PENGEMBANGAN KETERAMPILAN VOKASIONAL DI (1)

Gratis

0
2
94
1 year ago
Preview
Full text

PENGEMBANGAN KETERAMPILANVOKASIONAL DI MADRASAH ALIYAH PENGEMBANGAN KETERAMPILAN

  KEMENTERIAN PENDIDIKAN KEMENTERIAN EUROPEAN UNION DAN KEBUDAYAAN AGAMA Bappenas Kementerian PPN/ Institusi yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan studi ini adalah Trans Intra Asia Tim konsultan yang menyiapkan laporan adalah: 1. Adri BudiSulistyo, Finance SpecialistPendapat yang disampaikan dalam publikasi ini merupakan tanggung jawab penuh dari para pengarangnya dan tidak serta merta mewakili pandangan Pemerintah Indonesia, Pemerintah Australia dan Uni Eropa.

PENINGKATAN KETERAMPILAN DI MADRASAH ALIYAH

  Oleh karena itu, dalam menghasilkan produk ini, tim peneliti mengumpulkan dan menganalisis data kunjunganlapangan, menyelengarakan Diskusi Kelompok Terfokus atau Focus Group Discussions (FGD), dan melakukan analisis data sekunder yang relevan. Tujuan dan Ruang Lingkup Penelitian Tujuan penelitian ini adalah untuk menghasilkan pilihan strategis dalam hal pembangunan dan pengembangan program peningkatan keterampilan pada tingkat MA seperti yang tercantumdalam Kerangka Acuan.

4. Membuat draf Rencana Pembiayaan Pengembangan Jangka Menengah pada Peningkatan

  Melalui wawancara yang mendalam, kuesioner dan FGDs, diputuskan untuk memfokuskan penelitian dan penetapan biaya keterampilan yang paling sesuai dengan lowonganpekerjaan yang dibutuhkan pada sektor ekonomi lokal dan pada saat yang sama siswa yang bersangkutan dapat digunakan untuk pendidikan lanjutan. Pilihan kebijakan yang harusdipertimbangkan oleh Kementerian Agama untuk meningkatkan program keterampilan vokasional di MA adalah sebagai berikut:Mempertimbangkan semua atau beberapa model yang dikembangkan dan disulkan oleh penelitian ini atau memodifikasi model dan memberikan payung hukum yang memungkinkan MAuntuk menerapkan model (atau beberapa model) berdasarkan permintaan lokal, visi dan misi MA, serta juga sumber daya yang tersedia.

6. Kurikulum SLTA terkini memerlukan waktu pemberlajaran 6,5 jam pelajaran per hari

  Jika pembelajaran sehari penuh menjadi kewajiban, maka Kementerian Agama perlu mempertimbangkan kebijakan untuk mengijinkan madrasah tertentu diberikanwewenang untuk menerapkan model 3, 4 dan 5 dalam rangka memperpanjang waktu pembelajaran untuk program pelatihan keterampilan vokasional tambahan danpengintegrasian pengajaran agama yang lebih baik. Maksudnya, rekomendasi dibuatberdasarkan data dan informasi yang dikumpulkan melalui pertemuan dan FGD dengan para pimpinan MA dan staf Kementerian Agama, hasil kunjungan ke MA, survei di sejumlah programketerampilan vokasional di MA, serta review dan analisis yang terhadap peraturan pemerintah terkait dengan program keahlian dan pendidikan ketrampilan vokasional MA.

1. Penelitian ini mengembangkan lima model pengembangan ketrampilan vokasional dan disarankan tiap-tiap MA dapat memilih model yang terbaik sesuai dengan visi dan misi MA

  Penelitian ini juga merekomendasikan Kementerian Agama untuk menyediakan dana hibah guna membangun model pelatihan keterampilan vokasional yang intensif di MA yang dipilihsebagai model awal, memonitor dan mengevaluasi hasilnya secara menyeluruh. Kementerian Agama perlu meningkatkan tata kelola yang baik untuk program pendidikan keterampilan vokasional di MA dengan melakukan pemantauan kualitas dan perekamankemajuan untuk menjamin kualitas program.

8. Kementerian Agama perlu mempertimbangkan pemberian ijin bagi MA tertentu, termasuk

1. Pendahuluan

  Penelitian ini dilakukan atas nama Kementerian Agama (Kemenag), dan bertujuan untuk menyediakan informasi yang diperlukan untuk meningkatkan penyediaan pelatihan keterampilandi Madrasah Aliyah (MA). Termasuk diantaranya dua konsultan telah menjalankan beberapa studi kasus yang mendalam pada keterampilan pelatihanmadrasah termasuk analisis biaya untuk menjalankan program; dan konsultan lain mempersiapkan analisis makro sesuai tuntutan bidang kerjanya dalam konteks saat ini dan untukkedepannya diperkirakan dapat melengkapi latar belakang kontekstual untuk penelitian ini sesuai dengan kondisi perekonomian Indonesia saat ini.

1.1. Pengorganisasian Laporan

  Gambaran dari sistem pendidikan di Indonesiadan deskripsi pendidikan kejuruan di Indonesia yang menetapkan konteks untuk menyelenggarakan pelatihan keterampilan kejuruan di MA. Bab 3 menyediakan pemetaan dan analisis kesenjangan keterampilan melalui penilaian kebutuhan tenaga kerja pasar dan pasokan lulusan MA yang terampil.

1.2. Latar Belakang 1. Tinjauan Sektor Ekonomi Indonesia

  Bursa tenaga kerjaterbagi-bagi oleh sistem keterampilan kejuruan yang menggolongkan kemampuan dengan mempertahankan kurikulum keterampilan dengan daya jual spesifik, dan secara horizontal dimanajalur dari tingkat kualifikasi bawah hingga ke tingkat atas tidak terfasilitasi dengan baik. Orang-orang dengan pendidikan lebih tinggi bekerja di semua sektor, walaupunsekitar setengahnya bekerja di bidangjasa dan 10% di bidang keuangan, dan hanya 3% bekerja di pertanian.56 WLW Subandi, Ekonomi Persaingan, Fakultas Ekonomi Universitas Airlangga.

1.2.2. Ikhtisar Sistem Pendidikan Indonesia

  Secara keseluruhan pengelolaan dan pengawasan pendidikan formal dan nonformal dilakukan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) dan Kementerian Agama(Kemenag). Kemenag tidak menerbitkan data terpisah untuk Madrasah Aliyah (MA) dan Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK); namun, penelitian tersebut menemukan bahwa Kemenag saat ini mengakui enam MAK dan bermaksud untuk membuka lebihbanyak di masa mendatang.

1. Teknologi dan Teknik * 2

  9/2016 yang dikeluarkan pada bulan September 2016 penting untukpenelitian ini karena dua alasan: ini menciptakan hubungan formal antara kompetensi yang dikeluarkan oleh Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi untuk pelatihan kerja dan penilaianketerampilan dan kompetensi keterampilan dalam kurikulum SMK; juga menginstruksikan Kemendikbud untuk membentuk Kelompok Kerja Revitalisasi SMK. Keputusan ini menggantikan SK Dirjen Kemendikdasmen No.251/C/KEP/MN/2008 Menurut Kemendikbud, KKNI adalah salah satu standar nasional di sektor pendidikan dimana lulusan lembaga pendidikan dan pelatihan yang berada di bawah wewenang Kemendikbuddapatmemperoleh hasil belajar mereka dan mendapatkan sertifikat kemampuan berdasarkan salah satu tingkat kualifikasi yang ditentukan dalam KKNI.

2. Tujuan, Ruang Lingkup, dan Metodologi 1. Tujuan dan Ruang Lingkup

  Melakukan pemetaan dan analisa yang luas terkait kesenjangan keahlian, sector ekonomi, permintaan pasar tenaga kerja, dan jalur menuju pendidikan yang lebih tinggi, untukmemberi informasi mengenai pengembangan pilihan-pilihan strategis; 2. Mengembangkan pilihan-pilihan kebijakan yang sesuai untuk digunakan dalam merancang peraturan dan pedoman yang sesuai (oleh Kementerian Agama (Kemenag)); 4.

2.2. Ruang Lingkup

  Penelitian ini memfokuskan pada keterampilan kejuruan yang dibutuhkan saat ini dan akan dibutuhkan di masa depan yang dapat disediakan lewat pelatihan formal oleh MA dan untukmengetahui kesenjangan antara ketersediaan tenaga kerja berketerampilan dan permintaan pasar tenaga kerja (baik formal dan informal) untuk keterampilan tertentu. Program pengembangan keterampilan didasarkan pada kebutuhan untuk memberi siswa bukan hanya keterampilan kejuruan, melainkan juga keterampilan dan pengetahuan kognitif secaraumum yang akan member mereka kesempatan lebih baik untuk mendapat pekerjaan di sektor formal atau pekerjaan yang lebih menjanjikan di sektor informal serta untuk mempersiapkansiswa-siswa tertentu untuk melanjutkan pelatihan keterampilan di tingkat yang lebih tinggi.

2.2.1. Batasan penelitian

  Karena banyaknya keterampilan yang sesuai untuk MA, banyaknya variasi di sektor ekonomi lokal dan perbedaan biaya barang dan jasa di setiap wilayah dalam satu negara, penelitian ini tidakmampu menghasilkan model-model yang spesifik untuk mencakup semua jenis program keterampilan dan semua wilayah dalam negara. Karena ada banyak unit biaya untuk keterampilan guru, peralatan, fasilitas dan bahan yang dibutuhkan untuk pelatihan keterampilandi berbagai wilayah di negara ini, tim membatasi untuk membuat estimasi biaya unit untuk berbagai jenis keterampilan.

2.3. Metodologi

  Penelitian dilakukan menggunakan metode yang dijelaskan di bawah untuk memperoleh data kuantitatif dan kualitatif primer dan sekunder. Mayoritas data kuantitatif dikumpulkan melaluikuesioner yang diisi oleh personil dan siswa madrasah, perusahaan lokal dan pejabat pemerintahan lokal serta data yang diperoleh melalui Sistem Informasi Manajemen Pendidikan(EMIS) milik Kemenag dan Badan Pusat Statistik (BPS).

2.3.1. Tinjauan Pustaka

  Semua peraturan yang berlaku dan terkait dengan pengembangan keterampilan dan sistem pendidikan nasional 2. Data mengenai madrasah dan keterampilan kejuruan yang diajarkan di madrasah 3.

5. Penelitian terdahulu mengenai pengembangan keterampilan yang dilakukan di Indonesia

  FGD ini sangat berguna untuk memfokuskan riset penelitian dan memberikan data dan informasi yang berguna, yangdigunakan untuk memilih responden untuk wawancara dan diskusi nantinya, serta untuk membantu membingkai pilihan-pilihan kebijakan di masa depan untuk meningkatkan pelatihanketerampilan kejuruan di MA. Wawancara dan diskusi juga didukungdengan pengamatan di madrasah dan bisnis lokal, serta ulasan informasi yang terkait dengan pengembangan keterampilan dan permintaan yang dimuat di surat kabar lokal.

3. Pemetaan dan Analisa Kesenjangan Keterampilan

  Persyaratan yang sebenarnya diinginkan oleh pemberi kerja secara umum sulit untukdiidentifikasi secara akurat, hanya sebatas permintaan yang tidak terperinci untuk “meningkatkan kualitas”mereka yang sudah berada dalam angkatan kerja dan mereka yang akan masuk di masadepan. Di distrik yang dijadikan tempat untuk riset mendalam, juga sulit untuk menentukan persediaan keterampilan yang ada.

3.1. Permintaan terhadap Pekerja Terampil

  Jenis Keterampilan Kepentingan Pengguna Berbagai Keterampilan Ya Tidak untuk Pekerjaan di Sektor Formal dan saling pengertianSektor pendidikan “informal” dalam penelitian ini didefinisikan sebagai perusahaan yang tidak terdaftar secara formal sebagai sebuah perusahaan dan tidak terdaftar dalam daftar pajaknasional. Perusahaan informal dapat mencakup satu orang yang memiliki usaha jahit di rumahnya sampai bengkel motor yang mempekerjakan 3-5 orang (baik yang berketerampilan (misalnya,dapat memperbaiki mesin) dan tidak berketerampilan (misalnya, pencuci motor) hingga ke perkebunan yang hanya mempekerjakan karyawan sesuai kebutuhan (misalnya, dipekerjakanmusiman untuk memanen hasil tanam).

3.1 Kebutuh

  Gambar Teknik k PemHos Mebel n ternakriwisata in grafisn tangan Batikngelasan osmetik 4 1 2han Keteram 5 3 3 4 2 terampilan terhadap ke n oleh resptampilkan pa 2 4 2 2 3 3 3 3 4 12 Analisa data yang ditambilkan di atas menunjukkan bahwa jenis keterampilan kejuruan yang diajarkan di MA tidak seluruhnya sesuai dengan kebutuhan sektor ekonomi formal dan kebutuhanserta potensi sektor informal. Rencana Pengembangan Jangka Menengah untuk Peningkatan Keterampilan di MA yang dilampirkan sebagai dokumen terpisah pada laporan ini, menyediakan peta jalan bagi Kemenag untuk melakukan sejumlah aktivitas yang mencakup pembaruan regulasi dan menyediakanpendanaan untuk meningkatkan pelatihan keterampilan kejuruan di MA berdasarkan hasil temuan dalam penelitian ini.

3.2. Ketersediaan Pelatihan Keterampilan

  Keputusan tersebut secara resmi memberi wewenang kepada 24 jenis keterampilan yang dapat dimasukkan dalam kurikulum MA sebagai mata pelajaran intra kurikuler. Kategori kedua adalahsejumlah keterampilan kejuruan yang diajarkan di madrasah sampel yang dimasukkan dalam penelitian namun tidak diakui secara resmi dalam SK Kemenag.

0. Sampel dari 64 MA dimasukkan dalam studi lapangan mendalam yang dilakukan di 20 kabupaten

  Angka di bawah ini menggambarkanjenis pelatihan keterampilan kejuruan yang dilakukan di kedua kategori MA yang disurvei untuk penelitian ini. Perbandingan data dalam dua gambar tersebut menunjukkan variasi yang besar dalam jenis keterampilan kejuruan yang diajarkan - baik Kemenag secara resmi mengakui keterampilankejuruan yang tercantum dalam Keputusan (SK) No.

3.3. Menemukan Kesenjangan antara Permintaan dan Ketersediaan Tenaga Terampil dan Contoh-contoh Upaya yang Dilakukan untuk Menutup Kesenjangan

  Data dan analisa yang disampaikan di atas menunjukkan adanya kesenjangan antara permintaan dari sektor ekonomi formal dan informal dengan ketersediaan tenaga terampil yang dihasilkanmelalui pelatihan keterampilan kejuruan MA. Penelitian ini telah menemukan faktor-faktor berikut yang menyebabkan kesenjangan antara permintaan dan ketersediaan tenaga dengan keterampilankejuruan: kualitas pelatihan keterampilan kejuruan, analisa jalur karir lulusan, dan relevansi pelatihan keterampilan yang ditawarkan untuk berbagai macam pekerjaan atau melanjutkan kependidikan tinggi.

3.3.1. Kualitas Pelatihan Keterampilan Kejuruan

  Sebagai cara untuk menentukan kualitas program pengembangan keterampilan yang diajarkan di 23 MA yang menjalankan program keterampilan yang diakui Kemenag, tim memilih untuk menganalisa perbedaan dalam jumlah jam mengajar yang dialokasikan untuk pelatihanketerampilan kejuruan di masing-masing daerah. Rencana Pengembangan Jangka Menengah Peningkatan Keterampilan di MA, yang dilampirkan secara terpisah dalam laporan ini, menyediakan petunjuk dan informasi untuk membantu Kemenag dalam menemukan bagian-bagian dalam pelatihan keterampilan yang perludiperkuat atau dikembangkan dan perkiraan sumber daya yang dibutuhkan untuk menjalankan peningkatan pelatihan keterampilan di MA.

3.3.2. Tingkat Penerimaan Kerja Lulusan MA

  3.3.5 Praktek baik Upaya untuk Menutup Kesenjangan antara Permintaan dan Ketersediaan Berikut adalah sejumlah contoh upaya yang dilakukan oleh sejumlah MA untuk meningkatkan kualitas dan relevansi pelatihan keterampilan kejuruan mereka untuk mengurangi kesenjanganantara permintaan dan ketersediaan tenaga terampil kejuruan, terkhusus pada sektor ekonomi informal lokal. Madrasah Aliyah di Kulonprogo dan Sleman telah bekerjasama dengan Balai Latihan Kerja(BLK) tingkat distrik yang dijalankan oleh Kementerian Ketenagakerjaan dan Balai LatihanPendidikan Teknik (BLPT) tingkat provinsi yang dijalankan oleh kantor pendidikan pemerintah tingkat provinsi, keduanya menyediakan pelatihan bagi pengajar dan siswauntuk mengembangkan keterampilan.

4. Model Pembiayaan Pengembangan Keterampilan di MA 1. Pendahuluan

  Berbagai model tersebutberasal dari hasil penelitian beberapa model yang ditemukan dari kajian mendalam pada lebih dari 60MA dan berdasarkan informasi sertarekomendasi dari pemangku kepentingan utama termasuk Kementerian Agama dan lembaga resmi pemerintah lainnya, pegawai madrasah, pengusahadi sektor ekonomi formal dan non-formal di tingkat pusat, provinsi,daerah, dan madrasah/komunitas. MA dan Kementerian Agama – yang dalam hal ini mampu memberikan dukungan tambahan kepada MA untuk menerapkanpelatihan keterampilan kejuruan mengingat perlu diketahui tentang besaran biaya yang dibutuhkan dalam menerapkan suatu modelyang sesuai dengan jenis keterampilan khusustertentu.

4.2. Pilihan Jenis Keterampilan untuk Pembiayaan

  Melalui wawancara mendalam, kuesioner dan FGS,dibuat keputusan untuk memfokuskan investigasi dan pembiayaan untuk keterampilan yang paling sesuai dengan lapangan pekerjaan di sektor ekonomi lokal dan pada saat yang bersamaanmungkin akan diteliti lebih jauh dalam pendidikan tersier. Dari tujuh jenis tipe yang dipilih, enam secara resmi diakui oleh peraturan Kementerian Agama; pemangku kepentinganmerekomendasikanbudidaya perairan, yang tidak termasuk dalam peraturan Kementerian Agama, untuk dibiayai karena berpotensi baik untuk dikembangkan di beberapa wilayahIndonesia.

1. Elektronika 2

  Model ini menggabungkan Model 2 dengan pelatihan keterampilan yang intensif yang diakui oleh pusat pelatihan keterampilan pemerintah seperti Balai Latihan Kerja (BLK) yang dioperasikan oleh Menteri Ketenagakerjaan dan Balai LatihanPendidikan Teknik (BLPT) yang dioperasikan oleh kantor pendidikan kepemerintahan daerah, baik untuk melatih perkembangan keterampilan guru maupun perkembangan keterampilan murid. Kelebihan dan KekuranganKelebihan model ini adalah pelatihan keterampilan melalui pusat keterampilan dan pemagangan yang disempurnakan oleh pelatihan keterampilan untuk pelajar dan pengajar MA oleh institusipendidikan yang lebih tinggi.

4.3.1. Model Pembiayaan untuk Penyelenggaraan Pelatihan Keterampilan

  Gambar 4.6. mengilustrasikan bagaimana pelatihan untuk tujuh tipe keterampilan bisa disampaikan melalui lima model yang dideskripsikan di atas.

4.4. Model Dana untuk Pelatihan Penyampaian Keterampilan

  Biaya unit yang dideskripsikan di bagian ini dan yangdijelaskan di Rencana Pengembangan hanya membahasbiaya langsung yang diperuntukkan untuk tenaga khusus (contoh : guru keterampilan), barang dan jasa dan pengeluaran pokok. Karena terdapat variasi luas dalam tipe pelatihan keterampilan yang dimplementasikan, varietas jumlah peserta didik yang mengikuti setiap tipe pelatihan keterampilan, dan beberapafaktor lainnya, persetujuan dicapai dalam standar yang akan digunakan untuk menjabarkan pembiayaan model untuk pelatihan keterampilan.

TIPE PENGELUARAN PENGELUARAN NO MODEL

SETIAP SISWA BARANG & PER PER PERSONEL KAPITAL SERVIS TAHUN BULAN 1 EKSTRAKULIKULER 576.533 2.212.580 77.333 2.866.447 238.871 2 INTRAKULIKULER 654.133 2.913.462 2.891.467 6.459.062 538.255 INTRAKULIKULER +SERTIFIKASI 3 PELATIHAN 654.133 3.502.968 2.891.467 7.048.568 587.381 INTRACURRICULAR + 4 PELATIHAN LPTK 671.133 4.517.893 3.091.467 8.280.493 690.041 5 MAK 671.133 5.517.893 3.126.133 9.315.159 776.263 Gambar 4.7Pendanan untuk Pelatihan Keterampilan Fashion INTRAKURI EKSTRAKURI INTRAKURIKU INTRAKURIKU MAK KULERLER + BLK KULER LER + BLK PERSONIL BARANG & JASA

MODAL/INVESTASI

  Tabel dan gambar di atas secara jelas mengindikasi ragam variasi dalam pembiayaan model pengantaran pelatihan keterampilan. Informasi seperti ini akan sangat bermanfaat untuk Kementerian Agama dan perencaan nasional untuk menghasilkan kebijakan yang berkaitan dengan pengembangan keterampilan di MA.

5. Pilihan Kebijakan dan Rekomendasi 1. Pilihan Kebijakan

  4923/2016 yang memuat daftar 24 pilihan jenis keterampilan yang diakui untuk memungkinkan MAmenerapkan pelatihan keterampilan yang tidak termasuk di dalam daftar tersebut dalam rangka memenuhi permintaan lokal serta dapat menyesuaikan dan mengubahketerampilan yang ditawarkan sebagaimana tuntutan perubahan ekonomi lokal. Jika beragam model yang melibatkan pelatihan tambahan di luar MA di mana siswa terdaftar yang akan diimplementasikan, maka sebuah kebijakan diperlukan sebagaipayung hukum agar siswa tersebut dapat diuji kompetensinya di pusat pengujian yang diakui secara resmi dan mendapatkan sertifikasi pelatihan keterampilan dariintuisi di luar MA tersebut) 7.

5.2. Rekomendasi

  Artinya, berbagai rekomendasi di bawah ini didasarkan padadata dan informasi yang dikumpulkan melalui pertemuan dan diskusi kelompok terfokus (focus group discussion / FGD) dengan para pemimpin MA dan staf Kemenag, kunjungan lapangan yangmendalam ke MA, sebuah survei terhadap sejumlah MA yang melaksanakan program keterampilan serta kajian dan analisis peraturan pemerintah yang berlaku terkait dengan MAprogram keterampilan dan Pendidikan Kejuruan). Dalam rangkamembangun momentum untuk membangun dan mengelola MA program keterampilan, studi ini telah menghasilkan Rencana Jangka Menengah Pengembangan Keterampilan di MA sebagai petajalan bagi Kemenag untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan dalam meningkatkan pelatihan keterampilan di MA.

I. Development Objectives 1. The development objective of the study on Skills Enhancement in Senior Secondary

II. Strategic Background 2

  Madrasah is to contribute towards the development of effective policies and strategies forthe provision of skills programs through senior secondary madrasah which bettermatch theneeds of the labour market and further/higher education. Agriculture Product Management The program was elective; each program requiring a total of 1,080 hours in addition to MA 6.standard teaching hours, implemented after standard school hours in grades eleven and twelve, and including 160 hours internships during semester breaks for most of the programs.

7. When the Ministry of National Education encouraged the expansion of senior secondary

  vocational schools the ministry initiated a model of small vocational schools at MA affiliated to15 neighboring senior secondary vocational schools. As reported by some MA principals on the September I FGD at Sofyan Hotel Jakarta and in Adviser field visit on September 2014 at West Nusa Tenggara Province 8.

13. The deliverable outputs will be as follows: i

  Draft Study B addressing the areas in Ill A, above, and other specific areas that may be agreed in the Inception Report. Final Study B, incorporating revisions/improvements in response to feedback from MoRA, ACDP Secretariat and other stakeholders.

IV. Management, Consultation and Reporting Arrangements

  As part of capacity building in policy research MoRA will designate staff from the Centre 15.for Research and Development, MoRA, and other relevant departments, to work with the consultant teams. Proposing firms will determine the number and the nature of experts they will require to achieve the objectives of the contract, in accordance with their proposed approach andmethodology.

2. Education Policy &Management Specialist (International/Team Leader):

  Islamic Education and Pesantren Specialist (National): Skills Enhancement in Senior Secondary Madrasah 4. In addition to the four key experts, the proposing firms may include other experts that are considered essential to achieve the best outputs and results from the study, as stipulated in thefirm's technical proposal.

7. All experts engaged under the contract, whether key or non-key experts, must be citizens of one of the ADB member countries

  8. The firm's proposed Approach and Methodology in the Technical Proposal for delivering the outputs of the contract shall be referred to, as deemed necessary, by ADB during contractimplementation.

AGRIKULTUR DAN AKUAKULTUR

  Program Ketrampilan Vokasional di bidang Teknologi Pertanian Program Keterampilan Pertanian (Penanganan dan Pengolahan Hasil Pertanian) di MAN PacetCianjur bertujuan untuk menghasilkan keterampilan lulusan PPHP di Madrasah Aliyah dapat menampilkan diri sebagai orang yang setia dan berbakti kepada Tuhan Yang Maha Esa, karaktermulia, kesehatan fisik dan spiritual, kepribadian yang Mantap dan mandiri serta memiliki nasionasinalisme dan tanggung jawab sosial. Hasil pelatihan yang diharapkan seperti yang diungkapkan oleh MA Hasil pelatihan diharapkan bisa menghasilkan lulusan MA yang telah memenuhi syarat sesuai dengan kompetensi (orang yang berkualifikasi) dan dapat memperoleh fokus pada jenis okupasiyang tepat mengingat keragaman dan ruang lingkup di bidang teknologi pengolahannya sangat luas.

2. Struktur kurikulum yang disarankan

  Distribusi mata pelajaran dalam enam semester Semester 1 Semester 2 Semester 3 Semester 4 Semester 5 Semester 6 Materi IlmuProdukPertanian PengolahanSereal PengolahanSereal PengolahanSereal Hambatan yang dihadapi Hambatan dalam pelaksanaan program keterampilan meliputi: a)Tidak ada pemahaman dan persepsi yang seragam pada apparat kementerian Agama dari tingkat pusat sampai dengan Kabupaten / Kota dalam penyampaian / penetapan programketerampilan MA. b)Kurikulum Keterampilan Disponsori oleh Kurikulum Nasional c)Sistem SIMPATIKA tidak sepenuhnya mengakomodasi program ketrampilan d)Gap Alat / mesin latihan yang ada dengan DUDI e)Menemukan Dudi yang menerima magang sesuai dengan target kompetensi yang ingin dicapai Garis besar biaya untuk meningkatkan program ini Perhitungan analisis biaya satuan untuk meningkatkan Program Ketrampilan Teknologi Proses dan Pengolahan Hasil Pertanian dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

2. Program Ketrampilan Vokasional Akuakultur di Madrasah swasta Al-Hikmah, Benda, Sirampog, Brebes, Jawa Tengah Pengantar

  Hasil pelatihan yang diharapkan Hasil dari pelatihan ini diharapkan dapat menghasilkan lulusan yang memenuhi syarat sesuai dengan kompetensi (orang yang berkualifikasi) dan dapat memperoleh sertifikasi sesuai denganokupasi yang diambil (orang yang terakreditasi). Diharapkan pelatihan dapat mengurangi kesenjangan antara keterampilan keras dan soft skill lulusan dengan meningkatkan kualitas dandaya saing dan relevansi sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan dunia industri dan bisnis.

2. Struktur kurikulum

  Garis besar biaya untuk meningkatkan program keterampilan akuakultur dan program keterampilan akuakultur pelatihan baru Hasil analisi biaya satuan untuk meningkatkan program keterampilan akuakultur di MA Al Hikmah 2 dapat dilihat pada tabel berikut. Lampiran 3 CONTOH PELATIHAN UNTUK GURUKETERAMPILAN Lampiran 3 - Contoh Pelatihan untuk Guru Keterampilan Sejak proyek STEP yang didukung Bank Dunia dilaksanakan pada tahun 1998, beberapa guru diIndonesia telah menerima berbagai jenis pelatihan yang berkaitan dengan pengembangan keterampilan.

I. Lokakarya sistem informasi dan prakarsa berinternet untuk kerjasama antar madrasah dan J

  Mengupgrade untuk guru keterampilan dan membuat materi pengajaran, MGMP guru keterampilan, dan pelatihan kepala bengkel. Seorang guru telah bekerja sebagai koki di industri roti pribadi, dan terus bekerja sebagai koki dan asisten administrasi kapal internasional.

YANG DIAKUI KEMENAG

  Lampiran 4 - Daftar Keterampilan di MA yang Diakui Kemenag Menurut Dirjen Dikti Pendis (SK Dirjen Pendis) No 1023/2016, ada tiga kelompok utama yang bisa diimplementasikan oleh MA. Dalam masing-masing kelompok jenis keterampilan tertentutercantum.

1. Teknologi: a

  (Ambil total biaya operasional dan bagi dengan jumlah siswa) 1.2 Catatan atas permintaan pelatihan ini (Komentar tentang permintaan lokal untuk keterampilan ini) - Permintaan 1.3 Permintaan siswa / kebutuhan yang diungkapkan. Masa pakai barangyang diharapkandalamTahun BiayaPembelian Kuantitas peralatanbaru yang dibutuhkan Peralatan yang ada,atau ketersediaandi luar kampus 1 Peralatan yang dibutuhkanuntuk melakukan pelatihan Pengaturan BiayaItem Memenuhi rencana strategis 5 tahun dan Rencana Strategis prioritas Kemenag 1.2,3,4,5,6,7,8,9,10.

Dokumen baru

Dokumen yang terkait

KEPEKAAN ESCHERICHIA COLI UROPATOGENIK TERHADAP ANTIBIOTIK PADA PASIEN INFEKSI SALURAN KEMIH DI RSU Dr. SAIFUL ANWAR MALANG (PERIODE JANUARI-DESEMBER 2008)
2
98
1
ANALISIS KOMPARATIF PENDAPATAN DAN EFISIENSI ANTARA BERAS POLES MEDIUM DENGAN BERAS POLES SUPER DI UD. PUTRA TEMU REJEKI (Studi Kasus di Desa Belung Kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang)
23
235
16
DEKONSTRUKSI HOST DALAM TALK SHOW DI TELEVISI (Analisis Semiotik Talk Show Empat Mata di Trans 7)
21
207
1
APRESIASI IBU RUMAH TANGGA TERHADAP TAYANGAN CERIWIS DI TRANS TV (Studi Pada Ibu Rumah Tangga RW 6 Kelurahan Lemah Putro Sidoarjo)
8
139
2
SENSUALITAS DALAM FILM HOROR DI INDONESIA(Analisis Isi pada Film Tali Pocong Perawan karya Arie Azis)
33
245
2
MOTIF MAHASISWA BANYUMASAN MENYAKSIKAN TAYANGAN POJOK KAMPUNG DI JAWA POS TELEVISI (JTV)Studi Pada Anggota Paguyuban Mahasiswa Banyumasan di Malang
20
185
2
PENYESUAIAN SOSIAL SISWA REGULER DENGAN ADANYA ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS DI SD INKLUSI GUGUS 4 SUMBERSARI MALANG
64
452
26
PENGEMBANGAN TARI SEMUT BERBASIS PENDIDIKAN KARAKTER DI SD MUHAMMADIYAH 8 DAU MALANG
55
421
20
PERANAN ELIT INFORMAL DALAM PENGEMBANGAN HOME INDUSTRI TAPE (Studi di Desa Sumber Kalong Kecamatan Wonosari Kabupaten Bondowoso)
38
238
2
PROSES KOMUNIKASI INTERPERSONAL DALAM SITUASI PERTEMUAN ANTAR BUDAYA STUDI DI RUANG TUNGGU TERMINAL PENUMPANG KAPAL LAUT PELABUHAN TANJUNG PERAK SURABAYA
97
585
2
REPRESENTASI CITRA PEREMPUAN DALAM IKLAN DI TELEVISI (ANALISIS SEMIOTIK DALAM IKLAN SAMSUNG GALAXY S7 VERSI THE SMARTES7 ALWAYS KNOWS BEST)
132
473
19
KONSTRUKSI MEDIA TENTANG KETERLIBATAN POLITISI PARTAI DEMOKRAT ANAS URBANINGRUM PADA KASUS KORUPSI PROYEK PEMBANGUNAN KOMPLEK OLAHRAGA DI BUKIT HAMBALANG (Analisis Wacana Koran Harian Pagi Surya edisi 9-12, 16, 18 dan 23 Februari 2013 )
64
478
20
PENERAPAN MEDIA LITERASI DI KALANGAN JURNALIS KAMPUS (Studi pada Jurnalis Unit Aktivitas Pers Kampus Mahasiswa (UKPM) Kavling 10, Koran Bestari, dan Unit Kegitan Pers Mahasiswa (UKPM) Civitas)
105
437
24
PEMAKNAAN BERITA PERKEMBANGAN KOMODITI BERJANGKA PADA PROGRAM ACARA KABAR PASAR DI TV ONE (Analisis Resepsi Pada Karyawan PT Victory International Futures Malang)
18
208
45
STRATEGI KOMUNIKASI POLITIK PARTAI POLITIK PADA PEMILIHAN KEPALA DAERAH TAHUN 2012 DI KOTA BATU (Studi Kasus Tim Pemenangan Pemilu Eddy Rumpoko-Punjul Santoso)
119
455
25
Show more