IMPLEMENTASI STRATEGI PEMBELAJARAN TANDUR SEBAGAI UPAYA MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN PRESTASI BELAJARSISWA KELAS II SD NEGERI 1 SINGAPADU TENGAH PADA PEMBELAJARAN BANGUN DATAR

Gratis

0
0
12
10 months ago
Preview
Full text

  

IMPLEMENTASI STRATEGI PEMBELAJARAN TANDUR

SEBAGAI UPAYA MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN

PRESTASI BELAJARSISWA KELAS II SD NEGERI 1

SINGAPADU TENGAH PADA PEMBELAJARAN

BANGUN DATAR

Ni Wayan Suardiati Putri, I Wayan Suandhi, I Gusti Ngurah Nila Putra

  Program Studi Pendidikan Matematika FKIP Unmas Denpasar

  

Email

ABSTRACT

  This study aims to determine the increase of activity and achievement of student on

grade II in SD Negeri 1 Singapadu Tengah through the implementation of TANDUR

learning on plane (two-dimentional figure) learning. This study used a qualitative approach,

this kind of research is the Classroom Action Research by Kurt Lewin model. The subject of

this study was student on grade II in SD Negeri 1 Singapadu Tengah as many as 29 students.

Based on these results, it can be concluded that implementation of TANDUR learning

strategies can increase an activity and achievement on mathematics of student on grade II

in SD Negeri 1 Singapadu Tengah. This is demonstrated by an increase in the percentage of

learning activities of students from the first cycle to the second cycle amounted to 28.62%

and the percentage increase in the average value of students, mastery learning, absorption

of students from pre-cycle to the first cycle, respectively 6.88% , 85.69% and 6.88%, and the

percentage increase in the average value of students, mastery learning, and the absorption

of students from the first cycle to the second cycle, respectively 23.39%, 78.01%, and 23,

39%.

  Keywords: qualitative research, TANDUR, student activity, student achievement

ABSTRAK

  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan aktivitas dan prestasi siswa

kelas II di SD Negeri 1 Singapadu Tengah melalui penerapan pembelajaran TANDUR dua

bidang (dua dimensi). Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, penelitian ini

menggunakan Penelitian Tindakan Kelas oleh model Kurt Lewin. Subjek penelitian ini

adalah siswa kelas II SD Negeri 1 Singapadu Tengah sebanyak 29 siswa. Berdasarkan hasil

tersebut, dapat disimpulkan bahwa penerapan strategi pembelajaran TANDUR dapat

meningkatkan aktivitas dan prestasi belajar matematika siswa kelas II di SD Negeri 1

Singapadu Tengah. Hal ini ditunjukkan dengan adanya peningkatan persentase kegiatan

belajar siswa dari siklus I ke siklus II sebesar 28,62% dan persentase kenaikan nilai rata-rata

siswa, penguasaan belajar, penyerapan siswa dari pra siklus yaitu 6,88%, 85,69% dan 6,88%,

dan persentase kenaikan nilai rata-rata siswa, pembelajaran penguasaan, dan penyerapan

siswa dari siklus I ke siklus II masing-masing sebesar 23,39%, 78,01%, dan 23, 39%.

  Kata kunci: penelitian kualitatif, TANDUR, aktivitas siswa, prestasi belajar siswa

  PENDAHULUAN

  Selama ini pembelajaran matematika di sekolah masih menerapkan pendekatan konvensional dimana aktivitas pembelajaran masih didominasi oleh guru dan guru berasumsi bahwa pengetahuan dapat ditransfer secara utuh dari pikiran pengajar ke peserta didik. Kemudian metode ceramah menjadi pilihan utama strategi belajar. Akibat dari metode ceramah, membuat siswa pasif dan jarang mau bertanya bila belum mengerti serta tampak kurang semangat dalam mengikuti pelajaran karena belajar matematika dirasa membosankan dan sulit untuk dipelajari. Guru lebih banyak menerapkan metode ceramah yang sifatnya menoton dan kurang variatif, hal ini akan berdampak bagi prilaku siswa yaitu kurangnya rasa percaya diri, baik dalam bertanya, menyampaikan ide maupun dalam proses pemecahan masalah yang dihadapi yang akhirnya bermuara pada rendahnya aktivitas dan prestasi belajar siswa.

  Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan, rendahnya aktivitas dan prestasi belajar matematika siswa ini juga terjadi di SD Negeri 1 Singapadu Tengah khususnya pada siswa kelas II. Rendahnya aktivitas dan prestasi belajar siswa dalam pembelajaran matematika berdasarkan hasil observasi disebabkan oleh beberapa faktor: (1) minat belajar siswa rendah, hal tersebut terungkap berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa siswa dimana sebagian dari siswa tidak menyiapkan diri belajar di rumah terhadap materi yang akan dibahas di sekolah, (2) aktivitas belajar siswa masih rendah, (3) kurangnya interaksi siswa dengan siswa dalam pembelajaran matematika, (4) guru kurang memberikan motivasi sehingga prestasi belajar siswa rendah, (5) metode yang digunakan guru dalam mengajar matematika adalah dengan menggunakan metode ceramah yang monoton tanpa disertai alat bantu lain, (6) pembelajaran yang dilakukan guru kurang bervariasi sehingga mudah menimbulkan rasa jenuh dan bosan pada siswa, (7) kurangnya sarana dan prasarana dalam pembelajaran.

  Berdasarkan hal tersebut di atas agar pembelajaran matematika dapat menarik minat siswa untuk belajar serta mampu meningkatkan aktivitas dan prestasi belajar siswa, maka pembelajaran perlu dikaitkan dengan benda-benda nyata atau konkret yang mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari yang ada di sekitarnya. Bila siswa belajar terpisah dari pengalaman sehari-hari maka siswa akan cepat lupa dan tidak dapat mengaplikasikan dalam matematika. Sehingga perlu diterapkan suatu strategi pembelajaran dalam pembelajaran matematika dengan paradigma baru yang dapat menumbuhkan aktivitas dan prestasi belajar siswa. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan menerapkan strategi pembelajaran TANDUR yang merupakan pengejawantahan pembelajaran kuantum (Quantum Teaching ). TANDUR merupakan singkatan dari Tumbuhkan, Alami, Namai, Demontrasikan, Ulangi, dan Rayakan.

  Beberapa alasan menerapkan strategi pembelajaran TANDUR dalam memecahkan faktor penyebab rendahnya aktivitas dan prestasi belajar siswa, diantaranya: (1) sebagai variasi dalam belajar sehingga siswa tidak merasa jenuh namun sebaliknya termotivasi untuk belajar, (2) TANDUR merupakan salah satu metode pembelajaran yang menguraikan tentang cara-cara baru yang mempermudah proses pembelajaran dan menekankan pada terciptanya suasana yang menyenangkan sehingga siswa mempunyai kemauan untuk terlibat secara aktif dalam proses belajar, (3) memberikan rasa nyaman pada siswa melalui penataan lingkungan belajar dengan mengatur posisi meja dan kursi dengan format dinamis (DePorter, et, al., 2009:4-9).

  Sebagai awal pembelajaran dilakukan penataan lingkungan guna mendukung proses pembelajaran. Dengan demikian siswa akan belajar dengan nyaman. Berikutnya dilakukan proses pembelajaran yang diawali dengan menumbuhkan motivasi siswa, dengan cara menggali pemahaman mereka, mengaitkan materi dengan dunia nyata siswa, dan menyampaikan tujuan pembelajaran serta memberikan rasa puas dengan mengetahui manfaat dari materi yang dipelajarinya. Siswa kemudian mencoba dan mengalami sendiri dengan berinteraksi terhadap materi ajar untuk mendapatkan konsep- konsep yang diperlukan untuk menyelesaikan masalah ataupun melakukan percobaan pada kelompoknya masing-masing. Untuk memfasilitasi siswa yang belum dapat mengkonstruksi dari apa yang dipelajari, guru memberikan kata-kata kunci, prinsip-prinsip, dan rumus-rumus untuk dapat memecahkan masalah yang dihadapi, selanjutnya memberikan kesempatan kepada siswa untuk menunjukkan kemampuan yang telah dimilikinya. Sebagai bentuk pengakuan atas usaha yang dilakukan siswa, maka siswa diberikan reinforcement (penguatan).

  Penerapan pembelajaran TANDUR yang merupakan pengejawantahan Quantum Teaching memberikan hasil yang menggembirakan. Hasil penelitian Sunrepa (2005:55) telah membuktikan bahwa strategi pembelajaran kuantum (Quantum Teaching) dalam kerangka TANDUR dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. Penelitian tindakan ini mengimplementasikan strategi pembelajaran TANDUR sebagai upaya meningkatkan aktivitas dan prestasi belajar siswa kelas II SD Negeri 1 Singapadu Tengah pada pembelajaran bangun datar.

  Jenis penelitian yang dilaksanakan adalah penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research). Subjek penelitian ini adalah siswa kelas

  II semester II SD Negeri 1 Singapadu Tengah dengan banyak siswa 29 orang.

  Model PTK yang digunakan dalam penelitian ini adalah model Kurt Lewin yang terdiri dari empat komponen yaitu perencanaan (planning), tindakan (acting), pengamatan (observing), dan (4) refleksi (reflecting) Hubungan keempat komponen tersebut dipandang sebagai satu siklus yang dapat digambarkan sebagai berikut.

  Gambar 1.PTK Model Kurt Lewin (Diadopsi dari Depdiknas,

  2004:9)

  Data dan Teknik Pengumpulan Data

  Data yang dikumpulkan yaitu dengan mengumpulkan data aktivitas dan prestasi belajar matematika siswa. Aktivitas belajar siswa dikumpulkan dengan metode observasi dan data prestasi belajar siswa dikumpulkan dengan menggunakan metode tes.

METODE PENELITIAN

  Teknik Analisis Data

  Hasil perhitungan nilai rata-rata kelas, ketuntasan belajar (KB), dan Daya Serap (DS) selanjutnya dikomparasikan dengan standar acuan Depdikbud yaitu proses pembelajaran siswa telah optimal apabila rata-rata nilai siswa minimal 6,5 dan ketuntasan belajar dikatakan tercapai jika KB ≥ 85% dan daya serap dikatakan tercapai jika DS ≥ 65% . (Depdikbud dalam Fitriarmei, 2009:42)

  Prosedur Penelitian Penelitian ini dilaksanakan selama 2 siklus yang terdiri dari 4 komponen yaitu perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi.

  Refleksi Awal

  Seperti telah dikemukan sebelumnya, diketahui bahwa aktivitas dan prestasi belajar siswa kelas II SD Negeri 1 Singapadu Tengah pada mata pelajaran matematika masih tergolong rendah. Hal ini diduga disebabkan oleh beberapa faktor yaitu, (1) minat belajar siswa rendah, hal tersebut terungkap berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa siswa dimana sebagian dari mereka tidak menyiapkan diri belajar di rumah terhadap materi yang akan dikaji di sekolah, (2) aktivitas belajar siswa masih rendah, (3) kurangnya interaksi siswa dengan siswa dalam pembelajaran matematika, (4) guru kurang memberikan motivasi sehingga prestasi belajar siswa rendah, (5) metode yang digunakan guru dalam mengajar matematika adalah dengan menggunakan metode ceramah yang monoton tanpa disertai alat bantu lain, (6) pembelajaran yang dilakukan guru kurang bervariasi sehingga mudah menimbulkan rasa jenuh dan bosan pada siswa, (7) kurangnya sarana dan prasarana dalam pembelajaran.

  Untuk meningkatkan aktivitas dan prestasi belajar siswa dalam pembelajaran matematika guru dapat menerapkan strategi pembelajaran TANDUR. Dengan strategi pembelajaran TANDUR membantu guru menghubungkan materi pelajaran dengan situasi dunia nyata siswa yang berguna untuk memotivasi siswa di dalam aplikasinya dengan kehidupan sehari- hari. Sehingga dengan Strategi pembelajaran TANDUR siswa lebih mudah memahami konsep matematika.

  Siklus I

  Siklus I membahas tentang pengenalan bangun datar. Siklus ini dilaksanakan dalam tiga kali pertemuan dengan rincian dua kali pertemuan untuk pelaksanaan pembelajaran dan satu kali pertemuan untuk tes akhir siklus. Pada pertemuan pertama membahas materi jenis-jenis bangun datar dan pertemuan kedua membahas materi mengelompokan bangun datar, untuk pertemuan ketiga dilaksanakan tes akhir siklus I.

  Perencanaan Tindakan

  Berdasarkan hasil refleksi awal, maka beberapa hal yang perlu dipersiapkan dalam penelitian tindakan kelas ini yaitu (1) menyiapkan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) TANDUR, (2) menyiapkan Lembar Kerja Siswa (LKS), (3) menyiapakan tes prestasi belajar matematika siklus I berupa tes essay, (4) menyiapkan lembar observasi, dan (5) menyiapakan jurnal atau catatan harian.

  Pelaksanaan Tindakan

  Pada tahap pelaksanaan tindakan ini, guru melakukan kegiatan belajar mengajar melalui strategi pembelajaran TANDUR. Adapun langkah-langkah yang dilakukan guru pada awal pelajaran adalah sebagai berikut: (1) menyampaikan kepada siswa materi pelajaran yang akan dibelajarkan, menyampaikan tujuan pembelajaran, menekankan manfaat yang diperoleh sesuai dengan rencana pelaksanaan pembelajaran, (2) membentuk kelompok kecil yang terdiri 4-5 siswa, (3) membagikan LKS materi jenis-jenis bangun datar kepada setiap kelompok, (4) melaksanakan pembelajaran melalui strategi pembelajaran TANDUR.

  Proses pembelajaran dilakukan melalui enam langkah yang terdiri dari:

  Tumbuhkan, di mana pada tahap awal

  ini guru sebelum memulai pembelajaran, terlebih dahulu menggali pemahaman siswa, apa yang siswa ketahui, apa yang siswa setujui, dan memberikan manfaat apa yang siswa dapatkan. Dengan mengajukan pertanyaan pra pembelajaran terkait dengan materi pelajaran. Dan kegiatan inti dari pembelajaran ini pada tahap Alami, tahapan ini guru memfasilitasi siswa dalam memperoleh pengalaman yang dapat dimengerti berkaitan dengan materi pelajaran memberikan kesempatan kepada siswa untuk menggunakan pengetahuan awalnya dalam memecahkan permasalahan yang dilontarkan oleh guru dan LKS yang telah dibagikan. Namai, pada tahap ini, guru membimbing siswa untuk menemukan konsep dengan cara melakukan pendekatan kemasing-masing kelompok untuk menanyakan permasalahan yang ditemui dengan menemukan konsep yang dipelajari.

  Demontrasikan, tahapan ini, guru

  memberikan kesempatan kepada masing- masing kelompok untuk mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya, dan memberikan arahan kepada siswa jika terjadi penyimpangan dengan penjelasan materi. Kemudian sebagai penutup pembelajarn pada tahap

  Ulangi, guru menanyakan kembali

  tentang materi yang telah dipelajari, dan memberikan soal-soal latihan kepada masing-masing siswa. Dan terakhir

  Rayakan, tahap ini guru memberikan

  pengakuan dengan menghormati usaha, ketekunan, dan kesuksesan siswa, dengan memberikan pujian, (5) mengamati dan mencatat prilaku siswa dengan seksama kemudian menulis hasilnya pada lembar observasi atau pada catatan lapanagan selama pembelajaran berlangsung, (6) melakukan pencatatan terhadap hal-hal yang tidak terangkum dalam instrumen penelitian selama pembelajaran berlangsung.

  Observasi

  Kegiatan yang dilakukan pada tahap observasi dan evaluasi ini adalah sebagai berikut.Tahap observasi dilakukan saat kegiatan pembelajaran matematika siswa melalui penerapan strategi pembelajaran TANDUR berlangsung dengan mengamati aktivitas belajar matematika siswa yang ditulis pada lembar observasi aktivitas belajar matematika siswa. Evaluasi dilakukan dengan memberikan tes akhir siklus yang dilaksanakan untuk mengetahui prestasi belajar matematika siswa setelah selesai mengikuti kegiatan pembelajaran melalui strategi pembelajaran TANDUR.

  Refleksi

  Refleksi ini dilakukan berdasarkan hasil observasi dan evaluasi, jadi untuk mengkaji kekurangan dan kendala dari tindakan yang telah dilaksanakan pada siklus I. Selain itu hasil refleksi dijadikan sebagai dasar atau pedoman untuk penyempurnaan terhadap perencanaan tindakan pada siklus I, sehingga kelemahan-kelemahan atau kendala yang terjadi pada siklus I tidak akan terulang lagi pada siklus II.

  Siklus II

  Siklus II membahas tentang mengenal sisi dan sudut pada bangun datar. Siklus ini dilaksanakan dalam tiga kali pertemuan dengan rincian dua kali pertemuan untuk pelaksanaan pembelajaran dan satu kali pertemuan untuk tes akhir siklus.Rancangan pada siklus II ini disusun berdasarkan hasil refleksi pada siklus I, serta dilakukan perbaikan-perbaikan bila perlu.Langkah- langkah melaksanakan siklus II hampir sama dengan siklus I.

  Apabila tidak terdapat kendala- kendala yang berarti serta proses pembelajaran telah optimal yaitu tercapainya rata-rata nilai siswa, daya serap dan ketuntasan belajar minimal berturut- turut: “6,5”, “65%”, dan “85%”, maka akan dirumuskan rekomendasi penelitian ini dan siklus dihentikan, jika tidak maka akan dilakukan siklus berikutnya.

  HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Tabel 01. Hasil Analisis Data Aktivitas Belajar Siswa Siklus Rata-Rata Skor Aktivitas Kategori

  I 10,90 Cukup Aktif

  II 14,02 Aktif Tabel 02. Hasil Analisis Data Prestasi Belajar Siswa Siklus Rata-Rata Nilai Siswa (M) Ketuntasan Belajar (KB) Daya Serap (DS) Prasiklus

  5,96 25,93% 59,60% I 6,37 48,15% 63,70%

  II 7,86 85,71% 78,60% Tabel 03. Rekapitulasi Hasil Analisis Data Aktivitas dan PrestasiBelajar Siswa Variabel Hasil Analisis Data Persentase Peningkatan Keterangan Pra Siklus Siklus

  I Siklus

  II 0 - I

  I – II 0 - I I - II Aktivitas Belajar

  • 10,90 14,02 - 28,62% - Meningkat

  Rata-rata Nilai Siswa (M) 5,96 6,37 7,86 6,88% 23,39% Meningk at

  Meningkat Ketuntasan Belajar (KB)

  25,93% 48,15% 85,71% 85,69% 78,01% Meningk at Meningkat

  Daya Serap (DS) 59,60% 63,70% 78,60% 6,88% 23,39% Meningk at

  Meningkat Keterangan : = Prasiklus I = Siklus I

  II = Siklus II Pembahasan

  Berdasarkan hasil analisis data yang diperoleh dari hasil tes prasiklus di dapat informasi tentang prestasi belajar siswa pada pelajaran matematika belum mencapai hasil yang optimal. Hal ini dapat dilihat rata-rata nilai siswa (M), ketuntasan belajar (KB) dan daya serap (DS) berturut-turut adalah 5,96, 25,93%, dan 59,60%. Hal ini menunjukkan prestasi belajar siswa yang diperoleh selama mengikuti proses pembelajaran dalam pelajaran matematika masih rendah. Pada tahap prasiklus ini tidak dilakukan observasi awal terhadap aktivitas belajar siswa. Berdasarkan hal tersebut maka peneliti melakukan penelitian tindakan kelas dengan menerapkan strategi pembelajaran TANDUR sebagai salah satu upaya untuk memperbaiki pembelajaran di kelas II SD Negeri 1 Singapadu Tengah.

  Hasil analisis data prestasi belajar siswa pada siklus I diperoleh bahwa rata- rata nilai siswa (M), ketuntasan belajar (KB) dan daya serap (DS) berturut-turut adalah 6,37, 48,15%, dan 63,70%. Jika dibandingkan dengan hasil prasiklus yang diperoleh dari tes awal maka persentase peningkatan rata-rata nilai siswa (M), ketuntasan belajar (KB), dan daya serap (DS) siswa dari pra siklus ke siklus I berturut-turut sebesar 6,88%, 85,69%, dan 6,88%. Dari hasil analisis data aktivitas belajar siswa diketahui bahwa rata-rata skor aktivitas belajar siswa pada siklus I yaitu 10,90 dengan kategori “cukup aktif”. Walaupun telah terjadi peningkatan prestasi belajar siswa dari prasiklus ke siklus I, namun pembelajaran belum mencapai kriteria keberhasilan minimal yaitu minimal kategori ”aktif”, rata-rata nilai siswa (M) ≥ 6,5, ketuntasan belajar (KB) ≥ 85,00% dan daya serap (DS) ≥ 65,00%.

  Karena hasil pelaksanaan tindakan pada siklus I belum optimal, maka peneliti bersama teman sejawat melakukan refleksi terhadap pelaksanaan tindakan pada siklus I. Dari hasil refleksi dan catatan lapangan diperoleh bahwa kurang optimalnya pembelajaran pada siklus I oleh beberapa hal diantaranya: (1) ada beberapa siswa yang terlihat masih ribut pada saat guru menjelaskan materi, (2) siswa yang memiliki kemampuan kurang, malu untuk bertanya kepada guru maupun kepada temannya yang lebih pandai apabila mengalami kesulitan dalam pelajaran, (3) siswa yang pandai mendominasi dalam menjawab pertanyaan guru, (4) ketua kelompok mendominasi dalam melakukan demontrasi di depan kelas sehingga anggota kelompok yang lainnya belum mendapatkan kesempatan secara merata, (5) alokasi waktu yang tersedia tidak cukup karena guru kurang efektif dalam mengelola kelas, (6) guru jarang memberikan rewards sehingga siswa kurang termotivasi dalam pembelajaran, dan (7) pendekatan guru kepada siswa pada saat siswa mengerjakan LKS masih kurang intensif.

  Dari hasil refleksi, maka perlu dilakukan penyempurnaan pelaksanaan tindakan pada siklus II, yaitu (1) menegur secara langsung siswa yang ribut pada saat guru menjelaskan materi pembelajaran, (2) guru memberikan tambahan nilai bagi siswa yang berani menjawab pertanyaan guru, walaupun jawaban yang diberikan siswa kurang tepat, (3) guru menunjuk siswa yang mewakili kelompoknya dalam melakukan demonstrasi di depan kelas sehingga tidak didominasi oleh ketua kelompok, (4) guru memotivasi siswa mengenai pentingnya pembagian tugas dan kerjasama antar anggota kelompok, (5) guru menjelaskan langkah-langkah strategi pembelajaran TANDUR ke siswa sehingga pembelajaran dapat berlangsung lebih efektif, (6) guru memberikan sertifikat penghargaan bagi siswa dan kelompok terbaik di akhir siklus untuk merayakan keberhasilan siswa, dan (7) guru lebih intensif dalam memberikan bantuan kepada siswa saat mengerjakan LKS.

  Dari pelaksanaan tindakan siklus

  II dan dari hasil observasi diperoleh hal- hal sebagai berikut: (1) siswa mulai aktif dalam proses pembelajaran, (2) siswa pandai tidak lagi mendominasi dalam menjawab pertanyaan guru, (3) setiap anggota kelompok sudah terbiasa dalam melakukan kerjasama serta pembagian tugas sehingga pada saat kegiatan demonstrasi setiap kelompok terlihat kompak, (4) siswa terlihat antusias mendengarkan penjelasan guru mengenai materi pembelajaran.

  Pada siklus II hasil analisis data prestasi belajar siswa diperoleh bahwa rata-rata nilai siswa (M) = 7,86, ketuntasan belajar (KB) = 85,69%, dan daya serap (DS) = 78,60%. Jika dibandingkan dengan hasil analisis data prestasi belajar siswa pada siklus I, juga nampak terjadi peningkatan dengan persentase peningkatan rata-rata nilai siswa (M) sebesar 23,39%, ketuntasan belajar (KB)sebesar 78,01% dan daya serap (DS) sebesar 23,39%.

  Hasil analisis data aktivitas belajar siswa diketahui bahwa rata-rata skor aktivitas belajar siswa yaitu 14,02 dengan kategori “aktif”. Jika dibandingkan dengan hasil analisis data aktivitas belajar siswa pada siklus I, nampak terjadi peningkatan dengan persentase peningkatan skor aktivitas belajar siswa dari siklus I ke siklus II sebesar 28,62%.

  Dari penyempurnaan pelaksanaan tindakan pada siklus I telah menunjukkan adanya peningkatan dalam pelaksanaan tindakan siklus

  II, diantaranya: (1) siswa sudah berani bertanya baik pada teman maupun kepada guru jika mereka belum paham terhadap materi yang dijelaskan oleh guru, (2) siswa sudah berani melakukan demonstrasi di depan kelas dan tidak tergantung pada ketua kelompok, (3) kerjasama antar anggota kelompok lebih kompak, (4) suasana kelas lebih tertib sehingga pembelajaran berlangsung kondusif dan lebih efektif dan (5) aktivitas siswa secara klasikal dalam mengikuti proses pembelajaran di kelas sudah aktif.

  Pembelajaran dikatakan optimal apabila aktivitas belajar siswa telah mencapai minimal kategori ”aktif”, rata- rata nilai siswa (M) ≥ 6,5, ketuntasan belajar (KB) ≥ 85,00% dan daya serap (DS) ≥ 65,00%. Dari hasil analisis data yang diperoleh pada siklus II, maka pembelajaran pada siklus II telah optimal karena memenuhi kriteria pembelajaran minimal yang telah ditetapkan. Oleh karena pembelajaran telah optimal maka penelitian ini dihentikan sampai pada siklus II.

  Karena aktivitas belajar siswa dari siklus I ke siklus II telah mencapai kategori “aktif” dengan persentase peningkatan aktivitas belajar siswa sebesar 28,62% dan hasil prestasi belajar siswa pada prasiklus, siklus I dan siklus

  II telah memenuhi pembelajaran yang optimal maka penelitian dihentikan sampai siklus II karena hasil yang dicapai telah memenuhi tuntutan kurikulum. Sehingga pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas yang bertujuan untuk mengetahui peningkatan aktivitas dan prestasi belajar siswa dalam pembelajaran bangun datar dengan menerapkan strategi pembelajaran TANDUR pada siswa kelas II SD Negeri

  1 Singapadu Tengah dapat dikategorikan berhasil.

  PENUTUP Simpulan

  Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan, maka dapat disimpulkan sebagai berikut.

  1. Terjadi peningkatan aktivitas belajar siswa kelas II SD Negeri 1 Singapadu Tengah, dengan diterapkankannya strategi pembelajaran TANDUR dalam pembelajaran bangun datar. Hal ini ditunjukkan oleh adanya peningkatan persentase aktivitas belajar siswa dari siklus I ke siklus II sebesar 28,62%.

  2. Terjadi peningkatan prestasi belajar siswa kelas II SD Negeri 1 Singapadu Tengah, dengan diterapkannya strategi pembelajaran TANDUR dalam pembelajaran bangun datar. Hal ini ditunjukkan oleh adanya persentase peningkatan rata-rata nilai siswa, ketuntasan belajar, dan daya serap siswa dari pra siklus ke siklus I berturut-turut sebesar 6,88%, 85,69%, dan 6,88%, dan persentase peningkatan rata-rata nilai siswa, ketuntasan belajar, dan daya serap siswa dari siklus I ke siklus II berturut- turut sebesar 23,39%, 78,01%, dan 23,39%.

  Saran

  Sunrepa, N. (2005). Implementasi Model

1. Kepada guru matematika SD Negeri 1

  Singapadu Tengah disarankan menerapkan strategi pembelajaran TANDUR sebagai salah satu alternative dalam pembelajaran matematika karena terbukti dapat meningkatkan aktivitas dan prestasi belajar siswa.

  2. Kepada peneliti lain, diharapkan untuk senantiasa melakukan penelitian lebih lanjut tentang strategi pembelajaran TANDUR dalam pembelajaran matematika baik di sekolah yang berbeda atau pada pokok bahasan yang berbeda sehingga aktivitas dan prestasi belajar siswa dapat terus ditingkatkan.

  diterbitkan), Denpasar: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Mahasaraswati Denpasar.

  LKS Terstruktur Melalui Model Pembelajaran Kooperatif Dalam Meningkatkan Aktivitas dan Prestasi Belajar Matematika Siswa Kelas IV SD Negeri 2 Bhuana Giri Tahun Pelajaran 2006/2007 . Skripsi (tidak

  Widiantari, N. K. (2007). Penggunaan

  Pendidikan Matematika, Singaraja: Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Negeri Singaraja.

  Pembelajaran Kuantum (Quantum Teaching) Pada Pembelajaran Matematika Untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Matematika Siswa Kelas II C SMP Negeri 2 Singaraja . Jurnal

  Berdasarkan simpulan tersebut di atas, maka saran yang dapat diutarakan adalah sebagai berikut.

DAFTAR PUSTAKA

  Belajar . Surabaya: Usaha Nasional.

  Nurkancana,

  Quantum learning: Membiasakan Belajar Nyaman dan Menyenangkan . Bandung: Kaifa.

  Bandung: Kaifa. DePorter, B. dan Hernacki, M. (2003).

  Mempraktekan Quantum Learning di Ruang-ruang Kelas .

  S.S. (2009). Quantum Teaching:

  Depdiknas. (2004). Penelitian Tindakan Kelas . Jakarta: Depdiknas. DePorter, B., Reardon, M., dan Nourie,

  I W., & Sunartana, P.P.N.(1992). Evaluasi Hasil

Dokumen baru

Download (12 Halaman)
Gratis

Dokumen yang terkait

PENERAPAN COMPETITIVE SIMULTANEOUS ROUNDTABLE DALAM UPAYA PENINGKATAN KETERAMPILAN MENULIS
0
0
7
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN TSTS UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERBICARA
1
1
11
PENINGKATAN KEMAMPUAN BERBICARA DENGAN MENGGUNAKAN METODE TALKING STICK PADA SISWA KELAS VIII 6 SMP NEGERI 4 DENPASAR TAHUN AJARAN 2015/2016
1
2
9
PERKARA FIKTIF POSITIF DAN PERMASALAHAN HUKUMNYA FICTIOUS PROCEEDINGS AND ITS LEGAL PROBLEM
0
0
20
MENAKAR RASA KEADILAN PADA PUTUSAN HAKIM PERDATA TERHADAP PIHAK KETIGA YANG BUKAN PIHAK BERDASARKAN PERSPEKTIF NEGARA HUKUM PANCASILA MEASURING THE SENSE OF JUSTICE IN CIVIL JUDGE DECISION BASED ON PANCASILA STATE LAW
0
0
18
PEMBENTUKAN QANUN ACEH NOMOR 3 TAHUN 2013 TENTANG BENDERA DAN LAMBANG ACEH THE ESTABLISHMENT OF ACEH QANUN NO 3 OF 2013 ON ACEH FLAG AND SYMBOL
0
1
18
PERTIMBANGAN KEADAAN-KEADAAN MERINGANKAN DAN MEMBERATKAN DALAM PENJATUHAN PIDANA AGGRAVATING AND MITIGATING CIRCUMSTANCES CONSIDERATION ON SENTENCING
0
0
22
PENERAPAN REHABILITASI MEDIS DAN SOSIAL BAGI PRAJURIT TNI DALAM PUTUSAN PENGADILAN THE IMPLEMENTATION OF MEDICAL AND SOCIAL REHABILITATION FOR INDONESIAN NATIONAL ARMED FORCES PERSONNEL IN COURT DECISION
0
0
20
PERANAN HAKIM PENGAWAS DAN PENGAMAT UNTUK MENCEGAH TERJADINYA PENYIMPANGAN PADA PELAKSANAAN PUTUSAN PENGADILAN THE ROLE OF SUPERVISORY JUDGE TO PREVENT THE DISCRETION IN COURT DECISION IMPLEMENTATION
0
0
22
PELUANG DAN TANTANGAN LEMBAGA KEUANGAN SYARIAH DALAM MENGHADAPI ERA PASAR BEBAS OPPORTUNITIES AND CHALLENGES OF SHARIA FINANCIAL INSTITUTIONS IN DEALING WITH FREE MARKET
0
0
22
MENGGAGAS PENGADILAN HUBUNGAN INDUSTRIAL DALAM BINGKAI IUS CONSTITUENDUM SEBAGAI UPAYA PERWUJUDAN KEPASTIAN HUKUM DAN KEADILAN INITIATING AN INDUSTRIAL RELATIONS COURT IN THE FRAMEWORK OF IUS CONSTITUENDUM AS AN EFFORT TO REALIZE LEGAL CERTAINTY AND JUSTI
0
0
30
KEPASTIAN HUKUM QANUN ACEH NOMOR 3 TAHUN 2013 TENTANG BENDERA DAN LAMBANG ACEH LEGAL CERTAINTY OF QANUN ACEH NUMBER 3 YEAR 2013 ON ACEH FLAG AND SYMBOL
0
0
18
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN “7E” BERBANTUAN PERTANYAAN METAKOGNITIF UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS VII B SMP NEGERI 4 SUKSA
0
1
18
PENINGKATAN KEMAMPUAN MENULIS PUISI MELALUI METODE PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL DENGAN INSPIRATOR CERITAKEPAHLAWANAN PADA SISWA KELAS VIII CSMP PGRI 7 DENPASAR
0
0
12
PENGARUH JUMLAH PENDUDUK, PRODUK DOMESTIK BRUTO DAN TENAGA KERJA KEHUTANAN TERHADAP LUAS KEBAKARAN HUTAN DAN LAHAN DI INDONESIA
0
0
8
Show more