RENCANA PROGRAM INVESTASI INFRASTRUKTUR

 0  0  126  2019-03-15 03:19:24 Laporkan dokumen yang dilanggar

BAB 4 RENCANA PROGRAM INVESTASI INFRASTRUKTUR

INFRASTRUKTURRENCANA POGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH RPIJM

4.1. RENCANA PENGEMBANGAN PERMUKIMAN

4.1.1. Petunjuk Umum

Pengembangan Permukiman adalah rangkaian kegiatan yang bersifat multisektor meliputi kegiatan pengembangan permukiman baru danpeningkatan kualitas permukiman lama baik di perkotaan (kecil, sedang, besar dan metropolitan), di perdesaan (termasuk daerah-daerah tertinggaldan terpencil) maupun kawasan-kawasan tertentu (perbatasan, pulau-pulau kecil/terluar)Rencana Pembangunan dan Pengembangan Perumahan dan Permukiman diDaerah (RP4D)  Sebagai skenario pelaksanaan koordinasi dan keterpaduan rencana sektor terkait bidang perumahan dan permukiman (pertanahan, perumahan, pembiayaan, prasarana/sarana, dll) Sebagai payung atau acuan baku bagi seluruh pelaku dan penyelenggara perumahan dan permukiman (pemerintah, swasta, dan masyarakat) Sebagai cerminan aspirasi / tuntutan masyarakat terhadap perumahan dan permukimanRincian Kegiatan Pembangunan 1. Pengembangan Kawasan Permukiman Baru

2. Peningkatan Kualitas Permukiman (yang sudah ada)  Rincian lokasi, yg mencakup luas, penduduk, bentuk penanganan (mis

premajaan, KIP, revitalisasi, dll)

4.1.2. Profil Pembangunan Permukiman

4.1.2.1. Kondisi Umum

  Para pekerja urban di sektor informal yang datang dari berbagai penjuru Kabupaten Bengkulu Utara dalam radius lebih dari sepuluhkilometer dari pusat kota, sebagian menghuni rumah secara sewa dalam jangka waktu terbatas. Perkampungan dengan pola hubungan sosialpaguyuban yang khas menjadi penyedia rumah bagi masyarakat yang menggantungkan hidupnya di kawasan komersial Kota KabupatenBengkulu Utara.

4.1.2.1.2. Prasarana dan Sarana Dasar Permukiman

  Rendahnya kesadaran masyarakat dalam RENCANA POGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH RPIJM pengelolaan dan pemeliharaan menyebabkan kinerja sarana prasarana tidak berjalan optimal. Kriteriatidak layak huni didasarkan pada: a) Kualitas sarana prasarana dasar mikro yang rendah, b) Kerawanan kawasan permukiman terhadap bencana alammaupun sumber pencemaran dan, c) Tidak ada legalitas hak pengelolaan kawasan yang sangat jelas (slum areas).

4.1.2.1.3. Parameter Teknis Wilayah

  URAIAN BESARAN KETERANGAN 1 Penetapan Kota Arga Makmur sebagai Luas wilayah Ibukota Kabupaten titik/pusat yang positif dengan asumsi : dan jumlah sebagai pusat dari 1. Kota tersebut merupakan tempat penduduk kegiatan wilayah kedudukan Ibukota Kabupaten kabupatenBengkulu Utara yang mempunyai wilayah pengaruh terhadap Kecamatansekitarnya (terdapat dalam RTRW Pulau dan RTRW Provinsi serta secaa historissejak dahulu Kota Arga Makmur mengemban tugas sebagai daerah yangmelayani beberapa wilayah lain) 2.

BAB 4 INFRASTRUKTUR kabupaten-kabupaten sekitarnya

  Adapun berhubung jauhnya jarak tempuh Luas Wilayah Kecamatan sebagai sub dari Kota Arga Makmur dengan kecamatan dan Jumlah pusat dari Kabupatenlain, maka diperlukan suatu sub pusat dari Penduduk Bengkulu Utara Kota Arga Makmur yang dapat membawapengaruh perkembangan dari Kota Arga Makmur yaitu Ketahun denganpertimbangan selain telah ditetapkan dalam RTRW Kabupaten juga atas dasarpertimbangan : 1. Kecamatann Ketahun juga dapat berperan sebagai pembawa spread effect(penjalaran kegiatan tertentu) dari peran Kabupaten Bengkulu Utara terhadapkecamatan lain, maupun dengan hinterlandnya.

4.1.2.2. Sasaran

  Sasaran menjelaskan target yang harus dicapai dalam pembangunan PSDPermukiman terdiri dari target nasional dan target daerah. Selanjutnya bagian ini menguraikan besaran masalah yang harus diselesaikan melalui PSDPermukiman, dengan membandingkan antara kondisi yang ada dengan sasaran pembangunan PSD Permukiman baik dari segi teknis, kelembagaandan keuangan.

4.1.3. Permasalahan Pembangunan Permukiman

  Sedangkan sebagian masyarakat tetap berupaya untuk tinggal di kawasan yang tidak jauh dari pusat aktivitas ekononomi, sehingga menyebabkanketidak-teraturan tata ruang kota dan dapat menumbuhkan kawasan kumuh baru di perkotaan. Masalah ini diperparah dengan pertumbuhan pendudukperkotaan yang jauh lebih cepat bila dibandingkan dengan pertambahan penduduk di perdesaan, yang disebabkan karena fenomea urbanisasi aktif,yaitu berpindahnya penduduk desa ke wilayah perkotaan, terutama di wilayah kumuh perkotaan.

BAB 4 INFRASTRUKTUR Permasalahan lainnya adalah ketersediaan rumah terbatas backlog

  Sedangkan tiap tahun kebutuhan akan rumah layak terus bertambahnya sejalan dengan pertumbuhan penduduk. Berdasarkan gap analisisberikut akan terlihat kesenjangan antara kebutuhan dan ketersediaan rumah akan semakin besar jika tidak melakukan pengembangan perumahan limatahun ke depan.

4.1.3.2. Alternatif Pemecahan

  Hal ini diharapkan akan terjadi pemerataan dalam halketersediaan area perumahan dan permukiman antar wilayah di KabupatenBengkulu Utara, sehingga akan mengurangi ketimpangan kepadatan penduduk antar wilayah di Kabupaten Bengkulu Utara. Melihat adanyaketerbatasan keuangan daerah, maka pemerintah daerah juga diharapkan mampu mendorong minat investor untuk membangun kawasan perumahan RENCANA POGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH RPIJM dan permukiman sederhana yang sehat beserta fasilitas pendukungnya bagi masyarakat luas.

4.1.4. Usulan Pembangunan Permukiman

4.1.4.1. Sistem Infrastruktur Permukiman Yang Diusulkan

  Sistem infrastruktur permukiman yang diusulkan adalah pembangunan prasarana dan sarana permukiman yang mendukung peningkatan kualitas RENCANA POGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH RPIJM INFRASTRUKTUR kehidupan dan penghidupan masyarakat. Program bidang perumahan dan permukiman yang diusulkan dalam lima tahun mendatang meliputikegiatan-kegiatan : 4.1.4.3 Usulan dan Prioritas Proyek Pembangunan PSD Permukiman Usulan prioritas rencana program dan kegiatan pembangunan PSPemukiman di Kabupaten Bengkulu Utara lima tahun kedepan (2013-2017) berikut rencana pembiayaan disajikan dalam lampiran.

4.1.4.4 Contoh Kerangka Dasar Pengembangan Permukiman

  Pengembangan Penataan Penataan Peningkatan Penataan dan Pembangunan jalan Output : Peningkatan Kesadaran kawasan pula terpencil lingkungan permukiman prasarana dan perbaikan PSD lingkungan, sarana air Lingkungan kesehatan masyarakatpermukiman sarana Permukiman bersih dan pelabuhan Sehat masyarakat kurrang kawasan pulau Outcome : terpencilMasyarakat ssejahtera 3. Visi penataan bangunan dan lingkungan adalah terwujudnya bangunan gedung dan lingkungan yang layak huni danberjati diri, sedangkan misinya adalah: (1) Memberdayakan masyarakat dalam penyelenggaraan bangunan gedung yang tertib, layak huni, berjatidiri, serasi dan selaras, dan (2) Memberdayakan masyarakat agar mandiri dalam penataan lingkungan yang produktif dan berkelanjutan.

4.2.1.1.1. Permasalahan Penataan Bangunan dan Lingkungan

  Permasalahan dan tantangan di bidang Bangunan Gedung Kurang ditegakkannya aturan keselamatan, keamanan dan kenyamanan Bangunan Gedung termasuk pada daerah-daerah rawan bencana Prasarana dan sarana hidran kebakaran banyak yang tidak berfungsi dan kurang mendapat perhatian Lemahnya pengaturan penyelenggaraan Bangunan Gedung di daerah serta rendahnya kualitas pelayanan publik dan perijinan 2. Masih banyak Kabupaten ; terutama Kabupaten hasil pemekaran yang belum memiliki atau melembagakan institusi/kelembagaan dan Tim AhliBangunan Gedung yang bertugas dalam pembinaan penataan bangunan dan lingkungan; 3.

4.2.1.1.2. Landasan Hukum

  Untuk tahun anggaran 2013-20017, sebagai kelanjutan dari kegiatan tahun-tahun sebelumnya, perlumelanjutkan dan memperbaiki serta mempertajam kegiatannya agar lebih cepat memampukan Kabupaten . 4 Tahun 1992 tentangPerumahan dan Permukiman menggariskan bahwa peningkatan kualitas RENCANA POGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH RPIJM lingkungan permukiman dilaksanakan secara menyeluruh, terpadu, dan bertahap, mengacu kepada Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL)sebagai penjabaran rencana tata ruang wilayah (RTRW) yang harus disusun oleh pemerintah daerah secara komprehensive, akomodatif dan responsif.

4.2.1.2. Kebijakan Penataan Bangunan Gedung dan Lingkungan

   Terwujudnya bangunan gedung untuk umum yang laik fungsi pada tahun 2017. Terselenggaranya pengawasan penyelenggaraan bangunan gedung yang efektif dengan melakukan pemantauan dan evaluasi penerapan peraturan bangunan gedung pada tahun 2013 dan dilanjutkan pada tahun berikutnya.  Terbentuknya kelembagaan penataan bangunan dan lingkungan di tingkatPropinsi/Kabupaten yang didukung oleh SDM dan prasarana dan sarana kerja pendukungnya pada tahun 2012 dan dilanjutkan pada tahun berikutnya.

BAB 4 INFRASTRUKTUR  Terlaksananya revitalisasi kawasan strategis pada tahun 2017

  Kebijakan 5 : Mengembangkan Teknologi dan Rekayasa Arsitektur Bangunan Gedung untuk Menunjang Regional/Internasional yang BerkelanjutanTujuan:Terwujudnya perencanaan fisik bangunan dan lingkungan yang mengedepankan teknologi dan rekayasa arsitektur yang memenuhi standarinternasional untuk menarik masuknya investasi di bidang bangunan gedung dan lingkungan secara internasional. Sasaran :Terlaksananya perencanaan bangunan gedung dan lingkungan dengan teknologi dan rekayasa arsitektur melalui kerjasama dengan pihak-pihak yang kompetenpada tahun 2017.

4.2.2. Profil Rinci Penataan Bangunan Gedung dan Lingkungan

  Tabel 4.4 Fungsi Bangunan di Kota Kabupaten Bengkulu Utara Fungsi Bangunan Lokasi Perdagangan dan Jasa Kecamatan Arga Makmur, Ketahun dan Putri Hijau Pemukiman Ibukota-ibukota KecamatanPendidikan dan Kantor Arga Makmur Bangunan Tradisional Bersejarah Kecamatan Napal Putih Dari sisi usia atau umur bangunan dapat diklasifikasikan menjadi bangunan berumur muda,sedang dan tua. Namundikarenakan bencana gempa bumi yang melanda Kabupaten Bengkulu Utara beberapa waktu yang lalu, bangunan yang berumur sedang dan tua banyakhancur dan tergantikan dengan bangunan baru dengan fungsi bangunan tetap.

4.2.2.2 Kondisi Penataan Bangunan Gedung dan Lingkungan 1. Kondisi Aturan Keselamatan, Keamanan dan Kenyamanan

  Namun sampai saat ini belum semua gedung yang disebutkan di atas memiliki sarana hidran tersebut, atau kalau pun ada kondisinya belum sesuaidengan standar yang telah ditentukan bahkan ada yang dalam kondisi rusak. Kondisi Kualitas Pelayanan Publik dan Perijinan BangunanBeberapa daerah kawasan di wilayah Kabupaten Bengkulu Utara memang telah memiliki rencana tata bangunan dan lingkungan, namun belumterdapat penegakan aturan tata bangunan dam lingkungan tersebut karenaRTBL yang ada belum disahkan yang berarti belum memiliki landasan hukum untuk ditegakkan.

4.2.3. Permasalahan yang Dihadapi

  Sasaran Penataan Bangunan Gedung dan Lingkungan Sasaran dalam penataan bangunan gedung dan lingkungan adalah penegakan aturan tata bangunan gedung dan lingkungan yaitu denganmenyusun peraturan dan legeslasi. Dari sasaran ini maka dibutuhkan kemantapan kelembagaan penataan bangunan gedung dan lingkungan sertapeningkatan sarana parasarana pemeliharaan bangunan dan lingkungan.

4.2.4. Analisis Kebutuhan dan Rekomendasi

4.2.4.1. Analisis Kebutuhan Penataan Bangunan dan Lingkungan

  Permasalahan di Bidang Bangunan GedungPermasalahan yang muncul pada penataan bangunan yang tidak tertib karena belum memiliki Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan(RTBL)yang lengkap terutama pada kawasan-kawasan perkotaan. Saat ini telah terjadi penurunan kuantitas dan kualitas ruang terbuka kota yang diakibatkan perubahan fungsi lahan sehingga membutuhkanpenanganan yang cepat terhadap pengadaan dan penataan ruang terbuka kota demi meningkatnya citra kawasan kota.

BAB 4 INFRASTRUKTUR Selain itu pula kondisi jalan dan lingkungan belum tertata secara baik

  kenyamanan pengguna jalan, yaitu peneduhan Untuk pemeliharaan taman jalan sampai saat belum dimiliki tenaga operasional yang handal di bidang perawatan taman jalan beserta saranapendukung operasionalnya menyebabkan sarara lingkungan jalan yang telah ada mudah rusak dan tidak terawat. Sering penempatan sarana reklame tidak tertata atau tertib dengan asal menempatkan sesuai dengan keinginan sponsor, akibatnya sarana reklame inisering mengganggu pengguna jalan dan dalam jangka panjang dapat menurunkan kualitas ruang kota.

BAB 4 INFRASTRUKTUR Di sisi lain terbatasnya ruang publik untuk lokasi sarana reklame mengurangi

  Pelestarian Bangunan Tradisional BersejarahUntuk melestarikan dan merevitalisasi kawasan wisata dan bangunan tradisonal bersejarah perlu disusun program penataan dan revitalisasikhusus untuk kawasan wisata dan tradisional bersejarah 2. Ruang Terbuka Hijau dan taman Jalan a Perlu dilakukan pemetaan dan studi karakter ruang kota sehingga dapat diketahui pola, tingkat kebutuhan dan lokasi pengadaan ruang terbukakota tiap kabupaten/ kota b Perlu ada penyusunan masterplan taman jalan dan ruang terbukahijausebagai acuan pemerintah Kabupaten c Perlu ada pemberdayaan SDM di bidang perawatan taman jalan danpengadaan ataupun penambahan sarana pendukung perawatan taman jalan.

4.2.5. Program yang Diusulkan

  Setelah mengidentifikasi permasalahan yang dihadapi dan menganalisis terhadap permasalahan yang ditemui selanjutnya ditentukan alternatifpemecahan masalah, maka usulan prioritas program tata bangunan lingkungan lima tahun ke depan (2013-2017) adalah Program Bengkulu Utara TertibLingkungan dengan rincian kegiatan sebagai berikut: a. Program Pembinaan Teknis Bangunan dan Gedung, dengan kegiatan yaitu: 1.

1 Kawasan Perkantoran

  Program Penataan Lingkungan, dengan kegiatan antara lain: 20 Kecamatan Arga MakmurKawasan Perkotaan INFRASTRUKTUR 2 Kawasan tradisional Pasar Purwodadi 10 Kecamatan Arga MakmurKawasan Perkotaan Tabel 4.8 Usulan Penyusunan Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL) No Nama Lokasi Luas Lingkungan (Ha) Cakupan Wilayah Administrasi Karakter Lokasi 4. Kegiatan Penyusunan Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL) Disusun Penyusunan RencanaPeraturan Daerahtentang BangunanGedung Belum 1 Pemerintah KabupatenBengkulu Utara 2013 tersedianyapanduan penyelenggaraanbangunan gedung yang layak fungsi,sehingga mengurangikerusakan akibat bencana gempa Tabel 4.7 Usulan Penyusunan Raperda NO Instansi Penyelenggara Waktu Penyelenggaraan Sasaran Usulan Kegiatan Keterangan 3.

3 Kawasan Perkantran Lais

  Umum Sub Bidang Air Limbah pada Bidang Keciptakaryaan Departemen PekerjaanUmum memiliki program dan kegiatan yang bertujuan untuk mencapai kondidi masyarakat hidup sehat dan sejahtera dalam lingkungan yang bebasdari pencemaran air limbah permukiman. Air limbah yang dimaksud adalah air limbah permukiamn (municipal wastetare) yang terdiri dari limbahdomestik (rumah tangga) yang berasal dari sisa mandi, cuci dapur, dan tinja manusia dari lingkungan permukiman serta air limbah dari industri rumahtangga yang tidak mengandung Bahan Beracun dan Berbahaya (B3).

4.3.1.2. Kebijakan, Program Dan Kegiatan Pengelolaan Air Limbah Dalam Rencana Kota

  Berdasarkan RPJMD Kabupaten Bengkulu Utara (2013-2017) kondisi yang diharapkan pada tahun 2011 pembuangan limbah yang dilayani melaluisambungan rumah (SR) mengalami peningkatan dari 10.000 SR menjadi13.000 SR yang didukung dengan pembangunan jaringan primer dan sekunder bekerjasama dengan Pemerintah Propinsi dan Pusat. Kebijakan yang akan tercantum dalam RPJMD Kota Kabupaten BengkuluUtara 2012-2016 untuk mencapai misi ke-4 Mewujudkan Kota KabupatenBengkulu Utara yang Nyaman dan Ramah Lingkungan adalah Memperbaiki mutu lingkungan hidup untuk menjamin kemampuan, kesejahteraan danmutu hidup generasi masa kini dan generasi masa depan.

4.3.2. Profil Rinci Pengelolaan Air Limbah

  Tingkat Kesehatan Masyarakat dan Lingkungan Derajat kesehatan di Kota Kabupaten Bengkulu Utara dapat dilihat dari indikator antara lain : angka kematian bayi per 1000 kelahiran hidup, angkakematian balita per 1.000 kelahiran hidup, angka kematian ibu melahirkan per100.000 kelahiran hidup, rata-rata usia harapan hidup penduduk dan status gizi. Sasaran pembangunan kesehatan di Kabupaten Bengkulu Utara pada tahun 2012 adalah meningkatnya derajad kesehatan masyarakat setinggi-tingginyamelalui peningkatan jangkauan/akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang antara lain tercermin dari beberapa indikator sebagai berikut : 1.

BAB 4 INFRASTRUKTUR Limbah cair industri (dari industri besar maupun kecil) masih sering dibuang ke lingkungan tanpa pengolahan. Pelayanan pengurasan tanki septik atau cubluk biasanya dilakukan oleh

  swasta dengan truk tinja atau secara manual. Lumpur limbah ini dapat diolah di IPAL, tetapi masih sering langsung dibuang ke lingkungan.

4.3.2.2. Kondisi Sistem Sarana Dan Prasarana Pengelolaan Air Limbah

  Membuang limbah air mandi, cuci dan dapur langsung ke saluran drainase masih sering dijumpai. RENCANA POGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH RPIJM 12 Ketahun 40.305 749,52 8 Air Padang 5.600 9 Batik Nau 11.908 302,58 10 Giri Mulya 13.338 396,72 11 Padang Jaya 27.823 PddkJamban 7 Lais 11.868 1.098,84 13 Napal Putih 17.846 469,08 14 Putri Hijau 36.615 1.171,41 Jumlah 261.665 7.277,61Sumber : BPS Kota Kabupaten Bengkulu Utara dan Hasil Perhitungan 481,41 1.286,04 No.

4.3.2.3. Aspek Pendanaan

  Pendanaan untuk penyediaan sarana dan prasarana air limbah diarahkan dengan kebijakan sebagai berikut. Penyediaan fasilitas sanitasi merupakan inisiatif murni dari masyarakat dan sektor swasta. Fungsi pemerintah daerah adalah untuk memberikan kemudahan, mendorong dan mengatur. Tugas DPU ini adalah melaksanakan perencanaan, pengawasan, pengendalian, dan pemanfaatansarana dan prasarana di bidang teknik penyehatan yang meliputi urusan- urusan air bersih, air buangan, kebakaran, kebersihan, pertamanan, danpemakaman.

8. Aspek Lingkungan

  Berdasarkan RPJMDKabupaten Bengkulu Utara (2011-2016) kondisi yang diharapkan pada tahun 2011 pembuangan limbah yang dilayani melalui sambungan rumah (SR)mengalami peningkatan dari 10.000 SR menjadi 13.000 SR yang didukung dengan pembangunan jaringan primer dan sekunder bekerjasama denganPemerintah Propinsi dan Pusat. Rumusan Masalah Bagian ini menguraikan besaran persoalan yang dihadapi atau tantangan yang harus diselesaikan melalui pembangunan sistem prasarana dan saranaair limbah, dengan membandingkan antar kondisi yang ada dan sasaran penyediaan PS air limbah, baik dari aspek teknis, kelembagaan, regulasimaupun keuangan.

BAB 4 RPIJM No. Aspek Pengelolaan Air Limbah Permasalah Yang Dihadapi Tindakan Penanggung Jawab Yang Sudah Dilakukan Yang Sedang Dilakukan Yang Direncanakan Untuk Dilakukan

  (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)prasarana SDM INFRASTRUKTUR 2.c. Operasi dan Pemeliharaan IPLT DPU 3.

BAB 4 INFRASTRUKTUR Tindakan Yang Aspek Pengelolaan Air Permasalah Yang Penanggung No. Yang Sudah Yang Sedang Direncanakan Limbah Dihadapi Jawab Dilakukan Dilakukan Untuk Dilakukan

D. Peraturan/Perundangan:

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)retribusi Penyesuaian Perda lamaDPU Perda DPU sanksi

E. Peran serta Masyarakat: dan Swasta

  Analisis diperlukan untuk mencari akar permasalahan berdasarkan kondisi yang ada saat ini dari berbagai aspek teknis maupun non teknis, sertaberbagai kendala yang dihadapi dalam rangka mencapai sasaran yang diinginkan. Analisis permasalahan dapat dilakukan dengan gap analisis yaitusuatu metoda yang membandingkan antara kebutuhan dan pengelolaan yang tersedia.

BAB 4 INFRASTRUKTUR B. ASPEK PENDANAAN, peningkatan kapasitas pembiayaan untuk

  Permasalahan dan kondisi yang berkembang dalam pengelolaan lumpur tinja di Indonesia, memerlukan suatu kebijakan dan strategi yang spesifikuntuk dapat memelihara, mengembangkan dan meningkatkan pengelolaan lumpur tinja.  Konsep dasar yang dapat digunakan dalam menangani lumpur tinja di kawasan perumahan dan permukiman adalah bagaimana mengelola lumpur tinja secara terintegrasi, sehingga tepat guna (efektif), berdaya guna (efisien) dan terjangkau serta dapat dioperasikan secara berkelanjutan, dengan bertumpu kepada kemitraan antara masyarakat, pemerintah dan dunia usaha.

a. Strategi Teknis

  Implementasi proyek Communal System (pengelolaan lumpur tinja sistem komunal) di daerah yang baru dikembangkan dan di daerah yang tak dapatmemakai sanitasi setempat, didasarkan pada pendekatan bertahap (stepwise approach ). Komponen program untuk strategi teknis terdiri dari : Daerah dengan kapadatan tinggi (> 300 orang/ha) dan daerah pengembangan baru harus dilayani dengan system terpusat , yang dibiayai developer dengan pengembalian oleh pengguna.

b. Strategi Institusi/Kelembagaan

  Pada umumnya, direkomendasikan untuk meningkatkan kemampuan unit pelaksana yang ada dan mengatur kembali unti-unit tersebut untukmelakukan tugas mereka yang baru. Namun demikian pendiriran organisasi baru hanya diperbolehkan ketika sangat diperlukan, dan sangat tergantungdari klasifikasi kota, karakteristik masyarakat, potensi masyarakat, serta peraturan yang berlaku.

BAB 4 INFRASTRUKTUR Pengelola Unit Teknis Daerah (UPTD) tersendiri yang bertanggung jawab

  Tanggung jawab pemerintah pusat yaitu memberi petunjuk, pemantauan dan strategi, pengembangan sumber daya manusia, peningkatan kemampuanpmerintah daerah dalam persiapan proyek dan pelaksanaan proyek pilot, dan penyediaan investasi awal untuk pemerintah daerah dalam pembangunanprasarana sanitasi. Tanggung jawab pemerintah daerah diantaranya adalah membuat rencana kegiatan (Action Plan) di daerah masing-masing dengan penekanan padapelaksanaan sanitasi setempat, membangun fasilitas kakus komunal, melaksanakan proyek Communal System dengan bantuan dana daripemerintah pusat jika memungkinkan dan penyedotan lumpur tinja serta mengawasi dan mengendalikan bantuan teknik bagi fasilitas sanitasi setempat.

c. Strategi Pendanaan

  Strategi pendanaan/keuangan untuk menunjang investasi dari masyarakat dan sektor swasta, dan untuk mempromosikan mekanisme pengembalian biaya danpeningkatan pendapatan;1) Investasi swasta dan masyarakat dalam, pembuangan tinja harus ditunjang dan dipromosikan dengan upaya sebagai berikut:  Kegiatan promosi. Spesifikasi dan peraturan bangunan. Pedoman teknis untuk konstruksi dan operasi serta pemeliharaan fasilitas sanitasi. 3) Bantuan teknis dan bantuan keuangan bagi fasilitas individual atau komunal dengan sanitasi setempat harus diperpanjang dan dana dialokasikan untuksistem kredit berbeda tergantung kondisi setempat.4) Biaya bersama satu kelompok untuk sistem individual, harus juga diperkenalkan bagi fasilitas komunal yang digunakan oleh sejumlah kecilrumah tangga.

d. Strategi Promosi

  Promosi ini lebih baih dilaksanakan melalui program “Pemasaran Sosial” yang diharapkanuntuk menunjang keinginan masyarakat untuk menggunakan fasilitas pengolahan lumpur tinja (IPLT) yang baik dan sehat. Secara sistematispendekatan program pembangunan prasarana dan sarana air limbah dapat diuraikan sebagai berikut: RENCANA POGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH RPIJM INFRASTRUKTUR Melaksanakan PP 41 tahun2007 Rencana lebih detailBesar Master Plan Perencanaan Acuan awal perencanaanKecil 2.

BAB 4 INFRASTRUKTUR Alternatif-1 Alternatif-2 Aspek Pengelolaan No. Air Limbah Teknis Manfaat Biaya Teknis Manfaat Biaya

  (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8)Operasi dan 2.c. Peningkatan Kapasitas: Operasi dan 3.c.

BAB 4 RPIJM No. Aspek Pengelolaan Air Limbah Alternatif-1 Alternatif-2 Teknis Manfaat Biaya Teknis Manfaat Biaya

  INFRASTRUKTUR (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8)penerimaan retribusi D. Peraturan/Perundan gan: E.

a. Peningkatan pelayanan

  Mendorong kerjasama  Melaksanakan pembinaan dan antar kota/kabupaten bimbingan teknis dalamdalam upaya melindungi peningkatan kerja PS air limbah badan air dari  Menyelenggarakan pembinaanpencemaran air limbah & bimbingan teknis dalam permukiman peningkatan PS air limbah untukdaerah tertentu :daerahendemi, daerah bencana, daerahterpencil pulau-pulau kecil dan kawasan perbatasanMendorongpengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tepatguna dalam bidang pegelolaan air limbah a. Meningkatkan peran serta badan usaha swastadan koperasi dalam pembangunan danpengelolaan air limbah  Menyelenggarakan sosialisasi dan kampanye dalam pendidikan lingkungan dan kepedulian lingkungan Mendorong pembangunan PS Air Limbah berbasis masyarakat Menyelenggrakan deseminasi dan sosialisasi norma, standard, pedoman dan manual bidang air limbah Memberikan Bantuan teknis pembangunan air limbah berbasis masyarakat 4 Penguatan kelembagaana.

LIMA TAHUN

No Usulan Prioritas Proyek Rencana Dana (Rp) Tahun 2008 Tahun 2009 Tahun 2010 Tahun 2011 Tahun 2012 1 Pembangunan IPLT 6.000 2 Pembangunan MCK 500 500 1.000 1.000 3 Pembangunan Jamban Keluarga danSeptiktank 1.400 1.750 1.750 2.100

4.4 RENCANA INVESTASI SUB-BIDANG PERSAMPAHAN

4.4.1 Petunjuk Umum Pengelolaan Persampahan

4.4.1.1 Umum

  Sub Bidang Persampahan pada Bidang Keciptakaryaan Departemen PekerjaanUmum memiliki program dan kegiatan yang bertujuan untuk mencapai masyarakat hidup sehat dan sejahtera dalam lingkungan yang bersih darisampah. Sasaran utama yang hendak dicapai yaitu (1) pencapaian sasaran cakupan pelayanan 60% penduduk; (2) pencapaian pengurangan kuantitas sampahsebesar 20%; (3) tercapainya peningkatan kualitas pengelolaan TPA menjadi sanitary landfill untuk kota metropolitan dan besar serta controlled landfilluntuk kota sedang dan kecil serta tidak dioperasikannya TPA secara open dumping.

4.4.1.2 Kebijakan, Program Dan Kegiatan Pengelolaan Persampahan Rencana Kabupaten Kota

  Peningkatan dan pembinaan dilakukan dengan lomba kebersihan serta kerjasama dengan lembaga swadaya masyarakat kelompokpengelola sampah mandiri. Membangun tanggung jawab bersama dalam pengelolaan sampah dalam hal dana masyarakat melalui retribusi berjenjang.

4.4.2 Profil Persampahan

  4.4.2.1 Gambaran Umum Pengelolaan Persampahan Saat Ini Pengumpulan dan pengangkutan menggunakan pola individual, pengumpulan dari rumah ke rumah la ngsung dibuang ke TPA dengan “pick up” atau “dumptruck” pola lain adalah pola individual tidak langsung. Dalam pemindahan sampah terjadi kegiatan-kegiatan pemindahan dari TPS atau container ke depo, dan kegiatan pengurangan volume, seperti pengomposan danpengaisan material yang masih berguna.

4.4.2.2 Kondisi Sistem Sarana Dan Prasarana Pengelolaan Persampahan yang Ada (Aspek Teknis)

Pelayanan persampahan meliputi 1 kecamatan yaitu Kecamatan Arga Makmur, 3 pelayanan telah mencapai 60% total produksi sampah sebesar 180m per hari. Di RENCANA POGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH RPIJM

BAB 4 INFRASTRUKTUR Kabupaten Bengkulu Utara sarana kebersihan terdiri dari fasilitas pengangkutan (truk, gerobag dorong, gerobag motor, kontainer, TPS, dan depo dan transito). Jumlah kontainer sebanyak 6 buah, Gerobag sebanyak 12 buah, Bak Sampah (TPS) sebanyak 9 buah . Sarana angkutan terdiri atas “dump truck” 5 unit. Tempat Pembuangan Akhir adalah TPA Rama Agung yang dikelola bersama Pemerintah Kabupaten Bengkulu Utara

  4.4.2.4 Aspek Kelembagaan Pelayanan Persampahan Unsur pelaksana Pemerintah Daerah dalam bidang kebersihan sampah, pertamanan, air limbah dan pelaksanaan tugas pemantauan di KabupatenBengkulu Utara dilakukan oleh Dinas Pekerjaan Umum. PengelolaanDeskripsikan institusi pengelola yang ada saat ini serta tingkatkewenangannya, serta bila ada swasta atau lembaga organisasimasyarakat yang juga terlibat sebagai pelaksana pengelolaansampah dengan skala/cakupan pengelolaannya.

3. Pembiayaan

a. Biaya pengelolaan

b. Pendapatan retribusi Rp/tahun 30 juta

4. Hukum dan Peraturan :

  Uraikan ketersediaan peraturan dan sejenisnya yang ada saat ini denganmencantumkan nomor dan tahun serta judul peraturan. BAB 4 INFRASTRUKTUR Tabel 4.23 Parameter Teknis Wilayah Kabupaten Bengkulu Utara No Uraian Satuan Keterangan 1.

10 Kesehatan

 Tiga penyakit paling dominan terkait dengan kondisi sanitasi yang buruk Kejadian khusus terkait sampah

4.4.3.1 Sasaran Penyediaan Prasarana Dan Sarana Pengelolaan Sampah

Sasaran yang ingin dicapai adalah pada tahun 2011 pengelolaan sampah olehKelompok Rumah Tangga secara mandiri dengan penerapan metode 3 M(Mengurangi, Memanfaatkan Kembali dan Mendaur Ulang) melalui pemilahan sampah ditargetkan, sehingga volume sampah dapat dikurangisebesar 20% sehingga volume sampah yang dibuang dapat dikurangi sebesar50% dan diharapkan terjadi peningkatan efisiensi pengelolaan sampah serta RENCANA POGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH RPIJM

4.4.3.2 Rumusan Masalah

  Masih dalam perencanaan Membuat danmengusulkan Tidak adanya dokumenperencanaan Membuatrencana usulan 1 Perencanaan : Ketersediaan dokumenperencanaan (masterplan, FS, DED Teknis Operasional: Aspek Pengelolaan Persampahan Permasalah Yang Dihadapi Tindakan Penanggung Jawab Yang Sudah Dilakukan Yang Sedang Dilakukan Yang Direncanakan Untuk Dilakukan (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) Di Kabupaten Bengkulu Utara No. Tabel.4.24Permasalahan Pengelolaan Persampahan Yang Dihadapi Bagian ini menguraikan besaran persoalan yang dihadapi atau tantangan yang diselesaikan melalui pembangunan sistem prasarana dan saranapengelolaan persampahan, dengan membandingkan antara kondisi yang ada dan sasaran penyediaan PS persampahan, baik dari aspek teknis, kelembagaan,regulasi mupun keuangan.

2 Prasarana dan Sarana

BAB 4 INFRASTRUKTUR Tindakan Aspek Pengelolaan Permasalah Yang Penanggung Yang No. Persampahan Dihadapi Yang Sudah Yang Sedang Jawab Direncanakan Dilakukan Dilakukan Untuk Dilakukan

  Bin/Tong Sampah yang ada tong sampahb. Gerobak sampah Peningkatan/ Usulanada Tidak ada penambahanb.

b. Container c

  dll Sistem Pengolahan & 3R: Usulanpengadaan a. Pengomposan Belum ada peralatan Usulan Bantuan peralatanb.

d. Fasilitas Operasional :

RENCANA POGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH RPIJM

BAB 4 RPIJM No. Aspek Pengelolaan Persampahan Permasalah Yang Dihadapi Tindakan Penanggung Jawab Yang Sudah Dilakukan Yang Sedang Dilakukan Yang Direncanakan Untuk Dilakukan

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) INFRASTRUKTUR

e. Fasilitas penunjang

  Peran serta Masyarakat dan Swasta: Analisis diperlukan untuk mencari akar permasalahan berdasarkan kondisi yang ada saat ini dari berbagai aspek teknis maupun non teknis, sertaberbagai kendala yang dihadapi dalam rangka mencapai sasaran yang diinginkan. Analisis permasalahan dapat dilakukan dengan gap analisis yaitusuatu metoda yang membandingkan antara kebutuhan dan pengelolaan yang tersedia sehingga dapat direncanakan kapasitas penyediaan pengelolaanpersampahan lima tahun ke depan.

FS, DED

  2 Prasarana dan Sarana Pewadahan: MenambahMempermudah Relatif Memanfaatkan Efesiensi dana Relatif jumlah Tonga. Dll sampah yang adaPengumpulan: Penambahan Mempermudah Relatif Memanfaatkan Efesiensi dana Relatifjumlah a.

b. Becak sampah

  sampah yang sampahc. Transfer station Pengangkutan: PemeliharaanRelatif Penambahan Mempermudah Relatif alat yang ada Mempermudaha.

C. Sistem Pembiayaan:

Kerjasama Swasta Kerjasama INFRASTRUKTUR (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8)

D. Peraturan/Perundangan

E. Peran serta M`asyarakat dan Swasta:

  Sehingga pada akhirnya dapat diwujudkan suatu sistem drainase yang terintegrasi dan dengan kualitas pelayanan yang memadai. Secara pasti dapat dikatakan bahwa penyelesaian masalah drainase (banjir) di suatu kawasan selain memfokuskan pada penyelesaian masalah kawaninternal, juga tidak terlepas dari penyelesaian masalah kawasan eksternal, terutama menyangkut aspek – aspek yang terkait secara langsung denganpermasalahan drainase di Kawasan studi.

4.5.1.2 Maksud dan Tujuan

  4.5.1.3 Arah Kebijakan Penanganan Drainase Berdasarkan isu permasalahan strategis di bidang drainase, maka dirumuskan suatu sasaran kebijakan nasional sebagai arahan mendasar darikondisi yang akan dicapai dan diwujudkan dalam pengembangan bidang drainase di masa yang akan datang.  Terciptanya pola pembangunan drainase yang berkelanjutan melalui kewajiban konservasi air dan pembangunan yang berwawasan lingkungan. Terwujudnya upaya pengentasan kemiskinan perkotaan yang efektif dan ekonomis melalui mnimalisasi resiko biaya sosial dan ekonomi serta biaya kesehatan akoibat genangan dan bencana banjir.

4.5.1.5 Kebijakan, Program Dan Kegiatan Pengelolaan Drainase Rencana Kabupaten Bengkulu Utara

  RPJMD Kabupaten Bengkulu Utara mencantumkan misi ke-8 yaituMewujudkan Pembangan Sarana dan Prasarana Berkualitas dengan salah satu kebijakannnya adalah Menyediakan sarana dan prasarana dasar publikyang memadai di dalam kota dan di daerah perkotaan bekerjasama dengan daerah tetangga. Programnya adalahPerbaikan/Pemeliharaan saluran irigasi dan drainase.

4.5.2 Profil Drainase

  Jaringan drainase yang ada terutama untuk sistem tersier, sekunder maupun primer pada umumnya atau sebagain besar masihmenjadi satu dengan sistem jaringan jalan. Di semua wilayah studi, sistem jaringan yang ada belum terbagi menurutsistem blok pelayanan sesuai dengan area yang (mungkin) dilayani.

BAB 4 RPIJM Peta Jaringan Drainase Eksisting di Kabupaten Bengkulu Utara (jika ada)

INFRASTRUKTUR

4.5.2.2 Aspek Teknis

  Tinjauan kondisi drainase studi di wilayah studi merupakan bagian dari proses penyusunan RPIJM untuk komponen drainase. Dengan mengetahuikondisi sistem drainase makro maupun mikro yang ada di wilayah studi, maka akan dapat didefinisikan indikasi permasalahan yang ada secara lebihdetail dan komprehensif, untuk selanjutnya dapat dirumuskan rencana penanganan yang sesuai dengan kondisi lapangan.

1. Drainase Makro

Sistem drainase induk yang ada di wilayah Kabupaten Bengkulu Utara adalah sistem drainase alam, yaitu suatu sitem yang menggunakan sungai RENCANA POGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH RPIJM

2. Drainase Mikro

  Disamping sungai  Genangan yang terjadi kebanyakan disebabkan oleh kapasitas saluran kurang, dan kurangnya tali air, terutama disepanjang saluran yang ada di sisi jalan; Selain itu juga disebabkan oleh kurangnya perawatan, sehingga banyak gorong – gorong dan tali air yang tersumbat. Sistem saluran yang ada belum ter-integrasi secara baik, terutama dalam rumusan kapasitas saluran terhadap area yang dilayani, sehingga ada saluran yang melayani area terlalu luas. RENCANA POGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH RPIJM  Inlet saluran tidak berfungsi dengan baik, sehingga limpasan air permukaan tidak dapat masuk dengan lancar ke saluran yang ada. Masih rendahnya kesadaran masyarakat untuk ikut menjaga dan merawat kebersihan saluran.

BAB 4 INFRASTRUKTUR Secara umum jaringan drainase yang ada berupa saluran alami dan

  Saluran drainase yangada sebagian besar menjadi satu dengan saluran drainase jalan. Sebagai suatu kota dengan kepadatan penduduk yang tinggi dan tata guna lahan yang didominasi oleh kawasan tertutup, serta aktifitasperdagangan yang sangat dinamis, maka Kota Kabupaten Bengkulu Utara menghadapi permasalahan yang cukup spesifik menyangkutkesadaran masyarakat untuk ikut menjaga kebersihan saluran drainase yang ada, dan juga diperlukan kesadaran yang tinggi dari masyarakatuntuk ikut berpartisipasi dalam pembuatan sumur peresapan.

4.5.3.1 Permasalahan Sistem Drainase yang Ada

Pada prinsipnya ini merupakan bagian awal dari proses pendefinisian masalah yang menjadi bagian awal dari proses perencanaan system secarakeseluruhan. Indikasi permasalahan merupakan hasil analisis detail berdasarkan data RENCANA POGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH RPIJM sehingga didapat informasi

1. Genangan

  Genangan dengan parameter luas genangan, tinggi genangan, dan lamanya genangan merupakan permasalahan utama yang menjadi fokusperhatian studi. Terjadinya genangan pada beberapa lokasi di wilayah studi secara pasti akan menimbulkan permasalahan berkelanjutan padasystem interaksi sosial, ekonomi, budaya, dan aspek interkasi masyarakat lainnya.

BAB 4 INFRASTRUKTUR TING LAMA LUAS GI NO LOKASI GENAN PENYEBAB KET

  Luapan dari beberapa sungai yang disebabkan oleh : Kapasitas sungai yang ada tidak mampu menampung debit banjir yang terjadi; Pada beberapa lokasi penampang hidrolis yang ada tidak memadai atau tidak dapat menampung debit banjir yang ada; Pada beberapa lokasi penampang hidrolis sungai berkurang akibat dari terjadinya sedimentasi dan penyempitan penampang sungai. Akibat kerusakan tanggul sungai dan bocoran b. Akibat aliran permukaan (“debit run off”) pada saat hujan yang tidak bisa segera dibuang atau dialirkan ke sungai atau system pembuang yang ada,karena pada saat bersamaan sungai yang ada sudah penuh sehingga tidak mampu menampung tambahan debit dari aliran permukaan;i.

2. Kebijakan Pembangunan Antar Kawasan

  Demikian juga kaitan antara infrastruktur drainase dengan infrastruktur lainnyaharus mendapat perhatian yang seksama, sehingga penanganan yang dilakukan merupakan suatu kegiatan yang komprehensif. Dalam kaitandengan topik ini, maka permasalahan yang terkait dengan kebijakan pembangunan antar kawasan antara lain adalah : RENCANA POGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH RPIJM  Belum adanya kebijakan yang terpadu antar wilayah kota dan kabupaten di propinsi Bengkulu untuk pengendalian kawasan resapan di daerah hulu sungai.

3. Koordinasi Pengawasan Pembangunan

  Sebagai contoh suatu kawasan dengan elevasi di bawah muka air banjir sungai terdekat,maka perencanaan pembangunan sarana dan prasarana di kawasan tersebut harus sudah mengantisipasi kemungkinan terjadinya banjir,yaitu dengan melakukan penimbunan sampai batas peil banjir sebelum prasarana tersebut dibangun. Diabaikannya batas Peil Banjir Sebagaimana dijelaskan pada sub bab sebelumnya, dimana salah satu penyebab banjir di wilayah studi adalah elevasi kawasan perumahan yang RENCANA POGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH RPIJM berada di bawah muka air banjir sungai maupun di bawah muka air normal, sehingga kawasan atau area perumahan tersebut menjadi kawasan yangrawan banjir.

d. Pelanggaran Penggunaan Lahan Pada Kawasan Konservasi

  Hal lain yang sering terlihat dari lemahnya koordinasi pengawasan pembangunan adalah digunakannya lahan yang berada pada kawasankonservasi untuk keperluan pembangunan. Pelanggaran tersebut mengakibatkan berkurangnya luasan dari kawasan konservasi dan padaakhirnya akan mengurangi luasan dari kawasan resapan atau ruang hijau terbuka.

4. Tinjauan Terhadap Sistem Penyaluran Air Hujan Yang Ada

Tinjauan terhadap sistem penyaluran air hujan yang ada akan mencakup tinjauan terhadap sungai sebagai badan penerima air utama, dan sistemsaluran sebagai badan pembawa.

a. Tinjauan Terhadap Sungai Induk

  Perhitungan mengenai kapasitas sungai berdasarkan profil sungai yang ada untuk kemudian dibandingkan dengan debit banjir hasil perhitungandengan periode ulang 10 tahun, akan memberikan gambaran mengenai kemungkinan terjadinya atau tidak terjadinya luapan pada sungaidimaksud. Sampai saat ini data profil sungai dan data debit banjit dari sungai – sungai utama di Kabupaten Bengkulu Utara belum didapatkan.

b. Tinjauan Terhadap Saluran Yang Ada

  Meliputi tinjauan dimensi, keadaan saluran, perlengkapan saluran yang ada, serta hal – hal lain yang dianggap perlu sehingga dapat diharapkan akandidapat dimensi saluran yang sesuai. Hasil pengamatan lapangan adalah sebagai berikut :  Tingkat pelayanan sistem yang ada masih rendah dalam konteks perbandingan antara luas yang harus dilayani dengan panjang sistemyang sudah terbangun/terpasang.

5. Pemeliharaan Prasarana dan Sarana Drainase

  Akibat keterbatasan dana, selama ini pemeliharaan prasarana/sarana drainase kurang mendapat perhatian yang cukup dari Instansi yangberwenang. Biasanya pemeliharaan akan dilakukan apabila kondisikerusakan sudah parah atau untuk mengatasi kondisi darurat dan pemeliharaan tersebut dilakukan secara partial tidak secara menyeluruh.

BAB 4 RPIJM  Prasarana/sarana drainase tidak berfungsi dengan optimal

  4.5.3.3 Rumusan Masalah Rumusan masalah menguraikan besaran masalah yang dihadapi dan tantangan yang harus diselesaikan dalam mengatasi persoalan sistemdrainase yang ada dan dalam memenuhi basic need dan development need penanganan drainase kota.  Kecepatan peresapan rendah 4.5.3.2 Sasaran Drainase Cakupan layanan terbatas  Sistem jaringan belum terintegrasi  Manajemen aset lemah  Kesadaran drainase masyarakat lemah  BAB 4 INFRASTRUKTUR Tabel 4.29 Permasalahan dan Upaya Penanganan Drainase Kabupaten Bengkulu Utara Tindakan Yang Permasalah Penanggung No.

4.5.4.1. Analisis Kebutuhan

  Analisis permasalahan dapat dilakukan dengan gapanalisis yaitu suatu metoda yang membandingkan antara kebutuhan dan pengelolaan yang tersedia sehingga dapat direncanakan kapasitaspenyediaan pengelolaan drainase lima tahun ke depan. Komponen-komponenyang perlu diperhatikan di dalam penataan sistem drainase antara lain pola aliran, normalisasi sungai-sungai dan saluran-saluran drainase,mengembalikan fungsi bantaran sungai, menerapkan garis sempadan sungai dan saluran, meningkatkan kapasitas dan pemanfaatan situ,pemeliharaan sarana drainase, penanggulangan erosi lahan, dan penanggulangan banjir.

1 Pola Aliran

  Pembenahan pola aliran untuk suatu daerah yang sudah lama berkembang terutama untuk daerah yang terletak di zona aliran pantaiadalah sebagai berikut : Jika daerahnya cukup tinggi di atas elevasi air pasang, maka penataan drainasenya bisa menggunakan kanal-kanal yang bisa dialirkan ke sungai terdekat. Pada sebagian sungai kondisi dan batas bantaran ini tidak jelas, sebaliknya ada yang mempunyai bantaran yang jelas dengan batas berupatanggul alam dan bertanda bebas aliran air yang jelas pula.

5. Menetapkan Garis Sempadan Sungai dan Saluran

  Pemikiran untuk mengadakan perluasan masa mendatang dari sistem drainase yang dibangun dengan bertahap ini, mengharuskan PemerintahDaerah untuk mengadakan cadangan lahan dan melakukan pengaturan lahan sesuai dengan rencana pengelolaan kawasan lindung. Jika daerah aliran sungai tersebut memiliki kapasitas besar, makalahan sempadan yang harus dicadangkan di tepi kanan dan kiri juga lebih besar daripada sungai kecil.

BAB 4 INFRASTRUKTUR Lebar No. Jenis Sempadan Keterangan

  (m) Di luar kawasan perkotaan 10 7 Di dalam kawasan perkotaan 10 8 Drainase Sekunder Dihitung dari tepi sungaiDi luar kawasan perkotaan 5 rencana 9 Di dalam kawasan perkotaan 5 Dihitung dari tepi sungai rencana 10 Drainase TersierDi luar kawasan perkotaan 3 Dihitung dari tepi sungai 11 Di dalam kawasan perkotaan 3 rencanaDihitung dari tepi sungai rencanaDihitung dari tepi sungai rencanaDihitung dari tepi sungai rencana 6. Pemeliharaan Sarana Drainase Sarana drainase yang terbangun akan berfungsi sebagaimana yang diharapkan jika disertai dengan upaya pemeliharaan yang baik pula.

BAB 4 INFRASTRUKTUR Secara konsepsi kegiatan pemeliharaan ini dikelompokkan menjadi 3 (tiga)

  Tipe pemeliharaan tersebut adalah : ฀Pemeliharaan rutin : pemeliharaan dilakukan secara rutin dari waktu ke waktu dengan tujuan untuk menjaga kondisi prasarana drainase agar tetap dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Sasaran pemeliharaanrutin adalah kerusakan ฀Pemeliharaan Berkala : pemeliharaan dilakukan secara berkala dalam periode waktu (3 bulan, 6 bulan) tertentu dengan tujuan untuk mengembalikan kondisi prasarana drainase agar kembali berfungsisebagaimana mestinya.

8. Penanggulangan Erosi Lahan

  Banyak upaya yang harus dilakukan untuk menanggulangi masalah erosi lahan ini di antaranya dapat dikelompokkan kedalam dua jenis, yaitu upayapenanggulangn secara fisik dan upaya penanggulangan secara non-fisik. ฀Upaya Penanggulangan Secara Fisik Kegiatan ini dapat dimulai dengan mengadakan inventarisasi jenis kerusakan lahan yang terjadi, dan mengadakan data tentang jenis tanahyang ada pada kawasan perbukitan serta menetapkan standar RENCANA POGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH RPIJM “Watershed management” yang akan ditetapkan sesuai dengan keadaan setiap lahan menurut kategori yang homogen.

9. Strategi Pengelolaan Kawasan Lindung

  ฀ Pemantauan dan pengendalian kegiatan budidaya yang telah berlangsung di atas kawasan lindung agar tidak menimbulkan gangguanterhadap fungsi lindung. RENCANA POGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH RPIJM ฀ Penertiban terhadap kegiatan budidaya yang telah berlangsung di atas kawasan lindung dan terbukti telah menimbulkan gangguan fungsilindung.

10. Pembuatan Sumur Resapan

  Permasalahan lingkungan yang sering terjadi adalah terjadinya banjir pada musim hujan dan kekeringan pada musim kemarau. Salah satu strategi atau cara pengendalian air yang baik untuk mengatasi banjir atau kekeringan adalah dengan cara meningkatkan kemampuan tanahmeresapkan air hujan, yaitu dengan pembuatan sumur resapan terutama pada kawasan pemukiman.

BAB 4 INFRASTRUKTUR Dari uraian diatas, tampak bahwa sumur resapan memiliki beberapa fungsi

  Adapun fungsi dari sumur resapan, antara lain : Pengendali banjir Konservasi tanah Menekan laju erosi Dapat dimanfaatkan sebagai penambah estetika lingkungan apabila sumur resapan tersebut dipadukan dengan pertamanan atau hutan kota Melihat banyaknya manfaat dari sumur resapan bagi kelestarian lingkungan hidup maka pembuatan sumur resapan perlu diterapkaan dalam kehidupanmasyarakat, terutama di wilayah perkotaan. Upaya tersebut akan berfungsi apabila seluruh masyarakat sadar dan mau menerapkannya, karena peransumur resapan tidak akan berarti apabila hanya beberapa penduduk saja yang menerapkannya.

11. Penataan Limbah Rumah Tangga

  Untuk mengatasi masalah tersebut diatas, maka idealnya pada setiap rumah tangga atau kawasan pemukiman harus memiliki sistem penanganan airlimbah sebelum air tersebut masuk kedalam saluran drainase. Namun mengingatpengaruh pencemaran air limbah terhadap kualitas air sungai sangat besar, maka perlu dilakukan upaya pengolahan terhadap air limbah sebelum air RENCANA POGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH RPIJM tersebut masuk kedalam saluran drainase.

4.5.5 Sistem Prasarana yang Diusulkan

  Berdasarkan tinjauan terhadap sistem drainase (makro dan mikro) yang ada, indikasi permasalahan dalam semua aspek yang terkait dengan pengelolaansistem, konsep penataan sistem drainase, dan rumusan kebutuhan prasarana RENCANA POGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH RPIJM drainase seperti yang telah diuraikan sebelumnya, maka rumusan prioritas program sebagai berikut : 1. Pengembangan Program dan Perencanaan Pembangunan Sistem Drainase Pengembangan program dan perencanaan pembangunan sistem drainase dengan target tersusunnya dokumen Master Plan Sistem Drainase dandokumen – dokumen derivatnya seperti : dokumen studi kelayakan, dan dokumen perencanaan yang dapat dipakai sebagai acuan dalamimplementasi program di bidang drainase di setiap Kabupaten .

3. Pemeliharaan dan Pembangunan Prasarana Drainase

  Menjaga, mengembalikan dan meningkatkan fungsi prasarana dan drainase yang ada, serta untuk menciptakan sistem jaringan drainasewilayah yang terpadu dengan kapasitas yang cukup. Pengembangan Drainase Skala Kawasan Berbasis Masyarakat Pembangunan drainase skala kawasan berbasis masyarakat dengan target peningkatan kesehatan lingkungan dan menjaga kualitas air tanah melaluipeningkatan peran serta masyarakat dalam menjaga serta memelihara parasarana drainase dan pembuatan sumur peresapan.

4.5.5.2 Usulan dan Prioritas Proyek Penyediaan Drainase

  Pelaksanaan proyek atau pembangunan adalah kegiatan yang akan dilakukan setelah adanya rekomendasi/program penanganan. Namun,mengingat seluruh program penanganan tersebut tidak dapat dilaksanakan secara bersamaan karena adanya beberapa kendala, seperti ketersediaan dana,ketersediaan lahan, dan berbagai faktor lainnya, maka program penanganan RENCANA POGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH RPIJM tersebut akan dibagi-bagi dalam beberapa tahapan pelaksanaan.

4.6 RENCANA INVESTASI PENGEMBANGAN AIR MINUM

4.6.1 Petunjuk Umum Sub Bidang Air Minum

  Kondisi sumber daya air di wilayah Kabupaten Bengkulu Utara sangat dipengaruhi oleh kondisi fisik dan kondisi hidroklimatologi yang cukup spesifikdi daerah ini. Pertumbuhan penduduk dan perkembangan aktifitasperkotaan di Kabupaten Bengkulu Utara yang cukup pesat memerlukan RENCANA POGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH RPIJM dukungan infrastruktur yang cukup memadai dalam berbagai sektor, termasuk tersedianya air bersih yang cukup dalam jumlah maupun mutu.

4.6.2 Profil Air Minum

  Sungai yang menjadi sumber adalah sungai masing-masing unit, dimana pengambilannya menggunakan intake/bangunan penyadap dan dialirkan secaragrafitasi dan pompa dengan pipa menuju IPAM untuk diolah. Sistem penyediaan air bersih di Kabupaten Bengkulu Utara saat ini disuplai dari sumber-sumber air permukaan ( 90 %) dengan kapasitas produksi 3 total 125 liter/detik.

7. Kehilangan Air (UFW) %

RENCANA POGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH RPIJM

BAB 4 INFRASTRUKTUR Sistem No Uraian Satuan Sistem Non-Perpipaan Keterangan Perpipaan

  9. - (uraikan (rata-rata)struktur tariff yangberlaku saat ini) 10.

4.6.2.2.1 Sistem Non Perpipaan .1 Aspek Teknis

  Dari dari Dinas Pekerjaan Umum dan Kesehatan terdapat beberapa wilayah kecamatan yang menggunakan air permukaan atau sumur galisebagai sumber pemenuhan kebutuhan air bersih sehari-hari bagi penduduk. 4.6.2.2.1.3 Aspek Kelembagaan dan Peraturan Pengelolaan sistem air bersih non-perpipaan dengan pembuatan sumur gali dikelola oleh masing-masing pemilik sumur gali (keluarga), sedangkanuntuk sumber air bersih dari mata air dikelola oleh pemerintah.

4.6.2.2.2 Sistem Perpipaan .1 Aspek Teknis

  Penyediaan air bersih sistem perpipaan bagi masyarakat di wilayahKabupaten Bengkulu Utara dilayani oleh Perusahaan Daerah Air MinumTierta Ratu Samban, Air baku yang digunakan untuk penyediaan air bersih sistem perpipaan ini sebagian besar ( 90 %) bersumber dari airpermukaan/pengolahan (5%). Jumlah produksi air dari sistempenyediaan air yang dikelola oleh PDAM Tirta Ratu Samban tersebut lebih 3 kurang 3.565.400 m /tahun, sedang yang didistribusikan lebih kurang 3 3.228.400 m /tahun, serta tingkat kehilangan air sebesar 23 %.

BAB 4 INFRASTRUKTUR Bengkulu Utara yang berjumlah 9.188 unit SR, dan apabila dianggap besaran

  4.6.2.2.2.2 Aspek Pendanaan Sumber pembiayaan dari sistem perpipaan dibiayai oleh APBD KabupatenBengkulu Utara dan APBN RENCANA POGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH RPIJM 4.6.2.2.2.3 Aspek Kelembagaan dan Peraturan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Ratu Samban dibentuk atas dasar Perda Nomor : 16 Tahun 1990, dengan Tugas pokoknya adalahmemenuhi kebutuhan jaringan air bersih. Retribusi Rp/m Rp 2.750.-RENCANA POGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH RPIJM INFRASTRUKTUR 4.6.3.1 Sasaran Penyediaan dan Pengelolaan Prasarana dan Sarana (PS) Air Minum Sampai dengan tahun 2011 seluruh rumah tangga dapat menjangkau pelayanan air bersih baik melalui sistem perpipaan maupun non perpipaan.

1. Sistem

 Masih banyak Perpipaan/PDAMjaringan pipa yang a. Kebocoran (%) 22% 19% 30% sudah tua dan

b. Cakupan Pelayanan

  kebocoran Penduduk (%) 80% 60% 50%dijaringan Kebutuhan  Banyak water c. perkapita/hari Rendah 130 lt/dt 120% meter hilang dankeborocan dijaringansehingga tidak tercatat 2.

4.6.4.1 Analisis Kebutuhan Prasarana Air Minum

  Analisis kebutuhan prasarana air minum digunakan untuk memprediksi kebutuhan air minum lima tahun ke depan serta untuk mengetahui gapanalisis antara kebutuhan dan ketersediaan pelayanaaan. Dari gap analisis RENCANA POGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH RPIJM berikut terlihat bahwa kebutuhan air minum yang meningkat tiap tahun hingga tahun 2012 masih bisa dipenuhi oleh ketersediaan air minum dariPDAM meskipun tiap tahun kiapasitas ketersediaan menurun.

a. Sambungan Rumah ((SR)

  Tingkat Pelayanan % 2. Penduduk yang terlayani Jiwa 3.

b. Hidran Umum (HU)

  Tingkat Pelayanan % 2. Penduduk yang terlayani Jiwa 3.

6 Kebutuhan air non domestik

a. % dari kebutuhan %

b. Jumlah kebutuhan lt/det

  Penyusunan masterplan penyediaan air minum RENCANA POGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH RPIJM 4.6.5.4 Usulan dan Prioritas Proyek Penyediaan Pengelolaan Air Minum Rincian usulan dan prioritas kegiatan/proyek investasi pengelolaan air minum jangka menengah untuk lima tahun ke depan (2013-2017) berikutrencana pembiayaan disajikan dalam tabel di bawah ini. 4.6.2.2 Kondisi Sistem Sarana dan Prasarana Penyediaan dan Pengelolaan Air Minum 4.6.2.2.1 Sistem Non Perpipaan 4.6.2.2.1.1 Aspek Teknis Penggunaan air bersih non-perpipaan masih sangat dominan bagi masyarakat Kabupaten Bengkulu Utara.

BAB 4 INFRASTRUKTUR Tirta Ratu Samban yang digunakan untuk penyediaan air bersih sistem

  Jumlah produksi air dari sistem penyediaan air yang dikelola oleh PDAM Tirta Ratu 3 Samban tersebut lebih kurang 3.565.400 m /tahun, sedang yang didistribusikan 3 lebih kurang 3.228.400 m /tahun, serta tingkat kehilangan air sebesar 23 %. Ditinjau berdasarkan pelanggan air bersih PDAM Tirta Ratu Samban diKabupaten Bengkulu Utara yang berjumlah 9.188 unit SR, dan apabila dianggap besaran rumah tangga adalah 6 orang/KK, maka cakupan pelayanan air bersihdi kota ini adalah sebesar 23 %.

3 Ratu Samban adalah 900 m dengan rata-rata jam operasional distribusi seluruh sistem 10 jam

  Jumlah produksi air dari sistem penyediaan air yang dikelola oleh PDAM Tirta 3 Ratu Samban tersebut lebih kurang 3.565.400 m /tahun, sedang yang 3 didistribusikan lebih kurang 3.228.400 m /tahun, serta tingkat kehilangan air sebesar 23 %. Ditinjau berdasarkan pelanggan air bersih PDAM Tirta RatuSamban Kabupaten Bengkulu Utara yang berjumlah 9.188 unit SR, dan apabila dianggap Besaran rumah tangga adalah 5 orang/KK, maka cakupan pelayananair bersih di kota ini adalah sebesar 16 %.

BAB 4 INFRASTRUKTUR No Uraian Satuan Sistem Non Sistem Keterangan Perpipaan Perpipaan Terjual

  4.6.3.2 Rumusan Masalah Penurunan kapasitas penyediaan air dari sumber-sumber air yang digunakan tersebut tentunya merupakan permasalahan dalam pelayanankebutuhan air bersih masyarakat di kota Kabupaten Bengkulu Utara dan sekitarnya, dan juga merupakan tantangan yang dihadapi dalam usahanyauntuk meningkatkan cakupan pelayanannya. perkapita/hari 4.6.4 Analisis Permasalahan dan Rekomendasi 4.6.4.1 Analisis Kebutuhan Prasarana Air Minum Analisis kebutuhan prasarana air minum digunakan untuk memprediksi kebutuhan air minum lima tahun ke depan serta untuk mengetahui gapanalisis antara kebutuhan dan ketersediaan pelayanaaan.

Dokumen baru
Aktifitas terbaru
Penulis
123dok avatar

Berpartisipasi : 2019-03-13

Dokumen yang terkait
Tags

Dokumen Rencana Program Investasi Infrastruktur Jangka Menengah

Rencana Terpadu Dan Program Investasi Infrastruktur Jangka Menengah

Matrik Rencana Program Dan Investasi Infrastruktur Bidang Cipta Karya

Rencana Program Investasi Jangka Menenga

RENCANA PROGRAM INVESTASI INFRASTRUKTUR

Gratis

Feedback