Mus Ifaya, S,Farm.,M.Si.,Apt STIKES Mandala Waluya PDP

 0  7  26  2019-01-31 22:54:06 Laporkan dokumen yang dilanggar

  USULAN POTENSI SENYAWA AKTIF BATANG TUMBUHAN KATIMBOKA [PAKU LAYANGAN] (Dynaria sparsisora Moore) SEBAGAI PENGOBATAN BATU GINJAL TIM PENGUSUL SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKES) MANDALA WALUYA KENDARI APRIL 2016 i

  Kode/ Nama Rumpun Ilmu : 400/ILMU FARMASI

  

HALAMAN PENGESAHAN

PENELITIAN DOSEN PEMULA

Judul Penelitian : Potensi Batang Tumbuhan Katimboka [Paku

Layangan] (Dynaria sparsisora Moore) Sebagai

  Pengobatan Batu Ginjal Kode/ Nama Rumpun Ilmu : 400/ ILMU FARMASI Ketua Peneliti : a. Nama Lengkap : Mus Ifaya, S.Farm.,M.Si.,Apt.

  b. NIDN : 09 0909 8802

  c. Jabatan Fungsional : -

  d. Program Studi : Farmasi

  e. Nomor Hp : 08114036019 Alamat Surel/email : f.

  Anggota Peneliti :

  a. Nama Lengkap : Jastria Pusmarani, S.Farm.,M.Sc.,Apt

  b. NIDN : 09 2007 9001

  c. Perguruan Tinggi : STIKES Mandala Waluya Kendari

  Biaya Penelitian : Diusulkan ke DIKTI Rp 25.000.000,- Kendari, April 2016 Mengetahui Ketua Lembaga Penelitian Ketua Peneliti STIKES MW

La Djabo Buton, SKM.,M.Kes Mus Ifaya, S.Farm.,M.Si.,Apt

NIDN. 00 2708 5907 NIDN. 09 0909 8802

  

Menyetujui

Ketua STIKES

Mandala Waluya Kendari

H.M Idrus , SKM.,M.Kes

  

NIDN. 09 2002 5001

ii

IDENTITAS DAN URAIAN UMUM

  1. Judul Penelitian : Potensi Senyawa Aktif Batang Tumbuhan Katimboka [Paku Layangan] (Dynaria sparsisora Moore) Sebagai Pengobatan Batu

  2. Tim Peneliti :

  No Nama Jabatan Bidang Instansi Alokasi keahlian Asal Waktu (Jam/ minggu)

  1. Mus Ifaya, S.Farm.,M.Si.,Apt Ketua Botani STIKES Farmasi Mandala 8 bulan

  Waluya Kendari

  2. Jastria Pusmarani, S.Farm.,M.Sc.,Apt Anggota 1 Farmako STIKES logi Mandala 8 bulan Waluya

  Kendari

  3. Objek Penelitian

  4. Masa Pelaksanaan Mulai : bulan : Tahun : Berakhir : bulan : Tahun :

  5. Usulan Biaya DRPM Ditjen Penguatan Risbang Rp. 25.000.000,-

  6. Lokasi Penelitian : Laboratorium Farmakologi dan Toksikologi STIKES Mandala Waluya Kendari

  7. Instansi Lain yang terlibat : -

  8. Temuanyang ditargetkan :

  9. Kontribusi mendasar pada suatu bidang ilmu

  10. Jurnal Ilmiah yang menjadi sasaran

  11. Rencana Luaran HKI, buku, purwarupa atau luaran lainnya yang ditargetkan, tahun rencana perolehan atau penyelesaiannya

  iii

  

DAFTAR ISI

  Halaman HALAMAN SAMPUL ........................................................................... i HALAMAN PENGESAHAN ................................................................. ii

  DAFTAR ISI ............................................................................................ iii

  ABSTRAK .......................................................................... …………… iv BAB I. PENDAHULUAN ........................................................................

  1

  1.1. Latar Belakang ....................................................................................

  1

  1.2. Perumusan Masalah .............................................................................

  3

  1.3. Tujuan Penelitian ................................................................................

  3

  1.4. Manfaat Penelitian ................................................................................

  BAB II. TINJAUAN PUSTAKA ..............................................................

  4 2.1. Tinjauan Umum Dynaria sparsisora Moore (Katimboka) ...........

  4 2.1.1. Morfologi.. …………………. .............................................................

  4

  2.1.2. Klasifikasi Tumbuhan Pinang…. ........................................................

  6

  2.1.3. Nama Lain ………………………………..........................................

  6

  2.1.4. Kandungan Kimia……….. .................................................................

  7 2.2. Ekstraksi …………………………………………………………….....

  7

  

iv

  2.3. Maserasi………………………. ...........................................................

  7

  2.3. Etilen glokil………………………………………………………….…

  8 2.4. Batu Ginjal……………………………………………………………..

  8 2.5. Spektrofotometer Serapan Atom ……………………………………....

  11 BAB III. METODE PENELITIAN ..............................................................

  12

  3.1. Tempat dan Waktu Penelitian ................................................................

  12

  3.2. Bahan dan Alat Penelitian .....................................................................

  12 3.2.1. Bahan ................................................................................................. .

  12 3.2.2. Alat .....................................................................................................

  12

  3.3. Prosedur Penelitian ................................................................................

  12

  3.3.1. Penyiapan Sampel………… ...............................................................

  12

  3.3.2. Pembuatan Ekstrak…………..............................................................

  13

  3.3.3. Uji Aktivitas Penghambatan Batu Ginjal…........................................

  13 3.3.3. Analisis Sampel……………………. …..............................................

  14 BAB IV. BIAYA DAN JADWAL PENELITIAN .......................................

  16

  4.1. Anggaran Penelitian ..............................................................................

  16

  4.2. Jadwal Penelitian ..................................................................................

  16

  

v

  DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................

  18 LAMPIRAN 1. Justifikasi Anggaran Biaya ................................................

  19 LAMPIRAN 2. Susunan organisasi tim peneliti dan pembagian tugas .....

  20 LAMPIRAN 3. Biodata Tim Peneliti .........................................................

  21 LAMPIRAN 4. Surat Pernyataan Ketua Peneliti/ Pelaksana .......................

  35 POTENSI BATANG TUMBUHAN KATIMBOKA [PAKU LAYANGAN]

  

(Dynaria sparsisora Moore) SEBAGAI

PENGOBATAN BATU GINJAL

ABSTRAK

  Perlunya penggalian jenis – jenis tanaman obat tradisional, dan cara – cara pemanfaatannya bagi kehidupan manusia perlu mendapatkan perhatian serius, disamping karena tanaman langka terancam punah juga karena kecilnya perhatian terhadap uji klinis tanaman, kuhususnya tanaman obat. Di Indonesia dikenal dengan lebih dari 20.000 jenis tumbuhan obat, namun baru 1000 jenis saja yang sudah didata, dan baru sekitar 300 jenis yang sudah dimanfaatkan untuk pengobatan tradisional.

  Secara tradisional Tumbuhan Katimboka [Paku layangan] Dynaria sparsisora Moore dimanfaatkan oleh masyarakat Etnis Muna sebagai pengobatan batu ginjal. Penggunaan tumbuhan tersebut sebagai obat dilakukan dengan cara diminum air rebusannya. Penelitian ini menjadi sangat penting untuk dilakukan dalam rangka pengembangan obat tradisional khususnya yang berasal dari bahan alam.

  Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh informasi mengenai aktivitas penghambat batu ginjal dari ekstrak etanol batang tumbuhan paku Dynaria

  

sparsisora Moore (Katimboka) dengan melihat kemampuan dalam menghambat

  pembentukan kristal kalsium oksalat di ginjal. Pada akhir perlakuan ginjal tikus

  

vi

  diambil dan dianalisis kadar kalsiumnya menggunakan spektrofotometer serapan atom. Parameter ginjal meliputi warna, bentuk, rasio dan kadar kalsium dalam ginjal. Data hasil penelitian diuji dengan metode statistik Kruskal-Wallis. Kata Kunci : Ekstrak etanol batang tumbuhan Katimboka [Paku layangan] Dynaria

  sparsisora Moore , aktivitas penghambat batu ginjal, etilen glikol, SSA

vii

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

  Perlunya penggalian jenis – jenis tanaman obat tradisional, dan cara – cara pemanfaatannya bagi kehidupan manusia perlu mendapatkan perhatian serius, disamping karena tanaman langka terancam punah juga karena kecilnya perhatian terhadap uji klinis tanaman, kuhususnya tanaman obat. Di Indonesia dikenal dengan lebih dari 20.000 jenis tumbuhan obat, namun bari 1000 jenis saja yang sudah didata, dan baru sekitar 300 jenis yang sudah dimanfaatkan untuk pengobatan tradisional.

  Bagi sebagian masyarakat, obat tradisional merupakan pilihan utama untuk mengatasi berbagai penyakit, sementara bagi sebagian masyarakat lain, obat tradisional menjadi pilihan alternatif pengobatan. Sementara itu, alasan pemakaian obat tradisional saat ini lebih disebabkan semakin tingginya harga – harga obat buatan pabrik yang tidak diimbangi dengan kemampuan daya beli masyarakat. Namun, dibalik kenyataan tersebut, ada kecenderungan bahwa masyrakat modern sekarang ini mulai tertarik pada obat – obat tradisional, misalnya jamu. Alasannya, selain aman digunakan, khasiat beberapa jenis obat tradisional tidak kalah dibandingkan dengan obat – obatan modern (prapanza, 2003)

  Bebarapa jenis penyakit gangguan ginjal yang sering diserita manusia, yaitu batu ginjal, radang saluran kencing, radang ginjal. Pembagian ini didasarkan proses infeksi akibat keberadaan batu sebagai akibat kristalisasi senyawa tertentu pada ginjal maupun saluran kencing ( Margatan, 1996). Dalam kondisi tertentu senyawa oksalat terbentuk larutan sehingga dapat dikeluarkan dari tubuh melalui air kencing. Namun dalam kondisi yang lain, senyawa tersebut dapat bereaksi dengan ion kalsium ( kapur) sehingga membentuk kalsium oksalat yang sukar larut dan cenderung membentuk kristal, semakin lama kristal tersebut akan semakin besar sehingga membentuk gumpalan batu, batu pada ginjal tersebut dapat mengganggu fungsi ginjal maupunsaluran kencing ( Mursito, 2003).

PEDOMAN PENELITIAN DAN PENGABDIAN KEPADA

  Batu ginjal adalah batu – batu kecil yang terbentuk di dalam ginjal akibat pengendapan yang terjadi di urin bergerak turun ke pipa kemih (ureter). Batu ini dapat menyubambat saluran air seni (urethra) dan sewaktu buang air kecil menyebabkan terasa nyeri serta sukar keluar. Kandungan batu ginjal dapat berupa kalsium oksalat dan kalsium posphat atau gabungan keduanya (Nisma,2011). Batu ginjal bisa timbul dikarenakan infeksi di ginjal, atau banyak mengonsumsi kalsium tapi kurang minum. Terlalu tinggi asam urat bisa pula memicu terbentuknya batu ginjal, karena menimbulkan endapan didalam ginjal yang makin lama makin membatu (Margatan, 1996). Ukuran dan bentuk batu bermacam – macam berkisar dari partikel sangat kecil yang dapat lewat tanpa diketahui sampai batu tidak diketahui sampai batu yang berukuran sekitar 5 cm. Selama tidak bergerak, adanya batu tidak diketahui. Tetapi batu yang kecil sekalipun dapat menimbulkan rasa sakit yang hebat ketika berjalan keluar dari ginjal. Perdarahan ringan dapat terlihat akibat luka pada dinding saluran kemih. Proses pembentukan batu terjadi didalam ginjal dibagian muara dari saluran kecil yaitu dibagian yang disebut piramid. Terbentuknya batu dipengaruhi oleh berbagai hal fisika dan kimia antara lain mula – mula kadar suatu zat, misalnya asam urat berlebihan dalam urin disebut supersaturasi sehingga mengendap menjadi kristal, zat – zat lain adalah kalsium oksalat dan strufit. Faktor lain adalah bila inhibitor ( zat pencegah terjadinya kristal) kadarnya berkurang, misalnya sitrat, faktor keasaman urin (pH) serta infeksi. Jneis batu yang sering terdapat dalam ginjal ada empat, yaitu kalsium oksalat (70-75%), strufit ( 20%), asam urat ( 5%) dan sistin (1%) (Saputra, 2009).

  Beberapa penelitian telah dilakukan mengenai efek kelarutan batu ginjal, khususnya batu kalsium dengan menggunakan tanaman tradisional antara lain buah anggur, daun tempunyung, daun jagung, daun keji beling, perasan buah ketimun. Tumbuhan Dynaria sparsisora hidup menempel pada pohon inang, sisa batang pohon atau tumbuh diatas serasah di lantai hutan. Masyakat Etnik Kabupaten Muna.

PEDOMAN PENELITIAN DAN PENGABDIAN KEPADA

  memanfaatkan batang tumbuhan ini sebagai pengobatan batu ginjal dengan cara meminum rebusan batang tersebut.

  Hal tersebut diatas melatar belakangi dilakukanya penguian khasiat efek ektrak etanol batang tumbuhan Paku Dinaria sparsisora Moore dalam mengurangi dan menghambat pembentukan batu ginjal dengan melihat kadar kalsium dalam ginjal. Pada percobaan ini hewan percobaan yang digunakan adalah tikus putih jantan yang diinduksi etilen glikol sebagai pembentukan batu kalsium oksalat sebagai metode uji praklinis yang mendekati keadaan penderita batu ginjal yang sebenarnya, kemudian pemeriksaan kadar kalsium ditentukan dengan metode spektrofotometer Serapan Atom (SSA)

  1.2. Perumusan Masalah

  Apakah ekstrak etanol batang tumbuhan paku Dynaria sparsisora Moore memiliki efek untuk menghambat pembentukan batu ginjal pada tikus putih jantan yang diinduksi etilen glikol dan amonium klorida

  1.3. Tujuan Penelitian

  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dan potensi pemberian ekstrak etanol batang tumbuhan paku layangan Dynaria sparsisora Moore dalam menghambat pembentukan batu ginjal pada tikus putih jantan yang diinduksi etilen glikol dan amonium klorida dengan melihat kadar kalsium dalam ginjal.

  1.4 Manfaat Penelitian

  Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai salah satu obat alterntif sediaan herbal untuk pengobatan batu ginjal, dan menambah informasi tentang batang tumbuhan paku layangan Dynaria

  sparsisora Moore untuk penelitian selanjutnya sebagai pelarut batu ginjal, dan

  diharapkan dapat memberikan sumbangan dalam usaha penemuan obat – obatan baru dari sumber daya alam.

PEDOMAN PENELITIAN DAN PENGABDIAN KEPADA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tinjauan Umum Tumbuhan Dynaria sparsisora Moore

  

Gambar 1. Tumbuhan Paku Layangan (Dynaria sparsisora Moore)

  2.1.1 Klasifikasi

  Regnum : Plantae Divisio : Pteridophyta Class : Pteridopsida Sub class : Polypoditae Ordo : Polypodiales Famili : Polypodiaceae Genus : Dynaria Spesies : Dynaria sparsisora Moore

  2.1.2 Nama Lain Paku simbar layangan, paku langlayangan ( sunda), Katimboka ( Muna).

  2.1.3 Deskripsi Tanaman

  Habitus berupa Semak, tahunan, menempel pada pohon inang, panjang 0,5 – 1 m, Batang Memanjat atau menjalar, mereduksi seperti

PEDOMAN PENELITIAN DAN PENGABDIAN KEPADA

  akar tinggal atau rimpang, permukaan tertutup rambut dan daun penumpu, coklat muda, Daun tunggal, lonjong, tepi bertoreh tajam, ujung runcing, pangkal runnng, panjang 25-40 cm, lebar 15- 20 cm, pertulangan menyirip, hijau. Spora bentuk bulat, menempel dipermukaan bawah daun, letak tersebar, coklat. Akar tunggang, silindtis, coklat, akar rimpang setebal 2-3 cm atau lebih, menjalar pendek, panjang ruas 10 cm, sisik coklat kehitaman, panjang 6-20 mm, lebat tersebar seperti bulu tupai. Daun dimorfik. Daun basal ( daun steril) duduk, bercuping dangkal, panjang 10-50 cm. Anak daun tanpa penyempitan di bagian basal. Sori dalam dua barisan paralel yang teratur atau kadang tidak teratur, dekat tulang daun, bundar, diameter 1- 2 mm. Jenis ini biasanya tumbuh epifit di pohon besar, memanjat spiral, kadang epilitik atau terestrial, pada 1-10 m atau lebih dari atas tanah, pada berbagai tipe hutan primer dan sekunder, perkebunan dan savana. Jenis ini menyukai tempat yang lembab di dataran rendah terutama pada pohon yang tinggi dan sudah tua, dan ditemukan pada 0-1.900m dpl Hartini, 2005).

  2.1.4 Manfaat

  Akar Dynaria sparsisora Moore berkhasiat sebagai obat sakit mata dan pengobatan mencret. Selain itu juga untuk obat tradisional seperti sebagai obat maag, sakit kepala, demam dan obat bengkak (Hovenkamp et all.,1998).

  2.1.5 Kandungan Kimia

  Akar dan daun Dynaria sparsisora Moore mengandung kardenofin, flavanoid dan polifenol (Hovenkamp et all.,1998).

PEDOMAN PENELITIAN DAN PENGABDIAN KEPADA

2.2 Ekstraksi

2.2.1 Pengertian Ekstraksi

  Ekstraksi adalah suatu metode operasi yang digunakan dalam proses pemisahan suatu komponen dari campurannya dengan menggunakan sejumlah massa bahan (solven) sebagai tenaga pemisah. Apabila komponen yang akan dipisahkan (solute) berada dalam fase padat, maka proses tersebut dinamakan pelindihan atau leaching (Maulida, 2010).

2.2.2 Maserasi

  Maserasi dilakukan dengan cara memasukkan 10 bagian simplisia dengan derajat yang cocok ke dalam bejana, kemudian dituangkan cairan penyari sebanyak 75 bagian, ditutup dan dibiarkan selama 5 hari, terlindung dari cahaya sambil diaduk sekali-kali setiap hari lalu diperas dan ampasnya dimaserasi kembali dengan cairan penyari. Penyarian diakhiri setelah pelarut tidak berwarna lagi, lalu dipindahkan ke dalam bejana tertutup, dibiarkan pada tempat yang tidak bercahaya, setelah dua hari lalu endapan dipisahkan.

2.3 Etilen Glikol

  Etilen glikol adalah senyawa kimia turunan yang dibuat dari sekian banyak produk kimia komersial, termasuk polietilen tereftalat (PET) resin, poliester resin tak jenuh, serat poliester lapis. Etilen glikol digunakan sebagai cairan anti pembekuan, penhilang es, pelapis permukaan, pemindah panas, pendingin industri, hidrolik, surfaktan dan pengemulsi. Keracunan akut pada manusia dan hewan pelihara banyak terjadi secara tidak sengaja mengonsumsi cairan tersebut karena rasanya yang manis. Ginjal meripakan organ yang paling

PEDOMAN PENELITIAN DAN PENGABDIAN KEPADA

  peka terhadap etilen glikol dan merupakan target organ primer. Tata cara pengobatan keracuna etilen glikol akut diatur untuk mencegah metabolit asam yang sangat toksik masuk, mengatasi asidosis dan mencegah kerusakan ginjal permanen ( Saputra, 2009).

2.4 Batu Ginjal

2.4.1 Defenisi Batu Ginjal

  Batu ginjal adalah suatu batu yang terdapat dalam saluran kencing yang dapat menghalangi keluarnya urin, sehingga dapat menyebabkan kerusakan ginjal dan gangguan fisiologis. Batu ginjal merupakan kumpulan padat zat-zat kimia, biasanya garam-garam mineral yang terbentuk di dalam tubuh (Smith, 1963; Brunzel, 1994).

  Jenis batu ginjal dibedakan menjadi batu kalsium (kalsium oksalat dan kalsium fosfat), batu struvit, batu asam urat, batu sistin, dan batu sulfat. Sebagian besar batu (75-80%) mengandung kalsium, yang kebanyakan berupa kalsium oksalat (Bangash dkk., 2011).

2.4.2 Patofisiologi

  Pembentukan batu ginjal pada dasarnya terjadi karena terbentuknya kristal yang disebabkan beberapa keadaan fisika dan kimiawi, yaitu :

  a. Kristalisasi Hal ini terjadi bila konsentrasi zat yang relatif tak larut dalam urin (kalsium, oksalat, fosfat) meningkat atau apabila volume urin berkurang (Trihono,1993).

  b. Tidak adanya inhibitor Kristal

PEDOMAN PENELITIAN DAN PENGABDIAN KEPADA

  PEDOMAN PENELITIAN DAN PENGABDIAN KEPADA Inhibitor kristal menghambat pembentukan atau pertumbuhan kristal.

  Apabila kadar inhibitor menurun maka pembentukan kristal di dalam tubuh seseorang akan menjadi lebih mudah. Beberapa contoh dari inhibitor kristal antara lain adalah alanin, magnesium, pirofosfat, sitrat, sulfat, seng, dan asam nukleat.

  c. Perubahan pH urin Apabila urin bersifat asam dalam jangka lama, maka beberapa zat seperti asam urat akan mengkristal, sebaliknya bila urin bersifat basa, maka beberapa zat seperti kalsium fosfat akan mengkristal.

  d. Pertumbuhan sekunder Kristal Terjadi pembentukan kristal baru yang terikat pada sesuatu kristal jenis lain yang sudah ada terlebih dahulu (Lumento, 1992).

2.4.4. Klasifikasi Batu Ginjal

  Jenis batu yang ada di ginjal, ureter atau kandungan kemih sangat beragam. Berikut golongannya.

  1. Batu Kalsuim Umumnya, batu ginjal yang terbanyak adalah kalsium, yaitu jenis kalsium oksalat dan kalsium fosfat. Batu jenis ini mengandung kapur dan mudah mengendap di saluran kemih serta tergolong mudah membentuk batu pada air seni yang bersuasana basa.jika difoto rontgen, batu kalsium tampak berwarna putih.

  2. Batu Struvit ( Infeksi) Terbentuknya batu ini karena infeksi bakteri. Batu jenis struvit terdiri atas kalsium fosfat, masgnesium dan amonium. Batu dapat berkembang menjadi lebih besar dan memiliki bentuk agak runcing seperti tanduk. Jika di rontgen, tampak berwarna putih.

  3. Batu asam urat Batu ini timbul karena endapan asam urat. Oleh karena itu, biasanya penderita juga menderita asam urat (gout). Penyebab terjadinya asam urat karena penderita banyak mengonsumsi asam urat seperti jeroan dan kacang

  • – kacangan. Bentuk batu jenis ini relatif kecil, bahkan jika difoto rontgen tidak tampak. Namun gejalanya cukup dirasakan oleh penderita.

  4. Batu cystin Penyakit batu ginjal akibat batu cystin jarang ditemukan. Biasanya karena bawaan dari kecil atau diturunkan oleh orang tuanya ( Soenarto, 2005).

2.4.5. Penatalaksanaan Batu Ginjal

  Batu yang sudah menimbulkan masalah pada saluran kemih secepatnya harus dikeluarkan agar tidak menimbulkan penyakit yang lebih besar. Indikasi untuk melakukan tindakan terapi pada batu saluran kemih adalah jika batu sudah menimbulkan obstruksi, infeksi, atau harus diambil karena suatu indikasi sosial.

  Obstruksi kerena batu saluran kemih yang telah menimbulkan hidoureter atau hidronefrosis dan batu yang telah menyebabkan infeksi saluran kemih, harus segera dikeluarkan. Kadang kala batu saluran kemih tidak menimbulkan penyulit seperti diatas tetapi diderita seseorang yang karena pekerjaannya (misalnya batu yang diderita oleh seorang pilot pesawat terbang) mempunyai resiko tinggi dapat menimbulkan sumbatan saluran kemih pada saat yang bersangkutan sedang dalam menjalankan profesinya; dalam hal ini batu harus dikeluarkan dari slauran kemih. Batu dapat dikeluarkan dengan cara medikamentosa, dipecahkan dengan ESWL, melalui tindakan endourologi, bedah laparoskopi atau pembedahan terbuka ( Purnomo, 2007).

PEDOMAN PENELITIAN DAN PENGABDIAN KEPADA

2.5 Spektrofotometer Serapan Atom (SSA)

  Spektrofotometer serapan atom (SSA) adalah suatu metode spektrofotometer yang memanfaatkan fenomena serapan sebagai dasar pengukurannya. Penyerapannya energy sinar terjadi oleh atom netral dalam keadaan gas, sinar yang diserap itu biasannya sinar tampak atau ultra lembayung (Sastrohamidjojo, 2001).

  Gambar 2. Skema Alat Spektrofotometer Serapan Atom (Sumar, 1994)

PEDOMAN PENELITIAN DAN PENGABDIAN KEPADA

BAB III METODE PENELITIAN

  3.1. Tempat dan Waktu Penelitian

  Penelitian ini akan dilaksanakan di Laboratorium Farmakologi dan Toksikologi Farmasi STIKES Mandala Waluya Kendari. Penelitian ini dilaksanakan setelah proposal ini disetujui.

  3.2. Bahan dan Alat Penelitian

  3.2.1. Bahan

  Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini aqua destilata, etanol 96%, Batang tumbuhan paku layangan Dynaria sparsisora Moore, Etilen glikol, Amonium klorida 2%, Batugin elixir, Na CMC, Kapas, Kertas saring dan Lakban hitam.

  3.2.2. Alat

  Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah sonde oral, kandang tikus, timbangan tikus, timbangan analitik, Spektrofotometer Serapan Atom, Alat- alat gelas (pipet tetes, tabung mikro, corong, gelas piala, tabung reaksi, batang pengaduk, spatula, plat tetes, cawan porselen), deksikator, toples, blender, kapas, seperangkat alat bedah tikus, Rotary Evaporator, Hot plate dan Oven

  3.2.3 Hewan Uji

PEDOMAN PENELITIAN DAN PENGABDIAN KEPADA

  Berdasarkan rumus Frederer Hewan Uji yang digunakan dalam penelitian ini adalah 30 ekor tikus putih jantan yang berumur 3-4 bulan dengan berat 150-200 gram.

3.3. Prosedur Penelitian

  3.3.1 Penyiapan Sampel

  1. Diambil Batang tumbuhan Paku Dynaria sparsisora Moore yang masih segar.

  2. Disortasi Basah untuk memisahkan kotoran pada simplisia sebelum pencucian

  3. Dicuci bersih untuk menghilangkan sisa tanah dan kotoran yang menempel

  4. Pengeringan simplisia dilakukan dengan cara diangin – anginkan atau tidak terkena cahaya matahari langsung.

  3.3.2 Pembuatan Ekstrak

  Ditimbang Batang tumbuhan Paku Dynaria sparsisora Moore yang telah dirajang sebanyak 800 g diasukkan kedalam wadah maserasi, ditambahkan 6000 ml etanol 96% ditutup rapat, direndam selama 5 hari dan terlindung dari cahaya, dengan pengadukan 3x24 jam, sesekali diaduk ditampung filtrat dengan cara menyaring dan memeras residu, hingga diperoleh ekstrak cair, proses ini dilakukan berulang – ulang hingga tidak ada lagi senyawa yang terekstrak ditandai dengan warna pelarut yang jernih. Semua maserat atau ekstrak cair dikumpulkan dan diuapkan dengan alat rotary evaporator untuk diperoleh ekstrak kental.

  3.3.3 Penapisan fitokimia

  Pada pemeriksaan terhadap kandungan golongan senyawa kimia dari serbuk dan ekstrak batang paku Layangan (Dynaria sparsisora Moore) seperti alkaloid, flavonoid, saponin, tannin, steroid/terpenoid, kuinon, minyak atsiri, kimarin, penetapan kadar air, penetapan kadar abu, penetapan susut pengeringan.

PEDOMAN PENELITIAN DAN PENGABDIAN KEPADA

  a. Identifikasi alkaloid

  Sebanyak ± 2 gram ekstrak dilembabkan dengan 5 ml amoniak 30% digerus dengan mortir, kemudian di tambahkan 20 ml kloroform dan digerus kembali dengan kuat, campuran tersebut disaring dengan kertas saring, filtrate berupa larutan organik diambil (sebagai larutan A), sebagai larutan A (10 ml) diekstraksi dengan 10 ml larutan HCL1:10 dengan engocokan dalam tabung reaksi, diambil larutan bagian atasnya (larutan B). Larutan A diteteskan beberapa tetes pada kertas saring dan disemprotkan atau diteteskan dengan pereaksi dragendroff, terbentuk warna merah atau jingga pada kertas saring menunjukkan adanya senyawa alkaloid. Larutan B dibagia dalam 2 tabung reaksi. di tambahkan masing- masing pereaksi dragendroff dan preaksi mayer, terbentuk endapan merah bata denagn pereaksi dragenddroff ayau endapan putih dengan pereaksi mayer menunjukkan adanya senyawa alkaloid (Farnsworth, 1966).

  b. Identifikasi Flavonoid

  Sebanyak ± 2 gram ekstrak ditambah 200 ml air panas, didihkan selama 5 menit. Ambil 5 ml filtratnya (dalam tabung reaksi), ditambahkan serbuk Mg secukupnya dan 1 ml asam klorida pekat dan 5 ml amil alkohol, kocok kuat dan biarkan memisah. Terbentuknya warna merah, kuning atau jingga pada lapisan amil alkohol menunjukkan adanya flavanoid (Farnsworth, 1966).

  c. Identifikasi Saponin

  Sebanyak 1 gram ekstrak dimasukkan kedalam tabung reaksi, ditambahkan 10 ml air panas. Setelah dingin kocok kuat secara vertikan selama 10 detik. Terbentuknya busa yang stabil, menunjukkan adanya saponin, bila ditambahkan 1 tetes HCl 1% busa tetap stabil.

  d. Identifikasi tanin

PEDOMAN PENELITIAN DAN PENGABDIAN KEPADA

  Sebannyak ± 10 gram ekstrak ditambah 10 ml air, didihkan selama 15 menit, setelah dingin kemudian si saring dengan kertas saring. Filtrat di tambah 1-2 tets FeCl

  3 1%, terbentuknya warna biru, hijau atau hitam menunjukkan adanya senyawa golongan tanin.

e. Identifikasi steroid/terpenoid

  3.3.4 Sebanyak ± 5 gram ekstrak dimaserasi dalam 20 ml eter selama 2 jam kemudian di saring. Diuapkan dalam cawan penguap sampai kering.

  Ditambahkan 2 tetes asam asetat anhidrat dan 1 tetes asam sulfat pekat kedalam residu. Terbentuknya warna hijau atau merah menunjukkan adanya steroid/terpenoid

  3.3.5 Uji Aktivitas Penghambatan Batu Ginjal

  3.3.6 No. Jumlah Tikus Perlakuan

  1

  5 Kontrol normal, diberi air minum dan makanan

  2

  5 Kelompok kontrol negatif, tikus diberi induksi batu ginjal

  3

  5 Kelompok kontrol positif/ pembanding, batugin elixir 309 mg/kgbb (obat standar) dan induksi secara oral.

  4

  5 Kelompok Uji dosis rendah perlakuan 1, diberi ekstrak Batang tumbuhan paku Dynaria sparsisora

  (Katimboka) dosis rendah dan diinduksi secara oral

  5

  5 Kelompok Uji dosis sedang perlakuan 2, diberi ekstrak Batang tumbuhan paku Dynaria sparsisora

  (Katimboka) dosis sedang dan diinduksi secara oral

  6

  5 Kelompok Uji dosis tinggi perlakuan 3, diberi ekstrak Batang tumbuhan paku Dynaria sparsisora

  (Katimboka) dosis tinggi dan diinduksi secara oral

  3.3.4 Analisis Sampel

1. Analisis Karakteristik Ginjal

PEDOMAN PENELITIAN DAN PENGABDIAN KEPADA

  Masing – masing ginjal ditimbang, dicatat karakterisasi bentuk dan warna ginjal. Selanjutnya dihitung ratio ginjal / bobot tikus. Untuk menghitung rasio menggunakan rumus ( Saha, S & Verma R.J,2011) :

  Berat ginjaltikus (g)

  Rasio ginjal ( g/100g) =

  Berat BadanTikus (100 g)

  2. Analisis kalsium pada ginjal

  Ginjal tikus disimpan ke dalam cawan penguap dan dimasukka ke dalam oven 100°C Selma 24 jam. Setelah itu ginjal kering digerus dalam mortar kemudian dimasukkan kedalam gelas piala. Tambahkan 10 ml asam nitrat pekat kemudian panaskan diatas penangas, pemanasan dihentikan sebentar kemudian diteteskan Hidrogen peroksida dilakukan berulang kali sampai larutan menjadi larutan yang jernih. Hasil dekstruksi didinginkan kemudian diambil 5 ml dan diencerkan dengan aquadest sampai volume 50 ml lalu disaring dengan kertas whatman. Kemudian larutan diukur dengan menggunakan SSA pada panjang gelombang 422,7 nm ( Afrianti,R dan Harun S.,2011). Kalsium dalam ginjal tikus dihitung dengan rumus (Afrianti,R dan Harun

  X .Y

  S.,2011) : Kadar kalsium (mg/g ginjal) = x Fp

  Z

  Keterangan : X = Konsentrasi yang didapat (mg/L) Y = Volume Larutan (L) Z = Berat Sampel ( gram) Fp = Faktor pengenceran

  3. Uji Statistik Kadar Kalsium Pada Ginjal

  Hasil Percobaan dianalisis secara statistic dimana data hasil kadar kalsium ginjl seluruh hewan coba uji penghambatan batu ginjal dilihat nilai normalitas datanya dengan metode Kolmogorov Smirnov dan homogenitasnya dengan metode Levene. Bila kedia uji ini telah dipenuhi, maka dilanjutkan dengan uji

PEDOMAN PENELITIAN DAN PENGABDIAN KEPADA

  ANOVA satu arah untuk melihat perbedaan antar kelompok. Bila kedua uji atau salah satu dari kedua uji tersebut tidak terpenuhi maka dilanjutkan dengan uji Kruskal-Wallis untuk melihat perbedaan antar kelompok. Jika ada perbedaan secara bermakna antar kelompok perlakuan pada uji ANOVA satu arah atau uji Kruskal-Wallis, maka dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Terkecil (BNT).

BAB IV BIAYA DAN JADWAL PENELITIAN

4.1. Anggaran Penelitian

  Anggaran yang dibutuhkan dalam kegiatan penelitian “Potensi Batang Tumbuhan Katimboka [Paku Layangan] (Dynaria sparsisora Moore) Sebagai Pengobatan Batu Ginjal” adalah sebesar Rp 25.000.000 Secara ringkas jenis pengeluaran kegiatan penelitian disajikan sebagai berikut: Tabel 1. Anggaran Biaya Penelitian NO Jenis Pengeluaran Biaya yang Diusulkan (Rp)

  1 Honorarium untuk pelaksana, petugas laboratorium, pengumpul data, pengolah data, 7.500.000 penganalisis data, honor operator dan honor pembuat sistem

  2 Pembelian bahan habis pakai untuk ATK, Fotocopy, surat menyurat, penyusunan laporan, 12.500.000 cetak, penjilidan laporan, publikasi, pulsa, internet, bahan laboratorium, langganan jurnal

  3 Perjalanan untuk biaya survei/ sampling data, seminar/workshop DN-LN, biaya akomodasi - 2.500.000 konsumsi, perdiem/lumpsum, transport

  4 Sewa untuk peralatan/ mesin/ ruang laboratorium, kendaraan, kebun percobaan, 2.500.000

PEDOMAN PENELITIAN DAN PENGABDIAN KEPADA

  peralatan penunjang penelitian lainnya Jumlah 25.000.000

4.2. Jadwal Penelitian

  Jadwal pelaksanaan kegiatan penelitian Potensi Batang Tumbuhan Katimboka [Paku Layangan] (Dynaria sparsisora Moore) Sebagai Pengobatan Batu Ginjal direncanakan berlangsung selama 8 (delapan) bulan. Secara rinci jadwal pelaksanaan kegiatan penelitian disajikan pada Tabel 2.

  Tabel 2. Jadwal Kegiatan pelaksanaan penelitian N o

  Jenis Kegiatan Bulan

  I II

  III

  IV V

  VI VII

  1 Persiapan Penelitian

  2 Pengumpulan / Penyiapan simplisia

  3 Identifikasi dan Pengujian

  4 Penyusunan dan penyerahan laporan

PEDOMAN PENELITIAN DAN PENGABDIAN KEPADA

DAFTAR PUSTAKA

  Afrianti, dan Harun S. 2011. Penentuan Kadar Kalsium pada ikan kering Air Laut dan Ikan Kering Air Tawar Denagn Metode Spektrofotometri Serapan Atom.

  Jurnal Farmasi dan Kesehatan Vol. I No. 2, 2087 -5045. Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia (STIFI) : Hal 18-24

  Depkes RI. 1979. Farmakope Indonesia Edisi III. Departemen Kesehatan Republik Indonesia : Jakarta. Farnsworth,N.R. Biological and Phytochemical Screening of Plant.J.Pharm, Sci:55,3:1996. Hartini, S.2005. Laporan Eksplorasi Flora di Cagar Alam sago Malintang Sumatera

  Barat.Bogor: Pusat Konversi Tumbuhan- Kebun Raya Bogor, Lembaga Ilmu

  Pengetahuan Indonesia Hovenkamp, P.H.,M.T.M.,dkk. Polypodiaceae in Flora Malesiana. Vol 3 Series II-

  Ferns and Fern Allies. Leiden : Rijksherbarium Margatan, Arcole. Kencing batu dapat memicu gagal ginjal, CV Aneka Solo. 1996 Maulida, Dewi., Zulkarnaen Naufal. 2010. Ekstraksi Antioksidan (Likopen) Dari

  Buah Tomat dengan Menggunakan Solven Campuran n-Heksana, Aseton dan Etanol. Skripsi: UDS. Semarang

  Mursito, Bambang, Drs. M.Si.Apt. Ramuan Tradisional Untuk Gangguan Ginjal. PT Penebar Swadana. Depok, 2003

  Nisma, Fatimah, Dra.M.Si.Pengaruh Penambahan Ekstrak Etanol 70% Buah Anggur

  Biru (Vitis vinivera L) terhadap Kelarutan Batu Ginjal. Farmasi FMIPA UHAMKA.Jakarta, 2011.

  Noor,A, 1989. Spektroskopi Analitik, Laboratorium Kimia Analitik Jurusan Kimia, FMIPA, UNHAS, Ujung pandang.

PEDOMAN PENELITIAN DAN PENGABDIAN KEPADA

  Prapanza, Ivan, E.P dan Lukito Adi Marianto,2003. S.P.Khasiat & Manfaa Sambiloto, PT AgroMedia Pustaka, Jakarta. Sastrohamidjojo, Hardjono, 2001. Spektroskopi. 415, Liberty, Yogyakarta Sumar Hendayana ,dkk.1994. Kimia Analitik Instrumen. Edisi Kesatu. IKIP

  Semarang Press. Semarang Purnomo, B Basuki. Dasar – Dasar Urologi, CV. Infomedika. Jakarta, 2007

PEDOMAN PENELITIAN DAN PENGABDIAN KEPADA

Dokumen baru
Aktifitas terbaru
Penulis
123dok avatar

Berpartisipasi : 2019-01-27

Dokumen yang terkait
Tags

Dwi Joko Y S Farm Apt Farmakologi

Nissa Anggastya Fentami M Farm Apt

Farm Model Apt

Apt Bandung

S Pbppp 2Instrumen Pdp Guru

Farm Forestry

Bojong Farm

Dony Waluya Firdaus Dimas Widyasastrena

Stikes

Mus Ifaya, S,Farm.,M.Si.,Apt STIKES Mandala W..

Gratis

Feedback