RUANG PUBLIK AKTIVISME ONLINE and KELAS

 0  0  6  2018-09-28 17:29:49 Report infringing document

  

RUANG PUBLIK, AKTIVISME ONLINE, & KELAS MENENGAH

  1 INDONESIA

  Oleh Wasisto Raharjo Jati / Peneliti di Pusat Penelitian Politik

  • – LIPI A.

   Pendahuluan

  Adanya transisi platform internet yang semula berbasis Web 1.0 menjadi Web 2.0 memberikan dampak signifikan terhadap interaksi netizen di dunia maya. Salah satu dampakmya adalah terbentuknya interaksi dua arah yang terjadi antara komunikan dengan komunikator. Bahkan dalam era platform internet sekarang ini, dikotomi fungsi aktor tersebut mungkin sudah memudar mengingat setiap netizen bisa berperan baik sebagai komunikan maupun komunikator.

  Munculnya sosial media merupakan pionir Web 2.0 tersebut dengan mendorong publik untuk bisa berpartisipasi secara meluas dalam upaya mengartikulasikan aspirasi maupun juga membuat alternatif saluran representasi politik baru masyarakat kepada negara. Dimulai dari kemunculan email pada tahun 1990-an, yang kemudian dilanjutkan pada kemunculan MiRC dan Friednster pada awal tahun 2000-an, terus berkembangnya dengan munculnya Facebook dan Twitter pada tahun 2008. Berkembangnya fitur dan layanan platform sosial media itulah yang kemudian mendorong publik untuk menjadi netizen aktif maupun pasif di media sosial. Tercatat bahwa, 71,19 juta pengguna internet di Indonesia dengan mayoritas pengguna internet adalah kelas menengah urban sebesar 83,4 persen berbanding dengan pertumbuhan 6 persen di pedesaan. Dari sekian banyak juta netizen tersebut, mayoritas penguna adalah pengguna sosial media dengan angka 85 persen melalui smartphone dan laptop mencapai 32 persen. Prosentase intensitas frekuensi penggunaan media sosial tersebut seperti halnya Facebook (14 persen), WhatsApp (12 persen), maupun Twitter (11 persen) (Jati, 2015).

  Besarnya atensi publik dalam menggunakan sosial media itulah yang menjadikan internet tampil sebagai ruang publik baru dalam masyarakat. Melalui sosial media, mereka dapat saling 1 membangun kohesivitas sosial maupun representasi politik baru. Hal terpenting dari kedua hal

  

Paper disampaikan pada “Unbreakable Discussion Series: Public Sphere and Online Activism” di Epikurian itu adalah munculnya kesadaran politik kelas menengah yang besar sehingga mendorong adanya advokasi dan aktivisme politik baik dalam skal kecil maupun besar. Selain halnya Oleh karena itulah, penting disimak untuk melihat adanya bentuk ruang publik baru tersebut.

B. Ruang Publik dan Aktivisme Politik

  Pembahasan mengenai ruang publik sendiri lebih mengarahkan pada bentuk arena inklusif yang memnungkinkan adanya partisipasi meluas, egaliter, dan juga inklusif sehingga mendorong masyarakat untuk membicarakan masalah kekinian ruang publik dideskripsikan dalam tiga ranah penting yakni 1) ruang publik sebagai arena. Makna tersebut mengindikasikan bahwa ruang publik menyediakan basis komunikasi antar masyarakat. 2) ruang publik itu adalah publik itu sendiri. Makna tersebut mengindikasikan bahwa publik adalah aktor penting dalam menjalankan demokrasi dari tingkatan akar rumput. 3) ruang publik adalah agen. Maksudnya ruang publik itu merupakan agen / alat penting dalam menyampaikan aspirasi dari akar rumpur menuju bawah (Schuler & Day, 2004: 4-6).

  Dengan kata lain, ruang publik dapat diartikan sebagai bentuk arena deliberasi nilai-nilai demokrasi kekinian dalam relasi masyarakat. Eksistensi ruang publik sangat dipengaruhi oleh konteks governance yakni adanya pembagian kekuasaan antara negara, pasar, dan masyarakat secara lebih luas. Maka, ruang publik tersebut berada dalam domain kekuasaan masyarakat sipil tersebut. Menguatnya peran ruang publik dan masyarakat sipil pada era post-otoritarian ini di negara-negara demokrasi baru. Hal itu berkembang seiring dengan berkembangnya representasi popular di kalangan masyarakat. Berkembangnya representasi popular tersebut dapat dianalisis dalam ketiga faktor yakni 1) semakin elitisnya pemerintahan paska otoritarian yakni ditandai dengan menggejalanya praktik oligarki kekuasaan dan juga berkembangnua praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme, 2) jaringan representasi politik dan artikulasi kepentingan dari akar rumpur tidak berjalan secara maksimal dimana peran partai politik dan media tidak berfungsi dengan baik, 3) liberalisasi politik tidak berlinier dengan liberalisasi individu, adanya nalar majoritarian dalam demokrasi melemahkan eksistensi minoritas (Tornquist & Stokke, 2009: 2-3).

  Adanya ketiga faktor itulah yang mendorong adanya praktik representasi popular dari masyarakat. Adapun secara harfiah, representasi popular dapat dianalisis dalam tiga faktor tersebut yakni 1) publik sebagai demos, 2) masalah publik , 3) intermediary agent seperti halnya forum warga (Tornquist & Stokke, 2009: 10). Pengedepanan semangat kewargaan menjadi penting dikarenakan untuk menumbuhkembangkan adanya semangat representasi dan partisipasi politik publik secara meluas. Representasi terkait dengan upaya membangun saluran artikulasi kepentingan publik kepeada tingkat negara, sedangkan partisipasi diartikan sebagai keikutsertaan publik dalam mengawal isu tersebut agar menjadi sebuah produk kebijakan. Menurut Tornquist dan Stokke, representasi popular tersebut sebenarnya lebih terkait dengan upaya pembuatan kebijakan publik yang lebih afirmatif kepada publik. Penekanan terhadap kebijakan publik dikarenakan selama ini banyak kepentingan publik tidak terwadahi secara meluas dan justru dibajak oleh kepentingan elite. Masalah-masalah publik yang tidak tertampung aspirasinya dalam jalur politik formal, kemudian dialihkan melalui jalur politik informal. Salah satunya adalah terbentuknya jejaring warga di media sosial yang kini sedang mewabah di kalangan perkotaan.

  Dibandingkan dengan penggunaan forum warga maupun institusi korporatisme masyarakat lainnya, penggunaan media sosial dipandang lebih efektif dan efisien dalam menyampaikan pesan politik secara efektif dan efisien. Bahkan media sosial kini menjadi alat advokasi dalam memperjuangkan isu spesifik dalam masyarakat untuk diafirmasi dan dipenuhi pelaksanaannya oleh negara.

C. Internet dan Media Sosial sebagai Ruang Publik Baru

  Berbeda halnya dengan tawaran ruang publik yang ditawarkan oleh Habermas lebih pada berbasis spasial sektoral seperti halnya kafe, alun-alun, restoran, dan lain sebagainya. Internet melalui media sosial menawarkan ruang deliberasi meluas bagi masyarakat lintas negara, lintas benua, maupun lintas etnis. Hal ini merupakan bentuk manifestasi dari adanya technoscape yakni teknologi memudahkan adanya arena komunikasi bagi warga lintas benua untuk saling berbagi dan mendiskusikan informasi tertentu sehingga berkembang menjadi isu global. Dalam kasus Indonesia, media sosial semula digunakan hanya sekedar untuk memenuhi kebutuhan

  

leisure and pleasure , namun kini sudah berkembang menjadi kegiatan exposure advokasi

kegiatan politik.

  Adanya transformasi fungsi media sosial tersebut merupakan bentuk implikasi dari adanya berbagai macam advokasi politik masyarakat seperti halnya kasus #KoinCintaPrita, #KPKvsPolri, #AkhirnyaMilihJokowi, dan lain sebagainya. Kesemuanya tagar pesan tersebut merupakan bentuk implikasi dari aktivisme online kelas menengah dalam menginisiasi dan mengadvokasi adanya gerakan politik. Sosial media mendorong adanya egalitarian dan voluntarisme bagi kelas menengah untuk bisa ikut berpartisipasi secara aktif dan meluas. Pada dasarnya yang menjadi pendorong aktivisme politik kelas menengah dalam media sosial adalah adanya kohesivitas sosial dan juga pembangunan jejaring yang cepat dan instan sehingga isu tersebut dapat menjadi membesar. Selain halnya kohesivitas, pembangunan perasaan afeksi juga menjadi faktor penting dalam membincangkan media sosial dan kelas menengah hari ini. Kelas menengah dengan mudah bisa terbakar emosi, tersentuh hati, maupun meletup semangatnya tergantung pada isu sosial

  • – politik yang menjadi pembicaraan hangat dalam masyarakat.

  Dalam hal ini, membincangkan ruang publik cyberspace di Indonesia sangatlah tergantung pada ketiga posisi ini yakni influencer, endorser, dan juga follower. Ketiga aktor tersebut merupakan aktor berpengaruh dalam membentuk, membesarkan, mempengaruhi isu tertentu untuk menjadi trending topics dalam media sosial. Bekembangnya ketiga aktor tersebut sangatlah berpengaruh dengan preferensi politik kelas menengah Indoensia yang masih bernuansa social proofing yakni berusah meniru dan menjadi bagian dari mayoritas dari masyarakat. Dengan kata lain, sebenarnya itu merupakan bentuk patronase yang masih terpelihara dalam budaya politik masyarakat Indonesia yang masih subjektif-pasif.

  Influencer biasanya adalah figur pengaruh yang berperan dalam menangkap isu dalam

  masyarakat dan kemudian mengolahnya menjadi common interest. Ada lebih dari dua

  

influencer yang menawarkan common interest untuk bisa ditawarkan menjadi masalah

  bersama. Hal itu sekali lagi tergantung pada endorser yang bertugas untuk “mengesahkan” isu tersebut menjadi masalah bersama. Peran endorser bisa datang dari kalangan media ataupun NGO, namun bisa dari kalangan lainnya yang intinya bisa memberikan penilaian terhadap isu tersebut. Sedangkan followers sendiri adalah masyarakat kelas menengah itu yang menjadi kelompok tersugesti melalui proses crafting isu tersebut.

  Jika disimak secara lebih rinci, sebenarnya dalam cyberspace terdapat pola strukturasi isu yang dikedepankan untuk ditanggapi oleh kelas menengah. Namun kemudian, logika strukturasi tersebut bisa diubah dimana follower bisa menjadi endorser, sehingga terjadi proses timbal balik atas keduanya. Kedua arus itulah yang sebenarnya kemudian menciptakan adanya aktivisme online dalam kelas menengah Indonesia. Mereka berupaya untuk menciptakannya adanya representasi popular untuk mengadvokasi maupun juga berupaya untuk membuat saluran partisipasi inklusif bagi masyarakat secara keseluruhan.

D. Kesimpulan: Tantangan Ruang Publik dan Aktivisme Online

  Pada akhirnya, perbincangan mengenai aktivisme online kelas menengah Indonesia online hanya sekedar menjadi partisipan pasif dalam ruang cyberspace media sosial. Masyarakat secara sadar politik, namun kesadaran itu hanya dalam dunia online saja, sedangkan pengertian kedua adalah bentuk transformasi pesan aktivisme online menjadi aktivisme offline. Adanya transformasi tersebut sebenarnya juga membutuhkan daya dan uaya kuat bagaimana mengajak kelas menengah untuk menjadi gerakan politik jalanan kuat dalam mendukung demokrasi.

  Adanya isu dan figuritas kuat menjadi syarat penting dalam menyelaraskan ruang publik, aktivisme online, dan juga gerakan demonstrasi jalanan. Ketiga alur tersebut merupakan mara rantai yang tidak terpisahkan satu sama lainnya. Selan itu, tantangan lain yang patut untuk menjadi perhatian adalah adanya UU No.11 Tahun 2008 yang memuat banyak pasal karet mengenai penangkapan orang karena pencemaran nama baik. Banyak pasal tersebut digunakan untuk menjerat dan memenjarakan orang hanya karena tuduhan penyebaran dan pencemaran nama baik, padahal hal itu belum tentu benar.

  Kedua hal itulah yang mungkin menjadi dua tantangan besar dalam menganalisis ruang publik internet di kasus kelas menengah Indonesia. Maka untuk kedepannya diperlukan riset lebih elaboratif kembali mengenai prospek ruang publik cyberspace ini di Indonesia

E. Referensi

  Jati, Wasisto.

  

  Schuler, Douglas & Day, Peter. 2004. Shaping the Network Society: The New Role of Civil Society in Cyberspace. London: MIT Press.

  Tornquist, Olle & Stokke, Kristian. 2009. Rethinking Popular Representation. London: Palgrave MacMillan.

Dokumen baru
Aktifitas terbaru
Penulis
123dok avatar

Berpartisipasi : 2018-08-08

Dokumen yang terkait
Tags

Ruang Publik Online Sebuah Dimensi Baru

Aktivisme

Ruang Politik Hubungan Aktivisme Civil S

Ruang Publik Depolitisasi Ruang Publik Review Peran Ruang Publik Juknis Tbm Ruang Publik Banalitas Ruang Publik

Ruang Terbuka Publik

Perampasan Ruang Publik Dalam Penyiaran

RUANG PUBLIK AKTIVISME ONLINE and KELAS

Gratis

Feedback