informasi

  menggelambir karena usia, memejamkan keras-keras sehingga cakar ayam pada sudut luar matanya menjadi nyata, … (324)

  9 ... pada Dang Hyang Lohgawe dan Ken Dedes sedang berbincang dengan Personifikasi

  ‘Jelas’ menyapukan pandang pada Arok yang duduk Tunggul Ametung.

  informasi

  di tanah. (325)

  10 Sekaligus ia melihat jago Lohgawe mentah- Ken Dedes sedang berbincang dengan Hiperbola

  ‘Jelas’ mentah berdarah sudra. (325) Tunggul Ametung.

  informasi

  11 Ken Dedes sedang berbincang dengan Erotesis Protes

  “... Adakah seorang sudra tanpa sedikit pun darah Hindu bisa melakukan hal- Tunggul Ametung. hal besar?”

  (325)

  12 Dituturkan oleh Tunggul Ametung kepada Epizeukis Protes

  “.... Hanya matanya, matanya Dedes, entah mata hantu ataukah dubriksa, apakah Dedes ketika bertemu pertama kali dengan gandarwa.” (326) Arok.

  13 Dan ia merasa senang karena tidak termasuk Ken Dedes berusaha menghibur dirinya Oksimoron

  ‘Jelas’ sudra berdarah Hindu dan juga tidak senang sendiri.

  informasi

  karena akan melahirkan seorang bayi dengan semakin kurang darah mulia itu dalam tubuhnya. (327)

  14 Dituturkan oleh Kramasara dalam Asidenton Puji

  “Wanita itu Dewa, Wanita itu Kehidupan, rontalnya yang dibaca oleh Ken Dedes. Wanita itu Perhiasan ….” (327)

  15 Dituturkan oleh Tunggul Ametung ketika Simile Cemooh

  “Sama dengan semua anak buahnya: gesit, kurus, dengan mata menyala-nyala seperti si Ken Dedes meminta izin untuk bertemu dengan jago Dang Hyang Lohgawe. kelaparan melihat makanan.”

  16 Kiasmus Cemooh

  “Ada diajarkan oleh kaum Brahmana: orang Dituturkan oleh Ken Dedes ketika

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  kaya terkesan pongah di mata si miskin, suaminya bertanya apa itu kesan. orang bijaksana terkesan angkuh di mata si dungu, orang gagah berani terkesan dewa di mata si pengecut, juga sebaliknya, Kakanda: orang miskin tak berkesan apa-apa pada si kaya, orang dungu terkesan mengibakan pada si bijaksana, orang pengecut terkesan hina pada si gagah berani. …” (328)

  17 Dituturkan oleh Ken Dedes kepada anak Hiperbola Harap

  “Kau tidak akan sedungu ayahmu. Kau takkan bikin malu ibumu. Kalau kau wanita, dalam kandungannya. kau adalah dewi, kalau kau pria kau adalah dewa. Dengar, kau jabang bayi?” (329)

  18 Dituturkan oleh Ken Dedes kepada anak Sarkasme Cemooh

  “… Kau berdarah Hindu, ayahmu sudra hina.” (329) dalam kandungannya.

  19 Angin meniup dan kainnya tersingkap Ketika Ken Dedes turun dari tandu dan Simile Rangsang memperlihatkan pahanya yang seperti bertemu dengan Arok.

  pualam. (330)

  20 Dituturkan oleh Prajurit Arok saat Apostrof Puji

  “Makhluk kahyangan, Arok,” bisik prajuritnya. (331) bertemu Paramesywari.

  21 Dituturkan oleh Arok kepada Ken Dedes Hiperbola Hormat

  “Beribu terimakasih, Yang Mulia.” (331) setelah membantu membukakan pintu.

  22 Dituturkan oleh Tunggul Ametung ketika Metonimia Perintah

  “Kalau berhasil, kau akan lanjutkan Arok menghadapnya. pekerjaan ke barat daya, Kawi dan Kelud.” (333)

  23 Dituturkan oleh Ken Dedes ketika diberi Litotes Pinta

  “Coba katakan padaku yang masih bodoh ini.

  kesempatan dari Tunggul Ametung untuk

  ” (334) berbincang dengan Arok.

  24 Arok mengangkat muka dan pandang, Arok sedang menghadap Tunggul Simile Rangsang

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  memancarkan sinar ekagrata, berkilauan Ametung dan Ken Dedes. menelan semua yang dilihatnya. (334)

  25 Arok mengangkat sembah, berdiri, melalui Arok menghadap Paramesywari. Klimaks Jelas

  pintu gerbang belakang pekuwuan, meninggalkan Taman Larangan. (335)

  26 Mayat bergelimpangan sepenuh jalan. (336) Ketika terjadi pertempuran semu antara Hiperbola Jelas pasukan perusuh (pasukan Arok) dan pasukan Tumapel.

  27 Binasakan semua prajurit Tumapel yang Dituturkan oleh Arok kepada pasukannya Sarkasme Perintah

  tidak takluk padamu. (338)

  28 Ia tahu: hari ini adalah awal Arok sedang menghadap Ken Dedes Zeugma Jelas kemenangannya dan awal keruntuhan untuk memberi laporan pertempuran.

  Tunggul Ametung. (339)

  29 Dalam hati ia membenarkan Tunggul Ketika Ken Dedes memerintahkan Arok Asidenton Jelas

  Ametung mendudukkannya pada tahta untuk menceritakan jalannya Tumapel. Ia adalah mahkota untuk kerajaan pertempuran. manapun karena kecantikannya, karena pengetahuannya, karena kebrahmanaannya, karena ketangkasannya, karena keinginannya untuk mengetahui urusan negeri. (340)

  30 Dengan jujur ia mengakui pada dirinya telah Ketika Ken Dedes memerintahkan Arok Hiperbola Jelas

  jatuh cinta pada pemuda sudra tanpa darah untuk menceritakan jalannya hindu setetespun itu, demikian fasih pertempuran. berbahasa ilmu para dewa dan mahir dalam yuddhagama. (340)

  31 Ia mengerti pramesywari sedang menantang Arok dan pasukannya mengambil alih Silepsis Jelas

  maut dan menawar maut untuk dirinya tugas kemit. (kemit: tugas berjaga di

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Dituturkan kepada Ken Dedes kepada anak di dalam rahimnya sesampainya tiba di Bilik Agung.

  Sinisme Cemooh

  Dituturkan oleh Arok ketika Bana menghadap meminta bergabung dengan pasukan Arok.

  “Apakah tamtama tadi bukan anak tani? Anak tani pun bisa jadi sampar untuk bekas tetangga dan teman sepermainan sendiri di

  39

  Sarkasme Cemooh

  Dituturkan oleh Bana ketika menghadap Arok meminta bergabung dengan pasukan Arok.

  (350)

  “Inilah jaminan kami. Terserah padamu hendak kau apakan binatang- binatang ini.”

  38

  Apostrof Klaim

  Dituturkan oleh Lohgawe ketika Arok menemuinya disela-sela pasukannya sedang beristirahat.

  “Kau memang putra Hyang Brahma sendiri.” (348)

  37

  Apostrof Harap

  dengan undangan malam itu. (341) dalam pekuwuan). Pada saat itu juga, Ken

  Dedes menyuruhnya untuk menemuinya di Taman Larangan.

  Zeugma Pinta 36 “Kalau kelak kau tinggalkan Rahim ibumu,

  Dituturkan kepada Ken Dedes kepada anak di dalam rahimnya sesampainya tiba di Bilik Agung.

  serahkan hidup dan mati ayahmu pada musuh- musuhnya.” (345)

  Apostrof Sumpah 35 “Duh, anakku, jangan kaget telah aku

  Dituturkan oleh Ken Dedes ketika Arok menemuinya di Taman Larangan.

  “Sahaya serahkan diri dan hidup sahaya kepada kakanda, demi Hyang Mahadewa.” (344)

  34

  Zeugma Emosi

  Dituturkan oleh Ken Dedes ketika Arok menemuinya di Taman Larangan.

  matinya pada kakanda.” (344)

  Sinekdok Deklarasi 33 “Sahaya serahkan suami sahaya, hidup dan

  Dituturkan oleh seorang tua buncit berjenggot putih panjang sampai ke pusar, telanjang dada, dan bertongkat kepada Ken Dedes ketika sedang sembayang di dalam pura.

  “Kembali kau, Cucu, kembali, mahkota kerajaan mana pun yang kau inginkan sudah ada pada kepalamu.” (342)

  32

  kau akan tiba di dunia yang tidak seperti ini; dunia yang dikendaki para dewa.” (345)

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Hiperbola Sesal

  informasi

  45 Seperti ikut berbelasungkawa seluruh

  Tumapel dalam keadaan damai. (362)

  Setelah meninggalnya Kidang Handayani dalam pertempuran.

  Simile ‘Jelas’ informasi

  46

  “Ampun, Yang Mulia Ayahanda, sejengkalpun dari Tumapel tidak seyogianya gum pil.” (365)

  Dituturkan oleh Putra termuda Tunggul Ametung ketika dipanggil menghadap dan membahas tentang wilayah kekuasaan Tumapel.

  47 Ia bercerita tentang peristiwa meletusnya

  Sinekdok

  Kelud. (369)

  Dadung Sungging bertemu Arok untuk menyampaikan pesan dari paramesywari.

  Metonimia

  ‘Jelas’

  informasi

  48 Suara sorak dan aba-aba bergema-gema

  seakan ada serbuan sesungguhnya sedang

  Anak buah Arok sedang berlatih perang. Simile ‘Jelas’ informasi

  ‘Jelas’

  desanya yang dulu. Juga kau bisa jadi sampar.” (351)

  40

  informasi

  “Dia memerlukan keadilan, dia harus belajar mengenalnya dengan seluruh tubuh dan jiwanya, bukan hanya suara hampa untuk bunga bibir dan bunga hati juga untukmu sendiri. …” (352)

  Dituturkan oleh Arok kepada pengawalnya yang bertanya tentang keputusan Arok kepada Bana.

  Metafora Nasihat

  41 Ia merasa menemukan diri sendiri, tidak

  dibiarkan tersasar seorang diri di tengah rimba belantara kedunguan. (353)

  Dedes merasa berbahagia terbebas dari tingkah laku pura-pura selama kepergian Ametung.

  Hiperbola

  ‘Jelas’

  42 Mereka adalah bunga kecantikan seluruh

  Kidang Handayani. Seperti ikut berbelasungkawa seluruh Tumapel dalam keadaan damai. (362)

  Tumapel. (357)

  Paramesywari sedang berjalan-jalan ke keputrian, tempat para selir tinggal.

  Metafora ‘Jelas’ informasi

  43 Dan Arok mencegahnya, bahwa obor damar

  itu memanggil kebinasaan. (361)

  Ketika pasukan Arok dan Tunggul Ametung beristirahat di sebuah desa.

  Personifikasi ‘Jelas’ informasi

  44 Kutaraja berkabung karena gugurnya

  Setelah meninggalnya Kidang Handayani dalam pertempuran.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Tunggul Ametung marah dengan jawaban yang diberikan Arok.

  Sarkasme Cemooh

  Dituturkan oleh Akuwu ketika ia sedang bercerita kepada istrinya tentang Arok.

  tajam, patut dibelah empat dengan kapak, tepat pada mulutnya.” (377)

  Sinisme Sesal 55 “Orang yang mengajar mulutmu begini

  Dituturkan oleh Akuwu ketika ia sedang bercerita kepada istrinya tentang Arok.

  “Aku telah keliru menempatkan durjana di bawah atapku, mungkin juga dalam bilikku sendiri. (375)

  54

  Sarkasme Cemooh

  Dituturkan oleh Akuwu ketika menemui istrinya yang sedang memainkan kalung di dalam Bilik Agung.

  “Kuda liar yang sulit ditertibkan.” Dengusnya. (375)

  53

  Hiperbola ‘Jelas’ informasi

  terjadi. (371)

  49

  52 Dengan muka merah terbakar ia masuk Bilik

  Sarkasme Cemooh

  Dituturkan oleh Tunggul Ametung saat Arok menghadap untuk menanyakan apakah kerusuhan telah berhasil dipadamkan atau belum.

  “Pembohong. Sudah sejak semula datang mukamu menunjukkan hati yang tidak bisa dipercaya.” (374)

  51

  Sarkasme Cemooh

  Dituturkan oleh Tunggul Ametung saat Arok menghadap untuk menanyakan apakah kerusuhan telah berhasil dipadamkan atau belum.

  “Diam, kau sudra hina. Telah aku angkat kau dari orang gelandangan bercawat menjadi prajurit Tu mapel. …” (374)

  50

  Hiperbola Klaim

  Dituturkan oleh Arok saat menghadap Tunggul Ametung untuk menanyakan apakah kerusuhan telah berhasil dipadamkan atau belum.

  “Mereka sepenuhnya belum tumpas dari mu ka bumi.” (373)

  Agung. (375)

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

BAB VIII PEMBERSIHAN DI SELATAN No. Data Konteks Gaya Bahasa Daya Bahasa

  1 Hujan yang jatuh tak henti-hentinya itu Menceritakan suasana di rumah Empu Eponim

  ‘Jelas’ memudahkan Arok mengirimkan beberapa Gandring.

  informasi

  orang bergantian untuk berteduh di pabrik senjata Hyang Pancagina, juga di rumah pribadi Empu Gandring di pinggiran Kutaraja. (379)

  2 Suara keruhnya berderai-derai berpantulan Arok menyusup memasuki Bilik Agung. Hiperbola

  ‘Jelas’ dari dinding ke dinding. (380)

  informasi

  3 Dituturkan oleh Empu Gandring ketika Apostrof Harap

  “Semoga para dewa melimpahkan kemurahan tiada terhingga pada Yang Mulia dipanggil oleh Ken Dedes ke pendopo untuk menemuinya.

  Paramesywari.” (382)

  4 Dituturkan oleh Empu Gandring saat Alegori

  “Ampun, yang Mulia, demikianlah sudah ‘Jelas’ kehendak para dewa, hanya untuk dipanggil Ken Dedes untuk ke pendopo informasi membunuhlah gunanya senjata. Waktu membahas keselamatan paramesywari.

  Hyang pancagina turun dari Gunung Hyang berjalan ke barat selama sehari dan semalam, sampailah ia di kaki gunung Semeru. Di situlah ia melihat dua orang kakak-beradik sedang berkelahi. Si abang terbanting ke tanah, lehernya digigit sampai putus, dan matilah ia. Hyang Pancagina bertanya kepada pemenang itu: Telah aku ajarkan pada kalian berbagai kepandaian. Sekarang kau berkelahi dan membunuh

  231

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  abangmu sendiri dengan gigi dan jari- jarimu. Mari ikuti aku, akan kuajari kau membikin senjata. …” (384)

  5 Dituturkan oleh paramesywari ketika Sarkasme Cemooh

  “Biadab! Hanya sudra yang bisa punya Empu Gandring dipanggil ke pendopo. cerita begitu hina..” (385)

  6 Dituturkan oleh Empu Gandring saat Litotes Klaim

  “Ampun, Yang Mulia, sahaya hanyalah

  dipanggil Ken Dedes untuk ke pendopo

  sudra hina.” (385) membahas keselamatan paramesywari.

  7 Bagi mereka hidup atau matinya para Sikap para prajurit yang tidak merespon Zeugma

  ‘Jelas’ Kidang bukanlah urusan mereka. (389) terhadap desas-desus yang disebarkan informasi

  oleh Belakangka

  8 Para perusuh itu takut atau sebaliknya patuh Hadirnya Arok menjadi masalah bagi Oksimoron

  ‘Jelas’ padanya. (389) Belakangka untuk menguasai Tumapel. informasi

  9 Seperti sewaktu masih jadi gerombolan liar Hadirnya Arok menjadi masalah bagi Simile

  ‘Jelas’ yang menindas desa demi desa, ia Belakangka untuk menguasai Tumapel. informasi menganggap semua anakbuahnya patuh pada dirinya, hanya karena pribadinya. (390)

  10 Kadang ia ragu pada pikirannya sendiri. Hadirnya Arok menjadi masalah bagi Erotesis ‘Jelas’

  Dan ke manakah para jajaro yang terkenal Belakangka untuk menguasai Tumapel. informasi buas dan tak pernah gentar pada mati itu? Adakah mereka bisa menyerah dengan mudah untuk ditumpas begitu saja? (391)

  11 Apakah itu cukup menjadi bukti, Belakangka mendapat laporan jika tidak Erotesis

  ‘Jelas’ pertempuran tidak pernah ada? (391) ada mayat orang ditemukan di informasi pendulangan dan padang batu.

  12 Pasukan Tumapel itu berbaris laju ke selatan Seluruh pasukan Tumapel bersiap Simile

  ‘Jelas’ seakan hendak menggempur Kediri. (391) bertempur ke selatan.

  informasi

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  13 Waktu pasukan Kidang Telarung membelok Kebo Ijo tidak mendapat tempat di Klimaks

  ‘Jelas’ ke kanan mengikuti tikungan sungai, dan belakang barisan dan ia berada di bawah informasi kantongnya ia keluarkan sumpitan kecil dan pimpinan Kidang Telarung. melepaskan anak sumpit beracun pada pemimpinnya. Telarung memekik kemudian roboh tanpa bersuara lagi. (391)

  14 Dalam sebentar waktu pedangnya telah Oti memimpin regunya dan melanggar Hiperbola

  ‘Jelas’ bermandi darah para prajurit yang tersekat daerah ranjau untuk membunuh prajurit informasi oleh ranjau dan tak dapat membela diri. Tumapel yang didendaminya.

  (393)

  15 Melalui jalur-jalur bebas ranjau ia lari Oti memimpin regunya dan melanggar Anafora

  ‘Jelas’ menikam dan menebang, memekikkan kata- daerah ranjau untuk membunuh prajurit informasi kata yang tak ada seorang pun mengerti Tumapel yang didendaminya. artinya. Melalui jalur bebas itu juga ia menembusi daerah ranjau, membelok ke kiri, menerobosi hutan belantara dan menggabungkan diri dengan buntut pasukan Umang.

  16 Dituturkan oleh Arok saat mengepung Hiperbola Ancam

  “Dengan satu gelombang serangan kalian akan hancur- perkubuan Hayam. binasa. …!” (394)

  17 Dituturkan oleh Arya Artya kepada Arok Sarkasme Perintah

  “… Tangkap oleh kalian musang berbulu waktu ia keluar untuk menghadapi Arok. macan itu!” (395)

  18 Dituturkan oleh Arok saat mengepung Hiperbola Klaim

  “… setidak-tidaknya belum pernah Arya Artya membantu, biar pun hanya dengan perkubuan Hayam. sebutir beras. …” (397)

  19 Arya Artya duduk pada sebongkah batu Arya Artya lemas mengetahui jumlah Metafora

  ‘Jelas’ besar, kehilangan lidahnya. (399) emas yang sebenarnya.

  informasi

  20 Epizeukis Cemooh

  “Rampok-rampok yang rampok-merampok!” Dituturkan oleh Arya Artya kepada Arok

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Sarkasme Ancam

  Sarkasme Cemooh

  27 Yang ditemukan hanya batu dan batu dan

  batu. (403)

  Kebo Ijo dan pasukannya serta jajaro memeriksa daerah pendulangan emas.

  Epizeukis

  ‘Jelas’

  informasi

  28

  “Terkutuk kau Empu Gandring.” (404)

  Dituturkan oleh Kebo Ijo ketika mendapati rumah Gusti Putra kosong.

  29 Dasar sudra berkepala anjing!

  “Sambar Geledek!” maki Kebo Ijo. (403)

  ” (404)

  Dituturkan oleh Kebo Ijo ketika mendapati rumah Gusti Putra kosong.

  Sarkasme Cemooh

  30 Malah menyobeki pakaian mayat sehingga

  Kidang itu telanjang bulat seperti bayi besar dalam gendongan induknya. (404)

  Mayat Kidang Telarung dibawa oleh seekor orang utan betina.

  Simile Rangsang

  31 Dalam keadaan demikian para prajurit

  seperti juga kanak-kanak sedang menumpas orangutan selama mi mereka melingkar ke

  Prajurit Kebo Ijo berusaha mengambil mayat Kidang Telarung yang dibawa oleh orang utan betina.

  Simile ‘Jelas’ informasi

  Dituturkan oleh Kebo Ijo ketika mendapati rumah Gusti Putra kosong.

  Pekik Arya Artya. (399) saat ia mengetahui jumlah emas yang sebenarnya.

  21

  Dituturkan oleh Arya Artya sebelum tewas.

  “Brahmana yang karena emas telah lupa daratan lupa lautan, menyarangkan diri di tengah-tengah anak-anak muda yang punya perkara sendiri. Cih!” (399)

  Dituturkan oleh Arok untuk menyindir Arya Artya.

  Metafora Cemooh

  22 Arya Artya terjungkal di tanah bermandi

  darah. (400)

  Sepucuk tombak melayang ke Arya Artya. Hiperbola

  ‘Jelas’

  informasi

  23

  “Terkutuk, kau, Arok, sudra pembunuh bra hmana!” (400)

  Sarkasme Ancam

  informasi

  24 Matanya menyala-nyala menyemburkan

  dendam. (401)

  Hayam bebas dari kepungan anak buahnya.

  Hiperbola

  ‘Jelas’

  informasi

  25 Ia berhenti di hadapan Arok dengan dendam

  menyala-nyala pada matanya. (401)

  Hayam bebas dari kepungan anak buahnya.

  Hiperbola

  ‘Jelas’

  26

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  belakang hewan itu dan menghantami tubuh belakangnya dengan senjata. (404)

  32 Kebo Ijo gemetar. Ia merasa kepalanya Kebo Ijo merasa sedang bersama Ken Simile Rangsang

  seakan kini berisi angin dan hatinya penuh Dedes di dalam pura, menjaga mayat padat oleh maut yang mengancam-ngancam Kidang Telarung. dengan seratus cara. (411)

  33 Kastanya akan membikin ia berapi-api Belakangka sudah merencanakan untuk Hiperbola

  ‘Jelas’ menghadapi si sudra Langi Tunggul menguasai Tumapel dengan informasi Ametung. (417) memanfaatkan Kebo Ijo.

  34 Hujan jatuh dengan derasnya, dan keadaan Menggambarkan keadaan hutan saat Personifikasi

  ‘Jelas’ dalam hutan semakin muram. (423) terjadi perang.

  informasi

  35 Pasukan itu seakan bukan meninggalkan Pasukan Arok menuju ke jalanan negeri Simile

  ‘Jelas’ perkelahian yang habis dimenangkan, tapi setelah menangkap Kidang Gumelar. informasi dari asrama untuk berparade, dengan setiap prajurit berseri

  —seri penuh kepercayaan diri dan kepercayaan pada pimpinannya. (427)

  36 Arok memacu kudanya seakan hendak Ketika terjadi pertempuran di dalam Simile ‘Jelas’ menyerbu memasuki medan pertempuran. hutan. informasi

  (427)

  37 Dituturkan Arok di hadapan Tunggul Zeugma Protes

  “… Bukan lagi persoalan sabar Yang Mulia,

  Ametung yang menanyakan kewajiban

  tetapi hidup dan mati. …” (429) Arok kepada Akuwu.

  38 Ia merasa sangat, sangat lemah, tanpa Tunggul Ametung merasa seorang diri Epizeukis

  ‘Jelas’ penunjang begini. (436) setelah mengetahui keadaan yang terjadi informasi di Tumapel.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

BAB IX RAHASIA EMPU GANDRING No. Data Konteks Gaya Bahasa Daya Bahasa

  “Baiklah. Sekarang Tuan beri sahaya nasihat bagaimana harus menghadapi Arok keparat ini?” (444)

  Personifikasi ‘Jelas’ informasi

  Kebo Ijo dan beberapa pengawal pergi meninggalkan kediaman Empu Gandring.

  ditelan kegelapan malam. (444)

  6 Beberapa bentar kemudian mereka hilang

  Ironi Keluh

  Dituturkan oleh Kebo Ijo saat mengunjungi kediaman Empu Gandring membahas pasukan Kebo Ijo yang ditahan Arok.

  (444)

  “Anak buah saya yang delapan? Mereka bisa berkicau di bawah lecutan cambukny a.”

  5

  Sarkasme Cemooh

  Dituturkan oleh Kebo Ijo saat mengunjungi kediaman Empu Gandring membahas pasukan Kebo Ijo yang ditahan Arok.

  1 Seperti anjing mendekati tuannya yang

  membawa tongkat pemukul Kebo Ijo datang pada Empu Gandring untuk mengadukan halnya. (441)

  Simile Sesal

  Dituturkan oleh Empu Gandring saat Kebo Ijo mengunjungi kediamannya.

  “Sekiranya rencana pribadi terkutuk itu sudah saya ketahui seb elumnya. … Semua rencana kita gagal dalam tangan tuan. Tuan terusir dari pekuwuan seperti bukan keturunan satria. …” (441)

  3

  Sinisme Sesal

  Dituturkan oleh Empu Gandring saat Kebo Ijo mengunjungi kediamannya.

  “…Mengapa hanya seorang kidang tanpa arti Tuan binasakan? …” (441)

  2

  informasi

  ‘Jelas’

  Simile

  Kebo Ijo mengunjungi kediaman Empu Gandring.

  4

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Dituturkan oleh Belakangka saat mengunjungi Kebo Ijo dan mengajaknya naik ke kereta.

  Dituturkan oleh Belakangka saat mengunjungi Kebo Ijo dan mengajaknya naik ke kereta.

  Sarkasme Provokasi

  13

  “Hanya Tunggul Ametung yang berani lakukan itu. Berani karena bodohnya.” (450)

  Dituturkan oleh Belakangka saat mengunjungi Kebo Ijo dan mengajaknya naik ke kereta.

  Ironi Cemooh

  14

  “…Semua itu disebabkan Arok, si keparat itu. …” (451)

  Sarkasme Cemooh

  12

  15

  “Demi Hyang Wisynu, tidak, Yang Suci.” (453)

  Dituturkan oleh Kebo Ijo saat Belakangka mengunjungi dan mengajaknya naik ke kereta.

  Apostrof Sumpah

  16 Kereta itu kembali memasuki kota. Dan Kebo

  Ijo telah bermandi keringatnya sendiri. (455)

  Ketika kereta yang dinaiki Kebo Ijo dan Belakangka memasuki kota.

  Hiperbola ‘Jelas’ informasi

  “ … Maka jalan yang terbuka dan pertama- tama hanya membinasakan brahmana terkutuk itu.” (449)

  7

  “Kebo Ijo memang terlalu dungu, dan nama sahaya sudah terlanjur terbawa-bawa oleh si goblok itu.” (445)

  Kembalinya Yang Suci Belakangka dari desa Sumberpetung dengan pasukan berkuda.

  Dituturkan oleh Empu Gandring saat tengah malam ada seorang tamtama yang datang mengunjunginya.

  Sarkasme Cemooh

  8

  “Memang Kebo Ijo keparat. Pantas ditembak dari belakang, hina tanpa sedikitpun kehormatan.” (447)

  Dituturkan oleh Empu Gandring saat mendapati anjingnya mati terkena tikaman beracun di depan rumah.

  Sarkasme Cemooh

  9 Belakangka kembali dari Sumberpetung

  dalam iringan pasukan kuda seperti seorang akuwu. (448)

  Simile

  Dituturkan oleh Belakangka saat mengunjungi Kebo Ijo dan mengajaknya naik ke kereta.

  ‘Jelas’

  informasi

  10

  “Semoga para dewa tetap melindungimu, anakku.” (448)

  Dituturkan oleh Belakangka ketika mengunjungi asrama Kebo Ijo.

  Apostrof Harap

  11

  “Disimpulkan, bahwa perkembangan yang buruk ini bersumber pada satu sebab: Arok si Syiwa durhaka itu.” (449)

  Sarkasme Cemooh

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Dituturkan oleh Dang Hyang Lohgawe ketika Arok menceritakan keadaan Tumapel, adanya persekutuan antara Kebo Ijo, Belakangka, tamtama, dan Empu Gandring.

  21 Maka persekutuan dua orang itu ia anggap

  sebagai permainan dua ekor cangcorang yang berkasih-kasihan untuk saling memangsa. (461)

  Arok mempelajari siasat dan pemikiran Empu Gandring untuk menguasai Tumapel.

  Simile ‘Jelas’ informasi 22 “Hati-hati, garudaku, jangan sampai

  ketajaman parasyu Hyang Ganesha dan irama aksimalanya terlepas dari tanganmu.

  …” (462)

  Apostrof Nasihat

  ‘Jelas’

  23 Menerima jawaban itu langsung ia

  perintahkan anak buahnya menerobosi

  Setelah mendapat jawaban dari Lohgawe, Arok segera memerintahkan anak

  Klimaks

  ‘Jelas’

  informasi

  informasi

  17

  “Demi Hyang Wisynu, sahaya akan kembalikan lima kali lipat setelah berhasil.” (456)

  19 Tanpa Gandring para tamtama itu

  Dituturkan oleh Kebo Ijo saat mengunjungi Belakangka di kediamannya. Kebo ijo menerima kantong berisi lima puluh ribu catak dan dua ribu saga emas dari Belakangka.

  Apostrof Sumpah

  18 Ia menguasai persenjataan Tumapel. Dan ia

  mempersatukan para tamtama di bawah pengaruhnya dan perintahnya, namun mempertentangkan satu dengan yang lain. (460)

  Arok mempelajari siasat dan pemikiran Empu Gandring untuk menguasai Tumapel.

  Oksimoron ‘Jelas’ informasi

  sebaliknya akan bercerai-berai seperti serumpun anak ayam kehilangan induk. (460)

  Arok mempelajari siasat dan pemikiran Empu Gandring untuk menguasai Tumapel.

  Arok mempelajari siasat dan pemikiran Empu Gandring untuk menguasai Tumapel.

  Simile

  ‘Jelas’

  informasi

  20 Ia menduga ahli senjata itu sudah banyak

  makan garam dan cukup rontal yang telah dipelajarinya. (461)

  Metafora

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Sarkasme Ancam

  Dituturkan oleh Arok ketika mengunjungi paramesywari. Saat itu Ken Dedes Apostrof Nasihat

  “Darah pencuci kaki Hyang Mahadewa Syiwa diperlukan anak Mpu Parwa.

  29

  Apostrof Keluh

  Dituturkan oleh Arok ketika mengunjungi paramesywari. Saat itu Ken Dedes menangis, timbul dalam hatinya keraguan tentang anak yang dikandungnya tidak akan mengenal bapanya.

  serahkan hidup dan matinya padak u?”

  informasi 28 “Bukankah demi Hyang Mahadewa telah kau

  ‘Jelas’

  Keadaan Tumapel yang sepi. Polisidenton

  berkeliaran di jalan-jalan. (469)

  27 Hanya babi dan anjing dan kucing

  malam gelap berhujan menghubungi pasukan-pasukannya di utara, barat, dan selatan kota, memerintahkan mengepung Kutaraja dalam tiga hari mendatang. (462)

  buahnya untuk mengepung Kutaraja dalam tiga hari.

  “Baik. Kalau kau bohong, tubuhmu tidak akan dibakar, akan kami serahkan pada anjing-anjing pekuwuan. Dam Tim anjingmu yang telah mati itu, akan datang 3ikut menyantap tubuhmu.” (469)

  26

  informasi

  ‘Jelas’

  Hiperbola

  Dituturkan oleh Arok ketika menyidang Empu Gandring.

  mempertahankannya sampai titik darah terakhir. (467)

  25 Dia dan pasukannya akan

  Metafora Klaim

  Dituturkan Arok ketika mendatangi pabrik senjata Empu Gandring untuk mengecek senjata yang dipesannya dan menyampaikan pesan untuk segera menghadap Akuwu. Setelah itu, ia menyidang Empu Gandring atas semua kesalahannya.

  “Ketiga, engkau mencoba mengadu domba antara Sang Akuwu, Sang Paramesywari dan aku melalui pesuruhmu yang menamakan dirinya Kebo Ijo, …” (466)

  24

  Dituturkan oleh Arok ketika menyidang Empu Gandring dan meminta keterangannya tentang penyerbuan ke pekuwuan.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  untuk menjemput Empu Gandring dan mendapatkan pabrik senjata itu dalam suasana murung. (488)

  informasi

  ‘Jelas’

  Perifrasis

  Dituturkan oleh Arok kepada Dedes setelah menyampaikan terimakasih kepada prajurit di tungguk kemit.

  “Yang berbelit-belit hanya cara mereka hendak menjangkaukan tangan pada singgasana.” (493)

  35

  Asidenton ‘Jelas’ informasi

  Kebo Ijo pergi mengunjungi asrama- asrama dan didapatinya telah kosong.

  menyatakan sesuatu, takut salah, takut ketahuan ketidaktahuannya, takut kehilangan wibawa. (489)

  34 Di hadapan mereka ia ternyata tidak berani

  Personifikasi ‘Jelas’ informasi

  Prajurit Tumapel diberi libur oleh Kebo Ijo. Saat itu, ia pergi mengunjungi pabrik senjata Empu Gandring.

  Begitulah sepanjang sejarah titah di atas bumi ini. Kuatkan hatimu, jangan jatuh ke bumi sebagai buah membusuk tak mampu matang. Kau brahmani, kuat hati, kuat ilmu.

  ...” (471)

  Metafora Protes

  Dituturkan oleh Belakangaka saat membela diri setelah ditangkap oleh anak buah Arok dan dihadapkan pada paramesywari.

  “Yang Suci belum juga mengakui hendak mengail di air keruh? Sahaya ingin dengarkan pengakuan itu.” (486)

  32

  Simile Klaim

  Dituturkan oleh Arok kepada paramesywari setelah Kebo Ijo menghadap paramesywari dan seluruh pasukan Kebo Ijo keluar dari pekuwuan.

  “Begitulah jadinya gerakan Empu Gandring, berkembang tidak menentu, seperti kuda liar tak tahu tujuan.” (479)

  31

  Personifikasi ‘Jelas’ informasi

  Hujan turun dengan derasnya dan angin bertiup kencang di wilayah Tumapel.

  mendung dan pepohonan nampak lesu-berat terbebani air hujan. Udara terasa tebal untuk paru-paru. (475)

  30 Puncak gunung-gemunung hilang tertutup

  menangis, timbul dalam hatinya keraguan tentang anak yang dikandungnya tidak akan mengenal bapanya.

  33 Dalam pengawalan kuat ia sendiri pergi

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

BAB X JATUHNYA TUNGGUL AMETUNG No. Data Konteks Gaya Bahasa Daya Bahasa

  1 Di belakangnya akan menyusul pasukan Pembagian undian yang dilakukan oleh Anafora ‘Jelas’

  Umang. Di belakangnya lagi pasukan Tanca. pasukan Arok dengan sut untuk informasi Dan di belakang ketiga-tiga pasukan menentukan posisi pasukan ketika akan mengikuti kanak-kanak dan orang-orang tua, memasuki Kutaraja. juga ibu-ibu dengan anak dalam gendongan atau dalam tuntunan. (495)

  2 Dan di belakang ketiga-tiga pasukan Pembagian undian yang dilakukan oleh antiklimaks

  ‘Jelas’ mengikuti kanak-kanak dan orang-orang tua, pasukan Arok dengan sut untuk informasi juga ibu-ibu dengan anak dalam gendongan menentukan posisi pasukan ketika akan atau dalam tuntunan. (495) memasuki Kutaraja.

  3 Dan air yang tergenang di jalanan tak Suasana sekitar saat pasukan Arok dalam Simile

  ‘Jelas’ sempat istirahat, memercik, dan berkecibak perjalanan menuju Kutaraja untuk informasi kena terjang ribuan pasang kaki seakan tiada menyaksikan jatuhnya Tunggul Ametung. kan akhirnya. (496)

  4 Barisan petani yang mengikuti membawa Barisan petani yang turut serta menuju ke Asidenton ‘Jelas’

  senjata beraneka macam: kapak, canggah, Kutaraja untuk menyaksikan jatuhnya informasi trisula, pisau dapur, sabit, clurit, pelempar Tunggul Ametung. batu. (496)

  5 Dalam dingin hujan itu sebentar-sebentar Keadaan Umang saat turut serta dengan Klimaks Rangsang

  Umang menyisih dari barisannya, menekan pasukannya menuju ke Kutaraja untuk perutnya, menahan muntah. Kemudian ia menyaksikan jatuhnya Tunggul Ametung. menyusul. (496)

  6 Juga para petani mengikuti mereka, laki- Pasukan petani yang terdiri dari laki-laki, Simile

  ‘Jelas’

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  “… Balatentaraku sendiri hendak balik gagang terhadapku? Keparat!” (502)

  informasi

  12

  “Jagad Dewa! Balatentaraku sendiri hendak balik gagang terhadapku

  ? Keparat!” (502)

  Dituturkan oleh Tunggul Ametung karena kaget mendengar berita yang disampaikan Ken Dedes tentang keadaan pasukannya.

  Metafora Keluh

  13

  Dituturkan oleh Tunggul Ametung karena kaget mendengar berita yang disampaikan Ken Dedes tentang keadaan pasukannya.

  Klimaks

  Sarkasme Cemooh

  14

  “… Sekuat itu dalam hanya dua bulan! Dalam dua tahunpun aku tak mampu!” (502)

  Dituturkan oleh Tunggul Ametung karena kaget mendengar berita yang disampaikan Ken Dedes tentang keadaan pasukannya.

  Epizeukis Klaim 15 “Belajar percaya, Kakanda, belajar

  mempercayai.” (502)

  Dituturkan Ken Dedes yang mencoba menenagkan Tunggul Ametung setelah Epizeukis Nasihat

  ‘Jelas’

  perempuan dan kanak-kanak, seakan tidak berangkat perang. (496)

  perempuan, dan anak-anak turut serta menuju ke Kutaraja untuk menyaksikan jatuhnya Tunggul Ametung. informasi

  Keadaan Tunggul Ametung yang semakin memburuk.

  7 Dan matari seakan tidak akan muncul lagi

  untuk selamanya. Mendung tebal dan hujan terus-menerus seakan sengaja hendak merangsang tumbuhnya benih baru dalam kehidupan di Tumapel. (497)

  Suasana saat itu di Tumapel. Simile

  ‘Jelas’

  informasi

  8 Destarnya tak terawat dan matanya kuyu

  memandang jauh tanpa melihat. (497)

  Apofasis ‘Jelas’ informasi

  mendudukkannya dan mengangkat kakinya sebelah dan sebelah. (499)

  9 Suaranya rendah seperti keluar dari dasar

  perut. (497)

  Suara Tunggul Ametung. Simile Rangsang

  10

  “Kepala berdenyut seperti pecah.” (498)

  Dituturkan Tunggul Ametung ketika ditanya Ken Dedes tentang keadaannya.

  Simile Klaim

  11 Ia tarik suaminya ke peraduan,

  Ken Dedes saat membantu Tunggul Ametung naik ke peraduan.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  mendapat berita tentang keadaan pasukannya.

16 Dituturkan oleh Tunggul Ametung saat ia Epizeukis Perintah “Yang keras! Keras! Lebih keras!” pekiknya.

  (502) meminta dipijit oleh istrinya.

  17 Dituturkan oleh Tunggul Ametung dalam Sarkasme Ancam

  “Akan aku belah kepalamu dengan tanganku

  keadaan mata terkatup di atas peraduan

  sendiri.” (503) kepada Ken Dedes.

  18 Ia menjadi canggung tanpa Empu Gandring. Empu Gandring tertangkap oleh pasukan Silepsis

  ‘Jelas’ Namun ia lega juga dengan hilangnya orang Arok. Pada saat itu Kebo Ijo adalah alat informasi yang pandai menguasai dirinya itu. (504) dari Empu Gandring untuk menguasai

  Tumapel.

  19 Ia menjadi kecil hati tanpa Belakangka, Catak dan saga yang dimiliki Kebo Ijo Metafora

  ‘Jelas’ apalagi catak dan saga sudah mendekati mendekati habisnya.

  informasi

  habisnya. (504)

  20 Dituturkan oleh Kebo Ijo di hadapan para Apostrof Janji

  “... Dengan cakra Hyang Wisynu, dengarkan Kebo Ijo bicara, akan kupelihara Gerakan tamtama yang menanyakan keberadaan Empu Gandring ini tanpa Empu Gandring.” Empu Gandring dan Yang Suci (508) Belakangka.

  21 Dituturkan oleh salah seorang pengiring Apostrof Klaim

  “Aku ikut bersama denganmu, Kebo, karena para dewa lebih dekat pada seorang satria yang telah dipilih Kebo Ijo kepada

  tamtama yang menanyakan keberadaan

  daripada sudra. ...” (509)

  Empu Gandring dan Yang Suci Belakangka.

  22 Dituturkan oleh salah seorang pengiring Apostrof Protes

  “… Tindakan sepenting ini tidak patut tanpa diketahui oleh Hyang Wisynu yang telah dipilih Kebo Ijo kepada

  . …”

  tamtama yang menanyakan keberadaan Empu Gandring dan Yang Suci Belakangka.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  23 Dituturkan oleh Kebo Ijo di hadapan para Apostrof Optimis

  “Dengan memohon pada Hyang Wisynu kita tidak akan bersalah pada para dewa dan tamtama untuk meyakinkan mereka. juga tidak pada Kediri,” Kebo Ijo menambahi. (509)

  24 Dari sebelah barat pasukan si mata satu Formasi pasukan Arok ketika memasuki Zeugma

  ‘Jelas’ Mundrayana membawa serta dengannya Kutaraja.

  informasi

  semua penduduk desa kaki Gunung Arjuna, laki dan perempuan, tua dan muda. (514)

  25 Melihat itu pasukan Mundrayana Pasukan kuda Kediri yang datang tiba-tiba Zeugma ‘Jelas’

  memerintahkan penduduk yang serta minggir menuju ke arah datangnya pasukan Arok. informasi ke kiri dan kanan jalan. (515)

  26 Mereka menyibak diri seperti gelombang Pasukan kuda Kediri yang datang tiba-tiba Simile

  ‘Jelas’ pecah dua. (515) menuju ke arah datangnya pasukan Arok. informasi

  27 Anak panah melesit ke udara seperti Pasukan kuda Kediri yang datang tiba-tiba Simile ‘Jelas’

  sekelompok awan, membikin terdepan menuju ke arah datangnya pasukan Arok informasi pasukan kuda itu membanting arah ke kiri tiba-tiba mendapat serangan. dan kanan. (516)

  28 Mereka maju lagi dan matari pun hilang Pasukan Arok melanjutkan perjalanan Personifikasi

  ‘Jelas’ ditelan oleh pegunungan dan puncak setelah menyerang pasukan berkuda informasi rimba.(517) Kediri.

  29 Guruh terdengar terus-menerus menggerutu Suasana malam pada saat itu yang Personifikasi Rangsang di kejauhan. (518) menandakan akan turunnya hujan.

  30 Dituturkan oleh Oti untuk menyemangati Epizeukis Perintah

  “Kuatkan, kuatkan. Katakan pada anak dalam kandunganmu itu: jangan ganggu ibu Umang yang ikut berperang dalam yang sedang maju ke medan- keadaan hamil. perang.” (518)

  31 Malam itu, seratus depa jalanan kiri dan Suasana di pendopo Tumapel saat itu. Personifikasi

  ‘Jelas’ seratus depa jalanan kanan depan pekuwuan

  informasi

  bermandikan sinar damar besar, berjajar-

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Percakapan di dalam pendopo tidak terdengar sampai keluar.

  Hiperbola Protes 36 “Tumapel adalah bagian dan Kediri,

  Tumapel harus menghormati wakil Kediri,” pekik Belakangka. (535)

  Dituturkan oleh Belakangka yang menegaskan bahwa Tumapel bagian dari Kediri.

  Sinekdok Deklarasi

  37 Suara percakapan di dalam pendopo tersapu

  oleh hujan, guruh, dan petir. (536)

  Personifikasi Rangsang 38 “Itulah Yang Suci Belakangka, mengaku

  “Mengerti kalian semua? Kawula Tumapel tak pernah berhutang sebutir beras pun pada Kediri.” (535)

  wakil dari Kediri. Sebelum kedatangannya, Tunggul Ametung hanya penjahat biasa, perampok, perampas, penculik dan pembunuh. Setelah kedatangannya orang Syiwa mulai dianiaya. ...” (537)

  Dituturkan oleh Belakangka kepada Lohgawe saat ia bertanya apakah pantas menuduh wakil Kediri seperti itu.

  Klimaks Provokasi

  39

  “Binasakan mereka semua!” orang mulai Dituturkan oleh Arok yang memberi

  Sarkasme Perintah

  Dituturkan oleh Lohgawe di hadapan seluruh kawula Tumapel jika runtuhnya Tumapel tidak ada sangkut pautnya dengan Kediri.

  jajar sampai ke pelataran, pendopo pekuwuan. (520)

  32 Tetapi sorak perang dari sebelah utara dan

  tombak menyeringai dan luar. (523)

  barat mulai mendesak, menggelombang seperti laut pasang. (521)

  Prajurit Tumapel yang terdesak dari arah selatan berlarian menuju ke pusat ibukota.

  Simile

  ‘Jelas’

  informasi

  33 Tapi tak mungkin, juga di situ tombak-

  Kebo Ijo tak bisa melarikan diri setelah membunuh Tunggul Ametung lalu melihat Arok datang dengan regu bersenjata, lari ke pintu Taman Larangan juga tidak mungkin.

  Epanalepsis Sesal

  Personifikasi

  ‘Jelas’

  informasi

  34

  “Mati, Arok, Sang Akuwu mati,” tangis Dedes. (525)

  Dituturkan oleh Ken Dedes yang menyadari jika suaminya telah mati.

  35

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  bersorak gegap gempita menenggelamkan perintah kepada pasukannya untuk derai hujan. (540) membinasakan Belakangka, Kebo Ijo,

  tamtama, dan prajurit Tumapel.

  40 Pasukan Mundrayana bersorak-sorai Ketika hujan berhenti, pasukan Hiperbola

  ‘Jelas’ mengarak Belakangka dan menghujaninya Mundrayana mengarak Belakangka. informasi dengan maki dan kutukan. (540)

  41 Dituturkan oleh pasukan dari luar kota Epizeukis Pinta

  “Nyatakan sesuatu pada kami, Arok!

  kepada Arok memintanya menyatakan

  “Nyatakan!Nyatakan!” (543) sesuatu.

  42 Airmatanya mengalir menyeberangi pipinya. Dedes kawatir tempatnya sebagai Personifikasi Rangsang

  (544) brahmani dan Paramesywari terdesak.

  43 Dituturkan oleh Dang Hyang Lohgawe di Apostrof Klaim

  “Dengarkan kalian semua yang telah

  depan seluruh rakyat Tumapel yang mulai

  memenangkan perang. … Para dewa telah membenarkan kejahatan Tunggul Ametung berseru-seru kehilangan kesabaran. dan kemenangan kita. Akuwu itu mati di bawah pedang Kebo Ijo atau kita, sama saja, karena itulah kehendak para dewa.” (545)

  44 Ia merasa sebatang kara di tengah keriuhan Dedes menangis lagi di belakang Paradoks

  ‘Jelas’ ini, seorang yatim piatu di tengah-tengah Lohgawe mengetahui tak ada seorangpun informasi padang batu. (546) yang memperhatikan dan

  menghormatinya.

  45 Dituturkan Arok setelah diangkat menjadi klimaks Persuasi

  “bahwa kemenangan bukan satu-satunya buah usaha. Maka jangan ulangi kejahatan orang pertama di Tumapel di hadapan Tunggul Ametung dan balatentaranya. seluruh rakyatnya.

  Jangan ada seorangpun yang merampok, mencuri, merampas, menganiaya, memperkosa seperti mereka. Dalam hal ini aturan dari Sri Baginda Erlangga masih

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  tetap berlaku: hukuman mati terhadap mereka itu. …” (546)

  46 Dituturkan oleh Lohgawe di hadapan Anafora Deklarasi

  “… Dia mendapat pancaran sepenuhnya dari Hyang Bathara Guru. Dia adalah orang seluruh kawula Tumapel yang terbaik di antara kalian. Dia adalah titisan menegaskan status Arok.

  Hyang Wisynu, karena dialah yang memelihara kalian dari bencana Tunggul Ametung dan bala tentaranya. Dia adalah Akuwu-mu, Akuwu Tumape l!” (548)

  47 Dituturkan oleh Lohgawe di hadapan Apostrof Klaim

  “… Dia mendapat pancaran sepenuhnya

  seluruh kawula Tumapel yang

  dari Hyang Bathara Guru. … Dia adalah titisan Hyang Wisynu, karena dialah yang menegaskan status Arok. memelihara kalian dari bencana Tunggul Ametung dan bala tentaranya. …” (548)

  48 Hanya ia sendiri kehilangan tempat di Ken Dedes kehilangan kedamaiannya saat Epizeukis

  ‘Jelas’ samping suami yang dicintainya, kehilangan menuju pura bersama Arok, Umang, informasi balatentara yang dapat diperintahnya, Bana, dan Ki Bango Samparan. kehilangan kepercayaan dari orangtua yang dicintai dan dipujanya setulus hati. (553)

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

BIODATA PENULIS

  Angelina Mellissa Yuliyanto lahir di Semarang pada tanggal 26 Juni 1991. Ia menyelesaikan pendidikan di Taman Kanak-Kanak Sinar Matahari tahun 1997. Ia masuk jenjang pendidikan sekolah dasar didua tempat yaitu dari kelas I-III di SD Kebon Dalem Semarang dan kelas IV-VI di SD Cahaya Nur Kudus dan tamat jenjang sekolah dasar tahun 2003. Melanjutkan pendidikan di SMPN 1 Kudus tahun 2003. Pendidikan SMA diselesaikan tahun 2009 di SMA Keluarga Kudus.

  Pada tahun 2009 ia melanjutkan pendidikan ke Universitas Sanata Dharma dan tercatat sebagai mahasiswa program studi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia.

  Masa pendidikan di Universitas Sanata Dharma, di akhiri di bulan Juli 2013 dengan menulis skripsi sebagai tugas akhir dengan judul Daya Bahasa dalam Gaya Bahasa pada Novel Arok Dedes karya Pramoedya Ananta Toer.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  

ABSTRAK

  Yuliyanto, Angelina Mellissa. 2013. Daya Bahasa dalam Gaya Bahasa pada

  Novel Arok Dedes Karya Pramoedya Ananta Toer. Skripsi. Yogyakarta:

  Program Studi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia, dan Daerah, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma. Tujuan dari penelitian ini adalah mendeskripsikan daya bahasa yang terungkap melalui gaya bahasa dalam novel Arok Dedes karya Pramoedya Ananta

  Toer. Penelitian ini termasuk penelitian kepustakaan yang berusaha mendeskripsikan data yang berupa kata-kata dalam suatu dokumen. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik baca dan catat. Sumber data penelitian adalah novel

  

Arok Dedes karya Pramoedya Ananta Toer. Sedangkan data penelitian ini adalah

  kalimat dan tuturan yang terdapat dalam novel yang menggunakan gaya bahasa yang diduga mengandung daya bahasa.

  Penelitian ini menggunakan dasar teori Pragmatik yang menekankan pada fungsi komunikatif bahasa, terutama daya bahasa yang terungkap melalui gaya bahasa. Hasil penelitian ini adalah (1) daya bahasa yang terdapat dalam novel

  

Arok Dedes yaitu daya bahasa yang terungkap dari data berupa kalimat meliputi

  daya jelas, daya rangsang, daya simbol, daya seremoni. Sedangkan, daya bahasa yang terungkap dari data yang berupa tuturan meliputi daya puji, daya optimis, daya ancam, daya protes, daya cemooh, daya nasihat, daya saran, daya klaim, daya deklarasi, daya sesal, daya keluh, daya pinta, daya harap, daya perintah, daya dogma, daya magi, daya provokasi, daya persuasi,daya sumpah, daya janji; (2) majas yang terdapat dalam novel kebanyakan adalah majas pertentangan yang terungkap melalui berbagai bentuk gaya bahasa, seperti gaya bahasa hiperbola, litotes, ironi, oksimoron, zeugma, silepsis, paradoks, klimaks, antiklimaks, apostrof, apofasis, sarkasme, dan sinisme; majas perbandingan meliputi gaya bahasa simile, metafora, personifikasi, alegori, antitesis, dan perifrasis; majas pertautan meliputi gaya bahasa metonimia, sinekdok, alusi, eufemisme, eponim, epitet, erotesis, asidenton, dan polisidenton; majas perulangan meliputi gaya bahasa asonansi, kiasmus, epizeukis, anafora, epistofora, epanalepsis, dan anadiplosis.

  Berdasarkan temuan hasil penelitian di atas dapat disimpulkan bahwa daya bahasa dapat muncul dalam berbagai jenis gaya bahasa. Hal ini karena pengarang ingin mengungkapkan imajinasi agar seakan-akan dunia fiksi itu benar-benar nyata.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  

ABSTRACT

  Yuliyanto, Angelina Mellissa. 2013. The Power of Languages Seen from Figurative Languages in Pramoedya Ananta T oer’s Arok Dedes.

  Undergraduate Thesis. Yogyakarta: Education of Indonesian Language and Literature Study Programme, Faculty of Education, Sanata Dharma University. The purpose of this study is to describe the power of language that is revealed through t

  he figurative languages in Pramoedya Ananta Toer’s Arok

Dedes. This study is a library research that describes the data in the form of words

in one document. The collection of the data is done by read and write technique.

  The source of the data is the novel of Arok Dedes written by Pramoedya Ananta Toer. While the data itself consists of the sentences and utterances containing the power of language found in the novel.

  This study applies the basic theory of Pragmatics that is stressed on the communicative function of language, especially the power of language that is revealed through figurative language. The result of the study are (1) the power of languages that can be found in Arok Dedes are the power of language that are conveyed through the data in the form of setences consist of the power of explanation, the power of stimulation, the power of symbol, the power of ceremony. Meanwhile, the power of language that are conveyed through the data in the form of speech consist of the power of complimentary, the power of optimism, the power of threat, the power of protest, the power of mockery, the power of advice, the power of suggestion, the power of claiming, the power of declaration, the power of regret, the power of complain, the power of vowing, the power of request, the power of hope, the power of command, the power of dogma, the power of magi, the power of provocative, the power of persuasion, and the power of promis; (2) the figurative languages that are contained in the novel are contradictory figurative language that is represented by various kind of figurative languages such as hyperbole, litotes, irony, oxymoron, zeugma, syllepsis, paradox, climax, anticlimax, apostrophe, apophasis, sarcasm, and cynicism; comparing figurative languages such as simile, metaphor, personification, allegory, antithesis, pleonasm, and periphrasis; attaching figurative language covers metonymy, synecdoche, allusion, euphemism, eponymy, antonymy, eroticism, asyndeton, and polysyndeton; reiterative figurative languages such as assonance, chiasmus, epizeuxis, anaphora, episthopora, epanalepsis, and anadiplosis.

  Based on the findings of the research above, it can be concluded that the power of language can be found in various figurative languages. This happens because the author wants to deliver the imaginations so that the world of fiction will be seems like a real world.

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Aspek koherensi dalam buku teks bahasa Inggris karya penulis Indonesia
0
6
22
Deiksis dan pemahamannya teks narasi bahasa Arab (telaah novel al-karnak karya Najib Mahfuz)
12
50
164
Padanan frase nomina bahasa arab dalam bahasa indonesia
2
33
69
Nilai moral dalam novel orang miskin dilarang sekolah karya Wiwid Prasetyo dan implikasinya terhadap pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia di sekolah
2
48
147
Gaya bahasa perbandingan dalam kumpulan Cerpen Saksi Mata karya Seno Gumira Ajidarma serta implikasinya terhadap pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia di sekolah
15
149
84
Strategi penerjemahan bahasa Indonesia ke dalam bahasa Arab pada teks kemasan produk makanan ringan
6
67
100
Kata serapan bahasa arab di dalam roman di bawah lindungan ka'bah karya hamka
2
6
76
Penggunaan gaya bahasa pada kumpulan cerpen hujan kepagian karya Nugroho Notosusanto dan implikasinya terhadap pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia di SMA
22
191
127
Nilai moral dalam novel orang miskin dilarang sekolah karya Wiwid Prasetyo dan implikasinya terhadap pembelajaran bahasa dan sastra indonesia di sekolah
2
40
147
Kebudayaan Tionghoa dalam novel dimsum terakhir karya Clarang dan implikasinya terhadap pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia Di SMA
0
7
158
Persepsi pembaca terhadap novel ayat-ayat cinta karya habiburrahman el shirazy dan implikasinya pada pembelajaran bahasa dan sastra indonesia di sekolah
4
32
0
Nilai moral tokoh aku dalam novel Bukan Pasarmalam karya Pramoedya Ananta Toer dan relevansinya dengan pembelajaran bahasa dan sastra indonesia di SMA
11
64
92
BAB I PENDAHULUAN - Diksi & gaya bahasa
1
3
14
Pramoedya Ananta Toer – Arus Balik
2
28
1196
Pramoedya Ananta Toer – Gadis Pantai
0
0
121
Show more