Makalah Tunanetra hasil Observasi tugas

 0  1  14  2018-09-16 23:24:29 Report infringing document

  BAB I PENDAHULUAN

  1.1 Latar Belakang Allah menciptakan semua manusia menurut gambar dan rupa Allah. Dalam Kejadian 1:31 Ia juga menyatakan bahwa semua ciptaanNya sungguh amat baik.

  Masing-masing anak memiliki karakteristik dan keunikan tersendiri, khususnya mengenai kebutuhan dan kemampuannya dalam belajar di sekolah. Anak-anak berkebutuhan khusus adalah anak-anak yang memiliki keunikan tersendiri dalam jenis dan karakteristiknya, yang membedakan mereka dari anak-anak normal pada umumnya. Allah menciptakan anak berkebutuhan khusus bukan karena Ia tidak mengasihi mereka, tapi karena ada pekerjaan Allah yang harus dinyatakan melalui anak itu. Keadaan inilah yang menuntut adanya penyesuaian dalam pemberian layanan pendidikan yang dibutuhkan.

  Banyak kasus yang terjadi berkenaan dengan keberadaan anak berkebutuhan khusus di sekolah-sekolah, termasuk anak-anak tunanetra, mereka perlu mendapatkan perhatian dan layanan pendidikan yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhannya. Tunanetra didefinisikan sebagai individu yang indera penglihatannya tidak berfungsi sebagai saluran penerima informasi dalam kegiatan sehari-hari. Dampak dari ketidakberfungsian indera penglihatan pada anak tunanetra mengakibatkan hambatan dalam penerimaan informasi, karena hambatan yang dimiliki pada indera penglihatannya maka anak tunanetra bergantung pada indera-indera lain yang masih berfungsi dengan baik pada dirinya untuk membantunya memperoleh informasi dan pengetahuan saat dia belajar. Kehilangan penglihatan pada anak tunanetra mengakibatkan hambatan khusus dalam mengakses pendidikan.

  Tidak menutup kemungkinan jika seorang guru akan menghadapi anak-anak yang mengalami kebutuhan khusus, khususnya tunanetra. Guru di sekolah haruslah dapat memberikan layanan pendidikan pada setiap anak berkebutuhan khusus, hanya sayangnya masih banyak guru-guru yang belum memahami tentang anak berkebutuhan khusus, sehingga guru sering menghadapi berbagai masalah. Masalah yang dihadapi tersebut diantaranya adalah guru tidak dapat memberikan pelayanan yang sesuai untuk anak berkebutuhan khusus. Salah satu cara untuk mengatasi hal tersebut adalah guru harus dapat mengetahui strategi pembelajaran yang sesuai dan mengetahui secara langsung anak yang mengalami kebutuhan khusus.

  Berdasarkan hal tersebut, maka penulis melakukan penelitian tentang anak berkebutuhan khusus tunanetra. Melalui observasi ini diharapkan mahasiswa calon guru dapat mengidentifikasi anak yang berkebtuhan khusus dan dapat memberikan layanan yang sesuai untuk anak berkebutuhan khusus.

  1.2 Rumusan Masalah

  1.2.1 Apa yang menjadi penyebab anak tunanetra?

  1.2.2 Bagaimana ciri/karakteristikvanak tunanetra?

  1.2.3 Apa yang menjadi hambatan/masalah pada proses belajar anak tunanetra?

  1.2.4 Bagaimana solusi dalam mengajar anak tunanetra?

  1.2.5 Apa strategi pembelajaran yang tepat untuk anak tunanetra?

  1.3 Tujuan Penelitian

  1.3.1 Mengetahui penyebab anak tunanetra

  1.3.2 Mengetahui ciri/karakteristik anak tunanetra

  1.3.3 Mengetahui hal-hal yang menjadi hambatan/masalah dalam proses belajar anak tunanetra

  1.3.4 Mengetahui solusi dalam mengajar anak tunetra

  1.3.5 Mengetahui strategi pembelajaran yang tepat untuk mengajar anak tunanetra

  D. TINJAUAN PUSTAKA Fakta bahwa manusia diciptakan Tuhan beragam sangat nyata di dalam kehidupan kita sehari-hari. Tidak bisa dipungkiri di bangku pendidikan-pun siswa atau anak didik itu beragam bahkan ada siswa yang menyimpang dari rata-rata anak normal pada umumnya yakni, ciri-ciri mentalnya, kemampuan sensorik, fisik, neuromaskular, perilaku sosial dan emosional, kemampuan berkomunikasi dan perbedaan yang menyimpang lainnya. Mereka inilah yang disebut anak berkebutuhan khusus yang tentunya membutuhkan penanganan secara khusus. Tunanetra merupakan salah satu kategori dari anak berkebutuhan khusus tersebut yang telah banyak kita jumpai baik di sekolah pendidikan integrasi ataupun sekolah pendidikan inklusif.

  Tunanetra adalah anak dengan gangguan daya penglihatan (Tunanetra) sedemikian rupa, sehingga membutuhkan layanan khusus baik dalam pendidikan maupun kehidupannya khususnya dalam hal membaca, menulis, dan berhitung (Cahya, 2014). Sedangkan menurut Suryana (1996) Tunanetra adalah anak yang tidak dapat melihat atau mungkin masih punya sisa penglihatan dimana sisa penglihatan itu tidak dapat digunakan untuk mengikuti pendidikan. Tuna berarti rusak atau kurang penglihatan (low vision), netra berarti penglihatan yang kurang lihat atau kurang awas seperti anak yang masih menggunakan sisa penglihatannya untuk mengikuti pendidikan dengan cara khusus. Pendapat Suryana ini lebih kearah anak yang berkebutuhan khusus yang mengalami ketunanetraan yang butuh pula layanan khusus untuk menopang kekurangannya dalam penglihatan.

  Tentunya penyakit pada penglihatan ini bukan tanpa sebab banyak faktor yang memungkinkan terjadinya kondisi ini pada anak baik itu faktor internal dan eksternal atau faktor sebelum dan sesudah kelahiran. Faktor internal ini adalah faktor genetik atau keturunan sedangkan, faktor eksternal ini adalah faktor yang terjadi di luar individu seperti terjangkit penyakit rubella, sifilis, glukoma, retinopati, diabetes, kurang vitamin

  A, atau kecelakaan (Gunardi, 2011). Selain ditinjau dari faktor internal dan eksternal dapat ditinjau juga dari faktor pre-natal (sebelum kelahiran) dan post-natal (sesudah kelahiran). Humairo (n.d.) dalam makalahnya menuliskan bahwa, faktor pre-natal yaitu, proses pertumbuhan dalam kandungan yang disebabkan oleh gangguan waktu ibu hamil, penyakit menahun TBC yang merusak sel-sel darah tertentu selama pertumbuhan janin dalam kandungan, infeksi atau luka yang dialami ibu hamil akibat terkena rubella atau cacar air, infeksi karena penyakit kotor, toxoplasmosis, dan tumor. Faktor saat post-natal atau sesudah kelahiran yaitu, kerusakan pada mata atau saraf mata pada waktu persalinan, akibat benturan alat-alat benda keras ibu mengalami atau pada saat persalinan ibu mengalami penyakit gonorrhoe yang baksilnya menular pada bayi, serta setelah kelahiran anak mengalami penyakit mata yang berpotensi menyebabkan ketunanetraan yaitu, xeropthalmia, trachoma, catarac dan lain-lain.

  Meskipun keadaan fisik anak tunanetra tidak berbeda dengan anak normal penderitanya. Ciri atau karakteristiknya seperti memiliki gangguan mata seperti juling, sering berkedip, menyipitkan mata, kelopak mata merah, mata berair, mereka juga memiliki keterbatasan penglihatan yakni, tidak dapat melihat gerakan tangan pada jarak kurang dari satu meter, ketjaman penglihatan yang tidak lebih dari 20/200 kaki dengan bidang penglihatan tidak lebih luas dari 20° . Mereka juga kadang-kadang memiliki perilaku yang blindism, kebiasaan yang dilakukan tanpa sadar seperti menggeleng- gelengkan kepala secara berulang, mengerutkan kening, serta memiliki daya pendengaran yang sangat kuat (Gunardi, 2011). Secara umum karakteristik anak tunanetra yaitu, penglihatan mereka samar-samar meskipun itu jarak dekat ataupun jauh dapat diatasi menggunakan kaca mata, medan penglihatan yang terbatas, tidak mampu membedakan warna, adaptasinya terhadap terang dan gelap terhambat, hal ini banyak terjadi pada masa penuaan serta sensitif terhadap cahaya atau ruang gelap, misalnya pada orang albino.

  Ketunanetraan anak atau siswa ini membawa banyak hambatan dalam kehidupan mereka sebagai akibat tunanetra yang mereka alami. Menurut Lowenfeld (dalam Delphie, 2007) tunanetra ini akan menghambat perkembangan kognitif anak khususnya dalam jarak dan beragamnya pengalaman penyandang tunanetra yang terbatas dan memilki perasaan yang tidak sama dengan anak yang mampu melihat, kemampuan yang di dapat berkurang yang berpengaruh terhadap lingkungannya, mereka juga tidak memiliki kendali yang sama terhadap lingkungan seperti yang dilakukan anak normal lainnya. Hal ini juga menghambat mereka untuk berkomunikasi dengan sekitarnya seperti, harus bertanya dahulu untuk mengetahui apa yang terjadi di lingkungan sekitarnya, membutuhkan waktu yang lebih lama untuk mengeluarkan kata pertamanya dan kebanyakan anak tunanetra juga kesulitan dalam memahami kata ganti orang. Selain itu tunanetra juga berdampak pada perkembangan motorik dan mobilitasnya serta terhadap perkembangan sosial atau interaksinya yang diakibatkan oleh tunanetra tersebut.

  Oleh karena banyak hambatan yang dialami oleh anak penyandang tunanetra maka kita baik sebagai guru/sekolah, orang tua atau sesama/lingkungan mereka selayaknya membantu mencari solusi atau jalan keluar dari permasalahan atau hambatan sayang pada anak dan tidak larut dalam keadaan serta orang tua memberikan pendidikan akademis yang sangat penting bagi anak dengan mendaftarkan anak ke sekolah yang sesuai dengan kondisi anak misalnya Sekolah Luar Biasa-A. Sekolah dan guru berperan untuk membantu anak dalam berinteraksi dengan guru, teman sebaya,serta orang lain yang ada di lingkungan sekolah. Guru berperan dalam membimbing anak dalam mengenal situasi di sekolah, menumbuhkan rasa nyaman dan percaya diri anak. Guru juga melatih kepekaan indra tubuh lain serta melatih keberanian anak dalam mengenal hal-hal baru. Lingkungan juga berperan penting supaya anak bisa bersosialisasi dan menjalin hubungan dengan oang-orang yang ada di sekitarnya. Selain itu dengan melakukan pelatihan mobilitas atau orientasi mobilitas anak penyandang tunanetra dapat terbantu untuk melakukan berbagai hal secara mandiri. Pelatihan ini dimaksudkan agar siswa atau anak dapat mengenal keberadaan objek lain yang ada disekitarnya sehingga memudahkan untuk melakukan mobilisasi atau proses pergerakan. Siswa atau anak tunanetrapun dapat berlatih menggunakan tongkat putih untuk membantunya melakukan pergerakan.

  Sebab banyak keterbatasan yang dimiliki oleh anak penyandang tunanetra maka cara mendidik merekapun berbeda dengan siswa normal pada umumnya. Mereka membutuhkan strategi pembelajaran khusus agar kebutuhan mereka akan pendidikan dapat tercapai. Dalam hal ini, salah satu strategi pembelajaran yang digunakan adalah dengan penggunaan media pembelajaran sebagai sarana untuk lebih mengetahui dan memahami pembelajaran yang mereka lakukan. Media pembelajaran ini khusus untuk kelompok tunanetra total menggunakan media baca tulis huruf Braille dan untuk kelompok low vision dengan media baca tulis biasa yang diperbesar misalnya menggunakan alat pembesar (Cahya, 2014). Jadi terdapat perbedaan layanan pendidikan dalam hal ini yang dimaksud adalah strategi pembelajaran antara siswa buta total dan siswa low vision. Guru dalam proses pembelajaran dapat menerapkan Individual

  

Education Program ( IEP), program layanan individu kepada siswa dan menggunakan

  strategi sesuai keadaan anak tersebut atau menyesuiakan keadaan anak dalam proses pembelajaran. Anak tunanetra tidak dapat belajar melalui pengamatan visual yang memiliki dimensi jarak. Strategi pembelajaran harus memungkinkan adanya akses langsung terhadap objek, atau situasi. Anak tunanetra harus dibimbing untuk meraba, mendengar, mencium, mengecap, mengalami situasi secara langsung dan juga melihat bagi anak low vision (Humairo, n.d.).

  Selain itu, strategi yang dapat dipakai dalam pembelajaran dengan menggunakan indera pendengaran pada anak penyandang tunanetra ini disebut multi sensory

  

approach, memanfaatkan indera pada anak yang memudahkan untuk mengenali objek

  pembelajaran. Anak juga harus belajar mencari dan menemukan, sementara guru adalah fasilitator yang membantu memudahkan siswa untuk belajar dan motivator yang membangkitkan keinginan anak untuk belajar sehingga siswa menjadi aktif dan mandiri. Hal ini disebut selfactivity.

  Untuk mengetahui informasi mengenai siswa penyandang tunanetra ini kami menggunakan teknik observasi dan wawancara. Observasi adalah cara menghimpun bahan-bahan keterangan yang dilakukan dengan mengadakan pengamatan dan pencatatan secara sistematis terhadap-fenomena-fenomena yang dijadikan objek pengamatan. Sedangkan wawancara adalah cara meghimpun bahan-bahan keterangan yang dilaksanakan dengan tanya jawab balik secara lisan, sepihak, berhadapan muka, maupun dengan arah serta tujuan yang telah ditentukan. Salah satu kelebihan yang dimiliki oleh wawancara adalah pewawancara sebagai evaluator dapat melakukan kontak langsung dengan peserta didik yang akan dinilai sehingga akan dihasilkan penilaian yang lebih lengkap dan mendalam (Djaali, & Pudji, 2000). E. ANALISIS TEMUAN DAN PEMBAHASAN Setelah melakukan kunjungan di Sekolah Khusus (SKh) YKDW 03-Tangerang kami megobservasi sebuah kelas dengan denah sebagai

  Guru berikut ; Miss.Ya

  K ti elas 6

  R aehan K Kel K elas 1 as 5 elas 4

  Kelas Tunanetra

  C Ra A hristian chel bigail Dengan penggunaan denah kelas semacam ini mempermudah gerak guru dalam menyalurkan pendidikan kepada anak tunanetra yang memiliki sifat mereka yang beragam.

  Berdasarkan denah hasil observasi kami diatas dapat diketahui bahwa dalam satu kelas tersebut terdapat 4 (empat) siswa penyandang tunanetra yang ditangani oleh seorang guru khusus yang menangani tunanetra. Masing-masing siswa tersebut menyandang tunanetra yang diakibatkan oleh berbagai penyebab yang berbeda yaitu; a) Siswa kelas 1, Christian mengalami tunanetra dengan jenis kebutaan total pada mata. Hal ini ia alami sejak lahir. Jadi ia menderita kebutaan karena faktor internal baik itu, karena keturunan atau genetik ataupun sejak dalam kandungan.

  b) Siswa kelas 5, Rachel mengalami low vision masih bisa melihat tetapi samar-samar, khusus di bagian kanan matanya namun kondisinya semakin melemah karena dipengaruhi oleh mata kirinya yang memang sudah buta secara total. Hal ini disebabkan oleh faktor eksternal yakni matanya terinfeksi virus yang membuat mata mengalami kebutaan. c) Siswa kelas 4, Abigail mengalami tunanetra jenis kebuataan total yang diakibatkan karena ia pada awalnya lahir secara prematur sehingga sarafnya tidak berkembang dengan baik.

  d) Siswa kelas 6, Raehan mengalami kebutaan secara total yang diakibatkan karena ia juga lahir secara prematur yang membuat saraf matanya tidak berkembang dengn baik serta dimasukkan dalam inkubator mungkin salah satu penyebabnya karena suhu dalam inkubator tersebut tidak sesuai dengan kondisi tubuhnya saat baru lahir tersebut dan menurut keterangan ia juga menyandang autis ringan.

  Karakteristik atau ciri-ciri anak/siswa penyandang tunanetra yang dialami oleh siswa yang ada dalam kelas tersebut tidak beda jauh dengan pendapat atau teori para ahli yaitu, selama proses pembelajaran mereka sering menggeleng-gelengkan kepalanya yang sudah menjadi kebiasaan tanpa sadar sebagai perilaku dari blindism. Bagi siswa yang mengalami kebutaan total sama sekali tidak dapat melihat sementara yang low

  

vision, masih dapat melihat meskipun samar-samar dalam jarak yang dekat. Mereka

  juga banyak mengajukan pertanyaan atau sangat aktif dalam proses pembelajaran namun mereka sensitif dalam hal perasaan, namun terdapat anak yang selain menyandang tunanetra ia juga menyandang autis ringan yang selalu mencari perhatian apalagi dalam kelas tersebut bukan hanya terdapat satu siswa namun terdapat beberapa siswa lainnya yang berbeda kelas. Serta ia juga sering mengalihakan pembicaraan saat ia di berikan tugas oleh gurunya. Namun untuk siswa lain yang murni hanya menyandang tunanetra mereka lebih peka terhadap lingkungan mereka misalnya saat guru memberi suatu instruksi kepada salah satu siswa dalam keas tersebut mereka akan tenang dan berkonsentrasi untuk mendengar instruksi gurunya tersebut. Jadi mereka memilki daya konsentrasi yang tinggi dan pendengaran ryang tajam apalagi jika nama mereka yang disebutkan oleh orang lain. Mereka memiliki kebiasaan melipat sesuatu yang ada di sekitar mereka seperti kertas, dan aktif mencari tahu sesuatu.

  Hambatan yang mereka alami akibat tunanetra yang mereka sandang adalah dalam menggunakan alat untuk baca tulis bagi tunanetra cukup merepotkan bagi mereka yaitu, mistar (riglet) dan jarum (stilus), alat pembentuk huruf braille. Mereka juga cepat sesuatu sehingga membuat mereka mengulangi proses tersebut dari awal. Oleh karena keterbatasan dalam penglihatan hal ini membuat mereka tidak bisa menggambar suatu objek seperti anak normal lainnya. Mereka juga cenderung lebih mudah diatur atau diarahkan oleh guru mereka dibandingkan dengan orang tua mereka sendiri. Salah satu hal ini disebabkan karena orang tua terkesan memanjakan mereka jadi agak susah mengarahkan mereka. Selain itu, mereka juga tidak bisa melakukan suatu hal tanpa didampingi oleh orang lain. Jadi agak sulit bagi mereka untuk melakukan suatu aktivitas secara mandiri sebagai akibat dari keterbatasan mereka. Tetapi untuk masalah pelafalannya dalam berkata-kata atau berkomunikasi lumayan baik seperti siswa normal pada umumnya dan sangat peduli dengan teman atau orang lain yang ada di sekitar mereka.

  Dalam membantu mereka mengatasi kekurangan mereka dalam melihat, maka banyak upaya yang dilakukan oleh pihak sekolah dan guru. Setiap pertemuan disediakan waktu 1 jam pelajaran (35 menit) untuk melakukan orientasi mobilitas guna mengenali lingkungan di sekitar mereka sehingga mereka secara mandiri dapat melakukan suatu hal. Sekolah juga menyediakan fasilitas yang membantu memudahkan tunanetra dalam melakukan pergerakan seperti alat penopang atau petunjuk jalan yang menjadi pedoman bagi mereka untuk mengetahui keadaan di sekitar sekolah. Orang tua juga selalu setia mendampingi anak-anak mereka selama mereka berada di sekolah. Siswa atau anak tunanetra juga biasanya mengunakan tongkat khusus yang membantu mereka untuk berjalan dan mengenal objek di sekitar mereka khususnya bila masih belum mengenal lingkungan itu dengan baik

  Berdasarkan hasil observasi dan wawancara, strategi pembelajaran yang digunakan guru bagi penyandang tunanetra adalah salah satunya dengan menggunakan media seperti jaws. Jaws adalah alat teknologi yang digunakan anak penyandang tunanetra dalam belajar. Jaws ini berfungsi untuk memudahkan penyandang tunanetra dalam membaca atau memperbanyak pengetahuan bagi anak penyandang tunanetra secara audiotori atau melalui pendengaran atau suara yang dihasilkan alat tersebut.. Selain itu, strategi lain yang digunakan oleh guru agar kebutuhan anak penyandang tunanetra akan pendidikan tercapai adalah dengan menggunakan media pembelajaran menggunakan indera peraba untuk mengenal objek pembelajaran secara langsung seperti, melalui miniatur atau tiruan dari objek pembelajaran tersebut. Salah satu strategi juga yang digunakan guru pada saat anak penyandang tunanetra bosan belajar adalah mengajak mereka untuk melakukan hal yang mereka gemari seperti bernyanyi. Dengan cara tersebut mereka kembali bersemangat untuk melanjutkan proses pembelajaran dalam kelas. Siswa pun dapat diminta untuk menceritakan kembali atau paling tidak menirukan kembali apa yang didapatkan selama berlangsungnya proses pembelajaran tersebut.

  Sebagai guru yang memiliki siswa ABK khususnya siswa penyandang tunanetra banyak strategi pembelajaran yang bisa kita gunakan seperti yang telah dipaparkan di atas. Menggunakan program pembeljaran individu menjadi salah satu strategi yang baik untuk diterapkan yang proses pembelajarannya disesuaikan dengan kondisi anak, dengan memanfaatkan indera mereka seperti pendengaran, dan perabaan dimana tingkat kepekaan mereka terhadap indera tersebut sangat tinggi. Selain itu sangat memudahkan siswa untuk lebih memahami materi pembelajaran. Menggunakan huruf Braille dalam pengajaran khususnya baca dan tulis sangat tepat bagi mereka dan sesuai dengan kebutuhan mereka. Sementara pendekatan yang bisa diterapkan bagi mereka untuk memudahkan melakukan pergerakan atau yang mendukung dalm melakukan kegiatan secara mandiri (selfactivity) adalah dengan orientasi mobilitas atau melakukan pelatihan pengenalan terhadap lingkungan sekitarnya. F. KESIMPULAN DAN SARAN

  1. Kesimpulan Berdasarkan observasi yang telah dilakukan, penulis menarik kesimpulan sebagai berikut. Terdapat dua jenis tunanetra yang kami observasi, yaitu buta total dan

  

low vision. Siswa tersebut menyandang tunanetra disebabkan oleh faktor internal, yaitu

  faktor genetik atau keturunan dan masalah saat dalam kandungan (pre-natal). Selain itu terdapat faktor eksternal yaitu pada masa kelahiran (post-natal) anak lahir prematur sehingga terdapat masalah dalam perkembangan saraf mata dan pengaruh inkubator, serta terinfeksi virus. Karakteristik yang dimiliki oleh siswa penyandang tunanetra ini antara lain selama proses pembelajaran mereka sering menggeleng-gelengkan kepala, siswa yang mengalami kebutaan total sama sekali tidak dapat melihat sementara yang

  

low vision, masih dapat melihat meskipun samar-samar dalam jarak yang dekat. Siswa

  penyandang tunanetra juga banyak mengajukan pertanyaan atau sangat aktif dalam proses pembelajaran namun mereka sensitif dalam hal perasaan dan memiliki pendengaran yang tajam.

  Hambatan yang dialami oleh siswa penyandang tunanetra adalah tidak bisa menggambar, jika belum terbiasa dengan alat tulis khusus huruf braille, maka itu akan membuat mereka kesulitan. Mereka juga cenderung memiliki perilaku yang bertolak belakang antara di sekolah dan di rumah. Bila di sekolah, mereka mudah diarahkan oleh guru, sedangkan saat di rumah mereka sulit diarahkan oleh orang tua sendiri. Solusi yang membantu siswa menghadapi kehidupan sehari-hari lebih banyak berasal dari dukungan pihak sekolah dan orang tua. Sekolah menyediakan fasilitas yang membantu siswa menjalankan aktivitas mereka khususnya di sekolah, sementara guru melakukan pelatihan orientasi mobilitas guna mengenali lingkungan di sekitar mereka. Orang tua berperan dalam memotivasi dan mendampingi anak. Strategi pembelajaran yang dapat braille, penggunaan teknologi yang mendukung proses pembelajaran, Program Pengajaran Individu (PPI) yang menyesuaikan proses pembelajaran dengan kondisi anak, serta penggunaan media pembelajaran berupa alat peraga yang sesuai dengan kondisi siswa.

  2. Saran Penulis memberi saran bagi pihak yang ingin memanfaatkan hasil observasi ini, yaitu a. Kepada guru: peka terhadap kebutuhan anak penyandang tunanetra sehingga dalam proses pembelajaran kebutuhan siswa akan pendidikan dapat terpenuhi dan guru diharapkan menggunakan strategi pembelajaran sesuai kondisi siswa tersebut.

  b. Kepada orang tua ABK: memperhatikan perkembangan anak dan memprioritaskan pendidikan kepada anak karena itu merupakan kebutuhan mereka yang harus dipenuhi.

  c. Kepada pembaca: menyadari setiap anak adalah gambar Allah sehingga sebagai sesamanya, tidak mendiskriminasi mereka karena kekurangan yang mereka miliki, namun sebaliknya kita harus terbuka untuk bersosialisasi dengan mereka karena mereka hanya mengalami gangguan pada penglihatan, sedangkan kondisi fisik yang lain normal. G. DAFTAR PUSTAKA Cahya, L. S. (2014,1 Januari). Adakah ABK di Kelasku, Bagaimana Guru Mengenali

  ABK di Sekolah. Diakses 27 Maret 2017, dari

  Delphie, B. (2007). Ilmu dan aplikasi pendidikan. Diakses 27 Maret 2017, dari

  

  Djaali, P. D., & Pudji, D., Muljono. (2000). Pengukuran dalam Bidang Pendidikan.

  Jakarta, Indonesia: Program Pascasarjana, Universitas Negeri Jakarta.

  Gunardi, Tri. (2011). Mereka Pun Bisa SUKSES. Diakses 27 Maret 2017, dari

  

  Humairo, N. (n.d.). Makalah tuna netra. Diakses 27 Maret 2017, dari

   Suryana. (1996). Keperawatan Anak Untuk Siswa SPK. Diakses 27 Maret 2017, dari

  

Dokumen baru
Dokumen yang terkait
Tags

Tugas Sosiologi Makalah Hukum Observasi

Hasil Observasi Lapangan Makalah Pencema

Makalah Observasi Contoh Makalah Observasi Pendidikan Tugas Sosiologi Hukum Observasi Contoh Makalah Observasi Pasar

Laporan Tugas Observasi Bimbimngan Konse

Makalah Observasi Pengolahan Limbah Teh

Makalah Observasi Pendidikan Seni Sman

Makalah Observasi Study Lapangan Profil

Makalah Tunanetra hasil Observasi tugas

Gratis

Feedback